Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5)

Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5)

Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa
Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa


Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa

Katanya: “Apalah Arti Sebuah Nama” ?

Ada ungkapan yang cukup terkenal di negara kita: “Apalah arti sebuah nama” Ungkapan ini apabila ditinjau dari sisi syariat, tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa? Karena agama Islam memandang nama adalah suatu hal yang penting dan terkait dengan beberapa hukum baik di dunia maupun di akhirat.Contohnya: panggilan nama seseorang di akhirat adalah panggilannya kelak di akhirat, sehingga apabila ada orang yang namanya jelek atau kurang indah di dunia, misalnya: “Tenggil, Bosok, Cungkil, Ceper dll“, maka itulah nama yang ia dipanggil di akhirat kelak. Terlebih lagi dia ridha dan senang dengan panggilan seperti ituBaca Juga: Menamai Anak Dengan Muhammad Apakah Termasuk Ibadah?Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‏ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]Demikian dalam Fatwa Syabakah  Islamiyyah dijelaskan bahwa seseorang akan dipanggil sesuai namanya dan dinisbatkan pada nasab bapaknya:ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ – ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ – ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻬﻢ ﻣﻨﺴﻮﺑﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺁﺑﺎﺋﻬﻢ ﻻ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻬﺎﺗﻬﻢ“Pendapat yang kuat -wallahu a’lam- bahwa manusia pada hari kiamat akan dipanggail sesuai dengan nama merrka (di dunia) dan dinisbatkan pada bapak mereka, bukan pada ibunya.” [Fatawa no. 20374]Ibnul Qayyim menjelaskan pentingnya nama, beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﻭﻫﻮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺍﻻﺳﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﻪ“Sesungguhnya pemberian nama pada hakikatnya berfungsi untuk menunjukkan definisi/identitas penyandang nama (yang diberi nama), karena jika ia didapati tanpa diketahui (tanpa nama), maka ia tidak bisa dikenali.” [Tuhfatul Maudud hal. 61, Dar Kutub Al-‘Ilmiyyah].Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniHendaknya kita memperhatikan ketika: Memberi nama pada anak Memperkenalkan nama diri kita Memanggil nama orang lain Yaitu berikan nama anak dengan nama yang baik dan gunakan nama baik tersebut ketika kita memperkenalkan diri ke masyarakat. Janganlah ridha dan senang dengan panggilan nama yang buruk atau jelek maknanya, serta kita tidak ikut-ikutan memanggil orang lain dengan nama atau gelaran yang buruk.Ada beberapa dalil lainnya yang menunjukkan bahwa nama itu penting dan memiliki arti serta kaitan dengan hukum terkait dunia dan akhirat.1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki arti nama yang sangat baik yaitu “yang terpuji”, beliau adalah teladan kita dalam kebaikan2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan memberi nama-nama yang baik pada umatnya.Misalnya pada hadits berikut:ﺃﺣﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. [HR. Muslim]3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penggunaan nama-nama yang buruk serta jelek maknanyaMisalnya pada hadits berikut:ﺃَﺧْﻨَﻰ ﺍﻷَﺳْﻤَﺎﺀِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﺴَﻤَّﻰ ﻣَﻠِﻚَ ﺍﻷَﻣْﻼَﻙِ“Nama yang paling keji di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang bernama dengan nama ‘Malikal Amlaak’ (rajanya para raja). ” [HR. Bukhari & Muslim]4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baikDari ‘Aisyah,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengganti (mengubah) nama yang jelek.” (HR. Tirmidzi, shahih)Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻨَﺔً ﻟِﻌُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﻋَﺎﺻِﻴَﺔُ ﻓَﺴَﻤَّﺎﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺟَﻤِﻴﻠَﺔَ“Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Jamilah.” [HR. Ahmad dan Muslim]Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia Dini Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka Demikian pembahasan ringkas ini, semoga bermanfaat@ Antara langit dan bumi Allah, Pesawat Lion Air Denpasar – Makasar, di sempurnakan setelah mendaratPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bid Ah Dholalah, Fungsi Shalat, Pakaian Haji, Allah Lebih Tahu Apa Yang Terbaik Untuk Hambanya, Jilbab Besar Syar I

Katanya: “Apalah Arti Sebuah Nama” ?

Ada ungkapan yang cukup terkenal di negara kita: “Apalah arti sebuah nama” Ungkapan ini apabila ditinjau dari sisi syariat, tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa? Karena agama Islam memandang nama adalah suatu hal yang penting dan terkait dengan beberapa hukum baik di dunia maupun di akhirat.Contohnya: panggilan nama seseorang di akhirat adalah panggilannya kelak di akhirat, sehingga apabila ada orang yang namanya jelek atau kurang indah di dunia, misalnya: “Tenggil, Bosok, Cungkil, Ceper dll“, maka itulah nama yang ia dipanggil di akhirat kelak. Terlebih lagi dia ridha dan senang dengan panggilan seperti ituBaca Juga: Menamai Anak Dengan Muhammad Apakah Termasuk Ibadah?Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‏ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]Demikian dalam Fatwa Syabakah  Islamiyyah dijelaskan bahwa seseorang akan dipanggil sesuai namanya dan dinisbatkan pada nasab bapaknya:ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ – ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ – ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻬﻢ ﻣﻨﺴﻮﺑﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺁﺑﺎﺋﻬﻢ ﻻ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻬﺎﺗﻬﻢ“Pendapat yang kuat -wallahu a’lam- bahwa manusia pada hari kiamat akan dipanggail sesuai dengan nama merrka (di dunia) dan dinisbatkan pada bapak mereka, bukan pada ibunya.” [Fatawa no. 20374]Ibnul Qayyim menjelaskan pentingnya nama, beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﻭﻫﻮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺍﻻﺳﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﻪ“Sesungguhnya pemberian nama pada hakikatnya berfungsi untuk menunjukkan definisi/identitas penyandang nama (yang diberi nama), karena jika ia didapati tanpa diketahui (tanpa nama), maka ia tidak bisa dikenali.” [Tuhfatul Maudud hal. 61, Dar Kutub Al-‘Ilmiyyah].Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniHendaknya kita memperhatikan ketika: Memberi nama pada anak Memperkenalkan nama diri kita Memanggil nama orang lain Yaitu berikan nama anak dengan nama yang baik dan gunakan nama baik tersebut ketika kita memperkenalkan diri ke masyarakat. Janganlah ridha dan senang dengan panggilan nama yang buruk atau jelek maknanya, serta kita tidak ikut-ikutan memanggil orang lain dengan nama atau gelaran yang buruk.Ada beberapa dalil lainnya yang menunjukkan bahwa nama itu penting dan memiliki arti serta kaitan dengan hukum terkait dunia dan akhirat.1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki arti nama yang sangat baik yaitu “yang terpuji”, beliau adalah teladan kita dalam kebaikan2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan memberi nama-nama yang baik pada umatnya.Misalnya pada hadits berikut:ﺃﺣﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. [HR. Muslim]3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penggunaan nama-nama yang buruk serta jelek maknanyaMisalnya pada hadits berikut:ﺃَﺧْﻨَﻰ ﺍﻷَﺳْﻤَﺎﺀِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﺴَﻤَّﻰ ﻣَﻠِﻚَ ﺍﻷَﻣْﻼَﻙِ“Nama yang paling keji di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang bernama dengan nama ‘Malikal Amlaak’ (rajanya para raja). ” [HR. Bukhari & Muslim]4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baikDari ‘Aisyah,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengganti (mengubah) nama yang jelek.” (HR. Tirmidzi, shahih)Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻨَﺔً ﻟِﻌُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﻋَﺎﺻِﻴَﺔُ ﻓَﺴَﻤَّﺎﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺟَﻤِﻴﻠَﺔَ“Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Jamilah.” [HR. Ahmad dan Muslim]Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia Dini Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka Demikian pembahasan ringkas ini, semoga bermanfaat@ Antara langit dan bumi Allah, Pesawat Lion Air Denpasar – Makasar, di sempurnakan setelah mendaratPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bid Ah Dholalah, Fungsi Shalat, Pakaian Haji, Allah Lebih Tahu Apa Yang Terbaik Untuk Hambanya, Jilbab Besar Syar I
Ada ungkapan yang cukup terkenal di negara kita: “Apalah arti sebuah nama” Ungkapan ini apabila ditinjau dari sisi syariat, tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa? Karena agama Islam memandang nama adalah suatu hal yang penting dan terkait dengan beberapa hukum baik di dunia maupun di akhirat.Contohnya: panggilan nama seseorang di akhirat adalah panggilannya kelak di akhirat, sehingga apabila ada orang yang namanya jelek atau kurang indah di dunia, misalnya: “Tenggil, Bosok, Cungkil, Ceper dll“, maka itulah nama yang ia dipanggil di akhirat kelak. Terlebih lagi dia ridha dan senang dengan panggilan seperti ituBaca Juga: Menamai Anak Dengan Muhammad Apakah Termasuk Ibadah?Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‏ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]Demikian dalam Fatwa Syabakah  Islamiyyah dijelaskan bahwa seseorang akan dipanggil sesuai namanya dan dinisbatkan pada nasab bapaknya:ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ – ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ – ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻬﻢ ﻣﻨﺴﻮﺑﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺁﺑﺎﺋﻬﻢ ﻻ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻬﺎﺗﻬﻢ“Pendapat yang kuat -wallahu a’lam- bahwa manusia pada hari kiamat akan dipanggail sesuai dengan nama merrka (di dunia) dan dinisbatkan pada bapak mereka, bukan pada ibunya.” [Fatawa no. 20374]Ibnul Qayyim menjelaskan pentingnya nama, beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﻭﻫﻮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺍﻻﺳﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﻪ“Sesungguhnya pemberian nama pada hakikatnya berfungsi untuk menunjukkan definisi/identitas penyandang nama (yang diberi nama), karena jika ia didapati tanpa diketahui (tanpa nama), maka ia tidak bisa dikenali.” [Tuhfatul Maudud hal. 61, Dar Kutub Al-‘Ilmiyyah].Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniHendaknya kita memperhatikan ketika: Memberi nama pada anak Memperkenalkan nama diri kita Memanggil nama orang lain Yaitu berikan nama anak dengan nama yang baik dan gunakan nama baik tersebut ketika kita memperkenalkan diri ke masyarakat. Janganlah ridha dan senang dengan panggilan nama yang buruk atau jelek maknanya, serta kita tidak ikut-ikutan memanggil orang lain dengan nama atau gelaran yang buruk.Ada beberapa dalil lainnya yang menunjukkan bahwa nama itu penting dan memiliki arti serta kaitan dengan hukum terkait dunia dan akhirat.1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki arti nama yang sangat baik yaitu “yang terpuji”, beliau adalah teladan kita dalam kebaikan2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan memberi nama-nama yang baik pada umatnya.Misalnya pada hadits berikut:ﺃﺣﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. [HR. Muslim]3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penggunaan nama-nama yang buruk serta jelek maknanyaMisalnya pada hadits berikut:ﺃَﺧْﻨَﻰ ﺍﻷَﺳْﻤَﺎﺀِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﺴَﻤَّﻰ ﻣَﻠِﻚَ ﺍﻷَﻣْﻼَﻙِ“Nama yang paling keji di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang bernama dengan nama ‘Malikal Amlaak’ (rajanya para raja). ” [HR. Bukhari & Muslim]4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baikDari ‘Aisyah,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengganti (mengubah) nama yang jelek.” (HR. Tirmidzi, shahih)Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻨَﺔً ﻟِﻌُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﻋَﺎﺻِﻴَﺔُ ﻓَﺴَﻤَّﺎﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺟَﻤِﻴﻠَﺔَ“Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Jamilah.” [HR. Ahmad dan Muslim]Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia Dini Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka Demikian pembahasan ringkas ini, semoga bermanfaat@ Antara langit dan bumi Allah, Pesawat Lion Air Denpasar – Makasar, di sempurnakan setelah mendaratPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bid Ah Dholalah, Fungsi Shalat, Pakaian Haji, Allah Lebih Tahu Apa Yang Terbaik Untuk Hambanya, Jilbab Besar Syar I


