Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANTARA LEBAH DAN LALAT

ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANTARA LEBAH DAN LALAT

ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

GURU MENDEWASAKAN MURID

GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

GURU MENDEWASAKAN MURID

GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kepala Batu

KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kepala Batu

KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME

VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME

VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 118METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-12 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Sepakati dulu hukumannyaHindari memberikan hukuman kepada anak, dalam keadaan dia tidak menyangka akan menerima hukuman itu, atau dalam kondisi ia tidak siap. Apalagi bila dia belum tahu bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah kesalahan. Maka dari itu diperlukan adanya diskusi tentang peraturan yang akan ditegakkan beserta dengan sangsi-sangsi atas pelanggaran.Usahakan peraturan dan sangsi pelanggaran itu ditentukan secara spesifik. Sehingga tidak berpotensi membuka konflik dengan anak. Contoh aturan yang kurang spesifik: “Bila kamu terlambat dalam waktu yang cukup lama, maka kamu akan dihukum dengan sesuatu yang menyakitkan”. Sebaiknya diganti dengan: “Bila kamu terlambat lebih dari lima belas menit, maka uang jajanmu akan dikurangi separuh jatah”.Saat anak benar-benar melanggar peraturan, dan itu diulang berkali-kali, padahal sudah sering ditegur, ketika itulah hukuman layak dijatuhkan. Bila anak protes, sebaiknya kita tetap bertahan dengan sangsi yang telah disepakati. Sebab itu hanyalah penampakan emosi sesaat. Sejatinya dalam hati kecilnya, dia telah mengerti bahwa sangsi tersebut harus diterimanya.Jika sangsi tersebut dibatalkan hanya lantaran rengekan anak, dikhawatirkan hal tersebut akan menjadi kebiasaan buruk. Menganggap bahwa sangsi bisa digagalkan dengan rajukan dan rengekan. Berikan hukuman secara bertahapPemberian hukuman itu ada tahapannya. Mulai dari yang teringan hingga akhirnya terberat.Tahapan paling awal adalah dengan memberikan nasehat dengan cara dan waktu yang tepat. Sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya.Bila ternyata cara tersebut kurang efektif, maka bisa melangkah kepada tahapan berikutnya. Yaitu: pengabaian. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan perasaan tidak nyaman dan teracuhkan di hati anak.Misalnya seorang ibu dengan sengaja tidak mempedulikan anak dan mendiamkannya. Namun tidak boleh berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ““Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu.Bila tidak efektif, maka bisa ditingkatkan menjadi bentuk pengabaian ruangan. Yaitu dengan menempatkan anak ke dalam sebuah ruangan yang tidak menyenangkan baginya. Pastikan di dalamnya tidak ada barang yang bisa dipakai anak untuk bersenang-senang di masa pengabaian tersebut.Sebelum anak diperintahkan memasuki ruangan itu, tetapkan batas waktu pengabaian. Jangan terlalu cepat, sehingga tidak ngefek. Jangan pula terlalu lama, sehingga membuatnya putus asa. Untuk kesalahan ringan, cukup 10 hingga 15 menit. Sedangkan untuk kesalahan berat, boleh diperpanjang hingga satu jam.Setelah tindakan pengabaian ini tak juga membawa hasil, barulah terakhir menginjak ke tahapan hukuman fisik. Itupun dengan catatan bahwa pukulan yang diberikan tidak meninggalkan bekas di tubuh anak.Selesai…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1439 / 27 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 119: HARUSKAH ANAK DIPUKUL? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 118METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-12 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Sepakati dulu hukumannyaHindari memberikan hukuman kepada anak, dalam keadaan dia tidak menyangka akan menerima hukuman itu, atau dalam kondisi ia tidak siap. Apalagi bila dia belum tahu bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah kesalahan. Maka dari itu diperlukan adanya diskusi tentang peraturan yang akan ditegakkan beserta dengan sangsi-sangsi atas pelanggaran.Usahakan peraturan dan sangsi pelanggaran itu ditentukan secara spesifik. Sehingga tidak berpotensi membuka konflik dengan anak. Contoh aturan yang kurang spesifik: “Bila kamu terlambat dalam waktu yang cukup lama, maka kamu akan dihukum dengan sesuatu yang menyakitkan”. Sebaiknya diganti dengan: “Bila kamu terlambat lebih dari lima belas menit, maka uang jajanmu akan dikurangi separuh jatah”.Saat anak benar-benar melanggar peraturan, dan itu diulang berkali-kali, padahal sudah sering ditegur, ketika itulah hukuman layak dijatuhkan. Bila anak protes, sebaiknya kita tetap bertahan dengan sangsi yang telah disepakati. Sebab itu hanyalah penampakan emosi sesaat. Sejatinya dalam hati kecilnya, dia telah mengerti bahwa sangsi tersebut harus diterimanya.Jika sangsi tersebut dibatalkan hanya lantaran rengekan anak, dikhawatirkan hal tersebut akan menjadi kebiasaan buruk. Menganggap bahwa sangsi bisa digagalkan dengan rajukan dan rengekan. Berikan hukuman secara bertahapPemberian hukuman itu ada tahapannya. Mulai dari yang teringan hingga akhirnya terberat.Tahapan paling awal adalah dengan memberikan nasehat dengan cara dan waktu yang tepat. Sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya.Bila ternyata cara tersebut kurang efektif, maka bisa melangkah kepada tahapan berikutnya. Yaitu: pengabaian. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan perasaan tidak nyaman dan teracuhkan di hati anak.Misalnya seorang ibu dengan sengaja tidak mempedulikan anak dan mendiamkannya. Namun tidak boleh berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ““Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu.Bila tidak efektif, maka bisa ditingkatkan menjadi bentuk pengabaian ruangan. Yaitu dengan menempatkan anak ke dalam sebuah ruangan yang tidak menyenangkan baginya. Pastikan di dalamnya tidak ada barang yang bisa dipakai anak untuk bersenang-senang di masa pengabaian tersebut.Sebelum anak diperintahkan memasuki ruangan itu, tetapkan batas waktu pengabaian. Jangan terlalu cepat, sehingga tidak ngefek. Jangan pula terlalu lama, sehingga membuatnya putus asa. Untuk kesalahan ringan, cukup 10 hingga 15 menit. Sedangkan untuk kesalahan berat, boleh diperpanjang hingga satu jam.Setelah tindakan pengabaian ini tak juga membawa hasil, barulah terakhir menginjak ke tahapan hukuman fisik. Itupun dengan catatan bahwa pukulan yang diberikan tidak meninggalkan bekas di tubuh anak.Selesai…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1439 / 27 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 119: HARUSKAH ANAK DIPUKUL? