Faedah Surat Yasin: Berapa Kali Tiupan Sangkakala pada Hari Kiamat?

Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Berapa Kali Tiupan Sangkakala pada Hari Kiamat?

Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin
Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin


Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin

Keindahan Islam (4)

Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate

Keindahan Islam (4)

Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate
Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate


Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate

Keindahan Islam (1)

Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam

Keindahan Islam (1)

Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam
Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam


Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam

Keindahan Islam (3)

– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul

Keindahan Islam (3)

– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul
– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul


– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas Bermanfaat

27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas Bermanfaat

27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang Komplet

27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang Komplet

27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Keindahan Islam (2)

Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur

Keindahan Islam (2)

Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur
Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur


Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur

Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media

Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat

Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media

Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat
Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat


Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat

Mau Tahu Akibat bagi Pemakan Riba Ketika Bangkit dari Kubur?

Mau tahu akibat yang diderita pemakan riba ketika bangkit dari kubur?   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 275 الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar dari Alam Kubur Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278) Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama dalam ayat 275, siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Kesimpulan Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya.   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemakan riba rentenir riba

Mau Tahu Akibat bagi Pemakan Riba Ketika Bangkit dari Kubur?

Mau tahu akibat yang diderita pemakan riba ketika bangkit dari kubur?   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 275 الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar dari Alam Kubur Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278) Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama dalam ayat 275, siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Kesimpulan Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya.   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemakan riba rentenir riba
Mau tahu akibat yang diderita pemakan riba ketika bangkit dari kubur?   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 275 الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar dari Alam Kubur Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278) Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama dalam ayat 275, siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Kesimpulan Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya.   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemakan riba rentenir riba


Mau tahu akibat yang diderita pemakan riba ketika bangkit dari kubur?   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 275 الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar dari Alam Kubur Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278) Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama dalam ayat 275, siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Kesimpulan Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya.   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemakan riba rentenir riba

Keutamaan Orang yang Jauh dari Masjid

Ini adalah hadits yang membicarakan keutamaan orang yang jauh dari masjid, keutamaan berjamaah hingga menunggu shalat.   Hadits no. 1057 dari kitab Riyadhus Sholihin عن أبي موسى – رضي الله عنه – ، قَالَ : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أجْراً في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشىً ، فَأَبْعَدُهُمْ ، وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإمَامِ أعظَمُ أجْراً مِنَ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ )) متفقٌ عَلَيْهِ . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh berjalan menuju shalat, lalu yang jauh berikutnya. Dan orang yang menunggu shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 651 dan Muslim, no. 669)   Kesimpulan Mutiara Hadits   Makin banyak langkah ke masjid, makin banyak pahala yang diperoleh. Makin jauh dari masjid berarti makin banyak langkah dan makin berat, itulah yang membuat pahala semakin besar. Hendaknya yang jaraknya jauh dari masjid lebih semangat untuk ke masjid karena pahalanya lebih besar dibandingkan dengan orang yang rumahnya dekat dengan masjid karena orang yang dekat mudah sekali untuk ke masjid. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk memilih masjid yang lebih jauh. Namun yang lebih tepat, shalat di masjid terdekat lebih utama agar bisa berinteraksi dan bersosialisasi hingga mendakwahi tetangga dan orang dekat rumah. Lihat bahasan di sini. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Hadits ini membicarakan tentang shalat Isya’. Hal ini menunjukkan bahwa boleh mengundur waktu shalat tersebut, ditunjukkan dalam hadits lainnya hingga sepertiga malam. Shalat bersama imam dengan menunggunya lebih utama daripada seseorang lebih dahulu shalat kemudian tidur. Shalat berjamaah bersama imam lebih utama dibandingkan shalat di awal waktu seorang diri. Imam haruslah orang yang paling fakih dan paham akan kitabullah, dialah yang didahulukan dari yang lain dalam shalat. Shalat bersama imam tanda bahwa kaum muslimin itu berjumlah sangat besar (sawadul a’zhom). Shalat berjamaah dengan imam menunjukkan persatuan kaum muslimin dan akan semakin membuat takut musuh-musuh mereka. Inilah yang menunjukkan faedah besar dari shalat berjamaah.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239 Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Ibnu ‘Utsaimin, 5: 65 Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 305-312.   — Disusun di DS Panggang, 27 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah

