Bagi yang Mandul, Allah akan Menyiapkan Anak di Surga

Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul

Bagi yang Mandul, Allah akan Menyiapkan Anak di Surga

Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul
Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul


Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul

Bahaya Nonton Film Porno (2)

Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (2)

Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang
Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang


Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang

Aqiqah Sebelum Hari Ketujuh

Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah

Aqiqah Sebelum Hari Ketujuh

Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah
Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah


Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah

Pernah Tahu atau Rasakan Sendiri

Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang

Pernah Tahu atau Rasakan Sendiri

Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang
Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang


Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (1)

Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (1)

Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Hobi Melihat Wanita Telanjang

Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Hobi Melihat Wanita Telanjang

Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Doa Agar Tidak Terjerumus dalam Zina

Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina

Doa Agar Tidak Terjerumus dalam Zina

Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina
Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina


Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina

Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik

Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik
Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik


Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik

Meluruskan NU Garis Lurus – bag 1 (Firanda mengkafirkan Abdul Qodir al-Jailani?)

Alhamdululiilah segala puji senantiasa kita panjatkan kepada Robbul ‘Aalamin, dan shlahawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habibina Muhammad bin ‘Abdillah. Wa ba’duSitus nugarislurus.com telah memuat berita berikut :((Perlu diketahui Firanda Andirja adalah ulama “nyleneh” yang sudah mengkafirkan para Imam Aswaja antara lain Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani Makkah Al Mukarromah.(http://www.nugarislurus.com/2015/12/habib-thohir-pimpin-aswaja-tegal-gagalkan-acara-wahabi-firanda-andirja.html) Komentar :Tentu tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan. Jika para ulama besar saja terjatuh dalam kesalahan maka apalagi saya. Kritikan yang membangun selalu saya harapkan, tentu jika kritikan tersebut benar, maka insya Allah saya akan selalu siap mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.Tentu yang diharapkan dari nugarislurus agar menyampaikan berita yang lurus dan mengkritik dengan kritikan yang benar. Adapun menuduh tanpa bukti maka “kelurusannya” sepertinya harus diluruskan lagi. Semoga Allah meluruskan kita semua. Tuduhan bahwa saya mengkafirkan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelany tentu merupakan kedustaan besar. Saya hanya berharap nugarislurus mendatangkan bukti saya mengkafirkan beliau rahimahullah !!Justru sebaliknya saya telah berkata : “Abdul Qodir Jailani adalah seorang yang alim, tetapi banyak khurofat yang disebarkan tentang Abdul Qodir Jailani, padahal dia adalah seorang yang alim dari madzhab hambali, dan dia punya kitab al-Gunyah, kitab yang bagus” (silahkan dengar di https://youtu.be/5FdpDcrvRYg?t=4290 Pada menit 1:11:35 hingga 1:12:03)Saya sedang memuji beliau, kok bisa malah saya dituduh mengkafirkan beliau? Bukankah dusta adalah dosa yang buruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الَفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada neraka” (HR Al-Bukhari no 6094 dan Muslim no 2607)Terlebih lagi dusta tersebut disebarkan di internet dan dibaca oleh banyak orang di dunia ini. Tidakkah kita takut dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Semalam aku melihat dua orang mendatangiku (yaitu dua malaikat yang menjelma menjadi dua lelaki), mereka berdua berkata : “Orang yang engkau lihat dirobek sisi mulutnya hingga pipinya adalah seorang pendusta yang berdusta dengan satu dusta, lantas dusta tersebut disebarkan hingga mencapai penjuru ufuq, maka dia disiksa demikian hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 6096 dari sahabat Samuroh bin Jundub radhiallahu ‘anhu)Dalam riwayat yang lain Nabi bersabda:فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ وَرَجُلٌ قَائِمٌ بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ … أنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الْكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الْآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ“Tiba-tiba ada seorang lelaki yang duduk, dan seorang lelaki yang berdiri sementara di tangannya ada besi tajam (yang biasanya digunakan untuk memotong daging-pen) … besi tajam tersebut di masukan ke pinggir mulut lelaki yang duduk hingga dirobek sampai ke lehernya, setelah itu dilakukan lagi pada sisi mulut yang satunya, lalu sisi mulutnya kembali lagi lalu dirobek lagi” (HR Al-Bukhari no 1386)Dalam ceramah saya, saya sedang mengkritik orang-orang yang berlebihan terhadap Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga mengangkat derajatnya lebih daripada yang seharusnya. Diantaranya meyakini bahwa Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi “Kun” oleh Allah, sehingga kalau beliau berkata “Kun” (Jadi) “Fayakuun” (Maka Jadilah). Tentu ini merupakan kesyirikan. Seakan-akan Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi hak oleh Allah untuk menciptakan dan mengatur alam semesta.Berkata Ali Al-Faasi, penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani, menukil perkataan At-Tijani :“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) maka  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum, yang semisal ini maka perkataan (Abdul Qodir al-Jailany) radhiallahu ‘anhu. Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62, silahkan baca kembali tulisan kami dihttps://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/263-aswaja-sufi-meniru-niru-syiah-ataukah-sebaliknya)Tidak ada yang ragu bahwa hal ini merupakan kesyirikan. Yang memiliki kun fayakuun hanyala Allah ta’ala.Allah berfirman :إ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia (QS Yasin : 82)إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia (QS An-Nahl : 40)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia (QS Al-Baqoroh : 117)قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia (QS Ali Imron : 47) Bagaimana para wali diantaranya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan kekuasaan yang umum di alam semesta??!Sementara para Nabi ‘alaihimus salaam tidak mendapatkan demikian??.Lihatlah Nabi Yunus tatkala ditelan oleh Ikan Paus, iapun berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Ia tidak mampu untuk berkata Kun Fayakun. Seandainya ia memiliki kun fayakun tentu dengan mudahnya ia akan mengatur ikan paus tersebut, sementara alam saja bisa ia atur.Lihatlah Nabi Ayub yang sakit begitu lama. Kalau ia memiliki kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Sembuh” maka sembuhlah ia.Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang terus bersedih tatkala kehilangan putranya Yusuf ‘alaihis salam. Kalau ia punya kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Kembalilah kepadaku wahai Yusuf” maka akan kembali Yusuf kepadanya. Sementara ia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi putranya Yusuf, dan tidak tahu bahwa putranya tersebut telah menjadi seorang menteri di negeri Mesir.Lihatlah Zakariya yang sekian puluh tahun menikah tidak punya anak. Kalau ia punya kun fayakun tentu dengan mudah ia akan berkata, “Lahirlah”, atau “Mengandunglah wahai istriku”. Akan tetapi ia tidak mampu, karenanya iapun berdoa kepada Allah.Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi yang termulia, tatkala perang Uhud beliau terluka, hingga wajah beliau berlumuran darah, dan gigi beliau patah. Kalau beliau memiliki kun fayakun maka beliau tidak akan membiarkan pamannya Hamzah yang sangat beliau cintai meninggal dalam perang Uhud, demikian juga 70 para sahabat yang lain. Kalau beliau memiliki Kun Fayakun tentu dengan mudah beliau akan berkata, “Hancurlah kalian wahai kaum musyrikin” maka hancurlah mereka. Bahkan tatkala Nabi mendoakan kecelakaan bagi sebagian orang musyrik maka Allah tegur dengan firmanNya :لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (Qs Ali Imron 128)Bahkan masih terlalu banyak orang-orang yang lebih mulia daripada Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Al-Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib,  radhiallahu ‘anhum dan lain-lain, akan tetapi mereka sama sekali tidak memiliki kun fayakun.          Kita wajib mencintai wali-wali Allah, akan tetapi kita tidak boleh berlebih-lebihan kepada mereka yang akibatnya bisa mengantarkan kepada kesyirikan !!At-Tijani berkata :“Dan perkataannya : “Kalau seandainya diungkap (dibuka) hakikat wali maka ia akan disembah, karena sifat-sifat wali dari sifat-sifat Ilahnya, karena wali telah terlepas dari seluruh sifat-sifat manusia sebagaimana terlepasnya kambing dari kulitnya. Dan Wali telah memakai pakaian akhlak ketuhanan, kalau seandainya hakikat wali ini diungkap pada hamba maka hamba tersebut akan menyembah sang wali” (Jawahir Al-Ma’aani 2/62)Sungguh ini adalah sikap berlebih-lebihan kepada para wali. Untuk lebih mendalam tentang sikap berlebih-lebihan kepada para wali silahkan baca kitab :تَقْدِيْسُ الأَشْخَاصِ فِي الْفِكْرِ الصُّوْفِي  (Pensucian/pengkultusan tokoh-tokoh dalam pemikiran sufiah)Link jilid 1:http://ia601406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes01.pdfLink jilid 2 :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes02.pdfMuqoddimahnya :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdesm.pdfMadinah, 13-04-1437 H / 23-01-2016 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Meluruskan NU Garis Lurus – bag 1 (Firanda mengkafirkan Abdul Qodir al-Jailani?)

