Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR

Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR

Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK

Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK

Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI

Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI

Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*

Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*

Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*

Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*

Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *

Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *

Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*

Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*

Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KEDUA:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ”Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha dibutuhkan seluruh hamba-Nya. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia ”. QS. Al-Ikhlas (112): 1-4.Dalil LandasanAbdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, supaya beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. “Ucapkanlah!” kata beliau lagi. Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah.Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid.Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di permulaan surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1440 / 5 Agustus 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KEDUA:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ”Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha dibutuhkan seluruh hamba-Nya. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia ”. QS. Al-Ikhlas (112): 1-4.Dalil LandasanAbdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, supaya beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. “Ucapkanlah!” kata beliau lagi. Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah.Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid.Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di permulaan surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1440 / 5 Agustus 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KEDUA:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ”Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha dibutuhkan seluruh hamba-Nya. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia ”. QS. Al-Ikhlas (112): 1-4.Dalil LandasanAbdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, supaya beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. “Ucapkanlah!” kata beliau lagi. Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah.Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid.Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di permulaan surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1440 / 5 Agustus 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KEDUA:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ”Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha dibutuhkan seluruh hamba-Nya. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia ”. QS. Al-Ikhlas (112): 1-4.Dalil LandasanAbdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, supaya beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. “Ucapkanlah!” kata beliau lagi. Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah.Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid.Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di permulaan surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1440 / 5 Agustus 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSI

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 137 FOKUS PADA SOLUSIFokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai. Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Solusi, Bukan pada MasalahSeringkali anak datang kepada kita menceritakan masalah. Banyak orangtua mengambil jalan mudah dengan langsung memberi nasihat dan solusi. Sekurang-kurangnya ada dua resiko dari kebiasaan ini:Pertama: Saat nasehat tidak diterima apalagi dipatuhi, orang tua menjadi marah dan terjadi perdebatan panjang. Ketika anak sudah menganggap orang tuanya sebagai ‘lawan’; maka dia akan cenderung defensif.Kedua: Kebiasaan menyuapkan solusi, bisa menyebabkan anak menjadi kurang memiliki kemampuan membuat solusi atas masalah yang dihadapinya. Mudah frustasi dan tergantung pada orang lain.Keterbatasan kemampuan anak dalam berpikir, seringkali membuat mereka berfokus pada masalah. Yaitu ingin menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkannya. Bukan pada upaya mencapai hasil yang diinginkannya. Maka bimbingan orang tua pada anak untuk fokus pada solusi, amat penting. Sebab:Solusi selalu melibatkan tindakan dan proses belajar. Sedangkan fokus pada masalah justru membuatnya makin tenggelam ke dalam masalah dan sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain.Fokus pada solusi memperluas wawasan dan membuka banyak alternatif penyelesaian.Anak akan mampu menasehati dirinya. Nasehat yang berasal dari diri sendiri, seberapa pun kerasnya, lebih mudah diterima oleh diri.Meningkatkan konsep diri dan kemandirian.Tidak mudah terbawa arus.Orang tua tidak perlu menjadi polisi dan pusat solusi sepanjang hidup.Contoh AplikatifBarangkali Anda sering melihat kamar anak remaja Anda berantakan. Sehingga terdorong untuk mengomel dan membereskannya sendiri. Jangan biasakan perilaku ini!Coba ingat-ingat kapan Anda melihat kamarnya rapi. Pasti pernah. Mungkin Anda lupa atau menganggapnya sebagai kewajaran yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, dalam upaya Anda menjadi orang tua salih, kerapian satu-dua kali yang dilakukannya sendiri sungguh berarti. Dan kesanalah Anda akan berfokus.Tunggulah sampai anak Anda melakukannya lagi tanpa disuruh. Abaikan untuk sementara kamarnya yang berantakan. Biarkan dia belajar dari konsekuensi kamar berantakan. Misalnya, jadi kesulitan mencari sesuatu di tumpukan barang. Atau merasa malu ketika temannya berkunjung dan melihat kamarnya. Atau kamarnya menjadi bau oleh tumpukan kaus kaki dan baju kotor. Atau perasaan tak nyaman di tengah suasana bagai kapal pecah. Cepat atau lambat, dia akan kewalahan sendiri dengan segala konsekuensi itu dan akhirnya membereskan kamarnya.Pada saat itu, pujilah dia dan berikan apresiasi. Jadikan momen ini untuk berfokus pada menemukan solusi. Anda dapat ‘menggiringnya’ untuk menemukan sendiri solusi dan membuat keputusan perbaikan. Anak-anak akan lebih berenergi untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Selamat mencoba!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2)Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSI

