Kesembuhan Melalui Metode Syirik (04)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (04)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad
Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad


Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid
Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/366175775&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Surat An-Nuur #07: Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh

Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina

Faedah Surat An-Nuur #07: Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh

Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina
Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina


Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (03)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (03)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna
Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna


Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna

Manhajus Salikin: Tartib dan Muwalah Saat Wudhu

Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin

Manhajus Salikin: Tartib dan Muwalah Saat Wudhu

Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin
Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin


Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin

Doa Mohon Ridha Allah Ketika Sujud

Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud

Doa Mohon Ridha Allah Ketika Sujud

Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud
Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud


Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bagian 02)

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 QRIS donasi Yufid

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bagian 02)

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 QRIS donasi Yufid
Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/365230913&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Gambar Wali Songo

Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 QRIS donasi Yufid

Hukum Gambar Wali Songo

Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 QRIS donasi Yufid
Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/365231168&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Maulid Nabi Menurut 4 Madzhab

Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab Bagaimana pendapat ulama imam 4 madzhab tentang peringatan maulid? seperti Imam as-Syafii… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H. Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H. Mengenai siapa bani fathimiyah, bisa anda pelajari di: Mengenal Kerajaan Syiah Daulah Fatimiyah Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah. Kita akan simak penuturan mereka, [1] Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H), لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1). [2] Keterangan as-Syathibi (w. 790 H) فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203). [3] Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani), أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12) [4] Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H) ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190). Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian. [5] Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312) [6] Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i, Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan, إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153). [7] Keterangan Muhammad Rasyid Ridha, هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111) Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid? Jawabannya: Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Apakah Syiah Itu, Disunat 2 Kali, Dp Bbm Cerai, Teks Ceramah Kultum, Suami Istri Berhubungan Intim Video, Dzikir Imam Syafi I Visited 1,389 times, 1 visit(s) today Post Views: 563 QRIS donasi Yufid

Maulid Nabi Menurut 4 Madzhab

Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab Bagaimana pendapat ulama imam 4 madzhab tentang peringatan maulid? seperti Imam as-Syafii… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H. Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H. Mengenai siapa bani fathimiyah, bisa anda pelajari di: Mengenal Kerajaan Syiah Daulah Fatimiyah Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah. Kita akan simak penuturan mereka, [1] Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H), لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1). [2] Keterangan as-Syathibi (w. 790 H) فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203). [3] Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani), أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12) [4] Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H) ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190). Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian. [5] Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312) [6] Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i, Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan, إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153). [7] Keterangan Muhammad Rasyid Ridha, هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111) Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid? Jawabannya: Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Apakah Syiah Itu, Disunat 2 Kali, Dp Bbm Cerai, Teks Ceramah Kultum, Suami Istri Berhubungan Intim Video, Dzikir Imam Syafi I Visited 1,389 times, 1 visit(s) today Post Views: 563 QRIS donasi Yufid
Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab Bagaimana pendapat ulama imam 4 madzhab tentang peringatan maulid? seperti Imam as-Syafii… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H. Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H. Mengenai siapa bani fathimiyah, bisa anda pelajari di: Mengenal Kerajaan Syiah Daulah Fatimiyah Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah. Kita akan simak penuturan mereka, [1] Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H), لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1). [2] Keterangan as-Syathibi (w. 790 H) فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203). [3] Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani), أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12) [4] Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H) ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190). Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian. [5] Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312) [6] Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i, Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan, إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153). [7] Keterangan Muhammad Rasyid Ridha, هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111) Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid? Jawabannya: Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Apakah Syiah Itu, Disunat 2 Kali, Dp Bbm Cerai, Teks Ceramah Kultum, Suami Istri Berhubungan Intim Video, Dzikir Imam Syafi I Visited 1,389 times, 1 visit(s) today Post Views: 563 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/696710929&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab Bagaimana pendapat ulama imam 4 madzhab tentang peringatan maulid? seperti Imam as-Syafii… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H. Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H. Mengenai siapa bani fathimiyah, bisa anda pelajari di: Mengenal Kerajaan Syiah Daulah Fatimiyah Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah. Kita akan simak penuturan mereka, [1] Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H), لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1). [2] Keterangan as-Syathibi (w. 790 H) فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203). [3] Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani), أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12) [4] Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H) ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190). Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian. [5] Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312) [6] Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i, Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan, إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153). [7] Keterangan Muhammad Rasyid Ridha, هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111) Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid? Jawabannya: Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Apakah Syiah Itu, Disunat 2 Kali, Dp Bbm Cerai, Teks Ceramah Kultum, Suami Istri Berhubungan Intim Video, Dzikir Imam Syafi I Visited 1,389 times, 1 visit(s) today Post Views: 563 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan

Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Sebagian orang mengatakan bahwa meminta hajat dari orang yang sudah meninggal itu boleh dengan dalil hadits:إذا تحيرتم في الأمور فاستعينوا بأهل القبور“Jika engkau memiliki urusan-urusan yang membingungkan, mintalah pertolongan kepada penghuni kubur”Apakah hadits ini sahih atau tidak?Jawab:Hadits ini termasuk di antara hadits-hadits yang merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana telah diperingatkan oleh lebih dari satu ulama dalam hal ini.Di antaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 356, setelah beliau menyebutkan hadits tersebut beliau mengatakan:هذا الحديث كذب مفترى على النبي صلى الله عليه وسلم بإجماع العارفين بحديثه لم يروه أحد من العلماء بذلك ولا يوجد في شيء من كتب الحديث المعتمدة“Hadits ini adalah dusta yang direka-reka atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pernyataan tentang dustanya hal ini merupakan ijma para ulama ahli hadits. Hadits ini tidak pernah diriwayatkan oleh seorang ulama pun dan tidak terdapat satu pun di dalam kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan.”Hadits palsu ini bertentangan dengan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan haramnya berbuat syirik. Tidak diragukan lagi bahwa berdoa kepada orang-orang yang sudah mati dan ber-istighatsah kepada mereka serta memohon agar diberi jalan keluar kepada mereka dalam menghadapi bencana dan kesulitan adalah bentuk kesyirikan yang besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula berdoa kepada mereka dalam keadaan lapang termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Orang-orang musyrik zaman dahulu ketika menghadapi kesulitan yang sangat sulit, mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata. Akan tetapi, ketika kesulitan sudah berakhir mereka berbuat syirik kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut: 65).Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka berbuat kesyirikan terus-menerus baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Bahkan dalam keadaan sempit kesyirikan mereka bertambah parah. Wal’iyyadzu billah. Hal ini menjelaskan bahwa kekufuran orang musyrik zaman ini lebih parah daripada orang musyrik zaman dahulu dari sisi ini.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ  الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS. Az-Zumar: 2-3).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir: 13-14).Ayat-ayat ini mencakup semua hal yang disembah selain Allah. Baik itu para nabi, orang-orang shalih atau selain mereka. Allah tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan, namun menjelaskan bahwa ia adalah kekufuran. Dalam firman-Nya:وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (QS. Al-Mu’minun: 117).Ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan menjelaskan bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain-Nya. Selain itu, juga menunjukkan haramnya beribadah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang sudah mati, berhala, pohon-pohon keramat, batu-batu keramat dan semisalnya. Ayat-ayat yang demikian ini sangat banyak bagi orang yang menadaburkan Al Qur’an dan ingin mencari hidayah dari Al Qur’an.Wallahul musta’an, wa laahaula walaaquwwata illa billah.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/96Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna

Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan

Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Sebagian orang mengatakan bahwa meminta hajat dari orang yang sudah meninggal itu boleh dengan dalil hadits:إذا تحيرتم في الأمور فاستعينوا بأهل القبور“Jika engkau memiliki urusan-urusan yang membingungkan, mintalah pertolongan kepada penghuni kubur”Apakah hadits ini sahih atau tidak?Jawab:Hadits ini termasuk di antara hadits-hadits yang merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana telah diperingatkan oleh lebih dari satu ulama dalam hal ini.Di antaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 356, setelah beliau menyebutkan hadits tersebut beliau mengatakan:هذا الحديث كذب مفترى على النبي صلى الله عليه وسلم بإجماع العارفين بحديثه لم يروه أحد من العلماء بذلك ولا يوجد في شيء من كتب الحديث المعتمدة“Hadits ini adalah dusta yang direka-reka atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pernyataan tentang dustanya hal ini merupakan ijma para ulama ahli hadits. Hadits ini tidak pernah diriwayatkan oleh seorang ulama pun dan tidak terdapat satu pun di dalam kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan.”Hadits palsu ini bertentangan dengan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan haramnya berbuat syirik. Tidak diragukan lagi bahwa berdoa kepada orang-orang yang sudah mati dan ber-istighatsah kepada mereka serta memohon agar diberi jalan keluar kepada mereka dalam menghadapi bencana dan kesulitan adalah bentuk kesyirikan yang besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula berdoa kepada mereka dalam keadaan lapang termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Orang-orang musyrik zaman dahulu ketika menghadapi kesulitan yang sangat sulit, mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata. Akan tetapi, ketika kesulitan sudah berakhir mereka berbuat syirik kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut: 65).Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka berbuat kesyirikan terus-menerus baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Bahkan dalam keadaan sempit kesyirikan mereka bertambah parah. Wal’iyyadzu billah. Hal ini menjelaskan bahwa kekufuran orang musyrik zaman ini lebih parah daripada orang musyrik zaman dahulu dari sisi ini.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ  الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS. Az-Zumar: 2-3).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir: 13-14).Ayat-ayat ini mencakup semua hal yang disembah selain Allah. Baik itu para nabi, orang-orang shalih atau selain mereka. Allah tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan, namun menjelaskan bahwa ia adalah kekufuran. Dalam firman-Nya:وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (QS. Al-Mu’minun: 117).Ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan menjelaskan bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain-Nya. Selain itu, juga menunjukkan haramnya beribadah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang sudah mati, berhala, pohon-pohon keramat, batu-batu keramat dan semisalnya. Ayat-ayat yang demikian ini sangat banyak bagi orang yang menadaburkan Al Qur’an dan ingin mencari hidayah dari Al Qur’an.Wallahul musta’an, wa laahaula walaaquwwata illa billah.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/96Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna
Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Sebagian orang mengatakan bahwa meminta hajat dari orang yang sudah meninggal itu boleh dengan dalil hadits:إذا تحيرتم في الأمور فاستعينوا بأهل القبور“Jika engkau memiliki urusan-urusan yang membingungkan, mintalah pertolongan kepada penghuni kubur”Apakah hadits ini sahih atau tidak?Jawab:Hadits ini termasuk di antara hadits-hadits yang merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana telah diperingatkan oleh lebih dari satu ulama dalam hal ini.Di antaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 356, setelah beliau menyebutkan hadits tersebut beliau mengatakan:هذا الحديث كذب مفترى على النبي صلى الله عليه وسلم بإجماع العارفين بحديثه لم يروه أحد من العلماء بذلك ولا يوجد في شيء من كتب الحديث المعتمدة“Hadits ini adalah dusta yang direka-reka atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pernyataan tentang dustanya hal ini merupakan ijma para ulama ahli hadits. Hadits ini tidak pernah diriwayatkan oleh seorang ulama pun dan tidak terdapat satu pun di dalam kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan.”Hadits palsu ini bertentangan dengan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan haramnya berbuat syirik. Tidak diragukan lagi bahwa berdoa kepada orang-orang yang sudah mati dan ber-istighatsah kepada mereka serta memohon agar diberi jalan keluar kepada mereka dalam menghadapi bencana dan kesulitan adalah bentuk kesyirikan yang besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula berdoa kepada mereka dalam keadaan lapang termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Orang-orang musyrik zaman dahulu ketika menghadapi kesulitan yang sangat sulit, mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata. Akan tetapi, ketika kesulitan sudah berakhir mereka berbuat syirik kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut: 65).Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka berbuat kesyirikan terus-menerus baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Bahkan dalam keadaan sempit kesyirikan mereka bertambah parah. Wal’iyyadzu billah. Hal ini menjelaskan bahwa kekufuran orang musyrik zaman ini lebih parah daripada orang musyrik zaman dahulu dari sisi ini.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ  الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS. Az-Zumar: 2-3).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir: 13-14).Ayat-ayat ini mencakup semua hal yang disembah selain Allah. Baik itu para nabi, orang-orang shalih atau selain mereka. Allah tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan, namun menjelaskan bahwa ia adalah kekufuran. Dalam firman-Nya:وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (QS. Al-Mu’minun: 117).Ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan menjelaskan bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain-Nya. Selain itu, juga menunjukkan haramnya beribadah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang sudah mati, berhala, pohon-pohon keramat, batu-batu keramat dan semisalnya. Ayat-ayat yang demikian ini sangat banyak bagi orang yang menadaburkan Al Qur’an dan ingin mencari hidayah dari Al Qur’an.Wallahul musta’an, wa laahaula walaaquwwata illa billah.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/96Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna


Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Sebagian orang mengatakan bahwa meminta hajat dari orang yang sudah meninggal itu boleh dengan dalil hadits:إذا تحيرتم في الأمور فاستعينوا بأهل القبور“Jika engkau memiliki urusan-urusan yang membingungkan, mintalah pertolongan kepada penghuni kubur”Apakah hadits ini sahih atau tidak?Jawab:Hadits ini termasuk di antara hadits-hadits yang merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana telah diperingatkan oleh lebih dari satu ulama dalam hal ini.Di antaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 356, setelah beliau menyebutkan hadits tersebut beliau mengatakan:هذا الحديث كذب مفترى على النبي صلى الله عليه وسلم بإجماع العارفين بحديثه لم يروه أحد من العلماء بذلك ولا يوجد في شيء من كتب الحديث المعتمدة“Hadits ini adalah dusta yang direka-reka atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pernyataan tentang dustanya hal ini merupakan ijma para ulama ahli hadits. Hadits ini tidak pernah diriwayatkan oleh seorang ulama pun dan tidak terdapat satu pun di dalam kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan.”Hadits palsu ini bertentangan dengan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan haramnya berbuat syirik. Tidak diragukan lagi bahwa berdoa kepada orang-orang yang sudah mati dan ber-istighatsah kepada mereka serta memohon agar diberi jalan keluar kepada mereka dalam menghadapi bencana dan kesulitan adalah bentuk kesyirikan yang besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula berdoa kepada mereka dalam keadaan lapang termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Orang-orang musyrik zaman dahulu ketika menghadapi kesulitan yang sangat sulit, mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata. Akan tetapi, ketika kesulitan sudah berakhir mereka berbuat syirik kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut: 65).Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka berbuat kesyirikan terus-menerus baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Bahkan dalam keadaan sempit kesyirikan mereka bertambah parah. Wal’iyyadzu billah. Hal ini menjelaskan bahwa kekufuran orang musyrik zaman ini lebih parah daripada orang musyrik zaman dahulu dari sisi ini.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ  الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS. Az-Zumar: 2-3).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir: 13-14).Ayat-ayat ini mencakup semua hal yang disembah selain Allah. Baik itu para nabi, orang-orang shalih atau selain mereka. Allah tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan, namun menjelaskan bahwa ia adalah kekufuran. Dalam firman-Nya:وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (QS. Al-Mu’minun: 117).Ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan menjelaskan bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain-Nya. Selain itu, juga menunjukkan haramnya beribadah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang sudah mati, berhala, pohon-pohon keramat, batu-batu keramat dan semisalnya. Ayat-ayat yang demikian ini sangat banyak bagi orang yang menadaburkan Al Qur’an dan ingin mencari hidayah dari Al Qur’an.Wallahul musta’an, wa laahaula walaaquwwata illa billah.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/96Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna

Merayakan Maulid dapat Syafaat Nabi?

