Manhajus Salikin: Keistimewaan Umat Islam dengan Tayamum

Download   Tayamum adalah syariat istimewa yang tidak ada dalam ajaran lainnya, hanya keistimewaan bagi umat Islam.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, وَعَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي ، نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا ، فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَة ُفَلْيُصَلِّ ، وَأُحِلَّتْ لِي الغَنَائِمُ ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي ، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ لِلنَّاسِ عَامَّةً » . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2) dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum, pen.), maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4) dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523)   Faedah Hadits Allah memberikan rasa takut kepada musuh sebelum jarak satu bulan perjalanan. Boleh shalat di tempat mana pun di muka bumi kecuali yang dilarang seperti di daerah pekuburan, tempat najis, kandang unta, tengah jalan, dan tempat pemandian. Bumi ini dijadikan tempat shalat dan alat untuk bersuci, dalam riwayat lain disebut bahwa debunya dijadikan alat untuk bersuci. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menjadikan riwayat yang umum pertama sebagai dalil bahwa seluruh bagian yang ada di muka bumi bisa dijadikan alat untuk tayamum. Sedangkan riwayat yang kedua yang menyatakan dengan debu menjadi pendapat dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa yang dijadikan alat untuk tayamum hanyalah debu saja. Alasannya karena hadits mutlaq (yang membicarakan tentang bumi) dibawa ke hadits muqayyad (yang membicarakan tentang debu). Nabi dan umat sebelum kita dibolehkan shalat hanya pada tempat khusus seperti yang disebut bai’ dan kanais. Ada juga yang berpandangan bahwa umat sebelum kita tidaklah shalat kecuali pada tempat yang mereka yakin sucinya. Sedangkan kita umat Islam dibolehkan shalat di tempat mana pun kecuali pada tempat yang diyakini najisnya. Dahulu ghanimah (harta rampasan perang) pada nabi-nabi sebelumnya dikumpulkan, kemudian turun api dari langit untuk melahapnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits shahihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk semua orang (syafa’atul ‘uzhma) ketika di padang Mahsyar. Adapun syafa’at pada individu, selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberinya. Ada juga yang menyatakan bahwa syafa’at khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah syafa’at untuk mengeluarkan orang yang masuk neraka dan masih memiliki iman walau sebesar dzarrah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 5:3-5; Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj, hlm. 65. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeistimewaan islam manhajus salikin tayamum

Manhajus Salikin: Keistimewaan Umat Islam dengan Tayamum

Download   Tayamum adalah syariat istimewa yang tidak ada dalam ajaran lainnya, hanya keistimewaan bagi umat Islam.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, وَعَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي ، نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا ، فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَة ُفَلْيُصَلِّ ، وَأُحِلَّتْ لِي الغَنَائِمُ ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي ، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ لِلنَّاسِ عَامَّةً » . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2) dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum, pen.), maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4) dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523)   Faedah Hadits Allah memberikan rasa takut kepada musuh sebelum jarak satu bulan perjalanan. Boleh shalat di tempat mana pun di muka bumi kecuali yang dilarang seperti di daerah pekuburan, tempat najis, kandang unta, tengah jalan, dan tempat pemandian. Bumi ini dijadikan tempat shalat dan alat untuk bersuci, dalam riwayat lain disebut bahwa debunya dijadikan alat untuk bersuci. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menjadikan riwayat yang umum pertama sebagai dalil bahwa seluruh bagian yang ada di muka bumi bisa dijadikan alat untuk tayamum. Sedangkan riwayat yang kedua yang menyatakan dengan debu menjadi pendapat dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa yang dijadikan alat untuk tayamum hanyalah debu saja. Alasannya karena hadits mutlaq (yang membicarakan tentang bumi) dibawa ke hadits muqayyad (yang membicarakan tentang debu). Nabi dan umat sebelum kita dibolehkan shalat hanya pada tempat khusus seperti yang disebut bai’ dan kanais. Ada juga yang berpandangan bahwa umat sebelum kita tidaklah shalat kecuali pada tempat yang mereka yakin sucinya. Sedangkan kita umat Islam dibolehkan shalat di tempat mana pun kecuali pada tempat yang diyakini najisnya. Dahulu ghanimah (harta rampasan perang) pada nabi-nabi sebelumnya dikumpulkan, kemudian turun api dari langit untuk melahapnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits shahihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk semua orang (syafa’atul ‘uzhma) ketika di padang Mahsyar. Adapun syafa’at pada individu, selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberinya. Ada juga yang menyatakan bahwa syafa’at khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah syafa’at untuk mengeluarkan orang yang masuk neraka dan masih memiliki iman walau sebesar dzarrah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 5:3-5; Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj, hlm. 65. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeistimewaan islam manhajus salikin tayamum
Download   Tayamum adalah syariat istimewa yang tidak ada dalam ajaran lainnya, hanya keistimewaan bagi umat Islam.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, وَعَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي ، نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا ، فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَة ُفَلْيُصَلِّ ، وَأُحِلَّتْ لِي الغَنَائِمُ ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي ، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ لِلنَّاسِ عَامَّةً » . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2) dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum, pen.), maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4) dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523)   Faedah Hadits Allah memberikan rasa takut kepada musuh sebelum jarak satu bulan perjalanan. Boleh shalat di tempat mana pun di muka bumi kecuali yang dilarang seperti di daerah pekuburan, tempat najis, kandang unta, tengah jalan, dan tempat pemandian. Bumi ini dijadikan tempat shalat dan alat untuk bersuci, dalam riwayat lain disebut bahwa debunya dijadikan alat untuk bersuci. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menjadikan riwayat yang umum pertama sebagai dalil bahwa seluruh bagian yang ada di muka bumi bisa dijadikan alat untuk tayamum. Sedangkan riwayat yang kedua yang menyatakan dengan debu menjadi pendapat dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa yang dijadikan alat untuk tayamum hanyalah debu saja. Alasannya karena hadits mutlaq (yang membicarakan tentang bumi) dibawa ke hadits muqayyad (yang membicarakan tentang debu). Nabi dan umat sebelum kita dibolehkan shalat hanya pada tempat khusus seperti yang disebut bai’ dan kanais. Ada juga yang berpandangan bahwa umat sebelum kita tidaklah shalat kecuali pada tempat yang mereka yakin sucinya. Sedangkan kita umat Islam dibolehkan shalat di tempat mana pun kecuali pada tempat yang diyakini najisnya. Dahulu ghanimah (harta rampasan perang) pada nabi-nabi sebelumnya dikumpulkan, kemudian turun api dari langit untuk melahapnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits shahihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk semua orang (syafa’atul ‘uzhma) ketika di padang Mahsyar. Adapun syafa’at pada individu, selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberinya. Ada juga yang menyatakan bahwa syafa’at khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah syafa’at untuk mengeluarkan orang yang masuk neraka dan masih memiliki iman walau sebesar dzarrah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 5:3-5; Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj, hlm. 65. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeistimewaan islam manhajus salikin tayamum


Download   Tayamum adalah syariat istimewa yang tidak ada dalam ajaran lainnya, hanya keistimewaan bagi umat Islam.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, وَعَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي ، نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا ، فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَة ُفَلْيُصَلِّ ، وَأُحِلَّتْ لِي الغَنَائِمُ ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي ، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ لِلنَّاسِ عَامَّةً » . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2) dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum, pen.), maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4) dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523)   Faedah Hadits Allah memberikan rasa takut kepada musuh sebelum jarak satu bulan perjalanan. Boleh shalat di tempat mana pun di muka bumi kecuali yang dilarang seperti di daerah pekuburan, tempat najis, kandang unta, tengah jalan, dan tempat pemandian. Bumi ini dijadikan tempat shalat dan alat untuk bersuci, dalam riwayat lain disebut bahwa debunya dijadikan alat untuk bersuci. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menjadikan riwayat yang umum pertama sebagai dalil bahwa seluruh bagian yang ada di muka bumi bisa dijadikan alat untuk tayamum. Sedangkan riwayat yang kedua yang menyatakan dengan debu menjadi pendapat dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa yang dijadikan alat untuk tayamum hanyalah debu saja. Alasannya karena hadits mutlaq (yang membicarakan tentang bumi) dibawa ke hadits muqayyad (yang membicarakan tentang debu). Nabi dan umat sebelum kita dibolehkan shalat hanya pada tempat khusus seperti yang disebut bai’ dan kanais. Ada juga yang berpandangan bahwa umat sebelum kita tidaklah shalat kecuali pada tempat yang mereka yakin sucinya. Sedangkan kita umat Islam dibolehkan shalat di tempat mana pun kecuali pada tempat yang diyakini najisnya. Dahulu ghanimah (harta rampasan perang) pada nabi-nabi sebelumnya dikumpulkan, kemudian turun api dari langit untuk melahapnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits shahihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk semua orang (syafa’atul ‘uzhma) ketika di padang Mahsyar. Adapun syafa’at pada individu, selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberinya. Ada juga yang menyatakan bahwa syafa’at khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah syafa’at untuk mengeluarkan orang yang masuk neraka dan masih memiliki iman walau sebesar dzarrah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 5:3-5; Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj, hlm. 65. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeistimewaan islam manhajus salikin tayamum

Malaikat yang Mencari Majelis Dzikir

Download   Majelis dzikir itu akan dicari-cari oleh para malaikat.   Hadits #1447 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – ، تَنَادَوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُمْ – وَهُوَ أعْلَم – : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُونَكَ ، ويُكبِّرُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، ويُمَجِّدُونَكَ ، فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ . فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْنِي ؟! قَالَ : يقُولُونَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيداً ، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحاً . فَيقُولُ : فَمَاذَا يَسْأَلُونَ ؟ قَالَ : يَقُولُونَ : يَسْألُونَكَ الجَنَّةَ . قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْها ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا . قَالَ : يَقُوْلُ : فَكيفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوا أشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصاً ، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَباً ، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً . قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ ؛ قَالَ : فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأوْهَا . فَيَقُولُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟! قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَاراً ، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً . قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ، قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ )) . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka,–dan Dia lebih tahu dari mereka–, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih memahasucikan-Mu, bertakbir mengagungkan-Mu, bertahmid memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.’ Lalu Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat bersungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Allah berkata, ‘Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka meminta surga kepada-Mu.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat surga?’ Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sangat bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan sangat menginginkannya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah berkata, ‘Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api neraka.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya dan sangat takut kepadanya.’” Beliau melanjutkan, “Allah berkata, ‘Maka Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu malaikat pun berkata, ‘Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan.’ Allah menjawab, ‘Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.’” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6408 dan Muslim, no. 2689)   Penjelasan Hadits Dalam hadits ini terdapat keutamaan majelis orang shalih. Majelis bersama orang shalih akan memudahkan rahmat Allah itu datang, meskipun kita belum tentu sama dengan mereka. Karena ada yang datang dengan maksud berdzikir dan berdoa, ada pula karena memenuhi hajat semata. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.” Dari sini disimpulkan akan dianjurkannya berdzikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil. Namun cukup berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri. Di antara bentuk berkumpul adalah berkumpul ketika shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena seperti itu juga sudah termasuk berdzikir dengan membaca tasbih, takbir, tahlil, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Juga ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada malaikat yang berkumpul pada waktu Shubuh dan ‘Ashar. Demikian diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 5:532.   Referensi: Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir majelis dzikir

Malaikat yang Mencari Majelis Dzikir

Download   Majelis dzikir itu akan dicari-cari oleh para malaikat.   Hadits #1447 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – ، تَنَادَوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُمْ – وَهُوَ أعْلَم – : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُونَكَ ، ويُكبِّرُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، ويُمَجِّدُونَكَ ، فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ . فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْنِي ؟! قَالَ : يقُولُونَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيداً ، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحاً . فَيقُولُ : فَمَاذَا يَسْأَلُونَ ؟ قَالَ : يَقُولُونَ : يَسْألُونَكَ الجَنَّةَ . قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْها ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا . قَالَ : يَقُوْلُ : فَكيفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوا أشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصاً ، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَباً ، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً . قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ ؛ قَالَ : فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأوْهَا . فَيَقُولُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟! قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَاراً ، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً . قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ، قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ )) . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka,–dan Dia lebih tahu dari mereka–, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih memahasucikan-Mu, bertakbir mengagungkan-Mu, bertahmid memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.’ Lalu Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat bersungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Allah berkata, ‘Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka meminta surga kepada-Mu.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat surga?’ Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sangat bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan sangat menginginkannya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah berkata, ‘Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api neraka.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya dan sangat takut kepadanya.’” Beliau melanjutkan, “Allah berkata, ‘Maka Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu malaikat pun berkata, ‘Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan.’ Allah menjawab, ‘Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.’” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6408 dan Muslim, no. 2689)   Penjelasan Hadits Dalam hadits ini terdapat keutamaan majelis orang shalih. Majelis bersama orang shalih akan memudahkan rahmat Allah itu datang, meskipun kita belum tentu sama dengan mereka. Karena ada yang datang dengan maksud berdzikir dan berdoa, ada pula karena memenuhi hajat semata. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.” Dari sini disimpulkan akan dianjurkannya berdzikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil. Namun cukup berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri. Di antara bentuk berkumpul adalah berkumpul ketika shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena seperti itu juga sudah termasuk berdzikir dengan membaca tasbih, takbir, tahlil, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Juga ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada malaikat yang berkumpul pada waktu Shubuh dan ‘Ashar. Demikian diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 5:532.   Referensi: Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir majelis dzikir
Download   Majelis dzikir itu akan dicari-cari oleh para malaikat.   Hadits #1447 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – ، تَنَادَوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُمْ – وَهُوَ أعْلَم – : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُونَكَ ، ويُكبِّرُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، ويُمَجِّدُونَكَ ، فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ . فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْنِي ؟! قَالَ : يقُولُونَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيداً ، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحاً . فَيقُولُ : فَمَاذَا يَسْأَلُونَ ؟ قَالَ : يَقُولُونَ : يَسْألُونَكَ الجَنَّةَ . قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْها ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا . قَالَ : يَقُوْلُ : فَكيفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوا أشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصاً ، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَباً ، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً . قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ ؛ قَالَ : فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأوْهَا . فَيَقُولُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟! قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَاراً ، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً . قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ، قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ )) . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka,–dan Dia lebih tahu dari mereka–, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih memahasucikan-Mu, bertakbir mengagungkan-Mu, bertahmid memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.’ Lalu Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat bersungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Allah berkata, ‘Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka meminta surga kepada-Mu.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat surga?’ Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sangat bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan sangat menginginkannya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah berkata, ‘Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api neraka.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya dan sangat takut kepadanya.’” Beliau melanjutkan, “Allah berkata, ‘Maka Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu malaikat pun berkata, ‘Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan.’ Allah menjawab, ‘Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.’” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6408 dan Muslim, no. 2689)   Penjelasan Hadits Dalam hadits ini terdapat keutamaan majelis orang shalih. Majelis bersama orang shalih akan memudahkan rahmat Allah itu datang, meskipun kita belum tentu sama dengan mereka. Karena ada yang datang dengan maksud berdzikir dan berdoa, ada pula karena memenuhi hajat semata. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.” Dari sini disimpulkan akan dianjurkannya berdzikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil. Namun cukup berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri. Di antara bentuk berkumpul adalah berkumpul ketika shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena seperti itu juga sudah termasuk berdzikir dengan membaca tasbih, takbir, tahlil, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Juga ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada malaikat yang berkumpul pada waktu Shubuh dan ‘Ashar. Demikian diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 5:532.   Referensi: Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir majelis dzikir


Download   Majelis dzikir itu akan dicari-cari oleh para malaikat.   Hadits #1447 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – ، تَنَادَوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُمْ – وَهُوَ أعْلَم – : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُونَكَ ، ويُكبِّرُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، ويُمَجِّدُونَكَ ، فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ . فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْنِي ؟! قَالَ : يقُولُونَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيداً ، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحاً . فَيقُولُ : فَمَاذَا يَسْأَلُونَ ؟ قَالَ : يَقُولُونَ : يَسْألُونَكَ الجَنَّةَ . قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْها ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا . قَالَ : يَقُوْلُ : فَكيفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوا أشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصاً ، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَباً ، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً . قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ ؛ قَالَ : فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأوْهَا . فَيَقُولُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟! قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَاراً ، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً . قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ، قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ )) . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka,–dan Dia lebih tahu dari mereka–, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih memahasucikan-Mu, bertakbir mengagungkan-Mu, bertahmid memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.’ Lalu Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat bersungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Allah berkata, ‘Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka meminta surga kepada-Mu.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat surga?’ Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sangat bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan sangat menginginkannya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah berkata, ‘Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api neraka.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya dan sangat takut kepadanya.’” Beliau melanjutkan, “Allah berkata, ‘Maka Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu malaikat pun berkata, ‘Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan.’ Allah menjawab, ‘Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.’” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6408 dan Muslim, no. 2689)   Penjelasan Hadits Dalam hadits ini terdapat keutamaan majelis orang shalih. Majelis bersama orang shalih akan memudahkan rahmat Allah itu datang, meskipun kita belum tentu sama dengan mereka. Karena ada yang datang dengan maksud berdzikir dan berdoa, ada pula karena memenuhi hajat semata. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.” Dari sini disimpulkan akan dianjurkannya berdzikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil. Namun cukup berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri. Di antara bentuk berkumpul adalah berkumpul ketika shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena seperti itu juga sudah termasuk berdzikir dengan membaca tasbih, takbir, tahlil, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Juga ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada malaikat yang berkumpul pada waktu Shubuh dan ‘Ashar. Demikian diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 5:532.   Referensi: Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. — Artikel Kajian MPD, 19 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir majelis dzikir

Manhajus Salikin: Penjelasan Ayat Tayamum

Download   Bagaimana memahami ayat tayamum?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: Allah Ta’ala berfirman, فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang suci; usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   —-   Ayat yang lebih lengkap, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   Pelajaran dari Ayat 1- Sebab tayamum adalah salah satu dari dua sebab: (a) Ketika tidak ada air, yaitu diambil dari firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. (b) Terdapat bahaya bila menggunakan air, yaitu berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan jika kamu sakit”. Dari sini, setiap sebab yang mengakibatkan dharar atau bahaya ketika menggunakan air, maka boleh beralih pada tayamum. Sebab bahaya menggunakan air di sini banyak. Adapun penyebutan safar dalam ayat karena safar diduga kuat lebih butuh pada tayamum dan sulitnya mendapatkan air. Sama seperti dikaitkannya gadai dengan safar (dalam ayat yang lain). Namun bukanlah safar jadi sebab orang bertayamum sebagaimana sangkaan sebagian orang. Pemahaman seperti itu dapat disanggah dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. 2- Tayamum itu menggunakan segala sesuatu yang asalnya ada di permukaan bumi baik ada debu ataukah tidak. Selama benda tersebut thoyyib (suci), bukan khobits (najis), maka boleh digunakan untuk tayamum. 3- Tayamum dikhususkan untuk dua anggota tubuh yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Adapun penyebutan ‘aydiikum’ yang disebutkan mutlak dalam ayat, yang dimaksud adalah telapak tangan. Sebagaimana penyebutan seperti itu terdapat dalam ayat potong tangan. Jika penyebutannya tangan hingga siku, barulah ada pembasuhan tangan hingga siku. Oleh karenanya dari sini bisa diambil pelajaran bahwa tangan yang diusap pada tayamum adalah telapak tangan saja, tidak sampai siku. 4- Tayamum disyariatkan untuk menyucikan hadats kecil, begitu pula hadats besar karena Allah menyebutkan perihal tayamum setelah menyebutkan wudhu dan mandi. 5- Tayamum tetap dengan mengusap walau menggantikan wudhu (menyucikan hadats kecil) dan mandi (menyucikan hadats besar) yang di mana dalam wudhu atau mandi terdapat ghusul (membasuh atau mencuci). Sehingga dalam tayamum tidak perlu mengalirkan atau melumurkan debu, cukap mengusap saja. 6- Ayat ini menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum menggantikan bersuci dengan air ketika tidak mendapati air atau mendapat bahaya ketika menggunakan air. Karena tayamum masih tetap disebut thaharah (bersuci). Begitu pula banyak hadits yang menunjukkan demikian. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum masih berlaku tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu atau batal karena masuknya waktu tertentu sebagaimana yang dikatakan kebanyakan ulama. Yang tepat tayamum itu batal karena dua sebab: Karena mendapati pembatal bersuci. Karena mendapati air atau hilangnya bahaya untuk menggunakan air. Semoga bermanfaat.   Referensi: Taysir Al-Lathif Al-Mannan Khulashoh Tafsir Al-Qur’an. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Dar Al-‘Ashimah. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum manhajus salikin tayamum

Manhajus Salikin: Penjelasan Ayat Tayamum

Download   Bagaimana memahami ayat tayamum?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: Allah Ta’ala berfirman, فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang suci; usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   —-   Ayat yang lebih lengkap, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   Pelajaran dari Ayat 1- Sebab tayamum adalah salah satu dari dua sebab: (a) Ketika tidak ada air, yaitu diambil dari firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. (b) Terdapat bahaya bila menggunakan air, yaitu berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan jika kamu sakit”. Dari sini, setiap sebab yang mengakibatkan dharar atau bahaya ketika menggunakan air, maka boleh beralih pada tayamum. Sebab bahaya menggunakan air di sini banyak. Adapun penyebutan safar dalam ayat karena safar diduga kuat lebih butuh pada tayamum dan sulitnya mendapatkan air. Sama seperti dikaitkannya gadai dengan safar (dalam ayat yang lain). Namun bukanlah safar jadi sebab orang bertayamum sebagaimana sangkaan sebagian orang. Pemahaman seperti itu dapat disanggah dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. 2- Tayamum itu menggunakan segala sesuatu yang asalnya ada di permukaan bumi baik ada debu ataukah tidak. Selama benda tersebut thoyyib (suci), bukan khobits (najis), maka boleh digunakan untuk tayamum. 3- Tayamum dikhususkan untuk dua anggota tubuh yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Adapun penyebutan ‘aydiikum’ yang disebutkan mutlak dalam ayat, yang dimaksud adalah telapak tangan. Sebagaimana penyebutan seperti itu terdapat dalam ayat potong tangan. Jika penyebutannya tangan hingga siku, barulah ada pembasuhan tangan hingga siku. Oleh karenanya dari sini bisa diambil pelajaran bahwa tangan yang diusap pada tayamum adalah telapak tangan saja, tidak sampai siku. 4- Tayamum disyariatkan untuk menyucikan hadats kecil, begitu pula hadats besar karena Allah menyebutkan perihal tayamum setelah menyebutkan wudhu dan mandi. 5- Tayamum tetap dengan mengusap walau menggantikan wudhu (menyucikan hadats kecil) dan mandi (menyucikan hadats besar) yang di mana dalam wudhu atau mandi terdapat ghusul (membasuh atau mencuci). Sehingga dalam tayamum tidak perlu mengalirkan atau melumurkan debu, cukap mengusap saja. 6- Ayat ini menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum menggantikan bersuci dengan air ketika tidak mendapati air atau mendapat bahaya ketika menggunakan air. Karena tayamum masih tetap disebut thaharah (bersuci). Begitu pula banyak hadits yang menunjukkan demikian. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum masih berlaku tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu atau batal karena masuknya waktu tertentu sebagaimana yang dikatakan kebanyakan ulama. Yang tepat tayamum itu batal karena dua sebab: Karena mendapati pembatal bersuci. Karena mendapati air atau hilangnya bahaya untuk menggunakan air. Semoga bermanfaat.   Referensi: Taysir Al-Lathif Al-Mannan Khulashoh Tafsir Al-Qur’an. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Dar Al-‘Ashimah. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum manhajus salikin tayamum
Download   Bagaimana memahami ayat tayamum?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: Allah Ta’ala berfirman, فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang suci; usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   —-   Ayat yang lebih lengkap, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   Pelajaran dari Ayat 1- Sebab tayamum adalah salah satu dari dua sebab: (a) Ketika tidak ada air, yaitu diambil dari firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. (b) Terdapat bahaya bila menggunakan air, yaitu berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan jika kamu sakit”. Dari sini, setiap sebab yang mengakibatkan dharar atau bahaya ketika menggunakan air, maka boleh beralih pada tayamum. Sebab bahaya menggunakan air di sini banyak. Adapun penyebutan safar dalam ayat karena safar diduga kuat lebih butuh pada tayamum dan sulitnya mendapatkan air. Sama seperti dikaitkannya gadai dengan safar (dalam ayat yang lain). Namun bukanlah safar jadi sebab orang bertayamum sebagaimana sangkaan sebagian orang. Pemahaman seperti itu dapat disanggah dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. 2- Tayamum itu menggunakan segala sesuatu yang asalnya ada di permukaan bumi baik ada debu ataukah tidak. Selama benda tersebut thoyyib (suci), bukan khobits (najis), maka boleh digunakan untuk tayamum. 3- Tayamum dikhususkan untuk dua anggota tubuh yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Adapun penyebutan ‘aydiikum’ yang disebutkan mutlak dalam ayat, yang dimaksud adalah telapak tangan. Sebagaimana penyebutan seperti itu terdapat dalam ayat potong tangan. Jika penyebutannya tangan hingga siku, barulah ada pembasuhan tangan hingga siku. Oleh karenanya dari sini bisa diambil pelajaran bahwa tangan yang diusap pada tayamum adalah telapak tangan saja, tidak sampai siku. 4- Tayamum disyariatkan untuk menyucikan hadats kecil, begitu pula hadats besar karena Allah menyebutkan perihal tayamum setelah menyebutkan wudhu dan mandi. 5- Tayamum tetap dengan mengusap walau menggantikan wudhu (menyucikan hadats kecil) dan mandi (menyucikan hadats besar) yang di mana dalam wudhu atau mandi terdapat ghusul (membasuh atau mencuci). Sehingga dalam tayamum tidak perlu mengalirkan atau melumurkan debu, cukap mengusap saja. 6- Ayat ini menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum menggantikan bersuci dengan air ketika tidak mendapati air atau mendapat bahaya ketika menggunakan air. Karena tayamum masih tetap disebut thaharah (bersuci). Begitu pula banyak hadits yang menunjukkan demikian. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum masih berlaku tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu atau batal karena masuknya waktu tertentu sebagaimana yang dikatakan kebanyakan ulama. Yang tepat tayamum itu batal karena dua sebab: Karena mendapati pembatal bersuci. Karena mendapati air atau hilangnya bahaya untuk menggunakan air. Semoga bermanfaat.   Referensi: Taysir Al-Lathif Al-Mannan Khulashoh Tafsir Al-Qur’an. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Dar Al-‘Ashimah. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum manhajus salikin tayamum


Download   Bagaimana memahami ayat tayamum?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: Allah Ta’ala berfirman, فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang suci; usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   —-   Ayat yang lebih lengkap, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)   Pelajaran dari Ayat 1- Sebab tayamum adalah salah satu dari dua sebab: (a) Ketika tidak ada air, yaitu diambil dari firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. (b) Terdapat bahaya bila menggunakan air, yaitu berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan jika kamu sakit”. Dari sini, setiap sebab yang mengakibatkan dharar atau bahaya ketika menggunakan air, maka boleh beralih pada tayamum. Sebab bahaya menggunakan air di sini banyak. Adapun penyebutan safar dalam ayat karena safar diduga kuat lebih butuh pada tayamum dan sulitnya mendapatkan air. Sama seperti dikaitkannya gadai dengan safar (dalam ayat yang lain). Namun bukanlah safar jadi sebab orang bertayamum sebagaimana sangkaan sebagian orang. Pemahaman seperti itu dapat disanggah dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “lalu kamu tidak memperoleh air”. 2- Tayamum itu menggunakan segala sesuatu yang asalnya ada di permukaan bumi baik ada debu ataukah tidak. Selama benda tersebut thoyyib (suci), bukan khobits (najis), maka boleh digunakan untuk tayamum. 3- Tayamum dikhususkan untuk dua anggota tubuh yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Adapun penyebutan ‘aydiikum’ yang disebutkan mutlak dalam ayat, yang dimaksud adalah telapak tangan. Sebagaimana penyebutan seperti itu terdapat dalam ayat potong tangan. Jika penyebutannya tangan hingga siku, barulah ada pembasuhan tangan hingga siku. Oleh karenanya dari sini bisa diambil pelajaran bahwa tangan yang diusap pada tayamum adalah telapak tangan saja, tidak sampai siku. 4- Tayamum disyariatkan untuk menyucikan hadats kecil, begitu pula hadats besar karena Allah menyebutkan perihal tayamum setelah menyebutkan wudhu dan mandi. 5- Tayamum tetap dengan mengusap walau menggantikan wudhu (menyucikan hadats kecil) dan mandi (menyucikan hadats besar) yang di mana dalam wudhu atau mandi terdapat ghusul (membasuh atau mencuci). Sehingga dalam tayamum tidak perlu mengalirkan atau melumurkan debu, cukap mengusap saja. 6- Ayat ini menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum menggantikan bersuci dengan air ketika tidak mendapati air atau mendapat bahaya ketika menggunakan air. Karena tayamum masih tetap disebut thaharah (bersuci). Begitu pula banyak hadits yang menunjukkan demikian. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa bersuci dengan tayamum masih berlaku tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu atau batal karena masuknya waktu tertentu sebagaimana yang dikatakan kebanyakan ulama. Yang tepat tayamum itu batal karena dua sebab: Karena mendapati pembatal bersuci. Karena mendapati air atau hilangnya bahaya untuk menggunakan air. Semoga bermanfaat.   Referensi: Taysir Al-Lathif Al-Mannan Khulashoh Tafsir Al-Qur’an. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Dar Al-‘Ashimah. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum manhajus salikin tayamum

Keistimewaan Bulan Syaban Berikut Amalan Sunnah di Dalamnya

Keistimewaan dan Amalan Bulan Syaban Ada beberapa hadis shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, di antara amalan tersebut adalah memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani) Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya. Apa Hikmahnya? Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani) Memperbanyak Ibadah di Malam Nishfu Sya’ban Ulama berselisih pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya: Pendapat pertama, tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33). Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11) Sementara riwayat yang menganjurkan ibadah khusus pada hari tertentu di bulan Sya’ban untuk berpuasa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, hadisnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadis yang menyatakan, إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378) Keterangan: Hadits ini dari jalan Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis ini statusnya hadis maudhu’/palsu, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Sabrah yang tertuduh berdusta, sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqrib . Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[Silsilah Dha’ifah, no. 2132.] Mengingat hadis tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa di siang harinya tidak sah dan tidak bisa dijadikan dalil, maka para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama.[Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.] Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani). Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123) Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247). Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir 8 Tahun Lalu, Jumlah Ayat Pada Al Quran, Kapan Al Quran Di Turunkan, Bayi 40 Hari Dalam Islam, Cara Membaca Sholawat, Tata Cara Ziarah Kubur Singkat Visited 250 times, 37 visit(s) today Post Views: 549 QRIS donasi Yufid