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 137 FOKUS PADA SOLUSIFokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai. Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Solusi, Bukan pada MasalahSeringkali anak datang kepada kita menceritakan masalah. Banyak orangtua mengambil jalan mudah dengan langsung memberi nasihat dan solusi. Sekurang-kurangnya ada dua resiko dari kebiasaan ini:Pertama: Saat nasehat tidak diterima apalagi dipatuhi, orang tua menjadi marah dan terjadi perdebatan panjang. Ketika anak sudah menganggap orang tuanya sebagai ‘lawan’; maka dia akan cenderung defensif.Kedua: Kebiasaan menyuapkan solusi, bisa menyebabkan anak menjadi kurang memiliki kemampuan membuat solusi atas masalah yang dihadapinya. Mudah frustasi dan tergantung pada orang lain.Keterbatasan kemampuan anak dalam berpikir, seringkali membuat mereka berfokus pada masalah. Yaitu ingin menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkannya. Bukan pada upaya mencapai hasil yang diinginkannya. Maka bimbingan orang tua pada anak untuk fokus pada solusi, amat penting. Sebab:Solusi selalu melibatkan tindakan dan proses belajar. Sedangkan fokus pada masalah justru membuatnya makin tenggelam ke dalam masalah dan sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain.Fokus pada solusi memperluas wawasan dan membuka banyak alternatif penyelesaian.Anak akan mampu menasehati dirinya. Nasehat yang berasal dari diri sendiri, seberapa pun kerasnya, lebih mudah diterima oleh diri.Meningkatkan konsep diri dan kemandirian.Tidak mudah terbawa arus.Orang tua tidak perlu menjadi polisi dan pusat solusi sepanjang hidup.Contoh AplikatifBarangkali Anda sering melihat kamar anak remaja Anda berantakan. Sehingga terdorong untuk mengomel dan membereskannya sendiri. Jangan biasakan perilaku ini!Coba ingat-ingat kapan Anda melihat kamarnya rapi. Pasti pernah. Mungkin Anda lupa atau menganggapnya sebagai kewajaran yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, dalam upaya Anda menjadi orang tua salih, kerapian satu-dua kali yang dilakukannya sendiri sungguh berarti. Dan kesanalah Anda akan berfokus.Tunggulah sampai anak Anda melakukannya lagi tanpa disuruh. Abaikan untuk sementara kamarnya yang berantakan. Biarkan dia belajar dari konsekuensi kamar berantakan. Misalnya, jadi kesulitan mencari sesuatu di tumpukan barang. Atau merasa malu ketika temannya berkunjung dan melihat kamarnya. Atau kamarnya menjadi bau oleh tumpukan kaus kaki dan baju kotor. Atau perasaan tak nyaman di tengah suasana bagai kapal pecah. Cepat atau lambat, dia akan kewalahan sendiri dengan segala konsekuensi itu dan akhirnya membereskan kamarnya.Pada saat itu, pujilah dia dan berikan apresiasi. Jadikan momen ini untuk berfokus pada menemukan solusi. Anda dapat ‘menggiringnya’ untuk menemukan sendiri solusi dan membuat keputusan perbaikan. Anak-anak akan lebih berenergi untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Selamat mencoba!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2)Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 137 FOKUS PADA SOLUSIFokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai. Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Solusi, Bukan pada MasalahSeringkali anak datang kepada kita menceritakan masalah. Banyak orangtua mengambil jalan mudah dengan langsung memberi nasihat dan solusi. Sekurang-kurangnya ada dua resiko dari kebiasaan ini:Pertama: Saat nasehat tidak diterima apalagi dipatuhi, orang tua menjadi marah dan terjadi perdebatan panjang. Ketika anak sudah menganggap orang tuanya sebagai ‘lawan’; maka dia akan cenderung defensif.Kedua: Kebiasaan menyuapkan solusi, bisa menyebabkan anak menjadi kurang memiliki kemampuan membuat solusi atas masalah yang dihadapinya. Mudah frustasi dan tergantung pada orang lain.Keterbatasan kemampuan anak dalam berpikir, seringkali membuat mereka berfokus pada masalah. Yaitu ingin menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkannya. Bukan pada upaya mencapai hasil yang diinginkannya. Maka bimbingan orang tua pada anak untuk fokus pada solusi, amat penting. Sebab:Solusi selalu melibatkan tindakan dan proses belajar. Sedangkan fokus pada masalah justru membuatnya makin tenggelam ke dalam masalah dan sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain.Fokus pada solusi memperluas wawasan dan membuka banyak alternatif penyelesaian.Anak akan mampu menasehati dirinya. Nasehat yang berasal dari diri sendiri, seberapa pun kerasnya, lebih mudah diterima oleh diri.Meningkatkan konsep diri dan