Subhanallah wa Bihamdih yang Luar Biasa

Kalimat subhanallah wa bihamdih sangat luar biasa keutamaannya. Berikut bahasan lanjutan dari Kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.   Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir (Hadits no. 1412) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ألاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ ؟ إنَّ أَحَبَّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Maukah aku beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah, ‘SUBHANALLAH WA BIHAMDIH’ (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya).” (HR. Muslim, no. 2731)   (Hadits no. 1413) Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطُّهُورُ شَطْرُ الإيمانِ ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ “Bersuci itu setengah keimanan, ALHAMDULILLAH itu memenuhi mizan (timbangan amal), dan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH, keduanya memenuhi—atau memenuhi—ruang antara langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 223)   Penjelasan: Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan kalimat subhanallah wa bihamdih, juga kalimat dzikir subhanallah wal hamdulillah. Kalimat subhanallah berisi penyucian Allah dari sifat tercela. Sedangkan alhamdulillah berisi pujian sekaligus penetapan bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna.   Faedah dari dua hadits di atas: 1- Kalimat yang paling dicintai oleh Allah adalah kalimat subhanallah wa bihamdih. 2- Kalimat subhanallah wa bihamdih berisi penyucian sifat-sifat jelek bagi Allah dan pujian bagi-Nya karena Allah memang pantas untuk dipuji. 3- Bersuci itu setengah keimanan. 4- Hadits ini menunjukkan keutamaan wudhu dalam Islam karena menurut pendapat kebanyakan ulama, thuhur yang dimaksud dalam hadits adalah bersuci dengan air untuk menghilangkan hadats. Sedangkan iman yang dimaksudkan dalam hadits adalah shalat seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 143, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” Yang dimaksudkan dalam ayat adalah Allah tidak menyia-nyiakan shalat mereka ketika sebelumnya menghadap Baitul Maqdis. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:7.) 5- Wudhu adalah syarat sah shalat. Sehingga disebut sebagai separuh iman walaupun bukan separuh iman secara hakiki. 6- Bacaan alhamdulillah akan memenuhi timbangan amalan. Subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. 7- Subhanallah itu akan memenuhi separuh timbangan, sedangkan alhamdulillah akan menyempurnakannya hingga penuh. Karena kalimat alhamdulillah berarti kita menetapkan segala puji untuk Allah. Sedangkan ucapan subhanallah adalah menyucikan Allah dari kekurangan, aib dan cacat. Penetapan itu lebih menunjukkan kesempurnaan dibanding peniadaan. Karenanya kalimat subhanallah tidak disebut sendirian, namun diiringi dengan penetapan kesempurnaan bagi Allah sehingga kadang digandengkan dengan alhamdulillah. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:17-18.) 8- Seorang muslim wajib meyakini adanya mizan (timbangan) yang akan menimbang amalan pada hari kiamat. 9- Hadits ini menunjukkan keutamaan berdzikir dan besarnya pahala dzikir.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:447-448; 1:69-70. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 2:7-18. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir

Subhanallah wa Bihamdih yang Luar Biasa

Kalimat subhanallah wa bihamdih sangat luar biasa keutamaannya. Berikut bahasan lanjutan dari Kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.   Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir (Hadits no. 1412) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ألاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ ؟ إنَّ أَحَبَّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Maukah aku beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah, ‘SUBHANALLAH WA BIHAMDIH’ (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya).” (HR. Muslim, no. 2731)   (Hadits no. 1413) Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطُّهُورُ شَطْرُ الإيمانِ ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ “Bersuci itu setengah keimanan, ALHAMDULILLAH itu memenuhi mizan (timbangan amal), dan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH, keduanya memenuhi—atau memenuhi—ruang antara langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 223)   Penjelasan: Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan kalimat subhanallah wa bihamdih, juga kalimat dzikir subhanallah wal hamdulillah. Kalimat subhanallah berisi penyucian Allah dari sifat tercela. Sedangkan alhamdulillah berisi pujian sekaligus penetapan bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna.   Faedah dari dua hadits di atas: 1- Kalimat yang paling dicintai oleh Allah adalah kalimat subhanallah wa bihamdih. 2- Kalimat subhanallah wa bihamdih berisi penyucian sifat-sifat jelek bagi Allah dan pujian bagi-Nya karena Allah memang pantas untuk dipuji. 3- Bersuci itu setengah keimanan. 4- Hadits ini menunjukkan keutamaan wudhu dalam Islam karena menurut pendapat kebanyakan ulama, thuhur yang dimaksud dalam hadits adalah bersuci dengan air untuk menghilangkan hadats. Sedangkan iman yang dimaksudkan dalam hadits adalah shalat seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 143, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” Yang dimaksudkan dalam ayat adalah Allah tidak menyia-nyiakan shalat mereka ketika sebelumnya menghadap Baitul Maqdis. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:7.) 5- Wudhu adalah syarat sah shalat. Sehingga disebut sebagai separuh iman walaupun bukan separuh iman secara hakiki. 6- Bacaan alhamdulillah akan memenuhi timbangan amalan. Subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. 7- Subhanallah itu akan memenuhi separuh timbangan, sedangkan alhamdulillah akan menyempurnakannya hingga penuh. Karena kalimat alhamdulillah berarti kita menetapkan segala puji untuk Allah. Sedangkan ucapan subhanallah adalah menyucikan Allah dari kekurangan, aib dan cacat. Penetapan itu lebih menunjukkan kesempurnaan dibanding peniadaan. Karenanya kalimat subhanallah tidak disebut sendirian, namun diiringi dengan penetapan kesempurnaan bagi Allah sehingga kadang digandengkan dengan alhamdulillah. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:17-18.) 8- Seorang muslim wajib meyakini adanya mizan (timbangan) yang akan menimbang amalan pada hari kiamat. 9- Hadits ini menunjukkan keutamaan berdzikir dan besarnya pahala dzikir.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:447-448; 1:69-70. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 2:7-18. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir
Kalimat subhanallah wa bihamdih sangat luar biasa keutamaannya. Berikut bahasan lanjutan dari Kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.   Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir (Hadits no. 1412) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ألاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ ؟ إنَّ أَحَبَّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Maukah aku beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah, ‘SUBHANALLAH WA BIHAMDIH’ (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya).” (HR. Muslim, no. 2731)   (Hadits no. 1413) Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطُّهُورُ شَطْرُ الإيمانِ ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ “Bersuci itu setengah keimanan, ALHAMDULILLAH itu memenuhi mizan (timbangan amal), dan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH, keduanya memenuhi—atau memenuhi—ruang antara langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 223)   Penjelasan: Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan kalimat subhanallah wa bihamdih, juga kalimat dzikir subhanallah wal hamdulillah. Kalimat subhanallah berisi penyucian Allah dari sifat tercela. Sedangkan alhamdulillah berisi pujian sekaligus penetapan bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna.   Faedah dari dua hadits di atas: 1- Kalimat yang paling dicintai oleh Allah adalah kalimat subhanallah wa bihamdih. 2- Kalimat subhanallah wa bihamdih berisi penyucian sifat-sifat jelek bagi Allah dan pujian bagi-Nya karena Allah memang pantas untuk dipuji. 3- Bersuci itu setengah keimanan. 4- Hadits ini menunjukkan keutamaan wudhu dalam Islam karena menurut pendapat kebanyakan ulama, thuhur yang dimaksud dalam hadits adalah bersuci dengan air untuk menghilangkan hadats. Sedangkan iman yang dimaksudkan dalam hadits adalah shalat seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 143, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” Yang dimaksudkan dalam ayat adalah Allah tidak menyia-nyiakan shalat mereka ketika sebelumnya menghadap Baitul Maqdis. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:7.) 5- Wudhu adalah syarat sah shalat. Sehingga disebut sebagai separuh iman walaupun bukan separuh iman secara hakiki. 6- Bacaan alhamdulillah akan memenuhi timbangan amalan. Subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. 7- Subhanallah itu akan memenuhi separuh timbangan, sedangkan alhamdulillah akan menyempurnakannya hingga penuh. Karena kalimat alhamdulillah berarti kita menetapkan segala puji untuk Allah. Sedangkan ucapan subhanallah adalah menyucikan Allah dari kekurangan, aib dan cacat. Penetapan itu lebih menunjukkan kesempurnaan dibanding peniadaan. Karenanya kalimat subhanallah tidak disebut sendirian, namun diiringi dengan penetapan kesempurnaan bagi Allah sehingga kadang digandengkan dengan alhamdulillah. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:17-18.) 8- Seorang muslim wajib meyakini adanya mizan (timbangan) yang akan menimbang amalan pada hari kiamat. 9- Hadits ini menunjukkan keutamaan berdzikir dan besarnya pahala dzikir.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:447-448; 1:69-70. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 2:7-18. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir


Kalimat subhanallah wa bihamdih sangat luar biasa keutamaannya. Berikut bahasan lanjutan dari Kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.   Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir (Hadits no. 1412) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ألاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ ؟ إنَّ أَحَبَّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ‘Maukah aku beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah, ‘SUBHANALLAH WA BIHAMDIH’ (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya).” (HR. Muslim, no. 2731)   (Hadits no. 1413) Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطُّهُورُ شَطْرُ الإيمانِ ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ “Bersuci itu setengah keimanan, ALHAMDULILLAH itu memenuhi mizan (timbangan amal), dan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH, keduanya memenuhi—atau memenuhi—ruang antara langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 223)   Penjelasan: Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan kalimat subhanallah wa bihamdih, juga kalimat dzikir subhanallah wal hamdulillah. Kalimat subhanallah berisi penyucian Allah dari sifat tercela. Sedangkan alhamdulillah berisi pujian sekaligus penetapan bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna.   Faedah dari dua hadits di atas: 1- Kalimat yang paling dicintai oleh Allah adalah kalimat subhanallah wa bihamdih. 2- Kalimat subhanallah wa bihamdih berisi penyucian sifat-sifat jelek bagi Allah dan pujian bagi-Nya karena Allah memang pantas untuk dipuji. 3- Bersuci itu setengah keimanan. 4- Hadits ini menunjukkan keutamaan wudhu dalam Islam karena menurut pendapat kebanyakan ulama, thuhur yang dimaksud dalam hadits adalah bersuci dengan air untuk menghilangkan hadats. Sedangkan iman yang dimaksudkan dalam hadits adalah shalat seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 143, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” Yang dimaksudkan dalam ayat adalah Allah tidak menyia-nyiakan shalat mereka ketika sebelumnya menghadap Baitul Maqdis. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:7.) 5- Wudhu adalah syarat sah shalat. Sehingga disebut sebagai separuh iman walaupun bukan separuh iman secara hakiki. 6- Bacaan alhamdulillah akan memenuhi timbangan amalan. Subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. 7- Subhanallah itu akan memenuhi separuh timbangan, sedangkan alhamdulillah akan menyempurnakannya hingga penuh. Karena kalimat alhamdulillah berarti kita menetapkan segala puji untuk Allah. Sedangkan ucapan subhanallah adalah menyucikan Allah dari kekurangan, aib dan cacat. Penetapan itu lebih menunjukkan kesempurnaan dibanding peniadaan. Karenanya kalimat subhanallah tidak disebut sendirian, namun diiringi dengan penetapan kesempurnaan bagi Allah sehingga kadang digandengkan dengan alhamdulillah. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:17-18.) 8- Seorang muslim wajib meyakini adanya mizan (timbangan) yang akan menimbang amalan pada hari kiamat. 9- Hadits ini menunjukkan keutamaan berdzikir dan besarnya pahala dzikir.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:447-448; 1:69-70. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 2:7-18. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir

Merasa Cemas tanpa Penyebab yang Jelas

Keyakinan yang MerusakSeringkali kita jumpai seseorang yang sangat takut melanjutkan perjalanannya apabila di tengah-tengah perjalanan dia menjumpai seekor kucing menyeberang jalan. Kecemasannya itu akan semakin bertambah luar biasa apabila dia menabrak kucing tersebut sampai mati. Dia sangat diliputi ketakutan, sehingga mungkin saja dia berhenti melanjutkan perjalanannya. Atau dia baru berani melanjutkan perjalanannya setelah dia mengurus “pemakaman” kucing tersebut.Contoh yang lain adalah seseorang sangat ketakutan apabila dia melihat seekor burung gagak terbang di atas rumahnya atau bertengger di pohon dekat rumahnya. Dia pun meyakini bahwa sebentar lagi akan ada musibah yang menimpa salah seorang anggota keluarganya. Apabila mendengar suara burung hantu, maka pertanda akan ada pencuri yang masuk rumah. Inilah sedikit contoh keyakinan-keyakinan yang merusak di masyarakat kita. Mereka mengaitkan kesialan yang menimpa dan keberuntungan yang diperoleh dengan suatu peristiwa tertentu.Pengertian Tathayyur atau ThiyarahKeyakinan seperti ini dalam  agama kita disebut dengan tathayyur atau thiyarah. Dinamakan demikian karena salah satu yang dijadikan sebagai pertanda kesialan atau keberuntungan tersebut adalah burung (dalam bahasa Arab: thair). Tathayyur adalah menganggap dirinya akan ditimpa kesialan setelah melihat, mendengar, atau mengetahui (meyakini) sesuatu.Dengan melihat, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah melihat burung tertentu. Dengan mendengar, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa dia akan ditimpa kesialan. Dengan mengetahui (meyakini sesuatu), contohnya seseorang merasa sial ketika berada di hari, bulan, atau tahun tertentu. Padahal hari, bulan, atau tahun tersebut tidak dapat didengar atau dilihat [1].Namun dapat juga dikatakan tathayyur, semua hal yang menyebabkan seseorang membatalkan perbuatannya karena takut malapetaka atau justru meneruskan perbuatannya karena optimis akan beruntung setelah dia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada bukti ilmiah bahwa sesuatu tersebut bisa mendatangkan malapetaka atau keberuntungan [2].Tathayyur termasuk KesyirikanKeyakinan ini kelihatannya sepele, padahal dapat menafikan tauhid serta termasuk di antara bentuk kesyirikan, dan syirik merupakan dosa terbesar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ “Barangsiapa yang mengurungkan kepentingannya karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad no. 7045) [3]Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ. ثَلاَثًا“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik.” Beliau mengucapkan hal itu sampai tiga kali. (HR. Abu Dawud) [4] Sedangkan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ مِنَ الشِّرْكِ “Thiyarah termasuk kesyirikan.” (HR. Tirmidzi) [5]Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari keyakinan merusak seperti ini.***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 12 Dzulqa’dah 1438/5 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.orCatatan kaki:[1] Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1/559, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. [2] Lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid, hal. 142, karya guru kami, Ustadz Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam hafidzahullah. [3] Syaikh Syu’aib Al-‘Arnauth menyatakan bahwa status hadits ini hasan. [4] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud no. 3910. [5] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi no. 1614.🔍 Thogut Arti, Raudhah Nabawi, Hadits Tentang Riba Dan Penjelasannya, Tulang Makanan Jin, Akibat Durhaka Pada Orang Tua