Keistimewaan Bulan Syaban Berikut Amalan Sunnah di Dalamnya

Keistimewaan dan Amalan Bulan Syaban Ada beberapa hadis shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, di antara amalan tersebut adalah memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani) Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya. Apa Hikmahnya? Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani) Memperbanyak Ibadah di Malam Nishfu Sya’ban Ulama berselisih pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya: Pendapat pertama, tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33). Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11) Sementara riwayat yang menganjurkan ibadah khusus pada hari tertentu di bulan Sya’ban untuk berpuasa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, hadisnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadis yang menyatakan, إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378) Keterangan: Hadits ini dari jalan Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis ini statusnya hadis maudhu’/palsu, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Sabrah yang tertuduh berdusta, sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqrib . Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[Silsilah Dha’ifah, no. 2132.] Mengingat hadis tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa di siang harinya tidak sah dan tidak bisa dijadikan dalil, maka para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama.[Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.] Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani). Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123) Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247). Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir 8 Tahun Lalu, Jumlah Ayat Pada Al Quran, Kapan Al Quran Di Turunkan, Bayi 40 Hari Dalam Islam, Cara Membaca Sholawat, Tata Cara Ziarah Kubur Singkat Visited 250 times, 37 visit(s) today Post Views: 549 QRIS donasi Yufid
Keistimewaan dan Amalan Bulan Syaban Ada beberapa hadis shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, di antara amalan tersebut adalah memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani) Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya. Apa Hikmahnya? Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani) Memperbanyak Ibadah di Malam Nishfu Sya’ban Ulama berselisih pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya: Pendapat pertama, tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33). Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11) Sementara riwayat yang menganjurkan ibadah khusus pada hari tertentu di bulan Sya’ban untuk berpuasa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, hadisnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadis yang menyatakan, إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378) Keterangan: Hadits ini dari jalan Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis ini statusnya hadis maudhu’/palsu, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Sabrah yang tertuduh berdusta, sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqrib . Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[Silsilah Dha’ifah, no. 2132.] Mengingat hadis tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa di siang harinya tidak sah dan tidak bisa dijadikan dalil, maka para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama.[Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.] Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani). Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123) Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247). Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir 8 Tahun Lalu, Jumlah Ayat Pada Al Quran, Kapan Al Quran Di Turunkan, Bayi 40 Hari Dalam Islam, Cara Membaca Sholawat, Tata Cara Ziarah Kubur Singkat Visited 250 times, 37 visit(s) today Post Views: 549 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1226745832&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Keistimewaan dan Amalan Bulan Syaban Ada beberapa hadis shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, di antara amalan tersebut adalah memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Aisyah mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani) Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya. Apa Hikmahnya? Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani) Memperbanyak Ibadah di Malam Nishfu Sya’ban Ulama berselisih pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya: Pendapat pertama, tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33). Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11) Sementara riwayat yang menganjurkan ibadah khusus pada hari tertentu di bulan Sya’ban untuk berpuasa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, hadisnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadis yang menyatakan, إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378) Keterangan: Hadits ini dari jalan Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis ini statusnya hadis maudhu’/palsu, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Sabrah yang tertuduh berdusta, sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqrib . Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[Silsilah Dha’ifah, no. 2132.] Mengingat hadis tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa di siang harinya tidak sah dan tidak bisa dijadikan dalil, maka para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama.[Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.] Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani). Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123) Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247). Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir 8 Tahun Lalu, Jumlah Ayat Pada Al Quran, Kapan Al Quran Di Turunkan, Bayi 40 Hari Dalam Islam, Cara Membaca Sholawat, Tata Cara Ziarah Kubur Singkat Visited 250 times, 37 visit(s) today Post Views: 549 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sebelas Istri Nabi dan Keutamaannya

Download   Apa saja keutamaan dari istri-istri nabi?   Sebelas Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi keistimewaan dengan banyak istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu waktu dibolehkan memiliki istri lebih dari empat. Hal ini untuk menunjukkan mulianya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan sembilan istri. Namun beliau memiliki istri yang lain. Ada yang beliau setubuhi, ada pula yang beliau langsungkan akad namun tidak disetubuhi, ada pula yang beliau khitbah namun tidak sampai menikah. Adapun istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau gauli atau kita menyebut dengan ummahatul mukminin (ibunya orang beriman) yang rajih (pendapat terkuat) ada sebelas istri. Pertama: Enam istri dari Quraisy Khadijah binti Khuwailid ‘Aisyah binti Abu Bakar Hafshah binti ‘Umar Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan Ummu Salamah binti Abu Umayyah Saudah binti Zam’ah Kedua: Empat dari kalangan Arab Zainab binti Khuzaimah Zainab binti Jahsy Maimunah binti Al-Harits Juwairiyah binti Al-Harits Ketiga: Satu istri dari Bani Israil yaitu Shafiyah binti Huyay Istri beliau yang meninggal dunia ketika beliau masih hidup adalah (1) Khadijah binti Khuwailid dan (2) Zainab binti Khuzaimah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki dua sahaya wanita yaitu Mariyah (ibu anak beliau yang bernama Ibrahim) dan Raihanah binti Zaid, budak yang dihibahkan oleh Zainab binti Jahsy.   Keutamaan Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mereka adalah Ummul Mukminin (ibundanya orang-orang beriman) Dalam ayat disebutkan, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)   Kedua: Mereka lebih memilih Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29) “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29)   Ketiga: Jika berbuat baik, akan dilipatgandakan pahala; jika berbuat jelek, akan diberikan hukuman Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31) “Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (QS. Al-Ahzab: 30-31)   Keempat: Mereka lebih mulia dari wanita lain Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)   Kelima: Mereka memilih tinggal di rumah dan semangat menyebarkan ilmu Dalam ayat disebutkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34) “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 33-34)   Keenam: Allah memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آَتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 50)   Ketujuh: Rasul memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آَتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Ahzab: 51)   Kedelapan: Mereka tidak boleh menikah sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا “Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)   Kesembilan: Rasul memerintahkan mereka untuk berhijab Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)   Kesepuluh: Allah menyucikan mereka Dalam ayat disebutkan, الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26) Hanya Allah yang memberi taufik.   — Artikel Kajian Bintaro Xchange, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar faedah sirah nabi ilmu istri nabi keutamaan ilmu khadijah sirah nabi

Sebelas Istri Nabi dan Keutamaannya

Download   Apa saja keutamaan dari istri-istri nabi?   Sebelas Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi keistimewaan dengan banyak istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu waktu dibolehkan memiliki istri lebih dari empat. Hal ini untuk menunjukkan mulianya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan sembilan istri. Namun beliau memiliki istri yang lain. Ada yang beliau setubuhi, ada pula yang beliau langsungkan akad namun tidak disetubuhi, ada pula yang beliau khitbah namun tidak sampai menikah. Adapun istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau gauli atau kita menyebut dengan ummahatul mukminin (ibunya orang beriman) yang rajih (pendapat terkuat) ada sebelas istri. Pertama: Enam istri dari Quraisy Khadijah binti Khuwailid ‘Aisyah binti Abu Bakar Hafshah binti ‘Umar Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan Ummu Salamah binti Abu Umayyah Saudah binti Zam’ah Kedua: Empat dari kalangan Arab Zainab binti Khuzaimah Zainab binti Jahsy Maimunah binti Al-Harits Juwairiyah binti Al-Harits Ketiga: Satu istri dari Bani Israil yaitu Shafiyah binti Huyay Istri beliau yang meninggal dunia ketika beliau masih hidup adalah (1) Khadijah binti Khuwailid dan (2) Zainab binti Khuzaimah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki dua sahaya wanita yaitu Mariyah (ibu anak beliau yang bernama Ibrahim) dan Raihanah binti Zaid, budak yang dihibahkan oleh Zainab binti Jahsy.   Keutamaan Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mereka adalah Ummul Mukminin (ibundanya orang-orang beriman) Dalam ayat disebutkan, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)   Kedua: Mereka lebih memilih Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29) “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29)   Ketiga: Jika berbuat baik, akan dilipatgandakan pahala; jika berbuat jelek, akan diberikan hukuman Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31) “Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (QS. Al-Ahzab: 30-31)   Keempat: Mereka lebih mulia dari wanita lain Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)   Kelima: Mereka memilih tinggal di rumah dan semangat menyebarkan ilmu Dalam ayat disebutkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34) “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 33-34)   Keenam: Allah memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آَتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 50)   Ketujuh: Rasul memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آَتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Ahzab: 51)   Kedelapan: Mereka tidak boleh menikah sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا “Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)   Kesembilan: Rasul memerintahkan mereka untuk berhijab Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)   Kesepuluh: Allah menyucikan mereka Dalam ayat disebutkan, الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26) Hanya Allah yang memberi taufik.   — Artikel Kajian Bintaro Xchange, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar faedah sirah nabi ilmu istri nabi keutamaan ilmu khadijah sirah nabi
Download   Apa saja keutamaan dari istri-istri nabi?   Sebelas Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi keistimewaan dengan banyak istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu waktu dibolehkan memiliki istri lebih dari empat. Hal ini untuk menunjukkan mulianya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan sembilan istri. Namun beliau memiliki istri yang lain. Ada yang beliau setubuhi, ada pula yang beliau langsungkan akad namun tidak disetubuhi, ada pula yang beliau khitbah namun tidak sampai menikah. Adapun istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau gauli atau kita menyebut dengan ummahatul mukminin (ibunya orang beriman) yang rajih (pendapat terkuat) ada sebelas istri. Pertama: Enam istri dari Quraisy Khadijah binti Khuwailid ‘Aisyah binti Abu Bakar Hafshah binti ‘Umar Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan Ummu Salamah binti Abu Umayyah Saudah binti Zam’ah Kedua: Empat dari kalangan Arab Zainab binti Khuzaimah Zainab binti Jahsy Maimunah binti Al-Harits Juwairiyah binti Al-Harits Ketiga: Satu istri dari Bani Israil yaitu Shafiyah binti Huyay Istri beliau yang meninggal dunia ketika beliau masih hidup adalah (1) Khadijah binti Khuwailid dan (2) Zainab binti Khuzaimah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki dua sahaya wanita yaitu Mariyah (ibu anak beliau yang bernama Ibrahim) dan Raihanah binti Zaid, budak yang dihibahkan oleh Zainab binti Jahsy.   Keutamaan Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mereka adalah Ummul Mukminin (ibundanya orang-orang beriman) Dalam ayat disebutkan, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)   Kedua: Mereka lebih memilih Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29) “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29)   Ketiga: Jika berbuat baik, akan dilipatgandakan pahala; jika berbuat jelek, akan diberikan hukuman Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31) “Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (QS. Al-Ahzab: 30-31)   Keempat: Mereka lebih mulia dari wanita lain Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)   Kelima: Mereka memilih tinggal di rumah dan semangat menyebarkan ilmu Dalam ayat disebutkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34) “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 33-34)   Keenam: Allah memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آَتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 50)   Ketujuh: Rasul memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آَتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Ahzab: 51)   Kedelapan: Mereka tidak boleh menikah sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا “Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)   Kesembilan: Rasul memerintahkan mereka untuk berhijab Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)   Kesepuluh: Allah menyucikan mereka Dalam ayat disebutkan, الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26) Hanya Allah yang memberi taufik.   — Artikel Kajian Bintaro Xchange, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar faedah sirah nabi ilmu istri nabi keutamaan ilmu khadijah sirah nabi


Download   Apa saja keutamaan dari istri-istri nabi?   Sebelas Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi keistimewaan dengan banyak istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu waktu dibolehkan memiliki istri lebih dari empat. Hal ini untuk menunjukkan mulianya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan sembilan istri. Namun beliau memiliki istri yang lain. Ada yang beliau setubuhi, ada pula yang beliau langsungkan akad namun tidak disetubuhi, ada pula yang beliau khitbah namun tidak sampai menikah. Adapun istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau gauli atau kita menyebut dengan ummahatul mukminin (ibunya orang beriman) yang rajih (pendapat terkuat) ada sebelas istri. Pertama: Enam istri dari Quraisy Khadijah binti Khuwailid ‘Aisyah binti Abu Bakar Hafshah binti ‘Umar Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan Ummu Salamah binti Abu Umayyah Saudah binti Zam’ah Kedua: Empat dari kalangan Arab Zainab binti Khuzaimah Zainab binti Jahsy Maimunah binti Al-Harits Juwairiyah binti Al-Harits Ketiga: Satu istri dari Bani Israil yaitu Shafiyah binti Huyay Istri beliau yang meninggal dunia ketika beliau masih hidup adalah (1) Khadijah binti Khuwailid dan (2) Zainab binti Khuzaimah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki dua sahaya wanita yaitu Mariyah (ibu anak beliau yang bernama Ibrahim) dan Raihanah binti Zaid, budak yang dihibahkan oleh Zainab binti Jahsy.   Keutamaan Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mereka adalah Ummul Mukminin (ibundanya orang-orang beriman) Dalam ayat disebutkan, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)   Kedua: Mereka lebih memilih Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29) “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29)   Ketiga: Jika berbuat baik, akan dilipatgandakan pahala; jika berbuat jelek, akan diberikan hukuman Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31) “Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (QS. Al-Ahzab: 30-31)   Keempat: Mereka lebih mulia dari wanita lain Dalam ayat disebutkan, يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)   Kelima: Mereka memilih tinggal di rumah dan semangat menyebarkan ilmu Dalam ayat disebutkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34) “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 33-34)   Keenam: Allah memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آَتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 50)   Ketujuh: Rasul memuliakan Ummul Mukminin Dalam ayat disebutkan, تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آَتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Ahzab: 51)   Kedelapan: Mereka tidak boleh menikah sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا “Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)   Kesembilan: Rasul memerintahkan mereka untuk berhijab Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)   Kesepuluh: Allah menyucikan mereka Dalam ayat disebutkan, الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26) Hanya Allah yang memberi taufik.   — Artikel Kajian Bintaro Xchange, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar faedah sirah nabi ilmu istri nabi keutamaan ilmu khadijah sirah nabi

Mahar Berlebihan & Membebani akan Mengurangi Keberkahan Pernikahan

Mahar adalah kewajiban yang wajib diserahkan suami kepada istrinya ketika akan menikah dan menjadi harta milik istri. Hal ini merupakan perintah Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman,وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa: 4)Mahar wajib ditunaikan walaupun tidak memiliki harga yang tinggi. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang akan menikah tapi tidak memiliki harta, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan sahabat tersebut untuk mencari mahar yang memiliki nilai dan harga walaupun hanya cincin besi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat tersebut,انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Besaran nilai mahar tidak ditetapkan oleh syariat. Mahar boleh saja bernilai rendah dan boleh saja bernilai tinggi asalkan saling ridha. An-Nawawi menjelaskan,في هذا الحديث أنه يجوز أن يكون الصداق قليلا وكثيرا مما يتمول إذا تراضى به الزوجان، لأن خاتم الحديد في نهاية من القلة، وهذا مذهب الشافعي وهو مذهب جماهير العلماء من السلف والخلف“Hadits ini menunjukkan bahwa mahar itu boleh sedikit (bernilai rendah) dan boleh juga banyak (bernilai tinggi) apabila kedua pasangan saling ridha, karena cincin dari besi menunjukkan nilai mahar yang murah. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf.” (Syarh Shahih Muslim 9/190)Akan tetapi hendaknya mahar itu adalah mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah. Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud)Dalam riwayat Ahmad,ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata, “Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)Sebaliknya apabila mahar terlalu mahal dan membebankan bagi calon suami (apalagi sampai berhutang untuk menikah karena tabungan tidak cukup), tentu akan mengurangi keberkahan pernikahan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan,المغالاة في المهر مكروهة في النكاح وأنها من قلة بركته وعسره.“Berlebihan-lebihan dalam mahar hukumnya makruh (dibenci) pada pernikahan. Hal ini menunjukkan sedikitnya barakah dan sulitnya pernikahan tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 5/187)Semoga kaum muslimin memudahkan dalam urusan mahar dan tidak mematok mahar yang tinggi yang menyusahkan dan membebani calon suami.@Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Wanita, Ayat Alquran Tentang Sakit Penghapus Dosa, Asuransi Menurut Hukum Islam, Silaturahmi Dan Silaturahim, Wanita Cadar

Mahar Berlebihan & Membebani akan Mengurangi Keberkahan Pernikahan

Mahar adalah kewajiban yang wajib diserahkan suami kepada istrinya ketika akan menikah dan menjadi harta milik istri. Hal ini merupakan perintah Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman,وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa: 4)Mahar wajib ditunaikan walaupun tidak memiliki harga yang tinggi. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang akan menikah tapi tidak memiliki harta, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan sahabat tersebut untuk mencari mahar yang memiliki nilai dan harga walaupun hanya cincin besi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat tersebut,انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Besaran nilai mahar tidak ditetapkan oleh syariat. Mahar boleh saja bernilai rendah dan boleh saja bernilai tinggi asalkan saling ridha. An-Nawawi menjelaskan,في هذا الحديث أنه يجوز أن يكون الصداق قليلا وكثيرا مما يتمول إذا تراضى به الزوجان، لأن خاتم الحديد في نهاية من القلة، وهذا مذهب الشافعي وهو مذهب جماهير العلماء من السلف والخلف“Hadits ini menunjukkan bahwa mahar itu boleh sedikit (bernilai rendah) dan boleh juga banyak (bernilai tinggi) apabila kedua pasangan saling ridha, karena cincin dari besi menunjukkan nilai mahar yang murah. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf.” (Syarh Shahih Muslim 9/190)Akan tetapi hendaknya mahar itu adalah mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah. Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud)Dalam riwayat Ahmad,ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata, “Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)Sebaliknya apabila mahar terlalu mahal dan membebankan bagi calon suami (apalagi sampai berhutang untuk menikah karena tabungan tidak cukup), tentu akan mengurangi keberkahan pernikahan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan,المغالاة في المهر مكروهة في النكاح وأنها من قلة بركته وعسره.“Berlebihan-lebihan dalam mahar hukumnya makruh (dibenci) pada pernikahan. Hal ini menunjukkan sedikitnya barakah dan sulitnya pernikahan tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 5/187)Semoga kaum muslimin memudahkan dalam urusan mahar dan tidak mematok mahar yang tinggi yang menyusahkan dan membebani calon suami.@Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Wanita, Ayat Alquran Tentang Sakit Penghapus Dosa, Asuransi Menurut Hukum Islam, Silaturahmi Dan Silaturahim, Wanita Cadar
Mahar adalah kewajiban yang wajib diserahkan suami kepada istrinya ketika akan menikah dan menjadi harta milik istri. Hal ini merupakan perintah Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman,وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa: 4)Mahar wajib ditunaikan walaupun tidak memiliki harga yang tinggi. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang akan menikah tapi tidak memiliki harta, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan sahabat tersebut untuk mencari mahar yang memiliki nilai dan harga walaupun hanya cincin besi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat tersebut,انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Besaran nilai mahar tidak ditetapkan oleh syariat. Mahar boleh saja bernilai rendah dan boleh saja bernilai tinggi asalkan saling ridha. An-Nawawi menjelaskan,في هذا الحديث أنه يجوز أن يكون الصداق قليلا وكثيرا مما يتمول إذا تراضى به الزوجان، لأن خاتم الحديد في نهاية من القلة، وهذا مذهب الشافعي وهو مذهب جماهير العلماء من السلف والخلف“Hadits ini menunjukkan bahwa mahar itu boleh sedikit (bernilai rendah) dan boleh juga banyak (bernilai tinggi) apabila kedua pasangan saling ridha, karena cincin dari besi menunjukkan nilai mahar yang murah. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf.” (Syarh Shahih Muslim 9/190)Akan tetapi hendaknya mahar itu adalah mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah. Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud)Dalam riwayat Ahmad,ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata, “Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)Sebaliknya apabila mahar terlalu mahal dan membebankan bagi calon suami (apalagi sampai berhutang untuk menikah karena tabungan tidak cukup), tentu akan mengurangi keberkahan pernikahan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan,المغالاة في المهر مكروهة في النكاح وأنها من قلة بركته وعسره.“Berlebihan-lebihan dalam mahar hukumnya makruh (dibenci) pada pernikahan. Hal ini menunjukkan sedikitnya barakah dan sulitnya pernikahan tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 5/187)Semoga kaum muslimin memudahkan dalam urusan mahar dan tidak mematok mahar yang tinggi yang menyusahkan dan membebani calon suami.@Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Wanita, Ayat Alquran Tentang Sakit Penghapus Dosa, Asuransi Menurut Hukum Islam, Silaturahmi Dan Silaturahim, Wanita Cadar


Mahar adalah kewajiban yang wajib diserahkan suami kepada istrinya ketika akan menikah dan menjadi harta milik istri. Hal ini merupakan perintah Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman,وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa: 4)Mahar wajib ditunaikan walaupun tidak memiliki harga yang tinggi. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang akan menikah tapi tidak memiliki harta, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan sahabat tersebut untuk mencari mahar yang memiliki nilai dan harga walaupun hanya cincin besi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat tersebut,انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Besaran nilai mahar tidak ditetapkan oleh syariat. Mahar boleh saja bernilai rendah dan boleh saja bernilai tinggi asalkan saling ridha. An-Nawawi menjelaskan,في هذا الحديث أنه يجوز أن يكون الصداق قليلا وكثيرا مما يتمول إذا تراضى به الزوجان، لأن خاتم الحديد في نهاية من القلة، وهذا مذهب الشافعي وهو مذهب جماهير العلماء من السلف والخلف“Hadits ini menunjukkan bahwa mahar itu boleh sedikit (bernilai rendah) dan boleh juga banyak (bernilai tinggi) apabila kedua pasangan saling ridha, karena cincin dari besi menunjukkan nilai mahar yang murah. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf.” (Syarh Shahih Muslim 9/190)Akan tetapi hendaknya mahar itu adalah mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah. Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud)Dalam riwayat Ahmad,ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata, “Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)Sebaliknya apabila mahar terlalu mahal dan membebankan bagi calon suami (apalagi sampai berhutang untuk menikah karena tabungan tidak cukup), tentu akan mengurangi keberkahan pernikahan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan,المغالاة في المهر مكروهة في النكاح وأنها من قلة بركته وعسره.“Berlebihan-lebihan dalam mahar hukumnya makruh (dibenci) pada pernikahan. Hal ini menunjukkan sedikitnya barakah dan sulitnya pernikahan tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 5/187)Semoga kaum muslimin memudahkan dalam urusan mahar dan tidak mematok mahar yang tinggi yang menyusahkan dan membebani calon suami.@Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Wanita, Ayat Alquran Tentang Sakit Penghapus Dosa, Asuransi Menurut Hukum Islam, Silaturahmi Dan Silaturahim, Wanita Cadar

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)Aqidah (sebagian) Ulama Asy’ariyyah yang Menetapkan Hanya Tujuh Sifat Bagi Allah dengan Dalil Akal (Logika)Tujuh sifat yang ditetapkan oleh ulama (tokoh) Asy’ariyyah generasi (thabaqat) belakangan (muta’akhirin), seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini, adalah sifat (1) qudrah; (2) al-‘ilmu; (3) iradah; (4) hayyun; (5) sama’; (6) bashar; dan (7) kalam. [1]Dalam aqidah Asy’ariyyah yang dipegang oleh Abul Ma’ali Al-Juwaini, Allah Ta’ala hanya disifati dengan tujuh sifat tersebut saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,لكن الأشاعرة لا يثبتون إلا هذه الصفات السبع فقط؛ لأنهم يرون أن هذه الصفات السبع دل عليها العقل فأثبتوها لدلالة العقل عليها، وأما ما سواها فإن العقل لا يدل عليها فيجب أن تأول“ … akan tetapi kelompok Asy’ariyyah, tidaklah mereka menetapkan sifat (Allah) kecuali tujuh sifat ini saja. Karena mereka berpendapat bahwa ketujuh sifat ini ditunjukkan oleh akal mereka. Maka mereka menetapkannya berdasarkan dalil akal. Adapun sifat-sifat lainnya, maka tidak ditunjukkan oleh akal mereka, sehingga harus ditakwil.” [2]Jadi, tujuh sifat ini pun tidak ditetapkan oleh Asy’ariyyah berdasarkan dalil syar’i, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, mereka tetapkan dan mereka yakini berdasarkan dalil akal (logika). Bagaimana akal dan logika mereka bisa sampai menetapkan tujuh sifat tersebut?Beginilah alur berpikirnya:Adanya makhluk menunjukkan adanya qudrah (kekuasaan) Allah. Adanya sesuatu yang baru (makhluk) menunjukkan kekuasaan dari dzat yang menjadikan makhluk tersebut, yaitu Allah. Teraturnya makhluk di alam semesta ini menunjukkan Allah memiliki sifat ‘ilmu. Karena jika bodoh, tentu tidak bisa mengatur. Lalu, adanya keunikan dan kekhususan masing-masing makhluk menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak (iradah). Ada matahari, ada bulan, ada bumi, ada langit, ada hewan dengan berbagai jenisnya, semua ini menunjukkan adanya iradah. Allah menghendaki untuk menciptakan langit, maka jadilah langit, dan seterusnya.Tiga sifat ini (qudrah, ilmu, dan iradah) tidak mungkin ada kecuali pada dzat yang hidup (hayyun). Sehingga mereka pun menetapkan sifat yang ke empat ini.Jika sifat hayyun telah ditetapkan, maka bisa jadi dzat tersebut memiliki pendengaran (sama’); penglihatan (bashar); dan berbicara (kalam) atau kebalikan dari tiga hal tersebut (tuli, buta dan bisu). Tiga sifat tersebut (tuli, buta dan bisu) adalah sifat tercela (aib) sehingga tidak mungkin Allah ditetapkan dengan ketiga sifat aib tersebut. Sehingga yang kita tetapkan adalah sifat sebaliknya, yaitu Allah memiliki sifat sama’, bashar dan kalam. [3]Setelah mereka menetapkan tujuh sifat ini, mereka pun menolak untuk menetapkan sifat lainnya, seperti sifat mahabbah (mencintai), ridho (meridhai), ghadhab (murka), karena tidak ditunjukkan oleh akal mereka. [4] Sifat-sifat tersebut harus ditolak (atau dalam bahasa mereka: ditakwil) semuanya, sesuai dengan “petunjuk akal” mereka.Tujuh sifat ini ditambah satu lagi oleh golongan Maturidiyyah, pengikut Abul Manshur Muhammad Al-Maturidi (wafat tahun 333 H) sehingga menjadi delapan sifat. Sifat ke delapan tersebut adalah sifat at-takwiin (membentuk atau pembentukan). [5]Tujuh sifat yang ditetapkan oleh Asy’ariyyah tersebut dinamakan dengan صفات المعاني (shifaat ma’ani). Kemudian dari tujuh sifat tersebut, dibentuklah tujuh sifat lainnya, yaitu صفات معنوية (shifat ma’nawiyyah), yaitu sifat-sifat yang kembali ke tujuh shifaat ma’ani. Ketujuh sifat ma’nawiyyah tersebut adalah:وكونه تعالى قادرا، مريدا، عالما، حيا، سميعا، بصيرا، متكلما.“Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman.”Mereka pun menambahkan lagi enam sifat yang mereka sebut dengan  صفات سلبية (shifat salbiyyah). Artinya, sifat yang meniadakan. Disebut dengan shifat salbiyyah, karena penetapan sifat ini -menurut mereka- akan menafikan (meniadakan) sesuatu yang serupa dengan Allah Ta’ala. Shifat salbiyyah menurut mereka adalah:الوجود، القدم، البقاء، مخالفة الحوادث، القيام بالنفس، الوحدانية“Wujud, Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Ta’ala lil Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah.”Sehingga jumlah totalnya menjadi dua puluh sifat. Namun, dua puluh sifat ini intinya kembali ke tujuh sifat di awal, yaitu shifat ma’ani. Inilah sejarah singkat dua puluh sifat wajib bagi Allah, yang banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin saat ini. [5]Kedua puluh sifat ini adalah “sifat wajib” bagi Allah berdasarkan akal pula. Menurut akal mereka, tidaklah tergambar kalau kedua puluh sifat ini tidak ada, sehingga harus (wajib) ditetapkan untuk Allah Ta’ala. [6]Kesimpulannya, tokoh-tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah, mereka hanya menetapkan sifat Allah hanya berdasarkan akal, bukan berdasarkan dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah).[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Syarh Risaalah At-Tadmuriyyah li Syaikhil Islaam Ibnu Taimiyyah, oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Ghofish. Dalam bentuk file ceramah dan manuskrip di sini:http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=lecview&sid=1119&read=1&lg=656[2]    Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, penerbit Madaarul Wathan KSA, cetakan ke dua tahun 1434, hal. 200.[3]    Idem., hal. 201.[4]    Idem., hal. 200.[5]    https://dorar.net/firq/438[6]    Silakan dilihat pembahasan menarik di sini:    http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=124813 🔍 Panitia Zakat Fitrah, Perintah Sholat, Mengapa Durhaka Kepada Orang Tua Dilarang Dalam Agama Islam, Rahasia Telapak Tangan Menurut Islam, Bin Baz Jogja

