Jenis-Jenis Muhasabah Diri

أنواع محاسبة النفس Oleh:  Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ نَوْعَانِ: أَمَّا الأَولُ: فَيقِفْ عِنْدَ أَوَّلِ هِمَّتِهِ وَإرَادَتِهِ وَلا يُبَادِرُ بالْعملِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُجْحَانُهُ على تركِهِ، قَالَ الْحسنُ: رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقفَ عندَ هَمِّهِ فَإِنْ كانَ للهِ مَضَى وَإِنْ كَانَ لَغَيْرِهِ تَأخَّرَ. Muhasabah diri terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Bermuhasabah sebelum menjalankan tekad dan keinginannya, tidak terburu-buru menjalankannya sebelum jelas baginya bahwa itu lebih baik dijalankan daripada tidak. Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam merahmati seorang hamba yang merenung terlebih dahulu sebelum menjalankan amalan yang ia inginkan, apabila keinginan itu bertujuan karena Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia menjalankannya dan jika karena selain Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengurungkannya.” النُّوع الثَّانِي: مُحَاسَبَةٌ بَعْدَ العَمَلِ، وهو ثلاثَةُ أَنْوَاعٍ: أحدُهَا مُحَاسَبَتُهَا عَلَى طَاعَةٍ قَصَّرَتْ فِيهَا مِنْ حَقَّ اللهِ فَلَمْ تُوقِعْهَا عَلَى الوَجْهِ الذي يَنْبَغِي وَحَقُّ اللهِ في الطَّاعاتِ بِمُرَاعات سِتَّةِ أُمُورٍ وهِيَ: الإخْلاصُ في العمل والنصيحةُ للهِ فيه وَمُتَابَعَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَشُهُودُهُ مَشْهَدَ الإحْسَانِ فيهِ، وَشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ فِيهِ، وَشُهُودُ تَقْصِيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ هَلْ وَفّى هَذِهِ الْمَقَامَاتِ حَقَّهَا، وَهَلْ أَتَى فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ، الثَّانِي: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ كَانَ تَركَهُ خَيرًا لَهُ مِن فعله. الثَّالث: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى أَمْرٍ مباحٍ أَوْ مُعْتَادٍ لَما فَعَلَهُ، وَهَلْ أَرَادَ بِهِ اللهِ والدَّارَ الآخِرةَ فَيَكُونُ رَابِحًا فِيهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ الدُّنْيَا وَعَاجِلَتَهَا فَيَخْسَرُ ذَلِكَ الرِّبْحَ وَيَفُوتُهُ الظَّفَرُ بِهِ. Kedua: Bermuhasabah setelah menjalankan amalan. Dan jenis ini terbagi lagi menjadi tiga: 1. Bermuhasabah atas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan yang ia kerjakan ala kadarnya, sehingga tidak ia kerjakan sebagaimana yang seharusnya. Adapun hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan harus ditegakkan di dalamnya 6 perkara, yaitu; (1) ikhlas dalam mengamalkannya, (2) tulus melaksanakannya karena Allah, (3) mengikuti tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengamalkannya, (4) menjalankannya seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatnya (derajat ihsan), (5) bersaksi atas kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dalam menjalankan amalan itu, (6) bersaksi atas ketidaksempurnaannya dalam menjalankan amalan itu setelah perkara-perkara tersebut. Ia harus memuhasabah dirinya apakah telah menjalankan sepenuhnya tingkatan-tingkatan tersebut dan apakah itu telah tercapai dalam ketaatan tersebut? 2. Bermuhasabah diri atas amalan yang jika ditinggalkan lebih baik baginya daripada dijalankan. 3. Bermuhasabah diri atas perkara mubah atau kebiasaan yang ia kerjakan; mengapa ia mengerjakannya dan apakah ia mengerjakannya karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala di kehidupan akhirat, sehingga ia mendapat keuntungan dari amalan mubah itu? Atau justru ia hanya mencari kenikmatan dunia, sehingga ia melewatkan keuntungan darinya? قَالَ: وَجِمَاعُ ذَلِكَ أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَه أولاً عَلَى الْفَرَائِضِ فَإِذَا تَذَكَّرَ فِيهَا نَقْصًا تَدَارَكَهُ إِما بِقَصَاءٍ أَوْ إِصْلاحٍ ثُمَّ يُحَاسِبُ عَلَى الْمَنَاهِي فَإنْ عَرَفَ أَنَّهُ ارْتَكَبَ مِنْهَا شَيْئًا تَدَارَكَهُ بالتَّوْبَةِ والاسْتِغْفَارِ والْحسناتِ الْمَاحِيةِ ثُمَّ يُحَاسِبُ نَفْسَه على الْغَفْلَةِ فإن كَانَ قَدْ غَفَلَ عَمَّا خُلِقَ لَهُ تَدَارَكَهُ بالذِّكْرِ والإِقْبَالِ على الله. Inti dari ini semua adalah pertama-tama seorang hamba harus bermuhasabah diri atas kewajiban-kewajibannya. Apabila ia melihat ada kekurangan di dalamnya, hendaklah ia melakukan koreksi, entah itu dengan menggantinya atau memperbaikinya. Kemudian bermuhasabah diri atas larangan-larangan, apabila ia menyadari ada larangan yang ia langgar, hendaklah ia melakukan koreksi dengan bertobat, beristighfar, dan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang dapat menggugurkan dosa. Selain itu, ia juga harus bermuhasabah diri atas kelalaian, apabila ia lalai terhadap tujuan penciptaannya, ia segera memperbaikinya dengan kembali mengingat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. ثُمَّ يُحَاسِبُهَا بِمَا تَكَلَّمَ به لِسَانُهُ أَوْ مَشَتْ بِهِ رِجْلاهُ أَوْ بَطَشَتْهُ يَدَاهُ أَوْ سَمِعَتْهُ أُذْنَاهُ مَاذَا أَرَدْتَ بِهَذَا، وَلِمَ فَعَلْتُ، وَعَلَى أَيْ وَجْهٍ فَعَلْتُهُ، وَيَعْلَمُ أنَّه لا بُدَّ أَنْ يُنْشَرَ لِكلَّ حَرَكةٍ وَكَلِمَةٍ مِنْه دِيوانٌ لِمَ فَعَلْتَهُ وَكَيْفَ فَعَلْتَهُ فَالأوَّلُ: سُؤالٌ عَنْ الإِخْلاصِ. والثَّانِي: سُؤالٌ عَنْ الْمُتَابَعَةِ: ﴿ فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ [الحجر: 92، 93]، وقَالَ: ﴿ فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ ﴾ [الأعراف: 6، 7]، وقَالَ: ﴿ لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ﴾ [الأحزاب: 8]، فَإِذَا سُئِلَ الصَّادِقونَ وحُوسِبُوا عَلَى صِدْقِهِمْ فَمَا الظَّنُ بالكَاذِبينَ؟ وقَالَ قَتَادة: كَلِمَتَانِ يُسئلُ عَنْهُمَا الأوَّلَونَ والآخِرونَ: مَاذَا كُنْتمُ تَعْبُدونَ؟ وماذا أجبْتمُ الْمُرَسلينَ، فَيُسألونَ عن الْمَعْبُودِ، وعَنِ العِبَادَةِ، وقَالَ تَعَالى: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر: 8]. شِعْرًا: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا  وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا  إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Selanjutnya hendaklah ia bermuhasabah diri atas apa yang telah diucapkan lisannya, dituju oleh langkah kakinya, digenggam oleh kedua tangannya, atau didengar oleh kedua telinganya, apa yang kamu kehendaki pada hal tersebut, mengapa saya melakukannya, dan atas alasan apa saya mengerjakannya? Ia harus mengetahui bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan yang datang darinya akan dicatat dan dipampang di hadapannya lalu ditanya, “Untuk apa kamu melakukannya?” dan “Bagaimana kamu mengerjakannya?” Pertanyaan pertama tentang keikhlasan (untuk apa), dan pertanyaan kedua tentang mengikuti tuntunan Rasul (bagaimana).  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92-93). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ “Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul. Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu) kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ “Agar Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8). Apabila orang-orang yang benar saja akan ditanya dan diberi perhitungan atas kebenaran mereka, lalu bagaimana menurutmu dengan orang-orang dusta? Qatadah berkata, “Ada dua kalimat yang akan ditanyakan kepada setiap orang dari yang pertama hingga yang terakhir, yaitu, ‘Apa yang dulu kalian sembah?’ dan ‘Apa jawaban kalian terhadap para rasul?’ Mereka ditanya tentang yang mereka ibadahi dan ibadah mereka.”  Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8). Dalam bait sair disebutkan: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا Jagalah dirimu dari kehinaan semasa hidup Dan carilah bagi dirimu kehormatan diri yang selalu kamu jaga وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا Tidak ada kebaikan yang dimiliki seseorang yang seperti kehormatan diri Jika dirinya memilih sifat itu sebagai penghias dirinya إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Apabila diri ini tidak puas dengan pembagian Sang Kuasa Atas rezeki yang datang dari-Nya, maka sebenarnya tidak tersisa lagi agamanya قَالَ مُحَمَّدُ بنُ جَريرٍ: يَقُولُ الله تَعَالى: (لِيَسْألنَّكُم اللهُ عزَّ وَجلَّ عن النَّعيمِ الذِي كُنْتمْ فِيهِ فِي الدُّنْيَا: مَاذَا عَمِلتمُ فيهِ؟ وَمِنْ أَيْنَ وَصَلتُم إِليهِ؟ وَفِيمَ أصَبْتُمُوُه؟ وَمَاذَا عملتم بِهِ؟)، وقَالَ قَتَادَةَ: إِنَّ اللهَ سَائِلٌٌ كُلَّ عَبْدٍٍ عَمَّا اسْتَوْدَعهُ مِنْ نِعمَتِهِ وَحَقِّهِ، والنَّعِيمُ الْمَسْئُولُ عَنه نَوعانِ: نَوْعٌ أُخِذَ مِنْ حِلِّهِ وصُرفَ في حَقِّهِ فُيسَأل عَنْ شُكْرِهِ، ونَوْعُ أُخَذَ بِغيرِ حِلِّه وَصُرِف فِي غَيْرَ حَقَّه فُيسأَلُ عَن مُستَخرَجه وعن مَصرَفِهِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى وُجوبِ الْمُحَاسَبِةِ قَولهُ تَعَالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر: 18]. Muhammad bin Jarir mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada kalian tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah kalian nikmati di dunia, apa amalan yang telah kalian lakukan dengan nikmat itu, dari mana kalian dapat meraih nikmat itu, bagaimana kalian mendapatkannya, dan kalian gunakan untuk apa nikmat itu?” Qatadah berkata, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada setiap hamba tentang kenikmatan dan kewajiban yang telah Dia berikan. Kenikmatan yang akan ditanyakan ada dua bentuk, jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang halal dan disalurkan dengan benar, maka akan ditanya tentang syukurnya, dan jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal dan disalurkan ke jalan yang tidak benar, maka akan ditanyakan tentang sumber dan penyaluran nikmat itu. Kewajiban bermuhasabah telah ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).” اعْلم أَيَّها الإِنسان أن النفسَ الأمارةَ بالسُّوء عَدُوّةٌ لَكَ مَعَ إِبْلِيسَ لَعَنهُ الله، وإنما يَتَقَوَّى عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ بِهَوَى النَّفْسِ وَشَهَواتِهَا، فَهِيَ سِلاحُه الذِي يَصِيدُ بِهِ وَهَلْ أَوْقَعَ إِبْلِيسَ فِي كَبْرِهِ وَمَعْصِيَتِهِ إلا نَفْسُهُ، قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلا وَتَقَدَّسَ: ﴿ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ ﴾ [يوسف: 53]. Ketahuilah, hai manusia! Hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan merupakan musuhmu selain Iblis –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya. Setan itu mendapat sokongan kekuatan dari hawa nafsu dan syahwat untuk menjerumuskanmu, sehingga itu merupakan senjata yang ia pakai untuk menjerat. Dan bukankah Iblis itu terjerumus dalam kesombongan dan keangkuhannya karena hawa nafsunya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ  “sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53). فلا تَغُرَنَّكَ نَفْسُكَ بالأَمَانِي والغُرُورِ لأنَّ مِنْ طَبْعِ النَّفْسِ الأَمْنُ والغَفْلَة والرَّاحَةُ والفَتْرةُ والكَسَلُ والعَجْزُ فَدَعْواهَا بَاطِلٌ وَكُلُ شَيْءٍ مِنْهَا غُرورٌ وَإِنْ رَضِيتَ عنها واتَّبَعْتَ أَمْرَهَا هَلَكْتَ، وَإِنْ غَفَلْتَ عَنْ مُحَاسَبَتِها غِرَقْتَ، وإنْ عَجَزْتَ عن مُخَالَفَتِهَا واتَّبعتَ هَواهَا قَادَتْكَ إلى النَّارِ. Oleh sebab itu, janganlah hawa nafsumu menghembuskan angan-angan dan tipu dayanya, karena sudah menjadi tabiat hawa nafsu selalu merasa aman, lalai, bersantai-santai, malas, dan tidak produktif. Ajakannya itu sesat, dan segala hal yang berawal darinya adalah tipu daya. Apabila kamu rela dan mengikuti ajakannya, binasalah dirimu. Jika kamu lalai dalam memperhitungkannya, terjerumuslah kamu. Dan jika kamu enggan menyelisihinya dan justru menurutinya, ia pasti menggiringmu ke neraka. Sumber: https://www.alukah.net/أنواع محاسبة النفس Sumber artikel PDF 🔍 Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Hukum Oral Suami Istri, Tawasul Kepada Nabi Muhammad, Sholat Qadha, Suami Tidak Menafkahi Istri Yang Bekerja Visited 522 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 QRIS donasi Yufid

Jenis-Jenis Muhasabah Diri

أنواع محاسبة النفس Oleh:  Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ نَوْعَانِ: أَمَّا الأَولُ: فَيقِفْ عِنْدَ أَوَّلِ هِمَّتِهِ وَإرَادَتِهِ وَلا يُبَادِرُ بالْعملِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُجْحَانُهُ على تركِهِ، قَالَ الْحسنُ: رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقفَ عندَ هَمِّهِ فَإِنْ كانَ للهِ مَضَى وَإِنْ كَانَ لَغَيْرِهِ تَأخَّرَ. Muhasabah diri terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Bermuhasabah sebelum menjalankan tekad dan keinginannya, tidak terburu-buru menjalankannya sebelum jelas baginya bahwa itu lebih baik dijalankan daripada tidak. Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam merahmati seorang hamba yang merenung terlebih dahulu sebelum menjalankan amalan yang ia inginkan, apabila keinginan itu bertujuan karena Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia menjalankannya dan jika karena selain Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengurungkannya.” النُّوع الثَّانِي: مُحَاسَبَةٌ بَعْدَ العَمَلِ، وهو ثلاثَةُ أَنْوَاعٍ: أحدُهَا مُحَاسَبَتُهَا عَلَى طَاعَةٍ قَصَّرَتْ فِيهَا مِنْ حَقَّ اللهِ فَلَمْ تُوقِعْهَا عَلَى الوَجْهِ الذي يَنْبَغِي وَحَقُّ اللهِ في الطَّاعاتِ بِمُرَاعات سِتَّةِ أُمُورٍ وهِيَ: الإخْلاصُ في العمل والنصيحةُ للهِ فيه وَمُتَابَعَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَشُهُودُهُ مَشْهَدَ الإحْسَانِ فيهِ، وَشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ فِيهِ، وَشُهُودُ تَقْصِيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ هَلْ وَفّى هَذِهِ الْمَقَامَاتِ حَقَّهَا، وَهَلْ أَتَى فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ، الثَّانِي: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ كَانَ تَركَهُ خَيرًا لَهُ مِن فعله. الثَّالث: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى أَمْرٍ مباحٍ أَوْ مُعْتَادٍ لَما فَعَلَهُ، وَهَلْ أَرَادَ بِهِ اللهِ والدَّارَ الآخِرةَ فَيَكُونُ رَابِحًا فِيهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ الدُّنْيَا وَعَاجِلَتَهَا فَيَخْسَرُ ذَلِكَ الرِّبْحَ وَيَفُوتُهُ الظَّفَرُ بِهِ. Kedua: Bermuhasabah setelah menjalankan amalan. Dan jenis ini terbagi lagi menjadi tiga: 1. Bermuhasabah atas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan yang ia kerjakan ala kadarnya, sehingga tidak ia kerjakan sebagaimana yang seharusnya. Adapun hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan harus ditegakkan di dalamnya 6 perkara, yaitu; (1) ikhlas dalam mengamalkannya, (2) tulus melaksanakannya karena Allah, (3) mengikuti tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengamalkannya, (4) menjalankannya seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatnya (derajat ihsan), (5) bersaksi atas kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dalam menjalankan amalan itu, (6) bersaksi atas ketidaksempurnaannya dalam menjalankan amalan itu setelah perkara-perkara tersebut. Ia harus memuhasabah dirinya apakah telah menjalankan sepenuhnya tingkatan-tingkatan tersebut dan apakah itu telah tercapai dalam ketaatan tersebut? 2. Bermuhasabah diri atas amalan yang jika ditinggalkan lebih baik baginya daripada dijalankan. 3. Bermuhasabah diri atas perkara mubah atau kebiasaan yang ia kerjakan; mengapa ia mengerjakannya dan apakah ia mengerjakannya karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala di kehidupan akhirat, sehingga ia mendapat keuntungan dari amalan mubah itu? Atau justru ia hanya mencari kenikmatan dunia, sehingga ia melewatkan keuntungan darinya? قَالَ: وَجِمَاعُ ذَلِكَ أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَه أولاً عَلَى الْفَرَائِضِ فَإِذَا تَذَكَّرَ فِيهَا نَقْصًا تَدَارَكَهُ إِما بِقَصَاءٍ أَوْ إِصْلاحٍ ثُمَّ يُحَاسِبُ عَلَى الْمَنَاهِي فَإنْ عَرَفَ أَنَّهُ ارْتَكَبَ مِنْهَا شَيْئًا تَدَارَكَهُ بالتَّوْبَةِ والاسْتِغْفَارِ والْحسناتِ الْمَاحِيةِ ثُمَّ يُحَاسِبُ نَفْسَه على الْغَفْلَةِ فإن كَانَ قَدْ غَفَلَ عَمَّا خُلِقَ لَهُ تَدَارَكَهُ بالذِّكْرِ والإِقْبَالِ على الله. Inti dari ini semua adalah pertama-tama seorang hamba harus bermuhasabah diri atas kewajiban-kewajibannya. Apabila ia melihat ada kekurangan di dalamnya, hendaklah ia melakukan koreksi, entah itu dengan menggantinya atau memperbaikinya. Kemudian bermuhasabah diri atas larangan-larangan, apabila ia menyadari ada larangan yang ia langgar, hendaklah ia melakukan koreksi dengan bertobat, beristighfar, dan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang dapat menggugurkan dosa. Selain itu, ia juga harus bermuhasabah diri atas kelalaian, apabila ia lalai terhadap tujuan penciptaannya, ia segera memperbaikinya dengan kembali mengingat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. ثُمَّ يُحَاسِبُهَا بِمَا تَكَلَّمَ به لِسَانُهُ أَوْ مَشَتْ بِهِ رِجْلاهُ أَوْ بَطَشَتْهُ يَدَاهُ أَوْ سَمِعَتْهُ أُذْنَاهُ مَاذَا أَرَدْتَ بِهَذَا، وَلِمَ فَعَلْتُ، وَعَلَى أَيْ وَجْهٍ فَعَلْتُهُ، وَيَعْلَمُ أنَّه لا بُدَّ أَنْ يُنْشَرَ لِكلَّ حَرَكةٍ وَكَلِمَةٍ مِنْه دِيوانٌ لِمَ فَعَلْتَهُ وَكَيْفَ فَعَلْتَهُ فَالأوَّلُ: سُؤالٌ عَنْ الإِخْلاصِ. والثَّانِي: سُؤالٌ عَنْ الْمُتَابَعَةِ: ﴿ فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ [الحجر: 92، 93]، وقَالَ: ﴿ فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ ﴾ [الأعراف: 6، 7]، وقَالَ: ﴿ لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ﴾ [الأحزاب: 8]، فَإِذَا سُئِلَ الصَّادِقونَ وحُوسِبُوا عَلَى صِدْقِهِمْ فَمَا الظَّنُ بالكَاذِبينَ؟ وقَالَ قَتَادة: كَلِمَتَانِ يُسئلُ عَنْهُمَا الأوَّلَونَ والآخِرونَ: مَاذَا كُنْتمُ تَعْبُدونَ؟ وماذا أجبْتمُ الْمُرَسلينَ، فَيُسألونَ عن الْمَعْبُودِ، وعَنِ العِبَادَةِ، وقَالَ تَعَالى: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر: 8]. شِعْرًا: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا  وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا  إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Selanjutnya hendaklah ia bermuhasabah diri atas apa yang telah diucapkan lisannya, dituju oleh langkah kakinya, digenggam oleh kedua tangannya, atau didengar oleh kedua telinganya, apa yang kamu kehendaki pada hal tersebut, mengapa saya melakukannya, dan atas alasan apa saya mengerjakannya? Ia harus mengetahui bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan yang datang darinya akan dicatat dan dipampang di hadapannya lalu ditanya, “Untuk apa kamu melakukannya?” dan “Bagaimana kamu mengerjakannya?” Pertanyaan pertama tentang keikhlasan (untuk apa), dan pertanyaan kedua tentang mengikuti tuntunan Rasul (bagaimana).  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92-93). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ “Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul. Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu) kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ “Agar Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8). Apabila orang-orang yang benar saja akan ditanya dan diberi perhitungan atas kebenaran mereka, lalu bagaimana menurutmu dengan orang-orang dusta? Qatadah berkata, “Ada dua kalimat yang akan ditanyakan kepada setiap orang dari yang pertama hingga yang terakhir, yaitu, ‘Apa yang dulu kalian sembah?’ dan ‘Apa jawaban kalian terhadap para rasul?’ Mereka ditanya tentang yang mereka ibadahi dan ibadah mereka.”  Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8). Dalam bait sair disebutkan: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا Jagalah dirimu dari kehinaan semasa hidup Dan carilah bagi dirimu kehormatan diri yang selalu kamu jaga وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا Tidak ada kebaikan yang dimiliki seseorang yang seperti kehormatan diri Jika dirinya memilih sifat itu sebagai penghias dirinya إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Apabila diri ini tidak puas dengan pembagian Sang Kuasa Atas rezeki yang datang dari-Nya, maka sebenarnya tidak tersisa lagi agamanya قَالَ مُحَمَّدُ بنُ جَريرٍ: يَقُولُ الله تَعَالى: (لِيَسْألنَّكُم اللهُ عزَّ وَجلَّ عن النَّعيمِ الذِي كُنْتمْ فِيهِ فِي الدُّنْيَا: مَاذَا عَمِلتمُ فيهِ؟ وَمِنْ أَيْنَ وَصَلتُم إِليهِ؟ وَفِيمَ أصَبْتُمُوُه؟ وَمَاذَا عملتم بِهِ؟)، وقَالَ قَتَادَةَ: إِنَّ اللهَ سَائِلٌٌ كُلَّ عَبْدٍٍ عَمَّا اسْتَوْدَعهُ مِنْ نِعمَتِهِ وَحَقِّهِ، والنَّعِيمُ الْمَسْئُولُ عَنه نَوعانِ: نَوْعٌ أُخِذَ مِنْ حِلِّهِ وصُرفَ في حَقِّهِ فُيسَأل عَنْ شُكْرِهِ، ونَوْعُ أُخَذَ بِغيرِ حِلِّه وَصُرِف فِي غَيْرَ حَقَّه فُيسأَلُ عَن مُستَخرَجه وعن مَصرَفِهِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى وُجوبِ الْمُحَاسَبِةِ قَولهُ تَعَالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر: 18]. Muhammad bin Jarir mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada kalian tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah kalian nikmati di dunia, apa amalan yang telah kalian lakukan dengan nikmat itu, dari mana kalian dapat meraih nikmat itu, bagaimana kalian mendapatkannya, dan kalian gunakan untuk apa nikmat itu?” Qatadah berkata, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada setiap hamba tentang kenikmatan dan kewajiban yang telah Dia berikan. Kenikmatan yang akan ditanyakan ada dua bentuk, jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang halal dan disalurkan dengan benar, maka akan ditanya tentang syukurnya, dan jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal dan disalurkan ke jalan yang tidak benar, maka akan ditanyakan tentang sumber dan penyaluran nikmat itu. Kewajiban bermuhasabah telah ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).” اعْلم أَيَّها الإِنسان أن النفسَ الأمارةَ بالسُّوء عَدُوّةٌ لَكَ مَعَ إِبْلِيسَ لَعَنهُ الله، وإنما يَتَقَوَّى عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ بِهَوَى النَّفْسِ وَشَهَواتِهَا، فَهِيَ سِلاحُه الذِي يَصِيدُ بِهِ وَهَلْ أَوْقَعَ إِبْلِيسَ فِي كَبْرِهِ وَمَعْصِيَتِهِ إلا نَفْسُهُ، قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلا وَتَقَدَّسَ: ﴿ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ ﴾ [يوسف: 53]. Ketahuilah, hai manusia! Hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan merupakan musuhmu selain Iblis –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya. Setan itu mendapat sokongan kekuatan dari hawa nafsu dan syahwat untuk menjerumuskanmu, sehingga itu merupakan senjata yang ia pakai untuk menjerat. Dan bukankah Iblis itu terjerumus dalam kesombongan dan keangkuhannya karena hawa nafsunya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ  “sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53). فلا تَغُرَنَّكَ نَفْسُكَ بالأَمَانِي والغُرُورِ لأنَّ مِنْ طَبْعِ النَّفْسِ الأَمْنُ والغَفْلَة والرَّاحَةُ والفَتْرةُ والكَسَلُ والعَجْزُ فَدَعْواهَا بَاطِلٌ وَكُلُ شَيْءٍ مِنْهَا غُرورٌ وَإِنْ رَضِيتَ عنها واتَّبَعْتَ أَمْرَهَا هَلَكْتَ، وَإِنْ غَفَلْتَ عَنْ مُحَاسَبَتِها غِرَقْتَ، وإنْ عَجَزْتَ عن مُخَالَفَتِهَا واتَّبعتَ هَواهَا قَادَتْكَ إلى النَّارِ. Oleh sebab itu, janganlah hawa nafsumu menghembuskan angan-angan dan tipu dayanya, karena sudah menjadi tabiat hawa nafsu selalu merasa aman, lalai, bersantai-santai, malas, dan tidak produktif. Ajakannya itu sesat, dan segala hal yang berawal darinya adalah tipu daya. Apabila kamu rela dan mengikuti ajakannya, binasalah dirimu. Jika kamu lalai dalam memperhitungkannya, terjerumuslah kamu. Dan jika kamu enggan menyelisihinya dan justru menurutinya, ia pasti menggiringmu ke neraka. Sumber: https://www.alukah.net/أنواع محاسبة النفس Sumber artikel PDF 🔍 Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Hukum Oral Suami Istri, Tawasul Kepada Nabi Muhammad, Sholat Qadha, Suami Tidak Menafkahi Istri Yang Bekerja Visited 522 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 QRIS donasi Yufid
أنواع محاسبة النفس Oleh:  Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ نَوْعَانِ: أَمَّا الأَولُ: فَيقِفْ عِنْدَ أَوَّلِ هِمَّتِهِ وَإرَادَتِهِ وَلا يُبَادِرُ بالْعملِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُجْحَانُهُ على تركِهِ، قَالَ الْحسنُ: رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقفَ عندَ هَمِّهِ فَإِنْ كانَ للهِ مَضَى وَإِنْ كَانَ لَغَيْرِهِ تَأخَّرَ. Muhasabah diri terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Bermuhasabah sebelum menjalankan tekad dan keinginannya, tidak terburu-buru menjalankannya sebelum jelas baginya bahwa itu lebih baik dijalankan daripada tidak. Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam merahmati seorang hamba yang merenung terlebih dahulu sebelum menjalankan amalan yang ia inginkan, apabila keinginan itu bertujuan karena Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia menjalankannya dan jika karena selain Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengurungkannya.” النُّوع الثَّانِي: مُحَاسَبَةٌ بَعْدَ العَمَلِ، وهو ثلاثَةُ أَنْوَاعٍ: أحدُهَا مُحَاسَبَتُهَا عَلَى طَاعَةٍ قَصَّرَتْ فِيهَا مِنْ حَقَّ اللهِ فَلَمْ تُوقِعْهَا عَلَى الوَجْهِ الذي يَنْبَغِي وَحَقُّ اللهِ في الطَّاعاتِ بِمُرَاعات سِتَّةِ أُمُورٍ وهِيَ: الإخْلاصُ في العمل والنصيحةُ للهِ فيه وَمُتَابَعَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَشُهُودُهُ مَشْهَدَ الإحْسَانِ فيهِ، وَشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ فِيهِ، وَشُهُودُ تَقْصِيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ هَلْ وَفّى هَذِهِ الْمَقَامَاتِ حَقَّهَا، وَهَلْ أَتَى فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ، الثَّانِي: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ كَانَ تَركَهُ خَيرًا لَهُ مِن فعله. الثَّالث: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى أَمْرٍ مباحٍ أَوْ مُعْتَادٍ لَما فَعَلَهُ، وَهَلْ أَرَادَ بِهِ اللهِ والدَّارَ الآخِرةَ فَيَكُونُ رَابِحًا فِيهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ الدُّنْيَا وَعَاجِلَتَهَا فَيَخْسَرُ ذَلِكَ الرِّبْحَ وَيَفُوتُهُ الظَّفَرُ بِهِ. Kedua: Bermuhasabah setelah menjalankan amalan. Dan jenis ini terbagi lagi menjadi tiga: 1. Bermuhasabah atas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan yang ia kerjakan ala kadarnya, sehingga tidak ia kerjakan sebagaimana yang seharusnya. Adapun hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan harus ditegakkan di dalamnya 6 perkara, yaitu; (1) ikhlas dalam mengamalkannya, (2) tulus melaksanakannya karena Allah, (3) mengikuti tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengamalkannya, (4) menjalankannya seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatnya (derajat ihsan), (5) bersaksi atas kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dalam menjalankan amalan itu, (6) bersaksi atas ketidaksempurnaannya dalam menjalankan amalan itu setelah perkara-perkara tersebut. Ia harus memuhasabah dirinya apakah telah menjalankan sepenuhnya tingkatan-tingkatan tersebut dan apakah itu telah tercapai dalam ketaatan tersebut? 2. Bermuhasabah diri atas amalan yang jika ditinggalkan lebih baik baginya daripada dijalankan. 3. Bermuhasabah diri atas perkara mubah atau kebiasaan yang ia kerjakan; mengapa ia mengerjakannya dan apakah ia mengerjakannya karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala di kehidupan akhirat, sehingga ia mendapat keuntungan dari amalan mubah itu? Atau justru ia hanya mencari kenikmatan dunia, sehingga ia melewatkan keuntungan darinya? قَالَ: وَجِمَاعُ ذَلِكَ أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَه أولاً عَلَى الْفَرَائِضِ فَإِذَا تَذَكَّرَ فِيهَا نَقْصًا تَدَارَكَهُ إِما بِقَصَاءٍ أَوْ إِصْلاحٍ ثُمَّ يُحَاسِبُ عَلَى الْمَنَاهِي فَإنْ عَرَفَ أَنَّهُ ارْتَكَبَ مِنْهَا شَيْئًا تَدَارَكَهُ بالتَّوْبَةِ والاسْتِغْفَارِ والْحسناتِ الْمَاحِيةِ ثُمَّ يُحَاسِبُ نَفْسَه على الْغَفْلَةِ فإن كَانَ قَدْ غَفَلَ عَمَّا خُلِقَ لَهُ تَدَارَكَهُ بالذِّكْرِ والإِقْبَالِ على الله. Inti dari ini semua adalah pertama-tama seorang hamba harus bermuhasabah diri atas kewajiban-kewajibannya. Apabila ia melihat ada kekurangan di dalamnya, hendaklah ia melakukan koreksi, entah itu dengan menggantinya atau memperbaikinya. Kemudian bermuhasabah diri atas larangan-larangan, apabila ia menyadari ada larangan yang ia langgar, hendaklah ia melakukan koreksi dengan bertobat, beristighfar, dan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang dapat menggugurkan dosa. Selain itu, ia juga harus bermuhasabah diri atas kelalaian, apabila ia lalai terhadap tujuan penciptaannya, ia segera memperbaikinya dengan kembali mengingat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. ثُمَّ يُحَاسِبُهَا بِمَا تَكَلَّمَ به لِسَانُهُ أَوْ مَشَتْ بِهِ رِجْلاهُ أَوْ بَطَشَتْهُ يَدَاهُ أَوْ سَمِعَتْهُ أُذْنَاهُ مَاذَا أَرَدْتَ بِهَذَا، وَلِمَ فَعَلْتُ، وَعَلَى أَيْ وَجْهٍ فَعَلْتُهُ، وَيَعْلَمُ أنَّه لا بُدَّ أَنْ يُنْشَرَ لِكلَّ حَرَكةٍ وَكَلِمَةٍ مِنْه دِيوانٌ لِمَ فَعَلْتَهُ وَكَيْفَ فَعَلْتَهُ فَالأوَّلُ: سُؤالٌ عَنْ الإِخْلاصِ. والثَّانِي: سُؤالٌ عَنْ الْمُتَابَعَةِ: ﴿ فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ [الحجر: 92، 93]، وقَالَ: ﴿ فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ ﴾ [الأعراف: 6، 7]، وقَالَ: ﴿ لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ﴾ [الأحزاب: 8]، فَإِذَا سُئِلَ الصَّادِقونَ وحُوسِبُوا عَلَى صِدْقِهِمْ فَمَا الظَّنُ بالكَاذِبينَ؟ وقَالَ قَتَادة: كَلِمَتَانِ يُسئلُ عَنْهُمَا الأوَّلَونَ والآخِرونَ: مَاذَا كُنْتمُ تَعْبُدونَ؟ وماذا أجبْتمُ الْمُرَسلينَ، فَيُسألونَ عن الْمَعْبُودِ، وعَنِ العِبَادَةِ، وقَالَ تَعَالى: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر: 8]. شِعْرًا: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا  وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا  إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Selanjutnya hendaklah ia bermuhasabah diri atas apa yang telah diucapkan lisannya, dituju oleh langkah kakinya, digenggam oleh kedua tangannya, atau didengar oleh kedua telinganya, apa yang kamu kehendaki pada hal tersebut, mengapa saya melakukannya, dan atas alasan apa saya mengerjakannya? Ia harus mengetahui bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan yang datang darinya akan dicatat dan dipampang di hadapannya lalu ditanya, “Untuk apa kamu melakukannya?” dan “Bagaimana kamu mengerjakannya?” Pertanyaan pertama tentang keikhlasan (untuk apa), dan pertanyaan kedua tentang mengikuti tuntunan Rasul (bagaimana).  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92-93). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ “Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul. Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu) kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ “Agar Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8). Apabila orang-orang yang benar saja akan ditanya dan diberi perhitungan atas kebenaran mereka, lalu bagaimana menurutmu dengan orang-orang dusta? Qatadah berkata, “Ada dua kalimat yang akan ditanyakan kepada setiap orang dari yang pertama hingga yang terakhir, yaitu, ‘Apa yang dulu kalian sembah?’ dan ‘Apa jawaban kalian terhadap para rasul?’ Mereka ditanya tentang yang mereka ibadahi dan ibadah mereka.”  Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8). Dalam bait sair disebutkan: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا Jagalah dirimu dari kehinaan semasa hidup Dan carilah bagi dirimu kehormatan diri yang selalu kamu jaga وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا Tidak ada kebaikan yang dimiliki seseorang yang seperti kehormatan diri Jika dirinya memilih sifat itu sebagai penghias dirinya إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Apabila diri ini tidak puas dengan pembagian Sang Kuasa Atas rezeki yang datang dari-Nya, maka sebenarnya tidak tersisa lagi agamanya قَالَ مُحَمَّدُ بنُ جَريرٍ: يَقُولُ الله تَعَالى: (لِيَسْألنَّكُم اللهُ عزَّ وَجلَّ عن النَّعيمِ الذِي كُنْتمْ فِيهِ فِي الدُّنْيَا: مَاذَا عَمِلتمُ فيهِ؟ وَمِنْ أَيْنَ وَصَلتُم إِليهِ؟ وَفِيمَ أصَبْتُمُوُه؟ وَمَاذَا عملتم بِهِ؟)، وقَالَ قَتَادَةَ: إِنَّ اللهَ سَائِلٌٌ كُلَّ عَبْدٍٍ عَمَّا اسْتَوْدَعهُ مِنْ نِعمَتِهِ وَحَقِّهِ، والنَّعِيمُ الْمَسْئُولُ عَنه نَوعانِ: نَوْعٌ أُخِذَ مِنْ حِلِّهِ وصُرفَ في حَقِّهِ فُيسَأل عَنْ شُكْرِهِ، ونَوْعُ أُخَذَ بِغيرِ حِلِّه وَصُرِف فِي غَيْرَ حَقَّه فُيسأَلُ عَن مُستَخرَجه وعن مَصرَفِهِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى وُجوبِ الْمُحَاسَبِةِ قَولهُ تَعَالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر: 18]. Muhammad bin Jarir mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada kalian tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah kalian nikmati di dunia, apa amalan yang telah kalian lakukan dengan nikmat itu, dari mana kalian dapat meraih nikmat itu, bagaimana kalian mendapatkannya, dan kalian gunakan untuk apa nikmat itu?” Qatadah berkata, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada setiap hamba tentang kenikmatan dan kewajiban yang telah Dia berikan. Kenikmatan yang akan ditanyakan ada dua bentuk, jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang halal dan disalurkan dengan benar, maka akan ditanya tentang syukurnya, dan jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal dan disalurkan ke jalan yang tidak benar, maka akan ditanyakan tentang sumber dan penyaluran nikmat itu. Kewajiban bermuhasabah telah ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).” اعْلم أَيَّها الإِنسان أن النفسَ الأمارةَ بالسُّوء عَدُوّةٌ لَكَ مَعَ إِبْلِيسَ لَعَنهُ الله، وإنما يَتَقَوَّى عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ بِهَوَى النَّفْسِ وَشَهَواتِهَا، فَهِيَ سِلاحُه الذِي يَصِيدُ بِهِ وَهَلْ أَوْقَعَ إِبْلِيسَ فِي كَبْرِهِ وَمَعْصِيَتِهِ إلا نَفْسُهُ، قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلا وَتَقَدَّسَ: ﴿ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ ﴾ [يوسف: 53]. Ketahuilah, hai manusia! Hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan merupakan musuhmu selain Iblis –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya. Setan itu mendapat sokongan kekuatan dari hawa nafsu dan syahwat untuk menjerumuskanmu, sehingga itu merupakan senjata yang ia pakai untuk menjerat. Dan bukankah Iblis itu terjerumus dalam kesombongan dan keangkuhannya karena hawa nafsunya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ  “sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53). فلا تَغُرَنَّكَ نَفْسُكَ بالأَمَانِي والغُرُورِ لأنَّ مِنْ طَبْعِ النَّفْسِ الأَمْنُ والغَفْلَة والرَّاحَةُ والفَتْرةُ والكَسَلُ والعَجْزُ فَدَعْواهَا بَاطِلٌ وَكُلُ شَيْءٍ مِنْهَا غُرورٌ وَإِنْ رَضِيتَ عنها واتَّبَعْتَ أَمْرَهَا هَلَكْتَ، وَإِنْ غَفَلْتَ عَنْ مُحَاسَبَتِها غِرَقْتَ، وإنْ عَجَزْتَ عن مُخَالَفَتِهَا واتَّبعتَ هَواهَا قَادَتْكَ إلى النَّارِ. Oleh sebab itu, janganlah hawa nafsumu menghembuskan angan-angan dan tipu dayanya, karena sudah menjadi tabiat hawa nafsu selalu merasa aman, lalai, bersantai-santai, malas, dan tidak produktif. Ajakannya itu sesat, dan segala hal yang berawal darinya adalah tipu daya. Apabila kamu rela dan mengikuti ajakannya, binasalah dirimu. Jika kamu lalai dalam memperhitungkannya, terjerumuslah kamu. Dan jika kamu enggan menyelisihinya dan justru menurutinya, ia pasti menggiringmu ke neraka. Sumber: https://www.alukah.net/أنواع محاسبة النفس Sumber artikel PDF 🔍 Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Hukum Oral Suami Istri, Tawasul Kepada Nabi Muhammad, Sholat Qadha, Suami Tidak Menafkahi Istri Yang Bekerja Visited 522 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 QRIS donasi Yufid


