Khutbah Jumat: Dua Kisah Tentang Prinsip Loyal dan Tidak Loyal

Download   Dua kisah ini patut dipelajari agar kita punya prinsip berakidah yang benar, bagaimanakah bersikap loyal dan tidak loyal pada muslim dan non-muslim.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Islam itu sebagaimana kata para ulama, “Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, patuh dengan melakukan ketaatan, serta berlepas diri dari syirik dan pelaku kesyirikan.” Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Dalam Khutbah Jumat di Masjid Suciati Saliman kali ini, kami akan menceritakan dua kisah. Dua kisah ini akan mengajarkan pada kita bagaimanakah kita diajarkan loyal dan cinta kepada sesama muslim dan bagaimanakah bersikap kepada non-muslim.   Kisah pertama …   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.” Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” Orang Anshar itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan-akan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seolah-olah mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Anshar yang melayani tamu tersebut adalah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Istri Abu Thalhah adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha (Rumaysho atau Rumaisha).   Kisah kedua …   Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu membicarakan tentang ayat berikut ini, وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖوَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15) Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan masalahnya. Ia katakan bahwa ia adalah anak yang sangat berbakti pada ibunya. Ketika ia masuk Islam, ibunya berkata, “Wahai Sa’ad apa lagi ajaran baru yang kamu anut?” Ibunya melanjutkan, “Engkau mau tinggalkan agama baru yang kamu anut ataukah ibumu ini tidak makan dan tidak minum sampai meninggal dunia?” Maka ibu Sa’ad terus mencelanya karena keislamannya. Ada yang menegur Sa’ad, “Apa kamu tega mau membunuh ibumu?” Lantas Sa’ad berkata, “Ibuku jangalah lakukan seperti itu. Aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku ini sama sekali.” Ibu Sa’ad terus berdiam sehari semalam, tanpa makan. Datang keesokan paginya, ibunya terus memaksa Sa’ad. Datang hari berikutnya pun tetap sama, ibunya terus memaksa. Ketika itu Sa’ad melihat keadaan ibunya lantas ia berkata, “Wahai ibu, andai engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa tersebut keluar satu per satu, tetap aku tidak akan meninggalkan agamaku sedikit pun juga. Jika mau, silakan makan. Jika mau, silakan tidak makan.” Akhirnya ibunya pun makan. (HR. Thabrani dalam Kitab Al-‘Isyrah. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 11:61 mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Apa pelajaran dari dua kisah tersebut?   Kisah pertama mengajarkan bagaimanakah kita mestinya mencintai sesama muslim, walau sampai mesti mengorbankan yang kita miliki padahal kita butuh (inilah yang disebut itsar). Ada hadits yang bisa jadi pelajaran pula, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45). Jika prinsip dalam hadits ini mau dijalankan berarti: Kita berusaha tidak hasad pada orang lain, tidak benci pada nikmat yang ada pada orang lain. Kita senang ketika saudara kita mendapatkan nikmat dan kebahagiaan. Kita turut sedih ketika ia mendapatkan musibah, bukan malah senang ketika ia dapati derita. Kisah kedua mengajarkan kita tidak loyal pada non-muslim, tidak mendukung agamanya. Sikap ini berlaku meskipun non-muslim tersebut adalah kerabat dekat kita, bahkan sampai orang tua kita. Ketika mereka mengajak ikut agamanya, kita tidak ikuti. Ketika mereka mengajak dukung agamanya, kita tidak turut dukung. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan salib di rumahnya melainkan beliau menghapusnya.” (HR. Bukhari no. 5952). Kenapa diperintahkan untuk menghapus salib? Karena salib adalah simbol agama mereka. Coba kita lihat bagaimana kisah ‘Adi bin Hatim ketika disuruh melepas salib yang ia kenakan karena ia baru saja masuk Islam. ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, يَا عَدِىُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ “Wahai ‘Adi buanglah berhala yang ada di lehermu.” (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Ingatlah Islam punya prinsip, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6). Artinya kita biarkan mereka beragama tanpa kita ganggu dan tanpa kita dukung. Termasuk pula tak perlu meniru-niru apa yang mereka rayakan seperti pada perayaan Natal dan Tahun Baru, karena kedua moment bukanlah dari Islam. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk berakidah yang benar. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Khutbah Jumat @ Masjid Suciati Saliman Sleman, DIY Jumat Kliwon, 13 Rabi’ul Akhir 1440 H (21 Desember 2018) Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal

Khutbah Jumat: Dua Kisah Tentang Prinsip Loyal dan Tidak Loyal

Download   Dua kisah ini patut dipelajari agar kita punya prinsip berakidah yang benar, bagaimanakah bersikap loyal dan tidak loyal pada muslim dan non-muslim.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Islam itu sebagaimana kata para ulama, “Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, patuh dengan melakukan ketaatan, serta berlepas diri dari syirik dan pelaku kesyirikan.” Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Dalam Khutbah Jumat di Masjid Suciati Saliman kali ini, kami akan menceritakan dua kisah. Dua kisah ini akan mengajarkan pada kita bagaimanakah kita diajarkan loyal dan cinta kepada sesama muslim dan bagaimanakah bersikap kepada non-muslim.   Kisah pertama …   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.” Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” Orang Anshar itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan-akan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seolah-olah mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Anshar yang melayani tamu tersebut adalah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Istri Abu Thalhah adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha (Rumaysho atau Rumaisha).   Kisah kedua …   Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu membicarakan tentang ayat berikut ini, وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖوَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15) Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan masalahnya. Ia katakan bahwa ia adalah anak yang sangat berbakti pada ibunya. Ketika ia masuk Islam, ibunya berkata, “Wahai Sa’ad apa lagi ajaran baru yang kamu anut?” Ibunya melanjutkan, “Engkau mau tinggalkan agama baru yang kamu anut ataukah ibumu ini tidak makan dan tidak minum sampai meninggal dunia?” Maka ibu Sa’ad terus mencelanya karena keislamannya. Ada yang menegur Sa’ad, “Apa kamu tega mau membunuh ibumu?” Lantas Sa’ad berkata, “Ibuku jangalah lakukan seperti itu. Aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku ini sama sekali.” Ibu Sa’ad terus berdiam sehari semalam, tanpa makan. Datang keesokan paginya, ibunya terus memaksa Sa’ad. Datang hari berikutnya pun tetap sama, ibunya terus memaksa. Ketika itu Sa’ad melihat keadaan ibunya lantas ia berkata, “Wahai ibu, andai engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa tersebut keluar satu per satu, tetap aku tidak akan meninggalkan agamaku sedikit pun juga. Jika mau, silakan makan. Jika mau, silakan tidak makan.” Akhirnya ibunya pun makan. (HR. Thabrani dalam Kitab Al-‘Isyrah. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 11:61 mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Apa pelajaran dari dua kisah tersebut?   Kisah pertama mengajarkan bagaimanakah kita mestinya mencintai sesama muslim, walau sampai mesti mengorbankan yang kita miliki padahal kita butuh (inilah yang disebut itsar). Ada hadits yang bisa jadi pelajaran pula, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45). Jika prinsip dalam hadits ini mau dijalankan berarti: Kita berusaha tidak hasad pada orang lain, tidak benci pada nikmat yang ada pada orang lain. Kita senang ketika saudara kita mendapatkan nikmat dan kebahagiaan. Kita turut sedih ketika ia mendapatkan musibah, bukan malah senang ketika ia dapati derita. Kisah kedua mengajarkan kita tidak loyal pada non-muslim, tidak mendukung agamanya. Sikap ini berlaku meskipun non-muslim tersebut adalah kerabat dekat kita, bahkan sampai orang tua kita. Ketika mereka mengajak ikut agamanya, kita tidak ikuti. Ketika mereka mengajak dukung agamanya, kita tidak turut dukung. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan salib di rumahnya melainkan beliau menghapusnya.” (HR. Bukhari no. 5952). Kenapa diperintahkan untuk menghapus salib? Karena salib adalah simbol agama mereka. Coba kita lihat bagaimana kisah ‘Adi bin Hatim ketika disuruh melepas salib yang ia kenakan karena ia baru saja masuk Islam. ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, يَا عَدِىُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ “Wahai ‘Adi buanglah berhala yang ada di lehermu.” (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Ingatlah Islam punya prinsip, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6). Artinya kita biarkan mereka beragama tanpa kita ganggu dan tanpa kita dukung. Termasuk pula tak perlu meniru-niru apa yang mereka rayakan seperti pada perayaan Natal dan Tahun Baru, karena kedua moment bukanlah dari Islam. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk berakidah yang benar. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Khutbah Jumat @ Masjid Suciati Saliman Sleman, DIY Jumat Kliwon, 13 Rabi’ul Akhir 1440 H (21 Desember 2018) Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal
Download   Dua kisah ini patut dipelajari agar kita punya prinsip berakidah yang benar, bagaimanakah bersikap loyal dan tidak loyal pada muslim dan non-muslim.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Islam itu sebagaimana kata para ulama, “Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, patuh dengan melakukan ketaatan, serta berlepas diri dari syirik dan pelaku kesyirikan.” Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Dalam Khutbah Jumat di Masjid Suciati Saliman kali ini, kami akan menceritakan dua kisah. Dua kisah ini akan mengajarkan pada kita bagaimanakah kita diajarkan loyal dan cinta kepada sesama muslim dan bagaimanakah bersikap kepada non-muslim.   Kisah pertama …   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.” Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” Orang Anshar itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan-akan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seolah-olah mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Anshar yang melayani tamu tersebut adalah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Istri Abu Thalhah adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha (Rumaysho atau Rumaisha).   Kisah kedua …   Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu membicarakan tentang ayat berikut ini, وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖوَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15) Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan masalahnya. Ia katakan bahwa ia adalah anak yang sangat berbakti pada ibunya. Ketika ia masuk Islam, ibunya berkata, “Wahai Sa’ad apa lagi ajaran baru yang kamu anut?” Ibunya melanjutkan, “Engkau mau tinggalkan agama baru yang kamu anut ataukah ibumu ini tidak makan dan tidak minum sampai meninggal dunia?” Maka ibu Sa’ad terus mencelanya karena keislamannya. Ada yang menegur Sa’ad, “Apa kamu tega mau membunuh ibumu?” Lantas Sa’ad berkata, “Ibuku jangalah lakukan seperti itu. Aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku ini sama sekali.” Ibu Sa’ad terus berdiam sehari semalam, tanpa makan. Datang keesokan paginya, ibunya terus memaksa Sa’ad. Datang hari berikutnya pun tetap sama, ibunya terus memaksa. Ketika itu Sa’ad melihat keadaan ibunya lantas ia berkata, “Wahai ibu, andai engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa tersebut keluar satu per satu, tetap aku tidak akan meninggalkan agamaku sedikit pun juga. Jika mau, silakan makan. Jika mau, silakan tidak makan.” Akhirnya ibunya pun makan. (HR. Thabrani dalam Kitab Al-‘Isyrah. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 11:61 mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Apa pelajaran dari dua kisah tersebut?   Kisah pertama mengajarkan bagaimanakah kita mestinya mencintai sesama muslim, walau sampai mesti mengorbankan yang kita miliki padahal kita butuh (inilah yang disebut itsar). Ada hadits yang bisa jadi pelajaran pula, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45). Jika prinsip dalam hadits ini mau dijalankan berarti: Kita berusaha tidak hasad pada orang lain, tidak benci pada nikmat yang ada pada orang lain. Kita senang ketika saudara kita mendapatkan nikmat dan kebahagiaan. Kita turut sedih ketika ia mendapatkan musibah, bukan malah senang ketika ia dapati derita. Kisah kedua mengajarkan kita tidak loyal pada non-muslim, tidak mendukung agamanya. Sikap ini berlaku meskipun non-muslim tersebut adalah kerabat dekat kita, bahkan sampai orang tua kita. Ketika mereka mengajak ikut agamanya, kita tidak ikuti. Ketika mereka mengajak dukung agamanya, kita tidak turut dukung. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan salib di rumahnya melainkan beliau menghapusnya.” (HR. Bukhari no. 5952). Kenapa diperintahkan untuk menghapus salib? Karena salib adalah simbol agama mereka. Coba kita lihat bagaimana kisah ‘Adi bin Hatim ketika disuruh melepas salib yang ia kenakan karena ia baru saja masuk Islam. ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, يَا عَدِىُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ “Wahai ‘Adi buanglah berhala yang ada di lehermu.” (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Ingatlah Islam punya prinsip, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6). Artinya kita biarkan mereka beragama tanpa kita ganggu dan tanpa kita dukung. Termasuk pula tak perlu meniru-niru apa yang mereka rayakan seperti pada perayaan Natal dan Tahun Baru, karena kedua moment bukanlah dari Islam. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk berakidah yang benar. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Khutbah Jumat @ Masjid Suciati Saliman Sleman, DIY Jumat Kliwon, 13 Rabi’ul Akhir 1440 H (21 Desember 2018) Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal


Download   Dua kisah ini patut dipelajari agar kita punya prinsip berakidah yang benar, bagaimanakah bersikap loyal dan tidak loyal pada muslim dan non-muslim.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Islam itu sebagaimana kata para ulama, “Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, patuh dengan melakukan ketaatan, serta berlepas diri dari syirik dan pelaku kesyirikan.” Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Dalam Khutbah Jumat di Masjid Suciati Saliman kali ini, kami akan menceritakan dua kisah. Dua kisah ini akan mengajarkan pada kita bagaimanakah kita diajarkan loyal dan cinta kepada sesama muslim dan bagaimanakah bersikap kepada non-muslim.   Kisah pertama …   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.” Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” Orang Anshar itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan-akan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seolah-olah mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Anshar yang melayani tamu tersebut adalah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Istri Abu Thalhah adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha (Rumaysho atau Rumaisha).   Kisah kedua …   Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu membicarakan tentang ayat berikut ini, وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖوَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15) Sa’ad bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan masalahnya. Ia katakan bahwa ia adalah anak yang sangat berbakti pada ibunya. Ketika ia masuk Islam, ibunya berkata, “Wahai Sa’ad apa lagi ajaran baru yang kamu anut?” Ibunya melanjutkan, “Engkau mau tinggalkan agama baru yang kamu anut ataukah ibumu ini tidak makan dan tidak minum sampai meninggal dunia?” Maka ibu Sa’ad terus mencelanya karena keislamannya. Ada yang menegur Sa’ad, “Apa kamu tega mau membunuh ibumu?” Lantas Sa’ad berkata, “Ibuku jangalah lakukan seperti itu. Aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku ini sama sekali.” Ibu Sa’ad terus berdiam sehari semalam, tanpa makan. Datang keesokan paginya, ibunya terus memaksa Sa’ad. Datang hari berikutnya pun tetap sama, ibunya terus memaksa. Ketika itu Sa’ad melihat keadaan ibunya lantas ia berkata, “Wahai ibu, andai engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa tersebut keluar satu per satu, tetap aku tidak akan meninggalkan agamaku sedikit pun juga. Jika mau, silakan makan. Jika mau, silakan tidak makan.” Akhirnya ibunya pun makan. (HR. Thabrani dalam Kitab Al-‘Isyrah. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 11:61 mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Apa pelajaran dari dua kisah tersebut?   Kisah pertama mengajarkan bagaimanakah kita mestinya mencintai sesama muslim, walau sampai mesti mengorbankan yang kita miliki padahal kita butuh (inilah yang disebut itsar). Ada hadits yang bisa jadi pelajaran pula, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45). Jika prinsip dalam hadits ini mau dijalankan berarti: Kita berusaha tidak hasad pada orang lain, tidak benci pada nikmat yang ada pada orang lain. Kita senang ketika saudara kita mendapatkan nikmat dan kebahagiaan. Kita turut sedih ketika ia mendapatkan musibah, bukan malah senang ketika ia dapati derita. Kisah kedua mengajarkan kita tidak loyal pada non-muslim, tidak mendukung agamanya. Sikap ini berlaku meskipun non-muslim tersebut adalah kerabat dekat kita, bahkan sampai orang tua kita. Ketika mereka mengajak ikut agamanya, kita tidak ikuti. Ketika mereka mengajak dukung agamanya, kita tidak turut dukung. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan salib di rumahnya melainkan beliau menghapusnya.” (HR. Bukhari no. 5952). Kenapa diperintahkan untuk menghapus salib? Karena salib adalah simbol agama mereka. Coba kita lihat bagaimana kisah ‘Adi bin Hatim ketika disuruh melepas salib yang ia kenakan karena ia baru saja masuk Islam. ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, يَا عَدِىُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ “Wahai ‘Adi buanglah berhala yang ada di lehermu.” (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Ingatlah Islam punya prinsip, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6). Artinya kita biarkan mereka beragama tanpa kita ganggu dan tanpa kita dukung. Termasuk pula tak perlu meniru-niru apa yang mereka rayakan seperti pada perayaan Natal dan Tahun Baru, karena kedua moment bukanlah dari Islam. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk berakidah yang benar. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Khutbah Jumat @ Masjid Suciati Saliman Sleman, DIY Jumat Kliwon, 13 Rabi’ul Akhir 1440 H (21 Desember 2018) Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal

Manhajus Salikin: Syarat Shalat, Menutup Aurat #04

Download   Sekarang bahasan menutup aurat dalam shalat yang terakhir dari bahasan Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Ada satu bahasan penting, bagaimanakah hukum jika ada yang terbuka auratnya di tengah-tengah shalat?   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَمِنْ شُرُوْطِهَا : سَتْرُ العَوْرَةِ بِثَوْبٍ مُبَاحٍ لاَ يَصِفُ البَشَرَةَ وَالعَوْرَةُ ثَلاَثَةُ  أَنْوَاعٍ: مُغَلَّظَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ المَرْأَةِ الحُرَّةِ البَالِغَةِ فَجَمِيْعُ بَدَنِهَا عَوْرَةٌ فِي الصَّلاَةِ إِلاَّ وَجْهَهَا وَمُخَفَّفَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ ابْنِ سَبْعِ سِنِيْنَ إِلَى عَشْرٍ فَإِنَّهَا الفَرْجَانِ وَمُتَوَسِّطَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ قَالَ تَعَالَى: يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ “Dan di antara syarat shalat adalah menutup aurat dengan pakaian yang mubah yang tidak menampakkan kulit. Dan aurat itu ada tiga macam: Pertama: Mughallazhah (yang berat) yaitu aurat wanita merdeka yang sudah baligh, auratnya dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Kedua: Mukhaffafah (yang ringan) yaitu aurat anak laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun, auratnya adalah al-farju (kemaluan: qubul dan dubur, pen.). Ketiga: Mutawassithah (yang pertengahan) yaitu aurat dari yang tidak termasuk dalam dua di atas, auratnya adalah antara pusar dan lutut. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).”   Aurat Mughallazhah   Aurat ini yang paling berat didapati pada wanita yang merdeka dan sudah baligh. Hal ini berbeda dengan budak wanita dan anak perempuan yang belum baligh, auratnya adalah seperti pada aurat mutawassithah. Namun bukan berarti aurat yang berlaku dalam shalat sama seperti dengan yang di luar shalat. Misalnya, pundak pria mesti ditutup saat shalat, sedangkan di luar shalat boleh terbuka. Sebaliknya, ada yang mesti ditutup di luar shalat, namun boleh terbuka di dalam shalat seperti untuk wajah dari wanita merdeka yang dewasa. Disimpulkan dari perkataan Syaikh As-Sa’di rahimahullah di sini, wanita dewasa dalam shalat boleh membuka wajah kecuali jika hadir laki-laki bukan mahram. Sedangkan kaki dan tangan ada beda pendapat mengenai boleh membukanya ataukah tidak dalam shalat sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tentang aurat wanita dalam shalat.   Aurat Mukhaffafah   Maksudnya adalah aurat untuk laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun yaitu al-farju (kemaluan: qubul dan dubur), berarti tidak berlaku bagi anak perempuan. Aurat anak perempuan termasuk dalam aurat mutawassithah. Dari sini dapat dipahami bahwa aurat anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat, baik untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Alasannya di antaranya adalah seorang wanita boleh memandikan anak laki-laki kecil (di bawah tujuh tahun). Inilah yang menunjukkan bahwa anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat. Berarti setelah sepuluh tahun, aurat anak laki-laki adalah sama seperti aurat orang dewasa yaitu aurat mutawassithah, antara pusar dan lutut.   Aurat Mutawassithah   Yang termasuk di dalamnya adalah yang tidak termasuk dalam aurat mughallazhah dan aurat mukhaffafah seperti pada laki-laki dewasa yang merdeka maupun budak (mulai dari sepuluh tahun ke atas), juga perempuan dari usia tujuh hingga sebelum baligh, termasuk pula budak wanita. Aurat mereka semua adalah antara pusar dan lutut. Adapun anak perempuan yang sudah tamyiz (walau belum baligh), auratnya adalah antara pusar dan lutut karena ia masih membuat orang lain tertarik.   Jika Terbuka Sebagian Aurat dalam Shalat   Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili ketika menerangkan tentang aurat ketika shalat menurut ulama Syafi’iyah, jika sebagian aurat terbuka dalam shalat padahal mampu untuk menutupnya, shalatnya batal. Kecuali jika aurat tersebut tersingkap karena angin atau lupa, lalu ditutup seketika itu juga, shalatnya tidaklah batal. Lihat Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:643. Dalam Syarh Al-Mumthi’ (2:172), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyimpulkan tentang masalah terbukanya aurat dalam shalat sebagai berikut. Jika aurat terbuka dengan sengaja, hukum shalatnya batal, baik terbuka sedikit maupun banyak, baik waktunya lama atau hanya sebentar. Misal ada yang membuka lututnya dengan sengaja lantas terbuka paha—menurut yang menganggapnya aurat–, shalatnya dihukumi batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja dan terbukanya sedikit (tidak parah, misal pada paha di atas lutut terlihat sedikit), hukum shalatnya tidaklah batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah—disebut faahisy–(seperti pada bagian qubul atau dubur terlihat walau sedikit saja) dan hanya sebentar saja terbuka (lantas ditutup kembali), hukum shalatnya tidaklah batal (menurut pendapat paling kuat). Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah dan dalam waktu yang lama, baru diketahui setelah shalat atau setelah salam, hukum shalatnya batal.   Demikian pembahasan aurat dalam shalat yang merupakan syarat shalat. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-34, Tahun 1435 H. Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Penerbit Darul Fikr. Asy-Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, Tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsaurat aurat laki-laki aurat pria aurat shalat manhajus salikin syarat shalat

Manhajus Salikin: Syarat Shalat, Menutup Aurat #04

Download   Sekarang bahasan menutup aurat dalam shalat yang terakhir dari bahasan Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Ada satu bahasan penting, bagaimanakah hukum jika ada yang terbuka auratnya di tengah-tengah shalat?   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَمِنْ شُرُوْطِهَا : سَتْرُ العَوْرَةِ بِثَوْبٍ مُبَاحٍ لاَ يَصِفُ البَشَرَةَ وَالعَوْرَةُ ثَلاَثَةُ  أَنْوَاعٍ: مُغَلَّظَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ المَرْأَةِ الحُرَّةِ البَالِغَةِ فَجَمِيْعُ بَدَنِهَا عَوْرَةٌ فِي الصَّلاَةِ إِلاَّ وَجْهَهَا وَمُخَفَّفَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ ابْنِ سَبْعِ سِنِيْنَ إِلَى عَشْرٍ فَإِنَّهَا الفَرْجَانِ وَمُتَوَسِّطَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ قَالَ تَعَالَى: يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ “Dan di antara syarat shalat adalah menutup aurat dengan pakaian yang mubah yang tidak menampakkan kulit. Dan aurat itu ada tiga macam: Pertama: Mughallazhah (yang berat) yaitu aurat wanita merdeka yang sudah baligh, auratnya dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Kedua: Mukhaffafah (yang ringan) yaitu aurat anak laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun, auratnya adalah al-farju (kemaluan: qubul dan dubur, pen.). Ketiga: Mutawassithah (yang pertengahan) yaitu aurat dari yang tidak termasuk dalam dua di atas, auratnya adalah antara pusar dan lutut. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).”   Aurat Mughallazhah   Aurat ini yang paling berat didapati pada wanita yang merdeka dan sudah baligh. Hal ini berbeda dengan budak wanita dan anak perempuan yang belum baligh, auratnya adalah seperti pada aurat mutawassithah. Namun bukan berarti aurat yang berlaku dalam shalat sama seperti dengan yang di luar shalat. Misalnya, pundak pria mesti ditutup saat shalat, sedangkan di luar shalat boleh terbuka. Sebaliknya, ada yang mesti ditutup di luar shalat, namun boleh terbuka di dalam shalat seperti untuk wajah dari wanita merdeka yang dewasa. Disimpulkan dari perkataan Syaikh As-Sa’di rahimahullah di sini, wanita dewasa dalam shalat boleh membuka wajah kecuali jika hadir laki-laki bukan mahram. Sedangkan kaki dan tangan ada beda pendapat mengenai boleh membukanya ataukah tidak dalam shalat sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tentang aurat wanita dalam shalat.   Aurat Mukhaffafah   Maksudnya adalah aurat untuk laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun yaitu al-farju (kemaluan: qubul dan dubur), berarti tidak berlaku bagi anak perempuan. Aurat anak perempuan termasuk dalam aurat mutawassithah. Dari sini dapat dipahami bahwa aurat anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat, baik untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Alasannya di antaranya adalah seorang wanita boleh memandikan anak laki-laki kecil (di bawah tujuh tahun). Inilah yang menunjukkan bahwa anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat. Berarti setelah sepuluh tahun, aurat anak laki-laki adalah sama seperti aurat orang dewasa yaitu aurat mutawassithah, antara pusar dan lutut.   Aurat Mutawassithah   Yang termasuk di dalamnya adalah yang tidak termasuk dalam aurat mughallazhah dan aurat mukhaffafah seperti pada laki-laki dewasa yang merdeka maupun budak (mulai dari sepuluh tahun ke atas), juga perempuan dari usia tujuh hingga sebelum baligh, termasuk pula budak wanita. Aurat mereka semua adalah antara pusar dan lutut. Adapun anak perempuan yang sudah tamyiz (walau belum baligh), auratnya adalah antara pusar dan lutut karena ia masih membuat orang lain tertarik.   Jika Terbuka Sebagian Aurat dalam Shalat   Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili ketika menerangkan tentang aurat ketika shalat menurut ulama Syafi’iyah, jika sebagian aurat terbuka dalam shalat padahal mampu untuk menutupnya, shalatnya batal. Kecuali jika aurat tersebut tersingkap karena angin atau lupa, lalu ditutup seketika itu juga, shalatnya tidaklah batal. Lihat Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:643. Dalam Syarh Al-Mumthi’ (2:172), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyimpulkan tentang masalah terbukanya aurat dalam shalat sebagai berikut. Jika aurat terbuka dengan sengaja, hukum shalatnya batal, baik terbuka sedikit maupun banyak, baik waktunya lama atau hanya sebentar. Misal ada yang membuka lututnya dengan sengaja lantas terbuka paha—menurut yang menganggapnya aurat–, shalatnya dihukumi batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja dan terbukanya sedikit (tidak parah, misal pada paha di atas lutut terlihat sedikit), hukum shalatnya tidaklah batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah—disebut faahisy–(seperti pada bagian qubul atau dubur terlihat walau sedikit saja) dan hanya sebentar saja terbuka (lantas ditutup kembali), hukum shalatnya tidaklah batal (menurut pendapat paling kuat). Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah dan dalam waktu yang lama, baru diketahui setelah shalat atau setelah salam, hukum shalatnya batal.   Demikian pembahasan aurat dalam shalat yang merupakan syarat shalat. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-34, Tahun 1435 H. Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Penerbit Darul Fikr. Asy-Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, Tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsaurat aurat laki-laki aurat pria aurat shalat manhajus salikin syarat shalat
Download   Sekarang bahasan menutup aurat dalam shalat yang terakhir dari bahasan Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Ada satu bahasan penting, bagaimanakah hukum jika ada yang terbuka auratnya di tengah-tengah shalat?   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَمِنْ شُرُوْطِهَا : سَتْرُ العَوْرَةِ بِثَوْبٍ مُبَاحٍ لاَ يَصِفُ البَشَرَةَ وَالعَوْرَةُ ثَلاَثَةُ  أَنْوَاعٍ: مُغَلَّظَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ المَرْأَةِ الحُرَّةِ البَالِغَةِ فَجَمِيْعُ بَدَنِهَا عَوْرَةٌ فِي الصَّلاَةِ إِلاَّ وَجْهَهَا وَمُخَفَّفَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ ابْنِ سَبْعِ سِنِيْنَ إِلَى عَشْرٍ فَإِنَّهَا الفَرْجَانِ وَمُتَوَسِّطَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ قَالَ تَعَالَى: يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ “Dan di antara syarat shalat adalah menutup aurat dengan pakaian yang mubah yang tidak menampakkan kulit. Dan aurat itu ada tiga macam: Pertama: Mughallazhah (yang berat) yaitu aurat wanita merdeka yang sudah baligh, auratnya dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Kedua: Mukhaffafah (yang ringan) yaitu aurat anak laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun, auratnya adalah al-farju (kemaluan: qubul dan dubur, pen.). Ketiga: Mutawassithah (yang pertengahan) yaitu aurat dari yang tidak termasuk dalam dua di atas, auratnya adalah antara pusar dan lutut. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).”   Aurat Mughallazhah   Aurat ini yang paling berat didapati pada wanita yang merdeka dan sudah baligh. Hal ini berbeda dengan budak wanita dan anak perempuan yang belum baligh, auratnya adalah seperti pada aurat mutawassithah. Namun bukan berarti aurat yang berlaku dalam shalat sama seperti dengan yang di luar shalat. Misalnya, pundak pria mesti ditutup saat shalat, sedangkan di luar shalat boleh terbuka. Sebaliknya, ada yang mesti ditutup di luar shalat, namun boleh terbuka di dalam shalat seperti untuk wajah dari wanita merdeka yang dewasa. Disimpulkan dari perkataan Syaikh As-Sa’di rahimahullah di sini, wanita dewasa dalam shalat boleh membuka wajah kecuali jika hadir laki-laki bukan mahram. Sedangkan kaki dan tangan ada beda pendapat mengenai boleh membukanya ataukah tidak dalam shalat sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tentang aurat wanita dalam shalat.   Aurat Mukhaffafah   Maksudnya adalah aurat untuk laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun yaitu al-farju (kemaluan: qubul dan dubur), berarti tidak berlaku bagi anak perempuan. Aurat anak perempuan termasuk dalam aurat mutawassithah. Dari sini dapat dipahami bahwa aurat anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat, baik untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Alasannya di antaranya adalah seorang wanita boleh memandikan anak laki-laki kecil (di bawah tujuh tahun). Inilah yang menunjukkan bahwa anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat. Berarti setelah sepuluh tahun, aurat anak laki-laki adalah sama seperti aurat orang dewasa yaitu aurat mutawassithah, antara pusar dan lutut.   Aurat Mutawassithah   Yang termasuk di dalamnya adalah yang tidak termasuk dalam aurat mughallazhah dan aurat mukhaffafah seperti pada laki-laki dewasa yang merdeka maupun budak (mulai dari sepuluh tahun ke atas), juga perempuan dari usia tujuh hingga sebelum baligh, termasuk pula budak wanita. Aurat mereka semua adalah antara pusar dan lutut. Adapun anak perempuan yang sudah tamyiz (walau belum baligh), auratnya adalah antara pusar dan lutut karena ia masih membuat orang lain tertarik.   Jika Terbuka Sebagian Aurat dalam Shalat   Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili ketika menerangkan tentang aurat ketika shalat menurut ulama Syafi’iyah, jika sebagian aurat terbuka dalam shalat padahal mampu untuk menutupnya, shalatnya batal. Kecuali jika aurat tersebut tersingkap karena angin atau lupa, lalu ditutup seketika itu juga, shalatnya tidaklah batal. Lihat Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:643. Dalam Syarh Al-Mumthi’ (2:172), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyimpulkan tentang masalah terbukanya aurat dalam shalat sebagai berikut. Jika aurat terbuka dengan sengaja, hukum shalatnya batal, baik terbuka sedikit maupun banyak, baik waktunya lama atau hanya sebentar. Misal ada yang membuka lututnya dengan sengaja lantas terbuka paha—menurut yang menganggapnya aurat–, shalatnya dihukumi batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja dan terbukanya sedikit (tidak parah, misal pada paha di atas lutut terlihat sedikit), hukum shalatnya tidaklah batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah—disebut faahisy–(seperti pada bagian qubul atau dubur terlihat walau sedikit saja) dan hanya sebentar saja terbuka (lantas ditutup kembali), hukum shalatnya tidaklah batal (menurut pendapat paling kuat). Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah dan dalam waktu yang lama, baru diketahui setelah shalat atau setelah salam, hukum shalatnya batal.   Demikian pembahasan aurat dalam shalat yang merupakan syarat shalat. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-34, Tahun 1435 H. Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Penerbit Darul Fikr. Asy-Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, Tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsaurat aurat laki-laki aurat pria aurat shalat manhajus salikin syarat shalat


Download   Sekarang bahasan menutup aurat dalam shalat yang terakhir dari bahasan Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Ada satu bahasan penting, bagaimanakah hukum jika ada yang terbuka auratnya di tengah-tengah shalat?   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَمِنْ شُرُوْطِهَا : سَتْرُ العَوْرَةِ بِثَوْبٍ مُبَاحٍ لاَ يَصِفُ البَشَرَةَ وَالعَوْرَةُ ثَلاَثَةُ  أَنْوَاعٍ: مُغَلَّظَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ المَرْأَةِ الحُرَّةِ البَالِغَةِ فَجَمِيْعُ بَدَنِهَا عَوْرَةٌ فِي الصَّلاَةِ إِلاَّ وَجْهَهَا وَمُخَفَّفَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ ابْنِ سَبْعِ سِنِيْنَ إِلَى عَشْرٍ فَإِنَّهَا الفَرْجَانِ وَمُتَوَسِّطَةٌ وَهِيَ : عَوْرَةُ مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ قَالَ تَعَالَى: يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ “Dan di antara syarat shalat adalah menutup aurat dengan pakaian yang mubah yang tidak menampakkan kulit. Dan aurat itu ada tiga macam: Pertama: Mughallazhah (yang berat) yaitu aurat wanita merdeka yang sudah baligh, auratnya dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Kedua: Mukhaffafah (yang ringan) yaitu aurat anak laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun, auratnya adalah al-farju (kemaluan: qubul dan dubur, pen.). Ketiga: Mutawassithah (yang pertengahan) yaitu aurat dari yang tidak termasuk dalam dua di atas, auratnya adalah antara pusar dan lutut. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).”   Aurat Mughallazhah   Aurat ini yang paling berat didapati pada wanita yang merdeka dan sudah baligh. Hal ini berbeda dengan budak wanita dan anak perempuan yang belum baligh, auratnya adalah seperti pada aurat mutawassithah. Namun bukan berarti aurat yang berlaku dalam shalat sama seperti dengan yang di luar shalat. Misalnya, pundak pria mesti ditutup saat shalat, sedangkan di luar shalat boleh terbuka. Sebaliknya, ada yang mesti ditutup di luar shalat, namun boleh terbuka di dalam shalat seperti untuk wajah dari wanita merdeka yang dewasa. Disimpulkan dari perkataan Syaikh As-Sa’di rahimahullah di sini, wanita dewasa dalam shalat boleh membuka wajah kecuali jika hadir laki-laki bukan mahram. Sedangkan kaki dan tangan ada beda pendapat mengenai boleh membukanya ataukah tidak dalam shalat sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tentang aurat wanita dalam shalat.   Aurat Mukhaffafah   Maksudnya adalah aurat untuk laki-laki berumur tujuh hingga sepuluh tahun yaitu al-farju (kemaluan: qubul dan dubur), berarti tidak berlaku bagi anak perempuan. Aurat anak perempuan termasuk dalam aurat mutawassithah. Dari sini dapat dipahami bahwa aurat anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat, baik untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Alasannya di antaranya adalah seorang wanita boleh memandikan anak laki-laki kecil (di bawah tujuh tahun). Inilah yang menunjukkan bahwa anak di bawah tujuh tahun tidak ada batasan aurat. Berarti setelah sepuluh tahun, aurat anak laki-laki adalah sama seperti aurat orang dewasa yaitu aurat mutawassithah, antara pusar dan lutut.   Aurat Mutawassithah   Yang termasuk di dalamnya adalah yang tidak termasuk dalam aurat mughallazhah dan aurat mukhaffafah seperti pada laki-laki dewasa yang merdeka maupun budak (mulai dari sepuluh tahun ke atas), juga perempuan dari usia tujuh hingga sebelum baligh, termasuk pula budak wanita. Aurat mereka semua adalah antara pusar dan lutut. Adapun anak perempuan yang sudah tamyiz (walau belum baligh), auratnya adalah antara pusar dan lutut karena ia masih membuat orang lain tertarik.   Jika Terbuka Sebagian Aurat dalam Shalat   Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili ketika menerangkan tentang aurat ketika shalat menurut ulama Syafi’iyah, jika sebagian aurat terbuka dalam shalat padahal mampu untuk menutupnya, shalatnya batal. Kecuali jika aurat tersebut tersingkap karena angin atau lupa, lalu ditutup seketika itu juga, shalatnya tidaklah batal. Lihat Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:643. Dalam Syarh Al-Mumthi’ (2:172), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyimpulkan tentang masalah terbukanya aurat dalam shalat sebagai berikut. Jika aurat terbuka dengan sengaja, hukum shalatnya batal, baik terbuka sedikit maupun banyak, baik waktunya lama atau hanya sebentar. Misal ada yang membuka lututnya dengan sengaja lantas terbuka paha—menurut yang menganggapnya aurat–, shalatnya dihukumi batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja dan terbukanya sedikit (tidak parah, misal pada paha di atas lutut terlihat sedikit), hukum shalatnya tidaklah batal. Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah—disebut faahisy–(seperti pada bagian qubul atau dubur terlihat walau sedikit saja) dan hanya sebentar saja terbuka (lantas ditutup kembali), hukum shalatnya tidaklah batal (menurut pendapat paling kuat). Jika aurat terbuka tidak sengaja, terbukanya parah dan dalam waktu yang lama, baru diketahui setelah shalat atau setelah salam, hukum shalatnya batal.   Demikian pembahasan aurat dalam shalat yang merupakan syarat shalat. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-34, Tahun 1435 H. Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Penerbit Darul Fikr. Asy-Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, Tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsaurat aurat laki-laki aurat pria aurat shalat manhajus salikin syarat shalat

Allah Akan Kabulkan, Husnuzhan kepada Allah

Download   Allah akan kabulkan, husnuzhanlah kepada Allah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Ayat Pertama: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60)   Faedah Ayat: Salah satu pelajaran penting dari ayat ini adalah kita diajarkan untuk berhusnuzhan kepada Allah. Hal ini semakna dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (HR. Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675) Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau, لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ “Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877). Husnuzhan kepada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam doa. Ketika berdoa kepada Allah, kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai penghalang terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhan kepada Allah. Pelajaran kedua dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah, beliau menyebutkan bahwa doa dalam bahasan ini mencakup doa masalah (berisi permintaan) dan doa ibadah (ibadah itu sendiri). Keduanya akan diijabahi oleh Allah. Kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badai’ Al-Fawaid, doa masalah (berisi permintaan) itu akan diberi, sedangkan doa ibadah akan diberi ganjaran. Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling banyak meminta kepada-Nya. Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah yang malas meminta kepada-Nya. Selain-Mu Wahai Rabbku jika diminta tidaklah seperti ini.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa berdoa doa riyadhus sholihin

Allah Akan Kabulkan, Husnuzhan kepada Allah

Download   Allah akan kabulkan, husnuzhanlah kepada Allah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Ayat Pertama: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60)   Faedah Ayat: Salah satu pelajaran penting dari ayat ini adalah kita diajarkan untuk berhusnuzhan kepada Allah. Hal ini semakna dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (HR. Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675) Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau, لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ “Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877). Husnuzhan kepada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam doa. Ketika berdoa kepada Allah, kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai penghalang terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhan kepada Allah. Pelajaran kedua dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah, beliau menyebutkan bahwa doa dalam bahasan ini mencakup doa masalah (berisi permintaan) dan doa ibadah (ibadah itu sendiri). Keduanya akan diijabahi oleh Allah. Kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badai’ Al-Fawaid, doa masalah (berisi permintaan) itu akan diberi, sedangkan doa ibadah akan diberi ganjaran. Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling banyak meminta kepada-Nya. Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah yang malas meminta kepada-Nya. Selain-Mu Wahai Rabbku jika diminta tidaklah seperti ini.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa berdoa doa riyadhus sholihin
Download   Allah akan kabulkan, husnuzhanlah kepada Allah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Ayat Pertama: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60)   Faedah Ayat: Salah satu pelajaran penting dari ayat ini adalah kita diajarkan untuk berhusnuzhan kepada Allah. Hal ini semakna dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (HR. Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675) Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau, لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ “Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877). Husnuzhan kepada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam doa. Ketika berdoa kepada Allah, kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai penghalang terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhan kepada Allah. Pelajaran kedua dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah, beliau menyebutkan bahwa doa dalam bahasan ini mencakup doa masalah (berisi permintaan) dan doa ibadah (ibadah itu sendiri). Keduanya akan diijabahi oleh Allah. Kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badai’ Al-Fawaid, doa masalah (berisi permintaan) itu akan diberi, sedangkan doa ibadah akan diberi ganjaran. Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling banyak meminta kepada-Nya. Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah yang malas meminta kepada-Nya. Selain-Mu Wahai Rabbku jika diminta tidaklah seperti ini.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa berdoa doa riyadhus sholihin


Download   Allah akan kabulkan, husnuzhanlah kepada Allah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Ayat Pertama: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60)   Faedah Ayat: Salah satu pelajaran penting dari ayat ini adalah kita diajarkan untuk berhusnuzhan kepada Allah. Hal ini semakna dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (HR. Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675) Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau, لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ “Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877). Husnuzhan kepada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam doa. Ketika berdoa kepada Allah, kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai penghalang terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhan kepada Allah. Pelajaran kedua dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah, beliau menyebutkan bahwa doa dalam bahasan ini mencakup doa masalah (berisi permintaan) dan doa ibadah (ibadah itu sendiri). Keduanya akan diijabahi oleh Allah. Kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badai’ Al-Fawaid, doa masalah (berisi permintaan) itu akan diberi, sedangkan doa ibadah akan diberi ganjaran. Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling banyak meminta kepada-Nya. Hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah yang malas meminta kepada-Nya. Selain-Mu Wahai Rabbku jika diminta tidaklah seperti ini.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Ditulis di Masjid Pogung Dalangan, 12 Rabi’ul Akhir 1440 H, Kamis Sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa berdoa doa riyadhus sholihin

Asal Kata ‘Allah’

Asal Kata Lafadz ‘Allah’ Dari mana asal kata Allah? kami memahami kata ar-Rahman adalah turunan dari kata rahmat. Bisa dijelaskan asal-usul kata Allah… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ulama ahli telah membahas asal usul kata Allah. Pembahasan ini terkait tinjauan bahasa kata Allah, BUKAN membahas asal Dzat Allah – semoga tidak rancu –. Pendapat pertama, bahwa kata Allah [الله] adalah kata murtajal atau kata jamid (kata yang tidak memiliki kata asal). Seperti kata sungai atau kata jalan. Kita tidak mengatakan, kata sungai berasal dari kata sung atau ngai. Berbeda dengan kata ‘perbuatan’ yang ini berasal dari kata dasar ‘buat’ atau kata kekuasaan, yang ini berasal dari kata kuasa. Karena kata ‘Allah’ tidak memiliki asal-usul, maka tidak perlu dicari kata dasarnya dan tidak boleh dihilangkan alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله]. Ini merupakan pendapat Ibnul Arabi (w. 543), Abul Qasim as-Suhaili (w. 581), ar-Razi (w. 606), banyak di kalangan ahli ushul dan merupakan salah satu pendapat Sibawaih. Mereka beralasan, nama Allah tidak memiliki kata asal, karena jika memiliki kata dasar berarti kata ini turunan. Sementara nama Allah itu qadiim (ada sejak awal), sementara sesuatu yang qadiim tidak memiliki asal. Pendapat kedua, kata Allah adalah kata musytaq (kata turunan yang memiliki kata dasar). Pendapat ini berdalil dengan firman Allah, وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” (QS. al-An’am: 3) Ayat ini menegaskan bahwa kata ‘Allah’ adalah kata sifat bagi Sang Pencipta. Agar ayat di atas bisa dipahami dengan baik, kata ‘Allah’ harus ditarik pada asal katanya, yaitu al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah). Sehingga bisa kita terjemahkan, “Dialah Sang Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.” Jika kita pahami bahwa kata ini tidak memiliki kata asal, terjemahnya akan menjadi rancu, “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” Padahal Allah tidak berada di bumi. Ibnul Qayyim mengatakan, ولهذا كان القول الصحيح أن الله أصله الإله، كما هو قول سيبويه وجمهور أصحابه، إلا مَن شذ منهم، وأن اسم الله تعالى هو الجامع لجميع معاني الأسماء الحسنى، والصفات العلى Karena itulah, pendapat yang benar bahwa kata Allah berasal dari kata al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah), yang ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas pengikutnya, kecuali sebagian kecil yang tidak sepakat dengannya. Dan bahwa nama Allah Ta’ala adalah nama yang menggabungkan semua makna dari asmaul husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia. (Bada’i al-Fawaid, 2/473). Jika kita memahami kata Allah adalah kata turunan, lalu apa asal usul dari kata Allah? Ulama ahli bahasa berbeda pendapat dalam masalah ini. [1] Kata Allah berasal dari kata al-Ilaah (الإِلَـه) yang itu merupakan turunan dari kata Aliha – Ya’lahu [أَلِـهَ – يَـأْلَـهُ] yang artinya menyembah atau beribadah. Sedangkan kata ilaah adalah bentuk masdar (kata dasar) yang bisa bermakna sebagai isim fa’il (pelaku) dan bisa juga sebagai isim maf’ul (objek perbuatan). Jika kita bawa pada makna isim maf’ul; berarti menjadi al-Ma’luh [الـمـألوه] yang artinya Dzat yang disembah. [2] Kata Allah berasal dari kata laaha – yaliihu [لاه – يليه] yang artinya tersembunyi. Yang ini mengisyaratkan bahwa diberi nama ‘Allah’ karena Dia Dzat yang tersembunyi dari semua makhluk-Nya. (I’rab al-Quran wa Bayanuhu, Muhyiddin Darwisy, 1/9) Hanya Kajian Seputar Bahasa Bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini hanya perbedaan dari sisi makna bahasa. Perbedaan di permukaan (ikhtilaf syakli). Karena itu, semua tetap meyakini bahwa kata ‘Allah’ adalah nama untuk Rabbul Izzah, Sang Pencipta langit dan bumi. Ibnul Qayim mengakhiri pembahasan ini dengan menyatakan, إن اختلاف القائلين بالاشتقاق وعدمه، إنما هو اختلاف شكلي، أما اعتقادهم في أسماء وصفات الله كلها فهو أنها قديمة، والقديم لا مادة له Bahwa perbedaan pendapat mengenai asal kata ‘Allah’, apakah memiliki akar kata ataukah tidak, hanyalah ikhtilaf syakli. Adapun keyakinan mereka terkait nama dan sifat Allah, semuanya adalah qadim (sejak dulu). Sedangkan sesuatu yang qadim berarti tidak memiliki unsur penyusun. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Zakat Fitrah Dengan Uang, Hukum Membatalkan Puasa Sunnah Senin Kamis, Siapakah Imam Mahdi Di Akhir Zaman, Materi Kuliah Subuh, Dampak Dari Onani, Urutan Dzikir Setelah Sholat Visited 1,138 times, 1 visit(s) today Post Views: 516 QRIS donasi Yufid

