Doa Ibnu Hajar, Ilmu Jangan Jadi Petaka

Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar

Doa Ibnu Hajar, Ilmu Jangan Jadi Petaka

Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar
Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar


Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar

Sudah Memberi Hiburan untuk Istri?

Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri

Sudah Memberi Hiburan untuk Istri?

Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri
Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri


Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda Sayang

27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda Sayang

27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (11)

Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (11)

Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw
Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw


Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw

Masjid Pesantren DS dan Masjid Liang Ambon Butuh 2 Milyar

Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Masjid Pesantren DS dan Masjid Liang Ambon Butuh 2 Milyar

Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid
Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid


Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Gunungkidul Darurat Membutuhkan Qurban (edisi terakhir tahun 1437 H)

Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban

Gunungkidul Darurat Membutuhkan Qurban (edisi terakhir tahun 1437 H)

Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban
Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban


Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban

Khutbah Jumat: Jangan Ceraikan Aku!

Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak

Khutbah Jumat: Jangan Ceraikan Aku!

Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak
Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak


Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak

Belajar Teknik di Tanah Arab

Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah

Belajar Teknik di Tanah Arab

Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah
Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah


Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah

3 Larangan pada Kubur

Ada tiga larangan pada kubur yang tersebar hingga saat ini. Padahal sudah diingatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sebelum masa ini.   Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Ada tiga larangan yang disebutkan dalam hadits ini terhadap kubur:   Pertama: Larangan memberi kapur pada kubur dengan tujuan untuk mempercantik bangunan kubur. Larangan ini secara tekstual adalah larangan haram dan tidak ada dalil untuk mengalihkan ke larangan makruh.   Kedua: Larangan duduk di atas kubur karena seperti itu termasuk menghinakan kubur. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ “Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kubur.” (H.R Muslim, no. 1612). Hadits ini menunjukkan bahwa duduk di atas kubur termasuk dosa besar karena ancaman yang keras seperti ini.   Ketiga: Larangan membuat bangunan di atas kubur. Larangan ini akan menimbulkan mafsadat yang begitu banyak, di antaranya: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dari Ibnul Jauzi. 4: 344-346 — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari penuh berkah, 21 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskubur shalat jenazah

3 Larangan pada Kubur

Ada tiga larangan pada kubur yang tersebar hingga saat ini. Padahal sudah diingatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sebelum masa ini.   Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Ada tiga larangan yang disebutkan dalam hadits ini terhadap kubur:   Pertama: Larangan memberi kapur pada kubur dengan tujuan untuk mempercantik bangunan kubur. Larangan ini secara tekstual adalah larangan haram dan tidak ada dalil untuk mengalihkan ke larangan makruh.   Kedua: Larangan duduk di atas kubur karena seperti itu termasuk menghinakan kubur. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ “Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kubur.” (H.R Muslim, no. 1612). Hadits ini menunjukkan bahwa duduk di atas kubur termasuk dosa besar karena ancaman yang keras seperti ini.   Ketiga: Larangan membuat bangunan di atas kubur. Larangan ini akan menimbulkan mafsadat yang begitu banyak, di antaranya: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dari Ibnul Jauzi. 4: 344-346 — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari penuh berkah, 21 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskubur shalat jenazah
Ada tiga larangan pada kubur yang tersebar hingga saat ini. Padahal sudah diingatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sebelum masa ini.   Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Ada tiga larangan yang disebutkan dalam hadits ini terhadap kubur:   Pertama: Larangan memberi kapur pada kubur dengan tujuan untuk mempercantik bangunan kubur. Larangan ini secara tekstual adalah larangan haram dan tidak ada dalil untuk mengalihkan ke larangan makruh.   Kedua: Larangan duduk di atas kubur karena seperti itu termasuk menghinakan kubur. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ “Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kubur.” (H.R Muslim, no. 1612). Hadits ini menunjukkan bahwa duduk di atas kubur termasuk dosa besar karena ancaman yang keras seperti ini.   Ketiga: Larangan membuat bangunan di atas kubur. Larangan ini akan menimbulkan mafsadat yang begitu banyak, di antaranya: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dari Ibnul Jauzi. 4: 344-346 — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari penuh berkah, 21 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskubur shalat jenazah


Ada tiga larangan pada kubur yang tersebar hingga saat ini. Padahal sudah diingatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sebelum masa ini.   Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Ada tiga larangan yang disebutkan dalam hadits ini terhadap kubur:   Pertama: Larangan memberi kapur pada kubur dengan tujuan untuk mempercantik bangunan kubur. Larangan ini secara tekstual adalah larangan haram dan tidak ada dalil untuk mengalihkan ke larangan makruh.   Kedua: Larangan duduk di atas kubur karena seperti itu termasuk menghinakan kubur. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ “Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kubur.” (H.R Muslim, no. 1612). Hadits ini menunjukkan bahwa duduk di atas kubur termasuk dosa besar karena ancaman yang keras seperti ini.   Ketiga: Larangan membuat bangunan di atas kubur. Larangan ini akan menimbulkan mafsadat yang begitu banyak, di antaranya: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dari Ibnul Jauzi. 4: 344-346 — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari penuh berkah, 21 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskubur shalat jenazah

Renungkanlah Hal Ini Ketika Akan Membuat Bantahan!

Membantah dan menjelaskan kesalahan suatu pemahaman yang salah atau pemahaman yang menyimpang merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga tujuan dari bantahan tersebut adalah untuk melakukan perbaikan di tengah masyarakat dan menjaga mereka dari kesalahan atau pemahaman yang keliru. Namun terkadang, dalam membuat bantahan, seseorang berlaku melebihi batas, sehingga hasilnya bukanlah perbaikan yang dicapai namun kerusakan yang terjadi, pada dirinya sendiri atau pun pada masyarakat.Maka perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan bersama dalam membuat bantahan :1. Ketika akan membuat bantahan luruskan niat, bukan karena dendam atau ingin mencari popularitasNiatkan untuk memperbaiki dan meluruskan agar pemahaman agama masyarakat tidak salah, bukan juga karena dendam dan ingin mempermalukan lawan dimuka umum dan menunjukkan dia berilmu. Bukan juga juga ingin mencari popularitas, membantah tokoh terkenal tertentu agar namanya dikenal. Karena memang materi “bantah-membantah” adalah materi yang laris-manis.Perhatikan bagaimana bantah-bantahan antara Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dan kaumnya. Kaum Nabi Syu’aib mempunyai syubhat:قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”“.Perhatikan bantahan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam:قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 87-88).Dalam ayat ini, tujuan Nabi Syu’aib dalam membantah adalah untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk tujuan duniawi atau menjadi popularitas.Perhatikan juga bahwa kaum muslimin itu bersaudara, jika ingin membantah dan mengkritik maka kritik dan bantahlah pendapatnya tetapi tetap hormati orangnya.Betapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”.Membantah orang kafir juga tetap dengan adab dan kata-kata yang baik, karena itulah akhlak ajaran Islam.2. Yang membuat bantahan hendaknya sudah ahli dan berilmuJika tidak cukup berilmu bisa jadi ia sampai panik, karena bantahannya dibantah lagi dengan lebih ilmiah dan diapun kebingungan karena tidak cukup berilmu dalam hal ini. Hendaknya ketika akan membantah atau mengkritik seorang di depan umum (semisal media sosial) ia melihat kadar kemampuan dirinya.Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah menjelaskan:من منهجهم إذا انتشرت البدعة، وكان لأصحابها شبهاً تعلقوا فيها بآيات وأحاديث، أن يهتموا بالرد والبيان، دون الدخول في القضايا العقلية البحتة، وهذا منهم لأن من وظيفة العلماء بيان القرآن والسنة وإزالة شبه الاستدلال الباطل عنهما“diantara manhaj para salaf, ketika tersebar suatu kebid’ahan, dan syubhat yang dibuat oleh ahlul bid’ah itu terkait dengan suatu ayat atau hadits, maka para salaf bersemangat untuk membantahnya dan menjelaskan perkaranya (dengan dalil) tidak semata-mata menggunakan argumentasi yang murni logika semata. Inilah manhajnya para ulama. Karena memang di antara tugas para ulama adalah menjelaskan Al Qur’an dan As Sunnah serta menghilangkan syubhat dalam pendalilan yang batil dari keduanya”[1. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229] 3. Jangan sampai “promosi gratis” yang dibantah menjadi terkenal dan tulisannya menjadi diketahui orang banyakSebelumnya tulisan yang berisi syubhat dan bahaya bagi umat Islam tidak diketahui orang banyak, tetapi karena dibantah, malah tulisannya jadi terkenal dan diapun jadi terkenal. Kaum muslimin tidak semuanya kokoh aqidahnya, bisa jadi sebagian mereka malah terkena “syubhat” tulisan tersebut dan lebih masuk logikanya yang awam.Teringat kejadian seorang liberal yang membuat tulisan “aneh dan nyeleneh serta bahaya bagi aqidah umat” kemudian ia menghubungi seorang ustadz agar membantah tulisannya. Karena ia tahu, semakin banyak yang bantah, semakin terkenal tulisannya.Ini yang disebut berbuat “aneh dan nyeleneh” agar terkenal. Orang Arab berkata:ﺑﺎﻝ ﻓﻲ ﺯﻣﺰﻡ ﻟﻴﺸﺘﻬﺮ“Dia mengencingi sumur Zam-zam agar terkenal”.Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan:أن لا يورد من الشبه إلا ما هو بين الناس، فتتكلم وتعالج الواقع، وإلا كان في ذلك المزيد من إحداث البلبلة والفتن التي لا تنبغي بين المسلمين“hendaknya tidak membantah syubhat kecuali yang sudah menyebar di tengah manusia. Sehingga pembicaraan anda mengenai syubhat tersebut dapat memperbaiki keadaan. Jika syubhat tersebut belum dikenal oleh manusia, justru itu akan menambah kebingungan dan fitnah (kerusakan) di tengah manusia yang semestinya tidak terjadi pada kaum Muslimin”[2. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229].4. Renungkanlah, berapa banyak yang dibantah di muka umum (semisal di media sosial) kemudian ia bertaubat?Jawabannya: sangat sedikit. Bahkan mungkin tidak ada. Karena memang nasehat dan memperbaiki itu hukum asalnya secara rahasia dan empat mata. Seorang ulama berkata,ما رأيت على رجل خطأ، إلا سترته، وأحببت أن أزين أمره، وما استقبلت رجلا في وجهه بأمر يكرهه، ولكن أبين له خطأه فيما بيني وبينه، فإن قبل ذلك، وإلا تركته“Tidaklah aku lihat kesalahan seseorang(saudara se-Islam), kecuali aku menutupinya,  aku senang untuk memperindah urusan dirinya.Tidaklah aku menjumpai seseorang dengan hal yang dia benci di hadapannya, kecualiaku jelaskan kesalahannya (secara sembunyi-sembunyi), hanya antara aku dan diaJika dia menerima penjelasanku (maka itu lebih baik), dan jika dia tidak menerima ucapanku, maka aku membiarkannya” [3. Siyar A’laam An-Nubalaa 11/83].Jadi benar-benar harus dipertimbangkan mashalat dan mafsadat membantah di depan umum (sosmed), jika memang mashalahat maka lakukanlah disertai berdoa.5. Bisa jadi bantahan di depan umum membuat orang awam dan kaum muslimin bingungTidak semua materi itu menjadi konsumsi publik dan umum. Ada beberapa hal yang harus ditahan dulu penyebarannya dan dikeluarkan secara tepat waktunya dan bijak. Karenanya orang yang menyampaikan semua yang didengar adalah berdusta dalam hadits. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar” [4. HR. Muslim].6. Membuat bantahan dan terlalu sering berbantah-bantahan akan membuat keras hati dan lalai dengan dakwah lainnya yaitu dakwah tauhid, aqidah dan akhlak kepada umatAllah berfirman agar kita jangan sering bantah-membantah. Allah berfirman,وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal : 46)Jika kita lihat para ulama teladan kita, mereka sangat sedikit membuat bantahan, mereka lebih sibuk menulis ilmu dan mendidik umat.Imam Malik berkata,المراء والجدال في العلم يذهب بنور العلم من قلب العبد. وقال إنه يقسي القلب ويورث الضغن“Berbantah-bantahan dan perdebatan akan menghilangkan ilmu dari hati hamba. Sesungguhnya ia mengeraskan hati dan membuahkan permusuhan”[5. Tartibul Madarik 2/39].Demikianlah, hendaknya kita bijak dan benar-benar mempertimbangkan ketika akan membuat bantahan dan dipublikasikan di depan umum.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 As Sunnah, Contoh Birrul Walidain, Hadist Pemimpin, Hukum Bertanya Kepada Kyai, Perbedaan Hasbiyallah Dan Hasbunallah