Alhamdululiilah segala puji senantiasa kita panjatkan kepada Robbul ‘Aalamin, dan shlahawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habibina Muhammad bin ‘Abdillah. Wa ba’duSitus nugarislurus.com telah memuat berita berikut :((Perlu diketahui Firanda Andirja adalah ulama “nyleneh” yang sudah mengkafirkan para Imam Aswaja antara lain Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani Makkah Al Mukarromah.(http://www.nugarislurus.com/2015/12/habib-thohir-pimpin-aswaja-tegal-gagalkan-acara-wahabi-firanda-andirja.html) Komentar :Tentu tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan. Jika para ulama besar saja terjatuh dalam kesalahan maka apalagi saya. Kritikan yang membangun selalu saya harapkan, tentu jika kritikan tersebut benar, maka insya Allah saya akan selalu siap mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.Tentu yang diharapkan dari nugarislurus agar menyampaikan berita yang lurus dan mengkritik dengan kritikan yang benar. Adapun menuduh tanpa bukti maka “kelurusannya” sepertinya harus diluruskan lagi. Semoga Allah meluruskan kita semua. Tuduhan bahwa saya mengkafirkan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelany tentu merupakan kedustaan besar. Saya hanya berharap nugarislurus mendatangkan bukti saya mengkafirkan beliau rahimahullah !!Justru sebaliknya saya telah berkata : “Abdul Qodir Jailani adalah seorang yang alim, tetapi banyak khurofat yang disebarkan tentang Abdul Qodir Jailani, padahal dia adalah seorang yang alim dari madzhab hambali, dan dia punya kitab al-Gunyah, kitab yang bagus” (silahkan dengar di https://youtu.be/5FdpDcrvRYg?t=4290 Pada menit 1:11:35 hingga 1:12:03)Saya sedang memuji beliau, kok bisa malah saya dituduh mengkafirkan beliau? Bukankah dusta adalah dosa yang buruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الَفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada neraka” (HR Al-Bukhari no 6094 dan Muslim no 2607)Terlebih lagi dusta tersebut disebarkan di internet dan dibaca oleh banyak orang di dunia ini. Tidakkah kita takut dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Semalam aku melihat dua orang mendatangiku (yaitu dua malaikat yang menjelma menjadi dua lelaki), mereka berdua berkata : “Orang yang engkau lihat dirobek sisi mulutnya hingga pipinya adalah seorang pendusta yang berdusta dengan satu dusta, lantas dusta tersebut disebarkan hingga mencapai penjuru ufuq, maka dia disiksa demikian hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 6096 dari sahabat Samuroh bin Jundub radhiallahu ‘anhu)Dalam riwayat yang lain Nabi bersabda:فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ وَرَجُلٌ قَائِمٌ بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ … أنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الْكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الْآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ“Tiba-tiba ada seorang lelaki yang duduk, dan seorang lelaki yang berdiri sementara di tangannya ada besi tajam (yang biasanya digunakan untuk memotong daging-pen) … besi tajam tersebut di masukan ke pinggir mulut lelaki yang duduk hingga dirobek sampai ke lehernya, setelah itu dilakukan lagi pada sisi mulut yang satunya, lalu sisi mulutnya kembali lagi lalu dirobek lagi” (HR Al-Bukhari no 1386)Dalam ceramah saya, saya sedang mengkritik orang-orang yang berlebihan terhadap Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga mengangkat derajatnya lebih daripada yang seharusnya. Diantaranya meyakini bahwa Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi “Kun” oleh Allah, sehingga kalau beliau berkata “Kun” (Jadi) “Fayakuun” (Maka Jadilah). Tentu ini merupakan kesyirikan. Seakan-akan Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi hak oleh Allah untuk menciptakan dan mengatur alam semesta.Berkata Ali Al-Faasi, penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani, menukil perkataan At-Tijani :“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) maka  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum, yang semisal ini maka perkataan (Abdul Qodir al-Jailany) radhiallahu ‘anhu. Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62, silahkan baca kembali tulisan kami dihttps://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/263-aswaja-sufi-meniru-niru-syiah-ataukah-sebaliknya)Tidak ada yang ragu bahwa hal ini merupakan kesyirikan. Yang memiliki kun fayakuun hanyala Allah ta’ala.Allah berfirman :إ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia (QS Yasin : 82)إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia (QS An-Nahl : 40)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia (QS Al-Baqoroh : 117)قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia (QS Ali Imron : 47) Bagaimana para wali diantaranya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan kekuasaan yang umum di alam semesta??!Sementara para Nabi ‘alaihimus salaam tidak mendapatkan demikian??.Lihatlah Nabi Yunus tatkala ditelan oleh Ikan Paus, iapun berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Ia tidak mampu untuk berkata Kun Fayakun. Seandainya ia memiliki kun fayakun tentu dengan mudahnya ia akan mengatur ikan paus tersebut, sementara alam saja bisa ia atur.Lihatlah Nabi Ayub yang sakit begitu lama. Kalau ia memiliki kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Sembuh” maka sembuhlah ia.Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang terus bersedih tatkala kehilangan putranya Yusuf ‘alaihis salam. Kalau ia punya kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Kembalilah kepadaku wahai Yusuf” maka akan kembali Yusuf kepadanya. Sementara ia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi putranya Yusuf, dan tidak tahu bahwa putranya tersebut telah menjadi seorang menteri di negeri Mesir.Lihatlah Zakariya yang sekian puluh tahun menikah tidak punya anak. Kalau ia punya kun fayakun tentu dengan mudah ia akan berkata, “Lahirlah”, atau “Mengandunglah wahai istriku”. Akan tetapi ia tidak mampu, karenanya iapun berdoa kepada Allah.Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi yang termulia, tatkala perang Uhud beliau terluka, hingga wajah beliau berlumuran darah, dan gigi beliau patah. Kalau beliau memiliki kun fayakun maka beliau tidak akan membiarkan pamannya Hamzah yang sangat beliau cintai meninggal dalam perang Uhud, demikian juga 70 para sahabat yang lain. Kalau beliau memiliki Kun Fayakun tentu dengan mudah beliau akan berkata, “Hancurlah kalian wahai kaum musyrikin” maka hancurlah mereka. Bahkan tatkala Nabi mendoakan kecelakaan bagi sebagian orang musyrik maka Allah tegur dengan firmanNya :لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (Qs Ali Imron 128)Bahkan masih terlalu banyak orang-orang yang lebih mulia daripada Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Al-Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib,  radhiallahu ‘anhum dan lain-lain, akan tetapi mereka sama sekali tidak memiliki kun fayakun.          Kita wajib mencintai wali-wali Allah, akan tetapi kita tidak boleh berlebih-lebihan kepada mereka yang akibatnya bisa mengantarkan kepada kesyirikan !!At-Tijani berkata :“Dan perkataannya : “Kalau seandainya diungkap (dibuka) hakikat wali maka ia akan disembah, karena sifat-sifat wali dari sifat-sifat Ilahnya, karena wali telah terlepas dari seluruh sifat-sifat manusia sebagaimana terlepasnya kambing dari kulitnya. Dan Wali telah memakai pakaian akhlak ketuhanan, kalau seandainya hakikat wali ini diungkap pada hamba maka hamba tersebut akan menyembah sang wali” (Jawahir Al-Ma’aani 2/62)Sungguh ini adalah sikap berlebih-lebihan kepada para wali. Untuk lebih mendalam tentang sikap berlebih-lebihan kepada para wali silahkan baca kitab :تَقْدِيْسُ الأَشْخَاصِ فِي الْفِكْرِ الصُّوْفِي  (Pensucian/pengkultusan tokoh-tokoh dalam pemikiran sufiah)Link jilid 1:http://ia601406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes01.pdfLink jilid 2 :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes02.pdfMuqoddimahnya :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdesm.pdfMadinah, 13-04-1437 H / 23-01-2016 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Alhamdululiilah segala puji senantiasa kita panjatkan kepada Robbul ‘Aalamin, dan shlahawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habibina Muhammad bin ‘Abdillah. Wa ba’duSitus nugarislurus.com telah memuat berita berikut :((Perlu diketahui Firanda Andirja adalah ulama “nyleneh” yang sudah mengkafirkan para Imam Aswaja antara lain Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani Makkah Al Mukarromah.(http://www.nugarislurus.com/2015/12/habib-thohir-pimpin-aswaja-tegal-gagalkan-acara-wahabi-firanda-andirja.html) Komentar :Tentu tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan. Jika para ulama besar saja terjatuh dalam kesalahan maka apalagi saya. Kritikan yang membangun selalu saya harapkan, tentu jika kritikan tersebut benar, maka insya Allah saya akan selalu siap mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.Tentu yang diharapkan dari nugarislurus agar menyampaikan berita yang lurus dan mengkritik dengan kritikan yang benar. Adapun menuduh tanpa bukti maka “kelurusannya” sepertinya harus diluruskan lagi. Semoga Allah meluruskan kita semua. Tuduhan bahwa saya mengkafirkan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelany tentu merupakan kedustaan besar. Saya hanya berharap nugarislurus mendatangkan bukti saya mengkafirkan beliau rahimahullah !!Justru sebaliknya saya telah berkata : “Abdul Qodir Jailani adalah seorang yang alim, tetapi banyak khurofat yang disebarkan tentang Abdul Qodir Jailani, padahal dia adalah seorang yang alim dari madzhab hambali, dan dia punya kitab al-Gunyah, kitab yang bagus” (silahkan dengar di https://youtu.be/5FdpDcrvRYg?t=4290 Pada menit 1:11:35 hingga 1:12:03)Saya sedang memuji beliau, kok bisa malah saya dituduh mengkafirkan beliau? Bukankah dusta adalah dosa yang buruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الَفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada neraka” (HR Al-Bukhari no 6094 dan Muslim no 2607)Terlebih lagi dusta tersebut disebarkan di internet dan dibaca oleh banyak orang di dunia ini. Tidakkah kita takut dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Semalam aku melihat dua orang mendatangiku (yaitu dua malaikat yang menjelma menjadi dua lelaki), mereka berdua berkata : “Orang yang engkau lihat dirobek sisi mulutnya hingga pipinya adalah seorang pendusta yang berdusta dengan satu dusta, lantas dusta tersebut disebarkan hingga mencapai penjuru ufuq, maka dia disiksa demikian hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 6096 dari sahabat Samuroh bin Jundub radhiallahu ‘anhu)Dalam riwayat yang lain Nabi bersabda:فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ وَرَجُلٌ قَائِمٌ بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ … أنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الْكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الْآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ“Tiba-tiba ada seorang lelaki yang duduk, dan seorang lelaki yang berdiri sementara di tangannya ada besi tajam (yang biasanya digunakan untuk memotong daging-pen) … besi tajam tersebut di masukan ke pinggir mulut lelaki yang duduk hingga dirobek sampai ke lehernya, setelah itu dilakukan lagi pada sisi mulut yang satunya, lalu sisi mulutnya kembali lagi lalu dirobek lagi” (HR Al-Bukhari no 1386)Dalam ceramah saya, saya sedang mengkritik orang-orang yang berlebihan terhadap Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga mengangkat derajatnya lebih daripada yang seharusnya. Diantaranya meyakini bahwa Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi “Kun” oleh Allah, sehingga kalau beliau berkata “Kun” (Jadi) “Fayakuun” (Maka Jadilah). Tentu ini merupakan kesyirikan. Seakan-akan Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi hak oleh Allah untuk menciptakan dan mengatur alam semesta.Berkata Ali Al-Faasi, penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani, menukil perkataan At-Tijani :“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) maka  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum, yang semisal ini maka perkataan (Abdul Qodir al-Jailany) radhiallahu ‘anhu. Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62, silahkan baca kembali tulisan kami dihttps://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/263-aswaja-sufi-meniru-niru-syiah-ataukah-sebaliknya)Tidak ada yang ragu bahwa hal ini merupakan kesyirikan. Yang memiliki kun fayakuun hanyala Allah ta’ala.Allah berfirman :إ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia (QS Yasin : 82)إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia (QS An-Nahl : 40)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia (QS Al-Baqoroh : 117)قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia (QS Ali Imron : 47) Bagaimana para wali diantaranya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan kekuasaan yang umum di alam semesta??!Sementara para Nabi ‘alaihimus salaam tidak mendapatkan demikian??.Lihatlah Nabi Yunus tatkala ditelan oleh Ikan Paus, iapun berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Ia tidak mampu untuk berkata Kun Fayakun. Seandainya ia memiliki kun fayakun tentu dengan mudahnya ia akan mengatur ikan paus tersebut, sementara alam saja bisa ia atur.Lihatlah Nabi Ayub yang sakit begitu lama. Kalau ia memiliki kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Sembuh” maka sembuhlah ia.Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang terus bersedih tatkala kehilangan putranya Yusuf ‘alaihis salam. Kalau ia punya kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Kembalilah kepadaku wahai Yusuf” maka akan kembali Yusuf kepadanya. Sementara ia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi putranya Yusuf, dan tidak tahu bahwa putranya tersebut telah menjadi seorang menteri di negeri Mesir.Lihatlah Zakariya yang sekian puluh tahun menikah tidak punya anak. Kalau ia punya kun fayakun tentu dengan mudah ia akan berkata, “Lahirlah”, atau “Mengandunglah wahai istriku”. Akan tetapi ia tidak mampu, karenanya iapun berdoa kepada Allah.Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi yang termulia, tatkala perang Uhud beliau terluka, hingga wajah beliau berlumuran darah, dan gigi beliau patah. Kalau beliau memiliki kun fayakun maka beliau tidak akan membiarkan pamannya Hamzah yang sangat beliau cintai meninggal dalam perang Uhud, demikian juga 70 para sahabat yang lain. Kalau beliau memiliki Kun Fayakun tentu dengan mudah beliau akan berkata, “Hancurlah kalian wahai kaum musyrikin” maka hancurlah mereka. Bahkan tatkala Nabi mendoakan kecelakaan bagi sebagian orang musyrik maka Allah tegur dengan firmanNya :لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (Qs Ali Imron 128)Bahkan masih terlalu banyak orang-orang yang lebih mulia daripada Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Al-Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib,  radhiallahu ‘anhum dan lain-lain, akan tetapi mereka sama sekali tidak memiliki kun fayakun.          Kita wajib mencintai wali-wali Allah, akan tetapi kita tidak boleh berlebih-lebihan kepada mereka yang akibatnya bisa mengantarkan kepada kesyirikan !!At-Tijani berkata :“Dan perkataannya : “Kalau seandainya diungkap (dibuka) hakikat wali maka ia akan disembah, karena sifat-sifat wali dari sifat-sifat Ilahnya, karena wali telah terlepas dari seluruh sifat-sifat manusia sebagaimana terlepasnya kambing dari kulitnya. Dan Wali telah memakai pakaian akhlak ketuhanan, kalau seandainya hakikat wali ini diungkap pada hamba maka hamba tersebut akan menyembah sang wali” (Jawahir Al-Ma’aani 2/62)Sungguh ini adalah sikap berlebih-lebihan kepada para wali. Untuk lebih mendalam tentang sikap berlebih-lebihan kepada para wali silahkan baca kitab :تَقْدِيْسُ الأَشْخَاصِ فِي الْفِكْرِ الصُّوْفِي  (Pensucian/pengkultusan tokoh-tokoh dalam pemikiran sufiah)Link jilid 1:http://ia601406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes01.pdfLink jilid 2 :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes02.pdfMuqoddimahnya :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdesm.pdfMadinah, 13-04-1437 H / 23-01-2016 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Alhamdululiilah segala puji senantiasa kita panjatkan kepada Robbul ‘Aalamin, dan shlahawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habibina Muhammad bin ‘Abdillah. Wa ba’duSitus nugarislurus.com telah memuat berita berikut :((Perlu diketahui Firanda Andirja adalah ulama “nyleneh” yang sudah mengkafirkan para Imam Aswaja antara lain Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani Makkah Al Mukarromah.(http://www.nugarislurus.com/2015/12/habib-thohir-pimpin-aswaja-tegal-gagalkan-acara-wahabi-firanda-andirja.html) Komentar :Tentu tidak ada seorangpun yang selamat dari kesalahan. Jika para ulama besar saja terjatuh dalam kesalahan maka apalagi saya. Kritikan yang membangun selalu saya harapkan, tentu jika kritikan tersebut benar, maka insya Allah saya akan selalu siap mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.Tentu yang diharapkan dari nugarislurus agar menyampaikan berita yang lurus dan mengkritik dengan kritikan yang benar. Adapun menuduh tanpa bukti maka “kelurusannya” sepertinya harus diluruskan lagi. Semoga Allah meluruskan kita semua. Tuduhan bahwa saya mengkafirkan Syaikh Abdul Qodir al-Jaelany tentu merupakan kedustaan besar. Saya hanya berharap nugarislurus mendatangkan bukti saya mengkafirkan beliau rahimahullah !!Justru sebaliknya saya telah berkata : “Abdul Qodir Jailani adalah seorang yang alim, tetapi banyak khurofat yang disebarkan tentang Abdul Qodir Jailani, padahal dia adalah seorang yang alim dari madzhab hambali, dan dia punya kitab al-Gunyah, kitab yang bagus” (silahkan dengar di https://youtu.be/5FdpDcrvRYg?t=4290 Pada menit 1:11:35 hingga 1:12:03)Saya sedang memuji beliau, kok bisa malah saya dituduh mengkafirkan beliau? Bukankah dusta adalah dosa yang buruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الَفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada neraka” (HR Al-Bukhari no 6094 dan Muslim no 2607)Terlebih lagi dusta tersebut disebarkan di internet dan dibaca oleh banyak orang di dunia ini. Tidakkah kita takut dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Semalam aku melihat dua orang mendatangiku (yaitu dua malaikat yang menjelma menjadi dua lelaki), mereka berdua berkata : “Orang yang engkau lihat dirobek sisi mulutnya hingga pipinya adalah seorang pendusta yang berdusta dengan satu dusta, lantas dusta tersebut disebarkan hingga mencapai penjuru ufuq, maka dia disiksa demikian hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 6096 dari sahabat Samuroh bin Jundub radhiallahu ‘anhu)Dalam riwayat yang lain Nabi bersabda:فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ وَرَجُلٌ قَائِمٌ بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ … أنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الْكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الْآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ“Tiba-tiba ada seorang lelaki yang duduk, dan seorang lelaki yang berdiri sementara di tangannya ada besi tajam (yang biasanya digunakan untuk memotong daging-pen) … besi tajam tersebut di masukan ke pinggir mulut lelaki yang duduk hingga dirobek sampai ke lehernya, setelah itu dilakukan lagi pada sisi mulut yang satunya, lalu sisi mulutnya kembali lagi lalu dirobek lagi” (HR Al-Bukhari no 1386)Dalam ceramah saya, saya sedang mengkritik orang-orang yang berlebihan terhadap Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga mengangkat derajatnya lebih daripada yang seharusnya. Diantaranya meyakini bahwa Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi “Kun” oleh Allah, sehingga kalau beliau berkata “Kun” (Jadi) “Fayakuun” (Maka Jadilah). Tentu ini merupakan kesyirikan. Seakan-akan Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani telah diberi hak oleh Allah untuk menciptakan dan mengatur alam semesta.Berkata Ali Al-Faasi, penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani, menukil perkataan At-Tijani :“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) maka  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum, yang semisal ini maka perkataan (Abdul Qodir al-Jailany) radhiallahu ‘anhu. Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62, silahkan baca kembali tulisan kami dihttps://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/263-aswaja-sufi-meniru-niru-syiah-ataukah-sebaliknya)Tidak ada yang ragu bahwa hal ini merupakan kesyirikan. Yang memiliki kun fayakuun hanyala Allah ta’ala.Allah berfirman :إ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia (QS Yasin : 82)إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُSesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia (QS An-Nahl : 40)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia (QS Al-Baqoroh : 117)قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُAllah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia (QS Ali Imron : 47) Bagaimana para wali diantaranya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan kekuasaan yang umum di alam semesta??!Sementara para Nabi ‘alaihimus salaam tidak mendapatkan demikian??.Lihatlah Nabi Yunus tatkala ditelan oleh Ikan Paus, iapun berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Ia tidak mampu untuk berkata Kun Fayakun. Seandainya ia memiliki kun fayakun tentu dengan mudahnya ia akan mengatur ikan paus tersebut, sementara alam saja bisa ia atur.Lihatlah Nabi Ayub yang sakit begitu lama. Kalau ia memiliki kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Sembuh” maka sembuhlah ia.Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang terus bersedih tatkala kehilangan putranya Yusuf ‘alaihis salam. Kalau ia punya kun fayakun maka dengan mudah ia akan berkata, “Kembalilah kepadaku wahai Yusuf” maka akan kembali Yusuf kepadanya. Sementara ia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi putranya Yusuf, dan tidak tahu bahwa putranya tersebut telah menjadi seorang menteri di negeri Mesir.Lihatlah Zakariya yang sekian puluh tahun menikah tidak punya anak. Kalau ia punya kun fayakun tentu dengan mudah ia akan berkata, “Lahirlah”, atau “Mengandunglah wahai istriku”. Akan tetapi ia tidak mampu, karenanya iapun berdoa kepada Allah.Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi yang termulia, tatkala perang Uhud beliau terluka, hingga wajah beliau berlumuran darah, dan gigi beliau patah. Kalau beliau memiliki kun fayakun maka beliau tidak akan membiarkan pamannya Hamzah yang sangat beliau cintai meninggal dalam perang Uhud, demikian juga 70 para sahabat yang lain. Kalau beliau memiliki Kun Fayakun tentu dengan mudah beliau akan berkata, “Hancurlah kalian wahai kaum musyrikin” maka hancurlah mereka. Bahkan tatkala Nabi mendoakan kecelakaan bagi sebagian orang musyrik maka Allah tegur dengan firmanNya :لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (Qs Ali Imron 128)Bahkan masih terlalu banyak orang-orang yang lebih mulia daripada Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Al-Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib,  radhiallahu ‘anhum dan lain-lain, akan tetapi mereka sama sekali tidak memiliki kun fayakun.          Kita wajib mencintai wali-wali Allah, akan tetapi kita tidak boleh berlebih-lebihan kepada mereka yang akibatnya bisa mengantarkan kepada kesyirikan !!At-Tijani berkata :“Dan perkataannya : “Kalau seandainya diungkap (dibuka) hakikat wali maka ia akan disembah, karena sifat-sifat wali dari sifat-sifat Ilahnya, karena wali telah terlepas dari seluruh sifat-sifat manusia sebagaimana terlepasnya kambing dari kulitnya. Dan Wali telah memakai pakaian akhlak ketuhanan, kalau seandainya hakikat wali ini diungkap pada hamba maka hamba tersebut akan menyembah sang wali” (Jawahir Al-Ma’aani 2/62)Sungguh ini adalah sikap berlebih-lebihan kepada para wali. Untuk lebih mendalam tentang sikap berlebih-lebihan kepada para wali silahkan baca kitab :تَقْدِيْسُ الأَشْخَاصِ فِي الْفِكْرِ الصُّوْفِي  (Pensucian/pengkultusan tokoh-tokoh dalam pemikiran sufiah)Link jilid 1:http://ia601406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes01.pdfLink jilid 2 :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdes02.pdfMuqoddimahnya :http://ia801406.us.archive.org/33/items/kkkkkk111111_352/takdesm.pdfMadinah, 13-04-1437 H / 23-01-2016 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Fikih Zakat

