Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Tidak setiap perbedaan pendapat ulama harus dipertengkarkan, tetapi tidak pula setiap pendapat yang berbeda otomatis boleh ditoleransi. Ada masalah yang memang terbuka untuk ijtihad sehingga kita harus berlapang dada, dan ada masalah yang dalilnya sudah tegas sehingga kekeliruan tetap perlu diluruskan. Yang dibutuhkan adalah ilmu untuk membedakannya dan adab untuk menyikapinya.  Daftar Isi tutup 1. Ulama Harus Dihormati 2. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama Ditaati 3. Apa yang Bisa Kita Pahami? 4. Ulama Bisa Berbeda Pendapat 5. Tidak Semua Perbedaan Pendapat Sama 6. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat? 7. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus Persaudaraan 8. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama 9. Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!” 10. Penutup  Ulama Harus DihormatiAllah Ta‘ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Orang yang tidak mengetahui hukum agama diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan para ulama di tengah umat.Namun, menghormati ulama bukan berarti menganggap mereka maksum. Ulama bisa benar dalam ijtihadnya dan bisa pula keliru. Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali kita tetaplah Al-Qur’an dan Sunnah.Allah Ta‘ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59)Maka ada dua prinsip yang harus berjalan bersama:Kita menghormati ulama, tetapi tidak menganggapnya maksum. Kita mengikuti dalil, tetapi tidak menjadikan dalil sebagai alasan untuk merendahkan ulama.Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits bukan berarti melupakan ulama. Kita membutuhkan penjelasan para ulama untuk memahami dalil-dalil syariat. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama DitaatiAda penjelasan yang sangat indah dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah. Beliau sedang menjelaskan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan ilmu,الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيلَ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ مَمَاتِهِ.“Ilmu menjadikan seorang alim ditaati semasa hidupnya dan meninggalkan sebutan yang baik setelah wafatnya.”Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَالْمَقْصُودُ أَنَّ قَوْلَهُ: «الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ»؛ أَيْ: يَجْعَلُهُ مُطَاعًا؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الْعِلْمِ عَامَّةٌ لِكُلِّ أَحَدٍ، الْمُلُوكِ فَمَنْ دُونَهُمْ، فَكُلُّ أَحَدٍ مُحْتَاجٌ إِلَى طَاعَةِ الْعَالِمِ، فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَيَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ طَاعَتُهُ، قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ} [النِّسَاءِ: ٥٩].“Yang dimaksud dengan perkataan, ‘Ilmu membuat seorang alim ditaati semasa hidupnya’ adalah bahwa ilmu menjadikan seorang ulama sebagai orang yang ditaati. Sebab, kebutuhan terhadap ilmu berlaku umum bagi setiap orang, baik para raja maupun mereka yang berada di bawahnya. Setiap orang membutuhkan bimbingan dan ketaatan kepada orang alim karena orang alim memerintahkan manusia untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, manusia wajib menaatinya. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.’ (QS. An-Nisa’: 59).”Kemudian beliau melanjutkan,وَفُسِّرَ {وَأُولِي الْأَمْرِ} بِالْعُلَمَاءِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْعُلَمَاءُ أَهْلُ الدِّينِ، الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ دِينَهُمْ، أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى طَاعَتَهُمْ». وَهَذَا قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَالْحَسَنِ وَالضَّحَّاكِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ.“Firman Allah, ‘dan ulil amri di antara kalian’, ditafsirkan dengan para ulama. Ibnu ‘Abbas mengatakan, ‘Mereka adalah para ahli fikih dan ulama agama yang mengajarkan agama kepada manusia. Allah Ta‘ala mewajibkan ketaatan kepada mereka.’ Ini juga merupakan pendapat Mujahid, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.”Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan,وَفُسِّرُوا بِالْأُمَرَاءِ. وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ زَيْدٍ، وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَحْمَدَ.“Ulil amri juga ditafsirkan sebagai para pemimpin. Ini merupakan pendapat Ibnu Zaid dan salah satu dari dua riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan Imam Ahmad.”Kemudian beliau menyatukan kedua penafsiran tersebut,وَالْآيَةُ تَتَنَاوَلُهُمَا جَمِيعًا؛ فَطَاعَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَاجِبَةٌ إِذَا أَمَرُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَطَاعَةُ الْعُلَمَاءِ كَذَلِكَ.“Ayat tersebut mencakup keduanya. Menaati para pemimpin wajib ketika mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula ketaatan kepada para ulama.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menutup penjelasan tersebut,فَالْعَالِمُ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ الْعَامِلُ بِهِ أَطْوَعُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ كُلِّ أَحَدٍ، فَإِذَا مَاتَ أَحْيَا اللَّهُ ذِكْرَهُ، وَنَشَرَ لَهُ فِي الْعَالَمِينَ أَحْسَنَ الثَّنَاءِ.“Seorang ulama yang mengetahui ajaran yang dibawa Rasul dan mengamalkannya adalah orang yang paling layak ditaati di tengah penduduk bumi. Ketika ia wafat, Allah menghidupkan namanya dan menyebarkan pujian yang baik untuknya di tengah manusia.”Lihat: Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262. Apa yang Bisa Kita Pahami?Ulama dihormati bukan sekadar karena gelar, popularitas, atau banyaknya pengikut. Ulama dihormati karena ilmu tentang wahyu yang ia bawa dan ajarkan kepada manusia.Karena itu, ketaatan kepada ulama bukanlah ketaatan mutlak seperti ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama ditaati selama membimbing kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Dari sini kita memahami keseimbangan Islam: memuliakan ulama, tetapi tidak mengultuskannya; mengambil ilmunya, tetapi tetap mengembalikan perselisihan kepada wahyu. Ulama Bisa Berbeda PendapatMengapa ulama yang sama-sama membaca Al-Qur’an dan hadits masih dapat berbeda pendapat?Di antara sebabnya adalah:Suatu hadits sampai kepada seorang ulama, tetapi tidak sampai kepada ulama lainnya.Para ulama berbeda dalam menilai shahih atau lemahnya suatu riwayat.Mereka berbeda dalam memahami kandungan suatu nash.Mereka berbeda dalam kaidah ushul fikih yang digunakan dalam istinbath hukum.Sebuah lafaz memungkinkan lebih dari satu makna.Mereka berbeda dalam mengompromikan dalil-dalil yang secara lahir tampak bertentangan.Masalah yang dihadapi merupakan persoalan baru yang membutuhkan ijtihad.Perbedaan penilaian terhadap hadits pun termasuk wilayah ijtihad. Seorang ahli hadits mungkin mengetahui keadaan seorang perawi atau jalur periwayatan yang tidak diketahui oleh ahli lainnya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, ia mendapatkan dua pahala. Apabila ia berijtihad kemudian keliru, ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352 dan Muslim, no. 1716)Hadits ini juga menunjukkan satu hal penting: seorang mujtahid mungkin keliru, tetapi kekeliruannya tidak otomatis menjadikannya tercela. Ia bisa mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari kebenaran. Tidak Semua Perbedaan Pendapat SamaDi sinilah sering terjadi kekeliruan.Sebagian orang berkata, “Kan ada ulama yang membolehkan.”Seolah-olah selama ditemukan satu pendapat, persoalan selesai dan semua pendapat otomatis dapat dipilih.Padahal para ulama membedakan antara khilaf yang mu‘tabar dan khilaf yang tidak mu‘tabar.Pertama: Khilaf mu‘tabarKhilaf mu‘tabar adalah perselisihan yang memiliki landasan ilmiah dan memang terdapat ruang ijtihad di dalamnya.Biasanya masalah tersebut:tidak bertentangan dengan nash yang tegas;tidak menyelisihi ijmak yang telah pasti;dalilnya memungkinkan lebih dari satu pemahaman;atau terdapat dalil-dalil yang membutuhkan tarjih;dan pendapat tersebut lahir dari ijtihad ulama yang memiliki kapasitas keilmuan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,مَسَائِلُ الِاجْتِهَادِ لَا يَسُوغُ فِيهَا الْإِنْكَارُ، إِلَّا بِبَيَانِ الْحُجَّةِ وَإِيضَاحِ الْمَحَجَّةِ.“Masalah-masalah ijtihad tidak boleh diingkari dengan pengingkaran keras, kecuali dengan menjelaskan hujah dan menerangkan jalan kebenaran.”Maksudnya bukan dilarang mendiskusikan atau memilih pendapat yang lebih kuat. Kita tetap boleh mengatakan, “Pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat ini.” Yang tidak tepat adalah memperlakukan orang yang mengikuti pendapat ijtihadi lain seakan-akan ia melakukan kemungkaran yang sudah disepakati.Kedua: Khilaf yang tidak mu‘tabarTidak setiap pendapat yang pernah diucapkan seseorang otomatis berubah menjadi ikhtilaf yang harus dihormati.Apabila sebuah pendapat menyelisihi nash yang pasti atau ijmak, perselisihan semacam itu tidak termasuk ruang ijtihad yang mu‘tabar. Pendapat yang syadz atau sangat lemah juga tidak dapat dijadikan alasan untuk meniadakan pengingkaran.Karena itu, ungkapan, “Dalam masalah khilaf tidak boleh ada pengingkaran,” jika dipahami secara mutlak adalah kurang tepat.Yang lebih tepat adalah, “Tidak ada pengingkaran keras dalam masalah ijtihadiyah yang mu‘tabar.”Perbedaan ini: ada masalah yang benar-benar menjadi wilayah ijtihad, tetapi ada pula masalah yang sekadar “pernah diperselisihkan”, padahal dalilnya telah jelas atau telah ada ijmak. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat?Kita perlu berlapang dada ketika persoalan memang termasuk khilaf ijtihadi yang mu‘tabar.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,أَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَلَا إِنْكَارَ فِيهِ.“Adapun perkara yang memang diperselisihkan secara ijtihadi, maka tidak ada pengingkaran keras di dalamnya.”Beliau kemudian menjelaskan bahwa seseorang tetap boleh memberikan nasihat untuk mengambil pendapat yang dianggap lebih hati-hati, tetapi hendaknya dilakukan dengan kelembutan.Contoh perbedaan fikih semacam ini sangat banyak.Contoh yang sangat terkenal terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda kepada para sahabat,لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ“Jangan ada seorang pun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Namun, sebagian mereka telah mendapatkan waktu Ashar saat dalam perjalanan. Kemudian berkatalah salah satu dari mereka, “Kita tidak akan shalat Ashar sampai kita datang di perkampungan mereka.” Sedangkan sebagian lain berkata, “Tidak, kita harus shalat dulu, sebab bukan itu yang diinginkan Nabi.” Kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Nabi dan beliau tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 4119)Dua pihak yang berijtihad berbeda tidaklah saling disalahkan. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “As-Suhaili dan ulama lainnya berkata, “Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa ulama yang memahami hadits atau ayat secara tekstual tidaklah boleh disalahkan. Begitu pula ulama yang memahami dalil dengan makna yang khusus tidaklah disalahkan pula.” (Fath Al-Baari, 7:409). Hal ini menunjukkan bahwa ada yang memahami dalil secara tekstual, ada yang memahami dalil dengan memandang maqashid (maksud, tujuan). Dari sinilah letak timbulnya ikhtilaf perbedaan pendapat, maka dari sinilah setiap penuntut ilmu perlu memahaminya. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus PersaudaraanKita kadang melihat sesuatu yang ironis. Para imam besar berbeda dalam banyak masalah fikih, tetapi murid-murid yang ilmunya jauh di bawah mereka justru saling bermusuhan karena perbedaan tersebut. Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah berkata kepada Yunus Ash-Shadafi,يَا أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا، وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي مَسْأَلَةٍ؟“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap dapat menjadi saudara meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?” Perkataan ini dinukil dari Siyar A‘lam An-Nubala’.Inilah kedewasaan ilmu.Boleh berbeda kesimpulan, tetapi jangan hilang persaudaraan.Boleh mengatakan pendapat seseorang keliru, tetapi tidak perlu menjatuhkan kehormatannya.Boleh melakukan tarjih, tetapi jangan berubah menjadi fanatik. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama1. Bedakan antara mengkritik pendapat dan merendahkan orangnyaMengatakan, “Pendapat ini lemah karena dalilnya demikian,” berbeda dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin ulama itu tidak tahu?”Yang pertama adalah pembahasan ilmiah. Yang kedua bisa menjadi penghinaan.IslamQA menukil nasihat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah bahwa ketika seseorang menemukan kekeliruan pada seorang ulama, ia tetap harus menjaga kehormatannya. Beliau mengatakan,وَلَكِنْ يُبَيِّنُ الْحَقَّ بِالدَّلِيلِ، مَعَ دُعَائِهِ لِلْعَالِمِ، وَالتَّرَحُّمِ عَلَيْهِ.“Namun hendaknya ia menjelaskan kebenaran dengan dalil, sambil mendoakan ulama tersebut dan memohonkan rahmat untuknya.”2. Jangan tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum kita kuasaiSeseorang mungkin melihat praktik ibadah yang berbeda dengan kebiasaannya lalu langsung berkata, “Ini salah!”Padahal bisa jadi praktik tersebut memiliki dasar dalam salah satu mazhab yang mu‘tabar.Islamweb mengingatkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia ketahui, karena boleh jadi orang lain sedang mengikuti pendapat salah seorang imam fikih.Sebelum mengingkari, pelajari dahulu masalahnya.3. Jelaskan dalil, bukan sekadar nama tokoh“Ustaz saya berkata demikian” belum cukup menjadi hujah untuk memaksa orang lain.Demikian pula kalimat, “Syaikh Fulan sudah memfatwakan haram.”, belum otomatis membuat setiap orang yang mengikuti pendapat lain pantas dicela.Pengingkaran dalam masalah ijtihad tidak boleh semata-mata dibangun di atas taklid, tetapi melalui penjelasan hujah dan pembahasan ilmiah.4. Sampaikan pendapat lawan dengan adilJangan membuat pendapat lawan terlihat lebih buruk daripada yang sebenarnya.Islamweb mengingatkan bahwa salah satu bentuk adab terhadap orang yang berbeda adalah menyampaikan pendapat atau argumentasinya dengan amanah sebelum memberikan jawaban.Ini sangat penting pada zaman media sosial. Memotong satu kalimat dari kajian panjang, menghilangkan konteks, lalu menjadikannya bahan serangan bukanlah cara ilmiah.5. Jangan menuduh niat dan hawa nafsu tanpa buktiKita boleh menilai argumen.Kita tidak otomatis mengetahui isi hati orang yang menyampaikannya.Jangan setiap pendapat yang berbeda langsung dituduh karena kepentingan dunia, mencari popularitas, takut manusia, atau mengikuti hawa nafsu.6. Jangan menjadikan masalah ijtihadiyah sebagai standar loyalitasJangan sampai seseorang dianggap “kawan” hanya karena sama pendapat dalam satu cabang fikih, sedangkan orang yang berbeda dianggap musuh.Perbedaan ijtihadiyah seharusnya tidak menghilangkan persaudaraan dan tidak berubah menjadi pertikaian.7. Rendah hati dengan ilmu yang kita milikiSemakin luas pengetahuan seseorang terhadap khazanah fikih, biasanya semakin ia sadar bahwa banyak masalah tidak sesederhana potongan video satu menit.Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91) Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!”Sebelum menyanggah, coba tanyakan kepada diri kita:Apakah masalah ini sudah memiliki nash yang benar-benar tegas?Apakah memang telah ada ijmak dalam masalah ini?Apakah pendapat yang berbeda mempunyai sandaran dari ulama yang diakui keilmuannya?Apakah saya sendiri telah memahami dalil dan penjelasan ulama dalam masalah tersebut?Jika harus dikoreksi, bisakah saya menjelaskannya dengan ilmu dan adab?Lima pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan kita dari banyak pertengkaran, terutama di media sosial. Ringkasnya, ada tiga keadaanPertama: masalah qath‘i dan ijmak.Tidak ada ruang untuk menjadikan pendapat yang menyelisihinya sebagai khilaf yang bisa ditoleransi.Kedua: masalah ijtihadiyah dengan khilaf yang mu‘tabar.Kita boleh melakukan tarjih dan menjelaskan pendapat yang lebih kuat, tetapi tidak boleh mudah mencela orang yang mengikuti pendapat lain.Ketiga: pendapat yang syadz atau khilafnya sangat lemah.Tidak cukup dikatakan, “Ada ulama yang pernah berpendapat demikian.” Perlu dilihat kekuatan dalil dan apakah pendapat tersebut memang dianggap mu‘tabar oleh ahli ilmu.Dengan pembagian sederhana ini, masyarakat akan lebih mudah memahami bahwa kalimat “ini masalah khilaf” tidak dapat digunakan sebagai kartu bebas untuk membenarkan apa saja. PenutupBetapa indahnya jika setelah berbeda pendapat, kita masih mampu mendoakan saudara kita dan meminta kepada Allah agar hati tetap bersatu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa,اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.ALLAHUMMA ALLIF BAYNA QULUUBINAA, WA ASHLIH DZAATA BAYNINAA, WAHDINAA SUBULAS SALAAM, WA NAJJINAA MINAZH ZHULUMAATI ILANNUUR. WA JANNIBNAAL FAWAHISYA MAA ZHOHARA MINHA WA MAA BATHON. WA BAARIK LANAA FII ASMAA’INAA WA AB-SHOORINAA WA QULUUBINAA WA AZWAAJINAA WA DZURRIYATINAA. WA TUB ‘ALAYNAA INNAKA ANTAT TAWWABUR RAHIIM. WAJ’ALNAA SYAKIRIINA LI NI’MATIKA MUTSNIINA BIHAA QOOBILIIHA WA ATIMMAHA ‘ALAINAA.“Ya Allah, satukanlah hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan (menuju surga). Selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji yang nampak maupun tersembunyi. Berkahilah pendengaran, penglihatan, hati, istri, dan keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba yang bersyukur atas nikmat-Mu, terus memuji-Mu dan menerima nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat tersebut pada kami.” (HR. Abu Daud, no. 969, dari ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Al-Hafizh Abu Thahir menilai hadits ini shahih) ReferensiIslamQA, pembahasan Apakah Masalah Khilaf Tidak Boleh Diingkari? yang membedakan antara masalah khilaf dan masalah ijtihad.IslamQA, pembahasan tentang sikap seorang muslim ketika para ulama berbeda dan kewajiban orang awam mengikuti ulama yang lebih dipercaya ilmu dan agamanya.IslamQA, pembahasan larangan mencari-cari keringanan dari berbagai pendapat ulama.Islamweb, Adab Al-Khilaf fi Al-Islam, tentang menghormati pihak yang berbeda, husnuzan, dan menggunakan ungkapan yang baik.Islamweb, pembahasan perbedaan antara masalah khilafiyyah dan masalah ijtihadiyyah.Rumaysho.Com, Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat.Rumaysho.Com, Menyikapi Ijtihad Seorang Ulama.Rumaysho.Com, Khutbah Jumat: Ya Allah, Satukanlah Hati Kami.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262.– @ Masjid Al Azhar Karangrejek | Majelis Taklim Aisyah Wonosari Gunungkidul, 10 September 2026Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab ikhtilaf adab menuntut ilmu ijtihad ulama ikhtilaf ulama khilaf mu‘tabar khilafiyah menghormati ulama perbedaan pendapat persatuan umat tarjih pendapat

Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Tidak setiap perbedaan pendapat ulama harus dipertengkarkan, tetapi tidak pula setiap pendapat yang berbeda otomatis boleh ditoleransi. Ada masalah yang memang terbuka untuk ijtihad sehingga kita harus berlapang dada, dan ada masalah yang dalilnya sudah tegas sehingga kekeliruan tetap perlu diluruskan. Yang dibutuhkan adalah ilmu untuk membedakannya dan adab untuk menyikapinya.  Daftar Isi tutup 1. Ulama Harus Dihormati 2. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama Ditaati 3. Apa yang Bisa Kita Pahami? 4. Ulama Bisa Berbeda Pendapat 5. Tidak Semua Perbedaan Pendapat Sama 6. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat? 7. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus Persaudaraan 8. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama 9. Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!” 10. Penutup  Ulama Harus DihormatiAllah Ta‘ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Orang yang tidak mengetahui hukum agama diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan para ulama di tengah umat.Namun, menghormati ulama bukan berarti menganggap mereka maksum. Ulama bisa benar dalam ijtihadnya dan bisa pula keliru. Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali kita tetaplah Al-Qur’an dan Sunnah.Allah Ta‘ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59)Maka ada dua prinsip yang harus berjalan bersama:Kita menghormati ulama, tetapi tidak menganggapnya maksum. Kita mengikuti dalil, tetapi tidak menjadikan dalil sebagai alasan untuk merendahkan ulama.Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits bukan berarti melupakan ulama. Kita membutuhkan penjelasan para ulama untuk memahami dalil-dalil syariat. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama DitaatiAda penjelasan yang sangat indah dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah. Beliau sedang menjelaskan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan ilmu,الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيلَ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ مَمَاتِهِ.“Ilmu menjadikan seorang alim ditaati semasa hidupnya dan meninggalkan sebutan yang baik setelah wafatnya.”Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَالْمَقْصُودُ أَنَّ قَوْلَهُ: «الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ»؛ أَيْ: يَجْعَلُهُ مُطَاعًا؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الْعِلْمِ عَامَّةٌ لِكُلِّ أَحَدٍ، الْمُلُوكِ فَمَنْ دُونَهُمْ، فَكُلُّ أَحَدٍ مُحْتَاجٌ إِلَى طَاعَةِ الْعَالِمِ، فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَيَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ طَاعَتُهُ، قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ} [النِّسَاءِ: ٥٩].“Yang dimaksud dengan perkataan, ‘Ilmu membuat seorang alim ditaati semasa hidupnya’ adalah bahwa ilmu menjadikan seorang ulama sebagai orang yang ditaati. Sebab, kebutuhan terhadap ilmu berlaku umum bagi setiap orang, baik para raja maupun mereka yang berada di bawahnya. Setiap orang membutuhkan bimbingan dan ketaatan kepada orang alim karena orang alim memerintahkan manusia untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, manusia wajib menaatinya. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.’ (QS. An-Nisa’: 59).”Kemudian beliau melanjutkan,وَفُسِّرَ {وَأُولِي الْأَمْرِ} بِالْعُلَمَاءِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْعُلَمَاءُ أَهْلُ الدِّينِ، الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ دِينَهُمْ، أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى طَاعَتَهُمْ». وَهَذَا قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَالْحَسَنِ وَالضَّحَّاكِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ.“Firman Allah, ‘dan ulil amri di antara kalian’, ditafsirkan dengan para ulama. Ibnu ‘Abbas mengatakan, ‘Mereka adalah para ahli fikih dan ulama agama yang mengajarkan agama kepada manusia. Allah Ta‘ala mewajibkan ketaatan kepada mereka.’ Ini juga merupakan pendapat Mujahid, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.”Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan,وَفُسِّرُوا بِالْأُمَرَاءِ. وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ زَيْدٍ، وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَحْمَدَ.“Ulil amri juga ditafsirkan sebagai para pemimpin. Ini merupakan pendapat Ibnu Zaid dan salah satu dari dua riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan Imam Ahmad.”Kemudian beliau menyatukan kedua penafsiran tersebut,وَالْآيَةُ تَتَنَاوَلُهُمَا جَمِيعًا؛ فَطَاعَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَاجِبَةٌ إِذَا أَمَرُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَطَاعَةُ الْعُلَمَاءِ كَذَلِكَ.“Ayat tersebut mencakup keduanya. Menaati para pemimpin wajib ketika mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula ketaatan kepada para ulama.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menutup penjelasan tersebut,فَالْعَالِمُ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ الْعَامِلُ بِهِ أَطْوَعُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ كُلِّ أَحَدٍ، فَإِذَا مَاتَ أَحْيَا اللَّهُ ذِكْرَهُ، وَنَشَرَ لَهُ فِي الْعَالَمِينَ أَحْسَنَ الثَّنَاءِ.“Seorang ulama yang mengetahui ajaran yang dibawa Rasul dan mengamalkannya adalah orang yang paling layak ditaati di tengah penduduk bumi. Ketika ia wafat, Allah menghidupkan namanya dan menyebarkan pujian yang baik untuknya di tengah manusia.”Lihat: Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262. Apa yang Bisa Kita Pahami?Ulama dihormati bukan sekadar karena gelar, popularitas, atau banyaknya pengikut. Ulama dihormati karena ilmu tentang wahyu yang ia bawa dan ajarkan kepada manusia.Karena itu, ketaatan kepada ulama bukanlah ketaatan mutlak seperti ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama ditaati selama membimbing kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Dari sini kita memahami keseimbangan Islam: memuliakan ulama, tetapi tidak mengultuskannya; mengambil ilmunya, tetapi tetap mengembalikan perselisihan kepada wahyu. Ulama Bisa Berbeda PendapatMengapa ulama yang sama-sama membaca Al-Qur’an dan hadits masih dapat berbeda pendapat?Di antara sebabnya adalah:Suatu hadits sampai kepada seorang ulama, tetapi tidak sampai kepada ulama lainnya.Para ulama berbeda dalam menilai shahih atau lemahnya suatu riwayat.Mereka berbeda dalam memahami kandungan suatu nash.Mereka berbeda dalam kaidah ushul fikih yang digunakan dalam istinbath hukum.Sebuah lafaz memungkinkan lebih dari satu makna.Mereka berbeda dalam mengompromikan dalil-dalil yang secara lahir tampak bertentangan.Masalah yang dihadapi merupakan persoalan baru yang membutuhkan ijtihad.Perbedaan penilaian terhadap hadits pun termasuk wilayah ijtihad. Seorang ahli hadits mungkin mengetahui keadaan seorang perawi atau jalur periwayatan yang tidak diketahui oleh ahli lainnya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, ia mendapatkan dua pahala. Apabila ia berijtihad kemudian keliru, ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352 dan Muslim, no. 1716)Hadits ini juga menunjukkan satu hal penting: seorang mujtahid mungkin keliru, tetapi kekeliruannya tidak otomatis menjadikannya tercela. Ia bisa mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari kebenaran. Tidak Semua Perbedaan Pendapat SamaDi sinilah sering terjadi kekeliruan.Sebagian orang berkata, “Kan ada ulama yang membolehkan.”Seolah-olah selama ditemukan satu pendapat, persoalan selesai dan semua pendapat otomatis dapat dipilih.Padahal para ulama membedakan antara khilaf yang mu‘tabar dan khilaf yang tidak mu‘tabar.Pertama: Khilaf mu‘tabarKhilaf mu‘tabar adalah perselisihan yang memiliki landasan ilmiah dan memang terdapat ruang ijtihad di dalamnya.Biasanya masalah tersebut:tidak bertentangan dengan nash yang tegas;tidak menyelisihi ijmak yang telah pasti;dalilnya memungkinkan lebih dari satu pemahaman;atau terdapat dalil-dalil yang membutuhkan tarjih;dan pendapat tersebut lahir dari ijtihad ulama yang memiliki kapasitas keilmuan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,مَسَائِلُ الِاجْتِهَادِ لَا يَسُوغُ فِيهَا الْإِنْكَارُ، إِلَّا بِبَيَانِ الْحُجَّةِ وَإِيضَاحِ الْمَحَجَّةِ.“Masalah-masalah ijtihad tidak boleh diingkari dengan pengingkaran keras, kecuali dengan menjelaskan hujah dan menerangkan jalan kebenaran.”Maksudnya bukan dilarang mendiskusikan atau memilih pendapat yang lebih kuat. Kita tetap boleh mengatakan, “Pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat ini.” Yang tidak tepat adalah memperlakukan orang yang mengikuti pendapat ijtihadi lain seakan-akan ia melakukan kemungkaran yang sudah disepakati.Kedua: Khilaf yang tidak mu‘tabarTidak setiap pendapat yang pernah diucapkan seseorang otomatis berubah menjadi ikhtilaf yang harus dihormati.Apabila sebuah pendapat menyelisihi nash yang pasti atau ijmak, perselisihan semacam itu tidak termasuk ruang ijtihad yang mu‘tabar. Pendapat yang syadz atau sangat lemah juga tidak dapat dijadikan alasan untuk meniadakan pengingkaran.Karena itu, ungkapan, “Dalam masalah khilaf tidak boleh ada pengingkaran,” jika dipahami secara mutlak adalah kurang tepat.Yang lebih tepat adalah, “Tidak ada pengingkaran keras dalam masalah ijtihadiyah yang mu‘tabar.”Perbedaan ini: ada masalah yang benar-benar menjadi wilayah ijtihad, tetapi ada pula masalah yang sekadar “pernah diperselisihkan”, padahal dalilnya telah jelas atau telah ada ijmak. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat?Kita perlu berlapang dada ketika persoalan memang termasuk khilaf ijtihadi yang mu‘tabar.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,أَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَلَا إِنْكَارَ فِيهِ.“Adapun perkara yang memang diperselisihkan secara ijtihadi, maka tidak ada pengingkaran keras di dalamnya.”Beliau kemudian menjelaskan bahwa seseorang tetap boleh memberikan nasihat untuk mengambil pendapat yang dianggap lebih hati-hati, tetapi hendaknya dilakukan dengan kelembutan.Contoh perbedaan fikih semacam ini sangat banyak.Contoh yang sangat terkenal terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda kepada para sahabat,لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ“Jangan ada seorang pun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Namun, sebagian mereka telah mendapatkan waktu Ashar saat dalam perjalanan. Kemudian berkatalah salah satu dari mereka, “Kita tidak akan shalat Ashar sampai kita datang di perkampungan mereka.” Sedangkan sebagian lain berkata, “Tidak, kita harus shalat dulu, sebab bukan itu yang diinginkan Nabi.” Kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Nabi dan beliau tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 4119)Dua pihak yang berijtihad berbeda tidaklah saling disalahkan. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “As-Suhaili dan ulama lainnya berkata, “Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa ulama yang memahami hadits atau ayat secara tekstual tidaklah boleh disalahkan. Begitu pula ulama yang memahami dalil dengan makna yang khusus tidaklah disalahkan pula.” (Fath Al-Baari, 7:409). Hal ini menunjukkan bahwa ada yang memahami dalil secara tekstual, ada yang memahami dalil dengan memandang maqashid (maksud, tujuan). Dari sinilah letak timbulnya ikhtilaf perbedaan pendapat, maka dari sinilah setiap penuntut ilmu perlu memahaminya. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus PersaudaraanKita kadang melihat sesuatu yang ironis. Para imam besar berbeda dalam banyak masalah fikih, tetapi murid-murid yang ilmunya jauh di bawah mereka justru saling bermusuhan karena perbedaan tersebut. Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah berkata kepada Yunus Ash-Shadafi,يَا أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا، وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي مَسْأَلَةٍ؟“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap dapat menjadi saudara meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?” Perkataan ini dinukil dari Siyar A‘lam An-Nubala’.Inilah kedewasaan ilmu.Boleh berbeda kesimpulan, tetapi jangan hilang persaudaraan.Boleh mengatakan pendapat seseorang keliru, tetapi tidak perlu menjatuhkan kehormatannya.Boleh melakukan tarjih, tetapi jangan berubah menjadi fanatik. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama1. Bedakan antara mengkritik pendapat dan merendahkan orangnyaMengatakan, “Pendapat ini lemah karena dalilnya demikian,” berbeda dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin ulama itu tidak tahu?”Yang pertama adalah pembahasan ilmiah. Yang kedua bisa menjadi penghinaan.IslamQA menukil nasihat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah bahwa ketika seseorang menemukan kekeliruan pada seorang ulama, ia tetap harus menjaga kehormatannya. Beliau mengatakan,وَلَكِنْ يُبَيِّنُ الْحَقَّ بِالدَّلِيلِ، مَعَ دُعَائِهِ لِلْعَالِمِ، وَالتَّرَحُّمِ عَلَيْهِ.“Namun hendaknya ia menjelaskan kebenaran dengan dalil, sambil mendoakan ulama tersebut dan memohonkan rahmat untuknya.”2. Jangan tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum kita kuasaiSeseorang mungkin melihat praktik ibadah yang berbeda dengan kebiasaannya lalu langsung berkata, “Ini salah!”Padahal bisa jadi praktik tersebut memiliki dasar dalam salah satu mazhab yang mu‘tabar.Islamweb mengingatkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia ketahui, karena boleh jadi orang lain sedang mengikuti pendapat salah seorang imam fikih.Sebelum mengingkari, pelajari dahulu masalahnya.3. Jelaskan dalil, bukan sekadar nama tokoh“Ustaz saya berkata demikian” belum cukup menjadi hujah untuk memaksa orang lain.Demikian pula kalimat, “Syaikh Fulan sudah memfatwakan haram.”, belum otomatis membuat setiap orang yang mengikuti pendapat lain pantas dicela.Pengingkaran dalam masalah ijtihad tidak boleh semata-mata dibangun di atas taklid, tetapi melalui penjelasan hujah dan pembahasan ilmiah.4. Sampaikan pendapat lawan dengan adilJangan membuat pendapat lawan terlihat lebih buruk daripada yang sebenarnya.Islamweb mengingatkan bahwa salah satu bentuk adab terhadap orang yang berbeda adalah menyampaikan pendapat atau argumentasinya dengan amanah sebelum memberikan jawaban.Ini sangat penting pada zaman media sosial. Memotong satu kalimat dari kajian panjang, menghilangkan konteks, lalu menjadikannya bahan serangan bukanlah cara ilmiah.5. Jangan menuduh niat dan hawa nafsu tanpa buktiKita boleh menilai argumen.Kita tidak otomatis mengetahui isi hati orang yang menyampaikannya.Jangan setiap pendapat yang berbeda langsung dituduh karena kepentingan dunia, mencari popularitas, takut manusia, atau mengikuti hawa nafsu.6. Jangan menjadikan masalah ijtihadiyah sebagai standar loyalitasJangan sampai seseorang dianggap “kawan” hanya karena sama pendapat dalam satu cabang fikih, sedangkan orang yang berbeda dianggap musuh.Perbedaan ijtihadiyah seharusnya tidak menghilangkan persaudaraan dan tidak berubah menjadi pertikaian.7. Rendah hati dengan ilmu yang kita milikiSemakin luas pengetahuan seseorang terhadap khazanah fikih, biasanya semakin ia sadar bahwa banyak masalah tidak sesederhana potongan video satu menit.Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91) Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!”Sebelum menyanggah, coba tanyakan kepada diri kita:Apakah masalah ini sudah memiliki nash yang benar-benar tegas?Apakah memang telah ada ijmak dalam masalah ini?Apakah pendapat yang berbeda mempunyai sandaran dari ulama yang diakui keilmuannya?Apakah saya sendiri telah memahami dalil dan penjelasan ulama dalam masalah tersebut?Jika harus dikoreksi, bisakah saya menjelaskannya dengan ilmu dan adab?Lima pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan kita dari banyak pertengkaran, terutama di media sosial. Ringkasnya, ada tiga keadaanPertama: masalah qath‘i dan ijmak.Tidak ada ruang untuk menjadikan pendapat yang menyelisihinya sebagai khilaf yang bisa ditoleransi.Kedua: masalah ijtihadiyah dengan khilaf yang mu‘tabar.Kita boleh melakukan tarjih dan menjelaskan pendapat yang lebih kuat, tetapi tidak boleh mudah mencela orang yang mengikuti pendapat lain.Ketiga: pendapat yang syadz atau khilafnya sangat lemah.Tidak cukup dikatakan, “Ada ulama yang pernah berpendapat demikian.” Perlu dilihat kekuatan dalil dan apakah pendapat tersebut memang dianggap mu‘tabar oleh ahli ilmu.Dengan pembagian sederhana ini, masyarakat akan lebih mudah memahami bahwa kalimat “ini masalah khilaf” tidak dapat digunakan sebagai kartu bebas untuk membenarkan apa saja. PenutupBetapa indahnya jika setelah berbeda pendapat, kita masih mampu mendoakan saudara kita dan meminta kepada Allah agar hati tetap bersatu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa,اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.ALLAHUMMA ALLIF BAYNA QULUUBINAA, WA ASHLIH DZAATA BAYNINAA, WAHDINAA SUBULAS SALAAM, WA NAJJINAA MINAZH ZHULUMAATI ILANNUUR. WA JANNIBNAAL FAWAHISYA MAA ZHOHARA MINHA WA MAA BATHON. WA BAARIK LANAA FII ASMAA’INAA WA AB-SHOORINAA WA QULUUBINAA WA AZWAAJINAA WA DZURRIYATINAA. WA TUB ‘ALAYNAA INNAKA ANTAT TAWWABUR RAHIIM. WAJ’ALNAA SYAKIRIINA LI NI’MATIKA MUTSNIINA BIHAA QOOBILIIHA WA ATIMMAHA ‘ALAINAA.“Ya Allah, satukanlah hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan (menuju surga). Selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji yang nampak maupun tersembunyi. Berkahilah pendengaran, penglihatan, hati, istri, dan keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba yang bersyukur atas nikmat-Mu, terus memuji-Mu dan menerima nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat tersebut pada kami.” (HR. Abu Daud, no. 969, dari ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Al-Hafizh Abu Thahir menilai hadits ini shahih) ReferensiIslamQA, pembahasan Apakah Masalah Khilaf Tidak Boleh Diingkari? yang membedakan antara masalah khilaf dan masalah ijtihad.IslamQA, pembahasan tentang sikap seorang muslim ketika para ulama berbeda dan kewajiban orang awam mengikuti ulama yang lebih dipercaya ilmu dan agamanya.IslamQA, pembahasan larangan mencari-cari keringanan dari berbagai pendapat ulama.Islamweb, Adab Al-Khilaf fi Al-Islam, tentang menghormati pihak yang berbeda, husnuzan, dan menggunakan ungkapan yang baik.Islamweb, pembahasan perbedaan antara masalah khilafiyyah dan masalah ijtihadiyyah.Rumaysho.Com, Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat.Rumaysho.Com, Menyikapi Ijtihad Seorang Ulama.Rumaysho.Com, Khutbah Jumat: Ya Allah, Satukanlah Hati Kami.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262.– @ Masjid Al Azhar Karangrejek | Majelis Taklim Aisyah Wonosari Gunungkidul, 10 September 2026Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab ikhtilaf adab menuntut ilmu ijtihad ulama ikhtilaf ulama khilaf mu‘tabar khilafiyah menghormati ulama perbedaan pendapat persatuan umat tarjih pendapat
Tidak setiap perbedaan pendapat ulama harus dipertengkarkan, tetapi tidak pula setiap pendapat yang berbeda otomatis boleh ditoleransi. Ada masalah yang memang terbuka untuk ijtihad sehingga kita harus berlapang dada, dan ada masalah yang dalilnya sudah tegas sehingga kekeliruan tetap perlu diluruskan. Yang dibutuhkan adalah ilmu untuk membedakannya dan adab untuk menyikapinya.  Daftar Isi tutup 1. Ulama Harus Dihormati 2. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama Ditaati 3. Apa yang Bisa Kita Pahami? 4. Ulama Bisa Berbeda Pendapat 5. Tidak Semua Perbedaan Pendapat Sama 6. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat? 7. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus Persaudaraan 8. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama 9. Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!” 10. Penutup  Ulama Harus DihormatiAllah Ta‘ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Orang yang tidak mengetahui hukum agama diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan para ulama di tengah umat.Namun, menghormati ulama bukan berarti menganggap mereka maksum. Ulama bisa benar dalam ijtihadnya dan bisa pula keliru. Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali kita tetaplah Al-Qur’an dan Sunnah.Allah Ta‘ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59)Maka ada dua prinsip yang harus berjalan bersama:Kita menghormati ulama, tetapi tidak menganggapnya maksum. Kita mengikuti dalil, tetapi tidak menjadikan dalil sebagai alasan untuk merendahkan ulama.Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits bukan berarti melupakan ulama. Kita membutuhkan penjelasan para ulama untuk memahami dalil-dalil syariat. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama DitaatiAda penjelasan yang sangat indah dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah. Beliau sedang menjelaskan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan ilmu,الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيلَ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ مَمَاتِهِ.“Ilmu menjadikan seorang alim ditaati semasa hidupnya dan meninggalkan sebutan yang baik setelah wafatnya.”Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَالْمَقْصُودُ أَنَّ قَوْلَهُ: «الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ»؛ أَيْ: يَجْعَلُهُ مُطَاعًا؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الْعِلْمِ عَامَّةٌ لِكُلِّ أَحَدٍ، الْمُلُوكِ فَمَنْ دُونَهُمْ، فَكُلُّ أَحَدٍ مُحْتَاجٌ إِلَى طَاعَةِ الْعَالِمِ، فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَيَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ طَاعَتُهُ، قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ} [النِّسَاءِ: ٥٩].“Yang dimaksud dengan perkataan, ‘Ilmu membuat seorang alim ditaati semasa hidupnya’ adalah bahwa ilmu menjadikan seorang ulama sebagai orang yang ditaati. Sebab, kebutuhan terhadap ilmu berlaku umum bagi setiap orang, baik para raja maupun mereka yang berada di bawahnya. Setiap orang membutuhkan bimbingan dan ketaatan kepada orang alim karena orang alim memerintahkan manusia untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, manusia wajib menaatinya. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.’ (QS. An-Nisa’: 59).”Kemudian beliau melanjutkan,وَفُسِّرَ {وَأُولِي الْأَمْرِ} بِالْعُلَمَاءِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْعُلَمَاءُ أَهْلُ الدِّينِ، الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ دِينَهُمْ، أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى طَاعَتَهُمْ». وَهَذَا قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَالْحَسَنِ وَالضَّحَّاكِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ.“Firman Allah, ‘dan ulil amri di antara kalian’, ditafsirkan dengan para ulama. Ibnu ‘Abbas mengatakan, ‘Mereka adalah para ahli fikih dan ulama agama yang mengajarkan agama kepada manusia. Allah Ta‘ala mewajibkan ketaatan kepada mereka.’ Ini juga merupakan pendapat Mujahid, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.”Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan,وَفُسِّرُوا بِالْأُمَرَاءِ. وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ زَيْدٍ، وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَحْمَدَ.“Ulil amri juga ditafsirkan sebagai para pemimpin. Ini merupakan pendapat Ibnu Zaid dan salah satu dari dua riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan Imam Ahmad.”Kemudian beliau menyatukan kedua penafsiran tersebut,وَالْآيَةُ تَتَنَاوَلُهُمَا جَمِيعًا؛ فَطَاعَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَاجِبَةٌ إِذَا أَمَرُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَطَاعَةُ الْعُلَمَاءِ كَذَلِكَ.“Ayat tersebut mencakup keduanya. Menaati para pemimpin wajib ketika mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula ketaatan kepada para ulama.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menutup penjelasan tersebut,فَالْعَالِمُ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ الْعَامِلُ بِهِ أَطْوَعُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ كُلِّ أَحَدٍ، فَإِذَا مَاتَ أَحْيَا اللَّهُ ذِكْرَهُ، وَنَشَرَ لَهُ فِي الْعَالَمِينَ أَحْسَنَ الثَّنَاءِ.“Seorang ulama yang mengetahui ajaran yang dibawa Rasul dan mengamalkannya adalah orang yang paling layak ditaati di tengah penduduk bumi. Ketika ia wafat, Allah menghidupkan namanya dan menyebarkan pujian yang baik untuknya di tengah manusia.”Lihat: Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262. Apa yang Bisa Kita Pahami?Ulama dihormati bukan sekadar karena gelar, popularitas, atau banyaknya pengikut. Ulama dihormati karena ilmu tentang wahyu yang ia bawa dan ajarkan kepada manusia.Karena itu, ketaatan kepada ulama bukanlah ketaatan mutlak seperti ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama ditaati selama membimbing kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Dari sini kita memahami keseimbangan Islam: memuliakan ulama, tetapi tidak mengultuskannya; mengambil ilmunya, tetapi tetap mengembalikan perselisihan kepada wahyu. Ulama Bisa Berbeda PendapatMengapa ulama yang sama-sama membaca Al-Qur’an dan hadits masih dapat berbeda pendapat?Di antara sebabnya adalah:Suatu hadits sampai kepada seorang ulama, tetapi tidak sampai kepada ulama lainnya.Para ulama berbeda dalam menilai shahih atau lemahnya suatu riwayat.Mereka berbeda dalam memahami kandungan suatu nash.Mereka berbeda dalam kaidah ushul fikih yang digunakan dalam istinbath hukum.Sebuah lafaz memungkinkan lebih dari satu makna.Mereka berbeda dalam mengompromikan dalil-dalil yang secara lahir tampak bertentangan.Masalah yang dihadapi merupakan persoalan baru yang membutuhkan ijtihad.Perbedaan penilaian terhadap hadits pun termasuk wilayah ijtihad. Seorang ahli hadits mungkin mengetahui keadaan seorang perawi atau jalur periwayatan yang tidak diketahui oleh ahli lainnya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, ia mendapatkan dua pahala. Apabila ia berijtihad kemudian keliru, ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352 dan Muslim, no. 1716)Hadits ini juga menunjukkan satu hal penting: seorang mujtahid mungkin keliru, tetapi kekeliruannya tidak otomatis menjadikannya tercela. Ia bisa mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari kebenaran. Tidak Semua Perbedaan Pendapat SamaDi sinilah sering terjadi kekeliruan.Sebagian orang berkata, “Kan ada ulama yang membolehkan.”Seolah-olah selama ditemukan satu pendapat, persoalan selesai dan semua pendapat otomatis dapat dipilih.Padahal para ulama membedakan antara khilaf yang mu‘tabar dan khilaf yang tidak mu‘tabar.Pertama: Khilaf mu‘tabarKhilaf mu‘tabar adalah perselisihan yang memiliki landasan ilmiah dan memang terdapat ruang ijtihad di dalamnya.Biasanya masalah tersebut:tidak bertentangan dengan nash yang tegas;tidak menyelisihi ijmak yang telah pasti;dalilnya memungkinkan lebih dari satu pemahaman;atau terdapat dalil-dalil yang membutuhkan tarjih;dan pendapat tersebut lahir dari ijtihad ulama yang memiliki kapasitas keilmuan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,مَسَائِلُ الِاجْتِهَادِ لَا يَسُوغُ فِيهَا الْإِنْكَارُ، إِلَّا بِبَيَانِ الْحُجَّةِ وَإِيضَاحِ الْمَحَجَّةِ.“Masalah-masalah ijtihad tidak boleh diingkari dengan pengingkaran keras, kecuali dengan menjelaskan hujah dan menerangkan jalan kebenaran.”Maksudnya bukan dilarang mendiskusikan atau memilih pendapat yang lebih kuat. Kita tetap boleh mengatakan, “Pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat ini.” Yang tidak tepat adalah memperlakukan orang yang mengikuti pendapat ijtihadi lain seakan-akan ia melakukan kemungkaran yang sudah disepakati.Kedua: Khilaf yang tidak mu‘tabarTidak setiap pendapat yang pernah diucapkan seseorang otomatis berubah menjadi ikhtilaf yang harus dihormati.Apabila sebuah pendapat menyelisihi nash yang pasti atau ijmak, perselisihan semacam itu tidak termasuk ruang ijtihad yang mu‘tabar. Pendapat yang syadz atau sangat lemah juga tidak dapat dijadikan alasan untuk meniadakan pengingkaran.Karena itu, ungkapan, “Dalam masalah khilaf tidak boleh ada pengingkaran,” jika dipahami secara mutlak adalah kurang tepat.Yang lebih tepat adalah, “Tidak ada pengingkaran keras dalam masalah ijtihadiyah yang mu‘tabar.”Perbedaan ini: ada masalah yang benar-benar menjadi wilayah ijtihad, tetapi ada pula masalah yang sekadar “pernah diperselisihkan”, padahal dalilnya telah jelas atau telah ada ijmak. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat?Kita perlu berlapang dada ketika persoalan memang termasuk khilaf ijtihadi yang mu‘tabar.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,أَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَلَا إِنْكَارَ فِيهِ.“Adapun perkara yang memang diperselisihkan secara ijtihadi, maka tidak ada pengingkaran keras di dalamnya.”Beliau kemudian menjelaskan bahwa seseorang tetap boleh memberikan nasihat untuk mengambil pendapat yang dianggap lebih hati-hati, tetapi hendaknya dilakukan dengan kelembutan.Contoh perbedaan fikih semacam ini sangat banyak.Contoh yang sangat terkenal terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda kepada para sahabat,لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ“Jangan ada seorang pun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Namun, sebagian mereka telah mendapatkan waktu Ashar saat dalam perjalanan. Kemudian berkatalah salah satu dari mereka, “Kita tidak akan shalat Ashar sampai kita datang di perkampungan mereka.” Sedangkan sebagian lain berkata, “Tidak, kita harus shalat dulu, sebab bukan itu yang diinginkan Nabi.” Kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Nabi dan beliau tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 4119)Dua pihak yang berijtihad berbeda tidaklah saling disalahkan. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “As-Suhaili dan ulama lainnya berkata, “Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa ulama yang memahami hadits atau ayat secara tekstual tidaklah boleh disalahkan. Begitu pula ulama yang memahami dalil dengan makna yang khusus tidaklah disalahkan pula.” (Fath Al-Baari, 7:409). Hal ini menunjukkan bahwa ada yang memahami dalil secara tekstual, ada yang memahami dalil dengan memandang maqashid (maksud, tujuan). Dari sinilah letak timbulnya ikhtilaf perbedaan pendapat, maka dari sinilah setiap penuntut ilmu perlu memahaminya. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus PersaudaraanKita kadang melihat sesuatu yang ironis. Para imam besar berbeda dalam banyak masalah fikih, tetapi murid-murid yang ilmunya jauh di bawah mereka justru saling bermusuhan karena perbedaan tersebut. Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah berkata kepada Yunus Ash-Shadafi,يَا أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا، وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي مَسْأَلَةٍ؟“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap dapat menjadi saudara meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?” Perkataan ini dinukil dari Siyar A‘lam An-Nubala’.Inilah kedewasaan ilmu.Boleh berbeda kesimpulan, tetapi jangan hilang persaudaraan.Boleh mengatakan pendapat seseorang keliru, tetapi tidak perlu menjatuhkan kehormatannya.Boleh melakukan tarjih, tetapi jangan berubah menjadi fanatik. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama1. Bedakan antara mengkritik pendapat dan merendahkan orangnyaMengatakan, “Pendapat ini lemah karena dalilnya demikian,” berbeda dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin ulama itu tidak tahu?”Yang pertama adalah pembahasan ilmiah. Yang kedua bisa menjadi penghinaan.IslamQA menukil nasihat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah bahwa ketika seseorang menemukan kekeliruan pada seorang ulama, ia tetap harus menjaga kehormatannya. Beliau mengatakan,وَلَكِنْ يُبَيِّنُ الْحَقَّ بِالدَّلِيلِ، مَعَ دُعَائِهِ لِلْعَالِمِ، وَالتَّرَحُّمِ عَلَيْهِ.“Namun hendaknya ia menjelaskan kebenaran dengan dalil, sambil mendoakan ulama tersebut dan memohonkan rahmat untuknya.”2. Jangan tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum kita kuasaiSeseorang mungkin melihat praktik ibadah yang berbeda dengan kebiasaannya lalu langsung berkata, “Ini salah!”Padahal bisa jadi praktik tersebut memiliki dasar dalam salah satu mazhab yang mu‘tabar.Islamweb mengingatkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia ketahui, karena boleh jadi orang lain sedang mengikuti pendapat salah seorang imam fikih.Sebelum mengingkari, pelajari dahulu masalahnya.3. Jelaskan dalil, bukan sekadar nama tokoh“Ustaz saya berkata demikian” belum cukup menjadi hujah untuk memaksa orang lain.Demikian pula kalimat, “Syaikh Fulan sudah memfatwakan haram.”, belum otomatis membuat setiap orang yang mengikuti pendapat lain pantas dicela.Pengingkaran dalam masalah ijtihad tidak boleh semata-mata dibangun di atas taklid, tetapi melalui penjelasan hujah dan pembahasan ilmiah.4. Sampaikan pendapat lawan dengan adilJangan membuat pendapat lawan terlihat lebih buruk daripada yang sebenarnya.Islamweb mengingatkan bahwa salah satu bentuk adab terhadap orang yang berbeda adalah menyampaikan pendapat atau argumentasinya dengan amanah sebelum memberikan jawaban.Ini sangat penting pada zaman media sosial. Memotong satu kalimat dari kajian panjang, menghilangkan konteks, lalu menjadikannya bahan serangan bukanlah cara ilmiah.5. Jangan menuduh niat dan hawa nafsu tanpa buktiKita boleh menilai argumen.Kita tidak otomatis mengetahui isi hati orang yang menyampaikannya.Jangan setiap pendapat yang berbeda langsung dituduh karena kepentingan dunia, mencari popularitas, takut manusia, atau mengikuti hawa nafsu.6. Jangan menjadikan masalah ijtihadiyah sebagai standar loyalitasJangan sampai seseorang dianggap “kawan” hanya karena sama pendapat dalam satu cabang fikih, sedangkan orang yang berbeda dianggap musuh.Perbedaan ijtihadiyah seharusnya tidak menghilangkan persaudaraan dan tidak berubah menjadi pertikaian.7. Rendah hati dengan ilmu yang kita milikiSemakin luas pengetahuan seseorang terhadap khazanah fikih, biasanya semakin ia sadar bahwa banyak masalah tidak sesederhana potongan video satu menit.Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91) Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!”Sebelum menyanggah, coba tanyakan kepada diri kita:Apakah masalah ini sudah memiliki nash yang benar-benar tegas?Apakah memang telah ada ijmak dalam masalah ini?Apakah pendapat yang berbeda mempunyai sandaran dari ulama yang diakui keilmuannya?Apakah saya sendiri telah memahami dalil dan penjelasan ulama dalam masalah tersebut?Jika harus dikoreksi, bisakah saya menjelaskannya dengan ilmu dan adab?Lima pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan kita dari banyak pertengkaran, terutama di media sosial. Ringkasnya, ada tiga keadaanPertama: masalah qath‘i dan ijmak.Tidak ada ruang untuk menjadikan pendapat yang menyelisihinya sebagai khilaf yang bisa ditoleransi.Kedua: masalah ijtihadiyah dengan khilaf yang mu‘tabar.Kita boleh melakukan tarjih dan menjelaskan pendapat yang lebih kuat, tetapi tidak boleh mudah mencela orang yang mengikuti pendapat lain.Ketiga: pendapat yang syadz atau khilafnya sangat lemah.Tidak cukup dikatakan, “Ada ulama yang pernah berpendapat demikian.” Perlu dilihat kekuatan dalil dan apakah pendapat tersebut memang dianggap mu‘tabar oleh ahli ilmu.Dengan pembagian sederhana ini, masyarakat akan lebih mudah memahami bahwa kalimat “ini masalah khilaf” tidak dapat digunakan sebagai kartu bebas untuk membenarkan apa saja. PenutupBetapa indahnya jika setelah berbeda pendapat, kita masih mampu mendoakan saudara kita dan meminta kepada Allah agar hati tetap bersatu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa,اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.ALLAHUMMA ALLIF BAYNA QULUUBINAA, WA ASHLIH DZAATA BAYNINAA, WAHDINAA SUBULAS SALAAM, WA NAJJINAA MINAZH ZHULUMAATI ILANNUUR. WA JANNIBNAAL FAWAHISYA MAA ZHOHARA MINHA WA MAA BATHON. WA BAARIK LANAA FII ASMAA’INAA WA AB-SHOORINAA WA QULUUBINAA WA AZWAAJINAA WA DZURRIYATINAA. WA TUB ‘ALAYNAA INNAKA ANTAT TAWWABUR RAHIIM. WAJ’ALNAA SYAKIRIINA LI NI’MATIKA MUTSNIINA BIHAA QOOBILIIHA WA ATIMMAHA ‘ALAINAA.“Ya Allah, satukanlah hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan (menuju surga). Selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji yang nampak maupun tersembunyi. Berkahilah pendengaran, penglihatan, hati, istri, dan keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba yang bersyukur atas nikmat-Mu, terus memuji-Mu dan menerima nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat tersebut pada kami.” (HR. Abu Daud, no. 969, dari ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Al-Hafizh Abu Thahir menilai hadits ini shahih) ReferensiIslamQA, pembahasan Apakah Masalah Khilaf Tidak Boleh Diingkari? yang membedakan antara masalah khilaf dan masalah ijtihad.IslamQA, pembahasan tentang sikap seorang muslim ketika para ulama berbeda dan kewajiban orang awam mengikuti ulama yang lebih dipercaya ilmu dan agamanya.IslamQA, pembahasan larangan mencari-cari keringanan dari berbagai pendapat ulama.Islamweb, Adab Al-Khilaf fi Al-Islam, tentang menghormati pihak yang berbeda, husnuzan, dan menggunakan ungkapan yang baik.Islamweb, pembahasan perbedaan antara masalah khilafiyyah dan masalah ijtihadiyyah.Rumaysho.Com, Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat.Rumaysho.Com, Menyikapi Ijtihad Seorang Ulama.Rumaysho.Com, Khutbah Jumat: Ya Allah, Satukanlah Hati Kami.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262.– @ Masjid Al Azhar Karangrejek | Majelis Taklim Aisyah Wonosari Gunungkidul, 10 September 2026Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab ikhtilaf adab menuntut ilmu ijtihad ulama ikhtilaf ulama khilaf mu‘tabar khilafiyah menghormati ulama perbedaan pendapat persatuan umat tarjih pendapat