Keutamaan Orang yang Jauh dari Masjid

Ini adalah hadits yang membicarakan keutamaan orang yang jauh dari masjid, keutamaan berjamaah hingga menunggu shalat.   Hadits no. 1057 dari kitab Riyadhus Sholihin عن أبي موسى – رضي الله عنه – ، قَالَ : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أجْراً في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشىً ، فَأَبْعَدُهُمْ ، وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإمَامِ أعظَمُ أجْراً مِنَ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ )) متفقٌ عَلَيْهِ . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh berjalan menuju shalat, lalu yang jauh berikutnya. Dan orang yang menunggu shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 651 dan Muslim, no. 669)   Kesimpulan Mutiara Hadits   Makin banyak langkah ke masjid, makin banyak pahala yang diperoleh. Makin jauh dari masjid berarti makin banyak langkah dan makin berat, itulah yang membuat pahala semakin besar. Hendaknya yang jaraknya jauh dari masjid lebih semangat untuk ke masjid karena pahalanya lebih besar dibandingkan dengan orang yang rumahnya dekat dengan masjid karena orang yang dekat mudah sekali untuk ke masjid. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk memilih masjid yang lebih jauh. Namun yang lebih tepat, shalat di masjid terdekat lebih utama agar bisa berinteraksi dan bersosialisasi hingga mendakwahi tetangga dan orang dekat rumah. Lihat bahasan di sini. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Hadits ini membicarakan tentang shalat Isya’. Hal ini menunjukkan bahwa boleh mengundur waktu shalat tersebut, ditunjukkan dalam hadits lainnya hingga sepertiga malam. Shalat bersama imam dengan menunggunya lebih utama daripada seseorang lebih dahulu shalat kemudian tidur. Shalat berjamaah bersama imam lebih utama dibandingkan shalat di awal waktu seorang diri. Imam haruslah orang yang paling fakih dan paham akan kitabullah, dialah yang didahulukan dari yang lain dalam shalat. Shalat bersama imam tanda bahwa kaum muslimin itu berjumlah sangat besar (sawadul a’zhom). Shalat berjamaah dengan imam menunjukkan persatuan kaum muslimin dan akan semakin membuat takut musuh-musuh mereka. Inilah yang menunjukkan faedah besar dari shalat berjamaah.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239 Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Ibnu ‘Utsaimin, 5: 65 Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 305-312.   — Disusun di DS Panggang, 27 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah
Ini adalah hadits yang membicarakan keutamaan orang yang jauh dari masjid, keutamaan berjamaah hingga menunggu shalat.   Hadits no. 1057 dari kitab Riyadhus Sholihin عن أبي موسى – رضي الله عنه – ، قَالَ : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أجْراً في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشىً ، فَأَبْعَدُهُمْ ، وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإمَامِ أعظَمُ أجْراً مِنَ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ )) متفقٌ عَلَيْهِ . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh berjalan menuju shalat, lalu yang jauh berikutnya. Dan orang yang menunggu shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 651 dan Muslim, no. 669)   Kesimpulan Mutiara Hadits   Makin banyak langkah ke masjid, makin banyak pahala yang diperoleh. Makin jauh dari masjid berarti makin banyak langkah dan makin berat, itulah yang membuat pahala semakin besar. Hendaknya yang jaraknya jauh dari masjid lebih semangat untuk ke masjid karena pahalanya lebih besar dibandingkan dengan orang yang rumahnya dekat dengan masjid karena orang yang dekat mudah sekali untuk ke masjid. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk memilih masjid yang lebih jauh. Namun yang lebih tepat, shalat di masjid terdekat lebih utama agar bisa berinteraksi dan bersosialisasi hingga mendakwahi tetangga dan orang dekat rumah. Lihat bahasan di sini. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Hadits ini membicarakan tentang shalat Isya’. Hal ini menunjukkan bahwa boleh mengundur waktu shalat tersebut, ditunjukkan dalam hadits lainnya hingga sepertiga malam. Shalat bersama imam dengan menunggunya lebih utama daripada seseorang lebih dahulu shalat kemudian tidur. Shalat berjamaah bersama imam lebih utama dibandingkan shalat di awal waktu seorang diri. Imam haruslah orang yang paling fakih dan paham akan kitabullah, dialah yang didahulukan dari yang lain dalam shalat. Shalat bersama imam tanda bahwa kaum muslimin itu berjumlah sangat besar (sawadul a’zhom). Shalat berjamaah dengan imam menunjukkan persatuan kaum muslimin dan akan semakin membuat takut musuh-musuh mereka. Inilah yang menunjukkan faedah besar dari shalat berjamaah.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239 Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Ibnu ‘Utsaimin, 5: 65 Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 305-312.   — Disusun di DS Panggang, 27 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah


Ini adalah hadits yang membicarakan keutamaan orang yang jauh dari masjid, keutamaan berjamaah hingga menunggu shalat.   Hadits no. 1057 dari kitab Riyadhus Sholihin عن أبي موسى – رضي الله عنه – ، قَالَ : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أجْراً في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشىً ، فَأَبْعَدُهُمْ ، وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإمَامِ أعظَمُ أجْراً مِنَ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ )) متفقٌ عَلَيْهِ . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh berjalan menuju shalat, lalu yang jauh berikutnya. Dan orang yang menunggu shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 651 dan Muslim, no. 669)   Kesimpulan Mutiara Hadits   Makin banyak langkah ke masjid, makin banyak pahala yang diperoleh. Makin jauh dari masjid berarti makin banyak langkah dan makin berat, itulah yang membuat pahala semakin besar. Hendaknya yang jaraknya jauh dari masjid lebih semangat untuk ke masjid karena pahalanya lebih besar dibandingkan dengan orang yang rumahnya dekat dengan masjid karena orang yang dekat mudah sekali untuk ke masjid. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk memilih masjid yang lebih jauh. Namun yang lebih tepat, shalat di masjid terdekat lebih utama agar bisa berinteraksi dan bersosialisasi hingga mendakwahi tetangga dan orang dekat rumah. Lihat bahasan di sini. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Hadits ini membicarakan tentang shalat Isya’. Hal ini menunjukkan bahwa boleh mengundur waktu shalat tersebut, ditunjukkan dalam hadits lainnya hingga sepertiga malam. Shalat bersama imam dengan menunggunya lebih utama daripada seseorang lebih dahulu shalat kemudian tidur. Shalat berjamaah bersama imam lebih utama dibandingkan shalat di awal waktu seorang diri. Imam haruslah orang yang paling fakih dan paham akan kitabullah, dialah yang didahulukan dari yang lain dalam shalat. Shalat bersama imam tanda bahwa kaum muslimin itu berjumlah sangat besar (sawadul a’zhom). Shalat berjamaah dengan imam menunjukkan persatuan kaum muslimin dan akan semakin membuat takut musuh-musuh mereka. Inilah yang menunjukkan faedah besar dari shalat berjamaah.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239 Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Ibnu ‘Utsaimin, 5: 65 Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 305-312.   — Disusun di DS Panggang, 27 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah

Shalat di Masjid Dekat Ataukah di Masjid Jauh yang Nyunnah?

