Khutbah Idul Fitri: Pemuda Pemberani, Saat Ini Engkau Di Mana?

Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda

Khutbah Idul Fitri: Pemuda Pemberani, Saat Ini Engkau Di Mana?

Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda
Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda


Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda

Luasnya Rahmat Allah Bahkan Kepada Pelaku Maksiat

Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============

Luasnya Rahmat Allah Bahkan Kepada Pelaku Maksiat

Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============
Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============


Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============

Hakekat Maqam Ibrahim

Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid

Hakekat Maqam Ibrahim

Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid
Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/469213194&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 QRIS donasi Yufid

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 QRIS donasi Yufid
Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/470105415&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah
Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah


Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah

Puasa dan Al-Quran Memberikan Syafa’at dengan Izin Allah

Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam

Puasa dan Al-Quran Memberikan Syafa’at dengan Izin Allah

Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam
Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam


Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam

Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah

Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah
Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah


Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah

Faedah Sirah Nabi: Dakwah Rahasia, Sembunyi-Sembunyi

Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah

Faedah Sirah Nabi: Dakwah Rahasia, Sembunyi-Sembunyi

Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah
Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah


Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah

Renungan #29: Belajar dari Anjing Pemburu

Belajar yuk dari anjing pemburu, yang kami sebut kali ini dan ada 10 faedah menarik.   Allah Ta’ala berfirman, يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖقُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙوَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad): “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang pemburu itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Maidah: 4) Allah mengatakan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka bertanya kepadamu tentang makanan yang dihalalkan untuk mereka.” Yang dihalalkan adalah makanan yang thayyib, yaitu makanan yang penuh manfaat dan kelezatan di dalamnya dan makanan tersebut tidak mengandung mudarat pada badan dan akal. Yang thayyib ini bisa kita temukan pada biji-bijian dan buah-buahan yang ada di daratan. Termasuk juga yang thayyib adalah berbagai hewan yang ada di darat dan laut. Yang dikecualikan di sini adalah hewan yang syari’at mengecualikannya seperti binatang buas dan berbagai hewan yang khabits.   Ayat ini menjelaskan bahwa secara mafhum, setiap yang khabits itu diharamkan. Allah Ta’ala berfirman, يُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ “Dan yang menghalalkan segala yang baik (thayyib)bagi mereka dan yang melarang segala yang buruk (khabits) bagi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157)   Juga dihalalkan bagi mereka hasil buruan dari hewan pemburu yang telah diajarkan dan dilatih. Dan ada sepuluh pelajaran penting dari hewan pemburu tersebut sebagai berikut.   Pertama: Allah begitu menyayangi hamba-Nya di mana banyak sekali yang halal diberikan kepada kita. Hasil tangkapan hewan pemburu ini bukan diperoleh dengan proses penyembelihan. Contoh yang bisa dijadikan hewan pemburu: anjing, macan, burung elang, serta hewan lainnya yang memiliki taring dan cakar untuk menerkam mangsa.   Kedua: Hewan tersebut sudah diajarkan dan dilatih. Kalau disuruh berburu, maka hewan tersebut langsung lepas mencari mangsanya. Kalau disuruh berhenti atau dilarang, maka hewan tersebut berhenti. Kalau hewan buruan berhasil ditangkap, maka hewan pemburu tadi tidak memakannya untuknya sendiri. Makanya Allah sebutkan, تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ “kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu.” Berarti hewan pemburu ini menangkap hewan buruan untuk majikannya.   Ketiga:  Yang jadi hewan pemburu adalah anjing, burung, atau semacamnya yang bisa menangkap dengan taring atau cakarnya, bukan bisa melilit mangsanya seperti istilah hewan al-munkhaniqah dalam surah Al-Ma’idah ayat ketiga.   Keempat: Dibolehkan memelihara anjing pemburu sebagaimana ada hadits shahih yang mendukung hal ini. Padahal asalnya memelihara anjing itu diharamkan. Kalau boleh menggunakannya sebagai hewan pemburu dan boleh melatihnya, konsekuensinya berarti boleh memelihara hewan tersebut.   Kelima: Yang disentuh oleh anjing pemburu itu suci. Karena Allah membolehkannya dan tidak ada perintah untuk membersihkannya. Maka menunjukkan bekas tangkapannya (walau kena air liurnya) itu suci.   Keenam: Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu. Karena hewan pemburu yang sudah dilatih (karena diajarkan), hasil tangkapannya dihalalkan. Hewan yang tidak dilatih seperti ini, tidak dihalalkan hasil tangkapannya.   Ketujuh: Menyibukkan diri untuk melatih anjing, burung, atau selainnya sebagai hewan pemburu tidaklah tercela dan ini bukan berarti sia-sia atau tergolong sebagai suatu kebatilan.   Kedelapan: Dalil ini sebagai dalil bagi sebagian ulama yang membolehkan jual beli anjing pemburu. Karena untuk memiliki anjing semacam itu hanyalah lewat jalan jual beli.   Kesembilan: Disyaratkan membaca tasmiyyah(bismillah) ketika melepas hewan pemburu. Kalau tidak sengaja membaca bismillah, hasil tangkapan hewan pemburu tidaklah halal.   Kesepuluh: Dihalalkan makan hasil tangkapan hewan pemburu, baik ketika ditangkap dalam keadaan mati ataukah hidup.   Di akhir ayat disebutkan, “Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dan diingatkan akan hisab pada hari kiamat. Dan kiamat itu semakin dekat. Demikian disarikan dari Tafsir As-Sa’di, hlm. 221 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah. Wallahu a’lam. Walhamdulillah, jadi ilmu bermanfaat dari satu ayat. Moga jadi pelajaran-pelajaran yang berharga dan bermanfaat.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanjing anjing berburu belajar berburu ilmu keutamaan ilmu renungan ayat renungan quran

Renungan #29: Belajar dari Anjing Pemburu

Belajar yuk dari anjing pemburu, yang kami sebut kali ini dan ada 10 faedah menarik.   Allah Ta’ala berfirman, يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖقُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙوَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad): “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang pemburu itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Maidah: 4) Allah mengatakan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka bertanya kepadamu tentang makanan yang dihalalkan untuk mereka.” Yang dihalalkan adalah makanan yang thayyib, yaitu makanan yang penuh manfaat dan kelezatan di dalamnya dan makanan tersebut tidak mengandung mudarat pada badan dan akal. Yang thayyib ini bisa kita temukan pada biji-bijian dan buah-buahan yang ada di daratan. Termasuk juga yang thayyib adalah berbagai hewan yang ada di darat dan laut. Yang dikecualikan di sini adalah hewan yang syari’at mengecualikannya seperti binatang buas dan berbagai hewan yang khabits.   Ayat ini menjelaskan bahwa secara mafhum, setiap yang khabits itu diharamkan. Allah Ta’ala berfirman, يُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ “Dan yang menghalalkan segala yang baik (thayyib)bagi mereka dan yang melarang segala yang buruk (khabits) bagi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157)   Juga dihalalkan bagi mereka hasil buruan dari hewan pemburu yang telah diajarkan dan dilatih. Dan ada sepuluh pelajaran penting dari hewan pemburu tersebut sebagai berikut.   Pertama: Allah begitu menyayangi hamba-Nya di mana banyak sekali yang halal diberikan kepada kita. Hasil tangkapan hewan pemburu ini bukan diperoleh dengan proses penyembelihan. Contoh yang bisa dijadikan hewan pemburu: anjing, macan, burung elang, serta hewan lainnya yang memiliki taring dan cakar untuk menerkam mangsa.   Kedua: Hewan tersebut sudah diajarkan dan dilatih. Kalau disuruh berburu, maka hewan tersebut langsung lepas mencari mangsanya. Kalau disuruh berhenti atau dilarang, maka hewan tersebut berhenti. Kalau hewan buruan berhasil ditangkap, maka hewan pemburu tadi tidak memakannya untuknya sendiri. Makanya Allah sebutkan, تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ “kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu.” Berarti hewan pemburu ini menangkap hewan buruan untuk majikannya.   Ketiga:  Yang jadi hewan pemburu adalah anjing, burung, atau semacamnya yang bisa menangkap dengan taring atau cakarnya, bukan bisa melilit mangsanya seperti istilah hewan al-munkhaniqah dalam surah Al-Ma’idah ayat ketiga.   Keempat: Dibolehkan memelihara anjing pemburu sebagaimana ada hadits shahih yang mendukung hal ini. Padahal asalnya memelihara anjing itu diharamkan. Kalau boleh menggunakannya sebagai hewan pemburu dan boleh melatihnya, konsekuensinya berarti boleh memelihara hewan tersebut.   Kelima: Yang disentuh oleh anjing pemburu itu suci. Karena Allah membolehkannya dan tidak ada perintah untuk membersihkannya. Maka menunjukkan bekas tangkapannya (walau kena air liurnya) itu suci.   Keenam: Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu. Karena hewan pemburu yang sudah dilatih (karena diajarkan), hasil tangkapannya dihalalkan. Hewan yang tidak dilatih seperti ini, tidak dihalalkan hasil tangkapannya.   Ketujuh: Menyibukkan diri untuk melatih anjing, burung, atau selainnya sebagai hewan pemburu tidaklah tercela dan ini bukan berarti sia-sia atau tergolong sebagai suatu kebatilan.   Kedelapan: Dalil ini sebagai dalil bagi sebagian ulama yang membolehkan jual beli anjing pemburu. Karena untuk memiliki anjing semacam itu hanyalah lewat jalan jual beli.   Kesembilan: Disyaratkan membaca tasmiyyah(bismillah) ketika melepas hewan pemburu. Kalau tidak sengaja membaca bismillah, hasil tangkapan hewan pemburu tidaklah halal.   Kesepuluh: Dihalalkan makan hasil tangkapan hewan pemburu, baik ketika ditangkap dalam keadaan mati ataukah hidup.   Di akhir ayat disebutkan, “Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dan diingatkan akan hisab pada hari kiamat. Dan kiamat itu semakin dekat. Demikian disarikan dari Tafsir As-Sa’di, hlm. 221 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah. Wallahu a’lam. Walhamdulillah, jadi ilmu bermanfaat dari satu ayat. Moga jadi pelajaran-pelajaran yang berharga dan bermanfaat.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanjing anjing berburu belajar berburu ilmu keutamaan ilmu renungan ayat renungan quran
Belajar yuk dari anjing pemburu, yang kami sebut kali ini dan ada 10 faedah menarik.   Allah Ta’ala berfirman, يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖقُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙوَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad): “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang pemburu itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Maidah: 4) Allah mengatakan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka bertanya kepadamu tentang makanan yang dihalalkan untuk mereka.” Yang dihalalkan adalah makanan yang thayyib, yaitu makanan yang penuh manfaat dan kelezatan di dalamnya dan makanan tersebut tidak mengandung mudarat pada badan dan akal. Yang thayyib ini bisa kita temukan pada biji-bijian dan buah-buahan yang ada di daratan. Termasuk juga yang thayyib adalah berbagai hewan yang ada di darat dan laut. Yang dikecualikan di sini adalah hewan yang syari’at mengecualikannya seperti binatang buas dan berbagai hewan yang khabits.   Ayat ini menjelaskan bahwa secara mafhum, setiap yang khabits itu diharamkan. Allah Ta’ala berfirman, يُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ “Dan yang menghalalkan segala yang baik (thayyib)bagi mereka dan yang melarang segala yang buruk (khabits) bagi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157)   Juga dihalalkan bagi mereka hasil buruan dari hewan pemburu yang telah diajarkan dan dilatih. Dan ada sepuluh pelajaran penting dari hewan pemburu tersebut sebagai berikut.   Pertama: Allah begitu menyayangi hamba-Nya di mana banyak sekali yang halal diberikan kepada kita. Hasil tangkapan hewan pemburu ini bukan diperoleh dengan proses penyembelihan. Contoh yang bisa dijadikan hewan pemburu: anjing, macan, burung elang, serta hewan lainnya yang memiliki taring dan cakar untuk menerkam mangsa.   Kedua: Hewan tersebut sudah diajarkan dan dilatih. Kalau disuruh berburu, maka hewan tersebut langsung lepas mencari mangsanya. Kalau disuruh berhenti atau dilarang, maka hewan tersebut berhenti. Kalau hewan buruan berhasil ditangkap, maka hewan pemburu tadi tidak memakannya untuknya sendiri. Makanya Allah sebutkan, تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ “kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu.” Berarti hewan pemburu ini menangkap hewan buruan untuk majikannya.   Ketiga:  Yang jadi hewan pemburu adalah anjing, burung, atau semacamnya yang bisa menangkap dengan taring atau cakarnya, bukan bisa melilit mangsanya seperti istilah hewan al-munkhaniqah dalam surah Al-Ma’idah ayat ketiga.   Keempat: Dibolehkan memelihara anjing pemburu sebagaimana ada hadits shahih yang mendukung hal ini. Padahal asalnya memelihara anjing itu diharamkan. Kalau boleh menggunakannya sebagai hewan pemburu dan boleh melatihnya, konsekuensinya berarti boleh memelihara hewan tersebut.   Kelima: Yang disentuh oleh anjing pemburu itu suci. Karena Allah membolehkannya dan tidak ada perintah untuk membersihkannya. Maka menunjukkan bekas tangkapannya (walau kena air liurnya) itu suci.   Keenam: Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu. Karena hewan pemburu yang sudah dilatih (karena diajarkan), hasil tangkapannya dihalalkan. Hewan yang tidak dilatih seperti ini, tidak dihalalkan hasil tangkapannya.   Ketujuh: Menyibukkan diri untuk melatih anjing, burung, atau selainnya sebagai hewan pemburu tidaklah tercela dan ini bukan berarti sia-sia atau tergolong sebagai suatu kebatilan.   Kedelapan: Dalil ini sebagai dalil bagi sebagian ulama yang membolehkan jual beli anjing pemburu. Karena untuk memiliki anjing semacam itu hanyalah lewat jalan jual beli.   Kesembilan: Disyaratkan membaca tasmiyyah(bismillah) ketika melepas hewan pemburu. Kalau tidak sengaja membaca bismillah, hasil tangkapan hewan pemburu tidaklah halal.   Kesepuluh: Dihalalkan makan hasil tangkapan hewan pemburu, baik ketika ditangkap dalam keadaan mati ataukah hidup.   Di akhir ayat disebutkan, “Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dan diingatkan akan hisab pada hari kiamat. Dan kiamat itu semakin dekat. Demikian disarikan dari Tafsir As-Sa’di, hlm. 221 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah. Wallahu a’lam. Walhamdulillah, jadi ilmu bermanfaat dari satu ayat. Moga jadi pelajaran-pelajaran yang berharga dan bermanfaat.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanjing anjing berburu belajar berburu ilmu keutamaan ilmu renungan ayat renungan quran