أنواع محاسبة النفس Oleh:  Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ نَوْعَانِ: أَمَّا الأَولُ: فَيقِفْ عِنْدَ أَوَّلِ هِمَّتِهِ وَإرَادَتِهِ وَلا يُبَادِرُ بالْعملِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُجْحَانُهُ على تركِهِ، قَالَ الْحسنُ: رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقفَ عندَ هَمِّهِ فَإِنْ كانَ للهِ مَضَى وَإِنْ كَانَ لَغَيْرِهِ تَأخَّرَ. Muhasabah diri terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Bermuhasabah sebelum menjalankan tekad dan keinginannya, tidak terburu-buru menjalankannya sebelum jelas baginya bahwa itu lebih baik dijalankan daripada tidak. Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam merahmati seorang hamba yang merenung terlebih dahulu sebelum menjalankan amalan yang ia inginkan, apabila keinginan itu bertujuan karena Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia menjalankannya dan jika karena selain Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengurungkannya.” النُّوع الثَّانِي: مُحَاسَبَةٌ بَعْدَ العَمَلِ، وهو ثلاثَةُ أَنْوَاعٍ: أحدُهَا مُحَاسَبَتُهَا عَلَى طَاعَةٍ قَصَّرَتْ فِيهَا مِنْ حَقَّ اللهِ فَلَمْ تُوقِعْهَا عَلَى الوَجْهِ الذي يَنْبَغِي وَحَقُّ اللهِ في الطَّاعاتِ بِمُرَاعات سِتَّةِ أُمُورٍ وهِيَ: الإخْلاصُ في العمل والنصيحةُ للهِ فيه وَمُتَابَعَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَشُهُودُهُ مَشْهَدَ الإحْسَانِ فيهِ، وَشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ فِيهِ، وَشُهُودُ تَقْصِيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ هَلْ وَفّى هَذِهِ الْمَقَامَاتِ حَقَّهَا، وَهَلْ أَتَى فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ، الثَّانِي: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ كَانَ تَركَهُ خَيرًا لَهُ مِن فعله. الثَّالث: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى أَمْرٍ مباحٍ أَوْ مُعْتَادٍ لَما فَعَلَهُ، وَهَلْ أَرَادَ بِهِ اللهِ والدَّارَ الآخِرةَ فَيَكُونُ رَابِحًا فِيهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ الدُّنْيَا وَعَاجِلَتَهَا فَيَخْسَرُ ذَلِكَ الرِّبْحَ وَيَفُوتُهُ الظَّفَرُ بِهِ. Kedua: Bermuhasabah setelah menjalankan amalan. Dan jenis ini terbagi lagi menjadi tiga: 1. Bermuhasabah atas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan yang ia kerjakan ala kadarnya, sehingga tidak ia kerjakan sebagaimana yang seharusnya. Adapun hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan harus ditegakkan di dalamnya 6 perkara, yaitu; (1) ikhlas dalam mengamalkannya, (2) tulus melaksanakannya karena Allah, (3) mengikuti tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengamalkannya, (4) menjalankannya seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatnya (derajat ihsan), (5) bersaksi atas kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dalam menjalankan amalan itu, (6) bersaksi atas ketidaksempurnaannya dalam menjalankan amalan itu setelah perkara-perkara tersebut. Ia harus memuhasabah dirinya apakah telah menjalankan sepenuhnya tingkatan-tingkatan tersebut dan apakah itu telah tercapai dalam ketaatan tersebut? 2. Bermuhasabah diri atas amalan yang jika ditinggalkan lebih baik baginya daripada dijalankan. 3. Bermuhasabah diri atas perkara mubah atau kebiasaan yang ia kerjakan; mengapa ia mengerjakannya dan apakah ia mengerjakannya karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala di kehidupan akhirat, sehingga ia mendapat keuntungan dari amalan mubah itu? Atau justru ia hanya mencari kenikmatan dunia, sehingga ia melewatkan keuntungan darinya? قَالَ: وَجِمَاعُ ذَلِكَ أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَه أولاً عَلَى الْفَرَائِضِ فَإِذَا تَذَكَّرَ فِيهَا نَقْصًا تَدَارَكَهُ إِما بِقَصَاءٍ أَوْ إِصْلاحٍ ثُمَّ يُحَاسِبُ عَلَى الْمَنَاهِي فَإنْ عَرَفَ أَنَّهُ ارْتَكَبَ مِنْهَا شَيْئًا تَدَارَكَهُ بالتَّوْبَةِ والاسْتِغْفَارِ والْحسناتِ الْمَاحِيةِ ثُمَّ يُحَاسِبُ نَفْسَه على الْغَفْلَةِ فإن كَانَ قَدْ غَفَلَ عَمَّا خُلِقَ لَهُ تَدَارَكَهُ بالذِّكْرِ والإِقْبَالِ على الله. Inti dari ini semua adalah pertama-tama seorang hamba harus bermuhasabah diri atas kewajiban-kewajibannya. Apabila ia melihat ada kekurangan di dalamnya, hendaklah ia melakukan koreksi, entah itu dengan menggantinya atau memperbaikinya. Kemudian bermuhasabah diri atas larangan-larangan, apabila ia menyadari ada larangan yang ia langgar, hendaklah ia melakukan koreksi dengan bertobat, beristighfar, dan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang dapat menggugurkan dosa. Selain itu, ia juga harus bermuhasabah diri atas kelalaian, apabila ia lalai terhadap tujuan penciptaannya, ia segera memperbaikinya dengan kembali mengingat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. ثُمَّ يُحَاسِبُهَا بِمَا تَكَلَّمَ به لِسَانُهُ أَوْ مَشَتْ بِهِ رِجْلاهُ أَوْ بَطَشَتْهُ يَدَاهُ أَوْ سَمِعَتْهُ أُذْنَاهُ مَاذَا أَرَدْتَ بِهَذَا، وَلِمَ فَعَلْتُ، وَعَلَى أَيْ وَجْهٍ فَعَلْتُهُ، وَيَعْلَمُ أنَّه لا بُدَّ أَنْ يُنْشَرَ لِكلَّ حَرَكةٍ وَكَلِمَةٍ مِنْه دِيوانٌ لِمَ فَعَلْتَهُ وَكَيْفَ فَعَلْتَهُ فَالأوَّلُ: سُؤالٌ عَنْ الإِخْلاصِ. والثَّانِي: سُؤالٌ عَنْ الْمُتَابَعَةِ: ﴿ فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ [الحجر: 92، 93]، وقَالَ: ﴿ فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ ﴾ [الأعراف: 6، 7]، وقَالَ: ﴿ لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ﴾ [الأحزاب: 8]، فَإِذَا سُئِلَ الصَّادِقونَ وحُوسِبُوا عَلَى صِدْقِهِمْ فَمَا الظَّنُ بالكَاذِبينَ؟ وقَالَ قَتَادة: كَلِمَتَانِ يُسئلُ عَنْهُمَا الأوَّلَونَ والآخِرونَ: مَاذَا كُنْتمُ تَعْبُدونَ؟ وماذا أجبْتمُ الْمُرَسلينَ، فَيُسألونَ عن الْمَعْبُودِ، وعَنِ العِبَادَةِ، وقَالَ تَعَالى: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر: 8]. شِعْرًا: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا  وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا  إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Selanjutnya hendaklah ia bermuhasabah diri atas apa yang telah diucapkan lisannya, dituju oleh langkah kakinya, digenggam oleh kedua tangannya, atau didengar oleh kedua telinganya, apa yang kamu kehendaki pada hal tersebut, mengapa saya melakukannya, dan atas alasan apa saya mengerjakannya? Ia harus mengetahui bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan yang datang darinya akan dicatat dan dipampang di hadapannya lalu ditanya, “Untuk apa kamu melakukannya?” dan “Bagaimana kamu mengerjakannya?” Pertanyaan pertama tentang keikhlasan (untuk apa), dan pertanyaan kedua tentang mengikuti tuntunan Rasul (bagaimana).  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92-93). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ “Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul. Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu) kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman: لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ “Agar Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8). Apabila orang-orang yang benar saja akan ditanya dan diberi perhitungan atas kebenaran mereka, lalu bagaimana menurutmu dengan orang-orang dusta? Qatadah berkata, “Ada dua kalimat yang akan ditanyakan kepada setiap orang dari yang pertama hingga yang terakhir, yaitu, ‘Apa yang dulu kalian sembah?’ dan ‘Apa jawaban kalian terhadap para rasul?’ Mereka ditanya tentang yang mereka ibadahi dan ibadah mereka.”  Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8). Dalam bait sair disebutkan: تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا Jagalah dirimu dari kehinaan semasa hidup Dan carilah bagi dirimu kehormatan diri yang selalu kamu jaga وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا Tidak ada kebaikan yang dimiliki seseorang yang seperti kehormatan diri Jika dirinya memilih sifat itu sebagai penghias dirinya إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا Apabila diri ini tidak puas dengan pembagian Sang Kuasa Atas rezeki yang datang dari-Nya, maka sebenarnya tidak tersisa lagi agamanya قَالَ مُحَمَّدُ بنُ جَريرٍ: يَقُولُ الله تَعَالى: (لِيَسْألنَّكُم اللهُ عزَّ وَجلَّ عن النَّعيمِ الذِي كُنْتمْ فِيهِ فِي الدُّنْيَا: مَاذَا عَمِلتمُ فيهِ؟ وَمِنْ أَيْنَ وَصَلتُم إِليهِ؟ وَفِيمَ أصَبْتُمُوُه؟ وَمَاذَا عملتم بِهِ؟)، وقَالَ قَتَادَةَ: إِنَّ اللهَ سَائِلٌٌ كُلَّ عَبْدٍٍ عَمَّا اسْتَوْدَعهُ مِنْ نِعمَتِهِ وَحَقِّهِ، والنَّعِيمُ الْمَسْئُولُ عَنه نَوعانِ: نَوْعٌ أُخِذَ مِنْ حِلِّهِ وصُرفَ في حَقِّهِ فُيسَأل عَنْ شُكْرِهِ، ونَوْعُ أُخَذَ بِغيرِ حِلِّه وَصُرِف فِي غَيْرَ حَقَّه فُيسأَلُ عَن مُستَخرَجه وعن مَصرَفِهِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى وُجوبِ الْمُحَاسَبِةِ قَولهُ تَعَالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر: 18]. Muhammad bin Jarir mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada kalian tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah kalian nikmati di dunia, apa amalan yang telah kalian lakukan dengan nikmat itu, dari mana kalian dapat meraih nikmat itu, bagaimana kalian mendapatkannya, dan kalian gunakan untuk apa nikmat itu?” Qatadah berkata, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada setiap hamba tentang kenikmatan dan kewajiban yang telah Dia berikan. Kenikmatan yang akan ditanyakan ada dua bentuk, jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang halal dan disalurkan dengan benar, maka akan ditanya tentang syukurnya, dan jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal dan disalurkan ke jalan yang tidak benar, maka akan ditanyakan tentang sumber dan penyaluran nikmat itu. Kewajiban bermuhasabah telah ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).” اعْلم أَيَّها الإِنسان أن النفسَ الأمارةَ بالسُّوء عَدُوّةٌ لَكَ مَعَ إِبْلِيسَ لَعَنهُ الله، وإنما يَتَقَوَّى عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ بِهَوَى النَّفْسِ وَشَهَواتِهَا، فَهِيَ سِلاحُه الذِي يَصِيدُ بِهِ وَهَلْ أَوْقَعَ إِبْلِيسَ فِي كَبْرِهِ وَمَعْصِيَتِهِ إلا نَفْسُهُ، قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلا وَتَقَدَّسَ: ﴿ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ ﴾ [يوسف: 53]. Ketahuilah, hai manusia! Hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan merupakan musuhmu selain Iblis –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya. Setan itu mendapat sokongan kekuatan dari hawa nafsu dan syahwat untuk menjerumuskanmu, sehingga itu merupakan senjata yang ia pakai untuk menjerat. Dan bukankah Iblis itu terjerumus dalam kesombongan dan keangkuhannya karena hawa nafsunya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ  “sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53). فلا تَغُرَنَّكَ نَفْسُكَ بالأَمَانِي والغُرُورِ لأنَّ مِنْ طَبْعِ النَّفْسِ الأَمْنُ والغَفْلَة والرَّاحَةُ والفَتْرةُ والكَسَلُ والعَجْزُ فَدَعْواهَا بَاطِلٌ وَكُلُ شَيْءٍ مِنْهَا غُرورٌ وَإِنْ رَضِيتَ عنها واتَّبَعْتَ أَمْرَهَا هَلَكْتَ، وَإِنْ غَفَلْتَ عَنْ مُحَاسَبَتِها غِرَقْتَ، وإنْ عَجَزْتَ عن مُخَالَفَتِهَا واتَّبعتَ هَواهَا قَادَتْكَ إلى النَّارِ. Oleh sebab itu, janganlah hawa nafsumu menghembuskan angan-angan dan tipu dayanya, karena sudah menjadi tabiat hawa nafsu selalu merasa aman, lalai, bersantai-santai, malas, dan tidak produktif. Ajakannya itu sesat, dan segala hal yang berawal darinya adalah tipu daya. Apabila kamu rela dan mengikuti ajakannya, binasalah dirimu. Jika kamu lalai dalam memperhitungkannya, terjerumuslah kamu. Dan jika kamu enggan menyelisihinya dan justru menurutinya, ia pasti menggiringmu ke neraka. Sumber: https://www.alukah.net/أنواع محاسبة النفس Sumber artikel PDF 🔍 Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Hukum Oral Suami Istri, Tawasul Kepada Nabi Muhammad, Sholat Qadha, Suami Tidak Menafkahi Istri Yang Bekerja Visited 522 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fikih Hibah (Bag. 2): Konsep Hibah dalam Kehidupan Sosial Islam dan Urgensi Pembahasannya dalam Fikih Muamalah

Daftar Isi ToggleKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamUrgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahHibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanBerkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatBerpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamSetelah mengetahui secara singkat pengertian hibah; baik dari segi bahasa ataupun syariat pada artikel sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa hibah (الهبة) berarti “memberikan sesuatu secara cuma-cuma dan sukarela, tanpa ada imbalan dan paksaan selama pihak pemberi masih hidup.” Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Mughni. Beliau mengatakan,تَمْلِيكٌ في الحَياةِ بغيرِ عِوَضٍ“Hibah adalah pemberian hak milik selama pihak pemberi masih hidup tanpa imbalan.” (Al-Mughni, 8: 239)Jika melihat lebih jauh, syariat hibah memiliki dampak yang sangat kuat dalam kehidupan sosial Islam, hibah bukan sekadar pemberian biasa. Ia adalah simbol kasih sayang, solidaritas sosial, dan distribusi kekayaan secara adil di antara masyarakat. Hibah mendorong seorang muslim untuk tidak tamak terhadap harta, peduli dengan orang lain serta menghilangkan kecemburuan sosial karena terjadinya pemerataan harta secara sukarela.Hibah juga mempererat hubungan sosial dan ukhuwah; terutama dalam keluarga, tetangga, dan komunitas masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah kalian memberi hadiah (hibah), maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 594. Dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan bahwa hibah adalah media sosial yang menguatkan ikatan emosional dan menghapus permusuhan. Oleh karena itu, Islam tidak sekadar memerintahkan infak dan zakat, tetapi juga mendorong pemberian hibah secara pribadi dan sukarela.Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga menyebutkan konsep dan dampak baik dari hibah. Tatkala Allah mewajibkan pihak laki-laki untuk memberikan maskawin kepada perempuan yang dinikahinya, Allah Ta’ala berfirman menyebutkan bahwa apabila perempuan tersebut berkehendak untuk memberikan kembali maskawin tersebut sebagai bentuk pemberian kepada suaminya, maka sang suami diperbolehkan untuk mengambilnya dan memanfaatkannya,فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Tetapi jika mereka dengan rela memberikan kepadamu sebagian dari mahar itu, maka makanlah (ambillah) sebagai sesuatu yang nikmat lagi baik.” (QS. An-Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan bahwa pemberian (hibah) yang dilakukan dengan kerelaan hati, maka hukumnya halal dan diberkahi, bahkan diperbolehkan untuk dinikmati oleh penerima.Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa hibah merupakan instrumen sosial yang sangat ditekankan dalam Islam karena mengandung nilai ibadah, solidaritas, dan keikhlasan. Ia mengangkat martabat sosial dan memperkuat tatanan masyarakat Islam yang berlandaskan kasih sayang dan keadilan.Urgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahDalam Islam, hibah termasuk dalam ranah muamalah, urusan duniawi yang memiliki implikasi hukum. Akad hibah memindahkan kepemilikan harta dan berpotensi menimbulkan perselisihan jika tidak dikelola dengan benar.Sudah begitu banyak cerita yang beredar akan bagaimana sebuah proses hibah yang bertujuan baik pada akhirnya justru menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Hal ini karena minimnya ilmu tentang fikih hibah dan terjadinya kesalahan dalam prosesnya. Berikut adalah beberapa alasan kuat seorang muslim wajib mengetahui seluk beluk mengenai hibah dalam kacamata hukum Islam, sehingga dalam prosesnya dapat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanDalam Islam, proses akad memiliki berbagai aturan yang wajib dilakukan sehingga akad tersebut menjadi sah dan memiliki kekuatan hukum. Hal ini berlaku juga untuk akad hibah, dalam prosesnya membutuhkan pencatatan dan kepastian. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)Meskipun ayat ini berbicara tentang utang piutang, prinsip pencatatan dan kepastian hukum juga relevan bagi hibah, terutama dalam konteks hibah bersyarat atau hibah dalam jumlah besar (seperti hibah tanah dan rumah). Maka, pencatatan dapat mencegah konflik di masa depan.Islam begitu tegas menyikapi konflik dan perselisihan, melarang terjadinya hal tersebut dan memberikan solusi yang jelas apabila hal tersebut terlanjur terjadi. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian.” (QS. An-Nisâ’: 59)Dengan mengetahui hukum-hukum terkait fikih hibah, maka akan meminimalisir terjadinya pertikaian, sengketa, dan perselisihan di antara kaum muslimin. Berkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatDi antara kasus yang banyak terjadi adalah pembagian harta yang dilakukan oleh orang tua sebelum meninggal dunia. Terkait hal ini, maka perlu pembahasan mendalam, karena berkaitan erat dengan hukum waris yang ketentuan dan porsinya harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Berpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahDalam sebuah hadis sahih, sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu menceritakan,أَعْطَانِي أبِي عَطِيَّةً، فَقالَتْ عَمْرَةُ بنْتُ رَوَاحَةَ: لا أرْضَى حتَّى تُشْهِدَ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فأتَى رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: إنِّي أعْطَيْتُ ابْنِي مِن عَمْرَةَ بنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فأمَرَتْنِي أنْ أُشْهِدَكَ يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: أعْطَيْتَ سَائِرَ ولَدِكَ مِثْلَ هذا؟ قالَ: لَا“Ayahku memberiku hadiah (berupa pembantu yang dimintakan oleh ibu An-Nu’man kepada ayahnya), lalu Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) berkata, “Aku tidak rela sampai engkau meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi saksi.” Maka dia (ayahku) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan, “Sesungguhnya aku memberi anakku dari Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) hadiah, lalu dia menyuruhku untuk meminta engkau menjadi saksi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti ini?” Dia menjawab, “Tidak.”Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,فَاتَّقُوا اللَّهَ واعْدِلُوا بيْنَ أوْلَادِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah kalian di antara anak-anak kalian.” (HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623)Hadis ini berkaitan dengan kasus hibah yang dilakukan kepada salah satu anak secara berat sebelah. Rasulullah ﷺ menegur perbuatan tersebut dan menyuruh untuk membatalkannya jika tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa hibah memiliki konsekuensi hukum, dan pembahasannya harus serius dalam fikih.Tiga hal ini cukup menjadi alasan bagi kita akan pentingnya pembahasan fikih hibah secara menyeluruh dan mendalam, agar masyarakat tidak sekadar mengikuti adat atau keinginan hawa nafsu pribadi, tetapi memahami batasan syariat dan mengikuti hukum syariat yang telah ditetapkan.Urgensi membahas hibah dalam fikih muamalah tidak bisa diabaikan karena hibah bukan hanya urusan pribadi, tapi berdampak pada keadilan hukum, keharmonisan keluarga, dan kestabilan sosial. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengetahui batasan hukum hibah agar dapat mengamalkannya secara syar’i dan adil. Wallahu a’lam bissowaab.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Fikih Hibah (Bag. 2): Konsep Hibah dalam Kehidupan Sosial Islam dan Urgensi Pembahasannya dalam Fikih Muamalah