Ada pilihan, ada masjid dekat namun imamnya kurang bagus. Ada masjid yang jauh, imamnya bagus, selain itu punya manfaat lain jika shalat di sana (karena lebih nyunnah katanya), mana yang harus dipilih? Ada pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Bolehkah seseorang memilih shalat Jumat dengan meninggalkan masjid di daerahnya dan memilih masjid yang jauh jaraknya? Hal ini dikarenakan khatib di tempatnya khutbahnya terlalu panjang.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, Lebih baik baginya shalat di masjid kampungnya supaya saling mengenal dan menjalin kasih dengan orang-orang sekitarnya. Begitu pula kalau shalat di masjid kampungnya bisa untuk menyemangati lainnya. Namun jika ia pergi ke masjid lain dengan pertimbangan maslahat diniyyah yaitu mudah mendapatkan ilmu, khutbahnya lebih mudah diresapi, ilmu yang diperoleh lebih banyak, maka dengan pertimbangan seperti ini tidaklah masalah. Dahulu sahabat memilih shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid beliau untuk mendapatkan keutamaan bermakmum di belakang nabi, juga untuk mendapatkan shalat di masjid nabi (Masjid Nabawi). Lalu setelah shalat bersama nabi, mereka shalat kembali di kampung mereka seperti yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Nabi itu mengetahui dan tidak mengingkarinya. (Fatawa Islamiyyah dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 143905)   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah juga menyatakan bahwa lebih utama melaksanakan shalat (Jum’at) di masjid kampung kecuali ada maslahat jika harus memilih masjid lain. Dijelaksan di fatwa beliau no. 143905.   Tentang hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin adalah hadits berikut dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ – رضى الله عنه – كَانَ يُصَلِّى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ يَأْتِى قَوْمَهُ فَيُصَلِّى بِهِمُ الصَّلاَةَ ، فَقَرَأَ بِهِمُ الْبَقَرَةَ – قَالَ – فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلاَةً خَفِيفَةً ، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ . فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا ، وَنَسْقِى بِنَوَاضِحِنَا ، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَتَجَوَّزْتُ ، فَزَعَمَ أَنِّى مُنَافِقٌ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ – ثَلاَثًا – اقْرَأْ ( وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ) وَ ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى ) وَنَحْوَهَا » Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia mendatangi kaumnya untuk melaksanakan shalat lagi. Ketika itu Mu’adz membacakan surat Al-Baqarah. Lantas ada seseorang yang keluar dan ia melakukan shalat sendirian dengan ringkas. Hal tersebut sampai pada telinga Mu’adz dan Mu’adz menyebut orang tersebut munafik. Sebutan Mu’adz tadi sampai pada orang yang digelari, hingga akhirnya ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah kami adalah kaum yang bekerja dengan tangan-tangan kami di samping menggembala ternak. Saat itu Mu’adz shalat mengimami kami semalam itu membaca surat Al-Baqarah. Maka Aku memutus shalatku, lalu dia menuduh saya munafik.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aallam bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu akan tukang pembuat fitnah (memicu orang enggan shalat)?” hingga 3 kali, “Baiknya engkau membaca surat Asy-Syamsy dan Al-A’la atau yang semisalnya.” (HR. Bukhari, no. 6106 dan Muslim, no. 465) Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah shalat Isya. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465) Dalam riwayat lain dari Ibnu Abi Syaibah (3625) disebutkan bahwa yang dilaksanakan oleh Mu’adz adalah shalat Maghrib. Lihat Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 184724. Saran kami, tetap memilih masjid terdekat lebih utama dibanding memilih masjid jauh yang nyunnah. Dakwah pada orang terdekat akan lebih tersampaikan kalau kita bisa bergaul dengan baik. Silakan buktikan! Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di DS Panggang, saat Allah menurunkan anugerah hujan sebelum Maghrib, 26 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsshalat shalat berjamaah shalat jamaah

Shalat di Masjid Dekat Ataukah di Masjid Jauh yang Nyunnah?

Ada pilihan, ada masjid dekat namun imamnya kurang bagus. Ada masjid yang jauh, imamnya bagus, selain itu punya manfaat lain jika shalat di sana (karena lebih nyunnah katanya), mana yang harus dipilih? Ada pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Bolehkah seseorang memilih shalat Jumat dengan meninggalkan masjid di daerahnya dan memilih masjid yang jauh jaraknya? Hal ini dikarenakan khatib di tempatnya khutbahnya terlalu panjang.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, Lebih baik baginya shalat di masjid kampungnya supaya saling mengenal dan menjalin kasih dengan orang-orang sekitarnya. Begitu pula kalau shalat di masjid kampungnya bisa untuk menyemangati lainnya. Namun jika ia pergi ke masjid lain dengan pertimbangan maslahat diniyyah yaitu mudah mendapatkan ilmu, khutbahnya lebih mudah diresapi, ilmu yang diperoleh lebih banyak, maka dengan pertimbangan seperti ini tidaklah masalah. Dahulu sahabat memilih shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid beliau untuk mendapatkan keutamaan bermakmum di belakang nabi, juga untuk mendapatkan shalat di masjid nabi (Masjid Nabawi). Lalu setelah shalat bersama nabi, mereka shalat kembali di kampung mereka seperti yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Nabi itu mengetahui dan tidak mengingkarinya. (Fatawa Islamiyyah dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 143905)   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah juga menyatakan bahwa lebih utama melaksanakan shalat (Jum’at) di masjid kampung kecuali ada maslahat jika harus memilih masjid lain. Dijelaksan di fatwa beliau no. 143905.   Tentang hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin adalah hadits berikut dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ – رضى الله عنه – كَانَ يُصَلِّى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ يَأْتِى قَوْمَهُ فَيُصَلِّى بِهِمُ الصَّلاَةَ ، فَقَرَأَ بِهِمُ الْبَقَرَةَ – قَالَ – فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلاَةً خَفِيفَةً ، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ . فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا ، وَنَسْقِى بِنَوَاضِحِنَا ، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَتَجَوَّزْتُ ، فَزَعَمَ أَنِّى مُنَافِقٌ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ – ثَلاَثًا – اقْرَأْ ( وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ) وَ ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى ) وَنَحْوَهَا » Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia mendatangi kaumnya untuk melaksanakan shalat lagi. Ketika itu Mu’adz membacakan surat Al-Baqarah. Lantas ada seseorang yang keluar dan ia melakukan shalat sendirian dengan ringkas. Hal tersebut sampai pada telinga Mu’adz dan Mu’adz menyebut orang tersebut munafik. Sebutan Mu’adz tadi sampai pada orang yang digelari, hingga akhirnya ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah kami adalah kaum yang bekerja dengan tangan-tangan kami di samping menggembala ternak. Saat itu Mu’adz shalat mengimami kami semalam itu membaca surat Al-Baqarah. Maka Aku memutus shalatku, lalu dia menuduh saya munafik.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aallam bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu akan tukang pembuat fitnah (memicu orang enggan shalat)?” hingga 3 kali, “Baiknya engkau membaca surat Asy-Syamsy dan Al-A’la atau yang semisalnya.” (HR. Bukhari, no. 6106 dan Muslim, no. 465) Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah shalat Isya. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465) Dalam riwayat lain dari Ibnu Abi Syaibah (3625) disebutkan bahwa yang dilaksanakan oleh Mu’adz adalah shalat Maghrib. Lihat Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 184724. Saran kami, tetap memilih masjid terdekat lebih utama dibanding memilih masjid jauh yang nyunnah. Dakwah pada orang terdekat akan lebih tersampaikan kalau kita bisa bergaul dengan baik. Silakan buktikan! Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di DS Panggang, saat Allah menurunkan anugerah hujan sebelum Maghrib, 26 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsshalat shalat berjamaah shalat jamaah
Ada pilihan, ada masjid dekat namun imamnya kurang bagus. Ada masjid yang jauh, imamnya bagus, selain itu punya manfaat lain jika shalat di sana (karena lebih nyunnah katanya), mana yang harus dipilih? Ada pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Bolehkah seseorang memilih shalat Jumat dengan meninggalkan masjid di daerahnya dan memilih masjid yang jauh jaraknya? Hal ini dikarenakan khatib di tempatnya khutbahnya terlalu panjang.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, Lebih baik baginya shalat di masjid kampungnya supaya saling mengenal dan menjalin kasih dengan orang-orang sekitarnya. Begitu pula kalau shalat di masjid kampungnya bisa untuk menyemangati lainnya. Namun jika ia pergi ke masjid lain dengan pertimbangan maslahat diniyyah yaitu mudah mendapatkan ilmu, khutbahnya lebih mudah diresapi, ilmu yang diperoleh lebih banyak, maka dengan pertimbangan seperti ini tidaklah masalah. Dahulu sahabat memilih shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid beliau untuk mendapatkan keutamaan bermakmum di belakang nabi, juga untuk mendapatkan shalat di masjid nabi (Masjid Nabawi). Lalu setelah shalat bersama nabi, mereka shalat kembali di kampung mereka seperti yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Nabi itu mengetahui dan tidak mengingkarinya. (Fatawa Islamiyyah dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 143905)   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah juga menyatakan bahwa lebih utama melaksanakan shalat (Jum’at) di masjid kampung kecuali ada maslahat jika harus memilih masjid lain. Dijelaksan di fatwa beliau no. 143905.   Tentang hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin adalah hadits berikut dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ – رضى الله عنه – كَانَ يُصَلِّى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ يَأْتِى قَوْمَهُ فَيُصَلِّى بِهِمُ الصَّلاَةَ ، فَقَرَأَ بِهِمُ الْبَقَرَةَ – قَالَ – فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلاَةً خَفِيفَةً ، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ . فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا ، وَنَسْقِى بِنَوَاضِحِنَا ، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَتَجَوَّزْتُ ، فَزَعَمَ أَنِّى مُنَافِقٌ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ – ثَلاَثًا – اقْرَأْ ( وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ) وَ ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى ) وَنَحْوَهَا » Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia mendatangi kaumnya untuk melaksanakan shalat lagi. Ketika itu Mu’adz membacakan surat Al-Baqarah. Lantas ada seseorang yang keluar dan ia melakukan shalat sendirian dengan ringkas. Hal tersebut sampai pada telinga Mu’adz dan Mu’adz menyebut orang tersebut munafik. Sebutan Mu’adz tadi sampai pada orang yang digelari, hingga akhirnya ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah kami adalah kaum yang bekerja dengan tangan-tangan kami di samping menggembala ternak. Saat itu Mu’adz shalat mengimami kami semalam itu membaca surat Al-Baqarah. Maka Aku memutus shalatku, lalu dia menuduh saya munafik.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aallam bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu akan tukang pembuat fitnah (memicu orang enggan shalat)?” hingga 3 kali, “Baiknya engkau membaca surat Asy-Syamsy dan Al-A’la atau yang semisalnya.” (HR. Bukhari, no. 6106 dan Muslim, no. 465) Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah shalat Isya. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465) Dalam riwayat lain dari Ibnu Abi Syaibah (3625) disebutkan bahwa yang dilaksanakan oleh Mu’adz adalah shalat Maghrib. Lihat Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 184724. Saran kami, tetap memilih masjid terdekat lebih utama dibanding memilih masjid jauh yang nyunnah. Dakwah pada orang terdekat akan lebih tersampaikan kalau kita bisa bergaul dengan baik. Silakan buktikan! Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di DS Panggang, saat Allah menurunkan anugerah hujan sebelum Maghrib, 26 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsshalat shalat berjamaah shalat jamaah