Fikih Zakat



Masa Muda Masa Keemasan

خطبة الجمعة من المسجد النبوي 12 ربيع الآخر 1437 هـالخطيب / حسين بن عبد العزيز آل الشيخترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبوي الشريفKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 12 Rabiul Awal 1437 H.Khatib : Syekh Husain Bin Abdul Aziz Al As-Syekh.Khotbah PertamaPemuda merupakan pusat perhatian dan tumpuan harapan masyarakat, sebagai obor penyemangat masa kini dan insan-insan pembangun masa depan. Dari sinilah pentingnya mereka perlu mendapatkan bimbingan islami secara khusus dan komprehensif.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا [ التحريم / 7 ]Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka (Qs At-Tahrim : 6) Masa muda waktu berharga yang tak dapat tergantikan, bunga elok yang tak ada bandingnya, maka setiap yang menginginkan kesuksesan harus mengisi dan memakmurkan masa mudanya untuk taat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Disamping harus bersungguh-sungguh dan tidak pernah kendur dalam melawan hawa nafsu dan setan.Sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – :” اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ ““Raihlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya”, dalam hadis ini beliau menyebutkan  :” شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ““ dan masa mudamu sebelum masa tuamu”. HR Ahmad dan lainnya. Maka, wahai pemuda Islam, manfaatkanlah waktu yang agung ini untuk beribadah kepada Allah, tumbuh kembanglah di bawah naungan perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, niscaya Anda meraih akibat yang baik dan kesuksesan yang besar di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظلَّ إلاَّ ظلَّهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya”, beliau menyebutkan di antaranya ialah” وَشَا بٌّ نَشَأ في عِبَا دَةِ الله  ” [ رواه البخاري]“pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah”. HR Bukhari.Kaum muslimin!Anugerah terbesar ialah ketika Allah memberi kesempatan kepada hambaNya dalam usia muda untuk beribadah kepadaNya, berpacu dalam meraih ridhaNya, menjauhi larangan-laranganNya sebagai seorang muslim yang wajib mempertanggung jawabkan nikmat usia muda itu yang kelak akan diaudit. Imam Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن خمس ، عن عمره فيما أفناه وعن شبابه فيما أبلاه ، و عن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه ، وماذا عمل فى ما عَلِمَ ““Dua kaki manusia kelak hari kiamat tidak akan bergeser sebelum dirinya mempertanggung-jawabkan lima perkara ; tentang usianya, untuk apa ia menghabiskannya ? tentang masa mudanya, dalam hal apa ia mengisinya ? tentang harta bendanya, dari mana dan dalam hal apa ia mengelurkannya ? Dan apa dia amalkan dari ilmunya?.”Saudara-saudara sesama muslim!Kesuksesan anak-anak muda adalah kesuksesan umat, tidak mungkin suatu umat mencapai kebahagiaan, kejayaaan, kemapanan, kebesaran dan ketenteraman kecuali manakala kaum mudanya berpegang teguh pada ajaran yang dijalankan oleh generasi pertama umat ini. Ketika itulah kejayaan agama dan kemakmuran hidup terlihat pada setiap karya yang produktif dan pengabdian yang positif.Anas – radhiyallahu anhu – berkata :“Ada 70 orang pemuda Anshar yang disebut sebagai ‘Al-Qurra’ (pakar baca Al-Quran)tinggal di masjid. Ketika waktu sudah sore, mereka menuju ke pinggiran kota Madinah untuk belajar dan melaksanakan shalat, sehingga jama’ah mesjid menyangka mereka sudah pulang ke rumah mereka, dan keluarga mereka di rumah menyangka mereka masih di mesjid. Manakala waktu pagi hari merekapun mencari air dan kayu bakar untuk mereka hadirkan ke rumah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-“. HR Ahmad.Sesungguhnya para pemuda sangat butuh untuk waspada dari sebab-sebab yang bisa menjerumuskan mereka, masyarakat mereka, dan umat mereka ke lembah-lembah hawa nafsu dan langkah-langkah syaitan. Yang hal ini akan mengantarkan kepada kesudahan yang buruk dan kemudorotan yang besar. Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنَوُا خُذُوا حِذْرَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, waspada dan bersiagalah” (QS An-Nisaa : 71)Pemuda Islam haruslah menjadi insan yang cerdas dan tanggap, tidak merespon apapun yang tidak jelas tujuannya bagi kepentingan Islam  dan yang tidak membuat panji-panji kebenaran berkibar.Betapa besar ambisi lawan-lawan Islam untuk menjerumuskan para pemuda Islam ke dalam jurang kebinasaan dan jalur kesesatan serta menjauhkan mereka dari norma-norma keluhuran dan prinsip-prinsip toleransi yang menjadi watak Islam yang moderat, pertengahan dan yang dapat membimbing mereka bagaimana cara memelihara kemaslahatan dan mendatangkan kemanfaatan bagi diri mereka, bangsa, negara dan masyarakat.Firman Allah :قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ  [ المائدة / 77 ]( Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas ( bersikap ekstrim ) dengan cara tidak benar dalam agamamu ).Qs Al-Maidah : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :” إياكم والغلو فإنما أهلك من قبلكم الغلو “ “Waspadailah sikap ekstrim, karena sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah akibat sikap ekstrim mereka”.Pemuda Islam mempunyai tanggung jawab besar, mengemban obor keimanan dan ideologi ( akidah ) yang benar serta membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih demi kecerahan akal pikiran mereka, kejernihan mata hati mereka, ketajaman intelektual mereka dan ketepatan gagasan-gagasan mereka. Dengan demikian mereka menjadi bagian dari upaya perbaikan dan pengaman dari kekacauan kejahatan, dampak buruk fitnah dan keganasan gelombang bencana.Firman Allah :إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ، وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ [ الكهف/ 13]“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka “. Qs Al-Kahfi : 13 – 14 Saudara-saudara sesama muslim!       Para pemuda islam dewasa ini terombang-ambing oleh ombak besar pemikiran yang menyimpang dan aliran yang menyesatkan, ambisi yang bias dan serangan ideologi yang tidak jelas ujung tepinya. Maka sangat penting bagi pemuda kita menyatu dengan para ulama yang telah diakui kredibilitasnya oleh masyarakat dalam keilmuan, kepatuhan, keberagaman, keshalihan, kegeniusan, intelektualitas, ketegaran dan ketulusan hati, terutama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan genting, yang manakala keliru dalam menyikapinya akan menimbulkan dampak yang buruk sepanjang sejarah umat, seperti halnya problematika pengkafiran, loyalitas (hanya kepada Islam) dan lepas tangan (dari hal-hal yang diluar Islam), masalah pengingkaran, pembaiatan, jihad dan persoalan-persoalan genting lainnya.Firman Allah  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [ الأنبياء / 7 ]“ maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. Qs Al-Anbiya : 7Para ulama bertanggung jawab terhadap amanat ini. Karena itu para Ulama dan para da’i harus pandai menyampaikan informasi dan berimbang dalam menangani persoalan umat serta tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa, kecuali setelah memahami duduk persoalan secara tepat dan cermat serta memilih bahasa yang santun. Sebab tidak sedikit fatwa dan himbauan yang justru menyeret umat kepada kedustaan dan kesesatan. Pemuda Islam harus sadar bahwa ketika dirinya sedang enjoy dengan emosional keagamaannya yang menggebu-gebu, terpujilah hal itu di dunianya dan akhiratnya, selama terkontrol oleh ilmu syariat dan petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak demikinan, maka betapa banyak orang yang bermaksud mengatasi penyakit flu, namun justru menimbulkan penyakit kusta (lepra) sehingga mendatangkan berbagai malapetaka dan penderitaan yang tidak kunjung berakhir bagi umat Islam dan masyarakat luas.Kaum muslimin!Kita semua di awal semester pengajaran perlu mengingatkan para pendidik yang budiman bahwa mereka adalah insan-insan pembela nilai-nilai keutamaan dan pembina rasio pemikiran. Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam menanamkan prinsip-prinsip Islam yang autentik dan moral akhlak yang mulia ke dalam jiwa generasi muslim. Menghindarkan mereka dari upaya-upaya penggelinciran yang membahayakan, dan dari berbagai jalur bengkok yang tidak menguntungkan apa-apa, baik urusan agama maupun dunia.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta  pertanggung jawaban tentang bawahan yang dipimpinnya”.Wahai kawula muda negeri ini!Puji syukur ke hadirat Allah atas aneka macam nikmatNya. Kalian semua merasa enjoy dengan penghidupan yang menyenangkan dan keamanan serta ekonomi yang mapan. Maka jadilah kalian sebaik-baik pembela dua tanah suci (Al-Haramain) dan mempertahankan kedaulatannya. Allah –subhanahu wa ta’ala – berfirman :“َوَتَعاَونُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  ” [ المائدة / 2 ] “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. Qs Al-Maidah : 2Satukanlah kalimat dan rapatkanlah barisan serta tetaplah pada jalur perbaikan dan peningkatan diri. Janganlah kalian memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin lalu menyendiri dari masyarakat. Ingatlah bahwa tangan Allah selalu menggandeng orang-orang yang bersatu padu. Wahai kaum muslimin!Setan bekerja keras memikat manusia dengan memoles dan memperindah keburukan dan lubang-lubang jalan kesesatan dan kedurjanaan, lalu memasang perangkap untuk memperdayakannya dari jalur kebenaran dan merintanginya dari jalan yang lurus. Firman Allah :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6).Terutama ketika menghadapi anak muda, setan lebih keras permusuhannya untuk mengarahkan mereka ke dalam iring-iringan ( konvoi ) kebatilan yang menuju neraka. Allah berfirman :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6). Pahamilah segala sarana dan prasarana setan dengan perangkapnya. Waspadalah terhadap tipudaya setan dan trik-trik kejahatannya.Firman Allah : يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا[ الأعراف / 27 ]“Wahai anak cucu Adam ! Janganlah kalian tertipu oleh setan ! sebagaimana dia telah mengeluarkan ibu bapak kalian dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”. al-A’râf :27Syaitan menggoda para pemuda yang ta’at beragama melalui pintu mengajak kepada sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas serta keluar dari petunjuk yang shahih dan manhaj yang hak.Setan memangsa para pemuda dengan menghiasi kerusakan menjadi keindahan, dan melalaikan mereka dengan angan-angan yang panjang serta indahnya masa muda, sehingga akhirnya ia menjerumuskan para pemuda ke dalam dosa-dosa yang membinasakan, perbuatan-perbuatan keji dan kemaksiatan-kemaksiatan.Ibnul Qoyyim berkata :“Sebagian salaf berkata ; Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan suatu perintah kecuali setan memiliki dua godaan terhadap perintah tersebut, godaan untuk kurang dalam melaksanakan perintah tersebut atau godaan untuk bersikap berlebihan dan melampaui batas dalam melaksanakan perintah tersebut. Dan setan tidak perduli dengan mana ia berhasil menggoda”Penanganan yang bermanfaat dan obat yang menyembuhkan dari bahaya setan dan godaannya adalah mengarahkan diri kepada ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengan amal shalih dalam urusan agama dan dunia, serta memperbanyak membaca al-Qur’an dan mentadaburinya, demikian juga memperbanyak dzikir kepada Allah dan berlindung kepadaNya dari syaitan yang terkutuk.إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ [ الحجر/ 42 ]“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. Qs Al-Hijr : 42 إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [ النحل / 99]“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. Qs An-Nahl : 99Para pemuda sekalian!Anak muda memiliki cahaya dan kekuatan, maka hendaknya engkau –wahai pemuda muslim- jadilah seorang yang lembut hatinya, lembut akhlaknya, baik perangainya, mencerminkan akan kasih sayang dan keindahan Islam.فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ [ آل عمران / 159“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. Qs Ali Imron : 159 Hendaknya keutamaan sikap mengasihi selalu menyertaimu bahkan meski dalam kondisi paling sulit dan krisis yang paling berat. Jadilah engkau termasuk orang-orang yang berhati pengasih, jauh dari hati yang keras dan tabi’at yang kasar, jauh dari sikap keras dan kasar serta kata-kata keji dan kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ” حديث حسن صحيح“Tidaklah dicabut sifat pengasih kecuali dari orang yang celaka”.  HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan.Hendaknya engkau mencerminkan perangai-perangai Islam yang mulia dan ajaran-ajarannya yang tinggi, maka engkau akan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan terhiaskan seluruh akhlak yang mulia, engkau memiliki sifat penyayang yang tinggi kandungannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling lembut adalah seperti perumpamaan tubuh yang satu, jika salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain juga ikut menyerukan rasa sakit dengan begadang dan demam”. Jadilah engkau di masyarakatmu termasuk orang-orang yang penyayang, pengasih, dan berakhlak yang mulia dan suka berbuat baik kepada orang lain, cerminkan perangai yang mulia dan budi pekerti yang indah serta sifat-sifat yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. HR Al-Bukhari dan MuslimNabi bersabda :مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlak yang mulia” .HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan shahih. Abu Dawud meriwayatkanإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang mulia mendapati derajat orang yang puasa sunnah dan sholat malam”Hendaknya engkau senantiasa bertutur kata yang terarah, senantiasa tersenyum yang memancarkan kasih sayang, berhati yang lembut dan bermu’amalah yang baik, dan berperilaku yang sopan, sembari berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa memberi sumbangsih bagi kebaikan, suka dengan kebajikan dan menebarkan kemuliaan, salam, dan keharmonisan dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat, maka niscaya engkau akan meraih kebaikan yang besar dan kemenangan yang agung.Rasul kita – shallallahu ‘alaihi wasallam- di antara sifat-sifat beliau yang agung adalah beliau menyambung silaturahmi, membantu orang yang tidak mampu, bekerja untuk membantu orang yang tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah bersabda ;أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.HR At-Thabrani dengan sanad yang hasan.Waspadalah wahai saudaraku pemuda!Janganlah sampai engkau mengganggu masyarakatmu, memberi kemudhorotan kepada tetanggamu, maka menjaga anggota tubuh agar tidak mengganggu orang lain termasuk dari perbuatan kebajikan dan amalan sholih. Dari Jundub bin Junaadah –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata ;قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ؟ قَالَ: ” تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ”رواه مسلم“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku lemah tidak mampu melaksanakan sebagian amal, maka amal kebajikan apa yang aku lakukan?’. Nabi berkata, “Engkau menahan dirimu tidak mengganggu orang lain, maka itu adalah sedekah darimu untuk dirimu”. HR Muslim.=======Khotbah Kedua :     Sesungguhnya diantara kerusakan yang paling parah yang terjadi di hari ini pada umat ini adalah kedengkian yang terpendam dan kebencian yang tersembunyi yang disimpan oleh sebagian umat ini kepada sebagian yang lain. Hal ini menyebabkan munculnya tindakan-tindakan kriminal dan kejahatan yang sangat buruk yang dibangun di atas menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah serta merajalelanya kejahatan dan pengrusakan di atas muka bumi.Allah berfirman :أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا [ المائدة/32]‘Bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Qs Al-Maidah : 32 Allah juga berfirman :وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا [ النساء / 93 ]“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. Qs An-Nisaa : 93 Musibah apa yang menimpa kalian wahai putra-putra Islam? Sebagian kalian membunuh sebagian yang lain, dan menjadikan mereka merasakan berbagai macam penderitaan dan siksaan, pengepungan, pengusiran, pembunuhan, pengeboman, yang menjadikan alam semesta gempar dengan dahsyatnya kengerian itu semua, matahari dan bulan pun berlindung dari ini semua.Kemana larinya mereka (para pembuat onar tersebut-pen) dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa?Mana pengamalan firman Allah penguasa alam semesta?, mana penerapan wasiat-wasiat Nabi Muhammad pemimpin seluruh manusia yang awal hingga yang akhir?.Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ;لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا“Senantiasa seorang hamba dalam kelapangan pada agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang diharamkan untuk ditumpahkan”.Beliau juga bersabda :لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ“Janganlah setelahku kalian kembali menjadi kufur, dimana sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”. HR Al-Bukhari dan Muslim. Sesungguhnya Islam mengagungkan perkara darah, dan Islam tidak memberikan kesempatan untuk mentakwil (mencari alasan) bagaimanapun sebabnya untuk menumpahkan darah. Dalam hadits :أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ“Perkara pertama yang diputuskan diantara manusia pada hari kiamat adalah pada urusan darah”. HR Al-Bukhari dan Muslim.Di dalam sunan At-Tirmidzi dan Ibnu Maajah ;لَقَتْلُ مُسْلِمٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا“Sungguh terbunuhnya seorang muslim lebih besar di sisi Allah dari pada hilangnya dunia” Bahkan Islam mengharamkan membunuh kafir mu’ahad yang telah diberikan janji keamanan dan amanah atas dirinya di negeri islam, bahkan meskipun yang memberikan jaminan keamanan baginya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا“Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka ia tidak akan mencium harumnya surga, dan sesungguhnya harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan”. Maka hendaknya kalian –wahai umat al-Qur’an- bertakwalah kepada Allah, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan pada jalan-jalan yang menyimpang dari kebenaran, ke lembah-lembah keburukan. Jadilah kalian orang-orang yang berhenti pada batasan-batasan Allah, dan jangan sampai kalian mengganggu kaum muslimin, memberikan rasa takut kepada kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ لاَ يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang memberi ketakutan kepada seorang mukmin maka Allah berhak untuk tidak memberikannya keamanan dari dahsyatnya kengerian hari kiamat”. HR At-Thabrani di Al-Awshath.       Kemudian ketahuilah, bahwasanya termasuk amalan yang tersuci yang dilakukan dalam kehidupan kita adalah menyibukan diri untuk bersholawat kepada Nabi yang termulia.Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi kita Muhammad, dan Ya Allah ridoilah para khulafaur rosyidin dan para imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin. Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan. Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung.Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada.Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat.Ya Allah berilah taufiqMu kepada pelayan dua kota suci, arahkanlah ia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhai.Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal.Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab neraka.=======   Selesai   ======Penerjemah Usman Hatim dan Firanda Andirja

