Sikap Ahli Sunah terhadap Istilah Mujmal yang Digunakan oleh Ahli Bid’ah untuk Menolak Sifat Allah

Daftar Isi Toggle PendahuluanMetode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat AllahLafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaahMenyikapi lafaz jihahMenyikapi lafaz jismMenyikapi lafaz hayyizKesimpulan Pendahuluan Di antara metode ahli bid’ah dalam menolak sifat-sifat Allah adalah menggunakan istilah yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak dikenal oleh para salaf saleh. Mereka menggunakan istilah yang mengandung makna mujmal (ambigu) sebagai alasan untuk menolak sifat-sifat Allah. Mereka beralasan bahwa makna dalam istilah tersebut merupakan konsekuensi dari makna sifat yang ditetapkan ahli sunah waljamaah, padahal makna tersebut merupakan makna batil menurut persangkaan mereka. Pada pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana sikap ahli sunah waljamaah terhadap istilah-istilah mujmal tersebut. Akan disebutkan pula beberapa contohnya serta bagaimana ahli sunah menyikapinya dan memahami makna dari istilah tersebut. Metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat Allah Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat untuk Allah adalah sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut: Pertama: Dalam hal penetapan Menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, maupun tamtsil. Kedua: Dalam hal peniadaan Meniadakan apa yang telah ditiadakan oleh Allah dan rasul-Nya disertai meyakini adanya penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah yang merupakan kebalikan dari sifat yang ditiadakan tersebut. Ketiga: Dalam hal yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaaan Terkait istilah-istilah yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaanya dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti istilah jism, hayyiz, jihah, makan, dan semisalnya. Sikap ahli sunah adalah tawaqquf mengenai lafaznya, yaitu tidak menetapkan untuk Allah dan tidak pula meniadakannya dari Allah karena tidak terdapat dalil dalam hal ini. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud dari makna tersebut adalah makna batil, maka Allah tersucikan darinya dan ahli sunah menolak makna tersebut. Namun, apabila yang dimaksudkan dengannya adalah makna benar dan tidak bertentangan dengan kesempurnaan Allah, maka mereka menerimanya. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi Al-Hamawiyyah) Lafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaah Dalam buku-buku akidah, dibahas mengenai pembahasan istilah yang mujmal (الكلمات المجملة). Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait istilah-istilah yang mujmal ini, yaitu: Pertama: Yang dimaksud kalimat mujmal adalah kalimat yang digunakan oleh ahli ta’thil yang menolak sifat-sifat Allah dan sering digunakan juga oleh ahli kalam secara umum. Kedua: Disebut makna mujmal karena mengandung kemungkinan benar dan batil atau dalam lafaz ini terkumpul antara makna benar dan makna batil, sehingga maknanya masih samar. Tidak diketahui makna yang terkandung dalam lafaz tersebut, kecuali setelah dijelaskan secara rinci mengenai maknanya. Ketiga: Maksud dari ahli ta’thil menggunakan istilah seperti ini adalah sebagai batu loncatan untuk menolak sifat-sifat Allah dengan berdalih ingin menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan. Keempat: Alasan mereka melakukan hal ini karena ketidakmampuan mereka untuk melawan argumentasi ahli sunah dengan hujjah dalil sehingga mereka menggunakan metode ini. Kelima: Lafaz-lafaz yang mujmal ini sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, namun semata-mata merupakan istilah baru yang dilontarkan oleh ahli kalam. Keenam: Metode ahli sunah dalam menyikapi istilah mujmal ini, yaitu tawaqquf terhadap lafaznya dan memberikan perincian terhadap makna dari lafaz tersebut. (Rasa’ilu fil ‘Aqidah) Ada dua hal yang perlu diperhatikan mengenai sikap ahli sunah waljamaah dalam menyikapi lafaz mujmal: Pertama: Terkait lafaznya, maka sikap ahli sunah adalah tawaqquf, yaitu tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Contohnya lafaz jihah. Mereka tidak mengatakan Allah berada dalam jihah dan tidak pula mengatakan Allah tidak berada dalam jihah. Mereka tidak menetapkannya karena tidak terdapat dalil penetapannya dan mereka tidak meniadakannya karena juga tidak terdapat dalil peniadaannya baik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Kedua: Terkait makna dari lafaz-lafaz tersebut, maka hal ini perlu dirinci. Termasuk kaidah umum dalam ahli sunah terhadap lafaz yang mujmal, yaitu: bahwasanya lafaz mujmal yang mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil, maka tidak ditetapkan secara mutlak dan tidak ditiadakan secara mutlak; akan tetapi, perlu dirinci sehingga diketahui maksud dari makna tersebut. Apabila mengandung makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Tidak boleh meniadakan secara mutlak karena bisa jadi maknanya benar sehingga tidak boleh ditolak. Tidak pula langsung menerima maknanya secara mutlak karena bisa jadi mengandung makna batil sehingga tidak bisa diterima. Oleh karena itu, perlu dirinci berdasarkan apa yang dimaksud dari makna tersebut. Inilah sikap ahli sunah terhadap makna dari istilah yang mujmal. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Pada asalnya, kita harus meninggalkan penggunaan istilah mujmal yang merupakan istilah muhdas (istilah baru yang tidak dikenal oleh salaf saleh), seperti istilah: jihah, hayyiz, hudus, tarkib, jauhar, ‘arad, dan sebagainya. Tidak boleh menggunakan istilah-istilah ini ketika menjelaskan akidah ahli sunah waljamaah. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Hukum penggunaan istilah mujmal ini hanya boleh digunakan ketika terjadi perdebatan dengan ahli bid’ah dalam rangka membantah dan menjelaskan kekeliruan pemahaman mereka pada kondisi yang memang dibutuhkan. Adapun ketika menjelaskan keyakinan akidah ahli sunah waljamaah, maka wajib menggunakan istilah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis. Tidak boleh sama sekali menggunakan istilah mujmal ini karena tidak ada kebutuhan untuk menggunakannya. Oleh karena itu, tidak kita dapati para imam ahli sunah waljamaah ketika menjelaskan akidah menggunakan istilah-istilah tersebut. (Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatiha wa Ahkamuha) Bahkan, Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa penggunaan lafaz mujmal seperti lafaz jism termasuk bid’ah meskipun digunakan dalam makna yang sahih. Beliau berkata dalam kitab Bayan Talbisi Al-Jahmiyyah, “Adapun lafaz jism, maka ini termasuk bid’ah, baik dalam penetapannya maupun peniadaanya. Tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak pula terdapat dalam perkataan satu pun dari salaf saleh penggunaan lafaz jism dalam sifat Allah, baik itu dalam penetapan ataupun peniadaan.” (Al-‘Uqud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah) Berikutnya akan kami paparkan tiga contoh lafaz mujmal yang sering digunakan oleh ahli bid’ah dan bagaimana ahli sunah dalam menyikapinya, yaitu lafaz jihah, jism, dan hayyiz. Menyikapi lafaz jihah Mengenai lafaznya, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan tidak menetapkannya dan tidak pula meniadakannya. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci, karena makna jihah mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil. Lafaz jihah memiliki beberapa kemungkinan makna: Pertama: Apabila yang dimaksud dengan jihah adalah arah bawah, maka ini makna batil yang tidak sesuai dengan keagungan Allah. Hal ini juga bertentangan dengan sifat ‘uluw bagi Allah yang telah ditetapkan berdasar dalil dari Al-Qur’an, hadis, akal, fitrah, dan ijma’. Kedua: Apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di seluruh arah, Dia berada di dalam makhluk-Nya, dan Zat Allah berada di setiap tempat, maka ini tidak mungkin bagi Allah dan bertentangan dengan sifat ‘uluw. Ketiga: Jika yang dimaksud Allah tidak berada pada arah dan tempat, yaitu tidak berada di dalam alam maupun di luar alam, tidak bersatu dan tidak pula terpisah, tidak di atas dan tidak pula di bawah, maka ini juga makna batil karena yang seperti ini hakikatnya adalah sesuatu yang tidak ada. Keempat: Apabila yang dimaksud jihah adalah arah atas berupa makhluk yang meliputi Zat Allah, maka ini juga merupakan makna batil, karena Allah Maha Besar dan tidak diliputi oleh satupun makhluk-Nya. Kelima: Adapun apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di arah atas yang berada di luar alam (di luar seluruh makhluk-Nya) dan Dia istiwa’ di atas ‘Arsy dan terpisah dari makhluk-Nya, maka ini merupakan makna benar. Dalam hal ini, Allah berada di arah atas secara mutlak. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Akan tetapi, kita tidak boleh memberitakan Allah dengan lafaz ini yang mengandung makna kemungkinan benar dan batil. Kita hanya boleh menggunakan lafaz-lafaz yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadis, semisal dalam firman Allah, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.“ (QS. Al A’la: 1) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ “Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.“ (QS. Saba’: 23) يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka.“ (QS. An-Nahl: 50) Allah berada di atas ketinggian yang mutlak. Lafaz ‘uluw digunakan untuk Allah dalam Al-Qur’an dan hadis, bahkan sifat ‘uluw merupakan sifat paling agung yang banyak terdapat penetapannya dalam Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, tidak boleh meninggalkan lafaz yang sudah ditetapkan oleh syariat, yaitu ‘uluw dan menggantinya dengan lafaz yang mujmal dan tidak pernah digunakan oleh para salaf salih, semisal lafaz jihah. Tidak sepantasnya mengganti yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Baca juga: Metode Menetapkan Sifat-Sifat Allah Ta’ala Menyikapi lafaz jism Apakah Allah memiliki jism? Jawaban hal ini sesuai dengan kaidah yang sudah dibahas di atas. Dari sisi lafaz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Mereka tidak mengatakan Allah punya jism dan tidak pula mengatakan Allah tidak punya jism, karena di dalam Al-Qur’an maupun hadis tidak terdapat dalil yang menetapkan dan meniadakan. Adapun mengenai maknanya maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud jism adalah Allah memiliki tubuh atau jasad seperti makhluk yang merupakan bagian terbagi-bagi dan terpisah satu dengan yang lainnya, maka ini adalah penyataan mumatsilah yang menganggap bahwa jism Allah seperti jism makhluk. Mahasuci Allah dari persangkaan mereka. Ini merupakan kedustaan yang sangat besar dan maknanya batil. Allah Ta’ala berfirman, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.“ (QS. Asy-Syura: 11) Jika yang dimaksud jism adalah seperti tubuh makluk yang keberadaanya tersusun dari bagian-bagian organ yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, serta membutuhkan makan dan minum untuk keberlangsungan tubuh tersebut, maka ini juga merupakan makna batil dan tidak boleh ditetapkan untuk Allah. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah) Adapun apabila yang dimaksud jism adalah apa yang terdapat pada Zat Allah hakiki yang berdiri sendiri, seperti sifat wajah, tangan, mata, dan telapak kaki yang merupakan sifat kesempurnaan dan keagungan dari segala sisi, maka ini adalah makna yang benar. (Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Ibnu Al-‘Utsaimin) Namun, selayaknya tidak menggunakan istilah jism dan cukup menggunakan istilah zat dan sifat. Jadi cukup dikatakan bahwa Allah mempunyai zat dan sifat sebagaimana ditetapkan oleh ahli sunah. (Qowa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Menyikapi lafaz hayyiz Mengenai lafaz hayyiz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan diam, yaitu tidak menetapkan dan tidak pula meniadakan. Tidak dikatakan Allah punya hayyiz dan tidak pula dikatakan Allah tidak punya hayyiz karena tidak terdapat dalil yang menetapkan ataupun meniadakan. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud hayyiz adalah melingkupi sesuatu yang dilingkupi, yaitu berada di dalamnya dan menyatu, maka ini adalah makna yang batil. Tidak boleh meyakini demikian untuk Allah. Bahkan, mereka mengingkari al-hululiyyah yang menganggap Allah bersatu dengan sebagian zat makhluk-Nya, apalagi al-wujudiyyah/al-ittihadiyyah yang meyakini bahwa zat Allah adalah makhluk itu sendiri.  Ini adalah keyakinan kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam. Barangsiapa yang meyakini bahwa ada bagian dari mahkluk yang menyatu dengan zat Allah atau ada bagian dari zat Allah yang menyatu dengan sebagian makhluk-Nya, maka dia telah kafir dengan kufur kabar. Adapun apabila hayyiz bermakna terpisah dan tidak menyatu, maka ini adalah makna yang benar. Oleh karena itu, ahli sunah sepakat bahwa Allah terpisah dari mahkluk-Nya dan berada di atas seluruh makhluk, ber-istiwa’ di atas Arasy-Nya. Tidak ada bagian Zat Allah yang berada pada zat makhluk, dan tidak ada bagian zat makhluk yang berada pada Zat Allah. Zat Allah dan makhluk adalah dua zat yang terpisah karena Zat Allah berada pada ketinggian yang mutlak. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Kesimpulan Sebagai kesimpulan, bahwa ahli sunah waljamaah dalam akidah asma’ wa shifat adalah menetapkan dan meniadakan sesuai dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis dan berusaha meninggalkan lafaz yang tidak terdapat dalam keduanya. Adapun mengenai lafaz yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, yaitu diam dengan tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Adapun mengenai makna dari lafaz tersebut, maka perlu dirinci. Apabila makna yang dimaksudkan adalah makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Dengan memahami permasalahan ini dengan baik, maka jelaslah kebatilan ahli bid’ah yang sering menggunakan istilah mujmal untuk menuduh bahwa ketika ahli sunah waljamaah menetapkan sifat-sifat Allah, maka memberikan konsekuensi makna yang batil bagi Allah. Justru sebaliknya, tuduhan mereka keliru karena makna dari lafaz mujmal yang mereka gunakan ternyata memiliki makna yang sesuai dengan keagungan nama dan sifat Allah apabila dipahami dengan makna yang benar. Allahu a’lam. Baca juga: Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah *** Penyusun: Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Rasa’ilu fil-‘Aqidah, Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati, Syekh Walid bin Rasyid As-Su’aidan. Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid, Syekh Thoriq bin Sa’id bin ‘Abdillah Al-Qahthany. Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatihaa wa Ahkamuha, Syekh Muhammad bin ‘Abdirrahman Abu Sayyif Al-Juhany. Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Sulthan bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairy. Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Sikap Ahli Sunah terhadap Istilah Mujmal yang Digunakan oleh Ahli Bid’ah untuk Menolak Sifat Allah

Daftar Isi Toggle PendahuluanMetode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat AllahLafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaahMenyikapi lafaz jihahMenyikapi lafaz jismMenyikapi lafaz hayyizKesimpulan Pendahuluan Di antara metode ahli bid’ah dalam menolak sifat-sifat Allah adalah menggunakan istilah yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak dikenal oleh para salaf saleh. Mereka menggunakan istilah yang mengandung makna mujmal (ambigu) sebagai alasan untuk menolak sifat-sifat Allah. Mereka beralasan bahwa makna dalam istilah tersebut merupakan konsekuensi dari makna sifat yang ditetapkan ahli sunah waljamaah, padahal makna tersebut merupakan makna batil menurut persangkaan mereka. Pada pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana sikap ahli sunah waljamaah terhadap istilah-istilah mujmal tersebut. Akan disebutkan pula beberapa contohnya serta bagaimana ahli sunah menyikapinya dan memahami makna dari istilah tersebut. Metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat Allah Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat untuk Allah adalah sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut: Pertama: Dalam hal penetapan Menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, maupun tamtsil. Kedua: Dalam hal peniadaan Meniadakan apa yang telah ditiadakan oleh Allah dan rasul-Nya disertai meyakini adanya penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah yang merupakan kebalikan dari sifat yang ditiadakan tersebut. Ketiga: Dalam hal yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaaan Terkait istilah-istilah yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaanya dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti istilah jism, hayyiz, jihah, makan, dan semisalnya. Sikap ahli sunah adalah tawaqquf mengenai lafaznya, yaitu tidak menetapkan untuk Allah dan tidak pula meniadakannya dari Allah karena tidak terdapat dalil dalam hal ini. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud dari makna tersebut adalah makna batil, maka Allah tersucikan darinya dan ahli sunah menolak makna tersebut. Namun, apabila yang dimaksudkan dengannya adalah makna benar dan tidak bertentangan dengan kesempurnaan Allah, maka mereka menerimanya. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi Al-Hamawiyyah) Lafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaah Dalam buku-buku akidah, dibahas mengenai pembahasan istilah yang mujmal (الكلمات المجملة). Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait istilah-istilah yang mujmal ini, yaitu: Pertama: Yang dimaksud kalimat mujmal adalah kalimat yang digunakan oleh ahli ta’thil yang menolak sifat-sifat Allah dan sering digunakan juga oleh ahli kalam secara umum. Kedua: Disebut makna mujmal karena mengandung kemungkinan benar dan batil atau dalam lafaz ini terkumpul antara makna benar dan makna batil, sehingga maknanya masih samar. Tidak diketahui makna yang terkandung dalam lafaz tersebut, kecuali setelah dijelaskan secara rinci mengenai maknanya. Ketiga: Maksud dari ahli ta’thil menggunakan istilah seperti ini adalah sebagai batu loncatan untuk menolak sifat-sifat Allah dengan berdalih ingin menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan. Keempat: Alasan mereka melakukan hal ini karena ketidakmampuan mereka untuk melawan argumentasi ahli sunah dengan hujjah dalil sehingga mereka menggunakan metode ini. Kelima: Lafaz-lafaz yang mujmal ini sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, namun semata-mata merupakan istilah baru yang dilontarkan oleh ahli kalam. Keenam: Metode ahli sunah dalam menyikapi istilah mujmal ini, yaitu tawaqquf terhadap lafaznya dan memberikan perincian terhadap makna dari lafaz tersebut. (Rasa’ilu fil ‘Aqidah) Ada dua hal yang perlu diperhatikan mengenai sikap ahli sunah waljamaah dalam menyikapi lafaz mujmal: Pertama: Terkait lafaznya, maka sikap ahli sunah adalah tawaqquf, yaitu tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Contohnya lafaz jihah. Mereka tidak mengatakan Allah berada dalam jihah dan tidak pula mengatakan Allah tidak berada dalam jihah. Mereka tidak menetapkannya karena tidak terdapat dalil penetapannya dan mereka tidak meniadakannya karena juga tidak terdapat dalil peniadaannya baik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Kedua: Terkait makna dari lafaz-lafaz tersebut, maka hal ini perlu dirinci. Termasuk kaidah umum dalam ahli sunah terhadap lafaz yang mujmal, yaitu: bahwasanya lafaz mujmal yang mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil, maka tidak ditetapkan secara mutlak dan tidak ditiadakan secara mutlak; akan tetapi, perlu dirinci sehingga diketahui maksud dari makna tersebut. Apabila mengandung makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Tidak boleh meniadakan secara mutlak karena bisa jadi maknanya benar sehingga tidak boleh ditolak. Tidak pula langsung menerima maknanya secara mutlak karena bisa jadi mengandung makna batil sehingga tidak bisa diterima. Oleh karena itu, perlu dirinci berdasarkan apa yang dimaksud dari makna tersebut. Inilah sikap ahli sunah terhadap makna dari istilah yang mujmal. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Pada asalnya, kita harus meninggalkan penggunaan istilah mujmal yang merupakan istilah muhdas (istilah baru yang tidak dikenal oleh salaf saleh), seperti istilah: jihah, hayyiz, hudus, tarkib, jauhar, ‘arad, dan sebagainya. Tidak boleh menggunakan istilah-istilah ini ketika menjelaskan akidah ahli sunah waljamaah. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Hukum penggunaan istilah mujmal ini hanya boleh digunakan ketika terjadi perdebatan dengan ahli bid’ah dalam rangka membantah dan menjelaskan kekeliruan pemahaman mereka pada kondisi yang memang dibutuhkan. Adapun ketika menjelaskan keyakinan akidah ahli sunah waljamaah, maka wajib menggunakan istilah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis. Tidak boleh sama sekali menggunakan istilah mujmal ini karena tidak ada kebutuhan untuk menggunakannya. Oleh karena itu, tidak kita dapati para imam ahli sunah waljamaah ketika menjelaskan akidah menggunakan istilah-istilah tersebut. (Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatiha wa Ahkamuha) Bahkan, Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa penggunaan lafaz mujmal seperti lafaz jism termasuk bid’ah meskipun digunakan dalam makna yang sahih. Beliau berkata dalam kitab Bayan Talbisi Al-Jahmiyyah, “Adapun lafaz jism, maka ini termasuk bid’ah, baik dalam penetapannya maupun peniadaanya. Tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak pula terdapat dalam perkataan satu pun dari salaf saleh penggunaan lafaz jism dalam sifat Allah, baik itu dalam penetapan ataupun peniadaan.” (Al-‘Uqud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah) Berikutnya akan kami paparkan tiga contoh lafaz mujmal yang sering digunakan oleh ahli bid’ah dan bagaimana ahli sunah dalam menyikapinya, yaitu lafaz jihah, jism, dan hayyiz. Menyikapi lafaz jihah Mengenai lafaznya, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan tidak menetapkannya dan tidak pula meniadakannya. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci, karena makna jihah mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil. Lafaz jihah memiliki beberapa kemungkinan makna: Pertama: Apabila yang dimaksud dengan jihah adalah arah bawah, maka ini makna batil yang tidak sesuai dengan keagungan Allah. Hal ini juga bertentangan dengan sifat ‘uluw bagi Allah yang telah ditetapkan berdasar dalil dari Al-Qur’an, hadis, akal, fitrah, dan ijma’. Kedua: Apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di seluruh arah, Dia berada di dalam makhluk-Nya, dan Zat Allah berada di setiap tempat, maka ini tidak mungkin bagi Allah dan bertentangan dengan sifat ‘uluw. Ketiga: Jika yang dimaksud Allah tidak berada pada arah dan tempat, yaitu tidak berada di dalam alam maupun di luar alam, tidak bersatu dan tidak pula terpisah, tidak di atas dan tidak pula di bawah, maka ini juga makna batil karena yang seperti ini hakikatnya adalah sesuatu yang tidak ada. Keempat: Apabila yang dimaksud jihah adalah arah atas berupa makhluk yang meliputi Zat Allah, maka ini juga merupakan makna batil, karena Allah Maha Besar dan tidak diliputi oleh satupun makhluk-Nya. Kelima: Adapun apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di arah atas yang berada di luar alam (di luar seluruh makhluk-Nya) dan Dia istiwa’ di atas ‘Arsy dan terpisah dari makhluk-Nya, maka ini merupakan makna benar. Dalam hal ini, Allah berada di arah atas secara mutlak. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Akan tetapi, kita tidak boleh memberitakan Allah dengan lafaz ini yang mengandung makna kemungkinan benar dan batil. Kita hanya boleh menggunakan lafaz-lafaz yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadis, semisal dalam firman Allah, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.“ (QS. Al A’la: 1) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ “Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.“ (QS. Saba’: 23) يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka.“ (QS. An-Nahl: 50) Allah berada di atas ketinggian yang mutlak. Lafaz ‘uluw digunakan untuk Allah dalam Al-Qur’an dan hadis, bahkan sifat ‘uluw merupakan sifat paling agung yang banyak terdapat penetapannya dalam Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, tidak boleh meninggalkan lafaz yang sudah ditetapkan oleh syariat, yaitu ‘uluw dan menggantinya dengan lafaz yang mujmal dan tidak pernah digunakan oleh para salaf salih, semisal lafaz jihah. Tidak sepantasnya mengganti yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Baca juga: Metode Menetapkan Sifat-Sifat Allah Ta’ala Menyikapi lafaz jism Apakah Allah memiliki jism? Jawaban hal ini sesuai dengan kaidah yang sudah dibahas di atas. Dari sisi lafaz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Mereka tidak mengatakan Allah punya jism dan tidak pula mengatakan Allah tidak punya jism, karena di dalam Al-Qur’an maupun hadis tidak terdapat dalil yang menetapkan dan meniadakan. Adapun mengenai maknanya maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud jism adalah Allah memiliki tubuh atau jasad seperti makhluk yang merupakan bagian terbagi-bagi dan terpisah satu dengan yang lainnya, maka ini adalah penyataan mumatsilah yang menganggap bahwa jism Allah seperti jism makhluk. Mahasuci Allah dari persangkaan mereka. Ini merupakan kedustaan yang sangat besar dan maknanya batil. Allah Ta’ala berfirman, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.“ (QS. Asy-Syura: 11) Jika yang dimaksud jism adalah seperti tubuh makluk yang keberadaanya tersusun dari bagian-bagian organ yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, serta membutuhkan makan dan minum untuk keberlangsungan tubuh tersebut, maka ini juga merupakan makna batil dan tidak boleh ditetapkan untuk Allah. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah) Adapun apabila yang dimaksud jism adalah apa yang terdapat pada Zat Allah hakiki yang berdiri sendiri, seperti sifat wajah, tangan, mata, dan telapak kaki yang merupakan sifat kesempurnaan dan keagungan dari segala sisi, maka ini adalah makna yang benar. (Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Ibnu Al-‘Utsaimin) Namun, selayaknya tidak menggunakan istilah jism dan cukup menggunakan istilah zat dan sifat. Jadi cukup dikatakan bahwa Allah mempunyai zat dan sifat sebagaimana ditetapkan oleh ahli sunah. (Qowa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Menyikapi lafaz hayyiz Mengenai lafaz hayyiz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan diam, yaitu tidak menetapkan dan tidak pula meniadakan. Tidak dikatakan Allah punya hayyiz dan tidak pula dikatakan Allah tidak punya hayyiz karena tidak terdapat dalil yang menetapkan ataupun meniadakan. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud hayyiz adalah melingkupi sesuatu yang dilingkupi, yaitu berada di dalamnya dan menyatu, maka ini adalah makna yang batil. Tidak boleh meyakini demikian untuk Allah. Bahkan, mereka mengingkari al-hululiyyah yang menganggap Allah bersatu dengan sebagian zat makhluk-Nya, apalagi al-wujudiyyah/al-ittihadiyyah yang meyakini bahwa zat Allah adalah makhluk itu sendiri.  Ini adalah keyakinan kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam. Barangsiapa yang meyakini bahwa ada bagian dari mahkluk yang menyatu dengan zat Allah atau ada bagian dari zat Allah yang menyatu dengan sebagian makhluk-Nya, maka dia telah kafir dengan kufur kabar. Adapun apabila hayyiz bermakna terpisah dan tidak menyatu, maka ini adalah makna yang benar. Oleh karena itu, ahli sunah sepakat bahwa Allah terpisah dari mahkluk-Nya dan berada di atas seluruh makhluk, ber-istiwa’ di atas Arasy-Nya. Tidak ada bagian Zat Allah yang berada pada zat makhluk, dan tidak ada bagian zat makhluk yang berada pada Zat Allah. Zat Allah dan makhluk adalah dua zat yang terpisah karena Zat Allah berada pada ketinggian yang mutlak. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Kesimpulan Sebagai kesimpulan, bahwa ahli sunah waljamaah dalam akidah asma’ wa shifat adalah menetapkan dan meniadakan sesuai dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis dan berusaha meninggalkan lafaz yang tidak terdapat dalam keduanya. Adapun mengenai lafaz yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, yaitu diam dengan tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Adapun mengenai makna dari lafaz tersebut, maka perlu dirinci. Apabila makna yang dimaksudkan adalah makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Dengan memahami permasalahan ini dengan baik, maka jelaslah kebatilan ahli bid’ah yang sering menggunakan istilah mujmal untuk menuduh bahwa ketika ahli sunah waljamaah menetapkan sifat-sifat Allah, maka memberikan konsekuensi makna yang batil bagi Allah. Justru sebaliknya, tuduhan mereka keliru karena makna dari lafaz mujmal yang mereka gunakan ternyata memiliki makna yang sesuai dengan keagungan nama dan sifat Allah apabila dipahami dengan makna yang benar. Allahu a’lam. Baca juga: Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah *** Penyusun: Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Rasa’ilu fil-‘Aqidah, Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati, Syekh Walid bin Rasyid As-Su’aidan. Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid, Syekh Thoriq bin Sa’id bin ‘Abdillah Al-Qahthany. Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatihaa wa Ahkamuha, Syekh Muhammad bin ‘Abdirrahman Abu Sayyif Al-Juhany. Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Sulthan bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairy. Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
Daftar Isi Toggle PendahuluanMetode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat AllahLafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaahMenyikapi lafaz jihahMenyikapi lafaz jismMenyikapi lafaz hayyizKesimpulan Pendahuluan Di antara metode ahli bid’ah dalam menolak sifat-sifat Allah adalah menggunakan istilah yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak dikenal oleh para salaf saleh. Mereka menggunakan istilah yang mengandung makna mujmal (ambigu) sebagai alasan untuk menolak sifat-sifat Allah. Mereka beralasan bahwa makna dalam istilah tersebut merupakan konsekuensi dari makna sifat yang ditetapkan ahli sunah waljamaah, padahal makna tersebut merupakan makna batil menurut persangkaan mereka. Pada pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana sikap ahli sunah waljamaah terhadap istilah-istilah mujmal tersebut. Akan disebutkan pula beberapa contohnya serta bagaimana ahli sunah menyikapinya dan memahami makna dari istilah tersebut. Metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat Allah Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat untuk Allah adalah sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut: Pertama: Dalam hal penetapan Menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, maupun tamtsil. Kedua: Dalam hal peniadaan Meniadakan apa yang telah ditiadakan oleh Allah dan rasul-Nya disertai meyakini adanya penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah yang merupakan kebalikan dari sifat yang ditiadakan tersebut. Ketiga: Dalam hal yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaaan Terkait istilah-istilah yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaanya dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti istilah jism, hayyiz, jihah, makan, dan semisalnya. Sikap ahli sunah adalah tawaqquf mengenai lafaznya, yaitu tidak menetapkan untuk Allah dan tidak pula meniadakannya dari Allah karena tidak terdapat dalil dalam hal ini. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud dari makna tersebut adalah makna batil, maka Allah tersucikan darinya dan ahli sunah menolak makna tersebut. Namun, apabila yang dimaksudkan dengannya adalah makna benar dan tidak bertentangan dengan kesempurnaan Allah, maka mereka menerimanya. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi Al-Hamawiyyah) Lafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaah Dalam buku-buku akidah, dibahas mengenai pembahasan istilah yang mujmal (الكلمات المجملة). Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait istilah-istilah yang mujmal ini, yaitu: Pertama: Yang dimaksud kalimat mujmal adalah kalimat yang digunakan oleh ahli ta’thil yang menolak sifat-sifat Allah dan sering digunakan juga oleh ahli kalam secara umum. Kedua: Disebut makna mujmal karena mengandung kemungkinan benar dan batil atau dalam lafaz ini terkumpul antara makna benar dan makna batil, sehingga maknanya masih samar. Tidak diketahui makna yang terkandung dalam lafaz tersebut, kecuali setelah dijelaskan secara rinci mengenai maknanya. Ketiga: Maksud dari ahli ta’thil menggunakan istilah seperti ini adalah sebagai batu loncatan untuk menolak sifat-sifat Allah dengan berdalih ingin menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan. Keempat: Alasan mereka melakukan hal ini karena ketidakmampuan mereka untuk melawan argumentasi ahli sunah dengan hujjah dalil sehingga mereka menggunakan metode ini. Kelima: Lafaz-lafaz yang mujmal ini sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, namun semata-mata merupakan istilah baru yang dilontarkan oleh ahli kalam. Keenam: Metode ahli sunah dalam menyikapi istilah mujmal ini, yaitu tawaqquf terhadap lafaznya dan memberikan perincian terhadap makna dari lafaz tersebut. (Rasa’ilu fil ‘Aqidah) Ada dua hal yang perlu diperhatikan mengenai sikap ahli sunah waljamaah dalam menyikapi lafaz mujmal: Pertama: Terkait lafaznya, maka sikap ahli sunah adalah tawaqquf, yaitu tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Contohnya lafaz jihah. Mereka tidak mengatakan Allah berada dalam jihah dan tidak pula mengatakan Allah tidak berada dalam jihah. Mereka tidak menetapkannya karena tidak terdapat dalil penetapannya dan mereka tidak meniadakannya karena juga tidak terdapat dalil peniadaannya baik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Kedua: Terkait makna dari lafaz-lafaz tersebut, maka hal ini perlu dirinci. Termasuk kaidah umum dalam ahli sunah terhadap lafaz yang mujmal, yaitu: bahwasanya lafaz mujmal yang mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil, maka tidak ditetapkan secara mutlak dan tidak ditiadakan secara mutlak; akan tetapi, perlu dirinci sehingga diketahui maksud dari makna tersebut. Apabila mengandung makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Tidak boleh meniadakan secara mutlak karena bisa jadi maknanya benar sehingga tidak boleh ditolak. Tidak pula langsung menerima maknanya secara mutlak karena bisa jadi mengandung makna batil sehingga tidak bisa diterima. Oleh karena itu, perlu dirinci berdasarkan apa yang dimaksud dari makna tersebut. Inilah sikap ahli sunah terhadap makna dari istilah yang mujmal. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Pada asalnya, kita harus meninggalkan penggunaan istilah mujmal yang merupakan istilah muhdas (istilah baru yang tidak dikenal oleh salaf saleh), seperti istilah: jihah, hayyiz, hudus, tarkib, jauhar, ‘arad, dan sebagainya. Tidak boleh menggunakan istilah-istilah ini ketika menjelaskan akidah ahli sunah waljamaah. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Hukum penggunaan istilah mujmal ini hanya boleh digunakan ketika terjadi perdebatan dengan ahli bid’ah dalam rangka membantah dan menjelaskan kekeliruan pemahaman mereka pada kondisi yang memang dibutuhkan. Adapun ketika menjelaskan keyakinan akidah ahli sunah waljamaah, maka wajib menggunakan istilah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis. Tidak boleh sama sekali menggunakan istilah mujmal ini karena tidak ada kebutuhan untuk menggunakannya. Oleh karena itu, tidak kita dapati para imam ahli sunah waljamaah ketika menjelaskan akidah menggunakan istilah-istilah tersebut. (Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatiha wa Ahkamuha) Bahkan, Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa penggunaan lafaz mujmal seperti lafaz jism termasuk bid’ah meskipun digunakan dalam makna yang sahih. Beliau berkata dalam kitab Bayan Talbisi Al-Jahmiyyah, “Adapun lafaz jism, maka ini termasuk bid’ah, baik dalam penetapannya maupun peniadaanya. Tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak pula terdapat dalam perkataan satu pun dari salaf saleh penggunaan lafaz jism dalam sifat Allah, baik itu dalam penetapan ataupun peniadaan.” (Al-‘Uqud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah) Berikutnya akan kami paparkan tiga contoh lafaz mujmal yang sering digunakan oleh ahli bid’ah dan bagaimana ahli sunah dalam menyikapinya, yaitu lafaz jihah, jism, dan hayyiz. Menyikapi lafaz jihah Mengenai lafaznya, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan tidak menetapkannya dan tidak pula meniadakannya. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci, karena makna jihah mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil. Lafaz jihah memiliki beberapa kemungkinan makna: Pertama: Apabila yang dimaksud dengan jihah adalah arah bawah, maka ini makna batil yang tidak sesuai dengan keagungan Allah. Hal ini juga bertentangan dengan sifat ‘uluw bagi Allah yang telah ditetapkan berdasar dalil dari Al-Qur’an, hadis, akal, fitrah, dan ijma’. Kedua: Apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di seluruh arah, Dia berada di dalam makhluk-Nya, dan Zat Allah berada di setiap tempat, maka ini tidak mungkin bagi Allah dan bertentangan dengan sifat ‘uluw. Ketiga: Jika yang dimaksud Allah tidak berada pada arah dan tempat, yaitu tidak berada di dalam alam maupun di luar alam, tidak bersatu dan tidak pula terpisah, tidak di atas dan tidak pula di bawah, maka ini juga makna batil karena yang seperti ini hakikatnya adalah sesuatu yang tidak ada. Keempat: Apabila yang dimaksud jihah adalah arah atas berupa makhluk yang meliputi Zat Allah, maka ini juga merupakan makna batil, karena Allah Maha Besar dan tidak diliputi oleh satupun makhluk-Nya. Kelima: Adapun apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di arah atas yang berada di luar alam (di luar seluruh makhluk-Nya) dan Dia istiwa’ di atas ‘Arsy dan terpisah dari makhluk-Nya, maka ini merupakan makna benar. Dalam hal ini, Allah berada di arah atas secara mutlak. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Akan tetapi, kita tidak boleh memberitakan Allah dengan lafaz ini yang mengandung makna kemungkinan benar dan batil. Kita hanya boleh menggunakan lafaz-lafaz yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadis, semisal dalam firman Allah, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.“ (QS. Al A’la: 1) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ “Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.“ (QS. Saba’: 23) يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka.“ (QS. An-Nahl: 50) Allah berada di atas ketinggian yang mutlak. Lafaz ‘uluw digunakan untuk Allah dalam Al-Qur’an dan hadis, bahkan sifat ‘uluw merupakan sifat paling agung yang banyak terdapat penetapannya dalam Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, tidak boleh meninggalkan lafaz yang sudah ditetapkan oleh syariat, yaitu ‘uluw dan menggantinya dengan lafaz yang mujmal dan tidak pernah digunakan oleh para salaf salih, semisal lafaz jihah. Tidak sepantasnya mengganti yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Baca juga: Metode Menetapkan Sifat-Sifat Allah Ta’ala Menyikapi lafaz jism Apakah Allah memiliki jism? Jawaban hal ini sesuai dengan kaidah yang sudah dibahas di atas. Dari sisi lafaz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Mereka tidak mengatakan Allah punya jism dan tidak pula mengatakan Allah tidak punya jism, karena di dalam Al-Qur’an maupun hadis tidak terdapat dalil yang menetapkan dan meniadakan. Adapun mengenai maknanya maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud jism adalah Allah memiliki tubuh atau jasad seperti makhluk yang merupakan bagian terbagi-bagi dan terpisah satu dengan yang lainnya, maka ini adalah penyataan mumatsilah yang menganggap bahwa jism Allah seperti jism makhluk. Mahasuci Allah dari persangkaan mereka. Ini merupakan kedustaan yang sangat besar dan maknanya batil. Allah Ta’ala berfirman, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.“ (QS. Asy-Syura: 11) Jika yang dimaksud jism adalah seperti tubuh makluk yang keberadaanya tersusun dari bagian-bagian organ yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, serta membutuhkan makan dan minum untuk keberlangsungan tubuh tersebut, maka ini juga merupakan makna batil dan tidak boleh ditetapkan untuk Allah. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah) Adapun apabila yang dimaksud jism adalah apa yang terdapat pada Zat Allah hakiki yang berdiri sendiri, seperti sifat wajah, tangan, mata, dan telapak kaki yang merupakan sifat kesempurnaan dan keagungan dari segala sisi, maka ini adalah makna yang benar. (Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Ibnu Al-‘Utsaimin) Namun, selayaknya tidak menggunakan istilah jism dan cukup menggunakan istilah zat dan sifat. Jadi cukup dikatakan bahwa Allah mempunyai zat dan sifat sebagaimana ditetapkan oleh ahli sunah. (Qowa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Menyikapi lafaz hayyiz Mengenai lafaz hayyiz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan diam, yaitu tidak menetapkan dan tidak pula meniadakan. Tidak dikatakan Allah punya hayyiz dan tidak pula dikatakan Allah tidak punya hayyiz karena tidak terdapat dalil yang menetapkan ataupun meniadakan. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud hayyiz adalah melingkupi sesuatu yang dilingkupi, yaitu berada di dalamnya dan menyatu, maka ini adalah makna yang batil. Tidak boleh meyakini demikian untuk Allah. Bahkan, mereka mengingkari al-hululiyyah yang menganggap Allah bersatu dengan sebagian zat makhluk-Nya, apalagi al-wujudiyyah/al-ittihadiyyah yang meyakini bahwa zat Allah adalah makhluk itu sendiri.  Ini adalah keyakinan kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam. Barangsiapa yang meyakini bahwa ada bagian dari mahkluk yang menyatu dengan zat Allah atau ada bagian dari zat Allah yang menyatu dengan sebagian makhluk-Nya, maka dia telah kafir dengan kufur kabar. Adapun apabila hayyiz bermakna terpisah dan tidak menyatu, maka ini adalah makna yang benar. Oleh karena itu, ahli sunah sepakat bahwa Allah terpisah dari mahkluk-Nya dan berada di atas seluruh makhluk, ber-istiwa’ di atas Arasy-Nya. Tidak ada bagian Zat Allah yang berada pada zat makhluk, dan tidak ada bagian zat makhluk yang berada pada Zat Allah. Zat Allah dan makhluk adalah dua zat yang terpisah karena Zat Allah berada pada ketinggian yang mutlak. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Kesimpulan Sebagai kesimpulan, bahwa ahli sunah waljamaah dalam akidah asma’ wa shifat adalah menetapkan dan meniadakan sesuai dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis dan berusaha meninggalkan lafaz yang tidak terdapat dalam keduanya. Adapun mengenai lafaz yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, yaitu diam dengan tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Adapun mengenai makna dari lafaz tersebut, maka perlu dirinci. Apabila makna yang dimaksudkan adalah makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Dengan memahami permasalahan ini dengan baik, maka jelaslah kebatilan ahli bid’ah yang sering menggunakan istilah mujmal untuk menuduh bahwa ketika ahli sunah waljamaah menetapkan sifat-sifat Allah, maka memberikan konsekuensi makna yang batil bagi Allah. Justru sebaliknya, tuduhan mereka keliru karena makna dari lafaz mujmal yang mereka gunakan ternyata memiliki makna yang sesuai dengan keagungan nama dan sifat Allah apabila dipahami dengan makna yang benar. Allahu a’lam. Baca juga: Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah *** Penyusun: Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Rasa’ilu fil-‘Aqidah, Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati, Syekh Walid bin Rasyid As-Su’aidan. Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid, Syekh Thoriq bin Sa’id bin ‘Abdillah Al-Qahthany. Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatihaa wa Ahkamuha, Syekh Muhammad bin ‘Abdirrahman Abu Sayyif Al-Juhany. Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Sulthan bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairy. Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.