Hadits Palsu Tentang Maulid Nabi Muhammad Benarkah orang yang merayakan maulid akan mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat sebuah hadis yang sering dijadikan sebagai dalil pendukung maulid. Teks hadisnya, مَنْ عَظَّمَ مَولِدِى كُنتُ شَفيعًا لَه يَومَ القِيَامَة. وَمَنْ اَنْفَقَ دِرهَمًـا فِى مَولِدِى فَكَاَنَّمـَا اَنفَقَ جَبَلًا مِن ذَهَبٍ فِى سَبِيلِ اللهِ “Siapa yang mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat, dan siapa mendermakan satu dirham untuk menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah.” Status Hadits Kami tidak pernah menjumpai hadis ini. Bahkan ada keterangan dari sebagian ulama bahwa hadis ini adalah hadis palsu, dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara Syaikh Abdullah Aljibrin. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau mengatakan, هذا الحديث لا يصح، ولم يرو في أصحاب الصحيح ولا أصحاب السنن فهو مكذوب Hadis ini tidak shahih, tidak pernah diriwayatkan para penulis kitab shahih atau penulis kitab sunan. Hadits ini dusta. [http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-6019-.html] Agar Mendapatkan Syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ “Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ Wahai Abu Hurairah, sudah saya duga, tidak ada seorangpun yang bertanya kepadaku tentang masalah ini sebelum-mu. Karena saya tahu, kamu sangat semangat untuk mendapatkan hadis. Lalu beliau bersabda, “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” (HR. Bukhari 99 dan yang lainnya). Makna “mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya” adalah mentauhidkan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan pertanyaan ini. Bahkan beliau sebut itu bagian dari semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam mendapatkan hadits. Sehingga tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini. Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau tidak menjawab, “Orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?” Baca Artikel Terkait: Peringatan Maulud Nabi dalam Tinjauan Sejarah Namun jawaban beliau adalah “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dinosaurus Menurut Alquran, Cara Taaruf, Doa Menyamak, Menjawab Salam, Doa Mandi Wajib Setelah Berhubungan Badan, Doa Untuk Minum Air Zam Zam Visited 401 times, 1 visit(s) today Post Views: 377 QRIS donasi Yufid

Merayakan Maulid dapat Syafaat Nabi?

Hadits Palsu Tentang Maulid Nabi Muhammad Benarkah orang yang merayakan maulid akan mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat sebuah hadis yang sering dijadikan sebagai dalil pendukung maulid. Teks hadisnya, مَنْ عَظَّمَ مَولِدِى كُنتُ شَفيعًا لَه يَومَ القِيَامَة. وَمَنْ اَنْفَقَ دِرهَمًـا فِى مَولِدِى فَكَاَنَّمـَا اَنفَقَ جَبَلًا مِن ذَهَبٍ فِى سَبِيلِ اللهِ “Siapa yang mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat, dan siapa mendermakan satu dirham untuk menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah.” Status Hadits Kami tidak pernah menjumpai hadis ini. Bahkan ada keterangan dari sebagian ulama bahwa hadis ini adalah hadis palsu, dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara Syaikh Abdullah Aljibrin. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau mengatakan, هذا الحديث لا يصح، ولم يرو في أصحاب الصحيح ولا أصحاب السنن فهو مكذوب Hadis ini tidak shahih, tidak pernah diriwayatkan para penulis kitab shahih atau penulis kitab sunan. Hadits ini dusta. [http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-6019-.html] Agar Mendapatkan Syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ “Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ Wahai Abu Hurairah, sudah saya duga, tidak ada seorangpun yang bertanya kepadaku tentang masalah ini sebelum-mu. Karena saya tahu, kamu sangat semangat untuk mendapatkan hadis. Lalu beliau bersabda, “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” (HR. Bukhari 99 dan yang lainnya). Makna “mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya” adalah mentauhidkan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan pertanyaan ini. Bahkan beliau sebut itu bagian dari semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam mendapatkan hadits. Sehingga tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini. Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau tidak menjawab, “Orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?” Baca Artikel Terkait: Peringatan Maulud Nabi dalam Tinjauan Sejarah Namun jawaban beliau adalah “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dinosaurus Menurut Alquran, Cara Taaruf, Doa Menyamak, Menjawab Salam, Doa Mandi Wajib Setelah Berhubungan Badan, Doa Untuk Minum Air Zam Zam Visited 401 times, 1 visit(s) today Post Views: 377 QRIS donasi Yufid
Hadits Palsu Tentang Maulid Nabi Muhammad Benarkah orang yang merayakan maulid akan mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat sebuah hadis yang sering dijadikan sebagai dalil pendukung maulid. Teks hadisnya, مَنْ عَظَّمَ مَولِدِى كُنتُ شَفيعًا لَه يَومَ القِيَامَة. وَمَنْ اَنْفَقَ دِرهَمًـا فِى مَولِدِى فَكَاَنَّمـَا اَنفَقَ جَبَلًا مِن ذَهَبٍ فِى سَبِيلِ اللهِ “Siapa yang mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat, dan siapa mendermakan satu dirham untuk menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah.” Status Hadits Kami tidak pernah menjumpai hadis ini. Bahkan ada keterangan dari sebagian ulama bahwa hadis ini adalah hadis palsu, dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara Syaikh Abdullah Aljibrin. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau mengatakan, هذا الحديث لا يصح، ولم يرو في أصحاب الصحيح ولا أصحاب السنن فهو مكذوب Hadis ini tidak shahih, tidak pernah diriwayatkan para penulis kitab shahih atau penulis kitab sunan. Hadits ini dusta. [http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-6019-.html] Agar Mendapatkan Syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ “Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ Wahai Abu Hurairah, sudah saya duga, tidak ada seorangpun yang bertanya kepadaku tentang masalah ini sebelum-mu. Karena saya tahu, kamu sangat semangat untuk mendapatkan hadis. Lalu beliau bersabda, “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” (HR. Bukhari 99 dan yang lainnya). Makna “mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya” adalah mentauhidkan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan pertanyaan ini. Bahkan beliau sebut itu bagian dari semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam mendapatkan hadits. Sehingga tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini. Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau tidak menjawab, “Orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?” Baca Artikel Terkait: Peringatan Maulud Nabi dalam Tinjauan Sejarah Namun jawaban beliau adalah “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dinosaurus Menurut Alquran, Cara Taaruf, Doa Menyamak, Menjawab Salam, Doa Mandi Wajib Setelah Berhubungan Badan, Doa Untuk Minum Air Zam Zam Visited 401 times, 1 visit(s) today Post Views: 377 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/362802053&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hadits Palsu Tentang Maulid Nabi Muhammad Benarkah orang yang merayakan maulid akan mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat sebuah hadis yang sering dijadikan sebagai dalil pendukung maulid. Teks hadisnya, مَنْ عَظَّمَ مَولِدِى كُنتُ شَفيعًا لَه يَومَ القِيَامَة. وَمَنْ اَنْفَقَ دِرهَمًـا فِى مَولِدِى فَكَاَنَّمـَا اَنفَقَ جَبَلًا مِن ذَهَبٍ فِى سَبِيلِ اللهِ “Siapa yang mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat, dan siapa mendermakan satu dirham untuk menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah.” Status Hadits Kami tidak pernah menjumpai hadis ini. Bahkan ada keterangan dari sebagian ulama bahwa hadis ini adalah hadis palsu, dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara Syaikh Abdullah Aljibrin. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau mengatakan, هذا الحديث لا يصح، ولم يرو في أصحاب الصحيح ولا أصحاب السنن فهو مكذوب Hadis ini tidak shahih, tidak pernah diriwayatkan para penulis kitab shahih atau penulis kitab sunan. Hadits ini dusta. [http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-6019-.html] Agar Mendapatkan Syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ “Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ Wahai Abu Hurairah, sudah saya duga, tidak ada seorangpun yang bertanya kepadaku tentang masalah ini sebelum-mu. Karena saya tahu, kamu sangat semangat untuk mendapatkan hadis. Lalu beliau bersabda, “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” (HR. Bukhari 99 dan yang lainnya). Makna “mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya” adalah mentauhidkan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan pertanyaan ini. Bahkan beliau sebut itu bagian dari semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam mendapatkan hadits. Sehingga tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini. Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau tidak menjawab, “Orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?” Baca Artikel Terkait: Peringatan Maulud Nabi dalam Tinjauan Sejarah Namun jawaban beliau adalah “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian.. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dinosaurus Menurut Alquran, Cara Taaruf, Doa Menyamak, Menjawab Salam, Doa Mandi Wajib Setelah Berhubungan Badan, Doa Untuk Minum Air Zam Zam Visited 401 times, 1 visit(s) today Post Views: 377 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01)

