Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 123 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-3 (selesai) Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Tidak memukul saat emosiSebab biasanya pukulan yang dilancarkan saat emosi, hanya bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Sehingga tidak terkontrol. Hal ini membahayakan fisik anak dan juga menyakiti hatinya.Abu Mas’ud al-Badriy radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Aku pernah memukuli budakku dengan cambuk. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku, “Abu Mas’ud, perhatikan!”. Aku tidak paham suara siapa itu, saking emosinya. Saat dia mendekatiku, baru aku sadar bahwa beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Abu Mas’ud, perhatikan! Abu Mas’ud, perhatikan!”. Maka akupun menjatuhkan cambuk itu dari tanganku. Beliau bersabda, “اعْلَمْ، أَبَا مَسْعُودٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلَامِ““Perhatikan wahai Abu Mas’ud. Sungguh Allah lebih mampu untuk menghukummu, melebihi kemampuanmu untuk menghukum budak ini”. Aku pun berkata, “Aku tidak akan pernah memukul seorang budak pun setelah ini”. HR. Muslim.Hadits ini aslinya sedang membahas tentang larangan menyiksa budak, tanpa alasan syar’i atau secara berlebihan. Namun larangan ini juga diberlakukan kepada istri dan anak. Kedelapan: Tidak boleh memukul anak sebelum tamyizSebab ketika usia anak belum tamyiz ia belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga dia belum bisa memahami mengapa ia dipukul. Dia hanya merasakan fisiknya terasa sakit akibat dipukul. Tanpa tahu sebabnya kenapa ia dipukul. Hal ini tidak baik untuk perkembangan kondisi psikologi anak.Bahkan sebagian ulama melarang menggunakan pukulan sebelum usia 10 tahun. Dengan alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya merekomendasikan pukulan setelah usia 10 tahun. Itupun untuk pelanggaran berat, berupa meninggalkan shalat.Kesembilan: Tidak terlalu sering menggunakan pukulanPukulan adalah alternatif terakhir, setelah berbagai cara halus tidak berefek. Sehingga seharusnya penggunaannya jarang. Bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ”“Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali. Tidak kepada istri beliau ataupun pembantunya”. HR. Muslim.Terlalu sering menggunakan pukulan akan berakibat anak terganggu dari aspek emosi. Bahkan bisa membuat anak semakin liar. Cenderung stres dan tidak merasa percaya diri.Kesepuluh: Hentikan pukulan saat anak meyadari kesalahannyaKarena pukulan hanyalah sarana untuk mencapai suatu tujuan. Bila tujuannya telah tercapai, maka sarana tersebut ditinggalkan. Jangan sampai terpancing emosi untuk terus menerus memukul. Apalagi anak sudah meminta ampun. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 R. Tsani 1440 / 17 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 123 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-3 (selesai) Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Tidak memukul saat emosiSebab biasanya pukulan yang dilancarkan saat emosi, hanya bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Sehingga tidak terkontrol. Hal ini membahayakan fisik anak dan juga menyakiti hatinya.Abu Mas’ud al-Badriy radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Aku pernah memukuli budakku dengan cambuk. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku, “Abu Mas’ud, perhatikan!”. Aku tidak paham suara siapa itu, saking emosinya. Saat dia mendekatiku, baru aku sadar bahwa beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Abu Mas’ud, perhatikan! Abu Mas’ud, perhatikan!”. Maka akupun menjatuhkan cambuk itu dari tanganku. Beliau bersabda, “اعْلَمْ، أَبَا مَسْعُودٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلَامِ““Perhatikan wahai Abu Mas’ud. Sungguh Allah lebih mampu untuk menghukummu, melebihi kemampuanmu untuk menghukum budak ini”. Aku pun berkata, “Aku tidak akan pernah memukul seorang budak pun setelah ini”. HR. Muslim.Hadits ini aslinya sedang membahas tentang larangan menyiksa budak, tanpa alasan syar’i atau secara berlebihan. Namun larangan ini juga diberlakukan kepada istri dan anak. Kedelapan: Tidak boleh memukul anak sebelum tamyizSebab ketika usia anak belum tamyiz ia belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga dia belum bisa memahami mengapa ia dipukul. Dia hanya merasakan fisiknya terasa sakit akibat dipukul. Tanpa tahu sebabnya kenapa ia dipukul. Hal ini tidak baik untuk perkembangan kondisi psikologi anak.Bahkan sebagian ulama melarang menggunakan pukulan sebelum usia 10 tahun. Dengan alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya merekomendasikan pukulan setelah usia 10 tahun. Itupun untuk pelanggaran berat, berupa meninggalkan shalat.Kesembilan: Tidak terlalu sering menggunakan pukulanPukulan adalah alternatif terakhir, setelah berbagai cara halus tidak berefek. Sehingga seharusnya penggunaannya jarang. Bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ”“Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali. Tidak kepada istri beliau ataupun pembantunya”. HR. Muslim.Terlalu sering menggunakan pukulan akan berakibat anak terganggu dari aspek emosi. Bahkan bisa membuat anak semakin liar. Cenderung stres dan tidak merasa percaya diri.Kesepuluh: Hentikan pukulan saat anak meyadari kesalahannyaKarena pukulan hanyalah sarana untuk mencapai suatu tujuan. Bila tujuannya telah tercapai, maka sarana tersebut ditinggalkan. Jangan sampai terpancing emosi untuk terus menerus memukul. Apalagi anak sudah meminta ampun. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 R. Tsani 1440 / 17 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 123 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-3 (selesai) Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Tidak memukul saat emosiSebab biasanya pukulan yang dilancarkan saat emosi, hanya bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Sehingga tidak terkontrol. Hal ini membahayakan fisik anak dan juga menyakiti hatinya.Abu Mas’ud al-Badriy radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Aku pernah memukuli budakku dengan cambuk. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku, “Abu Mas’ud, perhatikan!”. Aku tidak paham suara siapa itu, saking emosinya. Saat dia mendekatiku, baru aku sadar bahwa beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Abu Mas’ud, perhatikan! Abu Mas’ud, perhatikan!”. Maka akupun menjatuhkan cambuk itu dari tanganku. Beliau bersabda, “اعْلَمْ، أَبَا مَسْعُودٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلَامِ““Perhatikan wahai Abu Mas’ud. Sungguh Allah lebih mampu untuk menghukummu, melebihi kemampuanmu untuk menghukum budak ini”. Aku pun berkata, “Aku tidak akan pernah memukul seorang budak pun setelah ini”. HR. Muslim.Hadits ini aslinya sedang membahas tentang larangan menyiksa budak, tanpa alasan syar’i atau secara berlebihan. Namun larangan ini juga diberlakukan kepada istri dan anak. Kedelapan: Tidak boleh memukul anak sebelum tamyizSebab ketika usia anak belum tamyiz ia belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga dia belum bisa memahami mengapa ia dipukul. Dia hanya merasakan fisiknya terasa sakit akibat dipukul. Tanpa tahu sebabnya kenapa ia dipukul. Hal ini tidak baik untuk perkembangan kondisi psikologi anak.Bahkan sebagian ulama melarang menggunakan pukulan sebelum usia 10 tahun. Dengan alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya merekomendasikan pukulan setelah usia 10 tahun. Itupun untuk pelanggaran berat, berupa meninggalkan shalat.Kesembilan: Tidak terlalu sering menggunakan pukulanPukulan adalah alternatif terakhir, setelah berbagai cara halus tidak berefek. Sehingga seharusnya penggunaannya jarang. Bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ”“Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali. Tidak kepada istri beliau ataupun pembantunya”. HR. Muslim.Terlalu sering menggunakan pukulan akan berakibat anak terganggu dari aspek emosi. Bahkan bisa membuat anak semakin liar. Cenderung stres dan tidak merasa percaya diri.Kesepuluh: Hentikan pukulan saat anak meyadari kesalahannyaKarena pukulan hanyalah sarana untuk mencapai suatu tujuan. Bila tujuannya telah tercapai, maka sarana tersebut ditinggalkan. Jangan sampai terpancing emosi untuk terus menerus memukul. Apalagi anak sudah meminta ampun. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 R. Tsani 1440 / 17 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 123 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-3 (selesai) Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Tidak memukul saat emosiSebab biasanya pukulan yang dilancarkan saat emosi, hanya bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Sehingga tidak terkontrol. Hal ini membahayakan fisik anak dan juga menyakiti hatinya.Abu Mas’ud al-Badriy radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Aku pernah memukuli budakku dengan cambuk. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku, “Abu Mas’ud, perhatikan!”. Aku tidak paham suara siapa itu, saking emosinya. Saat dia mendekatiku, baru aku sadar bahwa beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Abu Mas’ud, perhatikan! Abu Mas’ud, perhatikan!”. Maka akupun menjatuhkan cambuk itu dari tanganku. Beliau bersabda, “اعْلَمْ، أَبَا مَسْعُودٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلَامِ““Perhatikan wahai Abu Mas’ud. Sungguh Allah lebih mampu untuk menghukummu, melebihi kemampuanmu untuk menghukum budak ini”. Aku pun berkata, “Aku tidak akan pernah memukul seorang budak pun setelah ini”. HR. Muslim.Hadits ini aslinya sedang membahas tentang larangan menyiksa budak, tanpa alasan syar’i atau secara berlebihan. Namun larangan ini juga diberlakukan kepada istri dan anak. Kedelapan: Tidak boleh memukul anak sebelum tamyizSebab ketika usia anak belum tamyiz ia belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga dia belum bisa memahami mengapa ia dipukul. Dia hanya merasakan fisiknya terasa sakit akibat dipukul. Tanpa tahu sebabnya kenapa ia dipukul. Hal ini tidak baik untuk perkembangan kondisi psikologi anak.Bahkan sebagian ulama melarang menggunakan pukulan sebelum usia 10 tahun. Dengan alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya merekomendasikan pukulan setelah usia 10 tahun. Itupun untuk pelanggaran berat, berupa meninggalkan shalat.Kesembilan: Tidak terlalu sering menggunakan pukulanPukulan adalah alternatif terakhir, setelah berbagai cara halus tidak berefek. Sehingga seharusnya penggunaannya jarang. Bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ”“Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali. Tidak kepada istri beliau ataupun pembantunya”. HR. Muslim.Terlalu sering menggunakan pukulan akan berakibat anak terganggu dari aspek emosi. Bahkan bisa membuat anak semakin liar. Cenderung stres dan tidak merasa percaya diri.Kesepuluh: Hentikan pukulan saat anak meyadari kesalahannyaKarena pukulan hanyalah sarana untuk mencapai suatu tujuan. Bila tujuannya telah tercapai, maka sarana tersebut ditinggalkan. Jangan sampai terpancing emosi untuk terus menerus memukul. Apalagi anak sudah meminta ampun. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 R. Tsani 1440 / 17 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 124 RAGAM KDRT Bag-1KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Salah satu tema hangat yang sering dibahas, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun sayangnya seringkali kekerasan hanya diidentikkan dengan yang bersifat fisik saja. Seperti pukulan, tendangan, tamparan, cakaran, siraman air panas atau sejenisnya.Sebenarnya masih ada beberapa bentuk kekerasan lain yang belum diketahui oleh para orang tua. Di antaranya:Pertama: Kekerasan terhadap janinKekerasan terhadap anak bisa terjadi sejak mereka berada dalam rahim ibu mereka. Si ibu mengkonsumsi obat tanpa merujuk dokter yang ahli. Sehingga menimbulkan bahaya terhadap janin. Bahkan bisa berakibat cacat fisik.Apalagi ibu yang mengkonsumsi berbagai minuman dan barang haram. Seperti rokok, ganja, miras dan narkoba. Semuanya itu membawa dampak buruk terhadap janin. Tidak hanya menyakitinya. Tetapi juga menjadi penyebab berbagai kerusakan dan kecacatan yang dialaminya seumur hidup.Kedua: Tidak mengakuinya sebagai anakDi antara bentuk kekerasan yang harus dihindari: tidak mengakui anak. Dalam arti ayah berlepas diri dari anak kandungnya. Dengan tuduhan ibunya telah berbuat mesum dengan orang lain. Akhirnya anak menjadi korban dan akan mengalami penderitaan batin yang amat pedih. Hancurlah masa depannya. Kelamlah kehidupannya. Buruklah keadaannya. Ia dikucilkan oleh orang-orang sekelilingnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ لِيَفْضَحَهُ فِي الدُّنْيَا، فَضَحَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ قِصَاصٌ بِقِصَاصٍ ““Barang siapa tidak mengakui anak kandungnya, dalam rangka untuk mempermalukannya di dunia, niscaya Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk kelak di hari kiamat. Sebagai balasan setimpal atas perbuatannya”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Al-Albaniy dan al-Arna’uth menilai isnadnya hasan.Ketiga: Tidak memberi hak penyusuan Penyusuan merupakan hak syar’i setiap anak. Juga merupakan nikmat Allah yang sangat besar untuk mereka. Oleh karena itu, tidak boleh menghalangi anak untuk mendapatkan hak tersebut.Sebagian wanita menolak menyusui bayinya dengan alasan ingin merawat keindahan tubuhnya. Atau supaya tetap langsing. Ini bisa masuk kategori kekerasan dan kezaliman terhadap anak.Allah ta’ala menjelaskan batasan ideal menyusui anak, dalam firman-Nya,“وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“Artinya: “Hendaklah para ibu menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Bagi yang ingin menyusui secara sempurna”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Tidak boleh menyusui anak kurang dari dua tahun, bila hal itu membahayakan anak. Juga tanpa ridha kedua orang tuanya.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 R. Tsani 1440 / 31 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai)Next DIMARAHI ATAU DIBIARKAN? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 124 RAGAM KDRT Bag-1KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Salah satu tema hangat yang sering dibahas, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun sayangnya seringkali kekerasan hanya diidentikkan dengan yang bersifat fisik saja. Seperti pukulan, tendangan, tamparan, cakaran, siraman air panas atau sejenisnya.Sebenarnya masih ada beberapa bentuk kekerasan lain yang belum diketahui oleh para orang tua. Di antaranya:Pertama: Kekerasan terhadap janinKekerasan terhadap anak bisa terjadi sejak mereka berada dalam rahim ibu mereka. Si ibu mengkonsumsi obat tanpa merujuk dokter yang ahli. Sehingga menimbulkan bahaya terhadap janin. Bahkan bisa berakibat cacat fisik.Apalagi ibu yang mengkonsumsi berbagai minuman dan barang haram. Seperti rokok, ganja, miras dan narkoba. Semuanya itu membawa dampak buruk terhadap janin. Tidak hanya menyakitinya. Tetapi juga menjadi penyebab berbagai kerusakan dan kecacatan yang dialaminya seumur hidup.Kedua: Tidak mengakuinya sebagai anakDi antara bentuk kekerasan yang harus dihindari: tidak mengakui anak. Dalam arti ayah berlepas diri dari anak kandungnya. Dengan tuduhan ibunya telah berbuat mesum dengan orang lain. Akhirnya anak menjadi korban dan akan mengalami penderitaan batin yang amat pedih. Hancurlah masa depannya. Kelamlah kehidupannya. Buruklah keadaannya. Ia dikucilkan oleh orang-orang sekelilingnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ لِيَفْضَحَهُ فِي الدُّنْيَا، فَضَحَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ قِصَاصٌ بِقِصَاصٍ ““Barang siapa tidak mengakui anak kandungnya, dalam rangka untuk mempermalukannya di dunia, niscaya Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk kelak di hari kiamat. Sebagai balasan setimpal atas perbuatannya”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Al-Albaniy dan al-Arna’uth menilai isnadnya hasan.Ketiga: Tidak memberi hak penyusuan Penyusuan merupakan hak syar’i setiap anak. Juga merupakan nikmat Allah yang sangat besar untuk mereka. Oleh karena itu, tidak boleh menghalangi anak untuk mendapatkan hak tersebut.Sebagian wanita menolak menyusui bayinya dengan alasan ingin merawat keindahan tubuhnya. Atau supaya tetap langsing. Ini bisa masuk kategori kekerasan dan kezaliman terhadap anak.Allah ta’ala menjelaskan batasan ideal menyusui anak, dalam firman-Nya,“وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“Artinya: “Hendaklah para ibu menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Bagi yang ingin menyusui secara sempurna”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Tidak boleh menyusui anak kurang dari dua tahun, bila hal itu membahayakan anak. Juga tanpa ridha kedua orang tuanya.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 R. Tsani 1440 / 31 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai)Next DIMARAHI ATAU DIBIARKAN? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 124 RAGAM KDRT Bag-1KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Salah satu tema hangat yang sering dibahas, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun sayangnya seringkali kekerasan hanya diidentikkan dengan yang bersifat fisik saja. Seperti pukulan, tendangan, tamparan, cakaran, siraman air panas atau sejenisnya.Sebenarnya masih ada beberapa bentuk kekerasan lain yang belum diketahui oleh para orang tua. Di antaranya:Pertama: Kekerasan terhadap janinKekerasan terhadap anak bisa terjadi sejak mereka berada dalam rahim ibu mereka. Si ibu mengkonsumsi obat tanpa merujuk dokter yang ahli. Sehingga menimbulkan bahaya terhadap janin. Bahkan bisa berakibat cacat fisik.Apalagi ibu yang mengkonsumsi berbagai minuman dan barang haram. Seperti rokok, ganja, miras dan narkoba. Semuanya itu membawa dampak buruk terhadap janin. Tidak hanya menyakitinya. Tetapi juga menjadi penyebab berbagai kerusakan dan kecacatan yang dialaminya seumur hidup.Kedua: Tidak mengakuinya sebagai anakDi antara bentuk kekerasan yang harus dihindari: tidak mengakui anak. Dalam arti ayah berlepas diri dari anak kandungnya. Dengan tuduhan ibunya telah berbuat mesum dengan orang lain. Akhirnya anak menjadi korban dan akan mengalami penderitaan batin yang amat pedih. Hancurlah masa depannya. Kelamlah kehidupannya. Buruklah keadaannya. Ia dikucilkan oleh orang-orang sekelilingnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ لِيَفْضَحَهُ فِي الدُّنْيَا، فَضَحَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ قِصَاصٌ بِقِصَاصٍ ““Barang siapa tidak mengakui anak kandungnya, dalam rangka untuk mempermalukannya di dunia, niscaya Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk kelak di hari kiamat. Sebagai balasan setimpal atas perbuatannya”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Al-Albaniy dan al-Arna’uth menilai isnadnya hasan.Ketiga: Tidak memberi hak penyusuan Penyusuan merupakan hak syar’i setiap anak. Juga merupakan nikmat Allah yang sangat besar untuk mereka. Oleh karena itu, tidak boleh menghalangi anak untuk mendapatkan hak tersebut.Sebagian wanita menolak menyusui bayinya dengan alasan ingin merawat keindahan tubuhnya. Atau supaya tetap langsing. Ini bisa masuk kategori kekerasan dan kezaliman terhadap anak.Allah ta’ala menjelaskan batasan ideal menyusui anak, dalam firman-Nya,“وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“Artinya: “Hendaklah para ibu menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Bagi yang ingin menyusui secara sempurna”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Tidak boleh menyusui anak kurang dari dua tahun, bila hal itu membahayakan anak. Juga tanpa ridha kedua orang tuanya.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 R. Tsani 1440 / 31 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai)Next DIMARAHI ATAU DIBIARKAN? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 124 RAGAM KDRT Bag-1KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Salah satu tema hangat yang sering dibahas, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun sayangnya seringkali kekerasan hanya diidentikkan dengan yang bersifat fisik saja. Seperti pukulan, tendangan, tamparan, cakaran, siraman air panas atau sejenisnya.Sebenarnya masih ada beberapa bentuk kekerasan lain yang belum diketahui oleh para orang tua. Di antaranya:Pertama: Kekerasan terhadap janinKekerasan terhadap anak bisa terjadi sejak mereka berada dalam rahim ibu mereka. Si ibu mengkonsumsi obat tanpa merujuk dokter yang ahli. Sehingga menimbulkan bahaya terhadap janin. Bahkan bisa berakibat cacat fisik.Apalagi ibu yang mengkonsumsi berbagai minuman dan barang haram. Seperti rokok, ganja, miras dan narkoba. Semuanya itu membawa dampak buruk terhadap janin. Tidak hanya menyakitinya. Tetapi juga menjadi penyebab berbagai kerusakan dan kecacatan yang dialaminya seumur hidup.Kedua: Tidak mengakuinya sebagai anakDi antara bentuk kekerasan yang harus dihindari: tidak mengakui anak. Dalam arti ayah berlepas diri dari anak kandungnya. Dengan tuduhan ibunya telah berbuat mesum dengan orang lain. Akhirnya anak menjadi korban dan akan mengalami penderitaan batin yang amat pedih. Hancurlah masa depannya. Kelamlah kehidupannya. Buruklah keadaannya. Ia dikucilkan oleh orang-orang sekelilingnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ لِيَفْضَحَهُ فِي الدُّنْيَا، فَضَحَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ قِصَاصٌ بِقِصَاصٍ ““Barang siapa tidak mengakui anak kandungnya, dalam rangka untuk mempermalukannya di dunia, niscaya Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk kelak di hari kiamat. Sebagai balasan setimpal atas perbuatannya”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Al-Albaniy dan al-Arna’uth menilai isnadnya hasan.Ketiga: Tidak memberi hak penyusuan Penyusuan merupakan hak syar’i setiap anak. Juga merupakan nikmat Allah yang sangat besar untuk mereka. Oleh karena itu, tidak boleh menghalangi anak untuk mendapatkan hak tersebut.Sebagian wanita menolak menyusui bayinya dengan alasan ingin merawat keindahan tubuhnya. Atau supaya tetap langsing. Ini bisa masuk kategori kekerasan dan kezaliman terhadap anak.Allah ta’ala menjelaskan batasan ideal menyusui anak, dalam firman-Nya,“وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“Artinya: “Hendaklah para ibu menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Bagi yang ingin menyusui secara sempurna”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Tidak boleh menyusui anak kurang dari dua tahun, bila hal itu membahayakan anak. Juga tanpa ridha kedua orang tuanya.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 R. Tsani 1440 / 31 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai)Next DIMARAHI ATAU DIBIARKAN? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?