Daftar Isi Toggle PendahuluanMetode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat AllahLafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaahMenyikapi lafaz jihahMenyikapi lafaz jismMenyikapi lafaz hayyizKesimpulan Pendahuluan Di antara metode ahli bid’ah dalam menolak sifat-sifat Allah adalah menggunakan istilah yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak dikenal oleh para salaf saleh. Mereka menggunakan istilah yang mengandung makna mujmal (ambigu) sebagai alasan untuk menolak sifat-sifat Allah. Mereka beralasan bahwa makna dalam istilah tersebut merupakan konsekuensi dari makna sifat yang ditetapkan ahli sunah waljamaah, padahal makna tersebut merupakan makna batil menurut persangkaan mereka. Pada pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana sikap ahli sunah waljamaah terhadap istilah-istilah mujmal tersebut. Akan disebutkan pula beberapa contohnya serta bagaimana ahli sunah menyikapinya dan memahami makna dari istilah tersebut. Metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat Allah Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa metode ahli sunah waljamaah dalam menetapkan nama dan sifat untuk Allah adalah sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut: Pertama: Dalam hal penetapan Menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, maupun tamtsil. Kedua: Dalam hal peniadaan Meniadakan apa yang telah ditiadakan oleh Allah dan rasul-Nya disertai meyakini adanya penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah yang merupakan kebalikan dari sifat yang ditiadakan tersebut. Ketiga: Dalam hal yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaaan Terkait istilah-istilah yang tidak terdapat penetapan ataupun peniadaanya dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti istilah jism, hayyiz, jihah, makan, dan semisalnya. Sikap ahli sunah adalah tawaqquf mengenai lafaznya, yaitu tidak menetapkan untuk Allah dan tidak pula meniadakannya dari Allah karena tidak terdapat dalil dalam hal ini. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud dari makna tersebut adalah makna batil, maka Allah tersucikan darinya dan ahli sunah menolak makna tersebut. Namun, apabila yang dimaksudkan dengannya adalah makna benar dan tidak bertentangan dengan kesempurnaan Allah, maka mereka menerimanya. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi Al-Hamawiyyah) Lafaz mujmal dalam pandangan ahli sunah waljamaah Dalam buku-buku akidah, dibahas mengenai pembahasan istilah yang mujmal (الكلمات المجملة). Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait istilah-istilah yang mujmal ini, yaitu: Pertama: Yang dimaksud kalimat mujmal adalah kalimat yang digunakan oleh ahli ta’thil yang menolak sifat-sifat Allah dan sering digunakan juga oleh ahli kalam secara umum. Kedua: Disebut makna mujmal karena mengandung kemungkinan benar dan batil atau dalam lafaz ini terkumpul antara makna benar dan makna batil, sehingga maknanya masih samar. Tidak diketahui makna yang terkandung dalam lafaz tersebut, kecuali setelah dijelaskan secara rinci mengenai maknanya. Ketiga: Maksud dari ahli ta’thil menggunakan istilah seperti ini adalah sebagai batu loncatan untuk menolak sifat-sifat Allah dengan berdalih ingin menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan. Keempat: Alasan mereka melakukan hal ini karena ketidakmampuan mereka untuk melawan argumentasi ahli sunah dengan hujjah dalil sehingga mereka menggunakan metode ini. Kelima: Lafaz-lafaz yang mujmal ini sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, namun semata-mata merupakan istilah baru yang dilontarkan oleh ahli kalam. Keenam: Metode ahli sunah dalam menyikapi istilah mujmal ini, yaitu tawaqquf terhadap lafaznya dan memberikan perincian terhadap makna dari lafaz tersebut. (Rasa’ilu fil ‘Aqidah) Ada dua hal yang perlu diperhatikan mengenai sikap ahli sunah waljamaah dalam menyikapi lafaz mujmal: Pertama: Terkait lafaznya, maka sikap ahli sunah adalah tawaqquf, yaitu tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Contohnya lafaz jihah. Mereka tidak mengatakan Allah berada dalam jihah dan tidak pula mengatakan Allah tidak berada dalam jihah. Mereka tidak menetapkannya karena tidak terdapat dalil penetapannya dan mereka tidak meniadakannya karena juga tidak terdapat dalil peniadaannya baik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Kedua: Terkait makna dari lafaz-lafaz tersebut, maka hal ini perlu dirinci. Termasuk kaidah umum dalam ahli sunah terhadap lafaz yang mujmal, yaitu: bahwasanya lafaz mujmal yang mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil, maka tidak ditetapkan secara mutlak dan tidak ditiadakan secara mutlak; akan tetapi, perlu dirinci sehingga diketahui maksud dari makna tersebut. Apabila mengandung makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Tidak boleh meniadakan secara mutlak karena bisa jadi maknanya benar sehingga tidak boleh ditolak. Tidak pula langsung menerima maknanya secara mutlak karena bisa jadi mengandung makna batil sehingga tidak bisa diterima. Oleh karena itu, perlu dirinci berdasarkan apa yang dimaksud dari makna tersebut. Inilah sikap ahli sunah terhadap makna dari istilah yang mujmal. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Pada asalnya, kita harus meninggalkan penggunaan istilah mujmal yang merupakan istilah muhdas (istilah baru yang tidak dikenal oleh salaf saleh), seperti istilah: jihah, hayyiz, hudus, tarkib, jauhar, ‘arad, dan sebagainya. Tidak boleh menggunakan istilah-istilah ini ketika menjelaskan akidah ahli sunah waljamaah. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Hukum penggunaan istilah mujmal ini hanya boleh digunakan ketika terjadi perdebatan dengan ahli bid’ah dalam rangka membantah dan menjelaskan kekeliruan pemahaman mereka pada kondisi yang memang dibutuhkan. Adapun ketika menjelaskan keyakinan akidah ahli sunah waljamaah, maka wajib menggunakan istilah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis. Tidak boleh sama sekali menggunakan istilah mujmal ini karena tidak ada kebutuhan untuk menggunakannya. Oleh karena itu, tidak kita dapati para imam ahli sunah waljamaah ketika menjelaskan akidah menggunakan istilah-istilah tersebut. (Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatiha wa Ahkamuha) Bahkan, Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa penggunaan lafaz mujmal seperti lafaz jism termasuk bid’ah meskipun digunakan dalam makna yang sahih. Beliau berkata dalam kitab Bayan Talbisi Al-Jahmiyyah, “Adapun lafaz jism, maka ini termasuk bid’ah, baik dalam penetapannya maupun peniadaanya. Tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis serta tidak pula terdapat dalam perkataan satu pun dari salaf saleh penggunaan lafaz jism dalam sifat Allah, baik itu dalam penetapan ataupun peniadaan.” (Al-‘Uqud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah) Berikutnya akan kami paparkan tiga contoh lafaz mujmal yang sering digunakan oleh ahli bid’ah dan bagaimana ahli sunah dalam menyikapinya, yaitu lafaz jihah, jism, dan hayyiz. Menyikapi lafaz jihah Mengenai lafaznya, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan tidak menetapkannya dan tidak pula meniadakannya. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci, karena makna jihah mengandung kemungkinan makna benar dan makna batil. Lafaz jihah memiliki beberapa kemungkinan makna: Pertama: Apabila yang dimaksud dengan jihah adalah arah bawah, maka ini makna batil yang tidak sesuai dengan keagungan Allah. Hal ini juga bertentangan dengan sifat ‘uluw bagi Allah yang telah ditetapkan berdasar dalil dari Al-Qur’an, hadis, akal, fitrah, dan ijma’. Kedua: Apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di seluruh arah, Dia berada di dalam makhluk-Nya, dan Zat Allah berada di setiap tempat, maka ini tidak mungkin bagi Allah dan bertentangan dengan sifat ‘uluw. Ketiga: Jika yang dimaksud Allah tidak berada pada arah dan tempat, yaitu tidak berada di dalam alam maupun di luar alam, tidak bersatu dan tidak pula terpisah, tidak di atas dan tidak pula di bawah, maka ini juga makna batil karena yang seperti ini hakikatnya adalah sesuatu yang tidak ada. Keempat: Apabila yang dimaksud jihah adalah arah atas berupa makhluk yang meliputi Zat Allah, maka ini juga merupakan makna batil, karena Allah Maha Besar dan tidak diliputi oleh satupun makhluk-Nya. Kelima: Adapun apabila yang dimaksud jihah adalah Allah berada di arah atas yang berada di luar alam (di luar seluruh makhluk-Nya) dan Dia istiwa’ di atas ‘Arsy dan terpisah dari makhluk-Nya, maka ini merupakan makna benar. Dalam hal ini, Allah berada di arah atas secara mutlak. (Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid) Akan tetapi, kita tidak boleh memberitakan Allah dengan lafaz ini yang mengandung makna kemungkinan benar dan batil. Kita hanya boleh menggunakan lafaz-lafaz yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadis, semisal dalam firman Allah, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.“ (QS. Al A’la: 1) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ “Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.“ (QS. Saba’: 23) يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka.“ (QS. An-Nahl: 50) Allah berada di atas ketinggian yang mutlak. Lafaz ‘uluw digunakan untuk Allah dalam Al-Qur’an dan hadis, bahkan sifat ‘uluw merupakan sifat paling agung yang banyak terdapat penetapannya dalam Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, tidak boleh meninggalkan lafaz yang sudah ditetapkan oleh syariat, yaitu ‘uluw dan menggantinya dengan lafaz yang mujmal dan tidak pernah digunakan oleh para salaf salih, semisal lafaz jihah. Tidak sepantasnya mengganti yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Baca juga: Metode Menetapkan Sifat-Sifat Allah Ta’ala Menyikapi lafaz jism Apakah Allah memiliki jism? Jawaban hal ini sesuai dengan kaidah yang sudah dibahas di atas. Dari sisi lafaz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Mereka tidak mengatakan Allah punya jism dan tidak pula mengatakan Allah tidak punya jism, karena di dalam Al-Qur’an maupun hadis tidak terdapat dalil yang menetapkan dan meniadakan. Adapun mengenai maknanya maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud jism adalah Allah memiliki tubuh atau jasad seperti makhluk yang merupakan bagian terbagi-bagi dan terpisah satu dengan yang lainnya, maka ini adalah penyataan mumatsilah yang menganggap bahwa jism Allah seperti jism makhluk. Mahasuci Allah dari persangkaan mereka. Ini merupakan kedustaan yang sangat besar dan maknanya batil. Allah Ta’ala berfirman, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.“ (QS. Asy-Syura: 11) Jika yang dimaksud jism adalah seperti tubuh makluk yang keberadaanya tersusun dari bagian-bagian organ yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, serta membutuhkan makan dan minum untuk keberlangsungan tubuh tersebut, maka ini juga merupakan makna batil dan tidak boleh ditetapkan untuk Allah. (Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah) Adapun apabila yang dimaksud jism adalah apa yang terdapat pada Zat Allah hakiki yang berdiri sendiri, seperti sifat wajah, tangan, mata, dan telapak kaki yang merupakan sifat kesempurnaan dan keagungan dari segala sisi, maka ini adalah makna yang benar. (Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Ibnu Al-‘Utsaimin) Namun, selayaknya tidak menggunakan istilah jism dan cukup menggunakan istilah zat dan sifat. Jadi cukup dikatakan bahwa Allah mempunyai zat dan sifat sebagaimana ditetapkan oleh ahli sunah. (Qowa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Menyikapi lafaz hayyiz Mengenai lafaz hayyiz, maka ahli sunah bersikap tawaqquf dengan diam, yaitu tidak menetapkan dan tidak pula meniadakan. Tidak dikatakan Allah punya hayyiz dan tidak pula dikatakan Allah tidak punya hayyiz karena tidak terdapat dalil yang menetapkan ataupun meniadakan. Adapun mengenai maknanya, maka perlu dirinci. Jika yang dimaksud hayyiz adalah melingkupi sesuatu yang dilingkupi, yaitu berada di dalamnya dan menyatu, maka ini adalah makna yang batil. Tidak boleh meyakini demikian untuk Allah. Bahkan, mereka mengingkari al-hululiyyah yang menganggap Allah bersatu dengan sebagian zat makhluk-Nya, apalagi al-wujudiyyah/al-ittihadiyyah yang meyakini bahwa zat Allah adalah makhluk itu sendiri.  Ini adalah keyakinan kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam. Barangsiapa yang meyakini bahwa ada bagian dari mahkluk yang menyatu dengan zat Allah atau ada bagian dari zat Allah yang menyatu dengan sebagian makhluk-Nya, maka dia telah kafir dengan kufur kabar. Adapun apabila hayyiz bermakna terpisah dan tidak menyatu, maka ini adalah makna yang benar. Oleh karena itu, ahli sunah sepakat bahwa Allah terpisah dari mahkluk-Nya dan berada di atas seluruh makhluk, ber-istiwa’ di atas Arasy-Nya. Tidak ada bagian Zat Allah yang berada pada zat makhluk, dan tidak ada bagian zat makhluk yang berada pada Zat Allah. Zat Allah dan makhluk adalah dua zat yang terpisah karena Zat Allah berada pada ketinggian yang mutlak. (Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati) Kesimpulan Sebagai kesimpulan, bahwa ahli sunah waljamaah dalam akidah asma’ wa shifat adalah menetapkan dan meniadakan sesuai dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis dan berusaha meninggalkan lafaz yang tidak terdapat dalam keduanya. Adapun mengenai lafaz yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, maka ahli sunah bersikap tawaqquf, yaitu diam dengan tidak menetapkan dan tidak meniadakan. Adapun mengenai makna dari lafaz tersebut, maka perlu dirinci. Apabila makna yang dimaksudkan adalah makna benar, maka diterima; namun apabila mengandung makna batil, maka ditolak. Dengan memahami permasalahan ini dengan baik, maka jelaslah kebatilan ahli bid’ah yang sering menggunakan istilah mujmal untuk menuduh bahwa ketika ahli sunah waljamaah menetapkan sifat-sifat Allah, maka memberikan konsekuensi makna yang batil bagi Allah. Justru sebaliknya, tuduhan mereka keliru karena makna dari lafaz mujmal yang mereka gunakan ternyata memiliki makna yang sesuai dengan keagungan nama dan sifat Allah apabila dipahami dengan makna yang benar. Allahu a’lam. Baca juga: Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah *** Penyusun: Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Syarhu Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhisi Al-Hamawiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Rasa’ilu fil-‘Aqidah, Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Qawa’idu fi Tauhidi Ar-Rububiyyah wal-Uluhiyyah wal-Asma’i was-Shifati, Syekh Walid bin Rasyid As-Su’aidan. Al-Mufid fi Qawa’idi At-Tauhid, Syekh Thoriq bin Sa’id bin ‘Abdillah Al-Qahthany. Adillatu Shifatillahi wa Wujuhu Dalalatihaa wa Ahkamuha, Syekh Muhammad bin ‘Abdirrahman Abu Sayyif Al-Juhany. Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘ala Maqasid Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Sulthan bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairy. Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?

Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.   Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan: Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh. Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.   Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Nasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ. “Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan: لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. ‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33) Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?” Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83) Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا. “Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207) Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328)   2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Terkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan: Pendapat Pertama: Mereka di Surga Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96). Dalil mereka: Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan, أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركين Nabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640) Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda, يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997). Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di Neraka Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87) Dalil mereka: Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120). Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah. Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib Mereka Pendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim. Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660) Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659) Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di Surga Sebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279) Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di Akhirat Pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir. Dalil mereka: Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya). Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.” Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah.   Kesimpulan Hadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33) Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup. Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam. – 8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat

Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?

Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.   Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan: Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh. Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.   Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Nasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ. “Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan: لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. ‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33) Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?” Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83) Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا. “Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207) Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328)   2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Terkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan: Pendapat Pertama: Mereka di Surga Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96). Dalil mereka: Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan, أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركين Nabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640) Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda, يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997). Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di Neraka Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87) Dalil mereka: Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120). Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah. Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib Mereka Pendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim. Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660) Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659) Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di Surga Sebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279) Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di Akhirat Pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir. Dalil mereka: Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya). Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.” Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah.   Kesimpulan Hadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33) Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup. Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam. – 8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat
Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.   Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan: Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh. Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.   Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Nasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ. “Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan: لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. ‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33) Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?” Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83) Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا. “Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207) Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328)   2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Terkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan: Pendapat Pertama: Mereka di Surga Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96). Dalil mereka: Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan, أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركين Nabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640) Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda, يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997). Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di Neraka Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87) Dalil mereka: Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120). Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah. Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib Mereka Pendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim. Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660) Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659) Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di Surga Sebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279) Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di Akhirat Pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir. Dalil mereka: Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya). Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.” Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah.   Kesimpulan Hadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33) Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup. Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam. – 8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat


Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.   Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan: Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh. Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.   Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Nasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ. “Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan: لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. ‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33) Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?” Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83) Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا. “Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207) Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328)   2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh Terkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan: Pendapat Pertama: Mereka di Surga Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96). Dalil mereka: Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan, أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركين Nabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640) Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda, يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997). Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di Neraka Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87) Dalil mereka: Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120). Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah. Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib Mereka Pendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim. Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ. Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660) Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659) Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di Surga Sebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279) Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di Akhirat Pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir. Dalil mereka: Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya). Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.” Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah.   Kesimpulan Hadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33) Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup. Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam. – 8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat

Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Orang yang Berbuat Dosa (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Memberi harapanPertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻKedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besarKetiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosaKeempat: Pentingnya lingkungan yang baikKelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaikJangan sampai terlena dengan harapan Memberi harapan Kehidupan akhir zaman semakin menyudutkan kita dengan berbagai godaan maksiat yang kian tak terbendung. Seringkali kita terjegal di dalamnya, baik karena tidak sengaja maupun sengaja disebabkan dorongan syahwat. Sehingga, akhirnya dosa maksiat melingkupi keseluruhan hidup kita dan menenggelamkan dari cahaya iman. Para pendosa senantiasa dilingkupi oleh kegelapan dosa yang dilakukannya. Ketika dosa itu pertama kali dilakukan, akan mudah disadari bahwa ini adalah suatu perbuatan yang tidak benar. Namun, lama-kelamaan para pendosa tidak lagi merasakan pahitnya dosa. Karena hatinya telah menghitam seluruhnya, sebab dosa bagaikan noktah hitam yang menutupi hati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.” (HR. Tirmidzi no. 3334. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Sehingga, tatkala hati kecil memperingatkan untuk kembali kepada Allah ﷻ, jiwa tidak dapat meresponnya. Sebab, ia telah merasa begitu jauh dari Allah ﷻ dan tidak mungkin lagi diterima oleh Rabbnya. Terkadang setan pun membisikkan agar putus asa dari ampunan Allah ﷻ. Inilah hantaman dosa jangka panjang yang Allah ﷻ firmankan, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14) Ketahuilah bahwa keterpurukan dalam dosa telah meredupkan cahaya iman dan harapan pengampunan. Pernahkah kita bertanya mengapa banyak anak muda yang sedang mengalami masalah dalam kehidupannya justru dekat dengan kehidupan yang rusak seperti narkoba dan lainnya? Menurut testimoni yang kami ketahui, karena mereka merasa diterima di kalangan ini. Para bandar memberikan harapan bahwa mereka bisa lepas dari masalahnya hanya dengan menggunakan narkoba. Tipu daya ini juga digunakan oleh Iblis kepada Adam ‘alaihis salam, yakni harapan kekekalan dengan memakan buah terlarang di surga. Maka, jika para penipu dan pembuat kerusakan berhasil dengan metode ini, maka para penyeru kebaikan hendaknya lebih pandai dalam menggunakan metode ini. Maka, penting bagi kita untuk menjadi support system untuk para pendosa agar cahaya iman terus menyala di hati. Sehingga, ketika maksiat terus menggerogoti hati seorang hamba, masih ada antibodi iman yang dapat memberikan perlawanan dan menyembuhkan. Pada tulisan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ selalu berorientasi kepada kepentingan pendosa yang diwujudkan dalam upaya memberikan solusi atas masalahnya. Kali ini kita akan menyelami hikmah penyikapan Nabi ﷺ kepada para pendosa, yakni berusaha memberikan harapan kepada mereka. Terdapat buah hikmah yang begitu mendalam dari kisah tentang pembunuh 100 nyawa. Dalam sebuah hadis dari sahabat yang mulia, Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menceritakan, “Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu, ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun, ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas, ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?’ Rahib pun menjawabnya, ‘Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.’ Lalu, orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian, ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas, ia bertanya pada alim tersebut, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya, masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’ Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Namun, malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Lalu, datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia. Mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu, mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, rohnya pun dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766) Dari hadis tersebut, kita bisa mengambil faedah cara menyikapi orang yang melakukan dosa dari Nabi ﷺ. Pertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻ Nabi ﷺ memberikan pelajaran dari kisah orang alim yang merespon dosa yang begitu besarnya itu dengan memberikan harapan. Pembunuh 100 nyawa itu sempat terputus harapannya tatkala hanya neraka yang disodorkan di hadapannya. Sedangkan sang alim, dengan keilmuannya, ia memberitahukan bahwa masih ada harapan bagi orang tersebut untuk diampuni dengan cara bertobat. Memberikan harapan bagi pendosa adalah metode Allah ﷻ. Dalam QS. Az Zumar: 53, Allah ﷻ berfirman, قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam riwayat lain, Allah ﷻ memberikan harapan ampunan kepada para pendosa, meskipun dosa itu telah dilakukan berulang kali. Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ﷻ, أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ “Ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.’ ” (HR. Muslim no. 2758) Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ tentang diri-Nya sendiri yang senantiasa membuka pintu tobat bagi hamba-Nya. Allah ﷻ dalam sebuah hadis qudsi berfirman dengan makna, قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” Kedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besar Bukanlah metode dakwah yang benar jika seseorang hanya memberi ancaman neraka saja kepada para pendosa. Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, metode mengancam di level memastikan orang tersebut tidak akan diampuni oleh Allah ﷻ adalah hal yang fatal. Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك. وفي حديث أبي هريرة: أن القائل رجل عابد، قال أبو هريرة: “تكلم بكلمة أوبقت دنياه وآخرته“. “Seorang lelaki berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Allah berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.’ ” Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa orang yang berbicara ini adalah lelaki ahli ibadah. Abu Hurairah berkata, “Ia berbicara dengan kata-kata yang menghanguskan dunia dan akhiratnya.” Memastikan seorang tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ adalah perkataan yang melampaui batas dan tidak didasarkan dengan ilmu. Padahal, berkata tentang Allah ﷻ yang tidak berdasarkan ilmu adalah dosa yang lebih besar, bahkan dari syirik sekalipun. Allah ﷻ berfirman, قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).” (QS. Al-A’raf: 33) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah ﷻ telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu, baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar, bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah) Ketiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosa Tidak cukup dengan memberikan harapan kepada seorang pendosa, tetapi hendaknya juga memberikan panduan agar seseorang diampuni dan tidak terjerumus kembali kepada dosanya. Simaklah jawaban sang alim tersebut kepada sang pembunuh, “Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” Setelah memberikan pengharapan kepadanya, sang alim pertama kali mengajaknya untuk bertobat dan meyakinkannya bahwa tobatnya tidak akan terhalangi oleh siapapun. Kemudian ia memberikan arahan agar meninggalkan lingkungannya dan mencari tempat berkehidupan yang lebih baik. Keempat: Pentingnya lingkungan yang baik Langkah strategis yang dinasihatkan oleh sang alim adalah mencari lingkungan yang lebih baik. Karena bergemul di lingkungan lama yang buruk akan mempersulit seseorang untuk melakukan perubahan. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, قال العلماء : في هذا استحباب مفارقة التائب المواضع التي أصاب بها الذنوب، والأخدان المساعدين له على ذلك ومقاطعتهم ما داموا على حالهم “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran bagi orang yang bertobat untuk meninggalkan tempat-tempat di mana ia melakukan dosa, serta meninggalkan teman-teman yang membantunya dalam perbuatan tersebut, dan memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih dalam keadaan yang sama.” وأن يستبدل بهم صحبة أهل الخير والصلاح والعلماء والمتعبدين الورعين ومن يقتدي بهم ، وينتفع بصحبتهم ، وتتأكد بذلك توبته “Sebaliknya, ia dianjurkan untuk menggantinya dengan berteman dengan orang-orang saleh, ulama, ahli ibadah yang wara’, dan orang-orang yang dapat dijadikan teladan, serta memberikan manfaat dari pergaulan mereka. Dengan cara ini, tobatnya akan semakin kuat dan lebih terjaga.” (Syarah Shahih Muslim, 17: 237; via islamweb.net) Kelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaik Ketahuilah, bahkan harapan itu terbuka untuk para pendosa mencapai level terbaik. Bukankah sebaik-baik generasi adalah generasinya para sahabat radhiyallahu anhum? Apakah mereka semua adalah seorang yang suci dan tidak pernah berbuat dosa? Orang terbaik kedua di kalangan sahabat, yakni Umar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang sangat memusuhi dakwah Nabi ﷺ. Tentu ini bukanlah dosa yang main-main. Namun, setelah bertobat dan menerima Islam, tidak ada yang dapat menutupi fakta bahwa Umar adalah salah satu yang terbaik di kalangan para sahabat. Bukankah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu salah satu pelaku dosa? Namun, akhirnya ia dikenal sebagai seorang singa, panglima perang Islam. Termasuk pula salah satu kisah tobat terbaik, yakni Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang tidak mengikuti perang tanpa uzur syar’i. Padahal, sudah ada iman di dalam hatinya, tetapi sebab setan yang mengajak hawa nafsunya untuk menunda kebaikan, hingga akhirnya ia sama sekali tidak berangkat ke Perang Tabuk. Namun, pada akhirnya dengan sebab kejujuran Ka’ab, justru ia menjadi pemenang dalam pertobatannya. Dan masih banyak keteladanan yang seharusnya menjadi motivasi bagi para pendosa untuk bangkit kembali dan memperkuat keimanannya. Jangan sampai terlena dengan harapan Namun, jangan sampai juga seorang untuk terlena dengan luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya. Hal ini yang diperingatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, yakni jangan sampai seorang itu menjadi maghrur, yakni tertipu dengan janji Allah ﷻ Sebab, tidak hanya janji indah Allah saja yang pasti, tetapi azab-Nya pun pasti terjadi. Maka, berimbanglah dalam menyampaikan. Akan tetapi, dalam urutan menyampaikannya, pilihlah metode menyampaikan yang sesuai dengan kondisi orangnya. Apakah hendak memulainya dengan harapan ataukah ancaman? Hal ini bisa ditinjau dari pribadi orang tersebut, apakah ia baru sekali saja melakukan ini ataukah sudah berulang? Perlu juga diperhatikan apakah pribadinya lemah ataukah justru termotivasi dengan ngerinya ancaman. Jika memberikan harapan justru kontraproduktif, maka ancamanlah yang harus dikedepankan, begitu juga sebaliknya. Dalam banyak kondisi, sebetulnya para pendosa di akhir perbuatannya justru banyak menyesal dan terpuruk. Maka, janganlah menambah keterpurukan mereka dengan kekhawatiran, berilah harapan! Sebagaimana Nabi ﷺ adalah sebaik-baik teladan, beliau tidak hanya memberikan pengharapan pada pelaku dosanya, tetapi juga kepada keturunannya. Sebagaimana dalam kisah kezaliman penduduk Thaif, Nabi ﷺ menjawab tawaran Jibril ‘alaihis salam untuk menghancurkan mereka dengan harapan yang begitu indah, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795) Pernahkah kita mendoakan para pelaku dosa atau bahkan orang yang menzalimi kita dengan doa kebaikan hingga kepada keturunannya? Ini bukan hanya hak Allah ﷻ yang dilanggar, tetapi juga hak pribadi Nabi ﷺ yang tidak punya kepentingan, kecuali kepentingan kebaikan umatnya ini. Namun, sebab kebersihan hati Nabi ﷺ yang datang dari rahmat Allah ﷻ sehingga beliau bisa berdoa dengan doa yang begitu indah tersebut. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Glenshah Fauzi Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Nabi Sang Penyayang, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, terj. Mohd. Suri Sudahri, S.Pd.I. dan Rony Nugroho, Pustaka Al-Kautsar. I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/11496/29 Syarah An-Nawawi, 17: 237; via islamweb.net Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/98093/105#p1

Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Orang yang Berbuat Dosa (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Memberi harapanPertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻKedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besarKetiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosaKeempat: Pentingnya lingkungan yang baikKelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaikJangan sampai terlena dengan harapan Memberi harapan Kehidupan akhir zaman semakin menyudutkan kita dengan berbagai godaan maksiat yang kian tak terbendung. Seringkali kita terjegal di dalamnya, baik karena tidak sengaja maupun sengaja disebabkan dorongan syahwat. Sehingga, akhirnya dosa maksiat melingkupi keseluruhan hidup kita dan menenggelamkan dari cahaya iman. Para pendosa senantiasa dilingkupi oleh kegelapan dosa yang dilakukannya. Ketika dosa itu pertama kali dilakukan, akan mudah disadari bahwa ini adalah suatu perbuatan yang tidak benar. Namun, lama-kelamaan para pendosa tidak lagi merasakan pahitnya dosa. Karena hatinya telah menghitam seluruhnya, sebab dosa bagaikan noktah hitam yang menutupi hati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.” (HR. Tirmidzi no. 3334. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Sehingga, tatkala hati kecil memperingatkan untuk kembali kepada Allah ﷻ, jiwa tidak dapat meresponnya. Sebab, ia telah merasa begitu jauh dari Allah ﷻ dan tidak mungkin lagi diterima oleh Rabbnya. Terkadang setan pun membisikkan agar putus asa dari ampunan Allah ﷻ. Inilah hantaman dosa jangka panjang yang Allah ﷻ firmankan, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14) Ketahuilah bahwa keterpurukan dalam dosa telah meredupkan cahaya iman dan harapan pengampunan. Pernahkah kita bertanya mengapa banyak anak muda yang sedang mengalami masalah dalam kehidupannya justru dekat dengan kehidupan yang rusak seperti narkoba dan lainnya? Menurut testimoni yang kami ketahui, karena mereka merasa diterima di kalangan ini. Para bandar memberikan harapan bahwa mereka bisa lepas dari masalahnya hanya dengan menggunakan narkoba. Tipu daya ini juga digunakan oleh Iblis kepada Adam ‘alaihis salam, yakni harapan kekekalan dengan memakan buah terlarang di surga. Maka, jika para penipu dan pembuat kerusakan berhasil dengan metode ini, maka para penyeru kebaikan hendaknya lebih pandai dalam menggunakan metode ini. Maka, penting bagi kita untuk menjadi support system untuk para pendosa agar cahaya iman terus menyala di hati. Sehingga, ketika maksiat terus menggerogoti hati seorang hamba, masih ada antibodi iman yang dapat memberikan perlawanan dan menyembuhkan. Pada tulisan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ selalu berorientasi kepada kepentingan pendosa yang diwujudkan dalam upaya memberikan solusi atas masalahnya. Kali ini kita akan menyelami hikmah penyikapan Nabi ﷺ kepada para pendosa, yakni berusaha memberikan harapan kepada mereka. Terdapat buah hikmah yang begitu mendalam dari kisah tentang pembunuh 100 nyawa. Dalam sebuah hadis dari sahabat yang mulia, Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menceritakan, “Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu, ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun, ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas, ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?’ Rahib pun menjawabnya, ‘Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.’ Lalu, orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian, ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas, ia bertanya pada alim tersebut, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya, masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’ Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Namun, malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Lalu, datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia. Mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu, mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, rohnya pun dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766) Dari hadis tersebut, kita bisa mengambil faedah cara menyikapi orang yang melakukan dosa dari Nabi ﷺ. Pertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻ Nabi ﷺ memberikan pelajaran dari kisah orang alim yang merespon dosa yang begitu besarnya itu dengan memberikan harapan. Pembunuh 100 nyawa itu sempat terputus harapannya tatkala hanya neraka yang disodorkan di hadapannya. Sedangkan sang alim, dengan keilmuannya, ia memberitahukan bahwa masih ada harapan bagi orang tersebut untuk diampuni dengan cara bertobat. Memberikan harapan bagi pendosa adalah metode Allah ﷻ. Dalam QS. Az Zumar: 53, Allah ﷻ berfirman, قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam riwayat lain, Allah ﷻ memberikan harapan ampunan kepada para pendosa, meskipun dosa itu telah dilakukan berulang kali. Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ﷻ, أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ “Ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.’ ” (HR. Muslim no. 2758) Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ tentang diri-Nya sendiri yang senantiasa membuka pintu tobat bagi hamba-Nya. Allah ﷻ dalam sebuah hadis qudsi berfirman dengan makna, قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” Kedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besar Bukanlah metode dakwah yang benar jika seseorang hanya memberi ancaman neraka saja kepada para pendosa. Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, metode mengancam di level memastikan orang tersebut tidak akan diampuni oleh Allah ﷻ adalah hal yang fatal. Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك. وفي حديث أبي هريرة: أن القائل رجل عابد، قال أبو هريرة: “تكلم بكلمة أوبقت دنياه وآخرته“. “Seorang lelaki berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Allah berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.’ ” Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa orang yang berbicara ini adalah lelaki ahli ibadah. Abu Hurairah berkata, “Ia berbicara dengan kata-kata yang menghanguskan dunia dan akhiratnya.” Memastikan seorang tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ adalah perkataan yang melampaui batas dan tidak didasarkan dengan ilmu. Padahal, berkata tentang Allah ﷻ yang tidak berdasarkan ilmu adalah dosa yang lebih besar, bahkan dari syirik sekalipun. Allah ﷻ berfirman, قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).” (QS. Al-A’raf: 33) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah ﷻ telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu, baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar, bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah) Ketiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosa Tidak cukup dengan memberikan harapan kepada seorang pendosa, tetapi hendaknya juga memberikan panduan agar seseorang diampuni dan tidak terjerumus kembali kepada dosanya. Simaklah jawaban sang alim tersebut kepada sang pembunuh, “Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” Setelah memberikan pengharapan kepadanya, sang alim pertama kali mengajaknya untuk bertobat dan meyakinkannya bahwa tobatnya tidak akan terhalangi oleh siapapun. Kemudian ia memberikan arahan agar meninggalkan lingkungannya dan mencari tempat berkehidupan yang lebih baik. Keempat: Pentingnya lingkungan yang baik Langkah strategis yang dinasihatkan oleh sang alim adalah mencari lingkungan yang lebih baik. Karena bergemul di lingkungan lama yang buruk akan mempersulit seseorang untuk melakukan perubahan. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, قال العلماء : في هذا استحباب مفارقة التائب المواضع التي أصاب بها الذنوب، والأخدان المساعدين له على ذلك ومقاطعتهم ما داموا على حالهم “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran bagi orang yang bertobat untuk meninggalkan tempat-tempat di mana ia melakukan dosa, serta meninggalkan teman-teman yang membantunya dalam perbuatan tersebut, dan memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih dalam keadaan yang sama.” وأن يستبدل بهم صحبة أهل الخير والصلاح والعلماء والمتعبدين الورعين ومن يقتدي بهم ، وينتفع بصحبتهم ، وتتأكد بذلك توبته “Sebaliknya, ia dianjurkan untuk menggantinya dengan berteman dengan orang-orang saleh, ulama, ahli ibadah yang wara’, dan orang-orang yang dapat dijadikan teladan, serta memberikan manfaat dari pergaulan mereka. Dengan cara ini, tobatnya akan semakin kuat dan lebih terjaga.” (Syarah Shahih Muslim, 17: 237; via islamweb.net) Kelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaik Ketahuilah, bahkan harapan itu terbuka untuk para pendosa mencapai level terbaik. Bukankah sebaik-baik generasi adalah generasinya para sahabat radhiyallahu anhum? Apakah mereka semua adalah seorang yang suci dan tidak pernah berbuat dosa? Orang terbaik kedua di kalangan sahabat, yakni Umar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang sangat memusuhi dakwah Nabi ﷺ. Tentu ini bukanlah dosa yang main-main. Namun, setelah bertobat dan menerima Islam, tidak ada yang dapat menutupi fakta bahwa Umar adalah salah satu yang terbaik di kalangan para sahabat. Bukankah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu salah satu pelaku dosa? Namun, akhirnya ia dikenal sebagai seorang singa, panglima perang Islam. Termasuk pula salah satu kisah tobat terbaik, yakni Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang tidak mengikuti perang tanpa uzur syar’i. Padahal, sudah ada iman di dalam hatinya, tetapi sebab setan yang mengajak hawa nafsunya untuk menunda kebaikan, hingga akhirnya ia sama sekali tidak berangkat ke Perang Tabuk. Namun, pada akhirnya dengan sebab kejujuran Ka’ab, justru ia menjadi pemenang dalam pertobatannya. Dan masih banyak keteladanan yang seharusnya menjadi motivasi bagi para pendosa untuk bangkit kembali dan memperkuat keimanannya. Jangan sampai terlena dengan harapan Namun, jangan sampai juga seorang untuk terlena dengan luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya. Hal ini yang diperingatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, yakni jangan sampai seorang itu menjadi maghrur, yakni tertipu dengan janji Allah ﷻ Sebab, tidak hanya janji indah Allah saja yang pasti, tetapi azab-Nya pun pasti terjadi. Maka, berimbanglah dalam menyampaikan. Akan tetapi, dalam urutan menyampaikannya, pilihlah metode menyampaikan yang sesuai dengan kondisi orangnya. Apakah hendak memulainya dengan harapan ataukah ancaman? Hal ini bisa ditinjau dari pribadi orang tersebut, apakah ia baru sekali saja melakukan ini ataukah sudah berulang? Perlu juga diperhatikan apakah pribadinya lemah ataukah justru termotivasi dengan ngerinya ancaman. Jika memberikan harapan justru kontraproduktif, maka ancamanlah yang harus dikedepankan, begitu juga sebaliknya. Dalam banyak kondisi, sebetulnya para pendosa di akhir perbuatannya justru banyak menyesal dan terpuruk. Maka, janganlah menambah keterpurukan mereka dengan kekhawatiran, berilah harapan! Sebagaimana Nabi ﷺ adalah sebaik-baik teladan, beliau tidak hanya memberikan pengharapan pada pelaku dosanya, tetapi juga kepada keturunannya. Sebagaimana dalam kisah kezaliman penduduk Thaif, Nabi ﷺ menjawab tawaran Jibril ‘alaihis salam untuk menghancurkan mereka dengan harapan yang begitu indah, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795) Pernahkah kita mendoakan para pelaku dosa atau bahkan orang yang menzalimi kita dengan doa kebaikan hingga kepada keturunannya? Ini bukan hanya hak Allah ﷻ yang dilanggar, tetapi juga hak pribadi Nabi ﷺ yang tidak punya kepentingan, kecuali kepentingan kebaikan umatnya ini. Namun, sebab kebersihan hati Nabi ﷺ yang datang dari rahmat Allah ﷻ sehingga beliau bisa berdoa dengan doa yang begitu indah tersebut. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Glenshah Fauzi Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Nabi Sang Penyayang, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, terj. Mohd. Suri Sudahri, S.Pd.I. dan Rony Nugroho, Pustaka Al-Kautsar. I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/11496/29 Syarah An-Nawawi, 17: 237; via islamweb.net Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/98093/105#p1
Daftar Isi Toggle Memberi harapanPertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻKedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besarKetiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosaKeempat: Pentingnya lingkungan yang baikKelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaikJangan sampai terlena dengan harapan Memberi harapan Kehidupan akhir zaman semakin menyudutkan kita dengan berbagai godaan maksiat yang kian tak terbendung. Seringkali kita terjegal di dalamnya, baik karena tidak sengaja maupun sengaja disebabkan dorongan syahwat. Sehingga, akhirnya dosa maksiat melingkupi keseluruhan hidup kita dan menenggelamkan dari cahaya iman. Para pendosa senantiasa dilingkupi oleh kegelapan dosa yang dilakukannya. Ketika dosa itu pertama kali dilakukan, akan mudah disadari bahwa ini adalah suatu perbuatan yang tidak benar. Namun, lama-kelamaan para pendosa tidak lagi merasakan pahitnya dosa. Karena hatinya telah menghitam seluruhnya, sebab dosa bagaikan noktah hitam yang menutupi hati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.” (HR. Tirmidzi no. 3334. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Sehingga, tatkala hati kecil memperingatkan untuk kembali kepada Allah ﷻ, jiwa tidak dapat meresponnya. Sebab, ia telah merasa begitu jauh dari Allah ﷻ dan tidak mungkin lagi diterima oleh Rabbnya. Terkadang setan pun membisikkan agar putus asa dari ampunan Allah ﷻ. Inilah hantaman dosa jangka panjang yang Allah ﷻ firmankan, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14) Ketahuilah bahwa keterpurukan dalam dosa telah meredupkan cahaya iman dan harapan pengampunan. Pernahkah kita bertanya mengapa banyak anak muda yang sedang mengalami masalah dalam kehidupannya justru dekat dengan kehidupan yang rusak seperti narkoba dan lainnya? Menurut testimoni yang kami ketahui, karena mereka merasa diterima di kalangan ini. Para bandar memberikan harapan bahwa mereka bisa lepas dari masalahnya hanya dengan menggunakan narkoba. Tipu daya ini juga digunakan oleh Iblis kepada Adam ‘alaihis salam, yakni harapan kekekalan dengan memakan buah terlarang di surga. Maka, jika para penipu dan pembuat kerusakan berhasil dengan metode ini, maka para penyeru kebaikan hendaknya lebih pandai dalam menggunakan metode ini. Maka, penting bagi kita untuk menjadi support system untuk para pendosa agar cahaya iman terus menyala di hati. Sehingga, ketika maksiat terus menggerogoti hati seorang hamba, masih ada antibodi iman yang dapat memberikan perlawanan dan menyembuhkan. Pada tulisan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ selalu berorientasi kepada kepentingan pendosa yang diwujudkan dalam upaya memberikan solusi atas masalahnya. Kali ini kita akan menyelami hikmah penyikapan Nabi ﷺ kepada para pendosa, yakni berusaha memberikan harapan kepada mereka. Terdapat buah hikmah yang begitu mendalam dari kisah tentang pembunuh 100 nyawa. Dalam sebuah hadis dari sahabat yang mulia, Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menceritakan, “Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu, ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun, ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas, ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?’ Rahib pun menjawabnya, ‘Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.’ Lalu, orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian, ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas, ia bertanya pada alim tersebut, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya, masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’ Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Namun, malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Lalu, datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia. Mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu, mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, rohnya pun dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766) Dari hadis tersebut, kita bisa mengambil faedah cara menyikapi orang yang melakukan dosa dari Nabi ﷺ. Pertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻ Nabi ﷺ memberikan pelajaran dari kisah orang alim yang merespon dosa yang begitu besarnya itu dengan memberikan harapan. Pembunuh 100 nyawa itu sempat terputus harapannya tatkala hanya neraka yang disodorkan di hadapannya. Sedangkan sang alim, dengan keilmuannya, ia memberitahukan bahwa masih ada harapan bagi orang tersebut untuk diampuni dengan cara bertobat. Memberikan harapan bagi pendosa adalah metode Allah ﷻ. Dalam QS. Az Zumar: 53, Allah ﷻ berfirman, قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam riwayat lain, Allah ﷻ memberikan harapan ampunan kepada para pendosa, meskipun dosa itu telah dilakukan berulang kali. Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ﷻ, أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ “Ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.’ ” (HR. Muslim no. 2758) Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ tentang diri-Nya sendiri yang senantiasa membuka pintu tobat bagi hamba-Nya. Allah ﷻ dalam sebuah hadis qudsi berfirman dengan makna, قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” Kedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besar Bukanlah metode dakwah yang benar jika seseorang hanya memberi ancaman neraka saja kepada para pendosa. Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, metode mengancam di level memastikan orang tersebut tidak akan diampuni oleh Allah ﷻ adalah hal yang fatal. Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك. وفي حديث أبي هريرة: أن القائل رجل عابد، قال أبو هريرة: “تكلم بكلمة أوبقت دنياه وآخرته“. “Seorang lelaki berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Allah berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.’ ” Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa orang yang berbicara ini adalah lelaki ahli ibadah. Abu Hurairah berkata, “Ia berbicara dengan kata-kata yang menghanguskan dunia dan akhiratnya.” Memastikan seorang tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ adalah perkataan yang melampaui batas dan tidak didasarkan dengan ilmu. Padahal, berkata tentang Allah ﷻ yang tidak berdasarkan ilmu adalah dosa yang lebih besar, bahkan dari syirik sekalipun. Allah ﷻ berfirman, قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).” (QS. Al-A’raf: 33) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah ﷻ telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu, baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar, bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah) Ketiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosa Tidak cukup dengan memberikan harapan kepada seorang pendosa, tetapi hendaknya juga memberikan panduan agar seseorang diampuni dan tidak terjerumus kembali kepada dosanya. Simaklah jawaban sang alim tersebut kepada sang pembunuh, “Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” Setelah memberikan pengharapan kepadanya, sang alim pertama kali mengajaknya untuk bertobat dan meyakinkannya bahwa tobatnya tidak akan terhalangi oleh siapapun. Kemudian ia memberikan arahan agar meninggalkan lingkungannya dan mencari tempat berkehidupan yang lebih baik. Keempat: Pentingnya lingkungan yang baik Langkah strategis yang dinasihatkan oleh sang alim adalah mencari lingkungan yang lebih baik. Karena bergemul di lingkungan lama yang buruk akan mempersulit seseorang untuk melakukan perubahan. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, قال العلماء : في هذا استحباب مفارقة التائب المواضع التي أصاب بها الذنوب، والأخدان المساعدين له على ذلك ومقاطعتهم ما داموا على حالهم “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran bagi orang yang bertobat untuk meninggalkan tempat-tempat di mana ia melakukan dosa, serta meninggalkan teman-teman yang membantunya dalam perbuatan tersebut, dan memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih dalam keadaan yang sama.” وأن يستبدل بهم صحبة أهل الخير والصلاح والعلماء والمتعبدين الورعين ومن يقتدي بهم ، وينتفع بصحبتهم ، وتتأكد بذلك توبته “Sebaliknya, ia dianjurkan untuk menggantinya dengan berteman dengan orang-orang saleh, ulama, ahli ibadah yang wara’, dan orang-orang yang dapat dijadikan teladan, serta memberikan manfaat dari pergaulan mereka. Dengan cara ini, tobatnya akan semakin kuat dan lebih terjaga.” (Syarah Shahih Muslim, 17: 237; via islamweb.net) Kelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaik Ketahuilah, bahkan harapan itu terbuka untuk para pendosa mencapai level terbaik. Bukankah sebaik-baik generasi adalah generasinya para sahabat radhiyallahu anhum? Apakah mereka semua adalah seorang yang suci dan tidak pernah berbuat dosa? Orang terbaik kedua di kalangan sahabat, yakni Umar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang sangat memusuhi dakwah Nabi ﷺ. Tentu ini bukanlah dosa yang main-main. Namun, setelah bertobat dan menerima Islam, tidak ada yang dapat menutupi fakta bahwa Umar adalah salah satu yang terbaik di kalangan para sahabat. Bukankah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu salah satu pelaku dosa? Namun, akhirnya ia dikenal sebagai seorang singa, panglima perang Islam. Termasuk pula salah satu kisah tobat terbaik, yakni Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang tidak mengikuti perang tanpa uzur syar’i. Padahal, sudah ada iman di dalam hatinya, tetapi sebab setan yang mengajak hawa nafsunya untuk menunda kebaikan, hingga akhirnya ia sama sekali tidak berangkat ke Perang Tabuk. Namun, pada akhirnya dengan sebab kejujuran Ka’ab, justru ia menjadi pemenang dalam pertobatannya. Dan masih banyak keteladanan yang seharusnya menjadi motivasi bagi para pendosa untuk bangkit kembali dan memperkuat keimanannya. Jangan sampai terlena dengan harapan Namun, jangan sampai juga seorang untuk terlena dengan luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya. Hal ini yang diperingatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, yakni jangan sampai seorang itu menjadi maghrur, yakni tertipu dengan janji Allah ﷻ Sebab, tidak hanya janji indah Allah saja yang pasti, tetapi azab-Nya pun pasti terjadi. Maka, berimbanglah dalam menyampaikan. Akan tetapi, dalam urutan menyampaikannya, pilihlah metode menyampaikan yang sesuai dengan kondisi orangnya. Apakah hendak memulainya dengan harapan ataukah ancaman? Hal ini bisa ditinjau dari pribadi orang tersebut, apakah ia baru sekali saja melakukan ini ataukah sudah berulang? Perlu juga diperhatikan apakah pribadinya lemah ataukah justru termotivasi dengan ngerinya ancaman. Jika memberikan harapan justru kontraproduktif, maka ancamanlah yang harus dikedepankan, begitu juga sebaliknya. Dalam banyak kondisi, sebetulnya para pendosa di akhir perbuatannya justru banyak menyesal dan terpuruk. Maka, janganlah menambah keterpurukan mereka dengan kekhawatiran, berilah harapan! Sebagaimana Nabi ﷺ adalah sebaik-baik teladan, beliau tidak hanya memberikan pengharapan pada pelaku dosanya, tetapi juga kepada keturunannya. Sebagaimana dalam kisah kezaliman penduduk Thaif, Nabi ﷺ menjawab tawaran Jibril ‘alaihis salam untuk menghancurkan mereka dengan harapan yang begitu indah, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795) Pernahkah kita mendoakan para pelaku dosa atau bahkan orang yang menzalimi kita dengan doa kebaikan hingga kepada keturunannya? Ini bukan hanya hak Allah ﷻ yang dilanggar, tetapi juga hak pribadi Nabi ﷺ yang tidak punya kepentingan, kecuali kepentingan kebaikan umatnya ini. Namun, sebab kebersihan hati Nabi ﷺ yang datang dari rahmat Allah ﷻ sehingga beliau bisa berdoa dengan doa yang begitu indah tersebut. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Glenshah Fauzi Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Nabi Sang Penyayang, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, terj. Mohd. Suri Sudahri, S.Pd.I. dan Rony Nugroho, Pustaka Al-Kautsar. I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/11496/29 Syarah An-Nawawi, 17: 237; via islamweb.net Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/98093/105#p1


Daftar Isi Toggle Memberi harapanPertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻKedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besarKetiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosaKeempat: Pentingnya lingkungan yang baikKelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaikJangan sampai terlena dengan harapan Memberi harapan Kehidupan akhir zaman semakin menyudutkan kita dengan berbagai godaan maksiat yang kian tak terbendung. Seringkali kita terjegal di dalamnya, baik karena tidak sengaja maupun sengaja disebabkan dorongan syahwat. Sehingga, akhirnya dosa maksiat melingkupi keseluruhan hidup kita dan menenggelamkan dari cahaya iman. Para pendosa senantiasa dilingkupi oleh kegelapan dosa yang dilakukannya. Ketika dosa itu pertama kali dilakukan, akan mudah disadari bahwa ini adalah suatu perbuatan yang tidak benar. Namun, lama-kelamaan para pendosa tidak lagi merasakan pahitnya dosa. Karena hatinya telah menghitam seluruhnya, sebab dosa bagaikan noktah hitam yang menutupi hati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.” (HR. Tirmidzi no. 3334. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Sehingga, tatkala hati kecil memperingatkan untuk kembali kepada Allah ﷻ, jiwa tidak dapat meresponnya. Sebab, ia telah merasa begitu jauh dari Allah ﷻ dan tidak mungkin lagi diterima oleh Rabbnya. Terkadang setan pun membisikkan agar putus asa dari ampunan Allah ﷻ. Inilah hantaman dosa jangka panjang yang Allah ﷻ firmankan, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14) Ketahuilah bahwa keterpurukan dalam dosa telah meredupkan cahaya iman dan harapan pengampunan. Pernahkah kita bertanya mengapa banyak anak muda yang sedang mengalami masalah dalam kehidupannya justru dekat dengan kehidupan yang rusak seperti narkoba dan lainnya? Menurut testimoni yang kami ketahui, karena mereka merasa diterima di kalangan ini. Para bandar memberikan harapan bahwa mereka bisa lepas dari masalahnya hanya dengan menggunakan narkoba. Tipu daya ini juga digunakan oleh Iblis kepada Adam ‘alaihis salam, yakni harapan kekekalan dengan memakan buah terlarang di surga. Maka, jika para penipu dan pembuat kerusakan berhasil dengan metode ini, maka para penyeru kebaikan hendaknya lebih pandai dalam menggunakan metode ini. Maka, penting bagi kita untuk menjadi support system untuk para pendosa agar cahaya iman terus menyala di hati. Sehingga, ketika maksiat terus menggerogoti hati seorang hamba, masih ada antibodi iman yang dapat memberikan perlawanan dan menyembuhkan. Pada tulisan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ selalu berorientasi kepada kepentingan pendosa yang diwujudkan dalam upaya memberikan solusi atas masalahnya. Kali ini kita akan menyelami hikmah penyikapan Nabi ﷺ kepada para pendosa, yakni berusaha memberikan harapan kepada mereka. Terdapat buah hikmah yang begitu mendalam dari kisah tentang pembunuh 100 nyawa. Dalam sebuah hadis dari sahabat yang mulia, Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menceritakan, “Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu, ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun, ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas, ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?’ Rahib pun menjawabnya, ‘Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.’ Lalu, orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Kemudian, ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas, ia bertanya pada alim tersebut, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya, masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’ Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Namun, malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Lalu, datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia. Mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu, mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, rohnya pun dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766) Dari hadis tersebut, kita bisa mengambil faedah cara menyikapi orang yang melakukan dosa dari Nabi ﷺ. Pertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻ Nabi ﷺ memberikan pelajaran dari kisah orang alim yang merespon dosa yang begitu besarnya itu dengan memberikan harapan. Pembunuh 100 nyawa itu sempat terputus harapannya tatkala hanya neraka yang disodorkan di hadapannya. Sedangkan sang alim, dengan keilmuannya, ia memberitahukan bahwa masih ada harapan bagi orang tersebut untuk diampuni dengan cara bertobat. Memberikan harapan bagi pendosa adalah metode Allah ﷻ. Dalam QS. Az Zumar: 53, Allah ﷻ berfirman, قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam riwayat lain, Allah ﷻ memberikan harapan ampunan kepada para pendosa, meskipun dosa itu telah dilakukan berulang kali. Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ﷻ, أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ “Ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.’ ” (HR. Muslim no. 2758) Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ tentang diri-Nya sendiri yang senantiasa membuka pintu tobat bagi hamba-Nya. Allah ﷻ dalam sebuah hadis qudsi berfirman dengan makna, قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” Kedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besar Bukanlah metode dakwah yang benar jika seseorang hanya memberi ancaman neraka saja kepada para pendosa. Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, metode mengancam di level memastikan orang tersebut tidak akan diampuni oleh Allah ﷻ adalah hal yang fatal. Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك. وفي حديث أبي هريرة: أن القائل رجل عابد، قال أبو هريرة: “تكلم بكلمة أوبقت دنياه وآخرته“. “Seorang lelaki berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Allah berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.’ ” Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa orang yang berbicara ini adalah lelaki ahli ibadah. Abu Hurairah berkata, “Ia berbicara dengan kata-kata yang menghanguskan dunia dan akhiratnya.” Memastikan seorang tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ adalah perkataan yang melampaui batas dan tidak didasarkan dengan ilmu. Padahal, berkata tentang Allah ﷻ yang tidak berdasarkan ilmu adalah dosa yang lebih besar, bahkan dari syirik sekalipun. Allah ﷻ berfirman, قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).” (QS. Al-A’raf: 33) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah ﷻ telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu, baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar, bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah) Ketiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosa Tidak cukup dengan memberikan harapan kepada seorang pendosa, tetapi hendaknya juga memberikan panduan agar seseorang diampuni dan tidak terjerumus kembali kepada dosanya. Simaklah jawaban sang alim tersebut kepada sang pembunuh, “Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” Setelah memberikan pengharapan kepadanya, sang alim pertama kali mengajaknya untuk bertobat dan meyakinkannya bahwa tobatnya tidak akan terhalangi oleh siapapun. Kemudian ia memberikan arahan agar meninggalkan lingkungannya dan mencari tempat berkehidupan yang lebih baik. Keempat: Pentingnya lingkungan yang baik Langkah strategis yang dinasihatkan oleh sang alim adalah mencari lingkungan yang lebih baik. Karena bergemul di lingkungan lama yang buruk akan mempersulit seseorang untuk melakukan perubahan. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, قال العلماء : في هذا استحباب مفارقة التائب المواضع التي أصاب بها الذنوب، والأخدان المساعدين له على ذلك ومقاطعتهم ما داموا على حالهم “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran bagi orang yang bertobat untuk meninggalkan tempat-tempat di mana ia melakukan dosa, serta meninggalkan teman-teman yang membantunya dalam perbuatan tersebut, dan memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih dalam keadaan yang sama.” وأن يستبدل بهم صحبة أهل الخير والصلاح والعلماء والمتعبدين الورعين ومن يقتدي بهم ، وينتفع بصحبتهم ، وتتأكد بذلك توبته “Sebaliknya, ia dianjurkan untuk menggantinya dengan berteman dengan orang-orang saleh, ulama, ahli ibadah yang wara’, dan orang-orang yang dapat dijadikan teladan, serta memberikan manfaat dari pergaulan mereka. Dengan cara ini, tobatnya akan semakin kuat dan lebih terjaga.” (Syarah Shahih Muslim, 17: 237; via islamweb.net) Kelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaik Ketahuilah, bahkan harapan itu terbuka untuk para pendosa mencapai level terbaik. Bukankah sebaik-baik generasi adalah generasinya para sahabat radhiyallahu anhum? Apakah mereka semua adalah seorang yang suci dan tidak pernah berbuat dosa? Orang terbaik kedua di kalangan sahabat, yakni Umar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang sangat memusuhi dakwah Nabi ﷺ. Tentu ini bukanlah dosa yang main-main. Namun, setelah bertobat dan menerima Islam, tidak ada yang dapat menutupi fakta bahwa Umar adalah salah satu yang terbaik di kalangan para sahabat. Bukankah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu salah satu pelaku dosa? Namun, akhirnya ia dikenal sebagai seorang singa, panglima perang Islam. Termasuk pula salah satu kisah tobat terbaik, yakni Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang tidak mengikuti perang tanpa uzur syar’i. Padahal, sudah ada iman di dalam hatinya, tetapi sebab setan yang mengajak hawa nafsunya untuk menunda kebaikan, hingga akhirnya ia sama sekali tidak berangkat ke Perang Tabuk. Namun, pada akhirnya dengan sebab kejujuran Ka’ab, justru ia menjadi pemenang dalam pertobatannya. Dan masih banyak keteladanan yang seharusnya menjadi motivasi bagi para pendosa untuk bangkit kembali dan memperkuat keimanannya. Jangan sampai terlena dengan harapan Namun, jangan sampai juga seorang untuk terlena dengan luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya. Hal ini yang diperingatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, yakni jangan sampai seorang itu menjadi maghrur, yakni tertipu dengan janji Allah ﷻ Sebab, tidak hanya janji indah Allah saja yang pasti, tetapi azab-Nya pun pasti terjadi. Maka, berimbanglah dalam menyampaikan. Akan tetapi, dalam urutan menyampaikannya, pilihlah metode menyampaikan yang sesuai dengan kondisi orangnya. Apakah hendak memulainya dengan harapan ataukah ancaman? Hal ini bisa ditinjau dari pribadi orang tersebut, apakah ia baru sekali saja melakukan ini ataukah sudah berulang? Perlu juga diperhatikan apakah pribadinya lemah ataukah justru termotivasi dengan ngerinya ancaman. Jika memberikan harapan justru kontraproduktif, maka ancamanlah yang harus dikedepankan, begitu juga sebaliknya. Dalam banyak kondisi, sebetulnya para pendosa di akhir perbuatannya justru banyak menyesal dan terpuruk. Maka, janganlah menambah keterpurukan mereka dengan kekhawatiran, berilah harapan! Sebagaimana Nabi ﷺ adalah sebaik-baik teladan, beliau tidak hanya memberikan pengharapan pada pelaku dosanya, tetapi juga kepada keturunannya. Sebagaimana dalam kisah kezaliman penduduk Thaif, Nabi ﷺ menjawab tawaran Jibril ‘alaihis salam untuk menghancurkan mereka dengan harapan yang begitu indah, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795) Pernahkah kita mendoakan para pelaku dosa atau bahkan orang yang menzalimi kita dengan doa kebaikan hingga kepada keturunannya? Ini bukan hanya hak Allah ﷻ yang dilanggar, tetapi juga hak pribadi Nabi ﷺ yang tidak punya kepentingan, kecuali kepentingan kebaikan umatnya ini. Namun, sebab kebersihan hati Nabi ﷺ yang datang dari rahmat Allah ﷻ sehingga beliau bisa berdoa dengan doa yang begitu indah tersebut. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Glenshah Fauzi Artikel: Muslim.or.id   Referensi: Nabi Sang Penyayang, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, terj. Mohd. Suri Sudahri, S.Pd.I. dan Rony Nugroho, Pustaka Al-Kautsar. I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/11496/29 Syarah An-Nawawi, 17: 237; via islamweb.net Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, baca selengkapnya di: https://shamela.ws/book/98093/105#p1

Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?

Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan:Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh.Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.  Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum BalighNasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan:لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33)Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?”Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا.“Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207)Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328) 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum BalighTerkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan:Pendapat Pertama: Mereka di SurgaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96).Dalil mereka:Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan,أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركينNabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640)Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda,يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997).Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di NerakaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87)Dalil mereka:Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120).Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah.Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib MerekaPendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim.Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ.Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660)Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659)Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di SurgaSebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279)Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di AkhiratPendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir.Dalil mereka:Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:“يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya).Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.”Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah. KesimpulanHadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33)Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup.Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam.–8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat

Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?

Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan:Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh.Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.  Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum BalighNasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan:لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33)Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?”Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا.“Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207)Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328) 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum BalighTerkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan:Pendapat Pertama: Mereka di SurgaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96).Dalil mereka:Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan,أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركينNabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640)Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda,يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997).Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di NerakaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87)Dalil mereka:Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120).Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah.Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib MerekaPendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim.Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ.Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660)Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659)Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di SurgaSebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279)Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di AkhiratPendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir.Dalil mereka:Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:“يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya).Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.”Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah. KesimpulanHadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33)Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup.Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam.–8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat
Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan:Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh.Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.  Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum BalighNasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan:لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33)Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?”Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا.“Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207)Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328) 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum BalighTerkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan:Pendapat Pertama: Mereka di SurgaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96).Dalil mereka:Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan,أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركينNabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640)Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda,يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997).Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di NerakaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87)Dalil mereka:Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120).Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah.Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib MerekaPendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim.Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ.Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660)Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659)Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di SurgaSebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279)Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di AkhiratPendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir.Dalil mereka:Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:“يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya).Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.”Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah. KesimpulanHadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33)Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup.Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam.–8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat


Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan:Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh.Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.  Daftar Isi tutup 1. 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 2. 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh 3. Kesimpulan 1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum BalighNasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan:لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33)Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?”Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا.“Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207)Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328) 2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum BalighTerkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan:Pendapat Pertama: Mereka di SurgaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96).Dalil mereka:Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan,أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركينNabi ﷺ melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640)Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi ﷺ bersabda,يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة “Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997).Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di NerakaSebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87)Dalil mereka:Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi ﷺ menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120).Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah.Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib MerekaPendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim.Dalil mereka: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ.Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660)Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659)Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di SurgaSebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279)Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di AkhiratPendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir.Dalil mereka:Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:“يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”. “Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya).Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat ini adalah yang paling adil dan mampu menggabungkan seluruh dalil yang ada.”Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah. KesimpulanHadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33)Adapun sabda Nabi ﷺ: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan,” bukan berarti kita harus berhenti dalam pembahasan ini, melainkan menunjukkan bahwa Allah mengetahui hakikat amal mereka seandainya mereka hidup.Dengan demikian, nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh adalah perkara yang memiliki banyak pendapat di kalangan ulama. Yang pasti, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan rahmat-Nya. Sebagai Muslim, yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalankan syariat dengan baik dan menyerahkan segala urusan yang ghaib kepada Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Wallahu a’lam.–8 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsanak kafir meninggal anak kecil anak kecil dalam Islam anak kecil di akhirat anak muslim meninggal anak non-muslim meninggal anak-anak dan taklif anak-anak di akhirat anak-anak di surga hadis tentang anak kecil hadis ujian anak di akhirat hukum anak kecil dalam Islam keadilan Allah terhadap anak kecil nasib anak sebelum baligh pendapat ulama tentang anak kecil pendapat ulama tentang anak musyrik surga dan anak kecil tafsir juz amma takdir anak-anak ujian anak di akhirat

Cara Mudah Dapat 1000 Pahala Dalam Sehari (Hanya 2 Menit) – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #nasehatulama

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari bersabda kepada para sahabat yang duduk bersama beliau: “Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu meraih seribu kebaikan dalam sehari?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara meraih seribu kebaikan?” Beliau bersabda: “Hendaklah ia bertasbih seratus kali, maka akan dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu keburukan.” (HR. Ibnu Hibban). Subhanallah! Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH dan mengulanginya seratus kali, kamu mendapatkan seribu pahala kebaikan atau dihapus darimu seribu dosa keburukan. Ini menunjukkan betapa besarnya karunia dan kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya, dan menunjukkan bahwa jalan kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Berapa waktu dan usaha yang kamu butuhkan untuk mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali? Meskipun hanya sebentar, kamu bisa mendapat seribu pahala kebaikan. Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali, kamu mendapat seribu kebaikan atau dihapus darimu seribu keburukan. Apabila kamu tambah dengan lafaz WABIHAMDIHI maka itu lebih utama dan lebih besar pahalanya: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH. Jadi, ruang lingkup kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Ini bisa kamu lakukan kapan pun dan di mana pun. Kamu dapat bertasbih saat berada di jalan, saat rebahan di atas kasurmu, ketika berada di suatu majelis. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. Ibadah dengan bertasbih adalah salah satu ibadah terbesar dan teragung. Oleh sebab itu, ibadah ini Allah ‘Azza wa Jalla pilih untuk makhluk-Nya. “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. al-Isra: 44). Mengapa Allah berfirman: “…bertasbih dengan memuji-Nya…” dan tidak berfirman dengan lafaz bertahmid, menauhidkan Allah, bertakbir kepada Allah, atau mengucap hauqalah (la haula wa la quwwata illa billah)? Allah memilih ibadah tasbih ini, karena besarnya derajat dan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan besarnya pahala dan ganjarannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. === جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا لِجُلَسَائِهِ أَيَعْجَزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِئَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ سُبْحَانَ اللَّهِ يَعْنِي عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ فَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِحْسَانِهِ لِعِبَادِهِ وَأَنَّ طُرُقَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ كَمْ تَأْخُذُ مِنْكَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ؟ كَمْ تَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ وَمَعَ ذَلِكَ تَكْسِبُ بِهَا أَلْفَ حَسَنَةٍ عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَإِذَا قَارَنْتَهَا بِـ”وَبِحَمْدِهِ” كَانَ ذَلِكَ أَفْضَلَ وَأَعْظَمَ أَجْرًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فَمَجَالَاتُ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ وَيُمْكِنُ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فِي أَيِّ وَقْتٍ وَفِي أَيِّ مَكَانٍ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الطَّرِيقِ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ مُضْطَجِعٌ عَلَى سَرِيْرِكَ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الْمَجْلِسِ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ فَعِبَادَةُ التَّسْبِيحِ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ الْعِبَادَاتِ وَلِهَذَا اخْتَارَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَخْلُوقَاتِهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ لِمَاذَا قَالَ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَمْ يَقُلْ يَحْمَدُ اللَّهَ أَوْ يُوَحِّدُ اللَّهَ أَوْ يُكَبِّرُ مَثَلًا أَوْ يُحَوْقِلُ إِنَّمَا اخْتَارَ عِبَادَةَ التَّسْبِيحِ لِعَظِيْمِ شَأْنِهَا وَعَظِيْمِ مَكَانَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا يَقْتَضِي عَظِيْمَ أَجْرِهَا وَثَوَابِهَا عِنْدَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ

Cara Mudah Dapat 1000 Pahala Dalam Sehari (Hanya 2 Menit) – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #nasehatulama

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari bersabda kepada para sahabat yang duduk bersama beliau: “Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu meraih seribu kebaikan dalam sehari?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara meraih seribu kebaikan?” Beliau bersabda: “Hendaklah ia bertasbih seratus kali, maka akan dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu keburukan.” (HR. Ibnu Hibban). Subhanallah! Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH dan mengulanginya seratus kali, kamu mendapatkan seribu pahala kebaikan atau dihapus darimu seribu dosa keburukan. Ini menunjukkan betapa besarnya karunia dan kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya, dan menunjukkan bahwa jalan kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Berapa waktu dan usaha yang kamu butuhkan untuk mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali? Meskipun hanya sebentar, kamu bisa mendapat seribu pahala kebaikan. Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali, kamu mendapat seribu kebaikan atau dihapus darimu seribu keburukan. Apabila kamu tambah dengan lafaz WABIHAMDIHI maka itu lebih utama dan lebih besar pahalanya: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH. Jadi, ruang lingkup kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Ini bisa kamu lakukan kapan pun dan di mana pun. Kamu dapat bertasbih saat berada di jalan, saat rebahan di atas kasurmu, ketika berada di suatu majelis. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. Ibadah dengan bertasbih adalah salah satu ibadah terbesar dan teragung. Oleh sebab itu, ibadah ini Allah ‘Azza wa Jalla pilih untuk makhluk-Nya. “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. al-Isra: 44). Mengapa Allah berfirman: “…bertasbih dengan memuji-Nya…” dan tidak berfirman dengan lafaz bertahmid, menauhidkan Allah, bertakbir kepada Allah, atau mengucap hauqalah (la haula wa la quwwata illa billah)? Allah memilih ibadah tasbih ini, karena besarnya derajat dan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan besarnya pahala dan ganjarannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. === جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا لِجُلَسَائِهِ أَيَعْجَزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِئَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ سُبْحَانَ اللَّهِ يَعْنِي عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ فَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِحْسَانِهِ لِعِبَادِهِ وَأَنَّ طُرُقَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ كَمْ تَأْخُذُ مِنْكَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ؟ كَمْ تَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ وَمَعَ ذَلِكَ تَكْسِبُ بِهَا أَلْفَ حَسَنَةٍ عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَإِذَا قَارَنْتَهَا بِـ”وَبِحَمْدِهِ” كَانَ ذَلِكَ أَفْضَلَ وَأَعْظَمَ أَجْرًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فَمَجَالَاتُ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ وَيُمْكِنُ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فِي أَيِّ وَقْتٍ وَفِي أَيِّ مَكَانٍ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الطَّرِيقِ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ مُضْطَجِعٌ عَلَى سَرِيْرِكَ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الْمَجْلِسِ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ فَعِبَادَةُ التَّسْبِيحِ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ الْعِبَادَاتِ وَلِهَذَا اخْتَارَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَخْلُوقَاتِهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ لِمَاذَا قَالَ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَمْ يَقُلْ يَحْمَدُ اللَّهَ أَوْ يُوَحِّدُ اللَّهَ أَوْ يُكَبِّرُ مَثَلًا أَوْ يُحَوْقِلُ إِنَّمَا اخْتَارَ عِبَادَةَ التَّسْبِيحِ لِعَظِيْمِ شَأْنِهَا وَعَظِيْمِ مَكَانَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا يَقْتَضِي عَظِيْمَ أَجْرِهَا وَثَوَابِهَا عِنْدَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari bersabda kepada para sahabat yang duduk bersama beliau: “Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu meraih seribu kebaikan dalam sehari?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara meraih seribu kebaikan?” Beliau bersabda: “Hendaklah ia bertasbih seratus kali, maka akan dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu keburukan.” (HR. Ibnu Hibban). Subhanallah! Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH dan mengulanginya seratus kali, kamu mendapatkan seribu pahala kebaikan atau dihapus darimu seribu dosa keburukan. Ini menunjukkan betapa besarnya karunia dan kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya, dan menunjukkan bahwa jalan kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Berapa waktu dan usaha yang kamu butuhkan untuk mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali? Meskipun hanya sebentar, kamu bisa mendapat seribu pahala kebaikan. Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali, kamu mendapat seribu kebaikan atau dihapus darimu seribu keburukan. Apabila kamu tambah dengan lafaz WABIHAMDIHI maka itu lebih utama dan lebih besar pahalanya: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH. Jadi, ruang lingkup kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Ini bisa kamu lakukan kapan pun dan di mana pun. Kamu dapat bertasbih saat berada di jalan, saat rebahan di atas kasurmu, ketika berada di suatu majelis. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. Ibadah dengan bertasbih adalah salah satu ibadah terbesar dan teragung. Oleh sebab itu, ibadah ini Allah ‘Azza wa Jalla pilih untuk makhluk-Nya. “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. al-Isra: 44). Mengapa Allah berfirman: “…bertasbih dengan memuji-Nya…” dan tidak berfirman dengan lafaz bertahmid, menauhidkan Allah, bertakbir kepada Allah, atau mengucap hauqalah (la haula wa la quwwata illa billah)? Allah memilih ibadah tasbih ini, karena besarnya derajat dan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan besarnya pahala dan ganjarannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. === جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا لِجُلَسَائِهِ أَيَعْجَزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِئَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ سُبْحَانَ اللَّهِ يَعْنِي عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ فَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِحْسَانِهِ لِعِبَادِهِ وَأَنَّ طُرُقَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ كَمْ تَأْخُذُ مِنْكَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ؟ كَمْ تَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ وَمَعَ ذَلِكَ تَكْسِبُ بِهَا أَلْفَ حَسَنَةٍ عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَإِذَا قَارَنْتَهَا بِـ”وَبِحَمْدِهِ” كَانَ ذَلِكَ أَفْضَلَ وَأَعْظَمَ أَجْرًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فَمَجَالَاتُ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ وَيُمْكِنُ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فِي أَيِّ وَقْتٍ وَفِي أَيِّ مَكَانٍ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الطَّرِيقِ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ مُضْطَجِعٌ عَلَى سَرِيْرِكَ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الْمَجْلِسِ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ فَعِبَادَةُ التَّسْبِيحِ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ الْعِبَادَاتِ وَلِهَذَا اخْتَارَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَخْلُوقَاتِهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ لِمَاذَا قَالَ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَمْ يَقُلْ يَحْمَدُ اللَّهَ أَوْ يُوَحِّدُ اللَّهَ أَوْ يُكَبِّرُ مَثَلًا أَوْ يُحَوْقِلُ إِنَّمَا اخْتَارَ عِبَادَةَ التَّسْبِيحِ لِعَظِيْمِ شَأْنِهَا وَعَظِيْمِ مَكَانَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا يَقْتَضِي عَظِيْمَ أَجْرِهَا وَثَوَابِهَا عِنْدَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ


Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari bersabda kepada para sahabat yang duduk bersama beliau: “Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu meraih seribu kebaikan dalam sehari?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara meraih seribu kebaikan?” Beliau bersabda: “Hendaklah ia bertasbih seratus kali, maka akan dicatat baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu keburukan.” (HR. Ibnu Hibban). Subhanallah! Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH dan mengulanginya seratus kali, kamu mendapatkan seribu pahala kebaikan atau dihapus darimu seribu dosa keburukan. Ini menunjukkan betapa besarnya karunia dan kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya, dan menunjukkan bahwa jalan kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Berapa waktu dan usaha yang kamu butuhkan untuk mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali? Meskipun hanya sebentar, kamu bisa mendapat seribu pahala kebaikan. Ketika kamu mengucapkan SUBHANALLAH sebanyak seratus kali, kamu mendapat seribu kebaikan atau dihapus darimu seribu keburukan. Apabila kamu tambah dengan lafaz WABIHAMDIHI maka itu lebih utama dan lebih besar pahalanya: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH. Jadi, ruang lingkup kebaikan sangat banyak dan beraneka ragam. Ini bisa kamu lakukan kapan pun dan di mana pun. Kamu dapat bertasbih saat berada di jalan, saat rebahan di atas kasurmu, ketika berada di suatu majelis. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. Ibadah dengan bertasbih adalah salah satu ibadah terbesar dan teragung. Oleh sebab itu, ibadah ini Allah ‘Azza wa Jalla pilih untuk makhluk-Nya. “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. al-Isra: 44). Mengapa Allah berfirman: “…bertasbih dengan memuji-Nya…” dan tidak berfirman dengan lafaz bertahmid, menauhidkan Allah, bertakbir kepada Allah, atau mengucap hauqalah (la haula wa la quwwata illa billah)? Allah memilih ibadah tasbih ini, karena besarnya derajat dan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan besarnya pahala dan ganjarannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. === جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا لِجُلَسَائِهِ أَيَعْجَزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِئَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ بِهَا أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ بِهَا أَلْفُ سَيِّئَةٍ سُبْحَانَ اللَّهِ يَعْنِي عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ فَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِحْسَانِهِ لِعِبَادِهِ وَأَنَّ طُرُقَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ كَمْ تَأْخُذُ مِنْكَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِئَةَ مَرَّةٍ؟ كَمْ تَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ وَمَعَ ذَلِكَ تَكْسِبُ بِهَا أَلْفَ حَسَنَةٍ عِنْدَمَا تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ تَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْكَ أَلْفُ سَيِّئَةٍ وَإِذَا قَارَنْتَهَا بِـ”وَبِحَمْدِهِ” كَانَ ذَلِكَ أَفْضَلَ وَأَعْظَمَ أَجْرًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فَمَجَالَاتُ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ وَيُمْكِنُ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فِي أَيِّ وَقْتٍ وَفِي أَيِّ مَكَانٍ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الطَّرِيقِ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ مُضْطَجِعٌ عَلَى سَرِيْرِكَ تُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَأَنْتَ فِي الْمَجْلِسِ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ فَعِبَادَةُ التَّسْبِيحِ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ الْعِبَادَاتِ وَلِهَذَا اخْتَارَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَخْلُوقَاتِهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ لِمَاذَا قَالَ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَمْ يَقُلْ يَحْمَدُ اللَّهَ أَوْ يُوَحِّدُ اللَّهَ أَوْ يُكَبِّرُ مَثَلًا أَوْ يُحَوْقِلُ إِنَّمَا اخْتَارَ عِبَادَةَ التَّسْبِيحِ لِعَظِيْمِ شَأْنِهَا وَعَظِيْمِ مَكَانَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا يَقْتَضِي عَظِيْمَ أَجْرِهَا وَثَوَابِهَا عِنْدَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ

Lafaz-lafaz Istighfar yang Diajarkan Nabi – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa lafaz istighfar yang paling baik? Lafaz istighfar yang paling terkenal adalah: ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI(Saya memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya). Ucapkan berulang-ulang. Ada lafaz-lafaz istighfar lain yang diriwayatkan, di antaranya: ROBBIGHFIR LII WATUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang). Dulu para Sahabat menghitung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis mengucapkan istighfar ini sebanyak 100 kali: ROBBIGHFIR LII WA TUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHOFUUR. Juga kalimat yang didapat oleh bapak kita, Adam, dan ibu kita, Hawa dari Allah ‘Azza wa Jalla setelah memakan buah dari pohon terlarang. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya…” (QS. al-Baqarah: 37). Kalimat apa ini? Penjelasannya ada dalam ayat yang lain, yaitu: ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIR LANAA WATARHAMNAA LANAKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami menjadi orang yang merugi). (QS. al-A’raf: 23). Namun, jika kamu mengucapkannya sendiri, gunakanlah kata ganti tunggal: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII WA ILLAM TAGHFIRLII WA TARHAMNII LA-AKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN (Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmatiku, niscaya aku menjadi orang yang merugi). Ada juga lafaz lain yang mirip dengan ini, dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa untuk aku baca dalam shalatku.” Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM(Ya Tuhanku, sungguh aku telah banyak menzalimi diriku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka berilah aku ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Bukhari). Inilah doa-doa yang hendaknya dibaca setelah tasyahud akhir, sebelum salam. Di antara lafaz istighfar lainnya juga: ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI (Aku memohon ampun kepada Allah Yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya). (HR. al-Hakim). Disebutkan dalam hadits shahih bahwa barang siapa yang mengucapkannya, maka dosa-dosanya diampuni meskipun ia pernah kabur dari medan perang. Adapun yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Lafaz lainnya juga adalah Sayyidul Istighfar yang termasuk bacaan zikir pagi dan petang: ALLAAHUMMA ANTA ROBBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHONA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA(Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu dan di atas perintah dan janji-Mu semampuku Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui kenikmatan-Mu untukku dan aku mengakui dosa-Ku Maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau). (HR. Bukhari). Barang siapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada siang itu, niscaya ia akan masuk surga. Dan barang siapa yang mengucapkannya pada sore hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada malam itu, niscaya ia akan masuk surga. ==== مَا أَفْضَلُ صِيغَةٍ لِلِاسْتِغْفَارِ؟ أَشْهَرُ صِيَغِ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَتُكَرِّرُهَا وَقَدْ وَرَدَتْ صِيَغٌ أُخْرَى لِلِاسْتِغْفَارِ مِنْهَا مِنْهَا رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ فَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ يَعُدُّونَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ أَنَّهُ يَقُولُ ذَلِكَ مِئَةَ مَرَّةً رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ كَذَلِكَ أَيْضًا الْكَلِمَاتُ الَّتِي تَلَقَّاهَا أَبُونَا آدَمُ وَأُمُّنَا حَوَّاءُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِينَمَا أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ مَا هِيَ هَذِهِ الْكَلِمَاتُ؟ جَاءَ بَيَانُهَا فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ لَكِنْ عِنْدَمَا تَقُولُهَا أَنْتَ تَأْتِي بِصِيغَةِ الْإِفْرَادِ تَقُولُ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمَنِي لأَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ أَيْضًا وَرَدَتْ صِيغَةٌ قَرِيبَةٌ مِنْ هَذِهِ فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ هَذِهِ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ كَذَلِكَ أَيْضًا مِنَ الصِّيَغِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ مَنْ قَالَهَا حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ وَالْمَقْصُودُ بِذَلِكَ الصَّغَائِرُ كَذَلِكَ أَيْضًا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَهُوَ أَيْضًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهُ حِينَ يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ قَالَهُ حِينَ يُمْسِي مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Lafaz-lafaz Istighfar yang Diajarkan Nabi – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa lafaz istighfar yang paling baik? Lafaz istighfar yang paling terkenal adalah: ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI(Saya memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya). Ucapkan berulang-ulang. Ada lafaz-lafaz istighfar lain yang diriwayatkan, di antaranya: ROBBIGHFIR LII WATUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang). Dulu para Sahabat menghitung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis mengucapkan istighfar ini sebanyak 100 kali: ROBBIGHFIR LII WA TUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHOFUUR. Juga kalimat yang didapat oleh bapak kita, Adam, dan ibu kita, Hawa dari Allah ‘Azza wa Jalla setelah memakan buah dari pohon terlarang. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya…” (QS. al-Baqarah: 37). Kalimat apa ini? Penjelasannya ada dalam ayat yang lain, yaitu: ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIR LANAA WATARHAMNAA LANAKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami menjadi orang yang merugi). (QS. al-A’raf: 23). Namun, jika kamu mengucapkannya sendiri, gunakanlah kata ganti tunggal: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII WA ILLAM TAGHFIRLII WA TARHAMNII LA-AKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN (Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmatiku, niscaya aku menjadi orang yang merugi). Ada juga lafaz lain yang mirip dengan ini, dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa untuk aku baca dalam shalatku.” Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM(Ya Tuhanku, sungguh aku telah banyak menzalimi diriku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka berilah aku ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Bukhari). Inilah doa-doa yang hendaknya dibaca setelah tasyahud akhir, sebelum salam. Di antara lafaz istighfar lainnya juga: ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI (Aku memohon ampun kepada Allah Yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya). (HR. al-Hakim). Disebutkan dalam hadits shahih bahwa barang siapa yang mengucapkannya, maka dosa-dosanya diampuni meskipun ia pernah kabur dari medan perang. Adapun yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Lafaz lainnya juga adalah Sayyidul Istighfar yang termasuk bacaan zikir pagi dan petang: ALLAAHUMMA ANTA ROBBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHONA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA(Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu dan di atas perintah dan janji-Mu semampuku Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui kenikmatan-Mu untukku dan aku mengakui dosa-Ku Maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau). (HR. Bukhari). Barang siapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada siang itu, niscaya ia akan masuk surga. Dan barang siapa yang mengucapkannya pada sore hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada malam itu, niscaya ia akan masuk surga. ==== مَا أَفْضَلُ صِيغَةٍ لِلِاسْتِغْفَارِ؟ أَشْهَرُ صِيَغِ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَتُكَرِّرُهَا وَقَدْ وَرَدَتْ صِيَغٌ أُخْرَى لِلِاسْتِغْفَارِ مِنْهَا مِنْهَا رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ فَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ يَعُدُّونَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ أَنَّهُ يَقُولُ ذَلِكَ مِئَةَ مَرَّةً رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ كَذَلِكَ أَيْضًا الْكَلِمَاتُ الَّتِي تَلَقَّاهَا أَبُونَا آدَمُ وَأُمُّنَا حَوَّاءُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِينَمَا أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ مَا هِيَ هَذِهِ الْكَلِمَاتُ؟ جَاءَ بَيَانُهَا فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ لَكِنْ عِنْدَمَا تَقُولُهَا أَنْتَ تَأْتِي بِصِيغَةِ الْإِفْرَادِ تَقُولُ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمَنِي لأَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ أَيْضًا وَرَدَتْ صِيغَةٌ قَرِيبَةٌ مِنْ هَذِهِ فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ هَذِهِ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ كَذَلِكَ أَيْضًا مِنَ الصِّيَغِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ مَنْ قَالَهَا حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ وَالْمَقْصُودُ بِذَلِكَ الصَّغَائِرُ كَذَلِكَ أَيْضًا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَهُوَ أَيْضًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهُ حِينَ يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ قَالَهُ حِينَ يُمْسِي مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Apa lafaz istighfar yang paling baik? Lafaz istighfar yang paling terkenal adalah: ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI(Saya memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya). Ucapkan berulang-ulang. Ada lafaz-lafaz istighfar lain yang diriwayatkan, di antaranya: ROBBIGHFIR LII WATUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang). Dulu para Sahabat menghitung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis mengucapkan istighfar ini sebanyak 100 kali: ROBBIGHFIR LII WA TUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHOFUUR. Juga kalimat yang didapat oleh bapak kita, Adam, dan ibu kita, Hawa dari Allah ‘Azza wa Jalla setelah memakan buah dari pohon terlarang. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya…” (QS. al-Baqarah: 37). Kalimat apa ini? Penjelasannya ada dalam ayat yang lain, yaitu: ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIR LANAA WATARHAMNAA LANAKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami menjadi orang yang merugi). (QS. al-A’raf: 23). Namun, jika kamu mengucapkannya sendiri, gunakanlah kata ganti tunggal: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII WA ILLAM TAGHFIRLII WA TARHAMNII LA-AKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN (Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmatiku, niscaya aku menjadi orang yang merugi). Ada juga lafaz lain yang mirip dengan ini, dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa untuk aku baca dalam shalatku.” Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM(Ya Tuhanku, sungguh aku telah banyak menzalimi diriku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka berilah aku ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Bukhari). Inilah doa-doa yang hendaknya dibaca setelah tasyahud akhir, sebelum salam. Di antara lafaz istighfar lainnya juga: ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI (Aku memohon ampun kepada Allah Yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya). (HR. al-Hakim). Disebutkan dalam hadits shahih bahwa barang siapa yang mengucapkannya, maka dosa-dosanya diampuni meskipun ia pernah kabur dari medan perang. Adapun yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Lafaz lainnya juga adalah Sayyidul Istighfar yang termasuk bacaan zikir pagi dan petang: ALLAAHUMMA ANTA ROBBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHONA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA(Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu dan di atas perintah dan janji-Mu semampuku Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui kenikmatan-Mu untukku dan aku mengakui dosa-Ku Maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau). (HR. Bukhari). Barang siapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada siang itu, niscaya ia akan masuk surga. Dan barang siapa yang mengucapkannya pada sore hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada malam itu, niscaya ia akan masuk surga. ==== مَا أَفْضَلُ صِيغَةٍ لِلِاسْتِغْفَارِ؟ أَشْهَرُ صِيَغِ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَتُكَرِّرُهَا وَقَدْ وَرَدَتْ صِيَغٌ أُخْرَى لِلِاسْتِغْفَارِ مِنْهَا مِنْهَا رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ فَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ يَعُدُّونَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ أَنَّهُ يَقُولُ ذَلِكَ مِئَةَ مَرَّةً رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ كَذَلِكَ أَيْضًا الْكَلِمَاتُ الَّتِي تَلَقَّاهَا أَبُونَا آدَمُ وَأُمُّنَا حَوَّاءُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِينَمَا أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ مَا هِيَ هَذِهِ الْكَلِمَاتُ؟ جَاءَ بَيَانُهَا فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ لَكِنْ عِنْدَمَا تَقُولُهَا أَنْتَ تَأْتِي بِصِيغَةِ الْإِفْرَادِ تَقُولُ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمَنِي لأَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ أَيْضًا وَرَدَتْ صِيغَةٌ قَرِيبَةٌ مِنْ هَذِهِ فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ هَذِهِ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ كَذَلِكَ أَيْضًا مِنَ الصِّيَغِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ مَنْ قَالَهَا حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ وَالْمَقْصُودُ بِذَلِكَ الصَّغَائِرُ كَذَلِكَ أَيْضًا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَهُوَ أَيْضًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهُ حِينَ يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ قَالَهُ حِينَ يُمْسِي مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ


Apa lafaz istighfar yang paling baik? Lafaz istighfar yang paling terkenal adalah: ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI(Saya memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya). Ucapkan berulang-ulang. Ada lafaz-lafaz istighfar lain yang diriwayatkan, di antaranya: ROBBIGHFIR LII WATUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang). Dulu para Sahabat menghitung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis mengucapkan istighfar ini sebanyak 100 kali: ROBBIGHFIR LII WA TUB ‘ALAIYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHOFUUR. Juga kalimat yang didapat oleh bapak kita, Adam, dan ibu kita, Hawa dari Allah ‘Azza wa Jalla setelah memakan buah dari pohon terlarang. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya…” (QS. al-Baqarah: 37). Kalimat apa ini? Penjelasannya ada dalam ayat yang lain, yaitu: ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIR LANAA WATARHAMNAA LANAKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami menjadi orang yang merugi). (QS. al-A’raf: 23). Namun, jika kamu mengucapkannya sendiri, gunakanlah kata ganti tunggal: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII WA ILLAM TAGHFIRLII WA TARHAMNII LA-AKUUNANNA MINAL KHOOSIRIIN (Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku; dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmatiku, niscaya aku menjadi orang yang merugi). Ada juga lafaz lain yang mirip dengan ini, dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa untuk aku baca dalam shalatku.” Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah: ROBBI INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM(Ya Tuhanku, sungguh aku telah banyak menzalimi diriku dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka berilah aku ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Bukhari). Inilah doa-doa yang hendaknya dibaca setelah tasyahud akhir, sebelum salam. Di antara lafaz istighfar lainnya juga: ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI (Aku memohon ampun kepada Allah Yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya). (HR. al-Hakim). Disebutkan dalam hadits shahih bahwa barang siapa yang mengucapkannya, maka dosa-dosanya diampuni meskipun ia pernah kabur dari medan perang. Adapun yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Lafaz lainnya juga adalah Sayyidul Istighfar yang termasuk bacaan zikir pagi dan petang: ALLAAHUMMA ANTA ROBBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHONA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA(Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu dan di atas perintah dan janji-Mu semampuku Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui kenikmatan-Mu untukku dan aku mengakui dosa-Ku Maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau). (HR. Bukhari). Barang siapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada siang itu, niscaya ia akan masuk surga. Dan barang siapa yang mengucapkannya pada sore hari dengan penuh keyakinan, lalu wafat pada malam itu, niscaya ia akan masuk surga. ==== مَا أَفْضَلُ صِيغَةٍ لِلِاسْتِغْفَارِ؟ أَشْهَرُ صِيَغِ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَتُكَرِّرُهَا وَقَدْ وَرَدَتْ صِيَغٌ أُخْرَى لِلِاسْتِغْفَارِ مِنْهَا مِنْهَا رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ فَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ يَعُدُّونَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ أَنَّهُ يَقُولُ ذَلِكَ مِئَةَ مَرَّةً رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ كَذَلِكَ أَيْضًا الْكَلِمَاتُ الَّتِي تَلَقَّاهَا أَبُونَا آدَمُ وَأُمُّنَا حَوَّاءُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِينَمَا أَكَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ مَا هِيَ هَذِهِ الْكَلِمَاتُ؟ جَاءَ بَيَانُهَا فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ لَكِنْ عِنْدَمَا تَقُولُهَا أَنْتَ تَأْتِي بِصِيغَةِ الْإِفْرَادِ تَقُولُ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمَنِي لأَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ أَيْضًا وَرَدَتْ صِيغَةٌ قَرِيبَةٌ مِنْ هَذِهِ فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ هَذِهِ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ كَذَلِكَ أَيْضًا مِنَ الصِّيَغِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ مَنْ قَالَهَا حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ وَالْمَقْصُودُ بِذَلِكَ الصَّغَائِرُ كَذَلِكَ أَيْضًا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَهُوَ أَيْضًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهُ حِينَ يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ قَالَهُ حِينَ يُمْسِي مُوقِنًا بِهِ فَمَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Cara Menumbuhkan Syukur: Tujuh Hal yang Membantu untuk Bersyukur (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat AllahKelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkanKeenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukurKetujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Berikut adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang langkah-langkah atau beberapa hal yang dapat mendorong seseorang untuk meningkatkan syukurnya kepada Allah Ta’ala. Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat Allah Semakin sering kita mengingat-ingat dan menghitung berbagai nikmat yang Allah Ta’ala berikan, maka akan menjadikan kita lebih bersyukur kepada-Nya. Apapun nikmat yang ada dalam hidup kita, maka kita selalu menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18) Jika ada seseorang yang menganggap dan merasa bisa menghitung nikmat Allah, maka orang tersebut telah menyempitkan definisi dari suatu nikmat, padahal segala yang ada dan kita punya adalah nikmat. Dan nikmat Allah sangat banyak bentuknya. Ada nikmat yang zahir (nampak) semisal harta. Ada nikmat yang batin (tidak nampak) seperti ketenangan hati. Ada nikmat yang khusus (keimanan). Ada nikmat yang umum (udara atau oksigen). Kesehatan adalah nikmat. Organ dan panca indera yang kita punya adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Rumah dan kendaraan walaupun sederhana adalah nikmat. Di antara nikmat pertama kali yang diberikan Allah adalah nikmat penciptaan dan pengadaan. Kita ada di dunia ini adalah termasuk nikmat. Allah tidak menjadikan kita sebagai sesuatu yang tiada. Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى  الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى  وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3) Kemudian Allah memberikan nikmat kepada kita dengan nikmat adaniyah wal insaniyah, yaitu nikmat berupa manusia (anak keturunan Adam), bukan menjadikan kita sebagai hewan, tumbuhan, atau benda mati. Allah juga memberikan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita beragama Islam, bukan Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya. Dan Allah menyempurnakan nikmat Islam tersebut dengan nikmat iman dan hidayah untuk menjalankan syariat Islam dengan benar sesuai dengan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maidah: 3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَ إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ “Dan Allah memberikan dunia kepada siapa pun yang Dia cintai dan tidak Dia dicintai. Akan tetapi, Dia memberikan iman (agama) hanya kepada orang yang dicintai-Nya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1: 348-349 dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 275. Lihat As-Silsilah Ash-Sahihah, 6: 213, no. 2714) Maka, ketika kita sudah mengetahui berbagai nikmat Allah di atas, sudah semestinya menjadikan kita sebagai seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Kelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkan Hendaknya seorang hamba mengetahui dan sadar bahwa kelak di hari kiamat, ia akan ditanya oleh Allah tentang berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, apakah ia mensyukuri nikmat tersebut atau malah mengingkarinya. Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ “Kemudian pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takasur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya, di manakah ia habiskan, (2) ilmunya, di manakah ia amalkan, (3) hartanya, bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya, di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Lihat Ash-Shahihah no. 946) Baca juga: Mensyukuri Nikmat Keamanan Bangsa Keenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tangan Mu’adz dan berkata, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir salat (sebelum salam), اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir (mengingat-Mu), bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nata’ij Al-Afkar, 2: 298) Ketujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Qatadah rahimahullah berkata, إن ربكم منعم يحب الشكر “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Zat yang memberikan nikmat dan Dia sangat mencintai ibadah syukur (mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur).” (Lihat Tafsir Al-Qurtubi, 6: 218) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pula, إنه يشكر ويجب أن سبحانه يحب أن يشكر “Allah gemar untuk bersyukur (dengan membalas amalan-amalan hamba-Nya) dan Allah senang untuk disyukuri (menerima syukur dari hamba-Nya).” (Lihat Shifa’ Al-‘Alil, hal. 221) Ibadah syukur merupakan di antara hal yang paling dicintai oleh Allah dan merupakan pahala yang paling besar. Dan untuk tujuan ibadah inilah, Allah menciptakan para hamba-Nya, yang mana salah satu bentuk ibadah yang paling utama adalah bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Dalam firman-Nya yang lain, وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78) Oleh karenanya, wajib bagi seseorang untuk mengambil atau menempuh berbagai sebab yang dapat membuat syukurnya semakin bertambah dan sempurna. Allah Ta’ala menegaskan, لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ “Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7) Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah amalan yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id   Referensi:  A’malul Qulub karya Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah, hal. 302-305.