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berikut beberapa kesimpulan mengenai konsep rizki dalam islam, Pertama, semua makhluk – yang berakal maupun yang tidak berakal – rizkinya telah dijamin oleh Allah. Ada banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya. (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Ibnu Katsir menceritakan, Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Catatan: Prinsip ini tidak mengajarkan agar kita berpangku tangan dan diam tidak bekerja. Dengan anggapan semua telah ditaqdirkan. Ada beberapa alasan untuk membantah pendapat ini, [1] Benar rizki manusia  telah ditaqdirkan, tapi taqdir itu rahasia Allah, yang tidak kita ketahui. Sementara sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak boleh dijadikan alasan. [2]  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan ikhtiyar (usaha mencari rizki).  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Imam Ahmad menjelaskan, “Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.” Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. Sehingga siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah sampai dia mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi) Syaikh Shalih al-Maghamisi dalam sebuah ceramahnya menceritakan ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur. Ia pun berteriak minta tolong. lalu berhasil mengeluarkan orang itu dari sumur dalam keadaan selamat. Sesorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminimumnya dan menenangkann keadaanya. Setelah tenang orang-orang bertanya,”Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur.?” Mulailah orang itu bercerita, lalu ia berdiri di bibir sumur untuk mempraktikan kronologi saat ia terjatuh kedalam sumur.Qodarullah, tanpa di sengaja orang itu terjatuj lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati. Orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia, yakni satu gelas susu untuknya. Maka setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat  yang sama kemudian mati. Ketiga, hakekat dari rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita. Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya. Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja… Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah.. Demikian, Allahu a’lam. Artikel Berikutnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Bunuh Diri, Doa Istikarah, Hukum Mencukur Rambut Bayi Perempuan Dalam Islam, Khutbah Idul Adha 2015, Waktu Mengerjakan Sholat Taubat, Pensil Alis Anti Air Visited 1,416 times, 4 visit(s) today Post Views: 572 QRIS donasi Yufid

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01)

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berikut beberapa kesimpulan mengenai konsep rizki dalam islam, Pertama, semua makhluk – yang berakal maupun yang tidak berakal – rizkinya telah dijamin oleh Allah. Ada banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya. (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Ibnu Katsir menceritakan, Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Catatan: Prinsip ini tidak mengajarkan agar kita berpangku tangan dan diam tidak bekerja. Dengan anggapan semua telah ditaqdirkan. Ada beberapa alasan untuk membantah pendapat ini, [1] Benar rizki manusia  telah ditaqdirkan, tapi taqdir itu rahasia Allah, yang tidak kita ketahui. Sementara sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak boleh dijadikan alasan. [2]  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan ikhtiyar (usaha mencari rizki).  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Imam Ahmad menjelaskan, “Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.” Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. Sehingga siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah sampai dia mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi) Syaikh Shalih al-Maghamisi dalam sebuah ceramahnya menceritakan ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur. Ia pun berteriak minta tolong. lalu berhasil mengeluarkan orang itu dari sumur dalam keadaan selamat. Sesorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminimumnya dan menenangkann keadaanya. Setelah tenang orang-orang bertanya,”Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur.?” Mulailah orang itu bercerita, lalu ia berdiri di bibir sumur untuk mempraktikan kronologi saat ia terjatuh kedalam sumur.Qodarullah, tanpa di sengaja orang itu terjatuj lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati. Orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia, yakni satu gelas susu untuknya. Maka setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat  yang sama kemudian mati. Ketiga, hakekat dari rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita. Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya. Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja… Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah.. Demikian, Allahu a’lam. Artikel Berikutnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Bunuh Diri, Doa Istikarah, Hukum Mencukur Rambut Bayi Perempuan Dalam Islam, Khutbah Idul Adha 2015, Waktu Mengerjakan Sholat Taubat, Pensil Alis Anti Air Visited 1,416 times, 4 visit(s) today Post Views: 572 QRIS donasi Yufid
Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berikut beberapa kesimpulan mengenai konsep rizki dalam islam, Pertama, semua makhluk – yang berakal maupun yang tidak berakal – rizkinya telah dijamin oleh Allah. Ada banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya. (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Ibnu Katsir menceritakan, Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Catatan: Prinsip ini tidak mengajarkan agar kita berpangku tangan dan diam tidak bekerja. Dengan anggapan semua telah ditaqdirkan. Ada beberapa alasan untuk membantah pendapat ini, [1] Benar rizki manusia  telah ditaqdirkan, tapi taqdir itu rahasia Allah, yang tidak kita ketahui. Sementara sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak boleh dijadikan alasan. [2]  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan ikhtiyar (usaha mencari rizki).  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Imam Ahmad menjelaskan, “Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.” Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. Sehingga siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah sampai dia mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi) Syaikh Shalih al-Maghamisi dalam sebuah ceramahnya menceritakan ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur. Ia pun berteriak minta tolong. lalu berhasil mengeluarkan orang itu dari sumur dalam keadaan selamat. Sesorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminimumnya dan menenangkann keadaanya. Setelah tenang orang-orang bertanya,”Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur.?” Mulailah orang itu bercerita, lalu ia berdiri di bibir sumur untuk mempraktikan kronologi saat ia terjatuh kedalam sumur.Qodarullah, tanpa di sengaja orang itu terjatuj lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati. Orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia, yakni satu gelas susu untuknya. Maka setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat  yang sama kemudian mati. Ketiga, hakekat dari rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita. Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya. Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja… Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah.. Demikian, Allahu a’lam. Artikel Berikutnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Bunuh Diri, Doa Istikarah, Hukum Mencukur Rambut Bayi Perempuan Dalam Islam, Khutbah Idul Adha 2015, Waktu Mengerjakan Sholat Taubat, Pensil Alis Anti Air Visited 1,416 times, 4 visit(s) today Post Views: 572 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/362802269&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berikut beberapa kesimpulan mengenai konsep rizki dalam islam, Pertama, semua makhluk – yang berakal maupun yang tidak berakal – rizkinya telah dijamin oleh Allah. Ada banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya. (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Ibnu Katsir menceritakan, Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Catatan: Prinsip ini tidak mengajarkan agar kita berpangku tangan dan diam tidak bekerja. Dengan anggapan semua telah ditaqdirkan. Ada beberapa alasan untuk membantah pendapat ini, [1] Benar rizki manusia  telah ditaqdirkan, tapi taqdir itu rahasia Allah, yang tidak kita ketahui. Sementara sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak boleh dijadikan alasan. [2]  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan ikhtiyar (usaha mencari rizki).  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Imam Ahmad menjelaskan, “Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.” Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. Sehingga siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah sampai dia mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi) Syaikh Shalih al-Maghamisi dalam sebuah ceramahnya menceritakan ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur. Ia pun berteriak minta tolong. lalu berhasil mengeluarkan orang itu dari sumur dalam keadaan selamat. Sesorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminimumnya dan menenangkann keadaanya. Setelah tenang orang-orang bertanya,”Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur.?” Mulailah orang itu bercerita, lalu ia berdiri di bibir sumur untuk mempraktikan kronologi saat ia terjatuh kedalam sumur.Qodarullah, tanpa di sengaja orang itu terjatuj lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati. Orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia, yakni satu gelas susu untuknya. Maka setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat  yang sama kemudian mati. Ketiga, hakekat dari rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita. Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya. Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja… Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah.. Demikian, Allahu a’lam. Artikel Berikutnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Bunuh Diri, Doa Istikarah, Hukum Mencukur Rambut Bayi Perempuan Dalam Islam, Khutbah Idul Adha 2015, Waktu Mengerjakan Sholat Taubat, Pensil Alis Anti Air Visited 1,416 times, 4 visit(s) today Post Views: 572 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Jika Warisan Sisa Setelah Pembagian