Belajar yuk dari anjing pemburu, yang kami sebut kali ini dan ada 10 faedah menarik.   Allah Ta’ala berfirman, يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖقُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙوَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad): “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang pemburu itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Maidah: 4) Allah mengatakan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka bertanya kepadamu tentang makanan yang dihalalkan untuk mereka.” Yang dihalalkan adalah makanan yang thayyib, yaitu makanan yang penuh manfaat dan kelezatan di dalamnya dan makanan tersebut tidak mengandung mudarat pada badan dan akal. Yang thayyib ini bisa kita temukan pada biji-bijian dan buah-buahan yang ada di daratan. Termasuk juga yang thayyib adalah berbagai hewan yang ada di darat dan laut. Yang dikecualikan di sini adalah hewan yang syari’at mengecualikannya seperti binatang buas dan berbagai hewan yang khabits.   Ayat ini menjelaskan bahwa secara mafhum, setiap yang khabits itu diharamkan. Allah Ta’ala berfirman, يُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ “Dan yang menghalalkan segala yang baik (thayyib)bagi mereka dan yang melarang segala yang buruk (khabits) bagi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157)   Juga dihalalkan bagi mereka hasil buruan dari hewan pemburu yang telah diajarkan dan dilatih. Dan ada sepuluh pelajaran penting dari hewan pemburu tersebut sebagai berikut.   Pertama: Allah begitu menyayangi hamba-Nya di mana banyak sekali yang halal diberikan kepada kita. Hasil tangkapan hewan pemburu ini bukan diperoleh dengan proses penyembelihan. Contoh yang bisa dijadikan hewan pemburu: anjing, macan, burung elang, serta hewan lainnya yang memiliki taring dan cakar untuk menerkam mangsa.   Kedua: Hewan tersebut sudah diajarkan dan dilatih. Kalau disuruh berburu, maka hewan tersebut langsung lepas mencari mangsanya. Kalau disuruh berhenti atau dilarang, maka hewan tersebut berhenti. Kalau hewan buruan berhasil ditangkap, maka hewan pemburu tadi tidak memakannya untuknya sendiri. Makanya Allah sebutkan, تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖفَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ “kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu.” Berarti hewan pemburu ini menangkap hewan buruan untuk majikannya.   Ketiga:  Yang jadi hewan pemburu adalah anjing, burung, atau semacamnya yang bisa menangkap dengan taring atau cakarnya, bukan bisa melilit mangsanya seperti istilah hewan al-munkhaniqah dalam surah Al-Ma’idah ayat ketiga.   Keempat: Dibolehkan memelihara anjing pemburu sebagaimana ada hadits shahih yang mendukung hal ini. Padahal asalnya memelihara anjing itu diharamkan. Kalau boleh menggunakannya sebagai hewan pemburu dan boleh melatihnya, konsekuensinya berarti boleh memelihara hewan tersebut.   Kelima: Yang disentuh oleh anjing pemburu itu suci. Karena Allah membolehkannya dan tidak ada perintah untuk membersihkannya. Maka menunjukkan bekas tangkapannya (walau kena air liurnya) itu suci.   Keenam: Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu. Karena hewan pemburu yang sudah dilatih (karena diajarkan), hasil tangkapannya dihalalkan. Hewan yang tidak dilatih seperti ini, tidak dihalalkan hasil tangkapannya.   Ketujuh: Menyibukkan diri untuk melatih anjing, burung, atau selainnya sebagai hewan pemburu tidaklah tercela dan ini bukan berarti sia-sia atau tergolong sebagai suatu kebatilan.   Kedelapan: Dalil ini sebagai dalil bagi sebagian ulama yang membolehkan jual beli anjing pemburu. Karena untuk memiliki anjing semacam itu hanyalah lewat jalan jual beli.   Kesembilan: Disyaratkan membaca tasmiyyah(bismillah) ketika melepas hewan pemburu. Kalau tidak sengaja membaca bismillah, hasil tangkapan hewan pemburu tidaklah halal.   Kesepuluh: Dihalalkan makan hasil tangkapan hewan pemburu, baik ketika ditangkap dalam keadaan mati ataukah hidup.   Di akhir ayat disebutkan, “Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dan diingatkan akan hisab pada hari kiamat. Dan kiamat itu semakin dekat. Demikian disarikan dari Tafsir As-Sa’di, hlm. 221 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah. Wallahu a’lam. Walhamdulillah, jadi ilmu bermanfaat dari satu ayat. Moga jadi pelajaran-pelajaran yang berharga dan bermanfaat.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanjing anjing berburu belajar berburu ilmu keutamaan ilmu renungan ayat renungan quran

Kisah-kisah Husnul Khotimah

Kisah-kisah Husnul Khotimah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, [1] Wudhu Terakhir Dari Ummu Hisyam at-Thaiyah رأيت عبد الله بن بسر يتوضأ، فبينما هو يتوضأ خرجت نفسه Aku melihat Abdullah bin Busr berwudhu. Di tengah beliau wudhu, ruhnya keluar (meninggal). (Tarikh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, 1/255) [2] Meninggal ketika membaca al-Quran Ketika Misrah bin Muslim mendekati kematian, beliau mulai membuka al-Quran, dan tepat di surat Thaha. Hingga ketika sampai di firman Allah, وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” Lalu beliau meninggal dunia. (Tartib al-Madarik, al-Qadhi Iyadh, 6/217) [3] Dari Abul Husain bin Fadhl al-Qatthan, beliau bercerita, Saya menemui Abu Bakr an-Naqqasy – ketika itu bertepatan hari selasa tanggal 3 Syawal tahun 351 H. Abu Bakr sangat memperhatikan untuk beramal baik. Beliau bergumam sesuatu, saya tidak tahu apa yang beliau baca. Tiba-tiba beliau membaca ayat ini dengan keras, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Beliau baca sebanyak 3 kali, lalu beliau meninggal.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 2/607). [4] Dari Abu Bakr bin Ziyad Saya ikut menyaksikan proses kematian Ibrahim bin Hani’. Ketika itu beliau puasa, lalu berkata kepada anaknya, “Aku haus sekali.” Datanglah putranya dengan membawa air. Lalu Ibrahim bertanya, “Apakah matahari sudah tenggelam?” “Belum.” Jawab anaknya. Beliaupun menolak untuk minum air itu. Lalu beliau membaca, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Kemudian beliau meninggal.. rahimahullah.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 7/163). [5] Dikisahkan bahwa Abdullah bin Ibrahim al-Khabari meninggal ketika menulis mushaf. Beliau sedang duduk menulis mushaf. Lalu beliau letakkan pena dari tangannya, dan bersandar. Lalu beliau mengatakan, واللّه هذا موت طيّب هيّن “Demi Allah, ini kematian yang baik, mudah..” Lalu beliau meninggal. (Thabaqat as-Syafi’iyah, al-Husaini, hlm. 173). [6] Kisah wafatnya Ismail an-Naisaburi Menjelang wafat, ibunya bertanya kepadanya. ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ismail tidak bisa bicara. Lalu beliau tuliskan di tangan ibunya, رَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ “Ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan..” Kemudian beliau meninggal. (Siyar A’lam an-Nubala’, 20/161). [7] Wafatnya Abu Zur’ah ar-Razi – ulama ahli hadis – Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bercerita, Kami hadir ketika peristiwa wafatnya Abu Zur’ah. Ketika beliau sakit parah, ada banyak ahli hadis yang menjenguk. Ada Abu Hatim, Ibnu Warah, al-Mundzir bin Syadzan, dan para ulama hadis lainnya. Merekapun saling mengingatkan untuk mentalqin Abu Zur’ah. Namun mereka semua segan dengan Abu Zur’ah. “Coba kita bacakan hadis.” Usulan salah satu diantara mereka. Ibnu Warah, “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Abu Hatim, “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Sementara yang lain terdiam. Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka matanya dalam kondisi mendekati kematian, sambil menyebut hadis, حدثنا بندار، حدثنا أبو عاصم، حدثنا عبد الحميد، عن صالح بن أبي عريب، عن كثير بن مرة، عن معاذ بن جبل، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من كان آخر كلامه: لا إله إلا الله، دخل الجنة) “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami, dari Soleh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang kalimat terakhirnya, ‘Laa ilaaha illallah’ maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau meninggal. Rahimahullah… Kematian itu pasti dan hanya sekali… Ya Rab.. jadikan kematian kami adalah kematian yang baik.. anugerahkanlah untuk kami husnul khatimah.. Amiin… Dinukil dari WA grup Syaikh al-Walid Saifun Nashr dan diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Ammi Nur Baits Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Tidak Shalat Apakah Istri Berdosa, Sunnah Di Bulan Dzulhijjah, Keistimewaan Bahasa Arab, Doa Pulang Dari Haji, Dr Ali Musri, Dzikir Asmaul Husna Dan Manfaatnya Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid

Kisah-kisah Husnul Khotimah

Kisah-kisah Husnul Khotimah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, [1] Wudhu Terakhir Dari Ummu Hisyam at-Thaiyah رأيت عبد الله بن بسر يتوضأ، فبينما هو يتوضأ خرجت نفسه Aku melihat Abdullah bin Busr berwudhu. Di tengah beliau wudhu, ruhnya keluar (meninggal). (Tarikh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, 1/255) [2] Meninggal ketika membaca al-Quran Ketika Misrah bin Muslim mendekati kematian, beliau mulai membuka al-Quran, dan tepat di surat Thaha. Hingga ketika sampai di firman Allah, وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” Lalu beliau meninggal dunia. (Tartib al-Madarik, al-Qadhi Iyadh, 6/217) [3] Dari Abul Husain bin Fadhl al-Qatthan, beliau bercerita, Saya menemui Abu Bakr an-Naqqasy – ketika itu bertepatan hari selasa tanggal 3 Syawal tahun 351 H. Abu Bakr sangat memperhatikan untuk beramal baik. Beliau bergumam sesuatu, saya tidak tahu apa yang beliau baca. Tiba-tiba beliau membaca ayat ini dengan keras, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Beliau baca sebanyak 3 kali, lalu beliau meninggal.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 2/607). [4] Dari Abu Bakr bin Ziyad Saya ikut menyaksikan proses kematian Ibrahim bin Hani’. Ketika itu beliau puasa, lalu berkata kepada anaknya, “Aku haus sekali.” Datanglah putranya dengan membawa air. Lalu Ibrahim bertanya, “Apakah matahari sudah tenggelam?” “Belum.” Jawab anaknya. Beliaupun menolak untuk minum air itu. Lalu beliau membaca, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Kemudian beliau meninggal.. rahimahullah.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 7/163). [5] Dikisahkan bahwa Abdullah bin Ibrahim al-Khabari meninggal ketika menulis mushaf. Beliau sedang duduk menulis mushaf. Lalu beliau letakkan pena dari tangannya, dan bersandar. Lalu beliau mengatakan, واللّه هذا موت طيّب هيّن “Demi Allah, ini kematian yang baik, mudah..” Lalu beliau meninggal. (Thabaqat as-Syafi’iyah, al-Husaini, hlm. 173). [6] Kisah wafatnya Ismail an-Naisaburi Menjelang wafat, ibunya bertanya kepadanya. ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ismail tidak bisa bicara. Lalu beliau tuliskan di tangan ibunya, رَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ “Ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan..” Kemudian beliau meninggal. (Siyar A’lam an-Nubala’, 20/161). [7] Wafatnya Abu Zur’ah ar-Razi – ulama ahli hadis – Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bercerita, Kami hadir ketika peristiwa wafatnya Abu Zur’ah. Ketika beliau sakit parah, ada banyak ahli hadis yang menjenguk. Ada Abu Hatim, Ibnu Warah, al-Mundzir bin Syadzan, dan para ulama hadis lainnya. Merekapun saling mengingatkan untuk mentalqin Abu Zur’ah. Namun mereka semua segan dengan Abu Zur’ah. “Coba kita bacakan hadis.” Usulan salah satu diantara mereka. Ibnu Warah, “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Abu Hatim, “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Sementara yang lain terdiam. Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka matanya dalam kondisi mendekati kematian, sambil menyebut hadis, حدثنا بندار، حدثنا أبو عاصم، حدثنا عبد الحميد، عن صالح بن أبي عريب، عن كثير بن مرة، عن معاذ بن جبل، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من كان آخر كلامه: لا إله إلا الله، دخل الجنة) “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami, dari Soleh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang kalimat terakhirnya, ‘Laa ilaaha illallah’ maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau meninggal. Rahimahullah… Kematian itu pasti dan hanya sekali… Ya Rab.. jadikan kematian kami adalah kematian yang baik.. anugerahkanlah untuk kami husnul khatimah.. Amiin… Dinukil dari WA grup Syaikh al-Walid Saifun Nashr dan diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Ammi Nur Baits Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Tidak Shalat Apakah Istri Berdosa, Sunnah Di Bulan Dzulhijjah, Keistimewaan Bahasa Arab, Doa Pulang Dari Haji, Dr Ali Musri, Dzikir Asmaul Husna Dan Manfaatnya Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid
Kisah-kisah Husnul Khotimah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, [1] Wudhu Terakhir Dari Ummu Hisyam at-Thaiyah رأيت عبد الله بن بسر يتوضأ، فبينما هو يتوضأ خرجت نفسه Aku melihat Abdullah bin Busr berwudhu. Di tengah beliau wudhu, ruhnya keluar (meninggal). (Tarikh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, 1/255) [2] Meninggal ketika membaca al-Quran Ketika Misrah bin Muslim mendekati kematian, beliau mulai membuka al-Quran, dan tepat di surat Thaha. Hingga ketika sampai di firman Allah, وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” Lalu beliau meninggal dunia. (Tartib al-Madarik, al-Qadhi Iyadh, 6/217) [3] Dari Abul Husain bin Fadhl al-Qatthan, beliau bercerita, Saya menemui Abu Bakr an-Naqqasy – ketika itu bertepatan hari selasa tanggal 3 Syawal tahun 351 H. Abu Bakr sangat memperhatikan untuk beramal baik. Beliau bergumam sesuatu, saya tidak tahu apa yang beliau baca. Tiba-tiba beliau membaca ayat ini dengan keras, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Beliau baca sebanyak 3 kali, lalu beliau meninggal.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 2/607). [4] Dari Abu Bakr bin Ziyad Saya ikut menyaksikan proses kematian Ibrahim bin Hani’. Ketika itu beliau puasa, lalu berkata kepada anaknya, “Aku haus sekali.” Datanglah putranya dengan membawa air. Lalu Ibrahim bertanya, “Apakah matahari sudah tenggelam?” “Belum.” Jawab anaknya. Beliaupun menolak untuk minum air itu. Lalu beliau membaca, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Kemudian beliau meninggal.. rahimahullah.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 7/163). [5] Dikisahkan bahwa Abdullah bin Ibrahim al-Khabari meninggal ketika menulis mushaf. Beliau sedang duduk menulis mushaf. Lalu beliau letakkan pena dari tangannya, dan bersandar. Lalu beliau mengatakan, واللّه هذا موت طيّب هيّن “Demi Allah, ini kematian yang baik, mudah..” Lalu beliau meninggal. (Thabaqat as-Syafi’iyah, al-Husaini, hlm. 173). [6] Kisah wafatnya Ismail an-Naisaburi Menjelang wafat, ibunya bertanya kepadanya. ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ismail tidak bisa bicara. Lalu beliau tuliskan di tangan ibunya, رَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ “Ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan..” Kemudian beliau meninggal. (Siyar A’lam an-Nubala’, 20/161). [7] Wafatnya Abu Zur’ah ar-Razi – ulama ahli hadis – Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bercerita, Kami hadir ketika peristiwa wafatnya Abu Zur’ah. Ketika beliau sakit parah, ada banyak ahli hadis yang menjenguk. Ada Abu Hatim, Ibnu Warah, al-Mundzir bin Syadzan, dan para ulama hadis lainnya. Merekapun saling mengingatkan untuk mentalqin Abu Zur’ah. Namun mereka semua segan dengan Abu Zur’ah. “Coba kita bacakan hadis.” Usulan salah satu diantara mereka. Ibnu Warah, “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Abu Hatim, “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Sementara yang lain terdiam. Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka matanya dalam kondisi mendekati kematian, sambil menyebut hadis, حدثنا بندار، حدثنا أبو عاصم، حدثنا عبد الحميد، عن صالح بن أبي عريب، عن كثير بن مرة، عن معاذ بن جبل، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من كان آخر كلامه: لا إله إلا الله، دخل الجنة) “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami, dari Soleh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang kalimat terakhirnya, ‘Laa ilaaha illallah’ maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau meninggal. Rahimahullah… Kematian itu pasti dan hanya sekali… Ya Rab.. jadikan kematian kami adalah kematian yang baik.. anugerahkanlah untuk kami husnul khatimah.. Amiin… Dinukil dari WA grup Syaikh al-Walid Saifun Nashr dan diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Ammi Nur Baits Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Tidak Shalat Apakah Istri Berdosa, Sunnah Di Bulan Dzulhijjah, Keistimewaan Bahasa Arab, Doa Pulang Dari Haji, Dr Ali Musri, Dzikir Asmaul Husna Dan Manfaatnya Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/464070342&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Kisah-kisah Husnul Khotimah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, [1] Wudhu Terakhir Dari Ummu Hisyam at-Thaiyah رأيت عبد الله بن بسر يتوضأ، فبينما هو يتوضأ خرجت نفسه Aku melihat Abdullah bin Busr berwudhu. Di tengah beliau wudhu, ruhnya keluar (meninggal). (Tarikh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, 1/255) [2] Meninggal ketika membaca al-Quran Ketika Misrah bin Muslim mendekati kematian, beliau mulai membuka al-Quran, dan tepat di surat Thaha. Hingga ketika sampai di firman Allah, وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” Lalu beliau meninggal dunia. (Tartib al-Madarik, al-Qadhi Iyadh, 6/217) [3] Dari Abul Husain bin Fadhl al-Qatthan, beliau bercerita, Saya menemui Abu Bakr an-Naqqasy – ketika itu bertepatan hari selasa tanggal 3 Syawal tahun 351 H. Abu Bakr sangat memperhatikan untuk beramal baik. Beliau bergumam sesuatu, saya tidak tahu apa yang beliau baca. Tiba-tiba beliau membaca ayat ini dengan keras, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Beliau baca sebanyak 3 kali, lalu beliau meninggal.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 2/607). [4] Dari Abu Bakr bin Ziyad Saya ikut menyaksikan proses kematian Ibrahim bin Hani’. Ketika itu beliau puasa, lalu berkata kepada anaknya, “Aku haus sekali.” Datanglah putranya dengan membawa air. Lalu Ibrahim bertanya, “Apakah matahari sudah tenggelam?” “Belum.” Jawab anaknya. Beliaupun menolak untuk minum air itu. Lalu beliau membaca, لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ “Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61) Kemudian beliau meninggal.. rahimahullah.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 7/163). [5] Dikisahkan bahwa Abdullah bin Ibrahim al-Khabari meninggal ketika menulis mushaf. Beliau sedang duduk menulis mushaf. Lalu beliau letakkan pena dari tangannya, dan bersandar. Lalu beliau mengatakan, واللّه هذا موت طيّب هيّن “Demi Allah, ini kematian yang baik, mudah..” Lalu beliau meninggal. (Thabaqat as-Syafi’iyah, al-Husaini, hlm. 173). [6] Kisah wafatnya Ismail an-Naisaburi Menjelang wafat, ibunya bertanya kepadanya. ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ismail tidak bisa bicara. Lalu beliau tuliskan di tangan ibunya, رَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ “Ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan..” Kemudian beliau meninggal. (Siyar A’lam an-Nubala’, 20/161). [7] Wafatnya Abu Zur’ah ar-Razi – ulama ahli hadis – Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bercerita, Kami hadir ketika peristiwa wafatnya Abu Zur’ah. Ketika beliau sakit parah, ada banyak ahli hadis yang menjenguk. Ada Abu Hatim, Ibnu Warah, al-Mundzir bin Syadzan, dan para ulama hadis lainnya. Merekapun saling mengingatkan untuk mentalqin Abu Zur’ah. Namun mereka semua segan dengan Abu Zur’ah. “Coba kita bacakan hadis.” Usulan salah satu diantara mereka. Ibnu Warah, “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Abu Hatim, “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…” Sementara yang lain terdiam. Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka matanya dalam kondisi mendekati kematian, sambil menyebut hadis, حدثنا بندار، حدثنا أبو عاصم، حدثنا عبد الحميد، عن صالح بن أبي عريب، عن كثير بن مرة، عن معاذ بن جبل، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من كان آخر كلامه: لا إله إلا الله، دخل الجنة) “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami, dari Soleh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang kalimat terakhirnya, ‘Laa ilaaha illallah’ maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau meninggal. Rahimahullah… Kematian itu pasti dan hanya sekali… Ya Rab.. jadikan kematian kami adalah kematian yang baik.. anugerahkanlah untuk kami husnul khatimah.. Amiin… Dinukil dari WA grup Syaikh al-Walid Saifun Nashr dan diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Ammi Nur Baits Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Tidak Shalat Apakah Istri Berdosa, Sunnah Di Bulan Dzulhijjah, Keistimewaan Bahasa Arab, Doa Pulang Dari Haji, Dr Ali Musri, Dzikir Asmaul Husna Dan Manfaatnya Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tidak Harus Memberi Tahu Penerima bahwa itu Zakat