Cara Menumbuhkan Syukur: Tujuh Hal yang Membantu untuk Bersyukur (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat AllahKelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkanKeenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukurKetujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Berikut adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang langkah-langkah atau beberapa hal yang dapat mendorong seseorang untuk meningkatkan syukurnya kepada Allah Ta’ala. Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat Allah Semakin sering kita mengingat-ingat dan menghitung berbagai nikmat yang Allah Ta’ala berikan, maka akan menjadikan kita lebih bersyukur kepada-Nya. Apapun nikmat yang ada dalam hidup kita, maka kita selalu menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18) Jika ada seseorang yang menganggap dan merasa bisa menghitung nikmat Allah, maka orang tersebut telah menyempitkan definisi dari suatu nikmat, padahal segala yang ada dan kita punya adalah nikmat. Dan nikmat Allah sangat banyak bentuknya. Ada nikmat yang zahir (nampak) semisal harta. Ada nikmat yang batin (tidak nampak) seperti ketenangan hati. Ada nikmat yang khusus (keimanan). Ada nikmat yang umum (udara atau oksigen). Kesehatan adalah nikmat. Organ dan panca indera yang kita punya adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Rumah dan kendaraan walaupun sederhana adalah nikmat. Di antara nikmat pertama kali yang diberikan Allah adalah nikmat penciptaan dan pengadaan. Kita ada di dunia ini adalah termasuk nikmat. Allah tidak menjadikan kita sebagai sesuatu yang tiada. Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى  الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى  وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3) Kemudian Allah memberikan nikmat kepada kita dengan nikmat adaniyah wal insaniyah, yaitu nikmat berupa manusia (anak keturunan Adam), bukan menjadikan kita sebagai hewan, tumbuhan, atau benda mati. Allah juga memberikan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita beragama Islam, bukan Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya. Dan Allah menyempurnakan nikmat Islam tersebut dengan nikmat iman dan hidayah untuk menjalankan syariat Islam dengan benar sesuai dengan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maidah: 3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَ إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ “Dan Allah memberikan dunia kepada siapa pun yang Dia cintai dan tidak Dia dicintai. Akan tetapi, Dia memberikan iman (agama) hanya kepada orang yang dicintai-Nya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1: 348-349 dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 275. Lihat As-Silsilah Ash-Sahihah, 6: 213, no. 2714) Maka, ketika kita sudah mengetahui berbagai nikmat Allah di atas, sudah semestinya menjadikan kita sebagai seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Kelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkan Hendaknya seorang hamba mengetahui dan sadar bahwa kelak di hari kiamat, ia akan ditanya oleh Allah tentang berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, apakah ia mensyukuri nikmat tersebut atau malah mengingkarinya. Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ “Kemudian pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takasur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya, di manakah ia habiskan, (2) ilmunya, di manakah ia amalkan, (3) hartanya, bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya, di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Lihat Ash-Shahihah no. 946) Baca juga: Mensyukuri Nikmat Keamanan Bangsa Keenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tangan Mu’adz dan berkata, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir salat (sebelum salam), اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir (mengingat-Mu), bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nata’ij Al-Afkar, 2: 298) Ketujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Qatadah rahimahullah berkata, إن ربكم منعم يحب الشكر “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Zat yang memberikan nikmat dan Dia sangat mencintai ibadah syukur (mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur).” (Lihat Tafsir Al-Qurtubi, 6: 218) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pula, إنه يشكر ويجب أن سبحانه يحب أن يشكر “Allah gemar untuk bersyukur (dengan membalas amalan-amalan hamba-Nya) dan Allah senang untuk disyukuri (menerima syukur dari hamba-Nya).” (Lihat Shifa’ Al-‘Alil, hal. 221) Ibadah syukur merupakan di antara hal yang paling dicintai oleh Allah dan merupakan pahala yang paling besar. Dan untuk tujuan ibadah inilah, Allah menciptakan para hamba-Nya, yang mana salah satu bentuk ibadah yang paling utama adalah bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Dalam firman-Nya yang lain, وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78) Oleh karenanya, wajib bagi seseorang untuk mengambil atau menempuh berbagai sebab yang dapat membuat syukurnya semakin bertambah dan sempurna. Allah Ta’ala menegaskan, لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ “Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7) Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah amalan yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id   Referensi:  A’malul Qulub karya Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah, hal. 302-305.
Daftar Isi Toggle Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat AllahKelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkanKeenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukurKetujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Berikut adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang langkah-langkah atau beberapa hal yang dapat mendorong seseorang untuk meningkatkan syukurnya kepada Allah Ta’ala. Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat Allah Semakin sering kita mengingat-ingat dan menghitung berbagai nikmat yang Allah Ta’ala berikan, maka akan menjadikan kita lebih bersyukur kepada-Nya. Apapun nikmat yang ada dalam hidup kita, maka kita selalu menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18) Jika ada seseorang yang menganggap dan merasa bisa menghitung nikmat Allah, maka orang tersebut telah menyempitkan definisi dari suatu nikmat, padahal segala yang ada dan kita punya adalah nikmat. Dan nikmat Allah sangat banyak bentuknya. Ada nikmat yang zahir (nampak) semisal harta. Ada nikmat yang batin (tidak nampak) seperti ketenangan hati. Ada nikmat yang khusus (keimanan). Ada nikmat yang umum (udara atau oksigen). Kesehatan adalah nikmat. Organ dan panca indera yang kita punya adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Rumah dan kendaraan walaupun sederhana adalah nikmat. Di antara nikmat pertama kali yang diberikan Allah adalah nikmat penciptaan dan pengadaan. Kita ada di dunia ini adalah termasuk nikmat. Allah tidak menjadikan kita sebagai sesuatu yang tiada. Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى  الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى  وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3) Kemudian Allah memberikan nikmat kepada kita dengan nikmat adaniyah wal insaniyah, yaitu nikmat berupa manusia (anak keturunan Adam), bukan menjadikan kita sebagai hewan, tumbuhan, atau benda mati. Allah juga memberikan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita beragama Islam, bukan Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya. Dan Allah menyempurnakan nikmat Islam tersebut dengan nikmat iman dan hidayah untuk menjalankan syariat Islam dengan benar sesuai dengan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maidah: 3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَ إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ “Dan Allah memberikan dunia kepada siapa pun yang Dia cintai dan tidak Dia dicintai. Akan tetapi, Dia memberikan iman (agama) hanya kepada orang yang dicintai-Nya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1: 348-349 dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 275. Lihat As-Silsilah Ash-Sahihah, 6: 213, no. 2714) Maka, ketika kita sudah mengetahui berbagai nikmat Allah di atas, sudah semestinya menjadikan kita sebagai seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Kelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkan Hendaknya seorang hamba mengetahui dan sadar bahwa kelak di hari kiamat, ia akan ditanya oleh Allah tentang berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, apakah ia mensyukuri nikmat tersebut atau malah mengingkarinya. Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ “Kemudian pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takasur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya, di manakah ia habiskan, (2) ilmunya, di manakah ia amalkan, (3) hartanya, bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya, di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Lihat Ash-Shahihah no. 946) Baca juga: Mensyukuri Nikmat Keamanan Bangsa Keenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tangan Mu’adz dan berkata, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir salat (sebelum salam), اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir (mengingat-Mu), bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nata’ij Al-Afkar, 2: 298) Ketujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Qatadah rahimahullah berkata, إن ربكم منعم يحب الشكر “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Zat yang memberikan nikmat dan Dia sangat mencintai ibadah syukur (mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur).” (Lihat Tafsir Al-Qurtubi, 6: 218) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pula, إنه يشكر ويجب أن سبحانه يحب أن يشكر “Allah gemar untuk bersyukur (dengan membalas amalan-amalan hamba-Nya) dan Allah senang untuk disyukuri (menerima syukur dari hamba-Nya).” (Lihat Shifa’ Al-‘Alil, hal. 221) Ibadah syukur merupakan di antara hal yang paling dicintai oleh Allah dan merupakan pahala yang paling besar. Dan untuk tujuan ibadah inilah, Allah menciptakan para hamba-Nya, yang mana salah satu bentuk ibadah yang paling utama adalah bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Dalam firman-Nya yang lain, وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78) Oleh karenanya, wajib bagi seseorang untuk mengambil atau menempuh berbagai sebab yang dapat membuat syukurnya semakin bertambah dan sempurna. Allah Ta’ala menegaskan, لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ “Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7) Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah amalan yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id   Referensi:  A’malul Qulub karya Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah, hal. 302-305.


Daftar Isi Toggle Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat AllahKelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkanKeenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukurKetujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Berikut adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang langkah-langkah atau beberapa hal yang dapat mendorong seseorang untuk meningkatkan syukurnya kepada Allah Ta’ala. Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat Allah Semakin sering kita mengingat-ingat dan menghitung berbagai nikmat yang Allah Ta’ala berikan, maka akan menjadikan kita lebih bersyukur kepada-Nya. Apapun nikmat yang ada dalam hidup kita, maka kita selalu menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18) Jika ada seseorang yang menganggap dan merasa bisa menghitung nikmat Allah, maka orang tersebut telah menyempitkan definisi dari suatu nikmat, padahal segala yang ada dan kita punya adalah nikmat. Dan nikmat Allah sangat banyak bentuknya. Ada nikmat yang zahir (nampak) semisal harta. Ada nikmat yang batin (tidak nampak) seperti ketenangan hati. Ada nikmat yang khusus (keimanan). Ada nikmat yang umum (udara atau oksigen). Kesehatan adalah nikmat. Organ dan panca indera yang kita punya adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Rumah dan kendaraan walaupun sederhana adalah nikmat. Di antara nikmat pertama kali yang diberikan Allah adalah nikmat penciptaan dan pengadaan. Kita ada di dunia ini adalah termasuk nikmat. Allah tidak menjadikan kita sebagai sesuatu yang tiada. Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى  الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى  وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3) Kemudian Allah memberikan nikmat kepada kita dengan nikmat adaniyah wal insaniyah, yaitu nikmat berupa manusia (anak keturunan Adam), bukan menjadikan kita sebagai hewan, tumbuhan, atau benda mati. Allah juga memberikan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita beragama Islam, bukan Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya. Dan Allah menyempurnakan nikmat Islam tersebut dengan nikmat iman dan hidayah untuk menjalankan syariat Islam dengan benar sesuai dengan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maidah: 3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَ إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ “Dan Allah memberikan dunia kepada siapa pun yang Dia cintai dan tidak Dia dicintai. Akan tetapi, Dia memberikan iman (agama) hanya kepada orang yang dicintai-Nya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1: 348-349 dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 275. Lihat As-Silsilah Ash-Sahihah, 6: 213, no. 2714) Maka, ketika kita sudah mengetahui berbagai nikmat Allah di atas, sudah semestinya menjadikan kita sebagai seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Kelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkan Hendaknya seorang hamba mengetahui dan sadar bahwa kelak di hari kiamat, ia akan ditanya oleh Allah tentang berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, apakah ia mensyukuri nikmat tersebut atau malah mengingkarinya. Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ “Kemudian pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takasur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya, di manakah ia habiskan, (2) ilmunya, di manakah ia amalkan, (3) hartanya, bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya, di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Lihat Ash-Shahihah no. 946) Baca juga: Mensyukuri Nikmat Keamanan Bangsa Keenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tangan Mu’adz dan berkata, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir salat (sebelum salam), اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir (mengingat-Mu), bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nata’ij Al-Afkar, 2: 298) Ketujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur Qatadah rahimahullah berkata, إن ربكم منعم يحب الشكر “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Zat yang memberikan nikmat dan Dia sangat mencintai ibadah syukur (mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur).” (Lihat Tafsir Al-Qurtubi, 6: 218) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pula, إنه يشكر ويجب أن سبحانه يحب أن يشكر “Allah gemar untuk bersyukur (dengan membalas amalan-amalan hamba-Nya) dan Allah senang untuk disyukuri (menerima syukur dari hamba-Nya).” (Lihat Shifa’ Al-‘Alil, hal. 221) Ibadah syukur merupakan di antara hal yang paling dicintai oleh Allah dan merupakan pahala yang paling besar. Dan untuk tujuan ibadah inilah, Allah menciptakan para hamba-Nya, yang mana salah satu bentuk ibadah yang paling utama adalah bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Dalam firman-Nya yang lain, وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78) Oleh karenanya, wajib bagi seseorang untuk mengambil atau menempuh berbagai sebab yang dapat membuat syukurnya semakin bertambah dan sempurna. Allah Ta’ala menegaskan, لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ “Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7) Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah amalan yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. Kembali ke bagian 1 *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id   Referensi:  A’malul Qulub karya Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah, hal. 302-305.

Tafsir Surah Al-Fajr: Kesombongan Manusia dan Lupa Bersyukur

Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30  Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan MaknanyaAllah Ta’ala berfirman,وَٱلْفَجْرِ“Demi fajar,”وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Dan malam yang sepuluh,”وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ“Dan yang genap dan yang ganjil,”وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Dan malam bila berlalu.”هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ“Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Allah Bersumpah dengan Waktu FajarMenurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaPara ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah:10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji.Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah.3. Makna Ganjil dan Genap dalam AyatAyat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga.4. Sumpah dengan Malam yang BerlaluAllah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah.5. Pesan bagi Orang yang BerakalPada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia. Tadabur Ayat1. Keagungan Waktu FajarAllah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaDua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya.3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan GenapKonsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu.4. Kesadaran akan Siklus KehidupanAllah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat.5. Pentingnya Akal dalam Memahami KebenaranAllah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum DurhakaAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?”إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ“(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.”وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.”وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ“Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).”ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.”فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ“Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.”فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.”إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”  Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang DibinasakanKaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69)2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang AllahKaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka.Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap.3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang BesarAllah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil.Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di BumiKaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka.Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah.Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini.5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan KezalimanAllah menegaskan,إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Tadabur AyatKemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar.Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi.Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah.Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan RezekiAllah Ta’ala berfirman:فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15)وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16)Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa DimuliakanAllah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44:فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar.2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya DihinaSebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman:وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya.3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap UjianAyat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan.Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7:إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7) Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’diSyaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16:يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ.Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah.Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih. Tadabur AyatRezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan.Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah.Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan.Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya.Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta DuniaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَوَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِوَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭاوَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا“Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan DuniaSetelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin.Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama.2. Tidak Memuliakan Anak YatimAllah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.”Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya.Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9:فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9)3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang MiskinAllah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan.Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini:أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِفَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَوَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)4. Rakus dalam Memakan Harta WarisanAllah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah.Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain.5. Cinta Berlebihan terhadap HartaAllah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan.Allah mengingatkan dalam ayat,ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) Tadabur Ayat 17-20Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi.Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat.Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan.Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17,بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَاوَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan ManusiaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّاوَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Gambaran Dahsyatnya Hari KiamatAllah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat.Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2:إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَاوَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2)2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan BerbarisAllah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17:وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ“Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17)3. Ditampakkannya Neraka JahannamAllah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا“Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842)Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran.4. Penyesalan Manusia yang TerlambatAllah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10:وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10)5. Penyesalan Karena Tidak Beramal SalehAllah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28,وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًيَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28) Tadabur Ayat 21-24Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah.Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk.Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka.Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat.Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌوَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌيَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِىوَٱدْخُلِى جَنَّتِى“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Balasan bagi Orang yang DurhakaAllah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya.Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.”Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32:خُذُوهُ فَغُلُّوهُثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ“(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32)2. Seruan bagi Jiwa yang TenangAllah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28:ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)3. Kembali kepada Allah dengan KeridhaanAllah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119:رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119)4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang SalehAllah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia.Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69:وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas KeimananAllah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74:وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73) Tadabur Ayat 24-30Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya.Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati.Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula.Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat.Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.  –6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh

Tafsir Surah Al-Fajr: Kesombongan Manusia dan Lupa Bersyukur

Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30  Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan MaknanyaAllah Ta’ala berfirman,وَٱلْفَجْرِ“Demi fajar,”وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Dan malam yang sepuluh,”وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ“Dan yang genap dan yang ganjil,”وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Dan malam bila berlalu.”هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ“Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Allah Bersumpah dengan Waktu FajarMenurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaPara ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah:10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji.Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah.3. Makna Ganjil dan Genap dalam AyatAyat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga.4. Sumpah dengan Malam yang BerlaluAllah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah.5. Pesan bagi Orang yang BerakalPada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia. Tadabur Ayat1. Keagungan Waktu FajarAllah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaDua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya.3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan GenapKonsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu.4. Kesadaran akan Siklus KehidupanAllah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat.5. Pentingnya Akal dalam Memahami KebenaranAllah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum DurhakaAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?”إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ“(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.”وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.”وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ“Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).”ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.”فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ“Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.”فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.”إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”  Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang DibinasakanKaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69)2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang AllahKaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka.Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap.3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang BesarAllah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil.Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di BumiKaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka.Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah.Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini.5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan KezalimanAllah menegaskan,إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Tadabur AyatKemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar.Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi.Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah.Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan RezekiAllah Ta’ala berfirman:فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15)وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16)Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa DimuliakanAllah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44:فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar.2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya DihinaSebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman:وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya.3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap UjianAyat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan.Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7:إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7) Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’diSyaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16:يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ.Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah.Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih. Tadabur AyatRezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan.Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah.Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan.Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya.Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta DuniaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَوَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِوَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭاوَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا“Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan DuniaSetelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin.Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama.2. Tidak Memuliakan Anak YatimAllah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.”Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya.Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9:فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9)3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang MiskinAllah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan.Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini:أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِفَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَوَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)4. Rakus dalam Memakan Harta WarisanAllah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah.Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain.5. Cinta Berlebihan terhadap HartaAllah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan.Allah mengingatkan dalam ayat,ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) Tadabur Ayat 17-20Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi.Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat.Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan.Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17,بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَاوَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan ManusiaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّاوَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Gambaran Dahsyatnya Hari KiamatAllah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat.Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2:إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَاوَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2)2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan BerbarisAllah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17:وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ“Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17)3. Ditampakkannya Neraka JahannamAllah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا“Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842)Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran.4. Penyesalan Manusia yang TerlambatAllah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10:وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10)5. Penyesalan Karena Tidak Beramal SalehAllah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28,وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًيَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28) Tadabur Ayat 21-24Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah.Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk.Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka.Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat.Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌوَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌيَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِىوَٱدْخُلِى جَنَّتِى“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Balasan bagi Orang yang DurhakaAllah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya.Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.”Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32:خُذُوهُ فَغُلُّوهُثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ“(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32)2. Seruan bagi Jiwa yang TenangAllah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28:ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)3. Kembali kepada Allah dengan KeridhaanAllah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119:رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119)4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang SalehAllah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia.Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69:وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas KeimananAllah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74:وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73) Tadabur Ayat 24-30Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya.Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati.Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula.Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat.Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.  –6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh
Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30  Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan MaknanyaAllah Ta’ala berfirman,وَٱلْفَجْرِ“Demi fajar,”وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Dan malam yang sepuluh,”وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ“Dan yang genap dan yang ganjil,”وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Dan malam bila berlalu.”هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ“Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Allah Bersumpah dengan Waktu FajarMenurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaPara ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah:10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji.Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah.3. Makna Ganjil dan Genap dalam AyatAyat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga.4. Sumpah dengan Malam yang BerlaluAllah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah.5. Pesan bagi Orang yang BerakalPada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia. Tadabur Ayat1. Keagungan Waktu FajarAllah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaDua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya.3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan GenapKonsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu.4. Kesadaran akan Siklus KehidupanAllah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat.5. Pentingnya Akal dalam Memahami KebenaranAllah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum DurhakaAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?”إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ“(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.”وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.”وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ“Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).”ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.”فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ“Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.”فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.”إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”  Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang DibinasakanKaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69)2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang AllahKaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka.Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap.3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang BesarAllah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil.Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di BumiKaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka.Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah.Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini.5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan KezalimanAllah menegaskan,إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Tadabur AyatKemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar.Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi.Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah.Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan RezekiAllah Ta’ala berfirman:فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15)وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16)Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa DimuliakanAllah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44:فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar.2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya DihinaSebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman:وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya.3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap UjianAyat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan.Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7:إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7) Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’diSyaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16:يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ.Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah.Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih. Tadabur AyatRezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan.Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah.Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan.Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya.Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta DuniaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَوَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِوَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭاوَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا“Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan DuniaSetelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin.Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama.2. Tidak Memuliakan Anak YatimAllah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.”Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya.Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9:فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9)3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang MiskinAllah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan.Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini:أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِفَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَوَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)4. Rakus dalam Memakan Harta WarisanAllah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah.Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain.5. Cinta Berlebihan terhadap HartaAllah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan.Allah mengingatkan dalam ayat,ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) Tadabur Ayat 17-20Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi.Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat.Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan.Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17,بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَاوَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan ManusiaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّاوَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Gambaran Dahsyatnya Hari KiamatAllah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat.Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2:إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَاوَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2)2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan BerbarisAllah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17:وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ“Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17)3. Ditampakkannya Neraka JahannamAllah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا“Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842)Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran.4. Penyesalan Manusia yang TerlambatAllah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10:وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10)5. Penyesalan Karena Tidak Beramal SalehAllah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28,وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًيَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28) Tadabur Ayat 21-24Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah.Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk.Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka.Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat.Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌوَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌيَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِىوَٱدْخُلِى جَنَّتِى“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Balasan bagi Orang yang DurhakaAllah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya.Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.”Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32:خُذُوهُ فَغُلُّوهُثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ“(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32)2. Seruan bagi Jiwa yang TenangAllah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28:ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)3. Kembali kepada Allah dengan KeridhaanAllah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119:رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119)4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang SalehAllah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia.Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69:وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas KeimananAllah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74:وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73) Tadabur Ayat 24-30Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya.Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati.Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula.Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat.Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.  –6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh


Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30  Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan MaknanyaAllah Ta’ala berfirman,وَٱلْفَجْرِ“Demi fajar,”وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Dan malam yang sepuluh,”وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ“Dan yang genap dan yang ganjil,”وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Dan malam bila berlalu.”هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ“Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Allah Bersumpah dengan Waktu FajarMenurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaPara ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah:10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji.Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah.3. Makna Ganjil dan Genap dalam AyatAyat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga.4. Sumpah dengan Malam yang BerlaluAllah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah.5. Pesan bagi Orang yang BerakalPada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia. Tadabur Ayat1. Keagungan Waktu FajarAllah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan.2. Keutamaan 10 Malam IstimewaDua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya.3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan GenapKonsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu.4. Kesadaran akan Siklus KehidupanAllah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat.5. Pentingnya Akal dalam Memahami KebenaranAllah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum DurhakaAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?”إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ“(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.”وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.”وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ“Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).”ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.”فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ“Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.”فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.”إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”  Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang DibinasakanKaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69)2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang AllahKaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka.Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap.3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang BesarAllah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil.Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di BumiKaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka.Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah.Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini.5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan KezalimanAllah menegaskan,إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Tadabur AyatKemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar.Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi.Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah.Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan RezekiAllah Ta’ala berfirman:فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15)وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16)Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa DimuliakanAllah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44:فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar.2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya DihinaSebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman:وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya.3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap UjianAyat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan.Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7:إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7) Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’diSyaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16:يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ.Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah.Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih. Tadabur AyatRezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan.Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah.Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan.Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya.Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta DuniaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَوَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِوَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭاوَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا“Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan DuniaSetelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin.Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama.2. Tidak Memuliakan Anak YatimAllah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.”Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya.Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9:فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9)3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang MiskinAllah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan.Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini:أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِفَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَوَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)4. Rakus dalam Memakan Harta WarisanAllah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah.Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain.5. Cinta Berlebihan terhadap HartaAllah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan.Allah mengingatkan dalam ayat,ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20) Tadabur Ayat 17-20Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi.Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat.Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan.Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17,بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَاوَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan ManusiaAllah Ta’ala berfirman:كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّاوَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Gambaran Dahsyatnya Hari KiamatAllah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat.Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang.Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2:إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَاوَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2)2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan BerbarisAllah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17:وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ“Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17)3. Ditampakkannya Neraka JahannamAllah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا“Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842)Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran.4. Penyesalan Manusia yang TerlambatAllah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10:وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10)5. Penyesalan Karena Tidak Beramal SalehAllah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28,وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًيَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28) Tadabur Ayat 21-24Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah.Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk.Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka.Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat.Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌوَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌيَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِىوَٱدْخُلِى جَنَّتِى“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama1. Balasan bagi Orang yang DurhakaAllah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya.Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.”Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32:خُذُوهُ فَغُلُّوهُثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ“(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32)2. Seruan bagi Jiwa yang TenangAllah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.”Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28:ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)3. Kembali kepada Allah dengan KeridhaanAllah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119:رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119)4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang SalehAllah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.”Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia.Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69:وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas KeimananAllah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir.Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74:وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73) Tadabur Ayat 24-30Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya.Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati.Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula.Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat.Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.  –6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh

Tafsir Surah Al-Fajr: Kesombongan Manusia dan Lupa Bersyukur

Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.   Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30   Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya Allah Ta’ala berfirman, وَٱلْفَجْرِ “Demi fajar,” وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan malam yang sepuluh,” وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ “Dan yang genap dan yang ganjil,” وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ “Dan malam bila berlalu.” هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar Menurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah: 10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. 10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji. Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah. 3. Makna Ganjil dan Genap dalam Ayat Ayat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga. 4. Sumpah dengan Malam yang Berlalu Allah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah. 5. Pesan bagi Orang yang Berakal Pada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia.   Tadabur Ayat 1. Keagungan Waktu Fajar Allah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Dua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya. 3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan Genap Konsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu. 4. Kesadaran akan Siklus Kehidupan Allah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat. 5. Pentingnya Akal dalam Memahami Kebenaran Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia.   Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka Allah Ta’ala berfirman, أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?” إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.” ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ “Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).” ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.” فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ “Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.” فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ “Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”    Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang Dibinasakan Kaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69) 2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang Allah Kaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka. Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap. 3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang Besar Allah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil. Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di Bumi Kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka. Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini. 5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan Kezaliman Allah menegaskan, إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.   Tadabur Ayat Kemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar. Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi. Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah. Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama.   Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki Allah Ta’ala berfirman: فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15) وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa Dimuliakan Allah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar. 2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya Dihina Sebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya. 3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap Ujian Ayat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7: إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)   Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16: يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ. Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah. Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih.   Tadabur Ayat Rezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan. Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah. Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan. Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.   Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ وَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭا وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا “Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan Dunia Setelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama. 2. Tidak Memuliakan Anak Yatim Allah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.” Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9: فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9) 3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang Miskin Allah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan. Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini: أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3) 4. Rakus dalam Memakan Harta Warisan Allah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah. Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain. 5. Cinta Berlebihan terhadap Harta Allah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan. Allah mengingatkan dalam ayat, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)   Tadabur Ayat 17-20 Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi. Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat. Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan. Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17, بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17) Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Gambaran Dahsyatnya Hari Kiamat Allah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat. Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2: إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2) 2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan Berbaris Allah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17: وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ “Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17) 3. Ditampakkannya Neraka Jahannam Allah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا “Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842) Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran. 4. Penyesalan Manusia yang Terlambat Allah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10: وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10) 5. Penyesalan Karena Tidak Beramal Saleh Allah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28, وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا “Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28)   Tadabur Ayat 21-24 Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah. Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk. Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka. Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat. Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh.   Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman Allah Ta’ala berfirman: فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى وَٱدْخُلِى جَنَّتِى “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Balasan bagi Orang yang Durhaka Allah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya. Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32: خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ “(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32) 2. Seruan bagi Jiwa yang Tenang Allah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28: ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) 3. Kembali kepada Allah dengan Keridhaan Allah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119: رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ “Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119) 4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang Saleh Allah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69: وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69) 5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas Keimanan Allah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74: وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73)   Tadabur Ayat 24-30 Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula. Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat. Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia.   Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.    – 6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh

Tafsir Surah Al-Fajr: Kesombongan Manusia dan Lupa Bersyukur

Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.   Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30   Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya Allah Ta’ala berfirman, وَٱلْفَجْرِ “Demi fajar,” وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan malam yang sepuluh,” وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ “Dan yang genap dan yang ganjil,” وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ “Dan malam bila berlalu.” هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar Menurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah: 10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. 10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji. Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah. 3. Makna Ganjil dan Genap dalam Ayat Ayat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga. 4. Sumpah dengan Malam yang Berlalu Allah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah. 5. Pesan bagi Orang yang Berakal Pada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia.   Tadabur Ayat 1. Keagungan Waktu Fajar Allah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Dua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya. 3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan Genap Konsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu. 4. Kesadaran akan Siklus Kehidupan Allah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat. 5. Pentingnya Akal dalam Memahami Kebenaran Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia.   Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka Allah Ta’ala berfirman, أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?” إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.” ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ “Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).” ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.” فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ “Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.” فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ “Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”    Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang Dibinasakan Kaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69) 2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang Allah Kaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka. Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap. 3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang Besar Allah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil. Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di Bumi Kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka. Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini. 5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan Kezaliman Allah menegaskan, إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.   Tadabur Ayat Kemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar. Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi. Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah. Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama.   Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki Allah Ta’ala berfirman: فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15) وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa Dimuliakan Allah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar. 2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya Dihina Sebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya. 3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap Ujian Ayat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7: إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)   Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16: يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ. Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah. Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih.   Tadabur Ayat Rezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan. Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah. Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan. Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.   Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ وَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭا وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا “Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan Dunia Setelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama. 2. Tidak Memuliakan Anak Yatim Allah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.” Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9: فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9) 3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang Miskin Allah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan. Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini: أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3) 4. Rakus dalam Memakan Harta Warisan Allah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah. Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain. 5. Cinta Berlebihan terhadap Harta Allah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan. Allah mengingatkan dalam ayat, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)   Tadabur Ayat 17-20 Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi. Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat. Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan. Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17, بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17) Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Gambaran Dahsyatnya Hari Kiamat Allah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat. Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2: إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2) 2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan Berbaris Allah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17: وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ “Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17) 3. Ditampakkannya Neraka Jahannam Allah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا “Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842) Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran. 4. Penyesalan Manusia yang Terlambat Allah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10: وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10) 5. Penyesalan Karena Tidak Beramal Saleh Allah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28, وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا “Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28)   Tadabur Ayat 21-24 Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah. Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk. Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka. Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat. Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh.   Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman Allah Ta’ala berfirman: فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى وَٱدْخُلِى جَنَّتِى “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Balasan bagi Orang yang Durhaka Allah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya. Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32: خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ “(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32) 2. Seruan bagi Jiwa yang Tenang Allah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28: ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) 3. Kembali kepada Allah dengan Keridhaan Allah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119: رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ “Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119) 4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang Saleh Allah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69: وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69) 5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas Keimanan Allah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74: وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73)   Tadabur Ayat 24-30 Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula. Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat. Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia.   Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.    – 6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh
Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.   Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30   Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya Allah Ta’ala berfirman, وَٱلْفَجْرِ “Demi fajar,” وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan malam yang sepuluh,” وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ “Dan yang genap dan yang ganjil,” وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ “Dan malam bila berlalu.” هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar Menurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah: 10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. 10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji. Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah. 3. Makna Ganjil dan Genap dalam Ayat Ayat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga. 4. Sumpah dengan Malam yang Berlalu Allah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah. 5. Pesan bagi Orang yang Berakal Pada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia.   Tadabur Ayat 1. Keagungan Waktu Fajar Allah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Dua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya. 3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan Genap Konsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu. 4. Kesadaran akan Siklus Kehidupan Allah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat. 5. Pentingnya Akal dalam Memahami Kebenaran Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia.   Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka Allah Ta’ala berfirman, أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?” إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.” ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ “Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).” ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.” فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ “Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.” فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ “Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”    Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang Dibinasakan Kaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69) 2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang Allah Kaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka. Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap. 3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang Besar Allah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil. Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di Bumi Kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka. Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini. 5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan Kezaliman Allah menegaskan, إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.   Tadabur Ayat Kemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar. Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi. Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah. Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama.   Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki Allah Ta’ala berfirman: فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15) وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa Dimuliakan Allah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar. 2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya Dihina Sebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya. 3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap Ujian Ayat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7: إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)   Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16: يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ. Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah. Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih.   Tadabur Ayat Rezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan. Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah. Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan. Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.   Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ وَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭا وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا “Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan Dunia Setelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama. 2. Tidak Memuliakan Anak Yatim Allah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.” Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9: فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9) 3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang Miskin Allah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan. Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini: أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3) 4. Rakus dalam Memakan Harta Warisan Allah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah. Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain. 5. Cinta Berlebihan terhadap Harta Allah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan. Allah mengingatkan dalam ayat, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)   Tadabur Ayat 17-20 Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi. Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat. Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan. Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17, بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17) Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Gambaran Dahsyatnya Hari Kiamat Allah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat. Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2: إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2) 2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan Berbaris Allah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17: وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ “Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17) 3. Ditampakkannya Neraka Jahannam Allah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا “Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842) Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran. 4. Penyesalan Manusia yang Terlambat Allah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10: وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10) 5. Penyesalan Karena Tidak Beramal Saleh Allah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28, وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا “Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28)   Tadabur Ayat 21-24 Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah. Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk. Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka. Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat. Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh.   Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman Allah Ta’ala berfirman: فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى وَٱدْخُلِى جَنَّتِى “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Balasan bagi Orang yang Durhaka Allah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya. Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32: خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ “(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32) 2. Seruan bagi Jiwa yang Tenang Allah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28: ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) 3. Kembali kepada Allah dengan Keridhaan Allah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119: رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ “Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119) 4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang Saleh Allah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69: وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69) 5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas Keimanan Allah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74: وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73)   Tadabur Ayat 24-30 Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula. Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat. Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia.   Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.    – 6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh


Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur’an yang mengandung sumpah-sumpah Allah tentang waktu fajar, sepuluh malam istimewa, serta fenomena ganjil dan genap sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah mengisahkan kehancuran kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman mereka, serta mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah ujian, bukan tanda kemuliaan atau kehinaan. Surat ini juga menggambarkan penyesalan manusia pada Hari Kiamat saat menyadari kesalahan mereka, tetapi sudah terlambat untuk bertaubat. Namun, Allah memberikan kabar gembira bagi jiwa yang tenang (an-nafsul muthmainnah), yaitu mereka yang beriman dan bertakwa, yang akan mendapatkan surga-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Tafsir surat ini mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, memahami hakikat ujian dunia, serta meraih ketenangan dengan kembali kepada Allah.   Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya 1.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1.2. Tadabur Ayat 2. Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka 2.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 2.2. Tadabur Ayat 3. Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki 3.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 3.2. Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di 3.3. Tadabur Ayat 4. Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia 4.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 4.2. Tadabur Ayat 17-20 5. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia 5.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 5.2. Tadabur Ayat 21-24 6. Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman 6.1. Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 6.2. Tadabur Ayat 24-30   Tafsir Ayat 1-5: Sumpah Allah dan Maknanya Allah Ta’ala berfirman, وَٱلْفَجْرِ “Demi fajar,” وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan malam yang sepuluh,” وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ “Dan yang genap dan yang ganjil,” وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ “Dan malam bila berlalu.” هَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍ “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Fajr: 1-5)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar Menurut Tafsir Al-Muyassar, Allah bersumpah dengan waktu fajar karena fajar adalah momen penting dalam kehidupan manusia, menjadi waktu transisi antara malam dan siang, serta saat dimulainya berbagai aktivitas. Selain itu, waktu fajar memiliki keutamaan dalam ibadah, termasuk shalat Shubuh yang merupakan salah satu shalat utama dalam Islam. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “malam yang sepuluh”, tetapi dua pendapat paling kuat adalah: 10 malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. 10 hari pertama Dzulhijjah, yang mencakup hari Arafah dan puncak ibadah haji. Menurut Tafsir As-Sa’di, malam-malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, di dalamnya terkandung ibadah-ibadah istimewa seperti puasa, shalat malam, dzikir, dan amal saleh yang sangat dicintai oleh Allah. 3. Makna Ganjil dan Genap dalam Ayat Ayat ini juga menyebutkan sumpah Allah atas yang genap dan yang ganjil. Menurut sebagian ulama, yang genap merujuk pada semua ciptaan yang berpasangan di alam semesta, sementara yang ganjil mengisyaratkan keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Pendapat lain mengatakan: (الشفع) adalah dua hari tasyriq pertama yang diperbolehkan bagi orang yang berhaji untuk menyegerakan melempar jumrah pada hari itu. sedangkan (الوتر) yakni hari tasyriq ketiga. 4. Sumpah dengan Malam yang Berlalu Allah juga bersumpah dengan malam saat berlalu, menandakan bagaimana malam membawa ketenangan bagi manusia, serta pergantian siang dan malam adalah bukti kekuasaan Allah. 5. Pesan bagi Orang yang Berakal Pada ayat terakhir dalam bagian ini, Allah menegaskan bahwa sumpah-sumpah ini ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Sebagaimana disebutkan dalam Zubdatut Tafsir, orang yang memiliki akal akan memahami bahwa apa yang Allah jadikan sumpah merupakan sesuatu yang besar dan memiliki hikmah dalam kehidupan manusia.   Tadabur Ayat 1. Keagungan Waktu Fajar Allah mengawali surat ini dengan sumpah terhadap waktu fajar, menunjukkan bahwa fajar adalah waktu yang istimewa. Ini mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan aktivitas yang bermanfaat, seperti shalat Subuh, dzikir, dan mencari keberkahan dalam pekerjaan. 2. Keutamaan 10 Malam Istimewa Dua tafsiran utama tentang “malam yang sepuluh” menyoroti betapa besar keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Ini mengajarkan kita untuk lebih giat beribadah di waktu-waktu mulia tersebut, termasuk dengan shalat malam, puasa, dan amal saleh lainnya. 3. Memahami Hikmah di Balik Ganjil dan Genap Konsep ganjil dan genap dalam ayat ini mengajarkan kita untuk merenungi keseimbangan ciptaan Allah. Ada yang berpasangan, ada yang tunggal, dan semuanya menunjukkan keesaan serta kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu. 4. Kesadaran akan Siklus Kehidupan Allah bersumpah dengan malam yang berlalu, mengingatkan kita bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda kebesaran-Nya. Waktu terus berjalan, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik sebelum terlambat. 5. Pentingnya Akal dalam Memahami Kebenaran Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat memahami makna sumpah-sumpah ini. Ini mengajarkan kita untuk menggunakan akal dengan benar, merenungkan ayat-ayat Allah, dan tidak terjebak dalam kesombongan serta kelalaian dunia.   Tafsir Ayat 6-14: Kehancuran Kaum Durhaka Allah Ta’ala berfirman, أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?” إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.” ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ “Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).” ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ “Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.” فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ “Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.” فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ “Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”    Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kaum ‘Aad: Bangsa Perkasa yang Dibinasakan Kaum ‘Aad adalah keturunan Iram yang tinggal di daerah Yaman. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun, mereka durhaka kepada Allah dan menolak dakwah Nabi Hud ‘alaihis salam. Akibatnya, Allah mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan mereka hingga tak tersisa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 69, وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِى ٱلْخَلْقِ بَصْۜطَةً ۖ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69) 2. Kaum Tsamud: Ahli Pahat Batu yang Menantang Allah Kaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang memahat gunung-gunung batu sebagai tempat tinggal di daerah Hijr (sekarang di wilayah Arab Saudi). Mereka telah diberi tanda kebesaran Allah berupa mukjizat unta Nabi Shaleh ‘alaihis salam, tetapi malah membunuh unta tersebut dan tetap dalam kekafiran mereka. Karena kezaliman mereka, Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar, sehingga mereka binasa dalam sekejap. 3. Fir’aun: Penguasa Kejam dengan Pasukan yang Besar Allah juga menyebut Fir’aun yang dikenal sebagai “Dzul Awtad” (pemilik pasak-pasak), yang merujuk pada pasukannya yang besar dan sistem kekuasaannya yang kuat. Fir’aun adalah raja yang paling sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan melakukan kezaliman terhadap Bani Israil. Namun, sehebat apa pun kekuasaannya, Fir’aun tetap tidak bisa menghindari azab Allah. Dia dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 4. Kesamaan Kaum Durhaka: Berbuat Kerusakan di Bumi Kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun memiliki kesamaan: mereka semua melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan berbuat banyak kerusakan di bumi. Mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kezaliman. Akibatnya, Allah menimpakan cemeti azab kepada mereka. Kata Syaikh As-Sa’di: Yang dimaksud berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan kekufuran dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para Rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kerusakan sejati bukan hanya merusak fisik dunia, tetapi juga menghancurkan hati dan moral manusia. Kesombongan, kekufuran, dan kemaksiatan adalah bentuk terbesar dari kehancuran yang akhirnya membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu, tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keimanan, menghindari dosa, dan berusaha memperbaiki kondisi diri serta masyarakat agar keberkahan tetap terjaga di dunia ini. 5. Allah Maha Mengawasi dan Tidak Akan Membiarkan Kezaliman Allah menegaskan, إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” Artinya, Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi hamba-Nya. Kezaliman mungkin dibiarkan sementara, tetapi pada akhirnya, Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.   Tadabur Ayat Kemewahan dan kekuatan dunia bukan jaminan keselamatan – kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh bahwa kekuasaan bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak digunakan dengan benar. Kezaliman dan kesombongan adalah sebab utama turunnya azab Allah – semua kaum yang disebut dalam ayat ini binasa karena mereka melampaui batas dan mengabaikan peringatan dari para Nabi. Allah selalu mengawasi dan tidak akan membiarkan kezaliman terjadi selamanya – orang yang durhaka mungkin merasa aman untuk sementara, tetapi pada akhirnya, mereka akan menghadapi balasan dari Allah. Kisah ini menjadi peringatan bagi kita semua – kita harus selalu berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu dengan bersikap sombong, lalai, atau berbuat zalim kepada sesama.   Tafsir Ayat 15-16: Ujian dalam Kelapangan dan Kesempitan Rezeki Allah Ta’ala berfirman: فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15) وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 16) Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Ujian Kelapangan: Manusia yang Merasa Dimuliakan Allah menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi dan kenikmatan dunia. Ketika ia mendapatkan rezeki yang lapang dan hidup dalam kemakmuran, ia menganggap bahwa itu adalah tanda bahwa Allah memuliakannya. Padahal, kelapangan rezeki bukanlah tanda kemuliaan sejati, melainkan ujian dari Allah untuk melihat apakah manusia bersyukur atau justru menjadi sombong dan lalai dari ibadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوا۟ أَخَذْنٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Hal ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki bukanlah jaminan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, itu adalah bentuk ujian yang bisa membawa kehancuran jika tidak disikapi dengan benar. 2. Ujian Kesempitan: Manusia yang Menganggap Dirinya Dihina Sebaliknya, ketika manusia diuji dengan kesulitan ekonomi dan rezekinya dibatasi, ia langsung beranggapan bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal, ujian dalam bentuk kesulitan hidup juga merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mendidik hamba-Nya agar lebih bersabar, tawakal, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah: 155, Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beranggapan bahwa kesulitan hidup adalah tanda kehinaan di sisi Allah. Sebaliknya, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji dengan berbagai cobaan agar mereka semakin dekat kepada-Nya. 3. Kesalahan Persepsi Manusia terhadap Ujian Ayat ini menegaskan bahwa manusia sering kali salah dalam menilai kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah dan kesulitan adalah tanda kehinaan. Padahal, ujian bisa datang dalam berbagai bentuk: baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia yang berpikir seperti ini adalah orang yang tidak memahami hakikat ujian. Ia terlalu berorientasi pada dunia dan lupa bahwa baik kelapangan maupun kesempitan adalah bagian dari ketentuan Allah untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 7: إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)   Renungan dari Tafsir Syaikh As-Sa’di Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Fajr ayat 15 dan 16: يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنْسَانِ مِنْ حَيْثُ هُوَ، وَأَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ، لَا عِلْمَ لَهُ بِالْعَوَاقِبِ، يَظُنُّ الحَالَةَ الَّتِي تَقَعُ فِيهَا تَسْتَمِرُّ وَلَا تَزُولُ، وَيَظُنُّ أَنَّ إِكْرَامَ اللهِ فِي الدُّنْيَا وَإِنْعَامَهُ عَلَيْهِ يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ عِنْدَهُ وَقُرْبِهِ مِنْهُ، وَأَنَّهُ إِذَا {قَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ} أَيْ: ضَيَّقَهُ، فَصَارَ يَقْدِرُ قُوتَهُ لَا يَفْضُلُ مِنْهُ، أَنَّ هَذَا إِهَانَةٌ مِنَ اللهِ ⦗٩٢٤⦘ لَهُ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ هَذَا الحِسْبَانَ: بِقَوْلِهِ {كَلَّا} أَيْ: لَيْسَ كُلُّ مَنْ نَعَّمْتُهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَرِيمٌ عَلَيَّ، وَلَا كُلُّ مَنْ قَدَّرْتُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَهُوَ مُهَانٌ لَدَيَّ، وَإِنَّمَا الغِنَى وَالفَقْرُ، وَالسَّعَةُ وَالضِّيقُ، ابْتِلَاءٌ مِنَ اللهِ، وَامْتِحَانٌ يَمْتَحِنُ بِهِ العِبَادَ، لِيَرَى مَنْ يَقُومُ لَهُ بِالشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، فَيُثِيبُهُ عَلَى ذَلِكَ الثَّوَابَ الجَزِيلَ، مِمَّنْ لَيْسَ كَذَلِكَ فَيَنْقُلُهُ إِلَى العَذَابِ الوَبِيلِ. Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat dasar manusia secara umum, bahwa manusia itu cenderung bodoh dan zalim, serta tidak memahami akibat dari suatu keadaan. Ia mengira bahwa kondisi yang menimpanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah. Jika Allah memuliakannya dan memberinya kenikmatan di dunia, ia menganggap bahwa itu adalah tanda kemuliaan dan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezekinya sehingga ia hanya memiliki cukup untuk kebutuhan pokoknya tanpa kelebihan, ia mengira bahwa itu adalah tanda kehinaan dari Allah. Allah membantah anggapan tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!” Artinya, tidaklah setiap orang yang diberikan kenikmatan di dunia berarti ia dimuliakan di sisi Allah, dan tidak pula setiap orang yang rezekinya disempitkan berarti ia dihinakan oleh-Nya. Kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Dengan ujian ini, Allah ingin melihat siapa yang bersyukur dan bersabar sehingga layak mendapatkan pahala yang besar, dan siapa yang tidak bersyukur serta tidak bersabar sehingga berhak mendapatkan azab yang pedih.   Tadabur Ayat Rezeki yang luas bukan tanda kemuliaan, dan rezeki yang sedikit bukan tanda kehinaan. Semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana manusia bersikap terhadap nikmat atau musibah yang diberikan. Manusia harus menghindari kesalahan dalam memahami takdir Allah. Jangan beranggapan bahwa kehidupan dunia mencerminkan status kita di sisi Allah. Bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan adalah kunci keberhasilan dalam ujian kehidupan. Ujian datang dalam berbagai bentuk, dan semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia adalah ujian semata. Seorang mukmin harus memahami bahwa segala bentuk kenikmatan dan kesulitan adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji keimanan manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan, karena itulah kunci menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.   Tafsir Ayat 17-20: Peringatan terhadap Sikap Lalai dan Cinta Dunia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ وَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّۭا وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّۭا جَمًّۭا “Sekali-kali tidak! Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 17-20)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Kesalahan Manusia dalam Menilai Kehidupan Dunia Setelah Allah menjelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa manusia sering keliru menilai ujian kelapangan dan kesempitan rezeki, kini Allah membongkar kesalahan lain dalam sikap manusia, yaitu kelalaian dalam menunaikan hak-hak sosial. Ayat ini menegaskan bahwa manusia seringkali sibuk dengan harta dan kenikmatan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban mereka terhadap sesama, terutama kepada kaum yang lemah seperti anak yatim dan orang miskin. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat-ayat ini mengkritik orang-orang yang tidak memuliakan anak yatim, tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin, dan bahkan rakus dalam mengambil harta warisan tanpa memerhatikan kehalalannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai harta daripada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama. 2. Tidak Memuliakan Anak Yatim Allah berfirman: “Tetapi kamu tidak memuliakan anak yatim.” Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa manusia lalai terhadap kewajibannya terhadap anak yatim, yaitu mereka yang kehilangan ayahnya sejak kecil dan membutuhkan perhatian serta perlindungan. Manusia yang rakus terhadap dunia cenderung mengabaikan anak-anak yatim, bahkan kadang-kadang menzalimi mereka dengan mengambil haknya. Padahal, Allah telah berulang kali memerintahkan dalam Al-Qur’an agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik dan memberikan mereka hak-haknya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Duha: 9: فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9) 3. Tidak Mengajak Memberi Makan Orang Miskin Allah berfirman: “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” Ayat ini mengandung dua kecaman: pertama, mereka sendiri tidak mau memberi makan orang miskin, dan kedua, mereka tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa ajakan untuk berbuat baik adalah tanda kepedulian sosial yang tinggi. Orang yang benar-benar memiliki iman akan senantiasa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam memberi makan orang-orang yang membutuhkan. Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un juga menegaskan hal ini: أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3) 4. Rakus dalam Memakan Harta Warisan Allah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil).” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa mereka yang cinta dunia sering kali tidak peduli dengan hukum halal dan haram dalam mendapatkan harta. Mereka mengambil harta warisan secara tidak adil, bahkan kadang-kadang merampas hak ahli waris yang seharusnya menerimanya, seperti anak perempuan atau kerabat yang lebih lemah. Syaikh As-Sa’di menegaskan bahwa perilaku ini adalah tanda kerakusan terhadap dunia yang membutakan hati. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh harta sebanyak mungkin tanpa memerhatikan hak-hak orang lain. 5. Cinta Berlebihan terhadap Harta Allah berfirman: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menjadikan harta sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Mereka mencintai harta dengan sangat berlebihan hingga lupa bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan. Allah mengingatkan dalam ayat, ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)   Tadabur Ayat 17-20 Jangan lalai terhadap anak yatim dan orang miskin. Allah mencela mereka yang tidak peduli terhadap kaum yang lemah. Keimanan sejati ditunjukkan dengan kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah pribadi. Harta bukanlah tujuan utama. Cinta dunia yang berlebihan membuat manusia lalai dari tanggung jawabnya terhadap sesama dan terhadap akhirat. Perhatikan kehalalan harta. Jangan sampai kerakusan terhadap dunia membuat kita mengambil harta dengan cara yang haram, termasuk dalam hal warisan. Ajak orang lain dalam kebaikan. Tidak cukup hanya berbuat baik sendirian, tetapi kita juga harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Hidup bukan sekadar mengumpulkan harta. Kita harus mengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan yang lebih utama adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A’la: 16-17, بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17) Dengan memahami tafsir ayat-ayat ini, kita diingatkan agar tidak terjebak dalam kecintaan dunia yang berlebihan, tetapi fokus pada amal kebaikan yang akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. Tafsir Ayat 21-24: Gambaran Hari Kiamat dan Penyesalan Manusia Allah Ta’ala berfirman: كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini‘.” (QS. Al-Fajr: 21-24)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Gambaran Dahsyatnya Hari Kiamat Allah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa bumi akan diguncangkan dengan keras dan seluruh isinya akan hancur. Ini adalah tanda bahwa kehidupan dunia telah berakhir, dan manusia akan menghadapi pengadilan akhirat. Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa tidak ada yang tersisa dari dunia yang selama ini diperebutkan oleh manusia. Gunung-gunung akan diratakan, lautan akan meluap, dan bumi akan kehilangan bentuknya yang sekarang. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 1-2: إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2) 2. Kehadiran Allah dan Malaikat dalam Keadaan Berbaris Allah berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ini adalah momen penghakiman Allah terhadap seluruh makhluk. Para malaikat hadir dalam barisan yang rapi, menunjukkan keteraturan dan kepatuhan mereka kepada perintah Allah. Ini juga menandakan bahwa seluruh ciptaan tunduk pada kehendak-Nya di hari itu. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 17: وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ “Dan malaikat-malaikat berada di semua penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17) 3. Ditampakkannya Neraka Jahannam Allah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa neraka Jahannam akan didatangkan dan diperlihatkan dengan jelas kepada seluruh manusia. Ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan, yang membuat manusia sadar akan akibat dari perbuatan mereka di dunia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا “Pada hari kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dengan 70.000 tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim, no. 2842) Ini menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya neraka yang telah disiapkan bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran. 4. Penyesalan Manusia yang Terlambat Allah berfirman: “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa manusia akan menyadari kesalahan mereka dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beramal saleh. Namun, saat itu sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun: 10: وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10) 5. Penyesalan Karena Tidak Beramal Saleh Allah berfirman: “Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.'” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa manusia akan menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan di dunia. Mereka baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan: 27-28, وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا “Pada hari itu orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai, kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 27-28)   Tadabur Ayat 21-24 Hari Kiamat adalah kepastian. Semua yang ada di dunia ini akan hancur, dan manusia akan menghadapi pengadilan Allah. Tidak ada tempat bersembunyi. Malaikat hadir dalam barisan untuk menyaksikan keputusan Allah terhadap setiap makhluk. Neraka Jahannam adalah kenyataan. Ia akan diperlihatkan kepada seluruh manusia sebagai bentuk peringatan akan akibat dari dosa-dosa mereka. Penyesalan di akhirat tidak berguna. Banyak orang baru menyadari pentingnya amal saleh setelah semuanya terlambat. Gunakan waktu di dunia dengan bijak. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal saleh.   Tafsir Ayat 24-30: Balasan bagi Orang Durhaka dan Orang Beriman Allah Ta’ala berfirman: فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى وَٱدْخُلِى جَنَّتِى “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 24-30)   Makna Ayat Menurut Tafsir Ulama 1. Balasan bagi Orang yang Durhaka Allah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyiksa sebagaimana Allah menyiksa orang-orang yang mendurhakai-Nya. Siksaan-Nya sangat dahsyat dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya dalam memberikan hukuman kepada mereka yang melalaikan perintah-Nya. Allah juga berfirman: “Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” Mereka yang durhaka akan dibelenggu dengan rantai dari api neraka dan diseret ke dalamnya. Ini adalah bentuk balasan yang adil bagi mereka yang selama hidupnya menolak kebenaran dan melalaikan perintah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haqqah: 30-32: خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ ٱلْجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَٱسْلُكُوهُ “(Allah berfirman), ‘Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32) 2. Seruan bagi Jiwa yang Tenang Allah berfirman: “Hai jiwa yang tenang.” Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang tenang adalah jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang selalu merasa tenang dalam mengingat-Nya, dan yang yakin terhadap janji-janji Allah. Jiwa mereka tenteram karena keimanan yang kuat dan keyakinan akan pahala yang Allah janjikan bagi mereka. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28: ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) 3. Kembali kepada Allah dengan Keridhaan Allah berfirman: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan kembali kepada Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Mereka ridha dengan ketetapan Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjalani kehidupan dunia dengan keimanan dan amal saleh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 119: رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ “Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 119) 4. Masuk ke dalam Golongan Hamba Allah yang Saleh Allah berfirman: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku.” Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang saleh dan para nabi dalam kenikmatan surga yang abadi. Allah mempersilakan mereka untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mulia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 69: وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69) 5. Masuk ke dalam Surga sebagai Balasan atas Keimanan Allah berfirman: “Masuklah ke dalam surga-Ku.” Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa ini adalah balasan terakhir bagi orang-orang yang beriman. Setelah melalui berbagai ujian di dunia, mereka akhirnya mendapatkan kehidupan yang kekal dalam surga. Ini adalah puncak kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 73-74: وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombongan, hingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73)   Tadabur Ayat 24-30 Siksa Allah adalah yang paling dahsyat. Tidak ada yang bisa menandingi hukuman Allah terhadap orang-orang yang mendurhakai-Nya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu mengingat Allah. Orang yang hatinya tenteram dengan iman akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Ridha kepada Allah adalah kunci keselamatan. Orang-orang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan mendapatkan ridha-Nya pula. Menjadi bagian dari hamba Allah yang saleh adalah anugerah besar. Allah akan mengumpulkan orang-orang beriman bersama golongan yang mulia di akhirat. Surga adalah balasan tertinggi bagi orang beriman. Mereka akan hidup dalam kenikmatan yang tidak pernah berakhir sebagai ganjaran atas amal baik mereka di dunia.   Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.    – 6 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Tagsan-nafsul muthmainnah janji surga dalam Al-Qur’an jiwa yang tenang kehancuran kaum Tsamud kesombongan Fir’aun kisah kaum ‘Aad penyesalan di Hari Kiamat renungan ayat renungan quran shalat shubuh shubuh tafsir juz amma tafsir surat Al-Fajr tafsir ulama ujian kekayaan dan kemiskinan waktu shubuh

Menyucikan Hati Menyambut Ramadan

Daftar Isi Toggle Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafsAmalan penyucian hatiPersiapan menyambut Ramadan Detoks spiritual adalah proses penyucian jiwa dari berbagai noda dosa dan kelalaian agar hati kembali bersih dan bercahaya dalam keimanan. Seperti tubuh yang memerlukan detoksifikasi dari racun, hati juga membutuhkan penyucian dari penyakit batin seperti riya’, ujub, gibah, dan kelalaian dalam ibadah. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk melakukan detoks spiritual, karena di bulan ini setiap muslim diberikan kesempatan untuk memperbanyak ibadah, bertobat, serta menghidupkan hati dengan zikir dan tilawah Al-Qur’an. Proses detoks spiritual melibatkan berbagai amalan yang bertujuan untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Salat, puasa, istigfar, serta sedekah adalah beberapa cara yang diajarkan dalam Islam untuk mengikis dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, muhasabah (introspeksi diri) dan tobat nasuha adalah langkah penting dalam detoks spiritual, karena keduanya membantu seseorang menyadari kesalahan, menyesalinya, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Ramadan adalah madrasah rohani, saat setiap muslim diberi kesempatan untuk membersihkan jiwa dari dosa dan kelalaian. Sebagaimana tubuh memerlukan mandi untuk membersihkan kotoran fisik, hati pun butuh “mandi spiritual” agar tetap bersinar. Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10) Setiap insan tak luput dari salah dan khilaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ “Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, sahih) Dosa ibarat noda hitam yang menodai kemurnian hati. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan satu dosa, maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Dan jika dia meninggalkan dosa tersebut, meminta ampun dan bertobat, maka hatinya akan bersih. Namun, jika dia terus bermaksiat, maka akan ditambahkan titik hitam sampai menutupi hatinya, dan itulah yang diistilahkan dengan ‘ran’, (yaitu penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak, akan tetapi penutup telah menutupi hatinya diakibatkan apa yang mereka kerjakan dari perbuatan dosa.’” (HR. At-Tirmidzi) Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafs Tanpa disadari, dosa-dosa kecil seperti gibah, ujub, atau lalai dalam ibadah menumpuk layaknya debu yang menutupi cermin hati. Ramadan hadir sebagai bulan tarbiyah untuk mengembalikan kesucian fitrah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن صَامَ رَمَضَانَ، إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38) Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menyeluruh untuk mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Ramadan, setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan rahmat Allah tercurah. Inilah momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) dan tajdidun nafs (pembaruan jiwa). Baca juga: Gerbang Ramadan Menuju Kejayaan Amalan penyucian hati Salat adalah “sungai” yang mengalirkan ampunan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau bersabda, “Maka, begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Setiap gerakan salat mengandung makna penyucian. Wudu membersihkan anggota tubuh sambil mengikis dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ “Ketika seorang hamba berwudu dan membasuh wajahnya, dosa-dosa yang dilakukan matanya akan luruh…” (HR. Muslim no. 244) Sementara itu, sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim no. 482) Namun, penyucian hati tidak cukup hanya dengan salat dan puasa. Tobat nasuha menjadi inti dari detoks spiritual. Allah berfirman, وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31) Untuk mempercepat penyucian hati, amalan pendamping, seperti: membaca Al-Qur’an, bersedekah, istigfar, dan berzikir harus diperbanyak. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai syifa’ (penyembuh). Firman-Nya, وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82) Sedekah juga menjadi cara efektif untuk memadamkan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman) Selain itu, istigfar yang dilakukan di waktu sahur menjadi salah satu kunci meraih ampunan Allah. Rasulullah yang ma’shum pun beristigfar 70-100 kali sehari (HR. Bukhari no. 6307). Zikir juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesucian hati. Nabi bersabda, مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari no. 6407) Persiapan menyambut Ramadan Persiapan menyambut Ramadan harus dimulai jauh sebelum bulan suci ini tiba. Muhasabah diri dengan mengevaluasi dosa-dosa yang pernah dilakukan, memperbanyak puasa sunah, membuat target tilawah Al-Qur’an, latihan qiyamul lail, dan memperbanyak sedekah adalah langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan. Lebih detailnya kami merangkum dalam poin-poin berikut ini: Pertama: Mulai muhasabah diri Luangkan waktu untuk mengevaluasi kesalahan dan kekhilafan di masa lalu. Catat dosa-dosa yang ingin ditinggalkan dan buat tekad kuat untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba. Kedua: Perbanyak amalan sunah Biasakan diri dengan puasa sunah, salat malam, dan zikir harian agar lebih siap menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Ketiga: Tingkatkan interaksi dengan Al-Qur’an Buat target tilawah Al-Qur’an dan pahami maknanya agar hati semakin terhubung dengan wahyu Ilahi. Mulai dengan membaca satu halaman per hari dan tingkatkan secara bertahap. Keempat: Perbanyak sedekah dan istigfar Jadikan sedekah sebagai kebiasaan, baik berupa harta, tenaga, maupun ilmu. Jangan lupa memperbanyak istigfar, terutama di waktu sahur, agar hati semakin bersih dan mendapatkan rahmat Allah. Kelima: Amalkan doa penyucian hati Bacalah doa yang diajarkan Rasulullah untuk membersihkan hati dari riya’, dusta, dan kemunafikan. Sertai dengan niat tulus untuk menjalani Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh keimanan dengan doa berikut: اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, amalku dari riya’, lisanku dari dusta, dan mataku dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan hati.” (HR. Ahmad no. 22866, hasan). Marilah kita sambut Ramadan dengan hati yang jernih, jiwa yang lapang, dan tekad yang bulat. Semoga Allah menerima tobat kita dan menjadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna. رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk untuk kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10) Wallahu a’lam bish-shawab. Baca juga: Buah Manis Ramadan *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id

