3 Sebab Terangkatnya Bala Bencana Menurut Al-Qur’an dan Sunnah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ

3 Sebab Terangkatnya Bala Bencana Menurut Al-Qur’an dan Sunnah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ
Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ


Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Hamba yang Takut kepada Allah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Hamba yang Takut kepada Allah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

7+ Faedah Sabar dalam Al-Quran: Kabar Gembira untuk Anda – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

7+ Faedah Sabar dalam Al-Quran: Kabar Gembira untuk Anda – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ


Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Berhati-Hati Terhadap Doa Orang Terzalimi

التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 QRIS donasi Yufid

Berhati-Hati Terhadap Doa Orang Terzalimi

التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 QRIS donasi Yufid
التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 QRIS donasi Yufid


التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Rahasia 40 Rakaat Nabi Setiap Hari – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً

Rahasia 40 Rakaat Nabi Setiap Hari – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً
Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً


Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 5): Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 5): Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.


Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Penghalang-Penghalang Keberkahan (Bagian 2)

Oleh: As-Sayyid Murad Salamah الذنوب والمعاصي: ومن عقوباتها أنها تَمحق بركة العمر وبركة الرزق، وبركة العلم وبركة العمل، وبركة الطاعة، وبالجملة فإنها تَمحق بركة الدين والدنيا، فلا تجد أقل بركة في عمره ودينه ودنياه ممن عصي الله، وما مُحت البركة من الأرض إلا بمعاصي الخلق؛ قال الله تعالى: ﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ﴾ [الأعراف: 96]، وقال تعالى: ﴿ وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا ﴾ [الجن: 16، 17]، (وأن العبد ليُحرَم الرزق بالذنب يصيبه). Kedua: dosa-dosa dan kemaksiatan Di antara bentuk hukuman atas dosa dan kemaksiatan adalah lenyapnya keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan, dan ketaatan. Dan secara umum, ia dapat melenyapkan keberkahan dari sisi agama dan duniawi, sehingga kamu tidak akan menemui orang yang lebih sedikit keberkahannya pada umur, agama, dan dunia seseorang daripada orang yang bermaksiat kepada Allah. Tidaklah keberkahan itu lenyap dari muka bumi melainkan akibat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan makhluk. Allah Ta’ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا “Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup). Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan Dia masukkan ke dalam azab yang sangat berat.” (QS. Al-Jinn: 16-17). Dalam hadits disebutkan: وَإِنَّ العَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ‏ “Dan sungguh seorang hamba akan terhalang dari rezeki akibat dosa yang ia lakukan.”  ومن أعظم الذنوب الربا، فإنه يمحق البركة في كل شيء: ﴿ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [البقرة: 275 – 277]. Di antara dosa terbesar adalah riba, dan ia dapat melenyapkan keberkahan dalam segala hal. Allah Ta’ala berfirman: الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 275-277). عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “يأتي على الناس زمان يأكلون فيه الربا”، قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال: “مَن لم يأكله منهم ناله من غباره”[المسند (2/ 494)، وسنن أبي داود برقم (1331)، وسنن النسائي (7/ 243)، وسنن ابن ماجه برقم (2278)]. يقول الطبري – رحمه الله – وهذا نظير الخبر الذي رُوي عن عبد الله بن مسعود، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: الرِّبا وَإن كثُر فإلى قُلٍّ”[أخرجه الحاكم في المستدرك، 2/ 37]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال مَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ منهم ناله مِنْ غُبَارِهِ “Akan datang pada manusia, suatu zaman yang mereka memakan harta riba.” Beliau ditanya, “Seluruh manusia?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak memakannya akan tetap terkena debu-debunya.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Musnad jilid 2 hlm. 494, Sunan Abi Dawud no. 1331, Sunan an-Nasa’i jilid 7 hlm. 243, dan Sunan Ibn Majah no. 2278). Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Ayat ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, ‘Riba itu meskipun banyak, tetap akan berakhir sedikit.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 2 hlm. 37). عن القاسم، عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276][تفسير الطبري، ج 6 / 15]. عن عمرو بن العاص قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من قومٍ يظهر فيهم الربا إلا أُخذوا بالسَّنة، وما من قوم يظهر فيهم الرشا إلا أُخذوا بالرعب)[أخرجه أحمد ح 17155، وقال الألباني: (ضعيف)؛ انظر حديث رقم : 5211 في ضعيف الجامع]. Diriwayatkan dari Al-Qasim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menerima sedekah, dan Dia tidak akan menerimanya kecuali dari harta yang baik, lalu menumbuhkannya bagi pelakunya seperti salah satu dari kalian merawat anak kudanya. Bahkan sedekah satu suapan dapat menjadi seperti gunung Uhud. Hal ini dibenarkan dalam Kitabullah, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah’ (QS. Al-Baqarah: 276).” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 6 hlm. 15). Diriwayatkan dari Amru bin al-Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah muncul riba pada suatu kaum, melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, dan tidaklah muncul suap pada mereka melainkan mereka akan dibalas dengan ketakutan.’” (HR. Ahmad no. 17155. Al-Albani mengatakan, “Hadits ini lemah.” (Lihat: Kitab Jami’ Adh-Dhaif no. 5211). ثالثًا: عدم الوفاء في الكيل والميزان: ومن أسباب موانع البركة: عدمُ الوفاء في الكيل والميزان، فكم نشاهد من إنسانٍ يتعاملون بالكيل والميزان ويربحون الأموال الكثيرة، ولكنهم يشتكون الفقر وقلة البركة؛ لأنهم حجبوا أنفسهم عن البركة بالتطفيف، والله تعالى توعَّد المطففين بالعذاب في الدنيا والآخرة؛ يقول سبحانه وتعالى: ﴿ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾ [المطففين: 1 – 6]. Ketiga: tidak jujur dalam menimbang dan menakar Di antara hal yang menyebabkan terhalangnya keberkahan adalah tidak jujur dalam menimbang dan menakar. Betapa banyak kita saksikan manusia yang bertransaksi dengan cara menimbang dan menakar dalam berjual beli, dan mereka mendapat keuntungan besar, tapi mereka tetap saja mengeluhkan kemiskinan dan rendahnya keberkahan. Hal ini karena menghalangi diri mereka dari keberkahan dengan mengurangi kadar timbangan dan takaran. Padahal Allah Ta’ala telah memberi ancaman kepada orang-orang yang mengurangi kadar timbangan dan takaran dengan azab di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi. Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar (Kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6). يقول الطبري رحمه الله: يقول تعالى ذكره: الوادي الذي يسيل من صديد أهل جهنم في أسفلها للذين يُطَففون، يعني: للذين ينقصون الناس، ويبخَسونهم حقوقهم في مكاييلهم إذا كالوهم، أو موازينهم إذا وزنوا لهم عن الواجب لهم من الوفاء، وأصل ذلك من الشيء الطفيف، وهو القليل النزر، والمطفِّف: المقلِّل حقَّ صاحب الحقِّ عما له من الوفاء والتمام في كيل أو وزن، ومنه قيل للقوم الذي يكونون سواء في حسبة أو عدد: هم سواء كطَفِّ الصاع، يعني بذلك: كقُرب الممتلئ منه ناقص عن الملء. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل [تفسير الطبري، ج 24/ 277]. Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman bahwa lembah yang bersumber dari nanah para penghuni neraka bagian bawah akan diperuntukkan bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, yakni orang-orang yang mengurangi hak orang lain ketika menakar dan menimbang yang seharusnya mereka penuhi.  Kata (المُطفِّف) berasal dari kata (الطَفِيف) yang berarti sedikit dan remeh. Sedangkan makna kata (المُطفِّف) sendiri adalah orang yang mengurangi hak orang lain dari takaran dan timbangan yang seharusnya ia sempurnakan. Ini juga berlaku bagi orang mengurangi kadar hitungan, sama dengan orang yang mengurangi takaran. Yakni menakar hampir penuh, tapi tidak sampai penuh. Demikianlah yang juga dikatakan oleh para ulama tafsir.” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 24 hlm. 277). ولقد ذكر النبي صلى الله عليه وسلم أن من أسباب مَحق البركة تطفيفَ الكيل والميزان؛ عن عبد الله بن عمر قال: أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا معشر المهاجرين، خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تُدركوهنَّ، لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يُعلنوا بها، إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضوا، ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة، وجَور السلطان عليهم، ولم يَمنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطر من السماء، ولولا البهائم لم يُمطروا، ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله، إلا سلَّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم، فأخذ بعض ما في أيديهم، وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيَّروا مما أنزل الله، إلا جعل الله بأسهم بينهم )[أخرجه ابن ماجه، 4009، والحاكم، ح 8772، وقال الألباني حسن الصحيحة، 106]. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menyebutkan bahwa di antara sebab terhapusnya keberkahan adalah berlaku curang saat menimbang dan menakar. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi kami dan bersabda,  يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ ‘Wahai kaum Muhajirin! Waspadailah lima hal berikut menimpa kalian. Dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemuinya. (1) Tidaklah tersebar perbuatan zina pada suatu kaum hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan tersebar pada mereka wabah thaun dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada kaum sebelum mereka, (2) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, kesulitan mencari nafkah, dan kezaliman penguasa, (3) tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka melainkan mereka akan terhalang dari hujan dari langit, dan kalaulah bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan mendapat hujan, (4) tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan perjanjian rasul-Nya melainkan Allah akan membuat musuh dari kalangan selain mereka dapat berkuasa atas mereka, sehingga musuh itu merampas sebagian harta yang mereka miliki, (5) dan tidaklah para pemimpin mereka enggan berhukum dengan Kitabullah dan memilih-milih hukum yang telah Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan kebinasaan mereka karena permusuhan di antara mereka sendiri.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 4009 dan Al-Hakim no. 8772. Al-Albani berkata dalam kitab Ash-Shahihah no. 106, Hadits ini hasan). رابعًا: الكذب في البيع والشراء: واعلم رحمني الله وإياك أن من موانع البركة التي يَتساهل فيها كثيرٌ من المسلمين: الحلفَ عند البيع والشراء، فيجعل العبد اليمينَ وسيلة من وسائل ترويج بضاعته، وخداع المسلمين بتلك الأيمان؛ عن أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِي صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: «الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ»[أخرجه الحميدي (1031)، والبخاري (3/ 78)، ومسلم (5/ 56)، وأبو داود (3335، والنسائي (7/ 246)]. Keempat: berdusta saat berjual beli Ketahuilah —semoga Allah merahmati kita semua— bahwa salah satu penghalang keberkahan yang sering dianggap remeh kaum Muslimin adalah bersumpah saat berjual beli. Seseorang menjadikan sumpahnya sebagai media untuk melariskan dagangannya dan menipu kaum Muslimin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ ‘Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.’” (Diriwayatkan Al-Humaidi no. 1031, Al-Bukhari jilid 3 hlm. 78, Muslim jilid 5 hlm. 56, Abu Dawud no. 3335, dan An-Nasa’i jilid 7 hlm. 246). يقول ابن بطَّال رحمه الله: قال المهلب: سُئل بعض العلماء عن معنى قوله تعالى: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276]، وقيل له: نحن نرى صاحب الربا يربو مالُه، وصاحب الصدقة ربما كان مقلًّا، قال: متى يربي الله الصدقات؟ إن الصدقة يجدها صاحبها مثل أُحد يوم القيامة، كذلك صاحب الربا يجد عمله كله ممحوقًا إن تصدَّق منه، أو وصل رحمه لم يُكتَب له بذلك حسنة، وكان عليه إثم الربا بحاله. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “al-Mulahhab berkata bahwa ada seorang ulama yang ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah.’” (QS. Al-Baqarah: 276). Dikatakan kepada beliau, “Kami melihat pelaku riba hartanya bertambah terus, sedangkan bisa jadi pelaku sedekah berkurang hartanya.” Beliau menanggapi, “Kapan Allah akan menyuburkan sedekah? Sebenarnya sedekah akan didapati pelakunya sebesar gunung Uhud pada hari kiamat. Sedangkan pelaku riba akan mendapati seluruh amalannya lenyap jika ia bersedekah dengan harta riba, atau jika ia menyambung silaturahmi dengan harta itu maka tidak akan ditulis satupun amal kebaikan baginya, bahkan dengan itu ia tetap mendapatkan dosa riba.” وقالت طائفة: إن الربا يُمحَق في الدنيا والآخرة على عموم اللفظ، واحتجوا على ذلك بقوله عليه السلام: «الحلف منفِّقة للسلعة، مَمحقة للبركة»، فلما كان نفاق السلعة بالحلف الكاذبة في الدنيا، كان مُمحقًا للبركة فيها في الدنيا، فكذلك مَحق الربا يكون أيضًا في الدنيا، وذكر عبد الرزاق عن معمر قال: سمعنا أنه لا يأتي على صاحب الربا أربعون سنة حتى يُمحق) [شرح ابن بطال، ج 11 / 225]. Ada segolongan ulama yang mengatakan bahwa harta riba akan dilenyapkan di dunia dan akhirat berdasarkan keumuman lafal ayat tersebut. Mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.” Ketika larisnya dagangan karena sumpah palsu di dunia dapat melenyapkan keberkahan harta itu di dunia, maka demikian pula dengan harta riba akan lenyap di dunia. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, ia berkata, “Kami mendengar riwayat bahwa tidaklah berlalu 40 tahun kepada pelaku riba melainkan harta ribanya telah lenyap.” (Kitab Syarh Ibn Baththal, jilid 11 hlm. 225). عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ [أخرجه أحمد ح 21504، ومسلم ح 3015، والنسائي ح 4384، وابن ماجه ح 2200]. Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ “Janganlah kalian banyak bersumpah saat berjual beli, karena itu dapat melariskan lalu melenyapkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 21504, Muslim no. 3015, an-Nasa’i no. 4384, dan Ibnu Majah no. 2200). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 102 times, 1 visit(s) today Post Views: 360 QRIS donasi Yufid

Penghalang-Penghalang Keberkahan (Bagian 2)

Oleh: As-Sayyid Murad Salamah الذنوب والمعاصي: ومن عقوباتها أنها تَمحق بركة العمر وبركة الرزق، وبركة العلم وبركة العمل، وبركة الطاعة، وبالجملة فإنها تَمحق بركة الدين والدنيا، فلا تجد أقل بركة في عمره ودينه ودنياه ممن عصي الله، وما مُحت البركة من الأرض إلا بمعاصي الخلق؛ قال الله تعالى: ﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ﴾ [الأعراف: 96]، وقال تعالى: ﴿ وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا ﴾ [الجن: 16، 17]، (وأن العبد ليُحرَم الرزق بالذنب يصيبه). Kedua: dosa-dosa dan kemaksiatan Di antara bentuk hukuman atas dosa dan kemaksiatan adalah lenyapnya keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan, dan ketaatan. Dan secara umum, ia dapat melenyapkan keberkahan dari sisi agama dan duniawi, sehingga kamu tidak akan menemui orang yang lebih sedikit keberkahannya pada umur, agama, dan dunia seseorang daripada orang yang bermaksiat kepada Allah. Tidaklah keberkahan itu lenyap dari muka bumi melainkan akibat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan makhluk. Allah Ta’ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا “Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup). Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan Dia masukkan ke dalam azab yang sangat berat.” (QS. Al-Jinn: 16-17). Dalam hadits disebutkan: وَإِنَّ العَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ‏ “Dan sungguh seorang hamba akan terhalang dari rezeki akibat dosa yang ia lakukan.”  ومن أعظم الذنوب الربا، فإنه يمحق البركة في كل شيء: ﴿ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [البقرة: 275 – 277]. Di antara dosa terbesar adalah riba, dan ia dapat melenyapkan keberkahan dalam segala hal. Allah Ta’ala berfirman: الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 275-277). عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “يأتي على الناس زمان يأكلون فيه الربا”، قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال: “مَن لم يأكله منهم ناله من غباره”[المسند (2/ 494)، وسنن أبي داود برقم (1331)، وسنن النسائي (7/ 243)، وسنن ابن ماجه برقم (2278)]. يقول الطبري – رحمه الله – وهذا نظير الخبر الذي رُوي عن عبد الله بن مسعود، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: الرِّبا وَإن كثُر فإلى قُلٍّ”[أخرجه الحاكم في المستدرك، 2/ 37]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال مَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ منهم ناله مِنْ غُبَارِهِ “Akan datang pada manusia, suatu zaman yang mereka memakan harta riba.” Beliau ditanya, “Seluruh manusia?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak memakannya akan tetap terkena debu-debunya.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Musnad jilid 2 hlm. 494, Sunan Abi Dawud no. 1331, Sunan an-Nasa’i jilid 7 hlm. 243, dan Sunan Ibn Majah no. 2278). Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Ayat ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, ‘Riba itu meskipun banyak, tetap akan berakhir sedikit.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 2 hlm. 37). عن القاسم، عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276][تفسير الطبري، ج 6 / 15]. عن عمرو بن العاص قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من قومٍ يظهر فيهم الربا إلا أُخذوا بالسَّنة، وما من قوم يظهر فيهم الرشا إلا أُخذوا بالرعب)[أخرجه أحمد ح 17155، وقال الألباني: (ضعيف)؛ انظر حديث رقم : 5211 في ضعيف الجامع]. Diriwayatkan dari Al-Qasim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menerima sedekah, dan Dia tidak akan menerimanya kecuali dari harta yang baik, lalu menumbuhkannya bagi pelakunya seperti salah satu dari kalian merawat anak kudanya. Bahkan sedekah satu suapan dapat menjadi seperti gunung Uhud. Hal ini dibenarkan dalam Kitabullah, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah’ (QS. Al-Baqarah: 276).” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 6 hlm. 15). Diriwayatkan dari Amru bin al-Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah muncul riba pada suatu kaum, melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, dan tidaklah muncul suap pada mereka melainkan mereka akan dibalas dengan ketakutan.’” (HR. Ahmad no. 17155. Al-Albani mengatakan, “Hadits ini lemah.” (Lihat: Kitab Jami’ Adh-Dhaif no. 5211). ثالثًا: عدم الوفاء في الكيل والميزان: ومن أسباب موانع البركة: عدمُ الوفاء في الكيل والميزان، فكم نشاهد من إنسانٍ يتعاملون بالكيل والميزان ويربحون الأموال الكثيرة، ولكنهم يشتكون الفقر وقلة البركة؛ لأنهم حجبوا أنفسهم عن البركة بالتطفيف، والله تعالى توعَّد المطففين بالعذاب في الدنيا والآخرة؛ يقول سبحانه وتعالى: ﴿ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾ [المطففين: 1 – 6]. Ketiga: tidak jujur dalam menimbang dan menakar Di antara hal yang menyebabkan terhalangnya keberkahan adalah tidak jujur dalam menimbang dan menakar. Betapa banyak kita saksikan manusia yang bertransaksi dengan cara menimbang dan menakar dalam berjual beli, dan mereka mendapat keuntungan besar, tapi mereka tetap saja mengeluhkan kemiskinan dan rendahnya keberkahan. Hal ini karena menghalangi diri mereka dari keberkahan dengan mengurangi kadar timbangan dan takaran. Padahal Allah Ta’ala telah memberi ancaman kepada orang-orang yang mengurangi kadar timbangan dan takaran dengan azab di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi. Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar (Kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6). يقول الطبري رحمه الله: يقول تعالى ذكره: الوادي الذي يسيل من صديد أهل جهنم في أسفلها للذين يُطَففون، يعني: للذين ينقصون الناس، ويبخَسونهم حقوقهم في مكاييلهم إذا كالوهم، أو موازينهم إذا وزنوا لهم عن الواجب لهم من الوفاء، وأصل ذلك من الشيء الطفيف، وهو القليل النزر، والمطفِّف: المقلِّل حقَّ صاحب الحقِّ عما له من الوفاء والتمام في كيل أو وزن، ومنه قيل للقوم الذي يكونون سواء في حسبة أو عدد: هم سواء كطَفِّ الصاع، يعني بذلك: كقُرب الممتلئ منه ناقص عن الملء. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل [تفسير الطبري، ج 24/ 277]. Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman bahwa lembah yang bersumber dari nanah para penghuni neraka bagian bawah akan diperuntukkan bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, yakni orang-orang yang mengurangi hak orang lain ketika menakar dan menimbang yang seharusnya mereka penuhi.  Kata (المُطفِّف) berasal dari kata (الطَفِيف) yang berarti sedikit dan remeh. Sedangkan makna kata (المُطفِّف) sendiri adalah orang yang mengurangi hak orang lain dari takaran dan timbangan yang seharusnya ia sempurnakan. Ini juga berlaku bagi orang mengurangi kadar hitungan, sama dengan orang yang mengurangi takaran. Yakni menakar hampir penuh, tapi tidak sampai penuh. Demikianlah yang juga dikatakan oleh para ulama tafsir.” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 24 hlm. 277). ولقد ذكر النبي صلى الله عليه وسلم أن من أسباب مَحق البركة تطفيفَ الكيل والميزان؛ عن عبد الله بن عمر قال: أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا معشر المهاجرين، خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تُدركوهنَّ، لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يُعلنوا بها، إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضوا، ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة، وجَور السلطان عليهم، ولم يَمنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطر من السماء، ولولا البهائم لم يُمطروا، ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله، إلا سلَّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم، فأخذ بعض ما في أيديهم، وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيَّروا مما أنزل الله، إلا جعل الله بأسهم بينهم )[أخرجه ابن ماجه، 4009، والحاكم، ح 8772، وقال الألباني حسن الصحيحة، 106]. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menyebutkan bahwa di antara sebab terhapusnya keberkahan adalah berlaku curang saat menimbang dan menakar. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi kami dan bersabda,  يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ ‘Wahai kaum Muhajirin! Waspadailah lima hal berikut menimpa kalian. Dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemuinya. (1) Tidaklah tersebar perbuatan zina pada suatu kaum hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan tersebar pada mereka wabah thaun dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada kaum sebelum mereka, (2) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, kesulitan mencari nafkah, dan kezaliman penguasa, (3) tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka melainkan mereka akan terhalang dari hujan dari langit, dan kalaulah bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan mendapat hujan, (4) tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan perjanjian rasul-Nya melainkan Allah akan membuat musuh dari kalangan selain mereka dapat berkuasa atas mereka, sehingga musuh itu merampas sebagian harta yang mereka miliki, (5) dan tidaklah para pemimpin mereka enggan berhukum dengan Kitabullah dan memilih-milih hukum yang telah Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan kebinasaan mereka karena permusuhan di antara mereka sendiri.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 4009 dan Al-Hakim no. 8772. Al-Albani berkata dalam kitab Ash-Shahihah no. 106, Hadits ini hasan). رابعًا: الكذب في البيع والشراء: واعلم رحمني الله وإياك أن من موانع البركة التي يَتساهل فيها كثيرٌ من المسلمين: الحلفَ عند البيع والشراء، فيجعل العبد اليمينَ وسيلة من وسائل ترويج بضاعته، وخداع المسلمين بتلك الأيمان؛ عن أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِي صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: «الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ»[أخرجه الحميدي (1031)، والبخاري (3/ 78)، ومسلم (5/ 56)، وأبو داود (3335، والنسائي (7/ 246)]. Keempat: berdusta saat berjual beli Ketahuilah —semoga Allah merahmati kita semua— bahwa salah satu penghalang keberkahan yang sering dianggap remeh kaum Muslimin adalah bersumpah saat berjual beli. Seseorang menjadikan sumpahnya sebagai media untuk melariskan dagangannya dan menipu kaum Muslimin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ ‘Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.’” (Diriwayatkan Al-Humaidi no. 1031, Al-Bukhari jilid 3 hlm. 78, Muslim jilid 5 hlm. 56, Abu Dawud no. 3335, dan An-Nasa’i jilid 7 hlm. 246). يقول ابن بطَّال رحمه الله: قال المهلب: سُئل بعض العلماء عن معنى قوله تعالى: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276]، وقيل له: نحن نرى صاحب الربا يربو مالُه، وصاحب الصدقة ربما كان مقلًّا، قال: متى يربي الله الصدقات؟ إن الصدقة يجدها صاحبها مثل أُحد يوم القيامة، كذلك صاحب الربا يجد عمله كله ممحوقًا إن تصدَّق منه، أو وصل رحمه لم يُكتَب له بذلك حسنة، وكان عليه إثم الربا بحاله. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “al-Mulahhab berkata bahwa ada seorang ulama yang ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah.’” (QS. Al-Baqarah: 276). Dikatakan kepada beliau, “Kami melihat pelaku riba hartanya bertambah terus, sedangkan bisa jadi pelaku sedekah berkurang hartanya.” Beliau menanggapi, “Kapan Allah akan menyuburkan sedekah? Sebenarnya sedekah akan didapati pelakunya sebesar gunung Uhud pada hari kiamat. Sedangkan pelaku riba akan mendapati seluruh amalannya lenyap jika ia bersedekah dengan harta riba, atau jika ia menyambung silaturahmi dengan harta itu maka tidak akan ditulis satupun amal kebaikan baginya, bahkan dengan itu ia tetap mendapatkan dosa riba.” وقالت طائفة: إن الربا يُمحَق في الدنيا والآخرة على عموم اللفظ، واحتجوا على ذلك بقوله عليه السلام: «الحلف منفِّقة للسلعة، مَمحقة للبركة»، فلما كان نفاق السلعة بالحلف الكاذبة في الدنيا، كان مُمحقًا للبركة فيها في الدنيا، فكذلك مَحق الربا يكون أيضًا في الدنيا، وذكر عبد الرزاق عن معمر قال: سمعنا أنه لا يأتي على صاحب الربا أربعون سنة حتى يُمحق) [شرح ابن بطال، ج 11 / 225]. Ada segolongan ulama yang mengatakan bahwa harta riba akan dilenyapkan di dunia dan akhirat berdasarkan keumuman lafal ayat tersebut. Mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.” Ketika larisnya dagangan karena sumpah palsu di dunia dapat melenyapkan keberkahan harta itu di dunia, maka demikian pula dengan harta riba akan lenyap di dunia. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, ia berkata, “Kami mendengar riwayat bahwa tidaklah berlalu 40 tahun kepada pelaku riba melainkan harta ribanya telah lenyap.” (Kitab Syarh Ibn Baththal, jilid 11 hlm. 225). عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ [أخرجه أحمد ح 21504، ومسلم ح 3015، والنسائي ح 4384، وابن ماجه ح 2200]. Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ “Janganlah kalian banyak bersumpah saat berjual beli, karena itu dapat melariskan lalu melenyapkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 21504, Muslim no. 3015, an-Nasa’i no. 4384, dan Ibnu Majah no. 2200). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 102 times, 1 visit(s) today Post Views: 360 QRIS donasi Yufid
Oleh: As-Sayyid Murad Salamah الذنوب والمعاصي: ومن عقوباتها أنها تَمحق بركة العمر وبركة الرزق، وبركة العلم وبركة العمل، وبركة الطاعة، وبالجملة فإنها تَمحق بركة الدين والدنيا، فلا تجد أقل بركة في عمره ودينه ودنياه ممن عصي الله، وما مُحت البركة من الأرض إلا بمعاصي الخلق؛ قال الله تعالى: ﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ﴾ [الأعراف: 96]، وقال تعالى: ﴿ وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا ﴾ [الجن: 16، 17]، (وأن العبد ليُحرَم الرزق بالذنب يصيبه). Kedua: dosa-dosa dan kemaksiatan Di antara bentuk hukuman atas dosa dan kemaksiatan adalah lenyapnya keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan, dan ketaatan. Dan secara umum, ia dapat melenyapkan keberkahan dari sisi agama dan duniawi, sehingga kamu tidak akan menemui orang yang lebih sedikit keberkahannya pada umur, agama, dan dunia seseorang daripada orang yang bermaksiat kepada Allah. Tidaklah keberkahan itu lenyap dari muka bumi melainkan akibat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan makhluk. Allah Ta’ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا “Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup). Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan Dia masukkan ke dalam azab yang sangat berat.” (QS. Al-Jinn: 16-17). Dalam hadits disebutkan: وَإِنَّ العَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ‏ “Dan sungguh seorang hamba akan terhalang dari rezeki akibat dosa yang ia lakukan.”  ومن أعظم الذنوب الربا، فإنه يمحق البركة في كل شيء: ﴿ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [البقرة: 275 – 277]. Di antara dosa terbesar adalah riba, dan ia dapat melenyapkan keberkahan dalam segala hal. Allah Ta’ala berfirman: الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 275-277). عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “يأتي على الناس زمان يأكلون فيه الربا”، قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال: “مَن لم يأكله منهم ناله من غباره”[المسند (2/ 494)، وسنن أبي داود برقم (1331)، وسنن النسائي (7/ 243)، وسنن ابن ماجه برقم (2278)]. يقول الطبري – رحمه الله – وهذا نظير الخبر الذي رُوي عن عبد الله بن مسعود، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: الرِّبا وَإن كثُر فإلى قُلٍّ”[أخرجه الحاكم في المستدرك، 2/ 37]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال مَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ منهم ناله مِنْ غُبَارِهِ “Akan datang pada manusia, suatu zaman yang mereka memakan harta riba.” Beliau ditanya, “Seluruh manusia?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak memakannya akan tetap terkena debu-debunya.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Musnad jilid 2 hlm. 494, Sunan Abi Dawud no. 1331, Sunan an-Nasa’i jilid 7 hlm. 243, dan Sunan Ibn Majah no. 2278). Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Ayat ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, ‘Riba itu meskipun banyak, tetap akan berakhir sedikit.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 2 hlm. 37). عن القاسم، عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276][تفسير الطبري، ج 6 / 15]. عن عمرو بن العاص قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من قومٍ يظهر فيهم الربا إلا أُخذوا بالسَّنة، وما من قوم يظهر فيهم الرشا إلا أُخذوا بالرعب)[أخرجه أحمد ح 17155، وقال الألباني: (ضعيف)؛ انظر حديث رقم : 5211 في ضعيف الجامع]. Diriwayatkan dari Al-Qasim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menerima sedekah, dan Dia tidak akan menerimanya kecuali dari harta yang baik, lalu menumbuhkannya bagi pelakunya seperti salah satu dari kalian merawat anak kudanya. Bahkan sedekah satu suapan dapat menjadi seperti gunung Uhud. Hal ini dibenarkan dalam Kitabullah, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah’ (QS. Al-Baqarah: 276).” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 6 hlm. 15). Diriwayatkan dari Amru bin al-Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah muncul riba pada suatu kaum, melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, dan tidaklah muncul suap pada mereka melainkan mereka akan dibalas dengan ketakutan.’” (HR. Ahmad no. 17155. Al-Albani mengatakan, “Hadits ini lemah.” (Lihat: Kitab Jami’ Adh-Dhaif no. 5211). ثالثًا: عدم الوفاء في الكيل والميزان: ومن أسباب موانع البركة: عدمُ الوفاء في الكيل والميزان، فكم نشاهد من إنسانٍ يتعاملون بالكيل والميزان ويربحون الأموال الكثيرة، ولكنهم يشتكون الفقر وقلة البركة؛ لأنهم حجبوا أنفسهم عن البركة بالتطفيف، والله تعالى توعَّد المطففين بالعذاب في الدنيا والآخرة؛ يقول سبحانه وتعالى: ﴿ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾ [المطففين: 1 – 6]. Ketiga: tidak jujur dalam menimbang dan menakar Di antara hal yang menyebabkan terhalangnya keberkahan adalah tidak jujur dalam menimbang dan menakar. Betapa banyak kita saksikan manusia yang bertransaksi dengan cara menimbang dan menakar dalam berjual beli, dan mereka mendapat keuntungan besar, tapi mereka tetap saja mengeluhkan kemiskinan dan rendahnya keberkahan. Hal ini karena menghalangi diri mereka dari keberkahan dengan mengurangi kadar timbangan dan takaran. Padahal Allah Ta’ala telah memberi ancaman kepada orang-orang yang mengurangi kadar timbangan dan takaran dengan azab di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi. Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar (Kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6). يقول الطبري رحمه الله: يقول تعالى ذكره: الوادي الذي يسيل من صديد أهل جهنم في أسفلها للذين يُطَففون، يعني: للذين ينقصون الناس، ويبخَسونهم حقوقهم في مكاييلهم إذا كالوهم، أو موازينهم إذا وزنوا لهم عن الواجب لهم من الوفاء، وأصل ذلك من الشيء الطفيف، وهو القليل النزر، والمطفِّف: المقلِّل حقَّ صاحب الحقِّ عما له من الوفاء والتمام في كيل أو وزن، ومنه قيل للقوم الذي يكونون سواء في حسبة أو عدد: هم سواء كطَفِّ الصاع، يعني بذلك: كقُرب الممتلئ منه ناقص عن الملء. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل [تفسير الطبري، ج 24/ 277]. Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman bahwa lembah yang bersumber dari nanah para penghuni neraka bagian bawah akan diperuntukkan bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, yakni orang-orang yang mengurangi hak orang lain ketika menakar dan menimbang yang seharusnya mereka penuhi.  Kata (المُطفِّف) berasal dari kata (الطَفِيف) yang berarti sedikit dan remeh. Sedangkan makna kata (المُطفِّف) sendiri adalah orang yang mengurangi hak orang lain dari takaran dan timbangan yang seharusnya ia sempurnakan. Ini juga berlaku bagi orang mengurangi kadar hitungan, sama dengan orang yang mengurangi takaran. Yakni menakar hampir penuh, tapi tidak sampai penuh. Demikianlah yang juga dikatakan oleh para ulama tafsir.” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 24 hlm. 277). ولقد ذكر النبي صلى الله عليه وسلم أن من أسباب مَحق البركة تطفيفَ الكيل والميزان؛ عن عبد الله بن عمر قال: أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا معشر المهاجرين، خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تُدركوهنَّ، لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يُعلنوا بها، إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضوا، ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة، وجَور السلطان عليهم، ولم يَمنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطر من السماء، ولولا البهائم لم يُمطروا، ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله، إلا سلَّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم، فأخذ بعض ما في أيديهم، وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيَّروا مما أنزل الله، إلا جعل الله بأسهم بينهم )[أخرجه ابن ماجه، 4009، والحاكم، ح 8772، وقال الألباني حسن الصحيحة، 106]. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menyebutkan bahwa di antara sebab terhapusnya keberkahan adalah berlaku curang saat menimbang dan menakar. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi kami dan bersabda,  يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ ‘Wahai kaum Muhajirin! Waspadailah lima hal berikut menimpa kalian. Dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemuinya. (1) Tidaklah tersebar perbuatan zina pada suatu kaum hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan tersebar pada mereka wabah thaun dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada kaum sebelum mereka, (2) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, kesulitan mencari nafkah, dan kezaliman penguasa, (3) tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka melainkan mereka akan terhalang dari hujan dari langit, dan kalaulah bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan mendapat hujan, (4) tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan perjanjian rasul-Nya melainkan Allah akan membuat musuh dari kalangan selain mereka dapat berkuasa atas mereka, sehingga musuh itu merampas sebagian harta yang mereka miliki, (5) dan tidaklah para pemimpin mereka enggan berhukum dengan Kitabullah dan memilih-milih hukum yang telah Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan kebinasaan mereka karena permusuhan di antara mereka sendiri.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 4009 dan Al-Hakim no. 8772. Al-Albani berkata dalam kitab Ash-Shahihah no. 106, Hadits ini hasan). رابعًا: الكذب في البيع والشراء: واعلم رحمني الله وإياك أن من موانع البركة التي يَتساهل فيها كثيرٌ من المسلمين: الحلفَ عند البيع والشراء، فيجعل العبد اليمينَ وسيلة من وسائل ترويج بضاعته، وخداع المسلمين بتلك الأيمان؛ عن أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِي صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: «الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ»[أخرجه الحميدي (1031)، والبخاري (3/ 78)، ومسلم (5/ 56)، وأبو داود (3335، والنسائي (7/ 246)]. Keempat: berdusta saat berjual beli Ketahuilah —semoga Allah merahmati kita semua— bahwa salah satu penghalang keberkahan yang sering dianggap remeh kaum Muslimin adalah bersumpah saat berjual beli. Seseorang menjadikan sumpahnya sebagai media untuk melariskan dagangannya dan menipu kaum Muslimin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ ‘Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.’” (Diriwayatkan Al-Humaidi no. 1031, Al-Bukhari jilid 3 hlm. 78, Muslim jilid 5 hlm. 56, Abu Dawud no. 3335, dan An-Nasa’i jilid 7 hlm. 246). يقول ابن بطَّال رحمه الله: قال المهلب: سُئل بعض العلماء عن معنى قوله تعالى: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276]، وقيل له: نحن نرى صاحب الربا يربو مالُه، وصاحب الصدقة ربما كان مقلًّا، قال: متى يربي الله الصدقات؟ إن الصدقة يجدها صاحبها مثل أُحد يوم القيامة، كذلك صاحب الربا يجد عمله كله ممحوقًا إن تصدَّق منه، أو وصل رحمه لم يُكتَب له بذلك حسنة، وكان عليه إثم الربا بحاله. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “al-Mulahhab berkata bahwa ada seorang ulama yang ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah.’” (QS. Al-Baqarah: 276). Dikatakan kepada beliau, “Kami melihat pelaku riba hartanya bertambah terus, sedangkan bisa jadi pelaku sedekah berkurang hartanya.” Beliau menanggapi, “Kapan Allah akan menyuburkan sedekah? Sebenarnya sedekah akan didapati pelakunya sebesar gunung Uhud pada hari kiamat. Sedangkan pelaku riba akan mendapati seluruh amalannya lenyap jika ia bersedekah dengan harta riba, atau jika ia menyambung silaturahmi dengan harta itu maka tidak akan ditulis satupun amal kebaikan baginya, bahkan dengan itu ia tetap mendapatkan dosa riba.” وقالت طائفة: إن الربا يُمحَق في الدنيا والآخرة على عموم اللفظ، واحتجوا على ذلك بقوله عليه السلام: «الحلف منفِّقة للسلعة، مَمحقة للبركة»، فلما كان نفاق السلعة بالحلف الكاذبة في الدنيا، كان مُمحقًا للبركة فيها في الدنيا، فكذلك مَحق الربا يكون أيضًا في الدنيا، وذكر عبد الرزاق عن معمر قال: سمعنا أنه لا يأتي على صاحب الربا أربعون سنة حتى يُمحق) [شرح ابن بطال، ج 11 / 225]. Ada segolongan ulama yang mengatakan bahwa harta riba akan dilenyapkan di dunia dan akhirat berdasarkan keumuman lafal ayat tersebut. Mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.” Ketika larisnya dagangan karena sumpah palsu di dunia dapat melenyapkan keberkahan harta itu di dunia, maka demikian pula dengan harta riba akan lenyap di dunia. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, ia berkata, “Kami mendengar riwayat bahwa tidaklah berlalu 40 tahun kepada pelaku riba melainkan harta ribanya telah lenyap.” (Kitab Syarh Ibn Baththal, jilid 11 hlm. 225). عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ [أخرجه أحمد ح 21504، ومسلم ح 3015، والنسائي ح 4384، وابن ماجه ح 2200]. Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ “Janganlah kalian banyak bersumpah saat berjual beli, karena itu dapat melariskan lalu melenyapkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 21504, Muslim no. 3015, an-Nasa’i no. 4384, dan Ibnu Majah no. 2200). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 102 times, 1 visit(s) today Post Views: 360 QRIS donasi Yufid


