Sepuluh Kiat Melawan Godaan Setan

Daftar Isi Toggle Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusiaPerlunya melakukan perlawanan terhadap setanUpaya yang bisa dilakukan untuk melawan setanPertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kitaKedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada AllahKetiga: IkhlasKeempat: Bertawakal kepada AllahKelima: Menjauhi langkah-langkah setanKeenam: Membekali diri dengan ilmuKetujuh: Menetapi kesabaranKedelapan: Memperbanyak zikir kepada AllahKesembilan: Membaca Al-Qur’anKesepuluh: Menetapi Jama’ah Dalam usaha menuju kebahagiaan hakiki dan menggapai rida Allah, manusia selalu mendapatkan berbagai rintangan. Di antara rintangan terbesar adalah setan yang selalu menggoda dan membujuk rayu manusia untuk menjadi pengikutnya dalam kesesatan. Dia berusaha menghiasi keburukan sehingga manusia tertarik kepadanya, dan menjelek-jelekkan kebaikan sehingga manusia menjauhinya. Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusia Upaya setan untuk terus menyesatkan manusia ini bermula dari rasa hasad Iblis kepada Nabi Adam yang lebih diutamakan oleh Allah daripada dirinya, sehingga dia pun sombong tidak mau sujud kepada Adam. Lalu, Iblis pun bersumpah janji di hadapan Allah akan berusaha menyesatkan Adam dan anak keturunannya. قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ  قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ  إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ  قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي ‌لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘(Kalau begitu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’ Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Al-Hijr: 36-39) Dalam ayat lain, Allah berfirman, لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا  وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ ‌فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا “Allah melaknat setan. Dan setan itu mengatakan, ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 118-119) Perlunya melakukan perlawanan terhadap setan Seorang mukmin yang memiliki ketulusan niat untuk menggapai rida Allah, tentu akan berusaha semaksimal mungkin menghadapi rintangan yang ada. Maka, dia akan berusaha melakukan perlawanan terhadap setan dan gangguannya. Apabila dia bersungguh-sungguh dalam usahanya ini, niscaya Allah akan memberi pertolongan dan kemudahan kepadanya. Allah berfirman, وَالَّذِينَ ‌جَاهَدُوا ‌فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) As-Suddi dan yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun sebelum diwajibkan berperang. Ibnu Athiyyah berkata, “Ayat ini sebelum adanya jihad yang makruf (yakni: perang -pen), sehingga dia adalah jihad yang bersifat umum untuk menegakkan agama Allah dan mencari rida-Nya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 390) Dan jihad dengan makna yang umum mencakup jihad melawan empat hal. Di antaranya adalah jihad melawan setan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jihad itu ada empat tingkatan. Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan orang-orang kafir, dan jihad melawan orang-orang munafik.” (Zadul Ma’ad, 3: 9) Lalu, beliau menjelaskan tentang jihad melawan setan, “Adapun jihad melawan setan, maka ada dua tingkatan: Pertama adalah jihad melawannya dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan oleh setan kepada seorang hamba, berupa syubhat, dan keraguan yang bisa merusak keimanan. Kedua adalah jihad melawan setan dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan setan kepada hamba yang berupa syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak.” (Zadul Ma’ad, 3: 10) Baca juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan? Upaya yang bisa dilakukan untuk melawan setan Pertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kita Seseorang yang tidak mengetahui siapa musuhnya, tidak akan mungkin melakukan perlawanan kepadanya. Maka, hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang mukmin dalam melawan setan adalah, meyakini bahwa setan adalah musuh yang sebenarnya baginya. Yang terus berusaha menjerumuskannya dalam kebinasaan. Allah berfirman, إِنَّ الشَّيْطَانَ ‌لَكُمْ ‌عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Kedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Manusia adalah makhluk yang lemah. Dia tidak bisa mengerjakan suatu kebaikan dan menghindari keburukan, kecuali dengan pertolongan Allah. Terlebih lagi ketika dia ingin menghadapi musuh yang tidak bisa dia lihat dan tidak bisa dia dengar. Maka, semakin besar kebutuhannya untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman, وَإِمَّا ‌يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36) Ketiga: Ikhlas Sebesar apa pun usaha yang dilakukan setan menyesatkan manusia, ternyata ada orang-orang yang setan sendiri mengakui tidak bisa menyesatkannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan dalam hatinya. Allah berfirman, قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ‌الْمُخْلَصِينَ “Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.’ ” (QS. Al-Hijr: 39-40) Syekh As-Sa’di menjelaskan tentang makna kata “المخلَصين” (hamba-hamba yang terpilih) di dalam ayat tersebut, “Yaitu, yang Engkau pilih mereka karena keikhlasan, keimanan, dan tawakal mereka.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 431) Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa ulama (qiraah) dari Madinah dan dari Kufah membaca kata tersebut dengan difathah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlasin”, yang artinya orang-orang yang dipilih. Sedangkan ulama ahli qiraah lainnya membaca kata tersebut dengan dikasrah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlisin”, yang artinya adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan membersihkannya dari kerusakan dan riya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 12 :212) Keempat: Bertawakal kepada Allah Tawakal kepada Allah maknanya adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menghindari keburukan, disertai dengan melakukan usaha yang disyariatkan dan diizinkan oleh Allah. Tawakal merupakan ibadah yang sangat agung dan juga penting. Dia memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan dikuasai dan dipengaruhi oleh setan. Allah berfirman, فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ ‌يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ  “Maka, apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur`ān, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 98-100) Kelima: Menjauhi langkah-langkah setan Perlu kita ketahui, ketika setan ingin menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan kebinasaan, dia tidak menggunakan satu cara saja. Bahkan, setan memiliki begitu banyak langkah dan cara untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, apabila kita ingin melawan setan, sangat perlu bagi kita untuk mengetahui apa saja langkah-langkah yang ditempuh oleh setan, untuk kemudian kita jauhi. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21) Qatadah berkata, “Semua kemaksiatan adalah termasuk langkah-langkah setan.” (Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nur: 21) Syekh As-Sa’di berkata, “Dan langkah-langkah setan mencakup semua kemaksiatan yang berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan.” (Taisirul Karimir Rahman, hal. 563) Keenam: Membekali diri dengan ilmu Kebodohan manusia merupakan kondisi yang disukai setan. Dengan kebodohan, setan mendapatkan kesempatan besar untuk menjerumuskan manusia dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah dijelaskan para ulama, salah satu senjata setan untuk menyesatkan manusia adalah syubhat. Yaitu, kerancuan-kerancuan yang dilemparkan setan untuk menipu manusia sehingga dia menganggap yang batil sebagai kebenaran, dan menganggap yang benar sebagai kebatilan. Senjata ini tentu hanya akan berhasil pada orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang kebenaran dan kebatilan. Maka, untuk melawan setan dalam hal ini, kita harus membekali diri dengan ilmu yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Fitnah itu ada dua macam; fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Dan yang paling besar (bahayanya) adalah fitnah syubhat. Kadang-kadang keduanya terkumpul pada diri seorang hamba dan terkadang hanya satu saja yang ada. Maka, fitnah syubhat adalah disebabkan karena lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.” (Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Syekh Ali Hasan memberikan komentar atas ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Dan dari pintu sedikitnya ilmu inilah, setan bisa masuk (menyesatkan) banyak orang-orang yang lalai. Setan menghias-hiasi dan memperindah (keburukan) sehingga mereka jatuh dalam jaring-jaring setan. Maka, ilmu yang bermanfaat adalah kunci semua kebaikan dan penolak semua keburukan.” (Catatan kaki no.1, Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Ketujuh: Menetapi kesabaran Selain syubhat, senjata lain yang digunakan setan adalah syahwat. Yaitu, kecenderungan pada diri manusia untuk memuaskan hawa nafsunya. Dengan adanya syahwat pada diri manusia, setan bisa menggoda dan membujuk seseorang yang sebenarnya telah memiliki ilmu sehingga dia melakukan kemaksiatan yang cocok dengan hawa nafsunya. Maka, untuk menghadapi hal ini, di samping ilmu yang harus dimiliki, kita juga harus memiliki kesabaran untuk menahan diri dari menuruti keinginan hawa nafsu untuk melakukan kemaksiatan. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ ‌وَنَهَى ‌النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41) Kedelapan: Memperbanyak zikir kepada Allah Disebutkan dalam hadis bahwa Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat agar diamalkan. Di antaranya disebutkan, وآمُركم أن تَذكُروا اللهَ؛ فإنَّ مَثلَ ذلك كمَثلِ رجلٍ خرَج العدوُّ في أثَرِه سِراعًا حتَّى إذا أتى على حِصنٍ حَصينٍ، فأحرَز نفسَه منهم، كذلك العبدُ لا يُحرِزُ نفسَه مِن الشَّيطانِ إلَّا بذِكْرِ اللهِ “Dan aku perintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah. Karena perumpamaannya bagaikan seseorang yang dikejar oleh musuh di belakangnya dengan cepat, sehingga apabila dia telah sampai pada benteng yang kokoh, maka dia pun melindungi diri dari mereka. Demikianlah perumpamaan seorang hamba, dia tidak bisa melindungi diri dari setan, kecuali dengan zikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2863) Kesembilan: Membaca Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu zikir terbaik. Di samping bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk dan obat bagi penyakit di dalam dada. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ‌وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) Maka, apabila seorang hamba membaca Al-Qur’an, dia akan dijauhi oleh setan. Terlebih lagi apabila dia mau merenungi isi kandungannya, serta mengamalkannya, niscaya setan akan menjauh darinya. Renungilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut, لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ. إِنَّ ‌الشَّيْطَانَ ‌يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ “Jangan kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780) Kesepuluh: Menetapi Jama’ah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ. فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ ‌القَاصِيَة “Tidaklah tiga orang berada pada suatu kampung atau suatu padang sahara yang tidak ditegakkan padanya salat, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka, hendaknya kalian menetapi jama’ah. Karena serigala hanya akan memangsa kambing yang menyendiri (dari jama’ah).” (HR. Abu Daud no. 547) Jama’ah yang dimaksud, tentunya adalah orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Bukan sembarang jama’ah atau kumpulan orang-orang, walaupun di atas kebatilan. Abdullah bin Mas’ud berkata kepada Amr bin Maimun, “Tahukah kamu, apa itu jama’ah?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya mayoritas jama’ah (orang-orang) mereka menyelisihi jama’ah. Jama’ah (sesungguhnya) adalah apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian.” (Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyah, 12: 109) Wallahul Musta’an. Baca juga: Penjelasan Hadis Tanduk Setan dari Timur *** Penulis: Abu Ubaidillah Apri Hernowo Artikel: Muslim.or.id

Sepuluh Kiat Melawan Godaan Setan

Daftar Isi Toggle Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusiaPerlunya melakukan perlawanan terhadap setanUpaya yang bisa dilakukan untuk melawan setanPertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kitaKedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada AllahKetiga: IkhlasKeempat: Bertawakal kepada AllahKelima: Menjauhi langkah-langkah setanKeenam: Membekali diri dengan ilmuKetujuh: Menetapi kesabaranKedelapan: Memperbanyak zikir kepada AllahKesembilan: Membaca Al-Qur’anKesepuluh: Menetapi Jama’ah Dalam usaha menuju kebahagiaan hakiki dan menggapai rida Allah, manusia selalu mendapatkan berbagai rintangan. Di antara rintangan terbesar adalah setan yang selalu menggoda dan membujuk rayu manusia untuk menjadi pengikutnya dalam kesesatan. Dia berusaha menghiasi keburukan sehingga manusia tertarik kepadanya, dan menjelek-jelekkan kebaikan sehingga manusia menjauhinya. Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusia Upaya setan untuk terus menyesatkan manusia ini bermula dari rasa hasad Iblis kepada Nabi Adam yang lebih diutamakan oleh Allah daripada dirinya, sehingga dia pun sombong tidak mau sujud kepada Adam. Lalu, Iblis pun bersumpah janji di hadapan Allah akan berusaha menyesatkan Adam dan anak keturunannya. قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ  قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ  إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ  قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي ‌لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘(Kalau begitu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’ Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Al-Hijr: 36-39) Dalam ayat lain, Allah berfirman, لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا  وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ ‌فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا “Allah melaknat setan. Dan setan itu mengatakan, ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 118-119) Perlunya melakukan perlawanan terhadap setan Seorang mukmin yang memiliki ketulusan niat untuk menggapai rida Allah, tentu akan berusaha semaksimal mungkin menghadapi rintangan yang ada. Maka, dia akan berusaha melakukan perlawanan terhadap setan dan gangguannya. Apabila dia bersungguh-sungguh dalam usahanya ini, niscaya Allah akan memberi pertolongan dan kemudahan kepadanya. Allah berfirman, وَالَّذِينَ ‌جَاهَدُوا ‌فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) As-Suddi dan yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun sebelum diwajibkan berperang. Ibnu Athiyyah berkata, “Ayat ini sebelum adanya jihad yang makruf (yakni: perang -pen), sehingga dia adalah jihad yang bersifat umum untuk menegakkan agama Allah dan mencari rida-Nya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 390) Dan jihad dengan makna yang umum mencakup jihad melawan empat hal. Di antaranya adalah jihad melawan setan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jihad itu ada empat tingkatan. Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan orang-orang kafir, dan jihad melawan orang-orang munafik.” (Zadul Ma’ad, 3: 9) Lalu, beliau menjelaskan tentang jihad melawan setan, “Adapun jihad melawan setan, maka ada dua tingkatan: Pertama adalah jihad melawannya dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan oleh setan kepada seorang hamba, berupa syubhat, dan keraguan yang bisa merusak keimanan. Kedua adalah jihad melawan setan dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan setan kepada hamba yang berupa syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak.” (Zadul Ma’ad, 3: 10) Baca juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan? Upaya yang bisa dilakukan untuk melawan setan Pertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kita Seseorang yang tidak mengetahui siapa musuhnya, tidak akan mungkin melakukan perlawanan kepadanya. Maka, hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang mukmin dalam melawan setan adalah, meyakini bahwa setan adalah musuh yang sebenarnya baginya. Yang terus berusaha menjerumuskannya dalam kebinasaan. Allah berfirman, إِنَّ الشَّيْطَانَ ‌لَكُمْ ‌عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Kedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Manusia adalah makhluk yang lemah. Dia tidak bisa mengerjakan suatu kebaikan dan menghindari keburukan, kecuali dengan pertolongan Allah. Terlebih lagi ketika dia ingin menghadapi musuh yang tidak bisa dia lihat dan tidak bisa dia dengar. Maka, semakin besar kebutuhannya untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman, وَإِمَّا ‌يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36) Ketiga: Ikhlas Sebesar apa pun usaha yang dilakukan setan menyesatkan manusia, ternyata ada orang-orang yang setan sendiri mengakui tidak bisa menyesatkannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan dalam hatinya. Allah berfirman, قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ‌الْمُخْلَصِينَ “Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.’ ” (QS. Al-Hijr: 39-40) Syekh As-Sa’di menjelaskan tentang makna kata “المخلَصين” (hamba-hamba yang terpilih) di dalam ayat tersebut, “Yaitu, yang Engkau pilih mereka karena keikhlasan, keimanan, dan tawakal mereka.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 431) Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa ulama (qiraah) dari Madinah dan dari Kufah membaca kata tersebut dengan difathah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlasin”, yang artinya orang-orang yang dipilih. Sedangkan ulama ahli qiraah lainnya membaca kata tersebut dengan dikasrah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlisin”, yang artinya adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan membersihkannya dari kerusakan dan riya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 12 :212) Keempat: Bertawakal kepada Allah Tawakal kepada Allah maknanya adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menghindari keburukan, disertai dengan melakukan usaha yang disyariatkan dan diizinkan oleh Allah. Tawakal merupakan ibadah yang sangat agung dan juga penting. Dia memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan dikuasai dan dipengaruhi oleh setan. Allah berfirman, فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ ‌يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ  “Maka, apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur`ān, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 98-100) Kelima: Menjauhi langkah-langkah setan Perlu kita ketahui, ketika setan ingin menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan kebinasaan, dia tidak menggunakan satu cara saja. Bahkan, setan memiliki begitu banyak langkah dan cara untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, apabila kita ingin melawan setan, sangat perlu bagi kita untuk mengetahui apa saja langkah-langkah yang ditempuh oleh setan, untuk kemudian kita jauhi. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21) Qatadah berkata, “Semua kemaksiatan adalah termasuk langkah-langkah setan.” (Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nur: 21) Syekh As-Sa’di berkata, “Dan langkah-langkah setan mencakup semua kemaksiatan yang berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan.” (Taisirul Karimir Rahman, hal. 563) Keenam: Membekali diri dengan ilmu Kebodohan manusia merupakan kondisi yang disukai setan. Dengan kebodohan, setan mendapatkan kesempatan besar untuk menjerumuskan manusia dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah dijelaskan para ulama, salah satu senjata setan untuk menyesatkan manusia adalah syubhat. Yaitu, kerancuan-kerancuan yang dilemparkan setan untuk menipu manusia sehingga dia menganggap yang batil sebagai kebenaran, dan menganggap yang benar sebagai kebatilan. Senjata ini tentu hanya akan berhasil pada orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang kebenaran dan kebatilan. Maka, untuk melawan setan dalam hal ini, kita harus membekali diri dengan ilmu yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Fitnah itu ada dua macam; fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Dan yang paling besar (bahayanya) adalah fitnah syubhat. Kadang-kadang keduanya terkumpul pada diri seorang hamba dan terkadang hanya satu saja yang ada. Maka, fitnah syubhat adalah disebabkan karena lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.” (Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Syekh Ali Hasan memberikan komentar atas ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Dan dari pintu sedikitnya ilmu inilah, setan bisa masuk (menyesatkan) banyak orang-orang yang lalai. Setan menghias-hiasi dan memperindah (keburukan) sehingga mereka jatuh dalam jaring-jaring setan. Maka, ilmu yang bermanfaat adalah kunci semua kebaikan dan penolak semua keburukan.” (Catatan kaki no.1, Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Ketujuh: Menetapi kesabaran Selain syubhat, senjata lain yang digunakan setan adalah syahwat. Yaitu, kecenderungan pada diri manusia untuk memuaskan hawa nafsunya. Dengan adanya syahwat pada diri manusia, setan bisa menggoda dan membujuk seseorang yang sebenarnya telah memiliki ilmu sehingga dia melakukan kemaksiatan yang cocok dengan hawa nafsunya. Maka, untuk menghadapi hal ini, di samping ilmu yang harus dimiliki, kita juga harus memiliki kesabaran untuk menahan diri dari menuruti keinginan hawa nafsu untuk melakukan kemaksiatan. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ ‌وَنَهَى ‌النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41) Kedelapan: Memperbanyak zikir kepada Allah Disebutkan dalam hadis bahwa Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat agar diamalkan. Di antaranya disebutkan, وآمُركم أن تَذكُروا اللهَ؛ فإنَّ مَثلَ ذلك كمَثلِ رجلٍ خرَج العدوُّ في أثَرِه سِراعًا حتَّى إذا أتى على حِصنٍ حَصينٍ، فأحرَز نفسَه منهم، كذلك العبدُ لا يُحرِزُ نفسَه مِن الشَّيطانِ إلَّا بذِكْرِ اللهِ “Dan aku perintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah. Karena perumpamaannya bagaikan seseorang yang dikejar oleh musuh di belakangnya dengan cepat, sehingga apabila dia telah sampai pada benteng yang kokoh, maka dia pun melindungi diri dari mereka. Demikianlah perumpamaan seorang hamba, dia tidak bisa melindungi diri dari setan, kecuali dengan zikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2863) Kesembilan: Membaca Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu zikir terbaik. Di samping bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk dan obat bagi penyakit di dalam dada. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ‌وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) Maka, apabila seorang hamba membaca Al-Qur’an, dia akan dijauhi oleh setan. Terlebih lagi apabila dia mau merenungi isi kandungannya, serta mengamalkannya, niscaya setan akan menjauh darinya. Renungilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut, لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ. إِنَّ ‌الشَّيْطَانَ ‌يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ “Jangan kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780) Kesepuluh: Menetapi Jama’ah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ. فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ ‌القَاصِيَة “Tidaklah tiga orang berada pada suatu kampung atau suatu padang sahara yang tidak ditegakkan padanya salat, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka, hendaknya kalian menetapi jama’ah. Karena serigala hanya akan memangsa kambing yang menyendiri (dari jama’ah).” (HR. Abu Daud no. 547) Jama’ah yang dimaksud, tentunya adalah orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Bukan sembarang jama’ah atau kumpulan orang-orang, walaupun di atas kebatilan. Abdullah bin Mas’ud berkata kepada Amr bin Maimun, “Tahukah kamu, apa itu jama’ah?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya mayoritas jama’ah (orang-orang) mereka menyelisihi jama’ah. Jama’ah (sesungguhnya) adalah apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian.” (Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyah, 12: 109) Wallahul Musta’an. Baca juga: Penjelasan Hadis Tanduk Setan dari Timur *** Penulis: Abu Ubaidillah Apri Hernowo Artikel: Muslim.or.id
Daftar Isi Toggle Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusiaPerlunya melakukan perlawanan terhadap setanUpaya yang bisa dilakukan untuk melawan setanPertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kitaKedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada AllahKetiga: IkhlasKeempat: Bertawakal kepada AllahKelima: Menjauhi langkah-langkah setanKeenam: Membekali diri dengan ilmuKetujuh: Menetapi kesabaranKedelapan: Memperbanyak zikir kepada AllahKesembilan: Membaca Al-Qur’anKesepuluh: Menetapi Jama’ah Dalam usaha menuju kebahagiaan hakiki dan menggapai rida Allah, manusia selalu mendapatkan berbagai rintangan. Di antara rintangan terbesar adalah setan yang selalu menggoda dan membujuk rayu manusia untuk menjadi pengikutnya dalam kesesatan. Dia berusaha menghiasi keburukan sehingga manusia tertarik kepadanya, dan menjelek-jelekkan kebaikan sehingga manusia menjauhinya. Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusia Upaya setan untuk terus menyesatkan manusia ini bermula dari rasa hasad Iblis kepada Nabi Adam yang lebih diutamakan oleh Allah daripada dirinya, sehingga dia pun sombong tidak mau sujud kepada Adam. Lalu, Iblis pun bersumpah janji di hadapan Allah akan berusaha menyesatkan Adam dan anak keturunannya. قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ  قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ  إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ  قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي ‌لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘(Kalau begitu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’ Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Al-Hijr: 36-39) Dalam ayat lain, Allah berfirman, لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا  وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ ‌فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا “Allah melaknat setan. Dan setan itu mengatakan, ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 118-119) Perlunya melakukan perlawanan terhadap setan Seorang mukmin yang memiliki ketulusan niat untuk menggapai rida Allah, tentu akan berusaha semaksimal mungkin menghadapi rintangan yang ada. Maka, dia akan berusaha melakukan perlawanan terhadap setan dan gangguannya. Apabila dia bersungguh-sungguh dalam usahanya ini, niscaya Allah akan memberi pertolongan dan kemudahan kepadanya. Allah berfirman, وَالَّذِينَ ‌جَاهَدُوا ‌فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) As-Suddi dan yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun sebelum diwajibkan berperang. Ibnu Athiyyah berkata, “Ayat ini sebelum adanya jihad yang makruf (yakni: perang -pen), sehingga dia adalah jihad yang bersifat umum untuk menegakkan agama Allah dan mencari rida-Nya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 390) Dan jihad dengan makna yang umum mencakup jihad melawan empat hal. Di antaranya adalah jihad melawan setan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jihad itu ada empat tingkatan. Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan orang-orang kafir, dan jihad melawan orang-orang munafik.” (Zadul Ma’ad, 3: 9) Lalu, beliau menjelaskan tentang jihad melawan setan, “Adapun jihad melawan setan, maka ada dua tingkatan: Pertama adalah jihad melawannya dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan oleh setan kepada seorang hamba, berupa syubhat, dan keraguan yang bisa merusak keimanan. Kedua adalah jihad melawan setan dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan setan kepada hamba yang berupa syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak.” (Zadul Ma’ad, 3: 10) Baca juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan? Upaya yang bisa dilakukan untuk melawan setan Pertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kita Seseorang yang tidak mengetahui siapa musuhnya, tidak akan mungkin melakukan perlawanan kepadanya. Maka, hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang mukmin dalam melawan setan adalah, meyakini bahwa setan adalah musuh yang sebenarnya baginya. Yang terus berusaha menjerumuskannya dalam kebinasaan. Allah berfirman, إِنَّ الشَّيْطَانَ ‌لَكُمْ ‌عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Kedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Manusia adalah makhluk yang lemah. Dia tidak bisa mengerjakan suatu kebaikan dan menghindari keburukan, kecuali dengan pertolongan Allah. Terlebih lagi ketika dia ingin menghadapi musuh yang tidak bisa dia lihat dan tidak bisa dia dengar. Maka, semakin besar kebutuhannya untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman, وَإِمَّا ‌يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36) Ketiga: Ikhlas Sebesar apa pun usaha yang dilakukan setan menyesatkan manusia, ternyata ada orang-orang yang setan sendiri mengakui tidak bisa menyesatkannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan dalam hatinya. Allah berfirman, قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ‌الْمُخْلَصِينَ “Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.’ ” (QS. Al-Hijr: 39-40) Syekh As-Sa’di menjelaskan tentang makna kata “المخلَصين” (hamba-hamba yang terpilih) di dalam ayat tersebut, “Yaitu, yang Engkau pilih mereka karena keikhlasan, keimanan, dan tawakal mereka.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 431) Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa ulama (qiraah) dari Madinah dan dari Kufah membaca kata tersebut dengan difathah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlasin”, yang artinya orang-orang yang dipilih. Sedangkan ulama ahli qiraah lainnya membaca kata tersebut dengan dikasrah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlisin”, yang artinya adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan membersihkannya dari kerusakan dan riya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 12 :212) Keempat: Bertawakal kepada Allah Tawakal kepada Allah maknanya adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menghindari keburukan, disertai dengan melakukan usaha yang disyariatkan dan diizinkan oleh Allah. Tawakal merupakan ibadah yang sangat agung dan juga penting. Dia memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan dikuasai dan dipengaruhi oleh setan. Allah berfirman, فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ ‌يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ  “Maka, apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur`ān, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 98-100) Kelima: Menjauhi langkah-langkah setan Perlu kita ketahui, ketika setan ingin menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan kebinasaan, dia tidak menggunakan satu cara saja. Bahkan, setan memiliki begitu banyak langkah dan cara untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, apabila kita ingin melawan setan, sangat perlu bagi kita untuk mengetahui apa saja langkah-langkah yang ditempuh oleh setan, untuk kemudian kita jauhi. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21) Qatadah berkata, “Semua kemaksiatan adalah termasuk langkah-langkah setan.” (Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nur: 21) Syekh As-Sa’di berkata, “Dan langkah-langkah setan mencakup semua kemaksiatan yang berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan.” (Taisirul Karimir Rahman, hal. 563) Keenam: Membekali diri dengan ilmu Kebodohan manusia merupakan kondisi yang disukai setan. Dengan kebodohan, setan mendapatkan kesempatan besar untuk menjerumuskan manusia dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah dijelaskan para ulama, salah satu senjata setan untuk menyesatkan manusia adalah syubhat. Yaitu, kerancuan-kerancuan yang dilemparkan setan untuk menipu manusia sehingga dia menganggap yang batil sebagai kebenaran, dan menganggap yang benar sebagai kebatilan. Senjata ini tentu hanya akan berhasil pada orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang kebenaran dan kebatilan. Maka, untuk melawan setan dalam hal ini, kita harus membekali diri dengan ilmu yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Fitnah itu ada dua macam; fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Dan yang paling besar (bahayanya) adalah fitnah syubhat. Kadang-kadang keduanya terkumpul pada diri seorang hamba dan terkadang hanya satu saja yang ada. Maka, fitnah syubhat adalah disebabkan karena lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.” (Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Syekh Ali Hasan memberikan komentar atas ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Dan dari pintu sedikitnya ilmu inilah, setan bisa masuk (menyesatkan) banyak orang-orang yang lalai. Setan menghias-hiasi dan memperindah (keburukan) sehingga mereka jatuh dalam jaring-jaring setan. Maka, ilmu yang bermanfaat adalah kunci semua kebaikan dan penolak semua keburukan.” (Catatan kaki no.1, Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Ketujuh: Menetapi kesabaran Selain syubhat, senjata lain yang digunakan setan adalah syahwat. Yaitu, kecenderungan pada diri manusia untuk memuaskan hawa nafsunya. Dengan adanya syahwat pada diri manusia, setan bisa menggoda dan membujuk seseorang yang sebenarnya telah memiliki ilmu sehingga dia melakukan kemaksiatan yang cocok dengan hawa nafsunya. Maka, untuk menghadapi hal ini, di samping ilmu yang harus dimiliki, kita juga harus memiliki kesabaran untuk menahan diri dari menuruti keinginan hawa nafsu untuk melakukan kemaksiatan. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ ‌وَنَهَى ‌النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41) Kedelapan: Memperbanyak zikir kepada Allah Disebutkan dalam hadis bahwa Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat agar diamalkan. Di antaranya disebutkan, وآمُركم أن تَذكُروا اللهَ؛ فإنَّ مَثلَ ذلك كمَثلِ رجلٍ خرَج العدوُّ في أثَرِه سِراعًا حتَّى إذا أتى على حِصنٍ حَصينٍ، فأحرَز نفسَه منهم، كذلك العبدُ لا يُحرِزُ نفسَه مِن الشَّيطانِ إلَّا بذِكْرِ اللهِ “Dan aku perintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah. Karena perumpamaannya bagaikan seseorang yang dikejar oleh musuh di belakangnya dengan cepat, sehingga apabila dia telah sampai pada benteng yang kokoh, maka dia pun melindungi diri dari mereka. Demikianlah perumpamaan seorang hamba, dia tidak bisa melindungi diri dari setan, kecuali dengan zikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2863) Kesembilan: Membaca Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu zikir terbaik. Di samping bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk dan obat bagi penyakit di dalam dada. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ‌وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) Maka, apabila seorang hamba membaca Al-Qur’an, dia akan dijauhi oleh setan. Terlebih lagi apabila dia mau merenungi isi kandungannya, serta mengamalkannya, niscaya setan akan menjauh darinya. Renungilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut, لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ. إِنَّ ‌الشَّيْطَانَ ‌يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ “Jangan kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780) Kesepuluh: Menetapi Jama’ah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ. فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ ‌القَاصِيَة “Tidaklah tiga orang berada pada suatu kampung atau suatu padang sahara yang tidak ditegakkan padanya salat, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka, hendaknya kalian menetapi jama’ah. Karena serigala hanya akan memangsa kambing yang menyendiri (dari jama’ah).” (HR. Abu Daud no. 547) Jama’ah yang dimaksud, tentunya adalah orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Bukan sembarang jama’ah atau kumpulan orang-orang, walaupun di atas kebatilan. Abdullah bin Mas’ud berkata kepada Amr bin Maimun, “Tahukah kamu, apa itu jama’ah?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya mayoritas jama’ah (orang-orang) mereka menyelisihi jama’ah. Jama’ah (sesungguhnya) adalah apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian.” (Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyah, 12: 109) Wallahul Musta’an. Baca juga: Penjelasan Hadis Tanduk Setan dari Timur *** Penulis: Abu Ubaidillah Apri Hernowo Artikel: Muslim.or.id


Daftar Isi Toggle Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusiaPerlunya melakukan perlawanan terhadap setanUpaya yang bisa dilakukan untuk melawan setanPertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kitaKedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada AllahKetiga: IkhlasKeempat: Bertawakal kepada AllahKelima: Menjauhi langkah-langkah setanKeenam: Membekali diri dengan ilmuKetujuh: Menetapi kesabaranKedelapan: Memperbanyak zikir kepada AllahKesembilan: Membaca Al-Qur’anKesepuluh: Menetapi Jama’ah Dalam usaha menuju kebahagiaan hakiki dan menggapai rida Allah, manusia selalu mendapatkan berbagai rintangan. Di antara rintangan terbesar adalah setan yang selalu menggoda dan membujuk rayu manusia untuk menjadi pengikutnya dalam kesesatan. Dia berusaha menghiasi keburukan sehingga manusia tertarik kepadanya, dan menjelek-jelekkan kebaikan sehingga manusia menjauhinya. Ikrar iblis untuk terus menyesatkan manusia Upaya setan untuk terus menyesatkan manusia ini bermula dari rasa hasad Iblis kepada Nabi Adam yang lebih diutamakan oleh Allah daripada dirinya, sehingga dia pun sombong tidak mau sujud kepada Adam. Lalu, Iblis pun bersumpah janji di hadapan Allah akan berusaha menyesatkan Adam dan anak keturunannya. قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ  قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ  إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ  قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي ‌لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘(Kalau begitu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’ Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Al-Hijr: 36-39) Dalam ayat lain, Allah berfirman, لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا  وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ ‌فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا “Allah melaknat setan. Dan setan itu mengatakan, ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 118-119) Perlunya melakukan perlawanan terhadap setan Seorang mukmin yang memiliki ketulusan niat untuk menggapai rida Allah, tentu akan berusaha semaksimal mungkin menghadapi rintangan yang ada. Maka, dia akan berusaha melakukan perlawanan terhadap setan dan gangguannya. Apabila dia bersungguh-sungguh dalam usahanya ini, niscaya Allah akan memberi pertolongan dan kemudahan kepadanya. Allah berfirman, وَالَّذِينَ ‌جَاهَدُوا ‌فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) As-Suddi dan yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun sebelum diwajibkan berperang. Ibnu Athiyyah berkata, “Ayat ini sebelum adanya jihad yang makruf (yakni: perang -pen), sehingga dia adalah jihad yang bersifat umum untuk menegakkan agama Allah dan mencari rida-Nya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 390) Dan jihad dengan makna yang umum mencakup jihad melawan empat hal. Di antaranya adalah jihad melawan setan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jihad itu ada empat tingkatan. Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan orang-orang kafir, dan jihad melawan orang-orang munafik.” (Zadul Ma’ad, 3: 9) Lalu, beliau menjelaskan tentang jihad melawan setan, “Adapun jihad melawan setan, maka ada dua tingkatan: Pertama adalah jihad melawannya dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan oleh setan kepada seorang hamba, berupa syubhat, dan keraguan yang bisa merusak keimanan. Kedua adalah jihad melawan setan dengan menolak berbagai hal yang dilemparkan setan kepada hamba yang berupa syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak.” (Zadul Ma’ad, 3: 10) Baca juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan? Upaya yang bisa dilakukan untuk melawan setan Pertama: Mengetahui bahwa setan adalah musuh kita Seseorang yang tidak mengetahui siapa musuhnya, tidak akan mungkin melakukan perlawanan kepadanya. Maka, hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang mukmin dalam melawan setan adalah, meyakini bahwa setan adalah musuh yang sebenarnya baginya. Yang terus berusaha menjerumuskannya dalam kebinasaan. Allah berfirman, إِنَّ الشَّيْطَانَ ‌لَكُمْ ‌عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Kedua: Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Manusia adalah makhluk yang lemah. Dia tidak bisa mengerjakan suatu kebaikan dan menghindari keburukan, kecuali dengan pertolongan Allah. Terlebih lagi ketika dia ingin menghadapi musuh yang tidak bisa dia lihat dan tidak bisa dia dengar. Maka, semakin besar kebutuhannya untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman, وَإِمَّا ‌يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36) Ketiga: Ikhlas Sebesar apa pun usaha yang dilakukan setan menyesatkan manusia, ternyata ada orang-orang yang setan sendiri mengakui tidak bisa menyesatkannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan dalam hatinya. Allah berfirman, قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ‌الْمُخْلَصِينَ “Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.’ ” (QS. Al-Hijr: 39-40) Syekh As-Sa’di menjelaskan tentang makna kata “المخلَصين” (hamba-hamba yang terpilih) di dalam ayat tersebut, “Yaitu, yang Engkau pilih mereka karena keikhlasan, keimanan, dan tawakal mereka.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 431) Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa ulama (qiraah) dari Madinah dan dari Kufah membaca kata tersebut dengan difathah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlasin”, yang artinya orang-orang yang dipilih. Sedangkan ulama ahli qiraah lainnya membaca kata tersebut dengan dikasrah huruf lamnya. Sehingga dibaca “mukhlisin”, yang artinya adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan membersihkannya dari kerusakan dan riya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 12 :212) Keempat: Bertawakal kepada Allah Tawakal kepada Allah maknanya adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menghindari keburukan, disertai dengan melakukan usaha yang disyariatkan dan diizinkan oleh Allah. Tawakal merupakan ibadah yang sangat agung dan juga penting. Dia memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan dikuasai dan dipengaruhi oleh setan. Allah berfirman, فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ ‌يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ  “Maka, apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur`ān, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 98-100) Kelima: Menjauhi langkah-langkah setan Perlu kita ketahui, ketika setan ingin menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan kebinasaan, dia tidak menggunakan satu cara saja. Bahkan, setan memiliki begitu banyak langkah dan cara untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, apabila kita ingin melawan setan, sangat perlu bagi kita untuk mengetahui apa saja langkah-langkah yang ditempuh oleh setan, untuk kemudian kita jauhi. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ ‌خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21) Qatadah berkata, “Semua kemaksiatan adalah termasuk langkah-langkah setan.” (Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nur: 21) Syekh As-Sa’di berkata, “Dan langkah-langkah setan mencakup semua kemaksiatan yang berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan.” (Taisirul Karimir Rahman, hal. 563) Keenam: Membekali diri dengan ilmu Kebodohan manusia merupakan kondisi yang disukai setan. Dengan kebodohan, setan mendapatkan kesempatan besar untuk menjerumuskan manusia dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah dijelaskan para ulama, salah satu senjata setan untuk menyesatkan manusia adalah syubhat. Yaitu, kerancuan-kerancuan yang dilemparkan setan untuk menipu manusia sehingga dia menganggap yang batil sebagai kebenaran, dan menganggap yang benar sebagai kebatilan. Senjata ini tentu hanya akan berhasil pada orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang kebenaran dan kebatilan. Maka, untuk melawan setan dalam hal ini, kita harus membekali diri dengan ilmu yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Fitnah itu ada dua macam; fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Dan yang paling besar (bahayanya) adalah fitnah syubhat. Kadang-kadang keduanya terkumpul pada diri seorang hamba dan terkadang hanya satu saja yang ada. Maka, fitnah syubhat adalah disebabkan karena lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.” (Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Syekh Ali Hasan memberikan komentar atas ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Dan dari pintu sedikitnya ilmu inilah, setan bisa masuk (menyesatkan) banyak orang-orang yang lalai. Setan menghias-hiasi dan memperindah (keburukan) sehingga mereka jatuh dalam jaring-jaring setan. Maka, ilmu yang bermanfaat adalah kunci semua kebaikan dan penolak semua keburukan.” (Catatan kaki no.1, Ighatsatul Lahfan, 2: 887) Ketujuh: Menetapi kesabaran Selain syubhat, senjata lain yang digunakan setan adalah syahwat. Yaitu, kecenderungan pada diri manusia untuk memuaskan hawa nafsunya. Dengan adanya syahwat pada diri manusia, setan bisa menggoda dan membujuk seseorang yang sebenarnya telah memiliki ilmu sehingga dia melakukan kemaksiatan yang cocok dengan hawa nafsunya. Maka, untuk menghadapi hal ini, di samping ilmu yang harus dimiliki, kita juga harus memiliki kesabaran untuk menahan diri dari menuruti keinginan hawa nafsu untuk melakukan kemaksiatan. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ ‌وَنَهَى ‌النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41) Kedelapan: Memperbanyak zikir kepada Allah Disebutkan dalam hadis bahwa Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat agar diamalkan. Di antaranya disebutkan, وآمُركم أن تَذكُروا اللهَ؛ فإنَّ مَثلَ ذلك كمَثلِ رجلٍ خرَج العدوُّ في أثَرِه سِراعًا حتَّى إذا أتى على حِصنٍ حَصينٍ، فأحرَز نفسَه منهم، كذلك العبدُ لا يُحرِزُ نفسَه مِن الشَّيطانِ إلَّا بذِكْرِ اللهِ “Dan aku perintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah. Karena perumpamaannya bagaikan seseorang yang dikejar oleh musuh di belakangnya dengan cepat, sehingga apabila dia telah sampai pada benteng yang kokoh, maka dia pun melindungi diri dari mereka. Demikianlah perumpamaan seorang hamba, dia tidak bisa melindungi diri dari setan, kecuali dengan zikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2863) Kesembilan: Membaca Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu zikir terbaik. Di samping bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk dan obat bagi penyakit di dalam dada. Allah berfirman, يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ‌وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) Maka, apabila seorang hamba membaca Al-Qur’an, dia akan dijauhi oleh setan. Terlebih lagi apabila dia mau merenungi isi kandungannya, serta mengamalkannya, niscaya setan akan menjauh darinya. Renungilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut, لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ. إِنَّ ‌الشَّيْطَانَ ‌يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ “Jangan kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780) Kesepuluh: Menetapi Jama’ah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ، وَلَا بَدْوٍ، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ. فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ ‌القَاصِيَة “Tidaklah tiga orang berada pada suatu kampung atau suatu padang sahara yang tidak ditegakkan padanya salat, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka, hendaknya kalian menetapi jama’ah. Karena serigala hanya akan memangsa kambing yang menyendiri (dari jama’ah).” (HR. Abu Daud no. 547) Jama’ah yang dimaksud, tentunya adalah orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Bukan sembarang jama’ah atau kumpulan orang-orang, walaupun di atas kebatilan. Abdullah bin Mas’ud berkata kepada Amr bin Maimun, “Tahukah kamu, apa itu jama’ah?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya mayoritas jama’ah (orang-orang) mereka menyelisihi jama’ah. Jama’ah (sesungguhnya) adalah apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian.” (Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyah, 12: 109) Wallahul Musta’an. Baca juga: Penjelasan Hadis Tanduk Setan dari Timur *** Penulis: Abu Ubaidillah Apri Hernowo Artikel: Muslim.or.id

Biografi Ringkas Syekh Islam Ibnu Taimiyah (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle NamaJulukanKunyahKelahiran dan masa kecilGuru-guruMurid-murid AkidahMazhab Nama Abu Al-Abbas Ahmad bin Syekh Imam Shihabuddin Abi Al-Muhassin Abdulhalim bin Syekh Imam Majduddin Abi Al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khadr bin Muhammad bin Taimiyyah bin Al-Khadr bin Ali bin Abdullah An-Namiri. [1] Julukan Beliau dikenal dengan julukan “Syekh Islam” dan “Ibn Taimiyyah,” dan sering kali kedua julukan tersebut digabungkan menjadi “Syekh Islam Ibn Taimiyyah.” Kunyah Beliau dikenal dengan kunyah “Abu Al-Abbas,” meskipun beliau tidak menikah. Hal ini berdasarkan sunah Nabi yang menganjurkan bagi setiap muslim untuk menggunakan kunyah, meskipun tanpa memiliki anak atau masih kecil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa semua istri-istrimu memiliki kunyah, kecuali aku?” Nabi menjawab, “Gunakanlah kunyah dengan menyebut anakmu, Abdullah (yaitu, anak Az-Zubair).” [2] Dan dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang anak yang disebutkan “Abu Umair”, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh nughair (burung peliharaan kecilnya)?” [3] Kelahiran dan masa kecil Imam Ibnu Taimiyah lahir pada hari Senin, 10 Rabiulawal tahun 661 H di Harran. [4] Beliau lahir dalam keluarga yang terkenal dengan ilmu dan ketakwaan. Keluarga beliau memiliki tradisi panjang dalam ilmu pengetahuan dan banyak di antara mereka yang menjadi imam di masjid-masjid besar. Ayahnya, Imam Abdulhalim, dan kakeknya, Imam Majduddin, adalah ulama terkenal yang mengajarkan akidah dan fikih menurut mazhab Hanbali. Imam Ibn Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai ilmu dan menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk berkembang dalam berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu syariat, fikih, hadis, dan bahasa Arab. Imam Ibnu Taimiyah tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung pengembangan ilmu, yang memberikan pengaruh besar dalam dirinya. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan dan bakat luar biasa dalam ilmu pengetahuan. Beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia muda, lalu melanjutkan untuk menghafal hadis, mempelajari fikih, dan bahasa Arab. Beliau rajin menghadiri majelis-majelis ilmiah, berdiskusi, memberi fatwa, dan mengajarkan orang lain, meskipun usianya masih muda. Lingkungan yang penuh dengan ilmu dan kebajikan sangat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kecerdasannya. Imam Ibn Taimiyyah dibesarkan dengan semangat kuat untuk mencari ilmu dan membela ajaran Islam, terutama dalam menghadapi permasalahan-permasalahan fikih dan akidah. Beliau belajar dengan sangat tekun dan berdedikasi, yang tercermin dalam karya-karya dan fatwa-fatwanya yang mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Semangatnya untuk terus menggali ilmu sejak usia muda menjadikannya seorang imam besar yang dihormati hingga hari ini. [5] Baca juga: Biografi Syu’aib Al-Arnauth Guru-guru Kepribadian luar biasa seperti Imam Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa ia memiliki banyak sumber pengetahuan cabang ilmu yang dipelajari. Hal ini menegaskan bahwa beliau menerima ilmu dari banyak guru, baik pria maupun wanita, yang beragam sesuai dengan luasnya bidang ilmu yang dipelajarinya. Diriwayatkan bahwa beliau belajar dari lebih dari 200 guru [6] pria dan empat guru wanita. Di antara guru-gurunya adalah: Pertama: Imam Ibn Abd Al-Da’im Kedua: Ayahnya sendiri, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdulhalim bin Abd al-Salam Ibn Taimiyyah. Ketiga: Imam Abdulrahman bin Muhammad bin Qudamah Keempat: Syekh Ali Al-Shalihi Kelima: Syekh Afifuddin Abdulrahman bin Faris Al-Baghdadi Keenam: Syekh Al-Manja Al-Tiyukhi Ketujuh: Syekh Muhammad bin Abdulqawi Kedelapan: Syekh Syarafuddin Al-Maqdisi Kesembilan: Syekh Al-Wasiti Kesepuluh: Syekh Muhammad bin Ismail Al-Syaibani Dari kalangan wanita, beliau juga belajar dari: Pertama: Bibi beliau, Sitt Al-Dar. Kedua: Syekhah Ummu Al-Khair Al-Dimasyqiyyah. Ketiga: Syekhah Ummu Al-Arab. Keempat: Syekhah Ummu Ahmad Al-Haraniyyah. Kelima: Syekhah Ummu Muhammad Al-Maqdisiyyah. Guru-guru tersebut memberikan pengaruh besar pada keilmuan, akhlak, dan kepemimpinannya, yang kemudian mengokohkan kecerdasan dan kebrilianan beliau. Murid-murid  Ibnu Taimiyah memiliki banyak murid yang mendapatkan manfaat dari ilmunya. Murid-murid beliau tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga mengambil metodologi pemikiran dan kebijaksanaan dari beliau. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi imam besar di bidangnya masing-masing. Di antara murid-muridnya adalah: Pertama: Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah Kedua: Imam Al-Dzahabi Ketiga: Imam Ibn Katsir Keempat: Al-Hafidz Al-Bazzar Kelima: Imam Ibn Abdulhadi Keenam: Syekh Al-Wasiti Ketujuh: Syekh Ibn Al-Wardi Kedelapan: Syekh Ibn Rasyiq Kesepuluh: Imam Ibn Muflih Akidah Ibnu Taimiyah memegang teguh akidah salaf saleh, yaitu akidah ahli sunah waljamaah, yang berlandaskan pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ dan generasi awal Islam, dalam tiga generasi terbaik yang disebutkan dalam sabda Nabi, خير أمَّتي قرْني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم “Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka.“[7] Akidah ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah yang sahih, serta penafsiran para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in dari tiga abad pertama Islam yang penuh keutamaan. Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah mengaitkan akidahnya dengan individu atau mazhab tertentu, termasuk mazhab Hanbali yang menjadi panduannya dalam fikih. Sebaliknya, ia menyeru kepada komitmen pada akidah salaf tanpa fanatisme terhadap mazhab tertentu. Dalam salah satu pernyataannya, beliau menegaskan, أما الاعتقاد، فإنَّه لا يُؤخذ عني ولا عمَّن هو أكبرُ مني؛ بل يؤخذ عن الله ورسوله – صلَّى الله عليه وسلَّم – وما أجمع عليه سلفُ الأمَّة، فما كان في القرآن وجَب اعتقادُه، وكذلك ما ثبَت في الأحاديث الصحيحة، مثل صحيحي البخاري ومسلم… وكان يَرِدُ عليَّ مِن مصر وغيرها مَن يسألني عن مسائلَ في الاعتقاد أو غيره، فأُجيبه بالكتاب والسُّنة، وما كان عليه سَلفُ الأمة “Adapun akidah, maka tidak boleh diambil dariku atau dari siapa pun yang lebih besar dariku. Akidah hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta dari apa yang disepakati oleh salaful-ummah ini. Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib diyakini, demikian pula apa yang sahih dari hadis-hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim…  Dan datanglah kepadaku orang-orang dari Mesir dan tempat lainnya yang menanyakan kepadaku tentang berbagai persoalan, baik dalam hal akidah maupun yang lainnya. Maka, aku menjawab mereka dengan (berdasarkan) Al-Qur’an dan Sunah, serta apa yang telah menjadi pegangan salaf saleh.” [8] Mazhab Ibnu Taimiyah tumbuh, belajar, dan dididik berdasarkan prinsip-prinsip mazhab Hanbali. Ayah dan kakeknya, bahkan keluarganya secara keseluruhan, merupakan tokoh-tokoh besar mazhab Hanbali di Damaskus dan wilayah Syam. Namun, dia tidak membatasi studinya hanya pada mazhab Hanbali saja, melainkan mempelajari juga mazhab-mazhab fikih lainnya. Pada akhirnya, di masa akhir hidupnya, ia tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Dia memberikan fatwa berdasarkan pendapat yang menurutnya paling kuat dalilnya. Meski demikian, dia tidak bersikap fanatik terhadap satu imam, guru, atau mazhab tertentu. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa hal yang diperbolehkan bagi umat Islam untuk mengikuti pendapat salah satu ulama selama tidak diyakini bahwa pendapat tersebut salah. Ketika muridnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, memintanya menyusun kitab fikih yang mengumpulkan pilihan dan pendapatnya sebagai rujukan utama dalam fatwa, dia menjawab, “Masalah cabang (furu’) itu perkara yang ringan. Siapa saja yang mengikuti salah satu ulama yang berkompeten dalam hal ini, diperbolehkan baginya untuk mengamalkan pendapatnya, selama dia tidak yakin bahwa pendapat tersebut keliru.” [9] Ibnu Taimiyah juga menyebut bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat yang luas. Beliau berkata, ولهذا كان بعضُ العلماء يقول: إجماعهم حُجَّة قاطعة، واختلافهم رحمة واسعة “Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ‘Ijma’ mereka adalah hujah yang pasti, dan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas.’” Ibnu Taimiyah juga menekankan pentingnya tidak memaksakan satu mazhab tertentu kepada umat. Dia mengutip sebagian ulama Syafi’i yang berkata, “Tidak seorang pun boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya dalam masalah-masalah ini, tetapi dia harus berbicara dengan pendapat yang ilmiah. Siapa pun yang memahami kebenaran dari salah satu pendapat, dia boleh mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti kepada pendapat lainnya, tidak ada kecaman baginya.” [10] Meskipun begitu, Ibnu Taimiyah sangat menghormati para imam mazhab, membela mereka, dan melarang mencela mereka. Dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan mereka muncul dari hasil ijtihad masing-masing. Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam risalahnya yang terkenal Raf’ul Malam ‘an al-A’immatil A’lam. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2 *** Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, (jilid 1, hal. أ), Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Al-Madkhal ila Atsar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 15. [2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6: 151, 186, dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1: 45), no. 132. [3] Muttafaqun ‘alaihi. [4] Op.Cit. [5] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 17, 19, dengan diringkas dan beberapa perubahan. [6] Disebutkan Imam Ibn ‘Abd Al-Hadi dalam kitabnya Al-‘Uqud Al-Durriyyah, hal. 6. [7] Muttafaqun ‘alaihi. [8] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, 3: 161. [9] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 33, dengan beberapa perubahan. [10] Imam Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, 30: 80.