Tidak Harus Memberi Tahu Penerima bahwa itu Zakat Apakah penerima zakat harus diberi tahu bahwa itu zakat? Apakah harus ada ijab qabul? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bukan bagian dari syarat membayar zakat, harus memberi tahu kepada penerima bahwa itu adalah zakat. Selama kita yakin bahwa orang yang menerima zakat itu adalah mustahiq. Sehingga tidak perlu ada ijab qabul. Lain halnya jika kita titipkan ke lembaga tertentu, kita harus memberi tahu bahwa harta yang kita titipkan statusnya adalah harta zakat, agar petugas bisa menyerahkannya ke pihak yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat). An-Nawawi mengatakan, إذا دفع المالك أو غيره الزكاة إلى المستحق ولم يقل هي زكاة ، ولا تكلم بشيء أصلا : أجزأه ، ووقع زكاة ، هذا هو المذهب الصحيح المشهور الذي قطع به الجمهور ، وقد صرح بالمسألة إمام الحرمين – أي : الجويني – ، وآخرون Jika pemilik atau orang lain menyerahkan zakat kepada mustahiq, dan dia tidak menyampaikan keterangan bahwa itu zakat, atau sama sekali tidak menyampaikan keterangan apapun, maka hukumnya sah sebagai zakat. Inilah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana yang ditegaskan jumhur. Dan masalah ini telah ditegaskan oleh Imam al-Haramain – al-Juwaini – dan beberapa ulama lainnya. (al-Majmu’, 6/233) Ibnu Qudamah mengatakan, وإذا دفع الزكاة إلى من يظنه فقيراً : لم يحتج إلى إعلامه أنها زكاة ، قال الحسن : أتريد أن تقرعه ؟! لا تخبره Ketika si A menyerahkan zakat kepada orang yang dia yakini fakir, maka dia tidak perlu memberi tahukan bahwa itu zakat. Al-Hasan mengatakan, “Apakah kamu ingin untuk membuat sedih hatinya dengan mengatakan, ‘Ini zakat?! Jangan kasih tahu bahwa itu zakat.” Lalu Ibnu Qudamah membawakan riwayat dari Imam Ahmad, Ahmad bin Hasan pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ‘Ketika seseorang menyerahkan zakat ke orang miskin, apakah dia perlu memberi tahu bahwa itu zakat atau cukup diam saja?’ Jawab Imam Ahmad, ولم يبكِّته بهذا القول ؟! يعطيه ، ويسكت ، ما حاجته إلى أن يقرعه Mengapa dia harus membuatnya sedih dengan menyampaikan semacam ini?! Kasihkan saja, dan cukup diam. Apa perlunya dia memberi tahukan ini hingga membuatnya sedih. (al-Mughni, 2/508) An-Nawawi ulama bermadzhab Syafiiyah, sementara Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali. Kita tambahkan komentar dari madzhab Malikiyah, Dalam as-Syarh al-Kabir, Syaikh ad-Dardir menyatakan, ولا يشترط إعلامه ، أو علمه بأنها زكاة ، بل قال اللقاني : يكره إعلامه ؛ لما فيه مِن كسر قلب الفقير ، وهو ظاهر ، خلافاً لمَن قال بالاشتراط Tidak disyaratkan untuk memberi tahu bahwa itu zakat. Bahkan al-Laqqani mengatakan, ‘Makruh memberi tahu bahwa itu zakat, karena bisa membuat sedih hati si miskin.’ Dan ini yang lebih kuat, tidak sebagaimana pendapat yang mengatakan harus memberi tahu. (as-Syarh al-Kabir, 1/500) Dan ini pula yang difatwakan Lajnah Daimah, إذا دفعت زكاتك إلى من تعلم أنه مستحق لها بنية الزكاة فهي زكاة صحيحة ، ونرجو أن يقبلها الله تعالى منك ، ولا يلزمك إخبار الآخذ بأنها زكاة Jika kamu menyerahkan zakat kepada orang yang kamu yakini dia berhak menerima, dengan niat zakat, maka ini menjadi zakat yang sah. Kami berharap semoga diterima oleh Allah Ta’ala. Dan anda tidak harus memberi tahukan kepada penerima bahwa itu zakat. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 11241) Sekali lagi, ini berlaku jika penerima adalah orang yang kita yakini sebagai pihak yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin atau lainnya. Sementra jika ini dititipkan ke lembaga atau yayasan penampung zakat, kita harus memberi tahu. Agar petugas bisa menyalurkannya ke sasaran yang benar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Transfer Pahala, Binatang Yang Masuk Neraka, Hukum Selingkuh Menurut Islam, Hadits Cicak, Bacaan Bilal Shalat Tarawih 23 Rakaat Doc, Contoh Kultum Sederhana Visited 37 times, 1 visit(s) today Post Views: 214 QRIS donasi Yufid