Salah satu masalah yang sering menjadi polemik di masjid atau majlis taklim adalah keberadaan anak-anak kecil. Di satu sisi kita menginginkan anak-anak tersebut akrab dengan masjid dan majlis taklim. Sehingga kelak merekalah yang menjadi generasi penerus kebaikan. Namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa tingkah polah mereka lumayan ‘mengganggu’ kekhusyuan ibadah.Menghadapi fenomena ini, ada dua kubu yang bertolak belakang dalam menyikapinya.Kubu pertama hobi memarahi anak-anak kecil tersebut. Kerap membentak mereka. Atau minimal memelototi mereka. Seakan mereka adalah hama yang harus diberantas. Akibatnya anak-anak tersebut pun menjadi tidak betah di masjid. Bahkan sebagian mereka menjadi fobia dengan majlis taklim.Adapun kubu kedua, sangat memaklumi tingkah polah anak-anak itu. Seheboh apapun kelakuan mereka, dibiarkan saja. “Toh memang itu masanya”, demikian komentar yang terlontar. Akibatnya tidak sedikit jamaah yang mengeluh sulit konsentrasi dalam mengaji dan shalat.Sikap yang tepatKeberadaan anak kecil di masjid itu sudah lazim sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perilaku anak di zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini. Sama-sama masih suka bermain. Bagaimanakah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapi mereka di masjid?Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun beliau bertanggungjawab. Tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong. Agar tidak mengganggu jama’ah yang lainnya.Tetapi bagaimanapun kedisiplinan orang tua, tetap saja ada saatnya lepas kontrol. Anak berpolah. Di saat itulah kesabaran yang berperan. Mari kita simak kejadian berikut,Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.KesimpulanOrang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab. Bertugas untuk mengkondisikan dan memberikan pengertian kepada anak. Namun proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh kelembutan dan kesabaran.Sehingga anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majlis taklim. Di waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lain terganggu. Ingat, maslahat orang banyak harus diprioritaskan ketimbang maslahat pribadi. Wallahu a’lam bish shawab.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 10 Rajab 1440 / 17 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?

Salah satu masalah yang sering menjadi polemik di masjid atau majlis taklim adalah keberadaan anak-anak kecil. Di satu sisi kita menginginkan anak-anak tersebut akrab dengan masjid dan majlis taklim. Sehingga kelak merekalah yang menjadi generasi penerus kebaikan. Namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa tingkah polah mereka lumayan ‘mengganggu’ kekhusyuan ibadah.Menghadapi fenomena ini, ada dua kubu yang bertolak belakang dalam menyikapinya.Kubu pertama hobi memarahi anak-anak kecil tersebut. Kerap membentak mereka. Atau minimal memelototi mereka. Seakan mereka adalah hama yang harus diberantas. Akibatnya anak-anak tersebut pun menjadi tidak betah di masjid. Bahkan sebagian mereka menjadi fobia dengan majlis taklim.Adapun kubu kedua, sangat memaklumi tingkah polah anak-anak itu. Seheboh apapun kelakuan mereka, dibiarkan saja. “Toh memang itu masanya”, demikian komentar yang terlontar. Akibatnya tidak sedikit jamaah yang mengeluh sulit konsentrasi dalam mengaji dan shalat.Sikap yang tepatKeberadaan anak kecil di masjid itu sudah lazim sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perilaku anak di zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini. Sama-sama masih suka bermain. Bagaimanakah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapi mereka di masjid?Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun beliau bertanggungjawab. Tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong. Agar tidak mengganggu jama’ah yang lainnya.Tetapi bagaimanapun kedisiplinan orang tua, tetap saja ada saatnya lepas kontrol. Anak berpolah. Di saat itulah kesabaran yang berperan. Mari kita simak kejadian berikut,Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.KesimpulanOrang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab. Bertugas untuk mengkondisikan dan memberikan pengertian kepada anak. Namun proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh kelembutan dan kesabaran.Sehingga anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majlis taklim. Di waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lain terganggu. Ingat, maslahat orang banyak harus diprioritaskan ketimbang maslahat pribadi. Wallahu a’lam bish shawab.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 10 Rajab 1440 / 17 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Salah satu masalah yang sering menjadi polemik di masjid atau majlis taklim adalah keberadaan anak-anak kecil. Di satu sisi kita menginginkan anak-anak tersebut akrab dengan masjid dan majlis taklim. Sehingga kelak merekalah yang menjadi generasi penerus kebaikan. Namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa tingkah polah mereka lumayan ‘mengganggu’ kekhusyuan ibadah.Menghadapi fenomena ini, ada dua kubu yang bertolak belakang dalam menyikapinya.Kubu pertama hobi memarahi anak-anak kecil tersebut. Kerap membentak mereka. Atau minimal memelototi mereka. Seakan mereka adalah hama yang harus diberantas. Akibatnya anak-anak tersebut pun menjadi tidak betah di masjid. Bahkan sebagian mereka menjadi fobia dengan majlis taklim.Adapun kubu kedua, sangat memaklumi tingkah polah anak-anak itu. Seheboh apapun kelakuan mereka, dibiarkan saja. “Toh memang itu masanya”, demikian komentar yang terlontar. Akibatnya tidak sedikit jamaah yang mengeluh sulit konsentrasi dalam mengaji dan shalat.Sikap yang tepatKeberadaan anak kecil di masjid itu sudah lazim sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perilaku anak di zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini. Sama-sama masih suka bermain. Bagaimanakah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapi mereka di masjid?Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun beliau bertanggungjawab. Tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong. Agar tidak mengganggu jama’ah yang lainnya.Tetapi bagaimanapun kedisiplinan orang tua, tetap saja ada saatnya lepas kontrol. Anak berpolah. Di saat itulah kesabaran yang berperan. Mari kita simak kejadian berikut,Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.KesimpulanOrang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab. Bertugas untuk mengkondisikan dan memberikan pengertian kepada anak. Namun proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh kelembutan dan kesabaran.Sehingga anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majlis taklim. Di waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lain terganggu. Ingat, maslahat orang banyak harus diprioritaskan ketimbang maslahat pribadi. Wallahu a’lam bish shawab.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 10 Rajab 1440 / 17 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Salah satu masalah yang sering menjadi polemik di masjid atau majlis taklim adalah keberadaan anak-anak kecil. Di satu sisi kita menginginkan anak-anak tersebut akrab dengan masjid dan majlis taklim. Sehingga kelak merekalah yang menjadi generasi penerus kebaikan. Namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa tingkah polah mereka lumayan ‘mengganggu’ kekhusyuan ibadah.Menghadapi fenomena ini, ada dua kubu yang bertolak belakang dalam menyikapinya.Kubu pertama hobi memarahi anak-anak kecil tersebut. Kerap membentak mereka. Atau minimal memelototi mereka. Seakan mereka adalah hama yang harus diberantas. Akibatnya anak-anak tersebut pun menjadi tidak betah di masjid. Bahkan sebagian mereka menjadi fobia dengan majlis taklim.Adapun kubu kedua, sangat memaklumi tingkah polah anak-anak itu. Seheboh apapun kelakuan mereka, dibiarkan saja. “Toh memang itu masanya”, demikian komentar yang terlontar. Akibatnya tidak sedikit jamaah yang mengeluh sulit konsentrasi dalam mengaji dan shalat.Sikap yang tepatKeberadaan anak kecil di masjid itu sudah lazim sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perilaku anak di zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini. Sama-sama masih suka bermain. Bagaimanakah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapi mereka di masjid?Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun beliau bertanggungjawab. Tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong. Agar tidak mengganggu jama’ah yang lainnya.Tetapi bagaimanapun kedisiplinan orang tua, tetap saja ada saatnya lepas kontrol. Anak berpolah. Di saat itulah kesabaran yang berperan. Mari kita simak kejadian berikut,Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.KesimpulanOrang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab. Bertugas untuk mengkondisikan dan memberikan pengertian kepada anak. Namun proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh kelembutan dan kesabaran.Sehingga anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majlis taklim. Di waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lain terganggu. Ingat, maslahat orang banyak harus diprioritaskan ketimbang maslahat pribadi. Wallahu a’lam bish shawab.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 10 Rajab 1440 / 17 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 124: RAGAM KDRT Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2

Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Keempat: Menjatuhkan hukuman kolektif karena kesalahan satu anakSebagian orang tua memiliki kebiasaan buruk. Gara-gara kesalahan salah satu anak, hukuman dijatuhkan kepada seluruh anak. Akibatnya, anak-anak yang tidak berbuat salah merasa dizalimi.Anehnya, kadangkala anak yang bersalah justru bebas dari hukuman. Karena berhasil kabur. Sedangkan yang tidak bersalah harus menerima hukuman dan kemarahan yang menggelegak. Bagaimana kiranya perasaan hatinya yang remuk?Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَا يُؤْخَذُ الرَّجُلُ بِجِنَايَةِ أَبِيهِ، وَلَا جِنَايَةِ أَخِيهِ”“Seseorang tidak boleh dihukum lantaran kejahatan ayahnya. Tidak juga lantaran kejahatan saudaranya”. HR. Nasa’iy dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Kelima: Mengusir anak dari rumahDengan alasan mendidik dan membimbing anak, sebagian orang tua justru merusak anaknya. Mereka menghukum anak dengan cara mengusirnya dari rumah. Perbuatan ini bisa dikategorikan bentuk lepas tanggung jawab pendidikan anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Seseorang yang diberi amanah kepemimpinan oleh Allah, lalu mengkhianatinya hingga meninggal, pasti Allah haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Realitanya, tidak sedikit orang tua yang justru menyesali perbuatannya tersebut di kemudian hari. Sebab hukuman seperti ini justru kontra produktif. Berapa banyak anak yang diusir dari rumah, malah menjadi korban lingkungan buruk di luar rumah. Sebab seseorang yang sedang dirundung kesedihan, akan menjadi mangsa empuk orang-orang jahat. Na’udzu billah min dzalik…Keenam: Menghalangi anak dari nafkah primerSering kita temukan hal ini dalam dunia nyata. Padahal tidak sedikit orang tua yang berbuat demikian, secara ekonomi sebenarnya mapan.Perbuatan ini berakibat anak-anak mencari jalan yang salah demi mendapatkan kebutuhannya. Seperti mencuri, mengutil barang milik orang lain dan sebagainya. Dengan begitu, orang tua telah memiliki andil dalam penyimpangan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ““Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, bila ia menterlantarkan orang yang menjadi tanggungannya”. HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Arna’uth.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Jumadal Ula 1440 / 14 Januari 2019 Post navigation Previous DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2

Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Keempat: Menjatuhkan hukuman kolektif karena kesalahan satu anakSebagian orang tua memiliki kebiasaan buruk. Gara-gara kesalahan salah satu anak, hukuman dijatuhkan kepada seluruh anak. Akibatnya, anak-anak yang tidak berbuat salah merasa dizalimi.Anehnya, kadangkala anak yang bersalah justru bebas dari hukuman. Karena berhasil kabur. Sedangkan yang tidak bersalah harus menerima hukuman dan kemarahan yang menggelegak. Bagaimana kiranya perasaan hatinya yang remuk?Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَا يُؤْخَذُ الرَّجُلُ بِجِنَايَةِ أَبِيهِ، وَلَا جِنَايَةِ أَخِيهِ”“Seseorang tidak boleh dihukum lantaran kejahatan ayahnya. Tidak juga lantaran kejahatan saudaranya”. HR. Nasa’iy dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Kelima: Mengusir anak dari rumahDengan alasan mendidik dan membimbing anak, sebagian orang tua justru merusak anaknya. Mereka menghukum anak dengan cara mengusirnya dari rumah. Perbuatan ini bisa dikategorikan bentuk lepas tanggung jawab pendidikan anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Seseorang yang diberi amanah kepemimpinan oleh Allah, lalu mengkhianatinya hingga meninggal, pasti Allah haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Realitanya, tidak sedikit orang tua yang justru menyesali perbuatannya tersebut di kemudian hari. Sebab hukuman seperti ini justru kontra produktif. Berapa banyak anak yang diusir dari rumah, malah menjadi korban lingkungan buruk di luar rumah. Sebab seseorang yang sedang dirundung kesedihan, akan menjadi mangsa empuk orang-orang jahat. Na’udzu billah min dzalik…Keenam: Menghalangi anak dari nafkah primerSering kita temukan hal ini dalam dunia nyata. Padahal tidak sedikit orang tua yang berbuat demikian, secara ekonomi sebenarnya mapan.Perbuatan ini berakibat anak-anak mencari jalan yang salah demi mendapatkan kebutuhannya. Seperti mencuri, mengutil barang milik orang lain dan sebagainya. Dengan begitu, orang tua telah memiliki andil dalam penyimpangan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ““Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, bila ia menterlantarkan orang yang menjadi tanggungannya”. HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Arna’uth.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Jumadal Ula 1440 / 14 Januari 2019 Post navigation Previous DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Keempat: Menjatuhkan hukuman kolektif karena kesalahan satu anakSebagian orang tua memiliki kebiasaan buruk. Gara-gara kesalahan salah satu anak, hukuman dijatuhkan kepada seluruh anak. Akibatnya, anak-anak yang tidak berbuat salah merasa dizalimi.Anehnya, kadangkala anak yang bersalah justru bebas dari hukuman. Karena berhasil kabur. Sedangkan yang tidak bersalah harus menerima hukuman dan kemarahan yang menggelegak. Bagaimana kiranya perasaan hatinya yang remuk?Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَا يُؤْخَذُ الرَّجُلُ بِجِنَايَةِ أَبِيهِ، وَلَا جِنَايَةِ أَخِيهِ”“Seseorang tidak boleh dihukum lantaran kejahatan ayahnya. Tidak juga lantaran kejahatan saudaranya”. HR. Nasa’iy dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Kelima: Mengusir anak dari rumahDengan alasan mendidik dan membimbing anak, sebagian orang tua justru merusak anaknya. Mereka menghukum anak dengan cara mengusirnya dari rumah. Perbuatan ini bisa dikategorikan bentuk lepas tanggung jawab pendidikan anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Seseorang yang diberi amanah kepemimpinan oleh Allah, lalu mengkhianatinya hingga meninggal, pasti Allah haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Realitanya, tidak sedikit orang tua yang justru menyesali perbuatannya tersebut di kemudian hari. Sebab hukuman seperti ini justru kontra produktif. Berapa banyak anak yang diusir dari rumah, malah menjadi korban lingkungan buruk di luar rumah. Sebab seseorang yang sedang dirundung kesedihan, akan menjadi mangsa empuk orang-orang jahat. Na’udzu billah min dzalik…Keenam: Menghalangi anak dari nafkah primerSering kita temukan hal ini dalam dunia nyata. Padahal tidak sedikit orang tua yang berbuat demikian, secara ekonomi sebenarnya mapan.Perbuatan ini berakibat anak-anak mencari jalan yang salah demi mendapatkan kebutuhannya. Seperti mencuri, mengutil barang milik orang lain dan sebagainya. Dengan begitu, orang tua telah memiliki andil dalam penyimpangan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ““Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, bila ia menterlantarkan orang yang menjadi tanggungannya”. HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Arna’uth.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Jumadal Ula 1440 / 14 Januari 2019 Post navigation Previous DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Keempat: Menjatuhkan hukuman kolektif karena kesalahan satu anakSebagian orang tua memiliki kebiasaan buruk. Gara-gara kesalahan salah satu anak, hukuman dijatuhkan kepada seluruh anak. Akibatnya, anak-anak yang tidak berbuat salah merasa dizalimi.Anehnya, kadangkala anak yang bersalah justru bebas dari hukuman. Karena berhasil kabur. Sedangkan yang tidak bersalah harus menerima hukuman dan kemarahan yang menggelegak. Bagaimana kiranya perasaan hatinya yang remuk?Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَا يُؤْخَذُ الرَّجُلُ بِجِنَايَةِ أَبِيهِ، وَلَا جِنَايَةِ أَخِيهِ”“Seseorang tidak boleh dihukum lantaran kejahatan ayahnya. Tidak juga lantaran kejahatan saudaranya”. HR. Nasa’iy dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Kelima: Mengusir anak dari rumahDengan alasan mendidik dan membimbing anak, sebagian orang tua justru merusak anaknya. Mereka menghukum anak dengan cara mengusirnya dari rumah. Perbuatan ini bisa dikategorikan bentuk lepas tanggung jawab pendidikan anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Seseorang yang diberi amanah kepemimpinan oleh Allah, lalu mengkhianatinya hingga meninggal, pasti Allah haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Realitanya, tidak sedikit orang tua yang justru menyesali perbuatannya tersebut di kemudian hari. Sebab hukuman seperti ini justru kontra produktif. Berapa banyak anak yang diusir dari rumah, malah menjadi korban lingkungan buruk di luar rumah. Sebab seseorang yang sedang dirundung kesedihan, akan menjadi mangsa empuk orang-orang jahat. Na’udzu billah min dzalik…Keenam: Menghalangi anak dari nafkah primerSering kita temukan hal ini dalam dunia nyata. Padahal tidak sedikit orang tua yang berbuat demikian, secara ekonomi sebenarnya mapan.Perbuatan ini berakibat anak-anak mencari jalan yang salah demi mendapatkan kebutuhannya. Seperti mencuri, mengutil barang milik orang lain dan sebagainya. Dengan begitu, orang tua telah memiliki andil dalam penyimpangan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ““Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, bila ia menterlantarkan orang yang menjadi tanggungannya”. HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Arna’uth.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Jumadal Ula 1440 / 14 Januari 2019 Post navigation Previous DIMARAHI ATAU DIBIARKAN?Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 126 RAGAM KDRT Bag-3 (Selesai) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Mendoakan keburukan untuk anakBiasanya ini terjadi saat emosi orang tua memuncak. Tidak bisa menjaga lisannya. Sehingga terlontarlah berbagai doa keburukan. Menyumpahinya, mengutuknya, mendoakan agar anak celaka dan yang semisal. Na’udzu billah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“ لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ الله سَاعَةً يُسْأَلُ فيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ”“Janganlah berdoa keburukan untuk diri kalian sendiri. Janganlah berdoa keburukan untuk anak-anak kalian. Janganlah berdoa keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi doa kalian itu bertepatan dengan waktu mustajab, sehingga dikabulkan Allah ta’ala”. HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu.Padahal bila orang tua sedikit merenung, apa keuntungan yang didapatkannya dari doa keburukan tersebut? Sama sekali tidak ada. Justru malah ia rugi di dunia dan akhirat.Kedelapan: Mempekerjakan anak melampaui kemampuannyaFenomena pekerja anak sebenarnya adalah fenomena yang tidak Islami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang anak-anak untuk ikut berperang. Padahal mereka ingin sekali membela agama Allah.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,عَرَضَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ أُحُدٍ فِى الْقِتَالِ وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku menjelang peperangan Uhud. Saat itu usiaku 14 tahun. Beliau tidak mengizinkanku untuk mengikuti peperangan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Untuk sesuatu yang sangat urgen saja (jihad), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keterlibatan anak-anak. Apalagi untuk bekerja pada masa normal.Parahnya, boleh jadi si ayah malah hanya bermalas-malasan di rumah. Makan dan tidur. Tidak mau bekerja membanting tulang memeras keringat.Menurut hukum, praktek pekerja anak adalah suatu bentuk pelanggaran hukum. Pemerintah sudah memiliki Undang-Undang yang bisa melindungi anak-anak dari praktek ini. Setidaknya ada dua UU yang bisa digunakan. Yaitu UU No. 23 Tentang Perlindungan Anak, serta UU No. 13 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, jelas dicantumkan bahwa anak berhak mendapatkan hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Sedangkan dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 contohnya dalam pasal 68 seperti perusahaan dilarang mempekerjakan anak-anak di bawah umur 14 tahun.Namun bukan berarti tidak boleh sama sekali menyuruh dan melatih anak bekerja. Sebab mereka pun perlu belajar dan berlatih bekerja. Apalagi dalam kondisi orang tua sakit parah misalnya.Hanya saja jangan sampai hal itu menyebabkan anak tidak bisa mengenyam pendidikan. Juga tidak boleh membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1440 / 28 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 126 RAGAM KDRT Bag-3 (Selesai) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Mendoakan keburukan untuk anakBiasanya ini terjadi saat emosi orang tua memuncak. Tidak bisa menjaga lisannya. Sehingga terlontarlah berbagai doa keburukan. Menyumpahinya, mengutuknya, mendoakan agar anak celaka dan yang semisal. Na’udzu billah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“ لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ الله سَاعَةً يُسْأَلُ فيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ”“Janganlah berdoa keburukan untuk diri kalian sendiri. Janganlah berdoa keburukan untuk anak-anak kalian. Janganlah berdoa keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi doa kalian itu bertepatan dengan waktu mustajab, sehingga dikabulkan Allah ta’ala”. HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu.Padahal bila orang tua sedikit merenung, apa keuntungan yang didapatkannya dari doa keburukan tersebut? Sama sekali tidak ada. Justru malah ia rugi di dunia dan akhirat.Kedelapan: Mempekerjakan anak melampaui kemampuannyaFenomena pekerja anak sebenarnya adalah fenomena yang tidak Islami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang anak-anak untuk ikut berperang. Padahal mereka ingin sekali membela agama Allah.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,عَرَضَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ أُحُدٍ فِى الْقِتَالِ وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku menjelang peperangan Uhud. Saat itu usiaku 14 tahun. Beliau tidak mengizinkanku untuk mengikuti peperangan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Untuk sesuatu yang sangat urgen saja (jihad), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keterlibatan anak-anak. Apalagi untuk bekerja pada masa normal.Parahnya, boleh jadi si ayah malah hanya bermalas-malasan di rumah. Makan dan tidur. Tidak mau bekerja membanting tulang memeras keringat.Menurut hukum, praktek pekerja anak adalah suatu bentuk pelanggaran hukum. Pemerintah sudah memiliki Undang-Undang yang bisa melindungi anak-anak dari praktek ini. Setidaknya ada dua UU yang bisa digunakan. Yaitu UU No. 23 Tentang Perlindungan Anak, serta UU No. 13 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, jelas dicantumkan bahwa anak berhak mendapatkan hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Sedangkan dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 contohnya dalam pasal 68 seperti perusahaan dilarang mempekerjakan anak-anak di bawah umur 14 tahun.Namun bukan berarti tidak boleh sama sekali menyuruh dan melatih anak bekerja. Sebab mereka pun perlu belajar dan berlatih bekerja. Apalagi dalam kondisi orang tua sakit parah misalnya.Hanya saja jangan sampai hal itu menyebabkan anak tidak bisa mengenyam pendidikan. Juga tidak boleh membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1440 / 28 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 126 RAGAM KDRT Bag-3 (Selesai) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Mendoakan keburukan untuk anakBiasanya ini terjadi saat emosi orang tua memuncak. Tidak bisa menjaga lisannya. Sehingga terlontarlah berbagai doa keburukan. Menyumpahinya, mengutuknya, mendoakan agar anak celaka dan yang semisal. Na’udzu billah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“ لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ الله سَاعَةً يُسْأَلُ فيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ”“Janganlah berdoa keburukan untuk diri kalian sendiri. Janganlah berdoa keburukan untuk anak-anak kalian. Janganlah berdoa keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi doa kalian itu bertepatan dengan waktu mustajab, sehingga dikabulkan Allah ta’ala”. HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu.Padahal bila orang tua sedikit merenung, apa keuntungan yang didapatkannya dari doa keburukan tersebut? Sama sekali tidak ada. Justru malah ia rugi di dunia dan akhirat.Kedelapan: Mempekerjakan anak melampaui kemampuannyaFenomena pekerja anak sebenarnya adalah fenomena yang tidak Islami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang anak-anak untuk ikut berperang. Padahal mereka ingin sekali membela agama Allah.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,عَرَضَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ أُحُدٍ فِى الْقِتَالِ وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku menjelang peperangan Uhud. Saat itu usiaku 14 tahun. Beliau tidak mengizinkanku untuk mengikuti peperangan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Untuk sesuatu yang sangat urgen saja (jihad), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keterlibatan anak-anak. Apalagi untuk bekerja pada masa normal.Parahnya, boleh jadi si ayah malah hanya bermalas-malasan di rumah. Makan dan tidur. Tidak mau bekerja membanting tulang memeras keringat.Menurut hukum, praktek pekerja anak adalah suatu bentuk pelanggaran hukum. Pemerintah sudah memiliki Undang-Undang yang bisa melindungi anak-anak dari praktek ini. Setidaknya ada dua UU yang bisa digunakan. Yaitu UU No. 23 Tentang Perlindungan Anak, serta UU No. 13 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, jelas dicantumkan bahwa anak berhak mendapatkan hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Sedangkan dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 contohnya dalam pasal 68 seperti perusahaan dilarang mempekerjakan anak-anak di bawah umur 14 tahun.Namun bukan berarti tidak boleh sama sekali menyuruh dan melatih anak bekerja. Sebab mereka pun perlu belajar dan berlatih bekerja. Apalagi dalam kondisi orang tua sakit parah misalnya.Hanya saja jangan sampai hal itu menyebabkan anak tidak bisa mengenyam pendidikan. Juga tidak boleh membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1440 / 28 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 126 RAGAM KDRT Bag-3 (Selesai) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa contoh KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berikut kelanjutannya:Ketujuh: Mendoakan keburukan untuk anakBiasanya ini terjadi saat emosi orang tua memuncak. Tidak bisa menjaga lisannya. Sehingga terlontarlah berbagai doa keburukan. Menyumpahinya, mengutuknya, mendoakan agar anak celaka dan yang semisal. Na’udzu billah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“ لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ الله سَاعَةً يُسْأَلُ فيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ”“Janganlah berdoa keburukan untuk diri kalian sendiri. Janganlah berdoa keburukan untuk anak-anak kalian. Janganlah berdoa keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi doa kalian itu bertepatan dengan waktu mustajab, sehingga dikabulkan Allah ta’ala”. HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu.Padahal bila orang tua sedikit merenung, apa keuntungan yang didapatkannya dari doa keburukan tersebut? Sama sekali tidak ada. Justru malah ia rugi di dunia dan akhirat.Kedelapan: Mempekerjakan anak melampaui kemampuannyaFenomena pekerja anak sebenarnya adalah fenomena yang tidak Islami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang anak-anak untuk ikut berperang. Padahal mereka ingin sekali membela agama Allah.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,عَرَضَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ أُحُدٍ فِى الْقِتَالِ وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku menjelang peperangan Uhud. Saat itu usiaku 14 tahun. Beliau tidak mengizinkanku untuk mengikuti peperangan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Untuk sesuatu yang sangat urgen saja (jihad), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keterlibatan anak-anak. Apalagi untuk bekerja pada masa normal.Parahnya, boleh jadi si ayah malah hanya bermalas-malasan di rumah. Makan dan tidur. Tidak mau bekerja membanting tulang memeras keringat.Menurut hukum, praktek pekerja anak adalah suatu bentuk pelanggaran hukum. Pemerintah sudah memiliki Undang-Undang yang bisa melindungi anak-anak dari praktek ini. Setidaknya ada dua UU yang bisa digunakan. Yaitu UU No. 23 Tentang Perlindungan Anak, serta UU No. 13 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, jelas dicantumkan bahwa anak berhak mendapatkan hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Sedangkan dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 contohnya dalam pasal 68 seperti perusahaan dilarang mempekerjakan anak-anak di bawah umur 14 tahun.Namun bukan berarti tidak boleh sama sekali menyuruh dan melatih anak bekerja. Sebab mereka pun perlu belajar dan berlatih bekerja. Apalagi dalam kondisi orang tua sakit parah misalnya.Hanya saja jangan sampai hal itu menyebabkan anak tidak bisa mengenyam pendidikan. Juga tidak boleh membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1440 / 28 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 125: RAGAM KDRT Bagian 2Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