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 118METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-12 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Sepakati dulu hukumannyaHindari memberikan hukuman kepada anak, dalam keadaan dia tidak menyangka akan menerima hukuman itu, atau dalam kondisi ia tidak siap. Apalagi bila dia belum tahu bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah kesalahan. Maka dari itu diperlukan adanya diskusi tentang peraturan yang akan ditegakkan beserta dengan sangsi-sangsi atas pelanggaran.Usahakan peraturan dan sangsi pelanggaran itu ditentukan secara spesifik. Sehingga tidak berpotensi membuka konflik dengan anak. Contoh aturan yang kurang spesifik: “Bila kamu terlambat dalam waktu yang cukup lama, maka kamu akan dihukum dengan sesuatu yang menyakitkan”. Sebaiknya diganti dengan: “Bila kamu terlambat lebih dari lima belas menit, maka uang jajanmu akan dikurangi separuh jatah”.Saat anak benar-benar melanggar peraturan, dan itu diulang berkali-kali, padahal sudah sering ditegur, ketika itulah hukuman layak dijatuhkan. Bila anak protes, sebaiknya kita tetap bertahan dengan sangsi yang telah disepakati. Sebab itu hanyalah penampakan emosi sesaat. Sejatinya dalam hati kecilnya, dia telah mengerti bahwa sangsi tersebut harus diterimanya.Jika sangsi tersebut dibatalkan hanya lantaran rengekan anak, dikhawatirkan hal tersebut akan menjadi kebiasaan buruk. Menganggap bahwa sangsi bisa digagalkan dengan rajukan dan rengekan. Berikan hukuman secara bertahapPemberian hukuman itu ada tahapannya. Mulai dari yang teringan hingga akhirnya terberat.Tahapan paling awal adalah dengan memberikan nasehat dengan cara dan waktu yang tepat. Sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya.Bila ternyata cara tersebut kurang efektif, maka bisa melangkah kepada tahapan berikutnya. Yaitu: pengabaian. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan perasaan tidak nyaman dan teracuhkan di hati anak.Misalnya seorang ibu dengan sengaja tidak mempedulikan anak dan mendiamkannya. Namun tidak boleh berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ““Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu.Bila tidak efektif, maka bisa ditingkatkan menjadi bentuk pengabaian ruangan. Yaitu dengan menempatkan anak ke dalam sebuah ruangan yang tidak menyenangkan baginya. Pastikan di dalamnya tidak ada barang yang bisa dipakai anak untuk bersenang-senang di masa pengabaian tersebut.Sebelum anak diperintahkan memasuki ruangan itu, tetapkan batas waktu pengabaian. Jangan terlalu cepat, sehingga tidak ngefek. Jangan pula terlalu lama, sehingga membuatnya putus asa. Untuk kesalahan ringan, cukup 10 hingga 15 menit. Sedangkan untuk kesalahan berat, boleh diperpanjang hingga satu jam.Setelah tindakan pengabaian ini tak juga membawa hasil, barulah terakhir menginjak ke tahapan hukuman fisik. Itupun dengan catatan bahwa pukulan yang diberikan tidak meninggalkan bekas di tubuh anak.Selesai…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1439 / 27 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 119: HARUSKAH ANAK DIPUKUL? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 118METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-12 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Sepakati dulu hukumannyaHindari memberikan hukuman kepada anak, dalam keadaan dia tidak menyangka akan menerima hukuman itu, atau dalam kondisi ia tidak siap. Apalagi bila dia belum tahu bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah kesalahan. Maka dari itu diperlukan adanya diskusi tentang peraturan yang akan ditegakkan beserta dengan sangsi-sangsi atas pelanggaran.Usahakan peraturan dan sangsi pelanggaran itu ditentukan secara spesifik. Sehingga tidak berpotensi membuka konflik dengan anak. Contoh aturan yang kurang spesifik: “Bila kamu terlambat dalam waktu yang cukup lama, maka kamu akan dihukum dengan sesuatu yang menyakitkan”. Sebaiknya diganti dengan: “Bila kamu terlambat lebih dari lima belas menit, maka uang jajanmu akan dikurangi separuh jatah”.Saat anak benar-benar melanggar peraturan, dan itu diulang berkali-kali, padahal sudah sering ditegur, ketika itulah hukuman layak dijatuhkan. Bila anak protes, sebaiknya kita tetap bertahan dengan sangsi yang telah disepakati. Sebab itu hanyalah penampakan emosi sesaat. Sejatinya dalam hati kecilnya, dia telah mengerti bahwa sangsi tersebut harus diterimanya.Jika sangsi tersebut dibatalkan hanya lantaran rengekan anak, dikhawatirkan hal tersebut akan menjadi kebiasaan buruk. Menganggap bahwa sangsi bisa digagalkan dengan rajukan dan rengekan. Berikan hukuman secara bertahapPemberian hukuman itu ada tahapannya. Mulai dari yang teringan hingga akhirnya terberat.Tahapan paling awal adalah dengan memberikan nasehat dengan cara dan waktu yang tepat. Sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya.Bila ternyata cara tersebut kurang efektif, maka bisa melangkah kepada tahapan berikutnya. Yaitu: pengabaian. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan perasaan tidak nyaman dan teracuhkan di hati anak.Misalnya seorang ibu dengan sengaja tidak mempedulikan anak dan mendiamkannya. Namun tidak boleh berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ““Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu.Bila tidak efektif, maka bisa ditingkatkan menjadi bentuk pengabaian ruangan. Yaitu dengan menempatkan anak ke dalam sebuah ruangan yang tidak menyenangkan baginya. Pastikan di dalamnya tidak ada barang yang bisa dipakai anak untuk bersenang-senang di masa pengabaian tersebut.Sebelum anak diperintahkan memasuki ruangan itu, tetapkan batas waktu pengabaian. Jangan terlalu cepat, sehingga tidak ngefek. Jangan pula terlalu lama, sehingga membuatnya putus asa. Untuk kesalahan ringan, cukup 10 hingga 15 menit. Sedangkan untuk kesalahan berat, boleh diperpanjang hingga satu jam.Setelah tindakan pengabaian ini tak juga membawa hasil, barulah terakhir menginjak ke tahapan hukuman fisik. Itupun dengan catatan bahwa pukulan yang diberikan tidak meninggalkan bekas di tubuh anak.Selesai…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1439 / 27 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 119: HARUSKAH ANAK DIPUKUL? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 119: HARUSKAH ANAK DIPUKUL?