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)Aqidah (sebagian) Ulama Asy’ariyyah yang Menetapkan Hanya Tujuh Sifat Bagi Allah dengan Dalil Akal (Logika)Tujuh sifat yang ditetapkan oleh ulama (tokoh) Asy’ariyyah generasi (thabaqat) belakangan (muta’akhirin), seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini, adalah sifat (1) qudrah; (2) al-‘ilmu; (3) iradah; (4) hayyun; (5) sama’; (6) bashar; dan (7) kalam. [1]Dalam aqidah Asy’ariyyah yang dipegang oleh Abul Ma’ali Al-Juwaini, Allah Ta’ala hanya disifati dengan tujuh sifat tersebut saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,لكن الأشاعرة لا يثبتون إلا هذه الصفات السبع فقط؛ لأنهم يرون أن هذه الصفات السبع دل عليها العقل فأثبتوها لدلالة العقل عليها، وأما ما سواها فإن العقل لا يدل عليها فيجب أن تأول“ … akan tetapi kelompok Asy’ariyyah, tidaklah mereka menetapkan sifat (Allah) kecuali tujuh sifat ini saja. Karena mereka berpendapat bahwa ketujuh sifat ini ditunjukkan oleh akal mereka. Maka mereka menetapkannya berdasarkan dalil akal. Adapun sifat-sifat lainnya, maka tidak ditunjukkan oleh akal mereka, sehingga harus ditakwil.” [2]Jadi, tujuh sifat ini pun tidak ditetapkan oleh Asy’ariyyah berdasarkan dalil syar’i, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, mereka tetapkan dan mereka yakini berdasarkan dalil akal (logika). Bagaimana akal dan logika mereka bisa sampai menetapkan tujuh sifat tersebut?Beginilah alur berpikirnya:Adanya makhluk menunjukkan adanya qudrah (kekuasaan) Allah. Adanya sesuatu yang baru (makhluk) menunjukkan kekuasaan dari dzat yang menjadikan makhluk tersebut, yaitu Allah. Teraturnya makhluk di alam semesta ini menunjukkan Allah memiliki sifat ‘ilmu. Karena jika bodoh, tentu tidak bisa mengatur. Lalu, adanya keunikan dan kekhususan masing-masing makhluk menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak (iradah). Ada matahari, ada bulan, ada bumi, ada langit, ada hewan dengan berbagai jenisnya, semua ini menunjukkan adanya iradah. Allah menghendaki untuk menciptakan langit, maka jadilah langit, dan seterusnya.Tiga sifat ini (qudrah, ilmu, dan iradah) tidak mungkin ada kecuali pada dzat yang hidup (hayyun). Sehingga mereka pun menetapkan sifat yang ke empat ini.Jika sifat hayyun telah ditetapkan, maka bisa jadi dzat tersebut memiliki pendengaran (sama’); penglihatan (bashar); dan berbicara (kalam) atau kebalikan dari tiga hal tersebut (tuli, buta dan bisu). Tiga sifat tersebut (tuli, buta dan bisu) adalah sifat tercela (aib) sehingga tidak mungkin Allah ditetapkan dengan ketiga sifat aib tersebut. Sehingga yang kita tetapkan adalah sifat sebaliknya, yaitu Allah memiliki sifat sama’, bashar dan kalam. [3]Setelah mereka menetapkan tujuh sifat ini, mereka pun menolak untuk menetapkan sifat lainnya, seperti sifat mahabbah (mencintai), ridho (meridhai), ghadhab (murka), karena tidak ditunjukkan oleh akal mereka. [4] Sifat-sifat tersebut harus ditolak (atau dalam bahasa mereka: ditakwil) semuanya, sesuai dengan “petunjuk akal” mereka.Tujuh sifat ini ditambah satu lagi oleh golongan Maturidiyyah, pengikut Abul Manshur Muhammad Al-Maturidi (wafat tahun 333 H) sehingga menjadi delapan sifat. Sifat ke delapan tersebut adalah sifat at-takwiin (membentuk atau pembentukan). [5]Tujuh sifat yang ditetapkan oleh Asy’ariyyah tersebut dinamakan dengan صفات المعاني (shifaat ma’ani). Kemudian dari tujuh sifat tersebut, dibentuklah tujuh sifat lainnya, yaitu صفات معنوية (shifat ma’nawiyyah), yaitu sifat-sifat yang kembali ke tujuh shifaat ma’ani. Ketujuh sifat ma’nawiyyah tersebut adalah:وكونه تعالى قادرا، مريدا، عالما، حيا، سميعا، بصيرا، متكلما.“Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman.”Mereka pun menambahkan lagi enam sifat yang mereka sebut dengan  صفات سلبية (shifat salbiyyah). Artinya, sifat yang meniadakan. Disebut dengan shifat salbiyyah, karena penetapan sifat ini -menurut mereka- akan menafikan (meniadakan) sesuatu yang serupa dengan Allah Ta’ala. Shifat salbiyyah menurut mereka adalah:الوجود، القدم، البقاء، مخالفة الحوادث، القيام بالنفس، الوحدانية“Wujud, Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Ta’ala lil Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah.”Sehingga jumlah totalnya menjadi dua puluh sifat. Namun, dua puluh sifat ini intinya kembali ke tujuh sifat di awal, yaitu shifat ma’ani. Inilah sejarah singkat dua puluh sifat wajib bagi Allah, yang banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin saat ini. [5]Kedua puluh sifat ini adalah “sifat wajib” bagi Allah berdasarkan akal pula. Menurut akal mereka, tidaklah tergambar kalau kedua puluh sifat ini tidak ada, sehingga harus (wajib) ditetapkan untuk Allah Ta’ala. [6]Kesimpulannya, tokoh-tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah, mereka hanya menetapkan sifat Allah hanya berdasarkan akal, bukan berdasarkan dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah).[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Syarh Risaalah At-Tadmuriyyah li Syaikhil Islaam Ibnu Taimiyyah, oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Ghofish. Dalam bentuk file ceramah dan manuskrip di sini:http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=lecview&sid=1119&read=1&lg=656[2]    Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, penerbit Madaarul Wathan KSA, cetakan ke dua tahun 1434, hal. 200.[3]    Idem., hal. 201.[4]    Idem., hal. 200.[5]    https://dorar.net/firq/438[6]    Silakan dilihat pembahasan menarik di sini:    http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=124813 🔍 Panitia Zakat Fitrah, Perintah Sholat, Mengapa Durhaka Kepada Orang Tua Dilarang Dalam Agama Islam, Rahasia Telapak Tangan Menurut Islam, Bin Baz Jogja
Baca pembahasan sebelumnya Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)Aqidah (sebagian) Ulama Asy’ariyyah yang Menetapkan Hanya Tujuh Sifat Bagi Allah dengan Dalil Akal (Logika)Tujuh sifat yang ditetapkan oleh ulama (tokoh) Asy’ariyyah generasi (thabaqat) belakangan (muta’akhirin), seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini, adalah sifat (1) qudrah; (2) al-‘ilmu; (3) iradah; (4) hayyun; (5) sama’; (6) bashar; dan (7) kalam. [1]Dalam aqidah Asy’ariyyah yang dipegang oleh Abul Ma’ali Al-Juwaini, Allah Ta’ala hanya disifati dengan tujuh sifat tersebut saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,لكن الأشاعرة لا يثبتون إلا هذه الصفات السبع فقط؛ لأنهم يرون أن هذه الصفات السبع دل عليها العقل فأثبتوها لدلالة العقل عليها، وأما ما سواها فإن العقل لا يدل عليها فيجب أن تأول“ … akan tetapi kelompok Asy’ariyyah, tidaklah mereka menetapkan sifat (Allah) kecuali tujuh sifat ini saja. Karena mereka berpendapat bahwa ketujuh sifat ini ditunjukkan oleh akal mereka. Maka mereka menetapkannya berdasarkan dalil akal. Adapun sifat-sifat lainnya, maka tidak ditunjukkan oleh akal mereka, sehingga harus ditakwil.” [2]Jadi, tujuh sifat ini pun tidak ditetapkan oleh Asy’ariyyah berdasarkan dalil syar’i, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, mereka tetapkan dan mereka yakini berdasarkan dalil akal (logika). Bagaimana akal dan logika mereka bisa sampai menetapkan tujuh sifat tersebut?Beginilah alur berpikirnya:Adanya makhluk menunjukkan adanya qudrah (kekuasaan) Allah. Adanya sesuatu yang baru (makhluk) menunjukkan kekuasaan dari dzat yang menjadikan makhluk tersebut, yaitu Allah. Teraturnya makhluk di alam semesta ini menunjukkan Allah memiliki sifat ‘ilmu. Karena jika bodoh, tentu tidak bisa mengatur. Lalu, adanya keunikan dan kekhususan masing-masing makhluk menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak (iradah). Ada matahari, ada bulan, ada bumi, ada langit, ada hewan dengan berbagai jenisnya, semua ini menunjukkan adanya iradah. Allah menghendaki untuk menciptakan langit, maka jadilah langit, dan seterusnya.Tiga sifat ini (qudrah, ilmu, dan iradah) tidak mungkin ada kecuali pada dzat yang hidup (hayyun). Sehingga mereka pun menetapkan sifat yang ke empat ini.Jika sifat hayyun telah ditetapkan, maka bisa jadi dzat tersebut memiliki pendengaran (sama’); penglihatan (bashar); dan berbicara (kalam) atau kebalikan dari tiga hal tersebut (tuli, buta dan bisu). Tiga sifat tersebut (tuli, buta dan bisu) adalah sifat tercela (aib) sehingga tidak mungkin Allah ditetapkan dengan ketiga sifat aib tersebut. Sehingga yang kita tetapkan adalah sifat sebaliknya, yaitu Allah memiliki sifat sama’, bashar dan kalam. [3]Setelah mereka menetapkan tujuh sifat ini, mereka pun menolak untuk menetapkan sifat lainnya, seperti sifat mahabbah (mencintai), ridho (meridhai), ghadhab (murka), karena tidak ditunjukkan oleh akal mereka. [4] Sifat-sifat tersebut harus ditolak (atau dalam bahasa mereka: ditakwil) semuanya, sesuai dengan “petunjuk akal” mereka.Tujuh sifat ini ditambah satu lagi oleh golongan Maturidiyyah, pengikut Abul Manshur Muhammad Al-Maturidi (wafat tahun 333 H) sehingga menjadi delapan sifat. Sifat ke delapan tersebut adalah sifat at-takwiin (membentuk atau pembentukan). [5]Tujuh sifat yang ditetapkan oleh Asy’ariyyah tersebut dinamakan dengan صفات المعاني (shifaat ma’ani). Kemudian dari tujuh sifat tersebut, dibentuklah tujuh sifat lainnya, yaitu صفات معنوية (shifat ma’nawiyyah), yaitu sifat-sifat yang kembali ke tujuh shifaat ma’ani. Ketujuh sifat ma’nawiyyah tersebut adalah:وكونه تعالى قادرا، مريدا، عالما، حيا، سميعا، بصيرا، متكلما.“Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman.”Mereka pun menambahkan lagi enam sifat yang mereka sebut dengan  صفات سلبية (shifat salbiyyah). Artinya, sifat yang meniadakan. Disebut dengan shifat salbiyyah, karena penetapan sifat ini -menurut mereka- akan menafikan (meniadakan) sesuatu yang serupa dengan Allah Ta’ala. Shifat salbiyyah menurut mereka adalah:الوجود، القدم، البقاء، مخالفة الحوادث، القيام بالنفس، الوحدانية“Wujud, Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Ta’ala lil Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah.”Sehingga jumlah totalnya menjadi dua puluh sifat. Namun, dua puluh sifat ini intinya kembali ke tujuh sifat di awal, yaitu shifat ma’ani. Inilah sejarah singkat dua puluh sifat wajib bagi Allah, yang banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin saat ini. [5]Kedua puluh sifat ini adalah “sifat wajib” bagi Allah berdasarkan akal pula. Menurut akal mereka, tidaklah tergambar kalau kedua puluh sifat ini tidak ada, sehingga harus (wajib) ditetapkan untuk Allah Ta’ala. [6]Kesimpulannya, tokoh-tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah, mereka hanya menetapkan sifat Allah hanya berdasarkan akal, bukan berdasarkan dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah).[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Syarh Risaalah At-Tadmuriyyah li Syaikhil Islaam Ibnu Taimiyyah, oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Ghofish. Dalam bentuk file ceramah dan manuskrip di sini:http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=lecview&sid=1119&read=1&lg=656[2]    Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, penerbit Madaarul Wathan KSA, cetakan ke dua tahun 1434, hal. 200.[3]    Idem., hal. 201.[4]    Idem., hal. 200.[5]    https://dorar.net/firq/438[6]    Silakan dilihat pembahasan menarik di sini:    http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=124813 🔍 Panitia Zakat Fitrah, Perintah Sholat, Mengapa Durhaka Kepada Orang Tua Dilarang Dalam Agama Islam, Rahasia Telapak Tangan Menurut Islam, Bin Baz Jogja


Baca pembahasan sebelumnya Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)Aqidah (sebagian) Ulama Asy’ariyyah yang Menetapkan Hanya Tujuh Sifat Bagi Allah dengan Dalil Akal (Logika)Tujuh sifat yang ditetapkan oleh ulama (tokoh) Asy’ariyyah generasi (thabaqat) belakangan (muta’akhirin), seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini, adalah sifat (1) qudrah; (2) al-‘ilmu; (3) iradah; (4) hayyun; (5) sama’; (6) bashar; dan (7) kalam. [1]Dalam aqidah Asy’ariyyah yang dipegang oleh Abul Ma’ali Al-Juwaini, Allah Ta’ala hanya disifati dengan tujuh sifat tersebut saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,لكن الأشاعرة لا يثبتون إلا هذه الصفات السبع فقط؛ لأنهم يرون أن هذه الصفات السبع دل عليها العقل فأثبتوها لدلالة العقل عليها، وأما ما سواها فإن العقل لا يدل عليها فيجب أن تأول“ … akan tetapi kelompok Asy’ariyyah, tidaklah mereka menetapkan sifat (Allah) kecuali tujuh sifat ini saja. Karena mereka berpendapat bahwa ketujuh sifat ini ditunjukkan oleh akal mereka. Maka mereka menetapkannya berdasarkan dalil akal. Adapun sifat-sifat lainnya, maka tidak ditunjukkan oleh akal mereka, sehingga harus ditakwil.” [2]Jadi, tujuh sifat ini pun tidak ditetapkan oleh Asy’ariyyah berdasarkan dalil syar’i, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, mereka tetapkan dan mereka yakini berdasarkan dalil akal (logika). Bagaimana akal dan logika mereka bisa sampai menetapkan tujuh sifat tersebut?Beginilah alur berpikirnya:Adanya makhluk menunjukkan adanya qudrah (kekuasaan) Allah. Adanya sesuatu yang baru (makhluk) menunjukkan kekuasaan dari dzat yang menjadikan makhluk tersebut, yaitu Allah. Teraturnya makhluk di alam semesta ini menunjukkan Allah memiliki sifat ‘ilmu. Karena jika bodoh, tentu tidak bisa mengatur. Lalu, adanya keunikan dan kekhususan masing-masing makhluk menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak (iradah). Ada matahari, ada bulan, ada bumi, ada langit, ada hewan dengan berbagai jenisnya, semua ini menunjukkan adanya iradah. Allah menghendaki untuk menciptakan langit, maka jadilah langit, dan seterusnya.Tiga sifat ini (qudrah, ilmu, dan iradah) tidak mungkin ada kecuali pada dzat yang hidup (hayyun). Sehingga mereka pun menetapkan sifat yang ke empat ini.Jika sifat hayyun telah ditetapkan, maka bisa jadi dzat tersebut memiliki pendengaran (sama’); penglihatan (bashar); dan berbicara (kalam) atau kebalikan dari tiga hal tersebut (tuli, buta dan bisu). Tiga sifat tersebut (tuli, buta dan bisu) adalah sifat tercela (aib) sehingga tidak mungkin Allah ditetapkan dengan ketiga sifat aib tersebut. Sehingga yang kita tetapkan adalah sifat sebaliknya, yaitu Allah memiliki sifat sama’, bashar dan kalam. [3]Setelah mereka menetapkan tujuh sifat ini, mereka pun menolak untuk menetapkan sifat lainnya, seperti sifat mahabbah (mencintai), ridho (meridhai), ghadhab (murka), karena tidak ditunjukkan oleh akal mereka. [4] Sifat-sifat tersebut harus ditolak (atau dalam bahasa mereka: ditakwil) semuanya, sesuai dengan “petunjuk akal” mereka.Tujuh sifat ini ditambah satu lagi oleh golongan Maturidiyyah, pengikut Abul Manshur Muhammad Al-Maturidi (wafat tahun 333 H) sehingga menjadi delapan sifat. Sifat ke delapan tersebut adalah sifat at-takwiin (membentuk atau pembentukan). [5]Tujuh sifat yang ditetapkan oleh Asy’ariyyah tersebut dinamakan dengan صفات المعاني (shifaat ma’ani). Kemudian dari tujuh sifat tersebut, dibentuklah tujuh sifat lainnya, yaitu صفات معنوية (shifat ma’nawiyyah), yaitu sifat-sifat yang kembali ke tujuh shifaat ma’ani. Ketujuh sifat ma’nawiyyah tersebut adalah:وكونه تعالى قادرا، مريدا، عالما، حيا، سميعا، بصيرا، متكلما.“Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman.”Mereka pun menambahkan lagi enam sifat yang mereka sebut dengan  صفات سلبية (shifat salbiyyah). Artinya, sifat yang meniadakan. Disebut dengan shifat salbiyyah, karena penetapan sifat ini -menurut mereka- akan menafikan (meniadakan) sesuatu yang serupa dengan Allah Ta’ala. Shifat salbiyyah menurut mereka adalah:الوجود، القدم، البقاء، مخالفة الحوادث، القيام بالنفس، الوحدانية“Wujud, Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Ta’ala lil Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah.”Sehingga jumlah totalnya menjadi dua puluh sifat. Namun, dua puluh sifat ini intinya kembali ke tujuh sifat di awal, yaitu shifat ma’ani. Inilah sejarah singkat dua puluh sifat wajib bagi Allah, yang banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin saat ini. [5]Kedua puluh sifat ini adalah “sifat wajib” bagi Allah berdasarkan akal pula. Menurut akal mereka, tidaklah tergambar kalau kedua puluh sifat ini tidak ada, sehingga harus (wajib) ditetapkan untuk Allah Ta’ala. [6]Kesimpulannya, tokoh-tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah, mereka hanya menetapkan sifat Allah hanya berdasarkan akal, bukan berdasarkan dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah).[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Syarh Risaalah At-Tadmuriyyah li Syaikhil Islaam Ibnu Taimiyyah, oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Ghofish. Dalam bentuk file ceramah dan manuskrip di sini:http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=lecview&sid=1119&read=1&lg=656[2]    Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, penerbit Madaarul Wathan KSA, cetakan ke dua tahun 1434, hal. 200.[3]    Idem., hal. 201.[4]    Idem., hal. 200.[5]    https://dorar.net/firq/438[6]    Silakan dilihat pembahasan menarik di sini:    http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=124813 🔍 Panitia Zakat Fitrah, Perintah Sholat, Mengapa Durhaka Kepada Orang Tua Dilarang Dalam Agama Islam, Rahasia Telapak Tangan Menurut Islam, Bin Baz Jogja

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 3)

Baca juga Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)Sanggahan Ahlus Sunnah kepada Kelompok yang Membatasi Sifat Allah dengan Jumlah TertentuSanggahan pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi sifat Allah dengan jumlah tertentu.Kalau seseorang mau mempelajari aqidah yang benar, bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan jelas dan tampak baginya bahwa nama dan sifat Allah Ta’ala tidaklah dibatasi dengan bilangan tertentu. Hal ini karena Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu ghaib-Nya, yang tidak diketahui oleh seorang pun dari para malaikat atau nabi yang diutus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ”Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” [1] Nama-nama yang Allah Ta’ala sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dapat dihitung dan diketahui oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di akhirat kelak Allah Ta’ala akan membukakan kepada Rasulullah untuk memuji-Nya dengan sifat-sifat yang belum pernah diajarkan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِى”Maka Allah mengilhamkan kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya yang tidak diajarkan kepada seorang pun sebelumku.” [2] Sampai-sampai Rasulullah sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا أُحْصِي ثَنَاء عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسك”Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji terhadap diri-Mu.” [3] Sanggahan ke dua: Allah memiliki banyak nama yang sekaligus mengandung sifat.Kalaulah kita mau membuka lembaran Al-Qur’an dan membolak-balik kitab hadits, maka kita akan menemukan puluhan nama-nama Allah Ta’ala. Padahal, setiap nama Allah Ta’ala juga menunjukkan kepada sifat-Nya yang mulia.Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama As-Samii’, maka hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat mendengar (as-sam’u). Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama Al-‘Aliim, hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki ilmu (al-‘ilmu). Dan demikian seterusnya untuk nama-nama Allah Ta’ala yang lain. Berbeda dengan nama makhluk (manusia biasa, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), bisa jadi hanya sekedar nama tanpa menunjukkan sifat. Ada seseorang yang bernama “Shalih”, namun mungkin saja perilakunya tidak mencerminkan namanya.Berarti, jumlah sifat Allah Ta’ala mengikuti jumlah nama Allah Ta’ala. Hal ini belum termasuk dengan sifat-sifat yang disebutkan secara khusus oleh Allah Ta’ala maupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, darimana kita mengatakan bahwa sifat Allah Ta’ala hanya tujuh atau dua puluh?Sebagian di antara kita mungkin menghapal al-asmaaul husnaa yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Meskipun hal ini tidak berarti menunjukkan pembatasan nama Allah hanya sejumlah itu, sebagaimana yang telah kami jelaskan di tulisan lainnya. [4] Kalau sifat Allah hanya dua puluh, berarti ada 79 nama Allah yang tidak mengandung sifat (99 dikurangi 20).Kalau kita menetapkan hanya dua puluh sifat, berarti Allah tidak memiliki sifat al-‘izzah (kekuatan). Berarti nama Allah Ta’ala Al-‘Aziiz adalah sekedar nama, namun tidak mengandung sifat, karena sifat al-‘izzah tidak terdapat dalam dua puluh sifat tersebut. Lalu, apa bedanya aqidah ini dengan aqidah Mu’tazilah yang hanya menetapkan nama tanpa sifat?Sanggahan ke tiga: Membatasi jumlah sifat Allah secara tidak langsung mencela Allah Ta’ala.Bahkan kalau kita cermati dan mau berfikir sejenak, pembatasan sifat Allah Ta’ala hanya dua puluh saja, secara tidak langsung berarti mencela Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala itu sangat mulia dan sangat sempurna, dan kesempurnaan itu menjadi berkurang dan bahkan hilang jika Allah Ta’ala hanya disifati dengan dua puluh sifat saja.Permisalan yang mudah adalah jika kita katakan kepada seseorang (anggaplah namanya A), ”Engkau itu orangnya dermawan dan suka pemaaf.” Lalu kita katakan kepada orang lain (anggaplah namanya B), ”Engkau itu orangnya baik hati, suka menolong, penyabar, suka memaafkan kesalahan orang lain, pengertian, tidak egois, pintar, suka berhemat, rendah hati, ramah, selalu sehat, … “. Maka pertanyaannya, ”Siapakah yang lebih baik dan sempurna?”  Maka tentu kita semua sepakat bahwa yang lebih baik dan lebih sempurna adalah orang B.Demikian pula halnya dengan Allah Ta’ala. Sehingga salah satu metode yang digunakan Allah Ta’ala untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah dengan merinci dan memperbanyak penyebutan untuk menetapkan sifat-sifatNya yang mulia. Karena semakin banyak dan rinci sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan, maka akan semakin tampaklah kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. [5] Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)“Dia-lah Allah yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dia-lah Allah, Yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai asmaaul husna (nama-nama yang indah). Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]: 22-24)Dalam ayat ini, sangat tampak bagi kita penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang sangat terperinci dalam satu ayat saja. Karena sekali lagi, semakin banyak dan rinci penyebutan sifat-sifat Allah Ta’ala, maka akan semakin tampaklah kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. Oleh karena itu, merupakan sebuah celaan kepada Allah Ta’ala apabila kita berbuat lancang dengan hanya menetapkan tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.Kalau sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, berarti apakah semua sifat yang Allah tetapkan dalam satu ayat tersebut saja, semuanya harus kita tolak?Oleh karena itu, kelompok Asy’ariyyah secara tidak langsung “mengatur-atur” Allah. Bahwa makhluk yang berhak menentukan bagi Allah, Allah hanya boleh memiliki dua puluh sifat saja, tidak boleh memiliki sifat yang lainnya. Bukankah ini tindakan yang tidak memiliki adab kepada Allah? Membatasi sifat Allah, padahal Allah memiliki sifat yang tidak terbatas, karena kesempurnaan Allah luar biasa, mencapai puncak kesempurnaan-Nya. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala, lalu ada di antara umatnya (yaitu tokoh-tokoh Asy’ariyyah) yang mampu menghitungnya menjadi dua puluh sifat saja (???).Sanggahan ke empat: Jika (hanya) akal yang digunakan sebagai sumber penetapan aqidah (sifat Allah Ta’ala), lalu akal siapakah yang menjadi patokan?Masalah ini sangat jelas. Jika akal digunakan sebagai sandaran (sumber) dalam menetapkan sifat Allah Ta’ala, maka pertanyaan berikutnya, akal siapakah yang layak untuk digunakan sebagai patokan kebenaran? Hal ini akan menyebabkan kontradiksi antar kelompok “pemuja akal” yang tidak akan ada ujungnya, bahkan antar ulama Asy’ariyyah sendiri.Madzhab Jahmiyyah, hasil olah pikir akal mereka adalah: Allah tidak memiliki nama dan sifat. Madzhab Mu’tazilah, hasil olah pikir akal dan logika mereka adalah: Allah memiliki nama, namun nama Allah tidak mengandung sifat. Begitu pula para tokoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy’ariyyah, hasil olah pikir akal mereka ternyata beragam.Imam madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari (sebelum bertaubat), dan tokoh mutaqoddimin (generasi awal) dari kalangan Asy’ariyyah, seperti Al-Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqillani, Ibnu Faurak, dan tokoh-tokoh selain mereka, mereka juga menetapkan sifat dzatiyyah khabariyyah (yaitu sifat yang hanya bisa ditetapkan melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, semacam sifat al-wajhu [wajah] dan al-yadain [dua tangan]) secara hakiki [bukan majaz]), selain tujuh sifat tersebut.Pada akhirnya, datanglah tokoh Asy’ariyyah generasi belakangan (muta’akhirin) yang kondisinya lebih parah dari generasi sebelumnya, karena mereka hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah Ta’ala, yaitu Abul Ma’ali Al-Juwaini dan tokoh-tokoh yang sejaman dengannya. Berbeda lagi dengan Maturidiyyah yang hanya menetapkan delapan sifat bagi Allah. [6] Lalu, dari semua perbedaan itu, manakah yang benar? Padahal mereka semua mengklaim bahwa sifat-sifat tersebut ditetapkan dengan akal. Akan tetapi faktanya, “produk akal” mereka ternyata berbeda-beda.Ketika tokoh-tokoh Asy’ariyyah sendiri berbeda-beda dalam hal (metode) penetapan sifat Allah Ta’ala, sesuai inovasi akal mereka, maka ini adalah bukti nyata bahwa aqidah mereka semuanya tidaklah dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, alias tidak berasal dari Allah Ta’ala. Bukti tersebut adalah adanya perselisihan yang sangat banyak, bahkan di antara tokoh-tokoh mereka sendiri yang menyebut dirinya bermadzhab Asy’ariyyah.Maka benarlah firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)Sanggahan ke lima: Kami pun bisa menetapkan sifat Allah yang lainnya dengan akal kami pula.Sanggahan berikutnya, kalau kalian menetapkan dengan akal, maka kami pun bisa menetapkan dengan akal kami. Apa yang tidak bisa Asy’ariyyah tetapkan dengan akal mereka, kami bisa tetapkan dengan akal kami. Karena kami pun memiliki akal juga, sama dengan Asy’ariyyah.Contoh: Nikmat-nikmat Allah yang kita dapatkan, dan sebaliknya, adanya musibah yang diangkat dari diri kita, semua ini menunjukkan sifat rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Turunnya hujan dan tumbuhnya berbagai macam tanaman juga merupakan bukti adanya rahmat tersebut. Jadi semua nikmat yang kita terima pada asalnya menunjukkan adanya sifat rahmat Allah Ta’ala. [7] Sehingga, akal kita pun bisa menetapkan sifat tertentu bagi Allah, meskipun sifat tersebut tidak ditetapkan oleh akal mereka.Sanggahan ke enam: Tujuh atau dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk memahamkan masyarakat awam (?)Sebagian di antara pengikut Asy’ariyyah mengatakan bahwa dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk disampaikan ke masyarakat awam.Perkataan semacam ini menunjukkan bahwa mereka sendiri belum paham aqidah Asy’ariyyah yang dipegangi oleh tokoh-tokoh atau ulama-ulama Asy’ariyyah (generasi muta’akhirin). Karena pada prakteknya, mereka membatasi sifat Allah hanya dalam tujuh atau dua puluh sifat tersebut saja. Jadi, bukan sekedar “menyederhanakan” sesuai dengan klaim dan anggapan mereka. Karena untuk sifat-sifat lainnya, pada kenyataannya mereka tolak dengan alasan harus di-takwil (sesuai akal logika mereka), yang hakikatnya adalah tahrif.Penulis sendiri dulu belajar enam tahun dan bergumul dengan aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan dua puluh sifat, dan selama enam tahun belajar, penulis tidak pernah diajarkan bahwa Allah memiliki dua tangan (yadain), bahwa Allah memiliki wajah (al-wajhu), dua bahwa Allah memiliki dua mata (‘ainain) (semuanya tanpa tasybih dan takyif), padahal ini adalah aqidah ahlus sunnah yang sangat jelas dan terang benderang.Maka benarlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,…بل أبو المعالي الجويني، ونحوه ممن انتسب إلى الأشعري، ذكروا في كتبهم من الحجج العقليات النافية للصفات الخبرية ما لم يذكره ابن كلاب والأشعري وأئمة أصحابهما، كالقاضي أبي بكر بن الطيب وأمثاله، فإن هؤلاء متفقون على إثبات الصفات الخبرية، كالوجه واليد والاستواء.“ … bahkan Abul Ma’ali Al-Juwaini, dan tokoh semisal yang menisbatkan diri kepada aqidah Asy’ariyyah, mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka berbagai argumentasi akal logika untuk menolak sifat-sifat khabariyyah, yang (argumentasi) tersebut tidak disebutkan oleh Ibnu Kullab, Abul Hasan Al-Asy’ari, dan para imam yang merupakan sahabat keduanya, semacam Al-Qadhi Abu Bakr bin Thayyib dan lainnya. Karena mereka (Asy’ariyyah generasi awal), menetapkan sifat-sifat khabariyyah seperti sifat (Allah memiliki) wajah (al-wajhu), tangan (yadain) dan juga sifat istiwa’.” [8] Contoh lainnya, mereka (Asy’ariyyah) menolak sifat Allah ghadhab (Allah murka), karena tidak terdapat dalam dua puluh sifat. Sehingga mereka pun mentakwil sifat tersebut menjadi “memberikan hukuman”. Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah (tokoh Asy’ariyyah generasi muta’akhirin) berkata,وكذلك الغضب له مبدأ وهو غليان دم القلب وشهوة الانتقام، وله غاية وهي إيصال العقاب إلى المغضوب عليه، فإذا وصفنا الله تعالى بالغضب فليس المراد هو ذلك المبدأ أعني غليان دم القلب وشهوة الانتقام، بل المراد تلك النهاية وهي إنزال العقاب، فهذا هو القانون”“Demikian pula ghadhab (murka), itu memiliki permulaan. Yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Dan ghadhab memiliki akhir (ghayah), yaitu pelaksanaan hukuman kepada yang dimurkai. Jika kita mensifati Allah dengan sifat ghadhab, maka maksudnya bukan permulaan tersebut, yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Akan tetapi, yang kami maksud adalah titik akhirnya, yaitu pemberian hukuman. Inilah qanun (undang-undang) (Asy’ariyyah).” [9] Jelaslah dari kutipan ini bahwa Fakhruddin Ar-Razi menolak sifat Allah ghadhab yang hakiki (aqidah ahlus sunnah) sesuai dengan keagungan Allah tanpa membagaimanakan (takyif) dan  menyerupakan dengan makhluk-Nya (tasybih), lalu mentakwilnya menjadi “memberikan hukuman”.Konsekuensi dari perkataan Fakhruddin Ar-Razi, kalau kita katakan, “Jangan berbuat dosa, nanti Allah murka”, maka kalimat ini adalah kalimat yang salah menurut ‘aqidah Asy’ariyyah. Karena sifat ghadhab tidak ada dalam dua puluh sifat.Konsekuensi lainnya, ucapan Fakhruddin Ar-Razi ini berarti bahwa semua dosa yang dilakukan hamba pasti mendatangkan hukuman (adzab) dari Allah, sama persis dengan aqidah Mu’tazilah dan Khawarij. Berbeda dengan aqidah ahlus sunnah, karena ahlus sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar bisa saja Allah Ta’ala ampuni (tidak Allah berikan hukuman), selain dosa syirik akbar yang dibawa mati. [10] Sanggahan ke tujuh: Konsekuensi dari aqidah Asy’ariyyah adalah Asy’ariyyah sendiri melakukan tasybih.Contoh dari perkataan Ar-Razi di atas, Ar-Razi dan tokoh-tokoh Asy’ariyyah lainnya, berpendapat bahwa jika kita menetapkan makna ghadhab secara hakiki, maka konsekuensinya menyamakan Allah dengan makhluk. Karena ghadhab menurut mereka adalah mendidihnya darah dalam hati dan syahwat untuk menghukum. Ini adalah sifat makhluk. Oleh karena itu, harus ditolak (supaya tidak terjerumus dalam tasybih) dalam bentuk ditakwil.Kalau begitu, kalian sendiri pun melakukan tasybih. Karena jika kalian tetapkan sifat iradah (berkehendak), maka kalian juga menyamakan Allah dengan makhluk. Karena iradah adalah condongnya hati untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ini sifat makhluk, karena makhluk juga memiliki kehendak, sebagaimana yang sudah kita maklumi. Jadi, seharusnya kalian (Asy’ariyyah) juga menolak sifat iradah. Lalu, mengapa kalian justru menetapkannya?Maka Asy’ariyyah akan menjawab, “Iradah yang kami tetapkan adalah iradah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Jawaban ahlus sunnah, “Begitu juga kami, kami pun menetapkan sifat ghadhab (murka) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Inilah praktek dari sebuah kaidah yang sangat masyhur yang dimiliki oleh ahlus sunnah ketika membantah Asy’ariyyah,الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي بَعْضٍ“Perkataan (keyakinan) terhadap sebagian sifat-sifat (Allah) adalah sebagaimana perkataan (keyakinan) terhadap sebagian (sifat-sifat Allah yang lainnya).”Maksudnya, sebagaimana kalian (Asy’ariyyah) menetapkan sifat mendengar (as-sam’u) dan melihat (al-bashar), sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk, begitu pula kami (ahlus sunnah) pun menetapkan sifat yadain, wajah, ‘ainain, ghadhab, ridho, dan mahabbah (dan seluruh sifat-sifat lainnya) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.Jika kalian membedakan antara iradah (yaitu, dengan meyakininya dan tidak ditakwil) dan mahabbah atau ghadhab (yaitu, dengan menolaknya karena tidak ada dalam tujuh atau dua puluh sifat lalu ditakwil ke makna lainnya), maka aqidah kalian adalah aqidah yang kontradiktif, tidak bisa diterima oleh akal sehat.Sanggahan ke delapan: Aqidah Asy’ariyyah ini ternyata tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari.Sebagai sanggahan terahir, kami sampaikan bahwa aqidah kelompok Asy’ariyyah yang membatasi sifat hanya menjadi tujuh atau dua puluh, dan menolak sifat-sifat lainnya (misalnya sifat yadain, ‘ainain, dan wajah) ternyata diselisihi oleh Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri. Atau dengan kata lain, aqidah Asy’ariyyah (yaitu mereka yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari) itu tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri (setelah bertaubat dan kembali ke aqidah ahlus sunnah).Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,فإن سئلنا أتقولون أن لله يدين؟ قيل: نقول ذلك ، وقد دل عليه قوله تعالى: (يد الله فوق أيديهم) ، وقوله تعالى: (لما خلقت بيدي)“Ditanyakan kepada kami, apakah Engkau mengatakan (meyakini) bahwa Allah memiliki yadain (dua tangan)? Kami (Abul Hasan Al-Asy’ari) mengatakan demikian (bahwa Allah memiliki dua tangan, pen.). Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al-Fath [48]: 10) dan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shaad [38]: 75)” [11] Di awal kitab, beliau dengan tegas mengatakan,وأن له يدين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan (yadain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [12] Berkaitan dengan sifat wajah, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له وجها بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki wajah, tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [13] Lalu, tentang sifat ‘ainain, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له عينين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua mata (‘ainain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [14] Dan di kitab yang sama, beliau (Abul Hasan Al-Asy’ari) menetapkan sifat istiwa’ (tinggi di atas ‘arsy). Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن الله تعالى مستو على عرشه“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala itu istiwa’ (tinggi di atas) ‘arsy-Nya.” [15] Bahkan, beliau rahimahullah sendiri membantah aqidah Asy’ariyyah yang menolak sifat istiwa’ dan mentakwilnya menjadi “istaula” (menguasai) di kitab yang sama. [16] Dan kita tahu, bahwa aqidah Asy’ariyyah adalah menolak untuk menetapkan sifat yadain, ‘ainain, wajh dan istiwa’. Sungguh aneh, aqidah Asy’ariyyah ini sebetulnya mengikuti aqidah siapa? Jawabannya, tidak lain adalah mengikuti aqidah Mu’tazilah. Jadi, ketika orang-orang yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah memberikan bantahan kepada aqidah ahlus sunnah yang menetapkan sifat-sifat di atas, pada hakikatnya mereka sedang membantah aqidah sang imam mereka sendiri (yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari).KesimpulanBerdasarkan poin-poin penjelasan ini, maka aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, tidaklah sesuai dengan aqidah ahlus sunnah yang menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di dalam kitabullah (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Bahkan bertentangan dengan aqidah imam mereka sendiri, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah. Karena nama dan sifat termasuk dalam perkara ghaib, sehingga seharusnya, akal manusia tunduk kepada wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan, bukan sebaliknya.Namun, perlu diketahui bahwa ketika kita menjelaskan kesalahan ‘aqidah Asy’ariyyah dalam masalah asma’ dan sifat, hal itu tidak berarti kita mengkafirkan mereka. Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah yang mengatakan kafirnya Asy’ariyyah. Jadi, anggapan sebagian orang bahwa ketika kita menjelaskan dan membantah aqidah Asy’ariyyah, maka hal itu berarti kita mengafirkan mereka, adalah anggapan yang tidak benar sama sekali. Hal ini harus kami tekankan dan kami garis bawahi. Bahkan kita dapati, para ulama ahlus sunnah memberikan ‘udzur kepada tokoh-tokoh Asy’ariyyah, bahwa maksud mereka sebetulnya baik, yaitu tidak ingin terjerumus dalam tasybih (menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk). Namun, mereka kemudian salah jalan dengan tidak mengikuti manhaj para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami nama dan sifat Allah Ta’ala. Mereka ingin terhindar dari tasybih, namun justru terjerumus dalam takwil dan tafwidh (baca: muta’awwil). Ini menunjukkan bahwa niat mereka sebetulnya adalah mencari kebenaran. Oleh karena itu, kita dapati sebagian di antara mereka ada yang kemudian bertaubat, seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini dan Al-Ghazali -semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya-.[Selesai]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018 Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Arti Zalim, Nama Nama Hari Akhir Beserta Artinya, Hadits Tentang Sholawat, Nilai Kejujuran Dalam Islam, Puasa Yang Diharamkan