Tidak setiap perbedaan pendapat ulama harus dipertengkarkan, tetapi tidak pula setiap pendapat yang berbeda otomatis boleh ditoleransi. Ada masalah yang memang terbuka untuk ijtihad sehingga kita harus berlapang dada, dan ada masalah yang dalilnya sudah tegas sehingga kekeliruan tetap perlu diluruskan. Yang dibutuhkan adalah ilmu untuk membedakannya dan adab untuk menyikapinya.  Daftar Isi tutup 1. Ulama Harus Dihormati 2. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama Ditaati 3. Apa yang Bisa Kita Pahami? 4. Ulama Bisa Berbeda Pendapat 5. Tidak Semua Perbedaan Pendapat Sama 6. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat? 7. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus Persaudaraan 8. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama 9. Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!” 10. Penutup  Ulama Harus DihormatiAllah Ta‘ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Orang yang tidak mengetahui hukum agama diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan para ulama di tengah umat.Namun, menghormati ulama bukan berarti menganggap mereka maksum. Ulama bisa benar dalam ijtihadnya dan bisa pula keliru. Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali kita tetaplah Al-Qur’an dan Sunnah.Allah Ta‘ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59)Maka ada dua prinsip yang harus berjalan bersama:Kita menghormati ulama, tetapi tidak menganggapnya maksum. Kita mengikuti dalil, tetapi tidak menjadikan dalil sebagai alasan untuk merendahkan ulama.Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits bukan berarti melupakan ulama. Kita membutuhkan penjelasan para ulama untuk memahami dalil-dalil syariat. Ibnul Qayyim: Ilmu Membuat Seorang Ulama DitaatiAda penjelasan yang sangat indah dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah. Beliau sedang menjelaskan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan ilmu,الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيلَ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ مَمَاتِهِ.“Ilmu menjadikan seorang alim ditaati semasa hidupnya dan meninggalkan sebutan yang baik setelah wafatnya.”Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَالْمَقْصُودُ أَنَّ قَوْلَهُ: «الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ»؛ أَيْ: يَجْعَلُهُ مُطَاعًا؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الْعِلْمِ عَامَّةٌ لِكُلِّ أَحَدٍ، الْمُلُوكِ فَمَنْ دُونَهُمْ، فَكُلُّ أَحَدٍ مُحْتَاجٌ إِلَى طَاعَةِ الْعَالِمِ، فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَيَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ طَاعَتُهُ، قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ} [النِّسَاءِ: ٥٩].“Yang dimaksud dengan perkataan, ‘Ilmu membuat seorang alim ditaati semasa hidupnya’ adalah bahwa ilmu menjadikan seorang ulama sebagai orang yang ditaati. Sebab, kebutuhan terhadap ilmu berlaku umum bagi setiap orang, baik para raja maupun mereka yang berada di bawahnya. Setiap orang membutuhkan bimbingan dan ketaatan kepada orang alim karena orang alim memerintahkan manusia untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, manusia wajib menaatinya. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.’ (QS. An-Nisa’: 59).”Kemudian beliau melanjutkan,وَفُسِّرَ {وَأُولِي الْأَمْرِ} بِالْعُلَمَاءِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْعُلَمَاءُ أَهْلُ الدِّينِ، الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ دِينَهُمْ، أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى طَاعَتَهُمْ». وَهَذَا قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَالْحَسَنِ وَالضَّحَّاكِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ.“Firman Allah, ‘dan ulil amri di antara kalian’, ditafsirkan dengan para ulama. Ibnu ‘Abbas mengatakan, ‘Mereka adalah para ahli fikih dan ulama agama yang mengajarkan agama kepada manusia. Allah Ta‘ala mewajibkan ketaatan kepada mereka.’ Ini juga merupakan pendapat Mujahid, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.”Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan,وَفُسِّرُوا بِالْأُمَرَاءِ. وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ زَيْدٍ، وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَحْمَدَ.“Ulil amri juga ditafsirkan sebagai para pemimpin. Ini merupakan pendapat Ibnu Zaid dan salah satu dari dua riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan Imam Ahmad.”Kemudian beliau menyatukan kedua penafsiran tersebut,وَالْآيَةُ تَتَنَاوَلُهُمَا جَمِيعًا؛ فَطَاعَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَاجِبَةٌ إِذَا أَمَرُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَطَاعَةُ الْعُلَمَاءِ كَذَلِكَ.“Ayat tersebut mencakup keduanya. Menaati para pemimpin wajib ketika mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula ketaatan kepada para ulama.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menutup penjelasan tersebut,فَالْعَالِمُ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ الْعَامِلُ بِهِ أَطْوَعُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ كُلِّ أَحَدٍ، فَإِذَا مَاتَ أَحْيَا اللَّهُ ذِكْرَهُ، وَنَشَرَ لَهُ فِي الْعَالَمِينَ أَحْسَنَ الثَّنَاءِ.“Seorang ulama yang mengetahui ajaran yang dibawa Rasul dan mengamalkannya adalah orang yang paling layak ditaati di tengah penduduk bumi. Ketika ia wafat, Allah menghidupkan namanya dan menyebarkan pujian yang baik untuknya di tengah manusia.”Lihat: Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262. Apa yang Bisa Kita Pahami?Ulama dihormati bukan sekadar karena gelar, popularitas, atau banyaknya pengikut. Ulama dihormati karena ilmu tentang wahyu yang ia bawa dan ajarkan kepada manusia.Karena itu, ketaatan kepada ulama bukanlah ketaatan mutlak seperti ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama ditaati selama membimbing kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Dari sini kita memahami keseimbangan Islam: memuliakan ulama, tetapi tidak mengultuskannya; mengambil ilmunya, tetapi tetap mengembalikan perselisihan kepada wahyu. Ulama Bisa Berbeda PendapatMengapa ulama yang sama-sama membaca Al-Qur’an dan hadits masih dapat berbeda pendapat?Di antara sebabnya adalah:Suatu hadits sampai kepada seorang ulama, tetapi tidak sampai kepada ulama lainnya.Para ulama berbeda dalam menilai shahih atau lemahnya suatu riwayat.Mereka berbeda dalam memahami kandungan suatu nash.Mereka berbeda dalam kaidah ushul fikih yang digunakan dalam istinbath hukum.Sebuah lafaz memungkinkan lebih dari satu makna.Mereka berbeda dalam mengompromikan dalil-dalil yang secara lahir tampak bertentangan.Masalah yang dihadapi merupakan persoalan baru yang membutuhkan ijtihad.Perbedaan penilaian terhadap hadits pun termasuk wilayah ijtihad. Seorang ahli hadits mungkin mengetahui keadaan seorang perawi atau jalur periwayatan yang tidak diketahui oleh ahli lainnya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ، ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, ia mendapatkan dua pahala. Apabila ia berijtihad kemudian keliru, ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352 dan Muslim, no. 1716)Hadits ini juga menunjukkan satu hal penting: seorang mujtahid mungkin keliru, tetapi kekeliruannya tidak otomatis menjadikannya tercela. Ia bisa mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari kebenaran. Tidak Semua Perbedaan Pendapat SamaDi sinilah sering terjadi kekeliruan.Sebagian orang berkata, “Kan ada ulama yang membolehkan.”Seolah-olah selama ditemukan satu pendapat, persoalan selesai dan semua pendapat otomatis dapat dipilih.Padahal para ulama membedakan antara khilaf yang mu‘tabar dan khilaf yang tidak mu‘tabar.Pertama: Khilaf mu‘tabarKhilaf mu‘tabar adalah perselisihan yang memiliki landasan ilmiah dan memang terdapat ruang ijtihad di dalamnya.Biasanya masalah tersebut:tidak bertentangan dengan nash yang tegas;tidak menyelisihi ijmak yang telah pasti;dalilnya memungkinkan lebih dari satu pemahaman;atau terdapat dalil-dalil yang membutuhkan tarjih;dan pendapat tersebut lahir dari ijtihad ulama yang memiliki kapasitas keilmuan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,مَسَائِلُ الِاجْتِهَادِ لَا يَسُوغُ فِيهَا الْإِنْكَارُ، إِلَّا بِبَيَانِ الْحُجَّةِ وَإِيضَاحِ الْمَحَجَّةِ.“Masalah-masalah ijtihad tidak boleh diingkari dengan pengingkaran keras, kecuali dengan menjelaskan hujah dan menerangkan jalan kebenaran.”Maksudnya bukan dilarang mendiskusikan atau memilih pendapat yang lebih kuat. Kita tetap boleh mengatakan, “Pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat ini.” Yang tidak tepat adalah memperlakukan orang yang mengikuti pendapat ijtihadi lain seakan-akan ia melakukan kemungkaran yang sudah disepakati.Kedua: Khilaf yang tidak mu‘tabarTidak setiap pendapat yang pernah diucapkan seseorang otomatis berubah menjadi ikhtilaf yang harus dihormati.Apabila sebuah pendapat menyelisihi nash yang pasti atau ijmak, perselisihan semacam itu tidak termasuk ruang ijtihad yang mu‘tabar. Pendapat yang syadz atau sangat lemah juga tidak dapat dijadikan alasan untuk meniadakan pengingkaran.Karena itu, ungkapan, “Dalam masalah khilaf tidak boleh ada pengingkaran,” jika dipahami secara mutlak adalah kurang tepat.Yang lebih tepat adalah, “Tidak ada pengingkaran keras dalam masalah ijtihadiyah yang mu‘tabar.”Perbedaan ini: ada masalah yang benar-benar menjadi wilayah ijtihad, tetapi ada pula masalah yang sekadar “pernah diperselisihkan”, padahal dalilnya telah jelas atau telah ada ijmak. Kapan Kita Harus Menghargai Perbedaan Pendapat?Kita perlu berlapang dada ketika persoalan memang termasuk khilaf ijtihadi yang mu‘tabar.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,أَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَلَا إِنْكَارَ فِيهِ.“Adapun perkara yang memang diperselisihkan secara ijtihadi, maka tidak ada pengingkaran keras di dalamnya.”Beliau kemudian menjelaskan bahwa seseorang tetap boleh memberikan nasihat untuk mengambil pendapat yang dianggap lebih hati-hati, tetapi hendaknya dilakukan dengan kelembutan.Contoh perbedaan fikih semacam ini sangat banyak.Contoh yang sangat terkenal terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda kepada para sahabat,لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ“Jangan ada seorang pun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Namun, sebagian mereka telah mendapatkan waktu Ashar saat dalam perjalanan. Kemudian berkatalah salah satu dari mereka, “Kita tidak akan shalat Ashar sampai kita datang di perkampungan mereka.” Sedangkan sebagian lain berkata, “Tidak, kita harus shalat dulu, sebab bukan itu yang diinginkan Nabi.” Kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Nabi dan beliau tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 4119)Dua pihak yang berijtihad berbeda tidaklah saling disalahkan. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “As-Suhaili dan ulama lainnya berkata, “Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa ulama yang memahami hadits atau ayat secara tekstual tidaklah boleh disalahkan. Begitu pula ulama yang memahami dalil dengan makna yang khusus tidaklah disalahkan pula.” (Fath Al-Baari, 7:409). Hal ini menunjukkan bahwa ada yang memahami dalil secara tekstual, ada yang memahami dalil dengan memandang maqashid (maksud, tujuan). Dari sinilah letak timbulnya ikhtilaf perbedaan pendapat, maka dari sinilah setiap penuntut ilmu perlu memahaminya. Berbeda Pendapat Jangan Sampai Memutus PersaudaraanKita kadang melihat sesuatu yang ironis. Para imam besar berbeda dalam banyak masalah fikih, tetapi murid-murid yang ilmunya jauh di bawah mereka justru saling bermusuhan karena perbedaan tersebut. Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah berkata kepada Yunus Ash-Shadafi,يَا أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا، وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي مَسْأَلَةٍ؟“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap dapat menjadi saudara meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?” Perkataan ini dinukil dari Siyar A‘lam An-Nubala’.Inilah kedewasaan ilmu.Boleh berbeda kesimpulan, tetapi jangan hilang persaudaraan.Boleh mengatakan pendapat seseorang keliru, tetapi tidak perlu menjatuhkan kehormatannya.Boleh melakukan tarjih, tetapi jangan berubah menjadi fanatik. Adab Ketika Berbeda dengan Ulama1. Bedakan antara mengkritik pendapat dan merendahkan orangnyaMengatakan, “Pendapat ini lemah karena dalilnya demikian,” berbeda dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin ulama itu tidak tahu?”Yang pertama adalah pembahasan ilmiah. Yang kedua bisa menjadi penghinaan.IslamQA menukil nasihat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah bahwa ketika seseorang menemukan kekeliruan pada seorang ulama, ia tetap harus menjaga kehormatannya. Beliau mengatakan,وَلَكِنْ يُبَيِّنُ الْحَقَّ بِالدَّلِيلِ، مَعَ دُعَائِهِ لِلْعَالِمِ، وَالتَّرَحُّمِ عَلَيْهِ.“Namun hendaknya ia menjelaskan kebenaran dengan dalil, sambil mendoakan ulama tersebut dan memohonkan rahmat untuknya.”2. Jangan tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum kita kuasaiSeseorang mungkin melihat praktik ibadah yang berbeda dengan kebiasaannya lalu langsung berkata, “Ini salah!”Padahal bisa jadi praktik tersebut memiliki dasar dalam salah satu mazhab yang mu‘tabar.Islamweb mengingatkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia ketahui, karena boleh jadi orang lain sedang mengikuti pendapat salah seorang imam fikih.Sebelum mengingkari, pelajari dahulu masalahnya.3. Jelaskan dalil, bukan sekadar nama tokoh“Ustaz saya berkata demikian” belum cukup menjadi hujah untuk memaksa orang lain.Demikian pula kalimat, “Syaikh Fulan sudah memfatwakan haram.”, belum otomatis membuat setiap orang yang mengikuti pendapat lain pantas dicela.Pengingkaran dalam masalah ijtihad tidak boleh semata-mata dibangun di atas taklid, tetapi melalui penjelasan hujah dan pembahasan ilmiah.4. Sampaikan pendapat lawan dengan adilJangan membuat pendapat lawan terlihat lebih buruk daripada yang sebenarnya.Islamweb mengingatkan bahwa salah satu bentuk adab terhadap orang yang berbeda adalah menyampaikan pendapat atau argumentasinya dengan amanah sebelum memberikan jawaban.Ini sangat penting pada zaman media sosial. Memotong satu kalimat dari kajian panjang, menghilangkan konteks, lalu menjadikannya bahan serangan bukanlah cara ilmiah.5. Jangan menuduh niat dan hawa nafsu tanpa buktiKita boleh menilai argumen.Kita tidak otomatis mengetahui isi hati orang yang menyampaikannya.Jangan setiap pendapat yang berbeda langsung dituduh karena kepentingan dunia, mencari popularitas, takut manusia, atau mengikuti hawa nafsu.6. Jangan menjadikan masalah ijtihadiyah sebagai standar loyalitasJangan sampai seseorang dianggap “kawan” hanya karena sama pendapat dalam satu cabang fikih, sedangkan orang yang berbeda dianggap musuh.Perbedaan ijtihadiyah seharusnya tidak menghilangkan persaudaraan dan tidak berubah menjadi pertikaian.7. Rendah hati dengan ilmu yang kita milikiSemakin luas pengetahuan seseorang terhadap khazanah fikih, biasanya semakin ia sadar bahwa banyak masalah tidak sesederhana potongan video satu menit.Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91) Lima pertanyaan sebelum mengatakan “Pendapat ini salah!”Sebelum menyanggah, coba tanyakan kepada diri kita:Apakah masalah ini sudah memiliki nash yang benar-benar tegas?Apakah memang telah ada ijmak dalam masalah ini?Apakah pendapat yang berbeda mempunyai sandaran dari ulama yang diakui keilmuannya?Apakah saya sendiri telah memahami dalil dan penjelasan ulama dalam masalah tersebut?Jika harus dikoreksi, bisakah saya menjelaskannya dengan ilmu dan adab?Lima pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan kita dari banyak pertengkaran, terutama di media sosial. Ringkasnya, ada tiga keadaanPertama: masalah qath‘i dan ijmak.Tidak ada ruang untuk menjadikan pendapat yang menyelisihinya sebagai khilaf yang bisa ditoleransi.Kedua: masalah ijtihadiyah dengan khilaf yang mu‘tabar.Kita boleh melakukan tarjih dan menjelaskan pendapat yang lebih kuat, tetapi tidak boleh mudah mencela orang yang mengikuti pendapat lain.Ketiga: pendapat yang syadz atau khilafnya sangat lemah.Tidak cukup dikatakan, “Ada ulama yang pernah berpendapat demikian.” Perlu dilihat kekuatan dalil dan apakah pendapat tersebut memang dianggap mu‘tabar oleh ahli ilmu.Dengan pembagian sederhana ini, masyarakat akan lebih mudah memahami bahwa kalimat “ini masalah khilaf” tidak dapat digunakan sebagai kartu bebas untuk membenarkan apa saja. PenutupBetapa indahnya jika setelah berbeda pendapat, kita masih mampu mendoakan saudara kita dan meminta kepada Allah agar hati tetap bersatu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa,اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.ALLAHUMMA ALLIF BAYNA QULUUBINAA, WA ASHLIH DZAATA BAYNINAA, WAHDINAA SUBULAS SALAAM, WA NAJJINAA MINAZH ZHULUMAATI ILANNUUR. WA JANNIBNAAL FAWAHISYA MAA ZHOHARA MINHA WA MAA BATHON. WA BAARIK LANAA FII ASMAA’INAA WA AB-SHOORINAA WA QULUUBINAA WA AZWAAJINAA WA DZURRIYATINAA. WA TUB ‘ALAYNAA INNAKA ANTAT TAWWABUR RAHIIM. WAJ’ALNAA SYAKIRIINA LI NI’MATIKA MUTSNIINA BIHAA QOOBILIIHA WA ATIMMAHA ‘ALAINAA.“Ya Allah, satukanlah hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan (menuju surga). Selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji yang nampak maupun tersembunyi. Berkahilah pendengaran, penglihatan, hati, istri, dan keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba yang bersyukur atas nikmat-Mu, terus memuji-Mu dan menerima nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat tersebut pada kami.” (HR. Abu Daud, no. 969, dari ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Al-Hafizh Abu Thahir menilai hadits ini shahih) ReferensiIslamQA, pembahasan Apakah Masalah Khilaf Tidak Boleh Diingkari? yang membedakan antara masalah khilaf dan masalah ijtihad.IslamQA, pembahasan tentang sikap seorang muslim ketika para ulama berbeda dan kewajiban orang awam mengikuti ulama yang lebih dipercaya ilmu dan agamanya.IslamQA, pembahasan larangan mencari-cari keringanan dari berbagai pendapat ulama.Islamweb, Adab Al-Khilaf fi Al-Islam, tentang menghormati pihak yang berbeda, husnuzan, dan menggunakan ungkapan yang baik.Islamweb, pembahasan perbedaan antara masalah khilafiyyah dan masalah ijtihadiyyah.Rumaysho.Com, Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat.Rumaysho.Com, Menyikapi Ijtihad Seorang Ulama.Rumaysho.Com, Khutbah Jumat: Ya Allah, Satukanlah Hati Kami.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:262.– @ Masjid Al Azhar Karangrejek | Majelis Taklim Aisyah Wonosari Gunungkidul, 10 September 2026Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab ikhtilaf adab menuntut ilmu ijtihad ulama ikhtilaf ulama khilaf mu‘tabar khilafiyah menghormati ulama perbedaan pendapat persatuan umat tarjih pendapat

Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat

Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal

Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat

Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal
Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal


Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal

Perang Tabuk: Ujian Keimanan dan Pengorbanan Terbesar di Masa Nabi ﷺ

Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Tabuk 1.1. Pertama: Dari Jazirah Arab Menuju Dunia 1.2. Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi Keimanan 1.3. Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan Kemunafikan 1.4. Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan Jihad 1.5. Kelima: Berlomba dalam Kebaikan 1.6. Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam Berinfak 1.7. Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi? 1.8. Kedelapan: Sedekah Sesuai Kemampuan 1.9. Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi Thalib 1.10. Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala Besar 1.11. Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap Tulus 1.12. Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan 1.13. Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta 1.14. Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat 1.15. Kelima belas: Jangan Mencari-cari Alasan 1.16. Keenam belas: Jangan Memperolok Agama 1.17. Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina Syariat 1.18. Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik 1.19. Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar 1.20. Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum Bertempur 1.21. Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan 1.22. Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga Sahabat 1.23. Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum Tsamud 1.24. Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada Allah 1.25. Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah Beritahukan 1.26. Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit Bangkai 1.27. Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺ 1.28. Kedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul Bijadain 1.29. Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga Lisan 1.30. Ketiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada Beliau 1.31. Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺ  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tabuk. Al-Waqidi rahimahullah berkata,“Beliau mengikat panji-panji dan bendera-bendera. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera terbesar kepada Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera suku Aus kepada Usaid bin Al-Hudhair radhiyallahu ‘anhu, dan menyerahkan bendera suku Khazraj kepada Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu. Ada pula yang mengatakan bahwa bendera tersebut diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu.”Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama tiga puluh ribu orang atau lebih. Jumlah hewan tunggangan sangat sedikit dan mereka menghadapi kesulitan yang berat. Bahkan, dua atau tiga orang harus bergantian menaiki satu ekor unta.Bekal pun sangat sedikit, sampai-sampai mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih hewan tunggangan mereka agar dapat memakan dagingnya dan meminum air yang terdapat dalam lambungnya.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau bersabda,“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis, karena khawatir kalian akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa mereka.”Kemudian beliau menundukkan kepala dan mempercepat perjalanan hingga melewati tempat tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan mereka agar tidak meminum air dari sumur-sumur di tempat itu dan tidak mengambil air darinya. Mereka kemudian memberitahukan bahwa mereka telah membuat adonan menggunakan air tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menumpahkan air yang telah mereka ambil dan memberikan adonan tersebut kepada unta.Orang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Al-A‘masy meriwayatkan dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau Abu Sa‘id radhiyallahu ‘anhuma—Al-A‘masy ragu—ia berkata:Ketika Perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami, lalu kami memakan dagingnya dan menggunakan lemaknya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah.”Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau melakukan hal itu, jumlah hewan tunggangan akan semakin sedikit. Namun, mintalah mereka membawa sisa-sisa bekal mereka, kemudian berdoalah kepada Allah agar memberikan keberkahan pada bekal tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan padanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Baik.”Kemudian beliau meminta selembar kulit dan membentangkannya. Setelah itu, beliau meminta agar mereka membawa sisa-sisa bekal mereka. Ada orang yang datang membawa segenggam jagung, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa sepotong roti. Hingga akhirnya terkumpul sedikit makanan di atas kulit tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan keberkahan pada makanan itu. Setelah itu, beliau bersabda, “Ambillah dan masukkan ke dalam wadah-wadah kalian.”Mereka pun memasukkannya ke dalam wadah-wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di dalam pasukan kecuali telah terisi penuh.Mereka kemudian makan hingga kenyang dan makanan itu masih tersisa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa kedua kesaksian ini tanpa meragukannya, melainkan ia tidak akan terhalang dari surga.”Dalam perjalanan, unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat. Sebagian orang munafik pun berkata, “Muhammad mengaku sebagai nabi yang mendapat berita dari langit, tetapi ia tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengetahui kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah menunjukkan kepadaku tempat unta itu. Unta tersebut berada di lembah ini, di sebuah celah bukit ini dan itu. Tali kekangnya tertahan oleh sebatang pohon. Pergilah hingga kalian membawanya kepadaku.”Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun pergi. Mereka menemukan unta tersebut sebagaimana yang beliau sebutkan, lalu membawanya kembali.Dari Salamah bin Al-Muhabbiq radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sebuah rumah. Ternyata di sana terdapat sebuah kantong air yang tergantung. Beliau meminta air. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kantong itu berasal dari bangkai.”Beliau bersabda,دِبَاغُهَا طَهُورُهَا“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Dalam perjalanan menuju Tabuk, pasukan berhenti pada malam hari. Ketika waktu fajar tiba, Rasulullah ﷺ pergi untuk buang hajat. Beliau ditemani oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu. Karena beliau terlambat kembali, kaum muslimin pun meminta Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu untuk maju menjadi imam. Ia pun mengimami mereka.Pada rakaat kedua, Rasulullah ﷺ datang. Beliau mendapatkan satu rakaat dan masih sempat mengikuti satu rakaat lainnya bersama imam. Kaum muslimin pun merasa cemas. Setelah Rasulullah ﷺ selesai mengucapkan salam, beliau bersabda kepada mereka, “Kalian telah berbuat baik,” atau beliau bersabda, “Kalian telah melakukan dengan benar.” (HR. Muslim, no. 274)Ketika mereka sampai di Tabuk, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا -إِنْ شَاءَ اللَّهُ- عَيْنَ تَبُوكَ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِيَ النَّهَارُ، فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلَا يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ.“Besok, insyaallah, kalian akan sampai di mata air Tabuk. Kalian tidak akan sampai di sana hingga hari telah meninggi. Siapa di antara kalian yang sampai di sana lebih dahulu, janganlah menyentuh sedikit pun airnya sampai aku datang.”Ternyata ada dua orang yang lebih dahulu sampai di sana. Mata air tersebut hanya mengeluarkan sedikit air, seperti tali sandal. Rasulullah ﷺ bertanya kepada keduanya,هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا؟“Apakah kalian berdua telah menyentuh sedikit dari airnya?”Keduanya menjawab, “Ya.”Nabi ﷺ pun menegur keduanya dan mengatakan kepada mereka apa yang Allah kehendaki untuk beliau katakan.Kemudian mereka mengambil air dari mata air itu sedikit demi sedikit dengan tangan mereka hingga terkumpul dalam sebuah wadah. Rasulullah ﷺ lalu membasuh kedua tangan dan wajah beliau dengan air tersebut, kemudian mengembalikannya ke mata air. Seketika mata air itu memancarkan air yang deras atau melimpah—perawi ‘Aziz berkata bahwa Abu Ali ragu mengenai redaksinya—hingga orang-orang dapat mengambil air secukupnya.Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,يُوشِكُ، يَا مُعَاذُ، إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا.“Wahai Mu‘adz, jika umurmu panjang, tidak lama lagi engkau akan melihat tempat ini telah dipenuhi kebun-kebun.” (HR. Muslim, no. 706)Rasulullah ﷺ menetap di Tabuk selama dua puluh hari. Beliau tidak bertemu dengan tipu daya musuh dan tidak pula menghadapi pertempuran. Beliau hanya membuat pasukan Romawi merasa gentar di negeri mereka sendiri. Akibatnya, mereka tidak keluar untuk menghadapi beliau dan memilih tetap berlindung di negeri mereka.Ketika Rasulullah ﷺ berada di Tabuk, jaraknya dengan Ailah sudah dekat. Beliau mengirim utusan kepada penguasa Ailah. Penguasa tersebut datang menemui beliau, berdamai dengan beliau, dan memberikan jizyah. Penduduk Jarba’ dan Adzruh juga datang menemui beliau dan memberikan jizyah. Rasulullah ﷺ kemudian menuliskan sebuah surat perjanjian untuk mereka.Dalam Perang Tabuk, Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu wafat. Rasulullah ﷺ turun ke dalam liang kuburnya. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma menyerahkan jenazahnya kepada beliau di dalam kubur. Rasulullah ﷺ mendoakannya dengan bersabda,اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ رَاضِيًا عَنْهُ فَارْضَ عَنْهُ.“Ya Allah, sungguh pada petang ini aku telah meridainya, maka ridailah dia.” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, 2:528)Kemudian Rasulullah ﷺ kembali menuju Madinah. Dalam perjalanan, Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berada dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia memanfaatkan kesempatan berada dekat dan berdua dengan beliau.Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk. Ketika aku melihat beliau sedang sendirian, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’Beliau bersabda, ‘Bagus! Sungguh, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Namun, hal itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan untuk melakukannya. Dirikanlah salat yang diwajibkan, tunaikanlah zakat yang diwajibkan, dan temuilah Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Maukah aku tunjukkan kepadamu pokok segala urusan, tiangnya, dan puncak tertingginya? Pokok segala urusan adalah Islam. Siapa yang masuk Islam, ia akan selamat. Tiangnya adalah salat. Adapun puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Salat seorang hamba pada tengah malam dapat menghapus kesalahan-kesalahan.’Kemudian beliau membaca ayat,تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’Aku menjawab, ‘Tentu.’Mu‘adz berkata, ‘Aku khawatir orang-orang akan menyibukkan Rasulullah ﷺ dariku. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah tadi engkau mengatakan, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’”’Mu‘adz berkata, “Kemudian Rasulullah ﷺ menunjuk dengan tangannya ke arah lidah beliau.”Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”Beliau bersabda,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di atas hidung mereka adalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?” (HR. Ahmad, 36:388) Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Dari Jazirah Arab Menuju DuniaPerang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi KeimananAllah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan KemunafikanPerang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan JihadDisyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Berlomba dalam KebaikanDisyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam BerinfakTampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi?Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Sedekah Sesuai KemampuanAbu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi ThalibPada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala BesarSebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap TulusSekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Jangan Mencari-cari AlasanKelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah.Keenam belas: Jangan Memperolok AgamaGolongan lain dari orang-orang munafik. Seakan-akan mereka saling berbagi peran dalam menimpakan bahaya kepada pasukan kaum muslimin. Kebiasaan mereka adalah mengejek dan merendahkan kaum muslimin. Sebagian mereka berkata—yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang ikut keluar dalam Perang Tabuk, padahal perbekalan sedikit dan perjalanan sangat jauh—, “Kami tidak pernah melihat para pembaca Al-Qur’an seperti mereka; perut mereka paling rakus, lisan mereka paling dusta, dan mereka paling pengecut ketika bertemu musuh.”Lalu ada seseorang di dalam masjid berkata, “Engkau berdusta. Bahkan engkau adalah orang munafik. Aku benar-benar akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ.” Berita itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah ayat Al-Qur’an.Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Seolah-olah aku masih melihat orang itu bergelantungan pada tali kekang unta Rasulullah ﷺ, sementara batu-batu mengenai kedua kakinya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan berbincang-bincang saja.’ Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah:﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Artinya: Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65–66)As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperolok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari agama. Sebab, agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, pengagungan terhadap agama-Nya, dan penghormatan kepada Rasul-Nya. Sedangkan memperolok salah satu dari semuanya itu bertentangan dengan prinsip tersebut dan merupakan bentuk penentangan yang paling besar.”Meskipun demikian, nash-nash ancaman seperti ini memiliki penafsiran yang telah diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya, agar lebih membekas dalam jiwa dan lebih kuat sebagai peringatan. Wallahu a’lam.Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina SyariatOrang-orang munafik telah mengejek Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin. Meskipun demikian, ayat yang turun menjelaskan bahwa ucapan tersebut merupakan ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan betapa beratnya perbuatan tersebut serta betapa mulianya kehormatan seorang mukmin. Sebab, Allah menjadikan ejekan terhadap kaum mukminin sebagai ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa yang menjadi bentuk penghinaan adalah mengejek dan memperolok suatu perintah, bukan orang yang diperintahkan. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memperolok atau mengejek sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an, As-Sunnah Nabi, ataupun salah satu hukum syariat.Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik Di antara pelajaran dari Perang Tabuk adalah bahwa Allah menjelaskan, seandainya orang-orang yang tidak ikut berangkat itu mengetahui bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dunia, niscaya mereka akan segera berangkat. Allah Ta’ala berfirman:لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 42)Demikian pula sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang orang-orang yang tidak menghadiri shalat Isya:«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ»“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku pernah berkeinginan memerintahkan agar kayu bakar dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan agar azan untuk shalat dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku membakar rumah-rumah mereka. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan sepotong tulang yang masih berisi daging yang gemuk, atau dua kaki kambing yang baik, niscaya ia akan menghadiri shalat Isya.” (HR. Bukhari, 1:131, Muslim, no. 644)Hal seperti ini juga banyak terjadi di tengah masyarakat. Jika salah seorang dari mereka memiliki kepentingan dunia, ia rela mendatanginya meskipun harus keluar pada tengah malam. Namun, pada saat yang sama ia justru tertidur sehingga meninggalkan shalat Subuh. Seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menyerupai perbuatan orang-orang munafik.Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar Rasulullah ﷺ mengikat panji-panji dan bendera-bendera pasukan ketika hendak meninggalkan Madinah. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, lalu membagikan bendera-bendera kepada para pemuka kaum Muhajirin, Anshar, suku Aus, dan Khazraj.Dalam hal ini terdapat isyarat akan kedudukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliaulah pemegang panji terbesar dalam perang terbesar dan terakhir yang diikuti Rasulullah ﷺ. Beliau juga merupakan sahabat yang paling layak memegang panji sepeninggal Rasulullah ﷺ.Muhammad Abu Syuhbah rahimahullah berkata, “Tidak samar bagi orang yang cermat bahwa penyerahan panji oleh Rasulullah ﷺ kepada Ash-Shiddiq pada perang terakhir yang beliau ikuti merupakan isyarat yang halus bahwa Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling berhak menjadi khalifah.”Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum BertempurDalam Perang Tabuk tampak nyata benarnya sabda Rasulullah ﷺ:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ»“Aku diberi pertolongan dengan ditanamkannya rasa takut pada musuh dari jarak perjalanan sebulan.”Bangsa Romawi, ketika mengetahui kedatangan Rasulullah ﷺ, diliputi rasa takut sehingga mereka tidak berani maju menghadapi beliau dan memilih mundur sebelum terjadi pertempuran.Ibnu Hajar berkata, “Keistimewaan ini berlaku khusus bagi beliau secara mutlak, meskipun beliau seorang diri tanpa pasukan. Adapun apakah keistimewaan ini juga berlaku bagi umat beliau setelah wafatnya, maka hal itu masih mengandung kemungkinan.”Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan Di antara pelajaran dari kisah tertinggalnya Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma, kemudian keduanya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, terdapat beberapa pelajaran:a. Seseorang terkadang mengalami kelemahan, kemudian Allah memberikan taufik kepadanya sehingga ia kembali kepada kebaikan, terutama jika niatnya baik. Oleh karena itu, ketika disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma tertinggal, beliau bersabda:«دَعُوهُ، إِنْ يَكُ فِيهِ خَيْرٌ فَسَيُلْحِقُهُ اللَّهُ بِكُمْ»“Biarkan dia. Jika pada dirinya ada kebaikan, Allah akan mempertemukannya kembali dengan kalian.”b. Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, dan baru bertemu dengan beliau di Tabuk, yang berjarak sekitar tujuh malam perjalanan dari Madinah. Abu Khaitsamah menempuh perjalanan itu seorang diri dengan berjalan kaki, sementara untanya membawa bekal kurma bersamanya. Kekuatan iman benar-benar mampu melahirkan hal-hal yang menakjubkan.c. Ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu melihat untanya sudah lemah dan tidak mampu lagi membawanya menyusul rombongan, ia pun mengambil barang-barangnya, memikulnya, lalu berjalan kaki seorang diri hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ. Ia tidak menjadikan kelemahan untanya atau ketidakmampuannya mengikuti rombongan sebagai alasan untuk tetap tinggal, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang selalu mencari-cari alasan. Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai pikiran seperti itu. Mereka benar-benar berangkat dalam keadaan ringan maupun berat.Semoga Allah meridhai para sahabat yang mulia itu dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya. Kita mencintai mereka karena kedekatan mereka kepada Allah, karena pertolongan yang mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, serta karena pengorbanan mereka dalam menyebarkan agama ini dengan jiwa, keluarga, harta, dan diri mereka.Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga SahabatTertinggalnya tiga orang sahabat—padahal mereka termasuk sahabat pilihan dan seluruhnya adalah orang-orang baik—serta kebiasaan mereka menunda-nunda hingga rombongan berangkat, memberikan pelajaran kepada kita agar berhati-hati dari sikap menunda-nunda dalam ketaatan.Seorang muslim hendaknya menjadi orang yang memiliki tekad kuat, segera melakukan ketaatan, dan memanfaatkan kesempatan karena kesempatan itu mungkin tidak akan datang lagi. Karena itu, hendaknya ia bertekad sekuat-kuatnya untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan segera melakukannya.Janganlah kalian menunda-nunda dan merasa tidak mampu dengan menangguhkan serta menunda-nundanya.Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, “Jauhilah sikap menunda-nunda karena sesungguhnya ia merupakan salah satu tentara Iblis yang paling besar.”Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan bertobat,” tetapi kematian telah mendatanginya sementara ia belum juga bertobat.Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan shalat, nanti aku akan bersedekah, nanti aku akan belajar,” tetapi takdir telah datang kepadanya sementara ia belum melakukan satu pun dari semua itu.Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum TsamudKetika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau mempercepat perjalanan.Oleh karena itu, siapa saja yang melewati negeri orang-orang yang dimurkai dan diazab, hendaknya tidak memasukinya. Bahkan, hendaknya ia mempercepat perjalanan dan menutupi wajahnya dengan pakaiannya hingga melewati tempat tersebut. Ia tidak boleh memasuki tempat mereka kecuali dalam keadaan menangis dan mengambil pelajaran.Ketentuan ini tidak hanya berlaku khusus pada negeri kaum Tsamud. Bahkan, setiap negeri yang pernah ditimpa azab Allah juga termasuk dalam ketentuan ini. Lebih utama lagi untuk tidak menjadikannya sebagai tujuan perjalanan dan tidak tinggal di sana untuk sekadar melihat-lihat.Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada AllahOrang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Umar radhiyallahu ‘anhu kemudian mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau meminta orang-orang mengeluarkan sisa bekal mereka, kemudian beliau mendoakan keberkahan padanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan hal tersebut. Orang-orang lalu membawa wadah-wadah mereka, dan ternyata masih tersisa makanan di tempatnya.Pelajaran yang dimaksud adalah bahwa manusia sering lalai dalam memohon keberkahan, atau sebagian dari mereka memohonnya dengan cara yang tidak benar.Keberkahan adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya dan termasuk kekhususan-Nya. Allah-lah yang memberikan keberkahan, sedangkan selain-Nya memohon keberkahan kepada-Nya.Perlu diperhatikan bahwa dalam banyak keadaan ketika air atau makanan sangat dibutuhkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon keberkahan, lalu doa beliau dikabulkan. Dengan hal ini, beliau mengajarkan kepada kita dua perkara:a. Hendaknya kita memohon keberkahan, tidak melalaikannya, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal tersebut.b. Hendaknya kita menghadap kepada Allah Yang Mahamulia dalam memohon keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan permohonan tersebut.Saat ini kita berada di antara dua kelompok: kelompok yang lalai dari keberkahan dan tidak memohonnya, serta kelompok yang berlebihan dalam memohonnya. Mereka meminta keberkahan kepada manusia, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Padahal, orang-orang tersebut sama sekali tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka sendiri, terlebih lagi untuk memberikannya kepada orang lain.Namun, perlu diperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kekhususan dalam keberkahan ini yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu keberkahan yang melekat pada diri beliau. Keberkahan semacam ini hanya terdapat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pada sahabat-sahabat beliau yang lain, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, orang-orang yang tingkatannya di bawah mereka tentu lebih utama lagi untuk tidak diperlakukan demikian.Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah BeritahukanKetika unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat, sebagian orang munafik berkata, “Muhammad mengaku bahwa berita dari langit datang kepadanya, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab perkataan mereka dengan menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui kecuali apa yang Allah beritahukan kepada beliau. Kemudian beliau memberitahukan kepada mereka tempat unta tersebut, dan mereka pun menemukannya sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari sini kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib, kecuali sebagian perkara yang Allah beritahukan kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.’” (QS. An-Naml: 65)Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit BangkaiDalam perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah rumah yang di sana terdapat kantong air yang tergantung dan berisi air. Beliau meminta air untuk diminum. Kemudian dikatakan kepada beliau bahwa kantong tersebut berasal dari bangkai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«دِبَاغُهَا طَهُورُهَا»“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Di sini kita dapat melihat ketawadukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kemudahan dan kesederhanaan beliau. Beliau adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Meskipun demikian, beliau minum dari kantong air yang tergantung di sebuah rumah di pinggir jalan.Hal ini juga menunjukkan kemudahan dan kelapangan agama ini. Meskipun kantong tersebut pada asalnya adalah kulit bangkai, penyamakan dapat menyucikannya.Namun, dalam masalah sucinya kulit dengan penyamakan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Ada yang membedakan antara kulit hewan yang dagingnya boleh dimakan dan kulit hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan. Sebagian lainnya berpendapat bahwa hukum tersebut berlaku umum, kecuali kulit anjing dan babi. Pembahasan masalah ini terdapat dalam kitab-kitab fikih.Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺDalam Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di belakang Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu dalam shalat Subuh—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Dalam peristiwa tersebut terdapat keutamaan yang sangat menonjol bagi Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Abdurrahman bin Auf Saudagar Sukses dan Dijamin Masuk SurgaKedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul BijadainJenazah Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu, yang meninggal dunia dalam Perang Tabuk, dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri turun ke dalam kuburnya, sedangkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma mengulurkan jenazah itu kepada beliau.Sahabat yang fakir ini diurus jenazahnya dan dimakamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendoakannya, menyatakan keridaan beliau kepadanya, memohon keridaan Allah Ta‘ala untuknya, serta dibantu dalam semua itu oleh dua orang terbaik setelah beliau.Betapa besar kedudukannya dalam agama dan betapa mulianya jenazah ini. Oleh karena itu, ketika Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu melihat jenazah tersebut, ia segera mendatanginya dalam kegelapan malam. Ia menyaksikan pemandangan yang agung itu dan mendengar doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia berharap seandainya dirinyalah yang menjadi penghuni kubur tersebut.Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga LisanMu‘adz radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ia mendapati dirinya berada berdua saja dengan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Ia pun segera bertanya kepada beliau tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga.Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Mu‘adz berkata kepada beliau, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu perkara yang membuatku terjaga dan membuatku sakit.” Kemudian ia menjelaskan maksudnya dengan bertanya tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.Inilah Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu. Saat itu ia masih seorang pemuda berusia dua puluhan. Pemuda seperti inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi para pemuda kita. Pelajarilah perjalanan hidupnya. Nabi ﷺ mengutus pemuda ini ke Yaman sebagai pengajar dan dai yang menyeru kepada Allah. Setelah kembali dari Yaman sepeninggal Rasulullah ﷺ, ia berangkat menuju Syam sebagai pengajar, dai yang menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sekaligus berjihad di jalan-Nya. Ia wafat di sana karena wabah tha‘un ketika berusia sekitar tiga puluh tiga tahun.Rasulullah ﷺ telah menjelaskan kepadanya amalan-amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Karena melihat besarnya semangat Mu‘adz dalam meraih kebaikan, beliau pun menambah ilmunya dan menunjukkan kepadanya perkara yang menjadi pengendali semua itu, yaitu lisan.Ketika Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu merasa heran terhadap hal tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepadanya sabda beliau yang agung, yang terus bergema sebagai peringatan akan besarnya akibat buruk dari kesalahan lisan,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka di atas hidung mereka hanyalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?”Karena itu, waspadalah, waspadalah seribu kali terhadap kesalahan lisan, bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan dirinya dari neraka. Semoga Allah melindungi kita semua dari neraka.Baca juga: Doa agar Kuat Dzikir, Syukur, dan Ibadah Usai ShalatKetiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada BeliauKaum munafik tidak cukup hanya dengan melemahkan semangat, menebarkan kabar bohong, menimbulkan keraguan terhadap niat orang lain, mengejek, dan berusaha memecah belah kaum mukminin. Bahkan, mereka sampai berusaha membunuh Rasulullah ﷺ.Mereka bersepakat untuk menyerang beliau di sebuah jalan sempit di pegunungan, dengan tujuan menjatuhkan beliau dari sana ketika sedang melewatinya. Namun, Allah Yang Mahamulia melindungi beliau dari mereka dan dari segala tipu daya, sebagaimana yang telah Allah Jalla Sya’nuhu janjikan,وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ“Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ sampai di Wadi Al-Qura, beliau memberitahukan kepada para sahabat bahwa beliau akan segera sampai di Madinah.Ketika Madinah mulai terlihat dan beliau melihat Gunung Uhud, beliau bersabda,هَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ.“Ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Bukhari, no. 1481 dan Muslim, no. 1392; dari Abu Humaid As-Sa’idi)Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Sebuah batu di Makkah mengucapkan salam kepada beliau, batang pohon kurma di masjid merintih karena rindu kepada beliau, makanan bertasbih di tangan beliau, air tawar memancar dari sela-sela jari beliau, dan sebuah gunung pun mencintai beliau.Tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan beliau selain aku. Lalu, bagaimana sikap kita terhadap beliau?!Beliau ﷺ telah bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari, no, 15 dan Muslim, no. 44; dari Anas bin Malik) Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan

Perang Tabuk: Ujian Keimanan dan Pengorbanan Terbesar di Masa Nabi ﷺ

Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Tabuk 1.1. Pertama: Dari Jazirah Arab Menuju Dunia 1.2. Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi Keimanan 1.3. Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan Kemunafikan 1.4. Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan Jihad 1.5. Kelima: Berlomba dalam Kebaikan 1.6. Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam Berinfak 1.7. Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi? 1.8. Kedelapan: Sedekah Sesuai Kemampuan 1.9. Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi Thalib 1.10. Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala Besar 1.11. Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap Tulus 1.12. Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan 1.13. Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta 1.14. Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat 1.15. Kelima belas: Jangan Mencari-cari Alasan 1.16. Keenam belas: Jangan Memperolok Agama 1.17. Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina Syariat 1.18. Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik 1.19. Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar 1.20. Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum Bertempur 1.21. Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan 1.22. Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga Sahabat 1.23. Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum Tsamud 1.24. Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada Allah 1.25. Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah Beritahukan 1.26. Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit Bangkai 1.27. Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺ 1.28. Kedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul Bijadain 1.29. Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga Lisan 1.30. Ketiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada Beliau 1.31. Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺ  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tabuk. Al-Waqidi rahimahullah berkata,“Beliau mengikat panji-panji dan bendera-bendera. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera terbesar kepada Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera suku Aus kepada Usaid bin Al-Hudhair radhiyallahu ‘anhu, dan menyerahkan bendera suku Khazraj kepada Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu. Ada pula yang mengatakan bahwa bendera tersebut diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu.”Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama tiga puluh ribu orang atau lebih. Jumlah hewan tunggangan sangat sedikit dan mereka menghadapi kesulitan yang berat. Bahkan, dua atau tiga orang harus bergantian menaiki satu ekor unta.Bekal pun sangat sedikit, sampai-sampai mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih hewan tunggangan mereka agar dapat memakan dagingnya dan meminum air yang terdapat dalam lambungnya.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau bersabda,“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis, karena khawatir kalian akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa mereka.”Kemudian beliau menundukkan kepala dan mempercepat perjalanan hingga melewati tempat tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan mereka agar tidak meminum air dari sumur-sumur di tempat itu dan tidak mengambil air darinya. Mereka kemudian memberitahukan bahwa mereka telah membuat adonan menggunakan air tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menumpahkan air yang telah mereka ambil dan memberikan adonan tersebut kepada unta.Orang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Al-A‘masy meriwayatkan dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau Abu Sa‘id radhiyallahu ‘anhuma—Al-A‘masy ragu—ia berkata:Ketika Perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami, lalu kami memakan dagingnya dan menggunakan lemaknya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah.”Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau melakukan hal itu, jumlah hewan tunggangan akan semakin sedikit. Namun, mintalah mereka membawa sisa-sisa bekal mereka, kemudian berdoalah kepada Allah agar memberikan keberkahan pada bekal tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan padanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Baik.”Kemudian beliau meminta selembar kulit dan membentangkannya. Setelah itu, beliau meminta agar mereka membawa sisa-sisa bekal mereka. Ada orang yang datang membawa segenggam jagung, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa sepotong roti. Hingga akhirnya terkumpul sedikit makanan di atas kulit tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan keberkahan pada makanan itu. Setelah itu, beliau bersabda, “Ambillah dan masukkan ke dalam wadah-wadah kalian.”Mereka pun memasukkannya ke dalam wadah-wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di dalam pasukan kecuali telah terisi penuh.Mereka kemudian makan hingga kenyang dan makanan itu masih tersisa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa kedua kesaksian ini tanpa meragukannya, melainkan ia tidak akan terhalang dari surga.”Dalam perjalanan, unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat. Sebagian orang munafik pun berkata, “Muhammad mengaku sebagai nabi yang mendapat berita dari langit, tetapi ia tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengetahui kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah menunjukkan kepadaku tempat unta itu. Unta tersebut berada di lembah ini, di sebuah celah bukit ini dan itu. Tali kekangnya tertahan oleh sebatang pohon. Pergilah hingga kalian membawanya kepadaku.”Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun pergi. Mereka menemukan unta tersebut sebagaimana yang beliau sebutkan, lalu membawanya kembali.Dari Salamah bin Al-Muhabbiq radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sebuah rumah. Ternyata di sana terdapat sebuah kantong air yang tergantung. Beliau meminta air. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kantong itu berasal dari bangkai.”Beliau bersabda,دِبَاغُهَا طَهُورُهَا“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Dalam perjalanan menuju Tabuk, pasukan berhenti pada malam hari. Ketika waktu fajar tiba, Rasulullah ﷺ pergi untuk buang hajat. Beliau ditemani oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu. Karena beliau terlambat kembali, kaum muslimin pun meminta Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu untuk maju menjadi imam. Ia pun mengimami mereka.Pada rakaat kedua, Rasulullah ﷺ datang. Beliau mendapatkan satu rakaat dan masih sempat mengikuti satu rakaat lainnya bersama imam. Kaum muslimin pun merasa cemas. Setelah Rasulullah ﷺ selesai mengucapkan salam, beliau bersabda kepada mereka, “Kalian telah berbuat baik,” atau beliau bersabda, “Kalian telah melakukan dengan benar.” (HR. Muslim, no. 274)Ketika mereka sampai di Tabuk, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا -إِنْ شَاءَ اللَّهُ- عَيْنَ تَبُوكَ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِيَ النَّهَارُ، فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلَا يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ.“Besok, insyaallah, kalian akan sampai di mata air Tabuk. Kalian tidak akan sampai di sana hingga hari telah meninggi. Siapa di antara kalian yang sampai di sana lebih dahulu, janganlah menyentuh sedikit pun airnya sampai aku datang.”Ternyata ada dua orang yang lebih dahulu sampai di sana. Mata air tersebut hanya mengeluarkan sedikit air, seperti tali sandal. Rasulullah ﷺ bertanya kepada keduanya,هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا؟“Apakah kalian berdua telah menyentuh sedikit dari airnya?”Keduanya menjawab, “Ya.”Nabi ﷺ pun menegur keduanya dan mengatakan kepada mereka apa yang Allah kehendaki untuk beliau katakan.Kemudian mereka mengambil air dari mata air itu sedikit demi sedikit dengan tangan mereka hingga terkumpul dalam sebuah wadah. Rasulullah ﷺ lalu membasuh kedua tangan dan wajah beliau dengan air tersebut, kemudian mengembalikannya ke mata air. Seketika mata air itu memancarkan air yang deras atau melimpah—perawi ‘Aziz berkata bahwa Abu Ali ragu mengenai redaksinya—hingga orang-orang dapat mengambil air secukupnya.Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,يُوشِكُ، يَا مُعَاذُ، إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا.“Wahai Mu‘adz, jika umurmu panjang, tidak lama lagi engkau akan melihat tempat ini telah dipenuhi kebun-kebun.” (HR. Muslim, no. 706)Rasulullah ﷺ menetap di Tabuk selama dua puluh hari. Beliau tidak bertemu dengan tipu daya musuh dan tidak pula menghadapi pertempuran. Beliau hanya membuat pasukan Romawi merasa gentar di negeri mereka sendiri. Akibatnya, mereka tidak keluar untuk menghadapi beliau dan memilih tetap berlindung di negeri mereka.Ketika Rasulullah ﷺ berada di Tabuk, jaraknya dengan Ailah sudah dekat. Beliau mengirim utusan kepada penguasa Ailah. Penguasa tersebut datang menemui beliau, berdamai dengan beliau, dan memberikan jizyah. Penduduk Jarba’ dan Adzruh juga datang menemui beliau dan memberikan jizyah. Rasulullah ﷺ kemudian menuliskan sebuah surat perjanjian untuk mereka.Dalam Perang Tabuk, Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu wafat. Rasulullah ﷺ turun ke dalam liang kuburnya. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma menyerahkan jenazahnya kepada beliau di dalam kubur. Rasulullah ﷺ mendoakannya dengan bersabda,اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ رَاضِيًا عَنْهُ فَارْضَ عَنْهُ.“Ya Allah, sungguh pada petang ini aku telah meridainya, maka ridailah dia.” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, 2:528)Kemudian Rasulullah ﷺ kembali menuju Madinah. Dalam perjalanan, Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berada dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia memanfaatkan kesempatan berada dekat dan berdua dengan beliau.Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk. Ketika aku melihat beliau sedang sendirian, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’Beliau bersabda, ‘Bagus! Sungguh, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Namun, hal itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan untuk melakukannya. Dirikanlah salat yang diwajibkan, tunaikanlah zakat yang diwajibkan, dan temuilah Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Maukah aku tunjukkan kepadamu pokok segala urusan, tiangnya, dan puncak tertingginya? Pokok segala urusan adalah Islam. Siapa yang masuk Islam, ia akan selamat. Tiangnya adalah salat. Adapun puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Salat seorang hamba pada tengah malam dapat menghapus kesalahan-kesalahan.’Kemudian beliau membaca ayat,تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’Aku menjawab, ‘Tentu.’Mu‘adz berkata, ‘Aku khawatir orang-orang akan menyibukkan Rasulullah ﷺ dariku. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah tadi engkau mengatakan, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’”’Mu‘adz berkata, “Kemudian Rasulullah ﷺ menunjuk dengan tangannya ke arah lidah beliau.”Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”Beliau bersabda,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di atas hidung mereka adalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?” (HR. Ahmad, 36:388) Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Dari Jazirah Arab Menuju DuniaPerang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi KeimananAllah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan KemunafikanPerang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan JihadDisyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Berlomba dalam KebaikanDisyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam BerinfakTampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi?Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Sedekah Sesuai KemampuanAbu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi ThalibPada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala BesarSebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap TulusSekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Jangan Mencari-cari AlasanKelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah.Keenam belas: Jangan Memperolok AgamaGolongan lain dari orang-orang munafik. Seakan-akan mereka saling berbagi peran dalam menimpakan bahaya kepada pasukan kaum muslimin. Kebiasaan mereka adalah mengejek dan merendahkan kaum muslimin. Sebagian mereka berkata—yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang ikut keluar dalam Perang Tabuk, padahal perbekalan sedikit dan perjalanan sangat jauh—, “Kami tidak pernah melihat para pembaca Al-Qur’an seperti mereka; perut mereka paling rakus, lisan mereka paling dusta, dan mereka paling pengecut ketika bertemu musuh.”Lalu ada seseorang di dalam masjid berkata, “Engkau berdusta. Bahkan engkau adalah orang munafik. Aku benar-benar akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ.” Berita itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah ayat Al-Qur’an.Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Seolah-olah aku masih melihat orang itu bergelantungan pada tali kekang unta Rasulullah ﷺ, sementara batu-batu mengenai kedua kakinya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan berbincang-bincang saja.’ Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah:﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Artinya: Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65–66)As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperolok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari agama. Sebab, agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, pengagungan terhadap agama-Nya, dan penghormatan kepada Rasul-Nya. Sedangkan memperolok salah satu dari semuanya itu bertentangan dengan prinsip tersebut dan merupakan bentuk penentangan yang paling besar.”Meskipun demikian, nash-nash ancaman seperti ini memiliki penafsiran yang telah diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya, agar lebih membekas dalam jiwa dan lebih kuat sebagai peringatan. Wallahu a’lam.Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina SyariatOrang-orang munafik telah mengejek Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin. Meskipun demikian, ayat yang turun menjelaskan bahwa ucapan tersebut merupakan ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan betapa beratnya perbuatan tersebut serta betapa mulianya kehormatan seorang mukmin. Sebab, Allah menjadikan ejekan terhadap kaum mukminin sebagai ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa yang menjadi bentuk penghinaan adalah mengejek dan memperolok suatu perintah, bukan orang yang diperintahkan. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memperolok atau mengejek sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an, As-Sunnah Nabi, ataupun salah satu hukum syariat.Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik Di antara pelajaran dari Perang Tabuk adalah bahwa Allah menjelaskan, seandainya orang-orang yang tidak ikut berangkat itu mengetahui bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dunia, niscaya mereka akan segera berangkat. Allah Ta’ala berfirman:لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 42)Demikian pula sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang orang-orang yang tidak menghadiri shalat Isya:«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ»“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku pernah berkeinginan memerintahkan agar kayu bakar dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan agar azan untuk shalat dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku membakar rumah-rumah mereka. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan sepotong tulang yang masih berisi daging yang gemuk, atau dua kaki kambing yang baik, niscaya ia akan menghadiri shalat Isya.” (HR. Bukhari, 1:131, Muslim, no. 644)Hal seperti ini juga banyak terjadi di tengah masyarakat. Jika salah seorang dari mereka memiliki kepentingan dunia, ia rela mendatanginya meskipun harus keluar pada tengah malam. Namun, pada saat yang sama ia justru tertidur sehingga meninggalkan shalat Subuh. Seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menyerupai perbuatan orang-orang munafik.Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar Rasulullah ﷺ mengikat panji-panji dan bendera-bendera pasukan ketika hendak meninggalkan Madinah. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, lalu membagikan bendera-bendera kepada para pemuka kaum Muhajirin, Anshar, suku Aus, dan Khazraj.Dalam hal ini terdapat isyarat akan kedudukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliaulah pemegang panji terbesar dalam perang terbesar dan terakhir yang diikuti Rasulullah ﷺ. Beliau juga merupakan sahabat yang paling layak memegang panji sepeninggal Rasulullah ﷺ.Muhammad Abu Syuhbah rahimahullah berkata, “Tidak samar bagi orang yang cermat bahwa penyerahan panji oleh Rasulullah ﷺ kepada Ash-Shiddiq pada perang terakhir yang beliau ikuti merupakan isyarat yang halus bahwa Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling berhak menjadi khalifah.”Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum BertempurDalam Perang Tabuk tampak nyata benarnya sabda Rasulullah ﷺ:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ»“Aku diberi pertolongan dengan ditanamkannya rasa takut pada musuh dari jarak perjalanan sebulan.”Bangsa Romawi, ketika mengetahui kedatangan Rasulullah ﷺ, diliputi rasa takut sehingga mereka tidak berani maju menghadapi beliau dan memilih mundur sebelum terjadi pertempuran.Ibnu Hajar berkata, “Keistimewaan ini berlaku khusus bagi beliau secara mutlak, meskipun beliau seorang diri tanpa pasukan. Adapun apakah keistimewaan ini juga berlaku bagi umat beliau setelah wafatnya, maka hal itu masih mengandung kemungkinan.”Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan Di antara pelajaran dari kisah tertinggalnya Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma, kemudian keduanya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, terdapat beberapa pelajaran:a. Seseorang terkadang mengalami kelemahan, kemudian Allah memberikan taufik kepadanya sehingga ia kembali kepada kebaikan, terutama jika niatnya baik. Oleh karena itu, ketika disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma tertinggal, beliau bersabda:«دَعُوهُ، إِنْ يَكُ فِيهِ خَيْرٌ فَسَيُلْحِقُهُ اللَّهُ بِكُمْ»“Biarkan dia. Jika pada dirinya ada kebaikan, Allah akan mempertemukannya kembali dengan kalian.”b. Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, dan baru bertemu dengan beliau di Tabuk, yang berjarak sekitar tujuh malam perjalanan dari Madinah. Abu Khaitsamah menempuh perjalanan itu seorang diri dengan berjalan kaki, sementara untanya membawa bekal kurma bersamanya. Kekuatan iman benar-benar mampu melahirkan hal-hal yang menakjubkan.c. Ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu melihat untanya sudah lemah dan tidak mampu lagi membawanya menyusul rombongan, ia pun mengambil barang-barangnya, memikulnya, lalu berjalan kaki seorang diri hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ. Ia tidak menjadikan kelemahan untanya atau ketidakmampuannya mengikuti rombongan sebagai alasan untuk tetap tinggal, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang selalu mencari-cari alasan. Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai pikiran seperti itu. Mereka benar-benar berangkat dalam keadaan ringan maupun berat.Semoga Allah meridhai para sahabat yang mulia itu dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya. Kita mencintai mereka karena kedekatan mereka kepada Allah, karena pertolongan yang mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, serta karena pengorbanan mereka dalam menyebarkan agama ini dengan jiwa, keluarga, harta, dan diri mereka.Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga SahabatTertinggalnya tiga orang sahabat—padahal mereka termasuk sahabat pilihan dan seluruhnya adalah orang-orang baik—serta kebiasaan mereka menunda-nunda hingga rombongan berangkat, memberikan pelajaran kepada kita agar berhati-hati dari sikap menunda-nunda dalam ketaatan.Seorang muslim hendaknya menjadi orang yang memiliki tekad kuat, segera melakukan ketaatan, dan memanfaatkan kesempatan karena kesempatan itu mungkin tidak akan datang lagi. Karena itu, hendaknya ia bertekad sekuat-kuatnya untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan segera melakukannya.Janganlah kalian menunda-nunda dan merasa tidak mampu dengan menangguhkan serta menunda-nundanya.Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, “Jauhilah sikap menunda-nunda karena sesungguhnya ia merupakan salah satu tentara Iblis yang paling besar.”Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan bertobat,” tetapi kematian telah mendatanginya sementara ia belum juga bertobat.Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan shalat, nanti aku akan bersedekah, nanti aku akan belajar,” tetapi takdir telah datang kepadanya sementara ia belum melakukan satu pun dari semua itu.Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum TsamudKetika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau mempercepat perjalanan.Oleh karena itu, siapa saja yang melewati negeri orang-orang yang dimurkai dan diazab, hendaknya tidak memasukinya. Bahkan, hendaknya ia mempercepat perjalanan dan menutupi wajahnya dengan pakaiannya hingga melewati tempat tersebut. Ia tidak boleh memasuki tempat mereka kecuali dalam keadaan menangis dan mengambil pelajaran.Ketentuan ini tidak hanya berlaku khusus pada negeri kaum Tsamud. Bahkan, setiap negeri yang pernah ditimpa azab Allah juga termasuk dalam ketentuan ini. Lebih utama lagi untuk tidak menjadikannya sebagai tujuan perjalanan dan tidak tinggal di sana untuk sekadar melihat-lihat.Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada AllahOrang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Umar radhiyallahu ‘anhu kemudian mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau meminta orang-orang mengeluarkan sisa bekal mereka, kemudian beliau mendoakan keberkahan padanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan hal tersebut. Orang-orang lalu membawa wadah-wadah mereka, dan ternyata masih tersisa makanan di tempatnya.Pelajaran yang dimaksud adalah bahwa manusia sering lalai dalam memohon keberkahan, atau sebagian dari mereka memohonnya dengan cara yang tidak benar.Keberkahan adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya dan termasuk kekhususan-Nya. Allah-lah yang memberikan keberkahan, sedangkan selain-Nya memohon keberkahan kepada-Nya.Perlu diperhatikan bahwa dalam banyak keadaan ketika air atau makanan sangat dibutuhkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon keberkahan, lalu doa beliau dikabulkan. Dengan hal ini, beliau mengajarkan kepada kita dua perkara:a. Hendaknya kita memohon keberkahan, tidak melalaikannya, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal tersebut.b. Hendaknya kita menghadap kepada Allah Yang Mahamulia dalam memohon keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan permohonan tersebut.Saat ini kita berada di antara dua kelompok: kelompok yang lalai dari keberkahan dan tidak memohonnya, serta kelompok yang berlebihan dalam memohonnya. Mereka meminta keberkahan kepada manusia, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Padahal, orang-orang tersebut sama sekali tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka sendiri, terlebih lagi untuk memberikannya kepada orang lain.Namun, perlu diperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kekhususan dalam keberkahan ini yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu keberkahan yang melekat pada diri beliau. Keberkahan semacam ini hanya terdapat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pada sahabat-sahabat beliau yang lain, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, orang-orang yang tingkatannya di bawah mereka tentu lebih utama lagi untuk tidak diperlakukan demikian.Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah BeritahukanKetika unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat, sebagian orang munafik berkata, “Muhammad mengaku bahwa berita dari langit datang kepadanya, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab perkataan mereka dengan menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui kecuali apa yang Allah beritahukan kepada beliau. Kemudian beliau memberitahukan kepada mereka tempat unta tersebut, dan mereka pun menemukannya sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari sini kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib, kecuali sebagian perkara yang Allah beritahukan kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.’” (QS. An-Naml: 65)Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit BangkaiDalam perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah rumah yang di sana terdapat kantong air yang tergantung dan berisi air. Beliau meminta air untuk diminum. Kemudian dikatakan kepada beliau bahwa kantong tersebut berasal dari bangkai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«دِبَاغُهَا طَهُورُهَا»“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Di sini kita dapat melihat ketawadukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kemudahan dan kesederhanaan beliau. Beliau adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Meskipun demikian, beliau minum dari kantong air yang tergantung di sebuah rumah di pinggir jalan.Hal ini juga menunjukkan kemudahan dan kelapangan agama ini. Meskipun kantong tersebut pada asalnya adalah kulit bangkai, penyamakan dapat menyucikannya.Namun, dalam masalah sucinya kulit dengan penyamakan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Ada yang membedakan antara kulit hewan yang dagingnya boleh dimakan dan kulit hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan. Sebagian lainnya berpendapat bahwa hukum tersebut berlaku umum, kecuali kulit anjing dan babi. Pembahasan masalah ini terdapat dalam kitab-kitab fikih.Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺDalam Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di belakang Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu dalam shalat Subuh—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Dalam peristiwa tersebut terdapat keutamaan yang sangat menonjol bagi Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Abdurrahman bin Auf Saudagar Sukses dan Dijamin Masuk SurgaKedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul BijadainJenazah Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu, yang meninggal dunia dalam Perang Tabuk, dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri turun ke dalam kuburnya, sedangkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma mengulurkan jenazah itu kepada beliau.Sahabat yang fakir ini diurus jenazahnya dan dimakamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendoakannya, menyatakan keridaan beliau kepadanya, memohon keridaan Allah Ta‘ala untuknya, serta dibantu dalam semua itu oleh dua orang terbaik setelah beliau.Betapa besar kedudukannya dalam agama dan betapa mulianya jenazah ini. Oleh karena itu, ketika Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu melihat jenazah tersebut, ia segera mendatanginya dalam kegelapan malam. Ia menyaksikan pemandangan yang agung itu dan mendengar doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia berharap seandainya dirinyalah yang menjadi penghuni kubur tersebut.Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga LisanMu‘adz radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ia mendapati dirinya berada berdua saja dengan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Ia pun segera bertanya kepada beliau tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga.Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Mu‘adz berkata kepada beliau, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu perkara yang membuatku terjaga dan membuatku sakit.” Kemudian ia menjelaskan maksudnya dengan bertanya tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.Inilah Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu. Saat itu ia masih seorang pemuda berusia dua puluhan. Pemuda seperti inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi para pemuda kita. Pelajarilah perjalanan hidupnya. Nabi ﷺ mengutus pemuda ini ke Yaman sebagai pengajar dan dai yang menyeru kepada Allah. Setelah kembali dari Yaman sepeninggal Rasulullah ﷺ, ia berangkat menuju Syam sebagai pengajar, dai yang menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sekaligus berjihad di jalan-Nya. Ia wafat di sana karena wabah tha‘un ketika berusia sekitar tiga puluh tiga tahun.Rasulullah ﷺ telah menjelaskan kepadanya amalan-amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Karena melihat besarnya semangat Mu‘adz dalam meraih kebaikan, beliau pun menambah ilmunya dan menunjukkan kepadanya perkara yang menjadi pengendali semua itu, yaitu lisan.Ketika Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu merasa heran terhadap hal tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepadanya sabda beliau yang agung, yang terus bergema sebagai peringatan akan besarnya akibat buruk dari kesalahan lisan,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka di atas hidung mereka hanyalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?”Karena itu, waspadalah, waspadalah seribu kali terhadap kesalahan lisan, bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan dirinya dari neraka. Semoga Allah melindungi kita semua dari neraka.Baca juga: Doa agar Kuat Dzikir, Syukur, dan Ibadah Usai ShalatKetiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada BeliauKaum munafik tidak cukup hanya dengan melemahkan semangat, menebarkan kabar bohong, menimbulkan keraguan terhadap niat orang lain, mengejek, dan berusaha memecah belah kaum mukminin. Bahkan, mereka sampai berusaha membunuh Rasulullah ﷺ.Mereka bersepakat untuk menyerang beliau di sebuah jalan sempit di pegunungan, dengan tujuan menjatuhkan beliau dari sana ketika sedang melewatinya. Namun, Allah Yang Mahamulia melindungi beliau dari mereka dan dari segala tipu daya, sebagaimana yang telah Allah Jalla Sya’nuhu janjikan,وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ“Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ sampai di Wadi Al-Qura, beliau memberitahukan kepada para sahabat bahwa beliau akan segera sampai di Madinah.Ketika Madinah mulai terlihat dan beliau melihat Gunung Uhud, beliau bersabda,هَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ.“Ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Bukhari, no. 1481 dan Muslim, no. 1392; dari Abu Humaid As-Sa’idi)Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Sebuah batu di Makkah mengucapkan salam kepada beliau, batang pohon kurma di masjid merintih karena rindu kepada beliau, makanan bertasbih di tangan beliau, air tawar memancar dari sela-sela jari beliau, dan sebuah gunung pun mencintai beliau.Tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan beliau selain aku. Lalu, bagaimana sikap kita terhadap beliau?!Beliau ﷺ telah bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari, no, 15 dan Muslim, no. 44; dari Anas bin Malik) Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan
Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Tabuk 1.1. Pertama: Dari Jazirah Arab Menuju Dunia 1.2. Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi Keimanan 1.3. Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan Kemunafikan 1.4. Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan Jihad 1.5. Kelima: Berlomba dalam Kebaikan 1.6. Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam Berinfak 1.7. Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi? 1.8. Kedelapan: Sedekah Sesuai Kemampuan 1.9. Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi Thalib 1.10. Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala Besar 1.11. Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap Tulus 1.12. Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan 1.13. Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta 1.14. Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat 1.15. Kelima belas: Jangan Mencari-cari Alasan 1.16. Keenam belas: Jangan Memperolok Agama 1.17. Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina Syariat 1.18. Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik 1.19. Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar 1.20. Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum Bertempur 1.21. Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan 1.22. Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga Sahabat 1.23. Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum Tsamud 1.24. Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada Allah 1.25. Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah Beritahukan 1.26. Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit Bangkai 1.27. Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺ 1.28. Kedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul Bijadain 1.29. Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga Lisan 1.30. Ketiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada Beliau 1.31. Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺ  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tabuk. Al-Waqidi rahimahullah berkata,“Beliau mengikat panji-panji dan bendera-bendera. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera terbesar kepada Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera suku Aus kepada Usaid bin Al-Hudhair radhiyallahu ‘anhu, dan menyerahkan bendera suku Khazraj kepada Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu. Ada pula yang mengatakan bahwa bendera tersebut diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu.”Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama tiga puluh ribu orang atau lebih. Jumlah hewan tunggangan sangat sedikit dan mereka menghadapi kesulitan yang berat. Bahkan, dua atau tiga orang harus bergantian menaiki satu ekor unta.Bekal pun sangat sedikit, sampai-sampai mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih hewan tunggangan mereka agar dapat memakan dagingnya dan meminum air yang terdapat dalam lambungnya.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau bersabda,“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis, karena khawatir kalian akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa mereka.”Kemudian beliau menundukkan kepala dan mempercepat perjalanan hingga melewati tempat tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan mereka agar tidak meminum air dari sumur-sumur di tempat itu dan tidak mengambil air darinya. Mereka kemudian memberitahukan bahwa mereka telah membuat adonan menggunakan air tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menumpahkan air yang telah mereka ambil dan memberikan adonan tersebut kepada unta.Orang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Al-A‘masy meriwayatkan dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau Abu Sa‘id radhiyallahu ‘anhuma—Al-A‘masy ragu—ia berkata:Ketika Perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami, lalu kami memakan dagingnya dan menggunakan lemaknya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah.”Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau melakukan hal itu, jumlah hewan tunggangan akan semakin sedikit. Namun, mintalah mereka membawa sisa-sisa bekal mereka, kemudian berdoalah kepada Allah agar memberikan keberkahan pada bekal tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan padanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Baik.”Kemudian beliau meminta selembar kulit dan membentangkannya. Setelah itu, beliau meminta agar mereka membawa sisa-sisa bekal mereka. Ada orang yang datang membawa segenggam jagung, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa sepotong roti. Hingga akhirnya terkumpul sedikit makanan di atas kulit tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan keberkahan pada makanan itu. Setelah itu, beliau bersabda, “Ambillah dan masukkan ke dalam wadah-wadah kalian.”Mereka pun memasukkannya ke dalam wadah-wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di dalam pasukan kecuali telah terisi penuh.Mereka kemudian makan hingga kenyang dan makanan itu masih tersisa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa kedua kesaksian ini tanpa meragukannya, melainkan ia tidak akan terhalang dari surga.”Dalam perjalanan, unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat. Sebagian orang munafik pun berkata, “Muhammad mengaku sebagai nabi yang mendapat berita dari langit, tetapi ia tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengetahui kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah menunjukkan kepadaku tempat unta itu. Unta tersebut berada di lembah ini, di sebuah celah bukit ini dan itu. Tali kekangnya tertahan oleh sebatang pohon. Pergilah hingga kalian membawanya kepadaku.”Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun pergi. Mereka menemukan unta tersebut sebagaimana yang beliau sebutkan, lalu membawanya kembali.Dari Salamah bin Al-Muhabbiq radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sebuah rumah. Ternyata di sana terdapat sebuah kantong air yang tergantung. Beliau meminta air. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kantong itu berasal dari bangkai.”Beliau bersabda,دِبَاغُهَا طَهُورُهَا“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Dalam perjalanan menuju Tabuk, pasukan berhenti pada malam hari. Ketika waktu fajar tiba, Rasulullah ﷺ pergi untuk buang hajat. Beliau ditemani oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu. Karena beliau terlambat kembali, kaum muslimin pun meminta Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu untuk maju menjadi imam. Ia pun mengimami mereka.Pada rakaat kedua, Rasulullah ﷺ datang. Beliau mendapatkan satu rakaat dan masih sempat mengikuti satu rakaat lainnya bersama imam. Kaum muslimin pun merasa cemas. Setelah Rasulullah ﷺ selesai mengucapkan salam, beliau bersabda kepada mereka, “Kalian telah berbuat baik,” atau beliau bersabda, “Kalian telah melakukan dengan benar.” (HR. Muslim, no. 274)Ketika mereka sampai di Tabuk, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا -إِنْ شَاءَ اللَّهُ- عَيْنَ تَبُوكَ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِيَ النَّهَارُ، فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلَا يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ.“Besok, insyaallah, kalian akan sampai di mata air Tabuk. Kalian tidak akan sampai di sana hingga hari telah meninggi. Siapa di antara kalian yang sampai di sana lebih dahulu, janganlah menyentuh sedikit pun airnya sampai aku datang.”Ternyata ada dua orang yang lebih dahulu sampai di sana. Mata air tersebut hanya mengeluarkan sedikit air, seperti tali sandal. Rasulullah ﷺ bertanya kepada keduanya,هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا؟“Apakah kalian berdua telah menyentuh sedikit dari airnya?”Keduanya menjawab, “Ya.”Nabi ﷺ pun menegur keduanya dan mengatakan kepada mereka apa yang Allah kehendaki untuk beliau katakan.Kemudian mereka mengambil air dari mata air itu sedikit demi sedikit dengan tangan mereka hingga terkumpul dalam sebuah wadah. Rasulullah ﷺ lalu membasuh kedua tangan dan wajah beliau dengan air tersebut, kemudian mengembalikannya ke mata air. Seketika mata air itu memancarkan air yang deras atau melimpah—perawi ‘Aziz berkata bahwa Abu Ali ragu mengenai redaksinya—hingga orang-orang dapat mengambil air secukupnya.Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,يُوشِكُ، يَا مُعَاذُ، إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا.“Wahai Mu‘adz, jika umurmu panjang, tidak lama lagi engkau akan melihat tempat ini telah dipenuhi kebun-kebun.” (HR. Muslim, no. 706)Rasulullah ﷺ menetap di Tabuk selama dua puluh hari. Beliau tidak bertemu dengan tipu daya musuh dan tidak pula menghadapi pertempuran. Beliau hanya membuat pasukan Romawi merasa gentar di negeri mereka sendiri. Akibatnya, mereka tidak keluar untuk menghadapi beliau dan memilih tetap berlindung di negeri mereka.Ketika Rasulullah ﷺ berada di Tabuk, jaraknya dengan Ailah sudah dekat. Beliau mengirim utusan kepada penguasa Ailah. Penguasa tersebut datang menemui beliau, berdamai dengan beliau, dan memberikan jizyah. Penduduk Jarba’ dan Adzruh juga datang menemui beliau dan memberikan jizyah. Rasulullah ﷺ kemudian menuliskan sebuah surat perjanjian untuk mereka.Dalam Perang Tabuk, Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu wafat. Rasulullah ﷺ turun ke dalam liang kuburnya. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma menyerahkan jenazahnya kepada beliau di dalam kubur. Rasulullah ﷺ mendoakannya dengan bersabda,اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ رَاضِيًا عَنْهُ فَارْضَ عَنْهُ.“Ya Allah, sungguh pada petang ini aku telah meridainya, maka ridailah dia.” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, 2:528)Kemudian Rasulullah ﷺ kembali menuju Madinah. Dalam perjalanan, Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berada dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia memanfaatkan kesempatan berada dekat dan berdua dengan beliau.Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk. Ketika aku melihat beliau sedang sendirian, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’Beliau bersabda, ‘Bagus! Sungguh, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Namun, hal itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan untuk melakukannya. Dirikanlah salat yang diwajibkan, tunaikanlah zakat yang diwajibkan, dan temuilah Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Maukah aku tunjukkan kepadamu pokok segala urusan, tiangnya, dan puncak tertingginya? Pokok segala urusan adalah Islam. Siapa yang masuk Islam, ia akan selamat. Tiangnya adalah salat. Adapun puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Salat seorang hamba pada tengah malam dapat menghapus kesalahan-kesalahan.’Kemudian beliau membaca ayat,تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’Aku menjawab, ‘Tentu.’Mu‘adz berkata, ‘Aku khawatir orang-orang akan menyibukkan Rasulullah ﷺ dariku. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah tadi engkau mengatakan, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’”’Mu‘adz berkata, “Kemudian Rasulullah ﷺ menunjuk dengan tangannya ke arah lidah beliau.”Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”Beliau bersabda,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di atas hidung mereka adalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?” (HR. Ahmad, 36:388) Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Dari Jazirah Arab Menuju DuniaPerang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi KeimananAllah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan KemunafikanPerang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan JihadDisyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Berlomba dalam KebaikanDisyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam BerinfakTampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi?Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Sedekah Sesuai KemampuanAbu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi ThalibPada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala BesarSebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap TulusSekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Jangan Mencari-cari AlasanKelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah.Keenam belas: Jangan Memperolok AgamaGolongan lain dari orang-orang munafik. Seakan-akan mereka saling berbagi peran dalam menimpakan bahaya kepada pasukan kaum muslimin. Kebiasaan mereka adalah mengejek dan merendahkan kaum muslimin. Sebagian mereka berkata—yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang ikut keluar dalam Perang Tabuk, padahal perbekalan sedikit dan perjalanan sangat jauh—, “Kami tidak pernah melihat para pembaca Al-Qur’an seperti mereka; perut mereka paling rakus, lisan mereka paling dusta, dan mereka paling pengecut ketika bertemu musuh.”Lalu ada seseorang di dalam masjid berkata, “Engkau berdusta. Bahkan engkau adalah orang munafik. Aku benar-benar akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ.” Berita itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah ayat Al-Qur’an.Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Seolah-olah aku masih melihat orang itu bergelantungan pada tali kekang unta Rasulullah ﷺ, sementara batu-batu mengenai kedua kakinya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan berbincang-bincang saja.’ Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah:﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Artinya: Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65–66)As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperolok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari agama. Sebab, agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, pengagungan terhadap agama-Nya, dan penghormatan kepada Rasul-Nya. Sedangkan memperolok salah satu dari semuanya itu bertentangan dengan prinsip tersebut dan merupakan bentuk penentangan yang paling besar.”Meskipun demikian, nash-nash ancaman seperti ini memiliki penafsiran yang telah diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya, agar lebih membekas dalam jiwa dan lebih kuat sebagai peringatan. Wallahu a’lam.Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina SyariatOrang-orang munafik telah mengejek Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin. Meskipun demikian, ayat yang turun menjelaskan bahwa ucapan tersebut merupakan ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan betapa beratnya perbuatan tersebut serta betapa mulianya kehormatan seorang mukmin. Sebab, Allah menjadikan ejekan terhadap kaum mukminin sebagai ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa yang menjadi bentuk penghinaan adalah mengejek dan memperolok suatu perintah, bukan orang yang diperintahkan. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memperolok atau mengejek sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an, As-Sunnah Nabi, ataupun salah satu hukum syariat.Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik Di antara pelajaran dari Perang Tabuk adalah bahwa Allah menjelaskan, seandainya orang-orang yang tidak ikut berangkat itu mengetahui bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dunia, niscaya mereka akan segera berangkat. Allah Ta’ala berfirman:لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 42)Demikian pula sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang orang-orang yang tidak menghadiri shalat Isya:«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ»“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku pernah berkeinginan memerintahkan agar kayu bakar dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan agar azan untuk shalat dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku membakar rumah-rumah mereka. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan sepotong tulang yang masih berisi daging yang gemuk, atau dua kaki kambing yang baik, niscaya ia akan menghadiri shalat Isya.” (HR. Bukhari, 1:131, Muslim, no. 644)Hal seperti ini juga banyak terjadi di tengah masyarakat. Jika salah seorang dari mereka memiliki kepentingan dunia, ia rela mendatanginya meskipun harus keluar pada tengah malam. Namun, pada saat yang sama ia justru tertidur sehingga meninggalkan shalat Subuh. Seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menyerupai perbuatan orang-orang munafik.Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar Rasulullah ﷺ mengikat panji-panji dan bendera-bendera pasukan ketika hendak meninggalkan Madinah. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, lalu membagikan bendera-bendera kepada para pemuka kaum Muhajirin, Anshar, suku Aus, dan Khazraj.Dalam hal ini terdapat isyarat akan kedudukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliaulah pemegang panji terbesar dalam perang terbesar dan terakhir yang diikuti Rasulullah ﷺ. Beliau juga merupakan sahabat yang paling layak memegang panji sepeninggal Rasulullah ﷺ.Muhammad Abu Syuhbah rahimahullah berkata, “Tidak samar bagi orang yang cermat bahwa penyerahan panji oleh Rasulullah ﷺ kepada Ash-Shiddiq pada perang terakhir yang beliau ikuti merupakan isyarat yang halus bahwa Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling berhak menjadi khalifah.”Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum BertempurDalam Perang Tabuk tampak nyata benarnya sabda Rasulullah ﷺ:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ»“Aku diberi pertolongan dengan ditanamkannya rasa takut pada musuh dari jarak perjalanan sebulan.”Bangsa Romawi, ketika mengetahui kedatangan Rasulullah ﷺ, diliputi rasa takut sehingga mereka tidak berani maju menghadapi beliau dan memilih mundur sebelum terjadi pertempuran.Ibnu Hajar berkata, “Keistimewaan ini berlaku khusus bagi beliau secara mutlak, meskipun beliau seorang diri tanpa pasukan. Adapun apakah keistimewaan ini juga berlaku bagi umat beliau setelah wafatnya, maka hal itu masih mengandung kemungkinan.”Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan Di antara pelajaran dari kisah tertinggalnya Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma, kemudian keduanya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, terdapat beberapa pelajaran:a. Seseorang terkadang mengalami kelemahan, kemudian Allah memberikan taufik kepadanya sehingga ia kembali kepada kebaikan, terutama jika niatnya baik. Oleh karena itu, ketika disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma tertinggal, beliau bersabda:«دَعُوهُ، إِنْ يَكُ فِيهِ خَيْرٌ فَسَيُلْحِقُهُ اللَّهُ بِكُمْ»“Biarkan dia. Jika pada dirinya ada kebaikan, Allah akan mempertemukannya kembali dengan kalian.”b. Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, dan baru bertemu dengan beliau di Tabuk, yang berjarak sekitar tujuh malam perjalanan dari Madinah. Abu Khaitsamah menempuh perjalanan itu seorang diri dengan berjalan kaki, sementara untanya membawa bekal kurma bersamanya. Kekuatan iman benar-benar mampu melahirkan hal-hal yang menakjubkan.c. Ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu melihat untanya sudah lemah dan tidak mampu lagi membawanya menyusul rombongan, ia pun mengambil barang-barangnya, memikulnya, lalu berjalan kaki seorang diri hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ. Ia tidak menjadikan kelemahan untanya atau ketidakmampuannya mengikuti rombongan sebagai alasan untuk tetap tinggal, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang selalu mencari-cari alasan. Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai pikiran seperti itu. Mereka benar-benar berangkat dalam keadaan ringan maupun berat.Semoga Allah meridhai para sahabat yang mulia itu dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya. Kita mencintai mereka karena kedekatan mereka kepada Allah, karena pertolongan yang mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, serta karena pengorbanan mereka dalam menyebarkan agama ini dengan jiwa, keluarga, harta, dan diri mereka.Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga SahabatTertinggalnya tiga orang sahabat—padahal mereka termasuk sahabat pilihan dan seluruhnya adalah orang-orang baik—serta kebiasaan mereka menunda-nunda hingga rombongan berangkat, memberikan pelajaran kepada kita agar berhati-hati dari sikap menunda-nunda dalam ketaatan.Seorang muslim hendaknya menjadi orang yang memiliki tekad kuat, segera melakukan ketaatan, dan memanfaatkan kesempatan karena kesempatan itu mungkin tidak akan datang lagi. Karena itu, hendaknya ia bertekad sekuat-kuatnya untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan segera melakukannya.Janganlah kalian menunda-nunda dan merasa tidak mampu dengan menangguhkan serta menunda-nundanya.Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, “Jauhilah sikap menunda-nunda karena sesungguhnya ia merupakan salah satu tentara Iblis yang paling besar.”Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan bertobat,” tetapi kematian telah mendatanginya sementara ia belum juga bertobat.Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan shalat, nanti aku akan bersedekah, nanti aku akan belajar,” tetapi takdir telah datang kepadanya sementara ia belum melakukan satu pun dari semua itu.Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum TsamudKetika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau mempercepat perjalanan.Oleh karena itu, siapa saja yang melewati negeri orang-orang yang dimurkai dan diazab, hendaknya tidak memasukinya. Bahkan, hendaknya ia mempercepat perjalanan dan menutupi wajahnya dengan pakaiannya hingga melewati tempat tersebut. Ia tidak boleh memasuki tempat mereka kecuali dalam keadaan menangis dan mengambil pelajaran.Ketentuan ini tidak hanya berlaku khusus pada negeri kaum Tsamud. Bahkan, setiap negeri yang pernah ditimpa azab Allah juga termasuk dalam ketentuan ini. Lebih utama lagi untuk tidak menjadikannya sebagai tujuan perjalanan dan tidak tinggal di sana untuk sekadar melihat-lihat.Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada AllahOrang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Umar radhiyallahu ‘anhu kemudian mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau meminta orang-orang mengeluarkan sisa bekal mereka, kemudian beliau mendoakan keberkahan padanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan hal tersebut. Orang-orang lalu membawa wadah-wadah mereka, dan ternyata masih tersisa makanan di tempatnya.Pelajaran yang dimaksud adalah bahwa manusia sering lalai dalam memohon keberkahan, atau sebagian dari mereka memohonnya dengan cara yang tidak benar.Keberkahan adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya dan termasuk kekhususan-Nya. Allah-lah yang memberikan keberkahan, sedangkan selain-Nya memohon keberkahan kepada-Nya.Perlu diperhatikan bahwa dalam banyak keadaan ketika air atau makanan sangat dibutuhkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon keberkahan, lalu doa beliau dikabulkan. Dengan hal ini, beliau mengajarkan kepada kita dua perkara:a. Hendaknya kita memohon keberkahan, tidak melalaikannya, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal tersebut.b. Hendaknya kita menghadap kepada Allah Yang Mahamulia dalam memohon keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan permohonan tersebut.Saat ini kita berada di antara dua kelompok: kelompok yang lalai dari keberkahan dan tidak memohonnya, serta kelompok yang berlebihan dalam memohonnya. Mereka meminta keberkahan kepada manusia, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Padahal, orang-orang tersebut sama sekali tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka sendiri, terlebih lagi untuk memberikannya kepada orang lain.Namun, perlu diperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kekhususan dalam keberkahan ini yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu keberkahan yang melekat pada diri beliau. Keberkahan semacam ini hanya terdapat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pada sahabat-sahabat beliau yang lain, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, orang-orang yang tingkatannya di bawah mereka tentu lebih utama lagi untuk tidak diperlakukan demikian.Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah BeritahukanKetika unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat, sebagian orang munafik berkata, “Muhammad mengaku bahwa berita dari langit datang kepadanya, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab perkataan mereka dengan menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui kecuali apa yang Allah beritahukan kepada beliau. Kemudian beliau memberitahukan kepada mereka tempat unta tersebut, dan mereka pun menemukannya sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari sini kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib, kecuali sebagian perkara yang Allah beritahukan kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.’” (QS. An-Naml: 65)Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit BangkaiDalam perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah rumah yang di sana terdapat kantong air yang tergantung dan berisi air. Beliau meminta air untuk diminum. Kemudian dikatakan kepada beliau bahwa kantong tersebut berasal dari bangkai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«دِبَاغُهَا طَهُورُهَا»“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Di sini kita dapat melihat ketawadukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kemudahan dan kesederhanaan beliau. Beliau adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Meskipun demikian, beliau minum dari kantong air yang tergantung di sebuah rumah di pinggir jalan.Hal ini juga menunjukkan kemudahan dan kelapangan agama ini. Meskipun kantong tersebut pada asalnya adalah kulit bangkai, penyamakan dapat menyucikannya.Namun, dalam masalah sucinya kulit dengan penyamakan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Ada yang membedakan antara kulit hewan yang dagingnya boleh dimakan dan kulit hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan. Sebagian lainnya berpendapat bahwa hukum tersebut berlaku umum, kecuali kulit anjing dan babi. Pembahasan masalah ini terdapat dalam kitab-kitab fikih.Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺDalam Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di belakang Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu dalam shalat Subuh—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Dalam peristiwa tersebut terdapat keutamaan yang sangat menonjol bagi Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Abdurrahman bin Auf Saudagar Sukses dan Dijamin Masuk SurgaKedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul BijadainJenazah Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu, yang meninggal dunia dalam Perang Tabuk, dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri turun ke dalam kuburnya, sedangkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma mengulurkan jenazah itu kepada beliau.Sahabat yang fakir ini diurus jenazahnya dan dimakamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendoakannya, menyatakan keridaan beliau kepadanya, memohon keridaan Allah Ta‘ala untuknya, serta dibantu dalam semua itu oleh dua orang terbaik setelah beliau.Betapa besar kedudukannya dalam agama dan betapa mulianya jenazah ini. Oleh karena itu, ketika Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu melihat jenazah tersebut, ia segera mendatanginya dalam kegelapan malam. Ia menyaksikan pemandangan yang agung itu dan mendengar doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia berharap seandainya dirinyalah yang menjadi penghuni kubur tersebut.Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga LisanMu‘adz radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ia mendapati dirinya berada berdua saja dengan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Ia pun segera bertanya kepada beliau tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga.Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Mu‘adz berkata kepada beliau, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu perkara yang membuatku terjaga dan membuatku sakit.” Kemudian ia menjelaskan maksudnya dengan bertanya tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.Inilah Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu. Saat itu ia masih seorang pemuda berusia dua puluhan. Pemuda seperti inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi para pemuda kita. Pelajarilah perjalanan hidupnya. Nabi ﷺ mengutus pemuda ini ke Yaman sebagai pengajar dan dai yang menyeru kepada Allah. Setelah kembali dari Yaman sepeninggal Rasulullah ﷺ, ia berangkat menuju Syam sebagai pengajar, dai yang menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sekaligus berjihad di jalan-Nya. Ia wafat di sana karena wabah tha‘un ketika berusia sekitar tiga puluh tiga tahun.Rasulullah ﷺ telah menjelaskan kepadanya amalan-amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Karena melihat besarnya semangat Mu‘adz dalam meraih kebaikan, beliau pun menambah ilmunya dan menunjukkan kepadanya perkara yang menjadi pengendali semua itu, yaitu lisan.Ketika Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu merasa heran terhadap hal tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepadanya sabda beliau yang agung, yang terus bergema sebagai peringatan akan besarnya akibat buruk dari kesalahan lisan,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka di atas hidung mereka hanyalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?”Karena itu, waspadalah, waspadalah seribu kali terhadap kesalahan lisan, bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan dirinya dari neraka. Semoga Allah melindungi kita semua dari neraka.Baca juga: Doa agar Kuat Dzikir, Syukur, dan Ibadah Usai ShalatKetiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada BeliauKaum munafik tidak cukup hanya dengan melemahkan semangat, menebarkan kabar bohong, menimbulkan keraguan terhadap niat orang lain, mengejek, dan berusaha memecah belah kaum mukminin. Bahkan, mereka sampai berusaha membunuh Rasulullah ﷺ.Mereka bersepakat untuk menyerang beliau di sebuah jalan sempit di pegunungan, dengan tujuan menjatuhkan beliau dari sana ketika sedang melewatinya. Namun, Allah Yang Mahamulia melindungi beliau dari mereka dan dari segala tipu daya, sebagaimana yang telah Allah Jalla Sya’nuhu janjikan,وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ“Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ sampai di Wadi Al-Qura, beliau memberitahukan kepada para sahabat bahwa beliau akan segera sampai di Madinah.Ketika Madinah mulai terlihat dan beliau melihat Gunung Uhud, beliau bersabda,هَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ.“Ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Bukhari, no. 1481 dan Muslim, no. 1392; dari Abu Humaid As-Sa’idi)Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Sebuah batu di Makkah mengucapkan salam kepada beliau, batang pohon kurma di masjid merintih karena rindu kepada beliau, makanan bertasbih di tangan beliau, air tawar memancar dari sela-sela jari beliau, dan sebuah gunung pun mencintai beliau.Tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan beliau selain aku. Lalu, bagaimana sikap kita terhadap beliau?!Beliau ﷺ telah bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari, no, 15 dan Muslim, no. 44; dari Anas bin Malik) Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan


Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Tabuk 1.1. Pertama: Dari Jazirah Arab Menuju Dunia 1.2. Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi Keimanan 1.3. Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan Kemunafikan 1.4. Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan Jihad 1.5. Kelima: Berlomba dalam Kebaikan 1.6. Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam Berinfak 1.7. Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi? 1.8. Kedelapan: Sedekah Sesuai Kemampuan 1.9. Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi Thalib 1.10. Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala Besar 1.11. Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap Tulus 1.12. Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan 1.13. Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta 1.14. Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat 1.15. Kelima belas: Jangan Mencari-cari Alasan 1.16. Keenam belas: Jangan Memperolok Agama 1.17. Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina Syariat 1.18. Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik 1.19. Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar 1.20. Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum Bertempur 1.21. Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan 1.22. Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga Sahabat 1.23. Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum Tsamud 1.24. Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada Allah 1.25. Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah Beritahukan 1.26. Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit Bangkai 1.27. Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺ 1.28. Kedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul Bijadain 1.29. Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga Lisan 1.30. Ketiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada Beliau 1.31. Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺ  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tabuk. Al-Waqidi rahimahullah berkata,“Beliau mengikat panji-panji dan bendera-bendera. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera terbesar kepada Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan bendera suku Aus kepada Usaid bin Al-Hudhair radhiyallahu ‘anhu, dan menyerahkan bendera suku Khazraj kepada Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu. Ada pula yang mengatakan bahwa bendera tersebut diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu.”Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama tiga puluh ribu orang atau lebih. Jumlah hewan tunggangan sangat sedikit dan mereka menghadapi kesulitan yang berat. Bahkan, dua atau tiga orang harus bergantian menaiki satu ekor unta.Bekal pun sangat sedikit, sampai-sampai mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih hewan tunggangan mereka agar dapat memakan dagingnya dan meminum air yang terdapat dalam lambungnya.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau bersabda,“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis, karena khawatir kalian akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa mereka.”Kemudian beliau menundukkan kepala dan mempercepat perjalanan hingga melewati tempat tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan mereka agar tidak meminum air dari sumur-sumur di tempat itu dan tidak mengambil air darinya. Mereka kemudian memberitahukan bahwa mereka telah membuat adonan menggunakan air tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menumpahkan air yang telah mereka ambil dan memberikan adonan tersebut kepada unta.Orang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Al-A‘masy meriwayatkan dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau Abu Sa‘id radhiyallahu ‘anhuma—Al-A‘masy ragu—ia berkata:Ketika Perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami, lalu kami memakan dagingnya dan menggunakan lemaknya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah.”Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau melakukan hal itu, jumlah hewan tunggangan akan semakin sedikit. Namun, mintalah mereka membawa sisa-sisa bekal mereka, kemudian berdoalah kepada Allah agar memberikan keberkahan pada bekal tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan padanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Baik.”Kemudian beliau meminta selembar kulit dan membentangkannya. Setelah itu, beliau meminta agar mereka membawa sisa-sisa bekal mereka. Ada orang yang datang membawa segenggam jagung, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa sepotong roti. Hingga akhirnya terkumpul sedikit makanan di atas kulit tersebut.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan keberkahan pada makanan itu. Setelah itu, beliau bersabda, “Ambillah dan masukkan ke dalam wadah-wadah kalian.”Mereka pun memasukkannya ke dalam wadah-wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di dalam pasukan kecuali telah terisi penuh.Mereka kemudian makan hingga kenyang dan makanan itu masih tersisa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa kedua kesaksian ini tanpa meragukannya, melainkan ia tidak akan terhalang dari surga.”Dalam perjalanan, unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat. Sebagian orang munafik pun berkata, “Muhammad mengaku sebagai nabi yang mendapat berita dari langit, tetapi ia tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengetahui kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah menunjukkan kepadaku tempat unta itu. Unta tersebut berada di lembah ini, di sebuah celah bukit ini dan itu. Tali kekangnya tertahan oleh sebatang pohon. Pergilah hingga kalian membawanya kepadaku.”Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun pergi. Mereka menemukan unta tersebut sebagaimana yang beliau sebutkan, lalu membawanya kembali.Dari Salamah bin Al-Muhabbiq radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sebuah rumah. Ternyata di sana terdapat sebuah kantong air yang tergantung. Beliau meminta air. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kantong itu berasal dari bangkai.”Beliau bersabda,دِبَاغُهَا طَهُورُهَا“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Dalam perjalanan menuju Tabuk, pasukan berhenti pada malam hari. Ketika waktu fajar tiba, Rasulullah ﷺ pergi untuk buang hajat. Beliau ditemani oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu. Karena beliau terlambat kembali, kaum muslimin pun meminta Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu untuk maju menjadi imam. Ia pun mengimami mereka.Pada rakaat kedua, Rasulullah ﷺ datang. Beliau mendapatkan satu rakaat dan masih sempat mengikuti satu rakaat lainnya bersama imam. Kaum muslimin pun merasa cemas. Setelah Rasulullah ﷺ selesai mengucapkan salam, beliau bersabda kepada mereka, “Kalian telah berbuat baik,” atau beliau bersabda, “Kalian telah melakukan dengan benar.” (HR. Muslim, no. 274)Ketika mereka sampai di Tabuk, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا -إِنْ شَاءَ اللَّهُ- عَيْنَ تَبُوكَ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِيَ النَّهَارُ، فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلَا يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ.“Besok, insyaallah, kalian akan sampai di mata air Tabuk. Kalian tidak akan sampai di sana hingga hari telah meninggi. Siapa di antara kalian yang sampai di sana lebih dahulu, janganlah menyentuh sedikit pun airnya sampai aku datang.”Ternyata ada dua orang yang lebih dahulu sampai di sana. Mata air tersebut hanya mengeluarkan sedikit air, seperti tali sandal. Rasulullah ﷺ bertanya kepada keduanya,هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا؟“Apakah kalian berdua telah menyentuh sedikit dari airnya?”Keduanya menjawab, “Ya.”Nabi ﷺ pun menegur keduanya dan mengatakan kepada mereka apa yang Allah kehendaki untuk beliau katakan.Kemudian mereka mengambil air dari mata air itu sedikit demi sedikit dengan tangan mereka hingga terkumpul dalam sebuah wadah. Rasulullah ﷺ lalu membasuh kedua tangan dan wajah beliau dengan air tersebut, kemudian mengembalikannya ke mata air. Seketika mata air itu memancarkan air yang deras atau melimpah—perawi ‘Aziz berkata bahwa Abu Ali ragu mengenai redaksinya—hingga orang-orang dapat mengambil air secukupnya.Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,يُوشِكُ، يَا مُعَاذُ، إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا.“Wahai Mu‘adz, jika umurmu panjang, tidak lama lagi engkau akan melihat tempat ini telah dipenuhi kebun-kebun.” (HR. Muslim, no. 706)Rasulullah ﷺ menetap di Tabuk selama dua puluh hari. Beliau tidak bertemu dengan tipu daya musuh dan tidak pula menghadapi pertempuran. Beliau hanya membuat pasukan Romawi merasa gentar di negeri mereka sendiri. Akibatnya, mereka tidak keluar untuk menghadapi beliau dan memilih tetap berlindung di negeri mereka.Ketika Rasulullah ﷺ berada di Tabuk, jaraknya dengan Ailah sudah dekat. Beliau mengirim utusan kepada penguasa Ailah. Penguasa tersebut datang menemui beliau, berdamai dengan beliau, dan memberikan jizyah. Penduduk Jarba’ dan Adzruh juga datang menemui beliau dan memberikan jizyah. Rasulullah ﷺ kemudian menuliskan sebuah surat perjanjian untuk mereka.Dalam Perang Tabuk, Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu wafat. Rasulullah ﷺ turun ke dalam liang kuburnya. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma menyerahkan jenazahnya kepada beliau di dalam kubur. Rasulullah ﷺ mendoakannya dengan bersabda,اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ رَاضِيًا عَنْهُ فَارْضَ عَنْهُ.“Ya Allah, sungguh pada petang ini aku telah meridainya, maka ridailah dia.” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, 2:528)Kemudian Rasulullah ﷺ kembali menuju Madinah. Dalam perjalanan, Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berada dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia memanfaatkan kesempatan berada dekat dan berdua dengan beliau.Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk. Ketika aku melihat beliau sedang sendirian, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’Beliau bersabda, ‘Bagus! Sungguh, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Namun, hal itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan untuk melakukannya. Dirikanlah salat yang diwajibkan, tunaikanlah zakat yang diwajibkan, dan temuilah Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Maukah aku tunjukkan kepadamu pokok segala urusan, tiangnya, dan puncak tertingginya? Pokok segala urusan adalah Islam. Siapa yang masuk Islam, ia akan selamat. Tiangnya adalah salat. Adapun puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Salat seorang hamba pada tengah malam dapat menghapus kesalahan-kesalahan.’Kemudian beliau membaca ayat,تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’Aku menjawab, ‘Tentu.’Mu‘adz berkata, ‘Aku khawatir orang-orang akan menyibukkan Rasulullah ﷺ dariku. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah tadi engkau mengatakan, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang mengendalikan semua itu?’”’Mu‘adz berkata, “Kemudian Rasulullah ﷺ menunjuk dengan tangannya ke arah lidah beliau.”Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”Beliau bersabda,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di atas hidung mereka adalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?” (HR. Ahmad, 36:388) Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Dari Jazirah Arab Menuju DuniaPerang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Tabuk, Ujian Berat bagi KeimananAllah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Tabuk Menyingkap Iman dan KemunafikanPerang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Saat Harta Menjadi Jalan JihadDisyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Berlomba dalam KebaikanDisyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Keutamaan Para Sahabat dalam BerinfakTampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Sedekah Terang-Terangan atau Sembunyi-Sembunyi?Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Sedekah Sesuai KemampuanAbu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Keutamaan Ali bin Abi ThalibPada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sedekah Kecil, Pahala BesarSebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Tak Mampu, tetapi Tetap TulusSekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Beramal Tanpa Peduli Celaan Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: Sedekah Orang yang Tak Punya Harta ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Jangan Jadi Corong Musuh, Bahaya Menebar Ketakutan, Irjaf yang Melemahkan Umat Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Jangan Mencari-cari AlasanKelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah.Keenam belas: Jangan Memperolok AgamaGolongan lain dari orang-orang munafik. Seakan-akan mereka saling berbagi peran dalam menimpakan bahaya kepada pasukan kaum muslimin. Kebiasaan mereka adalah mengejek dan merendahkan kaum muslimin. Sebagian mereka berkata—yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang ikut keluar dalam Perang Tabuk, padahal perbekalan sedikit dan perjalanan sangat jauh—, “Kami tidak pernah melihat para pembaca Al-Qur’an seperti mereka; perut mereka paling rakus, lisan mereka paling dusta, dan mereka paling pengecut ketika bertemu musuh.”Lalu ada seseorang di dalam masjid berkata, “Engkau berdusta. Bahkan engkau adalah orang munafik. Aku benar-benar akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ.” Berita itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah ayat Al-Qur’an.Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Seolah-olah aku masih melihat orang itu bergelantungan pada tali kekang unta Rasulullah ﷺ, sementara batu-batu mengenai kedua kakinya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan berbincang-bincang saja.’ Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah:﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Artinya: Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65–66)As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperolok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari agama. Sebab, agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, pengagungan terhadap agama-Nya, dan penghormatan kepada Rasul-Nya. Sedangkan memperolok salah satu dari semuanya itu bertentangan dengan prinsip tersebut dan merupakan bentuk penentangan yang paling besar.”Meskipun demikian, nash-nash ancaman seperti ini memiliki penafsiran yang telah diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya, agar lebih membekas dalam jiwa dan lebih kuat sebagai peringatan. Wallahu a’lam.Ketujuh belas: Beratnya Dosa Menghina SyariatOrang-orang munafik telah mengejek Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin. Meskipun demikian, ayat yang turun menjelaskan bahwa ucapan tersebut merupakan ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan betapa beratnya perbuatan tersebut serta betapa mulianya kehormatan seorang mukmin. Sebab, Allah menjadikan ejekan terhadap kaum mukminin sebagai ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa yang menjadi bentuk penghinaan adalah mengejek dan memperolok suatu perintah, bukan orang yang diperintahkan. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memperolok atau mengejek sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an, As-Sunnah Nabi, ataupun salah satu hukum syariat.Kedelapan belas: Ketika Dunia Lebih Menarik Di antara pelajaran dari Perang Tabuk adalah bahwa Allah menjelaskan, seandainya orang-orang yang tidak ikut berangkat itu mengetahui bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dunia, niscaya mereka akan segera berangkat. Allah Ta’ala berfirman:لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 42)Demikian pula sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang orang-orang yang tidak menghadiri shalat Isya:«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ»“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku pernah berkeinginan memerintahkan agar kayu bakar dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan agar azan untuk shalat dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku membakar rumah-rumah mereka. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan sepotong tulang yang masih berisi daging yang gemuk, atau dua kaki kambing yang baik, niscaya ia akan menghadiri shalat Isya.” (HR. Bukhari, 1:131, Muslim, no. 644)Hal seperti ini juga banyak terjadi di tengah masyarakat. Jika salah seorang dari mereka memiliki kepentingan dunia, ia rela mendatanginya meskipun harus keluar pada tengah malam. Namun, pada saat yang sama ia justru tertidur sehingga meninggalkan shalat Subuh. Seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menyerupai perbuatan orang-orang munafik.Kesembilan belas: Panji Terbesar untuk Abu Bakar Rasulullah ﷺ mengikat panji-panji dan bendera-bendera pasukan ketika hendak meninggalkan Madinah. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, lalu membagikan bendera-bendera kepada para pemuka kaum Muhajirin, Anshar, suku Aus, dan Khazraj.Dalam hal ini terdapat isyarat akan kedudukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliaulah pemegang panji terbesar dalam perang terbesar dan terakhir yang diikuti Rasulullah ﷺ. Beliau juga merupakan sahabat yang paling layak memegang panji sepeninggal Rasulullah ﷺ.Muhammad Abu Syuhbah rahimahullah berkata, “Tidak samar bagi orang yang cermat bahwa penyerahan panji oleh Rasulullah ﷺ kepada Ash-Shiddiq pada perang terakhir yang beliau ikuti merupakan isyarat yang halus bahwa Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling berhak menjadi khalifah.”Kedua puluh: Musuh Gentar Sebelum BertempurDalam Perang Tabuk tampak nyata benarnya sabda Rasulullah ﷺ:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ»“Aku diberi pertolongan dengan ditanamkannya rasa takut pada musuh dari jarak perjalanan sebulan.”Bangsa Romawi, ketika mengetahui kedatangan Rasulullah ﷺ, diliputi rasa takut sehingga mereka tidak berani maju menghadapi beliau dan memilih mundur sebelum terjadi pertempuran.Ibnu Hajar berkata, “Keistimewaan ini berlaku khusus bagi beliau secara mutlak, meskipun beliau seorang diri tanpa pasukan. Adapun apakah keistimewaan ini juga berlaku bagi umat beliau setelah wafatnya, maka hal itu masih mengandung kemungkinan.”Kedua puluh satu: Abu Dzar dan Abu Khaitsamah: Iman yang Mengalahkan Segala Rintangan Di antara pelajaran dari kisah tertinggalnya Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma, kemudian keduanya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, terdapat beberapa pelajaran:a. Seseorang terkadang mengalami kelemahan, kemudian Allah memberikan taufik kepadanya sehingga ia kembali kepada kebaikan, terutama jika niatnya baik. Oleh karena itu, ketika disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Abu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma tertinggal, beliau bersabda:«دَعُوهُ، إِنْ يَكُ فِيهِ خَيْرٌ فَسَيُلْحِقُهُ اللَّهُ بِكُمْ»“Biarkan dia. Jika pada dirinya ada kebaikan, Allah akan mempertemukannya kembali dengan kalian.”b. Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu berhasil menyusul Rasulullah ﷺ, dan baru bertemu dengan beliau di Tabuk, yang berjarak sekitar tujuh malam perjalanan dari Madinah. Abu Khaitsamah menempuh perjalanan itu seorang diri dengan berjalan kaki, sementara untanya membawa bekal kurma bersamanya. Kekuatan iman benar-benar mampu melahirkan hal-hal yang menakjubkan.c. Ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu melihat untanya sudah lemah dan tidak mampu lagi membawanya menyusul rombongan, ia pun mengambil barang-barangnya, memikulnya, lalu berjalan kaki seorang diri hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah ﷺ. Ia tidak menjadikan kelemahan untanya atau ketidakmampuannya mengikuti rombongan sebagai alasan untuk tetap tinggal, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang selalu mencari-cari alasan. Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai pikiran seperti itu. Mereka benar-benar berangkat dalam keadaan ringan maupun berat.Semoga Allah meridhai para sahabat yang mulia itu dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya. Kita mencintai mereka karena kedekatan mereka kepada Allah, karena pertolongan yang mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, serta karena pengorbanan mereka dalam menyebarkan agama ini dengan jiwa, keluarga, harta, dan diri mereka.Kedua Puluh Dua: Tertinggalnya Tiga SahabatTertinggalnya tiga orang sahabat—padahal mereka termasuk sahabat pilihan dan seluruhnya adalah orang-orang baik—serta kebiasaan mereka menunda-nunda hingga rombongan berangkat, memberikan pelajaran kepada kita agar berhati-hati dari sikap menunda-nunda dalam ketaatan.Seorang muslim hendaknya menjadi orang yang memiliki tekad kuat, segera melakukan ketaatan, dan memanfaatkan kesempatan karena kesempatan itu mungkin tidak akan datang lagi. Karena itu, hendaknya ia bertekad sekuat-kuatnya untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan segera melakukannya.Janganlah kalian menunda-nunda dan merasa tidak mampu dengan menangguhkan serta menunda-nundanya.Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, “Jauhilah sikap menunda-nunda karena sesungguhnya ia merupakan salah satu tentara Iblis yang paling besar.”Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan bertobat,” tetapi kematian telah mendatanginya sementara ia belum juga bertobat.Betapa banyak orang di dalam kubur yang dahulu berkata, “Nanti aku akan shalat, nanti aku akan bersedekah, nanti aku akan belajar,” tetapi takdir telah datang kepadanya sementara ia belum melakukan satu pun dari semua itu.Kedua Puluh Tiga: Melewati Negeri Kaum TsamudKetika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Al-Hijr—negeri kaum Tsamud—beliau mempercepat perjalanan.Oleh karena itu, siapa saja yang melewati negeri orang-orang yang dimurkai dan diazab, hendaknya tidak memasukinya. Bahkan, hendaknya ia mempercepat perjalanan dan menutupi wajahnya dengan pakaiannya hingga melewati tempat tersebut. Ia tidak boleh memasuki tempat mereka kecuali dalam keadaan menangis dan mengambil pelajaran.Ketentuan ini tidak hanya berlaku khusus pada negeri kaum Tsamud. Bahkan, setiap negeri yang pernah ditimpa azab Allah juga termasuk dalam ketentuan ini. Lebih utama lagi untuk tidak menjadikannya sebagai tujuan perjalanan dan tidak tinggal di sana untuk sekadar melihat-lihat.Kedua Puluh Empat: Memohon Keberkahan kepada AllahOrang-orang mengalami kelaparan yang sangat berat. Umar radhiyallahu ‘anhu kemudian mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau meminta orang-orang mengeluarkan sisa bekal mereka, kemudian beliau mendoakan keberkahan padanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan hal tersebut. Orang-orang lalu membawa wadah-wadah mereka, dan ternyata masih tersisa makanan di tempatnya.Pelajaran yang dimaksud adalah bahwa manusia sering lalai dalam memohon keberkahan, atau sebagian dari mereka memohonnya dengan cara yang tidak benar.Keberkahan adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya dan termasuk kekhususan-Nya. Allah-lah yang memberikan keberkahan, sedangkan selain-Nya memohon keberkahan kepada-Nya.Perlu diperhatikan bahwa dalam banyak keadaan ketika air atau makanan sangat dibutuhkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon keberkahan, lalu doa beliau dikabulkan. Dengan hal ini, beliau mengajarkan kepada kita dua perkara:a. Hendaknya kita memohon keberkahan, tidak melalaikannya, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal tersebut.b. Hendaknya kita menghadap kepada Allah Yang Mahamulia dalam memohon keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan permohonan tersebut.Saat ini kita berada di antara dua kelompok: kelompok yang lalai dari keberkahan dan tidak memohonnya, serta kelompok yang berlebihan dalam memohonnya. Mereka meminta keberkahan kepada manusia, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Padahal, orang-orang tersebut sama sekali tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka sendiri, terlebih lagi untuk memberikannya kepada orang lain.Namun, perlu diperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kekhususan dalam keberkahan ini yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu keberkahan yang melekat pada diri beliau. Keberkahan semacam ini hanya terdapat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pada sahabat-sahabat beliau yang lain, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, orang-orang yang tingkatannya di bawah mereka tentu lebih utama lagi untuk tidak diperlakukan demikian.Kedua Puluh Lima: Rasulullah ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah BeritahukanKetika unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat, sebagian orang munafik berkata, “Muhammad mengaku bahwa berita dari langit datang kepadanya, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui di mana untanya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab perkataan mereka dengan menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui kecuali apa yang Allah beritahukan kepada beliau. Kemudian beliau memberitahukan kepada mereka tempat unta tersebut, dan mereka pun menemukannya sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari sini kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib, kecuali sebagian perkara yang Allah beritahukan kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.’” (QS. An-Naml: 65)Kedua Puluh Enam: Kesederhanaan Nabi ﷺ dan Hukum Menyucikan Kulit BangkaiDalam perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah rumah yang di sana terdapat kantong air yang tergantung dan berisi air. Beliau meminta air untuk diminum. Kemudian dikatakan kepada beliau bahwa kantong tersebut berasal dari bangkai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«دِبَاغُهَا طَهُورُهَا»“Penyamakannya adalah penyuciannya.”Di sini kita dapat melihat ketawadukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kemudahan dan kesederhanaan beliau. Beliau adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Meskipun demikian, beliau minum dari kantong air yang tergantung di sebuah rumah di pinggir jalan.Hal ini juga menunjukkan kemudahan dan kelapangan agama ini. Meskipun kantong tersebut pada asalnya adalah kulit bangkai, penyamakan dapat menyucikannya.Namun, dalam masalah sucinya kulit dengan penyamakan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Ada yang membedakan antara kulit hewan yang dagingnya boleh dimakan dan kulit hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan. Sebagian lainnya berpendapat bahwa hukum tersebut berlaku umum, kecuali kulit anjing dan babi. Pembahasan masalah ini terdapat dalam kitab-kitab fikih.Kedua Puluh Tujuh: Abdurrahman bin Auf Menjadi Imam Rasulullah ﷺDalam Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di belakang Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu dalam shalat Subuh—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Dalam peristiwa tersebut terdapat keutamaan yang sangat menonjol bagi Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Abdurrahman bin Auf Saudagar Sukses dan Dijamin Masuk SurgaKedua Puluh Delapan: Jenazah Abdullah Dzul BijadainJenazah Abdullah Dzul Bijadain radhiyallahu ‘anhu, yang meninggal dunia dalam Perang Tabuk, dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri turun ke dalam kuburnya, sedangkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma mengulurkan jenazah itu kepada beliau.Sahabat yang fakir ini diurus jenazahnya dan dimakamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendoakannya, menyatakan keridaan beliau kepadanya, memohon keridaan Allah Ta‘ala untuknya, serta dibantu dalam semua itu oleh dua orang terbaik setelah beliau.Betapa besar kedudukannya dalam agama dan betapa mulianya jenazah ini. Oleh karena itu, ketika Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu melihat jenazah tersebut, ia segera mendatanginya dalam kegelapan malam. Ia menyaksikan pemandangan yang agung itu dan mendengar doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia berharap seandainya dirinyalah yang menjadi penghuni kubur tersebut.Kedua puluh sembilan: Mu‘adz bin Jabal, Pemuda Pencari Surga yang Menjaga LisanMu‘adz radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ia mendapati dirinya berada berdua saja dengan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Ia pun segera bertanya kepada beliau tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga.Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Mu‘adz berkata kepada beliau, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu perkara yang membuatku terjaga dan membuatku sakit.” Kemudian ia menjelaskan maksudnya dengan bertanya tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.Inilah Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu. Saat itu ia masih seorang pemuda berusia dua puluhan. Pemuda seperti inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi para pemuda kita. Pelajarilah perjalanan hidupnya. Nabi ﷺ mengutus pemuda ini ke Yaman sebagai pengajar dan dai yang menyeru kepada Allah. Setelah kembali dari Yaman sepeninggal Rasulullah ﷺ, ia berangkat menuju Syam sebagai pengajar, dai yang menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sekaligus berjihad di jalan-Nya. Ia wafat di sana karena wabah tha‘un ketika berusia sekitar tiga puluh tiga tahun.Rasulullah ﷺ telah menjelaskan kepadanya amalan-amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Karena melihat besarnya semangat Mu‘adz dalam meraih kebaikan, beliau pun menambah ilmunya dan menunjukkan kepadanya perkara yang menjadi pengendali semua itu, yaitu lisan.Ketika Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu merasa heran terhadap hal tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepadanya sabda beliau yang agung, yang terus bergema sebagai peringatan akan besarnya akibat buruk dari kesalahan lisan,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka di atas hidung mereka hanyalah akibat dari apa yang dituai oleh lisan mereka?”Karena itu, waspadalah, waspadalah seribu kali terhadap kesalahan lisan, bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan dirinya dari neraka. Semoga Allah melindungi kita semua dari neraka.Baca juga: Doa agar Kuat Dzikir, Syukur, dan Ibadah Usai ShalatKetiga puluh: Upaya Kaum Munafik Membunuh Rasulullah ﷺ dan Perlindungan Allah kepada BeliauKaum munafik tidak cukup hanya dengan melemahkan semangat, menebarkan kabar bohong, menimbulkan keraguan terhadap niat orang lain, mengejek, dan berusaha memecah belah kaum mukminin. Bahkan, mereka sampai berusaha membunuh Rasulullah ﷺ.Mereka bersepakat untuk menyerang beliau di sebuah jalan sempit di pegunungan, dengan tujuan menjatuhkan beliau dari sana ketika sedang melewatinya. Namun, Allah Yang Mahamulia melindungi beliau dari mereka dan dari segala tipu daya, sebagaimana yang telah Allah Jalla Sya’nuhu janjikan,وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ“Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)Ketiga puluh satu: Gunung Uhud yang Mencintai Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ sampai di Wadi Al-Qura, beliau memberitahukan kepada para sahabat bahwa beliau akan segera sampai di Madinah.Ketika Madinah mulai terlihat dan beliau melihat Gunung Uhud, beliau bersabda,هَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ.“Ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Bukhari, no. 1481 dan Muslim, no. 1392; dari Abu Humaid As-Sa’idi)Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Sebuah batu di Makkah mengucapkan salam kepada beliau, batang pohon kurma di masjid merintih karena rindu kepada beliau, makanan bertasbih di tangan beliau, air tawar memancar dari sela-sela jari beliau, dan sebuah gunung pun mencintai beliau.Tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan beliau selain aku. Lalu, bagaimana sikap kita terhadap beliau?!Beliau ﷺ telah bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari, no, 15 dan Muslim, no. 44; dari Anas bin Malik) Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan

REZEKI SUDAH TERTULIS, LALU UNTUK APA KITA BERUSAHA? – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Bab ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tawakal adalah ibadah hati yang sangat agung, yang senantiasa menyertai seorang muslim dalam seluruh urusannya, baik urusan agama maupun dunianya. Karena seorang mukmin bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan berbagai hal yang mendekatkannya kepada Allah, berupa perkataan yang lurus dan amal-amal saleh. Ia juga bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengupayakan berbagai kemaslahatan duniawi dan segala hajatnya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik Zat yang mencukupi dan sebaik-baik Pelindung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Allah juga berfirman, “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36) Maka tawakal adalah ibadah yang agung, yang sepatutnya senantiasa dijaga oleh seorang muslim, dengan bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam seluruh urusannya. Penulis berkata, “Anjuran untuk senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki,” yakni kepada Allah. “Dan tidak ada satu pun makhluk melata melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk melata. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Telah berlalu bersama kita hadis Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi yang jujur lagi dibenarkan), yaitu hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu malaikat itu diperintahkan mencatat empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia sengsara atau bahagia.” (Lihat HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643). Maka rezeki manusia, yaitu segala yang ia konsumsi, makan, dan minum dalam kehidupan ini, semuanya telah tertulis. Baik sedikit maupun banyak, berupa minuman ataupun makanan, semuanya telah dicatat. Telah dicatat baginya rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuknya. Maka kewajiban seorang hamba adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, dan bertawakal kepada Allah dalam usahanya mencari rezeki. Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang muslim setiap kali keluar dari rumahnya untuk suatu kemaslahatan agama maupun dunianya, agar membaca: “Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Apabila ia mengucapkannya, akan dikatakan kepadanya, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan At-Tirmidzi no. 3426). Hal ini menjelaskan kepada kita dampak yang besar atau buah-buah penuh berkah yang diperoleh orang yang bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ia diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi. Penulis kitab rahimahullah Ta’ala mengawali bab ini dengan hadis Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat semua takdir lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.’” (Lihat HR. Muslim no. 2653). “Allah telah menetapkan takdir,” yakni takdir seluruh makhluk. Dan di antara yang ditakdirkan adalah rezeki. Berupa makanan maupun minuman, semuanya telah ditakdirkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Penetapan takdir yang dimaksud dalam hadis ini adalah takdir umum. Sedangkan penetapan takdir dalam hadis Ibnu Mas’ud adalah takdir ‘umri (takdir seumur hidup), yaitu penetapan takdir yang khusus bagi setiap manusia sepanjang hidupnya. Ia merupakan suatu penetapan takdir setelah penetapan takdir sebelumnya, yang tercakup di dalam takdir umum. Intinya, rezeki para hamba telah dibagi-bagi. “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Masing-masing pasti akan mendapatkan bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang. Keimanan seorang hamba bahwa rezeki telah dibagi tidak berarti ia meninggalkan amal dan ikhtiar. Karena syariat datang dengan perintah beriman kepada takdir, kepada qadar dan qada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun pada saat yang sama syariat juga mendorong manusia untuk beramal. Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647). Seseorang tidak mengetahui apa yang ditakdirkan untuknya, tetapi ia harus berupaya melakukan sebab-sebab, serta memohon taufik kepada Allah, kebaikan, keberkahan, juga kebaikan dunia dan akhirat. “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201). “Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32). Maka ia berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya bantuan, pertolongan, serta taufik. Pada saat yang sama, ia juga berupaya melakukan sebab-sebab. “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15). Ia mengupayakan sebab. “Bersemangatlah melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2664). “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517) Syariat datang membawa perintah untuk melakukan sebab-sebab, tetapi hati tidak boleh disandarkan kepada sebab-sebab tersebut. Hati hanyalah boleh disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang di Tangan-Nya kendali segala urusan dan perbendaharaan langit dan bumi. Silakan. Abu Hatim rahimahullah Ta’ala berkata, “Kewajiban orang yang berakal adalah senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki. Karena tawakal adalah pengikat iman dan pendamping tauhid. Tawakal merupakan sebab yang menepis kefakiran dan menghadirkan ketenangan. Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah Jalla wa ’Ala dengan hati yang sehat, hingga jaminan Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya sendiri, melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya.” Di antara kedua klausa ini terdapat kalimat sisipan yang menjelaskan bagaimana tawakal itu benar-benar terwujud. Beliau berkata, “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah dengan hati yang sehat.” Maksudnya, tawakal yang lahir dari hati yang sehat, yaitu keimanan yang sehat, hubungan dengan Allah, dan kepercayaan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Itulah hati yang sehat. “Hingga jaminan pencukupan dari Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya.” Artinya, karena kuatnya tawakal yang lahir dari hati yang sehat, ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada sesuatu yang berada dalam genggamannya sendiri. Hal itu dikarenakan kuatnya tawakal kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. “Maka barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Silakan. Beliau berkata, “Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi membacakan syair kepadaku: Bertawakallah kepada Ar-Rahman dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir. Kapan pun Pemilik Arasy menghendaki suatu perkara menimpa hamba-Nya, niscaya perkara itu akan menimpanya, dan hamba tidak memiliki pilihan terhadap ketetapan tersebut. Terkadang manusia binasa dari arah yang disangkanya aman, dan selamat dengan izin Allah dari arah yang justru ia takutkan. Bait-bait syair ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat. “Dalam setiap hajat,” yakni dalam seluruh keperluan dan kemaslahatanmu, hendaklah engkau bertawakal kepada Allah. Karena seluruh urusan berada di Tangan-Nya. Di Tangan-Nyalah pemberian dan penahanan, merendahkan dan meninggikan, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan. Semuanya berada di Tangan Allah. “Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir.” Segala urusan berjalan berdasarkan qada dan qadar Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal berkaitan erat dengan iman kepada takdir. Tawakal seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan erat dengan keimanannya bahwa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti berlaku dan bahwa kekuasaan-Nya Jalla fi ’Ulahu meliputi segala sesuatu. “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang mampu melemahkan-Nya. Tidak ada satu pun hajat yang terlalu besar bagi-Nya Subhanahu. Bila hajat itu dimohonkan kepada-Nya, Dia pun memberikannya, Jalla fi ‘Ulahu. ===== هَذِهِ التَّرْجَمَةُ فِي الْحَثِّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ قَلْبِيَّةٌ عَظِيمَةٌ تُصَاحِبُ الْمُسْلِمَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قِيَامِهِ بِمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَمُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقِيَامِ بِمَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَأَنْوَاعِ حَاجَاتِهِ وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَ الْحَسْبُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ وَقَالَ: أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ مُلَازِمًا لَهَا مُتَوَكِّلًا فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ عَلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: الْحَثُّ عَلَى لُزُومِ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ ضَمِنَ الْأَرْزَاقَ أَيْ عَلَى اللَّهِ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ضَمِنَ لِكُلِّ دَابَّةٍ رِزْقَهَا وَلَنْ يَمُوتَ عَبْدٌ إِلَّا وَقَدِ اسْتَوْفَى رِزْقَهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ قَدْ مَرَّ مَعَنَا فِي حَدِيثِ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: فَيُرْسَلُ إِلَيْهِ مَلَكٌ وَيُؤْمَرُ بِكَتْبِ أَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ هُوَ أَوْ سَعِيدٌ فَرِزْقُ الْإِنْسَانِ وَهُوَ مَا يَقْتَاتُهُ وَيَطْعَمُهُ وَيَشْرَبُهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ كُلُّهُ مَكْتُوبٌ دَقَّ أَوْ جَلَّ مِنْ شَرَابٍ أَوْ طَعَامٍ كُلُّ ذَلِكَ كُتِبَ كُتِبَ لَهُ مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ مِنْ رِزْقٍ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي عِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَمُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي طَلَبِهِ لِلرِّزْقِ وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَقُولَ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يَخْرُجُ فِيهَا مِنْ بَيْتِهِ لِمَصَالِحِهِ الدِّينِيَّةِ أَوِ الدُّنْيَوِيَّةِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ قِيلَ لَهُ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ وَهَذَا مِمَّا يُبَيِّنُ لَنَا الْأَثَرَ الْعَظِيمَ أَوِ الثِّمَارَ الْمُبَارَكَةَ الَّتِي يَنَالُهَا الْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ يُهْدَى وَيُكْفَى وَيُوقَى وَالْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صَدَّرَ هَذِهِ التَّرْجَمَةَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ أَيْ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ وَمِمَّا قُدِّرَ: الْأَرْزَاقُ مِنْ طَعَامٍ وَشَرَابٍ هَذَا كُلُّهُ مُقَدَّرٌ قَدَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ وَهَذَا التَّقْدِيرُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ هُوَ التَّقْدِيرُ الْعَامُّ وَالتَّقْدِيرُ الَّذِي فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ هَذَا تَقْدِيرٌ عُمُرِيٌّ يَخْتَصُّ بِكُلِّ إِنْسَانٍ وَهُوَ تَقْدِيرٌ مِنْ بَعْدِ تَقْدِيرٍ تَقْدِيرٌ دَاخِلٌ فِي التَّقْدِيرِ الْعَامِّ فَالشَّاهِدُ أَنَّ أَرْزَاقَ الْعِبَادِ مَقْسُومَةٌ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَسَمَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ الْعِبَادِ أَرْزَاقَهُمْ وَكُلٌّ سَيَأْخُذُ نَصِيبَهُ لَا يَزِيدُ عَنْهُ وَلَا يَنْقُصُ وَإِيمَانُ الْعَبْدِ بِأَنَّ الْأَرْزَاقَ مَقْسُومَةٌ لَا يَعْنِي ذَلِكَ تَعْطِيلَ الْعَمَلِ فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ جَاءَتْ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ بِقَدَرِ اللَّهِ وَقَضَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ بِالْحَثِّ عَلَى الْعَمَلِ قَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي قُدِّرَ لَهُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ وَيَسْأَلَ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ وَيَطْلُبُ مِنْهُ الْمَدَدَ وَالْعَوْنَ وَالتَّوْفِيقَ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ يَبْذُلُ السَّبَبَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالْأَمْرِ بِفِعْلِ الْأَسْبَابِ وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَى الْأَسْبَابِ وَإِنَّمَا يُعْتَمَدُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي بِيَدِهِ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ وَمَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ نَعَمْ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ لُزُومُ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ تَكَفَّلَ بِالْأَرْزَاقِ إِذِ التَّوَكُّلُ هُوَ نِظَامُ الْإِيمَانِ وَقَرِينُ التَّوْحِيدِ وَهُوَ السَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى نَفْيِ الْفَقْرِ وَوُجُودِ الرَّاحَةِ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ صِحَّةِ قَلْبِهِ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الْكَفَالَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ مِمَّا حَوَتْهُ يَدُهُ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ جَاءَ بَيْنَهُمَا هَذِهِ الْجُمْلَةُ الْمُعْتَرِضَةُ الَّتِي فِيهَا بَيَانُ تَحَقُّقِ التَّوَكُّلِ قَالَ: مَا تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ يَعْنِي تَوَكُّلٌ عَنْ صِحَّةِ قَلْبٍ صِحَّةِ إِيمَانٍ وَصِلَةٍ بِاللَّهِ وَثِقَةٍ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَ مِنَ الْكِفَايَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ بِمَا حَوَتْهُ يَدُهُ يَعْنِي مِنْ قُوَّةِ صِحَّةِ قَلْبِهِ فِي تَوَكُّلِهِ عَلَى اللَّهِ يَكُونُ أَوْثَقَ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الشَّيْءِ الَّذِي هُوَ فِي يَدِهِ مِنْ قُوَّةِ تَوَكُّلِهِ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ نَعَمْ قَالَ: وَأَنْشَدَنِي مَنْصُورُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكُرَيْزِيُّ تَوَكَّلْ عَلَى الرَّحْمَنِ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ مَتَى مَا يُرِيدُ ذُو الْعَرْشِ أَمْرًا بِعَبْدِهِ يُصِبْهُ وَمَا لِلْعَبْدِ مَا يَتَخَيَّرُ وَقَدْ يَهْلِكُ الْإِنْسَانُ مِنْ وَجْهِ أَمْنِهِ وَيَنْجُو بِإِذْنِ اللَّهِ مِنْ حَيْثُ يَحْذَرُ هَذِهِ الْأَبْيَاتُ فِيهَا الْحَثُّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَيْ فِي جَمِيعِ حَاجَاتِكَ وَمَصَالِحِكَ كُنْ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ لِأَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِيَدِهِ بِيَدِهِ الْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ وَالْخَفْضُ وَالرَّفْعُ وَالْقَبْضُ وَالْبَسْطُ وَالْعِزُّ وَالذُّلُّ كُلُّهُ بِيَدِ اللَّهِ تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ الْأُمُورُ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَهَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ إِلَى أَنَّ التَّوَكُّلَ مُرْتَبِطٌ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ تَوَكُّلُ الْعَبْدِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُرْتَبِطٌ بِإِيمَانِهِ بِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَافِذَةٌ وَأَنَّ قُدْرَتَهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ شَامِلَةٌ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ لَا يَتَعَاظَمُهُ حَاجَةٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يُسْأَلَهَا فَيُعْطِيَهَا جَلَّ فِي عُلَاهُ

REZEKI SUDAH TERTULIS, LALU UNTUK APA KITA BERUSAHA? – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Bab ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tawakal adalah ibadah hati yang sangat agung, yang senantiasa menyertai seorang muslim dalam seluruh urusannya, baik urusan agama maupun dunianya. Karena seorang mukmin bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan berbagai hal yang mendekatkannya kepada Allah, berupa perkataan yang lurus dan amal-amal saleh. Ia juga bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengupayakan berbagai kemaslahatan duniawi dan segala hajatnya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik Zat yang mencukupi dan sebaik-baik Pelindung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Allah juga berfirman, “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36) Maka tawakal adalah ibadah yang agung, yang sepatutnya senantiasa dijaga oleh seorang muslim, dengan bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam seluruh urusannya. Penulis berkata, “Anjuran untuk senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki,” yakni kepada Allah. “Dan tidak ada satu pun makhluk melata melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk melata. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Telah berlalu bersama kita hadis Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi yang jujur lagi dibenarkan), yaitu hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu malaikat itu diperintahkan mencatat empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia sengsara atau bahagia.” (Lihat HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643). Maka rezeki manusia, yaitu segala yang ia konsumsi, makan, dan minum dalam kehidupan ini, semuanya telah tertulis. Baik sedikit maupun banyak, berupa minuman ataupun makanan, semuanya telah dicatat. Telah dicatat baginya rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuknya. Maka kewajiban seorang hamba adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, dan bertawakal kepada Allah dalam usahanya mencari rezeki. Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang muslim setiap kali keluar dari rumahnya untuk suatu kemaslahatan agama maupun dunianya, agar membaca: “Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Apabila ia mengucapkannya, akan dikatakan kepadanya, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan At-Tirmidzi no. 3426). Hal ini menjelaskan kepada kita dampak yang besar atau buah-buah penuh berkah yang diperoleh orang yang bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ia diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi. Penulis kitab rahimahullah Ta’ala mengawali bab ini dengan hadis Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat semua takdir lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.’” (Lihat HR. Muslim no. 2653). “Allah telah menetapkan takdir,” yakni takdir seluruh makhluk. Dan di antara yang ditakdirkan adalah rezeki. Berupa makanan maupun minuman, semuanya telah ditakdirkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Penetapan takdir yang dimaksud dalam hadis ini adalah takdir umum. Sedangkan penetapan takdir dalam hadis Ibnu Mas’ud adalah takdir ‘umri (takdir seumur hidup), yaitu penetapan takdir yang khusus bagi setiap manusia sepanjang hidupnya. Ia merupakan suatu penetapan takdir setelah penetapan takdir sebelumnya, yang tercakup di dalam takdir umum. Intinya, rezeki para hamba telah dibagi-bagi. “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Masing-masing pasti akan mendapatkan bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang. Keimanan seorang hamba bahwa rezeki telah dibagi tidak berarti ia meninggalkan amal dan ikhtiar. Karena syariat datang dengan perintah beriman kepada takdir, kepada qadar dan qada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun pada saat yang sama syariat juga mendorong manusia untuk beramal. Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647). Seseorang tidak mengetahui apa yang ditakdirkan untuknya, tetapi ia harus berupaya melakukan sebab-sebab, serta memohon taufik kepada Allah, kebaikan, keberkahan, juga kebaikan dunia dan akhirat. “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201). “Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32). Maka ia berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya bantuan, pertolongan, serta taufik. Pada saat yang sama, ia juga berupaya melakukan sebab-sebab. “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15). Ia mengupayakan sebab. “Bersemangatlah melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2664). “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517) Syariat datang membawa perintah untuk melakukan sebab-sebab, tetapi hati tidak boleh disandarkan kepada sebab-sebab tersebut. Hati hanyalah boleh disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang di Tangan-Nya kendali segala urusan dan perbendaharaan langit dan bumi. Silakan. Abu Hatim rahimahullah Ta’ala berkata, “Kewajiban orang yang berakal adalah senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki. Karena tawakal adalah pengikat iman dan pendamping tauhid. Tawakal merupakan sebab yang menepis kefakiran dan menghadirkan ketenangan. Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah Jalla wa ’Ala dengan hati yang sehat, hingga jaminan Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya sendiri, melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya.” Di antara kedua klausa ini terdapat kalimat sisipan yang menjelaskan bagaimana tawakal itu benar-benar terwujud. Beliau berkata, “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah dengan hati yang sehat.” Maksudnya, tawakal yang lahir dari hati yang sehat, yaitu keimanan yang sehat, hubungan dengan Allah, dan kepercayaan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Itulah hati yang sehat. “Hingga jaminan pencukupan dari Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya.” Artinya, karena kuatnya tawakal yang lahir dari hati yang sehat, ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada sesuatu yang berada dalam genggamannya sendiri. Hal itu dikarenakan kuatnya tawakal kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. “Maka barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Silakan. Beliau berkata, “Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi membacakan syair kepadaku: Bertawakallah kepada Ar-Rahman dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir. Kapan pun Pemilik Arasy menghendaki suatu perkara menimpa hamba-Nya, niscaya perkara itu akan menimpanya, dan hamba tidak memiliki pilihan terhadap ketetapan tersebut. Terkadang manusia binasa dari arah yang disangkanya aman, dan selamat dengan izin Allah dari arah yang justru ia takutkan. Bait-bait syair ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat. “Dalam setiap hajat,” yakni dalam seluruh keperluan dan kemaslahatanmu, hendaklah engkau bertawakal kepada Allah. Karena seluruh urusan berada di Tangan-Nya. Di Tangan-Nyalah pemberian dan penahanan, merendahkan dan meninggikan, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan. Semuanya berada di Tangan Allah. “Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir.” Segala urusan berjalan berdasarkan qada dan qadar Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal berkaitan erat dengan iman kepada takdir. Tawakal seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan erat dengan keimanannya bahwa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti berlaku dan bahwa kekuasaan-Nya Jalla fi ’Ulahu meliputi segala sesuatu. “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang mampu melemahkan-Nya. Tidak ada satu pun hajat yang terlalu besar bagi-Nya Subhanahu. Bila hajat itu dimohonkan kepada-Nya, Dia pun memberikannya, Jalla fi ‘Ulahu. ===== هَذِهِ التَّرْجَمَةُ فِي الْحَثِّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ قَلْبِيَّةٌ عَظِيمَةٌ تُصَاحِبُ الْمُسْلِمَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قِيَامِهِ بِمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَمُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقِيَامِ بِمَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَأَنْوَاعِ حَاجَاتِهِ وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَ الْحَسْبُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ وَقَالَ: أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ مُلَازِمًا لَهَا مُتَوَكِّلًا فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ عَلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: الْحَثُّ عَلَى لُزُومِ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ ضَمِنَ الْأَرْزَاقَ أَيْ عَلَى اللَّهِ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ضَمِنَ لِكُلِّ دَابَّةٍ رِزْقَهَا وَلَنْ يَمُوتَ عَبْدٌ إِلَّا وَقَدِ اسْتَوْفَى رِزْقَهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ قَدْ مَرَّ مَعَنَا فِي حَدِيثِ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: فَيُرْسَلُ إِلَيْهِ مَلَكٌ وَيُؤْمَرُ بِكَتْبِ أَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ هُوَ أَوْ سَعِيدٌ فَرِزْقُ الْإِنْسَانِ وَهُوَ مَا يَقْتَاتُهُ وَيَطْعَمُهُ وَيَشْرَبُهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ كُلُّهُ مَكْتُوبٌ دَقَّ أَوْ جَلَّ مِنْ شَرَابٍ أَوْ طَعَامٍ كُلُّ ذَلِكَ كُتِبَ كُتِبَ لَهُ مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ مِنْ رِزْقٍ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي عِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَمُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي طَلَبِهِ لِلرِّزْقِ وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَقُولَ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يَخْرُجُ فِيهَا مِنْ بَيْتِهِ لِمَصَالِحِهِ الدِّينِيَّةِ أَوِ الدُّنْيَوِيَّةِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ قِيلَ لَهُ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ وَهَذَا مِمَّا يُبَيِّنُ لَنَا الْأَثَرَ الْعَظِيمَ أَوِ الثِّمَارَ الْمُبَارَكَةَ الَّتِي يَنَالُهَا الْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ يُهْدَى وَيُكْفَى وَيُوقَى وَالْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صَدَّرَ هَذِهِ التَّرْجَمَةَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ أَيْ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ وَمِمَّا قُدِّرَ: الْأَرْزَاقُ مِنْ طَعَامٍ وَشَرَابٍ هَذَا كُلُّهُ مُقَدَّرٌ قَدَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ وَهَذَا التَّقْدِيرُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ هُوَ التَّقْدِيرُ الْعَامُّ وَالتَّقْدِيرُ الَّذِي فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ هَذَا تَقْدِيرٌ عُمُرِيٌّ يَخْتَصُّ بِكُلِّ إِنْسَانٍ وَهُوَ تَقْدِيرٌ مِنْ بَعْدِ تَقْدِيرٍ تَقْدِيرٌ دَاخِلٌ فِي التَّقْدِيرِ الْعَامِّ فَالشَّاهِدُ أَنَّ أَرْزَاقَ الْعِبَادِ مَقْسُومَةٌ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَسَمَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ الْعِبَادِ أَرْزَاقَهُمْ وَكُلٌّ سَيَأْخُذُ نَصِيبَهُ لَا يَزِيدُ عَنْهُ وَلَا يَنْقُصُ وَإِيمَانُ الْعَبْدِ بِأَنَّ الْأَرْزَاقَ مَقْسُومَةٌ لَا يَعْنِي ذَلِكَ تَعْطِيلَ الْعَمَلِ فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ جَاءَتْ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ بِقَدَرِ اللَّهِ وَقَضَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ بِالْحَثِّ عَلَى الْعَمَلِ قَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي قُدِّرَ لَهُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ وَيَسْأَلَ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ وَيَطْلُبُ مِنْهُ الْمَدَدَ وَالْعَوْنَ وَالتَّوْفِيقَ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ يَبْذُلُ السَّبَبَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالْأَمْرِ بِفِعْلِ الْأَسْبَابِ وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَى الْأَسْبَابِ وَإِنَّمَا يُعْتَمَدُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي بِيَدِهِ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ وَمَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ نَعَمْ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ لُزُومُ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ تَكَفَّلَ بِالْأَرْزَاقِ إِذِ التَّوَكُّلُ هُوَ نِظَامُ الْإِيمَانِ وَقَرِينُ التَّوْحِيدِ وَهُوَ السَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى نَفْيِ الْفَقْرِ وَوُجُودِ الرَّاحَةِ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ صِحَّةِ قَلْبِهِ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الْكَفَالَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ مِمَّا حَوَتْهُ يَدُهُ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ جَاءَ بَيْنَهُمَا هَذِهِ الْجُمْلَةُ الْمُعْتَرِضَةُ الَّتِي فِيهَا بَيَانُ تَحَقُّقِ التَّوَكُّلِ قَالَ: مَا تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ يَعْنِي تَوَكُّلٌ عَنْ صِحَّةِ قَلْبٍ صِحَّةِ إِيمَانٍ وَصِلَةٍ بِاللَّهِ وَثِقَةٍ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَ مِنَ الْكِفَايَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ بِمَا حَوَتْهُ يَدُهُ يَعْنِي مِنْ قُوَّةِ صِحَّةِ قَلْبِهِ فِي تَوَكُّلِهِ عَلَى اللَّهِ يَكُونُ أَوْثَقَ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الشَّيْءِ الَّذِي هُوَ فِي يَدِهِ مِنْ قُوَّةِ تَوَكُّلِهِ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ نَعَمْ قَالَ: وَأَنْشَدَنِي مَنْصُورُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكُرَيْزِيُّ تَوَكَّلْ عَلَى الرَّحْمَنِ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ مَتَى مَا يُرِيدُ ذُو الْعَرْشِ أَمْرًا بِعَبْدِهِ يُصِبْهُ وَمَا لِلْعَبْدِ مَا يَتَخَيَّرُ وَقَدْ يَهْلِكُ الْإِنْسَانُ مِنْ وَجْهِ أَمْنِهِ وَيَنْجُو بِإِذْنِ اللَّهِ مِنْ حَيْثُ يَحْذَرُ هَذِهِ الْأَبْيَاتُ فِيهَا الْحَثُّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَيْ فِي جَمِيعِ حَاجَاتِكَ وَمَصَالِحِكَ كُنْ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ لِأَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِيَدِهِ بِيَدِهِ الْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ وَالْخَفْضُ وَالرَّفْعُ وَالْقَبْضُ وَالْبَسْطُ وَالْعِزُّ وَالذُّلُّ كُلُّهُ بِيَدِ اللَّهِ تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ الْأُمُورُ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَهَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ إِلَى أَنَّ التَّوَكُّلَ مُرْتَبِطٌ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ تَوَكُّلُ الْعَبْدِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُرْتَبِطٌ بِإِيمَانِهِ بِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَافِذَةٌ وَأَنَّ قُدْرَتَهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ شَامِلَةٌ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ لَا يَتَعَاظَمُهُ حَاجَةٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يُسْأَلَهَا فَيُعْطِيَهَا جَلَّ فِي عُلَاهُ
Bab ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tawakal adalah ibadah hati yang sangat agung, yang senantiasa menyertai seorang muslim dalam seluruh urusannya, baik urusan agama maupun dunianya. Karena seorang mukmin bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan berbagai hal yang mendekatkannya kepada Allah, berupa perkataan yang lurus dan amal-amal saleh. Ia juga bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengupayakan berbagai kemaslahatan duniawi dan segala hajatnya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik Zat yang mencukupi dan sebaik-baik Pelindung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Allah juga berfirman, “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36) Maka tawakal adalah ibadah yang agung, yang sepatutnya senantiasa dijaga oleh seorang muslim, dengan bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam seluruh urusannya. Penulis berkata, “Anjuran untuk senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki,” yakni kepada Allah. “Dan tidak ada satu pun makhluk melata melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk melata. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Telah berlalu bersama kita hadis Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi yang jujur lagi dibenarkan), yaitu hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu malaikat itu diperintahkan mencatat empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia sengsara atau bahagia.” (Lihat HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643). Maka rezeki manusia, yaitu segala yang ia konsumsi, makan, dan minum dalam kehidupan ini, semuanya telah tertulis. Baik sedikit maupun banyak, berupa minuman ataupun makanan, semuanya telah dicatat. Telah dicatat baginya rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuknya. Maka kewajiban seorang hamba adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, dan bertawakal kepada Allah dalam usahanya mencari rezeki. Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang muslim setiap kali keluar dari rumahnya untuk suatu kemaslahatan agama maupun dunianya, agar membaca: “Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Apabila ia mengucapkannya, akan dikatakan kepadanya, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan At-Tirmidzi no. 3426). Hal ini menjelaskan kepada kita dampak yang besar atau buah-buah penuh berkah yang diperoleh orang yang bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ia diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi. Penulis kitab rahimahullah Ta’ala mengawali bab ini dengan hadis Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat semua takdir lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.’” (Lihat HR. Muslim no. 2653). “Allah telah menetapkan takdir,” yakni takdir seluruh makhluk. Dan di antara yang ditakdirkan adalah rezeki. Berupa makanan maupun minuman, semuanya telah ditakdirkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Penetapan takdir yang dimaksud dalam hadis ini adalah takdir umum. Sedangkan penetapan takdir dalam hadis Ibnu Mas’ud adalah takdir ‘umri (takdir seumur hidup), yaitu penetapan takdir yang khusus bagi setiap manusia sepanjang hidupnya. Ia merupakan suatu penetapan takdir setelah penetapan takdir sebelumnya, yang tercakup di dalam takdir umum. Intinya, rezeki para hamba telah dibagi-bagi. “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Masing-masing pasti akan mendapatkan bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang. Keimanan seorang hamba bahwa rezeki telah dibagi tidak berarti ia meninggalkan amal dan ikhtiar. Karena syariat datang dengan perintah beriman kepada takdir, kepada qadar dan qada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun pada saat yang sama syariat juga mendorong manusia untuk beramal. Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647). Seseorang tidak mengetahui apa yang ditakdirkan untuknya, tetapi ia harus berupaya melakukan sebab-sebab, serta memohon taufik kepada Allah, kebaikan, keberkahan, juga kebaikan dunia dan akhirat. “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201). “Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32). Maka ia berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya bantuan, pertolongan, serta taufik. Pada saat yang sama, ia juga berupaya melakukan sebab-sebab. “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15). Ia mengupayakan sebab. “Bersemangatlah melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2664). “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517) Syariat datang membawa perintah untuk melakukan sebab-sebab, tetapi hati tidak boleh disandarkan kepada sebab-sebab tersebut. Hati hanyalah boleh disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang di Tangan-Nya kendali segala urusan dan perbendaharaan langit dan bumi. Silakan. Abu Hatim rahimahullah Ta’ala berkata, “Kewajiban orang yang berakal adalah senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki. Karena tawakal adalah pengikat iman dan pendamping tauhid. Tawakal merupakan sebab yang menepis kefakiran dan menghadirkan ketenangan. Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah Jalla wa ’Ala dengan hati yang sehat, hingga jaminan Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya sendiri, melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya.” Di antara kedua klausa ini terdapat kalimat sisipan yang menjelaskan bagaimana tawakal itu benar-benar terwujud. Beliau berkata, “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah dengan hati yang sehat.” Maksudnya, tawakal yang lahir dari hati yang sehat, yaitu keimanan yang sehat, hubungan dengan Allah, dan kepercayaan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Itulah hati yang sehat. “Hingga jaminan pencukupan dari Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya.” Artinya, karena kuatnya tawakal yang lahir dari hati yang sehat, ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada sesuatu yang berada dalam genggamannya sendiri. Hal itu dikarenakan kuatnya tawakal kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. “Maka barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Silakan. Beliau berkata, “Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi membacakan syair kepadaku: Bertawakallah kepada Ar-Rahman dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir. Kapan pun Pemilik Arasy menghendaki suatu perkara menimpa hamba-Nya, niscaya perkara itu akan menimpanya, dan hamba tidak memiliki pilihan terhadap ketetapan tersebut. Terkadang manusia binasa dari arah yang disangkanya aman, dan selamat dengan izin Allah dari arah yang justru ia takutkan. Bait-bait syair ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat. “Dalam setiap hajat,” yakni dalam seluruh keperluan dan kemaslahatanmu, hendaklah engkau bertawakal kepada Allah. Karena seluruh urusan berada di Tangan-Nya. Di Tangan-Nyalah pemberian dan penahanan, merendahkan dan meninggikan, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan. Semuanya berada di Tangan Allah. “Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir.” Segala urusan berjalan berdasarkan qada dan qadar Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal berkaitan erat dengan iman kepada takdir. Tawakal seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan erat dengan keimanannya bahwa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti berlaku dan bahwa kekuasaan-Nya Jalla fi ’Ulahu meliputi segala sesuatu. “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang mampu melemahkan-Nya. Tidak ada satu pun hajat yang terlalu besar bagi-Nya Subhanahu. Bila hajat itu dimohonkan kepada-Nya, Dia pun memberikannya, Jalla fi ‘Ulahu. ===== هَذِهِ التَّرْجَمَةُ فِي الْحَثِّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ قَلْبِيَّةٌ عَظِيمَةٌ تُصَاحِبُ الْمُسْلِمَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قِيَامِهِ بِمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَمُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقِيَامِ بِمَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَأَنْوَاعِ حَاجَاتِهِ وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَ الْحَسْبُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ وَقَالَ: أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ مُلَازِمًا لَهَا مُتَوَكِّلًا فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ عَلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: الْحَثُّ عَلَى لُزُومِ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ ضَمِنَ الْأَرْزَاقَ أَيْ عَلَى اللَّهِ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ضَمِنَ لِكُلِّ دَابَّةٍ رِزْقَهَا وَلَنْ يَمُوتَ عَبْدٌ إِلَّا وَقَدِ اسْتَوْفَى رِزْقَهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ قَدْ مَرَّ مَعَنَا فِي حَدِيثِ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: فَيُرْسَلُ إِلَيْهِ مَلَكٌ وَيُؤْمَرُ بِكَتْبِ أَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ هُوَ أَوْ سَعِيدٌ فَرِزْقُ الْإِنْسَانِ وَهُوَ مَا يَقْتَاتُهُ وَيَطْعَمُهُ وَيَشْرَبُهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ كُلُّهُ مَكْتُوبٌ دَقَّ أَوْ جَلَّ مِنْ شَرَابٍ أَوْ طَعَامٍ كُلُّ ذَلِكَ كُتِبَ كُتِبَ لَهُ مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ مِنْ رِزْقٍ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي عِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَمُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي طَلَبِهِ لِلرِّزْقِ وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَقُولَ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يَخْرُجُ فِيهَا مِنْ بَيْتِهِ لِمَصَالِحِهِ الدِّينِيَّةِ أَوِ الدُّنْيَوِيَّةِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ قِيلَ لَهُ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ وَهَذَا مِمَّا يُبَيِّنُ لَنَا الْأَثَرَ الْعَظِيمَ أَوِ الثِّمَارَ الْمُبَارَكَةَ الَّتِي يَنَالُهَا الْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ يُهْدَى وَيُكْفَى وَيُوقَى وَالْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صَدَّرَ هَذِهِ التَّرْجَمَةَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ أَيْ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ وَمِمَّا قُدِّرَ: الْأَرْزَاقُ مِنْ طَعَامٍ وَشَرَابٍ هَذَا كُلُّهُ مُقَدَّرٌ قَدَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ وَهَذَا التَّقْدِيرُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ هُوَ التَّقْدِيرُ الْعَامُّ وَالتَّقْدِيرُ الَّذِي فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ هَذَا تَقْدِيرٌ عُمُرِيٌّ يَخْتَصُّ بِكُلِّ إِنْسَانٍ وَهُوَ تَقْدِيرٌ مِنْ بَعْدِ تَقْدِيرٍ تَقْدِيرٌ دَاخِلٌ فِي التَّقْدِيرِ الْعَامِّ فَالشَّاهِدُ أَنَّ أَرْزَاقَ الْعِبَادِ مَقْسُومَةٌ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَسَمَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ الْعِبَادِ أَرْزَاقَهُمْ وَكُلٌّ سَيَأْخُذُ نَصِيبَهُ لَا يَزِيدُ عَنْهُ وَلَا يَنْقُصُ وَإِيمَانُ الْعَبْدِ بِأَنَّ الْأَرْزَاقَ مَقْسُومَةٌ لَا يَعْنِي ذَلِكَ تَعْطِيلَ الْعَمَلِ فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ جَاءَتْ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ بِقَدَرِ اللَّهِ وَقَضَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ بِالْحَثِّ عَلَى الْعَمَلِ قَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي قُدِّرَ لَهُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ وَيَسْأَلَ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ وَيَطْلُبُ مِنْهُ الْمَدَدَ وَالْعَوْنَ وَالتَّوْفِيقَ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ يَبْذُلُ السَّبَبَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالْأَمْرِ بِفِعْلِ الْأَسْبَابِ وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَى الْأَسْبَابِ وَإِنَّمَا يُعْتَمَدُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي بِيَدِهِ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ وَمَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ نَعَمْ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ لُزُومُ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ تَكَفَّلَ بِالْأَرْزَاقِ إِذِ التَّوَكُّلُ هُوَ نِظَامُ الْإِيمَانِ وَقَرِينُ التَّوْحِيدِ وَهُوَ السَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى نَفْيِ الْفَقْرِ وَوُجُودِ الرَّاحَةِ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ صِحَّةِ قَلْبِهِ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الْكَفَالَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ مِمَّا حَوَتْهُ يَدُهُ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ جَاءَ بَيْنَهُمَا هَذِهِ الْجُمْلَةُ الْمُعْتَرِضَةُ الَّتِي فِيهَا بَيَانُ تَحَقُّقِ التَّوَكُّلِ قَالَ: مَا تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ يَعْنِي تَوَكُّلٌ عَنْ صِحَّةِ قَلْبٍ صِحَّةِ إِيمَانٍ وَصِلَةٍ بِاللَّهِ وَثِقَةٍ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَ مِنَ الْكِفَايَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ بِمَا حَوَتْهُ يَدُهُ يَعْنِي مِنْ قُوَّةِ صِحَّةِ قَلْبِهِ فِي تَوَكُّلِهِ عَلَى اللَّهِ يَكُونُ أَوْثَقَ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الشَّيْءِ الَّذِي هُوَ فِي يَدِهِ مِنْ قُوَّةِ تَوَكُّلِهِ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ نَعَمْ قَالَ: وَأَنْشَدَنِي مَنْصُورُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكُرَيْزِيُّ تَوَكَّلْ عَلَى الرَّحْمَنِ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ مَتَى مَا يُرِيدُ ذُو الْعَرْشِ أَمْرًا بِعَبْدِهِ يُصِبْهُ وَمَا لِلْعَبْدِ مَا يَتَخَيَّرُ وَقَدْ يَهْلِكُ الْإِنْسَانُ مِنْ وَجْهِ أَمْنِهِ وَيَنْجُو بِإِذْنِ اللَّهِ مِنْ حَيْثُ يَحْذَرُ هَذِهِ الْأَبْيَاتُ فِيهَا الْحَثُّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَيْ فِي جَمِيعِ حَاجَاتِكَ وَمَصَالِحِكَ كُنْ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ لِأَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِيَدِهِ بِيَدِهِ الْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ وَالْخَفْضُ وَالرَّفْعُ وَالْقَبْضُ وَالْبَسْطُ وَالْعِزُّ وَالذُّلُّ كُلُّهُ بِيَدِ اللَّهِ تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ الْأُمُورُ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَهَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ إِلَى أَنَّ التَّوَكُّلَ مُرْتَبِطٌ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ تَوَكُّلُ الْعَبْدِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُرْتَبِطٌ بِإِيمَانِهِ بِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَافِذَةٌ وَأَنَّ قُدْرَتَهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ شَامِلَةٌ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ لَا يَتَعَاظَمُهُ حَاجَةٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يُسْأَلَهَا فَيُعْطِيَهَا جَلَّ فِي عُلَاهُ


Bab ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tawakal adalah ibadah hati yang sangat agung, yang senantiasa menyertai seorang muslim dalam seluruh urusannya, baik urusan agama maupun dunianya. Karena seorang mukmin bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan berbagai hal yang mendekatkannya kepada Allah, berupa perkataan yang lurus dan amal-amal saleh. Ia juga bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengupayakan berbagai kemaslahatan duniawi dan segala hajatnya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik Zat yang mencukupi dan sebaik-baik Pelindung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Allah juga berfirman, “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36) Maka tawakal adalah ibadah yang agung, yang sepatutnya senantiasa dijaga oleh seorang muslim, dengan bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam seluruh urusannya. Penulis berkata, “Anjuran untuk senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki,” yakni kepada Allah. “Dan tidak ada satu pun makhluk melata melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk melata. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Telah berlalu bersama kita hadis Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi yang jujur lagi dibenarkan), yaitu hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu malaikat itu diperintahkan mencatat empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia sengsara atau bahagia.” (Lihat HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643). Maka rezeki manusia, yaitu segala yang ia konsumsi, makan, dan minum dalam kehidupan ini, semuanya telah tertulis. Baik sedikit maupun banyak, berupa minuman ataupun makanan, semuanya telah dicatat. Telah dicatat baginya rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuknya. Maka kewajiban seorang hamba adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, dan bertawakal kepada Allah dalam usahanya mencari rezeki. Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang muslim setiap kali keluar dari rumahnya untuk suatu kemaslahatan agama maupun dunianya, agar membaca: “Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Apabila ia mengucapkannya, akan dikatakan kepadanya, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan At-Tirmidzi no. 3426). Hal ini menjelaskan kepada kita dampak yang besar atau buah-buah penuh berkah yang diperoleh orang yang bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ia diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi. Penulis kitab rahimahullah Ta’ala mengawali bab ini dengan hadis Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat semua takdir lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.’” (Lihat HR. Muslim no. 2653). “Allah telah menetapkan takdir,” yakni takdir seluruh makhluk. Dan di antara yang ditakdirkan adalah rezeki. Berupa makanan maupun minuman, semuanya telah ditakdirkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Penetapan takdir yang dimaksud dalam hadis ini adalah takdir umum. Sedangkan penetapan takdir dalam hadis Ibnu Mas’ud adalah takdir ‘umri (takdir seumur hidup), yaitu penetapan takdir yang khusus bagi setiap manusia sepanjang hidupnya. Ia merupakan suatu penetapan takdir setelah penetapan takdir sebelumnya, yang tercakup di dalam takdir umum. Intinya, rezeki para hamba telah dibagi-bagi. “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Masing-masing pasti akan mendapatkan bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang. Keimanan seorang hamba bahwa rezeki telah dibagi tidak berarti ia meninggalkan amal dan ikhtiar. Karena syariat datang dengan perintah beriman kepada takdir, kepada qadar dan qada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun pada saat yang sama syariat juga mendorong manusia untuk beramal. Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647). Seseorang tidak mengetahui apa yang ditakdirkan untuknya, tetapi ia harus berupaya melakukan sebab-sebab, serta memohon taufik kepada Allah, kebaikan, keberkahan, juga kebaikan dunia dan akhirat. “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201). “Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32). Maka ia berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya bantuan, pertolongan, serta taufik. Pada saat yang sama, ia juga berupaya melakukan sebab-sebab. “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15). Ia mengupayakan sebab. “Bersemangatlah melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2664). “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517) Syariat datang membawa perintah untuk melakukan sebab-sebab, tetapi hati tidak boleh disandarkan kepada sebab-sebab tersebut. Hati hanyalah boleh disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang di Tangan-Nya kendali segala urusan dan perbendaharaan langit dan bumi. Silakan. Abu Hatim rahimahullah Ta’ala berkata, “Kewajiban orang yang berakal adalah senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki. Karena tawakal adalah pengikat iman dan pendamping tauhid. Tawakal merupakan sebab yang menepis kefakiran dan menghadirkan ketenangan. Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah Jalla wa ’Ala dengan hati yang sehat, hingga jaminan Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya sendiri, melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya.” Di antara kedua klausa ini terdapat kalimat sisipan yang menjelaskan bagaimana tawakal itu benar-benar terwujud. Beliau berkata, “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah dengan hati yang sehat.” Maksudnya, tawakal yang lahir dari hati yang sehat, yaitu keimanan yang sehat, hubungan dengan Allah, dan kepercayaan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Itulah hati yang sehat. “Hingga jaminan pencukupan dari Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya.” Artinya, karena kuatnya tawakal yang lahir dari hati yang sehat, ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada sesuatu yang berada dalam genggamannya sendiri. Hal itu dikarenakan kuatnya tawakal kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. “Maka barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Silakan. Beliau berkata, “Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi membacakan syair kepadaku: Bertawakallah kepada Ar-Rahman dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir. Kapan pun Pemilik Arasy menghendaki suatu perkara menimpa hamba-Nya, niscaya perkara itu akan menimpanya, dan hamba tidak memiliki pilihan terhadap ketetapan tersebut. Terkadang manusia binasa dari arah yang disangkanya aman, dan selamat dengan izin Allah dari arah yang justru ia takutkan. Bait-bait syair ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat. “Dalam setiap hajat,” yakni dalam seluruh keperluan dan kemaslahatanmu, hendaklah engkau bertawakal kepada Allah. Karena seluruh urusan berada di Tangan-Nya. Di Tangan-Nyalah pemberian dan penahanan, merendahkan dan meninggikan, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan. Semuanya berada di Tangan Allah. “Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir.” Segala urusan berjalan berdasarkan qada dan qadar Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal berkaitan erat dengan iman kepada takdir. Tawakal seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan erat dengan keimanannya bahwa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti berlaku dan bahwa kekuasaan-Nya Jalla fi ’Ulahu meliputi segala sesuatu. “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang mampu melemahkan-Nya. Tidak ada satu pun hajat yang terlalu besar bagi-Nya Subhanahu. Bila hajat itu dimohonkan kepada-Nya, Dia pun memberikannya, Jalla fi ‘Ulahu. ===== هَذِهِ التَّرْجَمَةُ فِي الْحَثِّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ قَلْبِيَّةٌ عَظِيمَةٌ تُصَاحِبُ الْمُسْلِمَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قِيَامِهِ بِمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَمُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقِيَامِ بِمَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَأَنْوَاعِ حَاجَاتِهِ وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَ الْحَسْبُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ وَقَالَ: أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ مُلَازِمًا لَهَا مُتَوَكِّلًا فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ عَلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: الْحَثُّ عَلَى لُزُومِ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ ضَمِنَ الْأَرْزَاقَ أَيْ عَلَى اللَّهِ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ضَمِنَ لِكُلِّ دَابَّةٍ رِزْقَهَا وَلَنْ يَمُوتَ عَبْدٌ إِلَّا وَقَدِ اسْتَوْفَى رِزْقَهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ قَدْ مَرَّ مَعَنَا فِي حَدِيثِ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: فَيُرْسَلُ إِلَيْهِ مَلَكٌ وَيُؤْمَرُ بِكَتْبِ أَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ هُوَ أَوْ سَعِيدٌ فَرِزْقُ الْإِنْسَانِ وَهُوَ مَا يَقْتَاتُهُ وَيَطْعَمُهُ وَيَشْرَبُهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ كُلُّهُ مَكْتُوبٌ دَقَّ أَوْ جَلَّ مِنْ شَرَابٍ أَوْ طَعَامٍ كُلُّ ذَلِكَ كُتِبَ كُتِبَ لَهُ مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ مِنْ رِزْقٍ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي عِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَمُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي طَلَبِهِ لِلرِّزْقِ وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَقُولَ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يَخْرُجُ فِيهَا مِنْ بَيْتِهِ لِمَصَالِحِهِ الدِّينِيَّةِ أَوِ الدُّنْيَوِيَّةِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ قِيلَ لَهُ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ وَهَذَا مِمَّا يُبَيِّنُ لَنَا الْأَثَرَ الْعَظِيمَ أَوِ الثِّمَارَ الْمُبَارَكَةَ الَّتِي يَنَالُهَا الْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ يُهْدَى وَيُكْفَى وَيُوقَى وَالْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صَدَّرَ هَذِهِ التَّرْجَمَةَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ أَيْ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ وَمِمَّا قُدِّرَ: الْأَرْزَاقُ مِنْ طَعَامٍ وَشَرَابٍ هَذَا كُلُّهُ مُقَدَّرٌ قَدَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ وَهَذَا التَّقْدِيرُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ هُوَ التَّقْدِيرُ الْعَامُّ وَالتَّقْدِيرُ الَّذِي فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ هَذَا تَقْدِيرٌ عُمُرِيٌّ يَخْتَصُّ بِكُلِّ إِنْسَانٍ وَهُوَ تَقْدِيرٌ مِنْ بَعْدِ تَقْدِيرٍ تَقْدِيرٌ دَاخِلٌ فِي التَّقْدِيرِ الْعَامِّ فَالشَّاهِدُ أَنَّ أَرْزَاقَ الْعِبَادِ مَقْسُومَةٌ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَسَمَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ الْعِبَادِ أَرْزَاقَهُمْ وَكُلٌّ سَيَأْخُذُ نَصِيبَهُ لَا يَزِيدُ عَنْهُ وَلَا يَنْقُصُ وَإِيمَانُ الْعَبْدِ بِأَنَّ الْأَرْزَاقَ مَقْسُومَةٌ لَا يَعْنِي ذَلِكَ تَعْطِيلَ الْعَمَلِ فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ جَاءَتْ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ بِقَدَرِ اللَّهِ وَقَضَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ بِالْحَثِّ عَلَى الْعَمَلِ قَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي قُدِّرَ لَهُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ وَيَسْأَلَ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ وَيَطْلُبُ مِنْهُ الْمَدَدَ وَالْعَوْنَ وَالتَّوْفِيقَ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ يَبْذُلُ السَّبَبَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالْأَمْرِ بِفِعْلِ الْأَسْبَابِ وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَى الْأَسْبَابِ وَإِنَّمَا يُعْتَمَدُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي بِيَدِهِ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ وَمَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ نَعَمْ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ لُزُومُ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ تَكَفَّلَ بِالْأَرْزَاقِ إِذِ التَّوَكُّلُ هُوَ نِظَامُ الْإِيمَانِ وَقَرِينُ التَّوْحِيدِ وَهُوَ السَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى نَفْيِ الْفَقْرِ وَوُجُودِ الرَّاحَةِ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ صِحَّةِ قَلْبِهِ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الْكَفَالَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ مِمَّا حَوَتْهُ يَدُهُ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ جَاءَ بَيْنَهُمَا هَذِهِ الْجُمْلَةُ الْمُعْتَرِضَةُ الَّتِي فِيهَا بَيَانُ تَحَقُّقِ التَّوَكُّلِ قَالَ: مَا تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ يَعْنِي تَوَكُّلٌ عَنْ صِحَّةِ قَلْبٍ صِحَّةِ إِيمَانٍ وَصِلَةٍ بِاللَّهِ وَثِقَةٍ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَ مِنَ الْكِفَايَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ بِمَا حَوَتْهُ يَدُهُ يَعْنِي مِنْ قُوَّةِ صِحَّةِ قَلْبِهِ فِي تَوَكُّلِهِ عَلَى اللَّهِ يَكُونُ أَوْثَقَ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الشَّيْءِ الَّذِي هُوَ فِي يَدِهِ مِنْ قُوَّةِ تَوَكُّلِهِ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ نَعَمْ قَالَ: وَأَنْشَدَنِي مَنْصُورُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكُرَيْزِيُّ تَوَكَّلْ عَلَى الرَّحْمَنِ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ مَتَى مَا يُرِيدُ ذُو الْعَرْشِ أَمْرًا بِعَبْدِهِ يُصِبْهُ وَمَا لِلْعَبْدِ مَا يَتَخَيَّرُ وَقَدْ يَهْلِكُ الْإِنْسَانُ مِنْ وَجْهِ أَمْنِهِ وَيَنْجُو بِإِذْنِ اللَّهِ مِنْ حَيْثُ يَحْذَرُ هَذِهِ الْأَبْيَاتُ فِيهَا الْحَثُّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَيْ فِي جَمِيعِ حَاجَاتِكَ وَمَصَالِحِكَ كُنْ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ لِأَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِيَدِهِ بِيَدِهِ الْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ وَالْخَفْضُ وَالرَّفْعُ وَالْقَبْضُ وَالْبَسْطُ وَالْعِزُّ وَالذُّلُّ كُلُّهُ بِيَدِ اللَّهِ تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ الْأُمُورُ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَهَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ إِلَى أَنَّ التَّوَكُّلَ مُرْتَبِطٌ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ تَوَكُّلُ الْعَبْدِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُرْتَبِطٌ بِإِيمَانِهِ بِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَافِذَةٌ وَأَنَّ قُدْرَتَهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ شَامِلَةٌ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ لَا يَتَعَاظَمُهُ حَاجَةٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يُسْأَلَهَا فَيُعْطِيَهَا جَلَّ فِي عُلَاهُ

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 4): Agar Tidak Menjadi Pemimpin Otoriter

Daftar Isi ToggleBagian emas dari wasiat ThahirMenjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanObat agar tidak otoriter dalam memimpinTabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiJangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurBagian emas dari wasiat ThahirParagraf yang mengalir di bawah ini adalah bagian paling istimewa menurut penulis. Kekuasaan cenderung menghadirkan rasa tamak pada pribadi. Sementara kenikmatan dunia selalu menuntut saudarinya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ, apabila sudah mendapatkan satu gunung emas, jiwa manusia ingin mendapatkan dua atau lebih gunung lainnya. Lantas, bagaimana mencegah hasrat ini? Simak wasiat Thahir berikut.Menjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanHindarilah keburukan hawa nafsu dan ketidakadilan. Jauhkan panjimu dari keduanya. Tunjukkan kepada rakyatmu bahwa engkau bebas dari hal itu. Anugerahkan nikmat keadilan dalam mengatur mereka. Perlakukan mereka dengan kebaikan dan dengan pengetahuan yang akan membawamu mencapai jalan petunjuk.Wasiat ini meliputi perintah memimpin dengan adil dan mengedepankan ilmu pengetahuan dibandingkan perasaan. Hal ini terlihat dalam lanjutan wasiatnya:1) Kendalikan dirimu ketika marah;2) Utamakan kebijaksanaan dan kelembutan;3) Waspadalah terhadap sikap kasar, sembrono, dan tipu daya dalam perkara yang engkau terlibat di dalamnya.Contoh dari perbuatan yang tidak terkontrol akal adalah ketika seseorang mengatakan, “Aku diberi kekuasaan, maka aku akan melakukan apa yang aku inginkan!” Perkataan ini menunjukkan kurangnya pertimbangan rasional dan sedikitnya keyakinan kepada Allah ﷻ.Obat agar tidak otoriter dalam memimpinThahir mengingatkan diri seorang pemimpin yang berhasrat untuk semena-mena dengan wasiat takwa:Ikhlaskan niatmu untuk Allah dan keyakinanmu kepada-Nya. Ketahuilah, kekuasaan itu milik Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.ولن تجد تغير النعمة وحلول النقمة إلى أحد أسرع منه إلى حملة النعمة من أصحاب السلطان والمبسوط لهم في الدولة“Engkau sama sekali tidak akan menemukan perubahan dari nikmat menjadi siksa dan dari siksa menjadi nikmat, yang terjadi atas seseorang, lebih cepat dari yang terjadi kepada para penguasa dan orang-orang yang menikmati posisi baik dalam pemerintahan.”Tabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaIni adalah salah satu potongan emas dari wasiat Thahir bin Al-Husain, semoga menjadi pengingat bagi kita semua yang mengurus hajat orang banyak.ولتكن ذخائرك وكنوزك التي تدخر وتكنز البر والتقوى والمعدلة واستصلاح الرعية وعمارة بلادهم والتفقد لأمورهم والحفظ لدهمائهم والإغاثة لملهوفهم“Hendaklah yang menjadi harta simpanan dan kekayaanmu yang engkau kumpulkan dan timbun adalah kebajikan, ketakwaan, perbaikan rakyat, pembangunan negeri mereka, pengawasan urusan mereka, perlindungan darah mereka, dan bantuan atas orang-orang lemah di antara mereka.”واعلم أن الأموال إذا كثرت وذخرت في الخزائن لا تثمر وإذا كانت في إصلاح الرعية وإعطاء حقوقهم وكف المئونة عنهم نمت وربت وصلحت به العامة“Ketahuilah bahwa harta benda, apabila hanya dikumpulkan dan disimpan di dalam perbendaharaan, maka ia tidak akan menghasilkan manfaat. Namun, apabila diinvestasikan untuk kesejahteraan rakyat, memberikan hak-hak mereka, mencegah kesulitan dan meringankan beban mereka, maka harta itu akan berkembang dan bertambah. Lantas rakyat pun menjadi baik keadaannya.”وتزينت به الولاة وطاب به الزمان واعتقد فيه العز والمنعة“Dengan itu, para penguasa akan memperoleh kemuliaan dan keindahan nama, masa kehidupan akan menjadi baik dan tenteram, serta kemuliaan dan kekuatan akan tertanam dan mengakar.”فَلْيَكُنْ كَنْزُ خَزَائِنِكَ تَفْرِيقَ الْأَمْوَالِ فِي عِمَارَةِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ“Maka hendaklah gudang hartamu sesungguhnya ialah harta yang disalurkan untuk memakmurkan Islam dan kaum Muslimin.”Susunan wasiat ini menjadi pengingat bagi para pemimpin bahwa harta terbaik yang dimilikinya adalah apa yang menjadi legacy atau warisan bermanfaat bagi masyarakatnya. Tidaklah motivasi seorang pemimpin itu untuk memperkaya dirinya sendiri, tetapi untuk memakmurkan rakyatnya. Bahkan, sebaik-baik harta pemimpin adalah yang disalurkan untuk kemakmuran Islam dan kaum muslimin. Allahu Akbar.Dalam penggalan wasiat lainnya, Thahir mengingatkan,فإنما يبقى من المال ما أنفق في سبيل حقه“Di antara semua hartamu, yang akan tetap tersisa hanyalah apa yang benar-benar dikeluarkan di jalan Allah.”Baca juga: Inilah 7 Amalan yang Pahalanya Terus MengalirPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiSalah satu bentuk mewujudkan investasi pahala adalah dengan memenuhi hak para pejabat yang membantu seorang pemimpin. Karena mereka ini adalah orang yang sangat berjasa dalam kepemimpinan seorang pemimpin formal. Para pemimpin sangat membutuhkan bantuan jajaran pejabat profesional. Hak tersebut meliputi:1) Penuhilah hak-hak pejabat pemerintahannya, sebelum hak-hakmu sendiri.2) Perhatikan hal-hal yang mungkin dapat memperbaiki kondisi dan mata pencaharian mereka. Jika engkau melakukan hal itu, nikmat Allah akan selalu bersamamu. Engkau berhak wajib mendapatkan tambahan nikmat dari Allah ﷻ.3) Akuilah rasa terima kasih dari orang-orang yang mengungkapkan terima kasih mereka; dan untuk itu, berilah balasan kepada mereka.Dengan langkah dari Thahir ini, seorang pekerja akan merasa diperhatikan oleh pimpinannya. Ia pun akan bekerja lebih baik dan maksimal dalam memenuhi kebutuhan pemimpinnya. Karena ia merasa tenang, sebab kebutuhannya serasa ditanggung pula oleh sang pimpinan.Perhatian pada kebutuhan seseorang itu merupakan bentuk afeksi dan juga apresiasi. Orang yang diapresiasi akan selalu memberi lebih dari apa yang diekspektasikan. Hal ini pula yang disampaikan Thahir,وكان الجمع لما شملهم من عدلك وإحسانك أساس لطاعتهم وأطيب نفسا لكل ما أردت“Karena yang merasakan keadilan dan kebaikanmu, hatinya akan bersatu, sehingga mereka akan lebih gampang mematuhimu dan jiwa mereka lebih tenang menerima segala yang engkau inginkan.”Jangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurHati-hatilah terhadap dunia dan godaannya yang akan membuatmu melalaikan hebatnya perkara akhirat, lalu membuatmu menyepelekan apa yang bakal menimpamu. Bersikap sepele akan menyebabkan keteledoran, dan keteledoran akan menyebabkan kehancuran.Hendaklah amalmu hanya untuk Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, dan berharaplah mendapatkan pahala. Allah Yang Mahasuci telah mencurahkan nikmat-Nya bagimu. Oleh karena itu, berpeganglah pada dan atas rasa syukur, serta bersandarlah atasnya, niscaya Allah akan menambahkan lebih banyak kebaikan dan perbuatan baik bagimu. Allah memberikan pahala sesuai dengan kadar rasa syukur para pelakunya dan sesuai dengan kadar perbuatan baik orang yang melakukannya.Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 4): Agar Tidak Menjadi Pemimpin Otoriter