Oleh: As-Sayyid Murad Salamah الذنوب والمعاصي: ومن عقوباتها أنها تَمحق بركة العمر وبركة الرزق، وبركة العلم وبركة العمل، وبركة الطاعة، وبالجملة فإنها تَمحق بركة الدين والدنيا، فلا تجد أقل بركة في عمره ودينه ودنياه ممن عصي الله، وما مُحت البركة من الأرض إلا بمعاصي الخلق؛ قال الله تعالى: ﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ﴾ [الأعراف: 96]، وقال تعالى: ﴿ وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا ﴾ [الجن: 16، 17]، (وأن العبد ليُحرَم الرزق بالذنب يصيبه). Kedua: dosa-dosa dan kemaksiatan Di antara bentuk hukuman atas dosa dan kemaksiatan adalah lenyapnya keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan, dan ketaatan. Dan secara umum, ia dapat melenyapkan keberkahan dari sisi agama dan duniawi, sehingga kamu tidak akan menemui orang yang lebih sedikit keberkahannya pada umur, agama, dan dunia seseorang daripada orang yang bermaksiat kepada Allah. Tidaklah keberkahan itu lenyap dari muka bumi melainkan akibat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan makhluk. Allah Ta’ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا “Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup). Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan Dia masukkan ke dalam azab yang sangat berat.” (QS. Al-Jinn: 16-17). Dalam hadits disebutkan: وَإِنَّ العَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ‏ “Dan sungguh seorang hamba akan terhalang dari rezeki akibat dosa yang ia lakukan.”  ومن أعظم الذنوب الربا، فإنه يمحق البركة في كل شيء: ﴿ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [البقرة: 275 – 277]. Di antara dosa terbesar adalah riba, dan ia dapat melenyapkan keberkahan dalam segala hal. Allah Ta’ala berfirman: الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 275-277). عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “يأتي على الناس زمان يأكلون فيه الربا”، قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال: “مَن لم يأكله منهم ناله من غباره”[المسند (2/ 494)، وسنن أبي داود برقم (1331)، وسنن النسائي (7/ 243)، وسنن ابن ماجه برقم (2278)]. يقول الطبري – رحمه الله – وهذا نظير الخبر الذي رُوي عن عبد الله بن مسعود، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: الرِّبا وَإن كثُر فإلى قُلٍّ”[أخرجه الحاكم في المستدرك، 2/ 37]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا قال: قيل له: الناس كلهم؟ قال مَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ منهم ناله مِنْ غُبَارِهِ “Akan datang pada manusia, suatu zaman yang mereka memakan harta riba.” Beliau ditanya, “Seluruh manusia?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak memakannya akan tetap terkena debu-debunya.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Musnad jilid 2 hlm. 494, Sunan Abi Dawud no. 1331, Sunan an-Nasa’i jilid 7 hlm. 243, dan Sunan Ibn Majah no. 2278). Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Ayat ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, ‘Riba itu meskipun banyak, tetap akan berakhir sedikit.” (Diriwayatkan al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 2 hlm. 37). عن القاسم، عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276][تفسير الطبري، ج 6 / 15]. عن عمرو بن العاص قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من قومٍ يظهر فيهم الربا إلا أُخذوا بالسَّنة، وما من قوم يظهر فيهم الرشا إلا أُخذوا بالرعب)[أخرجه أحمد ح 17155، وقال الألباني: (ضعيف)؛ انظر حديث رقم : 5211 في ضعيف الجامع]. Diriwayatkan dari Al-Qasim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إن الله تبارك وتعالى يقبل الصدقة ولا يقبل منها إلا الطيب، ويربِّيها لصاحبها كما يربِّي أحدُكم مُهره أو فَصيله، حتى إنَّ اللقمة لتصيرُ مثل أحُد، وتصديق ذلك في كتاب الله عز وجل: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menerima sedekah, dan Dia tidak akan menerimanya kecuali dari harta yang baik, lalu menumbuhkannya bagi pelakunya seperti salah satu dari kalian merawat anak kudanya. Bahkan sedekah satu suapan dapat menjadi seperti gunung Uhud. Hal ini dibenarkan dalam Kitabullah, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah’ (QS. Al-Baqarah: 276).” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 6 hlm. 15). Diriwayatkan dari Amru bin al-Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah muncul riba pada suatu kaum, melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, dan tidaklah muncul suap pada mereka melainkan mereka akan dibalas dengan ketakutan.’” (HR. Ahmad no. 17155. Al-Albani mengatakan, “Hadits ini lemah.” (Lihat: Kitab Jami’ Adh-Dhaif no. 5211). ثالثًا: عدم الوفاء في الكيل والميزان: ومن أسباب موانع البركة: عدمُ الوفاء في الكيل والميزان، فكم نشاهد من إنسانٍ يتعاملون بالكيل والميزان ويربحون الأموال الكثيرة، ولكنهم يشتكون الفقر وقلة البركة؛ لأنهم حجبوا أنفسهم عن البركة بالتطفيف، والله تعالى توعَّد المطففين بالعذاب في الدنيا والآخرة؛ يقول سبحانه وتعالى: ﴿ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾ [المطففين: 1 – 6]. Ketiga: tidak jujur dalam menimbang dan menakar Di antara hal yang menyebabkan terhalangnya keberkahan adalah tidak jujur dalam menimbang dan menakar. Betapa banyak kita saksikan manusia yang bertransaksi dengan cara menimbang dan menakar dalam berjual beli, dan mereka mendapat keuntungan besar, tapi mereka tetap saja mengeluhkan kemiskinan dan rendahnya keberkahan. Hal ini karena menghalangi diri mereka dari keberkahan dengan mengurangi kadar timbangan dan takaran. Padahal Allah Ta’ala telah memberi ancaman kepada orang-orang yang mengurangi kadar timbangan dan takaran dengan azab di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ * الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ * وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ * أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ * لِيَوْمٍ عَظِيمٍ * يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi. Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar (Kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6). يقول الطبري رحمه الله: يقول تعالى ذكره: الوادي الذي يسيل من صديد أهل جهنم في أسفلها للذين يُطَففون، يعني: للذين ينقصون الناس، ويبخَسونهم حقوقهم في مكاييلهم إذا كالوهم، أو موازينهم إذا وزنوا لهم عن الواجب لهم من الوفاء، وأصل ذلك من الشيء الطفيف، وهو القليل النزر، والمطفِّف: المقلِّل حقَّ صاحب الحقِّ عما له من الوفاء والتمام في كيل أو وزن، ومنه قيل للقوم الذي يكونون سواء في حسبة أو عدد: هم سواء كطَفِّ الصاع، يعني بذلك: كقُرب الممتلئ منه ناقص عن الملء. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل [تفسير الطبري، ج 24/ 277]. Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman bahwa lembah yang bersumber dari nanah para penghuni neraka bagian bawah akan diperuntukkan bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, yakni orang-orang yang mengurangi hak orang lain ketika menakar dan menimbang yang seharusnya mereka penuhi.  Kata (المُطفِّف) berasal dari kata (الطَفِيف) yang berarti sedikit dan remeh. Sedangkan makna kata (المُطفِّف) sendiri adalah orang yang mengurangi hak orang lain dari takaran dan timbangan yang seharusnya ia sempurnakan. Ini juga berlaku bagi orang mengurangi kadar hitungan, sama dengan orang yang mengurangi takaran. Yakni menakar hampir penuh, tapi tidak sampai penuh. Demikianlah yang juga dikatakan oleh para ulama tafsir.” (Kitab Tafsir Ath-Thabari jilid 24 hlm. 277). ولقد ذكر النبي صلى الله عليه وسلم أن من أسباب مَحق البركة تطفيفَ الكيل والميزان؛ عن عبد الله بن عمر قال: أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا معشر المهاجرين، خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تُدركوهنَّ، لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يُعلنوا بها، إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضوا، ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة، وجَور السلطان عليهم، ولم يَمنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطر من السماء، ولولا البهائم لم يُمطروا، ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله، إلا سلَّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم، فأخذ بعض ما في أيديهم، وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيَّروا مما أنزل الله، إلا جعل الله بأسهم بينهم )[أخرجه ابن ماجه، 4009، والحاكم، ح 8772، وقال الألباني حسن الصحيحة، 106]. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga telah menyebutkan bahwa di antara sebab terhapusnya keberkahan adalah berlaku curang saat menimbang dan menakar. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi kami dan bersabda,  يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ ‘Wahai kaum Muhajirin! Waspadailah lima hal berikut menimpa kalian. Dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemuinya. (1) Tidaklah tersebar perbuatan zina pada suatu kaum hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan tersebar pada mereka wabah thaun dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada kaum sebelum mereka, (2) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan dibalas dengan krisis, kesulitan mencari nafkah, dan kezaliman penguasa, (3) tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka melainkan mereka akan terhalang dari hujan dari langit, dan kalaulah bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan mendapat hujan, (4) tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan perjanjian rasul-Nya melainkan Allah akan membuat musuh dari kalangan selain mereka dapat berkuasa atas mereka, sehingga musuh itu merampas sebagian harta yang mereka miliki, (5) dan tidaklah para pemimpin mereka enggan berhukum dengan Kitabullah dan memilih-milih hukum yang telah Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan kebinasaan mereka karena permusuhan di antara mereka sendiri.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 4009 dan Al-Hakim no. 8772. Al-Albani berkata dalam kitab Ash-Shahihah no. 106, Hadits ini hasan). رابعًا: الكذب في البيع والشراء: واعلم رحمني الله وإياك أن من موانع البركة التي يَتساهل فيها كثيرٌ من المسلمين: الحلفَ عند البيع والشراء، فيجعل العبد اليمينَ وسيلة من وسائل ترويج بضاعته، وخداع المسلمين بتلك الأيمان؛ عن أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِي صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: «الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ»[أخرجه الحميدي (1031)، والبخاري (3/ 78)، ومسلم (5/ 56)، وأبو داود (3335، والنسائي (7/ 246)]. Keempat: berdusta saat berjual beli Ketahuilah —semoga Allah merahmati kita semua— bahwa salah satu penghalang keberkahan yang sering dianggap remeh kaum Muslimin adalah bersumpah saat berjual beli. Seseorang menjadikan sumpahnya sebagai media untuk melariskan dagangannya dan menipu kaum Muslimin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ ‘Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.’” (Diriwayatkan Al-Humaidi no. 1031, Al-Bukhari jilid 3 hlm. 78, Muslim jilid 5 hlm. 56, Abu Dawud no. 3335, dan An-Nasa’i jilid 7 hlm. 246). يقول ابن بطَّال رحمه الله: قال المهلب: سُئل بعض العلماء عن معنى قوله تعالى: ﴿ يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ﴾ [البقرة: 276]، وقيل له: نحن نرى صاحب الربا يربو مالُه، وصاحب الصدقة ربما كان مقلًّا، قال: متى يربي الله الصدقات؟ إن الصدقة يجدها صاحبها مثل أُحد يوم القيامة، كذلك صاحب الربا يجد عمله كله ممحوقًا إن تصدَّق منه، أو وصل رحمه لم يُكتَب له بذلك حسنة، وكان عليه إثم الربا بحاله. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “al-Mulahhab berkata bahwa ada seorang ulama yang ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala, ‘Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah.’” (QS. Al-Baqarah: 276). Dikatakan kepada beliau, “Kami melihat pelaku riba hartanya bertambah terus, sedangkan bisa jadi pelaku sedekah berkurang hartanya.” Beliau menanggapi, “Kapan Allah akan menyuburkan sedekah? Sebenarnya sedekah akan didapati pelakunya sebesar gunung Uhud pada hari kiamat. Sedangkan pelaku riba akan mendapati seluruh amalannya lenyap jika ia bersedekah dengan harta riba, atau jika ia menyambung silaturahmi dengan harta itu maka tidak akan ditulis satupun amal kebaikan baginya, bahkan dengan itu ia tetap mendapatkan dosa riba.” وقالت طائفة: إن الربا يُمحَق في الدنيا والآخرة على عموم اللفظ، واحتجوا على ذلك بقوله عليه السلام: «الحلف منفِّقة للسلعة، مَمحقة للبركة»، فلما كان نفاق السلعة بالحلف الكاذبة في الدنيا، كان مُمحقًا للبركة فيها في الدنيا، فكذلك مَحق الربا يكون أيضًا في الدنيا، وذكر عبد الرزاق عن معمر قال: سمعنا أنه لا يأتي على صاحب الربا أربعون سنة حتى يُمحق) [شرح ابن بطال، ج 11 / 225]. Ada segolongan ulama yang mengatakan bahwa harta riba akan dilenyapkan di dunia dan akhirat berdasarkan keumuman lafal ayat tersebut. Mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sumpah itu dapat melariskan dagangan, tapi melenyapkan keberkahan.” Ketika larisnya dagangan karena sumpah palsu di dunia dapat melenyapkan keberkahan harta itu di dunia, maka demikian pula dengan harta riba akan lenyap di dunia. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, ia berkata, “Kami mendengar riwayat bahwa tidaklah berlalu 40 tahun kepada pelaku riba melainkan harta ribanya telah lenyap.” (Kitab Syarh Ibn Baththal, jilid 11 hlm. 225). عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ [أخرجه أحمد ح 21504، ومسلم ح 3015، والنسائي ح 4384، وابن ماجه ح 2200]. Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ؛ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ “Janganlah kalian banyak bersumpah saat berjual beli, karena itu dapat melariskan lalu melenyapkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 21504, Muslim no. 3015, an-Nasa’i no. 4384, dan Ibnu Majah no. 2200). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 102 times, 1 visit(s) today Post Views: 360 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Satu Kalimat Nabi yang Membuat Ibnu Mas’ud Langsung Duduk! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً

Satu Kalimat Nabi yang Membuat Ibnu Mas’ud Langsung Duduk! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً
Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً


Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً

Fikih Utang Piutang (Bag. 3): Rukun Utang Piutang

Daftar Isi ToggleRukun utang piutangPertama, dua orang yang berakadKedua, harta yang dipinjamkanKetiga, shighatSyarat sah utangPertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiKedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma)Ketiga, tidak mengandung unsur ribaSebelumnya, telah dibahas dan dipaparkan hukum utang piutang, baik hukum yang sifatnya taklifi maupun wadh’i. Adapun pada pembahasan kali ini, kita akan mengerucut kepada fikih utang piutang yang berkaitan dengan rukun dan syarat dalam utang piutang.Rukun utang piutangSetidaknya, dalam utang piutang ada tiga rukun [1],Pertama, dua orang yang berakadYang pertama disebut dengan المُقْرِضُ (pemberi utang) dan juga المُقْتَرِضُ (pengutang). Tentunya, dalam akad utang piutang diharuskan ada keduanya.Kedua, harta yang dipinjamkanYakni harta atau uang yang dipinjamkan kepada peminjam. Tentu ini sebagai objek dari akad utang piutang dan harus ada dalam akad utang piutang.Ketiga, shighatShighat biasa disebut dengan ijab dan qabul. Hal ini termasuk ditekankan di dalam mazhab Syafi’i. Dalam akad utang piutang, bisa digunakan dua lafaz shigat seperti,أَقْرَضْتُكَ “Aku meminjamkan padamu.”Atau menggunakan lafaz salaf atau salam, أَسْلَفْتُكَ “Aku menyerahkan uang di muka, untuk barang yang akan engkau berikan nanti.”Kedua-duanya boleh untuk digunakan dalam berutang. Boleh juga dengan menggunakan lafaz-lafaz yang memang sudah biasa digunakan di dalam kebiasaan masyarakat. Biasanya seperti, “Silahkan ambil uang ini, dan kembalikan nanti sesuai dengan nominalnya.” Atau dengan lafaz-lafaz yang semisal.Dengan akad tersebut, maka kepemilikan harta otomatis berpindah kepada peminjam. Hal ini disebutkan oleh Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah. Karena keridaan dalam akad ini menjadi patokan dalam pemindahan kepemilikan harta dari satu pihak kepada yang lain berdasarkan firman Allah Ta’ala untuk menunaikan janji atau akad. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (akad).” (QS. Al-Maidah: 1)Karenanya, jika seseorang telah berakad, dalam hal ini masalah utang piutang dan nominal pinjaman dan jangka waktunya telah ditentukan (disepakati), maka tidak boleh bagi yang meminjamkan untuk meminta dikembalikan langsung atau sebelum jatuh tempo. Mengingat hal itu bukanlah termasuk dari menunaikan perintah Allah untuk memenuhi janji.Syarat sah utangSetidaknya ada tiga syarat sah utang yang harus terpenuhi [2],Pertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiArtinya, utang dapat diketahui kadarnya. Baik secara timbangan, nominal, jumlah, besar kecilnya, dan lain sebagainya. Agar utang dapat dikembalikan secara pas. Karena kalau tidak diketahui secara pasti, akan terjadi gharar (ketidakjelasan) dalam jumlah yang harus dikembalikan.Kedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma) Berikut ini adalah syarat-syaratnya,Baligh: Syarat pertama adalah baligh. Maka tidak sah secara mutlak jika dilakukan oleh bayi atau balita yang belum memasuki usia tamyiz. Kalaupun sudah memasuki usia tamyiz, maka tidak sah pula kecuali sifatnya utang piutang yang ringan saja. Oleh karena itu, termasuk dalam hal ini adalah tidak boleh bagi wali anak yatim untuk meminjam harta anak yatim untuk kebutuhan pribadi atau selain dari keperluan yang manfaatnya kembali kepada anak yatim tersebut. Karena anak yatim masih dalam kategori di bawah usia baligh.Berakal: Syarat kedua yaitu berakal. Tidak sah hukumnya jika meminjam harta kepada orang yang dalam keadaan gila. Karena ia tidak mengetahui bagaimana cara bertransaksi.Merdeka: Syarat ketiga adalah merdeka. Tidak sah pula hukumnya jika meminjam harta dari seorang budak kecuali atas izin dari tuannya. Dan tentang perbudakan, saat ini sudah tidak ada dalam dunia Islam.Rasyid: Syarat keempat yaitu cerdas (dalam hal ini, yang dimaksud “cerdas” adalah orang yang mampu bersikap bijak dalam melakukan transaksi, bukan orang yang sembrono dan asal-asalan, ed.). Orang yang bodoh (ceroboh) dalam bertransaksi, dia tidak sah dalam melakukan akad utang piutang, kecuali dalam hal-hal yang ringan.Memiliki: Syarat yang terakhir adalah memiliki. Jika tidak memiliki harta atau yang sejenisnya, tidak boleh untuk melakukan akad utang piutang kecuali dengan izin pemilik.Ketiga, tidak mengandung unsur ribaIni termasuk syarat yang penting dalam masalah akad utang piutang. Yaitu tidak mengandung unsur riba. Artinya, tidak ada tambahan manfaat yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang. Baik manfaat tersebut berupa tambahan nominal atau yang lainnya.Sebagaimana yang diketahui bahwa di dalam Islam, riba adalah sesuatu hal yang diharamkan. Allah mensifati riba dengan menggunakan kata mahq (hancur). Allah Ta’ala berfirman,يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ“Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,يُخْبِرُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ يَمْحَقُ الرِّبَا، أَيْ: يُذْهِبُهُ، إِمَّا بِأَنْ يُذْهِبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ يَدِ صَاحِبِهِ، أَوْ يَحْرمَه بَرَكَةَ مَالِهِ فَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ، بَلْ يُعَذِّبُهُ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَيُعَاقِبُهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Allah Ta’ala mengabarkan bahwasanya Allah akan menghilangkan riba, maksudnya adalah menghilangkannya secara menyeluruh dari tangan pemiliknya, atau menjauhkan pemiliknya dari keberkahan dan pemanfaatan hartanya. Bahkan Allah akan mengazab pemiliknya dengan sebab hartanya di dunia dan akan menghukumnya di hari kiamat kelak.” (Tafsir Ibnu Katsir)Sehingga seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam transaksi yang berkaitan dengan utang piutang. Menjauhkan diri dari riba tentu menjadi fokus utama dalam transaksi ini. Agar harta yang dimiliki menjadi berkah dan tidak ada keharaman padanya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Depok, 27 Muharam 1447/ 22 Juli 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Mukhtashar fil Mu’amalat, karya Prof. Dr. Khalid bin Ali Al-Musayqih. Catatan kaki:[1] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 191.[2] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 192 dan Al-Mukhtashor fil Mu’amalat, hal. 98-99.

Fikih Utang Piutang (Bag. 3): Rukun Utang Piutang

Daftar Isi ToggleRukun utang piutangPertama, dua orang yang berakadKedua, harta yang dipinjamkanKetiga, shighatSyarat sah utangPertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiKedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma)Ketiga, tidak mengandung unsur ribaSebelumnya, telah dibahas dan dipaparkan hukum utang piutang, baik hukum yang sifatnya taklifi maupun wadh’i. Adapun pada pembahasan kali ini, kita akan mengerucut kepada fikih utang piutang yang berkaitan dengan rukun dan syarat dalam utang piutang.Rukun utang piutangSetidaknya, dalam utang piutang ada tiga rukun [1],Pertama, dua orang yang berakadYang pertama disebut dengan المُقْرِضُ (pemberi utang) dan juga المُقْتَرِضُ (pengutang). Tentunya, dalam akad utang piutang diharuskan ada keduanya.Kedua, harta yang dipinjamkanYakni harta atau uang yang dipinjamkan kepada peminjam. Tentu ini sebagai objek dari akad utang piutang dan harus ada dalam akad utang piutang.Ketiga, shighatShighat biasa disebut dengan ijab dan qabul. Hal ini termasuk ditekankan di dalam mazhab Syafi’i. Dalam akad utang piutang, bisa digunakan dua lafaz shigat seperti,أَقْرَضْتُكَ “Aku meminjamkan padamu.”Atau menggunakan lafaz salaf atau salam, أَسْلَفْتُكَ “Aku menyerahkan uang di muka, untuk barang yang akan engkau berikan nanti.”Kedua-duanya boleh untuk digunakan dalam berutang. Boleh juga dengan menggunakan lafaz-lafaz yang memang sudah biasa digunakan di dalam kebiasaan masyarakat. Biasanya seperti, “Silahkan ambil uang ini, dan kembalikan nanti sesuai dengan nominalnya.” Atau dengan lafaz-lafaz yang semisal.Dengan akad tersebut, maka kepemilikan harta otomatis berpindah kepada peminjam. Hal ini disebutkan oleh Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah. Karena keridaan dalam akad ini menjadi patokan dalam pemindahan kepemilikan harta dari satu pihak kepada yang lain berdasarkan firman Allah Ta’ala untuk menunaikan janji atau akad. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (akad).” (QS. Al-Maidah: 1)Karenanya, jika seseorang telah berakad, dalam hal ini masalah utang piutang dan nominal pinjaman dan jangka waktunya telah ditentukan (disepakati), maka tidak boleh bagi yang meminjamkan untuk meminta dikembalikan langsung atau sebelum jatuh tempo. Mengingat hal itu bukanlah termasuk dari menunaikan perintah Allah untuk memenuhi janji.Syarat sah utangSetidaknya ada tiga syarat sah utang yang harus terpenuhi [2],Pertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiArtinya, utang dapat diketahui kadarnya. Baik secara timbangan, nominal, jumlah, besar kecilnya, dan lain sebagainya. Agar utang dapat dikembalikan secara pas. Karena kalau tidak diketahui secara pasti, akan terjadi gharar (ketidakjelasan) dalam jumlah yang harus dikembalikan.Kedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma) Berikut ini adalah syarat-syaratnya,Baligh: Syarat pertama adalah baligh. Maka tidak sah secara mutlak jika dilakukan oleh bayi atau balita yang belum memasuki usia tamyiz. Kalaupun sudah memasuki usia tamyiz, maka tidak sah pula kecuali sifatnya utang piutang yang ringan saja. Oleh karena itu, termasuk dalam hal ini adalah tidak boleh bagi wali anak yatim untuk meminjam harta anak yatim untuk kebutuhan pribadi atau selain dari keperluan yang manfaatnya kembali kepada anak yatim tersebut. Karena anak yatim masih dalam kategori di bawah usia baligh.Berakal: Syarat kedua yaitu berakal. Tidak sah hukumnya jika meminjam harta kepada orang yang dalam keadaan gila. Karena ia tidak mengetahui bagaimana cara bertransaksi.Merdeka: Syarat ketiga adalah merdeka. Tidak sah pula hukumnya jika meminjam harta dari seorang budak kecuali atas izin dari tuannya. Dan tentang perbudakan, saat ini sudah tidak ada dalam dunia Islam.Rasyid: Syarat keempat yaitu cerdas (dalam hal ini, yang dimaksud “cerdas” adalah orang yang mampu bersikap bijak dalam melakukan transaksi, bukan orang yang sembrono dan asal-asalan, ed.). Orang yang bodoh (ceroboh) dalam bertransaksi, dia tidak sah dalam melakukan akad utang piutang, kecuali dalam hal-hal yang ringan.Memiliki: Syarat yang terakhir adalah memiliki. Jika tidak memiliki harta atau yang sejenisnya, tidak boleh untuk melakukan akad utang piutang kecuali dengan izin pemilik.Ketiga, tidak mengandung unsur ribaIni termasuk syarat yang penting dalam masalah akad utang piutang. Yaitu tidak mengandung unsur riba. Artinya, tidak ada tambahan manfaat yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang. Baik manfaat tersebut berupa tambahan nominal atau yang lainnya.Sebagaimana yang diketahui bahwa di dalam Islam, riba adalah sesuatu hal yang diharamkan. Allah mensifati riba dengan menggunakan kata mahq (hancur). Allah Ta’ala berfirman,يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ“Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,يُخْبِرُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ يَمْحَقُ الرِّبَا، أَيْ: يُذْهِبُهُ، إِمَّا بِأَنْ يُذْهِبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ يَدِ صَاحِبِهِ، أَوْ يَحْرمَه بَرَكَةَ مَالِهِ فَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ، بَلْ يُعَذِّبُهُ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَيُعَاقِبُهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Allah Ta’ala mengabarkan bahwasanya Allah akan menghilangkan riba, maksudnya adalah menghilangkannya secara menyeluruh dari tangan pemiliknya, atau menjauhkan pemiliknya dari keberkahan dan pemanfaatan hartanya. Bahkan Allah akan mengazab pemiliknya dengan sebab hartanya di dunia dan akan menghukumnya di hari kiamat kelak.” (Tafsir Ibnu Katsir)Sehingga seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam transaksi yang berkaitan dengan utang piutang. Menjauhkan diri dari riba tentu menjadi fokus utama dalam transaksi ini. Agar harta yang dimiliki menjadi berkah dan tidak ada keharaman padanya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Depok, 27 Muharam 1447/ 22 Juli 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Mukhtashar fil Mu’amalat, karya Prof. Dr. Khalid bin Ali Al-Musayqih. Catatan kaki:[1] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 191.[2] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 192 dan Al-Mukhtashor fil Mu’amalat, hal. 98-99.
Daftar Isi ToggleRukun utang piutangPertama, dua orang yang berakadKedua, harta yang dipinjamkanKetiga, shighatSyarat sah utangPertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiKedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma)Ketiga, tidak mengandung unsur ribaSebelumnya, telah dibahas dan dipaparkan hukum utang piutang, baik hukum yang sifatnya taklifi maupun wadh’i. Adapun pada pembahasan kali ini, kita akan mengerucut kepada fikih utang piutang yang berkaitan dengan rukun dan syarat dalam utang piutang.Rukun utang piutangSetidaknya, dalam utang piutang ada tiga rukun [1],Pertama, dua orang yang berakadYang pertama disebut dengan المُقْرِضُ (pemberi utang) dan juga المُقْتَرِضُ (pengutang). Tentunya, dalam akad utang piutang diharuskan ada keduanya.Kedua, harta yang dipinjamkanYakni harta atau uang yang dipinjamkan kepada peminjam. Tentu ini sebagai objek dari akad utang piutang dan harus ada dalam akad utang piutang.Ketiga, shighatShighat biasa disebut dengan ijab dan qabul. Hal ini termasuk ditekankan di dalam mazhab Syafi’i. Dalam akad utang piutang, bisa digunakan dua lafaz shigat seperti,أَقْرَضْتُكَ “Aku meminjamkan padamu.”Atau menggunakan lafaz salaf atau salam, أَسْلَفْتُكَ “Aku menyerahkan uang di muka, untuk barang yang akan engkau berikan nanti.”Kedua-duanya boleh untuk digunakan dalam berutang. Boleh juga dengan menggunakan lafaz-lafaz yang memang sudah biasa digunakan di dalam kebiasaan masyarakat. Biasanya seperti, “Silahkan ambil uang ini, dan kembalikan nanti sesuai dengan nominalnya.” Atau dengan lafaz-lafaz yang semisal.Dengan akad tersebut, maka kepemilikan harta otomatis berpindah kepada peminjam. Hal ini disebutkan oleh Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah. Karena keridaan dalam akad ini menjadi patokan dalam pemindahan kepemilikan harta dari satu pihak kepada yang lain berdasarkan firman Allah Ta’ala untuk menunaikan janji atau akad. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (akad).” (QS. Al-Maidah: 1)Karenanya, jika seseorang telah berakad, dalam hal ini masalah utang piutang dan nominal pinjaman dan jangka waktunya telah ditentukan (disepakati), maka tidak boleh bagi yang meminjamkan untuk meminta dikembalikan langsung atau sebelum jatuh tempo. Mengingat hal itu bukanlah termasuk dari menunaikan perintah Allah untuk memenuhi janji.Syarat sah utangSetidaknya ada tiga syarat sah utang yang harus terpenuhi [2],Pertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiArtinya, utang dapat diketahui kadarnya. Baik secara timbangan, nominal, jumlah, besar kecilnya, dan lain sebagainya. Agar utang dapat dikembalikan secara pas. Karena kalau tidak diketahui secara pasti, akan terjadi gharar (ketidakjelasan) dalam jumlah yang harus dikembalikan.Kedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma) Berikut ini adalah syarat-syaratnya,Baligh: Syarat pertama adalah baligh. Maka tidak sah secara mutlak jika dilakukan oleh bayi atau balita yang belum memasuki usia tamyiz. Kalaupun sudah memasuki usia tamyiz, maka tidak sah pula kecuali sifatnya utang piutang yang ringan saja. Oleh karena itu, termasuk dalam hal ini adalah tidak boleh bagi wali anak yatim untuk meminjam harta anak yatim untuk kebutuhan pribadi atau selain dari keperluan yang manfaatnya kembali kepada anak yatim tersebut. Karena anak yatim masih dalam kategori di bawah usia baligh.Berakal: Syarat kedua yaitu berakal. Tidak sah hukumnya jika meminjam harta kepada orang yang dalam keadaan gila. Karena ia tidak mengetahui bagaimana cara bertransaksi.Merdeka: Syarat ketiga adalah merdeka. Tidak sah pula hukumnya jika meminjam harta dari seorang budak kecuali atas izin dari tuannya. Dan tentang perbudakan, saat ini sudah tidak ada dalam dunia Islam.Rasyid: Syarat keempat yaitu cerdas (dalam hal ini, yang dimaksud “cerdas” adalah orang yang mampu bersikap bijak dalam melakukan transaksi, bukan orang yang sembrono dan asal-asalan, ed.). Orang yang bodoh (ceroboh) dalam bertransaksi, dia tidak sah dalam melakukan akad utang piutang, kecuali dalam hal-hal yang ringan.Memiliki: Syarat yang terakhir adalah memiliki. Jika tidak memiliki harta atau yang sejenisnya, tidak boleh untuk melakukan akad utang piutang kecuali dengan izin pemilik.Ketiga, tidak mengandung unsur ribaIni termasuk syarat yang penting dalam masalah akad utang piutang. Yaitu tidak mengandung unsur riba. Artinya, tidak ada tambahan manfaat yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang. Baik manfaat tersebut berupa tambahan nominal atau yang lainnya.Sebagaimana yang diketahui bahwa di dalam Islam, riba adalah sesuatu hal yang diharamkan. Allah mensifati riba dengan menggunakan kata mahq (hancur). Allah Ta’ala berfirman,يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ“Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,يُخْبِرُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ يَمْحَقُ الرِّبَا، أَيْ: يُذْهِبُهُ، إِمَّا بِأَنْ يُذْهِبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ يَدِ صَاحِبِهِ، أَوْ يَحْرمَه بَرَكَةَ مَالِهِ فَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ، بَلْ يُعَذِّبُهُ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَيُعَاقِبُهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Allah Ta’ala mengabarkan bahwasanya Allah akan menghilangkan riba, maksudnya adalah menghilangkannya secara menyeluruh dari tangan pemiliknya, atau menjauhkan pemiliknya dari keberkahan dan pemanfaatan hartanya. Bahkan Allah akan mengazab pemiliknya dengan sebab hartanya di dunia dan akan menghukumnya di hari kiamat kelak.” (Tafsir Ibnu Katsir)Sehingga seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam transaksi yang berkaitan dengan utang piutang. Menjauhkan diri dari riba tentu menjadi fokus utama dalam transaksi ini. Agar harta yang dimiliki menjadi berkah dan tidak ada keharaman padanya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Depok, 27 Muharam 1447/ 22 Juli 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Mukhtashar fil Mu’amalat, karya Prof. Dr. Khalid bin Ali Al-Musayqih. Catatan kaki:[1] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 191.[2] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 192 dan Al-Mukhtashor fil Mu’amalat, hal. 98-99.