Renungkanlah Hal Ini Ketika Akan Membuat Bantahan!

Membantah dan menjelaskan kesalahan suatu pemahaman yang salah atau pemahaman yang menyimpang merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga tujuan dari bantahan tersebut adalah untuk melakukan perbaikan di tengah masyarakat dan menjaga mereka dari kesalahan atau pemahaman yang keliru. Namun terkadang, dalam membuat bantahan, seseorang berlaku melebihi batas, sehingga hasilnya bukanlah perbaikan yang dicapai namun kerusakan yang terjadi, pada dirinya sendiri atau pun pada masyarakat.Maka perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan bersama dalam membuat bantahan :1. Ketika akan membuat bantahan luruskan niat, bukan karena dendam atau ingin mencari popularitasNiatkan untuk memperbaiki dan meluruskan agar pemahaman agama masyarakat tidak salah, bukan juga karena dendam dan ingin mempermalukan lawan dimuka umum dan menunjukkan dia berilmu. Bukan juga juga ingin mencari popularitas, membantah tokoh terkenal tertentu agar namanya dikenal. Karena memang materi “bantah-membantah” adalah materi yang laris-manis.Perhatikan bagaimana bantah-bantahan antara Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dan kaumnya. Kaum Nabi Syu’aib mempunyai syubhat:قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”“.Perhatikan bantahan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam:قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 87-88).Dalam ayat ini, tujuan Nabi Syu’aib dalam membantah adalah untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk tujuan duniawi atau menjadi popularitas.Perhatikan juga bahwa kaum muslimin itu bersaudara, jika ingin membantah dan mengkritik maka kritik dan bantahlah pendapatnya tetapi tetap hormati orangnya.Betapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”.Membantah orang kafir juga tetap dengan adab dan kata-kata yang baik, karena itulah akhlak ajaran Islam.2. Yang membuat bantahan hendaknya sudah ahli dan berilmuJika tidak cukup berilmu bisa jadi ia sampai panik, karena bantahannya dibantah lagi dengan lebih ilmiah dan diapun kebingungan karena tidak cukup berilmu dalam hal ini. Hendaknya ketika akan membantah atau mengkritik seorang di depan umum (semisal media sosial) ia melihat kadar kemampuan dirinya.Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah menjelaskan:من منهجهم إذا انتشرت البدعة، وكان لأصحابها شبهاً تعلقوا فيها بآيات وأحاديث، أن يهتموا بالرد والبيان، دون الدخول في القضايا العقلية البحتة، وهذا منهم لأن من وظيفة العلماء بيان القرآن والسنة وإزالة شبه الاستدلال الباطل عنهما“diantara manhaj para salaf, ketika tersebar suatu kebid’ahan, dan syubhat yang dibuat oleh ahlul bid’ah itu terkait dengan suatu ayat atau hadits, maka para salaf bersemangat untuk membantahnya dan menjelaskan perkaranya (dengan dalil) tidak semata-mata menggunakan argumentasi yang murni logika semata. Inilah manhajnya para ulama. Karena memang di antara tugas para ulama adalah menjelaskan Al Qur’an dan As Sunnah serta menghilangkan syubhat dalam pendalilan yang batil dari keduanya”[1. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229] 3. Jangan sampai “promosi gratis” yang dibantah menjadi terkenal dan tulisannya menjadi diketahui orang banyakSebelumnya tulisan yang berisi syubhat dan bahaya bagi umat Islam tidak diketahui orang banyak, tetapi karena dibantah, malah tulisannya jadi terkenal dan diapun jadi terkenal. Kaum muslimin tidak semuanya kokoh aqidahnya, bisa jadi sebagian mereka malah terkena “syubhat” tulisan tersebut dan lebih masuk logikanya yang awam.Teringat kejadian seorang liberal yang membuat tulisan “aneh dan nyeleneh serta bahaya bagi aqidah umat” kemudian ia menghubungi seorang ustadz agar membantah tulisannya. Karena ia tahu, semakin banyak yang bantah, semakin terkenal tulisannya.Ini yang disebut berbuat “aneh dan nyeleneh” agar terkenal. Orang Arab berkata:ﺑﺎﻝ ﻓﻲ ﺯﻣﺰﻡ ﻟﻴﺸﺘﻬﺮ“Dia mengencingi sumur Zam-zam agar terkenal”.Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan:أن لا يورد من الشبه إلا ما هو بين الناس، فتتكلم وتعالج الواقع، وإلا كان في ذلك المزيد من إحداث البلبلة والفتن التي لا تنبغي بين المسلمين“hendaknya tidak membantah syubhat kecuali yang sudah menyebar di tengah manusia. Sehingga pembicaraan anda mengenai syubhat tersebut dapat memperbaiki keadaan. Jika syubhat tersebut belum dikenal oleh manusia, justru itu akan menambah kebingungan dan fitnah (kerusakan) di tengah manusia yang semestinya tidak terjadi pada kaum Muslimin”[2. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229].4. Renungkanlah, berapa banyak yang dibantah di muka umum (semisal di media sosial) kemudian ia bertaubat?Jawabannya: sangat sedikit. Bahkan mungkin tidak ada. Karena memang nasehat dan memperbaiki itu hukum asalnya secara rahasia dan empat mata. Seorang ulama berkata,ما رأيت على رجل خطأ، إلا سترته، وأحببت أن أزين أمره، وما استقبلت رجلا في وجهه بأمر يكرهه، ولكن أبين له خطأه فيما بيني وبينه، فإن قبل ذلك، وإلا تركته“Tidaklah aku lihat kesalahan seseorang(saudara se-Islam), kecuali aku menutupinya,  aku senang untuk memperindah urusan dirinya.Tidaklah aku menjumpai seseorang dengan hal yang dia benci di hadapannya, kecualiaku jelaskan kesalahannya (secara sembunyi-sembunyi), hanya antara aku dan diaJika dia menerima penjelasanku (maka itu lebih baik), dan jika dia tidak menerima ucapanku, maka aku membiarkannya” [3. Siyar A’laam An-Nubalaa 11/83].Jadi benar-benar harus dipertimbangkan mashalat dan mafsadat membantah di depan umum (sosmed), jika memang mashalahat maka lakukanlah disertai berdoa.5. Bisa jadi bantahan di depan umum membuat orang awam dan kaum muslimin bingungTidak semua materi itu menjadi konsumsi publik dan umum. Ada beberapa hal yang harus ditahan dulu penyebarannya dan dikeluarkan secara tepat waktunya dan bijak. Karenanya orang yang menyampaikan semua yang didengar adalah berdusta dalam hadits. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar” [4. HR. Muslim].6. Membuat bantahan dan terlalu sering berbantah-bantahan akan membuat keras hati dan lalai dengan dakwah lainnya yaitu dakwah tauhid, aqidah dan akhlak kepada umatAllah berfirman agar kita jangan sering bantah-membantah. Allah berfirman,وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal : 46)Jika kita lihat para ulama teladan kita, mereka sangat sedikit membuat bantahan, mereka lebih sibuk menulis ilmu dan mendidik umat.Imam Malik berkata,المراء والجدال في العلم يذهب بنور العلم من قلب العبد. وقال إنه يقسي القلب ويورث الضغن“Berbantah-bantahan dan perdebatan akan menghilangkan ilmu dari hati hamba. Sesungguhnya ia mengeraskan hati dan membuahkan permusuhan”[5. Tartibul Madarik 2/39].Demikianlah, hendaknya kita bijak dan benar-benar mempertimbangkan ketika akan membuat bantahan dan dipublikasikan di depan umum.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 As Sunnah, Contoh Birrul Walidain, Hadist Pemimpin, Hukum Bertanya Kepada Kyai, Perbedaan Hasbiyallah Dan Hasbunallah