Ada pilihan, ada masjid dekat namun imamnya kurang bagus. Ada masjid yang jauh, imamnya bagus, selain itu punya manfaat lain jika shalat di sana (karena lebih nyunnah katanya), mana yang harus dipilih? Ada pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Bolehkah seseorang memilih shalat Jumat dengan meninggalkan masjid di daerahnya dan memilih masjid yang jauh jaraknya? Hal ini dikarenakan khatib di tempatnya khutbahnya terlalu panjang.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, Lebih baik baginya shalat di masjid kampungnya supaya saling mengenal dan menjalin kasih dengan orang-orang sekitarnya. Begitu pula kalau shalat di masjid kampungnya bisa untuk menyemangati lainnya. Namun jika ia pergi ke masjid lain dengan pertimbangan maslahat diniyyah yaitu mudah mendapatkan ilmu, khutbahnya lebih mudah diresapi, ilmu yang diperoleh lebih banyak, maka dengan pertimbangan seperti ini tidaklah masalah. Dahulu sahabat memilih shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid beliau untuk mendapatkan keutamaan bermakmum di belakang nabi, juga untuk mendapatkan shalat di masjid nabi (Masjid Nabawi). Lalu setelah shalat bersama nabi, mereka shalat kembali di kampung mereka seperti yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Nabi itu mengetahui dan tidak mengingkarinya. (Fatawa Islamiyyah dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 143905)   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah juga menyatakan bahwa lebih utama melaksanakan shalat (Jum’at) di masjid kampung kecuali ada maslahat jika harus memilih masjid lain. Dijelaksan di fatwa beliau no. 143905.   Tentang hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin adalah hadits berikut dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ – رضى الله عنه – كَانَ يُصَلِّى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ يَأْتِى قَوْمَهُ فَيُصَلِّى بِهِمُ الصَّلاَةَ ، فَقَرَأَ بِهِمُ الْبَقَرَةَ – قَالَ – فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلاَةً خَفِيفَةً ، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ . فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا ، وَنَسْقِى بِنَوَاضِحِنَا ، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَتَجَوَّزْتُ ، فَزَعَمَ أَنِّى مُنَافِقٌ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ – ثَلاَثًا – اقْرَأْ ( وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ) وَ ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى ) وَنَحْوَهَا » Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia mendatangi kaumnya untuk melaksanakan shalat lagi. Ketika itu Mu’adz membacakan surat Al-Baqarah. Lantas ada seseorang yang keluar dan ia melakukan shalat sendirian dengan ringkas. Hal tersebut sampai pada telinga Mu’adz dan Mu’adz menyebut orang tersebut munafik. Sebutan Mu’adz tadi sampai pada orang yang digelari, hingga akhirnya ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah kami adalah kaum yang bekerja dengan tangan-tangan kami di samping menggembala ternak. Saat itu Mu’adz shalat mengimami kami semalam itu membaca surat Al-Baqarah. Maka Aku memutus shalatku, lalu dia menuduh saya munafik.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aallam bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu akan tukang pembuat fitnah (memicu orang enggan shalat)?” hingga 3 kali, “Baiknya engkau membaca surat Asy-Syamsy dan Al-A’la atau yang semisalnya.” (HR. Bukhari, no. 6106 dan Muslim, no. 465) Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah shalat Isya. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465) Dalam riwayat lain dari Ibnu Abi Syaibah (3625) disebutkan bahwa yang dilaksanakan oleh Mu’adz adalah shalat Maghrib. Lihat Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 184724. Saran kami, tetap memilih masjid terdekat lebih utama dibanding memilih masjid jauh yang nyunnah. Dakwah pada orang terdekat akan lebih tersampaikan kalau kita bisa bergaul dengan baik. Silakan buktikan! Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di DS Panggang, saat Allah menurunkan anugerah hujan sebelum Maghrib, 26 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsshalat shalat berjamaah shalat jamaah