Masa Muda Masa Keemasan

خطبة الجمعة من المسجد النبوي 12 ربيع الآخر 1437 هـالخطيب / حسين بن عبد العزيز آل الشيخترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبوي الشريفKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 12 Rabiul Awal 1437 H.Khatib : Syekh Husain Bin Abdul Aziz Al As-Syekh.Khotbah PertamaPemuda merupakan pusat perhatian dan tumpuan harapan masyarakat, sebagai obor penyemangat masa kini dan insan-insan pembangun masa depan. Dari sinilah pentingnya mereka perlu mendapatkan bimbingan islami secara khusus dan komprehensif.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا [ التحريم / 7 ]Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka (Qs At-Tahrim : 6) Masa muda waktu berharga yang tak dapat tergantikan, bunga elok yang tak ada bandingnya, maka setiap yang menginginkan kesuksesan harus mengisi dan memakmurkan masa mudanya untuk taat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Disamping harus bersungguh-sungguh dan tidak pernah kendur dalam melawan hawa nafsu dan setan.Sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – :” اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ ““Raihlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya”, dalam hadis ini beliau menyebutkan  :” شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ““ dan masa mudamu sebelum masa tuamu”. HR Ahmad dan lainnya. Maka, wahai pemuda Islam, manfaatkanlah waktu yang agung ini untuk beribadah kepada Allah, tumbuh kembanglah di bawah naungan perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, niscaya Anda meraih akibat yang baik dan kesuksesan yang besar di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظلَّ إلاَّ ظلَّهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya”, beliau menyebutkan di antaranya ialah” وَشَا بٌّ نَشَأ في عِبَا دَةِ الله  ” [ رواه البخاري]“pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah”. HR Bukhari.Kaum muslimin!Anugerah terbesar ialah ketika Allah memberi kesempatan kepada hambaNya dalam usia muda untuk beribadah kepadaNya, berpacu dalam meraih ridhaNya, menjauhi larangan-laranganNya sebagai seorang muslim yang wajib mempertanggung jawabkan nikmat usia muda itu yang kelak akan diaudit. Imam Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن خمس ، عن عمره فيما أفناه وعن شبابه فيما أبلاه ، و عن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه ، وماذا عمل فى ما عَلِمَ ““Dua kaki manusia kelak hari kiamat tidak akan bergeser sebelum dirinya mempertanggung-jawabkan lima perkara ; tentang usianya, untuk apa ia menghabiskannya ? tentang masa mudanya, dalam hal apa ia mengisinya ? tentang harta bendanya, dari mana dan dalam hal apa ia mengelurkannya ? Dan apa dia amalkan dari ilmunya?.”Saudara-saudara sesama muslim!Kesuksesan anak-anak muda adalah kesuksesan umat, tidak mungkin suatu umat mencapai kebahagiaan, kejayaaan, kemapanan, kebesaran dan ketenteraman kecuali manakala kaum mudanya berpegang teguh pada ajaran yang dijalankan oleh generasi pertama umat ini. Ketika itulah kejayaan agama dan kemakmuran hidup terlihat pada setiap karya yang produktif dan pengabdian yang positif.Anas – radhiyallahu anhu – berkata :“Ada 70 orang pemuda Anshar yang disebut sebagai ‘Al-Qurra’ (pakar baca Al-Quran)tinggal di masjid. Ketika waktu sudah sore, mereka menuju ke pinggiran kota Madinah untuk belajar dan melaksanakan shalat, sehingga jama’ah mesjid menyangka mereka sudah pulang ke rumah mereka, dan keluarga mereka di rumah menyangka mereka masih di mesjid. Manakala waktu pagi hari merekapun mencari air dan kayu bakar untuk mereka hadirkan ke rumah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-“. HR Ahmad.Sesungguhnya para pemuda sangat butuh untuk waspada dari sebab-sebab yang bisa menjerumuskan mereka, masyarakat mereka, dan umat mereka ke lembah-lembah hawa nafsu dan langkah-langkah syaitan. Yang hal ini akan mengantarkan kepada kesudahan yang buruk dan kemudorotan yang besar. Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنَوُا خُذُوا حِذْرَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, waspada dan bersiagalah” (QS An-Nisaa : 71)Pemuda Islam haruslah menjadi insan yang cerdas dan tanggap, tidak merespon apapun yang tidak jelas tujuannya bagi kepentingan Islam  dan yang tidak membuat panji-panji kebenaran berkibar.Betapa besar ambisi lawan-lawan Islam untuk menjerumuskan para pemuda Islam ke dalam jurang kebinasaan dan jalur kesesatan serta menjauhkan mereka dari norma-norma keluhuran dan prinsip-prinsip toleransi yang menjadi watak Islam yang moderat, pertengahan dan yang dapat membimbing mereka bagaimana cara memelihara kemaslahatan dan mendatangkan kemanfaatan bagi diri mereka, bangsa, negara dan masyarakat.Firman Allah :قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ  [ المائدة / 77 ]( Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas ( bersikap ekstrim ) dengan cara tidak benar dalam agamamu ).Qs Al-Maidah : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :” إياكم والغلو فإنما أهلك من قبلكم الغلو “ “Waspadailah sikap ekstrim, karena sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah akibat sikap ekstrim mereka”.Pemuda Islam mempunyai tanggung jawab besar, mengemban obor keimanan dan ideologi ( akidah ) yang benar serta membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih demi kecerahan akal pikiran mereka, kejernihan mata hati mereka, ketajaman intelektual mereka dan ketepatan gagasan-gagasan mereka. Dengan demikian mereka menjadi bagian dari upaya perbaikan dan pengaman dari kekacauan kejahatan, dampak buruk fitnah dan keganasan gelombang bencana.Firman Allah :إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ، وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ [ الكهف/ 13]“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka “. Qs Al-Kahfi : 13 – 14 Saudara-saudara sesama muslim!       Para pemuda islam dewasa ini terombang-ambing oleh ombak besar pemikiran yang menyimpang dan aliran yang menyesatkan, ambisi yang bias dan serangan ideologi yang tidak jelas ujung tepinya. Maka sangat penting bagi pemuda kita menyatu dengan para ulama yang telah diakui kredibilitasnya oleh masyarakat dalam keilmuan, kepatuhan, keberagaman, keshalihan, kegeniusan, intelektualitas, ketegaran dan ketulusan hati, terutama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan genting, yang manakala keliru dalam menyikapinya akan menimbulkan dampak yang buruk sepanjang sejarah umat, seperti halnya problematika pengkafiran, loyalitas (hanya kepada Islam) dan lepas tangan (dari hal-hal yang diluar Islam), masalah pengingkaran, pembaiatan, jihad dan persoalan-persoalan genting lainnya.Firman Allah  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [ الأنبياء / 7 ]“ maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. Qs Al-Anbiya : 7Para ulama bertanggung jawab terhadap amanat ini. Karena itu para Ulama dan para da’i harus pandai menyampaikan informasi dan berimbang dalam menangani persoalan umat serta tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa, kecuali setelah memahami duduk persoalan secara tepat dan cermat serta memilih bahasa yang santun. Sebab tidak sedikit fatwa dan himbauan yang justru menyeret umat kepada kedustaan dan kesesatan. Pemuda Islam harus sadar bahwa ketika dirinya sedang enjoy dengan emosional keagamaannya yang menggebu-gebu, terpujilah hal itu di dunianya dan akhiratnya, selama terkontrol oleh ilmu syariat dan petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak demikinan, maka betapa banyak orang yang bermaksud mengatasi penyakit flu, namun justru menimbulkan penyakit kusta (lepra) sehingga mendatangkan berbagai malapetaka dan penderitaan yang tidak kunjung berakhir bagi umat Islam dan masyarakat luas.Kaum muslimin!Kita semua di awal semester pengajaran perlu mengingatkan para pendidik yang budiman bahwa mereka adalah insan-insan pembela nilai-nilai keutamaan dan pembina rasio pemikiran. Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam menanamkan prinsip-prinsip Islam yang autentik dan moral akhlak yang mulia ke dalam jiwa generasi muslim. Menghindarkan mereka dari upaya-upaya penggelinciran yang membahayakan, dan dari berbagai jalur bengkok yang tidak menguntungkan apa-apa, baik urusan agama maupun dunia.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta  pertanggung jawaban tentang bawahan yang dipimpinnya”.Wahai kawula muda negeri ini!Puji syukur ke hadirat Allah atas aneka macam nikmatNya. Kalian semua merasa enjoy dengan penghidupan yang menyenangkan dan keamanan serta ekonomi yang mapan. Maka jadilah kalian sebaik-baik pembela dua tanah suci (Al-Haramain) dan mempertahankan kedaulatannya. Allah –subhanahu wa ta’ala – berfirman :“َوَتَعاَونُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  ” [ المائدة / 2 ] “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. Qs Al-Maidah : 2Satukanlah kalimat dan rapatkanlah barisan serta tetaplah pada jalur perbaikan dan peningkatan diri. Janganlah kalian memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin lalu menyendiri dari masyarakat. Ingatlah bahwa tangan Allah selalu menggandeng orang-orang yang bersatu padu. Wahai kaum muslimin!Setan bekerja keras memikat manusia dengan memoles dan memperindah keburukan dan lubang-lubang jalan kesesatan dan kedurjanaan, lalu memasang perangkap untuk memperdayakannya dari jalur kebenaran dan merintanginya dari jalan yang lurus. Firman Allah :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6).Terutama ketika menghadapi anak muda, setan lebih keras permusuhannya untuk mengarahkan mereka ke dalam iring-iringan ( konvoi ) kebatilan yang menuju neraka. Allah berfirman :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6). Pahamilah segala sarana dan prasarana setan dengan perangkapnya. Waspadalah terhadap tipudaya setan dan trik-trik kejahatannya.Firman Allah : يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا[ الأعراف / 27 ]“Wahai anak cucu Adam ! Janganlah kalian tertipu oleh setan ! sebagaimana dia telah mengeluarkan ibu bapak kalian dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”. al-A’râf :27Syaitan menggoda para pemuda yang ta’at beragama melalui pintu mengajak kepada sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas serta keluar dari petunjuk yang shahih dan manhaj yang hak.Setan memangsa para pemuda dengan menghiasi kerusakan menjadi keindahan, dan melalaikan mereka dengan angan-angan yang panjang serta indahnya masa muda, sehingga akhirnya ia menjerumuskan para pemuda ke dalam dosa-dosa yang membinasakan, perbuatan-perbuatan keji dan kemaksiatan-kemaksiatan.Ibnul Qoyyim berkata :“Sebagian salaf berkata ; Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan suatu perintah kecuali setan memiliki dua godaan terhadap perintah tersebut, godaan untuk kurang dalam melaksanakan perintah tersebut atau godaan untuk bersikap berlebihan dan melampaui batas dalam melaksanakan perintah tersebut. Dan setan tidak perduli dengan mana ia berhasil menggoda”Penanganan yang bermanfaat dan obat yang menyembuhkan dari bahaya setan dan godaannya adalah mengarahkan diri kepada ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengan amal shalih dalam urusan agama dan dunia, serta memperbanyak membaca al-Qur’an dan mentadaburinya, demikian juga memperbanyak dzikir kepada Allah dan berlindung kepadaNya dari syaitan yang terkutuk.إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ [ الحجر/ 42 ]“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. Qs Al-Hijr : 42 إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [ النحل / 99]“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. Qs An-Nahl : 99Para pemuda sekalian!Anak muda memiliki cahaya dan kekuatan, maka hendaknya engkau –wahai pemuda muslim- jadilah seorang yang lembut hatinya, lembut akhlaknya, baik perangainya, mencerminkan akan kasih sayang dan keindahan Islam.فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ [ آل عمران / 159“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. Qs Ali Imron : 159 Hendaknya keutamaan sikap mengasihi selalu menyertaimu bahkan meski dalam kondisi paling sulit dan krisis yang paling berat. Jadilah engkau termasuk orang-orang yang berhati pengasih, jauh dari hati yang keras dan tabi’at yang kasar, jauh dari sikap keras dan kasar serta kata-kata keji dan kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ” حديث حسن صحيح“Tidaklah dicabut sifat pengasih kecuali dari orang yang celaka”.  HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan.Hendaknya engkau mencerminkan perangai-perangai Islam yang mulia dan ajaran-ajarannya yang tinggi, maka engkau akan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan terhiaskan seluruh akhlak yang mulia, engkau memiliki sifat penyayang yang tinggi kandungannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling lembut adalah seperti perumpamaan tubuh yang satu, jika salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain juga ikut menyerukan rasa sakit dengan begadang dan demam”. Jadilah engkau di masyarakatmu termasuk orang-orang yang penyayang, pengasih, dan berakhlak yang mulia dan suka berbuat baik kepada orang lain, cerminkan perangai yang mulia dan budi pekerti yang indah serta sifat-sifat yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. HR Al-Bukhari dan MuslimNabi bersabda :مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlak yang mulia” .HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan shahih. Abu Dawud meriwayatkanإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang mulia mendapati derajat orang yang puasa sunnah dan sholat malam”Hendaknya engkau senantiasa bertutur kata yang terarah, senantiasa tersenyum yang memancarkan kasih sayang, berhati yang lembut dan bermu’amalah yang baik, dan berperilaku yang sopan, sembari berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa memberi sumbangsih bagi kebaikan, suka dengan kebajikan dan menebarkan kemuliaan, salam, dan keharmonisan dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat, maka niscaya engkau akan meraih kebaikan yang besar dan kemenangan yang agung.Rasul kita – shallallahu ‘alaihi wasallam- di antara sifat-sifat beliau yang agung adalah beliau menyambung silaturahmi, membantu orang yang tidak mampu, bekerja untuk membantu orang yang tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah bersabda ;أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.HR At-Thabrani dengan sanad yang hasan.Waspadalah wahai saudaraku pemuda!Janganlah sampai engkau mengganggu masyarakatmu, memberi kemudhorotan kepada tetanggamu, maka menjaga anggota tubuh agar tidak mengganggu orang lain termasuk dari perbuatan kebajikan dan amalan sholih. Dari Jundub bin Junaadah –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata ;قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ؟ قَالَ: ” تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ”رواه مسلم“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku lemah tidak mampu melaksanakan sebagian amal, maka amal kebajikan apa yang aku lakukan?’. Nabi berkata, “Engkau menahan dirimu tidak mengganggu orang lain, maka itu adalah sedekah darimu untuk dirimu”. HR Muslim.=======Khotbah Kedua :     Sesungguhnya diantara kerusakan yang paling parah yang terjadi di hari ini pada umat ini adalah kedengkian yang terpendam dan kebencian yang tersembunyi yang disimpan oleh sebagian umat ini kepada sebagian yang lain. Hal ini menyebabkan munculnya tindakan-tindakan kriminal dan kejahatan yang sangat buruk yang dibangun di atas menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah serta merajalelanya kejahatan dan pengrusakan di atas muka bumi.Allah berfirman :أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا [ المائدة/32]‘Bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Qs Al-Maidah : 32 Allah juga berfirman :وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا [ النساء / 93 ]“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. Qs An-Nisaa : 93 Musibah apa yang menimpa kalian wahai putra-putra Islam? Sebagian kalian membunuh sebagian yang lain, dan menjadikan mereka merasakan berbagai macam penderitaan dan siksaan, pengepungan, pengusiran, pembunuhan, pengeboman, yang menjadikan alam semesta gempar dengan dahsyatnya kengerian itu semua, matahari dan bulan pun berlindung dari ini semua.Kemana larinya mereka (para pembuat onar tersebut-pen) dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa?Mana pengamalan firman Allah penguasa alam semesta?, mana penerapan wasiat-wasiat Nabi Muhammad pemimpin seluruh manusia yang awal hingga yang akhir?.Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ;لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا“Senantiasa seorang hamba dalam kelapangan pada agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang diharamkan untuk ditumpahkan”.Beliau juga bersabda :لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ“Janganlah setelahku kalian kembali menjadi kufur, dimana sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”. HR Al-Bukhari dan Muslim. Sesungguhnya Islam mengagungkan perkara darah, dan Islam tidak memberikan kesempatan untuk mentakwil (mencari alasan) bagaimanapun sebabnya untuk menumpahkan darah. Dalam hadits :أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ“Perkara pertama yang diputuskan diantara manusia pada hari kiamat adalah pada urusan darah”. HR Al-Bukhari dan Muslim.Di dalam sunan At-Tirmidzi dan Ibnu Maajah ;لَقَتْلُ مُسْلِمٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا“Sungguh terbunuhnya seorang muslim lebih besar di sisi Allah dari pada hilangnya dunia” Bahkan Islam mengharamkan membunuh kafir mu’ahad yang telah diberikan janji keamanan dan amanah atas dirinya di negeri islam, bahkan meskipun yang memberikan jaminan keamanan baginya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا“Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka ia tidak akan mencium harumnya surga, dan sesungguhnya harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan”. Maka hendaknya kalian –wahai umat al-Qur’an- bertakwalah kepada Allah, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan pada jalan-jalan yang menyimpang dari kebenaran, ke lembah-lembah keburukan. Jadilah kalian orang-orang yang berhenti pada batasan-batasan Allah, dan jangan sampai kalian mengganggu kaum muslimin, memberikan rasa takut kepada kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ لاَ يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang memberi ketakutan kepada seorang mukmin maka Allah berhak untuk tidak memberikannya keamanan dari dahsyatnya kengerian hari kiamat”. HR At-Thabrani di Al-Awshath.       Kemudian ketahuilah, bahwasanya termasuk amalan yang tersuci yang dilakukan dalam kehidupan kita adalah menyibukan diri untuk bersholawat kepada Nabi yang termulia.Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi kita Muhammad, dan Ya Allah ridoilah para khulafaur rosyidin dan para imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin. Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan. Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung.Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada.Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat.Ya Allah berilah taufiqMu kepada pelayan dua kota suci, arahkanlah ia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhai.Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal.Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab neraka.=======   Selesai   ======Penerjemah Usman Hatim dan Firanda Andirja