kemandirian.Tidak mudah terbawa arus.Orang tua tidak perlu menjadi polisi dan pusat solusi sepanjang hidup.Contoh AplikatifBarangkali Anda sering melihat kamar anak remaja Anda berantakan. Sehingga terdorong untuk mengomel dan membereskannya sendiri. Jangan biasakan perilaku ini!Coba ingat-ingat kapan Anda melihat kamarnya rapi. Pasti pernah. Mungkin Anda lupa atau menganggapnya sebagai kewajaran yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, dalam upaya Anda menjadi orang tua salih, kerapian satu-dua kali yang dilakukannya sendiri sungguh berarti. Dan kesanalah Anda akan berfokus.Tunggulah sampai anak Anda melakukannya lagi tanpa disuruh. Abaikan untuk sementara kamarnya yang berantakan. Biarkan dia belajar dari konsekuensi kamar berantakan. Misalnya, jadi kesulitan mencari sesuatu di tumpukan barang. Atau merasa malu ketika temannya berkunjung dan melihat kamarnya. Atau kamarnya menjadi bau oleh tumpukan kaus kaki dan baju kotor. Atau perasaan tak nyaman di tengah suasana bagai kapal pecah. Cepat atau lambat, dia akan kewalahan sendiri dengan segala konsekuensi itu dan akhirnya membereskan kamarnya.Pada saat itu, pujilah dia dan berikan apresiasi. Jadikan momen ini untuk berfokus pada menemukan solusi. Anda dapat ‘menggiringnya’ untuk menemukan sendiri solusi dan membuat keputusan perbaikan. Anak-anak akan lebih berenergi untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Selamat mencoba!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2)Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 137 FOKUS PADA SOLUSIFokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai. Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Solusi, Bukan pada MasalahSeringkali anak datang kepada kita menceritakan masalah. Banyak orangtua mengambil jalan mudah dengan langsung memberi nasihat dan solusi. Sekurang-kurangnya ada dua resiko dari kebiasaan ini:Pertama: Saat nasehat tidak diterima apalagi dipatuhi, orang tua menjadi marah dan terjadi perdebatan panjang. Ketika anak sudah menganggap orang tuanya sebagai ‘lawan’; maka dia akan cenderung defensif.Kedua: Kebiasaan menyuapkan solusi, bisa menyebabkan anak menjadi kurang memiliki kemampuan membuat solusi atas masalah yang dihadapinya. Mudah frustasi dan tergantung pada orang lain.Keterbatasan kemampuan anak dalam berpikir, seringkali membuat mereka berfokus pada masalah. Yaitu ingin menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkannya. Bukan pada upaya mencapai hasil yang diinginkannya. Maka bimbingan orang tua pada anak untuk fokus pada solusi, amat penting. Sebab:Solusi selalu melibatkan tindakan dan proses belajar. Sedangkan fokus pada masalah justru membuatnya makin tenggelam ke dalam masalah dan sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain.Fokus pada solusi memperluas wawasan dan membuka banyak alternatif penyelesaian.Anak akan mampu menasehati dirinya. Nasehat yang berasal dari diri sendiri, seberapa pun kerasnya, lebih mudah diterima oleh diri.Meningkatkan konsep diri dan kemandirian.Tidak mudah terbawa arus.Orang tua tidak perlu menjadi polisi dan pusat solusi sepanjang hidup.Contoh AplikatifBarangkali Anda sering melihat kamar anak remaja Anda berantakan. Sehingga terdorong untuk mengomel dan membereskannya sendiri. Jangan biasakan perilaku ini!Coba ingat-ingat kapan Anda melihat kamarnya rapi. Pasti pernah. Mungkin Anda lupa atau menganggapnya sebagai kewajaran yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, dalam upaya Anda menjadi orang tua salih, kerapian satu-dua kali yang dilakukannya sendiri sungguh berarti. Dan kesanalah Anda akan berfokus.Tunggulah sampai anak Anda melakukannya lagi tanpa disuruh. Abaikan untuk sementara kamarnya yang berantakan. Biarkan dia belajar dari konsekuensi kamar berantakan. Misalnya, jadi kesulitan mencari sesuatu di tumpukan barang. Atau merasa malu ketika temannya berkunjung dan melihat kamarnya. Atau kamarnya menjadi bau oleh tumpukan kaus kaki dan baju kotor. Atau perasaan tak nyaman di tengah suasana bagai kapal pecah. Cepat atau lambat, dia akan kewalahan sendiri dengan segala konsekuensi itu dan akhirnya membereskan kamarnya.Pada saat itu, pujilah dia dan berikan apresiasi. Jadikan momen ini untuk berfokus pada menemukan solusi. Anda dapat ‘menggiringnya’ untuk menemukan sendiri solusi dan membuat keputusan perbaikan. Anak-anak akan lebih berenergi untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Selamat mencoba!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2)Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUA

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 138 MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUAMuhammad bin Abdurrahman al-Auqash adalah seorang hakim agung legendaris kota Mekah. Puluhan tahun beliau menduduki jabatan tersebut. Sangat disegani. Padahal beliau memiliki kekurangan fisik. Terlahir dalam keadaan lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya. Sehingga kedua bahunya menonjol keluar. Paras mukanya amat pas-pasan.Namun saat ia masih kecil, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya berpesan, “Nak, kelak engkau akan sering ditertawakan dan direndahkan. Maka berkonsentrasilah untuk belajar agama. Sungguh ilmu akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu.”Beliau mematuhi pesan ibunya. Tekun belajar agama. Hingga suatu saat dipercaya menjadi hakim agung di Mekah selama dua puluh tahun. Setiap ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, selalu gemetar dengan kewibawaannya, hingga sidang selesai.Mulutmu HarimaumuOrang tua teladan selalu memperhatikan setiap ucapannya. Berusaha mengeluarkan kata-kata positif dan menghindari komentar negatif.Ucapan yang keluar dari mulut orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku anak hingga dia dewasa. Entah Anda sedang serius atau bercanda, perhatikan kata-kata Anda. Berlatihlah untuk selalu berbicara positif. Namun hindari pujian kosong yang memberikan kebanggaan semu.Ungkapan berlebihan tidak diperlukan. Contohnya: sambil menimang anak, Anda menyebutnya, “Anak paling cantik, paling ganteng, paling pintar sedunia”. Gantilah dengan pengakuan bahwa “dia istimewa untuk Anda. Anugerah indah dari Allah. Anda sangat bersyukur memilikinya”.Mohonlah dengan hormat agar kakek-neneknya juga memberikan sebutan yang pantas. Lebih baik memanggilnya dengan nama asli, ketimbang panggilan yang kelak membuatnya malu jika didengar teman-temannya.Berhati-hatilah dalam berbicara. Terlebih setelah anak tumbuh besar. Anda akan terkejut saat menyadari bahwa ternyata anak banyak belajar dari apa yang dia dengar. Seringkali para ibu lupa diri ketika mereka saling bercerita tentang putra-putrinya. Keusilan dan kekurangan anak diceritakan sambil tertawa geli. Ucapan ceplas-ceplos yang terkadang tidak pantas pun dianggap lucu. Saat anak Anda mendengarnya, lalu menirukan ucapan tersebut, Anda marahi dia. Ini tentu bentuk inkonsistensi.Berikan PenghargaanKetika Anda tahu bahwa anak mendengarkan secara diam-diam, gunakan momen itu untuk menyebutkan kelebihannya. Atau hal-hal positif yang telah dilakukannya. Namun jangan berlebihan. Sebab bisa membuat lawan bicara Anda menganggap Anda menyombongkan diri.Misalnya, jika teman Anda menanyakan rapor anak, Anda bisa menjawab, “Alhamdulillah saya puas dengan peningkatan prestasinya. Saya tahu dia telah berusaha keras. Anak saya memang gigih”.Itu jauh lebih baik ketimbang, “Rapornya bagus. Tapi sayang tidak masuk 10 besar”.Ketika anak mendengarkan, Anda juga bisa mengeraskan doa Anda untuknya. Hal-hal positif yang Anda mintakan kepada Allah untuknya, insyaAllah akan menjadi energi pendorong baginya untuk berusaha mewujudkan apa yang Anda harapkan.“ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“.“Tiga doa yang akan dikabulkan tidak ada keraguan sedikitpun. Doanya orangtua, doanya orang yang bepergian dan doanya orang yang dizalimi”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Muharram 1441 / 9 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSINext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 159: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-3) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUA

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 138 MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUAMuhammad bin Abdurrahman al-Auqash adalah seorang hakim agung legendaris kota Mekah. Puluhan tahun beliau menduduki jabatan tersebut. Sangat disegani. Padahal beliau memiliki kekurangan fisik. Terlahir dalam keadaan lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya. Sehingga kedua bahunya menonjol keluar. Paras mukanya amat pas-pasan.Namun saat ia masih kecil, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya berpesan, “Nak, kelak engkau akan sering ditertawakan dan direndahkan. Maka berkonsentrasilah untuk belajar agama. Sungguh ilmu akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu.”Beliau mematuhi pesan ibunya. Tekun belajar agama. Hingga suatu saat dipercaya menjadi hakim agung di Mekah selama dua puluh tahun. Setiap ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, selalu gemetar dengan kewibawaannya, hingga sidang selesai.Mulutmu HarimaumuOrang tua teladan selalu memperhatikan setiap ucapannya. Berusaha mengeluarkan kata-kata positif dan menghindari komentar negatif.Ucapan yang keluar dari mulut orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku anak hingga dia dewasa. Entah Anda sedang serius atau bercanda, perhatikan kata-kata Anda. Berlatihlah untuk selalu berbicara positif. Namun hindari pujian kosong yang memberikan kebanggaan semu.Ungkapan berlebihan tidak diperlukan. Contohnya: sambil menimang anak, Anda menyebutnya, “Anak paling cantik, paling ganteng, paling pintar sedunia”. Gantilah dengan pengakuan bahwa “dia istimewa untuk Anda. Anugerah indah dari Allah. Anda sangat bersyukur memilikinya”.Mohonlah dengan hormat agar kakek-neneknya juga memberikan sebutan yang pantas. Lebih baik memanggilnya dengan nama asli, ketimbang panggilan yang kelak membuatnya malu jika didengar teman-temannya.Berhati-hatilah dalam berbicara. Terlebih setelah anak tumbuh besar. Anda akan terkejut saat menyadari bahwa ternyata anak banyak belajar dari apa yang dia dengar. Seringkali para ibu lupa diri ketika mereka saling bercerita tentang putra-putrinya. Keusilan dan kekurangan anak diceritakan sambil tertawa geli. Ucapan ceplas-ceplos yang terkadang tidak pantas pun dianggap lucu. Saat anak Anda mendengarnya, lalu menirukan ucapan tersebut, Anda marahi dia. Ini tentu bentuk inkonsistensi.Berikan PenghargaanKetika Anda tahu bahwa anak mendengarkan secara diam-diam, gunakan momen itu untuk menyebutkan kelebihannya. Atau hal-hal positif yang telah dilakukannya. Namun jangan berlebihan. Sebab bisa membuat lawan bicara Anda menganggap Anda menyombongkan diri.Misalnya, jika teman Anda menanyakan rapor anak, Anda bisa menjawab, “Alhamdulillah saya puas dengan peningkatan prestasinya. Saya tahu dia telah berusaha keras. Anak saya memang gigih”.Itu jauh lebih baik ketimbang, “Rapornya bagus. Tapi sayang tidak masuk 10 besar”.Ketika anak mendengarkan, Anda juga bisa mengeraskan doa Anda untuknya. Hal-hal positif yang Anda mintakan kepada Allah untuknya, insyaAllah akan menjadi energi pendorong baginya untuk berusaha mewujudkan apa yang Anda harapkan.“ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“.“Tiga doa yang akan dikabulkan tidak ada keraguan sedikitpun. Doanya orangtua, doanya orang yang bepergian dan doanya orang yang dizalimi”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Muharram 1441 / 9 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSINext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 159: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-3) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 138 MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUAMuhammad bin Abdurrahman al-Auqash adalah seorang hakim agung legendaris kota Mekah. Puluhan tahun beliau menduduki jabatan tersebut. Sangat disegani. Padahal beliau memiliki kekurangan fisik. Terlahir dalam keadaan lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya. Sehingga kedua bahunya menonjol keluar. Paras mukanya amat pas-pasan.Namun saat ia masih kecil, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya berpesan, “Nak, kelak engkau akan sering ditertawakan dan direndahkan. Maka berkonsentrasilah untuk belajar agama. Sungguh ilmu akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu.”Beliau mematuhi pesan ibunya. Tekun belajar agama. Hingga suatu saat dipercaya menjadi hakim agung di Mekah selama dua puluh tahun. Setiap ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, selalu gemetar dengan kewibawaannya, hingga sidang selesai.Mulutmu HarimaumuOrang tua teladan selalu memperhatikan setiap ucapannya. Berusaha mengeluarkan kata-kata positif dan menghindari komentar negatif.Ucapan yang keluar dari mulut orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku anak hingga dia dewasa. Entah Anda sedang serius atau bercanda, perhatikan kata-kata Anda. Berlatihlah untuk selalu berbicara positif. Namun hindari pujian kosong yang memberikan kebanggaan semu.Ungkapan berlebihan tidak diperlukan. Contohnya: sambil menimang anak, Anda menyebutnya, “Anak paling cantik, paling ganteng, paling pintar sedunia”. Gantilah dengan