Asal Kata ‘Allah’

Asal Kata Lafadz ‘Allah’ Dari mana asal kata Allah? kami memahami kata ar-Rahman adalah turunan dari kata rahmat. Bisa dijelaskan asal-usul kata Allah… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ulama ahli telah membahas asal usul kata Allah. Pembahasan ini terkait tinjauan bahasa kata Allah, BUKAN membahas asal Dzat Allah – semoga tidak rancu –. Pendapat pertama, bahwa kata Allah [الله] adalah kata murtajal atau kata jamid (kata yang tidak memiliki kata asal). Seperti kata sungai atau kata jalan. Kita tidak mengatakan, kata sungai berasal dari kata sung atau ngai. Berbeda dengan kata ‘perbuatan’ yang ini berasal dari kata dasar ‘buat’ atau kata kekuasaan, yang ini berasal dari kata kuasa. Karena kata ‘Allah’ tidak memiliki asal-usul, maka tidak perlu dicari kata dasarnya dan tidak boleh dihilangkan alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله]. Ini merupakan pendapat Ibnul Arabi (w. 543), Abul Qasim as-Suhaili (w. 581), ar-Razi (w. 606), banyak di kalangan ahli ushul dan merupakan salah satu pendapat Sibawaih. Mereka beralasan, nama Allah tidak memiliki kata asal, karena jika memiliki kata dasar berarti kata ini turunan. Sementara nama Allah itu qadiim (ada sejak awal), sementara sesuatu yang qadiim tidak memiliki asal. Pendapat kedua, kata Allah adalah kata musytaq (kata turunan yang memiliki kata dasar). Pendapat ini berdalil dengan firman Allah, وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” (QS. al-An’am: 3) Ayat ini menegaskan bahwa kata ‘Allah’ adalah kata sifat bagi Sang Pencipta. Agar ayat di atas bisa dipahami dengan baik, kata ‘Allah’ harus ditarik pada asal katanya, yaitu al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah). Sehingga bisa kita terjemahkan, “Dialah Sang Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.” Jika kita pahami bahwa kata ini tidak memiliki kata asal, terjemahnya akan menjadi rancu, “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” Padahal Allah tidak berada di bumi. Ibnul Qayyim mengatakan, ولهذا كان القول الصحيح أن الله أصله الإله، كما هو قول سيبويه وجمهور أصحابه، إلا مَن شذ منهم، وأن اسم الله تعالى هو الجامع لجميع معاني الأسماء الحسنى، والصفات العلى Karena itulah, pendapat yang benar bahwa kata Allah berasal dari kata al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah), yang ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas pengikutnya, kecuali sebagian kecil yang tidak sepakat dengannya. Dan bahwa nama Allah Ta’ala adalah nama yang menggabungkan semua makna dari asmaul husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia. (Bada’i al-Fawaid, 2/473). Jika kita memahami kata Allah adalah kata turunan, lalu apa asal usul dari kata Allah? Ulama ahli bahasa berbeda pendapat dalam masalah ini. [1] Kata Allah berasal dari kata al-Ilaah (الإِلَـه) yang itu merupakan turunan dari kata Aliha – Ya’lahu [أَلِـهَ – يَـأْلَـهُ] yang artinya menyembah atau beribadah. Sedangkan kata ilaah adalah bentuk masdar (kata dasar) yang bisa bermakna sebagai isim fa’il (pelaku) dan bisa juga sebagai isim maf’ul (objek perbuatan). Jika kita bawa pada makna isim maf’ul; berarti menjadi al-Ma’luh [الـمـألوه] yang artinya Dzat yang disembah. [2] Kata Allah berasal dari kata laaha – yaliihu [لاه – يليه] yang artinya tersembunyi. Yang ini mengisyaratkan bahwa diberi nama ‘Allah’ karena Dia Dzat yang tersembunyi dari semua makhluk-Nya. (I’rab al-Quran wa Bayanuhu, Muhyiddin Darwisy, 1/9) Hanya Kajian Seputar Bahasa Bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini hanya perbedaan dari sisi makna bahasa. Perbedaan di permukaan (ikhtilaf syakli). Karena itu, semua tetap meyakini bahwa kata ‘Allah’ adalah nama untuk Rabbul Izzah, Sang Pencipta langit dan bumi. Ibnul Qayim mengakhiri pembahasan ini dengan menyatakan, إن اختلاف القائلين بالاشتقاق وعدمه، إنما هو اختلاف شكلي، أما اعتقادهم في أسماء وصفات الله كلها فهو أنها قديمة، والقديم لا مادة له Bahwa perbedaan pendapat mengenai asal kata ‘Allah’, apakah memiliki akar kata ataukah tidak, hanyalah ikhtilaf syakli. Adapun keyakinan mereka terkait nama dan sifat Allah, semuanya adalah qadim (sejak dulu). Sedangkan sesuatu yang qadim berarti tidak memiliki unsur penyusun. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Zakat Fitrah Dengan Uang, Hukum Membatalkan Puasa Sunnah Senin Kamis, Siapakah Imam Mahdi Di Akhir Zaman, Materi Kuliah Subuh, Dampak Dari Onani, Urutan Dzikir Setelah Sholat Visited 1,138 times, 1 visit(s) today Post Views: 516 QRIS donasi Yufid
Asal Kata Lafadz ‘Allah’ Dari mana asal kata Allah? kami memahami kata ar-Rahman adalah turunan dari kata rahmat. Bisa dijelaskan asal-usul kata Allah… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ulama ahli telah membahas asal usul kata Allah. Pembahasan ini terkait tinjauan bahasa kata Allah, BUKAN membahas asal Dzat Allah – semoga tidak rancu –. Pendapat pertama, bahwa kata Allah [الله] adalah kata murtajal atau kata jamid (kata yang tidak memiliki kata asal). Seperti kata sungai atau kata jalan. Kita tidak mengatakan, kata sungai berasal dari kata sung atau ngai. Berbeda dengan kata ‘perbuatan’ yang ini berasal dari kata dasar ‘buat’ atau kata kekuasaan, yang ini berasal dari kata kuasa. Karena kata ‘Allah’ tidak memiliki asal-usul, maka tidak perlu dicari kata dasarnya dan tidak boleh dihilangkan alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله]. Ini merupakan pendapat Ibnul Arabi (w. 543), Abul Qasim as-Suhaili (w. 581), ar-Razi (w. 606), banyak di kalangan ahli ushul dan merupakan salah satu pendapat Sibawaih. Mereka beralasan, nama Allah tidak memiliki kata asal, karena jika memiliki kata dasar berarti kata ini turunan. Sementara nama Allah itu qadiim (ada sejak awal), sementara sesuatu yang qadiim tidak memiliki asal. Pendapat kedua, kata Allah adalah kata musytaq (kata turunan yang memiliki kata dasar). Pendapat ini berdalil dengan firman Allah, وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” (QS. al-An’am: 3) Ayat ini menegaskan bahwa kata ‘Allah’ adalah kata sifat bagi Sang Pencipta. Agar ayat di atas bisa dipahami dengan baik, kata ‘Allah’ harus ditarik pada asal katanya, yaitu al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah). Sehingga bisa kita terjemahkan, “Dialah Sang Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.” Jika kita pahami bahwa kata ini tidak memiliki kata asal, terjemahnya akan menjadi rancu, “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” Padahal Allah tidak berada di bumi. Ibnul Qayyim mengatakan, ولهذا كان القول الصحيح أن الله أصله الإله، كما هو قول سيبويه وجمهور أصحابه، إلا مَن شذ منهم، وأن اسم الله تعالى هو الجامع لجميع معاني الأسماء الحسنى، والصفات العلى Karena itulah, pendapat yang benar bahwa kata Allah berasal dari kata al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah), yang ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas pengikutnya, kecuali sebagian kecil yang tidak sepakat dengannya. Dan bahwa nama Allah Ta’ala adalah nama yang menggabungkan semua makna dari asmaul husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia. (Bada’i al-Fawaid, 2/473). Jika kita memahami kata Allah adalah kata turunan, lalu apa asal usul dari kata Allah? Ulama ahli bahasa berbeda pendapat dalam masalah ini. [1] Kata Allah berasal dari kata al-Ilaah (الإِلَـه) yang itu merupakan turunan dari kata Aliha – Ya’lahu [أَلِـهَ – يَـأْلَـهُ] yang artinya menyembah atau beribadah. Sedangkan kata ilaah adalah bentuk masdar (kata dasar) yang bisa bermakna sebagai isim fa’il (pelaku) dan bisa juga sebagai isim maf’ul (objek perbuatan). Jika kita bawa pada makna isim maf’ul; berarti menjadi al-Ma’luh [الـمـألوه] yang artinya Dzat yang disembah. [2] Kata Allah berasal dari kata laaha – yaliihu [لاه – يليه] yang artinya tersembunyi. Yang ini mengisyaratkan bahwa diberi nama ‘Allah’ karena Dia Dzat yang tersembunyi dari semua makhluk-Nya. (I’rab al-Quran wa Bayanuhu, Muhyiddin Darwisy, 1/9) Hanya Kajian Seputar Bahasa Bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini hanya perbedaan dari sisi makna bahasa. Perbedaan di permukaan (ikhtilaf syakli). Karena itu, semua tetap meyakini bahwa kata ‘Allah’ adalah nama untuk Rabbul Izzah, Sang Pencipta langit dan bumi. Ibnul Qayim mengakhiri pembahasan ini dengan menyatakan, إن اختلاف القائلين بالاشتقاق وعدمه، إنما هو اختلاف شكلي، أما اعتقادهم في أسماء وصفات الله كلها فهو أنها قديمة، والقديم لا مادة له Bahwa perbedaan pendapat mengenai asal kata ‘Allah’, apakah memiliki akar kata ataukah tidak, hanyalah ikhtilaf syakli. Adapun keyakinan mereka terkait nama dan sifat Allah, semuanya adalah qadim (sejak dulu). Sedangkan sesuatu yang qadim berarti tidak memiliki unsur penyusun. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Zakat Fitrah Dengan Uang, Hukum Membatalkan Puasa Sunnah Senin Kamis, Siapakah Imam Mahdi Di Akhir Zaman, Materi Kuliah Subuh, Dampak Dari Onani, Urutan Dzikir Setelah Sholat Visited 1,138 times, 1 visit(s) today Post Views: 516 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/550939728&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Asal Kata Lafadz ‘Allah’ Dari mana asal kata Allah? kami memahami kata ar-Rahman adalah turunan dari kata rahmat. Bisa dijelaskan asal-usul kata Allah… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ulama ahli telah membahas asal usul kata Allah. Pembahasan ini terkait tinjauan bahasa kata Allah, BUKAN membahas asal Dzat Allah – semoga tidak rancu –. Pendapat pertama, bahwa kata Allah [الله] adalah kata murtajal atau kata jamid (kata yang tidak memiliki kata asal). Seperti kata sungai atau kata jalan. Kita tidak mengatakan, kata sungai berasal dari kata sung atau ngai. Berbeda dengan kata ‘perbuatan’ yang ini berasal dari kata dasar ‘buat’ atau kata kekuasaan, yang ini berasal dari kata kuasa. Karena kata ‘Allah’ tidak memiliki asal-usul, maka tidak perlu dicari kata dasarnya dan tidak boleh dihilangkan alif dan lam yang ada di depan kata Allah [الله]. Ini merupakan pendapat Ibnul Arabi (w. 543), Abul Qasim as-Suhaili (w. 581), ar-Razi (w. 606), banyak di kalangan ahli ushul dan merupakan salah satu pendapat Sibawaih. Mereka beralasan, nama Allah tidak memiliki kata asal, karena jika memiliki kata dasar berarti kata ini turunan. Sementara nama Allah itu qadiim (ada sejak awal), sementara sesuatu yang qadiim tidak memiliki asal. Pendapat kedua, kata Allah adalah kata musytaq (kata turunan yang memiliki kata dasar). Pendapat ini berdalil dengan firman Allah, وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” (QS. al-An’am: 3) Ayat ini menegaskan bahwa kata ‘Allah’ adalah kata sifat bagi Sang Pencipta. Agar ayat di atas bisa dipahami dengan baik, kata ‘Allah’ harus ditarik pada asal katanya, yaitu al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah). Sehingga bisa kita terjemahkan, “Dialah Sang Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.” Jika kita pahami bahwa kata ini tidak memiliki kata asal, terjemahnya akan menjadi rancu, “Dialah ‘Allah’ di langit dan di bumi..” Padahal Allah tidak berada di bumi. Ibnul Qayyim mengatakan, ولهذا كان القول الصحيح أن الله أصله الإله، كما هو قول سيبويه وجمهور أصحابه، إلا مَن شذ منهم، وأن اسم الله تعالى هو الجامع لجميع معاني الأسماء الحسنى، والصفات العلى Karena itulah, pendapat yang benar bahwa kata Allah berasal dari kata al-Ilah (Sang Tuhan yang disembah), yang ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas pengikutnya, kecuali sebagian kecil yang tidak sepakat dengannya. Dan bahwa nama Allah Ta’ala adalah nama yang menggabungkan semua makna dari asmaul husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia. (Bada’i al-Fawaid, 2/473). Jika kita memahami kata Allah adalah kata turunan, lalu apa asal usul dari kata Allah? Ulama ahli bahasa berbeda pendapat dalam masalah ini. [1] Kata Allah berasal dari kata al-Ilaah (الإِلَـه) yang itu merupakan turunan dari kata Aliha – Ya’lahu [أَلِـهَ – يَـأْلَـهُ] yang artinya menyembah atau beribadah. Sedangkan kata ilaah adalah bentuk masdar (kata dasar) yang bisa bermakna sebagai isim fa’il (pelaku) dan bisa juga sebagai isim maf’ul (objek perbuatan). Jika kita bawa pada makna isim maf’ul; berarti menjadi al-Ma’luh [الـمـألوه] yang artinya Dzat yang disembah. [2] Kata Allah berasal dari kata laaha – yaliihu [لاه – يليه] yang artinya tersembunyi. Yang ini mengisyaratkan bahwa diberi nama ‘Allah’ karena Dia Dzat yang tersembunyi dari semua makhluk-Nya. (I’rab al-Quran wa Bayanuhu, Muhyiddin Darwisy, 1/9) Hanya Kajian Seputar Bahasa Bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini hanya perbedaan dari sisi makna bahasa. Perbedaan di permukaan (ikhtilaf syakli). Karena itu, semua tetap meyakini bahwa kata ‘Allah’ adalah nama untuk Rabbul Izzah, Sang Pencipta langit dan bumi. Ibnul Qayim mengakhiri pembahasan ini dengan menyatakan, إن اختلاف القائلين بالاشتقاق وعدمه، إنما هو اختلاف شكلي، أما اعتقادهم في أسماء وصفات الله كلها فهو أنها قديمة، والقديم لا مادة له Bahwa perbedaan pendapat mengenai asal kata ‘Allah’, apakah memiliki akar kata ataukah tidak, hanyalah ikhtilaf syakli. Adapun keyakinan mereka terkait nama dan sifat Allah, semuanya adalah qadim (sejak dulu). Sedangkan sesuatu yang qadim berarti tidak memiliki unsur penyusun. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Zakat Fitrah Dengan Uang, Hukum Membatalkan Puasa Sunnah Senin Kamis, Siapakah Imam Mahdi Di Akhir Zaman, Materi Kuliah Subuh, Dampak Dari Onani, Urutan Dzikir Setelah Sholat Visited 1,138 times, 1 visit(s) today Post Views: 516 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Semua Pelaku Maksiat itu Orang Bodoh

Semua Pelaku Maksiat itu Orang Bodoh Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kebodohan paling parah yang dialami hamba adalah kebodohan terkait keagungan dan kemuliaan Allah. Karena sebab inilah, seorang hamba meremehkan hak Allah dan mudah melanggar aturan Allah. Allah mengomentari orang kafir, yang mengingkari kebenaran wahyu – Allah sebut mereka dengan orang yang paling tidak memahami keagungan Allah. Allah berfirman, وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ “Mereka tidak memberikan pengagungan kepada Allah dengan pengagungan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia…” (QS. al-An’am: 91) Semakin besar tingkat kemaksiatan seseorang, berarti dia semakin bodoh terhadap hak Allah. Kaerena itu, Allah menyebut tindakan maksiat sebagai tindakan kebodohan. Allah berfirman, إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan..” (QS. an-Nisa: 17) Dalam tafsir at-Thabari, beliau membawakan riwayat dari beberapa ulama Tabi’in, diantaranya, [1] Dari Abul Aliyah, عن أبي العالية: أنه كان يحدِّث: أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كانوا يقولون: كل ذنب أصابه عبد فهو بجهالة Dari Abul Aliyah, beliau pernah menyampaikan bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ mengatakan, ‘Semua dosa yang dilakukan hamba, itu disebabkan karena kebodohan.’. [2] Riwayat dari Qatadah bin Di’amah, عن قتادة قال: اجتمع أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأوا أن كل شيء عُصيِ به فهو”جهالة”، عمدًا كان أو غيره Dari Qatadah, beliau mengatakan, ‘Para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul, lalu mereka sepakat bahwa semua tindakan maksiat adalah kebodohan, baik dilakukan sengaja atau tidak sengaja.’ [3] Riwayat dari Mujahid bin Jabr, عن مجاهد في قوله:”للذين يعملون السوء بجهالة”، قال: كل من عصى ربه فهو جاهل حتى ينزع عن معصيته Dari Mujahid, bahwa firman Allah tentang orang yang berbuat maksiat dengan kebodohan, beliau mengatakan, ‘Semua yang bermaksiat kepada Rabnya, maka dia bodoh, sampai dia tinggalnya maksiatnya.’ (Tafsir at-Thabari, 8/89) Demikianlah pemahaman para sahabat – ridhwanullah ‘alaihim – terhadap al-Quran dan kondisi manusia, hingga mereka berkesimpulan, selama hamba bermaksiat, hakekatnya dia sedang bertindak bodoh. Syaikhul Islam mengatakan, والمقصود هنا أن كل عاص لله فهو جاهل ، وكل خائف منه فهو عالم مطيع لله ؛ وإنما يكون جاهلا لنقص خوفه من الله إذ لو تم خوفه من الله لم يعص . ومنه قول ابن مسعود رضي الله عنه: كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار بالله جهلا Kesimpulannya, bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka dia bodoh. Dan semua orang yang takut kepada Allah, maka dia alim (berilmu), taat kepada Allah. Dia menjadi orang bodoh, karena kurangnya rasa takutnya kepada Allah. Karena, jika rasa takutnya kepada Allah sempurna, dia tidak akan bermaksiat. Dari sini, kita memahami perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Cukuplah rasa takut kepada Allah menjadi ilmu, dan cukuplah perasaan tertipu dengan rahmat Allah sebagai kebodohan.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/23). Karena itulah, para ulama disebut sebagai orang yang paling takut kepada Allah, karena rasa takutnya yang besar kepada-Nya, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Ya Rab, anugerahkanlah untuk kami ilmu, yang membuat kami semakin takut kepada-Mu… Amiin… Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Sejarah Halloween Menurut Islam, Apakah Syiah Sesat, Yakjuj Makjuj Dalam Al Quran, Cara Membersihkan Hati Dan Pikiran Kotor, Shalat Sunnah Jum At, Kucing Menurut Islam Visited 134 times, 1 visit(s) today Post Views: 311 QRIS donasi Yufid

Semua Pelaku Maksiat itu Orang Bodoh

Semua Pelaku Maksiat itu Orang Bodoh Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kebodohan paling parah yang dialami hamba adalah kebodohan terkait keagungan dan kemuliaan Allah. Karena sebab inilah, seorang hamba meremehkan hak Allah dan mudah melanggar aturan Allah. Allah mengomentari orang kafir, yang mengingkari kebenaran wahyu – Allah sebut mereka dengan orang yang paling tidak memahami keagungan Allah. Allah berfirman, وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ “Mereka tidak memberikan pengagungan kepada Allah dengan pengagungan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia…” (QS. al-An’am: 91) Semakin besar tingkat kemaksiatan seseorang, berarti dia semakin bodoh terhadap hak Allah. Kaerena itu, Allah menyebut tindakan maksiat sebagai tindakan kebodohan. Allah berfirman, إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan..” (QS. an-Nisa: 17) Dalam tafsir at-Thabari, beliau membawakan riwayat dari beberapa ulama Tabi’in, diantaranya, [1] Dari Abul Aliyah, عن أبي العالية: أنه كان يحدِّث: أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كانوا يقولون: كل ذنب أصابه عبد فهو بجهالة Dari Abul Aliyah, beliau pernah menyampaikan bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ mengatakan, ‘Semua dosa yang dilakukan hamba, itu disebabkan karena kebodohan.’. [2] Riwayat dari Qatadah bin Di’amah, عن قتادة قال: اجتمع أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأوا أن كل شيء عُصيِ به فهو”جهالة”، عمدًا كان أو غيره Dari Qatadah, beliau mengatakan, ‘Para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul, lalu mereka sepakat bahwa semua tindakan maksiat adalah kebodohan, baik dilakukan sengaja atau tidak sengaja.’ [3] Riwayat dari Mujahid bin Jabr, عن مجاهد في قوله:”للذين يعملون السوء بجهالة”، قال: كل من عصى ربه فهو جاهل حتى ينزع عن معصيته Dari Mujahid, bahwa firman Allah tentang orang yang berbuat maksiat dengan kebodohan, beliau mengatakan, ‘Semua yang bermaksiat kepada Rabnya, maka dia bodoh, sampai dia tinggalnya maksiatnya.’ (Tafsir at-Thabari, 8/89) Demikianlah pemahaman para sahabat – ridhwanullah ‘alaihim – terhadap al-Quran dan kondisi manusia, hingga mereka berkesimpulan, selama hamba bermaksiat, hakekatnya dia sedang bertindak bodoh. Syaikhul Islam mengatakan, والمقصود هنا أن كل عاص لله فهو جاهل ، وكل خائف منه فهو عالم مطيع لله ؛ وإنما يكون جاهلا لنقص خوفه من الله إذ لو تم خوفه من الله لم يعص . ومنه قول ابن مسعود رضي الله عنه: كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار بالله جهلا Kesimpulannya, bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka dia bodoh. Dan semua orang yang takut kepada Allah, maka dia alim (berilmu), taat kepada Allah. Dia menjadi orang bodoh, karena kurangnya rasa takutnya kepada Allah. Karena, jika rasa takutnya kepada Allah sempurna, dia tidak akan bermaksiat. Dari sini, kita memahami perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Cukuplah rasa takut kepada Allah menjadi ilmu, dan cukuplah perasaan tertipu dengan rahmat Allah sebagai kebodohan.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/23). Karena itulah, para ulama disebut sebagai orang yang paling takut kepada Allah, karena rasa takutnya yang besar kepada-Nya, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Ya Rab, anugerahkanlah untuk kami ilmu, yang membuat kami semakin takut kepada-Mu… Amiin… Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Sejarah Halloween Menurut Islam, Apakah Syiah Sesat, Yakjuj Makjuj Dalam Al Quran, Cara Membersihkan Hati Dan Pikiran Kotor, Shalat Sunnah Jum At, Kucing Menurut Islam Visited 134 times, 1 visit(s) today Post Views: 311 QRIS donasi Yufid
Semua Pelaku Maksiat itu Orang Bodoh Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kebodohan paling parah yang dialami hamba adalah kebodohan terkait keagungan dan kemuliaan Allah. Karena sebab inilah, seorang hamba meremehkan hak Allah dan mudah melanggar aturan Allah. Allah mengomentari orang kafir, yang mengingkari kebenaran wahyu – Allah sebut mereka dengan orang yang paling tidak memahami keagungan Allah. Allah berfirman, وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ “Mereka tidak memberikan pengagungan kepada Allah dengan pengagungan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia…” (QS. al-An’am: 91) Semakin besar tingkat kemaksiatan seseorang, berarti dia semakin bodoh terhadap hak Allah. Kaerena itu, Allah menyebut tindakan maksiat sebagai tindakan kebodohan. Allah berfirman, إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan..” (QS. an-Nisa: 17) Dalam tafsir at-Thabari, beliau membawakan riwayat dari beberapa ulama Tabi’in, diantaranya, [1] Dari Abul Aliyah, عن أبي العالية: أنه كان يحدِّث: أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كانوا يقولون: كل ذنب أصابه عبد فهو بجهالة Dari Abul Aliyah, beliau pernah menyampaikan bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ mengatakan, ‘Semua dosa yang dilakukan hamba, itu disebabkan karena kebodohan.’. [2] Riwayat dari Qatadah bin Di’amah, عن قتادة قال: اجتمع أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأوا أن كل شيء عُصيِ به فهو”جهالة”، عمدًا كان أو غيره Dari Qatadah, beliau mengatakan, ‘Para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul, lalu mereka sepakat bahwa semua tindakan maksiat adalah kebodohan, baik dilakukan sengaja atau tidak sengaja.’ [3] Riwayat dari Mujahid bin Jabr, عن مجاهد في قوله:”للذين يعملون السوء بجهالة”، قال: كل من عصى ربه فهو جاهل حتى ينزع عن معصيته Dari Mujahid, bahwa firman Allah tentang orang yang berbuat maksiat dengan kebodohan, beliau mengatakan, ‘Semua yang bermaksiat kepada Rabnya, maka dia bodoh, sampai dia tinggalnya maksiatnya.’ (Tafsir at-Thabari, 8/89) Demikianlah pemahaman para sahabat – ridhwanullah ‘alaihim – terhadap al-Quran dan kondisi manusia, hingga mereka berkesimpulan, selama hamba bermaksiat, hakekatnya dia sedang bertindak bodoh. Syaikhul Islam mengatakan, والمقصود هنا أن كل عاص لله فهو جاهل ، وكل خائف منه فهو عالم مطيع لله ؛ وإنما يكون جاهلا لنقص خوفه من الله إذ لو تم خوفه من الله لم يعص . ومنه قول ابن مسعود رضي الله عنه: كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار بالله جهلا Kesimpulannya, bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka dia bodoh. Dan semua orang yang takut kepada Allah, maka dia alim (berilmu), taat kepada Allah. Dia menjadi orang bodoh, karena kurangnya rasa takutnya kepada Allah. Karena, jika rasa takutnya kepada Allah sempurna, dia tidak akan bermaksiat. Dari sini, kita memahami perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Cukuplah rasa takut kepada Allah menjadi ilmu, dan cukuplah perasaan tertipu dengan rahmat Allah sebagai kebodohan.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/23). Karena itulah, para ulama disebut sebagai orang yang paling takut kepada Allah, karena rasa takutnya yang besar kepada-Nya, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Ya Rab, anugerahkanlah untuk kami ilmu, yang membuat kami semakin takut kepada-Mu… Amiin… Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Sejarah Halloween Menurut Islam, Apakah Syiah Sesat, Yakjuj Makjuj Dalam Al Quran, Cara Membersihkan Hati Dan Pikiran Kotor, Shalat Sunnah Jum At, Kucing Menurut Islam Visited 134 times, 1 visit(s) today Post Views: 311 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/550939623&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Semua Pelaku Maksiat itu Orang Bodoh Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kebodohan paling parah yang dialami hamba adalah kebodohan terkait keagungan dan kemuliaan Allah. Karena sebab inilah, seorang hamba meremehkan hak Allah dan mudah melanggar aturan Allah. Allah mengomentari orang kafir, yang mengingkari kebenaran wahyu – Allah sebut mereka dengan orang yang paling tidak memahami keagungan Allah. Allah berfirman, وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ “Mereka tidak memberikan pengagungan kepada Allah dengan pengagungan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia…” (QS. al-An’am: 91) Semakin besar tingkat kemaksiatan seseorang, berarti dia semakin bodoh terhadap hak Allah. Kaerena itu, Allah menyebut tindakan maksiat sebagai tindakan kebodohan. Allah berfirman, إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan..” (QS. an-Nisa: 17) Dalam tafsir at-Thabari, beliau membawakan riwayat dari beberapa ulama Tabi’in, diantaranya, [1] Dari Abul Aliyah, عن أبي العالية: أنه كان يحدِّث: أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كانوا يقولون: كل ذنب أصابه عبد فهو بجهالة Dari Abul Aliyah, beliau pernah menyampaikan bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ mengatakan, ‘Semua dosa yang dilakukan hamba, itu disebabkan karena kebodohan.’. [2] Riwayat dari Qatadah bin Di’amah, عن قتادة قال: اجتمع أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأوا أن كل شيء عُصيِ به فهو”جهالة”، عمدًا كان أو غيره Dari Qatadah, beliau mengatakan, ‘Para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul, lalu mereka sepakat bahwa semua tindakan maksiat adalah kebodohan, baik dilakukan sengaja atau tidak sengaja.’ [3] Riwayat dari Mujahid bin Jabr, عن مجاهد في قوله:”للذين يعملون السوء بجهالة”، قال: كل من عصى ربه فهو جاهل حتى ينزع عن معصيته Dari Mujahid, bahwa firman Allah tentang orang yang berbuat maksiat dengan kebodohan, beliau mengatakan, ‘Semua yang bermaksiat kepada Rabnya, maka dia bodoh, sampai dia tinggalnya maksiatnya.’ (Tafsir at-Thabari, 8/89) Demikianlah pemahaman para sahabat – ridhwanullah ‘alaihim – terhadap al-Quran dan kondisi manusia, hingga mereka berkesimpulan, selama hamba bermaksiat, hakekatnya dia sedang bertindak bodoh. Syaikhul Islam mengatakan, والمقصود هنا أن كل عاص لله فهو جاهل ، وكل خائف منه فهو عالم مطيع لله ؛ وإنما يكون جاهلا لنقص خوفه من الله إذ لو تم خوفه من الله لم يعص . ومنه قول ابن مسعود رضي الله عنه: كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار بالله جهلا Kesimpulannya, bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka dia bodoh. Dan semua orang yang takut kepada Allah, maka dia alim (berilmu), taat kepada Allah. Dia menjadi orang bodoh, karena kurangnya rasa takutnya kepada Allah. Karena, jika rasa takutnya kepada Allah sempurna, dia tidak akan bermaksiat. Dari sini, kita memahami perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Cukuplah rasa takut kepada Allah menjadi ilmu, dan cukuplah perasaan tertipu dengan rahmat Allah sebagai kebodohan.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/23). Karena itulah, para ulama disebut sebagai orang yang paling takut kepada Allah, karena rasa takutnya yang besar kepada-Nya, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Ya Rab, anugerahkanlah untuk kami ilmu, yang membuat kami semakin takut kepada-Mu… Amiin… Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Sejarah Halloween Menurut Islam, Apakah Syiah Sesat, Yakjuj Makjuj Dalam Al Quran, Cara Membersihkan Hati Dan Pikiran Kotor, Shalat Sunnah Jum At, Kucing Menurut Islam Visited 134 times, 1 visit(s) today Post Views: 311 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Shalat Sunnah Witir #01

Download   Sekarang kita belajar shalat witir secara tuntas. Kali ini serial pertama, dan ini adalah pelajaran dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ الحَثِّ عَلَى صَلاَةِ الوِتْرِ وَبَيَانُ أَنَّهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَبَيَانُ وَقْتِهِ 205. Bab Anjuran Melakukan Shalat Witir, Penjelasan Bahwa Hukumnya Sunnah Muakkadah, dan Penjelasan Waktunya   Hadits #1132 عَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : الوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَةِ المَكْتُوبَةِ ، وَلَكِنْ سَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ القُرْآنِ )) رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) . Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Shalat witir tidaklah seperti shalat wajib. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyunnahkannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu witir dan mencintai yang witir, maka lakukanlah witir, wahai Ahli Al-Qur’an.’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Abu Daud, no. 1416; Tirmidzi, no. 453; Ahmad, 1:143. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat. Syaikh Al-Albani dalam takhrij Misykah Al-Mashabih mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan, hadits ini memiliki berbagai syawahid atau penguat).   Faedah Hadits   Shalat witir bukanlah wajib. Sebagian ulama menyatakan shalat witir itu wajib karena cuma berdalil dengan alasan perintah dalam hadits. Hadits yang disebutkan kali ini sudah tegas menyatakan bahwa shalat witir tidaklah wajib. Hadits ini dijadikan dalil untuk anjuran qiyamul lail secara mutlak. Hadits ini mengkhususkan shalat malam itu untuk ahli quran.   Pengertian Shalat Witir   Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ “Sesungguhnya Allah itu witir (tunggal) dan menyukai yang witrr (ganjil).” (HR. Bukhari, no. 6410 dan Muslim, no. 2677) Sedangkan yang dimaksud witir pada shalat witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Shubuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam. Disebut witir karena dikerjakan dengan rakaat yang ganjil, bisa dengan satu, tiga, atau bilangan ganjil lainnya, dan tidak boleh mengerjakannya dengan jumlah rakaat genap. Mengenai shalat witir apakah bagian dari shalat qiyamul lail (tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Imam Nawawi sendiri berkata bahwa yang benar adalah witir itu termasuk shalat malam atau shalat tahajud, sebagaimana tegas pula di kitab Al-Umm Imam Syafi’i. Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa shalat witir itu bukanlah tahajud.   Hukum Shalat Witir   Menurut mayoritas ulama, hukum shalat witir adalah sunnah muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), tidak sampai wajib. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, shalat witir itu wajib khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi kekhususan beliau.   Waktu Pelaksanaan Shalat Witir   Menurut ulama Hambali dan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’i, shalat witir dimulai setelah shalat Isya. Dan waktunya berakhir adalah ketika terbit fajar kedua. Dalilnya adalah dari Abu Bashrah Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِىَ الْوِتْرُ فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian shalat yaitu shalat witir. Kerjakanlah shalat witir antara shalat Isya dan shalat Shubuh.” (HR. Ahmad, 6:7. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya tentang bagaimanakah cara shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ » “Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah witir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir berakhir, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat witirlah kalian sebelum fajar.'” (HR. Ahmad, 2:149. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa seandainya ada yang menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya’ dengan jamak taqdim (berarti kedua shalat tersebut dikerjakan pada waktu Maghrib, pen.), maka waktu witir dimulai setelah shalat Isya.   Shalat Witir Bisa pada Awal Malam, Bisa pada Akhir Malam   ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ. “Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya, dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim, no. 745) Disunnahkan–berdasarkan kesepakatan para ulama–shalat witir itu dijadikan akhir dari shalat malam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari, no. 998 dan Muslim, no. 751) Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ “Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755) Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ». “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Abu Bakr menjawab, ‘Saya melakukan witir di permulaan malam.’ Dan beliau bertanya kepada Umar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Umar menjawab, ‘Saya melakukan witir pada akhir malam.’ Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, ‘Orang ini melakukan dengan penuh kehati-hatian.’ Dan kepada Umar beliau mengatakan, ‘Sedangkan orang ini begitu kuat.’” (HR. Abu Daud, no. 1434 dan Ahmad, 3:309. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pembahasan shalat witir ini masih bersambung insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di rumah tercinta #darushsholihin, 11 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsriyadhus sholihin shalat malam shalat sunnah shalat tahajud shalat witir witir

Shalat Sunnah Witir #01

Download   Sekarang kita belajar shalat witir secara tuntas. Kali ini serial pertama, dan ini adalah pelajaran dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ الحَثِّ عَلَى صَلاَةِ الوِتْرِ وَبَيَانُ أَنَّهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَبَيَانُ وَقْتِهِ 205. Bab Anjuran Melakukan Shalat Witir, Penjelasan Bahwa Hukumnya Sunnah Muakkadah, dan Penjelasan Waktunya   Hadits #1132 عَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : الوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَةِ المَكْتُوبَةِ ، وَلَكِنْ سَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ القُرْآنِ )) رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) . Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Shalat witir tidaklah seperti shalat wajib. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyunnahkannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu witir dan mencintai yang witir, maka lakukanlah witir, wahai Ahli Al-Qur’an.’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Abu Daud, no. 1416; Tirmidzi, no. 453; Ahmad, 1:143. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat. Syaikh Al-Albani dalam takhrij Misykah Al-Mashabih mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan, hadits ini memiliki berbagai syawahid atau penguat).   Faedah Hadits   Shalat witir bukanlah wajib. Sebagian ulama menyatakan shalat witir itu wajib karena cuma berdalil dengan alasan perintah dalam hadits. Hadits yang disebutkan kali ini sudah tegas menyatakan bahwa shalat witir tidaklah wajib. Hadits ini dijadikan dalil untuk anjuran qiyamul lail secara mutlak. Hadits ini mengkhususkan shalat malam itu untuk ahli quran.   Pengertian Shalat Witir   Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ “Sesungguhnya Allah itu witir (tunggal) dan menyukai yang witrr (ganjil).” (HR. Bukhari, no. 6410 dan Muslim, no. 2677) Sedangkan yang dimaksud witir pada shalat witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Shubuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam. Disebut witir karena dikerjakan dengan rakaat yang ganjil, bisa dengan satu, tiga, atau bilangan ganjil lainnya, dan tidak boleh mengerjakannya dengan jumlah rakaat genap. Mengenai shalat witir apakah bagian dari shalat qiyamul lail (tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Imam Nawawi sendiri berkata bahwa yang benar adalah witir itu termasuk shalat malam atau shalat tahajud, sebagaimana tegas pula di kitab Al-Umm Imam Syafi’i. Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa shalat witir itu bukanlah tahajud.   Hukum Shalat Witir   Menurut mayoritas ulama, hukum shalat witir adalah sunnah muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), tidak sampai wajib. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, shalat witir itu wajib khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi kekhususan beliau.   Waktu Pelaksanaan Shalat Witir   Menurut ulama Hambali dan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’i, shalat witir dimulai setelah shalat Isya. Dan waktunya berakhir adalah ketika terbit fajar kedua. Dalilnya adalah dari Abu Bashrah Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِىَ الْوِتْرُ فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian shalat yaitu shalat witir. Kerjakanlah shalat witir antara shalat Isya dan shalat Shubuh.” (HR. Ahmad, 6:7. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya tentang bagaimanakah cara shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ » “Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah witir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir berakhir, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat witirlah kalian sebelum fajar.'” (HR. Ahmad, 2:149. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa seandainya ada yang menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya’ dengan jamak taqdim (berarti kedua shalat tersebut dikerjakan pada waktu Maghrib, pen.), maka waktu witir dimulai setelah shalat Isya.   Shalat Witir Bisa pada Awal Malam, Bisa pada Akhir Malam   ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ. “Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya, dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim, no. 745) Disunnahkan–berdasarkan kesepakatan para ulama–shalat witir itu dijadikan akhir dari shalat malam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari, no. 998 dan Muslim, no. 751) Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ “Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755) Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ». “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Abu Bakr menjawab, ‘Saya melakukan witir di permulaan malam.’ Dan beliau bertanya kepada Umar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Umar menjawab, ‘Saya melakukan witir pada akhir malam.’ Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, ‘Orang ini melakukan dengan penuh kehati-hatian.’ Dan kepada Umar beliau mengatakan, ‘Sedangkan orang ini begitu kuat.’” (HR. Abu Daud, no. 1434 dan Ahmad, 3:309. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pembahasan shalat witir ini masih bersambung insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di rumah tercinta #darushsholihin, 11 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsriyadhus sholihin shalat malam shalat sunnah shalat tahajud shalat witir witir
Download   Sekarang kita belajar shalat witir secara tuntas. Kali ini serial pertama, dan ini adalah pelajaran dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ الحَثِّ عَلَى صَلاَةِ الوِتْرِ وَبَيَانُ أَنَّهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَبَيَانُ وَقْتِهِ 205. Bab Anjuran Melakukan Shalat Witir, Penjelasan Bahwa Hukumnya Sunnah Muakkadah, dan Penjelasan Waktunya   Hadits #1132 عَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : الوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَةِ المَكْتُوبَةِ ، وَلَكِنْ سَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ القُرْآنِ )) رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) . Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Shalat witir tidaklah seperti shalat wajib. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyunnahkannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu witir dan mencintai yang witir, maka lakukanlah witir, wahai Ahli Al-Qur’an.’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Abu Daud, no. 1416; Tirmidzi, no. 453; Ahmad, 1:143. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat. Syaikh Al-Albani dalam takhrij Misykah Al-Mashabih mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan, hadits ini memiliki berbagai syawahid atau penguat).   Faedah Hadits   Shalat witir bukanlah wajib. Sebagian ulama menyatakan shalat witir itu wajib karena cuma berdalil dengan alasan perintah dalam hadits. Hadits yang disebutkan kali ini sudah tegas menyatakan bahwa shalat witir tidaklah wajib. Hadits ini dijadikan dalil untuk anjuran qiyamul lail secara mutlak. Hadits ini mengkhususkan shalat malam itu untuk ahli quran.   Pengertian Shalat Witir   Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ “Sesungguhnya Allah itu witir (tunggal) dan menyukai yang witrr (ganjil).” (HR. Bukhari, no. 6410 dan Muslim, no. 2677) Sedangkan yang dimaksud witir pada shalat witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Shubuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam. Disebut witir karena dikerjakan dengan rakaat yang ganjil, bisa dengan satu, tiga, atau bilangan ganjil lainnya, dan tidak boleh mengerjakannya dengan jumlah rakaat genap. Mengenai shalat witir apakah bagian dari shalat qiyamul lail (tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Imam Nawawi sendiri berkata bahwa yang benar adalah witir itu termasuk shalat malam atau shalat tahajud, sebagaimana tegas pula di kitab Al-Umm Imam Syafi’i. Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa shalat witir itu bukanlah tahajud.   Hukum Shalat Witir   Menurut mayoritas ulama, hukum shalat witir adalah sunnah muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), tidak sampai wajib. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, shalat witir itu wajib khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi kekhususan beliau.   Waktu Pelaksanaan Shalat Witir   Menurut ulama Hambali dan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’i, shalat witir dimulai setelah shalat Isya. Dan waktunya berakhir adalah ketika terbit fajar kedua. Dalilnya adalah dari Abu Bashrah Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِىَ الْوِتْرُ فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian shalat yaitu shalat witir. Kerjakanlah shalat witir antara shalat Isya dan shalat Shubuh.” (HR. Ahmad, 6:7. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya tentang bagaimanakah cara shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ » “Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah witir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir berakhir, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat witirlah kalian sebelum fajar.'” (HR. Ahmad, 2:149. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa seandainya ada yang menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya’ dengan jamak taqdim (berarti kedua shalat tersebut dikerjakan pada waktu Maghrib, pen.), maka waktu witir dimulai setelah shalat Isya.   Shalat Witir Bisa pada Awal Malam, Bisa pada Akhir Malam   ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ. “Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya, dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim, no. 745) Disunnahkan–berdasarkan kesepakatan para ulama–shalat witir itu dijadikan akhir dari shalat malam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari, no. 998 dan Muslim, no. 751) Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ “Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755) Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ». “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Abu Bakr menjawab, ‘Saya melakukan witir di permulaan malam.’ Dan beliau bertanya kepada Umar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Umar menjawab, ‘Saya melakukan witir pada akhir malam.’ Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, ‘Orang ini melakukan dengan penuh kehati-hatian.’ Dan kepada Umar beliau mengatakan, ‘Sedangkan orang ini begitu kuat.’” (HR. Abu Daud, no. 1434 dan Ahmad, 3:309. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pembahasan shalat witir ini masih bersambung insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di rumah tercinta #darushsholihin, 11 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsriyadhus sholihin shalat malam shalat sunnah shalat tahajud shalat witir witir