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 3)

Baca juga Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)Sanggahan Ahlus Sunnah kepada Kelompok yang Membatasi Sifat Allah dengan Jumlah TertentuSanggahan pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi sifat Allah dengan jumlah tertentu.Kalau seseorang mau mempelajari aqidah yang benar, bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan jelas dan tampak baginya bahwa nama dan sifat Allah Ta’ala tidaklah dibatasi dengan bilangan tertentu. Hal ini karena Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu ghaib-Nya, yang tidak diketahui oleh seorang pun dari para malaikat atau nabi yang diutus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ”Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” [1] Nama-nama yang Allah Ta’ala sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dapat dihitung dan diketahui oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di akhirat kelak Allah Ta’ala akan membukakan kepada Rasulullah untuk memuji-Nya dengan sifat-sifat yang belum pernah diajarkan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِى”Maka Allah mengilhamkan kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya yang tidak diajarkan kepada seorang pun sebelumku.” [2] Sampai-sampai Rasulullah sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا أُحْصِي ثَنَاء عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسك”Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji terhadap diri-Mu.” [3] Sanggahan ke dua: Allah memiliki banyak nama yang sekaligus mengandung sifat.Kalaulah kita mau membuka lembaran Al-Qur’an dan membolak-balik kitab hadits, maka kita akan menemukan puluhan nama-nama Allah Ta’ala. Padahal, setiap nama Allah Ta’ala juga menunjukkan kepada sifat-Nya yang mulia.Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama As-Samii’, maka hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat mendengar (as-sam’u). Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama Al-‘Aliim, hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki ilmu (al-‘ilmu). Dan demikian seterusnya untuk nama-nama Allah Ta’ala yang lain. Berbeda dengan nama makhluk (manusia biasa, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), bisa jadi hanya sekedar nama tanpa menunjukkan sifat. Ada seseorang yang bernama “Shalih”, namun mungkin saja perilakunya tidak mencerminkan namanya.Berarti, jumlah sifat Allah Ta’ala mengikuti jumlah nama Allah Ta’ala. Hal ini belum termasuk dengan sifat-sifat yang disebutkan secara khusus oleh Allah Ta’ala maupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, darimana kita mengatakan bahwa sifat Allah Ta’ala hanya tujuh atau dua puluh?Sebagian di antara kita mungkin menghapal al-asmaaul husnaa yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Meskipun hal ini tidak berarti menunjukkan pembatasan nama Allah hanya sejumlah itu, sebagaimana yang telah kami jelaskan di tulisan lainnya. [4] Kalau sifat Allah hanya dua puluh, berarti ada 79 nama Allah yang tidak mengandung sifat (99 dikurangi 20).Kalau kita menetapkan hanya dua puluh sifat, berarti Allah tidak memiliki sifat al-‘izzah (kekuatan). Berarti nama Allah Ta’ala Al-‘Aziiz adalah sekedar nama, namun tidak mengandung sifat, karena sifat al-‘izzah tidak terdapat dalam dua puluh sifat tersebut. Lalu, apa bedanya aqidah ini dengan aqidah Mu’tazilah yang hanya menetapkan nama tanpa sifat?Sanggahan ke tiga: Membatasi jumlah sifat Allah secara tidak langsung mencela Allah Ta’ala.Bahkan kalau kita cermati dan mau berfikir sejenak, pembatasan sifat Allah Ta’ala hanya dua puluh saja, secara tidak langsung berarti mencela Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala itu sangat mulia dan sangat sempurna, dan kesempurnaan itu menjadi berkurang dan bahkan hilang jika Allah Ta’ala hanya disifati dengan dua puluh sifat saja.Permisalan yang mudah adalah jika kita katakan kepada seseorang (anggaplah namanya A), ”Engkau itu orangnya dermawan dan suka pemaaf.” Lalu kita katakan kepada orang lain (anggaplah namanya B), ”Engkau itu orangnya baik hati, suka menolong, penyabar, suka memaafkan kesalahan orang lain, pengertian, tidak egois, pintar, suka berhemat, rendah hati, ramah, selalu sehat, … “. Maka pertanyaannya, ”Siapakah yang lebih baik dan sempurna?”  Maka tentu kita semua sepakat bahwa yang lebih baik dan lebih sempurna adalah orang B.Demikian pula halnya dengan Allah Ta’ala. Sehingga salah satu metode yang digunakan Allah Ta’ala untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah dengan merinci dan memperbanyak penyebutan untuk menetapkan sifat-sifatNya yang mulia. Karena semakin banyak dan rinci sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan, maka akan semakin tampaklah kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. [5] Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)“Dia-lah Allah yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dia-lah Allah, Yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai asmaaul husna (nama-nama yang indah). Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]: 22-24)Dalam ayat ini, sangat tampak bagi kita penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang sangat terperinci dalam satu ayat saja. Karena sekali lagi, semakin banyak dan rinci penyebutan sifat-sifat Allah Ta’ala, maka akan semakin tampaklah kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. Oleh karena itu, merupakan sebuah celaan kepada Allah Ta’ala apabila kita berbuat lancang dengan hanya menetapkan tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.Kalau sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, berarti apakah semua sifat yang Allah tetapkan dalam satu ayat tersebut saja, semuanya harus kita tolak?Oleh karena itu, kelompok Asy’ariyyah secara tidak langsung “mengatur-atur” Allah. Bahwa makhluk yang berhak menentukan bagi Allah, Allah hanya boleh memiliki dua puluh sifat saja, tidak boleh memiliki sifat yang lainnya. Bukankah ini tindakan yang tidak memiliki adab kepada Allah? Membatasi sifat Allah, padahal Allah memiliki sifat yang tidak terbatas, karena kesempurnaan Allah luar biasa, mencapai puncak kesempurnaan-Nya. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala, lalu ada di antara umatnya (yaitu tokoh-tokoh Asy’ariyyah) yang mampu menghitungnya menjadi dua puluh sifat saja (???).Sanggahan ke empat: Jika (hanya) akal yang digunakan sebagai sumber penetapan aqidah (sifat Allah Ta’ala), lalu akal siapakah yang menjadi patokan?Masalah ini sangat jelas. Jika akal digunakan sebagai sandaran (sumber) dalam menetapkan sifat Allah Ta’ala, maka pertanyaan berikutnya, akal siapakah yang layak untuk digunakan sebagai patokan kebenaran? Hal ini akan menyebabkan kontradiksi antar kelompok “pemuja akal” yang tidak akan ada ujungnya, bahkan antar ulama Asy’ariyyah sendiri.Madzhab Jahmiyyah, hasil olah pikir akal mereka adalah: Allah tidak memiliki nama dan sifat. Madzhab Mu’tazilah, hasil olah pikir akal dan logika mereka adalah: Allah memiliki nama, namun nama Allah tidak mengandung sifat. Begitu pula para tokoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy’ariyyah, hasil olah pikir akal mereka ternyata beragam.Imam madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari (sebelum bertaubat), dan tokoh mutaqoddimin (generasi awal) dari kalangan Asy’ariyyah, seperti Al-Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqillani, Ibnu Faurak, dan tokoh-tokoh selain mereka, mereka juga menetapkan sifat dzatiyyah khabariyyah (yaitu sifat yang hanya bisa ditetapkan melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, semacam sifat al-wajhu [wajah] dan al-yadain [dua tangan]) secara hakiki [bukan majaz]), selain tujuh sifat tersebut.Pada akhirnya, datanglah tokoh Asy’ariyyah generasi belakangan (muta’akhirin) yang kondisinya lebih parah dari generasi sebelumnya, karena mereka hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah Ta’ala, yaitu Abul Ma’ali Al-Juwaini dan tokoh-tokoh yang sejaman dengannya. Berbeda lagi dengan Maturidiyyah yang hanya menetapkan delapan sifat bagi Allah. [6] Lalu, dari semua perbedaan itu, manakah yang benar? Padahal mereka semua mengklaim bahwa sifat-sifat tersebut ditetapkan dengan akal. Akan tetapi faktanya, “produk akal” mereka ternyata berbeda-beda.Ketika tokoh-tokoh Asy’ariyyah sendiri berbeda-beda dalam hal (metode) penetapan sifat Allah Ta’ala, sesuai inovasi akal mereka, maka ini adalah bukti nyata bahwa aqidah mereka semuanya tidaklah dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, alias tidak berasal dari Allah Ta’ala. Bukti tersebut adalah adanya perselisihan yang sangat banyak, bahkan di antara tokoh-tokoh mereka sendiri yang menyebut dirinya bermadzhab Asy’ariyyah.Maka benarlah firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)Sanggahan ke lima: Kami pun bisa menetapkan sifat Allah yang lainnya dengan akal kami pula.Sanggahan berikutnya, kalau kalian menetapkan dengan akal, maka kami pun bisa menetapkan dengan akal kami. Apa yang tidak bisa Asy’ariyyah tetapkan dengan akal mereka, kami bisa tetapkan dengan akal kami. Karena kami pun memiliki akal juga, sama dengan Asy’ariyyah.Contoh: Nikmat-nikmat Allah yang kita dapatkan, dan sebaliknya, adanya musibah yang diangkat dari diri kita, semua ini menunjukkan sifat rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Turunnya hujan dan tumbuhnya berbagai macam tanaman juga merupakan bukti adanya rahmat tersebut. Jadi semua nikmat yang kita terima pada asalnya menunjukkan adanya sifat rahmat Allah Ta’ala. [7] Sehingga, akal kita pun bisa menetapkan sifat tertentu bagi Allah, meskipun sifat tersebut tidak ditetapkan oleh akal mereka.Sanggahan ke enam: Tujuh atau dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk memahamkan masyarakat awam (?)Sebagian di antara pengikut Asy’ariyyah mengatakan bahwa dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk disampaikan ke masyarakat awam.Perkataan semacam ini menunjukkan bahwa mereka sendiri belum paham aqidah Asy’ariyyah yang dipegangi oleh tokoh-tokoh atau ulama-ulama Asy’ariyyah (generasi muta’akhirin). Karena pada prakteknya, mereka membatasi sifat Allah hanya dalam tujuh atau dua puluh sifat tersebut saja. Jadi, bukan sekedar “menyederhanakan” sesuai dengan klaim dan anggapan mereka. Karena untuk sifat-sifat lainnya, pada kenyataannya mereka tolak dengan alasan harus di-takwil (sesuai akal logika mereka), yang hakikatnya adalah tahrif.Penulis sendiri dulu belajar enam tahun dan bergumul dengan aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan dua puluh sifat, dan selama enam tahun belajar, penulis tidak pernah diajarkan bahwa Allah memiliki dua tangan (yadain), bahwa Allah memiliki wajah (al-wajhu), dua bahwa Allah memiliki dua mata (‘ainain) (semuanya tanpa tasybih dan takyif), padahal ini adalah aqidah ahlus sunnah yang sangat jelas dan terang benderang.Maka benarlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,…بل أبو المعالي الجويني، ونحوه ممن انتسب إلى الأشعري، ذكروا في كتبهم من الحجج العقليات النافية للصفات الخبرية ما لم يذكره ابن كلاب والأشعري وأئمة أصحابهما، كالقاضي أبي بكر بن الطيب وأمثاله، فإن هؤلاء متفقون على إثبات الصفات الخبرية، كالوجه واليد والاستواء.“ … bahkan Abul Ma’ali Al-Juwaini, dan tokoh semisal yang menisbatkan diri kepada aqidah Asy’ariyyah, mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka berbagai argumentasi akal logika untuk menolak sifat-sifat khabariyyah, yang (argumentasi) tersebut tidak disebutkan oleh Ibnu Kullab, Abul Hasan Al-Asy’ari, dan para imam yang merupakan sahabat keduanya, semacam Al-Qadhi Abu Bakr bin Thayyib dan lainnya. Karena mereka (Asy’ariyyah generasi awal), menetapkan sifat-sifat khabariyyah seperti sifat (Allah memiliki) wajah (al-wajhu), tangan (yadain) dan juga sifat istiwa’.” [8] Contoh lainnya, mereka (Asy’ariyyah) menolak sifat Allah ghadhab (Allah murka), karena tidak terdapat dalam dua puluh sifat. Sehingga mereka pun mentakwil sifat tersebut menjadi “memberikan hukuman”. Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah (tokoh Asy’ariyyah generasi muta’akhirin) berkata,وكذلك الغضب له مبدأ وهو غليان دم القلب وشهوة الانتقام، وله غاية وهي إيصال العقاب إلى المغضوب عليه، فإذا وصفنا الله تعالى بالغضب فليس المراد هو ذلك المبدأ أعني غليان دم القلب وشهوة الانتقام، بل المراد تلك النهاية وهي إنزال العقاب، فهذا هو القانون”“Demikian pula ghadhab (murka), itu memiliki permulaan. Yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Dan ghadhab memiliki akhir (ghayah), yaitu pelaksanaan hukuman kepada yang dimurkai. Jika kita mensifati Allah dengan sifat ghadhab, maka maksudnya bukan permulaan tersebut, yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Akan tetapi, yang kami maksud adalah titik akhirnya, yaitu pemberian hukuman. Inilah qanun (undang-undang) (Asy’ariyyah).” [9] Jelaslah dari kutipan ini bahwa Fakhruddin Ar-Razi menolak sifat Allah ghadhab yang hakiki (aqidah ahlus sunnah) sesuai dengan keagungan Allah tanpa membagaimanakan (takyif) dan  menyerupakan dengan makhluk-Nya (tasybih), lalu mentakwilnya menjadi “memberikan hukuman”.Konsekuensi dari perkataan Fakhruddin Ar-Razi, kalau kita katakan, “Jangan berbuat dosa, nanti Allah murka”, maka kalimat ini adalah kalimat yang salah menurut ‘aqidah Asy’ariyyah. Karena sifat ghadhab tidak ada dalam dua puluh sifat.Konsekuensi lainnya, ucapan Fakhruddin Ar-Razi ini berarti bahwa semua dosa yang dilakukan hamba pasti mendatangkan hukuman (adzab) dari Allah, sama persis dengan aqidah Mu’tazilah dan Khawarij. Berbeda dengan aqidah ahlus sunnah, karena ahlus sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar bisa saja Allah Ta’ala ampuni (tidak Allah berikan hukuman), selain dosa syirik akbar yang dibawa mati. [10] Sanggahan ke tujuh: Konsekuensi dari aqidah Asy’ariyyah adalah Asy’ariyyah sendiri melakukan tasybih.Contoh dari perkataan Ar-Razi di atas, Ar-Razi dan tokoh-tokoh Asy’ariyyah lainnya, berpendapat bahwa jika kita menetapkan makna ghadhab secara hakiki, maka konsekuensinya menyamakan Allah dengan makhluk. Karena ghadhab menurut mereka adalah mendidihnya darah dalam hati dan syahwat untuk menghukum. Ini adalah sifat makhluk. Oleh karena itu, harus ditolak (supaya tidak terjerumus dalam tasybih) dalam bentuk ditakwil.Kalau begitu, kalian sendiri pun melakukan tasybih. Karena jika kalian tetapkan sifat iradah (berkehendak), maka kalian juga menyamakan Allah dengan makhluk. Karena iradah adalah condongnya hati untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ini sifat makhluk, karena makhluk juga memiliki kehendak, sebagaimana yang sudah kita maklumi. Jadi, seharusnya kalian (Asy’ariyyah) juga menolak sifat iradah. Lalu, mengapa kalian justru menetapkannya?Maka Asy’ariyyah akan menjawab, “Iradah yang kami tetapkan adalah iradah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Jawaban ahlus sunnah, “Begitu juga kami, kami pun menetapkan sifat ghadhab (murka) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Inilah praktek dari sebuah kaidah yang sangat masyhur yang dimiliki oleh ahlus sunnah ketika membantah Asy’ariyyah,الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي بَعْضٍ“Perkataan (keyakinan) terhadap sebagian sifat-sifat (Allah) adalah sebagaimana perkataan (keyakinan) terhadap sebagian (sifat-sifat Allah yang lainnya).”Maksudnya, sebagaimana kalian (Asy’ariyyah) menetapkan sifat mendengar (as-sam’u) dan melihat (al-bashar), sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk, begitu pula kami (ahlus sunnah) pun menetapkan sifat yadain, wajah, ‘ainain, ghadhab, ridho, dan mahabbah (dan seluruh sifat-sifat lainnya) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.Jika kalian membedakan antara iradah (yaitu, dengan meyakininya dan tidak ditakwil) dan mahabbah atau ghadhab (yaitu, dengan menolaknya karena tidak ada dalam tujuh atau dua puluh sifat lalu ditakwil ke makna lainnya), maka aqidah kalian adalah aqidah yang kontradiktif, tidak bisa diterima oleh akal sehat.Sanggahan ke delapan: Aqidah Asy’ariyyah ini ternyata tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari.Sebagai sanggahan terahir, kami sampaikan bahwa aqidah kelompok Asy’ariyyah yang membatasi sifat hanya menjadi tujuh atau dua puluh, dan menolak sifat-sifat lainnya (misalnya sifat yadain, ‘ainain, dan wajah) ternyata diselisihi oleh Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri. Atau dengan kata lain, aqidah Asy’ariyyah (yaitu mereka yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari) itu tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri (setelah bertaubat dan kembali ke aqidah ahlus sunnah).Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,فإن سئلنا أتقولون أن لله يدين؟ قيل: نقول ذلك ، وقد دل عليه قوله تعالى: (يد الله فوق أيديهم) ، وقوله تعالى: (لما خلقت بيدي)“Ditanyakan kepada kami, apakah Engkau mengatakan (meyakini) bahwa Allah memiliki yadain (dua tangan)? Kami (Abul Hasan Al-Asy’ari) mengatakan demikian (bahwa Allah memiliki dua tangan, pen.). Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al-Fath [48]: 10) dan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shaad [38]: 75)” [11] Di awal kitab, beliau dengan tegas mengatakan,وأن له يدين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan (yadain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [12] Berkaitan dengan sifat wajah, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له وجها بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki wajah, tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [13] Lalu, tentang sifat ‘ainain, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له عينين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua mata (‘ainain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [14] Dan di kitab yang sama, beliau (Abul Hasan Al-Asy’ari) menetapkan sifat istiwa’ (tinggi di atas ‘arsy). Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن الله تعالى مستو على عرشه“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala itu istiwa’ (tinggi di atas) ‘arsy-Nya.” [15] Bahkan, beliau rahimahullah sendiri membantah aqidah Asy’ariyyah yang menolak sifat istiwa’ dan mentakwilnya menjadi “istaula” (menguasai) di kitab yang sama. [16] Dan kita tahu, bahwa aqidah Asy’ariyyah adalah menolak untuk menetapkan sifat yadain, ‘ainain, wajh dan istiwa’. Sungguh aneh, aqidah Asy’ariyyah ini sebetulnya mengikuti aqidah siapa? Jawabannya, tidak lain adalah mengikuti aqidah Mu’tazilah. Jadi, ketika orang-orang yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah memberikan bantahan kepada aqidah ahlus sunnah yang menetapkan sifat-sifat di atas, pada hakikatnya mereka sedang membantah aqidah sang imam mereka sendiri (yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari).KesimpulanBerdasarkan poin-poin penjelasan ini, maka aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, tidaklah sesuai dengan aqidah ahlus sunnah yang menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di dalam kitabullah (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Bahkan bertentangan dengan aqidah imam mereka sendiri, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah. Karena nama dan sifat termasuk dalam perkara ghaib, sehingga seharusnya, akal manusia tunduk kepada wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan, bukan sebaliknya.Namun, perlu diketahui bahwa ketika kita menjelaskan kesalahan ‘aqidah Asy’ariyyah dalam masalah asma’ dan sifat, hal itu tidak berarti kita mengkafirkan mereka. Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah yang mengatakan kafirnya Asy’ariyyah. Jadi, anggapan sebagian orang bahwa ketika kita menjelaskan dan membantah aqidah Asy’ariyyah, maka hal itu berarti kita mengafirkan mereka, adalah anggapan yang tidak benar sama sekali. Hal ini harus kami tekankan dan kami garis bawahi. Bahkan kita dapati, para ulama ahlus sunnah memberikan ‘udzur kepada tokoh-tokoh Asy’ariyyah, bahwa maksud mereka sebetulnya baik, yaitu tidak ingin terjerumus dalam tasybih (menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk). Namun, mereka kemudian salah jalan dengan tidak mengikuti manhaj para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami nama dan sifat Allah Ta’ala. Mereka ingin terhindar dari tasybih, namun justru terjerumus dalam takwil dan tafwidh (baca: muta’awwil). Ini menunjukkan bahwa niat mereka sebetulnya adalah mencari kebenaran. Oleh karena itu, kita dapati sebagian di antara mereka ada yang kemudian bertaubat, seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini dan Al-Ghazali -semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya-.[Selesai]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018 Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Arti Zalim, Nama Nama Hari Akhir Beserta Artinya, Hadits Tentang Sholawat, Nilai Kejujuran Dalam Islam, Puasa Yang Diharamkan
Baca juga Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)Sanggahan Ahlus Sunnah kepada Kelompok yang Membatasi Sifat Allah dengan Jumlah TertentuSanggahan pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi sifat Allah dengan jumlah tertentu.Kalau seseorang mau mempelajari aqidah yang benar, bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan jelas dan tampak baginya bahwa nama dan sifat Allah Ta’ala tidaklah dibatasi dengan bilangan tertentu. Hal ini karena Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu ghaib-Nya, yang tidak diketahui oleh seorang pun dari para malaikat atau nabi yang diutus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ”Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” [1] Nama-nama yang Allah Ta’ala sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dapat dihitung dan diketahui oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di akhirat kelak Allah Ta’ala akan membukakan kepada Rasulullah untuk memuji-Nya dengan sifat-sifat yang belum pernah diajarkan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِى”Maka Allah mengilhamkan kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya yang tidak diajarkan kepada seorang pun sebelumku.” [2] Sampai-sampai Rasulullah sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا أُحْصِي ثَنَاء عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسك”Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji terhadap diri-Mu.” [3] Sanggahan ke dua: Allah memiliki banyak nama yang sekaligus mengandung sifat.Kalaulah kita mau membuka lembaran Al-Qur’an dan membolak-balik kitab hadits, maka kita akan menemukan puluhan nama-nama Allah Ta’ala. Padahal, setiap nama Allah Ta’ala juga menunjukkan kepada sifat-Nya yang mulia.Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama As-Samii’, maka hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat mendengar (as-sam’u). Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama Al-‘Aliim, hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki ilmu (al-‘ilmu). Dan demikian seterusnya untuk nama-nama Allah Ta’ala yang lain. Berbeda dengan nama makhluk (manusia biasa, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), bisa jadi hanya sekedar nama tanpa menunjukkan sifat. Ada seseorang yang bernama “Shalih”, namun mungkin saja perilakunya tidak mencerminkan namanya.Berarti, jumlah sifat Allah Ta’ala mengikuti jumlah nama Allah Ta’ala. Hal ini belum termasuk dengan sifat-sifat yang disebutkan secara khusus oleh Allah Ta’ala maupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, darimana kita mengatakan bahwa sifat Allah Ta’ala hanya tujuh atau dua puluh?Sebagian di antara kita mungkin menghapal al-asmaaul husnaa yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Meskipun hal ini tidak berarti menunjukkan pembatasan nama Allah hanya sejumlah itu, sebagaimana yang telah kami jelaskan di tulisan lainnya. [4] Kalau sifat Allah hanya dua puluh, berarti ada 79 nama Allah yang tidak mengandung sifat (99 dikurangi 20).Kalau kita menetapkan hanya dua puluh sifat, berarti Allah tidak memiliki sifat al-‘izzah (kekuatan). Berarti nama Allah Ta’ala Al-‘Aziiz adalah sekedar nama, namun tidak mengandung sifat, karena sifat al-‘izzah tidak terdapat dalam dua puluh sifat tersebut. Lalu, apa bedanya aqidah ini dengan aqidah Mu’tazilah yang hanya menetapkan nama tanpa sifat?Sanggahan ke tiga: Membatasi jumlah sifat Allah secara tidak langsung mencela Allah Ta’ala.Bahkan kalau kita cermati dan mau berfikir sejenak, pembatasan sifat Allah Ta’ala hanya dua puluh saja, secara tidak langsung berarti mencela Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala itu sangat mulia dan sangat sempurna, dan kesempurnaan itu menjadi berkurang dan bahkan hilang jika Allah Ta’ala hanya disifati dengan dua puluh sifat saja.Permisalan yang mudah adalah jika kita katakan kepada seseorang (anggaplah namanya A), ”Engkau itu orangnya dermawan dan suka pemaaf.” Lalu kita katakan kepada orang lain (anggaplah namanya B), ”Engkau itu orangnya baik hati, suka menolong, penyabar, suka memaafkan kesalahan orang lain, pengertian, tidak egois, pintar, suka berhemat, rendah hati, ramah, selalu sehat, … “. Maka pertanyaannya, ”Siapakah yang lebih baik dan sempurna?”  Maka tentu kita semua sepakat bahwa yang lebih baik dan lebih sempurna adalah orang B.Demikian pula halnya dengan Allah Ta’ala. Sehingga salah satu metode yang digunakan Allah Ta’ala untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah dengan merinci dan memperbanyak penyebutan untuk menetapkan sifat-sifatNya yang mulia. Karena semakin banyak dan rinci sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan, maka akan semakin tampaklah kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. [5] Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)“Dia-lah Allah yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dia-lah Allah, Yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai asmaaul husna (nama-nama yang indah). Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]: 22-24)Dalam ayat ini, sangat tampak bagi kita penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang sangat terperinci dalam satu ayat saja. Karena sekali lagi, semakin banyak dan rinci penyebutan sifat-sifat Allah Ta’ala, maka akan semakin tampaklah kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. Oleh karena itu, merupakan sebuah celaan kepada Allah Ta’ala apabila kita berbuat lancang dengan hanya menetapkan tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.Kalau sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, berarti apakah semua sifat yang Allah tetapkan dalam satu ayat tersebut saja, semuanya harus kita tolak?Oleh karena itu, kelompok Asy’ariyyah secara tidak langsung “mengatur-atur” Allah. Bahwa makhluk yang berhak menentukan bagi Allah, Allah hanya boleh memiliki dua puluh sifat saja, tidak boleh memiliki sifat yang lainnya. Bukankah ini tindakan yang tidak memiliki adab kepada Allah? Membatasi sifat Allah, padahal Allah memiliki sifat yang tidak terbatas, karena kesempurnaan Allah luar biasa, mencapai puncak kesempurnaan-Nya. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala, lalu ada di antara umatnya (yaitu tokoh-tokoh Asy’ariyyah) yang mampu menghitungnya menjadi dua puluh sifat saja (???).Sanggahan ke empat: Jika (hanya) akal yang digunakan sebagai sumber penetapan aqidah (sifat Allah Ta’ala), lalu akal siapakah yang menjadi patokan?Masalah ini sangat jelas. Jika akal digunakan sebagai sandaran (sumber) dalam menetapkan sifat Allah Ta’ala, maka pertanyaan berikutnya, akal siapakah yang layak untuk digunakan sebagai patokan kebenaran? Hal ini akan menyebabkan kontradiksi antar kelompok “pemuja akal” yang tidak akan ada ujungnya, bahkan antar ulama Asy’ariyyah sendiri.Madzhab Jahmiyyah, hasil olah pikir akal mereka adalah: Allah tidak memiliki nama dan sifat. Madzhab Mu’tazilah, hasil olah pikir akal dan logika mereka adalah: Allah memiliki nama, namun nama Allah tidak mengandung sifat. Begitu pula para tokoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy’ariyyah, hasil olah pikir akal mereka ternyata beragam.Imam madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari (sebelum bertaubat), dan tokoh mutaqoddimin (generasi awal) dari kalangan Asy’ariyyah, seperti Al-Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqillani, Ibnu Faurak, dan tokoh-tokoh selain mereka, mereka juga menetapkan sifat dzatiyyah khabariyyah (yaitu sifat yang hanya bisa ditetapkan melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, semacam sifat al-wajhu [wajah] dan al-yadain [dua tangan]) secara hakiki [bukan majaz]), selain tujuh sifat tersebut.Pada akhirnya, datanglah tokoh Asy’ariyyah generasi belakangan (muta’akhirin) yang kondisinya lebih parah dari generasi sebelumnya, karena mereka hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah Ta’ala, yaitu Abul Ma’ali Al-Juwaini dan tokoh-tokoh yang sejaman dengannya. Berbeda lagi dengan Maturidiyyah yang hanya menetapkan delapan sifat bagi Allah. [6] Lalu, dari semua perbedaan itu, manakah yang benar? Padahal mereka semua mengklaim bahwa sifat-sifat tersebut ditetapkan dengan akal. Akan tetapi faktanya, “produk akal” mereka ternyata berbeda-beda.Ketika tokoh-tokoh Asy’ariyyah sendiri berbeda-beda dalam hal (metode) penetapan sifat Allah Ta’ala, sesuai inovasi akal mereka, maka ini adalah bukti nyata bahwa aqidah mereka semuanya tidaklah dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, alias tidak berasal dari Allah Ta’ala. Bukti tersebut adalah adanya perselisihan yang sangat banyak, bahkan di antara tokoh-tokoh mereka sendiri yang menyebut dirinya bermadzhab Asy’ariyyah.Maka benarlah firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)Sanggahan ke lima: Kami pun bisa menetapkan sifat Allah yang lainnya dengan akal kami pula.Sanggahan berikutnya, kalau kalian menetapkan dengan akal, maka kami pun bisa menetapkan dengan akal kami. Apa yang tidak bisa Asy’ariyyah tetapkan dengan akal mereka, kami bisa tetapkan dengan akal kami. Karena kami pun memiliki akal juga, sama dengan Asy’ariyyah.Contoh: Nikmat-nikmat Allah yang kita dapatkan, dan sebaliknya, adanya musibah yang diangkat dari diri kita, semua ini menunjukkan sifat rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Turunnya hujan dan tumbuhnya berbagai macam tanaman juga merupakan bukti adanya rahmat tersebut. Jadi semua nikmat yang kita terima pada asalnya menunjukkan adanya sifat rahmat Allah Ta’ala. [7] Sehingga, akal kita pun bisa menetapkan sifat tertentu bagi Allah, meskipun sifat tersebut tidak ditetapkan oleh akal mereka.Sanggahan ke enam: Tujuh atau dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk memahamkan masyarakat awam (?)Sebagian di antara pengikut Asy’ariyyah mengatakan bahwa dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk disampaikan ke masyarakat awam.Perkataan semacam ini menunjukkan bahwa mereka sendiri belum paham aqidah Asy’ariyyah yang dipegangi oleh tokoh-tokoh atau ulama-ulama Asy’ariyyah (generasi muta’akhirin). Karena pada prakteknya, mereka membatasi sifat Allah hanya dalam tujuh atau dua puluh sifat tersebut saja. Jadi, bukan sekedar “menyederhanakan” sesuai dengan klaim dan anggapan mereka. Karena untuk sifat-sifat lainnya, pada kenyataannya mereka tolak dengan alasan harus di-takwil (sesuai akal logika mereka), yang hakikatnya adalah tahrif.Penulis sendiri dulu belajar enam tahun dan bergumul dengan aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan dua puluh sifat, dan selama enam tahun belajar, penulis tidak pernah diajarkan bahwa Allah memiliki dua tangan (yadain), bahwa Allah memiliki wajah (al-wajhu), dua bahwa Allah memiliki dua mata (‘ainain) (semuanya tanpa tasybih dan takyif), padahal ini adalah aqidah ahlus sunnah yang sangat jelas dan terang benderang.Maka benarlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,…بل أبو المعالي الجويني، ونحوه ممن انتسب إلى الأشعري، ذكروا في كتبهم من الحجج العقليات النافية للصفات الخبرية ما لم يذكره ابن كلاب والأشعري وأئمة أصحابهما، كالقاضي أبي بكر بن الطيب وأمثاله، فإن هؤلاء متفقون على إثبات الصفات الخبرية، كالوجه واليد والاستواء.“ … bahkan Abul Ma’ali Al-Juwaini, dan tokoh semisal yang menisbatkan diri kepada aqidah Asy’ariyyah, mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka berbagai argumentasi akal logika untuk menolak sifat-sifat khabariyyah, yang (argumentasi) tersebut tidak disebutkan oleh Ibnu Kullab, Abul Hasan Al-Asy’ari, dan para imam yang merupakan sahabat keduanya, semacam Al-Qadhi Abu Bakr bin Thayyib dan lainnya. Karena mereka (Asy’ariyyah generasi awal), menetapkan sifat-sifat khabariyyah seperti sifat (Allah memiliki) wajah (al-wajhu), tangan (yadain) dan juga sifat istiwa’.” [8] Contoh lainnya, mereka (Asy’ariyyah) menolak sifat Allah ghadhab (Allah murka), karena tidak terdapat dalam dua puluh sifat. Sehingga mereka pun mentakwil sifat tersebut menjadi “memberikan hukuman”. Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah (tokoh Asy’ariyyah generasi muta’akhirin) berkata,وكذلك الغضب له مبدأ وهو غليان دم القلب وشهوة الانتقام، وله غاية وهي إيصال العقاب إلى المغضوب عليه، فإذا وصفنا الله تعالى بالغضب فليس المراد هو ذلك المبدأ أعني غليان دم القلب وشهوة الانتقام، بل المراد تلك النهاية وهي إنزال العقاب، فهذا هو القانون”“Demikian pula ghadhab (murka), itu memiliki permulaan. Yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Dan ghadhab memiliki akhir (ghayah), yaitu pelaksanaan hukuman kepada yang dimurkai. Jika kita mensifati Allah dengan sifat ghadhab, maka maksudnya bukan permulaan tersebut, yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Akan tetapi, yang kami maksud adalah titik akhirnya, yaitu pemberian hukuman. Inilah qanun (undang-undang) (Asy’ariyyah).” [9] Jelaslah dari kutipan ini bahwa Fakhruddin Ar-Razi menolak sifat Allah ghadhab yang hakiki (aqidah ahlus sunnah) sesuai dengan keagungan Allah tanpa membagaimanakan (takyif) dan  menyerupakan dengan makhluk-Nya (tasybih), lalu mentakwilnya menjadi “memberikan hukuman”.Konsekuensi dari perkataan Fakhruddin Ar-Razi, kalau kita katakan, “Jangan berbuat dosa, nanti Allah murka”, maka kalimat ini adalah kalimat yang salah menurut ‘aqidah Asy’ariyyah. Karena sifat ghadhab tidak ada dalam dua puluh sifat.Konsekuensi lainnya, ucapan Fakhruddin Ar-Razi ini berarti bahwa semua dosa yang dilakukan hamba pasti mendatangkan hukuman (adzab) dari Allah, sama persis dengan aqidah Mu’tazilah dan Khawarij. Berbeda dengan aqidah ahlus sunnah, karena ahlus sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar bisa saja Allah Ta’ala ampuni (tidak Allah berikan hukuman), selain dosa syirik akbar yang dibawa mati. [10] Sanggahan ke tujuh: Konsekuensi dari aqidah Asy’ariyyah adalah Asy’ariyyah sendiri melakukan tasybih.Contoh dari perkataan Ar-Razi di atas, Ar-Razi dan tokoh-tokoh Asy’ariyyah lainnya, berpendapat bahwa jika kita menetapkan makna ghadhab secara hakiki, maka konsekuensinya menyamakan Allah dengan makhluk. Karena ghadhab menurut mereka adalah mendidihnya darah dalam hati dan syahwat untuk menghukum. Ini adalah sifat makhluk. Oleh karena itu, harus ditolak (supaya tidak terjerumus dalam tasybih) dalam bentuk ditakwil.Kalau begitu, kalian sendiri pun melakukan tasybih. Karena jika kalian tetapkan sifat iradah (berkehendak), maka kalian juga menyamakan Allah dengan makhluk. Karena iradah adalah condongnya hati untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ini sifat makhluk, karena makhluk juga memiliki kehendak, sebagaimana yang sudah kita maklumi. Jadi, seharusnya kalian (Asy’ariyyah) juga menolak sifat iradah. Lalu, mengapa kalian justru menetapkannya?Maka Asy’ariyyah akan menjawab, “Iradah yang kami tetapkan adalah iradah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Jawaban ahlus sunnah, “Begitu juga kami, kami pun menetapkan sifat ghadhab (murka) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Inilah praktek dari sebuah kaidah yang sangat masyhur yang dimiliki oleh ahlus sunnah ketika membantah Asy’ariyyah,الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي بَعْضٍ“Perkataan (keyakinan) terhadap sebagian sifat-sifat (Allah) adalah sebagaimana perkataan (keyakinan) terhadap sebagian (sifat-sifat Allah yang lainnya).”Maksudnya, sebagaimana kalian (Asy’ariyyah) menetapkan sifat mendengar (as-sam’u) dan melihat (al-bashar), sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk, begitu pula kami (ahlus sunnah) pun menetapkan sifat yadain, wajah, ‘ainain, ghadhab, ridho, dan mahabbah (dan seluruh sifat-sifat lainnya) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.Jika kalian membedakan antara iradah (yaitu, dengan meyakininya dan tidak ditakwil) dan mahabbah atau ghadhab (yaitu, dengan menolaknya karena tidak ada dalam tujuh atau dua puluh sifat lalu ditakwil ke makna lainnya), maka aqidah kalian adalah aqidah yang kontradiktif, tidak bisa diterima oleh akal sehat.Sanggahan ke delapan: Aqidah Asy’ariyyah ini ternyata tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari.Sebagai sanggahan terahir, kami sampaikan bahwa aqidah kelompok Asy’ariyyah yang membatasi sifat hanya menjadi tujuh atau dua puluh, dan menolak sifat-sifat lainnya (misalnya sifat yadain, ‘ainain, dan wajah) ternyata diselisihi oleh Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri. Atau dengan kata lain, aqidah Asy’ariyyah (yaitu mereka yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari) itu tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri (setelah bertaubat dan kembali ke aqidah ahlus sunnah).Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,فإن سئلنا أتقولون أن لله يدين؟ قيل: نقول ذلك ، وقد دل عليه قوله تعالى: (يد الله فوق أيديهم) ، وقوله تعالى: (لما خلقت بيدي)“Ditanyakan kepada kami, apakah Engkau mengatakan (meyakini) bahwa Allah memiliki yadain (dua tangan)? Kami (Abul Hasan Al-Asy’ari) mengatakan demikian (bahwa Allah memiliki dua tangan, pen.). Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al-Fath [48]: 10) dan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shaad [38]: 75)” [11] Di awal kitab, beliau dengan tegas mengatakan,وأن له يدين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan (yadain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [12] Berkaitan dengan sifat wajah, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له وجها بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki wajah, tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [13] Lalu, tentang sifat ‘ainain, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له عينين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua mata (‘ainain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [14] Dan di kitab yang sama, beliau (Abul Hasan Al-Asy’ari) menetapkan sifat istiwa’ (tinggi di atas ‘arsy). Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن الله تعالى مستو على عرشه“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala itu istiwa’ (tinggi di atas) ‘arsy-Nya.” [15] Bahkan, beliau rahimahullah sendiri membantah aqidah Asy’ariyyah yang menolak sifat istiwa’ dan mentakwilnya menjadi “istaula” (menguasai) di kitab yang sama. [16] Dan kita tahu, bahwa aqidah Asy’ariyyah adalah menolak untuk menetapkan sifat yadain, ‘ainain, wajh dan istiwa’. Sungguh aneh, aqidah Asy’ariyyah ini sebetulnya mengikuti aqidah siapa? Jawabannya, tidak lain adalah mengikuti aqidah Mu’tazilah. Jadi, ketika orang-orang yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah memberikan bantahan kepada aqidah ahlus sunnah yang menetapkan sifat-sifat di atas, pada hakikatnya mereka sedang membantah aqidah sang imam mereka sendiri (yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari).KesimpulanBerdasarkan poin-poin penjelasan ini, maka aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, tidaklah sesuai dengan aqidah ahlus sunnah yang menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di dalam kitabullah (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Bahkan bertentangan dengan aqidah imam mereka sendiri, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah. Karena nama dan sifat termasuk dalam perkara ghaib, sehingga seharusnya, akal manusia tunduk kepada wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan, bukan sebaliknya.Namun, perlu diketahui bahwa ketika kita menjelaskan kesalahan ‘aqidah Asy’ariyyah dalam masalah asma’ dan sifat, hal itu tidak berarti kita mengkafirkan mereka. Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah yang mengatakan kafirnya Asy’ariyyah. Jadi, anggapan sebagian orang bahwa ketika kita menjelaskan dan membantah aqidah Asy’ariyyah, maka hal itu berarti kita mengafirkan mereka, adalah anggapan yang tidak benar sama sekali. Hal ini harus kami tekankan dan kami garis bawahi. Bahkan kita dapati, para ulama ahlus sunnah memberikan ‘udzur kepada tokoh-tokoh Asy’ariyyah, bahwa maksud mereka sebetulnya baik, yaitu tidak ingin terjerumus dalam tasybih (menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk). Namun, mereka kemudian salah jalan dengan tidak mengikuti manhaj para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami nama dan sifat Allah Ta’ala. Mereka ingin terhindar dari tasybih, namun justru terjerumus dalam takwil dan tafwidh (baca: muta’awwil). Ini menunjukkan bahwa niat mereka sebetulnya adalah mencari kebenaran. Oleh karena itu, kita dapati sebagian di antara mereka ada yang kemudian bertaubat, seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini dan Al-Ghazali -semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya-.[Selesai]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018 Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Arti Zalim, Nama Nama Hari Akhir Beserta Artinya, Hadits Tentang Sholawat, Nilai Kejujuran Dalam Islam, Puasa Yang Diharamkan