خطبة الجمعة من المسجد النبوي 12 ربيع الآخر 1437 هـالخطيب / حسين بن عبد العزيز آل الشيخترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبوي الشريفKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 12 Rabiul Awal 1437 H.Khatib : Syekh Husain Bin Abdul Aziz Al As-Syekh.Khotbah PertamaPemuda merupakan pusat perhatian dan tumpuan harapan masyarakat, sebagai obor penyemangat masa kini dan insan-insan pembangun masa depan. Dari sinilah pentingnya mereka perlu mendapatkan bimbingan islami secara khusus dan komprehensif.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا [ التحريم / 7 ]Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka (Qs At-Tahrim : 6) Masa muda waktu berharga yang tak dapat tergantikan, bunga elok yang tak ada bandingnya, maka setiap yang menginginkan kesuksesan harus mengisi dan memakmurkan masa mudanya untuk taat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Disamping harus bersungguh-sungguh dan tidak pernah kendur dalam melawan hawa nafsu dan setan.Sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – :” اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ ““Raihlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya”, dalam hadis ini beliau menyebutkan  :” شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ““ dan masa mudamu sebelum masa tuamu”. HR Ahmad dan lainnya. Maka, wahai pemuda Islam, manfaatkanlah waktu yang agung ini untuk beribadah kepada Allah, tumbuh kembanglah di bawah naungan perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, niscaya Anda meraih akibat yang baik dan kesuksesan yang besar di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظلَّ إلاَّ ظلَّهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya”, beliau menyebutkan di antaranya ialah” وَشَا بٌّ نَشَأ في عِبَا دَةِ الله  ” [ رواه البخاري]“pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah”. HR Bukhari.Kaum muslimin!Anugerah terbesar ialah ketika Allah memberi kesempatan kepada hambaNya dalam usia muda untuk beribadah kepadaNya, berpacu dalam meraih ridhaNya, menjauhi larangan-laranganNya sebagai seorang muslim yang wajib mempertanggung jawabkan nikmat usia muda itu yang kelak akan diaudit. Imam Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن خمس ، عن عمره فيما أفناه وعن شبابه فيما أبلاه ، و عن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه ، وماذا عمل فى ما عَلِمَ ““Dua kaki manusia kelak hari kiamat tidak akan bergeser sebelum dirinya mempertanggung-jawabkan lima perkara ; tentang usianya, untuk apa ia menghabiskannya ? tentang masa mudanya, dalam hal apa ia mengisinya ? tentang harta bendanya, dari mana dan dalam hal apa ia mengelurkannya ? Dan apa dia amalkan dari ilmunya?.”Saudara-saudara sesama muslim!Kesuksesan anak-anak muda adalah kesuksesan umat, tidak mungkin suatu umat mencapai kebahagiaan, kejayaaan, kemapanan, kebesaran dan ketenteraman kecuali manakala kaum mudanya berpegang teguh pada ajaran yang dijalankan oleh generasi pertama umat ini. Ketika itulah kejayaan agama dan kemakmuran hidup terlihat pada setiap karya yang produktif dan pengabdian yang positif.Anas – radhiyallahu anhu – berkata :“Ada 70 orang pemuda Anshar yang disebut sebagai ‘Al-Qurra’ (pakar baca Al-Quran)tinggal di masjid. Ketika waktu sudah sore, mereka menuju ke pinggiran kota Madinah untuk belajar dan melaksanakan shalat, sehingga jama’ah mesjid menyangka mereka sudah pulang ke rumah mereka, dan keluarga mereka di rumah menyangka mereka masih di mesjid. Manakala waktu pagi hari merekapun mencari air dan kayu bakar untuk mereka hadirkan ke rumah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-“. HR Ahmad.Sesungguhnya para pemuda sangat butuh untuk waspada dari sebab-sebab yang bisa menjerumuskan mereka, masyarakat mereka, dan umat mereka ke lembah-lembah hawa nafsu dan langkah-langkah syaitan. Yang hal ini akan mengantarkan kepada kesudahan yang buruk dan kemudorotan yang besar. Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنَوُا خُذُوا حِذْرَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, waspada dan bersiagalah” (QS An-Nisaa : 71)Pemuda Islam haruslah menjadi insan yang cerdas dan tanggap, tidak merespon apapun yang tidak jelas tujuannya bagi kepentingan Islam  dan yang tidak membuat panji-panji kebenaran berkibar.Betapa besar ambisi lawan-lawan Islam untuk menjerumuskan para pemuda Islam ke dalam jurang kebinasaan dan jalur kesesatan serta menjauhkan mereka dari norma-norma keluhuran dan prinsip-prinsip toleransi yang menjadi watak Islam yang moderat, pertengahan dan yang dapat membimbing mereka bagaimana cara memelihara kemaslahatan dan mendatangkan kemanfaatan bagi diri mereka, bangsa, negara dan masyarakat.Firman Allah :قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ  [ المائدة / 77 ]( Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas ( bersikap ekstrim ) dengan cara tidak benar dalam agamamu ).Qs Al-Maidah : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :” إياكم والغلو فإنما أهلك من قبلكم الغلو “ “Waspadailah sikap ekstrim, karena sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah akibat sikap ekstrim mereka”.Pemuda Islam mempunyai tanggung jawab besar, mengemban obor keimanan dan ideologi ( akidah ) yang benar serta membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih demi kecerahan akal pikiran mereka, kejernihan mata hati mereka, ketajaman intelektual mereka dan ketepatan gagasan-gagasan mereka. Dengan demikian mereka menjadi bagian dari upaya perbaikan dan pengaman dari kekacauan kejahatan, dampak buruk fitnah dan keganasan gelombang bencana.Firman Allah :إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ، وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ [ الكهف/ 13]“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka “. Qs Al-Kahfi : 13 – 14 Saudara-saudara sesama muslim!       Para pemuda islam dewasa ini terombang-ambing oleh ombak besar pemikiran yang menyimpang dan aliran yang menyesatkan, ambisi yang bias dan serangan ideologi yang tidak jelas ujung tepinya. Maka sangat penting bagi pemuda kita menyatu dengan para ulama yang telah diakui kredibilitasnya oleh masyarakat dalam keilmuan, kepatuhan, keberagaman, keshalihan, kegeniusan, intelektualitas, ketegaran dan ketulusan hati, terutama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan genting, yang manakala keliru dalam menyikapinya akan menimbulkan dampak yang buruk sepanjang sejarah umat, seperti halnya problematika pengkafiran, loyalitas (hanya kepada Islam) dan lepas tangan (dari hal-hal yang diluar Islam), masalah pengingkaran, pembaiatan, jihad dan persoalan-persoalan genting lainnya.Firman Allah  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [ الأنبياء / 7 ]“ maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. Qs Al-Anbiya : 7Para ulama bertanggung jawab terhadap amanat ini. Karena itu para Ulama dan para da’i harus pandai menyampaikan informasi dan berimbang dalam menangani persoalan umat serta tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa, kecuali setelah memahami duduk persoalan secara tepat dan cermat serta memilih bahasa yang santun. Sebab tidak sedikit fatwa dan himbauan yang justru menyeret umat kepada kedustaan dan kesesatan. Pemuda Islam harus sadar bahwa ketika dirinya sedang enjoy dengan emosional keagamaannya yang menggebu-gebu, terpujilah hal itu di dunianya dan akhiratnya, selama terkontrol oleh ilmu syariat dan petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak demikinan, maka betapa banyak orang yang bermaksud mengatasi penyakit flu, namun justru menimbulkan penyakit kusta (lepra) sehingga mendatangkan berbagai malapetaka dan penderitaan yang tidak kunjung berakhir bagi umat Islam dan masyarakat luas.Kaum muslimin!Kita semua di awal semester pengajaran perlu mengingatkan para pendidik yang budiman bahwa mereka adalah insan-insan pembela nilai-nilai keutamaan dan pembina rasio pemikiran. Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam menanamkan prinsip-prinsip Islam yang autentik dan moral akhlak yang mulia ke dalam jiwa generasi muslim. Menghindarkan mereka dari upaya-upaya penggelinciran yang membahayakan, dan dari berbagai jalur bengkok yang tidak menguntungkan apa-apa, baik urusan agama maupun dunia.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta  pertanggung jawaban tentang bawahan yang dipimpinnya”.Wahai kawula muda negeri ini!Puji syukur ke hadirat Allah atas aneka macam nikmatNya. Kalian semua merasa enjoy dengan penghidupan yang menyenangkan dan keamanan serta ekonomi yang mapan. Maka jadilah kalian sebaik-baik pembela dua tanah suci (Al-Haramain) dan mempertahankan kedaulatannya. Allah –subhanahu wa ta’ala – berfirman :“َوَتَعاَونُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  ” [ المائدة / 2 ] “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. Qs Al-Maidah : 2Satukanlah kalimat dan rapatkanlah barisan serta tetaplah pada jalur perbaikan dan peningkatan diri. Janganlah kalian memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin lalu menyendiri dari masyarakat. Ingatlah bahwa tangan Allah selalu menggandeng orang-orang yang bersatu padu. Wahai kaum muslimin!Setan bekerja keras memikat manusia dengan memoles dan memperindah keburukan dan lubang-lubang jalan kesesatan dan kedurjanaan, lalu memasang perangkap untuk memperdayakannya dari jalur kebenaran dan merintanginya dari jalan yang lurus. Firman Allah :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6).Terutama ketika menghadapi anak muda, setan lebih keras permusuhannya untuk mengarahkan mereka ke dalam iring-iringan ( konvoi ) kebatilan yang menuju neraka. Allah berfirman :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6). Pahamilah segala sarana dan prasarana setan dengan perangkapnya. Waspadalah terhadap tipudaya setan dan trik-trik kejahatannya.Firman Allah : يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا[ الأعراف / 27 ]“Wahai anak cucu Adam ! Janganlah kalian tertipu oleh setan ! sebagaimana dia telah mengeluarkan ibu bapak kalian dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”. al-A’râf :27Syaitan menggoda para pemuda yang ta’at beragama melalui pintu mengajak kepada sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas serta keluar dari petunjuk yang shahih dan manhaj yang hak.Setan memangsa para pemuda dengan menghiasi kerusakan menjadi keindahan, dan melalaikan mereka dengan angan-angan yang panjang serta indahnya masa muda, sehingga akhirnya ia menjerumuskan para pemuda ke dalam dosa-dosa yang membinasakan, perbuatan-perbuatan keji dan kemaksiatan-kemaksiatan.Ibnul Qoyyim berkata :“Sebagian salaf berkata ; Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan suatu perintah kecuali setan memiliki dua godaan terhadap perintah tersebut, godaan untuk kurang dalam melaksanakan perintah tersebut atau godaan untuk bersikap berlebihan dan melampaui batas dalam melaksanakan perintah tersebut. Dan setan tidak perduli dengan mana ia berhasil menggoda”Penanganan yang bermanfaat dan obat yang menyembuhkan dari bahaya setan dan godaannya adalah mengarahkan diri kepada ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengan amal shalih dalam urusan agama dan dunia, serta memperbanyak membaca al-Qur’an dan mentadaburinya, demikian juga memperbanyak dzikir kepada Allah dan berlindung kepadaNya dari syaitan yang terkutuk.إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ [ الحجر/ 42 ]“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. Qs Al-Hijr : 42 إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [ النحل / 99]“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. Qs An-Nahl : 99Para pemuda sekalian!Anak muda memiliki cahaya dan kekuatan, maka hendaknya engkau –wahai pemuda muslim- jadilah seorang yang lembut hatinya, lembut akhlaknya, baik perangainya, mencerminkan akan kasih sayang dan keindahan Islam.فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ [ آل عمران / 159“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. Qs Ali Imron : 159 Hendaknya keutamaan sikap mengasihi selalu menyertaimu bahkan meski dalam kondisi paling sulit dan krisis yang paling berat. Jadilah engkau termasuk orang-orang yang berhati pengasih, jauh dari hati yang keras dan tabi’at yang kasar, jauh dari sikap keras dan kasar serta kata-kata keji dan kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ” حديث حسن صحيح“Tidaklah dicabut sifat pengasih kecuali dari orang yang celaka”.  HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan.Hendaknya engkau mencerminkan perangai-perangai Islam yang mulia dan ajaran-ajarannya yang tinggi, maka engkau akan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan terhiaskan seluruh akhlak yang mulia, engkau memiliki sifat penyayang yang tinggi kandungannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling lembut adalah seperti perumpamaan tubuh yang satu, jika salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain juga ikut menyerukan rasa sakit dengan begadang dan demam”. Jadilah engkau di masyarakatmu termasuk orang-orang yang penyayang, pengasih, dan berakhlak yang mulia dan suka berbuat baik kepada orang lain, cerminkan perangai yang mulia dan budi pekerti yang indah serta sifat-sifat yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. HR Al-Bukhari dan MuslimNabi bersabda :مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlak yang mulia” .HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan shahih. Abu Dawud meriwayatkanإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang mulia mendapati derajat orang yang puasa sunnah dan sholat malam”Hendaknya engkau senantiasa bertutur kata yang terarah, senantiasa tersenyum yang memancarkan kasih sayang, berhati yang lembut dan bermu’amalah yang baik, dan berperilaku yang sopan, sembari berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa memberi sumbangsih bagi kebaikan, suka dengan kebajikan dan menebarkan kemuliaan, salam, dan keharmonisan dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat, maka niscaya engkau akan meraih kebaikan yang besar dan kemenangan yang agung.Rasul kita – shallallahu ‘alaihi wasallam- di antara sifat-sifat beliau yang agung adalah beliau menyambung silaturahmi, membantu orang yang tidak mampu, bekerja untuk membantu orang yang tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah bersabda ;أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.HR At-Thabrani dengan sanad yang hasan.Waspadalah wahai saudaraku pemuda!Janganlah sampai engkau mengganggu masyarakatmu, memberi kemudhorotan kepada tetanggamu, maka menjaga anggota tubuh agar tidak mengganggu orang lain termasuk dari perbuatan kebajikan dan amalan sholih. Dari Jundub bin Junaadah –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata ;قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ؟ قَالَ: ” تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ”رواه مسلم“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku lemah tidak mampu melaksanakan sebagian amal, maka amal kebajikan apa yang aku lakukan?’. Nabi berkata, “Engkau menahan dirimu tidak mengganggu orang lain, maka itu adalah sedekah darimu untuk dirimu”. HR Muslim.=======Khotbah Kedua :     Sesungguhnya diantara kerusakan yang paling parah yang terjadi di hari ini pada umat ini adalah kedengkian yang terpendam dan kebencian yang tersembunyi yang disimpan oleh sebagian umat ini kepada sebagian yang lain. Hal ini menyebabkan munculnya tindakan-tindakan kriminal dan kejahatan yang sangat buruk yang dibangun di atas menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah serta merajalelanya kejahatan dan pengrusakan di atas muka bumi.Allah berfirman :أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا [ المائدة/32]‘Bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Qs Al-Maidah : 32 Allah juga berfirman :وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا [ النساء / 93 ]“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. Qs An-Nisaa : 93 Musibah apa yang menimpa kalian wahai putra-putra Islam? Sebagian kalian membunuh sebagian yang lain, dan menjadikan mereka merasakan berbagai macam penderitaan dan siksaan, pengepungan, pengusiran, pembunuhan, pengeboman, yang menjadikan alam semesta gempar dengan dahsyatnya kengerian itu semua, matahari dan bulan pun berlindung dari ini semua.Kemana larinya mereka (para pembuat onar tersebut-pen) dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa?Mana pengamalan firman Allah penguasa alam semesta?, mana penerapan wasiat-wasiat Nabi Muhammad pemimpin seluruh manusia yang awal hingga yang akhir?.Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ;لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا“Senantiasa seorang hamba dalam kelapangan pada agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang diharamkan untuk ditumpahkan”.Beliau juga bersabda :لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ“Janganlah setelahku kalian kembali menjadi kufur, dimana sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”. HR Al-Bukhari dan Muslim. Sesungguhnya Islam mengagungkan perkara darah, dan Islam tidak memberikan kesempatan untuk mentakwil (mencari alasan) bagaimanapun sebabnya untuk menumpahkan darah. Dalam hadits :أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ“Perkara pertama yang diputuskan diantara manusia pada hari kiamat adalah pada urusan darah”. HR Al-Bukhari dan Muslim.Di dalam sunan At-Tirmidzi dan Ibnu Maajah ;لَقَتْلُ مُسْلِمٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا“Sungguh terbunuhnya seorang muslim lebih besar di sisi Allah dari pada hilangnya dunia” Bahkan Islam mengharamkan membunuh kafir mu’ahad yang telah diberikan janji keamanan dan amanah atas dirinya di negeri islam, bahkan meskipun yang memberikan jaminan keamanan baginya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا“Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka ia tidak akan mencium harumnya surga, dan sesungguhnya harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan”. Maka hendaknya kalian –wahai umat al-Qur’an- bertakwalah kepada Allah, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan pada jalan-jalan yang menyimpang dari kebenaran, ke lembah-lembah keburukan. Jadilah kalian orang-orang yang berhenti pada batasan-batasan Allah, dan jangan sampai kalian mengganggu kaum muslimin, memberikan rasa takut kepada kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ لاَ يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang memberi ketakutan kepada seorang mukmin maka Allah berhak untuk tidak memberikannya keamanan dari dahsyatnya kengerian hari kiamat”. HR At-Thabrani di Al-Awshath.       Kemudian ketahuilah, bahwasanya termasuk amalan yang tersuci yang dilakukan dalam kehidupan kita adalah menyibukan diri untuk bersholawat kepada Nabi yang termulia.Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi kita Muhammad, dan Ya Allah ridoilah para khulafaur rosyidin dan para imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin. Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan. Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung.Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada.Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat.Ya Allah berilah taufiqMu kepada pelayan dua kota suci, arahkanlah ia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhai.Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal.Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab neraka.=======   Selesai   ======Penerjemah Usman Hatim dan Firanda Andirja