Daftar Isi ToggleKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamUrgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahHibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanBerkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatBerpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamSetelah mengetahui secara singkat pengertian hibah; baik dari segi bahasa ataupun syariat pada artikel sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa hibah (الهبة) berarti “memberikan sesuatu secara cuma-cuma dan sukarela, tanpa ada imbalan dan paksaan selama pihak pemberi masih hidup.” Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Mughni. Beliau mengatakan,تَمْلِيكٌ في الحَياةِ بغيرِ عِوَضٍ“Hibah adalah pemberian hak milik selama pihak pemberi masih hidup tanpa imbalan.” (Al-Mughni, 8: 239)Jika melihat lebih jauh, syariat hibah memiliki dampak yang sangat kuat dalam kehidupan sosial Islam, hibah bukan sekadar pemberian biasa. Ia adalah simbol kasih sayang, solidaritas sosial, dan distribusi kekayaan secara adil di antara masyarakat. Hibah mendorong seorang muslim untuk tidak tamak terhadap harta, peduli dengan orang lain serta menghilangkan kecemburuan sosial karena terjadinya pemerataan harta secara sukarela.Hibah juga mempererat hubungan sosial dan ukhuwah; terutama dalam keluarga, tetangga, dan komunitas masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah kalian memberi hadiah (hibah), maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 594. Dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan bahwa hibah adalah media sosial yang menguatkan ikatan emosional dan menghapus permusuhan. Oleh karena itu, Islam tidak sekadar memerintahkan infak dan zakat, tetapi juga mendorong pemberian hibah secara pribadi dan sukarela.Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga menyebutkan konsep dan dampak baik dari hibah. Tatkala Allah mewajibkan pihak laki-laki untuk memberikan maskawin kepada perempuan yang dinikahinya, Allah Ta’ala berfirman menyebutkan bahwa apabila perempuan tersebut berkehendak untuk memberikan kembali maskawin tersebut sebagai bentuk pemberian kepada suaminya, maka sang suami diperbolehkan untuk mengambilnya dan memanfaatkannya,فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Tetapi jika mereka dengan rela memberikan kepadamu sebagian dari mahar itu, maka makanlah (ambillah) sebagai sesuatu yang nikmat lagi baik.” (QS. An-Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan bahwa pemberian (hibah) yang dilakukan dengan kerelaan hati, maka hukumnya halal dan diberkahi, bahkan diperbolehkan untuk dinikmati oleh penerima.Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa hibah merupakan instrumen sosial yang sangat ditekankan dalam Islam karena mengandung nilai ibadah, solidaritas, dan keikhlasan. Ia mengangkat martabat sosial dan memperkuat tatanan masyarakat Islam yang berlandaskan kasih sayang dan keadilan.Urgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahDalam Islam, hibah termasuk dalam ranah muamalah, urusan duniawi yang memiliki implikasi hukum. Akad hibah memindahkan kepemilikan harta dan berpotensi menimbulkan perselisihan jika tidak dikelola dengan benar.Sudah begitu banyak cerita yang beredar akan bagaimana sebuah proses hibah yang bertujuan baik pada akhirnya justru menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Hal ini karena minimnya ilmu tentang fikih hibah dan terjadinya kesalahan dalam prosesnya. Berikut adalah beberapa alasan kuat seorang muslim wajib mengetahui seluk beluk mengenai hibah dalam kacamata hukum Islam, sehingga dalam prosesnya dapat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanDalam Islam, proses akad memiliki berbagai aturan yang wajib dilakukan sehingga akad tersebut menjadi sah dan memiliki kekuatan hukum. Hal ini berlaku juga untuk akad hibah, dalam prosesnya membutuhkan pencatatan dan kepastian. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)Meskipun ayat ini berbicara tentang utang piutang, prinsip pencatatan dan kepastian hukum juga relevan bagi hibah, terutama dalam konteks hibah bersyarat atau hibah dalam jumlah besar (seperti hibah tanah dan rumah). Maka, pencatatan dapat mencegah konflik di masa depan.Islam begitu tegas menyikapi konflik dan perselisihan, melarang terjadinya hal tersebut dan memberikan solusi yang jelas apabila hal tersebut terlanjur terjadi. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian.” (QS. An-Nisâ’: 59)Dengan mengetahui hukum-hukum terkait fikih hibah, maka akan meminimalisir terjadinya pertikaian, sengketa, dan perselisihan di antara kaum muslimin. Berkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatDi antara kasus yang banyak terjadi adalah pembagian harta yang dilakukan oleh orang tua sebelum meninggal dunia. Terkait hal ini, maka perlu pembahasan mendalam, karena berkaitan erat dengan hukum waris yang ketentuan dan porsinya harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Berpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahDalam sebuah hadis sahih, sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu menceritakan,أَعْطَانِي أبِي عَطِيَّةً، فَقالَتْ عَمْرَةُ بنْتُ رَوَاحَةَ: لا أرْضَى حتَّى تُشْهِدَ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فأتَى رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: إنِّي أعْطَيْتُ ابْنِي مِن عَمْرَةَ بنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فأمَرَتْنِي أنْ أُشْهِدَكَ يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: أعْطَيْتَ سَائِرَ ولَدِكَ مِثْلَ هذا؟ قالَ: لَا“Ayahku memberiku hadiah (berupa pembantu yang dimintakan oleh ibu An-Nu’man kepada ayahnya), lalu Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) berkata, “Aku tidak rela sampai engkau meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi saksi.” Maka dia (ayahku) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan, “Sesungguhnya aku memberi anakku dari Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) hadiah, lalu dia menyuruhku untuk meminta engkau menjadi saksi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti ini?” Dia menjawab, “Tidak.”Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,فَاتَّقُوا اللَّهَ واعْدِلُوا بيْنَ أوْلَادِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah kalian di antara anak-anak kalian.” (HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623)Hadis ini berkaitan dengan kasus hibah yang dilakukan kepada salah satu anak secara berat sebelah. Rasulullah ﷺ menegur perbuatan tersebut dan menyuruh untuk membatalkannya jika tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa hibah memiliki konsekuensi hukum, dan pembahasannya harus serius dalam fikih.Tiga hal ini cukup menjadi alasan bagi kita akan pentingnya pembahasan fikih hibah secara menyeluruh dan mendalam, agar masyarakat tidak sekadar mengikuti adat atau keinginan hawa nafsu pribadi, tetapi memahami batasan syariat dan mengikuti hukum syariat yang telah ditetapkan.Urgensi membahas hibah dalam fikih muamalah tidak bisa diabaikan karena hibah bukan hanya urusan pribadi, tapi berdampak pada keadilan hukum, keharmonisan keluarga, dan kestabilan sosial. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengetahui batasan hukum hibah agar dapat mengamalkannya secara syar’i dan adil. Wallahu a’lam bissowaab.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamUrgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahHibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanBerkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatBerpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamSetelah mengetahui secara singkat pengertian hibah; baik dari segi bahasa ataupun syariat pada artikel sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa hibah (الهبة) berarti “memberikan sesuatu secara cuma-cuma dan sukarela, tanpa ada imbalan dan paksaan selama pihak pemberi masih hidup.” Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Mughni. Beliau mengatakan,تَمْلِيكٌ في الحَياةِ بغيرِ عِوَضٍ“Hibah adalah pemberian hak milik selama pihak pemberi masih hidup tanpa imbalan.” (Al-Mughni, 8: 239)Jika melihat lebih jauh, syariat hibah memiliki dampak yang sangat kuat dalam kehidupan sosial Islam, hibah bukan sekadar pemberian biasa. Ia adalah simbol kasih sayang, solidaritas sosial, dan distribusi kekayaan secara adil di antara masyarakat. Hibah mendorong seorang muslim untuk tidak tamak terhadap harta, peduli dengan orang lain serta menghilangkan kecemburuan sosial karena terjadinya pemerataan harta secara sukarela.Hibah juga mempererat hubungan sosial dan ukhuwah; terutama dalam keluarga, tetangga, dan komunitas masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah kalian memberi hadiah (hibah), maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 594. Dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan bahwa hibah adalah media sosial yang menguatkan ikatan emosional dan menghapus permusuhan. Oleh karena itu, Islam tidak sekadar memerintahkan infak dan zakat, tetapi juga mendorong pemberian hibah secara pribadi dan sukarela.Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga menyebutkan konsep dan dampak baik dari hibah. Tatkala Allah mewajibkan pihak laki-laki untuk memberikan maskawin kepada perempuan yang dinikahinya, Allah Ta’ala berfirman menyebutkan bahwa apabila perempuan tersebut berkehendak untuk memberikan kembali maskawin tersebut sebagai bentuk pemberian kepada suaminya, maka sang suami diperbolehkan untuk mengambilnya dan memanfaatkannya,فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Tetapi jika mereka dengan rela memberikan kepadamu sebagian dari mahar itu, maka makanlah (ambillah) sebagai sesuatu yang nikmat lagi baik.” (QS. An-Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan bahwa pemberian (hibah) yang dilakukan dengan kerelaan hati, maka hukumnya halal dan diberkahi, bahkan diperbolehkan untuk dinikmati oleh penerima.Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa hibah merupakan instrumen sosial yang sangat ditekankan dalam Islam karena mengandung nilai ibadah, solidaritas, dan keikhlasan. Ia mengangkat martabat sosial dan memperkuat tatanan masyarakat Islam yang berlandaskan kasih sayang dan keadilan.Urgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahDalam Islam, hibah termasuk dalam ranah muamalah, urusan duniawi yang memiliki implikasi hukum. Akad hibah memindahkan kepemilikan harta dan berpotensi menimbulkan perselisihan jika tidak dikelola dengan benar.Sudah begitu banyak cerita yang beredar akan bagaimana sebuah proses hibah yang bertujuan baik pada akhirnya justru menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Hal ini karena minimnya ilmu tentang fikih hibah dan terjadinya kesalahan dalam prosesnya. Berikut adalah beberapa alasan kuat seorang muslim wajib mengetahui seluk beluk mengenai hibah dalam kacamata hukum Islam, sehingga dalam prosesnya dapat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanDalam Islam, proses akad memiliki berbagai aturan yang wajib dilakukan sehingga akad tersebut menjadi sah dan memiliki kekuatan hukum. Hal ini berlaku juga untuk akad hibah, dalam prosesnya membutuhkan pencatatan dan kepastian. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)Meskipun ayat ini berbicara tentang utang piutang, prinsip pencatatan dan kepastian hukum juga relevan bagi hibah, terutama dalam konteks hibah bersyarat atau hibah dalam jumlah besar (seperti hibah tanah dan rumah). Maka, pencatatan dapat mencegah konflik di masa depan.Islam begitu tegas menyikapi konflik dan perselisihan, melarang terjadinya hal tersebut dan memberikan solusi yang jelas apabila hal tersebut terlanjur terjadi. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian.” (QS. An-Nisâ’: 59)Dengan mengetahui hukum-hukum terkait fikih hibah, maka akan meminimalisir terjadinya pertikaian, sengketa, dan perselisihan di antara kaum muslimin. Berkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatDi antara kasus yang banyak terjadi adalah pembagian harta yang dilakukan oleh orang tua sebelum meninggal dunia. Terkait hal ini, maka perlu pembahasan mendalam, karena berkaitan erat dengan hukum waris yang ketentuan dan porsinya harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Berpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahDalam sebuah hadis sahih, sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu menceritakan,أَعْطَانِي أبِي عَطِيَّةً، فَقالَتْ عَمْرَةُ بنْتُ رَوَاحَةَ: لا أرْضَى حتَّى تُشْهِدَ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فأتَى رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: إنِّي أعْطَيْتُ ابْنِي مِن عَمْرَةَ بنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فأمَرَتْنِي أنْ أُشْهِدَكَ يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: أعْطَيْتَ سَائِرَ ولَدِكَ مِثْلَ هذا؟ قالَ: لَا“Ayahku memberiku hadiah (berupa pembantu yang dimintakan oleh ibu An-Nu’man kepada ayahnya), lalu Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) berkata, “Aku tidak rela sampai engkau meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi saksi.” Maka dia (ayahku) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan, “Sesungguhnya aku memberi anakku dari Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) hadiah, lalu dia menyuruhku untuk meminta engkau menjadi saksi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti ini?” Dia menjawab, “Tidak.”Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,فَاتَّقُوا اللَّهَ واعْدِلُوا بيْنَ أوْلَادِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah kalian di antara anak-anak kalian.” (HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623)Hadis ini berkaitan dengan kasus hibah yang dilakukan kepada salah satu anak secara berat sebelah. Rasulullah ﷺ menegur perbuatan tersebut dan menyuruh untuk membatalkannya jika tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa hibah memiliki konsekuensi hukum, dan pembahasannya harus serius dalam fikih.Tiga hal ini cukup menjadi alasan bagi kita akan pentingnya pembahasan fikih hibah secara menyeluruh dan mendalam, agar masyarakat tidak sekadar mengikuti adat atau keinginan hawa nafsu pribadi, tetapi memahami batasan syariat dan mengikuti hukum syariat yang telah ditetapkan.Urgensi membahas hibah dalam fikih muamalah tidak bisa diabaikan karena hibah bukan hanya urusan pribadi, tapi berdampak pada keadilan hukum, keharmonisan keluarga, dan kestabilan sosial. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengetahui batasan hukum hibah agar dapat mengamalkannya secara syar’i dan adil. Wallahu a’lam bissowaab.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamUrgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahHibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanBerkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatBerpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahKonsep hibah dalam kehidupan sosial IslamSetelah mengetahui secara singkat pengertian hibah; baik dari segi bahasa ataupun syariat pada artikel sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa hibah (الهبة) berarti “memberikan sesuatu secara cuma-cuma dan sukarela, tanpa ada imbalan dan paksaan selama pihak pemberi masih hidup.” Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Mughni. Beliau mengatakan,تَمْلِيكٌ في الحَياةِ بغيرِ عِوَضٍ“Hibah adalah pemberian hak milik selama pihak pemberi masih hidup tanpa imbalan.” (Al-Mughni, 8: 239)Jika melihat lebih jauh, syariat hibah memiliki dampak yang sangat kuat dalam kehidupan sosial Islam, hibah bukan sekadar pemberian biasa. Ia adalah simbol kasih sayang, solidaritas sosial, dan distribusi kekayaan secara adil di antara masyarakat. Hibah mendorong seorang muslim untuk tidak tamak terhadap harta, peduli dengan orang lain serta menghilangkan kecemburuan sosial karena terjadinya pemerataan harta secara sukarela.Hibah juga mempererat hubungan sosial dan ukhuwah; terutama dalam keluarga, tetangga, dan komunitas masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah kalian memberi hadiah (hibah), maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 594. Dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan bahwa hibah adalah media sosial yang menguatkan ikatan emosional dan menghapus permusuhan. Oleh karena itu, Islam tidak sekadar memerintahkan infak dan zakat, tetapi juga mendorong pemberian hibah secara pribadi dan sukarela.Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga menyebutkan konsep dan dampak baik dari hibah. Tatkala Allah mewajibkan pihak laki-laki untuk memberikan maskawin kepada perempuan yang dinikahinya, Allah Ta’ala berfirman menyebutkan bahwa apabila perempuan tersebut berkehendak untuk memberikan kembali maskawin tersebut sebagai bentuk pemberian kepada suaminya, maka sang suami diperbolehkan untuk mengambilnya dan memanfaatkannya,فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Tetapi jika mereka dengan rela memberikan kepadamu sebagian dari mahar itu, maka makanlah (ambillah) sebagai sesuatu yang nikmat lagi baik.” (QS. An-Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan bahwa pemberian (hibah) yang dilakukan dengan kerelaan hati, maka hukumnya halal dan diberkahi, bahkan diperbolehkan untuk dinikmati oleh penerima.Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa hibah merupakan instrumen sosial yang sangat ditekankan dalam Islam karena mengandung nilai ibadah, solidaritas, dan keikhlasan. Ia mengangkat martabat sosial dan memperkuat tatanan masyarakat Islam yang berlandaskan kasih sayang dan keadilan.Urgensi pembahasan hibah dalam fikih muamalahDalam Islam, hibah termasuk dalam ranah muamalah, urusan duniawi yang memiliki implikasi hukum. Akad hibah memindahkan kepemilikan harta dan berpotensi menimbulkan perselisihan jika tidak dikelola dengan benar.Sudah begitu banyak cerita yang beredar akan bagaimana sebuah proses hibah yang bertujuan baik pada akhirnya justru menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Hal ini karena minimnya ilmu tentang fikih hibah dan terjadinya kesalahan dalam prosesnya. Berikut adalah beberapa alasan kuat seorang muslim wajib mengetahui seluk beluk mengenai hibah dalam kacamata hukum Islam, sehingga dalam prosesnya dapat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hibah dapat menimbulkan sengketa hukum apabila tidak dicatat atau disalahgunakanDalam Islam, proses akad memiliki berbagai aturan yang wajib dilakukan sehingga akad tersebut menjadi sah dan memiliki kekuatan hukum. Hal ini berlaku juga untuk akad hibah, dalam prosesnya membutuhkan pencatatan dan kepastian. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)Meskipun ayat ini berbicara tentang utang piutang, prinsip pencatatan dan kepastian hukum juga relevan bagi hibah, terutama dalam konteks hibah bersyarat atau hibah dalam jumlah besar (seperti hibah tanah dan rumah). Maka, pencatatan dapat mencegah konflik di masa depan.Islam begitu tegas menyikapi konflik dan perselisihan, melarang terjadinya hal tersebut dan memberikan solusi yang jelas apabila hal tersebut terlanjur terjadi. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian.” (QS. An-Nisâ’: 59)Dengan mengetahui hukum-hukum terkait fikih hibah, maka akan meminimalisir terjadinya pertikaian, sengketa, dan perselisihan di antara kaum muslimin. Berkaitan dengan hukum waris jika dilakukan menjelang wafatDi antara kasus yang banyak terjadi adalah pembagian harta yang dilakukan oleh orang tua sebelum meninggal dunia. Terkait hal ini, maka perlu pembahasan mendalam, karena berkaitan erat dengan hukum waris yang ketentuan dan porsinya harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Berpotensi disalahgunakan dan menimbulkan ketidakadilan dalam pemberian hibahDalam sebuah hadis sahih, sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu menceritakan,أَعْطَانِي أبِي عَطِيَّةً، فَقالَتْ عَمْرَةُ بنْتُ رَوَاحَةَ: لا أرْضَى حتَّى تُشْهِدَ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فأتَى رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: إنِّي أعْطَيْتُ ابْنِي مِن عَمْرَةَ بنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فأمَرَتْنِي أنْ أُشْهِدَكَ يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: أعْطَيْتَ سَائِرَ ولَدِكَ مِثْلَ هذا؟ قالَ: لَا“Ayahku memberiku hadiah (berupa pembantu yang dimintakan oleh ibu An-Nu’man kepada ayahnya), lalu Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) berkata, “Aku tidak rela sampai engkau meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi saksi.” Maka dia (ayahku) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan, “Sesungguhnya aku memberi anakku dari Amrah binti Rawahah (ibu dari An-Nu’man) hadiah, lalu dia menyuruhku untuk meminta engkau menjadi saksi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti ini?” Dia menjawab, “Tidak.”Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,فَاتَّقُوا اللَّهَ واعْدِلُوا بيْنَ أوْلَادِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah kalian di antara anak-anak kalian.” (HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623)Hadis ini berkaitan dengan kasus hibah yang dilakukan kepada salah satu anak secara berat sebelah. Rasulullah ﷺ menegur perbuatan tersebut dan menyuruh untuk membatalkannya jika tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa hibah memiliki konsekuensi hukum, dan pembahasannya harus serius dalam fikih.Tiga hal ini cukup menjadi alasan bagi kita akan pentingnya pembahasan fikih hibah secara menyeluruh dan mendalam, agar masyarakat tidak sekadar mengikuti adat atau keinginan hawa nafsu pribadi, tetapi memahami batasan syariat dan mengikuti hukum syariat yang telah ditetapkan.Urgensi membahas hibah dalam fikih muamalah tidak bisa diabaikan karena hibah bukan hanya urusan pribadi, tapi berdampak pada keadilan hukum, keharmonisan keluarga, dan kestabilan sosial. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengetahui batasan hukum hibah agar dapat mengamalkannya secara syar’i dan adil. Wallahu a’lam bissowaab.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي تربية الأبناء مسؤوليةٌ عظيمة وشرفٌ كبير، جعلها الإسلام أمانةً في أعناق الوالدين، وخاصة الآباء؛ حيث تُعَد الأُسرة اللبِنةَ الأولى في بناء المجتمع، وإذا صلح البيت، صلح المجتمع، والعكس بالعكس. وقد وصَّى الإسلام بالاهتمام بتربية الأبناء، ووضَّح أهمية دور الآباء في تربية الأبناء؛ فقال الله تعالى في سورة لقمان: ﴿ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]، دعوة صريحة لتعليم الأبناء التوحيدَ والابتعاد عن الشرك، وهذا هو أهم دور من أدوار الآباء تجاه الأبناء. وقول الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾ [التحريم: 6]؛ قال الإمام الطبري: “أي: علِّموهم وأدِّبوهم”[الطبري، جامع البيان في تأويل آي القرآن.]. Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang agung dan kemuliaan besar, agama Islam menjadikannya sebagai amanah di pundak orang tua, terlebih lagi bagi ayah. Hal ini karena keluarga adalah pondasi pertama dalam bangunan masyarakat, apabila setiap keluarga itu baik, maka baik pula masyarakatnya, dan demikian juga sebaliknya. Agama Islam telah memerintahkan untuk memberi perhatian besar pada pendidikan anak dan menjelaskan pentingnya peran ayah dalam mendidik anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Luqman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Ini merupakan seruan yang jelas untuk mengajarkan kepada anak-anak ketauhidan dan menjauhi kesyirikan. Demikianlah pentingnya peran ayah terhadap anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Imam Ath-Thabari mengatakan, “Yakni ajarkanlah kepada mereka ilmu dan adab.” (Tafsir Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ay Al-Qur’an karya Imam Ath-Thabari). أولًا: مسؤولية الأب في التربية: يتحمل الأب الدورَ الأكبر في التوجيه، والرعاية، ووضع الضوابط التربوية، وهو القائد الأول في البيت؛ يقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((كلُّكم راعٍ ومسؤول عن رعيته؛ فالإمام راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والرجل في أهله راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والمرأة في بيت زوجها راعية وهي مسؤولة عن رعيتها، والخادم في مال سيده راعٍ وهو مسؤول عن رعيته))؛ [صحيح البخاري: 893]. Pertama: Tanggung jawab ayah dalam mendidik Seorang ayah mengemban peran terbesar dalam memberi tuntunan dan pengasuhan, dan menentukan garis-garis pendidikan. Dia adalah pemimpin utama di rumah tangga. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya, maka seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab atas keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (Shahih Al-Bukhari no. 893). ثانيًا: الجوانب التربوية التي يجب أن يعتني بها الأب: 1- التربية الإيمانية والعقدية: يبدأ الأب بتعليم ابنه التوحيدَ؛ كما فعل لقمان: ﴿ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]. والنبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما من مولود إلا يُولَد على الفطرة، فأبواه يهوِّدانِهِ أو ينصِّرانِهِ أو يمجِّسانِهِ))؛ [رواه البخاري ومسلم]؛ أي: إن للوالدين – والأب خاصة – الأثرَ الأكبر في تشكيل العقيدة والسلوك. 2- التربية الأخلاقية: حثَّ الإسلام على الأخلاق الكريمة، وعلَّمنا النبي صلى الله عليه وسلم أن نربي أبناءنا على الصدق والأمانة والتواضع[الغزالي، إحياء علوم الدين، دار المعرفة.]. إذا رأى الابن والده صادقًا، أمينًا، محافظًا على صلاته، بارًّا بوالديه، فسيكون ذلك أقوى من ألف نصيحة. 3- التربية الجسدية والنفسية: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((علِّموا أبناءكم السباحةَ والرماية وركوب الخيل))؛ [رواه البيهقي في السنن الكبرى]، وهو توجيه للاهتمام بالنموِّ البدني والاجتماعي. 4- التربية بالمحبة والحوار: كان النبي صلى الله عليه وسلم يحتضن الحسن والحسين، ويقبِّلهما ويلاعبهما، ويُظهر لهما المودة، ليعلمنا كيف تكون التربية بالرحمة، فشعور الأبناء بالمودة والرحمة من الآباء يساعدهم على تنمية هذه الصفات، وبثِّها للآخرين ممن يحيطون بهم. Kedua: Aspek-aspek pendidikan yang harus diperhatikan seorang ayah Pendidikan keimanan dan akidah Seorang ayah harus memulai pendidikan anaknya tentang ketauhidan, seperti yang dilakukan oleh Luqman: يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan dengan fitrah Islam, lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yakni kedua orang tua —terlebih lagi ayah— memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk akidah dan perilaku. Pendidikan karakter Agama Islam sangat menganjurkan penerapan budi pekerti yang luhur. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita agar mendidik anak-anak kita kejujuran, amanah, dan rendah hati. (Kitab Ihya Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali). Apabila seorang anak melihat ayahnya sebagai sosok yang jujur, amanah, konsisten menegakkan salat, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, itu akan lebih berpengaruh daripada seribu nasihat. Pendidikan rohani dan jasmani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra). Ini merupakan arahan beliau untuk memberi perhatian pada pertumbuhan anak dari sisi jasmani dan sosialnya. Pendidikan dengan kasih sayang dan komunikasi positif Dulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sering kali memeluk Hasan dan Husain, mencium dan bercanda dengan mereka berdua, dan mengungkapkan kasih sayang kepada mereka, untuk mengajarkan kepada kita bagaimana cara mendidik dengan kasih sayang. Perasaan anak-anak terhadap kasih sayang dan rasa cinta dari ayah mereka akan mendukung peningkatan sifat-sifat kasih sayang ini pada diri mereka dan menebarnya kepada orang-orang di sekitar mereka. ثالثًا: أهمية القدوة في حياة الأبناء: من الضروري أن يكون الآباء قدوةً صالحة لأبنائهم؛ لأن الأبناء يتأثرون بالأفعال أكثر من الأقوال، وتتشكَّل شخصياتهم وسلوكهم من خلال ما يرونه في آبائهم. والأب هو القدوة الأولى، فإن صلح سلوكه، تبِعه أبناؤه في الخير، وإن انحرف، فسدت القدوة؛ قال تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ﴾ [الأحزاب: 21]. لذا؛ فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. Ketiga: Urgensi teladan dalam kehidupan anak  Sudah menjadi keharusan bagi para ayah untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, karena anak-anak akan terpengaruh lebih banyak oleh perbuatan ayah daripada ucapannya, sehingga itu membentuk karakter dan kepribadian mereka melalui apa yang mereka lihat dari sosok ayah. Ayah merupakan teladan pertama, apabila perilakunya baik, maka anak-anaknya akan mengikuti kebaikannya. Namun, jika perilakunya menyimpang, maka ia menjadi teladan yang tidak baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sungguh pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Oleh sebab itu, teladan yang baik dari sosok ayah menjadi dasar yang kokoh bagi pertumbuhan generasi yang saleh dan berguna bagi diri dan masyarakatnya. رابعًا: عواقب إهمال التربية: إهمال الأب لدوره التربوي يؤدي إلى انحراف الأبناء، وضياع القيم، وفساد المجتمع؛ وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((ما من عبدٍ يسترعيه الله رعيةً يموت يومَ يموت، وهو غاشٌّ لرعيته، إلا حرَّم الله عليه الجنة))؛ [صحيح البخاري: 6731] Keempat: Akibat mengabaikan pendidikan Kelalaian ayah dalam perannya untuk mendidik dapat menyebabkan penyimpangan anak-anak, hilangnya nilai-nilai mereka, dan kerusakan masyarakat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ “Tidaklah ada seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk mengurus suatu tanggung jawab, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap tanggung jawabnya, melainkan Allah mengharamkannya masuk surga.” (Shahih Al-Bukhari no. 6731). الخاتمة: • دور الأب في التربية ليس فقط إطعامًا وكساءً، بل توجيهٌ، ورعاية، وبناء شخصيات تؤمن بالله، وتحمل القيم، وتنهض بالأمة. • فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. • فصلاح الأبناء هو ثمرة مباشرة لجهود الآباء، والتربية أمانة يُسأل عنها كل وليِّ أمرٍ يوم القيامة. Penutup  Peran ayah dalam merawat anak tidak hanya terbatas pada makanan dan pakaian, tapi juga dalam memberi arahan, pendidikan, dan pembentukan karakter yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memiliki nilai-nilai luhur, dan berkontribusi dalam kebangkitan umat. Teladan yang baik dari sosok ayah menjadi pondasi kokoh untuk membentuk generasi yang shaleh dan bermanfaat bagi pribadi dan masyarakatnya. Kesalehan anak merupakan hasil langsung dari usaha orang tua, dan pendidikan merupakan amanah akan dimintai pertanggungjawabannya dari setiap orang tua pada Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Sumber artikel PDF 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 596 times, 1 visit(s) today Post Views: 839 QRIS donasi Yufid