USTADZ JUGA MANUSIA

USTADZ JUGA MANUSIAAllah ta’ala itu sangat sayang sekali kepada para hamba-Nya. Teramat banyak bukti yang menunjukkan hal itu. Di antaranya: fasilitas hidup super lengkap yang tersedia di muka bumi. Semua kebutuhan kita ada. Udara, makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, pasangan hidup, keturunan dan lain-lain.Dalam salah satu ayat suci al-Qur’an dijelaskan,“هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا”Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 29.Bukan hanya fasilitas yang bersifat duniawi, namun juga petunjuk yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi di surga pun disediakan oleh-Nya.Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab suci. Mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam. Sekaligus menyediakan pewaris nabi, yakni para ulama, yang selalu ada di setiap zaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ”“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi”. HR. Abu Dawud dari Abu Darda’ radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Beda Nabi dan UlamaWalaupun para nabi dan para ulama sama-sama berjuang membela agama Allah, namun ada perbedaan mendasar antara mereka. Misalnya: para nabi, mereka itu maksum. Terjaga dari kesalahan. Sedangkan para ulama, mereka manusia biasa yang berpeluang untuk keliru.Maka seharusnya kitapun bersikap proporsional kepada para ulama, kyai, ustadz, mubaligh, dai dan yang semisal. Tidak boleh mengkultuskan mereka. Namun tetap harus menghormati mereka.Penghormatan itu tidak identik dengan pengkultusan. Sebab penghormatan adalah sesuatu yang terpuji. Sedangkan pengkultusan merupakan hal yang tercela. Karena bertolak belakang dengan ajaran Islam yang memerangi sikap ekstrim dan berlebihan.Sikap Bijak Saat Ulama SalahTerkadang kita berekspektasi terlampau tinggi terhadap ulama. Berharap mereka menjadi sosok sempurna bak para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. Tanpa cela sedikitpun. Padahal mereka adalah manusia biasa. Sehingga tetap berpeluang untuk melakukan kesalahan. Entah itu dalam ucapan ataupun perbuatan. Salah dalam berfatwa misalnya. Atau melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan aturan agama.Dalam kondisi seperti itu, maka sikap kita yang benar selaku umat adalah:Pertama: Meyakini bahwa itu adalah kesalahanKesalahan tetap merupakan kesalahan. Tidak berubah menjadi kebenaran. Sekalipun yang melakukannya adalah ulama.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu menyampaikan wejangannya,“Sesungguhnya kebenaran itu bukan ditimbang dari siapa yang mengucapkannya. Namun kenalilah dahulu kebenaran. Niscaya saat itu engkau bisa mengetahui siapakah orang-orang yang benar”.Kedua: Menjaga kehormatan merekaSaat meyakini bahwa ulama atau ustadz Ahlus Sunnah anu telah keliru, bukan berarti kita boleh menjatuhkan harga diri mereka. Sebab jasa mereka lebih banyak dibanding kesalahannya.Sai’d bin al-Musayyib (w. 93 H) rahimahullah menjelaskan,“Setiap ulama, orang mulia atau manusia utama, pasti memiliki aib. Namun, seorang yang lebih dominan kebaikannya dibanding kekurangannya, maka kekurangan tersebut diabaikan. Lantaran keutamaan yang dia miliki”.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 22 Rajab 1440 H / 29 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

USTADZ JUGA MANUSIA

USTADZ JUGA MANUSIAAllah ta’ala itu sangat sayang sekali kepada para hamba-Nya. Teramat banyak bukti yang menunjukkan hal itu. Di antaranya: fasilitas hidup super lengkap yang tersedia di muka bumi. Semua kebutuhan kita ada. Udara, makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, pasangan hidup, keturunan dan lain-lain.Dalam salah satu ayat suci al-Qur’an dijelaskan,“هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا”Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 29.Bukan hanya fasilitas yang bersifat duniawi, namun juga petunjuk yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi di surga pun disediakan oleh-Nya.Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab suci. Mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam. Sekaligus menyediakan pewaris nabi, yakni para ulama, yang selalu ada di setiap zaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ”“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi”. HR. Abu Dawud dari Abu Darda’ radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Beda Nabi dan UlamaWalaupun para nabi dan para ulama sama-sama berjuang membela agama Allah, namun ada perbedaan mendasar antara mereka. Misalnya: para nabi, mereka itu maksum. Terjaga dari kesalahan. Sedangkan para ulama, mereka manusia biasa yang berpeluang untuk keliru.Maka seharusnya kitapun bersikap proporsional kepada para ulama, kyai, ustadz, mubaligh, dai dan yang semisal. Tidak boleh mengkultuskan mereka. Namun tetap harus menghormati mereka.Penghormatan itu tidak identik dengan pengkultusan. Sebab penghormatan adalah sesuatu yang terpuji. Sedangkan pengkultusan merupakan hal yang tercela. Karena bertolak belakang dengan ajaran Islam yang memerangi sikap ekstrim dan berlebihan.Sikap Bijak Saat Ulama SalahTerkadang kita berekspektasi terlampau tinggi terhadap ulama. Berharap mereka menjadi sosok sempurna bak para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. Tanpa cela sedikitpun. Padahal mereka adalah manusia biasa. Sehingga tetap berpeluang untuk melakukan kesalahan. Entah itu dalam ucapan ataupun perbuatan. Salah dalam berfatwa misalnya. Atau melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan aturan agama.Dalam kondisi seperti itu, maka sikap kita yang benar selaku umat adalah:Pertama: Meyakini bahwa itu adalah kesalahanKesalahan tetap merupakan kesalahan. Tidak berubah menjadi kebenaran. Sekalipun yang melakukannya adalah ulama.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu menyampaikan wejangannya,“Sesungguhnya kebenaran itu bukan ditimbang dari siapa yang mengucapkannya. Namun kenalilah dahulu kebenaran. Niscaya saat itu engkau bisa mengetahui siapakah orang-orang yang benar”.Kedua: Menjaga kehormatan merekaSaat meyakini bahwa ulama atau ustadz Ahlus Sunnah anu telah keliru, bukan berarti kita boleh menjatuhkan harga diri mereka. Sebab jasa mereka lebih banyak dibanding kesalahannya.Sai’d bin al-Musayyib (w. 93 H) rahimahullah menjelaskan,“Setiap ulama, orang mulia atau manusia utama, pasti memiliki aib. Namun, seorang yang lebih dominan kebaikannya dibanding kekurangannya, maka kekurangan tersebut diabaikan. Lantaran keutamaan yang dia miliki”.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 22 Rajab 1440 H / 29 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
USTADZ JUGA MANUSIAAllah ta’ala itu sangat sayang sekali kepada para hamba-Nya. Teramat banyak bukti yang menunjukkan hal itu. Di antaranya: fasilitas hidup super lengkap yang tersedia di muka bumi. Semua kebutuhan kita ada. Udara, makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, pasangan hidup, keturunan dan lain-lain.Dalam salah satu ayat suci al-Qur’an dijelaskan,“هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا”Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 29.Bukan hanya fasilitas yang bersifat duniawi, namun juga petunjuk yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi di surga pun disediakan oleh-Nya.Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab suci. Mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam. Sekaligus menyediakan pewaris nabi, yakni para ulama, yang selalu ada di setiap zaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ”“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi”. HR. Abu Dawud dari Abu Darda’ radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Beda Nabi dan UlamaWalaupun para nabi dan para ulama sama-sama berjuang membela agama Allah, namun ada perbedaan mendasar antara mereka. Misalnya: para nabi, mereka itu maksum. Terjaga dari kesalahan. Sedangkan para ulama, mereka manusia biasa yang berpeluang untuk keliru.Maka seharusnya kitapun bersikap proporsional kepada para ulama, kyai, ustadz, mubaligh, dai dan yang semisal. Tidak boleh mengkultuskan mereka. Namun tetap harus menghormati mereka.Penghormatan itu tidak identik dengan pengkultusan. Sebab penghormatan adalah sesuatu yang terpuji. Sedangkan pengkultusan merupakan hal yang tercela. Karena bertolak belakang dengan ajaran Islam yang memerangi sikap ekstrim dan berlebihan.Sikap Bijak Saat Ulama SalahTerkadang kita berekspektasi terlampau tinggi terhadap ulama. Berharap mereka menjadi sosok sempurna bak para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. Tanpa cela sedikitpun. Padahal mereka adalah manusia biasa. Sehingga tetap berpeluang untuk melakukan kesalahan. Entah itu dalam ucapan ataupun perbuatan. Salah dalam berfatwa misalnya. Atau melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan aturan agama.Dalam kondisi seperti itu, maka sikap kita yang benar selaku umat adalah:Pertama: Meyakini bahwa itu adalah kesalahanKesalahan tetap merupakan kesalahan. Tidak berubah menjadi kebenaran. Sekalipun yang melakukannya adalah ulama.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu menyampaikan wejangannya,“Sesungguhnya kebenaran itu bukan ditimbang dari siapa yang mengucapkannya. Namun kenalilah dahulu kebenaran. Niscaya saat itu engkau bisa mengetahui siapakah orang-orang yang benar”.Kedua: Menjaga kehormatan merekaSaat meyakini bahwa ulama atau ustadz Ahlus Sunnah anu telah keliru, bukan berarti kita boleh menjatuhkan harga diri mereka. Sebab jasa mereka lebih banyak dibanding kesalahannya.Sai’d bin al-Musayyib (w. 93 H) rahimahullah menjelaskan,“Setiap ulama, orang mulia atau manusia utama, pasti memiliki aib. Namun, seorang yang lebih dominan kebaikannya dibanding kekurangannya, maka kekurangan tersebut diabaikan. Lantaran keutamaan yang dia miliki”.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 22 Rajab 1440 H / 29 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