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 119 HARUSKAH ANAK DIPUKUL?Tidak sedikit orang tua yang menggunakan kekuatan fisiknya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa, bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga. Suara yang keras ini akan sayup-sayup meredup pula. Mata yang selalu melotot ini akan kehilangan ketajamannya juga. Entah karena anak semakin luas ruang geraknya. Atau karena mata kita telah kabur dimakan usia.Ada anak yang memandang orang tuanya sebagai sosok seram pembawa godam. Atau seperti algojo yang siap mengayunkan pedangnya. Ia sadar bahwa tubuhnya yang kecil tidak mungkin untuk melawannya. Maka ia pun menuruti segala perintah sang raksasa, karena rasa takut.Namun dapatkah Anda bayangkan jika keadannya telah berbalik? Anak tumbuh menjadi pemuda yang kuat, sementara orang tuanya bertambah lemah dan renta. Akankah anak masih mau menaati orang tuanya? Ataukah sebaliknya, dia akan memperlakukan orang tuanya sebagaimana dahulu orang tuanya memperlakukan dia?Tujuan hukumanSatu prinsip yang harus dipahami. Bahwa tujuan adanya hukuman dalam Islam adalah sebagai bentuk nasehat dan perbaikan. Bukan sarana pelampiasan kemarahan atau balas dendam. Sehingga selama anak masih bisa diperbaiki dengan cara selain kekerasan, hindarilah kekerasan.Imam al-Izz bin Abdussalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Selama proses pendidikan bisa dilakukan dengan perbuatan dan perkataan yang lembut, maka tidak boleh dengan cara yang keras. Sebab hal itu bakal merusak dan tidak ada manfaatnya. Karena tujuan sudah bisa tercapai tanpa kekerasan”.Bahaya kekerasanSeorang anak yang dididik dengan kekerasan akan terbiasa keras. Kekerasan akan mengakibatkan dadanya terasa sempit. Semangatnya hilang. Terjangkiti kemalasan. Terdorong untuk berdusta karena terhantui adanya tangan yang siap melayang untuk memukul. Kekerasan membuat anak mati perasaan. Lemah kemauan. Labil kejiwaannya. Hilang semangat dan harapannya.Apalagi bila kekekerasan itu merusak kehormatan anak atau menghinakannya. Seperti bila anak dipukul di hadapan orang banyak sehingga menjadi bahan tertawaan. Atau dibeberkan aibnya di antara khalayak. Ingat, kepribadian anak harus kita jaga dan kehormatannya harus kita pelihara.Salah besar bila kita menganggap bahwa kekerasan adalah jalan pintas yang mendatangkan kebaikan bagi anak. Justru banyaknya pukulan akan membuat anak semakin bandel dan keras kepala.Kekerasan tidak diperlukan, manakala anak mendapatkan bimbingan yang hikmah dari orang tuanya. Juga selalu memperoleh nasehat-nasehat kebaikan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Segala sesuatu yang dihiasi kelembutan pasti indah. Sebaliknya bila kehilangan kelembutan, pasti akan terlihat jelek”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu.Seluruh keterangan di atas bukan untuk menihilkan pukulan sama sekali. Apalagi bila diperlukan. Namun penggunaan pukulan itu ada kaidahnya. InsyaAllah pembahasan ini akan dipaparkan di pertemuan berikutnya. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Muharram 1440 / 8 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 119: HARUSKAH ANAK DIPUKUL?