 Harta Sisa Warisan Seorang wafat meninggalkan seorang istri (tanpa anak), 2 org sdr kandung prp. Brp masing2 bagian mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Secara perhitungan warisan, bisa kita bagi sebagai berikut, [1] Istri mendapat  ¼ karena mayit tidak memiliki anak [2] Dua saudara perempuan [أختان شقيقتان] mendapat 2/3, karena mereka berjumlah 2 orang, tidak ada Muashib (saudara laki-laki), tidak ada kakek, dan tidak ada yang memahjubkan. Allah berfirman tentang warisan istri, وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. (QS. An-Nisa: 12) Sementra warisan saudara perempuan, dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّـهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَإِن كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (QS. An-Nisa: 176). Jika kita lakukan pembagian warisan, maka ada jatah yang tersisa; Jatah istri Jatah 2 saudara perempuan Sisa ¼ 2/3 1/12 Sisa 1/12 diserahkan kepada kedua saudara perempuan sebagai rad (الرد).  Rad adalah tambahan jatah warisan karena tidak ada ashib (penerima ashabah), sementara jatah warisan tidak habis. Rad diserahkan kepada ashabul furudh (ahli waris yang mendapat jatah khusus), selain suami-istri. Adanya rad merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Bolehkah Zakat Penghasilan Diberikan Ke Masjid, Mati Syahid Adalah, Kelebihan Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Niat Puasa, Hukum Menggunakan Ovo Dalam Islam, Valentine Day Menurut Islam Visited 165 times, 1 visit(s) today Post Views: 341 QRIS donasi Yufid

Jika Warisan Sisa Setelah Pembagian

 Harta Sisa Warisan Seorang wafat meninggalkan seorang istri (tanpa anak), 2 org sdr kandung prp. Brp masing2 bagian mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Secara perhitungan warisan, bisa kita bagi sebagai berikut, [1] Istri mendapat  ¼ karena mayit tidak memiliki anak [2] Dua saudara perempuan [أختان شقيقتان] mendapat 2/3, karena mereka berjumlah 2 orang, tidak ada Muashib (saudara laki-laki), tidak ada kakek, dan tidak ada yang memahjubkan. Allah berfirman tentang warisan istri, وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. (QS. An-Nisa: 12) Sementra warisan saudara perempuan, dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّـهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَإِن كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (QS. An-Nisa: 176). Jika kita lakukan pembagian warisan, maka ada jatah yang tersisa; Jatah istri Jatah 2 saudara perempuan Sisa ¼ 2/3 1/12 Sisa 1/12 diserahkan kepada kedua saudara perempuan sebagai rad (الرد).  Rad adalah tambahan jatah warisan karena tidak ada ashib (penerima ashabah), sementara jatah warisan tidak habis. Rad diserahkan kepada ashabul furudh (ahli waris yang mendapat jatah khusus), selain suami-istri. Adanya rad merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Bolehkah Zakat Penghasilan Diberikan Ke Masjid, Mati Syahid Adalah, Kelebihan Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Niat Puasa, Hukum Menggunakan Ovo Dalam Islam, Valentine Day Menurut Islam Visited 165 times, 1 visit(s) today Post Views: 341 QRIS donasi Yufid
 Harta Sisa Warisan Seorang wafat meninggalkan seorang istri (tanpa anak), 2 org sdr kandung prp. Brp masing2 bagian mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Secara perhitungan warisan, bisa kita bagi sebagai berikut, [1] Istri mendapat  ¼ karena mayit tidak memiliki anak [2] Dua saudara perempuan [أختان شقيقتان] mendapat 2/3, karena mereka berjumlah 2 orang, tidak ada Muashib (saudara laki-laki), tidak ada kakek, dan tidak ada yang memahjubkan. Allah berfirman tentang warisan istri, وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. (QS. An-Nisa: 12) Sementra warisan saudara perempuan, dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّـهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَإِن كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (QS. An-Nisa: 176). Jika kita lakukan pembagian warisan, maka ada jatah yang tersisa; Jatah istri Jatah 2 saudara perempuan Sisa ¼ 2/3 1/12 Sisa 1/12 diserahkan kepada kedua saudara perempuan sebagai rad (الرد).  Rad adalah tambahan jatah warisan karena tidak ada ashib (penerima ashabah), sementara jatah warisan tidak habis. Rad diserahkan kepada ashabul furudh (ahli waris yang mendapat jatah khusus), selain suami-istri. Adanya rad merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Bolehkah Zakat Penghasilan Diberikan Ke Masjid, Mati Syahid Adalah, Kelebihan Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Niat Puasa, Hukum Menggunakan Ovo Dalam Islam, Valentine Day Menurut Islam Visited 165 times, 1 visit(s) today Post Views: 341 QRIS donasi Yufid