خطبة الجمعة من المسجد النبوي 12 ربيع الآخر 1437 هـالخطيب / حسين بن عبد العزيز آل الشيخترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبوي الشريفKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 12 Rabiul Awal 1437 H.Khatib : Syekh Husain Bin Abdul Aziz Al As-Syekh.Khotbah PertamaPemuda merupakan pusat perhatian dan tumpuan harapan masyarakat, sebagai obor penyemangat masa kini dan insan-insan pembangun masa depan. Dari sinilah pentingnya mereka perlu mendapatkan bimbingan islami secara khusus dan komprehensif.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا [ التحريم / 7 ]Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka (Qs At-Tahrim : 6) Masa muda waktu berharga yang tak dapat tergantikan, bunga elok yang tak ada bandingnya, maka setiap yang menginginkan kesuksesan harus mengisi dan memakmurkan masa mudanya untuk taat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Disamping harus bersungguh-sungguh dan tidak pernah kendur dalam melawan hawa nafsu dan setan.Sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – :” اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ ““Raihlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya”, dalam hadis ini beliau menyebutkan  :” شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ““ dan masa mudamu sebelum masa tuamu”. HR Ahmad dan lainnya. Maka, wahai pemuda Islam, manfaatkanlah waktu yang agung ini untuk beribadah kepada Allah, tumbuh kembanglah di bawah naungan perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, niscaya Anda meraih akibat yang baik dan kesuksesan yang besar di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظلَّ إلاَّ ظلَّهُ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya”, beliau menyebutkan di antaranya ialah” وَشَا بٌّ نَشَأ في عِبَا دَةِ الله  ” [ رواه البخاري]“pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah”. HR Bukhari.Kaum muslimin!Anugerah terbesar ialah ketika Allah memberi kesempatan kepada hambaNya dalam usia muda untuk beribadah kepadaNya, berpacu dalam meraih ridhaNya, menjauhi larangan-laranganNya sebagai seorang muslim yang wajib mempertanggung jawabkan nikmat usia muda itu yang kelak akan diaudit. Imam Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن خمس ، عن عمره فيما أفناه وعن شبابه فيما أبلاه ، و عن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه ، وماذا عمل فى ما عَلِمَ ““Dua kaki manusia kelak hari kiamat tidak akan bergeser sebelum dirinya mempertanggung-jawabkan lima perkara ; tentang usianya, untuk apa ia menghabiskannya ? tentang masa mudanya, dalam hal apa ia mengisinya ? tentang harta bendanya, dari mana dan dalam hal apa ia mengelurkannya ? Dan apa dia amalkan dari ilmunya?.”Saudara-saudara sesama muslim!Kesuksesan anak-anak muda adalah kesuksesan umat, tidak mungkin suatu umat mencapai kebahagiaan, kejayaaan, kemapanan, kebesaran dan ketenteraman kecuali manakala kaum mudanya berpegang teguh pada ajaran yang dijalankan oleh generasi pertama umat ini. Ketika itulah kejayaan agama dan kemakmuran hidup terlihat pada setiap karya yang produktif dan pengabdian yang positif.Anas – radhiyallahu anhu – berkata :“Ada 70 orang pemuda Anshar yang disebut sebagai ‘Al-Qurra’ (pakar baca Al-Quran)tinggal di masjid. Ketika waktu sudah sore, mereka menuju ke pinggiran kota Madinah untuk belajar dan melaksanakan shalat, sehingga jama’ah mesjid menyangka mereka sudah pulang ke rumah mereka, dan keluarga mereka di rumah menyangka mereka masih di mesjid. Manakala waktu pagi hari merekapun mencari air dan kayu bakar untuk mereka hadirkan ke rumah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-“. HR Ahmad.Sesungguhnya para pemuda sangat butuh untuk waspada dari sebab-sebab yang bisa menjerumuskan mereka, masyarakat mereka, dan umat mereka ke lembah-lembah hawa nafsu dan langkah-langkah syaitan. Yang hal ini akan mengantarkan kepada kesudahan yang buruk dan kemudorotan yang besar. Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنَوُا خُذُوا حِذْرَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, waspada dan bersiagalah” (QS An-Nisaa : 71)Pemuda Islam haruslah menjadi insan yang cerdas dan tanggap, tidak merespon apapun yang tidak jelas tujuannya bagi kepentingan Islam  dan yang tidak membuat panji-panji kebenaran berkibar.Betapa besar ambisi lawan-lawan Islam untuk menjerumuskan para pemuda Islam ke dalam jurang kebinasaan dan jalur kesesatan serta menjauhkan mereka dari norma-norma keluhuran dan prinsip-prinsip toleransi yang menjadi watak Islam yang moderat, pertengahan dan yang dapat membimbing mereka bagaimana cara memelihara kemaslahatan dan mendatangkan kemanfaatan bagi diri mereka, bangsa, negara dan masyarakat.Firman Allah :قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ  [ المائدة / 77 ]( Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas ( bersikap ekstrim ) dengan cara tidak benar dalam agamamu ).Qs Al-Maidah : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – :” إياكم والغلو فإنما أهلك من قبلكم الغلو “ “Waspadailah sikap ekstrim, karena sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah akibat sikap ekstrim mereka”.Pemuda Islam mempunyai tanggung jawab besar, mengemban obor keimanan dan ideologi ( akidah ) yang benar serta membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih demi kecerahan akal pikiran mereka, kejernihan mata hati mereka, ketajaman intelektual mereka dan ketepatan gagasan-gagasan mereka. Dengan demikian mereka menjadi bagian dari upaya perbaikan dan pengaman dari kekacauan kejahatan, dampak buruk fitnah dan keganasan gelombang bencana.Firman Allah :إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ، وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ [ الكهف/ 13]“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka “. Qs Al-Kahfi : 13 – 14 Saudara-saudara sesama muslim!       Para pemuda islam dewasa ini terombang-ambing oleh ombak besar pemikiran yang menyimpang dan aliran yang menyesatkan, ambisi yang bias dan serangan ideologi yang tidak jelas ujung tepinya. Maka sangat penting bagi pemuda kita menyatu dengan para ulama yang telah diakui kredibilitasnya oleh masyarakat dalam keilmuan, kepatuhan, keberagaman, keshalihan, kegeniusan, intelektualitas, ketegaran dan ketulusan hati, terutama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan genting, yang manakala keliru dalam menyikapinya akan menimbulkan dampak yang buruk sepanjang sejarah umat, seperti halnya problematika pengkafiran, loyalitas (hanya kepada Islam) dan lepas tangan (dari hal-hal yang diluar Islam), masalah pengingkaran, pembaiatan, jihad dan persoalan-persoalan genting lainnya.Firman Allah  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [ الأنبياء / 7 ]“ maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. Qs Al-Anbiya : 7Para ulama bertanggung jawab terhadap amanat ini. Karena itu para Ulama dan para da’i harus pandai menyampaikan informasi dan berimbang dalam menangani persoalan umat serta tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa, kecuali setelah memahami duduk persoalan secara tepat dan cermat serta memilih bahasa yang santun. Sebab tidak sedikit fatwa dan himbauan yang justru menyeret umat kepada kedustaan dan kesesatan. Pemuda Islam harus sadar bahwa ketika dirinya sedang enjoy dengan emosional keagamaannya yang menggebu-gebu, terpujilah hal itu di dunianya dan akhiratnya, selama terkontrol oleh ilmu syariat dan petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak demikinan, maka betapa banyak orang yang bermaksud mengatasi penyakit flu, namun justru menimbulkan penyakit kusta (lepra) sehingga mendatangkan berbagai malapetaka dan penderitaan yang tidak kunjung berakhir bagi umat Islam dan masyarakat luas.Kaum muslimin!Kita semua di awal semester pengajaran perlu mengingatkan para pendidik yang budiman bahwa mereka adalah insan-insan pembela nilai-nilai keutamaan dan pembina rasio pemikiran. Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam menanamkan prinsip-prinsip Islam yang autentik dan moral akhlak yang mulia ke dalam jiwa generasi muslim. Menghindarkan mereka dari upaya-upaya penggelinciran yang membahayakan, dan dari berbagai jalur bengkok yang tidak menguntungkan apa-apa, baik urusan agama maupun dunia.Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta  pertanggung jawaban tentang bawahan yang dipimpinnya”.Wahai kawula muda negeri ini!Puji syukur ke hadirat Allah atas aneka macam nikmatNya. Kalian semua merasa enjoy dengan penghidupan yang menyenangkan dan keamanan serta ekonomi yang mapan. Maka jadilah kalian sebaik-baik pembela dua tanah suci (Al-Haramain) dan mempertahankan kedaulatannya. Allah –subhanahu wa ta’ala – berfirman :“َوَتَعاَونُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  ” [ المائدة / 2 ] “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. Qs Al-Maidah : 2Satukanlah kalimat dan rapatkanlah barisan serta tetaplah pada jalur perbaikan dan peningkatan diri. Janganlah kalian memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin lalu menyendiri dari masyarakat. Ingatlah bahwa tangan Allah selalu menggandeng orang-orang yang bersatu padu. Wahai kaum muslimin!Setan bekerja keras memikat manusia dengan memoles dan memperindah keburukan dan lubang-lubang jalan kesesatan dan kedurjanaan, lalu memasang perangkap untuk memperdayakannya dari jalur kebenaran dan merintanginya dari jalan yang lurus. Firman Allah :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6).Terutama ketika menghadapi anak muda, setan lebih keras permusuhannya untuk mengarahkan mereka ke dalam iring-iringan ( konvoi ) kebatilan yang menuju neraka. Allah berfirman :إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ [ فاطر / 6]“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6). Pahamilah segala sarana dan prasarana setan dengan perangkapnya. Waspadalah terhadap tipudaya setan dan trik-trik kejahatannya.Firman Allah : يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا[ الأعراف / 27 ]“Wahai anak cucu Adam ! Janganlah kalian tertipu oleh setan ! sebagaimana dia telah mengeluarkan ibu bapak kalian dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”. al-A’râf :27Syaitan menggoda para pemuda yang ta’at beragama melalui pintu mengajak kepada sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas serta keluar dari petunjuk yang shahih dan manhaj yang hak.Setan memangsa para pemuda dengan menghiasi kerusakan menjadi keindahan, dan melalaikan mereka dengan angan-angan yang panjang serta indahnya masa muda, sehingga akhirnya ia menjerumuskan para pemuda ke dalam dosa-dosa yang membinasakan, perbuatan-perbuatan keji dan kemaksiatan-kemaksiatan.Ibnul Qoyyim berkata :“Sebagian salaf berkata ; Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan suatu perintah kecuali setan memiliki dua godaan terhadap perintah tersebut, godaan untuk kurang dalam melaksanakan perintah tersebut atau godaan untuk bersikap berlebihan dan melampaui batas dalam melaksanakan perintah tersebut. Dan setan tidak perduli dengan mana ia berhasil menggoda”Penanganan yang bermanfaat dan obat yang menyembuhkan dari bahaya setan dan godaannya adalah mengarahkan diri kepada ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengan amal shalih dalam urusan agama dan dunia, serta memperbanyak membaca al-Qur’an dan mentadaburinya, demikian juga memperbanyak dzikir kepada Allah dan berlindung kepadaNya dari syaitan yang terkutuk.إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ [ الحجر/ 42 ]“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. Qs Al-Hijr : 42 إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [ النحل / 99]“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. Qs An-Nahl : 99Para pemuda sekalian!Anak muda memiliki cahaya dan kekuatan, maka hendaknya engkau –wahai pemuda muslim- jadilah seorang yang lembut hatinya, lembut akhlaknya, baik perangainya, mencerminkan akan kasih sayang dan keindahan Islam.فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ [ آل عمران / 159“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. Qs Ali Imron : 159 Hendaknya keutamaan sikap mengasihi selalu menyertaimu bahkan meski dalam kondisi paling sulit dan krisis yang paling berat. Jadilah engkau termasuk orang-orang yang berhati pengasih, jauh dari hati yang keras dan tabi’at yang kasar, jauh dari sikap keras dan kasar serta kata-kata keji dan kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ” حديث حسن صحيح“Tidaklah dicabut sifat pengasih kecuali dari orang yang celaka”.  HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan.Hendaknya engkau mencerminkan perangai-perangai Islam yang mulia dan ajaran-ajarannya yang tinggi, maka engkau akan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan terhiaskan seluruh akhlak yang mulia, engkau memiliki sifat penyayang yang tinggi kandungannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling lembut adalah seperti perumpamaan tubuh yang satu, jika salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain juga ikut menyerukan rasa sakit dengan begadang dan demam”. Jadilah engkau di masyarakatmu termasuk orang-orang yang penyayang, pengasih, dan berakhlak yang mulia dan suka berbuat baik kepada orang lain, cerminkan perangai yang mulia dan budi pekerti yang indah serta sifat-sifat yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya”. HR Al-Bukhari dan MuslimNabi bersabda :مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlak yang mulia” .HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan shahih. Abu Dawud meriwayatkanإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang mulia mendapati derajat orang yang puasa sunnah dan sholat malam”Hendaknya engkau senantiasa bertutur kata yang terarah, senantiasa tersenyum yang memancarkan kasih sayang, berhati yang lembut dan bermu’amalah yang baik, dan berperilaku yang sopan, sembari berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa memberi sumbangsih bagi kebaikan, suka dengan kebajikan dan menebarkan kemuliaan, salam, dan keharmonisan dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat, maka niscaya engkau akan meraih kebaikan yang besar dan kemenangan yang agung.Rasul kita – shallallahu ‘alaihi wasallam- di antara sifat-sifat beliau yang agung adalah beliau menyambung silaturahmi, membantu orang yang tidak mampu, bekerja untuk membantu orang yang tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah bersabda ;أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.HR At-Thabrani dengan sanad yang hasan.Waspadalah wahai saudaraku pemuda!Janganlah sampai engkau mengganggu masyarakatmu, memberi kemudhorotan kepada tetanggamu, maka menjaga anggota tubuh agar tidak mengganggu orang lain termasuk dari perbuatan kebajikan dan amalan sholih. Dari Jundub bin Junaadah –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata ;قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ؟ قَالَ: ” تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ”رواه مسلم“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku lemah tidak mampu melaksanakan sebagian amal, maka amal kebajikan apa yang aku lakukan?’. Nabi berkata, “Engkau menahan dirimu tidak mengganggu orang lain, maka itu adalah sedekah darimu untuk dirimu”. HR Muslim.=======Khotbah Kedua :     Sesungguhnya diantara kerusakan yang paling parah yang terjadi di hari ini pada umat ini adalah kedengkian yang terpendam dan kebencian yang tersembunyi yang disimpan oleh sebagian umat ini kepada sebagian yang lain. Hal ini menyebabkan munculnya tindakan-tindakan kriminal dan kejahatan yang sangat buruk yang dibangun di atas menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah serta merajalelanya kejahatan dan pengrusakan di atas muka bumi.Allah berfirman :أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا [ المائدة/32]‘Bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Qs Al-Maidah : 32 Allah juga berfirman :وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا [ النساء / 93 ]“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. Qs An-Nisaa : 93 Musibah apa yang menimpa kalian wahai putra-putra Islam? Sebagian kalian membunuh sebagian yang lain, dan menjadikan mereka merasakan berbagai macam penderitaan dan siksaan, pengepungan, pengusiran, pembunuhan, pengeboman, yang menjadikan alam semesta gempar dengan dahsyatnya kengerian itu semua, matahari dan bulan pun berlindung dari ini semua.Kemana larinya mereka (para pembuat onar tersebut-pen) dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa?Mana pengamalan firman Allah penguasa alam semesta?, mana penerapan wasiat-wasiat Nabi Muhammad pemimpin seluruh manusia yang awal hingga yang akhir?.Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ;لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا“Senantiasa seorang hamba dalam kelapangan pada agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang diharamkan untuk ditumpahkan”.Beliau juga bersabda :لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ“Janganlah setelahku kalian kembali menjadi kufur, dimana sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain”. HR Al-Bukhari dan Muslim. Sesungguhnya Islam mengagungkan perkara darah, dan Islam tidak memberikan kesempatan untuk mentakwil (mencari alasan) bagaimanapun sebabnya untuk menumpahkan darah. Dalam hadits :أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ“Perkara pertama yang diputuskan diantara manusia pada hari kiamat adalah pada urusan darah”. HR Al-Bukhari dan Muslim.Di dalam sunan At-Tirmidzi dan Ibnu Maajah ;لَقَتْلُ مُسْلِمٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا“Sungguh terbunuhnya seorang muslim lebih besar di sisi Allah dari pada hilangnya dunia” Bahkan Islam mengharamkan membunuh kafir mu’ahad yang telah diberikan janji keamanan dan amanah atas dirinya di negeri islam, bahkan meskipun yang memberikan jaminan keamanan baginya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا“Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka ia tidak akan mencium harumnya surga, dan sesungguhnya harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan”. Maka hendaknya kalian –wahai umat al-Qur’an- bertakwalah kepada Allah, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan pada jalan-jalan yang menyimpang dari kebenaran, ke lembah-lembah keburukan. Jadilah kalian orang-orang yang berhenti pada batasan-batasan Allah, dan jangan sampai kalian mengganggu kaum muslimin, memberikan rasa takut kepada kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ لاَ يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang memberi ketakutan kepada seorang mukmin maka Allah berhak untuk tidak memberikannya keamanan dari dahsyatnya kengerian hari kiamat”. HR At-Thabrani di Al-Awshath.       Kemudian ketahuilah, bahwasanya termasuk amalan yang tersuci yang dilakukan dalam kehidupan kita adalah menyibukan diri untuk bersholawat kepada Nabi yang termulia.Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi kita Muhammad, dan Ya Allah ridoilah para khulafaur rosyidin dan para imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin. Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan. Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung.Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada.Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat.Ya Allah berilah taufiqMu kepada pelayan dua kota suci, arahkanlah ia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhai.Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal.Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab neraka.=======   Selesai   ======Penerjemah Usman Hatim dan Firanda Andirja