Download   Sekarang kita belajar shalat witir secara tuntas. Kali ini serial pertama, dan ini adalah pelajaran dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ الحَثِّ عَلَى صَلاَةِ الوِتْرِ وَبَيَانُ أَنَّهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَبَيَانُ وَقْتِهِ 205. Bab Anjuran Melakukan Shalat Witir, Penjelasan Bahwa Hukumnya Sunnah Muakkadah, dan Penjelasan Waktunya   Hadits #1132 عَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : الوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَةِ المَكْتُوبَةِ ، وَلَكِنْ سَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ القُرْآنِ )) رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) . Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Shalat witir tidaklah seperti shalat wajib. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyunnahkannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu witir dan mencintai yang witir, maka lakukanlah witir, wahai Ahli Al-Qur’an.’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Abu Daud, no. 1416; Tirmidzi, no. 453; Ahmad, 1:143. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat. Syaikh Al-Albani dalam takhrij Misykah Al-Mashabih mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan, hadits ini memiliki berbagai syawahid atau penguat).   Faedah Hadits   Shalat witir bukanlah wajib. Sebagian ulama menyatakan shalat witir itu wajib karena cuma berdalil dengan alasan perintah dalam hadits. Hadits yang disebutkan kali ini sudah tegas menyatakan bahwa shalat witir tidaklah wajib. Hadits ini dijadikan dalil untuk anjuran qiyamul lail secara mutlak. Hadits ini mengkhususkan shalat malam itu untuk ahli quran.   Pengertian Shalat Witir   Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ “Sesungguhnya Allah itu witir (tunggal) dan menyukai yang witrr (ganjil).” (HR. Bukhari, no. 6410 dan Muslim, no. 2677) Sedangkan yang dimaksud witir pada shalat witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Shubuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam. Disebut witir karena dikerjakan dengan rakaat yang ganjil, bisa dengan satu, tiga, atau bilangan ganjil lainnya, dan tidak boleh mengerjakannya dengan jumlah rakaat genap. Mengenai shalat witir apakah bagian dari shalat qiyamul lail (tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Imam Nawawi sendiri berkata bahwa yang benar adalah witir itu termasuk shalat malam atau shalat tahajud, sebagaimana tegas pula di kitab Al-Umm Imam Syafi’i. Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa shalat witir itu bukanlah tahajud.   Hukum Shalat Witir   Menurut mayoritas ulama, hukum shalat witir adalah sunnah muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), tidak sampai wajib. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, shalat witir itu wajib khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi kekhususan beliau.   Waktu Pelaksanaan Shalat Witir   Menurut ulama Hambali dan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’i, shalat witir dimulai setelah shalat Isya. Dan waktunya berakhir adalah ketika terbit fajar kedua. Dalilnya adalah dari Abu Bashrah Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِىَ الْوِتْرُ فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian shalat yaitu shalat witir. Kerjakanlah shalat witir antara shalat Isya dan shalat Shubuh.” (HR. Ahmad, 6:7. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya tentang bagaimanakah cara shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ » “Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah witir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir berakhir, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat witirlah kalian sebelum fajar.'” (HR. Ahmad, 2:149. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa seandainya ada yang menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya’ dengan jamak taqdim (berarti kedua shalat tersebut dikerjakan pada waktu Maghrib, pen.), maka waktu witir dimulai setelah shalat Isya.   Shalat Witir Bisa pada Awal Malam, Bisa pada Akhir Malam   ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ. “Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya, dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim, no. 745) Disunnahkan–berdasarkan kesepakatan para ulama–shalat witir itu dijadikan akhir dari shalat malam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari, no. 998 dan Muslim, no. 751) Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ “Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755) Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ». “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Abu Bakr menjawab, ‘Saya melakukan witir di permulaan malam.’ Dan beliau bertanya kepada Umar, ‘Kapankah kamu melaksanakan witir?’ Umar menjawab, ‘Saya melakukan witir pada akhir malam.’ Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, ‘Orang ini melakukan dengan penuh kehati-hatian.’ Dan kepada Umar beliau mengatakan, ‘Sedangkan orang ini begitu kuat.’” (HR. Abu Daud, no. 1434 dan Ahmad, 3:309. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pembahasan shalat witir ini masih bersambung insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Diselesaikan di rumah tercinta #darushsholihin, 11 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsriyadhus sholihin shalat malam shalat sunnah shalat tahajud shalat witir witir

Agar Cintamu semakin Membara

Agar Cintamu semakin Membara Bagaimana membangun perasaan agar semakin mencintai Allah? terlebih dengan adanya kenikmatan dunia yang demikian banyak… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada sebuah pepatah yang mengajarkan kepada kita kata kunci dari cinta.. ‘Tak kenal maka tak sayang’. Artinya, kecintaan dan kebencian seseorang, sebanding dengan pengetahuan seseorang pada objek tertentu. Semua yang ada di sekitar kita, pasti memiliki potensi baik dan buruk. Ada yang dominan baiknya, ada yang dominan buruknya. Ada yang isinya hanya kebaikan, dan ada yang isinya hanya keburukan. Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia pilihan yang isinya hanya kebaikan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang beliau, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kecintaan mereka kepada beliau. Ketika ada orang yang membenci Nabi ﷺ, bukti dia tidak kenal siapa Nabi ﷺ. Iblis adalah makhluk yang isinya hanya keburukan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang Iblis, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kebencian mereka kepadanya. Karena itu, ketika ada orang yang mengagungkan Iblis, bukti bahwa dia tidak mengenal Iblis. Sebagaimana ini berlaku antara makhluk dengan makhluk, ini juga berlaku antara makhluk dengan Allah. Allah Dzat yang Maha-Baik, Maha Sempurna semua nama dan sifat-Nya. Maha Suci dari semua kekurangan. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin besar pula kecintaan mereka kepada-Nya. Karena itulah, ilmu tentang Allah merupakan ilmu yang paling tinggi derajatnya. Setidaknya ada 2 alasan: [1] Ilmu tentang Allah membuahkan kecintaan kepada Dzat Yang Menciptakan makhluk.. [2] Ilmu tentang Allah berarti membahas tentang Allah. dan nilai kemuliaan ilmu, berbanding dengan objek yang dibahas. Ibnul Qayyim mengatakan, شرف العلم تابع لشرف معلومه … ولا ريب ان اجل معلوم وأعظمه واكبره فهو الله الذي لا إله إلا هو رب العالمين وقيوم السموات والارضين الملك الحق المبين الموصوف بالكمال كله المنزه عن كل عيب ونقص وعن كل تمثيل وتشبيه في كماله ولا ريب ان العلم به وباسمائه وصفاته وافعاله اجل العلوم وافضلها… Kemuliaan ilmu mengikuti kemuliaan yang dipelajari… kita sangat yakin, bahwa objek ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah tentang Allah.. Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Rab semesta alam, Yang mengatur langit dan bumi, Sang Raja, Yang Maha Benar, Yang sempurna dalam menjelaskan (al-Mubin), Yang sempurna semua sifat-Nya, Maha Suci dari semua aib dan kekurangan, Maha Suci dari semua bentuk penyerupaan terhadap makhluk. Kita sangat yakin, ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan semua perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan mulia. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/86). Ketika seseorang mengenal kebaikan Allah baginya dan bagi semua makhluk-Nya, maka akan timbul rasa cinta dan ketergantungan hati kepada-Nya. Karena makhluk ini lemah, dan mereka butuh kasih sayang dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ibnul Qayyim menjelaskan, والمحبة والشوق تابع لمعرفته والعلم به فكلما كان العلم به اتم كانت محبته أكمل… فمن كان يؤمن بالله واسمائه وصفاته ودينه أعرف كان له أحب وكانت لذته بالوصول اليه مجاورته والنظر الي وجهه وسماع كلامه أتم… Rasa cinta dan rindu kepada Allah itu mengikuti pengetahuan seseorang dan kadar ilmunya tentang Allah. Ketika pengetahuan seseorang tentang Allah semakin sempurna, maka kecintaannya kepada Allah akan semakin sempurna… karena itu, siapa yang beriman kepada Allah, nama-nama-Nya, semua sifat-Nya, ajaran agama-Nya, maka dia akan semakin mencintai Allah. dan akan semakin sempurna kemampuan dia untuk bisa menikmati lezatnya berhubungan dengan Allah, melihat wajah-Nya (ketika di surga), serta mendengarkan kalamnya. (al-Fawaid, hlm. 53) Malik bin Dinar – seorang ulama tabi’in – mengatakan, خرج أهل الدنيا من الدنيا ولم يذوقوا أطيب شيء فيها، قيل: ما هو؟ قال: معرفة الله تعالى Ketika penduduk dunia meninggalkan dunia, mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di sana. Ada yang bertanya, “Apa itu?” Jawab beliau, “Makrifatullah (mengenal Allah) Ta’ala.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 2/358). Dan upaya mengenal Allah bisa kita lakukan dengan mempelajari ilmu tauhid, baik tauhid rububiyah, uluhiyah, maupun asma’ wa shifat. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Laa Ilaaha Illallah Arab, Apa Itu Fulan, Cara Doa, Syarat Nazar, Yatsrib Artinya, Hukum Mewarnai Kuku Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 409 QRIS donasi Yufid

Agar Cintamu semakin Membara

Agar Cintamu semakin Membara Bagaimana membangun perasaan agar semakin mencintai Allah? terlebih dengan adanya kenikmatan dunia yang demikian banyak… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada sebuah pepatah yang mengajarkan kepada kita kata kunci dari cinta.. ‘Tak kenal maka tak sayang’. Artinya, kecintaan dan kebencian seseorang, sebanding dengan pengetahuan seseorang pada objek tertentu. Semua yang ada di sekitar kita, pasti memiliki potensi baik dan buruk. Ada yang dominan baiknya, ada yang dominan buruknya. Ada yang isinya hanya kebaikan, dan ada yang isinya hanya keburukan. Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia pilihan yang isinya hanya kebaikan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang beliau, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kecintaan mereka kepada beliau. Ketika ada orang yang membenci Nabi ﷺ, bukti dia tidak kenal siapa Nabi ﷺ. Iblis adalah makhluk yang isinya hanya keburukan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang Iblis, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kebencian mereka kepadanya. Karena itu, ketika ada orang yang mengagungkan Iblis, bukti bahwa dia tidak mengenal Iblis. Sebagaimana ini berlaku antara makhluk dengan makhluk, ini juga berlaku antara makhluk dengan Allah. Allah Dzat yang Maha-Baik, Maha Sempurna semua nama dan sifat-Nya. Maha Suci dari semua kekurangan. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin besar pula kecintaan mereka kepada-Nya. Karena itulah, ilmu tentang Allah merupakan ilmu yang paling tinggi derajatnya. Setidaknya ada 2 alasan: [1] Ilmu tentang Allah membuahkan kecintaan kepada Dzat Yang Menciptakan makhluk.. [2] Ilmu tentang Allah berarti membahas tentang Allah. dan nilai kemuliaan ilmu, berbanding dengan objek yang dibahas. Ibnul Qayyim mengatakan, شرف العلم تابع لشرف معلومه … ولا ريب ان اجل معلوم وأعظمه واكبره فهو الله الذي لا إله إلا هو رب العالمين وقيوم السموات والارضين الملك الحق المبين الموصوف بالكمال كله المنزه عن كل عيب ونقص وعن كل تمثيل وتشبيه في كماله ولا ريب ان العلم به وباسمائه وصفاته وافعاله اجل العلوم وافضلها… Kemuliaan ilmu mengikuti kemuliaan yang dipelajari… kita sangat yakin, bahwa objek ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah tentang Allah.. Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Rab semesta alam, Yang mengatur langit dan bumi, Sang Raja, Yang Maha Benar, Yang sempurna dalam menjelaskan (al-Mubin), Yang sempurna semua sifat-Nya, Maha Suci dari semua aib dan kekurangan, Maha Suci dari semua bentuk penyerupaan terhadap makhluk. Kita sangat yakin, ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan semua perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan mulia. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/86). Ketika seseorang mengenal kebaikan Allah baginya dan bagi semua makhluk-Nya, maka akan timbul rasa cinta dan ketergantungan hati kepada-Nya. Karena makhluk ini lemah, dan mereka butuh kasih sayang dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ibnul Qayyim menjelaskan, والمحبة والشوق تابع لمعرفته والعلم به فكلما كان العلم به اتم كانت محبته أكمل… فمن كان يؤمن بالله واسمائه وصفاته ودينه أعرف كان له أحب وكانت لذته بالوصول اليه مجاورته والنظر الي وجهه وسماع كلامه أتم… Rasa cinta dan rindu kepada Allah itu mengikuti pengetahuan seseorang dan kadar ilmunya tentang Allah. Ketika pengetahuan seseorang tentang Allah semakin sempurna, maka kecintaannya kepada Allah akan semakin sempurna… karena itu, siapa yang beriman kepada Allah, nama-nama-Nya, semua sifat-Nya, ajaran agama-Nya, maka dia akan semakin mencintai Allah. dan akan semakin sempurna kemampuan dia untuk bisa menikmati lezatnya berhubungan dengan Allah, melihat wajah-Nya (ketika di surga), serta mendengarkan kalamnya. (al-Fawaid, hlm. 53) Malik bin Dinar – seorang ulama tabi’in – mengatakan, خرج أهل الدنيا من الدنيا ولم يذوقوا أطيب شيء فيها، قيل: ما هو؟ قال: معرفة الله تعالى Ketika penduduk dunia meninggalkan dunia, mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di sana. Ada yang bertanya, “Apa itu?” Jawab beliau, “Makrifatullah (mengenal Allah) Ta’ala.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 2/358). Dan upaya mengenal Allah bisa kita lakukan dengan mempelajari ilmu tauhid, baik tauhid rububiyah, uluhiyah, maupun asma’ wa shifat. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Laa Ilaaha Illallah Arab, Apa Itu Fulan, Cara Doa, Syarat Nazar, Yatsrib Artinya, Hukum Mewarnai Kuku Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 409 QRIS donasi Yufid
Agar Cintamu semakin Membara Bagaimana membangun perasaan agar semakin mencintai Allah? terlebih dengan adanya kenikmatan dunia yang demikian banyak… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada sebuah pepatah yang mengajarkan kepada kita kata kunci dari cinta.. ‘Tak kenal maka tak sayang’. Artinya, kecintaan dan kebencian seseorang, sebanding dengan pengetahuan seseorang pada objek tertentu. Semua yang ada di sekitar kita, pasti memiliki potensi baik dan buruk. Ada yang dominan baiknya, ada yang dominan buruknya. Ada yang isinya hanya kebaikan, dan ada yang isinya hanya keburukan. Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia pilihan yang isinya hanya kebaikan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang beliau, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kecintaan mereka kepada beliau. Ketika ada orang yang membenci Nabi ﷺ, bukti dia tidak kenal siapa Nabi ﷺ. Iblis adalah makhluk yang isinya hanya keburukan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang Iblis, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kebencian mereka kepadanya. Karena itu, ketika ada orang yang mengagungkan Iblis, bukti bahwa dia tidak mengenal Iblis. Sebagaimana ini berlaku antara makhluk dengan makhluk, ini juga berlaku antara makhluk dengan Allah. Allah Dzat yang Maha-Baik, Maha Sempurna semua nama dan sifat-Nya. Maha Suci dari semua kekurangan. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin besar pula kecintaan mereka kepada-Nya. Karena itulah, ilmu tentang Allah merupakan ilmu yang paling tinggi derajatnya. Setidaknya ada 2 alasan: [1] Ilmu tentang Allah membuahkan kecintaan kepada Dzat Yang Menciptakan makhluk.. [2] Ilmu tentang Allah berarti membahas tentang Allah. dan nilai kemuliaan ilmu, berbanding dengan objek yang dibahas. Ibnul Qayyim mengatakan, شرف العلم تابع لشرف معلومه … ولا ريب ان اجل معلوم وأعظمه واكبره فهو الله الذي لا إله إلا هو رب العالمين وقيوم السموات والارضين الملك الحق المبين الموصوف بالكمال كله المنزه عن كل عيب ونقص وعن كل تمثيل وتشبيه في كماله ولا ريب ان العلم به وباسمائه وصفاته وافعاله اجل العلوم وافضلها… Kemuliaan ilmu mengikuti kemuliaan yang dipelajari… kita sangat yakin, bahwa objek ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah tentang Allah.. Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Rab semesta alam, Yang mengatur langit dan bumi, Sang Raja, Yang Maha Benar, Yang sempurna dalam menjelaskan (al-Mubin), Yang sempurna semua sifat-Nya, Maha Suci dari semua aib dan kekurangan, Maha Suci dari semua bentuk penyerupaan terhadap makhluk. Kita sangat yakin, ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan semua perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan mulia. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/86). Ketika seseorang mengenal kebaikan Allah baginya dan bagi semua makhluk-Nya, maka akan timbul rasa cinta dan ketergantungan hati kepada-Nya. Karena makhluk ini lemah, dan mereka butuh kasih sayang dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ibnul Qayyim menjelaskan, والمحبة والشوق تابع لمعرفته والعلم به فكلما كان العلم به اتم كانت محبته أكمل… فمن كان يؤمن بالله واسمائه وصفاته ودينه أعرف كان له أحب وكانت لذته بالوصول اليه مجاورته والنظر الي وجهه وسماع كلامه أتم… Rasa cinta dan rindu kepada Allah itu mengikuti pengetahuan seseorang dan kadar ilmunya tentang Allah. Ketika pengetahuan seseorang tentang Allah semakin sempurna, maka kecintaannya kepada Allah akan semakin sempurna… karena itu, siapa yang beriman kepada Allah, nama-nama-Nya, semua sifat-Nya, ajaran agama-Nya, maka dia akan semakin mencintai Allah. dan akan semakin sempurna kemampuan dia untuk bisa menikmati lezatnya berhubungan dengan Allah, melihat wajah-Nya (ketika di surga), serta mendengarkan kalamnya. (al-Fawaid, hlm. 53) Malik bin Dinar – seorang ulama tabi’in – mengatakan, خرج أهل الدنيا من الدنيا ولم يذوقوا أطيب شيء فيها، قيل: ما هو؟ قال: معرفة الله تعالى Ketika penduduk dunia meninggalkan dunia, mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di sana. Ada yang bertanya, “Apa itu?” Jawab beliau, “Makrifatullah (mengenal Allah) Ta’ala.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 2/358). Dan upaya mengenal Allah bisa kita lakukan dengan mempelajari ilmu tauhid, baik tauhid rububiyah, uluhiyah, maupun asma’ wa shifat. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Laa Ilaaha Illallah Arab, Apa Itu Fulan, Cara Doa, Syarat Nazar, Yatsrib Artinya, Hukum Mewarnai Kuku Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 409 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/550939497&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Agar Cintamu semakin Membara Bagaimana membangun perasaan agar semakin mencintai Allah? terlebih dengan adanya kenikmatan dunia yang demikian banyak… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada sebuah pepatah yang mengajarkan kepada kita kata kunci dari cinta.. ‘Tak kenal maka tak sayang’. Artinya, kecintaan dan kebencian seseorang, sebanding dengan pengetahuan seseorang pada objek tertentu. Semua yang ada di sekitar kita, pasti memiliki potensi baik dan buruk. Ada yang dominan baiknya, ada yang dominan buruknya. Ada yang isinya hanya kebaikan, dan ada yang isinya hanya keburukan. Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia pilihan yang isinya hanya kebaikan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang beliau, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kecintaan mereka kepada beliau. Ketika ada orang yang membenci Nabi ﷺ, bukti dia tidak kenal siapa Nabi ﷺ. Iblis adalah makhluk yang isinya hanya keburukan. Semakin lengkap pengetahuan seorang mukmin tentang Iblis, akan berpengaruh dengan semakin besarnya kebencian mereka kepadanya. Karena itu, ketika ada orang yang mengagungkan Iblis, bukti bahwa dia tidak mengenal Iblis. Sebagaimana ini berlaku antara makhluk dengan makhluk, ini juga berlaku antara makhluk dengan Allah. Allah Dzat yang Maha-Baik, Maha Sempurna semua nama dan sifat-Nya. Maha Suci dari semua kekurangan. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin besar pula kecintaan mereka kepada-Nya. Karena itulah, ilmu tentang Allah merupakan ilmu yang paling tinggi derajatnya. Setidaknya ada 2 alasan: [1] Ilmu tentang Allah membuahkan kecintaan kepada Dzat Yang Menciptakan makhluk.. [2] Ilmu tentang Allah berarti membahas tentang Allah. dan nilai kemuliaan ilmu, berbanding dengan objek yang dibahas. Ibnul Qayyim mengatakan, شرف العلم تابع لشرف معلومه … ولا ريب ان اجل معلوم وأعظمه واكبره فهو الله الذي لا إله إلا هو رب العالمين وقيوم السموات والارضين الملك الحق المبين الموصوف بالكمال كله المنزه عن كل عيب ونقص وعن كل تمثيل وتشبيه في كماله ولا ريب ان العلم به وباسمائه وصفاته وافعاله اجل العلوم وافضلها… Kemuliaan ilmu mengikuti kemuliaan yang dipelajari… kita sangat yakin, bahwa objek ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah tentang Allah.. Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Rab semesta alam, Yang mengatur langit dan bumi, Sang Raja, Yang Maha Benar, Yang sempurna dalam menjelaskan (al-Mubin), Yang sempurna semua sifat-Nya, Maha Suci dari semua aib dan kekurangan, Maha Suci dari semua bentuk penyerupaan terhadap makhluk. Kita sangat yakin, ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan semua perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan mulia. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/86). Ketika seseorang mengenal kebaikan Allah baginya dan bagi semua makhluk-Nya, maka akan timbul rasa cinta dan ketergantungan hati kepada-Nya. Karena makhluk ini lemah, dan mereka butuh kasih sayang dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ibnul Qayyim menjelaskan, والمحبة والشوق تابع لمعرفته والعلم به فكلما كان العلم به اتم كانت محبته أكمل… فمن كان يؤمن بالله واسمائه وصفاته ودينه أعرف كان له أحب وكانت لذته بالوصول اليه مجاورته والنظر الي وجهه وسماع كلامه أتم… Rasa cinta dan rindu kepada Allah itu mengikuti pengetahuan seseorang dan kadar ilmunya tentang Allah. Ketika pengetahuan seseorang tentang Allah semakin sempurna, maka kecintaannya kepada Allah akan semakin sempurna… karena itu, siapa yang beriman kepada Allah, nama-nama-Nya, semua sifat-Nya, ajaran agama-Nya, maka dia akan semakin mencintai Allah. dan akan semakin sempurna kemampuan dia untuk bisa menikmati lezatnya berhubungan dengan Allah, melihat wajah-Nya (ketika di surga), serta mendengarkan kalamnya. (al-Fawaid, hlm. 53) Malik bin Dinar – seorang ulama tabi’in – mengatakan, خرج أهل الدنيا من الدنيا ولم يذوقوا أطيب شيء فيها، قيل: ما هو؟ قال: معرفة الله تعالى Ketika penduduk dunia meninggalkan dunia, mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di sana. Ada yang bertanya, “Apa itu?” Jawab beliau, “Makrifatullah (mengenal Allah) Ta’ala.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 2/358). Dan upaya mengenal Allah bisa kita lakukan dengan mempelajari ilmu tauhid, baik tauhid rububiyah, uluhiyah, maupun asma’ wa shifat. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Laa Ilaaha Illallah Arab, Apa Itu Fulan, Cara Doa, Syarat Nazar, Yatsrib Artinya, Hukum Mewarnai Kuku Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 409 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #05

Download   Masih memahami takdir lagi dari bahasan Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat. Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.   Untuk Taat dan Menjauhi Maksiat, Semua dengan Pertolongan Allah   Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا “Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.” Maksudnya adalah manusia tidak bisa melakukan ketaatan dan meraih manfaat melainkan dengan pertolongan Allah. Begitu pula tidak ada yang bisa selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖوَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚوَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107) وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’du: 11) Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah lewat, وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ “Ketahuilah sesungguhnya seandainya ada umat bersatu untuk memberikan satu manfaat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Seandainya ada umat bersatu untuk memberikan mudarat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan mudarat kepadamu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Pena sudah diangkat dan lembaran catatan sudah kering.”(HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293, sanad hadits ini hasan). Bahasan inilah yang dimaksud dalam kalimat hawqalah “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuberkata tentang maksud kalimat tersebut yaitu, لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ “Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:27).   Allah Menciptakan Kita, Namun Bukan Berarti Butuh pada Kita   Tentang takdir, pada kalimat terakhir, Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ “Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.” Ini yang seperti Allah maksudkan dalam ayat, اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ “Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ra’du: 16) Allah menciptakan makhluk bukanlah butuh pada mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖوَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15) وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚإِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ “Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’am: 133) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Begitu juga dalam hadits menunjukkan bahwa Allah itu tidak butuh pada keimanan makhluk, dan juga kekuasannya tidak berkurang karena maksiat yang diperbuat manusia. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.” (HR. Muslim, no. 6737)   Pahami Dua Macam Iradah, Jadilah Benar dalam Memahami Takdir   Iradah (kehendak) ada dua macam yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Iradah kauniyyah sama dengan masyiah (kehendak). Iradah syar’iyyah sama dengan mahabbah (kecintaan Allah). Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Adapun iradah syar’iyyah itu belum tentu terjadi, namun jika terjadi pasti Allah cintai. Dapat kita katakan bahwa iradah syar’iyyah itu diharap oleh Allah, Allah ridha dan mencintai ketika terjadi. Dalil adanya iradah kauniyyah adalah firman Allah, فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖوَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.”(QS. Ar-An’am: 125) Dalil adanya iradah syar’iyyah adalah firman Allah, وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa’: 27) Perbedaan iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah yaitu: Iradah kauniyyah bisa jadi Allah cintai dan tidak Allah cintai, sedangkan iradah syar’iyyah pasti Allah cintai. Iradah kauniyyah itu ada karena maksud lain. Seperti iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia. Ketika tersesat, maka ada yang dapat petunjuk sehingga bertaubat dan banyak beristighfar kepada Allah. Sedangkan iradah syar’iyyah itu ada karena maksud dzatnya. Allah menginginkannya ada karena Allah mencintainya dan meridhainya. Iradah kauniyyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyyah belum tentu terjadi. Iradah kauniyyah berkaitan dengan sifat rububiyah dan penciptaan, sedangkan iradah syar’iyyah berkaitan dengan sifat uluhiyah dan syariat Allah. Contoh penerapan: Seseorang yang akhirnya taat atau masuk Islam terkumpul padanya iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah, seperti Umar bin Al-Khaththab itu masuk Islam. Terkumpul pada Umar bin Al-Khaththab dua iradah sekaligus. Ssesuai kenyataan Umar masuk Islam dan Allah ridha dengan keislamannya. Seseorang yang akhirnya terus kafir terkumpul padanya iradah kauniyyah saja, seperti kafirnya Fir’aun. Pada kenyataan Fir’aun itu kafir, maka ada padanya iradah kauniyyah. Namun kekafirannya tidak dicintai oleh Allah. Berarti ada pada Fir’aun ada iradah kauniyyah dan tidak ada iradah syar’iyyah. Orang kafir yang diharapkan Islamnya seperti diharapkan Islamnya Abu Lahab. Andai Abu Lahab itu masuk Islam, tentu akan disukai oleh Allah. Namun kenyataannya tidak terjadi. Berarti iradah syar’iyyah ada pada Abu Lahab namun sekadar harapan, dan itu tidak terjadi sehingga tidak ada iradah kauniyyah.   Semoga Allah memudahkan kita memahami takdir dengan benar. Insya Allah berlanjut dengan bahasan takdir yang masih jadi masalah di tengah kita. Ya Allah, berilah pertolongan dan kemudahan.   Referensi: Al–Iman bi Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Jogja, Selasa sore, 10 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrukun iman syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir takdir takdir Allah

Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #05

Download   Masih memahami takdir lagi dari bahasan Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat. Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.   Untuk Taat dan Menjauhi Maksiat, Semua dengan Pertolongan Allah   Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا “Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.” Maksudnya adalah manusia tidak bisa melakukan ketaatan dan meraih manfaat melainkan dengan pertolongan Allah. Begitu pula tidak ada yang bisa selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖوَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚوَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107) وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’du: 11) Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah lewat, وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ “Ketahuilah sesungguhnya seandainya ada umat bersatu untuk memberikan satu manfaat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Seandainya ada umat bersatu untuk memberikan mudarat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan mudarat kepadamu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Pena sudah diangkat dan lembaran catatan sudah kering.”(HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293, sanad hadits ini hasan). Bahasan inilah yang dimaksud dalam kalimat hawqalah “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuberkata tentang maksud kalimat tersebut yaitu, لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ “Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:27).   Allah Menciptakan Kita, Namun Bukan Berarti Butuh pada Kita   Tentang takdir, pada kalimat terakhir, Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ “Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.” Ini yang seperti Allah maksudkan dalam ayat, اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ “Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ra’du: 16) Allah menciptakan makhluk bukanlah butuh pada mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖوَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15) وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚإِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ “Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’am: 133) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Begitu juga dalam hadits menunjukkan bahwa Allah itu tidak butuh pada keimanan makhluk, dan juga kekuasannya tidak berkurang karena maksiat yang diperbuat manusia. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.” (HR. Muslim, no. 6737)   Pahami Dua Macam Iradah, Jadilah Benar dalam Memahami Takdir   Iradah (kehendak) ada dua macam yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Iradah kauniyyah sama dengan masyiah (kehendak). Iradah syar’iyyah sama dengan mahabbah (kecintaan Allah). Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Adapun iradah syar’iyyah itu belum tentu terjadi, namun jika terjadi pasti Allah cintai. Dapat kita katakan bahwa iradah syar’iyyah itu diharap oleh Allah, Allah ridha dan mencintai ketika terjadi. Dalil adanya iradah kauniyyah adalah firman Allah, فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖوَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.”(QS. Ar-An’am: 125) Dalil adanya iradah syar’iyyah adalah firman Allah, وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa’: 27) Perbedaan iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah yaitu: Iradah kauniyyah bisa jadi Allah cintai dan tidak Allah cintai, sedangkan iradah syar’iyyah pasti Allah cintai. Iradah kauniyyah itu ada karena maksud lain. Seperti iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia. Ketika tersesat, maka ada yang dapat petunjuk sehingga bertaubat dan banyak beristighfar kepada Allah. Sedangkan iradah syar’iyyah itu ada karena maksud dzatnya. Allah menginginkannya ada karena Allah mencintainya dan meridhainya. Iradah kauniyyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyyah belum tentu terjadi. Iradah kauniyyah berkaitan dengan sifat rububiyah dan penciptaan, sedangkan iradah syar’iyyah berkaitan dengan sifat uluhiyah dan syariat Allah. Contoh penerapan: Seseorang yang akhirnya taat atau masuk Islam terkumpul padanya iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah, seperti Umar bin Al-Khaththab itu masuk Islam. Terkumpul pada Umar bin Al-Khaththab dua iradah sekaligus. Ssesuai kenyataan Umar masuk Islam dan Allah ridha dengan keislamannya. Seseorang yang akhirnya terus kafir terkumpul padanya iradah kauniyyah saja, seperti kafirnya Fir’aun. Pada kenyataan Fir’aun itu kafir, maka ada padanya iradah kauniyyah. Namun kekafirannya tidak dicintai oleh Allah. Berarti ada pada Fir’aun ada iradah kauniyyah dan tidak ada iradah syar’iyyah. Orang kafir yang diharapkan Islamnya seperti diharapkan Islamnya Abu Lahab. Andai Abu Lahab itu masuk Islam, tentu akan disukai oleh Allah. Namun kenyataannya tidak terjadi. Berarti iradah syar’iyyah ada pada Abu Lahab namun sekadar harapan, dan itu tidak terjadi sehingga tidak ada iradah kauniyyah.   Semoga Allah memudahkan kita memahami takdir dengan benar. Insya Allah berlanjut dengan bahasan takdir yang masih jadi masalah di tengah kita. Ya Allah, berilah pertolongan dan kemudahan.   Referensi: Al–Iman bi Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Jogja, Selasa sore, 10 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrukun iman syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir takdir takdir Allah
Download   Masih memahami takdir lagi dari bahasan Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat. Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.   Untuk Taat dan Menjauhi Maksiat, Semua dengan Pertolongan Allah   Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا “Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.” Maksudnya adalah manusia tidak bisa melakukan ketaatan dan meraih manfaat melainkan dengan pertolongan Allah. Begitu pula tidak ada yang bisa selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖوَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚوَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107) وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’du: 11) Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah lewat, وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ “Ketahuilah sesungguhnya seandainya ada umat bersatu untuk memberikan satu manfaat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Seandainya ada umat bersatu untuk memberikan mudarat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan mudarat kepadamu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Pena sudah diangkat dan lembaran catatan sudah kering.”(HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293, sanad hadits ini hasan). Bahasan inilah yang dimaksud dalam kalimat hawqalah “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuberkata tentang maksud kalimat tersebut yaitu, لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ “Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:27).   Allah Menciptakan Kita, Namun Bukan Berarti Butuh pada Kita   Tentang takdir, pada kalimat terakhir, Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ “Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.” Ini yang seperti Allah maksudkan dalam ayat, اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ “Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ra’du: 16) Allah menciptakan makhluk bukanlah butuh pada mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖوَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15) وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚإِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ “Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’am: 133) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Begitu juga dalam hadits menunjukkan bahwa Allah itu tidak butuh pada keimanan makhluk, dan juga kekuasannya tidak berkurang karena maksiat yang diperbuat manusia. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.” (HR. Muslim, no. 6737)   Pahami Dua Macam Iradah, Jadilah Benar dalam Memahami Takdir   Iradah (kehendak) ada dua macam yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Iradah kauniyyah sama dengan masyiah (kehendak). Iradah syar’iyyah sama dengan mahabbah (kecintaan Allah). Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Adapun iradah syar’iyyah itu belum tentu terjadi, namun jika terjadi pasti Allah cintai. Dapat kita katakan bahwa iradah syar’iyyah itu diharap oleh Allah, Allah ridha dan mencintai ketika terjadi. Dalil adanya iradah kauniyyah adalah firman Allah, فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖوَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.”(QS. Ar-An’am: 125) Dalil adanya iradah syar’iyyah adalah firman Allah, وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa’: 27) Perbedaan iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah yaitu: Iradah kauniyyah bisa jadi Allah cintai dan tidak Allah cintai, sedangkan iradah syar’iyyah pasti Allah cintai. Iradah kauniyyah itu ada karena maksud lain. Seperti iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia. Ketika tersesat, maka ada yang dapat petunjuk sehingga bertaubat dan banyak beristighfar kepada Allah. Sedangkan iradah syar’iyyah itu ada karena maksud dzatnya. Allah menginginkannya ada karena Allah mencintainya dan meridhainya. Iradah kauniyyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyyah belum tentu terjadi. Iradah kauniyyah berkaitan dengan sifat rububiyah dan penciptaan, sedangkan iradah syar’iyyah berkaitan dengan sifat uluhiyah dan syariat Allah. Contoh penerapan: Seseorang yang akhirnya taat atau masuk Islam terkumpul padanya iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah, seperti Umar bin Al-Khaththab itu masuk Islam. Terkumpul pada Umar bin Al-Khaththab dua iradah sekaligus. Ssesuai kenyataan Umar masuk Islam dan Allah ridha dengan keislamannya. Seseorang yang akhirnya terus kafir terkumpul padanya iradah kauniyyah saja, seperti kafirnya Fir’aun. Pada kenyataan Fir’aun itu kafir, maka ada padanya iradah kauniyyah. Namun kekafirannya tidak dicintai oleh Allah. Berarti ada pada Fir’aun ada iradah kauniyyah dan tidak ada iradah syar’iyyah. Orang kafir yang diharapkan Islamnya seperti diharapkan Islamnya Abu Lahab. Andai Abu Lahab itu masuk Islam, tentu akan disukai oleh Allah. Namun kenyataannya tidak terjadi. Berarti iradah syar’iyyah ada pada Abu Lahab namun sekadar harapan, dan itu tidak terjadi sehingga tidak ada iradah kauniyyah.   Semoga Allah memudahkan kita memahami takdir dengan benar. Insya Allah berlanjut dengan bahasan takdir yang masih jadi masalah di tengah kita. Ya Allah, berilah pertolongan dan kemudahan.   Referensi: Al–Iman bi Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Jogja, Selasa sore, 10 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrukun iman syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir takdir takdir Allah


Download   Masih memahami takdir lagi dari bahasan Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat. Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.   Untuk Taat dan Menjauhi Maksiat, Semua dengan Pertolongan Allah   Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا “Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.” Maksudnya adalah manusia tidak bisa melakukan ketaatan dan meraih manfaat melainkan dengan pertolongan Allah. Begitu pula tidak ada yang bisa selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖوَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚوَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107) وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’du: 11) Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah lewat, وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ “Ketahuilah sesungguhnya seandainya ada umat bersatu untuk memberikan satu manfaat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Seandainya ada umat bersatu untuk memberikan mudarat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan mudarat kepadamu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Pena sudah diangkat dan lembaran catatan sudah kering.”(HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293, sanad hadits ini hasan). Bahasan inilah yang dimaksud dalam kalimat hawqalah “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuberkata tentang maksud kalimat tersebut yaitu, لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ “Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:27).   Allah Menciptakan Kita, Namun Bukan Berarti Butuh pada Kita   Tentang takdir, pada kalimat terakhir, Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ “Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.” Ini yang seperti Allah maksudkan dalam ayat, اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ “Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ra’du: 16) Allah menciptakan makhluk bukanlah butuh pada mereka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖوَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15) وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚإِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ “Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’am: 133) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Begitu juga dalam hadits menunjukkan bahwa Allah itu tidak butuh pada keimanan makhluk, dan juga kekuasannya tidak berkurang karena maksiat yang diperbuat manusia. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.” (HR. Muslim, no. 6737)   Pahami Dua Macam Iradah, Jadilah Benar dalam Memahami Takdir   Iradah (kehendak) ada dua macam yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Iradah kauniyyah sama dengan masyiah (kehendak). Iradah syar’iyyah sama dengan mahabbah (kecintaan Allah). Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Adapun iradah syar’iyyah itu belum tentu terjadi, namun jika terjadi pasti Allah cintai. Dapat kita katakan bahwa iradah syar’iyyah itu diharap oleh Allah, Allah ridha dan mencintai ketika terjadi. Dalil adanya iradah kauniyyah adalah firman Allah, فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖوَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.”(QS. Ar-An’am: 125) Dalil adanya iradah syar’iyyah adalah firman Allah, وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa’: 27) Perbedaan iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah yaitu: Iradah kauniyyah bisa jadi Allah cintai dan tidak Allah cintai, sedangkan iradah syar’iyyah pasti Allah cintai. Iradah kauniyyah itu ada karena maksud lain. Seperti iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia. Ketika tersesat, maka ada yang dapat petunjuk sehingga bertaubat dan banyak beristighfar kepada Allah. Sedangkan iradah syar’iyyah itu ada karena maksud dzatnya. Allah menginginkannya ada karena Allah mencintainya dan meridhainya. Iradah kauniyyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyyah belum tentu terjadi. Iradah kauniyyah berkaitan dengan sifat rububiyah dan penciptaan, sedangkan iradah syar’iyyah berkaitan dengan sifat uluhiyah dan syariat Allah. Contoh penerapan: Seseorang yang akhirnya taat atau masuk Islam terkumpul padanya iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah, seperti Umar bin Al-Khaththab itu masuk Islam. Terkumpul pada Umar bin Al-Khaththab dua iradah sekaligus. Ssesuai kenyataan Umar masuk Islam dan Allah ridha dengan keislamannya. Seseorang yang akhirnya terus kafir terkumpul padanya iradah kauniyyah saja, seperti kafirnya Fir’aun. Pada kenyataan Fir’aun itu kafir, maka ada padanya iradah kauniyyah. Namun kekafirannya tidak dicintai oleh Allah. Berarti ada pada Fir’aun ada iradah kauniyyah dan tidak ada iradah syar’iyyah. Orang kafir yang diharapkan Islamnya seperti diharapkan Islamnya Abu Lahab. Andai Abu Lahab itu masuk Islam, tentu akan disukai oleh Allah. Namun kenyataannya tidak terjadi. Berarti iradah syar’iyyah ada pada Abu Lahab namun sekadar harapan, dan itu tidak terjadi sehingga tidak ada iradah kauniyyah.   Semoga Allah memudahkan kita memahami takdir dengan benar. Insya Allah berlanjut dengan bahasan takdir yang masih jadi masalah di tengah kita. Ya Allah, berilah pertolongan dan kemudahan.   Referensi: Al–Iman bi Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Jogja, Selasa sore, 10 Rabi’ul Akhir 1440 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrukun iman syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir takdir takdir Allah