Ada ungkapan yang cukup terkenal di negara kita: “Apalah arti sebuah nama” Ungkapan ini apabila ditinjau dari sisi syariat, tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa? Karena agama Islam memandang nama adalah suatu hal yang penting dan terkait dengan beberapa hukum baik di dunia maupun di akhirat.Contohnya: panggilan nama seseorang di akhirat adalah panggilannya kelak di akhirat, sehingga apabila ada orang yang namanya jelek atau kurang indah di dunia, misalnya: “Tenggil, Bosok, Cungkil, Ceper dll“, maka itulah nama yang ia dipanggil di akhirat kelak. Terlebih lagi dia ridha dan senang dengan panggilan seperti ituBaca Juga: Menamai Anak Dengan Muhammad Apakah Termasuk Ibadah?Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‏ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]Demikian dalam Fatwa Syabakah  Islamiyyah dijelaskan bahwa seseorang akan dipanggil sesuai namanya dan dinisbatkan pada nasab bapaknya:ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ – ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ – ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻬﻢ ﻣﻨﺴﻮﺑﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺁﺑﺎﺋﻬﻢ ﻻ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻬﺎﺗﻬﻢ“Pendapat yang kuat -wallahu a’lam- bahwa manusia pada hari kiamat akan dipanggail sesuai dengan nama merrka (di dunia) dan dinisbatkan pada bapak mereka, bukan pada ibunya.” [Fatawa no. 20374]Ibnul Qayyim menjelaskan pentingnya nama, beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﻭﻫﻮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺍﻻﺳﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻳﻘﻊ ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﻪ“Sesungguhnya pemberian nama pada hakikatnya berfungsi untuk menunjukkan definisi/identitas penyandang nama (yang diberi nama), karena jika ia didapati tanpa diketahui (tanpa nama), maka ia tidak bisa dikenali.” [Tuhfatul Maudud hal. 61, Dar Kutub Al-‘Ilmiyyah].Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniHendaknya kita memperhatikan ketika: Memberi nama pada anak Memperkenalkan nama diri kita Memanggil nama orang lain Yaitu berikan nama anak dengan nama yang baik dan gunakan nama baik tersebut ketika kita memperkenalkan diri ke masyarakat. Janganlah ridha dan senang dengan panggilan nama yang buruk atau jelek maknanya, serta kita tidak ikut-ikutan memanggil orang lain dengan nama atau gelaran yang buruk.Ada beberapa dalil lainnya yang menunjukkan bahwa nama itu penting dan memiliki arti serta kaitan dengan hukum terkait dunia dan akhirat.1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki arti nama yang sangat baik yaitu “yang terpuji”, beliau adalah teladan kita dalam kebaikan2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan memberi nama-nama yang baik pada umatnya.Misalnya pada hadits berikut:ﺃﺣﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. [HR. Muslim]3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penggunaan nama-nama yang buruk serta jelek maknanyaMisalnya pada hadits berikut:ﺃَﺧْﻨَﻰ ﺍﻷَﺳْﻤَﺎﺀِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﺴَﻤَّﻰ ﻣَﻠِﻚَ ﺍﻷَﻣْﻼَﻙِ“Nama yang paling keji di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang bernama dengan nama ‘Malikal Amlaak’ (rajanya para raja). ” [HR. Bukhari & Muslim]4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baikDari ‘Aisyah,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengganti (mengubah) nama yang jelek.” (HR. Tirmidzi, shahih)Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻨَﺔً ﻟِﻌُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﻋَﺎﺻِﻴَﺔُ ﻓَﺴَﻤَّﺎﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺟَﻤِﻴﻠَﺔَ“Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Jamilah.” [HR. Ahmad dan Muslim]Baca Juga: Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia Dini Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka Demikian pembahasan ringkas ini, semoga bermanfaat@ Antara langit dan bumi Allah, Pesawat Lion Air Denpasar – Makasar, di sempurnakan setelah mendaratPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bid Ah Dholalah, Fungsi Shalat, Pakaian Haji, Allah Lebih Tahu Apa Yang Terbaik Untuk Hambanya, Jilbab Besar Syar I

Penuntut Ilmu dan Orang Awam Lebih Baik Tidak Ikut-Ikutan Berkomentar dalam Perselisihan Ulama

Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi

Penuntut Ilmu dan Orang Awam Lebih Baik Tidak Ikut-Ikutan Berkomentar dalam Perselisihan Ulama

Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi
Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi


Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi

Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)Dalam doa masalah juga terkandung doa ibadahDalam seri sebelumnya telah kami jelaskan sekilas bahwa seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [Al-Mu’min] [40]: 60)Baca Juga: Doa Meminta Petunjuk, Ketaqwaan, Iffah dan KekayaanDalam ayat di atas, maksud dari firman Allah Ta’ala,ادْعُونِيMencakup doa masalah dan doa ibadah. Sehingga terjemah yang lebih baik adalah, “Berdoa dan beribadahlah kepada-Ku.”Sehingga maksud dari firman Allah Ta’ala,أَسْتَجِبْ لَكُمْMaksudnya adalah Aku perkenankan (kabulkan) permintaan atau permohonan kalian dan Aku terima amal ibadah kalian. Artinya, lafadz doa tersebut mencakup doa ibadah dan doa masalah.Lalu di akhir ayat Allah Ta’ala mengatakan,إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِيArtinya, Allah Ta’ala menyebut hal itu dengan “ibadah”. Dengan kata lain, “doa masalah” dan “doa ibadah” yang Allah Ta’ala sebutkan di awal ayat itu Allah Ta’ala sebut keduanya dengan “ibadah”.Oleh karena itu, seseorang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala dengan doa masalah, pada hakikatnya dia sedang beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala, agar keinginannya terkabul atau agar terhindar dari bahaya, akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, meskipun doa tersebut tidak Allah Ta’ala kabulkan karena sebab-sebab tertentu.Seseorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk berdoa dengan doa masalah, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang sangat besar. Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Derajat Hadits Mengusap Wajah Setelah BerdoaLafadz “doa” dalam Al-Qur’an dan yang dimaksud hanyalah “doa permintaan”Dalam Al-Qur’an, juga terdapat lafadz “doa”, namun yang dimaksud terbatas pada doa permintaan. Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu tolonglah (aku).” (QS. Al-Qamar [54]: 10)“Doa” dalam ayat di atas hanya dimaknai dengan doa permintaan, karena adanya permohonan “tolonglah aku.”Baca Juga: Mendoakan Diri Sendiri Sebelum Orang LainDoa ibadah dan doa permintaan sama-sama membutuhkan keikhlasanAllah Ta’ala berfirman,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir [40]: 14)Lafadz “doa” dalam ayat di atas mencakup doa ibadah dan doa permintaan. Sehingga yang dimaksud dengannya adalah ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala ketika kalian meminta hajat atau kebutuhan-kebutuhan kalian dan ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala semua amal kebaikan dan ketaatan yang kalian kerjakan.Maka dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa permintaan, yaitu hanya meminta dan memohon kepada Allah Ta’ala dalam perkara-perkara yang hanya Allah Ta’ala saja yang mampu, misalnya meminta kecukupan rizki dan kesembuhan dari penyakit. Di samping itu, Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa ibadah, yaitu hanya beribadah dan menyembah Allah Ta’ala dan tidak menujukan satu pun aktivitas ibadah kepada selain Allah Ta’ala.Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika Sujud [Selesai]***@Jogjakarta, 5 Jumadil Awwal 1440/ 11 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Disarikan dari kitab Al-Qawa’idul hisaan al-muta’alliqati bi tafsiir Al-Qur’an, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, hal. 173-175 (kaidah ke-51), penerbit Daar Thaybah Suriah, cetakan pertama tahun 1434.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah

Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)Dalam doa masalah juga terkandung doa ibadahDalam seri sebelumnya telah kami jelaskan sekilas bahwa seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [Al-Mu’min] [40]: 60)Baca Juga: Doa Meminta Petunjuk, Ketaqwaan, Iffah dan KekayaanDalam ayat di atas, maksud dari firman Allah Ta’ala,ادْعُونِيMencakup doa masalah dan doa ibadah. Sehingga terjemah yang lebih baik adalah, “Berdoa dan beribadahlah kepada-Ku.”Sehingga maksud dari firman Allah Ta’ala,أَسْتَجِبْ لَكُمْMaksudnya adalah Aku perkenankan (kabulkan) permintaan atau permohonan kalian dan Aku terima amal ibadah kalian. Artinya, lafadz doa tersebut mencakup doa ibadah dan doa masalah.Lalu di akhir ayat Allah Ta’ala mengatakan,إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِيArtinya, Allah Ta’ala menyebut hal itu dengan “ibadah”. Dengan kata lain, “doa masalah” dan “doa ibadah” yang Allah Ta’ala sebutkan di awal ayat itu Allah Ta’ala sebut keduanya dengan “ibadah”.Oleh karena itu, seseorang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala dengan doa masalah, pada hakikatnya dia sedang beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala, agar keinginannya terkabul atau agar terhindar dari bahaya, akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, meskipun doa tersebut tidak Allah Ta’ala kabulkan karena sebab-sebab tertentu.Seseorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk berdoa dengan doa masalah, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang sangat besar. Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Derajat Hadits Mengusap Wajah Setelah BerdoaLafadz “doa” dalam Al-Qur’an dan yang dimaksud hanyalah “doa permintaan”Dalam Al-Qur’an, juga terdapat lafadz “doa”, namun yang dimaksud terbatas pada doa permintaan. Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu tolonglah (aku).” (QS. Al-Qamar [54]: 10)“Doa” dalam ayat di atas hanya dimaknai dengan doa permintaan, karena adanya permohonan “tolonglah aku.”Baca Juga: Mendoakan Diri Sendiri Sebelum Orang LainDoa ibadah dan doa permintaan sama-sama membutuhkan keikhlasanAllah Ta’ala berfirman,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir [40]: 14)Lafadz “doa” dalam ayat di atas mencakup doa ibadah dan doa permintaan. Sehingga yang dimaksud dengannya adalah ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala ketika kalian meminta hajat atau kebutuhan-kebutuhan kalian dan ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala semua amal kebaikan dan ketaatan yang kalian kerjakan.Maka dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa permintaan, yaitu hanya meminta dan memohon kepada Allah Ta’ala dalam perkara-perkara yang hanya Allah Ta’ala saja yang mampu, misalnya meminta kecukupan rizki dan kesembuhan dari penyakit. Di samping itu, Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa ibadah, yaitu hanya beribadah dan menyembah Allah Ta’ala dan tidak menujukan satu pun aktivitas ibadah kepada selain Allah Ta’ala.Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika Sujud [Selesai]***@Jogjakarta, 5 Jumadil Awwal 1440/ 11 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Disarikan dari kitab Al-Qawa’idul hisaan al-muta’alliqati bi tafsiir Al-Qur’an, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, hal. 173-175 (kaidah ke-51), penerbit Daar Thaybah Suriah, cetakan pertama tahun 1434.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah
Baca pembahasan sebelumnya Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)Dalam doa masalah juga terkandung doa ibadahDalam seri sebelumnya telah kami jelaskan sekilas bahwa seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [Al-Mu’min] [40]: 60)Baca Juga: Doa Meminta Petunjuk, Ketaqwaan, Iffah dan KekayaanDalam ayat di atas, maksud dari firman Allah Ta’ala,ادْعُونِيMencakup doa masalah dan doa ibadah. Sehingga terjemah yang lebih baik adalah, “Berdoa dan beribadahlah kepada-Ku.”Sehingga maksud dari firman Allah Ta’ala,أَسْتَجِبْ لَكُمْMaksudnya adalah Aku perkenankan (kabulkan) permintaan atau permohonan kalian dan Aku terima amal ibadah kalian. Artinya, lafadz doa tersebut mencakup doa ibadah dan doa masalah.Lalu di akhir ayat Allah Ta’ala mengatakan,إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِيArtinya, Allah Ta’ala menyebut hal itu dengan “ibadah”. Dengan kata lain, “doa masalah” dan “doa ibadah” yang Allah Ta’ala sebutkan di awal ayat itu Allah Ta’ala sebut keduanya dengan “ibadah”.Oleh karena itu, seseorang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala dengan doa masalah, pada hakikatnya dia sedang beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala, agar keinginannya terkabul atau agar terhindar dari bahaya, akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, meskipun doa tersebut tidak Allah Ta’ala kabulkan karena sebab-sebab tertentu.Seseorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk berdoa dengan doa masalah, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang sangat besar. Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Derajat Hadits Mengusap Wajah Setelah BerdoaLafadz “doa” dalam Al-Qur’an dan yang dimaksud hanyalah “doa permintaan”Dalam Al-Qur’an, juga terdapat lafadz “doa”, namun yang dimaksud terbatas pada doa permintaan. Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu tolonglah (aku).” (QS. Al-Qamar [54]: 10)“Doa” dalam ayat di atas hanya dimaknai dengan doa permintaan, karena adanya permohonan “tolonglah aku.”Baca Juga: Mendoakan Diri Sendiri Sebelum Orang LainDoa ibadah dan doa permintaan sama-sama membutuhkan keikhlasanAllah Ta’ala berfirman,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir [40]: 14)Lafadz “doa” dalam ayat di atas mencakup doa ibadah dan doa permintaan. Sehingga yang dimaksud dengannya adalah ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala ketika kalian meminta hajat atau kebutuhan-kebutuhan kalian dan ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala semua amal kebaikan dan ketaatan yang kalian kerjakan.Maka dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa permintaan, yaitu hanya meminta dan memohon kepada Allah Ta’ala dalam perkara-perkara yang hanya Allah Ta’ala saja yang mampu, misalnya meminta kecukupan rizki dan kesembuhan dari penyakit. Di samping itu, Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa ibadah, yaitu hanya beribadah dan menyembah Allah Ta’ala dan tidak menujukan satu pun aktivitas ibadah kepada selain Allah Ta’ala.Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika Sujud [Selesai]***@Jogjakarta, 5 Jumadil Awwal 1440/ 11 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Disarikan dari kitab Al-Qawa’idul hisaan al-muta’alliqati bi tafsiir Al-Qur’an, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, hal. 173-175 (kaidah ke-51), penerbit Daar Thaybah Suriah, cetakan pertama tahun 1434.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah


Baca pembahasan sebelumnya Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)Dalam doa masalah juga terkandung doa ibadahDalam seri sebelumnya telah kami jelaskan sekilas bahwa seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [Al-Mu’min] [40]: 60)Baca Juga: Doa Meminta Petunjuk, Ketaqwaan, Iffah dan KekayaanDalam ayat di atas, maksud dari firman Allah Ta’ala,ادْعُونِيMencakup doa masalah dan doa ibadah. Sehingga terjemah yang lebih baik adalah, “Berdoa dan beribadahlah kepada-Ku.”Sehingga maksud dari firman Allah Ta’ala,أَسْتَجِبْ لَكُمْMaksudnya adalah Aku perkenankan (kabulkan) permintaan atau permohonan kalian dan Aku terima amal ibadah kalian. Artinya, lafadz doa tersebut mencakup doa ibadah dan doa masalah.Lalu di akhir ayat Allah Ta’ala mengatakan,إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِيArtinya, Allah Ta’ala menyebut hal itu dengan “ibadah”. Dengan kata lain, “doa masalah” dan “doa ibadah” yang Allah Ta’ala sebutkan di awal ayat itu Allah Ta’ala sebut keduanya dengan “ibadah”.Oleh karena itu, seseorang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala dengan doa masalah, pada hakikatnya dia sedang beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala, agar keinginannya terkabul atau agar terhindar dari bahaya, akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, meskipun doa tersebut tidak Allah Ta’ala kabulkan karena sebab-sebab tertentu.Seseorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk berdoa dengan doa masalah, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang sangat besar. Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Derajat Hadits Mengusap Wajah Setelah BerdoaLafadz “doa” dalam Al-Qur’an dan yang dimaksud hanyalah “doa permintaan”Dalam Al-Qur’an, juga terdapat lafadz “doa”, namun yang dimaksud terbatas pada doa permintaan. Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu tolonglah (aku).” (QS. Al-Qamar [54]: 10)“Doa” dalam ayat di atas hanya dimaknai dengan doa permintaan, karena adanya permohonan “tolonglah aku.”Baca Juga: Mendoakan Diri Sendiri Sebelum Orang LainDoa ibadah dan doa permintaan sama-sama membutuhkan keikhlasanAllah Ta’ala berfirman,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir [40]: 14)Lafadz “doa” dalam ayat di atas mencakup doa ibadah dan doa permintaan. Sehingga yang dimaksud dengannya adalah ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala ketika kalian meminta hajat atau kebutuhan-kebutuhan kalian dan ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala semua amal kebaikan dan ketaatan yang kalian kerjakan.Maka dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa permintaan, yaitu hanya meminta dan memohon kepada Allah Ta’ala dalam perkara-perkara yang hanya Allah Ta’ala saja yang mampu, misalnya meminta kecukupan rizki dan kesembuhan dari penyakit. Di samping itu, Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa ibadah, yaitu hanya beribadah dan menyembah Allah Ta’ala dan tidak menujukan satu pun aktivitas ibadah kepada selain Allah Ta’ala.Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika Sujud [Selesai]***@Jogjakarta, 5 Jumadil Awwal 1440/ 11 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Disarikan dari kitab Al-Qawa’idul hisaan al-muta’alliqati bi tafsiir Al-Qur’an, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, hal. 173-175 (kaidah ke-51), penerbit Daar Thaybah Suriah, cetakan pertama tahun 1434.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah

Semangat Belajar dan Meneliti Ilmu Kedokteran

Ilmu kedokteran dan pengobatan merupakan ilmu yang cukup penting bagi manusia. Apabila para ulama adalah orang yang mengobati penyakit hati, maka para tabib dan dokter adalah orang yang mengobati penyakit badan. Kedua penyakit ini, yaitu penyakit hati dan badan asalnya adalah pengganggu bagi manusia, sehingga syariat menuntun manusia untuk menyembuhkan kedua penyakit ini.Baca Juga: Profesi Dokter, Apakah Berpahala?Imam Asy-Syafi’i menjelaskan pentingnya ilmu kedokteran. Beliau berkata,لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita.” [Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits]Imam Syafi’i juga menekankan bahwa di amtara ilmu dunia, ilmu kedokteran salah satu yang paling penting. Beliau berkata,إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب“Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yaitu fiqh (fiqh akbar: aqidah, fiqh ashgar: fiqh ibadah dan muamalah, pent). Sedangkan ilmu untuk dunia adalah ilmu kedokteran.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Baca Juga: Bolehkah Apoteker Memberi Obat Tanpa Resep Dokter?Beberapa ulama menekankan agar kaum muslimin terus mempelajari, meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran. Terdapat hadits yang menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, sehingga kaum muslimin dimotivasi agar meneliti dan menemukan obat tersebut.Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ًيَاعِبَادَ الله تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ- تعالى- لَمْ يَضَعْ دَاءً إلا وَضَعَ لَه دَوَاء“Wahai hamba-hamba Allah. Berobatlah kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah meletakkan satu penyakit kecuali Ia juga akan meletakkan padanya obat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa hadits ini adalah motivasi untuk belajar ilmu kedokteran, beliau berkata,ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ : ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻷﺑﺪﺍﻥ، ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ، ﻭﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﻓﻌﺔ . ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺗﻔﺎﺻﻴﻠﻪ ﺷﺮﺡ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺩﻭﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﺃﺩﻭﻳﺔ . ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺴﻌﻰ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻠﻤﻬﺎ، ﻭﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﻨﻔﻴﺬﻫﺎ . ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﻈﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺩﻭﺍﺀ، ﻛﺎﻟﺴﻞ ﻭﻧﺤﻮﻩ . ﻭﻋﻨﺪﻣﺎ ﺍﺭﺗﻘﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻄﺐ، ﻭﻭﺻﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ، ﻋﺮﻑ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺼﺪﺍﻕ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ“Pada hadits ini terdapat motivasi agar mempelajari ilmu kedokteran/penyembuhan penyakit badan sebagaimana motivasi untuk mempelajari ilmu penyembuhan penyakit hati, karena pada ilmu ini ada manfaat. Semua dasar ilmu kedokteran dan rinciannya dijelaskan dari hadits ini, karena Pembuat Syariat (Allah Ta’ala) telah mengabarkan kepada kita bahwa semua penyakit ada obatnya. Hendaknya kita bersegera/berusaha mempelajarinya, kemudian mengamalkanya. Banyak orang mengira bahwa sebagian penyakit tidak ada obatnya seperti penyakit tuberculosis (TBC), akan tetapi tatkala ilmu kedokteran berkembang, manusia mencapai apa yang telah dicapai sekarang dan manusia menjadi tahu kebenaran hadits ini.” [Bahjatu Qulubil Abrar Hal. 174]Baca Juga: Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?Agama Islam memotivasi agar terus meneliti ilmu kedokteran, karena manusia sangat butuh orang yang bisa mengobati penyakit badan. Sampai-sampai Imam Syafi’i membuat ungkapan sebagai berikut:َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Imam Asy-Syafi’i juga menekankan bahwa kaum muslimin hendaknya jangan tertinggal dalam ilmu kedokteran. Beliau mengatakan bahwa ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashari telah selangkah lebih maju dan menguasai ilmu kedokteran. Beliau berkata,ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى.“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” [Siyar A’lam An-Nubala  Adz-Dzahabi 8/258]Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i,لماذا ثلث العلم؟! لأن علم الشرع على ضربين: علم يتعلق بالاعتقاد، وعلم يتعلق بالأبدان والجوارح، فأصبح علم بالظاهر وعلم بالباطن، علم التوحيد وعلم الفروع التي هي محققة للتوحيد، فهذان علمان فهما طب الروح والجسد، بقي طب البدن من الظاهر وهو العلم الثالث، فقال رحمه الله من فهمه وفقهه: [ضيعوا ثلث العلم ووكلوه إلى اليهود والنصارى] يعني احتاجوا إلى اليهود والنصارى“Mengapa sepertiga Ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua: [1] ilmu yang berkaitan dengan keyakinan [2] ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan. Jadilah dua yaitu ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Kedua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya, ‘Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.’ Yaitu maksudnya butuh terhadap orang yahudi dan nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” [Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy, sumber:http://islamport.com/w/amm/Web/1583/866.htm]Jangan sampai umat Islam kalah dalam dengan ahli kitab dalam masalah ini. Kita bisa lihat di zaman ini di mana ilmu kedokteran lebih dikuasai oleh negara barat. Tidak sedikit Ahli kitab memanfaatkan ilmu kedokteran agar kaum muslimin mengikuti mereka (masuk agama mereka) dengan pengobatan gratis atau mendirikan rumah sakit besar dan rujukan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa orang yang sakit memiliki jiwa yang labil dan mudah dipengaruhi.Allah Ta’ala berfirman mengingatkan kita akan tidak ridhanya Yahudi dan Nashrani terhadap umat Islam dan selalu berupaya agar kaum Muslimin mengikuti dan masuk ke agama mereka.ْوَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُم“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).Baca Juga: Ruqyah dengan Madu, Habbatus Sauda dan Minyak Zaitun Bentuk-Bentuk Ruqyah dengan Menggunakan Air Demikian semoga bermanfaatPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Pohon Angker Menurut Islam, Malam 27 Ramadhan, Hukum Meninggalkan Sholat Wajib, Kata Kata Buat Anak Durhaka, Doa Menutup Aib Diri