Mata yang Tak Bisa Dijaga

Zaman modern seperti ini dengan fasilitas yang semakin mudah, hanya lewat handphone, gadget atau tab, bisa melihat gambar-gambar atau video telanjang atau porno. Ini suatu musibah sehingga butuh terus diingatkan.   Berikut ini beberapa dalil sebagai peringatan yang menunjukkan akan bahayanya pandangan yang tidak bisa dijaga, apalagi melihat gambar wanita yang tak layak dipandang, lebih-lebih telanjang.   Wanita itu Hiasan Dunia Terdepan Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14). Lihatlah Allah memulai dengan menyebut wanita sebelum kenikmatan dunia lainnya. Menunjukkan bahwa godaan wanita memang sungguh dahsyat. Oleh karena itu para ulama menyatakan, empat harta yang disebutkan dalam ayat setiap kalangan akan menyukainya. Untuk emas dan perak akan dijadikan harga istimewa oleh para pedagang. Untuk kuda akan dijadikan harta tunggangan oleh para raja. Untuk ternak akan dijadikan harta piaraan oleh orang-orang di lembah. Untuk ladang akan dijadikan harta bercocok tanam bagi orang-orang biasa. Setiap golongan akan digoda dengan harta-harta tadi.   Adapun wanita dan anak-anak akan menaklukkan setiap golongan (pedagang, raja, peternak dan petani) tadi. Oleh karenanya Thawus menyatakan, لَيْسَ يَكُوْنُ الإِنْسَانُ فِي شَيْءٍ أَضْعَفُ مِنْهُ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ “Tidaklah manusia itu begitu lemah selain karena perkara (godaan) perempuan.”   Bani Israil Hancur Gara-Gara Godaan Wanita Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ “Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).   Godaan Wanita, Godaan Paling Berat Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ “Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)   Tundukkan Pandangan Bagi yang “Suka Nongkrong” Pinggir Jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)   Zina Mata, Waspadalah! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Jangan Teruskan Pandangan Tidak Sengaja Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159) Semoga Allah menjaga pandangan kita dari setiap hal yang diharamkan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis sore, 11 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Mata yang Tak Bisa Dijaga