Daftar Isi ToggleRukun utang piutangPertama, dua orang yang berakadKedua, harta yang dipinjamkanKetiga, shighatSyarat sah utangPertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiKedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma)Ketiga, tidak mengandung unsur ribaSebelumnya, telah dibahas dan dipaparkan hukum utang piutang, baik hukum yang sifatnya taklifi maupun wadh’i. Adapun pada pembahasan kali ini, kita akan mengerucut kepada fikih utang piutang yang berkaitan dengan rukun dan syarat dalam utang piutang.Rukun utang piutangSetidaknya, dalam utang piutang ada tiga rukun [1],Pertama, dua orang yang berakadYang pertama disebut dengan المُقْرِضُ (pemberi utang) dan juga المُقْتَرِضُ (pengutang). Tentunya, dalam akad utang piutang diharuskan ada keduanya.Kedua, harta yang dipinjamkanYakni harta atau uang yang dipinjamkan kepada peminjam. Tentu ini sebagai objek dari akad utang piutang dan harus ada dalam akad utang piutang.Ketiga, shighatShighat biasa disebut dengan ijab dan qabul. Hal ini termasuk ditekankan di dalam mazhab Syafi’i. Dalam akad utang piutang, bisa digunakan dua lafaz shigat seperti,أَقْرَضْتُكَ “Aku meminjamkan padamu.”Atau menggunakan lafaz salaf atau salam, أَسْلَفْتُكَ “Aku menyerahkan uang di muka, untuk barang yang akan engkau berikan nanti.”Kedua-duanya boleh untuk digunakan dalam berutang. Boleh juga dengan menggunakan lafaz-lafaz yang memang sudah biasa digunakan di dalam kebiasaan masyarakat. Biasanya seperti, “Silahkan ambil uang ini, dan kembalikan nanti sesuai dengan nominalnya.” Atau dengan lafaz-lafaz yang semisal.Dengan akad tersebut, maka kepemilikan harta otomatis berpindah kepada peminjam. Hal ini disebutkan oleh Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah. Karena keridaan dalam akad ini menjadi patokan dalam pemindahan kepemilikan harta dari satu pihak kepada yang lain berdasarkan firman Allah Ta’ala untuk menunaikan janji atau akad. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (akad).” (QS. Al-Maidah: 1)Karenanya, jika seseorang telah berakad, dalam hal ini masalah utang piutang dan nominal pinjaman dan jangka waktunya telah ditentukan (disepakati), maka tidak boleh bagi yang meminjamkan untuk meminta dikembalikan langsung atau sebelum jatuh tempo. Mengingat hal itu bukanlah termasuk dari menunaikan perintah Allah untuk memenuhi janji.Syarat sah utangSetidaknya ada tiga syarat sah utang yang harus terpenuhi [2],Pertama, mengetahui kadar utang dan dapat disifatiArtinya, utang dapat diketahui kadarnya. Baik secara timbangan, nominal, jumlah, besar kecilnya, dan lain sebagainya. Agar utang dapat dikembalikan secara pas. Karena kalau tidak diketahui secara pasti, akan terjadi gharar (ketidakjelasan) dalam jumlah yang harus dikembalikan.Kedua, pemberi utang haruslah memenuhi syarat transaksi tabarru’ (penderma) Berikut ini adalah syarat-syaratnya,Baligh: Syarat pertama adalah baligh. Maka tidak sah secara mutlak jika dilakukan oleh bayi atau balita yang belum memasuki usia tamyiz. Kalaupun sudah memasuki usia tamyiz, maka tidak sah pula kecuali sifatnya utang piutang yang ringan saja. Oleh karena itu, termasuk dalam hal ini adalah tidak boleh bagi wali anak yatim untuk meminjam harta anak yatim untuk kebutuhan pribadi atau selain dari keperluan yang manfaatnya kembali kepada anak yatim tersebut. Karena anak yatim masih dalam kategori di bawah usia baligh.Berakal: Syarat kedua yaitu berakal. Tidak sah hukumnya jika meminjam harta kepada orang yang dalam keadaan gila. Karena ia tidak mengetahui bagaimana cara bertransaksi.Merdeka: Syarat ketiga adalah merdeka. Tidak sah pula hukumnya jika meminjam harta dari seorang budak kecuali atas izin dari tuannya. Dan tentang perbudakan, saat ini sudah tidak ada dalam dunia Islam.Rasyid: Syarat keempat yaitu cerdas (dalam hal ini, yang dimaksud “cerdas” adalah orang yang mampu bersikap bijak dalam melakukan transaksi, bukan orang yang sembrono dan asal-asalan, ed.). Orang yang bodoh (ceroboh) dalam bertransaksi, dia tidak sah dalam melakukan akad utang piutang, kecuali dalam hal-hal yang ringan.Memiliki: Syarat yang terakhir adalah memiliki. Jika tidak memiliki harta atau yang sejenisnya, tidak boleh untuk melakukan akad utang piutang kecuali dengan izin pemilik.Ketiga, tidak mengandung unsur ribaIni termasuk syarat yang penting dalam masalah akad utang piutang. Yaitu tidak mengandung unsur riba. Artinya, tidak ada tambahan manfaat yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang. Baik manfaat tersebut berupa tambahan nominal atau yang lainnya.Sebagaimana yang diketahui bahwa di dalam Islam, riba adalah sesuatu hal yang diharamkan. Allah mensifati riba dengan menggunakan kata mahq (hancur). Allah Ta’ala berfirman,يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ“Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,يُخْبِرُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ يَمْحَقُ الرِّبَا، أَيْ: يُذْهِبُهُ، إِمَّا بِأَنْ يُذْهِبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ يَدِ صَاحِبِهِ، أَوْ يَحْرمَه بَرَكَةَ مَالِهِ فَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ، بَلْ يُعَذِّبُهُ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَيُعَاقِبُهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Allah Ta’ala mengabarkan bahwasanya Allah akan menghilangkan riba, maksudnya adalah menghilangkannya secara menyeluruh dari tangan pemiliknya, atau menjauhkan pemiliknya dari keberkahan dan pemanfaatan hartanya. Bahkan Allah akan mengazab pemiliknya dengan sebab hartanya di dunia dan akan menghukumnya di hari kiamat kelak.” (Tafsir Ibnu Katsir)Sehingga seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam transaksi yang berkaitan dengan utang piutang. Menjauhkan diri dari riba tentu menjadi fokus utama dalam transaksi ini. Agar harta yang dimiliki menjadi berkah dan tidak ada keharaman padanya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Depok, 27 Muharam 1447/ 22 Juli 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Mukhtashar fil Mu’amalat, karya Prof. Dr. Khalid bin Ali Al-Musayqih. Catatan kaki:[1] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 191.[2] Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, hal. 192 dan Al-Mukhtashor fil Mu’amalat, hal. 98-99.

Syahwat: Ujian Tersulit untuk Laki-Laki

Daftar Isi ToggleSyahwat itu fitrah, bukan aibSyahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanLingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaMenjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaDi balik wajah-wajah saleh, di balik hafalan ayat-ayat dan hadis, tersimpan satu ujian besar yang terus datang menghampiri: syahwat. Datang tidak mengenal waktu, tidak mengenal usia, tidak pula mengenal tingkat keimanan. Betapa banyak lelaki yang terjebak dalam siklus menyesal dan mengulang dosa yang sama, lalu bertanya dalam hati:“Mengapa ujian ini begitu sulit aku tinggalkan?”Tidak sedikit yang sudah mencoba berbagai cara: mandi air dingin, puasa sunah, menghindari media sosial, meninggalkan teman yang buruk, namun syahwat tetap datang menggoda dalam bentuk yang baru. Bahkan, semakin besar upaya melawannya, terkadang semakin besar pula dorongan yang muncul dari dalam diri. Sebuah pertanyaan pun terbit di benak: mengapa Allah menciptakan dorongan ini begitu kuat dalam diri laki-laki?Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk merenungi hikmah besar yang tersembunyi di balik penciptaan syahwat. Bukan untuk dihilangkan, bukan pula untuk dipadamkan, melainkan untuk dikendalikan dan diarahkan. Di sinilah letak ujian yang sejati—sebuah perjuangan batin yang justru dapat menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Syahwat itu fitrah, bukan aibSalah satu kesalahan besar dalam memahami syahwat adalah menganggapnya sebagai aib. Banyak laki-laki yang merasa berdosa hanya karena memiliki dorongan seksual, padahal syahwat adalah bagian dari fitrah manusia. Bahkan Nabi ﷺ sendiri menyatakan bahwa di antara hal yang dicintainya di dunia adalah perempuan dan wewangian, sedangkan penyejuk matanya adalah salat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حُبِّبَ إليَّ مِن الدُّنيا النساءُ والطِّيب، وجُعِلَتْ قُرَّةُ عيني في الصلاة“Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah senang kepada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan ketentraman (hatiku) ada pada salatku.” (Sunan An-Nasa’i, 7: 61 no. 3939)Laki-laki yang memiliki syahwat bukanlah pribadi yang hina. Ia justru sedang membawa bekal penting dalam membangun keluarga dan melanjutkan keturunan. Tanpa syahwat, pernikahan menjadi hampa, dan rumah tangga kehilangan semangat kehangatan. Islam tidak pernah melarang perasaan, tapi justru mengarahkannya ke tempat yang benar.Sebagaimana Adam dan Hawa diuji di surga dengan larangan mendekati pohon tertentu, demikian pula manusia diuji hari ini untuk tidak mendekati hal-hal yang mendekatkan pada zina. Larangan dalam Islam bukan hanya pada perbuatan zina, tapi juga segala jalan yang bisa mengantarkannya. Karena itulah, menjaga pandangan dan menjauhi khalwat menjadi bagian dari solusi preventif yang diajarkan Islam.Allah Ta’ala berifrman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Maka memahami bahwa syahwat adalah fitrah adalah langkah pertama untuk menyikapinya dengan bijaksana. Kita tidak perlu malu memilikinya, tapi juga tidak boleh membiarkannya liar tak terkendali. Syahwat adalah pedang bermata dua—bisa menjadi pahala besar, bisa juga menjadi jalan celaka. Syahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanAllah menciptakan syahwat dalam kondisi netral, tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan nilainya adalah bagaimana kita menggunakannya. Saat diarahkan kepada yang halal, ia menjadi ibadah. Tapi jika disalurkan kepada yang haram, ia berubah menjadi dosa yang bisa menyeret manusia ke jurang kehinaan.Nabi ﷺ bahkan menyebut bahwa hubungan suami istri yang dilakukan dengan niat yang benar adalah sedekah. Para sahabat keheranan, bagaimana mungkin memenuhi syahwat bisa berpahala? Rasulullah ﷺ menjawab dengan logika yang sangat jernih,أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim no. 2376)Pernyataan ini menunjukkan betapa Islam tidak memerangi dorongan seksual, tetapi menempatkannya pada tempat yang terhormat. Inilah keindahan syariat: tidak mengekang, tapi memberi arah. Setiap kali seorang suami mendekati istrinya dengan niat yang baik, ia bukan hanya memuaskan dirinya, tetapi juga tengah menabung pahala.Namun sebaliknya, jika syahwat tidak dikendalikan, pasti akan berujung bencana. Betapa banyak rumah tangga hancur karena perselingkuhan. Betapa banyak anak lahir tanpa ayah karena zina. Betapa banyak hati yang hancur karena hawa nafsu yang tak dikekang. Maka kendalikanlah syahwat, karena syahwat bisa menjadi tangga surga atau jalan menuju neraka.Baca juga: Semoga Dijauhkan dari Syubhat, Syahwat, dan Amarah Lingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaZaman ini menyuguhkan banyak pemicu syahwat: iklan, media sosial, film, musik, bahkan percakapan sehari-hari. Setiap hari, mata dan telinga kita dipenuhi dengan hal-hal yang menggugah hawa nafsu. Tanpa disadari, fitnah itu masuk perlahan ke dalam hati, membekas dan menghitamkan cahaya iman.Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu,تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam; sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua: yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144; Ahmad, 5: 405; sahih)Nabi ﷺ mengibaratkan hati yang terkena fitnah seperti bejana. Ada yang tetap putih bersih karena selalu menolak fitnah, dan ada pula yang hitam terbalik, tak lagi bisa menerima kebaikan, hanya menuruti apa yang sesuai hawa nafsu. Inilah akibat dari terus-menerus mengikuti syahwat tanpa usaha untuk melawan.Namun, seburuk apa pun lingkungan, pilihan tetap ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk menjaga pandangan, menahan lisan, dan menghindari pergaulan yang mendekatkan pada maksiat. Tidak mudah memang, tapi setiap usaha sekecil apa pun di jalan ini, sangat berarti di sisi Allah Ta’ala.Sebagaimana seseorang tidak menjadi pecandu sejak hari pertama, begitu pula kemuliaan tidak diraih dalam sekejap. Proses menundukkan syahwat adalah jihad yang panjang. Mungkin kita akan terjatuh berulang kali, tapi selama kita bangkit dan kembali kepada Allah Ta’ala, maka harapan selalu terbuka, insyaa Allah. Menjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaLaki-laki yang berhasil menundukkan syahwatnya adalah pahlawan sejati. Bukan pahlawan di medan perang, tapi pahlawan di medan jiwa. Dialah yang sabar menunggu yang halal, yang menjaga diri dari haram, yang menjadikan hawa nafsu sebagai pelayan, bukan tuan. Ia tahu bahwa Allah sedang mengujinya untuk memberikan derajat yang lebih tinggi.Ketika Allah menguji dengan sesuatu, itu bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguatkan. Ujian syahwat adalah cara Allah mendidik para lelaki agar menjadi pemimpin yang tangguh, suami yang bertanggung jawab, dan hamba yang taat. Semakin besar ujian, semakin besar pula potensi pahala dan kedekatan dengan Allah.Syahwat yang diarahkan ke dalam pernikahan menjadi sumber ketenangan. Bahkan, ketika belum mampu menikah, Nabi ﷺ mengajarkan solusi, yaitu puasa. Puasa juga merupakan sarana melemahkan dorongan hawa nafsu dan menguatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala.Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)Akhirnya, kita sadar bahwa tujuan hidup bukanlah menghilangkan syahwat, tapi mengendalikannya demi meraih rida Allah. Inilah jalan para Nabi, para shalihin, dan inilah jalan kita. Jika kita bersabar dalam menahan yang haram, Allah akan memberi lebih dari yang kita duga di dunia maupun akhirat.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Syahwat: Ujian Tersulit untuk Laki-Laki