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 119 HARUSKAH ANAK DIPUKUL?Tidak sedikit orang tua yang menggunakan kekuatan fisiknya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa, bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga. Suara yang keras ini akan sayup-sayup meredup pula. Mata yang selalu melotot ini akan kehilangan ketajamannya juga. Entah karena anak semakin luas ruang geraknya. Atau karena mata kita telah kabur dimakan usia.Ada anak yang memandang orang tuanya sebagai sosok seram pembawa godam. Atau seperti algojo yang siap mengayunkan pedangnya. Ia sadar bahwa tubuhnya yang kecil tidak mungkin untuk melawannya. Maka ia pun menuruti segala perintah sang raksasa, karena rasa takut.Namun dapatkah Anda bayangkan jika keadannya telah berbalik? Anak tumbuh menjadi pemuda yang kuat, sementara orang tuanya bertambah lemah dan renta. Akankah anak masih mau menaati orang tuanya? Ataukah sebaliknya, dia akan memperlakukan orang tuanya sebagaimana dahulu orang tuanya memperlakukan dia?Tujuan hukumanSatu prinsip yang harus dipahami. Bahwa tujuan adanya hukuman dalam Islam adalah sebagai bentuk nasehat dan perbaikan. Bukan sarana pelampiasan kemarahan atau balas dendam. Sehingga selama anak masih bisa diperbaiki dengan cara selain kekerasan, hindarilah kekerasan.Imam al-Izz bin Abdussalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Selama proses pendidikan bisa dilakukan dengan perbuatan dan perkataan yang lembut, maka tidak boleh dengan cara yang keras. Sebab hal itu bakal merusak dan tidak ada manfaatnya. Karena tujuan sudah bisa tercapai tanpa kekerasan”.Bahaya kekerasanSeorang anak yang dididik dengan kekerasan akan terbiasa keras. Kekerasan akan mengakibatkan dadanya terasa sempit. Semangatnya hilang. Terjangkiti kemalasan. Terdorong untuk berdusta karena terhantui adanya tangan yang siap melayang untuk memukul. Kekerasan membuat anak mati perasaan. Lemah kemauan. Labil kejiwaannya. Hilang semangat dan harapannya.Apalagi bila kekekerasan itu merusak kehormatan anak atau menghinakannya. Seperti bila anak dipukul di hadapan orang banyak sehingga menjadi bahan tertawaan. Atau dibeberkan aibnya di antara khalayak. Ingat, kepribadian anak harus kita jaga dan kehormatannya harus kita pelihara.Salah besar bila kita menganggap bahwa kekerasan adalah jalan pintas yang mendatangkan kebaikan bagi anak. Justru banyaknya pukulan akan membuat anak semakin bandel dan keras kepala.Kekerasan tidak diperlukan, manakala anak mendapatkan bimbingan yang hikmah dari orang tuanya. Juga selalu memperoleh nasehat-nasehat kebaikan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Segala sesuatu yang dihiasi kelembutan pasti indah. Sebaliknya bila kehilangan kelembutan, pasti akan terlihat jelek”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu.Seluruh keterangan di atas bukan untuk menihilkan pukulan sama sekali. Apalagi bila diperlukan. Namun penggunaan pukulan itu ada kaidahnya. InsyaAllah pembahasan ini akan dipaparkan di pertemuan berikutnya. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Muharram 1440 / 8 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 119 HARUSKAH ANAK DIPUKUL?Tidak sedikit orang tua yang menggunakan kekuatan fisiknya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa, bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga. Suara yang keras ini akan sayup-sayup meredup pula. Mata yang selalu melotot ini akan kehilangan ketajamannya juga. Entah karena anak semakin luas ruang geraknya. Atau karena mata kita telah kabur dimakan usia.Ada anak yang memandang orang tuanya sebagai sosok seram pembawa godam. Atau seperti algojo yang siap mengayunkan pedangnya. Ia sadar bahwa tubuhnya yang kecil tidak mungkin untuk melawannya. Maka ia pun menuruti segala perintah sang raksasa, karena rasa takut.Namun dapatkah Anda bayangkan jika keadannya telah berbalik? Anak tumbuh menjadi pemuda yang kuat, sementara orang tuanya bertambah lemah dan renta. Akankah anak masih mau menaati orang tuanya? Ataukah sebaliknya, dia akan memperlakukan orang tuanya sebagaimana dahulu orang tuanya memperlakukan dia?Tujuan hukumanSatu prinsip yang harus dipahami. Bahwa tujuan adanya hukuman dalam Islam adalah sebagai bentuk nasehat dan perbaikan. Bukan sarana pelampiasan kemarahan atau balas dendam. Sehingga selama anak masih bisa diperbaiki dengan cara selain kekerasan, hindarilah kekerasan.Imam al-Izz bin Abdussalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Selama proses pendidikan bisa dilakukan dengan perbuatan dan perkataan yang lembut, maka tidak boleh dengan cara yang keras. Sebab hal itu bakal merusak dan tidak ada manfaatnya. Karena tujuan sudah bisa tercapai tanpa kekerasan”.Bahaya kekerasanSeorang anak yang dididik dengan kekerasan akan terbiasa keras. Kekerasan akan mengakibatkan dadanya terasa sempit. Semangatnya hilang. Terjangkiti kemalasan. Terdorong untuk berdusta karena terhantui adanya tangan yang siap melayang untuk memukul. Kekerasan membuat anak mati perasaan. Lemah kemauan. Labil kejiwaannya. Hilang semangat dan harapannya.Apalagi bila kekekerasan itu merusak kehormatan anak atau menghinakannya. Seperti bila anak dipukul di hadapan orang banyak sehingga menjadi bahan tertawaan. Atau dibeberkan aibnya di antara khalayak. Ingat, kepribadian anak harus kita jaga dan kehormatannya harus kita pelihara.Salah besar bila kita menganggap bahwa kekerasan adalah jalan pintas yang mendatangkan kebaikan bagi anak. Justru banyaknya pukulan akan membuat anak semakin bandel dan keras kepala.Kekerasan tidak diperlukan, manakala anak mendapatkan bimbingan yang hikmah dari orang tuanya. Juga selalu memperoleh nasehat-nasehat kebaikan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Segala sesuatu yang dihiasi kelembutan pasti indah. Sebaliknya bila kehilangan kelembutan, pasti akan terlihat jelek”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu.Seluruh keterangan di atas bukan untuk menihilkan pukulan sama sekali. Apalagi bila diperlukan. Namun penggunaan pukulan itu ada kaidahnya. InsyaAllah pembahasan ini akan dipaparkan di pertemuan berikutnya. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Muharram 1440 / 8 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 119 HARUSKAH ANAK DIPUKUL?Tidak sedikit orang tua yang menggunakan kekuatan fisiknya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa, bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga. Suara yang keras ini akan sayup-sayup meredup pula. Mata yang selalu melotot ini akan kehilangan ketajamannya juga. Entah karena anak semakin luas ruang geraknya. Atau karena mata kita telah kabur dimakan usia.Ada anak yang memandang orang tuanya sebagai sosok seram pembawa godam. Atau seperti algojo yang siap mengayunkan pedangnya. Ia sadar bahwa tubuhnya yang kecil tidak mungkin untuk melawannya. Maka ia pun menuruti segala perintah sang raksasa, karena rasa takut.Namun dapatkah Anda bayangkan jika keadannya telah berbalik? Anak tumbuh menjadi pemuda yang kuat, sementara orang tuanya bertambah lemah dan renta. Akankah anak masih mau menaati orang tuanya? Ataukah sebaliknya, dia akan memperlakukan orang tuanya sebagaimana dahulu orang tuanya memperlakukan dia?Tujuan hukumanSatu prinsip yang harus dipahami. Bahwa tujuan adanya hukuman dalam Islam adalah sebagai bentuk nasehat dan perbaikan. Bukan sarana pelampiasan kemarahan atau balas dendam. Sehingga selama anak masih bisa diperbaiki dengan cara selain kekerasan, hindarilah kekerasan.Imam al-Izz bin Abdussalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Selama proses pendidikan bisa dilakukan dengan perbuatan dan perkataan yang lembut, maka tidak boleh dengan cara yang keras. Sebab hal itu bakal merusak dan tidak ada manfaatnya. Karena tujuan sudah bisa tercapai tanpa kekerasan”.Bahaya kekerasanSeorang anak yang dididik dengan kekerasan akan terbiasa keras. Kekerasan akan mengakibatkan dadanya terasa sempit. Semangatnya hilang. Terjangkiti kemalasan. Terdorong untuk berdusta karena terhantui adanya tangan yang siap melayang untuk memukul. Kekerasan membuat anak mati perasaan. Lemah kemauan. Labil kejiwaannya. Hilang semangat dan harapannya.Apalagi bila kekekerasan itu merusak kehormatan anak atau menghinakannya. Seperti bila anak dipukul di hadapan orang banyak sehingga menjadi bahan tertawaan. Atau dibeberkan aibnya di antara khalayak. Ingat, kepribadian anak harus kita jaga dan kehormatannya harus kita pelihara.Salah besar bila kita menganggap bahwa kekerasan adalah jalan pintas yang mendatangkan kebaikan bagi anak. Justru banyaknya pukulan akan membuat anak semakin bandel dan keras kepala.Kekerasan tidak diperlukan, manakala anak mendapatkan bimbingan yang hikmah dari orang tuanya. Juga selalu memperoleh nasehat-nasehat kebaikan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Segala sesuatu yang dihiasi kelembutan pasti indah. Sebaliknya bila kehilangan kelembutan, pasti akan terlihat jelek”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu.Seluruh keterangan di atas bukan untuk menihilkan pukulan sama sekali. Apalagi bila diperlukan. Namun penggunaan pukulan itu ada kaidahnya. InsyaAllah pembahasan ini akan dipaparkan di pertemuan berikutnya. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Muharram 1440 / 8 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 121: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 1