Sirah Nabi 20 – Kema’shuman Nabi ﷺ Meskipun Belum Diangkat Menjadi Nabi

Kema’shuman Nabi ﷺ Meskipun Belum Diangkat Menjadi NabiMeskipun belum turun wahyu kepada Nabi ﷺ, Allāh telah menjadikan Nabi ﷺ ma’shum diatas fithrah dengan tidak menyukai perbuatan-perbuatan haram, misalnya tidak menyukai minum khamr, tidak berzina, tidak pernah mengusap atau menyembah berhala. Diantara hikmahnya adalah agar saat Nabi ﷺ diangkat menjadi Nabi, orang-orang Quraisy tidak bisa mencela Nabi. Seandainya Nabi dahulu pernah sujud kepada patung atau melakukan perbuatan haram maka orang-orang Quraisy akan mengatakan: “Wahai Muhammad, sekarang engkau melarang kami padahal dahulu engkau melakukannya.” Oleh karena itu, kita akan dapati orang-orang kafir Quraisy sering mencari-cari kesalahan Nabi, tetapi mereka tidak akan menemukannya, baik dari sisi nasab ataupun akhlak, karena tidak ada masa lalu Nabi yang buruk.Diantara dalil lain yaitu dari ‘Ali bin Abi Thālib, beliau mengisahkan Rasūlullāh ﷺ bersabda:مَا هَمَمْتُ بِمَا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَهُمُّونَ بِهِ إِلَّا مَرَّتَيْنِ مِنَ الدَّهْرِ كِلَاهُمَا يَعْصِمُنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُمَا. قُلْتُ لَيْلَةً لِفَتًى كَانَ مَعِي مِنْ قُرَيْشٍ فِي أَعْلَى مَكَّةَ فِي أغنامٍ لِأَهْلِهَا تَرْعَى: أَبْصِرْ لِي غَنَمِي حَتَّى أَسْمُرَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمَكَّةَ كَمَا تَسْمُرُ الْفِتْيَانُ قَالَ: نَعَمْ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا جِئْتُ أَدْنَى دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ سَمِعْتُ غَنَاءً وَصَوْتَ دُفُوفٍ وَزَمْرٍ فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: فُلَانٌ تَزَوَّجَ فُلَانَةَ لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَهَوْتُ بِذَلِكِ الْغِنَاءِ وَالصَّوْتِ حَتَّى غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ فَرَجَعْتُ فَسَمِعْتُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقِيلَ لِي مِثْلَ مَا قِيلَ لِي فَلَهَوْتُ بِمَا سَمِعْتُ وَغَلَبَتْنِي عَيْنِي فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى صَاحِبِي فَقَالَ: مَا فَعَلْتَ؟ فَقُلْتُ: مَا فَعَلْتُ شَيْئًا ” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَوَاللَّهِ مَا هَمَمْتُ بَعْدَهَا أَبَدًا بِسُوءٍ مِمَّا يَعْمَلُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ حَتَّى أَكْرَمَنِي اللَّهُ تَعَالَى بِنُبُوَّتِهِ“Tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk mengikuti acara-acara kaum jahiliyah kecuali hanya dua kali, dan itupun Allah menjagaku pada dua kali tersebut.  Suatu malam aku bersama seorang pemuda Quraisy yang sedang berada di pinggiran kota Mekah menggembalakan kambing keluarganya. Aku berkata kepadanya, “Tolong jaga kambing saya, saya ingin begadang malam ini di Mekah sebagaimana para pemuda begadang.” Ia berkata, “Baik”. Aku pun pergi,  dan tatkala aku tiba di rumah pertama dari rumah-rumah penduduk Mekah, aku mendengar nyanyian dan suara rebana dan seruling, lalu aku bertanya, “Acara apa ini?”. Mereka berkata kepadaku, “Si fulan telah menikah dengan si fulanah putrinya si Fulan dari Quraisy”. Akupun terlena dengan nyanyian tersebut dan suara (alat musik) tersebut hingga akhirnya aku tertidur. (dalam riwayat yang lain : Maka Allah pun menutup kedua telingaku). Dan tidak ada yang membangunkanku kecuali terik matahari. Aku kembali (pada malam yang lain-pen) lalu aku mendengar seperti yang aku dengar sebelumnya, dan dikatakan kepadaku seperti pada malam yang lalu, akupun terlena dengan apa yang aku dengar, kemudian aku tertidur. Tidak ada yang membangunkanku kecuali terik sinar matahari. Lalu aku kembali kepada sahabatku (penggembala kambing). Sahabatku bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” Aku berkata, “Aku tidak melakukan apapun”. Maka demi Allah aku tidak pernah lagi berkeinginan untuk melakukan keburukan apapun yang dilakukan oleh kaum jahiliyah hingga Allah memberi kemuliaan kenabian kepadaku.” (HR Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah 1/413, Al-Hakim no 7619, dan Ibnu Ishaq dalam sirohnya. Hadits ini diperselisihkan tentang keshahihannya, Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi hadits ini dinyatakan lemah oleh Al-Albani)Beliau dibuat tertidur (tidak sadar) oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak jadi mengikuti acara-acara kemaksiatan tersebut. Ini merupakan bentuk penjagaan Allah kepada beliau bahkan sebelum menjadi Nabi.Di dalam hadits yang shahīh, diriwayatkan bahwa Rasūlullāh ﷺ pernah berhaji di zaman Jahiliyyah. Di bab sebelummnya telah diterangkan bahwa orang-orang musyrikin ketika berhaji penuh dengan kesyirikan. Mereka bertalbiyah namun talbiyah mereka berisi kesyirikan. Dalam shahīh Muslim dikatakan bahwa bunyi talbiyah mereka adalah:لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ“Kami penuhi panggilanMu, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat yang Engkau kuasai.” (HR Muslim no 1185)Selain melakukan kesyirikan ketika mereka thawaf, orang-orang Quraisy juga melakukan bid’ah ketika haji, yaitu mereka membedakan diri dengan kabilah lain. Kabilah lain ketika berhaji berwuquf di Padang ‘Arafah (tanggal 9). Adapun orang-orang Quraisy wuqufnya di Muzdalifah. Alasan mereka bahwasanya Muzdalifah adalah tanah haram sedangkan ‘Arafah termasuk tanah halal. Orang-orang Quraisy dinamakan dengan al-Hums (الْحُمْسَ) jamak dari al-Ahmas (الْأَحْمَسُ) yang artinya الشَّدِيدُ عَلَى دِينِهِ “Orang yang semangat/fanatik المُتَحَمِّسُ terhadap agamanya”. Syaitanpun menggoda mereka dengan berkata,إِنَّكُمْ إِنْ عَظَّمْتُمْ غَيْرَ حَرَمِكُمُ اسْتَخَفَّ النَّاسُ بِحَرَمِكُمْ“Jika kalian mengagungkan selain tanah haram (maksudnya padang ‘Arafah yang merupakan tanah halal) maka orang-orang akan meremehkan tanah haram kalian.”Akhirnya mereka tidak keluar dari tanah haram menuju ‘Arafah untuk wukuf, dan mereka berkata :نَحْنُ أَهْلُ اللَّهِ لَا نَخْرُجُ مِنَ الْحَرَمِ“Kami adalah orang-orang khususnya Allah, dan kami tidak keluar dari tanah haram.” (Lihat Fathul Baari 3/516)Adapun Nabi ﷺ meskipun ia dari suku Quraisy namun ketika haji -yaitu sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul- fithrahnya membimbing beliau untuk wuquf di Padang ‘Arafah. Padahal tidak ada seorang pun yang membimbing beliau. Namun ini terjadi karena bimbingan Allah. Jubair bin Muth’im berkata :أَضْلَلْتُ بَعِيرًا لِي، فَذَهَبْتُ أَطْلُبُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا بِعَرَفَةَ، فَقُلْتُ: «هَذَا وَاللَّهِ مِنَ الحُمْسِ فَمَا شَأْنُهُ هَا هُنَا»“Aku kehilangan ontaku, maka akupun mencari ontaku tatkala hari ‘Arafah. Lantas aku melihat Nabi ﷺ wuquf di Padang ‘Arafah (bersama kabilah-kabilah selain Quraisy-pen). Aku berkata: “Demi Allah ia (Muhammad) termasuk Quraiys, lantas kenapa wuqufnya di ‘Arafah?” (HR Al-Bukhari no 1664)Hadits ini juga merupakan dalil bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi ﷺ. Bahkan dalam ibadah, Nabi ﷺ tidak terjerumus ke dalam kesyirikan, tidak pula terjebak dalam kebid’ahan. Termasuk saat haji, Nabi ﷺ berhaji di musim haji juga tidak melanggar hajinya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, dimana wuqufnya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām adalah di Padang ‘Arafah.Demikianlah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, meskipun Beliau belum menjadi Nabi, beliau dijaga dari sisi aqidah, akhlak, dan perangai serta perilaku.Nabi Mūsā ‘alayhissalām ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk berdakwah kepada Fir’aun, beliau merasa takut, karena Nabi Mūsā pernah melakukan kesalahan yaitu pernah membunuh salah seorang dari Banī Isrāil sehingga khawatir kaumnya membunuh atau mendustakannya. Hal ini diungkap dan diungkit kesalahannya oleh Fir’aun saat Nabi Mūsā berdakwah.Fir’aun berkata :أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ (18) وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” (QS Asy-Syu’ara : 18-19)Adapun Nabi Muhammad ﷺ tidak ada kesalahannya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak memiliki alasan untuk mencela Nabi ﷺ.Nabi ﷺ saat pertama kali berdakwah terang-terangan, beliau berseru di Jabal Shafa:أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Wahai orang-orang Quraisy, jikalau saya kabarkan kepada kalian ada pasukan berkuda di lembah yang ingin menyerang kalian tiba-tiba, apakah kalian akan membenarkannya?”Mereka menjawab :نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Iya, kami tidak pernah mendapatimu berdusta.”Nabi ﷺ lalu melanjutkan :فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya adzab yang pedih.” (HR Al-Bukhari no 4770 dan Muslim no 208)Maka merekapun langsung mendustakan Nabi ﷺ saat itu juga. Mulailah mereka mengatakan Nabi ﷺ adalah seorang pendusta, penyihir, orang gila karena tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Adapun dari sisi akhlak, mereka tidak bisa mengingkari luar biasanya akhlaq Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sejak zaman Jahiliyyah.Turunnya Wahyu Kepada Muhammad ﷺSebelum Nabi ﷺ diangkat menjadi seorang Nabi, telah tersebar di seantero jazirah Arab bahkan sampai ke negeri Syam bahwa akan muncul seorang Nabi yang diutus oleh Allāh pada tahun ini, yaitu tahun dimana Nabi diangkat menjadi seorang Rasul.Orang-orang ahli kitab telah mengetahui hal ini dari kitab suci mereka. Orang-orang Yahudi mengetahui dari Taurat mereka dan orang-orang Nashrani juga mengetahui dari Injil mereka. Di dalam Al-Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman bahwa Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām mengabarkan kepada kaumnya:وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ“Dan (ingatlah) ketika ‘Īsā Putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allāh kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS As-Shaff : 6)Demikian juga orang-orang Yahudi sering mereka menyangka bahwa Nabi yang terakhir diutus adalah dari kalangan mereka (Bani Isrāīl), oleh karenanya ketika mereka bertikai dengan penduduk Madinah (kaum Anshār), mereka sering sesumbar bahwa sebentar lagi akan diutus seorang Nabi dan kami bersama Nabi tersebut akan memerangi kaum Anshār. Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٨٩)“Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al-Qurān) dari Allāh yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allāh bagi orang-orang yang ingkar.” (QS Al-Baqarah : 89)Para ulama berkata, mengapa orang-orang Yahudi banyak tinggal di kota Madinah? Karena mereka tahu di dalam kitab Taurat mereka disebutkan bahwa akan ada Nabi yang akan berhijrah ke tempat yang banyak kurmanya. Dan mereka tahu tempat tersebut adalah kota Madinah, sehingga mereka sengaja tinggal di kota Madinah dan menanti kedatangan Rasūlullāh ﷺ. Mereka menyangka Nabi tersebut dari kalangan Bani Isrāīl. Tetapi ternyata diluar dugaan. Mereka sudah mengetahui seluruh sifat-sifat kenabian, sebagaimana dalam firman Allah :الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ“Orang-orang yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS Al-Baqarah : 146)Seseorang akan mengenal baik anak-anaknya. Bagaimana sifatnya, apa kesukaannya, bagaimana ciri fisik tubuhnya. Allāh menggambarkan orang Yahudi mengenal Nabi ﷺ sebagaimana mengenal anak mereka. Artinya, mereka benar-benar mengetahui sifat Nabi ﷺ. Namun ada satu sifat Nabi yang tidak Allāh sebutkan di dalam kitab suci mereka, yaitu bahwa Nabi tersebut dari bangsa Arab.Mereka menyangka, Nabi tersebut sebagaimana nabi-nabi lainnya adalah dari bangsa Isrāīl. Seperti Nabi Ya’qūb, Nabi Yūsuf, Nabi Mūsā, Nabi Dāwud, Nabi Sulaiman, Nabi ‘Īsā, dan seterusnya. Karena itu, setelah mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ berasal dari bangsa Arab, dengan serta merta mereka tidak mau beriman, karena mereka menyangka bahwa agama mereka adalah agama spesial untuk bangsa mereka saja, dan mereka mengklaim hanya mereka yang masuk surga.Disebutkan dalam hadits dengan sanad yang hasan dari riwayat siroh Ibnu Hisyām. Orang-orang Anshār masuk Islam karena banyak sebab, diantaranya karena mereka sering mendengar orang-orang Yahudi berkata “Sebentar lagi akan datang seorang Nabi dan kami akan bunuh kalian.” Begitu datang Nabi tersebut, maka orang-orang Anshār sudah beriman dahulu sebelum orang-orang Yahudi.Oleh karena itu, disebutkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Hieraklius bertemu dengan Abū Sofyan kemudian bertanya tentang ciri-ciri Nabi, dia mendengar ada Nabi yang sudah muncul, bertanya tentang pengikutnya, nasabnya, sifat-sifatnya. Ternyata persis dikatakan bahwa Nabi tersebut akan menguasai kerajaanku dan aku ingin membai’at dia, kata Hieraklius, tetapi dia tidak menduga kalau Nabi tersebut muncul dari bangsa Arab.Hieraklius pun mengetahui bahwa salah satu ciri Nabi tersebut adalah berkhitan, kemudian dia mengumpulkan para pembesarnya. Maka para pembesarnya mengatakan: “Jangan khawatir, wahai raja, kalau ternyata Nabi tersebut dari kalangan Yahudi maka kita akan bunuh.” Lalu Hieraklius berkata: “Apakah orang-orang Arab juga berkhitan?” Kata mereka: “Ya, orang-orang Arab juga berkhitan.” Dan ternyata Nabi terakhir bukan dari Yahudi tetapi dari kaum Arab.Kemudian Hieraklius mengumpulkan seluruh rakyatnya, seluruh pintu istana ditutup dan berkata: “Wahai rakyatku, telah muncul seorang Nabi dari kalangan Arab, berbai’atlah kepadanya niscaya kalian akan beruntung.” Maka rakyatnya gaduh dan ada suara hiruk pikuk, mereka ingin keluar dari istana, ternyata semua pintu sudah dikunci. Ketika Hieraklius sudah melihat bahwa rakyatnya tidak akan beriman maka dia berkata: “Tenanglah rakyatku, aku hanya menguji iman kalian, ternyata iman kalian kuat.” Padahal Nabi ﷺ telah mengirim surat kepada Hieraklius mengatakan:أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ“Masuk Islamlah maka engkau akan selamat. Kalau kalian mengingkari ajaranku maka kau akan mendapatkan dosanya para pengikutmu (rakyatmu).” (HR Al-Bukhari no 7)Nabi sudah mengingatkan, jika Hieraklius tidak mau beriman, maka bukan hanya dosanya sendiri tetapi juga dosa rakyatnya ditanggung.Bersambung Insya Allah..

Sirah Nabi 20 – Kema’shuman Nabi ﷺ Meskipun Belum Diangkat Menjadi Nabi

Kema’shuman Nabi ﷺ Meskipun Belum Diangkat Menjadi NabiMeskipun belum turun wahyu kepada Nabi ﷺ, Allāh telah menjadikan Nabi ﷺ ma’shum diatas fithrah dengan tidak menyukai perbuatan-perbuatan haram, misalnya tidak menyukai minum khamr, tidak berzina, tidak pernah mengusap atau menyembah berhala. Diantara hikmahnya adalah agar saat Nabi ﷺ diangkat menjadi Nabi, orang-orang Quraisy tidak bisa mencela Nabi. Seandainya Nabi dahulu pernah sujud kepada patung atau melakukan perbuatan haram maka orang-orang Quraisy akan mengatakan: “Wahai Muhammad, sekarang engkau melarang kami padahal dahulu engkau melakukannya.” Oleh karena itu, kita akan dapati orang-orang kafir Quraisy sering mencari-cari kesalahan Nabi, tetapi mereka tidak akan menemukannya, baik dari sisi nasab ataupun akhlak, karena tidak ada masa lalu Nabi yang buruk.Diantara dalil lain yaitu dari ‘Ali bin Abi Thālib, beliau mengisahkan Rasūlullāh ﷺ bersabda:مَا هَمَمْتُ بِمَا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَهُمُّونَ بِهِ إِلَّا مَرَّتَيْنِ مِنَ الدَّهْرِ كِلَاهُمَا يَعْصِمُنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُمَا. قُلْتُ لَيْلَةً لِفَتًى كَانَ مَعِي مِنْ قُرَيْشٍ فِي أَعْلَى مَكَّةَ فِي أغنامٍ لِأَهْلِهَا تَرْعَى: أَبْصِرْ لِي غَنَمِي حَتَّى أَسْمُرَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمَكَّةَ كَمَا تَسْمُرُ الْفِتْيَانُ قَالَ: نَعَمْ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا جِئْتُ أَدْنَى دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ سَمِعْتُ غَنَاءً وَصَوْتَ دُفُوفٍ وَزَمْرٍ فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: فُلَانٌ تَزَوَّجَ فُلَانَةَ لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَهَوْتُ بِذَلِكِ الْغِنَاءِ وَالصَّوْتِ حَتَّى غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ فَرَجَعْتُ فَسَمِعْتُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقِيلَ لِي مِثْلَ مَا قِيلَ لِي فَلَهَوْتُ بِمَا سَمِعْتُ وَغَلَبَتْنِي عَيْنِي فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى صَاحِبِي فَقَالَ: مَا فَعَلْتَ؟ فَقُلْتُ: مَا فَعَلْتُ شَيْئًا ” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَوَاللَّهِ مَا هَمَمْتُ بَعْدَهَا أَبَدًا بِسُوءٍ مِمَّا يَعْمَلُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ حَتَّى أَكْرَمَنِي اللَّهُ تَعَالَى بِنُبُوَّتِهِ“Tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk mengikuti acara-acara kaum jahiliyah kecuali hanya dua kali, dan itupun Allah menjagaku pada dua kali tersebut.  Suatu malam aku bersama seorang pemuda Quraisy yang sedang berada di pinggiran kota Mekah menggembalakan kambing keluarganya. Aku berkata kepadanya, “Tolong jaga kambing saya, saya ingin begadang malam ini di Mekah sebagaimana para pemuda begadang.” Ia berkata, “Baik”. Aku pun pergi,  dan tatkala aku tiba di rumah pertama dari rumah-rumah penduduk Mekah, aku mendengar nyanyian dan suara rebana dan seruling, lalu aku bertanya, “Acara apa ini?”. Mereka berkata kepadaku, “Si fulan telah menikah dengan si fulanah putrinya si Fulan dari Quraisy”. Akupun terlena dengan nyanyian tersebut dan suara (alat musik) tersebut hingga akhirnya aku tertidur. (dalam riwayat yang lain : Maka Allah pun menutup kedua telingaku). Dan tidak ada yang membangunkanku kecuali terik matahari. Aku kembali (pada malam yang lain-pen) lalu aku mendengar seperti yang aku dengar sebelumnya, dan dikatakan kepadaku seperti pada malam yang lalu, akupun terlena dengan apa yang aku dengar, kemudian aku tertidur. Tidak ada yang membangunkanku kecuali terik sinar matahari. Lalu aku kembali kepada sahabatku (penggembala kambing). Sahabatku bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” Aku berkata, “Aku tidak melakukan apapun”. Maka demi Allah aku tidak pernah lagi berkeinginan untuk melakukan keburukan apapun yang dilakukan oleh kaum jahiliyah hingga Allah memberi kemuliaan kenabian kepadaku.” (HR Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah 1/413, Al-Hakim no 7619, dan Ibnu Ishaq dalam sirohnya. Hadits ini diperselisihkan tentang keshahihannya, Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi hadits ini dinyatakan lemah oleh Al-Albani)Beliau dibuat tertidur (tidak sadar) oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak jadi mengikuti acara-acara kemaksiatan tersebut. Ini merupakan bentuk penjagaan Allah kepada beliau bahkan sebelum menjadi Nabi.Di dalam hadits yang shahīh, diriwayatkan bahwa Rasūlullāh ﷺ pernah berhaji di zaman Jahiliyyah. Di bab sebelummnya telah diterangkan bahwa orang-orang musyrikin ketika berhaji penuh dengan kesyirikan. Mereka bertalbiyah namun talbiyah mereka berisi kesyirikan. Dalam shahīh Muslim dikatakan bahwa bunyi talbiyah mereka adalah:لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ“Kami penuhi panggilanMu, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat yang Engkau kuasai.” (HR Muslim no 1185)Selain melakukan kesyirikan ketika mereka thawaf, orang-orang Quraisy juga melakukan bid’ah ketika haji, yaitu mereka membedakan diri dengan kabilah lain. Kabilah lain ketika berhaji berwuquf di Padang ‘Arafah (tanggal 9). Adapun orang-orang Quraisy wuqufnya di Muzdalifah. Alasan mereka bahwasanya Muzdalifah adalah tanah haram sedangkan ‘Arafah termasuk tanah halal. Orang-orang Quraisy dinamakan dengan al-Hums (الْحُمْسَ) jamak dari al-Ahmas (الْأَحْمَسُ) yang artinya الشَّدِيدُ عَلَى دِينِهِ “Orang yang semangat/fanatik المُتَحَمِّسُ terhadap agamanya”. Syaitanpun menggoda mereka dengan berkata,إِنَّكُمْ إِنْ عَظَّمْتُمْ غَيْرَ حَرَمِكُمُ اسْتَخَفَّ النَّاسُ بِحَرَمِكُمْ“Jika kalian mengagungkan selain tanah haram (maksudnya padang ‘Arafah yang merupakan tanah halal) maka orang-orang akan meremehkan tanah haram kalian.”Akhirnya mereka tidak keluar dari tanah haram menuju ‘Arafah untuk wukuf, dan mereka berkata :نَحْنُ أَهْلُ اللَّهِ لَا نَخْرُجُ مِنَ الْحَرَمِ“Kami adalah orang-orang khususnya Allah, dan kami tidak keluar dari tanah haram.” (Lihat Fathul Baari 3/516)Adapun Nabi ﷺ meskipun ia dari suku Quraisy namun ketika haji -yaitu sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul- fithrahnya membimbing beliau untuk wuquf di Padang ‘Arafah. Padahal tidak ada seorang pun yang membimbing beliau. Namun ini terjadi karena bimbingan Allah. Jubair bin Muth’im berkata :أَضْلَلْتُ بَعِيرًا لِي، فَذَهَبْتُ أَطْلُبُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا بِعَرَفَةَ، فَقُلْتُ: «هَذَا وَاللَّهِ مِنَ الحُمْسِ فَمَا شَأْنُهُ هَا هُنَا»“Aku kehilangan ontaku, maka akupun mencari ontaku tatkala hari ‘Arafah. Lantas aku melihat Nabi ﷺ wuquf di Padang ‘Arafah (bersama kabilah-kabilah selain Quraisy-pen). Aku berkata: “Demi Allah ia (Muhammad) termasuk Quraiys, lantas kenapa wuqufnya di ‘Arafah?” (HR Al-Bukhari no 1664)Hadits ini juga merupakan dalil bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi ﷺ. Bahkan dalam ibadah, Nabi ﷺ tidak terjerumus ke dalam kesyirikan, tidak pula terjebak dalam kebid’ahan. Termasuk saat haji, Nabi ﷺ berhaji di musim haji juga tidak melanggar hajinya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, dimana wuqufnya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām adalah di Padang ‘Arafah.Demikianlah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, meskipun Beliau belum menjadi Nabi, beliau dijaga dari sisi aqidah, akhlak, dan perangai serta perilaku.Nabi Mūsā ‘alayhissalām ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk berdakwah kepada Fir’aun, beliau merasa takut, karena Nabi Mūsā pernah melakukan kesalahan yaitu pernah membunuh salah seorang dari Banī Isrāil sehingga khawatir kaumnya membunuh atau mendustakannya. Hal ini diungkap dan diungkit kesalahannya oleh Fir’aun saat Nabi Mūsā berdakwah.Fir’aun berkata :أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ (18) وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” (QS Asy-Syu’ara : 18-19)Adapun Nabi Muhammad ﷺ tidak ada kesalahannya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak memiliki alasan untuk mencela Nabi ﷺ.Nabi ﷺ saat pertama kali berdakwah terang-terangan, beliau berseru di Jabal Shafa:أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Wahai orang-orang Quraisy, jikalau saya kabarkan kepada kalian ada pasukan berkuda di lembah yang ingin menyerang kalian tiba-tiba, apakah kalian akan membenarkannya?”Mereka menjawab :نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Iya, kami tidak pernah mendapatimu berdusta.”Nabi ﷺ lalu melanjutkan :فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya adzab yang pedih.” (HR Al-Bukhari no 4770 dan Muslim no 208)Maka merekapun langsung mendustakan Nabi ﷺ saat itu juga. Mulailah mereka mengatakan Nabi ﷺ adalah seorang pendusta, penyihir, orang gila karena tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Adapun dari sisi akhlak, mereka tidak bisa mengingkari luar biasanya akhlaq Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sejak zaman Jahiliyyah.Turunnya Wahyu Kepada Muhammad ﷺSebelum Nabi ﷺ diangkat menjadi seorang Nabi, telah tersebar di seantero jazirah Arab bahkan sampai ke negeri Syam bahwa akan muncul seorang Nabi yang diutus oleh Allāh pada tahun ini, yaitu tahun dimana Nabi diangkat menjadi seorang Rasul.Orang-orang ahli kitab telah mengetahui hal ini dari kitab suci mereka. Orang-orang Yahudi mengetahui dari Taurat mereka dan orang-orang Nashrani juga mengetahui dari Injil mereka. Di dalam Al-Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman bahwa Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām mengabarkan kepada kaumnya:وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ“Dan (ingatlah) ketika ‘Īsā Putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allāh kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS As-Shaff : 6)Demikian juga orang-orang Yahudi sering mereka menyangka bahwa Nabi yang terakhir diutus adalah dari kalangan mereka (Bani Isrāīl), oleh karenanya ketika mereka bertikai dengan penduduk Madinah (kaum Anshār), mereka sering sesumbar bahwa sebentar lagi akan diutus seorang Nabi dan kami bersama Nabi tersebut akan memerangi kaum Anshār. Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٨٩)“Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al-Qurān) dari Allāh yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allāh bagi orang-orang yang ingkar.” (QS Al-Baqarah : 89)Para ulama berkata, mengapa orang-orang Yahudi banyak tinggal di kota Madinah? Karena mereka tahu di dalam kitab Taurat mereka disebutkan bahwa akan ada Nabi yang akan berhijrah ke tempat yang banyak kurmanya. Dan mereka tahu tempat tersebut adalah kota Madinah, sehingga mereka sengaja tinggal di kota Madinah dan menanti kedatangan Rasūlullāh ﷺ. Mereka menyangka Nabi tersebut dari kalangan Bani Isrāīl. Tetapi ternyata diluar dugaan. Mereka sudah mengetahui seluruh sifat-sifat kenabian, sebagaimana dalam firman Allah :الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ“Orang-orang yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS Al-Baqarah : 146)Seseorang akan mengenal baik anak-anaknya. Bagaimana sifatnya, apa kesukaannya, bagaimana ciri fisik tubuhnya. Allāh menggambarkan orang Yahudi mengenal Nabi ﷺ sebagaimana mengenal anak mereka. Artinya, mereka benar-benar mengetahui sifat Nabi ﷺ. Namun ada satu sifat Nabi yang tidak Allāh sebutkan di dalam kitab suci mereka, yaitu bahwa Nabi tersebut dari bangsa Arab.Mereka menyangka, Nabi tersebut sebagaimana nabi-nabi lainnya adalah dari bangsa Isrāīl. Seperti Nabi Ya’qūb, Nabi Yūsuf, Nabi Mūsā, Nabi Dāwud, Nabi Sulaiman, Nabi ‘Īsā, dan seterusnya. Karena itu, setelah mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ berasal dari bangsa Arab, dengan serta merta mereka tidak mau beriman, karena mereka menyangka bahwa agama mereka adalah agama spesial untuk bangsa mereka saja, dan mereka mengklaim hanya mereka yang masuk surga.Disebutkan dalam hadits dengan sanad yang hasan dari riwayat siroh Ibnu Hisyām. Orang-orang Anshār masuk Islam karena banyak sebab, diantaranya karena mereka sering mendengar orang-orang Yahudi berkata “Sebentar lagi akan datang seorang Nabi dan kami akan bunuh kalian.” Begitu datang Nabi tersebut, maka orang-orang Anshār sudah beriman dahulu sebelum orang-orang Yahudi.Oleh karena itu, disebutkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Hieraklius bertemu dengan Abū Sofyan kemudian bertanya tentang ciri-ciri Nabi, dia mendengar ada Nabi yang sudah muncul, bertanya tentang pengikutnya, nasabnya, sifat-sifatnya. Ternyata persis dikatakan bahwa Nabi tersebut akan menguasai kerajaanku dan aku ingin membai’at dia, kata Hieraklius, tetapi dia tidak menduga kalau Nabi tersebut muncul dari bangsa Arab.Hieraklius pun mengetahui bahwa salah satu ciri Nabi tersebut adalah berkhitan, kemudian dia mengumpulkan para pembesarnya. Maka para pembesarnya mengatakan: “Jangan khawatir, wahai raja, kalau ternyata Nabi tersebut dari kalangan Yahudi maka kita akan bunuh.” Lalu Hieraklius berkata: “Apakah orang-orang Arab juga berkhitan?” Kata mereka: “Ya, orang-orang Arab juga berkhitan.” Dan ternyata Nabi terakhir bukan dari Yahudi tetapi dari kaum Arab.Kemudian Hieraklius mengumpulkan seluruh rakyatnya, seluruh pintu istana ditutup dan berkata: “Wahai rakyatku, telah muncul seorang Nabi dari kalangan Arab, berbai’atlah kepadanya niscaya kalian akan beruntung.” Maka rakyatnya gaduh dan ada suara hiruk pikuk, mereka ingin keluar dari istana, ternyata semua pintu sudah dikunci. Ketika Hieraklius sudah melihat bahwa rakyatnya tidak akan beriman maka dia berkata: “Tenanglah rakyatku, aku hanya menguji iman kalian, ternyata iman kalian kuat.” Padahal Nabi ﷺ telah mengirim surat kepada Hieraklius mengatakan:أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ“Masuk Islamlah maka engkau akan selamat. Kalau kalian mengingkari ajaranku maka kau akan mendapatkan dosanya para pengikutmu (rakyatmu).” (HR Al-Bukhari no 7)Nabi sudah mengingatkan, jika Hieraklius tidak mau beriman, maka bukan hanya dosanya sendiri tetapi juga dosa rakyatnya ditanggung.Bersambung Insya Allah..
Kema’shuman Nabi ﷺ Meskipun Belum Diangkat Menjadi NabiMeskipun belum turun wahyu kepada Nabi ﷺ, Allāh telah menjadikan Nabi ﷺ ma’shum diatas fithrah dengan tidak menyukai perbuatan-perbuatan haram, misalnya tidak menyukai minum khamr, tidak berzina, tidak pernah mengusap atau menyembah berhala. Diantara hikmahnya adalah agar saat Nabi ﷺ diangkat menjadi Nabi, orang-orang Quraisy tidak bisa mencela Nabi. Seandainya Nabi dahulu pernah sujud kepada patung atau melakukan perbuatan haram maka orang-orang Quraisy akan mengatakan: “Wahai Muhammad, sekarang engkau melarang kami padahal dahulu engkau melakukannya.” Oleh karena itu, kita akan dapati orang-orang kafir Quraisy sering mencari-cari kesalahan Nabi, tetapi mereka tidak akan menemukannya, baik dari sisi nasab ataupun akhlak, karena tidak ada masa lalu Nabi yang buruk.Diantara dalil lain yaitu dari ‘Ali bin Abi Thālib, beliau mengisahkan Rasūlullāh ﷺ bersabda:مَا هَمَمْتُ بِمَا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَهُمُّونَ بِهِ إِلَّا مَرَّتَيْنِ مِنَ الدَّهْرِ كِلَاهُمَا يَعْصِمُنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُمَا. قُلْتُ لَيْلَةً لِفَتًى كَانَ مَعِي مِنْ قُرَيْشٍ فِي أَعْلَى مَكَّةَ فِي أغنامٍ لِأَهْلِهَا تَرْعَى: أَبْصِرْ لِي غَنَمِي حَتَّى أَسْمُرَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمَكَّةَ كَمَا تَسْمُرُ الْفِتْيَانُ قَالَ: نَعَمْ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا جِئْتُ أَدْنَى دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ سَمِعْتُ غَنَاءً وَصَوْتَ دُفُوفٍ وَزَمْرٍ فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: فُلَانٌ تَزَوَّجَ فُلَانَةَ لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَهَوْتُ بِذَلِكِ الْغِنَاءِ وَالصَّوْتِ حَتَّى غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ فَرَجَعْتُ فَسَمِعْتُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقِيلَ لِي مِثْلَ مَا قِيلَ لِي فَلَهَوْتُ بِمَا سَمِعْتُ وَغَلَبَتْنِي عَيْنِي فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى صَاحِبِي فَقَالَ: مَا فَعَلْتَ؟ فَقُلْتُ: مَا فَعَلْتُ شَيْئًا ” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَوَاللَّهِ مَا هَمَمْتُ بَعْدَهَا أَبَدًا بِسُوءٍ مِمَّا يَعْمَلُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ حَتَّى أَكْرَمَنِي اللَّهُ تَعَالَى بِنُبُوَّتِهِ“Tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk mengikuti acara-acara kaum jahiliyah kecuali hanya dua kali, dan itupun Allah menjagaku pada dua kali tersebut.  Suatu malam aku bersama seorang pemuda Quraisy yang sedang berada di pinggiran kota Mekah menggembalakan kambing keluarganya. Aku berkata kepadanya, “Tolong jaga kambing saya, saya ingin begadang malam ini di Mekah sebagaimana para pemuda begadang.” Ia berkata, “Baik”. Aku pun pergi,  dan tatkala aku tiba di rumah pertama dari rumah-rumah penduduk Mekah, aku mendengar nyanyian dan suara rebana dan seruling, lalu aku bertanya, “Acara apa ini?”. Mereka berkata kepadaku, “Si fulan telah menikah dengan si fulanah putrinya si Fulan dari Quraisy”. Akupun terlena dengan nyanyian tersebut dan suara (alat musik) tersebut hingga akhirnya aku tertidur. (dalam riwayat yang lain : Maka Allah pun menutup kedua telingaku). Dan tidak ada yang membangunkanku kecuali terik matahari. Aku kembali (pada malam yang lain-pen) lalu aku mendengar seperti yang aku dengar sebelumnya, dan dikatakan kepadaku seperti pada malam yang lalu, akupun terlena dengan apa yang aku dengar, kemudian aku tertidur. Tidak ada yang membangunkanku kecuali terik sinar matahari. Lalu aku kembali kepada sahabatku (penggembala kambing). Sahabatku bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” Aku berkata, “Aku tidak melakukan apapun”. Maka demi Allah aku tidak pernah lagi berkeinginan untuk melakukan keburukan apapun yang dilakukan oleh kaum jahiliyah hingga Allah memberi kemuliaan kenabian kepadaku.” (HR Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah 1/413, Al-Hakim no 7619, dan Ibnu Ishaq dalam sirohnya. Hadits ini diperselisihkan tentang keshahihannya, Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi hadits ini dinyatakan lemah oleh Al-Albani)Beliau dibuat tertidur (tidak sadar) oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak jadi mengikuti acara-acara kemaksiatan tersebut. Ini merupakan bentuk penjagaan Allah kepada beliau bahkan sebelum menjadi Nabi.Di dalam hadits yang shahīh, diriwayatkan bahwa Rasūlullāh ﷺ pernah berhaji di zaman Jahiliyyah. Di bab sebelummnya telah diterangkan bahwa orang-orang musyrikin ketika berhaji penuh dengan kesyirikan. Mereka bertalbiyah namun talbiyah mereka berisi kesyirikan. Dalam shahīh Muslim dikatakan bahwa bunyi talbiyah mereka adalah:لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ“Kami penuhi panggilanMu, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat yang Engkau kuasai.” (HR Muslim no 1185)Selain melakukan kesyirikan ketika mereka thawaf, orang-orang Quraisy juga melakukan bid’ah ketika haji, yaitu mereka membedakan diri dengan kabilah lain. Kabilah lain ketika berhaji berwuquf di Padang ‘Arafah (tanggal 9). Adapun orang-orang Quraisy wuqufnya di Muzdalifah. Alasan mereka bahwasanya Muzdalifah adalah tanah haram sedangkan ‘Arafah termasuk tanah halal. Orang-orang Quraisy dinamakan dengan al-Hums (الْحُمْسَ) jamak dari al-Ahmas (الْأَحْمَسُ) yang artinya الشَّدِيدُ عَلَى دِينِهِ “Orang yang semangat/fanatik المُتَحَمِّسُ terhadap agamanya”. Syaitanpun menggoda mereka dengan berkata,إِنَّكُمْ إِنْ عَظَّمْتُمْ غَيْرَ حَرَمِكُمُ اسْتَخَفَّ النَّاسُ بِحَرَمِكُمْ“Jika kalian mengagungkan selain tanah haram (maksudnya padang ‘Arafah yang merupakan tanah halal) maka orang-orang akan meremehkan tanah haram kalian.”Akhirnya mereka tidak keluar dari tanah haram menuju ‘Arafah untuk wukuf, dan mereka berkata :نَحْنُ أَهْلُ اللَّهِ لَا نَخْرُجُ مِنَ الْحَرَمِ“Kami adalah orang-orang khususnya Allah, dan kami tidak keluar dari tanah haram.” (Lihat Fathul Baari 3/516)Adapun Nabi ﷺ meskipun ia dari suku Quraisy namun ketika haji -yaitu sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul- fithrahnya membimbing beliau untuk wuquf di Padang ‘Arafah. Padahal tidak ada seorang pun yang membimbing beliau. Namun ini terjadi karena bimbingan Allah. Jubair bin Muth’im berkata :أَضْلَلْتُ بَعِيرًا لِي، فَذَهَبْتُ أَطْلُبُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا بِعَرَفَةَ، فَقُلْتُ: «هَذَا وَاللَّهِ مِنَ الحُمْسِ فَمَا شَأْنُهُ هَا هُنَا»“Aku kehilangan ontaku, maka akupun mencari ontaku tatkala hari ‘Arafah. Lantas aku melihat Nabi ﷺ wuquf di Padang ‘Arafah (bersama kabilah-kabilah selain Quraisy-pen). Aku berkata: “Demi Allah ia (Muhammad) termasuk Quraiys, lantas kenapa wuqufnya di ‘Arafah?” (HR Al-Bukhari no 1664)Hadits ini juga merupakan dalil bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi ﷺ. Bahkan dalam ibadah, Nabi ﷺ tidak terjerumus ke dalam kesyirikan, tidak pula terjebak dalam kebid’ahan. Termasuk saat haji, Nabi ﷺ berhaji di musim haji juga tidak melanggar hajinya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, dimana wuqufnya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām adalah di Padang ‘Arafah.Demikianlah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, meskipun Beliau belum menjadi Nabi, beliau dijaga dari sisi aqidah, akhlak, dan perangai serta perilaku.Nabi Mūsā ‘alayhissalām ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk berdakwah kepada Fir’aun, beliau merasa takut, karena Nabi Mūsā pernah melakukan kesalahan yaitu pernah membunuh salah seorang dari Banī Isrāil sehingga khawatir kaumnya membunuh atau mendustakannya. Hal ini diungkap dan diungkit kesalahannya oleh Fir’aun saat Nabi Mūsā berdakwah.Fir’aun berkata :أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ (18) وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” (QS Asy-Syu’ara : 18-19)Adapun Nabi Muhammad ﷺ tidak ada kesalahannya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak memiliki alasan untuk mencela Nabi ﷺ.Nabi ﷺ saat pertama kali berdakwah terang-terangan, beliau berseru di Jabal Shafa:أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Wahai orang-orang Quraisy, jikalau saya kabarkan kepada kalian ada pasukan berkuda di lembah yang ingin menyerang kalian tiba-tiba, apakah kalian akan membenarkannya?”Mereka menjawab :نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Iya, kami tidak pernah mendapatimu berdusta.”Nabi ﷺ lalu melanjutkan :فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya adzab yang pedih.” (HR Al-Bukhari no 4770 dan Muslim no 208)Maka merekapun langsung mendustakan Nabi ﷺ saat itu juga. Mulailah mereka mengatakan Nabi ﷺ adalah seorang pendusta, penyihir, orang gila karena tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Adapun dari sisi akhlak, mereka tidak bisa mengingkari luar biasanya akhlaq Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sejak zaman Jahiliyyah.Turunnya Wahyu Kepada Muhammad ﷺSebelum Nabi ﷺ diangkat menjadi seorang Nabi, telah tersebar di seantero jazirah Arab bahkan sampai ke negeri Syam bahwa akan muncul seorang Nabi yang diutus oleh Allāh pada tahun ini, yaitu tahun dimana Nabi diangkat menjadi seorang Rasul.Orang-orang ahli kitab telah mengetahui hal ini dari kitab suci mereka. Orang-orang Yahudi mengetahui dari Taurat mereka dan orang-orang Nashrani juga mengetahui dari Injil mereka. Di dalam Al-Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman bahwa Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām mengabarkan kepada kaumnya:وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ“Dan (ingatlah) ketika ‘Īsā Putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allāh kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS As-Shaff : 6)Demikian juga orang-orang Yahudi sering mereka menyangka bahwa Nabi yang terakhir diutus adalah dari kalangan mereka (Bani Isrāīl), oleh karenanya ketika mereka bertikai dengan penduduk Madinah (kaum Anshār), mereka sering sesumbar bahwa sebentar lagi akan diutus seorang Nabi dan kami bersama Nabi tersebut akan memerangi kaum Anshār. Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٨٩)“Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al-Qurān) dari Allāh yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allāh bagi orang-orang yang ingkar.” (QS Al-Baqarah : 89)Para ulama berkata, mengapa orang-orang Yahudi banyak tinggal di kota Madinah? Karena mereka tahu di dalam kitab Taurat mereka disebutkan bahwa akan ada Nabi yang akan berhijrah ke tempat yang banyak kurmanya. Dan mereka tahu tempat tersebut adalah kota Madinah, sehingga mereka sengaja tinggal di kota Madinah dan menanti kedatangan Rasūlullāh ﷺ. Mereka menyangka Nabi tersebut dari kalangan Bani Isrāīl. Tetapi ternyata diluar dugaan. Mereka sudah mengetahui seluruh sifat-sifat kenabian, sebagaimana dalam firman Allah :الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ“Orang-orang yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS Al-Baqarah : 146)Seseorang akan mengenal baik anak-anaknya. Bagaimana sifatnya, apa kesukaannya, bagaimana ciri fisik tubuhnya. Allāh menggambarkan orang Yahudi mengenal Nabi ﷺ sebagaimana mengenal anak mereka. Artinya, mereka benar-benar mengetahui sifat Nabi ﷺ. Namun ada satu sifat Nabi yang tidak Allāh sebutkan di dalam kitab suci mereka, yaitu bahwa Nabi tersebut dari bangsa Arab.Mereka menyangka, Nabi tersebut sebagaimana nabi-nabi lainnya adalah dari bangsa Isrāīl. Seperti Nabi Ya’qūb, Nabi Yūsuf, Nabi Mūsā, Nabi Dāwud, Nabi Sulaiman, Nabi ‘Īsā, dan seterusnya. Karena itu, setelah mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ berasal dari bangsa Arab, dengan serta merta mereka tidak mau beriman, karena mereka menyangka bahwa agama mereka adalah agama spesial untuk bangsa mereka saja, dan mereka mengklaim hanya mereka yang masuk surga.Disebutkan dalam hadits dengan sanad yang hasan dari riwayat siroh Ibnu Hisyām. Orang-orang Anshār masuk Islam karena banyak sebab, diantaranya karena mereka sering mendengar orang-orang Yahudi berkata “Sebentar lagi akan datang seorang Nabi dan kami akan bunuh kalian.” Begitu datang Nabi tersebut, maka orang-orang Anshār sudah beriman dahulu sebelum orang-orang Yahudi.Oleh karena itu, disebutkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Hieraklius bertemu dengan Abū Sofyan kemudian bertanya tentang ciri-ciri Nabi, dia mendengar ada Nabi yang sudah muncul, bertanya tentang pengikutnya, nasabnya, sifat-sifatnya. Ternyata persis dikatakan bahwa Nabi tersebut akan menguasai kerajaanku dan aku ingin membai’at dia, kata Hieraklius, tetapi dia tidak menduga kalau Nabi tersebut muncul dari bangsa Arab.Hieraklius pun mengetahui bahwa salah satu ciri Nabi tersebut adalah berkhitan, kemudian dia mengumpulkan para pembesarnya. Maka para pembesarnya mengatakan: “Jangan khawatir, wahai raja, kalau ternyata Nabi tersebut dari kalangan Yahudi maka kita akan bunuh.” Lalu Hieraklius berkata: “Apakah orang-orang Arab juga berkhitan?” Kata mereka: “Ya, orang-orang Arab juga berkhitan.” Dan ternyata Nabi terakhir bukan dari Yahudi tetapi dari kaum Arab.Kemudian Hieraklius mengumpulkan seluruh rakyatnya, seluruh pintu istana ditutup dan berkata: “Wahai rakyatku, telah muncul seorang Nabi dari kalangan Arab, berbai’atlah kepadanya niscaya kalian akan beruntung.” Maka rakyatnya gaduh dan ada suara hiruk pikuk, mereka ingin keluar dari istana, ternyata semua pintu sudah dikunci. Ketika Hieraklius sudah melihat bahwa rakyatnya tidak akan beriman maka dia berkata: “Tenanglah rakyatku, aku hanya menguji iman kalian, ternyata iman kalian kuat.” Padahal Nabi ﷺ telah mengirim surat kepada Hieraklius mengatakan:أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ“Masuk Islamlah maka engkau akan selamat. Kalau kalian mengingkari ajaranku maka kau akan mendapatkan dosanya para pengikutmu (rakyatmu).” (HR Al-Bukhari no 7)Nabi sudah mengingatkan, jika Hieraklius tidak mau beriman, maka bukan hanya dosanya sendiri tetapi juga dosa rakyatnya ditanggung.Bersambung Insya Allah..