pengakuan bahwa “dia istimewa untuk Anda. Anugerah indah dari Allah. Anda sangat bersyukur memilikinya”.Mohonlah dengan hormat agar kakek-neneknya juga memberikan sebutan yang pantas. Lebih baik memanggilnya dengan nama asli, ketimbang panggilan yang kelak membuatnya malu jika didengar teman-temannya.Berhati-hatilah dalam berbicara. Terlebih setelah anak tumbuh besar. Anda akan terkejut saat menyadari bahwa ternyata anak banyak belajar dari apa yang dia dengar. Seringkali para ibu lupa diri ketika mereka saling bercerita tentang putra-putrinya. Keusilan dan kekurangan anak diceritakan sambil tertawa geli. Ucapan ceplas-ceplos yang terkadang tidak pantas pun dianggap lucu. Saat anak Anda mendengarnya, lalu menirukan ucapan tersebut, Anda marahi dia. Ini tentu bentuk inkonsistensi.Berikan PenghargaanKetika Anda tahu bahwa anak mendengarkan secara diam-diam, gunakan momen itu untuk menyebutkan kelebihannya. Atau hal-hal positif yang telah dilakukannya. Namun jangan berlebihan. Sebab bisa membuat lawan bicara Anda menganggap Anda menyombongkan diri.Misalnya, jika teman Anda menanyakan rapor anak, Anda bisa menjawab, “Alhamdulillah saya puas dengan peningkatan prestasinya. Saya tahu dia telah berusaha keras. Anak saya memang gigih”.Itu jauh lebih baik ketimbang, “Rapornya bagus. Tapi sayang tidak masuk 10 besar”.Ketika anak mendengarkan, Anda juga bisa mengeraskan doa Anda untuknya. Hal-hal positif yang Anda mintakan kepada Allah untuknya, insyaAllah akan menjadi energi pendorong baginya untuk berusaha mewujudkan apa yang Anda harapkan.“ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“.“Tiga doa yang akan dikabulkan tidak ada keraguan sedikitpun. Doanya orangtua, doanya orang yang bepergian dan doanya orang yang dizalimi”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Muharram 1441 / 9 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSINext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 159: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-3) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 138 MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUAMuhammad bin Abdurrahman al-Auqash adalah seorang hakim agung legendaris kota Mekah. Puluhan tahun beliau menduduki jabatan tersebut. Sangat disegani. Padahal beliau memiliki kekurangan fisik. Terlahir dalam keadaan lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya. Sehingga kedua bahunya menonjol keluar. Paras mukanya amat pas-pasan.Namun saat ia masih kecil, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya berpesan, “Nak, kelak engkau akan sering ditertawakan dan direndahkan. Maka berkonsentrasilah untuk belajar agama. Sungguh ilmu akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu.”Beliau mematuhi pesan ibunya. Tekun belajar agama. Hingga suatu saat dipercaya menjadi hakim agung di Mekah selama dua puluh tahun. Setiap ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, selalu gemetar dengan kewibawaannya, hingga sidang selesai.Mulutmu HarimaumuOrang tua teladan selalu memperhatikan setiap ucapannya. Berusaha mengeluarkan kata-kata positif dan menghindari komentar negatif.Ucapan yang keluar dari mulut orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku anak hingga dia dewasa. Entah Anda sedang serius atau bercanda, perhatikan kata-kata Anda. Berlatihlah untuk selalu berbicara positif. Namun hindari pujian kosong yang memberikan kebanggaan semu.Ungkapan berlebihan tidak diperlukan. Contohnya: sambil menimang anak, Anda menyebutnya, “Anak paling cantik, paling ganteng, paling pintar sedunia”. Gantilah dengan pengakuan bahwa “dia istimewa untuk Anda. Anugerah indah dari Allah. Anda sangat bersyukur memilikinya”.Mohonlah dengan hormat agar kakek-neneknya juga memberikan sebutan yang pantas. Lebih baik memanggilnya dengan nama asli, ketimbang panggilan yang kelak membuatnya malu jika didengar teman-temannya.Berhati-hatilah dalam berbicara. Terlebih setelah anak tumbuh besar. Anda akan terkejut saat menyadari bahwa ternyata anak banyak belajar dari apa yang dia dengar. Seringkali para ibu lupa diri ketika mereka saling bercerita tentang putra-putrinya. Keusilan dan kekurangan anak diceritakan sambil tertawa geli. Ucapan ceplas-ceplos yang terkadang tidak pantas pun dianggap lucu. Saat anak Anda mendengarnya, lalu menirukan ucapan tersebut, Anda marahi dia. Ini tentu bentuk inkonsistensi.Berikan PenghargaanKetika Anda tahu bahwa anak mendengarkan secara diam-diam, gunakan momen itu untuk menyebutkan kelebihannya. Atau hal-hal positif yang telah dilakukannya. Namun jangan berlebihan. Sebab bisa membuat lawan bicara Anda menganggap Anda menyombongkan diri.Misalnya, jika teman Anda menanyakan rapor anak, Anda bisa menjawab, “Alhamdulillah saya puas dengan peningkatan prestasinya. Saya tahu dia telah berusaha keras. Anak saya memang gigih”.Itu jauh lebih baik ketimbang, “Rapornya bagus. Tapi sayang tidak masuk 10 besar”.Ketika anak mendengarkan, Anda juga bisa mengeraskan doa Anda untuknya. Hal-hal positif yang Anda mintakan kepada Allah untuknya, insyaAllah akan menjadi energi pendorong baginya untuk berusaha mewujudkan apa yang Anda harapkan.“ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“.“Tiga doa yang akan dikabulkan tidak ada keraguan sedikitpun. Doanya orangtua, doanya orang yang bepergian dan doanya orang yang dizalimi”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Muharram 1441 / 9 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 137: FOKUS PADA SOLUSINext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 159: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-3) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 159: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-3)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KETIGA: Membaca Surat al-Falaq sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“.Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya). Serta dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila dia mendengki ”. QS. Al-Falaq (113): 1-5.Dalil Landasan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Renungan KandunganDalam surat ini, Allah mengajarkan pada kita bacaan perlindungan dari keburukan para makhluk jahat. Serta waktu-waktu yang di dalamnya banyak terjadi kejahatan. Juga berbagai kondisi yang terselubung di baliknya perbuatan jahat. Agar kita terhindar dari berbagai hal yang tak diinginkan tersebut.Kita sangat membutuhkan perlindungan Allah dari makhluk jahat ciptaan-Nya. Apapun itu dan di manapun ia berada; di dalam atau di luar tubuh kita. Kapanpun adanya; di dunia maupun di akhirat.Allah ta’ala memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada-Nya dari keburukan malam yang gelap gulita. Sebab malam merupakan waktu bermunculannya makhluk-makhluk jahat. Semisal setan, binatang berbisa dan pencuri.Waktu subuh adalah permulaan terbitnya cahaya. Karena itulah Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada Rabbul falaq. Sang Penguasa cahaya. Sebab Dialah Yang Maha Kuasa untuk memukul mundur laskar kegelapan.Berikutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan sihir. Sengaja pembahasan tentang sihir diletakkan beriringan dengan pembahasan tentang keburukan malam. Sebab waktu malam merupakan momen favorit tukang sihir untuk menjalankan ritualnya. Karena dengan begitu kejahatannya akan jarang terlihat manusia. Berhubung kebanyakan mereka sedang tidur pulas.Selanjutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan hasad.Peletakkan pembahasan tentang hasad setelah pembahasan tentang keburukan sihir menunjukkan adanya korelasi antara hasad dengan sihir. Kemiripan antara keduanya terlihat manakala sama-sama menimbulkan bahaya dengan cara yang tersembunyi. Korelasi lainnya: seringkali orang yang hasad menempuh jalan sihir. Dengan asumsi bahwa sihir bisa melenyapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang yang ia dengki.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Muharram 1441 / 2 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 160: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-4) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 159: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-3)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KETIGA: Membaca Surat al-Falaq sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“.Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya). Serta dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila dia mendengki ”. QS. Al-Falaq (113): 1-5.Dalil Landasan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Renungan KandunganDalam surat ini, Allah mengajarkan pada kita bacaan perlindungan dari keburukan para makhluk jahat. Serta waktu-waktu yang di dalamnya banyak terjadi kejahatan. Juga berbagai kondisi yang terselubung di baliknya perbuatan jahat. Agar kita terhindar dari berbagai hal yang tak diinginkan tersebut.Kita sangat membutuhkan perlindungan Allah dari makhluk jahat ciptaan-Nya. Apapun itu dan di manapun ia berada; di dalam atau di luar tubuh kita. Kapanpun adanya; di dunia maupun di akhirat.Allah ta’ala memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada-Nya dari keburukan malam yang gelap gulita. Sebab malam merupakan waktu bermunculannya makhluk-makhluk jahat. Semisal setan, binatang berbisa dan pencuri.Waktu subuh adalah permulaan terbitnya cahaya. Karena itulah Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada Rabbul falaq. Sang Penguasa cahaya. Sebab Dialah Yang Maha Kuasa untuk memukul mundur laskar kegelapan.Berikutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan sihir. Sengaja pembahasan tentang sihir diletakkan beriringan dengan pembahasan tentang keburukan malam. Sebab waktu malam merupakan momen favorit tukang sihir untuk menjalankan ritualnya. Karena dengan begitu kejahatannya akan jarang terlihat manusia. Berhubung kebanyakan mereka sedang tidur pulas.Selanjutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan hasad.Peletakkan pembahasan tentang hasad setelah pembahasan tentang keburukan sihir menunjukkan adanya korelasi antara hasad dengan sihir. Kemiripan antara keduanya terlihat manakala sama-sama menimbulkan bahaya dengan cara yang tersembunyi. Korelasi lainnya: seringkali orang yang hasad menempuh jalan sihir. Dengan asumsi bahwa sihir bisa melenyapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang yang ia dengki.