Baca juga Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)Sanggahan Ahlus Sunnah kepada Kelompok yang Membatasi Sifat Allah dengan Jumlah TertentuSanggahan pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi sifat Allah dengan jumlah tertentu.Kalau seseorang mau mempelajari aqidah yang benar, bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan jelas dan tampak baginya bahwa nama dan sifat Allah Ta’ala tidaklah dibatasi dengan bilangan tertentu. Hal ini karena Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu ghaib-Nya, yang tidak diketahui oleh seorang pun dari para malaikat atau nabi yang diutus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ”Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” [1] Nama-nama yang Allah Ta’ala sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dapat dihitung dan diketahui oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di akhirat kelak Allah Ta’ala akan membukakan kepada Rasulullah untuk memuji-Nya dengan sifat-sifat yang belum pernah diajarkan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِى”Maka Allah mengilhamkan kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya yang tidak diajarkan kepada seorang pun sebelumku.” [2] Sampai-sampai Rasulullah sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا أُحْصِي ثَنَاء عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسك”Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji terhadap diri-Mu.” [3] Sanggahan ke dua: Allah memiliki banyak nama yang sekaligus mengandung sifat.Kalaulah kita mau membuka lembaran Al-Qur’an dan membolak-balik kitab hadits, maka kita akan menemukan puluhan nama-nama Allah Ta’ala. Padahal, setiap nama Allah Ta’ala juga menunjukkan kepada sifat-Nya yang mulia.Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama As-Samii’, maka hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat mendengar (as-sam’u). Kalau Allah Ta’ala menyebutkan nama Al-‘Aliim, hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki ilmu (al-‘ilmu). Dan demikian seterusnya untuk nama-nama Allah Ta’ala yang lain. Berbeda dengan nama makhluk (manusia biasa, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), bisa jadi hanya sekedar nama tanpa menunjukkan sifat. Ada seseorang yang bernama “Shalih”, namun mungkin saja perilakunya tidak mencerminkan namanya.Berarti, jumlah sifat Allah Ta’ala mengikuti jumlah nama Allah Ta’ala. Hal ini belum termasuk dengan sifat-sifat yang disebutkan secara khusus oleh Allah Ta’ala maupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, darimana kita mengatakan bahwa sifat Allah Ta’ala hanya tujuh atau dua puluh?Sebagian di antara kita mungkin menghapal al-asmaaul husnaa yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Meskipun hal ini tidak berarti menunjukkan pembatasan nama Allah hanya sejumlah itu, sebagaimana yang telah kami jelaskan di tulisan lainnya. [4] Kalau sifat Allah hanya dua puluh, berarti ada 79 nama Allah yang tidak mengandung sifat (99 dikurangi 20).Kalau kita menetapkan hanya dua puluh sifat, berarti Allah tidak memiliki sifat al-‘izzah (kekuatan). Berarti nama Allah Ta’ala Al-‘Aziiz adalah sekedar nama, namun tidak mengandung sifat, karena sifat al-‘izzah tidak terdapat dalam dua puluh sifat tersebut. Lalu, apa bedanya aqidah ini dengan aqidah Mu’tazilah yang hanya menetapkan nama tanpa sifat?Sanggahan ke tiga: Membatasi jumlah sifat Allah secara tidak langsung mencela Allah Ta’ala.Bahkan kalau kita cermati dan mau berfikir sejenak, pembatasan sifat Allah Ta’ala hanya dua puluh saja, secara tidak langsung berarti mencela Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala itu sangat mulia dan sangat sempurna, dan kesempurnaan itu menjadi berkurang dan bahkan hilang jika Allah Ta’ala hanya disifati dengan dua puluh sifat saja.Permisalan yang mudah adalah jika kita katakan kepada seseorang (anggaplah namanya A), ”Engkau itu orangnya dermawan dan suka pemaaf.” Lalu kita katakan kepada orang lain (anggaplah namanya B), ”Engkau itu orangnya baik hati, suka menolong, penyabar, suka memaafkan kesalahan orang lain, pengertian, tidak egois, pintar, suka berhemat, rendah hati, ramah, selalu sehat, … “. Maka pertanyaannya, ”Siapakah yang lebih baik dan sempurna?”  Maka tentu kita semua sepakat bahwa yang lebih baik dan lebih sempurna adalah orang B.Demikian pula halnya dengan Allah Ta’ala. Sehingga salah satu metode yang digunakan Allah Ta’ala untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah dengan merinci dan memperbanyak penyebutan untuk menetapkan sifat-sifatNya yang mulia. Karena semakin banyak dan rinci sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan, maka akan semakin tampaklah kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. [5] Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)“Dia-lah Allah yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dia-lah Allah, Yang tiada sesembahan (yang benar) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai asmaaul husna (nama-nama yang indah). Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]: 22-24)Dalam ayat ini, sangat tampak bagi kita penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang sangat terperinci dalam satu ayat saja. Karena sekali lagi, semakin banyak dan rinci penyebutan sifat-sifat Allah Ta’ala, maka akan semakin tampaklah kesempurnaan Allah Ta’ala dari segala sisi. Oleh karena itu, merupakan sebuah celaan kepada Allah Ta’ala apabila kita berbuat lancang dengan hanya menetapkan tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.Kalau sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, berarti apakah semua sifat yang Allah tetapkan dalam satu ayat tersebut saja, semuanya harus kita tolak?Oleh karena itu, kelompok Asy’ariyyah secara tidak langsung “mengatur-atur” Allah. Bahwa makhluk yang berhak menentukan bagi Allah, Allah hanya boleh memiliki dua puluh sifat saja, tidak boleh memiliki sifat yang lainnya. Bukankah ini tindakan yang tidak memiliki adab kepada Allah? Membatasi sifat Allah, padahal Allah memiliki sifat yang tidak terbatas, karena kesempurnaan Allah luar biasa, mencapai puncak kesempurnaan-Nya. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala, lalu ada di antara umatnya (yaitu tokoh-tokoh Asy’ariyyah) yang mampu menghitungnya menjadi dua puluh sifat saja (???).Sanggahan ke empat: Jika (hanya) akal yang digunakan sebagai sumber penetapan aqidah (sifat Allah Ta’ala), lalu akal siapakah yang menjadi patokan?Masalah ini sangat jelas. Jika akal digunakan sebagai sandaran (sumber) dalam menetapkan sifat Allah Ta’ala, maka pertanyaan berikutnya, akal siapakah yang layak untuk digunakan sebagai patokan kebenaran? Hal ini akan menyebabkan kontradiksi antar kelompok “pemuja akal” yang tidak akan ada ujungnya, bahkan antar ulama Asy’ariyyah sendiri.Madzhab Jahmiyyah, hasil olah pikir akal mereka adalah: Allah tidak memiliki nama dan sifat. Madzhab Mu’tazilah, hasil olah pikir akal dan logika mereka adalah: Allah memiliki nama, namun nama Allah tidak mengandung sifat. Begitu pula para tokoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy’ariyyah, hasil olah pikir akal mereka ternyata beragam.Imam madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari (sebelum bertaubat), dan tokoh mutaqoddimin (generasi awal) dari kalangan Asy’ariyyah, seperti Al-Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqillani, Ibnu Faurak, dan tokoh-tokoh selain mereka, mereka juga menetapkan sifat dzatiyyah khabariyyah (yaitu sifat yang hanya bisa ditetapkan melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, semacam sifat al-wajhu [wajah] dan al-yadain [dua tangan]) secara hakiki [bukan majaz]), selain tujuh sifat tersebut.Pada akhirnya, datanglah tokoh Asy’ariyyah generasi belakangan (muta’akhirin) yang kondisinya lebih parah dari generasi sebelumnya, karena mereka hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah Ta’ala, yaitu Abul Ma’ali Al-Juwaini dan tokoh-tokoh yang sejaman dengannya. Berbeda lagi dengan Maturidiyyah yang hanya menetapkan delapan sifat bagi Allah. [6] Lalu, dari semua perbedaan itu, manakah yang benar? Padahal mereka semua mengklaim bahwa sifat-sifat tersebut ditetapkan dengan akal. Akan tetapi faktanya, “produk akal” mereka ternyata berbeda-beda.Ketika tokoh-tokoh Asy’ariyyah sendiri berbeda-beda dalam hal (metode) penetapan sifat Allah Ta’ala, sesuai inovasi akal mereka, maka ini adalah bukti nyata bahwa aqidah mereka semuanya tidaklah dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, alias tidak berasal dari Allah Ta’ala. Bukti tersebut adalah adanya perselisihan yang sangat banyak, bahkan di antara tokoh-tokoh mereka sendiri yang menyebut dirinya bermadzhab Asy’ariyyah.Maka benarlah firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)Sanggahan ke lima: Kami pun bisa menetapkan sifat Allah yang lainnya dengan akal kami pula.Sanggahan berikutnya, kalau kalian menetapkan dengan akal, maka kami pun bisa menetapkan dengan akal kami. Apa yang tidak bisa Asy’ariyyah tetapkan dengan akal mereka, kami bisa tetapkan dengan akal kami. Karena kami pun memiliki akal juga, sama dengan Asy’ariyyah.Contoh: Nikmat-nikmat Allah yang kita dapatkan, dan sebaliknya, adanya musibah yang diangkat dari diri kita, semua ini menunjukkan sifat rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Turunnya hujan dan tumbuhnya berbagai macam tanaman juga merupakan bukti adanya rahmat tersebut. Jadi semua nikmat yang kita terima pada asalnya menunjukkan adanya sifat rahmat Allah Ta’ala. [7] Sehingga, akal kita pun bisa menetapkan sifat tertentu bagi Allah, meskipun sifat tersebut tidak ditetapkan oleh akal mereka.Sanggahan ke enam: Tujuh atau dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk memahamkan masyarakat awam (?)Sebagian di antara pengikut Asy’ariyyah mengatakan bahwa dua puluh sifat tersebut hanya untuk menyederhanakan untuk disampaikan ke masyarakat awam.Perkataan semacam ini menunjukkan bahwa mereka sendiri belum paham aqidah Asy’ariyyah yang dipegangi oleh tokoh-tokoh atau ulama-ulama Asy’ariyyah (generasi muta’akhirin). Karena pada prakteknya, mereka membatasi sifat Allah hanya dalam tujuh atau dua puluh sifat tersebut saja. Jadi, bukan sekedar “menyederhanakan” sesuai dengan klaim dan anggapan mereka. Karena untuk sifat-sifat lainnya, pada kenyataannya mereka tolak dengan alasan harus di-takwil (sesuai akal logika mereka), yang hakikatnya adalah tahrif.Penulis sendiri dulu belajar enam tahun dan bergumul dengan aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan dua puluh sifat, dan selama enam tahun belajar, penulis tidak pernah diajarkan bahwa Allah memiliki dua tangan (yadain), bahwa Allah memiliki wajah (al-wajhu), dua bahwa Allah memiliki dua mata (‘ainain) (semuanya tanpa tasybih dan takyif), padahal ini adalah aqidah ahlus sunnah yang sangat jelas dan terang benderang.Maka benarlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,…بل أبو المعالي الجويني، ونحوه ممن انتسب إلى الأشعري، ذكروا في كتبهم من الحجج العقليات النافية للصفات الخبرية ما لم يذكره ابن كلاب والأشعري وأئمة أصحابهما، كالقاضي أبي بكر بن الطيب وأمثاله، فإن هؤلاء متفقون على إثبات الصفات الخبرية، كالوجه واليد والاستواء.“ … bahkan Abul Ma’ali Al-Juwaini, dan tokoh semisal yang menisbatkan diri kepada aqidah Asy’ariyyah, mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka berbagai argumentasi akal logika untuk menolak sifat-sifat khabariyyah, yang (argumentasi) tersebut tidak disebutkan oleh Ibnu Kullab, Abul Hasan Al-Asy’ari, dan para imam yang merupakan sahabat keduanya, semacam Al-Qadhi Abu Bakr bin Thayyib dan lainnya. Karena mereka (Asy’ariyyah generasi awal), menetapkan sifat-sifat khabariyyah seperti sifat (Allah memiliki) wajah (al-wajhu), tangan (yadain) dan juga sifat istiwa’.” [8] Contoh lainnya, mereka (Asy’ariyyah) menolak sifat Allah ghadhab (Allah murka), karena tidak terdapat dalam dua puluh sifat. Sehingga mereka pun mentakwil sifat tersebut menjadi “memberikan hukuman”. Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah (tokoh Asy’ariyyah generasi muta’akhirin) berkata,وكذلك الغضب له مبدأ وهو غليان دم القلب وشهوة الانتقام، وله غاية وهي إيصال العقاب إلى المغضوب عليه، فإذا وصفنا الله تعالى بالغضب فليس المراد هو ذلك المبدأ أعني غليان دم القلب وشهوة الانتقام، بل المراد تلك النهاية وهي إنزال العقاب، فهذا هو القانون”“Demikian pula ghadhab (murka), itu memiliki permulaan. Yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Dan ghadhab memiliki akhir (ghayah), yaitu pelaksanaan hukuman kepada yang dimurkai. Jika kita mensifati Allah dengan sifat ghadhab, maka maksudnya bukan permulaan tersebut, yaitu mendidihnya darah di dalam hati dan keinginan (syahwat) untuk memberikan hukuman. Akan tetapi, yang kami maksud adalah titik akhirnya, yaitu pemberian hukuman. Inilah qanun (undang-undang) (Asy’ariyyah).” [9] Jelaslah dari kutipan ini bahwa Fakhruddin Ar-Razi menolak sifat Allah ghadhab yang hakiki (aqidah ahlus sunnah) sesuai dengan keagungan Allah tanpa membagaimanakan (takyif) dan  menyerupakan dengan makhluk-Nya (tasybih), lalu mentakwilnya menjadi “memberikan hukuman”.Konsekuensi dari perkataan Fakhruddin Ar-Razi, kalau kita katakan, “Jangan berbuat dosa, nanti Allah murka”, maka kalimat ini adalah kalimat yang salah menurut ‘aqidah Asy’ariyyah. Karena sifat ghadhab tidak ada dalam dua puluh sifat.Konsekuensi lainnya, ucapan Fakhruddin Ar-Razi ini berarti bahwa semua dosa yang dilakukan hamba pasti mendatangkan hukuman (adzab) dari Allah, sama persis dengan aqidah Mu’tazilah dan Khawarij. Berbeda dengan aqidah ahlus sunnah, karena ahlus sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar bisa saja Allah Ta’ala ampuni (tidak Allah berikan hukuman), selain dosa syirik akbar yang dibawa mati. [10] Sanggahan ke tujuh: Konsekuensi dari aqidah Asy’ariyyah adalah Asy’ariyyah sendiri melakukan tasybih.Contoh dari perkataan Ar-Razi di atas, Ar-Razi dan tokoh-tokoh Asy’ariyyah lainnya, berpendapat bahwa jika kita menetapkan makna ghadhab secara hakiki, maka konsekuensinya menyamakan Allah dengan makhluk. Karena ghadhab menurut mereka adalah mendidihnya darah dalam hati dan syahwat untuk menghukum. Ini adalah sifat makhluk. Oleh karena itu, harus ditolak (supaya tidak terjerumus dalam tasybih) dalam bentuk ditakwil.Kalau begitu, kalian sendiri pun melakukan tasybih. Karena jika kalian tetapkan sifat iradah (berkehendak), maka kalian juga menyamakan Allah dengan makhluk. Karena iradah adalah condongnya hati untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ini sifat makhluk, karena makhluk juga memiliki kehendak, sebagaimana yang sudah kita maklumi. Jadi, seharusnya kalian (Asy’ariyyah) juga menolak sifat iradah. Lalu, mengapa kalian justru menetapkannya?Maka Asy’ariyyah akan menjawab, “Iradah yang kami tetapkan adalah iradah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Jawaban ahlus sunnah, “Begitu juga kami, kami pun menetapkan sifat ghadhab (murka) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.”Inilah praktek dari sebuah kaidah yang sangat masyhur yang dimiliki oleh ahlus sunnah ketika membantah Asy’ariyyah,الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي بَعْضٍ“Perkataan (keyakinan) terhadap sebagian sifat-sifat (Allah) adalah sebagaimana perkataan (keyakinan) terhadap sebagian (sifat-sifat Allah yang lainnya).”Maksudnya, sebagaimana kalian (Asy’ariyyah) menetapkan sifat mendengar (as-sam’u) dan melihat (al-bashar), sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk, begitu pula kami (ahlus sunnah) pun menetapkan sifat yadain, wajah, ‘ainain, ghadhab, ridho, dan mahabbah (dan seluruh sifat-sifat lainnya) sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak sama dengan makhluk.Jika kalian membedakan antara iradah (yaitu, dengan meyakininya dan tidak ditakwil) dan mahabbah atau ghadhab (yaitu, dengan menolaknya karena tidak ada dalam tujuh atau dua puluh sifat lalu ditakwil ke makna lainnya), maka aqidah kalian adalah aqidah yang kontradiktif, tidak bisa diterima oleh akal sehat.Sanggahan ke delapan: Aqidah Asy’ariyyah ini ternyata tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari.Sebagai sanggahan terahir, kami sampaikan bahwa aqidah kelompok Asy’ariyyah yang membatasi sifat hanya menjadi tujuh atau dua puluh, dan menolak sifat-sifat lainnya (misalnya sifat yadain, ‘ainain, dan wajah) ternyata diselisihi oleh Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri. Atau dengan kata lain, aqidah Asy’ariyyah (yaitu mereka yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari) itu tidak sama dengan aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah itu sendiri (setelah bertaubat dan kembali ke aqidah ahlus sunnah).Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,فإن سئلنا أتقولون أن لله يدين؟ قيل: نقول ذلك ، وقد دل عليه قوله تعالى: (يد الله فوق أيديهم) ، وقوله تعالى: (لما خلقت بيدي)“Ditanyakan kepada kami, apakah Engkau mengatakan (meyakini) bahwa Allah memiliki yadain (dua tangan)? Kami (Abul Hasan Al-Asy’ari) mengatakan demikian (bahwa Allah memiliki dua tangan, pen.). Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al-Fath [48]: 10) dan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shaad [38]: 75)” [11] Di awal kitab, beliau dengan tegas mengatakan,وأن له يدين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan (yadain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [12] Berkaitan dengan sifat wajah, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له وجها بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki wajah, tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [13] Lalu, tentang sifat ‘ainain, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن له عينين بلا كيف“Sesungguhnya Allah memiliki dua mata (‘ainain), tanpa (perlu) memvisualisasikannya.” [14] Dan di kitab yang sama, beliau (Abul Hasan Al-Asy’ari) menetapkan sifat istiwa’ (tinggi di atas ‘arsy). Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,وأن الله تعالى مستو على عرشه“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala itu istiwa’ (tinggi di atas) ‘arsy-Nya.” [15] Bahkan, beliau rahimahullah sendiri membantah aqidah Asy’ariyyah yang menolak sifat istiwa’ dan mentakwilnya menjadi “istaula” (menguasai) di kitab yang sama. [16] Dan kita tahu, bahwa aqidah Asy’ariyyah adalah menolak untuk menetapkan sifat yadain, ‘ainain, wajh dan istiwa’. Sungguh aneh, aqidah Asy’ariyyah ini sebetulnya mengikuti aqidah siapa? Jawabannya, tidak lain adalah mengikuti aqidah Mu’tazilah. Jadi, ketika orang-orang yang mengaku bermadzhab Asy’ariyyah memberikan bantahan kepada aqidah ahlus sunnah yang menetapkan sifat-sifat di atas, pada hakikatnya mereka sedang membantah aqidah sang imam mereka sendiri (yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari).KesimpulanBerdasarkan poin-poin penjelasan ini, maka aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan sifat Allah hanya tujuh atau dua puluh, tidaklah sesuai dengan aqidah ahlus sunnah yang menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di dalam kitabullah (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Bahkan bertentangan dengan aqidah imam mereka sendiri, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah. Karena nama dan sifat termasuk dalam perkara ghaib, sehingga seharusnya, akal manusia tunduk kepada wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan, bukan sebaliknya.Namun, perlu diketahui bahwa ketika kita menjelaskan kesalahan ‘aqidah Asy’ariyyah dalam masalah asma’ dan sifat, hal itu tidak berarti kita mengkafirkan mereka. Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah yang mengatakan kafirnya Asy’ariyyah. Jadi, anggapan sebagian orang bahwa ketika kita menjelaskan dan membantah aqidah Asy’ariyyah, maka hal itu berarti kita mengafirkan mereka, adalah anggapan yang tidak benar sama sekali. Hal ini harus kami tekankan dan kami garis bawahi. Bahkan kita dapati, para ulama ahlus sunnah memberikan ‘udzur kepada tokoh-tokoh Asy’ariyyah, bahwa maksud mereka sebetulnya baik, yaitu tidak ingin terjerumus dalam tasybih (menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk). Namun, mereka kemudian salah jalan dengan tidak mengikuti manhaj para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami nama dan sifat Allah Ta’ala. Mereka ingin terhindar dari tasybih, namun justru terjerumus dalam takwil dan tafwidh (baca: muta’awwil). Ini menunjukkan bahwa niat mereka sebetulnya adalah mencari kebenaran. Oleh karena itu, kita dapati sebagian di antara mereka ada yang kemudian bertaubat, seperti Abul Ma’ali Al-Juwaini dan Al-Ghazali -semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya-.[Selesai]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018 Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Arti Zalim, Nama Nama Hari Akhir Beserta Artinya, Hadits Tentang Sholawat, Nilai Kejujuran Dalam Islam, Puasa Yang Diharamkan

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)