Biografi Ringkas Syekh Islam Ibnu Taimiyah (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle NamaJulukanKunyahKelahiran dan masa kecilGuru-guruMurid-murid AkidahMazhab Nama Abu Al-Abbas Ahmad bin Syekh Imam Shihabuddin Abi Al-Muhassin Abdulhalim bin Syekh Imam Majduddin Abi Al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khadr bin Muhammad bin Taimiyyah bin Al-Khadr bin Ali bin Abdullah An-Namiri. [1] Julukan Beliau dikenal dengan julukan “Syekh Islam” dan “Ibn Taimiyyah,” dan sering kali kedua julukan tersebut digabungkan menjadi “Syekh Islam Ibn Taimiyyah.” Kunyah Beliau dikenal dengan kunyah “Abu Al-Abbas,” meskipun beliau tidak menikah. Hal ini berdasarkan sunah Nabi yang menganjurkan bagi setiap muslim untuk menggunakan kunyah, meskipun tanpa memiliki anak atau masih kecil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa semua istri-istrimu memiliki kunyah, kecuali aku?” Nabi menjawab, “Gunakanlah kunyah dengan menyebut anakmu, Abdullah (yaitu, anak Az-Zubair).” [2] Dan dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang anak yang disebutkan “Abu Umair”, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh nughair (burung peliharaan kecilnya)?” [3] Kelahiran dan masa kecil Imam Ibnu Taimiyah lahir pada hari Senin, 10 Rabiulawal tahun 661 H di Harran. [4] Beliau lahir dalam keluarga yang terkenal dengan ilmu dan ketakwaan. Keluarga beliau memiliki tradisi panjang dalam ilmu pengetahuan dan banyak di antara mereka yang menjadi imam di masjid-masjid besar. Ayahnya, Imam Abdulhalim, dan kakeknya, Imam Majduddin, adalah ulama terkenal yang mengajarkan akidah dan fikih menurut mazhab Hanbali. Imam Ibn Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai ilmu dan menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk berkembang dalam berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu syariat, fikih, hadis, dan bahasa Arab. Imam Ibnu Taimiyah tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung pengembangan ilmu, yang memberikan pengaruh besar dalam dirinya. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan dan bakat luar biasa dalam ilmu pengetahuan. Beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia muda, lalu melanjutkan untuk menghafal hadis, mempelajari fikih, dan bahasa Arab. Beliau rajin menghadiri majelis-majelis ilmiah, berdiskusi, memberi fatwa, dan mengajarkan orang lain, meskipun usianya masih muda. Lingkungan yang penuh dengan ilmu dan kebajikan sangat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kecerdasannya. Imam Ibn Taimiyyah dibesarkan dengan semangat kuat untuk mencari ilmu dan membela ajaran Islam, terutama dalam menghadapi permasalahan-permasalahan fikih dan akidah. Beliau belajar dengan sangat tekun dan berdedikasi, yang tercermin dalam karya-karya dan fatwa-fatwanya yang mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Semangatnya untuk terus menggali ilmu sejak usia muda menjadikannya seorang imam besar yang dihormati hingga hari ini. [5] Baca juga: Biografi Syu’aib Al-Arnauth Guru-guru Kepribadian luar biasa seperti Imam Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa ia memiliki banyak sumber pengetahuan cabang ilmu yang dipelajari. Hal ini menegaskan bahwa beliau menerima ilmu dari banyak guru, baik pria maupun wanita, yang beragam sesuai dengan luasnya bidang ilmu yang dipelajarinya. Diriwayatkan bahwa beliau belajar dari lebih dari 200 guru [6] pria dan empat guru wanita. Di antara guru-gurunya adalah: Pertama: Imam Ibn Abd Al-Da’im Kedua: Ayahnya sendiri, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdulhalim bin Abd al-Salam Ibn Taimiyyah. Ketiga: Imam Abdulrahman bin Muhammad bin Qudamah Keempat: Syekh Ali Al-Shalihi Kelima: Syekh Afifuddin Abdulrahman bin Faris Al-Baghdadi Keenam: Syekh Al-Manja Al-Tiyukhi Ketujuh: Syekh Muhammad bin Abdulqawi Kedelapan: Syekh Syarafuddin Al-Maqdisi Kesembilan: Syekh Al-Wasiti Kesepuluh: Syekh Muhammad bin Ismail Al-Syaibani Dari kalangan wanita, beliau juga belajar dari: Pertama: Bibi beliau, Sitt Al-Dar. Kedua: Syekhah Ummu Al-Khair Al-Dimasyqiyyah. Ketiga: Syekhah Ummu Al-Arab. Keempat: Syekhah Ummu Ahmad Al-Haraniyyah. Kelima: Syekhah Ummu Muhammad Al-Maqdisiyyah. Guru-guru tersebut memberikan pengaruh besar pada keilmuan, akhlak, dan kepemimpinannya, yang kemudian mengokohkan kecerdasan dan kebrilianan beliau. Murid-murid  Ibnu Taimiyah memiliki banyak murid yang mendapatkan manfaat dari ilmunya. Murid-murid beliau tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga mengambil metodologi pemikiran dan kebijaksanaan dari beliau. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi imam besar di bidangnya masing-masing. Di antara murid-muridnya adalah: Pertama: Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah Kedua: Imam Al-Dzahabi Ketiga: Imam Ibn Katsir Keempat: Al-Hafidz Al-Bazzar Kelima: Imam Ibn Abdulhadi Keenam: Syekh Al-Wasiti Ketujuh: Syekh Ibn Al-Wardi Kedelapan: Syekh Ibn Rasyiq Kesepuluh: Imam Ibn Muflih Akidah Ibnu Taimiyah memegang teguh akidah salaf saleh, yaitu akidah ahli sunah waljamaah, yang berlandaskan pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ dan generasi awal Islam, dalam tiga generasi terbaik yang disebutkan dalam sabda Nabi, خير أمَّتي قرْني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم “Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka.“[7] Akidah ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah yang sahih, serta penafsiran para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in dari tiga abad pertama Islam yang penuh keutamaan. Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah mengaitkan akidahnya dengan individu atau mazhab tertentu, termasuk mazhab Hanbali yang menjadi panduannya dalam fikih. Sebaliknya, ia menyeru kepada komitmen pada akidah salaf tanpa fanatisme terhadap mazhab tertentu. Dalam salah satu pernyataannya, beliau menegaskan, أما الاعتقاد، فإنَّه لا يُؤخذ عني ولا عمَّن هو أكبرُ مني؛ بل يؤخذ عن الله ورسوله – صلَّى الله عليه وسلَّم – وما أجمع عليه سلفُ الأمَّة، فما كان في القرآن وجَب اعتقادُه، وكذلك ما ثبَت في الأحاديث الصحيحة، مثل صحيحي البخاري ومسلم… وكان يَرِدُ عليَّ مِن مصر وغيرها مَن يسألني عن مسائلَ في الاعتقاد أو غيره، فأُجيبه بالكتاب والسُّنة، وما كان عليه سَلفُ الأمة “Adapun akidah, maka tidak boleh diambil dariku atau dari siapa pun yang lebih besar dariku. Akidah hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta dari apa yang disepakati oleh salaful-ummah ini. Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib diyakini, demikian pula apa yang sahih dari hadis-hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim…  Dan datanglah kepadaku orang-orang dari Mesir dan tempat lainnya yang menanyakan kepadaku tentang berbagai persoalan, baik dalam hal akidah maupun yang lainnya. Maka, aku menjawab mereka dengan (berdasarkan) Al-Qur’an dan Sunah, serta apa yang telah menjadi pegangan salaf saleh.” [8] Mazhab Ibnu Taimiyah tumbuh, belajar, dan dididik berdasarkan prinsip-prinsip mazhab Hanbali. Ayah dan kakeknya, bahkan keluarganya secara keseluruhan, merupakan tokoh-tokoh besar mazhab Hanbali di Damaskus dan wilayah Syam. Namun, dia tidak membatasi studinya hanya pada mazhab Hanbali saja, melainkan mempelajari juga mazhab-mazhab fikih lainnya. Pada akhirnya, di masa akhir hidupnya, ia tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Dia memberikan fatwa berdasarkan pendapat yang menurutnya paling kuat dalilnya. Meski demikian, dia tidak bersikap fanatik terhadap satu imam, guru, atau mazhab tertentu. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa hal yang diperbolehkan bagi umat Islam untuk mengikuti pendapat salah satu ulama selama tidak diyakini bahwa pendapat tersebut salah. Ketika muridnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, memintanya menyusun kitab fikih yang mengumpulkan pilihan dan pendapatnya sebagai rujukan utama dalam fatwa, dia menjawab, “Masalah cabang (furu’) itu perkara yang ringan. Siapa saja yang mengikuti salah satu ulama yang berkompeten dalam hal ini, diperbolehkan baginya untuk mengamalkan pendapatnya, selama dia tidak yakin bahwa pendapat tersebut keliru.” [9] Ibnu Taimiyah juga menyebut bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat yang luas. Beliau berkata, ولهذا كان بعضُ العلماء يقول: إجماعهم حُجَّة قاطعة، واختلافهم رحمة واسعة “Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ‘Ijma’ mereka adalah hujah yang pasti, dan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas.’” Ibnu Taimiyah juga menekankan pentingnya tidak memaksakan satu mazhab tertentu kepada umat. Dia mengutip sebagian ulama Syafi’i yang berkata, “Tidak seorang pun boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya dalam masalah-masalah ini, tetapi dia harus berbicara dengan pendapat yang ilmiah. Siapa pun yang memahami kebenaran dari salah satu pendapat, dia boleh mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti kepada pendapat lainnya, tidak ada kecaman baginya.” [10] Meskipun begitu, Ibnu Taimiyah sangat menghormati para imam mazhab, membela mereka, dan melarang mencela mereka. Dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan mereka muncul dari hasil ijtihad masing-masing. Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam risalahnya yang terkenal Raf’ul Malam ‘an al-A’immatil A’lam. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2 *** Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, (jilid 1, hal. أ), Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Al-Madkhal ila Atsar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 15. [2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6: 151, 186, dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1: 45), no. 132. [3] Muttafaqun ‘alaihi. [4] Op.Cit. [5] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 17, 19, dengan diringkas dan beberapa perubahan. [6] Disebutkan Imam Ibn ‘Abd Al-Hadi dalam kitabnya Al-‘Uqud Al-Durriyyah, hal. 6. [7] Muttafaqun ‘alaihi. [8] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, 3: 161. [9] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 33, dengan beberapa perubahan. [10] Imam Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, 30: 80.
Daftar Isi Toggle NamaJulukanKunyahKelahiran dan masa kecilGuru-guruMurid-murid AkidahMazhab Nama Abu Al-Abbas Ahmad bin Syekh Imam Shihabuddin Abi Al-Muhassin Abdulhalim bin Syekh Imam Majduddin Abi Al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khadr bin Muhammad bin Taimiyyah bin Al-Khadr bin Ali bin Abdullah An-Namiri. [1] Julukan Beliau dikenal dengan julukan “Syekh Islam” dan “Ibn Taimiyyah,” dan sering kali kedua julukan tersebut digabungkan menjadi “Syekh Islam Ibn Taimiyyah.” Kunyah Beliau dikenal dengan kunyah “Abu Al-Abbas,” meskipun beliau tidak menikah. Hal ini berdasarkan sunah Nabi yang menganjurkan bagi setiap muslim untuk menggunakan kunyah, meskipun tanpa memiliki anak atau masih kecil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa semua istri-istrimu memiliki kunyah, kecuali aku?” Nabi menjawab, “Gunakanlah kunyah dengan menyebut anakmu, Abdullah (yaitu, anak Az-Zubair).” [2] Dan dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang anak yang disebutkan “Abu Umair”, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh nughair (burung peliharaan kecilnya)?” [3] Kelahiran dan masa kecil Imam Ibnu Taimiyah lahir pada hari Senin, 10 Rabiulawal tahun 661 H di Harran. [4] Beliau lahir dalam keluarga yang terkenal dengan ilmu dan ketakwaan. Keluarga beliau memiliki tradisi panjang dalam ilmu pengetahuan dan banyak di antara mereka yang menjadi imam di masjid-masjid besar. Ayahnya, Imam Abdulhalim, dan kakeknya, Imam Majduddin, adalah ulama terkenal yang mengajarkan akidah dan fikih menurut mazhab Hanbali. Imam Ibn Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai ilmu dan menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk berkembang dalam berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu syariat, fikih, hadis, dan bahasa Arab. Imam Ibnu Taimiyah tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung pengembangan ilmu, yang memberikan pengaruh besar dalam dirinya. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan dan bakat luar biasa dalam ilmu pengetahuan. Beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia muda, lalu melanjutkan untuk menghafal hadis, mempelajari fikih, dan bahasa Arab. Beliau rajin menghadiri majelis-majelis ilmiah, berdiskusi, memberi fatwa, dan mengajarkan orang lain, meskipun usianya masih muda. Lingkungan yang penuh dengan ilmu dan kebajikan sangat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kecerdasannya. Imam Ibn Taimiyyah dibesarkan dengan semangat kuat untuk mencari ilmu dan membela ajaran Islam, terutama dalam menghadapi permasalahan-permasalahan fikih dan akidah. Beliau belajar dengan sangat tekun dan berdedikasi, yang tercermin dalam karya-karya dan fatwa-fatwanya yang mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Semangatnya untuk terus menggali ilmu sejak usia muda menjadikannya seorang imam besar yang dihormati hingga hari ini. [5] Baca juga: Biografi Syu’aib Al-Arnauth Guru-guru Kepribadian luar biasa seperti Imam Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa ia memiliki banyak sumber pengetahuan cabang ilmu yang dipelajari. Hal ini menegaskan bahwa beliau menerima ilmu dari banyak guru, baik pria maupun wanita, yang beragam sesuai dengan luasnya bidang ilmu yang dipelajarinya. Diriwayatkan bahwa beliau belajar dari lebih dari 200 guru [6] pria dan empat guru wanita. Di antara guru-gurunya adalah: Pertama: Imam Ibn Abd Al-Da’im Kedua: Ayahnya sendiri, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdulhalim bin Abd al-Salam Ibn Taimiyyah. Ketiga: Imam Abdulrahman bin Muhammad bin Qudamah Keempat: Syekh Ali Al-Shalihi Kelima: Syekh Afifuddin Abdulrahman bin Faris Al-Baghdadi Keenam: Syekh Al-Manja Al-Tiyukhi Ketujuh: Syekh Muhammad bin Abdulqawi Kedelapan: Syekh Syarafuddin Al-Maqdisi Kesembilan: Syekh Al-Wasiti Kesepuluh: Syekh Muhammad bin Ismail Al-Syaibani Dari kalangan wanita, beliau juga belajar dari: Pertama: Bibi beliau, Sitt Al-Dar. Kedua: Syekhah Ummu Al-Khair Al-Dimasyqiyyah. Ketiga: Syekhah Ummu Al-Arab. Keempat: Syekhah Ummu Ahmad Al-Haraniyyah. Kelima: Syekhah Ummu Muhammad Al-Maqdisiyyah. Guru-guru tersebut memberikan pengaruh besar pada keilmuan, akhlak, dan kepemimpinannya, yang kemudian mengokohkan kecerdasan dan kebrilianan beliau. Murid-murid  Ibnu Taimiyah memiliki banyak murid yang mendapatkan manfaat dari ilmunya. Murid-murid beliau tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga mengambil metodologi pemikiran dan kebijaksanaan dari beliau. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi imam besar di bidangnya masing-masing. Di antara murid-muridnya adalah: Pertama: Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah Kedua: Imam Al-Dzahabi Ketiga: Imam Ibn Katsir Keempat: Al-Hafidz Al-Bazzar Kelima: Imam Ibn Abdulhadi Keenam: Syekh Al-Wasiti Ketujuh: Syekh Ibn Al-Wardi Kedelapan: Syekh Ibn Rasyiq Kesepuluh: Imam Ibn Muflih Akidah Ibnu Taimiyah memegang teguh akidah salaf saleh, yaitu akidah ahli sunah waljamaah, yang berlandaskan pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ dan generasi awal Islam, dalam tiga generasi terbaik yang disebutkan dalam sabda Nabi, خير أمَّتي قرْني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم “Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka.“[7] Akidah ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah yang sahih, serta penafsiran para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in dari tiga abad pertama Islam yang penuh keutamaan. Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah mengaitkan akidahnya dengan individu atau mazhab tertentu, termasuk mazhab Hanbali yang menjadi panduannya dalam fikih. Sebaliknya, ia menyeru kepada komitmen pada akidah salaf tanpa fanatisme terhadap mazhab tertentu. Dalam salah satu pernyataannya, beliau menegaskan, أما الاعتقاد، فإنَّه لا يُؤخذ عني ولا عمَّن هو أكبرُ مني؛ بل يؤخذ عن الله ورسوله – صلَّى الله عليه وسلَّم – وما أجمع عليه سلفُ الأمَّة، فما كان في القرآن وجَب اعتقادُه، وكذلك ما ثبَت في الأحاديث الصحيحة، مثل صحيحي البخاري ومسلم… وكان يَرِدُ عليَّ مِن مصر وغيرها مَن يسألني عن مسائلَ في الاعتقاد أو غيره، فأُجيبه بالكتاب والسُّنة، وما كان عليه سَلفُ الأمة “Adapun akidah, maka tidak boleh diambil dariku atau dari siapa pun yang lebih besar dariku. Akidah hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta dari apa yang disepakati oleh salaful-ummah ini. Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib diyakini, demikian pula apa yang sahih dari hadis-hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim…  Dan datanglah kepadaku orang-orang dari Mesir dan tempat lainnya yang menanyakan kepadaku tentang berbagai persoalan, baik dalam hal akidah maupun yang lainnya. Maka, aku menjawab mereka dengan (berdasarkan) Al-Qur’an dan Sunah, serta apa yang telah menjadi pegangan salaf saleh.” [8] Mazhab Ibnu Taimiyah tumbuh, belajar, dan dididik berdasarkan prinsip-prinsip mazhab Hanbali. Ayah dan kakeknya, bahkan keluarganya secara keseluruhan, merupakan tokoh-tokoh besar mazhab Hanbali di Damaskus dan wilayah Syam. Namun, dia tidak membatasi studinya hanya pada mazhab Hanbali saja, melainkan mempelajari juga mazhab-mazhab fikih lainnya. Pada akhirnya, di masa akhir hidupnya, ia tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Dia memberikan fatwa berdasarkan pendapat yang menurutnya paling kuat dalilnya. Meski demikian, dia tidak bersikap fanatik terhadap satu imam, guru, atau mazhab tertentu. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa hal yang diperbolehkan bagi umat Islam untuk mengikuti pendapat salah satu ulama selama tidak diyakini bahwa pendapat tersebut salah. Ketika muridnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, memintanya menyusun kitab fikih yang mengumpulkan pilihan dan pendapatnya sebagai rujukan utama dalam fatwa, dia menjawab, “Masalah cabang (furu’) itu perkara yang ringan. Siapa saja yang mengikuti salah satu ulama yang berkompeten dalam hal ini, diperbolehkan baginya untuk mengamalkan pendapatnya, selama dia tidak yakin bahwa pendapat tersebut keliru.” [9] Ibnu Taimiyah juga menyebut bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat yang luas. Beliau berkata, ولهذا كان بعضُ العلماء يقول: إجماعهم حُجَّة قاطعة، واختلافهم رحمة واسعة “Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ‘Ijma’ mereka adalah hujah yang pasti, dan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas.’” Ibnu Taimiyah juga menekankan pentingnya tidak memaksakan satu mazhab tertentu kepada umat. Dia mengutip sebagian ulama Syafi’i yang berkata, “Tidak seorang pun boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya dalam masalah-masalah ini, tetapi dia harus berbicara dengan pendapat yang ilmiah. Siapa pun yang memahami kebenaran dari salah satu pendapat, dia boleh mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti kepada pendapat lainnya, tidak ada kecaman baginya.” [10] Meskipun begitu, Ibnu Taimiyah sangat menghormati para imam mazhab, membela mereka, dan melarang mencela mereka. Dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan mereka muncul dari hasil ijtihad masing-masing. Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam risalahnya yang terkenal Raf’ul Malam ‘an al-A’immatil A’lam. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2 *** Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, (jilid 1, hal. أ), Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Al-Madkhal ila Atsar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 15. [2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6: 151, 186, dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1: 45), no. 132. [3] Muttafaqun ‘alaihi. [4] Op.Cit. [5] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 17, 19, dengan diringkas dan beberapa perubahan. [6] Disebutkan Imam Ibn ‘Abd Al-Hadi dalam kitabnya Al-‘Uqud Al-Durriyyah, hal. 6. [7] Muttafaqun ‘alaihi. [8] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, 3: 161. [9] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 33, dengan beberapa perubahan. [10] Imam Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, 30: 80.


Daftar Isi Toggle NamaJulukanKunyahKelahiran dan masa kecilGuru-guruMurid-murid AkidahMazhab Nama Abu Al-Abbas Ahmad bin Syekh Imam Shihabuddin Abi Al-Muhassin Abdulhalim bin Syekh Imam Majduddin Abi Al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khadr bin Muhammad bin Taimiyyah bin Al-Khadr bin Ali bin Abdullah An-Namiri. [1] Julukan Beliau dikenal dengan julukan “Syekh Islam” dan “Ibn Taimiyyah,” dan sering kali kedua julukan tersebut digabungkan menjadi “Syekh Islam Ibn Taimiyyah.” Kunyah Beliau dikenal dengan kunyah “Abu Al-Abbas,” meskipun beliau tidak menikah. Hal ini berdasarkan sunah Nabi yang menganjurkan bagi setiap muslim untuk menggunakan kunyah, meskipun tanpa memiliki anak atau masih kecil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa semua istri-istrimu memiliki kunyah, kecuali aku?” Nabi menjawab, “Gunakanlah kunyah dengan menyebut anakmu, Abdullah (yaitu, anak Az-Zubair).” [2] Dan dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang anak yang disebutkan “Abu Umair”, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh nughair (burung peliharaan kecilnya)?” [3] Kelahiran dan masa kecil Imam Ibnu Taimiyah lahir pada hari Senin, 10 Rabiulawal tahun 661 H di Harran. [4] Beliau lahir dalam keluarga yang terkenal dengan ilmu dan ketakwaan. Keluarga beliau memiliki tradisi panjang dalam ilmu pengetahuan dan banyak di antara mereka yang menjadi imam di masjid-masjid besar. Ayahnya, Imam Abdulhalim, dan kakeknya, Imam Majduddin, adalah ulama terkenal yang mengajarkan akidah dan fikih menurut mazhab Hanbali. Imam Ibn Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai ilmu dan menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk berkembang dalam berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu syariat, fikih, hadis, dan bahasa Arab. Imam Ibnu Taimiyah tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung pengembangan ilmu, yang memberikan pengaruh besar dalam dirinya. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan dan bakat luar biasa dalam ilmu pengetahuan. Beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia muda, lalu melanjutkan untuk menghafal hadis, mempelajari fikih, dan bahasa Arab. Beliau rajin menghadiri majelis-majelis ilmiah, berdiskusi, memberi fatwa, dan mengajarkan orang lain, meskipun usianya masih muda. Lingkungan yang penuh dengan ilmu dan kebajikan sangat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kecerdasannya. Imam Ibn Taimiyyah dibesarkan dengan semangat kuat untuk mencari ilmu dan membela ajaran Islam, terutama dalam menghadapi permasalahan-permasalahan fikih dan akidah. Beliau belajar dengan sangat tekun dan berdedikasi, yang tercermin dalam karya-karya dan fatwa-fatwanya yang mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Semangatnya untuk terus menggali ilmu sejak usia muda menjadikannya seorang imam besar yang dihormati hingga hari ini. [5] Baca juga: Biografi Syu’aib Al-Arnauth Guru-guru Kepribadian luar biasa seperti Imam Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa ia memiliki banyak sumber pengetahuan cabang ilmu yang dipelajari. Hal ini menegaskan bahwa beliau menerima ilmu dari banyak guru, baik pria maupun wanita, yang beragam sesuai dengan luasnya bidang ilmu yang dipelajarinya. Diriwayatkan bahwa beliau belajar dari lebih dari 200 guru [6] pria dan empat guru wanita. Di antara guru-gurunya adalah: Pertama: Imam Ibn Abd Al-Da’im Kedua: Ayahnya sendiri, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdulhalim bin Abd al-Salam Ibn Taimiyyah. Ketiga: Imam Abdulrahman bin Muhammad bin Qudamah Keempat: Syekh Ali Al-Shalihi Kelima: Syekh Afifuddin Abdulrahman bin Faris Al-Baghdadi Keenam: Syekh Al-Manja Al-Tiyukhi Ketujuh: Syekh Muhammad bin Abdulqawi Kedelapan: Syekh Syarafuddin Al-Maqdisi Kesembilan: Syekh Al-Wasiti Kesepuluh: Syekh Muhammad bin Ismail Al-Syaibani Dari kalangan wanita, beliau juga belajar dari: Pertama: Bibi beliau, Sitt Al-Dar. Kedua: Syekhah Ummu Al-Khair Al-Dimasyqiyyah. Ketiga: Syekhah Ummu Al-Arab. Keempat: Syekhah Ummu Ahmad Al-Haraniyyah. Kelima: Syekhah Ummu Muhammad Al-Maqdisiyyah. Guru-guru tersebut memberikan pengaruh besar pada keilmuan, akhlak, dan kepemimpinannya, yang kemudian mengokohkan kecerdasan dan kebrilianan beliau. Murid-murid  Ibnu Taimiyah memiliki banyak murid yang mendapatkan manfaat dari ilmunya. Murid-murid beliau tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga mengambil metodologi pemikiran dan kebijaksanaan dari beliau. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi imam besar di bidangnya masing-masing. Di antara murid-muridnya adalah: Pertama: Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah Kedua: Imam Al-Dzahabi Ketiga: Imam Ibn Katsir Keempat: Al-Hafidz Al-Bazzar Kelima: Imam Ibn Abdulhadi Keenam: Syekh Al-Wasiti Ketujuh: Syekh Ibn Al-Wardi Kedelapan: Syekh Ibn Rasyiq Kesepuluh: Imam Ibn Muflih Akidah Ibnu Taimiyah memegang teguh akidah salaf saleh, yaitu akidah ahli sunah waljamaah, yang berlandaskan pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ dan generasi awal Islam, dalam tiga generasi terbaik yang disebutkan dalam sabda Nabi, خير أمَّتي قرْني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم “Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka.“[7] Akidah ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah yang sahih, serta penafsiran para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in dari tiga abad pertama Islam yang penuh keutamaan. Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah mengaitkan akidahnya dengan individu atau mazhab tertentu, termasuk mazhab Hanbali yang menjadi panduannya dalam fikih. Sebaliknya, ia menyeru kepada komitmen pada akidah salaf tanpa fanatisme terhadap mazhab tertentu. Dalam salah satu pernyataannya, beliau menegaskan, أما الاعتقاد، فإنَّه لا يُؤخذ عني ولا عمَّن هو أكبرُ مني؛ بل يؤخذ عن الله ورسوله – صلَّى الله عليه وسلَّم – وما أجمع عليه سلفُ الأمَّة، فما كان في القرآن وجَب اعتقادُه، وكذلك ما ثبَت في الأحاديث الصحيحة، مثل صحيحي البخاري ومسلم… وكان يَرِدُ عليَّ مِن مصر وغيرها مَن يسألني عن مسائلَ في الاعتقاد أو غيره، فأُجيبه بالكتاب والسُّنة، وما كان عليه سَلفُ الأمة “Adapun akidah, maka tidak boleh diambil dariku atau dari siapa pun yang lebih besar dariku. Akidah hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta dari apa yang disepakati oleh salaful-ummah ini. Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib diyakini, demikian pula apa yang sahih dari hadis-hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim…  Dan datanglah kepadaku orang-orang dari Mesir dan tempat lainnya yang menanyakan kepadaku tentang berbagai persoalan, baik dalam hal akidah maupun yang lainnya. Maka, aku menjawab mereka dengan (berdasarkan) Al-Qur’an dan Sunah, serta apa yang telah menjadi pegangan salaf saleh.” [8] Mazhab Ibnu Taimiyah tumbuh, belajar, dan dididik berdasarkan prinsip-prinsip mazhab Hanbali. Ayah dan kakeknya, bahkan keluarganya secara keseluruhan, merupakan tokoh-tokoh besar mazhab Hanbali di Damaskus dan wilayah Syam. Namun, dia tidak membatasi studinya hanya pada mazhab Hanbali saja, melainkan mempelajari juga mazhab-mazhab fikih lainnya. Pada akhirnya, di masa akhir hidupnya, ia tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Dia memberikan fatwa berdasarkan pendapat yang menurutnya paling kuat dalilnya. Meski demikian, dia tidak bersikap fanatik terhadap satu imam, guru, atau mazhab tertentu. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa hal yang diperbolehkan bagi umat Islam untuk mengikuti pendapat salah satu ulama selama tidak diyakini bahwa pendapat tersebut salah. Ketika muridnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, memintanya menyusun kitab fikih yang mengumpulkan pilihan dan pendapatnya sebagai rujukan utama dalam fatwa, dia menjawab, “Masalah cabang (furu’) itu perkara yang ringan. Siapa saja yang mengikuti salah satu ulama yang berkompeten dalam hal ini, diperbolehkan baginya untuk mengamalkan pendapatnya, selama dia tidak yakin bahwa pendapat tersebut keliru.” [9] Ibnu Taimiyah juga menyebut bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat yang luas. Beliau berkata, ولهذا كان بعضُ العلماء يقول: إجماعهم حُجَّة قاطعة، واختلافهم رحمة واسعة “Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ‘Ijma’ mereka adalah hujah yang pasti, dan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas.’” Ibnu Taimiyah juga menekankan pentingnya tidak memaksakan satu mazhab tertentu kepada umat. Dia mengutip sebagian ulama Syafi’i yang berkata, “Tidak seorang pun boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya dalam masalah-masalah ini, tetapi dia harus berbicara dengan pendapat yang ilmiah. Siapa pun yang memahami kebenaran dari salah satu pendapat, dia boleh mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti kepada pendapat lainnya, tidak ada kecaman baginya.” [10] Meskipun begitu, Ibnu Taimiyah sangat menghormati para imam mazhab, membela mereka, dan melarang mencela mereka. Dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan mereka muncul dari hasil ijtihad masing-masing. Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam risalahnya yang terkenal Raf’ul Malam ‘an al-A’immatil A’lam. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2 *** Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, (jilid 1, hal. أ), Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Al-Madkhal ila Atsar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 15. [2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6: 151, 186, dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1: 45), no. 132. [3] Muttafaqun ‘alaihi. [4] Op.Cit. [5] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 17, 19, dengan diringkas dan beberapa perubahan. [6] Disebutkan Imam Ibn ‘Abd Al-Hadi dalam kitabnya Al-‘Uqud Al-Durriyyah, hal. 6. [7] Muttafaqun ‘alaihi. [8] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, 3: 161. [9] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 33, dengan beberapa perubahan. [10] Imam Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, 30: 80.

Apa Hukum Beli Online Pakai Uang Kurir Terlebih Dahulu? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ini ada pertanyaan yang diajukan penanya: Apa hukum meminta kurir membelikan sesuatu untukku pakai uangnya terlebih dahulu, lalu nanti aku ganti uangnya sekalian dengan ongkos kirimnya? Masalah ini dilarang oleh beberapa penuntut ilmu dengan alasan: karena di dalamnya terdapat penggabungan antara akad utang dan jual beli, sedangkan ada larangan berutang dan jual beli sekaligus. Namun, pendapat yang lebih benar–wallahu a’lam–adalah transaksi ini dibolehkan. Hal ini karena tujuan utama dari transaksi ini adalah layanan pengantaran. Sedangkan utang yang terjadi itu hanya transaksi turunan saja. Selain itu, alasan dilarangnya transaksi yang mengandung utang dan jual beli, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, bahwa alasan dari larangan itu adalah karena adanya muhabah, yakni ia memberi utang agar pihak lain merasa sungkan sehingga mau berjual beli atau melakukan salah satu akad tukar-menukar dengannya. Keadaan tersebut tidak terealisasi dalam transaksi ini, karena tujuan utamanya adalah transaksi layanan pengantaran.Oleh karena itulah, kurirnya tidak berselisih dulu dengan pemesan, ketika pemesan bilang: “Bayar dulu nanti aku ganti!” atau ketika kurir harus membayar dengan uangnya terlebih dahulu. Ongkos kirim juga tidak terpengaruh karena hal itu. Ini menunjukkan bahwa utang yang terjadi dalam hal ini bukan menjadi tujuan dalam transaksi. Namun, barangkali untuk menghemat waktu, maka kurir membayar terlebih dulu dengan uangnya. Lalu ia meminta ganti uangnya itu langsung setelah pengantaran. Di antara tanda lain bahwa utang yang terjadi tidak menjadi tujuan dari transaksi ini adalah utang itu tidak punya tempo tertentu, tapi langsung dilunasi setelah itu. Ketika kurir sampai di tempat orang yang memesan jasanya, pemesan langsung mengganti uang yang dipakai itu. Ini menunjukkan utang tersebut tidak menjadi tujuan dalam transaksi ini. Sedangkan tujuannya adalah transaksi layanan pengantaran. Dan substansi yang menjadi alasan Syariat melarang penggabungan transaksi utang piutang dan jual beli tidak terealisasi dalam transaksi ini. Dengan demikian, berdasarkan yang tampak dari analisisnya, transaksi ini boleh dilakukan, insya Allah. ==== هَذَا سُؤَالٌ يَقُولُ فِيهِ السَّائِلُ مَا حُكْمُ أَنْ أَطْلُبَ مِنْ مَنْدُوبِ التَّوْصِيلِ أَنْ يَشْتَرِيَ لِي شَيْئًا مِنْ مَالِهِ ثُمَّ أُعْطِيْهِ حَقَّهُ مَعَ أُجْرَةِ التَّوْصِيْلِ؟ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مَنَعَ مِنْهَا بَعْضُ طُلَّابِ الْعِلْمِ وَعَلَّلُوا لِذَلِكَ بِأَنَّهُ يَجْتَمِعُ فِيهَا سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ وَالَّذِي يَظْهَرُ اللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْمُعَامَلَةَ أَنَّهَا جَائِزَةٌ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْغَرَضَ الْأَسَاسَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَالْقَرْضُ أَتَى تَبْعًا ثُمَّ إِنَّ عِلَّةَ النَّهْيِ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ كَمَا قَرَّرَ ذَلِكَ الْإِمَامَانِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ عِلَّةَ ذَلِكَ هِيَ الْمُحَابَاةُ أَيْ أَنَّهُ يُقْرِضُهُ قَرْضًا لِيُحَابِيَهُ فِي الْبَيْعِ أَوْ فِي عَقْدٍ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَةِ وَهَذَا الْمَعْنَى غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ إِذْ أَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَلِذَلِك فَمَنْدُوبُ التَّوْصِيْلِ لَا يَخْتَلِفُ مَعَهُ الْأَمْرَ أَنْ يَقُولَ اِدْفَعْ وَأُعْطِيكَ أَوْ أَنَّهُ يُدْفَعُ لَهُ الْمَبْلَغُ مُقَدَّمًا وَلَا تَتَأَثَّرُ أُجْرَةُ التَّوْصِيْلِ بِذَلِكَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا أَنَّهُ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَلَكِنْ رُبَّمَا اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَدْفَعُ مِنْ جَيْبِهِ ثُمَّ يَسْتَرِدُّ مَا دَفَعَهُ مُبَاشَرَةً وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا لَيْسَ لَهُ أَجَلٌ وَإِنَّمَا مُبَاشَرَةً مِنْ حِينِ مَا يَصِلُ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ إِلَى طَالِبِ هَذَا الطَّلَبِ يُعْطِيْهِ الْمَبْلَغَ مُبَاشَرَةً وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَأَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيلِ وَأَنَّ الْمَعْنَى الَّذِي لِأَجْلِهِ نَهَى الشَّارِِعُ عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ أَنَّهُ غَيْرُ مُتَحَقِّقٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ هَذَا التَّعَامُلَ لَا بَأْسَ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Apa Hukum Beli Online Pakai Uang Kurir Terlebih Dahulu? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ini ada pertanyaan yang diajukan penanya: Apa hukum meminta kurir membelikan sesuatu untukku pakai uangnya terlebih dahulu, lalu nanti aku ganti uangnya sekalian dengan ongkos kirimnya? Masalah ini dilarang oleh beberapa penuntut ilmu dengan alasan: karena di dalamnya terdapat penggabungan antara akad utang dan jual beli, sedangkan ada larangan berutang dan jual beli sekaligus. Namun, pendapat yang lebih benar–wallahu a’lam–adalah transaksi ini dibolehkan. Hal ini karena tujuan utama dari transaksi ini adalah layanan pengantaran. Sedangkan utang yang terjadi itu hanya transaksi turunan saja. Selain itu, alasan dilarangnya transaksi yang mengandung utang dan jual beli, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, bahwa alasan dari larangan itu adalah karena adanya muhabah, yakni ia memberi utang agar pihak lain merasa sungkan sehingga mau berjual beli atau melakukan salah satu akad tukar-menukar dengannya. Keadaan tersebut tidak terealisasi dalam transaksi ini, karena tujuan utamanya adalah transaksi layanan pengantaran.Oleh karena itulah, kurirnya tidak berselisih dulu dengan pemesan, ketika pemesan bilang: “Bayar dulu nanti aku ganti!” atau ketika kurir harus membayar dengan uangnya terlebih dahulu. Ongkos kirim juga tidak terpengaruh karena hal itu. Ini menunjukkan bahwa utang yang terjadi dalam hal ini bukan menjadi tujuan dalam transaksi. Namun, barangkali untuk menghemat waktu, maka kurir membayar terlebih dulu dengan uangnya. Lalu ia meminta ganti uangnya itu langsung setelah pengantaran. Di antara tanda lain bahwa utang yang terjadi tidak menjadi tujuan dari transaksi ini adalah utang itu tidak punya tempo tertentu, tapi langsung dilunasi setelah itu. Ketika kurir sampai di tempat orang yang memesan jasanya, pemesan langsung mengganti uang yang dipakai itu. Ini menunjukkan utang tersebut tidak menjadi tujuan dalam transaksi ini. Sedangkan tujuannya adalah transaksi layanan pengantaran. Dan substansi yang menjadi alasan Syariat melarang penggabungan transaksi utang piutang dan jual beli tidak terealisasi dalam transaksi ini. Dengan demikian, berdasarkan yang tampak dari analisisnya, transaksi ini boleh dilakukan, insya Allah. ==== هَذَا سُؤَالٌ يَقُولُ فِيهِ السَّائِلُ مَا حُكْمُ أَنْ أَطْلُبَ مِنْ مَنْدُوبِ التَّوْصِيلِ أَنْ يَشْتَرِيَ لِي شَيْئًا مِنْ مَالِهِ ثُمَّ أُعْطِيْهِ حَقَّهُ مَعَ أُجْرَةِ التَّوْصِيْلِ؟ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مَنَعَ مِنْهَا بَعْضُ طُلَّابِ الْعِلْمِ وَعَلَّلُوا لِذَلِكَ بِأَنَّهُ يَجْتَمِعُ فِيهَا سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ وَالَّذِي يَظْهَرُ اللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْمُعَامَلَةَ أَنَّهَا جَائِزَةٌ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْغَرَضَ الْأَسَاسَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَالْقَرْضُ أَتَى تَبْعًا ثُمَّ إِنَّ عِلَّةَ النَّهْيِ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ كَمَا قَرَّرَ ذَلِكَ الْإِمَامَانِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ عِلَّةَ ذَلِكَ هِيَ الْمُحَابَاةُ أَيْ أَنَّهُ يُقْرِضُهُ قَرْضًا لِيُحَابِيَهُ فِي الْبَيْعِ أَوْ فِي عَقْدٍ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَةِ وَهَذَا الْمَعْنَى غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ إِذْ أَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَلِذَلِك فَمَنْدُوبُ التَّوْصِيْلِ لَا يَخْتَلِفُ مَعَهُ الْأَمْرَ أَنْ يَقُولَ اِدْفَعْ وَأُعْطِيكَ أَوْ أَنَّهُ يُدْفَعُ لَهُ الْمَبْلَغُ مُقَدَّمًا وَلَا تَتَأَثَّرُ أُجْرَةُ التَّوْصِيْلِ بِذَلِكَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا أَنَّهُ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَلَكِنْ رُبَّمَا اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَدْفَعُ مِنْ جَيْبِهِ ثُمَّ يَسْتَرِدُّ مَا دَفَعَهُ مُبَاشَرَةً وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا لَيْسَ لَهُ أَجَلٌ وَإِنَّمَا مُبَاشَرَةً مِنْ حِينِ مَا يَصِلُ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ إِلَى طَالِبِ هَذَا الطَّلَبِ يُعْطِيْهِ الْمَبْلَغَ مُبَاشَرَةً وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَأَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيلِ وَأَنَّ الْمَعْنَى الَّذِي لِأَجْلِهِ نَهَى الشَّارِِعُ عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ أَنَّهُ غَيْرُ مُتَحَقِّقٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ هَذَا التَّعَامُلَ لَا بَأْسَ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Ini ada pertanyaan yang diajukan penanya: Apa hukum meminta kurir membelikan sesuatu untukku pakai uangnya terlebih dahulu, lalu nanti aku ganti uangnya sekalian dengan ongkos kirimnya? Masalah ini dilarang oleh beberapa penuntut ilmu dengan alasan: karena di dalamnya terdapat penggabungan antara akad utang dan jual beli, sedangkan ada larangan berutang dan jual beli sekaligus. Namun, pendapat yang lebih benar–wallahu a’lam–adalah transaksi ini dibolehkan. Hal ini karena tujuan utama dari transaksi ini adalah layanan pengantaran. Sedangkan utang yang terjadi itu hanya transaksi turunan saja. Selain itu, alasan dilarangnya transaksi yang mengandung utang dan jual beli, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, bahwa alasan dari larangan itu adalah karena adanya muhabah, yakni ia memberi utang agar pihak lain merasa sungkan sehingga mau berjual beli atau melakukan salah satu akad tukar-menukar dengannya. Keadaan tersebut tidak terealisasi dalam transaksi ini, karena tujuan utamanya adalah transaksi layanan pengantaran.Oleh karena itulah, kurirnya tidak berselisih dulu dengan pemesan, ketika pemesan bilang: “Bayar dulu nanti aku ganti!” atau ketika kurir harus membayar dengan uangnya terlebih dahulu. Ongkos kirim juga tidak terpengaruh karena hal itu. Ini menunjukkan bahwa utang yang terjadi dalam hal ini bukan menjadi tujuan dalam transaksi. Namun, barangkali untuk menghemat waktu, maka kurir membayar terlebih dulu dengan uangnya. Lalu ia meminta ganti uangnya itu langsung setelah pengantaran. Di antara tanda lain bahwa utang yang terjadi tidak menjadi tujuan dari transaksi ini adalah utang itu tidak punya tempo tertentu, tapi langsung dilunasi setelah itu. Ketika kurir sampai di tempat orang yang memesan jasanya, pemesan langsung mengganti uang yang dipakai itu. Ini menunjukkan utang tersebut tidak menjadi tujuan dalam transaksi ini. Sedangkan tujuannya adalah transaksi layanan pengantaran. Dan substansi yang menjadi alasan Syariat melarang penggabungan transaksi utang piutang dan jual beli tidak terealisasi dalam transaksi ini. Dengan demikian, berdasarkan yang tampak dari analisisnya, transaksi ini boleh dilakukan, insya Allah. ==== هَذَا سُؤَالٌ يَقُولُ فِيهِ السَّائِلُ مَا حُكْمُ أَنْ أَطْلُبَ مِنْ مَنْدُوبِ التَّوْصِيلِ أَنْ يَشْتَرِيَ لِي شَيْئًا مِنْ مَالِهِ ثُمَّ أُعْطِيْهِ حَقَّهُ مَعَ أُجْرَةِ التَّوْصِيْلِ؟ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مَنَعَ مِنْهَا بَعْضُ طُلَّابِ الْعِلْمِ وَعَلَّلُوا لِذَلِكَ بِأَنَّهُ يَجْتَمِعُ فِيهَا سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ وَالَّذِي يَظْهَرُ اللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْمُعَامَلَةَ أَنَّهَا جَائِزَةٌ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْغَرَضَ الْأَسَاسَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَالْقَرْضُ أَتَى تَبْعًا ثُمَّ إِنَّ عِلَّةَ النَّهْيِ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ كَمَا قَرَّرَ ذَلِكَ الْإِمَامَانِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ عِلَّةَ ذَلِكَ هِيَ الْمُحَابَاةُ أَيْ أَنَّهُ يُقْرِضُهُ قَرْضًا لِيُحَابِيَهُ فِي الْبَيْعِ أَوْ فِي عَقْدٍ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَةِ وَهَذَا الْمَعْنَى غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ إِذْ أَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَلِذَلِك فَمَنْدُوبُ التَّوْصِيْلِ لَا يَخْتَلِفُ مَعَهُ الْأَمْرَ أَنْ يَقُولَ اِدْفَعْ وَأُعْطِيكَ أَوْ أَنَّهُ يُدْفَعُ لَهُ الْمَبْلَغُ مُقَدَّمًا وَلَا تَتَأَثَّرُ أُجْرَةُ التَّوْصِيْلِ بِذَلِكَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا أَنَّهُ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَلَكِنْ رُبَّمَا اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَدْفَعُ مِنْ جَيْبِهِ ثُمَّ يَسْتَرِدُّ مَا دَفَعَهُ مُبَاشَرَةً وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا لَيْسَ لَهُ أَجَلٌ وَإِنَّمَا مُبَاشَرَةً مِنْ حِينِ مَا يَصِلُ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ إِلَى طَالِبِ هَذَا الطَّلَبِ يُعْطِيْهِ الْمَبْلَغَ مُبَاشَرَةً وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَأَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيلِ وَأَنَّ الْمَعْنَى الَّذِي لِأَجْلِهِ نَهَى الشَّارِِعُ عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ أَنَّهُ غَيْرُ مُتَحَقِّقٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ هَذَا التَّعَامُلَ لَا بَأْسَ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