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي تربية الأبناء مسؤوليةٌ عظيمة وشرفٌ كبير، جعلها الإسلام أمانةً في أعناق الوالدين، وخاصة الآباء؛ حيث تُعَد الأُسرة اللبِنةَ الأولى في بناء المجتمع، وإذا صلح البيت، صلح المجتمع، والعكس بالعكس. وقد وصَّى الإسلام بالاهتمام بتربية الأبناء، ووضَّح أهمية دور الآباء في تربية الأبناء؛ فقال الله تعالى في سورة لقمان: ﴿ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]، دعوة صريحة لتعليم الأبناء التوحيدَ والابتعاد عن الشرك، وهذا هو أهم دور من أدوار الآباء تجاه الأبناء. وقول الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾ [التحريم: 6]؛ قال الإمام الطبري: “أي: علِّموهم وأدِّبوهم”[الطبري، جامع البيان في تأويل آي القرآن.]. Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang agung dan kemuliaan besar, agama Islam menjadikannya sebagai amanah di pundak orang tua, terlebih lagi bagi ayah. Hal ini karena keluarga adalah pondasi pertama dalam bangunan masyarakat, apabila setiap keluarga itu baik, maka baik pula masyarakatnya, dan demikian juga sebaliknya. Agama Islam telah memerintahkan untuk memberi perhatian besar pada pendidikan anak dan menjelaskan pentingnya peran ayah dalam mendidik anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Luqman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Ini merupakan seruan yang jelas untuk mengajarkan kepada anak-anak ketauhidan dan menjauhi kesyirikan. Demikianlah pentingnya peran ayah terhadap anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Imam Ath-Thabari mengatakan, “Yakni ajarkanlah kepada mereka ilmu dan adab.” (Tafsir Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ay Al-Qur’an karya Imam Ath-Thabari). أولًا: مسؤولية الأب في التربية: يتحمل الأب الدورَ الأكبر في التوجيه، والرعاية، ووضع الضوابط التربوية، وهو القائد الأول في البيت؛ يقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((كلُّكم راعٍ ومسؤول عن رعيته؛ فالإمام راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والرجل في أهله راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والمرأة في بيت زوجها راعية وهي مسؤولة عن رعيتها، والخادم في مال سيده راعٍ وهو مسؤول عن رعيته))؛ [صحيح البخاري: 893]. Pertama: Tanggung jawab ayah dalam mendidik Seorang ayah mengemban peran terbesar dalam memberi tuntunan dan pengasuhan, dan menentukan garis-garis pendidikan. Dia adalah pemimpin utama di rumah tangga. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya, maka seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab atas keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (Shahih Al-Bukhari no. 893). ثانيًا: الجوانب التربوية التي يجب أن يعتني بها الأب: 1- التربية الإيمانية والعقدية: يبدأ الأب بتعليم ابنه التوحيدَ؛ كما فعل لقمان: ﴿ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]. والنبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما من مولود إلا يُولَد على الفطرة، فأبواه يهوِّدانِهِ أو ينصِّرانِهِ أو يمجِّسانِهِ))؛ [رواه البخاري ومسلم]؛ أي: إن للوالدين – والأب خاصة – الأثرَ الأكبر في تشكيل العقيدة والسلوك. 2- التربية الأخلاقية: حثَّ الإسلام على الأخلاق الكريمة، وعلَّمنا النبي صلى الله عليه وسلم أن نربي أبناءنا على الصدق والأمانة والتواضع[الغزالي، إحياء علوم الدين، دار المعرفة.]. إذا رأى الابن والده صادقًا، أمينًا، محافظًا على صلاته، بارًّا بوالديه، فسيكون ذلك أقوى من ألف نصيحة. 3- التربية الجسدية والنفسية: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((علِّموا أبناءكم السباحةَ والرماية وركوب الخيل))؛ [رواه البيهقي في السنن الكبرى]، وهو توجيه للاهتمام بالنموِّ البدني والاجتماعي. 4- التربية بالمحبة والحوار: كان النبي صلى الله عليه وسلم يحتضن الحسن والحسين، ويقبِّلهما ويلاعبهما، ويُظهر لهما المودة، ليعلمنا كيف تكون التربية بالرحمة، فشعور الأبناء بالمودة والرحمة من الآباء يساعدهم على تنمية هذه الصفات، وبثِّها للآخرين ممن يحيطون بهم. Kedua: Aspek-aspek pendidikan yang harus diperhatikan seorang ayah Pendidikan keimanan dan akidah Seorang ayah harus memulai pendidikan anaknya tentang ketauhidan, seperti yang dilakukan oleh Luqman: يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan dengan fitrah Islam, lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yakni kedua orang tua —terlebih lagi ayah— memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk akidah dan perilaku. Pendidikan karakter Agama Islam sangat menganjurkan penerapan budi pekerti yang luhur. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita agar mendidik anak-anak kita kejujuran, amanah, dan rendah hati. (Kitab Ihya Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali). Apabila seorang anak melihat ayahnya sebagai sosok yang jujur, amanah, konsisten menegakkan salat, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, itu akan lebih berpengaruh daripada seribu nasihat. Pendidikan rohani dan jasmani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra). Ini merupakan arahan beliau untuk memberi perhatian pada pertumbuhan anak dari sisi jasmani dan sosialnya. Pendidikan dengan kasih sayang dan komunikasi positif Dulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sering kali memeluk Hasan dan Husain, mencium dan bercanda dengan mereka berdua, dan mengungkapkan kasih sayang kepada mereka, untuk mengajarkan kepada kita bagaimana cara mendidik dengan kasih sayang. Perasaan anak-anak terhadap kasih sayang dan rasa cinta dari ayah mereka akan mendukung peningkatan sifat-sifat kasih sayang ini pada diri mereka dan menebarnya kepada orang-orang di sekitar mereka. ثالثًا: أهمية القدوة في حياة الأبناء: من الضروري أن يكون الآباء قدوةً صالحة لأبنائهم؛ لأن الأبناء يتأثرون بالأفعال أكثر من الأقوال، وتتشكَّل شخصياتهم وسلوكهم من خلال ما يرونه في آبائهم. والأب هو القدوة الأولى، فإن صلح سلوكه، تبِعه أبناؤه في الخير، وإن انحرف، فسدت القدوة؛ قال تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ﴾ [الأحزاب: 21]. لذا؛ فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. Ketiga: Urgensi teladan dalam kehidupan anak  Sudah menjadi keharusan bagi para ayah untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, karena anak-anak akan terpengaruh lebih banyak oleh perbuatan ayah daripada ucapannya, sehingga itu membentuk karakter dan kepribadian mereka melalui apa yang mereka lihat dari sosok ayah. Ayah merupakan teladan pertama, apabila perilakunya baik, maka anak-anaknya akan mengikuti kebaikannya. Namun, jika perilakunya menyimpang, maka ia menjadi teladan yang tidak baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sungguh pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Oleh sebab itu, teladan yang baik dari sosok ayah menjadi dasar yang kokoh bagi pertumbuhan generasi yang saleh dan berguna bagi diri dan masyarakatnya. رابعًا: عواقب إهمال التربية: إهمال الأب لدوره التربوي يؤدي إلى انحراف الأبناء، وضياع القيم، وفساد المجتمع؛ وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((ما من عبدٍ يسترعيه الله رعيةً يموت يومَ يموت، وهو غاشٌّ لرعيته، إلا حرَّم الله عليه الجنة))؛ [صحيح البخاري: 6731] Keempat: Akibat mengabaikan pendidikan Kelalaian ayah dalam perannya untuk mendidik dapat menyebabkan penyimpangan anak-anak, hilangnya nilai-nilai mereka, dan kerusakan masyarakat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ “Tidaklah ada seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk mengurus suatu tanggung jawab, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap tanggung jawabnya, melainkan Allah mengharamkannya masuk surga.” (Shahih Al-Bukhari no. 6731). الخاتمة: • دور الأب في التربية ليس فقط إطعامًا وكساءً، بل توجيهٌ، ورعاية، وبناء شخصيات تؤمن بالله، وتحمل القيم، وتنهض بالأمة. • فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. • فصلاح الأبناء هو ثمرة مباشرة لجهود الآباء، والتربية أمانة يُسأل عنها كل وليِّ أمرٍ يوم القيامة. Penutup  Peran ayah dalam merawat anak tidak hanya terbatas pada makanan dan pakaian, tapi juga dalam memberi arahan, pendidikan, dan pembentukan karakter yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memiliki nilai-nilai luhur, dan berkontribusi dalam kebangkitan umat. Teladan yang baik dari sosok ayah menjadi pondasi kokoh untuk membentuk generasi yang shaleh dan bermanfaat bagi pribadi dan masyarakatnya. Kesalehan anak merupakan hasil langsung dari usaha orang tua, dan pendidikan merupakan amanah akan dimintai pertanggungjawabannya dari setiap orang tua pada Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Sumber artikel PDF 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 596 times, 1 visit(s) today Post Views: 839 QRIS donasi Yufid
دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي تربية الأبناء مسؤوليةٌ عظيمة وشرفٌ كبير، جعلها الإسلام أمانةً في أعناق الوالدين، وخاصة الآباء؛ حيث تُعَد الأُسرة اللبِنةَ الأولى في بناء المجتمع، وإذا صلح البيت، صلح المجتمع، والعكس بالعكس. وقد وصَّى الإسلام بالاهتمام بتربية الأبناء، ووضَّح أهمية دور الآباء في تربية الأبناء؛ فقال الله تعالى في سورة لقمان: ﴿ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]، دعوة صريحة لتعليم الأبناء التوحيدَ والابتعاد عن الشرك، وهذا هو أهم دور من أدوار الآباء تجاه الأبناء. وقول الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾ [التحريم: 6]؛ قال الإمام الطبري: “أي: علِّموهم وأدِّبوهم”[الطبري، جامع البيان في تأويل آي القرآن.]. Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang agung dan kemuliaan besar, agama Islam menjadikannya sebagai amanah di pundak orang tua, terlebih lagi bagi ayah. Hal ini karena keluarga adalah pondasi pertama dalam bangunan masyarakat, apabila setiap keluarga itu baik, maka baik pula masyarakatnya, dan demikian juga sebaliknya. Agama Islam telah memerintahkan untuk memberi perhatian besar pada pendidikan anak dan menjelaskan pentingnya peran ayah dalam mendidik anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Luqman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Ini merupakan seruan yang jelas untuk mengajarkan kepada anak-anak ketauhidan dan menjauhi kesyirikan. Demikianlah pentingnya peran ayah terhadap anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Imam Ath-Thabari mengatakan, “Yakni ajarkanlah kepada mereka ilmu dan adab.” (Tafsir Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ay Al-Qur’an karya Imam Ath-Thabari). أولًا: مسؤولية الأب في التربية: يتحمل الأب الدورَ الأكبر في التوجيه، والرعاية، ووضع الضوابط التربوية، وهو القائد الأول في البيت؛ يقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((كلُّكم راعٍ ومسؤول عن رعيته؛ فالإمام راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والرجل في أهله راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والمرأة في بيت زوجها راعية وهي مسؤولة عن رعيتها، والخادم في مال سيده راعٍ وهو مسؤول عن رعيته))؛ [صحيح البخاري: 893]. Pertama: Tanggung jawab ayah dalam mendidik Seorang ayah mengemban peran terbesar dalam memberi tuntunan dan pengasuhan, dan menentukan garis-garis pendidikan. Dia adalah pemimpin utama di rumah tangga. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya, maka seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab atas keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (Shahih Al-Bukhari no. 893). ثانيًا: الجوانب التربوية التي يجب أن يعتني بها الأب: 1- التربية الإيمانية والعقدية: يبدأ الأب بتعليم ابنه التوحيدَ؛ كما فعل لقمان: ﴿ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]. والنبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما من مولود إلا يُولَد على الفطرة، فأبواه يهوِّدانِهِ أو ينصِّرانِهِ أو يمجِّسانِهِ))؛ [رواه البخاري ومسلم]؛ أي: إن للوالدين – والأب خاصة – الأثرَ الأكبر في تشكيل العقيدة والسلوك. 2- التربية الأخلاقية: حثَّ الإسلام على الأخلاق الكريمة، وعلَّمنا النبي صلى الله عليه وسلم أن نربي أبناءنا على الصدق والأمانة والتواضع[الغزالي، إحياء علوم الدين، دار المعرفة.]. إذا رأى الابن والده صادقًا، أمينًا، محافظًا على صلاته، بارًّا بوالديه، فسيكون ذلك أقوى من ألف نصيحة. 3- التربية الجسدية والنفسية: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((علِّموا أبناءكم السباحةَ والرماية وركوب الخيل))؛ [رواه البيهقي في السنن الكبرى]، وهو توجيه للاهتمام بالنموِّ البدني والاجتماعي. 4- التربية بالمحبة والحوار: كان النبي صلى الله عليه وسلم يحتضن الحسن والحسين، ويقبِّلهما ويلاعبهما، ويُظهر لهما المودة، ليعلمنا كيف تكون التربية بالرحمة، فشعور الأبناء بالمودة والرحمة من الآباء يساعدهم على تنمية هذه الصفات، وبثِّها للآخرين ممن يحيطون بهم. Kedua: Aspek-aspek pendidikan yang harus diperhatikan seorang ayah Pendidikan keimanan dan akidah Seorang ayah harus memulai pendidikan anaknya tentang ketauhidan, seperti yang dilakukan oleh Luqman: يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan dengan fitrah Islam, lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yakni kedua orang tua —terlebih lagi ayah— memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk akidah dan perilaku. Pendidikan karakter Agama Islam sangat menganjurkan penerapan budi pekerti yang luhur. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita agar mendidik anak-anak kita kejujuran, amanah, dan rendah hati. (Kitab Ihya Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali). Apabila seorang anak melihat ayahnya sebagai sosok yang jujur, amanah, konsisten menegakkan salat, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, itu akan lebih berpengaruh daripada seribu nasihat. Pendidikan rohani dan jasmani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra). Ini merupakan arahan beliau untuk memberi perhatian pada pertumbuhan anak dari sisi jasmani dan sosialnya. Pendidikan dengan kasih sayang dan komunikasi positif Dulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sering kali memeluk Hasan dan Husain, mencium dan bercanda dengan mereka berdua, dan mengungkapkan kasih sayang kepada mereka, untuk mengajarkan kepada kita bagaimana cara mendidik dengan kasih sayang. Perasaan anak-anak terhadap kasih sayang dan rasa cinta dari ayah mereka akan mendukung peningkatan sifat-sifat kasih sayang ini pada diri mereka dan menebarnya kepada orang-orang di sekitar mereka. ثالثًا: أهمية القدوة في حياة الأبناء: من الضروري أن يكون الآباء قدوةً صالحة لأبنائهم؛ لأن الأبناء يتأثرون بالأفعال أكثر من الأقوال، وتتشكَّل شخصياتهم وسلوكهم من خلال ما يرونه في آبائهم. والأب هو القدوة الأولى، فإن صلح سلوكه، تبِعه أبناؤه في الخير، وإن انحرف، فسدت القدوة؛ قال تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ﴾ [الأحزاب: 21]. لذا؛ فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. Ketiga: Urgensi teladan dalam kehidupan anak  Sudah menjadi keharusan bagi para ayah untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, karena anak-anak akan terpengaruh lebih banyak oleh perbuatan ayah daripada ucapannya, sehingga itu membentuk karakter dan kepribadian mereka melalui apa yang mereka lihat dari sosok ayah. Ayah merupakan teladan pertama, apabila perilakunya baik, maka anak-anaknya akan mengikuti kebaikannya. Namun, jika perilakunya menyimpang, maka ia menjadi teladan yang tidak baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sungguh pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Oleh sebab itu, teladan yang baik dari sosok ayah menjadi dasar yang kokoh bagi pertumbuhan generasi yang saleh dan berguna bagi diri dan masyarakatnya. رابعًا: عواقب إهمال التربية: إهمال الأب لدوره التربوي يؤدي إلى انحراف الأبناء، وضياع القيم، وفساد المجتمع؛ وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((ما من عبدٍ يسترعيه الله رعيةً يموت يومَ يموت، وهو غاشٌّ لرعيته، إلا حرَّم الله عليه الجنة))؛ [صحيح البخاري: 6731] Keempat: Akibat mengabaikan pendidikan Kelalaian ayah dalam perannya untuk mendidik dapat menyebabkan penyimpangan anak-anak, hilangnya nilai-nilai mereka, dan kerusakan masyarakat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ “Tidaklah ada seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk mengurus suatu tanggung jawab, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap tanggung jawabnya, melainkan Allah mengharamkannya masuk surga.” (Shahih Al-Bukhari no. 6731). الخاتمة: • دور الأب في التربية ليس فقط إطعامًا وكساءً، بل توجيهٌ، ورعاية، وبناء شخصيات تؤمن بالله، وتحمل القيم، وتنهض بالأمة. • فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. • فصلاح الأبناء هو ثمرة مباشرة لجهود الآباء، والتربية أمانة يُسأل عنها كل وليِّ أمرٍ يوم القيامة. Penutup  Peran ayah dalam merawat anak tidak hanya terbatas pada makanan dan pakaian, tapi juga dalam memberi arahan, pendidikan, dan pembentukan karakter yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memiliki nilai-nilai luhur, dan berkontribusi dalam kebangkitan umat. Teladan yang baik dari sosok ayah menjadi pondasi kokoh untuk membentuk generasi yang shaleh dan bermanfaat bagi pribadi dan masyarakatnya. Kesalehan anak merupakan hasil langsung dari usaha orang tua, dan pendidikan merupakan amanah akan dimintai pertanggungjawabannya dari setiap orang tua pada Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Sumber artikel PDF 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 596 times, 1 visit(s) today Post Views: 839 QRIS donasi Yufid


دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي تربية الأبناء مسؤوليةٌ عظيمة وشرفٌ كبير، جعلها الإسلام أمانةً في أعناق الوالدين، وخاصة الآباء؛ حيث تُعَد الأُسرة اللبِنةَ الأولى في بناء المجتمع، وإذا صلح البيت، صلح المجتمع، والعكس بالعكس. وقد وصَّى الإسلام بالاهتمام بتربية الأبناء، ووضَّح أهمية دور الآباء في تربية الأبناء؛ فقال الله تعالى في سورة لقمان: ﴿ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]، دعوة صريحة لتعليم الأبناء التوحيدَ والابتعاد عن الشرك، وهذا هو أهم دور من أدوار الآباء تجاه الأبناء. وقول الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾ [التحريم: 6]؛ قال الإمام الطبري: “أي: علِّموهم وأدِّبوهم”[الطبري، جامع البيان في تأويل آي القرآن.]. Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang agung dan kemuliaan besar, agama Islam menjadikannya sebagai amanah di pundak orang tua, terlebih lagi bagi ayah. Hal ini karena keluarga adalah pondasi pertama dalam bangunan masyarakat, apabila setiap keluarga itu baik, maka baik pula masyarakatnya, dan demikian juga sebaliknya. Agama Islam telah memerintahkan untuk memberi perhatian besar pada pendidikan anak dan menjelaskan pentingnya peran ayah dalam mendidik anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Luqman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Ini merupakan seruan yang jelas untuk mengajarkan kepada anak-anak ketauhidan dan menjauhi kesyirikan. Demikianlah pentingnya peran ayah terhadap anak-anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Imam Ath-Thabari mengatakan, “Yakni ajarkanlah kepada mereka ilmu dan adab.” (Tafsir Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ay Al-Qur’an karya Imam Ath-Thabari). أولًا: مسؤولية الأب في التربية: يتحمل الأب الدورَ الأكبر في التوجيه، والرعاية، ووضع الضوابط التربوية، وهو القائد الأول في البيت؛ يقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((كلُّكم راعٍ ومسؤول عن رعيته؛ فالإمام راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والرجل في أهله راعٍ وهو مسؤول عن رعيته، والمرأة في بيت زوجها راعية وهي مسؤولة عن رعيتها، والخادم في مال سيده راعٍ وهو مسؤول عن رعيته))؛ [صحيح البخاري: 893]. Pertama: Tanggung jawab ayah dalam mendidik Seorang ayah mengemban peran terbesar dalam memberi tuntunan dan pengasuhan, dan menentukan garis-garis pendidikan. Dia adalah pemimpin utama di rumah tangga. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya, maka seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab atas keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (Shahih Al-Bukhari no. 893). ثانيًا: الجوانب التربوية التي يجب أن يعتني بها الأب: 1- التربية الإيمانية والعقدية: يبدأ الأب بتعليم ابنه التوحيدَ؛ كما فعل لقمان: ﴿ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾ [لقمان: 13]. والنبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما من مولود إلا يُولَد على الفطرة، فأبواه يهوِّدانِهِ أو ينصِّرانِهِ أو يمجِّسانِهِ))؛ [رواه البخاري ومسلم]؛ أي: إن للوالدين – والأب خاصة – الأثرَ الأكبر في تشكيل العقيدة والسلوك. 2- التربية الأخلاقية: حثَّ الإسلام على الأخلاق الكريمة، وعلَّمنا النبي صلى الله عليه وسلم أن نربي أبناءنا على الصدق والأمانة والتواضع[الغزالي، إحياء علوم الدين، دار المعرفة.]. إذا رأى الابن والده صادقًا، أمينًا، محافظًا على صلاته، بارًّا بوالديه، فسيكون ذلك أقوى من ألف نصيحة. 3- التربية الجسدية والنفسية: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((علِّموا أبناءكم السباحةَ والرماية وركوب الخيل))؛ [رواه البيهقي في السنن الكبرى]، وهو توجيه للاهتمام بالنموِّ البدني والاجتماعي. 4- التربية بالمحبة والحوار: كان النبي صلى الله عليه وسلم يحتضن الحسن والحسين، ويقبِّلهما ويلاعبهما، ويُظهر لهما المودة، ليعلمنا كيف تكون التربية بالرحمة، فشعور الأبناء بالمودة والرحمة من الآباء يساعدهم على تنمية هذه الصفات، وبثِّها للآخرين ممن يحيطون بهم. Kedua: Aspek-aspek pendidikan yang harus diperhatikan seorang ayah Pendidikan keimanan dan akidah Seorang ayah harus memulai pendidikan anaknya tentang ketauhidan, seperti yang dilakukan oleh Luqman: يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan dengan fitrah Islam, lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yakni kedua orang tua —terlebih lagi ayah— memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk akidah dan perilaku. Pendidikan karakter Agama Islam sangat menganjurkan penerapan budi pekerti yang luhur. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita agar mendidik anak-anak kita kejujuran, amanah, dan rendah hati. (Kitab Ihya Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali). Apabila seorang anak melihat ayahnya sebagai sosok yang jujur, amanah, konsisten menegakkan salat, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, itu akan lebih berpengaruh daripada seribu nasihat. Pendidikan rohani dan jasmani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra). Ini merupakan arahan beliau untuk memberi perhatian pada pertumbuhan anak dari sisi jasmani dan sosialnya. Pendidikan dengan kasih sayang dan komunikasi positif Dulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sering kali memeluk Hasan dan Husain, mencium dan bercanda dengan mereka berdua, dan mengungkapkan kasih sayang kepada mereka, untuk mengajarkan kepada kita bagaimana cara mendidik dengan kasih sayang. Perasaan anak-anak terhadap kasih sayang dan rasa cinta dari ayah mereka akan mendukung peningkatan sifat-sifat kasih sayang ini pada diri mereka dan menebarnya kepada orang-orang di sekitar mereka. ثالثًا: أهمية القدوة في حياة الأبناء: من الضروري أن يكون الآباء قدوةً صالحة لأبنائهم؛ لأن الأبناء يتأثرون بالأفعال أكثر من الأقوال، وتتشكَّل شخصياتهم وسلوكهم من خلال ما يرونه في آبائهم. والأب هو القدوة الأولى، فإن صلح سلوكه، تبِعه أبناؤه في الخير، وإن انحرف، فسدت القدوة؛ قال تعالى: ﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ﴾ [الأحزاب: 21]. لذا؛ فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. Ketiga: Urgensi teladan dalam kehidupan anak  Sudah menjadi keharusan bagi para ayah untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, karena anak-anak akan terpengaruh lebih banyak oleh perbuatan ayah daripada ucapannya, sehingga itu membentuk karakter dan kepribadian mereka melalui apa yang mereka lihat dari sosok ayah. Ayah merupakan teladan pertama, apabila perilakunya baik, maka anak-anaknya akan mengikuti kebaikannya. Namun, jika perilakunya menyimpang, maka ia menjadi teladan yang tidak baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sungguh pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Oleh sebab itu, teladan yang baik dari sosok ayah menjadi dasar yang kokoh bagi pertumbuhan generasi yang saleh dan berguna bagi diri dan masyarakatnya. رابعًا: عواقب إهمال التربية: إهمال الأب لدوره التربوي يؤدي إلى انحراف الأبناء، وضياع القيم، وفساد المجتمع؛ وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((ما من عبدٍ يسترعيه الله رعيةً يموت يومَ يموت، وهو غاشٌّ لرعيته، إلا حرَّم الله عليه الجنة))؛ [صحيح البخاري: 6731] Keempat: Akibat mengabaikan pendidikan Kelalaian ayah dalam perannya untuk mendidik dapat menyebabkan penyimpangan anak-anak, hilangnya nilai-nilai mereka, dan kerusakan masyarakat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ “Tidaklah ada seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk mengurus suatu tanggung jawab, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap tanggung jawabnya, melainkan Allah mengharamkannya masuk surga.” (Shahih Al-Bukhari no. 6731). الخاتمة: • دور الأب في التربية ليس فقط إطعامًا وكساءً، بل توجيهٌ، ورعاية، وبناء شخصيات تؤمن بالله، وتحمل القيم، وتنهض بالأمة. • فإن القدوة الحسنة من الآباء تمثل أساسًا متينًا لتنشئة جيل صالح نافع لنفسه ومجتمعه. • فصلاح الأبناء هو ثمرة مباشرة لجهود الآباء، والتربية أمانة يُسأل عنها كل وليِّ أمرٍ يوم القيامة. Penutup  Peran ayah dalam merawat anak tidak hanya terbatas pada makanan dan pakaian, tapi juga dalam memberi arahan, pendidikan, dan pembentukan karakter yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memiliki nilai-nilai luhur, dan berkontribusi dalam kebangkitan umat. Teladan yang baik dari sosok ayah menjadi pondasi kokoh untuk membentuk generasi yang shaleh dan bermanfaat bagi pribadi dan masyarakatnya. Kesalehan anak merupakan hasil langsung dari usaha orang tua, dan pendidikan merupakan amanah akan dimintai pertanggungjawabannya dari setiap orang tua pada Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/دور الآباء في تربية الأبناء في ضوء الكتاب والسنة النبوية Sumber artikel PDF 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 596 times, 1 visit(s) today Post Views: 839 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Ghafuur”Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahPerbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarKonsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaBeriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaMengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehKesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin dia mencintai-Nya, semakin takut ia bermaksiat, dan semakin besar harapannya kepada rahmat-Nya. Salah satu dari nama-Nya yang paling agung adalah Al-Ghafuur —Yang Maha Pengampun— nama yang sering diulang dalam Al-Qur’an sebagai pintu harapan dan jalan kembali bagi siapa pun yang ingin bertobat dan memperbaiki diri.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menyebut nama Al-Ghafuur, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Ghafuur”Allah menamai diri-Nya dengan “Al-Ghafuur” dalam sembilan puluh satu ayat. Di antaranya:Firman Allah Ta’ala,أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Al-Ghafuur (Yang Maha Pengampun) lagi Ar-Rahiim (Maha Penyayang).” (QS. Asy-Syūrā: 5)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ“Dan Dia-lah Al-Ghafuur Al-Waduud (Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih).” (QS. Al-Burūj: 14) [1]Dari penyebutan sebanyak sembilan puluh satu kali tersebut, tujuh puluh dua di antaranya digandengkan dengan nama Ar-Raḥiim, dalam enam ayat bersama Al-Ḥaliim, dalam tiga ayat bersama Asy-Syakuur, dalam dua ayat bersama Al-‘Aziiz, dan dalam satu ayat bersama Al-Waduud. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Ghafuur” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Kata al-Ghafuur merupakan ṣifah musyabbahah (kata sifat yang menunjukkan sifat yang menetap) dari kata kerja (غَفَرَ يغفِر) ghafara – yaghfiru. [3] Asal kata dari kata tersebut adalah al-ghafr (الغفر) yang berarti  “penutupan”.Ibnu Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menyatakan,الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ عُظْمُ بَابِهِ السَّتْرُ، ثُمَّ يَشِذُّ عَنْهُ مَا يُذْكَرُ. فَالْغَفْرُ: السَّتْرُ. وَالْغُفْرَانُ وَالْغَفْرُ بِمَعْنًى. يُقَالُ: غَفَرَ اللَّهُ ذَنْبَهُ غَفْرًا وَمَغْفِرَةً وَغُفْرَانًا.“Akar kata ghain–fā’–rā’ (الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ) secara umum menunjukkan makna penutupan (as-satr), dan semua turunannya berpangkal pada makna ini. Maka al-ghafr adalah penutupan, begitu juga al-ghufrān dan al-maghfirah. Dikatakan, ‘Ghafarallāhu dzanbahu’ – Allah menutupi dosanya dengan ampunan.” [4]Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahAz-Zajjāj berkata,وَمعنى الغفر فِي الله سُبْحَانَهُ هُوَ الَّذِي يستر ذنُوب عباده ويغطيهم بستره“Makna al-ghafr (ampunan) dalam konteks Allah Subḥānahu adalah bahwa Dia menutupi dosa-dosa hamba-Nya dan melindungi mereka dengan tutupan-Nya.” [5]Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ketika menafsirkan nama Al-Ghafuur,أَيْ: يَغْفِرُ ذَنْبَ مَنْ تَابَ إِلَيْهِ وخَضَع لَدَيْهِ، وَلَوْ كَانَ الذَّنْبُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ كَانَ“Maksud al-Ghafuur: Dia mengampuni dosa siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan tunduk di hadapan-Nya, walaupun dosanya berasal dari hal apa pun.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si‘di rahimahullah berkata,“العفو، الغفور، الغفار” الذي لم يزل، ولا يزال بالعفو معروفا، ‌وبالغفران ‌والصفح عن عباده موصوفا، كل أحد مضطر إلى عفوه ومغفرته، كما هو مضطر إلى رحمته وكرمه، وقد وعد بالمغفرة والعفو لمن أتى بأسبابها، قال تعالى: {وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}“al-‘Afuww, al-Ghafuur, al-Ghaffaar adalah (tiga) nama Allah yang menunjukkan bahwa Dia selalu dikenal dengan sifat memberi maaf, dan selalu disifati dengan ampunan dan pemaafan terhadap hamba-hamba-Nya. Setiap orang sangat membutuhkan ampunan dan maaf-Nya, sebagaimana mereka sangat membutuhkan rahmat dan karunia-Nya. Dan Dia telah berjanji akan memberi ampunan dan maaf bagi siapa saja yang memenuhi sebab-sebabnya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat, beriman, beramal saleh, lalu tetap berada di jalan yang benar.’ (QS. Ṭāhā: 82)” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”Perbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarMemahami perbedaan kedua kata ini penting, karena keduanya merupakan nama dari nama-nama Allah yang paling baik, dan menunjukkan makna yang berbeda. Syekh Mubarak al-Musai’id hafidzahullah mengatakan,al-Ghafuur adalah Yang mengampuni dosa, betapapun besar dan beratnya.al-Ghaffaar adalah Yang mengampuni dosa, betapapun banyak dan berulangnya.Jadi, al-Ghafuur berkaitan dengan dosa-dosa yang besar dan berat; sedangkan al-Ghaffaar berkaitan dengan kuantitas dan banyaknya dosa serta kesalahan. [8] Wallaahu a’lam.Konsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaPenetapan nama “Al-Ghafuur” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaTelah berlalu penyebutan bahwasanya Allah menyebutkan sebanyak sembilan puluh satu kali nama tersebut dalam Al-Qur’an. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyifati Diri-Nya sebagai Ghafuur (Maha Pengampun) atas dosa, kesalahan, dan kejahatan, baik yang kecil maupun besar—bahkan dosa syirik sekalipun. Jika pelakunya bertobat dan memohon ampun kepada Rabb-nya, maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuni dosanya. Allah berfirman,قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Sebesar apapun dosa seorang hamba, ampunan dan rahmat Allah lebih besar daripada dosa-dosa tersebut. Allah berfirman,إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَة“Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32) [9]Mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehMeskipun Allah adalah Al-Ghafuur, namun tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlebihan dalam melakukan maksiat, dosa, dan keburukan, dengan dalih bahwa Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ampunan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah. Allah berfirman,إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا“Jika kalian menjadi orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali (bertobat).” (QS. Al-Isra: 25)Dan Allah berfirman pula,إِلَّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Kecuali orang yang zalim, kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan, maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 11)Ayat ini menunjukkan syarat agar ampunan dan rahmat Allah dapat diraih, yaitu mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal saleh. [10]Kesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatHendaknya seorang hamba memperbanyak istigfar (memohon ampun) dalam segala keadaan. Jangan pernah merasa bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Bahkan jika dosa itu terus berulang, ia tetap harus terus bertobat dan memperbanyak istigfar. Sebab, Allah adalah Ghafuur dan Ghaffaar. Namun, agar istigfarnya benar-benar tulus, hendaknya ia memohon ampun kepada Rabb-nya dengan penuh kejujuran dan keinginan yang kuat. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertobat dan tidak pernah lelah memohon ampunan. Jangan pernah berputus asa, karena ampunan-Nya lebih luas dari dosa-dosa kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”***Rumdin PPIA Sragen, 3 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H. Catatan kaki:[1] An-Nahjul al-Asma, hal. 124.[2] At-Ta‘liq al-Asnā, hal. 121.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 483.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 696. Lihat juga al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 454.[5] Tafsīr Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, hal. 38.[6] Tafsir Ibnu Katsir, 8: 372.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 122.[9] An-Nahjul Asmaa, hal. 126.[10] Ibid, hal. 126-127.[11] At-Ta‘liq al-Asna, hal 123–124.

Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Ghafuur”Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahPerbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarKonsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaBeriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaMengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehKesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin dia mencintai-Nya, semakin takut ia bermaksiat, dan semakin besar harapannya kepada rahmat-Nya. Salah satu dari nama-Nya yang paling agung adalah Al-Ghafuur —Yang Maha Pengampun— nama yang sering diulang dalam Al-Qur’an sebagai pintu harapan dan jalan kembali bagi siapa pun yang ingin bertobat dan memperbaiki diri.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menyebut nama Al-Ghafuur, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Ghafuur”Allah menamai diri-Nya dengan “Al-Ghafuur” dalam sembilan puluh satu ayat. Di antaranya:Firman Allah Ta’ala,أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Al-Ghafuur (Yang Maha Pengampun) lagi Ar-Rahiim (Maha Penyayang).” (QS. Asy-Syūrā: 5)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ“Dan Dia-lah Al-Ghafuur Al-Waduud (Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih).” (QS. Al-Burūj: 14) [1]Dari penyebutan sebanyak sembilan puluh satu kali tersebut, tujuh puluh dua di antaranya digandengkan dengan nama Ar-Raḥiim, dalam enam ayat bersama Al-Ḥaliim, dalam tiga ayat bersama Asy-Syakuur, dalam dua ayat bersama Al-‘Aziiz, dan dalam satu ayat bersama Al-Waduud. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Ghafuur” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Kata al-Ghafuur merupakan ṣifah musyabbahah (kata sifat yang menunjukkan sifat yang menetap) dari kata kerja (غَفَرَ يغفِر) ghafara – yaghfiru. [3] Asal kata dari kata tersebut adalah al-ghafr (الغفر) yang berarti  “penutupan”.Ibnu Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menyatakan,الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ عُظْمُ بَابِهِ السَّتْرُ، ثُمَّ يَشِذُّ عَنْهُ مَا يُذْكَرُ. فَالْغَفْرُ: السَّتْرُ. وَالْغُفْرَانُ وَالْغَفْرُ بِمَعْنًى. يُقَالُ: غَفَرَ اللَّهُ ذَنْبَهُ غَفْرًا وَمَغْفِرَةً وَغُفْرَانًا.“Akar kata ghain–fā’–rā’ (الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ) secara umum menunjukkan makna penutupan (as-satr), dan semua turunannya berpangkal pada makna ini. Maka al-ghafr adalah penutupan, begitu juga al-ghufrān dan al-maghfirah. Dikatakan, ‘Ghafarallāhu dzanbahu’ – Allah menutupi dosanya dengan ampunan.” [4]Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahAz-Zajjāj berkata,وَمعنى الغفر فِي الله سُبْحَانَهُ هُوَ الَّذِي يستر ذنُوب عباده ويغطيهم بستره“Makna al-ghafr (ampunan) dalam konteks Allah Subḥānahu adalah bahwa Dia menutupi dosa-dosa hamba-Nya dan melindungi mereka dengan tutupan-Nya.” [5]Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ketika menafsirkan nama Al-Ghafuur,أَيْ: يَغْفِرُ ذَنْبَ مَنْ تَابَ إِلَيْهِ وخَضَع لَدَيْهِ، وَلَوْ كَانَ الذَّنْبُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ كَانَ“Maksud al-Ghafuur: Dia mengampuni dosa siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan tunduk di hadapan-Nya, walaupun dosanya berasal dari hal apa pun.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si‘di rahimahullah berkata,“العفو، الغفور، الغفار” الذي لم يزل، ولا يزال بالعفو معروفا، ‌وبالغفران ‌والصفح عن عباده موصوفا، كل أحد مضطر إلى عفوه ومغفرته، كما هو مضطر إلى رحمته وكرمه، وقد وعد بالمغفرة والعفو لمن أتى بأسبابها، قال تعالى: {وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}“al-‘Afuww, al-Ghafuur, al-Ghaffaar adalah (tiga) nama Allah yang menunjukkan bahwa Dia selalu dikenal dengan sifat memberi maaf, dan selalu disifati dengan ampunan dan pemaafan terhadap hamba-hamba-Nya. Setiap orang sangat membutuhkan ampunan dan maaf-Nya, sebagaimana mereka sangat membutuhkan rahmat dan karunia-Nya. Dan Dia telah berjanji akan memberi ampunan dan maaf bagi siapa saja yang memenuhi sebab-sebabnya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat, beriman, beramal saleh, lalu tetap berada di jalan yang benar.’ (QS. Ṭāhā: 82)” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”Perbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarMemahami perbedaan kedua kata ini penting, karena keduanya merupakan nama dari nama-nama Allah yang paling baik, dan menunjukkan makna yang berbeda. Syekh Mubarak al-Musai’id hafidzahullah mengatakan,al-Ghafuur adalah Yang mengampuni dosa, betapapun besar dan beratnya.al-Ghaffaar adalah Yang mengampuni dosa, betapapun banyak dan berulangnya.Jadi, al-Ghafuur berkaitan dengan dosa-dosa yang besar dan berat; sedangkan al-Ghaffaar berkaitan dengan kuantitas dan banyaknya dosa serta kesalahan. [8] Wallaahu a’lam.Konsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaPenetapan nama “Al-Ghafuur” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaTelah berlalu penyebutan bahwasanya Allah menyebutkan sebanyak sembilan puluh satu kali nama tersebut dalam Al-Qur’an. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyifati Diri-Nya sebagai Ghafuur (Maha Pengampun) atas dosa, kesalahan, dan kejahatan, baik yang kecil maupun besar—bahkan dosa syirik sekalipun. Jika pelakunya bertobat dan memohon ampun kepada Rabb-nya, maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuni dosanya. Allah berfirman,قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Sebesar apapun dosa seorang hamba, ampunan dan rahmat Allah lebih besar daripada dosa-dosa tersebut. Allah berfirman,إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَة“Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32) [9]Mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehMeskipun Allah adalah Al-Ghafuur, namun tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlebihan dalam melakukan maksiat, dosa, dan keburukan, dengan dalih bahwa Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ampunan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah. Allah berfirman,إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا“Jika kalian menjadi orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali (bertobat).” (QS. Al-Isra: 25)Dan Allah berfirman pula,إِلَّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Kecuali orang yang zalim, kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan, maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 11)Ayat ini menunjukkan syarat agar ampunan dan rahmat Allah dapat diraih, yaitu mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal saleh. [10]Kesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatHendaknya seorang hamba memperbanyak istigfar (memohon ampun) dalam segala keadaan. Jangan pernah merasa bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Bahkan jika dosa itu terus berulang, ia tetap harus terus bertobat dan memperbanyak istigfar. Sebab, Allah adalah Ghafuur dan Ghaffaar. Namun, agar istigfarnya benar-benar tulus, hendaknya ia memohon ampun kepada Rabb-nya dengan penuh kejujuran dan keinginan yang kuat. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertobat dan tidak pernah lelah memohon ampunan. Jangan pernah berputus asa, karena ampunan-Nya lebih luas dari dosa-dosa kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”***Rumdin PPIA Sragen, 3 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H. Catatan kaki:[1] An-Nahjul al-Asma, hal. 124.[2] At-Ta‘liq al-Asnā, hal. 121.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 483.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 696. Lihat juga al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 454.[5] Tafsīr Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, hal. 38.[6] Tafsir Ibnu Katsir, 8: 372.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 122.[9] An-Nahjul Asmaa, hal. 126.[10] Ibid, hal. 126-127.[11] At-Ta‘liq al-Asna, hal 123–124.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Ghafuur”Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahPerbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarKonsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaBeriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaMengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehKesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin dia mencintai-Nya, semakin takut ia bermaksiat, dan semakin besar harapannya kepada rahmat-Nya. Salah satu dari nama-Nya yang paling agung adalah Al-Ghafuur —Yang Maha Pengampun— nama yang sering diulang dalam Al-Qur’an sebagai pintu harapan dan jalan kembali bagi siapa pun yang ingin bertobat dan memperbaiki diri.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menyebut nama Al-Ghafuur, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Ghafuur”Allah menamai diri-Nya dengan “Al-Ghafuur” dalam sembilan puluh satu ayat. Di antaranya:Firman Allah Ta’ala,أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Al-Ghafuur (Yang Maha Pengampun) lagi Ar-Rahiim (Maha Penyayang).” (QS. Asy-Syūrā: 5)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ“Dan Dia-lah Al-Ghafuur Al-Waduud (Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih).” (QS. Al-Burūj: 14) [1]Dari penyebutan sebanyak sembilan puluh satu kali tersebut, tujuh puluh dua di antaranya digandengkan dengan nama Ar-Raḥiim, dalam enam ayat bersama Al-Ḥaliim, dalam tiga ayat bersama Asy-Syakuur, dalam dua ayat bersama Al-‘Aziiz, dan dalam satu ayat bersama Al-Waduud. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Ghafuur” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Kata al-Ghafuur merupakan ṣifah musyabbahah (kata sifat yang menunjukkan sifat yang menetap) dari kata kerja (غَفَرَ يغفِر) ghafara – yaghfiru. [3] Asal kata dari kata tersebut adalah al-ghafr (الغفر) yang berarti  “penutupan”.Ibnu Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menyatakan,الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ عُظْمُ بَابِهِ السَّتْرُ، ثُمَّ يَشِذُّ عَنْهُ مَا يُذْكَرُ. فَالْغَفْرُ: السَّتْرُ. وَالْغُفْرَانُ وَالْغَفْرُ بِمَعْنًى. يُقَالُ: غَفَرَ اللَّهُ ذَنْبَهُ غَفْرًا وَمَغْفِرَةً وَغُفْرَانًا.“Akar kata ghain–fā’–rā’ (الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ) secara umum menunjukkan makna penutupan (as-satr), dan semua turunannya berpangkal pada makna ini. Maka al-ghafr adalah penutupan, begitu juga al-ghufrān dan al-maghfirah. Dikatakan, ‘Ghafarallāhu dzanbahu’ – Allah menutupi dosanya dengan ampunan.” [4]Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahAz-Zajjāj berkata,وَمعنى الغفر فِي الله سُبْحَانَهُ هُوَ الَّذِي يستر ذنُوب عباده ويغطيهم بستره“Makna al-ghafr (ampunan) dalam konteks Allah Subḥānahu adalah bahwa Dia menutupi dosa-dosa hamba-Nya dan melindungi mereka dengan tutupan-Nya.” [5]Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ketika menafsirkan nama Al-Ghafuur,أَيْ: يَغْفِرُ ذَنْبَ مَنْ تَابَ إِلَيْهِ وخَضَع لَدَيْهِ، وَلَوْ كَانَ الذَّنْبُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ كَانَ“Maksud al-Ghafuur: Dia mengampuni dosa siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan tunduk di hadapan-Nya, walaupun dosanya berasal dari hal apa pun.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si‘di rahimahullah berkata,“العفو، الغفور، الغفار” الذي لم يزل، ولا يزال بالعفو معروفا، ‌وبالغفران ‌والصفح عن عباده موصوفا، كل أحد مضطر إلى عفوه ومغفرته، كما هو مضطر إلى رحمته وكرمه، وقد وعد بالمغفرة والعفو لمن أتى بأسبابها، قال تعالى: {وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}“al-‘Afuww, al-Ghafuur, al-Ghaffaar adalah (tiga) nama Allah yang menunjukkan bahwa Dia selalu dikenal dengan sifat memberi maaf, dan selalu disifati dengan ampunan dan pemaafan terhadap hamba-hamba-Nya. Setiap orang sangat membutuhkan ampunan dan maaf-Nya, sebagaimana mereka sangat membutuhkan rahmat dan karunia-Nya. Dan Dia telah berjanji akan memberi ampunan dan maaf bagi siapa saja yang memenuhi sebab-sebabnya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat, beriman, beramal saleh, lalu tetap berada di jalan yang benar.’ (QS. Ṭāhā: 82)” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”Perbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarMemahami perbedaan kedua kata ini penting, karena keduanya merupakan nama dari nama-nama Allah yang paling baik, dan menunjukkan makna yang berbeda. Syekh Mubarak al-Musai’id hafidzahullah mengatakan,al-Ghafuur adalah Yang mengampuni dosa, betapapun besar dan beratnya.al-Ghaffaar adalah Yang mengampuni dosa, betapapun banyak dan berulangnya.Jadi, al-Ghafuur berkaitan dengan dosa-dosa yang besar dan berat; sedangkan al-Ghaffaar berkaitan dengan kuantitas dan banyaknya dosa serta kesalahan. [8] Wallaahu a’lam.Konsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaPenetapan nama “Al-Ghafuur” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaTelah berlalu penyebutan bahwasanya Allah menyebutkan sebanyak sembilan puluh satu kali nama tersebut dalam Al-Qur’an. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyifati Diri-Nya sebagai Ghafuur (Maha Pengampun) atas dosa, kesalahan, dan kejahatan, baik yang kecil maupun besar—bahkan dosa syirik sekalipun. Jika pelakunya bertobat dan memohon ampun kepada Rabb-nya, maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuni dosanya. Allah berfirman,قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Sebesar apapun dosa seorang hamba, ampunan dan rahmat Allah lebih besar daripada dosa-dosa tersebut. Allah berfirman,إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَة“Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32) [9]Mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehMeskipun Allah adalah Al-Ghafuur, namun tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlebihan dalam melakukan maksiat, dosa, dan keburukan, dengan dalih bahwa Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ampunan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah. Allah berfirman,إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا“Jika kalian menjadi orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali (bertobat).” (QS. Al-Isra: 25)Dan Allah berfirman pula,إِلَّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Kecuali orang yang zalim, kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan, maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 11)Ayat ini menunjukkan syarat agar ampunan dan rahmat Allah dapat diraih, yaitu mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal saleh. [10]Kesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatHendaknya seorang hamba memperbanyak istigfar (memohon ampun) dalam segala keadaan. Jangan pernah merasa bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Bahkan jika dosa itu terus berulang, ia tetap harus terus bertobat dan memperbanyak istigfar. Sebab, Allah adalah Ghafuur dan Ghaffaar. Namun, agar istigfarnya benar-benar tulus, hendaknya ia memohon ampun kepada Rabb-nya dengan penuh kejujuran dan keinginan yang kuat. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertobat dan tidak pernah lelah memohon ampunan. Jangan pernah berputus asa, karena ampunan-Nya lebih luas dari dosa-dosa kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”***Rumdin PPIA Sragen, 3 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H. Catatan kaki:[1] An-Nahjul al-Asma, hal. 124.[2] At-Ta‘liq al-Asnā, hal. 121.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 483.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 696. Lihat juga al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 454.[5] Tafsīr Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, hal. 38.[6] Tafsir Ibnu Katsir, 8: 372.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 122.[9] An-Nahjul Asmaa, hal. 126.[10] Ibid, hal. 126-127.[11] At-Ta‘liq al-Asna, hal 123–124.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Ghafuur”Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahPerbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarKonsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaBeriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaMengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehKesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin dia mencintai-Nya, semakin takut ia bermaksiat, dan semakin besar harapannya kepada rahmat-Nya. Salah satu dari nama-Nya yang paling agung adalah Al-Ghafuur —Yang Maha Pengampun— nama yang sering diulang dalam Al-Qur’an sebagai pintu harapan dan jalan kembali bagi siapa pun yang ingin bertobat dan memperbaiki diri.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menyebut nama Al-Ghafuur, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Ghafuur”Allah menamai diri-Nya dengan “Al-Ghafuur” dalam sembilan puluh satu ayat. Di antaranya:Firman Allah Ta’ala,أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Al-Ghafuur (Yang Maha Pengampun) lagi Ar-Rahiim (Maha Penyayang).” (QS. Asy-Syūrā: 5)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ“Dan Dia-lah Al-Ghafuur Al-Waduud (Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih).” (QS. Al-Burūj: 14) [1]Dari penyebutan sebanyak sembilan puluh satu kali tersebut, tujuh puluh dua di antaranya digandengkan dengan nama Ar-Raḥiim, dalam enam ayat bersama Al-Ḥaliim, dalam tiga ayat bersama Asy-Syakuur, dalam dua ayat bersama Al-‘Aziiz, dan dalam satu ayat bersama Al-Waduud. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Ghafuur”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Ghafuur” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Ghafuur”Kata al-Ghafuur merupakan ṣifah musyabbahah (kata sifat yang menunjukkan sifat yang menetap) dari kata kerja (غَفَرَ يغفِر) ghafara – yaghfiru. [3] Asal kata dari kata tersebut adalah al-ghafr (الغفر) yang berarti  “penutupan”.Ibnu Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menyatakan,الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ عُظْمُ بَابِهِ السَّتْرُ، ثُمَّ يَشِذُّ عَنْهُ مَا يُذْكَرُ. فَالْغَفْرُ: السَّتْرُ. وَالْغُفْرَانُ وَالْغَفْرُ بِمَعْنًى. يُقَالُ: غَفَرَ اللَّهُ ذَنْبَهُ غَفْرًا وَمَغْفِرَةً وَغُفْرَانًا.“Akar kata ghain–fā’–rā’ (الْغَيْنُ وَالْفَاءُ وَالرَّاءُ) secara umum menunjukkan makna penutupan (as-satr), dan semua turunannya berpangkal pada makna ini. Maka al-ghafr adalah penutupan, begitu juga al-ghufrān dan al-maghfirah. Dikatakan, ‘Ghafarallāhu dzanbahu’ – Allah menutupi dosanya dengan ampunan.” [4]Makna “Al-Ghafuur” dalam konteks AllahAz-Zajjāj berkata,وَمعنى الغفر فِي الله سُبْحَانَهُ هُوَ الَّذِي يستر ذنُوب عباده ويغطيهم بستره“Makna al-ghafr (ampunan) dalam konteks Allah Subḥānahu adalah bahwa Dia menutupi dosa-dosa hamba-Nya dan melindungi mereka dengan tutupan-Nya.” [5]Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ketika menafsirkan nama Al-Ghafuur,أَيْ: يَغْفِرُ ذَنْبَ مَنْ تَابَ إِلَيْهِ وخَضَع لَدَيْهِ، وَلَوْ كَانَ الذَّنْبُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ كَانَ“Maksud al-Ghafuur: Dia mengampuni dosa siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan tunduk di hadapan-Nya, walaupun dosanya berasal dari hal apa pun.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si‘di rahimahullah berkata,“العفو، الغفور، الغفار” الذي لم يزل، ولا يزال بالعفو معروفا، ‌وبالغفران ‌والصفح عن عباده موصوفا، كل أحد مضطر إلى عفوه ومغفرته، كما هو مضطر إلى رحمته وكرمه، وقد وعد بالمغفرة والعفو لمن أتى بأسبابها، قال تعالى: {وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}“al-‘Afuww, al-Ghafuur, al-Ghaffaar adalah (tiga) nama Allah yang menunjukkan bahwa Dia selalu dikenal dengan sifat memberi maaf, dan selalu disifati dengan ampunan dan pemaafan terhadap hamba-hamba-Nya. Setiap orang sangat membutuhkan ampunan dan maaf-Nya, sebagaimana mereka sangat membutuhkan rahmat dan karunia-Nya. Dan Dia telah berjanji akan memberi ampunan dan maaf bagi siapa saja yang memenuhi sebab-sebabnya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat, beriman, beramal saleh, lalu tetap berada di jalan yang benar.’ (QS. Ṭāhā: 82)” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”Perbedaan antara al-Ghafuur dan al-GhaffaarMemahami perbedaan kedua kata ini penting, karena keduanya merupakan nama dari nama-nama Allah yang paling baik, dan menunjukkan makna yang berbeda. Syekh Mubarak al-Musai’id hafidzahullah mengatakan,al-Ghafuur adalah Yang mengampuni dosa, betapapun besar dan beratnya.al-Ghaffaar adalah Yang mengampuni dosa, betapapun banyak dan berulangnya.Jadi, al-Ghafuur berkaitan dengan dosa-dosa yang besar dan berat; sedangkan al-Ghaffaar berkaitan dengan kuantitas dan banyaknya dosa serta kesalahan. [8] Wallaahu a’lam.Konsekuensi dari nama Allah “Al-Ghafuur” bagi hambaPenetapan nama “Al-Ghafuur” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Ghafuur adalah salah satu dari Asmaul HusnaTelah berlalu penyebutan bahwasanya Allah menyebutkan sebanyak sembilan puluh satu kali nama tersebut dalam Al-Qur’an. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyifati Diri-Nya sebagai Ghafuur (Maha Pengampun) atas dosa, kesalahan, dan kejahatan, baik yang kecil maupun besar—bahkan dosa syirik sekalipun. Jika pelakunya bertobat dan memohon ampun kepada Rabb-nya, maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuni dosanya. Allah berfirman,قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Sebesar apapun dosa seorang hamba, ampunan dan rahmat Allah lebih besar daripada dosa-dosa tersebut. Allah berfirman,إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَة“Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32) [9]Mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal salehMeskipun Allah adalah Al-Ghafuur, namun tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlebihan dalam melakukan maksiat, dosa, dan keburukan, dengan dalih bahwa Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ampunan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah. Allah berfirman,إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا“Jika kalian menjadi orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali (bertobat).” (QS. Al-Isra: 25)Dan Allah berfirman pula,إِلَّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Kecuali orang yang zalim, kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan, maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 11)Ayat ini menunjukkan syarat agar ampunan dan rahmat Allah dapat diraih, yaitu mengubah keadaan dari melakukan dosa dan keburukan menjadi mengerjakan kebaikan dan amal saleh. [10]Kesungguhan dalam Istighfar sebesar apapun dosa yang telah diperbuatHendaknya seorang hamba memperbanyak istigfar (memohon ampun) dalam segala keadaan. Jangan pernah merasa bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Bahkan jika dosa itu terus berulang, ia tetap harus terus bertobat dan memperbanyak istigfar. Sebab, Allah adalah Ghafuur dan Ghaffaar. Namun, agar istigfarnya benar-benar tulus, hendaknya ia memohon ampun kepada Rabb-nya dengan penuh kejujuran dan keinginan yang kuat. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertobat dan tidak pernah lelah memohon ampunan. Jangan pernah berputus asa, karena ampunan-Nya lebih luas dari dosa-dosa kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”***Rumdin PPIA Sragen, 3 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H. Catatan kaki:[1] An-Nahjul al-Asma, hal. 124.[2] At-Ta‘liq al-Asnā, hal. 121.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 483.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 696. Lihat juga al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 454.[5] Tafsīr Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, hal. 38.[6] Tafsir Ibnu Katsir, 8: 372.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 122.[9] An-Nahjul Asmaa, hal. 126.[10] Ibid, hal. 126-127.[11] At-Ta‘liq al-Asna, hal 123–124.

