Faedah Sirah Nabi: Darul Arqam

Download   Apa itu Darul Arqam? Setelah penganut agama Islam semakin banyak dan perlu mengambil sebuat tempat sebagai ajang pertemuan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menimba ilmu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berkumpul dengan mereka secara terang-terangan, maka diputuskanlah untuk menjadikan rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzhumi sebagai markas dakwah. Rumah tersebut terletak di atas bukit Shafa, dan pintu bagian belakangnya bisa dimasuki tanpa bisa dilihat oleh orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai pusat dakwah pada tahun kelima kenabian. Lihat Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 1:365. Di tempat itulah para sahabat berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah serta belajar bagaimana mengambil teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Pelajaran yang Bisa Dipetik   Pertama: Inilah kepedulian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengumpulkan para sahabatnya di satu tempat untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Kedua: Pentingnya shalat berjamaah di masjid, karena sangat jauh perpautannya antara shalat sendirian di rumah dan shalat berjamah di masjid. Ketiga: Pentingnya memiliki sahabat yang baik dalam kehidupan seorang muslim karena seorang muslim harus memiliki teman baik yang bisa mengingatkannya apabila dia khilaf, mengajarkannya apabila dia lupa, dan menasihatinya apabila dia lalai. Keempat: Pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antara sesama muslim, dan hukumnya akan semakin penting apabila mereka berada di negeri asing dan di kalangan masyarakat yang tidak mengindahkan aturan Islam. Oleh karena itu, bagi mereka yang seperti ini penting mengadakan perkumpulan untuk bisa bekerja sama dalam kebaikan dan agar tetap berada dalam kebenaran, agar ikatan persaudaraan semakin kuat, dan agar iman yang ada di dalam dada tetap terjaga tidak luntur dan tidak lemah. Kelima: Pentingnya tarbiyah dan kekompakan yang bersifat kontinyu dalam masalah perbaikan dan pengarahan, karena dalam perbaikan mesti ada tarbiyah atau pembimbingan.   Manfaat Shalat Berjamaah di Masjid   Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Menumbuhkan rasa cinta sesama. Saling mengenal satu dan lainnya. Menyuarakan syi’ar Allah. Menampakkan besarnya Islam. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin. Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691). Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654) Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pentingnya Teman yang Baik   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. 2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. 3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat.   Moga Allah beri hidayah untuk menjaga shalat dan mendapat teman yang shalih.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Imam Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Jumat sore, 26 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi pertemanan shalat berjamaah shalat jamaah sirah nabi strategi dakwah teman teman bergaul

Faedah Sirah Nabi: Darul Arqam

Download   Apa itu Darul Arqam? Setelah penganut agama Islam semakin banyak dan perlu mengambil sebuat tempat sebagai ajang pertemuan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menimba ilmu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berkumpul dengan mereka secara terang-terangan, maka diputuskanlah untuk menjadikan rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzhumi sebagai markas dakwah. Rumah tersebut terletak di atas bukit Shafa, dan pintu bagian belakangnya bisa dimasuki tanpa bisa dilihat oleh orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai pusat dakwah pada tahun kelima kenabian. Lihat Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 1:365. Di tempat itulah para sahabat berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah serta belajar bagaimana mengambil teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Pelajaran yang Bisa Dipetik   Pertama: Inilah kepedulian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengumpulkan para sahabatnya di satu tempat untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Kedua: Pentingnya shalat berjamaah di masjid, karena sangat jauh perpautannya antara shalat sendirian di rumah dan shalat berjamah di masjid. Ketiga: Pentingnya memiliki sahabat yang baik dalam kehidupan seorang muslim karena seorang muslim harus memiliki teman baik yang bisa mengingatkannya apabila dia khilaf, mengajarkannya apabila dia lupa, dan menasihatinya apabila dia lalai. Keempat: Pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antara sesama muslim, dan hukumnya akan semakin penting apabila mereka berada di negeri asing dan di kalangan masyarakat yang tidak mengindahkan aturan Islam. Oleh karena itu, bagi mereka yang seperti ini penting mengadakan perkumpulan untuk bisa bekerja sama dalam kebaikan dan agar tetap berada dalam kebenaran, agar ikatan persaudaraan semakin kuat, dan agar iman yang ada di dalam dada tetap terjaga tidak luntur dan tidak lemah. Kelima: Pentingnya tarbiyah dan kekompakan yang bersifat kontinyu dalam masalah perbaikan dan pengarahan, karena dalam perbaikan mesti ada tarbiyah atau pembimbingan.   Manfaat Shalat Berjamaah di Masjid   Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Menumbuhkan rasa cinta sesama. Saling mengenal satu dan lainnya. Menyuarakan syi’ar Allah. Menampakkan besarnya Islam. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin. Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691). Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654) Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pentingnya Teman yang Baik   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. 2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. 3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat.   Moga Allah beri hidayah untuk menjaga shalat dan mendapat teman yang shalih.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Imam Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Jumat sore, 26 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi pertemanan shalat berjamaah shalat jamaah sirah nabi strategi dakwah teman teman bergaul
Download   Apa itu Darul Arqam? Setelah penganut agama Islam semakin banyak dan perlu mengambil sebuat tempat sebagai ajang pertemuan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menimba ilmu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berkumpul dengan mereka secara terang-terangan, maka diputuskanlah untuk menjadikan rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzhumi sebagai markas dakwah. Rumah tersebut terletak di atas bukit Shafa, dan pintu bagian belakangnya bisa dimasuki tanpa bisa dilihat oleh orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai pusat dakwah pada tahun kelima kenabian. Lihat Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 1:365. Di tempat itulah para sahabat berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah serta belajar bagaimana mengambil teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Pelajaran yang Bisa Dipetik   Pertama: Inilah kepedulian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengumpulkan para sahabatnya di satu tempat untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Kedua: Pentingnya shalat berjamaah di masjid, karena sangat jauh perpautannya antara shalat sendirian di rumah dan shalat berjamah di masjid. Ketiga: Pentingnya memiliki sahabat yang baik dalam kehidupan seorang muslim karena seorang muslim harus memiliki teman baik yang bisa mengingatkannya apabila dia khilaf, mengajarkannya apabila dia lupa, dan menasihatinya apabila dia lalai. Keempat: Pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antara sesama muslim, dan hukumnya akan semakin penting apabila mereka berada di negeri asing dan di kalangan masyarakat yang tidak mengindahkan aturan Islam. Oleh karena itu, bagi mereka yang seperti ini penting mengadakan perkumpulan untuk bisa bekerja sama dalam kebaikan dan agar tetap berada dalam kebenaran, agar ikatan persaudaraan semakin kuat, dan agar iman yang ada di dalam dada tetap terjaga tidak luntur dan tidak lemah. Kelima: Pentingnya tarbiyah dan kekompakan yang bersifat kontinyu dalam masalah perbaikan dan pengarahan, karena dalam perbaikan mesti ada tarbiyah atau pembimbingan.   Manfaat Shalat Berjamaah di Masjid   Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Menumbuhkan rasa cinta sesama. Saling mengenal satu dan lainnya. Menyuarakan syi’ar Allah. Menampakkan besarnya Islam. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin. Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691). Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654) Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pentingnya Teman yang Baik   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. 2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. 3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat.   Moga Allah beri hidayah untuk menjaga shalat dan mendapat teman yang shalih.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Imam Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Jumat sore, 26 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi pertemanan shalat berjamaah shalat jamaah sirah nabi strategi dakwah teman teman bergaul


Download   Apa itu Darul Arqam? Setelah penganut agama Islam semakin banyak dan perlu mengambil sebuat tempat sebagai ajang pertemuan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menimba ilmu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berkumpul dengan mereka secara terang-terangan, maka diputuskanlah untuk menjadikan rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzhumi sebagai markas dakwah. Rumah tersebut terletak di atas bukit Shafa, dan pintu bagian belakangnya bisa dimasuki tanpa bisa dilihat oleh orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai pusat dakwah pada tahun kelima kenabian. Lihat Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 1:365. Di tempat itulah para sahabat berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah serta belajar bagaimana mengambil teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Pelajaran yang Bisa Dipetik   Pertama: Inilah kepedulian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengumpulkan para sahabatnya di satu tempat untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Kedua: Pentingnya shalat berjamaah di masjid, karena sangat jauh perpautannya antara shalat sendirian di rumah dan shalat berjamah di masjid. Ketiga: Pentingnya memiliki sahabat yang baik dalam kehidupan seorang muslim karena seorang muslim harus memiliki teman baik yang bisa mengingatkannya apabila dia khilaf, mengajarkannya apabila dia lupa, dan menasihatinya apabila dia lalai. Keempat: Pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antara sesama muslim, dan hukumnya akan semakin penting apabila mereka berada di negeri asing dan di kalangan masyarakat yang tidak mengindahkan aturan Islam. Oleh karena itu, bagi mereka yang seperti ini penting mengadakan perkumpulan untuk bisa bekerja sama dalam kebaikan dan agar tetap berada dalam kebenaran, agar ikatan persaudaraan semakin kuat, dan agar iman yang ada di dalam dada tetap terjaga tidak luntur dan tidak lemah. Kelima: Pentingnya tarbiyah dan kekompakan yang bersifat kontinyu dalam masalah perbaikan dan pengarahan, karena dalam perbaikan mesti ada tarbiyah atau pembimbingan.   Manfaat Shalat Berjamaah di Masjid   Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Menumbuhkan rasa cinta sesama. Saling mengenal satu dan lainnya. Menyuarakan syi’ar Allah. Menampakkan besarnya Islam. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin. Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691). Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654) Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pentingnya Teman yang Baik   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. 2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. 3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat.   Moga Allah beri hidayah untuk menjaga shalat dan mendapat teman yang shalih.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Imam Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Jumat sore, 26 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi pertemanan shalat berjamaah shalat jamaah sirah nabi strategi dakwah teman teman bergaul

Ada Masa Dimana Engkau Tidak Bisa Menyembunyikan Kebusukan Hatimu

Di dunia ini kita masih dapat menyembunyikan kebusukan hati dan batin, tapi di akhirat nanti tidak lagi… Selagi masih di dunia, bersungguh-sungguhlah untuk memperbaiki batin dan rahasia-rahasia hati, karena esok semuanya akan tersingkap dan dimintai pertanggungjawaban. Tentang hari kiamat Allah berfirman, يوم تبلى السرائر “Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. Ath Thariq: 9) وحصل ما في الصدور “Dan dilahirkan segala yang ada dalam dada.” (QS. Al ‘Adhiyat: 10) Pada akhirnya, keselamatan batin menjadi penentu… يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy Syu’ara: 88 – 89) Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc (Pembina KPMI Korwil Bandung)

Ada Masa Dimana Engkau Tidak Bisa Menyembunyikan Kebusukan Hatimu

Di dunia ini kita masih dapat menyembunyikan kebusukan hati dan batin, tapi di akhirat nanti tidak lagi… Selagi masih di dunia, bersungguh-sungguhlah untuk memperbaiki batin dan rahasia-rahasia hati, karena esok semuanya akan tersingkap dan dimintai pertanggungjawaban. Tentang hari kiamat Allah berfirman, يوم تبلى السرائر “Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. Ath Thariq: 9) وحصل ما في الصدور “Dan dilahirkan segala yang ada dalam dada.” (QS. Al ‘Adhiyat: 10) Pada akhirnya, keselamatan batin menjadi penentu… يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy Syu’ara: 88 – 89) Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc (Pembina KPMI Korwil Bandung)
Di dunia ini kita masih dapat menyembunyikan kebusukan hati dan batin, tapi di akhirat nanti tidak lagi… Selagi masih di dunia, bersungguh-sungguhlah untuk memperbaiki batin dan rahasia-rahasia hati, karena esok semuanya akan tersingkap dan dimintai pertanggungjawaban. Tentang hari kiamat Allah berfirman, يوم تبلى السرائر “Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. Ath Thariq: 9) وحصل ما في الصدور “Dan dilahirkan segala yang ada dalam dada.” (QS. Al ‘Adhiyat: 10) Pada akhirnya, keselamatan batin menjadi penentu… يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy Syu’ara: 88 – 89) Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc (Pembina KPMI Korwil Bandung)


Di dunia ini kita masih dapat menyembunyikan kebusukan hati dan batin, tapi di akhirat nanti tidak lagi… Selagi masih di dunia, bersungguh-sungguhlah untuk memperbaiki batin dan rahasia-rahasia hati, karena esok semuanya akan tersingkap dan dimintai pertanggungjawaban. Tentang hari kiamat Allah berfirman, يوم تبلى السرائر “Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. Ath Thariq: 9) وحصل ما في الصدور “Dan dilahirkan segala yang ada dalam dada.” (QS. Al ‘Adhiyat: 10) Pada akhirnya, keselamatan batin menjadi penentu… يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم “Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy Syu’ara: 88 – 89) Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc (Pembina KPMI Korwil Bandung)

Berikan Pekerjaan kepada Orang yang Sibuk

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ Allah akan menolong hamba-Nya selama sang hamba membantu saudaranya. (HR. Muslim) Ibnul Qayim menceritakan, كان شيخ الإسلام ابن تيمية يسعى في حوائج الناس سعياً شديداً؛ لأنه يعلم أنه كلما أعان غيره أعانه الله ؛ و لذا تجد ‏الكسالى أكثر الناس هماً وغماً وحزناً، ليس لهم فرح ولا سرور، بخلاف أرباب النشاط و الجد في العمل – أي عمل كان Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat rajin membantu banyak orang. Karena beliau yakin, ketika beliau membantu orang lain, Allah akan menolong beliau. Karena itu, anda bisa lihat para pemalas adalah orang yang paling sering resah, bingung, sedih… mereka bukan wajah bahagia. Berbeda dengan keadaan mereka yang rajin dan pekerja keras dalam usaha apapun. __Raudhatul Muhibbin_ # Ustadz Ammi Nur Baits

Berikan Pekerjaan kepada Orang yang Sibuk

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ Allah akan menolong hamba-Nya selama sang hamba membantu saudaranya. (HR. Muslim) Ibnul Qayim menceritakan, كان شيخ الإسلام ابن تيمية يسعى في حوائج الناس سعياً شديداً؛ لأنه يعلم أنه كلما أعان غيره أعانه الله ؛ و لذا تجد ‏الكسالى أكثر الناس هماً وغماً وحزناً، ليس لهم فرح ولا سرور، بخلاف أرباب النشاط و الجد في العمل – أي عمل كان Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat rajin membantu banyak orang. Karena beliau yakin, ketika beliau membantu orang lain, Allah akan menolong beliau. Karena itu, anda bisa lihat para pemalas adalah orang yang paling sering resah, bingung, sedih… mereka bukan wajah bahagia. Berbeda dengan keadaan mereka yang rajin dan pekerja keras dalam usaha apapun. __Raudhatul Muhibbin_ # Ustadz Ammi Nur Baits
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ Allah akan menolong hamba-Nya selama sang hamba membantu saudaranya. (HR. Muslim) Ibnul Qayim menceritakan, كان شيخ الإسلام ابن تيمية يسعى في حوائج الناس سعياً شديداً؛ لأنه يعلم أنه كلما أعان غيره أعانه الله ؛ و لذا تجد ‏الكسالى أكثر الناس هماً وغماً وحزناً، ليس لهم فرح ولا سرور، بخلاف أرباب النشاط و الجد في العمل – أي عمل كان Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat rajin membantu banyak orang. Karena beliau yakin, ketika beliau membantu orang lain, Allah akan menolong beliau. Karena itu, anda bisa lihat para pemalas adalah orang yang paling sering resah, bingung, sedih… mereka bukan wajah bahagia. Berbeda dengan keadaan mereka yang rajin dan pekerja keras dalam usaha apapun. __Raudhatul Muhibbin_ # Ustadz Ammi Nur Baits


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ Allah akan menolong hamba-Nya selama sang hamba membantu saudaranya. (HR. Muslim) Ibnul Qayim menceritakan, كان شيخ الإسلام ابن تيمية يسعى في حوائج الناس سعياً شديداً؛ لأنه يعلم أنه كلما أعان غيره أعانه الله ؛ و لذا تجد ‏الكسالى أكثر الناس هماً وغماً وحزناً، ليس لهم فرح ولا سرور، بخلاف أرباب النشاط و الجد في العمل – أي عمل كان Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat rajin membantu banyak orang. Karena beliau yakin, ketika beliau membantu orang lain, Allah akan menolong beliau. Karena itu, anda bisa lihat para pemalas adalah orang yang paling sering resah, bingung, sedih… mereka bukan wajah bahagia. Berbeda dengan keadaan mereka yang rajin dan pekerja keras dalam usaha apapun. __Raudhatul Muhibbin_ # Ustadz Ammi Nur Baits

Buku Gratis: Siap Dipinang

Buku “Siap Dipinang” berisi bahasan mengenai hal-hal yang mesti disiapkan sebelum menikah. Bahasannya mencakup keutamaan menikah, hukum menikah, keutamaan nikah muda, hingga kiat-kiat untuk menikah. Ini adalah serial pertama kami mengenai masalah nikah. Bagi Anda yang mau menikah, sudah sepatutnya membaca buku ini.   Judul Buku Siap Dipinang   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Penerbit Rumaysho   Silakan download dalam bentuk PDF lewat Drop Box: Siap Dipinang Buku lainnya dalam bentuk PDF di Dropbox: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Pesan buku-buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal lainnya lewat WA toko Ruwaifi: https://wa.me/6285200171222   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis menikah nikah pra nikah

Buku Gratis: Siap Dipinang

Buku “Siap Dipinang” berisi bahasan mengenai hal-hal yang mesti disiapkan sebelum menikah. Bahasannya mencakup keutamaan menikah, hukum menikah, keutamaan nikah muda, hingga kiat-kiat untuk menikah. Ini adalah serial pertama kami mengenai masalah nikah. Bagi Anda yang mau menikah, sudah sepatutnya membaca buku ini.   Judul Buku Siap Dipinang   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Penerbit Rumaysho   Silakan download dalam bentuk PDF lewat Drop Box: Siap Dipinang Buku lainnya dalam bentuk PDF di Dropbox: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Pesan buku-buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal lainnya lewat WA toko Ruwaifi: https://wa.me/6285200171222   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis menikah nikah pra nikah
Buku “Siap Dipinang” berisi bahasan mengenai hal-hal yang mesti disiapkan sebelum menikah. Bahasannya mencakup keutamaan menikah, hukum menikah, keutamaan nikah muda, hingga kiat-kiat untuk menikah. Ini adalah serial pertama kami mengenai masalah nikah. Bagi Anda yang mau menikah, sudah sepatutnya membaca buku ini.   Judul Buku Siap Dipinang   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Penerbit Rumaysho   Silakan download dalam bentuk PDF lewat Drop Box: Siap Dipinang Buku lainnya dalam bentuk PDF di Dropbox: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Pesan buku-buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal lainnya lewat WA toko Ruwaifi: https://wa.me/6285200171222   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis menikah nikah pra nikah


Buku “Siap Dipinang” berisi bahasan mengenai hal-hal yang mesti disiapkan sebelum menikah. Bahasannya mencakup keutamaan menikah, hukum menikah, keutamaan nikah muda, hingga kiat-kiat untuk menikah. Ini adalah serial pertama kami mengenai masalah nikah. Bagi Anda yang mau menikah, sudah sepatutnya membaca buku ini.   Judul Buku Siap Dipinang   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Penerbit Rumaysho   Silakan download dalam bentuk PDF lewat Drop Box: Siap Dipinang Buku lainnya dalam bentuk PDF di Dropbox: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Pesan buku-buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal lainnya lewat WA toko Ruwaifi: https://wa.me/6285200171222   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis menikah nikah pra nikah