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 121 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-1Islam adalah agama aturan. Seluruh aspek kehidupan manusia diatur. Termasuk dalam hal memukul anak. Jangan dibayangkan Islam itu mengajarkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dengan alasan ajarannya membolehkan pukulan. Oknum yang mengatakan demikian, biasanya adalah orang yang minim pengetahuannya tentang ajaran Islam.Padahal aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Berikut beberapa aturan tersebut:Pertama: Pukulan adalah alternatif terakhirIslam membolehkan pukulan sebagai alternatif terakhir. Setelah langkah-langkah halus tidak berefek. Jadi orang tua yang sedikit-sedikit memukul anak, sejatinya telah bersalah.Kedua: Pukulan tersebut harus berefek positifSebelum memutuskan untuk memukul anak, orang tua harus benar-benar memperkirakan, apakah pukulan tersebut akan berdampak positif atau tidak? Jika diperkirakan malah akan mengakibatkan anak semakin menjadi-jadi, maka pukulan tidak boleh digunakan.Imam al-Izz bin Abdissalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Bila tidak menimbulkan efek jera, maka pukulan ringan tidak boleh dilakukan. Apalagi pukulan keras”.Ketiga: Jenis pukulannya adalah yang ringanJangan dibayangkan bahwa anak akan dijadikan samsak hidup! Pukulan yang boleh dilakukan pada anak haruslah yang ringan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“…ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ““Gunakanlah pukulan yang ringan yang tidak membahayakan”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.Sebab tujuan memukul anak bukan untuk menyakiti, apalagi melampiaskan emosi. Namun untuk mendidik. Niat saat memukul sangat berpengaruh dalam menimbulkan efek positif atau negatif. Jika pukulan diniati untuk melampiaskan emosi, biasanya akan memunculkan perasaan dendam. Namun bila pukulan itu dilandasi kasih sayang, insyaAllah akan menimbulkan efek jera.Keempat: Tidak boleh memukul wajahBagian tubuh yang boleh dipukul pun diatur dalam Islam. Tidak boleh memukul wajah. Sebab ini bagian tubuh yang terhormat dan tempat berbagai panca indera manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ““Saat berperang hindarilah memukul wajah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Hadits ini aslinya sedang membahas etika dalam peperangan. Pun demikian, juga mencakup etika memukul istri, anak dan budak. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 R. Awwal 1440 / 19 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIRNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 121: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 1