Kema’shuman Nabi ﷺ Meskipun Belum Diangkat Menjadi NabiMeskipun belum turun wahyu kepada Nabi ﷺ, Allāh telah menjadikan Nabi ﷺ ma’shum diatas fithrah dengan tidak menyukai perbuatan-perbuatan haram, misalnya tidak menyukai minum khamr, tidak berzina, tidak pernah mengusap atau menyembah berhala. Diantara hikmahnya adalah agar saat Nabi ﷺ diangkat menjadi Nabi, orang-orang Quraisy tidak bisa mencela Nabi. Seandainya Nabi dahulu pernah sujud kepada patung atau melakukan perbuatan haram maka orang-orang Quraisy akan mengatakan: “Wahai Muhammad, sekarang engkau melarang kami padahal dahulu engkau melakukannya.” Oleh karena itu, kita akan dapati orang-orang kafir Quraisy sering mencari-cari kesalahan Nabi, tetapi mereka tidak akan menemukannya, baik dari sisi nasab ataupun akhlak, karena tidak ada masa lalu Nabi yang buruk.Diantara dalil lain yaitu dari ‘Ali bin Abi Thālib, beliau mengisahkan Rasūlullāh ﷺ bersabda:مَا هَمَمْتُ بِمَا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَهُمُّونَ بِهِ إِلَّا مَرَّتَيْنِ مِنَ الدَّهْرِ كِلَاهُمَا يَعْصِمُنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُمَا. قُلْتُ لَيْلَةً لِفَتًى كَانَ مَعِي مِنْ قُرَيْشٍ فِي أَعْلَى مَكَّةَ فِي أغنامٍ لِأَهْلِهَا تَرْعَى: أَبْصِرْ لِي غَنَمِي حَتَّى أَسْمُرَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمَكَّةَ كَمَا تَسْمُرُ الْفِتْيَانُ قَالَ: نَعَمْ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا جِئْتُ أَدْنَى دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ سَمِعْتُ غَنَاءً وَصَوْتَ دُفُوفٍ وَزَمْرٍ فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: فُلَانٌ تَزَوَّجَ فُلَانَةَ لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَهَوْتُ بِذَلِكِ الْغِنَاءِ وَالصَّوْتِ حَتَّى غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ فَرَجَعْتُ فَسَمِعْتُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقِيلَ لِي مِثْلَ مَا قِيلَ لِي فَلَهَوْتُ بِمَا سَمِعْتُ وَغَلَبَتْنِي عَيْنِي فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى صَاحِبِي فَقَالَ: مَا فَعَلْتَ؟ فَقُلْتُ: مَا فَعَلْتُ شَيْئًا ” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَوَاللَّهِ مَا هَمَمْتُ بَعْدَهَا أَبَدًا بِسُوءٍ مِمَّا يَعْمَلُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ حَتَّى أَكْرَمَنِي اللَّهُ تَعَالَى بِنُبُوَّتِهِ“Tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk mengikuti acara-acara kaum jahiliyah kecuali hanya dua kali, dan itupun Allah menjagaku pada dua kali tersebut.  Suatu malam aku bersama seorang pemuda Quraisy yang sedang berada di pinggiran kota Mekah menggembalakan kambing keluarganya. Aku berkata kepadanya, “Tolong jaga kambing saya, saya ingin begadang malam ini di Mekah sebagaimana para pemuda begadang.” Ia berkata, “Baik”. Aku pun pergi,  dan tatkala aku tiba di rumah pertama dari rumah-rumah penduduk Mekah, aku mendengar nyanyian dan suara rebana dan seruling, lalu aku bertanya, “Acara apa ini?”. Mereka berkata kepadaku, “Si fulan telah menikah dengan si fulanah putrinya si Fulan dari Quraisy”. Akupun terlena dengan nyanyian tersebut dan suara (alat musik) tersebut hingga akhirnya aku tertidur. (dalam riwayat yang lain : Maka Allah pun menutup kedua telingaku). Dan tidak ada yang membangunkanku kecuali terik matahari. Aku kembali (pada malam yang lain-pen) lalu aku mendengar seperti yang aku dengar sebelumnya, dan dikatakan kepadaku seperti pada malam yang lalu, akupun terlena dengan apa yang aku dengar, kemudian aku tertidur. Tidak ada yang membangunkanku kecuali terik sinar matahari. Lalu aku kembali kepada sahabatku (penggembala kambing). Sahabatku bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” Aku berkata, “Aku tidak melakukan apapun”. Maka demi Allah aku tidak pernah lagi berkeinginan untuk melakukan keburukan apapun yang dilakukan oleh kaum jahiliyah hingga Allah memberi kemuliaan kenabian kepadaku.” (HR Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah 1/413, Al-Hakim no 7619, dan Ibnu Ishaq dalam sirohnya. Hadits ini diperselisihkan tentang keshahihannya, Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi hadits ini dinyatakan lemah oleh Al-Albani)Beliau dibuat tertidur (tidak sadar) oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak jadi mengikuti acara-acara kemaksiatan tersebut. Ini merupakan bentuk penjagaan Allah kepada beliau bahkan sebelum menjadi Nabi.Di dalam hadits yang shahīh, diriwayatkan bahwa Rasūlullāh ﷺ pernah berhaji di zaman Jahiliyyah. Di bab sebelummnya telah diterangkan bahwa orang-orang musyrikin ketika berhaji penuh dengan kesyirikan. Mereka bertalbiyah namun talbiyah mereka berisi kesyirikan. Dalam shahīh Muslim dikatakan bahwa bunyi talbiyah mereka adalah:لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ“Kami penuhi panggilanMu, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat yang Engkau kuasai.” (HR Muslim no 1185)Selain melakukan kesyirikan ketika mereka thawaf, orang-orang Quraisy juga melakukan bid’ah ketika haji, yaitu mereka membedakan diri dengan kabilah lain. Kabilah lain ketika berhaji berwuquf di Padang ‘Arafah (tanggal 9). Adapun orang-orang Quraisy wuqufnya di Muzdalifah. Alasan mereka bahwasanya Muzdalifah adalah tanah haram sedangkan ‘Arafah termasuk tanah halal. Orang-orang Quraisy dinamakan dengan al-Hums (الْحُمْسَ) jamak dari al-Ahmas (الْأَحْمَسُ) yang artinya الشَّدِيدُ عَلَى دِينِهِ “Orang yang semangat/fanatik المُتَحَمِّسُ terhadap agamanya”. Syaitanpun menggoda mereka dengan berkata,إِنَّكُمْ إِنْ عَظَّمْتُمْ غَيْرَ حَرَمِكُمُ اسْتَخَفَّ النَّاسُ بِحَرَمِكُمْ“Jika kalian mengagungkan selain tanah haram (maksudnya padang ‘Arafah yang merupakan tanah halal) maka orang-orang akan meremehkan tanah haram kalian.”Akhirnya mereka tidak keluar dari tanah haram menuju ‘Arafah untuk wukuf, dan mereka berkata :نَحْنُ أَهْلُ اللَّهِ لَا نَخْرُجُ مِنَ الْحَرَمِ“Kami adalah orang-orang khususnya Allah, dan kami tidak keluar dari tanah haram.” (Lihat Fathul Baari 3/516)Adapun Nabi ﷺ meskipun ia dari suku Quraisy namun ketika haji -yaitu sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul- fithrahnya membimbing beliau untuk wuquf di Padang ‘Arafah. Padahal tidak ada seorang pun yang membimbing beliau. Namun ini terjadi karena bimbingan Allah. Jubair bin Muth’im berkata :أَضْلَلْتُ بَعِيرًا لِي، فَذَهَبْتُ أَطْلُبُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا بِعَرَفَةَ، فَقُلْتُ: «هَذَا وَاللَّهِ مِنَ الحُمْسِ فَمَا شَأْنُهُ هَا هُنَا»“Aku kehilangan ontaku, maka akupun mencari ontaku tatkala hari ‘Arafah. Lantas aku melihat Nabi ﷺ wuquf di Padang ‘Arafah (bersama kabilah-kabilah selain Quraisy-pen). Aku berkata: “Demi Allah ia (Muhammad) termasuk Quraiys, lantas kenapa wuqufnya di ‘Arafah?” (HR Al-Bukhari no 1664)Hadits ini juga merupakan dalil bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi ﷺ. Bahkan dalam ibadah, Nabi ﷺ tidak terjerumus ke dalam kesyirikan, tidak pula terjebak dalam kebid’ahan. Termasuk saat haji, Nabi ﷺ berhaji di musim haji juga tidak melanggar hajinya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, dimana wuqufnya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām adalah di Padang ‘Arafah.Demikianlah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, meskipun Beliau belum menjadi Nabi, beliau dijaga dari sisi aqidah, akhlak, dan perangai serta perilaku.Nabi Mūsā ‘alayhissalām ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk berdakwah kepada Fir’aun, beliau merasa takut, karena Nabi Mūsā pernah melakukan kesalahan yaitu pernah membunuh salah seorang dari Banī Isrāil sehingga khawatir kaumnya membunuh atau mendustakannya. Hal ini diungkap dan diungkit kesalahannya oleh Fir’aun saat Nabi Mūsā berdakwah.Fir’aun berkata :أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ (18) وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” (QS Asy-Syu’ara : 18-19)Adapun Nabi Muhammad ﷺ tidak ada kesalahannya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak memiliki alasan untuk mencela Nabi ﷺ.Nabi ﷺ saat pertama kali berdakwah terang-terangan, beliau berseru di Jabal Shafa:أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Wahai orang-orang Quraisy, jikalau saya kabarkan kepada kalian ada pasukan berkuda di lembah yang ingin menyerang kalian tiba-tiba, apakah kalian akan membenarkannya?”Mereka menjawab :نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Iya, kami tidak pernah mendapatimu berdusta.”Nabi ﷺ lalu melanjutkan :فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya adzab yang pedih.” (HR Al-Bukhari no 4770 dan Muslim no 208)Maka merekapun langsung mendustakan Nabi ﷺ saat itu juga. Mulailah mereka mengatakan Nabi ﷺ adalah seorang pendusta, penyihir, orang gila karena tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Adapun dari sisi akhlak, mereka tidak bisa mengingkari luar biasanya akhlaq Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sejak zaman Jahiliyyah.Turunnya Wahyu Kepada Muhammad ﷺSebelum Nabi ﷺ diangkat menjadi seorang Nabi, telah tersebar di seantero jazirah Arab bahkan sampai ke negeri Syam bahwa akan muncul seorang Nabi yang diutus oleh Allāh pada tahun ini, yaitu tahun dimana Nabi diangkat menjadi seorang Rasul.Orang-orang ahli kitab telah mengetahui hal ini dari kitab suci mereka. Orang-orang Yahudi mengetahui dari Taurat mereka dan orang-orang Nashrani juga mengetahui dari Injil mereka. Di dalam Al-Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman bahwa Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām mengabarkan kepada kaumnya:وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ“Dan (ingatlah) ketika ‘Īsā Putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allāh kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS As-Shaff : 6)Demikian juga orang-orang Yahudi sering mereka menyangka bahwa Nabi yang terakhir diutus adalah dari kalangan mereka (Bani Isrāīl), oleh karenanya ketika mereka bertikai dengan penduduk Madinah (kaum Anshār), mereka sering sesumbar bahwa sebentar lagi akan diutus seorang Nabi dan kami bersama Nabi tersebut akan memerangi kaum Anshār. Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٨٩)“Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al-Qurān) dari Allāh yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allāh bagi orang-orang yang ingkar.” (QS Al-Baqarah : 89)Para ulama berkata, mengapa orang-orang Yahudi banyak tinggal di kota Madinah? Karena mereka tahu di dalam kitab Taurat mereka disebutkan bahwa akan ada Nabi yang akan berhijrah ke tempat yang banyak kurmanya. Dan mereka tahu tempat tersebut adalah kota Madinah, sehingga mereka sengaja tinggal di kota Madinah dan menanti kedatangan Rasūlullāh ﷺ. Mereka menyangka Nabi tersebut dari kalangan Bani Isrāīl. Tetapi ternyata diluar dugaan. Mereka sudah mengetahui seluruh sifat-sifat kenabian, sebagaimana dalam firman Allah :الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ“Orang-orang yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS Al-Baqarah : 146)Seseorang akan mengenal baik anak-anaknya. Bagaimana sifatnya, apa kesukaannya, bagaimana ciri fisik tubuhnya. Allāh menggambarkan orang Yahudi mengenal Nabi ﷺ sebagaimana mengenal anak mereka. Artinya, mereka benar-benar mengetahui sifat Nabi ﷺ. Namun ada satu sifat Nabi yang tidak Allāh sebutkan di dalam kitab suci mereka, yaitu bahwa Nabi tersebut dari bangsa Arab.Mereka menyangka, Nabi tersebut sebagaimana nabi-nabi lainnya adalah dari bangsa Isrāīl. Seperti Nabi Ya’qūb, Nabi Yūsuf, Nabi Mūsā, Nabi Dāwud, Nabi Sulaiman, Nabi ‘Īsā, dan seterusnya. Karena itu, setelah mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ berasal dari bangsa Arab, dengan serta merta mereka tidak mau beriman, karena mereka menyangka bahwa agama mereka adalah agama spesial untuk bangsa mereka saja, dan mereka mengklaim hanya mereka yang masuk surga.Disebutkan dalam hadits dengan sanad yang hasan dari riwayat siroh Ibnu Hisyām. Orang-orang Anshār masuk Islam karena banyak sebab, diantaranya karena mereka sering mendengar orang-orang Yahudi berkata “Sebentar lagi akan datang seorang Nabi dan kami akan bunuh kalian.” Begitu datang Nabi tersebut, maka orang-orang Anshār sudah beriman dahulu sebelum orang-orang Yahudi.Oleh karena itu, disebutkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Hieraklius bertemu dengan Abū Sofyan kemudian bertanya tentang ciri-ciri Nabi, dia mendengar ada Nabi yang sudah muncul, bertanya tentang pengikutnya, nasabnya, sifat-sifatnya. Ternyata persis dikatakan bahwa Nabi tersebut akan menguasai kerajaanku dan aku ingin membai’at dia, kata Hieraklius, tetapi dia tidak menduga kalau Nabi tersebut muncul dari bangsa Arab.Hieraklius pun mengetahui bahwa salah satu ciri Nabi tersebut adalah berkhitan, kemudian dia mengumpulkan para pembesarnya. Maka para pembesarnya mengatakan: “Jangan khawatir, wahai raja, kalau ternyata Nabi tersebut dari kalangan Yahudi maka kita akan bunuh.” Lalu Hieraklius berkata: “Apakah orang-orang Arab juga berkhitan?” Kata mereka: “Ya, orang-orang Arab juga berkhitan.” Dan ternyata Nabi terakhir bukan dari Yahudi tetapi dari kaum Arab.Kemudian Hieraklius mengumpulkan seluruh rakyatnya, seluruh pintu istana ditutup dan berkata: “Wahai rakyatku, telah muncul seorang Nabi dari kalangan Arab, berbai’atlah kepadanya niscaya kalian akan beruntung.” Maka rakyatnya gaduh dan ada suara hiruk pikuk, mereka ingin keluar dari istana, ternyata semua pintu sudah dikunci. Ketika Hieraklius sudah melihat bahwa rakyatnya tidak akan beriman maka dia berkata: “Tenanglah rakyatku, aku hanya menguji iman kalian, ternyata iman kalian kuat.” Padahal Nabi ﷺ telah mengirim surat kepada Hieraklius mengatakan:أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ“Masuk Islamlah maka engkau akan selamat. Kalau kalian mengingkari ajaranku maka kau akan mendapatkan dosanya para pengikutmu (rakyatmu).” (HR Al-Bukhari no 7)Nabi sudah mengingatkan, jika Hieraklius tidak mau beriman, maka bukan hanya dosanya sendiri tetapi juga dosa rakyatnya ditanggung.Bersambung Insya Allah..

Siapa Yang Dimaksud Dengan Ulil Amri?

Pertanyaan:Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?Jawab:Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia)?”Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman: مكنم رملأا يلوأو “Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]. Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289).Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.Justru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan” (Fathul Baari 13/7).Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR At Tirmidzi)Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya. Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع“Nanti setelah aku akan ada pemimpin pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.Hadits ini juga membantah orang yang mengkafirkan setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka. Wallahu a’lam.___Pertanyaan:Ustadz tentang hadits : “walaupun dipimpin oleh hamba sahaya etiopia“. Bukankah ada tambahannya yaitu: “yang memimpinmu dengan kitabullah“. Sehingga ini menunjukkan bahwa boleh ditaati hanya yang berhukum dengan kitabullah?Jawab: Pertama: Tidak ragu lagi bahwa bila seorang pemimpin memerintahkan kepada suatu peraturan yang berlawanan dengan kitabullah tidak boleh ditaati. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk menaati makhluk untuk memaksiati Allah. Ini adalah pokok yang disepakati oleh kaum muslimin.Kedua: Namun maksud saya berdalil dengan hadits tersebut adalah untuk membantah pendapat bahwa syarat ulil amri yang ditaati adalah sebatas ulil amri hasil dari pemilihan yang sesuai syari’at.Karena para ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah harus merdeka dan bukan budak atau hamba sahaya. Sedangkan dalam hadits itu disebutkan: “dengarlah dan taati pemimpin walaupun dipimpin oleh hamba sahaya ethiopia“. Sedangkan hamba sahaya tak boleh dipilih dalam pemilihan yang sesuai syariat islam. Bila ia menjadi pemimpin pasti caranya tidak sesuai syari’at Islam.Ketiga: Tidak setiap yang berhukum dengan selain islam itu dikafirkan. Yang dikafirkan adalah yang menganggap halal berhukum dengan hukum selain Islam dan mengganggap bahwa Allah tidak mewajibkannya. Inipun dikafirkan setelah ditegakkan padanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat. Adapun yang meyakini keharamannya namun ia mengikuti hawa nafsu, maka ia tidak kafir menurut ijma ulama sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al Qurthubi dalam kitab Al Mufhim Syarah Shahih Muslim.Keempat: Perkataan “yang memimpinmu dengan kitabullah” tidak bisa difahami bahwa syarat ulil amri itu harus berhukum dengan hukum Allah seratus persen. Karena pemimpin yang berhukum dengan hukum Allah seratus persen telah hilang semenjak sistem pemerintahan berubah menjadi sistem kerajaan dan bukan khilafah ala minhajin nubuwah.Di zaman imam Ahmad bin Hambal ada para pemimpin yang berkeyakinan kufur dengan mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk. Bahkan menyiksa dan membunuhi para ulama untuk mengikutinya. Namun imam Ahmad melarang untuk memberontak dengan berdasarkan hadits hadits yang melarang memberontak kepada ulil amri.Kelima: Adanya hadits yang mengabarkan akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnahku yang diriwayatkan oleh Muslim yang kemudian Nabi tetap menyuruh untuk menaatinya dalam perkara yang ma’ruf tentunya, adalah nash yang sharih dan gamblang bahwa mereka tetap dianggap muslim dan disebut ulil amri walaupun tidak mau mengambil petunjuk Nabi dan mengambil petunjuk selain Nabi.___Sumber: channel telegram Al FawaidPenulis: Ust. Badrusalam Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Al Awwal, Ikhlas Dengan Ketentuan Allah, Menghitamkan Rambut Menurut Islam, Butuh Kesabaran, Umroh Tanpa Mahram

Siapa Yang Dimaksud Dengan Ulil Amri?

Pertanyaan:Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?Jawab:Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia)?”Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman: مكنم رملأا يلوأو “Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]. Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289).Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.Justru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan” (Fathul Baari 13/7).Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR At Tirmidzi)Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya. Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع“Nanti setelah aku akan ada pemimpin pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.Hadits ini juga membantah orang yang mengkafirkan setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka. Wallahu a’lam.___Pertanyaan:Ustadz tentang hadits : “walaupun dipimpin oleh hamba sahaya etiopia“. Bukankah ada tambahannya yaitu: “yang memimpinmu dengan kitabullah“. Sehingga ini menunjukkan bahwa boleh ditaati hanya yang berhukum dengan kitabullah?Jawab: Pertama: Tidak ragu lagi bahwa bila seorang pemimpin memerintahkan kepada suatu peraturan yang berlawanan dengan kitabullah tidak boleh ditaati. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk menaati makhluk untuk memaksiati Allah. Ini adalah pokok yang disepakati oleh kaum muslimin.Kedua: Namun maksud saya berdalil dengan hadits tersebut adalah untuk membantah pendapat bahwa syarat ulil amri yang ditaati adalah sebatas ulil amri hasil dari pemilihan yang sesuai syari’at.Karena para ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah harus merdeka dan bukan budak atau hamba sahaya. Sedangkan dalam hadits itu disebutkan: “dengarlah dan taati pemimpin walaupun dipimpin oleh hamba sahaya ethiopia“. Sedangkan hamba sahaya tak boleh dipilih dalam pemilihan yang sesuai syariat islam. Bila ia menjadi pemimpin pasti caranya tidak sesuai syari’at Islam.Ketiga: Tidak setiap yang berhukum dengan selain islam itu dikafirkan. Yang dikafirkan adalah yang menganggap halal berhukum dengan hukum selain Islam dan mengganggap bahwa Allah tidak mewajibkannya. Inipun dikafirkan setelah ditegakkan padanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat. Adapun yang meyakini keharamannya namun ia mengikuti hawa nafsu, maka ia tidak kafir menurut ijma ulama sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al Qurthubi dalam kitab Al Mufhim Syarah Shahih Muslim.Keempat: Perkataan “yang memimpinmu dengan kitabullah” tidak bisa difahami bahwa syarat ulil amri itu harus berhukum dengan hukum Allah seratus persen. Karena pemimpin yang berhukum dengan hukum Allah seratus persen telah hilang semenjak sistem pemerintahan berubah menjadi sistem kerajaan dan bukan khilafah ala minhajin nubuwah.Di zaman imam Ahmad bin Hambal ada para pemimpin yang berkeyakinan kufur dengan mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk. Bahkan menyiksa dan membunuhi para ulama untuk mengikutinya. Namun imam Ahmad melarang untuk memberontak dengan berdasarkan hadits hadits yang melarang memberontak kepada ulil amri.Kelima: Adanya hadits yang mengabarkan akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnahku yang diriwayatkan oleh Muslim yang kemudian Nabi tetap menyuruh untuk menaatinya dalam perkara yang ma’ruf tentunya, adalah nash yang sharih dan gamblang bahwa mereka tetap dianggap muslim dan disebut ulil amri walaupun tidak mau mengambil petunjuk Nabi dan mengambil petunjuk selain Nabi.___Sumber: channel telegram Al FawaidPenulis: Ust. Badrusalam Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Al Awwal, Ikhlas Dengan Ketentuan Allah, Menghitamkan Rambut Menurut Islam, Butuh Kesabaran, Umroh Tanpa Mahram
Pertanyaan:Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?Jawab:Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia)?”Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman: مكنم رملأا يلوأو “Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]. Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289).Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.Justru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan” (Fathul Baari 13/7).Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR At Tirmidzi)Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya. Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع“Nanti setelah aku akan ada pemimpin pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.Hadits ini juga membantah orang yang mengkafirkan setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka. Wallahu a’lam.___Pertanyaan:Ustadz tentang hadits : “walaupun dipimpin oleh hamba sahaya etiopia“. Bukankah ada tambahannya yaitu: “yang memimpinmu dengan kitabullah“. Sehingga ini menunjukkan bahwa boleh ditaati hanya yang berhukum dengan kitabullah?Jawab: Pertama: Tidak ragu lagi bahwa bila seorang pemimpin memerintahkan kepada suatu peraturan yang berlawanan dengan kitabullah tidak boleh ditaati. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk menaati makhluk untuk memaksiati Allah. Ini adalah pokok yang disepakati oleh kaum muslimin.Kedua: Namun maksud saya berdalil dengan hadits tersebut adalah untuk membantah pendapat bahwa syarat ulil amri yang ditaati adalah sebatas ulil amri hasil dari pemilihan yang sesuai syari’at.Karena para ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah harus merdeka dan bukan budak atau hamba sahaya. Sedangkan dalam hadits itu disebutkan: “dengarlah dan taati pemimpin walaupun dipimpin oleh hamba sahaya ethiopia“. Sedangkan hamba sahaya tak boleh dipilih dalam pemilihan yang sesuai syariat islam. Bila ia menjadi pemimpin pasti caranya tidak sesuai syari’at Islam.Ketiga: Tidak setiap yang berhukum dengan selain islam itu dikafirkan. Yang dikafirkan adalah yang menganggap halal berhukum dengan hukum selain Islam dan mengganggap bahwa Allah tidak mewajibkannya. Inipun dikafirkan setelah ditegakkan padanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat. Adapun yang meyakini keharamannya namun ia mengikuti hawa nafsu, maka ia tidak kafir menurut ijma ulama sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al Qurthubi dalam kitab Al Mufhim Syarah Shahih Muslim.Keempat: Perkataan “yang memimpinmu dengan kitabullah” tidak bisa difahami bahwa syarat ulil amri itu harus berhukum dengan hukum Allah seratus persen. Karena pemimpin yang berhukum dengan hukum Allah seratus persen telah hilang semenjak sistem pemerintahan berubah menjadi sistem kerajaan dan bukan khilafah ala minhajin nubuwah.Di zaman imam Ahmad bin Hambal ada para pemimpin yang berkeyakinan kufur dengan mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk. Bahkan menyiksa dan membunuhi para ulama untuk mengikutinya. Namun imam Ahmad melarang untuk memberontak dengan berdasarkan hadits hadits yang melarang memberontak kepada ulil amri.Kelima: Adanya hadits yang mengabarkan akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnahku yang diriwayatkan oleh Muslim yang kemudian Nabi tetap menyuruh untuk menaatinya dalam perkara yang ma’ruf tentunya, adalah nash yang sharih dan gamblang bahwa mereka tetap dianggap muslim dan disebut ulil amri walaupun tidak mau mengambil petunjuk Nabi dan mengambil petunjuk selain Nabi.___Sumber: channel telegram Al FawaidPenulis: Ust. Badrusalam Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Al Awwal, Ikhlas Dengan Ketentuan Allah, Menghitamkan Rambut Menurut Islam, Butuh Kesabaran, Umroh Tanpa Mahram


Pertanyaan:Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?Jawab:Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia)?”Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman: مكنم رملأا يلوأو “Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]. Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289).Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.Justru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan” (Fathul Baari 13/7).Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR At Tirmidzi)Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya. Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع“Nanti setelah aku akan ada pemimpin pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.Hadits ini juga membantah orang yang mengkafirkan setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka. Wallahu a’lam.___Pertanyaan:Ustadz tentang hadits : “walaupun dipimpin oleh hamba sahaya etiopia“. Bukankah ada tambahannya yaitu: “yang memimpinmu dengan kitabullah“. Sehingga ini menunjukkan bahwa boleh ditaati hanya yang berhukum dengan kitabullah?Jawab: Pertama: Tidak ragu lagi bahwa bila seorang pemimpin memerintahkan kepada suatu peraturan yang berlawanan dengan kitabullah tidak boleh ditaati. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk menaati makhluk untuk memaksiati Allah. Ini adalah pokok yang disepakati oleh kaum muslimin.Kedua: Namun maksud saya berdalil dengan hadits tersebut adalah untuk membantah pendapat bahwa syarat ulil amri yang ditaati adalah sebatas ulil amri hasil dari pemilihan yang sesuai syari’at.Karena para ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah harus merdeka dan bukan budak atau hamba sahaya. Sedangkan dalam hadits itu disebutkan: “dengarlah dan taati pemimpin walaupun dipimpin oleh hamba sahaya ethiopia“. Sedangkan hamba sahaya tak boleh dipilih dalam pemilihan yang sesuai syariat islam. Bila ia menjadi pemimpin pasti caranya tidak sesuai syari’at Islam.Ketiga: Tidak setiap yang berhukum dengan selain islam itu dikafirkan. Yang dikafirkan adalah yang menganggap halal berhukum dengan hukum selain Islam dan mengganggap bahwa Allah tidak mewajibkannya. Inipun dikafirkan setelah ditegakkan padanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat. Adapun yang meyakini keharamannya namun ia mengikuti hawa nafsu, maka ia tidak kafir menurut ijma ulama sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al Qurthubi dalam kitab Al Mufhim Syarah Shahih Muslim.Keempat: Perkataan “yang memimpinmu dengan kitabullah” tidak bisa difahami bahwa syarat ulil amri itu harus berhukum dengan hukum Allah seratus persen. Karena pemimpin yang berhukum dengan hukum Allah seratus persen telah hilang semenjak sistem pemerintahan berubah menjadi sistem kerajaan dan bukan khilafah ala minhajin nubuwah.Di zaman imam Ahmad bin Hambal ada para pemimpin yang berkeyakinan kufur dengan mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk. Bahkan menyiksa dan membunuhi para ulama untuk mengikutinya. Namun imam Ahmad melarang untuk memberontak dengan berdasarkan hadits hadits yang melarang memberontak kepada ulil amri.Kelima: Adanya hadits yang mengabarkan akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnahku yang diriwayatkan oleh Muslim yang kemudian Nabi tetap menyuruh untuk menaatinya dalam perkara yang ma’ruf tentunya, adalah nash yang sharih dan gamblang bahwa mereka tetap dianggap muslim dan disebut ulil amri walaupun tidak mau mengambil petunjuk Nabi dan mengambil petunjuk selain Nabi.___Sumber: channel telegram Al FawaidPenulis: Ust. Badrusalam Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Al Awwal, Ikhlas Dengan Ketentuan Allah, Menghitamkan Rambut Menurut Islam, Butuh Kesabaran, Umroh Tanpa Mahram

Meng-qadha’ Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Keutamaan menjaga shalat sunnah qabliyah subuhShalat sunnah dua raka’at qabliyah subuh, atau disebut juga shalat sunnah fajar [1], termasuk di antara shalat sunnah yang ditekankan untuk senantiasa dikerjakan. Shalat ini memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا“Dua raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa menjaga pelaksanaannya, meskipun beliau dalam kondisi safar (perjalanan jauh), yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga pelaksanaan shalat sunnah yang satu ini.Baca Juga: Inilah Kiat Agar Mudah Bangun SubuhDiriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,عَرَّسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ؛ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ . قَالَ: فَفَعَلْنَا، فَدَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ“Kami tidur untuk istirahat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbangun ketika matahari telah terbit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya tiap orang berpegangan dengan tunggangannya. Sesungguhnya tempat ini didatangi oleh setan.” Abu Hurairah berkata lagi, “Kami pun melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meminta air untuk berwudhu. Lalu beliau mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at. Iqamah kemudian dikumandangkan, dan beliau pun mengerjakan shalat subuh.” (HR. An-Nasa’i no. 623, shahih)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,“Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar adalah meng-qashar (meringkas) shalat, dan tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengerjakan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat wajib, kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah fajar. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan keduanya, baik dalam kondisi safar atau pun tidak safar (muqim).” (Zaadul Ma’aad, 1: 473)Baca Juga: Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhJika terlewat mengerjakan shalat sunnah qabliyah subuh sebelum shalat subuhLalu, bagaimana jika seseorang terlewat mengerjakan shalat sunnah dua raka’at sebelum subuh ini? Misalnya, seseorang yang bangun agak terlambat dan ketika sampai di masjid, dia mendapati shalat jama’ah subuh sudah didirikan, atau sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang terlewat mengerjakan pada waktunya (sebelum shalat subuh).Dalam kondisi tersebut, syariat memperbolehkan untuk mengqadha’ pelaksanaan shalat sunnah qabliyah subuh tersebut. Qadha’ adalah melaksanakan suatu jenis ibadah di luar waktu yang sudah ditentukan untuk ibadah tersebut. Misalnya, seseorang tertidur sehingga terlewat shalat dzuhur dan terbangun ketika waktu ashar. Maka orang tersebut meng-qadha’ shalat dzuhur di waktu ashar.Adapun qadha’ untuk shalat sunnah qabliyah subuh, terdapat dua waktu yang terdapat penjelasannya dari sunnah, yaitu:Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 1)Pertama, waktu yang utamaWaktu yang utama untuk meng-qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh adalah setelah matahari terbit. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ“Barangsiapa yang belum melaksanakan shalat dua raka’at fajar, maka hendaklah mengerjakannya setelah matahari terbit.” (HR. Tirmidzi no. 423, dinilai shahih oleh Al-Albani)Ke dua, waktu yang diperbolehkanDzahir hadits di atas menunjukkan bahwa qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh tersebut harus menunggu sampai matahari telah terbit. Akan tetapi, terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa diperbolehkan jika ingin meng-qadha’ shalat tersebut langsung setelah selesai mendirikan shalat subuh.Baca Juga: Inilah Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatDiriwayatkan dari Qais bin Qahd radhiyallahu ‘anhu, خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: فَلَا إِذَنْ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah), lalu iqamah pun dikumandangkan. Aku shalat subuh bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu, dan menjumpai sedang shalat. Rasulullah bersabda, “Wahai Qais! Bukankah Engkau shalat (subuh) bersama kami? Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah. Sesungguhnya aku tadi belum mengerjakan shalat sunnah dua raka’at fajar.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu silakan.” (HR. Tirmidzi no. 422, dinilai shahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bolehnya meng-qadha’ shalat sunnah fajar setelah mengerjakan shalat subuh. Sehingga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim di atas dimaknai sebagai perintah anjuran, atau menunjukkan waktu manakah yang lebih utama.Baca Juga: Tidak Shalat Selama Bertahun-tahun, Apakah Harus Mengganti? INilah Tata Cara Shalat Orang Yang Sakit ***@Rumah Lendah, 1 Rabi’ul akhir 1440/ 9 Desember 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Sebagian orang menyangka bahwa “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah khusus yang dikerjakan sebelum fajar terbit. Pemahaman ini keliru, karena yang dimaksud “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah qabliyah subuh, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan setelah terbit fajar dan sebelum mendirikan shalat subuh.Referensi:Bughyatul mutathawwi’ fi shalat at-tathawwu’, karya Syaikh Muhammad ‘Umar bin Saalim Bazmul, hal. 35-37 (penerbit Daar Al-Istiqamah, cetakan pertama, tahun 1431).🔍 Hadits Tentang Bidah, Wujud Asli Jin Menurut Islam, Assunnah Bagaimana Hukumnya Memakai Susuk, Abu Bakar Sidik, Doa Pernikahan Dalam Islam

Meng-qadha’ Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Keutamaan menjaga shalat sunnah qabliyah subuhShalat sunnah dua raka’at qabliyah subuh, atau disebut juga shalat sunnah fajar [1], termasuk di antara shalat sunnah yang ditekankan untuk senantiasa dikerjakan. Shalat ini memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا“Dua raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa menjaga pelaksanaannya, meskipun beliau dalam kondisi safar (perjalanan jauh), yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga pelaksanaan shalat sunnah yang satu ini.Baca Juga: Inilah Kiat Agar Mudah Bangun SubuhDiriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,عَرَّسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ؛ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ . قَالَ: فَفَعَلْنَا، فَدَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ“Kami tidur untuk istirahat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbangun ketika matahari telah terbit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya tiap orang berpegangan dengan tunggangannya. Sesungguhnya tempat ini didatangi oleh setan.” Abu Hurairah berkata lagi, “Kami pun melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meminta air untuk berwudhu. Lalu beliau mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at. Iqamah kemudian dikumandangkan, dan beliau pun mengerjakan shalat subuh.” (HR. An-Nasa’i no. 623, shahih)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,“Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar adalah meng-qashar (meringkas) shalat, dan tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengerjakan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat wajib, kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah fajar. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan keduanya, baik dalam kondisi safar atau pun tidak safar (muqim).” (Zaadul Ma’aad, 1: 473)Baca Juga: Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhJika terlewat mengerjakan shalat sunnah qabliyah subuh sebelum shalat subuhLalu, bagaimana jika seseorang terlewat mengerjakan shalat sunnah dua raka’at sebelum subuh ini? Misalnya, seseorang yang bangun agak terlambat dan ketika sampai di masjid, dia mendapati shalat jama’ah subuh sudah didirikan, atau sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang terlewat mengerjakan pada waktunya (sebelum shalat subuh).Dalam kondisi tersebut, syariat memperbolehkan untuk mengqadha’ pelaksanaan shalat sunnah qabliyah subuh tersebut. Qadha’ adalah melaksanakan suatu jenis ibadah di luar waktu yang sudah ditentukan untuk ibadah tersebut. Misalnya, seseorang tertidur sehingga terlewat shalat dzuhur dan terbangun ketika waktu ashar. Maka orang tersebut meng-qadha’ shalat dzuhur di waktu ashar.Adapun qadha’ untuk shalat sunnah qabliyah subuh, terdapat dua waktu yang terdapat penjelasannya dari sunnah, yaitu:Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 1)Pertama, waktu yang utamaWaktu yang utama untuk meng-qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh adalah setelah matahari terbit. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ“Barangsiapa yang belum melaksanakan shalat dua raka’at fajar, maka hendaklah mengerjakannya setelah matahari terbit.” (HR. Tirmidzi no. 423, dinilai shahih oleh Al-Albani)Ke dua, waktu yang diperbolehkanDzahir hadits di atas menunjukkan bahwa qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh tersebut harus menunggu sampai matahari telah terbit. Akan tetapi, terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa diperbolehkan jika ingin meng-qadha’ shalat tersebut langsung setelah selesai mendirikan shalat subuh.Baca Juga: Inilah Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatDiriwayatkan dari Qais bin Qahd radhiyallahu ‘anhu, خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: فَلَا إِذَنْ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah), lalu iqamah pun dikumandangkan. Aku shalat subuh bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu, dan menjumpai sedang shalat. Rasulullah bersabda, “Wahai Qais! Bukankah Engkau shalat (subuh) bersama kami? Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah. Sesungguhnya aku tadi belum mengerjakan shalat sunnah dua raka’at fajar.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu silakan.” (HR. Tirmidzi no. 422, dinilai shahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bolehnya meng-qadha’ shalat sunnah fajar setelah mengerjakan shalat subuh. Sehingga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim di atas dimaknai sebagai perintah anjuran, atau menunjukkan waktu manakah yang lebih utama.Baca Juga: Tidak Shalat Selama Bertahun-tahun, Apakah Harus Mengganti? INilah Tata Cara Shalat Orang Yang Sakit ***@Rumah Lendah, 1 Rabi’ul akhir 1440/ 9 Desember 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Sebagian orang menyangka bahwa “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah khusus yang dikerjakan sebelum fajar terbit. Pemahaman ini keliru, karena yang dimaksud “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah qabliyah subuh, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan setelah terbit fajar dan sebelum mendirikan shalat subuh.Referensi:Bughyatul mutathawwi’ fi shalat at-tathawwu’, karya Syaikh Muhammad ‘Umar bin Saalim Bazmul, hal. 35-37 (penerbit Daar Al-Istiqamah, cetakan pertama, tahun 1431).🔍 Hadits Tentang Bidah, Wujud Asli Jin Menurut Islam, Assunnah Bagaimana Hukumnya Memakai Susuk, Abu Bakar Sidik, Doa Pernikahan Dalam Islam
Keutamaan menjaga shalat sunnah qabliyah subuhShalat sunnah dua raka’at qabliyah subuh, atau disebut juga shalat sunnah fajar [1], termasuk di antara shalat sunnah yang ditekankan untuk senantiasa dikerjakan. Shalat ini memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا“Dua raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa menjaga pelaksanaannya, meskipun beliau dalam kondisi safar (perjalanan jauh), yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga pelaksanaan shalat sunnah yang satu ini.Baca Juga: Inilah Kiat Agar Mudah Bangun SubuhDiriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,عَرَّسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ؛ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ . قَالَ: فَفَعَلْنَا، فَدَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ“Kami tidur untuk istirahat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbangun ketika matahari telah terbit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya tiap orang berpegangan dengan tunggangannya. Sesungguhnya tempat ini didatangi oleh setan.” Abu Hurairah berkata lagi, “Kami pun melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meminta air untuk berwudhu. Lalu beliau mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at. Iqamah kemudian dikumandangkan, dan beliau pun mengerjakan shalat subuh.” (HR. An-Nasa’i no. 623, shahih)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,“Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar adalah meng-qashar (meringkas) shalat, dan tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengerjakan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat wajib, kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah fajar. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan keduanya, baik dalam kondisi safar atau pun tidak safar (muqim).” (Zaadul Ma’aad, 1: 473)Baca Juga: Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhJika terlewat mengerjakan shalat sunnah qabliyah subuh sebelum shalat subuhLalu, bagaimana jika seseorang terlewat mengerjakan shalat sunnah dua raka’at sebelum subuh ini? Misalnya, seseorang yang bangun agak terlambat dan ketika sampai di masjid, dia mendapati shalat jama’ah subuh sudah didirikan, atau sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang terlewat mengerjakan pada waktunya (sebelum shalat subuh).Dalam kondisi tersebut, syariat memperbolehkan untuk mengqadha’ pelaksanaan shalat sunnah qabliyah subuh tersebut. Qadha’ adalah melaksanakan suatu jenis ibadah di luar waktu yang sudah ditentukan untuk ibadah tersebut. Misalnya, seseorang tertidur sehingga terlewat shalat dzuhur dan terbangun ketika waktu ashar. Maka orang tersebut meng-qadha’ shalat dzuhur di waktu ashar.Adapun qadha’ untuk shalat sunnah qabliyah subuh, terdapat dua waktu yang terdapat penjelasannya dari sunnah, yaitu:Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 1)Pertama, waktu yang utamaWaktu yang utama untuk meng-qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh adalah setelah matahari terbit. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ“Barangsiapa yang belum melaksanakan shalat dua raka’at fajar, maka hendaklah mengerjakannya setelah matahari terbit.” (HR. Tirmidzi no. 423, dinilai shahih oleh Al-Albani)Ke dua, waktu yang diperbolehkanDzahir hadits di atas menunjukkan bahwa qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh tersebut harus menunggu sampai matahari telah terbit. Akan tetapi, terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa diperbolehkan jika ingin meng-qadha’ shalat tersebut langsung setelah selesai mendirikan shalat subuh.Baca Juga: Inilah Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatDiriwayatkan dari Qais bin Qahd radhiyallahu ‘anhu, خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: فَلَا إِذَنْ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah), lalu iqamah pun dikumandangkan. Aku shalat subuh bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu, dan menjumpai sedang shalat. Rasulullah bersabda, “Wahai Qais! Bukankah Engkau shalat (subuh) bersama kami? Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah. Sesungguhnya aku tadi belum mengerjakan shalat sunnah dua raka’at fajar.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu silakan.” (HR. Tirmidzi no. 422, dinilai shahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bolehnya meng-qadha’ shalat sunnah fajar setelah mengerjakan shalat subuh. Sehingga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim di atas dimaknai sebagai perintah anjuran, atau menunjukkan waktu manakah yang lebih utama.Baca Juga: Tidak Shalat Selama Bertahun-tahun, Apakah Harus Mengganti? INilah Tata Cara Shalat Orang Yang Sakit ***@Rumah Lendah, 1 Rabi’ul akhir 1440/ 9 Desember 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Sebagian orang menyangka bahwa “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah khusus yang dikerjakan sebelum fajar terbit. Pemahaman ini keliru, karena yang dimaksud “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah qabliyah subuh, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan setelah terbit fajar dan sebelum mendirikan shalat subuh.Referensi:Bughyatul mutathawwi’ fi shalat at-tathawwu’, karya Syaikh Muhammad ‘Umar bin Saalim Bazmul, hal. 35-37 (penerbit Daar Al-Istiqamah, cetakan pertama, tahun 1431).🔍 Hadits Tentang Bidah, Wujud Asli Jin Menurut Islam, Assunnah Bagaimana Hukumnya Memakai Susuk, Abu Bakar Sidik, Doa Pernikahan Dalam Islam


Keutamaan menjaga shalat sunnah qabliyah subuhShalat sunnah dua raka’at qabliyah subuh, atau disebut juga shalat sunnah fajar [1], termasuk di antara shalat sunnah yang ditekankan untuk senantiasa dikerjakan. Shalat ini memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا“Dua raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa menjaga pelaksanaannya, meskipun beliau dalam kondisi safar (perjalanan jauh), yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga pelaksanaan shalat sunnah yang satu ini.Baca Juga: Inilah Kiat Agar Mudah Bangun SubuhDiriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,عَرَّسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ؛ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ . قَالَ: فَفَعَلْنَا، فَدَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ“Kami tidur untuk istirahat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbangun ketika matahari telah terbit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya tiap orang berpegangan dengan tunggangannya. Sesungguhnya tempat ini didatangi oleh setan.” Abu Hurairah berkata lagi, “Kami pun melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meminta air untuk berwudhu. Lalu beliau mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at. Iqamah kemudian dikumandangkan, dan beliau pun mengerjakan shalat subuh.” (HR. An-Nasa’i no. 623, shahih)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,“Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar adalah meng-qashar (meringkas) shalat, dan tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengerjakan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat wajib, kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah fajar. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan keduanya, baik dalam kondisi safar atau pun tidak safar (muqim).” (Zaadul Ma’aad, 1: 473)Baca Juga: Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhJika terlewat mengerjakan shalat sunnah qabliyah subuh sebelum shalat subuhLalu, bagaimana jika seseorang terlewat mengerjakan shalat sunnah dua raka’at sebelum subuh ini? Misalnya, seseorang yang bangun agak terlambat dan ketika sampai di masjid, dia mendapati shalat jama’ah subuh sudah didirikan, atau sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang terlewat mengerjakan pada waktunya (sebelum shalat subuh).Dalam kondisi tersebut, syariat memperbolehkan untuk mengqadha’ pelaksanaan shalat sunnah qabliyah subuh tersebut. Qadha’ adalah melaksanakan suatu jenis ibadah di luar waktu yang sudah ditentukan untuk ibadah tersebut. Misalnya, seseorang tertidur sehingga terlewat shalat dzuhur dan terbangun ketika waktu ashar. Maka orang tersebut meng-qadha’ shalat dzuhur di waktu ashar.Adapun qadha’ untuk shalat sunnah qabliyah subuh, terdapat dua waktu yang terdapat penjelasannya dari sunnah, yaitu:Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 1)Pertama, waktu yang utamaWaktu yang utama untuk meng-qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh adalah setelah matahari terbit. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ“Barangsiapa yang belum melaksanakan shalat dua raka’at fajar, maka hendaklah mengerjakannya setelah matahari terbit.” (HR. Tirmidzi no. 423, dinilai shahih oleh Al-Albani)Ke dua, waktu yang diperbolehkanDzahir hadits di atas menunjukkan bahwa qadha’ shalat sunnah qabliyah subuh tersebut harus menunggu sampai matahari telah terbit. Akan tetapi, terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa diperbolehkan jika ingin meng-qadha’ shalat tersebut langsung setelah selesai mendirikan shalat subuh.Baca Juga: Inilah Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatDiriwayatkan dari Qais bin Qahd radhiyallahu ‘anhu, خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: فَلَا إِذَنْ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah), lalu iqamah pun dikumandangkan. Aku shalat subuh bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu, dan menjumpai sedang shalat. Rasulullah bersabda, “Wahai Qais! Bukankah Engkau shalat (subuh) bersama kami? Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah. Sesungguhnya aku tadi belum mengerjakan shalat sunnah dua raka’at fajar.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu silakan.” (HR. Tirmidzi no. 422, dinilai shahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bolehnya meng-qadha’ shalat sunnah fajar setelah mengerjakan shalat subuh. Sehingga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim di atas dimaknai sebagai perintah anjuran, atau menunjukkan waktu manakah yang lebih utama.Baca Juga: Tidak Shalat Selama Bertahun-tahun, Apakah Harus Mengganti? INilah Tata Cara Shalat Orang Yang Sakit ***@Rumah Lendah, 1 Rabi’ul akhir 1440/ 9 Desember 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Sebagian orang menyangka bahwa “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah khusus yang dikerjakan sebelum fajar terbit. Pemahaman ini keliru, karena yang dimaksud “shalat sunnah fajar” adalah shalat sunnah qabliyah subuh, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan setelah terbit fajar dan sebelum mendirikan shalat subuh.Referensi:Bughyatul mutathawwi’ fi shalat at-tathawwu’, karya Syaikh Muhammad ‘Umar bin Saalim Bazmul, hal. 35-37 (penerbit Daar Al-Istiqamah, cetakan pertama, tahun 1431).🔍 Hadits Tentang Bidah, Wujud Asli Jin Menurut Islam, Assunnah Bagaimana Hukumnya Memakai Susuk, Abu Bakar Sidik, Doa Pernikahan Dalam Islam

Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.4)

Baca pembahasan sebelumnya Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.3) Makna “bersemayam” dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) kata tersebut diartikan :semayam /se·ma·yam/, bersemayam /ber·se·ma·yam/ v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal:Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yang – dl hati;menyemayamkan /me·nye·ma·yam·kan/ v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka; persemayaman /per·se·ma·yam·an/ n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahDengan demikian, makna “bersemayam” -menurut KBBI- kembali kepada lima makna : Duduk. Tinggal Tersimpan Menginap Berbaring   Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar Dari penjelasan tentang makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab) di artikel yang sebelumnya, dapat diambil ringkasan, bahwa :Makna istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah gabungan dari empat makna tersebut di atas,yaitu: صَعِدَ (tinggi di atas) عَلاَ (tinggi di atas) ارْتَفَعَ (tinggi di atas) استقرّ (tetap tinggi di atas) Baca Juga: Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamSehingga tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.Dengan demikian terjemahan yang tepat dari kalimat istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah “tinggi di atas” atau cukup diterjemahkan “di atas”, karena kata-kata “di atas” telah menunjukkan makna tinggi, sedangkan disini, makna istaqarra (tetap tinggi di atas) tidak dimasukkan dalam terjemahan, karena itu adalah makna/tafsir konsekuensi.Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata dalam Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah tentang makna/tafsir konsekuensi dari istawa :﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا: ﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد. علا ، ارتفع ، استقر ، صعد ، هذه التفاسير المنقولة عن السلف.“ {اسْتَوَى}, ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka menafsirkan:{اسْتَوَى} berarti ‘ala (tinggi di atas),{اسْتَوَى} berarti istaqarra (tetap tinggi di atas), {اسْتَوَى} berarti irtafa’a (tinggi di atas), dan{اسْتَوَى} berarti sha’ida (tinggi di atas).Baca Juga: Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu‘Ala, irtafa’a , istaqarra, dan sha’ida, semua tafsiran ini dinukilkan dari Salafush Shalih”.{اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} فسر باستقر … هو لازمها كما ذكرت ، تفسير باللازم ، يعني علا وارتفع ولم يزل على استوائه استقر على هذه الصفة ، استقر على العرش ، يعني هو جل وعلا استوى عليه ولم يتخل من استوائه عليه“ “Dia di atas ‘arsy” ini ditafsirkan dengan istaqarra, (Istaqarra) adalah menafsirkan (istiwa`) dengan makna konsekuensinya, sebagaimana yang telah saya sebutkan.Tafsir dengan konsekuensi ini maksudnya : {اسْتَوَى} berarti: (Allah) itu ‘ala (tinggi di atas) dan irtafa’a (tinggi di atas), dan senantiasa istiwa’ (di atas ‘arsy), tetap bersifat dengan sifat ini, dan tetap di atas ‘arsy.Jadi, maksudnya adalah Allah Jalla wa ‘Ala di atas ‘arsy dan Allah tidak terlepas dari sifat di atas ‘arsy.”Baca Juga: Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bersambung, in sya Allah) Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 'ain, Ya'juz Dan Ma'juz, Nama 8 Malaikat Pemikul Arsy, Jelaskan Keutamaan Orang Yang Menuntut Ilmu, Tarbiyah Sunnah

Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.4)

Baca pembahasan sebelumnya Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.3) Makna “bersemayam” dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) kata tersebut diartikan :semayam /se·ma·yam/, bersemayam /ber·se·ma·yam/ v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal:Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yang – dl hati;menyemayamkan /me·nye·ma·yam·kan/ v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka; persemayaman /per·se·ma·yam·an/ n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahDengan demikian, makna “bersemayam” -menurut KBBI- kembali kepada lima makna : Duduk. Tinggal Tersimpan Menginap Berbaring   Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar Dari penjelasan tentang makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab) di artikel yang sebelumnya, dapat diambil ringkasan, bahwa :Makna istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah gabungan dari empat makna tersebut di atas,yaitu: صَعِدَ (tinggi di atas) عَلاَ (tinggi di atas) ارْتَفَعَ (tinggi di atas) استقرّ (tetap tinggi di atas) Baca Juga: Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamSehingga tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.Dengan demikian terjemahan yang tepat dari kalimat istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah “tinggi di atas” atau cukup diterjemahkan “di atas”, karena kata-kata “di atas” telah menunjukkan makna tinggi, sedangkan disini, makna istaqarra (tetap tinggi di atas) tidak dimasukkan dalam terjemahan, karena itu adalah makna/tafsir konsekuensi.Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata dalam Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah tentang makna/tafsir konsekuensi dari istawa :﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا: ﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد. علا ، ارتفع ، استقر ، صعد ، هذه التفاسير المنقولة عن السلف.“ {اسْتَوَى}, ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka menafsirkan:{اسْتَوَى} berarti ‘ala (tinggi di atas),{اسْتَوَى} berarti istaqarra (tetap tinggi di atas), {اسْتَوَى} berarti irtafa’a (tinggi di atas), dan{اسْتَوَى} berarti sha’ida (tinggi di atas).Baca Juga: Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu‘Ala, irtafa’a , istaqarra, dan sha’ida, semua tafsiran ini dinukilkan dari Salafush Shalih”.{اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} فسر باستقر … هو لازمها كما ذكرت ، تفسير باللازم ، يعني علا وارتفع ولم يزل على استوائه استقر على هذه الصفة ، استقر على العرش ، يعني هو جل وعلا استوى عليه ولم يتخل من استوائه عليه“ “Dia di atas ‘arsy” ini ditafsirkan dengan istaqarra, (Istaqarra) adalah menafsirkan (istiwa`) dengan makna konsekuensinya, sebagaimana yang telah saya sebutkan.Tafsir dengan konsekuensi ini maksudnya : {اسْتَوَى} berarti: (Allah) itu ‘ala (tinggi di atas) dan irtafa’a (tinggi di atas), dan senantiasa istiwa’ (di atas ‘arsy), tetap bersifat dengan sifat ini, dan tetap di atas ‘arsy.Jadi, maksudnya adalah Allah Jalla wa ‘Ala di atas ‘arsy dan Allah tidak terlepas dari sifat di atas ‘arsy.”Baca Juga: Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bersambung, in sya Allah) Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 'ain, Ya'juz Dan Ma'juz, Nama 8 Malaikat Pemikul Arsy, Jelaskan Keutamaan Orang Yang Menuntut Ilmu, Tarbiyah Sunnah
Baca pembahasan sebelumnya Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.3) Makna “bersemayam” dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) kata tersebut diartikan :semayam /se·ma·yam/, bersemayam /ber·se·ma·yam/ v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal:Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yang – dl hati;menyemayamkan /me·nye·ma·yam·kan/ v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka; persemayaman /per·se·ma·yam·an/ n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahDengan demikian, makna “bersemayam” -menurut KBBI- kembali kepada lima makna : Duduk. Tinggal Tersimpan Menginap Berbaring   Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar Dari penjelasan tentang makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab) di artikel yang sebelumnya, dapat diambil ringkasan, bahwa :Makna istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah gabungan dari empat makna tersebut di atas,yaitu: صَعِدَ (tinggi di atas) عَلاَ (tinggi di atas) ارْتَفَعَ (tinggi di atas) استقرّ (tetap tinggi di atas) Baca Juga: Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamSehingga tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.Dengan demikian terjemahan yang tepat dari kalimat istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah “tinggi di atas” atau cukup diterjemahkan “di atas”, karena kata-kata “di atas” telah menunjukkan makna tinggi, sedangkan disini, makna istaqarra (tetap tinggi di atas) tidak dimasukkan dalam terjemahan, karena itu adalah makna/tafsir konsekuensi.Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata dalam Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah tentang makna/tafsir konsekuensi dari istawa :﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا: ﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد. علا ، ارتفع ، استقر ، صعد ، هذه التفاسير المنقولة عن السلف.“ {اسْتَوَى}, ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka menafsirkan:{اسْتَوَى} berarti ‘ala (tinggi di atas),{اسْتَوَى} berarti istaqarra (tetap tinggi di atas), {اسْتَوَى} berarti irtafa’a (tinggi di atas), dan{اسْتَوَى} berarti sha’ida (tinggi di atas).Baca Juga: Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu‘Ala, irtafa’a , istaqarra, dan sha’ida, semua tafsiran ini dinukilkan dari Salafush Shalih”.{اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} فسر باستقر … هو لازمها كما ذكرت ، تفسير باللازم ، يعني علا وارتفع ولم يزل على استوائه استقر على هذه الصفة ، استقر على العرش ، يعني هو جل وعلا استوى عليه ولم يتخل من استوائه عليه“ “Dia di atas ‘arsy” ini ditafsirkan dengan istaqarra, (Istaqarra) adalah menafsirkan (istiwa`) dengan makna konsekuensinya, sebagaimana yang telah saya sebutkan.Tafsir dengan konsekuensi ini maksudnya : {اسْتَوَى} berarti: (Allah) itu ‘ala (tinggi di atas) dan irtafa’a (tinggi di atas), dan senantiasa istiwa’ (di atas ‘arsy), tetap bersifat dengan sifat ini, dan tetap di atas ‘arsy.Jadi, maksudnya adalah Allah Jalla wa ‘Ala di atas ‘arsy dan Allah tidak terlepas dari sifat di atas ‘arsy.”Baca Juga: Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bersambung, in sya Allah) Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 'ain, Ya'juz Dan Ma'juz, Nama 8 Malaikat Pemikul Arsy, Jelaskan Keutamaan Orang Yang Menuntut Ilmu, Tarbiyah Sunnah


Baca pembahasan sebelumnya Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.3) Makna “bersemayam” dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) kata tersebut diartikan :semayam /se·ma·yam/, bersemayam /ber·se·ma·yam/ v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal:Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yang – dl hati;menyemayamkan /me·nye·ma·yam·kan/ v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka; persemayaman /per·se·ma·yam·an/ n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahDengan demikian, makna “bersemayam” -menurut KBBI- kembali kepada lima makna : Duduk. Tinggal Tersimpan Menginap Berbaring   Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar Dari penjelasan tentang makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab) di artikel yang sebelumnya, dapat diambil ringkasan, bahwa :Makna istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah gabungan dari empat makna tersebut di atas,yaitu: صَعِدَ (tinggi di atas) عَلاَ (tinggi di atas) ارْتَفَعَ (tinggi di atas) استقرّ (tetap tinggi di atas) Baca Juga: Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamSehingga tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.Dengan demikian terjemahan yang tepat dari kalimat istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah “tinggi di atas” atau cukup diterjemahkan “di atas”, karena kata-kata “di atas” telah menunjukkan makna tinggi, sedangkan disini, makna istaqarra (tetap tinggi di atas) tidak dimasukkan dalam terjemahan, karena itu adalah makna/tafsir konsekuensi.Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata dalam Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah tentang makna/tafsir konsekuensi dari istawa :﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا: ﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد. علا ، ارتفع ، استقر ، صعد ، هذه التفاسير المنقولة عن السلف.“ {اسْتَوَى}, ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka menafsirkan:{اسْتَوَى} berarti ‘ala (tinggi di atas),{اسْتَوَى} berarti istaqarra (tetap tinggi di atas), {اسْتَوَى} berarti irtafa’a (tinggi di atas), dan{اسْتَوَى} berarti sha’ida (tinggi di atas).Baca Juga: Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu‘Ala, irtafa’a , istaqarra, dan sha’ida, semua tafsiran ini dinukilkan dari Salafush Shalih”.{اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} فسر باستقر … هو لازمها كما ذكرت ، تفسير باللازم ، يعني علا وارتفع ولم يزل على استوائه استقر على هذه الصفة ، استقر على العرش ، يعني هو جل وعلا استوى عليه ولم يتخل من استوائه عليه“ “Dia di atas ‘arsy” ini ditafsirkan dengan istaqarra, (Istaqarra) adalah menafsirkan (istiwa`) dengan makna konsekuensinya, sebagaimana yang telah saya sebutkan.Tafsir dengan konsekuensi ini maksudnya : {اسْتَوَى} berarti: (Allah) itu ‘ala (tinggi di atas) dan irtafa’a (tinggi di atas), dan senantiasa istiwa’ (di atas ‘arsy), tetap bersifat dengan sifat ini, dan tetap di atas ‘arsy.Jadi, maksudnya adalah Allah Jalla wa ‘Ala di atas ‘arsy dan Allah tidak terlepas dari sifat di atas ‘arsy.”Baca Juga: Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bersambung, in sya Allah) Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 'ain, Ya'juz Dan Ma'juz, Nama 8 Malaikat Pemikul Arsy, Jelaskan Keutamaan Orang Yang Menuntut Ilmu, Tarbiyah Sunnah

Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra – Muqaddimah & Kaidah 1

AL-QAWAID AL-FIQHIYYAH AL-KUBRAMuqaddimahDi dalam syariat Islam dikenal istilah kaidah, yang berfungsi untuk meringkas berbagai macam permasalahan syariat sehingga dengan kaidah tersebut kita akan dimudahkan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan agama yang beraneka ragam. Khususnya pembahasan fiqih, para ulama telah menetapkan berbagai kaidah sebagai patokan untuk menyelesaikan kasus-kasus fiqih tersebut.Dari bagan di atas diketahui bahwa paling tidak ada tiga kaidah utama di dalam syariat Islam, yaitu:1. Kaidah Ushuliyyah Kaidah ushuliyyah atau kaidah ushul fiqih adalah kaidah yang membahas seputar penggunaaan lafadz atau bahasa. Dengan kaidah-kaidah tersebut, seorang alim dapat menyimpulkan makna dari sebuah lafadz bahasa Arab. Misal kaidah الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut) atau kaidah النَّهْيُ يَقْتَضِى التَّحْرِيْمُ (lafadz pelarangan asalnya menunjukkan akan haramnya hal tersebut). Kedua kaidah tersebut disebut kaidah ushuliyyah yang ditemukan dalam pembahasan ushul fiqih. Sebagai contoh firman Allah,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS Al-Baqarah : 43)Ahli ushul fiqih akan melihat bahwa di dalam ayat ini terdapat lafadz fiil amr (kata kerja perintah). Berdasarkan kaidah ushul fiqih الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut), maka mereka akan berkesimpulan bahwa shalat dan zakat itu hukumnya wajib.2. Kaidah FiqhiyyahAdapun kaidah fiqhiyyah (kaidah fiqih) adalah kaidah yang merupakan kesimpulan dari banyak permasalahan fiqih yang memiliki hukum-hukum yang sama sehingga muncullah kaidah yang mewakili persamaan tersebut. Sebagai gambaran, seorang ahli fiqih dihadapkan dengan ratusan permasalahan fiqih. Setelah dia menelaahnya, dia mendapatkan adanya kesamaan di dalam semua permasalahan tersebut, kesamaan itulah yang kemudian disimpulkan menjadi kaidah fiqih.Misalnya, setelah menelaah banyak permasalahan fiqih maka diperoleh kesimpulan bahwa kemudharatan itu harus dihilangkan, dibuatlah kaidah اَلضَّرَرُ يُزَالُ (ad-dhararu yuzaalu, kemudharatan harus dihilangkan) atau dalam kesempatan lain diperoleh kesimpulan bahwa sesuatu yang sudah diyakini hukumnya maka dia tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan yang datang setelah itu,  dibuatlah kaidah اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ (al-yaqinu laa yazuulu bisy syak, keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan).Berdasarkan hal tersebut, kaidah ushul fiqih lebih awal digunakan dari pada kaidah fiqih. Karena kaidah ushuliyyah digunakan untuk mengetahui kandungan makna sebuah lafadz yang berujung pada kesimpulan hukum. Lalu dari banyak hukum-hukum tersebut yang memiliki kesamaan makna atau maksud, disimpulkanlah menjadi kaidah-kaidah fiqih. Sehingga dari sisi urutan penggunaan, asalnya kaidah ushul fiqih diaplikasikan terlebih dahulu, meskipun dalam realitanya kaidah ushul fiqih dan kaidah fiqih digunakan secara bersama-sama.3. Dhabith FiqhiyyahDikenal pula istilah dhabith fiqhiyyah, yang sedikit berbeda dengan kaidah fiqih. Dhabith fiqhiyyah adalah sejenis kaidah fiqih akan tetapi berlaku hanya di dalam satu bab atau beberapa bab fiqih tertentu saja. Misal, dhabith لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ (likulli sahwin sajdatani, setiap lupa diganti dengan dua sujud), maka kaidah atau dhabit ini hanya berlaku di dalam pembahasan shalat saja dan tidak berlaku di dalam pembahasan fiqih lainnya.Tidak diragukan lagi bahwa menumpuknya permasalahan manusia dan banyaknya kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai hamba Allah, membuat ia perlu terhadap kaidah-kaidah seperti di atas, khususnya kaidah-kaidah fiqih yang bisa langsung ia terapkan untuk menghukumi sebuah kasus yang ia jumpai dalam kehidupannya tanpa harus bertanya kepada seorang alim atas setiap permasalahannya satu per satu. Lantas apakah modal yang harus dia miliki untuk mengetahui kaidah-kaidah tersebut?Alhamdulillah, di zaman ini semua orang tidak perlu lagi menelaah lalu menyimpulkan kaidah fiqih dari ribuan atau bahkan lebih permasalahan fiqih yang ada, hal itu karena kaidah-kaidah fiqih tersebut sudah paten keberadaannya dan sudah dibukukan oleh para ulama dengan rapi. Kaidah-kaidah tersebut tinggal dipergunakan untuk membantu kita di dalam memahami dan menyimpulkan permasalahan-permasalahan fiqih yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.Kaidah Fiqhiyyah KubraSesungguhnya kaidah-kaidah dalam permasalahan fiqih sangatlah banyak, tetapi diantara sekian banyak kaidah fiqih tersebut, ada lima kaidah yang paling besar yang dikenal dengan istilah kaidah fiqhiyyah kubra (kaidah fiqih terbesar) atau kaidah fiqhiyyah al-khamsah (lima kaidah fiqih yang utama) karena jumlahnya ada lima.Kelima kaidah ini dinamakan sebagai kaidah kubra atau kaidah besar karena beberapa alasan, yaitu:Lima kaidah ini dapat diberlakukan pada hampir seluruh bab-bab fiqih. Berbeda dengan kaidah-kaidah lainnya, yang terkadang hanya berkaitan dengan bab thaharah saja, atau bab muamalah saja, atau bab-bab tertentu lainnya.Lima kaidah ini disepakati oleh madzhab yang empat. Mereka semua menggunakan lima kaidah ini untuk menyimpulkan masalah-masalah fiqih apabila ditinjau dari madzhab mereka masing-masing.Lima kaidah ini masing-masing mengandung banyak kaidah turunan di bawahnya.============Kaidah 1اَلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدهَاAl-Umuuru bi Maqaashidiha(Segala Perbuatan Tergantung Niatnya)Kaidah ini adalah kaidah yang sangat penting, karena dengan kaidah ini dia akan mengetahui sejauh mana ia bisa memaksimalkan ibadahnya.Maksud dari kaidah ini adalah segala perkataan maupun perbuatan semua tergantung dari niatnya. Apakah perkataan dan perbuatan tersebut berbuah pahala atau tidak, semua akan kembali kepada niat dan tujuan dia berkata dan berbuat. Dengan niat, akan terbedakan antara dua orang yang melakukan jenis ibadah yang sama tetapi yang satu berpahala yang satunya tidak, atau yang satu berpahala tetapi sedikit namun satunya berpahala yang sangat besar.Dalil tentang kaidah ini diantaranya firman Allah,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah : 5)Dalam ayat lain Allah berfirman,لَّا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah : 225)Diantara kebiasaan orang Arab adalah terlalu mudah mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah seperti kalimat Wallahi! (Demi Allah!) atau yang sejenisnya, padahal di dalam hatinya dia tidak benar-benar bersumpah. Yang seperti ini Allah tidak akan menghukumnya karena perkataan sumpah yang sebenarnya dia tidak maksudkan atau tidak sengaja. Seperti firman Allah,وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 227)Maksud ayat ini adalah Allah hanya akan menghukumi kalimat talaknya berdasarkan niatnya. Karena talak apabila menggunakan lafadz kinayah (tidak sharih atau tegas) maka dikembalikan kepada niatnya. Jika niatnya memang untuk bercerai atau berpisah dengan istrinya maka telah jatuh talak tersebut, tetapi jika tidak berniat demikian maka tidak jatuh talak.Diantara dalil lain kaidah ini adalah sabda Nabi,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari, no. 1 dan Muslim no. 1907)Hijrah pada dasarnya merupakan amalan yang sangat agung yang diganjar dengan pahala yang besar. Namun itu hanya didapatkan bagi mereka yang berhijrah dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya semata. Adapun yang berhijrah bukan karena niat tersebut maka dia tidak akan mendapatkan pahala.Nabi juga bersabda,رُبَّ قَتِيْلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ“Betapa banyak orang yang terbunuh di antara dua barisan pasukan, Allah lebih tahu mengenai niatnya.” (HR Ahmad)Tidak semua yang mati dalam peperangan tersebut mendapatkan predikat syahid di sisi Allah lantas masuk ke dalam surga. Sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلرَّجُلُ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، فَأَيُّ ذَلِكَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ فَقَالَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” (HR Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904)Orang-orang yang ikut dalam peperangan tetapi dengan niat untuk membela sukunya semata, atau unjuk keberanian, maka amalan mereka itu tidak bernilai di sisi Allah walaupun secara dzhahir amalan yang mereka dan orang-orang yang ikhlas lakukan itu sama, sama-sama berperang di barisan Islam.Fungsi NiatA. Niat sebagai penentu ibadahnya tertuju kepada siapaIkhlas beribadah karena Allah semata, atau;Syirik dengan beribadah karena riya, sum’ah, ‘ujub dan lainnya.B. Niat sebagai pembedaPembeda antara ibadah dan adat. Contoh, seseorang yang mandi di pagi hari jumat. Kemungkinannya kembali kepada dua kemungkinan tergantung niatnya, apakah niatnya mandi junub untuk melaksanakan shalat jumat atau mandi biasa sekedar untuk menyegarkan badannya. Yang pertama dia mendapatkan pahala karena melakukan amalan ibadah, sedangkan yang kedua tidak mendapatkan pahala karena hanya melakukan aktivitas kebiasaan sehari-hari.Pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya. Contoh, seseorang yang shalat dua rakaat setelah terbit fajar (masuk waktu subuh). Maka shalat yang dia laksanakan kembali kepada tiga kemungkinan, bisa jadi dia shalat sunnah tahiyyatul masjid, atau shalat sunnah rawatib qabliyah subuh, atau shalat subuh langsung, atau kemungkinan lainnya yang kesemuanya tergantung pada niatnya.Patut diketahui bahwa diantara amalan-amalan itu ada yang merupakan ibadah di satu waktu tetapi di lain waktu dia adalah sekedar kebiasaan, seperti mandi yang telah dicontohkan sebelumnya. Namun terdapat amalan yang tidak membutuhkan niat sebagai pembeda apakah itu ibadah atau sekedar kebiasaan, karena dari sisi dzatnya dia adalah ibadah secara mutlak. Seperti berdzikir, membaca Al-Quran, shalat, atau puasa. Amalan-amalan tersebut tersebut secara dzatnya adalah ibadah, tidak bisa berubah jenis menjadi kebiasaan hanya karena niat.Ada pula jenis amalan yang sudah sangat jelas dan bahkan tidak butuh niat pembeda hendak melakukan jenis ibadah yang ini atau ibadah yang itu, karena tidak memiliki kemiripan dengan ibadah yang lain. Seperti ibadah haji, tidak ada amalan lain yang mirip seperti haji tetapi bukan dengan niat haji. Begitu pula berpuasa di bulan ramadhan, tidak ada kemungkinan puasa yang lain di bulan itu. Sehingga dia tidak perlu mempertegas niatnya akan melakukan jenis ibadah yang mana. Fungsi niat dalam amalan seperti ini adalah tinggal membedakan apakah dia ikhlas atau tidak.Jenis Amalan Hamba Secara umum amalan hamba terbagi ke dalam dua jenis ditinjau dari niat hamba tersebut, amalan yang dituntut oleh syariat dan amalan yang tidak dituntut oleh syariat.A. Amalan yang dituntut oleh syariatAmalan yang dituntut oleh syariat terbagi lagi menjadi dua:Pertama, dituntut untuk dikerjakan.Disinilah letak pembahasan fungsi niat sebagai pembeda atau sebagai penentu ikhlas atau tidak, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. Ketika seorang hamba mengerjakan sebuah amalan, maka dia wajib meniatkannya ikhlas karena Allah semata agar amalan tersebut sah dan diterima di sisi Allah. Dia juga perlu terhadap penegasan akan niatnya apakah dia berniat mengerjakan ibadah A atau ibadah B, atau menegaskan bahwa dia sedang melakukan ibadah dan bukan sekedar kebiasaan, karena Allah akan memberikan ganjaran sesuai niatnya.Kedua, dituntut untuk ditinggalkan.Amalan jenis ini tidak perlu terhadap niat untuk sahnya amalan tersebut. Seperti wajibnya meninggalkan maksiat, amalan ini tidak butuh niat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab menjauhi maksiat, karena sekedar meninggalkan maka itu sudah cukup. Contoh lain, meninggalkan beban punya hutang, cukup dibayarkan maka kewajibannya sebagai orang yang berhutang sudah selesai tanpa harus adanya penegasan niat sebelumnya. Contoh lain, meninggalkan najis, maka mencucinya sampai hilang itu sudah cukup bahkan ketika najis tersebut hilang sendiri tanpa sengaja dihilangkan. Berbeda dengan jenis amalan yang dituntut untuk dikerjakan, dia butuh niat agar shalat sah, butuh niat agar puasa sah, butuh niat agar mandi junub sah, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala dari Allah, melebihi kadar sah, maka tetap perlu niat yaitu niat meninggalkannya karena Allah. Seperti meninggalkan zina, ada orang yang meninggalkan zina karena takut terkena HIV/AIDS, yang seperti ini tidak berpahala dan tidak pula berdosa. Tetapi jika dia meninggalkan zina karena Allah padahal sudah terbetik untuk berzina, maka dia akan dapat pahala.B. Amalan yang tidak dituntut oleh syariatYaitu amalan yang boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan, atau disebut dengan mubah. Sama seperti amalan yang dituntut untuk ditinggalkan, amalan mubah ini tidak perlu terhadap niat. Umumnya hal-hal mubah adalah perkara-perkara duniawi yang tidak dituntut untuk berniat. Antara makan daging atau roti tidak perlu niat yang membedakannya, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala, maka harus berniat. Seperti ketika Nabi bersabda,وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampai pun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR Muslim no. 1251)Suapan seorang suami kepada istrinya pada dasarnya murni karena motivasi duniawi. Tetapi jika diniatkan untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka dia akan mendapatkan pahala. Seseorang yang makan sekedar makan tidak akan dapat pahala karena itu perkara mubah, namun jika dia makan dengan tujuan agar dirinya semakin kuat dalam beribadah maka pada saat itu aktivitas makannya akan diganjar pahala oleh Allah.Oleh karena itu, hendaknya kaidah ini menjadi salah satu perhatian yang sangat utama karena umumnya aktivitas harian manusia pada dasarnya adalah murni duniawi. Namun jika aktivitas tersebut diniatkan karena Allah maka dia akan bernilai pahala. Seorang suami yang keluar pagi pulang malam mencari uang hendaknya meniatkannya demi mencari nafkah untuk keluarganya agar berbuah pahala. Seorang yang tidur cepat hendaknya berniat agar tidurnya tersebut menambah kekuatannya dalam beribadah. Sehingga dia menjadikan seluruh aktivitas kehidupannya bernilai ibadah.Tentang Melafadzkan NiatTelah dimaklumi bahwa niat itu tempatnya di hati dan bukan di lisan. Namun tentang hukum melafadzkan niat maka para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini tentang boleh atau tidaknya. Hanya saja semuanya sepakat bahwa Nabi tidak pernah melafadzkan niat dalam seluruh ibadah yang dia lakukan. Begitupun dari para sahabat tidak pernah pula diriwayatkan satupun di antara mereka yang melafadzkan niat. Dari sini disimpulkan bahwa yang lebih afdhal adalah tidak melafadzkan niat ketika ingin mengerjakan sebuah ibadah.Namun sebagian ulama syafi’iyyah belakangan, mereka menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam rangka untuk mengokohkan niat tersebut, dengan catatan harus dengan suara yang pelan (sirr).Bersamaan dengan itu, banyak pula orang awam yang salah paham terhadap pendapat ini lantas beranggapan bahwa melafadzkan niat menurut madzhab syafi’i bukan sekedar dianjurkan akan tetapi diwajibkan, dan dalam shalat merupakan syarat sahnya. Namun yang benar tetaplah tidak dianjurkan untuk melafadzkan niat baik itu pelan lebih-lebih jika dikeraskan.Tercampurnya Niat Pada AmalanSeorang hamba ketika beribadah, dia dituntut untuk mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah semata. Namun terkadang ada seorang hamba yang beribadah namun dalam ibadahnya tersebut tercampuri tendensi-tendensi lain. Kasus yang seperti ini terbagi menjadi dua.A. Amalan Tercampuri Niat DuniawiSeorang hamba yang mengerjakan ibadah dengan ikhlas namun tercampuri dengan perkara duniawi yang bukan merupakan riya’, maka hukumnya tidak mengapa. Contoh:Menunaikan ibadah haji sembari berniat untuk berdagang. Maka niat seperti ini tidak mengapa, sebagaimana firman Allah,لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-Baqarah : 198)Diantara tafsirannya adalah sambil berdagang di samping menunaikan haji.Menyambung silaturrahmi dengan kerabat karena ingin bertambah umur dan rezeki. Nabi bersabda,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)Bertakwa karena ingin diberikan solusi-solusi dalam setiap permasalahan. Allah berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS At-Thalaq : 2)Semua contoh di atas adalah bentuk ibadah yang tercampuri dengan niat duniawi. Tetapi Allah dan Nabi-Nya sendiri lah yang menjanjikan keutamaan-keutamaan duniawi tersebut. Sehingga yang seperti ini hukumnya tidak mengapa, dengan syarat dia mengerjakan ibadah tersebut dasarnya memang ikhlas karena Allah dan tambahan niat duniawinya tidak boleh lebih mendominasi dari pada niat akhiratnya, apalagi sampai menjadi murni niatan duniawi. Sebagaimana Allah berfirman,مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS Al-Isra’ : 18)Allah juga berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS Hud : 15)B. Amalan Tercampuri Niat Riya’ (ingin dilihat orang)Seorang hamba yang sedang mengerjakan ibadah lalu dalam ibadahnya tersebut muncul rasa riya’ maka kondisi ini terbagi ke dalam 2 kondisi.1. Muncul sejak awal beramal, maka amal tersebut tertolak.2. Muncul belakangan, terbagi dalam dua kondisi lagi:Muncul di tengah saat dia sedang beramal, yang terbagi lagi menjadi dua; – Riya’ tersebut dilawan, mengandung 2 kemungkinan; Jika dia berhasil maka dia mendapatkan pahala, dan jika dia tidak berhasil maka dia tetap dapat pahala karena sudah berusaha untuk melawannya. – Riya’ tersebut tidak dilawan. Adapun kondisi seperti ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan amalnya gugur, sebagian lain mengatakan amalnya diterima karena di awal beramal dia sudah ikhlas. Imam Ahmad menguatkan pendapat yang kedua.Muncul setelah selesai beramal Jika seorang hamba telah beramal dengan ikhlas hingga akhir. Namun tiba-tiba muncul rasa riya’ di kemudian hari, maka para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa pahala yang telah dia dapatkan saat beramal tetap selamat (tidak terhapus), hanya saja riya’ yang muncul tersebut diganjar dosa, dan ini pendapat yang terkuat. Sebagian kecil ulama yang lain semisal Ibnul Qayyim berpendapat bahwa pahala yang didapatkan dari amalan yang telah dilakukannya itu gugur karena riya’ yang muncul setelah beramal tersebut.Hukum Bertaubat dari Riya’Telah diketahui bahwa seorang hamba yang beramal dengan riya’ maka hukum asalnya amalannya tersebut tidak diterima. Namun bagaimana jika dia bertaubat dari riya’ yang menjadi asas beramalnya dahulu? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat apakah pahala yang harusnya dia dapat tetapi jadi terhapus karena riya’ itu bisa kembali lagi, atau tidak kembali.Para ulama yang berpendapat bahwa pahalanya tidak akan kembali, beralasan bahwa amalan tersebut memang sedari awal tidak sah, karena syarat sah diterimanya amalan adalah ikhlas. Sehingga dengan itu amalannya tidak berbuah pahala, kalau demikian apa yang mau kembali? Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul Qayyim.Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa amalannya akan kembali dan akan diberi pahala sesuai amalannya tersebut. Mereka mengatakan bahwa hukum asal amal itu diterima, hanya saja saat dia beramal maka amalannya tersebut tidak diterima karena ada penghalangnya yaitu riya’. Ketika penghalangnya dicabut dengan cara bertaubat dari perbuatan riya’nya maka amalan itu akan kembali dan berbuah pahala. Alasan lainnya adalah memakai qiyas aulawiy dengan orang musyrik yang bertaubat dari kesyirikannya lalu dia beriman sehingga dengannya Allah mengembalikan atau memberikan ganjaran pahala bagi kebaikan yang dahulu dia lakukan ketika masih musyrik. Allah berfirman,وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Asalnya amalan mereka diterima, tetapi menjadi tidak diterima karena terhalang oleh status kekafiran mereka. Jika penghalangnya hilang, maka amalan yang dulu terhalang jadi diterima. Sebagaimana sahabat Nabi Hakim bin Hizam yang dahulunya musyrik, dia bertanya tentang keadaannya kepada Nabi,يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ، وَصِلَةِ رَحِمٍ، فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍWahai Rasulullah, “Bagaimana menurut anda tentang beberapa hal yang aku lakukan sebagai ibadah pada masa jahiliyah? Seperti sedekah, memerdekakan budak, menyambung silaturrahmi, apakah aku mendapatkan sesuatu (pahala) di dalamnya?” Rasulullah bersabda, “(Dengan) memeluk Agama Islam (kamu tetap mendapatkan pahala) amal kebaikan yang dulu kamu kerjakan.” (HR Bukhari no. 1436)Orang musyrik dengan syirik besar saja setelah bertaubat maka amalan masa lalunya diterima, apalagi orang riya’ yang merupakan syirik asghar jika ia bertaubat dengan taubat nashuha. Meskipun demikian, hendaknya setiap hamba tidak menggampangkan perkara ini, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah dia sempat bertaubat atau tidak.Kaidah-Kaidah Turunan dari Kaidah PertamaTelah dijelaskan di awal bahwa diantara karakteristik kaidah kubra adalah mempunyai kaidah cabang atau turunannya. Diantara kaidah cabang dari kaidah pertama ini, adalah:1. اَلْعِبْرَةُ فِي الْعُقُوْدِ بِالمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَ الْمَبَانِي(Yang menjadi patokan dalam sebuah akad adalah tujuan dan hakekatnya, bukan lafadz dan bentuk kalimatnya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Jika ada seseorang membeli barang dari sebuah toko, tetapi dia lupa tidak membawa uang. Kemudian dia mengatakan kepada si penjual, “Saya beli barangmu, tetapi karena saya lupa bawa uang, untuk sementara jam tangan saya dititipkan dulu, setelah ini saya akan pulang mengambil uang kemudian kembali lagi untuk membayarnya dan akan saya ambil titipan jam tangan saya.” Walaupun orang ini berkata itu bahwa adalah jam tangannya sekedar dititipkan tetapi hakekat itu bukan akad wadi’ah (titipan) melainkan akad rahn (jaminan).Perkataan si A kepada si B, “Saya hadiahkan kepada engkau mobil saya dengan syarat engkau hadiahkan mobilmu kepadaku.” Maka walaupun mereka berkata itu adalah bentuk saling memberi hadiah tetapi hakekatnya itu adalah jual beli.Nasabah yang menitipkan uangnya di bank (bermaksud melakukan akad wadiah). Maka hakekatnya akad yang dia lakukan adalah akad hutang piutang (akad qarn). Mengapa demikian? Karena pada akad wadiah tidak terjadi perpindahan pemilikan, sedangkan apabila terjadi perpindahan pemilikan maka itu namanya akad hutang piutang. Seorang nasabah apabila meletakkan uangnya di bank lalu mengizinkan bank tersebut untuk memakainya maka itu namanya menghutangi dan bukan menitipkan.2. مَنِ اسْتَعْجَلَ بِشَيْءٍ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ(Barangsiapa yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya -dengan niat yang buruk- maka dia dihukum dengan kebalikannya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Seseorang yang ingin segera mendapat warisan dari bapaknya kemudian menghalalkan segala cara agar keinginannya segera terwujud. Akhirnya dia rela membunuh bapaknya untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia tidak berhak diberi warisan tersebut. Ini adalah contoh bentuk menggunakan wasilah haram untuk mendapatkan tujuan yang syar’Termasuk dalam kaidah ini adalah menggunakan wasilah syar’i untuk mendapatkan tujuan yang haram. Seperti seorang suami yang membenci istrinya dan tidak ingin istrinya mendapatkan warisan darinya. Ketika dia akan meninggal dunia, dia lalu mentalak istrinya dengan talak tiga agar istrinya tersebut tidak mendapat warisan darinya (adapun hanya talak satu atau dua lalu suaminya meninggal di masa ‘iddahnya maka sang istri masih dapat warisan). Tatkala terungkap bahwa dia sengaja menceraikan istrinya dengan niat untuk memberi kemudharatan kepadanya maka istrinya tetap mendapatkan warisan darinya.Bersambung Insya Allah…

Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra – Muqaddimah & Kaidah 1

AL-QAWAID AL-FIQHIYYAH AL-KUBRAMuqaddimahDi dalam syariat Islam dikenal istilah kaidah, yang berfungsi untuk meringkas berbagai macam permasalahan syariat sehingga dengan kaidah tersebut kita akan dimudahkan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan agama yang beraneka ragam. Khususnya pembahasan fiqih, para ulama telah menetapkan berbagai kaidah sebagai patokan untuk menyelesaikan kasus-kasus fiqih tersebut.Dari bagan di atas diketahui bahwa paling tidak ada tiga kaidah utama di dalam syariat Islam, yaitu:1. Kaidah Ushuliyyah Kaidah ushuliyyah atau kaidah ushul fiqih adalah kaidah yang membahas seputar penggunaaan lafadz atau bahasa. Dengan kaidah-kaidah tersebut, seorang alim dapat menyimpulkan makna dari sebuah lafadz bahasa Arab. Misal kaidah الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut) atau kaidah النَّهْيُ يَقْتَضِى التَّحْرِيْمُ (lafadz pelarangan asalnya menunjukkan akan haramnya hal tersebut). Kedua kaidah tersebut disebut kaidah ushuliyyah yang ditemukan dalam pembahasan ushul fiqih. Sebagai contoh firman Allah,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS Al-Baqarah : 43)Ahli ushul fiqih akan melihat bahwa di dalam ayat ini terdapat lafadz fiil amr (kata kerja perintah). Berdasarkan kaidah ushul fiqih الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut), maka mereka akan berkesimpulan bahwa shalat dan zakat itu hukumnya wajib.2. Kaidah FiqhiyyahAdapun kaidah fiqhiyyah (kaidah fiqih) adalah kaidah yang merupakan kesimpulan dari banyak permasalahan fiqih yang memiliki hukum-hukum yang sama sehingga muncullah kaidah yang mewakili persamaan tersebut. Sebagai gambaran, seorang ahli fiqih dihadapkan dengan ratusan permasalahan fiqih. Setelah dia menelaahnya, dia mendapatkan adanya kesamaan di dalam semua permasalahan tersebut, kesamaan itulah yang kemudian disimpulkan menjadi kaidah fiqih.Misalnya, setelah menelaah banyak permasalahan fiqih maka diperoleh kesimpulan bahwa kemudharatan itu harus dihilangkan, dibuatlah kaidah اَلضَّرَرُ يُزَالُ (ad-dhararu yuzaalu, kemudharatan harus dihilangkan) atau dalam kesempatan lain diperoleh kesimpulan bahwa sesuatu yang sudah diyakini hukumnya maka dia tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan yang datang setelah itu,  dibuatlah kaidah اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ (al-yaqinu laa yazuulu bisy syak, keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan).Berdasarkan hal tersebut, kaidah ushul fiqih lebih awal digunakan dari pada kaidah fiqih. Karena kaidah ushuliyyah digunakan untuk mengetahui kandungan makna sebuah lafadz yang berujung pada kesimpulan hukum. Lalu dari banyak hukum-hukum tersebut yang memiliki kesamaan makna atau maksud, disimpulkanlah menjadi kaidah-kaidah fiqih. Sehingga dari sisi urutan penggunaan, asalnya kaidah ushul fiqih diaplikasikan terlebih dahulu, meskipun dalam realitanya kaidah ushul fiqih dan kaidah fiqih digunakan secara bersama-sama.3. Dhabith FiqhiyyahDikenal pula istilah dhabith fiqhiyyah, yang sedikit berbeda dengan kaidah fiqih. Dhabith fiqhiyyah adalah sejenis kaidah fiqih akan tetapi berlaku hanya di dalam satu bab atau beberapa bab fiqih tertentu saja. Misal, dhabith لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ (likulli sahwin sajdatani, setiap lupa diganti dengan dua sujud), maka kaidah atau dhabit ini hanya berlaku di dalam pembahasan shalat saja dan tidak berlaku di dalam pembahasan fiqih lainnya.Tidak diragukan lagi bahwa menumpuknya permasalahan manusia dan banyaknya kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai hamba Allah, membuat ia perlu terhadap kaidah-kaidah seperti di atas, khususnya kaidah-kaidah fiqih yang bisa langsung ia terapkan untuk menghukumi sebuah kasus yang ia jumpai dalam kehidupannya tanpa harus bertanya kepada seorang alim atas setiap permasalahannya satu per satu. Lantas apakah modal yang harus dia miliki untuk mengetahui kaidah-kaidah tersebut?Alhamdulillah, di zaman ini semua orang tidak perlu lagi menelaah lalu menyimpulkan kaidah fiqih dari ribuan atau bahkan lebih permasalahan fiqih yang ada, hal itu karena kaidah-kaidah fiqih tersebut sudah paten keberadaannya dan sudah dibukukan oleh para ulama dengan rapi. Kaidah-kaidah tersebut tinggal dipergunakan untuk membantu kita di dalam memahami dan menyimpulkan permasalahan-permasalahan fiqih yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.Kaidah Fiqhiyyah KubraSesungguhnya kaidah-kaidah dalam permasalahan fiqih sangatlah banyak, tetapi diantara sekian banyak kaidah fiqih tersebut, ada lima kaidah yang paling besar yang dikenal dengan istilah kaidah fiqhiyyah kubra (kaidah fiqih terbesar) atau kaidah fiqhiyyah al-khamsah (lima kaidah fiqih yang utama) karena jumlahnya ada lima.Kelima kaidah ini dinamakan sebagai kaidah kubra atau kaidah besar karena beberapa alasan, yaitu:Lima kaidah ini dapat diberlakukan pada hampir seluruh bab-bab fiqih. Berbeda dengan kaidah-kaidah lainnya, yang terkadang hanya berkaitan dengan bab thaharah saja, atau bab muamalah saja, atau bab-bab tertentu lainnya.Lima kaidah ini disepakati oleh madzhab yang empat. Mereka semua menggunakan lima kaidah ini untuk menyimpulkan masalah-masalah fiqih apabila ditinjau dari madzhab mereka masing-masing.Lima kaidah ini masing-masing mengandung banyak kaidah turunan di bawahnya.============Kaidah 1اَلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدهَاAl-Umuuru bi Maqaashidiha(Segala Perbuatan Tergantung Niatnya)Kaidah ini adalah kaidah yang sangat penting, karena dengan kaidah ini dia akan mengetahui sejauh mana ia bisa memaksimalkan ibadahnya.Maksud dari kaidah ini adalah segala perkataan maupun perbuatan semua tergantung dari niatnya. Apakah perkataan dan perbuatan tersebut berbuah pahala atau tidak, semua akan kembali kepada niat dan tujuan dia berkata dan berbuat. Dengan niat, akan terbedakan antara dua orang yang melakukan jenis ibadah yang sama tetapi yang satu berpahala yang satunya tidak, atau yang satu berpahala tetapi sedikit namun satunya berpahala yang sangat besar.Dalil tentang kaidah ini diantaranya firman Allah,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah : 5)Dalam ayat lain Allah berfirman,لَّا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah : 225)Diantara kebiasaan orang Arab adalah terlalu mudah mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah seperti kalimat Wallahi! (Demi Allah!) atau yang sejenisnya, padahal di dalam hatinya dia tidak benar-benar bersumpah. Yang seperti ini Allah tidak akan menghukumnya karena perkataan sumpah yang sebenarnya dia tidak maksudkan atau tidak sengaja. Seperti firman Allah,وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 227)Maksud ayat ini adalah Allah hanya akan menghukumi kalimat talaknya berdasarkan niatnya. Karena talak apabila menggunakan lafadz kinayah (tidak sharih atau tegas) maka dikembalikan kepada niatnya. Jika niatnya memang untuk bercerai atau berpisah dengan istrinya maka telah jatuh talak tersebut, tetapi jika tidak berniat demikian maka tidak jatuh talak.Diantara dalil lain kaidah ini adalah sabda Nabi,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari, no. 1 dan Muslim no. 1907)Hijrah pada dasarnya merupakan amalan yang sangat agung yang diganjar dengan pahala yang besar. Namun itu hanya didapatkan bagi mereka yang berhijrah dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya semata. Adapun yang berhijrah bukan karena niat tersebut maka dia tidak akan mendapatkan pahala.Nabi juga bersabda,رُبَّ قَتِيْلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ“Betapa banyak orang yang terbunuh di antara dua barisan pasukan, Allah lebih tahu mengenai niatnya.” (HR Ahmad)Tidak semua yang mati dalam peperangan tersebut mendapatkan predikat syahid di sisi Allah lantas masuk ke dalam surga. Sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلرَّجُلُ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، فَأَيُّ ذَلِكَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ فَقَالَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” (HR Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904)Orang-orang yang ikut dalam peperangan tetapi dengan niat untuk membela sukunya semata, atau unjuk keberanian, maka amalan mereka itu tidak bernilai di sisi Allah walaupun secara dzhahir amalan yang mereka dan orang-orang yang ikhlas lakukan itu sama, sama-sama berperang di barisan Islam.Fungsi NiatA. Niat sebagai penentu ibadahnya tertuju kepada siapaIkhlas beribadah karena Allah semata, atau;Syirik dengan beribadah karena riya, sum’ah, ‘ujub dan lainnya.B. Niat sebagai pembedaPembeda antara ibadah dan adat. Contoh, seseorang yang mandi di pagi hari jumat. Kemungkinannya kembali kepada dua kemungkinan tergantung niatnya, apakah niatnya mandi junub untuk melaksanakan shalat jumat atau mandi biasa sekedar untuk menyegarkan badannya. Yang pertama dia mendapatkan pahala karena melakukan amalan ibadah, sedangkan yang kedua tidak mendapatkan pahala karena hanya melakukan aktivitas kebiasaan sehari-hari.Pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya. Contoh, seseorang yang shalat dua rakaat setelah terbit fajar (masuk waktu subuh). Maka shalat yang dia laksanakan kembali kepada tiga kemungkinan, bisa jadi dia shalat sunnah tahiyyatul masjid, atau shalat sunnah rawatib qabliyah subuh, atau shalat subuh langsung, atau kemungkinan lainnya yang kesemuanya tergantung pada niatnya.Patut diketahui bahwa diantara amalan-amalan itu ada yang merupakan ibadah di satu waktu tetapi di lain waktu dia adalah sekedar kebiasaan, seperti mandi yang telah dicontohkan sebelumnya. Namun terdapat amalan yang tidak membutuhkan niat sebagai pembeda apakah itu ibadah atau sekedar kebiasaan, karena dari sisi dzatnya dia adalah ibadah secara mutlak. Seperti berdzikir, membaca Al-Quran, shalat, atau puasa. Amalan-amalan tersebut tersebut secara dzatnya adalah ibadah, tidak bisa berubah jenis menjadi kebiasaan hanya karena niat.Ada pula jenis amalan yang sudah sangat jelas dan bahkan tidak butuh niat pembeda hendak melakukan jenis ibadah yang ini atau ibadah yang itu, karena tidak memiliki kemiripan dengan ibadah yang lain. Seperti ibadah haji, tidak ada amalan lain yang mirip seperti haji tetapi bukan dengan niat haji. Begitu pula berpuasa di bulan ramadhan, tidak ada kemungkinan puasa yang lain di bulan itu. Sehingga dia tidak perlu mempertegas niatnya akan melakukan jenis ibadah yang mana. Fungsi niat dalam amalan seperti ini adalah tinggal membedakan apakah dia ikhlas atau tidak.Jenis Amalan Hamba Secara umum amalan hamba terbagi ke dalam dua jenis ditinjau dari niat hamba tersebut, amalan yang dituntut oleh syariat dan amalan yang tidak dituntut oleh syariat.A. Amalan yang dituntut oleh syariatAmalan yang dituntut oleh syariat terbagi lagi menjadi dua:Pertama, dituntut untuk dikerjakan.Disinilah letak pembahasan fungsi niat sebagai pembeda atau sebagai penentu ikhlas atau tidak, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. Ketika seorang hamba mengerjakan sebuah amalan, maka dia wajib meniatkannya ikhlas karena Allah semata agar amalan tersebut sah dan diterima di sisi Allah. Dia juga perlu terhadap penegasan akan niatnya apakah dia berniat mengerjakan ibadah A atau ibadah B, atau menegaskan bahwa dia sedang melakukan ibadah dan bukan sekedar kebiasaan, karena Allah akan memberikan ganjaran sesuai niatnya.Kedua, dituntut untuk ditinggalkan.Amalan jenis ini tidak perlu terhadap niat untuk sahnya amalan tersebut. Seperti wajibnya meninggalkan maksiat, amalan ini tidak butuh niat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab menjauhi maksiat, karena sekedar meninggalkan maka itu sudah cukup. Contoh lain, meninggalkan beban punya hutang, cukup dibayarkan maka kewajibannya sebagai orang yang berhutang sudah selesai tanpa harus adanya penegasan niat sebelumnya. Contoh lain, meninggalkan najis, maka mencucinya sampai hilang itu sudah cukup bahkan ketika najis tersebut hilang sendiri tanpa sengaja dihilangkan. Berbeda dengan jenis amalan yang dituntut untuk dikerjakan, dia butuh niat agar shalat sah, butuh niat agar puasa sah, butuh niat agar mandi junub sah, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala dari Allah, melebihi kadar sah, maka tetap perlu niat yaitu niat meninggalkannya karena Allah. Seperti meninggalkan zina, ada orang yang meninggalkan zina karena takut terkena HIV/AIDS, yang seperti ini tidak berpahala dan tidak pula berdosa. Tetapi jika dia meninggalkan zina karena Allah padahal sudah terbetik untuk berzina, maka dia akan dapat pahala.B. Amalan yang tidak dituntut oleh syariatYaitu amalan yang boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan, atau disebut dengan mubah. Sama seperti amalan yang dituntut untuk ditinggalkan, amalan mubah ini tidak perlu terhadap niat. Umumnya hal-hal mubah adalah perkara-perkara duniawi yang tidak dituntut untuk berniat. Antara makan daging atau roti tidak perlu niat yang membedakannya, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala, maka harus berniat. Seperti ketika Nabi bersabda,وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampai pun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR Muslim no. 1251)Suapan seorang suami kepada istrinya pada dasarnya murni karena motivasi duniawi. Tetapi jika diniatkan untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka dia akan mendapatkan pahala. Seseorang yang makan sekedar makan tidak akan dapat pahala karena itu perkara mubah, namun jika dia makan dengan tujuan agar dirinya semakin kuat dalam beribadah maka pada saat itu aktivitas makannya akan diganjar pahala oleh Allah.Oleh karena itu, hendaknya kaidah ini menjadi salah satu perhatian yang sangat utama karena umumnya aktivitas harian manusia pada dasarnya adalah murni duniawi. Namun jika aktivitas tersebut diniatkan karena Allah maka dia akan bernilai pahala. Seorang suami yang keluar pagi pulang malam mencari uang hendaknya meniatkannya demi mencari nafkah untuk keluarganya agar berbuah pahala. Seorang yang tidur cepat hendaknya berniat agar tidurnya tersebut menambah kekuatannya dalam beribadah. Sehingga dia menjadikan seluruh aktivitas kehidupannya bernilai ibadah.Tentang Melafadzkan NiatTelah dimaklumi bahwa niat itu tempatnya di hati dan bukan di lisan. Namun tentang hukum melafadzkan niat maka para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini tentang boleh atau tidaknya. Hanya saja semuanya sepakat bahwa Nabi tidak pernah melafadzkan niat dalam seluruh ibadah yang dia lakukan. Begitupun dari para sahabat tidak pernah pula diriwayatkan satupun di antara mereka yang melafadzkan niat. Dari sini disimpulkan bahwa yang lebih afdhal adalah tidak melafadzkan niat ketika ingin mengerjakan sebuah ibadah.Namun sebagian ulama syafi’iyyah belakangan, mereka menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam rangka untuk mengokohkan niat tersebut, dengan catatan harus dengan suara yang pelan (sirr).Bersamaan dengan itu, banyak pula orang awam yang salah paham terhadap pendapat ini lantas beranggapan bahwa melafadzkan niat menurut madzhab syafi’i bukan sekedar dianjurkan akan tetapi diwajibkan, dan dalam shalat merupakan syarat sahnya. Namun yang benar tetaplah tidak dianjurkan untuk melafadzkan niat baik itu pelan lebih-lebih jika dikeraskan.Tercampurnya Niat Pada AmalanSeorang hamba ketika beribadah, dia dituntut untuk mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah semata. Namun terkadang ada seorang hamba yang beribadah namun dalam ibadahnya tersebut tercampuri tendensi-tendensi lain. Kasus yang seperti ini terbagi menjadi dua.A. Amalan Tercampuri Niat DuniawiSeorang hamba yang mengerjakan ibadah dengan ikhlas namun tercampuri dengan perkara duniawi yang bukan merupakan riya’, maka hukumnya tidak mengapa. Contoh:Menunaikan ibadah haji sembari berniat untuk berdagang. Maka niat seperti ini tidak mengapa, sebagaimana firman Allah,لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-Baqarah : 198)Diantara tafsirannya adalah sambil berdagang di samping menunaikan haji.Menyambung silaturrahmi dengan kerabat karena ingin bertambah umur dan rezeki. Nabi bersabda,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)Bertakwa karena ingin diberikan solusi-solusi dalam setiap permasalahan. Allah berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS At-Thalaq : 2)Semua contoh di atas adalah bentuk ibadah yang tercampuri dengan niat duniawi. Tetapi Allah dan Nabi-Nya sendiri lah yang menjanjikan keutamaan-keutamaan duniawi tersebut. Sehingga yang seperti ini hukumnya tidak mengapa, dengan syarat dia mengerjakan ibadah tersebut dasarnya memang ikhlas karena Allah dan tambahan niat duniawinya tidak boleh lebih mendominasi dari pada niat akhiratnya, apalagi sampai menjadi murni niatan duniawi. Sebagaimana Allah berfirman,مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS Al-Isra’ : 18)Allah juga berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS Hud : 15)B. Amalan Tercampuri Niat Riya’ (ingin dilihat orang)Seorang hamba yang sedang mengerjakan ibadah lalu dalam ibadahnya tersebut muncul rasa riya’ maka kondisi ini terbagi ke dalam 2 kondisi.1. Muncul sejak awal beramal, maka amal tersebut tertolak.2. Muncul belakangan, terbagi dalam dua kondisi lagi:Muncul di tengah saat dia sedang beramal, yang terbagi lagi menjadi dua; – Riya’ tersebut dilawan, mengandung 2 kemungkinan; Jika dia berhasil maka dia mendapatkan pahala, dan jika dia tidak berhasil maka dia tetap dapat pahala karena sudah berusaha untuk melawannya. – Riya’ tersebut tidak dilawan. Adapun kondisi seperti ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan amalnya gugur, sebagian lain mengatakan amalnya diterima karena di awal beramal dia sudah ikhlas. Imam Ahmad menguatkan pendapat yang kedua.Muncul setelah selesai beramal Jika seorang hamba telah beramal dengan ikhlas hingga akhir. Namun tiba-tiba muncul rasa riya’ di kemudian hari, maka para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa pahala yang telah dia dapatkan saat beramal tetap selamat (tidak terhapus), hanya saja riya’ yang muncul tersebut diganjar dosa, dan ini pendapat yang terkuat. Sebagian kecil ulama yang lain semisal Ibnul Qayyim berpendapat bahwa pahala yang didapatkan dari amalan yang telah dilakukannya itu gugur karena riya’ yang muncul setelah beramal tersebut.Hukum Bertaubat dari Riya’Telah diketahui bahwa seorang hamba yang beramal dengan riya’ maka hukum asalnya amalannya tersebut tidak diterima. Namun bagaimana jika dia bertaubat dari riya’ yang menjadi asas beramalnya dahulu? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat apakah pahala yang harusnya dia dapat tetapi jadi terhapus karena riya’ itu bisa kembali lagi, atau tidak kembali.Para ulama yang berpendapat bahwa pahalanya tidak akan kembali, beralasan bahwa amalan tersebut memang sedari awal tidak sah, karena syarat sah diterimanya amalan adalah ikhlas. Sehingga dengan itu amalannya tidak berbuah pahala, kalau demikian apa yang mau kembali? Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul Qayyim.Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa amalannya akan kembali dan akan diberi pahala sesuai amalannya tersebut. Mereka mengatakan bahwa hukum asal amal itu diterima, hanya saja saat dia beramal maka amalannya tersebut tidak diterima karena ada penghalangnya yaitu riya’. Ketika penghalangnya dicabut dengan cara bertaubat dari perbuatan riya’nya maka amalan itu akan kembali dan berbuah pahala. Alasan lainnya adalah memakai qiyas aulawiy dengan orang musyrik yang bertaubat dari kesyirikannya lalu dia beriman sehingga dengannya Allah mengembalikan atau memberikan ganjaran pahala bagi kebaikan yang dahulu dia lakukan ketika masih musyrik. Allah berfirman,وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Asalnya amalan mereka diterima, tetapi menjadi tidak diterima karena terhalang oleh status kekafiran mereka. Jika penghalangnya hilang, maka amalan yang dulu terhalang jadi diterima. Sebagaimana sahabat Nabi Hakim bin Hizam yang dahulunya musyrik, dia bertanya tentang keadaannya kepada Nabi,يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ، وَصِلَةِ رَحِمٍ، فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍWahai Rasulullah, “Bagaimana menurut anda tentang beberapa hal yang aku lakukan sebagai ibadah pada masa jahiliyah? Seperti sedekah, memerdekakan budak, menyambung silaturrahmi, apakah aku mendapatkan sesuatu (pahala) di dalamnya?” Rasulullah bersabda, “(Dengan) memeluk Agama Islam (kamu tetap mendapatkan pahala) amal kebaikan yang dulu kamu kerjakan.” (HR Bukhari no. 1436)Orang musyrik dengan syirik besar saja setelah bertaubat maka amalan masa lalunya diterima, apalagi orang riya’ yang merupakan syirik asghar jika ia bertaubat dengan taubat nashuha. Meskipun demikian, hendaknya setiap hamba tidak menggampangkan perkara ini, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah dia sempat bertaubat atau tidak.Kaidah-Kaidah Turunan dari Kaidah PertamaTelah dijelaskan di awal bahwa diantara karakteristik kaidah kubra adalah mempunyai kaidah cabang atau turunannya. Diantara kaidah cabang dari kaidah pertama ini, adalah:1. اَلْعِبْرَةُ فِي الْعُقُوْدِ بِالمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَ الْمَبَانِي(Yang menjadi patokan dalam sebuah akad adalah tujuan dan hakekatnya, bukan lafadz dan bentuk kalimatnya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Jika ada seseorang membeli barang dari sebuah toko, tetapi dia lupa tidak membawa uang. Kemudian dia mengatakan kepada si penjual, “Saya beli barangmu, tetapi karena saya lupa bawa uang, untuk sementara jam tangan saya dititipkan dulu, setelah ini saya akan pulang mengambil uang kemudian kembali lagi untuk membayarnya dan akan saya ambil titipan jam tangan saya.” Walaupun orang ini berkata itu bahwa adalah jam tangannya sekedar dititipkan tetapi hakekat itu bukan akad wadi’ah (titipan) melainkan akad rahn (jaminan).Perkataan si A kepada si B, “Saya hadiahkan kepada engkau mobil saya dengan syarat engkau hadiahkan mobilmu kepadaku.” Maka walaupun mereka berkata itu adalah bentuk saling memberi hadiah tetapi hakekatnya itu adalah jual beli.Nasabah yang menitipkan uangnya di bank (bermaksud melakukan akad wadiah). Maka hakekatnya akad yang dia lakukan adalah akad hutang piutang (akad qarn). Mengapa demikian? Karena pada akad wadiah tidak terjadi perpindahan pemilikan, sedangkan apabila terjadi perpindahan pemilikan maka itu namanya akad hutang piutang. Seorang nasabah apabila meletakkan uangnya di bank lalu mengizinkan bank tersebut untuk memakainya maka itu namanya menghutangi dan bukan menitipkan.2. مَنِ اسْتَعْجَلَ بِشَيْءٍ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ(Barangsiapa yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya -dengan niat yang buruk- maka dia dihukum dengan kebalikannya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Seseorang yang ingin segera mendapat warisan dari bapaknya kemudian menghalalkan segala cara agar keinginannya segera terwujud. Akhirnya dia rela membunuh bapaknya untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia tidak berhak diberi warisan tersebut. Ini adalah contoh bentuk menggunakan wasilah haram untuk mendapatkan tujuan yang syar’Termasuk dalam kaidah ini adalah menggunakan wasilah syar’i untuk mendapatkan tujuan yang haram. Seperti seorang suami yang membenci istrinya dan tidak ingin istrinya mendapatkan warisan darinya. Ketika dia akan meninggal dunia, dia lalu mentalak istrinya dengan talak tiga agar istrinya tersebut tidak mendapat warisan darinya (adapun hanya talak satu atau dua lalu suaminya meninggal di masa ‘iddahnya maka sang istri masih dapat warisan). Tatkala terungkap bahwa dia sengaja menceraikan istrinya dengan niat untuk memberi kemudharatan kepadanya maka istrinya tetap mendapatkan warisan darinya.Bersambung Insya Allah…
AL-QAWAID AL-FIQHIYYAH AL-KUBRAMuqaddimahDi dalam syariat Islam dikenal istilah kaidah, yang berfungsi untuk meringkas berbagai macam permasalahan syariat sehingga dengan kaidah tersebut kita akan dimudahkan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan agama yang beraneka ragam. Khususnya pembahasan fiqih, para ulama telah menetapkan berbagai kaidah sebagai patokan untuk menyelesaikan kasus-kasus fiqih tersebut.Dari bagan di atas diketahui bahwa paling tidak ada tiga kaidah utama di dalam syariat Islam, yaitu:1. Kaidah Ushuliyyah Kaidah ushuliyyah atau kaidah ushul fiqih adalah kaidah yang membahas seputar penggunaaan lafadz atau bahasa. Dengan kaidah-kaidah tersebut, seorang alim dapat menyimpulkan makna dari sebuah lafadz bahasa Arab. Misal kaidah الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut) atau kaidah النَّهْيُ يَقْتَضِى التَّحْرِيْمُ (lafadz pelarangan asalnya menunjukkan akan haramnya hal tersebut). Kedua kaidah tersebut disebut kaidah ushuliyyah yang ditemukan dalam pembahasan ushul fiqih. Sebagai contoh firman Allah,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS Al-Baqarah : 43)Ahli ushul fiqih akan melihat bahwa di dalam ayat ini terdapat lafadz fiil amr (kata kerja perintah). Berdasarkan kaidah ushul fiqih الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut), maka mereka akan berkesimpulan bahwa shalat dan zakat itu hukumnya wajib.2. Kaidah FiqhiyyahAdapun kaidah fiqhiyyah (kaidah fiqih) adalah kaidah yang merupakan kesimpulan dari banyak permasalahan fiqih yang memiliki hukum-hukum yang sama sehingga muncullah kaidah yang mewakili persamaan tersebut. Sebagai gambaran, seorang ahli fiqih dihadapkan dengan ratusan permasalahan fiqih. Setelah dia menelaahnya, dia mendapatkan adanya kesamaan di dalam semua permasalahan tersebut, kesamaan itulah yang kemudian disimpulkan menjadi kaidah fiqih.Misalnya, setelah menelaah banyak permasalahan fiqih maka diperoleh kesimpulan bahwa kemudharatan itu harus dihilangkan, dibuatlah kaidah اَلضَّرَرُ يُزَالُ (ad-dhararu yuzaalu, kemudharatan harus dihilangkan) atau dalam kesempatan lain diperoleh kesimpulan bahwa sesuatu yang sudah diyakini hukumnya maka dia tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan yang datang setelah itu,  dibuatlah kaidah اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ (al-yaqinu laa yazuulu bisy syak, keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan).Berdasarkan hal tersebut, kaidah ushul fiqih lebih awal digunakan dari pada kaidah fiqih. Karena kaidah ushuliyyah digunakan untuk mengetahui kandungan makna sebuah lafadz yang berujung pada kesimpulan hukum. Lalu dari banyak hukum-hukum tersebut yang memiliki kesamaan makna atau maksud, disimpulkanlah menjadi kaidah-kaidah fiqih. Sehingga dari sisi urutan penggunaan, asalnya kaidah ushul fiqih diaplikasikan terlebih dahulu, meskipun dalam realitanya kaidah ushul fiqih dan kaidah fiqih digunakan secara bersama-sama.3. Dhabith FiqhiyyahDikenal pula istilah dhabith fiqhiyyah, yang sedikit berbeda dengan kaidah fiqih. Dhabith fiqhiyyah adalah sejenis kaidah fiqih akan tetapi berlaku hanya di dalam satu bab atau beberapa bab fiqih tertentu saja. Misal, dhabith لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ (likulli sahwin sajdatani, setiap lupa diganti dengan dua sujud), maka kaidah atau dhabit ini hanya berlaku di dalam pembahasan shalat saja dan tidak berlaku di dalam pembahasan fiqih lainnya.Tidak diragukan lagi bahwa menumpuknya permasalahan manusia dan banyaknya kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai hamba Allah, membuat ia perlu terhadap kaidah-kaidah seperti di atas, khususnya kaidah-kaidah fiqih yang bisa langsung ia terapkan untuk menghukumi sebuah kasus yang ia jumpai dalam kehidupannya tanpa harus bertanya kepada seorang alim atas setiap permasalahannya satu per satu. Lantas apakah modal yang harus dia miliki untuk mengetahui kaidah-kaidah tersebut?Alhamdulillah, di zaman ini semua orang tidak perlu lagi menelaah lalu menyimpulkan kaidah fiqih dari ribuan atau bahkan lebih permasalahan fiqih yang ada, hal itu karena kaidah-kaidah fiqih tersebut sudah paten keberadaannya dan sudah dibukukan oleh para ulama dengan rapi. Kaidah-kaidah tersebut tinggal dipergunakan untuk membantu kita di dalam memahami dan menyimpulkan permasalahan-permasalahan fiqih yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.Kaidah Fiqhiyyah KubraSesungguhnya kaidah-kaidah dalam permasalahan fiqih sangatlah banyak, tetapi diantara sekian banyak kaidah fiqih tersebut, ada lima kaidah yang paling besar yang dikenal dengan istilah kaidah fiqhiyyah kubra (kaidah fiqih terbesar) atau kaidah fiqhiyyah al-khamsah (lima kaidah fiqih yang utama) karena jumlahnya ada lima.Kelima kaidah ini dinamakan sebagai kaidah kubra atau kaidah besar karena beberapa alasan, yaitu:Lima kaidah ini dapat diberlakukan pada hampir seluruh bab-bab fiqih. Berbeda dengan kaidah-kaidah lainnya, yang terkadang hanya berkaitan dengan bab thaharah saja, atau bab muamalah saja, atau bab-bab tertentu lainnya.Lima kaidah ini disepakati oleh madzhab yang empat. Mereka semua menggunakan lima kaidah ini untuk menyimpulkan masalah-masalah fiqih apabila ditinjau dari madzhab mereka masing-masing.Lima kaidah ini masing-masing mengandung banyak kaidah turunan di bawahnya.============Kaidah 1اَلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدهَاAl-Umuuru bi Maqaashidiha(Segala Perbuatan Tergantung Niatnya)Kaidah ini adalah kaidah yang sangat penting, karena dengan kaidah ini dia akan mengetahui sejauh mana ia bisa memaksimalkan ibadahnya.Maksud dari kaidah ini adalah segala perkataan maupun perbuatan semua tergantung dari niatnya. Apakah perkataan dan perbuatan tersebut berbuah pahala atau tidak, semua akan kembali kepada niat dan tujuan dia berkata dan berbuat. Dengan niat, akan terbedakan antara dua orang yang melakukan jenis ibadah yang sama tetapi yang satu berpahala yang satunya tidak, atau yang satu berpahala tetapi sedikit namun satunya berpahala yang sangat besar.Dalil tentang kaidah ini diantaranya firman Allah,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah : 5)Dalam ayat lain Allah berfirman,لَّا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah : 225)Diantara kebiasaan orang Arab adalah terlalu mudah mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah seperti kalimat Wallahi! (Demi Allah!) atau yang sejenisnya, padahal di dalam hatinya dia tidak benar-benar bersumpah. Yang seperti ini Allah tidak akan menghukumnya karena perkataan sumpah yang sebenarnya dia tidak maksudkan atau tidak sengaja. Seperti firman Allah,وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 227)Maksud ayat ini adalah Allah hanya akan menghukumi kalimat talaknya berdasarkan niatnya. Karena talak apabila menggunakan lafadz kinayah (tidak sharih atau tegas) maka dikembalikan kepada niatnya. Jika niatnya memang untuk bercerai atau berpisah dengan istrinya maka telah jatuh talak tersebut, tetapi jika tidak berniat demikian maka tidak jatuh talak.Diantara dalil lain kaidah ini adalah sabda Nabi,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari, no. 1 dan Muslim no. 1907)Hijrah pada dasarnya merupakan amalan yang sangat agung yang diganjar dengan pahala yang besar. Namun itu hanya didapatkan bagi mereka yang berhijrah dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya semata. Adapun yang berhijrah bukan karena niat tersebut maka dia tidak akan mendapatkan pahala.Nabi juga bersabda,رُبَّ قَتِيْلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ“Betapa banyak orang yang terbunuh di antara dua barisan pasukan, Allah lebih tahu mengenai niatnya.” (HR Ahmad)Tidak semua yang mati dalam peperangan tersebut mendapatkan predikat syahid di sisi Allah lantas masuk ke dalam surga. Sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلرَّجُلُ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، فَأَيُّ ذَلِكَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ فَقَالَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” (HR Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904)Orang-orang yang ikut dalam peperangan tetapi dengan niat untuk membela sukunya semata, atau unjuk keberanian, maka amalan mereka itu tidak bernilai di sisi Allah walaupun secara dzhahir amalan yang mereka dan orang-orang yang ikhlas lakukan itu sama, sama-sama berperang di barisan Islam.Fungsi NiatA. Niat sebagai penentu ibadahnya tertuju kepada siapaIkhlas beribadah karena Allah semata, atau;Syirik dengan beribadah karena riya, sum’ah, ‘ujub dan lainnya.B. Niat sebagai pembedaPembeda antara ibadah dan adat. Contoh, seseorang yang mandi di pagi hari jumat. Kemungkinannya kembali kepada dua kemungkinan tergantung niatnya, apakah niatnya mandi junub untuk melaksanakan shalat jumat atau mandi biasa sekedar untuk menyegarkan badannya. Yang pertama dia mendapatkan pahala karena melakukan amalan ibadah, sedangkan yang kedua tidak mendapatkan pahala karena hanya melakukan aktivitas kebiasaan sehari-hari.Pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya. Contoh, seseorang yang shalat dua rakaat setelah terbit fajar (masuk waktu subuh). Maka shalat yang dia laksanakan kembali kepada tiga kemungkinan, bisa jadi dia shalat sunnah tahiyyatul masjid, atau shalat sunnah rawatib qabliyah subuh, atau shalat subuh langsung, atau kemungkinan lainnya yang kesemuanya tergantung pada niatnya.Patut diketahui bahwa diantara amalan-amalan itu ada yang merupakan ibadah di satu waktu tetapi di lain waktu dia adalah sekedar kebiasaan, seperti mandi yang telah dicontohkan sebelumnya. Namun terdapat amalan yang tidak membutuhkan niat sebagai pembeda apakah itu ibadah atau sekedar kebiasaan, karena dari sisi dzatnya dia adalah ibadah secara mutlak. Seperti berdzikir, membaca Al-Quran, shalat, atau puasa. Amalan-amalan tersebut tersebut secara dzatnya adalah ibadah, tidak bisa berubah jenis menjadi kebiasaan hanya karena niat.Ada pula jenis amalan yang sudah sangat jelas dan bahkan tidak butuh niat pembeda hendak melakukan jenis ibadah yang ini atau ibadah yang itu, karena tidak memiliki kemiripan dengan ibadah yang lain. Seperti ibadah haji, tidak ada amalan lain yang mirip seperti haji tetapi bukan dengan niat haji. Begitu pula berpuasa di bulan ramadhan, tidak ada kemungkinan puasa yang lain di bulan itu. Sehingga dia tidak perlu mempertegas niatnya akan melakukan jenis ibadah yang mana. Fungsi niat dalam amalan seperti ini adalah tinggal membedakan apakah dia ikhlas atau tidak.Jenis Amalan Hamba Secara umum amalan hamba terbagi ke dalam dua jenis ditinjau dari niat hamba tersebut, amalan yang dituntut oleh syariat dan amalan yang tidak dituntut oleh syariat.A. Amalan yang dituntut oleh syariatAmalan yang dituntut oleh syariat terbagi lagi menjadi dua:Pertama, dituntut untuk dikerjakan.Disinilah letak pembahasan fungsi niat sebagai pembeda atau sebagai penentu ikhlas atau tidak, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. Ketika seorang hamba mengerjakan sebuah amalan, maka dia wajib meniatkannya ikhlas karena Allah semata agar amalan tersebut sah dan diterima di sisi Allah. Dia juga perlu terhadap penegasan akan niatnya apakah dia berniat mengerjakan ibadah A atau ibadah B, atau menegaskan bahwa dia sedang melakukan ibadah dan bukan sekedar kebiasaan, karena Allah akan memberikan ganjaran sesuai niatnya.Kedua, dituntut untuk ditinggalkan.Amalan jenis ini tidak perlu terhadap niat untuk sahnya amalan tersebut. Seperti wajibnya meninggalkan maksiat, amalan ini tidak butuh niat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab menjauhi maksiat, karena sekedar meninggalkan maka itu sudah cukup. Contoh lain, meninggalkan beban punya hutang, cukup dibayarkan maka kewajibannya sebagai orang yang berhutang sudah selesai tanpa harus adanya penegasan niat sebelumnya. Contoh lain, meninggalkan najis, maka mencucinya sampai hilang itu sudah cukup bahkan ketika najis tersebut hilang sendiri tanpa sengaja dihilangkan. Berbeda dengan jenis amalan yang dituntut untuk dikerjakan, dia butuh niat agar shalat sah, butuh niat agar puasa sah, butuh niat agar mandi junub sah, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala dari Allah, melebihi kadar sah, maka tetap perlu niat yaitu niat meninggalkannya karena Allah. Seperti meninggalkan zina, ada orang yang meninggalkan zina karena takut terkena HIV/AIDS, yang seperti ini tidak berpahala dan tidak pula berdosa. Tetapi jika dia meninggalkan zina karena Allah padahal sudah terbetik untuk berzina, maka dia akan dapat pahala.B. Amalan yang tidak dituntut oleh syariatYaitu amalan yang boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan, atau disebut dengan mubah. Sama seperti amalan yang dituntut untuk ditinggalkan, amalan mubah ini tidak perlu terhadap niat. Umumnya hal-hal mubah adalah perkara-perkara duniawi yang tidak dituntut untuk berniat. Antara makan daging atau roti tidak perlu niat yang membedakannya, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala, maka harus berniat. Seperti ketika Nabi bersabda,وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampai pun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR Muslim no. 1251)Suapan seorang suami kepada istrinya pada dasarnya murni karena motivasi duniawi. Tetapi jika diniatkan untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka dia akan mendapatkan pahala. Seseorang yang makan sekedar makan tidak akan dapat pahala karena itu perkara mubah, namun jika dia makan dengan tujuan agar dirinya semakin kuat dalam beribadah maka pada saat itu aktivitas makannya akan diganjar pahala oleh Allah.Oleh karena itu, hendaknya kaidah ini menjadi salah satu perhatian yang sangat utama karena umumnya aktivitas harian manusia pada dasarnya adalah murni duniawi. Namun jika aktivitas tersebut diniatkan karena Allah maka dia akan bernilai pahala. Seorang suami yang keluar pagi pulang malam mencari uang hendaknya meniatkannya demi mencari nafkah untuk keluarganya agar berbuah pahala. Seorang yang tidur cepat hendaknya berniat agar tidurnya tersebut menambah kekuatannya dalam beribadah. Sehingga dia menjadikan seluruh aktivitas kehidupannya bernilai ibadah.Tentang Melafadzkan NiatTelah dimaklumi bahwa niat itu tempatnya di hati dan bukan di lisan. Namun tentang hukum melafadzkan niat maka para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini tentang boleh atau tidaknya. Hanya saja semuanya sepakat bahwa Nabi tidak pernah melafadzkan niat dalam seluruh ibadah yang dia lakukan. Begitupun dari para sahabat tidak pernah pula diriwayatkan satupun di antara mereka yang melafadzkan niat. Dari sini disimpulkan bahwa yang lebih afdhal adalah tidak melafadzkan niat ketika ingin mengerjakan sebuah ibadah.Namun sebagian ulama syafi’iyyah belakangan, mereka menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam rangka untuk mengokohkan niat tersebut, dengan catatan harus dengan suara yang pelan (sirr).Bersamaan dengan itu, banyak pula orang awam yang salah paham terhadap pendapat ini lantas beranggapan bahwa melafadzkan niat menurut madzhab syafi’i bukan sekedar dianjurkan akan tetapi diwajibkan, dan dalam shalat merupakan syarat sahnya. Namun yang benar tetaplah tidak dianjurkan untuk melafadzkan niat baik itu pelan lebih-lebih jika dikeraskan.Tercampurnya Niat Pada AmalanSeorang hamba ketika beribadah, dia dituntut untuk mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah semata. Namun terkadang ada seorang hamba yang beribadah namun dalam ibadahnya tersebut tercampuri tendensi-tendensi lain. Kasus yang seperti ini terbagi menjadi dua.A. Amalan Tercampuri Niat DuniawiSeorang hamba yang mengerjakan ibadah dengan ikhlas namun tercampuri dengan perkara duniawi yang bukan merupakan riya’, maka hukumnya tidak mengapa. Contoh:Menunaikan ibadah haji sembari berniat untuk berdagang. Maka niat seperti ini tidak mengapa, sebagaimana firman Allah,لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-Baqarah : 198)Diantara tafsirannya adalah sambil berdagang di samping menunaikan haji.Menyambung silaturrahmi dengan kerabat karena ingin bertambah umur dan rezeki. Nabi bersabda,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)Bertakwa karena ingin diberikan solusi-solusi dalam setiap permasalahan. Allah berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS At-Thalaq : 2)Semua contoh di atas adalah bentuk ibadah yang tercampuri dengan niat duniawi. Tetapi Allah dan Nabi-Nya sendiri lah yang menjanjikan keutamaan-keutamaan duniawi tersebut. Sehingga yang seperti ini hukumnya tidak mengapa, dengan syarat dia mengerjakan ibadah tersebut dasarnya memang ikhlas karena Allah dan tambahan niat duniawinya tidak boleh lebih mendominasi dari pada niat akhiratnya, apalagi sampai menjadi murni niatan duniawi. Sebagaimana Allah berfirman,مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS Al-Isra’ : 18)Allah juga berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS Hud : 15)B. Amalan Tercampuri Niat Riya’ (ingin dilihat orang)Seorang hamba yang sedang mengerjakan ibadah lalu dalam ibadahnya tersebut muncul rasa riya’ maka kondisi ini terbagi ke dalam 2 kondisi.1. Muncul sejak awal beramal, maka amal tersebut tertolak.2. Muncul belakangan, terbagi dalam dua kondisi lagi:Muncul di tengah saat dia sedang beramal, yang terbagi lagi menjadi dua; – Riya’ tersebut dilawan, mengandung 2 kemungkinan; Jika dia berhasil maka dia mendapatkan pahala, dan jika dia tidak berhasil maka dia tetap dapat pahala karena sudah berusaha untuk melawannya. – Riya’ tersebut tidak dilawan. Adapun kondisi seperti ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan amalnya gugur, sebagian lain mengatakan amalnya diterima karena di awal beramal dia sudah ikhlas. Imam Ahmad menguatkan pendapat yang kedua.Muncul setelah selesai beramal Jika seorang hamba telah beramal dengan ikhlas hingga akhir. Namun tiba-tiba muncul rasa riya’ di kemudian hari, maka para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa pahala yang telah dia dapatkan saat beramal tetap selamat (tidak terhapus), hanya saja riya’ yang muncul tersebut diganjar dosa, dan ini pendapat yang terkuat. Sebagian kecil ulama yang lain semisal Ibnul Qayyim berpendapat bahwa pahala yang didapatkan dari amalan yang telah dilakukannya itu gugur karena riya’ yang muncul setelah beramal tersebut.Hukum Bertaubat dari Riya’Telah diketahui bahwa seorang hamba yang beramal dengan riya’ maka hukum asalnya amalannya tersebut tidak diterima. Namun bagaimana jika dia bertaubat dari riya’ yang menjadi asas beramalnya dahulu? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat apakah pahala yang harusnya dia dapat tetapi jadi terhapus karena riya’ itu bisa kembali lagi, atau tidak kembali.Para ulama yang berpendapat bahwa pahalanya tidak akan kembali, beralasan bahwa amalan tersebut memang sedari awal tidak sah, karena syarat sah diterimanya amalan adalah ikhlas. Sehingga dengan itu amalannya tidak berbuah pahala, kalau demikian apa yang mau kembali? Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul Qayyim.Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa amalannya akan kembali dan akan diberi pahala sesuai amalannya tersebut. Mereka mengatakan bahwa hukum asal amal itu diterima, hanya saja saat dia beramal maka amalannya tersebut tidak diterima karena ada penghalangnya yaitu riya’. Ketika penghalangnya dicabut dengan cara bertaubat dari perbuatan riya’nya maka amalan itu akan kembali dan berbuah pahala. Alasan lainnya adalah memakai qiyas aulawiy dengan orang musyrik yang bertaubat dari kesyirikannya lalu dia beriman sehingga dengannya Allah mengembalikan atau memberikan ganjaran pahala bagi kebaikan yang dahulu dia lakukan ketika masih musyrik. Allah berfirman,وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Asalnya amalan mereka diterima, tetapi menjadi tidak diterima karena terhalang oleh status kekafiran mereka. Jika penghalangnya hilang, maka amalan yang dulu terhalang jadi diterima. Sebagaimana sahabat Nabi Hakim bin Hizam yang dahulunya musyrik, dia bertanya tentang keadaannya kepada Nabi,يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ، وَصِلَةِ رَحِمٍ، فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍWahai Rasulullah, “Bagaimana menurut anda tentang beberapa hal yang aku lakukan sebagai ibadah pada masa jahiliyah? Seperti sedekah, memerdekakan budak, menyambung silaturrahmi, apakah aku mendapatkan sesuatu (pahala) di dalamnya?” Rasulullah bersabda, “(Dengan) memeluk Agama Islam (kamu tetap mendapatkan pahala) amal kebaikan yang dulu kamu kerjakan.” (HR Bukhari no. 1436)Orang musyrik dengan syirik besar saja setelah bertaubat maka amalan masa lalunya diterima, apalagi orang riya’ yang merupakan syirik asghar jika ia bertaubat dengan taubat nashuha. Meskipun demikian, hendaknya setiap hamba tidak menggampangkan perkara ini, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah dia sempat bertaubat atau tidak.Kaidah-Kaidah Turunan dari Kaidah PertamaTelah dijelaskan di awal bahwa diantara karakteristik kaidah kubra adalah mempunyai kaidah cabang atau turunannya. Diantara kaidah cabang dari kaidah pertama ini, adalah:1. اَلْعِبْرَةُ فِي الْعُقُوْدِ بِالمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَ الْمَبَانِي(Yang menjadi patokan dalam sebuah akad adalah tujuan dan hakekatnya, bukan lafadz dan bentuk kalimatnya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Jika ada seseorang membeli barang dari sebuah toko, tetapi dia lupa tidak membawa uang. Kemudian dia mengatakan kepada si penjual, “Saya beli barangmu, tetapi karena saya lupa bawa uang, untuk sementara jam tangan saya dititipkan dulu, setelah ini saya akan pulang mengambil uang kemudian kembali lagi untuk membayarnya dan akan saya ambil titipan jam tangan saya.” Walaupun orang ini berkata itu bahwa adalah jam tangannya sekedar dititipkan tetapi hakekat itu bukan akad wadi’ah (titipan) melainkan akad rahn (jaminan).Perkataan si A kepada si B, “Saya hadiahkan kepada engkau mobil saya dengan syarat engkau hadiahkan mobilmu kepadaku.” Maka walaupun mereka berkata itu adalah bentuk saling memberi hadiah tetapi hakekatnya itu adalah jual beli.Nasabah yang menitipkan uangnya di bank (bermaksud melakukan akad wadiah). Maka hakekatnya akad yang dia lakukan adalah akad hutang piutang (akad qarn). Mengapa demikian? Karena pada akad wadiah tidak terjadi perpindahan pemilikan, sedangkan apabila terjadi perpindahan pemilikan maka itu namanya akad hutang piutang. Seorang nasabah apabila meletakkan uangnya di bank lalu mengizinkan bank tersebut untuk memakainya maka itu namanya menghutangi dan bukan menitipkan.2. مَنِ اسْتَعْجَلَ بِشَيْءٍ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ(Barangsiapa yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya -dengan niat yang buruk- maka dia dihukum dengan kebalikannya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Seseorang yang ingin segera mendapat warisan dari bapaknya kemudian menghalalkan segala cara agar keinginannya segera terwujud. Akhirnya dia rela membunuh bapaknya untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia tidak berhak diberi warisan tersebut. Ini adalah contoh bentuk menggunakan wasilah haram untuk mendapatkan tujuan yang syar’Termasuk dalam kaidah ini adalah menggunakan wasilah syar’i untuk mendapatkan tujuan yang haram. Seperti seorang suami yang membenci istrinya dan tidak ingin istrinya mendapatkan warisan darinya. Ketika dia akan meninggal dunia, dia lalu mentalak istrinya dengan talak tiga agar istrinya tersebut tidak mendapat warisan darinya (adapun hanya talak satu atau dua lalu suaminya meninggal di masa ‘iddahnya maka sang istri masih dapat warisan). Tatkala terungkap bahwa dia sengaja menceraikan istrinya dengan niat untuk memberi kemudharatan kepadanya maka istrinya tetap mendapatkan warisan darinya.Bersambung Insya Allah…


