Rasa yang Berpahala

Setiap manusia hidup dengan perasaan yang berbeda-beda. Tingkat kepekaan dengan sesama, mudah tidaknya dia kecewa, benci dan cinta pada suatu perkara, dan lain sebagainya. Satu di antara hal yang terkadang terlupakan di antara kita, bahwa Allah Ta’ala tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada makna di balik apa yang Dia ciptakan. Begitu pula dengan rasa.Perasaan yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada kita adalah sebuah kenikmatan yang mestinya kita syukuri. Kita jadikan perasaan dalam dada untuk semakin mendekatkan diri kepada Nya. Bisakah? Sangat bisa.Mengenal apa itu ibadahJangan berpikir bahwa ibadah itu terbatas pada amalan badan semisal shalat dan puasa. Jangan berpikir pula bahwa ibadah itu terbatas pada amalan yang harus mengeluarkan uang semisal shadaqah dan zakat. Lantas apa saja yang termasuk ke dalam ibadah?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu menjelaskan,اَلْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة“Ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, baik yang tersembunyi ataupun yang tampak.” (Al ‘Ubudiyyah, 1: 130)Ibnul Qayyim rahimahullaahu menjelaskan,فَالْعُبُودِيَّةُ تَجْمَعُ كَمَالَ الْحُبِّ فِي كَمَالِ الذُّلِّ، وَكَمَالَ الِانْقِيَادِ لِمَرَاضِي الْمَحْبُوبِ وَأَوَامِرِهِ، فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَيْسَ فَوْقَهَا غَايَة“Peribadahan itu menghimpun rasa cinta yang sempurna, dalam perendahan diri dan ketundukan yang sempurna pula, untuk mendapatkan ridha Allah serta ketundukan terhadap perintah Nya. Ini adalah puncak dari tujuan tertinggi.” (Madarijus Salikin, 3: 409)Baca Juga: Bagaimana Cara Ibadah Orang yang Mengubah Jenis Kelaminnya?Segala sesuatu yang Allah Ta’ala cintai merupakan suatu ibadah. Sesuatu yang dicintai oleh Allah Ta’ala dapat diidentifikasi dengan beberapa cara. Misalnya, Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut, memuji pelakunya, mengabarkan bahwa orang yang melakukannya berada dalam keridhaan-Nya, diberikan pahala atasnya, atau dengan janji berupa limpahan ganjaran dari Nya. (Tajriidut Tauhid, hal. 14)Shalat dan menunaikan zakat merupakan ibadah karena Allah Ta’ala mencintai amalan tersebut. Bukti bahwa Allah Ta’ala mencintainya adalah adanya perintah untuk shalat dan zakat. Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan hamba melakukan sesuatu yang tidak dicintai-Nya.وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al–Baqarah: 43)Berucap yang baik juga merupakan suatu ibadah karena Allah Ta’ala memerintahkannya dan menjelaskan bahwa bertutur yang baik adalah salah satu sebab selamat dari neraka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya, maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016)Baca Juga: Kontinyu dalam Menjaga Amal Ibadah SunnahBerbagi rasa itu ibadahSelain amalan anggota badan dan ucapan lisan, ibadah juga mencakup amalan hati. Rasa takut, harap dan cinta bisa menjadi suatu ibadah apabila karena Allah Ta’ala. Begitu pula dengan tawakal, khusyu’ dan penyesalan terhadap maksiat juga termasuk ke dalam ibadah. Di antara bukti bahwa rasa takut kepada Allah Ta’ala merupakan suatu ibadah adalah firman Allah Ta’ala,اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al–Mulk: 12)Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala memberikan kabar bahwa orang yang takut kepada Allah Ta’ala akan diberikan ampunan dan pahala yang besar. Allah Ta’ala tidak akan memberikannya kepada orang yang tidak dicintai-Nya. Rasa takut kepada Allah Ta’ala ini merupakan hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala, sehingga hal ini termasuk ibadah.Contoh lain adalah tawakkal. Tawakkal merupakan bentuk ibadah kepada Allah karena Allah Ta’ala berjanji bahwa barangsiapa yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan mencukupinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath–Thalaq: 2)Allah Ta’ala akan memberikan balasan berupa kecukupan hanya kepada hamba yang melakukan amalan yang Dia cintai. Sehingga tawakkal merupakan ibadah karena dicintai oleh Allah Ta’ala.Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim rahimahullahu menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan keutamaan rasa tawakkal kepada Allah Ta’ala. Tidak ada penyebutan secara khusus terhadap sebuah ibadah dari berbagai macam ibadah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan redaksi “niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” kecuali ibadah berupa tawakkal ini. Hal ini menunjukkan agungnya ibadah tawakal dan keutamannya. (Taisiirul Wushul, hal. 90)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa istiqamah dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan keadaan, baik dengan amalan hati, ucapan, maupun amal perbuatan.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Rasa yang Berpahala

Setiap manusia hidup dengan perasaan yang berbeda-beda. Tingkat kepekaan dengan sesama, mudah tidaknya dia kecewa, benci dan cinta pada suatu perkara, dan lain sebagainya. Satu di antara hal yang terkadang terlupakan di antara kita, bahwa Allah Ta’ala tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada makna di balik apa yang Dia ciptakan. Begitu pula dengan rasa.Perasaan yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada kita adalah sebuah kenikmatan yang mestinya kita syukuri. Kita jadikan perasaan dalam dada untuk semakin mendekatkan diri kepada Nya. Bisakah? Sangat bisa.Mengenal apa itu ibadahJangan berpikir bahwa ibadah itu terbatas pada amalan badan semisal shalat dan puasa. Jangan berpikir pula bahwa ibadah itu terbatas pada amalan yang harus mengeluarkan uang semisal shadaqah dan zakat. Lantas apa saja yang termasuk ke dalam ibadah?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu menjelaskan,اَلْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة“Ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, baik yang tersembunyi ataupun yang tampak.” (Al ‘Ubudiyyah, 1: 130)Ibnul Qayyim rahimahullaahu menjelaskan,فَالْعُبُودِيَّةُ تَجْمَعُ كَمَالَ الْحُبِّ فِي كَمَالِ الذُّلِّ، وَكَمَالَ الِانْقِيَادِ لِمَرَاضِي الْمَحْبُوبِ وَأَوَامِرِهِ، فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَيْسَ فَوْقَهَا غَايَة“Peribadahan itu menghimpun rasa cinta yang sempurna, dalam perendahan diri dan ketundukan yang sempurna pula, untuk mendapatkan ridha Allah serta ketundukan terhadap perintah Nya. Ini adalah puncak dari tujuan tertinggi.” (Madarijus Salikin, 3: 409)Baca Juga: Bagaimana Cara Ibadah Orang yang Mengubah Jenis Kelaminnya?Segala sesuatu yang Allah Ta’ala cintai merupakan suatu ibadah. Sesuatu yang dicintai oleh Allah Ta’ala dapat diidentifikasi dengan beberapa cara. Misalnya, Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut, memuji pelakunya, mengabarkan bahwa orang yang melakukannya berada dalam keridhaan-Nya, diberikan pahala atasnya, atau dengan janji berupa limpahan ganjaran dari Nya. (Tajriidut Tauhid, hal. 14)Shalat dan menunaikan zakat merupakan ibadah karena Allah Ta’ala mencintai amalan tersebut. Bukti bahwa Allah Ta’ala mencintainya adalah adanya perintah untuk shalat dan zakat. Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan hamba melakukan sesuatu yang tidak dicintai-Nya.وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al–Baqarah: 43)Berucap yang baik juga merupakan suatu ibadah karena Allah Ta’ala memerintahkannya dan menjelaskan bahwa bertutur yang baik adalah salah satu sebab selamat dari neraka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya, maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016)Baca Juga: Kontinyu dalam Menjaga Amal Ibadah SunnahBerbagi rasa itu ibadahSelain amalan anggota badan dan ucapan lisan, ibadah juga mencakup amalan hati. Rasa takut, harap dan cinta bisa menjadi suatu ibadah apabila karena Allah Ta’ala. Begitu pula dengan tawakal, khusyu’ dan penyesalan terhadap maksiat juga termasuk ke dalam ibadah. Di antara bukti bahwa rasa takut kepada Allah Ta’ala merupakan suatu ibadah adalah firman Allah Ta’ala,اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al–Mulk: 12)Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala memberikan kabar bahwa orang yang takut kepada Allah Ta’ala akan diberikan ampunan dan pahala yang besar. Allah Ta’ala tidak akan memberikannya kepada orang yang tidak dicintai-Nya. Rasa takut kepada Allah Ta’ala ini merupakan hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala, sehingga hal ini termasuk ibadah.Contoh lain adalah tawakkal. Tawakkal merupakan bentuk ibadah kepada Allah karena Allah Ta’ala berjanji bahwa barangsiapa yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan mencukupinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath–Thalaq: 2)Allah Ta’ala akan memberikan balasan berupa kecukupan hanya kepada hamba yang melakukan amalan yang Dia cintai. Sehingga tawakkal merupakan ibadah karena dicintai oleh Allah Ta’ala.Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim rahimahullahu menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan keutamaan rasa tawakkal kepada Allah Ta’ala. Tidak ada penyebutan secara khusus terhadap sebuah ibadah dari berbagai macam ibadah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan redaksi “niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” kecuali ibadah berupa tawakkal ini. Hal ini menunjukkan agungnya ibadah tawakal dan keutamannya. (Taisiirul Wushul, hal. 90)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa istiqamah dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan keadaan, baik dengan amalan hati, ucapan, maupun amal perbuatan.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Setiap manusia hidup dengan perasaan yang berbeda-beda. Tingkat kepekaan dengan sesama, mudah tidaknya dia kecewa, benci dan cinta pada suatu perkara, dan lain sebagainya. Satu di antara hal yang terkadang terlupakan di antara kita, bahwa Allah Ta’ala tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada makna di balik apa yang Dia ciptakan. Begitu pula dengan rasa.Perasaan yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada kita adalah sebuah kenikmatan yang mestinya kita syukuri. Kita jadikan perasaan dalam dada untuk semakin mendekatkan diri kepada Nya. Bisakah? Sangat bisa.Mengenal apa itu ibadahJangan berpikir bahwa ibadah itu terbatas pada amalan badan semisal shalat dan puasa. Jangan berpikir pula bahwa ibadah itu terbatas pada amalan yang harus mengeluarkan uang semisal shadaqah dan zakat. Lantas apa saja yang termasuk ke dalam ibadah?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu menjelaskan,اَلْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة“Ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, baik yang tersembunyi ataupun yang tampak.” (Al ‘Ubudiyyah, 1: 130)Ibnul Qayyim rahimahullaahu menjelaskan,فَالْعُبُودِيَّةُ تَجْمَعُ كَمَالَ الْحُبِّ فِي كَمَالِ الذُّلِّ، وَكَمَالَ الِانْقِيَادِ لِمَرَاضِي الْمَحْبُوبِ وَأَوَامِرِهِ، فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَيْسَ فَوْقَهَا غَايَة“Peribadahan itu menghimpun rasa cinta yang sempurna, dalam perendahan diri dan ketundukan yang sempurna pula, untuk mendapatkan ridha Allah serta ketundukan terhadap perintah Nya. Ini adalah puncak dari tujuan tertinggi.” (Madarijus Salikin, 3: 409)Baca Juga: Bagaimana Cara Ibadah Orang yang Mengubah Jenis Kelaminnya?Segala sesuatu yang Allah Ta’ala cintai merupakan suatu ibadah. Sesuatu yang dicintai oleh Allah Ta’ala dapat diidentifikasi dengan beberapa cara. Misalnya, Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut, memuji pelakunya, mengabarkan bahwa orang yang melakukannya berada dalam keridhaan-Nya, diberikan pahala atasnya, atau dengan janji berupa limpahan ganjaran dari Nya. (Tajriidut Tauhid, hal. 14)Shalat dan menunaikan zakat merupakan ibadah karena Allah Ta’ala mencintai amalan tersebut. Bukti bahwa Allah Ta’ala mencintainya adalah adanya perintah untuk shalat dan zakat. Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan hamba melakukan sesuatu yang tidak dicintai-Nya.وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al–Baqarah: 43)Berucap yang baik juga merupakan suatu ibadah karena Allah Ta’ala memerintahkannya dan menjelaskan bahwa bertutur yang baik adalah salah satu sebab selamat dari neraka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya, maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016)Baca Juga: Kontinyu dalam Menjaga Amal Ibadah SunnahBerbagi rasa itu ibadahSelain amalan anggota badan dan ucapan lisan, ibadah juga mencakup amalan hati. Rasa takut, harap dan cinta bisa menjadi suatu ibadah apabila karena Allah Ta’ala. Begitu pula dengan tawakal, khusyu’ dan penyesalan terhadap maksiat juga termasuk ke dalam ibadah. Di antara bukti bahwa rasa takut kepada Allah Ta’ala merupakan suatu ibadah adalah firman Allah Ta’ala,اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al–Mulk: 12)Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala memberikan kabar bahwa orang yang takut kepada Allah Ta’ala akan diberikan ampunan dan pahala yang besar. Allah Ta’ala tidak akan memberikannya kepada orang yang tidak dicintai-Nya. Rasa takut kepada Allah Ta’ala ini merupakan hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala, sehingga hal ini termasuk ibadah.Contoh lain adalah tawakkal. Tawakkal merupakan bentuk ibadah kepada Allah karena Allah Ta’ala berjanji bahwa barangsiapa yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan mencukupinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath–Thalaq: 2)Allah Ta’ala akan memberikan balasan berupa kecukupan hanya kepada hamba yang melakukan amalan yang Dia cintai. Sehingga tawakkal merupakan ibadah karena dicintai oleh Allah Ta’ala.Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim rahimahullahu menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan keutamaan rasa tawakkal kepada Allah Ta’ala. Tidak ada penyebutan secara khusus terhadap sebuah ibadah dari berbagai macam ibadah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan redaksi “niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” kecuali ibadah berupa tawakkal ini. Hal ini menunjukkan agungnya ibadah tawakal dan keutamannya. (Taisiirul Wushul, hal. 90)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa istiqamah dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan keadaan, baik dengan amalan hati, ucapan, maupun amal perbuatan.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Setiap manusia hidup dengan perasaan yang berbeda-beda. Tingkat kepekaan dengan sesama, mudah tidaknya dia kecewa, benci dan cinta pada suatu perkara, dan lain sebagainya. Satu di antara hal yang terkadang terlupakan di antara kita, bahwa Allah Ta’ala tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Ada makna di balik apa yang Dia ciptakan. Begitu pula dengan rasa.Perasaan yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada kita adalah sebuah kenikmatan yang mestinya kita syukuri. Kita jadikan perasaan dalam dada untuk semakin mendekatkan diri kepada Nya. Bisakah? Sangat bisa.Mengenal apa itu ibadahJangan berpikir bahwa ibadah itu terbatas pada amalan badan semisal shalat dan puasa. Jangan berpikir pula bahwa ibadah itu terbatas pada amalan yang harus mengeluarkan uang semisal shadaqah dan zakat. Lantas apa saja yang termasuk ke dalam ibadah?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu menjelaskan,اَلْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة“Ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, baik yang tersembunyi ataupun yang tampak.” (Al ‘Ubudiyyah, 1: 130)Ibnul Qayyim rahimahullaahu menjelaskan,فَالْعُبُودِيَّةُ تَجْمَعُ كَمَالَ الْحُبِّ فِي كَمَالِ الذُّلِّ، وَكَمَالَ الِانْقِيَادِ لِمَرَاضِي الْمَحْبُوبِ وَأَوَامِرِهِ، فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَيْسَ فَوْقَهَا غَايَة“Peribadahan itu menghimpun rasa cinta yang sempurna, dalam perendahan diri dan ketundukan yang sempurna pula, untuk mendapatkan ridha Allah serta ketundukan terhadap perintah Nya. Ini adalah puncak dari tujuan tertinggi.” (Madarijus Salikin, 3: 409)Baca Juga: Bagaimana Cara Ibadah Orang yang Mengubah Jenis Kelaminnya?Segala sesuatu yang Allah Ta’ala cintai merupakan suatu ibadah. Sesuatu yang dicintai oleh Allah Ta’ala dapat diidentifikasi dengan beberapa cara. Misalnya, Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut, memuji pelakunya, mengabarkan bahwa orang yang melakukannya berada dalam keridhaan-Nya, diberikan pahala atasnya, atau dengan janji berupa limpahan ganjaran dari Nya. (Tajriidut Tauhid, hal. 14)Shalat dan menunaikan zakat merupakan ibadah karena Allah Ta’ala mencintai amalan tersebut. Bukti bahwa Allah Ta’ala mencintainya adalah adanya perintah untuk shalat dan zakat. Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan hamba melakukan sesuatu yang tidak dicintai-Nya.وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al–Baqarah: 43)Berucap yang baik juga merupakan suatu ibadah karena Allah Ta’ala memerintahkannya dan menjelaskan bahwa bertutur yang baik adalah salah satu sebab selamat dari neraka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya, maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016)Baca Juga: Kontinyu dalam Menjaga Amal Ibadah SunnahBerbagi rasa itu ibadahSelain amalan anggota badan dan ucapan lisan, ibadah juga mencakup amalan hati. Rasa takut, harap dan cinta bisa menjadi suatu ibadah apabila karena Allah Ta’ala. Begitu pula dengan tawakal, khusyu’ dan penyesalan terhadap maksiat juga termasuk ke dalam ibadah. Di antara bukti bahwa rasa takut kepada Allah Ta’ala merupakan suatu ibadah adalah firman Allah Ta’ala,اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al–Mulk: 12)Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala memberikan kabar bahwa orang yang takut kepada Allah Ta’ala akan diberikan ampunan dan pahala yang besar. Allah Ta’ala tidak akan memberikannya kepada orang yang tidak dicintai-Nya. Rasa takut kepada Allah Ta’ala ini merupakan hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala, sehingga hal ini termasuk ibadah.Contoh lain adalah tawakkal. Tawakkal merupakan bentuk ibadah kepada Allah karena Allah Ta’ala berjanji bahwa barangsiapa yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan mencukupinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath–Thalaq: 2)Allah Ta’ala akan memberikan balasan berupa kecukupan hanya kepada hamba yang melakukan amalan yang Dia cintai. Sehingga tawakkal merupakan ibadah karena dicintai oleh Allah Ta’ala.Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim rahimahullahu menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan keutamaan rasa tawakkal kepada Allah Ta’ala. Tidak ada penyebutan secara khusus terhadap sebuah ibadah dari berbagai macam ibadah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan redaksi “niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” kecuali ibadah berupa tawakkal ini. Hal ini menunjukkan agungnya ibadah tawakal dan keutamannya. (Taisiirul Wushul, hal. 90)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa istiqamah dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan keadaan, baik dengan amalan hati, ucapan, maupun amal perbuatan.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Obat Kuat

‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Obat Kuat

‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA

DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA

DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tafsir Surat Al-Balad – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.

Tafsir Surat Al-Balad – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.
Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.


Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.