<span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/361925201&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span></iframe> Harta Sisa Warisan Seorang wafat meninggalkan seorang istri (tanpa anak), 2 org sdr kandung prp. Brp masing2 bagian mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Secara perhitungan warisan, bisa kita bagi sebagai berikut, [1] Istri mendapat  ¼ karena mayit tidak memiliki anak [2] Dua saudara perempuan [أختان شقيقتان] mendapat 2/3, karena mereka berjumlah 2 orang, tidak ada Muashib (saudara laki-laki), tidak ada kakek, dan tidak ada yang memahjubkan. Allah berfirman tentang warisan istri, وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. (QS. An-Nisa: 12) Sementra warisan saudara perempuan, dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّـهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَإِن كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (QS. An-Nisa: 176). Jika kita lakukan pembagian warisan, maka ada jatah yang tersisa; Jatah istri Jatah 2 saudara perempuan Sisa ¼ 2/3 1/12 Sisa 1/12 diserahkan kepada kedua saudara perempuan sebagai rad (الرد).  Rad adalah tambahan jatah warisan karena tidak ada ashib (penerima ashabah), sementara jatah warisan tidak habis. Rad diserahkan kepada ashabul furudh (ahli waris yang mendapat jatah khusus), selain suami-istri. Adanya rad merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Bolehkah Zakat Penghasilan Diberikan Ke Masjid, Mati Syahid Adalah, Kelebihan Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Niat Puasa, Hukum Menggunakan Ovo Dalam Islam, Valentine Day Menurut Islam Visited 165 times, 1 visit(s) today Post Views: 341 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (01)

“Buktinya Saya Sembuh”Di antara fenomena kaum muslimin yang kita lihat sekarang ini adalah anggapan mereka bahwa sesuatu itu dianggap benar (sesuai dengan syariat) jika hal tersebut berhasil mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan. Sebagian masyarakat kita menempuh metode-metode syirik untuk sembuh dari penyakit. Di antaranya dengan mendatangi dukun, paranormal, atau mendatangi makam wali untuk meminta kesembuhan kepada mereka. Atau dengan memakai jimat tertentu di bagian-bagian tubuh yang sakit. Hal ini juga tidak lepas dari budaya nenek moyang kita di masa lalu bahwa benda-benda di alam seperti batu, pohon dan sejenisnya, bisa jadi memiliki “kekuatan ajaib” yang dapat menentukan nasib manusia, termasuk masalah sembuh tidaknya dari penyakit.Lalu ketika kita sampaikan bahwa hal itu diharamkan karena termasuk syirik, serta merta mereka langsung membantahnya dan tetap keras kepala dengan mengatakan, ”Nyatanya, banyak kok yang sembuh!” Demikianlah, mereka membantah bukti-bukti kebenaran dengan “bukti” tercapainya tujuan yang mereka inginkan.Inilah di antara penyakit masyarakat kita saat ini. Mereka seolah tidak peduli lagi, apakah perbuatan mereka itu sesuai dengan syariat atau tidak, yang penting bagi mereka adalah bukti nyata berupa tercapainya tujuan kesembuhan yang mereka harapkan. Tidak perlu lagi mempedulikan mana yang halal, mana yang haram, mana yang tauhid, mana yang syirik, yang penting tindakan mereka itu cepat mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan.Mereka seolah-olah tidak peduli lagi, apakah tindakannya itu menyebabkan aqidahnya “menjadi sakit” atau tidak, yang penting bagi mereka adalah badan mereka menjadi lebih sehat, dan penyakit jasad yang mereka derita menjadi hilang seketika. Mereka lebih memilih hati dan akalnya yang menjadi buta sehingga tidak bisa menerima “indahnya” dalil-dalil syariat, daripada matanya yang menjadi buta sehingga tidak bisa lagi melihat keindahan duniawi dan segala kesenangan di dalamnya.Oleh karena itulah, mereka tidak peduli lagi dengan dalil, tidak peduli lagi dengan “Allah Ta’ala berfirman … ”, tidak peduli lagi dengan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda … “, apalagi dengan “Ulama fulan berkata demikian dan demikian …”. Mereka juga lebih memilih keselamatan di dunia dari berbagai penyakit dan dari kemiskinan daripada keselamatan di akhirat dengan terhindar dari adzab-Nya yang sangat pedih.Inilah Cara Berfikir JahiliyyahMarilah kita bandingkan bantahan itu dengan sikap orang-orang jahiliyyah dahulu, ketika mereka mengukur kebenaran dan kebatilan dengan banyaknya pengikut dan kondisi para pengikutnya, bukan dengan melihat dalil syariat. Menurut mereka, apabila perbuatan itu diikuti orang banyak, maka itulah kebenaran. Sedangkan apabila pengikutnya sedikit, maka itulah kebatilan. Inilah salah satu ukuran yang mereka gunakan ketika melihat kebenaran. [1]Padahal, Allah Ta’ala justru menyatakan bahwa mayoritas manusia itu tidak mengetahui dan justru akan menyesatkan kita dari jalan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidaklah mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 187)Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 116)Begitu pula, apabila ada suatu perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang kaya berkecukupan, para bangsawan, dan para pembesar kerajaan, maka itulah kebenaran. Namun, apabila yang melakukan perbuatan itu adalah orang-orang rendahan, orang-orang miskin, orang-orang hina, maka itulah kebatilan. Menurut mereka, jika mereka berada di atas kebenaran, tidak mungkin menjadi orang lemah dan miskin. [2]Lihatlah, bagaimana kaum Nuh ‘alaihis salaam mendustakan Nabinya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata,’Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?’” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 111)Mereka juga mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud [11]: 27)Inilah di antara cara berfikir masyarakat jahiliyyah. Mereka menggunakan ukuran-ukuran duniawi untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau batil. Ketika para rasul berdakwah mengajak mereka kepada kebenaran dengan bukti-bukti dan hujjah-hujjah dari Allah Ta’ala, mereka justru berpaling dengan berpatokan pada ukuran-ukuran duniawi tersebut.Lalu bandingkanlah dengan keadaan masyarakat kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi yang tidak jauh berbeda. Apabila kita sampaikan kepada mereka tentang syiriknya berobat ke dukun atau paranormal, berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merta mereka membantahnya dengan ucapan-ucapan seperti itu. Lihatlah, bagaimana mereka menggunakan ukuran duniawi (berupa kesembuhan dari penyakit) untuk melegalkan dan menghalalkan perbuatan syirik yang mereka lakukan. Menurut mereka, sembuhnya penyakit mereka setelah berobat ke dukun, merupakan bukti bahwa tindakan mereka itulah kebenaran, itulah tauhid, sedangkan apa yang kita sampaikan di sini adalah tidak benar dan dusta semata. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 60. [2]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 72.Baca pembahasan selanjutnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag.2)🔍 Dalil Tentang Hijab, Hadits Tentang Narkoba, Hadits Tentang Perempuan Sholehah, Pengertian Sabar Beserta Dalilnya, Bacaan Shalat Sunnah Rawatib

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (01)