Di antara ilmu yang paling agung dan paling mulia adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (tauhid asmaa’ wa shifaat). Hal ini sebagaimana yang telah kami uraikan panjang lebar di serial tulisan sebelumnya. [1] Masalah aqidah, termasuk dalam masalah tauhid asmaa’ wa shifaat, haruslah diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, seiring dengan berpalingnya kaum muslimin dari agamanya, maka aqidah yang lurus, yaitu aqidah ahlus sunnah, seolah menjadi aqidah yang aneh dan terasing di tengah-tengah umat Islam sendiri. Sebaliknya, aqidah yang tersebar dan lebih dikenal adalah aqidah yang menyimpang dari jalan dan pemahaman sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara contoh kesalahan dalam masalah nama dan sifat Allah yang sudah tersebar luas di kalangan kaum muslimin adalah keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala hanya memiliki tujuh atau dua puluh sifat saja. Kedua puluh sifat tersebut juga telah dihafal oleh banyak kaum muslimin sehingga sering pula kita dengarkan melalui masjid-masjid di antara adzan dan iqomah. Pemahaman seperti ini sebetulnya berasal dari para tokoh yang menisbatkan diri kepada madzhab Asy’ariyyah.Mengenal ‘Aqidah (Madzhab) Asy’ariyyahMadzhab Asy’ariyyah adalah madzhab yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 324 H). Pada fase awal (fase pertama) kehidupan beliau, beliau tenggelam dalam aqidah Mu’tazilah. Dalam masalah nama dan sifat Allah Ta’ala, madzhab Mu’tazilah ini hanya menetapkan nama untuk Allah Ta’ala, namun menolak sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya. Dengan kata lain, bagi kaum Mu’tazilah, nama Allah Ta’ala hanyalah sekedar nama, namun tidak menunjukkan sifat yang mulia. Beliau tenggelam dalam madzhab Mu’tazilah karena pengaruh didikan ayah tirinya selama 40 tahun, yaitu Abu ‘Ali Al-Juba’i, seorang tokoh besar Mu’tazilah ketika itu yang berdomisili di kota Bashrah (Irak).Sayangnya, setelah bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah, beliau justru terjerumus dalam madzhab Kullabiyah, yaitu madzhab yang dinisbatkan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Muhammad bin Kullab Al-Bashri (wafat tahun 240 H). Namun, Allah Ta’ala ternyata menghendaki kebaikan (hidayah) untuk beliau. Sehingga pada akhir-akhir kehidupannya, beliau menyatakan bertaubat dari pemikirannya tersebut (Kullabiyah) dan kembali mengikuti aqidah ahlus sunnah, yaitu aqidah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal rahimahullahu Ta’ala dan para imam ahli hadis yang lainnya. [2]Dalam salah satu kitab terakhir karya beliau, yaitu kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, sangat jelas pernyataan dari beliau bahwa beliau bertaubat dari madzhab Mu’tazilah dan Kullabiyah dan rujuk (kembali) ke ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Beliau rahimahullahu Ta’ala dengan sangat jelas dan tegas berkata,قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها، التمسك بكتاب ربنا عز وجل، وسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وما روى عن الصحابة والتابعين وأئمة المحدثين، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل – نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته – قائلون، ولما خالف قوله مخالفون؛ لأنه الإمام الفاضل، والرئيس الكامل، الذي أبان الله به الحق، ودفع به الضلال، وأوضح به المنهاج، وقمع به بدع المبتدعين، وزيع الزائغين، وشك الشاكين …“Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, (juga berpegang teguh dengan) apa yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in, para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. (Kami juga berpegang teguh) dengan (aqidah) Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Semoga Allah Ta’ala mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau, melimpahkan pahala bagi beliau. Kami juga menyelisihi orang-orang yang menyelisihi aqidah beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (memiliki keutamaan) dan pemimpn yang sempurna. Melalui diri beliau, Allah Ta’ala membuat terang (jalan) kebenaran dan menolak kesesatan, menjelaskan manhaj, memberantas bid’ah yang dilakukan oleh ahli bid’ah, (serta memberantas) penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dan keraguan orang-orang yang ragu … ” [3]Kembalinya beliau ke aqidah ahlus sunnah juga ditegaskan di dua kitab beliau lainnya, yaitu Maqaalat Islamiyyin wa Ikhtilaafil Musholliin [4] dan kitab Risaalah ila Ahli Tsaghr [5].Salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’i, yaitu Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa di antara sebab kembalinya Abul Hasan Al-‘Asy’ari ke dalam aqidah ahlus sunnah adalah pertemuan beliau dengan Zakaria As-Saaji (wafat tahun 307 H), yaitu ulama ahli hadits yang tinggal di kota Bashrah dan beraqidah ahlus sunnah. [6]Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menyebutkan biografi Zakaria As-Saaji,وَكَانَ مِنْ أَئِمَّةِ الحَدِيْثِ. أَخَذَ عَنْهُ: أَبُو الحَسَنِ الأَشْعَرِيّ مَقَالَة السَّلَف فِي الصِّفَات، وَاعتمد عَلَيْهَا أَبُو الحَسَنِ فِي عِدَّة تآلِيف.“Beliau adalah imam ahli hadits. Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil pendapat ulama salaf (ahlus sunnah) darinya dalam masalah terkait sifat-sifat (Allah). Abul Hasan Al-Asy’ari juga berpegang dengannya (As-Saaji) dalam beberapa karya tulis beliau.” [7]Dan telah kita maklumi bersama, bagaimanakah aqidah ahlus sunnah dalam masalah nama dan sifat Allah. Ahlus sunnah menetapkan seluruh nama dan sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan dzahirnya, tanpa tahrif (takwil), ta’thil, takyif, dan tasybih. Ahlus sunnah meyakini dan menetapkan sifat as-sam’u (mendengar) bagi Allah, sesuai keagungan dan kebesaran Allah, tidak serupa dengan makhluk-Nya. Ahlus sunnah juga menetapkan sifat dua tangan (yadain) yang hakiki (bukan majas yang ditakwil menjadi nikmat atau kekuatan), sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan demikian seterusnya. [8]Namun sangat disayangkan, bahwa aqidah yang tersebar sampai saat ini adalah ‘aqidah beliau pada fase kedua, yaitu fase Kullabiyah. Dan dalam beberapa masalah, justru mirip dengan aqidah Mu’tazilah. Namun mereka menyangka bahwa aqidah mereka saat ini (yang hakikatnya adalah ‘aqidah Kullabiyah, namun mereka sebut dengan ‘aqidah Asy’ariyyah) masih mengikuti ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari. Padahal beliau sendiri telah bertaubat dari ‘aqidah Kullabiyah dan kembali jalan ahlus sunnah, sebagaimana yang telah beliau tegaskan sendiri dalam tiga kitab tersebut. Oleh karena itu, kaum (golongan) Asy’ariyyah (Asyaa’irah) pada hakikatnya bukanlah pengikut sejati dari Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, sebagaimana yang akan kami bahas di seri-seri selanjutnya dari tulisan ini. Contohnya, aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan hanya tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Silakan dibaca kembali serial tulisan kami berikut ini (ada lima seri tulisan):https://muslim.or.id/36799-mengapa-engkau-enggan-mengenal-tuhanmu-01.html[2]     Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 755-762[3]    Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah 1/201, karya Abul Hasan Al-Asy’ari, tahqiq: Shalih bin Muqbil bin ‘Abdullah Al-Ushaimi At-Tamimi, cetakan pertama, penerbit Daarul Fadhilah, Riyadh KSA.[4]     Dicetak dengan tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, penerbit Maktabah Al-‘Ashriyyah, Beirut, tahun 1411.[5]     Dicetak dengan tahqiq ‘Abdullah Syakir Muhammad Al-Junaidi, penerbit Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam, Madinah KSA, tahun 1422.[6]    Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah, hal. 765.[7]    Siyaar A’laam An-Nubalaa’, 14/198 (cet. Muassasah Ar-Risaalah tahun 1405, Maktabah Asy-Syamilah).     [8]     Silakan dibaca pembahasannya di sini:https://muslim.or.id/29794-larangan-terhadap-nama-dan-sifat-allah.html🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah Rasul, Cara Membaca Huruf Arab Gundul, Dalil Tentang Taat, Memelihara Anjing Dalam Islam, Sami Yusuf Syiah

Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)

Di antara ilmu yang paling agung dan paling mulia adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (tauhid asmaa’ wa shifaat). Hal ini sebagaimana yang telah kami uraikan panjang lebar di serial tulisan sebelumnya. [1] Masalah aqidah, termasuk dalam masalah tauhid asmaa’ wa shifaat, haruslah diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, seiring dengan berpalingnya kaum muslimin dari agamanya, maka aqidah yang lurus, yaitu aqidah ahlus sunnah, seolah menjadi aqidah yang aneh dan terasing di tengah-tengah umat Islam sendiri. Sebaliknya, aqidah yang tersebar dan lebih dikenal adalah aqidah yang menyimpang dari jalan dan pemahaman sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara contoh kesalahan dalam masalah nama dan sifat Allah yang sudah tersebar luas di kalangan kaum muslimin adalah keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala hanya memiliki tujuh atau dua puluh sifat saja. Kedua puluh sifat tersebut juga telah dihafal oleh banyak kaum muslimin sehingga sering pula kita dengarkan melalui masjid-masjid di antara adzan dan iqomah. Pemahaman seperti ini sebetulnya berasal dari para tokoh yang menisbatkan diri kepada madzhab Asy’ariyyah.Mengenal ‘Aqidah (Madzhab) Asy’ariyyahMadzhab Asy’ariyyah adalah madzhab yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 324 H). Pada fase awal (fase pertama) kehidupan beliau, beliau tenggelam dalam aqidah Mu’tazilah. Dalam masalah nama dan sifat Allah Ta’ala, madzhab Mu’tazilah ini hanya menetapkan nama untuk Allah Ta’ala, namun menolak sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya. Dengan kata lain, bagi kaum Mu’tazilah, nama Allah Ta’ala hanyalah sekedar nama, namun tidak menunjukkan sifat yang mulia. Beliau tenggelam dalam madzhab Mu’tazilah karena pengaruh didikan ayah tirinya selama 40 tahun, yaitu Abu ‘Ali Al-Juba’i, seorang tokoh besar Mu’tazilah ketika itu yang berdomisili di kota Bashrah (Irak).Sayangnya, setelah bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah, beliau justru terjerumus dalam madzhab Kullabiyah, yaitu madzhab yang dinisbatkan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Muhammad bin Kullab Al-Bashri (wafat tahun 240 H). Namun, Allah Ta’ala ternyata menghendaki kebaikan (hidayah) untuk beliau. Sehingga pada akhir-akhir kehidupannya, beliau menyatakan bertaubat dari pemikirannya tersebut (Kullabiyah) dan kembali mengikuti aqidah ahlus sunnah, yaitu aqidah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal rahimahullahu Ta’ala dan para imam ahli hadis yang lainnya. [2]Dalam salah satu kitab terakhir karya beliau, yaitu kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, sangat jelas pernyataan dari beliau bahwa beliau bertaubat dari madzhab Mu’tazilah dan Kullabiyah dan rujuk (kembali) ke ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Beliau rahimahullahu Ta’ala dengan sangat jelas dan tegas berkata,قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها، التمسك بكتاب ربنا عز وجل، وسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وما روى عن الصحابة والتابعين وأئمة المحدثين، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل – نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته – قائلون، ولما خالف قوله مخالفون؛ لأنه الإمام الفاضل، والرئيس الكامل، الذي أبان الله به الحق، ودفع به الضلال، وأوضح به المنهاج، وقمع به بدع المبتدعين، وزيع الزائغين، وشك الشاكين …“Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, (juga berpegang teguh dengan) apa yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in, para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. (Kami juga berpegang teguh) dengan (aqidah) Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Semoga Allah Ta’ala mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau, melimpahkan pahala bagi beliau. Kami juga menyelisihi orang-orang yang menyelisihi aqidah beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (memiliki keutamaan) dan pemimpn yang sempurna. Melalui diri beliau, Allah Ta’ala membuat terang (jalan) kebenaran dan menolak kesesatan, menjelaskan manhaj, memberantas bid’ah yang dilakukan oleh ahli bid’ah, (serta memberantas) penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dan keraguan orang-orang yang ragu … ” [3]Kembalinya beliau ke aqidah ahlus sunnah juga ditegaskan di dua kitab beliau lainnya, yaitu Maqaalat Islamiyyin wa Ikhtilaafil Musholliin [4] dan kitab Risaalah ila Ahli Tsaghr [5].Salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’i, yaitu Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa di antara sebab kembalinya Abul Hasan Al-‘Asy’ari ke dalam aqidah ahlus sunnah adalah pertemuan beliau dengan Zakaria As-Saaji (wafat tahun 307 H), yaitu ulama ahli hadits yang tinggal di kota Bashrah dan beraqidah ahlus sunnah. [6]Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menyebutkan biografi Zakaria As-Saaji,وَكَانَ مِنْ أَئِمَّةِ الحَدِيْثِ. أَخَذَ عَنْهُ: أَبُو الحَسَنِ الأَشْعَرِيّ مَقَالَة السَّلَف فِي الصِّفَات، وَاعتمد عَلَيْهَا أَبُو الحَسَنِ فِي عِدَّة تآلِيف.“Beliau adalah imam ahli hadits. Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil pendapat ulama salaf (ahlus sunnah) darinya dalam masalah terkait sifat-sifat (Allah). Abul Hasan Al-Asy’ari juga berpegang dengannya (As-Saaji) dalam beberapa karya tulis beliau.” [7]Dan telah kita maklumi bersama, bagaimanakah aqidah ahlus sunnah dalam masalah nama dan sifat Allah. Ahlus sunnah menetapkan seluruh nama dan sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan dzahirnya, tanpa tahrif (takwil), ta’thil, takyif, dan tasybih. Ahlus sunnah meyakini dan menetapkan sifat as-sam’u (mendengar) bagi Allah, sesuai keagungan dan kebesaran Allah, tidak serupa dengan makhluk-Nya. Ahlus sunnah juga menetapkan sifat dua tangan (yadain) yang hakiki (bukan majas yang ditakwil menjadi nikmat atau kekuatan), sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan demikian seterusnya. [8]Namun sangat disayangkan, bahwa aqidah yang tersebar sampai saat ini adalah ‘aqidah beliau pada fase kedua, yaitu fase Kullabiyah. Dan dalam beberapa masalah, justru mirip dengan aqidah Mu’tazilah. Namun mereka menyangka bahwa aqidah mereka saat ini (yang hakikatnya adalah ‘aqidah Kullabiyah, namun mereka sebut dengan ‘aqidah Asy’ariyyah) masih mengikuti ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari. Padahal beliau sendiri telah bertaubat dari ‘aqidah Kullabiyah dan kembali jalan ahlus sunnah, sebagaimana yang telah beliau tegaskan sendiri dalam tiga kitab tersebut. Oleh karena itu, kaum (golongan) Asy’ariyyah (Asyaa’irah) pada hakikatnya bukanlah pengikut sejati dari Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, sebagaimana yang akan kami bahas di seri-seri selanjutnya dari tulisan ini. Contohnya, aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan hanya tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Silakan dibaca kembali serial tulisan kami berikut ini (ada lima seri tulisan):https://muslim.or.id/36799-mengapa-engkau-enggan-mengenal-tuhanmu-01.html[2]     Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 755-762[3]    Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah 1/201, karya Abul Hasan Al-Asy’ari, tahqiq: Shalih bin Muqbil bin ‘Abdullah Al-Ushaimi At-Tamimi, cetakan pertama, penerbit Daarul Fadhilah, Riyadh KSA.[4]     Dicetak dengan tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, penerbit Maktabah Al-‘Ashriyyah, Beirut, tahun 1411.[5]     Dicetak dengan tahqiq ‘Abdullah Syakir Muhammad Al-Junaidi, penerbit Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam, Madinah KSA, tahun 1422.[6]    Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah, hal. 765.[7]    Siyaar A’laam An-Nubalaa’, 14/198 (cet. Muassasah Ar-Risaalah tahun 1405, Maktabah Asy-Syamilah).     [8]     Silakan dibaca pembahasannya di sini:https://muslim.or.id/29794-larangan-terhadap-nama-dan-sifat-allah.html🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah Rasul, Cara Membaca Huruf Arab Gundul, Dalil Tentang Taat, Memelihara Anjing Dalam Islam, Sami Yusuf Syiah
Di antara ilmu yang paling agung dan paling mulia adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (tauhid asmaa’ wa shifaat). Hal ini sebagaimana yang telah kami uraikan panjang lebar di serial tulisan sebelumnya. [1] Masalah aqidah, termasuk dalam masalah tauhid asmaa’ wa shifaat, haruslah diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, seiring dengan berpalingnya kaum muslimin dari agamanya, maka aqidah yang lurus, yaitu aqidah ahlus sunnah, seolah menjadi aqidah yang aneh dan terasing di tengah-tengah umat Islam sendiri. Sebaliknya, aqidah yang tersebar dan lebih dikenal adalah aqidah yang menyimpang dari jalan dan pemahaman sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara contoh kesalahan dalam masalah nama dan sifat Allah yang sudah tersebar luas di kalangan kaum muslimin adalah keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala hanya memiliki tujuh atau dua puluh sifat saja. Kedua puluh sifat tersebut juga telah dihafal oleh banyak kaum muslimin sehingga sering pula kita dengarkan melalui masjid-masjid di antara adzan dan iqomah. Pemahaman seperti ini sebetulnya berasal dari para tokoh yang menisbatkan diri kepada madzhab Asy’ariyyah.Mengenal ‘Aqidah (Madzhab) Asy’ariyyahMadzhab Asy’ariyyah adalah madzhab yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 324 H). Pada fase awal (fase pertama) kehidupan beliau, beliau tenggelam dalam aqidah Mu’tazilah. Dalam masalah nama dan sifat Allah Ta’ala, madzhab Mu’tazilah ini hanya menetapkan nama untuk Allah Ta’ala, namun menolak sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya. Dengan kata lain, bagi kaum Mu’tazilah, nama Allah Ta’ala hanyalah sekedar nama, namun tidak menunjukkan sifat yang mulia. Beliau tenggelam dalam madzhab Mu’tazilah karena pengaruh didikan ayah tirinya selama 40 tahun, yaitu Abu ‘Ali Al-Juba’i, seorang tokoh besar Mu’tazilah ketika itu yang berdomisili di kota Bashrah (Irak).Sayangnya, setelah bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah, beliau justru terjerumus dalam madzhab Kullabiyah, yaitu madzhab yang dinisbatkan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Muhammad bin Kullab Al-Bashri (wafat tahun 240 H). Namun, Allah Ta’ala ternyata menghendaki kebaikan (hidayah) untuk beliau. Sehingga pada akhir-akhir kehidupannya, beliau menyatakan bertaubat dari pemikirannya tersebut (Kullabiyah) dan kembali mengikuti aqidah ahlus sunnah, yaitu aqidah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal rahimahullahu Ta’ala dan para imam ahli hadis yang lainnya. [2]Dalam salah satu kitab terakhir karya beliau, yaitu kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, sangat jelas pernyataan dari beliau bahwa beliau bertaubat dari madzhab Mu’tazilah dan Kullabiyah dan rujuk (kembali) ke ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Beliau rahimahullahu Ta’ala dengan sangat jelas dan tegas berkata,قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها، التمسك بكتاب ربنا عز وجل، وسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وما روى عن الصحابة والتابعين وأئمة المحدثين، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل – نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته – قائلون، ولما خالف قوله مخالفون؛ لأنه الإمام الفاضل، والرئيس الكامل، الذي أبان الله به الحق، ودفع به الضلال، وأوضح به المنهاج، وقمع به بدع المبتدعين، وزيع الزائغين، وشك الشاكين …“Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, (juga berpegang teguh dengan) apa yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in, para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. (Kami juga berpegang teguh) dengan (aqidah) Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Semoga Allah Ta’ala mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau, melimpahkan pahala bagi beliau. Kami juga menyelisihi orang-orang yang menyelisihi aqidah beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (memiliki keutamaan) dan pemimpn yang sempurna. Melalui diri beliau, Allah Ta’ala membuat terang (jalan) kebenaran dan menolak kesesatan, menjelaskan manhaj, memberantas bid’ah yang dilakukan oleh ahli bid’ah, (serta memberantas) penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dan keraguan orang-orang yang ragu … ” [3]Kembalinya beliau ke aqidah ahlus sunnah juga ditegaskan di dua kitab beliau lainnya, yaitu Maqaalat Islamiyyin wa Ikhtilaafil Musholliin [4] dan kitab Risaalah ila Ahli Tsaghr [5].Salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’i, yaitu Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa di antara sebab kembalinya Abul Hasan Al-‘Asy’ari ke dalam aqidah ahlus sunnah adalah pertemuan beliau dengan Zakaria As-Saaji (wafat tahun 307 H), yaitu ulama ahli hadits yang tinggal di kota Bashrah dan beraqidah ahlus sunnah. [6]Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menyebutkan biografi Zakaria As-Saaji,وَكَانَ مِنْ أَئِمَّةِ الحَدِيْثِ. أَخَذَ عَنْهُ: أَبُو الحَسَنِ الأَشْعَرِيّ مَقَالَة السَّلَف فِي الصِّفَات، وَاعتمد عَلَيْهَا أَبُو الحَسَنِ فِي عِدَّة تآلِيف.“Beliau adalah imam ahli hadits. Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil pendapat ulama salaf (ahlus sunnah) darinya dalam masalah terkait sifat-sifat (Allah). Abul Hasan Al-Asy’ari juga berpegang dengannya (As-Saaji) dalam beberapa karya tulis beliau.” [7]Dan telah kita maklumi bersama, bagaimanakah aqidah ahlus sunnah dalam masalah nama dan sifat Allah. Ahlus sunnah menetapkan seluruh nama dan sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan dzahirnya, tanpa tahrif (takwil), ta’thil, takyif, dan tasybih. Ahlus sunnah meyakini dan menetapkan sifat as-sam’u (mendengar) bagi Allah, sesuai keagungan dan kebesaran Allah, tidak serupa dengan makhluk-Nya. Ahlus sunnah juga menetapkan sifat dua tangan (yadain) yang hakiki (bukan majas yang ditakwil menjadi nikmat atau kekuatan), sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan demikian seterusnya. [8]Namun sangat disayangkan, bahwa aqidah yang tersebar sampai saat ini adalah ‘aqidah beliau pada fase kedua, yaitu fase Kullabiyah. Dan dalam beberapa masalah, justru mirip dengan aqidah Mu’tazilah. Namun mereka menyangka bahwa aqidah mereka saat ini (yang hakikatnya adalah ‘aqidah Kullabiyah, namun mereka sebut dengan ‘aqidah Asy’ariyyah) masih mengikuti ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari. Padahal beliau sendiri telah bertaubat dari ‘aqidah Kullabiyah dan kembali jalan ahlus sunnah, sebagaimana yang telah beliau tegaskan sendiri dalam tiga kitab tersebut. Oleh karena itu, kaum (golongan) Asy’ariyyah (Asyaa’irah) pada hakikatnya bukanlah pengikut sejati dari Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, sebagaimana yang akan kami bahas di seri-seri selanjutnya dari tulisan ini. Contohnya, aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan hanya tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Silakan dibaca kembali serial tulisan kami berikut ini (ada lima seri tulisan):https://muslim.or.id/36799-mengapa-engkau-enggan-mengenal-tuhanmu-01.html[2]     Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 755-762[3]    Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah 1/201, karya Abul Hasan Al-Asy’ari, tahqiq: Shalih bin Muqbil bin ‘Abdullah Al-Ushaimi At-Tamimi, cetakan pertama, penerbit Daarul Fadhilah, Riyadh KSA.[4]     Dicetak dengan tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, penerbit Maktabah Al-‘Ashriyyah, Beirut, tahun 1411.[5]     Dicetak dengan tahqiq ‘Abdullah Syakir Muhammad Al-Junaidi, penerbit Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam, Madinah KSA, tahun 1422.[6]    Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah, hal. 765.[7]    Siyaar A’laam An-Nubalaa’, 14/198 (cet. Muassasah Ar-Risaalah tahun 1405, Maktabah Asy-Syamilah).     [8]     Silakan dibaca pembahasannya di sini:https://muslim.or.id/29794-larangan-terhadap-nama-dan-sifat-allah.html🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah Rasul, Cara Membaca Huruf Arab Gundul, Dalil Tentang Taat, Memelihara Anjing Dalam Islam, Sami Yusuf Syiah


Di antara ilmu yang paling agung dan paling mulia adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (tauhid asmaa’ wa shifaat). Hal ini sebagaimana yang telah kami uraikan panjang lebar di serial tulisan sebelumnya. [1] Masalah aqidah, termasuk dalam masalah tauhid asmaa’ wa shifaat, haruslah diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, seiring dengan berpalingnya kaum muslimin dari agamanya, maka aqidah yang lurus, yaitu aqidah ahlus sunnah, seolah menjadi aqidah yang aneh dan terasing di tengah-tengah umat Islam sendiri. Sebaliknya, aqidah yang tersebar dan lebih dikenal adalah aqidah yang menyimpang dari jalan dan pemahaman sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara contoh kesalahan dalam masalah nama dan sifat Allah yang sudah tersebar luas di kalangan kaum muslimin adalah keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala hanya memiliki tujuh atau dua puluh sifat saja. Kedua puluh sifat tersebut juga telah dihafal oleh banyak kaum muslimin sehingga sering pula kita dengarkan melalui masjid-masjid di antara adzan dan iqomah. Pemahaman seperti ini sebetulnya berasal dari para tokoh yang menisbatkan diri kepada madzhab Asy’ariyyah.Mengenal ‘Aqidah (Madzhab) Asy’ariyyahMadzhab Asy’ariyyah adalah madzhab yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 324 H). Pada fase awal (fase pertama) kehidupan beliau, beliau tenggelam dalam aqidah Mu’tazilah. Dalam masalah nama dan sifat Allah Ta’ala, madzhab Mu’tazilah ini hanya menetapkan nama untuk Allah Ta’ala, namun menolak sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya. Dengan kata lain, bagi kaum Mu’tazilah, nama Allah Ta’ala hanyalah sekedar nama, namun tidak menunjukkan sifat yang mulia. Beliau tenggelam dalam madzhab Mu’tazilah karena pengaruh didikan ayah tirinya selama 40 tahun, yaitu Abu ‘Ali Al-Juba’i, seorang tokoh besar Mu’tazilah ketika itu yang berdomisili di kota Bashrah (Irak).Sayangnya, setelah bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah, beliau justru terjerumus dalam madzhab Kullabiyah, yaitu madzhab yang dinisbatkan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Muhammad bin Kullab Al-Bashri (wafat tahun 240 H). Namun, Allah Ta’ala ternyata menghendaki kebaikan (hidayah) untuk beliau. Sehingga pada akhir-akhir kehidupannya, beliau menyatakan bertaubat dari pemikirannya tersebut (Kullabiyah) dan kembali mengikuti aqidah ahlus sunnah, yaitu aqidah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal rahimahullahu Ta’ala dan para imam ahli hadis yang lainnya. [2]Dalam salah satu kitab terakhir karya beliau, yaitu kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, sangat jelas pernyataan dari beliau bahwa beliau bertaubat dari madzhab Mu’tazilah dan Kullabiyah dan rujuk (kembali) ke ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Beliau rahimahullahu Ta’ala dengan sangat jelas dan tegas berkata,قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها، التمسك بكتاب ربنا عز وجل، وسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وما روى عن الصحابة والتابعين وأئمة المحدثين، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل – نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته – قائلون، ولما خالف قوله مخالفون؛ لأنه الإمام الفاضل، والرئيس الكامل، الذي أبان الله به الحق، ودفع به الضلال، وأوضح به المنهاج، وقمع به بدع المبتدعين، وزيع الزائغين، وشك الشاكين …“Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, (juga berpegang teguh dengan) apa yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in, para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. (Kami juga berpegang teguh) dengan (aqidah) Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Semoga Allah Ta’ala mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau, melimpahkan pahala bagi beliau. Kami juga menyelisihi orang-orang yang menyelisihi aqidah beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (memiliki keutamaan) dan pemimpn yang sempurna. Melalui diri beliau, Allah Ta’ala membuat terang (jalan) kebenaran dan menolak kesesatan, menjelaskan manhaj, memberantas bid’ah yang dilakukan oleh ahli bid’ah, (serta memberantas) penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dan keraguan orang-orang yang ragu … ” [3]Kembalinya beliau ke aqidah ahlus sunnah juga ditegaskan di dua kitab beliau lainnya, yaitu Maqaalat Islamiyyin wa Ikhtilaafil Musholliin [4] dan kitab Risaalah ila Ahli Tsaghr [5].Salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’i, yaitu Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa di antara sebab kembalinya Abul Hasan Al-‘Asy’ari ke dalam aqidah ahlus sunnah adalah pertemuan beliau dengan Zakaria As-Saaji (wafat tahun 307 H), yaitu ulama ahli hadits yang tinggal di kota Bashrah dan beraqidah ahlus sunnah. [6]Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menyebutkan biografi Zakaria As-Saaji,وَكَانَ مِنْ أَئِمَّةِ الحَدِيْثِ. أَخَذَ عَنْهُ: أَبُو الحَسَنِ الأَشْعَرِيّ مَقَالَة السَّلَف فِي الصِّفَات، وَاعتمد عَلَيْهَا أَبُو الحَسَنِ فِي عِدَّة تآلِيف.“Beliau adalah imam ahli hadits. Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil pendapat ulama salaf (ahlus sunnah) darinya dalam masalah terkait sifat-sifat (Allah). Abul Hasan Al-Asy’ari juga berpegang dengannya (As-Saaji) dalam beberapa karya tulis beliau.” [7]Dan telah kita maklumi bersama, bagaimanakah aqidah ahlus sunnah dalam masalah nama dan sifat Allah. Ahlus sunnah menetapkan seluruh nama dan sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan dzahirnya, tanpa tahrif (takwil), ta’thil, takyif, dan tasybih. Ahlus sunnah meyakini dan menetapkan sifat as-sam’u (mendengar) bagi Allah, sesuai keagungan dan kebesaran Allah, tidak serupa dengan makhluk-Nya. Ahlus sunnah juga menetapkan sifat dua tangan (yadain) yang hakiki (bukan majas yang ditakwil menjadi nikmat atau kekuatan), sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan demikian seterusnya. [8]Namun sangat disayangkan, bahwa aqidah yang tersebar sampai saat ini adalah ‘aqidah beliau pada fase kedua, yaitu fase Kullabiyah. Dan dalam beberapa masalah, justru mirip dengan aqidah Mu’tazilah. Namun mereka menyangka bahwa aqidah mereka saat ini (yang hakikatnya adalah ‘aqidah Kullabiyah, namun mereka sebut dengan ‘aqidah Asy’ariyyah) masih mengikuti ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari. Padahal beliau sendiri telah bertaubat dari ‘aqidah Kullabiyah dan kembali jalan ahlus sunnah, sebagaimana yang telah beliau tegaskan sendiri dalam tiga kitab tersebut. Oleh karena itu, kaum (golongan) Asy’ariyyah (Asyaa’irah) pada hakikatnya bukanlah pengikut sejati dari Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, sebagaimana yang akan kami bahas di seri-seri selanjutnya dari tulisan ini. Contohnya, aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan hanya tujuh atau dua puluh sifat saja bagi Allah Ta’ala.[Bersambung]***Diselesaikan ba’da shubuh, Rotterdam NL, 9 Rajab 1439/28 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Silakan dibaca kembali serial tulisan kami berikut ini (ada lima seri tulisan):https://muslim.or.id/36799-mengapa-engkau-enggan-mengenal-tuhanmu-01.html[2]     Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 755-762[3]    Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah 1/201, karya Abul Hasan Al-Asy’ari, tahqiq: Shalih bin Muqbil bin ‘Abdullah Al-Ushaimi At-Tamimi, cetakan pertama, penerbit Daarul Fadhilah, Riyadh KSA.[4]     Dicetak dengan tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, penerbit Maktabah Al-‘Ashriyyah, Beirut, tahun 1411.[5]     Dicetak dengan tahqiq ‘Abdullah Syakir Muhammad Al-Junaidi, penerbit Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam, Madinah KSA, tahun 1422.[6]    Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah, hal. 765.[7]    Siyaar A’laam An-Nubalaa’, 14/198 (cet. Muassasah Ar-Risaalah tahun 1405, Maktabah Asy-Syamilah).     [8]     Silakan dibaca pembahasannya di sini:https://muslim.or.id/29794-larangan-terhadap-nama-dan-sifat-allah.html🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah Rasul, Cara Membaca Huruf Arab Gundul, Dalil Tentang Taat, Memelihara Anjing Dalam Islam, Sami Yusuf Syiah

