AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bagian Pertama)

Aqidah ahlus sunnah wal jamaah tentang al-Qur’an sangatlah jelas, bahwasanya Al-Qur’an adalah firman Allah, lafal-lafalnya dari Allah, dan merupakan kalamullah. Allah berbicara dengan suara yang bisa didengar, sebagaimana didengar oleh para malaikat dan juga didengar oleh para Nabi. Diantaranya didengar oleh Nabi Musa sehingga Nabi Musa digelari dengan Kaliimullah (yang diajak berbicara dengan Allah). Jadi Allah berbicara dengan siapa yang Allah kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan dengan topik apa saja yang Allah kehendaki serta kapan saja Allah kehendaki. Akan tetapi tentunya firman Allah tidak seperti kalam makhluk, suara Allah tidak seperti suara makhluk, sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk.Inilah yang dipahami oleh orang-orang awam kaum muslimin di tanah air. Semuanya berkata “Mari kita mendengarkan pembacaan firman Allah”. Demikian juga mereka tatkala membaca al-Qur’an mereka berkata, “Allah berfirman”. Tentunya maksud mereka adalah firman Allah secara hakikat dan sesungguhnya. Tidak ada yang berkata (apalagi memahami) bahwa yang dimaksud adalah firman Allah majazi hanya ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!. Saya rasa orang-orang awam malah tidak pernah mendengar hal yang seperti ini. (Insya Allah ucapan-ucapan para salaf yang menjelaskan aqidah ahlus sunnah tentang al-Qr’an adalah firman Allah akan saya nukilkan di artikel selanjutnya)Jika ada sesuatu yang menyimpang maka mau tidak mau harus diluruskan. Diantaranya keyakinan Asya’iroh bahwasanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah hakiki, bukanlah sifat Allah, akan tetapi hanyalah ibarat atau ungkapan dari firman Allah yang hakiki. Hal ini perlu dibahas kembali sebagai pembahasan ilmiyah mengingat masih ada orang yang mengaku berpemahaman asya’iroh tapi kurang faham dengan aqidah asya’iroh.Berikut kesimpulan aqidah al-Asyaairoh tentang al-Qur’an :Pertama : Allah memiliki sifat berbicara/kalam, akan tetapi kalam Allah adalah bahasa jiwa yang ada di dzat Allah. Inilah yang disebut dengan kalam nafsiKedua : Kalam nafsi adalah tanpa suara dan tanpa huruf, tentunya tanpa bahasaKetiga : Nah kalam nafsi ini (yang tanpa huruf dan bahasa) jika diungkapkan (diibaratkan) dengan bahasa Arab maka jadilah al-Qur’an, jika diungkapkan dengan bahasa Ibrani maka jadilah taurat dan jika diungkapkan dengan siryani maka jadilah injil. Maka sebenarnya Taurat, Injil, dan Al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari perkara yang sama yaitu dari kalam nafsi.Keempat : Karenanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah yang hakiki tapi hanyalah ibarat atau ungkapan atau isyarat dari kalam nafsi. Karena firman Allah yang hakiki adalah kalam nafsi. Meskipun Al-Qur’an terkadang dinamakan dengan firman Allah atau kalamullah tapi hanyalah penamaan majazi dan bukan secara hakikat.Kelima : Jika Al-Qur’an adalah bukan firman Allah hakiki lantas ibaratnya (lafal-lafal dalam al-Qur’an yang kita baca) dari siapa?, maka ada tiga pendapat di kalangan para asyairoh.    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut diciptakan oleh Allah dan diletakan di al-lauh al-mahfuz, dan in adalah pendapat al-Baajuri    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ibarat Taurat dari Musa, dan ibarat Injil dari Isa. Dan ini adalah pendapat Al-Baaqillaani    Ada yang berpendapat bahwa ibaratnya dari Jibril ‘alaihis salaam (dan pendapat ini disebutkan oleh Ar-Raazi)Keenam : Dari sini para ulama asyairoh sepakat dengan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan sifat yang tegak di zat Allah (bukan sifat yang ada pada diri Allah), karena makhluk tidak boleh berada di zat Allah.Ketujuh : Karenanya akhirnya kaum Liberal dengan tafsir Hermeneutika berdalil dengan aqidah Asya’iroh untuk melegalkan metode tafsir kontekstual mereka (yaitu Hermeneutika) dengan dalih bahwa al-Qur’an bukan lah firman Allah karena Allah tidak berbicara dengan bahwasa Arab, maka kita jangan terpaku dengan tekstual Al-Qur’an yang merupakan produk Muhammad. Jadi kaum liberal memilih pendapat al-Baqqilaani bahwa al-Qur’an itu ibaratnya dari Muhammad. Berikut nukilan-nukilan dari ulama Asyaairoh yang menjelaskan poin-poin di atas disertai sedikit komentar : PERTAMA : Nukilan tentang hakikat aqidah AsyairohAl-Baaqillani berkata :ويجب أن يعلم أن الكلام الحقيقي هو المعنى الموجود في النفس، لكن جعل عليه أمارات تدل عليه“Dan wajib untuk diketahui bahwasanya kalam Allah yang hakiki adalah makna yang terdapat pada jiwa, akan tetapi Allah menjadikan adanya tanda-tanda yang menunjukkan kepada makna tersebut” (Al-Insoof hal 101)Komentar : Jadi menurut Asyairoh kalam nafsi itulah firman Allah yang hakiki, adapun al-Qur’an adalah firman Allah yang majazi.Apa yang dimaksud dengan kalam nafsi ?Al-Juwaini berkata :وذهب أهل الحق إلى إثبات الكلام القائم بالنفس وهو الفكر الذي يدور في الخلد، وتدل عليه العبارات تارة وما يصطلح عليه من الإشارات ونحوها أخرى“Dan  ahlul hak menetapkan adanya kalam nafsi, yaitu fikiran yang berputar di dalam jiwa, yang ditunjukan terkadang dengan ibarat/ungkapan, atau terkadang dengan isyarat-isyarat dan yang semisalnya” (Al-Irsyaad hal 105)Komentar : Jadi menurut Asyairoh bahwa Kalam nafsi itu seperti sesuatu makna yang ada di hati, nah al-Qur’an itu hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa tersebutAl-Baaqillaani juga berkataويجب أن يعلم أن الله تعالى لا يتصف كلامه القديم بالحروف والأصوات ولا شيء من صفات الخلق، وأنه تعالى لا يفتقر في كلامه إلى مخارج وأدوات“Dan wajib diketahui bahwasanya kalam (firman) Allah yang qodim tidak disifati dengan huruf dan suara, dan tidak juga sesuatu apapun dari sifat-sifat makhluk, dan bahwasanya Allah dalam firmanNya tidak membutuhkan tempat keluar suara dan alat-alat“ (Al-Insoof hal 104)Komentar : Jadi menurut Asyairoh firman Allah itu tanpa suara dan huruf serta bahasa, karena itu adalah sifat-sifat makhluk. Karenanya jelas bahwa al-Qur’an yang berisi huruf dan bahasa adalah makhlukIbnu Hajar menukil pendapat-pendapat tentang kalaamullah beliau berkata :وَقَالَتِ الْأَشَاعِرَةُ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ وَأَثْبَتَتِ الْكَلَامَ النَّفْسِيَّ وَحَقِيقَتُهُ مَعْنًى قَائِمٌ بِالنَّفْسِ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ عَنْهُ الْعِبَارَةُ كَالْعَرَبِيَّةِ وَالْعَجَمِيَّةِ وَاخْتِلَافُهَا لَا يَدُلُّ عَلَى اخْتِلَافِ الْمُعَبَّرِ عَنْهُ وَالْكَلَامُ النَّفْسِيُّ هُوَ ذَلِكَ الْمُعَبَّرُ“Dan Aysairoh berkata bahwasasanya firman/kalaam Allah tidaklah dengan huruf dan suara, dan mereka menetapkan adanya kalam nafsi. Dan hakikatnya adalah suatu makna yang tegak/berada di dzat/diri Allah, meskipun ibarat-ibarat (yang mengungkapkannya) berbeda-beda, seperti diungkapkan dengan bahasa Arab atau bahasa ‘ajam (selain Arab) maka perbedaan tersebut tidaklah menunjukkan adanya perbedaan dari yang diungkapkan. Dan yang diungkapkan tersebut adalah kalaam nafsi” (Fathul Baari 13/460)Komentar : Jadi menurut Asyairoh Al-Qur’an dan At-Taurot, dan Al-Injil sama-sama mengungkapkan hal yang sama yaitu kalam nafsi. Atau bahasa kasarannya al-Qur’an, At-Taurot dan Al-Injil adalah terjemahan dari kalam nafsi. Karena kalam nafsi tanpa bahasa dan huruf.KEDUA : Nukilan bahwa Asyairoh mengakui al-Qur’an (yang kita baca) adalah makhluk bukan sifat AllahAl-Baajuuri berkata :ومذهب أهل السنة أن القرآن الكريم –بمعنى الكلام النفسي- ليس بمخلوق، وأما القرآن –بمعنى اللفظ الذي نقرؤه- فهو مخلوق. لكنه يمتنع أن يقال : القرآن مخلوق، ويراد به اللفظ الذي نقرؤه إلا في مقام التعليم، لأنه ربما أوهم أن القرآن –بمعنى الكلام النفسي- مخلوق“Dan madzhab Ahlus Sunnah bahwasanya Al-Qur’an Al-Kariim –maksudnya yaitu kalam nafsi- bukanlah makhluq. Adapun al-Qur’an –yaitu lafal yang kita baca- maka adalah makhluk. Akan tetapi tidak boleh dikatakan bahwasanya al-Qur’an makhluk dan dimaksudkan adalah lafal yang kita baca kecuali dalam pengajaran. Karena bisa jadi bisa disangka bahwasanya al-Qur’an –yaitu kalam nafsi- adalah makhluk” (Syarh Jauharat At-Tauhiid 173)Jadi : Al-Qur’an adalah makhluk menurut asyairoh, tapi tidak boleh dijelaskan secara terang-terangan kepada orang awam dikawatirkan mereka salah paham, sehingga mengira al-qur’an adalah kalam nafsi yang disangka makhluk. Hanya boleh dijelaskan terang-terangan tatkala dalam pengajaran agar tidak disalah pahami. KETIGA : Nukilan bahwa Asyairoh sepakat dengan Muktazilah dan tidak mengingkari mereka dalam perihal Al-Qur’an adalah MakhlukPertama : Al-Juawaini berkataواعلموا بعدها أن الكلام مع المعتزلة وسائر المخالفين في هذه المسألة يتعلق بالنفي والإثبات، فإن ما أثبتوه وقدَّروه كلاما، فهو في نفسه ثابت، … فإن معنى قولهم “هذه العبارات كلام الله” أنها خَلْقُه ونحن لا ننكر أنها خلق الله، ولكن نمتنع من تسمية خالق الكلام متكلما به، فقد أطبقنا على المعنى وتنازعنا بعد الاتفاق في تسميته“Ketahuilah setelah ini bahwasanya pembicaraan bersama Mu’tazilah dan para penyelisih yang lainnya dalam permasalahan ini berkaitan dengan penafian dan penetapan. Karena sesungguhnya apa yang mereka tetapkan dan mereka anggap sebagai kalaam (sifat berbicara Allah) maka sifat tersebut secara dzatnya ada….Sesungguhnya makna perkataan mereka (Mu’tazilah) : “Ibarat-ibarat ini (lafal-lafal Al-Qur’an-pen) adalah firman Allah” yaitu adalah makhluk (ciptaan) Allah. Dan kami (Asyaa’iroh-pen) tidaklah mengingkari bahwasanya ibarat-ibarat tersebut adalah makhluk Allah, akan tetapi kami tidak mau menamakan Pencipta Al-Kalam berbicara dengan kalam tersebut. Maka kita telah sepakat dalam makna dan kita berselisih –setelah kesepakatan kita- dalam hal penamaan” (Al-Irsyaad Ilaa Qowaathi’il Adillah fi Ushuul Al-I’tiqood 116-117)Komentar : Jadi Asyairoh tidak mengingkari pernyataan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhlukKedua : Asy-Syahristani berkata  :وخصومنا لو وافقونا على أن الكلام في الشاهد معنى في النفس سوى العبارات القائمة باللسان، وأن الكلام في الغائب معنى قائم بذات الباري تعالى سوى العبارات التي نقرؤها باللسان ونكتبها في المصاحف، لو وافقونا على اتحاد المعنى، لكن لما كان الكلام لفظا مشتركا في الإطلاق لم يتوارد على محل واحد، فإن ما يثبته الخصم كلاماً فالأشعرية تثبته وتوافقه على أنه كثير وأنه محدث مخلوق، وما يثبته الأشعري كلاماً فالخصم ينكره أصلاً“Kalau seandainya musuh-musuh kami (yaitu Mu’tazilah-pen) sepakat dengan kami tentang bahwasanya al-kalaam (perkataan) yang nampak adalah makna di Dzat selain ibarat-ibarat yang diungkapkan lisan, dan bahwasanya al-kalam (perkataan) yang ada di alam ghaib tegak/berada di Dzat/diri Allah selain ibarat-ibarat yang kita baca dengan lisan kita dan yang kita tulis di mushaf-mushaf, maka tentunya mereka akan bersepakat dengan kita pada kesatuan makna.Akan tetapi al-kalam adalah lafal yang musytarok (mengandung makna berbilang-pen) dan tidak datang pada satu makna saja, maka apa yang ditetapkan oleh musuh (Mu’tazilah) (yaitu Al-Qur’an-pen) sebagai kalam maka Asya’iroh juga menetapkannya dan sepakat bahwasanya kalam tersebut banyak dan muhdats (baru) serta makhluk.Dan apa yang ditetapkan oleh Asya’iroh sebagai kalam (sifat kalam nafsi-pen) maka musuh (Mu’tazilah) mengingkarinya”  (Nihaayatul Iqdaam 289)Ketiga : Al-Buuthi berkata :أما جماهير المسلمين أهل السنة والجماعة، فقالوا : إننا لا ننكر هذا الذي تقوله المعتزلة، بل نقول به، ونسميه كلاماً لفظياً، ونحن جميعاً متفقون على حدوثه وأنه غير قائم بذاته تعالى، من أجل أنه حادث، ولكنا نثبت أمراً وراء ذلك وهو الصفة القائمة بالنفس والتي يعبّر عنها بالألفاظ وهي غير حقيقة العلم وغير الإرادة، وإنما هي صفة مهيأة لأن يخاطب بها الأخرين على وجه الأمر أو النهي أو الإخبار، تدل عليه الألفاظ وهي صفة قديمة قائمة بذاته تعالى، ضرورة استحالة توارد الخواطر وطروء المعاني عليه كما هو شأن الإنسان، وهذا هو المقصود بإسناد الكلام إلى الله تعالى“Adapun mayoritas kaum mulsimin Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah (yaitu Asya’iroh-pen) maka mereka berkata : Kami tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Mu’tazilah, bahkan kamipun sependapat, dan kami menamakannya dengan kalam secara lafal. Dan kami semua sepakat bahwa kalam lafal tersebut (yaitu al-Qur’an-pen) adalah sesuatu yang baru, dan ia tidak berdiri di Dzat Allah karena ia adalah hadits (baru). Akan tetapi kami menetapkan suatu perkara dibalik ini semua, yaitu kalam adalah sifat yang berdiri di Dzat Allah yang diungkapkan dengan lafal-lafal” (Kubro Al-Yaqiniyaat Al-Kauniyah 125)Komentar : Demikianlah bahwa asyairoh membenarkan keyakinan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk. KEEMPAT : Nukilan bahwa al-Qur’an itu ibaratnya (lafal-lafal Qur’an yang kita baca) dari Muhammad atau ibaratnya Jibril atau dari ibarat yang diciptakan Allah.Al-Baqqilaani berpendapat bahwal al-Qur’an ibaratnya dari Nabi Muhammad, beliau berkata :فأخبر تعالى أنه أرسل موسى عليه السلام إلى بني إسرائيل بلسان عبراني، فأفهم كلام الله القديم القائم بالنفس بالعبرانية، وبعث عيسى عليه السلام بلسان سرياني، فأفهم كلام الله القديم بلسانهم، بعث نبينا صلى الله عليه وسلم بلسان العرب، فأفهم قومه كلام الله القديم القائم بالنفس بكلامهم. فلغة العرب غير لغة العبرانية ولغة السريانية وغيرهما، لكن الكلام القديم القائم بالنفس شيء واحد لا يختلف ولا يتغير“Maka Allah mengabarkan bahwa Allah mengutus Musa ‘alaihis salam kepada bani Israil dengan bahasa Ibrani, maka Musa memahamkan kalamullah al-Qodim (yang hakiki, yaitu kalam nafsi-pent) kepada kaumnya dengan bahasa ibrani. Dan Allah mengutus Nabi Isa ‘alaihis salam dengan bahasa Siryani. Maka Nabi Isa memahamkan kalamullah (kalam nafsi) kepada kaumnya dengan bahasa Siryani. Dan Allah mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa Arab. Maka Nabi Muhammad memahamkan kalamullah nafsi kepada kaumnya dengan bahasa mereka. Maka bahasa Arab bukanlah bahasa Ibrani, bukan pula bahasa Siryani, dan juga bahasa yang lain. Akan tetapi kalamullah yang qodim dan kalam nafsi ada sesuatu yang satu tidak berbeda dan tidak berubah” (Al-Insoof hal 101-102)Adapun Ar-Raazi maka beliau menyampaikan pendapat bahwa bisa saja ibaratnya dari Jibril. Beliau berkata :فإن قيل كيف سمع جبريل كلام الله تعالى، وكلامه ليس من الحروف والأصوات عندكم؟ قلنا يحتمل أن يخلق الله تعالى له سمعا لكلامه ثم أقدره على عبارة يعبر بها عن ذلك الكلام القديم“Kalau ada yang bertanya : Bagaimana Jibril mendengar kalamullah, sementara kalamullah tidak ada huruf dan suaranya menurut kalian?. Maka kami jawab : Bisa jadi Allah menciptakan bagi jibril pendengaran untuk mendengar kalamNya lalu Allah menjadikan Jibril mampu untuk memiliki ibarat untuk mengungkapkan kalamullah yang qodim tersebut” (Mafaatiihul Goib 2/277)Adapun al-Baajuuri maka beliau berpendapat bahwa lafal-lafal al-Qur’an adalah ciptaan Allah yang Allah ciptakan lalu Allah letakan di al-Lauh Al-Mahfuuz. Beliau berkata :وهو الذي خلقه الله تعالى أولاً في اللوح المحفوظ، ثم أنزله في صحائف إلى سماء الدنيا في محل يقال له “بيت العزة” في ليلة القدر… ثم أنزله على النبي صلى الله عليه وسلم مفرقاً بحسب الوقائع“Dan al-Qur’an adalah  yang telah menciptakan pertama kali di al-Lauh al-Mahfuuz lalu Allah turunkan di lembaran-lembaran di langit dunia di suatu tempat yang disebut dengan baitul ‘izzah dai malam lailatul qodar….Lalu Allah turunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara terpisah-pisah berdasarkan kejadian dan peristiwa” (Hasyiatul Baajuuri 162)Bersambung : Bagian kedua (Bantahan terhadap Aqidah Asyairoh bahwa al-Qur’an Makhluk)Jakarta, 17-10-1438 H / 11-07-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bagian Pertama)