Merasa Cemas tanpa Penyebab yang Jelas

Keyakinan yang MerusakSeringkali kita jumpai seseorang yang sangat takut melanjutkan perjalanannya apabila di tengah-tengah perjalanan dia menjumpai seekor kucing menyeberang jalan. Kecemasannya itu akan semakin bertambah luar biasa apabila dia menabrak kucing tersebut sampai mati. Dia sangat diliputi ketakutan, sehingga mungkin saja dia berhenti melanjutkan perjalanannya. Atau dia baru berani melanjutkan perjalanannya setelah dia mengurus “pemakaman” kucing tersebut.Contoh yang lain adalah seseorang sangat ketakutan apabila dia melihat seekor burung gagak terbang di atas rumahnya atau bertengger di pohon dekat rumahnya. Dia pun meyakini bahwa sebentar lagi akan ada musibah yang menimpa salah seorang anggota keluarganya. Apabila mendengar suara burung hantu, maka pertanda akan ada pencuri yang masuk rumah. Inilah sedikit contoh keyakinan-keyakinan yang merusak di masyarakat kita. Mereka mengaitkan kesialan yang menimpa dan keberuntungan yang diperoleh dengan suatu peristiwa tertentu.Pengertian Tathayyur atau ThiyarahKeyakinan seperti ini dalam  agama kita disebut dengan tathayyur atau thiyarah. Dinamakan demikian karena salah satu yang dijadikan sebagai pertanda kesialan atau keberuntungan tersebut adalah burung (dalam bahasa Arab: thair). Tathayyur adalah menganggap dirinya akan ditimpa kesialan setelah melihat, mendengar, atau mengetahui (meyakini) sesuatu.Dengan melihat, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah melihat burung tertentu. Dengan mendengar, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa dia akan ditimpa kesialan. Dengan mengetahui (meyakini sesuatu), contohnya seseorang merasa sial ketika berada di hari, bulan, atau tahun tertentu. Padahal hari, bulan, atau tahun tersebut tidak dapat didengar atau dilihat [1].Namun dapat juga dikatakan tathayyur, semua hal yang menyebabkan seseorang membatalkan perbuatannya karena takut malapetaka atau justru meneruskan perbuatannya karena optimis akan beruntung setelah dia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada bukti ilmiah bahwa sesuatu tersebut bisa mendatangkan malapetaka atau keberuntungan [2].Tathayyur termasuk KesyirikanKeyakinan ini kelihatannya sepele, padahal dapat menafikan tauhid serta termasuk di antara bentuk kesyirikan, dan syirik merupakan dosa terbesar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ “Barangsiapa yang mengurungkan kepentingannya karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad no. 7045) [3]Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ. ثَلاَثًا“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik.” Beliau mengucapkan hal itu sampai tiga kali. (HR. Abu Dawud) [4] Sedangkan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ مِنَ الشِّرْكِ “Thiyarah termasuk kesyirikan.” (HR. Tirmidzi) [5]Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari keyakinan merusak seperti ini.***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 12 Dzulqa’dah 1438/5 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.orCatatan kaki:[1] Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1/559, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. [2] Lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid, hal. 142, karya guru kami, Ustadz Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam hafidzahullah. [3] Syaikh Syu’aib Al-‘Arnauth menyatakan bahwa status hadits ini hasan. [4] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud no. 3910. [5] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi no. 1614.🔍 Thogut Arti, Raudhah Nabawi, Hadits Tentang Riba Dan Penjelasannya, Tulang Makanan Jin, Akibat Durhaka Pada Orang Tua
Keyakinan yang MerusakSeringkali kita jumpai seseorang yang sangat takut melanjutkan perjalanannya apabila di tengah-tengah perjalanan dia menjumpai seekor kucing menyeberang jalan. Kecemasannya itu akan semakin bertambah luar biasa apabila dia menabrak kucing tersebut sampai mati. Dia sangat diliputi ketakutan, sehingga mungkin saja dia berhenti melanjutkan perjalanannya. Atau dia baru berani melanjutkan perjalanannya setelah dia mengurus “pemakaman” kucing tersebut.Contoh yang lain adalah seseorang sangat ketakutan apabila dia melihat seekor burung gagak terbang di atas rumahnya atau bertengger di pohon dekat rumahnya. Dia pun meyakini bahwa sebentar lagi akan ada musibah yang menimpa salah seorang anggota keluarganya. Apabila mendengar suara burung hantu, maka pertanda akan ada pencuri yang masuk rumah. Inilah sedikit contoh keyakinan-keyakinan yang merusak di masyarakat kita. Mereka mengaitkan kesialan yang menimpa dan keberuntungan yang diperoleh dengan suatu peristiwa tertentu.Pengertian Tathayyur atau ThiyarahKeyakinan seperti ini dalam  agama kita disebut dengan tathayyur atau thiyarah. Dinamakan demikian karena salah satu yang dijadikan sebagai pertanda kesialan atau keberuntungan tersebut adalah burung (dalam bahasa Arab: thair). Tathayyur adalah menganggap dirinya akan ditimpa kesialan setelah melihat, mendengar, atau mengetahui (meyakini) sesuatu.Dengan melihat, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah melihat burung tertentu. Dengan mendengar, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa dia akan ditimpa kesialan. Dengan mengetahui (meyakini sesuatu), contohnya seseorang merasa sial ketika berada di hari, bulan, atau tahun tertentu. Padahal hari, bulan, atau tahun tersebut tidak dapat didengar atau dilihat [1].Namun dapat juga dikatakan tathayyur, semua hal yang menyebabkan seseorang membatalkan perbuatannya karena takut malapetaka atau justru meneruskan perbuatannya karena optimis akan beruntung setelah dia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada bukti ilmiah bahwa sesuatu tersebut bisa mendatangkan malapetaka atau keberuntungan [2].Tathayyur termasuk KesyirikanKeyakinan ini kelihatannya sepele, padahal dapat menafikan tauhid serta termasuk di antara bentuk kesyirikan, dan syirik merupakan dosa terbesar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ “Barangsiapa yang mengurungkan kepentingannya karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad no. 7045) [3]Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ. ثَلاَثًا“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik.” Beliau mengucapkan hal itu sampai tiga kali. (HR. Abu Dawud) [4] Sedangkan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ مِنَ الشِّرْكِ “Thiyarah termasuk kesyirikan.” (HR. Tirmidzi) [5]Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari keyakinan merusak seperti ini.***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 12 Dzulqa’dah 1438/5 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.orCatatan kaki:[1] Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1/559, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. [2] Lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid, hal. 142, karya guru kami, Ustadz Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam hafidzahullah. [3] Syaikh Syu’aib Al-‘Arnauth menyatakan bahwa status hadits ini hasan. [4] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud no. 3910. [5] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi no. 1614.🔍 Thogut Arti, Raudhah Nabawi, Hadits Tentang Riba Dan Penjelasannya, Tulang Makanan Jin, Akibat Durhaka Pada Orang Tua


Keyakinan yang MerusakSeringkali kita jumpai seseorang yang sangat takut melanjutkan perjalanannya apabila di tengah-tengah perjalanan dia menjumpai seekor kucing menyeberang jalan. Kecemasannya itu akan semakin bertambah luar biasa apabila dia menabrak kucing tersebut sampai mati. Dia sangat diliputi ketakutan, sehingga mungkin saja dia berhenti melanjutkan perjalanannya. Atau dia baru berani melanjutkan perjalanannya setelah dia mengurus “pemakaman” kucing tersebut.Contoh yang lain adalah seseorang sangat ketakutan apabila dia melihat seekor burung gagak terbang di atas rumahnya atau bertengger di pohon dekat rumahnya. Dia pun meyakini bahwa sebentar lagi akan ada musibah yang menimpa salah seorang anggota keluarganya. Apabila mendengar suara burung hantu, maka pertanda akan ada pencuri yang masuk rumah. Inilah sedikit contoh keyakinan-keyakinan yang merusak di masyarakat kita. Mereka mengaitkan kesialan yang menimpa dan keberuntungan yang diperoleh dengan suatu peristiwa tertentu.Pengertian Tathayyur atau ThiyarahKeyakinan seperti ini dalam  agama kita disebut dengan tathayyur atau thiyarah. Dinamakan demikian karena salah satu yang dijadikan sebagai pertanda kesialan atau keberuntungan tersebut adalah burung (dalam bahasa Arab: thair). Tathayyur adalah menganggap dirinya akan ditimpa kesialan setelah melihat, mendengar, atau mengetahui (meyakini) sesuatu.Dengan melihat, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah melihat burung tertentu. Dengan mendengar, contohnya adalah seseorang yang merasa akan ditimpa sial setelah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa dia akan ditimpa kesialan. Dengan mengetahui (meyakini sesuatu), contohnya seseorang merasa sial ketika berada di hari, bulan, atau tahun tertentu. Padahal hari, bulan, atau tahun tersebut tidak dapat didengar atau dilihat [1].Namun dapat juga dikatakan tathayyur, semua hal yang menyebabkan seseorang membatalkan perbuatannya karena takut malapetaka atau justru meneruskan perbuatannya karena optimis akan beruntung setelah dia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada bukti ilmiah bahwa sesuatu tersebut bisa mendatangkan malapetaka atau keberuntungan [2].Tathayyur termasuk KesyirikanKeyakinan ini kelihatannya sepele, padahal dapat menafikan tauhid serta termasuk di antara bentuk kesyirikan, dan syirik merupakan dosa terbesar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ “Barangsiapa yang mengurungkan kepentingannya karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad no. 7045) [3]Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ. ثَلاَثًا“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik.” Beliau mengucapkan hal itu sampai tiga kali. (HR. Abu Dawud) [4] Sedangkan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطِّيَرَةُ مِنَ الشِّرْكِ “Thiyarah termasuk kesyirikan.” (HR. Tirmidzi) [5]Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari keyakinan merusak seperti ini.***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 12 Dzulqa’dah 1438/5 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.orCatatan kaki:[1] Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1/559, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. [2] Lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid, hal. 142, karya guru kami, Ustadz Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam hafidzahullah. [3] Syaikh Syu’aib Al-‘Arnauth menyatakan bahwa status hadits ini hasan. [4] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud no. 3910. [5] Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi no. 1614.🔍 Thogut Arti, Raudhah Nabawi, Hadits Tentang Riba Dan Penjelasannya, Tulang Makanan Jin, Akibat Durhaka Pada Orang Tua

10 Kiat Istiqamah (1)

Bagaimana Cara Istiqamah?Di antara perkara yang banyak ditanyakan masyarakat kepada ulama, para penuntut ilmu syar’i, dan para da’i adalah tentang masalah istiqamah (meniti jalan yang lurus), dan perkara-perkara yang dapat membantu seseorang untuk dapat tetap tegar meniti jalan Allah yang lurus (As-Shiratul Mustaqim). Sesungguhnya pembahasan istiqamah adalah pembahasan yang sangat penting, dan ajaran yang agung, layak bagi setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikannya dengan perhatian yang besar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ.“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah.’ Kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Sebagai hidangan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Fushshilat: 30-32).Istiqamah dengan meniti jalan Allah Ta’ala yang lurus, membuahkan akibat yang baik dan buah manis berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, keberuntungan yang hakiki, dan kebaikan seluruh urusan seorang hamba. Maka selayaknyalah seseorang yang menginginkan kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan di dunia dan akherat memperhatikan masalah istiqamah ini dengan sungguh-sungguh, baik dengan mempelajarinya, mengamalkan tuntutannya, maupun menjaga agar tetap istiqamah sampai meninggal dunia, dengan terus menerus hati bersandar kepada Allah Ta’ala semata.10 Kiat IstiqamahPenjelasan sepuluh kiat istiqamah ini diringkas dari bukuAsyru Qowa’id fil Istiqamah yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah. Dalam buku tersebut, sang penulis hafizhahullah memaparkan dengan indah, singkat, dan jelas tentang pengertian istiqamah, dan kiat-kiat agar seseorang mampu untuk istiqamah di dalam hidupnya. Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah yang kini telah meraih gelar profesor doktor tersebut, menyebutkan sepuluh bab tentang istiqamah. Kendati buku ini tergolong buku yang tipis (kutaib), namun dengan taufik Allah sang penulis berhasil menjelaskan masalah istiqamah dengan baik melalui 10 bab tersebut, yaitu: Istiqamah adalah anugerah dari Allah Ta’ala. Hakikat istiqamah adalah meniti jalan yang lurus (Islam). Dasar istiqamah adalah keistiqamahan hati. Istiqamah yang tertuntut adalah sesuai Sunnah, apabila tidak mampu, maka mendekatinya. Istiqamah terkait dengan ucapan, perbuatan, dan niat. Istiqamah tidak terwujud kecuali dengan ikhlas karena Allah, dan dengan pertolongan Allah, serta sesuai dengan perintah Allah. Seorang hamba, meski bagaimanapun ketinggian tingkat istiqamahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya. Buah istiqamah di dunia adalah istiqamah di atas jembatan (Ash-Shiroth) pada hari kiamat. Penghalang istiqamah adalah syubhat yang menyesatkan, atau syahwat yang menggelincirkan. Tasyabbuh (meniru) orang kafir termasuk penghalang istiqamah terbesar. [bersambung]Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Debat Dalam Islam, Rahasia Sholat Khusuk, Keutamaan Bersiwak, Perempuan Solehah, Lowongan Kerja Muslim

10 Kiat Istiqamah (1)

Bagaimana Cara Istiqamah?Di antara perkara yang banyak ditanyakan masyarakat kepada ulama, para penuntut ilmu syar’i, dan para da’i adalah tentang masalah istiqamah (meniti jalan yang lurus), dan perkara-perkara yang dapat membantu seseorang untuk dapat tetap tegar meniti jalan Allah yang lurus (As-Shiratul Mustaqim). Sesungguhnya pembahasan istiqamah adalah pembahasan yang sangat penting, dan ajaran yang agung, layak bagi setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikannya dengan perhatian yang besar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ.“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah.’ Kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Sebagai hidangan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Fushshilat: 30-32).Istiqamah dengan meniti jalan Allah Ta’ala yang lurus, membuahkan akibat yang baik dan buah manis berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, keberuntungan yang hakiki, dan kebaikan seluruh urusan seorang hamba. Maka selayaknyalah seseorang yang menginginkan kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan di dunia dan akherat memperhatikan masalah istiqamah ini dengan sungguh-sungguh, baik dengan mempelajarinya, mengamalkan tuntutannya, maupun menjaga agar tetap istiqamah sampai meninggal dunia, dengan terus menerus hati bersandar kepada Allah Ta’ala semata.10 Kiat IstiqamahPenjelasan sepuluh kiat istiqamah ini diringkas dari bukuAsyru Qowa’id fil Istiqamah yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah. Dalam buku tersebut, sang penulis hafizhahullah memaparkan dengan indah, singkat, dan jelas tentang pengertian istiqamah, dan kiat-kiat agar seseorang mampu untuk istiqamah di dalam hidupnya. Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah yang kini telah meraih gelar profesor doktor tersebut, menyebutkan sepuluh bab tentang istiqamah. Kendati buku ini tergolong buku yang tipis (kutaib), namun dengan taufik Allah sang penulis berhasil menjelaskan masalah istiqamah dengan baik melalui 10 bab tersebut, yaitu: Istiqamah adalah anugerah dari Allah Ta’ala. Hakikat istiqamah adalah meniti jalan yang lurus (Islam). Dasar istiqamah adalah keistiqamahan hati. Istiqamah yang tertuntut adalah sesuai Sunnah, apabila tidak mampu, maka mendekatinya. Istiqamah terkait dengan ucapan, perbuatan, dan niat. Istiqamah tidak terwujud kecuali dengan ikhlas karena Allah, dan dengan pertolongan Allah, serta sesuai dengan perintah Allah. Seorang hamba, meski bagaimanapun ketinggian tingkat istiqamahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya. Buah istiqamah di dunia adalah istiqamah di atas jembatan (Ash-Shiroth) pada hari kiamat. Penghalang istiqamah adalah syubhat yang menyesatkan, atau syahwat yang menggelincirkan. Tasyabbuh (meniru) orang kafir termasuk penghalang istiqamah terbesar. [bersambung]Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Debat Dalam Islam, Rahasia Sholat Khusuk, Keutamaan Bersiwak, Perempuan Solehah, Lowongan Kerja Muslim
Bagaimana Cara Istiqamah?Di antara perkara yang banyak ditanyakan masyarakat kepada ulama, para penuntut ilmu syar’i, dan para da’i adalah tentang masalah istiqamah (meniti jalan yang lurus), dan perkara-perkara yang dapat membantu seseorang untuk dapat tetap tegar meniti jalan Allah yang lurus (As-Shiratul Mustaqim). Sesungguhnya pembahasan istiqamah adalah pembahasan yang sangat penting, dan ajaran yang agung, layak bagi setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikannya dengan perhatian yang besar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ.“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah.’ Kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Sebagai hidangan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Fushshilat: 30-32).Istiqamah dengan meniti jalan Allah Ta’ala yang lurus, membuahkan akibat yang baik dan buah manis berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, keberuntungan yang hakiki, dan kebaikan seluruh urusan seorang hamba. Maka selayaknyalah seseorang yang menginginkan kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan di dunia dan akherat memperhatikan masalah istiqamah ini dengan sungguh-sungguh, baik dengan mempelajarinya, mengamalkan tuntutannya, maupun menjaga agar tetap istiqamah sampai meninggal dunia, dengan terus menerus hati bersandar kepada Allah Ta’ala semata.10 Kiat IstiqamahPenjelasan sepuluh kiat istiqamah ini diringkas dari bukuAsyru Qowa’id fil Istiqamah yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah. Dalam buku tersebut, sang penulis hafizhahullah memaparkan dengan indah, singkat, dan jelas tentang pengertian istiqamah, dan kiat-kiat agar seseorang mampu untuk istiqamah di dalam hidupnya. Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah yang kini telah meraih gelar profesor doktor tersebut, menyebutkan sepuluh bab tentang istiqamah. Kendati buku ini tergolong buku yang tipis (kutaib), namun dengan taufik Allah sang penulis berhasil menjelaskan masalah istiqamah dengan baik melalui 10 bab tersebut, yaitu: Istiqamah adalah anugerah dari Allah Ta’ala. Hakikat istiqamah adalah meniti jalan yang lurus (Islam). Dasar istiqamah adalah keistiqamahan hati. Istiqamah yang tertuntut adalah sesuai Sunnah, apabila tidak mampu, maka mendekatinya. Istiqamah terkait dengan ucapan, perbuatan, dan niat. Istiqamah tidak terwujud kecuali dengan ikhlas karena Allah, dan dengan pertolongan Allah, serta sesuai dengan perintah Allah. Seorang hamba, meski bagaimanapun ketinggian tingkat istiqamahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya. Buah istiqamah di dunia adalah istiqamah di atas jembatan (Ash-Shiroth) pada hari kiamat. Penghalang istiqamah adalah syubhat yang menyesatkan, atau syahwat yang menggelincirkan. Tasyabbuh (meniru) orang kafir termasuk penghalang istiqamah terbesar. [bersambung]Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Debat Dalam Islam, Rahasia Sholat Khusuk, Keutamaan Bersiwak, Perempuan Solehah, Lowongan Kerja Muslim