Daftar Isi ToggleSyahwat itu fitrah, bukan aibSyahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanLingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaMenjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaDi balik wajah-wajah saleh, di balik hafalan ayat-ayat dan hadis, tersimpan satu ujian besar yang terus datang menghampiri: syahwat. Datang tidak mengenal waktu, tidak mengenal usia, tidak pula mengenal tingkat keimanan. Betapa banyak lelaki yang terjebak dalam siklus menyesal dan mengulang dosa yang sama, lalu bertanya dalam hati:“Mengapa ujian ini begitu sulit aku tinggalkan?”Tidak sedikit yang sudah mencoba berbagai cara: mandi air dingin, puasa sunah, menghindari media sosial, meninggalkan teman yang buruk, namun syahwat tetap datang menggoda dalam bentuk yang baru. Bahkan, semakin besar upaya melawannya, terkadang semakin besar pula dorongan yang muncul dari dalam diri. Sebuah pertanyaan pun terbit di benak: mengapa Allah menciptakan dorongan ini begitu kuat dalam diri laki-laki?Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk merenungi hikmah besar yang tersembunyi di balik penciptaan syahwat. Bukan untuk dihilangkan, bukan pula untuk dipadamkan, melainkan untuk dikendalikan dan diarahkan. Di sinilah letak ujian yang sejati—sebuah perjuangan batin yang justru dapat menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Syahwat itu fitrah, bukan aibSalah satu kesalahan besar dalam memahami syahwat adalah menganggapnya sebagai aib. Banyak laki-laki yang merasa berdosa hanya karena memiliki dorongan seksual, padahal syahwat adalah bagian dari fitrah manusia. Bahkan Nabi ﷺ sendiri menyatakan bahwa di antara hal yang dicintainya di dunia adalah perempuan dan wewangian, sedangkan penyejuk matanya adalah salat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حُبِّبَ إليَّ مِن الدُّنيا النساءُ والطِّيب، وجُعِلَتْ قُرَّةُ عيني في الصلاة“Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah senang kepada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan ketentraman (hatiku) ada pada salatku.” (Sunan An-Nasa’i, 7: 61 no. 3939)Laki-laki yang memiliki syahwat bukanlah pribadi yang hina. Ia justru sedang membawa bekal penting dalam membangun keluarga dan melanjutkan keturunan. Tanpa syahwat, pernikahan menjadi hampa, dan rumah tangga kehilangan semangat kehangatan. Islam tidak pernah melarang perasaan, tapi justru mengarahkannya ke tempat yang benar.Sebagaimana Adam dan Hawa diuji di surga dengan larangan mendekati pohon tertentu, demikian pula manusia diuji hari ini untuk tidak mendekati hal-hal yang mendekatkan pada zina. Larangan dalam Islam bukan hanya pada perbuatan zina, tapi juga segala jalan yang bisa mengantarkannya. Karena itulah, menjaga pandangan dan menjauhi khalwat menjadi bagian dari solusi preventif yang diajarkan Islam.Allah Ta’ala berifrman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Maka memahami bahwa syahwat adalah fitrah adalah langkah pertama untuk menyikapinya dengan bijaksana. Kita tidak perlu malu memilikinya, tapi juga tidak boleh membiarkannya liar tak terkendali. Syahwat adalah pedang bermata dua—bisa menjadi pahala besar, bisa juga menjadi jalan celaka. Syahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanAllah menciptakan syahwat dalam kondisi netral, tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan nilainya adalah bagaimana kita menggunakannya. Saat diarahkan kepada yang halal, ia menjadi ibadah. Tapi jika disalurkan kepada yang haram, ia berubah menjadi dosa yang bisa menyeret manusia ke jurang kehinaan.Nabi ﷺ bahkan menyebut bahwa hubungan suami istri yang dilakukan dengan niat yang benar adalah sedekah. Para sahabat keheranan, bagaimana mungkin memenuhi syahwat bisa berpahala? Rasulullah ﷺ menjawab dengan logika yang sangat jernih,أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim no. 2376)Pernyataan ini menunjukkan betapa Islam tidak memerangi dorongan seksual, tetapi menempatkannya pada tempat yang terhormat. Inilah keindahan syariat: tidak mengekang, tapi memberi arah. Setiap kali seorang suami mendekati istrinya dengan niat yang baik, ia bukan hanya memuaskan dirinya, tetapi juga tengah menabung pahala.Namun sebaliknya, jika syahwat tidak dikendalikan, pasti akan berujung bencana. Betapa banyak rumah tangga hancur karena perselingkuhan. Betapa banyak anak lahir tanpa ayah karena zina. Betapa banyak hati yang hancur karena hawa nafsu yang tak dikekang. Maka kendalikanlah syahwat, karena syahwat bisa menjadi tangga surga atau jalan menuju neraka.Baca juga: Semoga Dijauhkan dari Syubhat, Syahwat, dan Amarah Lingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaZaman ini menyuguhkan banyak pemicu syahwat: iklan, media sosial, film, musik, bahkan percakapan sehari-hari. Setiap hari, mata dan telinga kita dipenuhi dengan hal-hal yang menggugah hawa nafsu. Tanpa disadari, fitnah itu masuk perlahan ke dalam hati, membekas dan menghitamkan cahaya iman.Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu,تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam; sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua: yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144; Ahmad, 5: 405; sahih)Nabi ﷺ mengibaratkan hati yang terkena fitnah seperti bejana. Ada yang tetap putih bersih karena selalu menolak fitnah, dan ada pula yang hitam terbalik, tak lagi bisa menerima kebaikan, hanya menuruti apa yang sesuai hawa nafsu. Inilah akibat dari terus-menerus mengikuti syahwat tanpa usaha untuk melawan.Namun, seburuk apa pun lingkungan, pilihan tetap ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk menjaga pandangan, menahan lisan, dan menghindari pergaulan yang mendekatkan pada maksiat. Tidak mudah memang, tapi setiap usaha sekecil apa pun di jalan ini, sangat berarti di sisi Allah Ta’ala.Sebagaimana seseorang tidak menjadi pecandu sejak hari pertama, begitu pula kemuliaan tidak diraih dalam sekejap. Proses menundukkan syahwat adalah jihad yang panjang. Mungkin kita akan terjatuh berulang kali, tapi selama kita bangkit dan kembali kepada Allah Ta’ala, maka harapan selalu terbuka, insyaa Allah. Menjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaLaki-laki yang berhasil menundukkan syahwatnya adalah pahlawan sejati. Bukan pahlawan di medan perang, tapi pahlawan di medan jiwa. Dialah yang sabar menunggu yang halal, yang menjaga diri dari haram, yang menjadikan hawa nafsu sebagai pelayan, bukan tuan. Ia tahu bahwa Allah sedang mengujinya untuk memberikan derajat yang lebih tinggi.Ketika Allah menguji dengan sesuatu, itu bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguatkan. Ujian syahwat adalah cara Allah mendidik para lelaki agar menjadi pemimpin yang tangguh, suami yang bertanggung jawab, dan hamba yang taat. Semakin besar ujian, semakin besar pula potensi pahala dan kedekatan dengan Allah.Syahwat yang diarahkan ke dalam pernikahan menjadi sumber ketenangan. Bahkan, ketika belum mampu menikah, Nabi ﷺ mengajarkan solusi, yaitu puasa. Puasa juga merupakan sarana melemahkan dorongan hawa nafsu dan menguatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala.Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)Akhirnya, kita sadar bahwa tujuan hidup bukanlah menghilangkan syahwat, tapi mengendalikannya demi meraih rida Allah. Inilah jalan para Nabi, para shalihin, dan inilah jalan kita. Jika kita bersabar dalam menahan yang haram, Allah akan memberi lebih dari yang kita duga di dunia maupun akhirat.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleSyahwat itu fitrah, bukan aibSyahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanLingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaMenjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaDi balik wajah-wajah saleh, di balik hafalan ayat-ayat dan hadis, tersimpan satu ujian besar yang terus datang menghampiri: syahwat. Datang tidak mengenal waktu, tidak mengenal usia, tidak pula mengenal tingkat keimanan. Betapa banyak lelaki yang terjebak dalam siklus menyesal dan mengulang dosa yang sama, lalu bertanya dalam hati:“Mengapa ujian ini begitu sulit aku tinggalkan?”Tidak sedikit yang sudah mencoba berbagai cara: mandi air dingin, puasa sunah, menghindari media sosial, meninggalkan teman yang buruk, namun syahwat tetap datang menggoda dalam bentuk yang baru. Bahkan, semakin besar upaya melawannya, terkadang semakin besar pula dorongan yang muncul dari dalam diri. Sebuah pertanyaan pun terbit di benak: mengapa Allah menciptakan dorongan ini begitu kuat dalam diri laki-laki?Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk merenungi hikmah besar yang tersembunyi di balik penciptaan syahwat. Bukan untuk dihilangkan, bukan pula untuk dipadamkan, melainkan untuk dikendalikan dan diarahkan. Di sinilah letak ujian yang sejati—sebuah perjuangan batin yang justru dapat menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Syahwat itu fitrah, bukan aibSalah satu kesalahan besar dalam memahami syahwat adalah menganggapnya sebagai aib. Banyak laki-laki yang merasa berdosa hanya karena memiliki dorongan seksual, padahal syahwat adalah bagian dari fitrah manusia. Bahkan Nabi ﷺ sendiri menyatakan bahwa di antara hal yang dicintainya di dunia adalah perempuan dan wewangian, sedangkan penyejuk matanya adalah salat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حُبِّبَ إليَّ مِن الدُّنيا النساءُ والطِّيب، وجُعِلَتْ قُرَّةُ عيني في الصلاة“Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah senang kepada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan ketentraman (hatiku) ada pada salatku.” (Sunan An-Nasa’i, 7: 61 no. 3939)Laki-laki yang memiliki syahwat bukanlah pribadi yang hina. Ia justru sedang membawa bekal penting dalam membangun keluarga dan melanjutkan keturunan. Tanpa syahwat, pernikahan menjadi hampa, dan rumah tangga kehilangan semangat kehangatan. Islam tidak pernah melarang perasaan, tapi justru mengarahkannya ke tempat yang benar.Sebagaimana Adam dan Hawa diuji di surga dengan larangan mendekati pohon tertentu, demikian pula manusia diuji hari ini untuk tidak mendekati hal-hal yang mendekatkan pada zina. Larangan dalam Islam bukan hanya pada perbuatan zina, tapi juga segala jalan yang bisa mengantarkannya. Karena itulah, menjaga pandangan dan menjauhi khalwat menjadi bagian dari solusi preventif yang diajarkan Islam.Allah Ta’ala berifrman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Maka memahami bahwa syahwat adalah fitrah adalah langkah pertama untuk menyikapinya dengan bijaksana. Kita tidak perlu malu memilikinya, tapi juga tidak boleh membiarkannya liar tak terkendali. Syahwat adalah pedang bermata dua—bisa menjadi pahala besar, bisa juga menjadi jalan celaka. Syahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanAllah menciptakan syahwat dalam kondisi netral, tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan nilainya adalah bagaimana kita menggunakannya. Saat diarahkan kepada yang halal, ia menjadi ibadah. Tapi jika disalurkan kepada yang haram, ia berubah menjadi dosa yang bisa menyeret manusia ke jurang kehinaan.Nabi ﷺ bahkan menyebut bahwa hubungan suami istri yang dilakukan dengan niat yang benar adalah sedekah. Para sahabat keheranan, bagaimana mungkin memenuhi syahwat bisa berpahala? Rasulullah ﷺ menjawab dengan logika yang sangat jernih,أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim no. 2376)Pernyataan ini menunjukkan betapa Islam tidak memerangi dorongan seksual, tetapi menempatkannya pada tempat yang terhormat. Inilah keindahan syariat: tidak mengekang, tapi memberi arah. Setiap kali seorang suami mendekati istrinya dengan niat yang baik, ia bukan hanya memuaskan dirinya, tetapi juga tengah menabung pahala.Namun sebaliknya, jika syahwat tidak dikendalikan, pasti akan berujung bencana. Betapa banyak rumah tangga hancur karena perselingkuhan. Betapa banyak anak lahir tanpa ayah karena zina. Betapa banyak hati yang hancur karena hawa nafsu yang tak dikekang. Maka kendalikanlah syahwat, karena syahwat bisa menjadi tangga surga atau jalan menuju neraka.Baca juga: Semoga Dijauhkan dari Syubhat, Syahwat, dan Amarah Lingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaZaman ini menyuguhkan banyak pemicu syahwat: iklan, media sosial, film, musik, bahkan percakapan sehari-hari. Setiap hari, mata dan telinga kita dipenuhi dengan hal-hal yang menggugah hawa nafsu. Tanpa disadari, fitnah itu masuk perlahan ke dalam hati, membekas dan menghitamkan cahaya iman.Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu,تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam; sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua: yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144; Ahmad, 5: 405; sahih)Nabi ﷺ mengibaratkan hati yang terkena fitnah seperti bejana. Ada yang tetap putih bersih karena selalu menolak fitnah, dan ada pula yang hitam terbalik, tak lagi bisa menerima kebaikan, hanya menuruti apa yang sesuai hawa nafsu. Inilah akibat dari terus-menerus mengikuti syahwat tanpa usaha untuk melawan.Namun, seburuk apa pun lingkungan, pilihan tetap ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk menjaga pandangan, menahan lisan, dan menghindari pergaulan yang mendekatkan pada maksiat. Tidak mudah memang, tapi setiap usaha sekecil apa pun di jalan ini, sangat berarti di sisi Allah Ta’ala.Sebagaimana seseorang tidak menjadi pecandu sejak hari pertama, begitu pula kemuliaan tidak diraih dalam sekejap. Proses menundukkan syahwat adalah jihad yang panjang. Mungkin kita akan terjatuh berulang kali, tapi selama kita bangkit dan kembali kepada Allah Ta’ala, maka harapan selalu terbuka, insyaa Allah. Menjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaLaki-laki yang berhasil menundukkan syahwatnya adalah pahlawan sejati. Bukan pahlawan di medan perang, tapi pahlawan di medan jiwa. Dialah yang sabar menunggu yang halal, yang menjaga diri dari haram, yang menjadikan hawa nafsu sebagai pelayan, bukan tuan. Ia tahu bahwa Allah sedang mengujinya untuk memberikan derajat yang lebih tinggi.Ketika Allah menguji dengan sesuatu, itu bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguatkan. Ujian syahwat adalah cara Allah mendidik para lelaki agar menjadi pemimpin yang tangguh, suami yang bertanggung jawab, dan hamba yang taat. Semakin besar ujian, semakin besar pula potensi pahala dan kedekatan dengan Allah.Syahwat yang diarahkan ke dalam pernikahan menjadi sumber ketenangan. Bahkan, ketika belum mampu menikah, Nabi ﷺ mengajarkan solusi, yaitu puasa. Puasa juga merupakan sarana melemahkan dorongan hawa nafsu dan menguatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala.Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)Akhirnya, kita sadar bahwa tujuan hidup bukanlah menghilangkan syahwat, tapi mengendalikannya demi meraih rida Allah. Inilah jalan para Nabi, para shalihin, dan inilah jalan kita. Jika kita bersabar dalam menahan yang haram, Allah akan memberi lebih dari yang kita duga di dunia maupun akhirat.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleSyahwat itu fitrah, bukan aibSyahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanLingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaMenjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaDi balik wajah-wajah saleh, di balik hafalan ayat-ayat dan hadis, tersimpan satu ujian besar yang terus datang menghampiri: syahwat. Datang tidak mengenal waktu, tidak mengenal usia, tidak pula mengenal tingkat keimanan. Betapa banyak lelaki yang terjebak dalam siklus menyesal dan mengulang dosa yang sama, lalu bertanya dalam hati:“Mengapa ujian ini begitu sulit aku tinggalkan?”Tidak sedikit yang sudah mencoba berbagai cara: mandi air dingin, puasa sunah, menghindari media sosial, meninggalkan teman yang buruk, namun syahwat tetap datang menggoda dalam bentuk yang baru. Bahkan, semakin besar upaya melawannya, terkadang semakin besar pula dorongan yang muncul dari dalam diri. Sebuah pertanyaan pun terbit di benak: mengapa Allah menciptakan dorongan ini begitu kuat dalam diri laki-laki?Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk merenungi hikmah besar yang tersembunyi di balik penciptaan syahwat. Bukan untuk dihilangkan, bukan pula untuk dipadamkan, melainkan untuk dikendalikan dan diarahkan. Di sinilah letak ujian yang sejati—sebuah perjuangan batin yang justru dapat menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Syahwat itu fitrah, bukan aibSalah satu kesalahan besar dalam memahami syahwat adalah menganggapnya sebagai aib. Banyak laki-laki yang merasa berdosa hanya karena memiliki dorongan seksual, padahal syahwat adalah bagian dari fitrah manusia. Bahkan Nabi ﷺ sendiri menyatakan bahwa di antara hal yang dicintainya di dunia adalah perempuan dan wewangian, sedangkan penyejuk matanya adalah salat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حُبِّبَ إليَّ مِن الدُّنيا النساءُ والطِّيب، وجُعِلَتْ قُرَّةُ عيني في الصلاة“Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah senang kepada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan ketentraman (hatiku) ada pada salatku.” (Sunan An-Nasa’i, 7: 61 no. 3939)Laki-laki yang memiliki syahwat bukanlah pribadi yang hina. Ia justru sedang membawa bekal penting dalam membangun keluarga dan melanjutkan keturunan. Tanpa syahwat, pernikahan menjadi hampa, dan rumah tangga kehilangan semangat kehangatan. Islam tidak pernah melarang perasaan, tapi justru mengarahkannya ke tempat yang benar.Sebagaimana Adam dan Hawa diuji di surga dengan larangan mendekati pohon tertentu, demikian pula manusia diuji hari ini untuk tidak mendekati hal-hal yang mendekatkan pada zina. Larangan dalam Islam bukan hanya pada perbuatan zina, tapi juga segala jalan yang bisa mengantarkannya. Karena itulah, menjaga pandangan dan menjauhi khalwat menjadi bagian dari solusi preventif yang diajarkan Islam.Allah Ta’ala berifrman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Maka memahami bahwa syahwat adalah fitrah adalah langkah pertama untuk menyikapinya dengan bijaksana. Kita tidak perlu malu memilikinya, tapi juga tidak boleh membiarkannya liar tak terkendali. Syahwat adalah pedang bermata dua—bisa menjadi pahala besar, bisa juga menjadi jalan celaka. Syahwat itu netral, kitalah yang mengarahkanAllah menciptakan syahwat dalam kondisi netral, tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan nilainya adalah bagaimana kita menggunakannya. Saat diarahkan kepada yang halal, ia menjadi ibadah. Tapi jika disalurkan kepada yang haram, ia berubah menjadi dosa yang bisa menyeret manusia ke jurang kehinaan.Nabi ﷺ bahkan menyebut bahwa hubungan suami istri yang dilakukan dengan niat yang benar adalah sedekah. Para sahabat keheranan, bagaimana mungkin memenuhi syahwat bisa berpahala? Rasulullah ﷺ menjawab dengan logika yang sangat jernih,أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim no. 2376)Pernyataan ini menunjukkan betapa Islam tidak memerangi dorongan seksual, tetapi menempatkannya pada tempat yang terhormat. Inilah keindahan syariat: tidak mengekang, tapi memberi arah. Setiap kali seorang suami mendekati istrinya dengan niat yang baik, ia bukan hanya memuaskan dirinya, tetapi juga tengah menabung pahala.Namun sebaliknya, jika syahwat tidak dikendalikan, pasti akan berujung bencana. Betapa banyak rumah tangga hancur karena perselingkuhan. Betapa banyak anak lahir tanpa ayah karena zina. Betapa banyak hati yang hancur karena hawa nafsu yang tak dikekang. Maka kendalikanlah syahwat, karena syahwat bisa menjadi tangga surga atau jalan menuju neraka.Baca juga: Semoga Dijauhkan dari Syubhat, Syahwat, dan Amarah Lingkungan menentukan, pilihan tetap di tangan kitaZaman ini menyuguhkan banyak pemicu syahwat: iklan, media sosial, film, musik, bahkan percakapan sehari-hari. Setiap hari, mata dan telinga kita dipenuhi dengan hal-hal yang menggugah hawa nafsu. Tanpa disadari, fitnah itu masuk perlahan ke dalam hati, membekas dan menghitamkan cahaya iman.Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu,تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam; sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua: yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144; Ahmad, 5: 405; sahih)Nabi ﷺ mengibaratkan hati yang terkena fitnah seperti bejana. Ada yang tetap putih bersih karena selalu menolak fitnah, dan ada pula yang hitam terbalik, tak lagi bisa menerima kebaikan, hanya menuruti apa yang sesuai hawa nafsu. Inilah akibat dari terus-menerus mengikuti syahwat tanpa usaha untuk melawan.Namun, seburuk apa pun lingkungan, pilihan tetap ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk menjaga pandangan, menahan lisan, dan menghindari pergaulan yang mendekatkan pada maksiat. Tidak mudah memang, tapi setiap usaha sekecil apa pun di jalan ini, sangat berarti di sisi Allah Ta’ala.Sebagaimana seseorang tidak menjadi pecandu sejak hari pertama, begitu pula kemuliaan tidak diraih dalam sekejap. Proses menundukkan syahwat adalah jihad yang panjang. Mungkin kita akan terjatuh berulang kali, tapi selama kita bangkit dan kembali kepada Allah Ta’ala, maka harapan selalu terbuka, insyaa Allah. Menjadikan syahwat sebagai jalan menuju surgaLaki-laki yang berhasil menundukkan syahwatnya adalah pahlawan sejati. Bukan pahlawan di medan perang, tapi pahlawan di medan jiwa. Dialah yang sabar menunggu yang halal, yang menjaga diri dari haram, yang menjadikan hawa nafsu sebagai pelayan, bukan tuan. Ia tahu bahwa Allah sedang mengujinya untuk memberikan derajat yang lebih tinggi.Ketika Allah menguji dengan sesuatu, itu bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguatkan. Ujian syahwat adalah cara Allah mendidik para lelaki agar menjadi pemimpin yang tangguh, suami yang bertanggung jawab, dan hamba yang taat. Semakin besar ujian, semakin besar pula potensi pahala dan kedekatan dengan Allah.Syahwat yang diarahkan ke dalam pernikahan menjadi sumber ketenangan. Bahkan, ketika belum mampu menikah, Nabi ﷺ mengajarkan solusi, yaitu puasa. Puasa juga merupakan sarana melemahkan dorongan hawa nafsu dan menguatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala.Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)Akhirnya, kita sadar bahwa tujuan hidup bukanlah menghilangkan syahwat, tapi mengendalikannya demi meraih rida Allah. Inilah jalan para Nabi, para shalihin, dan inilah jalan kita. Jika kita bersabar dalam menahan yang haram, Allah akan memberi lebih dari yang kita duga di dunia maupun akhirat.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Mengapa Imam Ahmad Mengusap Wajah Setelah Berdoa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Mengusap wajah dengan kedua tangan telah disebutkan dalam banyak riwayat dari para Sahabat Rasulullah dan para Tabi’in — shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau. Riwayat-riwayat ini menunjukkan — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebagai tambahan atas hadis-hadis yang dinisbatkan kepada Nabi, tapi tidak sahih, bahwa amalan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa memiliki dasar dalam syariat. Jika Anda berkata bahwa Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan tidak ada hadis sahih tentangnya, maka kami katakan: “Benar.” Tidak ada hadis sahih yang menjelaskan keutamaannya. Artinya, tidak terdapat keutamaan yang sahih dalam mengusap wajah setelah berdoa. Tidak terdapat riwayat bahwa jika seseorang tidak mengusap wajahnya, maka doanya tidak diterima. Tidak dikabulkan dan semacamnya — semua itu tidak ada riwayat yang sahih. Namun, amalannya tetap disyariatkan. Ini juga diamalkan oleh para ulama besar. Oleh sebab itulah, para ulama menyatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa adalah amalan yang disyariatkan, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat. Memang, ada riwayat dalam mazhab yang menyatakan bahwa amalan ini hanya disyariatkan di luar shalat, tapi tidak dilakukan di dalam shalat, karena itu termasuk tambahan gerakan shalat. Namun, pendapat yang dipegang dan diamalkan oleh para ulama besar, seperti Imam Ahmad dan lainnya, adalah mengusap wajah dengan kedua tangan. Amalan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Tabi’in. As-Suyuthi juga menyebutkan hal ini dalam salah satu kitabnya, yang memuat penelusuran atsar dan riwayat seputar amalan mengusap wajah. === مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ جَاءَتْ فِيهِ آثَارٌ كَثِيرَةٌ عَنْ صَحَابَةِ الرَّسُولِ وَالتَّابِعِينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ الْآثَارُ تَدُلُّ كَمَا ذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ إِضَافَةً لِلْأَحَادِيثِ الَّتِي رُفِعَتْ لِلنَّبِيِّ لَكِنَّهَا لَمْ تَثْبُتْ عَلَى أَنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ بَعْدَ الدُّعَاءِ لَهُ أَصْلٌ فَإِنْ قُلْتَ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُبَارَكٍ يَقُولُ لَمْ يَثْبُتْ فِيهِ حَدِيثٌ نَقُولُ صَحِيحٌ لَمْ يَثْبُتْ حَدِيثٌ فِي فَضْلِهِ فَلَا فَضْلَ وَارِدٌ ثَابِتٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ فَمَا جَاءَ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَمْسَحِ الْوَجْهَ لَمْ يُقْبَلِ الدُّعَاءُ أَوْ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَغَيْرُ ثَابِتٍ لَكِنَّ الْفِعْلَ مَشْرُوعٌ وَقَدْ فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ عَقِبَ الدُّعَاءِ مَشْرُوعٌ فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا نَعَمْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ مَشْرُوعٌ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَلَيْسَ مَشْرُوعًا فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ حَرَكَةٌ لَكِنَّ الْمُعْتَمَدَ وَالَّذِي فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ أَيْ بِالْيَدَيْنِ وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْفِعْلُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ التَّابِعِينَ وَقَدْ أَوْرَدَ السُّيُوطِيُّ فِي كِتَابٍ لَهُ تَتَبُّعَ الْآثَارِ وَالْأَخْبَارِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِمَسْحِ الْوَجْهِ

Mengapa Imam Ahmad Mengusap Wajah Setelah Berdoa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Mengusap wajah dengan kedua tangan telah disebutkan dalam banyak riwayat dari para Sahabat Rasulullah dan para Tabi’in — shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau. Riwayat-riwayat ini menunjukkan — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebagai tambahan atas hadis-hadis yang dinisbatkan kepada Nabi, tapi tidak sahih, bahwa amalan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa memiliki dasar dalam syariat. Jika Anda berkata bahwa Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan tidak ada hadis sahih tentangnya, maka kami katakan: “Benar.” Tidak ada hadis sahih yang menjelaskan keutamaannya. Artinya, tidak terdapat keutamaan yang sahih dalam mengusap wajah setelah berdoa. Tidak terdapat riwayat bahwa jika seseorang tidak mengusap wajahnya, maka doanya tidak diterima. Tidak dikabulkan dan semacamnya — semua itu tidak ada riwayat yang sahih. Namun, amalannya tetap disyariatkan. Ini juga diamalkan oleh para ulama besar. Oleh sebab itulah, para ulama menyatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa adalah amalan yang disyariatkan, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat. Memang, ada riwayat dalam mazhab yang menyatakan bahwa amalan ini hanya disyariatkan di luar shalat, tapi tidak dilakukan di dalam shalat, karena itu termasuk tambahan gerakan shalat. Namun, pendapat yang dipegang dan diamalkan oleh para ulama besar, seperti Imam Ahmad dan lainnya, adalah mengusap wajah dengan kedua tangan. Amalan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Tabi’in. As-Suyuthi juga menyebutkan hal ini dalam salah satu kitabnya, yang memuat penelusuran atsar dan riwayat seputar amalan mengusap wajah. === مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ جَاءَتْ فِيهِ آثَارٌ كَثِيرَةٌ عَنْ صَحَابَةِ الرَّسُولِ وَالتَّابِعِينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ الْآثَارُ تَدُلُّ كَمَا ذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ إِضَافَةً لِلْأَحَادِيثِ الَّتِي رُفِعَتْ لِلنَّبِيِّ لَكِنَّهَا لَمْ تَثْبُتْ عَلَى أَنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ بَعْدَ الدُّعَاءِ لَهُ أَصْلٌ فَإِنْ قُلْتَ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُبَارَكٍ يَقُولُ لَمْ يَثْبُتْ فِيهِ حَدِيثٌ نَقُولُ صَحِيحٌ لَمْ يَثْبُتْ حَدِيثٌ فِي فَضْلِهِ فَلَا فَضْلَ وَارِدٌ ثَابِتٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ فَمَا جَاءَ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَمْسَحِ الْوَجْهَ لَمْ يُقْبَلِ الدُّعَاءُ أَوْ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَغَيْرُ ثَابِتٍ لَكِنَّ الْفِعْلَ مَشْرُوعٌ وَقَدْ فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ عَقِبَ الدُّعَاءِ مَشْرُوعٌ فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا نَعَمْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ مَشْرُوعٌ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَلَيْسَ مَشْرُوعًا فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ حَرَكَةٌ لَكِنَّ الْمُعْتَمَدَ وَالَّذِي فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ أَيْ بِالْيَدَيْنِ وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْفِعْلُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ التَّابِعِينَ وَقَدْ أَوْرَدَ السُّيُوطِيُّ فِي كِتَابٍ لَهُ تَتَبُّعَ الْآثَارِ وَالْأَخْبَارِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِمَسْحِ الْوَجْهِ
Mengusap wajah dengan kedua tangan telah disebutkan dalam banyak riwayat dari para Sahabat Rasulullah dan para Tabi’in — shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau. Riwayat-riwayat ini menunjukkan — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebagai tambahan atas hadis-hadis yang dinisbatkan kepada Nabi, tapi tidak sahih, bahwa amalan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa memiliki dasar dalam syariat. Jika Anda berkata bahwa Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan tidak ada hadis sahih tentangnya, maka kami katakan: “Benar.” Tidak ada hadis sahih yang menjelaskan keutamaannya. Artinya, tidak terdapat keutamaan yang sahih dalam mengusap wajah setelah berdoa. Tidak terdapat riwayat bahwa jika seseorang tidak mengusap wajahnya, maka doanya tidak diterima. Tidak dikabulkan dan semacamnya — semua itu tidak ada riwayat yang sahih. Namun, amalannya tetap disyariatkan. Ini juga diamalkan oleh para ulama besar. Oleh sebab itulah, para ulama menyatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa adalah amalan yang disyariatkan, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat. Memang, ada riwayat dalam mazhab yang menyatakan bahwa amalan ini hanya disyariatkan di luar shalat, tapi tidak dilakukan di dalam shalat, karena itu termasuk tambahan gerakan shalat. Namun, pendapat yang dipegang dan diamalkan oleh para ulama besar, seperti Imam Ahmad dan lainnya, adalah mengusap wajah dengan kedua tangan. Amalan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Tabi’in. As-Suyuthi juga menyebutkan hal ini dalam salah satu kitabnya, yang memuat penelusuran atsar dan riwayat seputar amalan mengusap wajah. === مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ جَاءَتْ فِيهِ آثَارٌ كَثِيرَةٌ عَنْ صَحَابَةِ الرَّسُولِ وَالتَّابِعِينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ الْآثَارُ تَدُلُّ كَمَا ذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ إِضَافَةً لِلْأَحَادِيثِ الَّتِي رُفِعَتْ لِلنَّبِيِّ لَكِنَّهَا لَمْ تَثْبُتْ عَلَى أَنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ بَعْدَ الدُّعَاءِ لَهُ أَصْلٌ فَإِنْ قُلْتَ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُبَارَكٍ يَقُولُ لَمْ يَثْبُتْ فِيهِ حَدِيثٌ نَقُولُ صَحِيحٌ لَمْ يَثْبُتْ حَدِيثٌ فِي فَضْلِهِ فَلَا فَضْلَ وَارِدٌ ثَابِتٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ فَمَا جَاءَ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَمْسَحِ الْوَجْهَ لَمْ يُقْبَلِ الدُّعَاءُ أَوْ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَغَيْرُ ثَابِتٍ لَكِنَّ الْفِعْلَ مَشْرُوعٌ وَقَدْ فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ عَقِبَ الدُّعَاءِ مَشْرُوعٌ فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا نَعَمْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ مَشْرُوعٌ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَلَيْسَ مَشْرُوعًا فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ حَرَكَةٌ لَكِنَّ الْمُعْتَمَدَ وَالَّذِي فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ أَيْ بِالْيَدَيْنِ وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْفِعْلُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ التَّابِعِينَ وَقَدْ أَوْرَدَ السُّيُوطِيُّ فِي كِتَابٍ لَهُ تَتَبُّعَ الْآثَارِ وَالْأَخْبَارِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِمَسْحِ الْوَجْهِ


Mengusap wajah dengan kedua tangan telah disebutkan dalam banyak riwayat dari para Sahabat Rasulullah dan para Tabi’in — shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau. Riwayat-riwayat ini menunjukkan — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebagai tambahan atas hadis-hadis yang dinisbatkan kepada Nabi, tapi tidak sahih, bahwa amalan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa memiliki dasar dalam syariat. Jika Anda berkata bahwa Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan tidak ada hadis sahih tentangnya, maka kami katakan: “Benar.” Tidak ada hadis sahih yang menjelaskan keutamaannya. Artinya, tidak terdapat keutamaan yang sahih dalam mengusap wajah setelah berdoa. Tidak terdapat riwayat bahwa jika seseorang tidak mengusap wajahnya, maka doanya tidak diterima. Tidak dikabulkan dan semacamnya — semua itu tidak ada riwayat yang sahih. Namun, amalannya tetap disyariatkan. Ini juga diamalkan oleh para ulama besar. Oleh sebab itulah, para ulama menyatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa adalah amalan yang disyariatkan, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat. Memang, ada riwayat dalam mazhab yang menyatakan bahwa amalan ini hanya disyariatkan di luar shalat, tapi tidak dilakukan di dalam shalat, karena itu termasuk tambahan gerakan shalat. Namun, pendapat yang dipegang dan diamalkan oleh para ulama besar, seperti Imam Ahmad dan lainnya, adalah mengusap wajah dengan kedua tangan. Amalan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Tabi’in. As-Suyuthi juga menyebutkan hal ini dalam salah satu kitabnya, yang memuat penelusuran atsar dan riwayat seputar amalan mengusap wajah. === مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ جَاءَتْ فِيهِ آثَارٌ كَثِيرَةٌ عَنْ صَحَابَةِ الرَّسُولِ وَالتَّابِعِينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ الْآثَارُ تَدُلُّ كَمَا ذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ إِضَافَةً لِلْأَحَادِيثِ الَّتِي رُفِعَتْ لِلنَّبِيِّ لَكِنَّهَا لَمْ تَثْبُتْ عَلَى أَنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ بَعْدَ الدُّعَاءِ لَهُ أَصْلٌ فَإِنْ قُلْتَ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُبَارَكٍ يَقُولُ لَمْ يَثْبُتْ فِيهِ حَدِيثٌ نَقُولُ صَحِيحٌ لَمْ يَثْبُتْ حَدِيثٌ فِي فَضْلِهِ فَلَا فَضْلَ وَارِدٌ ثَابِتٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ فَمَا جَاءَ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَمْسَحِ الْوَجْهَ لَمْ يُقْبَلِ الدُّعَاءُ أَوْ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَغَيْرُ ثَابِتٍ لَكِنَّ الْفِعْلَ مَشْرُوعٌ وَقَدْ فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ مَسْحَ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ عَقِبَ الدُّعَاءِ مَشْرُوعٌ فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا نَعَمْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ مَشْرُوعٌ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَلَيْسَ مَشْرُوعًا فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ حَرَكَةٌ لَكِنَّ الْمُعْتَمَدَ وَالَّذِي فَعَلَهُ الْأَئِمَّةُ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ مَسْحُ الْوَجْهِ بِهِ أَيْ بِالْيَدَيْنِ وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْفِعْلُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ التَّابِعِينَ وَقَدْ أَوْرَدَ السُّيُوطِيُّ فِي كِتَابٍ لَهُ تَتَبُّعَ الْآثَارِ وَالْأَخْبَارِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِمَسْحِ الْوَجْهِ

Penghalang-Penghalang Keberkahan (Bagian 1)

موانع البركة Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله ربِّ العالمين، سبحانه سبحانه، سبحان الذي في السماء عرشُه، سبحان الذي في الأرض حكمُه، سبحان الذي في القبر قضاؤُه، سبحان الذي في البحر سبيلُه، سبحانه في النار سلطانُه، سبحان الذي في الجنة رحمتُه، سبحان الذي في القيامة عدلُه، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، شهادة مَن قال ربي الله ثم استقام، تقرَّب لعباده برأفته ورحمته، ونوَّر قلوبَ عباده بهدايته، سبحان مَن ملأ الوجودَ أدلةً ليلوح ما أَخفى بما أبداه  سبحان مَن ظهَر الجميعُ بنوره فيه يرى أشياءَ من صفَّاه  سبحان مَن أحيا قلوبَ عباده بلوائحَ مِن فيضِ نورِ هُداه  وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا، عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه. والله ما في الخلق مثلُ محمدٍ في الفضل والجُود والأخلاقِ  فهو النبيُّ الهاشمي المصطفى مِن خِيرةِ الأنساب مِن عَدنانِ  لو حاوَل الشعراءُ وصفَ محمدٍ وأَتَوْا بأشعارٍ مِن الأوزانِ  ماذا يقول الواصفون لأحمدٍ بعدَ الذي جاء في القرآنِ وعلى آله وأصحابه، ومَن سار على نهجه وتمسَّك بسُنته، واقتدى بهدْيه، واتَّبعهم بإحسان إلى يوم الدين ونحن معهم يا أرحم الراحمين. Segala puji hanya bagi Allah. Maha Suci Allah yang Arsy-Nya berada di langit. Maha Suci Allah yang ketetapan-Nya ada di bumi. Maha Suci Allah yang keputusan-Nya ada di alam kubur. Maha Suci Allah yang memiliki jalan di lautan. Maha Suci Allah yang kekuasaan-Nya ada di neraka. Maha Suci Allah yang rahmat-Nya ada di surga. Dan Maha Suci Allah yang keadilan-Nya ada di hari Kiamat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, seluruh kekuasaan milik-Nya dan segala pujian milik-Nya, Dia Maha Kuasa atas segalanya: seperti kesaksian orang yang berkata “Tuhanku adalah Allah!” lalu ia teguh di atasnya. Dia mendekat kepada para hamba-Nya dengan kelembutan dan rahmat-Nya, dan menyinari hati mereka dengan hidayah-Nya. سُبْحَانَ مَنْ مَلَأَ الْوُجُودَ أَدِلَّةً لِيَلُوحَ مَا أَخْفَى بِمَا أَبْدَاهُ Maha Suci Dzat Yang memenuhi alam semesta dengan bukti-bukti Untuk menampakkan apa yang tersembunyi سُبْحَانَ مَنْ ظَهَرَ الْجَمِيْعُ بِنُورِهِ فِيْهِ يَرَى أَشْيَاءَ مَنْ صَفَّاه Maha Suci Dzat Yang segalanya tampak berkat cahaya-Nya Dengan cahaya itu, orang yang Dia pilih dapat melihat segalanya سُبْحَانَ مَنْ أَحْيَا قُلُوبَ عِبَادِهِ بِلَوَائِحَ مِنْ فَيْضِ نُورِ هُدَاه Maha Suci Dzat Yang menghidupkan hati para hamba-Nya Dengan pancaran cahaya petunjuk-Nya Saya juga bersaksi bahwa kekasih, pemimpin, dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad adalah hamba, rasul, makhluk pilihan, dan kekasih -Nya. وَاللهِ مَا فِي الْخَلْقِ مِثْلُ مُحَمَّدٍ فِي الْفَضْلِ وَالجُودِ وَالْأَخْلَاقِ  Demi Allah tidak ada makhluk yang semisal Muhammad Dari sisi keutamaan, kemuliaan, dan akhlak فَهُوَ النَّبِيُّ الْهَاشِمِيُّ الْمُصْطَفَى مِنْ خِيْرَةِ الْأَنْسَابِ مِنْ عَدْنَانِ  Dia Nabi dari bani Hasyim yang terpilih Dari Nasab terbaik bani Adnan لَو حَاوَلَ الشُّعَرَاءُ وَصْفَ مُحَمَّدٍ وَأَتَوْا بِأَشْعَارٍ مِنَ الْأَوْزَانِ  Andai para penyair berusaha menyifati Muhammad Dan membuat bait-bait yang berirama مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لِأَحْمَدٍ بَعْدَ الَّذِي جَاءَ فِي الْقُرْآنِ Apa yang akan disebutkan orang-orang yang menyifatinya Setelah apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an tentangnya Salawat dan salam itu semoga terlimpah juga kepada keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan di atas jalan hidupnya, berpegang teguh dengan sunnahnya, mengamalkan tuntunannya, dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat —dan semoga kita termasuk bersama mereka—, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. أخي المسلم، إن من الظواهر التي لَحظها أغلبُ الناس اليوم، واتَّفقت فيها كلمةُ أكثرهم؛ حتى لا يكاد يختلف فيها اثنان – قلةَ البركة في الأموال والأولاد، وعدم الانتفاع بالأرزاق والأبناء، حتى إن الرجل ليكون مرتَّبه عاليًا ودخله جيدًا، وأبناؤه عُصْبَة من الرجال الأقوياء الأشدَّاء، ثم تراه يقترض ويستدين، ويعيش في بيته وحيدًا أو مع زوجه العجوز، لا أحد من أبنائه يَحدب عليه أو يَلتفت إليه، ولربما دخل كثيرٌ من الناس السوق وجيبه مليء بالمال، فلا يخرج إلا وهو صفرُ اليدين، أو قد تحمَّل شيئًا من الدَّين، وعندما ينظر فيما أتى به من أغراض وحاجات لأهله، لا يجد إلا أشياء كمالية صغيرة، يحملها بين يديه بلا عناء، ولا تساوي ما أنفق فيها من مال. Saudara Muslimku! Di antara fenomena yang dicermati oleh mayoritas orang saat ini, dan sebagian besar mereka sepakat tentangnya—yang hampir-hampir tidak ada dua orang yang masih berselisih tentangnya— adalah sedikitnya keberkahan pada harta dan anak keturunan, dan tidak mendapat manfaat dari rezeki dan anaknya. Bahkan ada orang yang punya kedudukan tinggi, pendapatan yang besar, dan anak-anak yang kuat dan sehat, tapi ia justru terlilit utang dan hidup sebatang kara di rumahnya atau dengan pasangannya saja, tanpa ada satupun anaknya yang simpati kepadanya atau datang menjenguknya. Mungkin juga ada banyak orang yang masuk ke pasar dengan kantong penuh uang, tapi ketika ia pulang dengan tangan kosong atau bahkan menanggung utang. Lalu ketika ia melihat apa saja kebutuhan dan keperluan yang telah ia beli untuk keluarganya, ternyata ia hanya dapat membeli beberapa kebutuhan tersier yang remeh. Barang-barang itu ringan untuk dibawa, dan tidak setara dengan uang yang telah ia keluarkan. وإن هذا الأمر ليس قضية عارضة أو مسألة هيِّنة، بل هو في الواقع يشكِّل ظاهرة ملموسة وقضية محسوسة، ويُعد منحنًى خطيرًا في حياة المجتمع المسلم، يجب على كل فرد أن يَدرُسه ويتعرف أسبابه، ويبحث عن حله الناجح وعلاجه الناجع، فيأخذ به ويقي نفسه، لعل الله أن ينجيَه مما ابتُلي به غيرُه من الناس، أو مما قد يكون هو نفسه مبتلى به. Perkara ini bukanlah urusan sesaat atau masalah remeh. Namun di kehidupan nyata, hal ini menjadi fenomena yang sering terjadi, dan dirasakan banyak orang serta, menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat Muslim, sehingga setiap individu harus mempelajarinya dan mengenal sebab-sebabnya serta mencari jalan keluar yang benar dan solusi yang ampuh, lalu menerapkannya dan menjadikannya sebagai pelindung dirinya. Dengan demikian, semoga Allah menyelamatkannya dari ujian yang menimpa orang lain atau bahkan dirinya sendiri ini. أيها المسلمون، إننا يجب أن نعلِّق أنفسنا بهذا الدين العظيم الذي نَدين الله عز وجل به في كل أمورنا، يجب أن نرتبط به في جميع مناحي حياتنا، وأن ندرس تحت مظلته قضايانا، ونحل به مشكلاتنا، وأن نعلَم أننا مهما تمسَّكنا به وعضَضنا عليه بالنواجِذ، فلن نضل ولن نشقى بتوفيق الله، وأننا بقدر ما نبتعد عنه أو ننحرف عن صراطه المستقيم، أو نتخلَّى عن تعاليمه السمحة المباركة، أو نتهاون بها، فإننا نهوي إلى مكان مُوحِش سَحِيق، ونُلقي بأنفسنا في مجاهل من المستقبل المتردِّي الذي لا يعلم ما يكون عليه إلا الله. Wahai kaum Muslimin! Kita harus menyandarkan diri kita pada agama yang agung ini, yang menjadi jalan kita untuk berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap urusan. Kita harus terpaut dengannya dalam seluruh aspek kehidupan, mempelajari urusan-urusan kita di bawah naungannya, dan mencari solusi dari masalah-masalah kita dengannya. Kita harus memahami bahwa selama kita berpegang teguh dengannya, maka kita tidak akan tersesat dan sengsara berkat taufik dari Allah. Semakin kita menjauhi agama ini, berpaling dari jalannya yang lurus, meninggalkan ajaran-ajarannya yang toleran dan penuh berkah, atau meremehkannya, maka semakin dalam pula kita akan terperosok ke jurang antah berantah dan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam masa depan suram yang hanya Allah yang mengetahui rahasianya. فما الأسباب الماحقة المانعة للبركة؟ اعلَم علَّمني الله وإياك أن هناك جملة من الأسباب الممحقة للبركة نذكر منها: أولًا: الكفر بنعم الله تعالى: قال الله تعالى: ﴿ وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾ [النحل: 112]. قال بعض أهل العلم: «إن هذا مثلٌ ضربه الله لأهل مكة»، وهو رواية العوفي عن ابن عباس، وإليه ذهب مجاهد وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم، وحكاه مالك عن الزهري رحمهم الله، نقله عنهم ابن كثير وغيره. Apa saja hal-hal yang dapat melenyapkan dan menghalangi keberkahan? Ketahuilah —semoga Allah mengajarkan ilmu-Nya kepada kita— bahwa ada beberapa hal yang dapat melenyapkan keberkahan. Di antaranya adalah: Pertama: Mengingkari nikmat-nikmat Allah Ta’ala Allah Ta’ala berfirman: وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112). Seorang ulama mengatakan, “Ini merupakan perumpamaan yang Allah buat tentang para penduduk Makkah.” Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas, dan pendapat yang diambil oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Diriwayatkan pula oleh Malik dari Az-Zuhri Rahimahumullah. Hal ini diriwayatkan dari mereka oleh Ibnu Katsir dan lainnya. فهذه القرية كانت في أمن وخيرٍ وبركة، ولكنها كفرت بما أنعَم الله عليها، وتعدَّت حدوده، ولم تؤمن برسوله، فكان جزاؤها ما أخبر الله تعالى مَن تحوُّل الأمن إلى خوف، والنعمة الى جوع وضنك، وما ربك بظلام للعبيد؛ (﴿ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾، وأخذ قومها العذابُ وهم ظالمون، ويَجسم التعبير الجوع والخوف فيجعله لباسًا، ويجعلهم يذوقون هذا اللباس ذوقًا؛ لأن الذوق أعمق أثرًا في الحس من مساس اللباس للجلد، وتتداخل في التعبير استجابات الحواس، فتضاعف مس الجوع والخوف لهم ولذعه، وتأثيره وتغلغله في النفوس، لعلهم يشفقون من تلك العاقبة التي تنتظرهم لتأخذهم وهم ظالمون، وفي ظل هذا المثل الذي تخايل فيه النعمة والرزق، كما يخايل فيه المنع والحرمان، يأمرهم بالأكل مما أحلَّ لهم من الطيبات، وشُكر الله على نعمته إن كانوا يريدون أن يستقيموا على الإيمان الحق بالله، وأن يخلصوا له العبودية خالصة من الشرك الذي يوحي إليهم بتحريم بعض الطيبات على أنفسهم باسم الآلهة المدعاة). Penduduk negeri itu dulunya hidup dalam kedamaian, kebaikan, dan keberkahan. Namun, mereka mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan, melanggar aturan-aturan-Nya, dan tidak beriman dengan rasul-Nya, sehingga balasan bagi mereka sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan, berupa berubahnya kedamaian menjadi ketakutan dan kenikmatan menjadi kelaparan dan kesempitan, dan sungguh Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi para hamba-Nya. “Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Pada akhirnya azab merenggut para penduduknya yang zalim. Allah membuat gambaran “kelaparan dan ketakutan” begitu nyata dengan menggunakan ungkapan “pakaian”, dan membuat mereka merasakan pakaian ini, karena indra perasa lebih sensitif daripada yang dirasakan indra peraba yang ditimbulkan sentuhan pakaian terhadap kulit, dan respons dari dua indra ini saling berkaitan, sehingga kelaparan dan ketakutan yang mereka rasakan berlipat ganda, dan lebih merasuk ke dalam jiwa, supaya mereka tersadar atas siksaan yang siap menimpa mereka jika masih saja berbuat kezaliman.  Melalui perumpamaan ini —yang di dalamnya tergambar kenikmatan dan rezeki, dan tergambar pula terhentinya nikmat dan rezeki tersebut— Allah memerintahkan mereka untuk memakan makanan yang halal dan baik, bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya jika mereka ingin agar tetap berada di atas keimanan yang tulus kepada Allah, dan mengikhlaskan kepada-Nya ibadah yang suci dari kesyirikan yang menginspirasi mereka untuk mengharamkan beberapa makanan halal atas nama tuhan-tuhan yang mereka klaim. وهناك مثالٌ آخر في القرآن ضرَبه الله عز وجل لقوم أغدق الله عليهم النعم، وعاشوا في نعيم ورفاهية، ولكنهم لم يَشكُروا تلك النعم، بل بطَروا وكفروا النعمة، إنهم قوم سبأ؛ يقول الله تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ ﴾ [سبأ: 15 – 21]. Terdapat perumpamaan lain dalam Al-Qur’an yang Allah ‘Azza wa Jalla buat tentang kaum yang Allah beri keberlimpahan nikmat dan hidup dalam kemewahan, tapi mereka enggan bersyukur atas nikmat-nikmat itu, dan justru menyangkal dan mengingkarinya. Mereka adalah kaum Saba’. Allah Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ  Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka), “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon atsal (sejenis cemara) dan sedikit pohon bidara.  Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur. Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (mereka) menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur. Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin. Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. Saba’: 15-21). يقول ابن القيم: ومن تأمَّل ما قص الله تعالى في كتابه من أحوال الأمم الذين أزال نعمه عنهم، وجد سبب ذلك جميعه إنما هو مخالفة أمره وعصيان رسله، وكذلك من نظر في أحوال أهل عصره، وما أزال الله عنهم من نعمه، وجد ذلك كله من سوء عواقب الذنوب كما قيل. إذا كنتَ في نِعمةٍ فارْعَها فإن المعاصي تُزيل النعم Ibnu al-Qayyim berkata, “Barang siapa yang mencermati apa yang telah Allah Ta’ala kisahkan dalam Kitab-Nya berupa keadaan kaum-kaum yang nikmat-nikmat-Nya Dia cabut dari mereka, maka ia akan mendapatkan sebab itu semua adalah menyelisihi perintah-Nya dan membangkang terhadap para rasul-Nya. Demikian juga orang yang memperhatikan keadaan orang-orang di zamannya dan hal yang menyebabkan Allah mencabut nikmat-nikmat-Nya dari mereka, ia akan mendapati bahwa itu semua akibat buruk dari dosa-dosa mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam bait syair: إِذَا كُنْتَ فِي نِعْمَةٍ فَارْعَهَا فَإِنَّ الْمَعَاصِي تُزِيلُ النِّعَمَ Apabila kamu berada dalam kenikmatan, maka jagalah (dengan menghindari kemaksiatan). Karena kemaksiatan dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. فما حُفظت نعمة الله بشيءٍ قط مثل طاعته، ولا حصلت فيها الزيادة بمثل شُكره، ولا زالت عن العبد بمثل معصيته لربه، فإنها نار النعم التي تعمل فيها كما تعمل النار في الحطب اليابس[بدائع الفوائد، ج 2/ 432]. Tidak ada hal yang dapat menjaga nikmat Allah yang lebih baik daripada amal ketaatan kepada-Nya. Tidak ada hal yang dapat menambah nikmat itu yang lebih baik daripada mensyukurinya. Tidak ada hal yang dapat melenyapkan nikmat itu dari seseorang yang melebihi kemaksiatan terhadap Tuhannya, karena kemaksiatan dapat membakar kenikmatan, sebagaimana api yang membakar kayu kering.” (Kitab Badai’ al-Fawaid jilid 2 hlm. 432). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 467 times, 1 visit(s) today Post Views: 579 QRIS donasi Yufid