Membantah dan menjelaskan kesalahan suatu pemahaman yang salah atau pemahaman yang menyimpang merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga tujuan dari bantahan tersebut adalah untuk melakukan perbaikan di tengah masyarakat dan menjaga mereka dari kesalahan atau pemahaman yang keliru. Namun terkadang, dalam membuat bantahan, seseorang berlaku melebihi batas, sehingga hasilnya bukanlah perbaikan yang dicapai namun kerusakan yang terjadi, pada dirinya sendiri atau pun pada masyarakat.Maka perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan bersama dalam membuat bantahan :1. Ketika akan membuat bantahan luruskan niat, bukan karena dendam atau ingin mencari popularitasNiatkan untuk memperbaiki dan meluruskan agar pemahaman agama masyarakat tidak salah, bukan juga karena dendam dan ingin mempermalukan lawan dimuka umum dan menunjukkan dia berilmu. Bukan juga juga ingin mencari popularitas, membantah tokoh terkenal tertentu agar namanya dikenal. Karena memang materi “bantah-membantah” adalah materi yang laris-manis.Perhatikan bagaimana bantah-bantahan antara Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dan kaumnya. Kaum Nabi Syu’aib mempunyai syubhat:قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”“.Perhatikan bantahan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam:قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 87-88).Dalam ayat ini, tujuan Nabi Syu’aib dalam membantah adalah untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk tujuan duniawi atau menjadi popularitas.Perhatikan juga bahwa kaum muslimin itu bersaudara, jika ingin membantah dan mengkritik maka kritik dan bantahlah pendapatnya tetapi tetap hormati orangnya.Betapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”.Membantah orang kafir juga tetap dengan adab dan kata-kata yang baik, karena itulah akhlak ajaran Islam.2. Yang membuat bantahan hendaknya sudah ahli dan berilmuJika tidak cukup berilmu bisa jadi ia sampai panik, karena bantahannya dibantah lagi dengan lebih ilmiah dan diapun kebingungan karena tidak cukup berilmu dalam hal ini. Hendaknya ketika akan membantah atau mengkritik seorang di depan umum (semisal media sosial) ia melihat kadar kemampuan dirinya.Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah menjelaskan:من منهجهم إذا انتشرت البدعة، وكان لأصحابها شبهاً تعلقوا فيها بآيات وأحاديث، أن يهتموا بالرد والبيان، دون الدخول في القضايا العقلية البحتة، وهذا منهم لأن من وظيفة العلماء بيان القرآن والسنة وإزالة شبه الاستدلال الباطل عنهما“diantara manhaj para salaf, ketika tersebar suatu kebid’ahan, dan syubhat yang dibuat oleh ahlul bid’ah itu terkait dengan suatu ayat atau hadits, maka para salaf bersemangat untuk membantahnya dan menjelaskan perkaranya (dengan dalil) tidak semata-mata menggunakan argumentasi yang murni logika semata. Inilah manhajnya para ulama. Karena memang di antara tugas para ulama adalah menjelaskan Al Qur’an dan As Sunnah serta menghilangkan syubhat dalam pendalilan yang batil dari keduanya”[1. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229] 3. Jangan sampai “promosi gratis” yang dibantah menjadi terkenal dan tulisannya menjadi diketahui orang banyakSebelumnya tulisan yang berisi syubhat dan bahaya bagi umat Islam tidak diketahui orang banyak, tetapi karena dibantah, malah tulisannya jadi terkenal dan diapun jadi terkenal. Kaum muslimin tidak semuanya kokoh aqidahnya, bisa jadi sebagian mereka malah terkena “syubhat” tulisan tersebut dan lebih masuk logikanya yang awam.Teringat kejadian seorang liberal yang membuat tulisan “aneh dan nyeleneh serta bahaya bagi aqidah umat” kemudian ia menghubungi seorang ustadz agar membantah tulisannya. Karena ia tahu, semakin banyak yang bantah, semakin terkenal tulisannya.Ini yang disebut berbuat “aneh dan nyeleneh” agar terkenal. Orang Arab berkata:ﺑﺎﻝ ﻓﻲ ﺯﻣﺰﻡ ﻟﻴﺸﺘﻬﺮ“Dia mengencingi sumur Zam-zam agar terkenal”.Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan:أن لا يورد من الشبه إلا ما هو بين الناس، فتتكلم وتعالج الواقع، وإلا كان في ذلك المزيد من إحداث البلبلة والفتن التي لا تنبغي بين المسلمين“hendaknya tidak membantah syubhat kecuali yang sudah menyebar di tengah manusia. Sehingga pembicaraan anda mengenai syubhat tersebut dapat memperbaiki keadaan. Jika syubhat tersebut belum dikenal oleh manusia, justru itu akan menambah kebingungan dan fitnah (kerusakan) di tengah manusia yang semestinya tidak terjadi pada kaum Muslimin”[2. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229].4. Renungkanlah, berapa banyak yang dibantah di muka umum (semisal di media sosial) kemudian ia bertaubat?Jawabannya: sangat sedikit. Bahkan mungkin tidak ada. Karena memang nasehat dan memperbaiki itu hukum asalnya secara rahasia dan empat mata. Seorang ulama berkata,ما رأيت على رجل خطأ، إلا سترته، وأحببت أن أزين أمره، وما استقبلت رجلا في وجهه بأمر يكرهه، ولكن أبين له خطأه فيما بيني وبينه، فإن قبل ذلك، وإلا تركته“Tidaklah aku lihat kesalahan seseorang(saudara se-Islam), kecuali aku menutupinya,  aku senang untuk memperindah urusan dirinya.Tidaklah aku menjumpai seseorang dengan hal yang dia benci di hadapannya, kecualiaku jelaskan kesalahannya (secara sembunyi-sembunyi), hanya antara aku dan diaJika dia menerima penjelasanku (maka itu lebih baik), dan jika dia tidak menerima ucapanku, maka aku membiarkannya” [3. Siyar A’laam An-Nubalaa 11/83].Jadi benar-benar harus dipertimbangkan mashalat dan mafsadat membantah di depan umum (sosmed), jika memang mashalahat maka lakukanlah disertai berdoa.5. Bisa jadi bantahan di depan umum membuat orang awam dan kaum muslimin bingungTidak semua materi itu menjadi konsumsi publik dan umum. Ada beberapa hal yang harus ditahan dulu penyebarannya dan dikeluarkan secara tepat waktunya dan bijak. Karenanya orang yang menyampaikan semua yang didengar adalah berdusta dalam hadits. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar” [4. HR. Muslim].6. Membuat bantahan dan terlalu sering berbantah-bantahan akan membuat keras hati dan lalai dengan dakwah lainnya yaitu dakwah tauhid, aqidah dan akhlak kepada umatAllah berfirman agar kita jangan sering bantah-membantah. Allah berfirman,وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal : 46)Jika kita lihat para ulama teladan kita, mereka sangat sedikit membuat bantahan, mereka lebih sibuk menulis ilmu dan mendidik umat.Imam Malik berkata,المراء والجدال في العلم يذهب بنور العلم من قلب العبد. وقال إنه يقسي القلب ويورث الضغن“Berbantah-bantahan dan perdebatan akan menghilangkan ilmu dari hati hamba. Sesungguhnya ia mengeraskan hati dan membuahkan permusuhan”[5. Tartibul Madarik 2/39].Demikianlah, hendaknya kita bijak dan benar-benar mempertimbangkan ketika akan membuat bantahan dan dipublikasikan di depan umum.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 As Sunnah, Contoh Birrul Walidain, Hadist Pemimpin, Hukum Bertanya Kepada Kyai, Perbedaan Hasbiyallah Dan Hasbunallah