Dzikir Petang Ini untuk Mendapatkan Perlindungan dari Bahaya

Download   Coba praktikkan dzikir ini pada petang hari, pasti kita akan mendapatkan perlindungan dari bahaya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 248. Dzikir Ketika Pagi dan Petang Hari   Hadits #1452 وعَنهُ قَالَ: جاءَ رجُلٌ إِلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَقَالَ: يَا رسُول اللَّهِ مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْربٍ لَدغَتني البارِحةَ، قَالَ: “أَما لَو قُلتَ حِينَ أمْسيت: أعُوذُ بِكَلماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ منْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّك” رواه مسلم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku menemukan seekor kalajengking yang menyengatku.” Beliau bersabda, “Seandainya engkau mengucapkan ini saat sore hari, ‘AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan, pasti kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim, no. 2709)   Faedah Hadits   Mengenai pengertian kalimat yang sempurna, ada yang memaknakan dengan kalimat yang tidak ada kekurangan dan aib. Ada juga yang menyatakan kalimat yang bermanfaat dan penyembuh. Ada yang memaknakan dengan Al-Qur’an. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:29. Hendaknya setiap hamba bergantung penuh kepada Allah untuk selamat dari setiap kejelekan, hasad, dan hal-hal yang melampaui batas. Boleh meminta perlindungan dengan kalamullah yang sempurna. Ini berarti kalamullah (firman Allah) itu sifat, bukanlah makhluk. Karena kita tidak boleh meminta perlindungan pada makhluk. Kalimat ini akan melindungi hamba dari kejelekan makhluk, dari setiap yang mengganggu, hawa, dan syahwat.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdzikir pagi petang dzikir petang

Dzikir Petang Ini untuk Mendapatkan Perlindungan dari Bahaya

Download   Coba praktikkan dzikir ini pada petang hari, pasti kita akan mendapatkan perlindungan dari bahaya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 248. Dzikir Ketika Pagi dan Petang Hari   Hadits #1452 وعَنهُ قَالَ: جاءَ رجُلٌ إِلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَقَالَ: يَا رسُول اللَّهِ مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْربٍ لَدغَتني البارِحةَ، قَالَ: “أَما لَو قُلتَ حِينَ أمْسيت: أعُوذُ بِكَلماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ منْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّك” رواه مسلم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku menemukan seekor kalajengking yang menyengatku.” Beliau bersabda, “Seandainya engkau mengucapkan ini saat sore hari, ‘AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan, pasti kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim, no. 2709)   Faedah Hadits   Mengenai pengertian kalimat yang sempurna, ada yang memaknakan dengan kalimat yang tidak ada kekurangan dan aib. Ada juga yang menyatakan kalimat yang bermanfaat dan penyembuh. Ada yang memaknakan dengan Al-Qur’an. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:29. Hendaknya setiap hamba bergantung penuh kepada Allah untuk selamat dari setiap kejelekan, hasad, dan hal-hal yang melampaui batas. Boleh meminta perlindungan dengan kalamullah yang sempurna. Ini berarti kalamullah (firman Allah) itu sifat, bukanlah makhluk. Karena kita tidak boleh meminta perlindungan pada makhluk. Kalimat ini akan melindungi hamba dari kejelekan makhluk, dari setiap yang mengganggu, hawa, dan syahwat.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdzikir pagi petang dzikir petang
Download   Coba praktikkan dzikir ini pada petang hari, pasti kita akan mendapatkan perlindungan dari bahaya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 248. Dzikir Ketika Pagi dan Petang Hari   Hadits #1452 وعَنهُ قَالَ: جاءَ رجُلٌ إِلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَقَالَ: يَا رسُول اللَّهِ مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْربٍ لَدغَتني البارِحةَ، قَالَ: “أَما لَو قُلتَ حِينَ أمْسيت: أعُوذُ بِكَلماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ منْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّك” رواه مسلم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku menemukan seekor kalajengking yang menyengatku.” Beliau bersabda, “Seandainya engkau mengucapkan ini saat sore hari, ‘AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan, pasti kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim, no. 2709)   Faedah Hadits   Mengenai pengertian kalimat yang sempurna, ada yang memaknakan dengan kalimat yang tidak ada kekurangan dan aib. Ada juga yang menyatakan kalimat yang bermanfaat dan penyembuh. Ada yang memaknakan dengan Al-Qur’an. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:29. Hendaknya setiap hamba bergantung penuh kepada Allah untuk selamat dari setiap kejelekan, hasad, dan hal-hal yang melampaui batas. Boleh meminta perlindungan dengan kalamullah yang sempurna. Ini berarti kalamullah (firman Allah) itu sifat, bukanlah makhluk. Karena kita tidak boleh meminta perlindungan pada makhluk. Kalimat ini akan melindungi hamba dari kejelekan makhluk, dari setiap yang mengganggu, hawa, dan syahwat.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdzikir pagi petang dzikir petang


Download   Coba praktikkan dzikir ini pada petang hari, pasti kita akan mendapatkan perlindungan dari bahaya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 248. Dzikir Ketika Pagi dan Petang Hari   Hadits #1452 وعَنهُ قَالَ: جاءَ رجُلٌ إِلى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَقَالَ: يَا رسُول اللَّهِ مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْربٍ لَدغَتني البارِحةَ، قَالَ: “أَما لَو قُلتَ حِينَ أمْسيت: أعُوذُ بِكَلماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ منْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّك” رواه مسلم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku menemukan seekor kalajengking yang menyengatku.” Beliau bersabda, “Seandainya engkau mengucapkan ini saat sore hari, ‘AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan, pasti kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim, no. 2709)   Faedah Hadits   Mengenai pengertian kalimat yang sempurna, ada yang memaknakan dengan kalimat yang tidak ada kekurangan dan aib. Ada juga yang menyatakan kalimat yang bermanfaat dan penyembuh. Ada yang memaknakan dengan Al-Qur’an. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:29. Hendaknya setiap hamba bergantung penuh kepada Allah untuk selamat dari setiap kejelekan, hasad, dan hal-hal yang melampaui batas. Boleh meminta perlindungan dengan kalamullah yang sempurna. Ini berarti kalamullah (firman Allah) itu sifat, bukanlah makhluk. Karena kita tidak boleh meminta perlindungan pada makhluk. Kalimat ini akan melindungi hamba dari kejelekan makhluk, dari setiap yang mengganggu, hawa, dan syahwat.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdzikir pagi petang dzikir petang

Manhajus Salikin: Waktu Shalat Shubuh

Download   Bagaimana waktu shalat Shubuh?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 612]   Waktu Shalat Shubuh   Awal waktu shalat Fajar (shubuh) adalah mulai dari terbit fajar shadiq. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr berikut, وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ “Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq).” (HR. Muslim, no. 612). Fajar sendiri ada dua macam yaitu fajar shodiq dan fajar kadzib. Pancaran cahaya yang menjulang seperti ekor serigala dan setelah itu masih terlihat gelap, ini yang disebut fajar kadzib (fajar pertama). Sedangkan cahaya yang mendatar horizontal di ufuk, ini yang disebut fajar shodiq (fajar kedua). (Lihat bahasan di Kifayah Al-Akhyar, hlm. 81 dan Al-Iqna’, 1:200). Dalam hadits disebutkan, الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ “Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur”, no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom) Shalat Shubuh ini disunnahkan dilakukan di awal waktu. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Aisyah, كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ “Para wanita mukminah dahulu pernah menghadiri shalat Shubuh berjama’ah di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengerudungi kepala dengan kain.  Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai. Mereka tidak dikenali seorang pun karena keadaan masih gelap (pagi buta).” (HR. Bukhari, no. 578). Hal di atas dikuatkan lagi dengan hadits berikut, عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk menegakkan shalat.” Aku (Anas) bertanya pada Zaid, “Berapa lama waktu antara makan sahur dan waktu shalat akan ditegakkan?” Zaid menjawab, “Sekitar (membaca) 50 ayat.” (HR. Muslim no. 1097). Jarak waktu antara selesai makan sahur dan masuknya waktu pelaksanaan shalat adalah sekitar membaca 50 ayat Qur’an, waktu seperti ini seperti lama waktu berwudhu. Ini menunjukkan bahwa shalat tersebut dilakukan di awal waktu Shubuh (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:249-250). Semoga bermanfaat. Berakhirlah tentang waktu shalat. Referensi: Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmanhajus salikin waktu shalat

Manhajus Salikin: Waktu Shalat Shubuh

Download   Bagaimana waktu shalat Shubuh?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 612]   Waktu Shalat Shubuh   Awal waktu shalat Fajar (shubuh) adalah mulai dari terbit fajar shadiq. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr berikut, وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ “Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq).” (HR. Muslim, no. 612). Fajar sendiri ada dua macam yaitu fajar shodiq dan fajar kadzib. Pancaran cahaya yang menjulang seperti ekor serigala dan setelah itu masih terlihat gelap, ini yang disebut fajar kadzib (fajar pertama). Sedangkan cahaya yang mendatar horizontal di ufuk, ini yang disebut fajar shodiq (fajar kedua). (Lihat bahasan di Kifayah Al-Akhyar, hlm. 81 dan Al-Iqna’, 1:200). Dalam hadits disebutkan, الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ “Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur”, no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom) Shalat Shubuh ini disunnahkan dilakukan di awal waktu. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Aisyah, كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ “Para wanita mukminah dahulu pernah menghadiri shalat Shubuh berjama’ah di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengerudungi kepala dengan kain.  Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai. Mereka tidak dikenali seorang pun karena keadaan masih gelap (pagi buta).” (HR. Bukhari, no. 578). Hal di atas dikuatkan lagi dengan hadits berikut, عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk menegakkan shalat.” Aku (Anas) bertanya pada Zaid, “Berapa lama waktu antara makan sahur dan waktu shalat akan ditegakkan?” Zaid menjawab, “Sekitar (membaca) 50 ayat.” (HR. Muslim no. 1097). Jarak waktu antara selesai makan sahur dan masuknya waktu pelaksanaan shalat adalah sekitar membaca 50 ayat Qur’an, waktu seperti ini seperti lama waktu berwudhu. Ini menunjukkan bahwa shalat tersebut dilakukan di awal waktu Shubuh (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:249-250). Semoga bermanfaat. Berakhirlah tentang waktu shalat. Referensi: Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmanhajus salikin waktu shalat
Download   Bagaimana waktu shalat Shubuh?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 612]   Waktu Shalat Shubuh   Awal waktu shalat Fajar (shubuh) adalah mulai dari terbit fajar shadiq. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr berikut, وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ “Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq).” (HR. Muslim, no. 612). Fajar sendiri ada dua macam yaitu fajar shodiq dan fajar kadzib. Pancaran cahaya yang menjulang seperti ekor serigala dan setelah itu masih terlihat gelap, ini yang disebut fajar kadzib (fajar pertama). Sedangkan cahaya yang mendatar horizontal di ufuk, ini yang disebut fajar shodiq (fajar kedua). (Lihat bahasan di Kifayah Al-Akhyar, hlm. 81 dan Al-Iqna’, 1:200). Dalam hadits disebutkan, الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ “Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur”, no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom) Shalat Shubuh ini disunnahkan dilakukan di awal waktu. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Aisyah, كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ “Para wanita mukminah dahulu pernah menghadiri shalat Shubuh berjama’ah di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengerudungi kepala dengan kain.  Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai. Mereka tidak dikenali seorang pun karena keadaan masih gelap (pagi buta).” (HR. Bukhari, no. 578). Hal di atas dikuatkan lagi dengan hadits berikut, عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk menegakkan shalat.” Aku (Anas) bertanya pada Zaid, “Berapa lama waktu antara makan sahur dan waktu shalat akan ditegakkan?” Zaid menjawab, “Sekitar (membaca) 50 ayat.” (HR. Muslim no. 1097). Jarak waktu antara selesai makan sahur dan masuknya waktu pelaksanaan shalat adalah sekitar membaca 50 ayat Qur’an, waktu seperti ini seperti lama waktu berwudhu. Ini menunjukkan bahwa shalat tersebut dilakukan di awal waktu Shubuh (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:249-250). Semoga bermanfaat. Berakhirlah tentang waktu shalat. Referensi: Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmanhajus salikin waktu shalat


Download   Bagaimana waktu shalat Shubuh?   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 612]   Waktu Shalat Shubuh   Awal waktu shalat Fajar (shubuh) adalah mulai dari terbit fajar shadiq. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr berikut, وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ “Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq).” (HR. Muslim, no. 612). Fajar sendiri ada dua macam yaitu fajar shodiq dan fajar kadzib. Pancaran cahaya yang menjulang seperti ekor serigala dan setelah itu masih terlihat gelap, ini yang disebut fajar kadzib (fajar pertama). Sedangkan cahaya yang mendatar horizontal di ufuk, ini yang disebut fajar shodiq (fajar kedua). (Lihat bahasan di Kifayah Al-Akhyar, hlm. 81 dan Al-Iqna’, 1:200). Dalam hadits disebutkan, الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ “Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur”, no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom) Shalat Shubuh ini disunnahkan dilakukan di awal waktu. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Aisyah, كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ “Para wanita mukminah dahulu pernah menghadiri shalat Shubuh berjama’ah di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengerudungi kepala dengan kain.  Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai. Mereka tidak dikenali seorang pun karena keadaan masih gelap (pagi buta).” (HR. Bukhari, no. 578). Hal di atas dikuatkan lagi dengan hadits berikut, عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk menegakkan shalat.” Aku (Anas) bertanya pada Zaid, “Berapa lama waktu antara makan sahur dan waktu shalat akan ditegakkan?” Zaid menjawab, “Sekitar (membaca) 50 ayat.” (HR. Muslim no. 1097). Jarak waktu antara selesai makan sahur dan masuknya waktu pelaksanaan shalat adalah sekitar membaca 50 ayat Qur’an, waktu seperti ini seperti lama waktu berwudhu. Ini menunjukkan bahwa shalat tersebut dilakukan di awal waktu Shubuh (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:249-250). Semoga bermanfaat. Berakhirlah tentang waktu shalat. Referensi: Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Kamis sore, 25 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmanhajus salikin waktu shalat

Jumlah kitab yang Allah Turunkan

Jumlah kitab yang Allah Turunkan Benarkah jumlah kitab yang Allah turunkan juumlahnya ratusan? Lalu kitab itu dimana saja? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kewajiban bagia setiap muslim adalah mengimani secara global semua kitab yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ajarkan prinsip ini dalam al-Quran, آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِه “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285) Allah juga berfirman, وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَاب “dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah” (QS. as-Syura: 15) Yang dimaksud mengimani secara global adalah kita meyakini keberadaan kitab-kitab yang telah Allah turunkan kepada para utusan-Nya dan meyakini kebenaran berita maupun ajaran yang ada di dalamnya. Sementara mengimani kitab-kitab langit secara lebih terperinci, seperti al-Quran, taurat, injil, atau suhuf-suhuf yang diturunkan kepada sebagian nabi. Seperti yang Allah firmankan, نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْأِنْجِيلَ “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran: 3) Allah juga berfirman, menceritakan suhuf Ibrahim dan Musa, إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى* صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (QS. al-A’la: 18-19) Sementara mengenai jumlahnya, apakah sampai ratusan kitab dan apa saja namanya, selama kita tidak memiliki dalil shahih tentang itu, maka sikap yang benar adalah diserahkan kepada ilmu Allah. Terdapat sebuah hadis dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa jumlah kitab yang telah Allah turunkan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, مِائَةُ كِتَابٍ وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلَاثُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ والإنجيل والزبور والقرآن Ada 104 kitab. Yang diturunkan kepada Nabi Syits 50 Suhuf, diturunkan kepada Nabi Ukhnukh (Idris) 30 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim 10 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Musa sebelum taurat 10 Suhuf. Allah juga menurunkan Taurat, Injil, dan al-Qur’an. (HR. Ibnu Hibban 361, Abu Nua’im dalam Hilyah al-Auliya, 1/167) Status Hadis Hadis ini sangat panjang, isinya tanya jawab antara Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah kenabian dan kitab-kitab di masa silam. Namun hadis ini palsu, di sanadnya ada perawi pendusta. Al-Haitsami mengomentari hadis ini, في سنده إبراهيم بن هشام بن يحيى الغساني ، قال أبو حاتم وغيره: كذاب Dalam sanadnya ada Ibrahim bin Hisyam al-Ghassani. Kata Abu Hatim dan yang lainnya, ‘Dia pendusta.’ Karena statusnya hadis palsu, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Ulul Albab, Pengertian Mushola Menurut Para Ahli, Hukum Menabung Dalam Islam, Doa Untuk Ibu Yang Sudah Meninggal Islam, Doa Bulan Dzulhijjah, Bolehkah Shalat Gerhana Dilakukan Sendiri Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid

Jumlah kitab yang Allah Turunkan

Jumlah kitab yang Allah Turunkan Benarkah jumlah kitab yang Allah turunkan juumlahnya ratusan? Lalu kitab itu dimana saja? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kewajiban bagia setiap muslim adalah mengimani secara global semua kitab yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ajarkan prinsip ini dalam al-Quran, آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِه “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285) Allah juga berfirman, وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَاب “dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah” (QS. as-Syura: 15) Yang dimaksud mengimani secara global adalah kita meyakini keberadaan kitab-kitab yang telah Allah turunkan kepada para utusan-Nya dan meyakini kebenaran berita maupun ajaran yang ada di dalamnya. Sementara mengimani kitab-kitab langit secara lebih terperinci, seperti al-Quran, taurat, injil, atau suhuf-suhuf yang diturunkan kepada sebagian nabi. Seperti yang Allah firmankan, نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْأِنْجِيلَ “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran: 3) Allah juga berfirman, menceritakan suhuf Ibrahim dan Musa, إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى* صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (QS. al-A’la: 18-19) Sementara mengenai jumlahnya, apakah sampai ratusan kitab dan apa saja namanya, selama kita tidak memiliki dalil shahih tentang itu, maka sikap yang benar adalah diserahkan kepada ilmu Allah. Terdapat sebuah hadis dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa jumlah kitab yang telah Allah turunkan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, مِائَةُ كِتَابٍ وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلَاثُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ والإنجيل والزبور والقرآن Ada 104 kitab. Yang diturunkan kepada Nabi Syits 50 Suhuf, diturunkan kepada Nabi Ukhnukh (Idris) 30 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim 10 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Musa sebelum taurat 10 Suhuf. Allah juga menurunkan Taurat, Injil, dan al-Qur’an. (HR. Ibnu Hibban 361, Abu Nua’im dalam Hilyah al-Auliya, 1/167) Status Hadis Hadis ini sangat panjang, isinya tanya jawab antara Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah kenabian dan kitab-kitab di masa silam. Namun hadis ini palsu, di sanadnya ada perawi pendusta. Al-Haitsami mengomentari hadis ini, في سنده إبراهيم بن هشام بن يحيى الغساني ، قال أبو حاتم وغيره: كذاب Dalam sanadnya ada Ibrahim bin Hisyam al-Ghassani. Kata Abu Hatim dan yang lainnya, ‘Dia pendusta.’ Karena statusnya hadis palsu, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Ulul Albab, Pengertian Mushola Menurut Para Ahli, Hukum Menabung Dalam Islam, Doa Untuk Ibu Yang Sudah Meninggal Islam, Doa Bulan Dzulhijjah, Bolehkah Shalat Gerhana Dilakukan Sendiri Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid
Jumlah kitab yang Allah Turunkan Benarkah jumlah kitab yang Allah turunkan juumlahnya ratusan? Lalu kitab itu dimana saja? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kewajiban bagia setiap muslim adalah mengimani secara global semua kitab yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ajarkan prinsip ini dalam al-Quran, آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِه “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285) Allah juga berfirman, وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَاب “dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah” (QS. as-Syura: 15) Yang dimaksud mengimani secara global adalah kita meyakini keberadaan kitab-kitab yang telah Allah turunkan kepada para utusan-Nya dan meyakini kebenaran berita maupun ajaran yang ada di dalamnya. Sementara mengimani kitab-kitab langit secara lebih terperinci, seperti al-Quran, taurat, injil, atau suhuf-suhuf yang diturunkan kepada sebagian nabi. Seperti yang Allah firmankan, نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْأِنْجِيلَ “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran: 3) Allah juga berfirman, menceritakan suhuf Ibrahim dan Musa, إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى* صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (QS. al-A’la: 18-19) Sementara mengenai jumlahnya, apakah sampai ratusan kitab dan apa saja namanya, selama kita tidak memiliki dalil shahih tentang itu, maka sikap yang benar adalah diserahkan kepada ilmu Allah. Terdapat sebuah hadis dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa jumlah kitab yang telah Allah turunkan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, مِائَةُ كِتَابٍ وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلَاثُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ والإنجيل والزبور والقرآن Ada 104 kitab. Yang diturunkan kepada Nabi Syits 50 Suhuf, diturunkan kepada Nabi Ukhnukh (Idris) 30 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim 10 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Musa sebelum taurat 10 Suhuf. Allah juga menurunkan Taurat, Injil, dan al-Qur’an. (HR. Ibnu Hibban 361, Abu Nua’im dalam Hilyah al-Auliya, 1/167) Status Hadis Hadis ini sangat panjang, isinya tanya jawab antara Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah kenabian dan kitab-kitab di masa silam. Namun hadis ini palsu, di sanadnya ada perawi pendusta. Al-Haitsami mengomentari hadis ini, في سنده إبراهيم بن هشام بن يحيى الغساني ، قال أبو حاتم وغيره: كذاب Dalam sanadnya ada Ibrahim bin Hisyam al-Ghassani. Kata Abu Hatim dan yang lainnya, ‘Dia pendusta.’ Karena statusnya hadis palsu, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Ulul Albab, Pengertian Mushola Menurut Para Ahli, Hukum Menabung Dalam Islam, Doa Untuk Ibu Yang Sudah Meninggal Islam, Doa Bulan Dzulhijjah, Bolehkah Shalat Gerhana Dilakukan Sendiri Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/506410626&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Jumlah kitab yang Allah Turunkan Benarkah jumlah kitab yang Allah turunkan juumlahnya ratusan? Lalu kitab itu dimana saja? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kewajiban bagia setiap muslim adalah mengimani secara global semua kitab yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ajarkan prinsip ini dalam al-Quran, آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِه “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285) Allah juga berfirman, وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَاب “dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah” (QS. as-Syura: 15) Yang dimaksud mengimani secara global adalah kita meyakini keberadaan kitab-kitab yang telah Allah turunkan kepada para utusan-Nya dan meyakini kebenaran berita maupun ajaran yang ada di dalamnya. Sementara mengimani kitab-kitab langit secara lebih terperinci, seperti al-Quran, taurat, injil, atau suhuf-suhuf yang diturunkan kepada sebagian nabi. Seperti yang Allah firmankan, نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْأِنْجِيلَ “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran: 3) Allah juga berfirman, menceritakan suhuf Ibrahim dan Musa, إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى* صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (QS. al-A’la: 18-19) Sementara mengenai jumlahnya, apakah sampai ratusan kitab dan apa saja namanya, selama kita tidak memiliki dalil shahih tentang itu, maka sikap yang benar adalah diserahkan kepada ilmu Allah. Terdapat sebuah hadis dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa jumlah kitab yang telah Allah turunkan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, مِائَةُ كِتَابٍ وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلَاثُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ والإنجيل والزبور والقرآن Ada 104 kitab. Yang diturunkan kepada Nabi Syits 50 Suhuf, diturunkan kepada Nabi Ukhnukh (Idris) 30 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim 10 Suhuf, yang diturunkan kepada Nabi Musa sebelum taurat 10 Suhuf. Allah juga menurunkan Taurat, Injil, dan al-Qur’an. (HR. Ibnu Hibban 361, Abu Nua’im dalam Hilyah al-Auliya, 1/167) Status Hadis Hadis ini sangat panjang, isinya tanya jawab antara Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah kenabian dan kitab-kitab di masa silam. Namun hadis ini palsu, di sanadnya ada perawi pendusta. Al-Haitsami mengomentari hadis ini, في سنده إبراهيم بن هشام بن يحيى الغساني ، قال أبو حاتم وغيره: كذاب Dalam sanadnya ada Ibrahim bin Hisyam al-Ghassani. Kata Abu Hatim dan yang lainnya, ‘Dia pendusta.’ Karena statusnya hadis palsu, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Ulul Albab, Pengertian Mushola Menurut Para Ahli, Hukum Menabung Dalam Islam, Doa Untuk Ibu Yang Sudah Meninggal Islam, Doa Bulan Dzulhijjah, Bolehkah Shalat Gerhana Dilakukan Sendiri Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Beasiswa LPDP

Hukum Menerima Beasiswa LPDP Apa hukum beasiswa LPDP? Ada yang mengatakan itu berasal bunga deposito dana abadi APBN. Ada juga yang mengatakan, itu dari pajak rakyat, dst. Kami sendiri ragu mengenai statusnya. Jawab: Jika kita sepakat bahwa dana asal LPDP adalah APBN yang ‘dikembangkan’, maka kita bisa memahami bahwa beasiswa LPDP untuk para pelajar adalah pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat. Pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat memiliki hukum yang berbeda-beda, tergantung sumber harta pemberian itu. Berikut ini kami cantumkan keterangan dari al-Hafidz Ibnu Hajar – ulama ahli hadis bermadzhab Syafii –. Al-Hafidz Ibnu Hajar membuat kesimpulan mengenai hukum menerima pemberian dari pemerintah. Dalam Fathul Bari Penjelasan Sahih Bukhari, وكان بعضهم يقول يحرم قبول العطية من السلطان وبعضهم يقول يكره وهو محمول على ما إذا كانت العطية من السلطان الجائر والكراهة محمولة على الورع وهو المشهور من تصرف السلف والله أعلم Sebagian ulama mengatakan, haram menerima pemberian dari pemerintah. Sebagian mengatakan makruh. Untuk yang mengatakan haram, dipahami pada pemberian dari pemerintah yang dzalim. Sementara untuk yang mengatakan makruh, dipahami sebagai bagian dari sikap wara’. Dan sikap ini sesuatu masyhur bagi muamalahnya para ulama salaf – Allahu a’lam – والتحقيق في المسألة أن من علم كون ماله حلالا فلا ترد عطيته ومن علم كون ماله حراما فتحرم عطيته ومن شك فيه فالاحتياط رده وهو الورع ومن أباحه أخذ بالأصل Kesimpulan dari masalah ini, bahwa siapa yang mengetahui status harta itu adalah harta halal, maka jangan ditolak pemberiannya. Dan siapa yang mengetahui bahwa status harta itu adalah harta haram, maka haram pemberiannya. Dan siapa yang ragu, maka sebagai bentuk kehati-hatian, harta itu dikembalikan. Dan itulah sikap wara’. Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal. (Fathul Bari, 3/338) Maksud kalimat, ‘Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal’ bahwa hukum asalnya harta pemberian itu tidak bercampur dengan sesuatu yang haram. Diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman as-Suhaim bahwa Syaikh Ibnu Baz dalam pelajarannya pernah menyampaikan, إذا جاءه مال مِن قريبه أو صديقه ، وهو لا يعلم حقيقته ؛ فَلَه أخذه. أما إن عَلِم أنه مال فلان ، أو أنه ثمن خمر ، أو أنه رِبا ؛ فلا يأخذه Ketika seseorang mendapatkan harta dari kerabat atau teman, dan dia tidak tahu hakekatnya, maka dia boleh menerima harta itu. Namun jika dia tahu, bahwa harta yang diberikan kepadanya adalah harta milik si A atau hasil jualan khamr atau hasil riba, maka dia tidak boleh menerimanya. Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=126836 Apakah Beasiswa LPDP Halal? Ini kembali kepada pertanyaan, dari mana asal dana beasiswa ini. Kami sendiri belum mendapatkan informasi yang memadai mengenai asal dana beasiswa LPDP. Namun pada prinsipnya, jika anda yakin dana itu berasal dari riba atau sesuatu yang haram lainnya, maka seharusnya dihindari. Dan siapa yang masih ragu, bisa menggunakan acuan seperti yang dinyatakan al-Hafidz Ibnu Hajar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kalimat Talqin, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Tulisan Tempat Wudhu Wanita, Surah Yusuf Untuk Ibu Hamil, Abu Jalal, Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu Visited 303 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 QRIS donasi Yufid

Hukum Beasiswa LPDP

Hukum Menerima Beasiswa LPDP Apa hukum beasiswa LPDP? Ada yang mengatakan itu berasal bunga deposito dana abadi APBN. Ada juga yang mengatakan, itu dari pajak rakyat, dst. Kami sendiri ragu mengenai statusnya. Jawab: Jika kita sepakat bahwa dana asal LPDP adalah APBN yang ‘dikembangkan’, maka kita bisa memahami bahwa beasiswa LPDP untuk para pelajar adalah pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat. Pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat memiliki hukum yang berbeda-beda, tergantung sumber harta pemberian itu. Berikut ini kami cantumkan keterangan dari al-Hafidz Ibnu Hajar – ulama ahli hadis bermadzhab Syafii –. Al-Hafidz Ibnu Hajar membuat kesimpulan mengenai hukum menerima pemberian dari pemerintah. Dalam Fathul Bari Penjelasan Sahih Bukhari, وكان بعضهم يقول يحرم قبول العطية من السلطان وبعضهم يقول يكره وهو محمول على ما إذا كانت العطية من السلطان الجائر والكراهة محمولة على الورع وهو المشهور من تصرف السلف والله أعلم Sebagian ulama mengatakan, haram menerima pemberian dari pemerintah. Sebagian mengatakan makruh. Untuk yang mengatakan haram, dipahami pada pemberian dari pemerintah yang dzalim. Sementara untuk yang mengatakan makruh, dipahami sebagai bagian dari sikap wara’. Dan sikap ini sesuatu masyhur bagi muamalahnya para ulama salaf – Allahu a’lam – والتحقيق في المسألة أن من علم كون ماله حلالا فلا ترد عطيته ومن علم كون ماله حراما فتحرم عطيته ومن شك فيه فالاحتياط رده وهو الورع ومن أباحه أخذ بالأصل Kesimpulan dari masalah ini, bahwa siapa yang mengetahui status harta itu adalah harta halal, maka jangan ditolak pemberiannya. Dan siapa yang mengetahui bahwa status harta itu adalah harta haram, maka haram pemberiannya. Dan siapa yang ragu, maka sebagai bentuk kehati-hatian, harta itu dikembalikan. Dan itulah sikap wara’. Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal. (Fathul Bari, 3/338) Maksud kalimat, ‘Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal’ bahwa hukum asalnya harta pemberian itu tidak bercampur dengan sesuatu yang haram. Diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman as-Suhaim bahwa Syaikh Ibnu Baz dalam pelajarannya pernah menyampaikan, إذا جاءه مال مِن قريبه أو صديقه ، وهو لا يعلم حقيقته ؛ فَلَه أخذه. أما إن عَلِم أنه مال فلان ، أو أنه ثمن خمر ، أو أنه رِبا ؛ فلا يأخذه Ketika seseorang mendapatkan harta dari kerabat atau teman, dan dia tidak tahu hakekatnya, maka dia boleh menerima harta itu. Namun jika dia tahu, bahwa harta yang diberikan kepadanya adalah harta milik si A atau hasil jualan khamr atau hasil riba, maka dia tidak boleh menerimanya. Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=126836 Apakah Beasiswa LPDP Halal? Ini kembali kepada pertanyaan, dari mana asal dana beasiswa ini. Kami sendiri belum mendapatkan informasi yang memadai mengenai asal dana beasiswa LPDP. Namun pada prinsipnya, jika anda yakin dana itu berasal dari riba atau sesuatu yang haram lainnya, maka seharusnya dihindari. Dan siapa yang masih ragu, bisa menggunakan acuan seperti yang dinyatakan al-Hafidz Ibnu Hajar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kalimat Talqin, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Tulisan Tempat Wudhu Wanita, Surah Yusuf Untuk Ibu Hamil, Abu Jalal, Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu Visited 303 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 QRIS donasi Yufid
Hukum Menerima Beasiswa LPDP Apa hukum beasiswa LPDP? Ada yang mengatakan itu berasal bunga deposito dana abadi APBN. Ada juga yang mengatakan, itu dari pajak rakyat, dst. Kami sendiri ragu mengenai statusnya. Jawab: Jika kita sepakat bahwa dana asal LPDP adalah APBN yang ‘dikembangkan’, maka kita bisa memahami bahwa beasiswa LPDP untuk para pelajar adalah pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat. Pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat memiliki hukum yang berbeda-beda, tergantung sumber harta pemberian itu. Berikut ini kami cantumkan keterangan dari al-Hafidz Ibnu Hajar – ulama ahli hadis bermadzhab Syafii –. Al-Hafidz Ibnu Hajar membuat kesimpulan mengenai hukum menerima pemberian dari pemerintah. Dalam Fathul Bari Penjelasan Sahih Bukhari, وكان بعضهم يقول يحرم قبول العطية من السلطان وبعضهم يقول يكره وهو محمول على ما إذا كانت العطية من السلطان الجائر والكراهة محمولة على الورع وهو المشهور من تصرف السلف والله أعلم Sebagian ulama mengatakan, haram menerima pemberian dari pemerintah. Sebagian mengatakan makruh. Untuk yang mengatakan haram, dipahami pada pemberian dari pemerintah yang dzalim. Sementara untuk yang mengatakan makruh, dipahami sebagai bagian dari sikap wara’. Dan sikap ini sesuatu masyhur bagi muamalahnya para ulama salaf – Allahu a’lam – والتحقيق في المسألة أن من علم كون ماله حلالا فلا ترد عطيته ومن علم كون ماله حراما فتحرم عطيته ومن شك فيه فالاحتياط رده وهو الورع ومن أباحه أخذ بالأصل Kesimpulan dari masalah ini, bahwa siapa yang mengetahui status harta itu adalah harta halal, maka jangan ditolak pemberiannya. Dan siapa yang mengetahui bahwa status harta itu adalah harta haram, maka haram pemberiannya. Dan siapa yang ragu, maka sebagai bentuk kehati-hatian, harta itu dikembalikan. Dan itulah sikap wara’. Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal. (Fathul Bari, 3/338) Maksud kalimat, ‘Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal’ bahwa hukum asalnya harta pemberian itu tidak bercampur dengan sesuatu yang haram. Diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman as-Suhaim bahwa Syaikh Ibnu Baz dalam pelajarannya pernah menyampaikan, إذا جاءه مال مِن قريبه أو صديقه ، وهو لا يعلم حقيقته ؛ فَلَه أخذه. أما إن عَلِم أنه مال فلان ، أو أنه ثمن خمر ، أو أنه رِبا ؛ فلا يأخذه Ketika seseorang mendapatkan harta dari kerabat atau teman, dan dia tidak tahu hakekatnya, maka dia boleh menerima harta itu. Namun jika dia tahu, bahwa harta yang diberikan kepadanya adalah harta milik si A atau hasil jualan khamr atau hasil riba, maka dia tidak boleh menerimanya. Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=126836 Apakah Beasiswa LPDP Halal? Ini kembali kepada pertanyaan, dari mana asal dana beasiswa ini. Kami sendiri belum mendapatkan informasi yang memadai mengenai asal dana beasiswa LPDP. Namun pada prinsipnya, jika anda yakin dana itu berasal dari riba atau sesuatu yang haram lainnya, maka seharusnya dihindari. Dan siapa yang masih ragu, bisa menggunakan acuan seperti yang dinyatakan al-Hafidz Ibnu Hajar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kalimat Talqin, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Tulisan Tempat Wudhu Wanita, Surah Yusuf Untuk Ibu Hamil, Abu Jalal, Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu Visited 303 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/506410554&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Menerima Beasiswa LPDP Apa hukum beasiswa LPDP? Ada yang mengatakan itu berasal bunga deposito dana abadi APBN. Ada juga yang mengatakan, itu dari pajak rakyat, dst. Kami sendiri ragu mengenai statusnya. Jawab: Jika kita sepakat bahwa dana asal LPDP adalah APBN yang ‘dikembangkan’, maka kita bisa memahami bahwa beasiswa LPDP untuk para pelajar adalah pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat. Pemberian (athiyah) dari pemerintah kepada rakyat memiliki hukum yang berbeda-beda, tergantung sumber harta pemberian itu. Berikut ini kami cantumkan keterangan dari al-Hafidz Ibnu Hajar – ulama ahli hadis bermadzhab Syafii –. Al-Hafidz Ibnu Hajar membuat kesimpulan mengenai hukum menerima pemberian dari pemerintah. Dalam Fathul Bari Penjelasan Sahih Bukhari, وكان بعضهم يقول يحرم قبول العطية من السلطان وبعضهم يقول يكره وهو محمول على ما إذا كانت العطية من السلطان الجائر والكراهة محمولة على الورع وهو المشهور من تصرف السلف والله أعلم Sebagian ulama mengatakan, haram menerima pemberian dari pemerintah. Sebagian mengatakan makruh. Untuk yang mengatakan haram, dipahami pada pemberian dari pemerintah yang dzalim. Sementara untuk yang mengatakan makruh, dipahami sebagai bagian dari sikap wara’. Dan sikap ini sesuatu masyhur bagi muamalahnya para ulama salaf – Allahu a’lam – والتحقيق في المسألة أن من علم كون ماله حلالا فلا ترد عطيته ومن علم كون ماله حراما فتحرم عطيته ومن شك فيه فالاحتياط رده وهو الورع ومن أباحه أخذ بالأصل Kesimpulan dari masalah ini, bahwa siapa yang mengetahui status harta itu adalah harta halal, maka jangan ditolak pemberiannya. Dan siapa yang mengetahui bahwa status harta itu adalah harta haram, maka haram pemberiannya. Dan siapa yang ragu, maka sebagai bentuk kehati-hatian, harta itu dikembalikan. Dan itulah sikap wara’. Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal. (Fathul Bari, 3/338) Maksud kalimat, ‘Sementara orang yang membolehkannya (harta meragukan), dia berpijak kepada hukum asal’ bahwa hukum asalnya harta pemberian itu tidak bercampur dengan sesuatu yang haram. Diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman as-Suhaim bahwa Syaikh Ibnu Baz dalam pelajarannya pernah menyampaikan, إذا جاءه مال مِن قريبه أو صديقه ، وهو لا يعلم حقيقته ؛ فَلَه أخذه. أما إن عَلِم أنه مال فلان ، أو أنه ثمن خمر ، أو أنه رِبا ؛ فلا يأخذه Ketika seseorang mendapatkan harta dari kerabat atau teman, dan dia tidak tahu hakekatnya, maka dia boleh menerima harta itu. Namun jika dia tahu, bahwa harta yang diberikan kepadanya adalah harta milik si A atau hasil jualan khamr atau hasil riba, maka dia tidak boleh menerimanya. Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=126836 Apakah Beasiswa LPDP Halal? Ini kembali kepada pertanyaan, dari mana asal dana beasiswa ini. Kami sendiri belum mendapatkan informasi yang memadai mengenai asal dana beasiswa LPDP. Namun pada prinsipnya, jika anda yakin dana itu berasal dari riba atau sesuatu yang haram lainnya, maka seharusnya dihindari. Dan siapa yang masih ragu, bisa menggunakan acuan seperti yang dinyatakan al-Hafidz Ibnu Hajar. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kalimat Talqin, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Tulisan Tempat Wudhu Wanita, Surah Yusuf Untuk Ibu Hamil, Abu Jalal, Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu Visited 303 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Surat Yasin: Salam untuk Penduduk Surga