Daftar Isi ToggleBagian emas dari wasiat ThahirMenjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanObat agar tidak otoriter dalam memimpinTabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiJangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurBagian emas dari wasiat ThahirParagraf yang mengalir di bawah ini adalah bagian paling istimewa menurut penulis. Kekuasaan cenderung menghadirkan rasa tamak pada pribadi. Sementara kenikmatan dunia selalu menuntut saudarinya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ, apabila sudah mendapatkan satu gunung emas, jiwa manusia ingin mendapatkan dua atau lebih gunung lainnya. Lantas, bagaimana mencegah hasrat ini? Simak wasiat Thahir berikut.Menjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanHindarilah keburukan hawa nafsu dan ketidakadilan. Jauhkan panjimu dari keduanya. Tunjukkan kepada rakyatmu bahwa engkau bebas dari hal itu. Anugerahkan nikmat keadilan dalam mengatur mereka. Perlakukan mereka dengan kebaikan dan dengan pengetahuan yang akan membawamu mencapai jalan petunjuk.Wasiat ini meliputi perintah memimpin dengan adil dan mengedepankan ilmu pengetahuan dibandingkan perasaan. Hal ini terlihat dalam lanjutan wasiatnya:1) Kendalikan dirimu ketika marah;2) Utamakan kebijaksanaan dan kelembutan;3) Waspadalah terhadap sikap kasar, sembrono, dan tipu daya dalam perkara yang engkau terlibat di dalamnya.Contoh dari perbuatan yang tidak terkontrol akal adalah ketika seseorang mengatakan, “Aku diberi kekuasaan, maka aku akan melakukan apa yang aku inginkan!” Perkataan ini menunjukkan kurangnya pertimbangan rasional dan sedikitnya keyakinan kepada Allah ﷻ.Obat agar tidak otoriter dalam memimpinThahir mengingatkan diri seorang pemimpin yang berhasrat untuk semena-mena dengan wasiat takwa:Ikhlaskan niatmu untuk Allah dan keyakinanmu kepada-Nya. Ketahuilah, kekuasaan itu milik Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.ولن تجد تغير النعمة وحلول النقمة إلى أحد أسرع منه إلى حملة النعمة من أصحاب السلطان والمبسوط لهم في الدولة“Engkau sama sekali tidak akan menemukan perubahan dari nikmat menjadi siksa dan dari siksa menjadi nikmat, yang terjadi atas seseorang, lebih cepat dari yang terjadi kepada para penguasa dan orang-orang yang menikmati posisi baik dalam pemerintahan.”Tabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaIni adalah salah satu potongan emas dari wasiat Thahir bin Al-Husain, semoga menjadi pengingat bagi kita semua yang mengurus hajat orang banyak.ولتكن ذخائرك وكنوزك التي تدخر وتكنز البر والتقوى والمعدلة واستصلاح الرعية وعمارة بلادهم والتفقد لأمورهم والحفظ لدهمائهم والإغاثة لملهوفهم“Hendaklah yang menjadi harta simpanan dan kekayaanmu yang engkau kumpulkan dan timbun adalah kebajikan, ketakwaan, perbaikan rakyat, pembangunan negeri mereka, pengawasan urusan mereka, perlindungan darah mereka, dan bantuan atas orang-orang lemah di antara mereka.”واعلم أن الأموال إذا كثرت وذخرت في الخزائن لا تثمر وإذا كانت في إصلاح الرعية وإعطاء حقوقهم وكف المئونة عنهم نمت وربت وصلحت به العامة“Ketahuilah bahwa harta benda, apabila hanya dikumpulkan dan disimpan di dalam perbendaharaan, maka ia tidak akan menghasilkan manfaat. Namun, apabila diinvestasikan untuk kesejahteraan rakyat, memberikan hak-hak mereka, mencegah kesulitan dan meringankan beban mereka, maka harta itu akan berkembang dan bertambah. Lantas rakyat pun menjadi baik keadaannya.”وتزينت به الولاة وطاب به الزمان واعتقد فيه العز والمنعة“Dengan itu, para penguasa akan memperoleh kemuliaan dan keindahan nama, masa kehidupan akan menjadi baik dan tenteram, serta kemuliaan dan kekuatan akan tertanam dan mengakar.”فَلْيَكُنْ كَنْزُ خَزَائِنِكَ تَفْرِيقَ الْأَمْوَالِ فِي عِمَارَةِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ“Maka hendaklah gudang hartamu sesungguhnya ialah harta yang disalurkan untuk memakmurkan Islam dan kaum Muslimin.”Susunan wasiat ini menjadi pengingat bagi para pemimpin bahwa harta terbaik yang dimilikinya adalah apa yang menjadi legacy atau warisan bermanfaat bagi masyarakatnya. Tidaklah motivasi seorang pemimpin itu untuk memperkaya dirinya sendiri, tetapi untuk memakmurkan rakyatnya. Bahkan, sebaik-baik harta pemimpin adalah yang disalurkan untuk kemakmuran Islam dan kaum muslimin. Allahu Akbar.Dalam penggalan wasiat lainnya, Thahir mengingatkan,فإنما يبقى من المال ما أنفق في سبيل حقه“Di antara semua hartamu, yang akan tetap tersisa hanyalah apa yang benar-benar dikeluarkan di jalan Allah.”Baca juga: Inilah 7 Amalan yang Pahalanya Terus MengalirPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiSalah satu bentuk mewujudkan investasi pahala adalah dengan memenuhi hak para pejabat yang membantu seorang pemimpin. Karena mereka ini adalah orang yang sangat berjasa dalam kepemimpinan seorang pemimpin formal. Para pemimpin sangat membutuhkan bantuan jajaran pejabat profesional. Hak tersebut meliputi:1) Penuhilah hak-hak pejabat pemerintahannya, sebelum hak-hakmu sendiri.2) Perhatikan hal-hal yang mungkin dapat memperbaiki kondisi dan mata pencaharian mereka. Jika engkau melakukan hal itu, nikmat Allah akan selalu bersamamu. Engkau berhak wajib mendapatkan tambahan nikmat dari Allah ﷻ.3) Akuilah rasa terima kasih dari orang-orang yang mengungkapkan terima kasih mereka; dan untuk itu, berilah balasan kepada mereka.Dengan langkah dari Thahir ini, seorang pekerja akan merasa diperhatikan oleh pimpinannya. Ia pun akan bekerja lebih baik dan maksimal dalam memenuhi kebutuhan pemimpinnya. Karena ia merasa tenang, sebab kebutuhannya serasa ditanggung pula oleh sang pimpinan.Perhatian pada kebutuhan seseorang itu merupakan bentuk afeksi dan juga apresiasi. Orang yang diapresiasi akan selalu memberi lebih dari apa yang diekspektasikan. Hal ini pula yang disampaikan Thahir,وكان الجمع لما شملهم من عدلك وإحسانك أساس لطاعتهم وأطيب نفسا لكل ما أردت“Karena yang merasakan keadilan dan kebaikanmu, hatinya akan bersatu, sehingga mereka akan lebih gampang mematuhimu dan jiwa mereka lebih tenang menerima segala yang engkau inginkan.”Jangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurHati-hatilah terhadap dunia dan godaannya yang akan membuatmu melalaikan hebatnya perkara akhirat, lalu membuatmu menyepelekan apa yang bakal menimpamu. Bersikap sepele akan menyebabkan keteledoran, dan keteledoran akan menyebabkan kehancuran.Hendaklah amalmu hanya untuk Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, dan berharaplah mendapatkan pahala. Allah Yang Mahasuci telah mencurahkan nikmat-Nya bagimu. Oleh karena itu, berpeganglah pada dan atas rasa syukur, serta bersandarlah atasnya, niscaya Allah akan menambahkan lebih banyak kebaikan dan perbuatan baik bagimu. Allah memberikan pahala sesuai dengan kadar rasa syukur para pelakunya dan sesuai dengan kadar perbuatan baik orang yang melakukannya.Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleBagian emas dari wasiat ThahirMenjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanObat agar tidak otoriter dalam memimpinTabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiJangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurBagian emas dari wasiat ThahirParagraf yang mengalir di bawah ini adalah bagian paling istimewa menurut penulis. Kekuasaan cenderung menghadirkan rasa tamak pada pribadi. Sementara kenikmatan dunia selalu menuntut saudarinya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ, apabila sudah mendapatkan satu gunung emas, jiwa manusia ingin mendapatkan dua atau lebih gunung lainnya. Lantas, bagaimana mencegah hasrat ini? Simak wasiat Thahir berikut.Menjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanHindarilah keburukan hawa nafsu dan ketidakadilan. Jauhkan panjimu dari keduanya. Tunjukkan kepada rakyatmu bahwa engkau bebas dari hal itu. Anugerahkan nikmat keadilan dalam mengatur mereka. Perlakukan mereka dengan kebaikan dan dengan pengetahuan yang akan membawamu mencapai jalan petunjuk.Wasiat ini meliputi perintah memimpin dengan adil dan mengedepankan ilmu pengetahuan dibandingkan perasaan. Hal ini terlihat dalam lanjutan wasiatnya:1) Kendalikan dirimu ketika marah;2) Utamakan kebijaksanaan dan kelembutan;3) Waspadalah terhadap sikap kasar, sembrono, dan tipu daya dalam perkara yang engkau terlibat di dalamnya.Contoh dari perbuatan yang tidak terkontrol akal adalah ketika seseorang mengatakan, “Aku diberi kekuasaan, maka aku akan melakukan apa yang aku inginkan!” Perkataan ini menunjukkan kurangnya pertimbangan rasional dan sedikitnya keyakinan kepada Allah ﷻ.Obat agar tidak otoriter dalam memimpinThahir mengingatkan diri seorang pemimpin yang berhasrat untuk semena-mena dengan wasiat takwa:Ikhlaskan niatmu untuk Allah dan keyakinanmu kepada-Nya. Ketahuilah, kekuasaan itu milik Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.ولن تجد تغير النعمة وحلول النقمة إلى أحد أسرع منه إلى حملة النعمة من أصحاب السلطان والمبسوط لهم في الدولة“Engkau sama sekali tidak akan menemukan perubahan dari nikmat menjadi siksa dan dari siksa menjadi nikmat, yang terjadi atas seseorang, lebih cepat dari yang terjadi kepada para penguasa dan orang-orang yang menikmati posisi baik dalam pemerintahan.”Tabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaIni adalah salah satu potongan emas dari wasiat Thahir bin Al-Husain, semoga menjadi pengingat bagi kita semua yang mengurus hajat orang banyak.ولتكن ذخائرك وكنوزك التي تدخر وتكنز البر والتقوى والمعدلة واستصلاح الرعية وعمارة بلادهم والتفقد لأمورهم والحفظ لدهمائهم والإغاثة لملهوفهم“Hendaklah yang menjadi harta simpanan dan kekayaanmu yang engkau kumpulkan dan timbun adalah kebajikan, ketakwaan, perbaikan rakyat, pembangunan negeri mereka, pengawasan urusan mereka, perlindungan darah mereka, dan bantuan atas orang-orang lemah di antara mereka.”واعلم أن الأموال إذا كثرت وذخرت في الخزائن لا تثمر وإذا كانت في إصلاح الرعية وإعطاء حقوقهم وكف المئونة عنهم نمت وربت وصلحت به العامة“Ketahuilah bahwa harta benda, apabila hanya dikumpulkan dan disimpan di dalam perbendaharaan, maka ia tidak akan menghasilkan manfaat. Namun, apabila diinvestasikan untuk kesejahteraan rakyat, memberikan hak-hak mereka, mencegah kesulitan dan meringankan beban mereka, maka harta itu akan berkembang dan bertambah. Lantas rakyat pun menjadi baik keadaannya.”وتزينت به الولاة وطاب به الزمان واعتقد فيه العز والمنعة“Dengan itu, para penguasa akan memperoleh kemuliaan dan keindahan nama, masa kehidupan akan menjadi baik dan tenteram, serta kemuliaan dan kekuatan akan tertanam dan mengakar.”فَلْيَكُنْ كَنْزُ خَزَائِنِكَ تَفْرِيقَ الْأَمْوَالِ فِي عِمَارَةِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ“Maka hendaklah gudang hartamu sesungguhnya ialah harta yang disalurkan untuk memakmurkan Islam dan kaum Muslimin.”Susunan wasiat ini menjadi pengingat bagi para pemimpin bahwa harta terbaik yang dimilikinya adalah apa yang menjadi legacy atau warisan bermanfaat bagi masyarakatnya. Tidaklah motivasi seorang pemimpin itu untuk memperkaya dirinya sendiri, tetapi untuk memakmurkan rakyatnya. Bahkan, sebaik-baik harta pemimpin adalah yang disalurkan untuk kemakmuran Islam dan kaum muslimin. Allahu Akbar.Dalam penggalan wasiat lainnya, Thahir mengingatkan,فإنما يبقى من المال ما أنفق في سبيل حقه“Di antara semua hartamu, yang akan tetap tersisa hanyalah apa yang benar-benar dikeluarkan di jalan Allah.”Baca juga: Inilah 7 Amalan yang Pahalanya Terus MengalirPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiSalah satu bentuk mewujudkan investasi pahala adalah dengan memenuhi hak para pejabat yang membantu seorang pemimpin. Karena mereka ini adalah orang yang sangat berjasa dalam kepemimpinan seorang pemimpin formal. Para pemimpin sangat membutuhkan bantuan jajaran pejabat profesional. Hak tersebut meliputi:1) Penuhilah hak-hak pejabat pemerintahannya, sebelum hak-hakmu sendiri.2) Perhatikan hal-hal yang mungkin dapat memperbaiki kondisi dan mata pencaharian mereka. Jika engkau melakukan hal itu, nikmat Allah akan selalu bersamamu. Engkau berhak wajib mendapatkan tambahan nikmat dari Allah ﷻ.3) Akuilah rasa terima kasih dari orang-orang yang mengungkapkan terima kasih mereka; dan untuk itu, berilah balasan kepada mereka.Dengan langkah dari Thahir ini, seorang pekerja akan merasa diperhatikan oleh pimpinannya. Ia pun akan bekerja lebih baik dan maksimal dalam memenuhi kebutuhan pemimpinnya. Karena ia merasa tenang, sebab kebutuhannya serasa ditanggung pula oleh sang pimpinan.Perhatian pada kebutuhan seseorang itu merupakan bentuk afeksi dan juga apresiasi. Orang yang diapresiasi akan selalu memberi lebih dari apa yang diekspektasikan. Hal ini pula yang disampaikan Thahir,وكان الجمع لما شملهم من عدلك وإحسانك أساس لطاعتهم وأطيب نفسا لكل ما أردت“Karena yang merasakan keadilan dan kebaikanmu, hatinya akan bersatu, sehingga mereka akan lebih gampang mematuhimu dan jiwa mereka lebih tenang menerima segala yang engkau inginkan.”Jangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurHati-hatilah terhadap dunia dan godaannya yang akan membuatmu melalaikan hebatnya perkara akhirat, lalu membuatmu menyepelekan apa yang bakal menimpamu. Bersikap sepele akan menyebabkan keteledoran, dan keteledoran akan menyebabkan kehancuran.Hendaklah amalmu hanya untuk Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, dan berharaplah mendapatkan pahala. Allah Yang Mahasuci telah mencurahkan nikmat-Nya bagimu. Oleh karena itu, berpeganglah pada dan atas rasa syukur, serta bersandarlah atasnya, niscaya Allah akan menambahkan lebih banyak kebaikan dan perbuatan baik bagimu. Allah memberikan pahala sesuai dengan kadar rasa syukur para pelakunya dan sesuai dengan kadar perbuatan baik orang yang melakukannya.Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleBagian emas dari wasiat ThahirMenjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanObat agar tidak otoriter dalam memimpinTabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiJangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurBagian emas dari wasiat ThahirParagraf yang mengalir di bawah ini adalah bagian paling istimewa menurut penulis. Kekuasaan cenderung menghadirkan rasa tamak pada pribadi. Sementara kenikmatan dunia selalu menuntut saudarinya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ, apabila sudah mendapatkan satu gunung emas, jiwa manusia ingin mendapatkan dua atau lebih gunung lainnya. Lantas, bagaimana mencegah hasrat ini? Simak wasiat Thahir berikut.Menjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinanHindarilah keburukan hawa nafsu dan ketidakadilan. Jauhkan panjimu dari keduanya. Tunjukkan kepada rakyatmu bahwa engkau bebas dari hal itu. Anugerahkan nikmat keadilan dalam mengatur mereka. Perlakukan mereka dengan kebaikan dan dengan pengetahuan yang akan membawamu mencapai jalan petunjuk.Wasiat ini meliputi perintah memimpin dengan adil dan mengedepankan ilmu pengetahuan dibandingkan perasaan. Hal ini terlihat dalam lanjutan wasiatnya:1) Kendalikan dirimu ketika marah;2) Utamakan kebijaksanaan dan kelembutan;3) Waspadalah terhadap sikap kasar, sembrono, dan tipu daya dalam perkara yang engkau terlibat di dalamnya.Contoh dari perbuatan yang tidak terkontrol akal adalah ketika seseorang mengatakan, “Aku diberi kekuasaan, maka aku akan melakukan apa yang aku inginkan!” Perkataan ini menunjukkan kurangnya pertimbangan rasional dan sedikitnya keyakinan kepada Allah ﷻ.Obat agar tidak otoriter dalam memimpinThahir mengingatkan diri seorang pemimpin yang berhasrat untuk semena-mena dengan wasiat takwa:Ikhlaskan niatmu untuk Allah dan keyakinanmu kepada-Nya. Ketahuilah, kekuasaan itu milik Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.ولن تجد تغير النعمة وحلول النقمة إلى أحد أسرع منه إلى حملة النعمة من أصحاب السلطان والمبسوط لهم في الدولة“Engkau sama sekali tidak akan menemukan perubahan dari nikmat menjadi siksa dan dari siksa menjadi nikmat, yang terjadi atas seseorang, lebih cepat dari yang terjadi kepada para penguasa dan orang-orang yang menikmati posisi baik dalam pemerintahan.”Tabungan terbaik adalah amal jariyah, bukan gudang hartaIni adalah salah satu potongan emas dari wasiat Thahir bin Al-Husain, semoga menjadi pengingat bagi kita semua yang mengurus hajat orang banyak.ولتكن ذخائرك وكنوزك التي تدخر وتكنز البر والتقوى والمعدلة واستصلاح الرعية وعمارة بلادهم والتفقد لأمورهم والحفظ لدهمائهم والإغاثة لملهوفهم“Hendaklah yang menjadi harta simpanan dan kekayaanmu yang engkau kumpulkan dan timbun adalah kebajikan, ketakwaan, perbaikan rakyat, pembangunan negeri mereka, pengawasan urusan mereka, perlindungan darah mereka, dan bantuan atas orang-orang lemah di antara mereka.”واعلم أن الأموال إذا كثرت وذخرت في الخزائن لا تثمر وإذا كانت في إصلاح الرعية وإعطاء حقوقهم وكف المئونة عنهم نمت وربت وصلحت به العامة“Ketahuilah bahwa harta benda, apabila hanya dikumpulkan dan disimpan di dalam perbendaharaan, maka ia tidak akan menghasilkan manfaat. Namun, apabila diinvestasikan untuk kesejahteraan rakyat, memberikan hak-hak mereka, mencegah kesulitan dan meringankan beban mereka, maka harta itu akan berkembang dan bertambah. Lantas rakyat pun menjadi baik keadaannya.”وتزينت به الولاة وطاب به الزمان واعتقد فيه العز والمنعة“Dengan itu, para penguasa akan memperoleh kemuliaan dan keindahan nama, masa kehidupan akan menjadi baik dan tenteram, serta kemuliaan dan kekuatan akan tertanam dan mengakar.”فَلْيَكُنْ كَنْزُ خَزَائِنِكَ تَفْرِيقَ الْأَمْوَالِ فِي عِمَارَةِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ“Maka hendaklah gudang hartamu sesungguhnya ialah harta yang disalurkan untuk memakmurkan Islam dan kaum Muslimin.”Susunan wasiat ini menjadi pengingat bagi para pemimpin bahwa harta terbaik yang dimilikinya adalah apa yang menjadi legacy atau warisan bermanfaat bagi masyarakatnya. Tidaklah motivasi seorang pemimpin itu untuk memperkaya dirinya sendiri, tetapi untuk memakmurkan rakyatnya. Bahkan, sebaik-baik harta pemimpin adalah yang disalurkan untuk kemakmuran Islam dan kaum muslimin. Allahu Akbar.Dalam penggalan wasiat lainnya, Thahir mengingatkan,فإنما يبقى من المال ما أنفق في سبيل حقه“Di antara semua hartamu, yang akan tetap tersisa hanyalah apa yang benar-benar dikeluarkan di jalan Allah.”Baca juga: Inilah 7 Amalan yang Pahalanya Terus MengalirPenuhi hak para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasiSalah satu bentuk mewujudkan investasi pahala adalah dengan memenuhi hak para pejabat yang membantu seorang pemimpin. Karena mereka ini adalah orang yang sangat berjasa dalam kepemimpinan seorang pemimpin formal. Para pemimpin sangat membutuhkan bantuan jajaran pejabat profesional. Hak tersebut meliputi:1) Penuhilah hak-hak pejabat pemerintahannya, sebelum hak-hakmu sendiri.2) Perhatikan hal-hal yang mungkin dapat memperbaiki kondisi dan mata pencaharian mereka. Jika engkau melakukan hal itu, nikmat Allah akan selalu bersamamu. Engkau berhak wajib mendapatkan tambahan nikmat dari Allah ﷻ.3) Akuilah rasa terima kasih dari orang-orang yang mengungkapkan terima kasih mereka; dan untuk itu, berilah balasan kepada mereka.Dengan langkah dari Thahir ini, seorang pekerja akan merasa diperhatikan oleh pimpinannya. Ia pun akan bekerja lebih baik dan maksimal dalam memenuhi kebutuhan pemimpinnya. Karena ia merasa tenang, sebab kebutuhannya serasa ditanggung pula oleh sang pimpinan.Perhatian pada kebutuhan seseorang itu merupakan bentuk afeksi dan juga apresiasi. Orang yang diapresiasi akan selalu memberi lebih dari apa yang diekspektasikan. Hal ini pula yang disampaikan Thahir,وكان الجمع لما شملهم من عدلك وإحسانك أساس لطاعتهم وأطيب نفسا لكل ما أردت“Karena yang merasakan keadilan dan kebaikanmu, hatinya akan bersatu, sehingga mereka akan lebih gampang mematuhimu dan jiwa mereka lebih tenang menerima segala yang engkau inginkan.”Jangan terlalaikan dari akhirat karena dunia dan jangan lupa bersyukurHati-hatilah terhadap dunia dan godaannya yang akan membuatmu melalaikan hebatnya perkara akhirat, lalu membuatmu menyepelekan apa yang bakal menimpamu. Bersikap sepele akan menyebabkan keteledoran, dan keteledoran akan menyebabkan kehancuran.Hendaklah amalmu hanya untuk Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, dan berharaplah mendapatkan pahala. Allah Yang Mahasuci telah mencurahkan nikmat-Nya bagimu. Oleh karena itu, berpeganglah pada dan atas rasa syukur, serta bersandarlah atasnya, niscaya Allah akan menambahkan lebih banyak kebaikan dan perbuatan baik bagimu. Allah memberikan pahala sesuai dengan kadar rasa syukur para pelakunya dan sesuai dengan kadar perbuatan baik orang yang melakukannya.Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Fatwa Ulama: Hukum Memelihara Jenggot

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Sebagian imam menyampaikan kepada saya bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot. Menurutnya, membiarkan jenggot tumbuh bukan termasuk ibadah yang diperintahkan, melainkan hanya merupakan kebiasaan orang Arab. Apakah pendapat ini benar? Apa dalil yang mendukungnya? Mohon berikan fatwa kepada kami, semoga Allah memberi pahala kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Ketahuilah bahwa hukum asal memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot adalah wajib. Inilah pendapat mayoritas ulama dari berbagai mazhab, termasuk para ulama dari empat mazhab fikih dan selain mereka. Bahkan, Ibnu Hazm rahimahullah menukil adanya ijma’ (konsensus para ulama) mengenai kewajiban tersebut. [1]Dasar (landasan) ijma’ tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى؛ خَالِفُوا المَجُوسَ“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot tumbuh; selisihilah orang-orang Majusi.” [2]Demikian pula sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ: وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah (panjangkanlah) jenggot dan tipiskanlah kumis.” [3]Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Pendekkanlah kumis hingga sangat tipis dan biarkanlah jenggot tumbuh.” [4]Hadis-hadis tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot dan haramnya mencukurnya. Sebab, mencukur jenggot berarti menyelisihi perintah Nabi ﷺ. Allah Ta’ala juga telah memberikan peringatan keras agar tidak menyelisihi Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya,فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)Selain itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah. Allah Ta’ala berfirman, mengisahkan ucapan Iblis,وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya” (QS. An-Nisa: 119)Oleh karena itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mutilasi (mengubah bentuk fisik secara tercela). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,فأمَّا حَلْقُها فمِثْلُ حَلْقِ المرأةِ رَأْسَها وأَشَدُّ؛ لأنه مِنَ المُثْلَةِ المنهيِّ عنها وهي محرَّمةٌ“Adapun mencukur jenggot, maka kedudukannya seperti wanita yang mencukur rambut kepalanya, bahkan lebih berat lagi. Sebab, hal itu termasuk bentuk mutilasi yang dilarang, dan hukumnya haram.” [5]Selain itu, mencukur jenggot juga merupakan bentuk menyerupai perempuan. Allah telah menghiasi kaum laki-laki dengan jenggot dan menjadikannya sebagai pembeda antara mereka dan kaum perempuan. Dalam kaitan ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” [6]Selain itu, mencukur jenggot merupakan bentuk mengubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi manusia. Mencukur jenggot juga termasuk menyerupai orang-orang kafir, padahal syariat memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ“Selisihilah orang-orang musyrik.”Dan sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المَجُوسَ“Selisihilah orang-orang Majusi.” [7]Oleh karena itu, orang yang mencukur jenggot berdosa karena meninggalkan kewajiban memeliharanya sebagaimana ditegaskan oleh dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya.Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot termasuk sunah fitrah yang hukumnya wajib. Hal ini ditunjukkan oleh kebiasaan Nabi ﷺ yang senantiasa memelihara jenggot, serta tidak adanya riwayat dari seorang pun sahabat bahwa mereka pernah mencukurnya. Bahkan, Nabi ﷺ memerintahkan agar jenggot dipelihara hingga menjadi salah satu syiar yang tampak dari kaum muslimin, yang membedakan mereka dari orang-orang musyrik dan para pengikut kesesatan.Wallāhu a’lam.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Jenggot adalah Fitrah dan Perhiasan Laki-laki***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-201Catatan kaki:[1] Marātib al-Ijmā‘ karya Ibnu Hazm, hal. 157.[2] HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah, no. 260, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[3] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memotong Kuku (no. 5892), dan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah (no. 259), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memelihara Jenggot (no. 5893), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[5] Syarh ‘Umdah al-Fiqh karya Ibnu Taimiyah, 1: 336.[6] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (no. 5885), dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[7] Takhrij kedua hadis tersebut telah disebutkan sebelumnya. Lihat catatan kaki no. 3 dan no. 2.

Fatwa Ulama: Hukum Memelihara Jenggot

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Sebagian imam menyampaikan kepada saya bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot. Menurutnya, membiarkan jenggot tumbuh bukan termasuk ibadah yang diperintahkan, melainkan hanya merupakan kebiasaan orang Arab. Apakah pendapat ini benar? Apa dalil yang mendukungnya? Mohon berikan fatwa kepada kami, semoga Allah memberi pahala kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Ketahuilah bahwa hukum asal memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot adalah wajib. Inilah pendapat mayoritas ulama dari berbagai mazhab, termasuk para ulama dari empat mazhab fikih dan selain mereka. Bahkan, Ibnu Hazm rahimahullah menukil adanya ijma’ (konsensus para ulama) mengenai kewajiban tersebut. [1]Dasar (landasan) ijma’ tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى؛ خَالِفُوا المَجُوسَ“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot tumbuh; selisihilah orang-orang Majusi.” [2]Demikian pula sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ: وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah (panjangkanlah) jenggot dan tipiskanlah kumis.” [3]Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Pendekkanlah kumis hingga sangat tipis dan biarkanlah jenggot tumbuh.” [4]Hadis-hadis tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot dan haramnya mencukurnya. Sebab, mencukur jenggot berarti menyelisihi perintah Nabi ﷺ. Allah Ta’ala juga telah memberikan peringatan keras agar tidak menyelisihi Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya,فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)Selain itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah. Allah Ta’ala berfirman, mengisahkan ucapan Iblis,وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya” (QS. An-Nisa: 119)Oleh karena itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mutilasi (mengubah bentuk fisik secara tercela). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,فأمَّا حَلْقُها فمِثْلُ حَلْقِ المرأةِ رَأْسَها وأَشَدُّ؛ لأنه مِنَ المُثْلَةِ المنهيِّ عنها وهي محرَّمةٌ“Adapun mencukur jenggot, maka kedudukannya seperti wanita yang mencukur rambut kepalanya, bahkan lebih berat lagi. Sebab, hal itu termasuk bentuk mutilasi yang dilarang, dan hukumnya haram.” [5]Selain itu, mencukur jenggot juga merupakan bentuk menyerupai perempuan. Allah telah menghiasi kaum laki-laki dengan jenggot dan menjadikannya sebagai pembeda antara mereka dan kaum perempuan. Dalam kaitan ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” [6]Selain itu, mencukur jenggot merupakan bentuk mengubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi manusia. Mencukur jenggot juga termasuk menyerupai orang-orang kafir, padahal syariat memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ“Selisihilah orang-orang musyrik.”Dan sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المَجُوسَ“Selisihilah orang-orang Majusi.” [7]Oleh karena itu, orang yang mencukur jenggot berdosa karena meninggalkan kewajiban memeliharanya sebagaimana ditegaskan oleh dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya.Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot termasuk sunah fitrah yang hukumnya wajib. Hal ini ditunjukkan oleh kebiasaan Nabi ﷺ yang senantiasa memelihara jenggot, serta tidak adanya riwayat dari seorang pun sahabat bahwa mereka pernah mencukurnya. Bahkan, Nabi ﷺ memerintahkan agar jenggot dipelihara hingga menjadi salah satu syiar yang tampak dari kaum muslimin, yang membedakan mereka dari orang-orang musyrik dan para pengikut kesesatan.Wallāhu a’lam.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Jenggot adalah Fitrah dan Perhiasan Laki-laki***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-201Catatan kaki:[1] Marātib al-Ijmā‘ karya Ibnu Hazm, hal. 157.[2] HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah, no. 260, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[3] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memotong Kuku (no. 5892), dan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah (no. 259), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memelihara Jenggot (no. 5893), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[5] Syarh ‘Umdah al-Fiqh karya Ibnu Taimiyah, 1: 336.[6] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (no. 5885), dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[7] Takhrij kedua hadis tersebut telah disebutkan sebelumnya. Lihat catatan kaki no. 3 dan no. 2.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Sebagian imam menyampaikan kepada saya bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot. Menurutnya, membiarkan jenggot tumbuh bukan termasuk ibadah yang diperintahkan, melainkan hanya merupakan kebiasaan orang Arab. Apakah pendapat ini benar? Apa dalil yang mendukungnya? Mohon berikan fatwa kepada kami, semoga Allah memberi pahala kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Ketahuilah bahwa hukum asal memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot adalah wajib. Inilah pendapat mayoritas ulama dari berbagai mazhab, termasuk para ulama dari empat mazhab fikih dan selain mereka. Bahkan, Ibnu Hazm rahimahullah menukil adanya ijma’ (konsensus para ulama) mengenai kewajiban tersebut. [1]Dasar (landasan) ijma’ tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى؛ خَالِفُوا المَجُوسَ“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot tumbuh; selisihilah orang-orang Majusi.” [2]Demikian pula sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ: وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah (panjangkanlah) jenggot dan tipiskanlah kumis.” [3]Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Pendekkanlah kumis hingga sangat tipis dan biarkanlah jenggot tumbuh.” [4]Hadis-hadis tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot dan haramnya mencukurnya. Sebab, mencukur jenggot berarti menyelisihi perintah Nabi ﷺ. Allah Ta’ala juga telah memberikan peringatan keras agar tidak menyelisihi Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya,فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)Selain itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah. Allah Ta’ala berfirman, mengisahkan ucapan Iblis,وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya” (QS. An-Nisa: 119)Oleh karena itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mutilasi (mengubah bentuk fisik secara tercela). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,فأمَّا حَلْقُها فمِثْلُ حَلْقِ المرأةِ رَأْسَها وأَشَدُّ؛ لأنه مِنَ المُثْلَةِ المنهيِّ عنها وهي محرَّمةٌ“Adapun mencukur jenggot, maka kedudukannya seperti wanita yang mencukur rambut kepalanya, bahkan lebih berat lagi. Sebab, hal itu termasuk bentuk mutilasi yang dilarang, dan hukumnya haram.” [5]Selain itu, mencukur jenggot juga merupakan bentuk menyerupai perempuan. Allah telah menghiasi kaum laki-laki dengan jenggot dan menjadikannya sebagai pembeda antara mereka dan kaum perempuan. Dalam kaitan ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” [6]Selain itu, mencukur jenggot merupakan bentuk mengubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi manusia. Mencukur jenggot juga termasuk menyerupai orang-orang kafir, padahal syariat memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ“Selisihilah orang-orang musyrik.”Dan sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المَجُوسَ“Selisihilah orang-orang Majusi.” [7]Oleh karena itu, orang yang mencukur jenggot berdosa karena meninggalkan kewajiban memeliharanya sebagaimana ditegaskan oleh dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya.Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot termasuk sunah fitrah yang hukumnya wajib. Hal ini ditunjukkan oleh kebiasaan Nabi ﷺ yang senantiasa memelihara jenggot, serta tidak adanya riwayat dari seorang pun sahabat bahwa mereka pernah mencukurnya. Bahkan, Nabi ﷺ memerintahkan agar jenggot dipelihara hingga menjadi salah satu syiar yang tampak dari kaum muslimin, yang membedakan mereka dari orang-orang musyrik dan para pengikut kesesatan.Wallāhu a’lam.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Jenggot adalah Fitrah dan Perhiasan Laki-laki***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-201Catatan kaki:[1] Marātib al-Ijmā‘ karya Ibnu Hazm, hal. 157.[2] HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah, no. 260, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[3] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memotong Kuku (no. 5892), dan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah (no. 259), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memelihara Jenggot (no. 5893), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[5] Syarh ‘Umdah al-Fiqh karya Ibnu Taimiyah, 1: 336.[6] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (no. 5885), dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[7] Takhrij kedua hadis tersebut telah disebutkan sebelumnya. Lihat catatan kaki no. 3 dan no. 2.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Sebagian imam menyampaikan kepada saya bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot. Menurutnya, membiarkan jenggot tumbuh bukan termasuk ibadah yang diperintahkan, melainkan hanya merupakan kebiasaan orang Arab. Apakah pendapat ini benar? Apa dalil yang mendukungnya? Mohon berikan fatwa kepada kami, semoga Allah memberi pahala kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Ketahuilah bahwa hukum asal memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot adalah wajib. Inilah pendapat mayoritas ulama dari berbagai mazhab, termasuk para ulama dari empat mazhab fikih dan selain mereka. Bahkan, Ibnu Hazm rahimahullah menukil adanya ijma’ (konsensus para ulama) mengenai kewajiban tersebut. [1]Dasar (landasan) ijma’ tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى؛ خَالِفُوا المَجُوسَ“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot tumbuh; selisihilah orang-orang Majusi.” [2]Demikian pula sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ: وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah (panjangkanlah) jenggot dan tipiskanlah kumis.” [3]Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Pendekkanlah kumis hingga sangat tipis dan biarkanlah jenggot tumbuh.” [4]Hadis-hadis tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan wajibnya memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot dan haramnya mencukurnya. Sebab, mencukur jenggot berarti menyelisihi perintah Nabi ﷺ. Allah Ta’ala juga telah memberikan peringatan keras agar tidak menyelisihi Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya,فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)Selain itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah. Allah Ta’ala berfirman, mengisahkan ucapan Iblis,وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya” (QS. An-Nisa: 119)Oleh karena itu, mencukur jenggot termasuk perbuatan mutilasi (mengubah bentuk fisik secara tercela). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,فأمَّا حَلْقُها فمِثْلُ حَلْقِ المرأةِ رَأْسَها وأَشَدُّ؛ لأنه مِنَ المُثْلَةِ المنهيِّ عنها وهي محرَّمةٌ“Adapun mencukur jenggot, maka kedudukannya seperti wanita yang mencukur rambut kepalanya, bahkan lebih berat lagi. Sebab, hal itu termasuk bentuk mutilasi yang dilarang, dan hukumnya haram.” [5]Selain itu, mencukur jenggot juga merupakan bentuk menyerupai perempuan. Allah telah menghiasi kaum laki-laki dengan jenggot dan menjadikannya sebagai pembeda antara mereka dan kaum perempuan. Dalam kaitan ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” [6]Selain itu, mencukur jenggot merupakan bentuk mengubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi manusia. Mencukur jenggot juga termasuk menyerupai orang-orang kafir, padahal syariat memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,خَالِفُوا المُشْرِكِينَ“Selisihilah orang-orang musyrik.”Dan sabda beliau ﷺ,خَالِفُوا المَجُوسَ“Selisihilah orang-orang Majusi.” [7]Oleh karena itu, orang yang mencukur jenggot berdosa karena meninggalkan kewajiban memeliharanya sebagaimana ditegaskan oleh dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya.Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa memelihara (membiarkan tumbuh) jenggot termasuk sunah fitrah yang hukumnya wajib. Hal ini ditunjukkan oleh kebiasaan Nabi ﷺ yang senantiasa memelihara jenggot, serta tidak adanya riwayat dari seorang pun sahabat bahwa mereka pernah mencukurnya. Bahkan, Nabi ﷺ memerintahkan agar jenggot dipelihara hingga menjadi salah satu syiar yang tampak dari kaum muslimin, yang membedakan mereka dari orang-orang musyrik dan para pengikut kesesatan.Wallāhu a’lam.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Jenggot adalah Fitrah dan Perhiasan Laki-laki***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-201Catatan kaki:[1] Marātib al-Ijmā‘ karya Ibnu Hazm, hal. 157.[2] HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah, no. 260, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[3] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memotong Kuku (no. 5892), dan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Ath-Thaharah (no. 259), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Memelihara Jenggot (no. 5893), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[5] Syarh ‘Umdah al-Fiqh karya Ibnu Taimiyah, 1: 336.[6] HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (no. 5885), dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[7] Takhrij kedua hadis tersebut telah disebutkan sebelumnya. Lihat catatan kaki no. 3 dan no. 2.

KITA SEMUA FAKIR KEPADA ALLAH – HADIS KE-24 ARBAIN AN-NAWAWI YANG BIKIN NANGIS

Hadis ke-24: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, bahwasanya Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian kecuali orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memudaratkan-Ku, sehingga kalian dapat memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memberi manfaat kepada-Ku, sehingga kalian dapat memberi-Ku manfaat. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling durhaka, semua itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, aik manusia maupun jin, semuanya berdiri di satu tempat lalu memohon kepada-Ku, lalu Aku penuhi permintaan setiap orang dari mereka, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dicelupkan ke dalamnya lalu diangkat. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku sempurnakan balasannya untuk kalian Maka siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang mendapati selain itu, janganlah ia menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim. ===== الْحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

KITA SEMUA FAKIR KEPADA ALLAH – HADIS KE-24 ARBAIN AN-NAWAWI YANG BIKIN NANGIS

Hadis ke-24: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, bahwasanya Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian kecuali orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memudaratkan-Ku, sehingga kalian dapat memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memberi manfaat kepada-Ku, sehingga kalian dapat memberi-Ku manfaat. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling durhaka, semua itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, aik manusia maupun jin, semuanya berdiri di satu tempat lalu memohon kepada-Ku, lalu Aku penuhi permintaan setiap orang dari mereka, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dicelupkan ke dalamnya lalu diangkat. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku sempurnakan balasannya untuk kalian Maka siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang mendapati selain itu, janganlah ia menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim. ===== الْحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Hadis ke-24: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, bahwasanya Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian kecuali orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memudaratkan-Ku, sehingga kalian dapat memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memberi manfaat kepada-Ku, sehingga kalian dapat memberi-Ku manfaat. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling durhaka, semua itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, aik manusia maupun jin, semuanya berdiri di satu tempat lalu memohon kepada-Ku, lalu Aku penuhi permintaan setiap orang dari mereka, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dicelupkan ke dalamnya lalu diangkat. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku sempurnakan balasannya untuk kalian Maka siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang mendapati selain itu, janganlah ia menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim. ===== الْحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ


Hadis ke-24: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, bahwasanya Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian kecuali orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memudaratkan-Ku, sehingga kalian dapat memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan pernah sampai pada kemampuan memberi manfaat kepada-Ku, sehingga kalian dapat memberi-Ku manfaat. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berhati seperti hati orang yang paling durhaka, semua itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir dari kalian, aik manusia maupun jin, semuanya berdiri di satu tempat lalu memohon kepada-Ku, lalu Aku penuhi permintaan setiap orang dari mereka, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dicelupkan ke dalamnya lalu diangkat. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku sempurnakan balasannya untuk kalian Maka siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang mendapati selain itu, janganlah ia menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim. ===== الْحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

Daftar Isi ToggleBeriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahAl-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanWahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianBerhenti mencari pembenaranMenempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri.Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat menemukan ratusan penjelasan tentang satu masalah. Namun, banyaknya jawaban tidak selalu membuat arah menjadi lebih jelas. Tidak jarang, orang justru terus mencari sampai menemukan pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang benar?” melainkan, “Mana yang membenarkan pilihan saya?”Di tengah derasnya opini, iman kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia berjalan hanya dengan akal, pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.Beriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahIman kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita yang sahih darinya. Kita juga menerima hukum yang berlaku bagi kita dengan rida dan tunduk.Terhadap kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi hakim atasnya. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat. Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan syariat yang sempurna dan sesuai bagi seluruh zaman dan tempat.Al-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanMushaf dapat diletakkan di tempat yang tinggi, bacaan juga dapat dilantunkan dengan indah. Semua bentuk penghormatan itu baik apabila dilakukan dengan benar. Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berhenti pada penghormatan lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)Petunjuk berfungsi ketika diikuti. Oleh karena itu, hubungan yang benar dengan Al-Qur’an mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum mengambil petunjuk secara utuh apabila ia hanya membaca ayat yang menenangkan, tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, atau keinginannya.Iman kepada kitab Allah juga meluruskan cara kita mencari jawaban. Seorang mukmin tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak awal. Ia berusaha memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan ulama yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.Sikap tunduk tidak berarti tergesa-gesa menyimpulkan hukum hanya dari terjemahan satu ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan para ulama membantu memahami bahasa, konteks, serta cara menggabungkan dalil. Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar. Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai alasan menolak petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum ia pahami dengan benar.Wahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianMenjadikan wahyu sebagai penentu arah bukan berarti mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam urusan teknis, kita tetap membutuhkan dokter, insinyur, pendidik, ahli keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian dapat membantu memilih cara yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan batas halal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya karena sebuah cara dianggap lebih cepat atau lebih populer.Akal adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui sebagian manfaat dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas. Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.Rahmat tersebut juga terlihat dari kesesuaian syariat dengan umat yang menerimanya. Pokok agama para rasul sama, yaitu tauhid; sedangkan sebagian rincian syariat dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa petunjuk yang berlaku hingga hari kiamat. Perubahan zaman tidak menjadikan manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk mempelajari bagaimana petunjuk yang tetap diterapkan secara benar pada keadaan yang berubah.Seorang mukmin tidak gelisah hanya karena ajaran wahyu tidak selalu mengikuti arus. Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik pijak yang tidak bergerak bersama tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.Berhenti mencari pembenaranDi hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang membolehkan keinginan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang Allah tunjukkan, dan bagaimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang ia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi petunjuk yang menentukan arah langkah kita.Baca juga:Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 328–344 dan 493–497.

Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

Daftar Isi ToggleBeriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahAl-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanWahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianBerhenti mencari pembenaranMenempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri.Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat menemukan ratusan penjelasan tentang satu masalah. Namun, banyaknya jawaban tidak selalu membuat arah menjadi lebih jelas. Tidak jarang, orang justru terus mencari sampai menemukan pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang benar?” melainkan, “Mana yang membenarkan pilihan saya?”Di tengah derasnya opini, iman kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia berjalan hanya dengan akal, pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.Beriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahIman kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita yang sahih darinya. Kita juga menerima hukum yang berlaku bagi kita dengan rida dan tunduk.Terhadap kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi hakim atasnya. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat. Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan syariat yang sempurna dan sesuai bagi seluruh zaman dan tempat.Al-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanMushaf dapat diletakkan di tempat yang tinggi, bacaan juga dapat dilantunkan dengan indah. Semua bentuk penghormatan itu baik apabila dilakukan dengan benar. Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berhenti pada penghormatan lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)Petunjuk berfungsi ketika diikuti. Oleh karena itu, hubungan yang benar dengan Al-Qur’an mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum mengambil petunjuk secara utuh apabila ia hanya membaca ayat yang menenangkan, tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, atau keinginannya.Iman kepada kitab Allah juga meluruskan cara kita mencari jawaban. Seorang mukmin tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak awal. Ia berusaha memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan ulama yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.Sikap tunduk tidak berarti tergesa-gesa menyimpulkan hukum hanya dari terjemahan satu ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan para ulama membantu memahami bahasa, konteks, serta cara menggabungkan dalil. Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar. Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai alasan menolak petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum ia pahami dengan benar.Wahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianMenjadikan wahyu sebagai penentu arah bukan berarti mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam urusan teknis, kita tetap membutuhkan dokter, insinyur, pendidik, ahli keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian dapat membantu memilih cara yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan batas halal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya karena sebuah cara dianggap lebih cepat atau lebih populer.Akal adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui sebagian manfaat dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas. Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.Rahmat tersebut juga terlihat dari kesesuaian syariat dengan umat yang menerimanya. Pokok agama para rasul sama, yaitu tauhid; sedangkan sebagian rincian syariat dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa petunjuk yang berlaku hingga hari kiamat. Perubahan zaman tidak menjadikan manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk mempelajari bagaimana petunjuk yang tetap diterapkan secara benar pada keadaan yang berubah.Seorang mukmin tidak gelisah hanya karena ajaran wahyu tidak selalu mengikuti arus. Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik pijak yang tidak bergerak bersama tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.Berhenti mencari pembenaranDi hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang membolehkan keinginan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang Allah tunjukkan, dan bagaimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang ia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi petunjuk yang menentukan arah langkah kita.Baca juga:Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 328–344 dan 493–497.
Daftar Isi ToggleBeriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahAl-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanWahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianBerhenti mencari pembenaranMenempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri.Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat menemukan ratusan penjelasan tentang satu masalah. Namun, banyaknya jawaban tidak selalu membuat arah menjadi lebih jelas. Tidak jarang, orang justru terus mencari sampai menemukan pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang benar?” melainkan, “Mana yang membenarkan pilihan saya?”Di tengah derasnya opini, iman kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia berjalan hanya dengan akal, pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.Beriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahIman kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita yang sahih darinya. Kita juga menerima hukum yang berlaku bagi kita dengan rida dan tunduk.Terhadap kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi hakim atasnya. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat. Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan syariat yang sempurna dan sesuai bagi seluruh zaman dan tempat.Al-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanMushaf dapat diletakkan di tempat yang tinggi, bacaan juga dapat dilantunkan dengan indah. Semua bentuk penghormatan itu baik apabila dilakukan dengan benar. Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berhenti pada penghormatan lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)Petunjuk berfungsi ketika diikuti. Oleh karena itu, hubungan yang benar dengan Al-Qur’an mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum mengambil petunjuk secara utuh apabila ia hanya membaca ayat yang menenangkan, tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, atau keinginannya.Iman kepada kitab Allah juga meluruskan cara kita mencari jawaban. Seorang mukmin tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak awal. Ia berusaha memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan ulama yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.Sikap tunduk tidak berarti tergesa-gesa menyimpulkan hukum hanya dari terjemahan satu ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan para ulama membantu memahami bahasa, konteks, serta cara menggabungkan dalil. Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar. Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai alasan menolak petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum ia pahami dengan benar.Wahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianMenjadikan wahyu sebagai penentu arah bukan berarti mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam urusan teknis, kita tetap membutuhkan dokter, insinyur, pendidik, ahli keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian dapat membantu memilih cara yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan batas halal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya karena sebuah cara dianggap lebih cepat atau lebih populer.Akal adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui sebagian manfaat dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas. Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.Rahmat tersebut juga terlihat dari kesesuaian syariat dengan umat yang menerimanya. Pokok agama para rasul sama, yaitu tauhid; sedangkan sebagian rincian syariat dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa petunjuk yang berlaku hingga hari kiamat. Perubahan zaman tidak menjadikan manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk mempelajari bagaimana petunjuk yang tetap diterapkan secara benar pada keadaan yang berubah.Seorang mukmin tidak gelisah hanya karena ajaran wahyu tidak selalu mengikuti arus. Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik pijak yang tidak bergerak bersama tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.Berhenti mencari pembenaranDi hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang membolehkan keinginan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang Allah tunjukkan, dan bagaimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang ia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi petunjuk yang menentukan arah langkah kita.Baca juga:Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 328–344 dan 493–497.


Daftar Isi ToggleBeriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahAl-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanWahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianBerhenti mencari pembenaranMenempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri.Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat menemukan ratusan penjelasan tentang satu masalah. Namun, banyaknya jawaban tidak selalu membuat arah menjadi lebih jelas. Tidak jarang, orang justru terus mencari sampai menemukan pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang benar?” melainkan, “Mana yang membenarkan pilihan saya?”Di tengah derasnya opini, iman kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia berjalan hanya dengan akal, pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.Beriman kepada kitab berarti menerima petunjuk AllahIman kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita yang sahih darinya. Kita juga menerima hukum yang berlaku bagi kita dengan rida dan tunduk.Terhadap kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi hakim atasnya. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat. Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan syariat yang sempurna dan sesuai bagi seluruh zaman dan tempat.Al-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehanMushaf dapat diletakkan di tempat yang tinggi, bacaan juga dapat dilantunkan dengan indah. Semua bentuk penghormatan itu baik apabila dilakukan dengan benar. Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berhenti pada penghormatan lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)Petunjuk berfungsi ketika diikuti. Oleh karena itu, hubungan yang benar dengan Al-Qur’an mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum mengambil petunjuk secara utuh apabila ia hanya membaca ayat yang menenangkan, tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, atau keinginannya.Iman kepada kitab Allah juga meluruskan cara kita mencari jawaban. Seorang mukmin tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak awal. Ia berusaha memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan ulama yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.Sikap tunduk tidak berarti tergesa-gesa menyimpulkan hukum hanya dari terjemahan satu ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan para ulama membantu memahami bahasa, konteks, serta cara menggabungkan dalil. Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar. Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai alasan menolak petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum ia pahami dengan benar.Wahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlianMenjadikan wahyu sebagai penentu arah bukan berarti mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam urusan teknis, kita tetap membutuhkan dokter, insinyur, pendidik, ahli keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian dapat membantu memilih cara yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan batas halal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya karena sebuah cara dianggap lebih cepat atau lebih populer.Akal adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui sebagian manfaat dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas. Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.Rahmat tersebut juga terlihat dari kesesuaian syariat dengan umat yang menerimanya. Pokok agama para rasul sama, yaitu tauhid; sedangkan sebagian rincian syariat dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa petunjuk yang berlaku hingga hari kiamat. Perubahan zaman tidak menjadikan manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk mempelajari bagaimana petunjuk yang tetap diterapkan secara benar pada keadaan yang berubah.Seorang mukmin tidak gelisah hanya karena ajaran wahyu tidak selalu mengikuti arus. Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik pijak yang tidak bergerak bersama tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.Berhenti mencari pembenaranDi hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang membolehkan keinginan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang Allah tunjukkan, dan bagaimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang ia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi petunjuk yang menentukan arah langkah kita.Baca juga:Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 328–344 dan 493–497.