Sebab Terhalangnya Rezeki: Dosa-Dosa Khalwah

أسباب انقطاع الرزق – الذنوب الخفية (ذنوب الخلوات) Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي مقدمة: ذنوب الخَلوات: هي الذنوب والمعاصي التي يرتكبها الإنسان في الخفاء، بعيدًا عن أعيُن الناس، ولكنها مرئية لله تعالى، وهي من أسباب ضعف الإيمان، وتقلُّب الأحوال، وضياع الأعمال الصالحة. الرزق بيد الله وحده، وهو الذي ﴿ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ﴾ [الرعد: 26]، ولكن هناك أسباب شرعية قد تكون سببًا في نقص الرزق أو انقطاعه، من أعظمها: الذنوب والمعاصي، وبخاصة ذنوبُ الخلوات التي يُصِرُّ عليها العبدُ حين يكون بعيدًا عن أعين الناس، لكنها لا تَغيب عن سمع الله وبصره. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لأعلمنَّ أقوامًا من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة، فيَجعلها الله هباءً منثورًا… إذا خَلوا بمحارم الله انتهكوها”[ابن ماجه، حديث رقم 4245، وصححه الألباني.]. وهذا الحديث يُظهر أثرَ تلك الذنوب في مَحْق الأعمال، فكيف لا تؤثِّر في الرزق؟ Pendahuluan  Dosa-dosa khalwah adalah dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan seseorang ketika sedang sendirian, jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tetap terlihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan salah satu hal yang melemahkan iman, memperburuk keadaan, dan tersia-siakan amal kebaikan. Rezeki berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Dia telah berfirman, “(Allah Subhanahu wa Ta’ala) melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki)” (QS. Ar-Ra’d: 26). Namun, dalam syariat terdapat hal-hal yang mungkin menjadi sebab berkurang atau bahkan terputusnya rezeki, dan di antara hal terbesarnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan, terlebih lagi dosa-dosa di kala sendiri yang terus-menerus dikerjakan seorang hamba saat ia jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tidak tersembunyi dari pandangan dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ فَيَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا… إِذَا خَلَوْا ‌بِمَحَارِمِ ‌اللهِ ‌انْتَهَكُوهَا “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada kaum-kaum dari umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah, lantas Allah menjadikannya sia-sia seperti debu-debu yang beterbangan (yaitu mereka yang) jika menyendiri dengan apa yang diharamkan Allah, mereka segera melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4245, dan dishahihkan Al-Albani). Hadits ini menunjukkan pengaruh dosa-dosa dalam melenyapkan amal-amal kebaikan, maka bagaimana mungkin dosa-dosa itu tidak berpengaruh pada rezeki! أثر الذنوب الخفيَّة على الرزق: 1- حِرمان البركة: قال ابن القيم: “الذنوب تُطفئ نور القلب، وتُضعف البدن، وتُقلل الرزق”[ابن القيم، الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي.]. 2- حِجاب بين العبد ودعائه: العبد العاصي في خَلوته قد يُحرَم استجابة الدعاء، فيُغلق باب الرزق؛ كما في الحديث: ” ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومَطعمه حرام، ومَلبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!”؛ رواه مسلم[صحيح مسلم، حديث رقم 1015].  3- محق النِعَم: قال تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾ [الأنفال: 53] 4- طرد من معية الله: من أعظم ما يُفتَح الرزق قُرب العبد من الله، أما ذنوب الخلوات، فتُورِث البُعد والحِرمان. Pengaruh dosa-dosa khalwah terhadap rezeki Memutus keberkahan Ibnu Al-Qayyim berkata, “Dosa-dosa dapat memadamkan cahaya hati, melemahkan badan, dan mengurangi rezeki.” (Kitab Al-Jawab Al-Kafi karya Ibnu Al-Qayyim). Penghalang antara seorang hamba dengan pengabulan doanya Seorang hamba yang bermaksiat dalam kesendiriannya dapat terhalang dari pengabulan doa, sehingga pintu rezekinya dapat tertutup, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis: ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” tapi makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, serta kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim no. 1015). Melenyapkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Al-Anfal: 53). Terjauhkan dari penyertaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Salah satu perkara terbesar yang dapat membuka pintu rezeki adalah dekatnya seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan dosa-dosa khalwah akan menjadikan seseorang jauh dan terhalang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. لماذا كانت ذنوب الخلوات أشدَّ؟ • لأنها تدل على سوء تعظيم لله، فقد استصغَر العبد نظرَ الله إليه. • وتكشف عن ضَعف مراقبة الله في القلب، وهو أساس الإيمان. قال أحد السلف: “لا تنظر إلى صِغَر الذنب، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت”[ابن عطاء السكندري، الحِكم العطائية.]. Mengapa dosa-dosa khalwah lebih berbahaya? Karena dosa-dosa ini menjadi tanda rendahnya pengagungan pelakunya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang tersebut meremehkan pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Ini juga menunjukkan lemahnya rasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada dalam hatinya, padahal itu adalah dasar keimanan. Seorang ulama salaf berkata, “Jangan kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah besarnya Dzat yang kamu maksiati!” (Kitab Al-Hikam Al-Atha’iyyah karya Ibnu Atha’ Al-Askandari). علاج ذنوب الخلوات: كل إنسان مسلم معرَّض للوقوع في الذنوب، وهناك فرق بين الإنسان المستمر في الذنوب والمعاصي، وبين غيره أنه متى ما وقع في الذنب قام بأمرين[ذنوب الخلوات وخطرها على المسلم، إسلام ويب، د. أحمد المحمدي.]: الأول: تاب وأناب وسارَع بالتوبة، والاستغفار؛ قال تعالى: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]، وقال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾ [النساء: 110]. والله تعالى يَفرَح بتوبة عبده إذا تاب إليه؛ كما جاء في الحديث عن أَنَس بْن مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ)؛ رواه البخاري. الثاني: أنه يَدرُس أسباب الوقوع في المعصية ويعمَل على إزالتها، وهذا ما يجب فعله؛ حتى نتخلص من هذه المعاصي. Obat dosa-dosa khalwah Setiap muslim pasti punya kemungkinan untuk terjerumus ke dalam dosa, tapi terdapat perbedaan antara orang yang bersikukuh di atas dosa-dosa dan kemaksiatannya, dan orang yang setiap terjerumus ke dalam dosa akan melakukan dua perkara berikut ini (Lihat: Artikel Dzunub Al-Khalawat wa Khatharuha Ala Al-Muslim karya Dr. Ahmad al-Muhammadi di IslamWeb): Pertama: Segera insaf, bertobat, dan memohon ampun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110). Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bahagia dengan pertobatan hamba-Nya, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ “Sungguh Allah lebih bahagia dengan pertobatan hamba-Nya saat ia bertobat, daripada bahagianya salah seorang dari kalian yang mengendarai hewan tunggangannya di gurun pasir, lalu hewan itu lepas bersama makanan dan minuman yang ada di atasnya, sehingga ia telah berputus asa darinya. Kemudian ia mendatangi pohon dan berbaring di naungannya, berputus asa untuk menemukan hewan tunggangannya. Saat keadaan sudah demikian, tiba-tiba hewan itu telah berdiri di sisinya, sehingga ia segera mengambil tali kekangnya dan berseru —karena saking senangnya—, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu!’ Orang itu salah ucap karena saking senangnya.” (HR. al-Bukhari). Kedua: Pelaku dosa itu mempelajari hal-hal yang menyebabkannya terjerumus ke dalam kemaksiatan, lalu berusaha menghilangkannya. Inilah yang harus kita lakukan agar dapat terbebas dari kemaksiatan. ومن علاج ذنوب الخلوات: 1- المراقبة الدائمة لله: قال تعالى: ﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى﴾ [العلق: 14]. 2- كثرة الاستغفار والتوبة: قال صلى الله عليه وسلم: “مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب”[رواه أحمد وأبو داود، وصحَّحه الحاكم.]. 3- شَغْل الوقت بطاعة الله: كلما شُغِلت الخَلوةُ بالذكر والطاعة، ضاقت مساحة المعصية. 4- الصحبة الصالحة والابتعاد عن أسباب الخَلوة المُهلكة. Di antara cara menangani dosa-dosa khalwah: 1. Selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihatnya.” (QS. Al-Alaq: 14). 2. Banyak beristighfar dan bertobat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب “Siapa yang senantiasa beristigfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar di setiap kesempitan, solusi di setiap kegundahan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Hakim). 3. Mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, setiap kali waktu sendiri itu diisi dengan zikir dan ketaatan, maka semakin sempit kesempatan untuk bermaksiat. 4. Berteman dengan orang-orang saleh dan menjauhi waktu-waktu kesendirian yang dapat membinasakan. خاتمة: الرزق نعمة عظيمة، والمعصية قد تكون مانعًا خفيًّا له. فلنراجِع خَلَواتنا، ولنجعلها مواطنَ ذكرٍ ودموع وخشية، لا مواضع غفلة وهلاك. فمن أصلح خَلوته، أصلَح الله له علانيته، وفتَح له أبواب الرزق مِن حيث لا يحتسب. Penutup  Rezeki merupakan nikmat yang besar, sedangkan kemaksiatan dapat menjadi penghalang yang tidak disadari. Oleh sebab itu, hendaklah kita mengintrospeksi waktu-waktu kesendirian kita, dan menjadikannya sebagai momen untuk berzikir, bersimpuh, dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebagai waktu untuk lalai dan membinasakan diri. Siapa yang memperbaiki keadaannya di saat sendiri, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki keadaannya di saat bersama orang lain dan membukakan baginya pintu-pintu rezeki yang tidak disangka-sangka. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/177935/أسباب-انقطاع-الرزق-الذنوب-الخفية-ذنوب-الخلوات/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 527 times, 1 visit(s) today Post Views: 699 QRIS donasi Yufid

Sebab Terhalangnya Rezeki: Dosa-Dosa Khalwah

أسباب انقطاع الرزق – الذنوب الخفية (ذنوب الخلوات) Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي مقدمة: ذنوب الخَلوات: هي الذنوب والمعاصي التي يرتكبها الإنسان في الخفاء، بعيدًا عن أعيُن الناس، ولكنها مرئية لله تعالى، وهي من أسباب ضعف الإيمان، وتقلُّب الأحوال، وضياع الأعمال الصالحة. الرزق بيد الله وحده، وهو الذي ﴿ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ﴾ [الرعد: 26]، ولكن هناك أسباب شرعية قد تكون سببًا في نقص الرزق أو انقطاعه، من أعظمها: الذنوب والمعاصي، وبخاصة ذنوبُ الخلوات التي يُصِرُّ عليها العبدُ حين يكون بعيدًا عن أعين الناس، لكنها لا تَغيب عن سمع الله وبصره. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لأعلمنَّ أقوامًا من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة، فيَجعلها الله هباءً منثورًا… إذا خَلوا بمحارم الله انتهكوها”[ابن ماجه، حديث رقم 4245، وصححه الألباني.]. وهذا الحديث يُظهر أثرَ تلك الذنوب في مَحْق الأعمال، فكيف لا تؤثِّر في الرزق؟ Pendahuluan  Dosa-dosa khalwah adalah dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan seseorang ketika sedang sendirian, jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tetap terlihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan salah satu hal yang melemahkan iman, memperburuk keadaan, dan tersia-siakan amal kebaikan. Rezeki berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Dia telah berfirman, “(Allah Subhanahu wa Ta’ala) melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki)” (QS. Ar-Ra’d: 26). Namun, dalam syariat terdapat hal-hal yang mungkin menjadi sebab berkurang atau bahkan terputusnya rezeki, dan di antara hal terbesarnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan, terlebih lagi dosa-dosa di kala sendiri yang terus-menerus dikerjakan seorang hamba saat ia jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tidak tersembunyi dari pandangan dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ فَيَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا… إِذَا خَلَوْا ‌بِمَحَارِمِ ‌اللهِ ‌انْتَهَكُوهَا “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada kaum-kaum dari umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah, lantas Allah menjadikannya sia-sia seperti debu-debu yang beterbangan (yaitu mereka yang) jika menyendiri dengan apa yang diharamkan Allah, mereka segera melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4245, dan dishahihkan Al-Albani). Hadits ini menunjukkan pengaruh dosa-dosa dalam melenyapkan amal-amal kebaikan, maka bagaimana mungkin dosa-dosa itu tidak berpengaruh pada rezeki! أثر الذنوب الخفيَّة على الرزق: 1- حِرمان البركة: قال ابن القيم: “الذنوب تُطفئ نور القلب، وتُضعف البدن، وتُقلل الرزق”[ابن القيم، الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي.]. 2- حِجاب بين العبد ودعائه: العبد العاصي في خَلوته قد يُحرَم استجابة الدعاء، فيُغلق باب الرزق؛ كما في الحديث: ” ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومَطعمه حرام، ومَلبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!”؛ رواه مسلم[صحيح مسلم، حديث رقم 1015].  3- محق النِعَم: قال تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾ [الأنفال: 53] 4- طرد من معية الله: من أعظم ما يُفتَح الرزق قُرب العبد من الله، أما ذنوب الخلوات، فتُورِث البُعد والحِرمان. Pengaruh dosa-dosa khalwah terhadap rezeki Memutus keberkahan Ibnu Al-Qayyim berkata, “Dosa-dosa dapat memadamkan cahaya hati, melemahkan badan, dan mengurangi rezeki.” (Kitab Al-Jawab Al-Kafi karya Ibnu Al-Qayyim). Penghalang antara seorang hamba dengan pengabulan doanya Seorang hamba yang bermaksiat dalam kesendiriannya dapat terhalang dari pengabulan doa, sehingga pintu rezekinya dapat tertutup, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis: ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” tapi makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, serta kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim no. 1015). Melenyapkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Al-Anfal: 53). Terjauhkan dari penyertaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Salah satu perkara terbesar yang dapat membuka pintu rezeki adalah dekatnya seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan dosa-dosa khalwah akan menjadikan seseorang jauh dan terhalang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. لماذا كانت ذنوب الخلوات أشدَّ؟ • لأنها تدل على سوء تعظيم لله، فقد استصغَر العبد نظرَ الله إليه. • وتكشف عن ضَعف مراقبة الله في القلب، وهو أساس الإيمان. قال أحد السلف: “لا تنظر إلى صِغَر الذنب، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت”[ابن عطاء السكندري، الحِكم العطائية.]. Mengapa dosa-dosa khalwah lebih berbahaya? Karena dosa-dosa ini menjadi tanda rendahnya pengagungan pelakunya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang tersebut meremehkan pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Ini juga menunjukkan lemahnya rasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada dalam hatinya, padahal itu adalah dasar keimanan. Seorang ulama salaf berkata, “Jangan kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah besarnya Dzat yang kamu maksiati!” (Kitab Al-Hikam Al-Atha’iyyah karya Ibnu Atha’ Al-Askandari). علاج ذنوب الخلوات: كل إنسان مسلم معرَّض للوقوع في الذنوب، وهناك فرق بين الإنسان المستمر في الذنوب والمعاصي، وبين غيره أنه متى ما وقع في الذنب قام بأمرين[ذنوب الخلوات وخطرها على المسلم، إسلام ويب، د. أحمد المحمدي.]: الأول: تاب وأناب وسارَع بالتوبة، والاستغفار؛ قال تعالى: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]، وقال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾ [النساء: 110]. والله تعالى يَفرَح بتوبة عبده إذا تاب إليه؛ كما جاء في الحديث عن أَنَس بْن مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ)؛ رواه البخاري. الثاني: أنه يَدرُس أسباب الوقوع في المعصية ويعمَل على إزالتها، وهذا ما يجب فعله؛ حتى نتخلص من هذه المعاصي. Obat dosa-dosa khalwah Setiap muslim pasti punya kemungkinan untuk terjerumus ke dalam dosa, tapi terdapat perbedaan antara orang yang bersikukuh di atas dosa-dosa dan kemaksiatannya, dan orang yang setiap terjerumus ke dalam dosa akan melakukan dua perkara berikut ini (Lihat: Artikel Dzunub Al-Khalawat wa Khatharuha Ala Al-Muslim karya Dr. Ahmad al-Muhammadi di IslamWeb): Pertama: Segera insaf, bertobat, dan memohon ampun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110). Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bahagia dengan pertobatan hamba-Nya, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ “Sungguh Allah lebih bahagia dengan pertobatan hamba-Nya saat ia bertobat, daripada bahagianya salah seorang dari kalian yang mengendarai hewan tunggangannya di gurun pasir, lalu hewan itu lepas bersama makanan dan minuman yang ada di atasnya, sehingga ia telah berputus asa darinya. Kemudian ia mendatangi pohon dan berbaring di naungannya, berputus asa untuk menemukan hewan tunggangannya. Saat keadaan sudah demikian, tiba-tiba hewan itu telah berdiri di sisinya, sehingga ia segera mengambil tali kekangnya dan berseru —karena saking senangnya—, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu!’ Orang itu salah ucap karena saking senangnya.” (HR. al-Bukhari). Kedua: Pelaku dosa itu mempelajari hal-hal yang menyebabkannya terjerumus ke dalam kemaksiatan, lalu berusaha menghilangkannya. Inilah yang harus kita lakukan agar dapat terbebas dari kemaksiatan. ومن علاج ذنوب الخلوات: 1- المراقبة الدائمة لله: قال تعالى: ﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى﴾ [العلق: 14]. 2- كثرة الاستغفار والتوبة: قال صلى الله عليه وسلم: “مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب”[رواه أحمد وأبو داود، وصحَّحه الحاكم.]. 3- شَغْل الوقت بطاعة الله: كلما شُغِلت الخَلوةُ بالذكر والطاعة، ضاقت مساحة المعصية. 4- الصحبة الصالحة والابتعاد عن أسباب الخَلوة المُهلكة. Di antara cara menangani dosa-dosa khalwah: 1. Selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihatnya.” (QS. Al-Alaq: 14). 2. Banyak beristighfar dan bertobat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب “Siapa yang senantiasa beristigfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar di setiap kesempitan, solusi di setiap kegundahan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Hakim). 3. Mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, setiap kali waktu sendiri itu diisi dengan zikir dan ketaatan, maka semakin sempit kesempatan untuk bermaksiat. 4. Berteman dengan orang-orang saleh dan menjauhi waktu-waktu kesendirian yang dapat membinasakan. خاتمة: الرزق نعمة عظيمة، والمعصية قد تكون مانعًا خفيًّا له. فلنراجِع خَلَواتنا، ولنجعلها مواطنَ ذكرٍ ودموع وخشية، لا مواضع غفلة وهلاك. فمن أصلح خَلوته، أصلَح الله له علانيته، وفتَح له أبواب الرزق مِن حيث لا يحتسب. Penutup  Rezeki merupakan nikmat yang besar, sedangkan kemaksiatan dapat menjadi penghalang yang tidak disadari. Oleh sebab itu, hendaklah kita mengintrospeksi waktu-waktu kesendirian kita, dan menjadikannya sebagai momen untuk berzikir, bersimpuh, dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebagai waktu untuk lalai dan membinasakan diri. Siapa yang memperbaiki keadaannya di saat sendiri, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki keadaannya di saat bersama orang lain dan membukakan baginya pintu-pintu rezeki yang tidak disangka-sangka. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/177935/أسباب-انقطاع-الرزق-الذنوب-الخفية-ذنوب-الخلوات/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 527 times, 1 visit(s) today Post Views: 699 QRIS donasi Yufid
أسباب انقطاع الرزق – الذنوب الخفية (ذنوب الخلوات) Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي مقدمة: ذنوب الخَلوات: هي الذنوب والمعاصي التي يرتكبها الإنسان في الخفاء، بعيدًا عن أعيُن الناس، ولكنها مرئية لله تعالى، وهي من أسباب ضعف الإيمان، وتقلُّب الأحوال، وضياع الأعمال الصالحة. الرزق بيد الله وحده، وهو الذي ﴿ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ﴾ [الرعد: 26]، ولكن هناك أسباب شرعية قد تكون سببًا في نقص الرزق أو انقطاعه، من أعظمها: الذنوب والمعاصي، وبخاصة ذنوبُ الخلوات التي يُصِرُّ عليها العبدُ حين يكون بعيدًا عن أعين الناس، لكنها لا تَغيب عن سمع الله وبصره. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لأعلمنَّ أقوامًا من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة، فيَجعلها الله هباءً منثورًا… إذا خَلوا بمحارم الله انتهكوها”[ابن ماجه، حديث رقم 4245، وصححه الألباني.]. وهذا الحديث يُظهر أثرَ تلك الذنوب في مَحْق الأعمال، فكيف لا تؤثِّر في الرزق؟ Pendahuluan  Dosa-dosa khalwah adalah dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan seseorang ketika sedang sendirian, jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tetap terlihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan salah satu hal yang melemahkan iman, memperburuk keadaan, dan tersia-siakan amal kebaikan. Rezeki berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Dia telah berfirman, “(Allah Subhanahu wa Ta’ala) melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki)” (QS. Ar-Ra’d: 26). Namun, dalam syariat terdapat hal-hal yang mungkin menjadi sebab berkurang atau bahkan terputusnya rezeki, dan di antara hal terbesarnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan, terlebih lagi dosa-dosa di kala sendiri yang terus-menerus dikerjakan seorang hamba saat ia jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tidak tersembunyi dari pandangan dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ فَيَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا… إِذَا خَلَوْا ‌بِمَحَارِمِ ‌اللهِ ‌انْتَهَكُوهَا “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada kaum-kaum dari umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah, lantas Allah menjadikannya sia-sia seperti debu-debu yang beterbangan (yaitu mereka yang) jika menyendiri dengan apa yang diharamkan Allah, mereka segera melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4245, dan dishahihkan Al-Albani). Hadits ini menunjukkan pengaruh dosa-dosa dalam melenyapkan amal-amal kebaikan, maka bagaimana mungkin dosa-dosa itu tidak berpengaruh pada rezeki! أثر الذنوب الخفيَّة على الرزق: 1- حِرمان البركة: قال ابن القيم: “الذنوب تُطفئ نور القلب، وتُضعف البدن، وتُقلل الرزق”[ابن القيم، الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي.]. 2- حِجاب بين العبد ودعائه: العبد العاصي في خَلوته قد يُحرَم استجابة الدعاء، فيُغلق باب الرزق؛ كما في الحديث: ” ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومَطعمه حرام، ومَلبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!”؛ رواه مسلم[صحيح مسلم، حديث رقم 1015].  3- محق النِعَم: قال تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾ [الأنفال: 53] 4- طرد من معية الله: من أعظم ما يُفتَح الرزق قُرب العبد من الله، أما ذنوب الخلوات، فتُورِث البُعد والحِرمان. Pengaruh dosa-dosa khalwah terhadap rezeki Memutus keberkahan Ibnu Al-Qayyim berkata, “Dosa-dosa dapat memadamkan cahaya hati, melemahkan badan, dan mengurangi rezeki.” (Kitab Al-Jawab Al-Kafi karya Ibnu Al-Qayyim). Penghalang antara seorang hamba dengan pengabulan doanya Seorang hamba yang bermaksiat dalam kesendiriannya dapat terhalang dari pengabulan doa, sehingga pintu rezekinya dapat tertutup, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis: ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” tapi makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, serta kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim no. 1015). Melenyapkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Al-Anfal: 53). Terjauhkan dari penyertaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Salah satu perkara terbesar yang dapat membuka pintu rezeki adalah dekatnya seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan dosa-dosa khalwah akan menjadikan seseorang jauh dan terhalang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. لماذا كانت ذنوب الخلوات أشدَّ؟ • لأنها تدل على سوء تعظيم لله، فقد استصغَر العبد نظرَ الله إليه. • وتكشف عن ضَعف مراقبة الله في القلب، وهو أساس الإيمان. قال أحد السلف: “لا تنظر إلى صِغَر الذنب، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت”[ابن عطاء السكندري، الحِكم العطائية.]. Mengapa dosa-dosa khalwah lebih berbahaya? Karena dosa-dosa ini menjadi tanda rendahnya pengagungan pelakunya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang tersebut meremehkan pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Ini juga menunjukkan lemahnya rasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada dalam hatinya, padahal itu adalah dasar keimanan. Seorang ulama salaf berkata, “Jangan kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah besarnya Dzat yang kamu maksiati!” (Kitab Al-Hikam Al-Atha’iyyah karya Ibnu Atha’ Al-Askandari). علاج ذنوب الخلوات: كل إنسان مسلم معرَّض للوقوع في الذنوب، وهناك فرق بين الإنسان المستمر في الذنوب والمعاصي، وبين غيره أنه متى ما وقع في الذنب قام بأمرين[ذنوب الخلوات وخطرها على المسلم، إسلام ويب، د. أحمد المحمدي.]: الأول: تاب وأناب وسارَع بالتوبة، والاستغفار؛ قال تعالى: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]، وقال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾ [النساء: 110]. والله تعالى يَفرَح بتوبة عبده إذا تاب إليه؛ كما جاء في الحديث عن أَنَس بْن مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ)؛ رواه البخاري. الثاني: أنه يَدرُس أسباب الوقوع في المعصية ويعمَل على إزالتها، وهذا ما يجب فعله؛ حتى نتخلص من هذه المعاصي. Obat dosa-dosa khalwah Setiap muslim pasti punya kemungkinan untuk terjerumus ke dalam dosa, tapi terdapat perbedaan antara orang yang bersikukuh di atas dosa-dosa dan kemaksiatannya, dan orang yang setiap terjerumus ke dalam dosa akan melakukan dua perkara berikut ini (Lihat: Artikel Dzunub Al-Khalawat wa Khatharuha Ala Al-Muslim karya Dr. Ahmad al-Muhammadi di IslamWeb): Pertama: Segera insaf, bertobat, dan memohon ampun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110). Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bahagia dengan pertobatan hamba-Nya, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ “Sungguh Allah lebih bahagia dengan pertobatan hamba-Nya saat ia bertobat, daripada bahagianya salah seorang dari kalian yang mengendarai hewan tunggangannya di gurun pasir, lalu hewan itu lepas bersama makanan dan minuman yang ada di atasnya, sehingga ia telah berputus asa darinya. Kemudian ia mendatangi pohon dan berbaring di naungannya, berputus asa untuk menemukan hewan tunggangannya. Saat keadaan sudah demikian, tiba-tiba hewan itu telah berdiri di sisinya, sehingga ia segera mengambil tali kekangnya dan berseru —karena saking senangnya—, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu!’ Orang itu salah ucap karena saking senangnya.” (HR. al-Bukhari). Kedua: Pelaku dosa itu mempelajari hal-hal yang menyebabkannya terjerumus ke dalam kemaksiatan, lalu berusaha menghilangkannya. Inilah yang harus kita lakukan agar dapat terbebas dari kemaksiatan. ومن علاج ذنوب الخلوات: 1- المراقبة الدائمة لله: قال تعالى: ﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى﴾ [العلق: 14]. 2- كثرة الاستغفار والتوبة: قال صلى الله عليه وسلم: “مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب”[رواه أحمد وأبو داود، وصحَّحه الحاكم.]. 3- شَغْل الوقت بطاعة الله: كلما شُغِلت الخَلوةُ بالذكر والطاعة، ضاقت مساحة المعصية. 4- الصحبة الصالحة والابتعاد عن أسباب الخَلوة المُهلكة. Di antara cara menangani dosa-dosa khalwah: 1. Selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihatnya.” (QS. Al-Alaq: 14). 2. Banyak beristighfar dan bertobat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب “Siapa yang senantiasa beristigfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar di setiap kesempitan, solusi di setiap kegundahan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Hakim). 3. Mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, setiap kali waktu sendiri itu diisi dengan zikir dan ketaatan, maka semakin sempit kesempatan untuk bermaksiat. 4. Berteman dengan orang-orang saleh dan menjauhi waktu-waktu kesendirian yang dapat membinasakan. خاتمة: الرزق نعمة عظيمة، والمعصية قد تكون مانعًا خفيًّا له. فلنراجِع خَلَواتنا، ولنجعلها مواطنَ ذكرٍ ودموع وخشية، لا مواضع غفلة وهلاك. فمن أصلح خَلوته، أصلَح الله له علانيته، وفتَح له أبواب الرزق مِن حيث لا يحتسب. Penutup  Rezeki merupakan nikmat yang besar, sedangkan kemaksiatan dapat menjadi penghalang yang tidak disadari. Oleh sebab itu, hendaklah kita mengintrospeksi waktu-waktu kesendirian kita, dan menjadikannya sebagai momen untuk berzikir, bersimpuh, dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebagai waktu untuk lalai dan membinasakan diri. Siapa yang memperbaiki keadaannya di saat sendiri, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki keadaannya di saat bersama orang lain dan membukakan baginya pintu-pintu rezeki yang tidak disangka-sangka. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/177935/أسباب-انقطاع-الرزق-الذنوب-الخفية-ذنوب-الخلوات/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 527 times, 1 visit(s) today Post Views: 699 QRIS donasi Yufid