Semangat Belajar dan Meneliti Ilmu Kedokteran

Ilmu kedokteran dan pengobatan merupakan ilmu yang cukup penting bagi manusia. Apabila para ulama adalah orang yang mengobati penyakit hati, maka para tabib dan dokter adalah orang yang mengobati penyakit badan. Kedua penyakit ini, yaitu penyakit hati dan badan asalnya adalah pengganggu bagi manusia, sehingga syariat menuntun manusia untuk menyembuhkan kedua penyakit ini.Baca Juga: Profesi Dokter, Apakah Berpahala?Imam Asy-Syafi’i menjelaskan pentingnya ilmu kedokteran. Beliau berkata,لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita.” [Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits]Imam Syafi’i juga menekankan bahwa di amtara ilmu dunia, ilmu kedokteran salah satu yang paling penting. Beliau berkata,إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب“Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yaitu fiqh (fiqh akbar: aqidah, fiqh ashgar: fiqh ibadah dan muamalah, pent). Sedangkan ilmu untuk dunia adalah ilmu kedokteran.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Baca Juga: Bolehkah Apoteker Memberi Obat Tanpa Resep Dokter?Beberapa ulama menekankan agar kaum muslimin terus mempelajari, meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran. Terdapat hadits yang menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, sehingga kaum muslimin dimotivasi agar meneliti dan menemukan obat tersebut.Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ًيَاعِبَادَ الله تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ- تعالى- لَمْ يَضَعْ دَاءً إلا وَضَعَ لَه دَوَاء“Wahai hamba-hamba Allah. Berobatlah kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah meletakkan satu penyakit kecuali Ia juga akan meletakkan padanya obat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa hadits ini adalah motivasi untuk belajar ilmu kedokteran, beliau berkata,ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ : ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻷﺑﺪﺍﻥ، ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ، ﻭﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﻓﻌﺔ . ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺗﻔﺎﺻﻴﻠﻪ ﺷﺮﺡ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺩﻭﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﺃﺩﻭﻳﺔ . ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺴﻌﻰ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻠﻤﻬﺎ، ﻭﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﻨﻔﻴﺬﻫﺎ . ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﻈﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺩﻭﺍﺀ، ﻛﺎﻟﺴﻞ ﻭﻧﺤﻮﻩ . ﻭﻋﻨﺪﻣﺎ ﺍﺭﺗﻘﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻄﺐ، ﻭﻭﺻﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ، ﻋﺮﻑ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺼﺪﺍﻕ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ“Pada hadits ini terdapat motivasi agar mempelajari ilmu kedokteran/penyembuhan penyakit badan sebagaimana motivasi untuk mempelajari ilmu penyembuhan penyakit hati, karena pada ilmu ini ada manfaat. Semua dasar ilmu kedokteran dan rinciannya dijelaskan dari hadits ini, karena Pembuat Syariat (Allah Ta’ala) telah mengabarkan kepada kita bahwa semua penyakit ada obatnya. Hendaknya kita bersegera/berusaha mempelajarinya, kemudian mengamalkanya. Banyak orang mengira bahwa sebagian penyakit tidak ada obatnya seperti penyakit tuberculosis (TBC), akan tetapi tatkala ilmu kedokteran berkembang, manusia mencapai apa yang telah dicapai sekarang dan manusia menjadi tahu kebenaran hadits ini.” [Bahjatu Qulubil Abrar Hal. 174]Baca Juga: Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?Agama Islam memotivasi agar terus meneliti ilmu kedokteran, karena manusia sangat butuh orang yang bisa mengobati penyakit badan. Sampai-sampai Imam Syafi’i membuat ungkapan sebagai berikut:َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Imam Asy-Syafi’i juga menekankan bahwa kaum muslimin hendaknya jangan tertinggal dalam ilmu kedokteran. Beliau mengatakan bahwa ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashari telah selangkah lebih maju dan menguasai ilmu kedokteran. Beliau berkata,ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى.“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” [Siyar A’lam An-Nubala  Adz-Dzahabi 8/258]Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i,لماذا ثلث العلم؟! لأن علم الشرع على ضربين: علم يتعلق بالاعتقاد، وعلم يتعلق بالأبدان والجوارح، فأصبح علم بالظاهر وعلم بالباطن، علم التوحيد وعلم الفروع التي هي محققة للتوحيد، فهذان علمان فهما طب الروح والجسد، بقي طب البدن من الظاهر وهو العلم الثالث، فقال رحمه الله من فهمه وفقهه: [ضيعوا ثلث العلم ووكلوه إلى اليهود والنصارى] يعني احتاجوا إلى اليهود والنصارى“Mengapa sepertiga Ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua: [1] ilmu yang berkaitan dengan keyakinan [2] ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan. Jadilah dua yaitu ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Kedua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya, ‘Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.’ Yaitu maksudnya butuh terhadap orang yahudi dan nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” [Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy, sumber:http://islamport.com/w/amm/Web/1583/866.htm]Jangan sampai umat Islam kalah dalam dengan ahli kitab dalam masalah ini. Kita bisa lihat di zaman ini di mana ilmu kedokteran lebih dikuasai oleh negara barat. Tidak sedikit Ahli kitab memanfaatkan ilmu kedokteran agar kaum muslimin mengikuti mereka (masuk agama mereka) dengan pengobatan gratis atau mendirikan rumah sakit besar dan rujukan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa orang yang sakit memiliki jiwa yang labil dan mudah dipengaruhi.Allah Ta’ala berfirman mengingatkan kita akan tidak ridhanya Yahudi dan Nashrani terhadap umat Islam dan selalu berupaya agar kaum Muslimin mengikuti dan masuk ke agama mereka.ْوَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُم“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).Baca Juga: Ruqyah dengan Madu, Habbatus Sauda dan Minyak Zaitun Bentuk-Bentuk Ruqyah dengan Menggunakan Air Demikian semoga bermanfaatPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Pohon Angker Menurut Islam, Malam 27 Ramadhan, Hukum Meninggalkan Sholat Wajib, Kata Kata Buat Anak Durhaka, Doa Menutup Aib Diri
Ilmu kedokteran dan pengobatan merupakan ilmu yang cukup penting bagi manusia. Apabila para ulama adalah orang yang mengobati penyakit hati, maka para tabib dan dokter adalah orang yang mengobati penyakit badan. Kedua penyakit ini, yaitu penyakit hati dan badan asalnya adalah pengganggu bagi manusia, sehingga syariat menuntun manusia untuk menyembuhkan kedua penyakit ini.Baca Juga: Profesi Dokter, Apakah Berpahala?Imam Asy-Syafi’i menjelaskan pentingnya ilmu kedokteran. Beliau berkata,لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita.” [Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits]Imam Syafi’i juga menekankan bahwa di amtara ilmu dunia, ilmu kedokteran salah satu yang paling penting. Beliau berkata,إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب“Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yaitu fiqh (fiqh akbar: aqidah, fiqh ashgar: fiqh ibadah dan muamalah, pent). Sedangkan ilmu untuk dunia adalah ilmu kedokteran.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Baca Juga: Bolehkah Apoteker Memberi Obat Tanpa Resep Dokter?Beberapa ulama menekankan agar kaum muslimin terus mempelajari, meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran. Terdapat hadits yang menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, sehingga kaum muslimin dimotivasi agar meneliti dan menemukan obat tersebut.Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ًيَاعِبَادَ الله تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ- تعالى- لَمْ يَضَعْ دَاءً إلا وَضَعَ لَه دَوَاء“Wahai hamba-hamba Allah. Berobatlah kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah meletakkan satu penyakit kecuali Ia juga akan meletakkan padanya obat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa hadits ini adalah motivasi untuk belajar ilmu kedokteran, beliau berkata,ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ : ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻷﺑﺪﺍﻥ، ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ، ﻭﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﻓﻌﺔ . ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺗﻔﺎﺻﻴﻠﻪ ﺷﺮﺡ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺩﻭﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﺃﺩﻭﻳﺔ . ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺴﻌﻰ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻠﻤﻬﺎ، ﻭﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﻨﻔﻴﺬﻫﺎ . ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﻈﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺩﻭﺍﺀ، ﻛﺎﻟﺴﻞ ﻭﻧﺤﻮﻩ . ﻭﻋﻨﺪﻣﺎ ﺍﺭﺗﻘﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻄﺐ، ﻭﻭﺻﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ، ﻋﺮﻑ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺼﺪﺍﻕ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ“Pada hadits ini terdapat motivasi agar mempelajari ilmu kedokteran/penyembuhan penyakit badan sebagaimana motivasi untuk mempelajari ilmu penyembuhan penyakit hati, karena pada ilmu ini ada manfaat. Semua dasar ilmu kedokteran dan rinciannya dijelaskan dari hadits ini, karena Pembuat Syariat (Allah Ta’ala) telah mengabarkan kepada kita bahwa semua penyakit ada obatnya. Hendaknya kita bersegera/berusaha mempelajarinya, kemudian mengamalkanya. Banyak orang mengira bahwa sebagian penyakit tidak ada obatnya seperti penyakit tuberculosis (TBC), akan tetapi tatkala ilmu kedokteran berkembang, manusia mencapai apa yang telah dicapai sekarang dan manusia menjadi tahu kebenaran hadits ini.” [Bahjatu Qulubil Abrar Hal. 174]Baca Juga: Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?Agama Islam memotivasi agar terus meneliti ilmu kedokteran, karena manusia sangat butuh orang yang bisa mengobati penyakit badan. Sampai-sampai Imam Syafi’i membuat ungkapan sebagai berikut:َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Imam Asy-Syafi’i juga menekankan bahwa kaum muslimin hendaknya jangan tertinggal dalam ilmu kedokteran. Beliau mengatakan bahwa ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashari telah selangkah lebih maju dan menguasai ilmu kedokteran. Beliau berkata,ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى.“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” [Siyar A’lam An-Nubala  Adz-Dzahabi 8/258]Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i,لماذا ثلث العلم؟! لأن علم الشرع على ضربين: علم يتعلق بالاعتقاد، وعلم يتعلق بالأبدان والجوارح، فأصبح علم بالظاهر وعلم بالباطن، علم التوحيد وعلم الفروع التي هي محققة للتوحيد، فهذان علمان فهما طب الروح والجسد، بقي طب البدن من الظاهر وهو العلم الثالث، فقال رحمه الله من فهمه وفقهه: [ضيعوا ثلث العلم ووكلوه إلى اليهود والنصارى] يعني احتاجوا إلى اليهود والنصارى“Mengapa sepertiga Ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua: [1] ilmu yang berkaitan dengan keyakinan [2] ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan. Jadilah dua yaitu ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Kedua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya, ‘Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.’ Yaitu maksudnya butuh terhadap orang yahudi dan nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” [Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy, sumber:http://islamport.com/w/amm/Web/1583/866.htm]Jangan sampai umat Islam kalah dalam dengan ahli kitab dalam masalah ini. Kita bisa lihat di zaman ini di mana ilmu kedokteran lebih dikuasai oleh negara barat. Tidak sedikit Ahli kitab memanfaatkan ilmu kedokteran agar kaum muslimin mengikuti mereka (masuk agama mereka) dengan pengobatan gratis atau mendirikan rumah sakit besar dan rujukan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa orang yang sakit memiliki jiwa yang labil dan mudah dipengaruhi.Allah Ta’ala berfirman mengingatkan kita akan tidak ridhanya Yahudi dan Nashrani terhadap umat Islam dan selalu berupaya agar kaum Muslimin mengikuti dan masuk ke agama mereka.ْوَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُم“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).Baca Juga: Ruqyah dengan Madu, Habbatus Sauda dan Minyak Zaitun Bentuk-Bentuk Ruqyah dengan Menggunakan Air Demikian semoga bermanfaatPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Pohon Angker Menurut Islam, Malam 27 Ramadhan, Hukum Meninggalkan Sholat Wajib, Kata Kata Buat Anak Durhaka, Doa Menutup Aib Diri