Surat Al-Fajr – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)

Surat Al-Fajr – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)
Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)


Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)

Tafsir Surat Al-A’la – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al-A’laOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat ini adalah surat yang istimewa karena banyak dihafalkan oleh kaum muslimin dan dan sering dilantunkan oleh para imam. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan surat ini, bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai surat Al-A’la.Ali bin Abi Tholib berkataكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى‘’Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam mencintai surat ini yaitu sabbihisma Rabbikal A’laa’’ (HR Ahmad no 742 akan tetapi sanadnya lemah)Diantara keutamaan surat Al-A’la adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan surat Al-A’la sebagai surat yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat witirnya pada rakaat pertama.Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata :«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ»‘’Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat witir dengan membaca Sabbihisma Rabbikal A’la dan Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, dan Qul Huwallahu Ahad’’ (HR Ibnu Majah no 1171, Abu Dawud no 1423. Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam al-Musnad no 15355 dan at-Tirmidzi no 462)Dimana shalat witir itu sendiri merupakan shalat yang sangat mulia, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwasanya shalat witir itu hukumnya wajib, meskipun yang benar adalah tidak wajib melainkan sunnah muakkadah yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat witir baik ketika mukim atau sedang bersafar.Sampai-sampai Al-Imam Ahmad pernah berkata :مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْدًا فَهُوَ رَجُلُ سَوْءٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ‘’Siapa yang meninggalkan sholat witir dengan sengaja makai a adalah seorang yang buruk, tidak pantas untuk diterima syahadah/persaksiannya’’ (al-Mughni 2/118)Seorang lelaki yang tidak shalat witir padahal dia mengetahui keutamaannya dan bagaimana cintanya Nabi terhadap shalat witir hingga beliau tidak pernah meninggalkannya, lantas dia meninggalkannya, dinilai sebagai seorang lelaki yang buruk.Diantara keutamaan lainnya, surat Al-A’la bersama dengan surat Al-Ghasyiyah selalu dibaca oleh Nabi dalam shalat-shalat ‘Ied, demikian juga dalam shalat Jumat.An-Nu’maan bin Basyiir berkata :«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ»‘’Adalah Rasulullah tatkala sholat ‘ied (‘iedul fithri dan ‘iedu adha) dan sholat Jum’at beliau membaca Sabbihisma Rabbikal A’laa dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghoosyiah’’. An-Nu’man berkata, ‘’Dan jika berkumpul antara ‘ied dan Jum’at dalam satu hari maka Nabi membaca kedua surat tersebut juga pada dua sholat tersebut (sholat ‘ied dan sholat Jum’at)’’ (HR Muslim no 878)Ini menunjukkan keutamaan dua surat ini, dipilih oleh Nabi untuk dibaca ketika kaum muslimin sedang berkumpul.  Hal ini tidak lain karena kandungan kedua surat ini yang sangat penting untuk didengar oleh kaum muslimin tatkala mereka sedang berkumpul.Dan kita tahu bahwasanya hari raya milik kaum muslimin adalah hari raya yang istimewa, tidak sama dengan hari raya umat-umat lain yang isinya hanya hura-hura dan lupa dengan akhirat. Berbeda dengan hari raya kaum muslimin, seperti idul adha yang didahului dengan ibadah haji dan idul fitri yang didahului dengan puasa ramadhan, semua didahului dengan ibadah. Kemudian kedua hari raya tersebut dibuka dengan sholat sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka sungguh Indah hari raya kaum muslimin.Kemudian diantara hadist lain yang menyebutkan tentang surat Al-A’la adalah kisah masyhur tentang Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang terlalu panjang bacaannya tatkala beliau menjadi imam. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الْأَنْصَارِيُّ لِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ. فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا. فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ: إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ؟ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى»“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adzpun berkata, ‘’Sesungguhnya ia seorang munafik’’. Tatkala perkataan Mu’adz sampai kepada orang tersebut maka iapun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465)Hadist ini juga menunjukkan bahwa seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya. Tidak boleh sesuka hatinya memanjangkan shalatnya, karena boleh jadi makmumnya banyak kebutuhan, atau ada yang sakit atau ada udzur-udzur yang lainnya. Demikian juga sebagian imam memanjangkan dzikirnya yang mana dilakukan secara berjamaah -bahkan dzikirnya lebih Panjang dari sholatnya itu sendiri-, sehingga para makmumnya merasa sungkan untuk meninggalkannya meskipun punya banyak urusan, karena merasa dirinya wajib ikut dalam dzikir berjamaah tersebut. Padahal tidak demikian sunnah Nabi. Imam Asy-Syafii juga memilih pendapat bahwasanya dzikir yang disunnahkan adalah dzikir yang sendiri-sendiri. (lihat Al-Umm karya Imam Syafi’i 2/288).Imam Asy-Syafii juga menyatakan jika ada hadist-hadist Nabi yang menunjukkan bahwa apabila terkadang dzikir Nabi keras maka maksud Nabi adalah ingin mengajarkan dzikir tersebut kepada para sahabatnya. Sehingga apabila para makmum telah mengerti tata cara dzikir yang sesuai sunnah, maka hendaknya mereka dzikir sendiri-sendiri. (lihat kitab al-Umm 2/289). Dan pendapat Imam Asy-Syafi’i ini juga dipilih oleh Imam An-Nawawi (lihat Al-Majmuu’ 3/468-469) dan Ibnu Hajar al-Haitami (lihat Al-Fataawaa al-Fiqhiyyah al-Kubro 1/157-158)Ini lebih memudahkan mereka apabila ingin segera menunaikan kebutuhannya. Jika shalat yang terlalu lama saja ditegur oleh Nabi, maka lebih-lebih dzikir yang dilakukan secara berjamaah yang membuat orang-orang tidak bisa segera menunaikan kebutuhannya karena merasa wajib ikut dzikir berjamaah tersebut. Oleh karena itu, seseorang hendaknya berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bis showab.Terdapat khilaf diantara para ulama apakah surat Al-A’la adalah surat makiyyah atau surat madaniyah. Sebagian ulama berpendapat bahwasanya surat Al-A’la adalah surat madaniyah karena di dalamnya disebutkan tentang masalah zakat dan juga shalat. Allah berfirman dalam surat Al-A’la:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ (15)“(14) Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman); (15) Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS Al-A’la : 14-15)Sebagian ahli tafsir menafsirkan kata tazakka dengan membayar zakat fitri, kemudian fashalla dengan shalat id, sehingga ini menunjukkan bahwasanya surat ini madaniyyah karena zakat fitri dan salat id tidaklah di syariatkan kecuali di Madinah. Ini adalah pendapat Ad-Dhohaak (lihat Tafsir al-Qurthubi 13/20 dan At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/271). Namun pendapat jumhur ulama ahli tafsir menyatakan bahwasanya surat Al-A’la adalah surat makiyyah, diturunkan sebelum Nabi berhijrah ke kota Madinah. Hal ini sangat jelas