Download   Ada kalimat salam untuk penduduk surga, dijelaskan dalam surat Yasin berikut ini.   Tafsir Surah Yasin Ayat 58 سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ “(Kepada mereka dikatakan), ‘Salam’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 58)   Pelajaran dari Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚوَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (QS. Al-Ahzab: 44). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:348. Dalam Tafsir As-Sa’di (hlm. 739), Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa ucapan salam ini adalah dari Allah kepada penduduk surga, itu adalah ucapan selamat untuk mereka penduduk surga. Jika Allah mengucapkan salam, maka penduduk surga mendapatkan keselamatan sempurna dari berbagai macam sisi. Juga mereka mendapatkan penghormatan, tidak ada penghormatan yang lebih tinggi daripada itu. Juga tidak ada kenikmatan yang luar biasa semisal itu. Karena penghormatan tersebut langsung dari Allah Yang Maha merajai, Rabb Yang Mahaagung, Rabb yang Maha Pengasih lagi Penyayang, itulah salam penghormatan untuk penduduk surga. Merekalah yang mendapatkan ridha Allah dan tidak mendapatkan murka sama sekali. Jika Allah berkehendak bagi penduduk surga bahwa mereka tidak akan mati atau hati mereka terus bersuka cita, pasti itu terjadi. Kita semua berharap agar tidak lepas dari berbagai kenikmatan di surga dan tidak terhalangi melihat wajah Allah Yang Mulia.   Ayat Tentang Ucapan Salam   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)   Arti Ucapan Salam   Mengucapkan salam merupakan tanda cinta dan baiknya seorang muslim. Di dalamnya berisi: doa keselamatan dari berbagai penyakit, kejelakan, maksiat, serta selamat dari neraka; doa rahmat supaya mendapat kebaikan; doa keberkahan supaya kebaikan itu langgeng dan bertambah.   Beberapa Faedah Menebar Salam   Hendaklah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal; Tetap mengucapkan salam kepada siapa pun meskipun ahli maksiat selama itu muslim; Imam Nawawi dalam Al-Adzkar berkata, “Ulama Syafi’iyah berkata: “Memberi salam sesama wanita sebagaimana pada sesama pria. Adapun seorang pria memberi salam pada wanita di mana wanita tersebut adalah istri, budak atau mahramnya, maka hukumnya boleh memberi salam kepada mereka-mereka. Sehingga dianjurkan untuk memberi salam kepada salah seorang di antara mereka dan wajib menjawab salamnya. Adapun jika yang diberi salam adalah wanita non mahram, jika wanita tersebut elok wajahnya dan khawatir tergoda dengan wanita tersebut, maka tidak boleh seorang pria memberi salam kepada wanita tersebut. Jika wanita tadi diberi salam, maka ia tidak perlu membalasnya. Begitu pula wanita tersebut tidak boleh mendahului memberi salam pada si pria tadi. Jika wanita tersebut memberi salam, maka tidak wajib membalasnya dan jika membalasnya, itu dimakruhkan. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta dan tidak tergoda dengannya, maka boleh mengucapkan salam padanya. Dan jika diberi salam, maka tetap dijawab salam tersebut. Adapun jika ada sekelompok wanita dan diberi salam oleh seorang pria atau ada sekelompok pria diberi salam oleh seorang wanita, itu dibolehkan selama mereka-mereka tadi tidak tergoda satu dan lainnya. Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud dari Asma’ binti Yazid, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kami para wanita, lalu memberi salam pada kami.” (HR. Abu Daud, shahih). Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa jika mereka–para sahabat–selepas shalat Jum’at, memberi salam kepada seorang wanita tua dan ia pun melayani para sahabat tadi.” Demikian perkataan Imam Nawawi yang telah diringkas; Memulai mengucapkan salam disunnahkan. Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya menyatakan bahwa para ulama berijma’ (bersekapat), memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Adapun menjawab salam dihukumi wajib sebagaimana pemahaman dari surah An-Nisa’ ayat 86; Disebutkan dalam sunan An-Nasa’i, ada seseorang mendatangi beliau lantas mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat sepuluh.” Lalu orang tadi pun duduk. Kemudian datang yang lainnya lantas mengucapkan salam, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat dua puluh.” Kemudian ia pun duduk. Lantas ada yang lainnya lagi datang dan mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda, “Engkau mendapat tiga puluh.” Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Tirmidzi dari hadits ‘Imran bin Hushain, dan beliau menghasankannya (Zaad Al-Ma’ad, 2:361); Tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada non-muslim. Namun jika ia mengucapkan salam, hendaklah membalas salamnya dengan ucapan semisal yang ia ucapkan (tidak lebih dari itu). Berarti jika ia mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum”, maka dijawab “Wa’alaikumus salaam”. Namun jika ia ucapkan “Assaamu ‘alaikum (celaka kamu)”, maka dijawab “Wa ‘alaikum” atau “Wa’alaikumus saam” (celaka juga kamu); Ucapan salam lebih mulia dari ucapan “selamat pagi” dan semacamnya. Ucapan selamat semacam ini bukanlah ucapan yang syar’i dan sama sekali tidak bisa menggantikan ucapan salam; Membalas salam bukanlah dengan ucapan “ahlan” atau “ahlan wa sahlan”, ini bukanlah ucapan yang syar’i dalam menjawab salam; Dalam hadits disebutkan bahwa jika bertemu, maka ucapkanlah salam. Apakah saat berpisah juga memberi salam? Ada hadits yang berbunyi, “Jika hadir dalam majelis, hendaklah memberi salam. Jika berdiri dari majelis, hendaklah memberi salam. Yang mengucapkan pertama kali itu lebih utama dari yang mengucapkannya belakangan.” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706; Ahmad, 12:47. Sanad hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 183). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Rabu sore, 24 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin masuk surga surat yasin surga surga firdaus ucapan salam

Faedah Surat Yasin: Salam untuk Penduduk Surga

Download   Ada kalimat salam untuk penduduk surga, dijelaskan dalam surat Yasin berikut ini.   Tafsir Surah Yasin Ayat 58 سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ “(Kepada mereka dikatakan), ‘Salam’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 58)   Pelajaran dari Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚوَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (QS. Al-Ahzab: 44). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:348. Dalam Tafsir As-Sa’di (hlm. 739), Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa ucapan salam ini adalah dari Allah kepada penduduk surga, itu adalah ucapan selamat untuk mereka penduduk surga. Jika Allah mengucapkan salam, maka penduduk surga mendapatkan keselamatan sempurna dari berbagai macam sisi. Juga mereka mendapatkan penghormatan, tidak ada penghormatan yang lebih tinggi daripada itu. Juga tidak ada kenikmatan yang luar biasa semisal itu. Karena penghormatan tersebut langsung dari Allah Yang Maha merajai, Rabb Yang Mahaagung, Rabb yang Maha Pengasih lagi Penyayang, itulah salam penghormatan untuk penduduk surga. Merekalah yang mendapatkan ridha Allah dan tidak mendapatkan murka sama sekali. Jika Allah berkehendak bagi penduduk surga bahwa mereka tidak akan mati atau hati mereka terus bersuka cita, pasti itu terjadi. Kita semua berharap agar tidak lepas dari berbagai kenikmatan di surga dan tidak terhalangi melihat wajah Allah Yang Mulia.   Ayat Tentang Ucapan Salam   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)   Arti Ucapan Salam   Mengucapkan salam merupakan tanda cinta dan baiknya seorang muslim. Di dalamnya berisi: doa keselamatan dari berbagai penyakit, kejelakan, maksiat, serta selamat dari neraka; doa rahmat supaya mendapat kebaikan; doa keberkahan supaya kebaikan itu langgeng dan bertambah.   Beberapa Faedah Menebar Salam   Hendaklah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal; Tetap mengucapkan salam kepada siapa pun meskipun ahli maksiat selama itu muslim; Imam Nawawi dalam Al-Adzkar berkata, “Ulama Syafi’iyah berkata: “Memberi salam sesama wanita sebagaimana pada sesama pria. Adapun seorang pria memberi salam pada wanita di mana wanita tersebut adalah istri, budak atau mahramnya, maka hukumnya boleh memberi salam kepada mereka-mereka. Sehingga dianjurkan untuk memberi salam kepada salah seorang di antara mereka dan wajib menjawab salamnya. Adapun jika yang diberi salam adalah wanita non mahram, jika wanita tersebut elok wajahnya dan khawatir tergoda dengan wanita tersebut, maka tidak boleh seorang pria memberi salam kepada wanita tersebut. Jika wanita tadi diberi salam, maka ia tidak perlu membalasnya. Begitu pula wanita tersebut tidak boleh mendahului memberi salam pada si pria tadi. Jika wanita tersebut memberi salam, maka tidak wajib membalasnya dan jika membalasnya, itu dimakruhkan. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta dan tidak tergoda dengannya, maka boleh mengucapkan salam padanya. Dan jika diberi salam, maka tetap dijawab salam tersebut. Adapun jika ada sekelompok wanita dan diberi salam oleh seorang pria atau ada sekelompok pria diberi salam oleh seorang wanita, itu dibolehkan selama mereka-mereka tadi tidak tergoda satu dan lainnya. Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud dari Asma’ binti Yazid, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kami para wanita, lalu memberi salam pada kami.” (HR. Abu Daud, shahih). Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa jika mereka–para sahabat–selepas shalat Jum’at, memberi salam kepada seorang wanita tua dan ia pun melayani para sahabat tadi.” Demikian perkataan Imam Nawawi yang telah diringkas; Memulai mengucapkan salam disunnahkan. Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya menyatakan bahwa para ulama berijma’ (bersekapat), memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Adapun menjawab salam dihukumi wajib sebagaimana pemahaman dari surah An-Nisa’ ayat 86; Disebutkan dalam sunan An-Nasa’i, ada seseorang mendatangi beliau lantas mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat sepuluh.” Lalu orang tadi pun duduk. Kemudian datang yang lainnya lantas mengucapkan salam, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat dua puluh.” Kemudian ia pun duduk. Lantas ada yang lainnya lagi datang dan mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda, “Engkau mendapat tiga puluh.” Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Tirmidzi dari hadits ‘Imran bin Hushain, dan beliau menghasankannya (Zaad Al-Ma’ad, 2:361); Tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada non-muslim. Namun jika ia mengucapkan salam, hendaklah membalas salamnya dengan ucapan semisal yang ia ucapkan (tidak lebih dari itu). Berarti jika ia mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum”, maka dijawab “Wa’alaikumus salaam”. Namun jika ia ucapkan “Assaamu ‘alaikum (celaka kamu)”, maka dijawab “Wa ‘alaikum” atau “Wa’alaikumus saam” (celaka juga kamu); Ucapan salam lebih mulia dari ucapan “selamat pagi” dan semacamnya. Ucapan selamat semacam ini bukanlah ucapan yang syar’i dan sama sekali tidak bisa menggantikan ucapan salam; Membalas salam bukanlah dengan ucapan “ahlan” atau “ahlan wa sahlan”, ini bukanlah ucapan yang syar’i dalam menjawab salam; Dalam hadits disebutkan bahwa jika bertemu, maka ucapkanlah salam. Apakah saat berpisah juga memberi salam? Ada hadits yang berbunyi, “Jika hadir dalam majelis, hendaklah memberi salam. Jika berdiri dari majelis, hendaklah memberi salam. Yang mengucapkan pertama kali itu lebih utama dari yang mengucapkannya belakangan.” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706; Ahmad, 12:47. Sanad hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 183). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Rabu sore, 24 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin masuk surga surat yasin surga surga firdaus ucapan salam
Download   Ada kalimat salam untuk penduduk surga, dijelaskan dalam surat Yasin berikut ini.   Tafsir Surah Yasin Ayat 58 سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ “(Kepada mereka dikatakan), ‘Salam’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 58)   Pelajaran dari Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚوَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (QS. Al-Ahzab: 44). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:348. Dalam Tafsir As-Sa’di (hlm. 739), Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa ucapan salam ini adalah dari Allah kepada penduduk surga, itu adalah ucapan selamat untuk mereka penduduk surga. Jika Allah mengucapkan salam, maka penduduk surga mendapatkan keselamatan sempurna dari berbagai macam sisi. Juga mereka mendapatkan penghormatan, tidak ada penghormatan yang lebih tinggi daripada itu. Juga tidak ada kenikmatan yang luar biasa semisal itu. Karena penghormatan tersebut langsung dari Allah Yang Maha merajai, Rabb Yang Mahaagung, Rabb yang Maha Pengasih lagi Penyayang, itulah salam penghormatan untuk penduduk surga. Merekalah yang mendapatkan ridha Allah dan tidak mendapatkan murka sama sekali. Jika Allah berkehendak bagi penduduk surga bahwa mereka tidak akan mati atau hati mereka terus bersuka cita, pasti itu terjadi. Kita semua berharap agar tidak lepas dari berbagai kenikmatan di surga dan tidak terhalangi melihat wajah Allah Yang Mulia.   Ayat Tentang Ucapan Salam   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)   Arti Ucapan Salam   Mengucapkan salam merupakan tanda cinta dan baiknya seorang muslim. Di dalamnya berisi: doa keselamatan dari berbagai penyakit, kejelakan, maksiat, serta selamat dari neraka; doa rahmat supaya mendapat kebaikan; doa keberkahan supaya kebaikan itu langgeng dan bertambah.   Beberapa Faedah Menebar Salam   Hendaklah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal; Tetap mengucapkan salam kepada siapa pun meskipun ahli maksiat selama itu muslim; Imam Nawawi dalam Al-Adzkar berkata, “Ulama Syafi’iyah berkata: “Memberi salam sesama wanita sebagaimana pada sesama pria. Adapun seorang pria memberi salam pada wanita di mana wanita tersebut adalah istri, budak atau mahramnya, maka hukumnya boleh memberi salam kepada mereka-mereka. Sehingga dianjurkan untuk memberi salam kepada salah seorang di antara mereka dan wajib menjawab salamnya. Adapun jika yang diberi salam adalah wanita non mahram, jika wanita tersebut elok wajahnya dan khawatir tergoda dengan wanita tersebut, maka tidak boleh seorang pria memberi salam kepada wanita tersebut. Jika wanita tadi diberi salam, maka ia tidak perlu membalasnya. Begitu pula wanita tersebut tidak boleh mendahului memberi salam pada si pria tadi. Jika wanita tersebut memberi salam, maka tidak wajib membalasnya dan jika membalasnya, itu dimakruhkan. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta dan tidak tergoda dengannya, maka boleh mengucapkan salam padanya. Dan jika diberi salam, maka tetap dijawab salam tersebut. Adapun jika ada sekelompok wanita dan diberi salam oleh seorang pria atau ada sekelompok pria diberi salam oleh seorang wanita, itu dibolehkan selama mereka-mereka tadi tidak tergoda satu dan lainnya. Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud dari Asma’ binti Yazid, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kami para wanita, lalu memberi salam pada kami.” (HR. Abu Daud, shahih). Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa jika mereka–para sahabat–selepas shalat Jum’at, memberi salam kepada seorang wanita tua dan ia pun melayani para sahabat tadi.” Demikian perkataan Imam Nawawi yang telah diringkas; Memulai mengucapkan salam disunnahkan. Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya menyatakan bahwa para ulama berijma’ (bersekapat), memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Adapun menjawab salam dihukumi wajib sebagaimana pemahaman dari surah An-Nisa’ ayat 86; Disebutkan dalam sunan An-Nasa’i, ada seseorang mendatangi beliau lantas mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat sepuluh.” Lalu orang tadi pun duduk. Kemudian datang yang lainnya lantas mengucapkan salam, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat dua puluh.” Kemudian ia pun duduk. Lantas ada yang lainnya lagi datang dan mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda, “Engkau mendapat tiga puluh.” Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Tirmidzi dari hadits ‘Imran bin Hushain, dan beliau menghasankannya (Zaad Al-Ma’ad, 2:361); Tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada non-muslim. Namun jika ia mengucapkan salam, hendaklah membalas salamnya dengan ucapan semisal yang ia ucapkan (tidak lebih dari itu). Berarti jika ia mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum”, maka dijawab “Wa’alaikumus salaam”. Namun jika ia ucapkan “Assaamu ‘alaikum (celaka kamu)”, maka dijawab “Wa ‘alaikum” atau “Wa’alaikumus saam” (celaka juga kamu); Ucapan salam lebih mulia dari ucapan “selamat pagi” dan semacamnya. Ucapan selamat semacam ini bukanlah ucapan yang syar’i dan sama sekali tidak bisa menggantikan ucapan salam; Membalas salam bukanlah dengan ucapan “ahlan” atau “ahlan wa sahlan”, ini bukanlah ucapan yang syar’i dalam menjawab salam; Dalam hadits disebutkan bahwa jika bertemu, maka ucapkanlah salam. Apakah saat berpisah juga memberi salam? Ada hadits yang berbunyi, “Jika hadir dalam majelis, hendaklah memberi salam. Jika berdiri dari majelis, hendaklah memberi salam. Yang mengucapkan pertama kali itu lebih utama dari yang mengucapkannya belakangan.” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706; Ahmad, 12:47. Sanad hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 183). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Rabu sore, 24 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin masuk surga surat yasin surga surga firdaus ucapan salam