أسباب انقطاع الرزق – الذنوب الخفية (ذنوب الخلوات) Oleh: Muhammad Ahmad Abdul Baqi al-Khauli محمد أحمد عبدالباقي الخولي مقدمة: ذنوب الخَلوات: هي الذنوب والمعاصي التي يرتكبها الإنسان في الخفاء، بعيدًا عن أعيُن الناس، ولكنها مرئية لله تعالى، وهي من أسباب ضعف الإيمان، وتقلُّب الأحوال، وضياع الأعمال الصالحة. الرزق بيد الله وحده، وهو الذي ﴿ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ﴾ [الرعد: 26]، ولكن هناك أسباب شرعية قد تكون سببًا في نقص الرزق أو انقطاعه، من أعظمها: الذنوب والمعاصي، وبخاصة ذنوبُ الخلوات التي يُصِرُّ عليها العبدُ حين يكون بعيدًا عن أعين الناس، لكنها لا تَغيب عن سمع الله وبصره. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لأعلمنَّ أقوامًا من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة، فيَجعلها الله هباءً منثورًا… إذا خَلوا بمحارم الله انتهكوها”[ابن ماجه، حديث رقم 4245، وصححه الألباني.]. وهذا الحديث يُظهر أثرَ تلك الذنوب في مَحْق الأعمال، فكيف لا تؤثِّر في الرزق؟ Pendahuluan  Dosa-dosa khalwah adalah dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan seseorang ketika sedang sendirian, jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tetap terlihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan salah satu hal yang melemahkan iman, memperburuk keadaan, dan tersia-siakan amal kebaikan. Rezeki berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Dia telah berfirman, “(Allah Subhanahu wa Ta’ala) melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki)” (QS. Ar-Ra’d: 26). Namun, dalam syariat terdapat hal-hal yang mungkin menjadi sebab berkurang atau bahkan terputusnya rezeki, dan di antara hal terbesarnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan, terlebih lagi dosa-dosa di kala sendiri yang terus-menerus dikerjakan seorang hamba saat ia jauh dari pandangan mata manusia, tapi tentu itu tidak tersembunyi dari pandangan dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ فَيَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا… إِذَا خَلَوْا ‌بِمَحَارِمِ ‌اللهِ ‌انْتَهَكُوهَا “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada kaum-kaum dari umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah, lantas Allah menjadikannya sia-sia seperti debu-debu yang beterbangan (yaitu mereka yang) jika menyendiri dengan apa yang diharamkan Allah, mereka segera melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4245, dan dishahihkan Al-Albani). Hadits ini menunjukkan pengaruh dosa-dosa dalam melenyapkan amal-amal kebaikan, maka bagaimana mungkin dosa-dosa itu tidak berpengaruh pada rezeki! أثر الذنوب الخفيَّة على الرزق: 1- حِرمان البركة: قال ابن القيم: “الذنوب تُطفئ نور القلب، وتُضعف البدن، وتُقلل الرزق”[ابن القيم، الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي.]. 2- حِجاب بين العبد ودعائه: العبد العاصي في خَلوته قد يُحرَم استجابة الدعاء، فيُغلق باب الرزق؛ كما في الحديث: ” ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومَطعمه حرام، ومَلبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!”؛ رواه مسلم[صحيح مسلم، حديث رقم 1015].  3- محق النِعَم: قال تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾ [الأنفال: 53] 4- طرد من معية الله: من أعظم ما يُفتَح الرزق قُرب العبد من الله، أما ذنوب الخلوات، فتُورِث البُعد والحِرمان. Pengaruh dosa-dosa khalwah terhadap rezeki Memutus keberkahan Ibnu Al-Qayyim berkata, “Dosa-dosa dapat memadamkan cahaya hati, melemahkan badan, dan mengurangi rezeki.” (Kitab Al-Jawab Al-Kafi karya Ibnu Al-Qayyim). Penghalang antara seorang hamba dengan pengabulan doanya Seorang hamba yang bermaksiat dalam kesendiriannya dapat terhalang dari pengabulan doa, sehingga pintu rezekinya dapat tertutup, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis: ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” tapi makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, serta kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim no. 1015). Melenyapkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Al-Anfal: 53). Terjauhkan dari penyertaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Salah satu perkara terbesar yang dapat membuka pintu rezeki adalah dekatnya seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan dosa-dosa khalwah akan menjadikan seseorang jauh dan terhalang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. لماذا كانت ذنوب الخلوات أشدَّ؟ • لأنها تدل على سوء تعظيم لله، فقد استصغَر العبد نظرَ الله إليه. • وتكشف عن ضَعف مراقبة الله في القلب، وهو أساس الإيمان. قال أحد السلف: “لا تنظر إلى صِغَر الذنب، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت”[ابن عطاء السكندري، الحِكم العطائية.]. Mengapa dosa-dosa khalwah lebih berbahaya? Karena dosa-dosa ini menjadi tanda rendahnya pengagungan pelakunya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang tersebut meremehkan pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Ini juga menunjukkan lemahnya rasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada dalam hatinya, padahal itu adalah dasar keimanan. Seorang ulama salaf berkata, “Jangan kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah besarnya Dzat yang kamu maksiati!” (Kitab Al-Hikam Al-Atha’iyyah karya Ibnu Atha’ Al-Askandari). علاج ذنوب الخلوات: كل إنسان مسلم معرَّض للوقوع في الذنوب، وهناك فرق بين الإنسان المستمر في الذنوب والمعاصي، وبين غيره أنه متى ما وقع في الذنب قام بأمرين[ذنوب الخلوات وخطرها على المسلم، إسلام ويب، د. أحمد المحمدي.]: الأول: تاب وأناب وسارَع بالتوبة، والاستغفار؛ قال تعالى: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]، وقال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾ [النساء: 110]. والله تعالى يَفرَح بتوبة عبده إذا تاب إليه؛ كما جاء في الحديث عن أَنَس بْن مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ)؛ رواه البخاري. الثاني: أنه يَدرُس أسباب الوقوع في المعصية ويعمَل على إزالتها، وهذا ما يجب فعله؛ حتى نتخلص من هذه المعاصي. Obat dosa-dosa khalwah Setiap muslim pasti punya kemungkinan untuk terjerumus ke dalam dosa, tapi terdapat perbedaan antara orang yang bersikukuh di atas dosa-dosa dan kemaksiatannya, dan orang yang setiap terjerumus ke dalam dosa akan melakukan dua perkara berikut ini (Lihat: Artikel Dzunub Al-Khalawat wa Khatharuha Ala Al-Muslim karya Dr. Ahmad al-Muhammadi di IslamWeb): Pertama: Segera insaf, bertobat, dan memohon ampun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110). Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bahagia dengan pertobatan hamba-Nya, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ “Sungguh Allah lebih bahagia dengan pertobatan hamba-Nya saat ia bertobat, daripada bahagianya salah seorang dari kalian yang mengendarai hewan tunggangannya di gurun pasir, lalu hewan itu lepas bersama makanan dan minuman yang ada di atasnya, sehingga ia telah berputus asa darinya. Kemudian ia mendatangi pohon dan berbaring di naungannya, berputus asa untuk menemukan hewan tunggangannya. Saat keadaan sudah demikian, tiba-tiba hewan itu telah berdiri di sisinya, sehingga ia segera mengambil tali kekangnya dan berseru —karena saking senangnya—, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu!’ Orang itu salah ucap karena saking senangnya.” (HR. al-Bukhari). Kedua: Pelaku dosa itu mempelajari hal-hal yang menyebabkannya terjerumus ke dalam kemaksiatan, lalu berusaha menghilangkannya. Inilah yang harus kita lakukan agar dapat terbebas dari kemaksiatan. ومن علاج ذنوب الخلوات: 1- المراقبة الدائمة لله: قال تعالى: ﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى﴾ [العلق: 14]. 2- كثرة الاستغفار والتوبة: قال صلى الله عليه وسلم: “مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب”[رواه أحمد وأبو داود، وصحَّحه الحاكم.]. 3- شَغْل الوقت بطاعة الله: كلما شُغِلت الخَلوةُ بالذكر والطاعة، ضاقت مساحة المعصية. 4- الصحبة الصالحة والابتعاد عن أسباب الخَلوة المُهلكة. Di antara cara menangani dosa-dosa khalwah: 1. Selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihatnya.” (QS. Al-Alaq: 14). 2. Banyak beristighfar dan bertobat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن لزِم الاستغفار جعل الله له من كلِّ ضيقٍ مخرجًا، ومن كل همٍّ فرجًا، ورزَقه من حيث لا يَحتسب “Siapa yang senantiasa beristigfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar di setiap kesempitan, solusi di setiap kegundahan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Hakim). 3. Mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, setiap kali waktu sendiri itu diisi dengan zikir dan ketaatan, maka semakin sempit kesempatan untuk bermaksiat. 4. Berteman dengan orang-orang saleh dan menjauhi waktu-waktu kesendirian yang dapat membinasakan. خاتمة: الرزق نعمة عظيمة، والمعصية قد تكون مانعًا خفيًّا له. فلنراجِع خَلَواتنا، ولنجعلها مواطنَ ذكرٍ ودموع وخشية، لا مواضع غفلة وهلاك. فمن أصلح خَلوته، أصلَح الله له علانيته، وفتَح له أبواب الرزق مِن حيث لا يحتسب. Penutup  Rezeki merupakan nikmat yang besar, sedangkan kemaksiatan dapat menjadi penghalang yang tidak disadari. Oleh sebab itu, hendaklah kita mengintrospeksi waktu-waktu kesendirian kita, dan menjadikannya sebagai momen untuk berzikir, bersimpuh, dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebagai waktu untuk lalai dan membinasakan diri. Siapa yang memperbaiki keadaannya di saat sendiri, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki keadaannya di saat bersama orang lain dan membukakan baginya pintu-pintu rezeki yang tidak disangka-sangka. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/177935/أسباب-انقطاع-الرزق-الذنوب-الخفية-ذنوب-الخلوات/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 527 times, 1 visit(s) today Post Views: 699 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Untuk Pasangan Suami-Istri: Permintaan Maaf Dapat Merobohkan Tembok Penyekat

للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Masuk Agama Islam, Pasik Adalah, Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal, Istri Nabi Musa, Qasidah Sholawat Nabi Visited 1,568 times, 1 visit(s) today Post Views: 723 QRIS donasi Yufid

Untuk Pasangan Suami-Istri: Permintaan Maaf Dapat Merobohkan Tembok Penyekat

للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Masuk Agama Islam, Pasik Adalah, Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal, Istri Nabi Musa, Qasidah Sholawat Nabi Visited 1,568 times, 1 visit(s) today Post Views: 723 QRIS donasi Yufid
للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Masuk Agama Islam, Pasik Adalah, Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal, Istri Nabi Musa, Qasidah Sholawat Nabi Visited 1,568 times, 1 visit(s) today Post Views: 723 QRIS donasi Yufid


للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Masuk Agama Islam, Pasik Adalah, Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal, Istri Nabi Musa, Qasidah Sholawat Nabi Visited 1,568 times, 1 visit(s) today Post Views: 723 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaBeriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataLarangan menundukkan orang lain dengan cara zalimWajib mengesakan Allah dalam ibadahMengenal nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia merupakan bagian penting dari tauhid. Terutama tauhid uluhiyah, yang menuntut kita hanya tunduk, takut, dan beribadah kepada Allah semata. Nama-nama seperti Al-Qaahir dan Al-Qahhaar mengingatkan kita bahwa tidak ada makhluk yang bisa lolos dari kekuasaan dan kehendak-Nya.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Qaahir dan Al-Qahhaar, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menanamkan rasa tunduk, takut yang benar, dan penghambaan yang murni, sekaligus menghadirkan ketenangan karena tahu bahwa segala urusan ada dalam genggaman-Nya.Dalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Nama “Al-Qaahir” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, yaitu:Dalam firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An‘ām: 18)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu…” (QS. al-An‘ām: 61)Sedangkan nama “Al-Qahhaar” disebutkan sebanyak enam kali, di antaranya:Firman Allah Ta’ala,قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Katakanlah, Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. ar-Ra‘d: 16)Dan firman-Nya,لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghāfir: 16) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Al-Qaahir adalah ism fā’il (kata pelaku) dari (قَهَرَ يقهَر) qahara – yaqharu yang bermakna “yang menundukkan”. [2] Sedangkan Al-Qahhaar adalah ṣīghat mubālaghah (bentuk hiperbolis) dari akar kata yang sama, bermakna “yang sangat dan terus-menerus menundukkan.” [3]Asal kata dari kedua kata tersebut adalah Al-qahr (القَهْر) yang secara bahasa berarti mengalahkan dan menundukkan dari atas. [4]Ibnu Faris mengatakan,الْقَافُ وَالْهَاءُ وَالرَّاءُ كَلِمَةٌ صَحِيحَةٌ تَدُلُّ عَلَى غَلَبَةٍ وَعُلُوٍّ. يُقَالُ: قَهَرَهُ يَقْهَرُهُ قَهْرًا. وَالْقَاهِرُ: الْغَالِبُ“Huruf qāf, hā’, dan rā’ membentuk akar kata yang menunjukkan makna kemenangan dan keunggulan dari atas. Dikatakan: qaharahu yaqharuhu qahran, dan al-qaahir berarti yang menang (mengalahkan).” [5]Al-Fayyumi mengatakan,قَهَرَهُ قَهْرًا غَلَبَهُ فَهُوَ قَاهِرٌ وَقَهَّارٌ مُبَالَغَةٌ“Qaharahu qahran berarti mengalahkannya. Pelakunya disebut qaahir dan qahhaar (dalam bentuk mubaalaghah).” [6]Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ“Dan Dia-lah Al-Qahīr di atas hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18), beliau mengatakan,فمعنى الكلامِ إذن: واللهُ الغالبُ عبادَه، المذلِّلُهم، العالي عليهم بتذليلِه لهم، وخلقِه إياهم، فهو فوقَهم بقهرِه إياهم، وهم دونَه“Jadi maknanya adalah Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya, menundukkan mereka, dan Mahatinggi atas mereka melalui penundukan-Nya dan penciptaan-Nya. Maka Dia berada di atas mereka karena kekuasaan-Nya, dan mereka berada di bawah-Nya.” [7]Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,أَيْ: هُوَ الَّذِي خَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ، وَذَلَّتْ لَهُ الْجَبَابِرَةُ، وَعَنَتْ لَهُ الْوُجُوهُ، وَقَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ وَدَانَتْ لَهُ الْخَلَائِقُ، وَتَوَاضَعَتْ لِعَظَمَةِ جَلَالِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَعُلُوِّهِ وَقُدْرَتِهِ الْأَشْيَاءُ، وَاسْتَكَانَتْ وَتَضَاءَلَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَحْتَ حُكْمِهِ وَقَهْرِهِ“Maksudnya: Dialah yang semua leher tunduk kepada-Nya, para penguasa arogan menjadi hina di hadapan-Nya, wajah-wajah merendah kepada-Nya, dan segala sesuatu tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Seluruh makhluk merendah kepada keagungan, keperkasaan, kemuliaan, ketinggian, dan kekuasaan-Nya. Mereka semua berserah diri dan merasa kecil di hadapan hukum dan kekuasaan-Nya.” [8]Sedangkan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan,ينفذ فيهم إرادته الشاملة، ومشيئته العامة، فليسوا يملكون من الأمر شيئا، ولا يتحركون ولا يسكنون إلا بإذنه“Dialah Allah yang mengatur seluruh kehendak-Nya atas para hamba, dan kehendak-Nya berlaku menyeluruh. Mereka tidak memiliki sedikit pun urusan, tidak bisa bergerak maupun diam kecuali dengan izin-Nya.” [9]Di tempat yang lain, beliau menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“‌القهار” لكل شيء، الذي خضعت له المخلوقات، وذلت لعزته وقوته وكمال اقتداره“Al-Qahhaar adalah yang menundukkan segala sesuatu; seluruh makhluk tunduk kepada-Nya, merendah karena keperkasaan, kekuatan, dan kesempurnaan kuasa-Nya.” [10]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataAllah-lah satu-satunya yang mengalahkan dan menundukkan seluruh hamba-Nya. Bahkan makhluk yang paling angkuh sekalipun menjadi kecil dan lenyap di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Lihatlah kematian—yang telah Allah tetapkan atas seluruh hamba-Nya; tak seorang pun mampu menolaknya atau menyingkirkannya dari dirinya sendiri, walau mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan sebesar apa pun.Allah menyandingkan penyebutan kematian dengan sifat-Nya sebagai al-Qahhaar, untuk mengingatkan manusia akan satu bentuk kekuasaan yang dengannya Allah menundukkan mereka semua, dalam firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ * ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ“Dan Dia-lah Al-Qaahir (yang menguasai) atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, para utusan Kami mewafatkannya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, hanya milik-Nya segala keputusan, dan Dia-lah yang paling cepat perhitungannya.” (QS. Al-An‘ām: 61–62) [11]Larangan menundukkan orang lain dengan cara zalimSifat “menundukkan” atau ”mengalahkan” pada makhluk, biasanya tercela karena dibangun di atas kezaliman, penindasan, dan dominasi atas orang-orang lemah dan miskin. Sebagaimana ucapan Fir‘aun—laknat Allah atasnya,سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءهُمْ وَنَسْتَحْيِـي نِسَاءهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ“Kita akan membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sungguh, kita berkuasa atas mereka.” (QS. Al-A‘rāf: 127)Dan Allah juga berfirman,فأما اليتيم فلا تقهر“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (menindasnya).” (QS. Adh-Dhuḥā: 9)Maksudnya: janganlah menindasnya secara zalim, berikanlah haknya. Allah menyebut secara khusus anak yatim karena dia tidak punya penolong selain Allah, maka Allah menguatkan larangan terhadap pelanggaran atas dirinya dengan ancaman keras terhadap pelakunya. [12]Wajib mengesakan Allah dalam ibadahTentang hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,لا يكون القهار إلا واحداً؛ إذ لو كان معه كفو له فإن لم يقهره لم يكن قاهراً على الإطلاق، وإن قهره لم يكن كفؤاً، وكان القهار واحدًا“Tidak ada yang benar-benar layak disebut al-Qahhaar selain yang satu (esa). Karena jika ada yang setara dengannya, maka jika ia tidak mampu mengalahkan yang lain, berarti ia tidaklah qahhār secara mutlak. Dan jika ia mampu mengalahkan lawannya, maka lawan itu tidaklah setara. Maka, al-Qahhaar itu hanya satu.” (ash-Shawā‘iq al-Mursalah, 3: 1032)Penjelasan ini menunjukkan bahwa tauhid dan iman kepada nama Allah al-Qahhaar adalah dua hal yang saling terkait. Barang siapa meyakini bahwa hanya Allah yang menguasai dan menundukkan segala sesuatu, maka ia harus beribadah hanya kepada-Nya. Dari sinilah terlihat kebatilan syirik: bagaimana mungkin makhluk dari tanah disamakan dengan Tuhan semesta alam? Bagaimana mungkin makhluk-makhluk yang ditundukkan oleh al-Qahhaar disamakan dengan-Nya? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan dan Maha Tinggi dari apa yang mereka gambarkan. [13]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama ini, dapat menguatkan iman, menumbuhkan rasa takut dan harap, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketundukan kepada selain-Nya. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibnu Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] An-Nahj al-Asma, hal. 127.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 129.[3] Ibid, hal. 251.[4] An-Nahj al-Asma, hal. 128.[5] Maqayisul Lughah, hal. 754.[6] al-Miṣbāḥ al-Munīr, hal. 527.[7] Tafsir At-Thabari, 9: 180.[8] Tafsīr Ibnu Katsīr, 3: 244.[9] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 259.[10] Ibid, hal. 947. Lihat juga An-Nahjul Asmaa, hal. 128-129.[11] An-Nahj al-Asma, hal. 129.[12] Ibid, hal. 130.[13] Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 289.

Mengenal Nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaBeriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataLarangan menundukkan orang lain dengan cara zalimWajib mengesakan Allah dalam ibadahMengenal nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia merupakan bagian penting dari tauhid. Terutama tauhid uluhiyah, yang menuntut kita hanya tunduk, takut, dan beribadah kepada Allah semata. Nama-nama seperti Al-Qaahir dan Al-Qahhaar mengingatkan kita bahwa tidak ada makhluk yang bisa lolos dari kekuasaan dan kehendak-Nya.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Qaahir dan Al-Qahhaar, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menanamkan rasa tunduk, takut yang benar, dan penghambaan yang murni, sekaligus menghadirkan ketenangan karena tahu bahwa segala urusan ada dalam genggaman-Nya.Dalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Nama “Al-Qaahir” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, yaitu:Dalam firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An‘ām: 18)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu…” (QS. al-An‘ām: 61)Sedangkan nama “Al-Qahhaar” disebutkan sebanyak enam kali, di antaranya:Firman Allah Ta’ala,قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Katakanlah, Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. ar-Ra‘d: 16)Dan firman-Nya,لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghāfir: 16) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Al-Qaahir adalah ism fā’il (kata pelaku) dari (قَهَرَ يقهَر) qahara – yaqharu yang bermakna “yang menundukkan”. [2] Sedangkan Al-Qahhaar adalah ṣīghat mubālaghah (bentuk hiperbolis) dari akar kata yang sama, bermakna “yang sangat dan terus-menerus menundukkan.” [3]Asal kata dari kedua kata tersebut adalah Al-qahr (القَهْر) yang secara bahasa berarti mengalahkan dan menundukkan dari atas. [4]Ibnu Faris mengatakan,الْقَافُ وَالْهَاءُ وَالرَّاءُ كَلِمَةٌ صَحِيحَةٌ تَدُلُّ عَلَى غَلَبَةٍ وَعُلُوٍّ. يُقَالُ: قَهَرَهُ يَقْهَرُهُ قَهْرًا. وَالْقَاهِرُ: الْغَالِبُ“Huruf qāf, hā’, dan rā’ membentuk akar kata yang menunjukkan makna kemenangan dan keunggulan dari atas. Dikatakan: qaharahu yaqharuhu qahran, dan al-qaahir berarti yang menang (mengalahkan).” [5]Al-Fayyumi mengatakan,قَهَرَهُ قَهْرًا غَلَبَهُ فَهُوَ قَاهِرٌ وَقَهَّارٌ مُبَالَغَةٌ“Qaharahu qahran berarti mengalahkannya. Pelakunya disebut qaahir dan qahhaar (dalam bentuk mubaalaghah).” [6]Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ“Dan Dia-lah Al-Qahīr di atas hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18), beliau mengatakan,فمعنى الكلامِ إذن: واللهُ الغالبُ عبادَه، المذلِّلُهم، العالي عليهم بتذليلِه لهم، وخلقِه إياهم، فهو فوقَهم بقهرِه إياهم، وهم دونَه“Jadi maknanya adalah Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya, menundukkan mereka, dan Mahatinggi atas mereka melalui penundukan-Nya dan penciptaan-Nya. Maka Dia berada di atas mereka karena kekuasaan-Nya, dan mereka berada di bawah-Nya.” [7]Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,أَيْ: هُوَ الَّذِي خَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ، وَذَلَّتْ لَهُ الْجَبَابِرَةُ، وَعَنَتْ لَهُ الْوُجُوهُ، وَقَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ وَدَانَتْ لَهُ الْخَلَائِقُ، وَتَوَاضَعَتْ لِعَظَمَةِ جَلَالِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَعُلُوِّهِ وَقُدْرَتِهِ الْأَشْيَاءُ، وَاسْتَكَانَتْ وَتَضَاءَلَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَحْتَ حُكْمِهِ وَقَهْرِهِ“Maksudnya: Dialah yang semua leher tunduk kepada-Nya, para penguasa arogan menjadi hina di hadapan-Nya, wajah-wajah merendah kepada-Nya, dan segala sesuatu tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Seluruh makhluk merendah kepada keagungan, keperkasaan, kemuliaan, ketinggian, dan kekuasaan-Nya. Mereka semua berserah diri dan merasa kecil di hadapan hukum dan kekuasaan-Nya.” [8]Sedangkan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan,ينفذ فيهم إرادته الشاملة، ومشيئته العامة، فليسوا يملكون من الأمر شيئا، ولا يتحركون ولا يسكنون إلا بإذنه“Dialah Allah yang mengatur seluruh kehendak-Nya atas para hamba, dan kehendak-Nya berlaku menyeluruh. Mereka tidak memiliki sedikit pun urusan, tidak bisa bergerak maupun diam kecuali dengan izin-Nya.” [9]Di tempat yang lain, beliau menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“‌القهار” لكل شيء، الذي خضعت له المخلوقات، وذلت لعزته وقوته وكمال اقتداره“Al-Qahhaar adalah yang menundukkan segala sesuatu; seluruh makhluk tunduk kepada-Nya, merendah karena keperkasaan, kekuatan, dan kesempurnaan kuasa-Nya.” [10]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataAllah-lah satu-satunya yang mengalahkan dan menundukkan seluruh hamba-Nya. Bahkan makhluk yang paling angkuh sekalipun menjadi kecil dan lenyap di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Lihatlah kematian—yang telah Allah tetapkan atas seluruh hamba-Nya; tak seorang pun mampu menolaknya atau menyingkirkannya dari dirinya sendiri, walau mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan sebesar apa pun.Allah menyandingkan penyebutan kematian dengan sifat-Nya sebagai al-Qahhaar, untuk mengingatkan manusia akan satu bentuk kekuasaan yang dengannya Allah menundukkan mereka semua, dalam firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ * ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ“Dan Dia-lah Al-Qaahir (yang menguasai) atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, para utusan Kami mewafatkannya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, hanya milik-Nya segala keputusan, dan Dia-lah yang paling cepat perhitungannya.” (QS. Al-An‘ām: 61–62) [11]Larangan menundukkan orang lain dengan cara zalimSifat “menundukkan” atau ”mengalahkan” pada makhluk, biasanya tercela karena dibangun di atas kezaliman, penindasan, dan dominasi atas orang-orang lemah dan miskin. Sebagaimana ucapan Fir‘aun—laknat Allah atasnya,سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءهُمْ وَنَسْتَحْيِـي نِسَاءهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ“Kita akan membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sungguh, kita berkuasa atas mereka.” (QS. Al-A‘rāf: 127)Dan Allah juga berfirman,فأما اليتيم فلا تقهر“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (menindasnya).” (QS. Adh-Dhuḥā: 9)Maksudnya: janganlah menindasnya secara zalim, berikanlah haknya. Allah menyebut secara khusus anak yatim karena dia tidak punya penolong selain Allah, maka Allah menguatkan larangan terhadap pelanggaran atas dirinya dengan ancaman keras terhadap pelakunya. [12]Wajib mengesakan Allah dalam ibadahTentang hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,لا يكون القهار إلا واحداً؛ إذ لو كان معه كفو له فإن لم يقهره لم يكن قاهراً على الإطلاق، وإن قهره لم يكن كفؤاً، وكان القهار واحدًا“Tidak ada yang benar-benar layak disebut al-Qahhaar selain yang satu (esa). Karena jika ada yang setara dengannya, maka jika ia tidak mampu mengalahkan yang lain, berarti ia tidaklah qahhār secara mutlak. Dan jika ia mampu mengalahkan lawannya, maka lawan itu tidaklah setara. Maka, al-Qahhaar itu hanya satu.” (ash-Shawā‘iq al-Mursalah, 3: 1032)Penjelasan ini menunjukkan bahwa tauhid dan iman kepada nama Allah al-Qahhaar adalah dua hal yang saling terkait. Barang siapa meyakini bahwa hanya Allah yang menguasai dan menundukkan segala sesuatu, maka ia harus beribadah hanya kepada-Nya. Dari sinilah terlihat kebatilan syirik: bagaimana mungkin makhluk dari tanah disamakan dengan Tuhan semesta alam? Bagaimana mungkin makhluk-makhluk yang ditundukkan oleh al-Qahhaar disamakan dengan-Nya? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan dan Maha Tinggi dari apa yang mereka gambarkan. [13]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama ini, dapat menguatkan iman, menumbuhkan rasa takut dan harap, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketundukan kepada selain-Nya. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibnu Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] An-Nahj al-Asma, hal. 127.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 129.[3] Ibid, hal. 251.[4] An-Nahj al-Asma, hal. 128.[5] Maqayisul Lughah, hal. 754.[6] al-Miṣbāḥ al-Munīr, hal. 527.[7] Tafsir At-Thabari, 9: 180.[8] Tafsīr Ibnu Katsīr, 3: 244.[9] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 259.[10] Ibid, hal. 947. Lihat juga An-Nahjul Asmaa, hal. 128-129.[11] An-Nahj al-Asma, hal. 129.[12] Ibid, hal. 130.[13] Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 289.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaBeriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataLarangan menundukkan orang lain dengan cara zalimWajib mengesakan Allah dalam ibadahMengenal nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia merupakan bagian penting dari tauhid. Terutama tauhid uluhiyah, yang menuntut kita hanya tunduk, takut, dan beribadah kepada Allah semata. Nama-nama seperti Al-Qaahir dan Al-Qahhaar mengingatkan kita bahwa tidak ada makhluk yang bisa lolos dari kekuasaan dan kehendak-Nya.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Qaahir dan Al-Qahhaar, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menanamkan rasa tunduk, takut yang benar, dan penghambaan yang murni, sekaligus menghadirkan ketenangan karena tahu bahwa segala urusan ada dalam genggaman-Nya.Dalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Nama “Al-Qaahir” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, yaitu:Dalam firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An‘ām: 18)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu…” (QS. al-An‘ām: 61)Sedangkan nama “Al-Qahhaar” disebutkan sebanyak enam kali, di antaranya:Firman Allah Ta’ala,قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Katakanlah, Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. ar-Ra‘d: 16)Dan firman-Nya,لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghāfir: 16) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Al-Qaahir adalah ism fā’il (kata pelaku) dari (قَهَرَ يقهَر) qahara – yaqharu yang bermakna “yang menundukkan”. [2] Sedangkan Al-Qahhaar adalah ṣīghat mubālaghah (bentuk hiperbolis) dari akar kata yang sama, bermakna “yang sangat dan terus-menerus menundukkan.” [3]Asal kata dari kedua kata tersebut adalah Al-qahr (القَهْر) yang secara bahasa berarti mengalahkan dan menundukkan dari atas. [4]Ibnu Faris mengatakan,الْقَافُ وَالْهَاءُ وَالرَّاءُ كَلِمَةٌ صَحِيحَةٌ تَدُلُّ عَلَى غَلَبَةٍ وَعُلُوٍّ. يُقَالُ: قَهَرَهُ يَقْهَرُهُ قَهْرًا. وَالْقَاهِرُ: الْغَالِبُ“Huruf qāf, hā’, dan rā’ membentuk akar kata yang menunjukkan makna kemenangan dan keunggulan dari atas. Dikatakan: qaharahu yaqharuhu qahran, dan al-qaahir berarti yang menang (mengalahkan).” [5]Al-Fayyumi mengatakan,قَهَرَهُ قَهْرًا غَلَبَهُ فَهُوَ قَاهِرٌ وَقَهَّارٌ مُبَالَغَةٌ“Qaharahu qahran berarti mengalahkannya. Pelakunya disebut qaahir dan qahhaar (dalam bentuk mubaalaghah).” [6]Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ“Dan Dia-lah Al-Qahīr di atas hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18), beliau mengatakan,فمعنى الكلامِ إذن: واللهُ الغالبُ عبادَه، المذلِّلُهم، العالي عليهم بتذليلِه لهم، وخلقِه إياهم، فهو فوقَهم بقهرِه إياهم، وهم دونَه“Jadi maknanya adalah Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya, menundukkan mereka, dan Mahatinggi atas mereka melalui penundukan-Nya dan penciptaan-Nya. Maka Dia berada di atas mereka karena kekuasaan-Nya, dan mereka berada di bawah-Nya.” [7]Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,أَيْ: هُوَ الَّذِي خَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ، وَذَلَّتْ لَهُ الْجَبَابِرَةُ، وَعَنَتْ لَهُ الْوُجُوهُ، وَقَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ وَدَانَتْ لَهُ الْخَلَائِقُ، وَتَوَاضَعَتْ لِعَظَمَةِ جَلَالِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَعُلُوِّهِ وَقُدْرَتِهِ الْأَشْيَاءُ، وَاسْتَكَانَتْ وَتَضَاءَلَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَحْتَ حُكْمِهِ وَقَهْرِهِ“Maksudnya: Dialah yang semua leher tunduk kepada-Nya, para penguasa arogan menjadi hina di hadapan-Nya, wajah-wajah merendah kepada-Nya, dan segala sesuatu tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Seluruh makhluk merendah kepada keagungan, keperkasaan, kemuliaan, ketinggian, dan kekuasaan-Nya. Mereka semua berserah diri dan merasa kecil di hadapan hukum dan kekuasaan-Nya.” [8]Sedangkan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan,ينفذ فيهم إرادته الشاملة، ومشيئته العامة، فليسوا يملكون من الأمر شيئا، ولا يتحركون ولا يسكنون إلا بإذنه“Dialah Allah yang mengatur seluruh kehendak-Nya atas para hamba, dan kehendak-Nya berlaku menyeluruh. Mereka tidak memiliki sedikit pun urusan, tidak bisa bergerak maupun diam kecuali dengan izin-Nya.” [9]Di tempat yang lain, beliau menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“‌القهار” لكل شيء، الذي خضعت له المخلوقات، وذلت لعزته وقوته وكمال اقتداره“Al-Qahhaar adalah yang menundukkan segala sesuatu; seluruh makhluk tunduk kepada-Nya, merendah karena keperkasaan, kekuatan, dan kesempurnaan kuasa-Nya.” [10]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataAllah-lah satu-satunya yang mengalahkan dan menundukkan seluruh hamba-Nya. Bahkan makhluk yang paling angkuh sekalipun menjadi kecil dan lenyap di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Lihatlah kematian—yang telah Allah tetapkan atas seluruh hamba-Nya; tak seorang pun mampu menolaknya atau menyingkirkannya dari dirinya sendiri, walau mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan sebesar apa pun.Allah menyandingkan penyebutan kematian dengan sifat-Nya sebagai al-Qahhaar, untuk mengingatkan manusia akan satu bentuk kekuasaan yang dengannya Allah menundukkan mereka semua, dalam firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ * ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ“Dan Dia-lah Al-Qaahir (yang menguasai) atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, para utusan Kami mewafatkannya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, hanya milik-Nya segala keputusan, dan Dia-lah yang paling cepat perhitungannya.” (QS. Al-An‘ām: 61–62) [11]Larangan menundukkan orang lain dengan cara zalimSifat “menundukkan” atau ”mengalahkan” pada makhluk, biasanya tercela karena dibangun di atas kezaliman, penindasan, dan dominasi atas orang-orang lemah dan miskin. Sebagaimana ucapan Fir‘aun—laknat Allah atasnya,سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءهُمْ وَنَسْتَحْيِـي نِسَاءهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ“Kita akan membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sungguh, kita berkuasa atas mereka.” (QS. Al-A‘rāf: 127)Dan Allah juga berfirman,فأما اليتيم فلا تقهر“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (menindasnya).” (QS. Adh-Dhuḥā: 9)Maksudnya: janganlah menindasnya secara zalim, berikanlah haknya. Allah menyebut secara khusus anak yatim karena dia tidak punya penolong selain Allah, maka Allah menguatkan larangan terhadap pelanggaran atas dirinya dengan ancaman keras terhadap pelakunya. [12]Wajib mengesakan Allah dalam ibadahTentang hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,لا يكون القهار إلا واحداً؛ إذ لو كان معه كفو له فإن لم يقهره لم يكن قاهراً على الإطلاق، وإن قهره لم يكن كفؤاً، وكان القهار واحدًا“Tidak ada yang benar-benar layak disebut al-Qahhaar selain yang satu (esa). Karena jika ada yang setara dengannya, maka jika ia tidak mampu mengalahkan yang lain, berarti ia tidaklah qahhār secara mutlak. Dan jika ia mampu mengalahkan lawannya, maka lawan itu tidaklah setara. Maka, al-Qahhaar itu hanya satu.” (ash-Shawā‘iq al-Mursalah, 3: 1032)Penjelasan ini menunjukkan bahwa tauhid dan iman kepada nama Allah al-Qahhaar adalah dua hal yang saling terkait. Barang siapa meyakini bahwa hanya Allah yang menguasai dan menundukkan segala sesuatu, maka ia harus beribadah hanya kepada-Nya. Dari sinilah terlihat kebatilan syirik: bagaimana mungkin makhluk dari tanah disamakan dengan Tuhan semesta alam? Bagaimana mungkin makhluk-makhluk yang ditundukkan oleh al-Qahhaar disamakan dengan-Nya? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan dan Maha Tinggi dari apa yang mereka gambarkan. [13]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama ini, dapat menguatkan iman, menumbuhkan rasa takut dan harap, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketundukan kepada selain-Nya. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibnu Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] An-Nahj al-Asma, hal. 127.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 129.[3] Ibid, hal. 251.[4] An-Nahj al-Asma, hal. 128.[5] Maqayisul Lughah, hal. 754.[6] al-Miṣbāḥ al-Munīr, hal. 527.[7] Tafsir At-Thabari, 9: 180.[8] Tafsīr Ibnu Katsīr, 3: 244.[9] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 259.[10] Ibid, hal. 947. Lihat juga An-Nahjul Asmaa, hal. 128-129.[11] An-Nahj al-Asma, hal. 129.[12] Ibid, hal. 130.[13] Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 289.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaBeriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataLarangan menundukkan orang lain dengan cara zalimWajib mengesakan Allah dalam ibadahMengenal nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia merupakan bagian penting dari tauhid. Terutama tauhid uluhiyah, yang menuntut kita hanya tunduk, takut, dan beribadah kepada Allah semata. Nama-nama seperti Al-Qaahir dan Al-Qahhaar mengingatkan kita bahwa tidak ada makhluk yang bisa lolos dari kekuasaan dan kehendak-Nya.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Qaahir dan Al-Qahhaar, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menanamkan rasa tunduk, takut yang benar, dan penghambaan yang murni, sekaligus menghadirkan ketenangan karena tahu bahwa segala urusan ada dalam genggaman-Nya.Dalil nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Nama “Al-Qaahir” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, yaitu:Dalam firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An‘ām: 18)Dan firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً“Dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu…” (QS. al-An‘ām: 61)Sedangkan nama “Al-Qahhaar” disebutkan sebanyak enam kali, di antaranya:Firman Allah Ta’ala,قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Katakanlah, Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. ar-Ra‘d: 16)Dan firman-Nya,لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghāfir: 16) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar”Al-Qaahir adalah ism fā’il (kata pelaku) dari (قَهَرَ يقهَر) qahara – yaqharu yang bermakna “yang menundukkan”. [2] Sedangkan Al-Qahhaar adalah ṣīghat mubālaghah (bentuk hiperbolis) dari akar kata yang sama, bermakna “yang sangat dan terus-menerus menundukkan.” [3]Asal kata dari kedua kata tersebut adalah Al-qahr (القَهْر) yang secara bahasa berarti mengalahkan dan menundukkan dari atas. [4]Ibnu Faris mengatakan,الْقَافُ وَالْهَاءُ وَالرَّاءُ كَلِمَةٌ صَحِيحَةٌ تَدُلُّ عَلَى غَلَبَةٍ وَعُلُوٍّ. يُقَالُ: قَهَرَهُ يَقْهَرُهُ قَهْرًا. وَالْقَاهِرُ: الْغَالِبُ“Huruf qāf, hā’, dan rā’ membentuk akar kata yang menunjukkan makna kemenangan dan keunggulan dari atas. Dikatakan: qaharahu yaqharuhu qahran, dan al-qaahir berarti yang menang (mengalahkan).” [5]Al-Fayyumi mengatakan,قَهَرَهُ قَهْرًا غَلَبَهُ فَهُوَ قَاهِرٌ وَقَهَّارٌ مُبَالَغَةٌ“Qaharahu qahran berarti mengalahkannya. Pelakunya disebut qaahir dan qahhaar (dalam bentuk mubaalaghah).” [6]Makna “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ“Dan Dia-lah Al-Qahīr di atas hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18), beliau mengatakan,فمعنى الكلامِ إذن: واللهُ الغالبُ عبادَه، المذلِّلُهم، العالي عليهم بتذليلِه لهم، وخلقِه إياهم، فهو فوقَهم بقهرِه إياهم، وهم دونَه“Jadi maknanya adalah Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya, menundukkan mereka, dan Mahatinggi atas mereka melalui penundukan-Nya dan penciptaan-Nya. Maka Dia berada di atas mereka karena kekuasaan-Nya, dan mereka berada di bawah-Nya.” [7]Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,أَيْ: هُوَ الَّذِي خَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ، وَذَلَّتْ لَهُ الْجَبَابِرَةُ، وَعَنَتْ لَهُ الْوُجُوهُ، وَقَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ وَدَانَتْ لَهُ الْخَلَائِقُ، وَتَوَاضَعَتْ لِعَظَمَةِ جَلَالِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَعُلُوِّهِ وَقُدْرَتِهِ الْأَشْيَاءُ، وَاسْتَكَانَتْ وَتَضَاءَلَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَحْتَ حُكْمِهِ وَقَهْرِهِ“Maksudnya: Dialah yang semua leher tunduk kepada-Nya, para penguasa arogan menjadi hina di hadapan-Nya, wajah-wajah merendah kepada-Nya, dan segala sesuatu tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Seluruh makhluk merendah kepada keagungan, keperkasaan, kemuliaan, ketinggian, dan kekuasaan-Nya. Mereka semua berserah diri dan merasa kecil di hadapan hukum dan kekuasaan-Nya.” [8]Sedangkan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan,ينفذ فيهم إرادته الشاملة، ومشيئته العامة، فليسوا يملكون من الأمر شيئا، ولا يتحركون ولا يسكنون إلا بإذنه“Dialah Allah yang mengatur seluruh kehendak-Nya atas para hamba, dan kehendak-Nya berlaku menyeluruh. Mereka tidak memiliki sedikit pun urusan, tidak bisa bergerak maupun diam kecuali dengan izin-Nya.” [9]Di tempat yang lain, beliau menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“‌القهار” لكل شيء، الذي خضعت له المخلوقات، وذلت لعزته وقوته وكمال اقتداره“Al-Qahhaar adalah yang menundukkan segala sesuatu; seluruh makhluk tunduk kepada-Nya, merendah karena keperkasaan, kekuatan, dan kesempurnaan kuasa-Nya.” [10]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaahir” dan “Al-Qahhaar” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa yang benar-benar Maha Mengalahkan (Al-Qahhaar) hanyalah Allah semataAllah-lah satu-satunya yang mengalahkan dan menundukkan seluruh hamba-Nya. Bahkan makhluk yang paling angkuh sekalipun menjadi kecil dan lenyap di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Lihatlah kematian—yang telah Allah tetapkan atas seluruh hamba-Nya; tak seorang pun mampu menolaknya atau menyingkirkannya dari dirinya sendiri, walau mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan sebesar apa pun.Allah menyandingkan penyebutan kematian dengan sifat-Nya sebagai al-Qahhaar, untuk mengingatkan manusia akan satu bentuk kekuasaan yang dengannya Allah menundukkan mereka semua, dalam firman-Nya,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ * ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ“Dan Dia-lah Al-Qaahir (yang menguasai) atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia mengirimkan penjaga-penjaga (malaikat) kepadamu, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, para utusan Kami mewafatkannya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, hanya milik-Nya segala keputusan, dan Dia-lah yang paling cepat perhitungannya.” (QS. Al-An‘ām: 61–62) [11]Larangan menundukkan orang lain dengan cara zalimSifat “menundukkan” atau ”mengalahkan” pada makhluk, biasanya tercela karena dibangun di atas kezaliman, penindasan, dan dominasi atas orang-orang lemah dan miskin. Sebagaimana ucapan Fir‘aun—laknat Allah atasnya,سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءهُمْ وَنَسْتَحْيِـي نِسَاءهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ“Kita akan membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sungguh, kita berkuasa atas mereka.” (QS. Al-A‘rāf: 127)Dan Allah juga berfirman,فأما اليتيم فلا تقهر“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (menindasnya).” (QS. Adh-Dhuḥā: 9)Maksudnya: janganlah menindasnya secara zalim, berikanlah haknya. Allah menyebut secara khusus anak yatim karena dia tidak punya penolong selain Allah, maka Allah menguatkan larangan terhadap pelanggaran atas dirinya dengan ancaman keras terhadap pelakunya. [12]Wajib mengesakan Allah dalam ibadahTentang hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,لا يكون القهار إلا واحداً؛ إذ لو كان معه كفو له فإن لم يقهره لم يكن قاهراً على الإطلاق، وإن قهره لم يكن كفؤاً، وكان القهار واحدًا“Tidak ada yang benar-benar layak disebut al-Qahhaar selain yang satu (esa). Karena jika ada yang setara dengannya, maka jika ia tidak mampu mengalahkan yang lain, berarti ia tidaklah qahhār secara mutlak. Dan jika ia mampu mengalahkan lawannya, maka lawan itu tidaklah setara. Maka, al-Qahhaar itu hanya satu.” (ash-Shawā‘iq al-Mursalah, 3: 1032)Penjelasan ini menunjukkan bahwa tauhid dan iman kepada nama Allah al-Qahhaar adalah dua hal yang saling terkait. Barang siapa meyakini bahwa hanya Allah yang menguasai dan menundukkan segala sesuatu, maka ia harus beribadah hanya kepada-Nya. Dari sinilah terlihat kebatilan syirik: bagaimana mungkin makhluk dari tanah disamakan dengan Tuhan semesta alam? Bagaimana mungkin makhluk-makhluk yang ditundukkan oleh al-Qahhaar disamakan dengan-Nya? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan dan Maha Tinggi dari apa yang mereka gambarkan. [13]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama ini, dapat menguatkan iman, menumbuhkan rasa takut dan harap, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketundukan kepada selain-Nya. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibnu Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] An-Nahj al-Asma, hal. 127.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 129.[3] Ibid, hal. 251.[4] An-Nahj al-Asma, hal. 128.[5] Maqayisul Lughah, hal. 754.[6] al-Miṣbāḥ al-Munīr, hal. 527.[7] Tafsir At-Thabari, 9: 180.[8] Tafsīr Ibnu Katsīr, 3: 244.[9] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 259.[10] Ibid, hal. 947. Lihat juga An-Nahjul Asmaa, hal. 128-129.[11] An-Nahj al-Asma, hal. 129.[12] Ibid, hal. 130.[13] Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 289.