Penghalang-Penghalang Keberkahan (Bagian 1)

موانع البركة Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله ربِّ العالمين، سبحانه سبحانه، سبحان الذي في السماء عرشُه، سبحان الذي في الأرض حكمُه، سبحان الذي في القبر قضاؤُه، سبحان الذي في البحر سبيلُه، سبحانه في النار سلطانُه، سبحان الذي في الجنة رحمتُه، سبحان الذي في القيامة عدلُه، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، شهادة مَن قال ربي الله ثم استقام، تقرَّب لعباده برأفته ورحمته، ونوَّر قلوبَ عباده بهدايته، سبحان مَن ملأ الوجودَ أدلةً ليلوح ما أَخفى بما أبداه  سبحان مَن ظهَر الجميعُ بنوره فيه يرى أشياءَ من صفَّاه  سبحان مَن أحيا قلوبَ عباده بلوائحَ مِن فيضِ نورِ هُداه  وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا، عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه. والله ما في الخلق مثلُ محمدٍ في الفضل والجُود والأخلاقِ  فهو النبيُّ الهاشمي المصطفى مِن خِيرةِ الأنساب مِن عَدنانِ  لو حاوَل الشعراءُ وصفَ محمدٍ وأَتَوْا بأشعارٍ مِن الأوزانِ  ماذا يقول الواصفون لأحمدٍ بعدَ الذي جاء في القرآنِ وعلى آله وأصحابه، ومَن سار على نهجه وتمسَّك بسُنته، واقتدى بهدْيه، واتَّبعهم بإحسان إلى يوم الدين ونحن معهم يا أرحم الراحمين. Segala puji hanya bagi Allah. Maha Suci Allah yang Arsy-Nya berada di langit. Maha Suci Allah yang ketetapan-Nya ada di bumi. Maha Suci Allah yang keputusan-Nya ada di alam kubur. Maha Suci Allah yang memiliki jalan di lautan. Maha Suci Allah yang kekuasaan-Nya ada di neraka. Maha Suci Allah yang rahmat-Nya ada di surga. Dan Maha Suci Allah yang keadilan-Nya ada di hari Kiamat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, seluruh kekuasaan milik-Nya dan segala pujian milik-Nya, Dia Maha Kuasa atas segalanya: seperti kesaksian orang yang berkata “Tuhanku adalah Allah!” lalu ia teguh di atasnya. Dia mendekat kepada para hamba-Nya dengan kelembutan dan rahmat-Nya, dan menyinari hati mereka dengan hidayah-Nya. سُبْحَانَ مَنْ مَلَأَ الْوُجُودَ أَدِلَّةً لِيَلُوحَ مَا أَخْفَى بِمَا أَبْدَاهُ Maha Suci Dzat Yang memenuhi alam semesta dengan bukti-bukti Untuk menampakkan apa yang tersembunyi سُبْحَانَ مَنْ ظَهَرَ الْجَمِيْعُ بِنُورِهِ فِيْهِ يَرَى أَشْيَاءَ مَنْ صَفَّاه Maha Suci Dzat Yang segalanya tampak berkat cahaya-Nya Dengan cahaya itu, orang yang Dia pilih dapat melihat segalanya سُبْحَانَ مَنْ أَحْيَا قُلُوبَ عِبَادِهِ بِلَوَائِحَ مِنْ فَيْضِ نُورِ هُدَاه Maha Suci Dzat Yang menghidupkan hati para hamba-Nya Dengan pancaran cahaya petunjuk-Nya Saya juga bersaksi bahwa kekasih, pemimpin, dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad adalah hamba, rasul, makhluk pilihan, dan kekasih -Nya. وَاللهِ مَا فِي الْخَلْقِ مِثْلُ مُحَمَّدٍ فِي الْفَضْلِ وَالجُودِ وَالْأَخْلَاقِ  Demi Allah tidak ada makhluk yang semisal Muhammad Dari sisi keutamaan, kemuliaan, dan akhlak فَهُوَ النَّبِيُّ الْهَاشِمِيُّ الْمُصْطَفَى مِنْ خِيْرَةِ الْأَنْسَابِ مِنْ عَدْنَانِ  Dia Nabi dari bani Hasyim yang terpilih Dari Nasab terbaik bani Adnan لَو حَاوَلَ الشُّعَرَاءُ وَصْفَ مُحَمَّدٍ وَأَتَوْا بِأَشْعَارٍ مِنَ الْأَوْزَانِ  Andai para penyair berusaha menyifati Muhammad Dan membuat bait-bait yang berirama مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لِأَحْمَدٍ بَعْدَ الَّذِي جَاءَ فِي الْقُرْآنِ Apa yang akan disebutkan orang-orang yang menyifatinya Setelah apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an tentangnya Salawat dan salam itu semoga terlimpah juga kepada keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan di atas jalan hidupnya, berpegang teguh dengan sunnahnya, mengamalkan tuntunannya, dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat —dan semoga kita termasuk bersama mereka—, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. أخي المسلم، إن من الظواهر التي لَحظها أغلبُ الناس اليوم، واتَّفقت فيها كلمةُ أكثرهم؛ حتى لا يكاد يختلف فيها اثنان – قلةَ البركة في الأموال والأولاد، وعدم الانتفاع بالأرزاق والأبناء، حتى إن الرجل ليكون مرتَّبه عاليًا ودخله جيدًا، وأبناؤه عُصْبَة من الرجال الأقوياء الأشدَّاء، ثم تراه يقترض ويستدين، ويعيش في بيته وحيدًا أو مع زوجه العجوز، لا أحد من أبنائه يَحدب عليه أو يَلتفت إليه، ولربما دخل كثيرٌ من الناس السوق وجيبه مليء بالمال، فلا يخرج إلا وهو صفرُ اليدين، أو قد تحمَّل شيئًا من الدَّين، وعندما ينظر فيما أتى به من أغراض وحاجات لأهله، لا يجد إلا أشياء كمالية صغيرة، يحملها بين يديه بلا عناء، ولا تساوي ما أنفق فيها من مال. Saudara Muslimku! Di antara fenomena yang dicermati oleh mayoritas orang saat ini, dan sebagian besar mereka sepakat tentangnya—yang hampir-hampir tidak ada dua orang yang masih berselisih tentangnya— adalah sedikitnya keberkahan pada harta dan anak keturunan, dan tidak mendapat manfaat dari rezeki dan anaknya. Bahkan ada orang yang punya kedudukan tinggi, pendapatan yang besar, dan anak-anak yang kuat dan sehat, tapi ia justru terlilit utang dan hidup sebatang kara di rumahnya atau dengan pasangannya saja, tanpa ada satupun anaknya yang simpati kepadanya atau datang menjenguknya. Mungkin juga ada banyak orang yang masuk ke pasar dengan kantong penuh uang, tapi ketika ia pulang dengan tangan kosong atau bahkan menanggung utang. Lalu ketika ia melihat apa saja kebutuhan dan keperluan yang telah ia beli untuk keluarganya, ternyata ia hanya dapat membeli beberapa kebutuhan tersier yang remeh. Barang-barang itu ringan untuk dibawa, dan tidak setara dengan uang yang telah ia keluarkan. وإن هذا الأمر ليس قضية عارضة أو مسألة هيِّنة، بل هو في الواقع يشكِّل ظاهرة ملموسة وقضية محسوسة، ويُعد منحنًى خطيرًا في حياة المجتمع المسلم، يجب على كل فرد أن يَدرُسه ويتعرف أسبابه، ويبحث عن حله الناجح وعلاجه الناجع، فيأخذ به ويقي نفسه، لعل الله أن ينجيَه مما ابتُلي به غيرُه من الناس، أو مما قد يكون هو نفسه مبتلى به. Perkara ini bukanlah urusan sesaat atau masalah remeh. Namun di kehidupan nyata, hal ini menjadi fenomena yang sering terjadi, dan dirasakan banyak orang serta, menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat Muslim, sehingga setiap individu harus mempelajarinya dan mengenal sebab-sebabnya serta mencari jalan keluar yang benar dan solusi yang ampuh, lalu menerapkannya dan menjadikannya sebagai pelindung dirinya. Dengan demikian, semoga Allah menyelamatkannya dari ujian yang menimpa orang lain atau bahkan dirinya sendiri ini. أيها المسلمون، إننا يجب أن نعلِّق أنفسنا بهذا الدين العظيم الذي نَدين الله عز وجل به في كل أمورنا، يجب أن نرتبط به في جميع مناحي حياتنا، وأن ندرس تحت مظلته قضايانا، ونحل به مشكلاتنا، وأن نعلَم أننا مهما تمسَّكنا به وعضَضنا عليه بالنواجِذ، فلن نضل ولن نشقى بتوفيق الله، وأننا بقدر ما نبتعد عنه أو ننحرف عن صراطه المستقيم، أو نتخلَّى عن تعاليمه السمحة المباركة، أو نتهاون بها، فإننا نهوي إلى مكان مُوحِش سَحِيق، ونُلقي بأنفسنا في مجاهل من المستقبل المتردِّي الذي لا يعلم ما يكون عليه إلا الله. Wahai kaum Muslimin! Kita harus menyandarkan diri kita pada agama yang agung ini, yang menjadi jalan kita untuk berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap urusan. Kita harus terpaut dengannya dalam seluruh aspek kehidupan, mempelajari urusan-urusan kita di bawah naungannya, dan mencari solusi dari masalah-masalah kita dengannya. Kita harus memahami bahwa selama kita berpegang teguh dengannya, maka kita tidak akan tersesat dan sengsara berkat taufik dari Allah. Semakin kita menjauhi agama ini, berpaling dari jalannya yang lurus, meninggalkan ajaran-ajarannya yang toleran dan penuh berkah, atau meremehkannya, maka semakin dalam pula kita akan terperosok ke jurang antah berantah dan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam masa depan suram yang hanya Allah yang mengetahui rahasianya. فما الأسباب الماحقة المانعة للبركة؟ اعلَم علَّمني الله وإياك أن هناك جملة من الأسباب الممحقة للبركة نذكر منها: أولًا: الكفر بنعم الله تعالى: قال الله تعالى: ﴿ وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾ [النحل: 112]. قال بعض أهل العلم: «إن هذا مثلٌ ضربه الله لأهل مكة»، وهو رواية العوفي عن ابن عباس، وإليه ذهب مجاهد وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم، وحكاه مالك عن الزهري رحمهم الله، نقله عنهم ابن كثير وغيره. Apa saja hal-hal yang dapat melenyapkan dan menghalangi keberkahan? Ketahuilah —semoga Allah mengajarkan ilmu-Nya kepada kita— bahwa ada beberapa hal yang dapat melenyapkan keberkahan. Di antaranya adalah: Pertama: Mengingkari nikmat-nikmat Allah Ta’ala Allah Ta’ala berfirman: وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112). Seorang ulama mengatakan, “Ini merupakan perumpamaan yang Allah buat tentang para penduduk Makkah.” Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas, dan pendapat yang diambil oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Diriwayatkan pula oleh Malik dari Az-Zuhri Rahimahumullah. Hal ini diriwayatkan dari mereka oleh Ibnu Katsir dan lainnya. فهذه القرية كانت في أمن وخيرٍ وبركة، ولكنها كفرت بما أنعَم الله عليها، وتعدَّت حدوده، ولم تؤمن برسوله، فكان جزاؤها ما أخبر الله تعالى مَن تحوُّل الأمن إلى خوف، والنعمة الى جوع وضنك، وما ربك بظلام للعبيد؛ (﴿ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾، وأخذ قومها العذابُ وهم ظالمون، ويَجسم التعبير الجوع والخوف فيجعله لباسًا، ويجعلهم يذوقون هذا اللباس ذوقًا؛ لأن الذوق أعمق أثرًا في الحس من مساس اللباس للجلد، وتتداخل في التعبير استجابات الحواس، فتضاعف مس الجوع والخوف لهم ولذعه، وتأثيره وتغلغله في النفوس، لعلهم يشفقون من تلك العاقبة التي تنتظرهم لتأخذهم وهم ظالمون، وفي ظل هذا المثل الذي تخايل فيه النعمة والرزق، كما يخايل فيه المنع والحرمان، يأمرهم بالأكل مما أحلَّ لهم من الطيبات، وشُكر الله على نعمته إن كانوا يريدون أن يستقيموا على الإيمان الحق بالله، وأن يخلصوا له العبودية خالصة من الشرك الذي يوحي إليهم بتحريم بعض الطيبات على أنفسهم باسم الآلهة المدعاة). Penduduk negeri itu dulunya hidup dalam kedamaian, kebaikan, dan keberkahan. Namun, mereka mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan, melanggar aturan-aturan-Nya, dan tidak beriman dengan rasul-Nya, sehingga balasan bagi mereka sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan, berupa berubahnya kedamaian menjadi ketakutan dan kenikmatan menjadi kelaparan dan kesempitan, dan sungguh Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi para hamba-Nya. “Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Pada akhirnya azab merenggut para penduduknya yang zalim. Allah membuat gambaran “kelaparan dan ketakutan” begitu nyata dengan menggunakan ungkapan “pakaian”, dan membuat mereka merasakan pakaian ini, karena indra perasa lebih sensitif daripada yang dirasakan indra peraba yang ditimbulkan sentuhan pakaian terhadap kulit, dan respons dari dua indra ini saling berkaitan, sehingga kelaparan dan ketakutan yang mereka rasakan berlipat ganda, dan lebih merasuk ke dalam jiwa, supaya mereka tersadar atas siksaan yang siap menimpa mereka jika masih saja berbuat kezaliman.  Melalui perumpamaan ini —yang di dalamnya tergambar kenikmatan dan rezeki, dan tergambar pula terhentinya nikmat dan rezeki tersebut— Allah memerintahkan mereka untuk memakan makanan yang halal dan baik, bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya jika mereka ingin agar tetap berada di atas keimanan yang tulus kepada Allah, dan mengikhlaskan kepada-Nya ibadah yang suci dari kesyirikan yang menginspirasi mereka untuk mengharamkan beberapa makanan halal atas nama tuhan-tuhan yang mereka klaim. وهناك مثالٌ آخر في القرآن ضرَبه الله عز وجل لقوم أغدق الله عليهم النعم، وعاشوا في نعيم ورفاهية، ولكنهم لم يَشكُروا تلك النعم، بل بطَروا وكفروا النعمة، إنهم قوم سبأ؛ يقول الله تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ ﴾ [سبأ: 15 – 21]. Terdapat perumpamaan lain dalam Al-Qur’an yang Allah ‘Azza wa Jalla buat tentang kaum yang Allah beri keberlimpahan nikmat dan hidup dalam kemewahan, tapi mereka enggan bersyukur atas nikmat-nikmat itu, dan justru menyangkal dan mengingkarinya. Mereka adalah kaum Saba’. Allah Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ  Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka), “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon atsal (sejenis cemara) dan sedikit pohon bidara.  Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur. Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (mereka) menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur. Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin. Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. Saba’: 15-21). يقول ابن القيم: ومن تأمَّل ما قص الله تعالى في كتابه من أحوال الأمم الذين أزال نعمه عنهم، وجد سبب ذلك جميعه إنما هو مخالفة أمره وعصيان رسله، وكذلك من نظر في أحوال أهل عصره، وما أزال الله عنهم من نعمه، وجد ذلك كله من سوء عواقب الذنوب كما قيل. إذا كنتَ في نِعمةٍ فارْعَها فإن المعاصي تُزيل النعم Ibnu al-Qayyim berkata, “Barang siapa yang mencermati apa yang telah Allah Ta’ala kisahkan dalam Kitab-Nya berupa keadaan kaum-kaum yang nikmat-nikmat-Nya Dia cabut dari mereka, maka ia akan mendapatkan sebab itu semua adalah menyelisihi perintah-Nya dan membangkang terhadap para rasul-Nya. Demikian juga orang yang memperhatikan keadaan orang-orang di zamannya dan hal yang menyebabkan Allah mencabut nikmat-nikmat-Nya dari mereka, ia akan mendapati bahwa itu semua akibat buruk dari dosa-dosa mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam bait syair: إِذَا كُنْتَ فِي نِعْمَةٍ فَارْعَهَا فَإِنَّ الْمَعَاصِي تُزِيلُ النِّعَمَ Apabila kamu berada dalam kenikmatan, maka jagalah (dengan menghindari kemaksiatan). Karena kemaksiatan dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. فما حُفظت نعمة الله بشيءٍ قط مثل طاعته، ولا حصلت فيها الزيادة بمثل شُكره، ولا زالت عن العبد بمثل معصيته لربه، فإنها نار النعم التي تعمل فيها كما تعمل النار في الحطب اليابس[بدائع الفوائد، ج 2/ 432]. Tidak ada hal yang dapat menjaga nikmat Allah yang lebih baik daripada amal ketaatan kepada-Nya. Tidak ada hal yang dapat menambah nikmat itu yang lebih baik daripada mensyukurinya. Tidak ada hal yang dapat melenyapkan nikmat itu dari seseorang yang melebihi kemaksiatan terhadap Tuhannya, karena kemaksiatan dapat membakar kenikmatan, sebagaimana api yang membakar kayu kering.” (Kitab Badai’ al-Fawaid jilid 2 hlm. 432). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 467 times, 1 visit(s) today Post Views: 579 QRIS donasi Yufid
موانع البركة Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله ربِّ العالمين، سبحانه سبحانه، سبحان الذي في السماء عرشُه، سبحان الذي في الأرض حكمُه، سبحان الذي في القبر قضاؤُه، سبحان الذي في البحر سبيلُه، سبحانه في النار سلطانُه، سبحان الذي في الجنة رحمتُه، سبحان الذي في القيامة عدلُه، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، شهادة مَن قال ربي الله ثم استقام، تقرَّب لعباده برأفته ورحمته، ونوَّر قلوبَ عباده بهدايته، سبحان مَن ملأ الوجودَ أدلةً ليلوح ما أَخفى بما أبداه  سبحان مَن ظهَر الجميعُ بنوره فيه يرى أشياءَ من صفَّاه  سبحان مَن أحيا قلوبَ عباده بلوائحَ مِن فيضِ نورِ هُداه  وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا، عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه. والله ما في الخلق مثلُ محمدٍ في الفضل والجُود والأخلاقِ  فهو النبيُّ الهاشمي المصطفى مِن خِيرةِ الأنساب مِن عَدنانِ  لو حاوَل الشعراءُ وصفَ محمدٍ وأَتَوْا بأشعارٍ مِن الأوزانِ  ماذا يقول الواصفون لأحمدٍ بعدَ الذي جاء في القرآنِ وعلى آله وأصحابه، ومَن سار على نهجه وتمسَّك بسُنته، واقتدى بهدْيه، واتَّبعهم بإحسان إلى يوم الدين ونحن معهم يا أرحم الراحمين. Segala puji hanya bagi Allah. Maha Suci Allah yang Arsy-Nya berada di langit. Maha Suci Allah yang ketetapan-Nya ada di bumi. Maha Suci Allah yang keputusan-Nya ada di alam kubur. Maha Suci Allah yang memiliki jalan di lautan. Maha Suci Allah yang kekuasaan-Nya ada di neraka. Maha Suci Allah yang rahmat-Nya ada di surga. Dan Maha Suci Allah yang keadilan-Nya ada di hari Kiamat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, seluruh kekuasaan milik-Nya dan segala pujian milik-Nya, Dia Maha Kuasa atas segalanya: seperti kesaksian orang yang berkata “Tuhanku adalah Allah!” lalu ia teguh di atasnya. Dia mendekat kepada para hamba-Nya dengan kelembutan dan rahmat-Nya, dan menyinari hati mereka dengan hidayah-Nya. سُبْحَانَ مَنْ مَلَأَ الْوُجُودَ أَدِلَّةً لِيَلُوحَ مَا أَخْفَى بِمَا أَبْدَاهُ Maha Suci Dzat Yang memenuhi alam semesta dengan bukti-bukti Untuk menampakkan apa yang tersembunyi سُبْحَانَ مَنْ ظَهَرَ الْجَمِيْعُ بِنُورِهِ فِيْهِ يَرَى أَشْيَاءَ مَنْ صَفَّاه Maha Suci Dzat Yang segalanya tampak berkat cahaya-Nya Dengan cahaya itu, orang yang Dia pilih dapat melihat segalanya سُبْحَانَ مَنْ أَحْيَا قُلُوبَ عِبَادِهِ بِلَوَائِحَ مِنْ فَيْضِ نُورِ هُدَاه Maha Suci Dzat Yang menghidupkan hati para hamba-Nya Dengan pancaran cahaya petunjuk-Nya Saya juga bersaksi bahwa kekasih, pemimpin, dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad adalah hamba, rasul, makhluk pilihan, dan kekasih -Nya. وَاللهِ مَا فِي الْخَلْقِ مِثْلُ مُحَمَّدٍ فِي الْفَضْلِ وَالجُودِ وَالْأَخْلَاقِ  Demi Allah tidak ada makhluk yang semisal Muhammad Dari sisi keutamaan, kemuliaan, dan akhlak فَهُوَ النَّبِيُّ الْهَاشِمِيُّ الْمُصْطَفَى مِنْ خِيْرَةِ الْأَنْسَابِ مِنْ عَدْنَانِ  Dia Nabi dari bani Hasyim yang terpilih Dari Nasab terbaik bani Adnan لَو حَاوَلَ الشُّعَرَاءُ وَصْفَ مُحَمَّدٍ وَأَتَوْا بِأَشْعَارٍ مِنَ الْأَوْزَانِ  Andai para penyair berusaha menyifati Muhammad Dan membuat bait-bait yang berirama مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لِأَحْمَدٍ بَعْدَ الَّذِي جَاءَ فِي الْقُرْآنِ Apa yang akan disebutkan orang-orang yang menyifatinya Setelah apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an tentangnya Salawat dan salam itu semoga terlimpah juga kepada keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan di atas jalan hidupnya, berpegang teguh dengan sunnahnya, mengamalkan tuntunannya, dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat —dan semoga kita termasuk bersama mereka—, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. أخي المسلم، إن من الظواهر التي لَحظها أغلبُ الناس اليوم، واتَّفقت فيها كلمةُ أكثرهم؛ حتى لا يكاد يختلف فيها اثنان – قلةَ البركة في الأموال والأولاد، وعدم الانتفاع بالأرزاق والأبناء، حتى إن الرجل ليكون مرتَّبه عاليًا ودخله جيدًا، وأبناؤه عُصْبَة من الرجال الأقوياء الأشدَّاء، ثم تراه يقترض ويستدين، ويعيش في بيته وحيدًا أو مع زوجه العجوز، لا أحد من أبنائه يَحدب عليه أو يَلتفت إليه، ولربما دخل كثيرٌ من الناس السوق وجيبه مليء بالمال، فلا يخرج إلا وهو صفرُ اليدين، أو قد تحمَّل شيئًا من الدَّين، وعندما ينظر فيما أتى به من أغراض وحاجات لأهله، لا يجد إلا أشياء كمالية صغيرة، يحملها بين يديه بلا عناء، ولا تساوي ما أنفق فيها من مال. Saudara Muslimku! Di antara fenomena yang dicermati oleh mayoritas orang saat ini, dan sebagian besar mereka sepakat tentangnya—yang hampir-hampir tidak ada dua orang yang masih berselisih tentangnya— adalah sedikitnya keberkahan pada harta dan anak keturunan, dan tidak mendapat manfaat dari rezeki dan anaknya. Bahkan ada orang yang punya kedudukan tinggi, pendapatan yang besar, dan anak-anak yang kuat dan sehat, tapi ia justru terlilit utang dan hidup sebatang kara di rumahnya atau dengan pasangannya saja, tanpa ada satupun anaknya yang simpati kepadanya atau datang menjenguknya. Mungkin juga ada banyak orang yang masuk ke pasar dengan kantong penuh uang, tapi ketika ia pulang dengan tangan kosong atau bahkan menanggung utang. Lalu ketika ia melihat apa saja kebutuhan dan keperluan yang telah ia beli untuk keluarganya, ternyata ia hanya dapat membeli beberapa kebutuhan tersier yang remeh. Barang-barang itu ringan untuk dibawa, dan tidak setara dengan uang yang telah ia keluarkan. وإن هذا الأمر ليس قضية عارضة أو مسألة هيِّنة، بل هو في الواقع يشكِّل ظاهرة ملموسة وقضية محسوسة، ويُعد منحنًى خطيرًا في حياة المجتمع المسلم، يجب على كل فرد أن يَدرُسه ويتعرف أسبابه، ويبحث عن حله الناجح وعلاجه الناجع، فيأخذ به ويقي نفسه، لعل الله أن ينجيَه مما ابتُلي به غيرُه من الناس، أو مما قد يكون هو نفسه مبتلى به. Perkara ini bukanlah urusan sesaat atau masalah remeh. Namun di kehidupan nyata, hal ini menjadi fenomena yang sering terjadi, dan dirasakan banyak orang serta, menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat Muslim, sehingga setiap individu harus mempelajarinya dan mengenal sebab-sebabnya serta mencari jalan keluar yang benar dan solusi yang ampuh, lalu menerapkannya dan menjadikannya sebagai pelindung dirinya. Dengan demikian, semoga Allah menyelamatkannya dari ujian yang menimpa orang lain atau bahkan dirinya sendiri ini. أيها المسلمون، إننا يجب أن نعلِّق أنفسنا بهذا الدين العظيم الذي نَدين الله عز وجل به في كل أمورنا، يجب أن نرتبط به في جميع مناحي حياتنا، وأن ندرس تحت مظلته قضايانا، ونحل به مشكلاتنا، وأن نعلَم أننا مهما تمسَّكنا به وعضَضنا عليه بالنواجِذ، فلن نضل ولن نشقى بتوفيق الله، وأننا بقدر ما نبتعد عنه أو ننحرف عن صراطه المستقيم، أو نتخلَّى عن تعاليمه السمحة المباركة، أو نتهاون بها، فإننا نهوي إلى مكان مُوحِش سَحِيق، ونُلقي بأنفسنا في مجاهل من المستقبل المتردِّي الذي لا يعلم ما يكون عليه إلا الله. Wahai kaum Muslimin! Kita harus menyandarkan diri kita pada agama yang agung ini, yang menjadi jalan kita untuk berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap urusan. Kita harus terpaut dengannya dalam seluruh aspek kehidupan, mempelajari urusan-urusan kita di bawah naungannya, dan mencari solusi dari masalah-masalah kita dengannya. Kita harus memahami bahwa selama kita berpegang teguh dengannya, maka kita tidak akan tersesat dan sengsara berkat taufik dari Allah. Semakin kita menjauhi agama ini, berpaling dari jalannya yang lurus, meninggalkan ajaran-ajarannya yang toleran dan penuh berkah, atau meremehkannya, maka semakin dalam pula kita akan terperosok ke jurang antah berantah dan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam masa depan suram yang hanya Allah yang mengetahui rahasianya. فما الأسباب الماحقة المانعة للبركة؟ اعلَم علَّمني الله وإياك أن هناك جملة من الأسباب الممحقة للبركة نذكر منها: أولًا: الكفر بنعم الله تعالى: قال الله تعالى: ﴿ وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾ [النحل: 112]. قال بعض أهل العلم: «إن هذا مثلٌ ضربه الله لأهل مكة»، وهو رواية العوفي عن ابن عباس، وإليه ذهب مجاهد وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم، وحكاه مالك عن الزهري رحمهم الله، نقله عنهم ابن كثير وغيره. Apa saja hal-hal yang dapat melenyapkan dan menghalangi keberkahan? Ketahuilah —semoga Allah mengajarkan ilmu-Nya kepada kita— bahwa ada beberapa hal yang dapat melenyapkan keberkahan. Di antaranya adalah: Pertama: Mengingkari nikmat-nikmat Allah Ta’ala Allah Ta’ala berfirman: وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112). Seorang ulama mengatakan, “Ini merupakan perumpamaan yang Allah buat tentang para penduduk Makkah.” Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas, dan pendapat yang diambil oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Diriwayatkan pula oleh Malik dari Az-Zuhri Rahimahumullah. Hal ini diriwayatkan dari mereka oleh Ibnu Katsir dan lainnya. فهذه القرية كانت في أمن وخيرٍ وبركة، ولكنها كفرت بما أنعَم الله عليها، وتعدَّت حدوده، ولم تؤمن برسوله، فكان جزاؤها ما أخبر الله تعالى مَن تحوُّل الأمن إلى خوف، والنعمة الى جوع وضنك، وما ربك بظلام للعبيد؛ (﴿ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾، وأخذ قومها العذابُ وهم ظالمون، ويَجسم التعبير الجوع والخوف فيجعله لباسًا، ويجعلهم يذوقون هذا اللباس ذوقًا؛ لأن الذوق أعمق أثرًا في الحس من مساس اللباس للجلد، وتتداخل في التعبير استجابات الحواس، فتضاعف مس الجوع والخوف لهم ولذعه، وتأثيره وتغلغله في النفوس، لعلهم يشفقون من تلك العاقبة التي تنتظرهم لتأخذهم وهم ظالمون، وفي ظل هذا المثل الذي تخايل فيه النعمة والرزق، كما يخايل فيه المنع والحرمان، يأمرهم بالأكل مما أحلَّ لهم من الطيبات، وشُكر الله على نعمته إن كانوا يريدون أن يستقيموا على الإيمان الحق بالله، وأن يخلصوا له العبودية خالصة من الشرك الذي يوحي إليهم بتحريم بعض الطيبات على أنفسهم باسم الآلهة المدعاة). Penduduk negeri itu dulunya hidup dalam kedamaian, kebaikan, dan keberkahan. Namun, mereka mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan, melanggar aturan-aturan-Nya, dan tidak beriman dengan rasul-Nya, sehingga balasan bagi mereka sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan, berupa berubahnya kedamaian menjadi ketakutan dan kenikmatan menjadi kelaparan dan kesempitan, dan sungguh Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi para hamba-Nya. “Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Pada akhirnya azab merenggut para penduduknya yang zalim. Allah membuat gambaran “kelaparan dan ketakutan” begitu nyata dengan menggunakan ungkapan “pakaian”, dan membuat mereka merasakan pakaian ini, karena indra perasa lebih sensitif daripada yang dirasakan indra peraba yang ditimbulkan sentuhan pakaian terhadap kulit, dan respons dari dua indra ini saling berkaitan, sehingga kelaparan dan ketakutan yang mereka rasakan berlipat ganda, dan lebih merasuk ke dalam jiwa, supaya mereka tersadar atas siksaan yang siap menimpa mereka jika masih saja berbuat kezaliman.  Melalui perumpamaan ini —yang di dalamnya tergambar kenikmatan dan rezeki, dan tergambar pula terhentinya nikmat dan rezeki tersebut— Allah memerintahkan mereka untuk memakan makanan yang halal dan baik, bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya jika mereka ingin agar tetap berada di atas keimanan yang tulus kepada Allah, dan mengikhlaskan kepada-Nya ibadah yang suci dari kesyirikan yang menginspirasi mereka untuk mengharamkan beberapa makanan halal atas nama tuhan-tuhan yang mereka klaim. وهناك مثالٌ آخر في القرآن ضرَبه الله عز وجل لقوم أغدق الله عليهم النعم، وعاشوا في نعيم ورفاهية، ولكنهم لم يَشكُروا تلك النعم، بل بطَروا وكفروا النعمة، إنهم قوم سبأ؛ يقول الله تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ ﴾ [سبأ: 15 – 21]. Terdapat perumpamaan lain dalam Al-Qur’an yang Allah ‘Azza wa Jalla buat tentang kaum yang Allah beri keberlimpahan nikmat dan hidup dalam kemewahan, tapi mereka enggan bersyukur atas nikmat-nikmat itu, dan justru menyangkal dan mengingkarinya. Mereka adalah kaum Saba’. Allah Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ  Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka), “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon atsal (sejenis cemara) dan sedikit pohon bidara.  Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur. Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (mereka) menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur. Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin. Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. Saba’: 15-21). يقول ابن القيم: ومن تأمَّل ما قص الله تعالى في كتابه من أحوال الأمم الذين أزال نعمه عنهم، وجد سبب ذلك جميعه إنما هو مخالفة أمره وعصيان رسله، وكذلك من نظر في أحوال أهل عصره، وما أزال الله عنهم من نعمه، وجد ذلك كله من سوء عواقب الذنوب كما قيل. إذا كنتَ في نِعمةٍ فارْعَها فإن المعاصي تُزيل النعم Ibnu al-Qayyim berkata, “Barang siapa yang mencermati apa yang telah Allah Ta’ala kisahkan dalam Kitab-Nya berupa keadaan kaum-kaum yang nikmat-nikmat-Nya Dia cabut dari mereka, maka ia akan mendapatkan sebab itu semua adalah menyelisihi perintah-Nya dan membangkang terhadap para rasul-Nya. Demikian juga orang yang memperhatikan keadaan orang-orang di zamannya dan hal yang menyebabkan Allah mencabut nikmat-nikmat-Nya dari mereka, ia akan mendapati bahwa itu semua akibat buruk dari dosa-dosa mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam bait syair: إِذَا كُنْتَ فِي نِعْمَةٍ فَارْعَهَا فَإِنَّ الْمَعَاصِي تُزِيلُ النِّعَمَ Apabila kamu berada dalam kenikmatan, maka jagalah (dengan menghindari kemaksiatan). Karena kemaksiatan dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. فما حُفظت نعمة الله بشيءٍ قط مثل طاعته، ولا حصلت فيها الزيادة بمثل شُكره، ولا زالت عن العبد بمثل معصيته لربه، فإنها نار النعم التي تعمل فيها كما تعمل النار في الحطب اليابس[بدائع الفوائد، ج 2/ 432]. Tidak ada hal yang dapat menjaga nikmat Allah yang lebih baik daripada amal ketaatan kepada-Nya. Tidak ada hal yang dapat menambah nikmat itu yang lebih baik daripada mensyukurinya. Tidak ada hal yang dapat melenyapkan nikmat itu dari seseorang yang melebihi kemaksiatan terhadap Tuhannya, karena kemaksiatan dapat membakar kenikmatan, sebagaimana api yang membakar kayu kering.” (Kitab Badai’ al-Fawaid jilid 2 hlm. 432). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 467 times, 1 visit(s) today Post Views: 579 QRIS donasi Yufid