ditunjukkan dalam shahih Bukhari. Dari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata:أَوَّلُ مَنْ قَدِمَ عَلَيْنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ، وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَجَعَلاَ يُقْرِئَانِنَا القُرْآنَ، ثُمَّ جَاءَ عَمَّارٌ، وَبِلاَلٌ، وَسَعْدٌ ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فِي عِشْرِينَ ثُمَّ ” جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْتُ أَهْلَ المَدِينَةِ فَرِحُوا بِشَيْءٍ، فَرَحَهُمْ بِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الوَلاَئِدَ وَالصِّبْيَانَ، يَقُولُونَ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَ فَمَا جَاءَ، حَتَّى قَرَأْتُ: {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] فِي سُوَرٍ مِثْلِهَا ““Orang pertama dari para sahabat yang datang ke kota Madinah ialah Mus’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Kedua orang inilah yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami. Kemudian menyusul Ammar bin Yasir, Bilal, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Umar bin al-Khaththab bersama kafilah yang terdiri dari dua puluh orang. Setelah itu, barulah Rasulullah saw datang menyusul. Saya belum pernah melihat banyak orang bergembira seperti saat mereka menyambut kedatangan beliau, sehingga kaum wanita, anak-anak, dan para hamba sahaya perempuan bersorak-sorai meneriakkan, “Itulah dia, Rasulullah saw telah datang.” Sampai aku membaca sabbihisma rabbikal a’la dan beberapa surat yang semisal surat tersebut.” (HR Bukhari no. 4941)Ini dalil bahwasanya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota madinah ternyata Musa bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum telah mengajarkan surat Al-A’la yang menunjukkan bahwasanya surat sabbihisma rabbikal a’la adalah surat makiyyah yang diturunkan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. (lihat Tafsir Ibnu Katsiir 8/370). Sebagian ulama menggabungkan dua pendapat di atas dan menyatakan bahwa surat al-A’la adalah surat Makkiyah akan tetapi sebagian ayatnya adalah Madaniyah, yaitu ayat yang berkaitan dengan zakat dan sholat ‘ied (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/271)Allah berfirman pada permulaan surat:سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى“Sucikanlah namu Tuhanmu Yang Maha Tinggi”سَبِّحِ dalam bahasa arab diambil dari kata تَسْبِيْحٌ artinya mensucikan. Ada banyak kata ‘mensucikan’ di dalam Al-Quran dengan berbagai shighah seperti bentuk fi’il mudhari’ يُسَبِّحُ, bentuk fi’il amr سَبِّحْ, bentuk fi’il madhi سَبَّحَ, bentuk isim masdar سُبْحَانَ, semuanya dalam rangka untuk mensucikan Allah. Hal ini karena Allah adalah Dzat yang berhak untuk disucikan dari perkataan mulhidin. Sebab ada banyak perkataan-perkataan atau aqidah-aqidah yang batil tentang Allah sehingga Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Misalnya ketika Allah dituduh memiliki anak, maka Allah mengatakan سُبْحَانَ.Diantara hal-hal yang tidak pantas bagi Allah adalah mensifati Allah dengan sifat-sifat yang kurang seperti cacat, buta, tuli, bisu, atau Allah punya anak, Allah punya istri, semua ini adalah sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Jika kita membuka buku-buku seperti al-Kitab maka kita akan mendapati sifat-sifat yang menunjukkan kerendahan Allah, seperti Allah itu menangis, Allah bisa menyesal dan hatinya pilu/sedih, Allah menyesal telah menciptakan manusia (lihat al-Kitab, Kejadian 6 ayat 6-7), Allah menyesal karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatnya (lihat al-Kitab, Keluaran 32 ayat 14). Allah menyesal menjadikan Saul raja atas Isra’il (lihat Al-Kitab Samuel 1 : 15 ayat 35). Disebutkan juga bahwa Allah mencari-cari Nabi Adam yang bersembunyi (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 9-10), Allah juga tidak tahu ternyata Nabi Adam dan Hawwa telah memakan buah yang dilarang (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 11). Disebutkan juga Allah istirahat karena letih setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sehingga hari ke tujuh Allah istirahat. (lihat al-Kitab, Kejadian 2 ayat 2). Yang lebih parah disebutkan bahwa Allah bergulat dengan Nabi Ya’qub dan akhirnya Ya’qub yang menang (lihat Al-Kitab, Kejadian 32 ayat 22-28 dan Hosea 12 ayat 2-4). Hal-hal seperti ini mustahil didapati di dalam Al-Quran, justru di dalam Al-Quran Allah berulang-ulang menyuruh untuk mensucikan-Nya sebagaimana dalam banyak ayat.Diantara hal yang perlu kita sucikan dari Allah adalah menyamakan Allah dengan makhluk. Memang benar bahwasanya beberapa sifat Allah sama dengan sifat-sifat makhluk dalam penamaan. Akan tetapi meskipun namanya sama tapi hakikatnya berbeda. Allah berfirman:لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)Allah mendengar dan juga melihat, akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah berbeda dengan makhluk. Penglihatan manusia sangat terbatas, begitupun pendengarannya, apabila ada lima orang yang berbicara secara bersamaan niscaya dia tidak akan bisa konsentrasi mendengarkannya. Berbeda dengan penglihatan dan pendengaran Allah, pendengaran Allah meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, demikian juga penglihatan dan ilmunya. Manusia berilmu, Allah juga berilmu, akan tetapi ilmu Allah tidak bisa dibandingkan dengan ilmu manusia yang penuh dengan kekurangan. Sesuatu yang melekat di dalam manusia saja, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui hakikatnya, yaitu ruh. Seandainya ada seribu orang yang  berbicara tentang ruh, maka akan ada seribu penafsiran tentangnya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidak diberikan pengetahuan kecuali sangat sedikit.” (QS Al-Isra’ :  85)Oleh karena itu, tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya sifat Allah sama hakikatnya dengan sifat manusia, meskipun namanya sama. Contoh lain Allah punya tangan, maka tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya tangan Allah sama seperti tangan manusia, karena itu tidak mungkin. Allah berfirman:وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamatm dan langit akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Az-Zumar : 67)Dan kaidah ini berlaku untuk seluruh sifat-sifat Allah, barangsiapa yang menyamakan antara sifat Allah dengan sifat makhluk maka telah terjerumus dalam kesyirikan. Inilah makna dari ayat ini, yaitu agar kita menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah dan dari penyamaan antara sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.Kemudian dari ayat ini kita mengetahui bahwa diantara sifat Allah adalah Maha Tinggi, ada banyak dalil-dalil yang menunjukkan ke-MahaTinggi-an Allah. Allah Maha Tinggi dalam tiga perkara; Pertama, Allah Maha Tinggi sifat-sifat-Nya yaitu sifat-sifat Allah semuanya adalah sifat-sifat yang sempurna; Kedua, Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya; Ketiga Dzat Allah Maha Tinggi.Semua umat islam sepakat bahwasanya sifat-sifat Allah adalah sifat yang tinggi, begitupun semua sepakat bahwasanya tidak ada satu makhluk pun yang menyamai ketinggian Allah. Namun dalam masalah ketinggian Dzat, di tengah kaum muslimin telah terjadi penyimpangan. Sebagian kaum muslimin sampai sekarang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Padahal pendapat ini sudah dibantah oleh Imam Ahmad beratus-ratus tahun yang lalu di dalam kitabnya Ar-Radd ‘alal Jahmiyah waz zanaadiqoh, karena kelaziman bahwasanya Allah ada di mana-mana sangat berbahaya. Bahwasanya Allah ada di kamar mandi, Allah di dalam perut hewan, Allah juga di dalam perut kita, Maha Suci Allah dari pendapat bathil seperti ini. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.Sebagian ada yang mengatakan bahwasanya Allah tidak di atas tidak pula di bawah, sebagaimana perkataan orang-orang filsafat. Lantas Allah itu dimana jika tidak di atas tidak pula di bawah, keyakinan seperti ini akan berkonsekuensi bahwa Allah itu tidak ada. Allah Maha Suci dari anggapan seperti itu. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risalah ila ahlits tsaghr telah menyebutkan bahwasanya para sahabat telah ijma’ (sepakat) Allah berada di atas ‘Arsy. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist Nabi.Keyakinan bahwasanya Allah berada di atas adalah fitrah manusia. Karenanya kita dapati semua manusia jika berdoa maka tangannya pasti menengadah ke atas. Seandainya Allah berada di mana-mana maka tangannya juga akan ke mana-mana. Demikian kita dapati semua orang kalau menghadapi permasalahan yang berat mereka berkata, ‘’Kita serahkan kepada Yang di atas’’.Pendapat yang mengatakan Allah ada di mana-mana atau Allah tidak di atas dan tidak di bawah dan tidak dimana-mana juga secara tidak langsung mengingkari mukjizat Isra’ Mi’raj. Karena ketika Nabi shalallahu’alayhi wa sallam menjalani peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau dibawa ke atas langit ketujuh untuk bertemu dengan Allah Rabbul ‘Aalamin. Oleh karena itu, sebagian ulama Syafi’iyyah memberi perhatian khusus tentang masalah ini, diantaranya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar yang sekarang tercetak menjadi 2 jilid. Dalam buku tersebut disebutkan seluruh perkataan ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman beliau tentang Allah berada di atas.Keyakinan bahwa Allah tidak berada di atas akan menjerumuskan manusia dalam pemahaman yang batil. Contohnya meyakini bahwasanya Allah berada dimana-mana. Atau sebagiannya meyakini bahwasanya Allah bisa bersatu dengan makhluk yang dikenal dengan istilah aqidah wihdatul wujud atau manunggal ing kawula gusti. Ini adalah aqidah yang batil, sama seperti aqidah trinitas yang meyakini Allah bersatu dengan Nabi Isa. Pendapat-pendapat seperti ini merupakan kekufuran. Terlalu banyak dalil yang menunjukkan Allah berada di atas ‘Arsy. Allah berfirman tentang Nabi Isa:بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ“Tetapi Allah mengangkat (ke atas) Nabi Isa menuju Allah” (QS An-Nisa’ : 158)Allah juga berfirman:إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya.” (QS Fathir : 10)Dan terlalu banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan Allah itu di atas.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya)”Allah telah menciptakan seluruh makhluk dan sungguh Allah telah menyempurnakan penciptaan-penciptaan-Nya. Sehingga dapat kita saksikan ciptaan-ciptaan Allah yang sungguh indah dan menakjubkan. Apabila kita memperhatikan penciptaan manusia saja, kita akan jumpai bentuk dan susunan yang luar biasa. Begitupun dengan makhluk-makhluk yang lain, Allah menciptakan dan menyempurnakannya sesuai dengan kondisi masing-masing makhluk.Ibnu Katsir berkata :سَوَّى كُلَّ مَخْلُوْقٍ فِي أَحْسَنِ الْهَيْئَاتِ“Allah telah menyempurnakan seluruh makhluk dalam bentuk yang terindah” (Tafsir Ibnu Katsir 8/372)Dan telah lalu tafsir firman Allah :الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ“yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan penciptaanmu seimbang” (QS Al-Infithoor : 7)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”فَهَدَىٰ “memberi petunjuk”, yang dimaksud dengan petunjuk disini adalah hidayah kauniyah yaitu Allah memberi hidayah sesuai dengan kebutuhan makhluk tersebut. Oleh karena itu, banyak tabiat-tabiat atau fitrah-fitrah yang telah ada dalam diri setiap makhluk. Seperti ketika seekor kambing melahirkan anaknya, maka siapa yang mengajari anaknya tersebut untuk mencari puting ibunya, dia belum pernah belajar dan belum pernah ada yang mengajarinya, ibunya juga tidak mendekat-dekatkan putingnya kepada anaknya. Namun tiba-tiba saja anaknya dengan fitrahnya mencari sendiri puting susu ibunya kemudian mengisapnya. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali atas campur tangan Allah.Dan banyak perkataan para salaf tentang hidayah kauniyah ini, diantaranya :Allah memberi hidayah (petunjuk/insting) kepada para hewan untuk mencari tempat menggembalanyaAllah memberi petunjuk bagaimana seekor jantan mendatangi betina, meskipun tidak ada yang mengajarkannyaAllah mentaqdirkan rizki dan memberi petunjuk bagaimana cara mencari rizkiAllah menciptakan banyak manfaat pada benda-benda, lalu Allah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana cara mengeluarkan manfaat tersebut (lihat Tafsir al-Baghowi 8/400)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ“Dan Yang menumbuhkan rerumputan” Yaitu Allah menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan dengan berbagai macamnya, yang hijau, yang merah, kuning, dan putih (lihat Tafsir At-Thobari 24/312 dan Tafsir al-Baghowi 8/400)فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering dalam kehitam-hitaman”Seakan-akan Allah menyebutkan bahwasanya demikianlah hakekat dunia. Sebagaimana tumbuh-tumbuhan yang dikeluarkan oleh Allah, suatu saat nanti akan berubah menjadi mengering, kemudian darinya akan tampak kehitam-hitaman. Memperingatkan bahwa usia kehidupan hanyalah sebentar yang hal ini diisyaratkan dengan perubahan tahapan kehidupan, sebagaimana tumbuhan dari hijau lalu menguning lalu akhirnya kering dan kehitam-hitaman. (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/279).Manusiapun demikian sebagaimana firman Allah :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban” (QS Ar-Ruum : 54)Kemudian Allah berfirman:سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ“Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa”Ada dua pendapat di kalangan ulama tentang makna laa pada kalimat فَلَا تَنسَىٰ. Pendapat pertama mengatakan النِّسْيَانُ disini artinya adalah lupa, sehingga makna ayat adalah “Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.” Ini didukung dengan ayat yang lain di dalam Al-Quran. Ketika Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad melalui Jibril, beliau ingin segera menghafalkannya, kemudian Allah tegur dengan berfirman:لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17)“(16) Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya; (17) Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS Al-Qiyamah 16-17)Oleh karena itu, Allah-lah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menghafal Al-Quran, dan Allah pulalah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lupa dengan hafalan tersebut, kecuali sebagian yang Allah kehendaki yang Allah mansuukhan sehingga engkaupun melupakannya.Pendapat kedua النِّسْيَانُ di sini maknanya adalah التَّرْكُ “meninggalkan” sehingga makna ayat adalah Allah akan menjagamu dari meninggalkan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga engkau akan selalu mengamalkannya kecuali jika Allah menghendaki yaitu jika terjadi ayat-ayat yang dimansuukh sehingga engkau meninggalkan beramal dengannya karena telah dimansuukhkan. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/19)Dari sini jelas bahwa kedua pendapat di atas termasuk khilaf tanawwu’ karena saling mendukung dan tidak kontradiktif. Dan ayat ini menunjukan bahwa Allah menjamin bahwa al-Qur’an akan terjaga dari kekurangan (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/281)Setelah itu Allah berfirman:إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“Kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi”Yaitu kecuali Allah menjadikan Nabi lupa terhadap beberapa ayat dari Al-Quran, seperti ayat-ayat yang di-mansukh oleh Allah. Allah berfirman:مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya.” (QS Al-Baqarah : 106)Menunjukkan bahwasanya ada ayat-ayat Al-Quran yang pernah dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dimansukhkan ayatnya oleh Allah lalu dilupakan, sehingga tidak lagi terbaca sekarang. Namun pada asalnya Nabi tidak akan lupa kecuali Allah yang membuatnya lupa dan ada kemaslahatan dibalik keputusan Allah tersebut.Kemudian dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi. Mengapa Allah mengatakan bahwasanya Dia juga mengetahui yang nampak, padahal dalam ayat ini Allah juga mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Secara logika apabila seseorang mengetahui yang tersembunyi maka tentu saja dia lebih mengetahui yang nampak. Sehingga cukup Allah mengabarkan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Tetapi Allah sengaja menyampaikannya juga karena yang nampak dan yang tersembunyi bagi Allah sama saja tidak ada bedanya, demikianlah kata para ulama. Allah berfirman:وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nampakkanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al-Mulk : 13)Jangankan perkataan yang diucapkan dengan pelan-pelan, bahkan perkataan yang ada di dalam hati saja Allah juga mengetahuinya. Allah berfirman:وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka berhati-hatilah.” (QS Al-Baqarah : 235)Sehingga setiap manusia tidak hanya memperhatikan gerak-gerik tubuhnya, tidak hanya berhati-hati dengan perkataan lisannya, bahkan karena hatinya pun dia harus berhati-hati. Jangan sampai ada niat buruk dalam hati kita, ada penyakit riya’, penyakit hasad, suudzan kepada saudara kita, berburuk sangka dan penyakit-penyakit hati lainnya karena sesunguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kita. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati karena ilmu Allah meliputi yang nampak dan yang tersembunyi.Kemudian Allah berfirman:وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan”Yaitu “Kami akan memudahkanmu wahai Muhammad untuk mengamalkan kebajikan”. Dan pendapat yang lain yaitu :نُوَفِّقُكَ لِلشَّرِيعَةِ الْيُسْرَى وَهِيَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ“Kami akan membimbingmu kepada syari’at yang mudah yaitu al-Haniifiyah (bertauhid) dan As-Samhah (mudah)” (Tafsir al-Baghowi 8/401)Ini menunjukan bahwasanya agama islam adalah agama yang mudah, dan ini nampak jika dibandingkan dengan agama-agama terdahulu. Agama yahudi, agama nasrani, memiliki aturan-aturan yang sangat ketat. Hal ini dapat kita saksikan pada pemeluk yahudi sekarang yang masih fanatik dengan agamanya, mereka hidup penuh dengan aturan-aturan. Berbeda dengan syariat agama islam yang dimudahkan oleh Allah. Misalnya tentang tata cara shalat, dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ“Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR Bukhari no. 1117)Dalam menjalankan syariat Islam, Allah memberikan banyak kemudahan. Allah berfirman:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS At-Taghabun : 16)Kaidah ini berlaku secara umum, betapa banyak perkara yang seorang hamba jika dia tidak mampu melaksanakannya maka gugur hukumnya. Misalnya dalam masalah haji, Allah berfirman:وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana.” (QS Ali ‘Imran : 97)Namun lihatlah bagaimana syariat yang dibebankan kepada umat terdahulu. Seperti umat Nabi Musa pada zamannya, setelah bertaubat dari dosa mereka akan disuruh bunuh diri. Berbeda dengan sekarang, jika seseorang berdosa setelah itu bertaubat dengan taubat nashuha maka Allah akan mengampunkan dosanya. Oleh karena itu, syariat islam adalah syariat yang mudah, jangan dipersulit dengan aturan-aturan yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jangan dipersulit dengan keyakinan-keyakinan yang tidak pernah diyakini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian kaum muslimin ketika ingin melakukan suatu acara, mereka seringkali terbentur dengan keyakinan-keyakinan yang aneh, tidak boleh karena pamali, lewat primbon tidak pas, tidak boleh bertepatan dengan jumat kliwon atau rabu pahing, dan aturan-aturan lainnya yang menyulitkan diri sendiri. Padahal Allah menurunkan syariat Islam ini beserta aturan-aturannya yang sangat mudah.Kemudian Allah berfirman:فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ“Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”Secara tekstual, ayat ini bermakna “Berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” Karenanya sebagian ulama seperti Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan bahwasanya tidak semua orang diberi peringatan dan nasehat, apabila tidak ada manfatnya maka tidak perlu diberi peringatan, atau justru menimbulkan mudharat maka jangan diberi peringatan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/372 dan ini juga pendapat yang dipilih oleh As-Sa’adi dalam tafsirnya hal 920). Ibnu Katsir membawakan atsar dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan nalar mereka. Atau kamu ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR Al-Bukhari no 127)Maka tidak semua diberi peringatan, jika peringatan tersebut tidak sesuai dengan nalar pendengarnya maka hendaknya tidak disampaikan. Namun sampaikanlah peringatan tersebut kepada orang yang sesuai dengan nalar mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ؛ إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ“Tidaklah engkau menyampaikan suatu hadist yang akal mereka tidak dapat menjangkaunya kecuali akan menimbulkan fitnah.” (Mukaddimah Shahih Muslim)Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa memberi peringatan itu adalah kepada orang yang bisa mengambil manfaat dari peringatan tersebut, ini adalah pendapat yang pertama.Pendapat kedua menyatakan bahwasanya peringatan itu diberikan kepada siapa saja, baik dia mengambil manfaat atau tidak nasehat tetap disampaikan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/20), namun tetap menimbang maslahat dan mudharat. Sebagaimana Fir’aun yang tidak mungkin beriman tetapi tetap diberi peringatan oleh Nabi Musa. Karenanya, jika orang yang diberi peringatan bisa mengambil faidah maka dia juga akan mendapat ganjaran, jika tidak mengambil faidah maka hujjahnya telah tegak dan dia tidak punya udzur di hadapan Allah karena telah melaksanakan kewajibannya. Oleh karena itu, peringatan tetap harus disampaikan tentunya dengan kata-kata yang halus penuh sopan santun sehingga diharapkan peringatan tersebut bisa bermanfaat.Kemudian Allah berfirman:سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran”Ini menguatkan pendapat yang kedua, manfaat atau tidak manfaat hendaknya tetap memberi peringatan, karena orang yang takut kepada Allah akan mengambil peringatan tersebut.Kemudian Allah berfirman:وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى“Dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya” Yaitu menjauhi peringatan tersebut. Ini adalah sifat-sifat penghuni neraka jahannam. Jika diberi peringatan dia akan lari menjauh. Sebagaimana keterangan dari Nabi Nuh ketika dia mendakwahi kaumnya, Allah berfirman:قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6)Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam; dan seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh : 5-6)Tetapi Nabi Nuh terus berdakwah, entah kaumnya mendengarkannya atau tidak.