Bagaimana Cara Istiqamah?Di antara perkara yang banyak ditanyakan masyarakat kepada ulama, para penuntut ilmu syar’i, dan para da’i adalah tentang masalah istiqamah (meniti jalan yang lurus), dan perkara-perkara yang dapat membantu seseorang untuk dapat tetap tegar meniti jalan Allah yang lurus (As-Shiratul Mustaqim). Sesungguhnya pembahasan istiqamah adalah pembahasan yang sangat penting, dan ajaran yang agung, layak bagi setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikannya dengan perhatian yang besar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ.“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah.’ Kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Sebagai hidangan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Fushshilat: 30-32).Istiqamah dengan meniti jalan Allah Ta’ala yang lurus, membuahkan akibat yang baik dan buah manis berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, keberuntungan yang hakiki, dan kebaikan seluruh urusan seorang hamba. Maka selayaknyalah seseorang yang menginginkan kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan di dunia dan akherat memperhatikan masalah istiqamah ini dengan sungguh-sungguh, baik dengan mempelajarinya, mengamalkan tuntutannya, maupun menjaga agar tetap istiqamah sampai meninggal dunia, dengan terus menerus hati bersandar kepada Allah Ta’ala semata.10 Kiat IstiqamahPenjelasan sepuluh kiat istiqamah ini diringkas dari bukuAsyru Qowa’id fil Istiqamah yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah. Dalam buku tersebut, sang penulis hafizhahullah memaparkan dengan indah, singkat, dan jelas tentang pengertian istiqamah, dan kiat-kiat agar seseorang mampu untuk istiqamah di dalam hidupnya. Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah yang kini telah meraih gelar profesor doktor tersebut, menyebutkan sepuluh bab tentang istiqamah. Kendati buku ini tergolong buku yang tipis (kutaib), namun dengan taufik Allah sang penulis berhasil menjelaskan masalah istiqamah dengan baik melalui 10 bab tersebut, yaitu: Istiqamah adalah anugerah dari Allah Ta’ala. Hakikat istiqamah adalah meniti jalan yang lurus (Islam). Dasar istiqamah adalah keistiqamahan hati. Istiqamah yang tertuntut adalah sesuai Sunnah, apabila tidak mampu, maka mendekatinya. Istiqamah terkait dengan ucapan, perbuatan, dan niat. Istiqamah tidak terwujud kecuali dengan ikhlas karena Allah, dan dengan pertolongan Allah, serta sesuai dengan perintah Allah. Seorang hamba, meski bagaimanapun ketinggian tingkat istiqamahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya. Buah istiqamah di dunia adalah istiqamah di atas jembatan (Ash-Shiroth) pada hari kiamat. Penghalang istiqamah adalah syubhat yang menyesatkan, atau syahwat yang menggelincirkan. Tasyabbuh (meniru) orang kafir termasuk penghalang istiqamah terbesar. [bersambung]Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Debat Dalam Islam, Rahasia Sholat Khusuk, Keutamaan Bersiwak, Perempuan Solehah, Lowongan Kerja Muslim

Faedah Surat Yasin: Kun Fayakun

Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Allah menciptakan segala sesuatu dengan kun, maka jadilah.   Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83) “Dan tidaklah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 81-83)   Faedah dari Ayat 1- Menciptakan langit dan bumi itu lebih besar daripada menciptakan manusia yang lemah. Jika menciptakan langit saja mudah bagi Allah, apalagi menciptakan manusia. Hal ini juga yang ditegaskan dalam ayat lain, أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) “Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nazi’at: 27-28) 2- Allah itu Maha Pencipta, mampu menciptakan segala sesuatu. 3- Allah menciptakan segala apa yang ia kehendaki dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, juga Maha Mengetahui bagaimana menciptakan segala sesuatu. 4- Allah menciptakan segala sesuatu dengan kalimat “kun” (jadilah), maka jadilah sesuatu sesuai kehendak Allah. 5- Bagaimana mungkin Allah memiliki sekutu? Sedangkan Allah yang merajai segala sesuatu, juga semuanya akan kembali pada Allah dan dihisab oleh-Nya pada hari kiamat. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. hlm. 138-139. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Kun Fayakun

Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Allah menciptakan segala sesuatu dengan kun, maka jadilah.   Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83) “Dan tidaklah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 81-83)   Faedah dari Ayat 1- Menciptakan langit dan bumi itu lebih besar daripada menciptakan manusia yang lemah. Jika menciptakan langit saja mudah bagi Allah, apalagi menciptakan manusia. Hal ini juga yang ditegaskan dalam ayat lain, أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) “Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nazi’at: 27-28) 2- Allah itu Maha Pencipta, mampu menciptakan segala sesuatu. 3- Allah menciptakan segala apa yang ia kehendaki dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, juga Maha Mengetahui bagaimana menciptakan segala sesuatu. 4- Allah menciptakan segala sesuatu dengan kalimat “kun” (jadilah), maka jadilah sesuatu sesuai kehendak Allah. 5- Bagaimana mungkin Allah memiliki sekutu? Sedangkan Allah yang merajai segala sesuatu, juga semuanya akan kembali pada Allah dan dihisab oleh-Nya pada hari kiamat. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. hlm. 138-139. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin
Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Allah menciptakan segala sesuatu dengan kun, maka jadilah.   Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83) “Dan tidaklah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 81-83)   Faedah dari Ayat 1- Menciptakan langit dan bumi itu lebih besar daripada menciptakan manusia yang lemah. Jika menciptakan langit saja mudah bagi Allah, apalagi menciptakan manusia. Hal ini juga yang ditegaskan dalam ayat lain, أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) “Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nazi’at: 27-28) 2- Allah itu Maha Pencipta, mampu menciptakan segala sesuatu. 3- Allah menciptakan segala apa yang ia kehendaki dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, juga Maha Mengetahui bagaimana menciptakan segala sesuatu. 4- Allah menciptakan segala sesuatu dengan kalimat “kun” (jadilah), maka jadilah sesuatu sesuai kehendak Allah. 5- Bagaimana mungkin Allah memiliki sekutu? Sedangkan Allah yang merajai segala sesuatu, juga semuanya akan kembali pada Allah dan dihisab oleh-Nya pada hari kiamat. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. hlm. 138-139. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin


Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Allah menciptakan segala sesuatu dengan kun, maka jadilah.   Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83) “Dan tidaklah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 81-83)   Faedah dari Ayat 1- Menciptakan langit dan bumi itu lebih besar daripada menciptakan manusia yang lemah. Jika menciptakan langit saja mudah bagi Allah, apalagi menciptakan manusia. Hal ini juga yang ditegaskan dalam ayat lain, أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) “Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nazi’at: 27-28) 2- Allah itu Maha Pencipta, mampu menciptakan segala sesuatu. 3- Allah menciptakan segala apa yang ia kehendaki dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, juga Maha Mengetahui bagaimana menciptakan segala sesuatu. 4- Allah menciptakan segala sesuatu dengan kalimat “kun” (jadilah), maka jadilah sesuatu sesuai kehendak Allah. 5- Bagaimana mungkin Allah memiliki sekutu? Sedangkan Allah yang merajai segala sesuatu, juga semuanya akan kembali pada Allah dan dihisab oleh-Nya pada hari kiamat. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. hlm. 138-139. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 29 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin

Manhajus Salikin: Istijmar dan Istinja’

Kita kembali lagi kaji kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas tentang istijmar dan istinja’. Apa itu? Silakan lihat ulasannya berikut ini. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan: Jika menunaikan hajat, maka hendaklah beristijmar dengan menggunakan tiga batu atau menggunakan semisal batu asalkan bisa membersihkan tempat najis. Kemudian setelah itu beristinja’ dengan menggunakan air. Boleh juga memilih antara istijmar atau istinja’. Tidak boleh beristijmar dengan menggunakan kotoran dan tulang sebagaimana telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan sesuatu yang dimuliakan.   Penjelasan: 1- Yang dimaksud istinja’ dan istijmar adalah membersihkan kotoran. Istinja’ maknanya lebih umum yaitu membersihkan kotoran sehabis buang hajat dengan menggunakan air dan batu. Sedangkan istijmar adalah membersihkan kotoran dengan menggunakan batu saja. 2- Beristijmar dengan batu tidak boleh kurang dari tiga batu. Karena tiga batu umumnya akan lebih bersih. Namun jika batu masih belum menghilangkan kotoran, maka boleh ditambah lebih dari tiga batu hingga kotorannya bersih. Hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini, عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ. قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ Dari Salman, ia berkata bahwa ada yang bertanya padanya, “Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun dalam hal buang kotoran?” Salman menjawab, “Iya. Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar maupun air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan kurang dari tiga batu. Begitu pula kami dilarang beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang.” (HR. Muslim, no. 262) 3- Yang lebih afdhal adalah istijmar lalu istinja’. Dikarenakan istijmar dengan batu atau penggantinya menghilangkan kotoran tanpa menyentuhnya secara langsung. Lalu setelah itu air yang akan membersihkan kotoran yang tersisa. 4- Boleh memilih antara istijmar dengan batu atau istinja’ dengan air. Namun beristinja’ dengan air lebih utama karena lebih membersihkan kotoran. Alasan lainnya adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang penduduk Quba’ yang menjadi sebab turunnya ayat berikut, فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ “Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108). Dahulu mereka terbiasa beristinja’ dengan air lantas turunlah ayat ini.” (HR. Tirmidzi, no. 3100; Abu Daud, no. 44; Ibnu Majah, no. 355. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 5- Tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang karena dilarang dalam hadits Salman di atas. 6- Boleh mengganti batu untuk membersihkan kotoran saat buang hajat dengan yang lainnya asalkan memenuhi tiga syarat: (a) bendanya suci, (b) bisa membersihkan atau mengangkat kotoran, (c) bukan sesuatu yang berharga (dimuliakan) seperti istinja’ dengan makanan atau dengan ekor hewan. Sehingga dari syarat sini dapat disimpulkan bahwa tisu toilet boleh digunakan untuk beristinja’. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab buang hajat manhajus salikin

Manhajus Salikin: Istijmar dan Istinja’

Kita kembali lagi kaji kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas tentang istijmar dan istinja’. Apa itu? Silakan lihat ulasannya berikut ini. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan: Jika menunaikan hajat, maka hendaklah beristijmar dengan menggunakan tiga batu atau menggunakan semisal batu asalkan bisa membersihkan tempat najis. Kemudian setelah itu beristinja’ dengan menggunakan air. Boleh juga memilih antara istijmar atau istinja’. Tidak boleh beristijmar dengan menggunakan kotoran dan tulang sebagaimana telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan sesuatu yang dimuliakan.   Penjelasan: 1- Yang dimaksud istinja’ dan istijmar adalah membersihkan kotoran. Istinja’ maknanya lebih umum yaitu membersihkan kotoran sehabis buang hajat dengan menggunakan air dan batu. Sedangkan istijmar adalah membersihkan kotoran dengan menggunakan batu saja. 2- Beristijmar dengan batu tidak boleh kurang dari tiga batu. Karena tiga batu umumnya akan lebih bersih. Namun jika batu masih belum menghilangkan kotoran, maka boleh ditambah lebih dari tiga batu hingga kotorannya bersih. Hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini, عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ. قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ Dari Salman, ia berkata bahwa ada yang bertanya padanya, “Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun dalam hal buang kotoran?” Salman menjawab, “Iya. Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar maupun air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan kurang dari tiga batu. Begitu pula kami dilarang beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang.” (HR. Muslim, no. 262) 3- Yang lebih afdhal adalah istijmar lalu istinja’. Dikarenakan istijmar dengan batu atau penggantinya menghilangkan kotoran tanpa menyentuhnya secara langsung. Lalu setelah itu air yang akan membersihkan kotoran yang tersisa. 4- Boleh memilih antara istijmar dengan batu atau istinja’ dengan air. Namun beristinja’ dengan air lebih utama karena lebih membersihkan kotoran. Alasan lainnya adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang penduduk Quba’ yang menjadi sebab turunnya ayat berikut, فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ “Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108). Dahulu mereka terbiasa beristinja’ dengan air lantas turunlah ayat ini.” (HR. Tirmidzi, no. 3100; Abu Daud, no. 44; Ibnu Majah, no. 355. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 5- Tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang karena dilarang dalam hadits Salman di atas. 6- Boleh mengganti batu untuk membersihkan kotoran saat buang hajat dengan yang lainnya asalkan memenuhi tiga syarat: (a) bendanya suci, (b) bisa membersihkan atau mengangkat kotoran, (c) bukan sesuatu yang berharga (dimuliakan) seperti istinja’ dengan makanan atau dengan ekor hewan. Sehingga dari syarat sini dapat disimpulkan bahwa tisu toilet boleh digunakan untuk beristinja’. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab buang hajat manhajus salikin
Kita kembali lagi kaji kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas tentang istijmar dan istinja’. Apa itu? Silakan lihat ulasannya berikut ini. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan: Jika menunaikan hajat, maka hendaklah beristijmar dengan menggunakan tiga batu atau menggunakan semisal batu asalkan bisa membersihkan tempat najis. Kemudian setelah itu beristinja’ dengan menggunakan air. Boleh juga memilih antara istijmar atau istinja’. Tidak boleh beristijmar dengan menggunakan kotoran dan tulang sebagaimana telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan sesuatu yang dimuliakan.   Penjelasan: 1- Yang dimaksud istinja’ dan istijmar adalah membersihkan kotoran. Istinja’ maknanya lebih umum yaitu membersihkan kotoran sehabis buang hajat dengan menggunakan air dan batu. Sedangkan istijmar adalah membersihkan kotoran dengan menggunakan batu saja. 2- Beristijmar dengan batu tidak boleh kurang dari tiga batu. Karena tiga batu umumnya akan lebih bersih. Namun jika batu masih belum menghilangkan kotoran, maka boleh ditambah lebih dari tiga batu hingga kotorannya bersih. Hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini, عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ. قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ Dari Salman, ia berkata bahwa ada yang bertanya padanya, “Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun dalam hal buang kotoran?” Salman menjawab, “Iya. Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar maupun air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan kurang dari tiga batu. Begitu pula kami dilarang beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang.” (HR. Muslim, no. 262) 3- Yang lebih afdhal adalah istijmar lalu istinja’. Dikarenakan istijmar dengan batu atau penggantinya menghilangkan kotoran tanpa menyentuhnya secara langsung. Lalu setelah itu air yang akan membersihkan kotoran yang tersisa. 4- Boleh memilih antara istijmar dengan batu atau istinja’ dengan air. Namun beristinja’ dengan air lebih utama karena lebih membersihkan kotoran. Alasan lainnya adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang penduduk Quba’ yang menjadi sebab turunnya ayat berikut, فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ “Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108). Dahulu mereka terbiasa beristinja’ dengan air lantas turunlah ayat ini.” (HR. Tirmidzi, no. 3100; Abu Daud, no. 44; Ibnu Majah, no. 355. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 5- Tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang karena dilarang dalam hadits Salman di atas. 6- Boleh mengganti batu untuk membersihkan kotoran saat buang hajat dengan yang lainnya asalkan memenuhi tiga syarat: (a) bendanya suci, (b) bisa membersihkan atau mengangkat kotoran, (c) bukan sesuatu yang berharga (dimuliakan) seperti istinja’ dengan makanan atau dengan ekor hewan. Sehingga dari syarat sini dapat disimpulkan bahwa tisu toilet boleh digunakan untuk beristinja’. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab buang hajat manhajus salikin


Kita kembali lagi kaji kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas tentang istijmar dan istinja’. Apa itu? Silakan lihat ulasannya berikut ini. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan: Jika menunaikan hajat, maka hendaklah beristijmar dengan menggunakan tiga batu atau menggunakan semisal batu asalkan bisa membersihkan tempat najis. Kemudian setelah itu beristinja’ dengan menggunakan air. Boleh juga memilih antara istijmar atau istinja’. Tidak boleh beristijmar dengan menggunakan kotoran dan tulang sebagaimana telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan sesuatu yang dimuliakan.   Penjelasan: 1- Yang dimaksud istinja’ dan istijmar adalah membersihkan kotoran. Istinja’ maknanya lebih umum yaitu membersihkan kotoran sehabis buang hajat dengan menggunakan air dan batu. Sedangkan istijmar adalah membersihkan kotoran dengan menggunakan batu saja. 2- Beristijmar dengan batu tidak boleh kurang dari tiga batu. Karena tiga batu umumnya akan lebih bersih. Namun jika batu masih belum menghilangkan kotoran, maka boleh ditambah lebih dari tiga batu hingga kotorannya bersih. Hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini, عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ. قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ Dari Salman, ia berkata bahwa ada yang bertanya padanya, “Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun dalam hal buang kotoran?” Salman menjawab, “Iya. Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar maupun air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan kurang dari tiga batu. Begitu pula kami dilarang beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang.” (HR. Muslim, no. 262) 3- Yang lebih afdhal adalah istijmar lalu istinja’. Dikarenakan istijmar dengan batu atau penggantinya menghilangkan kotoran tanpa menyentuhnya secara langsung. Lalu setelah itu air yang akan membersihkan kotoran yang tersisa. 4- Boleh memilih antara istijmar dengan batu atau istinja’ dengan air. Namun beristinja’ dengan air lebih utama karena lebih membersihkan kotoran. Alasan lainnya adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang penduduk Quba’ yang menjadi sebab turunnya ayat berikut, فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ “Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108). Dahulu mereka terbiasa beristinja’ dengan air lantas turunlah ayat ini.” (HR. Tirmidzi, no. 3100; Abu Daud, no. 44; Ibnu Majah, no. 355. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 5- Tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan kotoran dan tulang karena dilarang dalam hadits Salman di atas. 6- Boleh mengganti batu untuk membersihkan kotoran saat buang hajat dengan yang lainnya asalkan memenuhi tiga syarat: (a) bendanya suci, (b) bisa membersihkan atau mengangkat kotoran, (c) bukan sesuatu yang berharga (dimuliakan) seperti istinja’ dengan makanan atau dengan ekor hewan. Sehingga dari syarat sini dapat disimpulkan bahwa tisu toilet boleh digunakan untuk beristinja’. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab buang hajat manhajus salikin