Ilmu kedokteran dan pengobatan merupakan ilmu yang cukup penting bagi manusia. Apabila para ulama adalah orang yang mengobati penyakit hati, maka para tabib dan dokter adalah orang yang mengobati penyakit badan. Kedua penyakit ini, yaitu penyakit hati dan badan asalnya adalah pengganggu bagi manusia, sehingga syariat menuntun manusia untuk menyembuhkan kedua penyakit ini.Baca Juga: Profesi Dokter, Apakah Berpahala?Imam Asy-Syafi’i menjelaskan pentingnya ilmu kedokteran. Beliau berkata,لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita.” [Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits]Imam Syafi’i juga menekankan bahwa di amtara ilmu dunia, ilmu kedokteran salah satu yang paling penting. Beliau berkata,إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب“Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yaitu fiqh (fiqh akbar: aqidah, fiqh ashgar: fiqh ibadah dan muamalah, pent). Sedangkan ilmu untuk dunia adalah ilmu kedokteran.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Baca Juga: Bolehkah Apoteker Memberi Obat Tanpa Resep Dokter?Beberapa ulama menekankan agar kaum muslimin terus mempelajari, meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran. Terdapat hadits yang menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, sehingga kaum muslimin dimotivasi agar meneliti dan menemukan obat tersebut.Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ًيَاعِبَادَ الله تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ- تعالى- لَمْ يَضَعْ دَاءً إلا وَضَعَ لَه دَوَاء“Wahai hamba-hamba Allah. Berobatlah kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah meletakkan satu penyakit kecuali Ia juga akan meletakkan padanya obat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa hadits ini adalah motivasi untuk belajar ilmu kedokteran, beliau berkata,ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ : ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻷﺑﺪﺍﻥ، ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻢ ﻃﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ، ﻭﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﻓﻌﺔ . ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺗﻔﺎﺻﻴﻠﻪ ﺷﺮﺡ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺩﻭﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﺃﺩﻭﻳﺔ . ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺴﻌﻰ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻠﻤﻬﺎ، ﻭﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﻨﻔﻴﺬﻫﺎ . ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﻈﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺩﻭﺍﺀ، ﻛﺎﻟﺴﻞ ﻭﻧﺤﻮﻩ . ﻭﻋﻨﺪﻣﺎ ﺍﺭﺗﻘﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻄﺐ، ﻭﻭﺻﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ، ﻋﺮﻑ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺼﺪﺍﻕ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ“Pada hadits ini terdapat motivasi agar mempelajari ilmu kedokteran/penyembuhan penyakit badan sebagaimana motivasi untuk mempelajari ilmu penyembuhan penyakit hati, karena pada ilmu ini ada manfaat. Semua dasar ilmu kedokteran dan rinciannya dijelaskan dari hadits ini, karena Pembuat Syariat (Allah Ta’ala) telah mengabarkan kepada kita bahwa semua penyakit ada obatnya. Hendaknya kita bersegera/berusaha mempelajarinya, kemudian mengamalkanya. Banyak orang mengira bahwa sebagian penyakit tidak ada obatnya seperti penyakit tuberculosis (TBC), akan tetapi tatkala ilmu kedokteran berkembang, manusia mencapai apa yang telah dicapai sekarang dan manusia menjadi tahu kebenaran hadits ini.” [Bahjatu Qulubil Abrar Hal. 174]Baca Juga: Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?Agama Islam memotivasi agar terus meneliti ilmu kedokteran, karena manusia sangat butuh orang yang bisa mengobati penyakit badan. Sampai-sampai Imam Syafi’i membuat ungkapan sebagai berikut:َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]Imam Asy-Syafi’i juga menekankan bahwa kaum muslimin hendaknya jangan tertinggal dalam ilmu kedokteran. Beliau mengatakan bahwa ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashari telah selangkah lebih maju dan menguasai ilmu kedokteran. Beliau berkata,ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى.“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” [Siyar A’lam An-Nubala  Adz-Dzahabi 8/258]Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i,لماذا ثلث العلم؟! لأن علم الشرع على ضربين: علم يتعلق بالاعتقاد، وعلم يتعلق بالأبدان والجوارح، فأصبح علم بالظاهر وعلم بالباطن، علم التوحيد وعلم الفروع التي هي محققة للتوحيد، فهذان علمان فهما طب الروح والجسد، بقي طب البدن من الظاهر وهو العلم الثالث، فقال رحمه الله من فهمه وفقهه: [ضيعوا ثلث العلم ووكلوه إلى اليهود والنصارى] يعني احتاجوا إلى اليهود والنصارى“Mengapa sepertiga Ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua: [1] ilmu yang berkaitan dengan keyakinan [2] ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan. Jadilah dua yaitu ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Kedua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya, ‘Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.’ Yaitu maksudnya butuh terhadap orang yahudi dan nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” [Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy, sumber:http://islamport.com/w/amm/Web/1583/866.htm]Jangan sampai umat Islam kalah dalam dengan ahli kitab dalam masalah ini. Kita bisa lihat di zaman ini di mana ilmu kedokteran lebih dikuasai oleh negara barat. Tidak sedikit Ahli kitab memanfaatkan ilmu kedokteran agar kaum muslimin mengikuti mereka (masuk agama mereka) dengan pengobatan gratis atau mendirikan rumah sakit besar dan rujukan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa orang yang sakit memiliki jiwa yang labil dan mudah dipengaruhi.Allah Ta’ala berfirman mengingatkan kita akan tidak ridhanya Yahudi dan Nashrani terhadap umat Islam dan selalu berupaya agar kaum Muslimin mengikuti dan masuk ke agama mereka.ْوَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُم“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).Baca Juga: Ruqyah dengan Madu, Habbatus Sauda dan Minyak Zaitun Bentuk-Bentuk Ruqyah dengan Menggunakan Air Demikian semoga bermanfaatPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Pohon Angker Menurut Islam, Malam 27 Ramadhan, Hukum Meninggalkan Sholat Wajib, Kata Kata Buat Anak Durhaka, Doa Menutup Aib Diri

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz tentang Hukum Imunisasi

Pertanyaan: ما هو الحكم في التداوي قبل وقوع الداء كالتطعيم؟Apa hukum berobat sebelum tertimpa penyakit, seperti imunisasi?Baca Juga: Benarkah Tahnik Termasuk Imunisasi Islami?Jawaban:لا بأس بالتداوي إذا خشي وقوع الداء لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها فلا بأس بتعاطي الدواء لدفع البلاء الذي يخشى منه؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: من تصبح بسبع تمرات من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم، وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه فهكذا إذا خشي من مرض وطعم ضد الوباء الواقع في البلد أو في أي مكان لا بأس بذلك من باب الدفاع كما يعالج المرض النازل يعالج بالدواء المرض الذي يخشى منه؛ لكن لا يجوز تعليق التمائم والحجب ضد المرض أو الجن أو العين لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك. وقد أوضح عليه الصلاة والسلام أن ذلك من الشرك الأصغر فالواجب الحذر من ذلكDiperbolehkan berobat (semacam imunisasi tersebut, pen.) ketika dikhawatirkan tertimpa suatu penyakit, baik karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya sehingga dikhawatirkan terjangkit penyakit tersebut. Oleh karena itu, tidak mengapa (boleh) berobat untuk mencegah terjadinya bahaya (penyakit) yang dikhawatirkan akan terjadi.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,ٌّمَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ مِنْ تَمْرِ الْمَدِينَةِ لَمْ يَضُرُّهُ سِحْرٌ وَلَا سُم“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma dari Madinah, maka dia tidak akan terkena sihir dan racun pada hari itu.” (Hadist Shahih)Baca Juga: Herbal Berbeda Dengan Thibbun NabawiHadits ini berkaitan dengan mencegah marabahaya sebelum terjadi. Jika dikhawatirkan terkena suatu penyakit kemudian melakukan imunisasi untuk menangkal wabah yang terjadi di suatu negeri atau di tempat manapun, maka hal itu diperbolehkan dalam rangka pencegahan. Hal ini sebagaimana penyakit yang sudah menimpa (sudah terjadi) diobati dengan obat dari penyakit yang dikhawatirkan tersebut.Akan tetapi, tidak boleh menggantungkan jimat (tamimah) sebagai penangkal penyakit, jin, atau penyakit ‘ain karena terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik ashghar (syirik kecil) sehingga harus (wajib) dijauhi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin? Menjadi Muslim Sejati Dengan Menolak Vaksinasi? ***Selesai diterjemahkan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Dzulhijjah 1438/24 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/fatawa/236🔍 Merapatkan Shaf, Pemuda Dalam Pandangan Islam, Ulama Sunnah, Liberalisme Islam, Ayat Al Quran Untuk Menarik Benda Gaib