Download   Ada kalimat salam untuk penduduk surga, dijelaskan dalam surat Yasin berikut ini.   Tafsir Surah Yasin Ayat 58 سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ “(Kepada mereka dikatakan), ‘Salam’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 58)   Pelajaran dari Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚوَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (QS. Al-Ahzab: 44). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:348. Dalam Tafsir As-Sa’di (hlm. 739), Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa ucapan salam ini adalah dari Allah kepada penduduk surga, itu adalah ucapan selamat untuk mereka penduduk surga. Jika Allah mengucapkan salam, maka penduduk surga mendapatkan keselamatan sempurna dari berbagai macam sisi. Juga mereka mendapatkan penghormatan, tidak ada penghormatan yang lebih tinggi daripada itu. Juga tidak ada kenikmatan yang luar biasa semisal itu. Karena penghormatan tersebut langsung dari Allah Yang Maha merajai, Rabb Yang Mahaagung, Rabb yang Maha Pengasih lagi Penyayang, itulah salam penghormatan untuk penduduk surga. Merekalah yang mendapatkan ridha Allah dan tidak mendapatkan murka sama sekali. Jika Allah berkehendak bagi penduduk surga bahwa mereka tidak akan mati atau hati mereka terus bersuka cita, pasti itu terjadi. Kita semua berharap agar tidak lepas dari berbagai kenikmatan di surga dan tidak terhalangi melihat wajah Allah Yang Mulia.   Ayat Tentang Ucapan Salam   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)   Arti Ucapan Salam   Mengucapkan salam merupakan tanda cinta dan baiknya seorang muslim. Di dalamnya berisi: doa keselamatan dari berbagai penyakit, kejelakan, maksiat, serta selamat dari neraka; doa rahmat supaya mendapat kebaikan; doa keberkahan supaya kebaikan itu langgeng dan bertambah.   Beberapa Faedah Menebar Salam   Hendaklah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal; Tetap mengucapkan salam kepada siapa pun meskipun ahli maksiat selama itu muslim; Imam Nawawi dalam Al-Adzkar berkata, “Ulama Syafi’iyah berkata: “Memberi salam sesama wanita sebagaimana pada sesama pria. Adapun seorang pria memberi salam pada wanita di mana wanita tersebut adalah istri, budak atau mahramnya, maka hukumnya boleh memberi salam kepada mereka-mereka. Sehingga dianjurkan untuk memberi salam kepada salah seorang di antara mereka dan wajib menjawab salamnya. Adapun jika yang diberi salam adalah wanita non mahram, jika wanita tersebut elok wajahnya dan khawatir tergoda dengan wanita tersebut, maka tidak boleh seorang pria memberi salam kepada wanita tersebut. Jika wanita tadi diberi salam, maka ia tidak perlu membalasnya. Begitu pula wanita tersebut tidak boleh mendahului memberi salam pada si pria tadi. Jika wanita tersebut memberi salam, maka tidak wajib membalasnya dan jika membalasnya, itu dimakruhkan. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta dan tidak tergoda dengannya, maka boleh mengucapkan salam padanya. Dan jika diberi salam, maka tetap dijawab salam tersebut. Adapun jika ada sekelompok wanita dan diberi salam oleh seorang pria atau ada sekelompok pria diberi salam oleh seorang wanita, itu dibolehkan selama mereka-mereka tadi tidak tergoda satu dan lainnya. Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud dari Asma’ binti Yazid, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kami para wanita, lalu memberi salam pada kami.” (HR. Abu Daud, shahih). Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa jika mereka–para sahabat–selepas shalat Jum’at, memberi salam kepada seorang wanita tua dan ia pun melayani para sahabat tadi.” Demikian perkataan Imam Nawawi yang telah diringkas; Memulai mengucapkan salam disunnahkan. Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya menyatakan bahwa para ulama berijma’ (bersekapat), memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Adapun menjawab salam dihukumi wajib sebagaimana pemahaman dari surah An-Nisa’ ayat 86; Disebutkan dalam sunan An-Nasa’i, ada seseorang mendatangi beliau lantas mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat sepuluh.” Lalu orang tadi pun duduk. Kemudian datang yang lainnya lantas mengucapkan salam, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat dua puluh.” Kemudian ia pun duduk. Lantas ada yang lainnya lagi datang dan mengucapkan salam, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda, “Engkau mendapat tiga puluh.” Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Tirmidzi dari hadits ‘Imran bin Hushain, dan beliau menghasankannya (Zaad Al-Ma’ad, 2:361); Tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada non-muslim. Namun jika ia mengucapkan salam, hendaklah membalas salamnya dengan ucapan semisal yang ia ucapkan (tidak lebih dari itu). Berarti jika ia mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum”, maka dijawab “Wa’alaikumus salaam”. Namun jika ia ucapkan “Assaamu ‘alaikum (celaka kamu)”, maka dijawab “Wa ‘alaikum” atau “Wa’alaikumus saam” (celaka juga kamu); Ucapan salam lebih mulia dari ucapan “selamat pagi” dan semacamnya. Ucapan selamat semacam ini bukanlah ucapan yang syar’i dan sama sekali tidak bisa menggantikan ucapan salam; Membalas salam bukanlah dengan ucapan “ahlan” atau “ahlan wa sahlan”, ini bukanlah ucapan yang syar’i dalam menjawab salam; Dalam hadits disebutkan bahwa jika bertemu, maka ucapkanlah salam. Apakah saat berpisah juga memberi salam? Ada hadits yang berbunyi, “Jika hadir dalam majelis, hendaklah memberi salam. Jika berdiri dari majelis, hendaklah memberi salam. Yang mengucapkan pertama kali itu lebih utama dari yang mengucapkannya belakangan.” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706; Ahmad, 12:47. Sanad hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 183). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin Panggang (Perpus Rumaysho), Rabu sore, 24 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin masuk surga surat yasin surga surga firdaus ucapan salam

Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa Kafan

Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqmaan: 33)Allah juga berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)Allah juga berfirman,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid: 20)Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja.Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu1. Makanan yang kita makanMakanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja2. Pakaian yang kita pakaiTermasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan3. SedekahIni adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di duniaSelebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta: -Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja -Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan -Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat sajaInilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tigaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)Riwayat yang lain,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Lauhul Mahfudz, Debat Menurut Islam, Thaghut Pancasila, Cara Tayamum Di Kereta Api, Salat Fajar

Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa Kafan

Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqmaan: 33)Allah juga berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)Allah juga berfirman,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid: 20)Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja.Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu1. Makanan yang kita makanMakanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja2. Pakaian yang kita pakaiTermasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan3. SedekahIni adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di duniaSelebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta: -Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja -Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan -Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat sajaInilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tigaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)Riwayat yang lain,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Lauhul Mahfudz, Debat Menurut Islam, Thaghut Pancasila, Cara Tayamum Di Kereta Api, Salat Fajar
Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqmaan: 33)Allah juga berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)Allah juga berfirman,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid: 20)Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja.Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu1. Makanan yang kita makanMakanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja2. Pakaian yang kita pakaiTermasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan3. SedekahIni adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di duniaSelebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta: -Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja -Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan -Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat sajaInilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tigaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)Riwayat yang lain,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Lauhul Mahfudz, Debat Menurut Islam, Thaghut Pancasila, Cara Tayamum Di Kereta Api, Salat Fajar


Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqmaan: 33)Allah juga berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)Allah juga berfirman,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid: 20)Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja.Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu1. Makanan yang kita makanMakanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja2. Pakaian yang kita pakaiTermasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan3. SedekahIni adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di duniaSelebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta: -Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja -Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan -Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat sajaInilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tigaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)Riwayat yang lain,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Lauhul Mahfudz, Debat Menurut Islam, Thaghut Pancasila, Cara Tayamum Di Kereta Api, Salat Fajar

Dilarang Duduk Ketika Menunggu Pemakaman Jenazah

Hukum Duduk-duduk Ketika Menunggu Pemakaman Jenazah Ketika di pemakaman, bolehkah kita duduk menunggu jenazah dimakamkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat hadis yang melarang kita untuk duduk ketika mengantar jenazah ke kuburan, sampai jenazah diletakkan di tanah. Disebutkan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا ، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلاَ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian melihat jenazah, berdirilah. Dan siapa yang mengikuti jenazah, jangan duduk sampai dia diletakkan. (HR. Bukhari 1310 & Muslim 2265) Juga disebutkan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا تَبِعْتُمُ الْجَنَازَةَ فَلاَ تَجْلِسُوا حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian mengiringi jenazah, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan. Imam Bukhari mencantumkan hadis ini dalam judul bab باب من تبع جنازة فلا يقعد حتى توضع عن مناكب الرجال فإن قعد أمر بالقيام Bab orang yang yang mengiringi jenazah, jangan duduk sampai diturunkan dari pundak pengiring. Jika ada yang duduk maka dia diperintahkan untuk berdiri. Ibnul Hammam – ulama Hanafiyah – mengatakan, ” وإذا بلغوا إلى قبره يكره أن يجلسوا قبل أن يوضع عن أعناق الرجال”؛ لأنه قد تقع الحاجة إلى التعاون ، والقيام أمكن منه ؛ ولأن المعقول من ندب الشرع لحضور دفنه إكرام الميت , وفي جلوسهم قبل وضعه ازدراء به وعدم التفات إليه , هذا في حق الماشي معها Ketika sudah sampai di kuburan, makruh untuk duduk sebelum jenazah diletakkan dari pundak-pundak lelaki yang membawanya. Karena terkadang butuh kerja sama dan menangani jenazah semampunya. Dan secara logika, anjuran dari syariat untuk mengiringi pemakaman jenazah adalah dalam rangka memuliakan jenazah. Sementara mengambil sikap duduk sebelum jenazah diletakkan, termasuk penghinaan dan sikap tidak peduli dengannya. Aturan ini berlaku bagi mereka yang mengiringi jenazah. (Fathul Qadir, 2/135) Al-Buhuti – ulama Hambali – mengatakan, ” ويكره جلوس من تبعها” أي : الجنازة ( حتى توضع بالأرض للدفن ) ، نص عليه Makruh bagi yang mengiringi jenazah untuk duduk, sampai dia diletakkan di tanah untuk dimakamkan. Demikian yang ditegaskan (dalam madzhab hambali). (Kasyaf al-Qina’, 2/130) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh Puasa Arafah Digabung Dengan Puasa Ganti, Samikna Wa Atokna Artinya, Cara Tunangan Dalam Islam, Janda Dalam Islam, Ramalan Jodoh Bintang Scorpio Visited 186 times, 2 visit(s) today Post Views: 632 QRIS donasi Yufid

Dilarang Duduk Ketika Menunggu Pemakaman Jenazah

Hukum Duduk-duduk Ketika Menunggu Pemakaman Jenazah Ketika di pemakaman, bolehkah kita duduk menunggu jenazah dimakamkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat hadis yang melarang kita untuk duduk ketika mengantar jenazah ke kuburan, sampai jenazah diletakkan di tanah. Disebutkan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا ، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلاَ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian melihat jenazah, berdirilah. Dan siapa yang mengikuti jenazah, jangan duduk sampai dia diletakkan. (HR. Bukhari 1310 & Muslim 2265) Juga disebutkan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا تَبِعْتُمُ الْجَنَازَةَ فَلاَ تَجْلِسُوا حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian mengiringi jenazah, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan. Imam Bukhari mencantumkan hadis ini dalam judul bab باب من تبع جنازة فلا يقعد حتى توضع عن مناكب الرجال فإن قعد أمر بالقيام Bab orang yang yang mengiringi jenazah, jangan duduk sampai diturunkan dari pundak pengiring. Jika ada yang duduk maka dia diperintahkan untuk berdiri. Ibnul Hammam – ulama Hanafiyah – mengatakan, ” وإذا بلغوا إلى قبره يكره أن يجلسوا قبل أن يوضع عن أعناق الرجال”؛ لأنه قد تقع الحاجة إلى التعاون ، والقيام أمكن منه ؛ ولأن المعقول من ندب الشرع لحضور دفنه إكرام الميت , وفي جلوسهم قبل وضعه ازدراء به وعدم التفات إليه , هذا في حق الماشي معها Ketika sudah sampai di kuburan, makruh untuk duduk sebelum jenazah diletakkan dari pundak-pundak lelaki yang membawanya. Karena terkadang butuh kerja sama dan menangani jenazah semampunya. Dan secara logika, anjuran dari syariat untuk mengiringi pemakaman jenazah adalah dalam rangka memuliakan jenazah. Sementara mengambil sikap duduk sebelum jenazah diletakkan, termasuk penghinaan dan sikap tidak peduli dengannya. Aturan ini berlaku bagi mereka yang mengiringi jenazah. (Fathul Qadir, 2/135) Al-Buhuti – ulama Hambali – mengatakan, ” ويكره جلوس من تبعها” أي : الجنازة ( حتى توضع بالأرض للدفن ) ، نص عليه Makruh bagi yang mengiringi jenazah untuk duduk, sampai dia diletakkan di tanah untuk dimakamkan. Demikian yang ditegaskan (dalam madzhab hambali). (Kasyaf al-Qina’, 2/130) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh Puasa Arafah Digabung Dengan Puasa Ganti, Samikna Wa Atokna Artinya, Cara Tunangan Dalam Islam, Janda Dalam Islam, Ramalan Jodoh Bintang Scorpio Visited 186 times, 2 visit(s) today Post Views: 632 QRIS donasi Yufid
Hukum Duduk-duduk Ketika Menunggu Pemakaman Jenazah Ketika di pemakaman, bolehkah kita duduk menunggu jenazah dimakamkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat hadis yang melarang kita untuk duduk ketika mengantar jenazah ke kuburan, sampai jenazah diletakkan di tanah. Disebutkan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا ، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلاَ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian melihat jenazah, berdirilah. Dan siapa yang mengikuti jenazah, jangan duduk sampai dia diletakkan. (HR. Bukhari 1310 & Muslim 2265) Juga disebutkan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا تَبِعْتُمُ الْجَنَازَةَ فَلاَ تَجْلِسُوا حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian mengiringi jenazah, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan. Imam Bukhari mencantumkan hadis ini dalam judul bab باب من تبع جنازة فلا يقعد حتى توضع عن مناكب الرجال فإن قعد أمر بالقيام Bab orang yang yang mengiringi jenazah, jangan duduk sampai diturunkan dari pundak pengiring. Jika ada yang duduk maka dia diperintahkan untuk berdiri. Ibnul Hammam – ulama Hanafiyah – mengatakan, ” وإذا بلغوا إلى قبره يكره أن يجلسوا قبل أن يوضع عن أعناق الرجال”؛ لأنه قد تقع الحاجة إلى التعاون ، والقيام أمكن منه ؛ ولأن المعقول من ندب الشرع لحضور دفنه إكرام الميت , وفي جلوسهم قبل وضعه ازدراء به وعدم التفات إليه , هذا في حق الماشي معها Ketika sudah sampai di kuburan, makruh untuk duduk sebelum jenazah diletakkan dari pundak-pundak lelaki yang membawanya. Karena terkadang butuh kerja sama dan menangani jenazah semampunya. Dan secara logika, anjuran dari syariat untuk mengiringi pemakaman jenazah adalah dalam rangka memuliakan jenazah. Sementara mengambil sikap duduk sebelum jenazah diletakkan, termasuk penghinaan dan sikap tidak peduli dengannya. Aturan ini berlaku bagi mereka yang mengiringi jenazah. (Fathul Qadir, 2/135) Al-Buhuti – ulama Hambali – mengatakan, ” ويكره جلوس من تبعها” أي : الجنازة ( حتى توضع بالأرض للدفن ) ، نص عليه Makruh bagi yang mengiringi jenazah untuk duduk, sampai dia diletakkan di tanah untuk dimakamkan. Demikian yang ditegaskan (dalam madzhab hambali). (Kasyaf al-Qina’, 2/130) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh Puasa Arafah Digabung Dengan Puasa Ganti, Samikna Wa Atokna Artinya, Cara Tunangan Dalam Islam, Janda Dalam Islam, Ramalan Jodoh Bintang Scorpio Visited 186 times, 2 visit(s) today Post Views: 632 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/506410533&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Duduk-duduk Ketika Menunggu Pemakaman Jenazah Ketika di pemakaman, bolehkah kita duduk menunggu jenazah dimakamkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat hadis yang melarang kita untuk duduk ketika mengantar jenazah ke kuburan, sampai jenazah diletakkan di tanah. Disebutkan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا ، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلاَ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian melihat jenazah, berdirilah. Dan siapa yang mengikuti jenazah, jangan duduk sampai dia diletakkan. (HR. Bukhari 1310 & Muslim 2265) Juga disebutkan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا تَبِعْتُمُ الْجَنَازَةَ فَلاَ تَجْلِسُوا حَتَّى تُوضَعَ Apabila kalian mengiringi jenazah, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan. Imam Bukhari mencantumkan hadis ini dalam judul bab باب من تبع جنازة فلا يقعد حتى توضع عن مناكب الرجال فإن قعد أمر بالقيام Bab orang yang yang mengiringi jenazah, jangan duduk sampai diturunkan dari pundak pengiring. Jika ada yang duduk maka dia diperintahkan untuk berdiri. Ibnul Hammam – ulama Hanafiyah – mengatakan, ” وإذا بلغوا إلى قبره يكره أن يجلسوا قبل أن يوضع عن أعناق الرجال”؛ لأنه قد تقع الحاجة إلى التعاون ، والقيام أمكن منه ؛ ولأن المعقول من ندب الشرع لحضور دفنه إكرام الميت , وفي جلوسهم قبل وضعه ازدراء به وعدم التفات إليه , هذا في حق الماشي معها Ketika sudah sampai di kuburan, makruh untuk duduk sebelum jenazah diletakkan dari pundak-pundak lelaki yang membawanya. Karena terkadang butuh kerja sama dan menangani jenazah semampunya. Dan secara logika, anjuran dari syariat untuk mengiringi pemakaman jenazah adalah dalam rangka memuliakan jenazah. Sementara mengambil sikap duduk sebelum jenazah diletakkan, termasuk penghinaan dan sikap tidak peduli dengannya. Aturan ini berlaku bagi mereka yang mengiringi jenazah. (Fathul Qadir, 2/135) Al-Buhuti – ulama Hambali – mengatakan, ” ويكره جلوس من تبعها” أي : الجنازة ( حتى توضع بالأرض للدفن ) ، نص عليه Makruh bagi yang mengiringi jenazah untuk duduk, sampai dia diletakkan di tanah untuk dimakamkan. Demikian yang ditegaskan (dalam madzhab hambali). (Kasyaf al-Qina’, 2/130) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Memuaskan Suami Saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh Puasa Arafah Digabung Dengan Puasa Ganti, Samikna Wa Atokna Artinya, Cara Tunangan Dalam Islam, Janda Dalam Islam, Ramalan Jodoh Bintang Scorpio Visited 186 times, 2 visit(s) today Post Views: 632 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bagaimana Cara Memiliki Keahlian Fiqh?

Cara Memiliki Keahlian Fikih Bagaimana cara untuk bisa memiliki keahlian fiqh? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menurunkan al-Quran berbahasa arab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadis dengan bahasa arab. Para sahabat menjelaskan tafsir al-Quran dan hadis juga menggunakan bahasa arab. Para ulama generasi setelahnya, mereka menulis berbagai karya untuk semua disiplin ilmu, juga berbahasa arab. Artinya, dua sumber syariat dalam islam, keduanya berbahasa arab, dan penjelasannya pun berbahasa arab. Bahasa arab menjadi bahasa komunikasi semua disiplin ilmu dalam islam. Dan masih ada ribuan bahkan mungkin jutaan literatur islam di alam raya ini yang belum diterjemakan dari bahasa aslinya yaitu bahasa arab. Dan rasanya tidak mungkin itu diterjemahkan, saking banyaknya. Bahkan sebagian besar, tidak boleh diterjemahkan, karena bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab. Sungguh benar apa yang dinyatakan Imam as-Syafi’i, siapa yang mengusai bahasa arab dengan benar, dia akan dimudahkan untuk meraup ilmu-ilmu syariat lainnya. Beliau mengatakan, من تبَحَرَّ فى النحو اهتدى إلى كل العلوم “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk mendapatkan semua ilmu.” Beliau juga mengatakan, لا أُسأَلُ عن مسألةٍ من مسائل الفقهِ إلا أجَبْتُ عنها من قواعدِ النحو “Setiap kali saya ditanya tentang suatu masalah fiqih, maka pasti saya akan jawab dengan melibatkan kaidah nahwu.” Bagaimana agar memahami fiqh? Fiqh yang kita inginkan adalah pemahaman yang benar terhadap dalil, sehingga bisa diamalkan. Dan tidak semua orang yang hafal dalil, dia paham dalil. Tidak semua orang yang menghafal al-Quran atau ribuan hadis, dia menjadi seorang yang faqih terhadap yang dia hafal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan, رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ Betapa banyak orang yang membawa dalil, dia tidak paham dalil. Dan betapa banyak orang yang membawa dalil, dia menyampaikannya kepada orang yang lebih paham terhadap dalil. (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 21590 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Si A lebih banyak hafalan al-Quran dan hadisnya dibandingkan si B. Bisa jadi ketika si A menyampaikan hadis kepada si B, si B lebih memahami kandungannya dibandingkan si A. Diantara contoh kejadian ini, seperti yang diriwayatkan Ibnu Abdil Bar, bahwa Abu Yusuf – murid senior Abu Hanifah – pernah ditanya oleh Imam al-A’masy (ulama yang memiliki banyak hafalan hadis). Kemudian Abu Yusuf memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Imam al-A’masy penasaran, ‘Dari mana kamu bisa mengatakan demikian?’ tanya al-A’masy ‘Dari hadis yang anda sampaikan kepada saya’ jawab Abu Yusuf. Mendengar itu, al-A’masy berkomentar, “Wahai Abu Yusuf, sungguh aku menghafal hadis ini sebelum kedua orang tuamu menikah. dan aku belum pernah mengetahui maknanya kecuali saat ini.” (Jami’ Bayan al-Ilmi, 2/31). Kemampuan Fiqh datang dari 2 sebab [1] Hibah dari Allah kepada sebagian hamba-Nya Diantara orang yang mendapatkan hibah semacam ini adalah Imam as-Syafi’i. Ketika beliau datang ke majlisnya Imam Malik dan mulai belajar kepadanya, Imam Malik berpesan kepada Syafi’i, إني أرى الله تعالى قد ألقى على قلبك نورا ، فلا تطفئه بظلمة المعصية Aku melihat, Allah telah menyematkan cahaya di hatimu, karena itu, janganlah kau padamkan dengan kegelapan maksiat. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 34) Dan ini seperti yang disebut oleh as-Shan’ani sebagai hibah dari Allah. Beliau mengatakan, الِاجْتِهَاد موهبة من الله يَهبهُ لمن يَشَاء من الْعباد فَمَا كل من أحرز الْفُنُون أجْرى من قواعدها الْعُيُون وَلَا كل من عرف الْقَوَاعِد استحضرها عِنْد وُرُود الْحَادِثَة الَّتِي يفْتَقر إِلَى تطبيقها على الْأَدِلَّة والشواهد Kemampuan berijtihad adalah hibah dari Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja di antara hamba-Nya yang Dia kehendaki. Tidak semua orang yang hafal berbagai cabang ilmu, dia bisa menerapkan kaidanya pada kasus tertentu. Dan tidak semua orang yang mengetahui kaidah, bisa dia gunakan ketika ada kejadian yang membutuhkan kaidah itu pada penerapan dalil. (Irsyad an-Naqad ila Taisir al-Ijtihad, hlm. 130). Sehingga kunci untuk bisa mendapatkan hibah ini adalah merasa butuh kepada Dzat yang memilikinya dan selalu berdoa agar kita dimudahkan untuk mendapatkan manfaatnya. [2] Dengan belajar dan berlatih Yaitu dengan bimbingan seorang yang berilmu, dan banyak membaca literatur mereka. dengan ini seorang pelajar ilmu agama akan terbiasa melihat cara ulama dalam memahami dalil, sehingga dia bisa meniru metodenya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Indigo Dalam Islam, Malaikat Mikhael Dalam Islam, Dzikir Untuk Ibu Hamil Muda, Cara Sholat Jamak Qosor, Sperma Keluar Di Mulut, Rahasia Adzan Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 284 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Memiliki Keahlian Fiqh?