Membantah dan menjelaskan kesalahan suatu pemahaman yang salah atau pemahaman yang menyimpang merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga tujuan dari bantahan tersebut adalah untuk melakukan perbaikan di tengah masyarakat dan menjaga mereka dari kesalahan atau pemahaman yang keliru. Namun terkadang, dalam membuat bantahan, seseorang berlaku melebihi batas, sehingga hasilnya bukanlah perbaikan yang dicapai namun kerusakan yang terjadi, pada dirinya sendiri atau pun pada masyarakat.Maka perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan bersama dalam membuat bantahan :1. Ketika akan membuat bantahan luruskan niat, bukan karena dendam atau ingin mencari popularitasNiatkan untuk memperbaiki dan meluruskan agar pemahaman agama masyarakat tidak salah, bukan juga karena dendam dan ingin mempermalukan lawan dimuka umum dan menunjukkan dia berilmu. Bukan juga juga ingin mencari popularitas, membantah tokoh terkenal tertentu agar namanya dikenal. Karena memang materi “bantah-membantah” adalah materi yang laris-manis.Perhatikan bagaimana bantah-bantahan antara Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dan kaumnya. Kaum Nabi Syu’aib mempunyai syubhat:قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”“.Perhatikan bantahan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam:قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 87-88).Dalam ayat ini, tujuan Nabi Syu’aib dalam membantah adalah untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk tujuan duniawi atau menjadi popularitas.Perhatikan juga bahwa kaum muslimin itu bersaudara, jika ingin membantah dan mengkritik maka kritik dan bantahlah pendapatnya tetapi tetap hormati orangnya.Betapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”.Membantah orang kafir juga tetap dengan adab dan kata-kata yang baik, karena itulah akhlak ajaran Islam.2. Yang membuat bantahan hendaknya sudah ahli dan berilmuJika tidak cukup berilmu bisa jadi ia sampai panik, karena bantahannya dibantah lagi dengan lebih ilmiah dan diapun kebingungan karena tidak cukup berilmu dalam hal ini. Hendaknya ketika akan membantah atau mengkritik seorang di depan umum (semisal media sosial) ia melihat kadar kemampuan dirinya.Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah menjelaskan:من منهجهم إذا انتشرت البدعة، وكان لأصحابها شبهاً تعلقوا فيها بآيات وأحاديث، أن يهتموا بالرد والبيان، دون الدخول في القضايا العقلية البحتة، وهذا منهم لأن من وظيفة العلماء بيان القرآن والسنة وإزالة شبه الاستدلال الباطل عنهما“diantara manhaj para salaf, ketika tersebar suatu kebid’ahan, dan syubhat yang dibuat oleh ahlul bid’ah itu terkait dengan suatu ayat atau hadits, maka para salaf bersemangat untuk membantahnya dan menjelaskan perkaranya (dengan dalil) tidak semata-mata menggunakan argumentasi yang murni logika semata. Inilah manhajnya para ulama. Karena memang di antara tugas para ulama adalah menjelaskan Al Qur’an dan As Sunnah serta menghilangkan syubhat dalam pendalilan yang batil dari keduanya”[1. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229] 3. Jangan sampai “promosi gratis” yang dibantah menjadi terkenal dan tulisannya menjadi diketahui orang banyakSebelumnya tulisan yang berisi syubhat dan bahaya bagi umat Islam tidak diketahui orang banyak, tetapi karena dibantah, malah tulisannya jadi terkenal dan diapun jadi terkenal. Kaum muslimin tidak semuanya kokoh aqidahnya, bisa jadi sebagian mereka malah terkena “syubhat” tulisan tersebut dan lebih masuk logikanya yang awam.Teringat kejadian seorang liberal yang membuat tulisan “aneh dan nyeleneh serta bahaya bagi aqidah umat” kemudian ia menghubungi seorang ustadz agar membantah tulisannya. Karena ia tahu, semakin banyak yang bantah, semakin terkenal tulisannya.Ini yang disebut berbuat “aneh dan nyeleneh” agar terkenal. Orang Arab berkata:ﺑﺎﻝ ﻓﻲ ﺯﻣﺰﻡ ﻟﻴﺸﺘﻬﺮ“Dia mengencingi sumur Zam-zam agar terkenal”.Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan:أن لا يورد من الشبه إلا ما هو بين الناس، فتتكلم وتعالج الواقع، وإلا كان في ذلك المزيد من إحداث البلبلة والفتن التي لا تنبغي بين المسلمين“hendaknya tidak membantah syubhat kecuali yang sudah menyebar di tengah manusia. Sehingga pembicaraan anda mengenai syubhat tersebut dapat memperbaiki keadaan. Jika syubhat tersebut belum dikenal oleh manusia, justru itu akan menambah kebingungan dan fitnah (kerusakan) di tengah manusia yang semestinya tidak terjadi pada kaum Muslimin”[2. Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=19229].4. Renungkanlah, berapa banyak yang dibantah di muka umum (semisal di media sosial) kemudian ia bertaubat?Jawabannya: sangat sedikit. Bahkan mungkin tidak ada. Karena memang nasehat dan memperbaiki itu hukum asalnya secara rahasia dan empat mata. Seorang ulama berkata,ما رأيت على رجل خطأ، إلا سترته، وأحببت أن أزين أمره، وما استقبلت رجلا في وجهه بأمر يكرهه، ولكن أبين له خطأه فيما بيني وبينه، فإن قبل ذلك، وإلا تركته“Tidaklah aku lihat kesalahan seseorang(saudara se-Islam), kecuali aku menutupinya,  aku senang untuk memperindah urusan dirinya.Tidaklah aku menjumpai seseorang dengan hal yang dia benci di hadapannya, kecualiaku jelaskan kesalahannya (secara sembunyi-sembunyi), hanya antara aku dan diaJika dia menerima penjelasanku (maka itu lebih baik), dan jika dia tidak menerima ucapanku, maka aku membiarkannya” [3. Siyar A’laam An-Nubalaa 11/83].Jadi benar-benar harus dipertimbangkan mashalat dan mafsadat membantah di depan umum (sosmed), jika memang mashalahat maka lakukanlah disertai berdoa.5. Bisa jadi bantahan di depan umum membuat orang awam dan kaum muslimin bingungTidak semua materi itu menjadi konsumsi publik dan umum. Ada beberapa hal yang harus ditahan dulu penyebarannya dan dikeluarkan secara tepat waktunya dan bijak. Karenanya orang yang menyampaikan semua yang didengar adalah berdusta dalam hadits. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar” [4. HR. Muslim].6. Membuat bantahan dan terlalu sering berbantah-bantahan akan membuat keras hati dan lalai dengan dakwah lainnya yaitu dakwah tauhid, aqidah dan akhlak kepada umatAllah berfirman agar kita jangan sering bantah-membantah. Allah berfirman,وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal : 46)Jika kita lihat para ulama teladan kita, mereka sangat sedikit membuat bantahan, mereka lebih sibuk menulis ilmu dan mendidik umat.Imam Malik berkata,المراء والجدال في العلم يذهب بنور العلم من قلب العبد. وقال إنه يقسي القلب ويورث الضغن“Berbantah-bantahan dan perdebatan akan menghilangkan ilmu dari hati hamba. Sesungguhnya ia mengeraskan hati dan membuahkan permusuhan”[5. Tartibul Madarik 2/39].Demikianlah, hendaknya kita bijak dan benar-benar mempertimbangkan ketika akan membuat bantahan dan dipublikasikan di depan umum.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 As Sunnah, Contoh Birrul Walidain, Hadist Pemimpin, Hukum Bertanya Kepada Kyai, Perbedaan Hasbiyallah Dan Hasbunallah

Cinta Negeri Dalam Kaca Mata Islam

Cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; merupakan tabiat dan fitrah manusia. Seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin. Allah berfirman:وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka”” (QS. An-Nisa’: 66).Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka.Bahkan di dalam Islam, jika negeri kita diserang musuh, wajib bagi kita untuk jihad membela negeri dari serangan tersebut. Apalagi, jika negeri tersebut memiliki keistimewaan, maka mencintainya adalah sebuah ibadah seperti Mekkah dan Madinah.Namun jika cinta negeri bertentangan dengan agama seperti hijrah dan jihad, sehingga dia lebih mendahulukan cinta negeri daripada agama maka hukumnya haram. Allah mengancam orang-orang yang tidak hijrah karena lebih mencintai kampung halaman mereka.إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)” (QS. An-Nisa’: 97-98).Walau cinta negeri tidak tercela, namun tidak boleh kita membuat dan berpegang dengan hadits palsu:حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ“Cinta tanah air termasuk iman”.Al Mulla Al Qari berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”. Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits”.Musuh-musuh Islam ingin menjadikan hadits palsu ini tuk menghilangkan syi’ar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syi’ar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun.Dan agar kecintaan negeri kita tidak sia-sia tanpa pahala, maka hendaknya kita menata niat dalam kecintaan dan pembelaan kita kepada negeri kita, yaitu hendaknya untuk Allah, untuk Islam, bukan sekedar untuk kebangsaan dan nasionalisme semata.Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata:“Kita apabila perang hanya untuk membela negara tidak ada bedanya dengan orang kafir yang juga perang untuk membela negara mereka. Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia bukanlah syahid, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk perang karena Islam yang ada di negeri kita. Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita. Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah niat bathil yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta. Cinta negara, apabila karena  negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena negara Islam. Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negara kita karena negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.Wallahu ta’ala a’lam.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Syiah Dan Sunni, Futuh Mekah, Tata Tertib Di Masjid, Kata Kata Istigfar, Fiddunya Wal Akhirah