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz tentang Hukum Imunisasi

Pertanyaan: ما هو الحكم في التداوي قبل وقوع الداء كالتطعيم؟Apa hukum berobat sebelum tertimpa penyakit, seperti imunisasi?Baca Juga: Benarkah Tahnik Termasuk Imunisasi Islami?Jawaban:لا بأس بالتداوي إذا خشي وقوع الداء لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها فلا بأس بتعاطي الدواء لدفع البلاء الذي يخشى منه؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: من تصبح بسبع تمرات من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم، وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه فهكذا إذا خشي من مرض وطعم ضد الوباء الواقع في البلد أو في أي مكان لا بأس بذلك من باب الدفاع كما يعالج المرض النازل يعالج بالدواء المرض الذي يخشى منه؛ لكن لا يجوز تعليق التمائم والحجب ضد المرض أو الجن أو العين لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك. وقد أوضح عليه الصلاة والسلام أن ذلك من الشرك الأصغر فالواجب الحذر من ذلكDiperbolehkan berobat (semacam imunisasi tersebut, pen.) ketika dikhawatirkan tertimpa suatu penyakit, baik karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya sehingga dikhawatirkan terjangkit penyakit tersebut. Oleh karena itu, tidak mengapa (boleh) berobat untuk mencegah terjadinya bahaya (penyakit) yang dikhawatirkan akan terjadi.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,ٌّمَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ مِنْ تَمْرِ الْمَدِينَةِ لَمْ يَضُرُّهُ سِحْرٌ وَلَا سُم“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma dari Madinah, maka dia tidak akan terkena sihir dan racun pada hari itu.” (Hadist Shahih)Baca Juga: Herbal Berbeda Dengan Thibbun NabawiHadits ini berkaitan dengan mencegah marabahaya sebelum terjadi. Jika dikhawatirkan terkena suatu penyakit kemudian melakukan imunisasi untuk menangkal wabah yang terjadi di suatu negeri atau di tempat manapun, maka hal itu diperbolehkan dalam rangka pencegahan. Hal ini sebagaimana penyakit yang sudah menimpa (sudah terjadi) diobati dengan obat dari penyakit yang dikhawatirkan tersebut.Akan tetapi, tidak boleh menggantungkan jimat (tamimah) sebagai penangkal penyakit, jin, atau penyakit ‘ain karena terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik ashghar (syirik kecil) sehingga harus (wajib) dijauhi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin? Menjadi Muslim Sejati Dengan Menolak Vaksinasi? ***Selesai diterjemahkan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Dzulhijjah 1438/24 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/fatawa/236🔍 Merapatkan Shaf, Pemuda Dalam Pandangan Islam, Ulama Sunnah, Liberalisme Islam, Ayat Al Quran Untuk Menarik Benda Gaib
Pertanyaan: ما هو الحكم في التداوي قبل وقوع الداء كالتطعيم؟Apa hukum berobat sebelum tertimpa penyakit, seperti imunisasi?Baca Juga: Benarkah Tahnik Termasuk Imunisasi Islami?Jawaban:لا بأس بالتداوي إذا خشي وقوع الداء لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها فلا بأس بتعاطي الدواء لدفع البلاء الذي يخشى منه؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: من تصبح بسبع تمرات من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم، وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه فهكذا إذا خشي من مرض وطعم ضد الوباء الواقع في البلد أو في أي مكان لا بأس بذلك من باب الدفاع كما يعالج المرض النازل يعالج بالدواء المرض الذي يخشى منه؛ لكن لا يجوز تعليق التمائم والحجب ضد المرض أو الجن أو العين لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك. وقد أوضح عليه الصلاة والسلام أن ذلك من الشرك الأصغر فالواجب الحذر من ذلكDiperbolehkan berobat (semacam imunisasi tersebut, pen.) ketika dikhawatirkan tertimpa suatu penyakit, baik karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya sehingga dikhawatirkan terjangkit penyakit tersebut. Oleh karena itu, tidak mengapa (boleh) berobat untuk mencegah terjadinya bahaya (penyakit) yang dikhawatirkan akan terjadi.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,ٌّمَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ مِنْ تَمْرِ الْمَدِينَةِ لَمْ يَضُرُّهُ سِحْرٌ وَلَا سُم“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma dari Madinah, maka dia tidak akan terkena sihir dan racun pada hari itu.” (Hadist Shahih)Baca Juga: Herbal Berbeda Dengan Thibbun NabawiHadits ini berkaitan dengan mencegah marabahaya sebelum terjadi. Jika dikhawatirkan terkena suatu penyakit kemudian melakukan imunisasi untuk menangkal wabah yang terjadi di suatu negeri atau di tempat manapun, maka hal itu diperbolehkan dalam rangka pencegahan. Hal ini sebagaimana penyakit yang sudah menimpa (sudah terjadi) diobati dengan obat dari penyakit yang dikhawatirkan tersebut.Akan tetapi, tidak boleh menggantungkan jimat (tamimah) sebagai penangkal penyakit, jin, atau penyakit ‘ain karena terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik ashghar (syirik kecil) sehingga harus (wajib) dijauhi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin? Menjadi Muslim Sejati Dengan Menolak Vaksinasi? ***Selesai diterjemahkan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Dzulhijjah 1438/24 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/fatawa/236🔍 Merapatkan Shaf, Pemuda Dalam Pandangan Islam, Ulama Sunnah, Liberalisme Islam, Ayat Al Quran Untuk Menarik Benda Gaib


Pertanyaan: ما هو الحكم في التداوي قبل وقوع الداء كالتطعيم؟Apa hukum berobat sebelum tertimpa penyakit, seperti imunisasi?Baca Juga: Benarkah Tahnik Termasuk Imunisasi Islami?Jawaban:لا بأس بالتداوي إذا خشي وقوع الداء لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها فلا بأس بتعاطي الدواء لدفع البلاء الذي يخشى منه؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: من تصبح بسبع تمرات من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم، وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه فهكذا إذا خشي من مرض وطعم ضد الوباء الواقع في البلد أو في أي مكان لا بأس بذلك من باب الدفاع كما يعالج المرض النازل يعالج بالدواء المرض الذي يخشى منه؛ لكن لا يجوز تعليق التمائم والحجب ضد المرض أو الجن أو العين لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك. وقد أوضح عليه الصلاة والسلام أن ذلك من الشرك الأصغر فالواجب الحذر من ذلكDiperbolehkan berobat (semacam imunisasi tersebut, pen.) ketika dikhawatirkan tertimpa suatu penyakit, baik karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya sehingga dikhawatirkan terjangkit penyakit tersebut. Oleh karena itu, tidak mengapa (boleh) berobat untuk mencegah terjadinya bahaya (penyakit) yang dikhawatirkan akan terjadi.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,ٌّمَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ مِنْ تَمْرِ الْمَدِينَةِ لَمْ يَضُرُّهُ سِحْرٌ وَلَا سُم“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma dari Madinah, maka dia tidak akan terkena sihir dan racun pada hari itu.” (Hadist Shahih)Baca Juga: Herbal Berbeda Dengan Thibbun NabawiHadits ini berkaitan dengan mencegah marabahaya sebelum terjadi. Jika dikhawatirkan terkena suatu penyakit kemudian melakukan imunisasi untuk menangkal wabah yang terjadi di suatu negeri atau di tempat manapun, maka hal itu diperbolehkan dalam rangka pencegahan. Hal ini sebagaimana penyakit yang sudah menimpa (sudah terjadi) diobati dengan obat dari penyakit yang dikhawatirkan tersebut.Akan tetapi, tidak boleh menggantungkan jimat (tamimah) sebagai penangkal penyakit, jin, atau penyakit ‘ain karena terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik ashghar (syirik kecil) sehingga harus (wajib) dijauhi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin? Menjadi Muslim Sejati Dengan Menolak Vaksinasi? ***Selesai diterjemahkan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Dzulhijjah 1438/24 Agustus 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/fatawa/236🔍 Merapatkan Shaf, Pemuda Dalam Pandangan Islam, Ulama Sunnah, Liberalisme Islam, Ayat Al Quran Untuk Menarik Benda Gaib

Setiap Penyakit Ada Obat, Bagaimana dengan AIDS/HIV?

Hadits masyhur (terkenal) menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Bagaimana dengan ungkapan:“AIDS/HIV belum ada obatnya”? “Ini penyakit seumur hidup, yang tidak ada obatnya”Atau sebagian orang salah paham dengan hadits ini, mereka mengatakan:“Tidak ada penyakit AIDS dan diabetes, itu konspirasi, kalau itu penyakit pasti ada obatnya”Penjelasan ulama mengenai hadits ini dengan fakta di lapangan:obatnya pasti adaBerikut sedikit pembahasannya:Baca Juga: Hukum Memakai Obat Penumbuh JenggotHadits yang menyebutkan setiap penyakit pasti ada obatnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” [HR. Muslim]Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً“Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” [HR. Bukhari]Baca Juga: Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa[1] Penyakit tersebut BELUM DITEMUKAN OBATNYA.Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada yang mengetahui obatnya dan ada yang tidak mengetahuinya, ini artinya memang ada penyakit yang tidak diketahui atau belum ditemukan obatnya sampai sekarang.Riwayat hadits tersebut sebagai berikut, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ“ Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” [HR. Ahmad, shahih]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sebagian obat dari penyakit belum diketahui oleh siapa pun, beliau berkata:ﻭَﻓِﻲْ ﺣَﺪِﻳْﺚِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺍﻹﺷَﺎﺭَﺓ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻷَﺩْﻭِﻳَﺔ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬَﺎ ﻛُﻞّ ﺃﺣﺪ“Terdapat isyarat dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa sebagian obat (dari penyakit) tidak diketahui oleh seorang pun.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Bagaimana dengan Thibbun Nabawi? Bukankah Al-Qur’an adalah obat dan penyembuh juga dengan izin Allah Ta’ala? Jawabannya yaitu tidak sembuh karena lemahnya iman dan lemahnya keyakinan untuk sembuh.Syaikh Mula Ali Al-Qariy menjelaskan,ﺛﻢ ﺭﺑﻤﺎ ﻳﺘﺨﻠﻒ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻋﻤﻦ ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻃﺐ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻟﻤﺎﻧﻊ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺿﻌﻒ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﺑﻪ، ﻭﺗﻠﻘﻴﻪ ﺑﺎﻟﻘﺒﻮﻝ، ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﻳﻦ، ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ“Bisa jadi kesembuhan terlambat datangnya pada orang yang menggunakan thibbun nabawi karena adanya penghalang yaitu lemahnya iman/keyakinan akan sembuhnya dan lemahnya penerimaan. Inilah sebab tidak bermanfaatnya Al-Qu’ran bagi orang banyak, padahal Al-Quran adalah penyembuh apa yang ada di hati.” [Mirqatul Mafatih Hal. 344, Kitabut Thibb War Ruqaa]Baca Juga: Hukum Berobat Dengan Ekstrak Cacing[2] Dalam hadits dikecualikan dengan tuaYaitu penyakit yang muncul karena usia tua atau penyakit yang mengantarkan pada kematiannya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah “penyakit degeneratif” yaitu penyakit yang disebabkan/diperparah oleh ketuaan, karena penurunan fungsi tubuh, misalnya osteoporosis (pengeroposan tulang), penyakit hipertensi, jantung, stroke diabetes dan lain-lainnyaPenyakit ini bisa jadi semakin parah di usia tua dan mengantarkan pada kematian. Pada riwayat hadits yang lain, semua ada obatnya dan dikecualikan dengan kematian dan kematian memang tidak ada obatnya. Inilah hubungan antara penyakit tua dengan kematian, yaitu penyakit yang mengantarkan pada kematian.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala takdirkan baginya yang mengantarkan pada kematian.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Baca Juga: Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan Jin Mengapa Sangat Antipati Terhadap Pengobatan Medis Barat? Demikian semoga bermanfaat@ Pesawat Saudia, Jeddah – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Riyadhus Shalihin Adalah, Doa Agar Orang Mau Berkata Jujur, Background Menuntut Ilmu, Cahaya Allah Cahaya Muhammad, Cara Cara Taubat

Setiap Penyakit Ada Obat, Bagaimana dengan AIDS/HIV?