Aqidah ahlus sunnah wal jamaah tentang al-Qur’an sangatlah jelas, bahwasanya Al-Qur’an adalah firman Allah, lafal-lafalnya dari Allah, dan merupakan kalamullah. Allah berbicara dengan suara yang bisa didengar, sebagaimana didengar oleh para malaikat dan juga didengar oleh para Nabi. Diantaranya didengar oleh Nabi Musa sehingga Nabi Musa digelari dengan Kaliimullah (yang diajak berbicara dengan Allah). Jadi Allah berbicara dengan siapa yang Allah kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan dengan topik apa saja yang Allah kehendaki serta kapan saja Allah kehendaki. Akan tetapi tentunya firman Allah tidak seperti kalam makhluk, suara Allah tidak seperti suara makhluk, sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk.Inilah yang dipahami oleh orang-orang awam kaum muslimin di tanah air. Semuanya berkata “Mari kita mendengarkan pembacaan firman Allah”. Demikian juga mereka tatkala membaca al-Qur’an mereka berkata, “Allah berfirman”. Tentunya maksud mereka adalah firman Allah secara hakikat dan sesungguhnya. Tidak ada yang berkata (apalagi memahami) bahwa yang dimaksud adalah firman Allah majazi hanya ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!. Saya rasa orang-orang awam malah tidak pernah mendengar hal yang seperti ini. (Insya Allah ucapan-ucapan para salaf yang menjelaskan aqidah ahlus sunnah tentang al-Qr’an adalah firman Allah akan saya nukilkan di artikel selanjutnya)Jika ada sesuatu yang menyimpang maka mau tidak mau harus diluruskan. Diantaranya keyakinan Asya’iroh bahwasanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah hakiki, bukanlah sifat Allah, akan tetapi hanyalah ibarat atau ungkapan dari firman Allah yang hakiki. Hal ini perlu dibahas kembali sebagai pembahasan ilmiyah mengingat masih ada orang yang mengaku berpemahaman asya’iroh tapi kurang faham dengan aqidah asya’iroh.Berikut kesimpulan aqidah al-Asyaairoh tentang al-Qur’an :Pertama : Allah memiliki sifat berbicara/kalam, akan tetapi kalam Allah adalah bahasa jiwa yang ada di dzat Allah. Inilah yang disebut dengan kalam nafsiKedua : Kalam nafsi adalah tanpa suara dan tanpa huruf, tentunya tanpa bahasaKetiga : Nah kalam nafsi ini (yang tanpa huruf dan bahasa) jika diungkapkan (diibaratkan) dengan bahasa Arab maka jadilah al-Qur’an, jika diungkapkan dengan bahasa Ibrani maka jadilah taurat dan jika diungkapkan dengan siryani maka jadilah injil. Maka sebenarnya Taurat, Injil, dan Al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari perkara yang sama yaitu dari kalam nafsi.Keempat : Karenanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah yang hakiki tapi hanyalah ibarat atau ungkapan atau isyarat dari kalam nafsi. Karena firman Allah yang hakiki adalah kalam nafsi. Meskipun Al-Qur’an terkadang dinamakan dengan firman Allah atau kalamullah tapi hanyalah penamaan majazi dan bukan secara hakikat.Kelima : Jika Al-Qur’an adalah bukan firman Allah hakiki lantas ibaratnya (lafal-lafal dalam al-Qur’an yang kita baca) dari siapa?, maka ada tiga pendapat di kalangan para asyairoh.    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut diciptakan oleh Allah dan diletakan di al-lauh al-mahfuz, dan in adalah pendapat al-Baajuri    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ibarat Taurat dari Musa, dan ibarat Injil dari Isa. Dan ini adalah pendapat Al-Baaqillaani    Ada yang berpendapat bahwa ibaratnya dari Jibril ‘alaihis salaam (dan pendapat ini disebutkan oleh Ar-Raazi)Keenam : Dari sini para ulama asyairoh sepakat dengan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan sifat yang tegak di zat Allah (bukan sifat yang ada pada diri Allah), karena makhluk tidak boleh berada di zat Allah.Ketujuh : Karenanya akhirnya kaum Liberal dengan tafsir Hermeneutika berdalil dengan aqidah Asya’iroh untuk melegalkan metode tafsir kontekstual mereka (yaitu Hermeneutika) dengan dalih bahwa al-Qur’an bukan lah firman Allah karena Allah tidak berbicara dengan bahwasa Arab, maka kita jangan terpaku dengan tekstual Al-Qur’an yang merupakan produk Muhammad. Jadi kaum liberal memilih pendapat al-Baqqilaani bahwa al-Qur’an itu ibaratnya dari Muhammad. Berikut nukilan-nukilan dari ulama Asyaairoh yang menjelaskan poin-poin di atas disertai sedikit komentar : PERTAMA : Nukilan tentang hakikat aqidah AsyairohAl-Baaqillani berkata :ويجب أن يعلم أن الكلام الحقيقي هو المعنى الموجود في النفس، لكن جعل عليه أمارات تدل عليه“Dan wajib untuk diketahui bahwasanya kalam Allah yang hakiki adalah makna yang terdapat pada jiwa, akan tetapi Allah menjadikan adanya tanda-tanda yang menunjukkan kepada makna tersebut” (Al-Insoof hal 101)Komentar : Jadi menurut Asyairoh kalam nafsi itulah firman Allah yang hakiki, adapun al-Qur’an adalah firman Allah yang majazi.Apa yang dimaksud dengan kalam nafsi ?Al-Juwaini berkata :وذهب أهل الحق إلى إثبات الكلام القائم بالنفس وهو الفكر الذي يدور في الخلد، وتدل عليه العبارات تارة وما يصطلح عليه من الإشارات ونحوها أخرى“Dan  ahlul hak menetapkan adanya kalam nafsi, yaitu fikiran yang berputar di dalam jiwa, yang ditunjukan terkadang dengan ibarat/ungkapan, atau terkadang dengan isyarat-isyarat dan yang semisalnya” (Al-Irsyaad hal 105)Komentar : Jadi menurut Asyairoh bahwa Kalam nafsi itu seperti sesuatu makna yang ada di hati, nah al-Qur’an itu hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa tersebutAl-Baaqillaani juga berkataويجب أن يعلم أن الله تعالى لا يتصف كلامه القديم بالحروف والأصوات ولا شيء من صفات الخلق، وأنه تعالى لا يفتقر في كلامه إلى مخارج وأدوات“Dan wajib diketahui bahwasanya kalam (firman) Allah yang qodim tidak disifati dengan huruf dan suara, dan tidak juga sesuatu apapun dari sifat-sifat makhluk, dan bahwasanya Allah dalam firmanNya tidak membutuhkan tempat keluar suara dan alat-alat“ (Al-Insoof hal 104)Komentar : Jadi menurut Asyairoh firman Allah itu tanpa suara dan huruf serta bahasa, karena itu adalah sifat-sifat makhluk. Karenanya jelas bahwa al-Qur’an yang berisi huruf dan bahasa adalah makhlukIbnu Hajar menukil pendapat-pendapat tentang kalaamullah beliau berkata :وَقَالَتِ الْأَشَاعِرَةُ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ وَأَثْبَتَتِ الْكَلَامَ النَّفْسِيَّ وَحَقِيقَتُهُ مَعْنًى قَائِمٌ بِالنَّفْسِ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ عَنْهُ الْعِبَارَةُ كَالْعَرَبِيَّةِ وَالْعَجَمِيَّةِ وَاخْتِلَافُهَا لَا يَدُلُّ عَلَى اخْتِلَافِ الْمُعَبَّرِ عَنْهُ وَالْكَلَامُ النَّفْسِيُّ هُوَ ذَلِكَ الْمُعَبَّرُ“Dan Aysairoh berkata bahwasasanya firman/kalaam Allah tidaklah dengan huruf dan suara, dan mereka menetapkan adanya kalam nafsi. Dan hakikatnya adalah suatu makna yang tegak/berada di dzat/diri Allah, meskipun ibarat-ibarat (yang mengungkapkannya) berbeda-beda, seperti diungkapkan dengan bahasa Arab atau bahasa ‘ajam (selain Arab) maka perbedaan tersebut tidaklah menunjukkan adanya perbedaan dari yang diungkapkan. Dan yang diungkapkan tersebut adalah kalaam nafsi” (Fathul Baari 13/460)Komentar : Jadi menurut Asyairoh Al-Qur’an dan At-Taurot, dan Al-Injil sama-sama mengungkapkan hal yang sama yaitu kalam nafsi. Atau bahasa kasarannya al-Qur’an, At-Taurot dan Al-Injil adalah terjemahan dari kalam nafsi. Karena kalam nafsi tanpa bahasa dan huruf.KEDUA : Nukilan bahwa Asyairoh mengakui al-Qur’an (yang kita baca) adalah makhluk bukan sifat AllahAl-Baajuuri berkata :ومذهب أهل السنة أن القرآن الكريم –بمعنى الكلام النفسي- ليس بمخلوق، وأما القرآن –بمعنى اللفظ الذي نقرؤه- فهو مخلوق. لكنه يمتنع أن يقال : القرآن مخلوق، ويراد به اللفظ الذي نقرؤه إلا في مقام التعليم، لأنه ربما أوهم أن القرآن –بمعنى الكلام النفسي- مخلوق“Dan madzhab Ahlus Sunnah bahwasanya Al-Qur’an Al-Kariim –maksudnya yaitu kalam nafsi- bukanlah makhluq. Adapun al-Qur’an –yaitu lafal yang kita baca- maka adalah makhluk. Akan tetapi tidak boleh dikatakan bahwasanya al-Qur’an makhluk dan dimaksudkan adalah lafal yang kita baca kecuali dalam pengajaran. Karena bisa jadi bisa disangka bahwasanya al-Qur’an –yaitu kalam nafsi- adalah makhluk” (Syarh Jauharat At-Tauhiid 173)Jadi : Al-Qur’an adalah makhluk menurut asyairoh, tapi tidak boleh dijelaskan secara terang-terangan kepada orang awam dikawatirkan mereka salah paham, sehingga mengira al-qur’an adalah kalam nafsi yang disangka makhluk. Hanya boleh dijelaskan terang-terangan tatkala dalam pengajaran agar tidak disalah pahami. KETIGA : Nukilan bahwa Asyairoh sepakat dengan Muktazilah dan tidak mengingkari mereka dalam perihal Al-Qur’an adalah MakhlukPertama : Al-Juawaini berkataواعلموا بعدها أن الكلام مع المعتزلة وسائر المخالفين في هذه المسألة يتعلق بالنفي والإثبات، فإن ما أثبتوه وقدَّروه كلاما، فهو في نفسه ثابت، … فإن معنى قولهم “هذه العبارات كلام الله” أنها خَلْقُه ونحن لا ننكر أنها خلق الله، ولكن نمتنع من تسمية خالق الكلام متكلما به، فقد أطبقنا على المعنى وتنازعنا بعد الاتفاق في تسميته“Ketahuilah setelah ini bahwasanya pembicaraan bersama Mu’tazilah dan para penyelisih yang lainnya dalam permasalahan ini berkaitan dengan penafian dan penetapan. Karena sesungguhnya apa yang mereka tetapkan dan mereka anggap sebagai kalaam (sifat berbicara Allah) maka sifat tersebut secara dzatnya ada….Sesungguhnya makna perkataan mereka (Mu’tazilah) : “Ibarat-ibarat ini (lafal-lafal Al-Qur’an-pen) adalah firman Allah” yaitu adalah makhluk (ciptaan) Allah. Dan kami (Asyaa’iroh-pen) tidaklah mengingkari bahwasanya ibarat-ibarat tersebut adalah makhluk Allah, akan tetapi kami tidak mau menamakan Pencipta Al-Kalam berbicara dengan kalam tersebut. Maka kita telah sepakat dalam makna dan kita berselisih –setelah kesepakatan kita- dalam hal penamaan” (Al-Irsyaad Ilaa Qowaathi’il Adillah fi Ushuul Al-I’tiqood 116-117)Komentar : Jadi Asyairoh tidak mengingkari pernyataan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhlukKedua : Asy-Syahristani berkata  :وخصومنا لو وافقونا على أن الكلام في الشاهد معنى في النفس سوى العبارات القائمة باللسان، وأن الكلام في الغائب معنى قائم بذات الباري تعالى سوى العبارات التي نقرؤها باللسان ونكتبها في المصاحف، لو وافقونا على اتحاد المعنى، لكن لما كان الكلام لفظا مشتركا في الإطلاق لم يتوارد على محل واحد، فإن ما يثبته الخصم كلاماً فالأشعرية تثبته وتوافقه على أنه كثير وأنه محدث مخلوق، وما يثبته الأشعري كلاماً فالخصم ينكره أصلاً“Kalau seandainya musuh-musuh kami (yaitu Mu’tazilah-pen) sepakat dengan kami tentang bahwasanya al-kalaam (perkataan) yang nampak adalah makna di Dzat selain ibarat-ibarat yang diungkapkan lisan, dan bahwasanya al-kalam (perkataan) yang ada di alam ghaib tegak/berada di Dzat/diri Allah selain ibarat-ibarat yang kita baca dengan lisan kita dan yang kita tulis di mushaf-mushaf, maka tentunya mereka akan bersepakat dengan kita pada kesatuan makna.Akan tetapi al-kalam adalah lafal yang musytarok (mengandung makna berbilang-pen) dan tidak datang pada satu makna saja, maka apa yang ditetapkan oleh musuh (Mu’tazilah) (yaitu Al-Qur’an-pen) sebagai kalam maka Asya’iroh juga menetapkannya dan sepakat bahwasanya kalam tersebut banyak dan muhdats (baru) serta makhluk.Dan apa yang ditetapkan oleh Asya’iroh sebagai kalam (sifat kalam nafsi-pen) maka musuh (Mu’tazilah) mengingkarinya”  (Nihaayatul Iqdaam 289)Ketiga : Al-Buuthi berkata :أما جماهير المسلمين أهل السنة والجماعة، فقالوا : إننا لا ننكر هذا الذي تقوله المعتزلة، بل نقول به، ونسميه كلاماً لفظياً، ونحن جميعاً متفقون على حدوثه وأنه غير قائم بذاته تعالى، من أجل أنه حادث، ولكنا نثبت أمراً وراء ذلك وهو الصفة القائمة بالنفس والتي يعبّر عنها بالألفاظ وهي غير حقيقة العلم وغير الإرادة، وإنما هي صفة مهيأة لأن يخاطب بها الأخرين على وجه الأمر أو النهي أو الإخبار، تدل عليه الألفاظ وهي صفة قديمة قائمة بذاته تعالى، ضرورة استحالة توارد الخواطر وطروء المعاني عليه كما هو شأن الإنسان، وهذا هو المقصود بإسناد الكلام إلى الله تعالى“Adapun mayoritas kaum mulsimin Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah (yaitu Asya’iroh-pen) maka mereka berkata : Kami tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Mu’tazilah, bahkan kamipun sependapat, dan kami menamakannya dengan kalam secara lafal. Dan kami semua sepakat bahwa kalam lafal tersebut (yaitu al-Qur’an-pen) adalah sesuatu yang baru, dan ia tidak berdiri di Dzat Allah karena ia adalah hadits (baru). Akan tetapi kami menetapkan suatu perkara dibalik ini semua, yaitu kalam adalah sifat yang berdiri di Dzat Allah yang diungkapkan dengan lafal-lafal” (Kubro Al-Yaqiniyaat Al-Kauniyah 125)Komentar : Demikianlah bahwa asyairoh membenarkan keyakinan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk. KEEMPAT : Nukilan bahwa al-Qur’an itu ibaratnya (lafal-lafal Qur’an yang kita baca) dari Muhammad atau ibaratnya Jibril atau dari ibarat yang diciptakan Allah.Al-Baqqilaani berpendapat bahwal al-Qur’an ibaratnya dari Nabi Muhammad, beliau berkata :فأخبر تعالى أنه أرسل موسى عليه السلام إلى بني إسرائيل بلسان عبراني، فأفهم كلام الله القديم القائم بالنفس بالعبرانية، وبعث عيسى عليه السلام بلسان سرياني، فأفهم كلام الله القديم بلسانهم، بعث نبينا صلى الله عليه وسلم بلسان العرب، فأفهم قومه كلام الله القديم القائم بالنفس بكلامهم. فلغة العرب غير لغة العبرانية ولغة السريانية وغيرهما، لكن الكلام القديم القائم بالنفس شيء واحد لا يختلف ولا يتغير“Maka Allah mengabarkan bahwa Allah mengutus Musa ‘alaihis salam kepada bani Israil dengan bahasa Ibrani, maka Musa memahamkan kalamullah al-Qodim (yang hakiki, yaitu kalam nafsi-pent) kepada kaumnya dengan bahasa ibrani. Dan Allah mengutus Nabi Isa ‘alaihis salam dengan bahasa Siryani. Maka Nabi Isa memahamkan kalamullah (kalam nafsi) kepada kaumnya dengan bahasa Siryani. Dan Allah mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa Arab. Maka Nabi Muhammad memahamkan kalamullah nafsi kepada kaumnya dengan bahasa mereka. Maka bahasa Arab bukanlah bahasa Ibrani, bukan pula bahasa Siryani, dan juga bahasa yang lain. Akan tetapi kalamullah yang qodim dan kalam nafsi ada sesuatu yang satu tidak berbeda dan tidak berubah” (Al-Insoof hal 101-102)Adapun Ar-Raazi maka beliau menyampaikan pendapat bahwa bisa saja ibaratnya dari Jibril. Beliau berkata :فإن قيل كيف سمع جبريل كلام الله تعالى، وكلامه ليس من الحروف والأصوات عندكم؟ قلنا يحتمل أن يخلق الله تعالى له سمعا لكلامه ثم أقدره على عبارة يعبر بها عن ذلك الكلام القديم“Kalau ada yang bertanya : Bagaimana Jibril mendengar kalamullah, sementara kalamullah tidak ada huruf dan suaranya menurut kalian?. Maka kami jawab : Bisa jadi Allah menciptakan bagi jibril pendengaran untuk mendengar kalamNya lalu Allah menjadikan Jibril mampu untuk memiliki ibarat untuk mengungkapkan kalamullah yang qodim tersebut” (Mafaatiihul Goib 2/277)Adapun al-Baajuuri maka beliau berpendapat bahwa lafal-lafal al-Qur’an adalah ciptaan Allah yang Allah ciptakan lalu Allah letakan di al-Lauh Al-Mahfuuz. Beliau berkata :وهو الذي خلقه الله تعالى أولاً في اللوح المحفوظ، ثم أنزله في صحائف إلى سماء الدنيا في محل يقال له “بيت العزة” في ليلة القدر… ثم أنزله على النبي صلى الله عليه وسلم مفرقاً بحسب الوقائع“Dan al-Qur’an adalah  yang telah menciptakan pertama kali di al-Lauh al-Mahfuuz lalu Allah turunkan di lembaran-lembaran di langit dunia di suatu tempat yang disebut dengan baitul ‘izzah dai malam lailatul qodar….Lalu Allah turunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara terpisah-pisah berdasarkan kejadian dan peristiwa” (Hasyiatul Baajuuri 162)Bersambung : Bagian kedua (Bantahan terhadap Aqidah Asyairoh bahwa al-Qur’an Makhluk)Jakarta, 17-10-1438 H / 11-07-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Aqidah ahlus sunnah wal jamaah tentang al-Qur’an sangatlah jelas, bahwasanya Al-Qur’an adalah firman Allah, lafal-lafalnya dari Allah, dan merupakan kalamullah. Allah berbicara dengan suara yang bisa didengar, sebagaimana didengar oleh para malaikat dan juga didengar oleh para Nabi. Diantaranya didengar oleh Nabi Musa sehingga Nabi Musa digelari dengan Kaliimullah (yang diajak berbicara dengan Allah). Jadi Allah berbicara dengan siapa yang Allah kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan dengan topik apa saja yang Allah kehendaki serta kapan saja Allah kehendaki. Akan tetapi tentunya firman Allah tidak seperti kalam makhluk, suara Allah tidak seperti suara makhluk, sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk.Inilah yang dipahami oleh orang-orang awam kaum muslimin di tanah air. Semuanya berkata “Mari kita mendengarkan pembacaan firman Allah”. Demikian juga mereka tatkala membaca al-Qur’an mereka berkata, “Allah berfirman”. Tentunya maksud mereka adalah firman Allah secara hakikat dan sesungguhnya. Tidak ada yang berkata (apalagi memahami) bahwa yang dimaksud adalah firman Allah majazi hanya ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!. Saya rasa orang-orang awam malah tidak pernah mendengar hal yang seperti ini. (Insya Allah ucapan-ucapan para salaf yang menjelaskan aqidah ahlus sunnah tentang al-Qr’an adalah firman Allah akan saya nukilkan di artikel selanjutnya)Jika ada sesuatu yang menyimpang maka mau tidak mau harus diluruskan. Diantaranya keyakinan Asya’iroh bahwasanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah hakiki, bukanlah sifat Allah, akan tetapi hanyalah ibarat atau ungkapan dari firman Allah yang hakiki. Hal ini perlu dibahas kembali sebagai pembahasan ilmiyah mengingat masih ada orang yang mengaku berpemahaman asya’iroh tapi kurang faham dengan aqidah asya’iroh.Berikut kesimpulan aqidah al-Asyaairoh tentang al-Qur’an :Pertama : Allah memiliki sifat berbicara/kalam, akan tetapi kalam Allah adalah bahasa jiwa yang ada di dzat Allah. Inilah yang disebut dengan kalam nafsiKedua : Kalam nafsi adalah tanpa suara dan tanpa huruf, tentunya tanpa bahasaKetiga : Nah kalam nafsi ini (yang tanpa huruf dan bahasa) jika diungkapkan (diibaratkan) dengan bahasa Arab maka jadilah al-Qur’an, jika diungkapkan dengan bahasa Ibrani maka jadilah taurat dan jika diungkapkan dengan siryani maka jadilah injil. Maka sebenarnya Taurat, Injil, dan Al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari perkara yang sama yaitu dari kalam nafsi.Keempat : Karenanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah yang hakiki tapi hanyalah ibarat atau ungkapan atau isyarat dari kalam nafsi. Karena firman Allah yang hakiki adalah kalam nafsi. Meskipun Al-Qur’an terkadang dinamakan dengan firman Allah atau kalamullah tapi hanyalah penamaan majazi dan bukan secara hakikat.Kelima : Jika Al-Qur’an adalah bukan firman Allah hakiki lantas ibaratnya (lafal-lafal dalam al-Qur’an yang kita baca) dari siapa?, maka ada tiga pendapat di kalangan para asyairoh.    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut diciptakan oleh Allah dan diletakan di al-lauh al-mahfuz, dan in adalah pendapat al-Baajuri    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ibarat Taurat dari Musa, dan ibarat Injil dari Isa. Dan ini adalah pendapat Al-Baaqillaani    Ada yang berpendapat bahwa ibaratnya dari Jibril ‘alaihis salaam (dan pendapat ini disebutkan oleh Ar-Raazi)Keenam : Dari sini para ulama asyairoh sepakat dengan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan sifat yang tegak di zat Allah (bukan sifat yang ada pada diri Allah), karena makhluk tidak boleh berada di zat Allah.Ketujuh : Karenanya akhirnya kaum Liberal dengan tafsir Hermeneutika berdalil dengan aqidah Asya’iroh untuk melegalkan metode tafsir kontekstual mereka (yaitu Hermeneutika) dengan dalih bahwa al-Qur’an bukan lah firman Allah karena Allah tidak berbicara dengan bahwasa Arab, maka kita jangan terpaku dengan tekstual Al-Qur’an yang merupakan produk Muhammad. Jadi kaum liberal memilih pendapat al-Baqqilaani bahwa al-Qur’an itu ibaratnya dari Muhammad. Berikut nukilan-nukilan dari ulama Asyaairoh yang menjelaskan poin-poin di atas disertai sedikit komentar : PERTAMA : Nukilan tentang hakikat aqidah AsyairohAl-Baaqillani berkata :ويجب أن يعلم أن الكلام الحقيقي هو المعنى الموجود في النفس، لكن جعل عليه أمارات تدل عليه“Dan wajib untuk diketahui bahwasanya kalam Allah yang hakiki adalah makna yang terdapat pada jiwa, akan tetapi Allah menjadikan adanya tanda-tanda yang menunjukkan kepada makna tersebut” (Al-Insoof hal 101)Komentar : Jadi menurut Asyairoh kalam nafsi itulah firman Allah yang hakiki, adapun al-Qur’an adalah firman Allah yang majazi.Apa yang dimaksud dengan kalam nafsi ?Al-Juwaini berkata :وذهب أهل الحق إلى إثبات الكلام القائم بالنفس وهو الفكر الذي يدور في الخلد، وتدل عليه العبارات تارة وما يصطلح عليه من الإشارات ونحوها أخرى“Dan  ahlul hak menetapkan adanya kalam nafsi, yaitu fikiran yang berputar di dalam jiwa, yang ditunjukan terkadang dengan ibarat/ungkapan, atau terkadang dengan isyarat-isyarat dan yang semisalnya” (Al-Irsyaad hal 105)Komentar : Jadi menurut Asyairoh bahwa Kalam nafsi itu seperti sesuatu makna yang ada di hati, nah al-Qur’an itu hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa tersebutAl-Baaqillaani juga berkataويجب أن يعلم أن الله تعالى لا يتصف كلامه القديم بالحروف والأصوات ولا شيء من صفات الخلق، وأنه تعالى لا يفتقر في كلامه إلى مخارج وأدوات“Dan wajib diketahui bahwasanya kalam (firman) Allah yang qodim tidak disifati dengan huruf dan suara, dan tidak juga sesuatu apapun dari sifat-sifat makhluk, dan bahwasanya Allah dalam firmanNya tidak membutuhkan tempat keluar suara dan alat-alat“ (Al-Insoof hal 104)Komentar : Jadi menurut Asyairoh firman Allah itu tanpa suara dan huruf serta bahasa, karena itu adalah sifat-sifat makhluk. Karenanya jelas bahwa al-Qur’an yang berisi huruf dan bahasa adalah makhlukIbnu Hajar menukil pendapat-pendapat tentang kalaamullah beliau berkata :وَقَالَتِ الْأَشَاعِرَةُ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ وَأَثْبَتَتِ الْكَلَامَ النَّفْسِيَّ وَحَقِيقَتُهُ مَعْنًى قَائِمٌ بِالنَّفْسِ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ عَنْهُ الْعِبَارَةُ كَالْعَرَبِيَّةِ وَالْعَجَمِيَّةِ وَاخْتِلَافُهَا لَا يَدُلُّ عَلَى اخْتِلَافِ الْمُعَبَّرِ عَنْهُ وَالْكَلَامُ النَّفْسِيُّ هُوَ ذَلِكَ الْمُعَبَّرُ“Dan Aysairoh berkata bahwasasanya firman/kalaam Allah tidaklah dengan huruf dan suara, dan mereka menetapkan adanya kalam nafsi. Dan hakikatnya adalah suatu makna yang tegak/berada di dzat/diri Allah, meskipun ibarat-ibarat (yang mengungkapkannya) berbeda-beda, seperti diungkapkan dengan bahasa Arab atau bahasa ‘ajam (selain Arab) maka perbedaan tersebut tidaklah menunjukkan adanya perbedaan dari yang diungkapkan. Dan yang diungkapkan tersebut adalah kalaam nafsi” (Fathul Baari 13/460)Komentar : Jadi menurut Asyairoh Al-Qur’an dan At-Taurot, dan Al-Injil sama-sama mengungkapkan hal yang sama yaitu kalam nafsi. Atau bahasa kasarannya al-Qur’an, At-Taurot dan Al-Injil adalah terjemahan dari kalam nafsi. Karena kalam nafsi tanpa bahasa dan huruf.KEDUA : Nukilan bahwa Asyairoh mengakui al-Qur’an (yang kita baca) adalah makhluk bukan sifat AllahAl-Baajuuri berkata :ومذهب أهل السنة أن القرآن الكريم –بمعنى الكلام النفسي- ليس بمخلوق، وأما القرآن –بمعنى اللفظ الذي نقرؤه- فهو مخلوق. لكنه يمتنع أن يقال : القرآن مخلوق، ويراد به اللفظ الذي نقرؤه إلا في مقام التعليم، لأنه ربما أوهم أن القرآن –بمعنى الكلام النفسي- مخلوق“Dan madzhab Ahlus Sunnah bahwasanya Al-Qur’an Al-Kariim –maksudnya yaitu kalam nafsi- bukanlah makhluq. Adapun al-Qur’an –yaitu lafal yang kita baca- maka adalah makhluk. Akan tetapi tidak boleh dikatakan bahwasanya al-Qur’an makhluk dan dimaksudkan adalah lafal yang kita baca kecuali dalam pengajaran. Karena bisa jadi bisa disangka bahwasanya al-Qur’an –yaitu kalam nafsi- adalah makhluk” (Syarh Jauharat At-Tauhiid 173)Jadi : Al-Qur’an adalah makhluk menurut asyairoh, tapi tidak boleh dijelaskan secara terang-terangan kepada orang awam dikawatirkan mereka salah paham, sehingga mengira al-qur’an adalah kalam nafsi yang disangka makhluk. Hanya boleh dijelaskan terang-terangan tatkala dalam pengajaran agar tidak disalah pahami. KETIGA : Nukilan bahwa Asyairoh sepakat dengan Muktazilah dan tidak mengingkari mereka dalam perihal Al-Qur’an adalah MakhlukPertama : Al-Juawaini berkataواعلموا بعدها أن الكلام مع المعتزلة وسائر المخالفين في هذه المسألة يتعلق بالنفي والإثبات، فإن ما أثبتوه وقدَّروه كلاما، فهو في نفسه ثابت، … فإن معنى قولهم “هذه العبارات كلام الله” أنها خَلْقُه ونحن لا ننكر أنها خلق الله، ولكن نمتنع من تسمية خالق الكلام متكلما به، فقد أطبقنا على المعنى وتنازعنا بعد الاتفاق في تسميته“Ketahuilah setelah ini bahwasanya pembicaraan bersama Mu’tazilah dan para penyelisih yang lainnya dalam permasalahan ini berkaitan dengan penafian dan penetapan. Karena sesungguhnya apa yang mereka tetapkan dan mereka anggap sebagai kalaam (sifat berbicara Allah) maka sifat tersebut secara dzatnya ada….Sesungguhnya makna perkataan mereka (Mu’tazilah) : “Ibarat-ibarat ini (lafal-lafal Al-Qur’an-pen) adalah firman Allah” yaitu adalah makhluk (ciptaan) Allah. Dan kami (Asyaa’iroh-pen) tidaklah mengingkari bahwasanya ibarat-ibarat tersebut adalah makhluk Allah, akan tetapi kami tidak mau menamakan Pencipta Al-Kalam berbicara dengan kalam tersebut. Maka kita telah sepakat dalam makna dan kita berselisih –setelah kesepakatan kita- dalam hal penamaan” (Al-Irsyaad Ilaa Qowaathi’il Adillah fi Ushuul Al-I’tiqood 116-117)Komentar : Jadi Asyairoh tidak mengingkari pernyataan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhlukKedua : Asy-Syahristani berkata  :وخصومنا لو وافقونا على أن الكلام في الشاهد معنى في النفس سوى العبارات القائمة باللسان، وأن الكلام في الغائب معنى قائم بذات الباري تعالى سوى العبارات التي نقرؤها باللسان ونكتبها في المصاحف، لو وافقونا على اتحاد المعنى، لكن لما كان الكلام لفظا مشتركا في الإطلاق لم يتوارد على محل واحد، فإن ما يثبته الخصم كلاماً فالأشعرية تثبته وتوافقه على أنه كثير وأنه محدث مخلوق، وما يثبته الأشعري كلاماً فالخصم ينكره أصلاً“Kalau seandainya musuh-musuh kami (yaitu Mu’tazilah-pen) sepakat dengan kami tentang bahwasanya al-kalaam (perkataan) yang nampak adalah makna di Dzat selain ibarat-ibarat yang diungkapkan lisan, dan bahwasanya al-kalam (perkataan) yang ada di alam ghaib tegak/berada di Dzat/diri Allah selain ibarat-ibarat yang kita baca dengan lisan kita dan yang kita tulis di mushaf-mushaf, maka tentunya mereka akan bersepakat dengan kita pada kesatuan makna.Akan tetapi al-kalam adalah lafal yang musytarok (mengandung makna berbilang-pen) dan tidak datang pada satu makna saja, maka apa yang ditetapkan oleh musuh (Mu’tazilah) (yaitu Al-Qur’an-pen) sebagai kalam maka Asya’iroh juga menetapkannya dan sepakat bahwasanya kalam tersebut banyak dan muhdats (baru) serta makhluk.Dan apa yang ditetapkan oleh Asya’iroh sebagai kalam (sifat kalam nafsi-pen) maka musuh (Mu’tazilah) mengingkarinya”  (Nihaayatul Iqdaam 289)Ketiga : Al-Buuthi berkata :أما جماهير المسلمين أهل السنة والجماعة، فقالوا : إننا لا ننكر هذا الذي تقوله المعتزلة، بل نقول به، ونسميه كلاماً لفظياً، ونحن جميعاً متفقون على حدوثه وأنه غير قائم بذاته تعالى، من أجل أنه حادث، ولكنا نثبت أمراً وراء ذلك وهو الصفة القائمة بالنفس والتي يعبّر عنها بالألفاظ وهي غير حقيقة العلم وغير الإرادة، وإنما هي صفة مهيأة لأن يخاطب بها الأخرين على وجه الأمر أو النهي أو الإخبار، تدل عليه الألفاظ وهي صفة قديمة قائمة بذاته تعالى، ضرورة استحالة توارد الخواطر وطروء المعاني عليه كما هو شأن الإنسان، وهذا هو المقصود بإسناد الكلام إلى الله تعالى“Adapun mayoritas kaum mulsimin Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah (yaitu Asya’iroh-pen) maka mereka berkata : Kami tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Mu’tazilah, bahkan kamipun sependapat, dan kami menamakannya dengan kalam secara lafal. Dan kami semua sepakat bahwa kalam lafal tersebut (yaitu al-Qur’an-pen) adalah sesuatu yang baru, dan ia tidak berdiri di Dzat Allah karena ia adalah hadits (baru). Akan tetapi kami menetapkan suatu perkara dibalik ini semua, yaitu kalam adalah sifat yang berdiri di Dzat Allah yang diungkapkan dengan lafal-lafal” (Kubro Al-Yaqiniyaat Al-Kauniyah 125)Komentar : Demikianlah bahwa asyairoh membenarkan keyakinan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk. KEEMPAT : Nukilan bahwa al-Qur’an itu ibaratnya (lafal-lafal Qur’an yang kita baca) dari Muhammad atau ibaratnya Jibril atau dari ibarat yang diciptakan Allah.Al-Baqqilaani berpendapat bahwal al-Qur’an ibaratnya dari Nabi Muhammad, beliau berkata :فأخبر تعالى أنه أرسل موسى عليه السلام إلى بني إسرائيل بلسان عبراني، فأفهم كلام الله القديم القائم بالنفس بالعبرانية، وبعث عيسى عليه السلام بلسان سرياني، فأفهم كلام الله القديم بلسانهم، بعث نبينا صلى الله عليه وسلم بلسان العرب، فأفهم قومه كلام الله القديم القائم بالنفس بكلامهم. فلغة العرب غير لغة العبرانية ولغة السريانية وغيرهما، لكن الكلام القديم القائم بالنفس شيء واحد لا يختلف ولا يتغير“Maka Allah mengabarkan bahwa Allah mengutus Musa ‘alaihis salam kepada bani Israil dengan bahasa Ibrani, maka Musa memahamkan kalamullah al-Qodim (yang hakiki, yaitu kalam nafsi-pent) kepada kaumnya dengan bahasa ibrani. Dan Allah mengutus Nabi Isa ‘alaihis salam dengan bahasa Siryani. Maka Nabi Isa memahamkan kalamullah (kalam nafsi) kepada kaumnya dengan bahasa Siryani. Dan Allah mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa Arab. Maka Nabi Muhammad memahamkan kalamullah nafsi kepada kaumnya dengan bahasa mereka. Maka bahasa Arab bukanlah bahasa Ibrani, bukan pula bahasa Siryani, dan juga bahasa yang lain. Akan tetapi kalamullah yang qodim dan kalam nafsi ada sesuatu yang satu tidak berbeda dan tidak berubah” (Al-Insoof hal 101-102)Adapun Ar-Raazi maka beliau menyampaikan pendapat bahwa bisa saja ibaratnya dari Jibril. Beliau berkata :فإن قيل كيف سمع جبريل كلام الله تعالى، وكلامه ليس من الحروف والأصوات عندكم؟ قلنا يحتمل أن يخلق الله تعالى له سمعا لكلامه ثم أقدره على عبارة يعبر بها عن ذلك الكلام القديم“Kalau ada yang bertanya : Bagaimana Jibril mendengar kalamullah, sementara kalamullah tidak ada huruf dan suaranya menurut kalian?. Maka kami jawab : Bisa jadi Allah menciptakan bagi jibril pendengaran untuk mendengar kalamNya lalu Allah menjadikan Jibril mampu untuk memiliki ibarat untuk mengungkapkan kalamullah yang qodim tersebut” (Mafaatiihul Goib 2/277)Adapun al-Baajuuri maka beliau berpendapat bahwa lafal-lafal al-Qur’an adalah ciptaan Allah yang Allah ciptakan lalu Allah letakan di al-Lauh Al-Mahfuuz. Beliau berkata :وهو الذي خلقه الله تعالى أولاً في اللوح المحفوظ، ثم أنزله في صحائف إلى سماء الدنيا في محل يقال له “بيت العزة” في ليلة القدر… ثم أنزله على النبي صلى الله عليه وسلم مفرقاً بحسب الوقائع“Dan al-Qur’an adalah  yang telah menciptakan pertama kali di al-Lauh al-Mahfuuz lalu Allah turunkan di lembaran-lembaran di langit dunia di suatu tempat yang disebut dengan baitul ‘izzah dai malam lailatul qodar….Lalu Allah turunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara terpisah-pisah berdasarkan kejadian dan peristiwa” (Hasyiatul Baajuuri 162)Bersambung : Bagian kedua (Bantahan terhadap Aqidah Asyairoh bahwa al-Qur’an Makhluk)Jakarta, 17-10-1438 H / 11-07-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Aqidah ahlus sunnah wal jamaah tentang al-Qur’an sangatlah jelas, bahwasanya Al-Qur’an adalah firman Allah, lafal-lafalnya dari Allah, dan merupakan kalamullah. Allah berbicara dengan suara yang bisa didengar, sebagaimana didengar oleh para malaikat dan juga didengar oleh para Nabi. Diantaranya didengar oleh Nabi Musa sehingga Nabi Musa digelari dengan Kaliimullah (yang diajak berbicara dengan Allah). Jadi Allah berbicara dengan siapa yang Allah kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan dengan topik apa saja yang Allah kehendaki serta kapan saja Allah kehendaki. Akan tetapi tentunya firman Allah tidak seperti kalam makhluk, suara Allah tidak seperti suara makhluk, sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk.Inilah yang dipahami oleh orang-orang awam kaum muslimin di tanah air. Semuanya berkata “Mari kita mendengarkan pembacaan firman Allah”. Demikian juga mereka tatkala membaca al-Qur’an mereka berkata, “Allah berfirman”. Tentunya maksud mereka adalah firman Allah secara hakikat dan sesungguhnya. Tidak ada yang berkata (apalagi memahami) bahwa yang dimaksud adalah firman Allah majazi hanya ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!. Saya rasa orang-orang awam malah tidak pernah mendengar hal yang seperti ini. (Insya Allah ucapan-ucapan para salaf yang menjelaskan aqidah ahlus sunnah tentang al-Qr’an adalah firman Allah akan saya nukilkan di artikel selanjutnya)Jika ada sesuatu yang menyimpang maka mau tidak mau harus diluruskan. Diantaranya keyakinan Asya’iroh bahwasanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah hakiki, bukanlah sifat Allah, akan tetapi hanyalah ibarat atau ungkapan dari firman Allah yang hakiki. Hal ini perlu dibahas kembali sebagai pembahasan ilmiyah mengingat masih ada orang yang mengaku berpemahaman asya’iroh tapi kurang faham dengan aqidah asya’iroh.Berikut kesimpulan aqidah al-Asyaairoh tentang al-Qur’an :Pertama : Allah memiliki sifat berbicara/kalam, akan tetapi kalam Allah adalah bahasa jiwa yang ada di dzat Allah. Inilah yang disebut dengan kalam nafsiKedua : Kalam nafsi adalah tanpa suara dan tanpa huruf, tentunya tanpa bahasaKetiga : Nah kalam nafsi ini (yang tanpa huruf dan bahasa) jika diungkapkan (diibaratkan) dengan bahasa Arab maka jadilah al-Qur’an, jika diungkapkan dengan bahasa Ibrani maka jadilah taurat dan jika diungkapkan dengan siryani maka jadilah injil. Maka sebenarnya Taurat, Injil, dan Al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari perkara yang sama yaitu dari kalam nafsi.Keempat : Karenanya al-Qur’an yang kita baca ini bukanlah firman Allah yang hakiki tapi hanyalah ibarat atau ungkapan atau isyarat dari kalam nafsi. Karena firman Allah yang hakiki adalah kalam nafsi. Meskipun Al-Qur’an terkadang dinamakan dengan firman Allah atau kalamullah tapi hanyalah penamaan majazi dan bukan secara hakikat.Kelima : Jika Al-Qur’an adalah bukan firman Allah hakiki lantas ibaratnya (lafal-lafal dalam al-Qur’an yang kita baca) dari siapa?, maka ada tiga pendapat di kalangan para asyairoh.    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut diciptakan oleh Allah dan diletakan di al-lauh al-mahfuz, dan in adalah pendapat al-Baajuri    Ada yang mengatakan bahwa ibarat tersebut dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ibarat Taurat dari Musa, dan ibarat Injil dari Isa. Dan ini adalah pendapat Al-Baaqillaani    Ada yang berpendapat bahwa ibaratnya dari Jibril ‘alaihis salaam (dan pendapat ini disebutkan oleh Ar-Raazi)Keenam : Dari sini para ulama asyairoh sepakat dengan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan sifat yang tegak di zat Allah (bukan sifat yang ada pada diri Allah), karena makhluk tidak boleh berada di zat Allah.Ketujuh : Karenanya akhirnya kaum Liberal dengan tafsir Hermeneutika berdalil dengan aqidah Asya’iroh untuk melegalkan metode tafsir kontekstual mereka (yaitu Hermeneutika) dengan dalih bahwa al-Qur’an bukan lah firman Allah karena Allah tidak berbicara dengan bahwasa Arab, maka kita jangan terpaku dengan tekstual Al-Qur’an yang merupakan produk Muhammad. Jadi kaum liberal memilih pendapat al-Baqqilaani bahwa al-Qur’an itu ibaratnya dari Muhammad. Berikut nukilan-nukilan dari ulama Asyaairoh yang menjelaskan poin-poin di atas disertai sedikit komentar : PERTAMA : Nukilan tentang hakikat aqidah AsyairohAl-Baaqillani berkata :ويجب أن يعلم أن الكلام الحقيقي هو المعنى الموجود في النفس، لكن جعل عليه أمارات تدل عليه“Dan wajib untuk diketahui bahwasanya kalam Allah yang hakiki adalah makna yang terdapat pada jiwa, akan tetapi Allah menjadikan adanya tanda-tanda yang menunjukkan kepada makna tersebut” (Al-Insoof hal 101)Komentar : Jadi menurut Asyairoh kalam nafsi itulah firman Allah yang hakiki, adapun al-Qur’an adalah firman Allah yang majazi.Apa yang dimaksud dengan kalam nafsi ?Al-Juwaini berkata :وذهب أهل الحق إلى إثبات الكلام القائم بالنفس وهو الفكر الذي يدور في الخلد، وتدل عليه العبارات تارة وما يصطلح عليه من الإشارات ونحوها أخرى“Dan  ahlul hak menetapkan adanya kalam nafsi, yaitu fikiran yang berputar di dalam jiwa, yang ditunjukan terkadang dengan ibarat/ungkapan, atau terkadang dengan isyarat-isyarat dan yang semisalnya” (Al-Irsyaad hal 105)Komentar : Jadi menurut Asyairoh bahwa Kalam nafsi itu seperti sesuatu makna yang ada di hati, nah al-Qur’an itu hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa tersebutAl-Baaqillaani juga berkataويجب أن يعلم أن الله تعالى لا يتصف كلامه القديم بالحروف والأصوات ولا شيء من صفات الخلق، وأنه تعالى لا يفتقر في كلامه إلى مخارج وأدوات“Dan wajib diketahui bahwasanya kalam (firman) Allah yang qodim tidak disifati dengan huruf dan suara, dan tidak juga sesuatu apapun dari sifat-sifat makhluk, dan bahwasanya Allah dalam firmanNya tidak membutuhkan tempat keluar suara dan alat-alat“ (Al-Insoof hal 104)Komentar : Jadi menurut Asyairoh firman Allah itu tanpa suara dan huruf serta bahasa, karena itu adalah sifat-sifat makhluk. Karenanya jelas bahwa al-Qur’an yang berisi huruf dan bahasa adalah makhlukIbnu Hajar menukil pendapat-pendapat tentang kalaamullah beliau berkata :وَقَالَتِ الْأَشَاعِرَةُ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ وَأَثْبَتَتِ الْكَلَامَ النَّفْسِيَّ وَحَقِيقَتُهُ مَعْنًى قَائِمٌ بِالنَّفْسِ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ عَنْهُ الْعِبَارَةُ كَالْعَرَبِيَّةِ وَالْعَجَمِيَّةِ وَاخْتِلَافُهَا لَا يَدُلُّ عَلَى اخْتِلَافِ الْمُعَبَّرِ عَنْهُ وَالْكَلَامُ النَّفْسِيُّ هُوَ ذَلِكَ الْمُعَبَّرُ“Dan Aysairoh berkata bahwasasanya firman/kalaam Allah tidaklah dengan huruf dan suara, dan mereka menetapkan adanya kalam nafsi. Dan hakikatnya adalah suatu makna yang tegak/berada di dzat/diri Allah, meskipun ibarat-ibarat (yang mengungkapkannya) berbeda-beda, seperti diungkapkan dengan bahasa Arab atau bahasa ‘ajam (selain Arab) maka perbedaan tersebut tidaklah menunjukkan adanya perbedaan dari yang diungkapkan. Dan yang diungkapkan tersebut adalah kalaam nafsi” (Fathul Baari 13/460)Komentar : Jadi menurut Asyairoh Al-Qur’an dan At-Taurot, dan Al-Injil sama-sama mengungkapkan hal yang sama yaitu kalam nafsi. Atau bahasa kasarannya al-Qur’an, At-Taurot dan Al-Injil adalah terjemahan dari kalam nafsi. Karena kalam nafsi tanpa bahasa dan huruf.KEDUA : Nukilan bahwa Asyairoh mengakui al-Qur’an (yang kita baca) adalah makhluk bukan sifat AllahAl-Baajuuri berkata :ومذهب أهل السنة أن القرآن الكريم –بمعنى الكلام النفسي- ليس بمخلوق، وأما القرآن –بمعنى اللفظ الذي نقرؤه- فهو مخلوق. لكنه يمتنع أن يقال : القرآن مخلوق، ويراد به اللفظ الذي نقرؤه إلا في مقام التعليم، لأنه ربما أوهم أن القرآن –بمعنى الكلام النفسي- مخلوق“Dan madzhab Ahlus Sunnah bahwasanya Al-Qur’an Al-Kariim –maksudnya yaitu kalam nafsi- bukanlah makhluq. Adapun al-Qur’an –yaitu lafal yang kita baca- maka adalah makhluk. Akan tetapi tidak boleh dikatakan bahwasanya al-Qur’an makhluk dan dimaksudkan adalah lafal yang kita baca kecuali dalam pengajaran. Karena bisa jadi bisa disangka bahwasanya al-Qur’an –yaitu kalam nafsi- adalah makhluk” (Syarh Jauharat At-Tauhiid 173)Jadi : Al-Qur’an adalah makhluk menurut asyairoh, tapi tidak boleh dijelaskan secara terang-terangan kepada orang awam dikawatirkan mereka salah paham, sehingga mengira al-qur’an adalah kalam nafsi yang disangka makhluk. Hanya boleh dijelaskan terang-terangan tatkala dalam pengajaran agar tidak disalah pahami. KETIGA : Nukilan bahwa Asyairoh sepakat dengan Muktazilah dan tidak mengingkari mereka dalam perihal Al-Qur’an adalah MakhlukPertama : Al-Juawaini berkataواعلموا بعدها أن الكلام مع المعتزلة وسائر المخالفين في هذه المسألة يتعلق بالنفي والإثبات، فإن ما أثبتوه وقدَّروه كلاما، فهو في نفسه ثابت، … فإن معنى قولهم “هذه العبارات كلام الله” أنها خَلْقُه ونحن لا ننكر أنها خلق الله، ولكن نمتنع من تسمية خالق الكلام متكلما به، فقد أطبقنا على المعنى وتنازعنا بعد الاتفاق في تسميته“Ketahuilah setelah ini bahwasanya pembicaraan bersama Mu’tazilah dan para penyelisih yang lainnya dalam permasalahan ini berkaitan dengan penafian dan penetapan. Karena sesungguhnya apa yang mereka tetapkan dan mereka anggap sebagai kalaam (sifat berbicara Allah) maka sifat tersebut secara dzatnya ada….Sesungguhnya makna perkataan mereka (Mu’tazilah) : “Ibarat-ibarat ini (lafal-lafal Al-Qur’an-pen) adalah firman Allah” yaitu adalah makhluk (ciptaan) Allah. Dan kami (Asyaa’iroh-pen) tidaklah mengingkari bahwasanya ibarat-ibarat tersebut adalah makhluk Allah, akan tetapi kami tidak mau menamakan Pencipta Al-Kalam berbicara dengan kalam tersebut. Maka kita telah sepakat dalam makna dan kita berselisih –setelah kesepakatan kita- dalam hal penamaan” (Al-Irsyaad Ilaa Qowaathi’il Adillah fi Ushuul Al-I’tiqood 116-117)Komentar : Jadi Asyairoh tidak mengingkari pernyataan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhlukKedua : Asy-Syahristani berkata  :وخصومنا لو وافقونا على أن الكلام في الشاهد معنى في النفس سوى العبارات القائمة باللسان، وأن الكلام في الغائب معنى قائم بذات الباري تعالى سوى العبارات التي نقرؤها باللسان ونكتبها في المصاحف، لو وافقونا على اتحاد المعنى، لكن لما كان الكلام لفظا مشتركا في الإطلاق لم يتوارد على محل واحد، فإن ما يثبته الخصم كلاماً فالأشعرية تثبته وتوافقه على أنه كثير وأنه محدث مخلوق، وما يثبته الأشعري كلاماً فالخصم ينكره أصلاً“Kalau seandainya musuh-musuh kami (yaitu Mu’tazilah-pen) sepakat dengan kami tentang bahwasanya al-kalaam (perkataan) yang nampak adalah makna di Dzat selain ibarat-ibarat yang diungkapkan lisan, dan bahwasanya al-kalam (perkataan) yang ada di alam ghaib tegak/berada di Dzat/diri Allah selain ibarat-ibarat yang kita baca dengan lisan kita dan yang kita tulis di mushaf-mushaf, maka tentunya mereka akan bersepakat dengan kita pada kesatuan makna.Akan tetapi al-kalam adalah lafal yang musytarok (mengandung makna berbilang-pen) dan tidak datang pada satu makna saja, maka apa yang ditetapkan oleh musuh (Mu’tazilah) (yaitu Al-Qur’an-pen) sebagai kalam maka Asya’iroh juga menetapkannya dan sepakat bahwasanya kalam tersebut banyak dan muhdats (baru) serta makhluk.Dan apa yang ditetapkan oleh Asya’iroh sebagai kalam (sifat kalam nafsi-pen) maka musuh (Mu’tazilah) mengingkarinya”  (Nihaayatul Iqdaam 289)Ketiga : Al-Buuthi berkata :أما جماهير المسلمين أهل السنة والجماعة، فقالوا : إننا لا ننكر هذا الذي تقوله المعتزلة، بل نقول به، ونسميه كلاماً لفظياً، ونحن جميعاً متفقون على حدوثه وأنه غير قائم بذاته تعالى، من أجل أنه حادث، ولكنا نثبت أمراً وراء ذلك وهو الصفة القائمة بالنفس والتي يعبّر عنها بالألفاظ وهي غير حقيقة العلم وغير الإرادة، وإنما هي صفة مهيأة لأن يخاطب بها الأخرين على وجه الأمر أو النهي أو الإخبار، تدل عليه الألفاظ وهي صفة قديمة قائمة بذاته تعالى، ضرورة استحالة توارد الخواطر وطروء المعاني عليه كما هو شأن الإنسان، وهذا هو المقصود بإسناد الكلام إلى الله تعالى“Adapun mayoritas kaum mulsimin Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah (yaitu Asya’iroh-pen) maka mereka berkata : Kami tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Mu’tazilah, bahkan kamipun sependapat, dan kami menamakannya dengan kalam secara lafal. Dan kami semua sepakat bahwa kalam lafal tersebut (yaitu al-Qur’an-pen) adalah sesuatu yang baru, dan ia tidak berdiri di Dzat Allah karena ia adalah hadits (baru). Akan tetapi kami menetapkan suatu perkara dibalik ini semua, yaitu kalam adalah sifat yang berdiri di Dzat Allah yang diungkapkan dengan lafal-lafal” (Kubro Al-Yaqiniyaat Al-Kauniyah 125)Komentar : Demikianlah bahwa asyairoh membenarkan keyakinan mu’tazilah bahwa al-Qur’an adalah makhluk. KEEMPAT : Nukilan bahwa al-Qur’an itu ibaratnya (lafal-lafal Qur’an yang kita baca) dari Muhammad atau ibaratnya Jibril atau dari ibarat yang diciptakan Allah.Al-Baqqilaani berpendapat bahwal al-Qur’an ibaratnya dari Nabi Muhammad, beliau berkata :فأخبر تعالى أنه أرسل موسى عليه السلام إلى بني إسرائيل بلسان عبراني، فأفهم كلام الله القديم القائم بالنفس بالعبرانية، وبعث عيسى عليه السلام بلسان سرياني، فأفهم كلام الله القديم بلسانهم، بعث نبينا صلى الله عليه وسلم بلسان العرب، فأفهم قومه كلام الله القديم القائم بالنفس بكلامهم. فلغة العرب غير لغة العبرانية ولغة السريانية وغيرهما، لكن الكلام القديم القائم بالنفس شيء واحد لا يختلف ولا يتغير“Maka Allah mengabarkan bahwa Allah mengutus Musa ‘alaihis salam kepada bani Israil dengan bahasa Ibrani, maka Musa memahamkan kalamullah al-Qodim (yang hakiki, yaitu kalam nafsi-pent) kepada kaumnya dengan bahasa ibrani. Dan Allah mengutus Nabi Isa ‘alaihis salam dengan bahasa Siryani. Maka Nabi Isa memahamkan kalamullah (kalam nafsi) kepada kaumnya dengan bahasa Siryani. Dan Allah mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa Arab. Maka Nabi Muhammad memahamkan kalamullah nafsi kepada kaumnya dengan bahasa mereka. Maka bahasa Arab bukanlah bahasa Ibrani, bukan pula bahasa Siryani, dan juga bahasa yang lain. Akan tetapi kalamullah yang qodim dan kalam nafsi ada sesuatu yang satu tidak berbeda dan tidak berubah” (Al-Insoof hal 101-102)Adapun Ar-Raazi maka beliau menyampaikan pendapat bahwa bisa saja ibaratnya dari Jibril. Beliau berkata :فإن قيل كيف سمع جبريل كلام الله تعالى، وكلامه ليس من الحروف والأصوات عندكم؟ قلنا يحتمل أن يخلق الله تعالى له سمعا لكلامه ثم أقدره على عبارة يعبر بها عن ذلك الكلام القديم“Kalau ada yang bertanya : Bagaimana Jibril mendengar kalamullah, sementara kalamullah tidak ada huruf dan suaranya menurut kalian?. Maka kami jawab : Bisa jadi Allah menciptakan bagi jibril pendengaran untuk mendengar kalamNya lalu Allah menjadikan Jibril mampu untuk memiliki ibarat untuk mengungkapkan kalamullah yang qodim tersebut” (Mafaatiihul Goib 2/277)Adapun al-Baajuuri maka beliau berpendapat bahwa lafal-lafal al-Qur’an adalah ciptaan Allah yang Allah ciptakan lalu Allah letakan di al-Lauh Al-Mahfuuz. Beliau berkata :وهو الذي خلقه الله تعالى أولاً في اللوح المحفوظ، ثم أنزله في صحائف إلى سماء الدنيا في محل يقال له “بيت العزة” في ليلة القدر… ثم أنزله على النبي صلى الله عليه وسلم مفرقاً بحسب الوقائع“Dan al-Qur’an adalah  yang telah menciptakan pertama kali di al-Lauh al-Mahfuuz lalu Allah turunkan di lembaran-lembaran di langit dunia di suatu tempat yang disebut dengan baitul ‘izzah dai malam lailatul qodar….Lalu Allah turunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara terpisah-pisah berdasarkan kejadian dan peristiwa” (Hasyiatul Baajuuri 162)Bersambung : Bagian kedua (Bantahan terhadap Aqidah Asyairoh bahwa al-Qur’an Makhluk)Jakarta, 17-10-1438 H / 11-07-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?