Cara Memiliki Keahlian Fikih Bagaimana cara untuk bisa memiliki keahlian fiqh? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menurunkan al-Quran berbahasa arab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadis dengan bahasa arab. Para sahabat menjelaskan tafsir al-Quran dan hadis juga menggunakan bahasa arab. Para ulama generasi setelahnya, mereka menulis berbagai karya untuk semua disiplin ilmu, juga berbahasa arab. Artinya, dua sumber syariat dalam islam, keduanya berbahasa arab, dan penjelasannya pun berbahasa arab. Bahasa arab menjadi bahasa komunikasi semua disiplin ilmu dalam islam. Dan masih ada ribuan bahkan mungkin jutaan literatur islam di alam raya ini yang belum diterjemakan dari bahasa aslinya yaitu bahasa arab. Dan rasanya tidak mungkin itu diterjemahkan, saking banyaknya. Bahkan sebagian besar, tidak boleh diterjemahkan, karena bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab. Sungguh benar apa yang dinyatakan Imam as-Syafi’i, siapa yang mengusai bahasa arab dengan benar, dia akan dimudahkan untuk meraup ilmu-ilmu syariat lainnya. Beliau mengatakan, من تبَحَرَّ فى النحو اهتدى إلى كل العلوم “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk mendapatkan semua ilmu.” Beliau juga mengatakan, لا أُسأَلُ عن مسألةٍ من مسائل الفقهِ إلا أجَبْتُ عنها من قواعدِ النحو “Setiap kali saya ditanya tentang suatu masalah fiqih, maka pasti saya akan jawab dengan melibatkan kaidah nahwu.” Bagaimana agar memahami fiqh? Fiqh yang kita inginkan adalah pemahaman yang benar terhadap dalil, sehingga bisa diamalkan. Dan tidak semua orang yang hafal dalil, dia paham dalil. Tidak semua orang yang menghafal al-Quran atau ribuan hadis, dia menjadi seorang yang faqih terhadap yang dia hafal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan, رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ Betapa banyak orang yang membawa dalil, dia tidak paham dalil. Dan betapa banyak orang yang membawa dalil, dia menyampaikannya kepada orang yang lebih paham terhadap dalil. (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 21590 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Si A lebih banyak hafalan al-Quran dan hadisnya dibandingkan si B. Bisa jadi ketika si A menyampaikan hadis kepada si B, si B lebih memahami kandungannya dibandingkan si A. Diantara contoh kejadian ini, seperti yang diriwayatkan Ibnu Abdil Bar, bahwa Abu Yusuf – murid senior Abu Hanifah – pernah ditanya oleh Imam al-A’masy (ulama yang memiliki banyak hafalan hadis). Kemudian Abu Yusuf memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Imam al-A’masy penasaran, ‘Dari mana kamu bisa mengatakan demikian?’ tanya al-A’masy ‘Dari hadis yang anda sampaikan kepada saya’ jawab Abu Yusuf. Mendengar itu, al-A’masy berkomentar, “Wahai Abu Yusuf, sungguh aku menghafal hadis ini sebelum kedua orang tuamu menikah. dan aku belum pernah mengetahui maknanya kecuali saat ini.” (Jami’ Bayan al-Ilmi, 2/31). Kemampuan Fiqh datang dari 2 sebab [1] Hibah dari Allah kepada sebagian hamba-Nya Diantara orang yang mendapatkan hibah semacam ini adalah Imam as-Syafi’i. Ketika beliau datang ke majlisnya Imam Malik dan mulai belajar kepadanya, Imam Malik berpesan kepada Syafi’i, إني أرى الله تعالى قد ألقى على قلبك نورا ، فلا تطفئه بظلمة المعصية Aku melihat, Allah telah menyematkan cahaya di hatimu, karena itu, janganlah kau padamkan dengan kegelapan maksiat. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 34) Dan ini seperti yang disebut oleh as-Shan’ani sebagai hibah dari Allah. Beliau mengatakan, الِاجْتِهَاد موهبة من الله يَهبهُ لمن يَشَاء من الْعباد فَمَا كل من أحرز الْفُنُون أجْرى من قواعدها الْعُيُون وَلَا كل من عرف الْقَوَاعِد استحضرها عِنْد وُرُود الْحَادِثَة الَّتِي يفْتَقر إِلَى تطبيقها على الْأَدِلَّة والشواهد Kemampuan berijtihad adalah hibah dari Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja di antara hamba-Nya yang Dia kehendaki. Tidak semua orang yang hafal berbagai cabang ilmu, dia bisa menerapkan kaidanya pada kasus tertentu. Dan tidak semua orang yang mengetahui kaidah, bisa dia gunakan ketika ada kejadian yang membutuhkan kaidah itu pada penerapan dalil. (Irsyad an-Naqad ila Taisir al-Ijtihad, hlm. 130). Sehingga kunci untuk bisa mendapatkan hibah ini adalah merasa butuh kepada Dzat yang memilikinya dan selalu berdoa agar kita dimudahkan untuk mendapatkan manfaatnya. [2] Dengan belajar dan berlatih Yaitu dengan bimbingan seorang yang berilmu, dan banyak membaca literatur mereka. dengan ini seorang pelajar ilmu agama akan terbiasa melihat cara ulama dalam memahami dalil, sehingga dia bisa meniru metodenya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Indigo Dalam Islam, Malaikat Mikhael Dalam Islam, Dzikir Untuk Ibu Hamil Muda, Cara Sholat Jamak Qosor, Sperma Keluar Di Mulut, Rahasia Adzan Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 284 QRIS donasi Yufid
Cara Memiliki Keahlian Fikih Bagaimana cara untuk bisa memiliki keahlian fiqh? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menurunkan al-Quran berbahasa arab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadis dengan bahasa arab. Para sahabat menjelaskan tafsir al-Quran dan hadis juga menggunakan bahasa arab. Para ulama generasi setelahnya, mereka menulis berbagai karya untuk semua disiplin ilmu, juga berbahasa arab. Artinya, dua sumber syariat dalam islam, keduanya berbahasa arab, dan penjelasannya pun berbahasa arab. Bahasa arab menjadi bahasa komunikasi semua disiplin ilmu dalam islam. Dan masih ada ribuan bahkan mungkin jutaan literatur islam di alam raya ini yang belum diterjemakan dari bahasa aslinya yaitu bahasa arab. Dan rasanya tidak mungkin itu diterjemahkan, saking banyaknya. Bahkan sebagian besar, tidak boleh diterjemahkan, karena bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab. Sungguh benar apa yang dinyatakan Imam as-Syafi’i, siapa yang mengusai bahasa arab dengan benar, dia akan dimudahkan untuk meraup ilmu-ilmu syariat lainnya. Beliau mengatakan, من تبَحَرَّ فى النحو اهتدى إلى كل العلوم “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk mendapatkan semua ilmu.” Beliau juga mengatakan, لا أُسأَلُ عن مسألةٍ من مسائل الفقهِ إلا أجَبْتُ عنها من قواعدِ النحو “Setiap kali saya ditanya tentang suatu masalah fiqih, maka pasti saya akan jawab dengan melibatkan kaidah nahwu.” Bagaimana agar memahami fiqh? Fiqh yang kita inginkan adalah pemahaman yang benar terhadap dalil, sehingga bisa diamalkan. Dan tidak semua orang yang hafal dalil, dia paham dalil. Tidak semua orang yang menghafal al-Quran atau ribuan hadis, dia menjadi seorang yang faqih terhadap yang dia hafal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan, رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ Betapa banyak orang yang membawa dalil, dia tidak paham dalil. Dan betapa banyak orang yang membawa dalil, dia menyampaikannya kepada orang yang lebih paham terhadap dalil. (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 21590 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Si A lebih banyak hafalan al-Quran dan hadisnya dibandingkan si B. Bisa jadi ketika si A menyampaikan hadis kepada si B, si B lebih memahami kandungannya dibandingkan si A. Diantara contoh kejadian ini, seperti yang diriwayatkan Ibnu Abdil Bar, bahwa Abu Yusuf – murid senior Abu Hanifah – pernah ditanya oleh Imam al-A’masy (ulama yang memiliki banyak hafalan hadis). Kemudian Abu Yusuf memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Imam al-A’masy penasaran, ‘Dari mana kamu bisa mengatakan demikian?’ tanya al-A’masy ‘Dari hadis yang anda sampaikan kepada saya’ jawab Abu Yusuf. Mendengar itu, al-A’masy berkomentar, “Wahai Abu Yusuf, sungguh aku menghafal hadis ini sebelum kedua orang tuamu menikah. dan aku belum pernah mengetahui maknanya kecuali saat ini.” (Jami’ Bayan al-Ilmi, 2/31). Kemampuan Fiqh datang dari 2 sebab [1] Hibah dari Allah kepada sebagian hamba-Nya Diantara orang yang mendapatkan hibah semacam ini adalah Imam as-Syafi’i. Ketika beliau datang ke majlisnya Imam Malik dan mulai belajar kepadanya, Imam Malik berpesan kepada Syafi’i, إني أرى الله تعالى قد ألقى على قلبك نورا ، فلا تطفئه بظلمة المعصية Aku melihat, Allah telah menyematkan cahaya di hatimu, karena itu, janganlah kau padamkan dengan kegelapan maksiat. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 34) Dan ini seperti yang disebut oleh as-Shan’ani sebagai hibah dari Allah. Beliau mengatakan, الِاجْتِهَاد موهبة من الله يَهبهُ لمن يَشَاء من الْعباد فَمَا كل من أحرز الْفُنُون أجْرى من قواعدها الْعُيُون وَلَا كل من عرف الْقَوَاعِد استحضرها عِنْد وُرُود الْحَادِثَة الَّتِي يفْتَقر إِلَى تطبيقها على الْأَدِلَّة والشواهد Kemampuan berijtihad adalah hibah dari Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja di antara hamba-Nya yang Dia kehendaki. Tidak semua orang yang hafal berbagai cabang ilmu, dia bisa menerapkan kaidanya pada kasus tertentu. Dan tidak semua orang yang mengetahui kaidah, bisa dia gunakan ketika ada kejadian yang membutuhkan kaidah itu pada penerapan dalil. (Irsyad an-Naqad ila Taisir al-Ijtihad, hlm. 130). Sehingga kunci untuk bisa mendapatkan hibah ini adalah merasa butuh kepada Dzat yang memilikinya dan selalu berdoa agar kita dimudahkan untuk mendapatkan manfaatnya. [2] Dengan belajar dan berlatih Yaitu dengan bimbingan seorang yang berilmu, dan banyak membaca literatur mereka. dengan ini seorang pelajar ilmu agama akan terbiasa melihat cara ulama dalam memahami dalil, sehingga dia bisa meniru metodenya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Indigo Dalam Islam, Malaikat Mikhael Dalam Islam, Dzikir Untuk Ibu Hamil Muda, Cara Sholat Jamak Qosor, Sperma Keluar Di Mulut, Rahasia Adzan Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 284 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/506410500&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Cara Memiliki Keahlian Fikih Bagaimana cara untuk bisa memiliki keahlian fiqh? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menurunkan al-Quran berbahasa arab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadis dengan bahasa arab. Para sahabat menjelaskan tafsir al-Quran dan hadis juga menggunakan bahasa arab. Para ulama generasi setelahnya, mereka menulis berbagai karya untuk semua disiplin ilmu, juga berbahasa arab. Artinya, dua sumber syariat dalam islam, keduanya berbahasa arab, dan penjelasannya pun berbahasa arab. Bahasa arab menjadi bahasa komunikasi semua disiplin ilmu dalam islam. Dan masih ada ribuan bahkan mungkin jutaan literatur islam di alam raya ini yang belum diterjemakan dari bahasa aslinya yaitu bahasa arab. Dan rasanya tidak mungkin itu diterjemahkan, saking banyaknya. Bahkan sebagian besar, tidak boleh diterjemahkan, karena bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab. Sungguh benar apa yang dinyatakan Imam as-Syafi’i, siapa yang mengusai bahasa arab dengan benar, dia akan dimudahkan untuk meraup ilmu-ilmu syariat lainnya. Beliau mengatakan, من تبَحَرَّ فى النحو اهتدى إلى كل العلوم “Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk mendapatkan semua ilmu.” Beliau juga mengatakan, لا أُسأَلُ عن مسألةٍ من مسائل الفقهِ إلا أجَبْتُ عنها من قواعدِ النحو “Setiap kali saya ditanya tentang suatu masalah fiqih, maka pasti saya akan jawab dengan melibatkan kaidah nahwu.” Bagaimana agar memahami fiqh? Fiqh yang kita inginkan adalah pemahaman yang benar terhadap dalil, sehingga bisa diamalkan. Dan tidak semua orang yang hafal dalil, dia paham dalil. Tidak semua orang yang menghafal al-Quran atau ribuan hadis, dia menjadi seorang yang faqih terhadap yang dia hafal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan, رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ Betapa banyak orang yang membawa dalil, dia tidak paham dalil. Dan betapa banyak orang yang membawa dalil, dia menyampaikannya kepada orang yang lebih paham terhadap dalil. (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 21590 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Si A lebih banyak hafalan al-Quran dan hadisnya dibandingkan si B. Bisa jadi ketika si A menyampaikan hadis kepada si B, si B lebih memahami kandungannya dibandingkan si A. Diantara contoh kejadian ini, seperti yang diriwayatkan Ibnu Abdil Bar, bahwa Abu Yusuf – murid senior Abu Hanifah – pernah ditanya oleh Imam al-A’masy (ulama yang memiliki banyak hafalan hadis). Kemudian Abu Yusuf memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Imam al-A’masy penasaran, ‘Dari mana kamu bisa mengatakan demikian?’ tanya al-A’masy ‘Dari hadis yang anda sampaikan kepada saya’ jawab Abu Yusuf. Mendengar itu, al-A’masy berkomentar, “Wahai Abu Yusuf, sungguh aku menghafal hadis ini sebelum kedua orang tuamu menikah. dan aku belum pernah mengetahui maknanya kecuali saat ini.” (Jami’ Bayan al-Ilmi, 2/31). Kemampuan Fiqh datang dari 2 sebab [1] Hibah dari Allah kepada sebagian hamba-Nya Diantara orang yang mendapatkan hibah semacam ini adalah Imam as-Syafi’i. Ketika beliau datang ke majlisnya Imam Malik dan mulai belajar kepadanya, Imam Malik berpesan kepada Syafi’i, إني أرى الله تعالى قد ألقى على قلبك نورا ، فلا تطفئه بظلمة المعصية Aku melihat, Allah telah menyematkan cahaya di hatimu, karena itu, janganlah kau padamkan dengan kegelapan maksiat. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 34) Dan ini seperti yang disebut oleh as-Shan’ani sebagai hibah dari Allah. Beliau mengatakan, الِاجْتِهَاد موهبة من الله يَهبهُ لمن يَشَاء من الْعباد فَمَا كل من أحرز الْفُنُون أجْرى من قواعدها الْعُيُون وَلَا كل من عرف الْقَوَاعِد استحضرها عِنْد وُرُود الْحَادِثَة الَّتِي يفْتَقر إِلَى تطبيقها على الْأَدِلَّة والشواهد Kemampuan berijtihad adalah hibah dari Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja di antara hamba-Nya yang Dia kehendaki. Tidak semua orang yang hafal berbagai cabang ilmu, dia bisa menerapkan kaidanya pada kasus tertentu. Dan tidak semua orang yang mengetahui kaidah, bisa dia gunakan ketika ada kejadian yang membutuhkan kaidah itu pada penerapan dalil. (Irsyad an-Naqad ila Taisir al-Ijtihad, hlm. 130). Sehingga kunci untuk bisa mendapatkan hibah ini adalah merasa butuh kepada Dzat yang memilikinya dan selalu berdoa agar kita dimudahkan untuk mendapatkan manfaatnya. [2] Dengan belajar dan berlatih Yaitu dengan bimbingan seorang yang berilmu, dan banyak membaca literatur mereka. dengan ini seorang pelajar ilmu agama akan terbiasa melihat cara ulama dalam memahami dalil, sehingga dia bisa meniru metodenya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Indigo Dalam Islam, Malaikat Mikhael Dalam Islam, Dzikir Untuk Ibu Hamil Muda, Cara Sholat Jamak Qosor, Sperma Keluar Di Mulut, Rahasia Adzan Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 284 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Menggali Adab dari Surah An-Nuur #02