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 3): Manajemen Tim dan Waspadai Penjilat

Daftar Isi ToggleTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaTetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timWasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahJangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongCintailah kejujuran dan orang jujurTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaولا تتهمن أحدا من الناس فيما توليه من عملك قبل أن تكشف أمره“Janganlah engkau mencurigai siapapun yang bekerja untukmu terkait tugas yang telah engkau percayakan kepadanya, sebelum engkau memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.”Mencurigai orang-orang yang tak bersalah dan berprasangka buruk kepada mereka merupakan perbuatan dosa. Maka, jadikanlah berbaik sangka kepada teman-temanmu sebagai bagian dari tugasmu. Buanglah suuzhan (berprasangka buruk) kepada mereka, niscaya itu akan membantumu meningkatkan kemampuan mereka.Jangan biarkan setan, musuh Allah, menemukan jalan masuk ke dalam urusanmu. Sedikit saja kelemahanmu itu sudah cukup bagi setan. Dia akan memasukkan semacam kesedihan kepada dirimu melalui sikap berburuk sangka terhadap mereka, sehingga itu akan mengganggu kenyamanan hidupmu. واعلم أنك تجد بحسن الظن قوة وراحة وتكفى به ما أحببت كفايته من أمورك وتدعو به الناس إلى محبتك والاستقامة في الأمور كلها لك“Ketahuilah bahwa berbaik sangka akan memberimu kekuatan dan ketenteraman. Dengan berhusnuzan, engkau akan terbantu dalam menangani berbagai urusan yang ingin engkau selesaikan. Dan dengannya pula, manusia akan terdorong untuk mencintaimu serta bersikap lurus dan baik dalam seluruh hubungan mereka denganmu.”Nasihat Thahir ini relevan dengan saran para ahli bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberikan kepercayaan kepada timnya untuk mengerjakan amanahnya. Apabila seorang pemimpin tidak mempercayai timnya, ini justru melahirkan langkah yang tidak baik dalam manajemen yang disebut micro-management. Ini adalah tindakan pemimpin yang terlalu mengatur urusan dan kreativitas timnya dalam bekerja. Tindakan micro-managing selalu berakhir pada hasil kerja yang tidak optimal.Tetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timPanduan manajemen tim ini dilengkapi lagi dalam wasiat Thahir berikut ini:“Jangan biarkan sikap baik sangkamu kepada orang-orang di sekitarmu dan rasa sayangmu kepada rakyatmu mencegahmu untuk bertanya dan memeriksa urusanmu. Menangani langsung masalah-masalah yang tak tertangani oleh para pejabatmu, melindungi rakyat, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menanggung keperluan mereka, itu bagimu lebih mudah dari apa pun. Sesungguhnya hal itu lebih membantu penegakan agama dan lebih menghidupkan sunah Nabi.”Prinsip yang dibawakan Tahir ini adalah asas kepercayaan + asas memudahkan siapapun. Karena memudahkan urusan tim yang kesulitan, jika kita memang mampu, adalah refleksi dari sunah Nabi ﷺ.مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ“Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Thahir melanjutkan wasiatnya:“Ikhlaskanlah niatmu dalam semua ini. Berilah perhatian khusus untuk meningkatkan dirimu sebagai pribadi, yang menyadari bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, bahwa dia akan diberi pahala untuk perbuatan baiknya, dan akan dihukum karena perbuatan buruknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menjadikan agama sebagai perlindungan dan kekuatan. Dia mengangkat orang yang mengikuti dan memuliakan-Nya.”Wasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahOleh karena itu, berjalanlah bersama orang yang engkau pimpin dan engkau urus melalui jalur agama dan metode petunjuk. Terapkan hukuman hudud terhadap para penjahat sesuai tingkatan mereka dan apa yang layak bagi mereka. Jangan abaikan hal itu, dan jangan meremehkannya. Janganlah engkau menunda hukuman orang-orang yang harus dihukum. Jika engkau gagal dalam hal ini, citra baikmu akan rusak.واعزم على أمرك في ذلك بالسنن المعروفة وجانب الشبه والبدعات يسلم لك دينك وتقم لك مروءتك“Dalam hal ini, pastikan tindakanmu dipandu oleh sunah yang dikenal. Hindarilah bid’ah dan syubhat, sehingga agamamu selamat bagimu dan kehormatanmu tegak.”Jika engkau telah mengikat suatu perjanjian, penuhilah. Jika engkau telah berjanji berbuat baik, laksanakanlah. Terimalah kebaikan dan balaslah dengan kebaikan pula. Tutup matamu dari melihat cacat yang mungkin dimiliki rakyatmu.Jangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongTahan lidahmu dari ucapan bohong dan palsu. Bencilah orang-orang yang suka memfitnah. Sesungguhnya awal kegagalan urusanmu, baik di dunia ini maupun di akhirat, terjadi setelah engkau memberikan akses kepada pembohong atau berani berbohong. Sebab, berbohong adalah pangkal segala dosa, sementara fitnah dan adu domba merupakan ujungnya. Fitnah tidak akan membuat selamat orang yang melakukannya dan yang mengatakannya. Teman yang mendengarkan fitnah tidak akan selamat. Urusan orang yang suka memfitnah pun tidak akan bekerja dengan baik .Wasiat ini sangatlah relevan dengan zaman ini. Banyak sekali berita bohong yang tersebar di masyarakat, apalagi yang sampai kepada para pemimpin. Maka, seorang pemimpin hendaklah berhati-hati jangan sampai melakukan dua hal:Pertama: Menerima kabar bohong dan bertindak berdasarkan itu;Kedua: Memproduksi kebohongan.Seorang pemimpin harus memiliki perangkat untuk tatsabbut dan tabayyun. Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Pelajari masalah prinsip ini pada artikel, “Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan”Telah berlalu dari zaman ke zaman, para penjilat di sekitar penguasa akan mereproduksi kabar agar sesuai dengan hasrat si penjilat sehingga kepentingannya terpenuhi. Sebagaimana yang terjadi dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang menyebabkan mereka dihukum oleh para penguasa karena bisikan ulama suu’.Di sisi lain, para penguasa juga sangat rentan untuk berbuat bohong, di antaranya untuk menutupi suatu realita yang sebenarnya tidak esensial, tetapi menciderai kesempurnaan kekuasaannya. Sebagaimana yang terjadi pada raja-raja Mesir yang menutupi sejarah kepemimpinan seorang ratu, hanya karena ingin melegitimasi kepemimpinannya berbasis darah kerajaan murni. Hal ini terjadi pada berbagai rezim dan zaman.Namun, sejatinya seorang pemimpin tidak memerlukan kebohongan untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan sangat besar ancaman bagi seorang pemimpin yang berbohong. Nabi ﷺ bersabda,ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ“Ada tiga golongan manusia yang mereka nanti tidak akan diajak bicara oleh Allah ﷻ di hari kiamat kelak. Allah tidak akan menyucikan mereka, dan Allah tidak akan melihat mereka dengan penglihatan rahmat dari Allah ﷻ. Dan bagi mereka azab yang pedih. Tiga golongan itu adalah: 1) seorang tua yang berzina; 2) raja atau penguasa pendusta; 3) keluarga miskin yang sombong.” (HR. Muslim)Tidak hanya pemimpinnya, tetapi orang yang membantu pemimpin untuk berdusta dan curang akan mendapatkan ancaman besar. Nabi ﷺ bersabda,إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan disahihkan Al-Albani)Sebaliknya, dalam hadis ini disebutkan, orang yang tidak mendukung kezaliman dan kedustaan itu, niscaya akan mendapatkan kesempatan menyeruput air dari telaga Nabi ﷺ.Cintailah kejujuran dan orang jujurCintailah orang-orang yang baik dan yang jujur. Muliakanlah orang-orang yang mulia dengan benar. Kasihilah orang-orang yang lemah. Sambunglah silaturahmi. Usahakanlah dengan itu untuk dapat melihat wajah Allah Yang Mahatinggi dan memuliakan perintah-Nya. Carilah di dalamnya pahala-Nya dan kampung akhirat.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk menjaga keadilan bersikap. Thahir akan banyak mengulangi wasiat bersikap adil dalam banyak konteks ke depannya. Tidak lupa selalu wasiat itu dilengkapi dengan pengingat agar senantiasa ikhlas dalam menjalankannya. Karena tiada manfaat dari amal yang berat sekalipun dikerjakan jika tidak dilandasi dengan keimanan yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 3): Manajemen Tim dan Waspadai Penjilat

Daftar Isi ToggleTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaTetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timWasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahJangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongCintailah kejujuran dan orang jujurTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaولا تتهمن أحدا من الناس فيما توليه من عملك قبل أن تكشف أمره“Janganlah engkau mencurigai siapapun yang bekerja untukmu terkait tugas yang telah engkau percayakan kepadanya, sebelum engkau memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.”Mencurigai orang-orang yang tak bersalah dan berprasangka buruk kepada mereka merupakan perbuatan dosa. Maka, jadikanlah berbaik sangka kepada teman-temanmu sebagai bagian dari tugasmu. Buanglah suuzhan (berprasangka buruk) kepada mereka, niscaya itu akan membantumu meningkatkan kemampuan mereka.Jangan biarkan setan, musuh Allah, menemukan jalan masuk ke dalam urusanmu. Sedikit saja kelemahanmu itu sudah cukup bagi setan. Dia akan memasukkan semacam kesedihan kepada dirimu melalui sikap berburuk sangka terhadap mereka, sehingga itu akan mengganggu kenyamanan hidupmu. واعلم أنك تجد بحسن الظن قوة وراحة وتكفى به ما أحببت كفايته من أمورك وتدعو به الناس إلى محبتك والاستقامة في الأمور كلها لك“Ketahuilah bahwa berbaik sangka akan memberimu kekuatan dan ketenteraman. Dengan berhusnuzan, engkau akan terbantu dalam menangani berbagai urusan yang ingin engkau selesaikan. Dan dengannya pula, manusia akan terdorong untuk mencintaimu serta bersikap lurus dan baik dalam seluruh hubungan mereka denganmu.”Nasihat Thahir ini relevan dengan saran para ahli bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberikan kepercayaan kepada timnya untuk mengerjakan amanahnya. Apabila seorang pemimpin tidak mempercayai timnya, ini justru melahirkan langkah yang tidak baik dalam manajemen yang disebut micro-management. Ini adalah tindakan pemimpin yang terlalu mengatur urusan dan kreativitas timnya dalam bekerja. Tindakan micro-managing selalu berakhir pada hasil kerja yang tidak optimal.Tetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timPanduan manajemen tim ini dilengkapi lagi dalam wasiat Thahir berikut ini:“Jangan biarkan sikap baik sangkamu kepada orang-orang di sekitarmu dan rasa sayangmu kepada rakyatmu mencegahmu untuk bertanya dan memeriksa urusanmu. Menangani langsung masalah-masalah yang tak tertangani oleh para pejabatmu, melindungi rakyat, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menanggung keperluan mereka, itu bagimu lebih mudah dari apa pun. Sesungguhnya hal itu lebih membantu penegakan agama dan lebih menghidupkan sunah Nabi.”Prinsip yang dibawakan Tahir ini adalah asas kepercayaan + asas memudahkan siapapun. Karena memudahkan urusan tim yang kesulitan, jika kita memang mampu, adalah refleksi dari sunah Nabi ﷺ.مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ“Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Thahir melanjutkan wasiatnya:“Ikhlaskanlah niatmu dalam semua ini. Berilah perhatian khusus untuk meningkatkan dirimu sebagai pribadi, yang menyadari bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, bahwa dia akan diberi pahala untuk perbuatan baiknya, dan akan dihukum karena perbuatan buruknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menjadikan agama sebagai perlindungan dan kekuatan. Dia mengangkat orang yang mengikuti dan memuliakan-Nya.”Wasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahOleh karena itu, berjalanlah bersama orang yang engkau pimpin dan engkau urus melalui jalur agama dan metode petunjuk. Terapkan hukuman hudud terhadap para penjahat sesuai tingkatan mereka dan apa yang layak bagi mereka. Jangan abaikan hal itu, dan jangan meremehkannya. Janganlah engkau menunda hukuman orang-orang yang harus dihukum. Jika engkau gagal dalam hal ini, citra baikmu akan rusak.واعزم على أمرك في ذلك بالسنن المعروفة وجانب الشبه والبدعات يسلم لك دينك وتقم لك مروءتك“Dalam hal ini, pastikan tindakanmu dipandu oleh sunah yang dikenal. Hindarilah bid’ah dan syubhat, sehingga agamamu selamat bagimu dan kehormatanmu tegak.”Jika engkau telah mengikat suatu perjanjian, penuhilah. Jika engkau telah berjanji berbuat baik, laksanakanlah. Terimalah kebaikan dan balaslah dengan kebaikan pula. Tutup matamu dari melihat cacat yang mungkin dimiliki rakyatmu.Jangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongTahan lidahmu dari ucapan bohong dan palsu. Bencilah orang-orang yang suka memfitnah. Sesungguhnya awal kegagalan urusanmu, baik di dunia ini maupun di akhirat, terjadi setelah engkau memberikan akses kepada pembohong atau berani berbohong. Sebab, berbohong adalah pangkal segala dosa, sementara fitnah dan adu domba merupakan ujungnya. Fitnah tidak akan membuat selamat orang yang melakukannya dan yang mengatakannya. Teman yang mendengarkan fitnah tidak akan selamat. Urusan orang yang suka memfitnah pun tidak akan bekerja dengan baik .Wasiat ini sangatlah relevan dengan zaman ini. Banyak sekali berita bohong yang tersebar di masyarakat, apalagi yang sampai kepada para pemimpin. Maka, seorang pemimpin hendaklah berhati-hati jangan sampai melakukan dua hal:Pertama: Menerima kabar bohong dan bertindak berdasarkan itu;Kedua: Memproduksi kebohongan.Seorang pemimpin harus memiliki perangkat untuk tatsabbut dan tabayyun. Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Pelajari masalah prinsip ini pada artikel, “Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan”Telah berlalu dari zaman ke zaman, para penjilat di sekitar penguasa akan mereproduksi kabar agar sesuai dengan hasrat si penjilat sehingga kepentingannya terpenuhi. Sebagaimana yang terjadi dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang menyebabkan mereka dihukum oleh para penguasa karena bisikan ulama suu’.Di sisi lain, para penguasa juga sangat rentan untuk berbuat bohong, di antaranya untuk menutupi suatu realita yang sebenarnya tidak esensial, tetapi menciderai kesempurnaan kekuasaannya. Sebagaimana yang terjadi pada raja-raja Mesir yang menutupi sejarah kepemimpinan seorang ratu, hanya karena ingin melegitimasi kepemimpinannya berbasis darah kerajaan murni. Hal ini terjadi pada berbagai rezim dan zaman.Namun, sejatinya seorang pemimpin tidak memerlukan kebohongan untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan sangat besar ancaman bagi seorang pemimpin yang berbohong. Nabi ﷺ bersabda,ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ“Ada tiga golongan manusia yang mereka nanti tidak akan diajak bicara oleh Allah ﷻ di hari kiamat kelak. Allah tidak akan menyucikan mereka, dan Allah tidak akan melihat mereka dengan penglihatan rahmat dari Allah ﷻ. Dan bagi mereka azab yang pedih. Tiga golongan itu adalah: 1) seorang tua yang berzina; 2) raja atau penguasa pendusta; 3) keluarga miskin yang sombong.” (HR. Muslim)Tidak hanya pemimpinnya, tetapi orang yang membantu pemimpin untuk berdusta dan curang akan mendapatkan ancaman besar. Nabi ﷺ bersabda,إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan disahihkan Al-Albani)Sebaliknya, dalam hadis ini disebutkan, orang yang tidak mendukung kezaliman dan kedustaan itu, niscaya akan mendapatkan kesempatan menyeruput air dari telaga Nabi ﷺ.Cintailah kejujuran dan orang jujurCintailah orang-orang yang baik dan yang jujur. Muliakanlah orang-orang yang mulia dengan benar. Kasihilah orang-orang yang lemah. Sambunglah silaturahmi. Usahakanlah dengan itu untuk dapat melihat wajah Allah Yang Mahatinggi dan memuliakan perintah-Nya. Carilah di dalamnya pahala-Nya dan kampung akhirat.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk menjaga keadilan bersikap. Thahir akan banyak mengulangi wasiat bersikap adil dalam banyak konteks ke depannya. Tidak lupa selalu wasiat itu dilengkapi dengan pengingat agar senantiasa ikhlas dalam menjalankannya. Karena tiada manfaat dari amal yang berat sekalipun dikerjakan jika tidak dilandasi dengan keimanan yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaTetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timWasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahJangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongCintailah kejujuran dan orang jujurTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaولا تتهمن أحدا من الناس فيما توليه من عملك قبل أن تكشف أمره“Janganlah engkau mencurigai siapapun yang bekerja untukmu terkait tugas yang telah engkau percayakan kepadanya, sebelum engkau memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.”Mencurigai orang-orang yang tak bersalah dan berprasangka buruk kepada mereka merupakan perbuatan dosa. Maka, jadikanlah berbaik sangka kepada teman-temanmu sebagai bagian dari tugasmu. Buanglah suuzhan (berprasangka buruk) kepada mereka, niscaya itu akan membantumu meningkatkan kemampuan mereka.Jangan biarkan setan, musuh Allah, menemukan jalan masuk ke dalam urusanmu. Sedikit saja kelemahanmu itu sudah cukup bagi setan. Dia akan memasukkan semacam kesedihan kepada dirimu melalui sikap berburuk sangka terhadap mereka, sehingga itu akan mengganggu kenyamanan hidupmu. واعلم أنك تجد بحسن الظن قوة وراحة وتكفى به ما أحببت كفايته من أمورك وتدعو به الناس إلى محبتك والاستقامة في الأمور كلها لك“Ketahuilah bahwa berbaik sangka akan memberimu kekuatan dan ketenteraman. Dengan berhusnuzan, engkau akan terbantu dalam menangani berbagai urusan yang ingin engkau selesaikan. Dan dengannya pula, manusia akan terdorong untuk mencintaimu serta bersikap lurus dan baik dalam seluruh hubungan mereka denganmu.”Nasihat Thahir ini relevan dengan saran para ahli bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberikan kepercayaan kepada timnya untuk mengerjakan amanahnya. Apabila seorang pemimpin tidak mempercayai timnya, ini justru melahirkan langkah yang tidak baik dalam manajemen yang disebut micro-management. Ini adalah tindakan pemimpin yang terlalu mengatur urusan dan kreativitas timnya dalam bekerja. Tindakan micro-managing selalu berakhir pada hasil kerja yang tidak optimal.Tetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timPanduan manajemen tim ini dilengkapi lagi dalam wasiat Thahir berikut ini:“Jangan biarkan sikap baik sangkamu kepada orang-orang di sekitarmu dan rasa sayangmu kepada rakyatmu mencegahmu untuk bertanya dan memeriksa urusanmu. Menangani langsung masalah-masalah yang tak tertangani oleh para pejabatmu, melindungi rakyat, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menanggung keperluan mereka, itu bagimu lebih mudah dari apa pun. Sesungguhnya hal itu lebih membantu penegakan agama dan lebih menghidupkan sunah Nabi.”Prinsip yang dibawakan Tahir ini adalah asas kepercayaan + asas memudahkan siapapun. Karena memudahkan urusan tim yang kesulitan, jika kita memang mampu, adalah refleksi dari sunah Nabi ﷺ.مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ“Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Thahir melanjutkan wasiatnya:“Ikhlaskanlah niatmu dalam semua ini. Berilah perhatian khusus untuk meningkatkan dirimu sebagai pribadi, yang menyadari bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, bahwa dia akan diberi pahala untuk perbuatan baiknya, dan akan dihukum karena perbuatan buruknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menjadikan agama sebagai perlindungan dan kekuatan. Dia mengangkat orang yang mengikuti dan memuliakan-Nya.”Wasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahOleh karena itu, berjalanlah bersama orang yang engkau pimpin dan engkau urus melalui jalur agama dan metode petunjuk. Terapkan hukuman hudud terhadap para penjahat sesuai tingkatan mereka dan apa yang layak bagi mereka. Jangan abaikan hal itu, dan jangan meremehkannya. Janganlah engkau menunda hukuman orang-orang yang harus dihukum. Jika engkau gagal dalam hal ini, citra baikmu akan rusak.واعزم على أمرك في ذلك بالسنن المعروفة وجانب الشبه والبدعات يسلم لك دينك وتقم لك مروءتك“Dalam hal ini, pastikan tindakanmu dipandu oleh sunah yang dikenal. Hindarilah bid’ah dan syubhat, sehingga agamamu selamat bagimu dan kehormatanmu tegak.”Jika engkau telah mengikat suatu perjanjian, penuhilah. Jika engkau telah berjanji berbuat baik, laksanakanlah. Terimalah kebaikan dan balaslah dengan kebaikan pula. Tutup matamu dari melihat cacat yang mungkin dimiliki rakyatmu.Jangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongTahan lidahmu dari ucapan bohong dan palsu. Bencilah orang-orang yang suka memfitnah. Sesungguhnya awal kegagalan urusanmu, baik di dunia ini maupun di akhirat, terjadi setelah engkau memberikan akses kepada pembohong atau berani berbohong. Sebab, berbohong adalah pangkal segala dosa, sementara fitnah dan adu domba merupakan ujungnya. Fitnah tidak akan membuat selamat orang yang melakukannya dan yang mengatakannya. Teman yang mendengarkan fitnah tidak akan selamat. Urusan orang yang suka memfitnah pun tidak akan bekerja dengan baik .Wasiat ini sangatlah relevan dengan zaman ini. Banyak sekali berita bohong yang tersebar di masyarakat, apalagi yang sampai kepada para pemimpin. Maka, seorang pemimpin hendaklah berhati-hati jangan sampai melakukan dua hal:Pertama: Menerima kabar bohong dan bertindak berdasarkan itu;Kedua: Memproduksi kebohongan.Seorang pemimpin harus memiliki perangkat untuk tatsabbut dan tabayyun. Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Pelajari masalah prinsip ini pada artikel, “Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan”Telah berlalu dari zaman ke zaman, para penjilat di sekitar penguasa akan mereproduksi kabar agar sesuai dengan hasrat si penjilat sehingga kepentingannya terpenuhi. Sebagaimana yang terjadi dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang menyebabkan mereka dihukum oleh para penguasa karena bisikan ulama suu’.Di sisi lain, para penguasa juga sangat rentan untuk berbuat bohong, di antaranya untuk menutupi suatu realita yang sebenarnya tidak esensial, tetapi menciderai kesempurnaan kekuasaannya. Sebagaimana yang terjadi pada raja-raja Mesir yang menutupi sejarah kepemimpinan seorang ratu, hanya karena ingin melegitimasi kepemimpinannya berbasis darah kerajaan murni. Hal ini terjadi pada berbagai rezim dan zaman.Namun, sejatinya seorang pemimpin tidak memerlukan kebohongan untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan sangat besar ancaman bagi seorang pemimpin yang berbohong. Nabi ﷺ bersabda,ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ“Ada tiga golongan manusia yang mereka nanti tidak akan diajak bicara oleh Allah ﷻ di hari kiamat kelak. Allah tidak akan menyucikan mereka, dan Allah tidak akan melihat mereka dengan penglihatan rahmat dari Allah ﷻ. Dan bagi mereka azab yang pedih. Tiga golongan itu adalah: 1) seorang tua yang berzina; 2) raja atau penguasa pendusta; 3) keluarga miskin yang sombong.” (HR. Muslim)Tidak hanya pemimpinnya, tetapi orang yang membantu pemimpin untuk berdusta dan curang akan mendapatkan ancaman besar. Nabi ﷺ bersabda,إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan disahihkan Al-Albani)Sebaliknya, dalam hadis ini disebutkan, orang yang tidak mendukung kezaliman dan kedustaan itu, niscaya akan mendapatkan kesempatan menyeruput air dari telaga Nabi ﷺ.Cintailah kejujuran dan orang jujurCintailah orang-orang yang baik dan yang jujur. Muliakanlah orang-orang yang mulia dengan benar. Kasihilah orang-orang yang lemah. Sambunglah silaturahmi. Usahakanlah dengan itu untuk dapat melihat wajah Allah Yang Mahatinggi dan memuliakan perintah-Nya. Carilah di dalamnya pahala-Nya dan kampung akhirat.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk menjaga keadilan bersikap. Thahir akan banyak mengulangi wasiat bersikap adil dalam banyak konteks ke depannya. Tidak lupa selalu wasiat itu dilengkapi dengan pengingat agar senantiasa ikhlas dalam menjalankannya. Karena tiada manfaat dari amal yang berat sekalipun dikerjakan jika tidak dilandasi dengan keimanan yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaTetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timWasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahJangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongCintailah kejujuran dan orang jujurTidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun harus menaruh kepercayaan kepada bawahannyaولا تتهمن أحدا من الناس فيما توليه من عملك قبل أن تكشف أمره“Janganlah engkau mencurigai siapapun yang bekerja untukmu terkait tugas yang telah engkau percayakan kepadanya, sebelum engkau memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.”Mencurigai orang-orang yang tak bersalah dan berprasangka buruk kepada mereka merupakan perbuatan dosa. Maka, jadikanlah berbaik sangka kepada teman-temanmu sebagai bagian dari tugasmu. Buanglah suuzhan (berprasangka buruk) kepada mereka, niscaya itu akan membantumu meningkatkan kemampuan mereka.Jangan biarkan setan, musuh Allah, menemukan jalan masuk ke dalam urusanmu. Sedikit saja kelemahanmu itu sudah cukup bagi setan. Dia akan memasukkan semacam kesedihan kepada dirimu melalui sikap berburuk sangka terhadap mereka, sehingga itu akan mengganggu kenyamanan hidupmu. واعلم أنك تجد بحسن الظن قوة وراحة وتكفى به ما أحببت كفايته من أمورك وتدعو به الناس إلى محبتك والاستقامة في الأمور كلها لك“Ketahuilah bahwa berbaik sangka akan memberimu kekuatan dan ketenteraman. Dengan berhusnuzan, engkau akan terbantu dalam menangani berbagai urusan yang ingin engkau selesaikan. Dan dengannya pula, manusia akan terdorong untuk mencintaimu serta bersikap lurus dan baik dalam seluruh hubungan mereka denganmu.”Nasihat Thahir ini relevan dengan saran para ahli bidang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberikan kepercayaan kepada timnya untuk mengerjakan amanahnya. Apabila seorang pemimpin tidak mempercayai timnya, ini justru melahirkan langkah yang tidak baik dalam manajemen yang disebut micro-management. Ini adalah tindakan pemimpin yang terlalu mengatur urusan dan kreativitas timnya dalam bekerja. Tindakan micro-managing selalu berakhir pada hasil kerja yang tidak optimal.Tetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam timPanduan manajemen tim ini dilengkapi lagi dalam wasiat Thahir berikut ini:“Jangan biarkan sikap baik sangkamu kepada orang-orang di sekitarmu dan rasa sayangmu kepada rakyatmu mencegahmu untuk bertanya dan memeriksa urusanmu. Menangani langsung masalah-masalah yang tak tertangani oleh para pejabatmu, melindungi rakyat, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menanggung keperluan mereka, itu bagimu lebih mudah dari apa pun. Sesungguhnya hal itu lebih membantu penegakan agama dan lebih menghidupkan sunah Nabi.”Prinsip yang dibawakan Tahir ini adalah asas kepercayaan + asas memudahkan siapapun. Karena memudahkan urusan tim yang kesulitan, jika kita memang mampu, adalah refleksi dari sunah Nabi ﷺ.مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ“Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Thahir melanjutkan wasiatnya:“Ikhlaskanlah niatmu dalam semua ini. Berilah perhatian khusus untuk meningkatkan dirimu sebagai pribadi, yang menyadari bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, bahwa dia akan diberi pahala untuk perbuatan baiknya, dan akan dihukum karena perbuatan buruknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menjadikan agama sebagai perlindungan dan kekuatan. Dia mengangkat orang yang mengikuti dan memuliakan-Nya.”Wasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidahOleh karena itu, berjalanlah bersama orang yang engkau pimpin dan engkau urus melalui jalur agama dan metode petunjuk. Terapkan hukuman hudud terhadap para penjahat sesuai tingkatan mereka dan apa yang layak bagi mereka. Jangan abaikan hal itu, dan jangan meremehkannya. Janganlah engkau menunda hukuman orang-orang yang harus dihukum. Jika engkau gagal dalam hal ini, citra baikmu akan rusak.واعزم على أمرك في ذلك بالسنن المعروفة وجانب الشبه والبدعات يسلم لك دينك وتقم لك مروءتك“Dalam hal ini, pastikan tindakanmu dipandu oleh sunah yang dikenal. Hindarilah bid’ah dan syubhat, sehingga agamamu selamat bagimu dan kehormatanmu tegak.”Jika engkau telah mengikat suatu perjanjian, penuhilah. Jika engkau telah berjanji berbuat baik, laksanakanlah. Terimalah kebaikan dan balaslah dengan kebaikan pula. Tutup matamu dari melihat cacat yang mungkin dimiliki rakyatmu.Jangan berbohong dan hati-hati dari para pembohongTahan lidahmu dari ucapan bohong dan palsu. Bencilah orang-orang yang suka memfitnah. Sesungguhnya awal kegagalan urusanmu, baik di dunia ini maupun di akhirat, terjadi setelah engkau memberikan akses kepada pembohong atau berani berbohong. Sebab, berbohong adalah pangkal segala dosa, sementara fitnah dan adu domba merupakan ujungnya. Fitnah tidak akan membuat selamat orang yang melakukannya dan yang mengatakannya. Teman yang mendengarkan fitnah tidak akan selamat. Urusan orang yang suka memfitnah pun tidak akan bekerja dengan baik .Wasiat ini sangatlah relevan dengan zaman ini. Banyak sekali berita bohong yang tersebar di masyarakat, apalagi yang sampai kepada para pemimpin. Maka, seorang pemimpin hendaklah berhati-hati jangan sampai melakukan dua hal:Pertama: Menerima kabar bohong dan bertindak berdasarkan itu;Kedua: Memproduksi kebohongan.Seorang pemimpin harus memiliki perangkat untuk tatsabbut dan tabayyun. Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Pelajari masalah prinsip ini pada artikel, “Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan”Telah berlalu dari zaman ke zaman, para penjilat di sekitar penguasa akan mereproduksi kabar agar sesuai dengan hasrat si penjilat sehingga kepentingannya terpenuhi. Sebagaimana yang terjadi dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang menyebabkan mereka dihukum oleh para penguasa karena bisikan ulama suu’.Di sisi lain, para penguasa juga sangat rentan untuk berbuat bohong, di antaranya untuk menutupi suatu realita yang sebenarnya tidak esensial, tetapi menciderai kesempurnaan kekuasaannya. Sebagaimana yang terjadi pada raja-raja Mesir yang menutupi sejarah kepemimpinan seorang ratu, hanya karena ingin melegitimasi kepemimpinannya berbasis darah kerajaan murni. Hal ini terjadi pada berbagai rezim dan zaman.Namun, sejatinya seorang pemimpin tidak memerlukan kebohongan untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan sangat besar ancaman bagi seorang pemimpin yang berbohong. Nabi ﷺ bersabda,ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ“Ada tiga golongan manusia yang mereka nanti tidak akan diajak bicara oleh Allah ﷻ di hari kiamat kelak. Allah tidak akan menyucikan mereka, dan Allah tidak akan melihat mereka dengan penglihatan rahmat dari Allah ﷻ. Dan bagi mereka azab yang pedih. Tiga golongan itu adalah: 1) seorang tua yang berzina; 2) raja atau penguasa pendusta; 3) keluarga miskin yang sombong.” (HR. Muslim)Tidak hanya pemimpinnya, tetapi orang yang membantu pemimpin untuk berdusta dan curang akan mendapatkan ancaman besar. Nabi ﷺ bersabda,إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan disahihkan Al-Albani)Sebaliknya, dalam hadis ini disebutkan, orang yang tidak mendukung kezaliman dan kedustaan itu, niscaya akan mendapatkan kesempatan menyeruput air dari telaga Nabi ﷺ.Cintailah kejujuran dan orang jujurCintailah orang-orang yang baik dan yang jujur. Muliakanlah orang-orang yang mulia dengan benar. Kasihilah orang-orang yang lemah. Sambunglah silaturahmi. Usahakanlah dengan itu untuk dapat melihat wajah Allah Yang Mahatinggi dan memuliakan perintah-Nya. Carilah di dalamnya pahala-Nya dan kampung akhirat.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk menjaga keadilan bersikap. Thahir akan banyak mengulangi wasiat bersikap adil dalam banyak konteks ke depannya. Tidak lupa selalu wasiat itu dilengkapi dengan pengingat agar senantiasa ikhlas dalam menjalankannya. Karena tiada manfaat dari amal yang berat sekalipun dikerjakan jika tidak dilandasi dengan keimanan yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

JANGAN SEMBARANG PILIH TEMAN! 6 TIPE ORANG YANG SEBAIKNYA DIJAUHI

Penulis nazam berkata, “Dimakruhkan bagi seseorang duduk bersama orang yang rendah perangainya, bersama orang fasik, atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Sekarang beliau menyebutkan beberapa golongan yang dimakruhkan untuk dijadikan teman duduk dan sahabat, karena mereka dapat memengaruhi orang yang duduk bersama mereka. Di antara mereka adalah orang yang rendah perangainya, yakni buruk tindak-tanduknya, yang mengandung kerendahan, kehinaan, dan keburukan budi, perilakunya buruk, serta rendah dalam ucapan maupun perbuatan. “Dan bersama orang fasik.” Kata “dzi” berarti pemilik, yakni orang yang memang dikenal dengan kefasikannya. Kefasikan adalah keluar dari ketaatan. “Atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Yakni orang yang memiliki sifat riya yang buruk. Juga, orang yang dikenal suka berbuat riya, Cinta sum’ah (ingin didengar orang) dan ketenaran, misalnya, serta hal-hal semacam itu, dan melakukan berbagai amalan secara dibuat-buat agar dipuji dan disanjung. Orang seperti ini juga dapat memengaruhi teman duduknya, sehingga bisa jadi ia menirunya dan melakukan hal yang sama. “Begitu pula bersama orang yang sakhif.” Maksudnya, duduk bersama orang yang sakhif. Siapakah orang yang sakhif? Beliau berkata, “Yaitu orang yang lemah akalnya,” yakni akalnya dangkal. Seperti dikatakan, “Ada kelemahan pada akalnya.” Orang yang sakhif adalah orang yang lemah akalnya, yakni ada kelemahan pada akalnya, yang terlihat dari tindak-tanduknya. “Begitu pula bersama orang yang sakhif, yaitu orang yang lemah akalnya.” “Dan bersama pemain catur, nard, dan permainan buruk sejenis.” Catur adalah permainan yang sudah dikenal, yang dimainkan di atas papan kayu atau sejenisnya, lalu di atasnya diletakkan bidak-bidak berbentuk raja, misalnya, gajah, syah (raja), dan semacamnya. Kemudian dua orang saling berhadapan dan memainkan permainan tersebut. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sekelompok orang yang sedang memainkannya, lalu beliau berkata, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (Lihat QS. Al-Anbiya: 52). Sebab, bidak-bidak itu berupa patung-patung: patung berbentuk gajah, patung berbentuk raja, patung berbentuk prajurit, dan seterusnya. Dan mereka menghabiskan waktu untuk menekuninya. Para ulama salaf rahimahumullah bahkan menulis kitab-kitab khusus. Di antaranya Al-Ajurri rahimahullah yang menulis tentang celaan terhadap nard dan catur. Nard adalah permainan yang pada zaman kita di sebagian negeri dikenal dengan nama ath-thawilah (backgammon). Permainan ini terdiri dari bidak-bidak dan sebuah dadu, yaitu benda yang memiliki angka pada keenam sisinya. Pada satu sisi terdapat angka satu, pada sisi lainnya angka dua, pada sisi lainnya angka tiga, dan seterusnya. Kemudian dadu itu dilempar, lalu berlangsunglah kompetisi antara kedua pemain di sekitar papan tersebut. Dan sering kali pertandingan catur itu disertai dengan perjudian, dengan masing-masing pihak mengeluarkan taruhan. Salah seorang berkata, “Jika engkau mengalahkanku, engkau membayar sekian, dan jika aku mengalahkanmu, aku membayar sekian.” Hal semacam itu juga terjadi pada catur. Maka, ini merupakan keburukan di atas keburukan dan kejelekan di atas kejelekan. “Dan yang buruk,” dengan kata ini beliau rahimahullah mengisyaratkan berbagai permainan sejenis yang menyerupai dan semisal dengannya. Beliau rahimahullah berkata, “Dan orang yang dicurigai,” yakni duduk bersama orang yang dicurigai dalam urusan agamanya. Yakni orang yang jelas dicurigai karena bid’ah, kesesatan, penyimpangan, atau semisalnya dalam agamanya. “Atau dalam urusan kehormatannya.” Yang pertama berkaitan dengan akidah, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perilaku. “Kehormatannya,” yakni orang yang dicurigai melakukan perbuatan keji, perbuatan hina, dan semacamnya. “Bersama orang yang dicurigai dalam agamanya atau kehormatannya. Demikianlah fatwa Ibnu Hamdan, maka ikutilah dan teladanilah beliau.” Ibnu Hamdan adalah Ahmad bin Hamdan An-Numairi Al-Harrani, seorang ahli fikih Mazhab Hambali rahimahullah. Beliau memiliki dua kitab berjudul Ar-Ri’ayah, yaitu Ar-Ri’ayah Al-Kubra dan Ar-Ri’ayah Ash-Shughra. Barangkali beliau rahimahullah menyebutkan hal tersebut dalam kitabnya, Ar-Ri’ayah. ===== يَقُولُ النَّاظِمُ: وَيُكْرَهُ لِلْمَرْءِ الْجُلُوسُ مَعَ امْرِئٍ دَنِيءٍ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي الْآنَ يُعَدِّدُ أَصْنَافًا تُكْرَهُ مُجَالَسَتُهُمْ وَمُصَاحَبَتُهُمْ لِمَا فِيهَا مِنْ تَأْثِيرٍ عَلَى الْمُجَالِسِ مِنْ هَؤُلَاءِ: الْمَرْءُ الدَّنِيءُ يَعْنِي تَصَرُّفَاتُهُ دَنِيئَةٌ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْخِسَّةِ وَالْحَقَارَةِ وَاللُّؤْمِ سُوءُ التَّصَرُّفِ دَنَاءَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ أَوِ الدَّنَاءَةُ فِي الْأَفْعَالِ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ ذِي بِمَعْنَى صَاحِبٍ أَيْ صَاحِبِ الْفِسْقِ الَّذِي يُعْرَفُ بِالْفِسْقِ وَالْفِسْقُ هُوَ الْخُرُوجُ عَنِ الطَّاعَةِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي أَيْ صَاحِبِ الرِّيَاءِ الرَّدِيءِ أَيْضًا مَنْ كَانَ هَذَا شَأْنُهُ يُعْرَفُ عَنْهُ الْمُرَاءَاةُ وَحُبُّ مَثَلًا السُّمْعَةِ وَالشُّهْرَةِ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَيَتَصَنَّعُ بِأَعْمَالٍ لِيُحْمَدَ عَلَيْهَا وَيُمْدَحَ أَيْضًا مِثْلُ هَذَا يُؤَثِّرُ فِي مُجَالِسِهِ رُبَّمَا تَشَبَّهَ بِهِ وَفَعَلَ مِثْلَهُ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ يَعْنِي الْجُلُوسُ مَعَ السَّخِيفِ مَنْ هُوَ السَّخِيفُ؟ قَالَ: وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ يَعْنِي أَصْبَحَ عَقْلُهُ رَقِيقًا مِثْلَ مَا يُقَالُ: فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ السَّخِيفُ الَّذِي رَقَّ عَقْلُهُ أَيْ فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ تُعْرَفُ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ وَمَعَ لَاعِبِ الشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ وَالرَّدِي الشِّطْرَنْجُ لُعْبَةٌ مَعْرُوفَةٌ تُلْعَبُ عَلَى رُقْعَةٍ مِنَ الْخَشَبِ وَنَحْوِهِ وَيُوضَعُ عَلَيْهَا مُجَسَّمَاتٌ عَلَى هَيْئَةِ الْمَلِكِ مَثَلًا وَالْفِيلِ وَالشَّاهِ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ ثُمَّ يَتَقَابَلُ اثْنَانِ وَيَلْعَبَانِ هَذِهِ اللُّعْبَةَ وَقَدْ مَرَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى أُنَاسٍ يَلْعَبُونَهَا فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ لِأَنَّهَا هِيَ أَصْنَامٌ صَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ فِيلٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ مَلِكٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ جُنْدِيٍّ وَهَكَذَا وَيَعْكُفُونَ عَلَيْهَا وَقْتًا وَالسَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ أَلَّفُوا كُتُبًا خَاصَّةً مِنْهُمُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي ذَمِّ النَّرْدِ وَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدُ لُعْبَةٌ تُعْرَفُ فِي زَمَانِنَا هَذَا بِبَعْضِ الْبُلْدَانِ بِلُعْبَةِ الطَّاوِلَةِ لُعْبَةٌ تَتَكَوَّنُ مِنْ قِطَعٍ مَثَلًا وَحَجَرٍ أَوْ شَيْءٍ فِيهِ أَرْقَامٌ عَلَى جَوَانِبِهِ السِّتَّةِ عَلَى جَانِبٍ رَقْمُ وَاحِدٍ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ اثْنَيْنِ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ ثَلَاثَةٍ وَهَكَذَا ثُمَّ تُرْمَى هَذِهِ وَيُصْبِحُ مُنَافَسَةً بَيْنَ اللَّاعِبَيْنِ أَوْ حَوْلَ هَذِهِ الطَّاوِلَةِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُنَافَسَةُ عَلَى قِمَارٍ فِي الْغَالِبِ بِحَيْثُ يَدْفَعُ هَذَا وَهَذَا يَقُولُ لَهُ: إِنْ غَلَبْتَنِي تَدْفَعُ كَذَا وَإِنْ غَلَبْتُكَ أَدْفَعُ كَذَا وَمِثْلُهُ أَيْضًا فِي الشِّطْرَنْجِ فَهَذَا سُوءٌ عَلَى سُوءٍ وَشَرٌّ عَلَى شَرٍّ وَالرَّدِي يُشِيرُ بِهِ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى مَا شَاكَلَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْعَابِ الَّتِي تُشْبِهُ هَذَا وَتُضَاهِيهِ وَتُمَاثِلُهُ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمُتَّهَمٌ أَيْ وَمَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ يَعْنِي مُتَّهَمٌ تُهْمَةً وَاضِحَةً بِبِدَعٍ أَوْ ضَلَالَاتٍ أَوْ انْحِرَافَاتٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ الْأَوَّلُ يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ وَالثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِالسُّلُوكِ عِرْضِهِ أَيْ مُتَّهَمٌ بِالْفَوَاحِشِ وَالرَّذَائِلِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ… بِهِ أَفْتَى ابْنُ حَمْدَانَ فَتَابِعْهُ وَاقْتَدِ ابْنُ حَمْدَانَ هُوَ أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ النُّمَيْرِيُّ الْحَرَّانِيُّ الْفَقِيهُ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ كِتَابَانِ بِعُنْوَانِ الرِّعَايَةِ الرِّعَايَةُ الْكُبْرَى وَالرِّعَايَةُ الصُّغْرَى وَلَعَلَّ ذَلِكَ ذَكَرَهُ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ الرِّعَايَةِ

JANGAN SEMBARANG PILIH TEMAN! 6 TIPE ORANG YANG SEBAIKNYA DIJAUHI

Penulis nazam berkata, “Dimakruhkan bagi seseorang duduk bersama orang yang rendah perangainya, bersama orang fasik, atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Sekarang beliau menyebutkan beberapa golongan yang dimakruhkan untuk dijadikan teman duduk dan sahabat, karena mereka dapat memengaruhi orang yang duduk bersama mereka. Di antara mereka adalah orang yang rendah perangainya, yakni buruk tindak-tanduknya, yang mengandung kerendahan, kehinaan, dan keburukan budi, perilakunya buruk, serta rendah dalam ucapan maupun perbuatan. “Dan bersama orang fasik.” Kata “dzi” berarti pemilik, yakni orang yang memang dikenal dengan kefasikannya. Kefasikan adalah keluar dari ketaatan. “Atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Yakni orang yang memiliki sifat riya yang buruk. Juga, orang yang dikenal suka berbuat riya, Cinta sum’ah (ingin didengar orang) dan ketenaran, misalnya, serta hal-hal semacam itu, dan melakukan berbagai amalan secara dibuat-buat agar dipuji dan disanjung. Orang seperti ini juga dapat memengaruhi teman duduknya, sehingga bisa jadi ia menirunya dan melakukan hal yang sama. “Begitu pula bersama orang yang sakhif.” Maksudnya, duduk bersama orang yang sakhif. Siapakah orang yang sakhif? Beliau berkata, “Yaitu orang yang lemah akalnya,” yakni akalnya dangkal. Seperti dikatakan, “Ada kelemahan pada akalnya.” Orang yang sakhif adalah orang yang lemah akalnya, yakni ada kelemahan pada akalnya, yang terlihat dari tindak-tanduknya. “Begitu pula bersama orang yang sakhif, yaitu orang yang lemah akalnya.” “Dan bersama pemain catur, nard, dan permainan buruk sejenis.” Catur adalah permainan yang sudah dikenal, yang dimainkan di atas papan kayu atau sejenisnya, lalu di atasnya diletakkan bidak-bidak berbentuk raja, misalnya, gajah, syah (raja), dan semacamnya. Kemudian dua orang saling berhadapan dan memainkan permainan tersebut. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sekelompok orang yang sedang memainkannya, lalu beliau berkata, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (Lihat QS. Al-Anbiya: 52). Sebab, bidak-bidak itu berupa patung-patung: patung berbentuk gajah, patung berbentuk raja, patung berbentuk prajurit, dan seterusnya. Dan mereka menghabiskan waktu untuk menekuninya. Para ulama salaf rahimahumullah bahkan menulis kitab-kitab khusus. Di antaranya Al-Ajurri rahimahullah yang menulis tentang celaan terhadap nard dan catur. Nard adalah permainan yang pada zaman kita di sebagian negeri dikenal dengan nama ath-thawilah (backgammon). Permainan ini terdiri dari bidak-bidak dan sebuah dadu, yaitu benda yang memiliki angka pada keenam sisinya. Pada satu sisi terdapat angka satu, pada sisi lainnya angka dua, pada sisi lainnya angka tiga, dan seterusnya. Kemudian dadu itu dilempar, lalu berlangsunglah kompetisi antara kedua pemain di sekitar papan tersebut. Dan sering kali pertandingan catur itu disertai dengan perjudian, dengan masing-masing pihak mengeluarkan taruhan. Salah seorang berkata, “Jika engkau mengalahkanku, engkau membayar sekian, dan jika aku mengalahkanmu, aku membayar sekian.” Hal semacam itu juga terjadi pada catur. Maka, ini merupakan keburukan di atas keburukan dan kejelekan di atas kejelekan. “Dan yang buruk,” dengan kata ini beliau rahimahullah mengisyaratkan berbagai permainan sejenis yang menyerupai dan semisal dengannya. Beliau rahimahullah berkata, “Dan orang yang dicurigai,” yakni duduk bersama orang yang dicurigai dalam urusan agamanya. Yakni orang yang jelas dicurigai karena bid’ah, kesesatan, penyimpangan, atau semisalnya dalam agamanya. “Atau dalam urusan kehormatannya.” Yang pertama berkaitan dengan akidah, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perilaku. “Kehormatannya,” yakni orang yang dicurigai melakukan perbuatan keji, perbuatan hina, dan semacamnya. “Bersama orang yang dicurigai dalam agamanya atau kehormatannya. Demikianlah fatwa Ibnu Hamdan, maka ikutilah dan teladanilah beliau.” Ibnu Hamdan adalah Ahmad bin Hamdan An-Numairi Al-Harrani, seorang ahli fikih Mazhab Hambali rahimahullah. Beliau memiliki dua kitab berjudul Ar-Ri’ayah, yaitu Ar-Ri’ayah Al-Kubra dan Ar-Ri’ayah Ash-Shughra. Barangkali beliau rahimahullah menyebutkan hal tersebut dalam kitabnya, Ar-Ri’ayah. ===== يَقُولُ النَّاظِمُ: وَيُكْرَهُ لِلْمَرْءِ الْجُلُوسُ مَعَ امْرِئٍ دَنِيءٍ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي الْآنَ يُعَدِّدُ أَصْنَافًا تُكْرَهُ مُجَالَسَتُهُمْ وَمُصَاحَبَتُهُمْ لِمَا فِيهَا مِنْ تَأْثِيرٍ عَلَى الْمُجَالِسِ مِنْ هَؤُلَاءِ: الْمَرْءُ الدَّنِيءُ يَعْنِي تَصَرُّفَاتُهُ دَنِيئَةٌ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْخِسَّةِ وَالْحَقَارَةِ وَاللُّؤْمِ سُوءُ التَّصَرُّفِ دَنَاءَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ أَوِ الدَّنَاءَةُ فِي الْأَفْعَالِ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ ذِي بِمَعْنَى صَاحِبٍ أَيْ صَاحِبِ الْفِسْقِ الَّذِي يُعْرَفُ بِالْفِسْقِ وَالْفِسْقُ هُوَ الْخُرُوجُ عَنِ الطَّاعَةِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي أَيْ صَاحِبِ الرِّيَاءِ الرَّدِيءِ أَيْضًا مَنْ كَانَ هَذَا شَأْنُهُ يُعْرَفُ عَنْهُ الْمُرَاءَاةُ وَحُبُّ مَثَلًا السُّمْعَةِ وَالشُّهْرَةِ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَيَتَصَنَّعُ بِأَعْمَالٍ لِيُحْمَدَ عَلَيْهَا وَيُمْدَحَ أَيْضًا مِثْلُ هَذَا يُؤَثِّرُ فِي مُجَالِسِهِ رُبَّمَا تَشَبَّهَ بِهِ وَفَعَلَ مِثْلَهُ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ يَعْنِي الْجُلُوسُ مَعَ السَّخِيفِ مَنْ هُوَ السَّخِيفُ؟ قَالَ: وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ يَعْنِي أَصْبَحَ عَقْلُهُ رَقِيقًا مِثْلَ مَا يُقَالُ: فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ السَّخِيفُ الَّذِي رَقَّ عَقْلُهُ أَيْ فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ تُعْرَفُ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ وَمَعَ لَاعِبِ الشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ وَالرَّدِي الشِّطْرَنْجُ لُعْبَةٌ مَعْرُوفَةٌ تُلْعَبُ عَلَى رُقْعَةٍ مِنَ الْخَشَبِ وَنَحْوِهِ وَيُوضَعُ عَلَيْهَا مُجَسَّمَاتٌ عَلَى هَيْئَةِ الْمَلِكِ مَثَلًا وَالْفِيلِ وَالشَّاهِ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ ثُمَّ يَتَقَابَلُ اثْنَانِ وَيَلْعَبَانِ هَذِهِ اللُّعْبَةَ وَقَدْ مَرَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى أُنَاسٍ يَلْعَبُونَهَا فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ لِأَنَّهَا هِيَ أَصْنَامٌ صَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ فِيلٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ مَلِكٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ جُنْدِيٍّ وَهَكَذَا وَيَعْكُفُونَ عَلَيْهَا وَقْتًا وَالسَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ أَلَّفُوا كُتُبًا خَاصَّةً مِنْهُمُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي ذَمِّ النَّرْدِ وَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدُ لُعْبَةٌ تُعْرَفُ فِي زَمَانِنَا هَذَا بِبَعْضِ الْبُلْدَانِ بِلُعْبَةِ الطَّاوِلَةِ لُعْبَةٌ تَتَكَوَّنُ مِنْ قِطَعٍ مَثَلًا وَحَجَرٍ أَوْ شَيْءٍ فِيهِ أَرْقَامٌ عَلَى جَوَانِبِهِ السِّتَّةِ عَلَى جَانِبٍ رَقْمُ وَاحِدٍ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ اثْنَيْنِ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ ثَلَاثَةٍ وَهَكَذَا ثُمَّ تُرْمَى هَذِهِ وَيُصْبِحُ مُنَافَسَةً بَيْنَ اللَّاعِبَيْنِ أَوْ حَوْلَ هَذِهِ الطَّاوِلَةِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُنَافَسَةُ عَلَى قِمَارٍ فِي الْغَالِبِ بِحَيْثُ يَدْفَعُ هَذَا وَهَذَا يَقُولُ لَهُ: إِنْ غَلَبْتَنِي تَدْفَعُ كَذَا وَإِنْ غَلَبْتُكَ أَدْفَعُ كَذَا وَمِثْلُهُ أَيْضًا فِي الشِّطْرَنْجِ فَهَذَا سُوءٌ عَلَى سُوءٍ وَشَرٌّ عَلَى شَرٍّ وَالرَّدِي يُشِيرُ بِهِ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى مَا شَاكَلَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْعَابِ الَّتِي تُشْبِهُ هَذَا وَتُضَاهِيهِ وَتُمَاثِلُهُ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمُتَّهَمٌ أَيْ وَمَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ يَعْنِي مُتَّهَمٌ تُهْمَةً وَاضِحَةً بِبِدَعٍ أَوْ ضَلَالَاتٍ أَوْ انْحِرَافَاتٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ الْأَوَّلُ يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ وَالثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِالسُّلُوكِ عِرْضِهِ أَيْ مُتَّهَمٌ بِالْفَوَاحِشِ وَالرَّذَائِلِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ… بِهِ أَفْتَى ابْنُ حَمْدَانَ فَتَابِعْهُ وَاقْتَدِ ابْنُ حَمْدَانَ هُوَ أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ النُّمَيْرِيُّ الْحَرَّانِيُّ الْفَقِيهُ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ كِتَابَانِ بِعُنْوَانِ الرِّعَايَةِ الرِّعَايَةُ الْكُبْرَى وَالرِّعَايَةُ الصُّغْرَى وَلَعَلَّ ذَلِكَ ذَكَرَهُ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ الرِّعَايَةِ
Penulis nazam berkata, “Dimakruhkan bagi seseorang duduk bersama orang yang rendah perangainya, bersama orang fasik, atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Sekarang beliau menyebutkan beberapa golongan yang dimakruhkan untuk dijadikan teman duduk dan sahabat, karena mereka dapat memengaruhi orang yang duduk bersama mereka. Di antara mereka adalah orang yang rendah perangainya, yakni buruk tindak-tanduknya, yang mengandung kerendahan, kehinaan, dan keburukan budi, perilakunya buruk, serta rendah dalam ucapan maupun perbuatan. “Dan bersama orang fasik.” Kata “dzi” berarti pemilik, yakni orang yang memang dikenal dengan kefasikannya. Kefasikan adalah keluar dari ketaatan. “Atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Yakni orang yang memiliki sifat riya yang buruk. Juga, orang yang dikenal suka berbuat riya, Cinta sum’ah (ingin didengar orang) dan ketenaran, misalnya, serta hal-hal semacam itu, dan melakukan berbagai amalan secara dibuat-buat agar dipuji dan disanjung. Orang seperti ini juga dapat memengaruhi teman duduknya, sehingga bisa jadi ia menirunya dan melakukan hal yang sama. “Begitu pula bersama orang yang sakhif.” Maksudnya, duduk bersama orang yang sakhif. Siapakah orang yang sakhif? Beliau berkata, “Yaitu orang yang lemah akalnya,” yakni akalnya dangkal. Seperti dikatakan, “Ada kelemahan pada akalnya.” Orang yang sakhif adalah orang yang lemah akalnya, yakni ada kelemahan pada akalnya, yang terlihat dari tindak-tanduknya. “Begitu pula bersama orang yang sakhif, yaitu orang yang lemah akalnya.” “Dan bersama pemain catur, nard, dan permainan buruk sejenis.” Catur adalah permainan yang sudah dikenal, yang dimainkan di atas papan kayu atau sejenisnya, lalu di atasnya diletakkan bidak-bidak berbentuk raja, misalnya, gajah, syah (raja), dan semacamnya. Kemudian dua orang saling berhadapan dan memainkan permainan tersebut. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sekelompok orang yang sedang memainkannya, lalu beliau berkata, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (Lihat QS. Al-Anbiya: 52). Sebab, bidak-bidak itu berupa patung-patung: patung berbentuk gajah, patung berbentuk raja, patung berbentuk prajurit, dan seterusnya. Dan mereka menghabiskan waktu untuk menekuninya. Para ulama salaf rahimahumullah bahkan menulis kitab-kitab khusus. Di antaranya Al-Ajurri rahimahullah yang menulis tentang celaan terhadap nard dan catur. Nard adalah permainan yang pada zaman kita di sebagian negeri dikenal dengan nama ath-thawilah (backgammon). Permainan ini terdiri dari bidak-bidak dan sebuah dadu, yaitu benda yang memiliki angka pada keenam sisinya. Pada satu sisi terdapat angka satu, pada sisi lainnya angka dua, pada sisi lainnya angka tiga, dan seterusnya. Kemudian dadu itu dilempar, lalu berlangsunglah kompetisi antara kedua pemain di sekitar papan tersebut. Dan sering kali pertandingan catur itu disertai dengan perjudian, dengan masing-masing pihak mengeluarkan taruhan. Salah seorang berkata, “Jika engkau mengalahkanku, engkau membayar sekian, dan jika aku mengalahkanmu, aku membayar sekian.” Hal semacam itu juga terjadi pada catur. Maka, ini merupakan keburukan di atas keburukan dan kejelekan di atas kejelekan. “Dan yang buruk,” dengan kata ini beliau rahimahullah mengisyaratkan berbagai permainan sejenis yang menyerupai dan semisal dengannya. Beliau rahimahullah berkata, “Dan orang yang dicurigai,” yakni duduk bersama orang yang dicurigai dalam urusan agamanya. Yakni orang yang jelas dicurigai karena bid’ah, kesesatan, penyimpangan, atau semisalnya dalam agamanya. “Atau dalam urusan kehormatannya.” Yang pertama berkaitan dengan akidah, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perilaku. “Kehormatannya,” yakni orang yang dicurigai melakukan perbuatan keji, perbuatan hina, dan semacamnya. “Bersama orang yang dicurigai dalam agamanya atau kehormatannya. Demikianlah fatwa Ibnu Hamdan, maka ikutilah dan teladanilah beliau.” Ibnu Hamdan adalah Ahmad bin Hamdan An-Numairi Al-Harrani, seorang ahli fikih Mazhab Hambali rahimahullah. Beliau memiliki dua kitab berjudul Ar-Ri’ayah, yaitu Ar-Ri’ayah Al-Kubra dan Ar-Ri’ayah Ash-Shughra. Barangkali beliau rahimahullah menyebutkan hal tersebut dalam kitabnya, Ar-Ri’ayah. ===== يَقُولُ النَّاظِمُ: وَيُكْرَهُ لِلْمَرْءِ الْجُلُوسُ مَعَ امْرِئٍ دَنِيءٍ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي الْآنَ يُعَدِّدُ أَصْنَافًا تُكْرَهُ مُجَالَسَتُهُمْ وَمُصَاحَبَتُهُمْ لِمَا فِيهَا مِنْ تَأْثِيرٍ عَلَى الْمُجَالِسِ مِنْ هَؤُلَاءِ: الْمَرْءُ الدَّنِيءُ يَعْنِي تَصَرُّفَاتُهُ دَنِيئَةٌ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْخِسَّةِ وَالْحَقَارَةِ وَاللُّؤْمِ سُوءُ التَّصَرُّفِ دَنَاءَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ أَوِ الدَّنَاءَةُ فِي الْأَفْعَالِ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ ذِي بِمَعْنَى صَاحِبٍ أَيْ صَاحِبِ الْفِسْقِ الَّذِي يُعْرَفُ بِالْفِسْقِ وَالْفِسْقُ هُوَ الْخُرُوجُ عَنِ الطَّاعَةِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي أَيْ صَاحِبِ الرِّيَاءِ الرَّدِيءِ أَيْضًا مَنْ كَانَ هَذَا شَأْنُهُ يُعْرَفُ عَنْهُ الْمُرَاءَاةُ وَحُبُّ مَثَلًا السُّمْعَةِ وَالشُّهْرَةِ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَيَتَصَنَّعُ بِأَعْمَالٍ لِيُحْمَدَ عَلَيْهَا وَيُمْدَحَ أَيْضًا مِثْلُ هَذَا يُؤَثِّرُ فِي مُجَالِسِهِ رُبَّمَا تَشَبَّهَ بِهِ وَفَعَلَ مِثْلَهُ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ يَعْنِي الْجُلُوسُ مَعَ السَّخِيفِ مَنْ هُوَ السَّخِيفُ؟ قَالَ: وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ يَعْنِي أَصْبَحَ عَقْلُهُ رَقِيقًا مِثْلَ مَا يُقَالُ: فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ السَّخِيفُ الَّذِي رَقَّ عَقْلُهُ أَيْ فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ تُعْرَفُ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ وَمَعَ لَاعِبِ الشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ وَالرَّدِي الشِّطْرَنْجُ لُعْبَةٌ مَعْرُوفَةٌ تُلْعَبُ عَلَى رُقْعَةٍ مِنَ الْخَشَبِ وَنَحْوِهِ وَيُوضَعُ عَلَيْهَا مُجَسَّمَاتٌ عَلَى هَيْئَةِ الْمَلِكِ مَثَلًا وَالْفِيلِ وَالشَّاهِ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ ثُمَّ يَتَقَابَلُ اثْنَانِ وَيَلْعَبَانِ هَذِهِ اللُّعْبَةَ وَقَدْ مَرَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى أُنَاسٍ يَلْعَبُونَهَا فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ لِأَنَّهَا هِيَ أَصْنَامٌ صَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ فِيلٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ مَلِكٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ جُنْدِيٍّ وَهَكَذَا وَيَعْكُفُونَ عَلَيْهَا وَقْتًا وَالسَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ أَلَّفُوا كُتُبًا خَاصَّةً مِنْهُمُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي ذَمِّ النَّرْدِ وَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدُ لُعْبَةٌ تُعْرَفُ فِي زَمَانِنَا هَذَا بِبَعْضِ الْبُلْدَانِ بِلُعْبَةِ الطَّاوِلَةِ لُعْبَةٌ تَتَكَوَّنُ مِنْ قِطَعٍ مَثَلًا وَحَجَرٍ أَوْ شَيْءٍ فِيهِ أَرْقَامٌ عَلَى جَوَانِبِهِ السِّتَّةِ عَلَى جَانِبٍ رَقْمُ وَاحِدٍ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ اثْنَيْنِ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ ثَلَاثَةٍ وَهَكَذَا ثُمَّ تُرْمَى هَذِهِ وَيُصْبِحُ مُنَافَسَةً بَيْنَ اللَّاعِبَيْنِ أَوْ حَوْلَ هَذِهِ الطَّاوِلَةِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُنَافَسَةُ عَلَى قِمَارٍ فِي الْغَالِبِ بِحَيْثُ يَدْفَعُ هَذَا وَهَذَا يَقُولُ لَهُ: إِنْ غَلَبْتَنِي تَدْفَعُ كَذَا وَإِنْ غَلَبْتُكَ أَدْفَعُ كَذَا وَمِثْلُهُ أَيْضًا فِي الشِّطْرَنْجِ فَهَذَا سُوءٌ عَلَى سُوءٍ وَشَرٌّ عَلَى شَرٍّ وَالرَّدِي يُشِيرُ بِهِ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى مَا شَاكَلَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْعَابِ الَّتِي تُشْبِهُ هَذَا وَتُضَاهِيهِ وَتُمَاثِلُهُ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمُتَّهَمٌ أَيْ وَمَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ يَعْنِي مُتَّهَمٌ تُهْمَةً وَاضِحَةً بِبِدَعٍ أَوْ ضَلَالَاتٍ أَوْ انْحِرَافَاتٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ الْأَوَّلُ يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ وَالثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِالسُّلُوكِ عِرْضِهِ أَيْ مُتَّهَمٌ بِالْفَوَاحِشِ وَالرَّذَائِلِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ… بِهِ أَفْتَى ابْنُ حَمْدَانَ فَتَابِعْهُ وَاقْتَدِ ابْنُ حَمْدَانَ هُوَ أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ النُّمَيْرِيُّ الْحَرَّانِيُّ الْفَقِيهُ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ كِتَابَانِ بِعُنْوَانِ الرِّعَايَةِ الرِّعَايَةُ الْكُبْرَى وَالرِّعَايَةُ الصُّغْرَى وَلَعَلَّ ذَلِكَ ذَكَرَهُ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ الرِّعَايَةِ