Bismillah..Ada hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim yang berbunyi,إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam mengucapkan amiin, maka ucapkanlah amin. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”Melihat teks hadis ini secara eksplisit, tampak bahwa para makmum mengucapkan aamiin setelah ucapan aamiinnya imam. Karena potongan redaksi hadis di atas menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) “ammana” (telah mengucapkan aamiin). Sehingga hadis ini menunjukkan waktu yang tepat bagi makmum untuk mengucapkan aamiin adalah setelah imam mengucapkan aamiin.Namun di sana ada hadis lain yang menerangkan bahwa makmum membaca aamiin setelah imam selesai membaca ayat waladdhalliin. Artinya makmum tidak perlu menunggu ucapan aamiin Imam. Namun berbarengan dengan ucapan aamiin imam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا قال الإمام غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فقولوا : آمين، فإنه من وتفق قوله قول الملائكه غفر له ما تقدم من ذنبه.“Apabila imam membaca ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa lādh-dhāllīn, maka ucapkanlah ‘āmīn’. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari).Dua hadis yang tampak bertentangan, namun hakikatnya tidak. Karena tidak ada ayat ataupun hadis yang kontrakdisi secara hakikat. Yang ada kontrakdisi tersebut karena kedangkalan pemahaman kita sebagai manusia. Bila ada dua dalil yang tampak bertentangan seperti ini, ada empat langkah yang ditempuh oleh para ulama untuk menyimpulkan suatu hukum, yaitu.1. Al-Jam’u, yakni mengkompromikan dua dalil yang tampak bertentangan.2. At-Tarjih, yakni memilih salah satu dalil yang lebih kuat, baik dari sisi sanad maupun ketegasan redaksional.3. An-Naskhu, yakni menghapus hukum salah satu dari dua dalil yang tampak bertentangan. Langkah ini ditempuh apabila diketahui waktu munculnya dalil dan tidak mungkin mengkompromikan atau mentarjih salah satu dalil. Lalu nanti dalil yang datang belakangan menghapus dalil yang datang dahulu.4. At-Tawaqquf, yakni tidak mengamalkan kedua dalil. Langkah terakhir ini dipilih bila dalil yang tampak bertentangan tidak mungkin untuk dikompromikan, ditarjih, atau dinaskh.Untuk mencari jalan keluar, mari kita tempuh langkah pertama terlebih dahulu sebelum memilih tiga langkah berikutnya, yakni al jam’u. Langkah kompromistis lebih didahulukan karena dalam kaidah ushul fikih dinyatakan:إعمال الدليلين أولى من إهمال أحدهما“Menerapkan dua dalil sekaligus lebih diutamakan daripada memilih salah satu dalil dan mengabaikan yang lainnya.”Lalu apakah mungkin dua hadis di atas dikompromikan?Ternyata mungkin untuk dikompromikan. Sebagaimana penjelasan An-Nawawi rahimahullah berikut,وكلاهما في الصحيحين كما سبق فيجب الجمع بينهما . فيحمل الأول على أن المراد إذا أراد الإمام التأمين فأمنوا ليجمع بينهما . قال الخطابي وغيره : وهذا كقولهم إذا رحل الأمير فارحلوا ، أي إذا تهيأ للرحيل فتهيئوا ليكن رحيلكم معه“Kedua hadis ini tertulis di shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Oleh karenanya kedua hadis ini harus dikompromikan. Hadis pertama kita pahami, apabila imam hendak mengucapkan aamiin maka ikutilah oleh kalian mengucapkan aamiin, supaya mengkompromikan dua hadis ini. Al-Khattabi rahimahullah dan yang lainnya mengatakan, ‘Hal ini seperti ucapan apabila seorang amir (pimpinan) pergi maka pergilah kalian.’ Maksudnya apabila amir bersiap-siap pergi, maka berkemas-kemaslah kalian. Supaya kepergian kalian berbarengan dengan amir” (Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab 3/333).Sehingga hadis pertama kita maknai, “jika imam telah bersiap mengucapkan aamiin maka bersiap-siaplah kalian mengucapkan aamiin. Supaya ucapan aamiin kalian berbarengan dengan ucapan aamiinnya imam.” Karena redaksi dalil itu saling menjelaskan satu sama lain.Pendapat inilah yang dipegang oleh jumhur ulama, di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu Zubair, Sufyan Ast-Stauri, ‘Atha’, Syafi’i, Yahya bin Yahya, Ishak, Abu Khaitsamah, Ibnu Abi Syaibah, Sulaiman bin Dawud dan ulama mazhab Hanafi.Kesimpulannya, makmum mengucapkan aamiin berbarengan dengan ucapan aamiinnya imamBaca juga: * Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar ShalatWallahua’lam bis showab.***Salatiga, 23 Ramadhan 1348 HArtikel : Muslim.or.id Penulis : Ahmad Anshori🔍 Kisah Abu Hurairah, Ayat Tentang Cinta Kepada Allah, Bahaya Fitnah Dalam Islam, Kado Al Quran, Kitab Syarah Riyadhus Shalihin

Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?

Bismillah..Ada hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim yang berbunyi,إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam mengucapkan amiin, maka ucapkanlah amin. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”Melihat teks hadis ini secara eksplisit, tampak bahwa para makmum mengucapkan aamiin setelah ucapan aamiinnya imam. Karena potongan redaksi hadis di atas menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) “ammana” (telah mengucapkan aamiin). Sehingga hadis ini menunjukkan waktu yang tepat bagi makmum untuk mengucapkan aamiin adalah setelah imam mengucapkan aamiin.Namun di sana ada hadis lain yang menerangkan bahwa makmum membaca aamiin setelah imam selesai membaca ayat waladdhalliin. Artinya makmum tidak perlu menunggu ucapan aamiin Imam. Namun berbarengan dengan ucapan aamiin imam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا قال الإمام غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فقولوا : آمين، فإنه من وتفق قوله قول الملائكه غفر له ما تقدم من ذنبه.“Apabila imam membaca ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa lādh-dhāllīn, maka ucapkanlah ‘āmīn’. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari).Dua hadis yang tampak bertentangan, namun hakikatnya tidak. Karena tidak ada ayat ataupun hadis yang kontrakdisi secara hakikat. Yang ada kontrakdisi tersebut karena kedangkalan pemahaman kita sebagai manusia. Bila ada dua dalil yang tampak bertentangan seperti ini, ada empat langkah yang ditempuh oleh para ulama untuk menyimpulkan suatu hukum, yaitu.1. Al-Jam’u, yakni mengkompromikan dua dalil yang tampak bertentangan.2. At-Tarjih, yakni memilih salah satu dalil yang lebih kuat, baik dari sisi sanad maupun ketegasan redaksional.3. An-Naskhu, yakni menghapus hukum salah satu dari dua dalil yang tampak bertentangan. Langkah ini ditempuh apabila diketahui waktu munculnya dalil dan tidak mungkin mengkompromikan atau mentarjih salah satu dalil. Lalu nanti dalil yang datang belakangan menghapus dalil yang datang dahulu.4. At-Tawaqquf, yakni tidak mengamalkan kedua dalil. Langkah terakhir ini dipilih bila dalil yang tampak bertentangan tidak mungkin untuk dikompromikan, ditarjih, atau dinaskh.Untuk mencari jalan keluar, mari kita tempuh langkah pertama terlebih dahulu sebelum memilih tiga langkah berikutnya, yakni al jam’u. Langkah kompromistis lebih didahulukan karena dalam kaidah ushul fikih dinyatakan:إعمال الدليلين أولى من إهمال أحدهما“Menerapkan dua dalil sekaligus lebih diutamakan daripada memilih salah satu dalil dan mengabaikan yang lainnya.”Lalu apakah mungkin dua hadis di atas dikompromikan?Ternyata mungkin untuk dikompromikan. Sebagaimana penjelasan An-Nawawi rahimahullah berikut,وكلاهما في الصحيحين كما سبق فيجب الجمع بينهما . فيحمل الأول على أن المراد إذا أراد الإمام التأمين فأمنوا ليجمع بينهما . قال الخطابي وغيره : وهذا كقولهم إذا رحل الأمير فارحلوا ، أي إذا تهيأ للرحيل فتهيئوا ليكن رحيلكم معه“Kedua hadis ini tertulis di shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Oleh karenanya kedua hadis ini harus dikompromikan. Hadis pertama kita pahami, apabila imam hendak mengucapkan aamiin maka ikutilah oleh kalian mengucapkan aamiin, supaya mengkompromikan dua hadis ini. Al-Khattabi rahimahullah dan yang lainnya mengatakan, ‘Hal ini seperti ucapan apabila seorang amir (pimpinan) pergi maka pergilah kalian.’ Maksudnya apabila amir bersiap-siap pergi, maka berkemas-kemaslah kalian. Supaya kepergian kalian berbarengan dengan amir” (Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab 3/333).Sehingga hadis pertama kita maknai, “jika imam telah bersiap mengucapkan aamiin maka bersiap-siaplah kalian mengucapkan aamiin. Supaya ucapan aamiin kalian berbarengan dengan ucapan aamiinnya imam.” Karena redaksi dalil itu saling menjelaskan satu sama lain.Pendapat inilah yang dipegang oleh jumhur ulama, di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu Zubair, Sufyan Ast-Stauri, ‘Atha’, Syafi’i, Yahya bin Yahya, Ishak, Abu Khaitsamah, Ibnu Abi Syaibah, Sulaiman bin Dawud dan ulama mazhab Hanafi.Kesimpulannya, makmum mengucapkan aamiin berbarengan dengan ucapan aamiinnya imamBaca juga: * Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar ShalatWallahua’lam bis showab.***Salatiga, 23 Ramadhan 1348 HArtikel : Muslim.or.id Penulis : Ahmad Anshori🔍 Kisah Abu Hurairah, Ayat Tentang Cinta Kepada Allah, Bahaya Fitnah Dalam Islam, Kado Al Quran, Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Bismillah..Ada hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim yang berbunyi,إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam mengucapkan amiin, maka ucapkanlah amin. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”Melihat teks hadis ini secara eksplisit, tampak bahwa para makmum mengucapkan aamiin setelah ucapan aamiinnya imam. Karena potongan redaksi hadis di atas menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) “ammana” (telah mengucapkan aamiin). Sehingga hadis ini menunjukkan waktu yang tepat bagi makmum untuk mengucapkan aamiin adalah setelah imam mengucapkan aamiin.Namun di sana ada hadis lain yang menerangkan bahwa makmum membaca aamiin setelah imam selesai membaca ayat waladdhalliin. Artinya makmum tidak perlu menunggu ucapan aamiin Imam. Namun berbarengan dengan ucapan aamiin imam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا قال الإمام غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فقولوا : آمين، فإنه من وتفق قوله قول الملائكه غفر له ما تقدم من ذنبه.“Apabila imam membaca ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa lādh-dhāllīn, maka ucapkanlah ‘āmīn’. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari).Dua hadis yang tampak bertentangan, namun hakikatnya tidak. Karena tidak ada ayat ataupun hadis yang kontrakdisi secara hakikat. Yang ada kontrakdisi tersebut karena kedangkalan pemahaman kita sebagai manusia. Bila ada dua dalil yang tampak bertentangan seperti ini, ada empat langkah yang ditempuh oleh para ulama untuk menyimpulkan suatu hukum, yaitu.1. Al-Jam’u, yakni mengkompromikan dua dalil yang tampak bertentangan.2. At-Tarjih, yakni memilih salah satu dalil yang lebih kuat, baik dari sisi sanad maupun ketegasan redaksional.3. An-Naskhu, yakni menghapus hukum salah satu dari dua dalil yang tampak bertentangan. Langkah ini ditempuh apabila diketahui waktu munculnya dalil dan tidak mungkin mengkompromikan atau mentarjih salah satu dalil. Lalu nanti dalil yang datang belakangan menghapus dalil yang datang dahulu.4. At-Tawaqquf, yakni tidak mengamalkan kedua dalil. Langkah terakhir ini dipilih bila dalil yang tampak bertentangan tidak mungkin untuk dikompromikan, ditarjih, atau dinaskh.Untuk mencari jalan keluar, mari kita tempuh langkah pertama terlebih dahulu sebelum memilih tiga langkah berikutnya, yakni al jam’u. Langkah kompromistis lebih didahulukan karena dalam kaidah ushul fikih dinyatakan:إعمال الدليلين أولى من إهمال أحدهما“Menerapkan dua dalil sekaligus lebih diutamakan daripada memilih salah satu dalil dan mengabaikan yang lainnya.”Lalu apakah mungkin dua hadis di atas dikompromikan?Ternyata mungkin untuk dikompromikan. Sebagaimana penjelasan An-Nawawi rahimahullah berikut,وكلاهما في الصحيحين كما سبق فيجب الجمع بينهما . فيحمل الأول على أن المراد إذا أراد الإمام التأمين فأمنوا ليجمع بينهما . قال الخطابي وغيره : وهذا كقولهم إذا رحل الأمير فارحلوا ، أي إذا تهيأ للرحيل فتهيئوا ليكن رحيلكم معه“Kedua hadis ini tertulis di shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Oleh karenanya kedua hadis ini harus dikompromikan. Hadis pertama kita pahami, apabila imam hendak mengucapkan aamiin maka ikutilah oleh kalian mengucapkan aamiin, supaya mengkompromikan dua hadis ini. Al-Khattabi rahimahullah dan yang lainnya mengatakan, ‘Hal ini seperti ucapan apabila seorang amir (pimpinan) pergi maka pergilah kalian.’ Maksudnya apabila amir bersiap-siap pergi, maka berkemas-kemaslah kalian. Supaya kepergian kalian berbarengan dengan amir” (Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab 3/333).Sehingga hadis pertama kita maknai, “jika imam telah bersiap mengucapkan aamiin maka bersiap-siaplah kalian mengucapkan aamiin. Supaya ucapan aamiin kalian berbarengan dengan ucapan aamiinnya imam.” Karena redaksi dalil itu saling menjelaskan satu sama lain.Pendapat inilah yang dipegang oleh jumhur ulama, di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu Zubair, Sufyan Ast-Stauri, ‘Atha’, Syafi’i, Yahya bin Yahya, Ishak, Abu Khaitsamah, Ibnu Abi Syaibah, Sulaiman bin Dawud dan ulama mazhab Hanafi.Kesimpulannya, makmum mengucapkan aamiin berbarengan dengan ucapan aamiinnya imamBaca juga: * Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar ShalatWallahua’lam bis showab.***Salatiga, 23 Ramadhan 1348 HArtikel : Muslim.or.id Penulis : Ahmad Anshori🔍 Kisah Abu Hurairah, Ayat Tentang Cinta Kepada Allah, Bahaya Fitnah Dalam Islam, Kado Al Quran, Kitab Syarah Riyadhus Shalihin


Bismillah..Ada hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim yang berbunyi,إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam mengucapkan amiin, maka ucapkanlah amin. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”Melihat teks hadis ini secara eksplisit, tampak bahwa para makmum mengucapkan aamiin setelah ucapan aamiinnya imam. Karena potongan redaksi hadis di atas menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) “ammana” (telah mengucapkan aamiin). Sehingga hadis ini menunjukkan waktu yang tepat bagi makmum untuk mengucapkan aamiin adalah setelah imam mengucapkan aamiin.Namun di sana ada hadis lain yang menerangkan bahwa makmum membaca aamiin setelah imam selesai membaca ayat waladdhalliin. Artinya makmum tidak perlu menunggu ucapan aamiin Imam. Namun berbarengan dengan ucapan aamiin imam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا قال الإمام غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فقولوا : آمين، فإنه من وتفق قوله قول الملائكه غفر له ما تقدم من ذنبه.“Apabila imam membaca ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa lādh-dhāllīn, maka ucapkanlah ‘āmīn’. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari).Dua hadis yang tampak bertentangan, namun hakikatnya tidak. Karena tidak ada ayat ataupun hadis yang kontrakdisi secara hakikat. Yang ada kontrakdisi tersebut karena kedangkalan pemahaman kita sebagai manusia. Bila ada dua dalil yang tampak bertentangan seperti ini, ada empat langkah yang ditempuh oleh para ulama untuk menyimpulkan suatu hukum, yaitu.1. Al-Jam’u, yakni mengkompromikan dua dalil yang tampak bertentangan.2. At-Tarjih, yakni memilih salah satu dalil yang lebih kuat, baik dari sisi sanad maupun ketegasan redaksional.3. An-Naskhu, yakni menghapus hukum salah satu dari dua dalil yang tampak bertentangan. Langkah ini ditempuh apabila diketahui waktu munculnya dalil dan tidak mungkin mengkompromikan atau mentarjih salah satu dalil. Lalu nanti dalil yang datang belakangan menghapus dalil yang datang dahulu.4. At-Tawaqquf, yakni tidak mengamalkan kedua dalil. Langkah terakhir ini dipilih bila dalil yang tampak bertentangan tidak mungkin untuk dikompromikan, ditarjih, atau dinaskh.Untuk mencari jalan keluar, mari kita tempuh langkah pertama terlebih dahulu sebelum memilih tiga langkah berikutnya, yakni al jam’u. Langkah kompromistis lebih didahulukan karena dalam kaidah ushul fikih dinyatakan:إعمال الدليلين أولى من إهمال أحدهما“Menerapkan dua dalil sekaligus lebih diutamakan daripada memilih salah satu dalil dan mengabaikan yang lainnya.”Lalu apakah mungkin dua hadis di atas dikompromikan?Ternyata mungkin untuk dikompromikan. Sebagaimana penjelasan An-Nawawi rahimahullah berikut,وكلاهما في الصحيحين كما سبق فيجب الجمع بينهما . فيحمل الأول على أن المراد إذا أراد الإمام التأمين فأمنوا ليجمع بينهما . قال الخطابي وغيره : وهذا كقولهم إذا رحل الأمير فارحلوا ، أي إذا تهيأ للرحيل فتهيئوا ليكن رحيلكم معه“Kedua hadis ini tertulis di shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Oleh karenanya kedua hadis ini harus dikompromikan. Hadis pertama kita pahami, apabila imam hendak mengucapkan aamiin maka ikutilah oleh kalian mengucapkan aamiin, supaya mengkompromikan dua hadis ini. Al-Khattabi rahimahullah dan yang lainnya mengatakan, ‘Hal ini seperti ucapan apabila seorang amir (pimpinan) pergi maka pergilah kalian.’ Maksudnya apabila amir bersiap-siap pergi, maka berkemas-kemaslah kalian. Supaya kepergian kalian berbarengan dengan amir” (Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab 3/333).Sehingga hadis pertama kita maknai, “jika imam telah bersiap mengucapkan aamiin maka bersiap-siaplah kalian mengucapkan aamiin. Supaya ucapan aamiin kalian berbarengan dengan ucapan aamiinnya imam.” Karena redaksi dalil itu saling menjelaskan satu sama lain.Pendapat inilah yang dipegang oleh jumhur ulama, di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu Zubair, Sufyan Ast-Stauri, ‘Atha’, Syafi’i, Yahya bin Yahya, Ishak, Abu Khaitsamah, Ibnu Abi Syaibah, Sulaiman bin Dawud dan ulama mazhab Hanafi.Kesimpulannya, makmum mengucapkan aamiin berbarengan dengan ucapan aamiinnya imamBaca juga: * Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar ShalatWallahua’lam bis showab.***Salatiga, 23 Ramadhan 1348 HArtikel : Muslim.or.id Penulis : Ahmad Anshori🔍 Kisah Abu Hurairah, Ayat Tentang Cinta Kepada Allah, Bahaya Fitnah Dalam Islam, Kado Al Quran, Kitab Syarah Riyadhus Shalihin

Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit, Benarkah Termasuk Riba?

Jika seseorang membeli barang dengan pembayaran tertunda, maka bentuknya berarti berutang. Dalam berutang ini, pihak kreditor (pemberi pinjaman) tidak boleh memberikan tambahan jika pelunasan itu telat. Majma’ Al-Fiqh Al-Islami pernah mengeluarkan keputusan, “Ketiga: Jika pembeli kredit telat dalam melunasi cicilan sesuai dengan janji yang ditetapkan, maka tidak boleh dikenakan tambahan (denda) dengan syarat sebelumnya atau tanpa syarat. Karena denda dalam hal ini termasuk riba yang diharamkan.” (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384) Suatu yang harus diperhatikan bahwa orang yang makan riba (rentenir) dan nasabah (penyetor) sama-sama terkena laknat. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598). Lihat bahasan tentang laknat bagi pendukung riba: Laknat bagi Para Pendukung Riba   Bolehkah tetap kita ikut transaksi, di mana kita bertekad membayarnya tepat waktu biar tidak dikenakan denda? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak boleh mengikuti transaksi semacam itu. Walaupun pembeli bertekad untuk melunasinya tepat waktu karena dua alasan: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384)   Denda Ketika Telat dalam Pelunasan Utang Termasuk dalam Riba Jahiliyah Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah menyatakan dengan tegas bahwa denda ketika membayar angsuran dari waktu yang ditetapkan termasuk dalam riba jahiliyah yang para ulama sepakat akan keharamannya. Karena riba jahiliyah dahulu seperti itu. Lihat bahasan dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 117956. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ”Bersabarlah kepada orang yang sulit melunasi utang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Di halaman yang sama, Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” Yang harusnya dilakukan pada orang yang berutang sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Dari salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abul Yasar; beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرِ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ “Barang siapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi utang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi.” (HR. Ahmad, 3:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal, jauhkanlah kami dari yang haram. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba utang piutang

Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit, Benarkah Termasuk Riba?

Jika seseorang membeli barang dengan pembayaran tertunda, maka bentuknya berarti berutang. Dalam berutang ini, pihak kreditor (pemberi pinjaman) tidak boleh memberikan tambahan jika pelunasan itu telat. Majma’ Al-Fiqh Al-Islami pernah mengeluarkan keputusan, “Ketiga: Jika pembeli kredit telat dalam melunasi cicilan sesuai dengan janji yang ditetapkan, maka tidak boleh dikenakan tambahan (denda) dengan syarat sebelumnya atau tanpa syarat. Karena denda dalam hal ini termasuk riba yang diharamkan.” (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384) Suatu yang harus diperhatikan bahwa orang yang makan riba (rentenir) dan nasabah (penyetor) sama-sama terkena laknat. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598). Lihat bahasan tentang laknat bagi pendukung riba: Laknat bagi Para Pendukung Riba   Bolehkah tetap kita ikut transaksi, di mana kita bertekad membayarnya tepat waktu biar tidak dikenakan denda? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak boleh mengikuti transaksi semacam itu. Walaupun pembeli bertekad untuk melunasinya tepat waktu karena dua alasan: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384)   Denda Ketika Telat dalam Pelunasan Utang Termasuk dalam Riba Jahiliyah Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah menyatakan dengan tegas bahwa denda ketika membayar angsuran dari waktu yang ditetapkan termasuk dalam riba jahiliyah yang para ulama sepakat akan keharamannya. Karena riba jahiliyah dahulu seperti itu. Lihat bahasan dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 117956. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ”Bersabarlah kepada orang yang sulit melunasi utang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Di halaman yang sama, Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” Yang harusnya dilakukan pada orang yang berutang sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Dari salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abul Yasar; beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرِ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ “Barang siapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi utang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi.” (HR. Ahmad, 3:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal, jauhkanlah kami dari yang haram. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba utang piutang
Jika seseorang membeli barang dengan pembayaran tertunda, maka bentuknya berarti berutang. Dalam berutang ini, pihak kreditor (pemberi pinjaman) tidak boleh memberikan tambahan jika pelunasan itu telat. Majma’ Al-Fiqh Al-Islami pernah mengeluarkan keputusan, “Ketiga: Jika pembeli kredit telat dalam melunasi cicilan sesuai dengan janji yang ditetapkan, maka tidak boleh dikenakan tambahan (denda) dengan syarat sebelumnya atau tanpa syarat. Karena denda dalam hal ini termasuk riba yang diharamkan.” (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384) Suatu yang harus diperhatikan bahwa orang yang makan riba (rentenir) dan nasabah (penyetor) sama-sama terkena laknat. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598). Lihat bahasan tentang laknat bagi pendukung riba: Laknat bagi Para Pendukung Riba   Bolehkah tetap kita ikut transaksi, di mana kita bertekad membayarnya tepat waktu biar tidak dikenakan denda? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak boleh mengikuti transaksi semacam itu. Walaupun pembeli bertekad untuk melunasinya tepat waktu karena dua alasan: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384)   Denda Ketika Telat dalam Pelunasan Utang Termasuk dalam Riba Jahiliyah Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah menyatakan dengan tegas bahwa denda ketika membayar angsuran dari waktu yang ditetapkan termasuk dalam riba jahiliyah yang para ulama sepakat akan keharamannya. Karena riba jahiliyah dahulu seperti itu. Lihat bahasan dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 117956. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ”Bersabarlah kepada orang yang sulit melunasi utang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Di halaman yang sama, Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” Yang harusnya dilakukan pada orang yang berutang sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Dari salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abul Yasar; beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرِ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ “Barang siapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi utang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi.” (HR. Ahmad, 3:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal, jauhkanlah kami dari yang haram. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba utang piutang


Jika seseorang membeli barang dengan pembayaran tertunda, maka bentuknya berarti berutang. Dalam berutang ini, pihak kreditor (pemberi pinjaman) tidak boleh memberikan tambahan jika pelunasan itu telat. Majma’ Al-Fiqh Al-Islami pernah mengeluarkan keputusan, “Ketiga: Jika pembeli kredit telat dalam melunasi cicilan sesuai dengan janji yang ditetapkan, maka tidak boleh dikenakan tambahan (denda) dengan syarat sebelumnya atau tanpa syarat. Karena denda dalam hal ini termasuk riba yang diharamkan.” (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384) Suatu yang harus diperhatikan bahwa orang yang makan riba (rentenir) dan nasabah (penyetor) sama-sama terkena laknat. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598). Lihat bahasan tentang laknat bagi pendukung riba: Laknat bagi Para Pendukung Riba   Bolehkah tetap kita ikut transaksi, di mana kita bertekad membayarnya tepat waktu biar tidak dikenakan denda? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak boleh mengikuti transaksi semacam itu. Walaupun pembeli bertekad untuk melunasinya tepat waktu karena dua alasan: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384)   Denda Ketika Telat dalam Pelunasan Utang Termasuk dalam Riba Jahiliyah Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizahullah menyatakan dengan tegas bahwa denda ketika membayar angsuran dari waktu yang ditetapkan termasuk dalam riba jahiliyah yang para ulama sepakat akan keharamannya. Karena riba jahiliyah dahulu seperti itu. Lihat bahasan dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 117956. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ”Bersabarlah kepada orang yang sulit melunasi utang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Di halaman yang sama, Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” Yang harusnya dilakukan pada orang yang berutang sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Dari salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abul Yasar; beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرِ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ “Barang siapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi utang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi.” (HR. Ahmad, 3:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal, jauhkanlah kami dari yang haram. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba utang piutang

Cicilan 0% Masih Bermasalah

Apa yang dimaksud cicilan 0%? Contohnya adalah beli HP dengan harga 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba? Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%. Hal seperti ini bermasalah karena adanya akad menyetujui transaksi riba. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak dibolehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384) Dan perlu dipahami bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam. Harap tidak melewatkan bahasan berikut: Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit, Benarkah Termasuk Riba? Semoga bermanfaat. Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba

Cicilan 0% Masih Bermasalah

Apa yang dimaksud cicilan 0%? Contohnya adalah beli HP dengan harga 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba? Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%. Hal seperti ini bermasalah karena adanya akad menyetujui transaksi riba. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak dibolehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384) Dan perlu dipahami bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam. Harap tidak melewatkan bahasan berikut: Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit, Benarkah Termasuk Riba? Semoga bermanfaat. Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba
Apa yang dimaksud cicilan 0%? Contohnya adalah beli HP dengan harga 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba? Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%. Hal seperti ini bermasalah karena adanya akad menyetujui transaksi riba. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak dibolehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384) Dan perlu dipahami bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam. Harap tidak melewatkan bahasan berikut: Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit, Benarkah Termasuk Riba? Semoga bermanfaat. Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba


Apa yang dimaksud cicilan 0%? Contohnya adalah beli HP dengan harga 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba? Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%. Hal seperti ini bermasalah karena adanya akad menyetujui transaksi riba. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak dibolehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya: Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram. Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384) Dan perlu dipahami bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo, “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287) Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280) Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam. Harap tidak melewatkan bahasan berikut: Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit, Benarkah Termasuk Riba? Semoga bermanfaat. Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Perpus Rumaysho – DS, Ahad Pagi, 15 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskredit riba

Syafa’at Al-Qur’an

08JulSyafa’at Al-Qur’anJuly 8, 2017Khotbah 'Id Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA [arabic-font]السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font] Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd! Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Di hari kiamat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan seluruh apa yang ada di muka bumi. Gunung-gunung besar, gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, serta pohon-pohon rindang, semua musnah tak berbekas sedikitpun. Lalu Allah mengganti bumi ini dengan bumi lain yang berbeda. [arabic-font]”يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [/arabic-font] Artinya: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, (demikian) pula langit. Saat itu mereka (para makhluk) berkumpul (di padang Mahsyar) untuk menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa”. QS. Ibrahim (14): 48. Bumi yang baru, dengan keadaan yang berbeda sama sekali. Bumi yang rata serata-ratanya. Tak ada tempat untuk berteduh, bersembunyi apalagi berlari. Di saat itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan seluruh makhluk, yang pertama hingga terakhir. Manusia, jin, malaikat dan binatang. Semua berkumpul di sebuah area tanah lapang yang maha luas, yang diistilahkan dengan Padang Mahsyar. Hanya Allah yang mengetahui betapa luasnya tempat tersebut. Lalu, salah satu makhluk terbesar ciptaan Allah, yaitu matahari. Yang saat ini berada di atas kita sekitar 94 juta mil. Allah ‘azza wa jalla perintahkan dia di hari itu untuk datang dan mendekat serta terus mendekat. Sampai jarak yang telah ditentukan. Yaitu hanya satu mil di atas kepala para penghuni padang mahsyar. Maka reaksi yang terjadi, adalah kondisi panas yang maha dahsyat. Hingga para hamba menderita banjir keringat. Bahkan sebagian dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri. Mereka tidak bisa berlari, bersembunyi atau mencari tempat berteduh. Sebab bumi telah rata dengan tanah dan tidak ada satupun tempat untuk berteduh. Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah… Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ternyata ada para manusia yang mendapatkan keistimewaan dan perhatian spesial dari Allah ‘azza wa jalla. Di saat kebanyakan mereka tersengat panasnya matahari yang mendidih, justru manusia-manusia istimewa itu mendapatkan naungan awan yang melindungi mereka dari sengatan sang surya. Sehingga mereka merasa nyaman dan tentram di bawah naungan tersebut. Siapakah gerangan golongan yang amat beruntung itu? Ternyata mereka tidak satu jenis. Bahkan mereka terdiri dari berbagai golongan yang memiliki amal salih yang berbeda-beda. Salah satunya adalah ahlul Qur’an. Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, [arabic-font]”اقْرَءُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ … تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا”[/arabic-font] “Bacalah al-Qur’an! Sungguh ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada orang yang rajin membacanya. Bacalah dua surat yang bersinar terang; al-Baqarah dan Ali Imran! Sungguh keduanya kelak di hari kiamat akan datang bagaikan dua awan yang menaungi … membela orang yang rajin membacanya”. HR. Muslim dari Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu. Bukan hanya naungan saja yang diberikan kepada ahlul Qur’an, namun juga berbagai karunia spesial lainnya. [arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ حَلِّهِ”، فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ زِدْهُ”، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ”، فَيَرْضَى عَنْهُ ، فَيُقَالُ لَهُ: “اقْرَأْ وَارْقَ”، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً”.[/arabic-font] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rabbi perhiasilah dia (manusia yang rajin membaca al-Qur’an)!”. Maka dipasanglah di kepalanya mahkota kemuliaan. Al-Qur’an kembali berkata, “Wahai Rabbi, tambahkanlah karunia lain kepadanya!”. Maka dikenakanlah padanya jubah kemuliaan (dari surga). Al-Qur’an masih memohon, “Wahai Rabbi, ridhailah dia!”. Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan padanya, “Bacalah dan terus naik (ke derajat yang lebih tinggi di surga)!”. Kemudian ditambahkan pahala atas setiap ayat yang dibacanya”. HR. Tirimidziy dan dinilai hasan oleh beliau dan al-Albaniy. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan kemarin, animo masyarakat untuk membaca al-Qur’an meningkat drastis. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam satu bulan. Bahkan tidak sedikit yang khatam berkali-kali. Tentu hal ini merupakan fenomena yang membahagiakan hati orang-orang yang beriman. Apalagi di zaman yang al-Qur’an ini sering diabaikan bahkan dilecehkan. Namun, untuk mendapatkan keberkahan al-Qur’an di dunia dan syafaat al-Qur’an kelak di akhirat, cukupkah hanya dengan membacanya? Untuk mendapatkan jawabannya, maka perlu dikumpulkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang membahas tentang masalah ini, berikut keterangan para ulama klasik maupun kontemporer tentangnya. Setelah itu dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa untuk mendapatkan syafaat al-Qur’an, perlu ditempuh sekurang-kurangnya empat langkah berikut ini: Belajar membaca al-Qur’an dengan benar Rajin membacanya. Syukur-syukur bila bisa menghapalkan semampunya. Berusaha untuk memahami kandungannya. Mengamalkan isi al-Qur’an. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Amat disayangkan, bahwa di zaman kemajuan ini, ternyata masih banyak kaum muslimin yang buta huruf al-Qur’an. Maka langkah pertama yang harus mereka tempuh, adalah berlatih membaca al-Qur’an dengan benar. Mulai dari mempelajari makhorijul huruf (cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah), hingga memahami ilmu tajwid (aturan membaca al-Qur’an). Tidak perlu malu untuk belajar dari alif ba ta dan tsa, walaupun telah lanjut usia. Apalagi bila masih muda belia. Sungguh, kesulitan yang akan merintangi di jalan mulia tersebut, kelak dihargai oleh Allah ta’ala dengan pahala yang berlipat ganda.[1] Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, [arabic-font]”الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ”[/arabic-font] “Orang yang mahir[2] membaca al-Qur’an, akan bersama para malaikat mulia nan baik. Adapun orang yang terbata-bata dan kesulitan dalam membacanya; maka dia akan mendapatkan dua pahala”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh ironis, apabila penyakit buta huruf al-Qur’an ini juga menjangkiti sebagian akademisi. Memiliki gelar s1, s2, s3 atau bahkan professor dalam bidang sains, akan tetapi nol besar dalam membaca al-Qur’an. Bahkan, surat al-Qur’an yang seharusnya setiap hari dibaca minimal 17 kali, yakni surat al-Fatihah, pun ternyata masih belum benar dalam melafalkannya. [arabic-font]”إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْأَخِرَةِ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun jahil dalam urusan akhirat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikh beliau sebagaimana diterangkan as-Suyuthiy dalam al-Jami’ ash-Shaghir (I/284 no. 1856). Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ (I/382 no. 1879). Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Langkah kedua untuk meraih syafaat al-Qur’an, setelah bisa dan benar dalam membaca al-Qur’an adalah rutin dan rajin untuk membacanya. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun juga di sepanjang tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan, [arabic-font]”اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ”[/arabic-font] “Khatamkanlah al-Qur’an setiap satu bulan”. HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama menyimpulkan, bahwa tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk melewatkan satu bulan tanpa mengkhatamkan al-Qur’an. Jadi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang hanya khatam di bulan Ramadhan, atau bahkan cuma khatam sekali dalam seumur hidup, itu bukanlah potret ideal seorang muslim. Apalagi yang tidak pernah khatam al-Qur’an sekalipun, hingga ajal datang menjemput. Na’udzu billah min dzalik… Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah ketiga agar memperoleh syafaat al-Qur’an adalah berusaha memahami isi al-Qur’an. Bukankah banyak di antara kita yang pernah membeli barang elektronik? Apa gerangan yang akan kita lakukan bila buku petunjuk penggunaan barang tersebut, ternyata menggunakan bahasa yang tidak kita pahami? Tentu kita akan berusaha keras, dengan berbagai cara, agar bisa memahami buku panduan tersebut. Karena merasa khawatir jika keliru dalam memakainya, akan berakibat rusaknya barang itu. Sadarkah kita, bahwa buku panduan terbesar dan buku pedoman terpenting dalam hidup kita adalah kitab suci al-Qur’an? Tanpanya kita tidak mungkin selamat di dunia maupun akhirat. Maka sungguh amat aneh, jika kita tidak merasa gelisah dan batin kita tidak terganggu, manakala tidak memahami buku panduan termulia tersebut! Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”[/arabic-font] Artinya: “Tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci (rapat)?”. QS. Muhammad (47): 24. Muslim yang bijak, adalah muslim yang menyediakan di rumahnya al-Qur’an dan terjemahannya. Lalu meluangkan waktu setiap hari untuk membaca barang satu atau dua halaman terjemahan al-Qur’an. Sehingga minimal sekali seumur hidup, dia pernah membaca terjemahan al-Qur’an dari awal hingga akhir. Tentu akan lebih baik lagi, bila setelah itu ia berusaha mempelajari tafsir al-Qur’an. Dan sangat dianjurkan, di bawah bimbingan seorang Ulama/Kyai/Ustadz yang berkompeten. Guna menghindari kekeliruan pemahaman. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah terakhir dan terpenting untuk meraih syafaat al-Qur’an adalah mengamalkan isinya. Inilah langkah penentu bagi setiap orang yang mendambakan syafaat spesial itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, [arabic-font]”الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، ومَاحِلٌ مُصَدَّقٌ. فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامًا قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقُهُ إِلَى النَّارِ”.[/arabic-font] “Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang akan dikabulkan permohonan syafaatnya. Dan pembela yang akan diterima pembelaannya. Barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di depannya; maka kitab suci ini akan mengantarkannya ke surga. Namun barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di belakangnya; niscaya kitab suci ini akan mendorongnya ke neraka”. HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Maksud dari memposisikan al-Qur’an di depan, adalah mengamalkan isinya. Sedangkan memposisikan al-Qur’an di belakang, maksudnya adalah tidak mengamalkan isinya.[3] Maka sungguh amat celaka dan merugi, orang-orang yang tidak pernah mengindahkan petunjuk al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)“.[/arabic-font] Artinya: “Barang siapa mengabaikan peringatan dari-Ku (al-Qur’an), maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia bertanya, “Wahai Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”. Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya. Maka begitu pula pada hari ini kamu diabaikan. Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. QS. Thaha (20): 124-127. Di dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa suatu hari setelah shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu’alahiwasallam bercerita tentang mimpinya semalam. Beliau diperlihatkan berbagai macam siksaan di neraka, [arabic-font]”فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ. قُلْتُ: “مَنْ هَذَا؟”. قَالَا: “انْطَلِقْ!”. [ثم فسر له ذلك صلى الله عليه وسلم فقال:]: “وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”[/arabic-font] “Kemudian kami pun berjalan hingga menjumpai seorang yang terlentang dan di atasnya orang lain membawa batu, lalu batu itu dilemparkan tepat ke kepala orang yang di bawahnya hingga pecah. Lalu batu itupun menggelinding. Si pelempar bergegas mengambil batu tersebut, begitu ia kembali, ternyata kepala orang yang terlentang tadi telah kembali utuh seperti semula. Maka batupun kembali dilemparkan hingga kepalanya pecah. Maka akupun (Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam) bertanya, “Siapakah orang ini?”. “Jalanlah terus” jawab dua malaikat yang mengantarkanku. (Lalu di akhir hadits dua malaikat itu menjelaskan seluruh penampakan yang dilihat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam). “Orang yang engkau lihat dipecahkan kepalanya, adalah orang yang telah Allah ajarkan padanya al-Qur’an, namun di malam hari dia tidak shalat fardhu. Dan di siang harinya tidak mengamalkan al-Qur’an. Dia terus disiksa demikian hingga datang hari kiamat”. HR. Bukhari dari hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu. Itulah akibat pedih tidak mengamalkan isi al-Qur’an. Sebaliknya, beruntunglah para manusia yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduannya dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Pejabat yang ingin selamat di dunia dan akhirat, ikutilah al-Qur’an. Guru yang ingin digugu dan ditiru, ikutilah al-Qur’an. Orang tua yang ingin dipatuhi putra dan putrinya, ikutilah al-Qur’an. Pebisnis yang ingin dagangannya laris manis, ikutilah al-Qur’an. Petani dan pekebun yang ingin berkah panenannya, ikutilah al-Qur’an. Pendek kata, apapun profesi Anda, bila ingin sukses dan senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah ta’ala, ikutilah al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman, [arabic-font]”إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “[/arabic-font] Artinya: “Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. Dan memberi kabar gembira kepada kaum mukminin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar”. QS. Al-Isra’ (17): 9. [arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى فَلَسْطِيْنَ وسوريا وَبورما، اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ[/arabic-font] Ya Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Suriah dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru dunia [arabic-font]اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.[/arabic-font] Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu. [arabic-font]اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ[/arabic-font] Ya Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien. [arabic-font]رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 1 Syawal 1438 / 25 Juni 2017 [1] Lihat: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi (VI/326). [2] Maksud dari kata “mahir” di sini adalah: kemampuan yang bagus seorang hamba dalam menghapal dan membaca dengan baik tanpa terbata-bata. Berkat karunia Allah yang telah memudahkan baginya hal tersebut, sebagaimana Allah karuniakan hal serupa kepada para malaikat. Sebab itulah mereka disejajarkan dengan para malaikat. Lihat: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (XIII/636). [3] Baca: Faidh al-Qadîr karya al-Munawiy (IV/535). =============== Artikel: tunasilmu.com FansPage: Fans Page Podok Pesantren Tunas Ilmu PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Syafa’at Al-Qur’an