Tidak Harus Memberi Tahu Penerima bahwa itu Zakat

Tidak Harus Memberi Tahu Penerima bahwa itu Zakat Apakah penerima zakat harus diberi tahu bahwa itu zakat? Apakah harus ada ijab qabul? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bukan bagian dari syarat membayar zakat, harus memberi tahu kepada penerima bahwa itu adalah zakat. Selama kita yakin bahwa orang yang menerima zakat itu adalah mustahiq. Sehingga tidak perlu ada ijab qabul. Lain halnya jika kita titipkan ke lembaga tertentu, kita harus memberi tahu bahwa harta yang kita titipkan statusnya adalah harta zakat, agar petugas bisa menyerahkannya ke pihak yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat). An-Nawawi mengatakan, إذا دفع المالك أو غيره الزكاة إلى المستحق ولم يقل هي زكاة ، ولا تكلم بشيء أصلا : أجزأه ، ووقع زكاة ، هذا هو المذهب الصحيح المشهور الذي قطع به الجمهور ، وقد صرح بالمسألة إمام الحرمين – أي : الجويني – ، وآخرون Jika pemilik atau orang lain menyerahkan zakat kepada mustahiq, dan dia tidak menyampaikan keterangan bahwa itu zakat, atau sama sekali tidak menyampaikan keterangan apapun, maka hukumnya sah sebagai zakat. Inilah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana yang ditegaskan jumhur. Dan masalah ini telah ditegaskan oleh Imam al-Haramain – al-Juwaini – dan beberapa ulama lainnya. (al-Majmu’, 6/233) Ibnu Qudamah mengatakan, وإذا دفع الزكاة إلى من يظنه فقيراً : لم يحتج إلى إعلامه أنها زكاة ، قال الحسن : أتريد أن تقرعه ؟! لا تخبره Ketika si A menyerahkan zakat kepada orang yang dia yakini fakir, maka dia tidak perlu memberi tahukan bahwa itu zakat. Al-Hasan mengatakan, “Apakah kamu ingin untuk membuat sedih hatinya dengan mengatakan, ‘Ini zakat?! Jangan kasih tahu bahwa itu zakat.” Lalu Ibnu Qudamah membawakan riwayat dari Imam Ahmad, Ahmad bin Hasan pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ‘Ketika seseorang menyerahkan zakat ke orang miskin, apakah dia perlu memberi tahu bahwa itu zakat atau cukup diam saja?’ Jawab Imam Ahmad, ولم يبكِّته بهذا القول ؟! يعطيه ، ويسكت ، ما حاجته إلى أن يقرعه Mengapa dia harus membuatnya sedih dengan menyampaikan semacam ini?! Kasihkan saja, dan cukup diam. Apa perlunya dia memberi tahukan ini hingga membuatnya sedih. (al-Mughni, 2/508) An-Nawawi ulama bermadzhab Syafiiyah, sementara Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali. Kita tambahkan komentar dari madzhab Malikiyah, Dalam as-Syarh al-Kabir, Syaikh ad-Dardir menyatakan, ولا يشترط إعلامه ، أو علمه بأنها زكاة ، بل قال اللقاني : يكره إعلامه ؛ لما فيه مِن كسر قلب الفقير ، وهو ظاهر ، خلافاً لمَن قال بالاشتراط Tidak disyaratkan untuk memberi tahu bahwa itu zakat. Bahkan al-Laqqani mengatakan, ‘Makruh memberi tahu bahwa itu zakat, karena bisa membuat sedih hati si miskin.’ Dan ini yang lebih kuat, tidak sebagaimana pendapat yang mengatakan harus memberi tahu. (as-Syarh al-Kabir, 1/500) Dan ini pula yang difatwakan Lajnah Daimah, إذا دفعت زكاتك إلى من تعلم أنه مستحق لها بنية الزكاة فهي زكاة صحيحة ، ونرجو أن يقبلها الله تعالى منك ، ولا يلزمك إخبار الآخذ بأنها زكاة Jika kamu menyerahkan zakat kepada orang yang kamu yakini dia berhak menerima, dengan niat zakat, maka ini menjadi zakat yang sah. Kami berharap semoga diterima oleh Allah Ta’ala. Dan anda tidak harus memberi tahukan kepada penerima bahwa itu zakat. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 11241) Sekali lagi, ini berlaku jika penerima adalah orang yang kita yakini sebagai pihak yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin atau lainnya. Sementra jika ini dititipkan ke lembaga atau yayasan penampung zakat, kita harus memberi tahu. Agar petugas bisa menyalurkannya ke sasaran yang benar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Transfer Pahala, Binatang Yang Masuk Neraka, Hukum Selingkuh Menurut Islam, Hadits Cicak, Bacaan Bilal Shalat Tarawih 23 Rakaat Doc, Contoh Kultum Sederhana Visited 37 times, 1 visit(s) today Post Views: 214 QRIS donasi Yufid
Tidak Harus Memberi Tahu Penerima bahwa itu Zakat Apakah penerima zakat harus diberi tahu bahwa itu zakat? Apakah harus ada ijab qabul? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bukan bagian dari syarat membayar zakat, harus memberi tahu kepada penerima bahwa itu adalah zakat. Selama kita yakin bahwa orang yang menerima zakat itu adalah mustahiq. Sehingga tidak perlu ada ijab qabul. Lain halnya jika kita titipkan ke lembaga tertentu, kita harus memberi tahu bahwa harta yang kita titipkan statusnya adalah harta zakat, agar petugas bisa menyerahkannya ke pihak yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat). An-Nawawi mengatakan, إذا دفع المالك أو غيره الزكاة إلى المستحق ولم يقل هي زكاة ، ولا تكلم بشيء أصلا : أجزأه ، ووقع زكاة ، هذا هو المذهب الصحيح المشهور الذي قطع به الجمهور ، وقد صرح بالمسألة إمام الحرمين – أي : الجويني – ، وآخرون Jika pemilik atau orang lain menyerahkan zakat kepada mustahiq, dan dia tidak menyampaikan keterangan bahwa itu zakat, atau sama sekali tidak menyampaikan keterangan apapun, maka hukumnya sah sebagai zakat. Inilah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana yang ditegaskan jumhur. Dan masalah ini telah ditegaskan oleh Imam al-Haramain – al-Juwaini – dan beberapa ulama lainnya. (al-Majmu’, 6/233) Ibnu Qudamah mengatakan, وإذا دفع الزكاة إلى من يظنه فقيراً : لم يحتج إلى إعلامه أنها زكاة ، قال الحسن : أتريد أن تقرعه ؟! لا تخبره Ketika si A menyerahkan zakat kepada orang yang dia yakini fakir, maka dia tidak perlu memberi tahukan bahwa itu zakat. Al-Hasan mengatakan, “Apakah kamu ingin untuk membuat sedih hatinya dengan mengatakan, ‘Ini zakat?! Jangan kasih tahu bahwa itu zakat.” Lalu Ibnu Qudamah membawakan riwayat dari Imam Ahmad, Ahmad bin Hasan pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ‘Ketika seseorang menyerahkan zakat ke orang miskin, apakah dia perlu memberi tahu bahwa itu zakat atau cukup diam saja?’ Jawab Imam Ahmad, ولم يبكِّته بهذا القول ؟! يعطيه ، ويسكت ، ما حاجته إلى أن يقرعه Mengapa dia harus membuatnya sedih dengan menyampaikan semacam ini?! Kasihkan saja, dan cukup diam. Apa perlunya dia memberi tahukan ini hingga membuatnya sedih. (al-Mughni, 2/508) An-Nawawi ulama bermadzhab Syafiiyah, sementara Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali. Kita tambahkan komentar dari madzhab Malikiyah, Dalam as-Syarh al-Kabir, Syaikh ad-Dardir menyatakan, ولا يشترط إعلامه ، أو علمه بأنها زكاة ، بل قال اللقاني : يكره إعلامه ؛ لما فيه مِن كسر قلب الفقير ، وهو ظاهر ، خلافاً لمَن قال بالاشتراط Tidak disyaratkan untuk memberi tahu bahwa itu zakat. Bahkan al-Laqqani mengatakan, ‘Makruh memberi tahu bahwa itu zakat, karena bisa membuat sedih hati si miskin.’ Dan ini yang lebih kuat, tidak sebagaimana pendapat yang mengatakan harus memberi tahu. (as-Syarh al-Kabir, 1/500) Dan ini pula yang difatwakan Lajnah Daimah, إذا دفعت زكاتك إلى من تعلم أنه مستحق لها بنية الزكاة فهي زكاة صحيحة ، ونرجو أن يقبلها الله تعالى منك ، ولا يلزمك إخبار الآخذ بأنها زكاة Jika kamu menyerahkan zakat kepada orang yang kamu yakini dia berhak menerima, dengan niat zakat, maka ini menjadi zakat yang sah. Kami berharap semoga diterima oleh Allah Ta’ala. Dan anda tidak harus memberi tahukan kepada penerima bahwa itu zakat. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 11241) Sekali lagi, ini berlaku jika penerima adalah orang yang kita yakini sebagai pihak yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin atau lainnya. Sementra jika ini dititipkan ke lembaga atau yayasan penampung zakat, kita harus memberi tahu. Agar petugas bisa menyalurkannya ke sasaran yang benar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Transfer Pahala, Binatang Yang Masuk Neraka, Hukum Selingkuh Menurut Islam, Hadits Cicak, Bacaan Bilal Shalat Tarawih 23 Rakaat Doc, Contoh Kultum Sederhana Visited 37 times, 1 visit(s) today Post Views: 214 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/484791516&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Tidak Harus Memberi Tahu Penerima bahwa itu Zakat Apakah penerima zakat harus diberi tahu bahwa itu zakat? Apakah harus ada ijab qabul? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bukan bagian dari syarat membayar zakat, harus memberi tahu kepada penerima bahwa itu adalah zakat. Selama kita yakin bahwa orang yang menerima zakat itu adalah mustahiq. Sehingga tidak perlu ada ijab qabul. Lain halnya jika kita titipkan ke lembaga tertentu, kita harus memberi tahu bahwa harta yang kita titipkan statusnya adalah harta zakat, agar petugas bisa menyerahkannya ke pihak yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat). An-Nawawi mengatakan, إذا دفع المالك أو غيره الزكاة إلى المستحق ولم يقل هي زكاة ، ولا تكلم بشيء أصلا : أجزأه ، ووقع زكاة ، هذا هو المذهب الصحيح المشهور الذي قطع به الجمهور ، وقد صرح بالمسألة إمام الحرمين – أي : الجويني – ، وآخرون Jika pemilik atau orang lain menyerahkan zakat kepada mustahiq, dan dia tidak menyampaikan keterangan bahwa itu zakat, atau sama sekali tidak menyampaikan keterangan apapun, maka hukumnya sah sebagai zakat. Inilah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana yang ditegaskan jumhur. Dan masalah ini telah ditegaskan oleh Imam al-Haramain – al-Juwaini – dan beberapa ulama lainnya. (al-Majmu’, 6/233) Ibnu Qudamah mengatakan, وإذا دفع الزكاة إلى من يظنه فقيراً : لم يحتج إلى إعلامه أنها زكاة ، قال الحسن : أتريد أن تقرعه ؟! لا تخبره Ketika si A menyerahkan zakat kepada orang yang dia yakini fakir, maka dia tidak perlu memberi tahukan bahwa itu zakat. Al-Hasan mengatakan, “Apakah kamu ingin untuk membuat sedih hatinya dengan mengatakan, ‘Ini zakat?! Jangan kasih tahu bahwa itu zakat.” Lalu Ibnu Qudamah membawakan riwayat dari Imam Ahmad, Ahmad bin Hasan pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ‘Ketika seseorang menyerahkan zakat ke orang miskin, apakah dia perlu memberi tahu bahwa itu zakat atau cukup diam saja?’ Jawab Imam Ahmad, ولم يبكِّته بهذا القول ؟! يعطيه ، ويسكت ، ما حاجته إلى أن يقرعه Mengapa dia harus membuatnya sedih dengan menyampaikan semacam ini?! Kasihkan saja, dan cukup diam. Apa perlunya dia memberi tahukan ini hingga membuatnya sedih. (al-Mughni, 2/508) An-Nawawi ulama bermadzhab Syafiiyah, sementara Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali. Kita tambahkan komentar dari madzhab Malikiyah, Dalam as-Syarh al-Kabir, Syaikh ad-Dardir menyatakan, ولا يشترط إعلامه ، أو علمه بأنها زكاة ، بل قال اللقاني : يكره إعلامه ؛ لما فيه مِن كسر قلب الفقير ، وهو ظاهر ، خلافاً لمَن قال بالاشتراط Tidak disyaratkan untuk memberi tahu bahwa itu zakat. Bahkan al-Laqqani mengatakan, ‘Makruh memberi tahu bahwa itu zakat, karena bisa membuat sedih hati si miskin.’ Dan ini yang lebih kuat, tidak sebagaimana pendapat yang mengatakan harus memberi tahu. (as-Syarh al-Kabir, 1/500) Dan ini pula yang difatwakan Lajnah Daimah, إذا دفعت زكاتك إلى من تعلم أنه مستحق لها بنية الزكاة فهي زكاة صحيحة ، ونرجو أن يقبلها الله تعالى منك ، ولا يلزمك إخبار الآخذ بأنها زكاة Jika kamu menyerahkan zakat kepada orang yang kamu yakini dia berhak menerima, dengan niat zakat, maka ini menjadi zakat yang sah. Kami berharap semoga diterima oleh Allah Ta’ala. Dan anda tidak harus memberi tahukan kepada penerima bahwa itu zakat. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 11241) Sekali lagi, ini berlaku jika penerima adalah orang yang kita yakini sebagai pihak yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin atau lainnya. Sementra jika ini dititipkan ke lembaga atau yayasan penampung zakat, kita harus memberi tahu. Agar petugas bisa menyalurkannya ke sasaran yang benar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Transfer Pahala, Binatang Yang Masuk Neraka, Hukum Selingkuh Menurut Islam, Hadits Cicak, Bacaan Bilal Shalat Tarawih 23 Rakaat Doc, Contoh Kultum Sederhana Visited 37 times, 1 visit(s) today Post Views: 214 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cukup 100 rb untuk Pembebasan Kantor Yufid

Cukup 100 rb untuk Pembebasan Kantor Yufid Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kami bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang Dia berikan kepada kami untuk menjadi media belajar islam bagi masyarakat. Dan kami berharap semoga Allah memberikan keberkahan bagi web konsultasisyariah.com sehingga semakin memberi manfaat bagi umat. Data KonsultasiSyariah.com sepanjang Ramadhan 2018 Alhamdulillah, untuk Ramadhan kali ini, jumlah pengunjung web konsultasisyariah.com telah menembus angka 100ribu perhari. Sementara pada peak season, sempat menembus angka 200ribu dalam sehari. Sungguh ini murni karunia dari Allah, walhamdulillah. Dan selanjutnya kami tidak lupa menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para pengunjung web yang telah menjadikan situs ini sebagai media belajar. Semoga menjadi amal yang diterima oleh Allah. Ini baru satu situs.. konsultasisyariah.com.. sementara yufid juga mengembangkan situs media belajar lainnya, seperti pengusahamuslim.com yang khusus menyajikan artikel masalah muamalah, khotbahjumat.com berisi panduan dan kumpulan khutbah dan kultum, kisahmuslim.com menyajikan kisah riil yang menggugah jiwa.. dan masih banyak situs lainnya. Anda-pun bisa terlibat untuk turut mendapatkan pahala menyebarkan kebaikan melalui semua media itu, termasuk konsultsisyariah.com.. dengan ikut kerja sama mewujudkan kantor yufid yang baru. Cukup hanya dengan donasi 100rb saja, dan dana ini akan kami wujudkan dalam bentuk wakaf bangunan fisik kantor yufid. Jika ada 30% saja dari total pengunjung ikut berdonasi, berarti potensi donasi yang bisa dikumpulkan 30.000 x 100.000 = 3M. Dan semoga anda termasuk bagian dari 30% itu… Dengan demikian, semoga anda turut mendapatkan sekian persen pahala dari upaya yufid menyebarkan kebaikan di masyarakat melalui semua situs yufid. Dan jika donasi sudah terpenuhi, kesempatan wakaf langsung kami tutup.. Kita jadikan ramadhan ini kesempatan untuk mendulang pahala, termasuk moment untuk wakaf.. Demikian, semoga bermanfaat.. Amal Jariyah, Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Donasi Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Lokasi Di Jl. Kaliurang KM 8 – Jl. Damai, Gg. Sumberan 2 Sleman Yorgyakarta (2 km dari kantor sebelumnya), Luas tanah 615 m2 dan luas bangunan 500 m2. Rekening Donasi : -BNI SYARIAH: 0381346658, a.n. YUFID NETWORK YAYASAN -BANK SYARIAH MANDIRI: 7086882242, a.n. YAYASAN YUFID NETWORK *Untuk mempermudah laporan, tambahkan 3 angka unik terakhir setiap mau donasi, dengan angka: 119 Contoh: Rp. 500.119,- Konfirmasi Donasi via SMS/WA : 0877 3839 4989 Nama donatur/wakaf/nominal donasi/nama bank yang dituju (Contoh: Abdullah/wakaf/5.000.119/BNI Syariah) KARENA LIBUR CUTI BERSAMA MOHON MAAF JIKA TERJADI KETERLAMBATAN KONFIRMASI KEPADA MUHSININ Info lebih lanjut: 🔍 Mengganti Nazar Dengan Yang Lain, Kalimat Ijab Kabul Yang Benar, Puasa Rejab, Keputihan Membatalkan Puasa, Kumpulan Hadits Tentang Berpikir Kritis, Kisah Ngeres Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 241 QRIS donasi Yufid