Download   Bahasan ini bagus untuk dipelajari karena menghimpun akhlak-akhlak yang mulia dan bekal yang bagus bagi setiap muslim/muslimah. Ini lanjutan dari bahasan sebelumnya.   Baca: Menggali Adab dari Surah An-Nuur #01   Menggali Pelajaran Adab dari Surat An-Nuur Kesebelas: Tiga sifat wanita yang terhormat   Dalam ayat disebutkan, إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini: al-muhshanaat yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina, al-ghafilaat yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina, al-mu’minaat yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.   Keduabelas: Adab meminta izin   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur: 27) Beberapa hadits yang mengajarkan adab meminta izin adalah sebagai berikut. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الاسْتِئْذَانُ ثَلاثٌ ، فَإنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ “Meminta izin itu tiga kali. Maka, jika diizinkan, engkau boleh masuk, dan jika tidak maka kembalilah.” (HR. Bukhari, no. 6245 dan Muslim, no. 2157) Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ “Sesungguhnya ditetapkannya meminta izin itu hanya karena masalah menjaga pandangan.” (HR. Bukhari, no. 6241 dan Muslim, no. 2156) Dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata,  “Seorang lelaki dari Bani ‘Amir bercerita kepada kami bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ada di rumah. Orang tersebut berkata, ‘Apakah aku boleh masuk?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada pembantunya, ‘Keluarlah kepada orang tersebut, lalu ajarkanlah ia cara meminta izin.’ Ajarkanlah kepadanya, ‘Ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Orang tersebut pun mendengarnya, lantas ia mengucapkan, ‘Assalamu ‘aaikum, bolehkah aku masuk?’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya, setelah itu ia pun masuk.” (HR. Abu Daud, no. 5177 dengan sanad shahih) Dari Kildah bin Al-Hambal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menemui beliau dan aku ketika itu tidak mengucapkan salam. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, ارْجِعْ فَقُلْ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ، أَأَدْخُل ؟ ‘Kembalilah, lalu ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” (HR. Abu Daud, no. 5176 dan Tirmidzi, no. 2710. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan) Cara meminta izin adalah dengan memperkenalkan nama. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, di dalam haditsnya yang masyhur tentang isra’. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Kemudian Jibril membawaku naik ke langit dunia, ia meminta dibukakan pintunya. Maka ditanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Kemudian naik ke langit kedua, maka ditanya lagi, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Lalu langit naik ke langit ketiga, keempat, dan lainnya. Di setiap pintu langit ditanya, ‘Siapakah ini?’ Dijawab, ‘Ini Jibril.’” (HR. Muslim, no. 3207 dan Muslim, no. 162) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku keluar pada suatu malam. Ternyata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan seorang diri. Maka, aku mulai berjalan di bawah sinar bulan. Beliau lalu menoleh, kemudian melihatku. Lalu berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzar.’ (HR. Bukhari, no. 6443 dan Muslim, no. 94/153) Dari Ummu Hani radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أتيتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ ، فَقَالَ : (( مَنْ هذِهِ ؟ )) فقلتُ : أنا أُمُّ هَانِىءٍ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau sedang mandi, dan Fatimah menutupinya. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Ummu Hani.’ (HR. Bukhari, no. 357 dan Muslim, no. 336) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أتَيْتُ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَدَقَقْتُ البَابَ ، فَقَالَ : (( مَنْ هَذَا ؟ )) فَقُلتُ : أَنَا ، فَقَالَ : (( أنَا ، أنَا ! )) كَأنَّهُ كَرِهَهَ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengetuk pintu. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Aku.’ Beliau lantas berkata, ‘Aku, aku.’ Seolah beliau membencinya.” (HR. Bukhari, no. 6250 dan Muslim, no. 2155) Apa saja manfaat meminta izin dan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kita? Agar tidak terlihat hal-hal yang memang tidak suka untuk dilihat. Karena ada pemilik rumah yang tidak senang rumahnya dilihat-lihat orang secara tiba-tiba tanpa izin. Biar pemilik rumah tidak menjadi susah dengan masuknya orang lain tanpa izin. Biar pemilik rumah juga bisa persiapan. Jangan sampai pemilik rumah dianggap menyepelekan orang lain karena tidak ada persiapan sebelumnya disebabkan ada yang masuk tanpa izin. Untuk mencegah keinginan yang tidak baik dari orang yang masuk rumah lainnya tanpa izin, seperti ingin mencuri dan melakukan perbuatan keji (fahisyah) lainnya. Dengan mengucapkan salam ketika masuk, maka akan melindungi pemilik rumah dari kejelekan karena yang diucapkan adalah doa keselamatan “assalaamu ‘alaikum” (semoga keselamatan untukmu). Ucapan salam ini termasuk bentuk ihsan (berbuat baik). Orang yang mengucapkan salam mendapatkan pahala. Jika mengucapkan “assalaamu ‘alaikum” saja sudah mendapatkan sepuluh ganjaran. Manfaat yang paling besar adalah telah menjalankan perintah Allah. Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang banyak.   Ketigabelas: Perintah menundukkan pandangan   Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)   Keempatbelas: Meninggalkan sesuatu karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik   Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan tentang surah An-Nuur ayat 30 di atas, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Siapa yang tundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada penglihatannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 596) Dalam hadits disebutkan, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di perjalanan Jakarta – Jogja, Senin sore, 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur

Menggali Adab dari Surah An-Nuur #02

Download   Bahasan ini bagus untuk dipelajari karena menghimpun akhlak-akhlak yang mulia dan bekal yang bagus bagi setiap muslim/muslimah. Ini lanjutan dari bahasan sebelumnya.   Baca: Menggali Adab dari Surah An-Nuur #01   Menggali Pelajaran Adab dari Surat An-Nuur Kesebelas: Tiga sifat wanita yang terhormat   Dalam ayat disebutkan, إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini: al-muhshanaat yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina, al-ghafilaat yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina, al-mu’minaat yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.   Keduabelas: Adab meminta izin   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur: 27) Beberapa hadits yang mengajarkan adab meminta izin adalah sebagai berikut. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الاسْتِئْذَانُ ثَلاثٌ ، فَإنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ “Meminta izin itu tiga kali. Maka, jika diizinkan, engkau boleh masuk, dan jika tidak maka kembalilah.” (HR. Bukhari, no. 6245 dan Muslim, no. 2157) Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ “Sesungguhnya ditetapkannya meminta izin itu hanya karena masalah menjaga pandangan.” (HR. Bukhari, no. 6241 dan Muslim, no. 2156) Dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata,  “Seorang lelaki dari Bani ‘Amir bercerita kepada kami bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ada di rumah. Orang tersebut berkata, ‘Apakah aku boleh masuk?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada pembantunya, ‘Keluarlah kepada orang tersebut, lalu ajarkanlah ia cara meminta izin.’ Ajarkanlah kepadanya, ‘Ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Orang tersebut pun mendengarnya, lantas ia mengucapkan, ‘Assalamu ‘aaikum, bolehkah aku masuk?’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya, setelah itu ia pun masuk.” (HR. Abu Daud, no. 5177 dengan sanad shahih) Dari Kildah bin Al-Hambal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menemui beliau dan aku ketika itu tidak mengucapkan salam. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, ارْجِعْ فَقُلْ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ، أَأَدْخُل ؟ ‘Kembalilah, lalu ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” (HR. Abu Daud, no. 5176 dan Tirmidzi, no. 2710. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan) Cara meminta izin adalah dengan memperkenalkan nama. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, di dalam haditsnya yang masyhur tentang isra’. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Kemudian Jibril membawaku naik ke langit dunia, ia meminta dibukakan pintunya. Maka ditanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Kemudian naik ke langit kedua, maka ditanya lagi, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Lalu langit naik ke langit ketiga, keempat, dan lainnya. Di setiap pintu langit ditanya, ‘Siapakah ini?’ Dijawab, ‘Ini Jibril.’” (HR. Muslim, no. 3207 dan Muslim, no. 162) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku keluar pada suatu malam. Ternyata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan seorang diri. Maka, aku mulai berjalan di bawah sinar bulan. Beliau lalu menoleh, kemudian melihatku. Lalu berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzar.’ (HR. Bukhari, no. 6443 dan Muslim, no. 94/153) Dari Ummu Hani radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أتيتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ ، فَقَالَ : (( مَنْ هذِهِ ؟ )) فقلتُ : أنا أُمُّ هَانِىءٍ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau sedang mandi, dan Fatimah menutupinya. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Ummu Hani.’ (HR. Bukhari, no. 357 dan Muslim, no. 336) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أتَيْتُ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَدَقَقْتُ البَابَ ، فَقَالَ : (( مَنْ هَذَا ؟ )) فَقُلتُ : أَنَا ، فَقَالَ : (( أنَا ، أنَا ! )) كَأنَّهُ كَرِهَهَ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengetuk pintu. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Aku.’ Beliau lantas berkata, ‘Aku, aku.’ Seolah beliau membencinya.” (HR. Bukhari, no. 6250 dan Muslim, no. 2155) Apa saja manfaat meminta izin dan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kita? Agar tidak terlihat hal-hal yang memang tidak suka untuk dilihat. Karena ada pemilik rumah yang tidak senang rumahnya dilihat-lihat orang secara tiba-tiba tanpa izin. Biar pemilik rumah tidak menjadi susah dengan masuknya orang lain tanpa izin. Biar pemilik rumah juga bisa persiapan. Jangan sampai pemilik rumah dianggap menyepelekan orang lain karena tidak ada persiapan sebelumnya disebabkan ada yang masuk tanpa izin. Untuk mencegah keinginan yang tidak baik dari orang yang masuk rumah lainnya tanpa izin, seperti ingin mencuri dan melakukan perbuatan keji (fahisyah) lainnya. Dengan mengucapkan salam ketika masuk, maka akan melindungi pemilik rumah dari kejelekan karena yang diucapkan adalah doa keselamatan “assalaamu ‘alaikum” (semoga keselamatan untukmu). Ucapan salam ini termasuk bentuk ihsan (berbuat baik). Orang yang mengucapkan salam mendapatkan pahala. Jika mengucapkan “assalaamu ‘alaikum” saja sudah mendapatkan sepuluh ganjaran. Manfaat yang paling besar adalah telah menjalankan perintah Allah. Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang banyak.   Ketigabelas: Perintah menundukkan pandangan   Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)   Keempatbelas: Meninggalkan sesuatu karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik   Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan tentang surah An-Nuur ayat 30 di atas, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Siapa yang tundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada penglihatannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 596) Dalam hadits disebutkan, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di perjalanan Jakarta – Jogja, Senin sore, 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur
Download   Bahasan ini bagus untuk dipelajari karena menghimpun akhlak-akhlak yang mulia dan bekal yang bagus bagi setiap muslim/muslimah. Ini lanjutan dari bahasan sebelumnya.   Baca: Menggali Adab dari Surah An-Nuur #01   Menggali Pelajaran Adab dari Surat An-Nuur Kesebelas: Tiga sifat wanita yang terhormat   Dalam ayat disebutkan, إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini: al-muhshanaat yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina, al-ghafilaat yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina, al-mu’minaat yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.   Keduabelas: Adab meminta izin   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur: 27) Beberapa hadits yang mengajarkan adab meminta izin adalah sebagai berikut. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الاسْتِئْذَانُ ثَلاثٌ ، فَإنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ “Meminta izin itu tiga kali. Maka, jika diizinkan, engkau boleh masuk, dan jika tidak maka kembalilah.” (HR. Bukhari, no. 6245 dan Muslim, no. 2157) Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ “Sesungguhnya ditetapkannya meminta izin itu hanya karena masalah menjaga pandangan.” (HR. Bukhari, no. 6241 dan Muslim, no. 2156) Dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata,  “Seorang lelaki dari Bani ‘Amir bercerita kepada kami bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ada di rumah. Orang tersebut berkata, ‘Apakah aku boleh masuk?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada pembantunya, ‘Keluarlah kepada orang tersebut, lalu ajarkanlah ia cara meminta izin.’ Ajarkanlah kepadanya, ‘Ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Orang tersebut pun mendengarnya, lantas ia mengucapkan, ‘Assalamu ‘aaikum, bolehkah aku masuk?’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya, setelah itu ia pun masuk.” (HR. Abu Daud, no. 5177 dengan sanad shahih) Dari Kildah bin Al-Hambal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menemui beliau dan aku ketika itu tidak mengucapkan salam. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, ارْجِعْ فَقُلْ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ، أَأَدْخُل ؟ ‘Kembalilah, lalu ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” (HR. Abu Daud, no. 5176 dan Tirmidzi, no. 2710. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan) Cara meminta izin adalah dengan memperkenalkan nama. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, di dalam haditsnya yang masyhur tentang isra’. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Kemudian Jibril membawaku naik ke langit dunia, ia meminta dibukakan pintunya. Maka ditanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Kemudian naik ke langit kedua, maka ditanya lagi, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Lalu langit naik ke langit ketiga, keempat, dan lainnya. Di setiap pintu langit ditanya, ‘Siapakah ini?’ Dijawab, ‘Ini Jibril.’” (HR. Muslim, no. 3207 dan Muslim, no. 162) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku keluar pada suatu malam. Ternyata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan seorang diri. Maka, aku mulai berjalan di bawah sinar bulan. Beliau lalu menoleh, kemudian melihatku. Lalu berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzar.’ (HR. Bukhari, no. 6443 dan Muslim, no. 94/153) Dari Ummu Hani radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أتيتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ ، فَقَالَ : (( مَنْ هذِهِ ؟ )) فقلتُ : أنا أُمُّ هَانِىءٍ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau sedang mandi, dan Fatimah menutupinya. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Ummu Hani.’ (HR. Bukhari, no. 357 dan Muslim, no. 336) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أتَيْتُ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَدَقَقْتُ البَابَ ، فَقَالَ : (( مَنْ هَذَا ؟ )) فَقُلتُ : أَنَا ، فَقَالَ : (( أنَا ، أنَا ! )) كَأنَّهُ كَرِهَهَ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengetuk pintu. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Aku.’ Beliau lantas berkata, ‘Aku, aku.’ Seolah beliau membencinya.” (HR. Bukhari, no. 6250 dan Muslim, no. 2155) Apa saja manfaat meminta izin dan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kita? Agar tidak terlihat hal-hal yang memang tidak suka untuk dilihat. Karena ada pemilik rumah yang tidak senang rumahnya dilihat-lihat orang secara tiba-tiba tanpa izin. Biar pemilik rumah tidak menjadi susah dengan masuknya orang lain tanpa izin. Biar pemilik rumah juga bisa persiapan. Jangan sampai pemilik rumah dianggap menyepelekan orang lain karena tidak ada persiapan sebelumnya disebabkan ada yang masuk tanpa izin. Untuk mencegah keinginan yang tidak baik dari orang yang masuk rumah lainnya tanpa izin, seperti ingin mencuri dan melakukan perbuatan keji (fahisyah) lainnya. Dengan mengucapkan salam ketika masuk, maka akan melindungi pemilik rumah dari kejelekan karena yang diucapkan adalah doa keselamatan “assalaamu ‘alaikum” (semoga keselamatan untukmu). Ucapan salam ini termasuk bentuk ihsan (berbuat baik). Orang yang mengucapkan salam mendapatkan pahala. Jika mengucapkan “assalaamu ‘alaikum” saja sudah mendapatkan sepuluh ganjaran. Manfaat yang paling besar adalah telah menjalankan perintah Allah. Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang banyak.   Ketigabelas: Perintah menundukkan pandangan   Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)   Keempatbelas: Meninggalkan sesuatu karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik   Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan tentang surah An-Nuur ayat 30 di atas, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Siapa yang tundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada penglihatannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 596) Dalam hadits disebutkan, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di perjalanan Jakarta – Jogja, Senin sore, 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur


Download   Bahasan ini bagus untuk dipelajari karena menghimpun akhlak-akhlak yang mulia dan bekal yang bagus bagi setiap muslim/muslimah. Ini lanjutan dari bahasan sebelumnya.   Baca: Menggali Adab dari Surah An-Nuur #01   Menggali Pelajaran Adab dari Surat An-Nuur Kesebelas: Tiga sifat wanita yang terhormat   Dalam ayat disebutkan, إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini: al-muhshanaat yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina, al-ghafilaat yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina, al-mu’minaat yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.   Keduabelas: Adab meminta izin   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur: 27) Beberapa hadits yang mengajarkan adab meminta izin adalah sebagai berikut. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الاسْتِئْذَانُ ثَلاثٌ ، فَإنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ “Meminta izin itu tiga kali. Maka, jika diizinkan, engkau boleh masuk, dan jika tidak maka kembalilah.” (HR. Bukhari, no. 6245 dan Muslim, no. 2157) Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ “Sesungguhnya ditetapkannya meminta izin itu hanya karena masalah menjaga pandangan.” (HR. Bukhari, no. 6241 dan Muslim, no. 2156) Dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata,  “Seorang lelaki dari Bani ‘Amir bercerita kepada kami bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ada di rumah. Orang tersebut berkata, ‘Apakah aku boleh masuk?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada pembantunya, ‘Keluarlah kepada orang tersebut, lalu ajarkanlah ia cara meminta izin.’ Ajarkanlah kepadanya, ‘Ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Orang tersebut pun mendengarnya, lantas ia mengucapkan, ‘Assalamu ‘aaikum, bolehkah aku masuk?’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya, setelah itu ia pun masuk.” (HR. Abu Daud, no. 5177 dengan sanad shahih) Dari Kildah bin Al-Hambal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menemui beliau dan aku ketika itu tidak mengucapkan salam. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, ارْجِعْ فَقُلْ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ، أَأَدْخُل ؟ ‘Kembalilah, lalu ucapkanlah assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” (HR. Abu Daud, no. 5176 dan Tirmidzi, no. 2710. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan) Cara meminta izin adalah dengan memperkenalkan nama. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, di dalam haditsnya yang masyhur tentang isra’. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Kemudian Jibril membawaku naik ke langit dunia, ia meminta dibukakan pintunya. Maka ditanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Kemudian naik ke langit kedua, maka ditanya lagi, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril.’ Lalu ditanya lagi, ‘Lalu siapakah yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Bersama Muhammad.’ Lalu langit naik ke langit ketiga, keempat, dan lainnya. Di setiap pintu langit ditanya, ‘Siapakah ini?’ Dijawab, ‘Ini Jibril.’” (HR. Muslim, no. 3207 dan Muslim, no. 162) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku keluar pada suatu malam. Ternyata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan seorang diri. Maka, aku mulai berjalan di bawah sinar bulan. Beliau lalu menoleh, kemudian melihatku. Lalu berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzar.’ (HR. Bukhari, no. 6443 dan Muslim, no. 94/153) Dari Ummu Hani radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أتيتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ ، فَقَالَ : (( مَنْ هذِهِ ؟ )) فقلتُ : أنا أُمُّ هَانِىءٍ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau sedang mandi, dan Fatimah menutupinya. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Ummu Hani.’ (HR. Bukhari, no. 357 dan Muslim, no. 336) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أتَيْتُ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَدَقَقْتُ البَابَ ، فَقَالَ : (( مَنْ هَذَا ؟ )) فَقُلتُ : أَنَا ، فَقَالَ : (( أنَا ، أنَا ! )) كَأنَّهُ كَرِهَهَ “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengetuk pintu. Maka beliau berkata, ‘Siapakah ini?’ Aku menjawab, ‘Aku.’ Beliau lantas berkata, ‘Aku, aku.’ Seolah beliau membencinya.” (HR. Bukhari, no. 6250 dan Muslim, no. 2155) Apa saja manfaat meminta izin dan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kita? Agar tidak terlihat hal-hal yang memang tidak suka untuk dilihat. Karena ada pemilik rumah yang tidak senang rumahnya dilihat-lihat orang secara tiba-tiba tanpa izin. Biar pemilik rumah tidak menjadi susah dengan masuknya orang lain tanpa izin. Biar pemilik rumah juga bisa persiapan. Jangan sampai pemilik rumah dianggap menyepelekan orang lain karena tidak ada persiapan sebelumnya disebabkan ada yang masuk tanpa izin. Untuk mencegah keinginan yang tidak baik dari orang yang masuk rumah lainnya tanpa izin, seperti ingin mencuri dan melakukan perbuatan keji (fahisyah) lainnya. Dengan mengucapkan salam ketika masuk, maka akan melindungi pemilik rumah dari kejelekan karena yang diucapkan adalah doa keselamatan “assalaamu ‘alaikum” (semoga keselamatan untukmu). Ucapan salam ini termasuk bentuk ihsan (berbuat baik). Orang yang mengucapkan salam mendapatkan pahala. Jika mengucapkan “assalaamu ‘alaikum” saja sudah mendapatkan sepuluh ganjaran. Manfaat yang paling besar adalah telah menjalankan perintah Allah. Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang banyak.   Ketigabelas: Perintah menundukkan pandangan   Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)   Keempatbelas: Meninggalkan sesuatu karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik   Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan tentang surah An-Nuur ayat 30 di atas, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Siapa yang tundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada penglihatannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 596) Dalam hadits disebutkan, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di perjalanan Jakarta – Jogja, Senin sore, 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat an nuur