08JulSyafa’at Al-Qur’anJuly 8, 2017Khotbah 'Id Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA [arabic-font]السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font] Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd! Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Di hari kiamat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan seluruh apa yang ada di muka bumi. Gunung-gunung besar, gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, serta pohon-pohon rindang, semua musnah tak berbekas sedikitpun. Lalu Allah mengganti bumi ini dengan bumi lain yang berbeda. [arabic-font]”يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [/arabic-font] Artinya: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, (demikian) pula langit. Saat itu mereka (para makhluk) berkumpul (di padang Mahsyar) untuk menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa”. QS. Ibrahim (14): 48. Bumi yang baru, dengan keadaan yang berbeda sama sekali. Bumi yang rata serata-ratanya. Tak ada tempat untuk berteduh, bersembunyi apalagi berlari. Di saat itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan seluruh makhluk, yang pertama hingga terakhir. Manusia, jin, malaikat dan binatang. Semua berkumpul di sebuah area tanah lapang yang maha luas, yang diistilahkan dengan Padang Mahsyar. Hanya Allah yang mengetahui betapa luasnya tempat tersebut. Lalu, salah satu makhluk terbesar ciptaan Allah, yaitu matahari. Yang saat ini berada di atas kita sekitar 94 juta mil. Allah ‘azza wa jalla perintahkan dia di hari itu untuk datang dan mendekat serta terus mendekat. Sampai jarak yang telah ditentukan. Yaitu hanya satu mil di atas kepala para penghuni padang mahsyar. Maka reaksi yang terjadi, adalah kondisi panas yang maha dahsyat. Hingga para hamba menderita banjir keringat. Bahkan sebagian dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri. Mereka tidak bisa berlari, bersembunyi atau mencari tempat berteduh. Sebab bumi telah rata dengan tanah dan tidak ada satupun tempat untuk berteduh. Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah… Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ternyata ada para manusia yang mendapatkan keistimewaan dan perhatian spesial dari Allah ‘azza wa jalla. Di saat kebanyakan mereka tersengat panasnya matahari yang mendidih, justru manusia-manusia istimewa itu mendapatkan naungan awan yang melindungi mereka dari sengatan sang surya. Sehingga mereka merasa nyaman dan tentram di bawah naungan tersebut. Siapakah gerangan golongan yang amat beruntung itu? Ternyata mereka tidak satu jenis. Bahkan mereka terdiri dari berbagai golongan yang memiliki amal salih yang berbeda-beda. Salah satunya adalah ahlul Qur’an. Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, [arabic-font]”اقْرَءُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ … تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا”[/arabic-font] “Bacalah al-Qur’an! Sungguh ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada orang yang rajin membacanya. Bacalah dua surat yang bersinar terang; al-Baqarah dan Ali Imran! Sungguh keduanya kelak di hari kiamat akan datang bagaikan dua awan yang menaungi … membela orang yang rajin membacanya”. HR. Muslim dari Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu. Bukan hanya naungan saja yang diberikan kepada ahlul Qur’an, namun juga berbagai karunia spesial lainnya. [arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ حَلِّهِ”، فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ زِدْهُ”، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ”، فَيَرْضَى عَنْهُ ، فَيُقَالُ لَهُ: “اقْرَأْ وَارْقَ”، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً”.[/arabic-font] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rabbi perhiasilah dia (manusia yang rajin membaca al-Qur’an)!”. Maka dipasanglah di kepalanya mahkota kemuliaan. Al-Qur’an kembali berkata, “Wahai Rabbi, tambahkanlah karunia lain kepadanya!”. Maka dikenakanlah padanya jubah kemuliaan (dari surga). Al-Qur’an masih memohon, “Wahai Rabbi, ridhailah dia!”. Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan padanya, “Bacalah dan terus naik (ke derajat yang lebih tinggi di surga)!”. Kemudian ditambahkan pahala atas setiap ayat yang dibacanya”. HR. Tirimidziy dan dinilai hasan oleh beliau dan al-Albaniy. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan kemarin, animo masyarakat untuk membaca al-Qur’an meningkat drastis. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam satu bulan. Bahkan tidak sedikit yang khatam berkali-kali. Tentu hal ini merupakan fenomena yang membahagiakan hati orang-orang yang beriman. Apalagi di zaman yang al-Qur’an ini sering diabaikan bahkan dilecehkan. Namun, untuk mendapatkan keberkahan al-Qur’an di dunia dan syafaat al-Qur’an kelak di akhirat, cukupkah hanya dengan membacanya? Untuk mendapatkan jawabannya, maka perlu dikumpulkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang membahas tentang masalah ini, berikut keterangan para ulama klasik maupun kontemporer tentangnya. Setelah itu dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa untuk mendapatkan syafaat al-Qur’an, perlu ditempuh sekurang-kurangnya empat langkah berikut ini: Belajar membaca al-Qur’an dengan benar Rajin membacanya. Syukur-syukur bila bisa menghapalkan semampunya. Berusaha untuk memahami kandungannya. Mengamalkan isi al-Qur’an. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Amat disayangkan, bahwa di zaman kemajuan ini, ternyata masih banyak kaum muslimin yang buta huruf al-Qur’an. Maka langkah pertama yang harus mereka tempuh, adalah berlatih membaca al-Qur’an dengan benar. Mulai dari mempelajari makhorijul huruf (cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah), hingga memahami ilmu tajwid (aturan membaca al-Qur’an). Tidak perlu malu untuk belajar dari alif ba ta dan tsa, walaupun telah lanjut usia. Apalagi bila masih muda belia. Sungguh, kesulitan yang akan merintangi di jalan mulia tersebut, kelak dihargai oleh Allah ta’ala dengan pahala yang berlipat ganda.[1] Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, [arabic-font]”الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ”[/arabic-font] “Orang yang mahir[2] membaca al-Qur’an, akan bersama para malaikat mulia nan baik. Adapun orang yang terbata-bata dan kesulitan dalam membacanya; maka dia akan mendapatkan dua pahala”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh ironis, apabila penyakit buta huruf al-Qur’an ini juga menjangkiti sebagian akademisi. Memiliki gelar s1, s2, s3 atau bahkan professor dalam bidang sains, akan tetapi nol besar dalam membaca al-Qur’an. Bahkan, surat al-Qur’an yang seharusnya setiap hari dibaca minimal 17 kali, yakni surat al-Fatihah, pun ternyata masih belum benar dalam melafalkannya. [arabic-font]”إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْأَخِرَةِ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun jahil dalam urusan akhirat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikh beliau sebagaimana diterangkan as-Suyuthiy dalam al-Jami’ ash-Shaghir (I/284 no. 1856). Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ (I/382 no. 1879). Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Langkah kedua untuk meraih syafaat al-Qur’an, setelah bisa dan benar dalam membaca al-Qur’an adalah rutin dan rajin untuk membacanya. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun juga di sepanjang tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan, [arabic-font]”اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ”[/arabic-font] “Khatamkanlah al-Qur’an setiap satu bulan”. HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama menyimpulkan, bahwa tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk melewatkan satu bulan tanpa mengkhatamkan al-Qur’an. Jadi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang hanya khatam di bulan Ramadhan, atau bahkan cuma khatam sekali dalam seumur hidup, itu bukanlah potret ideal seorang muslim. Apalagi yang tidak pernah khatam al-Qur’an sekalipun, hingga ajal datang menjemput. Na’udzu billah min dzalik… Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah ketiga agar memperoleh syafaat al-Qur’an adalah berusaha memahami isi al-Qur’an. Bukankah banyak di antara kita yang pernah membeli barang elektronik? Apa gerangan yang akan kita lakukan bila buku petunjuk penggunaan barang tersebut, ternyata menggunakan bahasa yang tidak kita pahami? Tentu kita akan berusaha keras, dengan berbagai cara, agar bisa memahami buku panduan tersebut. Karena merasa khawatir jika keliru dalam memakainya, akan berakibat rusaknya barang itu. Sadarkah kita, bahwa buku panduan terbesar dan buku pedoman terpenting dalam hidup kita adalah kitab suci al-Qur’an? Tanpanya kita tidak mungkin selamat di dunia maupun akhirat. Maka sungguh amat aneh, jika kita tidak merasa gelisah dan batin kita tidak terganggu, manakala tidak memahami buku panduan termulia tersebut! Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”[/arabic-font] Artinya: “Tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci (rapat)?”. QS. Muhammad (47): 24. Muslim yang bijak, adalah muslim yang menyediakan di rumahnya al-Qur’an dan terjemahannya. Lalu meluangkan waktu setiap hari untuk membaca barang satu atau dua halaman terjemahan al-Qur’an. Sehingga minimal sekali seumur hidup, dia pernah membaca terjemahan al-Qur’an dari awal hingga akhir. Tentu akan lebih baik lagi, bila setelah itu ia berusaha mempelajari tafsir al-Qur’an. Dan sangat dianjurkan, di bawah bimbingan seorang Ulama/Kyai/Ustadz yang berkompeten. Guna menghindari kekeliruan pemahaman. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah terakhir dan terpenting untuk meraih syafaat al-Qur’an adalah mengamalkan isinya. Inilah langkah penentu bagi setiap orang yang mendambakan syafaat spesial itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, [arabic-font]”الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، ومَاحِلٌ مُصَدَّقٌ. فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامًا قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقُهُ إِلَى النَّارِ”.[/arabic-font] “Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang akan dikabulkan permohonan syafaatnya. Dan pembela yang akan diterima pembelaannya. Barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di depannya; maka kitab suci ini akan mengantarkannya ke surga. Namun barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di belakangnya; niscaya kitab suci ini akan mendorongnya ke neraka”. HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Maksud dari memposisikan al-Qur’an di depan, adalah mengamalkan isinya. Sedangkan memposisikan al-Qur’an di belakang, maksudnya adalah tidak mengamalkan isinya.[3] Maka sungguh amat celaka dan merugi, orang-orang yang tidak pernah mengindahkan petunjuk al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)“.[/arabic-font] Artinya: “Barang siapa mengabaikan peringatan dari-Ku (al-Qur’an), maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia bertanya, “Wahai Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”. Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya. Maka begitu pula pada hari ini kamu diabaikan. Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. QS. Thaha (20): 124-127. Di dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa suatu hari setelah shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu’alahiwasallam bercerita tentang mimpinya semalam. Beliau diperlihatkan berbagai macam siksaan di neraka, [arabic-font]”فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ. قُلْتُ: “مَنْ هَذَا؟”. قَالَا: “انْطَلِقْ!”. [ثم فسر له ذلك صلى الله عليه وسلم فقال:]: “وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”[/arabic-font] “Kemudian kami pun berjalan hingga menjumpai seorang yang terlentang dan di atasnya orang lain membawa batu, lalu batu itu dilemparkan tepat ke kepala orang yang di bawahnya hingga pecah. Lalu batu itupun menggelinding. Si pelempar bergegas mengambil batu tersebut, begitu ia kembali, ternyata kepala orang yang terlentang tadi telah kembali utuh seperti semula. Maka batupun kembali dilemparkan hingga kepalanya pecah. Maka akupun (Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam) bertanya, “Siapakah orang ini?”. “Jalanlah terus” jawab dua malaikat yang mengantarkanku. (Lalu di akhir hadits dua malaikat itu menjelaskan seluruh penampakan yang dilihat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam). “Orang yang engkau lihat dipecahkan kepalanya, adalah orang yang telah Allah ajarkan padanya al-Qur’an, namun di malam hari dia tidak shalat fardhu. Dan di siang harinya tidak mengamalkan al-Qur’an. Dia terus disiksa demikian hingga datang hari kiamat”. HR. Bukhari dari hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu. Itulah akibat pedih tidak mengamalkan isi al-Qur’an. Sebaliknya, beruntunglah para manusia yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduannya dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Pejabat yang ingin selamat di dunia dan akhirat, ikutilah al-Qur’an. Guru yang ingin digugu dan ditiru, ikutilah al-Qur’an. Orang tua yang ingin dipatuhi putra dan putrinya, ikutilah al-Qur’an. Pebisnis yang ingin dagangannya laris manis, ikutilah al-Qur’an. Petani dan pekebun yang ingin berkah panenannya, ikutilah al-Qur’an. Pendek kata, apapun profesi Anda, bila ingin sukses dan senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah ta’ala, ikutilah al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman, [arabic-font]”إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “[/arabic-font] Artinya: “Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. Dan memberi kabar gembira kepada kaum mukminin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar”. QS. Al-Isra’ (17): 9. [arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى فَلَسْطِيْنَ وسوريا وَبورما، اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ[/arabic-font] Ya Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Suriah dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru dunia [arabic-font]اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.[/arabic-font] Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu. [arabic-font]اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ[/arabic-font] Ya Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien. [arabic-font]رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 1 Syawal 1438 / 25 Juni 2017 [1] Lihat: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi (VI/326). [2] Maksud dari kata “mahir” di sini adalah: kemampuan yang bagus seorang hamba dalam menghapal dan membaca dengan baik tanpa terbata-bata. Berkat karunia Allah yang telah memudahkan baginya hal tersebut, sebagaimana Allah karuniakan hal serupa kepada para malaikat. Sebab itulah mereka disejajarkan dengan para malaikat. Lihat: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (XIII/636). [3] Baca: Faidh al-Qadîr karya al-Munawiy (IV/535). =============== Artikel: tunasilmu.com FansPage: Fans Page Podok Pesantren Tunas Ilmu PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
08JulSyafa’at Al-Qur’anJuly 8, 2017Khotbah 'Id Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA [arabic-font]السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font] Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd! Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Di hari kiamat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan seluruh apa yang ada di muka bumi. Gunung-gunung besar, gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, serta pohon-pohon rindang, semua musnah tak berbekas sedikitpun. Lalu Allah mengganti bumi ini dengan bumi lain yang berbeda. [arabic-font]”يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [/arabic-font] Artinya: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, (demikian) pula langit. Saat itu mereka (para makhluk) berkumpul (di padang Mahsyar) untuk menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa”. QS. Ibrahim (14): 48. Bumi yang baru, dengan keadaan yang berbeda sama sekali. Bumi yang rata serata-ratanya. Tak ada tempat untuk berteduh, bersembunyi apalagi berlari. Di saat itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan seluruh makhluk, yang pertama hingga terakhir. Manusia, jin, malaikat dan binatang. Semua berkumpul di sebuah area tanah lapang yang maha luas, yang diistilahkan dengan Padang Mahsyar. Hanya Allah yang mengetahui betapa luasnya tempat tersebut. Lalu, salah satu makhluk terbesar ciptaan Allah, yaitu matahari. Yang saat ini berada di atas kita sekitar 94 juta mil. Allah ‘azza wa jalla perintahkan dia di hari itu untuk datang dan mendekat serta terus mendekat. Sampai jarak yang telah ditentukan. Yaitu hanya satu mil di atas kepala para penghuni padang mahsyar. Maka reaksi yang terjadi, adalah kondisi panas yang maha dahsyat. Hingga para hamba menderita banjir keringat. Bahkan sebagian dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri. Mereka tidak bisa berlari, bersembunyi atau mencari tempat berteduh. Sebab bumi telah rata dengan tanah dan tidak ada satupun tempat untuk berteduh. Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah… Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ternyata ada para manusia yang mendapatkan keistimewaan dan perhatian spesial dari Allah ‘azza wa jalla. Di saat kebanyakan mereka tersengat panasnya matahari yang mendidih, justru manusia-manusia istimewa itu mendapatkan naungan awan yang melindungi mereka dari sengatan sang surya. Sehingga mereka merasa nyaman dan tentram di bawah naungan tersebut. Siapakah gerangan golongan yang amat beruntung itu? Ternyata mereka tidak satu jenis. Bahkan mereka terdiri dari berbagai golongan yang memiliki amal salih yang berbeda-beda. Salah satunya adalah ahlul Qur’an. Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, [arabic-font]”اقْرَءُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ … تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا”[/arabic-font] “Bacalah al-Qur’an! Sungguh ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada orang yang rajin membacanya. Bacalah dua surat yang bersinar terang; al-Baqarah dan Ali Imran! Sungguh keduanya kelak di hari kiamat akan datang bagaikan dua awan yang menaungi … membela orang yang rajin membacanya”. HR. Muslim dari Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu. Bukan hanya naungan saja yang diberikan kepada ahlul Qur’an, namun juga berbagai karunia spesial lainnya. [arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ حَلِّهِ”، فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ زِدْهُ”، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ”، فَيَرْضَى عَنْهُ ، فَيُقَالُ لَهُ: “اقْرَأْ وَارْقَ”، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً”.[/arabic-font] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rabbi perhiasilah dia (manusia yang rajin membaca al-Qur’an)!”. Maka dipasanglah di kepalanya mahkota kemuliaan. Al-Qur’an kembali berkata, “Wahai Rabbi, tambahkanlah karunia lain kepadanya!”. Maka dikenakanlah padanya jubah kemuliaan (dari surga). Al-Qur’an masih memohon, “Wahai Rabbi, ridhailah dia!”. Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan padanya, “Bacalah dan terus naik (ke derajat yang lebih tinggi di surga)!”. Kemudian ditambahkan pahala atas setiap ayat yang dibacanya”. HR. Tirimidziy dan dinilai hasan oleh beliau dan al-Albaniy. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan kemarin, animo masyarakat untuk membaca al-Qur’an meningkat drastis. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam satu bulan. Bahkan tidak sedikit yang khatam berkali-kali. Tentu hal ini merupakan fenomena yang membahagiakan hati orang-orang yang beriman. Apalagi di zaman yang al-Qur’an ini sering diabaikan bahkan dilecehkan. Namun, untuk mendapatkan keberkahan al-Qur’an di dunia dan syafaat al-Qur’an kelak di akhirat, cukupkah hanya dengan membacanya? Untuk mendapatkan jawabannya, maka perlu dikumpulkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang membahas tentang masalah ini, berikut keterangan para ulama klasik maupun kontemporer tentangnya. Setelah itu dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa untuk mendapatkan syafaat al-Qur’an, perlu ditempuh sekurang-kurangnya empat langkah berikut ini: Belajar membaca al-Qur’an dengan benar Rajin membacanya. Syukur-syukur bila bisa menghapalkan semampunya. Berusaha untuk memahami kandungannya. Mengamalkan isi al-Qur’an. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Amat disayangkan, bahwa di zaman kemajuan ini, ternyata masih banyak kaum muslimin yang buta huruf al-Qur’an. Maka langkah pertama yang harus mereka tempuh, adalah berlatih membaca al-Qur’an dengan benar. Mulai dari mempelajari makhorijul huruf (cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah), hingga memahami ilmu tajwid (aturan membaca al-Qur’an). Tidak perlu malu untuk belajar dari alif ba ta dan tsa, walaupun telah lanjut usia. Apalagi bila masih muda belia. Sungguh, kesulitan yang akan merintangi di jalan mulia tersebut, kelak dihargai oleh Allah ta’ala dengan pahala yang berlipat ganda.[1] Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, [arabic-font]”الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ”[/arabic-font] “Orang yang mahir[2] membaca al-Qur’an, akan bersama para malaikat mulia nan baik. Adapun orang yang terbata-bata dan kesulitan dalam membacanya; maka dia akan mendapatkan dua pahala”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh ironis, apabila penyakit buta huruf al-Qur’an ini juga menjangkiti sebagian akademisi. Memiliki gelar s1, s2, s3 atau bahkan professor dalam bidang sains, akan tetapi nol besar dalam membaca al-Qur’an. Bahkan, surat al-Qur’an yang seharusnya setiap hari dibaca minimal 17 kali, yakni surat al-Fatihah, pun ternyata masih belum benar dalam melafalkannya. [arabic-font]”إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْأَخِرَةِ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun jahil dalam urusan akhirat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikh beliau sebagaimana diterangkan as-Suyuthiy dalam al-Jami’ ash-Shaghir (I/284 no. 1856). Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ (I/382 no. 1879). Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Langkah kedua untuk meraih syafaat al-Qur’an, setelah bisa dan benar dalam membaca al-Qur’an adalah rutin dan rajin untuk membacanya. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun juga di sepanjang tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan, [arabic-font]”اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ”[/arabic-font] “Khatamkanlah al-Qur’an setiap satu bulan”. HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama menyimpulkan, bahwa tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk melewatkan satu bulan tanpa mengkhatamkan al-Qur’an. Jadi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang hanya khatam di bulan Ramadhan, atau bahkan cuma khatam sekali dalam seumur hidup, itu bukanlah potret ideal seorang muslim. Apalagi yang tidak pernah khatam al-Qur’an sekalipun, hingga ajal datang menjemput. Na’udzu billah min dzalik… Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah ketiga agar memperoleh syafaat al-Qur’an adalah berusaha memahami isi al-Qur’an. Bukankah banyak di antara kita yang pernah membeli barang elektronik? Apa gerangan yang akan kita lakukan bila buku petunjuk penggunaan barang tersebut, ternyata menggunakan bahasa yang tidak kita pahami? Tentu kita akan berusaha keras, dengan berbagai cara, agar bisa memahami buku panduan tersebut. Karena merasa khawatir jika keliru dalam memakainya, akan berakibat rusaknya barang itu. Sadarkah kita, bahwa buku panduan terbesar dan buku pedoman terpenting dalam hidup kita adalah kitab suci al-Qur’an? Tanpanya kita tidak mungkin selamat di dunia maupun akhirat. Maka sungguh amat aneh, jika kita tidak merasa gelisah dan batin kita tidak terganggu, manakala tidak memahami buku panduan termulia tersebut! Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”[/arabic-font] Artinya: “Tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci (rapat)?”. QS. Muhammad (47): 24. Muslim yang bijak, adalah muslim yang menyediakan di rumahnya al-Qur’an dan terjemahannya. Lalu meluangkan waktu setiap hari untuk membaca barang satu atau dua halaman terjemahan al-Qur’an. Sehingga minimal sekali seumur hidup, dia pernah membaca terjemahan al-Qur’an dari awal hingga akhir. Tentu akan lebih baik lagi, bila setelah itu ia berusaha mempelajari tafsir al-Qur’an. Dan sangat dianjurkan, di bawah bimbingan seorang Ulama/Kyai/Ustadz yang berkompeten. Guna menghindari kekeliruan pemahaman. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah terakhir dan terpenting untuk meraih syafaat al-Qur’an adalah mengamalkan isinya. Inilah langkah penentu bagi setiap orang yang mendambakan syafaat spesial itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, [arabic-font]”الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، ومَاحِلٌ مُصَدَّقٌ. فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامًا قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقُهُ إِلَى النَّارِ”.[/arabic-font] “Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang akan dikabulkan permohonan syafaatnya. Dan pembela yang akan diterima pembelaannya. Barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di depannya; maka kitab suci ini akan mengantarkannya ke surga. Namun barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di belakangnya; niscaya kitab suci ini akan mendorongnya ke neraka”. HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Maksud dari memposisikan al-Qur’an di depan, adalah mengamalkan isinya. Sedangkan memposisikan al-Qur’an di belakang, maksudnya adalah tidak mengamalkan isinya.[3] Maka sungguh amat celaka dan merugi, orang-orang yang tidak pernah mengindahkan petunjuk al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)“.[/arabic-font] Artinya: “Barang siapa mengabaikan peringatan dari-Ku (al-Qur’an), maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia bertanya, “Wahai Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”. Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya. Maka begitu pula pada hari ini kamu diabaikan. Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. QS. Thaha (20): 124-127. Di dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa suatu hari setelah shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu’alahiwasallam bercerita tentang mimpinya semalam. Beliau diperlihatkan berbagai macam siksaan di neraka, [arabic-font]”فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ. قُلْتُ: “مَنْ هَذَا؟”. قَالَا: “انْطَلِقْ!”. [ثم فسر له ذلك صلى الله عليه وسلم فقال:]: “وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”[/arabic-font] “Kemudian kami pun berjalan hingga menjumpai seorang yang terlentang dan di atasnya orang lain membawa batu, lalu batu itu dilemparkan tepat ke kepala orang yang di bawahnya hingga pecah. Lalu batu itupun menggelinding. Si pelempar bergegas mengambil batu tersebut, begitu ia kembali, ternyata kepala orang yang terlentang tadi telah kembali utuh seperti semula. Maka batupun kembali dilemparkan hingga kepalanya pecah. Maka akupun (Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam) bertanya, “Siapakah orang ini?”. “Jalanlah terus” jawab dua malaikat yang mengantarkanku. (Lalu di akhir hadits dua malaikat itu menjelaskan seluruh penampakan yang dilihat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam). “Orang yang engkau lihat dipecahkan kepalanya, adalah orang yang telah Allah ajarkan padanya al-Qur’an, namun di malam hari dia tidak shalat fardhu. Dan di siang harinya tidak mengamalkan al-Qur’an. Dia terus disiksa demikian hingga datang hari kiamat”. HR. Bukhari dari hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu. Itulah akibat pedih tidak mengamalkan isi al-Qur’an. Sebaliknya, beruntunglah para manusia yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduannya dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Pejabat yang ingin selamat di dunia dan akhirat, ikutilah al-Qur’an. Guru yang ingin digugu dan ditiru, ikutilah al-Qur’an. Orang tua yang ingin dipatuhi putra dan putrinya, ikutilah al-Qur’an. Pebisnis yang ingin dagangannya laris manis, ikutilah al-Qur’an. Petani dan pekebun yang ingin berkah panenannya, ikutilah al-Qur’an. Pendek kata, apapun profesi Anda, bila ingin sukses dan senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah ta’ala, ikutilah al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman, [arabic-font]”إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “[/arabic-font] Artinya: “Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. Dan memberi kabar gembira kepada kaum mukminin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar”. QS. Al-Isra’ (17): 9. [arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى فَلَسْطِيْنَ وسوريا وَبورما، اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ[/arabic-font] Ya Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Suriah dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru dunia [arabic-font]اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.[/arabic-font] Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu. [arabic-font]اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ[/arabic-font] Ya Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien. [arabic-font]رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 1 Syawal 1438 / 25 Juni 2017 [1] Lihat: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi (VI/326). [2] Maksud dari kata “mahir” di sini adalah: kemampuan yang bagus seorang hamba dalam menghapal dan membaca dengan baik tanpa terbata-bata. Berkat karunia Allah yang telah memudahkan baginya hal tersebut, sebagaimana Allah karuniakan hal serupa kepada para malaikat. Sebab itulah mereka disejajarkan dengan para malaikat. Lihat: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (XIII/636). [3] Baca: Faidh al-Qadîr karya al-Munawiy (IV/535). =============== Artikel: tunasilmu.com FansPage: Fans Page Podok Pesantren Tunas Ilmu PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