Cinta Negeri Dalam Kaca Mata Islam

Cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; merupakan tabiat dan fitrah manusia. Seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin. Allah berfirman:وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka”” (QS. An-Nisa’: 66).Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka.Bahkan di dalam Islam, jika negeri kita diserang musuh, wajib bagi kita untuk jihad membela negeri dari serangan tersebut. Apalagi, jika negeri tersebut memiliki keistimewaan, maka mencintainya adalah sebuah ibadah seperti Mekkah dan Madinah.Namun jika cinta negeri bertentangan dengan agama seperti hijrah dan jihad, sehingga dia lebih mendahulukan cinta negeri daripada agama maka hukumnya haram. Allah mengancam orang-orang yang tidak hijrah karena lebih mencintai kampung halaman mereka.إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)” (QS. An-Nisa’: 97-98).Walau cinta negeri tidak tercela, namun tidak boleh kita membuat dan berpegang dengan hadits palsu:حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ“Cinta tanah air termasuk iman”.Al Mulla Al Qari berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”. Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits”.Musuh-musuh Islam ingin menjadikan hadits palsu ini tuk menghilangkan syi’ar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syi’ar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun.Dan agar kecintaan negeri kita tidak sia-sia tanpa pahala, maka hendaknya kita menata niat dalam kecintaan dan pembelaan kita kepada negeri kita, yaitu hendaknya untuk Allah, untuk Islam, bukan sekedar untuk kebangsaan dan nasionalisme semata.Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata:“Kita apabila perang hanya untuk membela negara tidak ada bedanya dengan orang kafir yang juga perang untuk membela negara mereka. Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia bukanlah syahid, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk perang karena Islam yang ada di negeri kita. Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita. Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah niat bathil yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta. Cinta negara, apabila karena  negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena negara Islam. Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negara kita karena negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.Wallahu ta’ala a’lam.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Syiah Dan Sunni, Futuh Mekah, Tata Tertib Di Masjid, Kata Kata Istigfar, Fiddunya Wal Akhirah
Cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; merupakan tabiat dan fitrah manusia. Seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin. Allah berfirman:وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka”” (QS. An-Nisa’: 66).Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka.Bahkan di dalam Islam, jika negeri kita diserang musuh, wajib bagi kita untuk jihad membela negeri dari serangan tersebut. Apalagi, jika negeri tersebut memiliki keistimewaan, maka mencintainya adalah sebuah ibadah seperti Mekkah dan Madinah.Namun jika cinta negeri bertentangan dengan agama seperti hijrah dan jihad, sehingga dia lebih mendahulukan cinta negeri daripada agama maka hukumnya haram. Allah mengancam orang-orang yang tidak hijrah karena lebih mencintai kampung halaman mereka.إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)” (QS. An-Nisa’: 97-98).Walau cinta negeri tidak tercela, namun tidak boleh kita membuat dan berpegang dengan hadits palsu:حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ“Cinta tanah air termasuk iman”.Al Mulla Al Qari berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”. Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits”.Musuh-musuh Islam ingin menjadikan hadits palsu ini tuk menghilangkan syi’ar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syi’ar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun.Dan agar kecintaan negeri kita tidak sia-sia tanpa pahala, maka hendaknya kita menata niat dalam kecintaan dan pembelaan kita kepada negeri kita, yaitu hendaknya untuk Allah, untuk Islam, bukan sekedar untuk kebangsaan dan nasionalisme semata.Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata:“Kita apabila perang hanya untuk membela negara tidak ada bedanya dengan orang kafir yang juga perang untuk membela negara mereka. Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia bukanlah syahid, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk perang karena Islam yang ada di negeri kita. Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita. Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah niat bathil yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta. Cinta negara, apabila karena  negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena negara Islam. Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negara kita karena negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.Wallahu ta’ala a’lam.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Syiah Dan Sunni, Futuh Mekah, Tata Tertib Di Masjid, Kata Kata Istigfar, Fiddunya Wal Akhirah


Cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; merupakan tabiat dan fitrah manusia. Seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin. Allah berfirman:وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka”” (QS. An-Nisa’: 66).Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka.Bahkan di dalam Islam, jika negeri kita diserang musuh, wajib bagi kita untuk jihad membela negeri dari serangan tersebut. Apalagi, jika negeri tersebut memiliki keistimewaan, maka mencintainya adalah sebuah ibadah seperti Mekkah dan Madinah.Namun jika cinta negeri bertentangan dengan agama seperti hijrah dan jihad, sehingga dia lebih mendahulukan cinta negeri daripada agama maka hukumnya haram. Allah mengancam orang-orang yang tidak hijrah karena lebih mencintai kampung halaman mereka.إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)” (QS. An-Nisa’: 97-98).Walau cinta negeri tidak tercela, namun tidak boleh kita membuat dan berpegang dengan hadits palsu:حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ“Cinta tanah air termasuk iman”.Al Mulla Al Qari berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”. Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits”.Musuh-musuh Islam ingin menjadikan hadits palsu ini tuk menghilangkan syi’ar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syi’ar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun.Dan agar kecintaan negeri kita tidak sia-sia tanpa pahala, maka hendaknya kita menata niat dalam kecintaan dan pembelaan kita kepada negeri kita, yaitu hendaknya untuk Allah, untuk Islam, bukan sekedar untuk kebangsaan dan nasionalisme semata.Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata:“Kita apabila perang hanya untuk membela negara tidak ada bedanya dengan orang kafir yang juga perang untuk membela negara mereka. Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia bukanlah syahid, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk perang karena Islam yang ada di negeri kita. Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita. Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah niat bathil yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta. Cinta negara, apabila karena  negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena negara Islam. Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negara kita karena negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.Wallahu ta’ala a’lam.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Syiah Dan Sunni, Futuh Mekah, Tata Tertib Di Masjid, Kata Kata Istigfar, Fiddunya Wal Akhirah

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 100: Berdoa Harus Sesuai Tuntunan

23AugSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 100: Berdoa Harus Sesuai TuntunanAugust 23, 2016Belajar Islam, Fikih Pada pertemuan sebelumnya telah kita sampaikan bahwa ketika berdoa, supaya diterima Allah, seorang hamba harus ikhlas dalam menjalankannya. Namun, ikhlas ‘saja’ belum cukup. Dia wajib memenuhi syarat berikutnya, yakni harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam al-Fudhail bin ‘Iyâdh (w. 187 H) menerangkan, “Agama Allah itu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ada yang bertanya, “Wahai Fudhail, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?”. Beliau menjawab, “Amalan itu bila ikhlas, namun tidak benar; maka tidak akan diterima. Dan bila amalan tersebut benar, tapi tidak ikhlas; juga tidak akan diterima. Hingga amalan itu ikhlas dan benar. Maksud dari ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena mengharap ridha-Nya. Sedangkan benar itu berarti sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam”. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dun-ya dalam Kitab al-Ikhlash wa an-Niyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan pada kita hal-hal yang berkaitan dengan doa. Mulai dari redaksi doa atau dzikir yang dibaca, kapan waktu membacanya?, berapa jumlahnya?, etika yang harus diperhatikan saat berdoa dan berbagai aturan lain yang berhubungan dengan doa. Beliau telah mengajarkan bacaan doa dan dzikir pagi-petang, saat shalat dan sesudahnya, ketika masuk dan keluar masjid, saat akan tidur dan bangun tidur, bahkan bila terbangun mendadak di malam hari pun, beliau sudah ajarkan doanya. Ketika akan makan dan sesudahnya, saat naik kendaraan, bila melihat sesuatu yang menyenangkan atau juga sesuatu yang tidak kita suka. Doa bepergian, ketika ditimpa musibah, saat sedih dan galau, serta masih banyak momen dan keadaan lainnya yang telah dijelaskan Rasul shallalalhu ‘alaihi wasalam redaksi doanya. Tidak lupa beliau juga menjelaskan tingkatan-tingkatan doa, macam-macamnya, syarat-syaratnya, adab-adabnya, dengan begitu gamblang. Seluruh hal yang berkenaan dengan agama telah beliau terangkan seterang-terangnya. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya mencukupkan diri dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Tidak perlu ber’inovasi’ dengan membuat aturan-aturan baru yang tidak dicontohkan beliau. Kita ini diperintahkan Allah ta’ala untuk masuk ke dalam agama Islam secara totalitas. Dia berfirman, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً” Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas)”. QS. Al-Baqarah (2): 208. Bila Islam boleh diumpamakan dengan rumah, kita ini diperintahkan untuk memasuki rumah tersebut dan menerima apapun yang ada di dalamnya. Kita tidak disuruh untuk mengkritisi rumah itu apalagi merehabnya. Terimalah apa adanya. Sebab ‘desain’ rumah tersebut, itulah yang terbaik. Karena yang ‘merancangnya’ adalah Rabb semesta alam yang Maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Jangan sampai kita yang serba terbatas ilmunya ini, bersikap tidak sopan mengkritisi Allah tabaraka wa ta’ala… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1437 / 1 Agustus 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 100: Berdoa Harus Sesuai Tuntunan

23AugSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 100: Berdoa Harus Sesuai TuntunanAugust 23, 2016Belajar Islam, Fikih Pada pertemuan sebelumnya telah kita sampaikan bahwa ketika berdoa, supaya diterima Allah, seorang hamba harus ikhlas dalam menjalankannya. Namun, ikhlas ‘saja’ belum cukup. Dia wajib memenuhi syarat berikutnya, yakni harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam al-Fudhail bin ‘Iyâdh (w. 187 H) menerangkan, “Agama Allah itu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ada yang bertanya, “Wahai Fudhail, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?”. Beliau menjawab, “Amalan itu bila ikhlas, namun tidak benar; maka tidak akan diterima. Dan bila amalan tersebut benar, tapi tidak ikhlas; juga tidak akan diterima. Hingga amalan itu ikhlas dan benar. Maksud dari ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena mengharap ridha-Nya. Sedangkan benar itu berarti sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam”. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dun-ya dalam Kitab al-Ikhlash wa an-Niyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan pada kita hal-hal yang berkaitan dengan doa. Mulai dari redaksi doa atau dzikir yang dibaca, kapan waktu membacanya?, berapa jumlahnya?, etika yang harus diperhatikan saat berdoa dan berbagai aturan lain yang berhubungan dengan doa. Beliau telah mengajarkan bacaan doa dan dzikir pagi-petang, saat shalat dan sesudahnya, ketika masuk dan keluar masjid, saat akan tidur dan bangun tidur, bahkan bila terbangun mendadak di malam hari pun, beliau sudah ajarkan doanya. Ketika akan makan dan sesudahnya, saat naik kendaraan, bila melihat sesuatu yang menyenangkan atau juga sesuatu yang tidak kita suka. Doa bepergian, ketika ditimpa musibah, saat sedih dan galau, serta masih banyak momen dan keadaan lainnya yang telah dijelaskan Rasul shallalalhu ‘alaihi wasalam redaksi doanya. Tidak lupa beliau juga menjelaskan tingkatan-tingkatan doa, macam-macamnya, syarat-syaratnya, adab-adabnya, dengan begitu gamblang. Seluruh hal yang berkenaan dengan agama telah beliau terangkan seterang-terangnya. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya mencukupkan diri dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Tidak perlu ber’inovasi’ dengan membuat aturan-aturan baru yang tidak dicontohkan beliau. Kita ini diperintahkan Allah ta’ala untuk masuk ke dalam agama Islam secara totalitas. Dia berfirman, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً” Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas)”. QS. Al-Baqarah (2): 208. Bila Islam boleh diumpamakan dengan rumah, kita ini diperintahkan untuk memasuki rumah tersebut dan menerima apapun yang ada di dalamnya. Kita tidak disuruh untuk mengkritisi rumah itu apalagi merehabnya. Terimalah apa adanya. Sebab ‘desain’ rumah tersebut, itulah yang terbaik. Karena yang ‘merancangnya’ adalah Rabb semesta alam yang Maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Jangan sampai kita yang serba terbatas ilmunya ini, bersikap tidak sopan mengkritisi Allah tabaraka wa ta’ala… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1437 / 1 Agustus 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
23AugSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 100: Berdoa Harus Sesuai TuntunanAugust 23, 2016Belajar Islam, Fikih Pada pertemuan sebelumnya telah kita sampaikan bahwa ketika berdoa, supaya diterima Allah, seorang hamba harus ikhlas dalam menjalankannya. Namun, ikhlas ‘saja’ belum cukup. Dia wajib memenuhi syarat berikutnya, yakni harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam al-Fudhail bin ‘Iyâdh (w. 187 H) menerangkan, “Agama Allah itu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ada yang bertanya, “Wahai Fudhail, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?”. Beliau menjawab, “Amalan itu bila ikhlas, namun tidak benar; maka tidak akan diterima. Dan bila amalan tersebut benar, tapi tidak ikhlas; juga tidak akan diterima. Hingga amalan itu ikhlas dan benar. Maksud dari ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena mengharap ridha-Nya. Sedangkan benar itu berarti sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam”. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dun-ya dalam Kitab al-Ikhlash wa an-Niyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan pada kita hal-hal yang berkaitan dengan doa. Mulai dari redaksi doa atau dzikir yang dibaca, kapan waktu membacanya?, berapa jumlahnya?, etika yang harus diperhatikan saat berdoa dan berbagai aturan lain yang berhubungan dengan doa. Beliau telah mengajarkan bacaan doa dan dzikir pagi-petang, saat shalat dan sesudahnya, ketika masuk dan keluar masjid, saat akan tidur dan bangun tidur, bahkan bila terbangun mendadak di malam hari pun, beliau sudah ajarkan doanya. Ketika akan makan dan sesudahnya, saat naik kendaraan, bila melihat sesuatu yang menyenangkan atau juga sesuatu yang tidak kita suka. Doa bepergian, ketika ditimpa musibah, saat sedih dan galau, serta masih banyak momen dan keadaan lainnya yang telah dijelaskan Rasul shallalalhu ‘alaihi wasalam redaksi doanya. Tidak lupa beliau juga menjelaskan tingkatan-tingkatan doa, macam-macamnya, syarat-syaratnya, adab-adabnya, dengan begitu gamblang. Seluruh hal yang berkenaan dengan agama telah beliau terangkan seterang-terangnya. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya mencukupkan diri dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Tidak perlu ber’inovasi’ dengan membuat aturan-aturan baru yang tidak dicontohkan beliau. Kita ini diperintahkan Allah ta’ala untuk masuk ke dalam agama Islam secara totalitas. Dia berfirman, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً” Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas)”. QS. Al-Baqarah (2): 208. Bila Islam boleh diumpamakan dengan rumah, kita ini diperintahkan untuk memasuki rumah tersebut dan menerima apapun yang ada di dalamnya. Kita tidak disuruh untuk mengkritisi rumah itu apalagi merehabnya. Terimalah apa adanya. Sebab ‘desain’ rumah tersebut, itulah yang terbaik. Karena yang ‘merancangnya’ adalah Rabb semesta alam yang Maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Jangan sampai kita yang serba terbatas ilmunya ini, bersikap tidak sopan mengkritisi Allah tabaraka wa ta’ala… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1437 / 1 Agustus 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


23AugSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 100: Berdoa Harus Sesuai TuntunanAugust 23, 2016Belajar Islam, Fikih Pada pertemuan sebelumnya telah kita sampaikan bahwa ketika berdoa, supaya diterima Allah, seorang hamba harus ikhlas dalam menjalankannya. Namun, ikhlas ‘saja’ belum cukup. Dia wajib memenuhi syarat berikutnya, yakni harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam al-Fudhail bin ‘Iyâdh (w. 187 H) menerangkan, “Agama Allah itu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ada yang bertanya, “Wahai Fudhail, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?”. Beliau menjawab, “Amalan itu bila ikhlas, namun tidak benar; maka tidak akan diterima. Dan bila amalan tersebut benar, tapi tidak ikhlas; juga tidak akan diterima. Hingga amalan itu ikhlas dan benar. Maksud dari ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena mengharap ridha-Nya. Sedangkan benar itu berarti sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam”. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dun-ya dalam Kitab al-Ikhlash wa an-Niyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan pada kita hal-hal yang berkaitan dengan doa. Mulai dari redaksi doa atau dzikir yang dibaca, kapan waktu membacanya?, berapa jumlahnya?, etika yang harus diperhatikan saat berdoa dan berbagai aturan lain yang berhubungan dengan doa. Beliau telah mengajarkan bacaan doa dan dzikir pagi-petang, saat shalat dan sesudahnya, ketika masuk dan keluar masjid, saat akan tidur dan bangun tidur, bahkan bila terbangun mendadak di malam hari pun, beliau sudah ajarkan doanya. Ketika akan makan dan sesudahnya, saat naik kendaraan, bila melihat sesuatu yang menyenangkan atau juga sesuatu yang tidak kita suka. Doa bepergian, ketika ditimpa musibah, saat sedih dan galau, serta masih banyak momen dan keadaan lainnya yang telah dijelaskan Rasul shallalalhu ‘alaihi wasalam redaksi doanya. Tidak lupa beliau juga menjelaskan tingkatan-tingkatan doa, macam-macamnya, syarat-syaratnya, adab-adabnya, dengan begitu gamblang. Seluruh hal yang berkenaan dengan agama telah beliau terangkan seterang-terangnya. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya mencukupkan diri dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Tidak perlu ber’inovasi’ dengan membuat aturan-aturan baru yang tidak dicontohkan beliau. Kita ini diperintahkan Allah ta’ala untuk masuk ke dalam agama Islam secara totalitas. Dia berfirman, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً” Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas)”. QS. Al-Baqarah (2): 208. Bila Islam boleh diumpamakan dengan rumah, kita ini diperintahkan untuk memasuki rumah tersebut dan menerima apapun yang ada di dalamnya. Kita tidak disuruh untuk mengkritisi rumah itu apalagi merehabnya. Terimalah apa adanya. Sebab ‘desain’ rumah tersebut, itulah yang terbaik. Karena yang ‘merancangnya’ adalah Rabb semesta alam yang Maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Jangan sampai kita yang serba terbatas ilmunya ini, bersikap tidak sopan mengkritisi Allah tabaraka wa ta’ala… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1437 / 1 Agustus 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

IMB PONDOK PESANTREN INTAN ILMU MARABAHAN KALIMANTAN SELATAN

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat…Berkat pertolongan Allah  Ta’ala di awal dan di akhir, serta doa Bapak, Ibu dan Saudara/i serta seluruh kaum muslimin di manapun berada, IZIN MEMBANGUN BANGUNAN (IMB) PONDOK PESANTREN INTAN ILMU TELAH DIRESMIKAN.Alamat: Jln. Sungai Bua Indah Permai, Desa Lok Rawa, Mandastana, Kab. Barito Kuala Kalimantan Selatan Indonesia.Insya Allah akan dibangun di atas tanah waqaf seluas +/- 3,4 hektar. PONDOK PESANTREN INTAN ILMUDengan jenjang Mutawassithah (SMP) dan Tsanawiyyah (SMA).Semoga kaum muslim dapat berpartisipasi dan menabung untuk akhirat di Pondok Pesantren Intan Ilmu yang merupakan milik umat Islam secara Umum dan Warga Kalimantan Selatan khususnya. Pembina Yayasan dan Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcDAN UNTUK MEMULAI PEMBANGUNAN KAMI MEMULAI DENGAN MEMBANGUN MASJID UMAR BIN KHATTAB radhiyallahu anhu.Silahkan bagi kaum muslim yang ingin menabung untuk bekal akhirat.No Rek. Bank Mandiri 031-00-10697186A. N. Yayasan Intan Ilmu Konfirmasi SMS/Telp :087816650541Atas Nama : Nanda Dharmawan