Penulis nazam berkata, “Dimakruhkan bagi seseorang duduk bersama orang yang rendah perangainya, bersama orang fasik, atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Sekarang beliau menyebutkan beberapa golongan yang dimakruhkan untuk dijadikan teman duduk dan sahabat, karena mereka dapat memengaruhi orang yang duduk bersama mereka. Di antara mereka adalah orang yang rendah perangainya, yakni buruk tindak-tanduknya, yang mengandung kerendahan, kehinaan, dan keburukan budi, perilakunya buruk, serta rendah dalam ucapan maupun perbuatan. “Dan bersama orang fasik.” Kata “dzi” berarti pemilik, yakni orang yang memang dikenal dengan kefasikannya. Kefasikan adalah keluar dari ketaatan. “Atau orang yang memiliki sifat riya yang buruk.” Yakni orang yang memiliki sifat riya yang buruk. Juga, orang yang dikenal suka berbuat riya, Cinta sum’ah (ingin didengar orang) dan ketenaran, misalnya, serta hal-hal semacam itu, dan melakukan berbagai amalan secara dibuat-buat agar dipuji dan disanjung. Orang seperti ini juga dapat memengaruhi teman duduknya, sehingga bisa jadi ia menirunya dan melakukan hal yang sama. “Begitu pula bersama orang yang sakhif.” Maksudnya, duduk bersama orang yang sakhif. Siapakah orang yang sakhif? Beliau berkata, “Yaitu orang yang lemah akalnya,” yakni akalnya dangkal. Seperti dikatakan, “Ada kelemahan pada akalnya.” Orang yang sakhif adalah orang yang lemah akalnya, yakni ada kelemahan pada akalnya, yang terlihat dari tindak-tanduknya. “Begitu pula bersama orang yang sakhif, yaitu orang yang lemah akalnya.” “Dan bersama pemain catur, nard, dan permainan buruk sejenis.” Catur adalah permainan yang sudah dikenal, yang dimainkan di atas papan kayu atau sejenisnya, lalu di atasnya diletakkan bidak-bidak berbentuk raja, misalnya, gajah, syah (raja), dan semacamnya. Kemudian dua orang saling berhadapan dan memainkan permainan tersebut. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sekelompok orang yang sedang memainkannya, lalu beliau berkata, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (Lihat QS. Al-Anbiya: 52). Sebab, bidak-bidak itu berupa patung-patung: patung berbentuk gajah, patung berbentuk raja, patung berbentuk prajurit, dan seterusnya. Dan mereka menghabiskan waktu untuk menekuninya. Para ulama salaf rahimahumullah bahkan menulis kitab-kitab khusus. Di antaranya Al-Ajurri rahimahullah yang menulis tentang celaan terhadap nard dan catur. Nard adalah permainan yang pada zaman kita di sebagian negeri dikenal dengan nama ath-thawilah (backgammon). Permainan ini terdiri dari bidak-bidak dan sebuah dadu, yaitu benda yang memiliki angka pada keenam sisinya. Pada satu sisi terdapat angka satu, pada sisi lainnya angka dua, pada sisi lainnya angka tiga, dan seterusnya. Kemudian dadu itu dilempar, lalu berlangsunglah kompetisi antara kedua pemain di sekitar papan tersebut. Dan sering kali pertandingan catur itu disertai dengan perjudian, dengan masing-masing pihak mengeluarkan taruhan. Salah seorang berkata, “Jika engkau mengalahkanku, engkau membayar sekian, dan jika aku mengalahkanmu, aku membayar sekian.” Hal semacam itu juga terjadi pada catur. Maka, ini merupakan keburukan di atas keburukan dan kejelekan di atas kejelekan. “Dan yang buruk,” dengan kata ini beliau rahimahullah mengisyaratkan berbagai permainan sejenis yang menyerupai dan semisal dengannya. Beliau rahimahullah berkata, “Dan orang yang dicurigai,” yakni duduk bersama orang yang dicurigai dalam urusan agamanya. Yakni orang yang jelas dicurigai karena bid’ah, kesesatan, penyimpangan, atau semisalnya dalam agamanya. “Atau dalam urusan kehormatannya.” Yang pertama berkaitan dengan akidah, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perilaku. “Kehormatannya,” yakni orang yang dicurigai melakukan perbuatan keji, perbuatan hina, dan semacamnya. “Bersama orang yang dicurigai dalam agamanya atau kehormatannya. Demikianlah fatwa Ibnu Hamdan, maka ikutilah dan teladanilah beliau.” Ibnu Hamdan adalah Ahmad bin Hamdan An-Numairi Al-Harrani, seorang ahli fikih Mazhab Hambali rahimahullah. Beliau memiliki dua kitab berjudul Ar-Ri’ayah, yaitu Ar-Ri’ayah Al-Kubra dan Ar-Ri’ayah Ash-Shughra. Barangkali beliau rahimahullah menyebutkan hal tersebut dalam kitabnya, Ar-Ri’ayah. ===== يَقُولُ النَّاظِمُ: وَيُكْرَهُ لِلْمَرْءِ الْجُلُوسُ مَعَ امْرِئٍ دَنِيءٍ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي الْآنَ يُعَدِّدُ أَصْنَافًا تُكْرَهُ مُجَالَسَتُهُمْ وَمُصَاحَبَتُهُمْ لِمَا فِيهَا مِنْ تَأْثِيرٍ عَلَى الْمُجَالِسِ مِنْ هَؤُلَاءِ: الْمَرْءُ الدَّنِيءُ يَعْنِي تَصَرُّفَاتُهُ دَنِيئَةٌ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْخِسَّةِ وَالْحَقَارَةِ وَاللُّؤْمِ سُوءُ التَّصَرُّفِ دَنَاءَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ أَوِ الدَّنَاءَةُ فِي الْأَفْعَالِ وَمَعْ ذِي الْفِسْقِ ذِي بِمَعْنَى صَاحِبٍ أَيْ صَاحِبِ الْفِسْقِ الَّذِي يُعْرَفُ بِالْفِسْقِ وَالْفِسْقُ هُوَ الْخُرُوجُ عَنِ الطَّاعَةِ أَوْ ذِي الرِّيَاءِ الرَّدِي أَيْ صَاحِبِ الرِّيَاءِ الرَّدِيءِ أَيْضًا مَنْ كَانَ هَذَا شَأْنُهُ يُعْرَفُ عَنْهُ الْمُرَاءَاةُ وَحُبُّ مَثَلًا السُّمْعَةِ وَالشُّهْرَةِ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَيَتَصَنَّعُ بِأَعْمَالٍ لِيُحْمَدَ عَلَيْهَا وَيُمْدَحَ أَيْضًا مِثْلُ هَذَا يُؤَثِّرُ فِي مُجَالِسِهِ رُبَّمَا تَشَبَّهَ بِهِ وَفَعَلَ مِثْلَهُ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ يَعْنِي الْجُلُوسُ مَعَ السَّخِيفِ مَنْ هُوَ السَّخِيفُ؟ قَالَ: وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ يَعْنِي أَصْبَحَ عَقْلُهُ رَقِيقًا مِثْلَ مَا يُقَالُ: فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ السَّخِيفُ الَّذِي رَقَّ عَقْلُهُ أَيْ فِي عَقْلِهِ خِفَّةٌ تُعْرَفُ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِ كَذَا مَعَ سَخِيفٍ وَهُوَ مَنْ رَقَّ عَقْلُهُ وَمَعَ لَاعِبِ الشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ وَالرَّدِي الشِّطْرَنْجُ لُعْبَةٌ مَعْرُوفَةٌ تُلْعَبُ عَلَى رُقْعَةٍ مِنَ الْخَشَبِ وَنَحْوِهِ وَيُوضَعُ عَلَيْهَا مُجَسَّمَاتٌ عَلَى هَيْئَةِ الْمَلِكِ مَثَلًا وَالْفِيلِ وَالشَّاهِ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ ثُمَّ يَتَقَابَلُ اثْنَانِ وَيَلْعَبَانِ هَذِهِ اللُّعْبَةَ وَقَدْ مَرَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى أُنَاسٍ يَلْعَبُونَهَا فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ لِأَنَّهَا هِيَ أَصْنَامٌ صَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ فِيلٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ مَلِكٍ وَصَنَمٌ عَلَى هَيْئَةِ جُنْدِيٍّ وَهَكَذَا وَيَعْكُفُونَ عَلَيْهَا وَقْتًا وَالسَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ أَلَّفُوا كُتُبًا خَاصَّةً مِنْهُمُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي ذَمِّ النَّرْدِ وَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدُ لُعْبَةٌ تُعْرَفُ فِي زَمَانِنَا هَذَا بِبَعْضِ الْبُلْدَانِ بِلُعْبَةِ الطَّاوِلَةِ لُعْبَةٌ تَتَكَوَّنُ مِنْ قِطَعٍ مَثَلًا وَحَجَرٍ أَوْ شَيْءٍ فِيهِ أَرْقَامٌ عَلَى جَوَانِبِهِ السِّتَّةِ عَلَى جَانِبٍ رَقْمُ وَاحِدٍ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ اثْنَيْنِ وَعَلَى جَانِبٍ رَقْمُ ثَلَاثَةٍ وَهَكَذَا ثُمَّ تُرْمَى هَذِهِ وَيُصْبِحُ مُنَافَسَةً بَيْنَ اللَّاعِبَيْنِ أَوْ حَوْلَ هَذِهِ الطَّاوِلَةِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُنَافَسَةُ عَلَى قِمَارٍ فِي الْغَالِبِ بِحَيْثُ يَدْفَعُ هَذَا وَهَذَا يَقُولُ لَهُ: إِنْ غَلَبْتَنِي تَدْفَعُ كَذَا وَإِنْ غَلَبْتُكَ أَدْفَعُ كَذَا وَمِثْلُهُ أَيْضًا فِي الشِّطْرَنْجِ فَهَذَا سُوءٌ عَلَى سُوءٍ وَشَرٌّ عَلَى شَرٍّ وَالرَّدِي يُشِيرُ بِهِ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى مَا شَاكَلَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْعَابِ الَّتِي تُشْبِهُ هَذَا وَتُضَاهِيهِ وَتُمَاثِلُهُ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمُتَّهَمٌ أَيْ وَمَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ يَعْنِي مُتَّهَمٌ تُهْمَةً وَاضِحَةً بِبِدَعٍ أَوْ ضَلَالَاتٍ أَوْ انْحِرَافَاتٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ الْأَوَّلُ يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ وَالثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِالسُّلُوكِ عِرْضِهِ أَيْ مُتَّهَمٌ بِالْفَوَاحِشِ وَالرَّذَائِلِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مَعَ مُتَّهَمٍ فِي دِينِهِ أَوْ بِعِرْضِهِ… بِهِ أَفْتَى ابْنُ حَمْدَانَ فَتَابِعْهُ وَاقْتَدِ ابْنُ حَمْدَانَ هُوَ أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ النُّمَيْرِيُّ الْحَرَّانِيُّ الْفَقِيهُ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ كِتَابَانِ بِعُنْوَانِ الرِّعَايَةِ الرِّعَايَةُ الْكُبْرَى وَالرِّعَايَةُ الصُّغْرَى وَلَعَلَّ ذَلِكَ ذَكَرَهُ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ الرِّعَايَةِ

Memuji Diri: Antara Maslahat dan Ujub

Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?  Daftar Isi tutup 1. Semua Kemampuan adalah Karunia Allah 2. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil 3. Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat 4. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci 5. Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri 6. Pembeda Utamanya: Niat 6.1. Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati 7. Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri  Semua Kemampuan adalah Karunia AllahAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin HasilAllah Ta‘ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk MaslahatAllah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri SuciDi sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.Baca juga: Memuji Diri Sendiri Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji DiriIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.” Pembeda Utamanya: NiatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)Baca juga: Hadits Arbain #01: Setiap Amalan Tergantung pada Niat Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran HatiKeadaanTandaSikap yang benarMemperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukanMemuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujubMengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukminMengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada DiriSeorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya? Semoga Allah beri taufik dan hidayah.رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُRabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)  — @ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak muslim introspeksi diri memuji diri nasihat islam niat percaya diri sombong tawakal tazkiyatun nafs ujub

Memuji Diri: Antara Maslahat dan Ujub

Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?  Daftar Isi tutup 1. Semua Kemampuan adalah Karunia Allah 2. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil 3. Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat 4. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci 5. Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri 6. Pembeda Utamanya: Niat 6.1. Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati 7. Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri  Semua Kemampuan adalah Karunia AllahAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin HasilAllah Ta‘ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk MaslahatAllah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri SuciDi sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.Baca juga: Memuji Diri Sendiri Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji DiriIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.” Pembeda Utamanya: NiatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)Baca juga: Hadits Arbain #01: Setiap Amalan Tergantung pada Niat Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran HatiKeadaanTandaSikap yang benarMemperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukanMemuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujubMengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukminMengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada DiriSeorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya? Semoga Allah beri taufik dan hidayah.رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُRabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)  — @ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak muslim introspeksi diri memuji diri nasihat islam niat percaya diri sombong tawakal tazkiyatun nafs ujub
Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?  Daftar Isi tutup 1. Semua Kemampuan adalah Karunia Allah 2. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil 3. Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat 4. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci 5. Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri 6. Pembeda Utamanya: Niat 6.1. Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati 7. Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri  Semua Kemampuan adalah Karunia AllahAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin HasilAllah Ta‘ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk MaslahatAllah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri SuciDi sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.Baca juga: Memuji Diri Sendiri Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji DiriIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.” Pembeda Utamanya: NiatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)Baca juga: Hadits Arbain #01: Setiap Amalan Tergantung pada Niat Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran HatiKeadaanTandaSikap yang benarMemperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukanMemuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujubMengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukminMengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada DiriSeorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya? Semoga Allah beri taufik dan hidayah.رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُRabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)  — @ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak muslim introspeksi diri memuji diri nasihat islam niat percaya diri sombong tawakal tazkiyatun nafs ujub


Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?  Daftar Isi tutup 1. Semua Kemampuan adalah Karunia Allah 2. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil 3. Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat 4. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci 5. Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri 6. Pembeda Utamanya: Niat 6.1. Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati 7. Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri  Semua Kemampuan adalah Karunia AllahAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat. Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin HasilAllah Ta‘ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk MaslahatAllah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik. Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri SuciDi sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.Baca juga: Memuji Diri Sendiri Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji DiriIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.” Pembeda Utamanya: NiatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)Baca juga: Hadits Arbain #01: Setiap Amalan Tergantung pada Niat Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran HatiKeadaanTandaSikap yang benarMemperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukanMemuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujubMengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukminMengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada DiriSeorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya? Semoga Allah beri taufik dan hidayah.رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُRabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)  — @ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak muslim introspeksi diri memuji diri nasihat islam niat percaya diri sombong tawakal tazkiyatun nafs ujub

Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia

Daftar Isi ToggleMalaikat adalah hamba Allah yang taatCatatan yang tidak dapat kita hapusLebih dari sekadar rasa takutSamakan yang tersembunyi dengan yang terlihatKesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata.Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik dengan sangat rapi. Unggahan dapat dipilih, komentar dapat dihapus, riwayat penelusuran dapat dibersihkan, dan percakapan dapat disembunyikan. Seseorang mungkin tampak santun di ruang terbuka, tetapi kasar dalam pesan pribadi. Ia dapat terlihat amanah di hadapan atasan, tetapi memanipulasi laporan ketika merasa tidak akan diperiksa.Perbedaan antara penampilan di depan manusia dan perilaku ketika sendirian menunjukkan bahwa integritas tidak cukup dibangun oleh pengawasan manusia. Kamera memiliki titik buta, pemeriksaan memiliki batas, dan manusia hanya mengetahui apa yang tampak. Iman kepada malaikat mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti pada hal-hal yang dapat kita lihat.Malaikat adalah hamba Allah yang taatMalaikat merupakan makhluk gaib yang Allah ciptakan. Kita mengimani keberadaan mereka meskipun tidak melihat mereka. Mereka bukan makhluk yang keadaannya ditetapkan berdasarkan khayalan manusia. Kita mengimani sifat mereka hanya berdasarkan keterangan wahyu. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dan selalu melaksanakan perintah-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.’ Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26–27)Secara ringkas, iman kepada malaikat mencakup empat perkara. Pertama, mengimani keberadaan mereka. Kedua, mengimani nama malaikat yang disebutkan dalam dalil, seperti Jibril, dan mengimani malaikat yang tidak kita ketahui namanya secara umum. Ketiga, mengimani sifat mereka yang diterangkan dalam wahyu tanpa membangun gambaran dari khayalan. Keempat, mengimani tugas-tugas mereka yang sahih dalilnya, seperti menyampaikan wahyu, mencatat amal, menjaga manusia atas perintah Allah, dan berbagai tugas lainnya.Pengetahuan tersebut bukan sekadar daftar untuk dihafalkan. Kebesaran malaikat menunjukkan keagungan Pencipta mereka. Pelaksanaan tugas mereka juga mengingatkan betapa besar pemeliharaan Allah kepada para hamba-Nya. Iman kepada malaikat melahirkan pengagungan kepada Allah, rasa syukur atas penjagaan-Nya, dan kecintaan kepada para malaikat sebagai hamba-hamba yang taat.Catatan yang tidak dapat kita hapusDi antara malaikat, ada yang ditugaskan mencatat amal manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12)Catatan manusia dapat diubah. Berkas dapat dimusnahkan, pesan dapat ditarik, dan orang yang melihat dapat dilobi agar diam. Namun, catatan amal tidak tunduk kepada kemampuan semacam itu. Perbuatan yang disembunyikan dari manusia tidak menjadi tersembunyi dari Allah, dan malaikat mencatatnya sesuai perintah-Nya.Kesadaran ini sangat relevan di ruang digital. Mode penyamaran hanya menyembunyikan jejak dari pengguna perangkat tertentu; ia tidak menjadikan maksiat hilang dari catatan. Akun tanpa nama mungkin menutupi identitas di hadapan manusia, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas fitnah, hinaan, atau dusta yang dikirimkan. Percakapan pribadi tetap merupakan bagian dari ucapan yang akan dipertanggungjawabkan.Ruang digital sering menciptakan ilusi bahwa perbuatan kecil tidak memiliki bobot. Satu komentar dianggap sekadar tulisan, satu gambar dianggap segera tenggelam, dan satu kebohongan dianggap aman karena bercampur dengan begitu banyak informasi. Padahal, mudahnya melakukan sesuatu tidak mengubah nilai moralnya. Bahkan, sebuah tindakan dapat terus menyebar setelah pelakunya berhenti memperhatikannya. Kesadaran akan catatan amal membuat seorang mukmin tidak hanya bertanya apakah sebuah tindakan dapat dilacak manusia, tetapi apakah tindakan itu diridai Allah.Hal yang sama berlaku di tempat kerja dan dalam transaksi. Angka kecil yang sengaja ditambahkan ke laporan biaya; waktu kerja yang dicatat, tetapi tidak ditunaikan; tanda tangan yang dipalsukan; barang yang diambil karena dianggap tidak akan diketahui; atau janji yang dilanggar diam-diam, semuanya bukan perkara yang hilang hanya karena tidak ditemukan dalam pemeriksaan.Lebih dari sekadar rasa takutIman kepada malaikat tidak hanya menumbuhkan rasa takut terhadap catatan keburukan. Ia juga menghibur seorang mukmin bahwa kebaikan yang tidak diketahui manusia tidak akan hilang. Sedekah yang dirahasiakan, kesabaran yang tidak dipuji, pekerjaan yang diselesaikan dengan amanah, atau penolakan terhadap maksiat ketika tidak ada orang lain yang mengetahui—semuanya tetap tercatat.Dengan demikian, seorang mukmin tidak perlu menjadikan pandangan manusia sebagai satu-satunya bahan bakar kebaikan. Ia berbuat benar bukan semata-mata karena kamera menyala, atasan hadir, atau namanya disebut. Ia menyadari pengawasan Allah dan mengetahui bahwa tidak ada amal yang luput dari pencatatan para malaikat.Kesadaran ini juga menjaga keikhlasan. Jika kebaikan hanya dilakukan ketika terlihat, pujian manusia perlahan-lahan menjadi tujuan. Sebaliknya, membiasakan amal tersembunyi akan melatih hati kita untuk cukup dengan pengetahuan Allah. Catatan para malaikat memastikan bahwa amal yang tidak diumumkan tetap terpelihara dan akan ditemukan pada saat manusia paling membutuhkannya.Samakan yang tersembunyi dengan yang terlihatSalah satu ukuran integritas adalah kesamaan antara perilaku di ruang terbuka dan perilaku ketika tidak dilihat manusia. Sebelum menulis, mengirim, mengambil, atau menyembunyikan sesuatu, berhentilah sejenak dan tanyakan: apakah saya rela amal ini tercatat dan dibawa menghadap Allah?Mulailah dengan satu latihan sederhana. Pada akhir hari, ingat kembali percakapan pribadi, aktivitas digital, pekerjaan, dan transaksi yang telah dilakukan. Syukuri kebaikan dan mohonlah agar Allah menerimanya. Segeralah bertobat dari keburukan dan perbaiki hak orang lain yang terlanggar. Iman kepada malaikat bukan hanya pengetahuan tentang alam gaib; ia seharusnya menjadikan kita tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 308–327 dan 490–493.

Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia

Daftar Isi ToggleMalaikat adalah hamba Allah yang taatCatatan yang tidak dapat kita hapusLebih dari sekadar rasa takutSamakan yang tersembunyi dengan yang terlihatKesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata.Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik dengan sangat rapi. Unggahan dapat dipilih, komentar dapat dihapus, riwayat penelusuran dapat dibersihkan, dan percakapan dapat disembunyikan. Seseorang mungkin tampak santun di ruang terbuka, tetapi kasar dalam pesan pribadi. Ia dapat terlihat amanah di hadapan atasan, tetapi memanipulasi laporan ketika merasa tidak akan diperiksa.Perbedaan antara penampilan di depan manusia dan perilaku ketika sendirian menunjukkan bahwa integritas tidak cukup dibangun oleh pengawasan manusia. Kamera memiliki titik buta, pemeriksaan memiliki batas, dan manusia hanya mengetahui apa yang tampak. Iman kepada malaikat mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti pada hal-hal yang dapat kita lihat.Malaikat adalah hamba Allah yang taatMalaikat merupakan makhluk gaib yang Allah ciptakan. Kita mengimani keberadaan mereka meskipun tidak melihat mereka. Mereka bukan makhluk yang keadaannya ditetapkan berdasarkan khayalan manusia. Kita mengimani sifat mereka hanya berdasarkan keterangan wahyu. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dan selalu melaksanakan perintah-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.’ Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26–27)Secara ringkas, iman kepada malaikat mencakup empat perkara. Pertama, mengimani keberadaan mereka. Kedua, mengimani nama malaikat yang disebutkan dalam dalil, seperti Jibril, dan mengimani malaikat yang tidak kita ketahui namanya secara umum. Ketiga, mengimani sifat mereka yang diterangkan dalam wahyu tanpa membangun gambaran dari khayalan. Keempat, mengimani tugas-tugas mereka yang sahih dalilnya, seperti menyampaikan wahyu, mencatat amal, menjaga manusia atas perintah Allah, dan berbagai tugas lainnya.Pengetahuan tersebut bukan sekadar daftar untuk dihafalkan. Kebesaran malaikat menunjukkan keagungan Pencipta mereka. Pelaksanaan tugas mereka juga mengingatkan betapa besar pemeliharaan Allah kepada para hamba-Nya. Iman kepada malaikat melahirkan pengagungan kepada Allah, rasa syukur atas penjagaan-Nya, dan kecintaan kepada para malaikat sebagai hamba-hamba yang taat.Catatan yang tidak dapat kita hapusDi antara malaikat, ada yang ditugaskan mencatat amal manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12)Catatan manusia dapat diubah. Berkas dapat dimusnahkan, pesan dapat ditarik, dan orang yang melihat dapat dilobi agar diam. Namun, catatan amal tidak tunduk kepada kemampuan semacam itu. Perbuatan yang disembunyikan dari manusia tidak menjadi tersembunyi dari Allah, dan malaikat mencatatnya sesuai perintah-Nya.Kesadaran ini sangat relevan di ruang digital. Mode penyamaran hanya menyembunyikan jejak dari pengguna perangkat tertentu; ia tidak menjadikan maksiat hilang dari catatan. Akun tanpa nama mungkin menutupi identitas di hadapan manusia, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas fitnah, hinaan, atau dusta yang dikirimkan. Percakapan pribadi tetap merupakan bagian dari ucapan yang akan dipertanggungjawabkan.Ruang digital sering menciptakan ilusi bahwa perbuatan kecil tidak memiliki bobot. Satu komentar dianggap sekadar tulisan, satu gambar dianggap segera tenggelam, dan satu kebohongan dianggap aman karena bercampur dengan begitu banyak informasi. Padahal, mudahnya melakukan sesuatu tidak mengubah nilai moralnya. Bahkan, sebuah tindakan dapat terus menyebar setelah pelakunya berhenti memperhatikannya. Kesadaran akan catatan amal membuat seorang mukmin tidak hanya bertanya apakah sebuah tindakan dapat dilacak manusia, tetapi apakah tindakan itu diridai Allah.Hal yang sama berlaku di tempat kerja dan dalam transaksi. Angka kecil yang sengaja ditambahkan ke laporan biaya; waktu kerja yang dicatat, tetapi tidak ditunaikan; tanda tangan yang dipalsukan; barang yang diambil karena dianggap tidak akan diketahui; atau janji yang dilanggar diam-diam, semuanya bukan perkara yang hilang hanya karena tidak ditemukan dalam pemeriksaan.Lebih dari sekadar rasa takutIman kepada malaikat tidak hanya menumbuhkan rasa takut terhadap catatan keburukan. Ia juga menghibur seorang mukmin bahwa kebaikan yang tidak diketahui manusia tidak akan hilang. Sedekah yang dirahasiakan, kesabaran yang tidak dipuji, pekerjaan yang diselesaikan dengan amanah, atau penolakan terhadap maksiat ketika tidak ada orang lain yang mengetahui—semuanya tetap tercatat.Dengan demikian, seorang mukmin tidak perlu menjadikan pandangan manusia sebagai satu-satunya bahan bakar kebaikan. Ia berbuat benar bukan semata-mata karena kamera menyala, atasan hadir, atau namanya disebut. Ia menyadari pengawasan Allah dan mengetahui bahwa tidak ada amal yang luput dari pencatatan para malaikat.Kesadaran ini juga menjaga keikhlasan. Jika kebaikan hanya dilakukan ketika terlihat, pujian manusia perlahan-lahan menjadi tujuan. Sebaliknya, membiasakan amal tersembunyi akan melatih hati kita untuk cukup dengan pengetahuan Allah. Catatan para malaikat memastikan bahwa amal yang tidak diumumkan tetap terpelihara dan akan ditemukan pada saat manusia paling membutuhkannya.Samakan yang tersembunyi dengan yang terlihatSalah satu ukuran integritas adalah kesamaan antara perilaku di ruang terbuka dan perilaku ketika tidak dilihat manusia. Sebelum menulis, mengirim, mengambil, atau menyembunyikan sesuatu, berhentilah sejenak dan tanyakan: apakah saya rela amal ini tercatat dan dibawa menghadap Allah?Mulailah dengan satu latihan sederhana. Pada akhir hari, ingat kembali percakapan pribadi, aktivitas digital, pekerjaan, dan transaksi yang telah dilakukan. Syukuri kebaikan dan mohonlah agar Allah menerimanya. Segeralah bertobat dari keburukan dan perbaiki hak orang lain yang terlanggar. Iman kepada malaikat bukan hanya pengetahuan tentang alam gaib; ia seharusnya menjadikan kita tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 308–327 dan 490–493.
Daftar Isi ToggleMalaikat adalah hamba Allah yang taatCatatan yang tidak dapat kita hapusLebih dari sekadar rasa takutSamakan yang tersembunyi dengan yang terlihatKesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata.Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik dengan sangat rapi. Unggahan dapat dipilih, komentar dapat dihapus, riwayat penelusuran dapat dibersihkan, dan percakapan dapat disembunyikan. Seseorang mungkin tampak santun di ruang terbuka, tetapi kasar dalam pesan pribadi. Ia dapat terlihat amanah di hadapan atasan, tetapi memanipulasi laporan ketika merasa tidak akan diperiksa.Perbedaan antara penampilan di depan manusia dan perilaku ketika sendirian menunjukkan bahwa integritas tidak cukup dibangun oleh pengawasan manusia. Kamera memiliki titik buta, pemeriksaan memiliki batas, dan manusia hanya mengetahui apa yang tampak. Iman kepada malaikat mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti pada hal-hal yang dapat kita lihat.Malaikat adalah hamba Allah yang taatMalaikat merupakan makhluk gaib yang Allah ciptakan. Kita mengimani keberadaan mereka meskipun tidak melihat mereka. Mereka bukan makhluk yang keadaannya ditetapkan berdasarkan khayalan manusia. Kita mengimani sifat mereka hanya berdasarkan keterangan wahyu. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dan selalu melaksanakan perintah-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.’ Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26–27)Secara ringkas, iman kepada malaikat mencakup empat perkara. Pertama, mengimani keberadaan mereka. Kedua, mengimani nama malaikat yang disebutkan dalam dalil, seperti Jibril, dan mengimani malaikat yang tidak kita ketahui namanya secara umum. Ketiga, mengimani sifat mereka yang diterangkan dalam wahyu tanpa membangun gambaran dari khayalan. Keempat, mengimani tugas-tugas mereka yang sahih dalilnya, seperti menyampaikan wahyu, mencatat amal, menjaga manusia atas perintah Allah, dan berbagai tugas lainnya.Pengetahuan tersebut bukan sekadar daftar untuk dihafalkan. Kebesaran malaikat menunjukkan keagungan Pencipta mereka. Pelaksanaan tugas mereka juga mengingatkan betapa besar pemeliharaan Allah kepada para hamba-Nya. Iman kepada malaikat melahirkan pengagungan kepada Allah, rasa syukur atas penjagaan-Nya, dan kecintaan kepada para malaikat sebagai hamba-hamba yang taat.Catatan yang tidak dapat kita hapusDi antara malaikat, ada yang ditugaskan mencatat amal manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12)Catatan manusia dapat diubah. Berkas dapat dimusnahkan, pesan dapat ditarik, dan orang yang melihat dapat dilobi agar diam. Namun, catatan amal tidak tunduk kepada kemampuan semacam itu. Perbuatan yang disembunyikan dari manusia tidak menjadi tersembunyi dari Allah, dan malaikat mencatatnya sesuai perintah-Nya.Kesadaran ini sangat relevan di ruang digital. Mode penyamaran hanya menyembunyikan jejak dari pengguna perangkat tertentu; ia tidak menjadikan maksiat hilang dari catatan. Akun tanpa nama mungkin menutupi identitas di hadapan manusia, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas fitnah, hinaan, atau dusta yang dikirimkan. Percakapan pribadi tetap merupakan bagian dari ucapan yang akan dipertanggungjawabkan.Ruang digital sering menciptakan ilusi bahwa perbuatan kecil tidak memiliki bobot. Satu komentar dianggap sekadar tulisan, satu gambar dianggap segera tenggelam, dan satu kebohongan dianggap aman karena bercampur dengan begitu banyak informasi. Padahal, mudahnya melakukan sesuatu tidak mengubah nilai moralnya. Bahkan, sebuah tindakan dapat terus menyebar setelah pelakunya berhenti memperhatikannya. Kesadaran akan catatan amal membuat seorang mukmin tidak hanya bertanya apakah sebuah tindakan dapat dilacak manusia, tetapi apakah tindakan itu diridai Allah.Hal yang sama berlaku di tempat kerja dan dalam transaksi. Angka kecil yang sengaja ditambahkan ke laporan biaya; waktu kerja yang dicatat, tetapi tidak ditunaikan; tanda tangan yang dipalsukan; barang yang diambil karena dianggap tidak akan diketahui; atau janji yang dilanggar diam-diam, semuanya bukan perkara yang hilang hanya karena tidak ditemukan dalam pemeriksaan.Lebih dari sekadar rasa takutIman kepada malaikat tidak hanya menumbuhkan rasa takut terhadap catatan keburukan. Ia juga menghibur seorang mukmin bahwa kebaikan yang tidak diketahui manusia tidak akan hilang. Sedekah yang dirahasiakan, kesabaran yang tidak dipuji, pekerjaan yang diselesaikan dengan amanah, atau penolakan terhadap maksiat ketika tidak ada orang lain yang mengetahui—semuanya tetap tercatat.Dengan demikian, seorang mukmin tidak perlu menjadikan pandangan manusia sebagai satu-satunya bahan bakar kebaikan. Ia berbuat benar bukan semata-mata karena kamera menyala, atasan hadir, atau namanya disebut. Ia menyadari pengawasan Allah dan mengetahui bahwa tidak ada amal yang luput dari pencatatan para malaikat.Kesadaran ini juga menjaga keikhlasan. Jika kebaikan hanya dilakukan ketika terlihat, pujian manusia perlahan-lahan menjadi tujuan. Sebaliknya, membiasakan amal tersembunyi akan melatih hati kita untuk cukup dengan pengetahuan Allah. Catatan para malaikat memastikan bahwa amal yang tidak diumumkan tetap terpelihara dan akan ditemukan pada saat manusia paling membutuhkannya.Samakan yang tersembunyi dengan yang terlihatSalah satu ukuran integritas adalah kesamaan antara perilaku di ruang terbuka dan perilaku ketika tidak dilihat manusia. Sebelum menulis, mengirim, mengambil, atau menyembunyikan sesuatu, berhentilah sejenak dan tanyakan: apakah saya rela amal ini tercatat dan dibawa menghadap Allah?Mulailah dengan satu latihan sederhana. Pada akhir hari, ingat kembali percakapan pribadi, aktivitas digital, pekerjaan, dan transaksi yang telah dilakukan. Syukuri kebaikan dan mohonlah agar Allah menerimanya. Segeralah bertobat dari keburukan dan perbaiki hak orang lain yang terlanggar. Iman kepada malaikat bukan hanya pengetahuan tentang alam gaib; ia seharusnya menjadikan kita tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 308–327 dan 490–493.


Daftar Isi ToggleMalaikat adalah hamba Allah yang taatCatatan yang tidak dapat kita hapusLebih dari sekadar rasa takutSamakan yang tersembunyi dengan yang terlihatKesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata.Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik dengan sangat rapi. Unggahan dapat dipilih, komentar dapat dihapus, riwayat penelusuran dapat dibersihkan, dan percakapan dapat disembunyikan. Seseorang mungkin tampak santun di ruang terbuka, tetapi kasar dalam pesan pribadi. Ia dapat terlihat amanah di hadapan atasan, tetapi memanipulasi laporan ketika merasa tidak akan diperiksa.Perbedaan antara penampilan di depan manusia dan perilaku ketika sendirian menunjukkan bahwa integritas tidak cukup dibangun oleh pengawasan manusia. Kamera memiliki titik buta, pemeriksaan memiliki batas, dan manusia hanya mengetahui apa yang tampak. Iman kepada malaikat mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti pada hal-hal yang dapat kita lihat.Malaikat adalah hamba Allah yang taatMalaikat merupakan makhluk gaib yang Allah ciptakan. Kita mengimani keberadaan mereka meskipun tidak melihat mereka. Mereka bukan makhluk yang keadaannya ditetapkan berdasarkan khayalan manusia. Kita mengimani sifat mereka hanya berdasarkan keterangan wahyu. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dan selalu melaksanakan perintah-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.’ Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26–27)Secara ringkas, iman kepada malaikat mencakup empat perkara. Pertama, mengimani keberadaan mereka. Kedua, mengimani nama malaikat yang disebutkan dalam dalil, seperti Jibril, dan mengimani malaikat yang tidak kita ketahui namanya secara umum. Ketiga, mengimani sifat mereka yang diterangkan dalam wahyu tanpa membangun gambaran dari khayalan. Keempat, mengimani tugas-tugas mereka yang sahih dalilnya, seperti menyampaikan wahyu, mencatat amal, menjaga manusia atas perintah Allah, dan berbagai tugas lainnya.Pengetahuan tersebut bukan sekadar daftar untuk dihafalkan. Kebesaran malaikat menunjukkan keagungan Pencipta mereka. Pelaksanaan tugas mereka juga mengingatkan betapa besar pemeliharaan Allah kepada para hamba-Nya. Iman kepada malaikat melahirkan pengagungan kepada Allah, rasa syukur atas penjagaan-Nya, dan kecintaan kepada para malaikat sebagai hamba-hamba yang taat.Catatan yang tidak dapat kita hapusDi antara malaikat, ada yang ditugaskan mencatat amal manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12)Catatan manusia dapat diubah. Berkas dapat dimusnahkan, pesan dapat ditarik, dan orang yang melihat dapat dilobi agar diam. Namun, catatan amal tidak tunduk kepada kemampuan semacam itu. Perbuatan yang disembunyikan dari manusia tidak menjadi tersembunyi dari Allah, dan malaikat mencatatnya sesuai perintah-Nya.Kesadaran ini sangat relevan di ruang digital. Mode penyamaran hanya menyembunyikan jejak dari pengguna perangkat tertentu; ia tidak menjadikan maksiat hilang dari catatan. Akun tanpa nama mungkin menutupi identitas di hadapan manusia, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas fitnah, hinaan, atau dusta yang dikirimkan. Percakapan pribadi tetap merupakan bagian dari ucapan yang akan dipertanggungjawabkan.Ruang digital sering menciptakan ilusi bahwa perbuatan kecil tidak memiliki bobot. Satu komentar dianggap sekadar tulisan, satu gambar dianggap segera tenggelam, dan satu kebohongan dianggap aman karena bercampur dengan begitu banyak informasi. Padahal, mudahnya melakukan sesuatu tidak mengubah nilai moralnya. Bahkan, sebuah tindakan dapat terus menyebar setelah pelakunya berhenti memperhatikannya. Kesadaran akan catatan amal membuat seorang mukmin tidak hanya bertanya apakah sebuah tindakan dapat dilacak manusia, tetapi apakah tindakan itu diridai Allah.Hal yang sama berlaku di tempat kerja dan dalam transaksi. Angka kecil yang sengaja ditambahkan ke laporan biaya; waktu kerja yang dicatat, tetapi tidak ditunaikan; tanda tangan yang dipalsukan; barang yang diambil karena dianggap tidak akan diketahui; atau janji yang dilanggar diam-diam, semuanya bukan perkara yang hilang hanya karena tidak ditemukan dalam pemeriksaan.Lebih dari sekadar rasa takutIman kepada malaikat tidak hanya menumbuhkan rasa takut terhadap catatan keburukan. Ia juga menghibur seorang mukmin bahwa kebaikan yang tidak diketahui manusia tidak akan hilang. Sedekah yang dirahasiakan, kesabaran yang tidak dipuji, pekerjaan yang diselesaikan dengan amanah, atau penolakan terhadap maksiat ketika tidak ada orang lain yang mengetahui—semuanya tetap tercatat.Dengan demikian, seorang mukmin tidak perlu menjadikan pandangan manusia sebagai satu-satunya bahan bakar kebaikan. Ia berbuat benar bukan semata-mata karena kamera menyala, atasan hadir, atau namanya disebut. Ia menyadari pengawasan Allah dan mengetahui bahwa tidak ada amal yang luput dari pencatatan para malaikat.Kesadaran ini juga menjaga keikhlasan. Jika kebaikan hanya dilakukan ketika terlihat, pujian manusia perlahan-lahan menjadi tujuan. Sebaliknya, membiasakan amal tersembunyi akan melatih hati kita untuk cukup dengan pengetahuan Allah. Catatan para malaikat memastikan bahwa amal yang tidak diumumkan tetap terpelihara dan akan ditemukan pada saat manusia paling membutuhkannya.Samakan yang tersembunyi dengan yang terlihatSalah satu ukuran integritas adalah kesamaan antara perilaku di ruang terbuka dan perilaku ketika tidak dilihat manusia. Sebelum menulis, mengirim, mengambil, atau menyembunyikan sesuatu, berhentilah sejenak dan tanyakan: apakah saya rela amal ini tercatat dan dibawa menghadap Allah?Mulailah dengan satu latihan sederhana. Pada akhir hari, ingat kembali percakapan pribadi, aktivitas digital, pekerjaan, dan transaksi yang telah dilakukan. Syukuri kebaikan dan mohonlah agar Allah menerimanya. Segeralah bertobat dari keburukan dan perbaiki hak orang lain yang terlanggar. Iman kepada malaikat bukan hanya pengetahuan tentang alam gaib; ia seharusnya menjadikan kita tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 308–327 dan 490–493.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 5): Keimanan yang Benar kepada Allah dan Rasul-Nya

Ketiga, keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-NyaDi antara ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah iman adalah meyakini bahwa Allah memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya, yaitu beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dan meyakini risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenabiannya, dicintai, ditaati, dan dijadikan teladan dalam menjalankan agama.Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,الله حـــــــــــــــــــق لـــــــــــــــــــــيس لعبــــــــــــــــــــــده        ولعبـــــــــــــــده حــــــــــــــــق همــــــــــــــــا حقــــــــــــــــان لا تجعــــــل الحقـــــين حقـــــــاً واحــــــداً         مـــــــــــــــن غـــــــــــــــير تميـــــــــــــــيز ولا فرقـــــــــــــانAllah memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya,dan hamba (Rasul)-Nya juga memiliki hak; keduanya memiliki hak.Janganlah engkau menjadikan kedua hak itu sebagai satu hak,Tanpa membedakan dan memisahkannya.Beliau rahimahullah mengingatkan bahwa hak Allah ‘Azza wa Jalla dan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua perkara yang berbeda. Keduanya wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh disamakan atau dicampuradukkan. Hak Allah Azza wa Jalla adalah menerima seluruh bentuk ibadah, sedangkan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ditaati dan diikuti sunah-sunahnya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.Inilah definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman bukan sekadar ucapan di lisan saja, karena yang seperti itu adalah akidahnya orang-orang munafik. Mereka mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada dalam hati mereka. Mereka menampakkan iman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Mereka berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Mereka juga bersaksi dengan lisan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, tetapi mengingkarinya di dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ، اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1–2)Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak mengatakan bahwa iman hanyalah keyakinan dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan dan tanpa diamalkan dengan anggota badan, sebagaimana pendapat Murji’ah. Mereka berpendapat bahwa iman hanyalah pembenaran dalam hati saja, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan dan tidak mengamalkannya dengan anggota badan.Demikian juga keadaan orang-orang musyrik. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah dan meyakini hal itu dalam hati mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga meyakini hal tersebut.Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui hakikat mereka,قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan yang demikian tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, sungguh sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 146–147)Iman bukan sekadar pembenaran dalam hati tanpa pengucapan dengan lisan dan tanpa disertai amalan, sebagaimana akidah Murji’ah. Seandainya hal itu benar, maka orang-orang musyrik, Yahudi, dan Nasrani termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan batilnya akidah orang-orang Murji’ah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat berikut,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya karena (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka dan mereka bergembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka surah itu menambah kekotoran di atas kekotoran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا“Agar orang-orang yang beriman semakin bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)Selain itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa iman dapat berkurang karena kemaksiatan dan dosa. Bahkan, iman dapat terus melemah hingga tak tersisa kecuali seberat zarrah atau sebesar biji sawi saja.Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49)Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla,هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat keimanan seseorang dapat berbeda-beda. Seseorang bisa berada pada kondisi yang sangat lemah imannya sehingga ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان“Iman terdiri atas lebih dari tujuh puluh cabang, atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35)Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki banyak tingkatan. Ada cabang iman yang paling utama, ada pula cabang yang berada pada tingkatan paling rendah. Dengan demikian, menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tingkat keimanan seseorang bisa berbeda-beda, dan keimanan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 4 LANJUT KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 22–25.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 5): Keimanan yang Benar kepada Allah dan Rasul-Nya

Ketiga, keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-NyaDi antara ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah iman adalah meyakini bahwa Allah memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya, yaitu beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dan meyakini risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenabiannya, dicintai, ditaati, dan dijadikan teladan dalam menjalankan agama.Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,الله حـــــــــــــــــــق لـــــــــــــــــــــيس لعبــــــــــــــــــــــده        ولعبـــــــــــــــده حــــــــــــــــق همــــــــــــــــا حقــــــــــــــــان لا تجعــــــل الحقـــــين حقـــــــاً واحــــــداً         مـــــــــــــــن غـــــــــــــــير تميـــــــــــــــيز ولا فرقـــــــــــــانAllah memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya,dan hamba (Rasul)-Nya juga memiliki hak; keduanya memiliki hak.Janganlah engkau menjadikan kedua hak itu sebagai satu hak,Tanpa membedakan dan memisahkannya.Beliau rahimahullah mengingatkan bahwa hak Allah ‘Azza wa Jalla dan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua perkara yang berbeda. Keduanya wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh disamakan atau dicampuradukkan. Hak Allah Azza wa Jalla adalah menerima seluruh bentuk ibadah, sedangkan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ditaati dan diikuti sunah-sunahnya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.Inilah definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman bukan sekadar ucapan di lisan saja, karena yang seperti itu adalah akidahnya orang-orang munafik. Mereka mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada dalam hati mereka. Mereka menampakkan iman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Mereka berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Mereka juga bersaksi dengan lisan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, tetapi mengingkarinya di dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ، اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1–2)Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak mengatakan bahwa iman hanyalah keyakinan dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan dan tanpa diamalkan dengan anggota badan, sebagaimana pendapat Murji’ah. Mereka berpendapat bahwa iman hanyalah pembenaran dalam hati saja, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan dan tidak mengamalkannya dengan anggota badan.Demikian juga keadaan orang-orang musyrik. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah dan meyakini hal itu dalam hati mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga meyakini hal tersebut.Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui hakikat mereka,قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan yang demikian tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, sungguh sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 146–147)Iman bukan sekadar pembenaran dalam hati tanpa pengucapan dengan lisan dan tanpa disertai amalan, sebagaimana akidah Murji’ah. Seandainya hal itu benar, maka orang-orang musyrik, Yahudi, dan Nasrani termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan batilnya akidah orang-orang Murji’ah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat berikut,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya karena (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka dan mereka bergembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka surah itu menambah kekotoran di atas kekotoran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا“Agar orang-orang yang beriman semakin bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)Selain itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa iman dapat berkurang karena kemaksiatan dan dosa. Bahkan, iman dapat terus melemah hingga tak tersisa kecuali seberat zarrah atau sebesar biji sawi saja.Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49)Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla,هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat keimanan seseorang dapat berbeda-beda. Seseorang bisa berada pada kondisi yang sangat lemah imannya sehingga ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان“Iman terdiri atas lebih dari tujuh puluh cabang, atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35)Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki banyak tingkatan. Ada cabang iman yang paling utama, ada pula cabang yang berada pada tingkatan paling rendah. Dengan demikian, menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tingkat keimanan seseorang bisa berbeda-beda, dan keimanan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 4 LANJUT KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 22–25.
Ketiga, keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-NyaDi antara ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah iman adalah meyakini bahwa Allah memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya, yaitu beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dan meyakini risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenabiannya, dicintai, ditaati, dan dijadikan teladan dalam menjalankan agama.Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,الله حـــــــــــــــــــق لـــــــــــــــــــــيس لعبــــــــــــــــــــــده        ولعبـــــــــــــــده حــــــــــــــــق همــــــــــــــــا حقــــــــــــــــان لا تجعــــــل الحقـــــين حقـــــــاً واحــــــداً         مـــــــــــــــن غـــــــــــــــير تميـــــــــــــــيز ولا فرقـــــــــــــانAllah memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya,dan hamba (Rasul)-Nya juga memiliki hak; keduanya memiliki hak.Janganlah engkau menjadikan kedua hak itu sebagai satu hak,Tanpa membedakan dan memisahkannya.Beliau rahimahullah mengingatkan bahwa hak Allah ‘Azza wa Jalla dan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua perkara yang berbeda. Keduanya wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh disamakan atau dicampuradukkan. Hak Allah Azza wa Jalla adalah menerima seluruh bentuk ibadah, sedangkan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ditaati dan diikuti sunah-sunahnya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.Inilah definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman bukan sekadar ucapan di lisan saja, karena yang seperti itu adalah akidahnya orang-orang munafik. Mereka mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada dalam hati mereka. Mereka menampakkan iman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Mereka berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Mereka juga bersaksi dengan lisan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, tetapi mengingkarinya di dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ، اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1–2)Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak mengatakan bahwa iman hanyalah keyakinan dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan dan tanpa diamalkan dengan anggota badan, sebagaimana pendapat Murji’ah. Mereka berpendapat bahwa iman hanyalah pembenaran dalam hati saja, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan dan tidak mengamalkannya dengan anggota badan.Demikian juga keadaan orang-orang musyrik. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah dan meyakini hal itu dalam hati mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga meyakini hal tersebut.Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui hakikat mereka,قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan yang demikian tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, sungguh sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 146–147)Iman bukan sekadar pembenaran dalam hati tanpa pengucapan dengan lisan dan tanpa disertai amalan, sebagaimana akidah Murji’ah. Seandainya hal itu benar, maka orang-orang musyrik, Yahudi, dan Nasrani termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan batilnya akidah orang-orang Murji’ah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat berikut,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya karena (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka dan mereka bergembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka surah itu menambah kekotoran di atas kekotoran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا“Agar orang-orang yang beriman semakin bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)Selain itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa iman dapat berkurang karena kemaksiatan dan dosa. Bahkan, iman dapat terus melemah hingga tak tersisa kecuali seberat zarrah atau sebesar biji sawi saja.Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49)Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla,هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat keimanan seseorang dapat berbeda-beda. Seseorang bisa berada pada kondisi yang sangat lemah imannya sehingga ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان“Iman terdiri atas lebih dari tujuh puluh cabang, atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35)Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki banyak tingkatan. Ada cabang iman yang paling utama, ada pula cabang yang berada pada tingkatan paling rendah. Dengan demikian, menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tingkat keimanan seseorang bisa berbeda-beda, dan keimanan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 4 LANJUT KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 22–25.


Ketiga, keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-NyaDi antara ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah iman adalah meyakini bahwa Allah memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya, yaitu beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dan meyakini risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenabiannya, dicintai, ditaati, dan dijadikan teladan dalam menjalankan agama.Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,الله حـــــــــــــــــــق لـــــــــــــــــــــيس لعبــــــــــــــــــــــده        ولعبـــــــــــــــده حــــــــــــــــق همــــــــــــــــا حقــــــــــــــــان لا تجعــــــل الحقـــــين حقـــــــاً واحــــــداً         مـــــــــــــــن غـــــــــــــــير تميـــــــــــــــيز ولا فرقـــــــــــــانAllah memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya,dan hamba (Rasul)-Nya juga memiliki hak; keduanya memiliki hak.Janganlah engkau menjadikan kedua hak itu sebagai satu hak,Tanpa membedakan dan memisahkannya.Beliau rahimahullah mengingatkan bahwa hak Allah ‘Azza wa Jalla dan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua perkara yang berbeda. Keduanya wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh disamakan atau dicampuradukkan. Hak Allah Azza wa Jalla adalah menerima seluruh bentuk ibadah, sedangkan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ditaati dan diikuti sunah-sunahnya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.Inilah definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman bukan sekadar ucapan di lisan saja, karena yang seperti itu adalah akidahnya orang-orang munafik. Mereka mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada dalam hati mereka. Mereka menampakkan iman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Mereka berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Mereka juga bersaksi dengan lisan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, tetapi mengingkarinya di dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ، اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1–2)Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak mengatakan bahwa iman hanyalah keyakinan dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan dan tanpa diamalkan dengan anggota badan, sebagaimana pendapat Murji’ah. Mereka berpendapat bahwa iman hanyalah pembenaran dalam hati saja, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan dan tidak mengamalkannya dengan anggota badan.Demikian juga keadaan orang-orang musyrik. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah dan meyakini hal itu dalam hati mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga meyakini hal tersebut.Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui hakikat mereka,قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan yang demikian tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, sungguh sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 146–147)Iman bukan sekadar pembenaran dalam hati tanpa pengucapan dengan lisan dan tanpa disertai amalan, sebagaimana akidah Murji’ah. Seandainya hal itu benar, maka orang-orang musyrik, Yahudi, dan Nasrani termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan batilnya akidah orang-orang Murji’ah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat berikut,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya karena (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka dan mereka bergembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka surah itu menambah kekotoran di atas kekotoran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا“Agar orang-orang yang beriman semakin bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)Selain itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa iman dapat berkurang karena kemaksiatan dan dosa. Bahkan, iman dapat terus melemah hingga tak tersisa kecuali seberat zarrah atau sebesar biji sawi saja.Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49)Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla,هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat keimanan seseorang dapat berbeda-beda. Seseorang bisa berada pada kondisi yang sangat lemah imannya sehingga ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان“Iman terdiri atas lebih dari tujuh puluh cabang, atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35)Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki banyak tingkatan. Ada cabang iman yang paling utama, ada pula cabang yang berada pada tingkatan paling rendah. Dengan demikian, menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tingkat keimanan seseorang bisa berbeda-beda, dan keimanan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 4 LANJUT KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 22–25.