08JulSyafa’at Al-Qur’anJuly 8, 2017Khotbah 'Id Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA [arabic-font]السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font] Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd! Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Di hari kiamat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan seluruh apa yang ada di muka bumi. Gunung-gunung besar, gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, serta pohon-pohon rindang, semua musnah tak berbekas sedikitpun. Lalu Allah mengganti bumi ini dengan bumi lain yang berbeda. [arabic-font]”يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [/arabic-font] Artinya: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, (demikian) pula langit. Saat itu mereka (para makhluk) berkumpul (di padang Mahsyar) untuk menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa”. QS. Ibrahim (14): 48. Bumi yang baru, dengan keadaan yang berbeda sama sekali. Bumi yang rata serata-ratanya. Tak ada tempat untuk berteduh, bersembunyi apalagi berlari. Di saat itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan seluruh makhluk, yang pertama hingga terakhir. Manusia, jin, malaikat dan binatang. Semua berkumpul di sebuah area tanah lapang yang maha luas, yang diistilahkan dengan Padang Mahsyar. Hanya Allah yang mengetahui betapa luasnya tempat tersebut. Lalu, salah satu makhluk terbesar ciptaan Allah, yaitu matahari. Yang saat ini berada di atas kita sekitar 94 juta mil. Allah ‘azza wa jalla perintahkan dia di hari itu untuk datang dan mendekat serta terus mendekat. Sampai jarak yang telah ditentukan. Yaitu hanya satu mil di atas kepala para penghuni padang mahsyar. Maka reaksi yang terjadi, adalah kondisi panas yang maha dahsyat. Hingga para hamba menderita banjir keringat. Bahkan sebagian dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri. Mereka tidak bisa berlari, bersembunyi atau mencari tempat berteduh. Sebab bumi telah rata dengan tanah dan tidak ada satupun tempat untuk berteduh. Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah… Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ternyata ada para manusia yang mendapatkan keistimewaan dan perhatian spesial dari Allah ‘azza wa jalla. Di saat kebanyakan mereka tersengat panasnya matahari yang mendidih, justru manusia-manusia istimewa itu mendapatkan naungan awan yang melindungi mereka dari sengatan sang surya. Sehingga mereka merasa nyaman dan tentram di bawah naungan tersebut. Siapakah gerangan golongan yang amat beruntung itu? Ternyata mereka tidak satu jenis. Bahkan mereka terdiri dari berbagai golongan yang memiliki amal salih yang berbeda-beda. Salah satunya adalah ahlul Qur’an. Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, [arabic-font]”اقْرَءُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ … تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا”[/arabic-font] “Bacalah al-Qur’an! Sungguh ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada orang yang rajin membacanya. Bacalah dua surat yang bersinar terang; al-Baqarah dan Ali Imran! Sungguh keduanya kelak di hari kiamat akan datang bagaikan dua awan yang menaungi … membela orang yang rajin membacanya”. HR. Muslim dari Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu. Bukan hanya naungan saja yang diberikan kepada ahlul Qur’an, namun juga berbagai karunia spesial lainnya. [arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ حَلِّهِ”، فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ زِدْهُ”، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ”، فَيَرْضَى عَنْهُ ، فَيُقَالُ لَهُ: “اقْرَأْ وَارْقَ”، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً”.[/arabic-font] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rabbi perhiasilah dia (manusia yang rajin membaca al-Qur’an)!”. Maka dipasanglah di kepalanya mahkota kemuliaan. Al-Qur’an kembali berkata, “Wahai Rabbi, tambahkanlah karunia lain kepadanya!”. Maka dikenakanlah padanya jubah kemuliaan (dari surga). Al-Qur’an masih memohon, “Wahai Rabbi, ridhailah dia!”. Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan padanya, “Bacalah dan terus naik (ke derajat yang lebih tinggi di surga)!”. Kemudian ditambahkan pahala atas setiap ayat yang dibacanya”. HR. Tirimidziy dan dinilai hasan oleh beliau dan al-Albaniy. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan kemarin, animo masyarakat untuk membaca al-Qur’an meningkat drastis. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam satu bulan. Bahkan tidak sedikit yang khatam berkali-kali. Tentu hal ini merupakan fenomena yang membahagiakan hati orang-orang yang beriman. Apalagi di zaman yang al-Qur’an ini sering diabaikan bahkan dilecehkan. Namun, untuk mendapatkan keberkahan al-Qur’an di dunia dan syafaat al-Qur’an kelak di akhirat, cukupkah hanya dengan membacanya? Untuk mendapatkan jawabannya, maka perlu dikumpulkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang membahas tentang masalah ini, berikut keterangan para ulama klasik maupun kontemporer tentangnya. Setelah itu dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa untuk mendapatkan syafaat al-Qur’an, perlu ditempuh sekurang-kurangnya empat langkah berikut ini: Belajar membaca al-Qur’an dengan benar Rajin membacanya. Syukur-syukur bila bisa menghapalkan semampunya. Berusaha untuk memahami kandungannya. Mengamalkan isi al-Qur’an. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Amat disayangkan, bahwa di zaman kemajuan ini, ternyata masih banyak kaum muslimin yang buta huruf al-Qur’an. Maka langkah pertama yang harus mereka tempuh, adalah berlatih membaca al-Qur’an dengan benar. Mulai dari mempelajari makhorijul huruf (cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah), hingga memahami ilmu tajwid (aturan membaca al-Qur’an). Tidak perlu malu untuk belajar dari alif ba ta dan tsa, walaupun telah lanjut usia. Apalagi bila masih muda belia. Sungguh, kesulitan yang akan merintangi di jalan mulia tersebut, kelak dihargai oleh Allah ta’ala dengan pahala yang berlipat ganda.[1] Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, [arabic-font]”الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ”[/arabic-font] “Orang yang mahir[2] membaca al-Qur’an, akan bersama para malaikat mulia nan baik. Adapun orang yang terbata-bata dan kesulitan dalam membacanya; maka dia akan mendapatkan dua pahala”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh ironis, apabila penyakit buta huruf al-Qur’an ini juga menjangkiti sebagian akademisi. Memiliki gelar s1, s2, s3 atau bahkan professor dalam bidang sains, akan tetapi nol besar dalam membaca al-Qur’an. Bahkan, surat al-Qur’an yang seharusnya setiap hari dibaca minimal 17 kali, yakni surat al-Fatihah, pun ternyata masih belum benar dalam melafalkannya. [arabic-font]”إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْأَخِرَةِ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun jahil dalam urusan akhirat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikh beliau sebagaimana diterangkan as-Suyuthiy dalam al-Jami’ ash-Shaghir (I/284 no. 1856). Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ (I/382 no. 1879). Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Langkah kedua untuk meraih syafaat al-Qur’an, setelah bisa dan benar dalam membaca al-Qur’an adalah rutin dan rajin untuk membacanya. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun juga di sepanjang tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan, [arabic-font]”اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ”[/arabic-font] “Khatamkanlah al-Qur’an setiap satu bulan”. HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama menyimpulkan, bahwa tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk melewatkan satu bulan tanpa mengkhatamkan al-Qur’an. Jadi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang hanya khatam di bulan Ramadhan, atau bahkan cuma khatam sekali dalam seumur hidup, itu bukanlah potret ideal seorang muslim. Apalagi yang tidak pernah khatam al-Qur’an sekalipun, hingga ajal datang menjemput. Na’udzu billah min dzalik… Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah ketiga agar memperoleh syafaat al-Qur’an adalah berusaha memahami isi al-Qur’an. Bukankah banyak di antara kita yang pernah membeli barang elektronik? Apa gerangan yang akan kita lakukan bila buku petunjuk penggunaan barang tersebut, ternyata menggunakan bahasa yang tidak kita pahami? Tentu kita akan berusaha keras, dengan berbagai cara, agar bisa memahami buku panduan tersebut. Karena merasa khawatir jika keliru dalam memakainya, akan berakibat rusaknya barang itu. Sadarkah kita, bahwa buku panduan terbesar dan buku pedoman terpenting dalam hidup kita adalah kitab suci al-Qur’an? Tanpanya kita tidak mungkin selamat di dunia maupun akhirat. Maka sungguh amat aneh, jika kita tidak merasa gelisah dan batin kita tidak terganggu, manakala tidak memahami buku panduan termulia tersebut! Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”[/arabic-font] Artinya: “Tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci (rapat)?”. QS. Muhammad (47): 24. Muslim yang bijak, adalah muslim yang menyediakan di rumahnya al-Qur’an dan terjemahannya. Lalu meluangkan waktu setiap hari untuk membaca barang satu atau dua halaman terjemahan al-Qur’an. Sehingga minimal sekali seumur hidup, dia pernah membaca terjemahan al-Qur’an dari awal hingga akhir. Tentu akan lebih baik lagi, bila setelah itu ia berusaha mempelajari tafsir al-Qur’an. Dan sangat dianjurkan, di bawah bimbingan seorang Ulama/Kyai/Ustadz yang berkompeten. Guna menghindari kekeliruan pemahaman. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati… Langkah terakhir dan terpenting untuk meraih syafaat al-Qur’an adalah mengamalkan isinya. Inilah langkah penentu bagi setiap orang yang mendambakan syafaat spesial itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, [arabic-font]”الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، ومَاحِلٌ مُصَدَّقٌ. فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامًا قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقُهُ إِلَى النَّارِ”.[/arabic-font] “Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang akan dikabulkan permohonan syafaatnya. Dan pembela yang akan diterima pembelaannya. Barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di depannya; maka kitab suci ini akan mengantarkannya ke surga. Namun barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di belakangnya; niscaya kitab suci ini akan mendorongnya ke neraka”. HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Maksud dari memposisikan al-Qur’an di depan, adalah mengamalkan isinya. Sedangkan memposisikan al-Qur’an di belakang, maksudnya adalah tidak mengamalkan isinya.[3] Maka sungguh amat celaka dan merugi, orang-orang yang tidak pernah mengindahkan petunjuk al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Allah ta’ala mengingatkan, [arabic-font]”وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)“.[/arabic-font] Artinya: “Barang siapa mengabaikan peringatan dari-Ku (al-Qur’an), maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia bertanya, “Wahai Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”. Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya. Maka begitu pula pada hari ini kamu diabaikan. Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. QS. Thaha (20): 124-127. Di dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa suatu hari setelah shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu’alahiwasallam bercerita tentang mimpinya semalam. Beliau diperlihatkan berbagai macam siksaan di neraka, [arabic-font]”فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ. قُلْتُ: “مَنْ هَذَا؟”. قَالَا: “انْطَلِقْ!”. [ثم فسر له ذلك صلى الله عليه وسلم فقال:]: “وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”[/arabic-font] “Kemudian kami pun berjalan hingga menjumpai seorang yang terlentang dan di atasnya orang lain membawa batu, lalu batu itu dilemparkan tepat ke kepala orang yang di bawahnya hingga pecah. Lalu batu itupun menggelinding. Si pelempar bergegas mengambil batu tersebut, begitu ia kembali, ternyata kepala orang yang terlentang tadi telah kembali utuh seperti semula. Maka batupun kembali dilemparkan hingga kepalanya pecah. Maka akupun (Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam) bertanya, “Siapakah orang ini?”. “Jalanlah terus” jawab dua malaikat yang mengantarkanku. (Lalu di akhir hadits dua malaikat itu menjelaskan seluruh penampakan yang dilihat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam). “Orang yang engkau lihat dipecahkan kepalanya, adalah orang yang telah Allah ajarkan padanya al-Qur’an, namun di malam hari dia tidak shalat fardhu. Dan di siang harinya tidak mengamalkan al-Qur’an. Dia terus disiksa demikian hingga datang hari kiamat”. HR. Bukhari dari hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu. Itulah akibat pedih tidak mengamalkan isi al-Qur’an. Sebaliknya, beruntunglah para manusia yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduannya dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Pejabat yang ingin selamat di dunia dan akhirat, ikutilah al-Qur’an. Guru yang ingin digugu dan ditiru, ikutilah al-Qur’an. Orang tua yang ingin dipatuhi putra dan putrinya, ikutilah al-Qur’an. Pebisnis yang ingin dagangannya laris manis, ikutilah al-Qur’an. Petani dan pekebun yang ingin berkah panenannya, ikutilah al-Qur’an. Pendek kata, apapun profesi Anda, bila ingin sukses dan senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah ta’ala, ikutilah al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman, [arabic-font]”إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “[/arabic-font] Artinya: “Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. Dan memberi kabar gembira kepada kaum mukminin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar”. QS. Al-Isra’ (17): 9. [arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى فَلَسْطِيْنَ وسوريا وَبورما، اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ[/arabic-font] Ya Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Suriah dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru dunia [arabic-font]اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.[/arabic-font] Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu. [arabic-font]اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ[/arabic-font] Ya Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien. [arabic-font]رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 1 Syawal 1438 / 25 Juni 2017 [1] Lihat: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi (VI/326). [2] Maksud dari kata “mahir” di sini adalah: kemampuan yang bagus seorang hamba dalam menghapal dan membaca dengan baik tanpa terbata-bata. Berkat karunia Allah yang telah memudahkan baginya hal tersebut, sebagaimana Allah karuniakan hal serupa kepada para malaikat. Sebab itulah mereka disejajarkan dengan para malaikat. Lihat: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (XIII/636). [3] Baca: Faidh al-Qadîr karya al-Munawiy (IV/535). =============== Artikel: tunasilmu.com FansPage: Fans Page Podok Pesantren Tunas Ilmu PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Penjelasan Hadits Adab & Akhlaq Bulughul Maram: (7) Adab-Adab Bermajelis

Hadits 5 : Adab-Adab Bermajelisوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhumā beliau berkata: Rasūlullāh  bersabda: “Janganlah seseorang memberdirikan saudaranya dari tempat duduknya kemudian dia gantikan posisi tempat duduk saudaranya tersebut, akan tetapi hendaknya mereka melapangkan dan merenggangkan.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Hāfizh Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim.”Hadits ini kembali menjelaskan kepada kita tentang agungnya Islam. Bahwasanya Islam mengajarkan berbagai macam adab, sampai kepada adab terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele, seperti adab bermajelis yang ternyata diatur dalam Islam.Dalam hadits ini diajarkan dua adab kepada kita, yaitu sebagai berikut.Adab pertama, yaitu adab yang berkaitan dengan orang yang datang terlambat di majelis.Berdasarkan hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa orang  yang datang terlambat hadir di suatu majelis hendaknya duduk di tempat yang ia dapatkan/tempat yang masih kosong dan dia harus rela mendapatkan tempat yang bagaimana pun keadaannya karena dia memang datang terlambat.Jika seseorang datang terlambat, maka tempat duduk yang ia peroleh itulah yang harus ia terima. Tidak boleh baginya memaksakan diri untuk mendapatkan tempat yang  baik dengan melewati orang-orang yang terlebih dahulu datang atau dengan cara menyuruh orang lain berpindah dari tempat duduknya untuk ditempati.Hal seperti itu dilarang di dalam Islam karena menunjukkan keangkuhan dan egoisme. Islam melarang sikap angkuh dan egois, Islam mengajarkan sikap tawādhū’ serta menghormati orang lain. Karena itu, kalau kita datang terlambat dan saudara-saudara kita telah lebih dahulu datang, maka kita tidak berhak untuk memintanya berpindah dari tempat yang ia tempati untuk kemudian kita tempati atau melangkahi mereka agar kita mendapatkan tempat yang sesuai dengan keinginan kita.Karena itu, perbuatan seperti di atas sangat dicela di dalam islam meskipun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Maka, bukanlah hal yang sopan dan beradab apabila seseorang -meskipun memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan- terlambat menghadiri shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Ied, atau menghadiri majelis lain kemudian mereka memaksakan diri untuk mendapatkan tempat terbaik dengan cara melompati pundak-pundak orang yang lebih dahulu hadir atau menyuruh mereka bergeser untuk diambil tempatnya. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap adab mulia yang diajarkan Islam dan bentuk jauhnya seseorang dari sikap  tawaddu’.Adab kedua, berkaitan dengan orang-orang yang sudah terlanjur lebih dahulu duduk.Berbeda dengan adab pertama yang harus dipegang oleh orang yang terlambat hadir dalam majelis, adab yang kedua ini hendaknya dipegang oleh mereka yang sudah terlebih dahulu hadir di majelis dan telah mengambil tempat duduk. Adab bagi mereka yang telah hadir terlebih dahulu berbeda dengan yang datang terlambat dan hal ini merupakan bentuk keseimbangan di dalam Islam sekaligus bentuk kemudahan bagi setiap yang hadir di majelis.Kalau bagi yang terlambat hadir di majelis dilarang untuk melompati pundak-pundak dan menyuruh pindah orang yang telah hadir terlebih dahulu  di majelis, sebaliknya bagi orang yang telah hadir terlebih dahulu di majelis dianjurkan untuk melapangkan majelis bagi mereka yang baru datang. Hal ini sesuai dengan firman Allāh dalam Al-Qurān. Allah berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah majelis kalian, maka renggangkanlah/lapangkanlah majelis kalian, niscaya Allāh akan beri kelapangan pada kalian.” (QS. Al-Mujādilah: 11)Dari ayat ini dapat dipahami bahwa jika orang-orang yang telah hadir di suatu majelis melihat saudaranya datang terlambat ke majelis, hendaknya ia segera melapangkan dan memberikan tempat kepadanya agar ia bisa duduk di dalam majelis tersebut bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain yang telah lebih dahulu hadir di majelis tersebut.Berdasarkan ayat ini pula diperintahkan kepada orang yang lebih dahulu hadir di suatu majelis, jika dikatakan kepadanya, “Yā ikhwān, tafassahū, tolong berikan saya tempat, tolong berikan saya tempat,” maka hendaklah ia memperhatikan permintaan saudaranya tersebut dan memenuhinya sebagaimana perintah Allāh tadi,إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah maka lakukanlah, maka niscaya Allāh akan berikan kelapangan pada kalian.”Orang-orang yang terlebih dahulu hadir di suatu majelis, hendaknya berusaha memberikan tempat kepada saudaranya. Hal ini menunjukkan sikap saling cinta kasih di antara sesama muslim. Orang yang hadir terlebih dahulu di majelis ingin agar saudaranya juga dapat menghadiri majelis dan mendapatkan kebaikan sebagaimana ia juga ingin mendapatkan kebaikan dari majelis itu untuk dirinya sendiri. Dia juga tidak ingin menyakiti hati saudaranya dengan mempersulitnya menghadiri majelis. Karena itu dia memberikan kesempatan kepada saudaranya untuk ikut dalam majelis tersebut dengan melapangkan tempat untuknya. Demikianlah indahnya akhlak dan adab dalam bermajelis yang dituntunkan oleh Islam.Para ulama menyebutkan bahwa majelis yang dimaksud dalam hadits ini adalah majelis umum yang berkaitan dengan kebaikan. Dengan demikian termasuk di dalamnya adalah majelis dzikir, majelis ilmu, majelis pengajian, majelis shalat Jum’at, dan sejenisnya. Bahkan Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini berlaku umum termasuk tidak boleh mengambil posisi shaf orang lain. Jika di shaf pertama ada anak kecil, lalu ada orang dewasa yang terlambat datang maka tidak boleh bagi orang dewasa tersebut menyuruh anak kecil tersebut mundur untuk menggantikan posisinya. (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350)Mungkin timbul suatu pertanyaan, bagaimana jika ada seorang ustadz atau orang yang dihormati hadir terlambat dalam majelis, kemudian muridnya atau orang-orang yang telah hadir merasa tidak enak dengan ustadz atau orang terhormat tersebut, kemudian ia berdiri dan mempersilakan ustadz atau orang terhormat tadi untuk duduk di tempatnya. Apakah yang harus dilakukan oleh si ustadz atau orang yang dihormati tersebut? Bolehkah ia duduk menggantikan tempat muridnya tersebut?Maka jawabannya adalah, Min bābil warā (kalau kita warā), maka hendaknya ia tidak mengambil tempat duduk yang ditawarkan tersebut meskipun ia tahu bahwa hal itu dilakukan oleh murid tersebut semata-mata untuk menghormatinya. Hal ini adalah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh shahābat Ibnu ‘Umar .وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيْهِ“Ibnu Umar jika ada seseorang yang berdiri mempersilahkan tempat duduknya kepada beliau maka beliau tidak duduk di tempat tersebut” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod No. 1153)Ibnu ‘Umar  jika datang terlambat di majelis, maka orang-orang berdiri dan meminta beliau agar duduk di posisi mereka karena rasa hormat mereka terhadap Ibnu ‘Umar .  Meskipun demikian, Ibnu ‘Umar tidak mau mengambil tempat duduk mereka. Hal ini disebabkan oleh sikap wara’ beliau. Beliau tidak ingin mengambil hak orang lain meskipun orang lain itu merelakannya karena menghormati beliau.Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Semua ini dilakukan oleh Ibnu Umar karena wara’ beliau. Beliau khawatir orang lain tersebut melakukannya karena malu atau karena tidak enak. Dan telah diketahui bersama bahwasanya jika ada seseorang yang memberikan hadiah kepadamu atau memberikan sesuatu kepadamu karena malu atau tidak enak maka janganlah engkau menerimanya, karena orang ini hukumnya seperti orang yang mukroh (yang terpaksa). Oleh karenanya para ulama rahimahumullah berkata haram bagimu menerima hadiah jika engkau mengetahui bahwasanya ia memberikan hadiah kepadamu karena malu atau tidak enak. Termasuk dalam hal ini, jika engkau melewati rumah seseorang dan penghuni rumahnya ada lalu ia berkata, “Silahkan mampir” dan engkau mengetahui bahwa ia mengatakan demikian karena malu dan tidak enak, maka janganlah engkau mampir di rumahnya, karena hukum penghuni rumah tersebut seperti orang yang mukroh/terpaksa” (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350-351)Demikianlah adab yang seharusnya kita terlambat datang di suatu majelis kemudian ada orang yang berdiri mempersilahkan kita mengambil posisinya, kita menolak karena kita tidak ingin mengambil hak orang lain.  Namun jika kita khawatir hal itu akan menyinggung perasaan orang yang menawarkan tempatnya tersebut atau kita ingin menyenangkan hatinya, maka tidak mengapa jika kita mengambil tempat duduk yang ia tawarkan kepada kita. Sedangkan jika orang tersebut menawarkan tempatnya kepada kita hanya sekedar karena ia merasa malu, maka tidak boleh kita mengambil haknya.Jakarta, 14-10-1438 H / 08-07-2017 Abu Abdil Muhsin Firanda www.firanda.com

Penjelasan Hadits Adab & Akhlaq Bulughul Maram: (7) Adab-Adab Bermajelis

Hadits 5 : Adab-Adab Bermajelisوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhumā beliau berkata: Rasūlullāh  bersabda: “Janganlah seseorang memberdirikan saudaranya dari tempat duduknya kemudian dia gantikan posisi tempat duduk saudaranya tersebut, akan tetapi hendaknya mereka melapangkan dan merenggangkan.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Hāfizh Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim.”Hadits ini kembali menjelaskan kepada kita tentang agungnya Islam. Bahwasanya Islam mengajarkan berbagai macam adab, sampai kepada adab terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele, seperti adab bermajelis yang ternyata diatur dalam Islam.Dalam hadits ini diajarkan dua adab kepada kita, yaitu sebagai berikut.Adab pertama, yaitu adab yang berkaitan dengan orang yang datang terlambat di majelis.Berdasarkan hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa orang  yang datang terlambat hadir di suatu majelis hendaknya duduk di tempat yang ia dapatkan/tempat yang masih kosong dan dia harus rela mendapatkan tempat yang bagaimana pun keadaannya karena dia memang datang terlambat.Jika seseorang datang terlambat, maka tempat duduk yang ia peroleh itulah yang harus ia terima. Tidak boleh baginya memaksakan diri untuk mendapatkan tempat yang  baik dengan melewati orang-orang yang terlebih dahulu datang atau dengan cara menyuruh orang lain berpindah dari tempat duduknya untuk ditempati.Hal seperti itu dilarang di dalam Islam karena menunjukkan keangkuhan dan egoisme. Islam melarang sikap angkuh dan egois, Islam mengajarkan sikap tawādhū’ serta menghormati orang lain. Karena itu, kalau kita datang terlambat dan saudara-saudara kita telah lebih dahulu datang, maka kita tidak berhak untuk memintanya berpindah dari tempat yang ia tempati untuk kemudian kita tempati atau melangkahi mereka agar kita mendapatkan tempat yang sesuai dengan keinginan kita.Karena itu, perbuatan seperti di atas sangat dicela di dalam islam meskipun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Maka, bukanlah hal yang sopan dan beradab apabila seseorang -meskipun memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan- terlambat menghadiri shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Ied, atau menghadiri majelis lain kemudian mereka memaksakan diri untuk mendapatkan tempat terbaik dengan cara melompati pundak-pundak orang yang lebih dahulu hadir atau menyuruh mereka bergeser untuk diambil tempatnya. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap adab mulia yang diajarkan Islam dan bentuk jauhnya seseorang dari sikap  tawaddu’.Adab kedua, berkaitan dengan orang-orang yang sudah terlanjur lebih dahulu duduk.Berbeda dengan adab pertama yang harus dipegang oleh orang yang terlambat hadir dalam majelis, adab yang kedua ini hendaknya dipegang oleh mereka yang sudah terlebih dahulu hadir di majelis dan telah mengambil tempat duduk. Adab bagi mereka yang telah hadir terlebih dahulu berbeda dengan yang datang terlambat dan hal ini merupakan bentuk keseimbangan di dalam Islam sekaligus bentuk kemudahan bagi setiap yang hadir di majelis.Kalau bagi yang terlambat hadir di majelis dilarang untuk melompati pundak-pundak dan menyuruh pindah orang yang telah hadir terlebih dahulu  di majelis, sebaliknya bagi orang yang telah hadir terlebih dahulu di majelis dianjurkan untuk melapangkan majelis bagi mereka yang baru datang. Hal ini sesuai dengan firman Allāh dalam Al-Qurān. Allah berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah majelis kalian, maka renggangkanlah/lapangkanlah majelis kalian, niscaya Allāh akan beri kelapangan pada kalian.” (QS. Al-Mujādilah: 11)Dari ayat ini dapat dipahami bahwa jika orang-orang yang telah hadir di suatu majelis melihat saudaranya datang terlambat ke majelis, hendaknya ia segera melapangkan dan memberikan tempat kepadanya agar ia bisa duduk di dalam majelis tersebut bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain yang telah lebih dahulu hadir di majelis tersebut.Berdasarkan ayat ini pula diperintahkan kepada orang yang lebih dahulu hadir di suatu majelis, jika dikatakan kepadanya, “Yā ikhwān, tafassahū, tolong berikan saya tempat, tolong berikan saya tempat,” maka hendaklah ia memperhatikan permintaan saudaranya tersebut dan memenuhinya sebagaimana perintah Allāh tadi,إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah maka lakukanlah, maka niscaya Allāh akan berikan kelapangan pada kalian.”Orang-orang yang terlebih dahulu hadir di suatu majelis, hendaknya berusaha memberikan tempat kepada saudaranya. Hal ini menunjukkan sikap saling cinta kasih di antara sesama muslim. Orang yang hadir terlebih dahulu di majelis ingin agar saudaranya juga dapat menghadiri majelis dan mendapatkan kebaikan sebagaimana ia juga ingin mendapatkan kebaikan dari majelis itu untuk dirinya sendiri. Dia juga tidak ingin menyakiti hati saudaranya dengan mempersulitnya menghadiri majelis. Karena itu dia memberikan kesempatan kepada saudaranya untuk ikut dalam majelis tersebut dengan melapangkan tempat untuknya. Demikianlah indahnya akhlak dan adab dalam bermajelis yang dituntunkan oleh Islam.Para ulama menyebutkan bahwa majelis yang dimaksud dalam hadits ini adalah majelis umum yang berkaitan dengan kebaikan. Dengan demikian termasuk di dalamnya adalah majelis dzikir, majelis ilmu, majelis pengajian, majelis shalat Jum’at, dan sejenisnya. Bahkan Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini berlaku umum termasuk tidak boleh mengambil posisi shaf orang lain. Jika di shaf pertama ada anak kecil, lalu ada orang dewasa yang terlambat datang maka tidak boleh bagi orang dewasa tersebut menyuruh anak kecil tersebut mundur untuk menggantikan posisinya. (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350)Mungkin timbul suatu pertanyaan, bagaimana jika ada seorang ustadz atau orang yang dihormati hadir terlambat dalam majelis, kemudian muridnya atau orang-orang yang telah hadir merasa tidak enak dengan ustadz atau orang terhormat tersebut, kemudian ia berdiri dan mempersilakan ustadz atau orang terhormat tadi untuk duduk di tempatnya. Apakah yang harus dilakukan oleh si ustadz atau orang yang dihormati tersebut? Bolehkah ia duduk menggantikan tempat muridnya tersebut?Maka jawabannya adalah, Min bābil warā (kalau kita warā), maka hendaknya ia tidak mengambil tempat duduk yang ditawarkan tersebut meskipun ia tahu bahwa hal itu dilakukan oleh murid tersebut semata-mata untuk menghormatinya. Hal ini adalah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh shahābat Ibnu ‘Umar .وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيْهِ“Ibnu Umar jika ada seseorang yang berdiri mempersilahkan tempat duduknya kepada beliau maka beliau tidak duduk di tempat tersebut” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod No. 1153)Ibnu ‘Umar  jika datang terlambat di majelis, maka orang-orang berdiri dan meminta beliau agar duduk di posisi mereka karena rasa hormat mereka terhadap Ibnu ‘Umar .  Meskipun demikian, Ibnu ‘Umar tidak mau mengambil tempat duduk mereka. Hal ini disebabkan oleh sikap wara’ beliau. Beliau tidak ingin mengambil hak orang lain meskipun orang lain itu merelakannya karena menghormati beliau.Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Semua ini dilakukan oleh Ibnu Umar karena wara’ beliau. Beliau khawatir orang lain tersebut melakukannya karena malu atau karena tidak enak. Dan telah diketahui bersama bahwasanya jika ada seseorang yang memberikan hadiah kepadamu atau memberikan sesuatu kepadamu karena malu atau tidak enak maka janganlah engkau menerimanya, karena orang ini hukumnya seperti orang yang mukroh (yang terpaksa). Oleh karenanya para ulama rahimahumullah berkata haram bagimu menerima hadiah jika engkau mengetahui bahwasanya ia memberikan hadiah kepadamu karena malu atau tidak enak. Termasuk dalam hal ini, jika engkau melewati rumah seseorang dan penghuni rumahnya ada lalu ia berkata, “Silahkan mampir” dan engkau mengetahui bahwa ia mengatakan demikian karena malu dan tidak enak, maka janganlah engkau mampir di rumahnya, karena hukum penghuni rumah tersebut seperti orang yang mukroh/terpaksa” (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350-351)Demikianlah adab yang seharusnya kita terlambat datang di suatu majelis kemudian ada orang yang berdiri mempersilahkan kita mengambil posisinya, kita menolak karena kita tidak ingin mengambil hak orang lain.  Namun jika kita khawatir hal itu akan menyinggung perasaan orang yang menawarkan tempatnya tersebut atau kita ingin menyenangkan hatinya, maka tidak mengapa jika kita mengambil tempat duduk yang ia tawarkan kepada kita. Sedangkan jika orang tersebut menawarkan tempatnya kepada kita hanya sekedar karena ia merasa malu, maka tidak boleh kita mengambil haknya.Jakarta, 14-10-1438 H / 08-07-2017 Abu Abdil Muhsin Firanda www.firanda.com
Hadits 5 : Adab-Adab Bermajelisوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhumā beliau berkata: Rasūlullāh  bersabda: “Janganlah seseorang memberdirikan saudaranya dari tempat duduknya kemudian dia gantikan posisi tempat duduk saudaranya tersebut, akan tetapi hendaknya mereka melapangkan dan merenggangkan.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Hāfizh Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim.”Hadits ini kembali menjelaskan kepada kita tentang agungnya Islam. Bahwasanya Islam mengajarkan berbagai macam adab, sampai kepada adab terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele, seperti adab bermajelis yang ternyata diatur dalam Islam.Dalam hadits ini diajarkan dua adab kepada kita, yaitu sebagai berikut.Adab pertama, yaitu adab yang berkaitan dengan orang yang datang terlambat di majelis.Berdasarkan hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa orang  yang datang terlambat hadir di suatu majelis hendaknya duduk di tempat yang ia dapatkan/tempat yang masih kosong dan dia harus rela mendapatkan tempat yang bagaimana pun keadaannya karena dia memang datang terlambat.Jika seseorang datang terlambat, maka tempat duduk yang ia peroleh itulah yang harus ia terima. Tidak boleh baginya memaksakan diri untuk mendapatkan tempat yang  baik dengan melewati orang-orang yang terlebih dahulu datang atau dengan cara menyuruh orang lain berpindah dari tempat duduknya untuk ditempati.Hal seperti itu dilarang di dalam Islam karena menunjukkan keangkuhan dan egoisme. Islam melarang sikap angkuh dan egois, Islam mengajarkan sikap tawādhū’ serta menghormati orang lain. Karena itu, kalau kita datang terlambat dan saudara-saudara kita telah lebih dahulu datang, maka kita tidak berhak untuk memintanya berpindah dari tempat yang ia tempati untuk kemudian kita tempati atau melangkahi mereka agar kita mendapatkan tempat yang sesuai dengan keinginan kita.Karena itu, perbuatan seperti di atas sangat dicela di dalam islam meskipun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Maka, bukanlah hal yang sopan dan beradab apabila seseorang -meskipun memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan- terlambat menghadiri shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Ied, atau menghadiri majelis lain kemudian mereka memaksakan diri untuk mendapatkan tempat terbaik dengan cara melompati pundak-pundak orang yang lebih dahulu hadir atau menyuruh mereka bergeser untuk diambil tempatnya. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap adab mulia yang diajarkan Islam dan bentuk jauhnya seseorang dari sikap  tawaddu’.Adab kedua, berkaitan dengan orang-orang yang sudah terlanjur lebih dahulu duduk.Berbeda dengan adab pertama yang harus dipegang oleh orang yang terlambat hadir dalam majelis, adab yang kedua ini hendaknya dipegang oleh mereka yang sudah terlebih dahulu hadir di majelis dan telah mengambil tempat duduk. Adab bagi mereka yang telah hadir terlebih dahulu berbeda dengan yang datang terlambat dan hal ini merupakan bentuk keseimbangan di dalam Islam sekaligus bentuk kemudahan bagi setiap yang hadir di majelis.Kalau bagi yang terlambat hadir di majelis dilarang untuk melompati pundak-pundak dan menyuruh pindah orang yang telah hadir terlebih dahulu  di majelis, sebaliknya bagi orang yang telah hadir terlebih dahulu di majelis dianjurkan untuk melapangkan majelis bagi mereka yang baru datang. Hal ini sesuai dengan firman Allāh dalam Al-Qurān. Allah berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah majelis kalian, maka renggangkanlah/lapangkanlah majelis kalian, niscaya Allāh akan beri kelapangan pada kalian.” (QS. Al-Mujādilah: 11)Dari ayat ini dapat dipahami bahwa jika orang-orang yang telah hadir di suatu majelis melihat saudaranya datang terlambat ke majelis, hendaknya ia segera melapangkan dan memberikan tempat kepadanya agar ia bisa duduk di dalam majelis tersebut bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain yang telah lebih dahulu hadir di majelis tersebut.Berdasarkan ayat ini pula diperintahkan kepada orang yang lebih dahulu hadir di suatu majelis, jika dikatakan kepadanya, “Yā ikhwān, tafassahū, tolong berikan saya tempat, tolong berikan saya tempat,” maka hendaklah ia memperhatikan permintaan saudaranya tersebut dan memenuhinya sebagaimana perintah Allāh tadi,إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah maka lakukanlah, maka niscaya Allāh akan berikan kelapangan pada kalian.”Orang-orang yang terlebih dahulu hadir di suatu majelis, hendaknya berusaha memberikan tempat kepada saudaranya. Hal ini menunjukkan sikap saling cinta kasih di antara sesama muslim. Orang yang hadir terlebih dahulu di majelis ingin agar saudaranya juga dapat menghadiri majelis dan mendapatkan kebaikan sebagaimana ia juga ingin mendapatkan kebaikan dari majelis itu untuk dirinya sendiri. Dia juga tidak ingin menyakiti hati saudaranya dengan mempersulitnya menghadiri majelis. Karena itu dia memberikan kesempatan kepada saudaranya untuk ikut dalam majelis tersebut dengan melapangkan tempat untuknya. Demikianlah indahnya akhlak dan adab dalam bermajelis yang dituntunkan oleh Islam.Para ulama menyebutkan bahwa majelis yang dimaksud dalam hadits ini adalah majelis umum yang berkaitan dengan kebaikan. Dengan demikian termasuk di dalamnya adalah majelis dzikir, majelis ilmu, majelis pengajian, majelis shalat Jum’at, dan sejenisnya. Bahkan Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini berlaku umum termasuk tidak boleh mengambil posisi shaf orang lain. Jika di shaf pertama ada anak kecil, lalu ada orang dewasa yang terlambat datang maka tidak boleh bagi orang dewasa tersebut menyuruh anak kecil tersebut mundur untuk menggantikan posisinya. (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350)Mungkin timbul suatu pertanyaan, bagaimana jika ada seorang ustadz atau orang yang dihormati hadir terlambat dalam majelis, kemudian muridnya atau orang-orang yang telah hadir merasa tidak enak dengan ustadz atau orang terhormat tersebut, kemudian ia berdiri dan mempersilakan ustadz atau orang terhormat tadi untuk duduk di tempatnya. Apakah yang harus dilakukan oleh si ustadz atau orang yang dihormati tersebut? Bolehkah ia duduk menggantikan tempat muridnya tersebut?Maka jawabannya adalah, Min bābil warā (kalau kita warā), maka hendaknya ia tidak mengambil tempat duduk yang ditawarkan tersebut meskipun ia tahu bahwa hal itu dilakukan oleh murid tersebut semata-mata untuk menghormatinya. Hal ini adalah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh shahābat Ibnu ‘Umar .وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيْهِ“Ibnu Umar jika ada seseorang yang berdiri mempersilahkan tempat duduknya kepada beliau maka beliau tidak duduk di tempat tersebut” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod No. 1153)Ibnu ‘Umar  jika datang terlambat di majelis, maka orang-orang berdiri dan meminta beliau agar duduk di posisi mereka karena rasa hormat mereka terhadap Ibnu ‘Umar .  Meskipun demikian, Ibnu ‘Umar tidak mau mengambil tempat duduk mereka. Hal ini disebabkan oleh sikap wara’ beliau. Beliau tidak ingin mengambil hak orang lain meskipun orang lain itu merelakannya karena menghormati beliau.Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Semua ini dilakukan oleh Ibnu Umar karena wara’ beliau. Beliau khawatir orang lain tersebut melakukannya karena malu atau karena tidak enak. Dan telah diketahui bersama bahwasanya jika ada seseorang yang memberikan hadiah kepadamu atau memberikan sesuatu kepadamu karena malu atau tidak enak maka janganlah engkau menerimanya, karena orang ini hukumnya seperti orang yang mukroh (yang terpaksa). Oleh karenanya para ulama rahimahumullah berkata haram bagimu menerima hadiah jika engkau mengetahui bahwasanya ia memberikan hadiah kepadamu karena malu atau tidak enak. Termasuk dalam hal ini, jika engkau melewati rumah seseorang dan penghuni rumahnya ada lalu ia berkata, “Silahkan mampir” dan engkau mengetahui bahwa ia mengatakan demikian karena malu dan tidak enak, maka janganlah engkau mampir di rumahnya, karena hukum penghuni rumah tersebut seperti orang yang mukroh/terpaksa” (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350-351)Demikianlah adab yang seharusnya kita terlambat datang di suatu majelis kemudian ada orang yang berdiri mempersilahkan kita mengambil posisinya, kita menolak karena kita tidak ingin mengambil hak orang lain.  Namun jika kita khawatir hal itu akan menyinggung perasaan orang yang menawarkan tempatnya tersebut atau kita ingin menyenangkan hatinya, maka tidak mengapa jika kita mengambil tempat duduk yang ia tawarkan kepada kita. Sedangkan jika orang tersebut menawarkan tempatnya kepada kita hanya sekedar karena ia merasa malu, maka tidak boleh kita mengambil haknya.Jakarta, 14-10-1438 H / 08-07-2017 Abu Abdil Muhsin Firanda www.firanda.com