Ini ada pertanyaan yang diajukan penanya: Apa hukum meminta kurir membelikan sesuatu untukku pakai uangnya terlebih dahulu, lalu nanti aku ganti uangnya sekalian dengan ongkos kirimnya? Masalah ini dilarang oleh beberapa penuntut ilmu dengan alasan: karena di dalamnya terdapat penggabungan antara akad utang dan jual beli, sedangkan ada larangan berutang dan jual beli sekaligus. Namun, pendapat yang lebih benar–wallahu a’lam–adalah transaksi ini dibolehkan. Hal ini karena tujuan utama dari transaksi ini adalah layanan pengantaran. Sedangkan utang yang terjadi itu hanya transaksi turunan saja. Selain itu, alasan dilarangnya transaksi yang mengandung utang dan jual beli, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, bahwa alasan dari larangan itu adalah karena adanya muhabah, yakni ia memberi utang agar pihak lain merasa sungkan sehingga mau berjual beli atau melakukan salah satu akad tukar-menukar dengannya. Keadaan tersebut tidak terealisasi dalam transaksi ini, karena tujuan utamanya adalah transaksi layanan pengantaran.Oleh karena itulah, kurirnya tidak berselisih dulu dengan pemesan, ketika pemesan bilang: “Bayar dulu nanti aku ganti!” atau ketika kurir harus membayar dengan uangnya terlebih dahulu. Ongkos kirim juga tidak terpengaruh karena hal itu. Ini menunjukkan bahwa utang yang terjadi dalam hal ini bukan menjadi tujuan dalam transaksi. Namun, barangkali untuk menghemat waktu, maka kurir membayar terlebih dulu dengan uangnya. Lalu ia meminta ganti uangnya itu langsung setelah pengantaran. Di antara tanda lain bahwa utang yang terjadi tidak menjadi tujuan dari transaksi ini adalah utang itu tidak punya tempo tertentu, tapi langsung dilunasi setelah itu. Ketika kurir sampai di tempat orang yang memesan jasanya, pemesan langsung mengganti uang yang dipakai itu. Ini menunjukkan utang tersebut tidak menjadi tujuan dalam transaksi ini. Sedangkan tujuannya adalah transaksi layanan pengantaran. Dan substansi yang menjadi alasan Syariat melarang penggabungan transaksi utang piutang dan jual beli tidak terealisasi dalam transaksi ini. Dengan demikian, berdasarkan yang tampak dari analisisnya, transaksi ini boleh dilakukan, insya Allah. ==== هَذَا سُؤَالٌ يَقُولُ فِيهِ السَّائِلُ مَا حُكْمُ أَنْ أَطْلُبَ مِنْ مَنْدُوبِ التَّوْصِيلِ أَنْ يَشْتَرِيَ لِي شَيْئًا مِنْ مَالِهِ ثُمَّ أُعْطِيْهِ حَقَّهُ مَعَ أُجْرَةِ التَّوْصِيْلِ؟ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مَنَعَ مِنْهَا بَعْضُ طُلَّابِ الْعِلْمِ وَعَلَّلُوا لِذَلِكَ بِأَنَّهُ يَجْتَمِعُ فِيهَا سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ وَالَّذِي يَظْهَرُ اللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْمُعَامَلَةَ أَنَّهَا جَائِزَةٌ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْغَرَضَ الْأَسَاسَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَالْقَرْضُ أَتَى تَبْعًا ثُمَّ إِنَّ عِلَّةَ النَّهْيِ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ كَمَا قَرَّرَ ذَلِكَ الْإِمَامَانِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ عِلَّةَ ذَلِكَ هِيَ الْمُحَابَاةُ أَيْ أَنَّهُ يُقْرِضُهُ قَرْضًا لِيُحَابِيَهُ فِي الْبَيْعِ أَوْ فِي عَقْدٍ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَةِ وَهَذَا الْمَعْنَى غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ إِذْ أَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيْلِ وَلِذَلِك فَمَنْدُوبُ التَّوْصِيْلِ لَا يَخْتَلِفُ مَعَهُ الْأَمْرَ أَنْ يَقُولَ اِدْفَعْ وَأُعْطِيكَ أَوْ أَنَّهُ يُدْفَعُ لَهُ الْمَبْلَغُ مُقَدَّمًا وَلَا تَتَأَثَّرُ أُجْرَةُ التَّوْصِيْلِ بِذَلِكَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا أَنَّهُ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَلَكِنْ رُبَّمَا اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَدْفَعُ مِنْ جَيْبِهِ ثُمَّ يَسْتَرِدُّ مَا دَفَعَهُ مُبَاشَرَةً وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ أَنَّ الْقَرْضَ هُنَا لَيْسَ لَهُ أَجَلٌ وَإِنَّمَا مُبَاشَرَةً مِنْ حِينِ مَا يَصِلُ مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ إِلَى طَالِبِ هَذَا الطَّلَبِ يُعْطِيْهِ الْمَبْلَغَ مُبَاشَرَةً وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَرْضَ غَيْرُ مَقْصُودٍ وَأَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ خِدْمَةُ التَّوْصِيلِ وَأَنَّ الْمَعْنَى الَّذِي لِأَجْلِهِ نَهَى الشَّارِِعُ عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ أَنَّهُ غَيْرُ مُتَحَقِّقٍ فِي هَذِهِ الْمُعَامَلَةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ هَذَا التَّعَامُلَ لَا بَأْسَ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Panduan Menikah dengan Pasangan yang Sekufu (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariatAl-kafa’ah yang dipertimbangkanAl-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Ketika hendak menikah, di antara pertimbangan dalam memilih pasangan adalah apakah orang tersebut sekufu ataukah tidak. Masing-masing calon pasangan, baik laki-laki maupun perempuan, akan melihat latar belakang calon pasangannya, baik dari sisi nasab (keturunan), suku, pekerjaan (profesi), akhlak (karakter), dan lain sebagainya. Dalam fikih nikah, kriteria ini disebut sebagai al-kafa’ah. Dalam serial tulisan ini, akan dibahas bagaimanakah petunjuk syariat dalam masalah ini. Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariat Pengertian “al-kafa’ah” (kesetaraan) secara bahasa, kata ini berasal dari akar kata dengan huruf pertama kaf, yang diikuti fa, dan hamzah, yang bermakna “kesetaraan” dan “persamaan”. Dalam bahasa Arab, kata “kufu’” berarti pasangan yang setara, sepadan, atau setara dalam status. Segala sesuatu yang setara dengan sesuatu yang lain disebut mukafi’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4) Artinya, tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dalam semua sifat-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ “Darah kaum muslimin itu setara.” (HR. Abu Dawud no. 2751, An-Nasa’i no. 4746, dan Ibnu Majah no. 2683, dinilai shahih oleh Al-Albani) Maksudnya, sama dan setara dalam penegakan hukum qishash dan diyat apabila ada yang dibunuh. Dalam konteks pernikahan, al-kafa’ah merujuk pada kesetaraan dalam pernikahan, yang berarti seorang laki-laki harus setara dan sepadan dengan perempuan yang dinikahinya. Kesetaraan ini mencakup sifat-sifat tertentu seperti agama, keturunan, status kebebasan (apakah statusnya merdeka atau budak), profesi (pekerjaan), dan aspek-aspek lainnya yang disebutkan oleh para ahli fikih dalam pembahasan ini. Dalam kitab Kasyaf Al-Qina’ dijelaskan bahwa ada lima sifat yang dianggap untuk melihat al-kafa’ah dari sisi syar’i: Pertama: agama dan akhlak; sehingga seseorang yang merupakan pelaku dosa besar atau gemar bermaksiat (orang fajir atau orang fasik) tidak setara dengan seseorang yang saleh atau menjaga agamanya. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah: 18) Kedua: nasab atau keturunan; orang Arab tidak setara dengan orang non-Arab (‘ajam). [1] Ketiga: status kemerdekaannya; sehingga seorang budak (atau bekas budak) tidak setara dengan orang meredeka. Keempat: pekerjaan; sehingga seseorang yang memiliki pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang (dalam budaya Arab dulu), seperti tukang bekam, penenun, tukang sapu, atau pemungut sampah, tidaklah setara dengan seseorang yang memiliki pekerjaan tertentu, seperti pedagang. Kelima: kecukupan harta (kondisi keuangan atau ekonomi); sesuai dengan apa yang wajib baginya berupa mahar dan nafkah. Orang fakir atau miskin tidak dianggap sekufu dengan orang kaya atau berkecukupan. [2] Namun, sifat-sifat kesetaraan ini tidak disepakati secara mutlak oleh para ulama. Oleh karena itu, setiap ulama mazhab menyebutkan sifat-sifat al-kafa’ah berdasarkan hasil ijtihad mereka. Masalah ini akan dibahas secara lebih rinci di serial terahir tulisan ini, yang akan membahas manakah di antara kelima sifat di atas yang menentukan agar tercapai sekufu antara laki-laki dan wanita. Tidak banyak definisi kafa’ah yang komprehensif, kecuali dari Al-Khatib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i rahimahullah yang mendefinisikannya sebagai berikut, الكفاءة شرعًا: أمر يوجب عدمه عارًا “Kafa’ah secara syar’i adalah suatu keadaan yang jika tidak terpenuhi, dapat menyebabkan rasa malu.” [3] Baca juga: Hukum Menikah dengan Pezina Al-kafa’ah yang dipertimbangkan Para ulama menegaskan bahwa kafa’ah hanya dipertimbangkan dari sisi laki-laki terhadap wanita, bukan sebaliknya. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki pasangan yang setara dengan beliau, namun beliau menikahi perempuan dari berbagai suku Arab dan menikahi Shafiyah binti Huyay bin Akhtab, seorang perempuan Yahudi. Oleh karena itu, rasa gengsi tidak melekat pada laki-laki dari sisi perempuan. Apabila seorang laki-laki memiliki istri yang dianggap lebih rendah dari sisi pekerjaan, status ekonomi, atau nasab, itu tidak akan menjadi masalah yang besar; namun bukan sebaliknya. Selain itu, kehormatan seorang anak ditentukan oleh status kehormatan ayahnya, bukan ibunya. Oleh karena itu, kesetaraan (al-kafa’ah) tidak dianggap dari sisi ibu. Syekh Abdullah bin Abdurrahman Alu Basam berkata, “Al-kafa’ah itu dipertimbangkan (dianggap) dari sisi laki-laki terhadap pihak wanita. Jika sifat-sifat al-kafa’ah tidak terdapat pada pihak wanita, maka tidak dianggap. Al-kafa’ah adalah (sifat yang berkaitan dengan) agama, nasab, merdeka atau budak, pekerjaan yang tidak dianggap rendah, dan kecukupan harta. Al-kafaa’ah tidak dipertimbangkan dari sisi ibu, karena seorang anak itu hanyalah menjadi mulia karena kemuliaan bapaknya, bukan karena ibunya. Oleh karena itu, al-kafa’ah itu tidak dipertimbangkan dari sisi wanita terhadap pihak laki-laki.” [4] Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah [5], namun syarat terjaganya akad nikah. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk di antaranya adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وهو قول أكثر أهل العلم “Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” [6] Dalil bahwa al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah bin Qais untuk menikah dengan Usamah bin Zaid, yang merupakan seorang bekas budak. Demikian pula, Abu Hudzaifah -dari Bani Abdi Manaf- menikahkan anak perempuan saudara laki-lakinya dengan Salim, yang merupakan bekas budak dari seorang wanita dari kaum Anshar. Meskipun bukan syarat sah nikah, al-kafa’ah merupakan syarat terjaganya akad nikah. Maksudnya, jika wali wanita menganggap bahwa suami dari anak perempuannya itu tidak sekufu, maka boleh membatalkan (faskh) akad nikah. Karena tentu mereka akan malu jika memiliki menantu yang dinilai tidak sekufu. Al-Buhuti rahimahullah mengatakan, وليست الكفاءة، وهي: دين، ومنصب، وهو النسب، والحرية شرطاً في صحته، فلو زوَّج الأبُ عفيفةً بفاجر، أو عربية بعجمي، أو حُرَّة بعبد فلمن لم يرضَ من المرأة أو الأولياء الفسخ “Sekufu, yaitu kesetaraan dalam agama, nasab (kedudukan), merdeka atau budak, bukanlah syarat sah nikah. Andaikan seorang ayah menikahkan anaknya yang salehah dengan laki-laki fajir, atau menikahkan orang Arab dan orang ‘ajam, maka jika si wanita tidak rida, atau walinya tidak rida, boleh melakukan fasakh (pembatalan pernikahan).” [7] Dalil dalam masalah ini hadis dari Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, beliau berkata, جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيهِ، لِيَرْفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الْأَمْرَ إِلَيْهَا “Seorang gadis datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan anak saudaranya untuk mengangkat kehinaan (status sosial) keluarganya melalui diriku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keputusan kepada gadis itu (apakah ia ingin melanjutkan atau membatalkan pernikahan tersebut).” (HR. An-Nasa’i no. 3269 dan Ibnu Majah no. 1874) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَنْكِحَ مُوَلِّيَتَهُ رَافِضِيًّا، وَلَا يَتْرُكُ الصَّلَاةَ، وَمَتَى زَوَّجُوهُ عَلَى أَنَّهُ صَلَّى فَصَلَّى الْخَمْسَ، ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّهُ رَافِضِيٌّ لَا يُصَلِّي، أَوْ عَادَ إلَى الرَّفْضِ وَتَرَكَ الصَّلَاةَ، فَإِنَّهُمْ يَفْسَخُونَ النِّكَاحَ. “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menikahkan perempuan di bawah perwaliannya dengan seorang Rafidhi (pengikut Syiah Rafidhah) atau orang yang meninggalkan salat. Jika mereka menikahkannya dengan keyakinan bahwa dia menunaikan salat lima waktu, lalu ternyata diketahui bahwa ia adalah Rafidhi yang tidak salat, atau dia kembali pada keyakinan Rafidhah dan meninggalkan salat, maka pernikahan tersebut (harus) dibatalkan.” [8] Dalam tulisan (serial) selanjutkan, kami akan membahas dalil-dalil yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah tentang al-kafa’ah. Hal ini sebagai penjelasan, manakah di antara sifat-sifat yang dianjurkan untuk lebih dipertimbangkan dalam masalah al-kafa’ah? [Bersambung] Baca juga: Hukum Menikahi Saudara Sepupu *** @5 Jumadil akhir 1446/ 7 Desember 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فإن الذي عليه أهل السنة والجماعة: اعتقاد أن جنس العرب أفضل من جنس العجم “Yang menjadi manhaj ahlus sunah adalah keyakinan bahwa secara jenis, bangsa Arab lebih afdal dibandingkan non-Arab.” (Al-Iqtidha’, 1: 419) Beliau kemudian melanjutkan, وأن قريشا أفضل العرب، وأن بني هاشم: أفضل قريش، وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل بني هاشم. فهو: أفضل الخلق نفسا، وأفضلهم نسبا. “Sesungguhnya kaum Quraisy adalah bangsa Arab yang paling afdal; sedangkan Bani Hasyim adalah kaum Quraisy yang paling afdal; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Bani Hasyim yang paling afdal. Beliau sendiri adalah makhluk yang paling mulia dan juga memiliki nasab yang paling mulia.” (Al-Iqtidha’, 1: 420) Namun keistimewaan ini tidaklah menjadikan mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain, atau memiliki hak-hak istimewa yang tidak dimiliki bangsa lainnya, atau tidak menjadikan mereka lepas dari kewajiban-kewajiban syariat. Karena dalam semua ini, antara mereka dan yang lainnya itu sama. Semua manusia di sisi Alah adalah sama, adapun yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13) [2] Diringkas dari Kasyaf Al-Qina’, 5: 68-69. [3] Mughni Al-Muhtaj, 3: 165; Ahkamuz Zawaj, hal. 196. [4] Taudhihul Ahkaam, 5: 312-313. [5] Kecuali dalam aspek agama, karena seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir, atau laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita musyrikah (selain ahli kitab). Ketentuan ini merupakan syarat sah pernikahan. [6] Dinukil dari Taudhihul Ahkaam, 5: 313. [7] Ar-Raudhul Murbi’, hal. 384. [8] Al-Fatawa Al-Kubra, 3: 141.

Panduan Menikah dengan Pasangan yang Sekufu (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariatAl-kafa’ah yang dipertimbangkanAl-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Ketika hendak menikah, di antara pertimbangan dalam memilih pasangan adalah apakah orang tersebut sekufu ataukah tidak. Masing-masing calon pasangan, baik laki-laki maupun perempuan, akan melihat latar belakang calon pasangannya, baik dari sisi nasab (keturunan), suku, pekerjaan (profesi), akhlak (karakter), dan lain sebagainya. Dalam fikih nikah, kriteria ini disebut sebagai al-kafa’ah. Dalam serial tulisan ini, akan dibahas bagaimanakah petunjuk syariat dalam masalah ini. Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariat Pengertian “al-kafa’ah” (kesetaraan) secara bahasa, kata ini berasal dari akar kata dengan huruf pertama kaf, yang diikuti fa, dan hamzah, yang bermakna “kesetaraan” dan “persamaan”. Dalam bahasa Arab, kata “kufu’” berarti pasangan yang setara, sepadan, atau setara dalam status. Segala sesuatu yang setara dengan sesuatu yang lain disebut mukafi’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4) Artinya, tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dalam semua sifat-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ “Darah kaum muslimin itu setara.” (HR. Abu Dawud no. 2751, An-Nasa’i no. 4746, dan Ibnu Majah no. 2683, dinilai shahih oleh Al-Albani) Maksudnya, sama dan setara dalam penegakan hukum qishash dan diyat apabila ada yang dibunuh. Dalam konteks pernikahan, al-kafa’ah merujuk pada kesetaraan dalam pernikahan, yang berarti seorang laki-laki harus setara dan sepadan dengan perempuan yang dinikahinya. Kesetaraan ini mencakup sifat-sifat tertentu seperti agama, keturunan, status kebebasan (apakah statusnya merdeka atau budak), profesi (pekerjaan), dan aspek-aspek lainnya yang disebutkan oleh para ahli fikih dalam pembahasan ini. Dalam kitab Kasyaf Al-Qina’ dijelaskan bahwa ada lima sifat yang dianggap untuk melihat al-kafa’ah dari sisi syar’i: Pertama: agama dan akhlak; sehingga seseorang yang merupakan pelaku dosa besar atau gemar bermaksiat (orang fajir atau orang fasik) tidak setara dengan seseorang yang saleh atau menjaga agamanya. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah: 18) Kedua: nasab atau keturunan; orang Arab tidak setara dengan orang non-Arab (‘ajam). [1] Ketiga: status kemerdekaannya; sehingga seorang budak (atau bekas budak) tidak setara dengan orang meredeka. Keempat: pekerjaan; sehingga seseorang yang memiliki pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang (dalam budaya Arab dulu), seperti tukang bekam, penenun, tukang sapu, atau pemungut sampah, tidaklah setara dengan seseorang yang memiliki pekerjaan tertentu, seperti pedagang. Kelima: kecukupan harta (kondisi keuangan atau ekonomi); sesuai dengan apa yang wajib baginya berupa mahar dan nafkah. Orang fakir atau miskin tidak dianggap sekufu dengan orang kaya atau berkecukupan. [2] Namun, sifat-sifat kesetaraan ini tidak disepakati secara mutlak oleh para ulama. Oleh karena itu, setiap ulama mazhab menyebutkan sifat-sifat al-kafa’ah berdasarkan hasil ijtihad mereka. Masalah ini akan dibahas secara lebih rinci di serial terahir tulisan ini, yang akan membahas manakah di antara kelima sifat di atas yang menentukan agar tercapai sekufu antara laki-laki dan wanita. Tidak banyak definisi kafa’ah yang komprehensif, kecuali dari Al-Khatib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i rahimahullah yang mendefinisikannya sebagai berikut, الكفاءة شرعًا: أمر يوجب عدمه عارًا “Kafa’ah secara syar’i adalah suatu keadaan yang jika tidak terpenuhi, dapat menyebabkan rasa malu.” [3] Baca juga: Hukum Menikah dengan Pezina Al-kafa’ah yang dipertimbangkan Para ulama menegaskan bahwa kafa’ah hanya dipertimbangkan dari sisi laki-laki terhadap wanita, bukan sebaliknya. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki pasangan yang setara dengan beliau, namun beliau menikahi perempuan dari berbagai suku Arab dan menikahi Shafiyah binti Huyay bin Akhtab, seorang perempuan Yahudi. Oleh karena itu, rasa gengsi tidak melekat pada laki-laki dari sisi perempuan. Apabila seorang laki-laki memiliki istri yang dianggap lebih rendah dari sisi pekerjaan, status ekonomi, atau nasab, itu tidak akan menjadi masalah yang besar; namun bukan sebaliknya. Selain itu, kehormatan seorang anak ditentukan oleh status kehormatan ayahnya, bukan ibunya. Oleh karena itu, kesetaraan (al-kafa’ah) tidak dianggap dari sisi ibu. Syekh Abdullah bin Abdurrahman Alu Basam berkata, “Al-kafa’ah itu dipertimbangkan (dianggap) dari sisi laki-laki terhadap pihak wanita. Jika sifat-sifat al-kafa’ah tidak terdapat pada pihak wanita, maka tidak dianggap. Al-kafa’ah adalah (sifat yang berkaitan dengan) agama, nasab, merdeka atau budak, pekerjaan yang tidak dianggap rendah, dan kecukupan harta. Al-kafaa’ah tidak dipertimbangkan dari sisi ibu, karena seorang anak itu hanyalah menjadi mulia karena kemuliaan bapaknya, bukan karena ibunya. Oleh karena itu, al-kafa’ah itu tidak dipertimbangkan dari sisi wanita terhadap pihak laki-laki.” [4] Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah [5], namun syarat terjaganya akad nikah. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk di antaranya adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وهو قول أكثر أهل العلم “Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” [6] Dalil bahwa al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah bin Qais untuk menikah dengan Usamah bin Zaid, yang merupakan seorang bekas budak. Demikian pula, Abu Hudzaifah -dari Bani Abdi Manaf- menikahkan anak perempuan saudara laki-lakinya dengan Salim, yang merupakan bekas budak dari seorang wanita dari kaum Anshar. Meskipun bukan syarat sah nikah, al-kafa’ah merupakan syarat terjaganya akad nikah. Maksudnya, jika wali wanita menganggap bahwa suami dari anak perempuannya itu tidak sekufu, maka boleh membatalkan (faskh) akad nikah. Karena tentu mereka akan malu jika memiliki menantu yang dinilai tidak sekufu. Al-Buhuti rahimahullah mengatakan, وليست الكفاءة، وهي: دين، ومنصب، وهو النسب، والحرية شرطاً في صحته، فلو زوَّج الأبُ عفيفةً بفاجر، أو عربية بعجمي، أو حُرَّة بعبد فلمن لم يرضَ من المرأة أو الأولياء الفسخ “Sekufu, yaitu kesetaraan dalam agama, nasab (kedudukan), merdeka atau budak, bukanlah syarat sah nikah. Andaikan seorang ayah menikahkan anaknya yang salehah dengan laki-laki fajir, atau menikahkan orang Arab dan orang ‘ajam, maka jika si wanita tidak rida, atau walinya tidak rida, boleh melakukan fasakh (pembatalan pernikahan).” [7] Dalil dalam masalah ini hadis dari Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, beliau berkata, جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيهِ، لِيَرْفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الْأَمْرَ إِلَيْهَا “Seorang gadis datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan anak saudaranya untuk mengangkat kehinaan (status sosial) keluarganya melalui diriku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keputusan kepada gadis itu (apakah ia ingin melanjutkan atau membatalkan pernikahan tersebut).” (HR. An-Nasa’i no. 3269 dan Ibnu Majah no. 1874) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَنْكِحَ مُوَلِّيَتَهُ رَافِضِيًّا، وَلَا يَتْرُكُ الصَّلَاةَ، وَمَتَى زَوَّجُوهُ عَلَى أَنَّهُ صَلَّى فَصَلَّى الْخَمْسَ، ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّهُ رَافِضِيٌّ لَا يُصَلِّي، أَوْ عَادَ إلَى الرَّفْضِ وَتَرَكَ الصَّلَاةَ، فَإِنَّهُمْ يَفْسَخُونَ النِّكَاحَ. “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menikahkan perempuan di bawah perwaliannya dengan seorang Rafidhi (pengikut Syiah Rafidhah) atau orang yang meninggalkan salat. Jika mereka menikahkannya dengan keyakinan bahwa dia menunaikan salat lima waktu, lalu ternyata diketahui bahwa ia adalah Rafidhi yang tidak salat, atau dia kembali pada keyakinan Rafidhah dan meninggalkan salat, maka pernikahan tersebut (harus) dibatalkan.” [8] Dalam tulisan (serial) selanjutkan, kami akan membahas dalil-dalil yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah tentang al-kafa’ah. Hal ini sebagai penjelasan, manakah di antara sifat-sifat yang dianjurkan untuk lebih dipertimbangkan dalam masalah al-kafa’ah? [Bersambung] Baca juga: Hukum Menikahi Saudara Sepupu *** @5 Jumadil akhir 1446/ 7 Desember 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فإن الذي عليه أهل السنة والجماعة: اعتقاد أن جنس العرب أفضل من جنس العجم “Yang menjadi manhaj ahlus sunah adalah keyakinan bahwa secara jenis, bangsa Arab lebih afdal dibandingkan non-Arab.” (Al-Iqtidha’, 1: 419) Beliau kemudian melanjutkan, وأن قريشا أفضل العرب، وأن بني هاشم: أفضل قريش، وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل بني هاشم. فهو: أفضل الخلق نفسا، وأفضلهم نسبا. “Sesungguhnya kaum Quraisy adalah bangsa Arab yang paling afdal; sedangkan Bani Hasyim adalah kaum Quraisy yang paling afdal; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Bani Hasyim yang paling afdal. Beliau sendiri adalah makhluk yang paling mulia dan juga memiliki nasab yang paling mulia.” (Al-Iqtidha’, 1: 420) Namun keistimewaan ini tidaklah menjadikan mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain, atau memiliki hak-hak istimewa yang tidak dimiliki bangsa lainnya, atau tidak menjadikan mereka lepas dari kewajiban-kewajiban syariat. Karena dalam semua ini, antara mereka dan yang lainnya itu sama. Semua manusia di sisi Alah adalah sama, adapun yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13) [2] Diringkas dari Kasyaf Al-Qina’, 5: 68-69. [3] Mughni Al-Muhtaj, 3: 165; Ahkamuz Zawaj, hal. 196. [4] Taudhihul Ahkaam, 5: 312-313. [5] Kecuali dalam aspek agama, karena seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir, atau laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita musyrikah (selain ahli kitab). Ketentuan ini merupakan syarat sah pernikahan. [6] Dinukil dari Taudhihul Ahkaam, 5: 313. [7] Ar-Raudhul Murbi’, hal. 384. [8] Al-Fatawa Al-Kubra, 3: 141.
Daftar Isi Toggle Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariatAl-kafa’ah yang dipertimbangkanAl-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Ketika hendak menikah, di antara pertimbangan dalam memilih pasangan adalah apakah orang tersebut sekufu ataukah tidak. Masing-masing calon pasangan, baik laki-laki maupun perempuan, akan melihat latar belakang calon pasangannya, baik dari sisi nasab (keturunan), suku, pekerjaan (profesi), akhlak (karakter), dan lain sebagainya. Dalam fikih nikah, kriteria ini disebut sebagai al-kafa’ah. Dalam serial tulisan ini, akan dibahas bagaimanakah petunjuk syariat dalam masalah ini. Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariat Pengertian “al-kafa’ah” (kesetaraan) secara bahasa, kata ini berasal dari akar kata dengan huruf pertama kaf, yang diikuti fa, dan hamzah, yang bermakna “kesetaraan” dan “persamaan”. Dalam bahasa Arab, kata “kufu’” berarti pasangan yang setara, sepadan, atau setara dalam status. Segala sesuatu yang setara dengan sesuatu yang lain disebut mukafi’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4) Artinya, tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dalam semua sifat-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ “Darah kaum muslimin itu setara.” (HR. Abu Dawud no. 2751, An-Nasa’i no. 4746, dan Ibnu Majah no. 2683, dinilai shahih oleh Al-Albani) Maksudnya, sama dan setara dalam penegakan hukum qishash dan diyat apabila ada yang dibunuh. Dalam konteks pernikahan, al-kafa’ah merujuk pada kesetaraan dalam pernikahan, yang berarti seorang laki-laki harus setara dan sepadan dengan perempuan yang dinikahinya. Kesetaraan ini mencakup sifat-sifat tertentu seperti agama, keturunan, status kebebasan (apakah statusnya merdeka atau budak), profesi (pekerjaan), dan aspek-aspek lainnya yang disebutkan oleh para ahli fikih dalam pembahasan ini. Dalam kitab Kasyaf Al-Qina’ dijelaskan bahwa ada lima sifat yang dianggap untuk melihat al-kafa’ah dari sisi syar’i: Pertama: agama dan akhlak; sehingga seseorang yang merupakan pelaku dosa besar atau gemar bermaksiat (orang fajir atau orang fasik) tidak setara dengan seseorang yang saleh atau menjaga agamanya. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah: 18) Kedua: nasab atau keturunan; orang Arab tidak setara dengan orang non-Arab (‘ajam). [1] Ketiga: status kemerdekaannya; sehingga seorang budak (atau bekas budak) tidak setara dengan orang meredeka. Keempat: pekerjaan; sehingga seseorang yang memiliki pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang (dalam budaya Arab dulu), seperti tukang bekam, penenun, tukang sapu, atau pemungut sampah, tidaklah setara dengan seseorang yang memiliki pekerjaan tertentu, seperti pedagang. Kelima: kecukupan harta (kondisi keuangan atau ekonomi); sesuai dengan apa yang wajib baginya berupa mahar dan nafkah. Orang fakir atau miskin tidak dianggap sekufu dengan orang kaya atau berkecukupan. [2] Namun, sifat-sifat kesetaraan ini tidak disepakati secara mutlak oleh para ulama. Oleh karena itu, setiap ulama mazhab menyebutkan sifat-sifat al-kafa’ah berdasarkan hasil ijtihad mereka. Masalah ini akan dibahas secara lebih rinci di serial terahir tulisan ini, yang akan membahas manakah di antara kelima sifat di atas yang menentukan agar tercapai sekufu antara laki-laki dan wanita. Tidak banyak definisi kafa’ah yang komprehensif, kecuali dari Al-Khatib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i rahimahullah yang mendefinisikannya sebagai berikut, الكفاءة شرعًا: أمر يوجب عدمه عارًا “Kafa’ah secara syar’i adalah suatu keadaan yang jika tidak terpenuhi, dapat menyebabkan rasa malu.” [3] Baca juga: Hukum Menikah dengan Pezina Al-kafa’ah yang dipertimbangkan Para ulama menegaskan bahwa kafa’ah hanya dipertimbangkan dari sisi laki-laki terhadap wanita, bukan sebaliknya. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki pasangan yang setara dengan beliau, namun beliau menikahi perempuan dari berbagai suku Arab dan menikahi Shafiyah binti Huyay bin Akhtab, seorang perempuan Yahudi. Oleh karena itu, rasa gengsi tidak melekat pada laki-laki dari sisi perempuan. Apabila seorang laki-laki memiliki istri yang dianggap lebih rendah dari sisi pekerjaan, status ekonomi, atau nasab, itu tidak akan menjadi masalah yang besar; namun bukan sebaliknya. Selain itu, kehormatan seorang anak ditentukan oleh status kehormatan ayahnya, bukan ibunya. Oleh karena itu, kesetaraan (al-kafa’ah) tidak dianggap dari sisi ibu. Syekh Abdullah bin Abdurrahman Alu Basam berkata, “Al-kafa’ah itu dipertimbangkan (dianggap) dari sisi laki-laki terhadap pihak wanita. Jika sifat-sifat al-kafa’ah tidak terdapat pada pihak wanita, maka tidak dianggap. Al-kafa’ah adalah (sifat yang berkaitan dengan) agama, nasab, merdeka atau budak, pekerjaan yang tidak dianggap rendah, dan kecukupan harta. Al-kafaa’ah tidak dipertimbangkan dari sisi ibu, karena seorang anak itu hanyalah menjadi mulia karena kemuliaan bapaknya, bukan karena ibunya. Oleh karena itu, al-kafa’ah itu tidak dipertimbangkan dari sisi wanita terhadap pihak laki-laki.” [4] Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah [5], namun syarat terjaganya akad nikah. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk di antaranya adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وهو قول أكثر أهل العلم “Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” [6] Dalil bahwa al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah bin Qais untuk menikah dengan Usamah bin Zaid, yang merupakan seorang bekas budak. Demikian pula, Abu Hudzaifah -dari Bani Abdi Manaf- menikahkan anak perempuan saudara laki-lakinya dengan Salim, yang merupakan bekas budak dari seorang wanita dari kaum Anshar. Meskipun bukan syarat sah nikah, al-kafa’ah merupakan syarat terjaganya akad nikah. Maksudnya, jika wali wanita menganggap bahwa suami dari anak perempuannya itu tidak sekufu, maka boleh membatalkan (faskh) akad nikah. Karena tentu mereka akan malu jika memiliki menantu yang dinilai tidak sekufu. Al-Buhuti rahimahullah mengatakan, وليست الكفاءة، وهي: دين، ومنصب، وهو النسب، والحرية شرطاً في صحته، فلو زوَّج الأبُ عفيفةً بفاجر، أو عربية بعجمي، أو حُرَّة بعبد فلمن لم يرضَ من المرأة أو الأولياء الفسخ “Sekufu, yaitu kesetaraan dalam agama, nasab (kedudukan), merdeka atau budak, bukanlah syarat sah nikah. Andaikan seorang ayah menikahkan anaknya yang salehah dengan laki-laki fajir, atau menikahkan orang Arab dan orang ‘ajam, maka jika si wanita tidak rida, atau walinya tidak rida, boleh melakukan fasakh (pembatalan pernikahan).” [7] Dalil dalam masalah ini hadis dari Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, beliau berkata, جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيهِ، لِيَرْفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الْأَمْرَ إِلَيْهَا “Seorang gadis datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan anak saudaranya untuk mengangkat kehinaan (status sosial) keluarganya melalui diriku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keputusan kepada gadis itu (apakah ia ingin melanjutkan atau membatalkan pernikahan tersebut).” (HR. An-Nasa’i no. 3269 dan Ibnu Majah no. 1874) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَنْكِحَ مُوَلِّيَتَهُ رَافِضِيًّا، وَلَا يَتْرُكُ الصَّلَاةَ، وَمَتَى زَوَّجُوهُ عَلَى أَنَّهُ صَلَّى فَصَلَّى الْخَمْسَ، ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّهُ رَافِضِيٌّ لَا يُصَلِّي، أَوْ عَادَ إلَى الرَّفْضِ وَتَرَكَ الصَّلَاةَ، فَإِنَّهُمْ يَفْسَخُونَ النِّكَاحَ. “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menikahkan perempuan di bawah perwaliannya dengan seorang Rafidhi (pengikut Syiah Rafidhah) atau orang yang meninggalkan salat. Jika mereka menikahkannya dengan keyakinan bahwa dia menunaikan salat lima waktu, lalu ternyata diketahui bahwa ia adalah Rafidhi yang tidak salat, atau dia kembali pada keyakinan Rafidhah dan meninggalkan salat, maka pernikahan tersebut (harus) dibatalkan.” [8] Dalam tulisan (serial) selanjutkan, kami akan membahas dalil-dalil yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah tentang al-kafa’ah. Hal ini sebagai penjelasan, manakah di antara sifat-sifat yang dianjurkan untuk lebih dipertimbangkan dalam masalah al-kafa’ah? [Bersambung] Baca juga: Hukum Menikahi Saudara Sepupu *** @5 Jumadil akhir 1446/ 7 Desember 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فإن الذي عليه أهل السنة والجماعة: اعتقاد أن جنس العرب أفضل من جنس العجم “Yang menjadi manhaj ahlus sunah adalah keyakinan bahwa secara jenis, bangsa Arab lebih afdal dibandingkan non-Arab.” (Al-Iqtidha’, 1: 419) Beliau kemudian melanjutkan, وأن قريشا أفضل العرب، وأن بني هاشم: أفضل قريش، وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل بني هاشم. فهو: أفضل الخلق نفسا، وأفضلهم نسبا. “Sesungguhnya kaum Quraisy adalah bangsa Arab yang paling afdal; sedangkan Bani Hasyim adalah kaum Quraisy yang paling afdal; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Bani Hasyim yang paling afdal. Beliau sendiri adalah makhluk yang paling mulia dan juga memiliki nasab yang paling mulia.” (Al-Iqtidha’, 1: 420) Namun keistimewaan ini tidaklah menjadikan mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain, atau memiliki hak-hak istimewa yang tidak dimiliki bangsa lainnya, atau tidak menjadikan mereka lepas dari kewajiban-kewajiban syariat. Karena dalam semua ini, antara mereka dan yang lainnya itu sama. Semua manusia di sisi Alah adalah sama, adapun yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13) [2] Diringkas dari Kasyaf Al-Qina’, 5: 68-69. [3] Mughni Al-Muhtaj, 3: 165; Ahkamuz Zawaj, hal. 196. [4] Taudhihul Ahkaam, 5: 312-313. [5] Kecuali dalam aspek agama, karena seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir, atau laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita musyrikah (selain ahli kitab). Ketentuan ini merupakan syarat sah pernikahan. [6] Dinukil dari Taudhihul Ahkaam, 5: 313. [7] Ar-Raudhul Murbi’, hal. 384. [8] Al-Fatawa Al-Kubra, 3: 141.


