Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara Mengatasinya

Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir iman kecemasan kesehatan mental ketenangan hati overthinking tauhid tawakal

Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara Mengatasinya

Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir iman kecemasan kesehatan mental ketenangan hati overthinking tauhid tawakal
Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir iman kecemasan kesehatan mental ketenangan hati overthinking tauhid tawakal


Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir iman kecemasan kesehatan mental ketenangan hati overthinking tauhid tawakal

Fikih Riba (Bag. 12): Memahami ‘Illat dalam Riba (3)

Daftar Isi Toggle'Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: 'Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.

Fikih Riba (Bag. 12): Memahami ‘Illat dalam Riba (3)

Daftar Isi Toggle'Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: 'Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.
Daftar Isi Toggle'Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: 'Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.


Daftar Isi Toggle'Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: 'Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: 'Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.

Fikih Riba (Bag. 12): Memahami ‘Illat dalam Riba (3)

Daftar Isi Toggle‘Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.

Fikih Riba (Bag. 12): Memahami ‘Illat dalam Riba (3)

Daftar Isi Toggle‘Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.
Daftar Isi Toggle‘Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.


Daftar Isi Toggle‘Illat pada keempat komoditas ribaPendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaPendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanPendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanPendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Berangkat dari pembahasan ‘illat pada emas dan perak, pembahasan kali ini adalah tentang ‘illat pada empat komoditas riba lainnya. Keempat komoditas tersebut adalah,GandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramSebagaimana dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Pada keempat komoditas di atas, terdapat standar ‘illat riba sebagaimana pada emas dan perak. Dengan standar itu, hal-hal yang sama ‘illat-nya dengan keempat komoditas di atas, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan riba berlaku pula pada barang atau komoditas tersebut. Dengan kata lain, barang itu masuk dalam kategori barang ribawi karena keselarasan (kesamaan) ‘illat-nya dengan ‘illat keempat komoditas di atas.Lantas apa yang menjadi ‘illat pada keempat komoditas di atas?‘Illat pada keempat komoditas ribaPara ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang ‘illat keempat komoditas tersebut, setidaknya ada empat pendapat [1]:Pendapat pertama: ‘Illat riba ada pada barang yang ditimbang atau ditakar dan dari jenis yang samaIni merupakan pendapat dari mazhab Hanbali dan mazhab Hanafi. Maka beranjak dari pendapat ini, terdapat dua hal yang menjadi ‘illat riba pada keempat komoditas menurut pendapat ini:Ditimbang atau ditakar;Jenis yang sama.Artinya, segala jenis barang yang ditakar atau ditimbang, seperti beras misalnya, kemudian jenisnya sama, maka berlaku hukum riba padanya. Yaitu, ketika terjadi transaksi, maka harus sama takaran dan dibayarkan secara tunai. Bahkan meskipun bukan makanan (seperti logam, besi, dan sejenisnya), tetap terkena hukum riba selama ditimbang atau ditakar dan jenisnya sama.Para ulama dari mazhab Hanafi dan Hanbali, berdalil dengan hadis berikut:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرِّمَاءَ، وَالرِّمَاءُ هُوَ الرِّبَا“Janganlah kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham, dan jangan satu sha’ dengan dua sha’. Sesungguhnya, aku khawatir atas kalian ar-rimā’, dan ar-rimā’ itu adalah riba.” (HR. Ahmad)Sebagian ulama melemahkan hadis ini, disebabkan adanya perawi bernama Abu Janab Al-Kalbi, yang dinilai oleh para ulama sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal). [2]Pendapat ini adalah pendapat yang dapat dikritisi dan didiskusikan kembali. Selain hadis yang dibawakan adalah hadis yang dha’if, pendalilan dengan hadis ini bisa dikatakan pendalilan yang kurang kuat. Yang mana penyebutan kata “sha’” tidak bisa serta merta menjadi ‘illat yang berpengaruh dalam penetapan hukum tersebut. Sebab, jika ukuran tersebut adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mencukupkan dengan penyebutan “ukuran” saja, dan tidak akan menyebutkan secara spesifik empat jenis komoditas tersebut.Pendapat kedua: ‘Illat riba pada empat komoditas tersebut adalah dapat dimakanArtinya, hukum yang berkaitan dengan riba berjalan pada setiap yang dimakan. Baik makanan tersebut sifatnya ditakar, ditimbang, dan lain sebagainya. Disebabkan ‘illat inilah, biji-bijian, lauk-pauk, manisan, buah-buahan, sayur-sayuran, termasuk dalam kategori komoditas ribawi. Artinya, jika dilakukan transaksi berupa tukar-menukar, maka harus sama jumlah atau nominalnya dan juga harus dilakukan secara tunai dan kontan.Adapun yang tidak dimakan, maka tidak masuk dalam komoditas ribawi menurut pendapat ini. Dan ini adalah pendapat dari mazhab Syafi’i. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Ma’mar bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ“Makanan ditukar dengan makanan, maka (harus) sama rata.” Pendapat ini dapat dikritisi dari dua segi:– Lafaz pada hadis di atas, “Harus ditukar dengan sama rata”, menunjukkan bahwasanya yang menjadi inti adalah bukan dari jenis makanan saja, namun harus adanya kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran. Dan “sama rata” tidak terjadi, kecuali dengan ditimbang atau ditakar.Sehingga jika dikatakan bahwa ‘illat keempat komoditas adalah makanan berdasarkan hadis ini, tentunya kurang tepat. Mengingat lafaz hadis ini bukan hanya tentang “makanan”, namun harus ada keselarasan, kesamarataan antara kedua barang yang ditukar.– Perawi hadis di atas, Ma’mar bin ‘Abdillah, berkata di akhir hadis,وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيْر“Dan saat itu, makanan pokok kita adalah sya’ir (sejenis gandum).” (HR. Ahmad)Sehingga yang dimaksud dari “makanan” pada hadis Ma’mar radhiyallahu ‘anhu adalah sya’ir (gandum). Dan gandum adalah jenis makanan pokok yang ditakar atau ditimbang. Maka kurang tepat jika dikatakan bahwa ‘illat pada keempat komoditas hanya “makanan” saja, dan pendapat itu terjawab (terbantahkan) dengan hadis ini. Hadis ini menjelaskan bahwa makanan pokok pada saat itu adalah gandum, dan gandum adalah makanan yang ditimbang atau ditakar.Pendapat ketiga: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah sebagai makanan pokok dan dapat disimpanIni merupakan pendapat mazhab Maliki dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Shamith yang telah disebutkan terkait enam komoditas riba.Menurut pendapat ini, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jenis-jenis dari harta ribawi, dapat diketahui bahwa tujuannya adalah agar setiap jenisnya dijadikan sebagai peringatan (perumpamaan) bagi hal lain yang semakna dengannya. Dan semuanya dipersatukan oleh sifat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan.Adapun gandum (al-burr) dan jelai (asy-sya’ir), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dengannya untuk mencakup segala jenis biji-bijian yang dapat disimpan. Beliau memberi peringatan melalui kurma untuk mencakup segala jenis makanan manis yang dapat disimpan seperti gula, madu, dan kismis. Dan beliau memberi peringatan melalui garam untuk mencakup segala jenis bumbu dapur yang disimpan untuk menyedapkan makanan.Pendapat ini pun dapat dikritisi, yaitu pendapat yang mengatakan “barang yang disimpan” sebagai ‘illat dalam menghukumi jenis barang atau harta riba. Tentu hal ini kurang tepat, karena nyatanya ruthab (kurma basah) berlaku padanya hukum riba, padahal kurma basah bukan termasuk barang (makanan) yang disimpan.Andaikata “barang yang disimpan” termasuk dari ‘illat harta riba, niscaya ruthab tidak berlaku padanya hukum riba. Karena ruthab bukan termasuk barang yang disimpan. Namun, justru ruthab termasuk dari harta ribawi.Pendapat keempat: ‘Illat riba pada keempat komoditas adalah dapat dimakan yang disertai dengan al-kayl (takaran) dan al-wazn (timbangan)Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Sa’id bin Al-Musayyib,لَا رِبًا إِلَّا فِيمَا كِيلَ أَوْ وُزِنَ مِمَّا يُؤْكَلُ أَوْ يُشْرَبُ“Tidak ada riba kecuali pada apa yang ditakar (kayl) atau ditimbang (wazn) dari sesuatu yang dimakan atau diminum.” (HR. Ad-Daruquthni)Juga hadis Ma’mar bin ‘Abdillah yang telah disebutkan di atas, yang menunjukkan makanan boleh ditukar dengan makanan dengan syarat harus sama nilainya. Dan dalil-dalil lainnya.Maka menurut pendapat ini, termasuk dari kategori barang ribawi jika:Berbentuk makanan;Dapat ditimbang;Dapat ditakar.Sehingga beras misalnya, masuk dalam kategori barang ribawi. Mengapa? Karena beras berbentuk makanan, dan dapat ditakar. Maka silahkan samakan barang-barang lainnya yang termasuk dalam ketiga poin di atas.Jika dilihat segi pendalilan dari pendapat ini yaitu, hal yang “sama rata” tidak akan ada kecuali dengan adanya timbangan atau takaran. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidaklah termasuk dalam kategori riba, melainkan pada makanan yang ditakar dan ditimbang.Dan pendapat keempat kiranya adalah pendapat yang kuat. Yaitu, ‘illat pada keempat komoditas berupa makanan yang dapat ditakar dan ditimbang. Sehingga segala jenis makanan yang dapat ditakar dan ditimbang, ketika terjadi transaksi tukar menukar harus sama takaran atau timbangannya dan harus dilakukan secara tunai.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 11***Depok, 1 Zulkaidah 1447/ 18 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 142-144); Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 179-184); dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 460-462).[2] Ash-Shaarimul Battar (hal. 89); Shahih Fiqih Sunnah (hal.180); dan Fiqhul Mu’amalat (hal. 142).Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– At-Tuwaijiri, Hamud bin ‘Abdillah. Ash-Shaarimul Battar lil Ijhaazi ‘ala Man Khalafa Al-Kitab was Sunnah wal ‘Ijma’ wal Atsar. Cetakan ke-1. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Aamah, 1409.