Hadits 5 : Adab-Adab Bermajelisوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhumā beliau berkata: Rasūlullāh  bersabda: “Janganlah seseorang memberdirikan saudaranya dari tempat duduknya kemudian dia gantikan posisi tempat duduk saudaranya tersebut, akan tetapi hendaknya mereka melapangkan dan merenggangkan.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Hāfizh Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim.”Hadits ini kembali menjelaskan kepada kita tentang agungnya Islam. Bahwasanya Islam mengajarkan berbagai macam adab, sampai kepada adab terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele, seperti adab bermajelis yang ternyata diatur dalam Islam.Dalam hadits ini diajarkan dua adab kepada kita, yaitu sebagai berikut.Adab pertama, yaitu adab yang berkaitan dengan orang yang datang terlambat di majelis.Berdasarkan hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa orang  yang datang terlambat hadir di suatu majelis hendaknya duduk di tempat yang ia dapatkan/tempat yang masih kosong dan dia harus rela mendapatkan tempat yang bagaimana pun keadaannya karena dia memang datang terlambat.Jika seseorang datang terlambat, maka tempat duduk yang ia peroleh itulah yang harus ia terima. Tidak boleh baginya memaksakan diri untuk mendapatkan tempat yang  baik dengan melewati orang-orang yang terlebih dahulu datang atau dengan cara menyuruh orang lain berpindah dari tempat duduknya untuk ditempati.Hal seperti itu dilarang di dalam Islam karena menunjukkan keangkuhan dan egoisme. Islam melarang sikap angkuh dan egois, Islam mengajarkan sikap tawādhū’ serta menghormati orang lain. Karena itu, kalau kita datang terlambat dan saudara-saudara kita telah lebih dahulu datang, maka kita tidak berhak untuk memintanya berpindah dari tempat yang ia tempati untuk kemudian kita tempati atau melangkahi mereka agar kita mendapatkan tempat yang sesuai dengan keinginan kita.Karena itu, perbuatan seperti di atas sangat dicela di dalam islam meskipun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Maka, bukanlah hal yang sopan dan beradab apabila seseorang -meskipun memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekayaan- terlambat menghadiri shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Ied, atau menghadiri majelis lain kemudian mereka memaksakan diri untuk mendapatkan tempat terbaik dengan cara melompati pundak-pundak orang yang lebih dahulu hadir atau menyuruh mereka bergeser untuk diambil tempatnya. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap adab mulia yang diajarkan Islam dan bentuk jauhnya seseorang dari sikap  tawaddu’.Adab kedua, berkaitan dengan orang-orang yang sudah terlanjur lebih dahulu duduk.Berbeda dengan adab pertama yang harus dipegang oleh orang yang terlambat hadir dalam majelis, adab yang kedua ini hendaknya dipegang oleh mereka yang sudah terlebih dahulu hadir di majelis dan telah mengambil tempat duduk. Adab bagi mereka yang telah hadir terlebih dahulu berbeda dengan yang datang terlambat dan hal ini merupakan bentuk keseimbangan di dalam Islam sekaligus bentuk kemudahan bagi setiap yang hadir di majelis.Kalau bagi yang terlambat hadir di majelis dilarang untuk melompati pundak-pundak dan menyuruh pindah orang yang telah hadir terlebih dahulu  di majelis, sebaliknya bagi orang yang telah hadir terlebih dahulu di majelis dianjurkan untuk melapangkan majelis bagi mereka yang baru datang. Hal ini sesuai dengan firman Allāh dalam Al-Qurān. Allah berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah majelis kalian, maka renggangkanlah/lapangkanlah majelis kalian, niscaya Allāh akan beri kelapangan pada kalian.” (QS. Al-Mujādilah: 11)Dari ayat ini dapat dipahami bahwa jika orang-orang yang telah hadir di suatu majelis melihat saudaranya datang terlambat ke majelis, hendaknya ia segera melapangkan dan memberikan tempat kepadanya agar ia bisa duduk di dalam majelis tersebut bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain yang telah lebih dahulu hadir di majelis tersebut.Berdasarkan ayat ini pula diperintahkan kepada orang yang lebih dahulu hadir di suatu majelis, jika dikatakan kepadanya, “Yā ikhwān, tafassahū, tolong berikan saya tempat, tolong berikan saya tempat,” maka hendaklah ia memperhatikan permintaan saudaranya tersebut dan memenuhinya sebagaimana perintah Allāh tadi,إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ“Jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah maka lakukanlah, maka niscaya Allāh akan berikan kelapangan pada kalian.”Orang-orang yang terlebih dahulu hadir di suatu majelis, hendaknya berusaha memberikan tempat kepada saudaranya. Hal ini menunjukkan sikap saling cinta kasih di antara sesama muslim. Orang yang hadir terlebih dahulu di majelis ingin agar saudaranya juga dapat menghadiri majelis dan mendapatkan kebaikan sebagaimana ia juga ingin mendapatkan kebaikan dari majelis itu untuk dirinya sendiri. Dia juga tidak ingin menyakiti hati saudaranya dengan mempersulitnya menghadiri majelis. Karena itu dia memberikan kesempatan kepada saudaranya untuk ikut dalam majelis tersebut dengan melapangkan tempat untuknya. Demikianlah indahnya akhlak dan adab dalam bermajelis yang dituntunkan oleh Islam.Para ulama menyebutkan bahwa majelis yang dimaksud dalam hadits ini adalah majelis umum yang berkaitan dengan kebaikan. Dengan demikian termasuk di dalamnya adalah majelis dzikir, majelis ilmu, majelis pengajian, majelis shalat Jum’at, dan sejenisnya. Bahkan Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini berlaku umum termasuk tidak boleh mengambil posisi shaf orang lain. Jika di shaf pertama ada anak kecil, lalu ada orang dewasa yang terlambat datang maka tidak boleh bagi orang dewasa tersebut menyuruh anak kecil tersebut mundur untuk menggantikan posisinya. (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350)Mungkin timbul suatu pertanyaan, bagaimana jika ada seorang ustadz atau orang yang dihormati hadir terlambat dalam majelis, kemudian muridnya atau orang-orang yang telah hadir merasa tidak enak dengan ustadz atau orang terhormat tersebut, kemudian ia berdiri dan mempersilakan ustadz atau orang terhormat tadi untuk duduk di tempatnya. Apakah yang harus dilakukan oleh si ustadz atau orang yang dihormati tersebut? Bolehkah ia duduk menggantikan tempat muridnya tersebut?Maka jawabannya adalah, Min bābil warā (kalau kita warā), maka hendaknya ia tidak mengambil tempat duduk yang ditawarkan tersebut meskipun ia tahu bahwa hal itu dilakukan oleh murid tersebut semata-mata untuk menghormatinya. Hal ini adalah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh shahābat Ibnu ‘Umar .وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيْهِ“Ibnu Umar jika ada seseorang yang berdiri mempersilahkan tempat duduknya kepada beliau maka beliau tidak duduk di tempat tersebut” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod No. 1153)Ibnu ‘Umar  jika datang terlambat di majelis, maka orang-orang berdiri dan meminta beliau agar duduk di posisi mereka karena rasa hormat mereka terhadap Ibnu ‘Umar .  Meskipun demikian, Ibnu ‘Umar tidak mau mengambil tempat duduk mereka. Hal ini disebabkan oleh sikap wara’ beliau. Beliau tidak ingin mengambil hak orang lain meskipun orang lain itu merelakannya karena menghormati beliau.Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Semua ini dilakukan oleh Ibnu Umar karena wara’ beliau. Beliau khawatir orang lain tersebut melakukannya karena malu atau karena tidak enak. Dan telah diketahui bersama bahwasanya jika ada seseorang yang memberikan hadiah kepadamu atau memberikan sesuatu kepadamu karena malu atau tidak enak maka janganlah engkau menerimanya, karena orang ini hukumnya seperti orang yang mukroh (yang terpaksa). Oleh karenanya para ulama rahimahumullah berkata haram bagimu menerima hadiah jika engkau mengetahui bahwasanya ia memberikan hadiah kepadamu karena malu atau tidak enak. Termasuk dalam hal ini, jika engkau melewati rumah seseorang dan penghuni rumahnya ada lalu ia berkata, “Silahkan mampir” dan engkau mengetahui bahwa ia mengatakan demikian karena malu dan tidak enak, maka janganlah engkau mampir di rumahnya, karena hukum penghuni rumah tersebut seperti orang yang mukroh/terpaksa” (Syarah Riyad as-Shalihin 4/350-351)Demikianlah adab yang seharusnya kita terlambat datang di suatu majelis kemudian ada orang yang berdiri mempersilahkan kita mengambil posisinya, kita menolak karena kita tidak ingin mengambil hak orang lain.  Namun jika kita khawatir hal itu akan menyinggung perasaan orang yang menawarkan tempatnya tersebut atau kita ingin menyenangkan hatinya, maka tidak mengapa jika kita mengambil tempat duduk yang ia tawarkan kepada kita. Sedangkan jika orang tersebut menawarkan tempatnya kepada kita hanya sekedar karena ia merasa malu, maka tidak boleh kita mengambil haknya.Jakarta, 14-10-1438 H / 08-07-2017 Abu Abdil Muhsin Firanda www.firanda.com

Faedah Sirah Nabi: Nabi Muhammad Penutup Para Nabi

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi sesudahnya. Ini telah disepakati oleh kaum muslimin dan merupakan salah satu “aksioma” Islam. Perhatikan hadits berikut, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286) Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menguatkan dan menyempurnakan ajaran sebelumnya. (Lihat Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 34) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan hadits di atas itu menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nabi lainnya dan Nabi Muhammad sendiri adalah nabi yang terakhir dan beliaulah yang menjadi penyempurna syari’at. (Fath Al-Bari, 6: 559) Dalil lainnya yang menunjukkan Nabi Muhammad adalah penutup para nabi yaitu firman Allah, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan tidaklah datang orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah dajjal/pendusta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an. Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (Rasulullah).” (HR. Muslim, no. 157) Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي ”Sesungguhnya akan ada pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Abu Daud, no. 4252; Muslim, no. 2889. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Raslan rahimahullah menyatakan, “Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi setelah beliau. Turunnya Isa di akhir zaman adalah sebagai pendakwah pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada ijma’ (sepakat) para ulama akan hal ini. Yang menyelisihi keyakinan ini adalah orang-orang zindiq dan falasifah (ahi filsafat).” (Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan, 16: 674) Baca selengkapnya tenting keistimewaan Nabi kita Muhammad: Keistimewaan Nabi Kita Muhammad Semoga bermanfaat.   Referensi: Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H.  Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan ke-24, tahun 1436 H. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Dar As-Salam. Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan. Cetakan pertama, tahun 1437 H. Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Arsalan (Ibnu Raslan) Al-Maqdisi Ar-Ramli Asy-Syafi’i. Penerbit Darul Falah.   Referensi Terjemahan: Sirah Nabawiyah. Cetakan keenam, tahun 1999. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Robbani Press. —- Disusun @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi nabi muhammad sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Nabi Muhammad Penutup Para Nabi

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi sesudahnya. Ini telah disepakati oleh kaum muslimin dan merupakan salah satu “aksioma” Islam. Perhatikan hadits berikut, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286) Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menguatkan dan menyempurnakan ajaran sebelumnya. (Lihat Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 34) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan hadits di atas itu menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nabi lainnya dan Nabi Muhammad sendiri adalah nabi yang terakhir dan beliaulah yang menjadi penyempurna syari’at. (Fath Al-Bari, 6: 559) Dalil lainnya yang menunjukkan Nabi Muhammad adalah penutup para nabi yaitu firman Allah, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan tidaklah datang orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah dajjal/pendusta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an. Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (Rasulullah).” (HR. Muslim, no. 157) Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي ”Sesungguhnya akan ada pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Abu Daud, no. 4252; Muslim, no. 2889. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Raslan rahimahullah menyatakan, “Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi setelah beliau. Turunnya Isa di akhir zaman adalah sebagai pendakwah pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada ijma’ (sepakat) para ulama akan hal ini. Yang menyelisihi keyakinan ini adalah orang-orang zindiq dan falasifah (ahi filsafat).” (Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan, 16: 674) Baca selengkapnya tenting keistimewaan Nabi kita Muhammad: Keistimewaan Nabi Kita Muhammad Semoga bermanfaat.   Referensi: Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H.  Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan ke-24, tahun 1436 H. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Dar As-Salam. Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan. Cetakan pertama, tahun 1437 H. Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Arsalan (Ibnu Raslan) Al-Maqdisi Ar-Ramli Asy-Syafi’i. Penerbit Darul Falah.   Referensi Terjemahan: Sirah Nabawiyah. Cetakan keenam, tahun 1999. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Robbani Press. —- Disusun @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi nabi muhammad sirah nabi
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi sesudahnya. Ini telah disepakati oleh kaum muslimin dan merupakan salah satu “aksioma” Islam. Perhatikan hadits berikut, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286) Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menguatkan dan menyempurnakan ajaran sebelumnya. (Lihat Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 34) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan hadits di atas itu menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nabi lainnya dan Nabi Muhammad sendiri adalah nabi yang terakhir dan beliaulah yang menjadi penyempurna syari’at. (Fath Al-Bari, 6: 559) Dalil lainnya yang menunjukkan Nabi Muhammad adalah penutup para nabi yaitu firman Allah, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan tidaklah datang orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah dajjal/pendusta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an. Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (Rasulullah).” (HR. Muslim, no. 157) Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي ”Sesungguhnya akan ada pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Abu Daud, no. 4252; Muslim, no. 2889. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Raslan rahimahullah menyatakan, “Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi setelah beliau. Turunnya Isa di akhir zaman adalah sebagai pendakwah pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada ijma’ (sepakat) para ulama akan hal ini. Yang menyelisihi keyakinan ini adalah orang-orang zindiq dan falasifah (ahi filsafat).” (Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan, 16: 674) Baca selengkapnya tenting keistimewaan Nabi kita Muhammad: Keistimewaan Nabi Kita Muhammad Semoga bermanfaat.   Referensi: Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H.  Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan ke-24, tahun 1436 H. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Dar As-Salam. Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan. Cetakan pertama, tahun 1437 H. Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Arsalan (Ibnu Raslan) Al-Maqdisi Ar-Ramli Asy-Syafi’i. Penerbit Darul Falah.   Referensi Terjemahan: Sirah Nabawiyah. Cetakan keenam, tahun 1999. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Robbani Press. —- Disusun @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi nabi muhammad sirah nabi


Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi sesudahnya. Ini telah disepakati oleh kaum muslimin dan merupakan salah satu “aksioma” Islam. Perhatikan hadits berikut, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286) Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menguatkan dan menyempurnakan ajaran sebelumnya. (Lihat Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 34) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan hadits di atas itu menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nabi lainnya dan Nabi Muhammad sendiri adalah nabi yang terakhir dan beliaulah yang menjadi penyempurna syari’at. (Fath Al-Bari, 6: 559) Dalil lainnya yang menunjukkan Nabi Muhammad adalah penutup para nabi yaitu firman Allah, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan tidaklah datang orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah dajjal/pendusta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an. Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (Rasulullah).” (HR. Muslim, no. 157) Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي ”Sesungguhnya akan ada pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Abu Daud, no. 4252; Muslim, no. 2889. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Raslan rahimahullah menyatakan, “Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi setelah beliau. Turunnya Isa di akhir zaman adalah sebagai pendakwah pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada ijma’ (sepakat) para ulama akan hal ini. Yang menyelisihi keyakinan ini adalah orang-orang zindiq dan falasifah (ahi filsafat).” (Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan, 16: 674) Baca selengkapnya tenting keistimewaan Nabi kita Muhammad: Keistimewaan Nabi Kita Muhammad Semoga bermanfaat.   Referensi: Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H.  Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan ke-24, tahun 1436 H. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Dar As-Salam. Syarh Sunan Abi Daud li Ibni Ruslan. Cetakan pertama, tahun 1437 H. Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Arsalan (Ibnu Raslan) Al-Maqdisi Ar-Ramli Asy-Syafi’i. Penerbit Darul Falah.   Referensi Terjemahan: Sirah Nabawiyah. Cetakan keenam, tahun 1999. Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Robbani Press. —- Disusun @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi nabi muhammad sirah nabi

Khutbah Jumat: 6 Sebab Terjadinya Maksiat

Ada sebab-sebab yang membuat maksiat mudah terjadi.   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat yang paling besar adalah Allah masih memberikan nikmat Iman dan Islam. Tugas kita adalah mensyukurinya dengan terus memperbaiki ketakwaan kita pada Allah. Allah memerintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabat, dan para tabi’in serta setiap orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Maksiat dan setiap yang Allah larang mesti kita jauhi sebagaimana perintah dalamn ayat, وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) Dan maksiat memiliki dampak, di antaranya hati akan semakin gelap. Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Coba lihat bagaimanakah keadaan seorang alim yang berbuat maksiat. Pernah terjadi pada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengeluhkan hafalannya pada gurunya. Padahal Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya sungguh amat luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96). Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190). Lihatlah itu salah satu bukti maksiat itu menggelapkan hati. Beda kalau memang kita sudah terbiasa bermaksiat, sudah terbiasa enggan shalat, sudah terbiasa memakan riba, bahkan menganggap biasa dosa syirik. Maksiat bisa dilakukan terang-terangan, bisa pula dilakukan seorang diri. Perhatikan hadits berikut ini. عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا » Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hadits di atas semakna dengan ayat, يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan. Sekarang yang terpenting, kita menjauhi maksiat. Namun bagaimanakah caranya? Kita bisa mendeteksi terlebih dahulu sebab-sebab kita mudah menerjang yang haram.   Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah …   Sebab pertama: Lemahnya iman, itu ada karena kurangnya ilmu, kurang ma’rifatullah (mengenal Allah).  Kalau iman seseorang itu kuat, jika ada maksiat di depannya, ia akan mengedepankan rasa takut pada Allah daripada kesenangan dunia yang sementara.   Sebab kedua: Teman bergaul yang jelek. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545). Banyak maksiat yang terjadi dikarenakan teman bergaul yang jelek.   Sebab ketiga: Pandangan yang begitu bebas, tidak mau ditundukkan. Karena dari pandangan, panah iblis mulai dimainkan, makanya Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Sebab keempat: Banyak waktu luang. Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)   Sebab kelima: Bermudah-mudahan dalam yang haram. Karena semakin bermudah-mudahan, kita bisa terjerumus dalam yang haram yang lebih parah.   Sebab keenam: Dekat dengan tempat-tempat yang dapat membangkitkan syahwat seperti duduk-duduk di pinggir jalan. Karena syahwat dapat bangkit lewat pandangan ketika berada di jalan-jalan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari no. 2465) Termasuk juga yang mudah membangkitkan syahwat adalah musik dan berada di tempat yang melalaikan dari Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah … Kesimpulannya ada enam sebab yang menyebabkan kita mudah bermaksiat: Lemahnya iman. Teman yang jelek. Pandangan yang tidak dijaga. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dalam kebaikan. Bermudah-mudahan dalam yang haram. Dekat-dekat dengan tempat yang membangkitkan syahwat. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-Obekan. Silakan Download: Naskah Khutbah Jumat “6 Sebab Terjadinya Maksiat”   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar maksiat

Khutbah Jumat: 6 Sebab Terjadinya Maksiat

Ada sebab-sebab yang membuat maksiat mudah terjadi.   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat yang paling besar adalah Allah masih memberikan nikmat Iman dan Islam. Tugas kita adalah mensyukurinya dengan terus memperbaiki ketakwaan kita pada Allah. Allah memerintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabat, dan para tabi’in serta setiap orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Maksiat dan setiap yang Allah larang mesti kita jauhi sebagaimana perintah dalamn ayat, وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) Dan maksiat memiliki dampak, di antaranya hati akan semakin gelap. Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Coba lihat bagaimanakah keadaan seorang alim yang berbuat maksiat. Pernah terjadi pada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengeluhkan hafalannya pada gurunya. Padahal Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya sungguh amat luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96). Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190). Lihatlah itu salah satu bukti maksiat itu menggelapkan hati. Beda kalau memang kita sudah terbiasa bermaksiat, sudah terbiasa enggan shalat, sudah terbiasa memakan riba, bahkan menganggap biasa dosa syirik. Maksiat bisa dilakukan terang-terangan, bisa pula dilakukan seorang diri. Perhatikan hadits berikut ini. عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا » Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hadits di atas semakna dengan ayat, يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan. Sekarang yang terpenting, kita menjauhi maksiat. Namun bagaimanakah caranya? Kita bisa mendeteksi terlebih dahulu sebab-sebab kita mudah menerjang yang haram.   Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah …   Sebab pertama: Lemahnya iman, itu ada karena kurangnya ilmu, kurang ma’rifatullah (mengenal Allah).  Kalau iman seseorang itu kuat, jika ada maksiat di depannya, ia akan mengedepankan rasa takut pada Allah daripada kesenangan dunia yang sementara.   Sebab kedua: Teman bergaul yang jelek. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545). Banyak maksiat yang terjadi dikarenakan teman bergaul yang jelek.   Sebab ketiga: Pandangan yang begitu bebas, tidak mau ditundukkan. Karena dari pandangan, panah iblis mulai dimainkan, makanya Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Sebab keempat: Banyak waktu luang. Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)   Sebab kelima: Bermudah-mudahan dalam yang haram. Karena semakin bermudah-mudahan, kita bisa terjerumus dalam yang haram yang lebih parah.   Sebab keenam: Dekat dengan tempat-tempat yang dapat membangkitkan syahwat seperti duduk-duduk di pinggir jalan. Karena syahwat dapat bangkit lewat pandangan ketika berada di jalan-jalan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari no. 2465) Termasuk juga yang mudah membangkitkan syahwat adalah musik dan berada di tempat yang melalaikan dari Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah … Kesimpulannya ada enam sebab yang menyebabkan kita mudah bermaksiat: Lemahnya iman. Teman yang jelek. Pandangan yang tidak dijaga. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dalam kebaikan. Bermudah-mudahan dalam yang haram. Dekat-dekat dengan tempat yang membangkitkan syahwat. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-Obekan. Silakan Download: Naskah Khutbah Jumat “6 Sebab Terjadinya Maksiat”   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar maksiat
Ada sebab-sebab yang membuat maksiat mudah terjadi.   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat yang paling besar adalah Allah masih memberikan nikmat Iman dan Islam. Tugas kita adalah mensyukurinya dengan terus memperbaiki ketakwaan kita pada Allah. Allah memerintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabat, dan para tabi’in serta setiap orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Maksiat dan setiap yang Allah larang mesti kita jauhi sebagaimana perintah dalamn ayat, وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) Dan maksiat memiliki dampak, di antaranya hati akan semakin gelap. Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Coba lihat bagaimanakah keadaan seorang alim yang berbuat maksiat. Pernah terjadi pada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengeluhkan hafalannya pada gurunya. Padahal Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya sungguh amat luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96). Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190). Lihatlah itu salah satu bukti maksiat itu menggelapkan hati. Beda kalau memang kita sudah terbiasa bermaksiat, sudah terbiasa enggan shalat, sudah terbiasa memakan riba, bahkan menganggap biasa dosa syirik. Maksiat bisa dilakukan terang-terangan, bisa pula dilakukan seorang diri. Perhatikan hadits berikut ini. عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا » Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hadits di atas semakna dengan ayat, يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan. Sekarang yang terpenting, kita menjauhi maksiat. Namun bagaimanakah caranya? Kita bisa mendeteksi terlebih dahulu sebab-sebab kita mudah menerjang yang haram.   Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah …   Sebab pertama: Lemahnya iman, itu ada karena kurangnya ilmu, kurang ma’rifatullah (mengenal Allah).  Kalau iman seseorang itu kuat, jika ada maksiat di depannya, ia akan mengedepankan rasa takut pada Allah daripada kesenangan dunia yang sementara.   Sebab kedua: Teman bergaul yang jelek. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545). Banyak maksiat yang terjadi dikarenakan teman bergaul yang jelek.   Sebab ketiga: Pandangan yang begitu bebas, tidak mau ditundukkan. Karena dari pandangan, panah iblis mulai dimainkan, makanya Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Sebab keempat: Banyak waktu luang. Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)   Sebab kelima: Bermudah-mudahan dalam yang haram. Karena semakin bermudah-mudahan, kita bisa terjerumus dalam yang haram yang lebih parah.   Sebab keenam: Dekat dengan tempat-tempat yang dapat membangkitkan syahwat seperti duduk-duduk di pinggir jalan. Karena syahwat dapat bangkit lewat pandangan ketika berada di jalan-jalan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari no. 2465) Termasuk juga yang mudah membangkitkan syahwat adalah musik dan berada di tempat yang melalaikan dari Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah … Kesimpulannya ada enam sebab yang menyebabkan kita mudah bermaksiat: Lemahnya iman. Teman yang jelek. Pandangan yang tidak dijaga. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dalam kebaikan. Bermudah-mudahan dalam yang haram. Dekat-dekat dengan tempat yang membangkitkan syahwat. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-Obekan. Silakan Download: Naskah Khutbah Jumat “6 Sebab Terjadinya Maksiat”   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar maksiat


Ada sebab-sebab yang membuat maksiat mudah terjadi.   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat yang paling besar adalah Allah masih memberikan nikmat Iman dan Islam. Tugas kita adalah mensyukurinya dengan terus memperbaiki ketakwaan kita pada Allah. Allah memerintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabat, dan para tabi’in serta setiap orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Maksiat dan setiap yang Allah larang mesti kita jauhi sebagaimana perintah dalamn ayat, وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) Dan maksiat memiliki dampak, di antaranya hati akan semakin gelap. Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Coba lihat bagaimanakah keadaan seorang alim yang berbuat maksiat. Pernah terjadi pada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengeluhkan hafalannya pada gurunya. Padahal Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya sungguh amat luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96). Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190). Lihatlah itu salah satu bukti maksiat itu menggelapkan hati. Beda kalau memang kita sudah terbiasa bermaksiat, sudah terbiasa enggan shalat, sudah terbiasa memakan riba, bahkan menganggap biasa dosa syirik. Maksiat bisa dilakukan terang-terangan, bisa pula dilakukan seorang diri. Perhatikan hadits berikut ini. عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا » Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hadits di atas semakna dengan ayat, يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan. Sekarang yang terpenting, kita menjauhi maksiat. Namun bagaimanakah caranya? Kita bisa mendeteksi terlebih dahulu sebab-sebab kita mudah menerjang yang haram.   Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah …   Sebab pertama: Lemahnya iman, itu ada karena kurangnya ilmu, kurang ma’rifatullah (mengenal Allah).  Kalau iman seseorang itu kuat, jika ada maksiat di depannya, ia akan mengedepankan rasa takut pada Allah daripada kesenangan dunia yang sementara.   Sebab kedua: Teman bergaul yang jelek. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545). Banyak maksiat yang terjadi dikarenakan teman bergaul yang jelek.   Sebab ketiga: Pandangan yang begitu bebas, tidak mau ditundukkan. Karena dari pandangan, panah iblis mulai dimainkan, makanya Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Sebab keempat: Banyak waktu luang. Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)   Sebab kelima: Bermudah-mudahan dalam yang haram. Karena semakin bermudah-mudahan, kita bisa terjerumus dalam yang haram yang lebih parah.   Sebab keenam: Dekat dengan tempat-tempat yang dapat membangkitkan syahwat seperti duduk-duduk di pinggir jalan. Karena syahwat dapat bangkit lewat pandangan ketika berada di jalan-jalan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari no. 2465) Termasuk juga yang mudah membangkitkan syahwat adalah musik dan berada di tempat yang melalaikan dari Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah … Kesimpulannya ada enam sebab yang menyebabkan kita mudah bermaksiat: Lemahnya iman. Teman yang jelek. Pandangan yang tidak dijaga. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dalam kebaikan. Bermudah-mudahan dalam yang haram. Dekat-dekat dengan tempat yang membangkitkan syahwat. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-Obekan. Silakan Download: Naskah Khutbah Jumat “6 Sebab Terjadinya Maksiat”   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 13 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar maksiat

Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1)

Ramadhan dan Al Qur’anSegala bentuk pujian yang sempurna kita persembahkan hanya untuk Allah Ta’ala saja, Dia Ta’ala telah menganugerahkan kepada bulan Ramadhan yang sangat mulia ini untuk kita syukuri. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia sekaligus bulan Al-Qur`an, hati kaum muslimin demikian terikat dengan Kitabullah ini, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya, maupun mendakwahkannya.Sangat pantaslah pada bulan yang paling mulia ini diturunkan Kitabullah yang paling mulia pula. Al-Qur`an Al-Karim merupakan Kitabullah paling mulia ditinjau dari segala sisi. Hal ini sebagaimana penuturan Ibnu Katsir rahimahullah berikut ini. أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه“Diturunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur`an) dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan kepada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang paling mulia sepanjang tahun, yaitu bulan Ramadhan. Dengan demikian sempurnalah Kitab suci Al-Qur`an dari berbagai sisi” (Tafsir Ibnu Katsir).Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah dalam memberi muqaddimah kitabnya yang terkenal Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an menjelaskan kemuliaan dan keutamaan Al-Qur`an Al-Karim, berikut ini ringkasannya.Segala puji yang sempurna hanya untuk Allah yang telah menyinari hati manusia dengan Kitab-Nya dan menurunkannya dengan lafal yang mudah dipahami dan dengan metode yang sempurna, sehingga manusia tak mampu menandinginya, sastranya pun membuat takluk para ahli sastra, hikmah yang terkandung di dalamnya tak ada satupun ahli hikmah yang sanggup menyainginya, serta kefasihannya membuat decak kagum singa podium dimanapun juga mereka berada.Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Amma ba’du,Setelah penulis Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini memuji keistimewaan Al-Qur`an Al-Karim, kembali beliau memuji Allah Ta’ala yang telah mengarahkan hati orang-orang yang beriman untuk mencintai Al-Qur`an Al-Karim dengan memperindah maknanya dan mengistimewakan metodenya. Tak mampu seorang makhluk pun meliputi seluruh mutiara makna-maknanya dengan sempurna.Hidup Bahagia dengan Al Qur’anOrang yang berbahagia (As-Sa’iid) adalah orang yang perhatiannya tertuju kepada Al-Qur`an Al-Karim, pikiran dan tekad kuatnya tertuju kepada memahaminya dan mengamalkannya. Orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala (Al-Muwaffaq) adalah orang yang dengan taufik-Nya bisa mentadabburi Al-Qur`an Al-Karim dan dipilih oleh-Nya untuk bisa mengingat-Nya dan memperingatkan manusia dengan Kitab-Nya tersebut.Mengapa Al Qur’an Al Karim disebut Ruh?Al-Qur`an Al-Karim menyebabkan hidupnya hati manusia, oleh karena itu Allah Ta’ala menyebut Kitab-Nya dengan ruh, sebagaimana firman Allah Ta’ala,رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ“(Dialah) Yang Maha Tinggi, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang menurunkan ruh (Al-Qur`an ) dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya supaya ia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” (Q.S. Al-Mu`min: 15).Al-Qur`an Al-Karim disebut ruh, karena mempelajari dan mengamalkannya itu menghantarkan kepada kehidupan hati manusia di dunia, dengan ketakwaan, dan menghantarkan kepada kehidupan abadi di akhirat dengan kebahagiaan selamat dari siksa dan masuk kedalam Surga, sebagaimana ruh pada jasad yang menyebabkan kehidupan jasad.[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Makna Silaturahmi, Keutamaan Muadzin, Kumpulan Tema Kegiatan Ramadhan, Pengertian Silaturahim, Sekolah Ibnu Hajar

Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1)

Ramadhan dan Al Qur’anSegala bentuk pujian yang sempurna kita persembahkan hanya untuk Allah Ta’ala saja, Dia Ta’ala telah menganugerahkan kepada bulan Ramadhan yang sangat mulia ini untuk kita syukuri. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia sekaligus bulan Al-Qur`an, hati kaum muslimin demikian terikat dengan Kitabullah ini, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya, maupun mendakwahkannya.Sangat pantaslah pada bulan yang paling mulia ini diturunkan Kitabullah yang paling mulia pula. Al-Qur`an Al-Karim merupakan Kitabullah paling mulia ditinjau dari segala sisi. Hal ini sebagaimana penuturan Ibnu Katsir rahimahullah berikut ini. أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه“Diturunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur`an) dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan kepada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang paling mulia sepanjang tahun, yaitu bulan Ramadhan. Dengan demikian sempurnalah Kitab suci Al-Qur`an dari berbagai sisi” (Tafsir Ibnu Katsir).Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah dalam memberi muqaddimah kitabnya yang terkenal Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an menjelaskan kemuliaan dan keutamaan Al-Qur`an Al-Karim, berikut ini ringkasannya.Segala puji yang sempurna hanya untuk Allah yang telah menyinari hati manusia dengan Kitab-Nya dan menurunkannya dengan lafal yang mudah dipahami dan dengan metode yang sempurna, sehingga manusia tak mampu menandinginya, sastranya pun membuat takluk para ahli sastra, hikmah yang terkandung di dalamnya tak ada satupun ahli hikmah yang sanggup menyainginya, serta kefasihannya membuat decak kagum singa podium dimanapun juga mereka berada.Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Amma ba’du,Setelah penulis Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini memuji keistimewaan Al-Qur`an Al-Karim, kembali beliau memuji Allah Ta’ala yang telah mengarahkan hati orang-orang yang beriman untuk mencintai Al-Qur`an Al-Karim dengan memperindah maknanya dan mengistimewakan metodenya. Tak mampu seorang makhluk pun meliputi seluruh mutiara makna-maknanya dengan sempurna.Hidup Bahagia dengan Al Qur’anOrang yang berbahagia (As-Sa’iid) adalah orang yang perhatiannya tertuju kepada Al-Qur`an Al-Karim, pikiran dan tekad kuatnya tertuju kepada memahaminya dan mengamalkannya. Orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala (Al-Muwaffaq) adalah orang yang dengan taufik-Nya bisa mentadabburi Al-Qur`an Al-Karim dan dipilih oleh-Nya untuk bisa mengingat-Nya dan memperingatkan manusia dengan Kitab-Nya tersebut.Mengapa Al Qur’an Al Karim disebut Ruh?Al-Qur`an Al-Karim menyebabkan hidupnya hati manusia, oleh karena itu Allah Ta’ala menyebut Kitab-Nya dengan ruh, sebagaimana firman Allah Ta’ala,رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ“(Dialah) Yang Maha Tinggi, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang menurunkan ruh (Al-Qur`an ) dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya supaya ia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” (Q.S. Al-Mu`min: 15).Al-Qur`an Al-Karim disebut ruh, karena mempelajari dan mengamalkannya itu menghantarkan kepada kehidupan hati manusia di dunia, dengan ketakwaan, dan menghantarkan kepada kehidupan abadi di akhirat dengan kebahagiaan selamat dari siksa dan masuk kedalam Surga, sebagaimana ruh pada jasad yang menyebabkan kehidupan jasad.[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Makna Silaturahmi, Keutamaan Muadzin, Kumpulan Tema Kegiatan Ramadhan, Pengertian Silaturahim, Sekolah Ibnu Hajar
Ramadhan dan Al Qur’anSegala bentuk pujian yang sempurna kita persembahkan hanya untuk Allah Ta’ala saja, Dia Ta’ala telah menganugerahkan kepada bulan Ramadhan yang sangat mulia ini untuk kita syukuri. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia sekaligus bulan Al-Qur`an, hati kaum muslimin demikian terikat dengan Kitabullah ini, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya, maupun mendakwahkannya.Sangat pantaslah pada bulan yang paling mulia ini diturunkan Kitabullah yang paling mulia pula. Al-Qur`an Al-Karim merupakan Kitabullah paling mulia ditinjau dari segala sisi. Hal ini sebagaimana penuturan Ibnu Katsir rahimahullah berikut ini. أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه“Diturunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur`an) dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan kepada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang paling mulia sepanjang tahun, yaitu bulan Ramadhan. Dengan demikian sempurnalah Kitab suci Al-Qur`an dari berbagai sisi” (Tafsir Ibnu Katsir).Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah dalam memberi muqaddimah kitabnya yang terkenal Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an menjelaskan kemuliaan dan keutamaan Al-Qur`an Al-Karim, berikut ini ringkasannya.Segala puji yang sempurna hanya untuk Allah yang telah menyinari hati manusia dengan Kitab-Nya dan menurunkannya dengan lafal yang mudah dipahami dan dengan metode yang sempurna, sehingga manusia tak mampu menandinginya, sastranya pun membuat takluk para ahli sastra, hikmah yang terkandung di dalamnya tak ada satupun ahli hikmah yang sanggup menyainginya, serta kefasihannya membuat decak kagum singa podium dimanapun juga mereka berada.Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Amma ba’du,Setelah penulis Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini memuji keistimewaan Al-Qur`an Al-Karim, kembali beliau memuji Allah Ta’ala yang telah mengarahkan hati orang-orang yang beriman untuk mencintai Al-Qur`an Al-Karim dengan memperindah maknanya dan mengistimewakan metodenya. Tak mampu seorang makhluk pun meliputi seluruh mutiara makna-maknanya dengan sempurna.Hidup Bahagia dengan Al Qur’anOrang yang berbahagia (As-Sa’iid) adalah orang yang perhatiannya tertuju kepada Al-Qur`an Al-Karim, pikiran dan tekad kuatnya tertuju kepada memahaminya dan mengamalkannya. Orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala (Al-Muwaffaq) adalah orang yang dengan taufik-Nya bisa mentadabburi Al-Qur`an Al-Karim dan dipilih oleh-Nya untuk bisa mengingat-Nya dan memperingatkan manusia dengan Kitab-Nya tersebut.Mengapa Al Qur’an Al Karim disebut Ruh?Al-Qur`an Al-Karim menyebabkan hidupnya hati manusia, oleh karena itu Allah Ta’ala menyebut Kitab-Nya dengan ruh, sebagaimana firman Allah Ta’ala,رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ“(Dialah) Yang Maha Tinggi, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang menurunkan ruh (Al-Qur`an ) dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya supaya ia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” (Q.S. Al-Mu`min: 15).Al-Qur`an Al-Karim disebut ruh, karena mempelajari dan mengamalkannya itu menghantarkan kepada kehidupan hati manusia di dunia, dengan ketakwaan, dan menghantarkan kepada kehidupan abadi di akhirat dengan kebahagiaan selamat dari siksa dan masuk kedalam Surga, sebagaimana ruh pada jasad yang menyebabkan kehidupan jasad.[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Makna Silaturahmi, Keutamaan Muadzin, Kumpulan Tema Kegiatan Ramadhan, Pengertian Silaturahim, Sekolah Ibnu Hajar