Daftar Isi Toggle Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariatAl-kafa’ah yang dipertimbangkanAl-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Ketika hendak menikah, di antara pertimbangan dalam memilih pasangan adalah apakah orang tersebut sekufu ataukah tidak. Masing-masing calon pasangan, baik laki-laki maupun perempuan, akan melihat latar belakang calon pasangannya, baik dari sisi nasab (keturunan), suku, pekerjaan (profesi), akhlak (karakter), dan lain sebagainya. Dalam fikih nikah, kriteria ini disebut sebagai al-kafa’ah. Dalam serial tulisan ini, akan dibahas bagaimanakah petunjuk syariat dalam masalah ini. Pengertian al-kafa’ah secara bahasa dan syariat Pengertian “al-kafa’ah” (kesetaraan) secara bahasa, kata ini berasal dari akar kata dengan huruf pertama kaf, yang diikuti fa, dan hamzah, yang bermakna “kesetaraan” dan “persamaan”. Dalam bahasa Arab, kata “kufu’” berarti pasangan yang setara, sepadan, atau setara dalam status. Segala sesuatu yang setara dengan sesuatu yang lain disebut mukafi’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4) Artinya, tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dalam semua sifat-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ “Darah kaum muslimin itu setara.” (HR. Abu Dawud no. 2751, An-Nasa’i no. 4746, dan Ibnu Majah no. 2683, dinilai shahih oleh Al-Albani) Maksudnya, sama dan setara dalam penegakan hukum qishash dan diyat apabila ada yang dibunuh. Dalam konteks pernikahan, al-kafa’ah merujuk pada kesetaraan dalam pernikahan, yang berarti seorang laki-laki harus setara dan sepadan dengan perempuan yang dinikahinya. Kesetaraan ini mencakup sifat-sifat tertentu seperti agama, keturunan, status kebebasan (apakah statusnya merdeka atau budak), profesi (pekerjaan), dan aspek-aspek lainnya yang disebutkan oleh para ahli fikih dalam pembahasan ini. Dalam kitab Kasyaf Al-Qina’ dijelaskan bahwa ada lima sifat yang dianggap untuk melihat al-kafa’ah dari sisi syar’i: Pertama: agama dan akhlak; sehingga seseorang yang merupakan pelaku dosa besar atau gemar bermaksiat (orang fajir atau orang fasik) tidak setara dengan seseorang yang saleh atau menjaga agamanya. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah: 18) Kedua: nasab atau keturunan; orang Arab tidak setara dengan orang non-Arab (‘ajam). [1] Ketiga: status kemerdekaannya; sehingga seorang budak (atau bekas budak) tidak setara dengan orang meredeka. Keempat: pekerjaan; sehingga seseorang yang memiliki pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang (dalam budaya Arab dulu), seperti tukang bekam, penenun, tukang sapu, atau pemungut sampah, tidaklah setara dengan seseorang yang memiliki pekerjaan tertentu, seperti pedagang. Kelima: kecukupan harta (kondisi keuangan atau ekonomi); sesuai dengan apa yang wajib baginya berupa mahar dan nafkah. Orang fakir atau miskin tidak dianggap sekufu dengan orang kaya atau berkecukupan. [2] Namun, sifat-sifat kesetaraan ini tidak disepakati secara mutlak oleh para ulama. Oleh karena itu, setiap ulama mazhab menyebutkan sifat-sifat al-kafa’ah berdasarkan hasil ijtihad mereka. Masalah ini akan dibahas secara lebih rinci di serial terahir tulisan ini, yang akan membahas manakah di antara kelima sifat di atas yang menentukan agar tercapai sekufu antara laki-laki dan wanita. Tidak banyak definisi kafa’ah yang komprehensif, kecuali dari Al-Khatib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i rahimahullah yang mendefinisikannya sebagai berikut, الكفاءة شرعًا: أمر يوجب عدمه عارًا “Kafa’ah secara syar’i adalah suatu keadaan yang jika tidak terpenuhi, dapat menyebabkan rasa malu.” [3] Baca juga: Hukum Menikah dengan Pezina Al-kafa’ah yang dipertimbangkan Para ulama menegaskan bahwa kafa’ah hanya dipertimbangkan dari sisi laki-laki terhadap wanita, bukan sebaliknya. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki pasangan yang setara dengan beliau, namun beliau menikahi perempuan dari berbagai suku Arab dan menikahi Shafiyah binti Huyay bin Akhtab, seorang perempuan Yahudi. Oleh karena itu, rasa gengsi tidak melekat pada laki-laki dari sisi perempuan. Apabila seorang laki-laki memiliki istri yang dianggap lebih rendah dari sisi pekerjaan, status ekonomi, atau nasab, itu tidak akan menjadi masalah yang besar; namun bukan sebaliknya. Selain itu, kehormatan seorang anak ditentukan oleh status kehormatan ayahnya, bukan ibunya. Oleh karena itu, kesetaraan (al-kafa’ah) tidak dianggap dari sisi ibu. Syekh Abdullah bin Abdurrahman Alu Basam berkata, “Al-kafa’ah itu dipertimbangkan (dianggap) dari sisi laki-laki terhadap pihak wanita. Jika sifat-sifat al-kafa’ah tidak terdapat pada pihak wanita, maka tidak dianggap. Al-kafa’ah adalah (sifat yang berkaitan dengan) agama, nasab, merdeka atau budak, pekerjaan yang tidak dianggap rendah, dan kecukupan harta. Al-kafaa’ah tidak dipertimbangkan dari sisi ibu, karena seorang anak itu hanyalah menjadi mulia karena kemuliaan bapaknya, bukan karena ibunya. Oleh karena itu, al-kafa’ah itu tidak dipertimbangkan dari sisi wanita terhadap pihak laki-laki.” [4] Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah, namun syarat terjaganya akad nikah Al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah [5], namun syarat terjaganya akad nikah. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk di antaranya adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وهو قول أكثر أهل العلم “Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” [6] Dalil bahwa al-kafa’ah bukanlah syarat sah nikah adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah bin Qais untuk menikah dengan Usamah bin Zaid, yang merupakan seorang bekas budak. Demikian pula, Abu Hudzaifah -dari Bani Abdi Manaf- menikahkan anak perempuan saudara laki-lakinya dengan Salim, yang merupakan bekas budak dari seorang wanita dari kaum Anshar. Meskipun bukan syarat sah nikah, al-kafa’ah merupakan syarat terjaganya akad nikah. Maksudnya, jika wali wanita menganggap bahwa suami dari anak perempuannya itu tidak sekufu, maka boleh membatalkan (faskh) akad nikah. Karena tentu mereka akan malu jika memiliki menantu yang dinilai tidak sekufu. Al-Buhuti rahimahullah mengatakan, وليست الكفاءة، وهي: دين، ومنصب، وهو النسب، والحرية شرطاً في صحته، فلو زوَّج الأبُ عفيفةً بفاجر، أو عربية بعجمي، أو حُرَّة بعبد فلمن لم يرضَ من المرأة أو الأولياء الفسخ “Sekufu, yaitu kesetaraan dalam agama, nasab (kedudukan), merdeka atau budak, bukanlah syarat sah nikah. Andaikan seorang ayah menikahkan anaknya yang salehah dengan laki-laki fajir, atau menikahkan orang Arab dan orang ‘ajam, maka jika si wanita tidak rida, atau walinya tidak rida, boleh melakukan fasakh (pembatalan pernikahan).” [7] Dalil dalam masalah ini hadis dari Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, beliau berkata, جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيهِ، لِيَرْفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الْأَمْرَ إِلَيْهَا “Seorang gadis datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan anak saudaranya untuk mengangkat kehinaan (status sosial) keluarganya melalui diriku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keputusan kepada gadis itu (apakah ia ingin melanjutkan atau membatalkan pernikahan tersebut).” (HR. An-Nasa’i no. 3269 dan Ibnu Majah no. 1874) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَنْكِحَ مُوَلِّيَتَهُ رَافِضِيًّا، وَلَا يَتْرُكُ الصَّلَاةَ، وَمَتَى زَوَّجُوهُ عَلَى أَنَّهُ صَلَّى فَصَلَّى الْخَمْسَ، ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّهُ رَافِضِيٌّ لَا يُصَلِّي، أَوْ عَادَ إلَى الرَّفْضِ وَتَرَكَ الصَّلَاةَ، فَإِنَّهُمْ يَفْسَخُونَ النِّكَاحَ. “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menikahkan perempuan di bawah perwaliannya dengan seorang Rafidhi (pengikut Syiah Rafidhah) atau orang yang meninggalkan salat. Jika mereka menikahkannya dengan keyakinan bahwa dia menunaikan salat lima waktu, lalu ternyata diketahui bahwa ia adalah Rafidhi yang tidak salat, atau dia kembali pada keyakinan Rafidhah dan meninggalkan salat, maka pernikahan tersebut (harus) dibatalkan.” [8] Dalam tulisan (serial) selanjutkan, kami akan membahas dalil-dalil yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah tentang al-kafa’ah. Hal ini sebagai penjelasan, manakah di antara sifat-sifat yang dianjurkan untuk lebih dipertimbangkan dalam masalah al-kafa’ah? [Bersambung] Baca juga: Hukum Menikahi Saudara Sepupu *** @5 Jumadil akhir 1446/ 7 Desember 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فإن الذي عليه أهل السنة والجماعة: اعتقاد أن جنس العرب أفضل من جنس العجم “Yang menjadi manhaj ahlus sunah adalah keyakinan bahwa secara jenis, bangsa Arab lebih afdal dibandingkan non-Arab.” (Al-Iqtidha’, 1: 419) Beliau kemudian melanjutkan, وأن قريشا أفضل العرب، وأن بني هاشم: أفضل قريش، وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل بني هاشم. فهو: أفضل الخلق نفسا، وأفضلهم نسبا. “Sesungguhnya kaum Quraisy adalah bangsa Arab yang paling afdal; sedangkan Bani Hasyim adalah kaum Quraisy yang paling afdal; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Bani Hasyim yang paling afdal. Beliau sendiri adalah makhluk yang paling mulia dan juga memiliki nasab yang paling mulia.” (Al-Iqtidha’, 1: 420) Namun keistimewaan ini tidaklah menjadikan mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain, atau memiliki hak-hak istimewa yang tidak dimiliki bangsa lainnya, atau tidak menjadikan mereka lepas dari kewajiban-kewajiban syariat. Karena dalam semua ini, antara mereka dan yang lainnya itu sama. Semua manusia di sisi Alah adalah sama, adapun yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13) [2] Diringkas dari Kasyaf Al-Qina’, 5: 68-69. [3] Mughni Al-Muhtaj, 3: 165; Ahkamuz Zawaj, hal. 196. [4] Taudhihul Ahkaam, 5: 312-313. [5] Kecuali dalam aspek agama, karena seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir, atau laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita musyrikah (selain ahli kitab). Ketentuan ini merupakan syarat sah pernikahan. [6] Dinukil dari Taudhihul Ahkaam, 5: 313. [7] Ar-Raudhul Murbi’, hal. 384. [8] Al-Fatawa Al-Kubra, 3: 141.

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2024

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2024 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 22.748 video dengan total 6.662.700 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 9.953 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 876.196.056 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.051 video Total Subscribers: 4.109.175 subscribers Total Tayangan Video: 706.952.527 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 114 video Produksi Video Desember 2024: 245 video Tayangan Video Desember 2024: 3.594.428 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 378.890 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +11.054 Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 2.726 video Total Subscribers: 318.398 Total Tayangan Video: 21.489.706 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 20 video Produksi Video Desember 2024: 36 video Tayangan Video Desember 2024: 135.754 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 8.131 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +1.453 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 87 video Total Subscribers: 496.166 Total Tayangan Video: 150.032.230 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 2.055.271 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 108.355 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +4.654 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.928 Total Tayangan Video: 468.369 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2024: 1.586 views Jam Tayang Video Desember 2024: 328 Jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +16 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 54.800 Total Tayangan Video: 3.158.233 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 27.067 views Penambahan Subscribers Desember 2024: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.135 Postingan Total Pengikut: 1.171.526 followers Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +10.792 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.044 Postingan Total Pengikut: 507.707 Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +4.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 6 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.067 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.108 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 539 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.284 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.495 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 30.000 file mp3 dengan total ukuran 406 Gb dan pada bulan Desember 2024 ini telah mempublikasikan 233 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2024 ini saja telah didengarkan 24.697 kali dan telah di download sebanyak 395 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 3.944.575 kata dengan rata-rata produksi per bulan 52.594 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.590 artikel dengan total durasi audio 235 jam dengan rata-rata perekaman 29 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2024. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 241 times, 1 visit(s) today Post Views: 784 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2024

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2024 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 22.748 video dengan total 6.662.700 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 9.953 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 876.196.056 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.051 video Total Subscribers: 4.109.175 subscribers Total Tayangan Video: 706.952.527 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 114 video Produksi Video Desember 2024: 245 video Tayangan Video Desember 2024: 3.594.428 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 378.890 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +11.054 Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 2.726 video Total Subscribers: 318.398 Total Tayangan Video: 21.489.706 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 20 video Produksi Video Desember 2024: 36 video Tayangan Video Desember 2024: 135.754 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 8.131 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +1.453 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 87 video Total Subscribers: 496.166 Total Tayangan Video: 150.032.230 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 2.055.271 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 108.355 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +4.654 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.928 Total Tayangan Video: 468.369 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2024: 1.586 views Jam Tayang Video Desember 2024: 328 Jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +16 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 54.800 Total Tayangan Video: 3.158.233 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 27.067 views Penambahan Subscribers Desember 2024: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.135 Postingan Total Pengikut: 1.171.526 followers Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +10.792 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.044 Postingan Total Pengikut: 507.707 Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +4.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 6 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.067 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.108 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 539 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.284 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.495 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 30.000 file mp3 dengan total ukuran 406 Gb dan pada bulan Desember 2024 ini telah mempublikasikan 233 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2024 ini saja telah didengarkan 24.697 kali dan telah di download sebanyak 395 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 3.944.575 kata dengan rata-rata produksi per bulan 52.594 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.590 artikel dengan total durasi audio 235 jam dengan rata-rata perekaman 29 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2024. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 241 times, 1 visit(s) today Post Views: 784 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2024 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 22.748 video dengan total 6.662.700 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 9.953 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 876.196.056 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.051 video Total Subscribers: 4.109.175 subscribers Total Tayangan Video: 706.952.527 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 114 video Produksi Video Desember 2024: 245 video Tayangan Video Desember 2024: 3.594.428 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 378.890 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +11.054 Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 2.726 video Total Subscribers: 318.398 Total Tayangan Video: 21.489.706 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 20 video Produksi Video Desember 2024: 36 video Tayangan Video Desember 2024: 135.754 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 8.131 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +1.453 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 87 video Total Subscribers: 496.166 Total Tayangan Video: 150.032.230 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 2.055.271 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 108.355 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +4.654 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.928 Total Tayangan Video: 468.369 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2024: 1.586 views Jam Tayang Video Desember 2024: 328 Jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +16 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 54.800 Total Tayangan Video: 3.158.233 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 27.067 views Penambahan Subscribers Desember 2024: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.135 Postingan Total Pengikut: 1.171.526 followers Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +10.792 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.044 Postingan Total Pengikut: 507.707 Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +4.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 6 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.067 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.108 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 539 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.284 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.495 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 30.000 file mp3 dengan total ukuran 406 Gb dan pada bulan Desember 2024 ini telah mempublikasikan 233 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2024 ini saja telah didengarkan 24.697 kali dan telah di download sebanyak 395 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 3.944.575 kata dengan rata-rata produksi per bulan 52.594 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.590 artikel dengan total durasi audio 235 jam dengan rata-rata perekaman 29 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2024. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 241 times, 1 visit(s) today Post Views: 784 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2024 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 22.748 video dengan total 6.662.700 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 9.953 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 876.196.056 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeBoNc1FiTUFcy8iTzkanD5SVPktbNX6Au8bvaGBXW1g-WsDma2z7A13kBZt5jwUQaS0tDb7pXutmlZyu0jIybBerLYEOI11zno8mLIUtTeMrNPuKNPIv6dmrhCv93NHHt2_qSc?key=hyAjf5EZ7FIttlwGgV9iS15s" alt=""/> Total Video Yufid.TV: 19.051 video Total Subscribers: 4.109.175 subscribers Total Tayangan Video: 706.952.527 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 114 video Produksi Video Desember 2024: 245 video Tayangan Video Desember 2024: 3.594.428 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 378.890 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +11.054 Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXffHZPd2-wKPB6PbfOirD69TYz0iWO_i9xLuxB9tBGfLojET7AKrTETI8WOsZf49buhFp0V89Ei_-KGXkSYGc-vyCXK3YgcGjyPq5iJM0urb02BYmcDgoG6xxYAidhs-yfo_q38hg?key=hyAjf5EZ7FIttlwGgV9iS15s" alt=""/> Total Video Yufid Edu: 2.726 video Total Subscribers: 318.398 Total Tayangan Video: 21.489.706 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 20 video Produksi Video Desember 2024: 36 video Tayangan Video Desember 2024: 135.754 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 8.131 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +1.453 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdUhAxUswCr-vhzzhjqMlve3n8yh6eLKs3duVLH9t2fEokRmgA4x8rbtC4n_T5cJel6y23K3m54Tw4GDHXutenwUkwdA0XRiEQVuJXvSRNTDoAB96GlFJfTtGJcN4uC2OCfMRQ_CQ?key=hyAjf5EZ7FIttlwGgV9iS15s" alt=""/> Total Video Yufid Kids: 87 video Total Subscribers: 496.166 Total Tayangan Video: 150.032.230 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 2.055.271 views Waktu Tayang Video Desember 2024: 108.355 jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +4.654 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.928 Total Tayangan Video: 468.369 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2024: 1.586 views Jam Tayang Video Desember 2024: 328 Jam Penambahan Subscribers Desember 2024: +16 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 54.800 Total Tayangan Video: 3.158.233 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2024: 0 video Tayangan Video Desember 2024: 27.067 views Penambahan Subscribers Desember 2024: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcOlaK2MXysEKnkPM_tWEqOeJpmAPlaiI2J7wzCei9SX9vD-Hj9g-AEU2wUuyYECe2vdiDQTtKvF7E4DTS8EMVggXrsNhjFUypiR_jEyZpEAjEaplgBzNftEXWZt5_fIV0AY_Zv_Q?key=hyAjf5EZ7FIttlwGgV9iS15s" alt=""/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.135 Postingan Total Pengikut: 1.171.526 followers Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +10.792 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.044 Postingan Total Pengikut: 507.707 Konten Bulan Desember 2024: 45 Rata-Rata Produksi: 45 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2024: +4.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeV9H7AXvfbXz9o1N2KA0ip66SkHxyzIrI_C7Kr_lbbAtgoEERtQ9hI-QyXQYn952WE_RujopOG9CtnE4_KAG8esexFx5oF0uXgZjZkBTlbuaoEZeHjSTaSQkEZGpGaRJXPfAzRLA?key=hyAjf5EZ7FIttlwGgV9iS15s" alt=""/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfJIcBfRGo62dPmA6zC-YrOU1cvp7bp4x6Q2qnk85CWfJpUOJenyt6Qz2Icbfs4-CQ6fW-HsPlK7yAMJ9XzLmeYKZmNVPnFFe57ocnyTRhKYogiT9kkl8bYsidPtulhOaB0zfiO?key=hyAjf5EZ7FIttlwGgV9iS15s" alt=""/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 6 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.067 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.108 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 539 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.284 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.495 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 30.000 file mp3 dengan total ukuran 406 Gb dan pada bulan Desember 2024 ini telah mempublikasikan 233 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2024 ini saja telah didengarkan 24.697 kali dan telah di download sebanyak 395 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 3.944.575 kata dengan rata-rata produksi per bulan 52.594 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.590 artikel dengan total durasi audio 235 jam dengan rata-rata perekaman 29 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2024, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2024. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 241 times, 1 visit(s) today Post Views: 784 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ini Dia Amalan Super Mudah tapi Banyak Pahala – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian amalan terbaik kalian, paling suci di sisi Tuhan kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada bersedekah dengan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?” Para Sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Memperbanyak berzikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi) Memperbanyak zikir kepada Allah adalah salah satu amal terbaik. Bahkan sebagian ulama menganggapnya sebagai amal terbaik secara mutlak. Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang amalan terbaik. Lalu beliau menjawab, “Ini berbeda-beda, tergantung keadaan dan tiap-tiap orang. Namun di antara yang disepakati oleh para ulama, bahwa memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan paling utama yang dilakukan oleh seorang hamba.” Ada seorang lelaki yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh Syariat Islam sudah terlalu banyak bagiku. Maka, perintahkanlah aku pada suatu amalan andalan yang dapat aku pegang teguh!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda kepadanya: “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi) Maka hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku! untuk senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah. Berzikir tidak perlu banyak tenaga bagi seorang Muslim. Berzikir itu amalan yang mudah, tapi pahala yang disiapkan untuknya amat besar. Sebagai contoh, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan, SUBHAANALLAAH 100 kali maka dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu keburukan.” (HR. Muslim). Hanya dengan mengucapkan SUBHAANALLAAH sebanyak 100 kali, dicatat bagimu seribu kebaikan! Ini amalan yang mudah, namun pahala yang disiapkan baginya amatlah besar. Orang yang melakukannya adalah yang mendapat taufik dari Allah. ==== عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ يَعْنِى فِضَّةً وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَثْرَةُ ذِكْرِ اللَّهِ فَالْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ بَلْ عَدَّهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ عَلَى الْإِطْلَاقِ سُئِلَ الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ قَالَ هَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ وَلَكِنْ مِمَّا هُوَ كَالْمُجْمَعِ عَلَيْهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِ مَا شَغَلَ بِهِ الْعَبْدُ نَفْسَهُ وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَمُرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَذِكْرُ اللَّهِ لَا يُكَلِّفُ الْمُسْلِمَ كَثِيرًا فَهُوَ عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ كُتِبَ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ حُطَّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مُجَرَّدُ أَنَّكَ تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ يُكْتَبُ لَكَ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ هَذَا عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ

Ini Dia Amalan Super Mudah tapi Banyak Pahala – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian amalan terbaik kalian, paling suci di sisi Tuhan kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada bersedekah dengan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?” Para Sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Memperbanyak berzikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi) Memperbanyak zikir kepada Allah adalah salah satu amal terbaik. Bahkan sebagian ulama menganggapnya sebagai amal terbaik secara mutlak. Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang amalan terbaik. Lalu beliau menjawab, “Ini berbeda-beda, tergantung keadaan dan tiap-tiap orang. Namun di antara yang disepakati oleh para ulama, bahwa memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan paling utama yang dilakukan oleh seorang hamba.” Ada seorang lelaki yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh Syariat Islam sudah terlalu banyak bagiku. Maka, perintahkanlah aku pada suatu amalan andalan yang dapat aku pegang teguh!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda kepadanya: “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi) Maka hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku! untuk senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah. Berzikir tidak perlu banyak tenaga bagi seorang Muslim. Berzikir itu amalan yang mudah, tapi pahala yang disiapkan untuknya amat besar. Sebagai contoh, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan, SUBHAANALLAAH 100 kali maka dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu keburukan.” (HR. Muslim). Hanya dengan mengucapkan SUBHAANALLAAH sebanyak 100 kali, dicatat bagimu seribu kebaikan! Ini amalan yang mudah, namun pahala yang disiapkan baginya amatlah besar. Orang yang melakukannya adalah yang mendapat taufik dari Allah. ==== عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ يَعْنِى فِضَّةً وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَثْرَةُ ذِكْرِ اللَّهِ فَالْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ بَلْ عَدَّهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ عَلَى الْإِطْلَاقِ سُئِلَ الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ قَالَ هَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ وَلَكِنْ مِمَّا هُوَ كَالْمُجْمَعِ عَلَيْهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِ مَا شَغَلَ بِهِ الْعَبْدُ نَفْسَهُ وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَمُرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَذِكْرُ اللَّهِ لَا يُكَلِّفُ الْمُسْلِمَ كَثِيرًا فَهُوَ عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ كُتِبَ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ حُطَّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مُجَرَّدُ أَنَّكَ تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ يُكْتَبُ لَكَ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ هَذَا عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ
Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian amalan terbaik kalian, paling suci di sisi Tuhan kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada bersedekah dengan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?” Para Sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Memperbanyak berzikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi) Memperbanyak zikir kepada Allah adalah salah satu amal terbaik. Bahkan sebagian ulama menganggapnya sebagai amal terbaik secara mutlak. Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang amalan terbaik. Lalu beliau menjawab, “Ini berbeda-beda, tergantung keadaan dan tiap-tiap orang. Namun di antara yang disepakati oleh para ulama, bahwa memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan paling utama yang dilakukan oleh seorang hamba.” Ada seorang lelaki yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh Syariat Islam sudah terlalu banyak bagiku. Maka, perintahkanlah aku pada suatu amalan andalan yang dapat aku pegang teguh!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda kepadanya: “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi) Maka hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku! untuk senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah. Berzikir tidak perlu banyak tenaga bagi seorang Muslim. Berzikir itu amalan yang mudah, tapi pahala yang disiapkan untuknya amat besar. Sebagai contoh, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan, SUBHAANALLAAH 100 kali maka dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu keburukan.” (HR. Muslim). Hanya dengan mengucapkan SUBHAANALLAAH sebanyak 100 kali, dicatat bagimu seribu kebaikan! Ini amalan yang mudah, namun pahala yang disiapkan baginya amatlah besar. Orang yang melakukannya adalah yang mendapat taufik dari Allah. ==== عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ يَعْنِى فِضَّةً وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَثْرَةُ ذِكْرِ اللَّهِ فَالْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ بَلْ عَدَّهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ عَلَى الْإِطْلَاقِ سُئِلَ الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ قَالَ هَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ وَلَكِنْ مِمَّا هُوَ كَالْمُجْمَعِ عَلَيْهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِ مَا شَغَلَ بِهِ الْعَبْدُ نَفْسَهُ وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَمُرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَذِكْرُ اللَّهِ لَا يُكَلِّفُ الْمُسْلِمَ كَثِيرًا فَهُوَ عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ كُتِبَ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ حُطَّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مُجَرَّدُ أَنَّكَ تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ يُكْتَبُ لَكَ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ هَذَا عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ


Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian amalan terbaik kalian, paling suci di sisi Tuhan kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada bersedekah dengan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?” Para Sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Memperbanyak berzikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi) Memperbanyak zikir kepada Allah adalah salah satu amal terbaik. Bahkan sebagian ulama menganggapnya sebagai amal terbaik secara mutlak. Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang amalan terbaik. Lalu beliau menjawab, “Ini berbeda-beda, tergantung keadaan dan tiap-tiap orang. Namun di antara yang disepakati oleh para ulama, bahwa memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan paling utama yang dilakukan oleh seorang hamba.” Ada seorang lelaki yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh Syariat Islam sudah terlalu banyak bagiku. Maka, perintahkanlah aku pada suatu amalan andalan yang dapat aku pegang teguh!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda kepadanya: “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi) Maka hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku! untuk senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah. Berzikir tidak perlu banyak tenaga bagi seorang Muslim. Berzikir itu amalan yang mudah, tapi pahala yang disiapkan untuknya amat besar. Sebagai contoh, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan, SUBHAANALLAAH 100 kali maka dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu keburukan.” (HR. Muslim). Hanya dengan mengucapkan SUBHAANALLAAH sebanyak 100 kali, dicatat bagimu seribu kebaikan! Ini amalan yang mudah, namun pahala yang disiapkan baginya amatlah besar. Orang yang melakukannya adalah yang mendapat taufik dari Allah. ==== عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ يَعْنِى فِضَّةً وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَثْرَةُ ذِكْرِ اللَّهِ فَالْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ بَلْ عَدَّهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ عَلَى الْإِطْلَاقِ سُئِلَ الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ قَالَ هَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ وَلَكِنْ مِمَّا هُوَ كَالْمُجْمَعِ عَلَيْهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِ مَا شَغَلَ بِهِ الْعَبْدُ نَفْسَهُ وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَمُرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَذِكْرُ اللَّهِ لَا يُكَلِّفُ الْمُسْلِمَ كَثِيرًا فَهُوَ عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ كُتِبَ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ حُطَّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مُجَرَّدُ أَنَّكَ تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ يُكْتَبُ لَكَ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ هَذَا عَمَلٌ يَسِيرٌ وَالْأَجْرُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ عَظِيمٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ

Manusia antara Kehidupan dan Kematian

الإنسان بين الحياة والموت Oleh: Dr. Khalid Sa’ad an-Najjar د. خالد سعد النجار نعمة الاستخلاف في الأرض والعيش في أرجائها والمشي في مناكبها فتنة وابتلاء، وليس أعظم من فتنة النعماء وامتحان السراء، لأن الرخاء ينسي، والمتاع يُلهي، والثراء يطغي، في دنيا مستطابة في ذوقها، معجبة في منظرها، مؤنقة في مظهرها، الفتنة بها حاصلة، وعدم السلامة منها غالبة، قال صلى الله عليه وسلم: «إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا، واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء» [رواه مسلم]. قال تعالى: {الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ}[الملك:2] أي ليبلوكم أيكم له أطوع، وإلى مرضاته أسرع، وعن محارمه أورع. Nikmat pengelolaan bumi, hidup di setiap sudut belahannya, dan berjalan di atas permukaannya merupakan ujian dan cobaan. Bahkan, tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian berupa kenikmatan dan karunia kelapangan hidup; karena kehidupan yang makmur itu membuat lalai, kenikmatan itu dapat membuai, dan kekayaan itu mengundang keangkuhan; di dunia yang begitu nikmat rasanya, menakjubkan pemandangannya, dan elegan penampilannya; fitnah darinya begitu nyata dan keselamatan darinya begitu langka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (amat menarik). Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepada kalian. Kemudian Allah melihat apa yang kamu kerjakan (di dunia); maka dari itu takutlah terhadap dunia dan takutlah terhadap wanita, karena sesungguhnya sumber bencana pertama Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim). Allah Ta’ala berfirman: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ “Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Yakni menguji kalian siapa di antara kalian yang paling taat kepada-Nya, paling bergegas dalam mencari keridhaan-Nya, dan paling menjauh dari larangan-larangan-Nya. يقول على الطنطاوي رحمه الله: ثلاثون سنة ما خرجت منها إلا بشيء واحد، هو أني رأيت الحياة كمائدة القمار، فمن الناس من يخسر ماله ويخرج ينفض كفه، ومنهم من يخرج مثقلا بأموال غيره التي ربحها، ومنهم من يقوم على الطريق يمسح الأحذية، ومن يمد إليه حذاءه ليمسحه له، ومن ينام على السرير، ومن يسهر في الشارع يحرس النائم، ومن يأخذ التسعة من غير عمل، ومن يكد ويدأب فلا يبلغ الواحد، وعالم يخضع لجاهل، وجاهل يترأس العلماء، ورأيت المال والعلم والخلق والشهادات قسما وهبات، فرب غني لا علم عنده، وعالم لا مال لديه، وصاحب شهادات ليس بصاحب علم، وذي علم ليس بذي شهادات، ورب مالك أخلاق لا يملك معها شيئا، ومالك لكل شيء ولكن لا أخلاق له، ورأيت في مدرسي المدارس من هو أعلم من رئيس الجامعة، وبين موظفي الوزارة من هو أفضل من الوزير .. ولكنه الحظ، أو هي حكمة الله لا يعلم سرها إلا هو، ابتلانا بخفائها لينظر: أنرضى أم نسخط. Ali Ath-Thanthawi rahimahullah berkata: “Selama 30 tahun, aku tidak melihat dari dunia kecuali satu hal; bahwa aku melihat kehidupan seperti meja perjudian; ada sebagian orang yang kehilangan hartanya dan keluar darinya dengan tangan kosong, dan ada sebagian orang lainnya yang keluar darinya dengan meraup harta orang lain yang ia menangkan. Ada orang yang berdiri di tepi jalan untuk menyemir sepatu dan ada orang lain yang menyodorkan sepatu kepadanya agar ia menyemirnya. Ada orang yang tidur di atas dipan mewah, ada orang yang begadang di jalan untuk menjaga orang yang sedang tidur itu. Ada orang yang dapat memperoleh sembilan bagian tanpa harus bekerja, dan ada orang lain yang bekerja keras banting tulang tapi mendapat satu bagian pun tidak. Ada orang berilmu yang tunduk patuh kepada orang bodoh, dan ada orang bodoh yang membawahi para ilmuwan.  Aku mendapati bahwa harta, ilmu, perilaku, dan ijazah-ijazah adalah rezeki dan karunia (yang Allah berikan sesuai kehendak-Nya). Terkadang ada orang kaya raya tapi tidak berilmu, dan ada orang berilmu tapi tidak punya harta. Ada orang yang punya banyak ijazah tapi tidak punya ilmu, dan ada orang yang berilmu tapi tidak punya ijazah. Terkadang ada orang yang berbudi pekerti luhur tapi tidak punya apa pun, dan ada orang yang punya segalanya tapi tidak punya budi pekerti. Aku mencermati para guru di sekolah-sekolah ada yang lebih luas ilmunya daripada rektor universitas; dan ada pegawai kementerian yang lebih mumpuni daripada menteri itu sendiri. Namun, itulah nasib; atau itulah hikmah kebijaksanaan Allah yang tidak ada yang mengetahui rahasianya kecuali Dia. Dia menguji kita dengan menyembunyikan rahasia itu, untuk melihat apakah kita menerimanya dengan lapang dada atau mencela.” من الذي أمننا في الدور؟ من الذي أرخى علينا الستور؟ من الذي صرف عنا البلايا والشرور، والفتنة حولنا تدور؟ أليس هو الرحيم الغفور؟ فما لنا قد كثرت منا العثار، وقل منا الاعتبار والادكار؟ ما لنا لبسنا ثوب العصيان والغفلة والنسيان؟ غرنا بالله الغرور، برجاء رحمته عن خوف نقمته، وبرجاء عفوه عن رهبة سطوته. عن ابن السماك يحدث قال: بينما صياد في الدهر الأول يصطاد السمك، إذ رمى بشبكة في البحر فخرج فيها جمجمة إنسان، فجعل الصياد ينظر إليها ويبكي، ويقول: عزيز فلم تترك لعزك، غني فلم تترك لغناك، فقير فلم تترك لفقرك، جواد فلم تترك لجودك، شديد فلم تترك لشدتك، عالم فلم تترك لعلمك .. يردد هذا الكلام ويبكي. Siapakah yang memberi kita rasa aman di dalam rumah? Siapakah yang menjulurkan tabir yang menutup aib keburukan kita? Siapakah yang menghindarkan musibah, keburukan, dan bencana yang bertebaran di sekeliling kita? Bukankah Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun? Lalu mengapa kita begitu banyak berbuat dosa dan kesalahan, dan sedikit sekali kita mengambil ibrah dan pelajaran? Lalu mengapa kita masih mengenakan baju kemaksiatan, kelalaian, dan kealpaan? Sungguh kita telah terperdaya dengan harapan kepada rahmat-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan terhadap azab-Nya; dan dengan asa terhadap ampunan-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan akan kuasa-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu as-Sammak bahwa ia menceritakan, “Suatu ketika pada zaman dahulu ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Ketika ia melempar jalanya di laut, ternyata jalanya menangkap tengkorak manusia. Lalu nelayan itu melihatnya lamat-lamat kemudian menangis dan berkata, ‘Jika kamu orang mulia, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemuliaanmu. Jika kamu orang kaya, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekayaanmu. Jika kamu orang miskin, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemiskinanmu. Jika kamu orang dermawan, kamu tidak dibiarkan hidup karena kedermawananmu. Jika kamu orang kuat, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekuatanmu. Jika kamu orang berilmu, kamu juga tidak dibiarkan hidup karena ilmumu!’ Ia terus mengulang-ulang perkataan ini sambil menangis.  ولدتك إذ ولدتك أمك باكيا … والقوم حولك يضحكون سرورا فاعمل ليوم تكون فيه إذا بكوا … في يوم موتك ضاحكا مسرورا Ia lalu melantunkan syair: Kamu terlahir dalam keadaan menangis ketika ibumu baru melahirkanmu Sedangkan orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia Maka beramallah untuk satu hari – ketika mereka menangis karena kematianmu –  Sedangkan kamu ketika itu dapat tertawa bahagia كلكم يبكي لنفسه كان بالبصرة عابد حضرته الوفاة .. فجلس أهله يبكون حوله فقال لهم أجلسوني, فأجلسوه فأقبل عليهم وقال لأبيه: يا أبت ما الذي أبكاك؟ قال: يا بني ذكرت فقدك وانفرادي بعدك. فالتفت إلى أمه, وقال: يا أماه ما الذي أبكاك؟ قالت: لتجرعي مرارة ثكلك, فالتفت إلى الزوجة, وقال: ما الذي أبكاك؟ قالت: لفقد برك وحاجتي لغيرك, فالتفت إلى أولاده, وقال: ما الذي أبكاكم؟ قالوا: لذل اليتم والهوان من بعدك, فعند ذلك نظر إليهم وبكى. فقالوا له: ما يبكيك أنت؟ قال أبكي لأني رأيت كلا منكم يبكى لنفسه لا لي. أما فيكم من بكى لطول سفري؟ أما فيكم من بكى لقلة زادي؟ أما فيكم من بكى لمضجعي في التراب؟ أما فيكم من بكى لما ألقاه من سوء الحساب؟ أما فيكم من بكى لموقفي بين يدي رب الأرباب؟ ثم سقط على وجهه فحركوه, فإذا هو ميت. Setiap kalian menangisi dirinya sendiri Dulu di kota Basrah ada seorang ahli ibadah yang menghadapi ajalnya. Keluarganya duduk di sekitarnya sambil menangis. Lalu orang itu berkata kepada mereka, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Lalu ia menghadap mereka dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ayahnya menjawab, “Duhai anakku! Aku memikirkan kehilangan dirimu dan kesendirianku setelah kematianmu.” Lalu ia mengarahkan pandangannya kepada ibunya dan bertanya, “Wahai ibuku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ibunya menjawab, “Karena aku merasakan pahitnya kehilanganmu!” Lalu ia menoleh kepada istrinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Karena aku kehilangan kesempatan berbakti kepadamu dan karena aku menjadi butuh terhadap orang selain dirimu.” Lalu ia menghadap kepada anak-anaknya dan bertanya, “Apa yang membuat kalian menangis?” Mereka menjawab, “Karena kami teringat rendah dan lemahnya menjadi yatim setelah kepergianmu.”  Ketika itulah ia melihat mereka dan menangis. Mereka pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku melihat setiap kalian menangisi dirinya sendiri, bukan karena diriku. Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu panjang perjalananku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu sedikitnya bekalku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena tempat pembaringanku di atas tanah? Tidakkah dari kalian yang menangis karena beratnya hisab yang akan aku temui? Tidakkah dari kalian yang menangis karena posisiku di hadapan Tuhan semesta alam?” Lalu ia jatuh tertelungkup. Ketika mereka menggerak-gerakkan tubuhnya, ternyata ia telah wafat. ملوك الدنيا قال معاوية -رضي الله عنه- عند موته لمن حوله: أجلسوني .. فأجلسوه .. فجلس يذكر الله, ثم بكى، وقال: الآن يا معاوية، جئت تذكر ربك بعد الانحطام والانهدام, أما كان هذا وغض الشباب نضير ريان؟! ثم بكى وقال: يا رب, يا رب, ارحم الشيخ العاصي ذا القلب القاسي .. اللهم أقل العثرة، واغفر الزلة، وجد بحلمك على من لم يرج غيرك، ولا وثق بأحد سواك .. ثم فاضت روحه رضي الله عنه. Para raja dunia Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu menghadapi ajalnya, ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Kemudian ia berzikir kepada Allah, lalu menangis. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Baru sekarang, hai Muawiyah! Kamu baru menyebut Tuhanmu setelah datang masa tumbang. Mengapa ini tidak kamu lakukan saat masih muda dan masih segar bugar?!” Kemudian Muawiyah kembali menangis, dan berseru, “Duhai Tuhanku! Duhai Tuhanku! Kasihilah orang tua pelaku maksiat dan punya hati keras ini! Ya Allah, maafkanlah atas kekeliruan, ampunilah segala kesalahan! Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada hamba yang tidak mengharap kepada selain-Mu dan tidak percaya kepada siapa pun kecuali Engkau ini!” Kemudian beliau pun meninggal dunia, radhiyallahu ‘anhu. ويروى أن الخليفة عبد الملك بن مروان لما أحس بالموت قال: ارفعوني على شرف, ففعل ذلك, فتنسم الروح, ثم قال: يا دنيا ما أطيبك! إن طويلك لقصير، وإن كثيرك لحقير، وإن كنا منك لفي غرور! Diriwayatkan juga bahwa ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan merasa bahwa ajalnya akan segera tiba, ia berkata, “Bawalah aku naik ke balkon!” Ia pun dibawa ke sana, lalu menghirup udara segar dan berkata, “Duhai dunia, betapa indahnya dirimu! Sungguh panjangmu itu pendek dan banyakmu itu sedikit, dan sungguh kami dulu telah terbuai olehmu!” ولما أحتضر أمير المؤمنين هشام بن عبد الملك, نظر إلى أهله يبكون حوله فقال: جاء هشام إليكم بالدنيا وجئتم له بالبكاء, ترك لكم ما جمع وتركتم له ما حمل, ما أعظم مصيبة هشام إن لم يرحمه الله. ولما مرض هارون الرشيد ويئس الأطباء من شفائه، وأحس بدنو أجله، قال: أحضروا لي أكفانا فأحضروا له، فاختار منها واحدا .. ثم قال: احفروا لي قبرا .. فحفروا له .. فنظر إلى القبر وقال: ما أغنى عني مالية … هلك عني سلطانيه! Ketika Amirul Mu’minin, Hisyam bin Abdul Malik menghadapi ajalnya, ia menatap keluarganya yang menangis di sekitarnya. Ia pun berkata kepada mereka, “Hisyam datang kepada kalian dengan dunia, sedangkan kalian datang kepadanya dengan tangisan. Ia juga meninggalkan bagi kalian (harta) yang ia kumpulkan, sedangkan kalian meninggalkan baginya apa yang ia bawa (ke kuburan). Sungguh betapa besar musibah Hisyam andai Allah tidak merahmatinya!” Ketika Harun ar-Rasyid sakit, dan para dokter sudah menyerah untuk mengobatinya, serta ia merasa ajalnya telah dekat, ia berkata, “Hadirkanlah kepadaku kain-kain kafan!” Mereka pun menghadirkannya, lalu ia memilih salah satunya. Kemudian ia berkata, “Galilah kuburan untukku!” Mereka pun menggalikannya. Lalu ia melihat kuburan itu dan berkata, “Tidak berguna lagi hartaku untukku, dan hancur sudah kekuasaanku!” وحينما حضر الخليفة المأمون الموت قال: أنزلوني من على السرير. فأنزلوه على الأرض، فوضع خده على التراب، وقال: يا من لا يزول ملكه .. ارحم من قد زال ملكه. وقال المعتصم عند موته :لو علمت أن عمري قصير هكذا ما فعلت … ! Ketika Khalifah Makmun menghadapi sakaratul maut, ia berkata, “Turunkanlah aku dari ranjang!” Mereka pun menurunkannya ke atas tanah. Lalu ia meletakkan pipinya di atas tanah dan berkata, “Wahai Zat Yang tidak akan lenyap kerajaan-Nya, kasihilah orang yang telah lenyap kerajaannya ini!” Mu’tashim berkata ketika ajal menjemputnya, “Seandainya aku mengetahui bahwa umurku pendek, niscaya tidak akan seperti ini perbuatanku!” إنه الموت قال مطرف: إن هذا الموت أفسد على أهل النعيم نعيمهم، فاطلبوا نعيما لا موت فيه. وقال الحسن: فضح الموت الدنيا فلم يترك فيها لذي لب فرحا. وقال سفيان: لو أن البهائم تعقل من الموت ما تعقلون ما أكلتم منها سمينا. وقال الأوزاعي: جئت إلى بيروت أرابط فيها، فلقيت سوداء عند المقابر، فقلت لها: يا سوداء، أين العمارة؟ قالت: أنت في العمارة، وإن أردت الخراب فبين يديك. Itulah kematian Mutharrif berkata, “Sesungguhnya kematian ini akan merusak kenikmatan orang-orang yang mendapat kenikmatan. Oleh sebab itu, carilah kenikmatan yang tidak pernah ada matinya.” Al-Hasan berkata, “Maut telah menyingkap aib dunia, sehingga ia tidak menyisakan kebahagiaan di dalamnya bagi orang yang berakal.” Sufyan berkata, “Seandainya hewan ternak memahami kematian seperti pemahaman kalian, niscaya kalian tidak akan bisa makan hewan ternak yang gemuk.” Al-Auza’i berkata, “Aku pernah datang ke Beirut untuk menjaga perbatasan di sana. Lalu aku berjumpa dengan wanita hitam di kuburan, aku pun bertanya kepadanya, “Hai wanita hitam, di manakah kemakmuran?” Ia menjawab, “Kamu sekarang ada dalam kemakmuran; tapi jika kamu ingin mengetahui di mana kehancuran, maka ia ada di hadapanmu (kuburan).” همة ترقيك يقول على الطنطاوي: وجدت على نضد إبريقا من البلور الصافي طويل العنق واسع البطن، فيه نحلة قد دخلت ولم تستطع الخروج، فهي تتحفز وتتجمع وتثب متقدمة بقوة وبأس، فيضرب الزجاج رأسها ويردها، فتعاود الكرة وهي لا تبصر الجدار وإنما تبصر ما وراءه، فتحسب أنه ليس بينها وبين الفضاء حجاب. فجعلت أنظر إليها وهي تعمل دائبة، كلما ضربت مرة عادت تحاول أخرى لا تقف ولا تستريح، حتى عددت عليها أكثر من أربعين مرة، تجد الصدمة كل مرة فلا تعتبر ولا تدرك الحقيقة، ولا ترفع رأسها لتبصر الطريق وتعلم أن سبيل الفضاء وباب الحرية هو من «فوق» لا عن يمين ولا عن شمال. Tekad yang meninggikanmu Ali ath-Thanthawi berkata, “Aku pernah melihat cerek dari kaca bening dengan leher panjang dan perut luas di atas ranjang. Di dalamnya terdapat lebah yang masuk tapi tidak bisa keluar, ia bersiap-siap meloncat lau meloncat dengan sekuat tenaga, sehingga kepalanya membentur kaca dan mementalkannya. Ia pun mengulangi usahanya, padahal ia tidak dapat melihat dinding yang membatasinya, dan hanya melihat apa yang ada di baliknya. Ia mengira tidak ada pembatas antara dirinya dengan udara bebas. Aku melihatnya terus menerus mengulangi usahanya; setiap kali ia membentur, ia mencobanya lagi tanpa henti dan istirahat; hingga aku menghitung usahanya itu lebih dari 40 kali. Ia terbentur setiap kali, tanpa mengambil pelajaran darinya, tidak mencoba memahami hakikat, dan tidak menengokkan kepala ke atas agar dapat melihat jalan keluar, sehingga ia dapat mengetahui bahwa jalan menuju udara bebas dan kebebasan ada di ‘atas’, bukan di kanan dan kiri.” Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/194383/الإنسان-بين-الحياة-والموتPDF Sumber Artikel. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 1,219 times, 1 visit(s) today Post Views: 725 QRIS donasi Yufid