USTADZ JUGA MANUSIAAllah ta’ala itu sangat sayang sekali kepada para hamba-Nya. Teramat banyak bukti yang menunjukkan hal itu. Di antaranya: fasilitas hidup super lengkap yang tersedia di muka bumi. Semua kebutuhan kita ada. Udara, makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, pasangan hidup, keturunan dan lain-lain.Dalam salah satu ayat suci al-Qur’an dijelaskan,“هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا”Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 29.Bukan hanya fasilitas yang bersifat duniawi, namun juga petunjuk yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi di surga pun disediakan oleh-Nya.Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab suci. Mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam. Sekaligus menyediakan pewaris nabi, yakni para ulama, yang selalu ada di setiap zaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ”“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi”. HR. Abu Dawud dari Abu Darda’ radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Beda Nabi dan UlamaWalaupun para nabi dan para ulama sama-sama berjuang membela agama Allah, namun ada perbedaan mendasar antara mereka. Misalnya: para nabi, mereka itu maksum. Terjaga dari kesalahan. Sedangkan para ulama, mereka manusia biasa yang berpeluang untuk keliru.Maka seharusnya kitapun bersikap proporsional kepada para ulama, kyai, ustadz, mubaligh, dai dan yang semisal. Tidak boleh mengkultuskan mereka. Namun tetap harus menghormati mereka.Penghormatan itu tidak identik dengan pengkultusan. Sebab penghormatan adalah sesuatu yang terpuji. Sedangkan pengkultusan merupakan hal yang tercela. Karena bertolak belakang dengan ajaran Islam yang memerangi sikap ekstrim dan berlebihan.Sikap Bijak Saat Ulama SalahTerkadang kita berekspektasi terlampau tinggi terhadap ulama. Berharap mereka menjadi sosok sempurna bak para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. Tanpa cela sedikitpun. Padahal mereka adalah manusia biasa. Sehingga tetap berpeluang untuk melakukan kesalahan. Entah itu dalam ucapan ataupun perbuatan. Salah dalam berfatwa misalnya. Atau melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan aturan agama.Dalam kondisi seperti itu, maka sikap kita yang benar selaku umat adalah:Pertama: Meyakini bahwa itu adalah kesalahanKesalahan tetap merupakan kesalahan. Tidak berubah menjadi kebenaran. Sekalipun yang melakukannya adalah ulama.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu menyampaikan wejangannya,“Sesungguhnya kebenaran itu bukan ditimbang dari siapa yang mengucapkannya. Namun kenalilah dahulu kebenaran. Niscaya saat itu engkau bisa mengetahui siapakah orang-orang yang benar”.Kedua: Menjaga kehormatan merekaSaat meyakini bahwa ulama atau ustadz Ahlus Sunnah anu telah keliru, bukan berarti kita boleh menjatuhkan harga diri mereka. Sebab jasa mereka lebih banyak dibanding kesalahannya.Sai’d bin al-Musayyib (w. 93 H) rahimahullah menjelaskan,“Setiap ulama, orang mulia atau manusia utama, pasti memiliki aib. Namun, seorang yang lebih dominan kebaikannya dibanding kekurangannya, maka kekurangan tersebut diabaikan. Lantaran keutamaan yang dia miliki”.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 22 Rajab 1440 H / 29 Maret 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 128 PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Banyak orangtua yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan satu-satunya bagi pendidikan putra-putrinya. Bahkan, tidak sedikit yang seakan telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan mereka ke sekolah.Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu / laundry. Cukup membayar lalu menerima hasilnya saja. Berupa pakaian bersih nan licin. Walaupun realitanya tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah. Manakala hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.Padahal tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita; orang tua. Bukan pada sekolah. Sebab sekolah hanya patner pembantu kita dalam pendidikan.Dalil beban tanggung jawab ini adalah firman Allah ta’ala,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. QS. At-Tahrim (66): 6.Aslinya ayat ini tertuju kepada para orang tua. Perintah untuk menjaga diri mereka dan anak-anak dari api neraka. Teknisnya adalah dengan mendidik dan mengajari mereka. Begitu keterangan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.Sehingga orang tualah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang anaknya.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma.Orang tua tidak boleh berlepas diri dari tanggung jawab mendidik anak. Mendelegasikan tugas itu kepada orang lain. Atau menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Sebab pendidikan anak adalah tugas utama dalam rumah tangga.Mulai dari diri sendiriSebelum mendidik anak, hendaknya orang tua memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Sebab hakikat pendidikan yang sebenarnya adalah keteladanan.Atmosfir kesalihan di rumah dan lingkungan akan sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan anak. Maka orang tua harus berusaha menjadi salih-salihah, agar anak-anak pun terpacu untuk menjadi salih dan salihah.Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya. Beliau mengajari mereka shalat. Tidak jarang beliau tidur bersama mereka untuk memberi nasehat dan pesan-pesan sebelum tidur. Beliau melatih mereka untuk qiyamul lail. Fajar datang, sang Khalifah lalu membangunkan anak-anaknya.Teruslah muhasabah diri. Terutama mengoreksi niat dalam mendidik anak. Hendaklah orang tua selalu ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah dalam menjalankan tugas mulia ini.Kemudian berusahalah mendidik anak dengan metode yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dengan demikian, segala aktivitas yang kita lakukan dalam mendidik anak akan bernilai ibadah dan berpahala insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Jumada Tsaniyah 1440 / 4 Maret 2019 Post navigation Previous USTADZ JUGA MANUSIANext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 128 PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Banyak orangtua yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan satu-satunya bagi pendidikan putra-putrinya. Bahkan, tidak sedikit yang seakan telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan mereka ke sekolah.Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu / laundry. Cukup membayar lalu menerima hasilnya saja. Berupa pakaian bersih nan licin. Walaupun realitanya tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah. Manakala hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.Padahal tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita; orang tua. Bukan pada sekolah. Sebab sekolah hanya patner pembantu kita dalam pendidikan.Dalil beban tanggung jawab ini adalah firman Allah ta’ala,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. QS. At-Tahrim (66): 6.Aslinya ayat ini tertuju kepada para orang tua. Perintah untuk menjaga diri mereka dan anak-anak dari api neraka. Teknisnya adalah dengan mendidik dan mengajari mereka. Begitu keterangan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.Sehingga orang tualah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang anaknya.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma.Orang tua tidak boleh berlepas diri dari tanggung jawab mendidik anak. Mendelegasikan tugas itu kepada orang lain. Atau menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Sebab pendidikan anak adalah tugas utama dalam rumah tangga.Mulai dari diri sendiriSebelum mendidik anak, hendaknya orang tua memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Sebab hakikat pendidikan yang sebenarnya adalah keteladanan.Atmosfir kesalihan di rumah dan lingkungan akan sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan anak. Maka orang tua harus berusaha menjadi salih-salihah, agar anak-anak pun terpacu untuk menjadi salih dan salihah.Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya. Beliau mengajari mereka shalat. Tidak jarang beliau tidur bersama mereka untuk memberi nasehat dan pesan-pesan sebelum tidur. Beliau melatih mereka untuk qiyamul lail. Fajar datang, sang Khalifah lalu membangunkan anak-anaknya.Teruslah muhasabah diri. Terutama mengoreksi niat dalam mendidik anak. Hendaklah orang tua selalu ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah dalam menjalankan tugas mulia ini.Kemudian berusahalah mendidik anak dengan metode yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dengan demikian, segala aktivitas yang kita lakukan dalam mendidik anak akan bernilai ibadah dan berpahala insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Jumada Tsaniyah 1440 / 4 Maret 2019 Post navigation Previous USTADZ JUGA MANUSIANext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 128 PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Banyak orangtua yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan satu-satunya bagi pendidikan putra-putrinya. Bahkan, tidak sedikit yang seakan telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan mereka ke sekolah.Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu / laundry. Cukup membayar lalu menerima hasilnya saja. Berupa pakaian bersih nan licin. Walaupun realitanya tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah. Manakala hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.Padahal tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita; orang tua. Bukan pada sekolah. Sebab sekolah hanya patner pembantu kita dalam pendidikan.Dalil beban tanggung jawab ini adalah firman Allah ta’ala,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. QS. At-Tahrim (66): 6.Aslinya ayat ini tertuju kepada para orang tua. Perintah untuk menjaga diri mereka dan anak-anak dari api neraka. Teknisnya adalah dengan mendidik dan mengajari mereka. Begitu keterangan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.Sehingga orang tualah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang anaknya.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma.Orang tua tidak boleh berlepas diri dari tanggung jawab mendidik anak. Mendelegasikan tugas itu kepada orang lain. Atau menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Sebab pendidikan anak adalah tugas utama dalam rumah tangga.Mulai dari diri sendiriSebelum mendidik anak, hendaknya orang tua memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Sebab hakikat pendidikan yang sebenarnya adalah keteladanan.Atmosfir kesalihan di rumah dan lingkungan akan sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan anak. Maka orang tua harus berusaha menjadi salih-salihah, agar anak-anak pun terpacu untuk menjadi salih dan salihah.Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya. Beliau mengajari mereka shalat. Tidak jarang beliau tidur bersama mereka untuk memberi nasehat dan pesan-pesan sebelum tidur. Beliau melatih mereka untuk qiyamul lail. Fajar datang, sang Khalifah lalu membangunkan anak-anaknya.Teruslah muhasabah diri. Terutama mengoreksi niat dalam mendidik anak. Hendaklah orang tua selalu ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah dalam menjalankan tugas mulia ini.Kemudian berusahalah mendidik anak dengan metode yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dengan demikian, segala aktivitas yang kita lakukan dalam mendidik anak akan bernilai ibadah dan berpahala insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Jumada Tsaniyah 1440 / 4 Maret 2019 Post navigation Previous USTADZ JUGA MANUSIANext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 128 PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA? Banyak orangtua yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan satu-satunya bagi pendidikan putra-putrinya. Bahkan, tidak sedikit yang seakan telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan mereka ke sekolah.Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu / laundry. Cukup membayar lalu menerima hasilnya saja. Berupa pakaian bersih nan licin. Walaupun realitanya tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah. Manakala hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.Padahal tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita; orang tua. Bukan pada sekolah. Sebab sekolah hanya patner pembantu kita dalam pendidikan.Dalil beban tanggung jawab ini adalah firman Allah ta’ala,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. QS. At-Tahrim (66): 6.Aslinya ayat ini tertuju kepada para orang tua. Perintah untuk menjaga diri mereka dan anak-anak dari api neraka. Teknisnya adalah dengan mendidik dan mengajari mereka. Begitu keterangan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.Sehingga orang tualah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang anaknya.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma.Orang tua tidak boleh berlepas diri dari tanggung jawab mendidik anak. Mendelegasikan tugas itu kepada orang lain. Atau menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Sebab pendidikan anak adalah tugas utama dalam rumah tangga.Mulai dari diri sendiriSebelum mendidik anak, hendaknya orang tua memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Sebab hakikat pendidikan yang sebenarnya adalah keteladanan.Atmosfir kesalihan di rumah dan lingkungan akan sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan anak. Maka orang tua harus berusaha menjadi salih-salihah, agar anak-anak pun terpacu untuk menjadi salih dan salihah.Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya. Beliau mengajari mereka shalat. Tidak jarang beliau tidur bersama mereka untuk memberi nasehat dan pesan-pesan sebelum tidur. Beliau melatih mereka untuk qiyamul lail. Fajar datang, sang Khalifah lalu membangunkan anak-anaknya.Teruslah muhasabah diri. Terutama mengoreksi niat dalam mendidik anak. Hendaklah orang tua selalu ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah dalam menjalankan tugas mulia ini.Kemudian berusahalah mendidik anak dengan metode yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dengan demikian, segala aktivitas yang kita lakukan dalam mendidik anak akan bernilai ibadah dan berpahala insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Jumada Tsaniyah 1440 / 4 Maret 2019 Post navigation Previous USTADZ JUGA MANUSIANext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 129 ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Saat anak nakal dan sulit diatur, tidak sedikit orang tua yang berusaha mencari kambing hitam. Teman, lingkungan, sekolah dan lain sebagainya. Padahal yang paling bertanggungjawab atas segala perubahan anak adalah orang tua. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Banyak permasalahan anak justru penyebabnya adalah dari orang tua anak itu sendiri.Ada orang tua yang terlalu keras pada anak. Sehingga anak menjadi keras dan memberontak. Menerapkan pendidikan disiplin pada anak, tidaklah sama dengan sikap otoriter pada anak.Tapi ada juga yang terlalu memanjakan, sehingga anak menyepelekan orang tuanya. Lembut kepada anak itu wajib. Tapi lembek tidak boleh. Menuruti apapun yang diminta anak itu sikap lembek.Sebagian orang tua juga kurang peduli, atau terlalu sibuk dengan urusannya. Sehingga anak merasa tidak diperhatikan. Pagi buta saat anaknya masih tertidur, mereka telah berangkat meninggalkan rumah. Setelah larut malam mereka baru tiba di rumah. Para orang tua ini jauh lebih sering bertemu dengan rekan kerjanya, ketimbang dengan anaknya sendiri.Ada juga yang hubungan kedua orang tuanya kurang harmonis, bahkan hingga berpisah. Sehingga anak pun menjadi korban.Dari sini kita bisa memahami betapa vitalnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Mereka tidak boleh menumpukan semua beban pendidikan anak pada sekolah saja. Melainkan mereka juga harus terlibat aktif di dalamnya.Tugas Orang TuaDi dunia ini, satu-satunya pekerjaan paling menantang dan tidak dibayar, bahkan jarang mendapatkan penghargaan, adalah menjadi orang tua.Tugas orang tua tidak berhenti setelah menyediakan sandang, pangan dan papan. Justru anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua seutuhnya, lahir dan batin. Mereka dituntut 24 jam sehari dalam seminggu untuk menjadi pencari nafkah, guru, juru masak, baby siter, juru damai, perawat, motivator, bodyguard, dan profesi-profesi lainnya.Kalaupun di dunia orang tua tidak menerima imbalan apa pun, di akhirat beda cerita. Anak salih akan menjadi sebuah investasi yang sangat berharga. Dengan doa-doa tulusnya, bisa mengangkat derajat orang tua di surga, insyaAllah.Sekolah Orang TuaMenjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Padahal, menjadi orang tua ibarat mengarungi samudra yang sangat luas. Betapa tidak, mulai dari proses kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak, orang tua terlibat langsung. Kompleksnya permasalahan menjadi orang tua, ternyata tidak diimbangi dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua.Maka, para orang tua berkewajiban untuk terus belajar. Baik dengan menghadiri kajian atau pelatihan tentang pendidikan anak. Serta membaca buku-buku bermutu bertemakan hal tersebut.Setelah itu, bertahaplah untuk menerapkan ilmu yang didapatkan secara konsisten.Bila menghadapi kendala, jangan segan untuk berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya.Berbagai upaya pendidikan yang dilakukan adakalanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Karena itu jangan lelah menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang membolak-balikkan hati anak-anak kita. Kepada-Nya lah kita menggantungkan segala harapan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?Next Obat Kuat Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 129 ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Saat anak nakal dan sulit diatur, tidak sedikit orang tua yang berusaha mencari kambing hitam. Teman, lingkungan, sekolah dan lain sebagainya. Padahal yang paling bertanggungjawab atas segala perubahan anak adalah orang tua. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Banyak permasalahan anak justru penyebabnya adalah dari orang tua anak itu sendiri.Ada orang tua yang terlalu keras pada anak. Sehingga anak menjadi keras dan memberontak. Menerapkan pendidikan disiplin pada anak, tidaklah sama dengan sikap otoriter pada anak.Tapi ada juga yang terlalu memanjakan, sehingga anak menyepelekan orang tuanya. Lembut kepada anak itu wajib. Tapi lembek tidak boleh. Menuruti apapun yang diminta anak itu sikap lembek.Sebagian orang tua juga kurang peduli, atau terlalu sibuk dengan urusannya. Sehingga anak merasa tidak diperhatikan. Pagi buta saat anaknya masih tertidur, mereka telah berangkat meninggalkan rumah. Setelah larut malam mereka baru tiba di rumah. Para orang tua ini jauh lebih sering bertemu dengan rekan kerjanya, ketimbang dengan anaknya sendiri.Ada juga yang hubungan kedua orang tuanya kurang harmonis, bahkan hingga berpisah. Sehingga anak pun menjadi korban.Dari sini kita bisa memahami betapa vitalnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Mereka tidak boleh menumpukan semua beban pendidikan anak pada sekolah saja. Melainkan mereka juga harus terlibat aktif di dalamnya.Tugas Orang TuaDi dunia ini, satu-satunya pekerjaan paling menantang dan tidak dibayar, bahkan jarang mendapatkan penghargaan, adalah menjadi orang tua.Tugas orang tua tidak berhenti setelah menyediakan sandang, pangan dan papan. Justru anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua seutuhnya, lahir dan batin. Mereka dituntut 24 jam sehari dalam seminggu untuk menjadi pencari nafkah, guru, juru masak, baby siter, juru damai, perawat, motivator, bodyguard, dan profesi-profesi lainnya.Kalaupun di dunia orang tua tidak menerima imbalan apa pun, di akhirat beda cerita. Anak salih akan menjadi sebuah investasi yang sangat berharga. Dengan doa-doa tulusnya, bisa mengangkat derajat orang tua di surga, insyaAllah.Sekolah Orang TuaMenjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Padahal, menjadi orang tua ibarat mengarungi samudra yang sangat luas. Betapa tidak, mulai dari proses kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak, orang tua terlibat langsung. Kompleksnya permasalahan menjadi orang tua, ternyata tidak diimbangi dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua.Maka, para orang tua berkewajiban untuk terus belajar. Baik dengan menghadiri kajian atau pelatihan tentang pendidikan anak. Serta membaca buku-buku bermutu bertemakan hal tersebut.Setelah itu, bertahaplah untuk menerapkan ilmu yang didapatkan secara konsisten.Bila menghadapi kendala, jangan segan untuk berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya.Berbagai upaya pendidikan yang dilakukan adakalanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Karena itu jangan lelah menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang membolak-balikkan hati anak-anak kita. Kepada-Nya lah kita menggantungkan segala harapan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?Next Obat Kuat Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 129 ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Saat anak nakal dan sulit diatur, tidak sedikit orang tua yang berusaha mencari kambing hitam. Teman, lingkungan, sekolah dan lain sebagainya. Padahal yang paling bertanggungjawab atas segala perubahan anak adalah orang tua. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Banyak permasalahan anak justru penyebabnya adalah dari orang tua anak itu sendiri.Ada orang tua yang terlalu keras pada anak. Sehingga anak menjadi keras dan memberontak. Menerapkan pendidikan disiplin pada anak, tidaklah sama dengan sikap otoriter pada anak.Tapi ada juga yang terlalu memanjakan, sehingga anak menyepelekan orang tuanya. Lembut kepada anak itu wajib. Tapi lembek tidak boleh. Menuruti apapun yang diminta anak itu sikap lembek.Sebagian orang tua juga kurang peduli, atau terlalu sibuk dengan urusannya. Sehingga anak merasa tidak diperhatikan. Pagi buta saat anaknya masih tertidur, mereka telah berangkat meninggalkan rumah. Setelah larut malam mereka baru tiba di rumah. Para orang tua ini jauh lebih sering bertemu dengan rekan kerjanya, ketimbang dengan anaknya sendiri.Ada juga yang hubungan kedua orang tuanya kurang harmonis, bahkan hingga berpisah. Sehingga anak pun menjadi korban.Dari sini kita bisa memahami betapa vitalnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Mereka tidak boleh menumpukan semua beban pendidikan anak pada sekolah saja. Melainkan mereka juga harus terlibat aktif di dalamnya.Tugas Orang TuaDi dunia ini, satu-satunya pekerjaan paling menantang dan tidak dibayar, bahkan jarang mendapatkan penghargaan, adalah menjadi orang tua.Tugas orang tua tidak berhenti setelah menyediakan sandang, pangan dan papan. Justru anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua seutuhnya, lahir dan batin. Mereka dituntut 24 jam sehari dalam seminggu untuk menjadi pencari nafkah, guru, juru masak, baby siter, juru damai, perawat, motivator, bodyguard, dan profesi-profesi lainnya.Kalaupun di dunia orang tua tidak menerima imbalan apa pun, di akhirat beda cerita. Anak salih akan menjadi sebuah investasi yang sangat berharga. Dengan doa-doa tulusnya, bisa mengangkat derajat orang tua di surga, insyaAllah.Sekolah Orang TuaMenjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Padahal, menjadi orang tua ibarat mengarungi samudra yang sangat luas. Betapa tidak, mulai dari proses kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak, orang tua terlibat langsung. Kompleksnya permasalahan menjadi orang tua, ternyata tidak diimbangi dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua.Maka, para orang tua berkewajiban untuk terus belajar. Baik dengan menghadiri kajian atau pelatihan tentang pendidikan anak. Serta membaca buku-buku bermutu bertemakan hal tersebut.Setelah itu, bertahaplah untuk menerapkan ilmu yang didapatkan secara konsisten.Bila menghadapi kendala, jangan segan untuk berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya.Berbagai upaya pendidikan yang dilakukan adakalanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Karena itu jangan lelah menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang membolak-balikkan hati anak-anak kita. Kepada-Nya lah kita menggantungkan segala harapan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?Next Obat Kuat Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 129 ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAH Saat anak nakal dan sulit diatur, tidak sedikit orang tua yang berusaha mencari kambing hitam. Teman, lingkungan, sekolah dan lain sebagainya. Padahal yang paling bertanggungjawab atas segala perubahan anak adalah orang tua. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Banyak permasalahan anak justru penyebabnya adalah dari orang tua anak itu sendiri.Ada orang tua yang terlalu keras pada anak. Sehingga anak menjadi keras dan memberontak. Menerapkan pendidikan disiplin pada anak, tidaklah sama dengan sikap otoriter pada anak.Tapi ada juga yang terlalu memanjakan, sehingga anak menyepelekan orang tuanya. Lembut kepada anak itu wajib. Tapi lembek tidak boleh. Menuruti apapun yang diminta anak itu sikap lembek.Sebagian orang tua juga kurang peduli, atau terlalu sibuk dengan urusannya. Sehingga anak merasa tidak diperhatikan. Pagi buta saat anaknya masih tertidur, mereka telah berangkat meninggalkan rumah. Setelah larut malam mereka baru tiba di rumah. Para orang tua ini jauh lebih sering bertemu dengan rekan kerjanya, ketimbang dengan anaknya sendiri.Ada juga yang hubungan kedua orang tuanya kurang harmonis, bahkan hingga berpisah. Sehingga anak pun menjadi korban.Dari sini kita bisa memahami betapa vitalnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Mereka tidak boleh menumpukan semua beban pendidikan anak pada sekolah saja. Melainkan mereka juga harus terlibat aktif di dalamnya.Tugas Orang TuaDi dunia ini, satu-satunya pekerjaan paling menantang dan tidak dibayar, bahkan jarang mendapatkan penghargaan, adalah menjadi orang tua.Tugas orang tua tidak berhenti setelah menyediakan sandang, pangan dan papan. Justru anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua seutuhnya, lahir dan batin. Mereka dituntut 24 jam sehari dalam seminggu untuk menjadi pencari nafkah, guru, juru masak, baby siter, juru damai, perawat, motivator, bodyguard, dan profesi-profesi lainnya.Kalaupun di dunia orang tua tidak menerima imbalan apa pun, di akhirat beda cerita. Anak salih akan menjadi sebuah investasi yang sangat berharga. Dengan doa-doa tulusnya, bisa mengangkat derajat orang tua di surga, insyaAllah.Sekolah Orang TuaMenjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Padahal, menjadi orang tua ibarat mengarungi samudra yang sangat luas. Betapa tidak, mulai dari proses kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak, orang tua terlibat langsung. Kompleksnya permasalahan menjadi orang tua, ternyata tidak diimbangi dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua.Maka, para orang tua berkewajiban untuk terus belajar. Baik dengan menghadiri kajian atau pelatihan tentang pendidikan anak. Serta membaca buku-buku bermutu bertemakan hal tersebut.Setelah itu, bertahaplah untuk menerapkan ilmu yang didapatkan secara konsisten.Bila menghadapi kendala, jangan segan untuk berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya.Berbagai upaya pendidikan yang dilakukan adakalanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Karena itu jangan lelah menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang membolak-balikkan hati anak-anak kita. Kepada-Nya lah kita menggantungkan segala harapan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 128: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?Next Obat Kuat Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN

BELAJAR DARI PENGALAMAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله رب العالمين، الحمد لله حمدَ الشاكرين، الحمد لله ناصرِ المتقين، الحمد لله هازمِ المجرمين، الحمد لله القائلِ “فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ”.والصلاة والسلام على سيدنا محمدٍ الأمين، سلامٌ على سيد الثقلَيْن، سلامٌ على الثابتِ يومَ أحد وفي حنَيْن، سلامٌ على النبيِ القائلِ: “لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“.عباد الله: أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته، وأحذركم من عصيان الله ومخالفة أمره، لقوله تعالى: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“، أما بعد؛Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah kenyataan. Sedangkan hari esok adalah harapan.“Pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Peribahasa yang tak asing bagi mayoritas masyarakat. Peribahasa yang mengandung makna begitu dalam.Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Guru yang terbaik. Guru yang paling sabar. Guru yang tak pernah marah.Belajar tidak selalu identik dengan duduk di bangku sekolah. Belajar bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu.Belajar dari pengalaman, sama artinya dengan belajar memaknai kehidupan. Yaitu menggali hikmah dari kejadian atau peristiwa yang pernah kita alami.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi pengalaman di kemudian hari.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi guru yang paling berharga di hari nanti.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan, merupakan suatu akibat dari apa yang telah kita lakukan di masa lampau.Bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang salah, maka kita akan menuai hasil yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai harapan. Begitupun sebaliknya, bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh, insyaAllah kita akan mendapatkan hasil yang menyenangkan.Peribahasa “pengalaman adalah guru yang paling berharga” dapat diartikan sebagai kejadian di masa lampau yang diambil sebagai pelajaran atau peringatan untuk menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.Kejadian tidak menyenangkan akan menjadi bekal seseorang, agar lebih berhati-hati dalam bertindak, bertutur kata, memilih dan merencanakan. Sebelum melangkah, semua harus dipertimbangkan matang-matang, secara cermat dan teliti.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak boleh seorang mukmin tersengat binatang berbisa dari lubang yang sama dua kali”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Namun realita yang ada, ternyata banyak manusia yang lebih parah. Mereka jatuh berkali-kali pada lubang yang sama. Bukan hanya dua kali saja.Bahkan banyak orang yang mengaku tidak pernah jatuh. Sebab merasa sudah pintar. Padahal dia tidak jatuh, karena memang sudah berada di dalam lubang. Sehingga tidak mungkin jatuh lagi. Kecuali bila di dalam lubang itu ada lubang lain.Mengapa banyak orang terperosok ke lubang yang sama berkali-kali?Ada banyak kemungkinan. Di antaranya:Pertama: Dia tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya. Tipe manusia seperti ini tidak mau menggunakan akal sehat dan tidak mau belajar. Dia lebih fokus menyalahkan orang lain atau keadaan. Ketimbang mencari akar pemasalahan yang ada pada dirinya.Kedua: Dia tidak tahu kesalahan yang dilakukan. Biasanya kejadian seperti ini, karena minimnya wawasan pengetahuan. Dia mengira sedang melakukan perbaikan. Padahal kenyataannya justru dia sedang melakukan perusakan.Ketiga: Dia sudah tahu kesalahannya, tetapi tidak mau melakukan perubahan. Bisa jadi karena malas atau gengsi atau berbagai faktor lainnya.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…Agar seorang muslim tidak terjerumus ke lubang yang sama, dia perlu belajar dan tidak berhenti belajar.Apa yang dipelajari?Sekurang-kurangnya dua hal penting:Pertama: Belajar tuntunan agama.Tuntunan agama dalam segala urusan. Akidah, akhlak, ibadah, muamalah, bahkan dalam berpolitik sekalipun.Islam adalah agama yang super lengkap. Ajarannya mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia. Bukan hanya membahas tentang tata cara wudhu, shalat, puasa dan haji saja. Namun juga membahas tentang kepemimpinan. Kriteria orang yang berhak menjadi pemimpin. Kewajiban yang harus ditunaikan pejabat. Juga kewajiban yang harus ditunaikan rakyat. Semua diatur secara detil dalam ajaran Islam. Tidak ada satupun yang terlewat.Kedua: Belajar dari pengalamanSelain belajar tuntunan agama, seorang muslim juga selayaknya belajar dari pengalaman. Agar lebih matang dalam berpikir, dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam mengambil keputusan.Setiap insan dikaruniai akal yang dapat digunakan untuk menghindari bahaya dan meraih manfaat dalam kehidupannya. Barangkali suatu saat karena kurang waspada atau minim pengalaman, seseorang tertimpa kejadian yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya. Kejadian tersebut akan menjadi bahan pelajaran yang selalu dikenangnya sepanjang hidup. Sehingga berusaha tidak terperosok kepada kasus yang sama.Seorang mukmin karena kebersihan hatinya, terkadang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi bila orang tersebut berjanji-janji manis di muka. Karena terlalu husnuzhan yang besar, maka ia pun terpesona dengan orang tersebut.Kesalahan manusiawi seperti ini bisa ditolelir. Namun tentunya, dia harus belajar dari kejadian buruk yang menimpanya. Agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sama di kemudian hari.أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ، مَا مِنْ خَيْرٍ إِلَّا وَدَلَّنَا عَلَيْهِ، وَمَا مِنْ شَرٍّ إِلَّا وَحَذَّرَنَا مِنْهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامَهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلَى مَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ، وَسَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.أَمَّا بَعْدُ :Ibadallah…Calon pemimpin harus memiliki kompetensi yang cukup, supaya layak dipilih menjadi pemimpin. Bila tidak, bisa hancur negeri ini.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ““Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya; maka tunggulah hari kiamat”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Kompetensi terpenting adalah keimanan sejati kepada Allah ta’ala. Keimanan yang tulus karena Allah. Bukan sesuatu yang dibikin-bikin sebagai bahan pencitraan setiap menjelang pemilihan umum.Selain itu kompetensi untuk menjaga amanah juga sangat menentukan. Kejujuran tutur kata dan bukti tidak ingkar janji, salah satu indikator kuat untuk melihat keamanahan calon pemimpin. Di zaman ini, rekam digital ucapan, janji dan perbuatan seseorang sangat sulit untuk dihapus.Saudaraku, andaikan Anda memutuskan untuk menyumbangkan suara Anda, maka pilihlah dengan hati nurani. Bukan sekedar ikut-ikutan tetangga atau dorongan fanatisme partai. Apalagi hanya karena serangan fajar amplop berisikan uang 100 ribu rupiah atau bahkan sejuta rupiah sekalipun!عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي» Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Dibayar 100 ribu untuk lima tahun? 100 ribu dibagi 5 tahun, dibagi lagi 360 hari, hasilnya sama dengan 50 perak per hari! Sebegitu murahkah harga diri Anda? Hanya untuk mendapatkan 50 rupiah, Anda rela dilaknat manusia termulia yang kita nantikan syafaatnya?Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019 Post navigation Previous Obat KuatNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN

BELAJAR DARI PENGALAMAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله رب العالمين، الحمد لله حمدَ الشاكرين، الحمد لله ناصرِ المتقين، الحمد لله هازمِ المجرمين، الحمد لله القائلِ “فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ”.والصلاة والسلام على سيدنا محمدٍ الأمين، سلامٌ على سيد الثقلَيْن، سلامٌ على الثابتِ يومَ أحد وفي حنَيْن، سلامٌ على النبيِ القائلِ: “لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“.عباد الله: أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته، وأحذركم من عصيان الله ومخالفة أمره، لقوله تعالى: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“، أما بعد؛Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah kenyataan. Sedangkan hari esok adalah harapan.“Pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Peribahasa yang tak asing bagi mayoritas masyarakat. Peribahasa yang mengandung makna begitu dalam.Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Guru yang terbaik. Guru yang paling sabar. Guru yang tak pernah marah.Belajar tidak selalu identik dengan duduk di bangku sekolah. Belajar bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu.Belajar dari pengalaman, sama artinya dengan belajar memaknai kehidupan. Yaitu menggali hikmah dari kejadian atau peristiwa yang pernah kita alami.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi pengalaman di kemudian hari.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi guru yang paling berharga di hari nanti.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan, merupakan suatu akibat dari apa yang telah kita lakukan di masa lampau.Bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang salah, maka kita akan menuai hasil yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai harapan. Begitupun sebaliknya, bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh, insyaAllah kita akan mendapatkan hasil yang menyenangkan.Peribahasa “pengalaman adalah guru yang paling berharga” dapat diartikan sebagai kejadian di masa lampau yang diambil sebagai pelajaran atau peringatan untuk menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.Kejadian tidak menyenangkan akan menjadi bekal seseorang, agar lebih berhati-hati dalam bertindak, bertutur kata, memilih dan merencanakan. Sebelum melangkah, semua harus dipertimbangkan matang-matang, secara cermat dan teliti.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak boleh seorang mukmin tersengat binatang berbisa dari lubang yang sama dua kali”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Namun realita yang ada, ternyata banyak manusia yang lebih parah. Mereka jatuh berkali-kali pada lubang yang sama. Bukan hanya dua kali saja.Bahkan banyak orang yang mengaku tidak pernah jatuh. Sebab merasa sudah pintar. Padahal dia tidak jatuh, karena memang sudah berada di dalam lubang. Sehingga tidak mungkin jatuh lagi. Kecuali bila di dalam lubang itu ada lubang lain.Mengapa banyak orang terperosok ke lubang yang sama berkali-kali?Ada banyak kemungkinan. Di antaranya:Pertama: Dia tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya. Tipe manusia seperti ini tidak mau menggunakan akal sehat dan tidak mau belajar. Dia lebih fokus menyalahkan orang lain atau keadaan. Ketimbang mencari akar pemasalahan yang ada pada dirinya.Kedua: Dia tidak tahu kesalahan yang dilakukan. Biasanya kejadian seperti ini, karena minimnya wawasan pengetahuan. Dia mengira sedang melakukan perbaikan. Padahal kenyataannya justru dia sedang melakukan perusakan.Ketiga: Dia sudah tahu kesalahannya, tetapi tidak mau melakukan perubahan. Bisa jadi karena malas atau gengsi atau berbagai faktor lainnya.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…Agar seorang muslim tidak terjerumus ke lubang yang sama, dia perlu belajar dan tidak berhenti belajar.Apa yang dipelajari?Sekurang-kurangnya dua hal penting:Pertama: Belajar tuntunan agama.Tuntunan agama dalam segala urusan. Akidah, akhlak, ibadah, muamalah, bahkan dalam berpolitik sekalipun.Islam adalah agama yang super lengkap. Ajarannya mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia. Bukan hanya membahas tentang tata cara wudhu, shalat, puasa dan haji saja. Namun juga membahas tentang kepemimpinan. Kriteria orang yang berhak menjadi pemimpin. Kewajiban yang harus ditunaikan pejabat. Juga kewajiban yang harus ditunaikan rakyat. Semua diatur secara detil dalam ajaran Islam. Tidak ada satupun yang terlewat.Kedua: Belajar dari pengalamanSelain belajar tuntunan agama, seorang muslim juga selayaknya belajar dari pengalaman. Agar lebih matang dalam berpikir, dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam mengambil keputusan.Setiap insan dikaruniai akal yang dapat digunakan untuk menghindari bahaya dan meraih manfaat dalam kehidupannya. Barangkali suatu saat karena kurang waspada atau minim pengalaman, seseorang tertimpa kejadian yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya. Kejadian tersebut akan menjadi bahan pelajaran yang selalu dikenangnya sepanjang hidup. Sehingga berusaha tidak terperosok kepada kasus yang sama.Seorang mukmin karena kebersihan hatinya, terkadang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi bila orang tersebut berjanji-janji manis di muka. Karena terlalu husnuzhan yang besar, maka ia pun terpesona dengan orang tersebut.Kesalahan manusiawi seperti ini bisa ditolelir. Namun tentunya, dia harus belajar dari kejadian buruk yang menimpanya. Agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sama di kemudian hari.أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ، مَا مِنْ خَيْرٍ إِلَّا وَدَلَّنَا عَلَيْهِ، وَمَا مِنْ شَرٍّ إِلَّا وَحَذَّرَنَا مِنْهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامَهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلَى مَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ، وَسَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.أَمَّا بَعْدُ :Ibadallah…Calon pemimpin harus memiliki kompetensi yang cukup, supaya layak dipilih menjadi pemimpin. Bila tidak, bisa hancur negeri ini.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ““Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya; maka tunggulah hari kiamat”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Kompetensi terpenting adalah keimanan sejati kepada Allah ta’ala. Keimanan yang tulus karena Allah. Bukan sesuatu yang dibikin-bikin sebagai bahan pencitraan setiap menjelang pemilihan umum.Selain itu kompetensi untuk menjaga amanah juga sangat menentukan. Kejujuran tutur kata dan bukti tidak ingkar janji, salah satu indikator kuat untuk melihat keamanahan calon pemimpin. Di zaman ini, rekam digital ucapan, janji dan perbuatan seseorang sangat sulit untuk dihapus.Saudaraku, andaikan Anda memutuskan untuk menyumbangkan suara Anda, maka pilihlah dengan hati nurani. Bukan sekedar ikut-ikutan tetangga atau dorongan fanatisme partai. Apalagi hanya karena serangan fajar amplop berisikan uang 100 ribu rupiah atau bahkan sejuta rupiah sekalipun!عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي» Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Dibayar 100 ribu untuk lima tahun? 100 ribu dibagi 5 tahun, dibagi lagi 360 hari, hasilnya sama dengan 50 perak per hari! Sebegitu murahkah harga diri Anda? Hanya untuk mendapatkan 50 rupiah, Anda rela dilaknat manusia termulia yang kita nantikan syafaatnya?Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019 Post navigation Previous Obat KuatNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
BELAJAR DARI PENGALAMAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله رب العالمين، الحمد لله حمدَ الشاكرين، الحمد لله ناصرِ المتقين، الحمد لله هازمِ المجرمين، الحمد لله القائلِ “فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ”.والصلاة والسلام على سيدنا محمدٍ الأمين، سلامٌ على سيد الثقلَيْن، سلامٌ على الثابتِ يومَ أحد وفي حنَيْن، سلامٌ على النبيِ القائلِ: “لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“.عباد الله: أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته، وأحذركم من عصيان الله ومخالفة أمره، لقوله تعالى: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“، أما بعد؛Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah kenyataan. Sedangkan hari esok adalah harapan.“Pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Peribahasa yang tak asing bagi mayoritas masyarakat. Peribahasa yang mengandung makna begitu dalam.Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Guru yang terbaik. Guru yang paling sabar. Guru yang tak pernah marah.Belajar tidak selalu identik dengan duduk di bangku sekolah. Belajar bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu.Belajar dari pengalaman, sama artinya dengan belajar memaknai kehidupan. Yaitu menggali hikmah dari kejadian atau peristiwa yang pernah kita alami.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi pengalaman di kemudian hari.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi guru yang paling berharga di hari nanti.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan, merupakan suatu akibat dari apa yang telah kita lakukan di masa lampau.Bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang salah, maka kita akan menuai hasil yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai harapan. Begitupun sebaliknya, bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh, insyaAllah kita akan mendapatkan hasil yang menyenangkan.Peribahasa “pengalaman adalah guru yang paling berharga” dapat diartikan sebagai kejadian di masa lampau yang diambil sebagai pelajaran atau peringatan untuk menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.Kejadian tidak menyenangkan akan menjadi bekal seseorang, agar lebih berhati-hati dalam bertindak, bertutur kata, memilih dan merencanakan. Sebelum melangkah, semua harus dipertimbangkan matang-matang, secara cermat dan teliti.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak boleh seorang mukmin tersengat binatang berbisa dari lubang yang sama dua kali”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Namun realita yang ada, ternyata banyak manusia yang lebih parah. Mereka jatuh berkali-kali pada lubang yang sama. Bukan hanya dua kali saja.Bahkan banyak orang yang mengaku tidak pernah jatuh. Sebab merasa sudah pintar. Padahal dia tidak jatuh, karena memang sudah berada di dalam lubang. Sehingga tidak mungkin jatuh lagi. Kecuali bila di dalam lubang itu ada lubang lain.Mengapa banyak orang terperosok ke lubang yang sama berkali-kali?Ada banyak kemungkinan. Di antaranya:Pertama: Dia tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya. Tipe manusia seperti ini tidak mau menggunakan akal sehat dan tidak mau belajar. Dia lebih fokus menyalahkan orang lain atau keadaan. Ketimbang mencari akar pemasalahan yang ada pada dirinya.Kedua: Dia tidak tahu kesalahan yang dilakukan. Biasanya kejadian seperti ini, karena minimnya wawasan pengetahuan. Dia mengira sedang melakukan perbaikan. Padahal kenyataannya justru dia sedang melakukan perusakan.Ketiga: Dia sudah tahu kesalahannya, tetapi tidak mau melakukan perubahan. Bisa jadi karena malas atau gengsi atau berbagai faktor lainnya.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…Agar seorang muslim tidak terjerumus ke lubang yang sama, dia perlu belajar dan tidak berhenti belajar.Apa yang dipelajari?Sekurang-kurangnya dua hal penting:Pertama: Belajar tuntunan agama.Tuntunan agama dalam segala urusan. Akidah, akhlak, ibadah, muamalah, bahkan dalam berpolitik sekalipun.Islam adalah agama yang super lengkap. Ajarannya mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia. Bukan hanya membahas tentang tata cara wudhu, shalat, puasa dan haji saja. Namun juga membahas tentang kepemimpinan. Kriteria orang yang berhak menjadi pemimpin. Kewajiban yang harus ditunaikan pejabat. Juga kewajiban yang harus ditunaikan rakyat. Semua diatur secara detil dalam ajaran Islam. Tidak ada satupun yang terlewat.Kedua: Belajar dari pengalamanSelain belajar tuntunan agama, seorang muslim juga selayaknya belajar dari pengalaman. Agar lebih matang dalam berpikir, dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam mengambil keputusan.Setiap insan dikaruniai akal yang dapat digunakan untuk menghindari bahaya dan meraih manfaat dalam kehidupannya. Barangkali suatu saat karena kurang waspada atau minim pengalaman, seseorang tertimpa kejadian yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya. Kejadian tersebut akan menjadi bahan pelajaran yang selalu dikenangnya sepanjang hidup. Sehingga berusaha tidak terperosok kepada kasus yang sama.Seorang mukmin karena kebersihan hatinya, terkadang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi bila orang tersebut berjanji-janji manis di muka. Karena terlalu husnuzhan yang besar, maka ia pun terpesona dengan orang tersebut.Kesalahan manusiawi seperti ini bisa ditolelir. Namun tentunya, dia harus belajar dari kejadian buruk yang menimpanya. Agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sama di kemudian hari.أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ، مَا مِنْ خَيْرٍ إِلَّا وَدَلَّنَا عَلَيْهِ، وَمَا مِنْ شَرٍّ إِلَّا وَحَذَّرَنَا مِنْهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامَهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلَى مَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ، وَسَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.أَمَّا بَعْدُ :Ibadallah…Calon pemimpin harus memiliki kompetensi yang cukup, supaya layak dipilih menjadi pemimpin. Bila tidak, bisa hancur negeri ini.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ““Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya; maka tunggulah hari kiamat”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Kompetensi terpenting adalah keimanan sejati kepada Allah ta’ala. Keimanan yang tulus karena Allah. Bukan sesuatu yang dibikin-bikin sebagai bahan pencitraan setiap menjelang pemilihan umum.Selain itu kompetensi untuk menjaga amanah juga sangat menentukan. Kejujuran tutur kata dan bukti tidak ingkar janji, salah satu indikator kuat untuk melihat keamanahan calon pemimpin. Di zaman ini, rekam digital ucapan, janji dan perbuatan seseorang sangat sulit untuk dihapus.Saudaraku, andaikan Anda memutuskan untuk menyumbangkan suara Anda, maka pilihlah dengan hati nurani. Bukan sekedar ikut-ikutan tetangga atau dorongan fanatisme partai. Apalagi hanya karena serangan fajar amplop berisikan uang 100 ribu rupiah atau bahkan sejuta rupiah sekalipun!عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي» Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Dibayar 100 ribu untuk lima tahun? 100 ribu dibagi 5 tahun, dibagi lagi 360 hari, hasilnya sama dengan 50 perak per hari! Sebegitu murahkah harga diri Anda? Hanya untuk mendapatkan 50 rupiah, Anda rela dilaknat manusia termulia yang kita nantikan syafaatnya?Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019 Post navigation Previous Obat KuatNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