Faedah Surat An-Nuur #01: Hukuman Bagi Pezina dan Peselingkuh

Saat ini Rumaysho.Com akan mengkaji surah An-Nuur secara rutin. Bahasan perdana ini akan mengulas surah An-Nuur ayat pertama dan kedua yang menjelaskan tentang hukum bagi pezina dan peselingkuh.   Ayat 1-2 سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آَيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (1) الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) “(Ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 1-2)   Faedah Ayat #01 1- Nama surah An-Nuur diambil dari ayat 35, اللهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35) 2- Tidak ada satu hadits pun yang shahih yang menyebutkan keutamaan surah An-Nuur secara khusus. 3- Disebutkan bahwa surah ini diturunkan, menunjukkan bahwa surah ini berasal dari sisi Allah. 4- Kalau Al-Qur’an disandarkan pada sisi Allah maka menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah), bukanlah makhluk. 5- Kalau Al-Qur’an dan surah itu diturunkan, menunjukkan bahwa Allah yang menurunkannya menetap tinggi di atas. Berarti ayat ini menunjukkan bahwa Allah bukan di mana-mana. Namun ketinggian Allah ini tidaklah menampik kalau Allah itu dekat, Allah itu bersama hamba-Nya dan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لاَ يَخْلُوْ مِنْهُ شَيْءٌ “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 140) Murid Imam Syafi’i yang terkenal cerdas yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui (meyakini) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” (Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 201). Imam Al-Muzani rahimahullah juga menyatakan, “Allah itu ‘Aali (Mahatinggi) di atas ‘Arsy-nya. Namun Allah itu dekat pada makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.” (Syarh As-Sunnah, Imam Al-Muzani, hlm. 81) 6- Imam Mujahid dan Qatadah rahimahumallah menyatakan bahwa ayat “surah ini Kami turunkan”, maksudnya adalah surah ini berisi penjelasan halal, haram, perintah, larangan, hingga masalah hukum hudud (hadd). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:486). Hukuman hadd adalah hukuman badaniyah dengan cara dan kadar tertentu (menurut syari’at), dikenakan karena hak Allah Ta’ala yang dilanggar. (Lihat Minhah Al-‘Allam, 8:373.) 7- Dalam surah An-Nuur ini disebutkan hukum yang hendaknya diikuti. Surah ini juga diturunkan sebagai penjelas agar manusia bisa mengambil pelajaran.   Faedah Ayat #02 8- Wanita pezina dan laki-laki sama-sama didera dengan 100 kali cambukan. Ini berlaku bagi pezina yang masih bujang. Namun bagi yang telah menikah, maka dikenai hukuman rajam sebagaimana kisah wanita Juhainah dalam hadits berikut ini. Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i, ia berkata, أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَىَّ فَدَعَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلِيَّهَا فَقَالَ « أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا ». فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّى عَلَيْهَا يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ « لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى » “Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapatkan hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman hadd atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut, lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).” Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil, lalu diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen.). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Wanita itu pun meninggal dunia, lantas beliau pun menyolatkannya. Ketika itu ‘Umar berkomentar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?” (HR. Muslim, no. 1696). 9- Ditambahkan dalam hadits selain dikenakan 100 kali cambukan,  nantinya akan diasingkan. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ “Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (Apabila berzina) jejaka dengan gadis (maka haddnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadd-nya) dicambuk seratus kali dan dirajam.” (HR. Muslim, no. 1690) Dalam hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata pada seseorang yang anaknya telah berzina, وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ “Bagi anakmu yang telah berzina, nantinya akan dikenakan hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun.”  (HR. Bukhari, no. 2695 dan Muslim, no. 1697) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan hukuman cambuk dan mengasingkan pelaku zina; Abu Bakr pun demikian. (HR. Tirmidzi, no. 1438. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Mengenai diasingkan di sini, diterangkan oleh ulama Syafi’iyah yaitu diasingkan dari negerinya ke tempat lain sejauh jarak safar dan diasingkan selama setahun setelah menjalani hukuman cambuk terlebih dahulu. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 2:180.) 10- Tidak boleh berbelas kasih dalam menerapkan hukuman hadd, misalnya kasihan karena yang dihukum adalah sudah sepuh atau kasihan karena hukumannya terlalu berat. Padahal hikmah dijatuhkan hukuman hadd di antaranya adalah sebagai penebus dosa (kafarat). Dari ‘Abdullah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan dalam suatu majelis, وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ “Barang siapa terkena hukuman hadd, lantas ia dikenakan hukuman, maka itu adalah kafarat untuknya. Sedangkan orang yang terkena hukuman hadd lantas Allah menutupinya, maka urusannya diserahkan pada Allah. Jika mau, Allah akan memaafkannya. Jika mau, Allah akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 1709) 11- Hukuman hadd diterapkan kalau memang yang berbuat zina berterus terang atau terdapat saksi. 12- Dalam ayat disebut “fajliduu”, hendaklah dicambuk, berarti yang menerapkan hukuman hadd adalah penguasa atau majikan dari hamba sahaya. Sehingga eksekusi hadd bukan jadi wewenang seorang kyai atau ustadz. 13- Apakah seseorang harus melaporkan tindakan zinanya pada penguasa sehingga mendapat hukuman hadd atau ia sebaiknya menyembunyikannya sembari bertaubat? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa dalam hal ini ada rincian. Jika seseorang yang berzina dapat melakukan taubat nashuha (taubat yang tulus), ia betul-betul menyesali dosanya dan bertekad tidak akan melakukannya lagi, maka lebih baik ia tidak pergi pada penguasa untuk melaporkan tindakan zina yang telah ia lakukan dan ia melakukan taubat secara sembunyi-sembunyi. Moga Allah menerima taubatnya. Jika seseorang sulit melakukan taubat nashuha, ia takut terjerumus lagi dalam dosa yang sama, maka lebih baik ia mengakui perbuatan zinanya dengan melapor pada penguasa atau pada qodhi (hakim), lantas ia dikenai hukuman had. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:169) Kalau Allah tutupi dosa tersebut, baiknya ditutupi dan bertaubat dengan taubat nashuha (yang tulus). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat atau shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.) 14- Kenapa pezina perempuan disebut lebih dahulu barulah pezina laki-laki? Para ulama menyebutkan: Wanita yang sering tabarruj (mempercantik diri dengan dandan menor, -pen.) sehingga membangkitkan syahwat. Wanita yang juga mempersilakan laki-laki untuk menyetubuhinya. Namun jika terjadi paksaan, tidak ada hukuman hadd. Syahwat wanita itu lebih tinggi dibanding pria, itu umumnya. Wanita memang dasarnya pemalu. Namun ketika terjadi perzinaan, hilanglah rasa malu tersebut dan syahwatnya begitu tinggi. Demikian diutarakan oleh Imam Al-Qurthubi. Di zaman ini dapat dibuktikan bahwa perempuan yang jadi penyebab terbesar tersebarnya perzinaan. Sampai-sampai pelacur untuk saat ini mudah menawarkan diri di rumah-rumah. Kerugian terbesar dari perzinaan dan perselingkuhan diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Ketika sudah terjadi, rasa malu karena perut bunting tentu sulit disembunyikan oleh kaum hawa. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 11.) 15- Hendaklah hukuman hadd bagi pezina disaksikan oleh sekelompok orang (ada ulama yang berpendapat empat orang sebagaimana saksi dalam zina, ada pula yang mengatakan tiga orang). Di antara hikmah perlu disaksikan sekelompok orang ketika eksekusi hadd adalah: supaya yang lainnya mendapatkan pelajaran dan takut berbuat zina, supaya orang beriman terdorong untuk bertaubat dan memperbanyak istighfar, supaya adanya syari’at dan cara eksekusi hadd diketahui oleh kaum muslimin. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 29.) Semoga bermanfaat, hanya Allah beri taufik dan hidayah.   Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur. Cetakan kedua, tahun 1423 H. Syaikh Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Dr. Sa’ad Ad-Din bin Muhammad Al-Kubi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Minhah Al-‘Allam Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mukhtashar Al-‘Uluw li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar. Cetakan kedua, tahun 1412 H. Imam Adz-Dzahabi. Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Al-Imam Al-Muzani. Tahqiq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Darul Minhaj. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathon. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Ibnu ‘Utsaimin. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur peselingkuh pezina selingkuh surah an nuur surat an nuur zina