Ramadhan dan Al Qur’anSegala bentuk pujian yang sempurna kita persembahkan hanya untuk Allah Ta’ala saja, Dia Ta’ala telah menganugerahkan kepada bulan Ramadhan yang sangat mulia ini untuk kita syukuri. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia sekaligus bulan Al-Qur`an, hati kaum muslimin demikian terikat dengan Kitabullah ini, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya, maupun mendakwahkannya.Sangat pantaslah pada bulan yang paling mulia ini diturunkan Kitabullah yang paling mulia pula. Al-Qur`an Al-Karim merupakan Kitabullah paling mulia ditinjau dari segala sisi. Hal ini sebagaimana penuturan Ibnu Katsir rahimahullah berikut ini. أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه“Diturunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur`an) dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan kepada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang paling mulia sepanjang tahun, yaitu bulan Ramadhan. Dengan demikian sempurnalah Kitab suci Al-Qur`an dari berbagai sisi” (Tafsir Ibnu Katsir).Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah dalam memberi muqaddimah kitabnya yang terkenal Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an menjelaskan kemuliaan dan keutamaan Al-Qur`an Al-Karim, berikut ini ringkasannya.Segala puji yang sempurna hanya untuk Allah yang telah menyinari hati manusia dengan Kitab-Nya dan menurunkannya dengan lafal yang mudah dipahami dan dengan metode yang sempurna, sehingga manusia tak mampu menandinginya, sastranya pun membuat takluk para ahli sastra, hikmah yang terkandung di dalamnya tak ada satupun ahli hikmah yang sanggup menyainginya, serta kefasihannya membuat decak kagum singa podium dimanapun juga mereka berada.Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Amma ba’du,Setelah penulis Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini memuji keistimewaan Al-Qur`an Al-Karim, kembali beliau memuji Allah Ta’ala yang telah mengarahkan hati orang-orang yang beriman untuk mencintai Al-Qur`an Al-Karim dengan memperindah maknanya dan mengistimewakan metodenya. Tak mampu seorang makhluk pun meliputi seluruh mutiara makna-maknanya dengan sempurna.Hidup Bahagia dengan Al Qur’anOrang yang berbahagia (As-Sa’iid) adalah orang yang perhatiannya tertuju kepada Al-Qur`an Al-Karim, pikiran dan tekad kuatnya tertuju kepada memahaminya dan mengamalkannya. Orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala (Al-Muwaffaq) adalah orang yang dengan taufik-Nya bisa mentadabburi Al-Qur`an Al-Karim dan dipilih oleh-Nya untuk bisa mengingat-Nya dan memperingatkan manusia dengan Kitab-Nya tersebut.Mengapa Al Qur’an Al Karim disebut Ruh?Al-Qur`an Al-Karim menyebabkan hidupnya hati manusia, oleh karena itu Allah Ta’ala menyebut Kitab-Nya dengan ruh, sebagaimana firman Allah Ta’ala,رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ“(Dialah) Yang Maha Tinggi, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang menurunkan ruh (Al-Qur`an ) dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya supaya ia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” (Q.S. Al-Mu`min: 15).Al-Qur`an Al-Karim disebut ruh, karena mempelajari dan mengamalkannya itu menghantarkan kepada kehidupan hati manusia di dunia, dengan ketakwaan, dan menghantarkan kepada kehidupan abadi di akhirat dengan kebahagiaan selamat dari siksa dan masuk kedalam Surga, sebagaimana ruh pada jasad yang menyebabkan kehidupan jasad.[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut<img class="alignnone wp-image-30389 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg" alt="" width="300" height="148" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz.jpg 372w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />🔍 Makna Silaturahmi, Keutamaan Muadzin, Kumpulan Tema Kegiatan Ramadhan, Pengertian Silaturahim, Sekolah Ibnu Hajar

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5)

Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (4)Selanjutnya, di bagian akhir dari muqaddimah kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an, Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan alasan penulisan kitabnya tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan,وَلَمَّا كَانَتْ عُلُومُ الْقُرْآنِ لَا تَنْحَصِرُ وَمَعَانِيهِ لَا تُسْتَقْصَى وَجَبَتِ الْعِنَايَةُ بِالْقَدْرِ الْمُمْكِنِ وَمِمَّا فَاتَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَضْعُ كِتَابٍ يَشْتَمِلُ على أنواع علومه وكما وَضَعَ النَّاسُ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ الْحَدِيثِ فَاسْتَخَرْتُ اللَّهَ تَعَالَى- وَلَهُ الْحَمْدُ- فِي وَضْعِ كِتَابٍ فِي ذَلِكَ… وَسَمَّيْتُهُ البرهان في علوم القرآن“Ketika (telah diketahui bahwa) ilmu-ilmu Al-Qur`an itu tak terbatas dan makna-maknanyapun tak terliputi (oleh ilmu manusia), maka haruslah diberikan perhatian sekadar yang memungkinkan (untuk dilakukan). Dan salah satu yang terluput dilakukan ulama terdahulu adalah menuliskan kitab (secara khusus dalam bidang) yang mencakup berbagai macam ilmu-ilmu Al-Qur`an (Ulumul Qur`an). Dan sebagaimana ulama menuliskan kitab-kitab secara khusus dalam bidang ilmu Hadits, maka saya memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala -Alhamdulillah-, untuk menuliskan sebuah kitab dalam disiplin ilmu Ulumul Qur`an….dan aku beri nama kitab ini dengan:  Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an.(Selesai ringkasan muqoddimah Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an).Baca juga: * [VIDEO] Nasehat Bagi Penghafal Qur’an * Hukum Membaca Al Qur’an Secara Berjamaah Satu Suara * Doa-Doa Dari Al Qur’anNasehat PenutupDi akhir serial artikel yang sederhana ini, penulis ingin menasehati diri sendiri khususnya, dan kaum muslimin semuanya -semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita semua- bahwa menyibukkan diri dengan Al-Qur`an Al-Karim, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya, adalah aktifitas yang sangat besar pengaruhnya bagi perbaikan keimanan diri kita. Karena orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, dijamin keluar dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  “(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Q.S. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah, {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ}“dengan izin Tuhan mereka” maksudnya adalah tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur`an, dengan berfirman,{إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} “(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya adalah yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan {العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu, sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia dan memperbanyaknya sehingga sampai mengutamakannya melebihi Al-Qur`an.Baca juga: * Bolehkah Meletakkan Al Qur’an Di Lantai? * Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika SujudDari sini nampak sekali kerugian yang sangat besar ada pada diri orang yang terlena dengan dunia, sedangkan ia jarang menyentuh dan membaca Al-Qur`an, sedikit mengetahui tafsirnya, dan sedikit pula mengamalkannya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa penulis, memperbaiki keimanan penulis, dan menerima amal penulis. Semoga Allah menganugerahkan kepada penulis kemudahan untuk banyak membaca Al-Qur`an dan Al-Hadits, mempelajari keduanya, serta mengamalkan keduanya. Sebagaimana penulis juga berdoa agar Allah anugerahkan hal itu semua kepada para pembaca. Amiin. Wallahu a’lam.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hadits Tentang Sakit, Labaikallah, Suami Idaman Menurut Islam, Orang Yang Boleh Tidak Berpuasa Dan Cara Menggantinya, Batu Akik Hajar Aswad

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5)

Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (4)Selanjutnya, di bagian akhir dari muqaddimah kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an, Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan alasan penulisan kitabnya tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan,وَلَمَّا كَانَتْ عُلُومُ الْقُرْآنِ لَا تَنْحَصِرُ وَمَعَانِيهِ لَا تُسْتَقْصَى وَجَبَتِ الْعِنَايَةُ بِالْقَدْرِ الْمُمْكِنِ وَمِمَّا فَاتَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَضْعُ كِتَابٍ يَشْتَمِلُ على أنواع علومه وكما وَضَعَ النَّاسُ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ الْحَدِيثِ فَاسْتَخَرْتُ اللَّهَ تَعَالَى- وَلَهُ الْحَمْدُ- فِي وَضْعِ كِتَابٍ فِي ذَلِكَ… وَسَمَّيْتُهُ البرهان في علوم القرآن“Ketika (telah diketahui bahwa) ilmu-ilmu Al-Qur`an itu tak terbatas dan makna-maknanyapun tak terliputi (oleh ilmu manusia), maka haruslah diberikan perhatian sekadar yang memungkinkan (untuk dilakukan). Dan salah satu yang terluput dilakukan ulama terdahulu adalah menuliskan kitab (secara khusus dalam bidang) yang mencakup berbagai macam ilmu-ilmu Al-Qur`an (Ulumul Qur`an). Dan sebagaimana ulama menuliskan kitab-kitab secara khusus dalam bidang ilmu Hadits, maka saya memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala -Alhamdulillah-, untuk menuliskan sebuah kitab dalam disiplin ilmu Ulumul Qur`an….dan aku beri nama kitab ini dengan:  Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an.(Selesai ringkasan muqoddimah Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an).Baca juga: * [VIDEO] Nasehat Bagi Penghafal Qur’an * Hukum Membaca Al Qur’an Secara Berjamaah Satu Suara * Doa-Doa Dari Al Qur’anNasehat PenutupDi akhir serial artikel yang sederhana ini, penulis ingin menasehati diri sendiri khususnya, dan kaum muslimin semuanya -semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita semua- bahwa menyibukkan diri dengan Al-Qur`an Al-Karim, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya, adalah aktifitas yang sangat besar pengaruhnya bagi perbaikan keimanan diri kita. Karena orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, dijamin keluar dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  “(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Q.S. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah, {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ}“dengan izin Tuhan mereka” maksudnya adalah tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur`an, dengan berfirman,{إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} “(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya adalah yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan {العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu, sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia dan memperbanyaknya sehingga sampai mengutamakannya melebihi Al-Qur`an.Baca juga: * Bolehkah Meletakkan Al Qur’an Di Lantai? * Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika SujudDari sini nampak sekali kerugian yang sangat besar ada pada diri orang yang terlena dengan dunia, sedangkan ia jarang menyentuh dan membaca Al-Qur`an, sedikit mengetahui tafsirnya, dan sedikit pula mengamalkannya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa penulis, memperbaiki keimanan penulis, dan menerima amal penulis. Semoga Allah menganugerahkan kepada penulis kemudahan untuk banyak membaca Al-Qur`an dan Al-Hadits, mempelajari keduanya, serta mengamalkan keduanya. Sebagaimana penulis juga berdoa agar Allah anugerahkan hal itu semua kepada para pembaca. Amiin. Wallahu a’lam.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hadits Tentang Sakit, Labaikallah, Suami Idaman Menurut Islam, Orang Yang Boleh Tidak Berpuasa Dan Cara Menggantinya, Batu Akik Hajar Aswad
Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (4)Selanjutnya, di bagian akhir dari muqaddimah kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an, Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan alasan penulisan kitabnya tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan,وَلَمَّا كَانَتْ عُلُومُ الْقُرْآنِ لَا تَنْحَصِرُ وَمَعَانِيهِ لَا تُسْتَقْصَى وَجَبَتِ الْعِنَايَةُ بِالْقَدْرِ الْمُمْكِنِ وَمِمَّا فَاتَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَضْعُ كِتَابٍ يَشْتَمِلُ على أنواع علومه وكما وَضَعَ النَّاسُ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ الْحَدِيثِ فَاسْتَخَرْتُ اللَّهَ تَعَالَى- وَلَهُ الْحَمْدُ- فِي وَضْعِ كِتَابٍ فِي ذَلِكَ… وَسَمَّيْتُهُ البرهان في علوم القرآن“Ketika (telah diketahui bahwa) ilmu-ilmu Al-Qur`an itu tak terbatas dan makna-maknanyapun tak terliputi (oleh ilmu manusia), maka haruslah diberikan perhatian sekadar yang memungkinkan (untuk dilakukan). Dan salah satu yang terluput dilakukan ulama terdahulu adalah menuliskan kitab (secara khusus dalam bidang) yang mencakup berbagai macam ilmu-ilmu Al-Qur`an (Ulumul Qur`an). Dan sebagaimana ulama menuliskan kitab-kitab secara khusus dalam bidang ilmu Hadits, maka saya memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala -Alhamdulillah-, untuk menuliskan sebuah kitab dalam disiplin ilmu Ulumul Qur`an….dan aku beri nama kitab ini dengan:  Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an.(Selesai ringkasan muqoddimah Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an).Baca juga: * [VIDEO] Nasehat Bagi Penghafal Qur’an * Hukum Membaca Al Qur’an Secara Berjamaah Satu Suara * Doa-Doa Dari Al Qur’anNasehat PenutupDi akhir serial artikel yang sederhana ini, penulis ingin menasehati diri sendiri khususnya, dan kaum muslimin semuanya -semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita semua- bahwa menyibukkan diri dengan Al-Qur`an Al-Karim, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya, adalah aktifitas yang sangat besar pengaruhnya bagi perbaikan keimanan diri kita. Karena orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, dijamin keluar dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  “(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Q.S. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah, {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ}“dengan izin Tuhan mereka” maksudnya adalah tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur`an, dengan berfirman,{إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} “(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya adalah yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan {العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu, sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia dan memperbanyaknya sehingga sampai mengutamakannya melebihi Al-Qur`an.Baca juga: * Bolehkah Meletakkan Al Qur’an Di Lantai? * Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika SujudDari sini nampak sekali kerugian yang sangat besar ada pada diri orang yang terlena dengan dunia, sedangkan ia jarang menyentuh dan membaca Al-Qur`an, sedikit mengetahui tafsirnya, dan sedikit pula mengamalkannya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa penulis, memperbaiki keimanan penulis, dan menerima amal penulis. Semoga Allah menganugerahkan kepada penulis kemudahan untuk banyak membaca Al-Qur`an dan Al-Hadits, mempelajari keduanya, serta mengamalkan keduanya. Sebagaimana penulis juga berdoa agar Allah anugerahkan hal itu semua kepada para pembaca. Amiin. Wallahu a’lam.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hadits Tentang Sakit, Labaikallah, Suami Idaman Menurut Islam, Orang Yang Boleh Tidak Berpuasa Dan Cara Menggantinya, Batu Akik Hajar Aswad


Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (4)Selanjutnya, di bagian akhir dari muqaddimah kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an, Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan alasan penulisan kitabnya tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan,وَلَمَّا كَانَتْ عُلُومُ الْقُرْآنِ لَا تَنْحَصِرُ وَمَعَانِيهِ لَا تُسْتَقْصَى وَجَبَتِ الْعِنَايَةُ بِالْقَدْرِ الْمُمْكِنِ وَمِمَّا فَاتَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَضْعُ كِتَابٍ يَشْتَمِلُ على أنواع علومه وكما وَضَعَ النَّاسُ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ الْحَدِيثِ فَاسْتَخَرْتُ اللَّهَ تَعَالَى- وَلَهُ الْحَمْدُ- فِي وَضْعِ كِتَابٍ فِي ذَلِكَ… وَسَمَّيْتُهُ البرهان في علوم القرآن“Ketika (telah diketahui bahwa) ilmu-ilmu Al-Qur`an itu tak terbatas dan makna-maknanyapun tak terliputi (oleh ilmu manusia), maka haruslah diberikan perhatian sekadar yang memungkinkan (untuk dilakukan). Dan salah satu yang terluput dilakukan ulama terdahulu adalah menuliskan kitab (secara khusus dalam bidang) yang mencakup berbagai macam ilmu-ilmu Al-Qur`an (Ulumul Qur`an). Dan sebagaimana ulama menuliskan kitab-kitab secara khusus dalam bidang ilmu Hadits, maka saya memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala -Alhamdulillah-, untuk menuliskan sebuah kitab dalam disiplin ilmu Ulumul Qur`an….dan aku beri nama kitab ini dengan:  Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an.(Selesai ringkasan muqoddimah Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an).Baca juga: * [VIDEO] Nasehat Bagi Penghafal Qur’an * Hukum Membaca Al Qur’an Secara Berjamaah Satu Suara * Doa-Doa Dari Al Qur’anNasehat PenutupDi akhir serial artikel yang sederhana ini, penulis ingin menasehati diri sendiri khususnya, dan kaum muslimin semuanya -semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita semua- bahwa menyibukkan diri dengan Al-Qur`an Al-Karim, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya, adalah aktifitas yang sangat besar pengaruhnya bagi perbaikan keimanan diri kita. Karena orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, dijamin keluar dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  “(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Q.S. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah, {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ}“dengan izin Tuhan mereka” maksudnya adalah tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur`an, dengan berfirman,{إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} “(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya adalah yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan {العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu, sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia dan memperbanyaknya sehingga sampai mengutamakannya melebihi Al-Qur`an.Baca juga: * Bolehkah Meletakkan Al Qur’an Di Lantai? * Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika SujudDari sini nampak sekali kerugian yang sangat besar ada pada diri orang yang terlena dengan dunia, sedangkan ia jarang menyentuh dan membaca Al-Qur`an, sedikit mengetahui tafsirnya, dan sedikit pula mengamalkannya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa penulis, memperbaiki keimanan penulis, dan menerima amal penulis. Semoga Allah menganugerahkan kepada penulis kemudahan untuk banyak membaca Al-Qur`an dan Al-Hadits, mempelajari keduanya, serta mengamalkan keduanya. Sebagaimana penulis juga berdoa agar Allah anugerahkan hal itu semua kepada para pembaca. Amiin. Wallahu a’lam.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut<img class="alignnone wp-image-30389 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg" alt="" width="300" height="148" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz.jpg 372w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />🔍 Hadits Tentang Sakit, Labaikallah, Suami Idaman Menurut Islam, Orang Yang Boleh Tidak Berpuasa Dan Cara Menggantinya, Batu Akik Hajar Aswad

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (2)

Baca Pembahasan Sebelumnya  Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (1) Siapakah Ulama yang Paling Mulia?Al-Harali rahimahullah berkata,وَأَكْمَلُ الْعُلَمَاءِ مَنْ وَهَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَهْمًا فِي كَلَامِهِ وَوَعْيًا عَنْ كِتَابِهِ وَتَبْصِرَةً فِي الْفُرْقَانِ وَإِحَاطَةً بِمَا شَاءَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ“Ulama yang paling sempurna adalah orang yang diberikan anugerah oleh Allah Ta’ala berupa pemahaman terhadap firman-Nya, hafal Kitab-Nya, mengajarkannya, dan mengetahui ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.”Al Qur`an Al Karim adalah Kalamullah, Lebih Mulia dari Seluruh Ucapan SelainnyaImam Syafi’i rahimahullah menyatakan,جَمِيعُ مَا تَقُولُهُ الْأُمَّةُ شَرْحٌ لِلسُّنَّةِ وَجَمِيعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ لِلْقُرْآنِ وَجَمِيعُ الْقُرْآنِ شَرْحُ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا“Seluruh yang dikatakan (ulama) umat ini (tentang Hadist), hakikatnya merupakan penjelas As-Sunnah, sedangkan seluruh As-Sunnah merupakan penjelas Al-Qur`an, sedangkan seluruh isi Al-Qur`an adalah penjelas nama Allah yang terindah dan sifat-Nya yang paling sempurna.”Ada pula keterangan dari selain beliau yang menambahkan kalimat berikut.وَجَمِيعُ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى شَرْحٌ لِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ وَكَمَا أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ كَلَامٍ سِوَاهُ فَعُلُومُهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ عَدَاهُ“Seluruh nama Allah yang terindah adalah penjelas nama-Nya yang teragung, dan sebagaimana firman-Nya lebih mulia dari seluruh ucapan selainnya, maka ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur`an lebih mulia pula dari semua ilmu selainnya.”Barangsiapa yang Dianugerahi Kefahaman yang Dalam tentang Al-Qur`an, Ia Benar-Benar Telah Dianugerahi Karunia yang Banyak!Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal (baik) saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. Ara‘du: 19).يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا  ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal (baik)lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Q.S. Al-Baqarah: 269).Mujahid rahimahullah menafsirkan Al-Hikmah dalam ayat di atas dengan,الفهم والإصابة في القرآن“Pemahaman (yang bagus) dan kebenaran dalam memahami Al-Qur`an.”Muqatil rahimahullah pun menyampaikan hal yang semakna,يَعْنِي عِلْمَ الْقُرْآنِ“(Al-Hikmah) maksudnya adalah ilmu Al-Qur`an.”Apakah Penghalang Seseorang dari Memahami Al-Qur`an?Sufyan bin ‘Uyainah menjelaskan firman Allah Ta’ala,سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku” (Q.S. Al-A’raaf: 146). Beliau berkata,أَحْرِمُهُمْ فَهْمَ الْقُرْآنِ“Aku akan halangi mereka dari memahami Al-Qur`an (sebagai hukuman bagi mereka.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menyatakan di antara sebab seseorang tidak memahami Al-Qur`an adalah sibuknya hati memikirkan dunia, berikut ini pernyataan beliau.لَا يَجْتَمِعُ فَهْمُ الْقُرْآنِ وَالِاشْتِغَالُ بِالْحُطَامِ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ أَبَدًا“Tidak akan berkumpul di hati seorang mukmin selamanya antara memahami Al-Qur`an (dengan baik) dan sibuk memikirkan perhiasan dunia.”(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (2)

Baca Pembahasan Sebelumnya  Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (1) Siapakah Ulama yang Paling Mulia?Al-Harali rahimahullah berkata,وَأَكْمَلُ الْعُلَمَاءِ مَنْ وَهَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَهْمًا فِي كَلَامِهِ وَوَعْيًا عَنْ كِتَابِهِ وَتَبْصِرَةً فِي الْفُرْقَانِ وَإِحَاطَةً بِمَا شَاءَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ“Ulama yang paling sempurna adalah orang yang diberikan anugerah oleh Allah Ta’ala berupa pemahaman terhadap firman-Nya, hafal Kitab-Nya, mengajarkannya, dan mengetahui ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.”Al Qur`an Al Karim adalah Kalamullah, Lebih Mulia dari Seluruh Ucapan SelainnyaImam Syafi’i rahimahullah menyatakan,جَمِيعُ مَا تَقُولُهُ الْأُمَّةُ شَرْحٌ لِلسُّنَّةِ وَجَمِيعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ لِلْقُرْآنِ وَجَمِيعُ الْقُرْآنِ شَرْحُ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا“Seluruh yang dikatakan (ulama) umat ini (tentang Hadist), hakikatnya merupakan penjelas As-Sunnah, sedangkan seluruh As-Sunnah merupakan penjelas Al-Qur`an, sedangkan seluruh isi Al-Qur`an adalah penjelas nama Allah yang terindah dan sifat-Nya yang paling sempurna.”Ada pula keterangan dari selain beliau yang menambahkan kalimat berikut.وَجَمِيعُ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى شَرْحٌ لِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ وَكَمَا أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ كَلَامٍ سِوَاهُ فَعُلُومُهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ عَدَاهُ“Seluruh nama Allah yang terindah adalah penjelas nama-Nya yang teragung, dan sebagaimana firman-Nya lebih mulia dari seluruh ucapan selainnya, maka ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur`an lebih mulia pula dari semua ilmu selainnya.”Barangsiapa yang Dianugerahi Kefahaman yang Dalam tentang Al-Qur`an, Ia Benar-Benar Telah Dianugerahi Karunia yang Banyak!Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal (baik) saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. Ara‘du: 19).يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا  ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal (baik)lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Q.S. Al-Baqarah: 269).Mujahid rahimahullah menafsirkan Al-Hikmah dalam ayat di atas dengan,الفهم والإصابة في القرآن“Pemahaman (yang bagus) dan kebenaran dalam memahami Al-Qur`an.”Muqatil rahimahullah pun menyampaikan hal yang semakna,يَعْنِي عِلْمَ الْقُرْآنِ“(Al-Hikmah) maksudnya adalah ilmu Al-Qur`an.”Apakah Penghalang Seseorang dari Memahami Al-Qur`an?Sufyan bin ‘Uyainah menjelaskan firman Allah Ta’ala,سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku” (Q.S. Al-A’raaf: 146). Beliau berkata,أَحْرِمُهُمْ فَهْمَ الْقُرْآنِ“Aku akan halangi mereka dari memahami Al-Qur`an (sebagai hukuman bagi mereka.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menyatakan di antara sebab seseorang tidak memahami Al-Qur`an adalah sibuknya hati memikirkan dunia, berikut ini pernyataan beliau.لَا يَجْتَمِعُ فَهْمُ الْقُرْآنِ وَالِاشْتِغَالُ بِالْحُطَامِ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ أَبَدًا“Tidak akan berkumpul di hati seorang mukmin selamanya antara memahami Al-Qur`an (dengan baik) dan sibuk memikirkan perhiasan dunia.”(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram
Baca Pembahasan Sebelumnya  Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (1) Siapakah Ulama yang Paling Mulia?Al-Harali rahimahullah berkata,وَأَكْمَلُ الْعُلَمَاءِ مَنْ وَهَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَهْمًا فِي كَلَامِهِ وَوَعْيًا عَنْ كِتَابِهِ وَتَبْصِرَةً فِي الْفُرْقَانِ وَإِحَاطَةً بِمَا شَاءَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ“Ulama yang paling sempurna adalah orang yang diberikan anugerah oleh Allah Ta’ala berupa pemahaman terhadap firman-Nya, hafal Kitab-Nya, mengajarkannya, dan mengetahui ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.”Al Qur`an Al Karim adalah Kalamullah, Lebih Mulia dari Seluruh Ucapan SelainnyaImam Syafi’i rahimahullah menyatakan,جَمِيعُ مَا تَقُولُهُ الْأُمَّةُ شَرْحٌ لِلسُّنَّةِ وَجَمِيعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ لِلْقُرْآنِ وَجَمِيعُ الْقُرْآنِ شَرْحُ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا“Seluruh yang dikatakan (ulama) umat ini (tentang Hadist), hakikatnya merupakan penjelas As-Sunnah, sedangkan seluruh As-Sunnah merupakan penjelas Al-Qur`an, sedangkan seluruh isi Al-Qur`an adalah penjelas nama Allah yang terindah dan sifat-Nya yang paling sempurna.”Ada pula keterangan dari selain beliau yang menambahkan kalimat berikut.وَجَمِيعُ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى شَرْحٌ لِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ وَكَمَا أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ كَلَامٍ سِوَاهُ فَعُلُومُهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ عَدَاهُ“Seluruh nama Allah yang terindah adalah penjelas nama-Nya yang teragung, dan sebagaimana firman-Nya lebih mulia dari seluruh ucapan selainnya, maka ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur`an lebih mulia pula dari semua ilmu selainnya.”Barangsiapa yang Dianugerahi Kefahaman yang Dalam tentang Al-Qur`an, Ia Benar-Benar Telah Dianugerahi Karunia yang Banyak!Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal (baik) saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. Ara‘du: 19).يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا  ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal (baik)lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Q.S. Al-Baqarah: 269).Mujahid rahimahullah menafsirkan Al-Hikmah dalam ayat di atas dengan,الفهم والإصابة في القرآن“Pemahaman (yang bagus) dan kebenaran dalam memahami Al-Qur`an.”Muqatil rahimahullah pun menyampaikan hal yang semakna,يَعْنِي عِلْمَ الْقُرْآنِ“(Al-Hikmah) maksudnya adalah ilmu Al-Qur`an.”Apakah Penghalang Seseorang dari Memahami Al-Qur`an?Sufyan bin ‘Uyainah menjelaskan firman Allah Ta’ala,سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku” (Q.S. Al-A’raaf: 146). Beliau berkata,أَحْرِمُهُمْ فَهْمَ الْقُرْآنِ“Aku akan halangi mereka dari memahami Al-Qur`an (sebagai hukuman bagi mereka.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menyatakan di antara sebab seseorang tidak memahami Al-Qur`an adalah sibuknya hati memikirkan dunia, berikut ini pernyataan beliau.لَا يَجْتَمِعُ فَهْمُ الْقُرْآنِ وَالِاشْتِغَالُ بِالْحُطَامِ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ أَبَدًا“Tidak akan berkumpul di hati seorang mukmin selamanya antara memahami Al-Qur`an (dengan baik) dan sibuk memikirkan perhiasan dunia.”(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram


Baca Pembahasan Sebelumnya  Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (1) Siapakah Ulama yang Paling Mulia?Al-Harali rahimahullah berkata,وَأَكْمَلُ الْعُلَمَاءِ مَنْ وَهَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَهْمًا فِي كَلَامِهِ وَوَعْيًا عَنْ كِتَابِهِ وَتَبْصِرَةً فِي الْفُرْقَانِ وَإِحَاطَةً بِمَا شَاءَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ“Ulama yang paling sempurna adalah orang yang diberikan anugerah oleh Allah Ta’ala berupa pemahaman terhadap firman-Nya, hafal Kitab-Nya, mengajarkannya, dan mengetahui ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.”Al Qur`an Al Karim adalah Kalamullah, Lebih Mulia dari Seluruh Ucapan SelainnyaImam Syafi’i rahimahullah menyatakan,جَمِيعُ مَا تَقُولُهُ الْأُمَّةُ شَرْحٌ لِلسُّنَّةِ وَجَمِيعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ لِلْقُرْآنِ وَجَمِيعُ الْقُرْآنِ شَرْحُ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا“Seluruh yang dikatakan (ulama) umat ini (tentang Hadist), hakikatnya merupakan penjelas As-Sunnah, sedangkan seluruh As-Sunnah merupakan penjelas Al-Qur`an, sedangkan seluruh isi Al-Qur`an adalah penjelas nama Allah yang terindah dan sifat-Nya yang paling sempurna.”Ada pula keterangan dari selain beliau yang menambahkan kalimat berikut.وَجَمِيعُ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى شَرْحٌ لِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ وَكَمَا أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ كَلَامٍ سِوَاهُ فَعُلُومُهُ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ عَدَاهُ“Seluruh nama Allah yang terindah adalah penjelas nama-Nya yang teragung, dan sebagaimana firman-Nya lebih mulia dari seluruh ucapan selainnya, maka ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur`an lebih mulia pula dari semua ilmu selainnya.”Barangsiapa yang Dianugerahi Kefahaman yang Dalam tentang Al-Qur`an, Ia Benar-Benar Telah Dianugerahi Karunia yang Banyak!Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal (baik) saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. Ara‘du: 19).يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا  ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal (baik)lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Q.S. Al-Baqarah: 269).Mujahid rahimahullah menafsirkan Al-Hikmah dalam ayat di atas dengan,الفهم والإصابة في القرآن“Pemahaman (yang bagus) dan kebenaran dalam memahami Al-Qur`an.”Muqatil rahimahullah pun menyampaikan hal yang semakna,يَعْنِي عِلْمَ الْقُرْآنِ“(Al-Hikmah) maksudnya adalah ilmu Al-Qur`an.”Apakah Penghalang Seseorang dari Memahami Al-Qur`an?Sufyan bin ‘Uyainah menjelaskan firman Allah Ta’ala,سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku” (Q.S. Al-A’raaf: 146). Beliau berkata,أَحْرِمُهُمْ فَهْمَ الْقُرْآنِ“Aku akan halangi mereka dari memahami Al-Qur`an (sebagai hukuman bagi mereka.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menyatakan di antara sebab seseorang tidak memahami Al-Qur`an adalah sibuknya hati memikirkan dunia, berikut ini pernyataan beliau.لَا يَجْتَمِعُ فَهْمُ الْقُرْآنِ وَالِاشْتِغَالُ بِالْحُطَامِ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ أَبَدًا“Tidak akan berkumpul di hati seorang mukmin selamanya antara memahami Al-Qur`an (dengan baik) dan sibuk memikirkan perhiasan dunia.”(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut<img class="alignnone wp-image-30389 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg" alt="" width="300" height="148" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz.jpg 372w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (3)

Baca Pembahasan Sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (2) Apakah Maksud Ah-Shirath Al-Mustaqim dalam Surat Al-Faatihah?‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Q.S. Al-Faatihah) dengan berkata, “Maksud jalan yang lurus dalam ayat di atas adalah Al-Qur`an. Beliaupun menjelaskan lebih lanjut makna tunjukilah kami jalan yang lurus.أَرْشِدْنَا إِلَى عِلْمِهِTunjukilah kami ilmu tentang Al-Qur`an.Seorang tabi‘in yang kata-katanya banyak dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,عِلْمُ الْقُرْآنِ ذِكْرٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الذَّكُورُ مِنَ الرِّجَالِ“Ilmu Al-Qur`an adalah sebuah peringatan/nasihat, tidak ada yang mampu mengetahui (mengambil pelajaran)nya kecuali orang-orang yang hebat.”Al-Qur`an Al-Karim adalah Rujukan untuk Setiap MasalahAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S. An-Nisaa`: 59).وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya dikembalikan kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Asy-Syuuraa: 10).Maksud dikembalikan kepada Allah pada ayat di atas, adalahdikembalikan kepada KitabullahAl-Qur`an Al-Karim adalah Sumber Seluruh Ilmu yang Ada Di Dunia IniAz-Zarkasy rahimahullah dalam menyampaikan pendahuluan kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini juga membawakan kalimat yang mendalam,وَكُلُّ عِلْمٍ مِنَ الْعُلُومِ مُنْتَزَعٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَإِلَّا فَلَيْسَ لَهُ بُرْهَانٌ“Setiap ilmu dari berbagai macam ilmu (yang ada di dunia ini sesungguhnya) diambil dari Al-Qur`an, jika ilmu itu tidak diambil dari Al-Qur`an, maka ilmu tersebut tidaklah memiliki burhan.”Pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyatakan,مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَدْخَلِ وَقَالَ: أَرَادَ بِهِ أُصُولَ الْعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan ilmu (yang bermanfaat), maka hendaklah ia mendalami Al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang dan akan datang” (Diriwayatkan Al-Baihaqi di Al-Madkhal, dan beliau mengatakan yang dimaksud Ibnu Mas’ud adalah pokok-pokok ilmu [yang bermanfaat]).Siapakah Satu-Satunya Sahabat yang Bergelar Lautan Ilmu Umat Ini?Para ulama di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu dikenal dengan keahliannya di dalam disiplin ilmu masing-masing. Di antara mereka ada yang dikenal ahli dalam bidang kehakiman dan peradilan, seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Ada pula seperti Zaid radhiyallahu ‘anhu yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu Waris. Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu terhitung sebagai ulama yang ahli dalam masalah halal-haram. Ada pula yang dikenal sebagai Ahli Qira`ah, seperti Ubay radhiyallahu ‘anhu.Kendati demikian, tidak ada satu pun yang digelari dengan Bahrul Ummah (Lautan ilmu Umat ini) kecuali Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. Tahukah sebabnya? Karena keahlian ‘Abdullah bin Abbas yang mendalam dalam disiplin ilmu Tafsir Al-Qur`an Al-Karim.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hikmah Sakit Dalam Islam, Buku Tauhid Islam, Nasehat Persahabatan, Tata Cara Ta'aruf Sesuai Sunnah, Doa Mengikhlaskan Hati

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (3)

Baca Pembahasan Sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (2) Apakah Maksud Ah-Shirath Al-Mustaqim dalam Surat Al-Faatihah?‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Q.S. Al-Faatihah) dengan berkata, “Maksud jalan yang lurus dalam ayat di atas adalah Al-Qur`an. Beliaupun menjelaskan lebih lanjut makna tunjukilah kami jalan yang lurus.أَرْشِدْنَا إِلَى عِلْمِهِTunjukilah kami ilmu tentang Al-Qur`an.Seorang tabi‘in yang kata-katanya banyak dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,عِلْمُ الْقُرْآنِ ذِكْرٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الذَّكُورُ مِنَ الرِّجَالِ“Ilmu Al-Qur`an adalah sebuah peringatan/nasihat, tidak ada yang mampu mengetahui (mengambil pelajaran)nya kecuali orang-orang yang hebat.”Al-Qur`an Al-Karim adalah Rujukan untuk Setiap MasalahAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S. An-Nisaa`: 59).وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya dikembalikan kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Asy-Syuuraa: 10).Maksud dikembalikan kepada Allah pada ayat di atas, adalahdikembalikan kepada KitabullahAl-Qur`an Al-Karim adalah Sumber Seluruh Ilmu yang Ada Di Dunia IniAz-Zarkasy rahimahullah dalam menyampaikan pendahuluan kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini juga membawakan kalimat yang mendalam,وَكُلُّ عِلْمٍ مِنَ الْعُلُومِ مُنْتَزَعٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَإِلَّا فَلَيْسَ لَهُ بُرْهَانٌ“Setiap ilmu dari berbagai macam ilmu (yang ada di dunia ini sesungguhnya) diambil dari Al-Qur`an, jika ilmu itu tidak diambil dari Al-Qur`an, maka ilmu tersebut tidaklah memiliki burhan.”Pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyatakan,مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَدْخَلِ وَقَالَ: أَرَادَ بِهِ أُصُولَ الْعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan ilmu (yang bermanfaat), maka hendaklah ia mendalami Al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang dan akan datang” (Diriwayatkan Al-Baihaqi di Al-Madkhal, dan beliau mengatakan yang dimaksud Ibnu Mas’ud adalah pokok-pokok ilmu [yang bermanfaat]).Siapakah Satu-Satunya Sahabat yang Bergelar Lautan Ilmu Umat Ini?Para ulama di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu dikenal dengan keahliannya di dalam disiplin ilmu masing-masing. Di antara mereka ada yang dikenal ahli dalam bidang kehakiman dan peradilan, seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Ada pula seperti Zaid radhiyallahu ‘anhu yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu Waris. Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu terhitung sebagai ulama yang ahli dalam masalah halal-haram. Ada pula yang dikenal sebagai Ahli Qira`ah, seperti Ubay radhiyallahu ‘anhu.Kendati demikian, tidak ada satu pun yang digelari dengan Bahrul Ummah (Lautan ilmu Umat ini) kecuali Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. Tahukah sebabnya? Karena keahlian ‘Abdullah bin Abbas yang mendalam dalam disiplin ilmu Tafsir Al-Qur`an Al-Karim.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hikmah Sakit Dalam Islam, Buku Tauhid Islam, Nasehat Persahabatan, Tata Cara Ta'aruf Sesuai Sunnah, Doa Mengikhlaskan Hati
Baca Pembahasan Sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (2) Apakah Maksud Ah-Shirath Al-Mustaqim dalam Surat Al-Faatihah?‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Q.S. Al-Faatihah) dengan berkata, “Maksud jalan yang lurus dalam ayat di atas adalah Al-Qur`an. Beliaupun menjelaskan lebih lanjut makna tunjukilah kami jalan yang lurus.أَرْشِدْنَا إِلَى عِلْمِهِTunjukilah kami ilmu tentang Al-Qur`an.Seorang tabi‘in yang kata-katanya banyak dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,عِلْمُ الْقُرْآنِ ذِكْرٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الذَّكُورُ مِنَ الرِّجَالِ“Ilmu Al-Qur`an adalah sebuah peringatan/nasihat, tidak ada yang mampu mengetahui (mengambil pelajaran)nya kecuali orang-orang yang hebat.”Al-Qur`an Al-Karim adalah Rujukan untuk Setiap MasalahAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S. An-Nisaa`: 59).وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya dikembalikan kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Asy-Syuuraa: 10).Maksud dikembalikan kepada Allah pada ayat di atas, adalahdikembalikan kepada KitabullahAl-Qur`an Al-Karim adalah Sumber Seluruh Ilmu yang Ada Di Dunia IniAz-Zarkasy rahimahullah dalam menyampaikan pendahuluan kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini juga membawakan kalimat yang mendalam,وَكُلُّ عِلْمٍ مِنَ الْعُلُومِ مُنْتَزَعٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَإِلَّا فَلَيْسَ لَهُ بُرْهَانٌ“Setiap ilmu dari berbagai macam ilmu (yang ada di dunia ini sesungguhnya) diambil dari Al-Qur`an, jika ilmu itu tidak diambil dari Al-Qur`an, maka ilmu tersebut tidaklah memiliki burhan.”Pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyatakan,مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَدْخَلِ وَقَالَ: أَرَادَ بِهِ أُصُولَ الْعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan ilmu (yang bermanfaat), maka hendaklah ia mendalami Al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang dan akan datang” (Diriwayatkan Al-Baihaqi di Al-Madkhal, dan beliau mengatakan yang dimaksud Ibnu Mas’ud adalah pokok-pokok ilmu [yang bermanfaat]).Siapakah Satu-Satunya Sahabat yang Bergelar Lautan Ilmu Umat Ini?Para ulama di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu dikenal dengan keahliannya di dalam disiplin ilmu masing-masing. Di antara mereka ada yang dikenal ahli dalam bidang kehakiman dan peradilan, seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Ada pula seperti Zaid radhiyallahu ‘anhu yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu Waris. Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu terhitung sebagai ulama yang ahli dalam masalah halal-haram. Ada pula yang dikenal sebagai Ahli Qira`ah, seperti Ubay radhiyallahu ‘anhu.Kendati demikian, tidak ada satu pun yang digelari dengan Bahrul Ummah (Lautan ilmu Umat ini) kecuali Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. Tahukah sebabnya? Karena keahlian ‘Abdullah bin Abbas yang mendalam dalam disiplin ilmu Tafsir Al-Qur`an Al-Karim.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Hikmah Sakit Dalam Islam, Buku Tauhid Islam, Nasehat Persahabatan, Tata Cara Ta'aruf Sesuai Sunnah, Doa Mengikhlaskan Hati