IMB PONDOK PESANTREN INTAN ILMU MARABAHAN KALIMANTAN SELATAN

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat…Berkat pertolongan Allah  Ta’ala di awal dan di akhir, serta doa Bapak, Ibu dan Saudara/i serta seluruh kaum muslimin di manapun berada, IZIN MEMBANGUN BANGUNAN (IMB) PONDOK PESANTREN INTAN ILMU TELAH DIRESMIKAN.Alamat: Jln. Sungai Bua Indah Permai, Desa Lok Rawa, Mandastana, Kab. Barito Kuala Kalimantan Selatan Indonesia.Insya Allah akan dibangun di atas tanah waqaf seluas +/- 3,4 hektar. PONDOK PESANTREN INTAN ILMUDengan jenjang Mutawassithah (SMP) dan Tsanawiyyah (SMA).Semoga kaum muslim dapat berpartisipasi dan menabung untuk akhirat di Pondok Pesantren Intan Ilmu yang merupakan milik umat Islam secara Umum dan Warga Kalimantan Selatan khususnya. Pembina Yayasan dan Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcDAN UNTUK MEMULAI PEMBANGUNAN KAMI MEMULAI DENGAN MEMBANGUN MASJID UMAR BIN KHATTAB radhiyallahu anhu.Silahkan bagi kaum muslim yang ingin menabung untuk bekal akhirat.No Rek. Bank Mandiri 031-00-10697186A. N. Yayasan Intan Ilmu Konfirmasi SMS/Telp :087816650541Atas Nama : Nanda Dharmawan
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat…Berkat pertolongan Allah  Ta’ala di awal dan di akhir, serta doa Bapak, Ibu dan Saudara/i serta seluruh kaum muslimin di manapun berada, IZIN MEMBANGUN BANGUNAN (IMB) PONDOK PESANTREN INTAN ILMU TELAH DIRESMIKAN.Alamat: Jln. Sungai Bua Indah Permai, Desa Lok Rawa, Mandastana, Kab. Barito Kuala Kalimantan Selatan Indonesia.Insya Allah akan dibangun di atas tanah waqaf seluas +/- 3,4 hektar. PONDOK PESANTREN INTAN ILMUDengan jenjang Mutawassithah (SMP) dan Tsanawiyyah (SMA).Semoga kaum muslim dapat berpartisipasi dan menabung untuk akhirat di Pondok Pesantren Intan Ilmu yang merupakan milik umat Islam secara Umum dan Warga Kalimantan Selatan khususnya. Pembina Yayasan dan Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcDAN UNTUK MEMULAI PEMBANGUNAN KAMI MEMULAI DENGAN MEMBANGUN MASJID UMAR BIN KHATTAB radhiyallahu anhu.Silahkan bagi kaum muslim yang ingin menabung untuk bekal akhirat.No Rek. Bank Mandiri 031-00-10697186A. N. Yayasan Intan Ilmu Konfirmasi SMS/Telp :087816650541Atas Nama : Nanda Dharmawan


Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat…Berkat pertolongan Allah  Ta’ala di awal dan di akhir, serta doa Bapak, Ibu dan Saudara/i serta seluruh kaum muslimin di manapun berada, IZIN MEMBANGUN BANGUNAN (IMB) PONDOK PESANTREN INTAN ILMU TELAH DIRESMIKAN.Alamat: Jln. Sungai Bua Indah Permai, Desa Lok Rawa, Mandastana, Kab. Barito Kuala Kalimantan Selatan Indonesia.Insya Allah akan dibangun di atas tanah waqaf seluas +/- 3,4 hektar. PONDOK PESANTREN INTAN ILMUDengan jenjang Mutawassithah (SMP) dan Tsanawiyyah (SMA).Semoga kaum muslim dapat berpartisipasi dan menabung untuk akhirat di Pondok Pesantren Intan Ilmu yang merupakan milik umat Islam secara Umum dan Warga Kalimantan Selatan khususnya. Pembina Yayasan dan Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcDAN UNTUK MEMULAI PEMBANGUNAN KAMI MEMULAI DENGAN MEMBANGUN MASJID UMAR BIN KHATTAB radhiyallahu anhu.Silahkan bagi kaum muslim yang ingin menabung untuk bekal akhirat.No Rek. Bank Mandiri 031-00-10697186A. N. Yayasan Intan Ilmu Konfirmasi SMS/Telp :087816650541Atas Nama : Nanda Dharmawan

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (13)

Allāh Ta’ālā berfirman:وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101) Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allāh dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang menjaga (dirinya) dengan (pertolongan) Allāh, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS.Ali Imraan: 101).Pada ayat di atas dijelaskan bahwa barangsiapa yang bersandar hatinya kepada Allāh, bertawakal kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan berpegang teguh dengan agama-Nya dalam menjaga diri dari segala keburukan dan dalam memperoleh kebaikan, maka ia akan mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ(50) Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allāh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allāh untukmu (QS. Adz-Dzaariyaat: 50).Ibnu Abbas radhiyAllāhu ‘anhu mengatakan, فروا إلى الله بالتوبة من ذنوبكم“Bersegeralah kembali kepada Allāh dengan bertaubat dari dosa-dosa kalian.”Ibnu Abbas juga menambahkan,فروا منه إليه واعملوا بطاعته“Berlarilah dari (bermaksiat kepada)-Nya kepada (ta’at) kepada-Nya dan lakukan amalan keta’atan kepada-Nya”. (Tafsir Al-Qurthubi).Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فاهربوا أيها الناس من عقاب الله إلى رحمته بالإيمان به ، واتباع أمره ، والعمل بطاعته فروا من معاصيه إلى طاعته “Berlarilah -wahai manusia- dari ‘ażab Allāh kepada rahmat-Nya dengan beriman kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan melakukan keta‘atan kepada-Nya, maka berlarilah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ta‘at kepada-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : الجئوا إليه، واعتمدوا في أموركم عليه “Berlindunglah kepada-Nya dan sandarkan (hati) kalian kepada-Nya dalam urusan-urusan kalian.”Dari keterangan para ulama Ahli Tafsir di atas, dapat kita simpulkan bahwa perintah untuk bersegera kembali kepada Allāh menuntut seorang hamba untuk menjadikan-Nya sebagai satu-satunyaTuhan yang menjadi tujuan seluruh hamba-Nya dalam kembali (inābah), memohon perlindungan, pertolongan, dan petunjuk dalam setiap keadaan.Apabila di dalam hati orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa Allāh-lah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan dalam hal-hal tersebut di atas, maka ia akan mentauhidkan Allāh dalam peribadatan, semangat mendekatkan dirinya kepada-Nya, dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. VII. Memperingatkan seorang hamba agar tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil, dan fāsiqMetode ini adalah metode yang disebutkan terakhir (ke-7) oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya,Al-Qawā’idul Ḥisan Al-Muta’alliqah bi Tafsīril Qur`ān.Terkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang yang beriman agar berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara memperingatkan seorang hamba untuk tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil (orang yang lalai), dan fāsiq (pelaku dosa besar). Dengan demikian diharapkan seorang hamba menjauhi hal-hal yang merugikan, perbuatan ẓālim, keteledoran, dosa besar, dan jalan-jalan yang menghantarkan kepadanya. Suatu hal yang sangat logis, jika seorang mukmin membaca ayat-ayat Allāh tentang perintah atau larangan-Nya, lalu diiringi dengan penjelasan bahwa orang yang menyelisihi perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya dilabeli dengan sifat-sifat tercela, seperti ẓālim, fāsiq dan selainnya, maka ia akan terdorong untuk melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar tidak menjadi orang-orang berlabel buruk sebagaimana disebutkan. Sesungguhnya kerugian, kezaliman, kelalaian, dan kefasikan adalah perkara yang dibenci oleh orang-orang yang beriman.[bersambung]***🔍 Trinitas Dalam Islam, Apakah Rokok Haram, Arti Tawasul, Bacaan Ruqyah Syar'iyyah, Motivasi Remaja Islam

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (13)