Cukup 100 rb untuk Pembebasan Kantor Yufid

Cukup 100 rb untuk Pembebasan Kantor Yufid Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kami bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang Dia berikan kepada kami untuk menjadi media belajar islam bagi masyarakat. Dan kami berharap semoga Allah memberikan keberkahan bagi web konsultasisyariah.com sehingga semakin memberi manfaat bagi umat. Data KonsultasiSyariah.com sepanjang Ramadhan 2018 Alhamdulillah, untuk Ramadhan kali ini, jumlah pengunjung web konsultasisyariah.com telah menembus angka 100ribu perhari. Sementara pada peak season, sempat menembus angka 200ribu dalam sehari. Sungguh ini murni karunia dari Allah, walhamdulillah. Dan selanjutnya kami tidak lupa menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para pengunjung web yang telah menjadikan situs ini sebagai media belajar. Semoga menjadi amal yang diterima oleh Allah. Ini baru satu situs.. konsultasisyariah.com.. sementara yufid juga mengembangkan situs media belajar lainnya, seperti pengusahamuslim.com yang khusus menyajikan artikel masalah muamalah, khotbahjumat.com berisi panduan dan kumpulan khutbah dan kultum, kisahmuslim.com menyajikan kisah riil yang menggugah jiwa.. dan masih banyak situs lainnya. Anda-pun bisa terlibat untuk turut mendapatkan pahala menyebarkan kebaikan melalui semua media itu, termasuk konsultsisyariah.com.. dengan ikut kerja sama mewujudkan kantor yufid yang baru. Cukup hanya dengan donasi 100rb saja, dan dana ini akan kami wujudkan dalam bentuk wakaf bangunan fisik kantor yufid. Jika ada 30% saja dari total pengunjung ikut berdonasi, berarti potensi donasi yang bisa dikumpulkan 30.000 x 100.000 = 3M. Dan semoga anda termasuk bagian dari 30% itu… Dengan demikian, semoga anda turut mendapatkan sekian persen pahala dari upaya yufid menyebarkan kebaikan di masyarakat melalui semua situs yufid. Dan jika donasi sudah terpenuhi, kesempatan wakaf langsung kami tutup.. Kita jadikan ramadhan ini kesempatan untuk mendulang pahala, termasuk moment untuk wakaf.. Demikian, semoga bermanfaat.. Amal Jariyah, Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Donasi Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Lokasi Di Jl. Kaliurang KM 8 – Jl. Damai, Gg. Sumberan 2 Sleman Yorgyakarta (2 km dari kantor sebelumnya), Luas tanah 615 m2 dan luas bangunan 500 m2. Rekening Donasi : -BNI SYARIAH: 0381346658, a.n. YUFID NETWORK YAYASAN -BANK SYARIAH MANDIRI: 7086882242, a.n. YAYASAN YUFID NETWORK *Untuk mempermudah laporan, tambahkan 3 angka unik terakhir setiap mau donasi, dengan angka: 119 Contoh: Rp. 500.119,- Konfirmasi Donasi via SMS/WA : 0877 3839 4989 Nama donatur/wakaf/nominal donasi/nama bank yang dituju (Contoh: Abdullah/wakaf/5.000.119/BNI Syariah) KARENA LIBUR CUTI BERSAMA MOHON MAAF JIKA TERJADI KETERLAMBATAN KONFIRMASI KEPADA MUHSININ Info lebih lanjut: 🔍 Mengganti Nazar Dengan Yang Lain, Kalimat Ijab Kabul Yang Benar, Puasa Rejab, Keputihan Membatalkan Puasa, Kumpulan Hadits Tentang Berpikir Kritis, Kisah Ngeres Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 241 QRIS donasi Yufid
Cukup 100 rb untuk Pembebasan Kantor Yufid Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kami bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang Dia berikan kepada kami untuk menjadi media belajar islam bagi masyarakat. Dan kami berharap semoga Allah memberikan keberkahan bagi web konsultasisyariah.com sehingga semakin memberi manfaat bagi umat. Data KonsultasiSyariah.com sepanjang Ramadhan 2018 Alhamdulillah, untuk Ramadhan kali ini, jumlah pengunjung web konsultasisyariah.com telah menembus angka 100ribu perhari. Sementara pada peak season, sempat menembus angka 200ribu dalam sehari. Sungguh ini murni karunia dari Allah, walhamdulillah. Dan selanjutnya kami tidak lupa menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para pengunjung web yang telah menjadikan situs ini sebagai media belajar. Semoga menjadi amal yang diterima oleh Allah. Ini baru satu situs.. konsultasisyariah.com.. sementara yufid juga mengembangkan situs media belajar lainnya, seperti pengusahamuslim.com yang khusus menyajikan artikel masalah muamalah, khotbahjumat.com berisi panduan dan kumpulan khutbah dan kultum, kisahmuslim.com menyajikan kisah riil yang menggugah jiwa.. dan masih banyak situs lainnya. Anda-pun bisa terlibat untuk turut mendapatkan pahala menyebarkan kebaikan melalui semua media itu, termasuk konsultsisyariah.com.. dengan ikut kerja sama mewujudkan kantor yufid yang baru. Cukup hanya dengan donasi 100rb saja, dan dana ini akan kami wujudkan dalam bentuk wakaf bangunan fisik kantor yufid. Jika ada 30% saja dari total pengunjung ikut berdonasi, berarti potensi donasi yang bisa dikumpulkan 30.000 x 100.000 = 3M. Dan semoga anda termasuk bagian dari 30% itu… Dengan demikian, semoga anda turut mendapatkan sekian persen pahala dari upaya yufid menyebarkan kebaikan di masyarakat melalui semua situs yufid. Dan jika donasi sudah terpenuhi, kesempatan wakaf langsung kami tutup.. Kita jadikan ramadhan ini kesempatan untuk mendulang pahala, termasuk moment untuk wakaf.. Demikian, semoga bermanfaat.. Amal Jariyah, Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Donasi Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Lokasi Di Jl. Kaliurang KM 8 – Jl. Damai, Gg. Sumberan 2 Sleman Yorgyakarta (2 km dari kantor sebelumnya), Luas tanah 615 m2 dan luas bangunan 500 m2. Rekening Donasi : -BNI SYARIAH: 0381346658, a.n. YUFID NETWORK YAYASAN -BANK SYARIAH MANDIRI: 7086882242, a.n. YAYASAN YUFID NETWORK *Untuk mempermudah laporan, tambahkan 3 angka unik terakhir setiap mau donasi, dengan angka: 119 Contoh: Rp. 500.119,- Konfirmasi Donasi via SMS/WA : 0877 3839 4989 Nama donatur/wakaf/nominal donasi/nama bank yang dituju (Contoh: Abdullah/wakaf/5.000.119/BNI Syariah) KARENA LIBUR CUTI BERSAMA MOHON MAAF JIKA TERJADI KETERLAMBATAN KONFIRMASI KEPADA MUHSININ Info lebih lanjut: 🔍 Mengganti Nazar Dengan Yang Lain, Kalimat Ijab Kabul Yang Benar, Puasa Rejab, Keputihan Membatalkan Puasa, Kumpulan Hadits Tentang Berpikir Kritis, Kisah Ngeres Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 241 QRIS donasi Yufid


Cukup 100 rb untuk Pembebasan Kantor Yufid Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kami bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang Dia berikan kepada kami untuk menjadi media belajar islam bagi masyarakat. Dan kami berharap semoga Allah memberikan keberkahan bagi web konsultasisyariah.com sehingga semakin memberi manfaat bagi umat. <img aria-describedby="caption-attachment-31884" decoding="async" class="wp-image-31884 size-full" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks.png" alt="" width="1058" height="574" srcset="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks.png 1058w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-300x163.png 300w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-1024x556.png 1024w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-150x81.png 150w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-768x417.png 768w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-696x378.png 696w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-774x420.png 774w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2018/06/update-data-ks-20x11.png 20w" sizes="(max-width: 1058px) 100vw, 1058px" />Data KonsultasiSyariah.com sepanjang Ramadhan 2018 Alhamdulillah, untuk Ramadhan kali ini, jumlah pengunjung web konsultasisyariah.com telah menembus angka 100ribu perhari. Sementara pada peak season, sempat menembus angka 200ribu dalam sehari. Sungguh ini murni karunia dari Allah, walhamdulillah. Dan selanjutnya kami tidak lupa menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para pengunjung web yang telah menjadikan situs ini sebagai media belajar. Semoga menjadi amal yang diterima oleh Allah. Ini baru satu situs.. konsultasisyariah.com.. sementara yufid juga mengembangkan situs media belajar lainnya, seperti pengusahamuslim.com yang khusus menyajikan artikel masalah muamalah, khotbahjumat.com berisi panduan dan kumpulan khutbah dan kultum, kisahmuslim.com menyajikan kisah riil yang menggugah jiwa.. dan masih banyak situs lainnya. Anda-pun bisa terlibat untuk turut mendapatkan pahala menyebarkan kebaikan melalui semua media itu, termasuk konsultsisyariah.com.. dengan ikut kerja sama mewujudkan kantor yufid yang baru. Cukup hanya dengan donasi 100rb saja, dan dana ini akan kami wujudkan dalam bentuk wakaf bangunan fisik kantor yufid. Jika ada 30% saja dari total pengunjung ikut berdonasi, berarti potensi donasi yang bisa dikumpulkan 30.000 x 100.000 = 3M. Dan semoga anda termasuk bagian dari 30% itu… Dengan demikian, semoga anda turut mendapatkan sekian persen pahala dari upaya yufid menyebarkan kebaikan di masyarakat melalui semua situs yufid. Dan jika donasi sudah terpenuhi, kesempatan wakaf langsung kami tutup.. Kita jadikan ramadhan ini kesempatan untuk mendulang pahala, termasuk moment untuk wakaf.. Demikian, semoga bermanfaat.. Amal Jariyah, Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Donasi Wakaf Kantor Yayasan Yufid Network Lokasi Di Jl. Kaliurang KM 8 – Jl. Damai, Gg. Sumberan 2 Sleman Yorgyakarta (2 km dari kantor sebelumnya), Luas tanah 615 m2 dan luas bangunan 500 m2. Rekening Donasi : -BNI SYARIAH: 0381346658, a.n. YUFID NETWORK YAYASAN -BANK SYARIAH MANDIRI: 7086882242, a.n. YAYASAN YUFID NETWORK *Untuk mempermudah laporan, tambahkan 3 angka unik terakhir setiap mau donasi, dengan angka: 119 Contoh: Rp. 500.119,- Konfirmasi Donasi via SMS/WA : 0877 3839 4989 Nama donatur/wakaf/nominal donasi/nama bank yang dituju (Contoh: Abdullah/wakaf/5.000.119/BNI Syariah) KARENA LIBUR CUTI BERSAMA MOHON MAAF JIKA TERJADI KETERLAMBATAN KONFIRMASI KEPADA MUHSININ Info lebih lanjut: 🔍 Mengganti Nazar Dengan Yang Lain, Kalimat Ijab Kabul Yang Benar, Puasa Rejab, Keputihan Membatalkan Puasa, Kumpulan Hadits Tentang Berpikir Kritis, Kisah Ngeres Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 241 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Potret Salaf dalam Semangat Meninggalkan Larangan

Dalam masalah meninggalkan larangan, generasi salaf adalah sebaik-baik generasi dalam memberikan contoh dan teladan bagi generasi belakangan (khalaf).Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 6647) dan Muslim (no. 1646) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapak kalian.”Sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ‘Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Dan perlu diketahui, perkara ini adalah kebiasaan mereka di masa jahiliyyah sebelum datangnya Islam. Mereka sudah terbiasa melakukan hal ini, lisan mereka seolah sudah otomatis bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak mereka ketika bersumpah.‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapk kalian.”Lalu ‘Umar mengatakan,فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah lagi bersumpah dengannya sejak aku mendengar (larangan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik bersumpah sendiri atau mengutip sumpah orang lain.”Lihatlah bagaimana keteguhan ‘Umar bin Khaththab untuk bersegera mematuhi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal sumpah dengan menyebut nama selain Allah tersebut sudah mendarah daging dalam diri dan lisan mereka ketika masih di masa jahiliyyah. Bahkan hanya sekedar mengutip ucapan sumpah orang lain pun ‘Umar tidak mau, supaya dia tidak kembali lagi kepada kebiasaannya yang dulu.Contoh menakjubkan lainnya adalah sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 4617) dan Muslim (no. 1980) dari sahabat Anas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ketika beliau menjadi budak (pembantu) Abu Thalhah. Pada suatu hari, Anas menuangkan khamr sebelum datangnya larangan minum khamr. Ketika sedang menuangkan khamr, datanglah seseorang yang mengabarkan bahwa khamr telah diharamkan. Pada saat itu juga, mereka memerintahkan untuk segera menumpahkan semua khamr, padahal jiwa-jiwa mereka sangat terpaut dengan minum khamr dan minum khamr juga menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Namun, mereka tinggalkan itu semua seketika itu juga, dan hari itu menjadi hari terakhir mereka mengkonsumsi khamr.Potret keteladanan lainnya adalah yang terdapat dalam Shahih Muslim (no. 2090) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat cincin terbuat dari emas yang dipakai di tangan seorang laki-laki. Melihat hal itu, Rasulullah mencabut cincin itu dan melemparkannya.Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api dari neraka, kemudian memakainya di tangannya.”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada seseorang tadi,خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ“Ambillah cincinmu lagi dan manfaatkanlah.”Maksudnya, jual saja cincin tersebut dan hasil penjualannya bisa diberikan ke keluargamu.Ini adalah pemanfaatan yang pada asalnya diperbolehkan (mubah).Namun, laki-laki tersebut berkata,لَا وَاللهِ، لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengambilnya lagi selamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melemparkannya.”Laki-laki tersebut menolak untuk mengikuti saran yang diberikan kepadanya, meskipun saran itu adalah hal yang mubah. Hal ini dia lakukan semata-mata karena sangat perhatian dengan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.***@Erasmus MC Ae-406, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 29-32.🔍 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu, Hukum Bekerja Di Bank, Faraidh, Arti Ikhlas Sesungguhnya, Niat Mandi Hari Jumat