موانع البركة Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله ربِّ العالمين، سبحانه سبحانه، سبحان الذي في السماء عرشُه، سبحان الذي في الأرض حكمُه، سبحان الذي في القبر قضاؤُه، سبحان الذي في البحر سبيلُه، سبحانه في النار سلطانُه، سبحان الذي في الجنة رحمتُه، سبحان الذي في القيامة عدلُه، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، شهادة مَن قال ربي الله ثم استقام، تقرَّب لعباده برأفته ورحمته، ونوَّر قلوبَ عباده بهدايته، سبحان مَن ملأ الوجودَ أدلةً ليلوح ما أَخفى بما أبداه  سبحان مَن ظهَر الجميعُ بنوره فيه يرى أشياءَ من صفَّاه  سبحان مَن أحيا قلوبَ عباده بلوائحَ مِن فيضِ نورِ هُداه  وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا، عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه. والله ما في الخلق مثلُ محمدٍ في الفضل والجُود والأخلاقِ  فهو النبيُّ الهاشمي المصطفى مِن خِيرةِ الأنساب مِن عَدنانِ  لو حاوَل الشعراءُ وصفَ محمدٍ وأَتَوْا بأشعارٍ مِن الأوزانِ  ماذا يقول الواصفون لأحمدٍ بعدَ الذي جاء في القرآنِ وعلى آله وأصحابه، ومَن سار على نهجه وتمسَّك بسُنته، واقتدى بهدْيه، واتَّبعهم بإحسان إلى يوم الدين ونحن معهم يا أرحم الراحمين. Segala puji hanya bagi Allah. Maha Suci Allah yang Arsy-Nya berada di langit. Maha Suci Allah yang ketetapan-Nya ada di bumi. Maha Suci Allah yang keputusan-Nya ada di alam kubur. Maha Suci Allah yang memiliki jalan di lautan. Maha Suci Allah yang kekuasaan-Nya ada di neraka. Maha Suci Allah yang rahmat-Nya ada di surga. Dan Maha Suci Allah yang keadilan-Nya ada di hari Kiamat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, seluruh kekuasaan milik-Nya dan segala pujian milik-Nya, Dia Maha Kuasa atas segalanya: seperti kesaksian orang yang berkata “Tuhanku adalah Allah!” lalu ia teguh di atasnya. Dia mendekat kepada para hamba-Nya dengan kelembutan dan rahmat-Nya, dan menyinari hati mereka dengan hidayah-Nya. سُبْحَانَ مَنْ مَلَأَ الْوُجُودَ أَدِلَّةً لِيَلُوحَ مَا أَخْفَى بِمَا أَبْدَاهُ Maha Suci Dzat Yang memenuhi alam semesta dengan bukti-bukti Untuk menampakkan apa yang tersembunyi سُبْحَانَ مَنْ ظَهَرَ الْجَمِيْعُ بِنُورِهِ فِيْهِ يَرَى أَشْيَاءَ مَنْ صَفَّاه Maha Suci Dzat Yang segalanya tampak berkat cahaya-Nya Dengan cahaya itu, orang yang Dia pilih dapat melihat segalanya سُبْحَانَ مَنْ أَحْيَا قُلُوبَ عِبَادِهِ بِلَوَائِحَ مِنْ فَيْضِ نُورِ هُدَاه Maha Suci Dzat Yang menghidupkan hati para hamba-Nya Dengan pancaran cahaya petunjuk-Nya Saya juga bersaksi bahwa kekasih, pemimpin, dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad adalah hamba, rasul, makhluk pilihan, dan kekasih -Nya. وَاللهِ مَا فِي الْخَلْقِ مِثْلُ مُحَمَّدٍ فِي الْفَضْلِ وَالجُودِ وَالْأَخْلَاقِ  Demi Allah tidak ada makhluk yang semisal Muhammad Dari sisi keutamaan, kemuliaan, dan akhlak فَهُوَ النَّبِيُّ الْهَاشِمِيُّ الْمُصْطَفَى مِنْ خِيْرَةِ الْأَنْسَابِ مِنْ عَدْنَانِ  Dia Nabi dari bani Hasyim yang terpilih Dari Nasab terbaik bani Adnan لَو حَاوَلَ الشُّعَرَاءُ وَصْفَ مُحَمَّدٍ وَأَتَوْا بِأَشْعَارٍ مِنَ الْأَوْزَانِ  Andai para penyair berusaha menyifati Muhammad Dan membuat bait-bait yang berirama مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لِأَحْمَدٍ بَعْدَ الَّذِي جَاءَ فِي الْقُرْآنِ Apa yang akan disebutkan orang-orang yang menyifatinya Setelah apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an tentangnya Salawat dan salam itu semoga terlimpah juga kepada keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan di atas jalan hidupnya, berpegang teguh dengan sunnahnya, mengamalkan tuntunannya, dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat —dan semoga kita termasuk bersama mereka—, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. أخي المسلم، إن من الظواهر التي لَحظها أغلبُ الناس اليوم، واتَّفقت فيها كلمةُ أكثرهم؛ حتى لا يكاد يختلف فيها اثنان – قلةَ البركة في الأموال والأولاد، وعدم الانتفاع بالأرزاق والأبناء، حتى إن الرجل ليكون مرتَّبه عاليًا ودخله جيدًا، وأبناؤه عُصْبَة من الرجال الأقوياء الأشدَّاء، ثم تراه يقترض ويستدين، ويعيش في بيته وحيدًا أو مع زوجه العجوز، لا أحد من أبنائه يَحدب عليه أو يَلتفت إليه، ولربما دخل كثيرٌ من الناس السوق وجيبه مليء بالمال، فلا يخرج إلا وهو صفرُ اليدين، أو قد تحمَّل شيئًا من الدَّين، وعندما ينظر فيما أتى به من أغراض وحاجات لأهله، لا يجد إلا أشياء كمالية صغيرة، يحملها بين يديه بلا عناء، ولا تساوي ما أنفق فيها من مال. Saudara Muslimku! Di antara fenomena yang dicermati oleh mayoritas orang saat ini, dan sebagian besar mereka sepakat tentangnya—yang hampir-hampir tidak ada dua orang yang masih berselisih tentangnya— adalah sedikitnya keberkahan pada harta dan anak keturunan, dan tidak mendapat manfaat dari rezeki dan anaknya. Bahkan ada orang yang punya kedudukan tinggi, pendapatan yang besar, dan anak-anak yang kuat dan sehat, tapi ia justru terlilit utang dan hidup sebatang kara di rumahnya atau dengan pasangannya saja, tanpa ada satupun anaknya yang simpati kepadanya atau datang menjenguknya. Mungkin juga ada banyak orang yang masuk ke pasar dengan kantong penuh uang, tapi ketika ia pulang dengan tangan kosong atau bahkan menanggung utang. Lalu ketika ia melihat apa saja kebutuhan dan keperluan yang telah ia beli untuk keluarganya, ternyata ia hanya dapat membeli beberapa kebutuhan tersier yang remeh. Barang-barang itu ringan untuk dibawa, dan tidak setara dengan uang yang telah ia keluarkan. وإن هذا الأمر ليس قضية عارضة أو مسألة هيِّنة، بل هو في الواقع يشكِّل ظاهرة ملموسة وقضية محسوسة، ويُعد منحنًى خطيرًا في حياة المجتمع المسلم، يجب على كل فرد أن يَدرُسه ويتعرف أسبابه، ويبحث عن حله الناجح وعلاجه الناجع، فيأخذ به ويقي نفسه، لعل الله أن ينجيَه مما ابتُلي به غيرُه من الناس، أو مما قد يكون هو نفسه مبتلى به. Perkara ini bukanlah urusan sesaat atau masalah remeh. Namun di kehidupan nyata, hal ini menjadi fenomena yang sering terjadi, dan dirasakan banyak orang serta, menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat Muslim, sehingga setiap individu harus mempelajarinya dan mengenal sebab-sebabnya serta mencari jalan keluar yang benar dan solusi yang ampuh, lalu menerapkannya dan menjadikannya sebagai pelindung dirinya. Dengan demikian, semoga Allah menyelamatkannya dari ujian yang menimpa orang lain atau bahkan dirinya sendiri ini. أيها المسلمون، إننا يجب أن نعلِّق أنفسنا بهذا الدين العظيم الذي نَدين الله عز وجل به في كل أمورنا، يجب أن نرتبط به في جميع مناحي حياتنا، وأن ندرس تحت مظلته قضايانا، ونحل به مشكلاتنا، وأن نعلَم أننا مهما تمسَّكنا به وعضَضنا عليه بالنواجِذ، فلن نضل ولن نشقى بتوفيق الله، وأننا بقدر ما نبتعد عنه أو ننحرف عن صراطه المستقيم، أو نتخلَّى عن تعاليمه السمحة المباركة، أو نتهاون بها، فإننا نهوي إلى مكان مُوحِش سَحِيق، ونُلقي بأنفسنا في مجاهل من المستقبل المتردِّي الذي لا يعلم ما يكون عليه إلا الله. Wahai kaum Muslimin! Kita harus menyandarkan diri kita pada agama yang agung ini, yang menjadi jalan kita untuk berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap urusan. Kita harus terpaut dengannya dalam seluruh aspek kehidupan, mempelajari urusan-urusan kita di bawah naungannya, dan mencari solusi dari masalah-masalah kita dengannya. Kita harus memahami bahwa selama kita berpegang teguh dengannya, maka kita tidak akan tersesat dan sengsara berkat taufik dari Allah. Semakin kita menjauhi agama ini, berpaling dari jalannya yang lurus, meninggalkan ajaran-ajarannya yang toleran dan penuh berkah, atau meremehkannya, maka semakin dalam pula kita akan terperosok ke jurang antah berantah dan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam masa depan suram yang hanya Allah yang mengetahui rahasianya. فما الأسباب الماحقة المانعة للبركة؟ اعلَم علَّمني الله وإياك أن هناك جملة من الأسباب الممحقة للبركة نذكر منها: أولًا: الكفر بنعم الله تعالى: قال الله تعالى: ﴿ وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾ [النحل: 112]. قال بعض أهل العلم: «إن هذا مثلٌ ضربه الله لأهل مكة»، وهو رواية العوفي عن ابن عباس، وإليه ذهب مجاهد وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم، وحكاه مالك عن الزهري رحمهم الله، نقله عنهم ابن كثير وغيره. Apa saja hal-hal yang dapat melenyapkan dan menghalangi keberkahan? Ketahuilah —semoga Allah mengajarkan ilmu-Nya kepada kita— bahwa ada beberapa hal yang dapat melenyapkan keberkahan. Di antaranya adalah: Pertama: Mengingkari nikmat-nikmat Allah Ta’ala Allah Ta’ala berfirman: وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112). Seorang ulama mengatakan, “Ini merupakan perumpamaan yang Allah buat tentang para penduduk Makkah.” Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas, dan pendapat yang diambil oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Diriwayatkan pula oleh Malik dari Az-Zuhri Rahimahumullah. Hal ini diriwayatkan dari mereka oleh Ibnu Katsir dan lainnya. فهذه القرية كانت في أمن وخيرٍ وبركة، ولكنها كفرت بما أنعَم الله عليها، وتعدَّت حدوده، ولم تؤمن برسوله، فكان جزاؤها ما أخبر الله تعالى مَن تحوُّل الأمن إلى خوف، والنعمة الى جوع وضنك، وما ربك بظلام للعبيد؛ (﴿ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴾، وأخذ قومها العذابُ وهم ظالمون، ويَجسم التعبير الجوع والخوف فيجعله لباسًا، ويجعلهم يذوقون هذا اللباس ذوقًا؛ لأن الذوق أعمق أثرًا في الحس من مساس اللباس للجلد، وتتداخل في التعبير استجابات الحواس، فتضاعف مس الجوع والخوف لهم ولذعه، وتأثيره وتغلغله في النفوس، لعلهم يشفقون من تلك العاقبة التي تنتظرهم لتأخذهم وهم ظالمون، وفي ظل هذا المثل الذي تخايل فيه النعمة والرزق، كما يخايل فيه المنع والحرمان، يأمرهم بالأكل مما أحلَّ لهم من الطيبات، وشُكر الله على نعمته إن كانوا يريدون أن يستقيموا على الإيمان الحق بالله، وأن يخلصوا له العبودية خالصة من الشرك الذي يوحي إليهم بتحريم بعض الطيبات على أنفسهم باسم الآلهة المدعاة). Penduduk negeri itu dulunya hidup dalam kedamaian, kebaikan, dan keberkahan. Namun, mereka mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan, melanggar aturan-aturan-Nya, dan tidak beriman dengan rasul-Nya, sehingga balasan bagi mereka sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan, berupa berubahnya kedamaian menjadi ketakutan dan kenikmatan menjadi kelaparan dan kesempitan, dan sungguh Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi para hamba-Nya. “Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Pada akhirnya azab merenggut para penduduknya yang zalim. Allah membuat gambaran “kelaparan dan ketakutan” begitu nyata dengan menggunakan ungkapan “pakaian”, dan membuat mereka merasakan pakaian ini, karena indra perasa lebih sensitif daripada yang dirasakan indra peraba yang ditimbulkan sentuhan pakaian terhadap kulit, dan respons dari dua indra ini saling berkaitan, sehingga kelaparan dan ketakutan yang mereka rasakan berlipat ganda, dan lebih merasuk ke dalam jiwa, supaya mereka tersadar atas siksaan yang siap menimpa mereka jika masih saja berbuat kezaliman.  Melalui perumpamaan ini —yang di dalamnya tergambar kenikmatan dan rezeki, dan tergambar pula terhentinya nikmat dan rezeki tersebut— Allah memerintahkan mereka untuk memakan makanan yang halal dan baik, bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya jika mereka ingin agar tetap berada di atas keimanan yang tulus kepada Allah, dan mengikhlaskan kepada-Nya ibadah yang suci dari kesyirikan yang menginspirasi mereka untuk mengharamkan beberapa makanan halal atas nama tuhan-tuhan yang mereka klaim. وهناك مثالٌ آخر في القرآن ضرَبه الله عز وجل لقوم أغدق الله عليهم النعم، وعاشوا في نعيم ورفاهية، ولكنهم لم يَشكُروا تلك النعم، بل بطَروا وكفروا النعمة، إنهم قوم سبأ؛ يقول الله تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ ﴾ [سبأ: 15 – 21]. Terdapat perumpamaan lain dalam Al-Qur’an yang Allah ‘Azza wa Jalla buat tentang kaum yang Allah beri keberlimpahan nikmat dan hidup dalam kemewahan, tapi mereka enggan bersyukur atas nikmat-nikmat itu, dan justru menyangkal dan mengingkarinya. Mereka adalah kaum Saba’. Allah Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ * وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ * فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ * وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ * وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ  Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka), “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon atsal (sejenis cemara) dan sedikit pohon bidara.  Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur. Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (mereka) menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur. Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin. Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. Saba’: 15-21). يقول ابن القيم: ومن تأمَّل ما قص الله تعالى في كتابه من أحوال الأمم الذين أزال نعمه عنهم، وجد سبب ذلك جميعه إنما هو مخالفة أمره وعصيان رسله، وكذلك من نظر في أحوال أهل عصره، وما أزال الله عنهم من نعمه، وجد ذلك كله من سوء عواقب الذنوب كما قيل. إذا كنتَ في نِعمةٍ فارْعَها فإن المعاصي تُزيل النعم Ibnu al-Qayyim berkata, “Barang siapa yang mencermati apa yang telah Allah Ta’ala kisahkan dalam Kitab-Nya berupa keadaan kaum-kaum yang nikmat-nikmat-Nya Dia cabut dari mereka, maka ia akan mendapatkan sebab itu semua adalah menyelisihi perintah-Nya dan membangkang terhadap para rasul-Nya. Demikian juga orang yang memperhatikan keadaan orang-orang di zamannya dan hal yang menyebabkan Allah mencabut nikmat-nikmat-Nya dari mereka, ia akan mendapati bahwa itu semua akibat buruk dari dosa-dosa mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam bait syair: إِذَا كُنْتَ فِي نِعْمَةٍ فَارْعَهَا فَإِنَّ الْمَعَاصِي تُزِيلُ النِّعَمَ Apabila kamu berada dalam kenikmatan, maka jagalah (dengan menghindari kemaksiatan). Karena kemaksiatan dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. فما حُفظت نعمة الله بشيءٍ قط مثل طاعته، ولا حصلت فيها الزيادة بمثل شُكره، ولا زالت عن العبد بمثل معصيته لربه، فإنها نار النعم التي تعمل فيها كما تعمل النار في الحطب اليابس[بدائع الفوائد، ج 2/ 432]. Tidak ada hal yang dapat menjaga nikmat Allah yang lebih baik daripada amal ketaatan kepada-Nya. Tidak ada hal yang dapat menambah nikmat itu yang lebih baik daripada mensyukurinya. Tidak ada hal yang dapat melenyapkan nikmat itu dari seseorang yang melebihi kemaksiatan terhadap Tuhannya, karena kemaksiatan dapat membakar kenikmatan, sebagaimana api yang membakar kayu kering.” (Kitab Badai’ al-Fawaid jilid 2 hlm. 432). Sumber: https://www.alukah.net/موانع البركة Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 467 times, 1 visit(s) today Post Views: 579 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Esok, Kita Akan Bersyukur atas Masa-Masa Sulit di Hari Ini

Tentu ada masa-masa di saat kita berada dalam musibah, kesengsaraan, kepedihan, dan kesulitan. Menghadapi suatu masalah pelik yang kita sendiri tidak tahu, di manakah ujung kesudahannya. Hidup terasa gelap, kaki tidak tahu lagi ke mana harus melangkah, lalu kita pun mulai putus asa. Apalagi jika kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin yang bisa kita usahakan sebagai seorang manusia biasa.Asal engkau tahu, Allah tidak memerintahkan kita untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi. Akan tetapi, Dia memerintahkan kita untuk bersabar, bertahan, dan ber-husnuzhan (berbaik sangka kepada Allah). Kita diperintahkan untuk bersabar dan bertahan, berbaik sangka kepada-Nya bahwa Allah akan menurunkan pertolongan-Nya, baik cepat ataupun dalam waktu yang lama. Allah selesaikan kesulitan dan masalah kita dengan cara-Nya, tanpa pernah kita sangka dan duga.Dalam sebuah hadis qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau bersabar dan mengharap pahala (dari-Ku) saat pertama kali tertimpa musibah, maka Aku tidak meridai balasan bagimu selain surga.” (HR. Ibnu Majah no. 1597. Dinilai hasan oleh Al-Albani)Kesabaran adalah salah satu bentuk pertolongan yang Allah turunkan di masa-masa sulit—menguatkan diri kita, laksana batu karang yang tetap tegak meski diterjang ombak besar di tengah lautan. Ingatlah firman Allah Ta’ala,وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌۭ مُّسْتَضْعَفُونَ فِى ٱلْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ فَـَٔاوَىٰكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِۦ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan ingatlah ketika kamu masih sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kamu takut orang-orang akan menculikmu, lalu Dia melindungimu, menguatkanmu dengan pertolongan-Nya, dan memberi rezeki kepadamu dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)Di masa-masa sulit itu, perbanyaklah memohon ampunan (istigfar) kepada Allah. Karena tidaklah Allah menurunkan suatu musibah dan kesulitan, kecuali karena dosa dan kesalahan kita sendiri. Istigfar itu adalah di antara sebab Allah menghilangkan kesulitan dan bencana seorang hamba. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)Allah juga berfirman,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa membiasakan diri beristigfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819. Hadis ini dinilai dha’if oleh Al-Albani) [1]Kita pun meningkatkan tawakal kepada-Nya, hanya bergantung dan meminta tolong kepada Allah. Inilah kondisi manusia yang beriman, semakin tinggi tingkat kesulitan, semakin besar dan berkualitas pula tawakal dia kepada Allah Ta’ala. Dan di saat tawakal seorang hamba hanya murni kepada Allah, maka di situlah Allah turunkan pertolongan-Nya. Dengan kata lain, musibah kita hari ini adalah cara Allah mendidik kita, bagaimanakah tawakal yang benar. Jika selama ini kita hanya belajar teori melalui buku-buku agama, maka inilah saatnya praktik di kehidupan nyata.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya kepada Allah semata. Inilah hakikat tawakal kepada-Nya.Tawakal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 238)Lihatlah bagaimana Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah merintih, meminta tolong kepada Allah, Rabbnya,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانتَصِرْ“Nuh pun berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh aku telah disakiti (dikalahkan), maka tolonglah aku!’” (QS. Al-Qamar: 10)Doa yang ringkas, hanya tiga kata saja (dalam bahasa Arab), namun pengaruhnya sungguh dahsyat, seolah-olah mampu mengubah langit dan bumi.Oleh karena itu, janganlah berputus asa, mintalah kepada Tuhanmu, dengan perihmu, dengan sakitmu, dengan lemahmu, dengan resahmu, dan tunggulah kegembiraan dengan datangnya pertolongan Allah, Rabb Yang Maha mulia. Allah mengetahui dirimu kala engkau tersenyum dalam bahagia, dan Dia pun mengetahui isi hatimu saat engkau gundah dan terluka.Ingatlah, kesedihan yang membuatmu kembali dekat kepada Allah itu lebih baik daripada kesenangan yang membuatmu jauh dan lalai dari-Nya. Dengan musibah yang menimpamu, Allah hanya ingin engkau kembali mendekat kepada-Nya. Akan tetapi, yang terbaik adalah apabila kita senantiasa dekat kepada-Nya dalam setiap keadaan, baik di saat senang, saat susah, saat sedih, maupun saat bahagia.Kita pun melantunkan doa sebagaimana yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an,رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Wahai Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Teruslah belajar. Tetaplah bersabar. Jangan putus asa. Kemuliaan butuh perjuangan. Jangan tertipu oleh gemerlapnya dunia.Jika engkau ingin menyerah, lihat lagi ke belakang, sudah seberapa jauh engkau melangkah?Terahir, akan ada waktunya nanti kita akan menoleh ke belakang dan mengatakan kepada diri kita sendiri, “Alhamdulillah, ternyata aku bisa melewati semua ini.”Dan kita pun mulai menyaksikan hikmah-hikmah yang Allah tampakkan dari kesulitan yang dulu kita alami. Dan kita pun pada akhirnya bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, di masa-masa sulit itu.Renungkanlah untaian kalimat yang sangat indah ini,لَوْ عَلِمَ الْعَبْدُ مَقَاصِدَ الْأَقْدَارِلَبَكَى مِنْ سُوءِ ظَنِّهِ بِاللَّهِ“Andai seorang hamba itu tahu hikmah dari takdir-takdir (yang Allah tetapkan untuknya)Niscaya ia akan menangis karena telah berburuk sangka kepada Rabb-nya.”Dan jangan lupa kita senantiasa berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari keadaan yang berat dan kepedihan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ، وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa meminta perlindungan (kepada Allah) buruknya takdir, dari kesengsaraan yang terus-menerus, dari kegembiraan musuh atas musibah, dan dari beratnya cobaan.” (HR. Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707; lafal hadis ini milik Muslim)Baca juga: Mengapa Aku Sulit Bersyukur?***Unayzah, KSA; Jumat, 7 Safar 1447/ 1 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Meskipun dinilai dha’if karena kelemahan pada perawi, para ulama memperbolehkan mengamalkan hadis ini dalam konteks fadha’ilul a’mal (keutamaan amal) karena tidak bertentangan dengan syariat yang sahih, dan maknanya juga sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas. Wallahu Ta’ala a’lam.