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 121 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-1Islam adalah agama aturan. Seluruh aspek kehidupan manusia diatur. Termasuk dalam hal memukul anak. Jangan dibayangkan Islam itu mengajarkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dengan alasan ajarannya membolehkan pukulan. Oknum yang mengatakan demikian, biasanya adalah orang yang minim pengetahuannya tentang ajaran Islam.Padahal aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Berikut beberapa aturan tersebut:Pertama: Pukulan adalah alternatif terakhirIslam membolehkan pukulan sebagai alternatif terakhir. Setelah langkah-langkah halus tidak berefek. Jadi orang tua yang sedikit-sedikit memukul anak, sejatinya telah bersalah.Kedua: Pukulan tersebut harus berefek positifSebelum memutuskan untuk memukul anak, orang tua harus benar-benar memperkirakan, apakah pukulan tersebut akan berdampak positif atau tidak? Jika diperkirakan malah akan mengakibatkan anak semakin menjadi-jadi, maka pukulan tidak boleh digunakan.Imam al-Izz bin Abdissalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Bila tidak menimbulkan efek jera, maka pukulan ringan tidak boleh dilakukan. Apalagi pukulan keras”.Ketiga: Jenis pukulannya adalah yang ringanJangan dibayangkan bahwa anak akan dijadikan samsak hidup! Pukulan yang boleh dilakukan pada anak haruslah yang ringan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“…ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ““Gunakanlah pukulan yang ringan yang tidak membahayakan”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.Sebab tujuan memukul anak bukan untuk menyakiti, apalagi melampiaskan emosi. Namun untuk mendidik. Niat saat memukul sangat berpengaruh dalam menimbulkan efek positif atau negatif. Jika pukulan diniati untuk melampiaskan emosi, biasanya akan memunculkan perasaan dendam. Namun bila pukulan itu dilandasi kasih sayang, insyaAllah akan menimbulkan efek jera.Keempat: Tidak boleh memukul wajahBagian tubuh yang boleh dipukul pun diatur dalam Islam. Tidak boleh memukul wajah. Sebab ini bagian tubuh yang terhormat dan tempat berbagai panca indera manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ““Saat berperang hindarilah memukul wajah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Hadits ini aslinya sedang membahas etika dalam peperangan. Pun demikian, juga mencakup etika memukul istri, anak dan budak. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 R. Awwal 1440 / 19 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIRNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 121 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-1Islam adalah agama aturan. Seluruh aspek kehidupan manusia diatur. Termasuk dalam hal memukul anak. Jangan dibayangkan Islam itu mengajarkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dengan alasan ajarannya membolehkan pukulan. Oknum yang mengatakan demikian, biasanya adalah orang yang minim pengetahuannya tentang ajaran Islam.Padahal aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Berikut beberapa aturan tersebut:Pertama: Pukulan adalah alternatif terakhirIslam membolehkan pukulan sebagai alternatif terakhir. Setelah langkah-langkah halus tidak berefek. Jadi orang tua yang sedikit-sedikit memukul anak, sejatinya telah bersalah.Kedua: Pukulan tersebut harus berefek positifSebelum memutuskan untuk memukul anak, orang tua harus benar-benar memperkirakan, apakah pukulan tersebut akan berdampak positif atau tidak? Jika diperkirakan malah akan mengakibatkan anak semakin menjadi-jadi, maka pukulan tidak boleh digunakan.Imam al-Izz bin Abdissalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Bila tidak menimbulkan efek jera, maka pukulan ringan tidak boleh dilakukan. Apalagi pukulan keras”.Ketiga: Jenis pukulannya adalah yang ringanJangan dibayangkan bahwa anak akan dijadikan samsak hidup! Pukulan yang boleh dilakukan pada anak haruslah yang ringan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“…ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ““Gunakanlah pukulan yang ringan yang tidak membahayakan”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.Sebab tujuan memukul anak bukan untuk menyakiti, apalagi melampiaskan emosi. Namun untuk mendidik. Niat saat memukul sangat berpengaruh dalam menimbulkan efek positif atau negatif. Jika pukulan diniati untuk melampiaskan emosi, biasanya akan memunculkan perasaan dendam. Namun bila pukulan itu dilandasi kasih sayang, insyaAllah akan menimbulkan efek jera.Keempat: Tidak boleh memukul wajahBagian tubuh yang boleh dipukul pun diatur dalam Islam. Tidak boleh memukul wajah. Sebab ini bagian tubuh yang terhormat dan tempat berbagai panca indera manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ““Saat berperang hindarilah memukul wajah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Hadits ini aslinya sedang membahas etika dalam peperangan. Pun demikian, juga mencakup etika memukul istri, anak dan budak. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 R. Awwal 1440 / 19 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIRNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 121 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-1Islam adalah agama aturan. Seluruh aspek kehidupan manusia diatur. Termasuk dalam hal memukul anak. Jangan dibayangkan Islam itu mengajarkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dengan alasan ajarannya membolehkan pukulan. Oknum yang mengatakan demikian, biasanya adalah orang yang minim pengetahuannya tentang ajaran Islam.Padahal aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Berikut beberapa aturan tersebut:Pertama: Pukulan adalah alternatif terakhirIslam membolehkan pukulan sebagai alternatif terakhir. Setelah langkah-langkah halus tidak berefek. Jadi orang tua yang sedikit-sedikit memukul anak, sejatinya telah bersalah.Kedua: Pukulan tersebut harus berefek positifSebelum memutuskan untuk memukul anak, orang tua harus benar-benar memperkirakan, apakah pukulan tersebut akan berdampak positif atau tidak? Jika diperkirakan malah akan mengakibatkan anak semakin menjadi-jadi, maka pukulan tidak boleh digunakan.Imam al-Izz bin Abdissalam rahimahullah (w. 660 H) menjelaskan, “Bila tidak menimbulkan efek jera, maka pukulan ringan tidak boleh dilakukan. Apalagi pukulan keras”.Ketiga: Jenis pukulannya adalah yang ringanJangan dibayangkan bahwa anak akan dijadikan samsak hidup! Pukulan yang boleh dilakukan pada anak haruslah yang ringan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“…ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ““Gunakanlah pukulan yang ringan yang tidak membahayakan”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.Sebab tujuan memukul anak bukan untuk menyakiti, apalagi melampiaskan emosi. Namun untuk mendidik. Niat saat memukul sangat berpengaruh dalam menimbulkan efek positif atau negatif. Jika pukulan diniati untuk melampiaskan emosi, biasanya akan memunculkan perasaan dendam. Namun bila pukulan itu dilandasi kasih sayang, insyaAllah akan menimbulkan efek jera.Keempat: Tidak boleh memukul wajahBagian tubuh yang boleh dipukul pun diatur dalam Islam. Tidak boleh memukul wajah. Sebab ini bagian tubuh yang terhormat dan tempat berbagai panca indera manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ““Saat berperang hindarilah memukul wajah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Hadits ini aslinya sedang membahas etika dalam peperangan. Pun demikian, juga mencakup etika memukul istri, anak dan budak. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 R. Awwal 1440 / 19 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 120: PUKULAN ITU ALTERNATIF TERAKHIRNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 122 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-2Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Kelima: Jumlah pukulannya tidak boleh berlebihanBukan hanya jenis pukulannya yang diatur, bahkan jumlah pukulan yang diperbolehkan pun diatur dalam Islam. Jika cukup dengan satu atau dua kali pukulan, maka tidak boleh lebih dari itu. Apabila terpaksa sekali, maka maksimal hanya sepuluh pukulan saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«لاَ يُجْلَدُ فَوْقَ عَشْرِ جَلَدَاتٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ»“Tidak boleh mencambuk lebih dari sepuluh cambukan. Kecuali dalam hudûd (dosa besar yang kadar hukumannya telah ditetapkan oleh agama)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu.Bila akan diterapkan pukulan berkali-kali, maka hendaklah menyebar dan tidak di satu tempat di tubuh. Misalnya sebagian di kaki kanan, sebagian di kaki kiri. Supaya tidak membahayakan. Juga jarak antara satu pukulan dengan pukulan berikutnya tidak terlalu dekat. Diperkirakan pukulan pertama sudah mereda efek sakitnya.Keenam: Pukulan disesuaikan dengan kadar kesalahanBerikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Hukuman ringan untuk kesalahan kecil, sedangkan hukuman berat untuk kesalahan fatal.Orang tua bisa diibaratkan seperti dokter. Memberikan dosis obat sesuai dengan level penyakit yang diderita pasien. Saat terpaksa menjatuhkan hukuman, orang tua juga harus mengukur kadar hukuman sesuai tingkat kesalahan anak.Dalam sebuah hadits dha’if disebutkan,أَنَّ رَجُلًا يُقَالُ لَهُ جُزْءٌ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَهْلِي يُغْضِبُونِي فَبِمَ أُعَاقِبُهُمْ؟ فَقَالَ: «تَعْفُو» ، ثُمَّ قَالَ: الثَّانِيَةَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ: «فَإِنْ عَاقَبْتَ فَعَاقِبْ بِقَدْرِ الذَّنْبِ وَاتَّقِ الْوَجْهَ»Seorang sahabat yang bernama Juz’un datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, terkadang istri atau anakku membuat aku marah. Dengan cara apa aku menghukum mereka?”. Beliau menjawab, “Maafkan!”. Dia mengulangi lagi ucapannya dua hingga tiga kali. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika memang engkau harus menjatuhkan hukuman, maka hukumlah sesuai dengan kadar kesalahan. Hindari wajah”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinyatakan dha’if oleh al-Albaniy.Tingkah anak-anak terkadang ada saja yang menjengkelkan dan memicu amarah orang tua. Oleh karena itu perlu kesabaran. Emosi orang tua tidak boleh terpicu oleh tingkah laku anak-anak. Apalagi mereka masih dalam masa pertumbuhan. Tidak mengetahui benar-salah secara mendalam. Sehingga memaafkan dan mengarahkan harus lebih dominan dibanding menghukum. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 R. Awwal 1440 / 3 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 121: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 122: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 2