BELAJAR DARI PENGALAMAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله رب العالمين، الحمد لله حمدَ الشاكرين، الحمد لله ناصرِ المتقين، الحمد لله هازمِ المجرمين، الحمد لله القائلِ “فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ”.والصلاة والسلام على سيدنا محمدٍ الأمين، سلامٌ على سيد الثقلَيْن، سلامٌ على الثابتِ يومَ أحد وفي حنَيْن، سلامٌ على النبيِ القائلِ: “لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“.عباد الله: أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته، وأحذركم من عصيان الله ومخالفة أمره، لقوله تعالى: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“، أما بعد؛Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah kenyataan. Sedangkan hari esok adalah harapan.“Pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Peribahasa yang tak asing bagi mayoritas masyarakat. Peribahasa yang mengandung makna begitu dalam.Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Guru yang terbaik. Guru yang paling sabar. Guru yang tak pernah marah.Belajar tidak selalu identik dengan duduk di bangku sekolah. Belajar bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu.Belajar dari pengalaman, sama artinya dengan belajar memaknai kehidupan. Yaitu menggali hikmah dari kejadian atau peristiwa yang pernah kita alami.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi pengalaman di kemudian hari.Apapun yang kita kerjakan hari ini, akan menjadi guru yang paling berharga di hari nanti.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan, merupakan suatu akibat dari apa yang telah kita lakukan di masa lampau.Bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang salah, maka kita akan menuai hasil yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai harapan. Begitupun sebaliknya, bila kita melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh, insyaAllah kita akan mendapatkan hasil yang menyenangkan.Peribahasa “pengalaman adalah guru yang paling berharga” dapat diartikan sebagai kejadian di masa lampau yang diambil sebagai pelajaran atau peringatan untuk menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.Kejadian tidak menyenangkan akan menjadi bekal seseorang, agar lebih berhati-hati dalam bertindak, bertutur kata, memilih dan merencanakan. Sebelum melangkah, semua harus dipertimbangkan matang-matang, secara cermat dan teliti.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak boleh seorang mukmin tersengat binatang berbisa dari lubang yang sama dua kali”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Namun realita yang ada, ternyata banyak manusia yang lebih parah. Mereka jatuh berkali-kali pada lubang yang sama. Bukan hanya dua kali saja.Bahkan banyak orang yang mengaku tidak pernah jatuh. Sebab merasa sudah pintar. Padahal dia tidak jatuh, karena memang sudah berada di dalam lubang. Sehingga tidak mungkin jatuh lagi. Kecuali bila di dalam lubang itu ada lubang lain.Mengapa banyak orang terperosok ke lubang yang sama berkali-kali?Ada banyak kemungkinan. Di antaranya:Pertama: Dia tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya. Tipe manusia seperti ini tidak mau menggunakan akal sehat dan tidak mau belajar. Dia lebih fokus menyalahkan orang lain atau keadaan. Ketimbang mencari akar pemasalahan yang ada pada dirinya.Kedua: Dia tidak tahu kesalahan yang dilakukan. Biasanya kejadian seperti ini, karena minimnya wawasan pengetahuan. Dia mengira sedang melakukan perbaikan. Padahal kenyataannya justru dia sedang melakukan perusakan.Ketiga: Dia sudah tahu kesalahannya, tetapi tidak mau melakukan perubahan. Bisa jadi karena malas atau gengsi atau berbagai faktor lainnya.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…Agar seorang muslim tidak terjerumus ke lubang yang sama, dia perlu belajar dan tidak berhenti belajar.Apa yang dipelajari?Sekurang-kurangnya dua hal penting:Pertama: Belajar tuntunan agama.Tuntunan agama dalam segala urusan. Akidah, akhlak, ibadah, muamalah, bahkan dalam berpolitik sekalipun.Islam adalah agama yang super lengkap. Ajarannya mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia. Bukan hanya membahas tentang tata cara wudhu, shalat, puasa dan haji saja. Namun juga membahas tentang kepemimpinan. Kriteria orang yang berhak menjadi pemimpin. Kewajiban yang harus ditunaikan pejabat. Juga kewajiban yang harus ditunaikan rakyat. Semua diatur secara detil dalam ajaran Islam. Tidak ada satupun yang terlewat.Kedua: Belajar dari pengalamanSelain belajar tuntunan agama, seorang muslim juga selayaknya belajar dari pengalaman. Agar lebih matang dalam berpikir, dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam mengambil keputusan.Setiap insan dikaruniai akal yang dapat digunakan untuk menghindari bahaya dan meraih manfaat dalam kehidupannya. Barangkali suatu saat karena kurang waspada atau minim pengalaman, seseorang tertimpa kejadian yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya. Kejadian tersebut akan menjadi bahan pelajaran yang selalu dikenangnya sepanjang hidup. Sehingga berusaha tidak terperosok kepada kasus yang sama.Seorang mukmin karena kebersihan hatinya, terkadang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi bila orang tersebut berjanji-janji manis di muka. Karena terlalu husnuzhan yang besar, maka ia pun terpesona dengan orang tersebut.Kesalahan manusiawi seperti ini bisa ditolelir. Namun tentunya, dia harus belajar dari kejadian buruk yang menimpanya. Agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sama di kemudian hari.أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ، مَا مِنْ خَيْرٍ إِلَّا وَدَلَّنَا عَلَيْهِ، وَمَا مِنْ شَرٍّ إِلَّا وَحَذَّرَنَا مِنْهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامَهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلَى مَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ، وَسَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.أَمَّا بَعْدُ :Ibadallah…Calon pemimpin harus memiliki kompetensi yang cukup, supaya layak dipilih menjadi pemimpin. Bila tidak, bisa hancur negeri ini.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ““Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya; maka tunggulah hari kiamat”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Kompetensi terpenting adalah keimanan sejati kepada Allah ta’ala. Keimanan yang tulus karena Allah. Bukan sesuatu yang dibikin-bikin sebagai bahan pencitraan setiap menjelang pemilihan umum.Selain itu kompetensi untuk menjaga amanah juga sangat menentukan. Kejujuran tutur kata dan bukti tidak ingkar janji, salah satu indikator kuat untuk melihat keamanahan calon pemimpin. Di zaman ini, rekam digital ucapan, janji dan perbuatan seseorang sangat sulit untuk dihapus.Saudaraku, andaikan Anda memutuskan untuk menyumbangkan suara Anda, maka pilihlah dengan hati nurani. Bukan sekedar ikut-ikutan tetangga atau dorongan fanatisme partai. Apalagi hanya karena serangan fajar amplop berisikan uang 100 ribu rupiah atau bahkan sejuta rupiah sekalipun!عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي» Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Dibayar 100 ribu untuk lima tahun? 100 ribu dibagi 5 tahun, dibagi lagi 360 hari, hasilnya sama dengan 50 perak per hari! Sebegitu murahkah harga diri Anda? Hanya untuk mendapatkan 50 rupiah, Anda rela dilaknat manusia termulia yang kita nantikan syafaatnya?Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Sya’ban 1440 / 12 April 2019 Post navigation Previous Obat KuatNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 130 ORANG TUA SAHABAT ANAK Bag-1“Dulu anakku penurut sekali. Sekarang setelah bergaul dengan teman-temannya, dia jadi nakal luar biasa!”. Sering kita mendengar keluhan semisal dari sebagian orang tua.Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih baik kita introspeksi diri. Koq bisa, anak berubah menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, padahal kitalah orang tuanya? Mengapa bukan kita saja yang memposisikan diri sebagai teman baik untuk anak kita?Cara Menjadi Sahabat bagi AnakAyah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Karena posisi itu sangat sakral bagi anak-anak dan membuat ada sekat dalam berinteraksi bersama mereka. Posisi sebagai sahabat akan dirasakan sebagai hubungan yang tidak terlalu formal, tidak teramat sakral, dan lebih nyaman bagi anak-anak. Tentu tanpa mengurangi penghormatan anak kepada orang tuanya.Bukankah dahulu manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bermain dengan anak-anak kecil? Bahkan saat sujud, pundak beliau ditunggangi cucunya!Berikut langkah-langkah praktis orang tua menjadi sahabat baik untuk anaknya:Pertama: Istri Menjadi Sahabat bagi SuamiSebelum menjadi sahabat bagi anak, hal pertama yang harus dilakukan para istri adalah menjadi sahabat bagi suami. Bersahabat dengan suami akan mempermudah penyamaan visi, menyatukan persepsi, juga mendiskusikan serta mencari solusi atas berbagai problematika dalam mendidik anak. Jika istri tidak bisa bersahabat baik dengan suami, bagaimana akan bisa menjadi sahabat bagi anak?Kedua: Terimalah Anak dengan Segala PotensinyaSebagai sahabat, hendaknya orang tua mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Mereka adalah buah hati Anda, bagaimanapun kondisi fisiknya. Penerimaan Anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan penuh percaya diri. Sebaliknya, anak yang merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan.Jangan menunggu anak memberontak, baru berusaha menjadi sahabat bagi anak. Jangan menunggu anak melarikan diri dari rumah, baru bisa menerima kondisi anak apa adanya. Jangan menunggu anak melawan orang tua, baru menyadari kesalahan pola asuh selama ini.Jika perilaku mereka belum baik, sikap penerimaan orang tua itu akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah untuk diarahkan. Hendaknya orang tua menunjukkan siap penerimaan sepenuhnya atas kondisi anak, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama keluarga. Kalau anak merasa tidak diterima di rumah, ia akan kabur dari rumah dan akan semakin sulit diajak kembali kepada kebaikan.Ketiga: Jadilah Pendengar yang Baik untuk AnakHendaknya para orang tua bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak. Sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat. Karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa Anda tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya. Namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman.Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak. Tanpa meluapkan emosi dan kemarahan saat mereka melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak. Cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah. Apalagi pada anak remaja, pada dasarnya mereka tidak suka didikte dan digurui. Mereka ingin belajar. Mereka mau berubah. Namun mereka juga ingin diakui hak-haknya untuk memiliki masa muda yang indah. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Rajab 1440 / 1 April 2019 Post navigation Previous Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMANNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 130 ORANG TUA SAHABAT ANAK Bag-1“Dulu anakku penurut sekali. Sekarang setelah bergaul dengan teman-temannya, dia jadi nakal luar biasa!”. Sering kita mendengar keluhan semisal dari sebagian orang tua.Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih baik kita introspeksi diri. Koq bisa, anak berubah menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, padahal kitalah orang tuanya? Mengapa bukan kita saja yang memposisikan diri sebagai teman baik untuk anak kita?Cara Menjadi Sahabat bagi AnakAyah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Karena posisi itu sangat sakral bagi anak-anak dan membuat ada sekat dalam berinteraksi bersama mereka. Posisi sebagai sahabat akan dirasakan sebagai hubungan yang tidak terlalu formal, tidak teramat sakral, dan lebih nyaman bagi anak-anak. Tentu tanpa mengurangi penghormatan anak kepada orang tuanya.Bukankah dahulu manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bermain dengan anak-anak kecil? Bahkan saat sujud, pundak beliau ditunggangi cucunya!Berikut langkah-langkah praktis orang tua menjadi sahabat baik untuk anaknya:Pertama: Istri Menjadi Sahabat bagi SuamiSebelum menjadi sahabat bagi anak, hal pertama yang harus dilakukan para istri adalah menjadi sahabat bagi suami. Bersahabat dengan suami akan mempermudah penyamaan visi, menyatukan persepsi, juga mendiskusikan serta mencari solusi atas berbagai problematika dalam mendidik anak. Jika istri tidak bisa bersahabat baik dengan suami, bagaimana akan bisa menjadi sahabat bagi anak?Kedua: Terimalah Anak dengan Segala PotensinyaSebagai sahabat, hendaknya orang tua mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Mereka adalah buah hati Anda, bagaimanapun kondisi fisiknya. Penerimaan Anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan penuh percaya diri. Sebaliknya, anak yang merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan.Jangan menunggu anak memberontak, baru berusaha menjadi sahabat bagi anak. Jangan menunggu anak melarikan diri dari rumah, baru bisa menerima kondisi anak apa adanya. Jangan menunggu anak melawan orang tua, baru menyadari kesalahan pola asuh selama ini.Jika perilaku mereka belum baik, sikap penerimaan orang tua itu akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah untuk diarahkan. Hendaknya orang tua menunjukkan siap penerimaan sepenuhnya atas kondisi anak, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama keluarga. Kalau anak merasa tidak diterima di rumah, ia akan kabur dari rumah dan akan semakin sulit diajak kembali kepada kebaikan.Ketiga: Jadilah Pendengar yang Baik untuk AnakHendaknya para orang tua bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak. Sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat. Karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa Anda tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya. Namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman.Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak. Tanpa meluapkan emosi dan kemarahan saat mereka melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak. Cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah. Apalagi pada anak remaja, pada dasarnya mereka tidak suka didikte dan digurui. Mereka ingin belajar. Mereka mau berubah. Namun mereka juga ingin diakui hak-haknya untuk memiliki masa muda yang indah. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Rajab 1440 / 1 April 2019 Post navigation Previous Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMANNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 130 ORANG TUA SAHABAT ANAK Bag-1“Dulu anakku penurut sekali. Sekarang setelah bergaul dengan teman-temannya, dia jadi nakal luar biasa!”. Sering kita mendengar keluhan semisal dari sebagian orang tua.Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih baik kita introspeksi diri. Koq bisa, anak berubah menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, padahal kitalah orang tuanya? Mengapa bukan kita saja yang memposisikan diri sebagai teman baik untuk anak kita?Cara Menjadi Sahabat bagi AnakAyah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Karena posisi itu sangat sakral bagi anak-anak dan membuat ada sekat dalam berinteraksi bersama mereka. Posisi sebagai sahabat akan dirasakan sebagai hubungan yang tidak terlalu formal, tidak teramat sakral, dan lebih nyaman bagi anak-anak. Tentu tanpa mengurangi penghormatan anak kepada orang tuanya.Bukankah dahulu manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bermain dengan anak-anak kecil? Bahkan saat sujud, pundak beliau ditunggangi cucunya!Berikut langkah-langkah praktis orang tua menjadi sahabat baik untuk anaknya:Pertama: Istri Menjadi Sahabat bagi SuamiSebelum menjadi sahabat bagi anak, hal pertama yang harus dilakukan para istri adalah menjadi sahabat bagi suami. Bersahabat dengan suami akan mempermudah penyamaan visi, menyatukan persepsi, juga mendiskusikan serta mencari solusi atas berbagai problematika dalam mendidik anak. Jika istri tidak bisa bersahabat baik dengan suami, bagaimana akan bisa menjadi sahabat bagi anak?Kedua: Terimalah Anak dengan Segala PotensinyaSebagai sahabat, hendaknya orang tua mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Mereka adalah buah hati Anda, bagaimanapun kondisi fisiknya. Penerimaan Anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan penuh percaya diri. Sebaliknya, anak yang merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan.Jangan menunggu anak memberontak, baru berusaha menjadi sahabat bagi anak. Jangan menunggu anak melarikan diri dari rumah, baru bisa menerima kondisi anak apa adanya. Jangan menunggu anak melawan orang tua, baru menyadari kesalahan pola asuh selama ini.Jika perilaku mereka belum baik, sikap penerimaan orang tua itu akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah untuk diarahkan. Hendaknya orang tua menunjukkan siap penerimaan sepenuhnya atas kondisi anak, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama keluarga. Kalau anak merasa tidak diterima di rumah, ia akan kabur dari rumah dan akan semakin sulit diajak kembali kepada kebaikan.Ketiga: Jadilah Pendengar yang Baik untuk AnakHendaknya para orang tua bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak. Sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat. Karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa Anda tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya. Namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman.Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak. Tanpa meluapkan emosi dan kemarahan saat mereka melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak. Cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah. Apalagi pada anak remaja, pada dasarnya mereka tidak suka didikte dan digurui. Mereka ingin belajar. Mereka mau berubah. Namun mereka juga ingin diakui hak-haknya untuk memiliki masa muda yang indah. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Rajab 1440 / 1 April 2019 Post navigation Previous Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMANNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 130 ORANG TUA SAHABAT ANAK Bag-1“Dulu anakku penurut sekali. Sekarang setelah bergaul dengan teman-temannya, dia jadi nakal luar biasa!”. Sering kita mendengar keluhan semisal dari sebagian orang tua.Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih baik kita introspeksi diri. Koq bisa, anak berubah menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, padahal kitalah orang tuanya? Mengapa bukan kita saja yang memposisikan diri sebagai teman baik untuk anak kita?Cara Menjadi Sahabat bagi AnakAyah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Karena posisi itu sangat sakral bagi anak-anak dan membuat ada sekat dalam berinteraksi bersama mereka. Posisi sebagai sahabat akan dirasakan sebagai hubungan yang tidak terlalu formal, tidak teramat sakral, dan lebih nyaman bagi anak-anak. Tentu tanpa mengurangi penghormatan anak kepada orang tuanya.Bukankah dahulu manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bermain dengan anak-anak kecil? Bahkan saat sujud, pundak beliau ditunggangi cucunya!Berikut langkah-langkah praktis orang tua menjadi sahabat baik untuk anaknya:Pertama: Istri Menjadi Sahabat bagi SuamiSebelum menjadi sahabat bagi anak, hal pertama yang harus dilakukan para istri adalah menjadi sahabat bagi suami. Bersahabat dengan suami akan mempermudah penyamaan visi, menyatukan persepsi, juga mendiskusikan serta mencari solusi atas berbagai problematika dalam mendidik anak. Jika istri tidak bisa bersahabat baik dengan suami, bagaimana akan bisa menjadi sahabat bagi anak?Kedua: Terimalah Anak dengan Segala PotensinyaSebagai sahabat, hendaknya orang tua mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Mereka adalah buah hati Anda, bagaimanapun kondisi fisiknya. Penerimaan Anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan penuh percaya diri. Sebaliknya, anak yang merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan.Jangan menunggu anak memberontak, baru berusaha menjadi sahabat bagi anak. Jangan menunggu anak melarikan diri dari rumah, baru bisa menerima kondisi anak apa adanya. Jangan menunggu anak melawan orang tua, baru menyadari kesalahan pola asuh selama ini.Jika perilaku mereka belum baik, sikap penerimaan orang tua itu akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah untuk diarahkan. Hendaknya orang tua menunjukkan siap penerimaan sepenuhnya atas kondisi anak, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama keluarga. Kalau anak merasa tidak diterima di rumah, ia akan kabur dari rumah dan akan semakin sulit diajak kembali kepada kebaikan.Ketiga: Jadilah Pendengar yang Baik untuk AnakHendaknya para orang tua bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak. Sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat. Karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa Anda tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya. Namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman.Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak. Tanpa meluapkan emosi dan kemarahan saat mereka melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak. Cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah. Apalagi pada anak remaja, pada dasarnya mereka tidak suka didikte dan digurui. Mereka ingin belajar. Mereka mau berubah. Namun mereka juga ingin diakui hak-haknya untuk memiliki masa muda yang indah. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Rajab 1440 / 1 April 2019 Post navigation Previous Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMANNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU

Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU

Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KITA SATU BANGUNAN

KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KITA SATU BANGUNAN

KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next