Manusia antara Kehidupan dan Kematian

الإنسان بين الحياة والموت Oleh: Dr. Khalid Sa’ad an-Najjar د. خالد سعد النجار نعمة الاستخلاف في الأرض والعيش في أرجائها والمشي في مناكبها فتنة وابتلاء، وليس أعظم من فتنة النعماء وامتحان السراء، لأن الرخاء ينسي، والمتاع يُلهي، والثراء يطغي، في دنيا مستطابة في ذوقها، معجبة في منظرها، مؤنقة في مظهرها، الفتنة بها حاصلة، وعدم السلامة منها غالبة، قال صلى الله عليه وسلم: «إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا، واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء» [رواه مسلم]. قال تعالى: {الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ}[الملك:2] أي ليبلوكم أيكم له أطوع، وإلى مرضاته أسرع، وعن محارمه أورع. Nikmat pengelolaan bumi, hidup di setiap sudut belahannya, dan berjalan di atas permukaannya merupakan ujian dan cobaan. Bahkan, tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian berupa kenikmatan dan karunia kelapangan hidup; karena kehidupan yang makmur itu membuat lalai, kenikmatan itu dapat membuai, dan kekayaan itu mengundang keangkuhan; di dunia yang begitu nikmat rasanya, menakjubkan pemandangannya, dan elegan penampilannya; fitnah darinya begitu nyata dan keselamatan darinya begitu langka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (amat menarik). Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepada kalian. Kemudian Allah melihat apa yang kamu kerjakan (di dunia); maka dari itu takutlah terhadap dunia dan takutlah terhadap wanita, karena sesungguhnya sumber bencana pertama Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim). Allah Ta’ala berfirman: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ “Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Yakni menguji kalian siapa di antara kalian yang paling taat kepada-Nya, paling bergegas dalam mencari keridhaan-Nya, dan paling menjauh dari larangan-larangan-Nya. يقول على الطنطاوي رحمه الله: ثلاثون سنة ما خرجت منها إلا بشيء واحد، هو أني رأيت الحياة كمائدة القمار، فمن الناس من يخسر ماله ويخرج ينفض كفه، ومنهم من يخرج مثقلا بأموال غيره التي ربحها، ومنهم من يقوم على الطريق يمسح الأحذية، ومن يمد إليه حذاءه ليمسحه له، ومن ينام على السرير، ومن يسهر في الشارع يحرس النائم، ومن يأخذ التسعة من غير عمل، ومن يكد ويدأب فلا يبلغ الواحد، وعالم يخضع لجاهل، وجاهل يترأس العلماء، ورأيت المال والعلم والخلق والشهادات قسما وهبات، فرب غني لا علم عنده، وعالم لا مال لديه، وصاحب شهادات ليس بصاحب علم، وذي علم ليس بذي شهادات، ورب مالك أخلاق لا يملك معها شيئا، ومالك لكل شيء ولكن لا أخلاق له، ورأيت في مدرسي المدارس من هو أعلم من رئيس الجامعة، وبين موظفي الوزارة من هو أفضل من الوزير .. ولكنه الحظ، أو هي حكمة الله لا يعلم سرها إلا هو، ابتلانا بخفائها لينظر: أنرضى أم نسخط. Ali Ath-Thanthawi rahimahullah berkata: “Selama 30 tahun, aku tidak melihat dari dunia kecuali satu hal; bahwa aku melihat kehidupan seperti meja perjudian; ada sebagian orang yang kehilangan hartanya dan keluar darinya dengan tangan kosong, dan ada sebagian orang lainnya yang keluar darinya dengan meraup harta orang lain yang ia menangkan. Ada orang yang berdiri di tepi jalan untuk menyemir sepatu dan ada orang lain yang menyodorkan sepatu kepadanya agar ia menyemirnya. Ada orang yang tidur di atas dipan mewah, ada orang yang begadang di jalan untuk menjaga orang yang sedang tidur itu. Ada orang yang dapat memperoleh sembilan bagian tanpa harus bekerja, dan ada orang lain yang bekerja keras banting tulang tapi mendapat satu bagian pun tidak. Ada orang berilmu yang tunduk patuh kepada orang bodoh, dan ada orang bodoh yang membawahi para ilmuwan.  Aku mendapati bahwa harta, ilmu, perilaku, dan ijazah-ijazah adalah rezeki dan karunia (yang Allah berikan sesuai kehendak-Nya). Terkadang ada orang kaya raya tapi tidak berilmu, dan ada orang berilmu tapi tidak punya harta. Ada orang yang punya banyak ijazah tapi tidak punya ilmu, dan ada orang yang berilmu tapi tidak punya ijazah. Terkadang ada orang yang berbudi pekerti luhur tapi tidak punya apa pun, dan ada orang yang punya segalanya tapi tidak punya budi pekerti. Aku mencermati para guru di sekolah-sekolah ada yang lebih luas ilmunya daripada rektor universitas; dan ada pegawai kementerian yang lebih mumpuni daripada menteri itu sendiri. Namun, itulah nasib; atau itulah hikmah kebijaksanaan Allah yang tidak ada yang mengetahui rahasianya kecuali Dia. Dia menguji kita dengan menyembunyikan rahasia itu, untuk melihat apakah kita menerimanya dengan lapang dada atau mencela.” من الذي أمننا في الدور؟ من الذي أرخى علينا الستور؟ من الذي صرف عنا البلايا والشرور، والفتنة حولنا تدور؟ أليس هو الرحيم الغفور؟ فما لنا قد كثرت منا العثار، وقل منا الاعتبار والادكار؟ ما لنا لبسنا ثوب العصيان والغفلة والنسيان؟ غرنا بالله الغرور، برجاء رحمته عن خوف نقمته، وبرجاء عفوه عن رهبة سطوته. عن ابن السماك يحدث قال: بينما صياد في الدهر الأول يصطاد السمك، إذ رمى بشبكة في البحر فخرج فيها جمجمة إنسان، فجعل الصياد ينظر إليها ويبكي، ويقول: عزيز فلم تترك لعزك، غني فلم تترك لغناك، فقير فلم تترك لفقرك، جواد فلم تترك لجودك، شديد فلم تترك لشدتك، عالم فلم تترك لعلمك .. يردد هذا الكلام ويبكي. Siapakah yang memberi kita rasa aman di dalam rumah? Siapakah yang menjulurkan tabir yang menutup aib keburukan kita? Siapakah yang menghindarkan musibah, keburukan, dan bencana yang bertebaran di sekeliling kita? Bukankah Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun? Lalu mengapa kita begitu banyak berbuat dosa dan kesalahan, dan sedikit sekali kita mengambil ibrah dan pelajaran? Lalu mengapa kita masih mengenakan baju kemaksiatan, kelalaian, dan kealpaan? Sungguh kita telah terperdaya dengan harapan kepada rahmat-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan terhadap azab-Nya; dan dengan asa terhadap ampunan-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan akan kuasa-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu as-Sammak bahwa ia menceritakan, “Suatu ketika pada zaman dahulu ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Ketika ia melempar jalanya di laut, ternyata jalanya menangkap tengkorak manusia. Lalu nelayan itu melihatnya lamat-lamat kemudian menangis dan berkata, ‘Jika kamu orang mulia, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemuliaanmu. Jika kamu orang kaya, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekayaanmu. Jika kamu orang miskin, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemiskinanmu. Jika kamu orang dermawan, kamu tidak dibiarkan hidup karena kedermawananmu. Jika kamu orang kuat, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekuatanmu. Jika kamu orang berilmu, kamu juga tidak dibiarkan hidup karena ilmumu!’ Ia terus mengulang-ulang perkataan ini sambil menangis.  ولدتك إذ ولدتك أمك باكيا … والقوم حولك يضحكون سرورا فاعمل ليوم تكون فيه إذا بكوا … في يوم موتك ضاحكا مسرورا Ia lalu melantunkan syair: Kamu terlahir dalam keadaan menangis ketika ibumu baru melahirkanmu Sedangkan orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia Maka beramallah untuk satu hari – ketika mereka menangis karena kematianmu –  Sedangkan kamu ketika itu dapat tertawa bahagia كلكم يبكي لنفسه كان بالبصرة عابد حضرته الوفاة .. فجلس أهله يبكون حوله فقال لهم أجلسوني, فأجلسوه فأقبل عليهم وقال لأبيه: يا أبت ما الذي أبكاك؟ قال: يا بني ذكرت فقدك وانفرادي بعدك. فالتفت إلى أمه, وقال: يا أماه ما الذي أبكاك؟ قالت: لتجرعي مرارة ثكلك, فالتفت إلى الزوجة, وقال: ما الذي أبكاك؟ قالت: لفقد برك وحاجتي لغيرك, فالتفت إلى أولاده, وقال: ما الذي أبكاكم؟ قالوا: لذل اليتم والهوان من بعدك, فعند ذلك نظر إليهم وبكى. فقالوا له: ما يبكيك أنت؟ قال أبكي لأني رأيت كلا منكم يبكى لنفسه لا لي. أما فيكم من بكى لطول سفري؟ أما فيكم من بكى لقلة زادي؟ أما فيكم من بكى لمضجعي في التراب؟ أما فيكم من بكى لما ألقاه من سوء الحساب؟ أما فيكم من بكى لموقفي بين يدي رب الأرباب؟ ثم سقط على وجهه فحركوه, فإذا هو ميت. Setiap kalian menangisi dirinya sendiri Dulu di kota Basrah ada seorang ahli ibadah yang menghadapi ajalnya. Keluarganya duduk di sekitarnya sambil menangis. Lalu orang itu berkata kepada mereka, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Lalu ia menghadap mereka dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ayahnya menjawab, “Duhai anakku! Aku memikirkan kehilangan dirimu dan kesendirianku setelah kematianmu.” Lalu ia mengarahkan pandangannya kepada ibunya dan bertanya, “Wahai ibuku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ibunya menjawab, “Karena aku merasakan pahitnya kehilanganmu!” Lalu ia menoleh kepada istrinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Karena aku kehilangan kesempatan berbakti kepadamu dan karena aku menjadi butuh terhadap orang selain dirimu.” Lalu ia menghadap kepada anak-anaknya dan bertanya, “Apa yang membuat kalian menangis?” Mereka menjawab, “Karena kami teringat rendah dan lemahnya menjadi yatim setelah kepergianmu.”  Ketika itulah ia melihat mereka dan menangis. Mereka pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku melihat setiap kalian menangisi dirinya sendiri, bukan karena diriku. Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu panjang perjalananku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu sedikitnya bekalku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena tempat pembaringanku di atas tanah? Tidakkah dari kalian yang menangis karena beratnya hisab yang akan aku temui? Tidakkah dari kalian yang menangis karena posisiku di hadapan Tuhan semesta alam?” Lalu ia jatuh tertelungkup. Ketika mereka menggerak-gerakkan tubuhnya, ternyata ia telah wafat. ملوك الدنيا قال معاوية -رضي الله عنه- عند موته لمن حوله: أجلسوني .. فأجلسوه .. فجلس يذكر الله, ثم بكى، وقال: الآن يا معاوية، جئت تذكر ربك بعد الانحطام والانهدام, أما كان هذا وغض الشباب نضير ريان؟! ثم بكى وقال: يا رب, يا رب, ارحم الشيخ العاصي ذا القلب القاسي .. اللهم أقل العثرة، واغفر الزلة، وجد بحلمك على من لم يرج غيرك، ولا وثق بأحد سواك .. ثم فاضت روحه رضي الله عنه. Para raja dunia Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu menghadapi ajalnya, ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Kemudian ia berzikir kepada Allah, lalu menangis. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Baru sekarang, hai Muawiyah! Kamu baru menyebut Tuhanmu setelah datang masa tumbang. Mengapa ini tidak kamu lakukan saat masih muda dan masih segar bugar?!” Kemudian Muawiyah kembali menangis, dan berseru, “Duhai Tuhanku! Duhai Tuhanku! Kasihilah orang tua pelaku maksiat dan punya hati keras ini! Ya Allah, maafkanlah atas kekeliruan, ampunilah segala kesalahan! Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada hamba yang tidak mengharap kepada selain-Mu dan tidak percaya kepada siapa pun kecuali Engkau ini!” Kemudian beliau pun meninggal dunia, radhiyallahu ‘anhu. ويروى أن الخليفة عبد الملك بن مروان لما أحس بالموت قال: ارفعوني على شرف, ففعل ذلك, فتنسم الروح, ثم قال: يا دنيا ما أطيبك! إن طويلك لقصير، وإن كثيرك لحقير، وإن كنا منك لفي غرور! Diriwayatkan juga bahwa ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan merasa bahwa ajalnya akan segera tiba, ia berkata, “Bawalah aku naik ke balkon!” Ia pun dibawa ke sana, lalu menghirup udara segar dan berkata, “Duhai dunia, betapa indahnya dirimu! Sungguh panjangmu itu pendek dan banyakmu itu sedikit, dan sungguh kami dulu telah terbuai olehmu!” ولما أحتضر أمير المؤمنين هشام بن عبد الملك, نظر إلى أهله يبكون حوله فقال: جاء هشام إليكم بالدنيا وجئتم له بالبكاء, ترك لكم ما جمع وتركتم له ما حمل, ما أعظم مصيبة هشام إن لم يرحمه الله. ولما مرض هارون الرشيد ويئس الأطباء من شفائه، وأحس بدنو أجله، قال: أحضروا لي أكفانا فأحضروا له، فاختار منها واحدا .. ثم قال: احفروا لي قبرا .. فحفروا له .. فنظر إلى القبر وقال: ما أغنى عني مالية … هلك عني سلطانيه! Ketika Amirul Mu’minin, Hisyam bin Abdul Malik menghadapi ajalnya, ia menatap keluarganya yang menangis di sekitarnya. Ia pun berkata kepada mereka, “Hisyam datang kepada kalian dengan dunia, sedangkan kalian datang kepadanya dengan tangisan. Ia juga meninggalkan bagi kalian (harta) yang ia kumpulkan, sedangkan kalian meninggalkan baginya apa yang ia bawa (ke kuburan). Sungguh betapa besar musibah Hisyam andai Allah tidak merahmatinya!” Ketika Harun ar-Rasyid sakit, dan para dokter sudah menyerah untuk mengobatinya, serta ia merasa ajalnya telah dekat, ia berkata, “Hadirkanlah kepadaku kain-kain kafan!” Mereka pun menghadirkannya, lalu ia memilih salah satunya. Kemudian ia berkata, “Galilah kuburan untukku!” Mereka pun menggalikannya. Lalu ia melihat kuburan itu dan berkata, “Tidak berguna lagi hartaku untukku, dan hancur sudah kekuasaanku!” وحينما حضر الخليفة المأمون الموت قال: أنزلوني من على السرير. فأنزلوه على الأرض، فوضع خده على التراب، وقال: يا من لا يزول ملكه .. ارحم من قد زال ملكه. وقال المعتصم عند موته :لو علمت أن عمري قصير هكذا ما فعلت … ! Ketika Khalifah Makmun menghadapi sakaratul maut, ia berkata, “Turunkanlah aku dari ranjang!” Mereka pun menurunkannya ke atas tanah. Lalu ia meletakkan pipinya di atas tanah dan berkata, “Wahai Zat Yang tidak akan lenyap kerajaan-Nya, kasihilah orang yang telah lenyap kerajaannya ini!” Mu’tashim berkata ketika ajal menjemputnya, “Seandainya aku mengetahui bahwa umurku pendek, niscaya tidak akan seperti ini perbuatanku!” إنه الموت قال مطرف: إن هذا الموت أفسد على أهل النعيم نعيمهم، فاطلبوا نعيما لا موت فيه. وقال الحسن: فضح الموت الدنيا فلم يترك فيها لذي لب فرحا. وقال سفيان: لو أن البهائم تعقل من الموت ما تعقلون ما أكلتم منها سمينا. وقال الأوزاعي: جئت إلى بيروت أرابط فيها، فلقيت سوداء عند المقابر، فقلت لها: يا سوداء، أين العمارة؟ قالت: أنت في العمارة، وإن أردت الخراب فبين يديك. Itulah kematian Mutharrif berkata, “Sesungguhnya kematian ini akan merusak kenikmatan orang-orang yang mendapat kenikmatan. Oleh sebab itu, carilah kenikmatan yang tidak pernah ada matinya.” Al-Hasan berkata, “Maut telah menyingkap aib dunia, sehingga ia tidak menyisakan kebahagiaan di dalamnya bagi orang yang berakal.” Sufyan berkata, “Seandainya hewan ternak memahami kematian seperti pemahaman kalian, niscaya kalian tidak akan bisa makan hewan ternak yang gemuk.” Al-Auza’i berkata, “Aku pernah datang ke Beirut untuk menjaga perbatasan di sana. Lalu aku berjumpa dengan wanita hitam di kuburan, aku pun bertanya kepadanya, “Hai wanita hitam, di manakah kemakmuran?” Ia menjawab, “Kamu sekarang ada dalam kemakmuran; tapi jika kamu ingin mengetahui di mana kehancuran, maka ia ada di hadapanmu (kuburan).” همة ترقيك يقول على الطنطاوي: وجدت على نضد إبريقا من البلور الصافي طويل العنق واسع البطن، فيه نحلة قد دخلت ولم تستطع الخروج، فهي تتحفز وتتجمع وتثب متقدمة بقوة وبأس، فيضرب الزجاج رأسها ويردها، فتعاود الكرة وهي لا تبصر الجدار وإنما تبصر ما وراءه، فتحسب أنه ليس بينها وبين الفضاء حجاب. فجعلت أنظر إليها وهي تعمل دائبة، كلما ضربت مرة عادت تحاول أخرى لا تقف ولا تستريح، حتى عددت عليها أكثر من أربعين مرة، تجد الصدمة كل مرة فلا تعتبر ولا تدرك الحقيقة، ولا ترفع رأسها لتبصر الطريق وتعلم أن سبيل الفضاء وباب الحرية هو من «فوق» لا عن يمين ولا عن شمال. Tekad yang meninggikanmu Ali ath-Thanthawi berkata, “Aku pernah melihat cerek dari kaca bening dengan leher panjang dan perut luas di atas ranjang. Di dalamnya terdapat lebah yang masuk tapi tidak bisa keluar, ia bersiap-siap meloncat lau meloncat dengan sekuat tenaga, sehingga kepalanya membentur kaca dan mementalkannya. Ia pun mengulangi usahanya, padahal ia tidak dapat melihat dinding yang membatasinya, dan hanya melihat apa yang ada di baliknya. Ia mengira tidak ada pembatas antara dirinya dengan udara bebas. Aku melihatnya terus menerus mengulangi usahanya; setiap kali ia membentur, ia mencobanya lagi tanpa henti dan istirahat; hingga aku menghitung usahanya itu lebih dari 40 kali. Ia terbentur setiap kali, tanpa mengambil pelajaran darinya, tidak mencoba memahami hakikat, dan tidak menengokkan kepala ke atas agar dapat melihat jalan keluar, sehingga ia dapat mengetahui bahwa jalan menuju udara bebas dan kebebasan ada di ‘atas’, bukan di kanan dan kiri.” Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/194383/الإنسان-بين-الحياة-والموتPDF Sumber Artikel. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 1,219 times, 1 visit(s) today Post Views: 725 QRIS donasi Yufid
الإنسان بين الحياة والموت Oleh: Dr. Khalid Sa’ad an-Najjar د. خالد سعد النجار نعمة الاستخلاف في الأرض والعيش في أرجائها والمشي في مناكبها فتنة وابتلاء، وليس أعظم من فتنة النعماء وامتحان السراء، لأن الرخاء ينسي، والمتاع يُلهي، والثراء يطغي، في دنيا مستطابة في ذوقها، معجبة في منظرها، مؤنقة في مظهرها، الفتنة بها حاصلة، وعدم السلامة منها غالبة، قال صلى الله عليه وسلم: «إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا، واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء» [رواه مسلم]. قال تعالى: {الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ}[الملك:2] أي ليبلوكم أيكم له أطوع، وإلى مرضاته أسرع، وعن محارمه أورع. Nikmat pengelolaan bumi, hidup di setiap sudut belahannya, dan berjalan di atas permukaannya merupakan ujian dan cobaan. Bahkan, tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian berupa kenikmatan dan karunia kelapangan hidup; karena kehidupan yang makmur itu membuat lalai, kenikmatan itu dapat membuai, dan kekayaan itu mengundang keangkuhan; di dunia yang begitu nikmat rasanya, menakjubkan pemandangannya, dan elegan penampilannya; fitnah darinya begitu nyata dan keselamatan darinya begitu langka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (amat menarik). Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepada kalian. Kemudian Allah melihat apa yang kamu kerjakan (di dunia); maka dari itu takutlah terhadap dunia dan takutlah terhadap wanita, karena sesungguhnya sumber bencana pertama Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim). Allah Ta’ala berfirman: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ “Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Yakni menguji kalian siapa di antara kalian yang paling taat kepada-Nya, paling bergegas dalam mencari keridhaan-Nya, dan paling menjauh dari larangan-larangan-Nya. يقول على الطنطاوي رحمه الله: ثلاثون سنة ما خرجت منها إلا بشيء واحد، هو أني رأيت الحياة كمائدة القمار، فمن الناس من يخسر ماله ويخرج ينفض كفه، ومنهم من يخرج مثقلا بأموال غيره التي ربحها، ومنهم من يقوم على الطريق يمسح الأحذية، ومن يمد إليه حذاءه ليمسحه له، ومن ينام على السرير، ومن يسهر في الشارع يحرس النائم، ومن يأخذ التسعة من غير عمل، ومن يكد ويدأب فلا يبلغ الواحد، وعالم يخضع لجاهل، وجاهل يترأس العلماء، ورأيت المال والعلم والخلق والشهادات قسما وهبات، فرب غني لا علم عنده، وعالم لا مال لديه، وصاحب شهادات ليس بصاحب علم، وذي علم ليس بذي شهادات، ورب مالك أخلاق لا يملك معها شيئا، ومالك لكل شيء ولكن لا أخلاق له، ورأيت في مدرسي المدارس من هو أعلم من رئيس الجامعة، وبين موظفي الوزارة من هو أفضل من الوزير .. ولكنه الحظ، أو هي حكمة الله لا يعلم سرها إلا هو، ابتلانا بخفائها لينظر: أنرضى أم نسخط. Ali Ath-Thanthawi rahimahullah berkata: “Selama 30 tahun, aku tidak melihat dari dunia kecuali satu hal; bahwa aku melihat kehidupan seperti meja perjudian; ada sebagian orang yang kehilangan hartanya dan keluar darinya dengan tangan kosong, dan ada sebagian orang lainnya yang keluar darinya dengan meraup harta orang lain yang ia menangkan. Ada orang yang berdiri di tepi jalan untuk menyemir sepatu dan ada orang lain yang menyodorkan sepatu kepadanya agar ia menyemirnya. Ada orang yang tidur di atas dipan mewah, ada orang yang begadang di jalan untuk menjaga orang yang sedang tidur itu. Ada orang yang dapat memperoleh sembilan bagian tanpa harus bekerja, dan ada orang lain yang bekerja keras banting tulang tapi mendapat satu bagian pun tidak. Ada orang berilmu yang tunduk patuh kepada orang bodoh, dan ada orang bodoh yang membawahi para ilmuwan.  Aku mendapati bahwa harta, ilmu, perilaku, dan ijazah-ijazah adalah rezeki dan karunia (yang Allah berikan sesuai kehendak-Nya). Terkadang ada orang kaya raya tapi tidak berilmu, dan ada orang berilmu tapi tidak punya harta. Ada orang yang punya banyak ijazah tapi tidak punya ilmu, dan ada orang yang berilmu tapi tidak punya ijazah. Terkadang ada orang yang berbudi pekerti luhur tapi tidak punya apa pun, dan ada orang yang punya segalanya tapi tidak punya budi pekerti. Aku mencermati para guru di sekolah-sekolah ada yang lebih luas ilmunya daripada rektor universitas; dan ada pegawai kementerian yang lebih mumpuni daripada menteri itu sendiri. Namun, itulah nasib; atau itulah hikmah kebijaksanaan Allah yang tidak ada yang mengetahui rahasianya kecuali Dia. Dia menguji kita dengan menyembunyikan rahasia itu, untuk melihat apakah kita menerimanya dengan lapang dada atau mencela.” من الذي أمننا في الدور؟ من الذي أرخى علينا الستور؟ من الذي صرف عنا البلايا والشرور، والفتنة حولنا تدور؟ أليس هو الرحيم الغفور؟ فما لنا قد كثرت منا العثار، وقل منا الاعتبار والادكار؟ ما لنا لبسنا ثوب العصيان والغفلة والنسيان؟ غرنا بالله الغرور، برجاء رحمته عن خوف نقمته، وبرجاء عفوه عن رهبة سطوته. عن ابن السماك يحدث قال: بينما صياد في الدهر الأول يصطاد السمك، إذ رمى بشبكة في البحر فخرج فيها جمجمة إنسان، فجعل الصياد ينظر إليها ويبكي، ويقول: عزيز فلم تترك لعزك، غني فلم تترك لغناك، فقير فلم تترك لفقرك، جواد فلم تترك لجودك، شديد فلم تترك لشدتك، عالم فلم تترك لعلمك .. يردد هذا الكلام ويبكي. Siapakah yang memberi kita rasa aman di dalam rumah? Siapakah yang menjulurkan tabir yang menutup aib keburukan kita? Siapakah yang menghindarkan musibah, keburukan, dan bencana yang bertebaran di sekeliling kita? Bukankah Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun? Lalu mengapa kita begitu banyak berbuat dosa dan kesalahan, dan sedikit sekali kita mengambil ibrah dan pelajaran? Lalu mengapa kita masih mengenakan baju kemaksiatan, kelalaian, dan kealpaan? Sungguh kita telah terperdaya dengan harapan kepada rahmat-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan terhadap azab-Nya; dan dengan asa terhadap ampunan-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan akan kuasa-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu as-Sammak bahwa ia menceritakan, “Suatu ketika pada zaman dahulu ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Ketika ia melempar jalanya di laut, ternyata jalanya menangkap tengkorak manusia. Lalu nelayan itu melihatnya lamat-lamat kemudian menangis dan berkata, ‘Jika kamu orang mulia, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemuliaanmu. Jika kamu orang kaya, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekayaanmu. Jika kamu orang miskin, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemiskinanmu. Jika kamu orang dermawan, kamu tidak dibiarkan hidup karena kedermawananmu. Jika kamu orang kuat, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekuatanmu. Jika kamu orang berilmu, kamu juga tidak dibiarkan hidup karena ilmumu!’ Ia terus mengulang-ulang perkataan ini sambil menangis.  ولدتك إذ ولدتك أمك باكيا … والقوم حولك يضحكون سرورا فاعمل ليوم تكون فيه إذا بكوا … في يوم موتك ضاحكا مسرورا Ia lalu melantunkan syair: Kamu terlahir dalam keadaan menangis ketika ibumu baru melahirkanmu Sedangkan orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia Maka beramallah untuk satu hari – ketika mereka menangis karena kematianmu –  Sedangkan kamu ketika itu dapat tertawa bahagia كلكم يبكي لنفسه كان بالبصرة عابد حضرته الوفاة .. فجلس أهله يبكون حوله فقال لهم أجلسوني, فأجلسوه فأقبل عليهم وقال لأبيه: يا أبت ما الذي أبكاك؟ قال: يا بني ذكرت فقدك وانفرادي بعدك. فالتفت إلى أمه, وقال: يا أماه ما الذي أبكاك؟ قالت: لتجرعي مرارة ثكلك, فالتفت إلى الزوجة, وقال: ما الذي أبكاك؟ قالت: لفقد برك وحاجتي لغيرك, فالتفت إلى أولاده, وقال: ما الذي أبكاكم؟ قالوا: لذل اليتم والهوان من بعدك, فعند ذلك نظر إليهم وبكى. فقالوا له: ما يبكيك أنت؟ قال أبكي لأني رأيت كلا منكم يبكى لنفسه لا لي. أما فيكم من بكى لطول سفري؟ أما فيكم من بكى لقلة زادي؟ أما فيكم من بكى لمضجعي في التراب؟ أما فيكم من بكى لما ألقاه من سوء الحساب؟ أما فيكم من بكى لموقفي بين يدي رب الأرباب؟ ثم سقط على وجهه فحركوه, فإذا هو ميت. Setiap kalian menangisi dirinya sendiri Dulu di kota Basrah ada seorang ahli ibadah yang menghadapi ajalnya. Keluarganya duduk di sekitarnya sambil menangis. Lalu orang itu berkata kepada mereka, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Lalu ia menghadap mereka dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ayahnya menjawab, “Duhai anakku! Aku memikirkan kehilangan dirimu dan kesendirianku setelah kematianmu.” Lalu ia mengarahkan pandangannya kepada ibunya dan bertanya, “Wahai ibuku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ibunya menjawab, “Karena aku merasakan pahitnya kehilanganmu!” Lalu ia menoleh kepada istrinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Karena aku kehilangan kesempatan berbakti kepadamu dan karena aku menjadi butuh terhadap orang selain dirimu.” Lalu ia menghadap kepada anak-anaknya dan bertanya, “Apa yang membuat kalian menangis?” Mereka menjawab, “Karena kami teringat rendah dan lemahnya menjadi yatim setelah kepergianmu.”  Ketika itulah ia melihat mereka dan menangis. Mereka pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku melihat setiap kalian menangisi dirinya sendiri, bukan karena diriku. Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu panjang perjalananku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu sedikitnya bekalku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena tempat pembaringanku di atas tanah? Tidakkah dari kalian yang menangis karena beratnya hisab yang akan aku temui? Tidakkah dari kalian yang menangis karena posisiku di hadapan Tuhan semesta alam?” Lalu ia jatuh tertelungkup. Ketika mereka menggerak-gerakkan tubuhnya, ternyata ia telah wafat. ملوك الدنيا قال معاوية -رضي الله عنه- عند موته لمن حوله: أجلسوني .. فأجلسوه .. فجلس يذكر الله, ثم بكى، وقال: الآن يا معاوية، جئت تذكر ربك بعد الانحطام والانهدام, أما كان هذا وغض الشباب نضير ريان؟! ثم بكى وقال: يا رب, يا رب, ارحم الشيخ العاصي ذا القلب القاسي .. اللهم أقل العثرة، واغفر الزلة، وجد بحلمك على من لم يرج غيرك، ولا وثق بأحد سواك .. ثم فاضت روحه رضي الله عنه. Para raja dunia Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu menghadapi ajalnya, ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Kemudian ia berzikir kepada Allah, lalu menangis. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Baru sekarang, hai Muawiyah! Kamu baru menyebut Tuhanmu setelah datang masa tumbang. Mengapa ini tidak kamu lakukan saat masih muda dan masih segar bugar?!” Kemudian Muawiyah kembali menangis, dan berseru, “Duhai Tuhanku! Duhai Tuhanku! Kasihilah orang tua pelaku maksiat dan punya hati keras ini! Ya Allah, maafkanlah atas kekeliruan, ampunilah segala kesalahan! Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada hamba yang tidak mengharap kepada selain-Mu dan tidak percaya kepada siapa pun kecuali Engkau ini!” Kemudian beliau pun meninggal dunia, radhiyallahu ‘anhu. ويروى أن الخليفة عبد الملك بن مروان لما أحس بالموت قال: ارفعوني على شرف, ففعل ذلك, فتنسم الروح, ثم قال: يا دنيا ما أطيبك! إن طويلك لقصير، وإن كثيرك لحقير، وإن كنا منك لفي غرور! Diriwayatkan juga bahwa ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan merasa bahwa ajalnya akan segera tiba, ia berkata, “Bawalah aku naik ke balkon!” Ia pun dibawa ke sana, lalu menghirup udara segar dan berkata, “Duhai dunia, betapa indahnya dirimu! Sungguh panjangmu itu pendek dan banyakmu itu sedikit, dan sungguh kami dulu telah terbuai olehmu!” ولما أحتضر أمير المؤمنين هشام بن عبد الملك, نظر إلى أهله يبكون حوله فقال: جاء هشام إليكم بالدنيا وجئتم له بالبكاء, ترك لكم ما جمع وتركتم له ما حمل, ما أعظم مصيبة هشام إن لم يرحمه الله. ولما مرض هارون الرشيد ويئس الأطباء من شفائه، وأحس بدنو أجله، قال: أحضروا لي أكفانا فأحضروا له، فاختار منها واحدا .. ثم قال: احفروا لي قبرا .. فحفروا له .. فنظر إلى القبر وقال: ما أغنى عني مالية … هلك عني سلطانيه! Ketika Amirul Mu’minin, Hisyam bin Abdul Malik menghadapi ajalnya, ia menatap keluarganya yang menangis di sekitarnya. Ia pun berkata kepada mereka, “Hisyam datang kepada kalian dengan dunia, sedangkan kalian datang kepadanya dengan tangisan. Ia juga meninggalkan bagi kalian (harta) yang ia kumpulkan, sedangkan kalian meninggalkan baginya apa yang ia bawa (ke kuburan). Sungguh betapa besar musibah Hisyam andai Allah tidak merahmatinya!” Ketika Harun ar-Rasyid sakit, dan para dokter sudah menyerah untuk mengobatinya, serta ia merasa ajalnya telah dekat, ia berkata, “Hadirkanlah kepadaku kain-kain kafan!” Mereka pun menghadirkannya, lalu ia memilih salah satunya. Kemudian ia berkata, “Galilah kuburan untukku!” Mereka pun menggalikannya. Lalu ia melihat kuburan itu dan berkata, “Tidak berguna lagi hartaku untukku, dan hancur sudah kekuasaanku!” وحينما حضر الخليفة المأمون الموت قال: أنزلوني من على السرير. فأنزلوه على الأرض، فوضع خده على التراب، وقال: يا من لا يزول ملكه .. ارحم من قد زال ملكه. وقال المعتصم عند موته :لو علمت أن عمري قصير هكذا ما فعلت … ! Ketika Khalifah Makmun menghadapi sakaratul maut, ia berkata, “Turunkanlah aku dari ranjang!” Mereka pun menurunkannya ke atas tanah. Lalu ia meletakkan pipinya di atas tanah dan berkata, “Wahai Zat Yang tidak akan lenyap kerajaan-Nya, kasihilah orang yang telah lenyap kerajaannya ini!” Mu’tashim berkata ketika ajal menjemputnya, “Seandainya aku mengetahui bahwa umurku pendek, niscaya tidak akan seperti ini perbuatanku!” إنه الموت قال مطرف: إن هذا الموت أفسد على أهل النعيم نعيمهم، فاطلبوا نعيما لا موت فيه. وقال الحسن: فضح الموت الدنيا فلم يترك فيها لذي لب فرحا. وقال سفيان: لو أن البهائم تعقل من الموت ما تعقلون ما أكلتم منها سمينا. وقال الأوزاعي: جئت إلى بيروت أرابط فيها، فلقيت سوداء عند المقابر، فقلت لها: يا سوداء، أين العمارة؟ قالت: أنت في العمارة، وإن أردت الخراب فبين يديك. Itulah kematian Mutharrif berkata, “Sesungguhnya kematian ini akan merusak kenikmatan orang-orang yang mendapat kenikmatan. Oleh sebab itu, carilah kenikmatan yang tidak pernah ada matinya.” Al-Hasan berkata, “Maut telah menyingkap aib dunia, sehingga ia tidak menyisakan kebahagiaan di dalamnya bagi orang yang berakal.” Sufyan berkata, “Seandainya hewan ternak memahami kematian seperti pemahaman kalian, niscaya kalian tidak akan bisa makan hewan ternak yang gemuk.” Al-Auza’i berkata, “Aku pernah datang ke Beirut untuk menjaga perbatasan di sana. Lalu aku berjumpa dengan wanita hitam di kuburan, aku pun bertanya kepadanya, “Hai wanita hitam, di manakah kemakmuran?” Ia menjawab, “Kamu sekarang ada dalam kemakmuran; tapi jika kamu ingin mengetahui di mana kehancuran, maka ia ada di hadapanmu (kuburan).” همة ترقيك يقول على الطنطاوي: وجدت على نضد إبريقا من البلور الصافي طويل العنق واسع البطن، فيه نحلة قد دخلت ولم تستطع الخروج، فهي تتحفز وتتجمع وتثب متقدمة بقوة وبأس، فيضرب الزجاج رأسها ويردها، فتعاود الكرة وهي لا تبصر الجدار وإنما تبصر ما وراءه، فتحسب أنه ليس بينها وبين الفضاء حجاب. فجعلت أنظر إليها وهي تعمل دائبة، كلما ضربت مرة عادت تحاول أخرى لا تقف ولا تستريح، حتى عددت عليها أكثر من أربعين مرة، تجد الصدمة كل مرة فلا تعتبر ولا تدرك الحقيقة، ولا ترفع رأسها لتبصر الطريق وتعلم أن سبيل الفضاء وباب الحرية هو من «فوق» لا عن يمين ولا عن شمال. Tekad yang meninggikanmu Ali ath-Thanthawi berkata, “Aku pernah melihat cerek dari kaca bening dengan leher panjang dan perut luas di atas ranjang. Di dalamnya terdapat lebah yang masuk tapi tidak bisa keluar, ia bersiap-siap meloncat lau meloncat dengan sekuat tenaga, sehingga kepalanya membentur kaca dan mementalkannya. Ia pun mengulangi usahanya, padahal ia tidak dapat melihat dinding yang membatasinya, dan hanya melihat apa yang ada di baliknya. Ia mengira tidak ada pembatas antara dirinya dengan udara bebas. Aku melihatnya terus menerus mengulangi usahanya; setiap kali ia membentur, ia mencobanya lagi tanpa henti dan istirahat; hingga aku menghitung usahanya itu lebih dari 40 kali. Ia terbentur setiap kali, tanpa mengambil pelajaran darinya, tidak mencoba memahami hakikat, dan tidak menengokkan kepala ke atas agar dapat melihat jalan keluar, sehingga ia dapat mengetahui bahwa jalan menuju udara bebas dan kebebasan ada di ‘atas’, bukan di kanan dan kiri.” Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/194383/الإنسان-بين-الحياة-والموتPDF Sumber Artikel. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 1,219 times, 1 visit(s) today Post Views: 725 QRIS donasi Yufid