Abu Jahal dan Ikrimah: Ayah Memusuhi Islam, Anak Mendapat Hidayah

Hidayah tidak selalu berjalan mengikuti garis keturunan. Dalam keluarga besar Bani Makhzum ada Al-Walid bin Al-Mughirah dan keponakannya, Abu Jahal, yang sama-sama menentang dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; tetapi dari keluarga yang sama Allah memberi hidayah kepada Khalid bin Al-Walid dan Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini menunjukkan bahwa nasab dapat diwariskan, tetapi iman dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekat 2. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnya 3. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnya 4. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak beriman 5. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhan 6. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginya 7. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalat 8. Nabi dihina ketika sedang bersujud 9. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju Badar 10. Dua pemuda Anshar menyerang Abu Jahal 11. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekarat 12. Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayah 13. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnya 14. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnya 15. Orang tua dan anak bisa berbeda jalan 16. Hidayah tidak diwariskan melalui nasab 17. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah 18. Referensi  Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekatSebelum memasuki kisah Abu Jahal, ada hubungan keluarga yang penting untuk diketahui.Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal sama-sama berasal dari Bani Makhzum, salah satu keluarga besar Quraisy.Nasab Al-Walid adalah:Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Adapun nama asli Abu Jahal adalah:‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Dengan demikian, Hisyam bin Al-Mughirah, ayah Abu Jahal, adalah saudara Al-Walid bin Al-Mughirah. Artinya, Al-Walid bin Al-Mughirah adalah paman Abu Jahal.Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana:Al-Mughirah bin ‘AbdillahAl-Walid bin Al-Mughirah → Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuHisyam bin Al-Mughirah → Abu Jahal (‘Amr bin Hisyam) → Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuIbnu Hisyam ketika menyebut para tokoh Quraisy yang menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuliskan nasab Abu Jahal dan Al-Walid bin Al-Mughirah dalam satu rangkaian pembahasan. Dari nasab tersebut tampak jelas bahwa keduanya bertemu pada Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Di kemudian hari, Khalid bin Al-Walid dikenal sebagai putra Al-Walid bin Al-Mughirah. Nasab Khalid disebutkan,خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ مَخْزُومٍ“Khalid bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.”Jadi, kita sedang berbicara tentang satu keluarga besar Bani Makhzum yang kelak memperlihatkan akhir perjalanan iman yang sangat berbeda. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnyaAl-Walid bin Al-Mughirah berasal dari generasi yang lebih tua daripada Abu Jahal. Hal ini sudah tampak dari hubungan nasab: Al-Walid adalah saudara kakek garis ayah Abu Jahal—tepatnya saudara Hisyam, ayah Abu Jahal.Al-Walid adalah seorang pemuka Quraisy yang telah berusia lanjut ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah. Adapun Abu Jahal berada pada generasi sesudahnya dan hidup pada masa yang berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sumber-sumber klasik tidak memberikan tahun kelahiran Al-Walid dan Abu Jahal dengan ketepatan seperti informasi mengenai umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa Al-Walid adalah generasi yang lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi setelahnya, tanpa memastikan angka tahun kelahiran mereka.Yang jauh lebih penting daripada angka usia adalah kenyataan bahwa keduanya mendapatkan kesempatan mendengar dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya memilih menentangnya. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan orang asing bagi masyarakat Quraisy.Beliau lahir, tumbuh, dan hidup bersama mereka. Sebelum kenabian, mereka mengenal beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya.Al-Walid bin Al-Mughirah merupakan salah seorang tokoh senior Quraisy ketika dakwah Islam muncul. Abu Jahal juga termasuk pemimpin Quraisy yang memiliki kedudukan kuat.Artinya, penolakan mereka bukan karena tidak pernah mendengar siapa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Mereka mengenal pribadi beliau.Mereka mendengar Al-Qur’an.Mereka menyaksikan dakwah beliau.Namun, mengenal kebenaran belum tentu membuat seseorang tunduk kepada kebenaran.Di sinilah letak pelajaran besar mengenai hidayah. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak berimanAl-Walid bin Al-Mughirah termasuk orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah mengabadikan gambaran sikap seorang penentang yang memikirkan cara untuk memberikan label terhadap Al-Qur’an,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ۝ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ نَظَرَ ۝ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ۝ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ۝ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ۝ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu dia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. Al-Muddatstsir: 18–25)Allah kemudian memberikan ancaman,سَأُصْلِيهِ سَقَرَ“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)Dalam kitab-kitab tafsir, ayat-ayat ini masyhur dikaitkan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.Ia mendengar Al-Qur’an, memikirkan apa yang didengarnya, tetapi kemudian memilih kesombongan dan penolakan. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhanAbu Jahal bernama ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Sebelum Islam ia berkunyah Abu Al-Hakam, tetapi dalam sejarah Islam ia lebih dikenal sebagai Abu Jahal.Ia bukan sekadar orang yang tidak mau masuk Islam.Permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras.Menariknya, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal bukan dua tokoh yang tidak memiliki hubungan.Al-Walid adalah pamannya.Keduanya sama-sama berasal dari Bani Makhzum.Keduanya sama-sama memiliki kedudukan di tengah Quraisy.Keduanya sama-sama berhadapan dengan dakwah seorang nabi yang mereka kenal, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya tidak mendapat hidayah. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginyaDalam riwayat sirah disebutkan bahwa Abu Jahal bersama beberapa pemuka Quraisy pernah mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sembunyi-sembunyi.Ketika ditanya mengenai apa yang didengarnya, Abu Jahal mengungkapkan persoalan persaingan kemuliaan antara kaumnya dan Bani ‘Abdi Manaf.Ia berkata,تَنَازَعْنَا نَحْنُ وَبَنُو عَبْدِ مَنَافٍ الشَّرَفَ، أَطْعَمُوا فَأَطْعَمْنَا، وَحَمَلُوا فَحَمَلْنَا، وَأَعْطَوْا فَأَعْطَيْنَا، حَتَّى إِذَا تَجَاثَيْنَا عَلَى الرُّكَبِ، وَكُنَّا كَفَرَسَيْ رِهَانٍ، قَالُوا: مِنَّا نَبِيٌّ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنَ السَّمَاءِ، فَمَتَى نُدْرِكُ هَذِهِ؟ وَاللَّهِ لَا نُؤْمِنُ بِهِ أَبَدًا وَلَا نُصَدِّقُهُ.“Kami dan Bani ‘Abdi Manaf bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun menanggung beban. Mereka memberi, kami pun memberi. Sampai ketika kami telah sejajar seperti dua kuda pacuan, mereka berkata, ‘Dari kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit.’ Kapan kami dapat menyamai hal ini? Demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya.”Ini termasuk berita sirah, sehingga tidak ditempatkan setingkat dengan hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.Namun, berita tersebut menggambarkan satu penyakit hati yang berbahaya: seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi gengsi, fanatisme kelompok, persaingan, dan kesombongan membuatnya enggan tunduk. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalatPermusuhan Abu Jahal tidak berhenti pada perkataan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata,هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah di tengah-tengah kalian?”Maksudnya, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih shalat dan bersujud di hadapan mereka.Mereka menjawab, “Ya.”Abu Jahal berkata,وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ.“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal benar-benar mendekat untuk menjalankan ancamannya. Namun, ia tiba-tiba mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.Ketika ditanya, ia menyebut bahwa antara dirinya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat parit api, sesuatu yang menakutkan, dan sayap-sayap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا.“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)Kisah tersebut berkaitan dengan firman Allah,أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ ۝ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 9–10)Kemudian Allah berfirman,كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ ۝ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ“Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15–16)Allah menutup surah itu dengan firman-Nya,كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ“Sekali-kali jangan! Janganlah engkau patuh kepadanya. Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19)Abu Jahal ingin menghentikan sujud Nabi.Allah justru memerintahkan Nabi-Nya terus bersujud dan semakin mendekat kepada-Nya. Nabi dihina ketika sedang bersujud‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan salah satu gangguan berat kaum Quraisy.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersujud di dekat Ka‘bah, ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith membawa isi perut unta lalu meletakkannya di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para pembesar Quraisy menertawakan beliau.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersujud sampai Fathimah radhiyallahu ‘anha datang dan membersihkannya.Setelah selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan sejumlah pemuka Quraisy, termasuk Abu Jahal.Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu kemudian menyaksikan mereka terbunuh di Perang Badar. (HR. Bukhari, no. 3854; Muslim, no. 1794)Ini menunjukkan betapa berat gangguan yang diterima Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang sebenarnya telah lama mengenal beliau. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju BadarPermusuhan Abu Jahal berlanjut hingga Perang Badar.Ketika kafilah Abu Sufyan sudah berhasil selamat, sebenarnya alasan utama pasukan Quraisy untuk terus maju telah hilang.Namun, Abu Jahal bersikeras melanjutkan perjalanan menuju Badar.Dalam riwayat sirah Ibn Ishaq disebutkan bahwa Abu Jahal berkata,وَاللَّهِ لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَرِدَ بَدْرًا، فَنُقِيمَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَنَنْحَرَ الْجُزُرَ، وَنُطْعِمَ الطَّعَامَ، وَنَسْقِيَ الْخَمْرَ، وَتَعْزِفَ عَلَيْنَا الْقِيَانُ، وَتَسْمَعَ بِنَا الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا.“Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menyediakan makanan, minum khamar, dan para penyanyi akan memainkan musik untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar perjalanan dan kekuatan pasukan kita sehingga mereka akan terus takut kepada kita selama-lamanya.”Yang mendorongnya bukan sekadar kepentingan militer.Ada gengsi, kebanggaan kelompok, dan keinginan mempertontonkan kekuatan.Namun, justru di Badarlah kebesaran yang dibanggakannya berakhir. Dua pemuda Anshar menyerang Abu JahalDalam Perang Badar, dua pemuda Anshar sangat ingin menemukan Abu Jahal karena mereka mendengar bagaimana ia mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa salah seorang dari keduanya berkata,يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ.“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”Ketika ‘Abdurrahman menunjukkan Abu Jahal, kedua pemuda itu segera menyerangnya hingga ia mengalami luka sangat parah.Mereka adalah dua putra ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekaratSetelah peperangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟“Siapakah yang mau melihat apa yang terjadi pada Abu Jahal?”Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ، قَالَ: أَأَنْتَ أَبُو جَهْلٍ؟ قَالَ: فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ، قَالَ: وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ، أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟“Ibnu Mas‘ud pun pergi mencarinya. Ia mendapati Abu Jahal telah dihantam oleh dua putra ‘Afra’ hingga sangat lemah dan mendekati kematian. Ibnu Mas‘ud berkata, ‘Apakah engkau Abu Jahal?’ Lalu ia memegang janggutnya. Abu Jahal berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih dari seorang laki-laki yang kalian bunuh, atau seorang laki-laki yang dibunuh oleh kaumnya?’” (HR. Bukhari, no. 3962; Muslim, no. 1800)Begitulah akhir Abu Jahal.Ia hidup bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui dakwah beliau, lalu menghabiskan hidupnya untuk menentang beliau sampai akhirnya terbunuh di Badar.Cerita lengkapnya, ada dalam riwayat berikut dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata,إِنِّي لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ، فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ بِمَكَانِهِمَا، إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ: يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ، فَقُلْتُ: يَا ابْنَ أَخِي، وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللَّهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ دُونَهُ. فَقَالَ لِي الْآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ. قَالَ: فَمَا سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا، فَأَشَرْتُ لَهُمَا إِلَيْهِ، فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ، وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ.“Pada Perang Badar, aku berada di dalam barisan pasukan. Ketika aku menoleh, ternyata di sebelah kanan dan kiriku ada dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku pun merasa kurang tenang karena berada di antara keduanya.Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku secara diam-diam agar tidak didengar temannya, ‘Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.’Aku bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang hendak engkau lakukan terhadapnya?’Ia menjawab, ‘Aku telah berjanji kepada Allah, jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau aku mati dalam usaha melawannya.’Kemudian pemuda yang satunya lagi juga mengatakan kepadaku secara diam-diam hal yang sama.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku tidak akan merasa lebih senang seandainya berada di antara dua orang selain mereka.’Kemudian aku menunjukkan Abu Jahal kepada keduanya. Keduanya pun segera menerjang Abu Jahal seperti dua ekor elang yang menyambar mangsanya, hingga keduanya berhasil menyerangnya. Kedua pemuda itu adalah dua putra ‘Afra’.”(HR. Bukhari, no. 3988; Muslim, no. 1752; Ahmad, no. 1673; dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma‘ani Al-Atsar, no. 5196 dengan redaksi semakna). Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayahDi sinilah hubungan antara Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah menjadi sangat menarik.Al-Walid bin Al-Mughirah menolak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, kemudian masuk Islam.Abu Jahal juga menjadi salah seorang musuh terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya juga mendapat hidayah.Dalam satu keluarga Bani Makhzum kita mendapati:Al-Walid bin Al-Mughirah → menolak Islam Khalid bin Al-Walid → mendapat hidayahAbu Jahal → memusuhi Islam sampai mati Ikrimah bin Abi Jahl → mendapat hidayahBetapa jelas bahwa iman bukan perkara garis darah. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnyaPada mulanya, Ikrimah bin Abi Jahl memang mengikuti jalan ayahnya.Ia termasuk orang Quraisy yang keras memusuhi kaum muslimin.Ketika terjadi Fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri menuju laut.Dalam perjalanan, kapal yang ditumpanginya menghadapi bahaya. Orang-orang yang berada di atas kapal berkata,أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا.“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”Ucapan itu menyentuh hati Ikrimah.Ia berkata,وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ.“Demi Allah, jika di laut tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”Allah menyelamatkannya.Ikrimah kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.Ayahnya meninggal ketika memerangi Rasulullah.Anaknya justru datang kepada Rasulullah untuk menerima Islam. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnyaHal yang serupa terjadi pada Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu.Ayahnya, Al-Walid bin Al-Mughirah, termasuk tokoh Quraisy yang menolak Nabi.Namun, Khalid kemudian memperoleh hidayah.Ia hijrah setelah Hudaibiyah bersama ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah. Setelah masuk Islam, Khalid menjadi salah seorang sahabat yang memiliki peran besar dalam perjuangan kaum muslimin.Maka dalam Bani Makhzum terjadi perubahan yang luar biasa.Generasi sebelumnya berusaha menghalangi Islam.Sebagian generasi setelahnya justru mengorbankan tenaga dan jiwa untuk Islam. Orang tua dan anak bisa berbeda jalanInilah pelajaran besar bagi setiap orang tua.Kita tidak boleh merasa bahwa kesalehan akan otomatis diwariskan hanya karena anak lahir dari keluarga baik.Sebaliknya, kita juga tidak boleh berputus asa terhadap seorang anak hanya karena ia tumbuh dari lingkungan yang buruk.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)Lihatlah keluarga Bani Makhzum.Al-Walid tidak beriman, tetapi Khalid beriman.Abu Jahal mati dalam kekufuran, tetapi Ikrimah mendapatkan hidayah.Maka, siapa pun tidak berhak memastikan masa depan iman seseorang hanya dengan melihat keluarganya hari ini. Hidayah tidak diwariskan melalui nasabKisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang pendidikan anak.Orang tua dapat memberikan pendidikan.Orang tua dapat menunjukkan jalan.Orang tua dapat menjadi teladan.Orang tua dapat mendoakan.Namun, orang tua tidak memiliki hati anaknya.Allah-lah yang membolak-balikkan hati.Karena itu, tugas orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak di atas iman, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya membutuhkan taufik dari Allah.Nasab dapat diwariskan. Harta dapat diwariskan. Kedudukan dapat diwariskan. Nama besar keluarga dapat diwariskan. Namun, iman tidak otomatis diwariskan. Hidayah adalah karunia Allah. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan IkrimahAl-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal berasal dari keluarga dekat Bani Makhzum; Al-Walid adalah paman Abu Jahal.Keduanya mengenal masyarakat dan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menolak dakwah beliau.Mendengar Al-Qur’an belum tentu memberi manfaat jika hati dikuasai kesombongan.Gengsi, fanatisme kelompok, dan perebutan kedudukan dapat menjadi penghalang hidayah.Seorang anak tidak harus mengulangi kesalahan orang tuanya.Khalid bin Al-Walid mendapat hidayah meskipun ayahnya menolak Islam.Ikrimah mendapat hidayah meskipun ayahnya adalah Abu Jahal.Jangan memvonis masa depan seseorang hanya dari latar belakang keluarganya.Orang tua wajib mendidik dan mendoakan, tetapi hidayah berada di tangan Allah.Selama seseorang masih hidup, pintu hidayah belum tertutup. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis no. 3854, 3962).Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sirah al-Nabawiyyah. Islamweb.Islamweb. (n.d.). Siyar al-salaf al-salihin: Khalid ibn al-Walid al-Makhzumi.Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis no. 1794, 1800, 2797).Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Man yanzhuru ma shana‘a Abu Jahl?Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Ancaman Abu Jahal terhadap Rasulullah ketika shalat. —– Malam Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Salatiga, Jawa TengahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Jahal Al-Walid bin Al-Mughirah Bani Makhzum hidayah hidayah Allah Ikrimah bin Abi Jahl Khalid bin Al-Walid pendidikan anak perang badar sirah nabi

Abu Jahal dan Ikrimah: Ayah Memusuhi Islam, Anak Mendapat Hidayah

Hidayah tidak selalu berjalan mengikuti garis keturunan. Dalam keluarga besar Bani Makhzum ada Al-Walid bin Al-Mughirah dan keponakannya, Abu Jahal, yang sama-sama menentang dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; tetapi dari keluarga yang sama Allah memberi hidayah kepada Khalid bin Al-Walid dan Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini menunjukkan bahwa nasab dapat diwariskan, tetapi iman dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekat 2. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnya 3. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnya 4. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak beriman 5. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhan 6. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginya 7. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalat 8. Nabi dihina ketika sedang bersujud 9. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju Badar 10. Dua pemuda Anshar menyerang Abu Jahal 11. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekarat 12. Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayah 13. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnya 14. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnya 15. Orang tua dan anak bisa berbeda jalan 16. Hidayah tidak diwariskan melalui nasab 17. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah 18. Referensi  Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekatSebelum memasuki kisah Abu Jahal, ada hubungan keluarga yang penting untuk diketahui.Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal sama-sama berasal dari Bani Makhzum, salah satu keluarga besar Quraisy.Nasab Al-Walid adalah:Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Adapun nama asli Abu Jahal adalah:‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Dengan demikian, Hisyam bin Al-Mughirah, ayah Abu Jahal, adalah saudara Al-Walid bin Al-Mughirah. Artinya, Al-Walid bin Al-Mughirah adalah paman Abu Jahal.Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana:Al-Mughirah bin ‘AbdillahAl-Walid bin Al-Mughirah → Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuHisyam bin Al-Mughirah → Abu Jahal (‘Amr bin Hisyam) → Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuIbnu Hisyam ketika menyebut para tokoh Quraisy yang menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuliskan nasab Abu Jahal dan Al-Walid bin Al-Mughirah dalam satu rangkaian pembahasan. Dari nasab tersebut tampak jelas bahwa keduanya bertemu pada Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Di kemudian hari, Khalid bin Al-Walid dikenal sebagai putra Al-Walid bin Al-Mughirah. Nasab Khalid disebutkan,خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ مَخْزُومٍ“Khalid bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.”Jadi, kita sedang berbicara tentang satu keluarga besar Bani Makhzum yang kelak memperlihatkan akhir perjalanan iman yang sangat berbeda. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnyaAl-Walid bin Al-Mughirah berasal dari generasi yang lebih tua daripada Abu Jahal. Hal ini sudah tampak dari hubungan nasab: Al-Walid adalah saudara kakek garis ayah Abu Jahal—tepatnya saudara Hisyam, ayah Abu Jahal.Al-Walid adalah seorang pemuka Quraisy yang telah berusia lanjut ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah. Adapun Abu Jahal berada pada generasi sesudahnya dan hidup pada masa yang berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sumber-sumber klasik tidak memberikan tahun kelahiran Al-Walid dan Abu Jahal dengan ketepatan seperti informasi mengenai umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa Al-Walid adalah generasi yang lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi setelahnya, tanpa memastikan angka tahun kelahiran mereka.Yang jauh lebih penting daripada angka usia adalah kenyataan bahwa keduanya mendapatkan kesempatan mendengar dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya memilih menentangnya. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan orang asing bagi masyarakat Quraisy.Beliau lahir, tumbuh, dan hidup bersama mereka. Sebelum kenabian, mereka mengenal beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya.Al-Walid bin Al-Mughirah merupakan salah seorang tokoh senior Quraisy ketika dakwah Islam muncul. Abu Jahal juga termasuk pemimpin Quraisy yang memiliki kedudukan kuat.Artinya, penolakan mereka bukan karena tidak pernah mendengar siapa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Mereka mengenal pribadi beliau.Mereka mendengar Al-Qur’an.Mereka menyaksikan dakwah beliau.Namun, mengenal kebenaran belum tentu membuat seseorang tunduk kepada kebenaran.Di sinilah letak pelajaran besar mengenai hidayah. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak berimanAl-Walid bin Al-Mughirah termasuk orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah mengabadikan gambaran sikap seorang penentang yang memikirkan cara untuk memberikan label terhadap Al-Qur’an,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ۝ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ نَظَرَ ۝ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ۝ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ۝ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ۝ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu dia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. Al-Muddatstsir: 18–25)Allah kemudian memberikan ancaman,سَأُصْلِيهِ سَقَرَ“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)Dalam kitab-kitab tafsir, ayat-ayat ini masyhur dikaitkan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.Ia mendengar Al-Qur’an, memikirkan apa yang didengarnya, tetapi kemudian memilih kesombongan dan penolakan. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhanAbu Jahal bernama ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Sebelum Islam ia berkunyah Abu Al-Hakam, tetapi dalam sejarah Islam ia lebih dikenal sebagai Abu Jahal.Ia bukan sekadar orang yang tidak mau masuk Islam.Permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras.Menariknya, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal bukan dua tokoh yang tidak memiliki hubungan.Al-Walid adalah pamannya.Keduanya sama-sama berasal dari Bani Makhzum.Keduanya sama-sama memiliki kedudukan di tengah Quraisy.Keduanya sama-sama berhadapan dengan dakwah seorang nabi yang mereka kenal, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya tidak mendapat hidayah. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginyaDalam riwayat sirah disebutkan bahwa Abu Jahal bersama beberapa pemuka Quraisy pernah mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sembunyi-sembunyi.Ketika ditanya mengenai apa yang didengarnya, Abu Jahal mengungkapkan persoalan persaingan kemuliaan antara kaumnya dan Bani ‘Abdi Manaf.Ia berkata,تَنَازَعْنَا نَحْنُ وَبَنُو عَبْدِ مَنَافٍ الشَّرَفَ، أَطْعَمُوا فَأَطْعَمْنَا، وَحَمَلُوا فَحَمَلْنَا، وَأَعْطَوْا فَأَعْطَيْنَا، حَتَّى إِذَا تَجَاثَيْنَا عَلَى الرُّكَبِ، وَكُنَّا كَفَرَسَيْ رِهَانٍ، قَالُوا: مِنَّا نَبِيٌّ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنَ السَّمَاءِ، فَمَتَى نُدْرِكُ هَذِهِ؟ وَاللَّهِ لَا نُؤْمِنُ بِهِ أَبَدًا وَلَا نُصَدِّقُهُ.“Kami dan Bani ‘Abdi Manaf bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun menanggung beban. Mereka memberi, kami pun memberi. Sampai ketika kami telah sejajar seperti dua kuda pacuan, mereka berkata, ‘Dari kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit.’ Kapan kami dapat menyamai hal ini? Demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya.”Ini termasuk berita sirah, sehingga tidak ditempatkan setingkat dengan hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.Namun, berita tersebut menggambarkan satu penyakit hati yang berbahaya: seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi gengsi, fanatisme kelompok, persaingan, dan kesombongan membuatnya enggan tunduk. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalatPermusuhan Abu Jahal tidak berhenti pada perkataan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata,هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah di tengah-tengah kalian?”Maksudnya, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih shalat dan bersujud di hadapan mereka.Mereka menjawab, “Ya.”Abu Jahal berkata,وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ.“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal benar-benar mendekat untuk menjalankan ancamannya. Namun, ia tiba-tiba mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.Ketika ditanya, ia menyebut bahwa antara dirinya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat parit api, sesuatu yang menakutkan, dan sayap-sayap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا.“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)Kisah tersebut berkaitan dengan firman Allah,أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ ۝ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 9–10)Kemudian Allah berfirman,كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ ۝ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ“Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15–16)Allah menutup surah itu dengan firman-Nya,كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ“Sekali-kali jangan! Janganlah engkau patuh kepadanya. Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19)Abu Jahal ingin menghentikan sujud Nabi.Allah justru memerintahkan Nabi-Nya terus bersujud dan semakin mendekat kepada-Nya. Nabi dihina ketika sedang bersujud‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan salah satu gangguan berat kaum Quraisy.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersujud di dekat Ka‘bah, ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith membawa isi perut unta lalu meletakkannya di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para pembesar Quraisy menertawakan beliau.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersujud sampai Fathimah radhiyallahu ‘anha datang dan membersihkannya.Setelah selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan sejumlah pemuka Quraisy, termasuk Abu Jahal.Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu kemudian menyaksikan mereka terbunuh di Perang Badar. (HR. Bukhari, no. 3854; Muslim, no. 1794)Ini menunjukkan betapa berat gangguan yang diterima Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang sebenarnya telah lama mengenal beliau. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju BadarPermusuhan Abu Jahal berlanjut hingga Perang Badar.Ketika kafilah Abu Sufyan sudah berhasil selamat, sebenarnya alasan utama pasukan Quraisy untuk terus maju telah hilang.Namun, Abu Jahal bersikeras melanjutkan perjalanan menuju Badar.Dalam riwayat sirah Ibn Ishaq disebutkan bahwa Abu Jahal berkata,وَاللَّهِ لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَرِدَ بَدْرًا، فَنُقِيمَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَنَنْحَرَ الْجُزُرَ، وَنُطْعِمَ الطَّعَامَ، وَنَسْقِيَ الْخَمْرَ، وَتَعْزِفَ عَلَيْنَا الْقِيَانُ، وَتَسْمَعَ بِنَا الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا.“Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menyediakan makanan, minum khamar, dan para penyanyi akan memainkan musik untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar perjalanan dan kekuatan pasukan kita sehingga mereka akan terus takut kepada kita selama-lamanya.”Yang mendorongnya bukan sekadar kepentingan militer.Ada gengsi, kebanggaan kelompok, dan keinginan mempertontonkan kekuatan.Namun, justru di Badarlah kebesaran yang dibanggakannya berakhir. Dua pemuda Anshar menyerang Abu JahalDalam Perang Badar, dua pemuda Anshar sangat ingin menemukan Abu Jahal karena mereka mendengar bagaimana ia mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa salah seorang dari keduanya berkata,يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ.“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”Ketika ‘Abdurrahman menunjukkan Abu Jahal, kedua pemuda itu segera menyerangnya hingga ia mengalami luka sangat parah.Mereka adalah dua putra ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekaratSetelah peperangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟“Siapakah yang mau melihat apa yang terjadi pada Abu Jahal?”Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ، قَالَ: أَأَنْتَ أَبُو جَهْلٍ؟ قَالَ: فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ، قَالَ: وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ، أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟“Ibnu Mas‘ud pun pergi mencarinya. Ia mendapati Abu Jahal telah dihantam oleh dua putra ‘Afra’ hingga sangat lemah dan mendekati kematian. Ibnu Mas‘ud berkata, ‘Apakah engkau Abu Jahal?’ Lalu ia memegang janggutnya. Abu Jahal berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih dari seorang laki-laki yang kalian bunuh, atau seorang laki-laki yang dibunuh oleh kaumnya?’” (HR. Bukhari, no. 3962; Muslim, no. 1800)Begitulah akhir Abu Jahal.Ia hidup bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui dakwah beliau, lalu menghabiskan hidupnya untuk menentang beliau sampai akhirnya terbunuh di Badar.Cerita lengkapnya, ada dalam riwayat berikut dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata,إِنِّي لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ، فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ بِمَكَانِهِمَا، إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ: يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ، فَقُلْتُ: يَا ابْنَ أَخِي، وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللَّهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ دُونَهُ. فَقَالَ لِي الْآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ. قَالَ: فَمَا سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا، فَأَشَرْتُ لَهُمَا إِلَيْهِ، فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ، وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ.“Pada Perang Badar, aku berada di dalam barisan pasukan. Ketika aku menoleh, ternyata di sebelah kanan dan kiriku ada dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku pun merasa kurang tenang karena berada di antara keduanya.Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku secara diam-diam agar tidak didengar temannya, ‘Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.’Aku bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang hendak engkau lakukan terhadapnya?’Ia menjawab, ‘Aku telah berjanji kepada Allah, jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau aku mati dalam usaha melawannya.’Kemudian pemuda yang satunya lagi juga mengatakan kepadaku secara diam-diam hal yang sama.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku tidak akan merasa lebih senang seandainya berada di antara dua orang selain mereka.’Kemudian aku menunjukkan Abu Jahal kepada keduanya. Keduanya pun segera menerjang Abu Jahal seperti dua ekor elang yang menyambar mangsanya, hingga keduanya berhasil menyerangnya. Kedua pemuda itu adalah dua putra ‘Afra’.”(HR. Bukhari, no. 3988; Muslim, no. 1752; Ahmad, no. 1673; dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma‘ani Al-Atsar, no. 5196 dengan redaksi semakna). Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayahDi sinilah hubungan antara Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah menjadi sangat menarik.Al-Walid bin Al-Mughirah menolak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, kemudian masuk Islam.Abu Jahal juga menjadi salah seorang musuh terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya juga mendapat hidayah.Dalam satu keluarga Bani Makhzum kita mendapati:Al-Walid bin Al-Mughirah → menolak Islam Khalid bin Al-Walid → mendapat hidayahAbu Jahal → memusuhi Islam sampai mati Ikrimah bin Abi Jahl → mendapat hidayahBetapa jelas bahwa iman bukan perkara garis darah. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnyaPada mulanya, Ikrimah bin Abi Jahl memang mengikuti jalan ayahnya.Ia termasuk orang Quraisy yang keras memusuhi kaum muslimin.Ketika terjadi Fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri menuju laut.Dalam perjalanan, kapal yang ditumpanginya menghadapi bahaya. Orang-orang yang berada di atas kapal berkata,أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا.“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”Ucapan itu menyentuh hati Ikrimah.Ia berkata,وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ.“Demi Allah, jika di laut tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”Allah menyelamatkannya.Ikrimah kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.Ayahnya meninggal ketika memerangi Rasulullah.Anaknya justru datang kepada Rasulullah untuk menerima Islam. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnyaHal yang serupa terjadi pada Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu.Ayahnya, Al-Walid bin Al-Mughirah, termasuk tokoh Quraisy yang menolak Nabi.Namun, Khalid kemudian memperoleh hidayah.Ia hijrah setelah Hudaibiyah bersama ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah. Setelah masuk Islam, Khalid menjadi salah seorang sahabat yang memiliki peran besar dalam perjuangan kaum muslimin.Maka dalam Bani Makhzum terjadi perubahan yang luar biasa.Generasi sebelumnya berusaha menghalangi Islam.Sebagian generasi setelahnya justru mengorbankan tenaga dan jiwa untuk Islam. Orang tua dan anak bisa berbeda jalanInilah pelajaran besar bagi setiap orang tua.Kita tidak boleh merasa bahwa kesalehan akan otomatis diwariskan hanya karena anak lahir dari keluarga baik.Sebaliknya, kita juga tidak boleh berputus asa terhadap seorang anak hanya karena ia tumbuh dari lingkungan yang buruk.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)Lihatlah keluarga Bani Makhzum.Al-Walid tidak beriman, tetapi Khalid beriman.Abu Jahal mati dalam kekufuran, tetapi Ikrimah mendapatkan hidayah.Maka, siapa pun tidak berhak memastikan masa depan iman seseorang hanya dengan melihat keluarganya hari ini. Hidayah tidak diwariskan melalui nasabKisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang pendidikan anak.Orang tua dapat memberikan pendidikan.Orang tua dapat menunjukkan jalan.Orang tua dapat menjadi teladan.Orang tua dapat mendoakan.Namun, orang tua tidak memiliki hati anaknya.Allah-lah yang membolak-balikkan hati.Karena itu, tugas orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak di atas iman, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya membutuhkan taufik dari Allah.Nasab dapat diwariskan. Harta dapat diwariskan. Kedudukan dapat diwariskan. Nama besar keluarga dapat diwariskan. Namun, iman tidak otomatis diwariskan. Hidayah adalah karunia Allah. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan IkrimahAl-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal berasal dari keluarga dekat Bani Makhzum; Al-Walid adalah paman Abu Jahal.Keduanya mengenal masyarakat dan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menolak dakwah beliau.Mendengar Al-Qur’an belum tentu memberi manfaat jika hati dikuasai kesombongan.Gengsi, fanatisme kelompok, dan perebutan kedudukan dapat menjadi penghalang hidayah.Seorang anak tidak harus mengulangi kesalahan orang tuanya.Khalid bin Al-Walid mendapat hidayah meskipun ayahnya menolak Islam.Ikrimah mendapat hidayah meskipun ayahnya adalah Abu Jahal.Jangan memvonis masa depan seseorang hanya dari latar belakang keluarganya.Orang tua wajib mendidik dan mendoakan, tetapi hidayah berada di tangan Allah.Selama seseorang masih hidup, pintu hidayah belum tertutup. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis no. 3854, 3962).Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sirah al-Nabawiyyah. Islamweb.Islamweb. (n.d.). Siyar al-salaf al-salihin: Khalid ibn al-Walid al-Makhzumi.Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis no. 1794, 1800, 2797).Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Man yanzhuru ma shana‘a Abu Jahl?Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Ancaman Abu Jahal terhadap Rasulullah ketika shalat. —– Malam Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Salatiga, Jawa TengahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Jahal Al-Walid bin Al-Mughirah Bani Makhzum hidayah hidayah Allah Ikrimah bin Abi Jahl Khalid bin Al-Walid pendidikan anak perang badar sirah nabi
Hidayah tidak selalu berjalan mengikuti garis keturunan. Dalam keluarga besar Bani Makhzum ada Al-Walid bin Al-Mughirah dan keponakannya, Abu Jahal, yang sama-sama menentang dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; tetapi dari keluarga yang sama Allah memberi hidayah kepada Khalid bin Al-Walid dan Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini menunjukkan bahwa nasab dapat diwariskan, tetapi iman dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekat 2. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnya 3. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnya 4. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak beriman 5. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhan 6. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginya 7. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalat 8. Nabi dihina ketika sedang bersujud 9. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju Badar 10. Dua pemuda Anshar menyerang Abu Jahal 11. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekarat 12. Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayah 13. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnya 14. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnya 15. Orang tua dan anak bisa berbeda jalan 16. Hidayah tidak diwariskan melalui nasab 17. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah 18. Referensi  Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekatSebelum memasuki kisah Abu Jahal, ada hubungan keluarga yang penting untuk diketahui.Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal sama-sama berasal dari Bani Makhzum, salah satu keluarga besar Quraisy.Nasab Al-Walid adalah:Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Adapun nama asli Abu Jahal adalah:‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Dengan demikian, Hisyam bin Al-Mughirah, ayah Abu Jahal, adalah saudara Al-Walid bin Al-Mughirah. Artinya, Al-Walid bin Al-Mughirah adalah paman Abu Jahal.Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana:Al-Mughirah bin ‘AbdillahAl-Walid bin Al-Mughirah → Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuHisyam bin Al-Mughirah → Abu Jahal (‘Amr bin Hisyam) → Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuIbnu Hisyam ketika menyebut para tokoh Quraisy yang menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuliskan nasab Abu Jahal dan Al-Walid bin Al-Mughirah dalam satu rangkaian pembahasan. Dari nasab tersebut tampak jelas bahwa keduanya bertemu pada Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Di kemudian hari, Khalid bin Al-Walid dikenal sebagai putra Al-Walid bin Al-Mughirah. Nasab Khalid disebutkan,خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ مَخْزُومٍ“Khalid bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.”Jadi, kita sedang berbicara tentang satu keluarga besar Bani Makhzum yang kelak memperlihatkan akhir perjalanan iman yang sangat berbeda. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnyaAl-Walid bin Al-Mughirah berasal dari generasi yang lebih tua daripada Abu Jahal. Hal ini sudah tampak dari hubungan nasab: Al-Walid adalah saudara kakek garis ayah Abu Jahal—tepatnya saudara Hisyam, ayah Abu Jahal.Al-Walid adalah seorang pemuka Quraisy yang telah berusia lanjut ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah. Adapun Abu Jahal berada pada generasi sesudahnya dan hidup pada masa yang berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sumber-sumber klasik tidak memberikan tahun kelahiran Al-Walid dan Abu Jahal dengan ketepatan seperti informasi mengenai umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa Al-Walid adalah generasi yang lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi setelahnya, tanpa memastikan angka tahun kelahiran mereka.Yang jauh lebih penting daripada angka usia adalah kenyataan bahwa keduanya mendapatkan kesempatan mendengar dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya memilih menentangnya. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan orang asing bagi masyarakat Quraisy.Beliau lahir, tumbuh, dan hidup bersama mereka. Sebelum kenabian, mereka mengenal beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya.Al-Walid bin Al-Mughirah merupakan salah seorang tokoh senior Quraisy ketika dakwah Islam muncul. Abu Jahal juga termasuk pemimpin Quraisy yang memiliki kedudukan kuat.Artinya, penolakan mereka bukan karena tidak pernah mendengar siapa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Mereka mengenal pribadi beliau.Mereka mendengar Al-Qur’an.Mereka menyaksikan dakwah beliau.Namun, mengenal kebenaran belum tentu membuat seseorang tunduk kepada kebenaran.Di sinilah letak pelajaran besar mengenai hidayah. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak berimanAl-Walid bin Al-Mughirah termasuk orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah mengabadikan gambaran sikap seorang penentang yang memikirkan cara untuk memberikan label terhadap Al-Qur’an,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ۝ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ نَظَرَ ۝ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ۝ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ۝ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ۝ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu dia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. Al-Muddatstsir: 18–25)Allah kemudian memberikan ancaman,سَأُصْلِيهِ سَقَرَ“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)Dalam kitab-kitab tafsir, ayat-ayat ini masyhur dikaitkan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.Ia mendengar Al-Qur’an, memikirkan apa yang didengarnya, tetapi kemudian memilih kesombongan dan penolakan. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhanAbu Jahal bernama ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Sebelum Islam ia berkunyah Abu Al-Hakam, tetapi dalam sejarah Islam ia lebih dikenal sebagai Abu Jahal.Ia bukan sekadar orang yang tidak mau masuk Islam.Permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras.Menariknya, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal bukan dua tokoh yang tidak memiliki hubungan.Al-Walid adalah pamannya.Keduanya sama-sama berasal dari Bani Makhzum.Keduanya sama-sama memiliki kedudukan di tengah Quraisy.Keduanya sama-sama berhadapan dengan dakwah seorang nabi yang mereka kenal, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya tidak mendapat hidayah. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginyaDalam riwayat sirah disebutkan bahwa Abu Jahal bersama beberapa pemuka Quraisy pernah mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sembunyi-sembunyi.Ketika ditanya mengenai apa yang didengarnya, Abu Jahal mengungkapkan persoalan persaingan kemuliaan antara kaumnya dan Bani ‘Abdi Manaf.Ia berkata,تَنَازَعْنَا نَحْنُ وَبَنُو عَبْدِ مَنَافٍ الشَّرَفَ، أَطْعَمُوا فَأَطْعَمْنَا، وَحَمَلُوا فَحَمَلْنَا، وَأَعْطَوْا فَأَعْطَيْنَا، حَتَّى إِذَا تَجَاثَيْنَا عَلَى الرُّكَبِ، وَكُنَّا كَفَرَسَيْ رِهَانٍ، قَالُوا: مِنَّا نَبِيٌّ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنَ السَّمَاءِ، فَمَتَى نُدْرِكُ هَذِهِ؟ وَاللَّهِ لَا نُؤْمِنُ بِهِ أَبَدًا وَلَا نُصَدِّقُهُ.“Kami dan Bani ‘Abdi Manaf bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun menanggung beban. Mereka memberi, kami pun memberi. Sampai ketika kami telah sejajar seperti dua kuda pacuan, mereka berkata, ‘Dari kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit.’ Kapan kami dapat menyamai hal ini? Demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya.”Ini termasuk berita sirah, sehingga tidak ditempatkan setingkat dengan hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.Namun, berita tersebut menggambarkan satu penyakit hati yang berbahaya: seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi gengsi, fanatisme kelompok, persaingan, dan kesombongan membuatnya enggan tunduk. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalatPermusuhan Abu Jahal tidak berhenti pada perkataan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata,هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah di tengah-tengah kalian?”Maksudnya, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih shalat dan bersujud di hadapan mereka.Mereka menjawab, “Ya.”Abu Jahal berkata,وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ.“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal benar-benar mendekat untuk menjalankan ancamannya. Namun, ia tiba-tiba mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.Ketika ditanya, ia menyebut bahwa antara dirinya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat parit api, sesuatu yang menakutkan, dan sayap-sayap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا.“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)Kisah tersebut berkaitan dengan firman Allah,أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ ۝ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 9–10)Kemudian Allah berfirman,كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ ۝ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ“Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15–16)Allah menutup surah itu dengan firman-Nya,كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ“Sekali-kali jangan! Janganlah engkau patuh kepadanya. Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19)Abu Jahal ingin menghentikan sujud Nabi.Allah justru memerintahkan Nabi-Nya terus bersujud dan semakin mendekat kepada-Nya. Nabi dihina ketika sedang bersujud‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan salah satu gangguan berat kaum Quraisy.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersujud di dekat Ka‘bah, ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith membawa isi perut unta lalu meletakkannya di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para pembesar Quraisy menertawakan beliau.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersujud sampai Fathimah radhiyallahu ‘anha datang dan membersihkannya.Setelah selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan sejumlah pemuka Quraisy, termasuk Abu Jahal.Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu kemudian menyaksikan mereka terbunuh di Perang Badar. (HR. Bukhari, no. 3854; Muslim, no. 1794)Ini menunjukkan betapa berat gangguan yang diterima Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang sebenarnya telah lama mengenal beliau. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju BadarPermusuhan Abu Jahal berlanjut hingga Perang Badar.Ketika kafilah Abu Sufyan sudah berhasil selamat, sebenarnya alasan utama pasukan Quraisy untuk terus maju telah hilang.Namun, Abu Jahal bersikeras melanjutkan perjalanan menuju Badar.Dalam riwayat sirah Ibn Ishaq disebutkan bahwa Abu Jahal berkata,وَاللَّهِ لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَرِدَ بَدْرًا، فَنُقِيمَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَنَنْحَرَ الْجُزُرَ، وَنُطْعِمَ الطَّعَامَ، وَنَسْقِيَ الْخَمْرَ، وَتَعْزِفَ عَلَيْنَا الْقِيَانُ، وَتَسْمَعَ بِنَا الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا.“Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menyediakan makanan, minum khamar, dan para penyanyi akan memainkan musik untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar perjalanan dan kekuatan pasukan kita sehingga mereka akan terus takut kepada kita selama-lamanya.”Yang mendorongnya bukan sekadar kepentingan militer.Ada gengsi, kebanggaan kelompok, dan keinginan mempertontonkan kekuatan.Namun, justru di Badarlah kebesaran yang dibanggakannya berakhir. Dua pemuda Anshar menyerang Abu JahalDalam Perang Badar, dua pemuda Anshar sangat ingin menemukan Abu Jahal karena mereka mendengar bagaimana ia mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa salah seorang dari keduanya berkata,يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ.“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”Ketika ‘Abdurrahman menunjukkan Abu Jahal, kedua pemuda itu segera menyerangnya hingga ia mengalami luka sangat parah.Mereka adalah dua putra ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekaratSetelah peperangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟“Siapakah yang mau melihat apa yang terjadi pada Abu Jahal?”Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ، قَالَ: أَأَنْتَ أَبُو جَهْلٍ؟ قَالَ: فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ، قَالَ: وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ، أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟“Ibnu Mas‘ud pun pergi mencarinya. Ia mendapati Abu Jahal telah dihantam oleh dua putra ‘Afra’ hingga sangat lemah dan mendekati kematian. Ibnu Mas‘ud berkata, ‘Apakah engkau Abu Jahal?’ Lalu ia memegang janggutnya. Abu Jahal berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih dari seorang laki-laki yang kalian bunuh, atau seorang laki-laki yang dibunuh oleh kaumnya?’” (HR. Bukhari, no. 3962; Muslim, no. 1800)Begitulah akhir Abu Jahal.Ia hidup bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui dakwah beliau, lalu menghabiskan hidupnya untuk menentang beliau sampai akhirnya terbunuh di Badar.Cerita lengkapnya, ada dalam riwayat berikut dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata,إِنِّي لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ، فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ بِمَكَانِهِمَا، إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ: يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ، فَقُلْتُ: يَا ابْنَ أَخِي، وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللَّهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ دُونَهُ. فَقَالَ لِي الْآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ. قَالَ: فَمَا سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا، فَأَشَرْتُ لَهُمَا إِلَيْهِ، فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ، وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ.“Pada Perang Badar, aku berada di dalam barisan pasukan. Ketika aku menoleh, ternyata di sebelah kanan dan kiriku ada dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku pun merasa kurang tenang karena berada di antara keduanya.Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku secara diam-diam agar tidak didengar temannya, ‘Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.’Aku bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang hendak engkau lakukan terhadapnya?’Ia menjawab, ‘Aku telah berjanji kepada Allah, jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau aku mati dalam usaha melawannya.’Kemudian pemuda yang satunya lagi juga mengatakan kepadaku secara diam-diam hal yang sama.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku tidak akan merasa lebih senang seandainya berada di antara dua orang selain mereka.’Kemudian aku menunjukkan Abu Jahal kepada keduanya. Keduanya pun segera menerjang Abu Jahal seperti dua ekor elang yang menyambar mangsanya, hingga keduanya berhasil menyerangnya. Kedua pemuda itu adalah dua putra ‘Afra’.”(HR. Bukhari, no. 3988; Muslim, no. 1752; Ahmad, no. 1673; dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma‘ani Al-Atsar, no. 5196 dengan redaksi semakna). Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayahDi sinilah hubungan antara Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah menjadi sangat menarik.Al-Walid bin Al-Mughirah menolak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, kemudian masuk Islam.Abu Jahal juga menjadi salah seorang musuh terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya juga mendapat hidayah.Dalam satu keluarga Bani Makhzum kita mendapati:Al-Walid bin Al-Mughirah → menolak Islam Khalid bin Al-Walid → mendapat hidayahAbu Jahal → memusuhi Islam sampai mati Ikrimah bin Abi Jahl → mendapat hidayahBetapa jelas bahwa iman bukan perkara garis darah. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnyaPada mulanya, Ikrimah bin Abi Jahl memang mengikuti jalan ayahnya.Ia termasuk orang Quraisy yang keras memusuhi kaum muslimin.Ketika terjadi Fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri menuju laut.Dalam perjalanan, kapal yang ditumpanginya menghadapi bahaya. Orang-orang yang berada di atas kapal berkata,أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا.“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”Ucapan itu menyentuh hati Ikrimah.Ia berkata,وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ.“Demi Allah, jika di laut tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”Allah menyelamatkannya.Ikrimah kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.Ayahnya meninggal ketika memerangi Rasulullah.Anaknya justru datang kepada Rasulullah untuk menerima Islam. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnyaHal yang serupa terjadi pada Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu.Ayahnya, Al-Walid bin Al-Mughirah, termasuk tokoh Quraisy yang menolak Nabi.Namun, Khalid kemudian memperoleh hidayah.Ia hijrah setelah Hudaibiyah bersama ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah. Setelah masuk Islam, Khalid menjadi salah seorang sahabat yang memiliki peran besar dalam perjuangan kaum muslimin.Maka dalam Bani Makhzum terjadi perubahan yang luar biasa.Generasi sebelumnya berusaha menghalangi Islam.Sebagian generasi setelahnya justru mengorbankan tenaga dan jiwa untuk Islam. Orang tua dan anak bisa berbeda jalanInilah pelajaran besar bagi setiap orang tua.Kita tidak boleh merasa bahwa kesalehan akan otomatis diwariskan hanya karena anak lahir dari keluarga baik.Sebaliknya, kita juga tidak boleh berputus asa terhadap seorang anak hanya karena ia tumbuh dari lingkungan yang buruk.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)Lihatlah keluarga Bani Makhzum.Al-Walid tidak beriman, tetapi Khalid beriman.Abu Jahal mati dalam kekufuran, tetapi Ikrimah mendapatkan hidayah.Maka, siapa pun tidak berhak memastikan masa depan iman seseorang hanya dengan melihat keluarganya hari ini. Hidayah tidak diwariskan melalui nasabKisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang pendidikan anak.Orang tua dapat memberikan pendidikan.Orang tua dapat menunjukkan jalan.Orang tua dapat menjadi teladan.Orang tua dapat mendoakan.Namun, orang tua tidak memiliki hati anaknya.Allah-lah yang membolak-balikkan hati.Karena itu, tugas orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak di atas iman, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya membutuhkan taufik dari Allah.Nasab dapat diwariskan. Harta dapat diwariskan. Kedudukan dapat diwariskan. Nama besar keluarga dapat diwariskan. Namun, iman tidak otomatis diwariskan. Hidayah adalah karunia Allah. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan IkrimahAl-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal berasal dari keluarga dekat Bani Makhzum; Al-Walid adalah paman Abu Jahal.Keduanya mengenal masyarakat dan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menolak dakwah beliau.Mendengar Al-Qur’an belum tentu memberi manfaat jika hati dikuasai kesombongan.Gengsi, fanatisme kelompok, dan perebutan kedudukan dapat menjadi penghalang hidayah.Seorang anak tidak harus mengulangi kesalahan orang tuanya.Khalid bin Al-Walid mendapat hidayah meskipun ayahnya menolak Islam.Ikrimah mendapat hidayah meskipun ayahnya adalah Abu Jahal.Jangan memvonis masa depan seseorang hanya dari latar belakang keluarganya.Orang tua wajib mendidik dan mendoakan, tetapi hidayah berada di tangan Allah.Selama seseorang masih hidup, pintu hidayah belum tertutup. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis no. 3854, 3962).Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sirah al-Nabawiyyah. Islamweb.Islamweb. (n.d.). Siyar al-salaf al-salihin: Khalid ibn al-Walid al-Makhzumi.Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis no. 1794, 1800, 2797).Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Man yanzhuru ma shana‘a Abu Jahl?Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Ancaman Abu Jahal terhadap Rasulullah ketika shalat. —– Malam Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Salatiga, Jawa TengahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Jahal Al-Walid bin Al-Mughirah Bani Makhzum hidayah hidayah Allah Ikrimah bin Abi Jahl Khalid bin Al-Walid pendidikan anak perang badar sirah nabi


Hidayah tidak selalu berjalan mengikuti garis keturunan. Dalam keluarga besar Bani Makhzum ada Al-Walid bin Al-Mughirah dan keponakannya, Abu Jahal, yang sama-sama menentang dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; tetapi dari keluarga yang sama Allah memberi hidayah kepada Khalid bin Al-Walid dan Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini menunjukkan bahwa nasab dapat diwariskan, tetapi iman dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekat 2. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnya 3. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnya 4. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak beriman 5. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhan 6. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginya 7. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalat 8. Nabi dihina ketika sedang bersujud 9. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju Badar 10. Dua pemuda Anshar menyerang Abu Jahal 11. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekarat 12. Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayah 13. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnya 14. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnya 15. Orang tua dan anak bisa berbeda jalan 16. Hidayah tidak diwariskan melalui nasab 17. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah 18. Referensi  Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekatSebelum memasuki kisah Abu Jahal, ada hubungan keluarga yang penting untuk diketahui.Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal sama-sama berasal dari Bani Makhzum, salah satu keluarga besar Quraisy.Nasab Al-Walid adalah:Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Adapun nama asli Abu Jahal adalah:‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Dengan demikian, Hisyam bin Al-Mughirah, ayah Abu Jahal, adalah saudara Al-Walid bin Al-Mughirah. Artinya, Al-Walid bin Al-Mughirah adalah paman Abu Jahal.Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana:Al-Mughirah bin ‘AbdillahAl-Walid bin Al-Mughirah → Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuHisyam bin Al-Mughirah → Abu Jahal (‘Amr bin Hisyam) → Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuIbnu Hisyam ketika menyebut para tokoh Quraisy yang menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuliskan nasab Abu Jahal dan Al-Walid bin Al-Mughirah dalam satu rangkaian pembahasan. Dari nasab tersebut tampak jelas bahwa keduanya bertemu pada Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.Di kemudian hari, Khalid bin Al-Walid dikenal sebagai putra Al-Walid bin Al-Mughirah. Nasab Khalid disebutkan,خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ مَخْزُومٍ“Khalid bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.”Jadi, kita sedang berbicara tentang satu keluarga besar Bani Makhzum yang kelak memperlihatkan akhir perjalanan iman yang sangat berbeda. Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnyaAl-Walid bin Al-Mughirah berasal dari generasi yang lebih tua daripada Abu Jahal. Hal ini sudah tampak dari hubungan nasab: Al-Walid adalah saudara kakek garis ayah Abu Jahal—tepatnya saudara Hisyam, ayah Abu Jahal.Al-Walid adalah seorang pemuka Quraisy yang telah berusia lanjut ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah. Adapun Abu Jahal berada pada generasi sesudahnya dan hidup pada masa yang berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sumber-sumber klasik tidak memberikan tahun kelahiran Al-Walid dan Abu Jahal dengan ketepatan seperti informasi mengenai umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa Al-Walid adalah generasi yang lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi setelahnya, tanpa memastikan angka tahun kelahiran mereka.Yang jauh lebih penting daripada angka usia adalah kenyataan bahwa keduanya mendapatkan kesempatan mendengar dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya memilih menentangnya. Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan orang asing bagi masyarakat Quraisy.Beliau lahir, tumbuh, dan hidup bersama mereka. Sebelum kenabian, mereka mengenal beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya.Al-Walid bin Al-Mughirah merupakan salah seorang tokoh senior Quraisy ketika dakwah Islam muncul. Abu Jahal juga termasuk pemimpin Quraisy yang memiliki kedudukan kuat.Artinya, penolakan mereka bukan karena tidak pernah mendengar siapa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Mereka mengenal pribadi beliau.Mereka mendengar Al-Qur’an.Mereka menyaksikan dakwah beliau.Namun, mengenal kebenaran belum tentu membuat seseorang tunduk kepada kebenaran.Di sinilah letak pelajaran besar mengenai hidayah. Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak berimanAl-Walid bin Al-Mughirah termasuk orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah mengabadikan gambaran sikap seorang penentang yang memikirkan cara untuk memberikan label terhadap Al-Qur’an,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ۝ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ نَظَرَ ۝ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ۝ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ۝ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ۝ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu dia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. Al-Muddatstsir: 18–25)Allah kemudian memberikan ancaman,سَأُصْلِيهِ سَقَرَ“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)Dalam kitab-kitab tafsir, ayat-ayat ini masyhur dikaitkan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.Ia mendengar Al-Qur’an, memikirkan apa yang didengarnya, tetapi kemudian memilih kesombongan dan penolakan. Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhanAbu Jahal bernama ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Sebelum Islam ia berkunyah Abu Al-Hakam, tetapi dalam sejarah Islam ia lebih dikenal sebagai Abu Jahal.Ia bukan sekadar orang yang tidak mau masuk Islam.Permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras.Menariknya, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal bukan dua tokoh yang tidak memiliki hubungan.Al-Walid adalah pamannya.Keduanya sama-sama berasal dari Bani Makhzum.Keduanya sama-sama memiliki kedudukan di tengah Quraisy.Keduanya sama-sama berhadapan dengan dakwah seorang nabi yang mereka kenal, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, keduanya tidak mendapat hidayah. Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginyaDalam riwayat sirah disebutkan bahwa Abu Jahal bersama beberapa pemuka Quraisy pernah mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sembunyi-sembunyi.Ketika ditanya mengenai apa yang didengarnya, Abu Jahal mengungkapkan persoalan persaingan kemuliaan antara kaumnya dan Bani ‘Abdi Manaf.Ia berkata,تَنَازَعْنَا نَحْنُ وَبَنُو عَبْدِ مَنَافٍ الشَّرَفَ، أَطْعَمُوا فَأَطْعَمْنَا، وَحَمَلُوا فَحَمَلْنَا، وَأَعْطَوْا فَأَعْطَيْنَا، حَتَّى إِذَا تَجَاثَيْنَا عَلَى الرُّكَبِ، وَكُنَّا كَفَرَسَيْ رِهَانٍ، قَالُوا: مِنَّا نَبِيٌّ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنَ السَّمَاءِ، فَمَتَى نُدْرِكُ هَذِهِ؟ وَاللَّهِ لَا نُؤْمِنُ بِهِ أَبَدًا وَلَا نُصَدِّقُهُ.“Kami dan Bani ‘Abdi Manaf bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun menanggung beban. Mereka memberi, kami pun memberi. Sampai ketika kami telah sejajar seperti dua kuda pacuan, mereka berkata, ‘Dari kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit.’ Kapan kami dapat menyamai hal ini? Demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya.”Ini termasuk berita sirah, sehingga tidak ditempatkan setingkat dengan hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.Namun, berita tersebut menggambarkan satu penyakit hati yang berbahaya: seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi gengsi, fanatisme kelompok, persaingan, dan kesombongan membuatnya enggan tunduk. Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalatPermusuhan Abu Jahal tidak berhenti pada perkataan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata,هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah di tengah-tengah kalian?”Maksudnya, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih shalat dan bersujud di hadapan mereka.Mereka menjawab, “Ya.”Abu Jahal berkata,وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ.“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal benar-benar mendekat untuk menjalankan ancamannya. Namun, ia tiba-tiba mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.Ketika ditanya, ia menyebut bahwa antara dirinya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat parit api, sesuatu yang menakutkan, dan sayap-sayap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا.“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)Kisah tersebut berkaitan dengan firman Allah,أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ ۝ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 9–10)Kemudian Allah berfirman,كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ ۝ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ“Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15–16)Allah menutup surah itu dengan firman-Nya,كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ“Sekali-kali jangan! Janganlah engkau patuh kepadanya. Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19)Abu Jahal ingin menghentikan sujud Nabi.Allah justru memerintahkan Nabi-Nya terus bersujud dan semakin mendekat kepada-Nya. Nabi dihina ketika sedang bersujud‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan salah satu gangguan berat kaum Quraisy.Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersujud di dekat Ka‘bah, ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith membawa isi perut unta lalu meletakkannya di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para pembesar Quraisy menertawakan beliau.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersujud sampai Fathimah radhiyallahu ‘anha datang dan membersihkannya.Setelah selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan sejumlah pemuka Quraisy, termasuk Abu Jahal.Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu kemudian menyaksikan mereka terbunuh di Perang Badar. (HR. Bukhari, no. 3854; Muslim, no. 1794)Ini menunjukkan betapa berat gangguan yang diterima Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang sebenarnya telah lama mengenal beliau. Kesombongan membawa Abu Jahal menuju BadarPermusuhan Abu Jahal berlanjut hingga Perang Badar.Ketika kafilah Abu Sufyan sudah berhasil selamat, sebenarnya alasan utama pasukan Quraisy untuk terus maju telah hilang.Namun, Abu Jahal bersikeras melanjutkan perjalanan menuju Badar.Dalam riwayat sirah Ibn Ishaq disebutkan bahwa Abu Jahal berkata,وَاللَّهِ لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَرِدَ بَدْرًا، فَنُقِيمَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَنَنْحَرَ الْجُزُرَ، وَنُطْعِمَ الطَّعَامَ، وَنَسْقِيَ الْخَمْرَ، وَتَعْزِفَ عَلَيْنَا الْقِيَانُ، وَتَسْمَعَ بِنَا الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا.“Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menyediakan makanan, minum khamar, dan para penyanyi akan memainkan musik untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar perjalanan dan kekuatan pasukan kita sehingga mereka akan terus takut kepada kita selama-lamanya.”Yang mendorongnya bukan sekadar kepentingan militer.Ada gengsi, kebanggaan kelompok, dan keinginan mempertontonkan kekuatan.Namun, justru di Badarlah kebesaran yang dibanggakannya berakhir. Dua pemuda Anshar menyerang Abu JahalDalam Perang Badar, dua pemuda Anshar sangat ingin menemukan Abu Jahal karena mereka mendengar bagaimana ia mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa salah seorang dari keduanya berkata,يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ.“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”Ketika ‘Abdurrahman menunjukkan Abu Jahal, kedua pemuda itu segera menyerangnya hingga ia mengalami luka sangat parah.Mereka adalah dua putra ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekaratSetelah peperangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟“Siapakah yang mau melihat apa yang terjadi pada Abu Jahal?”Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ، قَالَ: أَأَنْتَ أَبُو جَهْلٍ؟ قَالَ: فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ، قَالَ: وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ، أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟“Ibnu Mas‘ud pun pergi mencarinya. Ia mendapati Abu Jahal telah dihantam oleh dua putra ‘Afra’ hingga sangat lemah dan mendekati kematian. Ibnu Mas‘ud berkata, ‘Apakah engkau Abu Jahal?’ Lalu ia memegang janggutnya. Abu Jahal berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih dari seorang laki-laki yang kalian bunuh, atau seorang laki-laki yang dibunuh oleh kaumnya?’” (HR. Bukhari, no. 3962; Muslim, no. 1800)Begitulah akhir Abu Jahal.Ia hidup bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui dakwah beliau, lalu menghabiskan hidupnya untuk menentang beliau sampai akhirnya terbunuh di Badar.Cerita lengkapnya, ada dalam riwayat berikut dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata,إِنِّي لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ، فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ بِمَكَانِهِمَا، إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ: يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ، فَقُلْتُ: يَا ابْنَ أَخِي، وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللَّهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ دُونَهُ. فَقَالَ لِي الْآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ. قَالَ: فَمَا سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا، فَأَشَرْتُ لَهُمَا إِلَيْهِ، فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ، وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ.“Pada Perang Badar, aku berada di dalam barisan pasukan. Ketika aku menoleh, ternyata di sebelah kanan dan kiriku ada dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku pun merasa kurang tenang karena berada di antara keduanya.Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku secara diam-diam agar tidak didengar temannya, ‘Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.’Aku bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang hendak engkau lakukan terhadapnya?’Ia menjawab, ‘Aku telah berjanji kepada Allah, jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau aku mati dalam usaha melawannya.’Kemudian pemuda yang satunya lagi juga mengatakan kepadaku secara diam-diam hal yang sama.‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku tidak akan merasa lebih senang seandainya berada di antara dua orang selain mereka.’Kemudian aku menunjukkan Abu Jahal kepada keduanya. Keduanya pun segera menerjang Abu Jahal seperti dua ekor elang yang menyambar mangsanya, hingga keduanya berhasil menyerangnya. Kedua pemuda itu adalah dua putra ‘Afra’.”(HR. Bukhari, no. 3988; Muslim, no. 1752; Ahmad, no. 1673; dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma‘ani Al-Atsar, no. 5196 dengan redaksi semakna). Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayahDi sinilah hubungan antara Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah menjadi sangat menarik.Al-Walid bin Al-Mughirah menolak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, kemudian masuk Islam.Abu Jahal juga menjadi salah seorang musuh terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Namun, putranya, Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya juga mendapat hidayah.Dalam satu keluarga Bani Makhzum kita mendapati:Al-Walid bin Al-Mughirah → menolak Islam Khalid bin Al-Walid → mendapat hidayahAbu Jahal → memusuhi Islam sampai mati Ikrimah bin Abi Jahl → mendapat hidayahBetapa jelas bahwa iman bukan perkara garis darah. Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnyaPada mulanya, Ikrimah bin Abi Jahl memang mengikuti jalan ayahnya.Ia termasuk orang Quraisy yang keras memusuhi kaum muslimin.Ketika terjadi Fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri menuju laut.Dalam perjalanan, kapal yang ditumpanginya menghadapi bahaya. Orang-orang yang berada di atas kapal berkata,أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا.“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”Ucapan itu menyentuh hati Ikrimah.Ia berkata,وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ.“Demi Allah, jika di laut tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”Allah menyelamatkannya.Ikrimah kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.Ayahnya meninggal ketika memerangi Rasulullah.Anaknya justru datang kepada Rasulullah untuk menerima Islam. Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnyaHal yang serupa terjadi pada Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu.Ayahnya, Al-Walid bin Al-Mughirah, termasuk tokoh Quraisy yang menolak Nabi.Namun, Khalid kemudian memperoleh hidayah.Ia hijrah setelah Hudaibiyah bersama ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah. Setelah masuk Islam, Khalid menjadi salah seorang sahabat yang memiliki peran besar dalam perjuangan kaum muslimin.Maka dalam Bani Makhzum terjadi perubahan yang luar biasa.Generasi sebelumnya berusaha menghalangi Islam.Sebagian generasi setelahnya justru mengorbankan tenaga dan jiwa untuk Islam. Orang tua dan anak bisa berbeda jalanInilah pelajaran besar bagi setiap orang tua.Kita tidak boleh merasa bahwa kesalehan akan otomatis diwariskan hanya karena anak lahir dari keluarga baik.Sebaliknya, kita juga tidak boleh berputus asa terhadap seorang anak hanya karena ia tumbuh dari lingkungan yang buruk.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)Lihatlah keluarga Bani Makhzum.Al-Walid tidak beriman, tetapi Khalid beriman.Abu Jahal mati dalam kekufuran, tetapi Ikrimah mendapatkan hidayah.Maka, siapa pun tidak berhak memastikan masa depan iman seseorang hanya dengan melihat keluarganya hari ini. Hidayah tidak diwariskan melalui nasabKisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang pendidikan anak.Orang tua dapat memberikan pendidikan.Orang tua dapat menunjukkan jalan.Orang tua dapat menjadi teladan.Orang tua dapat mendoakan.Namun, orang tua tidak memiliki hati anaknya.Allah-lah yang membolak-balikkan hati.Karena itu, tugas orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak di atas iman, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya membutuhkan taufik dari Allah.Nasab dapat diwariskan. Harta dapat diwariskan. Kedudukan dapat diwariskan. Nama besar keluarga dapat diwariskan. Namun, iman tidak otomatis diwariskan. Hidayah adalah karunia Allah. Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan IkrimahAl-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal berasal dari keluarga dekat Bani Makhzum; Al-Walid adalah paman Abu Jahal.Keduanya mengenal masyarakat dan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menolak dakwah beliau.Mendengar Al-Qur’an belum tentu memberi manfaat jika hati dikuasai kesombongan.Gengsi, fanatisme kelompok, dan perebutan kedudukan dapat menjadi penghalang hidayah.Seorang anak tidak harus mengulangi kesalahan orang tuanya.Khalid bin Al-Walid mendapat hidayah meskipun ayahnya menolak Islam.Ikrimah mendapat hidayah meskipun ayahnya adalah Abu Jahal.Jangan memvonis masa depan seseorang hanya dari latar belakang keluarganya.Orang tua wajib mendidik dan mendoakan, tetapi hidayah berada di tangan Allah.Selama seseorang masih hidup, pintu hidayah belum tertutup. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis no. 3854, 3962).Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sirah al-Nabawiyyah. Islamweb.Islamweb. (n.d.). Siyar al-salaf al-salihin: Khalid ibn al-Walid al-Makhzumi.Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis no. 1794, 1800, 2797).Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Man yanzhuru ma shana‘a Abu Jahl?Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Ancaman Abu Jahal terhadap Rasulullah ketika shalat. —– Malam Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Salatiga, Jawa TengahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Jahal Al-Walid bin Al-Mughirah Bani Makhzum hidayah hidayah Allah Ikrimah bin Abi Jahl Khalid bin Al-Walid pendidikan anak perang badar sirah nabi
Prev     Next