Amal Sebesar Gunung Menjadi Debu? Waspadai Satu Dosa yang Menghancurkan Segalanya!

Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

Amal Sebesar Gunung Menjadi Debu? Waspadai Satu Dosa yang Menghancurkan Segalanya!

Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ
Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ


Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

Hari-Hari Terbaik di Dunia

Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 129 QRIS donasi Yufid

Hari-Hari Terbaik di Dunia

Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 129 QRIS donasi Yufid
Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 129 QRIS donasi Yufid


Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 129 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Dada Sesak & Hati Gelisah? Inilah Obat Paling Ampuh yang Sering Kita Lupakan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dada Sesak & Hati Gelisah? Inilah Obat Paling Ampuh yang Sering Kita Lupakan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Bolehkah Menonton Pertandingan Sepak Bola?

Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.

Bolehkah Menonton Pertandingan Sepak Bola?

Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.
Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.


Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.

Saat Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Hati Kita Bergantung?

Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Saat Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Hati Kita Bergantung?

Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Tanda-Tanda Kamu Sudah Tidak Dijaga Allah – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri #NasehatUlama

Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Tanda-Tanda Kamu Sudah Tidak Dijaga Allah – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri #NasehatUlama

Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ
Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ


Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Bagaimana Cara Menyucikan Diri Melalui Ibadah Haji

Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 53 times, 1 visit(s) today Post Views: 131 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Menyucikan Diri Melalui Ibadah Haji

Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 53 times, 1 visit(s) today Post Views: 131 QRIS donasi Yufid
Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 53 times, 1 visit(s) today Post Views: 131 QRIS donasi Yufid


Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 53 times, 1 visit(s) today Post Views: 131 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.


Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Saat Hidup Terasa Berat, Dengarkan Penyejuk Hati Ini – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri

Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ

Saat Hidup Terasa Berat, Dengarkan Penyejuk Hati Ini – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri

Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ
Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ


Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ

Agar Para Malaikat Mendoakanmu

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 141 times, 1 visit(s) today Post Views: 123 QRIS donasi Yufid

Agar Para Malaikat Mendoakanmu

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 141 times, 1 visit(s) today Post Views: 123 QRIS donasi Yufid
Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 141 times, 1 visit(s) today Post Views: 123 QRIS donasi Yufid


Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 141 times, 1 visit(s) today Post Views: 123 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next