الإنسان بين الحياة والموت Oleh: Dr. Khalid Sa’ad an-Najjar د. خالد سعد النجار نعمة الاستخلاف في الأرض والعيش في أرجائها والمشي في مناكبها فتنة وابتلاء، وليس أعظم من فتنة النعماء وامتحان السراء، لأن الرخاء ينسي، والمتاع يُلهي، والثراء يطغي، في دنيا مستطابة في ذوقها، معجبة في منظرها، مؤنقة في مظهرها، الفتنة بها حاصلة، وعدم السلامة منها غالبة، قال صلى الله عليه وسلم: «إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا، واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء» [رواه مسلم]. قال تعالى: {الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ}[الملك:2] أي ليبلوكم أيكم له أطوع، وإلى مرضاته أسرع، وعن محارمه أورع. Nikmat pengelolaan bumi, hidup di setiap sudut belahannya, dan berjalan di atas permukaannya merupakan ujian dan cobaan. Bahkan, tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian berupa kenikmatan dan karunia kelapangan hidup; karena kehidupan yang makmur itu membuat lalai, kenikmatan itu dapat membuai, dan kekayaan itu mengundang keangkuhan; di dunia yang begitu nikmat rasanya, menakjubkan pemandangannya, dan elegan penampilannya; fitnah darinya begitu nyata dan keselamatan darinya begitu langka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (amat menarik). Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepada kalian. Kemudian Allah melihat apa yang kamu kerjakan (di dunia); maka dari itu takutlah terhadap dunia dan takutlah terhadap wanita, karena sesungguhnya sumber bencana pertama Bani Israil adalah wanita.” (HR. Muslim). Allah Ta’ala berfirman: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ “Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Yakni menguji kalian siapa di antara kalian yang paling taat kepada-Nya, paling bergegas dalam mencari keridhaan-Nya, dan paling menjauh dari larangan-larangan-Nya. يقول على الطنطاوي رحمه الله: ثلاثون سنة ما خرجت منها إلا بشيء واحد، هو أني رأيت الحياة كمائدة القمار، فمن الناس من يخسر ماله ويخرج ينفض كفه، ومنهم من يخرج مثقلا بأموال غيره التي ربحها، ومنهم من يقوم على الطريق يمسح الأحذية، ومن يمد إليه حذاءه ليمسحه له، ومن ينام على السرير، ومن يسهر في الشارع يحرس النائم، ومن يأخذ التسعة من غير عمل، ومن يكد ويدأب فلا يبلغ الواحد، وعالم يخضع لجاهل، وجاهل يترأس العلماء، ورأيت المال والعلم والخلق والشهادات قسما وهبات، فرب غني لا علم عنده، وعالم لا مال لديه، وصاحب شهادات ليس بصاحب علم، وذي علم ليس بذي شهادات، ورب مالك أخلاق لا يملك معها شيئا، ومالك لكل شيء ولكن لا أخلاق له، ورأيت في مدرسي المدارس من هو أعلم من رئيس الجامعة، وبين موظفي الوزارة من هو أفضل من الوزير .. ولكنه الحظ، أو هي حكمة الله لا يعلم سرها إلا هو، ابتلانا بخفائها لينظر: أنرضى أم نسخط. Ali Ath-Thanthawi rahimahullah berkata: “Selama 30 tahun, aku tidak melihat dari dunia kecuali satu hal; bahwa aku melihat kehidupan seperti meja perjudian; ada sebagian orang yang kehilangan hartanya dan keluar darinya dengan tangan kosong, dan ada sebagian orang lainnya yang keluar darinya dengan meraup harta orang lain yang ia menangkan. Ada orang yang berdiri di tepi jalan untuk menyemir sepatu dan ada orang lain yang menyodorkan sepatu kepadanya agar ia menyemirnya. Ada orang yang tidur di atas dipan mewah, ada orang yang begadang di jalan untuk menjaga orang yang sedang tidur itu. Ada orang yang dapat memperoleh sembilan bagian tanpa harus bekerja, dan ada orang lain yang bekerja keras banting tulang tapi mendapat satu bagian pun tidak. Ada orang berilmu yang tunduk patuh kepada orang bodoh, dan ada orang bodoh yang membawahi para ilmuwan.  Aku mendapati bahwa harta, ilmu, perilaku, dan ijazah-ijazah adalah rezeki dan karunia (yang Allah berikan sesuai kehendak-Nya). Terkadang ada orang kaya raya tapi tidak berilmu, dan ada orang berilmu tapi tidak punya harta. Ada orang yang punya banyak ijazah tapi tidak punya ilmu, dan ada orang yang berilmu tapi tidak punya ijazah. Terkadang ada orang yang berbudi pekerti luhur tapi tidak punya apa pun, dan ada orang yang punya segalanya tapi tidak punya budi pekerti. Aku mencermati para guru di sekolah-sekolah ada yang lebih luas ilmunya daripada rektor universitas; dan ada pegawai kementerian yang lebih mumpuni daripada menteri itu sendiri. Namun, itulah nasib; atau itulah hikmah kebijaksanaan Allah yang tidak ada yang mengetahui rahasianya kecuali Dia. Dia menguji kita dengan menyembunyikan rahasia itu, untuk melihat apakah kita menerimanya dengan lapang dada atau mencela.” من الذي أمننا في الدور؟ من الذي أرخى علينا الستور؟ من الذي صرف عنا البلايا والشرور، والفتنة حولنا تدور؟ أليس هو الرحيم الغفور؟ فما لنا قد كثرت منا العثار، وقل منا الاعتبار والادكار؟ ما لنا لبسنا ثوب العصيان والغفلة والنسيان؟ غرنا بالله الغرور، برجاء رحمته عن خوف نقمته، وبرجاء عفوه عن رهبة سطوته. عن ابن السماك يحدث قال: بينما صياد في الدهر الأول يصطاد السمك، إذ رمى بشبكة في البحر فخرج فيها جمجمة إنسان، فجعل الصياد ينظر إليها ويبكي، ويقول: عزيز فلم تترك لعزك، غني فلم تترك لغناك، فقير فلم تترك لفقرك، جواد فلم تترك لجودك، شديد فلم تترك لشدتك، عالم فلم تترك لعلمك .. يردد هذا الكلام ويبكي. Siapakah yang memberi kita rasa aman di dalam rumah? Siapakah yang menjulurkan tabir yang menutup aib keburukan kita? Siapakah yang menghindarkan musibah, keburukan, dan bencana yang bertebaran di sekeliling kita? Bukankah Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun? Lalu mengapa kita begitu banyak berbuat dosa dan kesalahan, dan sedikit sekali kita mengambil ibrah dan pelajaran? Lalu mengapa kita masih mengenakan baju kemaksiatan, kelalaian, dan kealpaan? Sungguh kita telah terperdaya dengan harapan kepada rahmat-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan terhadap azab-Nya; dan dengan asa terhadap ampunan-Nya, sehingga kita lalai dari ketakutan akan kuasa-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu as-Sammak bahwa ia menceritakan, “Suatu ketika pada zaman dahulu ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Ketika ia melempar jalanya di laut, ternyata jalanya menangkap tengkorak manusia. Lalu nelayan itu melihatnya lamat-lamat kemudian menangis dan berkata, ‘Jika kamu orang mulia, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemuliaanmu. Jika kamu orang kaya, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekayaanmu. Jika kamu orang miskin, kamu tidak dibiarkan hidup karena kemiskinanmu. Jika kamu orang dermawan, kamu tidak dibiarkan hidup karena kedermawananmu. Jika kamu orang kuat, kamu tidak dibiarkan hidup karena kekuatanmu. Jika kamu orang berilmu, kamu juga tidak dibiarkan hidup karena ilmumu!’ Ia terus mengulang-ulang perkataan ini sambil menangis.  ولدتك إذ ولدتك أمك باكيا … والقوم حولك يضحكون سرورا فاعمل ليوم تكون فيه إذا بكوا … في يوم موتك ضاحكا مسرورا Ia lalu melantunkan syair: Kamu terlahir dalam keadaan menangis ketika ibumu baru melahirkanmu Sedangkan orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia Maka beramallah untuk satu hari – ketika mereka menangis karena kematianmu –  Sedangkan kamu ketika itu dapat tertawa bahagia كلكم يبكي لنفسه كان بالبصرة عابد حضرته الوفاة .. فجلس أهله يبكون حوله فقال لهم أجلسوني, فأجلسوه فأقبل عليهم وقال لأبيه: يا أبت ما الذي أبكاك؟ قال: يا بني ذكرت فقدك وانفرادي بعدك. فالتفت إلى أمه, وقال: يا أماه ما الذي أبكاك؟ قالت: لتجرعي مرارة ثكلك, فالتفت إلى الزوجة, وقال: ما الذي أبكاك؟ قالت: لفقد برك وحاجتي لغيرك, فالتفت إلى أولاده, وقال: ما الذي أبكاكم؟ قالوا: لذل اليتم والهوان من بعدك, فعند ذلك نظر إليهم وبكى. فقالوا له: ما يبكيك أنت؟ قال أبكي لأني رأيت كلا منكم يبكى لنفسه لا لي. أما فيكم من بكى لطول سفري؟ أما فيكم من بكى لقلة زادي؟ أما فيكم من بكى لمضجعي في التراب؟ أما فيكم من بكى لما ألقاه من سوء الحساب؟ أما فيكم من بكى لموقفي بين يدي رب الأرباب؟ ثم سقط على وجهه فحركوه, فإذا هو ميت. Setiap kalian menangisi dirinya sendiri Dulu di kota Basrah ada seorang ahli ibadah yang menghadapi ajalnya. Keluarganya duduk di sekitarnya sambil menangis. Lalu orang itu berkata kepada mereka, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Lalu ia menghadap mereka dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ayahnya menjawab, “Duhai anakku! Aku memikirkan kehilangan dirimu dan kesendirianku setelah kematianmu.” Lalu ia mengarahkan pandangannya kepada ibunya dan bertanya, “Wahai ibuku! Apa yang membuat engkau menangis?” Ibunya menjawab, “Karena aku merasakan pahitnya kehilanganmu!” Lalu ia menoleh kepada istrinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Karena aku kehilangan kesempatan berbakti kepadamu dan karena aku menjadi butuh terhadap orang selain dirimu.” Lalu ia menghadap kepada anak-anaknya dan bertanya, “Apa yang membuat kalian menangis?” Mereka menjawab, “Karena kami teringat rendah dan lemahnya menjadi yatim setelah kepergianmu.”  Ketika itulah ia melihat mereka dan menangis. Mereka pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku melihat setiap kalian menangisi dirinya sendiri, bukan karena diriku. Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu panjang perjalananku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena begitu sedikitnya bekalku? Tidakkah dari kalian yang menangis karena tempat pembaringanku di atas tanah? Tidakkah dari kalian yang menangis karena beratnya hisab yang akan aku temui? Tidakkah dari kalian yang menangis karena posisiku di hadapan Tuhan semesta alam?” Lalu ia jatuh tertelungkup. Ketika mereka menggerak-gerakkan tubuhnya, ternyata ia telah wafat. ملوك الدنيا قال معاوية -رضي الله عنه- عند موته لمن حوله: أجلسوني .. فأجلسوه .. فجلس يذكر الله, ثم بكى، وقال: الآن يا معاوية، جئت تذكر ربك بعد الانحطام والانهدام, أما كان هذا وغض الشباب نضير ريان؟! ثم بكى وقال: يا رب, يا رب, ارحم الشيخ العاصي ذا القلب القاسي .. اللهم أقل العثرة، واغفر الزلة، وجد بحلمك على من لم يرج غيرك، ولا وثق بأحد سواك .. ثم فاضت روحه رضي الله عنه. Para raja dunia Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu menghadapi ajalnya, ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Dudukkanlah aku!” Mereka pun mendudukkannya. Kemudian ia berzikir kepada Allah, lalu menangis. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Baru sekarang, hai Muawiyah! Kamu baru menyebut Tuhanmu setelah datang masa tumbang. Mengapa ini tidak kamu lakukan saat masih muda dan masih segar bugar?!” Kemudian Muawiyah kembali menangis, dan berseru, “Duhai Tuhanku! Duhai Tuhanku! Kasihilah orang tua pelaku maksiat dan punya hati keras ini! Ya Allah, maafkanlah atas kekeliruan, ampunilah segala kesalahan! Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada hamba yang tidak mengharap kepada selain-Mu dan tidak percaya kepada siapa pun kecuali Engkau ini!” Kemudian beliau pun meninggal dunia, radhiyallahu ‘anhu. ويروى أن الخليفة عبد الملك بن مروان لما أحس بالموت قال: ارفعوني على شرف, ففعل ذلك, فتنسم الروح, ثم قال: يا دنيا ما أطيبك! إن طويلك لقصير، وإن كثيرك لحقير، وإن كنا منك لفي غرور! Diriwayatkan juga bahwa ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan merasa bahwa ajalnya akan segera tiba, ia berkata, “Bawalah aku naik ke balkon!” Ia pun dibawa ke sana, lalu menghirup udara segar dan berkata, “Duhai dunia, betapa indahnya dirimu! Sungguh panjangmu itu pendek dan banyakmu itu sedikit, dan sungguh kami dulu telah terbuai olehmu!” ولما أحتضر أمير المؤمنين هشام بن عبد الملك, نظر إلى أهله يبكون حوله فقال: جاء هشام إليكم بالدنيا وجئتم له بالبكاء, ترك لكم ما جمع وتركتم له ما حمل, ما أعظم مصيبة هشام إن لم يرحمه الله. ولما مرض هارون الرشيد ويئس الأطباء من شفائه، وأحس بدنو أجله، قال: أحضروا لي أكفانا فأحضروا له، فاختار منها واحدا .. ثم قال: احفروا لي قبرا .. فحفروا له .. فنظر إلى القبر وقال: ما أغنى عني مالية … هلك عني سلطانيه! Ketika Amirul Mu’minin, Hisyam bin Abdul Malik menghadapi ajalnya, ia menatap keluarganya yang menangis di sekitarnya. Ia pun berkata kepada mereka, “Hisyam datang kepada kalian dengan dunia, sedangkan kalian datang kepadanya dengan tangisan. Ia juga meninggalkan bagi kalian (harta) yang ia kumpulkan, sedangkan kalian meninggalkan baginya apa yang ia bawa (ke kuburan). Sungguh betapa besar musibah Hisyam andai Allah tidak merahmatinya!” Ketika Harun ar-Rasyid sakit, dan para dokter sudah menyerah untuk mengobatinya, serta ia merasa ajalnya telah dekat, ia berkata, “Hadirkanlah kepadaku kain-kain kafan!” Mereka pun menghadirkannya, lalu ia memilih salah satunya. Kemudian ia berkata, “Galilah kuburan untukku!” Mereka pun menggalikannya. Lalu ia melihat kuburan itu dan berkata, “Tidak berguna lagi hartaku untukku, dan hancur sudah kekuasaanku!” وحينما حضر الخليفة المأمون الموت قال: أنزلوني من على السرير. فأنزلوه على الأرض، فوضع خده على التراب، وقال: يا من لا يزول ملكه .. ارحم من قد زال ملكه. وقال المعتصم عند موته :لو علمت أن عمري قصير هكذا ما فعلت … ! Ketika Khalifah Makmun menghadapi sakaratul maut, ia berkata, “Turunkanlah aku dari ranjang!” Mereka pun menurunkannya ke atas tanah. Lalu ia meletakkan pipinya di atas tanah dan berkata, “Wahai Zat Yang tidak akan lenyap kerajaan-Nya, kasihilah orang yang telah lenyap kerajaannya ini!” Mu’tashim berkata ketika ajal menjemputnya, “Seandainya aku mengetahui bahwa umurku pendek, niscaya tidak akan seperti ini perbuatanku!” إنه الموت قال مطرف: إن هذا الموت أفسد على أهل النعيم نعيمهم، فاطلبوا نعيما لا موت فيه. وقال الحسن: فضح الموت الدنيا فلم يترك فيها لذي لب فرحا. وقال سفيان: لو أن البهائم تعقل من الموت ما تعقلون ما أكلتم منها سمينا. وقال الأوزاعي: جئت إلى بيروت أرابط فيها، فلقيت سوداء عند المقابر، فقلت لها: يا سوداء، أين العمارة؟ قالت: أنت في العمارة، وإن أردت الخراب فبين يديك. Itulah kematian Mutharrif berkata, “Sesungguhnya kematian ini akan merusak kenikmatan orang-orang yang mendapat kenikmatan. Oleh sebab itu, carilah kenikmatan yang tidak pernah ada matinya.” Al-Hasan berkata, “Maut telah menyingkap aib dunia, sehingga ia tidak menyisakan kebahagiaan di dalamnya bagi orang yang berakal.” Sufyan berkata, “Seandainya hewan ternak memahami kematian seperti pemahaman kalian, niscaya kalian tidak akan bisa makan hewan ternak yang gemuk.” Al-Auza’i berkata, “Aku pernah datang ke Beirut untuk menjaga perbatasan di sana. Lalu aku berjumpa dengan wanita hitam di kuburan, aku pun bertanya kepadanya, “Hai wanita hitam, di manakah kemakmuran?” Ia menjawab, “Kamu sekarang ada dalam kemakmuran; tapi jika kamu ingin mengetahui di mana kehancuran, maka ia ada di hadapanmu (kuburan).” همة ترقيك يقول على الطنطاوي: وجدت على نضد إبريقا من البلور الصافي طويل العنق واسع البطن، فيه نحلة قد دخلت ولم تستطع الخروج، فهي تتحفز وتتجمع وتثب متقدمة بقوة وبأس، فيضرب الزجاج رأسها ويردها، فتعاود الكرة وهي لا تبصر الجدار وإنما تبصر ما وراءه، فتحسب أنه ليس بينها وبين الفضاء حجاب. فجعلت أنظر إليها وهي تعمل دائبة، كلما ضربت مرة عادت تحاول أخرى لا تقف ولا تستريح، حتى عددت عليها أكثر من أربعين مرة، تجد الصدمة كل مرة فلا تعتبر ولا تدرك الحقيقة، ولا ترفع رأسها لتبصر الطريق وتعلم أن سبيل الفضاء وباب الحرية هو من «فوق» لا عن يمين ولا عن شمال. Tekad yang meninggikanmu Ali ath-Thanthawi berkata, “Aku pernah melihat cerek dari kaca bening dengan leher panjang dan perut luas di atas ranjang. Di dalamnya terdapat lebah yang masuk tapi tidak bisa keluar, ia bersiap-siap meloncat lau meloncat dengan sekuat tenaga, sehingga kepalanya membentur kaca dan mementalkannya. Ia pun mengulangi usahanya, padahal ia tidak dapat melihat dinding yang membatasinya, dan hanya melihat apa yang ada di baliknya. Ia mengira tidak ada pembatas antara dirinya dengan udara bebas. Aku melihatnya terus menerus mengulangi usahanya; setiap kali ia membentur, ia mencobanya lagi tanpa henti dan istirahat; hingga aku menghitung usahanya itu lebih dari 40 kali. Ia terbentur setiap kali, tanpa mengambil pelajaran darinya, tidak mencoba memahami hakikat, dan tidak menengokkan kepala ke atas agar dapat melihat jalan keluar, sehingga ia dapat mengetahui bahwa jalan menuju udara bebas dan kebebasan ada di ‘atas’, bukan di kanan dan kiri.” Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/194383/الإنسان-بين-الحياة-والموتPDF Sumber Artikel. 🔍 Tulisan Muhammad Dalam Bahasa Arab, Mimpi Dikasih Mukena, Jama Dan Qosor, Arti Shadaqallahul Adzim Arab, Kajian Islam Tentang Sholat Visited 1,219 times, 1 visit(s) today Post Views: 725 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pelajaran dari Imran bin Hittan: Ketika Akidah Tergadaikan oleh Cinta

Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat.Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij.Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir.Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj.Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.”Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij).Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.”Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini.وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-:يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَاإِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَاأَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢)Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu:Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannyaKecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy.Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku mendugaBahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah.Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka,Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan.Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam.Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.”Baca juga: Tiga Sifat Khawarij Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut:1. Berhati-hati dalam Memilih PasanganPasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan.2. Niat Baik Tidak Selalu CukupNiat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan.3. Godaan Duniawi Bisa MembutakanKecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan.4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam ImanKeteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat.Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan!5. Kisah Sebagai IbrahKisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat. PENUTUPKisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum–@ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat ShubuhPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama

Pelajaran dari Imran bin Hittan: Ketika Akidah Tergadaikan oleh Cinta

Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat.Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij.Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir.Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj.Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.”Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij).Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.”Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini.وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-:يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَاإِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَاأَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢)Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu:Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannyaKecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy.Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku mendugaBahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah.Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka,Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan.Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam.Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.”Baca juga: Tiga Sifat Khawarij Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut:1. Berhati-hati dalam Memilih PasanganPasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan.2. Niat Baik Tidak Selalu CukupNiat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan.3. Godaan Duniawi Bisa MembutakanKecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan.4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam ImanKeteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat.Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan!5. Kisah Sebagai IbrahKisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat. PENUTUPKisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum–@ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat ShubuhPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama
Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat.Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij.Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir.Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj.Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.”Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij).Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.”Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini.وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-:يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَاإِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَاأَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢)Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu:Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannyaKecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy.Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku mendugaBahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah.Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka,Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan.Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam.Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.”Baca juga: Tiga Sifat Khawarij Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut:1. Berhati-hati dalam Memilih PasanganPasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan.2. Niat Baik Tidak Selalu CukupNiat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan.3. Godaan Duniawi Bisa MembutakanKecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan.4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam ImanKeteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat.Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan!5. Kisah Sebagai IbrahKisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat. PENUTUPKisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum–@ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat ShubuhPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama


Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat.Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij.Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir.Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj.Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.”Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij).Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.”Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini.وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-:يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَاإِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَاأَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢)Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu:Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannyaKecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy.Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku mendugaBahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah.Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka,Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan.Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam.Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.”Baca juga: Tiga Sifat Khawarij Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut:1. Berhati-hati dalam Memilih PasanganPasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan.2. Niat Baik Tidak Selalu CukupNiat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan.3. Godaan Duniawi Bisa MembutakanKecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan.4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam ImanKeteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat.Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan!5. Kisah Sebagai IbrahKisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat. PENUTUPKisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum–@ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat ShubuhPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama

Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah

Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Posted on January 12, 2025January 12, 2025by Dapatkan Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Buah karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Pintu hikmah sangat luas. Namun bukanlah sesuatu yang bisa dibuka seluas-luasnya, tanpa memperhatikan koridor syariat. Karena hikmah dibangun di atas tiga pilar, yaitu: ilmu, bijaksana, (al-hilmu) dan tidak tergesa-gesa (al-anah). Buku ini mencoba mengupas 14 contoh yang benar dari sikap hikmah, sesuai dengan tiga pilar di atas. Harga normal: Rp75.000Harga PO: Rp65.000 Keuntungan penjualan buku dialokasikan untuk kegiatan dakwah dan pendidikan. Pesan Sekarang Melalui WhatsApp 0895 2689 2522 Atau bisa didapatkan di: TI MART Kompleks Pondok Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Desa Kedungwuluh RT. 08 RW. 02 Kalimanah Purbalingga Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah

Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Posted on January 12, 2025January 12, 2025by Dapatkan Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Buah karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Pintu hikmah sangat luas. Namun bukanlah sesuatu yang bisa dibuka seluas-luasnya, tanpa memperhatikan koridor syariat. Karena hikmah dibangun di atas tiga pilar, yaitu: ilmu, bijaksana, (al-hilmu) dan tidak tergesa-gesa (al-anah). Buku ini mencoba mengupas 14 contoh yang benar dari sikap hikmah, sesuai dengan tiga pilar di atas. Harga normal: Rp75.000Harga PO: Rp65.000 Keuntungan penjualan buku dialokasikan untuk kegiatan dakwah dan pendidikan. Pesan Sekarang Melalui WhatsApp 0895 2689 2522 Atau bisa didapatkan di: TI MART Kompleks Pondok Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Desa Kedungwuluh RT. 08 RW. 02 Kalimanah Purbalingga Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Posted on January 12, 2025January 12, 2025by Dapatkan Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Buah karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Pintu hikmah sangat luas. Namun bukanlah sesuatu yang bisa dibuka seluas-luasnya, tanpa memperhatikan koridor syariat. Karena hikmah dibangun di atas tiga pilar, yaitu: ilmu, bijaksana, (al-hilmu) dan tidak tergesa-gesa (al-anah). Buku ini mencoba mengupas 14 contoh yang benar dari sikap hikmah, sesuai dengan tiga pilar di atas. Harga normal: Rp75.000Harga PO: Rp65.000 Keuntungan penjualan buku dialokasikan untuk kegiatan dakwah dan pendidikan. Pesan Sekarang Melalui WhatsApp 0895 2689 2522 Atau bisa didapatkan di: TI MART Kompleks Pondok Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Desa Kedungwuluh RT. 08 RW. 02 Kalimanah Purbalingga Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Posted on January 12, 2025January 12, 2025by Dapatkan Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Buah karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Pintu hikmah sangat luas. Namun bukanlah sesuatu yang bisa dibuka seluas-luasnya, tanpa memperhatikan koridor syariat. Karena hikmah dibangun di atas tiga pilar, yaitu: ilmu, bijaksana, (al-hilmu) dan tidak tergesa-gesa (al-anah). Buku ini mencoba mengupas 14 contoh yang benar dari sikap hikmah, sesuai dengan tiga pilar di atas. Harga normal: Rp75.000Harga PO: Rp65.000 Keuntungan penjualan buku dialokasikan untuk kegiatan dakwah dan pendidikan. Pesan Sekarang Melalui WhatsApp 0895 2689 2522 Atau bisa didapatkan di: TI MART Kompleks Pondok Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Desa Kedungwuluh RT. 08 RW. 02 Kalimanah Purbalingga Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Hadis: Zuhud untuk Meraih Cinta Allah ‘Azza Wajalla

Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan lafaz-lafaz dalam hadisPoin-poin utama hadisPenjelasan makna hadisMakna zuhudTingkatan zuhudPemahaman keliru tentang zuhud الحمد لله رب العالمين و صلاة و سلام على رسولنا محمد و علىى آله و أصحابه أجمعين اما بعد Seluruh pujian hanya milik Allah Ta’ala Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarga serta sahabat beliau. Pada zaman ini, generasi kita disuguhi dengan fenomena flexing dari kalangan orang kaya yang membuat konten untuk memamerkan harta dan kekayaan mereka. Dan dengan pengaruh media sosial yang luar biasa di kalangan anak muda, menjadikan konten-konten pamer kekayaan itu sangat dikagumi. Hingga menggiring generasi kita untuk mengejar harta dunia untuk meniru gaya konten kreator itu untuk memamerkan kekayaan di media sosial. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk mengangkat salah satu faedah hadis ke-31 dalam Al-Arba’ín, yaitu zuhud. Dalam hadis ini, disebutkan bahwa ‘Zuhudlah, maka Allah akan mencintaimu’. Dan sudah seharusnya setiap muslim memiliki sifat zuhud untuk meraih cinta Allah ‘Azza Wajalla. Dengan memiliki sifat zuhud ini, setiap muslim diharapkan lebih mendahulukan akhirat daripada dunia. Dalam tulisan ini, insyaAllah kami berusaha untuk menjelaskan hadis ke-31 dan kami berusaha menghadirkan penjelasan-penjelasan penguat dari kitab-kitab. InsyaAllah akan kami hadirkan poin-poin utama kemudian penjelasan lafaz-lafaz penting dalam hadis. Teks hadis عَنْ أَبي العَباس سَعدِ بنِ سَهلٍ السَّاعِدي رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمَلتُهُ أَحَبَّني اللهُ، وَأَحبَّني النَاسُ؟ فَقَالَ: (ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ) (1) حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة. Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.” Beliau menjawab, “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya) Penjelasan lafaz-lafaz dalam hadis Di antaranya: أحبني الله و احبني الناس Ahabbaniyallahu adalah mengharapkan pahala dan kebaikan , sedangkan ahabbaniannasu cenderung pada kebiasaan, karena kecintaan mereka mengikuti kecintaan Allah. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberikan cinta-Nya ke dalam hati makhluk-Nya. Firman Allah, إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وُدًّۭا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96) ازهد Dari kata zuhud, dalam bentuk kata perintah sehingga menjadi izhad, artinya: zuhudlah. Yaitu, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi atau memiliki sifat zuhud pada dunia dan pada apa yang menjadi milik orang lain. في الدنيا Dengan menganggap kecil dan meremehkan. Karena Allah menilai dunia sebagai sesuatu yang kecil dan hina, mengingatkan akan tipu dayanya. Firman Allah, فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.” (QS. Luqman: 33) Firman-Nya, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) يحبّك الله Dengan ba’ bertasydid difathah, asalnya yuhbibka dengan di-jazm sebagai jawaban dari amr, maka ketika hendak di-idhgham-kan kasrah ba’ yang pertama dipindah ke huruf ha dan huruf ba’ yang kedua, difathahkan agar dua sukun tidak bertemu, dan meringankan. Makna cinta Allah kepada hamba-Nya adalah rida dan kebaikan-Nya kepada mereka. Poin-poin utama hadis Hadis ini menjelaskan dua wasiat agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama: Zuhud terhadap dunia, dan bahwa zuhud adalah faktor penyebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Kedua: Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ini merupakan sarana mendapatkan kasih sayang dan cinta manusia. Manusia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali ia mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang sesama mereka. Cinta Allah bisa diraih dengan mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana. Sedangkan kasih sayang sesama manusia bisa didapat dengan tidak serakah terhadap harta milik orang lain, dan lebih mengutamakan amal saleh. Dengan begitu, ia akan meraih kehormatan dan meraih amalan saleh. Karena amal saleh itu lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata tentang hadis ini, “Hadis ini merupakan salah satu dari empat hadis yang menjadi sumber ajaran Islam.” Baca juga: Tambah Miskin, Tambah Zuhud? Penjelasan makna hadis Orang yang memiliki sifat zuhud pandangannya sudah condong kepada akhirat. Jadi, ketika dia ingin melakukan sesuatu, atau membicarakan sesuatu, maka dia lihat ini bermanfaat di akhirat atau tidak. Kalau tidak bermanfaat untuk akhiratnya, maka dia tinggalkan. Ini tingkatan paling tinggi, paling berat. Jadi, zuhud itu tidak dari penampilan. Bukanlah orang yang memakai baju robek-robek, dan bukan menampakkan kemiskinan, kelemahan, kurang tidur. Itu bukan zuhud. Tetapi, zuhud meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat walaupun orangnya kaya. Oleh karena itu, Abdullah bin Mubarrak, walaupun orangnya kaya, tetapi ia zuhud. Sehingga beliau pun diprotes oleh jamaahnya, ‘Engkau menyuruh kami zuhud, tetapi engkau kaya.’ Lalu, Abdullah bin Mubarrak mengatakan, “Saya berbisnis, bekerja, dagang, saya punya harta untuk menjaga wajah ini dari meminta-minta.” Itulah hakikat dari zuhud. “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu.” Tetap mencari dunia, tetapi dunia ini untuk akhiratnya, bukan karena terikat dengan dunia. Seandainya kita melakukan itu, kita akan dicintai Allah. “Zuhudlah dengan apa yang di tangan manusia (merasa tidak butuhlah dengan apa yang di tangan manusia), maka manusia akan mencintaimu.” Dalam kitab syarah-nya, Ibnu Abthar rahimallahu ta’ala berkata, “Adapun mengapa orang zuhud di dunia adalah sebab dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena orang zuhud di dunia itu cintanya kepada akhirat jauh lebih besar. Sehingga, ketika seseorang cintanya kepada akhirat lebih besar, maka amalan-amalan yang dia lakukan adalah amalan yang akan mengantarkan pada kebahagiaan di akhirat.” Kalau seandainya kita bisa menjadikan ini sebagai standar, maka lihat dari amalan-amalan kita, lebih besar mana cinta dunianya atau akhiratnya. Kalau seandainya kita bersemangat untuk mencari akhirat, kalau ada kesempatan untuk melakukan amalan akhirat, lalu kita semangat untuk melakukannya, insyaAllah kita cinta akhirat jauh lebih besar. Karena cinta itu sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah, ‘Cinta itu penggerak’, maka dari cinta ini juga, keluar rasa takut dan harap. Maka, kalau seandainya ada kesempatan berbuat untuk akhirat tetapi masih nanti-nanti, berarti cinta dunia kita masih lebih besar dari cinta akhirat. Orang yang cinta akhirat, dia akan melakukan amalan-amalan, sehingga karena itu, Allah pun mencintainya. Karena cintanya lebih besar kepada akhirat, lalu dunianya diisi dengan amalan-amalan akhirat dan kalau pun beraktifitas dunia, tujuannya untuk mencari rida Allah, lagi-lagi untuk akhiratnya. Dia berbisnis, berdagang untuk dapat uang, kerja jadi pegawai, dapat uang gunanya untuk apa. Kalau seandainya sudah menikah, untuk nafkah, sedekah, zakat. Dia berharap seandainya jadi kaya, dia bisa pergi haji, tujuannya untuk akhirat. Zuhud terhadap apa yang di tangan manusia. Dia tidak peduli dengan apa yang di tangan manusia. Dia tidak berharap apa-apa dengan sesuatu yang ada di tangan manusia. Mengapa itu menjadi sebab manusia mencintainya? Karena dunia itu hijau dan manis. Dilihat enak, dirasa juga enak. Dirindukan dan diinginkan pecinta dunia. Maka, ketika kita zuhud terhadap yang mereka miliki dan meninggalkan apa yang mereka cintai dan tidak ikut saingan, maka kita dicintai oleh penduduk dunia. Mengapa orang tidak suka kalau kita menginginkan sesuatu yang di tangannya? Karena kita menjadi saingannya. Kita seolah menjadi saingannya, akan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya karena kecintaan seorang terhadap dunia. Dalam hadis, “Siapa yang tidak minta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” Allah Ta’ala tidak senang jika kita tidak meminta. Sebaliknya manusia tidak suka jika dimintai apa yang di tangannya. Maka, jika kita tidak menginginkan apa yang di tangan manusia, maka manusia akan mencintai kita. Makna zuhud Makna zuhud secara bahasa adalah berpaling dari sesuatu sebagai bentuk merendahkannya, seperti ungkapan, “syai’un zahidun” artinya sedikit. Sedangkan secara syar’i, zuhud adalah mengambil yang halal sesuai dengan kebutuhan. Zuhud pada dunia secara syar’i artinya membenci apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya. Banyak ulama menafsirkan zuhud terhadap dunia berlandaskan riwayat Imam Ahmad dari Abu Idris Al-Khaulani, yang mengatakan, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan tidak pula menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang di sisi Allah daripada apa yang di tangan kita. Jika ditimpa musibah, maka kita lebih berharap untuk mendapatkan pahala dan simpanannya jika masih tersisa untukmu.” Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Jangan bersaksi atas kezuhudan seseorang, karena zuhud itu tempatnya di dalam hati.” Zuhud disimpulkan dalam 3 hal yang semuanya merupakan amalan hati. Tiga penafsiran zuhud, yaitu: Pertama: Lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya. Ini tentu tumbuh dari keyakinan yang benar, dan yakin akan jaminan Allah atas rezeki setiap hamba-Nya. Kedua: Apabila seorang hamba tertimpa musibah dalam urusan dunia, seperti hilangnya harta benda atau anak, maka ia lebih berharap akan mendapatkan pahala atas musibah tersebut. Ini juga berasal dari keyakinan yang sempurna, dan menunjukkan kezuhudan terhadap dunia dan sedikitnya ambisi duniawi. Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau membaca sebuah doa, اللَّهُمَ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيْكَ ,وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُكَ بِهِ جَنَّتَكَ ,و مِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبِ الدّنْيَا “Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari kemaksiatan. Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapai berbagai musibah dunia.” Ketiga: Baik pujian maupun celaan tidak mempengaruhinya dalam berpegang teguh dalam kebenaran. Ini merupakan salah satu tanda zuhud, meremehkan, dan tidak berambisi kepadanya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yakin adalah tidak mengharapkan keridaan manusia dengan cara yang membuat Allah murka.” Berikut beberapa penafsiran para ulama tentang zuhud: Hasan Al-Basri berkata, “Orang zuhud adalah jika ia melihat orang lain, ia berkata, ‘Ia lebih baik dariku.’” Wahab bin Ward berkata, “Zuhud adalah hendaklah kamu tidak putus asa atas kehilangan dunia, dan tidak bahagia ketika mendapatkannya.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Orang zuhud adalah (orang yang) jika mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar.” Imam Ahmad berkata, “Zuhud di dunia adalah pendek angan-angan dan tidak serakah terhadap harta orang lain.” Tingkatan zuhud Secara umum, ulama membagi zuhud menjadi 3: Pertama: Zuhud terhadap syirik dan beribadah kepada selain Allah. Kedua: Zuhud terhadap perkara-perkara yang diharamkan. Ketiga: Zuhud terhadap yang halal. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat bahwa zuhud terbagi dalam 3 bentuk: Pertama: Meninggalkan yang diharamkan. Ini adalah zuhud orang-orang awam. Kedua: Meninggalkan yang halal, akan tetapi melebihi kebutuhan. Ini adalah zuhud orang khusus. Ketiga: Meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan dari Allah. Ini adalah zuhudnya ‘arifin (orang yang memahami ajaran Islam secara sempurna) Sedangkan Syekh Shalih Abdullah bin Hamd Al-‘Ushaimiy ghafarallaulahu berpendapat dalam syarah hadis ini dengan berkata bahwa zuhud memiliki 4 tingkatan sifat, yaitu: Pertama: Zuhud terhadap perkara haram; Kedua: Zuhud terhadap perkara makruh; Ketiga: Zuhud terhadap perkara musytabihat / syubhat yang belum jelas bagi orang itu; Keempat: Zuhud terhadap perkara yang boleh yang melebihi apa yang dibutuhkan. Dan beliau berkata, “Zuhud mencakup dalam 4 perkara itu, dan apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka tidak atau belum dikatakan atau tidak termasuk sebagai zuhud.” Pemahaman keliru tentang zuhud Pemahaman tentang zuhud yang beredar di antara kita, di antaranya ada yang keliru atau tidak sesuai ajaran Islam. Pemahaman tentang zuhud yang tidak benar adalah memalingkan diri secara keseluruhan dari nikmat-nikmat Allah dan menganggapnya rendah. Serta menahan diri dari menikmati nikmat-nikmat itu, walaupun sedikit. Zuhud yang salah ini dianut oleh sebagian kaum muslimin pada masa Daulah Abbasiyah ketika melemah. Mereka memakai pakaian compang-camping, tidak bekerja, dan mereka hidup dari kebaikan dan sedekah orang lain. Mereka mengira bahwa mereka adalah orang zuhud. Padahal, Islam menolak pandangan yang salah ini, melarang bersikap hina, dan berpangku tangan. Kaum muslimin dewasa ini sudah terbebas dari cara pandang yang salah tentang zuhud ini. Karena mereka semangat bekerja dan mencari yang halal, berlomba-lomba meraih keuntungan dan memakmurkan bumi sehingga ada kekhawatiran melalaikan kehidupan akhirat. Karenanya, kita harus mencari sarana yang bisa mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan membawa kita kepada sikap zuhud. Agar kita selamat dari godaan setan dan tidak terlena dengan dunia. Demikian tulisan kami mengenai amalan untuk meraih cinta Allah Ta’ala. Semoga bermanfaat. الله أعلم بالصواب Allahu A’lam bis-shawab Baca juga: Antara Zuhud Sunni dan Zuhud Sufi *** Penulis: Refnadi Ferdiantoro Artikel: Muslim.or.id

Hadis: Zuhud untuk Meraih Cinta Allah ‘Azza Wajalla

Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan lafaz-lafaz dalam hadisPoin-poin utama hadisPenjelasan makna hadisMakna zuhudTingkatan zuhudPemahaman keliru tentang zuhud الحمد لله رب العالمين و صلاة و سلام على رسولنا محمد و علىى آله و أصحابه أجمعين اما بعد Seluruh pujian hanya milik Allah Ta’ala Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarga serta sahabat beliau. Pada zaman ini, generasi kita disuguhi dengan fenomena flexing dari kalangan orang kaya yang membuat konten untuk memamerkan harta dan kekayaan mereka. Dan dengan pengaruh media sosial yang luar biasa di kalangan anak muda, menjadikan konten-konten pamer kekayaan itu sangat dikagumi. Hingga menggiring generasi kita untuk mengejar harta dunia untuk meniru gaya konten kreator itu untuk memamerkan kekayaan di media sosial. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk mengangkat salah satu faedah hadis ke-31 dalam Al-Arba’ín, yaitu zuhud. Dalam hadis ini, disebutkan bahwa ‘Zuhudlah, maka Allah akan mencintaimu’. Dan sudah seharusnya setiap muslim memiliki sifat zuhud untuk meraih cinta Allah ‘Azza Wajalla. Dengan memiliki sifat zuhud ini, setiap muslim diharapkan lebih mendahulukan akhirat daripada dunia. Dalam tulisan ini, insyaAllah kami berusaha untuk menjelaskan hadis ke-31 dan kami berusaha menghadirkan penjelasan-penjelasan penguat dari kitab-kitab. InsyaAllah akan kami hadirkan poin-poin utama kemudian penjelasan lafaz-lafaz penting dalam hadis. Teks hadis عَنْ أَبي العَباس سَعدِ بنِ سَهلٍ السَّاعِدي رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمَلتُهُ أَحَبَّني اللهُ، وَأَحبَّني النَاسُ؟ فَقَالَ: (ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ) (1) حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة. Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.” Beliau menjawab, “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya) Penjelasan lafaz-lafaz dalam hadis Di antaranya: أحبني الله و احبني الناس Ahabbaniyallahu adalah mengharapkan pahala dan kebaikan , sedangkan ahabbaniannasu cenderung pada kebiasaan, karena kecintaan mereka mengikuti kecintaan Allah. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberikan cinta-Nya ke dalam hati makhluk-Nya. Firman Allah, إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وُدًّۭا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96) ازهد Dari kata zuhud, dalam bentuk kata perintah sehingga menjadi izhad, artinya: zuhudlah. Yaitu, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi atau memiliki sifat zuhud pada dunia dan pada apa yang menjadi milik orang lain. في الدنيا Dengan menganggap kecil dan meremehkan. Karena Allah menilai dunia sebagai sesuatu yang kecil dan hina, mengingatkan akan tipu dayanya. Firman Allah, فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.” (QS. Luqman: 33) Firman-Nya, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) يحبّك الله Dengan ba’ bertasydid difathah, asalnya yuhbibka dengan di-jazm sebagai jawaban dari amr, maka ketika hendak di-idhgham-kan kasrah ba’ yang pertama dipindah ke huruf ha dan huruf ba’ yang kedua, difathahkan agar dua sukun tidak bertemu, dan meringankan. Makna cinta Allah kepada hamba-Nya adalah rida dan kebaikan-Nya kepada mereka. Poin-poin utama hadis Hadis ini menjelaskan dua wasiat agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama: Zuhud terhadap dunia, dan bahwa zuhud adalah faktor penyebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Kedua: Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ini merupakan sarana mendapatkan kasih sayang dan cinta manusia. Manusia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali ia mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang sesama mereka. Cinta Allah bisa diraih dengan mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana. Sedangkan kasih sayang sesama manusia bisa didapat dengan tidak serakah terhadap harta milik orang lain, dan lebih mengutamakan amal saleh. Dengan begitu, ia akan meraih kehormatan dan meraih amalan saleh. Karena amal saleh itu lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata tentang hadis ini, “Hadis ini merupakan salah satu dari empat hadis yang menjadi sumber ajaran Islam.” Baca juga: Tambah Miskin, Tambah Zuhud? Penjelasan makna hadis Orang yang memiliki sifat zuhud pandangannya sudah condong kepada akhirat. Jadi, ketika dia ingin melakukan sesuatu, atau membicarakan sesuatu, maka dia lihat ini bermanfaat di akhirat atau tidak. Kalau tidak bermanfaat untuk akhiratnya, maka dia tinggalkan. Ini tingkatan paling tinggi, paling berat. Jadi, zuhud itu tidak dari penampilan. Bukanlah orang yang memakai baju robek-robek, dan bukan menampakkan kemiskinan, kelemahan, kurang tidur. Itu bukan zuhud. Tetapi, zuhud meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat walaupun orangnya kaya. Oleh karena itu, Abdullah bin Mubarrak, walaupun orangnya kaya, tetapi ia zuhud. Sehingga beliau pun diprotes oleh jamaahnya, ‘Engkau menyuruh kami zuhud, tetapi engkau kaya.’ Lalu, Abdullah bin Mubarrak mengatakan, “Saya berbisnis, bekerja, dagang, saya punya harta untuk menjaga wajah ini dari meminta-minta.” Itulah hakikat dari zuhud. “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu.” Tetap mencari dunia, tetapi dunia ini untuk akhiratnya, bukan karena terikat dengan dunia. Seandainya kita melakukan itu, kita akan dicintai Allah. “Zuhudlah dengan apa yang di tangan manusia (merasa tidak butuhlah dengan apa yang di tangan manusia), maka manusia akan mencintaimu.” Dalam kitab syarah-nya, Ibnu Abthar rahimallahu ta’ala berkata, “Adapun mengapa orang zuhud di dunia adalah sebab dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena orang zuhud di dunia itu cintanya kepada akhirat jauh lebih besar. Sehingga, ketika seseorang cintanya kepada akhirat lebih besar, maka amalan-amalan yang dia lakukan adalah amalan yang akan mengantarkan pada kebahagiaan di akhirat.” Kalau seandainya kita bisa menjadikan ini sebagai standar, maka lihat dari amalan-amalan kita, lebih besar mana cinta dunianya atau akhiratnya. Kalau seandainya kita bersemangat untuk mencari akhirat, kalau ada kesempatan untuk melakukan amalan akhirat, lalu kita semangat untuk melakukannya, insyaAllah kita cinta akhirat jauh lebih besar. Karena cinta itu sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah, ‘Cinta itu penggerak’, maka dari cinta ini juga, keluar rasa takut dan harap. Maka, kalau seandainya ada kesempatan berbuat untuk akhirat tetapi masih nanti-nanti, berarti cinta dunia kita masih lebih besar dari cinta akhirat. Orang yang cinta akhirat, dia akan melakukan amalan-amalan, sehingga karena itu, Allah pun mencintainya. Karena cintanya lebih besar kepada akhirat, lalu dunianya diisi dengan amalan-amalan akhirat dan kalau pun beraktifitas dunia, tujuannya untuk mencari rida Allah, lagi-lagi untuk akhiratnya. Dia berbisnis, berdagang untuk dapat uang, kerja jadi pegawai, dapat uang gunanya untuk apa. Kalau seandainya sudah menikah, untuk nafkah, sedekah, zakat. Dia berharap seandainya jadi kaya, dia bisa pergi haji, tujuannya untuk akhirat. Zuhud terhadap apa yang di tangan manusia. Dia tidak peduli dengan apa yang di tangan manusia. Dia tidak berharap apa-apa dengan sesuatu yang ada di tangan manusia. Mengapa itu menjadi sebab manusia mencintainya? Karena dunia itu hijau dan manis. Dilihat enak, dirasa juga enak. Dirindukan dan diinginkan pecinta dunia. Maka, ketika kita zuhud terhadap yang mereka miliki dan meninggalkan apa yang mereka cintai dan tidak ikut saingan, maka kita dicintai oleh penduduk dunia. Mengapa orang tidak suka kalau kita menginginkan sesuatu yang di tangannya? Karena kita menjadi saingannya. Kita seolah menjadi saingannya, akan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya karena kecintaan seorang terhadap dunia. Dalam hadis, “Siapa yang tidak minta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” Allah Ta’ala tidak senang jika kita tidak meminta. Sebaliknya manusia tidak suka jika dimintai apa yang di tangannya. Maka, jika kita tidak menginginkan apa yang di tangan manusia, maka manusia akan mencintai kita. Makna zuhud Makna zuhud secara bahasa adalah berpaling dari sesuatu sebagai bentuk merendahkannya, seperti ungkapan, “syai’un zahidun” artinya sedikit. Sedangkan secara syar’i, zuhud adalah mengambil yang halal sesuai dengan kebutuhan. Zuhud pada dunia secara syar’i artinya membenci apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya. Banyak ulama menafsirkan zuhud terhadap dunia berlandaskan riwayat Imam Ahmad dari Abu Idris Al-Khaulani, yang mengatakan, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan tidak pula menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang di sisi Allah daripada apa yang di tangan kita. Jika ditimpa musibah, maka kita lebih berharap untuk mendapatkan pahala dan simpanannya jika masih tersisa untukmu.” Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Jangan bersaksi atas kezuhudan seseorang, karena zuhud itu tempatnya di dalam hati.” Zuhud disimpulkan dalam 3 hal yang semuanya merupakan amalan hati. Tiga penafsiran zuhud, yaitu: Pertama: Lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya. Ini tentu tumbuh dari keyakinan yang benar, dan yakin akan jaminan Allah atas rezeki setiap hamba-Nya. Kedua: Apabila seorang hamba tertimpa musibah dalam urusan dunia, seperti hilangnya harta benda atau anak, maka ia lebih berharap akan mendapatkan pahala atas musibah tersebut. Ini juga berasal dari keyakinan yang sempurna, dan menunjukkan kezuhudan terhadap dunia dan sedikitnya ambisi duniawi. Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau membaca sebuah doa, اللَّهُمَ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيْكَ ,وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُكَ بِهِ جَنَّتَكَ ,و مِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبِ الدّنْيَا “Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari kemaksiatan. Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapai berbagai musibah dunia.” Ketiga: Baik pujian maupun celaan tidak mempengaruhinya dalam berpegang teguh dalam kebenaran. Ini merupakan salah satu tanda zuhud, meremehkan, dan tidak berambisi kepadanya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yakin adalah tidak mengharapkan keridaan manusia dengan cara yang membuat Allah murka.” Berikut beberapa penafsiran para ulama tentang zuhud: Hasan Al-Basri berkata, “Orang zuhud adalah jika ia melihat orang lain, ia berkata, ‘Ia lebih baik dariku.’” Wahab bin Ward berkata, “Zuhud adalah hendaklah kamu tidak putus asa atas kehilangan dunia, dan tidak bahagia ketika mendapatkannya.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Orang zuhud adalah (orang yang) jika mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar.” Imam Ahmad berkata, “Zuhud di dunia adalah pendek angan-angan dan tidak serakah terhadap harta orang lain.” Tingkatan zuhud Secara umum, ulama membagi zuhud menjadi 3: Pertama: Zuhud terhadap syirik dan beribadah kepada selain Allah. Kedua: Zuhud terhadap perkara-perkara yang diharamkan. Ketiga: Zuhud terhadap yang halal. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat bahwa zuhud terbagi dalam 3 bentuk: Pertama: Meninggalkan yang diharamkan. Ini adalah zuhud orang-orang awam. Kedua: Meninggalkan yang halal, akan tetapi melebihi kebutuhan. Ini adalah zuhud orang khusus. Ketiga: Meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan dari Allah. Ini adalah zuhudnya ‘arifin (orang yang memahami ajaran Islam secara sempurna) Sedangkan Syekh Shalih Abdullah bin Hamd Al-‘Ushaimiy ghafarallaulahu berpendapat dalam syarah hadis ini dengan berkata bahwa zuhud memiliki 4 tingkatan sifat, yaitu: Pertama: Zuhud terhadap perkara haram; Kedua: Zuhud terhadap perkara makruh; Ketiga: Zuhud terhadap perkara musytabihat / syubhat yang belum jelas bagi orang itu; Keempat: Zuhud terhadap perkara yang boleh yang melebihi apa yang dibutuhkan. Dan beliau berkata, “Zuhud mencakup dalam 4 perkara itu, dan apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka tidak atau belum dikatakan atau tidak termasuk sebagai zuhud.” Pemahaman keliru tentang zuhud Pemahaman tentang zuhud yang beredar di antara kita, di antaranya ada yang keliru atau tidak sesuai ajaran Islam. Pemahaman tentang zuhud yang tidak benar adalah memalingkan diri secara keseluruhan dari nikmat-nikmat Allah dan menganggapnya rendah. Serta menahan diri dari menikmati nikmat-nikmat itu, walaupun sedikit. Zuhud yang salah ini dianut oleh sebagian kaum muslimin pada masa Daulah Abbasiyah ketika melemah. Mereka memakai pakaian compang-camping, tidak bekerja, dan mereka hidup dari kebaikan dan sedekah orang lain. Mereka mengira bahwa mereka adalah orang zuhud. Padahal, Islam menolak pandangan yang salah ini, melarang bersikap hina, dan berpangku tangan. Kaum muslimin dewasa ini sudah terbebas dari cara pandang yang salah tentang zuhud ini. Karena mereka semangat bekerja dan mencari yang halal, berlomba-lomba meraih keuntungan dan memakmurkan bumi sehingga ada kekhawatiran melalaikan kehidupan akhirat. Karenanya, kita harus mencari sarana yang bisa mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan membawa kita kepada sikap zuhud. Agar kita selamat dari godaan setan dan tidak terlena dengan dunia. Demikian tulisan kami mengenai amalan untuk meraih cinta Allah Ta’ala. Semoga bermanfaat. الله أعلم بالصواب Allahu A’lam bis-shawab Baca juga: Antara Zuhud Sunni dan Zuhud Sufi *** Penulis: Refnadi Ferdiantoro Artikel: Muslim.or.id
Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan lafaz-lafaz dalam hadisPoin-poin utama hadisPenjelasan makna hadisMakna zuhudTingkatan zuhudPemahaman keliru tentang zuhud الحمد لله رب العالمين و صلاة و سلام على رسولنا محمد و علىى آله و أصحابه أجمعين اما بعد Seluruh pujian hanya milik Allah Ta’ala Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarga serta sahabat beliau. Pada zaman ini, generasi kita disuguhi dengan fenomena flexing dari kalangan orang kaya yang membuat konten untuk memamerkan harta dan kekayaan mereka. Dan dengan pengaruh media sosial yang luar biasa di kalangan anak muda, menjadikan konten-konten pamer kekayaan itu sangat dikagumi. Hingga menggiring generasi kita untuk mengejar harta dunia untuk meniru gaya konten kreator itu untuk memamerkan kekayaan di media sosial. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk mengangkat salah satu faedah hadis ke-31 dalam Al-Arba’ín, yaitu zuhud. Dalam hadis ini, disebutkan bahwa ‘Zuhudlah, maka Allah akan mencintaimu’. Dan sudah seharusnya setiap muslim memiliki sifat zuhud untuk meraih cinta Allah ‘Azza Wajalla. Dengan memiliki sifat zuhud ini, setiap muslim diharapkan lebih mendahulukan akhirat daripada dunia. Dalam tulisan ini, insyaAllah kami berusaha untuk menjelaskan hadis ke-31 dan kami berusaha menghadirkan penjelasan-penjelasan penguat dari kitab-kitab. InsyaAllah akan kami hadirkan poin-poin utama kemudian penjelasan lafaz-lafaz penting dalam hadis. Teks hadis عَنْ أَبي العَباس سَعدِ بنِ سَهلٍ السَّاعِدي رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمَلتُهُ أَحَبَّني اللهُ، وَأَحبَّني النَاسُ؟ فَقَالَ: (ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ) (1) حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة. Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.” Beliau menjawab, “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya) Penjelasan lafaz-lafaz dalam hadis Di antaranya: أحبني الله و احبني الناس Ahabbaniyallahu adalah mengharapkan pahala dan kebaikan , sedangkan ahabbaniannasu cenderung pada kebiasaan, karena kecintaan mereka mengikuti kecintaan Allah. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberikan cinta-Nya ke dalam hati makhluk-Nya. Firman Allah, إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وُدًّۭا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96) ازهد Dari kata zuhud, dalam bentuk kata perintah sehingga menjadi izhad, artinya: zuhudlah. Yaitu, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi atau memiliki sifat zuhud pada dunia dan pada apa yang menjadi milik orang lain. في الدنيا Dengan menganggap kecil dan meremehkan. Karena Allah menilai dunia sebagai sesuatu yang kecil dan hina, mengingatkan akan tipu dayanya. Firman Allah, فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.” (QS. Luqman: 33) Firman-Nya, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) يحبّك الله Dengan ba’ bertasydid difathah, asalnya yuhbibka dengan di-jazm sebagai jawaban dari amr, maka ketika hendak di-idhgham-kan kasrah ba’ yang pertama dipindah ke huruf ha dan huruf ba’ yang kedua, difathahkan agar dua sukun tidak bertemu, dan meringankan. Makna cinta Allah kepada hamba-Nya adalah rida dan kebaikan-Nya kepada mereka. Poin-poin utama hadis Hadis ini menjelaskan dua wasiat agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama: Zuhud terhadap dunia, dan bahwa zuhud adalah faktor penyebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Kedua: Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ini merupakan sarana mendapatkan kasih sayang dan cinta manusia. Manusia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali ia mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang sesama mereka. Cinta Allah bisa diraih dengan mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana. Sedangkan kasih sayang sesama manusia bisa didapat dengan tidak serakah terhadap harta milik orang lain, dan lebih mengutamakan amal saleh. Dengan begitu, ia akan meraih kehormatan dan meraih amalan saleh. Karena amal saleh itu lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata tentang hadis ini, “Hadis ini merupakan salah satu dari empat hadis yang menjadi sumber ajaran Islam.” Baca juga: Tambah Miskin, Tambah Zuhud? Penjelasan makna hadis Orang yang memiliki sifat zuhud pandangannya sudah condong kepada akhirat. Jadi, ketika dia ingin melakukan sesuatu, atau membicarakan sesuatu, maka dia lihat ini bermanfaat di akhirat atau tidak. Kalau tidak bermanfaat untuk akhiratnya, maka dia tinggalkan. Ini tingkatan paling tinggi, paling berat. Jadi, zuhud itu tidak dari penampilan. Bukanlah orang yang memakai baju robek-robek, dan bukan menampakkan kemiskinan, kelemahan, kurang tidur. Itu bukan zuhud. Tetapi, zuhud meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat walaupun orangnya kaya. Oleh karena itu, Abdullah bin Mubarrak, walaupun orangnya kaya, tetapi ia zuhud. Sehingga beliau pun diprotes oleh jamaahnya, ‘Engkau menyuruh kami zuhud, tetapi engkau kaya.’ Lalu, Abdullah bin Mubarrak mengatakan, “Saya berbisnis, bekerja, dagang, saya punya harta untuk menjaga wajah ini dari meminta-minta.” Itulah hakikat dari zuhud. “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu.” Tetap mencari dunia, tetapi dunia ini untuk akhiratnya, bukan karena terikat dengan dunia. Seandainya kita melakukan itu, kita akan dicintai Allah. “Zuhudlah dengan apa yang di tangan manusia (merasa tidak butuhlah dengan apa yang di tangan manusia), maka manusia akan mencintaimu.” Dalam kitab syarah-nya, Ibnu Abthar rahimallahu ta’ala berkata, “Adapun mengapa orang zuhud di dunia adalah sebab dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena orang zuhud di dunia itu cintanya kepada akhirat jauh lebih besar. Sehingga, ketika seseorang cintanya kepada akhirat lebih besar, maka amalan-amalan yang dia lakukan adalah amalan yang akan mengantarkan pada kebahagiaan di akhirat.” Kalau seandainya kita bisa menjadikan ini sebagai standar, maka lihat dari amalan-amalan kita, lebih besar mana cinta dunianya atau akhiratnya. Kalau seandainya kita bersemangat untuk mencari akhirat, kalau ada kesempatan untuk melakukan amalan akhirat, lalu kita semangat untuk melakukannya, insyaAllah kita cinta akhirat jauh lebih besar. Karena cinta itu sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah, ‘Cinta itu penggerak’, maka dari cinta ini juga, keluar rasa takut dan harap. Maka, kalau seandainya ada kesempatan berbuat untuk akhirat tetapi masih nanti-nanti, berarti cinta dunia kita masih lebih besar dari cinta akhirat. Orang yang cinta akhirat, dia akan melakukan amalan-amalan, sehingga karena itu, Allah pun mencintainya. Karena cintanya lebih besar kepada akhirat, lalu dunianya diisi dengan amalan-amalan akhirat dan kalau pun beraktifitas dunia, tujuannya untuk mencari rida Allah, lagi-lagi untuk akhiratnya. Dia berbisnis, berdagang untuk dapat uang, kerja jadi pegawai, dapat uang gunanya untuk apa. Kalau seandainya sudah menikah, untuk nafkah, sedekah, zakat. Dia berharap seandainya jadi kaya, dia bisa pergi haji, tujuannya untuk akhirat. Zuhud terhadap apa yang di tangan manusia. Dia tidak peduli dengan apa yang di tangan manusia. Dia tidak berharap apa-apa dengan sesuatu yang ada di tangan manusia. Mengapa itu menjadi sebab manusia mencintainya? Karena dunia itu hijau dan manis. Dilihat enak, dirasa juga enak. Dirindukan dan diinginkan pecinta dunia. Maka, ketika kita zuhud terhadap yang mereka miliki dan meninggalkan apa yang mereka cintai dan tidak ikut saingan, maka kita dicintai oleh penduduk dunia. Mengapa orang tidak suka kalau kita menginginkan sesuatu yang di tangannya? Karena kita menjadi saingannya. Kita seolah menjadi saingannya, akan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya karena kecintaan seorang terhadap dunia. Dalam hadis, “Siapa yang tidak minta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” Allah Ta’ala tidak senang jika kita tidak meminta. Sebaliknya manusia tidak suka jika dimintai apa yang di tangannya. Maka, jika kita tidak menginginkan apa yang di tangan manusia, maka manusia akan mencintai kita. Makna zuhud Makna zuhud secara bahasa adalah berpaling dari sesuatu sebagai bentuk merendahkannya, seperti ungkapan, “syai’un zahidun” artinya sedikit. Sedangkan secara syar’i, zuhud adalah mengambil yang halal sesuai dengan kebutuhan. Zuhud pada dunia secara syar’i artinya membenci apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya. Banyak ulama menafsirkan zuhud terhadap dunia berlandaskan riwayat Imam Ahmad dari Abu Idris Al-Khaulani, yang mengatakan, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan tidak pula menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang di sisi Allah daripada apa yang di tangan kita. Jika ditimpa musibah, maka kita lebih berharap untuk mendapatkan pahala dan simpanannya jika masih tersisa untukmu.” Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Jangan bersaksi atas kezuhudan seseorang, karena zuhud itu tempatnya di dalam hati.” Zuhud disimpulkan dalam 3 hal yang semuanya merupakan amalan hati. Tiga penafsiran zuhud, yaitu: Pertama: Lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya. Ini tentu tumbuh dari keyakinan yang benar, dan yakin akan jaminan Allah atas rezeki setiap hamba-Nya. Kedua: Apabila seorang hamba tertimpa musibah dalam urusan dunia, seperti hilangnya harta benda atau anak, maka ia lebih berharap akan mendapatkan pahala atas musibah tersebut. Ini juga berasal dari keyakinan yang sempurna, dan menunjukkan kezuhudan terhadap dunia dan sedikitnya ambisi duniawi. Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau membaca sebuah doa, اللَّهُمَ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيْكَ ,وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُكَ بِهِ جَنَّتَكَ ,و مِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبِ الدّنْيَا “Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari kemaksiatan. Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapai berbagai musibah dunia.” Ketiga: Baik pujian maupun celaan tidak mempengaruhinya dalam berpegang teguh dalam kebenaran. Ini merupakan salah satu tanda zuhud, meremehkan, dan tidak berambisi kepadanya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yakin adalah tidak mengharapkan keridaan manusia dengan cara yang membuat Allah murka.” Berikut beberapa penafsiran para ulama tentang zuhud: Hasan Al-Basri berkata, “Orang zuhud adalah jika ia melihat orang lain, ia berkata, ‘Ia lebih baik dariku.’” Wahab bin Ward berkata, “Zuhud adalah hendaklah kamu tidak putus asa atas kehilangan dunia, dan tidak bahagia ketika mendapatkannya.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Orang zuhud adalah (orang yang) jika mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar.” Imam Ahmad berkata, “Zuhud di dunia adalah pendek angan-angan dan tidak serakah terhadap harta orang lain.” Tingkatan zuhud Secara umum, ulama membagi zuhud menjadi 3: Pertama: Zuhud terhadap syirik dan beribadah kepada selain Allah. Kedua: Zuhud terhadap perkara-perkara yang diharamkan. Ketiga: Zuhud terhadap yang halal. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat bahwa zuhud terbagi dalam 3 bentuk: Pertama: Meninggalkan yang diharamkan. Ini adalah zuhud orang-orang awam. Kedua: Meninggalkan yang halal, akan tetapi melebihi kebutuhan. Ini adalah zuhud orang khusus. Ketiga: Meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan dari Allah. Ini adalah zuhudnya ‘arifin (orang yang memahami ajaran Islam secara sempurna) Sedangkan Syekh Shalih Abdullah bin Hamd Al-‘Ushaimiy ghafarallaulahu berpendapat dalam syarah hadis ini dengan berkata bahwa zuhud memiliki 4 tingkatan sifat, yaitu: Pertama: Zuhud terhadap perkara haram; Kedua: Zuhud terhadap perkara makruh; Ketiga: Zuhud terhadap perkara musytabihat / syubhat yang belum jelas bagi orang itu; Keempat: Zuhud terhadap perkara yang boleh yang melebihi apa yang dibutuhkan. Dan beliau berkata, “Zuhud mencakup dalam 4 perkara itu, dan apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka tidak atau belum dikatakan atau tidak termasuk sebagai zuhud.” Pemahaman keliru tentang zuhud Pemahaman tentang zuhud yang beredar di antara kita, di antaranya ada yang keliru atau tidak sesuai ajaran Islam. Pemahaman tentang zuhud yang tidak benar adalah memalingkan diri secara keseluruhan dari nikmat-nikmat Allah dan menganggapnya rendah. Serta menahan diri dari menikmati nikmat-nikmat itu, walaupun sedikit. Zuhud yang salah ini dianut oleh sebagian kaum muslimin pada masa Daulah Abbasiyah ketika melemah. Mereka memakai pakaian compang-camping, tidak bekerja, dan mereka hidup dari kebaikan dan sedekah orang lain. Mereka mengira bahwa mereka adalah orang zuhud. Padahal, Islam menolak pandangan yang salah ini, melarang bersikap hina, dan berpangku tangan. Kaum muslimin dewasa ini sudah terbebas dari cara pandang yang salah tentang zuhud ini. Karena mereka semangat bekerja dan mencari yang halal, berlomba-lomba meraih keuntungan dan memakmurkan bumi sehingga ada kekhawatiran melalaikan kehidupan akhirat. Karenanya, kita harus mencari sarana yang bisa mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan membawa kita kepada sikap zuhud. Agar kita selamat dari godaan setan dan tidak terlena dengan dunia. Demikian tulisan kami mengenai amalan untuk meraih cinta Allah Ta’ala. Semoga bermanfaat. الله أعلم بالصواب Allahu A’lam bis-shawab Baca juga: Antara Zuhud Sunni dan Zuhud Sufi *** Penulis: Refnadi Ferdiantoro Artikel: Muslim.or.id


Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan lafaz-lafaz dalam hadisPoin-poin utama hadisPenjelasan makna hadisMakna zuhudTingkatan zuhudPemahaman keliru tentang zuhud الحمد لله رب العالمين و صلاة و سلام على رسولنا محمد و علىى آله و أصحابه أجمعين اما بعد Seluruh pujian hanya milik Allah Ta’ala Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarga serta sahabat beliau. Pada zaman ini, generasi kita disuguhi dengan fenomena flexing dari kalangan orang kaya yang membuat konten untuk memamerkan harta dan kekayaan mereka. Dan dengan pengaruh media sosial yang luar biasa di kalangan anak muda, menjadikan konten-konten pamer kekayaan itu sangat dikagumi. Hingga menggiring generasi kita untuk mengejar harta dunia untuk meniru gaya konten kreator itu untuk memamerkan kekayaan di media sosial. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk mengangkat salah satu faedah hadis ke-31 dalam Al-Arba’ín, yaitu zuhud. Dalam hadis ini, disebutkan bahwa ‘Zuhudlah, maka Allah akan mencintaimu’. Dan sudah seharusnya setiap muslim memiliki sifat zuhud untuk meraih cinta Allah ‘Azza Wajalla. Dengan memiliki sifat zuhud ini, setiap muslim diharapkan lebih mendahulukan akhirat daripada dunia. Dalam tulisan ini, insyaAllah kami berusaha untuk menjelaskan hadis ke-31 dan kami berusaha menghadirkan penjelasan-penjelasan penguat dari kitab-kitab. InsyaAllah akan kami hadirkan poin-poin utama kemudian penjelasan lafaz-lafaz penting dalam hadis. Teks hadis عَنْ أَبي العَباس سَعدِ بنِ سَهلٍ السَّاعِدي رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمَلتُهُ أَحَبَّني اللهُ، وَأَحبَّني النَاسُ؟ فَقَالَ: (ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ) (1) حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة. Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.” Beliau menjawab, “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya) Penjelasan lafaz-lafaz dalam hadis Di antaranya: أحبني الله و احبني الناس Ahabbaniyallahu adalah mengharapkan pahala dan kebaikan , sedangkan ahabbaniannasu cenderung pada kebiasaan, karena kecintaan mereka mengikuti kecintaan Allah. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberikan cinta-Nya ke dalam hati makhluk-Nya. Firman Allah, إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وُدًّۭا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96) ازهد Dari kata zuhud, dalam bentuk kata perintah sehingga menjadi izhad, artinya: zuhudlah. Yaitu, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi atau memiliki sifat zuhud pada dunia dan pada apa yang menjadi milik orang lain. في الدنيا Dengan menganggap kecil dan meremehkan. Karena Allah menilai dunia sebagai sesuatu yang kecil dan hina, mengingatkan akan tipu dayanya. Firman Allah, فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.” (QS. Luqman: 33) Firman-Nya, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) يحبّك الله Dengan ba’ bertasydid difathah, asalnya yuhbibka dengan di-jazm sebagai jawaban dari amr, maka ketika hendak di-idhgham-kan kasrah ba’ yang pertama dipindah ke huruf ha dan huruf ba’ yang kedua, difathahkan agar dua sukun tidak bertemu, dan meringankan. Makna cinta Allah kepada hamba-Nya adalah rida dan kebaikan-Nya kepada mereka. Poin-poin utama hadis Hadis ini menjelaskan dua wasiat agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama: Zuhud terhadap dunia, dan bahwa zuhud adalah faktor penyebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Kedua: Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ini merupakan sarana mendapatkan kasih sayang dan cinta manusia. Manusia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali ia mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang sesama mereka. Cinta Allah bisa diraih dengan mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana. Sedangkan kasih sayang sesama manusia bisa didapat dengan tidak serakah terhadap harta milik orang lain, dan lebih mengutamakan amal saleh. Dengan begitu, ia akan meraih kehormatan dan meraih amalan saleh. Karena amal saleh itu lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata tentang hadis ini, “Hadis ini merupakan salah satu dari empat hadis yang menjadi sumber ajaran Islam.” Baca juga: Tambah Miskin, Tambah Zuhud? Penjelasan makna hadis Orang yang memiliki sifat zuhud pandangannya sudah condong kepada akhirat. Jadi, ketika dia ingin melakukan sesuatu, atau membicarakan sesuatu, maka dia lihat ini bermanfaat di akhirat atau tidak. Kalau tidak bermanfaat untuk akhiratnya, maka dia tinggalkan. Ini tingkatan paling tinggi, paling berat. Jadi, zuhud itu tidak dari penampilan. Bukanlah orang yang memakai baju robek-robek, dan bukan menampakkan kemiskinan, kelemahan, kurang tidur. Itu bukan zuhud. Tetapi, zuhud meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat walaupun orangnya kaya. Oleh karena itu, Abdullah bin Mubarrak, walaupun orangnya kaya, tetapi ia zuhud. Sehingga beliau pun diprotes oleh jamaahnya, ‘Engkau menyuruh kami zuhud, tetapi engkau kaya.’ Lalu, Abdullah bin Mubarrak mengatakan, “Saya berbisnis, bekerja, dagang, saya punya harta untuk menjaga wajah ini dari meminta-minta.” Itulah hakikat dari zuhud. “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu.” Tetap mencari dunia, tetapi dunia ini untuk akhiratnya, bukan karena terikat dengan dunia. Seandainya kita melakukan itu, kita akan dicintai Allah. “Zuhudlah dengan apa yang di tangan manusia (merasa tidak butuhlah dengan apa yang di tangan manusia), maka manusia akan mencintaimu.” Dalam kitab syarah-nya, Ibnu Abthar rahimallahu ta’ala berkata, “Adapun mengapa orang zuhud di dunia adalah sebab dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena orang zuhud di dunia itu cintanya kepada akhirat jauh lebih besar. Sehingga, ketika seseorang cintanya kepada akhirat lebih besar, maka amalan-amalan yang dia lakukan adalah amalan yang akan mengantarkan pada kebahagiaan di akhirat.” Kalau seandainya kita bisa menjadikan ini sebagai standar, maka lihat dari amalan-amalan kita, lebih besar mana cinta dunianya atau akhiratnya. Kalau seandainya kita bersemangat untuk mencari akhirat, kalau ada kesempatan untuk melakukan amalan akhirat, lalu kita semangat untuk melakukannya, insyaAllah kita cinta akhirat jauh lebih besar. Karena cinta itu sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah, ‘Cinta itu penggerak’, maka dari cinta ini juga, keluar rasa takut dan harap. Maka, kalau seandainya ada kesempatan berbuat untuk akhirat tetapi masih nanti-nanti, berarti cinta dunia kita masih lebih besar dari cinta akhirat. Orang yang cinta akhirat, dia akan melakukan amalan-amalan, sehingga karena itu, Allah pun mencintainya. Karena cintanya lebih besar kepada akhirat, lalu dunianya diisi dengan amalan-amalan akhirat dan kalau pun beraktifitas dunia, tujuannya untuk mencari rida Allah, lagi-lagi untuk akhiratnya. Dia berbisnis, berdagang untuk dapat uang, kerja jadi pegawai, dapat uang gunanya untuk apa. Kalau seandainya sudah menikah, untuk nafkah, sedekah, zakat. Dia berharap seandainya jadi kaya, dia bisa pergi haji, tujuannya untuk akhirat. Zuhud terhadap apa yang di tangan manusia. Dia tidak peduli dengan apa yang di tangan manusia. Dia tidak berharap apa-apa dengan sesuatu yang ada di tangan manusia. Mengapa itu menjadi sebab manusia mencintainya? Karena dunia itu hijau dan manis. Dilihat enak, dirasa juga enak. Dirindukan dan diinginkan pecinta dunia. Maka, ketika kita zuhud terhadap yang mereka miliki dan meninggalkan apa yang mereka cintai dan tidak ikut saingan, maka kita dicintai oleh penduduk dunia. Mengapa orang tidak suka kalau kita menginginkan sesuatu yang di tangannya? Karena kita menjadi saingannya. Kita seolah menjadi saingannya, akan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya karena kecintaan seorang terhadap dunia. Dalam hadis, “Siapa yang tidak minta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” Allah Ta’ala tidak senang jika kita tidak meminta. Sebaliknya manusia tidak suka jika dimintai apa yang di tangannya. Maka, jika kita tidak menginginkan apa yang di tangan manusia, maka manusia akan mencintai kita. Makna zuhud Makna zuhud secara bahasa adalah berpaling dari sesuatu sebagai bentuk merendahkannya, seperti ungkapan, “syai’un zahidun” artinya sedikit. Sedangkan secara syar’i, zuhud adalah mengambil yang halal sesuai dengan kebutuhan. Zuhud pada dunia secara syar’i artinya membenci apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya. Banyak ulama menafsirkan zuhud terhadap dunia berlandaskan riwayat Imam Ahmad dari Abu Idris Al-Khaulani, yang mengatakan, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan tidak pula menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang di sisi Allah daripada apa yang di tangan kita. Jika ditimpa musibah, maka kita lebih berharap untuk mendapatkan pahala dan simpanannya jika masih tersisa untukmu.” Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Jangan bersaksi atas kezuhudan seseorang, karena zuhud itu tempatnya di dalam hati.” Zuhud disimpulkan dalam 3 hal yang semuanya merupakan amalan hati. Tiga penafsiran zuhud, yaitu: Pertama: Lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya. Ini tentu tumbuh dari keyakinan yang benar, dan yakin akan jaminan Allah atas rezeki setiap hamba-Nya. Kedua: Apabila seorang hamba tertimpa musibah dalam urusan dunia, seperti hilangnya harta benda atau anak, maka ia lebih berharap akan mendapatkan pahala atas musibah tersebut. Ini juga berasal dari keyakinan yang sempurna, dan menunjukkan kezuhudan terhadap dunia dan sedikitnya ambisi duniawi. Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau membaca sebuah doa, اللَّهُمَ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيْكَ ,وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُكَ بِهِ جَنَّتَكَ ,و مِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبِ الدّنْيَا “Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari kemaksiatan. Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapai berbagai musibah dunia.” Ketiga: Baik pujian maupun celaan tidak mempengaruhinya dalam berpegang teguh dalam kebenaran. Ini merupakan salah satu tanda zuhud, meremehkan, dan tidak berambisi kepadanya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yakin adalah tidak mengharapkan keridaan manusia dengan cara yang membuat Allah murka.” Berikut beberapa penafsiran para ulama tentang zuhud: Hasan Al-Basri berkata, “Orang zuhud adalah jika ia melihat orang lain, ia berkata, ‘Ia lebih baik dariku.’” Wahab bin Ward berkata, “Zuhud adalah hendaklah kamu tidak putus asa atas kehilangan dunia, dan tidak bahagia ketika mendapatkannya.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Orang zuhud adalah (orang yang) jika mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar.” Imam Ahmad berkata, “Zuhud di dunia adalah pendek angan-angan dan tidak serakah terhadap harta orang lain.” Tingkatan zuhud Secara umum, ulama membagi zuhud menjadi 3: Pertama: Zuhud terhadap syirik dan beribadah kepada selain Allah. Kedua: Zuhud terhadap perkara-perkara yang diharamkan. Ketiga: Zuhud terhadap yang halal. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat bahwa zuhud terbagi dalam 3 bentuk: Pertama: Meninggalkan yang diharamkan. Ini adalah zuhud orang-orang awam. Kedua: Meninggalkan yang halal, akan tetapi melebihi kebutuhan. Ini adalah zuhud orang khusus. Ketiga: Meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan dari Allah. Ini adalah zuhudnya ‘arifin (orang yang memahami ajaran Islam secara sempurna) Sedangkan Syekh Shalih Abdullah bin Hamd Al-‘Ushaimiy ghafarallaulahu berpendapat dalam syarah hadis ini dengan berkata bahwa zuhud memiliki 4 tingkatan sifat, yaitu: Pertama: Zuhud terhadap perkara haram; Kedua: Zuhud terhadap perkara makruh; Ketiga: Zuhud terhadap perkara musytabihat / syubhat yang belum jelas bagi orang itu; Keempat: Zuhud terhadap perkara yang boleh yang melebihi apa yang dibutuhkan. Dan beliau berkata, “Zuhud mencakup dalam 4 perkara itu, dan apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka tidak atau belum dikatakan atau tidak termasuk sebagai zuhud.” Pemahaman keliru tentang zuhud Pemahaman tentang zuhud yang beredar di antara kita, di antaranya ada yang keliru atau tidak sesuai ajaran Islam. Pemahaman tentang zuhud yang tidak benar adalah memalingkan diri secara keseluruhan dari nikmat-nikmat Allah dan menganggapnya rendah. Serta menahan diri dari menikmati nikmat-nikmat itu, walaupun sedikit. Zuhud yang salah ini dianut oleh sebagian kaum muslimin pada masa Daulah Abbasiyah ketika melemah. Mereka memakai pakaian compang-camping, tidak bekerja, dan mereka hidup dari kebaikan dan sedekah orang lain. Mereka mengira bahwa mereka adalah orang zuhud. Padahal, Islam menolak pandangan yang salah ini, melarang bersikap hina, dan berpangku tangan. Kaum muslimin dewasa ini sudah terbebas dari cara pandang yang salah tentang zuhud ini. Karena mereka semangat bekerja dan mencari yang halal, berlomba-lomba meraih keuntungan dan memakmurkan bumi sehingga ada kekhawatiran melalaikan kehidupan akhirat. Karenanya, kita harus mencari sarana yang bisa mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan membawa kita kepada sikap zuhud. Agar kita selamat dari godaan setan dan tidak terlena dengan dunia. Demikian tulisan kami mengenai amalan untuk meraih cinta Allah Ta’ala. Semoga bermanfaat. الله أعلم بالصواب Allahu A’lam bis-shawab Baca juga: Antara Zuhud Sunni dan Zuhud Sufi *** Penulis: Refnadi Ferdiantoro Artikel: Muslim.or.id

Mengapa Kita Harus Bersedekah Jariyah? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) Sedekah Jariyah. (2) Ilmu yang bermanfaat. (3) Anak saleh yang mendoakannya.” Sabda beliau: Sedekah Jariyah, yang dimaksud adalah wakaf. Karena wakaf akan terus mengalir pahalanya bagi orang yang mewakafkan. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, pahalanya akan terus mengalir kepadanya semasa hidup dan setelah wafatnya. Betapa banyak orang yang sudah berada di dalam kuburnya, tapi pahala wakafnya terus mengalir untuknya. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, maka pahalanya terus mengalir. Harta yang diwakafkan itu terus memberinya pahala yang besar. Inilah salah satu peninggalan yang mendatangkan manfaat bagi seorang Muslim setelah wafatnya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanah, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12). Ditulis bagi manusia amal saleh yang telah ia kerjakan, seperti shalat, puasa, dan amal saleh lainnya. Ditulis juga baginya peninggalan-peninggalan baik yang ia tinggalkan. Di antaranya adalah Sedekah Jariyah, yakni wakaf. Oleh sebab itu, hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku, jika kamu mempunyai kemampuan untuk berwakaf, maka lakukanlah segera! Karena pahalanya besar sekali. Bahkan, ia merupakan cara terbaik untuk membelanjakan harta. Oleh sebab itu, Umar bin Khattab berkata: “Aku mendapat sebidang tanah di Khaibar; ia adalah harta paling berharga yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Lalu aku meminta nasihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang harus aku lakukan terhadapnya. Lalu beliau memberiku nasihat untuk mewakafkannya.” Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang dipercaya; sehingga andai ada sesuatu yang lebih baik dari wakaf, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menasihatkannya kepada Umar. Jadi, Sedekah Jariyah pahalanya besar dan balasannya berlimpah. Bahkan, jika Sedekah Jariyah dikelola dengan baik bisa jadi lebih bermanfaat bagi pelakunya daripada anak yang berbakti. Saya mengenal seorang wanita yang tidak dikaruniai anak, tapi ia punya Sedekah Jariyah. Pengelola wakaf atau Sedekah Jariyah itu berkata: “Seandainya ia punya anak yang berbakti, niscaya anak itu tidak akan mampu melakukan untuknya seperti apa yang dilakukan oleh wakaf tersebut. Karena pendapatan dari wakaf itu telah disalurkan kepada banyak sekali jalur kebaikan.” Ini menunjukkan keutamaan wakaf, dan ia akan tetap memberi manfaat bagi pelakunya semasa hidup dan setelah wafatnya. Maka dari itu, wahai saudara Muslimku! Jika kamu punya kemampuan untuk berwakaf agar segera melakukannya! Karena itu termasuk peninggalan baik yang tetap memberi kebaikan bagi pelakunya setelah kematiannya. ==== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ وَقَوْلُهُ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ الْمُرَادُ بِالصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ الْوَقْفُ فَالْوَقْفُ يَجْرِي ثَوَابُهُ لِلْمُوْقِفِ مَا دَامَ أَنَّ الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ يَجْرِي لَهُ ثَوَابُهُ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ فِي قَبْرِهِ يَدُرُّ عَلَيْهِ وَقْفُهُ حَسَنَاتٍ؟ وَمَا دَامَ أَنَّ هَذَا الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ فَأَجْرُهُ يَجْرِي وَيَدُرُّ عَلَيْهِ الْوَقْفُ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَهَذِهِ مِنَ الْآثَارِ الَّتِي يَنْتَفِعُ بِهَا الْمُسْلِمُ بَعْدَ مَمَاتِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ يُكْتَبُ لِلْإِنْسَانِ مَا قَدَّمَتْ يَدُهُ مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ مِنْ صَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ وَيُكْتَبُ لَهُ أَيْضًا الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفَهَا وَمِنْ ذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ الْوَقْفُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِم إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تُبَادِرَ لِلْوَقْفِ فَإِنَّ أَجْرَهُ عَظِيمٌ بَلْ إِنَّهُ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الأَمْوَالُ وَلِهَذَا قَالَ عُمَرُ أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ هِيَ أَنْفَسُ مَالٍ أَصَبْتُهُ فِي حَيَاتِي فَاسْتَشَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا أَصْنَعُ فِيهِ؟ فَأَشَارَ عَلَيَّ بِالْوَقْفِ وَالْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ فَلَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ فَالصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ ثَوَابُهَا عَظِيْمٌ وَأَجْرُهَا جَزِيْلٌ بَلْ إِنَّ الصَّدَقَةَ الْجَارِيَةَ إِذَا أُحْسِنَ نَظَارَتُهَا رُبَّمَا أَنَّهَا تَنْفَعُ الْإِنْسَانَ أَكْثَرَ مِنَ الِابْنِ الْبَارِّ وَأَعْرِفُ امْرَأَةً لَمْ تُرْزَقْ بِأَوْلَادٍ لَكِنْ جَعَلَتْ لَهَا صَدَقَةً جَارِيَةً يَقُولُ النَّاظِرُ عَلَى هَذَا الْوَقْفِ أَوْ هَذِهِ الصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ يَقُولُ لَوْ كَانَ لَهَا ابْنٌ بَارٌّ لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَفْعَلَ كَمَا فَعَلَ هَذَا الْوَقْفُ لِكَوْنِهِ قَدْ صُرِفَ مِنْ رَيْعِ هَذَا الْوَقْفِ فِي وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ مِنَ الْبِرِّ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ الْوَقْفِ وَأَنَّهُ يَنْفَعُ الْإِنْسَانَ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تَبَادِرَ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ مِنَ الْآثَارِ الْحَسَنَةِ الَّتِي تَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ

Mengapa Kita Harus Bersedekah Jariyah? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) Sedekah Jariyah. (2) Ilmu yang bermanfaat. (3) Anak saleh yang mendoakannya.” Sabda beliau: Sedekah Jariyah, yang dimaksud adalah wakaf. Karena wakaf akan terus mengalir pahalanya bagi orang yang mewakafkan. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, pahalanya akan terus mengalir kepadanya semasa hidup dan setelah wafatnya. Betapa banyak orang yang sudah berada di dalam kuburnya, tapi pahala wakafnya terus mengalir untuknya. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, maka pahalanya terus mengalir. Harta yang diwakafkan itu terus memberinya pahala yang besar. Inilah salah satu peninggalan yang mendatangkan manfaat bagi seorang Muslim setelah wafatnya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanah, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12). Ditulis bagi manusia amal saleh yang telah ia kerjakan, seperti shalat, puasa, dan amal saleh lainnya. Ditulis juga baginya peninggalan-peninggalan baik yang ia tinggalkan. Di antaranya adalah Sedekah Jariyah, yakni wakaf. Oleh sebab itu, hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku, jika kamu mempunyai kemampuan untuk berwakaf, maka lakukanlah segera! Karena pahalanya besar sekali. Bahkan, ia merupakan cara terbaik untuk membelanjakan harta. Oleh sebab itu, Umar bin Khattab berkata: “Aku mendapat sebidang tanah di Khaibar; ia adalah harta paling berharga yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Lalu aku meminta nasihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang harus aku lakukan terhadapnya. Lalu beliau memberiku nasihat untuk mewakafkannya.” Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang dipercaya; sehingga andai ada sesuatu yang lebih baik dari wakaf, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menasihatkannya kepada Umar. Jadi, Sedekah Jariyah pahalanya besar dan balasannya berlimpah. Bahkan, jika Sedekah Jariyah dikelola dengan baik bisa jadi lebih bermanfaat bagi pelakunya daripada anak yang berbakti. Saya mengenal seorang wanita yang tidak dikaruniai anak, tapi ia punya Sedekah Jariyah. Pengelola wakaf atau Sedekah Jariyah itu berkata: “Seandainya ia punya anak yang berbakti, niscaya anak itu tidak akan mampu melakukan untuknya seperti apa yang dilakukan oleh wakaf tersebut. Karena pendapatan dari wakaf itu telah disalurkan kepada banyak sekali jalur kebaikan.” Ini menunjukkan keutamaan wakaf, dan ia akan tetap memberi manfaat bagi pelakunya semasa hidup dan setelah wafatnya. Maka dari itu, wahai saudara Muslimku! Jika kamu punya kemampuan untuk berwakaf agar segera melakukannya! Karena itu termasuk peninggalan baik yang tetap memberi kebaikan bagi pelakunya setelah kematiannya. ==== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ وَقَوْلُهُ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ الْمُرَادُ بِالصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ الْوَقْفُ فَالْوَقْفُ يَجْرِي ثَوَابُهُ لِلْمُوْقِفِ مَا دَامَ أَنَّ الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ يَجْرِي لَهُ ثَوَابُهُ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ فِي قَبْرِهِ يَدُرُّ عَلَيْهِ وَقْفُهُ حَسَنَاتٍ؟ وَمَا دَامَ أَنَّ هَذَا الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ فَأَجْرُهُ يَجْرِي وَيَدُرُّ عَلَيْهِ الْوَقْفُ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَهَذِهِ مِنَ الْآثَارِ الَّتِي يَنْتَفِعُ بِهَا الْمُسْلِمُ بَعْدَ مَمَاتِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ يُكْتَبُ لِلْإِنْسَانِ مَا قَدَّمَتْ يَدُهُ مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ مِنْ صَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ وَيُكْتَبُ لَهُ أَيْضًا الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفَهَا وَمِنْ ذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ الْوَقْفُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِم إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تُبَادِرَ لِلْوَقْفِ فَإِنَّ أَجْرَهُ عَظِيمٌ بَلْ إِنَّهُ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الأَمْوَالُ وَلِهَذَا قَالَ عُمَرُ أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ هِيَ أَنْفَسُ مَالٍ أَصَبْتُهُ فِي حَيَاتِي فَاسْتَشَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا أَصْنَعُ فِيهِ؟ فَأَشَارَ عَلَيَّ بِالْوَقْفِ وَالْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ فَلَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ فَالصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ ثَوَابُهَا عَظِيْمٌ وَأَجْرُهَا جَزِيْلٌ بَلْ إِنَّ الصَّدَقَةَ الْجَارِيَةَ إِذَا أُحْسِنَ نَظَارَتُهَا رُبَّمَا أَنَّهَا تَنْفَعُ الْإِنْسَانَ أَكْثَرَ مِنَ الِابْنِ الْبَارِّ وَأَعْرِفُ امْرَأَةً لَمْ تُرْزَقْ بِأَوْلَادٍ لَكِنْ جَعَلَتْ لَهَا صَدَقَةً جَارِيَةً يَقُولُ النَّاظِرُ عَلَى هَذَا الْوَقْفِ أَوْ هَذِهِ الصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ يَقُولُ لَوْ كَانَ لَهَا ابْنٌ بَارٌّ لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَفْعَلَ كَمَا فَعَلَ هَذَا الْوَقْفُ لِكَوْنِهِ قَدْ صُرِفَ مِنْ رَيْعِ هَذَا الْوَقْفِ فِي وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ مِنَ الْبِرِّ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ الْوَقْفِ وَأَنَّهُ يَنْفَعُ الْإِنْسَانَ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تَبَادِرَ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ مِنَ الْآثَارِ الْحَسَنَةِ الَّتِي تَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) Sedekah Jariyah. (2) Ilmu yang bermanfaat. (3) Anak saleh yang mendoakannya.” Sabda beliau: Sedekah Jariyah, yang dimaksud adalah wakaf. Karena wakaf akan terus mengalir pahalanya bagi orang yang mewakafkan. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, pahalanya akan terus mengalir kepadanya semasa hidup dan setelah wafatnya. Betapa banyak orang yang sudah berada di dalam kuburnya, tapi pahala wakafnya terus mengalir untuknya. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, maka pahalanya terus mengalir. Harta yang diwakafkan itu terus memberinya pahala yang besar. Inilah salah satu peninggalan yang mendatangkan manfaat bagi seorang Muslim setelah wafatnya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanah, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12). Ditulis bagi manusia amal saleh yang telah ia kerjakan, seperti shalat, puasa, dan amal saleh lainnya. Ditulis juga baginya peninggalan-peninggalan baik yang ia tinggalkan. Di antaranya adalah Sedekah Jariyah, yakni wakaf. Oleh sebab itu, hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku, jika kamu mempunyai kemampuan untuk berwakaf, maka lakukanlah segera! Karena pahalanya besar sekali. Bahkan, ia merupakan cara terbaik untuk membelanjakan harta. Oleh sebab itu, Umar bin Khattab berkata: “Aku mendapat sebidang tanah di Khaibar; ia adalah harta paling berharga yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Lalu aku meminta nasihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang harus aku lakukan terhadapnya. Lalu beliau memberiku nasihat untuk mewakafkannya.” Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang dipercaya; sehingga andai ada sesuatu yang lebih baik dari wakaf, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menasihatkannya kepada Umar. Jadi, Sedekah Jariyah pahalanya besar dan balasannya berlimpah. Bahkan, jika Sedekah Jariyah dikelola dengan baik bisa jadi lebih bermanfaat bagi pelakunya daripada anak yang berbakti. Saya mengenal seorang wanita yang tidak dikaruniai anak, tapi ia punya Sedekah Jariyah. Pengelola wakaf atau Sedekah Jariyah itu berkata: “Seandainya ia punya anak yang berbakti, niscaya anak itu tidak akan mampu melakukan untuknya seperti apa yang dilakukan oleh wakaf tersebut. Karena pendapatan dari wakaf itu telah disalurkan kepada banyak sekali jalur kebaikan.” Ini menunjukkan keutamaan wakaf, dan ia akan tetap memberi manfaat bagi pelakunya semasa hidup dan setelah wafatnya. Maka dari itu, wahai saudara Muslimku! Jika kamu punya kemampuan untuk berwakaf agar segera melakukannya! Karena itu termasuk peninggalan baik yang tetap memberi kebaikan bagi pelakunya setelah kematiannya. ==== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ وَقَوْلُهُ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ الْمُرَادُ بِالصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ الْوَقْفُ فَالْوَقْفُ يَجْرِي ثَوَابُهُ لِلْمُوْقِفِ مَا دَامَ أَنَّ الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ يَجْرِي لَهُ ثَوَابُهُ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ فِي قَبْرِهِ يَدُرُّ عَلَيْهِ وَقْفُهُ حَسَنَاتٍ؟ وَمَا دَامَ أَنَّ هَذَا الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ فَأَجْرُهُ يَجْرِي وَيَدُرُّ عَلَيْهِ الْوَقْفُ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَهَذِهِ مِنَ الْآثَارِ الَّتِي يَنْتَفِعُ بِهَا الْمُسْلِمُ بَعْدَ مَمَاتِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ يُكْتَبُ لِلْإِنْسَانِ مَا قَدَّمَتْ يَدُهُ مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ مِنْ صَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ وَيُكْتَبُ لَهُ أَيْضًا الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفَهَا وَمِنْ ذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ الْوَقْفُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِم إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تُبَادِرَ لِلْوَقْفِ فَإِنَّ أَجْرَهُ عَظِيمٌ بَلْ إِنَّهُ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الأَمْوَالُ وَلِهَذَا قَالَ عُمَرُ أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ هِيَ أَنْفَسُ مَالٍ أَصَبْتُهُ فِي حَيَاتِي فَاسْتَشَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا أَصْنَعُ فِيهِ؟ فَأَشَارَ عَلَيَّ بِالْوَقْفِ وَالْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ فَلَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ فَالصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ ثَوَابُهَا عَظِيْمٌ وَأَجْرُهَا جَزِيْلٌ بَلْ إِنَّ الصَّدَقَةَ الْجَارِيَةَ إِذَا أُحْسِنَ نَظَارَتُهَا رُبَّمَا أَنَّهَا تَنْفَعُ الْإِنْسَانَ أَكْثَرَ مِنَ الِابْنِ الْبَارِّ وَأَعْرِفُ امْرَأَةً لَمْ تُرْزَقْ بِأَوْلَادٍ لَكِنْ جَعَلَتْ لَهَا صَدَقَةً جَارِيَةً يَقُولُ النَّاظِرُ عَلَى هَذَا الْوَقْفِ أَوْ هَذِهِ الصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ يَقُولُ لَوْ كَانَ لَهَا ابْنٌ بَارٌّ لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَفْعَلَ كَمَا فَعَلَ هَذَا الْوَقْفُ لِكَوْنِهِ قَدْ صُرِفَ مِنْ رَيْعِ هَذَا الْوَقْفِ فِي وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ مِنَ الْبِرِّ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ الْوَقْفِ وَأَنَّهُ يَنْفَعُ الْإِنْسَانَ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تَبَادِرَ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ مِنَ الْآثَارِ الْحَسَنَةِ الَّتِي تَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ


Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) Sedekah Jariyah. (2) Ilmu yang bermanfaat. (3) Anak saleh yang mendoakannya.” Sabda beliau: Sedekah Jariyah, yang dimaksud adalah wakaf. Karena wakaf akan terus mengalir pahalanya bagi orang yang mewakafkan. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, pahalanya akan terus mengalir kepadanya semasa hidup dan setelah wafatnya. Betapa banyak orang yang sudah berada di dalam kuburnya, tapi pahala wakafnya terus mengalir untuknya. Selama wakaf itu masih dimanfaatkan, maka pahalanya terus mengalir. Harta yang diwakafkan itu terus memberinya pahala yang besar. Inilah salah satu peninggalan yang mendatangkan manfaat bagi seorang Muslim setelah wafatnya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanah, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12). Ditulis bagi manusia amal saleh yang telah ia kerjakan, seperti shalat, puasa, dan amal saleh lainnya. Ditulis juga baginya peninggalan-peninggalan baik yang ia tinggalkan. Di antaranya adalah Sedekah Jariyah, yakni wakaf. Oleh sebab itu, hendaklah kamu, wahai saudara Muslimku, jika kamu mempunyai kemampuan untuk berwakaf, maka lakukanlah segera! Karena pahalanya besar sekali. Bahkan, ia merupakan cara terbaik untuk membelanjakan harta. Oleh sebab itu, Umar bin Khattab berkata: “Aku mendapat sebidang tanah di Khaibar; ia adalah harta paling berharga yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Lalu aku meminta nasihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang harus aku lakukan terhadapnya. Lalu beliau memberiku nasihat untuk mewakafkannya.” Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang dipercaya; sehingga andai ada sesuatu yang lebih baik dari wakaf, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menasihatkannya kepada Umar. Jadi, Sedekah Jariyah pahalanya besar dan balasannya berlimpah. Bahkan, jika Sedekah Jariyah dikelola dengan baik bisa jadi lebih bermanfaat bagi pelakunya daripada anak yang berbakti. Saya mengenal seorang wanita yang tidak dikaruniai anak, tapi ia punya Sedekah Jariyah. Pengelola wakaf atau Sedekah Jariyah itu berkata: “Seandainya ia punya anak yang berbakti, niscaya anak itu tidak akan mampu melakukan untuknya seperti apa yang dilakukan oleh wakaf tersebut. Karena pendapatan dari wakaf itu telah disalurkan kepada banyak sekali jalur kebaikan.” Ini menunjukkan keutamaan wakaf, dan ia akan tetap memberi manfaat bagi pelakunya semasa hidup dan setelah wafatnya. Maka dari itu, wahai saudara Muslimku! Jika kamu punya kemampuan untuk berwakaf agar segera melakukannya! Karena itu termasuk peninggalan baik yang tetap memberi kebaikan bagi pelakunya setelah kematiannya. ==== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ وَقَوْلُهُ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ الْمُرَادُ بِالصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ الْوَقْفُ فَالْوَقْفُ يَجْرِي ثَوَابُهُ لِلْمُوْقِفِ مَا دَامَ أَنَّ الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ يَجْرِي لَهُ ثَوَابُهُ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ فِي قَبْرِهِ يَدُرُّ عَلَيْهِ وَقْفُهُ حَسَنَاتٍ؟ وَمَا دَامَ أَنَّ هَذَا الْوَقْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ فَأَجْرُهُ يَجْرِي وَيَدُرُّ عَلَيْهِ الْوَقْفُ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَهَذِهِ مِنَ الْآثَارِ الَّتِي يَنْتَفِعُ بِهَا الْمُسْلِمُ بَعْدَ مَمَاتِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ يُكْتَبُ لِلْإِنْسَانِ مَا قَدَّمَتْ يَدُهُ مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ مِنْ صَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ وَيُكْتَبُ لَهُ أَيْضًا الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفَهَا وَمِنْ ذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ الْوَقْفُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِم إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تُبَادِرَ لِلْوَقْفِ فَإِنَّ أَجْرَهُ عَظِيمٌ بَلْ إِنَّهُ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الأَمْوَالُ وَلِهَذَا قَالَ عُمَرُ أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ هِيَ أَنْفَسُ مَالٍ أَصَبْتُهُ فِي حَيَاتِي فَاسْتَشَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا أَصْنَعُ فِيهِ؟ فَأَشَارَ عَلَيَّ بِالْوَقْفِ وَالْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ فَلَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ فَالصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ ثَوَابُهَا عَظِيْمٌ وَأَجْرُهَا جَزِيْلٌ بَلْ إِنَّ الصَّدَقَةَ الْجَارِيَةَ إِذَا أُحْسِنَ نَظَارَتُهَا رُبَّمَا أَنَّهَا تَنْفَعُ الْإِنْسَانَ أَكْثَرَ مِنَ الِابْنِ الْبَارِّ وَأَعْرِفُ امْرَأَةً لَمْ تُرْزَقْ بِأَوْلَادٍ لَكِنْ جَعَلَتْ لَهَا صَدَقَةً جَارِيَةً يَقُولُ النَّاظِرُ عَلَى هَذَا الْوَقْفِ أَوْ هَذِهِ الصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ يَقُولُ لَوْ كَانَ لَهَا ابْنٌ بَارٌّ لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَفْعَلَ كَمَا فَعَلَ هَذَا الْوَقْفُ لِكَوْنِهِ قَدْ صُرِفَ مِنْ رَيْعِ هَذَا الْوَقْفِ فِي وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ مِنَ الْبِرِّ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ الْوَقْفِ وَأَنَّهُ يَنْفَعُ الْإِنْسَانَ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكَ قُدْرَةٌ عَلَى الْوَقْفِ أَنْ تَبَادِرَ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ مِنَ الْآثَارِ الْحَسَنَةِ الَّتِي تَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ

Pelajaran dari Imran bin Hittan: Ketika Akidah Tergadaikan oleh Cinta

Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat. Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij. Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir. Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj. Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.” Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij). Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.” Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini. وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَا إِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا أَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢) Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu: Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannya Kecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy. Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku menduga Bahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah. Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka, Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan. Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah  * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.” Baca juga: Tiga Sifat Khawarij   Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut: 1. Berhati-hati dalam Memilih Pasangan Pasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan. 2. Niat Baik Tidak Selalu Cukup Niat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan. 3. Godaan Duniawi Bisa Membutakan Kecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan. 4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam Iman Keteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat. Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan! 5. Kisah Sebagai Ibrah Kisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat.   PENUTUP Kisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum – @ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat Shubuh Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama

Pelajaran dari Imran bin Hittan: Ketika Akidah Tergadaikan oleh Cinta

Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat. Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij. Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir. Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj. Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.” Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij). Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.” Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini. وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَا إِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا أَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢) Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu: Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannya Kecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy. Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku menduga Bahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah. Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka, Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan. Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah  * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.” Baca juga: Tiga Sifat Khawarij   Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut: 1. Berhati-hati dalam Memilih Pasangan Pasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan. 2. Niat Baik Tidak Selalu Cukup Niat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan. 3. Godaan Duniawi Bisa Membutakan Kecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan. 4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam Iman Keteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat. Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan! 5. Kisah Sebagai Ibrah Kisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat.   PENUTUP Kisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum – @ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat Shubuh Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama
Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat. Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij. Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir. Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj. Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.” Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij). Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.” Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini. وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَا إِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا أَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢) Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu: Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannya Kecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy. Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku menduga Bahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah. Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka, Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan. Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah  * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.” Baca juga: Tiga Sifat Khawarij   Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut: 1. Berhati-hati dalam Memilih Pasangan Pasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan. 2. Niat Baik Tidak Selalu Cukup Niat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan. 3. Godaan Duniawi Bisa Membutakan Kecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan. 4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam Iman Keteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat. Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan! 5. Kisah Sebagai Ibrah Kisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat.   PENUTUP Kisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum – @ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat Shubuh Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama


Kisah Imran bin Hittan menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemahaman yang salah dapat merusak akidah seseorang, bahkan dari kalangan yang memiliki ilmu. Niat baik yang tidak diiringi dengan keteguhan iman justru membawanya terjerumus dalam pemahaman Khawarij, hingga memuji tindakan yang bertentangan dengan syariat. Imran bin Hittan bin Dhubyan as-Sadusi al-Bashri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka, tetapi ia juga menjadi salah satu pemimpin Khawarij. Ia meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, seperti Aisyah, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas. Sementara itu, di antara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir. Abu Dawud berkata, “Tidak ada kelompok pengikut hawa nafsu yang haditsnya lebih sahih daripada Khawarij.” Lalu ia menyebutkan Imran bin Hittan dan Abu Hassan al-A’raj. Al-Farazdaq berkata, “Imran bin Hittan adalah salah satu penyair paling fasih. Jika ia ingin berkata seperti kami, ia mampu melakukannya. Namun, kami tidak mampu berkata sefasih dia.” Dikisahkan oleh Salamah bin Alqamah, dari Ibnu Sirin, bahwa Imran menikahi seorang wanita Khawarij dan berkata, “Aku akan mengembalikannya ke jalan yang benar.” Namun, wanita tersebut justru mempengaruhinya hingga ia mengikuti pemahamannya (Khawarij). Al-Mada’ini menyebutkan bahwa wanita itu sangat cantik, sedangkan Imran memiliki rupa yang buruk. Suatu hari, wanita tersebut membuatnya terpukau, lalu berkata, “Aku dan kamu akan masuk surga, karena kamu diberi nikmat dan bersyukur, sedangkan aku diberi ujian dan bersabar.” Di antara kesesatan Imran bin Hittan dengan pemahaman Khawarijnya, ia malah memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib. Perhatikan nukilan lanjutan di Siyar A’lam An-Nubala’ berikut ini. وَمِنْ شِعْرِهِ فِي مَصْرَعِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا … إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَا إِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ … أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا أَكْرِمْ بِقَوْمٍ بُطُوْنُ الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ … لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا (٢) Dari syairnya tentang terbunuhnya Ali radhiyallahu ‘anhu: Wahai, pukulan seorang yang bertakwa, ia tidak menginginkannya Kecuali untuk meraih rida dari Dzat yang memiliki ‘Arsy. Sungguh, aku mengingatnya sesekali dan aku menduga Bahwa dia adalah manusia dengan timbangan amal paling berat di sisi Allah. Muliakanlah suatu kaum yang perut burung menjadi kubur mereka, Mereka tidak mencampur agama mereka dengan kedzaliman dan permusuhan. Pujian Imran bin Hittan terhadap pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kerusakan pemahamannya setelah terpengaruh ideologi Khawarij. Dalam syair tersebut, ia menggambarkan tindakan pembunuh Ali, yakni Abdurrahman bin Muljam, sebagai “pukulan seorang yang bertakwa” dengan tujuan meraih rida Allah, padahal tindakan itu adalah kejahatan besar dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Dinukil dari Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah  * Khawarij adalah kelompok ekstrem yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib, dikenal karena mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak terhadap pemimpin sah. Mereka menyimpang dengan memahami Al-Qur’an secara kaku dan menumpahkan darah sesama muslim. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut mereka sebagai “anjing-anjing neraka.” Baca juga: Tiga Sifat Khawarij   Berikut beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut: 1. Berhati-hati dalam Memilih Pasangan Pasangan hidup memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan dan prinsip seseorang. Pilihan yang salah dapat membawa pada penyimpangan akidah, seperti yang terjadi pada Imran bin Hittan. 2. Niat Baik Tidak Selalu Cukup Niat Imran untuk mengajak istrinya ke jalan yang benar adalah niat mulia, tetapi niat tersebut harus diiringi kesiapan ilmu dan kemampuan menghadapi pengaruh buruk. Jika tidak, niat baik bisa berbalik menjadi keburukan. 3. Godaan Duniawi Bisa Membutakan Kecantikan wanita tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Imran terpengaruh, menunjukkan bagaimana duniawi dapat menjadi ujian berat bagi keimanan. 4. Pentingnya Keteguhan Prinsip dalam Iman Keteguhan dalam akidah dan iman adalah benteng utama untuk menghadapi pengaruh buruk dari lingkungan atau pasangan. Kelemahan prinsip dapat membawa seseorang terjerumus dalam pemahaman sesat. Baca juga: Jangan Mudah Mengafirkan! 5. Kisah Sebagai Ibrah Kisah ini menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap pemahaman yang menyimpang dan menjaga akidah dari pengaruh buruk, termasuk dari orang-orang terdekat.   PENUTUP Kisah Imran bin Hittan mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa keteguhan akidah dan pemahaman yang benar terhadap syariat. Berhati-hati dalam memilih pasangan hidup dan lingkungan adalah kunci untuk menjaga keimanan tetap lurus. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Baca juga: Mukmin Masuk Neraka, Mustahil Lagi Masuk Surga Bagai Unta Masuk dalam Lubang Jarum – @ Ambarawa, 12 Rajab 1446 H, 12-01-2025, bakda shalat Shubuh Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya ekstremisme cerita inspiratif dari ulama terdahulu khawarij Kisah Imran bin Hittan memilih pasangan hidup menjaga keimanan pelajaran dari sejarah Islam pemahaman sesat pengaruh lingkungan terhadap iman pentingnya akidah sejarah ulama

Mengapa Kita harus Punya Amalan Rahasia? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang tinggi derajatnya seperti Imam Malik. Beliau mencapai derajat itu bukan karena banyaknya shalat atau puasa. Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala memberi komentar atas pernyataan ini, dengan berkata, “Itu karena apa yang dilakukan Imam Malik berupa menyebarkan dan mengajarkan ilmu lebih utama daripada banyaknya shalat dan puasa.” Ini salah satu alasannya. Karena perhatian besar pada amalan-amalan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang lebih utama daripada amalan-amalan yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya saja. Namun, ada juga alasan lainnya, yaitu alasan yang diisyaratkan oleh Ibnu al-Mubarak itu sendiri: “Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Jadi, alasan yang lebih kuatnya–Allahu a’lam–adalah karena Imam Malik dulu punya ibadah rahasia. Beliau punya ibadah-ibadah yang beliau rahasiakan, yang dengan ibadah itu, Allah Ta’ala meninggikan derajatnya. Yang menjadi tolok ukur adalah yang tersembunyi (niat atau isi hati) dan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Bukan apa yang tampak di hadapan manusia. Karena bisa jadi ada orang yang terlihat dalam tampilan seperti orang yang sedikit melakukan amal saleh. Namun antara dirinya dengan Tuhannya terdapat rahasia. Bisa jadi ia punya perhatian besar terhadap amalan hati yang dapat meninggikan derajatnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi juga ia punya amal-amal saleh yang ia lakukan secara rahasia, sehingga itu meninggikan derajatnya. Jadi, patokannya adalah apa yang ada dalam hati dan amalan-amalan rahasia, karena itulah yang dapat mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla menuju derajat yang tinggi. ==== قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا ارْتَفَعَ قَدْرُهُ مِثْلَ الْإِمَامِ مَالِكٍ لَمْ يَكُنْ كَثِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَعَلَّقَ عَلَى هَذَا الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْجَمِيعِ فَقَالَ إِنَّ مَا فِيهِ الْإِمَامُ مَالِكٌ مِنْ نَشْرِ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمِهِ أَفْضَلُ مِنْ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَهَذَا جَانِبٌ أَنَّ الْعِنَايَةَ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ أَفْضَلُ مِنَ الْعِنَايَةِ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا قَاصِرٌ عَلَى صَاحِبِهَا لَكِنْ أَيْضًا الْأَمْرُ الْآخَرُ هُوَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ مُبَارَكٍ نَفْسُهُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ فَالَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا كَانَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَكَانَ لَهُ عِبَادَاتٌ فِي الْخَفَاءِ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا قَدْرَهُ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ وَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لَا بِمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَظْهَرُ بِمَظْهَرِ الْمُقِلِّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَكِنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ سَرِيرِةٌ فَقَدْ يَكُونُ لَهُ عِنَايَةٌ بِأَعْمَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَظِيمَةً وَقَدْ يَكُونُ لَهُ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ يَعْمَلُهَا فِي الْخَفَاءِ تَرْفَعُ قَدْرَهُ فَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ فَهِيَ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَلِيَّةً

Mengapa Kita harus Punya Amalan Rahasia? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang tinggi derajatnya seperti Imam Malik. Beliau mencapai derajat itu bukan karena banyaknya shalat atau puasa. Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala memberi komentar atas pernyataan ini, dengan berkata, “Itu karena apa yang dilakukan Imam Malik berupa menyebarkan dan mengajarkan ilmu lebih utama daripada banyaknya shalat dan puasa.” Ini salah satu alasannya. Karena perhatian besar pada amalan-amalan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang lebih utama daripada amalan-amalan yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya saja. Namun, ada juga alasan lainnya, yaitu alasan yang diisyaratkan oleh Ibnu al-Mubarak itu sendiri: “Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Jadi, alasan yang lebih kuatnya–Allahu a’lam–adalah karena Imam Malik dulu punya ibadah rahasia. Beliau punya ibadah-ibadah yang beliau rahasiakan, yang dengan ibadah itu, Allah Ta’ala meninggikan derajatnya. Yang menjadi tolok ukur adalah yang tersembunyi (niat atau isi hati) dan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Bukan apa yang tampak di hadapan manusia. Karena bisa jadi ada orang yang terlihat dalam tampilan seperti orang yang sedikit melakukan amal saleh. Namun antara dirinya dengan Tuhannya terdapat rahasia. Bisa jadi ia punya perhatian besar terhadap amalan hati yang dapat meninggikan derajatnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi juga ia punya amal-amal saleh yang ia lakukan secara rahasia, sehingga itu meninggikan derajatnya. Jadi, patokannya adalah apa yang ada dalam hati dan amalan-amalan rahasia, karena itulah yang dapat mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla menuju derajat yang tinggi. ==== قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا ارْتَفَعَ قَدْرُهُ مِثْلَ الْإِمَامِ مَالِكٍ لَمْ يَكُنْ كَثِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَعَلَّقَ عَلَى هَذَا الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْجَمِيعِ فَقَالَ إِنَّ مَا فِيهِ الْإِمَامُ مَالِكٌ مِنْ نَشْرِ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمِهِ أَفْضَلُ مِنْ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَهَذَا جَانِبٌ أَنَّ الْعِنَايَةَ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ أَفْضَلُ مِنَ الْعِنَايَةِ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا قَاصِرٌ عَلَى صَاحِبِهَا لَكِنْ أَيْضًا الْأَمْرُ الْآخَرُ هُوَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ مُبَارَكٍ نَفْسُهُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ فَالَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا كَانَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَكَانَ لَهُ عِبَادَاتٌ فِي الْخَفَاءِ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا قَدْرَهُ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ وَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لَا بِمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَظْهَرُ بِمَظْهَرِ الْمُقِلِّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَكِنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ سَرِيرِةٌ فَقَدْ يَكُونُ لَهُ عِنَايَةٌ بِأَعْمَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَظِيمَةً وَقَدْ يَكُونُ لَهُ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ يَعْمَلُهَا فِي الْخَفَاءِ تَرْفَعُ قَدْرَهُ فَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ فَهِيَ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَلِيَّةً
Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang tinggi derajatnya seperti Imam Malik. Beliau mencapai derajat itu bukan karena banyaknya shalat atau puasa. Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala memberi komentar atas pernyataan ini, dengan berkata, “Itu karena apa yang dilakukan Imam Malik berupa menyebarkan dan mengajarkan ilmu lebih utama daripada banyaknya shalat dan puasa.” Ini salah satu alasannya. Karena perhatian besar pada amalan-amalan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang lebih utama daripada amalan-amalan yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya saja. Namun, ada juga alasan lainnya, yaitu alasan yang diisyaratkan oleh Ibnu al-Mubarak itu sendiri: “Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Jadi, alasan yang lebih kuatnya–Allahu a’lam–adalah karena Imam Malik dulu punya ibadah rahasia. Beliau punya ibadah-ibadah yang beliau rahasiakan, yang dengan ibadah itu, Allah Ta’ala meninggikan derajatnya. Yang menjadi tolok ukur adalah yang tersembunyi (niat atau isi hati) dan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Bukan apa yang tampak di hadapan manusia. Karena bisa jadi ada orang yang terlihat dalam tampilan seperti orang yang sedikit melakukan amal saleh. Namun antara dirinya dengan Tuhannya terdapat rahasia. Bisa jadi ia punya perhatian besar terhadap amalan hati yang dapat meninggikan derajatnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi juga ia punya amal-amal saleh yang ia lakukan secara rahasia, sehingga itu meninggikan derajatnya. Jadi, patokannya adalah apa yang ada dalam hati dan amalan-amalan rahasia, karena itulah yang dapat mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla menuju derajat yang tinggi. ==== قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا ارْتَفَعَ قَدْرُهُ مِثْلَ الْإِمَامِ مَالِكٍ لَمْ يَكُنْ كَثِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَعَلَّقَ عَلَى هَذَا الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْجَمِيعِ فَقَالَ إِنَّ مَا فِيهِ الْإِمَامُ مَالِكٌ مِنْ نَشْرِ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمِهِ أَفْضَلُ مِنْ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَهَذَا جَانِبٌ أَنَّ الْعِنَايَةَ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ أَفْضَلُ مِنَ الْعِنَايَةِ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا قَاصِرٌ عَلَى صَاحِبِهَا لَكِنْ أَيْضًا الْأَمْرُ الْآخَرُ هُوَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ مُبَارَكٍ نَفْسُهُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ فَالَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا كَانَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَكَانَ لَهُ عِبَادَاتٌ فِي الْخَفَاءِ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا قَدْرَهُ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ وَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لَا بِمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَظْهَرُ بِمَظْهَرِ الْمُقِلِّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَكِنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ سَرِيرِةٌ فَقَدْ يَكُونُ لَهُ عِنَايَةٌ بِأَعْمَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَظِيمَةً وَقَدْ يَكُونُ لَهُ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ يَعْمَلُهَا فِي الْخَفَاءِ تَرْفَعُ قَدْرَهُ فَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ فَهِيَ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَلِيَّةً


Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang tinggi derajatnya seperti Imam Malik. Beliau mencapai derajat itu bukan karena banyaknya shalat atau puasa. Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala memberi komentar atas pernyataan ini, dengan berkata, “Itu karena apa yang dilakukan Imam Malik berupa menyebarkan dan mengajarkan ilmu lebih utama daripada banyaknya shalat dan puasa.” Ini salah satu alasannya. Karena perhatian besar pada amalan-amalan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang lebih utama daripada amalan-amalan yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya saja. Namun, ada juga alasan lainnya, yaitu alasan yang diisyaratkan oleh Ibnu al-Mubarak itu sendiri: “Hanya saja karena beliau punya ibadah rahasia.” Jadi, alasan yang lebih kuatnya–Allahu a’lam–adalah karena Imam Malik dulu punya ibadah rahasia. Beliau punya ibadah-ibadah yang beliau rahasiakan, yang dengan ibadah itu, Allah Ta’ala meninggikan derajatnya. Yang menjadi tolok ukur adalah yang tersembunyi (niat atau isi hati) dan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Bukan apa yang tampak di hadapan manusia. Karena bisa jadi ada orang yang terlihat dalam tampilan seperti orang yang sedikit melakukan amal saleh. Namun antara dirinya dengan Tuhannya terdapat rahasia. Bisa jadi ia punya perhatian besar terhadap amalan hati yang dapat meninggikan derajatnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi juga ia punya amal-amal saleh yang ia lakukan secara rahasia, sehingga itu meninggikan derajatnya. Jadi, patokannya adalah apa yang ada dalam hati dan amalan-amalan rahasia, karena itulah yang dapat mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla menuju derajat yang tinggi. ==== قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا ارْتَفَعَ قَدْرُهُ مِثْلَ الْإِمَامِ مَالِكٍ لَمْ يَكُنْ كَثِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَعَلَّقَ عَلَى هَذَا الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْجَمِيعِ فَقَالَ إِنَّ مَا فِيهِ الْإِمَامُ مَالِكٌ مِنْ نَشْرِ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمِهِ أَفْضَلُ مِنْ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَهَذَا جَانِبٌ أَنَّ الْعِنَايَةَ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ أَفْضَلُ مِنَ الْعِنَايَةِ بِالْأَعْمَالِ الَّتِي نَفْعُهَا قَاصِرٌ عَلَى صَاحِبِهَا لَكِنْ أَيْضًا الْأَمْرُ الْآخَرُ هُوَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ مُبَارَكٍ نَفْسُهُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ سَرِيرَةٌ فَالَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا كَانَ لَهُ سَرِيرَةٌ وَكَانَ لَهُ عِبَادَاتٌ فِي الْخَفَاءِ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا قَدْرَهُ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ وَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لَا بِمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَظْهَرُ بِمَظْهَرِ الْمُقِلِّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَكِنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ سَرِيرِةٌ فَقَدْ يَكُونُ لَهُ عِنَايَةٌ بِأَعْمَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَظِيمَةً وَقَدْ يَكُونُ لَهُ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ يَعْمَلُهَا فِي الْخَفَاءِ تَرْفَعُ قَدْرَهُ فَالْعِبْرَةُ بِمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ وَالْعِبْرَةُ بِالسَّرَائِرِ فَهِيَ الَّتِي تَرْفَعُ أَصْحَابَهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَرَجَاتٍ عَلِيَّةً

Bekal Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Daftar Isi Toggle Pertama: Meluruskan niatKedua: Bekalilah diri dengan ketakwaanKetiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasanganKeempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka.Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Pernikahan adalah momentum penting dalam kehidupan setiap muslim. Memerlukan pemikiran yang serius serta perencanaan yang matang dan mendalam untuk memastikan bahwa kehidupan pernikahan yang akan dijalaninya tersebut penuh dengan kebahagiaan dan kestabilan. Seorang laki-laki dalam hal ini layaknya nahkoda yang membawa kapalnya menuju sebuah dermaga. Adapun perempuan, maka ia adalah anggota kapal yang harus bekerja sama untuk mengarungi lautan tersebut dan mencapai tujuannya. Layaknya sebuah kapal yang akan berlayar, memerlukan perbekalan, logistik, dan seorang nahkoda yang memahami arah angin serta mengenal lautan dengan baik. Maka, demikian juga dengan kehidupan rumah tangga yang memerlukan perbekalan yang akan membantu seseorang untuk menghadapi ujian-ujian dan cobaan-cobaan di dalamnya. Ada banyak poin utama yang harus difokuskan oleh masing-masing suami dan istri sebelum menikah agar terhindar dari permasalahan yang mungkin terjadi di kemudian hari dan demi tercapainya saling pengertian di antara keduanya. Dalam artikel ini, akan kita bahas poin-poin terpenting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan seseorang sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Setidaknya ada lima poin penting yang setiap pasangan harus memahaminya dan berbekal dengannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga ini. Pertama: Meluruskan niat Menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga bagi seorang muslim adalah sebuah ibadah dan itu merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Selayaknya ibadah lainnya yang wajib dimulai dengan niat yang benar, ibadah pernikahan pun perlu dimulai dengan niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan kepada kita bahwa menikah adalah termasuk bentuk kesempurnaan agama. Beliau bersabda, إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ. “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 625.) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para pemuda yang sudah mampu untuk menikah untuk bersegera menikah. Beliau pernah bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.) Dari kedua hadis tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa seorang muslim hendaknya meluruskan niatnya sebelum menikah. Bahwa apa yang akan dilakukannya tersebut merupakan salah satu ibadah yang harus ia ikhlaskan untuk Allah Ta’ala, dan di dalam proses menuju pernikahannya tersebut ia berhati-hati untuk tidak melakukan larangan-larangan Allah Ta’ala. Tidak memulainya dengan pacaran, menghubungi lawan jenis yang bukan mahramnya, dan hal hal yang dilarang lainnya. Kedua: Bekalilah diri dengan ketakwaan Di hadis yang telah kita bahas sebelumnya, tatkala Nabi menyebutkan bahwa pernikahan seorang hamba akan menyempurnakan separuh agamanya, setelahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa cara menyempurnakan separuh sisanya adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Mereka yang akan menikah atau sudah menikah, maka sangat ditekankan untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan memperbanyak amal ibadah, berdoa, begitu pula dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya. Dengan bekal takwa inilah, Allah Ta’ala menjanjikan terbukanya pintu-pintu rezeki serta pintu-pintu kemudahan kepada para pelakunya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3) Seseorang yang sedang menuju jenjang pernikahan, dengan ketakwaannya kepada Allah, niscaya akan Allah berikan kepadanya jodoh yang tepat, akan Allah berikan kepadanya beragam kemudahan dan kelancaran di dalam menjalankan prosesnya. Baca juga: Rumah Tangga Tidak Mesti dengan Cinta Ketiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasangan Di dalam berumah tangga, masing-masing dari suami dan istri haruslah saling melengkapi dan menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing. Seorang laki-laki haruslah menjadi qawwam, pemimpin yang dapat diandalkan dan dapat menafkahi keluarganya, baik yang bersifat lahir maupun batin. Seorang wanita haruslah taat kepada suaminya selama suaminya tersebut tidak memerintahkannya kepada keburukan. Seorang istri haruslah menjaga kehormatan dirinya dan menjaga rumah suaminya. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hak dan kewajiban suami istri di dalam surah An-Nisa’, لرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa: 34) Dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing, sebuah rumah tangga akan menjadi tentram dan jauh dari problematika serta munculnya kezaliman di antara keduanya. Perlu kita ketahui bersama bahwa kebanyakan problem yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga seringkali bermula dari kebodohan dan ketidaktahuan pasangan akan hak dan kewajiban mereka masing-masing. Keempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka. Banyak pasangan yang menikah, mengaku muslim dan beragama Islam, namun lupa atau tidak tahu kewajiban pertama seorang suami kepada istrinya adalah menuntun mereka menuju surga dan menyelamatkan mereka dari api neraka, bukan sekedar memberikan nafkah dan kenyamanan saja. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Seorang suami tidak hanya diberikan kewajiban untuk mencari nafkah saja, mereka juga diwajibkan untuk belajar mengenai hal-hal yang akan menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari api neraka. Seorang istri juga harus menyadari tatkala suami melarangnya dari melakukan sesuatu yang haram atau mengajaknya untuk melakukan ketaatan, semua itu demi kebaikan untuk dirinya, sehingga ia tunduk dan patuh serta tidak membantah dan mendebat. Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Di zaman sekarang, banyak terdengar seorang istri yang tidak mau patuh kepada suaminya. Entah itu menolak tatkala diajak ke ranjang, tidak mau melaksanakan salat, tidak mengindahkan nasihat suami, ataupun bentuk-bentuk ketidakpatuhan lainnya. Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau inginkan.’ ” (HR. Ahmad no. 1661 dan Ibnu Hibban no. 4163) Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan, istri yang taat suami itulah yang dianggap sebagai wanita terbaik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu, yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad no. 7421.) Itulah wahai saudaraku, lima bekal mengarungi bahtera rumah tangga yang wajib diketahui oleh setiap laki-laki dan perempuan. Dengan memahami dan mengamalkan lima hal ini, seorang muslim memiliki peluang besar untuk mendapatkan rumah tangga yang harmonis, sakinah, dan penuh dengan kasih sayang dan kehangatan. Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing pasangan, maka kehidupan rumah tangganya insyaAllah akan jauh dari problem dan permasalahan serta diberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Wallahu A’lam bis-shawab. Baca juga: Nasihat ketika Konflik Rumah Tangga di Ujung Tanduk *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id

Bekal Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Daftar Isi Toggle Pertama: Meluruskan niatKedua: Bekalilah diri dengan ketakwaanKetiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasanganKeempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka.Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Pernikahan adalah momentum penting dalam kehidupan setiap muslim. Memerlukan pemikiran yang serius serta perencanaan yang matang dan mendalam untuk memastikan bahwa kehidupan pernikahan yang akan dijalaninya tersebut penuh dengan kebahagiaan dan kestabilan. Seorang laki-laki dalam hal ini layaknya nahkoda yang membawa kapalnya menuju sebuah dermaga. Adapun perempuan, maka ia adalah anggota kapal yang harus bekerja sama untuk mengarungi lautan tersebut dan mencapai tujuannya. Layaknya sebuah kapal yang akan berlayar, memerlukan perbekalan, logistik, dan seorang nahkoda yang memahami arah angin serta mengenal lautan dengan baik. Maka, demikian juga dengan kehidupan rumah tangga yang memerlukan perbekalan yang akan membantu seseorang untuk menghadapi ujian-ujian dan cobaan-cobaan di dalamnya. Ada banyak poin utama yang harus difokuskan oleh masing-masing suami dan istri sebelum menikah agar terhindar dari permasalahan yang mungkin terjadi di kemudian hari dan demi tercapainya saling pengertian di antara keduanya. Dalam artikel ini, akan kita bahas poin-poin terpenting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan seseorang sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Setidaknya ada lima poin penting yang setiap pasangan harus memahaminya dan berbekal dengannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga ini. Pertama: Meluruskan niat Menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga bagi seorang muslim adalah sebuah ibadah dan itu merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Selayaknya ibadah lainnya yang wajib dimulai dengan niat yang benar, ibadah pernikahan pun perlu dimulai dengan niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan kepada kita bahwa menikah adalah termasuk bentuk kesempurnaan agama. Beliau bersabda, إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ. “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 625.) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para pemuda yang sudah mampu untuk menikah untuk bersegera menikah. Beliau pernah bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.) Dari kedua hadis tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa seorang muslim hendaknya meluruskan niatnya sebelum menikah. Bahwa apa yang akan dilakukannya tersebut merupakan salah satu ibadah yang harus ia ikhlaskan untuk Allah Ta’ala, dan di dalam proses menuju pernikahannya tersebut ia berhati-hati untuk tidak melakukan larangan-larangan Allah Ta’ala. Tidak memulainya dengan pacaran, menghubungi lawan jenis yang bukan mahramnya, dan hal hal yang dilarang lainnya. Kedua: Bekalilah diri dengan ketakwaan Di hadis yang telah kita bahas sebelumnya, tatkala Nabi menyebutkan bahwa pernikahan seorang hamba akan menyempurnakan separuh agamanya, setelahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa cara menyempurnakan separuh sisanya adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Mereka yang akan menikah atau sudah menikah, maka sangat ditekankan untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan memperbanyak amal ibadah, berdoa, begitu pula dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya. Dengan bekal takwa inilah, Allah Ta’ala menjanjikan terbukanya pintu-pintu rezeki serta pintu-pintu kemudahan kepada para pelakunya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3) Seseorang yang sedang menuju jenjang pernikahan, dengan ketakwaannya kepada Allah, niscaya akan Allah berikan kepadanya jodoh yang tepat, akan Allah berikan kepadanya beragam kemudahan dan kelancaran di dalam menjalankan prosesnya. Baca juga: Rumah Tangga Tidak Mesti dengan Cinta Ketiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasangan Di dalam berumah tangga, masing-masing dari suami dan istri haruslah saling melengkapi dan menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing. Seorang laki-laki haruslah menjadi qawwam, pemimpin yang dapat diandalkan dan dapat menafkahi keluarganya, baik yang bersifat lahir maupun batin. Seorang wanita haruslah taat kepada suaminya selama suaminya tersebut tidak memerintahkannya kepada keburukan. Seorang istri haruslah menjaga kehormatan dirinya dan menjaga rumah suaminya. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hak dan kewajiban suami istri di dalam surah An-Nisa’, لرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa: 34) Dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing, sebuah rumah tangga akan menjadi tentram dan jauh dari problematika serta munculnya kezaliman di antara keduanya. Perlu kita ketahui bersama bahwa kebanyakan problem yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga seringkali bermula dari kebodohan dan ketidaktahuan pasangan akan hak dan kewajiban mereka masing-masing. Keempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka. Banyak pasangan yang menikah, mengaku muslim dan beragama Islam, namun lupa atau tidak tahu kewajiban pertama seorang suami kepada istrinya adalah menuntun mereka menuju surga dan menyelamatkan mereka dari api neraka, bukan sekedar memberikan nafkah dan kenyamanan saja. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Seorang suami tidak hanya diberikan kewajiban untuk mencari nafkah saja, mereka juga diwajibkan untuk belajar mengenai hal-hal yang akan menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari api neraka. Seorang istri juga harus menyadari tatkala suami melarangnya dari melakukan sesuatu yang haram atau mengajaknya untuk melakukan ketaatan, semua itu demi kebaikan untuk dirinya, sehingga ia tunduk dan patuh serta tidak membantah dan mendebat. Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Di zaman sekarang, banyak terdengar seorang istri yang tidak mau patuh kepada suaminya. Entah itu menolak tatkala diajak ke ranjang, tidak mau melaksanakan salat, tidak mengindahkan nasihat suami, ataupun bentuk-bentuk ketidakpatuhan lainnya. Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau inginkan.’ ” (HR. Ahmad no. 1661 dan Ibnu Hibban no. 4163) Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan, istri yang taat suami itulah yang dianggap sebagai wanita terbaik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu, yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad no. 7421.) Itulah wahai saudaraku, lima bekal mengarungi bahtera rumah tangga yang wajib diketahui oleh setiap laki-laki dan perempuan. Dengan memahami dan mengamalkan lima hal ini, seorang muslim memiliki peluang besar untuk mendapatkan rumah tangga yang harmonis, sakinah, dan penuh dengan kasih sayang dan kehangatan. Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing pasangan, maka kehidupan rumah tangganya insyaAllah akan jauh dari problem dan permasalahan serta diberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Wallahu A’lam bis-shawab. Baca juga: Nasihat ketika Konflik Rumah Tangga di Ujung Tanduk *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id
Daftar Isi Toggle Pertama: Meluruskan niatKedua: Bekalilah diri dengan ketakwaanKetiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasanganKeempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka.Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Pernikahan adalah momentum penting dalam kehidupan setiap muslim. Memerlukan pemikiran yang serius serta perencanaan yang matang dan mendalam untuk memastikan bahwa kehidupan pernikahan yang akan dijalaninya tersebut penuh dengan kebahagiaan dan kestabilan. Seorang laki-laki dalam hal ini layaknya nahkoda yang membawa kapalnya menuju sebuah dermaga. Adapun perempuan, maka ia adalah anggota kapal yang harus bekerja sama untuk mengarungi lautan tersebut dan mencapai tujuannya. Layaknya sebuah kapal yang akan berlayar, memerlukan perbekalan, logistik, dan seorang nahkoda yang memahami arah angin serta mengenal lautan dengan baik. Maka, demikian juga dengan kehidupan rumah tangga yang memerlukan perbekalan yang akan membantu seseorang untuk menghadapi ujian-ujian dan cobaan-cobaan di dalamnya. Ada banyak poin utama yang harus difokuskan oleh masing-masing suami dan istri sebelum menikah agar terhindar dari permasalahan yang mungkin terjadi di kemudian hari dan demi tercapainya saling pengertian di antara keduanya. Dalam artikel ini, akan kita bahas poin-poin terpenting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan seseorang sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Setidaknya ada lima poin penting yang setiap pasangan harus memahaminya dan berbekal dengannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga ini. Pertama: Meluruskan niat Menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga bagi seorang muslim adalah sebuah ibadah dan itu merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Selayaknya ibadah lainnya yang wajib dimulai dengan niat yang benar, ibadah pernikahan pun perlu dimulai dengan niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan kepada kita bahwa menikah adalah termasuk bentuk kesempurnaan agama. Beliau bersabda, إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ. “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 625.) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para pemuda yang sudah mampu untuk menikah untuk bersegera menikah. Beliau pernah bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.) Dari kedua hadis tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa seorang muslim hendaknya meluruskan niatnya sebelum menikah. Bahwa apa yang akan dilakukannya tersebut merupakan salah satu ibadah yang harus ia ikhlaskan untuk Allah Ta’ala, dan di dalam proses menuju pernikahannya tersebut ia berhati-hati untuk tidak melakukan larangan-larangan Allah Ta’ala. Tidak memulainya dengan pacaran, menghubungi lawan jenis yang bukan mahramnya, dan hal hal yang dilarang lainnya. Kedua: Bekalilah diri dengan ketakwaan Di hadis yang telah kita bahas sebelumnya, tatkala Nabi menyebutkan bahwa pernikahan seorang hamba akan menyempurnakan separuh agamanya, setelahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa cara menyempurnakan separuh sisanya adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Mereka yang akan menikah atau sudah menikah, maka sangat ditekankan untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan memperbanyak amal ibadah, berdoa, begitu pula dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya. Dengan bekal takwa inilah, Allah Ta’ala menjanjikan terbukanya pintu-pintu rezeki serta pintu-pintu kemudahan kepada para pelakunya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3) Seseorang yang sedang menuju jenjang pernikahan, dengan ketakwaannya kepada Allah, niscaya akan Allah berikan kepadanya jodoh yang tepat, akan Allah berikan kepadanya beragam kemudahan dan kelancaran di dalam menjalankan prosesnya. Baca juga: Rumah Tangga Tidak Mesti dengan Cinta Ketiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasangan Di dalam berumah tangga, masing-masing dari suami dan istri haruslah saling melengkapi dan menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing. Seorang laki-laki haruslah menjadi qawwam, pemimpin yang dapat diandalkan dan dapat menafkahi keluarganya, baik yang bersifat lahir maupun batin. Seorang wanita haruslah taat kepada suaminya selama suaminya tersebut tidak memerintahkannya kepada keburukan. Seorang istri haruslah menjaga kehormatan dirinya dan menjaga rumah suaminya. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hak dan kewajiban suami istri di dalam surah An-Nisa’, لرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa: 34) Dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing, sebuah rumah tangga akan menjadi tentram dan jauh dari problematika serta munculnya kezaliman di antara keduanya. Perlu kita ketahui bersama bahwa kebanyakan problem yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga seringkali bermula dari kebodohan dan ketidaktahuan pasangan akan hak dan kewajiban mereka masing-masing. Keempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka. Banyak pasangan yang menikah, mengaku muslim dan beragama Islam, namun lupa atau tidak tahu kewajiban pertama seorang suami kepada istrinya adalah menuntun mereka menuju surga dan menyelamatkan mereka dari api neraka, bukan sekedar memberikan nafkah dan kenyamanan saja. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Seorang suami tidak hanya diberikan kewajiban untuk mencari nafkah saja, mereka juga diwajibkan untuk belajar mengenai hal-hal yang akan menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari api neraka. Seorang istri juga harus menyadari tatkala suami melarangnya dari melakukan sesuatu yang haram atau mengajaknya untuk melakukan ketaatan, semua itu demi kebaikan untuk dirinya, sehingga ia tunduk dan patuh serta tidak membantah dan mendebat. Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Di zaman sekarang, banyak terdengar seorang istri yang tidak mau patuh kepada suaminya. Entah itu menolak tatkala diajak ke ranjang, tidak mau melaksanakan salat, tidak mengindahkan nasihat suami, ataupun bentuk-bentuk ketidakpatuhan lainnya. Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau inginkan.’ ” (HR. Ahmad no. 1661 dan Ibnu Hibban no. 4163) Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan, istri yang taat suami itulah yang dianggap sebagai wanita terbaik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu, yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad no. 7421.) Itulah wahai saudaraku, lima bekal mengarungi bahtera rumah tangga yang wajib diketahui oleh setiap laki-laki dan perempuan. Dengan memahami dan mengamalkan lima hal ini, seorang muslim memiliki peluang besar untuk mendapatkan rumah tangga yang harmonis, sakinah, dan penuh dengan kasih sayang dan kehangatan. Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing pasangan, maka kehidupan rumah tangganya insyaAllah akan jauh dari problem dan permasalahan serta diberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Wallahu A’lam bis-shawab. Baca juga: Nasihat ketika Konflik Rumah Tangga di Ujung Tanduk *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id


Daftar Isi Toggle Pertama: Meluruskan niatKedua: Bekalilah diri dengan ketakwaanKetiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasanganKeempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka.Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Pernikahan adalah momentum penting dalam kehidupan setiap muslim. Memerlukan pemikiran yang serius serta perencanaan yang matang dan mendalam untuk memastikan bahwa kehidupan pernikahan yang akan dijalaninya tersebut penuh dengan kebahagiaan dan kestabilan. Seorang laki-laki dalam hal ini layaknya nahkoda yang membawa kapalnya menuju sebuah dermaga. Adapun perempuan, maka ia adalah anggota kapal yang harus bekerja sama untuk mengarungi lautan tersebut dan mencapai tujuannya. Layaknya sebuah kapal yang akan berlayar, memerlukan perbekalan, logistik, dan seorang nahkoda yang memahami arah angin serta mengenal lautan dengan baik. Maka, demikian juga dengan kehidupan rumah tangga yang memerlukan perbekalan yang akan membantu seseorang untuk menghadapi ujian-ujian dan cobaan-cobaan di dalamnya. Ada banyak poin utama yang harus difokuskan oleh masing-masing suami dan istri sebelum menikah agar terhindar dari permasalahan yang mungkin terjadi di kemudian hari dan demi tercapainya saling pengertian di antara keduanya. Dalam artikel ini, akan kita bahas poin-poin terpenting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan seseorang sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Setidaknya ada lima poin penting yang setiap pasangan harus memahaminya dan berbekal dengannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga ini. Pertama: Meluruskan niat Menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga bagi seorang muslim adalah sebuah ibadah dan itu merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Selayaknya ibadah lainnya yang wajib dimulai dengan niat yang benar, ibadah pernikahan pun perlu dimulai dengan niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan kepada kita bahwa menikah adalah termasuk bentuk kesempurnaan agama. Beliau bersabda, إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ. “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 625.) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para pemuda yang sudah mampu untuk menikah untuk bersegera menikah. Beliau pernah bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.) Dari kedua hadis tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa seorang muslim hendaknya meluruskan niatnya sebelum menikah. Bahwa apa yang akan dilakukannya tersebut merupakan salah satu ibadah yang harus ia ikhlaskan untuk Allah Ta’ala, dan di dalam proses menuju pernikahannya tersebut ia berhati-hati untuk tidak melakukan larangan-larangan Allah Ta’ala. Tidak memulainya dengan pacaran, menghubungi lawan jenis yang bukan mahramnya, dan hal hal yang dilarang lainnya. Kedua: Bekalilah diri dengan ketakwaan Di hadis yang telah kita bahas sebelumnya, tatkala Nabi menyebutkan bahwa pernikahan seorang hamba akan menyempurnakan separuh agamanya, setelahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa cara menyempurnakan separuh sisanya adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Mereka yang akan menikah atau sudah menikah, maka sangat ditekankan untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan memperbanyak amal ibadah, berdoa, begitu pula dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya. Dengan bekal takwa inilah, Allah Ta’ala menjanjikan terbukanya pintu-pintu rezeki serta pintu-pintu kemudahan kepada para pelakunya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3) Seseorang yang sedang menuju jenjang pernikahan, dengan ketakwaannya kepada Allah, niscaya akan Allah berikan kepadanya jodoh yang tepat, akan Allah berikan kepadanya beragam kemudahan dan kelancaran di dalam menjalankan prosesnya. Baca juga: Rumah Tangga Tidak Mesti dengan Cinta Ketiga: Belajarlah dan ketahuilah hak dan kewajiban masing-masing pasangan Di dalam berumah tangga, masing-masing dari suami dan istri haruslah saling melengkapi dan menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing. Seorang laki-laki haruslah menjadi qawwam, pemimpin yang dapat diandalkan dan dapat menafkahi keluarganya, baik yang bersifat lahir maupun batin. Seorang wanita haruslah taat kepada suaminya selama suaminya tersebut tidak memerintahkannya kepada keburukan. Seorang istri haruslah menjaga kehormatan dirinya dan menjaga rumah suaminya. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hak dan kewajiban suami istri di dalam surah An-Nisa’, لرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa: 34) Dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing, sebuah rumah tangga akan menjadi tentram dan jauh dari problematika serta munculnya kezaliman di antara keduanya. Perlu kita ketahui bersama bahwa kebanyakan problem yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga seringkali bermula dari kebodohan dan ketidaktahuan pasangan akan hak dan kewajiban mereka masing-masing. Keempat: Hak terbesar istri dari seorang suami adalah bimbingan menuju surga dan penyelamatan dari api neraka. Banyak pasangan yang menikah, mengaku muslim dan beragama Islam, namun lupa atau tidak tahu kewajiban pertama seorang suami kepada istrinya adalah menuntun mereka menuju surga dan menyelamatkan mereka dari api neraka, bukan sekedar memberikan nafkah dan kenyamanan saja. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Seorang suami tidak hanya diberikan kewajiban untuk mencari nafkah saja, mereka juga diwajibkan untuk belajar mengenai hal-hal yang akan menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari api neraka. Seorang istri juga harus menyadari tatkala suami melarangnya dari melakukan sesuatu yang haram atau mengajaknya untuk melakukan ketaatan, semua itu demi kebaikan untuk dirinya, sehingga ia tunduk dan patuh serta tidak membantah dan mendebat. Kelima: Hak terbesar suami dari seorang istri adalah ketaatan dan kepatuhan kepadanya Di zaman sekarang, banyak terdengar seorang istri yang tidak mau patuh kepada suaminya. Entah itu menolak tatkala diajak ke ranjang, tidak mau melaksanakan salat, tidak mengindahkan nasihat suami, ataupun bentuk-bentuk ketidakpatuhan lainnya. Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau inginkan.’ ” (HR. Ahmad no. 1661 dan Ibnu Hibban no. 4163) Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan, istri yang taat suami itulah yang dianggap sebagai wanita terbaik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu, yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad no. 7421.) Itulah wahai saudaraku, lima bekal mengarungi bahtera rumah tangga yang wajib diketahui oleh setiap laki-laki dan perempuan. Dengan memahami dan mengamalkan lima hal ini, seorang muslim memiliki peluang besar untuk mendapatkan rumah tangga yang harmonis, sakinah, dan penuh dengan kasih sayang dan kehangatan. Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing pasangan, maka kehidupan rumah tangganya insyaAllah akan jauh dari problem dan permasalahan serta diberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Wallahu A’lam bis-shawab. Baca juga: Nasihat ketika Konflik Rumah Tangga di Ujung Tanduk *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id
Prev     Next