Di Antara Tanda Keberkahan Ilmu

Sebagian orang begitu bersemangat belajar ilmu agama, namun dia tidak menyadari bahwa dia telah kehilangan keberkahan dari ilmu agama yang dia pelajari. Ketika dia telah belajar banyak cabang dalam ilmu agama, dia pun mulai menyanjung dan memuji dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya memiliki lautan ilmu, seakan-akan dia seorang Rasul yang mendapatkan wahyu.Mereka inilah orang-orang yang tidak mendapatkan keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu tidaklah ditandai dengan ilmu yang luas dan banyak, mengetahui segalanya, bahkan setiap detil perselisihan ulama dalam cabang ilmu tertentu. Bisa jadi ilmu seseorang itu banyak dan luas, namun dia tidak mendapatkan keberkahannya.Lalu, apakah tanda keberkahan ilmu tersebut?Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,… من خشية الإنسان لربه عز وجل وإنابته إليه، والحقيقة أن العلم إذا لم يثمر خشية الله عز وجل، والإنابة إليه، والتعلق به سبحانه وتعالى، واحترام المسلمين، فإنه علم فاقد البركة، بل قد يختم لمن سلك هذا المسلك بخاتمة سيئة …“(Tanda keberkahan ilmu adalah) takutnya seseorang kepada Allah Ta’ala dan bertaubat (kembali) kepada-Nya. Pada hakikatnya, jika ilmu tidak menumbuhkan (membuahkan) rasa takut kepada Allah Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, bersandarnya hati kepada-Nya, dan memuliakan kaum muslimin, maka ilmu tersebut telah kehilangan berkahnya. Bahkan, bisa jadi orang tersebut akan menutup amalnya dengan kejelekan.”Demikian juga, hendaknya mereka (para penuntut ilmu) senantiasa memuliakan para ulama terdahulu (salafus shalih), meskipun kita meyakini bahwa mereka tidaklah selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Kita meyakini bahwa para ulama adalah manusia biasa yang mungkin saja melakukan kesalahan. Sebagaimana halnya kita pun sangat-sangat mungkin melakukan kesalahan. Akan tetapi, jika kita telah melihat kesalahan nyata yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita tidak boleh menerima dan mengambil pendapat yang keliru tersebut. Namun, kita wajib memaklumi dan memberikan ‘udzur kepada mereka rahimahumullah, karena kita tahu bahwa maksud mereka adalah maksud yang baik, yaitu untuk mencari kebenaran. Kita tidak boleh mencela mereka atau mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas kepada mereka. Hendaknya setiap kita bisa membaca kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala yang berjudul Raf’ul Malaam ‘an Aimmatil A’laam agar kita memahami bagaimanakah bersikap yang benar terhadap para ulama rahimahumullahu Ta’ala.Belajarlah adab kepada para ulama dan orang-orang awam, barulah kemudian belajar ilmu …***Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 16 Rajab 1439/4 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Disarikan dari: Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Madaarul Wathan, Riyadh KSA, tahun 1434, hal. 63-64.🔍 Hadits Tentang Poligami, Hikmah Sakit Menurut Islam, Hukum Memakan Harta Warisan, Kalender Hijriyah Sekarang, Nisan Kuburan Islam

Di Antara Tanda Keberkahan Ilmu

Sebagian orang begitu bersemangat belajar ilmu agama, namun dia tidak menyadari bahwa dia telah kehilangan keberkahan dari ilmu agama yang dia pelajari. Ketika dia telah belajar banyak cabang dalam ilmu agama, dia pun mulai menyanjung dan memuji dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya memiliki lautan ilmu, seakan-akan dia seorang Rasul yang mendapatkan wahyu.Mereka inilah orang-orang yang tidak mendapatkan keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu tidaklah ditandai dengan ilmu yang luas dan banyak, mengetahui segalanya, bahkan setiap detil perselisihan ulama dalam cabang ilmu tertentu. Bisa jadi ilmu seseorang itu banyak dan luas, namun dia tidak mendapatkan keberkahannya.Lalu, apakah tanda keberkahan ilmu tersebut?Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,… من خشية الإنسان لربه عز وجل وإنابته إليه، والحقيقة أن العلم إذا لم يثمر خشية الله عز وجل، والإنابة إليه، والتعلق به سبحانه وتعالى، واحترام المسلمين، فإنه علم فاقد البركة، بل قد يختم لمن سلك هذا المسلك بخاتمة سيئة …“(Tanda keberkahan ilmu adalah) takutnya seseorang kepada Allah Ta’ala dan bertaubat (kembali) kepada-Nya. Pada hakikatnya, jika ilmu tidak menumbuhkan (membuahkan) rasa takut kepada Allah Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, bersandarnya hati kepada-Nya, dan memuliakan kaum muslimin, maka ilmu tersebut telah kehilangan berkahnya. Bahkan, bisa jadi orang tersebut akan menutup amalnya dengan kejelekan.”Demikian juga, hendaknya mereka (para penuntut ilmu) senantiasa memuliakan para ulama terdahulu (salafus shalih), meskipun kita meyakini bahwa mereka tidaklah selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Kita meyakini bahwa para ulama adalah manusia biasa yang mungkin saja melakukan kesalahan. Sebagaimana halnya kita pun sangat-sangat mungkin melakukan kesalahan. Akan tetapi, jika kita telah melihat kesalahan nyata yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita tidak boleh menerima dan mengambil pendapat yang keliru tersebut. Namun, kita wajib memaklumi dan memberikan ‘udzur kepada mereka rahimahumullah, karena kita tahu bahwa maksud mereka adalah maksud yang baik, yaitu untuk mencari kebenaran. Kita tidak boleh mencela mereka atau mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas kepada mereka. Hendaknya setiap kita bisa membaca kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala yang berjudul Raf’ul Malaam ‘an Aimmatil A’laam agar kita memahami bagaimanakah bersikap yang benar terhadap para ulama rahimahumullahu Ta’ala.Belajarlah adab kepada para ulama dan orang-orang awam, barulah kemudian belajar ilmu …***Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 16 Rajab 1439/4 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Disarikan dari: Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Madaarul Wathan, Riyadh KSA, tahun 1434, hal. 63-64.🔍 Hadits Tentang Poligami, Hikmah Sakit Menurut Islam, Hukum Memakan Harta Warisan, Kalender Hijriyah Sekarang, Nisan Kuburan Islam
Sebagian orang begitu bersemangat belajar ilmu agama, namun dia tidak menyadari bahwa dia telah kehilangan keberkahan dari ilmu agama yang dia pelajari. Ketika dia telah belajar banyak cabang dalam ilmu agama, dia pun mulai menyanjung dan memuji dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya memiliki lautan ilmu, seakan-akan dia seorang Rasul yang mendapatkan wahyu.Mereka inilah orang-orang yang tidak mendapatkan keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu tidaklah ditandai dengan ilmu yang luas dan banyak, mengetahui segalanya, bahkan setiap detil perselisihan ulama dalam cabang ilmu tertentu. Bisa jadi ilmu seseorang itu banyak dan luas, namun dia tidak mendapatkan keberkahannya.Lalu, apakah tanda keberkahan ilmu tersebut?Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,… من خشية الإنسان لربه عز وجل وإنابته إليه، والحقيقة أن العلم إذا لم يثمر خشية الله عز وجل، والإنابة إليه، والتعلق به سبحانه وتعالى، واحترام المسلمين، فإنه علم فاقد البركة، بل قد يختم لمن سلك هذا المسلك بخاتمة سيئة …“(Tanda keberkahan ilmu adalah) takutnya seseorang kepada Allah Ta’ala dan bertaubat (kembali) kepada-Nya. Pada hakikatnya, jika ilmu tidak menumbuhkan (membuahkan) rasa takut kepada Allah Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, bersandarnya hati kepada-Nya, dan memuliakan kaum muslimin, maka ilmu tersebut telah kehilangan berkahnya. Bahkan, bisa jadi orang tersebut akan menutup amalnya dengan kejelekan.”Demikian juga, hendaknya mereka (para penuntut ilmu) senantiasa memuliakan para ulama terdahulu (salafus shalih), meskipun kita meyakini bahwa mereka tidaklah selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Kita meyakini bahwa para ulama adalah manusia biasa yang mungkin saja melakukan kesalahan. Sebagaimana halnya kita pun sangat-sangat mungkin melakukan kesalahan. Akan tetapi, jika kita telah melihat kesalahan nyata yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita tidak boleh menerima dan mengambil pendapat yang keliru tersebut. Namun, kita wajib memaklumi dan memberikan ‘udzur kepada mereka rahimahumullah, karena kita tahu bahwa maksud mereka adalah maksud yang baik, yaitu untuk mencari kebenaran. Kita tidak boleh mencela mereka atau mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas kepada mereka. Hendaknya setiap kita bisa membaca kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala yang berjudul Raf’ul Malaam ‘an Aimmatil A’laam agar kita memahami bagaimanakah bersikap yang benar terhadap para ulama rahimahumullahu Ta’ala.Belajarlah adab kepada para ulama dan orang-orang awam, barulah kemudian belajar ilmu …***Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 16 Rajab 1439/4 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Disarikan dari: Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Madaarul Wathan, Riyadh KSA, tahun 1434, hal. 63-64.🔍 Hadits Tentang Poligami, Hikmah Sakit Menurut Islam, Hukum Memakan Harta Warisan, Kalender Hijriyah Sekarang, Nisan Kuburan Islam


Sebagian orang begitu bersemangat belajar ilmu agama, namun dia tidak menyadari bahwa dia telah kehilangan keberkahan dari ilmu agama yang dia pelajari. Ketika dia telah belajar banyak cabang dalam ilmu agama, dia pun mulai menyanjung dan memuji dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya memiliki lautan ilmu, seakan-akan dia seorang Rasul yang mendapatkan wahyu.Mereka inilah orang-orang yang tidak mendapatkan keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu tidaklah ditandai dengan ilmu yang luas dan banyak, mengetahui segalanya, bahkan setiap detil perselisihan ulama dalam cabang ilmu tertentu. Bisa jadi ilmu seseorang itu banyak dan luas, namun dia tidak mendapatkan keberkahannya.Lalu, apakah tanda keberkahan ilmu tersebut?Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,… من خشية الإنسان لربه عز وجل وإنابته إليه، والحقيقة أن العلم إذا لم يثمر خشية الله عز وجل، والإنابة إليه، والتعلق به سبحانه وتعالى، واحترام المسلمين، فإنه علم فاقد البركة، بل قد يختم لمن سلك هذا المسلك بخاتمة سيئة …“(Tanda keberkahan ilmu adalah) takutnya seseorang kepada Allah Ta’ala dan bertaubat (kembali) kepada-Nya. Pada hakikatnya, jika ilmu tidak menumbuhkan (membuahkan) rasa takut kepada Allah Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, bersandarnya hati kepada-Nya, dan memuliakan kaum muslimin, maka ilmu tersebut telah kehilangan berkahnya. Bahkan, bisa jadi orang tersebut akan menutup amalnya dengan kejelekan.”Demikian juga, hendaknya mereka (para penuntut ilmu) senantiasa memuliakan para ulama terdahulu (salafus shalih), meskipun kita meyakini bahwa mereka tidaklah selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Kita meyakini bahwa para ulama adalah manusia biasa yang mungkin saja melakukan kesalahan. Sebagaimana halnya kita pun sangat-sangat mungkin melakukan kesalahan. Akan tetapi, jika kita telah melihat kesalahan nyata yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita tidak boleh menerima dan mengambil pendapat yang keliru tersebut. Namun, kita wajib memaklumi dan memberikan ‘udzur kepada mereka rahimahumullah, karena kita tahu bahwa maksud mereka adalah maksud yang baik, yaitu untuk mencari kebenaran. Kita tidak boleh mencela mereka atau mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas kepada mereka. Hendaknya setiap kita bisa membaca kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala yang berjudul Raf’ul Malaam ‘an Aimmatil A’laam agar kita memahami bagaimanakah bersikap yang benar terhadap para ulama rahimahumullahu Ta’ala.Belajarlah adab kepada para ulama dan orang-orang awam, barulah kemudian belajar ilmu …***Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 16 Rajab 1439/4 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Disarikan dari: Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Madaarul Wathan, Riyadh KSA, tahun 1434, hal. 63-64.🔍 Hadits Tentang Poligami, Hikmah Sakit Menurut Islam, Hukum Memakan Harta Warisan, Kalender Hijriyah Sekarang, Nisan Kuburan Islam

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 2)

Dalil-Dalil dari As-Sunnah tentang Penetapan Sifat KalamDemikian pula, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan kapan saja Allah kehendaki.Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَسَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ“Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah di antara Allah dan kalian” (HR. Bukhari no. 6539, 7512 dan Muslim no. 1016).Berkaitan dengan hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam kitab Ushuulus Sunnah yang berisi pokok-pokok aqidah ahlus sunnah,وَأَن الله تَعَالَى يكلمهُ الْعباد يَوْم الْقِيَامَة لَيْسَ بَينهم وَبَينه ترجمان والتصديق بِهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan berbicara dengan hamba-hambaNya pada hari kiamat, tidak ada penerjemah di antara Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Wajib untuk beriman dan membenarkannya.”Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ“Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Adam.’ Nabi Adam ‘alaihis salam menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu.’ Kemudian Adam dipanggil dengan suatu suara, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruhmu untuk mengeluarkan utusan-utusan dari anak cucumu ke neraka'” (HR. Bukhari no. 7483).Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits tersebut di kitab Shahih-nya, dalam bab:باب قول الله تعلى : وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ“Bab firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’” (QS. Saba’ [34]: 23).Imam Bukhari rahimahullah kemudian berkata,ولم يقل : ماذا خلق ربكم“Dan (Allah) tidak mengatakan, ‘Apa yang diciptakan oleh Rabb kalian’” (Shahih Al-Bukhari, 9/141).Perkataan beliau ini menunjukkan dalamnya pemahaman dan aqidah beliau yang menunjukkan bahwa kalam Allah adalah sifat Allah, dan bukan makhluk Allah.‘Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ [بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ] قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ ” قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: ” بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat -atau bersabda dengan redaksi ‘hamba’- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan ‘buhman’. Kami bertanya, ‘Apakah buhman itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak memakai pakaian sehelai benang pun.’ Kemudian ada suara yang memanggil mereka, yang didengar oleh orang-orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang-orang yang dekat, ‘Aku adalah sang Raja, Aku adalah Dayyan (Pemberi balasan). Tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka, sedangkan dia mempunyai hak atas seorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga, sedangkan seseorang dari penduduk neraka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya, meskipun satu tamparan sekalipun.’”(Jabir bin ‘Abdullah) bertanya, “Bagaimana ini?’ Kami mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benang pun?”Beliau bersabda, “Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 16042. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan).Tambahan lafal hadits dalam kurung siku berasal dari pen-tahqiq Musnad Imam Ahmad (Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) setelah mengumpulkan berbagai kitab hadits lainnya yang juga meriwayatkan hadits ini.‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ بِالْوَحْيِ، سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا، فَيُصْعَقُونَ، فَلَا يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ، حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيلُ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالَ: فَيَقُولُونَ: يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: الْحَقَّ، فَيَقُولُونَ: الْحَقَّ، الْحَقَّ “Jika Allah berbicara (menyampaikan) wahyu, maka penduduk langit mendengar (suara) gemerincing seperti gesekan rantai di atas batu licin, hingga mereka pun pingsan. Dan mereka pun terus-menerus dalam kondisi seperti itu hingga datanglah Jibril. Ketika Jibril datang, mereka pun sadar.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu mereka berkata, wahai Jibril, apa yang disampaikan oleh Rabbmu?” Jibril menjawab, “Kebenaran.” Mereka pun berkata, “Kebenaran, kebenaran” (HR. Abu Dawud no. 4738, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara yang didengar oleh makhluk-Nya, sehingga tidaklah meninggalkan keraguan sedikit pun bagi para pencari kebenaran. Juga menunjukkan bahwa kalam Allah itu bukan makhluk. Hadits-hadits yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, namun kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa hadits di atas saja.[Bersambung]***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 22 Rajab 1439/9 April 2018Penulis: M. Saifudin HakimCatatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab (dengan sedikit penambahan): Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim (seorang ulama ahlus sunnah dari negeri Kuwait), penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 510-512.🔍 Poligami Adalah, Artikel Poligami, Doa & Zikir, Ayat Alquran Tentang Tanda Hari Kiamat, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Puasa

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 2)

Dalil-Dalil dari As-Sunnah tentang Penetapan Sifat KalamDemikian pula, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan kapan saja Allah kehendaki.Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَسَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ“Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah di antara Allah dan kalian” (HR. Bukhari no. 6539, 7512 dan Muslim no. 1016).Berkaitan dengan hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam kitab Ushuulus Sunnah yang berisi pokok-pokok aqidah ahlus sunnah,وَأَن الله تَعَالَى يكلمهُ الْعباد يَوْم الْقِيَامَة لَيْسَ بَينهم وَبَينه ترجمان والتصديق بِهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan berbicara dengan hamba-hambaNya pada hari kiamat, tidak ada penerjemah di antara Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Wajib untuk beriman dan membenarkannya.”Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ“Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Adam.’ Nabi Adam ‘alaihis salam menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu.’ Kemudian Adam dipanggil dengan suatu suara, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruhmu untuk mengeluarkan utusan-utusan dari anak cucumu ke neraka'” (HR. Bukhari no. 7483).Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits tersebut di kitab Shahih-nya, dalam bab:باب قول الله تعلى : وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ“Bab firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’” (QS. Saba’ [34]: 23).Imam Bukhari rahimahullah kemudian berkata,ولم يقل : ماذا خلق ربكم“Dan (Allah) tidak mengatakan, ‘Apa yang diciptakan oleh Rabb kalian’” (Shahih Al-Bukhari, 9/141).Perkataan beliau ini menunjukkan dalamnya pemahaman dan aqidah beliau yang menunjukkan bahwa kalam Allah adalah sifat Allah, dan bukan makhluk Allah.‘Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ [بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ] قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ ” قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: ” بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat -atau bersabda dengan redaksi ‘hamba’- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan ‘buhman’. Kami bertanya, ‘Apakah buhman itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak memakai pakaian sehelai benang pun.’ Kemudian ada suara yang memanggil mereka, yang didengar oleh orang-orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang-orang yang dekat, ‘Aku adalah sang Raja, Aku adalah Dayyan (Pemberi balasan). Tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka, sedangkan dia mempunyai hak atas seorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga, sedangkan seseorang dari penduduk neraka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya, meskipun satu tamparan sekalipun.’”(Jabir bin ‘Abdullah) bertanya, “Bagaimana ini?’ Kami mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benang pun?”Beliau bersabda, “Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 16042. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan).Tambahan lafal hadits dalam kurung siku berasal dari pen-tahqiq Musnad Imam Ahmad (Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) setelah mengumpulkan berbagai kitab hadits lainnya yang juga meriwayatkan hadits ini.‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ بِالْوَحْيِ، سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا، فَيُصْعَقُونَ، فَلَا يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ، حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيلُ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالَ: فَيَقُولُونَ: يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: الْحَقَّ، فَيَقُولُونَ: الْحَقَّ، الْحَقَّ “Jika Allah berbicara (menyampaikan) wahyu, maka penduduk langit mendengar (suara) gemerincing seperti gesekan rantai di atas batu licin, hingga mereka pun pingsan. Dan mereka pun terus-menerus dalam kondisi seperti itu hingga datanglah Jibril. Ketika Jibril datang, mereka pun sadar.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu mereka berkata, wahai Jibril, apa yang disampaikan oleh Rabbmu?” Jibril menjawab, “Kebenaran.” Mereka pun berkata, “Kebenaran, kebenaran” (HR. Abu Dawud no. 4738, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara yang didengar oleh makhluk-Nya, sehingga tidaklah meninggalkan keraguan sedikit pun bagi para pencari kebenaran. Juga menunjukkan bahwa kalam Allah itu bukan makhluk. Hadits-hadits yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, namun kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa hadits di atas saja.[Bersambung]***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 22 Rajab 1439/9 April 2018Penulis: M. Saifudin HakimCatatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab (dengan sedikit penambahan): Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim (seorang ulama ahlus sunnah dari negeri Kuwait), penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 510-512.🔍 Poligami Adalah, Artikel Poligami, Doa & Zikir, Ayat Alquran Tentang Tanda Hari Kiamat, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Puasa
Dalil-Dalil dari As-Sunnah tentang Penetapan Sifat KalamDemikian pula, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan kapan saja Allah kehendaki.Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَسَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ“Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah di antara Allah dan kalian” (HR. Bukhari no. 6539, 7512 dan Muslim no. 1016).Berkaitan dengan hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam kitab Ushuulus Sunnah yang berisi pokok-pokok aqidah ahlus sunnah,وَأَن الله تَعَالَى يكلمهُ الْعباد يَوْم الْقِيَامَة لَيْسَ بَينهم وَبَينه ترجمان والتصديق بِهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan berbicara dengan hamba-hambaNya pada hari kiamat, tidak ada penerjemah di antara Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Wajib untuk beriman dan membenarkannya.”Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ“Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Adam.’ Nabi Adam ‘alaihis salam menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu.’ Kemudian Adam dipanggil dengan suatu suara, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruhmu untuk mengeluarkan utusan-utusan dari anak cucumu ke neraka'” (HR. Bukhari no. 7483).Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits tersebut di kitab Shahih-nya, dalam bab:باب قول الله تعلى : وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ“Bab firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’” (QS. Saba’ [34]: 23).Imam Bukhari rahimahullah kemudian berkata,ولم يقل : ماذا خلق ربكم“Dan (Allah) tidak mengatakan, ‘Apa yang diciptakan oleh Rabb kalian’” (Shahih Al-Bukhari, 9/141).Perkataan beliau ini menunjukkan dalamnya pemahaman dan aqidah beliau yang menunjukkan bahwa kalam Allah adalah sifat Allah, dan bukan makhluk Allah.‘Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ [بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ] قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ ” قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: ” بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat -atau bersabda dengan redaksi ‘hamba’- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan ‘buhman’. Kami bertanya, ‘Apakah buhman itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak memakai pakaian sehelai benang pun.’ Kemudian ada suara yang memanggil mereka, yang didengar oleh orang-orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang-orang yang dekat, ‘Aku adalah sang Raja, Aku adalah Dayyan (Pemberi balasan). Tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka, sedangkan dia mempunyai hak atas seorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga, sedangkan seseorang dari penduduk neraka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya, meskipun satu tamparan sekalipun.’”(Jabir bin ‘Abdullah) bertanya, “Bagaimana ini?’ Kami mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benang pun?”Beliau bersabda, “Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 16042. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan).Tambahan lafal hadits dalam kurung siku berasal dari pen-tahqiq Musnad Imam Ahmad (Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) setelah mengumpulkan berbagai kitab hadits lainnya yang juga meriwayatkan hadits ini.‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ بِالْوَحْيِ، سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا، فَيُصْعَقُونَ، فَلَا يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ، حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيلُ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالَ: فَيَقُولُونَ: يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: الْحَقَّ، فَيَقُولُونَ: الْحَقَّ، الْحَقَّ “Jika Allah berbicara (menyampaikan) wahyu, maka penduduk langit mendengar (suara) gemerincing seperti gesekan rantai di atas batu licin, hingga mereka pun pingsan. Dan mereka pun terus-menerus dalam kondisi seperti itu hingga datanglah Jibril. Ketika Jibril datang, mereka pun sadar.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu mereka berkata, wahai Jibril, apa yang disampaikan oleh Rabbmu?” Jibril menjawab, “Kebenaran.” Mereka pun berkata, “Kebenaran, kebenaran” (HR. Abu Dawud no. 4738, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara yang didengar oleh makhluk-Nya, sehingga tidaklah meninggalkan keraguan sedikit pun bagi para pencari kebenaran. Juga menunjukkan bahwa kalam Allah itu bukan makhluk. Hadits-hadits yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, namun kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa hadits di atas saja.[Bersambung]***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 22 Rajab 1439/9 April 2018Penulis: M. Saifudin HakimCatatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab (dengan sedikit penambahan): Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim (seorang ulama ahlus sunnah dari negeri Kuwait), penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 510-512.🔍 Poligami Adalah, Artikel Poligami, Doa & Zikir, Ayat Alquran Tentang Tanda Hari Kiamat, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Puasa


Dalil-Dalil dari As-Sunnah tentang Penetapan Sifat KalamDemikian pula, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan kapan saja Allah kehendaki.Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَسَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ“Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah di antara Allah dan kalian” (HR. Bukhari no. 6539, 7512 dan Muslim no. 1016).Berkaitan dengan hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam kitab Ushuulus Sunnah yang berisi pokok-pokok aqidah ahlus sunnah,وَأَن الله تَعَالَى يكلمهُ الْعباد يَوْم الْقِيَامَة لَيْسَ بَينهم وَبَينه ترجمان والتصديق بِهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan berbicara dengan hamba-hambaNya pada hari kiamat, tidak ada penerjemah di antara Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Wajib untuk beriman dan membenarkannya.”Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقُولُ اللَّهُ: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ“Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Adam.’ Nabi Adam ‘alaihis salam menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu.’ Kemudian Adam dipanggil dengan suatu suara, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruhmu untuk mengeluarkan utusan-utusan dari anak cucumu ke neraka'” (HR. Bukhari no. 7483).Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits tersebut di kitab Shahih-nya, dalam bab:باب قول الله تعلى : وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ“Bab firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’” (QS. Saba’ [34]: 23).Imam Bukhari rahimahullah kemudian berkata,ولم يقل : ماذا خلق ربكم“Dan (Allah) tidak mengatakan, ‘Apa yang diciptakan oleh Rabb kalian’” (Shahih Al-Bukhari, 9/141).Perkataan beliau ini menunjukkan dalamnya pemahaman dan aqidah beliau yang menunjukkan bahwa kalam Allah adalah sifat Allah, dan bukan makhluk Allah.‘Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ [بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ] قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ ” قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: ” بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat -atau bersabda dengan redaksi ‘hamba’- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan ‘buhman’. Kami bertanya, ‘Apakah buhman itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak memakai pakaian sehelai benang pun.’ Kemudian ada suara yang memanggil mereka, yang didengar oleh orang-orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang-orang yang dekat, ‘Aku adalah sang Raja, Aku adalah Dayyan (Pemberi balasan). Tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka, sedangkan dia mempunyai hak atas seorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga, sedangkan seseorang dari penduduk neraka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya, meskipun satu tamparan sekalipun.’”(Jabir bin ‘Abdullah) bertanya, “Bagaimana ini?’ Kami mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benang pun?”Beliau bersabda, “Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 16042. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan).Tambahan lafal hadits dalam kurung siku berasal dari pen-tahqiq Musnad Imam Ahmad (Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) setelah mengumpulkan berbagai kitab hadits lainnya yang juga meriwayatkan hadits ini.‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ بِالْوَحْيِ، سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا، فَيُصْعَقُونَ، فَلَا يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ، حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيلُ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالَ: فَيَقُولُونَ: يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: الْحَقَّ، فَيَقُولُونَ: الْحَقَّ، الْحَقَّ “Jika Allah berbicara (menyampaikan) wahyu, maka penduduk langit mendengar (suara) gemerincing seperti gesekan rantai di atas batu licin, hingga mereka pun pingsan. Dan mereka pun terus-menerus dalam kondisi seperti itu hingga datanglah Jibril. Ketika Jibril datang, mereka pun sadar.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu mereka berkata, wahai Jibril, apa yang disampaikan oleh Rabbmu?” Jibril menjawab, “Kebenaran.” Mereka pun berkata, “Kebenaran, kebenaran” (HR. Abu Dawud no. 4738, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara yang didengar oleh makhluk-Nya, sehingga tidaklah meninggalkan keraguan sedikit pun bagi para pencari kebenaran. Juga menunjukkan bahwa kalam Allah itu bukan makhluk. Hadits-hadits yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, namun kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa hadits di atas saja.[Bersambung]***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 22 Rajab 1439/9 April 2018Penulis: M. Saifudin HakimCatatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab (dengan sedikit penambahan): Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim (seorang ulama ahlus sunnah dari negeri Kuwait), penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 510-512.🔍 Poligami Adalah, Artikel Poligami, Doa & Zikir, Ayat Alquran Tentang Tanda Hari Kiamat, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Puasa

Faedah Surat Yasin: Andai Allah Tidak Menyelamatkan Kita

Download   Pelajaran penting dari surat Yasin, hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita dari musibah. Tafsir Surah Yasin Ayat 41-44 وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44) “Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (QS. Yasin: 41-44)     Penjelasan Ayat Sebelumnya disebutkan tentang matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menunjukkan akan keagungan Allah Ta’ala. Juga untuk menunjukkan bahwa Allah itu satu-satunya yang disembah, satu-satunya pemberi nikmat, satu-satunya yang menyelamatkan kita dari musibah, dibuktikan dalam ayat yang dikaji saat ini. Dalam ayat ini diingatkan tentang nenek moyang mereka yaitu Nabi Nuh ‘alaihis salam yang diselamatkan dengan diangkut dalam kapal. Nikmat bagi nenek moyang juga nikmat yang dirasakan oleh keturunan, sehingga dalam ayat tetap dipakai istilah (dzurriyah yang artinya keturunan). Ayat ini menunjukkan bahwa jika Allah menghendaki untuk menenggelamkan, maka tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan itu atas rahmat Allah.   Pelajaran dari Ayat Ayat ini menjelaskan tentang diselamatkannya manusia dari tenggelamnya di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Seandainya Allah tidak menyelamatkan mereka, tentu habislah manusia di muka bumi. Namun atas karunia Allah, Dia menyelamatkan Nuh ‘alaihis salam dan pengikutnya. Yang tersisa di muka bumi hanyalah mereka saja, sehingga generasi berikutnya dari keturunan mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffaat: 77). Karenanya Nabi Nuh ‘alaihis salam disebut bapak manusia kedua setelah Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara nikmat Allah, Dia memberikan nikmat dengan mengajarkan bagaimanakah cara mengarungi lautan. Seandainya bukan karena karunia tersebut, tentu manusia tidak dapat menyeberangi lautan dan samudera yang luas. Bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam penuh dengan manusia dan lainnya. Karenanya disebut dalam ayat dengan ‘masy-huun’ yaitu ‘dalam bahtera yang penuh muatan’. Allah memiliki kehendak sebagaimana disebutkan dalam ayat ‘Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka’. Jika Allah menghendaki menenggelamkan manusia, maka tidak ada yang bisa mencegah. Selamatnya manusia dari tenggelam sejatinya bukan karena usaha mereka, namun karena rahmat Allah. Allah memiliki rahmat. Karenanya Allah memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Ar-Rahman artinya nama yang khusus bagi Allah, maknanya adalah memberikan rahmat (kasih sayang) yang luas. Sedangkan Ar-Rahiim juga merupakan nama Allah, maknanya adalah memberikan rahmat kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Ada pula ibarat dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badaai’ Al-Fawaid, Ar-Rahman adalah yang menyifati Allah, sedangkan Ar-Rahiim adalah perbuatan Allah yang menyayangi hamba-Nya. Allah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan sampai datang ajalnya, karenanya disebutkan dalam ayat, ‘dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika’. Kekal di dunia ini adalah suatu hal yang mustahil. Wajib bagi manusia memandang bahwa nikmat Allah dengan menyelamatkan ia dari musibah atau ia mendapatkan apa yang ia harap, semua itu adalah karunia Allah, bukan usaha manusia semata-mata.   Keadaan Orang Musyrik Ketika Selamat  Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah menerangkan dalam Al-Qawa’id Al-Arba’, “Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala, فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut [29] :65).”   Doa agar Diberi Kesehatan dan Berlindung dari Musibah Mendadak اللَّهُمَّ إِنِّيٍ أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim, no. 2739, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)   Doa agar Ditolong oleh Allah dalam Setiap Urusan يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا YAA HAYYU YAA QOYYUUM BI RAHMATIKA ASTAGHIITSU, WA ASH-LIHLII SYA’NII KULLAHU WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII THORFATA ‘AININ ABADAN. Artinya: Wahai Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang Berdiri Sendiri dan tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku walau sekejap mata pun tanpa mendapat pertolongan dari-Mu, selamanya. (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 46; An-Nasai dalam Al-Kubra, 381:570, Al-Bazzar dalam Musnad-nya 4:25:3107; Al-Hakim, 1:545. Sanad hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 227)   Moga Allah beri kemudahan agar selamat dari berbagai musibah.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Muslim Tetapi Musyrik. Cetakan pertama, Tahun 2018. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedelapan, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 50 Doa Mengatasi Problem Hidup. Cetakan kedua, Tahun 2017. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. — Artikel Kajian Malam Kamis di Darush Sholihin, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Andai Allah Tidak Menyelamatkan Kita