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Muharram 1441 / 2 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 160: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-4) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KETIGA: Membaca Surat al-Falaq sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“.Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya). Serta dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila dia mendengki ”. QS. Al-Falaq (113): 1-5.Dalil Landasan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Renungan KandunganDalam surat ini, Allah mengajarkan pada kita bacaan perlindungan dari keburukan para makhluk jahat. Serta waktu-waktu yang di dalamnya banyak terjadi kejahatan. Juga berbagai kondisi yang terselubung di baliknya perbuatan jahat. Agar kita terhindar dari berbagai hal yang tak diinginkan tersebut.Kita sangat membutuhkan perlindungan Allah dari makhluk jahat ciptaan-Nya. Apapun itu dan di manapun ia berada; di dalam atau di luar tubuh kita. Kapanpun adanya; di dunia maupun di akhirat.Allah ta’ala memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada-Nya dari keburukan malam yang gelap gulita. Sebab malam merupakan waktu bermunculannya makhluk-makhluk jahat. Semisal setan, binatang berbisa dan pencuri.Waktu subuh adalah permulaan terbitnya cahaya. Karena itulah Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada Rabbul falaq. Sang Penguasa cahaya. Sebab Dialah Yang Maha Kuasa untuk memukul mundur laskar kegelapan.Berikutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan sihir. Sengaja pembahasan tentang sihir diletakkan beriringan dengan pembahasan tentang keburukan malam. Sebab waktu malam merupakan momen favorit tukang sihir untuk menjalankan ritualnya. Karena dengan begitu kejahatannya akan jarang terlihat manusia. Berhubung kebanyakan mereka sedang tidur pulas.Selanjutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan hasad.Peletakkan pembahasan tentang hasad setelah pembahasan tentang keburukan sihir menunjukkan adanya korelasi antara hasad dengan sihir. Kemiripan antara keduanya terlihat manakala sama-sama menimbulkan bahaya dengan cara yang tersembunyi. Korelasi lainnya: seringkali orang yang hasad menempuh jalan sihir. Dengan asumsi bahwa sihir bisa melenyapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang yang ia dengki.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Muharram 1441 / 2 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 160: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-4) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KETIGA: Membaca Surat al-Falaq sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.“قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“.Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya). Serta dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila dia mendengki ”. QS. Al-Falaq (113): 1-5.Dalil Landasan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Renungan KandunganDalam surat ini, Allah mengajarkan pada kita bacaan perlindungan dari keburukan para makhluk jahat. Serta waktu-waktu yang di dalamnya banyak terjadi kejahatan. Juga berbagai kondisi yang terselubung di baliknya perbuatan jahat. Agar kita terhindar dari berbagai hal yang tak diinginkan tersebut.Kita sangat membutuhkan perlindungan Allah dari makhluk jahat ciptaan-Nya. Apapun itu dan di manapun ia berada; di dalam atau di luar tubuh kita. Kapanpun adanya; di dunia maupun di akhirat.Allah ta’ala memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada-Nya dari keburukan malam yang gelap gulita. Sebab malam merupakan waktu bermunculannya makhluk-makhluk jahat. Semisal setan, binatang berbisa dan pencuri.Waktu subuh adalah permulaan terbitnya cahaya. Karena itulah Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada Rabbul falaq. Sang Penguasa cahaya. Sebab Dialah Yang Maha Kuasa untuk memukul mundur laskar kegelapan.Berikutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan sihir. Sengaja pembahasan tentang sihir diletakkan beriringan dengan pembahasan tentang keburukan malam. Sebab waktu malam merupakan momen favorit tukang sihir untuk menjalankan ritualnya. Karena dengan begitu kejahatannya akan jarang terlihat manusia. Berhubung kebanyakan mereka sedang tidur pulas.Selanjutnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan hasad.Peletakkan pembahasan tentang hasad setelah pembahasan tentang keburukan sihir menunjukkan adanya korelasi antara hasad dengan sihir. Kemiripan antara keduanya terlihat manakala sama-sama menimbulkan bahaya dengan cara yang tersembunyi. Korelasi lainnya: seringkali orang yang hasad menempuh jalan sihir. Dengan asumsi bahwa sihir bisa melenyapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang yang ia dengki.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Muharram 1441 / 2 September 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 138: MEWASPADAI UCAPAN ORANG TUANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 160: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-4) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next