Zaman modern seperti ini dengan fasilitas yang semakin mudah, hanya lewat handphone, gadget atau tab, bisa melihat gambar-gambar atau video telanjang atau porno. Ini suatu musibah sehingga butuh terus diingatkan.   Berikut ini beberapa dalil sebagai peringatan yang menunjukkan akan bahayanya pandangan yang tidak bisa dijaga, apalagi melihat gambar wanita yang tak layak dipandang, lebih-lebih telanjang.   Wanita itu Hiasan Dunia Terdepan Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14). Lihatlah Allah memulai dengan menyebut wanita sebelum kenikmatan dunia lainnya. Menunjukkan bahwa godaan wanita memang sungguh dahsyat. Oleh karena itu para ulama menyatakan, empat harta yang disebutkan dalam ayat setiap kalangan akan menyukainya. Untuk emas dan perak akan dijadikan harga istimewa oleh para pedagang. Untuk kuda akan dijadikan harta tunggangan oleh para raja. Untuk ternak akan dijadikan harta piaraan oleh orang-orang di lembah. Untuk ladang akan dijadikan harta bercocok tanam bagi orang-orang biasa. Setiap golongan akan digoda dengan harta-harta tadi.   Adapun wanita dan anak-anak akan menaklukkan setiap golongan (pedagang, raja, peternak dan petani) tadi. Oleh karenanya Thawus menyatakan, لَيْسَ يَكُوْنُ الإِنْسَانُ فِي شَيْءٍ أَضْعَفُ مِنْهُ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ “Tidaklah manusia itu begitu lemah selain karena perkara (godaan) perempuan.”   Bani Israil Hancur Gara-Gara Godaan Wanita Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ “Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).   Godaan Wanita, Godaan Paling Berat Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ “Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)   Tundukkan Pandangan Bagi yang “Suka Nongkrong” Pinggir Jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)   Zina Mata, Waspadalah! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Jangan Teruskan Pandangan Tidak Sengaja Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159) Semoga Allah menjaga pandangan kita dari setiap hal yang diharamkan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis sore, 11 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Zaman modern seperti ini dengan fasilitas yang semakin mudah, hanya lewat handphone, gadget atau tab, bisa melihat gambar-gambar atau video telanjang atau porno. Ini suatu musibah sehingga butuh terus diingatkan.   Berikut ini beberapa dalil sebagai peringatan yang menunjukkan akan bahayanya pandangan yang tidak bisa dijaga, apalagi melihat gambar wanita yang tak layak dipandang, lebih-lebih telanjang.   Wanita itu Hiasan Dunia Terdepan Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14). Lihatlah Allah memulai dengan menyebut wanita sebelum kenikmatan dunia lainnya. Menunjukkan bahwa godaan wanita memang sungguh dahsyat. Oleh karena itu para ulama menyatakan, empat harta yang disebutkan dalam ayat setiap kalangan akan menyukainya. Untuk emas dan perak akan dijadikan harga istimewa oleh para pedagang. Untuk kuda akan dijadikan harta tunggangan oleh para raja. Untuk ternak akan dijadikan harta piaraan oleh orang-orang di lembah. Untuk ladang akan dijadikan harta bercocok tanam bagi orang-orang biasa. Setiap golongan akan digoda dengan harta-harta tadi.   Adapun wanita dan anak-anak akan menaklukkan setiap golongan (pedagang, raja, peternak dan petani) tadi. Oleh karenanya Thawus menyatakan, لَيْسَ يَكُوْنُ الإِنْسَانُ فِي شَيْءٍ أَضْعَفُ مِنْهُ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ “Tidaklah manusia itu begitu lemah selain karena perkara (godaan) perempuan.”   Bani Israil Hancur Gara-Gara Godaan Wanita Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ “Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).   Godaan Wanita, Godaan Paling Berat Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ “Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)   Tundukkan Pandangan Bagi yang “Suka Nongkrong” Pinggir Jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)   Zina Mata, Waspadalah! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Jangan Teruskan Pandangan Tidak Sengaja Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159) Semoga Allah menjaga pandangan kita dari setiap hal yang diharamkan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis sore, 11 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Zaman modern seperti ini dengan fasilitas yang semakin mudah, hanya lewat handphone, gadget atau tab, bisa melihat gambar-gambar atau video telanjang atau porno. Ini suatu musibah sehingga butuh terus diingatkan.   Berikut ini beberapa dalil sebagai peringatan yang menunjukkan akan bahayanya pandangan yang tidak bisa dijaga, apalagi melihat gambar wanita yang tak layak dipandang, lebih-lebih telanjang.   Wanita itu Hiasan Dunia Terdepan Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14). Lihatlah Allah memulai dengan menyebut wanita sebelum kenikmatan dunia lainnya. Menunjukkan bahwa godaan wanita memang sungguh dahsyat. Oleh karena itu para ulama menyatakan, empat harta yang disebutkan dalam ayat setiap kalangan akan menyukainya. Untuk emas dan perak akan dijadikan harga istimewa oleh para pedagang. Untuk kuda akan dijadikan harta tunggangan oleh para raja. Untuk ternak akan dijadikan harta piaraan oleh orang-orang di lembah. Untuk ladang akan dijadikan harta bercocok tanam bagi orang-orang biasa. Setiap golongan akan digoda dengan harta-harta tadi.   Adapun wanita dan anak-anak akan menaklukkan setiap golongan (pedagang, raja, peternak dan petani) tadi. Oleh karenanya Thawus menyatakan, لَيْسَ يَكُوْنُ الإِنْسَانُ فِي شَيْءٍ أَضْعَفُ مِنْهُ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ “Tidaklah manusia itu begitu lemah selain karena perkara (godaan) perempuan.”   Bani Israil Hancur Gara-Gara Godaan Wanita Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ “Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).   Godaan Wanita, Godaan Paling Berat Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ “Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)   Tundukkan Pandangan Bagi yang “Suka Nongkrong” Pinggir Jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)   Zina Mata, Waspadalah! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Jangan Teruskan Pandangan Tidak Sengaja Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159) Semoga Allah menjaga pandangan kita dari setiap hal yang diharamkan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis sore, 11 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Dari Gambar Porno (Telanjang), Itu Awalnya

Awalnya dari memandang. Akhirnya merasuk ke hati. Syahwat pun bangkit. Akhirnya ingin memandang gambar-gambar tak senonoh seperti gambar atau video porno atau gambar telanjang. Karena syari’at kita memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)   Bahaya Pandangan yang Tidak Terjaga Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan nabinya untuk memerintahkan pada orang beriman supaya bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Karena Allah selalu memperhatikan apa yang diperbuat oleh pandangan mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Ghafir, Al-Mu’min: 19) Menundukkan pandangan lebih didahulukan dari menjaga kemaluan. Karena setiap kejadian, awalnya dari pandangan terlebih dahulu. Sebagaimana kobaran api, awalnya berasal dari percikan api yang kecil. Awalnya dari memandang … Berlanjut pada getaran … Berlanjut pada melangkah … Hingga akhirnya bermaksiat. Oleh karena itu disebutkan, siapa yang menjaga empat hal berarti, ia berarti telah menjaga agamanya, yaitu: Selayang pandang (sekejap mata) Getaran syahwat Kata yang diucap Langkah Disebutkan pula bahwa pandangan itulah langkah awal berbagai dosa yang dilakukan manusia. Dari pandangan akan melahirkan getaran, lalu terbayang-bayang, lalu terbayang-bayang dengan penuh syahwat, kemudian lahirlah syahwat keinginan, lalu bertambah kuatlah keinginan, maka berlanjutlah pada maksiat selama tidak ada penghalang. Sampai disebutkan, الصَّبْرُ عَلَى غَضِّ البَصَرِ أَيْسَرُ مِنَ الصَّبْرِ عَلَى أَلمِ مَا بَعْدَهُ “Sabar dalam menahan pandangan lebih mudah daripada sabar dalam kepedihan selanjutnya.” Inilah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kafi. Wallahu a’lam bish-shawwab.   Realita terjadinya zina karena langkah-langkah yang sama seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim di atas. Semoga Allah menyelamatkan kami dan setiap yang membaca tulisan dari berbagai pandangan serta lanjutan maksiatnya yang membinasakan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 10 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Dari Gambar Porno (Telanjang), Itu Awalnya

Awalnya dari memandang. Akhirnya merasuk ke hati. Syahwat pun bangkit. Akhirnya ingin memandang gambar-gambar tak senonoh seperti gambar atau video porno atau gambar telanjang. Karena syari’at kita memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)   Bahaya Pandangan yang Tidak Terjaga Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan nabinya untuk memerintahkan pada orang beriman supaya bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Karena Allah selalu memperhatikan apa yang diperbuat oleh pandangan mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Ghafir, Al-Mu’min: 19) Menundukkan pandangan lebih didahulukan dari menjaga kemaluan. Karena setiap kejadian, awalnya dari pandangan terlebih dahulu. Sebagaimana kobaran api, awalnya berasal dari percikan api yang kecil. Awalnya dari memandang … Berlanjut pada getaran … Berlanjut pada melangkah … Hingga akhirnya bermaksiat. Oleh karena itu disebutkan, siapa yang menjaga empat hal berarti, ia berarti telah menjaga agamanya, yaitu: Selayang pandang (sekejap mata) Getaran syahwat Kata yang diucap Langkah Disebutkan pula bahwa pandangan itulah langkah awal berbagai dosa yang dilakukan manusia. Dari pandangan akan melahirkan getaran, lalu terbayang-bayang, lalu terbayang-bayang dengan penuh syahwat, kemudian lahirlah syahwat keinginan, lalu bertambah kuatlah keinginan, maka berlanjutlah pada maksiat selama tidak ada penghalang. Sampai disebutkan, الصَّبْرُ عَلَى غَضِّ البَصَرِ أَيْسَرُ مِنَ الصَّبْرِ عَلَى أَلمِ مَا بَعْدَهُ “Sabar dalam menahan pandangan lebih mudah daripada sabar dalam kepedihan selanjutnya.” Inilah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kafi. Wallahu a’lam bish-shawwab.   Realita terjadinya zina karena langkah-langkah yang sama seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim di atas. Semoga Allah menyelamatkan kami dan setiap yang membaca tulisan dari berbagai pandangan serta lanjutan maksiatnya yang membinasakan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 10 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Awalnya dari memandang. Akhirnya merasuk ke hati. Syahwat pun bangkit. Akhirnya ingin memandang gambar-gambar tak senonoh seperti gambar atau video porno atau gambar telanjang. Karena syari’at kita memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)   Bahaya Pandangan yang Tidak Terjaga Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan nabinya untuk memerintahkan pada orang beriman supaya bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Karena Allah selalu memperhatikan apa yang diperbuat oleh pandangan mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Ghafir, Al-Mu’min: 19) Menundukkan pandangan lebih didahulukan dari menjaga kemaluan. Karena setiap kejadian, awalnya dari pandangan terlebih dahulu. Sebagaimana kobaran api, awalnya berasal dari percikan api yang kecil. Awalnya dari memandang … Berlanjut pada getaran … Berlanjut pada melangkah … Hingga akhirnya bermaksiat. Oleh karena itu disebutkan, siapa yang menjaga empat hal berarti, ia berarti telah menjaga agamanya, yaitu: Selayang pandang (sekejap mata) Getaran syahwat Kata yang diucap Langkah Disebutkan pula bahwa pandangan itulah langkah awal berbagai dosa yang dilakukan manusia. Dari pandangan akan melahirkan getaran, lalu terbayang-bayang, lalu terbayang-bayang dengan penuh syahwat, kemudian lahirlah syahwat keinginan, lalu bertambah kuatlah keinginan, maka berlanjutlah pada maksiat selama tidak ada penghalang. Sampai disebutkan, الصَّبْرُ عَلَى غَضِّ البَصَرِ أَيْسَرُ مِنَ الصَّبْرِ عَلَى أَلمِ مَا بَعْدَهُ “Sabar dalam menahan pandangan lebih mudah daripada sabar dalam kepedihan selanjutnya.” Inilah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kafi. Wallahu a’lam bish-shawwab.   Realita terjadinya zina karena langkah-langkah yang sama seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim di atas. Semoga Allah menyelamatkan kami dan setiap yang membaca tulisan dari berbagai pandangan serta lanjutan maksiatnya yang membinasakan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 10 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Awalnya dari memandang. Akhirnya merasuk ke hati. Syahwat pun bangkit. Akhirnya ingin memandang gambar-gambar tak senonoh seperti gambar atau video porno atau gambar telanjang. Karena syari’at kita memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)   Bahaya Pandangan yang Tidak Terjaga Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan nabinya untuk memerintahkan pada orang beriman supaya bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Karena Allah selalu memperhatikan apa yang diperbuat oleh pandangan mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Ghafir, Al-Mu’min: 19) Menundukkan pandangan lebih didahulukan dari menjaga kemaluan. Karena setiap kejadian, awalnya dari pandangan terlebih dahulu. Sebagaimana kobaran api, awalnya berasal dari percikan api yang kecil. Awalnya dari memandang … Berlanjut pada getaran … Berlanjut pada melangkah … Hingga akhirnya bermaksiat. Oleh karena itu disebutkan, siapa yang menjaga empat hal berarti, ia berarti telah menjaga agamanya, yaitu: Selayang pandang (sekejap mata) Getaran syahwat Kata yang diucap Langkah Disebutkan pula bahwa pandangan itulah langkah awal berbagai dosa yang dilakukan manusia. Dari pandangan akan melahirkan getaran, lalu terbayang-bayang, lalu terbayang-bayang dengan penuh syahwat, kemudian lahirlah syahwat keinginan, lalu bertambah kuatlah keinginan, maka berlanjutlah pada maksiat selama tidak ada penghalang. Sampai disebutkan, الصَّبْرُ عَلَى غَضِّ البَصَرِ أَيْسَرُ مِنَ الصَّبْرِ عَلَى أَلمِ مَا بَعْدَهُ “Sabar dalam menahan pandangan lebih mudah daripada sabar dalam kepedihan selanjutnya.” Inilah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kafi. Wallahu a’lam bish-shawwab.   Realita terjadinya zina karena langkah-langkah yang sama seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim di atas. Semoga Allah menyelamatkan kami dan setiap yang membaca tulisan dari berbagai pandangan serta lanjutan maksiatnya yang membinasakan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 10 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Prev     Next