Menyucikan Hati Menyambut Ramadan

Daftar Isi Toggle Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafsAmalan penyucian hatiPersiapan menyambut Ramadan Detoks spiritual adalah proses penyucian jiwa dari berbagai noda dosa dan kelalaian agar hati kembali bersih dan bercahaya dalam keimanan. Seperti tubuh yang memerlukan detoksifikasi dari racun, hati juga membutuhkan penyucian dari penyakit batin seperti riya’, ujub, gibah, dan kelalaian dalam ibadah. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk melakukan detoks spiritual, karena di bulan ini setiap muslim diberikan kesempatan untuk memperbanyak ibadah, bertobat, serta menghidupkan hati dengan zikir dan tilawah Al-Qur’an. Proses detoks spiritual melibatkan berbagai amalan yang bertujuan untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Salat, puasa, istigfar, serta sedekah adalah beberapa cara yang diajarkan dalam Islam untuk mengikis dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, muhasabah (introspeksi diri) dan tobat nasuha adalah langkah penting dalam detoks spiritual, karena keduanya membantu seseorang menyadari kesalahan, menyesalinya, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Ramadan adalah madrasah rohani, saat setiap muslim diberi kesempatan untuk membersihkan jiwa dari dosa dan kelalaian. Sebagaimana tubuh memerlukan mandi untuk membersihkan kotoran fisik, hati pun butuh “mandi spiritual” agar tetap bersinar. Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10) Setiap insan tak luput dari salah dan khilaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ “Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, sahih) Dosa ibarat noda hitam yang menodai kemurnian hati. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan satu dosa, maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Dan jika dia meninggalkan dosa tersebut, meminta ampun dan bertobat, maka hatinya akan bersih. Namun, jika dia terus bermaksiat, maka akan ditambahkan titik hitam sampai menutupi hatinya, dan itulah yang diistilahkan dengan ‘ran’, (yaitu penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak, akan tetapi penutup telah menutupi hatinya diakibatkan apa yang mereka kerjakan dari perbuatan dosa.’” (HR. At-Tirmidzi) Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafs Tanpa disadari, dosa-dosa kecil seperti gibah, ujub, atau lalai dalam ibadah menumpuk layaknya debu yang menutupi cermin hati. Ramadan hadir sebagai bulan tarbiyah untuk mengembalikan kesucian fitrah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن صَامَ رَمَضَانَ، إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38) Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menyeluruh untuk mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Ramadan, setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan rahmat Allah tercurah. Inilah momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) dan tajdidun nafs (pembaruan jiwa). Baca juga: Gerbang Ramadan Menuju Kejayaan Amalan penyucian hati Salat adalah “sungai” yang mengalirkan ampunan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau bersabda, “Maka, begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Setiap gerakan salat mengandung makna penyucian. Wudu membersihkan anggota tubuh sambil mengikis dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ “Ketika seorang hamba berwudu dan membasuh wajahnya, dosa-dosa yang dilakukan matanya akan luruh…” (HR. Muslim no. 244) Sementara itu, sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim no. 482) Namun, penyucian hati tidak cukup hanya dengan salat dan puasa. Tobat nasuha menjadi inti dari detoks spiritual. Allah berfirman, وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31) Untuk mempercepat penyucian hati, amalan pendamping, seperti: membaca Al-Qur’an, bersedekah, istigfar, dan berzikir harus diperbanyak. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai syifa’ (penyembuh). Firman-Nya, وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82) Sedekah juga menjadi cara efektif untuk memadamkan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman) Selain itu, istigfar yang dilakukan di waktu sahur menjadi salah satu kunci meraih ampunan Allah. Rasulullah yang ma’shum pun beristigfar 70-100 kali sehari (HR. Bukhari no. 6307). Zikir juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesucian hati. Nabi bersabda, مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari no. 6407) Persiapan menyambut Ramadan Persiapan menyambut Ramadan harus dimulai jauh sebelum bulan suci ini tiba. Muhasabah diri dengan mengevaluasi dosa-dosa yang pernah dilakukan, memperbanyak puasa sunah, membuat target tilawah Al-Qur’an, latihan qiyamul lail, dan memperbanyak sedekah adalah langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan. Lebih detailnya kami merangkum dalam poin-poin berikut ini: Pertama: Mulai muhasabah diri Luangkan waktu untuk mengevaluasi kesalahan dan kekhilafan di masa lalu. Catat dosa-dosa yang ingin ditinggalkan dan buat tekad kuat untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba. Kedua: Perbanyak amalan sunah Biasakan diri dengan puasa sunah, salat malam, dan zikir harian agar lebih siap menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Ketiga: Tingkatkan interaksi dengan Al-Qur’an Buat target tilawah Al-Qur’an dan pahami maknanya agar hati semakin terhubung dengan wahyu Ilahi. Mulai dengan membaca satu halaman per hari dan tingkatkan secara bertahap. Keempat: Perbanyak sedekah dan istigfar Jadikan sedekah sebagai kebiasaan, baik berupa harta, tenaga, maupun ilmu. Jangan lupa memperbanyak istigfar, terutama di waktu sahur, agar hati semakin bersih dan mendapatkan rahmat Allah. Kelima: Amalkan doa penyucian hati Bacalah doa yang diajarkan Rasulullah untuk membersihkan hati dari riya’, dusta, dan kemunafikan. Sertai dengan niat tulus untuk menjalani Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh keimanan dengan doa berikut: اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, amalku dari riya’, lisanku dari dusta, dan mataku dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan hati.” (HR. Ahmad no. 22866, hasan). Marilah kita sambut Ramadan dengan hati yang jernih, jiwa yang lapang, dan tekad yang bulat. Semoga Allah menerima tobat kita dan menjadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna. رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk untuk kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10) Wallahu a’lam bish-shawab. Baca juga: Buah Manis Ramadan *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id
Daftar Isi Toggle Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafsAmalan penyucian hatiPersiapan menyambut Ramadan Detoks spiritual adalah proses penyucian jiwa dari berbagai noda dosa dan kelalaian agar hati kembali bersih dan bercahaya dalam keimanan. Seperti tubuh yang memerlukan detoksifikasi dari racun, hati juga membutuhkan penyucian dari penyakit batin seperti riya’, ujub, gibah, dan kelalaian dalam ibadah. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk melakukan detoks spiritual, karena di bulan ini setiap muslim diberikan kesempatan untuk memperbanyak ibadah, bertobat, serta menghidupkan hati dengan zikir dan tilawah Al-Qur’an. Proses detoks spiritual melibatkan berbagai amalan yang bertujuan untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Salat, puasa, istigfar, serta sedekah adalah beberapa cara yang diajarkan dalam Islam untuk mengikis dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, muhasabah (introspeksi diri) dan tobat nasuha adalah langkah penting dalam detoks spiritual, karena keduanya membantu seseorang menyadari kesalahan, menyesalinya, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Ramadan adalah madrasah rohani, saat setiap muslim diberi kesempatan untuk membersihkan jiwa dari dosa dan kelalaian. Sebagaimana tubuh memerlukan mandi untuk membersihkan kotoran fisik, hati pun butuh “mandi spiritual” agar tetap bersinar. Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10) Setiap insan tak luput dari salah dan khilaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ “Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, sahih) Dosa ibarat noda hitam yang menodai kemurnian hati. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan satu dosa, maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Dan jika dia meninggalkan dosa tersebut, meminta ampun dan bertobat, maka hatinya akan bersih. Namun, jika dia terus bermaksiat, maka akan ditambahkan titik hitam sampai menutupi hatinya, dan itulah yang diistilahkan dengan ‘ran’, (yaitu penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak, akan tetapi penutup telah menutupi hatinya diakibatkan apa yang mereka kerjakan dari perbuatan dosa.’” (HR. At-Tirmidzi) Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafs Tanpa disadari, dosa-dosa kecil seperti gibah, ujub, atau lalai dalam ibadah menumpuk layaknya debu yang menutupi cermin hati. Ramadan hadir sebagai bulan tarbiyah untuk mengembalikan kesucian fitrah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن صَامَ رَمَضَانَ، إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38) Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menyeluruh untuk mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Ramadan, setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan rahmat Allah tercurah. Inilah momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) dan tajdidun nafs (pembaruan jiwa). Baca juga: Gerbang Ramadan Menuju Kejayaan Amalan penyucian hati Salat adalah “sungai” yang mengalirkan ampunan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau bersabda, “Maka, begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Setiap gerakan salat mengandung makna penyucian. Wudu membersihkan anggota tubuh sambil mengikis dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ “Ketika seorang hamba berwudu dan membasuh wajahnya, dosa-dosa yang dilakukan matanya akan luruh…” (HR. Muslim no. 244) Sementara itu, sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim no. 482) Namun, penyucian hati tidak cukup hanya dengan salat dan puasa. Tobat nasuha menjadi inti dari detoks spiritual. Allah berfirman, وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31) Untuk mempercepat penyucian hati, amalan pendamping, seperti: membaca Al-Qur’an, bersedekah, istigfar, dan berzikir harus diperbanyak. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai syifa’ (penyembuh). Firman-Nya, وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82) Sedekah juga menjadi cara efektif untuk memadamkan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman) Selain itu, istigfar yang dilakukan di waktu sahur menjadi salah satu kunci meraih ampunan Allah. Rasulullah yang ma’shum pun beristigfar 70-100 kali sehari (HR. Bukhari no. 6307). Zikir juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesucian hati. Nabi bersabda, مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari no. 6407) Persiapan menyambut Ramadan Persiapan menyambut Ramadan harus dimulai jauh sebelum bulan suci ini tiba. Muhasabah diri dengan mengevaluasi dosa-dosa yang pernah dilakukan, memperbanyak puasa sunah, membuat target tilawah Al-Qur’an, latihan qiyamul lail, dan memperbanyak sedekah adalah langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan. Lebih detailnya kami merangkum dalam poin-poin berikut ini: Pertama: Mulai muhasabah diri Luangkan waktu untuk mengevaluasi kesalahan dan kekhilafan di masa lalu. Catat dosa-dosa yang ingin ditinggalkan dan buat tekad kuat untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba. Kedua: Perbanyak amalan sunah Biasakan diri dengan puasa sunah, salat malam, dan zikir harian agar lebih siap menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Ketiga: Tingkatkan interaksi dengan Al-Qur’an Buat target tilawah Al-Qur’an dan pahami maknanya agar hati semakin terhubung dengan wahyu Ilahi. Mulai dengan membaca satu halaman per hari dan tingkatkan secara bertahap. Keempat: Perbanyak sedekah dan istigfar Jadikan sedekah sebagai kebiasaan, baik berupa harta, tenaga, maupun ilmu. Jangan lupa memperbanyak istigfar, terutama di waktu sahur, agar hati semakin bersih dan mendapatkan rahmat Allah. Kelima: Amalkan doa penyucian hati Bacalah doa yang diajarkan Rasulullah untuk membersihkan hati dari riya’, dusta, dan kemunafikan. Sertai dengan niat tulus untuk menjalani Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh keimanan dengan doa berikut: اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, amalku dari riya’, lisanku dari dusta, dan mataku dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan hati.” (HR. Ahmad no. 22866, hasan). Marilah kita sambut Ramadan dengan hati yang jernih, jiwa yang lapang, dan tekad yang bulat. Semoga Allah menerima tobat kita dan menjadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna. رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk untuk kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10) Wallahu a’lam bish-shawab. Baca juga: Buah Manis Ramadan *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id


Daftar Isi Toggle Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafsAmalan penyucian hatiPersiapan menyambut Ramadan Detoks spiritual adalah proses penyucian jiwa dari berbagai noda dosa dan kelalaian agar hati kembali bersih dan bercahaya dalam keimanan. Seperti tubuh yang memerlukan detoksifikasi dari racun, hati juga membutuhkan penyucian dari penyakit batin seperti riya’, ujub, gibah, dan kelalaian dalam ibadah. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk melakukan detoks spiritual, karena di bulan ini setiap muslim diberikan kesempatan untuk memperbanyak ibadah, bertobat, serta menghidupkan hati dengan zikir dan tilawah Al-Qur’an. Proses detoks spiritual melibatkan berbagai amalan yang bertujuan untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Salat, puasa, istigfar, serta sedekah adalah beberapa cara yang diajarkan dalam Islam untuk mengikis dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, muhasabah (introspeksi diri) dan tobat nasuha adalah langkah penting dalam detoks spiritual, karena keduanya membantu seseorang menyadari kesalahan, menyesalinya, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Ramadan adalah madrasah rohani, saat setiap muslim diberi kesempatan untuk membersihkan jiwa dari dosa dan kelalaian. Sebagaimana tubuh memerlukan mandi untuk membersihkan kotoran fisik, hati pun butuh “mandi spiritual” agar tetap bersinar. Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10) Setiap insan tak luput dari salah dan khilaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ “Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, sahih) Dosa ibarat noda hitam yang menodai kemurnian hati. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan satu dosa, maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Dan jika dia meninggalkan dosa tersebut, meminta ampun dan bertobat, maka hatinya akan bersih. Namun, jika dia terus bermaksiat, maka akan ditambahkan titik hitam sampai menutupi hatinya, dan itulah yang diistilahkan dengan ‘ran’, (yaitu penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak, akan tetapi penutup telah menutupi hatinya diakibatkan apa yang mereka kerjakan dari perbuatan dosa.’” (HR. At-Tirmidzi) Ramadan sebagai momentum tazkiyyatunnafs Tanpa disadari, dosa-dosa kecil seperti gibah, ujub, atau lalai dalam ibadah menumpuk layaknya debu yang menutupi cermin hati. Ramadan hadir sebagai bulan tarbiyah untuk mengembalikan kesucian fitrah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن صَامَ رَمَضَانَ، إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38) Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menyeluruh untuk mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Ramadan, setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan rahmat Allah tercurah. Inilah momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) dan tajdidun nafs (pembaruan jiwa). Baca juga: Gerbang Ramadan Menuju Kejayaan Amalan penyucian hati Salat adalah “sungai” yang mengalirkan ampunan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau bersabda, “Maka, begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Setiap gerakan salat mengandung makna penyucian. Wudu membersihkan anggota tubuh sambil mengikis dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ “Ketika seorang hamba berwudu dan membasuh wajahnya, dosa-dosa yang dilakukan matanya akan luruh…” (HR. Muslim no. 244) Sementara itu, sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim no. 482) Namun, penyucian hati tidak cukup hanya dengan salat dan puasa. Tobat nasuha menjadi inti dari detoks spiritual. Allah berfirman, وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31) Untuk mempercepat penyucian hati, amalan pendamping, seperti: membaca Al-Qur’an, bersedekah, istigfar, dan berzikir harus diperbanyak. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai syifa’ (penyembuh). Firman-Nya, وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82) Sedekah juga menjadi cara efektif untuk memadamkan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman) Selain itu, istigfar yang dilakukan di waktu sahur menjadi salah satu kunci meraih ampunan Allah. Rasulullah yang ma’shum pun beristigfar 70-100 kali sehari (HR. Bukhari no. 6307). Zikir juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesucian hati. Nabi bersabda, مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari no. 6407) Persiapan menyambut Ramadan Persiapan menyambut Ramadan harus dimulai jauh sebelum bulan suci ini tiba. Muhasabah diri dengan mengevaluasi dosa-dosa yang pernah dilakukan, memperbanyak puasa sunah, membuat target tilawah Al-Qur’an, latihan qiyamul lail, dan memperbanyak sedekah adalah langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan. Lebih detailnya kami merangkum dalam poin-poin berikut ini: Pertama: Mulai muhasabah diri Luangkan waktu untuk mengevaluasi kesalahan dan kekhilafan di masa lalu. Catat dosa-dosa yang ingin ditinggalkan dan buat tekad kuat untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba. Kedua: Perbanyak amalan sunah Biasakan diri dengan puasa sunah, salat malam, dan zikir harian agar lebih siap menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Ketiga: Tingkatkan interaksi dengan Al-Qur’an Buat target tilawah Al-Qur’an dan pahami maknanya agar hati semakin terhubung dengan wahyu Ilahi. Mulai dengan membaca satu halaman per hari dan tingkatkan secara bertahap. Keempat: Perbanyak sedekah dan istigfar Jadikan sedekah sebagai kebiasaan, baik berupa harta, tenaga, maupun ilmu. Jangan lupa memperbanyak istigfar, terutama di waktu sahur, agar hati semakin bersih dan mendapatkan rahmat Allah. Kelima: Amalkan doa penyucian hati Bacalah doa yang diajarkan Rasulullah untuk membersihkan hati dari riya’, dusta, dan kemunafikan. Sertai dengan niat tulus untuk menjalani Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh keimanan dengan doa berikut: اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ “Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, amalku dari riya’, lisanku dari dusta, dan mataku dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan hati.” (HR. Ahmad no. 22866, hasan). Marilah kita sambut Ramadan dengan hati yang jernih, jiwa yang lapang, dan tekad yang bulat. Semoga Allah menerima tobat kita dan menjadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna. رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk untuk kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10) Wallahu a’lam bish-shawab. Baca juga: Buah Manis Ramadan *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id

Tiga Golongan yang Dijauhkan dari Rahmat Allah, Masuk Ramadhan Tidak Diampuni

Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan, أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟ Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?” Beliau menjawab: فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” (HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim). Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka. Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan.   – Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi

Tiga Golongan yang Dijauhkan dari Rahmat Allah, Masuk Ramadhan Tidak Diampuni

Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan, أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟ Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?” Beliau menjawab: فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” (HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim). Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka. Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan.   – Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi
Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan, أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟ Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?” Beliau menjawab: فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” (HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim). Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka. Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan.   – Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi


Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan, أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟ Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?” Beliau menjawab: فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” “Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.” (HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim). Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka. Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan.   – Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi

Cara Mengganti Puasa untuk Orang Tua yang Sudah Pikun – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ummu Misyari berkata bahwa ibunya sudah sangat tua dan sering lupa. Ia punya tanggungan utang puasa Ramadhan tahun lalu. Setiap kali keluarganya mengingatkannya agar mendirikan shalat atau berpuasa, ia lantas menjawab: “Aku sudah shalat,” atau “Aku sudah puasa.” Ia juga lupa bahwa ia sedang puasa atau sedang shalat. Lalu pertanyaannya: “Apakah boleh putri-putrinya berpuasa untuk mengganti puasanya, dengan cara membagi harinya di antara mereka, sebagai contoh utangnya 30 atau 20 hari. Lalu mereka membagi hari-hari itu di antara mereka untuk mereka jalankan puasanya?” Dalam keadan ini, pena (catatan amal) telah diangkat darinya. Mengingat tingkat kesadarannya sudah mencapai tahap seperti ini, maka pena telah diangkat darinya (tidak dituntut untuk beramal). Kondisinya seperti anak kecil yang mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk). Apabila ia menjalankan ketaatan, mendapat pahala, tapi jika tidak menjalankan kewajiban, tidak mendapat hukuman. Bahkan seorang anak yang mendekati usia baligh saja, pena masih diangkat darinya (belum wajib beramal), karena belum baligh, apalagi wanita lanjut usia ini yang didominasi oleh sifat lupa (pikun). Namun untuk kehati-hatian dalam masalah ini, sebaiknya puasanya diganti dengan memberi makan, satu hari puasa diganti memberi makan satu orang miskin. Karena saudari yang bertanya juga menyebutkan bahwa terkadang ibunya mengenali mereka dan terkadang tidak. Maka yang lebih hati-hati adalah mengganti setiap satu hari puasanya dengan memberi makan satu orang miskin, bukan berpuasa menggantikannya. Karena berpuasa adalah untuk orang yang sudah meninggal dunia, sedangkan ibu ini masih hidup. Jadi, mereka tidak perlu berpuasa menggantikannya, tetapi cukup memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. ==== أُمُّ مِشَارِي تَقُولُ وَالِدَتُهَا كَبِيرَةٌ فِي السِّنِّ وَتَنْسَى كَثِيرًا وَعَلَيْهَا صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ الفَائِتِ وَكُلَّمَا مَثَلًا أَخْبَرُوهَا أَنْ تُصَلِّيَ أَوْ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّهَا تَقُولُ لَا صَلَّيْتُ أَوْ صُمْتُ وَتَنْسَى أَيَضًا أَنَّهَا صَائِمَةٌ أَوْ أَنَّهَا تُصَلِّي فَسُؤَالُهُا تَقُولُ هَلْ يُمْكِنُ أَنْ يَصُومَ بَنَاتُهَا عَنْهَا بِحَيْثُ يَتَقَاسَمُونَ إِذَا كَانَ مَثَلًا ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا أَوْ عِشْرِيْنَ يَوْمًا يُوَزِّعُونَ الْأَيَّامَ بَيْنَهُمْ وَيَصُومُونَ عَنْهَا؟ فِي هَذِهِ الْحَالِ الْقَلَمُ عَنْهَا مَرْفُوعٌ مَا دَامَ أَنَّ الضَّبْطَ عِنْدَهَا وَصَلَ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ فَالْقَلَمُ مَرْفُوعٌ عَنْهَا هِيَ كَالصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ إِنْ عَمِلَ الطَّاعَاتِ أُثِيْبَتْ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلْ الْوَاجِبَاتِ لَمْ تُعَاقَبْ إِذَا كَانَ الصَّبِيُّ الْمُرَاهِقُ الَّذِي قَدْ قَارَبَ الْبُلُوغَ وَمَعَ ذَلِكَ مَرْفُوعٌ عَنْهُ الْقَلَمُ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ مَا بَالُكَ بِهَذِهِ الْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ فِي السِّنِّ الَّتِي يَغْلِبُ عَلَيْهَا النِّسْيَانُ لَكِنَّ الِاحْتِيَاطَ فِي هَذَا أَنْ يُطْعَمَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا لِأَنَّ أُخْتِي الْكَرِيمَةَ أَيْضًا تَرَدَّدَتْ تَقُولُ تَارَةً أَنَّهَا تَعْرِفُنَا وَتَارَةً مَا تَعْرِفُنَا فَالْأَحْوَطُ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَيْس يَصُومُ عَنْهَا إِنَّمَا الصَّوْمُ يَكُونُ عَنِ الْمَيِّتِ أَمَّا هِيَ حَيَّةٌ وَيَعْنِي لَا زَالَتْ عَلَى قَيْدِ الْحَيَاةِ فَلَا يَصُومُونَ عَنْهَا وَإِنَّمَا يُطْعِمُونَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا

Cara Mengganti Puasa untuk Orang Tua yang Sudah Pikun – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ummu Misyari berkata bahwa ibunya sudah sangat tua dan sering lupa. Ia punya tanggungan utang puasa Ramadhan tahun lalu. Setiap kali keluarganya mengingatkannya agar mendirikan shalat atau berpuasa, ia lantas menjawab: “Aku sudah shalat,” atau “Aku sudah puasa.” Ia juga lupa bahwa ia sedang puasa atau sedang shalat. Lalu pertanyaannya: “Apakah boleh putri-putrinya berpuasa untuk mengganti puasanya, dengan cara membagi harinya di antara mereka, sebagai contoh utangnya 30 atau 20 hari. Lalu mereka membagi hari-hari itu di antara mereka untuk mereka jalankan puasanya?” Dalam keadan ini, pena (catatan amal) telah diangkat darinya. Mengingat tingkat kesadarannya sudah mencapai tahap seperti ini, maka pena telah diangkat darinya (tidak dituntut untuk beramal). Kondisinya seperti anak kecil yang mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk). Apabila ia menjalankan ketaatan, mendapat pahala, tapi jika tidak menjalankan kewajiban, tidak mendapat hukuman. Bahkan seorang anak yang mendekati usia baligh saja, pena masih diangkat darinya (belum wajib beramal), karena belum baligh, apalagi wanita lanjut usia ini yang didominasi oleh sifat lupa (pikun). Namun untuk kehati-hatian dalam masalah ini, sebaiknya puasanya diganti dengan memberi makan, satu hari puasa diganti memberi makan satu orang miskin. Karena saudari yang bertanya juga menyebutkan bahwa terkadang ibunya mengenali mereka dan terkadang tidak. Maka yang lebih hati-hati adalah mengganti setiap satu hari puasanya dengan memberi makan satu orang miskin, bukan berpuasa menggantikannya. Karena berpuasa adalah untuk orang yang sudah meninggal dunia, sedangkan ibu ini masih hidup. Jadi, mereka tidak perlu berpuasa menggantikannya, tetapi cukup memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. ==== أُمُّ مِشَارِي تَقُولُ وَالِدَتُهَا كَبِيرَةٌ فِي السِّنِّ وَتَنْسَى كَثِيرًا وَعَلَيْهَا صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ الفَائِتِ وَكُلَّمَا مَثَلًا أَخْبَرُوهَا أَنْ تُصَلِّيَ أَوْ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّهَا تَقُولُ لَا صَلَّيْتُ أَوْ صُمْتُ وَتَنْسَى أَيَضًا أَنَّهَا صَائِمَةٌ أَوْ أَنَّهَا تُصَلِّي فَسُؤَالُهُا تَقُولُ هَلْ يُمْكِنُ أَنْ يَصُومَ بَنَاتُهَا عَنْهَا بِحَيْثُ يَتَقَاسَمُونَ إِذَا كَانَ مَثَلًا ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا أَوْ عِشْرِيْنَ يَوْمًا يُوَزِّعُونَ الْأَيَّامَ بَيْنَهُمْ وَيَصُومُونَ عَنْهَا؟ فِي هَذِهِ الْحَالِ الْقَلَمُ عَنْهَا مَرْفُوعٌ مَا دَامَ أَنَّ الضَّبْطَ عِنْدَهَا وَصَلَ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ فَالْقَلَمُ مَرْفُوعٌ عَنْهَا هِيَ كَالصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ إِنْ عَمِلَ الطَّاعَاتِ أُثِيْبَتْ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلْ الْوَاجِبَاتِ لَمْ تُعَاقَبْ إِذَا كَانَ الصَّبِيُّ الْمُرَاهِقُ الَّذِي قَدْ قَارَبَ الْبُلُوغَ وَمَعَ ذَلِكَ مَرْفُوعٌ عَنْهُ الْقَلَمُ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ مَا بَالُكَ بِهَذِهِ الْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ فِي السِّنِّ الَّتِي يَغْلِبُ عَلَيْهَا النِّسْيَانُ لَكِنَّ الِاحْتِيَاطَ فِي هَذَا أَنْ يُطْعَمَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا لِأَنَّ أُخْتِي الْكَرِيمَةَ أَيْضًا تَرَدَّدَتْ تَقُولُ تَارَةً أَنَّهَا تَعْرِفُنَا وَتَارَةً مَا تَعْرِفُنَا فَالْأَحْوَطُ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَيْس يَصُومُ عَنْهَا إِنَّمَا الصَّوْمُ يَكُونُ عَنِ الْمَيِّتِ أَمَّا هِيَ حَيَّةٌ وَيَعْنِي لَا زَالَتْ عَلَى قَيْدِ الْحَيَاةِ فَلَا يَصُومُونَ عَنْهَا وَإِنَّمَا يُطْعِمُونَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا
Ummu Misyari berkata bahwa ibunya sudah sangat tua dan sering lupa. Ia punya tanggungan utang puasa Ramadhan tahun lalu. Setiap kali keluarganya mengingatkannya agar mendirikan shalat atau berpuasa, ia lantas menjawab: “Aku sudah shalat,” atau “Aku sudah puasa.” Ia juga lupa bahwa ia sedang puasa atau sedang shalat. Lalu pertanyaannya: “Apakah boleh putri-putrinya berpuasa untuk mengganti puasanya, dengan cara membagi harinya di antara mereka, sebagai contoh utangnya 30 atau 20 hari. Lalu mereka membagi hari-hari itu di antara mereka untuk mereka jalankan puasanya?” Dalam keadan ini, pena (catatan amal) telah diangkat darinya. Mengingat tingkat kesadarannya sudah mencapai tahap seperti ini, maka pena telah diangkat darinya (tidak dituntut untuk beramal). Kondisinya seperti anak kecil yang mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk). Apabila ia menjalankan ketaatan, mendapat pahala, tapi jika tidak menjalankan kewajiban, tidak mendapat hukuman. Bahkan seorang anak yang mendekati usia baligh saja, pena masih diangkat darinya (belum wajib beramal), karena belum baligh, apalagi wanita lanjut usia ini yang didominasi oleh sifat lupa (pikun). Namun untuk kehati-hatian dalam masalah ini, sebaiknya puasanya diganti dengan memberi makan, satu hari puasa diganti memberi makan satu orang miskin. Karena saudari yang bertanya juga menyebutkan bahwa terkadang ibunya mengenali mereka dan terkadang tidak. Maka yang lebih hati-hati adalah mengganti setiap satu hari puasanya dengan memberi makan satu orang miskin, bukan berpuasa menggantikannya. Karena berpuasa adalah untuk orang yang sudah meninggal dunia, sedangkan ibu ini masih hidup. Jadi, mereka tidak perlu berpuasa menggantikannya, tetapi cukup memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. ==== أُمُّ مِشَارِي تَقُولُ وَالِدَتُهَا كَبِيرَةٌ فِي السِّنِّ وَتَنْسَى كَثِيرًا وَعَلَيْهَا صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ الفَائِتِ وَكُلَّمَا مَثَلًا أَخْبَرُوهَا أَنْ تُصَلِّيَ أَوْ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّهَا تَقُولُ لَا صَلَّيْتُ أَوْ صُمْتُ وَتَنْسَى أَيَضًا أَنَّهَا صَائِمَةٌ أَوْ أَنَّهَا تُصَلِّي فَسُؤَالُهُا تَقُولُ هَلْ يُمْكِنُ أَنْ يَصُومَ بَنَاتُهَا عَنْهَا بِحَيْثُ يَتَقَاسَمُونَ إِذَا كَانَ مَثَلًا ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا أَوْ عِشْرِيْنَ يَوْمًا يُوَزِّعُونَ الْأَيَّامَ بَيْنَهُمْ وَيَصُومُونَ عَنْهَا؟ فِي هَذِهِ الْحَالِ الْقَلَمُ عَنْهَا مَرْفُوعٌ مَا دَامَ أَنَّ الضَّبْطَ عِنْدَهَا وَصَلَ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ فَالْقَلَمُ مَرْفُوعٌ عَنْهَا هِيَ كَالصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ إِنْ عَمِلَ الطَّاعَاتِ أُثِيْبَتْ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلْ الْوَاجِبَاتِ لَمْ تُعَاقَبْ إِذَا كَانَ الصَّبِيُّ الْمُرَاهِقُ الَّذِي قَدْ قَارَبَ الْبُلُوغَ وَمَعَ ذَلِكَ مَرْفُوعٌ عَنْهُ الْقَلَمُ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ مَا بَالُكَ بِهَذِهِ الْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ فِي السِّنِّ الَّتِي يَغْلِبُ عَلَيْهَا النِّسْيَانُ لَكِنَّ الِاحْتِيَاطَ فِي هَذَا أَنْ يُطْعَمَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا لِأَنَّ أُخْتِي الْكَرِيمَةَ أَيْضًا تَرَدَّدَتْ تَقُولُ تَارَةً أَنَّهَا تَعْرِفُنَا وَتَارَةً مَا تَعْرِفُنَا فَالْأَحْوَطُ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَيْس يَصُومُ عَنْهَا إِنَّمَا الصَّوْمُ يَكُونُ عَنِ الْمَيِّتِ أَمَّا هِيَ حَيَّةٌ وَيَعْنِي لَا زَالَتْ عَلَى قَيْدِ الْحَيَاةِ فَلَا يَصُومُونَ عَنْهَا وَإِنَّمَا يُطْعِمُونَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا


Ummu Misyari berkata bahwa ibunya sudah sangat tua dan sering lupa. Ia punya tanggungan utang puasa Ramadhan tahun lalu. Setiap kali keluarganya mengingatkannya agar mendirikan shalat atau berpuasa, ia lantas menjawab: “Aku sudah shalat,” atau “Aku sudah puasa.” Ia juga lupa bahwa ia sedang puasa atau sedang shalat. Lalu pertanyaannya: “Apakah boleh putri-putrinya berpuasa untuk mengganti puasanya, dengan cara membagi harinya di antara mereka, sebagai contoh utangnya 30 atau 20 hari. Lalu mereka membagi hari-hari itu di antara mereka untuk mereka jalankan puasanya?” Dalam keadan ini, pena (catatan amal) telah diangkat darinya. Mengingat tingkat kesadarannya sudah mencapai tahap seperti ini, maka pena telah diangkat darinya (tidak dituntut untuk beramal). Kondisinya seperti anak kecil yang mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk). Apabila ia menjalankan ketaatan, mendapat pahala, tapi jika tidak menjalankan kewajiban, tidak mendapat hukuman. Bahkan seorang anak yang mendekati usia baligh saja, pena masih diangkat darinya (belum wajib beramal), karena belum baligh, apalagi wanita lanjut usia ini yang didominasi oleh sifat lupa (pikun). Namun untuk kehati-hatian dalam masalah ini, sebaiknya puasanya diganti dengan memberi makan, satu hari puasa diganti memberi makan satu orang miskin. Karena saudari yang bertanya juga menyebutkan bahwa terkadang ibunya mengenali mereka dan terkadang tidak. Maka yang lebih hati-hati adalah mengganti setiap satu hari puasanya dengan memberi makan satu orang miskin, bukan berpuasa menggantikannya. Karena berpuasa adalah untuk orang yang sudah meninggal dunia, sedangkan ibu ini masih hidup. Jadi, mereka tidak perlu berpuasa menggantikannya, tetapi cukup memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. ==== أُمُّ مِشَارِي تَقُولُ وَالِدَتُهَا كَبِيرَةٌ فِي السِّنِّ وَتَنْسَى كَثِيرًا وَعَلَيْهَا صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ الفَائِتِ وَكُلَّمَا مَثَلًا أَخْبَرُوهَا أَنْ تُصَلِّيَ أَوْ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّهَا تَقُولُ لَا صَلَّيْتُ أَوْ صُمْتُ وَتَنْسَى أَيَضًا أَنَّهَا صَائِمَةٌ أَوْ أَنَّهَا تُصَلِّي فَسُؤَالُهُا تَقُولُ هَلْ يُمْكِنُ أَنْ يَصُومَ بَنَاتُهَا عَنْهَا بِحَيْثُ يَتَقَاسَمُونَ إِذَا كَانَ مَثَلًا ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا أَوْ عِشْرِيْنَ يَوْمًا يُوَزِّعُونَ الْأَيَّامَ بَيْنَهُمْ وَيَصُومُونَ عَنْهَا؟ فِي هَذِهِ الْحَالِ الْقَلَمُ عَنْهَا مَرْفُوعٌ مَا دَامَ أَنَّ الضَّبْطَ عِنْدَهَا وَصَلَ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ فَالْقَلَمُ مَرْفُوعٌ عَنْهَا هِيَ كَالصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ إِنْ عَمِلَ الطَّاعَاتِ أُثِيْبَتْ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلْ الْوَاجِبَاتِ لَمْ تُعَاقَبْ إِذَا كَانَ الصَّبِيُّ الْمُرَاهِقُ الَّذِي قَدْ قَارَبَ الْبُلُوغَ وَمَعَ ذَلِكَ مَرْفُوعٌ عَنْهُ الْقَلَمُ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ مَا بَالُكَ بِهَذِهِ الْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ فِي السِّنِّ الَّتِي يَغْلِبُ عَلَيْهَا النِّسْيَانُ لَكِنَّ الِاحْتِيَاطَ فِي هَذَا أَنْ يُطْعَمَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا لِأَنَّ أُخْتِي الْكَرِيمَةَ أَيْضًا تَرَدَّدَتْ تَقُولُ تَارَةً أَنَّهَا تَعْرِفُنَا وَتَارَةً مَا تَعْرِفُنَا فَالْأَحْوَطُ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَيْس يَصُومُ عَنْهَا إِنَّمَا الصَّوْمُ يَكُونُ عَنِ الْمَيِّتِ أَمَّا هِيَ حَيَّةٌ وَيَعْنِي لَا زَالَتْ عَلَى قَيْدِ الْحَيَاةِ فَلَا يَصُومُونَ عَنْهَا وَإِنَّمَا يُطْعِمُونَ عَنْهَا عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا

Hukum Jual Beli Ijazah di Lembaga Pendidikan

Daftar Isi Toggle Tentang ghisy (kecurangan)Makna ghisyHukum ghisyJual beli ijazah merupakan ghisyDampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakatKisah pendidikan moral Pendidikan merupakan tanggung jawab yang besar dan tugas yang sangat penting. Allah Ta’ala berfirman, قوا أَنفسكُم وأهليكم نَارا وقودها النَّاس وَالْحِجَارَة “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …” (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini merupakan perintah dari Allah yang jelas untuk mendidik keluarga dan peringatan keras agar menjaga mereka dari siksa neraka. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Betapa banyak orang tua yang telah mencelakakan anak-anak mereka, buah hati mereka sendiri, baik di dunia maupun di akhirat, akibat kelalaian mereka dalam mendidik dan membiarkan anak-anak mengikuti hawa nafsunya. Mereka mengira bahwa mereka sedang memuliakan anak-anaknya, padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan dan menzalimi mereka. Akibatnya, mereka kehilangan manfaat dari anak-anak mereka dan juga kehilangan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika kita meneliti penyebab kerusakan moral pada anak-anak, kebanyakan berasal dari kelalaian orang tua.” [1] Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang baik dalam kehidupan. [2] Tentang ghisy (kecurangan) Ghisy (kecurangan) termasuk dalam akhlak tercela yang dilarang oleh syariat yang mulia. Oleh karena itu, kita harus menjauhinya. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk selalu bersikap menunaikan amanah dan jujur. Makna ghisy Secara bahasa, ghisy adalah lawan dari nasihat yang tulus. Sedang secara istilah, ghisy adalah, كتم كل ما لو علمه المبتاع كرهه “menyembunyikan sesuatu yang apabila diketahui oleh pembeli, maka ia tidak akan menyukainya.” [3] Hukum ghisy Tidak diragukan lagi bahwa ghisy (kecurangan) adalah haram, dan sebagian ulama seperti Adz-Dzahabi rahimahullah menggolongkannya sebagai dosa besar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ghisy harus dijauhi dalam seluruh transaksi, baik dalam jual beli, sewa menyewa, industri, gadai, dan lainnya. Begitu pula dalam semua bentuk nasihat dan konsultasi, karena ghisy termasuk dosa besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari pelakunya dengan bersabda, من غشنا فليس منا ‘Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami.’ (HR. Muslim no. 101) Dalam riwayat lain, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan dari golonganku.’ (HR. Muslim no. 102).” [4] Ghisy adalah bentuk kecurangan dan pengkhianatan yang menyebabkan hilangnya amanah serta kepercayaan di antara manusia. Setiap keuntungan yang diperoleh dari ghisy merupakan harta yang haram dan hanya akan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan dan melarang ghisy dalam berbagai bentuknya. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam pembahasan berikutnya. [5] Jual beli ijazah merupakan ghisy Ghisy dalam pendidikan terjadi dalam banyak bentuk. Di antaranya adalah seseorang yang membeli ijazah tanpa pernah mengikuti pendidikan atau memenuhi syarat akademik. Komite fatwa islamweb pernah ditanya, “Apakah diperbolehkan membeli ijazah universitas jika seseorang berada dalam kondisi terpaksa? Semoga Allah membalas kebaikan Anda.” Mereka menjawab, الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فلا يجوز شراء ولا بيع الشهادات عموماً، لا العليا منها ولا الدنيا، لأن ذلك داخل في قول رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من غش فليس مني” رواه مسلم. ولأنه كذب، ونصوص الكتاب والسنة المحرمة للكذب أكثر من أن تحصى. “Segala puji bagi Allah, selawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, serta para sahabatnya. Tidak diperbolehkan membeli atau menjual ijazah dalam bentuk apa pun, baik ijazah tingkat tinggi maupun rendah. Hal ini termasuk dalam larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan bagian dariku.’ (HR. Muslim no. 102) Selain itu, praktik ini termasuk dalam kebohongan, sedangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan kebohongan sangat banyak dan tidak terhitung.” [6] Baca juga: Benarkah Tidak Boleh Menarik Biaya dalam Pendidikan Islam? Dampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakat Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat. Namun, jika dalam sistem pendidikan terjadi kecurangan (ghisy), seperti menyontek, memalsukan ijazah, atau membeli tugas akademik, maka bukan hanya individu yang dirugikan, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengatakan, ولهذه القبائح- أي الغش- التي ارتكبها التجار والمتسببون وأرباب الحرف والبضائع سلط الله عليهم الظلمة فأخذوا أموالهم، وهتكوا حريمهم، بل وسلط عليهم الكفار فأسروهم واستعبدوهم، وأذاقوهم العذاب والهوان ألواناً. وكثرة تسلط الكفار على المسلمين بالأسر والنهب، وأخذ الأموال والحريم، إنما حدث في هذه الأزمنة المتأخرة لما أن أحدث التجار وغيرهم قبائح ذلك الغش الكثيرة والمتنوعة، وعظائم تلك الجنايات والمخادعات والتحايلات الباطلة على أخذ أموال الناس بأي طريق قدروا عليها، لا يراقبون الله المطلع عليهم “Karena keburukan-keburukan ini, yaitu: ghisy (kecurangan), yang dilakukan oleh para pedagang, pelaku usaha, dan pemilik berbagai profesi serta barang dagangan, Allah menimpakan kepada mereka penguasa yang zalim, yang merampas harta mereka dan menodai kehormatan mereka. Bahkan, Allah menimpakan kepada mereka kekuasaan orang-orang kafir yang menawan dan memperbudak mereka, serta membuat mereka merasakan berbagai bentuk siksaan dan kehinaan. Banyaknya penguasaan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin dengan cara penawanan, perampasan, dan penyitaan harta serta kehormatan, sesungguhnya terjadi pada masa-masa akhir ini karena para pedagang dan lainnya telah melakukan banyak keburukan berupa ghisy dalam berbagai bentuknya. Mereka melakukan kejahatan besar, tipu daya, dan berbagai cara batil untuk mengambil harta orang lain dengan segala cara yang mereka mampu, tanpa sedikit pun mengingat bahwa Allah selalu mengawasi mereka.” [7] Kisah pendidikan moral Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya Aslam, ia berkata, “Suatu malam, aku bersama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sedang berpatroli di kota Madinah. Dalam kelelahan, beliau bersandar pada dinding sebuah rumah di tengah malam. Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang berkata kepada putrinya, ‘Wahai anakku, campurkan susu itu dengan air.’ Putrinya menjawab, ‘Wahai Ibu, apakah Ibu tidak tahu perintah Amirul Mukminin hari ini?’ Ibunya bertanya, ‘Apa yang diperintahkan oleh Amirul Mukminin?’ Putrinya menjawab, ‘Beliau telah mengumumkan larangan mencampur susu dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Wahai anakku, campurkan saja susu itu dengan air. Bukankah kita berada di tempat yang tidak dilihat oleh Umar ataupun petugasnya?’ Namun, putrinya dengan penuh keyakinan menjawab, يا أمتاه والله ما كنت لأطيعه في الملأ وأعصيه في الخلاء “Wahai Ibu, demi Allah! Aku tidak akan menaati beliau di hadapan orang banyak, tetapi mengkhianatinya ketika sendirian.’” [8] Demikian, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk senantiasa menjaga amanah dan menjunjung tinggi kejujuran, dan menjauhkan kita dari ghisy dan bahayanya. Amin. Baca juga: Belajar Agama demi Mendapatkan Ijazah? *** Rumdin PPIA Sragen, 20 Sya’ban 1446 H Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab Artikel Muslim.or.id Referensi utama: Mawsūʿah Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah. Disusun oleh sekelompok peneliti di bawah supervisi Syekh ‘Alawī bin ‘Abd al-Qādir Al-Saqqāf. 3 jilid. Diterbitkan secara daring oleh situs Al-Durar Al-Sunniyyah (dorar.net), Rabi’ul Awwal 1433 H. Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (28 Rabi’ul Awwal 1433 H), sesuai nomor cetakan.   Catatan kaki: [1] Tuḥfat Al-Mawdūd bi Aḥkām Al-Mawlūd, hal. 242. [2] Lihat https://islamonline.net/التبربية-في-الإسلام [3] Adz-Dzakhīrah karya Al-Qarāfī, 5: 172, dinukil dari Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 370. [4] Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Al-‘Utsaimīn, 20: 255. [5] Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 371. [6] https://isla.mw/aa2jnp [7] Az-Zawājir ‘an Iqtirāf Al-Kabā’ir, 1: 400. [8] Tārīkh Dimasyq, 70: 253, Ibnu ‘Asākir. Lihat Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 381.

Hukum Jual Beli Ijazah di Lembaga Pendidikan

Daftar Isi Toggle Tentang ghisy (kecurangan)Makna ghisyHukum ghisyJual beli ijazah merupakan ghisyDampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakatKisah pendidikan moral Pendidikan merupakan tanggung jawab yang besar dan tugas yang sangat penting. Allah Ta’ala berfirman, قوا أَنفسكُم وأهليكم نَارا وقودها النَّاس وَالْحِجَارَة “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …” (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini merupakan perintah dari Allah yang jelas untuk mendidik keluarga dan peringatan keras agar menjaga mereka dari siksa neraka. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Betapa banyak orang tua yang telah mencelakakan anak-anak mereka, buah hati mereka sendiri, baik di dunia maupun di akhirat, akibat kelalaian mereka dalam mendidik dan membiarkan anak-anak mengikuti hawa nafsunya. Mereka mengira bahwa mereka sedang memuliakan anak-anaknya, padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan dan menzalimi mereka. Akibatnya, mereka kehilangan manfaat dari anak-anak mereka dan juga kehilangan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika kita meneliti penyebab kerusakan moral pada anak-anak, kebanyakan berasal dari kelalaian orang tua.” [1] Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang baik dalam kehidupan. [2] Tentang ghisy (kecurangan) Ghisy (kecurangan) termasuk dalam akhlak tercela yang dilarang oleh syariat yang mulia. Oleh karena itu, kita harus menjauhinya. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk selalu bersikap menunaikan amanah dan jujur. Makna ghisy Secara bahasa, ghisy adalah lawan dari nasihat yang tulus. Sedang secara istilah, ghisy adalah, كتم كل ما لو علمه المبتاع كرهه “menyembunyikan sesuatu yang apabila diketahui oleh pembeli, maka ia tidak akan menyukainya.” [3] Hukum ghisy Tidak diragukan lagi bahwa ghisy (kecurangan) adalah haram, dan sebagian ulama seperti Adz-Dzahabi rahimahullah menggolongkannya sebagai dosa besar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ghisy harus dijauhi dalam seluruh transaksi, baik dalam jual beli, sewa menyewa, industri, gadai, dan lainnya. Begitu pula dalam semua bentuk nasihat dan konsultasi, karena ghisy termasuk dosa besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari pelakunya dengan bersabda, من غشنا فليس منا ‘Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami.’ (HR. Muslim no. 101) Dalam riwayat lain, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan dari golonganku.’ (HR. Muslim no. 102).” [4] Ghisy adalah bentuk kecurangan dan pengkhianatan yang menyebabkan hilangnya amanah serta kepercayaan di antara manusia. Setiap keuntungan yang diperoleh dari ghisy merupakan harta yang haram dan hanya akan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan dan melarang ghisy dalam berbagai bentuknya. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam pembahasan berikutnya. [5] Jual beli ijazah merupakan ghisy Ghisy dalam pendidikan terjadi dalam banyak bentuk. Di antaranya adalah seseorang yang membeli ijazah tanpa pernah mengikuti pendidikan atau memenuhi syarat akademik. Komite fatwa islamweb pernah ditanya, “Apakah diperbolehkan membeli ijazah universitas jika seseorang berada dalam kondisi terpaksa? Semoga Allah membalas kebaikan Anda.” Mereka menjawab, الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فلا يجوز شراء ولا بيع الشهادات عموماً، لا العليا منها ولا الدنيا، لأن ذلك داخل في قول رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من غش فليس مني” رواه مسلم. ولأنه كذب، ونصوص الكتاب والسنة المحرمة للكذب أكثر من أن تحصى. “Segala puji bagi Allah, selawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, serta para sahabatnya. Tidak diperbolehkan membeli atau menjual ijazah dalam bentuk apa pun, baik ijazah tingkat tinggi maupun rendah. Hal ini termasuk dalam larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan bagian dariku.’ (HR. Muslim no. 102) Selain itu, praktik ini termasuk dalam kebohongan, sedangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan kebohongan sangat banyak dan tidak terhitung.” [6] Baca juga: Benarkah Tidak Boleh Menarik Biaya dalam Pendidikan Islam? Dampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakat Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat. Namun, jika dalam sistem pendidikan terjadi kecurangan (ghisy), seperti menyontek, memalsukan ijazah, atau membeli tugas akademik, maka bukan hanya individu yang dirugikan, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengatakan, ولهذه القبائح- أي الغش- التي ارتكبها التجار والمتسببون وأرباب الحرف والبضائع سلط الله عليهم الظلمة فأخذوا أموالهم، وهتكوا حريمهم، بل وسلط عليهم الكفار فأسروهم واستعبدوهم، وأذاقوهم العذاب والهوان ألواناً. وكثرة تسلط الكفار على المسلمين بالأسر والنهب، وأخذ الأموال والحريم، إنما حدث في هذه الأزمنة المتأخرة لما أن أحدث التجار وغيرهم قبائح ذلك الغش الكثيرة والمتنوعة، وعظائم تلك الجنايات والمخادعات والتحايلات الباطلة على أخذ أموال الناس بأي طريق قدروا عليها، لا يراقبون الله المطلع عليهم “Karena keburukan-keburukan ini, yaitu: ghisy (kecurangan), yang dilakukan oleh para pedagang, pelaku usaha, dan pemilik berbagai profesi serta barang dagangan, Allah menimpakan kepada mereka penguasa yang zalim, yang merampas harta mereka dan menodai kehormatan mereka. Bahkan, Allah menimpakan kepada mereka kekuasaan orang-orang kafir yang menawan dan memperbudak mereka, serta membuat mereka merasakan berbagai bentuk siksaan dan kehinaan. Banyaknya penguasaan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin dengan cara penawanan, perampasan, dan penyitaan harta serta kehormatan, sesungguhnya terjadi pada masa-masa akhir ini karena para pedagang dan lainnya telah melakukan banyak keburukan berupa ghisy dalam berbagai bentuknya. Mereka melakukan kejahatan besar, tipu daya, dan berbagai cara batil untuk mengambil harta orang lain dengan segala cara yang mereka mampu, tanpa sedikit pun mengingat bahwa Allah selalu mengawasi mereka.” [7] Kisah pendidikan moral Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya Aslam, ia berkata, “Suatu malam, aku bersama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sedang berpatroli di kota Madinah. Dalam kelelahan, beliau bersandar pada dinding sebuah rumah di tengah malam. Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang berkata kepada putrinya, ‘Wahai anakku, campurkan susu itu dengan air.’ Putrinya menjawab, ‘Wahai Ibu, apakah Ibu tidak tahu perintah Amirul Mukminin hari ini?’ Ibunya bertanya, ‘Apa yang diperintahkan oleh Amirul Mukminin?’ Putrinya menjawab, ‘Beliau telah mengumumkan larangan mencampur susu dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Wahai anakku, campurkan saja susu itu dengan air. Bukankah kita berada di tempat yang tidak dilihat oleh Umar ataupun petugasnya?’ Namun, putrinya dengan penuh keyakinan menjawab, يا أمتاه والله ما كنت لأطيعه في الملأ وأعصيه في الخلاء “Wahai Ibu, demi Allah! Aku tidak akan menaati beliau di hadapan orang banyak, tetapi mengkhianatinya ketika sendirian.’” [8] Demikian, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk senantiasa menjaga amanah dan menjunjung tinggi kejujuran, dan menjauhkan kita dari ghisy dan bahayanya. Amin. Baca juga: Belajar Agama demi Mendapatkan Ijazah? *** Rumdin PPIA Sragen, 20 Sya’ban 1446 H Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab Artikel Muslim.or.id Referensi utama: Mawsūʿah Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah. Disusun oleh sekelompok peneliti di bawah supervisi Syekh ‘Alawī bin ‘Abd al-Qādir Al-Saqqāf. 3 jilid. Diterbitkan secara daring oleh situs Al-Durar Al-Sunniyyah (dorar.net), Rabi’ul Awwal 1433 H. Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (28 Rabi’ul Awwal 1433 H), sesuai nomor cetakan.   Catatan kaki: [1] Tuḥfat Al-Mawdūd bi Aḥkām Al-Mawlūd, hal. 242. [2] Lihat https://islamonline.net/التبربية-في-الإسلام [3] Adz-Dzakhīrah karya Al-Qarāfī, 5: 172, dinukil dari Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 370. [4] Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Al-‘Utsaimīn, 20: 255. [5] Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 371. [6] https://isla.mw/aa2jnp [7] Az-Zawājir ‘an Iqtirāf Al-Kabā’ir, 1: 400. [8] Tārīkh Dimasyq, 70: 253, Ibnu ‘Asākir. Lihat Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 381.
Daftar Isi Toggle Tentang ghisy (kecurangan)Makna ghisyHukum ghisyJual beli ijazah merupakan ghisyDampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakatKisah pendidikan moral Pendidikan merupakan tanggung jawab yang besar dan tugas yang sangat penting. Allah Ta’ala berfirman, قوا أَنفسكُم وأهليكم نَارا وقودها النَّاس وَالْحِجَارَة “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …” (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini merupakan perintah dari Allah yang jelas untuk mendidik keluarga dan peringatan keras agar menjaga mereka dari siksa neraka. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Betapa banyak orang tua yang telah mencelakakan anak-anak mereka, buah hati mereka sendiri, baik di dunia maupun di akhirat, akibat kelalaian mereka dalam mendidik dan membiarkan anak-anak mengikuti hawa nafsunya. Mereka mengira bahwa mereka sedang memuliakan anak-anaknya, padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan dan menzalimi mereka. Akibatnya, mereka kehilangan manfaat dari anak-anak mereka dan juga kehilangan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika kita meneliti penyebab kerusakan moral pada anak-anak, kebanyakan berasal dari kelalaian orang tua.” [1] Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang baik dalam kehidupan. [2] Tentang ghisy (kecurangan) Ghisy (kecurangan) termasuk dalam akhlak tercela yang dilarang oleh syariat yang mulia. Oleh karena itu, kita harus menjauhinya. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk selalu bersikap menunaikan amanah dan jujur. Makna ghisy Secara bahasa, ghisy adalah lawan dari nasihat yang tulus. Sedang secara istilah, ghisy adalah, كتم كل ما لو علمه المبتاع كرهه “menyembunyikan sesuatu yang apabila diketahui oleh pembeli, maka ia tidak akan menyukainya.” [3] Hukum ghisy Tidak diragukan lagi bahwa ghisy (kecurangan) adalah haram, dan sebagian ulama seperti Adz-Dzahabi rahimahullah menggolongkannya sebagai dosa besar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ghisy harus dijauhi dalam seluruh transaksi, baik dalam jual beli, sewa menyewa, industri, gadai, dan lainnya. Begitu pula dalam semua bentuk nasihat dan konsultasi, karena ghisy termasuk dosa besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari pelakunya dengan bersabda, من غشنا فليس منا ‘Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami.’ (HR. Muslim no. 101) Dalam riwayat lain, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan dari golonganku.’ (HR. Muslim no. 102).” [4] Ghisy adalah bentuk kecurangan dan pengkhianatan yang menyebabkan hilangnya amanah serta kepercayaan di antara manusia. Setiap keuntungan yang diperoleh dari ghisy merupakan harta yang haram dan hanya akan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan dan melarang ghisy dalam berbagai bentuknya. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam pembahasan berikutnya. [5] Jual beli ijazah merupakan ghisy Ghisy dalam pendidikan terjadi dalam banyak bentuk. Di antaranya adalah seseorang yang membeli ijazah tanpa pernah mengikuti pendidikan atau memenuhi syarat akademik. Komite fatwa islamweb pernah ditanya, “Apakah diperbolehkan membeli ijazah universitas jika seseorang berada dalam kondisi terpaksa? Semoga Allah membalas kebaikan Anda.” Mereka menjawab, الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فلا يجوز شراء ولا بيع الشهادات عموماً، لا العليا منها ولا الدنيا، لأن ذلك داخل في قول رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من غش فليس مني” رواه مسلم. ولأنه كذب، ونصوص الكتاب والسنة المحرمة للكذب أكثر من أن تحصى. “Segala puji bagi Allah, selawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, serta para sahabatnya. Tidak diperbolehkan membeli atau menjual ijazah dalam bentuk apa pun, baik ijazah tingkat tinggi maupun rendah. Hal ini termasuk dalam larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan bagian dariku.’ (HR. Muslim no. 102) Selain itu, praktik ini termasuk dalam kebohongan, sedangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan kebohongan sangat banyak dan tidak terhitung.” [6] Baca juga: Benarkah Tidak Boleh Menarik Biaya dalam Pendidikan Islam? Dampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakat Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat. Namun, jika dalam sistem pendidikan terjadi kecurangan (ghisy), seperti menyontek, memalsukan ijazah, atau membeli tugas akademik, maka bukan hanya individu yang dirugikan, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengatakan, ولهذه القبائح- أي الغش- التي ارتكبها التجار والمتسببون وأرباب الحرف والبضائع سلط الله عليهم الظلمة فأخذوا أموالهم، وهتكوا حريمهم، بل وسلط عليهم الكفار فأسروهم واستعبدوهم، وأذاقوهم العذاب والهوان ألواناً. وكثرة تسلط الكفار على المسلمين بالأسر والنهب، وأخذ الأموال والحريم، إنما حدث في هذه الأزمنة المتأخرة لما أن أحدث التجار وغيرهم قبائح ذلك الغش الكثيرة والمتنوعة، وعظائم تلك الجنايات والمخادعات والتحايلات الباطلة على أخذ أموال الناس بأي طريق قدروا عليها، لا يراقبون الله المطلع عليهم “Karena keburukan-keburukan ini, yaitu: ghisy (kecurangan), yang dilakukan oleh para pedagang, pelaku usaha, dan pemilik berbagai profesi serta barang dagangan, Allah menimpakan kepada mereka penguasa yang zalim, yang merampas harta mereka dan menodai kehormatan mereka. Bahkan, Allah menimpakan kepada mereka kekuasaan orang-orang kafir yang menawan dan memperbudak mereka, serta membuat mereka merasakan berbagai bentuk siksaan dan kehinaan. Banyaknya penguasaan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin dengan cara penawanan, perampasan, dan penyitaan harta serta kehormatan, sesungguhnya terjadi pada masa-masa akhir ini karena para pedagang dan lainnya telah melakukan banyak keburukan berupa ghisy dalam berbagai bentuknya. Mereka melakukan kejahatan besar, tipu daya, dan berbagai cara batil untuk mengambil harta orang lain dengan segala cara yang mereka mampu, tanpa sedikit pun mengingat bahwa Allah selalu mengawasi mereka.” [7] Kisah pendidikan moral Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya Aslam, ia berkata, “Suatu malam, aku bersama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sedang berpatroli di kota Madinah. Dalam kelelahan, beliau bersandar pada dinding sebuah rumah di tengah malam. Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang berkata kepada putrinya, ‘Wahai anakku, campurkan susu itu dengan air.’ Putrinya menjawab, ‘Wahai Ibu, apakah Ibu tidak tahu perintah Amirul Mukminin hari ini?’ Ibunya bertanya, ‘Apa yang diperintahkan oleh Amirul Mukminin?’ Putrinya menjawab, ‘Beliau telah mengumumkan larangan mencampur susu dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Wahai anakku, campurkan saja susu itu dengan air. Bukankah kita berada di tempat yang tidak dilihat oleh Umar ataupun petugasnya?’ Namun, putrinya dengan penuh keyakinan menjawab, يا أمتاه والله ما كنت لأطيعه في الملأ وأعصيه في الخلاء “Wahai Ibu, demi Allah! Aku tidak akan menaati beliau di hadapan orang banyak, tetapi mengkhianatinya ketika sendirian.’” [8] Demikian, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk senantiasa menjaga amanah dan menjunjung tinggi kejujuran, dan menjauhkan kita dari ghisy dan bahayanya. Amin. Baca juga: Belajar Agama demi Mendapatkan Ijazah? *** Rumdin PPIA Sragen, 20 Sya’ban 1446 H Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab Artikel Muslim.or.id Referensi utama: Mawsūʿah Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah. Disusun oleh sekelompok peneliti di bawah supervisi Syekh ‘Alawī bin ‘Abd al-Qādir Al-Saqqāf. 3 jilid. Diterbitkan secara daring oleh situs Al-Durar Al-Sunniyyah (dorar.net), Rabi’ul Awwal 1433 H. Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (28 Rabi’ul Awwal 1433 H), sesuai nomor cetakan.   Catatan kaki: [1] Tuḥfat Al-Mawdūd bi Aḥkām Al-Mawlūd, hal. 242. [2] Lihat https://islamonline.net/التبربية-في-الإسلام [3] Adz-Dzakhīrah karya Al-Qarāfī, 5: 172, dinukil dari Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 370. [4] Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Al-‘Utsaimīn, 20: 255. [5] Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 371. [6] https://isla.mw/aa2jnp [7] Az-Zawājir ‘an Iqtirāf Al-Kabā’ir, 1: 400. [8] Tārīkh Dimasyq, 70: 253, Ibnu ‘Asākir. Lihat Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 381.


Daftar Isi Toggle Tentang ghisy (kecurangan)Makna ghisyHukum ghisyJual beli ijazah merupakan ghisyDampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakatKisah pendidikan moral Pendidikan merupakan tanggung jawab yang besar dan tugas yang sangat penting. Allah Ta’ala berfirman, قوا أَنفسكُم وأهليكم نَارا وقودها النَّاس وَالْحِجَارَة “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …” (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini merupakan perintah dari Allah yang jelas untuk mendidik keluarga dan peringatan keras agar menjaga mereka dari siksa neraka. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Betapa banyak orang tua yang telah mencelakakan anak-anak mereka, buah hati mereka sendiri, baik di dunia maupun di akhirat, akibat kelalaian mereka dalam mendidik dan membiarkan anak-anak mengikuti hawa nafsunya. Mereka mengira bahwa mereka sedang memuliakan anak-anaknya, padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan dan menzalimi mereka. Akibatnya, mereka kehilangan manfaat dari anak-anak mereka dan juga kehilangan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika kita meneliti penyebab kerusakan moral pada anak-anak, kebanyakan berasal dari kelalaian orang tua.” [1] Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang baik dalam kehidupan. [2] Tentang ghisy (kecurangan) Ghisy (kecurangan) termasuk dalam akhlak tercela yang dilarang oleh syariat yang mulia. Oleh karena itu, kita harus menjauhinya. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk selalu bersikap menunaikan amanah dan jujur. Makna ghisy Secara bahasa, ghisy adalah lawan dari nasihat yang tulus. Sedang secara istilah, ghisy adalah, كتم كل ما لو علمه المبتاع كرهه “menyembunyikan sesuatu yang apabila diketahui oleh pembeli, maka ia tidak akan menyukainya.” [3] Hukum ghisy Tidak diragukan lagi bahwa ghisy (kecurangan) adalah haram, dan sebagian ulama seperti Adz-Dzahabi rahimahullah menggolongkannya sebagai dosa besar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ghisy harus dijauhi dalam seluruh transaksi, baik dalam jual beli, sewa menyewa, industri, gadai, dan lainnya. Begitu pula dalam semua bentuk nasihat dan konsultasi, karena ghisy termasuk dosa besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari pelakunya dengan bersabda, من غشنا فليس منا ‘Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami.’ (HR. Muslim no. 101) Dalam riwayat lain, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan dari golonganku.’ (HR. Muslim no. 102).” [4] Ghisy adalah bentuk kecurangan dan pengkhianatan yang menyebabkan hilangnya amanah serta kepercayaan di antara manusia. Setiap keuntungan yang diperoleh dari ghisy merupakan harta yang haram dan hanya akan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan dan melarang ghisy dalam berbagai bentuknya. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam pembahasan berikutnya. [5] Jual beli ijazah merupakan ghisy Ghisy dalam pendidikan terjadi dalam banyak bentuk. Di antaranya adalah seseorang yang membeli ijazah tanpa pernah mengikuti pendidikan atau memenuhi syarat akademik. Komite fatwa islamweb pernah ditanya, “Apakah diperbolehkan membeli ijazah universitas jika seseorang berada dalam kondisi terpaksa? Semoga Allah membalas kebaikan Anda.” Mereka menjawab, الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فلا يجوز شراء ولا بيع الشهادات عموماً، لا العليا منها ولا الدنيا، لأن ذلك داخل في قول رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من غش فليس مني” رواه مسلم. ولأنه كذب، ونصوص الكتاب والسنة المحرمة للكذب أكثر من أن تحصى. “Segala puji bagi Allah, selawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, serta para sahabatnya. Tidak diperbolehkan membeli atau menjual ijazah dalam bentuk apa pun, baik ijazah tingkat tinggi maupun rendah. Hal ini termasuk dalam larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, من غش فليس مني ‘Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan bagian dariku.’ (HR. Muslim no. 102) Selain itu, praktik ini termasuk dalam kebohongan, sedangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mengharamkan kebohongan sangat banyak dan tidak terhitung.” [6] Baca juga: Benarkah Tidak Boleh Menarik Biaya dalam Pendidikan Islam? Dampak buruk ghisy dalam pendidikan bagi masyarakat Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat. Namun, jika dalam sistem pendidikan terjadi kecurangan (ghisy), seperti menyontek, memalsukan ijazah, atau membeli tugas akademik, maka bukan hanya individu yang dirugikan, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengatakan, ولهذه القبائح- أي الغش- التي ارتكبها التجار والمتسببون وأرباب الحرف والبضائع سلط الله عليهم الظلمة فأخذوا أموالهم، وهتكوا حريمهم، بل وسلط عليهم الكفار فأسروهم واستعبدوهم، وأذاقوهم العذاب والهوان ألواناً. وكثرة تسلط الكفار على المسلمين بالأسر والنهب، وأخذ الأموال والحريم، إنما حدث في هذه الأزمنة المتأخرة لما أن أحدث التجار وغيرهم قبائح ذلك الغش الكثيرة والمتنوعة، وعظائم تلك الجنايات والمخادعات والتحايلات الباطلة على أخذ أموال الناس بأي طريق قدروا عليها، لا يراقبون الله المطلع عليهم “Karena keburukan-keburukan ini, yaitu: ghisy (kecurangan), yang dilakukan oleh para pedagang, pelaku usaha, dan pemilik berbagai profesi serta barang dagangan, Allah menimpakan kepada mereka penguasa yang zalim, yang merampas harta mereka dan menodai kehormatan mereka. Bahkan, Allah menimpakan kepada mereka kekuasaan orang-orang kafir yang menawan dan memperbudak mereka, serta membuat mereka merasakan berbagai bentuk siksaan dan kehinaan. Banyaknya penguasaan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin dengan cara penawanan, perampasan, dan penyitaan harta serta kehormatan, sesungguhnya terjadi pada masa-masa akhir ini karena para pedagang dan lainnya telah melakukan banyak keburukan berupa ghisy dalam berbagai bentuknya. Mereka melakukan kejahatan besar, tipu daya, dan berbagai cara batil untuk mengambil harta orang lain dengan segala cara yang mereka mampu, tanpa sedikit pun mengingat bahwa Allah selalu mengawasi mereka.” [7] Kisah pendidikan moral Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya Aslam, ia berkata, “Suatu malam, aku bersama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sedang berpatroli di kota Madinah. Dalam kelelahan, beliau bersandar pada dinding sebuah rumah di tengah malam. Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang berkata kepada putrinya, ‘Wahai anakku, campurkan susu itu dengan air.’ Putrinya menjawab, ‘Wahai Ibu, apakah Ibu tidak tahu perintah Amirul Mukminin hari ini?’ Ibunya bertanya, ‘Apa yang diperintahkan oleh Amirul Mukminin?’ Putrinya menjawab, ‘Beliau telah mengumumkan larangan mencampur susu dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Wahai anakku, campurkan saja susu itu dengan air. Bukankah kita berada di tempat yang tidak dilihat oleh Umar ataupun petugasnya?’ Namun, putrinya dengan penuh keyakinan menjawab, يا أمتاه والله ما كنت لأطيعه في الملأ وأعصيه في الخلاء “Wahai Ibu, demi Allah! Aku tidak akan menaati beliau di hadapan orang banyak, tetapi mengkhianatinya ketika sendirian.’” [8] Demikian, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk senantiasa menjaga amanah dan menjunjung tinggi kejujuran, dan menjauhkan kita dari ghisy dan bahayanya. Amin. Baca juga: Belajar Agama demi Mendapatkan Ijazah? *** Rumdin PPIA Sragen, 20 Sya’ban 1446 H Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab Artikel Muslim.or.id Referensi utama: Mawsūʿah Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah. Disusun oleh sekelompok peneliti di bawah supervisi Syekh ‘Alawī bin ‘Abd al-Qādir Al-Saqqāf. 3 jilid. Diterbitkan secara daring oleh situs Al-Durar Al-Sunniyyah (dorar.net), Rabi’ul Awwal 1433 H. Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (28 Rabi’ul Awwal 1433 H), sesuai nomor cetakan.   Catatan kaki: [1] Tuḥfat Al-Mawdūd bi Aḥkām Al-Mawlūd, hal. 242. [2] Lihat https://islamonline.net/التبربية-في-الإسلام [3] Adz-Dzakhīrah karya Al-Qarāfī, 5: 172, dinukil dari Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 370. [4] Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Al-‘Utsaimīn, 20: 255. [5] Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 371. [6] https://isla.mw/aa2jnp [7] Az-Zawājir ‘an Iqtirāf Al-Kabā’ir, 1: 400. [8] Tārīkh Dimasyq, 70: 253, Ibnu ‘Asākir. Lihat Mausū‘at Al-Akhlāq Al-Islāmiyyah, 2: 381.

Tiga Golongan yang Dijauhkan dari Rahmat Allah, Masuk Ramadhan Tidak Diampuni

Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan,أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ.فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.”Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?”Beliau menjawab:فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”(HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim).Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka.Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan. –Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi

Tiga Golongan yang Dijauhkan dari Rahmat Allah, Masuk Ramadhan Tidak Diampuni

Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan,أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ.فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.”Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?”Beliau menjawab:فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”(HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim).Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka.Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan. –Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi
Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan,أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ.فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.”Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?”Beliau menjawab:فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”(HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim).Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka.Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan. –Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi


Hadits ini menggambarkan tiga golongan manusia yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah karena kelalaian mereka dalam beribadah dan berbuat baik. Rasulullah ﷺ mengucapkan “Aamiin” tiga kali sebagai tanda pengabulan doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ampunan, durhaka kepada orang tua, dan enggan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Dalam hadits dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan,أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ المِنْبَرَ، فَقَالَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ.فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ المِنْبَرَ، قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ؟Abu Ya’la meriwayatkan: Abu Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ naik mimbar, lalu berkata: “Aamiin, Aamiin, Aamiin.”Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika Engkau naik mimbar, Engkau mengatakan: ‘Aamiin, Aamiin, Aamiin.’ Mengapa demikian?”Beliau menjawab:فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَبَرَّهُمَا، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.وَمَنْ ذُكِرْتُ عِندَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi ia tidak berbakti kepada mereka, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”“Dan barang siapa yang ketika disebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, lalu ia meninggal dunia dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Aamiin.’ Maka aku pun mengucapkan: Aamiin.”(HR. Ibn Hibban, no. 915, disahihkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, hlm. 915. Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 7456, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/170, dan beliau berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim).Hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan peluang untuk meraih ampunan Allah, terutama di bulan Ramadhan, berbakti kepada orang tua, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.Siapa pun yang mengabaikan ketiga amalan ini terancam dijauhkan dari rahmat Allah dan masuk neraka.Oleh karena itu, seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam ibadah, berbuat baik kepada orang tua, serta selalu bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan. –Rabu pagi, 5 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsBerbakti Kepada Orang Tua dosa besar Hadits Nabi Hadits Shahih Islamic Reminder Keutamaan Ibadah. keutamaan ramadhan masuk ramadhan Rahmat Allah ramadhan shalawat nabi
Prev     Next