“Buktinya Saya Sembuh”Di antara fenomena kaum muslimin yang kita lihat sekarang ini adalah anggapan mereka bahwa sesuatu itu dianggap benar (sesuai dengan syariat) jika hal tersebut berhasil mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan. Sebagian masyarakat kita menempuh metode-metode syirik untuk sembuh dari penyakit. Di antaranya dengan mendatangi dukun, paranormal, atau mendatangi makam wali untuk meminta kesembuhan kepada mereka. Atau dengan memakai jimat tertentu di bagian-bagian tubuh yang sakit. Hal ini juga tidak lepas dari budaya nenek moyang kita di masa lalu bahwa benda-benda di alam seperti batu, pohon dan sejenisnya, bisa jadi memiliki “kekuatan ajaib” yang dapat menentukan nasib manusia, termasuk masalah sembuh tidaknya dari penyakit.Lalu ketika kita sampaikan bahwa hal itu diharamkan karena termasuk syirik, serta merta mereka langsung membantahnya dan tetap keras kepala dengan mengatakan, ”Nyatanya, banyak kok yang sembuh!” Demikianlah, mereka membantah bukti-bukti kebenaran dengan “bukti” tercapainya tujuan yang mereka inginkan.Inilah di antara penyakit masyarakat kita saat ini. Mereka seolah tidak peduli lagi, apakah perbuatan mereka itu sesuai dengan syariat atau tidak, yang penting bagi mereka adalah bukti nyata berupa tercapainya tujuan kesembuhan yang mereka harapkan. Tidak perlu lagi mempedulikan mana yang halal, mana yang haram, mana yang tauhid, mana yang syirik, yang penting tindakan mereka itu cepat mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan.Mereka seolah-olah tidak peduli lagi, apakah tindakannya itu menyebabkan aqidahnya “menjadi sakit” atau tidak, yang penting bagi mereka adalah badan mereka menjadi lebih sehat, dan penyakit jasad yang mereka derita menjadi hilang seketika. Mereka lebih memilih hati dan akalnya yang menjadi buta sehingga tidak bisa menerima “indahnya” dalil-dalil syariat, daripada matanya yang menjadi buta sehingga tidak bisa lagi melihat keindahan duniawi dan segala kesenangan di dalamnya.Oleh karena itulah, mereka tidak peduli lagi dengan dalil, tidak peduli lagi dengan “Allah Ta’ala berfirman … ”, tidak peduli lagi dengan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda … “, apalagi dengan “Ulama fulan berkata demikian dan demikian …”. Mereka juga lebih memilih keselamatan di dunia dari berbagai penyakit dan dari kemiskinan daripada keselamatan di akhirat dengan terhindar dari adzab-Nya yang sangat pedih.Inilah Cara Berfikir JahiliyyahMarilah kita bandingkan bantahan itu dengan sikap orang-orang jahiliyyah dahulu, ketika mereka mengukur kebenaran dan kebatilan dengan banyaknya pengikut dan kondisi para pengikutnya, bukan dengan melihat dalil syariat. Menurut mereka, apabila perbuatan itu diikuti orang banyak, maka itulah kebenaran. Sedangkan apabila pengikutnya sedikit, maka itulah kebatilan. Inilah salah satu ukuran yang mereka gunakan ketika melihat kebenaran. [1]Padahal, Allah Ta’ala justru menyatakan bahwa mayoritas manusia itu tidak mengetahui dan justru akan menyesatkan kita dari jalan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidaklah mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 187)Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 116)Begitu pula, apabila ada suatu perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang kaya berkecukupan, para bangsawan, dan para pembesar kerajaan, maka itulah kebenaran. Namun, apabila yang melakukan perbuatan itu adalah orang-orang rendahan, orang-orang miskin, orang-orang hina, maka itulah kebatilan. Menurut mereka, jika mereka berada di atas kebenaran, tidak mungkin menjadi orang lemah dan miskin. [2]Lihatlah, bagaimana kaum Nuh ‘alaihis salaam mendustakan Nabinya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata,’Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?’” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 111)Mereka juga mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud [11]: 27)Inilah di antara cara berfikir masyarakat jahiliyyah. Mereka menggunakan ukuran-ukuran duniawi untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau batil. Ketika para rasul berdakwah mengajak mereka kepada kebenaran dengan bukti-bukti dan hujjah-hujjah dari Allah Ta’ala, mereka justru berpaling dengan berpatokan pada ukuran-ukuran duniawi tersebut.Lalu bandingkanlah dengan keadaan masyarakat kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi yang tidak jauh berbeda. Apabila kita sampaikan kepada mereka tentang syiriknya berobat ke dukun atau paranormal, berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merta mereka membantahnya dengan ucapan-ucapan seperti itu. Lihatlah, bagaimana mereka menggunakan ukuran duniawi (berupa kesembuhan dari penyakit) untuk melegalkan dan menghalalkan perbuatan syirik yang mereka lakukan. Menurut mereka, sembuhnya penyakit mereka setelah berobat ke dukun, merupakan bukti bahwa tindakan mereka itulah kebenaran, itulah tauhid, sedangkan apa yang kita sampaikan di sini adalah tidak benar dan dusta semata. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 60. [2]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 72.Baca pembahasan selanjutnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag.2)🔍 Dalil Tentang Hijab, Hadits Tentang Narkoba, Hadits Tentang Perempuan Sholehah, Pengertian Sabar Beserta Dalilnya, Bacaan Shalat Sunnah Rawatib
“Buktinya Saya Sembuh”Di antara fenomena kaum muslimin yang kita lihat sekarang ini adalah anggapan mereka bahwa sesuatu itu dianggap benar (sesuai dengan syariat) jika hal tersebut berhasil mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan. Sebagian masyarakat kita menempuh metode-metode syirik untuk sembuh dari penyakit. Di antaranya dengan mendatangi dukun, paranormal, atau mendatangi makam wali untuk meminta kesembuhan kepada mereka. Atau dengan memakai jimat tertentu di bagian-bagian tubuh yang sakit. Hal ini juga tidak lepas dari budaya nenek moyang kita di masa lalu bahwa benda-benda di alam seperti batu, pohon dan sejenisnya, bisa jadi memiliki “kekuatan ajaib” yang dapat menentukan nasib manusia, termasuk masalah sembuh tidaknya dari penyakit.Lalu ketika kita sampaikan bahwa hal itu diharamkan karena termasuk syirik, serta merta mereka langsung membantahnya dan tetap keras kepala dengan mengatakan, ”Nyatanya, banyak kok yang sembuh!” Demikianlah, mereka membantah bukti-bukti kebenaran dengan “bukti” tercapainya tujuan yang mereka inginkan.Inilah di antara penyakit masyarakat kita saat ini. Mereka seolah tidak peduli lagi, apakah perbuatan mereka itu sesuai dengan syariat atau tidak, yang penting bagi mereka adalah bukti nyata berupa tercapainya tujuan kesembuhan yang mereka harapkan. Tidak perlu lagi mempedulikan mana yang halal, mana yang haram, mana yang tauhid, mana yang syirik, yang penting tindakan mereka itu cepat mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan.Mereka seolah-olah tidak peduli lagi, apakah tindakannya itu menyebabkan aqidahnya “menjadi sakit” atau tidak, yang penting bagi mereka adalah badan mereka menjadi lebih sehat, dan penyakit jasad yang mereka derita menjadi hilang seketika. Mereka lebih memilih hati dan akalnya yang menjadi buta sehingga tidak bisa menerima “indahnya” dalil-dalil syariat, daripada matanya yang menjadi buta sehingga tidak bisa lagi melihat keindahan duniawi dan segala kesenangan di dalamnya.Oleh karena itulah, mereka tidak peduli lagi dengan dalil, tidak peduli lagi dengan “Allah Ta’ala berfirman … ”, tidak peduli lagi dengan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda … “, apalagi dengan “Ulama fulan berkata demikian dan demikian …”. Mereka juga lebih memilih keselamatan di dunia dari berbagai penyakit dan dari kemiskinan daripada keselamatan di akhirat dengan terhindar dari adzab-Nya yang sangat pedih.Inilah Cara Berfikir JahiliyyahMarilah kita bandingkan bantahan itu dengan sikap orang-orang jahiliyyah dahulu, ketika mereka mengukur kebenaran dan kebatilan dengan banyaknya pengikut dan kondisi para pengikutnya, bukan dengan melihat dalil syariat. Menurut mereka, apabila perbuatan itu diikuti orang banyak, maka itulah kebenaran. Sedangkan apabila pengikutnya sedikit, maka itulah kebatilan. Inilah salah satu ukuran yang mereka gunakan ketika melihat kebenaran. [1]Padahal, Allah Ta’ala justru menyatakan bahwa mayoritas manusia itu tidak mengetahui dan justru akan menyesatkan kita dari jalan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidaklah mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 187)Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 116)Begitu pula, apabila ada suatu perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang kaya berkecukupan, para bangsawan, dan para pembesar kerajaan, maka itulah kebenaran. Namun, apabila yang melakukan perbuatan itu adalah orang-orang rendahan, orang-orang miskin, orang-orang hina, maka itulah kebatilan. Menurut mereka, jika mereka berada di atas kebenaran, tidak mungkin menjadi orang lemah dan miskin. [2]Lihatlah, bagaimana kaum Nuh ‘alaihis salaam mendustakan Nabinya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata,’Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?’” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 111)Mereka juga mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud [11]: 27)Inilah di antara cara berfikir masyarakat jahiliyyah. Mereka menggunakan ukuran-ukuran duniawi untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau batil. Ketika para rasul berdakwah mengajak mereka kepada kebenaran dengan bukti-bukti dan hujjah-hujjah dari Allah Ta’ala, mereka justru berpaling dengan berpatokan pada ukuran-ukuran duniawi tersebut.Lalu bandingkanlah dengan keadaan masyarakat kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi yang tidak jauh berbeda. Apabila kita sampaikan kepada mereka tentang syiriknya berobat ke dukun atau paranormal, berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merta mereka membantahnya dengan ucapan-ucapan seperti itu. Lihatlah, bagaimana mereka menggunakan ukuran duniawi (berupa kesembuhan dari penyakit) untuk melegalkan dan menghalalkan perbuatan syirik yang mereka lakukan. Menurut mereka, sembuhnya penyakit mereka setelah berobat ke dukun, merupakan bukti bahwa tindakan mereka itulah kebenaran, itulah tauhid, sedangkan apa yang kita sampaikan di sini adalah tidak benar dan dusta semata. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 60. [2]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 72.Baca pembahasan selanjutnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag.2)🔍 Dalil Tentang Hijab, Hadits Tentang Narkoba, Hadits Tentang Perempuan Sholehah, Pengertian Sabar Beserta Dalilnya, Bacaan Shalat Sunnah Rawatib