Lebih Besar Dari Riba

Tahukah anda berapa besar dosa riba? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).Subhanallah ternyata dosa riba lebih berat dari dosa zina 36 kali lipat. Padahal dosa zina besar di sisi Allah Ta’ala. Banyak diantara kita yang lari dari riba. Ini adalah kebaikan dan menunjukkan ketaqwaan hati dan keimanan. Namun terkadang masih jatuh kepada dosa yang lebih berat dari riba.Tahukah anda apa yang lebih berat dari riba?Dari Al Baro bin Azib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:((الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه، وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya” (HR Ath Thabrani. Lihat silsilah shahihah no 1871).Perhatikanlah ini saudaraku.. Berapa banyak orang yang asyik membicarakan aib saudaranya baik di majelis ataupun di media media sosial. Ini adalah musibah yang menimpa agama seseorang. Karena perbuatan tersebut merusak amalnya, bahkan mencukur agamanya. Karena perbuatan tersebut merusak hubungannya dengan sesama muslim. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?”. Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama)” (HR. At-Tirmidzi no 2509, dan dishahihkan At-Tirmidzi, dan ada tambahannya).هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama“.Ingatlah saudaraku, kehormatan seorang muslim mulia di sisi Allah. Jangan sampai kita bangkrut di hari kiamat akibat lisan yang tak dijaga.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Yaumul Hisab Dan Mizan, Kaffah Adalah, Kaum Yahudi Dalam Alquran, Doa Yang Mustajab Dikabulkan, Qana'ah Artinya

Lebih Besar Dari Riba

Tahukah anda berapa besar dosa riba? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).Subhanallah ternyata dosa riba lebih berat dari dosa zina 36 kali lipat. Padahal dosa zina besar di sisi Allah Ta’ala. Banyak diantara kita yang lari dari riba. Ini adalah kebaikan dan menunjukkan ketaqwaan hati dan keimanan. Namun terkadang masih jatuh kepada dosa yang lebih berat dari riba.Tahukah anda apa yang lebih berat dari riba?Dari Al Baro bin Azib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:((الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه، وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya” (HR Ath Thabrani. Lihat silsilah shahihah no 1871).Perhatikanlah ini saudaraku.. Berapa banyak orang yang asyik membicarakan aib saudaranya baik di majelis ataupun di media media sosial. Ini adalah musibah yang menimpa agama seseorang. Karena perbuatan tersebut merusak amalnya, bahkan mencukur agamanya. Karena perbuatan tersebut merusak hubungannya dengan sesama muslim. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?”. Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama)” (HR. At-Tirmidzi no 2509, dan dishahihkan At-Tirmidzi, dan ada tambahannya).هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama“.Ingatlah saudaraku, kehormatan seorang muslim mulia di sisi Allah. Jangan sampai kita bangkrut di hari kiamat akibat lisan yang tak dijaga.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Yaumul Hisab Dan Mizan, Kaffah Adalah, Kaum Yahudi Dalam Alquran, Doa Yang Mustajab Dikabulkan, Qana'ah Artinya
Tahukah anda berapa besar dosa riba? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).Subhanallah ternyata dosa riba lebih berat dari dosa zina 36 kali lipat. Padahal dosa zina besar di sisi Allah Ta’ala. Banyak diantara kita yang lari dari riba. Ini adalah kebaikan dan menunjukkan ketaqwaan hati dan keimanan. Namun terkadang masih jatuh kepada dosa yang lebih berat dari riba.Tahukah anda apa yang lebih berat dari riba?Dari Al Baro bin Azib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:((الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه، وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya” (HR Ath Thabrani. Lihat silsilah shahihah no 1871).Perhatikanlah ini saudaraku.. Berapa banyak orang yang asyik membicarakan aib saudaranya baik di majelis ataupun di media media sosial. Ini adalah musibah yang menimpa agama seseorang. Karena perbuatan tersebut merusak amalnya, bahkan mencukur agamanya. Karena perbuatan tersebut merusak hubungannya dengan sesama muslim. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?”. Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama)” (HR. At-Tirmidzi no 2509, dan dishahihkan At-Tirmidzi, dan ada tambahannya).هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama“.Ingatlah saudaraku, kehormatan seorang muslim mulia di sisi Allah. Jangan sampai kita bangkrut di hari kiamat akibat lisan yang tak dijaga.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Yaumul Hisab Dan Mizan, Kaffah Adalah, Kaum Yahudi Dalam Alquran, Doa Yang Mustajab Dikabulkan, Qana'ah Artinya


Tahukah anda berapa besar dosa riba? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).Subhanallah ternyata dosa riba lebih berat dari dosa zina 36 kali lipat. Padahal dosa zina besar di sisi Allah Ta’ala. Banyak diantara kita yang lari dari riba. Ini adalah kebaikan dan menunjukkan ketaqwaan hati dan keimanan. Namun terkadang masih jatuh kepada dosa yang lebih berat dari riba.Tahukah anda apa yang lebih berat dari riba?Dari Al Baro bin Azib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:((الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه، وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya” (HR Ath Thabrani. Lihat silsilah shahihah no 1871).Perhatikanlah ini saudaraku.. Berapa banyak orang yang asyik membicarakan aib saudaranya baik di majelis ataupun di media media sosial. Ini adalah musibah yang menimpa agama seseorang. Karena perbuatan tersebut merusak amalnya, bahkan mencukur agamanya. Karena perbuatan tersebut merusak hubungannya dengan sesama muslim. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?”. Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama)” (HR. At-Tirmidzi no 2509, dan dishahihkan At-Tirmidzi, dan ada tambahannya).هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama“.Ingatlah saudaraku, kehormatan seorang muslim mulia di sisi Allah. Jangan sampai kita bangkrut di hari kiamat akibat lisan yang tak dijaga.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Yaumul Hisab Dan Mizan, Kaffah Adalah, Kaum Yahudi Dalam Alquran, Doa Yang Mustajab Dikabulkan, Qana'ah Artinya

Kaedah Memahami Riba (7)