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 122 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-2Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Kelima: Jumlah pukulannya tidak boleh berlebihanBukan hanya jenis pukulannya yang diatur, bahkan jumlah pukulan yang diperbolehkan pun diatur dalam Islam. Jika cukup dengan satu atau dua kali pukulan, maka tidak boleh lebih dari itu. Apabila terpaksa sekali, maka maksimal hanya sepuluh pukulan saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«لاَ يُجْلَدُ فَوْقَ عَشْرِ جَلَدَاتٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ»“Tidak boleh mencambuk lebih dari sepuluh cambukan. Kecuali dalam hudûd (dosa besar yang kadar hukumannya telah ditetapkan oleh agama)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu.Bila akan diterapkan pukulan berkali-kali, maka hendaklah menyebar dan tidak di satu tempat di tubuh. Misalnya sebagian di kaki kanan, sebagian di kaki kiri. Supaya tidak membahayakan. Juga jarak antara satu pukulan dengan pukulan berikutnya tidak terlalu dekat. Diperkirakan pukulan pertama sudah mereda efek sakitnya.Keenam: Pukulan disesuaikan dengan kadar kesalahanBerikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Hukuman ringan untuk kesalahan kecil, sedangkan hukuman berat untuk kesalahan fatal.Orang tua bisa diibaratkan seperti dokter. Memberikan dosis obat sesuai dengan level penyakit yang diderita pasien. Saat terpaksa menjatuhkan hukuman, orang tua juga harus mengukur kadar hukuman sesuai tingkat kesalahan anak.Dalam sebuah hadits dha’if disebutkan,أَنَّ رَجُلًا يُقَالُ لَهُ جُزْءٌ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَهْلِي يُغْضِبُونِي فَبِمَ أُعَاقِبُهُمْ؟ فَقَالَ: «تَعْفُو» ، ثُمَّ قَالَ: الثَّانِيَةَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ: «فَإِنْ عَاقَبْتَ فَعَاقِبْ بِقَدْرِ الذَّنْبِ وَاتَّقِ الْوَجْهَ»Seorang sahabat yang bernama Juz’un datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, terkadang istri atau anakku membuat aku marah. Dengan cara apa aku menghukum mereka?”. Beliau menjawab, “Maafkan!”. Dia mengulangi lagi ucapannya dua hingga tiga kali. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika memang engkau harus menjatuhkan hukuman, maka hukumlah sesuai dengan kadar kesalahan. Hindari wajah”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinyatakan dha’if oleh al-Albaniy.Tingkah anak-anak terkadang ada saja yang menjengkelkan dan memicu amarah orang tua. Oleh karena itu perlu kesabaran. Emosi orang tua tidak boleh terpicu oleh tingkah laku anak-anak. Apalagi mereka masih dalam masa pertumbuhan. Tidak mengetahui benar-salah secara mendalam. Sehingga memaafkan dan mengarahkan harus lebih dominan dibanding menghukum. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 R. Awwal 1440 / 3 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 121: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 122 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-2Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Kelima: Jumlah pukulannya tidak boleh berlebihanBukan hanya jenis pukulannya yang diatur, bahkan jumlah pukulan yang diperbolehkan pun diatur dalam Islam. Jika cukup dengan satu atau dua kali pukulan, maka tidak boleh lebih dari itu. Apabila terpaksa sekali, maka maksimal hanya sepuluh pukulan saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«لاَ يُجْلَدُ فَوْقَ عَشْرِ جَلَدَاتٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ»“Tidak boleh mencambuk lebih dari sepuluh cambukan. Kecuali dalam hudûd (dosa besar yang kadar hukumannya telah ditetapkan oleh agama)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu.Bila akan diterapkan pukulan berkali-kali, maka hendaklah menyebar dan tidak di satu tempat di tubuh. Misalnya sebagian di kaki kanan, sebagian di kaki kiri. Supaya tidak membahayakan. Juga jarak antara satu pukulan dengan pukulan berikutnya tidak terlalu dekat. Diperkirakan pukulan pertama sudah mereda efek sakitnya.Keenam: Pukulan disesuaikan dengan kadar kesalahanBerikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Hukuman ringan untuk kesalahan kecil, sedangkan hukuman berat untuk kesalahan fatal.Orang tua bisa diibaratkan seperti dokter. Memberikan dosis obat sesuai dengan level penyakit yang diderita pasien. Saat terpaksa menjatuhkan hukuman, orang tua juga harus mengukur kadar hukuman sesuai tingkat kesalahan anak.Dalam sebuah hadits dha’if disebutkan,أَنَّ رَجُلًا يُقَالُ لَهُ جُزْءٌ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَهْلِي يُغْضِبُونِي فَبِمَ أُعَاقِبُهُمْ؟ فَقَالَ: «تَعْفُو» ، ثُمَّ قَالَ: الثَّانِيَةَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ: «فَإِنْ عَاقَبْتَ فَعَاقِبْ بِقَدْرِ الذَّنْبِ وَاتَّقِ الْوَجْهَ»Seorang sahabat yang bernama Juz’un datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, terkadang istri atau anakku membuat aku marah. Dengan cara apa aku menghukum mereka?”. Beliau menjawab, “Maafkan!”. Dia mengulangi lagi ucapannya dua hingga tiga kali. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika memang engkau harus menjatuhkan hukuman, maka hukumlah sesuai dengan kadar kesalahan. Hindari wajah”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinyatakan dha’if oleh al-Albaniy.Tingkah anak-anak terkadang ada saja yang menjengkelkan dan memicu amarah orang tua. Oleh karena itu perlu kesabaran. Emosi orang tua tidak boleh terpicu oleh tingkah laku anak-anak. Apalagi mereka masih dalam masa pertumbuhan. Tidak mengetahui benar-salah secara mendalam. Sehingga memaafkan dan mengarahkan harus lebih dominan dibanding menghukum. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 R. Awwal 1440 / 3 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 121: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 122 MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bag-2Aturan memukul anak dalam Islam itu sangat ketat dan teramat detil. Bukan asal memukul. Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa aturan tersebut. Berikut kelanjutannya:Kelima: Jumlah pukulannya tidak boleh berlebihanBukan hanya jenis pukulannya yang diatur, bahkan jumlah pukulan yang diperbolehkan pun diatur dalam Islam. Jika cukup dengan satu atau dua kali pukulan, maka tidak boleh lebih dari itu. Apabila terpaksa sekali, maka maksimal hanya sepuluh pukulan saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«لاَ يُجْلَدُ فَوْقَ عَشْرِ جَلَدَاتٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ»“Tidak boleh mencambuk lebih dari sepuluh cambukan. Kecuali dalam hudûd (dosa besar yang kadar hukumannya telah ditetapkan oleh agama)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu.Bila akan diterapkan pukulan berkali-kali, maka hendaklah menyebar dan tidak di satu tempat di tubuh. Misalnya sebagian di kaki kanan, sebagian di kaki kiri. Supaya tidak membahayakan. Juga jarak antara satu pukulan dengan pukulan berikutnya tidak terlalu dekat. Diperkirakan pukulan pertama sudah mereda efek sakitnya.Keenam: Pukulan disesuaikan dengan kadar kesalahanBerikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Hukuman ringan untuk kesalahan kecil, sedangkan hukuman berat untuk kesalahan fatal.Orang tua bisa diibaratkan seperti dokter. Memberikan dosis obat sesuai dengan level penyakit yang diderita pasien. Saat terpaksa menjatuhkan hukuman, orang tua juga harus mengukur kadar hukuman sesuai tingkat kesalahan anak.Dalam sebuah hadits dha’if disebutkan,أَنَّ رَجُلًا يُقَالُ لَهُ جُزْءٌ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَهْلِي يُغْضِبُونِي فَبِمَ أُعَاقِبُهُمْ؟ فَقَالَ: «تَعْفُو» ، ثُمَّ قَالَ: الثَّانِيَةَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ: «فَإِنْ عَاقَبْتَ فَعَاقِبْ بِقَدْرِ الذَّنْبِ وَاتَّقِ الْوَجْهَ»Seorang sahabat yang bernama Juz’un datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, terkadang istri atau anakku membuat aku marah. Dengan cara apa aku menghukum mereka?”. Beliau menjawab, “Maafkan!”. Dia mengulangi lagi ucapannya dua hingga tiga kali. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika memang engkau harus menjatuhkan hukuman, maka hukumlah sesuai dengan kadar kesalahan. Hindari wajah”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinyatakan dha’if oleh al-Albaniy.Tingkah anak-anak terkadang ada saja yang menjengkelkan dan memicu amarah orang tua. Oleh karena itu perlu kesabaran. Emosi orang tua tidak boleh terpicu oleh tingkah laku anak-anak. Apalagi mereka masih dalam masa pertumbuhan. Tidak mengetahui benar-salah secara mendalam. Sehingga memaafkan dan mengarahkan harus lebih dominan dibanding menghukum. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 R. Awwal 1440 / 3 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 121: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 123: MEMUKUL ANAK ITU ADA ATURANNYA Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next