Faedah Surat An-Nuur #01: Hukuman Bagi Pezina dan Peselingkuh

Saat ini Rumaysho.Com akan mengkaji surah An-Nuur secara rutin. Bahasan perdana ini akan mengulas surah An-Nuur ayat pertama dan kedua yang menjelaskan tentang hukum bagi pezina dan peselingkuh.   Ayat 1-2 سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آَيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (1) الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) “(Ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 1-2)   Faedah Ayat #01 1- Nama surah An-Nuur diambil dari ayat 35, اللهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35) 2- Tidak ada satu hadits pun yang shahih yang menyebutkan keutamaan surah An-Nuur secara khusus. 3- Disebutkan bahwa surah ini diturunkan, menunjukkan bahwa surah ini berasal dari sisi Allah. 4- Kalau Al-Qur’an disandarkan pada sisi Allah maka menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah), bukanlah makhluk. 5- Kalau Al-Qur’an dan surah itu diturunkan, menunjukkan bahwa Allah yang menurunkannya menetap tinggi di atas. Berarti ayat ini menunjukkan bahwa Allah bukan di mana-mana. Namun ketinggian Allah ini tidaklah menampik kalau Allah itu dekat, Allah itu bersama hamba-Nya dan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لاَ يَخْلُوْ مِنْهُ شَيْءٌ “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 140) Murid Imam Syafi’i yang terkenal cerdas yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui (meyakini) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” (Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 201). Imam Al-Muzani rahimahullah juga menyatakan, “Allah itu ‘Aali (Mahatinggi) di atas ‘Arsy-nya. Namun Allah itu dekat pada makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.” (Syarh As-Sunnah, Imam Al-Muzani, hlm. 81) 6- Imam Mujahid dan Qatadah rahimahumallah menyatakan bahwa ayat “surah ini Kami turunkan”, maksudnya adalah surah ini berisi penjelasan halal, haram, perintah, larangan, hingga masalah hukum hudud (hadd). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:486). Hukuman hadd adalah hukuman badaniyah dengan cara dan kadar tertentu (menurut syari’at), dikenakan karena hak Allah Ta’ala yang dilanggar. (Lihat Minhah Al-‘Allam, 8:373.) 7- Dalam surah An-Nuur ini disebutkan hukum yang hendaknya diikuti. Surah ini juga diturunkan sebagai penjelas agar manusia bisa mengambil pelajaran.   Faedah Ayat #02 8- Wanita pezina dan laki-laki sama-sama didera dengan 100 kali cambukan. Ini berlaku bagi pezina yang masih bujang. Namun bagi yang telah menikah, maka dikenai hukuman rajam sebagaimana kisah wanita Juhainah dalam hadits berikut ini. Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i, ia berkata, أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَىَّ فَدَعَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلِيَّهَا فَقَالَ « أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا ». فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّى عَلَيْهَا يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ « لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى » “Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapatkan hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman hadd atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut, lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).” Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil, lalu diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen.). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Wanita itu pun meninggal dunia, lantas beliau pun menyolatkannya. Ketika itu ‘Umar berkomentar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?” (HR. Muslim, no. 1696). 9- Ditambahkan dalam hadits selain dikenakan 100 kali cambukan,  nantinya akan diasingkan. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ “Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (Apabila berzina) jejaka dengan gadis (maka haddnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadd-nya) dicambuk seratus kali dan dirajam.” (HR. Muslim, no. 1690) Dalam hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata pada seseorang yang anaknya telah berzina, وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ “Bagi anakmu yang telah berzina, nantinya akan dikenakan hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun.”  (HR. Bukhari, no. 2695 dan Muslim, no. 1697) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan hukuman cambuk dan mengasingkan pelaku zina; Abu Bakr pun demikian. (HR. Tirmidzi, no. 1438. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Mengenai diasingkan di sini, diterangkan oleh ulama Syafi’iyah yaitu diasingkan dari negerinya ke tempat lain sejauh jarak safar dan diasingkan selama setahun setelah menjalani hukuman cambuk terlebih dahulu. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 2:180.) 10- Tidak boleh berbelas kasih dalam menerapkan hukuman hadd, misalnya kasihan karena yang dihukum adalah sudah sepuh atau kasihan karena hukumannya terlalu berat. Padahal hikmah dijatuhkan hukuman hadd di antaranya adalah sebagai penebus dosa (kafarat). Dari ‘Abdullah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan dalam suatu majelis, وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ “Barang siapa terkena hukuman hadd, lantas ia dikenakan hukuman, maka itu adalah kafarat untuknya. Sedangkan orang yang terkena hukuman hadd lantas Allah menutupinya, maka urusannya diserahkan pada Allah. Jika mau, Allah akan memaafkannya. Jika mau, Allah akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 1709) 11- Hukuman hadd diterapkan kalau memang yang berbuat zina berterus terang atau terdapat saksi. 12- Dalam ayat disebut “fajliduu”, hendaklah dicambuk, berarti yang menerapkan hukuman hadd adalah penguasa atau majikan dari hamba sahaya. Sehingga eksekusi hadd bukan jadi wewenang seorang kyai atau ustadz. 13- Apakah seseorang harus melaporkan tindakan zinanya pada penguasa sehingga mendapat hukuman hadd atau ia sebaiknya menyembunyikannya sembari bertaubat? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa dalam hal ini ada rincian. Jika seseorang yang berzina dapat melakukan taubat nashuha (taubat yang tulus), ia betul-betul menyesali dosanya dan bertekad tidak akan melakukannya lagi, maka lebih baik ia tidak pergi pada penguasa untuk melaporkan tindakan zina yang telah ia lakukan dan ia melakukan taubat secara sembunyi-sembunyi. Moga Allah menerima taubatnya. Jika seseorang sulit melakukan taubat nashuha, ia takut terjerumus lagi dalam dosa yang sama, maka lebih baik ia mengakui perbuatan zinanya dengan melapor pada penguasa atau pada qodhi (hakim), lantas ia dikenai hukuman had. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:169) Kalau Allah tutupi dosa tersebut, baiknya ditutupi dan bertaubat dengan taubat nashuha (yang tulus). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat atau shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.) 14- Kenapa pezina perempuan disebut lebih dahulu barulah pezina laki-laki? Para ulama menyebutkan: Wanita yang sering tabarruj (mempercantik diri dengan dandan menor, -pen.) sehingga membangkitkan syahwat. Wanita yang juga mempersilakan laki-laki untuk menyetubuhinya. Namun jika terjadi paksaan, tidak ada hukuman hadd. Syahwat wanita itu lebih tinggi dibanding pria, itu umumnya. Wanita memang dasarnya pemalu. Namun ketika terjadi perzinaan, hilanglah rasa malu tersebut dan syahwatnya begitu tinggi. Demikian diutarakan oleh Imam Al-Qurthubi. Di zaman ini dapat dibuktikan bahwa perempuan yang jadi penyebab terbesar tersebarnya perzinaan. Sampai-sampai pelacur untuk saat ini mudah menawarkan diri di rumah-rumah. Kerugian terbesar dari perzinaan dan perselingkuhan diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Ketika sudah terjadi, rasa malu karena perut bunting tentu sulit disembunyikan oleh kaum hawa. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 11.) 15- Hendaklah hukuman hadd bagi pezina disaksikan oleh sekelompok orang (ada ulama yang berpendapat empat orang sebagaimana saksi dalam zina, ada pula yang mengatakan tiga orang). Di antara hikmah perlu disaksikan sekelompok orang ketika eksekusi hadd adalah: supaya yang lainnya mendapatkan pelajaran dan takut berbuat zina, supaya orang beriman terdorong untuk bertaubat dan memperbanyak istighfar, supaya adanya syari’at dan cara eksekusi hadd diketahui oleh kaum muslimin. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 29.) Semoga bermanfaat, hanya Allah beri taufik dan hidayah.   Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur. Cetakan kedua, tahun 1423 H. Syaikh Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Dr. Sa’ad Ad-Din bin Muhammad Al-Kubi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Minhah Al-‘Allam Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mukhtashar Al-‘Uluw li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar. Cetakan kedua, tahun 1412 H. Imam Adz-Dzahabi. Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Al-Imam Al-Muzani. Tahqiq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Darul Minhaj. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathon. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Ibnu ‘Utsaimin. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur peselingkuh pezina selingkuh surah an nuur surat an nuur zina
Saat ini Rumaysho.Com akan mengkaji surah An-Nuur secara rutin. Bahasan perdana ini akan mengulas surah An-Nuur ayat pertama dan kedua yang menjelaskan tentang hukum bagi pezina dan peselingkuh.   Ayat 1-2 سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آَيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (1) الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) “(Ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 1-2)   Faedah Ayat #01 1- Nama surah An-Nuur diambil dari ayat 35, اللهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35) 2- Tidak ada satu hadits pun yang shahih yang menyebutkan keutamaan surah An-Nuur secara khusus. 3- Disebutkan bahwa surah ini diturunkan, menunjukkan bahwa surah ini berasal dari sisi Allah. 4- Kalau Al-Qur’an disandarkan pada sisi Allah maka menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah), bukanlah makhluk. 5- Kalau Al-Qur’an dan surah itu diturunkan, menunjukkan bahwa Allah yang menurunkannya menetap tinggi di atas. Berarti ayat ini menunjukkan bahwa Allah bukan di mana-mana. Namun ketinggian Allah ini tidaklah menampik kalau Allah itu dekat, Allah itu bersama hamba-Nya dan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لاَ يَخْلُوْ مِنْهُ شَيْءٌ “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 140) Murid Imam Syafi’i yang terkenal cerdas yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui (meyakini) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” (Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 201). Imam Al-Muzani rahimahullah juga menyatakan, “Allah itu ‘Aali (Mahatinggi) di atas ‘Arsy-nya. Namun Allah itu dekat pada makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.” (Syarh As-Sunnah, Imam Al-Muzani, hlm. 81) 6- Imam Mujahid dan Qatadah rahimahumallah menyatakan bahwa ayat “surah ini Kami turunkan”, maksudnya adalah surah ini berisi penjelasan halal, haram, perintah, larangan, hingga masalah hukum hudud (hadd). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:486). Hukuman hadd adalah hukuman badaniyah dengan cara dan kadar tertentu (menurut syari’at), dikenakan karena hak Allah Ta’ala yang dilanggar. (Lihat Minhah Al-‘Allam, 8:373.) 7- Dalam surah An-Nuur ini disebutkan hukum yang hendaknya diikuti. Surah ini juga diturunkan sebagai penjelas agar manusia bisa mengambil pelajaran.   Faedah Ayat #02 8- Wanita pezina dan laki-laki sama-sama didera dengan 100 kali cambukan. Ini berlaku bagi pezina yang masih bujang. Namun bagi yang telah menikah, maka dikenai hukuman rajam sebagaimana kisah wanita Juhainah dalam hadits berikut ini. Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i, ia berkata, أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَىَّ فَدَعَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلِيَّهَا فَقَالَ « أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا ». فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّى عَلَيْهَا يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ « لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى » “Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapatkan hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman hadd atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut, lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).” Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil, lalu diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen.). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Wanita itu pun meninggal dunia, lantas beliau pun menyolatkannya. Ketika itu ‘Umar berkomentar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?” (HR. Muslim, no. 1696). 9- Ditambahkan dalam hadits selain dikenakan 100 kali cambukan,  nantinya akan diasingkan. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ “Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (Apabila berzina) jejaka dengan gadis (maka haddnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadd-nya) dicambuk seratus kali dan dirajam.” (HR. Muslim, no. 1690) Dalam hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata pada seseorang yang anaknya telah berzina, وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ “Bagi anakmu yang telah berzina, nantinya akan dikenakan hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun.”  (HR. Bukhari, no. 2695 dan Muslim, no. 1697) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan hukuman cambuk dan mengasingkan pelaku zina; Abu Bakr pun demikian. (HR. Tirmidzi, no. 1438. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Mengenai diasingkan di sini, diterangkan oleh ulama Syafi’iyah yaitu diasingkan dari negerinya ke tempat lain sejauh jarak safar dan diasingkan selama setahun setelah menjalani hukuman cambuk terlebih dahulu. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 2:180.) 10- Tidak boleh berbelas kasih dalam menerapkan hukuman hadd, misalnya kasihan karena yang dihukum adalah sudah sepuh atau kasihan karena hukumannya terlalu berat. Padahal hikmah dijatuhkan hukuman hadd di antaranya adalah sebagai penebus dosa (kafarat). Dari ‘Abdullah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan dalam suatu majelis, وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ “Barang siapa terkena hukuman hadd, lantas ia dikenakan hukuman, maka itu adalah kafarat untuknya. Sedangkan orang yang terkena hukuman hadd lantas Allah menutupinya, maka urusannya diserahkan pada Allah. Jika mau, Allah akan memaafkannya. Jika mau, Allah akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 1709) 11- Hukuman hadd diterapkan kalau memang yang berbuat zina berterus terang atau terdapat saksi. 12- Dalam ayat disebut “fajliduu”, hendaklah dicambuk, berarti yang menerapkan hukuman hadd adalah penguasa atau majikan dari hamba sahaya. Sehingga eksekusi hadd bukan jadi wewenang seorang kyai atau ustadz. 13- Apakah seseorang harus melaporkan tindakan zinanya pada penguasa sehingga mendapat hukuman hadd atau ia sebaiknya menyembunyikannya sembari bertaubat? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa dalam hal ini ada rincian. Jika seseorang yang berzina dapat melakukan taubat nashuha (taubat yang tulus), ia betul-betul menyesali dosanya dan bertekad tidak akan melakukannya lagi, maka lebih baik ia tidak pergi pada penguasa untuk melaporkan tindakan zina yang telah ia lakukan dan ia melakukan taubat secara sembunyi-sembunyi. Moga Allah menerima taubatnya. Jika seseorang sulit melakukan taubat nashuha, ia takut terjerumus lagi dalam dosa yang sama, maka lebih baik ia mengakui perbuatan zinanya dengan melapor pada penguasa atau pada qodhi (hakim), lantas ia dikenai hukuman had. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:169) Kalau Allah tutupi dosa tersebut, baiknya ditutupi dan bertaubat dengan taubat nashuha (yang tulus). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat atau shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.) 14- Kenapa pezina perempuan disebut lebih dahulu barulah pezina laki-laki? Para ulama menyebutkan: Wanita yang sering tabarruj (mempercantik diri dengan dandan menor, -pen.) sehingga membangkitkan syahwat. Wanita yang juga mempersilakan laki-laki untuk menyetubuhinya. Namun jika terjadi paksaan, tidak ada hukuman hadd. Syahwat wanita itu lebih tinggi dibanding pria, itu umumnya. Wanita memang dasarnya pemalu. Namun ketika terjadi perzinaan, hilanglah rasa malu tersebut dan syahwatnya begitu tinggi. Demikian diutarakan oleh Imam Al-Qurthubi. Di zaman ini dapat dibuktikan bahwa perempuan yang jadi penyebab terbesar tersebarnya perzinaan. Sampai-sampai pelacur untuk saat ini mudah menawarkan diri di rumah-rumah. Kerugian terbesar dari perzinaan dan perselingkuhan diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Ketika sudah terjadi, rasa malu karena perut bunting tentu sulit disembunyikan oleh kaum hawa. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 11.) 15- Hendaklah hukuman hadd bagi pezina disaksikan oleh sekelompok orang (ada ulama yang berpendapat empat orang sebagaimana saksi dalam zina, ada pula yang mengatakan tiga orang). Di antara hikmah perlu disaksikan sekelompok orang ketika eksekusi hadd adalah: supaya yang lainnya mendapatkan pelajaran dan takut berbuat zina, supaya orang beriman terdorong untuk bertaubat dan memperbanyak istighfar, supaya adanya syari’at dan cara eksekusi hadd diketahui oleh kaum muslimin. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 29.) Semoga bermanfaat, hanya Allah beri taufik dan hidayah.   Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur. Cetakan kedua, tahun 1423 H. Syaikh Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Dr. Sa’ad Ad-Din bin Muhammad Al-Kubi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Minhah Al-‘Allam Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mukhtashar Al-‘Uluw li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar. Cetakan kedua, tahun 1412 H. Imam Adz-Dzahabi. Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Al-Imam Al-Muzani. Tahqiq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Darul Minhaj. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathon. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Ibnu ‘Utsaimin. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur peselingkuh pezina selingkuh surah an nuur surat an nuur zina


Saat ini Rumaysho.Com akan mengkaji surah An-Nuur secara rutin. Bahasan perdana ini akan mengulas surah An-Nuur ayat pertama dan kedua yang menjelaskan tentang hukum bagi pezina dan peselingkuh.   Ayat 1-2 سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آَيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (1) الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) “(Ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 1-2)   Faedah Ayat #01 1- Nama surah An-Nuur diambil dari ayat 35, اللهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35) 2- Tidak ada satu hadits pun yang shahih yang menyebutkan keutamaan surah An-Nuur secara khusus. 3- Disebutkan bahwa surah ini diturunkan, menunjukkan bahwa surah ini berasal dari sisi Allah. 4- Kalau Al-Qur’an disandarkan pada sisi Allah maka menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah), bukanlah makhluk. 5- Kalau Al-Qur’an dan surah itu diturunkan, menunjukkan bahwa Allah yang menurunkannya menetap tinggi di atas. Berarti ayat ini menunjukkan bahwa Allah bukan di mana-mana. Namun ketinggian Allah ini tidaklah menampik kalau Allah itu dekat, Allah itu bersama hamba-Nya dan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لاَ يَخْلُوْ مِنْهُ شَيْءٌ “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 140) Murid Imam Syafi’i yang terkenal cerdas yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui (meyakini) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” (Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 201). Imam Al-Muzani rahimahullah juga menyatakan, “Allah itu ‘Aali (Mahatinggi) di atas ‘Arsy-nya. Namun Allah itu dekat pada makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.” (Syarh As-Sunnah, Imam Al-Muzani, hlm. 81) 6- Imam Mujahid dan Qatadah rahimahumallah menyatakan bahwa ayat “surah ini Kami turunkan”, maksudnya adalah surah ini berisi penjelasan halal, haram, perintah, larangan, hingga masalah hukum hudud (hadd). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:486). Hukuman hadd adalah hukuman badaniyah dengan cara dan kadar tertentu (menurut syari’at), dikenakan karena hak Allah Ta’ala yang dilanggar. (Lihat Minhah Al-‘Allam, 8:373.) 7- Dalam surah An-Nuur ini disebutkan hukum yang hendaknya diikuti. Surah ini juga diturunkan sebagai penjelas agar manusia bisa mengambil pelajaran.   Faedah Ayat #02 8- Wanita pezina dan laki-laki sama-sama didera dengan 100 kali cambukan. Ini berlaku bagi pezina yang masih bujang. Namun bagi yang telah menikah, maka dikenai hukuman rajam sebagaimana kisah wanita Juhainah dalam hadits berikut ini. Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i, ia berkata, أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَىَّ فَدَعَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلِيَّهَا فَقَالَ « أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا ». فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّى عَلَيْهَا يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ « لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى » “Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapatkan hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman hadd atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut, lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).” Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil, lalu diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen.). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Wanita itu pun meninggal dunia, lantas beliau pun menyolatkannya. Ketika itu ‘Umar berkomentar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?” (HR. Muslim, no. 1696). 9- Ditambahkan dalam hadits selain dikenakan 100 kali cambukan,  nantinya akan diasingkan. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ “Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (Apabila berzina) jejaka dengan gadis (maka haddnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadd-nya) dicambuk seratus kali dan dirajam.” (HR. Muslim, no. 1690) Dalam hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata pada seseorang yang anaknya telah berzina, وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ “Bagi anakmu yang telah berzina, nantinya akan dikenakan hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun.”  (HR. Bukhari, no. 2695 dan Muslim, no. 1697) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan hukuman cambuk dan mengasingkan pelaku zina; Abu Bakr pun demikian. (HR. Tirmidzi, no. 1438. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Mengenai diasingkan di sini, diterangkan oleh ulama Syafi’iyah yaitu diasingkan dari negerinya ke tempat lain sejauh jarak safar dan diasingkan selama setahun setelah menjalani hukuman cambuk terlebih dahulu. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 2:180.) 10- Tidak boleh berbelas kasih dalam menerapkan hukuman hadd, misalnya kasihan karena yang dihukum adalah sudah sepuh atau kasihan karena hukumannya terlalu berat. Padahal hikmah dijatuhkan hukuman hadd di antaranya adalah sebagai penebus dosa (kafarat). Dari ‘Abdullah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan dalam suatu majelis, وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ “Barang siapa terkena hukuman hadd, lantas ia dikenakan hukuman, maka itu adalah kafarat untuknya. Sedangkan orang yang terkena hukuman hadd lantas Allah menutupinya, maka urusannya diserahkan pada Allah. Jika mau, Allah akan memaafkannya. Jika mau, Allah akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 1709) 11- Hukuman hadd diterapkan kalau memang yang berbuat zina berterus terang atau terdapat saksi. 12- Dalam ayat disebut “fajliduu”, hendaklah dicambuk, berarti yang menerapkan hukuman hadd adalah penguasa atau majikan dari hamba sahaya. Sehingga eksekusi hadd bukan jadi wewenang seorang kyai atau ustadz. 13- Apakah seseorang harus melaporkan tindakan zinanya pada penguasa sehingga mendapat hukuman hadd atau ia sebaiknya menyembunyikannya sembari bertaubat? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa dalam hal ini ada rincian. Jika seseorang yang berzina dapat melakukan taubat nashuha (taubat yang tulus), ia betul-betul menyesali dosanya dan bertekad tidak akan melakukannya lagi, maka lebih baik ia tidak pergi pada penguasa untuk melaporkan tindakan zina yang telah ia lakukan dan ia melakukan taubat secara sembunyi-sembunyi. Moga Allah menerima taubatnya. Jika seseorang sulit melakukan taubat nashuha, ia takut terjerumus lagi dalam dosa yang sama, maka lebih baik ia mengakui perbuatan zinanya dengan melapor pada penguasa atau pada qodhi (hakim), lantas ia dikenai hukuman had. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:169) Kalau Allah tutupi dosa tersebut, baiknya ditutupi dan bertaubat dengan taubat nashuha (yang tulus). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat atau shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.) 14- Kenapa pezina perempuan disebut lebih dahulu barulah pezina laki-laki? Para ulama menyebutkan: Wanita yang sering tabarruj (mempercantik diri dengan dandan menor, -pen.) sehingga membangkitkan syahwat. Wanita yang juga mempersilakan laki-laki untuk menyetubuhinya. Namun jika terjadi paksaan, tidak ada hukuman hadd. Syahwat wanita itu lebih tinggi dibanding pria, itu umumnya. Wanita memang dasarnya pemalu. Namun ketika terjadi perzinaan, hilanglah rasa malu tersebut dan syahwatnya begitu tinggi. Demikian diutarakan oleh Imam Al-Qurthubi. Di zaman ini dapat dibuktikan bahwa perempuan yang jadi penyebab terbesar tersebarnya perzinaan. Sampai-sampai pelacur untuk saat ini mudah menawarkan diri di rumah-rumah. Kerugian terbesar dari perzinaan dan perselingkuhan diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Ketika sudah terjadi, rasa malu karena perut bunting tentu sulit disembunyikan oleh kaum hawa. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 11.) 15- Hendaklah hukuman hadd bagi pezina disaksikan oleh sekelompok orang (ada ulama yang berpendapat empat orang sebagaimana saksi dalam zina, ada pula yang mengatakan tiga orang). Di antara hikmah perlu disaksikan sekelompok orang ketika eksekusi hadd adalah: supaya yang lainnya mendapatkan pelajaran dan takut berbuat zina, supaya orang beriman terdorong untuk bertaubat dan memperbanyak istighfar, supaya adanya syari’at dan cara eksekusi hadd diketahui oleh kaum muslimin. (Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur, hlm. 29.) Semoga bermanfaat, hanya Allah beri taufik dan hidayah.   Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat An-Nuur. Cetakan kedua, tahun 1423 H. Syaikh Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Dr. Sa’ad Ad-Din bin Muhammad Al-Kubi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Minhah Al-‘Allam Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mukhtashar Al-‘Uluw li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar. Cetakan kedua, tahun 1412 H. Imam Adz-Dzahabi. Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Al-Imam Al-Muzani. Tahqiq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Darul Minhaj. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathon. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Ibnu ‘Utsaimin. — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur peselingkuh pezina selingkuh surah an nuur surat an nuur zina

Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Luar Biasa

Inilah salah satu keutamaan luar biasa dari kalimat laa ilaha illallah.   (Hadits no. 1410) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” وقال : مَنْ قَالَ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan SUBHANALLAHI WA BI HAMDIH (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) sebanyak seratus kali sehari, terhapuslah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6403 dan Muslim, no. 2691)   (Hadits no. 1411) Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ قَالَ لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، عَشْرَ مَرَّاتٍ . كَانَ كَمَنْ أعْتَقَ أرْبَعَةَ أنْفُسٍ منْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Isma’il.” (HR. Bukhari, no. 6404 dan Muslim, no. 2693)   Penjelasan: Kedua hadits di atas menunjukkan keutamaan berdzikir. Bacaan tahlil (laa ilaha illallah) dan tasbih (subhanallah) punya keutamaan yang luar biasa. Dzikir pada Allah adalah penjaga diri dari gangguan setan. Dzikir pada Allah dapat menghapuskan dosa. Dzikir pada Allah adalah bentuk qurbah (pendekatan diri) yang paling utama. Dianjurkan membaca “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” seratus kali dalam sehari. Barangsiapa yang membaca dzikir “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 6: 10) Barangsiapa yang mengucapkan kalimat “SUBHANALLAH WA BI HAMDIH” di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. (HR. Muslim, no. 2692) Diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini berdasarkan kalimat dalam hadits “Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” Menunjukkan kasih sayang Allah karena ada amalan ringan namun berpahala besar. Ada keutamaan memerdekakan budak.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:446-447.   — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir kalimat tauhid

Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Luar Biasa

Inilah salah satu keutamaan luar biasa dari kalimat laa ilaha illallah.   (Hadits no. 1410) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” وقال : مَنْ قَالَ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan SUBHANALLAHI WA BI HAMDIH (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) sebanyak seratus kali sehari, terhapuslah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6403 dan Muslim, no. 2691)   (Hadits no. 1411) Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ قَالَ لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، عَشْرَ مَرَّاتٍ . كَانَ كَمَنْ أعْتَقَ أرْبَعَةَ أنْفُسٍ منْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Isma’il.” (HR. Bukhari, no. 6404 dan Muslim, no. 2693)   Penjelasan: Kedua hadits di atas menunjukkan keutamaan berdzikir. Bacaan tahlil (laa ilaha illallah) dan tasbih (subhanallah) punya keutamaan yang luar biasa. Dzikir pada Allah adalah penjaga diri dari gangguan setan. Dzikir pada Allah dapat menghapuskan dosa. Dzikir pada Allah adalah bentuk qurbah (pendekatan diri) yang paling utama. Dianjurkan membaca “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” seratus kali dalam sehari. Barangsiapa yang membaca dzikir “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 6: 10) Barangsiapa yang mengucapkan kalimat “SUBHANALLAH WA BI HAMDIH” di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. (HR. Muslim, no. 2692) Diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini berdasarkan kalimat dalam hadits “Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” Menunjukkan kasih sayang Allah karena ada amalan ringan namun berpahala besar. Ada keutamaan memerdekakan budak.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:446-447.   — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir kalimat tauhid
Inilah salah satu keutamaan luar biasa dari kalimat laa ilaha illallah.   (Hadits no. 1410) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” وقال : مَنْ قَالَ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan SUBHANALLAHI WA BI HAMDIH (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) sebanyak seratus kali sehari, terhapuslah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6403 dan Muslim, no. 2691)   (Hadits no. 1411) Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ قَالَ لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، عَشْرَ مَرَّاتٍ . كَانَ كَمَنْ أعْتَقَ أرْبَعَةَ أنْفُسٍ منْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Isma’il.” (HR. Bukhari, no. 6404 dan Muslim, no. 2693)   Penjelasan: Kedua hadits di atas menunjukkan keutamaan berdzikir. Bacaan tahlil (laa ilaha illallah) dan tasbih (subhanallah) punya keutamaan yang luar biasa. Dzikir pada Allah adalah penjaga diri dari gangguan setan. Dzikir pada Allah dapat menghapuskan dosa. Dzikir pada Allah adalah bentuk qurbah (pendekatan diri) yang paling utama. Dianjurkan membaca “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” seratus kali dalam sehari. Barangsiapa yang membaca dzikir “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 6: 10) Barangsiapa yang mengucapkan kalimat “SUBHANALLAH WA BI HAMDIH” di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. (HR. Muslim, no. 2692) Diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini berdasarkan kalimat dalam hadits “Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” Menunjukkan kasih sayang Allah karena ada amalan ringan namun berpahala besar. Ada keutamaan memerdekakan budak.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:446-447.   — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir kalimat tauhid


Inilah salah satu keutamaan luar biasa dari kalimat laa ilaha illallah.   (Hadits no. 1410) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” وقال : مَنْ قَالَ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan SUBHANALLAHI WA BI HAMDIH (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) sebanyak seratus kali sehari, terhapuslah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6403 dan Muslim, no. 2691)   (Hadits no. 1411) Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ قَالَ لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، عَشْرَ مَرَّاتٍ . كَانَ كَمَنْ أعْتَقَ أرْبَعَةَ أنْفُسٍ منْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Isma’il.” (HR. Bukhari, no. 6404 dan Muslim, no. 2693)   Penjelasan: Kedua hadits di atas menunjukkan keutamaan berdzikir. Bacaan tahlil (laa ilaha illallah) dan tasbih (subhanallah) punya keutamaan yang luar biasa. Dzikir pada Allah adalah penjaga diri dari gangguan setan. Dzikir pada Allah dapat menghapuskan dosa. Dzikir pada Allah adalah bentuk qurbah (pendekatan diri) yang paling utama. Dianjurkan membaca “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” seratus kali dalam sehari. Barangsiapa yang membaca dzikir “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 6: 10) Barangsiapa yang mengucapkan kalimat “SUBHANALLAH WA BI HAMDIH” di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. (HR. Muslim, no. 2692) Diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini berdasarkan kalimat dalam hadits “Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” Menunjukkan kasih sayang Allah karena ada amalan ringan namun berpahala besar. Ada keutamaan memerdekakan budak.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:446-447.   — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir kalimat tauhid

Modal Dasar Berdoa pada Allah (9)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (8)Kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ Fatawanya, dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Thariqul Hijratainnya menjelaskan bahwa sesungguhnya kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya, baik dalam mencintai-Nya, takut kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, mengagungkan-Nya dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh, dan kebutuhan matanya kepada cahaya, bahkan tak ada kebutuhan lain yang setara dengan kebutuhan beribadah tersebut!Seorang hamba haruslah mempertuhankan Allah Ta’ala, satu-satunya Sesembahan yang hak (benar) dalam setiap keadaannya, setiap waktunya, setiap nafasnya dan setiap kedipan matanya!Kebutuhan seorang hamba untuk bisa menghamba, menyembah kepada Allah Ta’ala adalah kebutuhan dharuri, kebutuhan dasar yang paling mendasar, dan tidaklah bisa disamakan dengan kebutuhan pokok apapun juga!Kebutuhan beribadah kepada Allah Ta’ala itu di atas seluruh kebutuhan hamba yang lainnya.Di dalam Al-Qur`an Al-Karim banyak disebutkan kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, dan penyebutan nikmat-Nya di dunia dan nikmat yang Dia persiapkannya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat!Dan semua perkara ini mendorong seorang hamba untuk bertawakal hanya kepada Allah Ta’ala saja, bersyukur kepada-Nya dengan sempurna, mencintai-Nya atas ihsan-Nya dan kenikmatan yang didapatkan dari-Nya, serta bersandar hatinya kepada-Nya dalam seluruh perkara yang kecil, maupun besar!Sungguh Maha Benar Allah Ta’ala ketika berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15).قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali Imraan: 26).مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ        “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”  (QS. An-Nisaa`: 79).مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Faathir: 2).PenutupSemoga Allah Ta’ala benar-benar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa menghamba kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, taat kepada-Nya dan banyak berdoa kepada-Nya, lagi tidak menyekutukan-Nya.Demikianlah serial artikel ini penyusun olah dari kitab Fiqhul Ad’iya` wal Adzkar, Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah, semoga diterima oleh Allah Ta’ala sebagai amalan yang memperberat timbangan amal penyusun, dan bermanfaat luas bagi kaum muslimin, baik tatkala penyusun hidup maupun ketika telah meninggal kelak. Amin, Wallahu a’lam.Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Modal Dasar Berdoa pada Allah (9) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf Dalam Islam, Pilihan Allah, Download Kalkulator Zakat, Hukum Istri Kepada Suami

Modal Dasar Berdoa pada Allah (9)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (8)Kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ Fatawanya, dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Thariqul Hijratainnya menjelaskan bahwa sesungguhnya kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya, baik dalam mencintai-Nya, takut kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, mengagungkan-Nya dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh, dan kebutuhan matanya kepada cahaya, bahkan tak ada kebutuhan lain yang setara dengan kebutuhan beribadah tersebut!Seorang hamba haruslah mempertuhankan Allah Ta’ala, satu-satunya Sesembahan yang hak (benar) dalam setiap keadaannya, setiap waktunya, setiap nafasnya dan setiap kedipan matanya!Kebutuhan seorang hamba untuk bisa menghamba, menyembah kepada Allah Ta’ala adalah kebutuhan dharuri, kebutuhan dasar yang paling mendasar, dan tidaklah bisa disamakan dengan kebutuhan pokok apapun juga!Kebutuhan beribadah kepada Allah Ta’ala itu di atas seluruh kebutuhan hamba yang lainnya.Di dalam Al-Qur`an Al-Karim banyak disebutkan kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, dan penyebutan nikmat-Nya di dunia dan nikmat yang Dia persiapkannya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat!Dan semua perkara ini mendorong seorang hamba untuk bertawakal hanya kepada Allah Ta’ala saja, bersyukur kepada-Nya dengan sempurna, mencintai-Nya atas ihsan-Nya dan kenikmatan yang didapatkan dari-Nya, serta bersandar hatinya kepada-Nya dalam seluruh perkara yang kecil, maupun besar!Sungguh Maha Benar Allah Ta’ala ketika berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15).قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali Imraan: 26).مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ        “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”  (QS. An-Nisaa`: 79).مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Faathir: 2).PenutupSemoga Allah Ta’ala benar-benar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa menghamba kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, taat kepada-Nya dan banyak berdoa kepada-Nya, lagi tidak menyekutukan-Nya.Demikianlah serial artikel ini penyusun olah dari kitab Fiqhul Ad’iya` wal Adzkar, Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah, semoga diterima oleh Allah Ta’ala sebagai amalan yang memperberat timbangan amal penyusun, dan bermanfaat luas bagi kaum muslimin, baik tatkala penyusun hidup maupun ketika telah meninggal kelak. Amin, Wallahu a’lam.Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Modal Dasar Berdoa pada Allah (9) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf Dalam Islam, Pilihan Allah, Download Kalkulator Zakat, Hukum Istri Kepada Suami
Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (8)Kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ Fatawanya, dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Thariqul Hijratainnya menjelaskan bahwa sesungguhnya kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya, baik dalam mencintai-Nya, takut kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, mengagungkan-Nya dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh, dan kebutuhan matanya kepada cahaya, bahkan tak ada kebutuhan lain yang setara dengan kebutuhan beribadah tersebut!Seorang hamba haruslah mempertuhankan Allah Ta’ala, satu-satunya Sesembahan yang hak (benar) dalam setiap keadaannya, setiap waktunya, setiap nafasnya dan setiap kedipan matanya!Kebutuhan seorang hamba untuk bisa menghamba, menyembah kepada Allah Ta’ala adalah kebutuhan dharuri, kebutuhan dasar yang paling mendasar, dan tidaklah bisa disamakan dengan kebutuhan pokok apapun juga!Kebutuhan beribadah kepada Allah Ta’ala itu di atas seluruh kebutuhan hamba yang lainnya.Di dalam Al-Qur`an Al-Karim banyak disebutkan kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, dan penyebutan nikmat-Nya di dunia dan nikmat yang Dia persiapkannya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat!Dan semua perkara ini mendorong seorang hamba untuk bertawakal hanya kepada Allah Ta’ala saja, bersyukur kepada-Nya dengan sempurna, mencintai-Nya atas ihsan-Nya dan kenikmatan yang didapatkan dari-Nya, serta bersandar hatinya kepada-Nya dalam seluruh perkara yang kecil, maupun besar!Sungguh Maha Benar Allah Ta’ala ketika berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15).قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali Imraan: 26).مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ        “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”  (QS. An-Nisaa`: 79).مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Faathir: 2).PenutupSemoga Allah Ta’ala benar-benar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa menghamba kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, taat kepada-Nya dan banyak berdoa kepada-Nya, lagi tidak menyekutukan-Nya.Demikianlah serial artikel ini penyusun olah dari kitab Fiqhul Ad’iya` wal Adzkar, Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah, semoga diterima oleh Allah Ta’ala sebagai amalan yang memperberat timbangan amal penyusun, dan bermanfaat luas bagi kaum muslimin, baik tatkala penyusun hidup maupun ketika telah meninggal kelak. Amin, Wallahu a’lam.Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Modal Dasar Berdoa pada Allah (9) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf Dalam Islam, Pilihan Allah, Download Kalkulator Zakat, Hukum Istri Kepada Suami


Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (8)Kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ Fatawanya, dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Thariqul Hijratainnya menjelaskan bahwa sesungguhnya kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya, baik dalam mencintai-Nya, takut kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, mengagungkan-Nya dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya terhadap ruh, dan kebutuhan matanya kepada cahaya, bahkan tak ada kebutuhan lain yang setara dengan kebutuhan beribadah tersebut!Seorang hamba haruslah mempertuhankan Allah Ta’ala, satu-satunya Sesembahan yang hak (benar) dalam setiap keadaannya, setiap waktunya, setiap nafasnya dan setiap kedipan matanya!Kebutuhan seorang hamba untuk bisa menghamba, menyembah kepada Allah Ta’ala adalah kebutuhan dharuri, kebutuhan dasar yang paling mendasar, dan tidaklah bisa disamakan dengan kebutuhan pokok apapun juga!Kebutuhan beribadah kepada Allah Ta’ala itu di atas seluruh kebutuhan hamba yang lainnya.Di dalam Al-Qur`an Al-Karim banyak disebutkan kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, dan penyebutan nikmat-Nya di dunia dan nikmat yang Dia persiapkannya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat!Dan semua perkara ini mendorong seorang hamba untuk bertawakal hanya kepada Allah Ta’ala saja, bersyukur kepada-Nya dengan sempurna, mencintai-Nya atas ihsan-Nya dan kenikmatan yang didapatkan dari-Nya, serta bersandar hatinya kepada-Nya dalam seluruh perkara yang kecil, maupun besar!Sungguh Maha Benar Allah Ta’ala ketika berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15).قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali Imraan: 26).مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ        “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”  (QS. An-Nisaa`: 79).مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Faathir: 2).PenutupSemoga Allah Ta’ala benar-benar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa menghamba kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, taat kepada-Nya dan banyak berdoa kepada-Nya, lagi tidak menyekutukan-Nya.Demikianlah serial artikel ini penyusun olah dari kitab Fiqhul Ad’iya` wal Adzkar, Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah, semoga diterima oleh Allah Ta’ala sebagai amalan yang memperberat timbangan amal penyusun, dan bermanfaat luas bagi kaum muslimin, baik tatkala penyusun hidup maupun ketika telah meninggal kelak. Amin, Wallahu a’lam.Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Modal Dasar Berdoa pada Allah (9) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf Dalam Islam, Pilihan Allah, Download Kalkulator Zakat, Hukum Istri Kepada Suami

Wajibkah Berterus Terang Telah Berzina?

Jika ada yang pernah berzina, wajibkah ia berterus terang? Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat, zahirnya shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.)   Kesimpulan dari hadits yang bisa diambil: 1- Wajib seorang hamba menjauh dan waspada dari maksiat. 2- Siapa yang terjerumus dalam maksiat, hendaklah ia tutup dengan tirai Allah, jangan ia tampakkan apa yang telah ia perbuat, lalu bersegeralah bertaubat. 3- Pendapat yang paling kuat menurut para ulama, siapa saja yang terjerumus dalam maksiat atau terjerumus dalam dosa yang semestinya terkena hukuman hadd, maka baiknya ia menutupi dirinya dan segera bertaubat. Cukup antara dirinya dan Allah saja yang mengetahui dosa yang pernah diperbuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2590) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pula, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990). Dua hadits di atas menunjukkan bahwa jika Allah telah menutupi dosa kita, maka jangan ditampakkan. 4- Siapa yang menampakkan maksiat dan bahkan ada bukti jelas, maka ia bisa ditegakkan hukum Allah. 5- Semua maksiat disebut qodzurat, sesuatu yang jelek. Moga Allah menutupi setiap dosa kita yang ada dan memberikan kita taufik untuk segera bertaubat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 8: 435-437 — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1438 H pada Kamis pagi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara taubat dosa besar maksiat taubat

Wajibkah Berterus Terang Telah Berzina?