AL-QAWAID AL-FIQHIYYAH AL-KUBRAMuqaddimahDi dalam syariat Islam dikenal istilah kaidah, yang berfungsi untuk meringkas berbagai macam permasalahan syariat sehingga dengan kaidah tersebut kita akan dimudahkan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan agama yang beraneka ragam. Khususnya pembahasan fiqih, para ulama telah menetapkan berbagai kaidah sebagai patokan untuk menyelesaikan kasus-kasus fiqih tersebut.Dari bagan di atas diketahui bahwa paling tidak ada tiga kaidah utama di dalam syariat Islam, yaitu:1. Kaidah Ushuliyyah Kaidah ushuliyyah atau kaidah ushul fiqih adalah kaidah yang membahas seputar penggunaaan lafadz atau bahasa. Dengan kaidah-kaidah tersebut, seorang alim dapat menyimpulkan makna dari sebuah lafadz bahasa Arab. Misal kaidah الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut) atau kaidah النَّهْيُ يَقْتَضِى التَّحْرِيْمُ (lafadz pelarangan asalnya menunjukkan akan haramnya hal tersebut). Kedua kaidah tersebut disebut kaidah ushuliyyah yang ditemukan dalam pembahasan ushul fiqih. Sebagai contoh firman Allah,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS Al-Baqarah : 43)Ahli ushul fiqih akan melihat bahwa di dalam ayat ini terdapat lafadz fiil amr (kata kerja perintah). Berdasarkan kaidah ushul fiqih الأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut), maka mereka akan berkesimpulan bahwa shalat dan zakat itu hukumnya wajib.2. Kaidah FiqhiyyahAdapun kaidah fiqhiyyah (kaidah fiqih) adalah kaidah yang merupakan kesimpulan dari banyak permasalahan fiqih yang memiliki hukum-hukum yang sama sehingga muncullah kaidah yang mewakili persamaan tersebut. Sebagai gambaran, seorang ahli fiqih dihadapkan dengan ratusan permasalahan fiqih. Setelah dia menelaahnya, dia mendapatkan adanya kesamaan di dalam semua permasalahan tersebut, kesamaan itulah yang kemudian disimpulkan menjadi kaidah fiqih.Misalnya, setelah menelaah banyak permasalahan fiqih maka diperoleh kesimpulan bahwa kemudharatan itu harus dihilangkan, dibuatlah kaidah اَلضَّرَرُ يُزَالُ (ad-dhararu yuzaalu, kemudharatan harus dihilangkan) atau dalam kesempatan lain diperoleh kesimpulan bahwa sesuatu yang sudah diyakini hukumnya maka dia tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan yang datang setelah itu,  dibuatlah kaidah اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ (al-yaqinu laa yazuulu bisy syak, keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan).Berdasarkan hal tersebut, kaidah ushul fiqih lebih awal digunakan dari pada kaidah fiqih. Karena kaidah ushuliyyah digunakan untuk mengetahui kandungan makna sebuah lafadz yang berujung pada kesimpulan hukum. Lalu dari banyak hukum-hukum tersebut yang memiliki kesamaan makna atau maksud, disimpulkanlah menjadi kaidah-kaidah fiqih. Sehingga dari sisi urutan penggunaan, asalnya kaidah ushul fiqih diaplikasikan terlebih dahulu, meskipun dalam realitanya kaidah ushul fiqih dan kaidah fiqih digunakan secara bersama-sama.3. Dhabith FiqhiyyahDikenal pula istilah dhabith fiqhiyyah, yang sedikit berbeda dengan kaidah fiqih. Dhabith fiqhiyyah adalah sejenis kaidah fiqih akan tetapi berlaku hanya di dalam satu bab atau beberapa bab fiqih tertentu saja. Misal, dhabith لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ (likulli sahwin sajdatani, setiap lupa diganti dengan dua sujud), maka kaidah atau dhabit ini hanya berlaku di dalam pembahasan shalat saja dan tidak berlaku di dalam pembahasan fiqih lainnya.Tidak diragukan lagi bahwa menumpuknya permasalahan manusia dan banyaknya kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai hamba Allah, membuat ia perlu terhadap kaidah-kaidah seperti di atas, khususnya kaidah-kaidah fiqih yang bisa langsung ia terapkan untuk menghukumi sebuah kasus yang ia jumpai dalam kehidupannya tanpa harus bertanya kepada seorang alim atas setiap permasalahannya satu per satu. Lantas apakah modal yang harus dia miliki untuk mengetahui kaidah-kaidah tersebut?Alhamdulillah, di zaman ini semua orang tidak perlu lagi menelaah lalu menyimpulkan kaidah fiqih dari ribuan atau bahkan lebih permasalahan fiqih yang ada, hal itu karena kaidah-kaidah fiqih tersebut sudah paten keberadaannya dan sudah dibukukan oleh para ulama dengan rapi. Kaidah-kaidah tersebut tinggal dipergunakan untuk membantu kita di dalam memahami dan menyimpulkan permasalahan-permasalahan fiqih yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.Kaidah Fiqhiyyah KubraSesungguhnya kaidah-kaidah dalam permasalahan fiqih sangatlah banyak, tetapi diantara sekian banyak kaidah fiqih tersebut, ada lima kaidah yang paling besar yang dikenal dengan istilah kaidah fiqhiyyah kubra (kaidah fiqih terbesar) atau kaidah fiqhiyyah al-khamsah (lima kaidah fiqih yang utama) karena jumlahnya ada lima.Kelima kaidah ini dinamakan sebagai kaidah kubra atau kaidah besar karena beberapa alasan, yaitu:Lima kaidah ini dapat diberlakukan pada hampir seluruh bab-bab fiqih. Berbeda dengan kaidah-kaidah lainnya, yang terkadang hanya berkaitan dengan bab thaharah saja, atau bab muamalah saja, atau bab-bab tertentu lainnya.Lima kaidah ini disepakati oleh madzhab yang empat. Mereka semua menggunakan lima kaidah ini untuk menyimpulkan masalah-masalah fiqih apabila ditinjau dari madzhab mereka masing-masing.Lima kaidah ini masing-masing mengandung banyak kaidah turunan di bawahnya.============Kaidah 1اَلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدهَاAl-Umuuru bi Maqaashidiha(Segala Perbuatan Tergantung Niatnya)Kaidah ini adalah kaidah yang sangat penting, karena dengan kaidah ini dia akan mengetahui sejauh mana ia bisa memaksimalkan ibadahnya.Maksud dari kaidah ini adalah segala perkataan maupun perbuatan semua tergantung dari niatnya. Apakah perkataan dan perbuatan tersebut berbuah pahala atau tidak, semua akan kembali kepada niat dan tujuan dia berkata dan berbuat. Dengan niat, akan terbedakan antara dua orang yang melakukan jenis ibadah yang sama tetapi yang satu berpahala yang satunya tidak, atau yang satu berpahala tetapi sedikit namun satunya berpahala yang sangat besar.Dalil tentang kaidah ini diantaranya firman Allah,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah : 5)Dalam ayat lain Allah berfirman,لَّا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah : 225)Diantara kebiasaan orang Arab adalah terlalu mudah mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah seperti kalimat Wallahi! (Demi Allah!) atau yang sejenisnya, padahal di dalam hatinya dia tidak benar-benar bersumpah. Yang seperti ini Allah tidak akan menghukumnya karena perkataan sumpah yang sebenarnya dia tidak maksudkan atau tidak sengaja. Seperti firman Allah,وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 227)Maksud ayat ini adalah Allah hanya akan menghukumi kalimat talaknya berdasarkan niatnya. Karena talak apabila menggunakan lafadz kinayah (tidak sharih atau tegas) maka dikembalikan kepada niatnya. Jika niatnya memang untuk bercerai atau berpisah dengan istrinya maka telah jatuh talak tersebut, tetapi jika tidak berniat demikian maka tidak jatuh talak.Diantara dalil lain kaidah ini adalah sabda Nabi,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari, no. 1 dan Muslim no. 1907)Hijrah pada dasarnya merupakan amalan yang sangat agung yang diganjar dengan pahala yang besar. Namun itu hanya didapatkan bagi mereka yang berhijrah dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya semata. Adapun yang berhijrah bukan karena niat tersebut maka dia tidak akan mendapatkan pahala.Nabi juga bersabda,رُبَّ قَتِيْلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ“Betapa banyak orang yang terbunuh di antara dua barisan pasukan, Allah lebih tahu mengenai niatnya.” (HR Ahmad)Tidak semua yang mati dalam peperangan tersebut mendapatkan predikat syahid di sisi Allah lantas masuk ke dalam surga. Sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلرَّجُلُ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، فَأَيُّ ذَلِكَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ فَقَالَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” (HR Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904)Orang-orang yang ikut dalam peperangan tetapi dengan niat untuk membela sukunya semata, atau unjuk keberanian, maka amalan mereka itu tidak bernilai di sisi Allah walaupun secara dzhahir amalan yang mereka dan orang-orang yang ikhlas lakukan itu sama, sama-sama berperang di barisan Islam.Fungsi NiatA. Niat sebagai penentu ibadahnya tertuju kepada siapaIkhlas beribadah karena Allah semata, atau;Syirik dengan beribadah karena riya, sum’ah, ‘ujub dan lainnya.B. Niat sebagai pembedaPembeda antara ibadah dan adat. Contoh, seseorang yang mandi di pagi hari jumat. Kemungkinannya kembali kepada dua kemungkinan tergantung niatnya, apakah niatnya mandi junub untuk melaksanakan shalat jumat atau mandi biasa sekedar untuk menyegarkan badannya. Yang pertama dia mendapatkan pahala karena melakukan amalan ibadah, sedangkan yang kedua tidak mendapatkan pahala karena hanya melakukan aktivitas kebiasaan sehari-hari.Pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya. Contoh, seseorang yang shalat dua rakaat setelah terbit fajar (masuk waktu subuh). Maka shalat yang dia laksanakan kembali kepada tiga kemungkinan, bisa jadi dia shalat sunnah tahiyyatul masjid, atau shalat sunnah rawatib qabliyah subuh, atau shalat subuh langsung, atau kemungkinan lainnya yang kesemuanya tergantung pada niatnya.Patut diketahui bahwa diantara amalan-amalan itu ada yang merupakan ibadah di satu waktu tetapi di lain waktu dia adalah sekedar kebiasaan, seperti mandi yang telah dicontohkan sebelumnya. Namun terdapat amalan yang tidak membutuhkan niat sebagai pembeda apakah itu ibadah atau sekedar kebiasaan, karena dari sisi dzatnya dia adalah ibadah secara mutlak. Seperti berdzikir, membaca Al-Quran, shalat, atau puasa. Amalan-amalan tersebut tersebut secara dzatnya adalah ibadah, tidak bisa berubah jenis menjadi kebiasaan hanya karena niat.Ada pula jenis amalan yang sudah sangat jelas dan bahkan tidak butuh niat pembeda hendak melakukan jenis ibadah yang ini atau ibadah yang itu, karena tidak memiliki kemiripan dengan ibadah yang lain. Seperti ibadah haji, tidak ada amalan lain yang mirip seperti haji tetapi bukan dengan niat haji. Begitu pula berpuasa di bulan ramadhan, tidak ada kemungkinan puasa yang lain di bulan itu. Sehingga dia tidak perlu mempertegas niatnya akan melakukan jenis ibadah yang mana. Fungsi niat dalam amalan seperti ini adalah tinggal membedakan apakah dia ikhlas atau tidak.Jenis Amalan Hamba Secara umum amalan hamba terbagi ke dalam dua jenis ditinjau dari niat hamba tersebut, amalan yang dituntut oleh syariat dan amalan yang tidak dituntut oleh syariat.A. Amalan yang dituntut oleh syariatAmalan yang dituntut oleh syariat terbagi lagi menjadi dua:Pertama, dituntut untuk dikerjakan.Disinilah letak pembahasan fungsi niat sebagai pembeda atau sebagai penentu ikhlas atau tidak, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. Ketika seorang hamba mengerjakan sebuah amalan, maka dia wajib meniatkannya ikhlas karena Allah semata agar amalan tersebut sah dan diterima di sisi Allah. Dia juga perlu terhadap penegasan akan niatnya apakah dia berniat mengerjakan ibadah A atau ibadah B, atau menegaskan bahwa dia sedang melakukan ibadah dan bukan sekedar kebiasaan, karena Allah akan memberikan ganjaran sesuai niatnya.Kedua, dituntut untuk ditinggalkan.Amalan jenis ini tidak perlu terhadap niat untuk sahnya amalan tersebut. Seperti wajibnya meninggalkan maksiat, amalan ini tidak butuh niat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab menjauhi maksiat, karena sekedar meninggalkan maka itu sudah cukup. Contoh lain, meninggalkan beban punya hutang, cukup dibayarkan maka kewajibannya sebagai orang yang berhutang sudah selesai tanpa harus adanya penegasan niat sebelumnya. Contoh lain, meninggalkan najis, maka mencucinya sampai hilang itu sudah cukup bahkan ketika najis tersebut hilang sendiri tanpa sengaja dihilangkan. Berbeda dengan jenis amalan yang dituntut untuk dikerjakan, dia butuh niat agar shalat sah, butuh niat agar puasa sah, butuh niat agar mandi junub sah, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala dari Allah, melebihi kadar sah, maka tetap perlu niat yaitu niat meninggalkannya karena Allah. Seperti meninggalkan zina, ada orang yang meninggalkan zina karena takut terkena HIV/AIDS, yang seperti ini tidak berpahala dan tidak pula berdosa. Tetapi jika dia meninggalkan zina karena Allah padahal sudah terbetik untuk berzina, maka dia akan dapat pahala.B. Amalan yang tidak dituntut oleh syariatYaitu amalan yang boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan, atau disebut dengan mubah. Sama seperti amalan yang dituntut untuk ditinggalkan, amalan mubah ini tidak perlu terhadap niat. Umumnya hal-hal mubah adalah perkara-perkara duniawi yang tidak dituntut untuk berniat. Antara makan daging atau roti tidak perlu niat yang membedakannya, dan seterusnya.Namun jika ingin mendapatkan pahala, maka harus berniat. Seperti ketika Nabi bersabda,وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampai pun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR Muslim no. 1251)Suapan seorang suami kepada istrinya pada dasarnya murni karena motivasi duniawi. Tetapi jika diniatkan untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka dia akan mendapatkan pahala. Seseorang yang makan sekedar makan tidak akan dapat pahala karena itu perkara mubah, namun jika dia makan dengan tujuan agar dirinya semakin kuat dalam beribadah maka pada saat itu aktivitas makannya akan diganjar pahala oleh Allah.Oleh karena itu, hendaknya kaidah ini menjadi salah satu perhatian yang sangat utama karena umumnya aktivitas harian manusia pada dasarnya adalah murni duniawi. Namun jika aktivitas tersebut diniatkan karena Allah maka dia akan bernilai pahala. Seorang suami yang keluar pagi pulang malam mencari uang hendaknya meniatkannya demi mencari nafkah untuk keluarganya agar berbuah pahala. Seorang yang tidur cepat hendaknya berniat agar tidurnya tersebut menambah kekuatannya dalam beribadah. Sehingga dia menjadikan seluruh aktivitas kehidupannya bernilai ibadah.Tentang Melafadzkan NiatTelah dimaklumi bahwa niat itu tempatnya di hati dan bukan di lisan. Namun tentang hukum melafadzkan niat maka para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini tentang boleh atau tidaknya. Hanya saja semuanya sepakat bahwa Nabi tidak pernah melafadzkan niat dalam seluruh ibadah yang dia lakukan. Begitupun dari para sahabat tidak pernah pula diriwayatkan satupun di antara mereka yang melafadzkan niat. Dari sini disimpulkan bahwa yang lebih afdhal adalah tidak melafadzkan niat ketika ingin mengerjakan sebuah ibadah.Namun sebagian ulama syafi’iyyah belakangan, mereka menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam rangka untuk mengokohkan niat tersebut, dengan catatan harus dengan suara yang pelan (sirr).Bersamaan dengan itu, banyak pula orang awam yang salah paham terhadap pendapat ini lantas beranggapan bahwa melafadzkan niat menurut madzhab syafi’i bukan sekedar dianjurkan akan tetapi diwajibkan, dan dalam shalat merupakan syarat sahnya. Namun yang benar tetaplah tidak dianjurkan untuk melafadzkan niat baik itu pelan lebih-lebih jika dikeraskan.Tercampurnya Niat Pada AmalanSeorang hamba ketika beribadah, dia dituntut untuk mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah semata. Namun terkadang ada seorang hamba yang beribadah namun dalam ibadahnya tersebut tercampuri tendensi-tendensi lain. Kasus yang seperti ini terbagi menjadi dua.A. Amalan Tercampuri Niat DuniawiSeorang hamba yang mengerjakan ibadah dengan ikhlas namun tercampuri dengan perkara duniawi yang bukan merupakan riya’, maka hukumnya tidak mengapa. Contoh:Menunaikan ibadah haji sembari berniat untuk berdagang. Maka niat seperti ini tidak mengapa, sebagaimana firman Allah,لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-Baqarah : 198)Diantara tafsirannya adalah sambil berdagang di samping menunaikan haji.Menyambung silaturrahmi dengan kerabat karena ingin bertambah umur dan rezeki. Nabi bersabda,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)Bertakwa karena ingin diberikan solusi-solusi dalam setiap permasalahan. Allah berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS At-Thalaq : 2)Semua contoh di atas adalah bentuk ibadah yang tercampuri dengan niat duniawi. Tetapi Allah dan Nabi-Nya sendiri lah yang menjanjikan keutamaan-keutamaan duniawi tersebut. Sehingga yang seperti ini hukumnya tidak mengapa, dengan syarat dia mengerjakan ibadah tersebut dasarnya memang ikhlas karena Allah dan tambahan niat duniawinya tidak boleh lebih mendominasi dari pada niat akhiratnya, apalagi sampai menjadi murni niatan duniawi. Sebagaimana Allah berfirman,مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS Al-Isra’ : 18)Allah juga berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS Hud : 15)B. Amalan Tercampuri Niat Riya’ (ingin dilihat orang)Seorang hamba yang sedang mengerjakan ibadah lalu dalam ibadahnya tersebut muncul rasa riya’ maka kondisi ini terbagi ke dalam 2 kondisi.1. Muncul sejak awal beramal, maka amal tersebut tertolak.2. Muncul belakangan, terbagi dalam dua kondisi lagi:Muncul di tengah saat dia sedang beramal, yang terbagi lagi menjadi dua; – Riya’ tersebut dilawan, mengandung 2 kemungkinan; Jika dia berhasil maka dia mendapatkan pahala, dan jika dia tidak berhasil maka dia tetap dapat pahala karena sudah berusaha untuk melawannya. – Riya’ tersebut tidak dilawan. Adapun kondisi seperti ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan amalnya gugur, sebagian lain mengatakan amalnya diterima karena di awal beramal dia sudah ikhlas. Imam Ahmad menguatkan pendapat yang kedua.Muncul setelah selesai beramal Jika seorang hamba telah beramal dengan ikhlas hingga akhir. Namun tiba-tiba muncul rasa riya’ di kemudian hari, maka para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa pahala yang telah dia dapatkan saat beramal tetap selamat (tidak terhapus), hanya saja riya’ yang muncul tersebut diganjar dosa, dan ini pendapat yang terkuat. Sebagian kecil ulama yang lain semisal Ibnul Qayyim berpendapat bahwa pahala yang didapatkan dari amalan yang telah dilakukannya itu gugur karena riya’ yang muncul setelah beramal tersebut.Hukum Bertaubat dari Riya’Telah diketahui bahwa seorang hamba yang beramal dengan riya’ maka hukum asalnya amalannya tersebut tidak diterima. Namun bagaimana jika dia bertaubat dari riya’ yang menjadi asas beramalnya dahulu? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat apakah pahala yang harusnya dia dapat tetapi jadi terhapus karena riya’ itu bisa kembali lagi, atau tidak kembali.Para ulama yang berpendapat bahwa pahalanya tidak akan kembali, beralasan bahwa amalan tersebut memang sedari awal tidak sah, karena syarat sah diterimanya amalan adalah ikhlas. Sehingga dengan itu amalannya tidak berbuah pahala, kalau demikian apa yang mau kembali? Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul Qayyim.Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa amalannya akan kembali dan akan diberi pahala sesuai amalannya tersebut. Mereka mengatakan bahwa hukum asal amal itu diterima, hanya saja saat dia beramal maka amalannya tersebut tidak diterima karena ada penghalangnya yaitu riya’. Ketika penghalangnya dicabut dengan cara bertaubat dari perbuatan riya’nya maka amalan itu akan kembali dan berbuah pahala. Alasan lainnya adalah memakai qiyas aulawiy dengan orang musyrik yang bertaubat dari kesyirikannya lalu dia beriman sehingga dengannya Allah mengembalikan atau memberikan ganjaran pahala bagi kebaikan yang dahulu dia lakukan ketika masih musyrik. Allah berfirman,وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Asalnya amalan mereka diterima, tetapi menjadi tidak diterima karena terhalang oleh status kekafiran mereka. Jika penghalangnya hilang, maka amalan yang dulu terhalang jadi diterima. Sebagaimana sahabat Nabi Hakim bin Hizam yang dahulunya musyrik, dia bertanya tentang keadaannya kepada Nabi,يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ، وَصِلَةِ رَحِمٍ، فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍWahai Rasulullah, “Bagaimana menurut anda tentang beberapa hal yang aku lakukan sebagai ibadah pada masa jahiliyah? Seperti sedekah, memerdekakan budak, menyambung silaturrahmi, apakah aku mendapatkan sesuatu (pahala) di dalamnya?” Rasulullah bersabda, “(Dengan) memeluk Agama Islam (kamu tetap mendapatkan pahala) amal kebaikan yang dulu kamu kerjakan.” (HR Bukhari no. 1436)Orang musyrik dengan syirik besar saja setelah bertaubat maka amalan masa lalunya diterima, apalagi orang riya’ yang merupakan syirik asghar jika ia bertaubat dengan taubat nashuha. Meskipun demikian, hendaknya setiap hamba tidak menggampangkan perkara ini, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah dia sempat bertaubat atau tidak.Kaidah-Kaidah Turunan dari Kaidah PertamaTelah dijelaskan di awal bahwa diantara karakteristik kaidah kubra adalah mempunyai kaidah cabang atau turunannya. Diantara kaidah cabang dari kaidah pertama ini, adalah:1. اَلْعِبْرَةُ فِي الْعُقُوْدِ بِالمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَ الْمَبَانِي(Yang menjadi patokan dalam sebuah akad adalah tujuan dan hakekatnya, bukan lafadz dan bentuk kalimatnya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Jika ada seseorang membeli barang dari sebuah toko, tetapi dia lupa tidak membawa uang. Kemudian dia mengatakan kepada si penjual, “Saya beli barangmu, tetapi karena saya lupa bawa uang, untuk sementara jam tangan saya dititipkan dulu, setelah ini saya akan pulang mengambil uang kemudian kembali lagi untuk membayarnya dan akan saya ambil titipan jam tangan saya.” Walaupun orang ini berkata itu bahwa adalah jam tangannya sekedar dititipkan tetapi hakekat itu bukan akad wadi’ah (titipan) melainkan akad rahn (jaminan).Perkataan si A kepada si B, “Saya hadiahkan kepada engkau mobil saya dengan syarat engkau hadiahkan mobilmu kepadaku.” Maka walaupun mereka berkata itu adalah bentuk saling memberi hadiah tetapi hakekatnya itu adalah jual beli.Nasabah yang menitipkan uangnya di bank (bermaksud melakukan akad wadiah). Maka hakekatnya akad yang dia lakukan adalah akad hutang piutang (akad qarn). Mengapa demikian? Karena pada akad wadiah tidak terjadi perpindahan pemilikan, sedangkan apabila terjadi perpindahan pemilikan maka itu namanya akad hutang piutang. Seorang nasabah apabila meletakkan uangnya di bank lalu mengizinkan bank tersebut untuk memakainya maka itu namanya menghutangi dan bukan menitipkan.2. مَنِ اسْتَعْجَلَ بِشَيْءٍ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ(Barangsiapa yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya -dengan niat yang buruk- maka dia dihukum dengan kebalikannya)Contoh-contoh penerapan kaidah ini:Seseorang yang ingin segera mendapat warisan dari bapaknya kemudian menghalalkan segala cara agar keinginannya segera terwujud. Akhirnya dia rela membunuh bapaknya untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia tidak berhak diberi warisan tersebut. Ini adalah contoh bentuk menggunakan wasilah haram untuk mendapatkan tujuan yang syar’Termasuk dalam kaidah ini adalah menggunakan wasilah syar’i untuk mendapatkan tujuan yang haram. Seperti seorang suami yang membenci istrinya dan tidak ingin istrinya mendapatkan warisan darinya. Ketika dia akan meninggal dunia, dia lalu mentalak istrinya dengan talak tiga agar istrinya tersebut tidak mendapat warisan darinya (adapun hanya talak satu atau dua lalu suaminya meninggal di masa ‘iddahnya maka sang istri masih dapat warisan). Tatkala terungkap bahwa dia sengaja menceraikan istrinya dengan niat untuk memberi kemudharatan kepadanya maka istrinya tetap mendapatkan warisan darinya.Bersambung Insya Allah…

Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?

Fenomena dewasa ini yang cukup memprihatinkan kita adalah kita saksikan saudara-saudara kita sesama muslim yang saling mengejek, saling menghina, dan saling mengolok-olok di media sosial. Berbagai gelar dan julukan yang buruk pun mudah terucap, baik melalui lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sebutlah misalnya julukan (maaf) “cebong”, “kampret”, “IQ 200 sekolam” dan ucapan-ucapan buruk lainnya. Ucapan-ucapan yang tampak ringan di lisan dan tulisan, padahal berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.Hukum Saling Memanggil dengan Gelar dan Julukan yang BurukAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Pada asalnya, “laqab” (gelar atau julukan) itu bisa mengandung pujian dan bisa juga mengandung celaan. Jika julukan tersebut mengandung pujian, inilah yang dianjurkan. Seperti, memanggil orang lain dengan “yang mulia”, “yang ‘alim (berilmu)”, “yang terhormat” dan sebagainya.Namun jika julukan tersebut mengandung celaan, maka inilah maksud ayat di atas, yaitu hukumnya terlarang. Misalnya, memanggil orang lain dengan “orang pelit”, “orang hina”, “orang bodoh”, dan sejenisnya. Meskipun itu adalah benar karena ada kekurangan (cacat) dalam fisiknya, tetap dilarang. Misalnya dengan memanggil orang lain dengan “si pincang”, “si mata juling”, “si buta”, dan sejenisnya. Kecuali jika julukan tersebut untuk mengidentifikasi orang lain, bukan dalam rangka merendahkan, maka diperbolehkan. Misalnya, jika di suatu kampung itu ada banyak orang yang bernama “Budi”. Jika yang kita maksud adalah “Budi yang pincang” (untuk membedakan dengan “Budi” yang lain), maka boleh menyebut “Budi yang pincang”. Karena ini dalam rangka membedakan, bukan dalam rangka merendahkan.Sayangnya, kita jumpai saat ini orang sangat bermudah-mudah dan meremehkan larangan Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Diberikanlah julukan bagi orang yang berbeda pandangan atau pilihan “politiknya” dengan sebutan (maaf) “cebong”, sedangkan di pihak lain diberikan julukan (maaf) “kampret” dan julukan-julukan yang buruk lainnya. Seolah-olah ucapannya itu adalah ucapan yang ringan dan tidak ada perhitungannya nanti di sisi Allah Ta’ala.Lebih-lebih bagi mereka yang pertama kali memiliki ide julukan ini dan yang pertama kali mempopulerkannya, kemudian diikuti oleh banyak orang. Karena bisa jadi orang tersebut menanggung dosa jariyah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ“Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim no. 1017).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti tersebut sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Jangan Saling Mengolok-olokAllah Ta’ala juga melarang kita dari perbuatan saling mengolok-olok. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang perbuatan mengolok-olok orang lain. Misalnya dengan mengolok-olok saudaranya dengan mengatakan “IQ jongkok” atau “IQ 200 sekolam”, dan olok-olokan lainnya. Apalagi, dalam olok-olokan IQ tersebut jelas-jelas mengandung unsur dusta dan kebohongan atas nama orang lain. Karena tentunya, orang yang mengolok-olok itu tidak pernah mengukur IQ saudaranya sama sekali.Selain itu, perbuatan mengolok-olok, saling memanggil dengan gelar yang buruk, dan perbuatan mencela orang lain itu Allah Ta’ala sebut dengan kefasikan. Istilah “fasik” maksudnya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena perbuatan semacam ini tidak pantas dinamakan dan disandingkan dengan keimanan.Di akhir ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa barangsiapa yang tidak mau bertaubat dari perbuatan-perbuatan di atas (mengolok-olok, memberikan gelar yang buruk, mencela, merendahkan, ghibah dan adu domba), maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Mereka telah menzalimi orang lain. Dan bisa jadi Allah Ta’ala selamatkan orang yang dilecehkan dan Allah Ta’ala timpakan hukuman kepada orang yang mengolok-olok dan melecehkan tersebut dengan bentuk hukuman sebagaimana olok-olok yang dia sematkan kepada orang lain atau bahkan lebih buruk.Mencela Orang Lain Berarti Mencela Diri SendiriAda yang menarik dalam ayat di atas berkaitan dengan larangan mencela orang lain. Allah Ta’ala melarang kita mencela orang lain dengan lafadz,وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Mengapa mencela orang lain Allah Ta’ala sebut dengan mencela diri sendiri? Ada dua penjelasan mengenai hal ini. Penjelasan pertama, karena setiap mukmin itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika dia mencela orang lain, pada hakikatnya dia mencela dirinya sendiri, karena orang lain itu adalah saudaranya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyokong satu sama lain itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasakan sakit, dengan begadang (tidak bisa tidur) dan demam” (HR. Muslim no. 2586).Penjelasan kedua adalah karena jika kita mencela orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan mencela diri kita sendiri, dan begitulah seterusnya akan saling mencela. Dan itulah fenomena yang kita saksikan saat ini.Mencela orang lain itu termasuk perbuatan merendahkan (menghina) mereka. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih” (QS. At-Taubah [9]: 79).Oleh karena itu, melalui tulisan ini, kami mengajak kepada saudara-saudara kami sesama kaum muslimin untuk menghentikan kebiasaan saling mencela, saling menghina, saling mengolok-olok, dan saling memanggil dengan gelar dan julukan yang buruk. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya (di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan lainnya). Karena semua yang kita ucapkan dan semua yang kita tulis, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala.***@Sint-Jobskade 718 NL, 11 Dzulqa’dah 1439/ 25 Juli 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-farqu baina an-nashiihah wa at-tajriih karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 19-21 (penerbit Kunuuz Isybiliya).🔍 Hadits Tentang Warisan, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Cara Masuk Surga, Obat Penyubur Jenggot, Tanda Kebesaran Allah Siksa Kubur

Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?

Fenomena dewasa ini yang cukup memprihatinkan kita adalah kita saksikan saudara-saudara kita sesama muslim yang saling mengejek, saling menghina, dan saling mengolok-olok di media sosial. Berbagai gelar dan julukan yang buruk pun mudah terucap, baik melalui lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sebutlah misalnya julukan (maaf) “cebong”, “kampret”, “IQ 200 sekolam” dan ucapan-ucapan buruk lainnya. Ucapan-ucapan yang tampak ringan di lisan dan tulisan, padahal berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.Hukum Saling Memanggil dengan Gelar dan Julukan yang BurukAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Pada asalnya, “laqab” (gelar atau julukan) itu bisa mengandung pujian dan bisa juga mengandung celaan. Jika julukan tersebut mengandung pujian, inilah yang dianjurkan. Seperti, memanggil orang lain dengan “yang mulia”, “yang ‘alim (berilmu)”, “yang terhormat” dan sebagainya.Namun jika julukan tersebut mengandung celaan, maka inilah maksud ayat di atas, yaitu hukumnya terlarang. Misalnya, memanggil orang lain dengan “orang pelit”, “orang hina”, “orang bodoh”, dan sejenisnya. Meskipun itu adalah benar karena ada kekurangan (cacat) dalam fisiknya, tetap dilarang. Misalnya dengan memanggil orang lain dengan “si pincang”, “si mata juling”, “si buta”, dan sejenisnya. Kecuali jika julukan tersebut untuk mengidentifikasi orang lain, bukan dalam rangka merendahkan, maka diperbolehkan. Misalnya, jika di suatu kampung itu ada banyak orang yang bernama “Budi”. Jika yang kita maksud adalah “Budi yang pincang” (untuk membedakan dengan “Budi” yang lain), maka boleh menyebut “Budi yang pincang”. Karena ini dalam rangka membedakan, bukan dalam rangka merendahkan.Sayangnya, kita jumpai saat ini orang sangat bermudah-mudah dan meremehkan larangan Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Diberikanlah julukan bagi orang yang berbeda pandangan atau pilihan “politiknya” dengan sebutan (maaf) “cebong”, sedangkan di pihak lain diberikan julukan (maaf) “kampret” dan julukan-julukan yang buruk lainnya. Seolah-olah ucapannya itu adalah ucapan yang ringan dan tidak ada perhitungannya nanti di sisi Allah Ta’ala.Lebih-lebih bagi mereka yang pertama kali memiliki ide julukan ini dan yang pertama kali mempopulerkannya, kemudian diikuti oleh banyak orang. Karena bisa jadi orang tersebut menanggung dosa jariyah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ“Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim no. 1017).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti tersebut sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Jangan Saling Mengolok-olokAllah Ta’ala juga melarang kita dari perbuatan saling mengolok-olok. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang perbuatan mengolok-olok orang lain. Misalnya dengan mengolok-olok saudaranya dengan mengatakan “IQ jongkok” atau “IQ 200 sekolam”, dan olok-olokan lainnya. Apalagi, dalam olok-olokan IQ tersebut jelas-jelas mengandung unsur dusta dan kebohongan atas nama orang lain. Karena tentunya, orang yang mengolok-olok itu tidak pernah mengukur IQ saudaranya sama sekali.Selain itu, perbuatan mengolok-olok, saling memanggil dengan gelar yang buruk, dan perbuatan mencela orang lain itu Allah Ta’ala sebut dengan kefasikan. Istilah “fasik” maksudnya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena perbuatan semacam ini tidak pantas dinamakan dan disandingkan dengan keimanan.Di akhir ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa barangsiapa yang tidak mau bertaubat dari perbuatan-perbuatan di atas (mengolok-olok, memberikan gelar yang buruk, mencela, merendahkan, ghibah dan adu domba), maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Mereka telah menzalimi orang lain. Dan bisa jadi Allah Ta’ala selamatkan orang yang dilecehkan dan Allah Ta’ala timpakan hukuman kepada orang yang mengolok-olok dan melecehkan tersebut dengan bentuk hukuman sebagaimana olok-olok yang dia sematkan kepada orang lain atau bahkan lebih buruk.Mencela Orang Lain Berarti Mencela Diri SendiriAda yang menarik dalam ayat di atas berkaitan dengan larangan mencela orang lain. Allah Ta’ala melarang kita mencela orang lain dengan lafadz,وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Mengapa mencela orang lain Allah Ta’ala sebut dengan mencela diri sendiri? Ada dua penjelasan mengenai hal ini. Penjelasan pertama, karena setiap mukmin itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika dia mencela orang lain, pada hakikatnya dia mencela dirinya sendiri, karena orang lain itu adalah saudaranya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyokong satu sama lain itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasakan sakit, dengan begadang (tidak bisa tidur) dan demam” (HR. Muslim no. 2586).Penjelasan kedua adalah karena jika kita mencela orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan mencela diri kita sendiri, dan begitulah seterusnya akan saling mencela. Dan itulah fenomena yang kita saksikan saat ini.Mencela orang lain itu termasuk perbuatan merendahkan (menghina) mereka. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih” (QS. At-Taubah [9]: 79).Oleh karena itu, melalui tulisan ini, kami mengajak kepada saudara-saudara kami sesama kaum muslimin untuk menghentikan kebiasaan saling mencela, saling menghina, saling mengolok-olok, dan saling memanggil dengan gelar dan julukan yang buruk. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya (di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan lainnya). Karena semua yang kita ucapkan dan semua yang kita tulis, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala.***@Sint-Jobskade 718 NL, 11 Dzulqa’dah 1439/ 25 Juli 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-farqu baina an-nashiihah wa at-tajriih karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 19-21 (penerbit Kunuuz Isybiliya).🔍 Hadits Tentang Warisan, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Cara Masuk Surga, Obat Penyubur Jenggot, Tanda Kebesaran Allah Siksa Kubur
Fenomena dewasa ini yang cukup memprihatinkan kita adalah kita saksikan saudara-saudara kita sesama muslim yang saling mengejek, saling menghina, dan saling mengolok-olok di media sosial. Berbagai gelar dan julukan yang buruk pun mudah terucap, baik melalui lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sebutlah misalnya julukan (maaf) “cebong”, “kampret”, “IQ 200 sekolam” dan ucapan-ucapan buruk lainnya. Ucapan-ucapan yang tampak ringan di lisan dan tulisan, padahal berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.Hukum Saling Memanggil dengan Gelar dan Julukan yang BurukAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Pada asalnya, “laqab” (gelar atau julukan) itu bisa mengandung pujian dan bisa juga mengandung celaan. Jika julukan tersebut mengandung pujian, inilah yang dianjurkan. Seperti, memanggil orang lain dengan “yang mulia”, “yang ‘alim (berilmu)”, “yang terhormat” dan sebagainya.Namun jika julukan tersebut mengandung celaan, maka inilah maksud ayat di atas, yaitu hukumnya terlarang. Misalnya, memanggil orang lain dengan “orang pelit”, “orang hina”, “orang bodoh”, dan sejenisnya. Meskipun itu adalah benar karena ada kekurangan (cacat) dalam fisiknya, tetap dilarang. Misalnya dengan memanggil orang lain dengan “si pincang”, “si mata juling”, “si buta”, dan sejenisnya. Kecuali jika julukan tersebut untuk mengidentifikasi orang lain, bukan dalam rangka merendahkan, maka diperbolehkan. Misalnya, jika di suatu kampung itu ada banyak orang yang bernama “Budi”. Jika yang kita maksud adalah “Budi yang pincang” (untuk membedakan dengan “Budi” yang lain), maka boleh menyebut “Budi yang pincang”. Karena ini dalam rangka membedakan, bukan dalam rangka merendahkan.Sayangnya, kita jumpai saat ini orang sangat bermudah-mudah dan meremehkan larangan Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Diberikanlah julukan bagi orang yang berbeda pandangan atau pilihan “politiknya” dengan sebutan (maaf) “cebong”, sedangkan di pihak lain diberikan julukan (maaf) “kampret” dan julukan-julukan yang buruk lainnya. Seolah-olah ucapannya itu adalah ucapan yang ringan dan tidak ada perhitungannya nanti di sisi Allah Ta’ala.Lebih-lebih bagi mereka yang pertama kali memiliki ide julukan ini dan yang pertama kali mempopulerkannya, kemudian diikuti oleh banyak orang. Karena bisa jadi orang tersebut menanggung dosa jariyah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ“Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim no. 1017).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti tersebut sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Jangan Saling Mengolok-olokAllah Ta’ala juga melarang kita dari perbuatan saling mengolok-olok. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang perbuatan mengolok-olok orang lain. Misalnya dengan mengolok-olok saudaranya dengan mengatakan “IQ jongkok” atau “IQ 200 sekolam”, dan olok-olokan lainnya. Apalagi, dalam olok-olokan IQ tersebut jelas-jelas mengandung unsur dusta dan kebohongan atas nama orang lain. Karena tentunya, orang yang mengolok-olok itu tidak pernah mengukur IQ saudaranya sama sekali.Selain itu, perbuatan mengolok-olok, saling memanggil dengan gelar yang buruk, dan perbuatan mencela orang lain itu Allah Ta’ala sebut dengan kefasikan. Istilah “fasik” maksudnya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena perbuatan semacam ini tidak pantas dinamakan dan disandingkan dengan keimanan.Di akhir ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa barangsiapa yang tidak mau bertaubat dari perbuatan-perbuatan di atas (mengolok-olok, memberikan gelar yang buruk, mencela, merendahkan, ghibah dan adu domba), maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Mereka telah menzalimi orang lain. Dan bisa jadi Allah Ta’ala selamatkan orang yang dilecehkan dan Allah Ta’ala timpakan hukuman kepada orang yang mengolok-olok dan melecehkan tersebut dengan bentuk hukuman sebagaimana olok-olok yang dia sematkan kepada orang lain atau bahkan lebih buruk.Mencela Orang Lain Berarti Mencela Diri SendiriAda yang menarik dalam ayat di atas berkaitan dengan larangan mencela orang lain. Allah Ta’ala melarang kita mencela orang lain dengan lafadz,وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Mengapa mencela orang lain Allah Ta’ala sebut dengan mencela diri sendiri? Ada dua penjelasan mengenai hal ini. Penjelasan pertama, karena setiap mukmin itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika dia mencela orang lain, pada hakikatnya dia mencela dirinya sendiri, karena orang lain itu adalah saudaranya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyokong satu sama lain itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasakan sakit, dengan begadang (tidak bisa tidur) dan demam” (HR. Muslim no. 2586).Penjelasan kedua adalah karena jika kita mencela orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan mencela diri kita sendiri, dan begitulah seterusnya akan saling mencela. Dan itulah fenomena yang kita saksikan saat ini.Mencela orang lain itu termasuk perbuatan merendahkan (menghina) mereka. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih” (QS. At-Taubah [9]: 79).Oleh karena itu, melalui tulisan ini, kami mengajak kepada saudara-saudara kami sesama kaum muslimin untuk menghentikan kebiasaan saling mencela, saling menghina, saling mengolok-olok, dan saling memanggil dengan gelar dan julukan yang buruk. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya (di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan lainnya). Karena semua yang kita ucapkan dan semua yang kita tulis, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala.***@Sint-Jobskade 718 NL, 11 Dzulqa’dah 1439/ 25 Juli 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-farqu baina an-nashiihah wa at-tajriih karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 19-21 (penerbit Kunuuz Isybiliya).🔍 Hadits Tentang Warisan, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Cara Masuk Surga, Obat Penyubur Jenggot, Tanda Kebesaran Allah Siksa Kubur


Fenomena dewasa ini yang cukup memprihatinkan kita adalah kita saksikan saudara-saudara kita sesama muslim yang saling mengejek, saling menghina, dan saling mengolok-olok di media sosial. Berbagai gelar dan julukan yang buruk pun mudah terucap, baik melalui lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sebutlah misalnya julukan (maaf) “cebong”, “kampret”, “IQ 200 sekolam” dan ucapan-ucapan buruk lainnya. Ucapan-ucapan yang tampak ringan di lisan dan tulisan, padahal berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.Hukum Saling Memanggil dengan Gelar dan Julukan yang BurukAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Pada asalnya, “laqab” (gelar atau julukan) itu bisa mengandung pujian dan bisa juga mengandung celaan. Jika julukan tersebut mengandung pujian, inilah yang dianjurkan. Seperti, memanggil orang lain dengan “yang mulia”, “yang ‘alim (berilmu)”, “yang terhormat” dan sebagainya.Namun jika julukan tersebut mengandung celaan, maka inilah maksud ayat di atas, yaitu hukumnya terlarang. Misalnya, memanggil orang lain dengan “orang pelit”, “orang hina”, “orang bodoh”, dan sejenisnya. Meskipun itu adalah benar karena ada kekurangan (cacat) dalam fisiknya, tetap dilarang. Misalnya dengan memanggil orang lain dengan “si pincang”, “si mata juling”, “si buta”, dan sejenisnya. Kecuali jika julukan tersebut untuk mengidentifikasi orang lain, bukan dalam rangka merendahkan, maka diperbolehkan. Misalnya, jika di suatu kampung itu ada banyak orang yang bernama “Budi”. Jika yang kita maksud adalah “Budi yang pincang” (untuk membedakan dengan “Budi” yang lain), maka boleh menyebut “Budi yang pincang”. Karena ini dalam rangka membedakan, bukan dalam rangka merendahkan.Sayangnya, kita jumpai saat ini orang sangat bermudah-mudah dan meremehkan larangan Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Diberikanlah julukan bagi orang yang berbeda pandangan atau pilihan “politiknya” dengan sebutan (maaf) “cebong”, sedangkan di pihak lain diberikan julukan (maaf) “kampret” dan julukan-julukan yang buruk lainnya. Seolah-olah ucapannya itu adalah ucapan yang ringan dan tidak ada perhitungannya nanti di sisi Allah Ta’ala.Lebih-lebih bagi mereka yang pertama kali memiliki ide julukan ini dan yang pertama kali mempopulerkannya, kemudian diikuti oleh banyak orang. Karena bisa jadi orang tersebut menanggung dosa jariyah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ“Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim no. 1017).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti tersebut sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Jangan Saling Mengolok-olokAllah Ta’ala juga melarang kita dari perbuatan saling mengolok-olok. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang perbuatan mengolok-olok orang lain. Misalnya dengan mengolok-olok saudaranya dengan mengatakan “IQ jongkok” atau “IQ 200 sekolam”, dan olok-olokan lainnya. Apalagi, dalam olok-olokan IQ tersebut jelas-jelas mengandung unsur dusta dan kebohongan atas nama orang lain. Karena tentunya, orang yang mengolok-olok itu tidak pernah mengukur IQ saudaranya sama sekali.Selain itu, perbuatan mengolok-olok, saling memanggil dengan gelar yang buruk, dan perbuatan mencela orang lain itu Allah Ta’ala sebut dengan kefasikan. Istilah “fasik” maksudnya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena perbuatan semacam ini tidak pantas dinamakan dan disandingkan dengan keimanan.Di akhir ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa barangsiapa yang tidak mau bertaubat dari perbuatan-perbuatan di atas (mengolok-olok, memberikan gelar yang buruk, mencela, merendahkan, ghibah dan adu domba), maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Mereka telah menzalimi orang lain. Dan bisa jadi Allah Ta’ala selamatkan orang yang dilecehkan dan Allah Ta’ala timpakan hukuman kepada orang yang mengolok-olok dan melecehkan tersebut dengan bentuk hukuman sebagaimana olok-olok yang dia sematkan kepada orang lain atau bahkan lebih buruk.Mencela Orang Lain Berarti Mencela Diri SendiriAda yang menarik dalam ayat di atas berkaitan dengan larangan mencela orang lain. Allah Ta’ala melarang kita mencela orang lain dengan lafadz,وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).Mengapa mencela orang lain Allah Ta’ala sebut dengan mencela diri sendiri? Ada dua penjelasan mengenai hal ini. Penjelasan pertama, karena setiap mukmin itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika dia mencela orang lain, pada hakikatnya dia mencela dirinya sendiri, karena orang lain itu adalah saudaranya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyokong satu sama lain itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasakan sakit, dengan begadang (tidak bisa tidur) dan demam” (HR. Muslim no. 2586).Penjelasan kedua adalah karena jika kita mencela orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan mencela diri kita sendiri, dan begitulah seterusnya akan saling mencela. Dan itulah fenomena yang kita saksikan saat ini.Mencela orang lain itu termasuk perbuatan merendahkan (menghina) mereka. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih” (QS. At-Taubah [9]: 79).Oleh karena itu, melalui tulisan ini, kami mengajak kepada saudara-saudara kami sesama kaum muslimin untuk menghentikan kebiasaan saling mencela, saling menghina, saling mengolok-olok, dan saling memanggil dengan gelar dan julukan yang buruk. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya (di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan lainnya). Karena semua yang kita ucapkan dan semua yang kita tulis, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala.***@Sint-Jobskade 718 NL, 11 Dzulqa’dah 1439/ 25 Juli 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-farqu baina an-nashiihah wa at-tajriih karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 19-21 (penerbit Kunuuz Isybiliya).🔍 Hadits Tentang Warisan, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Cara Masuk Surga, Obat Penyubur Jenggot, Tanda Kebesaran Allah Siksa Kubur
Prev     Next