Allāh Ta’ālā berfirman:وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101) Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allāh dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang menjaga (dirinya) dengan (pertolongan) Allāh, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS.Ali Imraan: 101).Pada ayat di atas dijelaskan bahwa barangsiapa yang bersandar hatinya kepada Allāh, bertawakal kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan berpegang teguh dengan agama-Nya dalam menjaga diri dari segala keburukan dan dalam memperoleh kebaikan, maka ia akan mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ(50) Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allāh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allāh untukmu (QS. Adz-Dzaariyaat: 50).Ibnu Abbas radhiyAllāhu ‘anhu mengatakan, فروا إلى الله بالتوبة من ذنوبكم“Bersegeralah kembali kepada Allāh dengan bertaubat dari dosa-dosa kalian.”Ibnu Abbas juga menambahkan,فروا منه إليه واعملوا بطاعته“Berlarilah dari (bermaksiat kepada)-Nya kepada (ta’at) kepada-Nya dan lakukan amalan keta’atan kepada-Nya”. (Tafsir Al-Qurthubi).Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فاهربوا أيها الناس من عقاب الله إلى رحمته بالإيمان به ، واتباع أمره ، والعمل بطاعته فروا من معاصيه إلى طاعته “Berlarilah -wahai manusia- dari ‘ażab Allāh kepada rahmat-Nya dengan beriman kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan melakukan keta‘atan kepada-Nya, maka berlarilah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ta‘at kepada-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : الجئوا إليه، واعتمدوا في أموركم عليه “Berlindunglah kepada-Nya dan sandarkan (hati) kalian kepada-Nya dalam urusan-urusan kalian.”Dari keterangan para ulama Ahli Tafsir di atas, dapat kita simpulkan bahwa perintah untuk bersegera kembali kepada Allāh menuntut seorang hamba untuk menjadikan-Nya sebagai satu-satunyaTuhan yang menjadi tujuan seluruh hamba-Nya dalam kembali (inābah), memohon perlindungan, pertolongan, dan petunjuk dalam setiap keadaan.Apabila di dalam hati orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa Allāh-lah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan dalam hal-hal tersebut di atas, maka ia akan mentauhidkan Allāh dalam peribadatan, semangat mendekatkan dirinya kepada-Nya, dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. VII. Memperingatkan seorang hamba agar tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil, dan fāsiqMetode ini adalah metode yang disebutkan terakhir (ke-7) oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya,Al-Qawā’idul Ḥisan Al-Muta’alliqah bi Tafsīril Qur`ān.Terkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang yang beriman agar berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara memperingatkan seorang hamba untuk tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil (orang yang lalai), dan fāsiq (pelaku dosa besar). Dengan demikian diharapkan seorang hamba menjauhi hal-hal yang merugikan, perbuatan ẓālim, keteledoran, dosa besar, dan jalan-jalan yang menghantarkan kepadanya. Suatu hal yang sangat logis, jika seorang mukmin membaca ayat-ayat Allāh tentang perintah atau larangan-Nya, lalu diiringi dengan penjelasan bahwa orang yang menyelisihi perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya dilabeli dengan sifat-sifat tercela, seperti ẓālim, fāsiq dan selainnya, maka ia akan terdorong untuk melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar tidak menjadi orang-orang berlabel buruk sebagaimana disebutkan. Sesungguhnya kerugian, kezaliman, kelalaian, dan kefasikan adalah perkara yang dibenci oleh orang-orang yang beriman.[bersambung]***🔍 Trinitas Dalam Islam, Apakah Rokok Haram, Arti Tawasul, Bacaan Ruqyah Syar'iyyah, Motivasi Remaja Islam
Allāh Ta’ālā berfirman:وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101) Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allāh dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang menjaga (dirinya) dengan (pertolongan) Allāh, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS.Ali Imraan: 101).Pada ayat di atas dijelaskan bahwa barangsiapa yang bersandar hatinya kepada Allāh, bertawakal kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan berpegang teguh dengan agama-Nya dalam menjaga diri dari segala keburukan dan dalam memperoleh kebaikan, maka ia akan mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ(50) Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allāh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allāh untukmu (QS. Adz-Dzaariyaat: 50).Ibnu Abbas radhiyAllāhu ‘anhu mengatakan, فروا إلى الله بالتوبة من ذنوبكم“Bersegeralah kembali kepada Allāh dengan bertaubat dari dosa-dosa kalian.”Ibnu Abbas juga menambahkan,فروا منه إليه واعملوا بطاعته“Berlarilah dari (bermaksiat kepada)-Nya kepada (ta’at) kepada-Nya dan lakukan amalan keta’atan kepada-Nya”. (Tafsir Al-Qurthubi).Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فاهربوا أيها الناس من عقاب الله إلى رحمته بالإيمان به ، واتباع أمره ، والعمل بطاعته فروا من معاصيه إلى طاعته “Berlarilah -wahai manusia- dari ‘ażab Allāh kepada rahmat-Nya dengan beriman kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan melakukan keta‘atan kepada-Nya, maka berlarilah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ta‘at kepada-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : الجئوا إليه، واعتمدوا في أموركم عليه “Berlindunglah kepada-Nya dan sandarkan (hati) kalian kepada-Nya dalam urusan-urusan kalian.”Dari keterangan para ulama Ahli Tafsir di atas, dapat kita simpulkan bahwa perintah untuk bersegera kembali kepada Allāh menuntut seorang hamba untuk menjadikan-Nya sebagai satu-satunyaTuhan yang menjadi tujuan seluruh hamba-Nya dalam kembali (inābah), memohon perlindungan, pertolongan, dan petunjuk dalam setiap keadaan.Apabila di dalam hati orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa Allāh-lah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan dalam hal-hal tersebut di atas, maka ia akan mentauhidkan Allāh dalam peribadatan, semangat mendekatkan dirinya kepada-Nya, dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. VII. Memperingatkan seorang hamba agar tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil, dan fāsiqMetode ini adalah metode yang disebutkan terakhir (ke-7) oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya,Al-Qawā’idul Ḥisan Al-Muta’alliqah bi Tafsīril Qur`ān.Terkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang yang beriman agar berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara memperingatkan seorang hamba untuk tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil (orang yang lalai), dan fāsiq (pelaku dosa besar). Dengan demikian diharapkan seorang hamba menjauhi hal-hal yang merugikan, perbuatan ẓālim, keteledoran, dosa besar, dan jalan-jalan yang menghantarkan kepadanya. Suatu hal yang sangat logis, jika seorang mukmin membaca ayat-ayat Allāh tentang perintah atau larangan-Nya, lalu diiringi dengan penjelasan bahwa orang yang menyelisihi perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya dilabeli dengan sifat-sifat tercela, seperti ẓālim, fāsiq dan selainnya, maka ia akan terdorong untuk melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar tidak menjadi orang-orang berlabel buruk sebagaimana disebutkan. Sesungguhnya kerugian, kezaliman, kelalaian, dan kefasikan adalah perkara yang dibenci oleh orang-orang yang beriman.[bersambung]***🔍 Trinitas Dalam Islam, Apakah Rokok Haram, Arti Tawasul, Bacaan Ruqyah Syar'iyyah, Motivasi Remaja Islam


Allāh Ta’ālā berfirman:وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101) Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allāh dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang menjaga (dirinya) dengan (pertolongan) Allāh, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS.Ali Imraan: 101).Pada ayat di atas dijelaskan bahwa barangsiapa yang bersandar hatinya kepada Allāh, bertawakal kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan berpegang teguh dengan agama-Nya dalam menjaga diri dari segala keburukan dan dalam memperoleh kebaikan, maka ia akan mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ(50) Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allāh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allāh untukmu (QS. Adz-Dzaariyaat: 50).Ibnu Abbas radhiyAllāhu ‘anhu mengatakan, فروا إلى الله بالتوبة من ذنوبكم“Bersegeralah kembali kepada Allāh dengan bertaubat dari dosa-dosa kalian.”Ibnu Abbas juga menambahkan,فروا منه إليه واعملوا بطاعته“Berlarilah dari (bermaksiat kepada)-Nya kepada (ta’at) kepada-Nya dan lakukan amalan keta’atan kepada-Nya”. (Tafsir Al-Qurthubi).Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فاهربوا أيها الناس من عقاب الله إلى رحمته بالإيمان به ، واتباع أمره ، والعمل بطاعته فروا من معاصيه إلى طاعته “Berlarilah -wahai manusia- dari ‘ażab Allāh kepada rahmat-Nya dengan beriman kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan melakukan keta‘atan kepada-Nya, maka berlarilah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ta‘at kepada-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : الجئوا إليه، واعتمدوا في أموركم عليه “Berlindunglah kepada-Nya dan sandarkan (hati) kalian kepada-Nya dalam urusan-urusan kalian.”Dari keterangan para ulama Ahli Tafsir di atas, dapat kita simpulkan bahwa perintah untuk bersegera kembali kepada Allāh menuntut seorang hamba untuk menjadikan-Nya sebagai satu-satunyaTuhan yang menjadi tujuan seluruh hamba-Nya dalam kembali (inābah), memohon perlindungan, pertolongan, dan petunjuk dalam setiap keadaan.Apabila di dalam hati orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa Allāh-lah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan dalam hal-hal tersebut di atas, maka ia akan mentauhidkan Allāh dalam peribadatan, semangat mendekatkan dirinya kepada-Nya, dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. VII. Memperingatkan seorang hamba agar tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil, dan fāsiqMetode ini adalah metode yang disebutkan terakhir (ke-7) oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya,Al-Qawā’idul Ḥisan Al-Muta’alliqah bi Tafsīril Qur`ān.Terkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang yang beriman agar berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara memperingatkan seorang hamba untuk tidak menjadi orang-orang yang merugi, ẓālim, gāfil (orang yang lalai), dan fāsiq (pelaku dosa besar). Dengan demikian diharapkan seorang hamba menjauhi hal-hal yang merugikan, perbuatan ẓālim, keteledoran, dosa besar, dan jalan-jalan yang menghantarkan kepadanya. Suatu hal yang sangat logis, jika seorang mukmin membaca ayat-ayat Allāh tentang perintah atau larangan-Nya, lalu diiringi dengan penjelasan bahwa orang yang menyelisihi perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya dilabeli dengan sifat-sifat tercela, seperti ẓālim, fāsiq dan selainnya, maka ia akan terdorong untuk melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar tidak menjadi orang-orang berlabel buruk sebagaimana disebutkan. Sesungguhnya kerugian, kezaliman, kelalaian, dan kefasikan adalah perkara yang dibenci oleh orang-orang yang beriman.[bersambung]***🔍 Trinitas Dalam Islam, Apakah Rokok Haram, Arti Tawasul, Bacaan Ruqyah Syar'iyyah, Motivasi Remaja Islam
Prev     Next