“Buktinya Saya Sembuh”Di antara fenomena kaum muslimin yang kita lihat sekarang ini adalah anggapan mereka bahwa sesuatu itu dianggap benar (sesuai dengan syariat) jika hal tersebut berhasil mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan. Sebagian masyarakat kita menempuh metode-metode syirik untuk sembuh dari penyakit. Di antaranya dengan mendatangi dukun, paranormal, atau mendatangi makam wali untuk meminta kesembuhan kepada mereka. Atau dengan memakai jimat tertentu di bagian-bagian tubuh yang sakit. Hal ini juga tidak lepas dari budaya nenek moyang kita di masa lalu bahwa benda-benda di alam seperti batu, pohon dan sejenisnya, bisa jadi memiliki “kekuatan ajaib” yang dapat menentukan nasib manusia, termasuk masalah sembuh tidaknya dari penyakit.Lalu ketika kita sampaikan bahwa hal itu diharamkan karena termasuk syirik, serta merta mereka langsung membantahnya dan tetap keras kepala dengan mengatakan, ”Nyatanya, banyak kok yang sembuh!” Demikianlah, mereka membantah bukti-bukti kebenaran dengan “bukti” tercapainya tujuan yang mereka inginkan.Inilah di antara penyakit masyarakat kita saat ini. Mereka seolah tidak peduli lagi, apakah perbuatan mereka itu sesuai dengan syariat atau tidak, yang penting bagi mereka adalah bukti nyata berupa tercapainya tujuan kesembuhan yang mereka harapkan. Tidak perlu lagi mempedulikan mana yang halal, mana yang haram, mana yang tauhid, mana yang syirik, yang penting tindakan mereka itu cepat mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan.Mereka seolah-olah tidak peduli lagi, apakah tindakannya itu menyebabkan aqidahnya “menjadi sakit” atau tidak, yang penting bagi mereka adalah badan mereka menjadi lebih sehat, dan penyakit jasad yang mereka derita menjadi hilang seketika. Mereka lebih memilih hati dan akalnya yang menjadi buta sehingga tidak bisa menerima “indahnya” dalil-dalil syariat, daripada matanya yang menjadi buta sehingga tidak bisa lagi melihat keindahan duniawi dan segala kesenangan di dalamnya.Oleh karena itulah, mereka tidak peduli lagi dengan dalil, tidak peduli lagi dengan “Allah Ta’ala berfirman … ”, tidak peduli lagi dengan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda … “, apalagi dengan “Ulama fulan berkata demikian dan demikian …”. Mereka juga lebih memilih keselamatan di dunia dari berbagai penyakit dan dari kemiskinan daripada keselamatan di akhirat dengan terhindar dari adzab-Nya yang sangat pedih.Inilah Cara Berfikir JahiliyyahMarilah kita bandingkan bantahan itu dengan sikap orang-orang jahiliyyah dahulu, ketika mereka mengukur kebenaran dan kebatilan dengan banyaknya pengikut dan kondisi para pengikutnya, bukan dengan melihat dalil syariat. Menurut mereka, apabila perbuatan itu diikuti orang banyak, maka itulah kebenaran. Sedangkan apabila pengikutnya sedikit, maka itulah kebatilan. Inilah salah satu ukuran yang mereka gunakan ketika melihat kebenaran. [1]Padahal, Allah Ta’ala justru menyatakan bahwa mayoritas manusia itu tidak mengetahui dan justru akan menyesatkan kita dari jalan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidaklah mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 187)Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 116)Begitu pula, apabila ada suatu perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang kaya berkecukupan, para bangsawan, dan para pembesar kerajaan, maka itulah kebenaran. Namun, apabila yang melakukan perbuatan itu adalah orang-orang rendahan, orang-orang miskin, orang-orang hina, maka itulah kebatilan. Menurut mereka, jika mereka berada di atas kebenaran, tidak mungkin menjadi orang lemah dan miskin. [2]Lihatlah, bagaimana kaum Nuh ‘alaihis salaam mendustakan Nabinya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata,’Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?’” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 111)Mereka juga mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud [11]: 27)Inilah di antara cara berfikir masyarakat jahiliyyah. Mereka menggunakan ukuran-ukuran duniawi untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau batil. Ketika para rasul berdakwah mengajak mereka kepada kebenaran dengan bukti-bukti dan hujjah-hujjah dari Allah Ta’ala, mereka justru berpaling dengan berpatokan pada ukuran-ukuran duniawi tersebut.Lalu bandingkanlah dengan keadaan masyarakat kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi yang tidak jauh berbeda. Apabila kita sampaikan kepada mereka tentang syiriknya berobat ke dukun atau paranormal, berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merta mereka membantahnya dengan ucapan-ucapan seperti itu. Lihatlah, bagaimana mereka menggunakan ukuran duniawi (berupa kesembuhan dari penyakit) untuk melegalkan dan menghalalkan perbuatan syirik yang mereka lakukan. Menurut mereka, sembuhnya penyakit mereka setelah berobat ke dukun, merupakan bukti bahwa tindakan mereka itulah kebenaran, itulah tauhid, sedangkan apa yang kita sampaikan di sini adalah tidak benar dan dusta semata. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 60. [2]     Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 72.Baca pembahasan selanjutnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag.2)🔍 Dalil Tentang Hijab, Hadits Tentang Narkoba, Hadits Tentang Perempuan Sholehah, Pengertian Sabar Beserta Dalilnya, Bacaan Shalat Sunnah Rawatib
Prev     Next