Esok, Kita Akan Bersyukur atas Masa-Masa Sulit di Hari Ini

Tentu ada masa-masa di saat kita berada dalam musibah, kesengsaraan, kepedihan, dan kesulitan. Menghadapi suatu masalah pelik yang kita sendiri tidak tahu, di manakah ujung kesudahannya. Hidup terasa gelap, kaki tidak tahu lagi ke mana harus melangkah, lalu kita pun mulai putus asa. Apalagi jika kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin yang bisa kita usahakan sebagai seorang manusia biasa.Asal engkau tahu, Allah tidak memerintahkan kita untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi. Akan tetapi, Dia memerintahkan kita untuk bersabar, bertahan, dan ber-husnuzhan (berbaik sangka kepada Allah). Kita diperintahkan untuk bersabar dan bertahan, berbaik sangka kepada-Nya bahwa Allah akan menurunkan pertolongan-Nya, baik cepat ataupun dalam waktu yang lama. Allah selesaikan kesulitan dan masalah kita dengan cara-Nya, tanpa pernah kita sangka dan duga.Dalam sebuah hadis qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau bersabar dan mengharap pahala (dari-Ku) saat pertama kali tertimpa musibah, maka Aku tidak meridai balasan bagimu selain surga.” (HR. Ibnu Majah no. 1597. Dinilai hasan oleh Al-Albani)Kesabaran adalah salah satu bentuk pertolongan yang Allah turunkan di masa-masa sulit—menguatkan diri kita, laksana batu karang yang tetap tegak meski diterjang ombak besar di tengah lautan. Ingatlah firman Allah Ta’ala,وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌۭ مُّسْتَضْعَفُونَ فِى ٱلْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ فَـَٔاوَىٰكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِۦ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan ingatlah ketika kamu masih sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kamu takut orang-orang akan menculikmu, lalu Dia melindungimu, menguatkanmu dengan pertolongan-Nya, dan memberi rezeki kepadamu dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)Di masa-masa sulit itu, perbanyaklah memohon ampunan (istigfar) kepada Allah. Karena tidaklah Allah menurunkan suatu musibah dan kesulitan, kecuali karena dosa dan kesalahan kita sendiri. Istigfar itu adalah di antara sebab Allah menghilangkan kesulitan dan bencana seorang hamba. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)Allah juga berfirman,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa membiasakan diri beristigfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819. Hadis ini dinilai dha’if oleh Al-Albani) [1]Kita pun meningkatkan tawakal kepada-Nya, hanya bergantung dan meminta tolong kepada Allah. Inilah kondisi manusia yang beriman, semakin tinggi tingkat kesulitan, semakin besar dan berkualitas pula tawakal dia kepada Allah Ta’ala. Dan di saat tawakal seorang hamba hanya murni kepada Allah, maka di situlah Allah turunkan pertolongan-Nya. Dengan kata lain, musibah kita hari ini adalah cara Allah mendidik kita, bagaimanakah tawakal yang benar. Jika selama ini kita hanya belajar teori melalui buku-buku agama, maka inilah saatnya praktik di kehidupan nyata.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya kepada Allah semata. Inilah hakikat tawakal kepada-Nya.Tawakal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 238)Lihatlah bagaimana Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah merintih, meminta tolong kepada Allah, Rabbnya,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانتَصِرْ“Nuh pun berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh aku telah disakiti (dikalahkan), maka tolonglah aku!’” (QS. Al-Qamar: 10)Doa yang ringkas, hanya tiga kata saja (dalam bahasa Arab), namun pengaruhnya sungguh dahsyat, seolah-olah mampu mengubah langit dan bumi.Oleh karena itu, janganlah berputus asa, mintalah kepada Tuhanmu, dengan perihmu, dengan sakitmu, dengan lemahmu, dengan resahmu, dan tunggulah kegembiraan dengan datangnya pertolongan Allah, Rabb Yang Maha mulia. Allah mengetahui dirimu kala engkau tersenyum dalam bahagia, dan Dia pun mengetahui isi hatimu saat engkau gundah dan terluka.Ingatlah, kesedihan yang membuatmu kembali dekat kepada Allah itu lebih baik daripada kesenangan yang membuatmu jauh dan lalai dari-Nya. Dengan musibah yang menimpamu, Allah hanya ingin engkau kembali mendekat kepada-Nya. Akan tetapi, yang terbaik adalah apabila kita senantiasa dekat kepada-Nya dalam setiap keadaan, baik di saat senang, saat susah, saat sedih, maupun saat bahagia.Kita pun melantunkan doa sebagaimana yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an,رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Wahai Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Teruslah belajar. Tetaplah bersabar. Jangan putus asa. Kemuliaan butuh perjuangan. Jangan tertipu oleh gemerlapnya dunia.Jika engkau ingin menyerah, lihat lagi ke belakang, sudah seberapa jauh engkau melangkah?Terahir, akan ada waktunya nanti kita akan menoleh ke belakang dan mengatakan kepada diri kita sendiri, “Alhamdulillah, ternyata aku bisa melewati semua ini.”Dan kita pun mulai menyaksikan hikmah-hikmah yang Allah tampakkan dari kesulitan yang dulu kita alami. Dan kita pun pada akhirnya bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, di masa-masa sulit itu.Renungkanlah untaian kalimat yang sangat indah ini,لَوْ عَلِمَ الْعَبْدُ مَقَاصِدَ الْأَقْدَارِلَبَكَى مِنْ سُوءِ ظَنِّهِ بِاللَّهِ“Andai seorang hamba itu tahu hikmah dari takdir-takdir (yang Allah tetapkan untuknya)Niscaya ia akan menangis karena telah berburuk sangka kepada Rabb-nya.”Dan jangan lupa kita senantiasa berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari keadaan yang berat dan kepedihan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ، وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa meminta perlindungan (kepada Allah) buruknya takdir, dari kesengsaraan yang terus-menerus, dari kegembiraan musuh atas musibah, dan dari beratnya cobaan.” (HR. Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707; lafal hadis ini milik Muslim)Baca juga: Mengapa Aku Sulit Bersyukur?***Unayzah, KSA; Jumat, 7 Safar 1447/ 1 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Meskipun dinilai dha’if karena kelemahan pada perawi, para ulama memperbolehkan mengamalkan hadis ini dalam konteks fadha’ilul a’mal (keutamaan amal) karena tidak bertentangan dengan syariat yang sahih, dan maknanya juga sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas. Wallahu Ta’ala a’lam.
Tentu ada masa-masa di saat kita berada dalam musibah, kesengsaraan, kepedihan, dan kesulitan. Menghadapi suatu masalah pelik yang kita sendiri tidak tahu, di manakah ujung kesudahannya. Hidup terasa gelap, kaki tidak tahu lagi ke mana harus melangkah, lalu kita pun mulai putus asa. Apalagi jika kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin yang bisa kita usahakan sebagai seorang manusia biasa.Asal engkau tahu, Allah tidak memerintahkan kita untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi. Akan tetapi, Dia memerintahkan kita untuk bersabar, bertahan, dan ber-husnuzhan (berbaik sangka kepada Allah). Kita diperintahkan untuk bersabar dan bertahan, berbaik sangka kepada-Nya bahwa Allah akan menurunkan pertolongan-Nya, baik cepat ataupun dalam waktu yang lama. Allah selesaikan kesulitan dan masalah kita dengan cara-Nya, tanpa pernah kita sangka dan duga.Dalam sebuah hadis qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau bersabar dan mengharap pahala (dari-Ku) saat pertama kali tertimpa musibah, maka Aku tidak meridai balasan bagimu selain surga.” (HR. Ibnu Majah no. 1597. Dinilai hasan oleh Al-Albani)Kesabaran adalah salah satu bentuk pertolongan yang Allah turunkan di masa-masa sulit—menguatkan diri kita, laksana batu karang yang tetap tegak meski diterjang ombak besar di tengah lautan. Ingatlah firman Allah Ta’ala,وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌۭ مُّسْتَضْعَفُونَ فِى ٱلْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ فَـَٔاوَىٰكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِۦ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan ingatlah ketika kamu masih sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kamu takut orang-orang akan menculikmu, lalu Dia melindungimu, menguatkanmu dengan pertolongan-Nya, dan memberi rezeki kepadamu dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)Di masa-masa sulit itu, perbanyaklah memohon ampunan (istigfar) kepada Allah. Karena tidaklah Allah menurunkan suatu musibah dan kesulitan, kecuali karena dosa dan kesalahan kita sendiri. Istigfar itu adalah di antara sebab Allah menghilangkan kesulitan dan bencana seorang hamba. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)Allah juga berfirman,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa membiasakan diri beristigfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819. Hadis ini dinilai dha’if oleh Al-Albani) [1]Kita pun meningkatkan tawakal kepada-Nya, hanya bergantung dan meminta tolong kepada Allah. Inilah kondisi manusia yang beriman, semakin tinggi tingkat kesulitan, semakin besar dan berkualitas pula tawakal dia kepada Allah Ta’ala. Dan di saat tawakal seorang hamba hanya murni kepada Allah, maka di situlah Allah turunkan pertolongan-Nya. Dengan kata lain, musibah kita hari ini adalah cara Allah mendidik kita, bagaimanakah tawakal yang benar. Jika selama ini kita hanya belajar teori melalui buku-buku agama, maka inilah saatnya praktik di kehidupan nyata.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya kepada Allah semata. Inilah hakikat tawakal kepada-Nya.Tawakal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 238)Lihatlah bagaimana Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah merintih, meminta tolong kepada Allah, Rabbnya,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانتَصِرْ“Nuh pun berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh aku telah disakiti (dikalahkan), maka tolonglah aku!’” (QS. Al-Qamar: 10)Doa yang ringkas, hanya tiga kata saja (dalam bahasa Arab), namun pengaruhnya sungguh dahsyat, seolah-olah mampu mengubah langit dan bumi.Oleh karena itu, janganlah berputus asa, mintalah kepada Tuhanmu, dengan perihmu, dengan sakitmu, dengan lemahmu, dengan resahmu, dan tunggulah kegembiraan dengan datangnya pertolongan Allah, Rabb Yang Maha mulia. Allah mengetahui dirimu kala engkau tersenyum dalam bahagia, dan Dia pun mengetahui isi hatimu saat engkau gundah dan terluka.Ingatlah, kesedihan yang membuatmu kembali dekat kepada Allah itu lebih baik daripada kesenangan yang membuatmu jauh dan lalai dari-Nya. Dengan musibah yang menimpamu, Allah hanya ingin engkau kembali mendekat kepada-Nya. Akan tetapi, yang terbaik adalah apabila kita senantiasa dekat kepada-Nya dalam setiap keadaan, baik di saat senang, saat susah, saat sedih, maupun saat bahagia.Kita pun melantunkan doa sebagaimana yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an,رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Wahai Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Teruslah belajar. Tetaplah bersabar. Jangan putus asa. Kemuliaan butuh perjuangan. Jangan tertipu oleh gemerlapnya dunia.Jika engkau ingin menyerah, lihat lagi ke belakang, sudah seberapa jauh engkau melangkah?Terahir, akan ada waktunya nanti kita akan menoleh ke belakang dan mengatakan kepada diri kita sendiri, “Alhamdulillah, ternyata aku bisa melewati semua ini.”Dan kita pun mulai menyaksikan hikmah-hikmah yang Allah tampakkan dari kesulitan yang dulu kita alami. Dan kita pun pada akhirnya bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, di masa-masa sulit itu.Renungkanlah untaian kalimat yang sangat indah ini,لَوْ عَلِمَ الْعَبْدُ مَقَاصِدَ الْأَقْدَارِلَبَكَى مِنْ سُوءِ ظَنِّهِ بِاللَّهِ“Andai seorang hamba itu tahu hikmah dari takdir-takdir (yang Allah tetapkan untuknya)Niscaya ia akan menangis karena telah berburuk sangka kepada Rabb-nya.”Dan jangan lupa kita senantiasa berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari keadaan yang berat dan kepedihan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ، وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa meminta perlindungan (kepada Allah) buruknya takdir, dari kesengsaraan yang terus-menerus, dari kegembiraan musuh atas musibah, dan dari beratnya cobaan.” (HR. Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707; lafal hadis ini milik Muslim)Baca juga: Mengapa Aku Sulit Bersyukur?***Unayzah, KSA; Jumat, 7 Safar 1447/ 1 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Meskipun dinilai dha’if karena kelemahan pada perawi, para ulama memperbolehkan mengamalkan hadis ini dalam konteks fadha’ilul a’mal (keutamaan amal) karena tidak bertentangan dengan syariat yang sahih, dan maknanya juga sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas. Wallahu Ta’ala a’lam.


Tentu ada masa-masa di saat kita berada dalam musibah, kesengsaraan, kepedihan, dan kesulitan. Menghadapi suatu masalah pelik yang kita sendiri tidak tahu, di manakah ujung kesudahannya. Hidup terasa gelap, kaki tidak tahu lagi ke mana harus melangkah, lalu kita pun mulai putus asa. Apalagi jika kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin yang bisa kita usahakan sebagai seorang manusia biasa.Asal engkau tahu, Allah tidak memerintahkan kita untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi. Akan tetapi, Dia memerintahkan kita untuk bersabar, bertahan, dan ber-husnuzhan (berbaik sangka kepada Allah). Kita diperintahkan untuk bersabar dan bertahan, berbaik sangka kepada-Nya bahwa Allah akan menurunkan pertolongan-Nya, baik cepat ataupun dalam waktu yang lama. Allah selesaikan kesulitan dan masalah kita dengan cara-Nya, tanpa pernah kita sangka dan duga.Dalam sebuah hadis qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau bersabar dan mengharap pahala (dari-Ku) saat pertama kali tertimpa musibah, maka Aku tidak meridai balasan bagimu selain surga.” (HR. Ibnu Majah no. 1597. Dinilai hasan oleh Al-Albani)Kesabaran adalah salah satu bentuk pertolongan yang Allah turunkan di masa-masa sulit—menguatkan diri kita, laksana batu karang yang tetap tegak meski diterjang ombak besar di tengah lautan. Ingatlah firman Allah Ta’ala,وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌۭ مُّسْتَضْعَفُونَ فِى ٱلْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ فَـَٔاوَىٰكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِۦ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan ingatlah ketika kamu masih sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kamu takut orang-orang akan menculikmu, lalu Dia melindungimu, menguatkanmu dengan pertolongan-Nya, dan memberi rezeki kepadamu dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)Di masa-masa sulit itu, perbanyaklah memohon ampunan (istigfar) kepada Allah. Karena tidaklah Allah menurunkan suatu musibah dan kesulitan, kecuali karena dosa dan kesalahan kita sendiri. Istigfar itu adalah di antara sebab Allah menghilangkan kesulitan dan bencana seorang hamba. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)Allah juga berfirman,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa membiasakan diri beristigfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819. Hadis ini dinilai dha’if oleh Al-Albani) [1]Kita pun meningkatkan tawakal kepada-Nya, hanya bergantung dan meminta tolong kepada Allah. Inilah kondisi manusia yang beriman, semakin tinggi tingkat kesulitan, semakin besar dan berkualitas pula tawakal dia kepada Allah Ta’ala. Dan di saat tawakal seorang hamba hanya murni kepada Allah, maka di situlah Allah turunkan pertolongan-Nya. Dengan kata lain, musibah kita hari ini adalah cara Allah mendidik kita, bagaimanakah tawakal yang benar. Jika selama ini kita hanya belajar teori melalui buku-buku agama, maka inilah saatnya praktik di kehidupan nyata.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya kepada Allah semata. Inilah hakikat tawakal kepada-Nya.Tawakal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 238)Lihatlah bagaimana Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah merintih, meminta tolong kepada Allah, Rabbnya,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانتَصِرْ“Nuh pun berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh aku telah disakiti (dikalahkan), maka tolonglah aku!’” (QS. Al-Qamar: 10)Doa yang ringkas, hanya tiga kata saja (dalam bahasa Arab), namun pengaruhnya sungguh dahsyat, seolah-olah mampu mengubah langit dan bumi.Oleh karena itu, janganlah berputus asa, mintalah kepada Tuhanmu, dengan perihmu, dengan sakitmu, dengan lemahmu, dengan resahmu, dan tunggulah kegembiraan dengan datangnya pertolongan Allah, Rabb Yang Maha mulia. Allah mengetahui dirimu kala engkau tersenyum dalam bahagia, dan Dia pun mengetahui isi hatimu saat engkau gundah dan terluka.Ingatlah, kesedihan yang membuatmu kembali dekat kepada Allah itu lebih baik daripada kesenangan yang membuatmu jauh dan lalai dari-Nya. Dengan musibah yang menimpamu, Allah hanya ingin engkau kembali mendekat kepada-Nya. Akan tetapi, yang terbaik adalah apabila kita senantiasa dekat kepada-Nya dalam setiap keadaan, baik di saat senang, saat susah, saat sedih, maupun saat bahagia.Kita pun melantunkan doa sebagaimana yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an,رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Wahai Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Teruslah belajar. Tetaplah bersabar. Jangan putus asa. Kemuliaan butuh perjuangan. Jangan tertipu oleh gemerlapnya dunia.Jika engkau ingin menyerah, lihat lagi ke belakang, sudah seberapa jauh engkau melangkah?Terahir, akan ada waktunya nanti kita akan menoleh ke belakang dan mengatakan kepada diri kita sendiri, “Alhamdulillah, ternyata aku bisa melewati semua ini.”Dan kita pun mulai menyaksikan hikmah-hikmah yang Allah tampakkan dari kesulitan yang dulu kita alami. Dan kita pun pada akhirnya bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, di masa-masa sulit itu.Renungkanlah untaian kalimat yang sangat indah ini,لَوْ عَلِمَ الْعَبْدُ مَقَاصِدَ الْأَقْدَارِلَبَكَى مِنْ سُوءِ ظَنِّهِ بِاللَّهِ“Andai seorang hamba itu tahu hikmah dari takdir-takdir (yang Allah tetapkan untuknya)Niscaya ia akan menangis karena telah berburuk sangka kepada Rabb-nya.”Dan jangan lupa kita senantiasa berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari keadaan yang berat dan kepedihan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ، وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa meminta perlindungan (kepada Allah) buruknya takdir, dari kesengsaraan yang terus-menerus, dari kegembiraan musuh atas musibah, dan dari beratnya cobaan.” (HR. Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707; lafal hadis ini milik Muslim)Baca juga: Mengapa Aku Sulit Bersyukur?***Unayzah, KSA; Jumat, 7 Safar 1447/ 1 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Meskipun dinilai dha’if karena kelemahan pada perawi, para ulama memperbolehkan mengamalkan hadis ini dalam konteks fadha’ilul a’mal (keutamaan amal) karena tidak bertentangan dengan syariat yang sahih, dan maknanya juga sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas. Wallahu Ta’ala a’lam.

Iffah (Menjaga Kehormatan Diri); Keutamaan dan Jenis-Jenisnya (Bagian 2)

Oleh:  Dr. mahmud bin Ahmad ad-Dosari الخطبة الثانية الْحَمْدُ لِلَّهِ… أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ.. وَمِنْ أَهَمِّ أَنْوَاعِ الْعِفَّةِ: 1- كَفُّ الْفَرْجِ عَنِ الْحَرَامِ: أَعْظَمُ صُورَةٍ لِلْعَفَافِ عَنِ الْحَرَامِ – بَعْدَ تَيَسُّرِ أَسْبَابِهِ، وَزَوَالِ مَوَانِعِهِ – هِيَ قِصَّةُ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ؛ عِنْدَمَا هَيَّأَتْ لَهُ أَسْبَابَ الْفَاحِشَةِ، وَأَزَالَتِ الْمَوَانِعَ، وَسَهَّلَتْ أَسْبَابَ الْوُصُولِ إِلَيْهَا، إِلَّا أَنَّهَا قُوبِلَتْ بِجَوَابِ الْعَفِيفِ الطَّاهِرِ بِالِامْتِنَاعِ: ﴿ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [يُوسُفَ: 23]. وَكُلُّ مَنْ تَحَلَّى بِعِفَّةِ يُوسُفَ، أَمَامَ مُغْرِيَاتِ الْفِتَنِ وَتَيَسُّرِهَا؛ فَهُوَ مُبَشَّرٌ بِأَنْ يَكُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ عَرْشِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ…» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَلَا يَكُونُ الْمُتَعَفِّفُ عَنِ الْحَرَامِ عَفِيفًا إِلَّا بِشُرُوطٍ: أَلَّا يَكُونُ تَعَفُّفُهُ عَنِ الشَّيْءِ انْتِظَارًا لِأَكْثَرَ مِنْهُ، أَوْ لِأَنَّهُ لَا يُوَافِقُهُ، أَوْ لِجُمُودِ شَهْوَتِهِ، أَوْ لِاسْتِشْعَارِ خَوْفٍ مِنْ عَاقِبَتِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنْ تَنَاوُلِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ غَيْرُ عَارِفٍ بِهِ لِقُصُورِهِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لَيْسَ بِعِفَّةٍ[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص225)]. Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah. Wahai kaum Muslimin! Di antara bentuk sikap menjaga kehormatan diri adalah: 1. Menjaga kemaluan dari hal yang diharamkan Contoh terbesar dari sikap menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan —setelah terpenuhinya faktor-faktor pendukung dan lenyapnya faktor-faktor penghalang untuk melakukan perkara haram itu— adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan istri majikannya. Ketika wanita itu telah menyiapkan baginya segala faktor pendukung, menghilangkan segala faktor penghalang, dan memuluskan jalan untuk berbuat zina dengannya, tapi wanita tersebut mendapat jawaban penolakan dari sosok yang mulia dan suci ini.  “Perempuan —yang Yusuf tinggal di rumahnya— menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku!’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23). Setiap orang yang menghiasi dirinya dengan kehormatan diri seperti Nabi Yusuf di hadapan godaan berbagai fitnah dan kemudahan untuk menggapainya, adalah orang yang akan mendapat kabar gembira pada hari Kiamat kelak berupa naungan ‘arsy Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada Hari Kiamat dengan naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (di antaranya) laki-laki yang diajak oleh wanita terpandang dan cantik jelita untuk berzina dengan dirinya, lalu ia menjawab, ‘Aku takut kepada Allah!’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim). Seseorang tidak akan menjadi orang yang menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan kecuali dengan beberapa syarat: yaitu orang tersebut menjaga kehormatan dirinya bukan karena menunggu perkara haram yang lebih banyak, karena tidak selaras dengan dirinya, karena syahwatnya tidak tertarik terhadapnya, karena merasa takut dari akibat buruknya, karena ia tidak dapat melakukannya, atau karena ia tidak memahaminya, ini semua bukanlah bagian dari sifat menjaga kehormatan diri. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 225). 2- كَفُّ النَّفْسِ عَنِ التَّشَوُّفِ لِأَمْوَالِ النَّاسِ: فَقَدْ نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْ تَمَنِّي مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَى بَعْضِ عِبَادِهِ مِنْ أَنْوَاعِ النِّعَمِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ ﴾ [النِّسَاءِ: 32]، وَامْتَدَحَ الْفُقَرَاءَ الْمُتَعَفِّفِينَ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ، الَّذِينَ لَا يُظْهِرُونَ حَاجَتَهُمْ لِلنَّاسِ، وَلَا يَسْتَجْدُونَ عَطَاءً مِنْ أَحَدٍ: ﴿ لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ﴾ [الْبَقَرَةِ: 273]؛ فَالْجَاهِلُ بِأَمْرِهِمْ وَحَالِهِمْ يَحْسَبُهُمْ أَغْنِيَاءَ، مِنْ تَعَفُّفِهِمْ فِي لِبَاسِهِمْ وَحَالِهِمْ وَمَقَالِهِمْ؛ لِأَنَّهُمْ لَا يَلِحُّونَ فِي الْمَسْأَلَةِ، وَلَا يُكَلِّفُونَ النَّاسَ مَا لَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ، وَلَا يَعْرِفُهُمْ إِلَّا أَصْحَابُ الْفِرَاسَةِ[انظر: تفسير ابن كثير، (1/ 704)]، فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْمَسَاكِينُ الْمُسْتَحِقُّونَ لِلْمَعُونَةِ وَالْإِكْرَامِ، وَلَيْسَ الَّذِينَ يَطْرُقُونَ أَبْوَابَ النَّاسِ، وَيَسْأَلُونَهُمُ الْعَوْنَ، وَيَتَشَوَّفُونَ لِمَا فِي أَيْدِيهِمْ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ»، قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَلَمَّا جَاءَ أُنَاسٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ – مُعَلِّمًا وَمُرْشِدًا: «مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَلَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ الْوَاثِقِ بِفَضْلِ رَبِّهِ، الْمُتَعَفِّفِ عَنْ عَطَاءِ غَيْرِهِ، أَنْ يَشْكُوَ فَاقَتَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ» حَسَنٌ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. 2. Menahan diri dari ketertarikan terhadap harta orang lain Allah Ta’ala telah melarang kita dari mengharapkan apa yang telah dikaruniakan kepada sebagian hamba-Nya yang lain. Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain” (QS. An-Nisa: 32). Allah juga memuji orang-orang fakir yang menjaga kehormatan dirinya dari harta orang lain yang tidak menampakkan kekurangannya kepada orang lain dan tidak mengharap pemberian dari seorang pun. Allah Ta’ala berfirman: لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا “(Apapun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain” (QS. Al-Baqarah: 273). Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka akan mengira bahwa mereka itu orang-orang kaya, karena mereka menjaga kehormatan diri dalam berpakaian, keadaan, dan ucapan mereka, sebab mereka tidak meminta kepada orang lain dengan gigih, tidak membebani orang lain dengan apa yang tidak mereka butuhkan, dan mereka tidak akan dapat diketahui hakikat keadaannya kecuali oleh orang-orang yang berfirasat kuat. (Lihat: Kitab Tafsir Ibn Katsir jilid 1 hlm. 704). Mereka adalah orang-orang miskin yang layak mendapat bantuan dan penghormatan, bukan orang-orang yang mengetuk pintu rumah orang lain untuk mengemis bantuan dan mengharapkan harta yang dimiliki orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling untuk meminta-minta kepada orang lain, lalu ia diberi satu dua suap, atau satu dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “Lalu siapa itu orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang tidak punya orang kaya yang mencukupi kekurangannya, dan tidak dapat dikenali keadaannya sehingga dapat dibantu, serta tidak meminta apapun dari orang lain.” (HR. Muslim). Suatu ketika datang sekelompok orang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu mereka meminta kepada beliau, dan beliau pun memberi mereka. Lalu mereka meminta kepada beliau lagi, dan beliau pun memberi mereka, hingga habis apa yang beliau miliki. Kemudian beliau bersabda —sebagai pelajaran dan arahan bagi mereka—: مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Harta yang aku miliki tidak akan aku simpan sendiri dari kalian. Barang siapa yang memohon kehormatan diri, niscaya Allah akan menjadinya dapat menjaga kehormatan diri, barang siapa yang memohon kecukupan kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, dan barang siapa yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Tidaklah seseorang dikaruniai pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari). Tidak selayaknya bagi orang beriman yang percaya dengan karunia Tuhannya dan menjaga kehormatan dirinya dari menunggu pemberian orang lain untuk mengeluhkan kemiskinannya kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ “Barang siapa yang ditimpa kemiskinan, lalu ia mengeluhkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan dihentikan, dan barang siapa yang mengeluhkannya kepada Allah, maka Allah akan menjadikannya mendekati keberkecukupan, baik itu dengan kematian yang disegerakan, atau dengan keberkecukupan yang disegerakan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud). 3- كَفُّ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ: فَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْعِفَّةِ، وَلَا تَتِمُّ الْعِفَّةُ لِلْإِنْسَانِ حَتَّى يَكُونَ عَفِيفَ الْيَدِ، وَاللِّسَانِ، وَالسَّمْعِ، وَالْبَصَرِ؛ فَمَنْ عُدِمَ عِفَّةَ اللِّسَانِ: وَقَعَ فِي جُمْلَةٍ مِنَ الْكَبَائِرِ؛ كَالسُّخْرِيَةِ، وَالْغِيبَةِ، وَالْهَمْزِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالتَّنَابُزِ بِالْأَلْقَابِ! وَمَنْ عُدِمَهَا فِي الْبَصَرِ: مَدَّ عَيْنَهُ إِلَى الْمُحَرَّمَاتِ، وَزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الْمُوَلِّدَةِ لِلشَّهَوَاتِ الرَّدِيئَةِ، وَمَنْ عُدِمَهَا فِي السَّمْعِ: أَصْغَى لِسَمَاعِ الْقَبَائِحِ، وَمَا حَرَّمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. وَعِمَادُ عِفَّةِ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا: أَلَّا يُطْلِقَهَا صَاحِبُهَا فِي شَيْءٍ مِمَّا يَخْتَصُّ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، إِلَّا فِيمَا يُسَوِّغُهُ الْعَقْلُ وَالشَّرْعُ، دُونَ الشَّهْوَةِ وَالْهَوَى[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص224)]. وَقَدْ أَثْنَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْأَنْصَارِ؛ بِأَنَّهُمْ أَهْلُ عَفَافٍ وَصَبْرٍ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ ‌صُبُرٌ» صَحِيحٌ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ. 3. Menahan anggota badan dari dosa-dosa Ini merupakan sikap menjaga kehormatan diri yang paling sempurna. Seseorang tidak akan sempurna kehormatan dirinya, hingga ia dapat menjaga tangan, lisan, pendengaran, dan penglihatannya. Orang yang tidak punya kehormatan diri pada lisannya, ia akan terjerumus ke dalam beberapa dosa besar, seperti melecehkan orang lain, membicarakan keburukan orang lain, membisikkan kejelekan orang lain, menyebarkan aib orang lain, dan menyematkan sebutan-sebutan buruk bagi orang lain. Adapun orang yang tidak punya kehormatan diri pada penglihatannya, ia akan mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang haram dilihat, dan kenikmatan dunia yang melahirkan syahwat yang keji. Sedangkan orang yang tidak punya kehormatan diri pada pendengarannya, ia akan mendengarkan ucapan-ucapan buruk dan hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Kaidah dalam menjaga kehormatan anggota badan adalah dengan tidak menggunakan setiap anggota badan itu dalam hal yang berkaitan dengan masing-masing anggota badan kecuali dalam hal yang dibolehkan secara akal dan syariat, tanpa didasari syahwat dan hawa nafsu. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 224). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memuji kaum Anshar karena mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan senantiasa bersabar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ صُبُرٌ “Orang-orang Anshar adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan penyabar.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban). Sumber: https://www.alukah.net/عفة النفس: فضائلها وأنواعها (خطبة) Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 151 times, 1 visit(s) today Post Views: 364 QRIS donasi Yufid

Iffah (Menjaga Kehormatan Diri); Keutamaan dan Jenis-Jenisnya (Bagian 2)