Ada lagi kaedah memahami riba yang terakhir yaitu dalam hal akal-akalan dalam riba.   Kaedah #10 “Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak dibolehkan.”   Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang. Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”.  Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.” Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan. Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara. Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari. Inilah yang disebut transaksi ‘inah. Ini termasuk di antara trik riba. Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.” Mengenai hukum jual beli ‘inah, para fuqoha berbeda pendapat dikarenakan penggambaran jual beli tersebut yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad tidak membolehkan jual beli tersebut. Sedangkan –sebagaimana dinukil dari Imam Asy Syafi’i rahimahullah-, beliau membolehkannya karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu. Namun yang tepat, jual beli ‘inah dengan gambaran yang kami sebutkan di atas adalah jual beli yang diharamkan. Di antara alasannya: Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual beli ini dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 200 juta dengan 170 juta namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba. Kedua: Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242).   File presentasinya, silakan didownload dari Google Drive: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Sabtu malam, 17 Rabi’uts Tsani 1438 H (14-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

Kaedah Memahami Riba (7)

Ada lagi kaedah memahami riba yang terakhir yaitu dalam hal akal-akalan dalam riba.   Kaedah #10 “Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak dibolehkan.”   Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang. Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”.  Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.” Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan. Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara. Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari. Inilah yang disebut transaksi ‘inah. Ini termasuk di antara trik riba. Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.” Mengenai hukum jual beli ‘inah, para fuqoha berbeda pendapat dikarenakan penggambaran jual beli tersebut yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad tidak membolehkan jual beli tersebut. Sedangkan –sebagaimana dinukil dari Imam Asy Syafi’i rahimahullah-, beliau membolehkannya karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu. Namun yang tepat, jual beli ‘inah dengan gambaran yang kami sebutkan di atas adalah jual beli yang diharamkan. Di antara alasannya: Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual beli ini dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 200 juta dengan 170 juta namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba. Kedua: Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242).   File presentasinya, silakan didownload dari Google Drive: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Sabtu malam, 17 Rabi’uts Tsani 1438 H (14-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba
Ada lagi kaedah memahami riba yang terakhir yaitu dalam hal akal-akalan dalam riba.   Kaedah #10 “Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak dibolehkan.”   Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang. Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”.  Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.” Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan. Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara. Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari. Inilah yang disebut transaksi ‘inah. Ini termasuk di antara trik riba. Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.” Mengenai hukum jual beli ‘inah, para fuqoha berbeda pendapat dikarenakan penggambaran jual beli tersebut yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad tidak membolehkan jual beli tersebut. Sedangkan –sebagaimana dinukil dari Imam Asy Syafi’i rahimahullah-, beliau membolehkannya karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu. Namun yang tepat, jual beli ‘inah dengan gambaran yang kami sebutkan di atas adalah jual beli yang diharamkan. Di antara alasannya: Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual beli ini dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 200 juta dengan 170 juta namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba. Kedua: Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242).   File presentasinya, silakan didownload dari Google Drive: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Sabtu malam, 17 Rabi’uts Tsani 1438 H (14-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba


Ada lagi kaedah memahami riba yang terakhir yaitu dalam hal akal-akalan dalam riba.   Kaedah #10 “Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak dibolehkan.”   Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang. Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”.  Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.” Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan. Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara. Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari. Inilah yang disebut transaksi ‘inah. Ini termasuk di antara trik riba. Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.” Mengenai hukum jual beli ‘inah, para fuqoha berbeda pendapat dikarenakan penggambaran jual beli tersebut yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad tidak membolehkan jual beli tersebut. Sedangkan –sebagaimana dinukil dari Imam Asy Syafi’i rahimahullah-, beliau membolehkannya karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu. Namun yang tepat, jual beli ‘inah dengan gambaran yang kami sebutkan di atas adalah jual beli yang diharamkan. Di antara alasannya: Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual beli ini dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 200 juta dengan 170 juta namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba. Kedua: Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242).   File presentasinya, silakan didownload dari Google Drive: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Sabtu malam, 17 Rabi’uts Tsani 1438 H (14-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

Cerita Pensiunan Yang Terlilit Utang Riba

Ini cerita bagus yang patut dijadikan pelajaran terkhusus bagi yang punya utang RIBA.   Sebelum take-off, saya dapat share-an video, lalu saya tonton sejenak di ruang tunggu terminal tiga Soeta. Sambil saya memanggil teman safar, saya katakan, “Pak ini nasihat yang bagus buat njenengan sebagai PNS. Jangan sampai seperti ini, nyesalnya kemudian.”   Apa isi videonya? Ada cerita seorang kakek usia 60 tahun, saat ini hanya bisa menikmati gaji pensiunnya 395 ribu rupiah dari total 3.904.200 rupiah. Beliau adalah mantan guru yang bergolongan 4B. Sudah jelas kan gajinya lumayan besar. Setiap bulannya ia harus mencicil 3,5 juta rupiah selama 5 tahun. Utang awalnya 80 juta rupiah. Berarti untuk 60 bulan tersebut ia harus melunasi hingga 210 juta rupiah. Lihatlah 80 juta rupiah berkembang menjadi 210 juta rupiah. Ketika ditanya, apa masih mau berutang seperti itu lagi. Jawabnya, “Sudah, ini tak mau terulang lagi.” Bagaimana tidak kapok karena cuma 395 ribu rupiah saja di masa tua yang bisa ia nikmati setiap bulannya dari gaji pensiunnya. Bayangkan dengan uang segitu, hidupnya bagaimana? Sungguh masa tua yang sengsara. Sengsara lantaran UTANG RIBA.   Dari kisah tersebut beberapa pelajaran bisa dihadirkan RumayshoCom berikut ini.   PELAJARAN #1 Pelajaran yang bisa kita ambil, sebagian yang hidup berutang dan utangnya adalah utang riba, hanya sengsara yang ia dapatkan di waktu tua. Itu cuma karena menginginkan kesenangan yang datang segera. Senangnya sekarang … Itu benar, namun tidak ada yang memikirkan bahwa utang riba hanya membawa sengsara di waktu kemudian karena terus memikirkan cicilan.   PELAJARAN #2 Pelajaran lainnya, kita harus banyak berlindung pada Allah dari dua hal mengingat kasus ini.   1- Berlindung dari utang riba. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM. Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.   2- Berlindung dari keadaan jelek di waktu tua. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN URODDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada- Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur.   PELAJARAN #3 Satu solusi lagi yang paling penting, ini bahkan solusi paling ampuh yaitu ubahlah gaya hidup, jangan cuma ingin ikut-ikutan gaya orang. Kadang yang jadi prioritas kita adalah pemenuhan KEINGINAN, BUKAN KEBUTUHAN. Teman punya hape baru, kita pun yang kere ingin ikut-ikutan. Tetangga punya mobil baru, kita juga ingin paksa seperti mereka.  KUNCINYA untuk mengatasi hal itu adalah pada sifat QANA’AH. Karena dengan qana’ah-lah yang akan membuat orang tidak terus saingan dengan tetangga dan teman kantornya. Qana’ah inilah rasa cukup, tak pernah protes pada ketentuan Allah pada orang lain. Tanpa memiliki qana’ah, akan membuat kita selalu cemburu pada nikmat orang lain dan ingin menyainginya. Jangan lupa amalkan doa ketiga ini, agar diberi sifat qana’ah. ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘AFAAFA WAL GHINAA Artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah). Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesengsaraan karena riba. Moga Allah karuniakan kita pula kehidupan yang baik di masa tua serta diberikan sifat qana’ah. — Doa-doa di atas terangkum dalam buku terbaru yang masih dalam proses izin ISBN lalu cetak dengan judul “50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP” karya Ustadz M Abduh Tuasikal. Mau pre order, silakan hubungi Penerbit Rumaysho & Toko Online RuwaifiCom 085200171222.   With Nur Ramadhan Wisata Umra & Hajj Service @ Garuda Jakarta to Jogja (akhir safar), 24 Rabi’uts Tsani 1438 H, 23-01-2017 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