Baca Pembahasan Sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (2) Apakah Maksud Ah-Shirath Al-Mustaqim dalam Surat Al-Faatihah?‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Q.S. Al-Faatihah) dengan berkata, “Maksud jalan yang lurus dalam ayat di atas adalah Al-Qur`an. Beliaupun menjelaskan lebih lanjut makna tunjukilah kami jalan yang lurus.أَرْشِدْنَا إِلَى عِلْمِهِTunjukilah kami ilmu tentang Al-Qur`an.Seorang tabi‘in yang kata-katanya banyak dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,عِلْمُ الْقُرْآنِ ذِكْرٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الذَّكُورُ مِنَ الرِّجَالِ“Ilmu Al-Qur`an adalah sebuah peringatan/nasihat, tidak ada yang mampu mengetahui (mengambil pelajaran)nya kecuali orang-orang yang hebat.”Al-Qur`an Al-Karim adalah Rujukan untuk Setiap MasalahAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S. An-Nisaa`: 59).وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya dikembalikan kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Asy-Syuuraa: 10).Maksud dikembalikan kepada Allah pada ayat di atas, adalahdikembalikan kepada KitabullahAl-Qur`an Al-Karim adalah Sumber Seluruh Ilmu yang Ada Di Dunia IniAz-Zarkasy rahimahullah dalam menyampaikan pendahuluan kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an ini juga membawakan kalimat yang mendalam,وَكُلُّ عِلْمٍ مِنَ الْعُلُومِ مُنْتَزَعٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَإِلَّا فَلَيْسَ لَهُ بُرْهَانٌ“Setiap ilmu dari berbagai macam ilmu (yang ada di dunia ini sesungguhnya) diambil dari Al-Qur`an, jika ilmu itu tidak diambil dari Al-Qur`an, maka ilmu tersebut tidaklah memiliki burhan.”Pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyatakan,مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَدْخَلِ وَقَالَ: أَرَادَ بِهِ أُصُولَ الْعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan ilmu (yang bermanfaat), maka hendaklah ia mendalami Al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang dan akan datang” (Diriwayatkan Al-Baihaqi di Al-Madkhal, dan beliau mengatakan yang dimaksud Ibnu Mas’ud adalah pokok-pokok ilmu [yang bermanfaat]).Siapakah Satu-Satunya Sahabat yang Bergelar Lautan Ilmu Umat Ini?Para ulama di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu dikenal dengan keahliannya di dalam disiplin ilmu masing-masing. Di antara mereka ada yang dikenal ahli dalam bidang kehakiman dan peradilan, seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Ada pula seperti Zaid radhiyallahu ‘anhu yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu Waris. Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu terhitung sebagai ulama yang ahli dalam masalah halal-haram. Ada pula yang dikenal sebagai Ahli Qira`ah, seperti Ubay radhiyallahu ‘anhu.Kendati demikian, tidak ada satu pun yang digelari dengan Bahrul Ummah (Lautan ilmu Umat ini) kecuali Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. Tahukah sebabnya? Karena keahlian ‘Abdullah bin Abbas yang mendalam dalam disiplin ilmu Tafsir Al-Qur`an Al-Karim.(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut<img class="alignnone wp-image-30389 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg" alt="" width="300" height="148" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz.jpg 372w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />🔍 Hikmah Sakit Dalam Islam, Buku Tauhid Islam, Nasehat Persahabatan, Tata Cara Ta'aruf Sesuai Sunnah, Doa Mengikhlaskan Hati

Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4)

Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (3)Profil Pakar Tafsir Al Qur`an, Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuKesaksian ilmiah sesama pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim tentu lebih didahulukan daripada ulama dalam bidang lainnya, karena sesama Ahli Tafsir tentunya lebih tahu kehebatan sesama mereka. Adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, sosok pakar Tafsir yang lebih dahulu dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pun mengakui kehebatan ilmu Al-Qur`an Al-Karim ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang keilmuan sosok ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,كَأَنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى الْغَيْبِ مِنْ وراء سِتْرٍ رَقِيقٍ“Seolah-olah ia melihat sesuatu yang gaib dari belakang tabir yang tipis.”Ahli Tafsir lainnya, ‘Abdullah Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pun mempersaksikan kepakaran ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berucap,نِعْمَ تَرْجُمَانُ الْقُرْآنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ“Sebaik-baik penafsir Al-Qur`an adalah Abdullah bin Abbas.”Padahal ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika itu masih berusia muda. Beliau masih sempat hidup selama 36 tahun setelah wafatnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Apabila pujian Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terhadap sosok pemuda yang bernama ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu setinggi itu maka bagaimana lagi dengan ketinggian ilmu ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pada saat tiga puluh tahun lebih, sesudah wafatnya Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu?Baca juga: * Menikmati Bacaan Al Qur’an * Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an * Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’anIbnu Athiyyah rahimahullah menyebutkan sederetan nama-nama para pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim,فَأَمَّا صَدْرُ الْمُفَسِّرِينَ وَالْمُؤَيَّدُ فِيهِمْ فَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَيَتْلُوهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُوَ تَجَرَّدَ لِلْأَمْرِ وَكَمَّلَهُ وَتَتَبَّعَهُ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ كَمُجَاهِدٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَغَيْرِهِمَا“Adapun para ulama tafsir pendahulu dan mereka diteguhkan (oleh Allah Ta’ala), yaitu Ali bin Abi Thalib, selanjutnya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma -beliau mengkhususkan diri dalam menekuni ilmu tafsir dan menyempurnakannya- dan diikuti hal tersebut oleh para ulama sesudah beliau, seperti Mujahid, Sa‘id bin Jubair, dan selain keduanya.”Sebenarnya masih ada ulama-ulama besar dari Salafush Shalih, seperti Sa‘id bin Al-Musayyab, Asy-Sya‘bi, dan selain keduanya yang mereka ini sangat mengagungkan ilmu tafsir Al-Qur`an Al-Karim, namun mereka tidak berani tampil, padahal mereka mampu, hal itu karena kehati-hatian dan wara’ mereka.Kandungan Tafsir Al Qur`an  Sangat Luas Tanpa BatasKemudian datang sesudah mereka tingkatan generasi para ulama Ahli Tafsir setingkat demi setingkat, semuanya menginfakkan rezeki ilmu Tafsir yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka, namun ketahuilah wahai para pembaca, tafsir yang mereka sampaikan tetap saja belum bisa meliputi semua penjelasan kandungan Al-Qur`an Al-Karim dari berbagai sisi dengan sempurna, masih banyak sekali mutiara-mutiara kandungan Al-Qur`an Al-Karim yang tidak bisa diliputi oleh ilmu seluruh makhluk, karena Al-Qur`an Al-Karim adalah sifat Allah Ta’ala, sedangkan sifat Allah tidak ada penghujung akhirnya!Oleh karena inilah, Sahl bin Abdullah berkata,لَوْ أُعْطِيَ الْعَبْدُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَلْفَ فَهْمٍ لَمْ يَبْلُغْ نِهَايَةَ مَا أَوْدَعَهُ اللَّهُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُهُ صِفَتُهُ وَكَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ نِهَايَةٌ فَكَذَلِكَ لَا نِهَايَةَ لِفَهْمِ كَلَامِهِ وإنما يفهم كل بمقدار مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ وَلَا تَبْلُغُ إِلَى نِهَايَةِ فَهْمِهِ فُهُومٌ مُحْدَثَةٌ مَخْلُوقَةٌ“Seandainya seorang hamba dianugerahi seribu pemahaman pada setiap huruf Al-Qur`an, maka tidak akan bisa membatasi kandungan yang Allah simpan dalam suatu ayat di Kitab-Nya, karena Al-Qur`an itu adalah Kalamullah, sedangkan Kalamullah adalah sifat-Nya, sebagaimana Allah itu tidak berakhir, maka demikian pula (sifat-Nya, sehingga) tidak ada batas akhir untuk pemahaman terhadap Al-Qur`an. Yang ada hanyalah masing-masing (ulama) memahami (Al-Qur`an) sekadar ilmu yang Allah bukakan untuknya. Kalamullah itu bukan makhluk, maka pemahaman (manusia) -yang merupakan makhluk yang dulunya tidak ada- tentunya tidak akan sampai meliputi (seluruh) kandungan Al-Qur`an (dengan sempurna).”Baca juga: * Apakah Al Qur’an Bebas Tafsir?(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan

Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4)

Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (3)Profil Pakar Tafsir Al Qur`an, Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuKesaksian ilmiah sesama pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim tentu lebih didahulukan daripada ulama dalam bidang lainnya, karena sesama Ahli Tafsir tentunya lebih tahu kehebatan sesama mereka. Adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, sosok pakar Tafsir yang lebih dahulu dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pun mengakui kehebatan ilmu Al-Qur`an Al-Karim ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang keilmuan sosok ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,كَأَنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى الْغَيْبِ مِنْ وراء سِتْرٍ رَقِيقٍ“Seolah-olah ia melihat sesuatu yang gaib dari belakang tabir yang tipis.”Ahli Tafsir lainnya, ‘Abdullah Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pun mempersaksikan kepakaran ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berucap,نِعْمَ تَرْجُمَانُ الْقُرْآنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ“Sebaik-baik penafsir Al-Qur`an adalah Abdullah bin Abbas.”Padahal ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika itu masih berusia muda. Beliau masih sempat hidup selama 36 tahun setelah wafatnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Apabila pujian Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terhadap sosok pemuda yang bernama ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu setinggi itu maka bagaimana lagi dengan ketinggian ilmu ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pada saat tiga puluh tahun lebih, sesudah wafatnya Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu?Baca juga: * Menikmati Bacaan Al Qur’an * Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an * Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’anIbnu Athiyyah rahimahullah menyebutkan sederetan nama-nama para pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim,فَأَمَّا صَدْرُ الْمُفَسِّرِينَ وَالْمُؤَيَّدُ فِيهِمْ فَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَيَتْلُوهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُوَ تَجَرَّدَ لِلْأَمْرِ وَكَمَّلَهُ وَتَتَبَّعَهُ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ كَمُجَاهِدٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَغَيْرِهِمَا“Adapun para ulama tafsir pendahulu dan mereka diteguhkan (oleh Allah Ta’ala), yaitu Ali bin Abi Thalib, selanjutnya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma -beliau mengkhususkan diri dalam menekuni ilmu tafsir dan menyempurnakannya- dan diikuti hal tersebut oleh para ulama sesudah beliau, seperti Mujahid, Sa‘id bin Jubair, dan selain keduanya.”Sebenarnya masih ada ulama-ulama besar dari Salafush Shalih, seperti Sa‘id bin Al-Musayyab, Asy-Sya‘bi, dan selain keduanya yang mereka ini sangat mengagungkan ilmu tafsir Al-Qur`an Al-Karim, namun mereka tidak berani tampil, padahal mereka mampu, hal itu karena kehati-hatian dan wara’ mereka.Kandungan Tafsir Al Qur`an  Sangat Luas Tanpa BatasKemudian datang sesudah mereka tingkatan generasi para ulama Ahli Tafsir setingkat demi setingkat, semuanya menginfakkan rezeki ilmu Tafsir yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka, namun ketahuilah wahai para pembaca, tafsir yang mereka sampaikan tetap saja belum bisa meliputi semua penjelasan kandungan Al-Qur`an Al-Karim dari berbagai sisi dengan sempurna, masih banyak sekali mutiara-mutiara kandungan Al-Qur`an Al-Karim yang tidak bisa diliputi oleh ilmu seluruh makhluk, karena Al-Qur`an Al-Karim adalah sifat Allah Ta’ala, sedangkan sifat Allah tidak ada penghujung akhirnya!Oleh karena inilah, Sahl bin Abdullah berkata,لَوْ أُعْطِيَ الْعَبْدُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَلْفَ فَهْمٍ لَمْ يَبْلُغْ نِهَايَةَ مَا أَوْدَعَهُ اللَّهُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُهُ صِفَتُهُ وَكَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ نِهَايَةٌ فَكَذَلِكَ لَا نِهَايَةَ لِفَهْمِ كَلَامِهِ وإنما يفهم كل بمقدار مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ وَلَا تَبْلُغُ إِلَى نِهَايَةِ فَهْمِهِ فُهُومٌ مُحْدَثَةٌ مَخْلُوقَةٌ“Seandainya seorang hamba dianugerahi seribu pemahaman pada setiap huruf Al-Qur`an, maka tidak akan bisa membatasi kandungan yang Allah simpan dalam suatu ayat di Kitab-Nya, karena Al-Qur`an itu adalah Kalamullah, sedangkan Kalamullah adalah sifat-Nya, sebagaimana Allah itu tidak berakhir, maka demikian pula (sifat-Nya, sehingga) tidak ada batas akhir untuk pemahaman terhadap Al-Qur`an. Yang ada hanyalah masing-masing (ulama) memahami (Al-Qur`an) sekadar ilmu yang Allah bukakan untuknya. Kalamullah itu bukan makhluk, maka pemahaman (manusia) -yang merupakan makhluk yang dulunya tidak ada- tentunya tidak akan sampai meliputi (seluruh) kandungan Al-Qur`an (dengan sempurna).”Baca juga: * Apakah Al Qur’an Bebas Tafsir?(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan
Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (3)Profil Pakar Tafsir Al Qur`an, Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuKesaksian ilmiah sesama pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim tentu lebih didahulukan daripada ulama dalam bidang lainnya, karena sesama Ahli Tafsir tentunya lebih tahu kehebatan sesama mereka. Adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, sosok pakar Tafsir yang lebih dahulu dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pun mengakui kehebatan ilmu Al-Qur`an Al-Karim ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang keilmuan sosok ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,كَأَنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى الْغَيْبِ مِنْ وراء سِتْرٍ رَقِيقٍ“Seolah-olah ia melihat sesuatu yang gaib dari belakang tabir yang tipis.”Ahli Tafsir lainnya, ‘Abdullah Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pun mempersaksikan kepakaran ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berucap,نِعْمَ تَرْجُمَانُ الْقُرْآنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ“Sebaik-baik penafsir Al-Qur`an adalah Abdullah bin Abbas.”Padahal ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika itu masih berusia muda. Beliau masih sempat hidup selama 36 tahun setelah wafatnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Apabila pujian Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terhadap sosok pemuda yang bernama ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu setinggi itu maka bagaimana lagi dengan ketinggian ilmu ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pada saat tiga puluh tahun lebih, sesudah wafatnya Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu?Baca juga: * Menikmati Bacaan Al Qur’an * Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an * Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’anIbnu Athiyyah rahimahullah menyebutkan sederetan nama-nama para pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim,فَأَمَّا صَدْرُ الْمُفَسِّرِينَ وَالْمُؤَيَّدُ فِيهِمْ فَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَيَتْلُوهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُوَ تَجَرَّدَ لِلْأَمْرِ وَكَمَّلَهُ وَتَتَبَّعَهُ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ كَمُجَاهِدٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَغَيْرِهِمَا“Adapun para ulama tafsir pendahulu dan mereka diteguhkan (oleh Allah Ta’ala), yaitu Ali bin Abi Thalib, selanjutnya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma -beliau mengkhususkan diri dalam menekuni ilmu tafsir dan menyempurnakannya- dan diikuti hal tersebut oleh para ulama sesudah beliau, seperti Mujahid, Sa‘id bin Jubair, dan selain keduanya.”Sebenarnya masih ada ulama-ulama besar dari Salafush Shalih, seperti Sa‘id bin Al-Musayyab, Asy-Sya‘bi, dan selain keduanya yang mereka ini sangat mengagungkan ilmu tafsir Al-Qur`an Al-Karim, namun mereka tidak berani tampil, padahal mereka mampu, hal itu karena kehati-hatian dan wara’ mereka.Kandungan Tafsir Al Qur`an  Sangat Luas Tanpa BatasKemudian datang sesudah mereka tingkatan generasi para ulama Ahli Tafsir setingkat demi setingkat, semuanya menginfakkan rezeki ilmu Tafsir yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka, namun ketahuilah wahai para pembaca, tafsir yang mereka sampaikan tetap saja belum bisa meliputi semua penjelasan kandungan Al-Qur`an Al-Karim dari berbagai sisi dengan sempurna, masih banyak sekali mutiara-mutiara kandungan Al-Qur`an Al-Karim yang tidak bisa diliputi oleh ilmu seluruh makhluk, karena Al-Qur`an Al-Karim adalah sifat Allah Ta’ala, sedangkan sifat Allah tidak ada penghujung akhirnya!Oleh karena inilah, Sahl bin Abdullah berkata,لَوْ أُعْطِيَ الْعَبْدُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَلْفَ فَهْمٍ لَمْ يَبْلُغْ نِهَايَةَ مَا أَوْدَعَهُ اللَّهُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُهُ صِفَتُهُ وَكَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ نِهَايَةٌ فَكَذَلِكَ لَا نِهَايَةَ لِفَهْمِ كَلَامِهِ وإنما يفهم كل بمقدار مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ وَلَا تَبْلُغُ إِلَى نِهَايَةِ فَهْمِهِ فُهُومٌ مُحْدَثَةٌ مَخْلُوقَةٌ“Seandainya seorang hamba dianugerahi seribu pemahaman pada setiap huruf Al-Qur`an, maka tidak akan bisa membatasi kandungan yang Allah simpan dalam suatu ayat di Kitab-Nya, karena Al-Qur`an itu adalah Kalamullah, sedangkan Kalamullah adalah sifat-Nya, sebagaimana Allah itu tidak berakhir, maka demikian pula (sifat-Nya, sehingga) tidak ada batas akhir untuk pemahaman terhadap Al-Qur`an. Yang ada hanyalah masing-masing (ulama) memahami (Al-Qur`an) sekadar ilmu yang Allah bukakan untuknya. Kalamullah itu bukan makhluk, maka pemahaman (manusia) -yang merupakan makhluk yang dulunya tidak ada- tentunya tidak akan sampai meliputi (seluruh) kandungan Al-Qur`an (dengan sempurna).”Baca juga: * Apakah Al Qur’an Bebas Tafsir?(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan


Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (3)Profil Pakar Tafsir Al Qur`an, Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuKesaksian ilmiah sesama pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim tentu lebih didahulukan daripada ulama dalam bidang lainnya, karena sesama Ahli Tafsir tentunya lebih tahu kehebatan sesama mereka. Adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, sosok pakar Tafsir yang lebih dahulu dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pun mengakui kehebatan ilmu Al-Qur`an Al-Karim ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang keilmuan sosok ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,كَأَنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى الْغَيْبِ مِنْ وراء سِتْرٍ رَقِيقٍ“Seolah-olah ia melihat sesuatu yang gaib dari belakang tabir yang tipis.”Ahli Tafsir lainnya, ‘Abdullah Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pun mempersaksikan kepakaran ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berucap,نِعْمَ تَرْجُمَانُ الْقُرْآنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ“Sebaik-baik penafsir Al-Qur`an adalah Abdullah bin Abbas.”Padahal ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika itu masih berusia muda. Beliau masih sempat hidup selama 36 tahun setelah wafatnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Apabila pujian Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terhadap sosok pemuda yang bernama ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu setinggi itu maka bagaimana lagi dengan ketinggian ilmu ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pada saat tiga puluh tahun lebih, sesudah wafatnya Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu?Baca juga: * Menikmati Bacaan Al Qur’an * Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an * Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’anIbnu Athiyyah rahimahullah menyebutkan sederetan nama-nama para pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim,فَأَمَّا صَدْرُ الْمُفَسِّرِينَ وَالْمُؤَيَّدُ فِيهِمْ فَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَيَتْلُوهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُوَ تَجَرَّدَ لِلْأَمْرِ وَكَمَّلَهُ وَتَتَبَّعَهُ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ كَمُجَاهِدٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَغَيْرِهِمَا“Adapun para ulama tafsir pendahulu dan mereka diteguhkan (oleh Allah Ta’ala), yaitu Ali bin Abi Thalib, selanjutnya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma -beliau mengkhususkan diri dalam menekuni ilmu tafsir dan menyempurnakannya- dan diikuti hal tersebut oleh para ulama sesudah beliau, seperti Mujahid, Sa‘id bin Jubair, dan selain keduanya.”Sebenarnya masih ada ulama-ulama besar dari Salafush Shalih, seperti Sa‘id bin Al-Musayyab, Asy-Sya‘bi, dan selain keduanya yang mereka ini sangat mengagungkan ilmu tafsir Al-Qur`an Al-Karim, namun mereka tidak berani tampil, padahal mereka mampu, hal itu karena kehati-hatian dan wara’ mereka.Kandungan Tafsir Al Qur`an  Sangat Luas Tanpa BatasKemudian datang sesudah mereka tingkatan generasi para ulama Ahli Tafsir setingkat demi setingkat, semuanya menginfakkan rezeki ilmu Tafsir yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka, namun ketahuilah wahai para pembaca, tafsir yang mereka sampaikan tetap saja belum bisa meliputi semua penjelasan kandungan Al-Qur`an Al-Karim dari berbagai sisi dengan sempurna, masih banyak sekali mutiara-mutiara kandungan Al-Qur`an Al-Karim yang tidak bisa diliputi oleh ilmu seluruh makhluk, karena Al-Qur`an Al-Karim adalah sifat Allah Ta’ala, sedangkan sifat Allah tidak ada penghujung akhirnya!Oleh karena inilah, Sahl bin Abdullah berkata,لَوْ أُعْطِيَ الْعَبْدُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَلْفَ فَهْمٍ لَمْ يَبْلُغْ نِهَايَةَ مَا أَوْدَعَهُ اللَّهُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُهُ صِفَتُهُ وَكَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ نِهَايَةٌ فَكَذَلِكَ لَا نِهَايَةَ لِفَهْمِ كَلَامِهِ وإنما يفهم كل بمقدار مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ وَلَا تَبْلُغُ إِلَى نِهَايَةِ فَهْمِهِ فُهُومٌ مُحْدَثَةٌ مَخْلُوقَةٌ“Seandainya seorang hamba dianugerahi seribu pemahaman pada setiap huruf Al-Qur`an, maka tidak akan bisa membatasi kandungan yang Allah simpan dalam suatu ayat di Kitab-Nya, karena Al-Qur`an itu adalah Kalamullah, sedangkan Kalamullah adalah sifat-Nya, sebagaimana Allah itu tidak berakhir, maka demikian pula (sifat-Nya, sehingga) tidak ada batas akhir untuk pemahaman terhadap Al-Qur`an. Yang ada hanyalah masing-masing (ulama) memahami (Al-Qur`an) sekadar ilmu yang Allah bukakan untuknya. Kalamullah itu bukan makhluk, maka pemahaman (manusia) -yang merupakan makhluk yang dulunya tidak ada- tentunya tidak akan sampai meliputi (seluruh) kandungan Al-Qur`an (dengan sempurna).”Baca juga: * Apakah Al Qur’an Bebas Tafsir?(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2) Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3) Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4) Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Ingin Belajat Menghapal Al Quran? Silakan Klik Tautan Berikut<img class="alignnone wp-image-30389 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg" alt="" width="300" height="148" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz-300x148.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/kampus-tahfidz.jpg 372w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan

Faedah Sirah Nabi: Tanggal Lahir Nabi Belum Jelas

Kapan Nabi kita lahir? Apa benar 12 Rabi’ul Awwal seperti yang diperingati? Para ulama sepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada hari Senin. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Adapun tempat kelahirannya di Mekkah, ada yang mengatakan di sebuah rumah yang ada di Syi’ib Bani Hasyim. Ada yang mengatakan di sebuah rumah dekat Shafa. Selain itu, orang yang bertindak sebagai bidannya adalah ibunda ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu wa ‘anha. Pendapat yang benar adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal. Adapun tanggal lahirnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 2, tanggal 8, tanggal 9, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, atau tanggal 22 Rabi’ul Awwal. Adapun tahun kelahiran beliau adalah di tahun Gajah, yaitu tahun 571 Miladiyah. Setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunya mengirimkan beliau ke kakeknya, ‘Abdul Muthallib. Dia menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam Ka’bah. Setelah sampai pada hari yang ketujuh, dia memotong kambing dan mengundang orang-orang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya, “Wahai ‘Abdul Muthallib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya namakan dia Muhammad.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya berharap penduduk bumi memujinya dan pendudukan langit pun memujinya.” [Muhammad berarti yang terpuji] Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan Arab Jahiliyah, kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa Nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi, maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad. Selain itu, Allah Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi, atau seorang menganggapnya sebagai nabi, atau bahkan menampakkan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya.   Beberapa faedah yang bisa diambil dari tanggal kelahiran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: 1- Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu dan tidak disyariatkan melakukan ibadah tertentu di dalamnya, baik peringatan kelahiran atau yang lainnya. Seandainya dianjurkan memeringati perayaan tertentu, tentu akan ditentukan tanggal pasti kelahiran beliau sebagaimana kalau mau memasuki Ramadhan atau keluar dari Ramadhan, penentuannya dilihat dengan penglihatan hilal awal bulan. 2- Hari Senin merupakan hari istimewa dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istimewanya, hari Senin dianjurkan untuk berpuasa. Pada hari Senin, beliau dilahirkan, diangkat menjadi Nabi dan hari meninggal dunia. 3- Kalau ada yang mengatakan bahwa puasa hari Senin sebagai peringatan kelahiran Nabi, maka kita jawab bahwa puasa hari Senin bukan karena hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya. Apalagi ditambahkan hari Senin disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hari diangkatnya beliau menjadi nabi. 4- Tanggal 12 Rabiul Awwal tidak bisa dipastikan sebagai tanggal kelahiran Nabi sebagaimana yang diperingati kaum muslimin saat ini sebagai Maulid Nabi.   Kapan perayaan Maulid Nabi mulai muncul? Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al-Ibda’ fi Madhor Al-Ibtida’ (hlm. 251) dan Al-Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al-Muhadhorot Al-Fikriyah (hlm. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al-Maulid, hlm. 20)   Empat Kenyataan Perayaan Maulid Nabi Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al-Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)   Baca selengkapnya tentang Sejarah Kelam Maulid Nabi: Sejarah Kelam Maulid Nabi   Semoga bahasan ini menjadi pelajaran berharga. Ya Allah, tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus. Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Garuda Airlines, perjalanan Ambon – Makassar – Jogja, malam 11 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi maulid maulid nabi sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Tanggal Lahir Nabi Belum Jelas

Kapan Nabi kita lahir? Apa benar 12 Rabi’ul Awwal seperti yang diperingati? Para ulama sepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada hari Senin. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Adapun tempat kelahirannya di Mekkah, ada yang mengatakan di sebuah rumah yang ada di Syi’ib Bani Hasyim. Ada yang mengatakan di sebuah rumah dekat Shafa. Selain itu, orang yang bertindak sebagai bidannya adalah ibunda ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu wa ‘anha. Pendapat yang benar adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal. Adapun tanggal lahirnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 2, tanggal 8, tanggal 9, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, atau tanggal 22 Rabi’ul Awwal. Adapun tahun kelahiran beliau adalah di tahun Gajah, yaitu tahun 571 Miladiyah. Setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunya mengirimkan beliau ke kakeknya, ‘Abdul Muthallib. Dia menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam Ka’bah. Setelah sampai pada hari yang ketujuh, dia memotong kambing dan mengundang orang-orang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya, “Wahai ‘Abdul Muthallib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya namakan dia Muhammad.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya berharap penduduk bumi memujinya dan pendudukan langit pun memujinya.” [Muhammad berarti yang terpuji] Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan Arab Jahiliyah, kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa Nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi, maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad. Selain itu, Allah Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi, atau seorang menganggapnya sebagai nabi, atau bahkan menampakkan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya.   Beberapa faedah yang bisa diambil dari tanggal kelahiran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: 1- Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu dan tidak disyariatkan melakukan ibadah tertentu di dalamnya, baik peringatan kelahiran atau yang lainnya. Seandainya dianjurkan memeringati perayaan tertentu, tentu akan ditentukan tanggal pasti kelahiran beliau sebagaimana kalau mau memasuki Ramadhan atau keluar dari Ramadhan, penentuannya dilihat dengan penglihatan hilal awal bulan. 2- Hari Senin merupakan hari istimewa dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istimewanya, hari Senin dianjurkan untuk berpuasa. Pada hari Senin, beliau dilahirkan, diangkat menjadi Nabi dan hari meninggal dunia. 3- Kalau ada yang mengatakan bahwa puasa hari Senin sebagai peringatan kelahiran Nabi, maka kita jawab bahwa puasa hari Senin bukan karena hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya. Apalagi ditambahkan hari Senin disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hari diangkatnya beliau menjadi nabi. 4- Tanggal 12 Rabiul Awwal tidak bisa dipastikan sebagai tanggal kelahiran Nabi sebagaimana yang diperingati kaum muslimin saat ini sebagai Maulid Nabi.   Kapan perayaan Maulid Nabi mulai muncul? Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al-Ibda’ fi Madhor Al-Ibtida’ (hlm. 251) dan Al-Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al-Muhadhorot Al-Fikriyah (hlm. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al-Maulid, hlm. 20)   Empat Kenyataan Perayaan Maulid Nabi Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al-Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)   Baca selengkapnya tentang Sejarah Kelam Maulid Nabi: Sejarah Kelam Maulid Nabi   Semoga bahasan ini menjadi pelajaran berharga. Ya Allah, tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus. Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Garuda Airlines, perjalanan Ambon – Makassar – Jogja, malam 11 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi maulid maulid nabi sirah nabi
Kapan Nabi kita lahir? Apa benar 12 Rabi’ul Awwal seperti yang diperingati? Para ulama sepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada hari Senin. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Adapun tempat kelahirannya di Mekkah, ada yang mengatakan di sebuah rumah yang ada di Syi’ib Bani Hasyim. Ada yang mengatakan di sebuah rumah dekat Shafa. Selain itu, orang yang bertindak sebagai bidannya adalah ibunda ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu wa ‘anha. Pendapat yang benar adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal. Adapun tanggal lahirnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 2, tanggal 8, tanggal 9, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, atau tanggal 22 Rabi’ul Awwal. Adapun tahun kelahiran beliau adalah di tahun Gajah, yaitu tahun 571 Miladiyah. Setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunya mengirimkan beliau ke kakeknya, ‘Abdul Muthallib. Dia menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam Ka’bah. Setelah sampai pada hari yang ketujuh, dia memotong kambing dan mengundang orang-orang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya, “Wahai ‘Abdul Muthallib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya namakan dia Muhammad.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya berharap penduduk bumi memujinya dan pendudukan langit pun memujinya.” [Muhammad berarti yang terpuji] Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan Arab Jahiliyah, kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa Nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi, maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad. Selain itu, Allah Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi, atau seorang menganggapnya sebagai nabi, atau bahkan menampakkan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya.   Beberapa faedah yang bisa diambil dari tanggal kelahiran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: 1- Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu dan tidak disyariatkan melakukan ibadah tertentu di dalamnya, baik peringatan kelahiran atau yang lainnya. Seandainya dianjurkan memeringati perayaan tertentu, tentu akan ditentukan tanggal pasti kelahiran beliau sebagaimana kalau mau memasuki Ramadhan atau keluar dari Ramadhan, penentuannya dilihat dengan penglihatan hilal awal bulan. 2- Hari Senin merupakan hari istimewa dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istimewanya, hari Senin dianjurkan untuk berpuasa. Pada hari Senin, beliau dilahirkan, diangkat menjadi Nabi dan hari meninggal dunia. 3- Kalau ada yang mengatakan bahwa puasa hari Senin sebagai peringatan kelahiran Nabi, maka kita jawab bahwa puasa hari Senin bukan karena hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya. Apalagi ditambahkan hari Senin disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hari diangkatnya beliau menjadi nabi. 4- Tanggal 12 Rabiul Awwal tidak bisa dipastikan sebagai tanggal kelahiran Nabi sebagaimana yang diperingati kaum muslimin saat ini sebagai Maulid Nabi.   Kapan perayaan Maulid Nabi mulai muncul? Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al-Ibda’ fi Madhor Al-Ibtida’ (hlm. 251) dan Al-Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al-Muhadhorot Al-Fikriyah (hlm. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al-Maulid, hlm. 20)   Empat Kenyataan Perayaan Maulid Nabi Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al-Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)   Baca selengkapnya tentang Sejarah Kelam Maulid Nabi: Sejarah Kelam Maulid Nabi   Semoga bahasan ini menjadi pelajaran berharga. Ya Allah, tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus. Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Garuda Airlines, perjalanan Ambon – Makassar – Jogja, malam 11 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi maulid maulid nabi sirah nabi


Kapan Nabi kita lahir? Apa benar 12 Rabi’ul Awwal seperti yang diperingati? Para ulama sepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada hari Senin. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Adapun tempat kelahirannya di Mekkah, ada yang mengatakan di sebuah rumah yang ada di Syi’ib Bani Hasyim. Ada yang mengatakan di sebuah rumah dekat Shafa. Selain itu, orang yang bertindak sebagai bidannya adalah ibunda ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu wa ‘anha. Pendapat yang benar adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal. Adapun tanggal lahirnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 2, tanggal 8, tanggal 9, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, atau tanggal 22 Rabi’ul Awwal. Adapun tahun kelahiran beliau adalah di tahun Gajah, yaitu tahun 571 Miladiyah. Setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunya mengirimkan beliau ke kakeknya, ‘Abdul Muthallib. Dia menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam Ka’bah. Setelah sampai pada hari yang ketujuh, dia memotong kambing dan mengundang orang-orang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya, “Wahai ‘Abdul Muthallib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya namakan dia Muhammad.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya berharap penduduk bumi memujinya dan pendudukan langit pun memujinya.” [Muhammad berarti yang terpuji] Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan Arab Jahiliyah, kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa Nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi, maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad. Selain itu, Allah Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi, atau seorang menganggapnya sebagai nabi, atau bahkan menampakkan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya.   Beberapa faedah yang bisa diambil dari tanggal kelahiran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: 1- Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu dan tidak disyariatkan melakukan ibadah tertentu di dalamnya, baik peringatan kelahiran atau yang lainnya. Seandainya dianjurkan memeringati perayaan tertentu, tentu akan ditentukan tanggal pasti kelahiran beliau sebagaimana kalau mau memasuki Ramadhan atau keluar dari Ramadhan, penentuannya dilihat dengan penglihatan hilal awal bulan. 2- Hari Senin merupakan hari istimewa dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istimewanya, hari Senin dianjurkan untuk berpuasa. Pada hari Senin, beliau dilahirkan, diangkat menjadi Nabi dan hari meninggal dunia. 3- Kalau ada yang mengatakan bahwa puasa hari Senin sebagai peringatan kelahiran Nabi, maka kita jawab bahwa puasa hari Senin bukan karena hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya. Apalagi ditambahkan hari Senin disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hari diangkatnya beliau menjadi nabi. 4- Tanggal 12 Rabiul Awwal tidak bisa dipastikan sebagai tanggal kelahiran Nabi sebagaimana yang diperingati kaum muslimin saat ini sebagai Maulid Nabi.   Kapan perayaan Maulid Nabi mulai muncul? Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al-Ibda’ fi Madhor Al-Ibtida’ (hlm. 251) dan Al-Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al-Muhadhorot Al-Fikriyah (hlm. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al-Maulid, hlm. 20)   Empat Kenyataan Perayaan Maulid Nabi Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al-Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)   Baca selengkapnya tentang Sejarah Kelam Maulid Nabi: Sejarah Kelam Maulid Nabi   Semoga bahasan ini menjadi pelajaran berharga. Ya Allah, tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus. Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Garuda Airlines, perjalanan Ambon – Makassar – Jogja, malam 11 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi maulid maulid nabi sirah nabi
Prev     Next