Hadits masyhur (terkenal) menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Bagaimana dengan ungkapan:“AIDS/HIV belum ada obatnya”? “Ini penyakit seumur hidup, yang tidak ada obatnya”Atau sebagian orang salah paham dengan hadits ini, mereka mengatakan:“Tidak ada penyakit AIDS dan diabetes, itu konspirasi, kalau itu penyakit pasti ada obatnya”Penjelasan ulama mengenai hadits ini dengan fakta di lapangan:obatnya pasti adaBerikut sedikit pembahasannya:Baca Juga: Hukum Memakai Obat Penumbuh JenggotHadits yang menyebutkan setiap penyakit pasti ada obatnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” [HR. Muslim]Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً“Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” [HR. Bukhari]Baca Juga: Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa[1] Penyakit tersebut BELUM DITEMUKAN OBATNYA.Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada yang mengetahui obatnya dan ada yang tidak mengetahuinya, ini artinya memang ada penyakit yang tidak diketahui atau belum ditemukan obatnya sampai sekarang.Riwayat hadits tersebut sebagai berikut, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ“ Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” [HR. Ahmad, shahih]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sebagian obat dari penyakit belum diketahui oleh siapa pun, beliau berkata:ﻭَﻓِﻲْ ﺣَﺪِﻳْﺚِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺍﻹﺷَﺎﺭَﺓ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻷَﺩْﻭِﻳَﺔ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬَﺎ ﻛُﻞّ ﺃﺣﺪ“Terdapat isyarat dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa sebagian obat (dari penyakit) tidak diketahui oleh seorang pun.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Bagaimana dengan Thibbun Nabawi? Bukankah Al-Qur’an adalah obat dan penyembuh juga dengan izin Allah Ta’ala? Jawabannya yaitu tidak sembuh karena lemahnya iman dan lemahnya keyakinan untuk sembuh.Syaikh Mula Ali Al-Qariy menjelaskan,ﺛﻢ ﺭﺑﻤﺎ ﻳﺘﺨﻠﻒ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻋﻤﻦ ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻃﺐ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻟﻤﺎﻧﻊ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺿﻌﻒ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﺑﻪ، ﻭﺗﻠﻘﻴﻪ ﺑﺎﻟﻘﺒﻮﻝ، ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﻳﻦ، ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ“Bisa jadi kesembuhan terlambat datangnya pada orang yang menggunakan thibbun nabawi karena adanya penghalang yaitu lemahnya iman/keyakinan akan sembuhnya dan lemahnya penerimaan. Inilah sebab tidak bermanfaatnya Al-Qu’ran bagi orang banyak, padahal Al-Quran adalah penyembuh apa yang ada di hati.” [Mirqatul Mafatih Hal. 344, Kitabut Thibb War Ruqaa]Baca Juga: Hukum Berobat Dengan Ekstrak Cacing[2] Dalam hadits dikecualikan dengan tuaYaitu penyakit yang muncul karena usia tua atau penyakit yang mengantarkan pada kematiannya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah “penyakit degeneratif” yaitu penyakit yang disebabkan/diperparah oleh ketuaan, karena penurunan fungsi tubuh, misalnya osteoporosis (pengeroposan tulang), penyakit hipertensi, jantung, stroke diabetes dan lain-lainnyaPenyakit ini bisa jadi semakin parah di usia tua dan mengantarkan pada kematian. Pada riwayat hadits yang lain, semua ada obatnya dan dikecualikan dengan kematian dan kematian memang tidak ada obatnya. Inilah hubungan antara penyakit tua dengan kematian, yaitu penyakit yang mengantarkan pada kematian.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala takdirkan baginya yang mengantarkan pada kematian.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Baca Juga: Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan Jin Mengapa Sangat Antipati Terhadap Pengobatan Medis Barat? Demikian semoga bermanfaat@ Pesawat Saudia, Jeddah – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Riyadhus Shalihin Adalah, Doa Agar Orang Mau Berkata Jujur, Background Menuntut Ilmu, Cahaya Allah Cahaya Muhammad, Cara Cara Taubat
Hadits masyhur (terkenal) menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Bagaimana dengan ungkapan:“AIDS/HIV belum ada obatnya”? “Ini penyakit seumur hidup, yang tidak ada obatnya”Atau sebagian orang salah paham dengan hadits ini, mereka mengatakan:“Tidak ada penyakit AIDS dan diabetes, itu konspirasi, kalau itu penyakit pasti ada obatnya”Penjelasan ulama mengenai hadits ini dengan fakta di lapangan:obatnya pasti adaBerikut sedikit pembahasannya:Baca Juga: Hukum Memakai Obat Penumbuh JenggotHadits yang menyebutkan setiap penyakit pasti ada obatnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” [HR. Muslim]Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً“Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” [HR. Bukhari]Baca Juga: Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa[1] Penyakit tersebut BELUM DITEMUKAN OBATNYA.Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada yang mengetahui obatnya dan ada yang tidak mengetahuinya, ini artinya memang ada penyakit yang tidak diketahui atau belum ditemukan obatnya sampai sekarang.Riwayat hadits tersebut sebagai berikut, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ“ Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” [HR. Ahmad, shahih]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sebagian obat dari penyakit belum diketahui oleh siapa pun, beliau berkata:ﻭَﻓِﻲْ ﺣَﺪِﻳْﺚِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺍﻹﺷَﺎﺭَﺓ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻷَﺩْﻭِﻳَﺔ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬَﺎ ﻛُﻞّ ﺃﺣﺪ“Terdapat isyarat dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa sebagian obat (dari penyakit) tidak diketahui oleh seorang pun.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Bagaimana dengan Thibbun Nabawi? Bukankah Al-Qur’an adalah obat dan penyembuh juga dengan izin Allah Ta’ala? Jawabannya yaitu tidak sembuh karena lemahnya iman dan lemahnya keyakinan untuk sembuh.Syaikh Mula Ali Al-Qariy menjelaskan,ﺛﻢ ﺭﺑﻤﺎ ﻳﺘﺨﻠﻒ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻋﻤﻦ ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻃﺐ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻟﻤﺎﻧﻊ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺿﻌﻒ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﺑﻪ، ﻭﺗﻠﻘﻴﻪ ﺑﺎﻟﻘﺒﻮﻝ، ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﻳﻦ، ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ“Bisa jadi kesembuhan terlambat datangnya pada orang yang menggunakan thibbun nabawi karena adanya penghalang yaitu lemahnya iman/keyakinan akan sembuhnya dan lemahnya penerimaan. Inilah sebab tidak bermanfaatnya Al-Qu’ran bagi orang banyak, padahal Al-Quran adalah penyembuh apa yang ada di hati.” [Mirqatul Mafatih Hal. 344, Kitabut Thibb War Ruqaa]Baca Juga: Hukum Berobat Dengan Ekstrak Cacing[2] Dalam hadits dikecualikan dengan tuaYaitu penyakit yang muncul karena usia tua atau penyakit yang mengantarkan pada kematiannya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah “penyakit degeneratif” yaitu penyakit yang disebabkan/diperparah oleh ketuaan, karena penurunan fungsi tubuh, misalnya osteoporosis (pengeroposan tulang), penyakit hipertensi, jantung, stroke diabetes dan lain-lainnyaPenyakit ini bisa jadi semakin parah di usia tua dan mengantarkan pada kematian. Pada riwayat hadits yang lain, semua ada obatnya dan dikecualikan dengan kematian dan kematian memang tidak ada obatnya. Inilah hubungan antara penyakit tua dengan kematian, yaitu penyakit yang mengantarkan pada kematian.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala takdirkan baginya yang mengantarkan pada kematian.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Baca Juga: Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan Jin Mengapa Sangat Antipati Terhadap Pengobatan Medis Barat? Demikian semoga bermanfaat@ Pesawat Saudia, Jeddah – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Riyadhus Shalihin Adalah, Doa Agar Orang Mau Berkata Jujur, Background Menuntut Ilmu, Cahaya Allah Cahaya Muhammad, Cara Cara Taubat


Hadits masyhur (terkenal) menyebutkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Bagaimana dengan ungkapan:“AIDS/HIV belum ada obatnya”? “Ini penyakit seumur hidup, yang tidak ada obatnya”Atau sebagian orang salah paham dengan hadits ini, mereka mengatakan:“Tidak ada penyakit AIDS dan diabetes, itu konspirasi, kalau itu penyakit pasti ada obatnya”Penjelasan ulama mengenai hadits ini dengan fakta di lapangan:obatnya pasti adaBerikut sedikit pembahasannya:Baca Juga: Hukum Memakai Obat Penumbuh JenggotHadits yang menyebutkan setiap penyakit pasti ada obatnyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” [HR. Muslim]Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً“Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” [HR. Bukhari]Baca Juga: Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa[1] Penyakit tersebut BELUM DITEMUKAN OBATNYA.Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada yang mengetahui obatnya dan ada yang tidak mengetahuinya, ini artinya memang ada penyakit yang tidak diketahui atau belum ditemukan obatnya sampai sekarang.Riwayat hadits tersebut sebagai berikut, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ“ Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” [HR. Ahmad, shahih]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sebagian obat dari penyakit belum diketahui oleh siapa pun, beliau berkata:ﻭَﻓِﻲْ ﺣَﺪِﻳْﺚِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺍﻹﺷَﺎﺭَﺓ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻷَﺩْﻭِﻳَﺔ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬَﺎ ﻛُﻞّ ﺃﺣﺪ“Terdapat isyarat dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa sebagian obat (dari penyakit) tidak diketahui oleh seorang pun.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Bagaimana dengan Thibbun Nabawi? Bukankah Al-Qur’an adalah obat dan penyembuh juga dengan izin Allah Ta’ala? Jawabannya yaitu tidak sembuh karena lemahnya iman dan lemahnya keyakinan untuk sembuh.Syaikh Mula Ali Al-Qariy menjelaskan,ﺛﻢ ﺭﺑﻤﺎ ﻳﺘﺨﻠﻒ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻋﻤﻦ ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻃﺐ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻟﻤﺎﻧﻊ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺿﻌﻒ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﺑﻪ، ﻭﺗﻠﻘﻴﻪ ﺑﺎﻟﻘﺒﻮﻝ، ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﻳﻦ، ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ“Bisa jadi kesembuhan terlambat datangnya pada orang yang menggunakan thibbun nabawi karena adanya penghalang yaitu lemahnya iman/keyakinan akan sembuhnya dan lemahnya penerimaan. Inilah sebab tidak bermanfaatnya Al-Qu’ran bagi orang banyak, padahal Al-Quran adalah penyembuh apa yang ada di hati.” [Mirqatul Mafatih Hal. 344, Kitabut Thibb War Ruqaa]Baca Juga: Hukum Berobat Dengan Ekstrak Cacing[2] Dalam hadits dikecualikan dengan tuaYaitu penyakit yang muncul karena usia tua atau penyakit yang mengantarkan pada kematiannya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah “penyakit degeneratif” yaitu penyakit yang disebabkan/diperparah oleh ketuaan, karena penurunan fungsi tubuh, misalnya osteoporosis (pengeroposan tulang), penyakit hipertensi, jantung, stroke diabetes dan lain-lainnyaPenyakit ini bisa jadi semakin parah di usia tua dan mengantarkan pada kematian. Pada riwayat hadits yang lain, semua ada obatnya dan dikecualikan dengan kematian dan kematian memang tidak ada obatnya. Inilah hubungan antara penyakit tua dengan kematian, yaitu penyakit yang mengantarkan pada kematian.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala takdirkan baginya yang mengantarkan pada kematian.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]Baca Juga: Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan Jin Mengapa Sangat Antipati Terhadap Pengobatan Medis Barat? Demikian semoga bermanfaat@ Pesawat Saudia, Jeddah – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Riyadhus Shalihin Adalah, Doa Agar Orang Mau Berkata Jujur, Background Menuntut Ilmu, Cahaya Allah Cahaya Muhammad, Cara Cara Taubat

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (7)

Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (7)

Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal
Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal


Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal

Tanah Tandus Tanpa Pohon, tapi Banyak Buah

Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur

Tanah Tandus Tanpa Pohon, tapi Banyak Buah

Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur
Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur


Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur

Ketika Mendapati Salat Khatib Sudah Mulai Berkhotbah

Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah

Ketika Mendapati Salat Khatib Sudah Mulai Berkhotbah

Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah
Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah


Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar
Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar


Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar

Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid

Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid
Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid


Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" src="http://muslim.or.id/7934-macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html/embed#?secret=r10ox9TGCe" data-secret="r10ox9TGCe" width="500" height="282" title="&#8220;Macam – Macam Doa Istiftah&#8221; &#8212; Muslim.Or.Id" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid

Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga

Tidak ada jomblo atau bujangan di surga adalah bukti bahwa menikah itu nikmat besar dan salah satu sumber kebahagiaan dan ketenangan di dunia. Semua kenikmatan yang dirasakan di dunia tentu akan dirasakan juga di surga dengan perbandingan kenikmatan yang tidak bisa dibayangkan. Hal ini juga membuktikan bahwa terlalu lama sendiri menjomblo bukan lah suatu hal yang menyenangkan, karena agama Islam menyarankan segera menikah bagi yang mampu dan adanya larangan untuk hidup membujang dan tidak punya keinginan menikah. Semoga yang belum menikah disegerakan yang mendapatkan jodoh shalih/shalihah.Baca Juga: Kumpulan Artikel Tentang Cinta dan PernikahanDi surga tidak ada yang jomblo/bujangan karena semuanya akan memiliki pasangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وما في الجنة أعزب‏“Dan di surga tidak ada bujangan/jomblo” [HR Muslim] Pasangan suami-istri yang beriman akan dipasangkan kembali di surga dan dengan keimanan, mereka akan masuk surga bersama-sama menjadi pasangan abadi yang kekal di surga.Allah berfirman,ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺀَﺍﺑَﺂﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻬِﻢْ“Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk ke dalamnya BERSAMA-SAMA dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, ISTRI-ISTRI nya dan anak cucunya “. (Ar-Ra’du : 23)Baca Juga: Tips Memilih Pasangan IdamanApabila ada wanita:Maka Allah akan menikahkan mereka dengan penduduk surga yang juga tidak punya pasangan di dunia.Syaikh Muhammad bin Shalih menjelaskan,ﻓﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻟﻢ ﺗﺘﺰﻭﺝ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻬﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣِﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﻫُﻢ – ﺃﻋﻨﻲ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ“Seorang wanita penduduk surga yang belum menikah (di dunia) atau suaminya bukan penduduk surga. Apabila wanita tersebut masuk surga, maka di surga juga ada penduduk surga dari laki-laki yang belum menikah di dunia (mereka akan dinikahkan sesuai dengan kesenangan hati mereka).” [Fatawa Syaikh Al-‘Ustaimin 2/52] Wanita yang menikah dengan beberapa suami di dunia (setelah suami sebelumnya meninggal), maka suaminya di surga adalah suami terakhirnya di duniaBaca Juga: 10 Terapi Mabuk CintaDalilnya adalah perbuatan Ummu Dardaa’ yang menolak lamaran Mu’awiyah karena ingin menjadi suami Abu Dardaa’ di surga. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”.Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” [As-Shahihah no 128] Hudzaifah radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata kepada istrinya:إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” [As-Shahihah no 1281] Baca Juga: Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Asholatu, Untuk Apa Kita Hidup Menurut Islam, Pengertian Ain, Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah, Bacaan Alfatihah Yang Benar

Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga

Tidak ada jomblo atau bujangan di surga adalah bukti bahwa menikah itu nikmat besar dan salah satu sumber kebahagiaan dan ketenangan di dunia. Semua kenikmatan yang dirasakan di dunia tentu akan dirasakan juga di surga dengan perbandingan kenikmatan yang tidak bisa dibayangkan. Hal ini juga membuktikan bahwa terlalu lama sendiri menjomblo bukan lah suatu hal yang menyenangkan, karena agama Islam menyarankan segera menikah bagi yang mampu dan adanya larangan untuk hidup membujang dan tidak punya keinginan menikah. Semoga yang belum menikah disegerakan yang mendapatkan jodoh shalih/shalihah.Baca Juga: Kumpulan Artikel Tentang Cinta dan PernikahanDi surga tidak ada yang jomblo/bujangan karena semuanya akan memiliki pasangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وما في الجنة أعزب‏“Dan di surga tidak ada bujangan/jomblo” [HR Muslim] Pasangan suami-istri yang beriman akan dipasangkan kembali di surga dan dengan keimanan, mereka akan masuk surga bersama-sama menjadi pasangan abadi yang kekal di surga.Allah berfirman,ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺀَﺍﺑَﺂﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻬِﻢْ“Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk ke dalamnya BERSAMA-SAMA dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, ISTRI-ISTRI nya dan anak cucunya “. (Ar-Ra’du : 23)Baca Juga: Tips Memilih Pasangan IdamanApabila ada wanita:Maka Allah akan menikahkan mereka dengan penduduk surga yang juga tidak punya pasangan di dunia.Syaikh Muhammad bin Shalih menjelaskan,ﻓﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻟﻢ ﺗﺘﺰﻭﺝ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻬﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣِﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﻫُﻢ – ﺃﻋﻨﻲ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ“Seorang wanita penduduk surga yang belum menikah (di dunia) atau suaminya bukan penduduk surga. Apabila wanita tersebut masuk surga, maka di surga juga ada penduduk surga dari laki-laki yang belum menikah di dunia (mereka akan dinikahkan sesuai dengan kesenangan hati mereka).” [Fatawa Syaikh Al-‘Ustaimin 2/52] Wanita yang menikah dengan beberapa suami di dunia (setelah suami sebelumnya meninggal), maka suaminya di surga adalah suami terakhirnya di duniaBaca Juga: 10 Terapi Mabuk CintaDalilnya adalah perbuatan Ummu Dardaa’ yang menolak lamaran Mu’awiyah karena ingin menjadi suami Abu Dardaa’ di surga. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”.Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” [As-Shahihah no 128] Hudzaifah radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata kepada istrinya:إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” [As-Shahihah no 1281] Baca Juga: Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Asholatu, Untuk Apa Kita Hidup Menurut Islam, Pengertian Ain, Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah, Bacaan Alfatihah Yang Benar
Tidak ada jomblo atau bujangan di surga adalah bukti bahwa menikah itu nikmat besar dan salah satu sumber kebahagiaan dan ketenangan di dunia. Semua kenikmatan yang dirasakan di dunia tentu akan dirasakan juga di surga dengan perbandingan kenikmatan yang tidak bisa dibayangkan. Hal ini juga membuktikan bahwa terlalu lama sendiri menjomblo bukan lah suatu hal yang menyenangkan, karena agama Islam menyarankan segera menikah bagi yang mampu dan adanya larangan untuk hidup membujang dan tidak punya keinginan menikah. Semoga yang belum menikah disegerakan yang mendapatkan jodoh shalih/shalihah.Baca Juga: Kumpulan Artikel Tentang Cinta dan PernikahanDi surga tidak ada yang jomblo/bujangan karena semuanya akan memiliki pasangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وما في الجنة أعزب‏“Dan di surga tidak ada bujangan/jomblo” [HR Muslim] Pasangan suami-istri yang beriman akan dipasangkan kembali di surga dan dengan keimanan, mereka akan masuk surga bersama-sama menjadi pasangan abadi yang kekal di surga.Allah berfirman,ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺀَﺍﺑَﺂﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻬِﻢْ“Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk ke dalamnya BERSAMA-SAMA dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, ISTRI-ISTRI nya dan anak cucunya “. (Ar-Ra’du : 23)Baca Juga: Tips Memilih Pasangan IdamanApabila ada wanita:Maka Allah akan menikahkan mereka dengan penduduk surga yang juga tidak punya pasangan di dunia.Syaikh Muhammad bin Shalih menjelaskan,ﻓﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻟﻢ ﺗﺘﺰﻭﺝ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻬﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣِﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﻫُﻢ – ﺃﻋﻨﻲ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ“Seorang wanita penduduk surga yang belum menikah (di dunia) atau suaminya bukan penduduk surga. Apabila wanita tersebut masuk surga, maka di surga juga ada penduduk surga dari laki-laki yang belum menikah di dunia (mereka akan dinikahkan sesuai dengan kesenangan hati mereka).” [Fatawa Syaikh Al-‘Ustaimin 2/52] Wanita yang menikah dengan beberapa suami di dunia (setelah suami sebelumnya meninggal), maka suaminya di surga adalah suami terakhirnya di duniaBaca Juga: 10 Terapi Mabuk CintaDalilnya adalah perbuatan Ummu Dardaa’ yang menolak lamaran Mu’awiyah karena ingin menjadi suami Abu Dardaa’ di surga. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”.Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” [As-Shahihah no 128] Hudzaifah radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata kepada istrinya:إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” [As-Shahihah no 1281] Baca Juga: Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Asholatu, Untuk Apa Kita Hidup Menurut Islam, Pengertian Ain, Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah, Bacaan Alfatihah Yang Benar


Tidak ada jomblo atau bujangan di surga adalah bukti bahwa menikah itu nikmat besar dan salah satu sumber kebahagiaan dan ketenangan di dunia. Semua kenikmatan yang dirasakan di dunia tentu akan dirasakan juga di surga dengan perbandingan kenikmatan yang tidak bisa dibayangkan. Hal ini juga membuktikan bahwa terlalu lama sendiri menjomblo bukan lah suatu hal yang menyenangkan, karena agama Islam menyarankan segera menikah bagi yang mampu dan adanya larangan untuk hidup membujang dan tidak punya keinginan menikah. Semoga yang belum menikah disegerakan yang mendapatkan jodoh shalih/shalihah.Baca Juga: Kumpulan Artikel Tentang Cinta dan PernikahanDi surga tidak ada yang jomblo/bujangan karena semuanya akan memiliki pasangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وما في الجنة أعزب‏“Dan di surga tidak ada bujangan/jomblo” [HR Muslim] Pasangan suami-istri yang beriman akan dipasangkan kembali di surga dan dengan keimanan, mereka akan masuk surga bersama-sama menjadi pasangan abadi yang kekal di surga.Allah berfirman,ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺀَﺍﺑَﺂﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻬِﻢْ“Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk ke dalamnya BERSAMA-SAMA dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, ISTRI-ISTRI nya dan anak cucunya “. (Ar-Ra’du : 23)Baca Juga: Tips Memilih Pasangan IdamanApabila ada wanita:Maka Allah akan menikahkan mereka dengan penduduk surga yang juga tidak punya pasangan di dunia.Syaikh Muhammad bin Shalih menjelaskan,ﻓﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻟﻢ ﺗﺘﺰﻭﺝ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻬﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣِﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﻫُﻢ – ﺃﻋﻨﻲ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺟﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ“Seorang wanita penduduk surga yang belum menikah (di dunia) atau suaminya bukan penduduk surga. Apabila wanita tersebut masuk surga, maka di surga juga ada penduduk surga dari laki-laki yang belum menikah di dunia (mereka akan dinikahkan sesuai dengan kesenangan hati mereka).” [Fatawa Syaikh Al-‘Ustaimin 2/52] Wanita yang menikah dengan beberapa suami di dunia (setelah suami sebelumnya meninggal), maka suaminya di surga adalah suami terakhirnya di duniaBaca Juga: 10 Terapi Mabuk CintaDalilnya adalah perbuatan Ummu Dardaa’ yang menolak lamaran Mu’awiyah karena ingin menjadi suami Abu Dardaa’ di surga. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”.Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” [As-Shahihah no 128] Hudzaifah radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata kepada istrinya:إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” [As-Shahihah no 1281] Baca Juga: Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Asholatu, Untuk Apa Kita Hidup Menurut Islam, Pengertian Ain, Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah, Bacaan Alfatihah Yang Benar

Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka (Part 1)

Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim

Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka (Part 1)

Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim
Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim


Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim
Prev     Next