Jika ada yang pernah berzina, wajibkah ia berterus terang? Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat, zahirnya shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.)   Kesimpulan dari hadits yang bisa diambil: 1- Wajib seorang hamba menjauh dan waspada dari maksiat. 2- Siapa yang terjerumus dalam maksiat, hendaklah ia tutup dengan tirai Allah, jangan ia tampakkan apa yang telah ia perbuat, lalu bersegeralah bertaubat. 3- Pendapat yang paling kuat menurut para ulama, siapa saja yang terjerumus dalam maksiat atau terjerumus dalam dosa yang semestinya terkena hukuman hadd, maka baiknya ia menutupi dirinya dan segera bertaubat. Cukup antara dirinya dan Allah saja yang mengetahui dosa yang pernah diperbuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2590) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pula, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990). Dua hadits di atas menunjukkan bahwa jika Allah telah menutupi dosa kita, maka jangan ditampakkan. 4- Siapa yang menampakkan maksiat dan bahkan ada bukti jelas, maka ia bisa ditegakkan hukum Allah. 5- Semua maksiat disebut qodzurat, sesuatu yang jelek. Moga Allah menutupi setiap dosa kita yang ada dan memberikan kita taufik untuk segera bertaubat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 8: 435-437 — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1438 H pada Kamis pagi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara taubat dosa besar maksiat taubat
Jika ada yang pernah berzina, wajibkah ia berterus terang? Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat, zahirnya shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.)   Kesimpulan dari hadits yang bisa diambil: 1- Wajib seorang hamba menjauh dan waspada dari maksiat. 2- Siapa yang terjerumus dalam maksiat, hendaklah ia tutup dengan tirai Allah, jangan ia tampakkan apa yang telah ia perbuat, lalu bersegeralah bertaubat. 3- Pendapat yang paling kuat menurut para ulama, siapa saja yang terjerumus dalam maksiat atau terjerumus dalam dosa yang semestinya terkena hukuman hadd, maka baiknya ia menutupi dirinya dan segera bertaubat. Cukup antara dirinya dan Allah saja yang mengetahui dosa yang pernah diperbuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2590) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pula, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990). Dua hadits di atas menunjukkan bahwa jika Allah telah menutupi dosa kita, maka jangan ditampakkan. 4- Siapa yang menampakkan maksiat dan bahkan ada bukti jelas, maka ia bisa ditegakkan hukum Allah. 5- Semua maksiat disebut qodzurat, sesuatu yang jelek. Moga Allah menutupi setiap dosa kita yang ada dan memberikan kita taufik untuk segera bertaubat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 8: 435-437 — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1438 H pada Kamis pagi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara taubat dosa besar maksiat taubat


Jika ada yang pernah berzina, wajibkah ia berterus terang? Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِى لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat, zahirnya shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.)   Kesimpulan dari hadits yang bisa diambil: 1- Wajib seorang hamba menjauh dan waspada dari maksiat. 2- Siapa yang terjerumus dalam maksiat, hendaklah ia tutup dengan tirai Allah, jangan ia tampakkan apa yang telah ia perbuat, lalu bersegeralah bertaubat. 3- Pendapat yang paling kuat menurut para ulama, siapa saja yang terjerumus dalam maksiat atau terjerumus dalam dosa yang semestinya terkena hukuman hadd, maka baiknya ia menutupi dirinya dan segera bertaubat. Cukup antara dirinya dan Allah saja yang mengetahui dosa yang pernah diperbuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2590) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pula, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990). Dua hadits di atas menunjukkan bahwa jika Allah telah menutupi dosa kita, maka jangan ditampakkan. 4- Siapa yang menampakkan maksiat dan bahkan ada bukti jelas, maka ia bisa ditegakkan hukum Allah. 5- Semua maksiat disebut qodzurat, sesuatu yang jelek. Moga Allah menutupi setiap dosa kita yang ada dan memberikan kita taufik untuk segera bertaubat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 8: 435-437 — Diselesaikan @ Perpus Rumaysho, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1438 H pada Kamis pagi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara taubat dosa besar maksiat taubat

Berdoa Secara Terperinci

Baiknya meminta doa itu dengan kalimat yang singkat namun syarat makna. Karena memberikan rincian detail dalam doa termasuk berlebihan dalam berdoa.   Ada beberapa bentuk berlebihan dalam doa yang disebutkan oleh para ulama di antaranya sebagai berikut.   Pertama: Merinci dalam doa. Contoh merincinya: Ya Allah, berikanlah kepadaku televisi berwarna dengan merk ini atau ini. Coba lihat hadits berikut. أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ » ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun syarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Coba kita perhatikan doa sapu jagad, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201) Coba lagi kita perhatikan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa dibaca ba’da Shubuh, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQON THOYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAA. Artinya: Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal, dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).   Dua doa di atas singkat bukan? Namun lihat maknanya bagaimana? Sangat ampuh dan luar biasa, sudah mencakup segala macam kebaikan di dalamnya.   Karenanya Ibnu Katsir sampai mengatakan tentang doa sapu jagad, “Doa ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan permintaan agar dihindarkan dari segala kejelekan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:122)   Kedua: Jika yang diminta dalam doa adalah sesuatu yang diharamkan atau perantara menuju yang haram. Kenapa sampai perantara menuju yang haram diharamkan? Hal ini mengingat kaidah fikih yang disebutkan oleh para ulama, al-wasail lahaa ahkamul maqoshid, artinya hukum perantara sama dengan hukum tujuan. Contoh, bolehkah meminta dalam doa agar diberi televisi? Kalau tujuan menonton televisi nantinya untuk melihat hal-hal maksiat, seperti menonton konser musik, pamer aurat, gosip para artis, maka membelinya jadi haram. Berdoanya untuk hal tersebut termasuk berlebihan dalam doa. Kesimpulannya, berdoalah dengan doa yang sifatnya umum namun syarat makna, itu lebih baik. Demikian bahasan di atas kami sarikan sebagiannya dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017 (https://islamqa.info/ar/41017). Semoga bermanfaat. Moga doa-doa kita diijabahi oleh Allah. — @ Garuda Indonesia menuju Jakarta, 23 Dzulqa’dah 1438 H, dilengkapi @ Perpus Rumaysho, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa berdoa cara berdoa doa bahasa indonesia

Berdoa Secara Terperinci

Baiknya meminta doa itu dengan kalimat yang singkat namun syarat makna. Karena memberikan rincian detail dalam doa termasuk berlebihan dalam berdoa.   Ada beberapa bentuk berlebihan dalam doa yang disebutkan oleh para ulama di antaranya sebagai berikut.   Pertama: Merinci dalam doa. Contoh merincinya: Ya Allah, berikanlah kepadaku televisi berwarna dengan merk ini atau ini. Coba lihat hadits berikut. أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ » ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun syarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Coba kita perhatikan doa sapu jagad, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201) Coba lagi kita perhatikan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa dibaca ba’da Shubuh, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQON THOYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAA. Artinya: Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal, dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).   Dua doa di atas singkat bukan? Namun lihat maknanya bagaimana? Sangat ampuh dan luar biasa, sudah mencakup segala macam kebaikan di dalamnya.   Karenanya Ibnu Katsir sampai mengatakan tentang doa sapu jagad, “Doa ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan permintaan agar dihindarkan dari segala kejelekan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:122)   Kedua: Jika yang diminta dalam doa adalah sesuatu yang diharamkan atau perantara menuju yang haram. Kenapa sampai perantara menuju yang haram diharamkan? Hal ini mengingat kaidah fikih yang disebutkan oleh para ulama, al-wasail lahaa ahkamul maqoshid, artinya hukum perantara sama dengan hukum tujuan. Contoh, bolehkah meminta dalam doa agar diberi televisi? Kalau tujuan menonton televisi nantinya untuk melihat hal-hal maksiat, seperti menonton konser musik, pamer aurat, gosip para artis, maka membelinya jadi haram. Berdoanya untuk hal tersebut termasuk berlebihan dalam doa. Kesimpulannya, berdoalah dengan doa yang sifatnya umum namun syarat makna, itu lebih baik. Demikian bahasan di atas kami sarikan sebagiannya dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017 (https://islamqa.info/ar/41017). Semoga bermanfaat. Moga doa-doa kita diijabahi oleh Allah. — @ Garuda Indonesia menuju Jakarta, 23 Dzulqa’dah 1438 H, dilengkapi @ Perpus Rumaysho, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa berdoa cara berdoa doa bahasa indonesia
Baiknya meminta doa itu dengan kalimat yang singkat namun syarat makna. Karena memberikan rincian detail dalam doa termasuk berlebihan dalam berdoa.   Ada beberapa bentuk berlebihan dalam doa yang disebutkan oleh para ulama di antaranya sebagai berikut.   Pertama: Merinci dalam doa. Contoh merincinya: Ya Allah, berikanlah kepadaku televisi berwarna dengan merk ini atau ini. Coba lihat hadits berikut. أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ » ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun syarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Coba kita perhatikan doa sapu jagad, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201) Coba lagi kita perhatikan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa dibaca ba’da Shubuh, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQON THOYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAA. Artinya: Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal, dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).   Dua doa di atas singkat bukan? Namun lihat maknanya bagaimana? Sangat ampuh dan luar biasa, sudah mencakup segala macam kebaikan di dalamnya.   Karenanya Ibnu Katsir sampai mengatakan tentang doa sapu jagad, “Doa ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan permintaan agar dihindarkan dari segala kejelekan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:122)   Kedua: Jika yang diminta dalam doa adalah sesuatu yang diharamkan atau perantara menuju yang haram. Kenapa sampai perantara menuju yang haram diharamkan? Hal ini mengingat kaidah fikih yang disebutkan oleh para ulama, al-wasail lahaa ahkamul maqoshid, artinya hukum perantara sama dengan hukum tujuan. Contoh, bolehkah meminta dalam doa agar diberi televisi? Kalau tujuan menonton televisi nantinya untuk melihat hal-hal maksiat, seperti menonton konser musik, pamer aurat, gosip para artis, maka membelinya jadi haram. Berdoanya untuk hal tersebut termasuk berlebihan dalam doa. Kesimpulannya, berdoalah dengan doa yang sifatnya umum namun syarat makna, itu lebih baik. Demikian bahasan di atas kami sarikan sebagiannya dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017 (https://islamqa.info/ar/41017). Semoga bermanfaat. Moga doa-doa kita diijabahi oleh Allah. — @ Garuda Indonesia menuju Jakarta, 23 Dzulqa’dah 1438 H, dilengkapi @ Perpus Rumaysho, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa berdoa cara berdoa doa bahasa indonesia


Baiknya meminta doa itu dengan kalimat yang singkat namun syarat makna. Karena memberikan rincian detail dalam doa termasuk berlebihan dalam berdoa.   Ada beberapa bentuk berlebihan dalam doa yang disebutkan oleh para ulama di antaranya sebagai berikut.   Pertama: Merinci dalam doa. Contoh merincinya: Ya Allah, berikanlah kepadaku televisi berwarna dengan merk ini atau ini. Coba lihat hadits berikut. أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ » ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun syarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Coba kita perhatikan doa sapu jagad, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201) Coba lagi kita perhatikan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa dibaca ba’da Shubuh, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQON THOYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAA. Artinya: Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal, dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).   Dua doa di atas singkat bukan? Namun lihat maknanya bagaimana? Sangat ampuh dan luar biasa, sudah mencakup segala macam kebaikan di dalamnya.   Karenanya Ibnu Katsir sampai mengatakan tentang doa sapu jagad, “Doa ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan permintaan agar dihindarkan dari segala kejelekan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:122)   Kedua: Jika yang diminta dalam doa adalah sesuatu yang diharamkan atau perantara menuju yang haram. Kenapa sampai perantara menuju yang haram diharamkan? Hal ini mengingat kaidah fikih yang disebutkan oleh para ulama, al-wasail lahaa ahkamul maqoshid, artinya hukum perantara sama dengan hukum tujuan. Contoh, bolehkah meminta dalam doa agar diberi televisi? Kalau tujuan menonton televisi nantinya untuk melihat hal-hal maksiat, seperti menonton konser musik, pamer aurat, gosip para artis, maka membelinya jadi haram. Berdoanya untuk hal tersebut termasuk berlebihan dalam doa. Kesimpulannya, berdoalah dengan doa yang sifatnya umum namun syarat makna, itu lebih baik. Demikian bahasan di atas kami sarikan sebagiannya dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017 (https://islamqa.info/ar/41017). Semoga bermanfaat. Moga doa-doa kita diijabahi oleh Allah. — @ Garuda Indonesia menuju Jakarta, 23 Dzulqa’dah 1438 H, dilengkapi @ Perpus Rumaysho, 24 Dzulqa’dah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa berdoa cara berdoa doa bahasa indonesia

Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (6)Seorang hamba membutuhkan Allah, baik dalam masalah ibadah maupun istianah (memohon pertolongan).Dalam kitab Al-‘Ubudiyyah dan Majmu’ul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala merupakan kodrat hamba-Nya dan sebuah sifat yang melekat pada diri makhluk-Nya, namun penghayatan hamba-hamba-Nya terhadap rasa butuh mereka kepada Allah Ta’ala itu bertingkat-tingkat.Diantara mereka ada yang sangat tinggi penghayatannya dalam merasa butuh kepada Rabb-nya sehingga membuahkan tawakal yang sangat kuat pula, meskipun ia tetap berusaha keras mengambil sebab demi meraih maslahat dan menghindari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya), namun hatinya tetap bersandar hanya kepada Allah Ta’ala saja.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari dua sisi tinjauan, yaitu:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fatihah:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Berikut ini penjelasannya:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan, maksudnya bahwa seorang hamba butuh untuk menyembah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba butuh untuk mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan pengagungan dan kecintaan ubudiyyah.Hakikatnya hati seorang hamba tidaklah baik, tidaklah beruntung, tidaklah gembira, tidaklah merasa lezat, tidaklah merasa bahagia, dan tidaklah merasa tenang melainkan dengan menghamba, menyembah serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Meskipun ia mendapatkan semua kesenangan duniawi dari sesama makhluk, maka pastilah hal itu tidak akan membuat hatinya tenang, bahagia, dan lezat secara hakiki tatkala ia tidak menghamba, menyembah, serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Kebahagian, ketenangan, kelezatan yang hakiki di hati seorang hamba tidak akan diraih melainkan sampai Allah-lah satu-satunya Sesembahan yang hak, paling dicintai dan diagungkan dalam hatinya!Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan).Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), maksudnya:Karena tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Ta’ala saja, maka dalam meraih tujuan hidupnya, menghamba kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, menerapkan hukum-Nya, dan melaksanakan syariat-Nya, seorang hamba sangatlah membutuhkan Allah Ta’ala dalam semua urusan tersebut, karena hakikatnya, ia tidaklah mampu melakukan satu saja dari perkara-perkara tersebut melainkan apabila Allah Ta’ala menolongnya dan memberi taufik-Nya kepadanya.Oleh karena itu, dua perkara ini, yaitu: ibadah dan isti’anah kepada Allah Ta’ala semata adalah dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba.Ibadatullah, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah tujuan yang paling mulia, sedangkan isti’anah billah wahdah, memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala adalah sarana yang paling agung. Tujuan yang paling mulia itu tidaklah bisa diraih kecuali dengan sarana memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala saja! Ketahuilah bahwa kedua hal yang paling mulia ini terdapat dalam surat Al-Fatihah.Pantaslah apabila Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:تأملت أنفع الدعاء فإذا هو سؤال العون على مرضاته ، ثم رأيته في الفاتحة في إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Saya perhatikan doa yang paling bermanfaat, maka (saya dapatkan) berupa permohonan pertolongan untuk meraih rida-Nya, kemudian saya mendapatkan doa tersebut terdapat dalam surat Al-Fatihah pada ayat:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’.” [Asyru Qawa’id fil Istiqamah, Syaikh Abdur Razzaq, hal. 10].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Tukangramal, Ramalan Menurut Islam, Arti Surat Al Baqarah Ayat 185, Bacaan Sujud Sahwi Menurut Sunnah, Hukum Tidur Setelah Ashar

Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (6)Seorang hamba membutuhkan Allah, baik dalam masalah ibadah maupun istianah (memohon pertolongan).Dalam kitab Al-‘Ubudiyyah dan Majmu’ul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala merupakan kodrat hamba-Nya dan sebuah sifat yang melekat pada diri makhluk-Nya, namun penghayatan hamba-hamba-Nya terhadap rasa butuh mereka kepada Allah Ta’ala itu bertingkat-tingkat.Diantara mereka ada yang sangat tinggi penghayatannya dalam merasa butuh kepada Rabb-nya sehingga membuahkan tawakal yang sangat kuat pula, meskipun ia tetap berusaha keras mengambil sebab demi meraih maslahat dan menghindari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya), namun hatinya tetap bersandar hanya kepada Allah Ta’ala saja.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari dua sisi tinjauan, yaitu:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fatihah:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Berikut ini penjelasannya:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan, maksudnya bahwa seorang hamba butuh untuk menyembah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba butuh untuk mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan pengagungan dan kecintaan ubudiyyah.Hakikatnya hati seorang hamba tidaklah baik, tidaklah beruntung, tidaklah gembira, tidaklah merasa lezat, tidaklah merasa bahagia, dan tidaklah merasa tenang melainkan dengan menghamba, menyembah serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Meskipun ia mendapatkan semua kesenangan duniawi dari sesama makhluk, maka pastilah hal itu tidak akan membuat hatinya tenang, bahagia, dan lezat secara hakiki tatkala ia tidak menghamba, menyembah, serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Kebahagian, ketenangan, kelezatan yang hakiki di hati seorang hamba tidak akan diraih melainkan sampai Allah-lah satu-satunya Sesembahan yang hak, paling dicintai dan diagungkan dalam hatinya!Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan).Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), maksudnya:Karena tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Ta’ala saja, maka dalam meraih tujuan hidupnya, menghamba kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, menerapkan hukum-Nya, dan melaksanakan syariat-Nya, seorang hamba sangatlah membutuhkan Allah Ta’ala dalam semua urusan tersebut, karena hakikatnya, ia tidaklah mampu melakukan satu saja dari perkara-perkara tersebut melainkan apabila Allah Ta’ala menolongnya dan memberi taufik-Nya kepadanya.Oleh karena itu, dua perkara ini, yaitu: ibadah dan isti’anah kepada Allah Ta’ala semata adalah dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba.Ibadatullah, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah tujuan yang paling mulia, sedangkan isti’anah billah wahdah, memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala adalah sarana yang paling agung. Tujuan yang paling mulia itu tidaklah bisa diraih kecuali dengan sarana memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala saja! Ketahuilah bahwa kedua hal yang paling mulia ini terdapat dalam surat Al-Fatihah.Pantaslah apabila Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:تأملت أنفع الدعاء فإذا هو سؤال العون على مرضاته ، ثم رأيته في الفاتحة في إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Saya perhatikan doa yang paling bermanfaat, maka (saya dapatkan) berupa permohonan pertolongan untuk meraih rida-Nya, kemudian saya mendapatkan doa tersebut terdapat dalam surat Al-Fatihah pada ayat:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’.” [Asyru Qawa’id fil Istiqamah, Syaikh Abdur Razzaq, hal. 10].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Tukangramal, Ramalan Menurut Islam, Arti Surat Al Baqarah Ayat 185, Bacaan Sujud Sahwi Menurut Sunnah, Hukum Tidur Setelah Ashar
Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (6)Seorang hamba membutuhkan Allah, baik dalam masalah ibadah maupun istianah (memohon pertolongan).Dalam kitab Al-‘Ubudiyyah dan Majmu’ul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala merupakan kodrat hamba-Nya dan sebuah sifat yang melekat pada diri makhluk-Nya, namun penghayatan hamba-hamba-Nya terhadap rasa butuh mereka kepada Allah Ta’ala itu bertingkat-tingkat.Diantara mereka ada yang sangat tinggi penghayatannya dalam merasa butuh kepada Rabb-nya sehingga membuahkan tawakal yang sangat kuat pula, meskipun ia tetap berusaha keras mengambil sebab demi meraih maslahat dan menghindari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya), namun hatinya tetap bersandar hanya kepada Allah Ta’ala saja.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari dua sisi tinjauan, yaitu:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fatihah:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Berikut ini penjelasannya:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan, maksudnya bahwa seorang hamba butuh untuk menyembah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba butuh untuk mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan pengagungan dan kecintaan ubudiyyah.Hakikatnya hati seorang hamba tidaklah baik, tidaklah beruntung, tidaklah gembira, tidaklah merasa lezat, tidaklah merasa bahagia, dan tidaklah merasa tenang melainkan dengan menghamba, menyembah serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Meskipun ia mendapatkan semua kesenangan duniawi dari sesama makhluk, maka pastilah hal itu tidak akan membuat hatinya tenang, bahagia, dan lezat secara hakiki tatkala ia tidak menghamba, menyembah, serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Kebahagian, ketenangan, kelezatan yang hakiki di hati seorang hamba tidak akan diraih melainkan sampai Allah-lah satu-satunya Sesembahan yang hak, paling dicintai dan diagungkan dalam hatinya!Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan).Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), maksudnya:Karena tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Ta’ala saja, maka dalam meraih tujuan hidupnya, menghamba kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, menerapkan hukum-Nya, dan melaksanakan syariat-Nya, seorang hamba sangatlah membutuhkan Allah Ta’ala dalam semua urusan tersebut, karena hakikatnya, ia tidaklah mampu melakukan satu saja dari perkara-perkara tersebut melainkan apabila Allah Ta’ala menolongnya dan memberi taufik-Nya kepadanya.Oleh karena itu, dua perkara ini, yaitu: ibadah dan isti’anah kepada Allah Ta’ala semata adalah dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba.Ibadatullah, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah tujuan yang paling mulia, sedangkan isti’anah billah wahdah, memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala adalah sarana yang paling agung. Tujuan yang paling mulia itu tidaklah bisa diraih kecuali dengan sarana memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala saja! Ketahuilah bahwa kedua hal yang paling mulia ini terdapat dalam surat Al-Fatihah.Pantaslah apabila Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:تأملت أنفع الدعاء فإذا هو سؤال العون على مرضاته ، ثم رأيته في الفاتحة في إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Saya perhatikan doa yang paling bermanfaat, maka (saya dapatkan) berupa permohonan pertolongan untuk meraih rida-Nya, kemudian saya mendapatkan doa tersebut terdapat dalam surat Al-Fatihah pada ayat:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’.” [Asyru Qawa’id fil Istiqamah, Syaikh Abdur Razzaq, hal. 10].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Tukangramal, Ramalan Menurut Islam, Arti Surat Al Baqarah Ayat 185, Bacaan Sujud Sahwi Menurut Sunnah, Hukum Tidur Setelah Ashar


Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (6)Seorang hamba membutuhkan Allah, baik dalam masalah ibadah maupun istianah (memohon pertolongan).Dalam kitab Al-‘Ubudiyyah dan Majmu’ul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala merupakan kodrat hamba-Nya dan sebuah sifat yang melekat pada diri makhluk-Nya, namun penghayatan hamba-hamba-Nya terhadap rasa butuh mereka kepada Allah Ta’ala itu bertingkat-tingkat.Diantara mereka ada yang sangat tinggi penghayatannya dalam merasa butuh kepada Rabb-nya sehingga membuahkan tawakal yang sangat kuat pula, meskipun ia tetap berusaha keras mengambil sebab demi meraih maslahat dan menghindari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya), namun hatinya tetap bersandar hanya kepada Allah Ta’ala saja.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari dua sisi tinjauan, yaitu:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fatihah:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Berikut ini penjelasannya:Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan, maksudnya bahwa seorang hamba butuh untuk menyembah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba butuh untuk mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan pengagungan dan kecintaan ubudiyyah.Hakikatnya hati seorang hamba tidaklah baik, tidaklah beruntung, tidaklah gembira, tidaklah merasa lezat, tidaklah merasa bahagia, dan tidaklah merasa tenang melainkan dengan menghamba, menyembah serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Meskipun ia mendapatkan semua kesenangan duniawi dari sesama makhluk, maka pastilah hal itu tidak akan membuat hatinya tenang, bahagia, dan lezat secara hakiki tatkala ia tidak menghamba, menyembah, serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.Kebahagian, ketenangan, kelezatan yang hakiki di hati seorang hamba tidak akan diraih melainkan sampai Allah-lah satu-satunya Sesembahan yang hak, paling dicintai dan diagungkan dalam hatinya!Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan).Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), maksudnya:Karena tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Ta’ala saja, maka dalam meraih tujuan hidupnya, menghamba kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, menerapkan hukum-Nya, dan melaksanakan syariat-Nya, seorang hamba sangatlah membutuhkan Allah Ta’ala dalam semua urusan tersebut, karena hakikatnya, ia tidaklah mampu melakukan satu saja dari perkara-perkara tersebut melainkan apabila Allah Ta’ala menolongnya dan memberi taufik-Nya kepadanya.Oleh karena itu, dua perkara ini, yaitu: ibadah dan isti’anah kepada Allah Ta’ala semata adalah dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba.Ibadatullah, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah tujuan yang paling mulia, sedangkan isti’anah billah wahdah, memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala adalah sarana yang paling agung. Tujuan yang paling mulia itu tidaklah bisa diraih kecuali dengan sarana memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala saja! Ketahuilah bahwa kedua hal yang paling mulia ini terdapat dalam surat Al-Fatihah.Pantaslah apabila Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:تأملت أنفع الدعاء فإذا هو سؤال العون على مرضاته ، ثم رأيته في الفاتحة في إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Saya perhatikan doa yang paling bermanfaat, maka (saya dapatkan) berupa permohonan pertolongan untuk meraih rida-Nya, kemudian saya mendapatkan doa tersebut terdapat dalam surat Al-Fatihah pada ayat:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’.” [Asyru Qawa’id fil Istiqamah, Syaikh Abdur Razzaq, hal. 10].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Tukangramal, Ramalan Menurut Islam, Arti Surat Al Baqarah Ayat 185, Bacaan Sujud Sahwi Menurut Sunnah, Hukum Tidur Setelah Ashar

Modal Dasar Berdoa pada Allah (6)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (5)Penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah tentang Hadits Abu Dzar radhiyallahu ’anhuIbnu Rajab rahimahullah berkata:“(Kandungan) Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk membutuhkan Allah Ta’ala untuk mendapatkan maslahat mereka,dan menolak mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya) dari mereka dalam perkara agama maupun dunia mereka.Dan juga menunjukkan bahwa (hakikatnya) hamba tidaklah memiliki (kekuasaan) apapun dalam hal itu untuk diri mereka. Disamping itu hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi petunjuk dan rezeki, maka Allah akan menghalangi keduanya (untuk mereka) di dunia, dan barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi ampunan atas dosa-dosanya, niscaya dosa-dosanya akan membinasakannya di akhirat”. [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 2/37-38].Jadi, seluruh perkara tergantung kepada Allah Ta’ala, baik itu terkait dengan hidayah, rezeki, keselamatan, kesehatan, dan selainnya.Apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dari hal itu untuk hamba-Nya, niscaya hal itu pasti terjadi, namun sebaliknya, apa saja yang Allah Ta’ala tidak kehendaki, pastilah hal itu tidak akan terealisasi!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82).إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!.” (QS. An-Nahl: 40).Apabila Allah Ta’ala menghendaki untuk memberi anugerah atau mengazab atau selain keduanya, maka Allah Ta’ala berfirman:“Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!Jika demikian halnya, maka bagaimana seseorang bisa bersandar hatinya kepada selain-Nya, meminta perlindungan kepada selain-Nya,serta berdoa kepada selain-Nya?!Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:17).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Seorang hamba haruslah mendapatkan rezeki, dan dia (benar-benar) membutuhkan rezeki, maka apabila ia memohon rezeki untuknya kepada Allah, maka ia menjadi hamba Allah, lagi membutuhkan-Nya. Namun apabila ia memohon rezeki tersebut kepada makhluk, maka ia menjadi hamba makhluk itu, dan membutuhkan makhluk tersebut”. [Al-‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 22].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Hadits Tentang Rizki, Bayarlah Sebelum Keringatnya Kering, Qur An Dan Hadits, Benda Pusaka Yang Dapat Membawa Sial Manusia Di Dalam Kehidupan Sehari-hari, Doa Orang Yang Difitnah Dan Dizalimi

Modal Dasar Berdoa pada Allah (6)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (5)Penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah tentang Hadits Abu Dzar radhiyallahu ’anhuIbnu Rajab rahimahullah berkata:“(Kandungan) Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk membutuhkan Allah Ta’ala untuk mendapatkan maslahat mereka,dan menolak mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya) dari mereka dalam perkara agama maupun dunia mereka.Dan juga menunjukkan bahwa (hakikatnya) hamba tidaklah memiliki (kekuasaan) apapun dalam hal itu untuk diri mereka. Disamping itu hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi petunjuk dan rezeki, maka Allah akan menghalangi keduanya (untuk mereka) di dunia, dan barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi ampunan atas dosa-dosanya, niscaya dosa-dosanya akan membinasakannya di akhirat”. [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 2/37-38].Jadi, seluruh perkara tergantung kepada Allah Ta’ala, baik itu terkait dengan hidayah, rezeki, keselamatan, kesehatan, dan selainnya.Apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dari hal itu untuk hamba-Nya, niscaya hal itu pasti terjadi, namun sebaliknya, apa saja yang Allah Ta’ala tidak kehendaki, pastilah hal itu tidak akan terealisasi!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82).إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!.” (QS. An-Nahl: 40).Apabila Allah Ta’ala menghendaki untuk memberi anugerah atau mengazab atau selain keduanya, maka Allah Ta’ala berfirman:“Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!Jika demikian halnya, maka bagaimana seseorang bisa bersandar hatinya kepada selain-Nya, meminta perlindungan kepada selain-Nya,serta berdoa kepada selain-Nya?!Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:17).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Seorang hamba haruslah mendapatkan rezeki, dan dia (benar-benar) membutuhkan rezeki, maka apabila ia memohon rezeki untuknya kepada Allah, maka ia menjadi hamba Allah, lagi membutuhkan-Nya. Namun apabila ia memohon rezeki tersebut kepada makhluk, maka ia menjadi hamba makhluk itu, dan membutuhkan makhluk tersebut”. [Al-‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 22].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Hadits Tentang Rizki, Bayarlah Sebelum Keringatnya Kering, Qur An Dan Hadits, Benda Pusaka Yang Dapat Membawa Sial Manusia Di Dalam Kehidupan Sehari-hari, Doa Orang Yang Difitnah Dan Dizalimi
Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (5)Penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah tentang Hadits Abu Dzar radhiyallahu ’anhuIbnu Rajab rahimahullah berkata:“(Kandungan) Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk membutuhkan Allah Ta’ala untuk mendapatkan maslahat mereka,dan menolak mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya) dari mereka dalam perkara agama maupun dunia mereka.Dan juga menunjukkan bahwa (hakikatnya) hamba tidaklah memiliki (kekuasaan) apapun dalam hal itu untuk diri mereka. Disamping itu hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi petunjuk dan rezeki, maka Allah akan menghalangi keduanya (untuk mereka) di dunia, dan barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi ampunan atas dosa-dosanya, niscaya dosa-dosanya akan membinasakannya di akhirat”. [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 2/37-38].Jadi, seluruh perkara tergantung kepada Allah Ta’ala, baik itu terkait dengan hidayah, rezeki, keselamatan, kesehatan, dan selainnya.Apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dari hal itu untuk hamba-Nya, niscaya hal itu pasti terjadi, namun sebaliknya, apa saja yang Allah Ta’ala tidak kehendaki, pastilah hal itu tidak akan terealisasi!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82).إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!.” (QS. An-Nahl: 40).Apabila Allah Ta’ala menghendaki untuk memberi anugerah atau mengazab atau selain keduanya, maka Allah Ta’ala berfirman:“Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!Jika demikian halnya, maka bagaimana seseorang bisa bersandar hatinya kepada selain-Nya, meminta perlindungan kepada selain-Nya,serta berdoa kepada selain-Nya?!Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:17).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Seorang hamba haruslah mendapatkan rezeki, dan dia (benar-benar) membutuhkan rezeki, maka apabila ia memohon rezeki untuknya kepada Allah, maka ia menjadi hamba Allah, lagi membutuhkan-Nya. Namun apabila ia memohon rezeki tersebut kepada makhluk, maka ia menjadi hamba makhluk itu, dan membutuhkan makhluk tersebut”. [Al-‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 22].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Hadits Tentang Rizki, Bayarlah Sebelum Keringatnya Kering, Qur An Dan Hadits, Benda Pusaka Yang Dapat Membawa Sial Manusia Di Dalam Kehidupan Sehari-hari, Doa Orang Yang Difitnah Dan Dizalimi


Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (5)Penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah tentang Hadits Abu Dzar radhiyallahu ’anhuIbnu Rajab rahimahullah berkata:“(Kandungan) Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk membutuhkan Allah Ta’ala untuk mendapatkan maslahat mereka,dan menolak mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya) dari mereka dalam perkara agama maupun dunia mereka.Dan juga menunjukkan bahwa (hakikatnya) hamba tidaklah memiliki (kekuasaan) apapun dalam hal itu untuk diri mereka. Disamping itu hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi petunjuk dan rezeki, maka Allah akan menghalangi keduanya (untuk mereka) di dunia, dan barangsiapa yang Allah tidak menganugerahi ampunan atas dosa-dosanya, niscaya dosa-dosanya akan membinasakannya di akhirat”. [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 2/37-38].Jadi, seluruh perkara tergantung kepada Allah Ta’ala, baik itu terkait dengan hidayah, rezeki, keselamatan, kesehatan, dan selainnya.Apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dari hal itu untuk hamba-Nya, niscaya hal itu pasti terjadi, namun sebaliknya, apa saja yang Allah Ta’ala tidak kehendaki, pastilah hal itu tidak akan terealisasi!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82).إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!.” (QS. An-Nahl: 40).Apabila Allah Ta’ala menghendaki untuk memberi anugerah atau mengazab atau selain keduanya, maka Allah Ta’ala berfirman:“Kun (jadilah)”, maka jadilah sesuatu itu!Jika demikian halnya, maka bagaimana seseorang bisa bersandar hatinya kepada selain-Nya, meminta perlindungan kepada selain-Nya,serta berdoa kepada selain-Nya?!Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:17).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Seorang hamba haruslah mendapatkan rezeki, dan dia (benar-benar) membutuhkan rezeki, maka apabila ia memohon rezeki untuknya kepada Allah, maka ia menjadi hamba Allah, lagi membutuhkan-Nya. Namun apabila ia memohon rezeki tersebut kepada makhluk, maka ia menjadi hamba makhluk itu, dan membutuhkan makhluk tersebut”. [Al-‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 22].[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Hadits Tentang Rizki, Bayarlah Sebelum Keringatnya Kering, Qur An Dan Hadits, Benda Pusaka Yang Dapat Membawa Sial Manusia Di Dalam Kehidupan Sehari-hari, Doa Orang Yang Difitnah Dan Dizalimi
Prev     Next