Oleh:  Dr. mahmud bin Ahmad ad-Dosari الخطبة الثانية الْحَمْدُ لِلَّهِ… أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ.. وَمِنْ أَهَمِّ أَنْوَاعِ الْعِفَّةِ: 1- كَفُّ الْفَرْجِ عَنِ الْحَرَامِ: أَعْظَمُ صُورَةٍ لِلْعَفَافِ عَنِ الْحَرَامِ – بَعْدَ تَيَسُّرِ أَسْبَابِهِ، وَزَوَالِ مَوَانِعِهِ – هِيَ قِصَّةُ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ؛ عِنْدَمَا هَيَّأَتْ لَهُ أَسْبَابَ الْفَاحِشَةِ، وَأَزَالَتِ الْمَوَانِعَ، وَسَهَّلَتْ أَسْبَابَ الْوُصُولِ إِلَيْهَا، إِلَّا أَنَّهَا قُوبِلَتْ بِجَوَابِ الْعَفِيفِ الطَّاهِرِ بِالِامْتِنَاعِ: ﴿ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [يُوسُفَ: 23]. وَكُلُّ مَنْ تَحَلَّى بِعِفَّةِ يُوسُفَ، أَمَامَ مُغْرِيَاتِ الْفِتَنِ وَتَيَسُّرِهَا؛ فَهُوَ مُبَشَّرٌ بِأَنْ يَكُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ عَرْشِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ…» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَلَا يَكُونُ الْمُتَعَفِّفُ عَنِ الْحَرَامِ عَفِيفًا إِلَّا بِشُرُوطٍ: أَلَّا يَكُونُ تَعَفُّفُهُ عَنِ الشَّيْءِ انْتِظَارًا لِأَكْثَرَ مِنْهُ، أَوْ لِأَنَّهُ لَا يُوَافِقُهُ، أَوْ لِجُمُودِ شَهْوَتِهِ، أَوْ لِاسْتِشْعَارِ خَوْفٍ مِنْ عَاقِبَتِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنْ تَنَاوُلِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ غَيْرُ عَارِفٍ بِهِ لِقُصُورِهِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لَيْسَ بِعِفَّةٍ[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص225)]. Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah. Wahai kaum Muslimin! Di antara bentuk sikap menjaga kehormatan diri adalah: 1. Menjaga kemaluan dari hal yang diharamkan Contoh terbesar dari sikap menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan —setelah terpenuhinya faktor-faktor pendukung dan lenyapnya faktor-faktor penghalang untuk melakukan perkara haram itu— adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan istri majikannya. Ketika wanita itu telah menyiapkan baginya segala faktor pendukung, menghilangkan segala faktor penghalang, dan memuluskan jalan untuk berbuat zina dengannya, tapi wanita tersebut mendapat jawaban penolakan dari sosok yang mulia dan suci ini.  “Perempuan —yang Yusuf tinggal di rumahnya— menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku!’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23). Setiap orang yang menghiasi dirinya dengan kehormatan diri seperti Nabi Yusuf di hadapan godaan berbagai fitnah dan kemudahan untuk menggapainya, adalah orang yang akan mendapat kabar gembira pada hari Kiamat kelak berupa naungan ‘arsy Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada Hari Kiamat dengan naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (di antaranya) laki-laki yang diajak oleh wanita terpandang dan cantik jelita untuk berzina dengan dirinya, lalu ia menjawab, ‘Aku takut kepada Allah!’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim). Seseorang tidak akan menjadi orang yang menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan kecuali dengan beberapa syarat: yaitu orang tersebut menjaga kehormatan dirinya bukan karena menunggu perkara haram yang lebih banyak, karena tidak selaras dengan dirinya, karena syahwatnya tidak tertarik terhadapnya, karena merasa takut dari akibat buruknya, karena ia tidak dapat melakukannya, atau karena ia tidak memahaminya, ini semua bukanlah bagian dari sifat menjaga kehormatan diri. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 225). 2- كَفُّ النَّفْسِ عَنِ التَّشَوُّفِ لِأَمْوَالِ النَّاسِ: فَقَدْ نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْ تَمَنِّي مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَى بَعْضِ عِبَادِهِ مِنْ أَنْوَاعِ النِّعَمِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ ﴾ [النِّسَاءِ: 32]، وَامْتَدَحَ الْفُقَرَاءَ الْمُتَعَفِّفِينَ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ، الَّذِينَ لَا يُظْهِرُونَ حَاجَتَهُمْ لِلنَّاسِ، وَلَا يَسْتَجْدُونَ عَطَاءً مِنْ أَحَدٍ: ﴿ لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ﴾ [الْبَقَرَةِ: 273]؛ فَالْجَاهِلُ بِأَمْرِهِمْ وَحَالِهِمْ يَحْسَبُهُمْ أَغْنِيَاءَ، مِنْ تَعَفُّفِهِمْ فِي لِبَاسِهِمْ وَحَالِهِمْ وَمَقَالِهِمْ؛ لِأَنَّهُمْ لَا يَلِحُّونَ فِي الْمَسْأَلَةِ، وَلَا يُكَلِّفُونَ النَّاسَ مَا لَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ، وَلَا يَعْرِفُهُمْ إِلَّا أَصْحَابُ الْفِرَاسَةِ[انظر: تفسير ابن كثير، (1/ 704)]، فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْمَسَاكِينُ الْمُسْتَحِقُّونَ لِلْمَعُونَةِ وَالْإِكْرَامِ، وَلَيْسَ الَّذِينَ يَطْرُقُونَ أَبْوَابَ النَّاسِ، وَيَسْأَلُونَهُمُ الْعَوْنَ، وَيَتَشَوَّفُونَ لِمَا فِي أَيْدِيهِمْ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ»، قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَلَمَّا جَاءَ أُنَاسٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ – مُعَلِّمًا وَمُرْشِدًا: «مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَلَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ الْوَاثِقِ بِفَضْلِ رَبِّهِ، الْمُتَعَفِّفِ عَنْ عَطَاءِ غَيْرِهِ، أَنْ يَشْكُوَ فَاقَتَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ» حَسَنٌ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. 2. Menahan diri dari ketertarikan terhadap harta orang lain Allah Ta’ala telah melarang kita dari mengharapkan apa yang telah dikaruniakan kepada sebagian hamba-Nya yang lain. Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain” (QS. An-Nisa: 32). Allah juga memuji orang-orang fakir yang menjaga kehormatan dirinya dari harta orang lain yang tidak menampakkan kekurangannya kepada orang lain dan tidak mengharap pemberian dari seorang pun. Allah Ta’ala berfirman: لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا “(Apapun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain” (QS. Al-Baqarah: 273). Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka akan mengira bahwa mereka itu orang-orang kaya, karena mereka menjaga kehormatan diri dalam berpakaian, keadaan, dan ucapan mereka, sebab mereka tidak meminta kepada orang lain dengan gigih, tidak membebani orang lain dengan apa yang tidak mereka butuhkan, dan mereka tidak akan dapat diketahui hakikat keadaannya kecuali oleh orang-orang yang berfirasat kuat. (Lihat: Kitab Tafsir Ibn Katsir jilid 1 hlm. 704). Mereka adalah orang-orang miskin yang layak mendapat bantuan dan penghormatan, bukan orang-orang yang mengetuk pintu rumah orang lain untuk mengemis bantuan dan mengharapkan harta yang dimiliki orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling untuk meminta-minta kepada orang lain, lalu ia diberi satu dua suap, atau satu dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “Lalu siapa itu orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang tidak punya orang kaya yang mencukupi kekurangannya, dan tidak dapat dikenali keadaannya sehingga dapat dibantu, serta tidak meminta apapun dari orang lain.” (HR. Muslim). Suatu ketika datang sekelompok orang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu mereka meminta kepada beliau, dan beliau pun memberi mereka. Lalu mereka meminta kepada beliau lagi, dan beliau pun memberi mereka, hingga habis apa yang beliau miliki. Kemudian beliau bersabda —sebagai pelajaran dan arahan bagi mereka—: مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Harta yang aku miliki tidak akan aku simpan sendiri dari kalian. Barang siapa yang memohon kehormatan diri, niscaya Allah akan menjadinya dapat menjaga kehormatan diri, barang siapa yang memohon kecukupan kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, dan barang siapa yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Tidaklah seseorang dikaruniai pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari). Tidak selayaknya bagi orang beriman yang percaya dengan karunia Tuhannya dan menjaga kehormatan dirinya dari menunggu pemberian orang lain untuk mengeluhkan kemiskinannya kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ “Barang siapa yang ditimpa kemiskinan, lalu ia mengeluhkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan dihentikan, dan barang siapa yang mengeluhkannya kepada Allah, maka Allah akan menjadikannya mendekati keberkecukupan, baik itu dengan kematian yang disegerakan, atau dengan keberkecukupan yang disegerakan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud). 3- كَفُّ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ: فَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْعِفَّةِ، وَلَا تَتِمُّ الْعِفَّةُ لِلْإِنْسَانِ حَتَّى يَكُونَ عَفِيفَ الْيَدِ، وَاللِّسَانِ، وَالسَّمْعِ، وَالْبَصَرِ؛ فَمَنْ عُدِمَ عِفَّةَ اللِّسَانِ: وَقَعَ فِي جُمْلَةٍ مِنَ الْكَبَائِرِ؛ كَالسُّخْرِيَةِ، وَالْغِيبَةِ، وَالْهَمْزِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالتَّنَابُزِ بِالْأَلْقَابِ! وَمَنْ عُدِمَهَا فِي الْبَصَرِ: مَدَّ عَيْنَهُ إِلَى الْمُحَرَّمَاتِ، وَزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الْمُوَلِّدَةِ لِلشَّهَوَاتِ الرَّدِيئَةِ، وَمَنْ عُدِمَهَا فِي السَّمْعِ: أَصْغَى لِسَمَاعِ الْقَبَائِحِ، وَمَا حَرَّمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. وَعِمَادُ عِفَّةِ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا: أَلَّا يُطْلِقَهَا صَاحِبُهَا فِي شَيْءٍ مِمَّا يَخْتَصُّ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، إِلَّا فِيمَا يُسَوِّغُهُ الْعَقْلُ وَالشَّرْعُ، دُونَ الشَّهْوَةِ وَالْهَوَى[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص224)]. وَقَدْ أَثْنَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْأَنْصَارِ؛ بِأَنَّهُمْ أَهْلُ عَفَافٍ وَصَبْرٍ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ ‌صُبُرٌ» صَحِيحٌ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ. 3. Menahan anggota badan dari dosa-dosa Ini merupakan sikap menjaga kehormatan diri yang paling sempurna. Seseorang tidak akan sempurna kehormatan dirinya, hingga ia dapat menjaga tangan, lisan, pendengaran, dan penglihatannya. Orang yang tidak punya kehormatan diri pada lisannya, ia akan terjerumus ke dalam beberapa dosa besar, seperti melecehkan orang lain, membicarakan keburukan orang lain, membisikkan kejelekan orang lain, menyebarkan aib orang lain, dan menyematkan sebutan-sebutan buruk bagi orang lain. Adapun orang yang tidak punya kehormatan diri pada penglihatannya, ia akan mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang haram dilihat, dan kenikmatan dunia yang melahirkan syahwat yang keji. Sedangkan orang yang tidak punya kehormatan diri pada pendengarannya, ia akan mendengarkan ucapan-ucapan buruk dan hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Kaidah dalam menjaga kehormatan anggota badan adalah dengan tidak menggunakan setiap anggota badan itu dalam hal yang berkaitan dengan masing-masing anggota badan kecuali dalam hal yang dibolehkan secara akal dan syariat, tanpa didasari syahwat dan hawa nafsu. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 224). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memuji kaum Anshar karena mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan senantiasa bersabar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ صُبُرٌ “Orang-orang Anshar adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan penyabar.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban). Sumber: https://www.alukah.net/عفة النفس: فضائلها وأنواعها (خطبة) Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 151 times, 1 visit(s) today Post Views: 364 QRIS donasi Yufid
Oleh:  Dr. mahmud bin Ahmad ad-Dosari الخطبة الثانية الْحَمْدُ لِلَّهِ… أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ.. وَمِنْ أَهَمِّ أَنْوَاعِ الْعِفَّةِ: 1- كَفُّ الْفَرْجِ عَنِ الْحَرَامِ: أَعْظَمُ صُورَةٍ لِلْعَفَافِ عَنِ الْحَرَامِ – بَعْدَ تَيَسُّرِ أَسْبَابِهِ، وَزَوَالِ مَوَانِعِهِ – هِيَ قِصَّةُ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ؛ عِنْدَمَا هَيَّأَتْ لَهُ أَسْبَابَ الْفَاحِشَةِ، وَأَزَالَتِ الْمَوَانِعَ، وَسَهَّلَتْ أَسْبَابَ الْوُصُولِ إِلَيْهَا، إِلَّا أَنَّهَا قُوبِلَتْ بِجَوَابِ الْعَفِيفِ الطَّاهِرِ بِالِامْتِنَاعِ: ﴿ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [يُوسُفَ: 23]. وَكُلُّ مَنْ تَحَلَّى بِعِفَّةِ يُوسُفَ، أَمَامَ مُغْرِيَاتِ الْفِتَنِ وَتَيَسُّرِهَا؛ فَهُوَ مُبَشَّرٌ بِأَنْ يَكُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ عَرْشِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ…» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَلَا يَكُونُ الْمُتَعَفِّفُ عَنِ الْحَرَامِ عَفِيفًا إِلَّا بِشُرُوطٍ: أَلَّا يَكُونُ تَعَفُّفُهُ عَنِ الشَّيْءِ انْتِظَارًا لِأَكْثَرَ مِنْهُ، أَوْ لِأَنَّهُ لَا يُوَافِقُهُ، أَوْ لِجُمُودِ شَهْوَتِهِ، أَوْ لِاسْتِشْعَارِ خَوْفٍ مِنْ عَاقِبَتِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنْ تَنَاوُلِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ غَيْرُ عَارِفٍ بِهِ لِقُصُورِهِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لَيْسَ بِعِفَّةٍ[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص225)]. Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah. Wahai kaum Muslimin! Di antara bentuk sikap menjaga kehormatan diri adalah: 1. Menjaga kemaluan dari hal yang diharamkan Contoh terbesar dari sikap menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan —setelah terpenuhinya faktor-faktor pendukung dan lenyapnya faktor-faktor penghalang untuk melakukan perkara haram itu— adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan istri majikannya. Ketika wanita itu telah menyiapkan baginya segala faktor pendukung, menghilangkan segala faktor penghalang, dan memuluskan jalan untuk berbuat zina dengannya, tapi wanita tersebut mendapat jawaban penolakan dari sosok yang mulia dan suci ini.  “Perempuan —yang Yusuf tinggal di rumahnya— menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku!’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23). Setiap orang yang menghiasi dirinya dengan kehormatan diri seperti Nabi Yusuf di hadapan godaan berbagai fitnah dan kemudahan untuk menggapainya, adalah orang yang akan mendapat kabar gembira pada hari Kiamat kelak berupa naungan ‘arsy Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada Hari Kiamat dengan naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (di antaranya) laki-laki yang diajak oleh wanita terpandang dan cantik jelita untuk berzina dengan dirinya, lalu ia menjawab, ‘Aku takut kepada Allah!’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim). Seseorang tidak akan menjadi orang yang menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan kecuali dengan beberapa syarat: yaitu orang tersebut menjaga kehormatan dirinya bukan karena menunggu perkara haram yang lebih banyak, karena tidak selaras dengan dirinya, karena syahwatnya tidak tertarik terhadapnya, karena merasa takut dari akibat buruknya, karena ia tidak dapat melakukannya, atau karena ia tidak memahaminya, ini semua bukanlah bagian dari sifat menjaga kehormatan diri. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 225). 2- كَفُّ النَّفْسِ عَنِ التَّشَوُّفِ لِأَمْوَالِ النَّاسِ: فَقَدْ نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْ تَمَنِّي مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَى بَعْضِ عِبَادِهِ مِنْ أَنْوَاعِ النِّعَمِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ ﴾ [النِّسَاءِ: 32]، وَامْتَدَحَ الْفُقَرَاءَ الْمُتَعَفِّفِينَ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ، الَّذِينَ لَا يُظْهِرُونَ حَاجَتَهُمْ لِلنَّاسِ، وَلَا يَسْتَجْدُونَ عَطَاءً مِنْ أَحَدٍ: ﴿ لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ﴾ [الْبَقَرَةِ: 273]؛ فَالْجَاهِلُ بِأَمْرِهِمْ وَحَالِهِمْ يَحْسَبُهُمْ أَغْنِيَاءَ، مِنْ تَعَفُّفِهِمْ فِي لِبَاسِهِمْ وَحَالِهِمْ وَمَقَالِهِمْ؛ لِأَنَّهُمْ لَا يَلِحُّونَ فِي الْمَسْأَلَةِ، وَلَا يُكَلِّفُونَ النَّاسَ مَا لَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ، وَلَا يَعْرِفُهُمْ إِلَّا أَصْحَابُ الْفِرَاسَةِ[انظر: تفسير ابن كثير، (1/ 704)]، فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْمَسَاكِينُ الْمُسْتَحِقُّونَ لِلْمَعُونَةِ وَالْإِكْرَامِ، وَلَيْسَ الَّذِينَ يَطْرُقُونَ أَبْوَابَ النَّاسِ، وَيَسْأَلُونَهُمُ الْعَوْنَ، وَيَتَشَوَّفُونَ لِمَا فِي أَيْدِيهِمْ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ»، قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَلَمَّا جَاءَ أُنَاسٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ – مُعَلِّمًا وَمُرْشِدًا: «مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَلَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ الْوَاثِقِ بِفَضْلِ رَبِّهِ، الْمُتَعَفِّفِ عَنْ عَطَاءِ غَيْرِهِ، أَنْ يَشْكُوَ فَاقَتَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ» حَسَنٌ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. 2. Menahan diri dari ketertarikan terhadap harta orang lain Allah Ta’ala telah melarang kita dari mengharapkan apa yang telah dikaruniakan kepada sebagian hamba-Nya yang lain. Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain” (QS. An-Nisa: 32). Allah juga memuji orang-orang fakir yang menjaga kehormatan dirinya dari harta orang lain yang tidak menampakkan kekurangannya kepada orang lain dan tidak mengharap pemberian dari seorang pun. Allah Ta’ala berfirman: لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا “(Apapun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain” (QS. Al-Baqarah: 273). Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka akan mengira bahwa mereka itu orang-orang kaya, karena mereka menjaga kehormatan diri dalam berpakaian, keadaan, dan ucapan mereka, sebab mereka tidak meminta kepada orang lain dengan gigih, tidak membebani orang lain dengan apa yang tidak mereka butuhkan, dan mereka tidak akan dapat diketahui hakikat keadaannya kecuali oleh orang-orang yang berfirasat kuat. (Lihat: Kitab Tafsir Ibn Katsir jilid 1 hlm. 704). Mereka adalah orang-orang miskin yang layak mendapat bantuan dan penghormatan, bukan orang-orang yang mengetuk pintu rumah orang lain untuk mengemis bantuan dan mengharapkan harta yang dimiliki orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling untuk meminta-minta kepada orang lain, lalu ia diberi satu dua suap, atau satu dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “Lalu siapa itu orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang tidak punya orang kaya yang mencukupi kekurangannya, dan tidak dapat dikenali keadaannya sehingga dapat dibantu, serta tidak meminta apapun dari orang lain.” (HR. Muslim). Suatu ketika datang sekelompok orang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu mereka meminta kepada beliau, dan beliau pun memberi mereka. Lalu mereka meminta kepada beliau lagi, dan beliau pun memberi mereka, hingga habis apa yang beliau miliki. Kemudian beliau bersabda —sebagai pelajaran dan arahan bagi mereka—: مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Harta yang aku miliki tidak akan aku simpan sendiri dari kalian. Barang siapa yang memohon kehormatan diri, niscaya Allah akan menjadinya dapat menjaga kehormatan diri, barang siapa yang memohon kecukupan kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, dan barang siapa yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Tidaklah seseorang dikaruniai pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari). Tidak selayaknya bagi orang beriman yang percaya dengan karunia Tuhannya dan menjaga kehormatan dirinya dari menunggu pemberian orang lain untuk mengeluhkan kemiskinannya kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ “Barang siapa yang ditimpa kemiskinan, lalu ia mengeluhkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan dihentikan, dan barang siapa yang mengeluhkannya kepada Allah, maka Allah akan menjadikannya mendekati keberkecukupan, baik itu dengan kematian yang disegerakan, atau dengan keberkecukupan yang disegerakan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud). 3- كَفُّ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ: فَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْعِفَّةِ، وَلَا تَتِمُّ الْعِفَّةُ لِلْإِنْسَانِ حَتَّى يَكُونَ عَفِيفَ الْيَدِ، وَاللِّسَانِ، وَالسَّمْعِ، وَالْبَصَرِ؛ فَمَنْ عُدِمَ عِفَّةَ اللِّسَانِ: وَقَعَ فِي جُمْلَةٍ مِنَ الْكَبَائِرِ؛ كَالسُّخْرِيَةِ، وَالْغِيبَةِ، وَالْهَمْزِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالتَّنَابُزِ بِالْأَلْقَابِ! وَمَنْ عُدِمَهَا فِي الْبَصَرِ: مَدَّ عَيْنَهُ إِلَى الْمُحَرَّمَاتِ، وَزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الْمُوَلِّدَةِ لِلشَّهَوَاتِ الرَّدِيئَةِ، وَمَنْ عُدِمَهَا فِي السَّمْعِ: أَصْغَى لِسَمَاعِ الْقَبَائِحِ، وَمَا حَرَّمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. وَعِمَادُ عِفَّةِ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا: أَلَّا يُطْلِقَهَا صَاحِبُهَا فِي شَيْءٍ مِمَّا يَخْتَصُّ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، إِلَّا فِيمَا يُسَوِّغُهُ الْعَقْلُ وَالشَّرْعُ، دُونَ الشَّهْوَةِ وَالْهَوَى[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص224)]. وَقَدْ أَثْنَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْأَنْصَارِ؛ بِأَنَّهُمْ أَهْلُ عَفَافٍ وَصَبْرٍ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ ‌صُبُرٌ» صَحِيحٌ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ. 3. Menahan anggota badan dari dosa-dosa Ini merupakan sikap menjaga kehormatan diri yang paling sempurna. Seseorang tidak akan sempurna kehormatan dirinya, hingga ia dapat menjaga tangan, lisan, pendengaran, dan penglihatannya. Orang yang tidak punya kehormatan diri pada lisannya, ia akan terjerumus ke dalam beberapa dosa besar, seperti melecehkan orang lain, membicarakan keburukan orang lain, membisikkan kejelekan orang lain, menyebarkan aib orang lain, dan menyematkan sebutan-sebutan buruk bagi orang lain. Adapun orang yang tidak punya kehormatan diri pada penglihatannya, ia akan mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang haram dilihat, dan kenikmatan dunia yang melahirkan syahwat yang keji. Sedangkan orang yang tidak punya kehormatan diri pada pendengarannya, ia akan mendengarkan ucapan-ucapan buruk dan hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Kaidah dalam menjaga kehormatan anggota badan adalah dengan tidak menggunakan setiap anggota badan itu dalam hal yang berkaitan dengan masing-masing anggota badan kecuali dalam hal yang dibolehkan secara akal dan syariat, tanpa didasari syahwat dan hawa nafsu. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 224). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memuji kaum Anshar karena mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan senantiasa bersabar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ صُبُرٌ “Orang-orang Anshar adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan penyabar.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban). Sumber: https://www.alukah.net/عفة النفس: فضائلها وأنواعها (خطبة) Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 151 times, 1 visit(s) today Post Views: 364 QRIS donasi Yufid


Oleh:  Dr. mahmud bin Ahmad ad-Dosari الخطبة الثانية الْحَمْدُ لِلَّهِ… أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ.. وَمِنْ أَهَمِّ أَنْوَاعِ الْعِفَّةِ: 1- كَفُّ الْفَرْجِ عَنِ الْحَرَامِ: أَعْظَمُ صُورَةٍ لِلْعَفَافِ عَنِ الْحَرَامِ – بَعْدَ تَيَسُّرِ أَسْبَابِهِ، وَزَوَالِ مَوَانِعِهِ – هِيَ قِصَّةُ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ؛ عِنْدَمَا هَيَّأَتْ لَهُ أَسْبَابَ الْفَاحِشَةِ، وَأَزَالَتِ الْمَوَانِعَ، وَسَهَّلَتْ أَسْبَابَ الْوُصُولِ إِلَيْهَا، إِلَّا أَنَّهَا قُوبِلَتْ بِجَوَابِ الْعَفِيفِ الطَّاهِرِ بِالِامْتِنَاعِ: ﴿ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [يُوسُفَ: 23]. وَكُلُّ مَنْ تَحَلَّى بِعِفَّةِ يُوسُفَ، أَمَامَ مُغْرِيَاتِ الْفِتَنِ وَتَيَسُّرِهَا؛ فَهُوَ مُبَشَّرٌ بِأَنْ يَكُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ عَرْشِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ…» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَلَا يَكُونُ الْمُتَعَفِّفُ عَنِ الْحَرَامِ عَفِيفًا إِلَّا بِشُرُوطٍ: أَلَّا يَكُونُ تَعَفُّفُهُ عَنِ الشَّيْءِ انْتِظَارًا لِأَكْثَرَ مِنْهُ، أَوْ لِأَنَّهُ لَا يُوَافِقُهُ، أَوْ لِجُمُودِ شَهْوَتِهِ، أَوْ لِاسْتِشْعَارِ خَوْفٍ مِنْ عَاقِبَتِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنْ تَنَاوُلِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ غَيْرُ عَارِفٍ بِهِ لِقُصُورِهِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لَيْسَ بِعِفَّةٍ[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص225)]. Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah. Wahai kaum Muslimin! Di antara bentuk sikap menjaga kehormatan diri adalah: 1. Menjaga kemaluan dari hal yang diharamkan Contoh terbesar dari sikap menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan —setelah terpenuhinya faktor-faktor pendukung dan lenyapnya faktor-faktor penghalang untuk melakukan perkara haram itu— adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan istri majikannya. Ketika wanita itu telah menyiapkan baginya segala faktor pendukung, menghilangkan segala faktor penghalang, dan memuluskan jalan untuk berbuat zina dengannya, tapi wanita tersebut mendapat jawaban penolakan dari sosok yang mulia dan suci ini.  “Perempuan —yang Yusuf tinggal di rumahnya— menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku!’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23). Setiap orang yang menghiasi dirinya dengan kehormatan diri seperti Nabi Yusuf di hadapan godaan berbagai fitnah dan kemudahan untuk menggapainya, adalah orang yang akan mendapat kabar gembira pada hari Kiamat kelak berupa naungan ‘arsy Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا؛ قَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada Hari Kiamat dengan naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (di antaranya) laki-laki yang diajak oleh wanita terpandang dan cantik jelita untuk berzina dengan dirinya, lalu ia menjawab, ‘Aku takut kepada Allah!’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim). Seseorang tidak akan menjadi orang yang menjaga kehormatan diri dari hal yang diharamkan kecuali dengan beberapa syarat: yaitu orang tersebut menjaga kehormatan dirinya bukan karena menunggu perkara haram yang lebih banyak, karena tidak selaras dengan dirinya, karena syahwatnya tidak tertarik terhadapnya, karena merasa takut dari akibat buruknya, karena ia tidak dapat melakukannya, atau karena ia tidak memahaminya, ini semua bukanlah bagian dari sifat menjaga kehormatan diri. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 225). 2- كَفُّ النَّفْسِ عَنِ التَّشَوُّفِ لِأَمْوَالِ النَّاسِ: فَقَدْ نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْ تَمَنِّي مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَى بَعْضِ عِبَادِهِ مِنْ أَنْوَاعِ النِّعَمِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ ﴾ [النِّسَاءِ: 32]، وَامْتَدَحَ الْفُقَرَاءَ الْمُتَعَفِّفِينَ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ، الَّذِينَ لَا يُظْهِرُونَ حَاجَتَهُمْ لِلنَّاسِ، وَلَا يَسْتَجْدُونَ عَطَاءً مِنْ أَحَدٍ: ﴿ لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ﴾ [الْبَقَرَةِ: 273]؛ فَالْجَاهِلُ بِأَمْرِهِمْ وَحَالِهِمْ يَحْسَبُهُمْ أَغْنِيَاءَ، مِنْ تَعَفُّفِهِمْ فِي لِبَاسِهِمْ وَحَالِهِمْ وَمَقَالِهِمْ؛ لِأَنَّهُمْ لَا يَلِحُّونَ فِي الْمَسْأَلَةِ، وَلَا يُكَلِّفُونَ النَّاسَ مَا لَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ، وَلَا يَعْرِفُهُمْ إِلَّا أَصْحَابُ الْفِرَاسَةِ[انظر: تفسير ابن كثير، (1/ 704)]، فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْمَسَاكِينُ الْمُسْتَحِقُّونَ لِلْمَعُونَةِ وَالْإِكْرَامِ، وَلَيْسَ الَّذِينَ يَطْرُقُونَ أَبْوَابَ النَّاسِ، وَيَسْأَلُونَهُمُ الْعَوْنَ، وَيَتَشَوَّفُونَ لِمَا فِي أَيْدِيهِمْ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ»، قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَلَمَّا جَاءَ أُنَاسٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ – مُعَلِّمًا وَمُرْشِدًا: «مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَلَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ الْوَاثِقِ بِفَضْلِ رَبِّهِ، الْمُتَعَفِّفِ عَنْ عَطَاءِ غَيْرِهِ، أَنْ يَشْكُوَ فَاقَتَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ» حَسَنٌ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. 2. Menahan diri dari ketertarikan terhadap harta orang lain Allah Ta’ala telah melarang kita dari mengharapkan apa yang telah dikaruniakan kepada sebagian hamba-Nya yang lain. Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain” (QS. An-Nisa: 32). Allah juga memuji orang-orang fakir yang menjaga kehormatan dirinya dari harta orang lain yang tidak menampakkan kekurangannya kepada orang lain dan tidak mengharap pemberian dari seorang pun. Allah Ta’ala berfirman: لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا “(Apapun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain” (QS. Al-Baqarah: 273). Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka akan mengira bahwa mereka itu orang-orang kaya, karena mereka menjaga kehormatan diri dalam berpakaian, keadaan, dan ucapan mereka, sebab mereka tidak meminta kepada orang lain dengan gigih, tidak membebani orang lain dengan apa yang tidak mereka butuhkan, dan mereka tidak akan dapat diketahui hakikat keadaannya kecuali oleh orang-orang yang berfirasat kuat. (Lihat: Kitab Tafsir Ibn Katsir jilid 1 hlm. 704). Mereka adalah orang-orang miskin yang layak mendapat bantuan dan penghormatan, bukan orang-orang yang mengetuk pintu rumah orang lain untuk mengemis bantuan dan mengharapkan harta yang dimiliki orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling untuk meminta-minta kepada orang lain, lalu ia diberi satu dua suap, atau satu dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “Lalu siapa itu orang miskin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang tidak punya orang kaya yang mencukupi kekurangannya, dan tidak dapat dikenali keadaannya sehingga dapat dibantu, serta tidak meminta apapun dari orang lain.” (HR. Muslim). Suatu ketika datang sekelompok orang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu mereka meminta kepada beliau, dan beliau pun memberi mereka. Lalu mereka meminta kepada beliau lagi, dan beliau pun memberi mereka, hingga habis apa yang beliau miliki. Kemudian beliau bersabda —sebagai pelajaran dan arahan bagi mereka—: مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Harta yang aku miliki tidak akan aku simpan sendiri dari kalian. Barang siapa yang memohon kehormatan diri, niscaya Allah akan menjadinya dapat menjaga kehormatan diri, barang siapa yang memohon kecukupan kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, dan barang siapa yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Tidaklah seseorang dikaruniai pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari). Tidak selayaknya bagi orang beriman yang percaya dengan karunia Tuhannya dan menjaga kehormatan dirinya dari menunggu pemberian orang lain untuk mengeluhkan kemiskinannya kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ “Barang siapa yang ditimpa kemiskinan, lalu ia mengeluhkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan dihentikan, dan barang siapa yang mengeluhkannya kepada Allah, maka Allah akan menjadikannya mendekati keberkecukupan, baik itu dengan kematian yang disegerakan, atau dengan keberkecukupan yang disegerakan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud). 3- كَفُّ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ: فَهَذَا مِنْ تَمَامِ الْعِفَّةِ، وَلَا تَتِمُّ الْعِفَّةُ لِلْإِنْسَانِ حَتَّى يَكُونَ عَفِيفَ الْيَدِ، وَاللِّسَانِ، وَالسَّمْعِ، وَالْبَصَرِ؛ فَمَنْ عُدِمَ عِفَّةَ اللِّسَانِ: وَقَعَ فِي جُمْلَةٍ مِنَ الْكَبَائِرِ؛ كَالسُّخْرِيَةِ، وَالْغِيبَةِ، وَالْهَمْزِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالتَّنَابُزِ بِالْأَلْقَابِ! وَمَنْ عُدِمَهَا فِي الْبَصَرِ: مَدَّ عَيْنَهُ إِلَى الْمُحَرَّمَاتِ، وَزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الْمُوَلِّدَةِ لِلشَّهَوَاتِ الرَّدِيئَةِ، وَمَنْ عُدِمَهَا فِي السَّمْعِ: أَصْغَى لِسَمَاعِ الْقَبَائِحِ، وَمَا حَرَّمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. وَعِمَادُ عِفَّةِ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا: أَلَّا يُطْلِقَهَا صَاحِبُهَا فِي شَيْءٍ مِمَّا يَخْتَصُّ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، إِلَّا فِيمَا يُسَوِّغُهُ الْعَقْلُ وَالشَّرْعُ، دُونَ الشَّهْوَةِ وَالْهَوَى[انظر: الذريعة إلى مكارم الشريعة، (ص224)]. وَقَدْ أَثْنَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْأَنْصَارِ؛ بِأَنَّهُمْ أَهْلُ عَفَافٍ وَصَبْرٍ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ ‌صُبُرٌ» صَحِيحٌ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ. 3. Menahan anggota badan dari dosa-dosa Ini merupakan sikap menjaga kehormatan diri yang paling sempurna. Seseorang tidak akan sempurna kehormatan dirinya, hingga ia dapat menjaga tangan, lisan, pendengaran, dan penglihatannya. Orang yang tidak punya kehormatan diri pada lisannya, ia akan terjerumus ke dalam beberapa dosa besar, seperti melecehkan orang lain, membicarakan keburukan orang lain, membisikkan kejelekan orang lain, menyebarkan aib orang lain, dan menyematkan sebutan-sebutan buruk bagi orang lain. Adapun orang yang tidak punya kehormatan diri pada penglihatannya, ia akan mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang haram dilihat, dan kenikmatan dunia yang melahirkan syahwat yang keji. Sedangkan orang yang tidak punya kehormatan diri pada pendengarannya, ia akan mendengarkan ucapan-ucapan buruk dan hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Kaidah dalam menjaga kehormatan anggota badan adalah dengan tidak menggunakan setiap anggota badan itu dalam hal yang berkaitan dengan masing-masing anggota badan kecuali dalam hal yang dibolehkan secara akal dan syariat, tanpa didasari syahwat dan hawa nafsu. (Lihat: Kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 224). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memuji kaum Anshar karena mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan senantiasa bersabar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْأَنْصَارُ ‌أَعِفَّةٌ صُبُرٌ “Orang-orang Anshar adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dan penyabar.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban). Sumber: https://www.alukah.net/عفة النفس: فضائلها وأنواعها (خطبة) Sumber PDF 🔍 Hadis Tentang Orang Sombong, Gambar Hijir Ismail, Hukum Pindah Agama Kristen Ke Islam, Ukuran Makam, Pengertian Manhaj Salaf Visited 151 times, 1 visit(s) today Post Views: 364 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next