Potret Salaf dalam Semangat Meninggalkan Larangan

Dalam masalah meninggalkan larangan, generasi salaf adalah sebaik-baik generasi dalam memberikan contoh dan teladan bagi generasi belakangan (khalaf).Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 6647) dan Muslim (no. 1646) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapak kalian.”Sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ‘Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Dan perlu diketahui, perkara ini adalah kebiasaan mereka di masa jahiliyyah sebelum datangnya Islam. Mereka sudah terbiasa melakukan hal ini, lisan mereka seolah sudah otomatis bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak mereka ketika bersumpah.‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapk kalian.”Lalu ‘Umar mengatakan,فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah lagi bersumpah dengannya sejak aku mendengar (larangan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik bersumpah sendiri atau mengutip sumpah orang lain.”Lihatlah bagaimana keteguhan ‘Umar bin Khaththab untuk bersegera mematuhi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal sumpah dengan menyebut nama selain Allah tersebut sudah mendarah daging dalam diri dan lisan mereka ketika masih di masa jahiliyyah. Bahkan hanya sekedar mengutip ucapan sumpah orang lain pun ‘Umar tidak mau, supaya dia tidak kembali lagi kepada kebiasaannya yang dulu.Contoh menakjubkan lainnya adalah sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 4617) dan Muslim (no. 1980) dari sahabat Anas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ketika beliau menjadi budak (pembantu) Abu Thalhah. Pada suatu hari, Anas menuangkan khamr sebelum datangnya larangan minum khamr. Ketika sedang menuangkan khamr, datanglah seseorang yang mengabarkan bahwa khamr telah diharamkan. Pada saat itu juga, mereka memerintahkan untuk segera menumpahkan semua khamr, padahal jiwa-jiwa mereka sangat terpaut dengan minum khamr dan minum khamr juga menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Namun, mereka tinggalkan itu semua seketika itu juga, dan hari itu menjadi hari terakhir mereka mengkonsumsi khamr.Potret keteladanan lainnya adalah yang terdapat dalam Shahih Muslim (no. 2090) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat cincin terbuat dari emas yang dipakai di tangan seorang laki-laki. Melihat hal itu, Rasulullah mencabut cincin itu dan melemparkannya.Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api dari neraka, kemudian memakainya di tangannya.”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada seseorang tadi,خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ“Ambillah cincinmu lagi dan manfaatkanlah.”Maksudnya, jual saja cincin tersebut dan hasil penjualannya bisa diberikan ke keluargamu.Ini adalah pemanfaatan yang pada asalnya diperbolehkan (mubah).Namun, laki-laki tersebut berkata,لَا وَاللهِ، لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengambilnya lagi selamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melemparkannya.”Laki-laki tersebut menolak untuk mengikuti saran yang diberikan kepadanya, meskipun saran itu adalah hal yang mubah. Hal ini dia lakukan semata-mata karena sangat perhatian dengan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.***@Erasmus MC Ae-406, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 29-32.🔍 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu, Hukum Bekerja Di Bank, Faraidh, Arti Ikhlas Sesungguhnya, Niat Mandi Hari Jumat
Dalam masalah meninggalkan larangan, generasi salaf adalah sebaik-baik generasi dalam memberikan contoh dan teladan bagi generasi belakangan (khalaf).Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 6647) dan Muslim (no. 1646) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapak kalian.”Sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ‘Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Dan perlu diketahui, perkara ini adalah kebiasaan mereka di masa jahiliyyah sebelum datangnya Islam. Mereka sudah terbiasa melakukan hal ini, lisan mereka seolah sudah otomatis bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak mereka ketika bersumpah.‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapk kalian.”Lalu ‘Umar mengatakan,فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah lagi bersumpah dengannya sejak aku mendengar (larangan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik bersumpah sendiri atau mengutip sumpah orang lain.”Lihatlah bagaimana keteguhan ‘Umar bin Khaththab untuk bersegera mematuhi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal sumpah dengan menyebut nama selain Allah tersebut sudah mendarah daging dalam diri dan lisan mereka ketika masih di masa jahiliyyah. Bahkan hanya sekedar mengutip ucapan sumpah orang lain pun ‘Umar tidak mau, supaya dia tidak kembali lagi kepada kebiasaannya yang dulu.Contoh menakjubkan lainnya adalah sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 4617) dan Muslim (no. 1980) dari sahabat Anas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ketika beliau menjadi budak (pembantu) Abu Thalhah. Pada suatu hari, Anas menuangkan khamr sebelum datangnya larangan minum khamr. Ketika sedang menuangkan khamr, datanglah seseorang yang mengabarkan bahwa khamr telah diharamkan. Pada saat itu juga, mereka memerintahkan untuk segera menumpahkan semua khamr, padahal jiwa-jiwa mereka sangat terpaut dengan minum khamr dan minum khamr juga menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Namun, mereka tinggalkan itu semua seketika itu juga, dan hari itu menjadi hari terakhir mereka mengkonsumsi khamr.Potret keteladanan lainnya adalah yang terdapat dalam Shahih Muslim (no. 2090) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat cincin terbuat dari emas yang dipakai di tangan seorang laki-laki. Melihat hal itu, Rasulullah mencabut cincin itu dan melemparkannya.Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api dari neraka, kemudian memakainya di tangannya.”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada seseorang tadi,خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ“Ambillah cincinmu lagi dan manfaatkanlah.”Maksudnya, jual saja cincin tersebut dan hasil penjualannya bisa diberikan ke keluargamu.Ini adalah pemanfaatan yang pada asalnya diperbolehkan (mubah).Namun, laki-laki tersebut berkata,لَا وَاللهِ، لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengambilnya lagi selamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melemparkannya.”Laki-laki tersebut menolak untuk mengikuti saran yang diberikan kepadanya, meskipun saran itu adalah hal yang mubah. Hal ini dia lakukan semata-mata karena sangat perhatian dengan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.***@Erasmus MC Ae-406, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 29-32.🔍 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu, Hukum Bekerja Di Bank, Faraidh, Arti Ikhlas Sesungguhnya, Niat Mandi Hari Jumat


Dalam masalah meninggalkan larangan, generasi salaf adalah sebaik-baik generasi dalam memberikan contoh dan teladan bagi generasi belakangan (khalaf).Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 6647) dan Muslim (no. 1646) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapak kalian.”Sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ‘Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Dan perlu diketahui, perkara ini adalah kebiasaan mereka di masa jahiliyyah sebelum datangnya Islam. Mereka sudah terbiasa melakukan hal ini, lisan mereka seolah sudah otomatis bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak mereka ketika bersumpah.‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ“Sesungguhnya Allah melarang kalian dari bersumpah dengan (menyebut) nama bapak-bapk kalian.”Lalu ‘Umar mengatakan,فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah lagi bersumpah dengannya sejak aku mendengar (larangan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik bersumpah sendiri atau mengutip sumpah orang lain.”Lihatlah bagaimana keteguhan ‘Umar bin Khaththab untuk bersegera mematuhi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal sumpah dengan menyebut nama selain Allah tersebut sudah mendarah daging dalam diri dan lisan mereka ketika masih di masa jahiliyyah. Bahkan hanya sekedar mengutip ucapan sumpah orang lain pun ‘Umar tidak mau, supaya dia tidak kembali lagi kepada kebiasaannya yang dulu.Contoh menakjubkan lainnya adalah sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 4617) dan Muslim (no. 1980) dari sahabat Anas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ketika beliau menjadi budak (pembantu) Abu Thalhah. Pada suatu hari, Anas menuangkan khamr sebelum datangnya larangan minum khamr. Ketika sedang menuangkan khamr, datanglah seseorang yang mengabarkan bahwa khamr telah diharamkan. Pada saat itu juga, mereka memerintahkan untuk segera menumpahkan semua khamr, padahal jiwa-jiwa mereka sangat terpaut dengan minum khamr dan minum khamr juga menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Namun, mereka tinggalkan itu semua seketika itu juga, dan hari itu menjadi hari terakhir mereka mengkonsumsi khamr.Potret keteladanan lainnya adalah yang terdapat dalam Shahih Muslim (no. 2090) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat cincin terbuat dari emas yang dipakai di tangan seorang laki-laki. Melihat hal itu, Rasulullah mencabut cincin itu dan melemparkannya.Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api dari neraka, kemudian memakainya di tangannya.”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada seseorang tadi,خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ“Ambillah cincinmu lagi dan manfaatkanlah.”Maksudnya, jual saja cincin tersebut dan hasil penjualannya bisa diberikan ke keluargamu.Ini adalah pemanfaatan yang pada asalnya diperbolehkan (mubah).Namun, laki-laki tersebut berkata,لَا وَاللهِ، لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengambilnya lagi selamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melemparkannya.”Laki-laki tersebut menolak untuk mengikuti saran yang diberikan kepadanya, meskipun saran itu adalah hal yang mubah. Hal ini dia lakukan semata-mata karena sangat perhatian dengan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.***@Erasmus MC Ae-406, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 29-32.🔍 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu, Hukum Bekerja Di Bank, Faraidh, Arti Ikhlas Sesungguhnya, Niat Mandi Hari Jumat

Larangan Menghancurkan Gereja

Pembahasan mengenai hal ini kita batasi pada ruang lingkup  di negara kita tercinta Indonesia. Bagaimana hukumnya?Telah kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia telah menjamin setiap agama yang telah diakui oleh negara untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, tidak boleh dipaksakan serta tidak boleh dihalangi. Tidak boleh juga menganggu apalagi merusak rumah ibadah agama lainnya.Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentunya kita harus patuh dengan aturan yang telah disepakati selama tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim:المسلمون على شروطهم“Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati.”[1] Menghancurkan gereja dan tempat peribadatan agama lain tentu bertentangan dengan aturan ini dan ternyata bertentangan juga dengan ajaran Islam. Tidak boleh asal-asalan menghancurkan tempat ibadah agama lain tanpa aturan dari syariat.Larangan menghancurkan gereja tanpa udzurSyariat melarang menghancurkan gereja dan rumah peribadatan agama lain tanpa alasan yang benar (boleh dihancurkan semisal mereka memerangi kaum muslimin dan menjadikan gereja sebagai markas perang mereka).Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺩَﻓْﻊُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ﻟَﻬُﺪِّﻣَﺖْ ﺻَﻮَﺍﻣِﻊُ ﻭَﺑِﻴَﻊٌ ﻭَﺻَﻠَﻮَﺍﺕٌ ﻭَﻣَﺴَﺎﺟِﺪُ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍDan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. [Al-Hajj/22:40] Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan tidak boleh menghancurkan gereja ahlu dzimmah (non-muslim yang tinggal di negeri kaum muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan dari waliyul amri).تضمنت هذه الآية المنع من هدم كنائس أهل الذمة ، وبيعهم ، وبيوت نيرانهم“Ayat ini memberikan makna terlarangnya menghancurkan gereja-gejera ahlu dzimmah, biara-biara dan rumah peribadatan untuk api (majusi).” [2] Dikisahkan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz melarang pasukannya menghancurkan gereja dan tempat peribadatan non-muslim,وقد كتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله : ألا يهدموا بيعة ولا كنيسة ولا بيت نار“Umar bin Abdul Aziz menuliskan surat pada pasukannya: janganlah kalian menghancurkan gereja, biara yahudi dan rumah peribadatan majusi.”[3] Hal ini juga sejalan dengan apa yang dicontohkan Umar bin Khattab tatkala menguasai masjid Aqsa di Jerusalem/Palestina. Beliau tidak menghancurkan gereja dan sinagog tetapi beliau menjamin kebebasan beragama mereka sebagai bentuk keadilan Islam.Perhatikan perkataan beliau:Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Jerusalem, karena penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuh tawanan Nasrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem).[4] Nah, bagaimana dengan mereka yang melakukan bom untuk menghancurkan gereja? Tentu ini bukanlah ajaran Islam.Islam adalah agama yang adilIslam merupakan agama yang indah dan adil, tidak boleh mendzalimi makhluk siapapun bahkan kepada non-muslim sekalipun. Kita tidak boleh mendzalimi selama mereka tidak memerangi kaum muslimin.Allah  Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menjelaskan wajib adil selama mereka tidak memerangi kaum muslimin. Beliau menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik  baik dari keluarga kalian maupun orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.”[1] Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan meninggikam agama-Nya di muka bumi ini.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenPemurajaah: Ustadz Abu Yazid NurdinArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab🔍 Kisah Harut Dan Marut, Hewan Yg Hidup Di Dua Alam, Doa Menyamak, Ayat Alquran Tentang Keesaan Allah, Hukum Doa Setelah Sholat