Download   Pelajaran penting dari surat Yasin, hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita dari musibah. Tafsir Surah Yasin Ayat 41-44 وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44) “Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (QS. Yasin: 41-44)     Penjelasan Ayat Sebelumnya disebutkan tentang matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menunjukkan akan keagungan Allah Ta’ala. Juga untuk menunjukkan bahwa Allah itu satu-satunya yang disembah, satu-satunya pemberi nikmat, satu-satunya yang menyelamatkan kita dari musibah, dibuktikan dalam ayat yang dikaji saat ini. Dalam ayat ini diingatkan tentang nenek moyang mereka yaitu Nabi Nuh ‘alaihis salam yang diselamatkan dengan diangkut dalam kapal. Nikmat bagi nenek moyang juga nikmat yang dirasakan oleh keturunan, sehingga dalam ayat tetap dipakai istilah (dzurriyah yang artinya keturunan). Ayat ini menunjukkan bahwa jika Allah menghendaki untuk menenggelamkan, maka tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan itu atas rahmat Allah.   Pelajaran dari Ayat Ayat ini menjelaskan tentang diselamatkannya manusia dari tenggelamnya di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Seandainya Allah tidak menyelamatkan mereka, tentu habislah manusia di muka bumi. Namun atas karunia Allah, Dia menyelamatkan Nuh ‘alaihis salam dan pengikutnya. Yang tersisa di muka bumi hanyalah mereka saja, sehingga generasi berikutnya dari keturunan mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffaat: 77). Karenanya Nabi Nuh ‘alaihis salam disebut bapak manusia kedua setelah Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara nikmat Allah, Dia memberikan nikmat dengan mengajarkan bagaimanakah cara mengarungi lautan. Seandainya bukan karena karunia tersebut, tentu manusia tidak dapat menyeberangi lautan dan samudera yang luas. Bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam penuh dengan manusia dan lainnya. Karenanya disebut dalam ayat dengan ‘masy-huun’ yaitu ‘dalam bahtera yang penuh muatan’. Allah memiliki kehendak sebagaimana disebutkan dalam ayat ‘Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka’. Jika Allah menghendaki menenggelamkan manusia, maka tidak ada yang bisa mencegah. Selamatnya manusia dari tenggelam sejatinya bukan karena usaha mereka, namun karena rahmat Allah. Allah memiliki rahmat. Karenanya Allah memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Ar-Rahman artinya nama yang khusus bagi Allah, maknanya adalah memberikan rahmat (kasih sayang) yang luas. Sedangkan Ar-Rahiim juga merupakan nama Allah, maknanya adalah memberikan rahmat kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Ada pula ibarat dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badaai’ Al-Fawaid, Ar-Rahman adalah yang menyifati Allah, sedangkan Ar-Rahiim adalah perbuatan Allah yang menyayangi hamba-Nya. Allah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan sampai datang ajalnya, karenanya disebutkan dalam ayat, ‘dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika’. Kekal di dunia ini adalah suatu hal yang mustahil. Wajib bagi manusia memandang bahwa nikmat Allah dengan menyelamatkan ia dari musibah atau ia mendapatkan apa yang ia harap, semua itu adalah karunia Allah, bukan usaha manusia semata-mata.   Keadaan Orang Musyrik Ketika Selamat  Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah menerangkan dalam Al-Qawa’id Al-Arba’, “Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala, فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut [29] :65).”   Doa agar Diberi Kesehatan dan Berlindung dari Musibah Mendadak اللَّهُمَّ إِنِّيٍ أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim, no. 2739, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)   Doa agar Ditolong oleh Allah dalam Setiap Urusan يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا YAA HAYYU YAA QOYYUUM BI RAHMATIKA ASTAGHIITSU, WA ASH-LIHLII SYA’NII KULLAHU WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII THORFATA ‘AININ ABADAN. Artinya: Wahai Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang Berdiri Sendiri dan tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku walau sekejap mata pun tanpa mendapat pertolongan dari-Mu, selamanya. (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 46; An-Nasai dalam Al-Kubra, 381:570, Al-Bazzar dalam Musnad-nya 4:25:3107; Al-Hakim, 1:545. Sanad hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 227)   Moga Allah beri kemudahan agar selamat dari berbagai musibah.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Muslim Tetapi Musyrik. Cetakan pertama, Tahun 2018. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedelapan, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 50 Doa Mengatasi Problem Hidup. Cetakan kedua, Tahun 2017. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. — Artikel Kajian Malam Kamis di Darush Sholihin, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin
Download   Pelajaran penting dari surat Yasin, hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita dari musibah. Tafsir Surah Yasin Ayat 41-44 وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44) “Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (QS. Yasin: 41-44)     Penjelasan Ayat Sebelumnya disebutkan tentang matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menunjukkan akan keagungan Allah Ta’ala. Juga untuk menunjukkan bahwa Allah itu satu-satunya yang disembah, satu-satunya pemberi nikmat, satu-satunya yang menyelamatkan kita dari musibah, dibuktikan dalam ayat yang dikaji saat ini. Dalam ayat ini diingatkan tentang nenek moyang mereka yaitu Nabi Nuh ‘alaihis salam yang diselamatkan dengan diangkut dalam kapal. Nikmat bagi nenek moyang juga nikmat yang dirasakan oleh keturunan, sehingga dalam ayat tetap dipakai istilah (dzurriyah yang artinya keturunan). Ayat ini menunjukkan bahwa jika Allah menghendaki untuk menenggelamkan, maka tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan itu atas rahmat Allah.   Pelajaran dari Ayat Ayat ini menjelaskan tentang diselamatkannya manusia dari tenggelamnya di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Seandainya Allah tidak menyelamatkan mereka, tentu habislah manusia di muka bumi. Namun atas karunia Allah, Dia menyelamatkan Nuh ‘alaihis salam dan pengikutnya. Yang tersisa di muka bumi hanyalah mereka saja, sehingga generasi berikutnya dari keturunan mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffaat: 77). Karenanya Nabi Nuh ‘alaihis salam disebut bapak manusia kedua setelah Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara nikmat Allah, Dia memberikan nikmat dengan mengajarkan bagaimanakah cara mengarungi lautan. Seandainya bukan karena karunia tersebut, tentu manusia tidak dapat menyeberangi lautan dan samudera yang luas. Bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam penuh dengan manusia dan lainnya. Karenanya disebut dalam ayat dengan ‘masy-huun’ yaitu ‘dalam bahtera yang penuh muatan’. Allah memiliki kehendak sebagaimana disebutkan dalam ayat ‘Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka’. Jika Allah menghendaki menenggelamkan manusia, maka tidak ada yang bisa mencegah. Selamatnya manusia dari tenggelam sejatinya bukan karena usaha mereka, namun karena rahmat Allah. Allah memiliki rahmat. Karenanya Allah memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Ar-Rahman artinya nama yang khusus bagi Allah, maknanya adalah memberikan rahmat (kasih sayang) yang luas. Sedangkan Ar-Rahiim juga merupakan nama Allah, maknanya adalah memberikan rahmat kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Ada pula ibarat dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badaai’ Al-Fawaid, Ar-Rahman adalah yang menyifati Allah, sedangkan Ar-Rahiim adalah perbuatan Allah yang menyayangi hamba-Nya. Allah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan sampai datang ajalnya, karenanya disebutkan dalam ayat, ‘dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika’. Kekal di dunia ini adalah suatu hal yang mustahil. Wajib bagi manusia memandang bahwa nikmat Allah dengan menyelamatkan ia dari musibah atau ia mendapatkan apa yang ia harap, semua itu adalah karunia Allah, bukan usaha manusia semata-mata.   Keadaan Orang Musyrik Ketika Selamat  Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah menerangkan dalam Al-Qawa’id Al-Arba’, “Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala, فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut [29] :65).”   Doa agar Diberi Kesehatan dan Berlindung dari Musibah Mendadak اللَّهُمَّ إِنِّيٍ أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim, no. 2739, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)   Doa agar Ditolong oleh Allah dalam Setiap Urusan يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا YAA HAYYU YAA QOYYUUM BI RAHMATIKA ASTAGHIITSU, WA ASH-LIHLII SYA’NII KULLAHU WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII THORFATA ‘AININ ABADAN. Artinya: Wahai Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang Berdiri Sendiri dan tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku walau sekejap mata pun tanpa mendapat pertolongan dari-Mu, selamanya. (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 46; An-Nasai dalam Al-Kubra, 381:570, Al-Bazzar dalam Musnad-nya 4:25:3107; Al-Hakim, 1:545. Sanad hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 227)   Moga Allah beri kemudahan agar selamat dari berbagai musibah.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Muslim Tetapi Musyrik. Cetakan pertama, Tahun 2018. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedelapan, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 50 Doa Mengatasi Problem Hidup. Cetakan kedua, Tahun 2017. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. — Artikel Kajian Malam Kamis di Darush Sholihin, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin


Download   Pelajaran penting dari surat Yasin, hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita dari musibah. Tafsir Surah Yasin Ayat 41-44 وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44) “Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (QS. Yasin: 41-44)     Penjelasan Ayat Sebelumnya disebutkan tentang matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menunjukkan akan keagungan Allah Ta’ala. Juga untuk menunjukkan bahwa Allah itu satu-satunya yang disembah, satu-satunya pemberi nikmat, satu-satunya yang menyelamatkan kita dari musibah, dibuktikan dalam ayat yang dikaji saat ini. Dalam ayat ini diingatkan tentang nenek moyang mereka yaitu Nabi Nuh ‘alaihis salam yang diselamatkan dengan diangkut dalam kapal. Nikmat bagi nenek moyang juga nikmat yang dirasakan oleh keturunan, sehingga dalam ayat tetap dipakai istilah (dzurriyah yang artinya keturunan). Ayat ini menunjukkan bahwa jika Allah menghendaki untuk menenggelamkan, maka tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan itu atas rahmat Allah.   Pelajaran dari Ayat Ayat ini menjelaskan tentang diselamatkannya manusia dari tenggelamnya di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Seandainya Allah tidak menyelamatkan mereka, tentu habislah manusia di muka bumi. Namun atas karunia Allah, Dia menyelamatkan Nuh ‘alaihis salam dan pengikutnya. Yang tersisa di muka bumi hanyalah mereka saja, sehingga generasi berikutnya dari keturunan mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffaat: 77). Karenanya Nabi Nuh ‘alaihis salam disebut bapak manusia kedua setelah Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara nikmat Allah, Dia memberikan nikmat dengan mengajarkan bagaimanakah cara mengarungi lautan. Seandainya bukan karena karunia tersebut, tentu manusia tidak dapat menyeberangi lautan dan samudera yang luas. Bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam penuh dengan manusia dan lainnya. Karenanya disebut dalam ayat dengan ‘masy-huun’ yaitu ‘dalam bahtera yang penuh muatan’. Allah memiliki kehendak sebagaimana disebutkan dalam ayat ‘Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka’. Jika Allah menghendaki menenggelamkan manusia, maka tidak ada yang bisa mencegah. Selamatnya manusia dari tenggelam sejatinya bukan karena usaha mereka, namun karena rahmat Allah. Allah memiliki rahmat. Karenanya Allah memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Ar-Rahman artinya nama yang khusus bagi Allah, maknanya adalah memberikan rahmat (kasih sayang) yang luas. Sedangkan Ar-Rahiim juga merupakan nama Allah, maknanya adalah memberikan rahmat kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Ada pula ibarat dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badaai’ Al-Fawaid, Ar-Rahman adalah yang menyifati Allah, sedangkan Ar-Rahiim adalah perbuatan Allah yang menyayangi hamba-Nya. Allah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan sampai datang ajalnya, karenanya disebutkan dalam ayat, ‘dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika’. Kekal di dunia ini adalah suatu hal yang mustahil. Wajib bagi manusia memandang bahwa nikmat Allah dengan menyelamatkan ia dari musibah atau ia mendapatkan apa yang ia harap, semua itu adalah karunia Allah, bukan usaha manusia semata-mata.   Keadaan Orang Musyrik Ketika Selamat  Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah menerangkan dalam Al-Qawa’id Al-Arba’, “Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala, فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut [29] :65).”   Doa agar Diberi Kesehatan dan Berlindung dari Musibah Mendadak اللَّهُمَّ إِنِّيٍ أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim, no. 2739, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)   Doa agar Ditolong oleh Allah dalam Setiap Urusan يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا YAA HAYYU YAA QOYYUUM BI RAHMATIKA ASTAGHIITSU, WA ASH-LIHLII SYA’NII KULLAHU WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII THORFATA ‘AININ ABADAN. Artinya: Wahai Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang Berdiri Sendiri dan tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku walau sekejap mata pun tanpa mendapat pertolongan dari-Mu, selamanya. (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 46; An-Nasai dalam Al-Kubra, 381:570, Al-Bazzar dalam Musnad-nya 4:25:3107; Al-Hakim, 1:545. Sanad hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 227)   Moga Allah beri kemudahan agar selamat dari berbagai musibah.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Muslim Tetapi Musyrik. Cetakan pertama, Tahun 2018. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedelapan, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 50 Doa Mengatasi Problem Hidup. Cetakan kedua, Tahun 2017. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho. — Artikel Kajian Malam Kamis di Darush Sholihin, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin

Hukum Obat Uban dengan Vitamin

Obat Uban dengan Vitamin Apa hukum obat uban atau penyubur rambut, metodenya memberi nutrisi dan vitamin bagi rambut. Bukan semir… jd prosesnya kimiawi, dari dalam.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemir uban dengan warna hitam. Jabir bin Abdillah bercerita, Abu Quhafah – ayahnya Abu Bakr as-Shiddiq – Radhiyallahu ‘anhuma pernah dibawa menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Mekkah. Rambut dan jenggotnya semuanya putih. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ Ubah warna uban ini dengan sesuatu, namun hindari wara hitam. (HR. Muslim 2102, Abu Daud 4204 dan yang lainnya). Mengenai status larangan dalam hadis ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian ada yang mengatakan, larangan di sini sifatnya makruh dan ada yang mengatakan, larangan haram. Dan InsyaaAllah, yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan haram, mengingat hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ Akan ada sekelompok kaum di akhir zaman yang mereka menyemir rambutnya dengan warna hitam, seperti dada bulu merpati yang bulunya hitam. Mereka tidak mencium bau surga. (HR. Abu Daud 4212 dan dishahihkan all-Albani). Hadis ini menunjukkan bahwa larangan menyemir rambut dengan warna hitam tidak hanya makruh, tapi ada ancaman khusus. Namun ini berlaku jika semir tersebut mengubah secara fisik. Jika perubahannya terjadi secara kimiawi, seperti obat dari dalam misalnya hormon, atau pemberian nutrisi atau vitamin, tidak termasuk dalam larangan di atas. Perbedaan perubahan secara kimiawi dan secara fisika, untuk perubahan kimiawi, prosesnya lama, dan tidak semua bisa berhasil. Sebagaimana layaknya obat. Berbeda dengan perubahan fisik, prosesnya lebih cepat, hasil langsung kelihatan, dan berlaku untuk semua, dan pengarunya lebih cepat hilang, seperti semir. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dijelaskan tentang hukum menggunakan obat uban. Setelah membawakan hadis di atas, kemudian diberi catatan, هذا إذا كان التغير ظاهريا بحيث إذا قص الشعر المتغير إلى الأسود فإنه ينبت أبيض من جديد Larangan ini berlaku jika perubahannya secara lahir (fisik), dimana ketika rambut yang dihitamkan itu dipotong, maka akan tumbuh rambut baru yang putih. أما إذا كان هذا الدهان يغير حقيقة الشعر بحيث لو حلق فإنه ينبت بعد ذلك أسود لا أبيض ، وذلك كالعلاجات الهرمونية، فإن هذا يحتمل أن يكون من باب العلاج الجائز Namun minyak ini mengubah zat rambut, dimana ketika rambut dicukur akan tumbuh hitam, bukan putih, seperti pengobatan dengan hormon, maka semacam ini lebih dekat dipahami sebagai pengobatan yang mubah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 122299) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Istri Yg Selingkuh, Doa Melihat Hantu, Arti Mimpi Sholat Di Masjid, Tanda Telinga Berdenging, Burok Kendaraan Nabi Muhammad, As Syifa Artinya Visited 280 times, 1 visit(s) today Post Views: 310 QRIS donasi Yufid

Hukum Obat Uban dengan Vitamin

Obat Uban dengan Vitamin Apa hukum obat uban atau penyubur rambut, metodenya memberi nutrisi dan vitamin bagi rambut. Bukan semir… jd prosesnya kimiawi, dari dalam.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemir uban dengan warna hitam. Jabir bin Abdillah bercerita, Abu Quhafah – ayahnya Abu Bakr as-Shiddiq – Radhiyallahu ‘anhuma pernah dibawa menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Mekkah. Rambut dan jenggotnya semuanya putih. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ Ubah warna uban ini dengan sesuatu, namun hindari wara hitam. (HR. Muslim 2102, Abu Daud 4204 dan yang lainnya). Mengenai status larangan dalam hadis ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian ada yang mengatakan, larangan di sini sifatnya makruh dan ada yang mengatakan, larangan haram. Dan InsyaaAllah, yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan haram, mengingat hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ Akan ada sekelompok kaum di akhir zaman yang mereka menyemir rambutnya dengan warna hitam, seperti dada bulu merpati yang bulunya hitam. Mereka tidak mencium bau surga. (HR. Abu Daud 4212 dan dishahihkan all-Albani). Hadis ini menunjukkan bahwa larangan menyemir rambut dengan warna hitam tidak hanya makruh, tapi ada ancaman khusus. Namun ini berlaku jika semir tersebut mengubah secara fisik. Jika perubahannya terjadi secara kimiawi, seperti obat dari dalam misalnya hormon, atau pemberian nutrisi atau vitamin, tidak termasuk dalam larangan di atas. Perbedaan perubahan secara kimiawi dan secara fisika, untuk perubahan kimiawi, prosesnya lama, dan tidak semua bisa berhasil. Sebagaimana layaknya obat. Berbeda dengan perubahan fisik, prosesnya lebih cepat, hasil langsung kelihatan, dan berlaku untuk semua, dan pengarunya lebih cepat hilang, seperti semir. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dijelaskan tentang hukum menggunakan obat uban. Setelah membawakan hadis di atas, kemudian diberi catatan, هذا إذا كان التغير ظاهريا بحيث إذا قص الشعر المتغير إلى الأسود فإنه ينبت أبيض من جديد Larangan ini berlaku jika perubahannya secara lahir (fisik), dimana ketika rambut yang dihitamkan itu dipotong, maka akan tumbuh rambut baru yang putih. أما إذا كان هذا الدهان يغير حقيقة الشعر بحيث لو حلق فإنه ينبت بعد ذلك أسود لا أبيض ، وذلك كالعلاجات الهرمونية، فإن هذا يحتمل أن يكون من باب العلاج الجائز Namun minyak ini mengubah zat rambut, dimana ketika rambut dicukur akan tumbuh hitam, bukan putih, seperti pengobatan dengan hormon, maka semacam ini lebih dekat dipahami sebagai pengobatan yang mubah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 122299) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Istri Yg Selingkuh, Doa Melihat Hantu, Arti Mimpi Sholat Di Masjid, Tanda Telinga Berdenging, Burok Kendaraan Nabi Muhammad, As Syifa Artinya Visited 280 times, 1 visit(s) today Post Views: 310 QRIS donasi Yufid
Obat Uban dengan Vitamin Apa hukum obat uban atau penyubur rambut, metodenya memberi nutrisi dan vitamin bagi rambut. Bukan semir… jd prosesnya kimiawi, dari dalam.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemir uban dengan warna hitam. Jabir bin Abdillah bercerita, Abu Quhafah – ayahnya Abu Bakr as-Shiddiq – Radhiyallahu ‘anhuma pernah dibawa menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Mekkah. Rambut dan jenggotnya semuanya putih. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ Ubah warna uban ini dengan sesuatu, namun hindari wara hitam. (HR. Muslim 2102, Abu Daud 4204 dan yang lainnya). Mengenai status larangan dalam hadis ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian ada yang mengatakan, larangan di sini sifatnya makruh dan ada yang mengatakan, larangan haram. Dan InsyaaAllah, yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan haram, mengingat hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ Akan ada sekelompok kaum di akhir zaman yang mereka menyemir rambutnya dengan warna hitam, seperti dada bulu merpati yang bulunya hitam. Mereka tidak mencium bau surga. (HR. Abu Daud 4212 dan dishahihkan all-Albani). Hadis ini menunjukkan bahwa larangan menyemir rambut dengan warna hitam tidak hanya makruh, tapi ada ancaman khusus. Namun ini berlaku jika semir tersebut mengubah secara fisik. Jika perubahannya terjadi secara kimiawi, seperti obat dari dalam misalnya hormon, atau pemberian nutrisi atau vitamin, tidak termasuk dalam larangan di atas. Perbedaan perubahan secara kimiawi dan secara fisika, untuk perubahan kimiawi, prosesnya lama, dan tidak semua bisa berhasil. Sebagaimana layaknya obat. Berbeda dengan perubahan fisik, prosesnya lebih cepat, hasil langsung kelihatan, dan berlaku untuk semua, dan pengarunya lebih cepat hilang, seperti semir. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dijelaskan tentang hukum menggunakan obat uban. Setelah membawakan hadis di atas, kemudian diberi catatan, هذا إذا كان التغير ظاهريا بحيث إذا قص الشعر المتغير إلى الأسود فإنه ينبت أبيض من جديد Larangan ini berlaku jika perubahannya secara lahir (fisik), dimana ketika rambut yang dihitamkan itu dipotong, maka akan tumbuh rambut baru yang putih. أما إذا كان هذا الدهان يغير حقيقة الشعر بحيث لو حلق فإنه ينبت بعد ذلك أسود لا أبيض ، وذلك كالعلاجات الهرمونية، فإن هذا يحتمل أن يكون من باب العلاج الجائز Namun minyak ini mengubah zat rambut, dimana ketika rambut dicukur akan tumbuh hitam, bukan putih, seperti pengobatan dengan hormon, maka semacam ini lebih dekat dipahami sebagai pengobatan yang mubah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 122299) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Istri Yg Selingkuh, Doa Melihat Hantu, Arti Mimpi Sholat Di Masjid, Tanda Telinga Berdenging, Burok Kendaraan Nabi Muhammad, As Syifa Artinya Visited 280 times, 1 visit(s) today Post Views: 310 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/440472039&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Obat Uban dengan Vitamin Apa hukum obat uban atau penyubur rambut, metodenya memberi nutrisi dan vitamin bagi rambut. Bukan semir… jd prosesnya kimiawi, dari dalam.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemir uban dengan warna hitam. Jabir bin Abdillah bercerita, Abu Quhafah – ayahnya Abu Bakr as-Shiddiq – Radhiyallahu ‘anhuma pernah dibawa menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Mekkah. Rambut dan jenggotnya semuanya putih. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ Ubah warna uban ini dengan sesuatu, namun hindari wara hitam. (HR. Muslim 2102, Abu Daud 4204 dan yang lainnya). Mengenai status larangan dalam hadis ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian ada yang mengatakan, larangan di sini sifatnya makruh dan ada yang mengatakan, larangan haram. Dan InsyaaAllah, yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan haram, mengingat hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ Akan ada sekelompok kaum di akhir zaman yang mereka menyemir rambutnya dengan warna hitam, seperti dada bulu merpati yang bulunya hitam. Mereka tidak mencium bau surga. (HR. Abu Daud 4212 dan dishahihkan all-Albani). Hadis ini menunjukkan bahwa larangan menyemir rambut dengan warna hitam tidak hanya makruh, tapi ada ancaman khusus. Namun ini berlaku jika semir tersebut mengubah secara fisik. Jika perubahannya terjadi secara kimiawi, seperti obat dari dalam misalnya hormon, atau pemberian nutrisi atau vitamin, tidak termasuk dalam larangan di atas. Perbedaan perubahan secara kimiawi dan secara fisika, untuk perubahan kimiawi, prosesnya lama, dan tidak semua bisa berhasil. Sebagaimana layaknya obat. Berbeda dengan perubahan fisik, prosesnya lebih cepat, hasil langsung kelihatan, dan berlaku untuk semua, dan pengarunya lebih cepat hilang, seperti semir. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dijelaskan tentang hukum menggunakan obat uban. Setelah membawakan hadis di atas, kemudian diberi catatan, هذا إذا كان التغير ظاهريا بحيث إذا قص الشعر المتغير إلى الأسود فإنه ينبت أبيض من جديد Larangan ini berlaku jika perubahannya secara lahir (fisik), dimana ketika rambut yang dihitamkan itu dipotong, maka akan tumbuh rambut baru yang putih. أما إذا كان هذا الدهان يغير حقيقة الشعر بحيث لو حلق فإنه ينبت بعد ذلك أسود لا أبيض ، وذلك كالعلاجات الهرمونية، فإن هذا يحتمل أن يكون من باب العلاج الجائز Namun minyak ini mengubah zat rambut, dimana ketika rambut dicukur akan tumbuh hitam, bukan putih, seperti pengobatan dengan hormon, maka semacam ini lebih dekat dipahami sebagai pengobatan yang mubah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 122299) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Dosa Istri Yg Selingkuh, Doa Melihat Hantu, Arti Mimpi Sholat Di Masjid, Tanda Telinga Berdenging, Burok Kendaraan Nabi Muhammad, As Syifa Artinya Visited 280 times, 1 visit(s) today Post Views: 310 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Berkumpul-kumpul dengan yang Rajin Berdzikir

Download   Ini sangat dianjurkan sekali demi baiknya agama seorang muslim. Karena teman sangat berpengaruh.   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ … “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka ...” (QS. Al-Kahfi: 28) Penjelasan Ayat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Duduklah bersama dengan mereka yang berdzikir kepada Allah, mereka bertahlil, bertahmid, bertasbih, bertakbir, dan berdoa kepada-Nya pagi dan petang. Kumpullah dengan mereka baik mereka itu fakir, kaya, kuat, atau lemah. Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan kepada orang-orang terhormat dari kalangan Quraisy di mana mereka minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk duduk bersama mereka seorang diri, dan tidak duduk-duduk bersama dengan orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, ‘Ammar, Shuhaib, Khabab, dan Ibnu Mas’ud. Untuk mereka kaum lemah tadi buatlah majelis sendiri. Allah pun melarang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah berfirman, وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari.” (QS. Al-An’am: 52) Allah memerintahkan kepada beliau untuk bersama duduk bersama mereka yang rajin berdzikir dari kalangan dhuafa (kaum lemah), dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:152) Yang dimaksud dengan “orang-orang yang menyeru Rabb-nya” ada dua makna, yaitu (1) mereka yang berdoa dan berdzikir kepada Rabbnya, dan (2) mereka yang beribadah kepada Rabbnya. (At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi, hlm. 123)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih 1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat kita terjatuh dalam kesalahan Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan. Lihatlah kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut ini. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ ‘Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Karenanya, penuhilah masing-masing hak tersebut.’ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, ‘Salman benar.’” (HR. Bukhari, no. 1968)   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan – istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’; beliau mengatakan, “Saya tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen.) di rumah, namun saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen.). Ummu Ad-Darda’ berkata, ‘Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?’ Saya (Shafwan) berkata, ‘Iya.’ Ummu Darda’ pun mengatakan, ‘Kalau begitu doakanlah kebaikan kepada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya pada saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”” Shafwan pun mengatakan, “Saya bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. “Ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170 dan Muslim, no. 2640)   Referensi: Al-Jalis Ash-Shalih wa Jalis As-Suu’. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab; At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi fi Sual wa Jawab. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah; Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir pertemanan teman bergaul

Berkumpul-kumpul dengan yang Rajin Berdzikir

Download   Ini sangat dianjurkan sekali demi baiknya agama seorang muslim. Karena teman sangat berpengaruh.   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ … “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka ...” (QS. Al-Kahfi: 28) Penjelasan Ayat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Duduklah bersama dengan mereka yang berdzikir kepada Allah, mereka bertahlil, bertahmid, bertasbih, bertakbir, dan berdoa kepada-Nya pagi dan petang. Kumpullah dengan mereka baik mereka itu fakir, kaya, kuat, atau lemah. Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan kepada orang-orang terhormat dari kalangan Quraisy di mana mereka minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk duduk bersama mereka seorang diri, dan tidak duduk-duduk bersama dengan orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, ‘Ammar, Shuhaib, Khabab, dan Ibnu Mas’ud. Untuk mereka kaum lemah tadi buatlah majelis sendiri. Allah pun melarang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah berfirman, وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari.” (QS. Al-An’am: 52) Allah memerintahkan kepada beliau untuk bersama duduk bersama mereka yang rajin berdzikir dari kalangan dhuafa (kaum lemah), dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:152) Yang dimaksud dengan “orang-orang yang menyeru Rabb-nya” ada dua makna, yaitu (1) mereka yang berdoa dan berdzikir kepada Rabbnya, dan (2) mereka yang beribadah kepada Rabbnya. (At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi, hlm. 123)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih 1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat kita terjatuh dalam kesalahan Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan. Lihatlah kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut ini. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ ‘Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Karenanya, penuhilah masing-masing hak tersebut.’ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, ‘Salman benar.’” (HR. Bukhari, no. 1968)   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan – istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’; beliau mengatakan, “Saya tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen.) di rumah, namun saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen.). Ummu Ad-Darda’ berkata, ‘Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?’ Saya (Shafwan) berkata, ‘Iya.’ Ummu Darda’ pun mengatakan, ‘Kalau begitu doakanlah kebaikan kepada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya pada saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”” Shafwan pun mengatakan, “Saya bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. “Ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170 dan Muslim, no. 2640)   Referensi: Al-Jalis Ash-Shalih wa Jalis As-Suu’. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab; At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi fi Sual wa Jawab. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah; Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir pertemanan teman bergaul
Download   Ini sangat dianjurkan sekali demi baiknya agama seorang muslim. Karena teman sangat berpengaruh.   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ … “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka ...” (QS. Al-Kahfi: 28) Penjelasan Ayat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Duduklah bersama dengan mereka yang berdzikir kepada Allah, mereka bertahlil, bertahmid, bertasbih, bertakbir, dan berdoa kepada-Nya pagi dan petang. Kumpullah dengan mereka baik mereka itu fakir, kaya, kuat, atau lemah. Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan kepada orang-orang terhormat dari kalangan Quraisy di mana mereka minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk duduk bersama mereka seorang diri, dan tidak duduk-duduk bersama dengan orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, ‘Ammar, Shuhaib, Khabab, dan Ibnu Mas’ud. Untuk mereka kaum lemah tadi buatlah majelis sendiri. Allah pun melarang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah berfirman, وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari.” (QS. Al-An’am: 52) Allah memerintahkan kepada beliau untuk bersama duduk bersama mereka yang rajin berdzikir dari kalangan dhuafa (kaum lemah), dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:152) Yang dimaksud dengan “orang-orang yang menyeru Rabb-nya” ada dua makna, yaitu (1) mereka yang berdoa dan berdzikir kepada Rabbnya, dan (2) mereka yang beribadah kepada Rabbnya. (At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi, hlm. 123)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih 1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat kita terjatuh dalam kesalahan Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan. Lihatlah kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut ini. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ ‘Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Karenanya, penuhilah masing-masing hak tersebut.’ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, ‘Salman benar.’” (HR. Bukhari, no. 1968)   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan – istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’; beliau mengatakan, “Saya tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen.) di rumah, namun saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen.). Ummu Ad-Darda’ berkata, ‘Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?’ Saya (Shafwan) berkata, ‘Iya.’ Ummu Darda’ pun mengatakan, ‘Kalau begitu doakanlah kebaikan kepada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya pada saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”” Shafwan pun mengatakan, “Saya bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. “Ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170 dan Muslim, no. 2640)   Referensi: Al-Jalis Ash-Shalih wa Jalis As-Suu’. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab; At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi fi Sual wa Jawab. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah; Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir pertemanan teman bergaul


Download   Ini sangat dianjurkan sekali demi baiknya agama seorang muslim. Karena teman sangat berpengaruh.   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ … “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka ...” (QS. Al-Kahfi: 28) Penjelasan Ayat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Duduklah bersama dengan mereka yang berdzikir kepada Allah, mereka bertahlil, bertahmid, bertasbih, bertakbir, dan berdoa kepada-Nya pagi dan petang. Kumpullah dengan mereka baik mereka itu fakir, kaya, kuat, atau lemah. Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan kepada orang-orang terhormat dari kalangan Quraisy di mana mereka minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk duduk bersama mereka seorang diri, dan tidak duduk-duduk bersama dengan orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, ‘Ammar, Shuhaib, Khabab, dan Ibnu Mas’ud. Untuk mereka kaum lemah tadi buatlah majelis sendiri. Allah pun melarang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah berfirman, وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari.” (QS. Al-An’am: 52) Allah memerintahkan kepada beliau untuk bersama duduk bersama mereka yang rajin berdzikir dari kalangan dhuafa (kaum lemah), dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:152) Yang dimaksud dengan “orang-orang yang menyeru Rabb-nya” ada dua makna, yaitu (1) mereka yang berdoa dan berdzikir kepada Rabbnya, dan (2) mereka yang beribadah kepada Rabbnya. (At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi, hlm. 123)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih 1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat kita terjatuh dalam kesalahan Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan. Lihatlah kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut ini. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ ‘Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Karenanya, penuhilah masing-masing hak tersebut.’ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, ‘Salman benar.’” (HR. Bukhari, no. 1968)   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan – istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’; beliau mengatakan, “Saya tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen.) di rumah, namun saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen.). Ummu Ad-Darda’ berkata, ‘Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?’ Saya (Shafwan) berkata, ‘Iya.’ Ummu Darda’ pun mengatakan, ‘Kalau begitu doakanlah kebaikan kepada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya pada saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”” Shafwan pun mengatakan, “Saya bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. “Ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170 dan Muslim, no. 2640)   Referensi: Al-Jalis Ash-Shalih wa Jalis As-Suu’. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab; At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi fi Sual wa Jawab. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah; Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Artikel Kajian MPD, 12 April 2018 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsDzikir keutamaan dzikir pertemanan teman bergaul
Prev     Next