Bermimpi Bertemu Nabi dan Terapi Mimpi Buruk

Download   Kali ini kita akan kaji hadits yang membicarakan tentang mimpi bertemu nabi dan terapi mimpi buruk.   Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi بَابُ الرُّؤْيَا وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا Bab 130. Bab Mimpi dan Hal-Hal yang Berkaitan dengannya   Hadits #840 وَعَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ رَآنِي فِي المنَامِ فَسَيَرَانيِ فِي الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رَآنِي فِي اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي”. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya—atau seolah ia melihatku dalam sadarnya—karena setan tidak bisa menyerupaiku.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6993 dan Muslim, no. 2266] Faedah Hadits   Setan tidak bisa menyerupai bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan benarnya mimpi. Mimpi yang jujur seperti melihat dalam keadaan sadar. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti melihat beliau dalam mimpi seperti sifat-sifat yang telah makruf dalam kitab Asy-Syamail (seperti Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi).   Hadits #841 وَعَنْ أَبي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّه سمِع النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: “إِذَا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَليَحْمَدِ اللهَ عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية: فَلا يُحَدِّثْ بَها إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ وَإذا رَأَى غَيَر ذَلك مِمَّا يَكرَهُ فإنَّما هِيَ منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأَحَدٍ فَإنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ” متفقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disukainya, bahwasanya mimpi itu berasal dari Allah, maka pujilah Allah karenanya, dan ceritakanlah hal itu.”—Di dalam riwayat lain disebutkan, maka janganlah ia menceritakan mimpinya kecuali kepada orang yang menyukainya–. “Dan apabila ia bermimpi sesuatu yang tidak ia sukai, bahwasanya mimpi itu berasal dari setan, maka mintalah perlindungan dari kejelekannya dan janganlah ia menceritakannya kepada siapa pun, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6985. Hadits ini yang tepat tidak dikeluarkan oleh Muslim]   Faedah Hadits   Mimpi yang benar itu dari Allah, sedangkan mimpi buruk (al-hilm) itu datangnya dari setan atau godaan dalam jiwa. Mimpi yang baik adalah mimpi yang disenangi, sedangkan mimpi yang jelek adalah mimpi yang datangnya dari setan. Yang mesti dilakukan ketika mendapatkan mimpi yang bagus adalah memuji Allah, menceritakannya pada seorang alim atau orang yang kita mau. Namun jika yang dimimpikan adalah mimpi yang jelek, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, mimpi jelek tersebut tidak diceritakan pada lainnya, dan harus diyakini bahwa mimpi tersebut tidak akan mencelakakan dirinya.   Hadits #842 وعن أَبي قَتَادَة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: ” الرُّؤْيَا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ اللهِ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.”النَّفثُ”نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi yang baik (shalihah)–dalam riwayat lain, mimpi yang indah (hasanah)—itu berasal dari Allah, dan mimpi buruk itu dari setan. Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 3292 dan Muslim, no. 2261] An-naftsu adalah hembusan nafas yang halus tanpa disertai air ludah.   Faedah Hadits   Ada mimpi yang merupakan permainan setan atau untuk menakut-nakuti manusia. Mimpi yang indah adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Cara terapi mimpi buruk adalah dengan: (a) meniup pada sisi kiri sebanyak tiga kali, (b) membaca ta’awudz supaya mimpi tersebut tidak mencelakai kita.   Hadits #843 وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: “إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً، وْليَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ “رواه مسلم. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang dibencinya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari setan sebanyak tiga kali. Setelah itu, ubahlah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya ke posisi lainnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2262]   Faedah Hadits   Hadits ini mengajarkan terapi ketika menghadapi mimpi buruk: Meludah ke sisi sebelah kiri tiga kali. Meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awudz tiga kali. Mengubah posisi tidur. Jika berbaring pada sisi kanan, maka diubah tidurnya jadi terlentang. Jika berbaring pada sisi kiri, diubah berbaring ke sisi kanan. Jika tidak dalam keadaan tertaring, maka diubah berbaring ke sisi kanan, tidak ke sisi kiri.   Hadits #844 وَعَنْ أَبِي الأَسْقَعِ وَاثِلةَ بْنِ الأَسْقَعِ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “إنَّ مِنْ أعظَم الفَرى أنْ يَدَّعِي الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أبِيه، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ، أوْ يقولَ عَلَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ” رواه البخاري. Dari Abu Al-Asqa Watsiah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya, atau orang mengatakan ia memimpikan sesuatu padahal ia tidak memimpikannya, atau orang yang berkata atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak mengatakannya.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3509]   Faedah Hadits   Mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya termasuk sejelek-jeleknya dusta. Berdusta dalam mimpi termasuk berdusta atas nama Allah karena mimpi itu dari Allah. Berdusta atas nama Allah tidak sama dengan berdusta dengan nama makhluk. Hadits ini memperingatkan tentang bahayanya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini akan kembali pada dusta atas nama Allah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berkata kecuali dengan wahyu. Kita diajarkan untuk jujur dan tidak berdusta.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab tidur mimpi mimpi buruk mimpi indah

Bermimpi Bertemu Nabi dan Terapi Mimpi Buruk

Download   Kali ini kita akan kaji hadits yang membicarakan tentang mimpi bertemu nabi dan terapi mimpi buruk.   Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi بَابُ الرُّؤْيَا وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا Bab 130. Bab Mimpi dan Hal-Hal yang Berkaitan dengannya   Hadits #840 وَعَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ رَآنِي فِي المنَامِ فَسَيَرَانيِ فِي الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رَآنِي فِي اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي”. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya—atau seolah ia melihatku dalam sadarnya—karena setan tidak bisa menyerupaiku.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6993 dan Muslim, no. 2266] Faedah Hadits   Setan tidak bisa menyerupai bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan benarnya mimpi. Mimpi yang jujur seperti melihat dalam keadaan sadar. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti melihat beliau dalam mimpi seperti sifat-sifat yang telah makruf dalam kitab Asy-Syamail (seperti Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi).   Hadits #841 وَعَنْ أَبي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّه سمِع النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: “إِذَا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَليَحْمَدِ اللهَ عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية: فَلا يُحَدِّثْ بَها إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ وَإذا رَأَى غَيَر ذَلك مِمَّا يَكرَهُ فإنَّما هِيَ منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأَحَدٍ فَإنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ” متفقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disukainya, bahwasanya mimpi itu berasal dari Allah, maka pujilah Allah karenanya, dan ceritakanlah hal itu.”—Di dalam riwayat lain disebutkan, maka janganlah ia menceritakan mimpinya kecuali kepada orang yang menyukainya–. “Dan apabila ia bermimpi sesuatu yang tidak ia sukai, bahwasanya mimpi itu berasal dari setan, maka mintalah perlindungan dari kejelekannya dan janganlah ia menceritakannya kepada siapa pun, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6985. Hadits ini yang tepat tidak dikeluarkan oleh Muslim]   Faedah Hadits   Mimpi yang benar itu dari Allah, sedangkan mimpi buruk (al-hilm) itu datangnya dari setan atau godaan dalam jiwa. Mimpi yang baik adalah mimpi yang disenangi, sedangkan mimpi yang jelek adalah mimpi yang datangnya dari setan. Yang mesti dilakukan ketika mendapatkan mimpi yang bagus adalah memuji Allah, menceritakannya pada seorang alim atau orang yang kita mau. Namun jika yang dimimpikan adalah mimpi yang jelek, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, mimpi jelek tersebut tidak diceritakan pada lainnya, dan harus diyakini bahwa mimpi tersebut tidak akan mencelakakan dirinya.   Hadits #842 وعن أَبي قَتَادَة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: ” الرُّؤْيَا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ اللهِ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.”النَّفثُ”نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi yang baik (shalihah)–dalam riwayat lain, mimpi yang indah (hasanah)—itu berasal dari Allah, dan mimpi buruk itu dari setan. Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 3292 dan Muslim, no. 2261] An-naftsu adalah hembusan nafas yang halus tanpa disertai air ludah.   Faedah Hadits   Ada mimpi yang merupakan permainan setan atau untuk menakut-nakuti manusia. Mimpi yang indah adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Cara terapi mimpi buruk adalah dengan: (a) meniup pada sisi kiri sebanyak tiga kali, (b) membaca ta’awudz supaya mimpi tersebut tidak mencelakai kita.   Hadits #843 وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: “إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً، وْليَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ “رواه مسلم. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang dibencinya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari setan sebanyak tiga kali. Setelah itu, ubahlah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya ke posisi lainnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2262]   Faedah Hadits   Hadits ini mengajarkan terapi ketika menghadapi mimpi buruk: Meludah ke sisi sebelah kiri tiga kali. Meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awudz tiga kali. Mengubah posisi tidur. Jika berbaring pada sisi kanan, maka diubah tidurnya jadi terlentang. Jika berbaring pada sisi kiri, diubah berbaring ke sisi kanan. Jika tidak dalam keadaan tertaring, maka diubah berbaring ke sisi kanan, tidak ke sisi kiri.   Hadits #844 وَعَنْ أَبِي الأَسْقَعِ وَاثِلةَ بْنِ الأَسْقَعِ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “إنَّ مِنْ أعظَم الفَرى أنْ يَدَّعِي الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أبِيه، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ، أوْ يقولَ عَلَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ” رواه البخاري. Dari Abu Al-Asqa Watsiah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya, atau orang mengatakan ia memimpikan sesuatu padahal ia tidak memimpikannya, atau orang yang berkata atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak mengatakannya.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3509]   Faedah Hadits   Mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya termasuk sejelek-jeleknya dusta. Berdusta dalam mimpi termasuk berdusta atas nama Allah karena mimpi itu dari Allah. Berdusta atas nama Allah tidak sama dengan berdusta dengan nama makhluk. Hadits ini memperingatkan tentang bahayanya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini akan kembali pada dusta atas nama Allah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berkata kecuali dengan wahyu. Kita diajarkan untuk jujur dan tidak berdusta.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab tidur mimpi mimpi buruk mimpi indah
Download   Kali ini kita akan kaji hadits yang membicarakan tentang mimpi bertemu nabi dan terapi mimpi buruk.   Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi بَابُ الرُّؤْيَا وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا Bab 130. Bab Mimpi dan Hal-Hal yang Berkaitan dengannya   Hadits #840 وَعَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ رَآنِي فِي المنَامِ فَسَيَرَانيِ فِي الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رَآنِي فِي اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي”. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya—atau seolah ia melihatku dalam sadarnya—karena setan tidak bisa menyerupaiku.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6993 dan Muslim, no. 2266] Faedah Hadits   Setan tidak bisa menyerupai bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan benarnya mimpi. Mimpi yang jujur seperti melihat dalam keadaan sadar. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti melihat beliau dalam mimpi seperti sifat-sifat yang telah makruf dalam kitab Asy-Syamail (seperti Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi).   Hadits #841 وَعَنْ أَبي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّه سمِع النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: “إِذَا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَليَحْمَدِ اللهَ عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية: فَلا يُحَدِّثْ بَها إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ وَإذا رَأَى غَيَر ذَلك مِمَّا يَكرَهُ فإنَّما هِيَ منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأَحَدٍ فَإنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ” متفقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disukainya, bahwasanya mimpi itu berasal dari Allah, maka pujilah Allah karenanya, dan ceritakanlah hal itu.”—Di dalam riwayat lain disebutkan, maka janganlah ia menceritakan mimpinya kecuali kepada orang yang menyukainya–. “Dan apabila ia bermimpi sesuatu yang tidak ia sukai, bahwasanya mimpi itu berasal dari setan, maka mintalah perlindungan dari kejelekannya dan janganlah ia menceritakannya kepada siapa pun, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6985. Hadits ini yang tepat tidak dikeluarkan oleh Muslim]   Faedah Hadits   Mimpi yang benar itu dari Allah, sedangkan mimpi buruk (al-hilm) itu datangnya dari setan atau godaan dalam jiwa. Mimpi yang baik adalah mimpi yang disenangi, sedangkan mimpi yang jelek adalah mimpi yang datangnya dari setan. Yang mesti dilakukan ketika mendapatkan mimpi yang bagus adalah memuji Allah, menceritakannya pada seorang alim atau orang yang kita mau. Namun jika yang dimimpikan adalah mimpi yang jelek, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, mimpi jelek tersebut tidak diceritakan pada lainnya, dan harus diyakini bahwa mimpi tersebut tidak akan mencelakakan dirinya.   Hadits #842 وعن أَبي قَتَادَة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: ” الرُّؤْيَا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ اللهِ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.”النَّفثُ”نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi yang baik (shalihah)–dalam riwayat lain, mimpi yang indah (hasanah)—itu berasal dari Allah, dan mimpi buruk itu dari setan. Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 3292 dan Muslim, no. 2261] An-naftsu adalah hembusan nafas yang halus tanpa disertai air ludah.   Faedah Hadits   Ada mimpi yang merupakan permainan setan atau untuk menakut-nakuti manusia. Mimpi yang indah adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Cara terapi mimpi buruk adalah dengan: (a) meniup pada sisi kiri sebanyak tiga kali, (b) membaca ta’awudz supaya mimpi tersebut tidak mencelakai kita.   Hadits #843 وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: “إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً، وْليَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ “رواه مسلم. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang dibencinya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari setan sebanyak tiga kali. Setelah itu, ubahlah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya ke posisi lainnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2262]   Faedah Hadits   Hadits ini mengajarkan terapi ketika menghadapi mimpi buruk: Meludah ke sisi sebelah kiri tiga kali. Meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awudz tiga kali. Mengubah posisi tidur. Jika berbaring pada sisi kanan, maka diubah tidurnya jadi terlentang. Jika berbaring pada sisi kiri, diubah berbaring ke sisi kanan. Jika tidak dalam keadaan tertaring, maka diubah berbaring ke sisi kanan, tidak ke sisi kiri.   Hadits #844 وَعَنْ أَبِي الأَسْقَعِ وَاثِلةَ بْنِ الأَسْقَعِ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “إنَّ مِنْ أعظَم الفَرى أنْ يَدَّعِي الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أبِيه، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ، أوْ يقولَ عَلَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ” رواه البخاري. Dari Abu Al-Asqa Watsiah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya, atau orang mengatakan ia memimpikan sesuatu padahal ia tidak memimpikannya, atau orang yang berkata atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak mengatakannya.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3509]   Faedah Hadits   Mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya termasuk sejelek-jeleknya dusta. Berdusta dalam mimpi termasuk berdusta atas nama Allah karena mimpi itu dari Allah. Berdusta atas nama Allah tidak sama dengan berdusta dengan nama makhluk. Hadits ini memperingatkan tentang bahayanya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini akan kembali pada dusta atas nama Allah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berkata kecuali dengan wahyu. Kita diajarkan untuk jujur dan tidak berdusta.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab tidur mimpi mimpi buruk mimpi indah


Download   Kali ini kita akan kaji hadits yang membicarakan tentang mimpi bertemu nabi dan terapi mimpi buruk.   Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi بَابُ الرُّؤْيَا وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا Bab 130. Bab Mimpi dan Hal-Hal yang Berkaitan dengannya   Hadits #840 وَعَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ رَآنِي فِي المنَامِ فَسَيَرَانيِ فِي الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رَآنِي فِي اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي”. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya—atau seolah ia melihatku dalam sadarnya—karena setan tidak bisa menyerupaiku.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6993 dan Muslim, no. 2266] Faedah Hadits   Setan tidak bisa menyerupai bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan benarnya mimpi. Mimpi yang jujur seperti melihat dalam keadaan sadar. Bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti melihat beliau dalam mimpi seperti sifat-sifat yang telah makruf dalam kitab Asy-Syamail (seperti Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi).   Hadits #841 وَعَنْ أَبي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّه سمِع النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: “إِذَا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَليَحْمَدِ اللهَ عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية: فَلا يُحَدِّثْ بَها إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ وَإذا رَأَى غَيَر ذَلك مِمَّا يَكرَهُ فإنَّما هِيَ منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأَحَدٍ فَإنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ” متفقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disukainya, bahwasanya mimpi itu berasal dari Allah, maka pujilah Allah karenanya, dan ceritakanlah hal itu.”—Di dalam riwayat lain disebutkan, maka janganlah ia menceritakan mimpinya kecuali kepada orang yang menyukainya–. “Dan apabila ia bermimpi sesuatu yang tidak ia sukai, bahwasanya mimpi itu berasal dari setan, maka mintalah perlindungan dari kejelekannya dan janganlah ia menceritakannya kepada siapa pun, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6985. Hadits ini yang tepat tidak dikeluarkan oleh Muslim]   Faedah Hadits   Mimpi yang benar itu dari Allah, sedangkan mimpi buruk (al-hilm) itu datangnya dari setan atau godaan dalam jiwa. Mimpi yang baik adalah mimpi yang disenangi, sedangkan mimpi yang jelek adalah mimpi yang datangnya dari setan. Yang mesti dilakukan ketika mendapatkan mimpi yang bagus adalah memuji Allah, menceritakannya pada seorang alim atau orang yang kita mau. Namun jika yang dimimpikan adalah mimpi yang jelek, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, mimpi jelek tersebut tidak diceritakan pada lainnya, dan harus diyakini bahwa mimpi tersebut tidak akan mencelakakan dirinya.   Hadits #842 وعن أَبي قَتَادَة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: ” الرُّؤْيَا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ اللهِ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإنَّها لاَ تَضُرُّهُ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.”النَّفثُ”نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi yang baik (shalihah)–dalam riwayat lain, mimpi yang indah (hasanah)—itu berasal dari Allah, dan mimpi buruk itu dari setan. Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 3292 dan Muslim, no. 2261] An-naftsu adalah hembusan nafas yang halus tanpa disertai air ludah.   Faedah Hadits   Ada mimpi yang merupakan permainan setan atau untuk menakut-nakuti manusia. Mimpi yang indah adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Cara terapi mimpi buruk adalah dengan: (a) meniup pada sisi kiri sebanyak tiga kali, (b) membaca ta’awudz supaya mimpi tersebut tidak mencelakai kita.   Hadits #843 وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: “إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً، وْليَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ “رواه مسلم. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang dibencinya, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari setan sebanyak tiga kali. Setelah itu, ubahlah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya ke posisi lainnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2262]   Faedah Hadits   Hadits ini mengajarkan terapi ketika menghadapi mimpi buruk: Meludah ke sisi sebelah kiri tiga kali. Meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awudz tiga kali. Mengubah posisi tidur. Jika berbaring pada sisi kanan, maka diubah tidurnya jadi terlentang. Jika berbaring pada sisi kiri, diubah berbaring ke sisi kanan. Jika tidak dalam keadaan tertaring, maka diubah berbaring ke sisi kanan, tidak ke sisi kiri.   Hadits #844 وَعَنْ أَبِي الأَسْقَعِ وَاثِلةَ بْنِ الأَسْقَعِ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “إنَّ مِنْ أعظَم الفَرى أنْ يَدَّعِي الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أبِيه، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ، أوْ يقولَ عَلَى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ” رواه البخاري. Dari Abu Al-Asqa Watsiah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya, atau orang mengatakan ia memimpikan sesuatu padahal ia tidak memimpikannya, atau orang yang berkata atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak mengatakannya.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3509]   Faedah Hadits   Mengaku-ngaku nasab kepada selain ayahnya termasuk sejelek-jeleknya dusta. Berdusta dalam mimpi termasuk berdusta atas nama Allah karena mimpi itu dari Allah. Berdusta atas nama Allah tidak sama dengan berdusta dengan nama makhluk. Hadits ini memperingatkan tentang bahayanya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini akan kembali pada dusta atas nama Allah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berkata kecuali dengan wahyu. Kita diajarkan untuk jujur dan tidak berdusta.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 22 Dzulhijjah 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab tidur mimpi mimpi buruk mimpi indah
Prev     Next