Larangan Menghancurkan Gereja

Pembahasan mengenai hal ini kita batasi pada ruang lingkup  di negara kita tercinta Indonesia. Bagaimana hukumnya?Telah kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia telah menjamin setiap agama yang telah diakui oleh negara untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, tidak boleh dipaksakan serta tidak boleh dihalangi. Tidak boleh juga menganggu apalagi merusak rumah ibadah agama lainnya.Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentunya kita harus patuh dengan aturan yang telah disepakati selama tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim:المسلمون على شروطهم“Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati.”[1] Menghancurkan gereja dan tempat peribadatan agama lain tentu bertentangan dengan aturan ini dan ternyata bertentangan juga dengan ajaran Islam. Tidak boleh asal-asalan menghancurkan tempat ibadah agama lain tanpa aturan dari syariat.Larangan menghancurkan gereja tanpa udzurSyariat melarang menghancurkan gereja dan rumah peribadatan agama lain tanpa alasan yang benar (boleh dihancurkan semisal mereka memerangi kaum muslimin dan menjadikan gereja sebagai markas perang mereka).Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺩَﻓْﻊُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ﻟَﻬُﺪِّﻣَﺖْ ﺻَﻮَﺍﻣِﻊُ ﻭَﺑِﻴَﻊٌ ﻭَﺻَﻠَﻮَﺍﺕٌ ﻭَﻣَﺴَﺎﺟِﺪُ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍDan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. [Al-Hajj/22:40] Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan tidak boleh menghancurkan gereja ahlu dzimmah (non-muslim yang tinggal di negeri kaum muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan dari waliyul amri).تضمنت هذه الآية المنع من هدم كنائس أهل الذمة ، وبيعهم ، وبيوت نيرانهم“Ayat ini memberikan makna terlarangnya menghancurkan gereja-gejera ahlu dzimmah, biara-biara dan rumah peribadatan untuk api (majusi).” [2] Dikisahkan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz melarang pasukannya menghancurkan gereja dan tempat peribadatan non-muslim,وقد كتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله : ألا يهدموا بيعة ولا كنيسة ولا بيت نار“Umar bin Abdul Aziz menuliskan surat pada pasukannya: janganlah kalian menghancurkan gereja, biara yahudi dan rumah peribadatan majusi.”[3] Hal ini juga sejalan dengan apa yang dicontohkan Umar bin Khattab tatkala menguasai masjid Aqsa di Jerusalem/Palestina. Beliau tidak menghancurkan gereja dan sinagog tetapi beliau menjamin kebebasan beragama mereka sebagai bentuk keadilan Islam.Perhatikan perkataan beliau:Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Jerusalem, karena penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuh tawanan Nasrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem).[4] Nah, bagaimana dengan mereka yang melakukan bom untuk menghancurkan gereja? Tentu ini bukanlah ajaran Islam.Islam adalah agama yang adilIslam merupakan agama yang indah dan adil, tidak boleh mendzalimi makhluk siapapun bahkan kepada non-muslim sekalipun. Kita tidak boleh mendzalimi selama mereka tidak memerangi kaum muslimin.Allah  Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menjelaskan wajib adil selama mereka tidak memerangi kaum muslimin. Beliau menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik  baik dari keluarga kalian maupun orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.”[1] Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan meninggikam agama-Nya di muka bumi ini.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenPemurajaah: Ustadz Abu Yazid NurdinArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab🔍 Kisah Harut Dan Marut, Hewan Yg Hidup Di Dua Alam, Doa Menyamak, Ayat Alquran Tentang Keesaan Allah, Hukum Doa Setelah Sholat
Pembahasan mengenai hal ini kita batasi pada ruang lingkup  di negara kita tercinta Indonesia. Bagaimana hukumnya?Telah kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia telah menjamin setiap agama yang telah diakui oleh negara untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, tidak boleh dipaksakan serta tidak boleh dihalangi. Tidak boleh juga menganggu apalagi merusak rumah ibadah agama lainnya.Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentunya kita harus patuh dengan aturan yang telah disepakati selama tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim:المسلمون على شروطهم“Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati.”[1] Menghancurkan gereja dan tempat peribadatan agama lain tentu bertentangan dengan aturan ini dan ternyata bertentangan juga dengan ajaran Islam. Tidak boleh asal-asalan menghancurkan tempat ibadah agama lain tanpa aturan dari syariat.Larangan menghancurkan gereja tanpa udzurSyariat melarang menghancurkan gereja dan rumah peribadatan agama lain tanpa alasan yang benar (boleh dihancurkan semisal mereka memerangi kaum muslimin dan menjadikan gereja sebagai markas perang mereka).Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺩَﻓْﻊُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ﻟَﻬُﺪِّﻣَﺖْ ﺻَﻮَﺍﻣِﻊُ ﻭَﺑِﻴَﻊٌ ﻭَﺻَﻠَﻮَﺍﺕٌ ﻭَﻣَﺴَﺎﺟِﺪُ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍDan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. [Al-Hajj/22:40] Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan tidak boleh menghancurkan gereja ahlu dzimmah (non-muslim yang tinggal di negeri kaum muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan dari waliyul amri).تضمنت هذه الآية المنع من هدم كنائس أهل الذمة ، وبيعهم ، وبيوت نيرانهم“Ayat ini memberikan makna terlarangnya menghancurkan gereja-gejera ahlu dzimmah, biara-biara dan rumah peribadatan untuk api (majusi).” [2] Dikisahkan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz melarang pasukannya menghancurkan gereja dan tempat peribadatan non-muslim,وقد كتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله : ألا يهدموا بيعة ولا كنيسة ولا بيت نار“Umar bin Abdul Aziz menuliskan surat pada pasukannya: janganlah kalian menghancurkan gereja, biara yahudi dan rumah peribadatan majusi.”[3] Hal ini juga sejalan dengan apa yang dicontohkan Umar bin Khattab tatkala menguasai masjid Aqsa di Jerusalem/Palestina. Beliau tidak menghancurkan gereja dan sinagog tetapi beliau menjamin kebebasan beragama mereka sebagai bentuk keadilan Islam.Perhatikan perkataan beliau:Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Jerusalem, karena penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuh tawanan Nasrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem).[4] Nah, bagaimana dengan mereka yang melakukan bom untuk menghancurkan gereja? Tentu ini bukanlah ajaran Islam.Islam adalah agama yang adilIslam merupakan agama yang indah dan adil, tidak boleh mendzalimi makhluk siapapun bahkan kepada non-muslim sekalipun. Kita tidak boleh mendzalimi selama mereka tidak memerangi kaum muslimin.Allah  Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menjelaskan wajib adil selama mereka tidak memerangi kaum muslimin. Beliau menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik  baik dari keluarga kalian maupun orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.”[1] Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan meninggikam agama-Nya di muka bumi ini.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenPemurajaah: Ustadz Abu Yazid NurdinArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab🔍 Kisah Harut Dan Marut, Hewan Yg Hidup Di Dua Alam, Doa Menyamak, Ayat Alquran Tentang Keesaan Allah, Hukum Doa Setelah Sholat


Pembahasan mengenai hal ini kita batasi pada ruang lingkup  di negara kita tercinta Indonesia. Bagaimana hukumnya?Telah kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia telah menjamin setiap agama yang telah diakui oleh negara untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, tidak boleh dipaksakan serta tidak boleh dihalangi. Tidak boleh juga menganggu apalagi merusak rumah ibadah agama lainnya.Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentunya kita harus patuh dengan aturan yang telah disepakati selama tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim:المسلمون على شروطهم“Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati.”[1] Menghancurkan gereja dan tempat peribadatan agama lain tentu bertentangan dengan aturan ini dan ternyata bertentangan juga dengan ajaran Islam. Tidak boleh asal-asalan menghancurkan tempat ibadah agama lain tanpa aturan dari syariat.Larangan menghancurkan gereja tanpa udzurSyariat melarang menghancurkan gereja dan rumah peribadatan agama lain tanpa alasan yang benar (boleh dihancurkan semisal mereka memerangi kaum muslimin dan menjadikan gereja sebagai markas perang mereka).Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺩَﻓْﻊُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ﻟَﻬُﺪِّﻣَﺖْ ﺻَﻮَﺍﻣِﻊُ ﻭَﺑِﻴَﻊٌ ﻭَﺻَﻠَﻮَﺍﺕٌ ﻭَﻣَﺴَﺎﺟِﺪُ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍDan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. [Al-Hajj/22:40] Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan tidak boleh menghancurkan gereja ahlu dzimmah (non-muslim yang tinggal di negeri kaum muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan dari waliyul amri).تضمنت هذه الآية المنع من هدم كنائس أهل الذمة ، وبيعهم ، وبيوت نيرانهم“Ayat ini memberikan makna terlarangnya menghancurkan gereja-gejera ahlu dzimmah, biara-biara dan rumah peribadatan untuk api (majusi).” [2] Dikisahkan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz melarang pasukannya menghancurkan gereja dan tempat peribadatan non-muslim,وقد كتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله : ألا يهدموا بيعة ولا كنيسة ولا بيت نار“Umar bin Abdul Aziz menuliskan surat pada pasukannya: janganlah kalian menghancurkan gereja, biara yahudi dan rumah peribadatan majusi.”[3] Hal ini juga sejalan dengan apa yang dicontohkan Umar bin Khattab tatkala menguasai masjid Aqsa di Jerusalem/Palestina. Beliau tidak menghancurkan gereja dan sinagog tetapi beliau menjamin kebebasan beragama mereka sebagai bentuk keadilan Islam.Perhatikan perkataan beliau:Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Jerusalem, karena penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuh tawanan Nasrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem).[4] Nah, bagaimana dengan mereka yang melakukan bom untuk menghancurkan gereja? Tentu ini bukanlah ajaran Islam.Islam adalah agama yang adilIslam merupakan agama yang indah dan adil, tidak boleh mendzalimi makhluk siapapun bahkan kepada non-muslim sekalipun. Kita tidak boleh mendzalimi selama mereka tidak memerangi kaum muslimin.Allah  Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menjelaskan wajib adil selama mereka tidak memerangi kaum muslimin. Beliau menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik  baik dari keluarga kalian maupun orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.”[1] Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan meninggikam agama-Nya di muka bumi ini.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenPemurajaah: Ustadz Abu Yazid NurdinArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" src="http://kisahmuslim.com/3825-pembebasan-jerusalem-di-masa-umar-bin-khattab.html/embed#?secret=SEzOlRFQrM" data-secret="SEzOlRFQrM" width="500" height="282" title="&#8220;Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab&#8221; &#8212; Cerita kisah cinta penggugah jiwa" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>🔍 Kisah Harut Dan Marut, Hewan Yg Hidup Di Dua Alam, Doa Menyamak, Ayat Alquran Tentang Keesaan Allah, Hukum Doa Setelah Sholat
Prev     Next