Cerita Pensiunan Yang Terlilit Utang Riba

Ini cerita bagus yang patut dijadikan pelajaran terkhusus bagi yang punya utang RIBA.   Sebelum take-off, saya dapat share-an video, lalu saya tonton sejenak di ruang tunggu terminal tiga Soeta. Sambil saya memanggil teman safar, saya katakan, “Pak ini nasihat yang bagus buat njenengan sebagai PNS. Jangan sampai seperti ini, nyesalnya kemudian.”   Apa isi videonya? Ada cerita seorang kakek usia 60 tahun, saat ini hanya bisa menikmati gaji pensiunnya 395 ribu rupiah dari total 3.904.200 rupiah. Beliau adalah mantan guru yang bergolongan 4B. Sudah jelas kan gajinya lumayan besar. Setiap bulannya ia harus mencicil 3,5 juta rupiah selama 5 tahun. Utang awalnya 80 juta rupiah. Berarti untuk 60 bulan tersebut ia harus melunasi hingga 210 juta rupiah. Lihatlah 80 juta rupiah berkembang menjadi 210 juta rupiah. Ketika ditanya, apa masih mau berutang seperti itu lagi. Jawabnya, “Sudah, ini tak mau terulang lagi.” Bagaimana tidak kapok karena cuma 395 ribu rupiah saja di masa tua yang bisa ia nikmati setiap bulannya dari gaji pensiunnya. Bayangkan dengan uang segitu, hidupnya bagaimana? Sungguh masa tua yang sengsara. Sengsara lantaran UTANG RIBA.   Dari kisah tersebut beberapa pelajaran bisa dihadirkan RumayshoCom berikut ini.   PELAJARAN #1 Pelajaran yang bisa kita ambil, sebagian yang hidup berutang dan utangnya adalah utang riba, hanya sengsara yang ia dapatkan di waktu tua. Itu cuma karena menginginkan kesenangan yang datang segera. Senangnya sekarang … Itu benar, namun tidak ada yang memikirkan bahwa utang riba hanya membawa sengsara di waktu kemudian karena terus memikirkan cicilan.   PELAJARAN #2 Pelajaran lainnya, kita harus banyak berlindung pada Allah dari dua hal mengingat kasus ini.   1- Berlindung dari utang riba. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM. Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.   2- Berlindung dari keadaan jelek di waktu tua. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN URODDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada- Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur.   PELAJARAN #3 Satu solusi lagi yang paling penting, ini bahkan solusi paling ampuh yaitu ubahlah gaya hidup, jangan cuma ingin ikut-ikutan gaya orang. Kadang yang jadi prioritas kita adalah pemenuhan KEINGINAN, BUKAN KEBUTUHAN. Teman punya hape baru, kita pun yang kere ingin ikut-ikutan. Tetangga punya mobil baru, kita juga ingin paksa seperti mereka.  KUNCINYA untuk mengatasi hal itu adalah pada sifat QANA’AH. Karena dengan qana’ah-lah yang akan membuat orang tidak terus saingan dengan tetangga dan teman kantornya. Qana’ah inilah rasa cukup, tak pernah protes pada ketentuan Allah pada orang lain. Tanpa memiliki qana’ah, akan membuat kita selalu cemburu pada nikmat orang lain dan ingin menyainginya. Jangan lupa amalkan doa ketiga ini, agar diberi sifat qana’ah. ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘AFAAFA WAL GHINAA Artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah). Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesengsaraan karena riba. Moga Allah karuniakan kita pula kehidupan yang baik di masa tua serta diberikan sifat qana’ah. — Doa-doa di atas terangkum dalam buku terbaru yang masih dalam proses izin ISBN lalu cetak dengan judul “50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP” karya Ustadz M Abduh Tuasikal. Mau pre order, silakan hubungi Penerbit Rumaysho & Toko Online RuwaifiCom 085200171222.   With Nur Ramadhan Wisata Umra & Hajj Service @ Garuda Jakarta to Jogja (akhir safar), 24 Rabi’uts Tsani 1438 H, 23-01-2017 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba
Ini cerita bagus yang patut dijadikan pelajaran terkhusus bagi yang punya utang RIBA.   Sebelum take-off, saya dapat share-an video, lalu saya tonton sejenak di ruang tunggu terminal tiga Soeta. Sambil saya memanggil teman safar, saya katakan, “Pak ini nasihat yang bagus buat njenengan sebagai PNS. Jangan sampai seperti ini, nyesalnya kemudian.”   Apa isi videonya? Ada cerita seorang kakek usia 60 tahun, saat ini hanya bisa menikmati gaji pensiunnya 395 ribu rupiah dari total 3.904.200 rupiah. Beliau adalah mantan guru yang bergolongan 4B. Sudah jelas kan gajinya lumayan besar. Setiap bulannya ia harus mencicil 3,5 juta rupiah selama 5 tahun. Utang awalnya 80 juta rupiah. Berarti untuk 60 bulan tersebut ia harus melunasi hingga 210 juta rupiah. Lihatlah 80 juta rupiah berkembang menjadi 210 juta rupiah. Ketika ditanya, apa masih mau berutang seperti itu lagi. Jawabnya, “Sudah, ini tak mau terulang lagi.” Bagaimana tidak kapok karena cuma 395 ribu rupiah saja di masa tua yang bisa ia nikmati setiap bulannya dari gaji pensiunnya. Bayangkan dengan uang segitu, hidupnya bagaimana? Sungguh masa tua yang sengsara. Sengsara lantaran UTANG RIBA.   Dari kisah tersebut beberapa pelajaran bisa dihadirkan RumayshoCom berikut ini.   PELAJARAN #1 Pelajaran yang bisa kita ambil, sebagian yang hidup berutang dan utangnya adalah utang riba, hanya sengsara yang ia dapatkan di waktu tua. Itu cuma karena menginginkan kesenangan yang datang segera. Senangnya sekarang … Itu benar, namun tidak ada yang memikirkan bahwa utang riba hanya membawa sengsara di waktu kemudian karena terus memikirkan cicilan.   PELAJARAN #2 Pelajaran lainnya, kita harus banyak berlindung pada Allah dari dua hal mengingat kasus ini.   1- Berlindung dari utang riba. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM. Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.   2- Berlindung dari keadaan jelek di waktu tua. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN URODDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada- Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur.   PELAJARAN #3 Satu solusi lagi yang paling penting, ini bahkan solusi paling ampuh yaitu ubahlah gaya hidup, jangan cuma ingin ikut-ikutan gaya orang. Kadang yang jadi prioritas kita adalah pemenuhan KEINGINAN, BUKAN KEBUTUHAN. Teman punya hape baru, kita pun yang kere ingin ikut-ikutan. Tetangga punya mobil baru, kita juga ingin paksa seperti mereka.  KUNCINYA untuk mengatasi hal itu adalah pada sifat QANA’AH. Karena dengan qana’ah-lah yang akan membuat orang tidak terus saingan dengan tetangga dan teman kantornya. Qana’ah inilah rasa cukup, tak pernah protes pada ketentuan Allah pada orang lain. Tanpa memiliki qana’ah, akan membuat kita selalu cemburu pada nikmat orang lain dan ingin menyainginya. Jangan lupa amalkan doa ketiga ini, agar diberi sifat qana’ah. ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘AFAAFA WAL GHINAA Artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah). Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesengsaraan karena riba. Moga Allah karuniakan kita pula kehidupan yang baik di masa tua serta diberikan sifat qana’ah. — Doa-doa di atas terangkum dalam buku terbaru yang masih dalam proses izin ISBN lalu cetak dengan judul “50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP” karya Ustadz M Abduh Tuasikal. Mau pre order, silakan hubungi Penerbit Rumaysho & Toko Online RuwaifiCom 085200171222.   With Nur Ramadhan Wisata Umra & Hajj Service @ Garuda Jakarta to Jogja (akhir safar), 24 Rabi’uts Tsani 1438 H, 23-01-2017 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba


Ini cerita bagus yang patut dijadikan pelajaran terkhusus bagi yang punya utang RIBA.   Sebelum take-off, saya dapat share-an video, lalu saya tonton sejenak di ruang tunggu terminal tiga Soeta. Sambil saya memanggil teman safar, saya katakan, “Pak ini nasihat yang bagus buat njenengan sebagai PNS. Jangan sampai seperti ini, nyesalnya kemudian.”   Apa isi videonya? Ada cerita seorang kakek usia 60 tahun, saat ini hanya bisa menikmati gaji pensiunnya 395 ribu rupiah dari total 3.904.200 rupiah. Beliau adalah mantan guru yang bergolongan 4B. Sudah jelas kan gajinya lumayan besar. Setiap bulannya ia harus mencicil 3,5 juta rupiah selama 5 tahun. Utang awalnya 80 juta rupiah. Berarti untuk 60 bulan tersebut ia harus melunasi hingga 210 juta rupiah. Lihatlah 80 juta rupiah berkembang menjadi 210 juta rupiah. Ketika ditanya, apa masih mau berutang seperti itu lagi. Jawabnya, “Sudah, ini tak mau terulang lagi.” Bagaimana tidak kapok karena cuma 395 ribu rupiah saja di masa tua yang bisa ia nikmati setiap bulannya dari gaji pensiunnya. Bayangkan dengan uang segitu, hidupnya bagaimana? Sungguh masa tua yang sengsara. Sengsara lantaran UTANG RIBA.   Dari kisah tersebut beberapa pelajaran bisa dihadirkan RumayshoCom berikut ini.   PELAJARAN #1 Pelajaran yang bisa kita ambil, sebagian yang hidup berutang dan utangnya adalah utang riba, hanya sengsara yang ia dapatkan di waktu tua. Itu cuma karena menginginkan kesenangan yang datang segera. Senangnya sekarang … Itu benar, namun tidak ada yang memikirkan bahwa utang riba hanya membawa sengsara di waktu kemudian karena terus memikirkan cicilan.   PELAJARAN #2 Pelajaran lainnya, kita harus banyak berlindung pada Allah dari dua hal mengingat kasus ini.   1- Berlindung dari utang riba. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM. Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.   2- Berlindung dari keadaan jelek di waktu tua. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN URODDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada- Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur.   PELAJARAN #3 Satu solusi lagi yang paling penting, ini bahkan solusi paling ampuh yaitu ubahlah gaya hidup, jangan cuma ingin ikut-ikutan gaya orang. Kadang yang jadi prioritas kita adalah pemenuhan KEINGINAN, BUKAN KEBUTUHAN. Teman punya hape baru, kita pun yang kere ingin ikut-ikutan. Tetangga punya mobil baru, kita juga ingin paksa seperti mereka.  KUNCINYA untuk mengatasi hal itu adalah pada sifat QANA’AH. Karena dengan qana’ah-lah yang akan membuat orang tidak terus saingan dengan tetangga dan teman kantornya. Qana’ah inilah rasa cukup, tak pernah protes pada ketentuan Allah pada orang lain. Tanpa memiliki qana’ah, akan membuat kita selalu cemburu pada nikmat orang lain dan ingin menyainginya. Jangan lupa amalkan doa ketiga ini, agar diberi sifat qana’ah. ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘AFAAFA WAL GHINAA Artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah). Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesengsaraan karena riba. Moga Allah karuniakan kita pula kehidupan yang baik di masa tua serta diberikan sifat qana’ah. — Doa-doa di atas terangkum dalam buku terbaru yang masih dalam proses izin ISBN lalu cetak dengan judul “50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP” karya Ustadz M Abduh Tuasikal. Mau pre order, silakan hubungi Penerbit Rumaysho & Toko Online RuwaifiCom 085200171222.   With Nur Ramadhan Wisata Umra & Hajj Service @ Garuda Jakarta to Jogja (akhir safar), 24 Rabi’uts Tsani 1438 H, 23-01-2017 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba
Prev     Next