Hati-Hati, Ini yang Bikin Menyesal dan Sengsara di Hari Kiamat – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Apa yang paling disesali manusia pada Hari Kiamat? Jawabannya ada pada firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul…’” (QS. Al-Furqan: 27). Kehidupan yang penuh dengan penyesalan. Dia menggigit kedua tangannya karena begitu besar penyesalannya. Dia berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku…” (QS. Al-Furqan: 27-28). Lalu dia menyebutkan satu hal yang dia rasa menjadi sebab utama yang membuatnya tersesat, dan sebab utama penyimpangannya. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” (QS. Al-Furqan: 28-29). Teman yang buruk akan menjadi penyesalan besar bagi seorang insan. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Mengapa demikian? “Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Teman memiliki pengaruh besar pada diri seseorang. Jika ia teman yang saleh, maka akan berpengaruh pada kesalehan seseorang. Namun, jika ia teman yang buruk, maka akan berpengaruh pada kerusakan amal seseorang. Karena itu, pada Hari Kiamat, penyesalan terbesar manusia adalah memiliki teman yang buruk. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Maka, wahai saudaraku yang mulia, pilihlah teman yang saleh! Salah satu tanda teman yang saleh adalah ia menolongmu dalam ketaatan. dan mengingatkanmu ketika engkau lalai. Darinya engkau mendapatkan kebaikan dan keberkahan dalam urusan agama maupun duniamu. Jauhilah teman yang buruk! Salah satu tanda teman yang buruk adalah engkau tidak mendapatkan kebaikan dan keberkahan darinya. Bahkan, engkau mendapati ia menjauhkanmu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi—perumpamaan bagi teman yang saleh—mungkin memberimu hadiah, atau engkau membeli parfum darinya, atau paling tidak engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi—perumpamaan bagi teman yang buruk—mungkin akan membakar bajumu, atau kamu mencium aroma yang tidak sedap darinya. ===== مَا أَشَدُّ شَيْءٍ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ الْجَوَابُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا حَيَاةٌ مَلِيئَةٌ بِالنَّدَمِ يَعَضُّ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ شِدَّةِ النَّدَمِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَى ثُمَّ يَذْكُرُ أَمْرًا وَاحِدًا يَرَى أَنَّهُ هُوَ السَّبَبُ الرَّئِيْسُ فِي إِضْلَالِهِ وَالسَّبَبُ الرَّئِيسُ فِي انْحِرَافِهِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي صَدِيقُ السُّوءِ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ نَدَمًا عَظِيمًا يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلًا لِمَاذَا؟ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَالْجَلِيْسُ لَهُ أَثَرٌ كَبِيرٌ عَلَى الْإِنْسَانِ إِنْ كَانَ جَلِيسًا صَالِحًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى صَلَاحِ الْإِنْسَانِ وَإِنْ كَانَ جَلِيسًا سَيِّئًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى فَسَادِ عَمَلِ الْإِنْسَانِ وَلِهَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ مَا يَتَنَدَّمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ هُوَ صَدِيقُ السُّوءِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَاخْتَرْ يَا أَخِي الْكَرِيمَ اخْتَرْ الصِّدِّيقَ الصَّالِحَِ وَمِنْ عَلَامَةِ الصَّدِيقِ الصَّالِحِ أَنَّهُ يُعِينُكَ إِذَا ذَكَرْتَ وَيُذَكِّرُكَ إِذَا نَسِيْتَ تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ فِي أُمُورِ دِينِكَ وَدُنْيَاكَ وَابْتَعِدْ عَنْ جَلِيسِ السُّوءِ وَمِنْ عَلَامَةِ جَلِيسِ السُّوءِ أَنَّكَ لَا تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَلَا الْبَرَكَةَ بَلْ تَجِدُهُ يُبْعِدُكَ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ يَعْنِي الْجَلِيسَ الصَّالِحِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ يَعْنِي يُهْديِ لَكَ هَدِيَّةً وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ يَعْنِي تَشْتَرِي مِنْهُ وَإِمَّا عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ جَلِيسُ السُّوءِ إِمَّا أَنْ يُحَرِّقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Hati-Hati, Ini yang Bikin Menyesal dan Sengsara di Hari Kiamat – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Apa yang paling disesali manusia pada Hari Kiamat? Jawabannya ada pada firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul…’” (QS. Al-Furqan: 27). Kehidupan yang penuh dengan penyesalan. Dia menggigit kedua tangannya karena begitu besar penyesalannya. Dia berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku…” (QS. Al-Furqan: 27-28). Lalu dia menyebutkan satu hal yang dia rasa menjadi sebab utama yang membuatnya tersesat, dan sebab utama penyimpangannya. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” (QS. Al-Furqan: 28-29). Teman yang buruk akan menjadi penyesalan besar bagi seorang insan. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Mengapa demikian? “Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Teman memiliki pengaruh besar pada diri seseorang. Jika ia teman yang saleh, maka akan berpengaruh pada kesalehan seseorang. Namun, jika ia teman yang buruk, maka akan berpengaruh pada kerusakan amal seseorang. Karena itu, pada Hari Kiamat, penyesalan terbesar manusia adalah memiliki teman yang buruk. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Maka, wahai saudaraku yang mulia, pilihlah teman yang saleh! Salah satu tanda teman yang saleh adalah ia menolongmu dalam ketaatan. dan mengingatkanmu ketika engkau lalai. Darinya engkau mendapatkan kebaikan dan keberkahan dalam urusan agama maupun duniamu. Jauhilah teman yang buruk! Salah satu tanda teman yang buruk adalah engkau tidak mendapatkan kebaikan dan keberkahan darinya. Bahkan, engkau mendapati ia menjauhkanmu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi—perumpamaan bagi teman yang saleh—mungkin memberimu hadiah, atau engkau membeli parfum darinya, atau paling tidak engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi—perumpamaan bagi teman yang buruk—mungkin akan membakar bajumu, atau kamu mencium aroma yang tidak sedap darinya. ===== مَا أَشَدُّ شَيْءٍ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ الْجَوَابُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا حَيَاةٌ مَلِيئَةٌ بِالنَّدَمِ يَعَضُّ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ شِدَّةِ النَّدَمِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَى ثُمَّ يَذْكُرُ أَمْرًا وَاحِدًا يَرَى أَنَّهُ هُوَ السَّبَبُ الرَّئِيْسُ فِي إِضْلَالِهِ وَالسَّبَبُ الرَّئِيسُ فِي انْحِرَافِهِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي صَدِيقُ السُّوءِ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ نَدَمًا عَظِيمًا يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلًا لِمَاذَا؟ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَالْجَلِيْسُ لَهُ أَثَرٌ كَبِيرٌ عَلَى الْإِنْسَانِ إِنْ كَانَ جَلِيسًا صَالِحًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى صَلَاحِ الْإِنْسَانِ وَإِنْ كَانَ جَلِيسًا سَيِّئًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى فَسَادِ عَمَلِ الْإِنْسَانِ وَلِهَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ مَا يَتَنَدَّمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ هُوَ صَدِيقُ السُّوءِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَاخْتَرْ يَا أَخِي الْكَرِيمَ اخْتَرْ الصِّدِّيقَ الصَّالِحَِ وَمِنْ عَلَامَةِ الصَّدِيقِ الصَّالِحِ أَنَّهُ يُعِينُكَ إِذَا ذَكَرْتَ وَيُذَكِّرُكَ إِذَا نَسِيْتَ تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ فِي أُمُورِ دِينِكَ وَدُنْيَاكَ وَابْتَعِدْ عَنْ جَلِيسِ السُّوءِ وَمِنْ عَلَامَةِ جَلِيسِ السُّوءِ أَنَّكَ لَا تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَلَا الْبَرَكَةَ بَلْ تَجِدُهُ يُبْعِدُكَ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ يَعْنِي الْجَلِيسَ الصَّالِحِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ يَعْنِي يُهْديِ لَكَ هَدِيَّةً وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ يَعْنِي تَشْتَرِي مِنْهُ وَإِمَّا عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ جَلِيسُ السُّوءِ إِمَّا أَنْ يُحَرِّقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
Apa yang paling disesali manusia pada Hari Kiamat? Jawabannya ada pada firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul…’” (QS. Al-Furqan: 27). Kehidupan yang penuh dengan penyesalan. Dia menggigit kedua tangannya karena begitu besar penyesalannya. Dia berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku…” (QS. Al-Furqan: 27-28). Lalu dia menyebutkan satu hal yang dia rasa menjadi sebab utama yang membuatnya tersesat, dan sebab utama penyimpangannya. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” (QS. Al-Furqan: 28-29). Teman yang buruk akan menjadi penyesalan besar bagi seorang insan. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Mengapa demikian? “Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Teman memiliki pengaruh besar pada diri seseorang. Jika ia teman yang saleh, maka akan berpengaruh pada kesalehan seseorang. Namun, jika ia teman yang buruk, maka akan berpengaruh pada kerusakan amal seseorang. Karena itu, pada Hari Kiamat, penyesalan terbesar manusia adalah memiliki teman yang buruk. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Maka, wahai saudaraku yang mulia, pilihlah teman yang saleh! Salah satu tanda teman yang saleh adalah ia menolongmu dalam ketaatan. dan mengingatkanmu ketika engkau lalai. Darinya engkau mendapatkan kebaikan dan keberkahan dalam urusan agama maupun duniamu. Jauhilah teman yang buruk! Salah satu tanda teman yang buruk adalah engkau tidak mendapatkan kebaikan dan keberkahan darinya. Bahkan, engkau mendapati ia menjauhkanmu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi—perumpamaan bagi teman yang saleh—mungkin memberimu hadiah, atau engkau membeli parfum darinya, atau paling tidak engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi—perumpamaan bagi teman yang buruk—mungkin akan membakar bajumu, atau kamu mencium aroma yang tidak sedap darinya. ===== مَا أَشَدُّ شَيْءٍ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ الْجَوَابُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا حَيَاةٌ مَلِيئَةٌ بِالنَّدَمِ يَعَضُّ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ شِدَّةِ النَّدَمِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَى ثُمَّ يَذْكُرُ أَمْرًا وَاحِدًا يَرَى أَنَّهُ هُوَ السَّبَبُ الرَّئِيْسُ فِي إِضْلَالِهِ وَالسَّبَبُ الرَّئِيسُ فِي انْحِرَافِهِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي صَدِيقُ السُّوءِ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ نَدَمًا عَظِيمًا يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلًا لِمَاذَا؟ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَالْجَلِيْسُ لَهُ أَثَرٌ كَبِيرٌ عَلَى الْإِنْسَانِ إِنْ كَانَ جَلِيسًا صَالِحًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى صَلَاحِ الْإِنْسَانِ وَإِنْ كَانَ جَلِيسًا سَيِّئًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى فَسَادِ عَمَلِ الْإِنْسَانِ وَلِهَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ مَا يَتَنَدَّمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ هُوَ صَدِيقُ السُّوءِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَاخْتَرْ يَا أَخِي الْكَرِيمَ اخْتَرْ الصِّدِّيقَ الصَّالِحَِ وَمِنْ عَلَامَةِ الصَّدِيقِ الصَّالِحِ أَنَّهُ يُعِينُكَ إِذَا ذَكَرْتَ وَيُذَكِّرُكَ إِذَا نَسِيْتَ تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ فِي أُمُورِ دِينِكَ وَدُنْيَاكَ وَابْتَعِدْ عَنْ جَلِيسِ السُّوءِ وَمِنْ عَلَامَةِ جَلِيسِ السُّوءِ أَنَّكَ لَا تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَلَا الْبَرَكَةَ بَلْ تَجِدُهُ يُبْعِدُكَ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ يَعْنِي الْجَلِيسَ الصَّالِحِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ يَعْنِي يُهْديِ لَكَ هَدِيَّةً وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ يَعْنِي تَشْتَرِي مِنْهُ وَإِمَّا عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ جَلِيسُ السُّوءِ إِمَّا أَنْ يُحَرِّقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً


Apa yang paling disesali manusia pada Hari Kiamat? Jawabannya ada pada firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul…’” (QS. Al-Furqan: 27). Kehidupan yang penuh dengan penyesalan. Dia menggigit kedua tangannya karena begitu besar penyesalannya. Dia berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku…” (QS. Al-Furqan: 27-28). Lalu dia menyebutkan satu hal yang dia rasa menjadi sebab utama yang membuatnya tersesat, dan sebab utama penyimpangannya. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” (QS. Al-Furqan: 28-29). Teman yang buruk akan menjadi penyesalan besar bagi seorang insan. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Mengapa demikian? “Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Teman memiliki pengaruh besar pada diri seseorang. Jika ia teman yang saleh, maka akan berpengaruh pada kesalehan seseorang. Namun, jika ia teman yang buruk, maka akan berpengaruh pada kerusakan amal seseorang. Karena itu, pada Hari Kiamat, penyesalan terbesar manusia adalah memiliki teman yang buruk. “Celakalah aku, sekiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah ia datang kepadaku…” Maka, wahai saudaraku yang mulia, pilihlah teman yang saleh! Salah satu tanda teman yang saleh adalah ia menolongmu dalam ketaatan. dan mengingatkanmu ketika engkau lalai. Darinya engkau mendapatkan kebaikan dan keberkahan dalam urusan agama maupun duniamu. Jauhilah teman yang buruk! Salah satu tanda teman yang buruk adalah engkau tidak mendapatkan kebaikan dan keberkahan darinya. Bahkan, engkau mendapati ia menjauhkanmu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi—perumpamaan bagi teman yang saleh—mungkin memberimu hadiah, atau engkau membeli parfum darinya, atau paling tidak engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi—perumpamaan bagi teman yang buruk—mungkin akan membakar bajumu, atau kamu mencium aroma yang tidak sedap darinya. ===== مَا أَشَدُّ شَيْءٍ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ الْجَوَابُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا حَيَاةٌ مَلِيئَةٌ بِالنَّدَمِ يَعَضُّ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ شِدَّةِ النَّدَمِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَى ثُمَّ يَذْكُرُ أَمْرًا وَاحِدًا يَرَى أَنَّهُ هُوَ السَّبَبُ الرَّئِيْسُ فِي إِضْلَالِهِ وَالسَّبَبُ الرَّئِيسُ فِي انْحِرَافِهِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي صَدِيقُ السُّوءِ يَنْدَمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ نَدَمًا عَظِيمًا يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلًا لِمَاذَا؟ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَالْجَلِيْسُ لَهُ أَثَرٌ كَبِيرٌ عَلَى الْإِنْسَانِ إِنْ كَانَ جَلِيسًا صَالِحًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى صَلَاحِ الْإِنْسَانِ وَإِنْ كَانَ جَلِيسًا سَيِّئًا لَهُ أَثَرٌ عَلَى فَسَادِ عَمَلِ الْإِنْسَانِ وَلِهَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ مَا يَتَنَدَّمُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ هُوَ صَدِيقُ السُّوءِ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي فَاخْتَرْ يَا أَخِي الْكَرِيمَ اخْتَرْ الصِّدِّيقَ الصَّالِحَِ وَمِنْ عَلَامَةِ الصَّدِيقِ الصَّالِحِ أَنَّهُ يُعِينُكَ إِذَا ذَكَرْتَ وَيُذَكِّرُكَ إِذَا نَسِيْتَ تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ فِي أُمُورِ دِينِكَ وَدُنْيَاكَ وَابْتَعِدْ عَنْ جَلِيسِ السُّوءِ وَمِنْ عَلَامَةِ جَلِيسِ السُّوءِ أَنَّكَ لَا تَجِدُ مِنْهُ الْخَيْرَ وَلَا الْبَرَكَةَ بَلْ تَجِدُهُ يُبْعِدُكَ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ يَعْنِي الْجَلِيسَ الصَّالِحِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ يَعْنِي يُهْديِ لَكَ هَدِيَّةً وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ يَعْنِي تَشْتَرِي مِنْهُ وَإِمَّا عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ جَلِيسُ السُّوءِ إِمَّا أَنْ يُحَرِّقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Bagaimana agar Allah Rida kepada Kita?

Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bagaimana agar Allah Rida kepada Kita?

Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Larangan Musik dalam Islam: Penjelasan Surah Luqman Ayat 6

Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir: Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram

Larangan Musik dalam Islam: Penjelasan Surah Luqman Ayat 6

Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir: Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram
Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir: Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram


Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir: Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram

Kesuksesan Seperti Apa yang Kamu Kejar?

ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 399 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid

Kesuksesan Seperti Apa yang Kamu Kejar?

ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 399 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid
ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 399 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid


ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 399 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Semakin Banyak Membaca Al-Qur’an Semakin Lancar Urusan Kita – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Semakin Banyak Membaca Al-Qur’an Semakin Lancar Urusan Kita – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Begini Cara Menjadi Wali – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Begini Cara Menjadi Wali – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ


Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Bagaimana Cara Kita Menyambut Ramadhan?

كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 464 times, 1 visit(s) today Post Views: 544 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Kita Menyambut Ramadhan?

كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 464 times, 1 visit(s) today Post Views: 544 QRIS donasi Yufid
كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 464 times, 1 visit(s) today Post Views: 544 QRIS donasi Yufid


كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi'raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam Visited 464 times, 1 visit(s) today Post Views: 544 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next