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ“(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)”Allah menyebutkan api yang besar, lantas apakah ada api yang kecil? Kata para ulama, api yang kecil adalah sebelum di akhirat yaitu di kuburan. Orang yang jahat, orang yang kafir, orang yang dzalim, mereka telah merasakan siksaan dengan api di kuburan. Dan kelak mereka akan kembali merasakan siksaan dengan api yang besar yaitu di neraka jahannam.Dan ada yang berpendapat bahwa api yang besar adalah api neraka bagi orang-orang kafir, adapun api yang kecil adalah untuk orang-orang yang bertauhid yang bermaksiat sehingga masuk neraka (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/21). Karena neraka bertingkat-tingkat, dan neraka kaum kafir tidak sama dengan neraka kaum muslimin para pelaku maksiat.ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup”Kita tahu bahwasanya hanya ada dua kemungkinan, apakah seseorang itu masih hidup atau mati, tidak ada orang yang pada saat bersamaan dia hidup dia juga mati atau tidak hidup tidak pula mati. Namun tatkala seseorang diadzab di neraka jahannam, dia akan merasakan yang namanya tidak mati dan juga tidak hidup. Dia tidak mati sehingga beristirahat dari adzab yang pedih, namun dia juga tidak hidup karena kehidupannya penduh dengan adzab yang pedih (lihat Tafsir As-Sma’aani 6/210).Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, kami akan ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa : 56)Dan adzab neraka jahannam itu tidak hanya membakar bagian luar saja. Allah menyebutkan tentang sifat neraka jahannam, Allah berfirman:الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ“yang (membakar) sampai hati.” (QS Al-Humazah : 7)Neraka jahannam membakar sampai ke bagian dalam, ke dalam hati, jantung, bahkan sampai sel-selnya ikut terbakar. Ini adalah siksaan yang sangat mengerikan, karenanya mereka meminta untuk mati. Sebagaimana yang Allah firmankan tentang perkataan mereka:وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ“Dan mereka berseru, ‘Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.’ Dia menjawab, ‘Sungguh kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (QS Az-Zukhruf : 77)Setelah mereka tahu bahwasanya mereka tidak akan mengalami kematian, maka mereka minta keringanan kepada Allah. Allah mengabarkan perkataan mereka dalam firman-Nya:وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka jahannam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan adzab atas kami sehari saja’.” (QS Ghafir : 49)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mati, dan tidak diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS Fathir : 36)Sesungguhnya adzab untuk orang-orang kafir tidak akan ada keringanan. Jawaban untuk permintaan mereka hanyalah satu, Allah berfirman:فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab.” (QS An-Naba : 30)Oleh karena itu, siksaan yang mereka rasakan sangat pedih luar biasa. Dimana tidak ada tambahan bagi mereka kecuali adzab. Kemungkinannya ada dua, bisa jadi adzabnya ditambah dengan bentuk yang lain, atau bisa jadi dengan adzab yang sama tetapi bertambah keras.Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwasanya penghuni neraka yang tidak pernah mati dan tidak pula hidup hanya berlaku untuk orang-orang kafir karena surat Al-A’la berbicara tentang orang kafir yang tidak mau menerima peringatan dari Allah. Adapun penghuni neraka dari kalangan kaum muslimin maka suatu saat akan dikeluarkan oleh Allah kemudian dimatikan lalu dimasukkan ke dalam sungai-sungai surga setelah itu tumbuh kembali dalam bentuknya yang sempurna dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Hadist-hadist yang menunjukkan akan hal ini sangatlah banyak. Diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُهَا، فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ. وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوْبِهِمْ – أَوْ قَالَ : بِخَطَايَاهُمْ- فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوْا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ. فَجِيْءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ- ضَبَائِرَ، فَبُثُّوْا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ قِيْلَ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيْضُوْا عَلَيْهِمْ. فَيَنْبُتُوْنَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُوْنُ فِى حَمِيْلِ السَّيْلِ”.“Adapun ahli Neraka yang menjadi penghuni kekalnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup. Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa Neraka karena dosa-dosanya –atau Rasul bersabda, karena kesalahan-kesalahannya- maka Allah akan mematikan mereka dengan suatu kematian. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, Nabi diizinkan untuk memberikan syafa’at (kepada mereka). Lalu mereka di datangkan berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, lalu dimasukkan ke sungai-sungai di surga. Selanjutnya dikatakan (oleh Allah): “Wahai penghuni surga, kucurkanlah air kehidupan kepada mereka”. Maka tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih-benih tetumbuhan di larutan lumpur yang dihempaskan arus air.” (HR Muslim no. 306)Hadits ini menceritakan keadaan orang muslim yang terjerumus dalam berbagai macam kemaksiatan namun tidak sampai derajat kufur. Mereka akan disiksa di neraka jahannam sesuai dengan dosa-dosa yang mereka lakukan kemudian dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga, selama dia masih bertauhid. Hadist-hadist lain yang menunjukkan akan hal ini sangat banyak, dan ini merupakan aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Berbeda dengan aqidah khawarij, yang meyakini bahwa apabila seseorang sekalinya masuk neraka maka dia tidak akan keluar. Sehingga dengan keyakinan ini, mereka akan menyamakan nasib seorang pezina yang masih muslim dengan seorang yang kafir kepada Allah yaitu sama-sama tidak akan keluar dari neraka jahannam. Dan ini adalah pendapat yang bathil.Kemudian Allah berfirman:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”Yaitu mensucikan dirinya dari akhlak-akhlak yang buruk kemudian menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang muliaوَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”Begitupun dengan seorang hamba yang senantiasa berdzikir mengingat Allah dan memperbanyak shalat dan bersujud kepada Allah juga mendapatkan keberuntungan, bisa menjadi modal yang besar untuk masuk ke dalam surga. Dalam suatu hadits dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dia berkata : كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Saya bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya, maka beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepadaku.’ Maka aku berkata, ‘Aku meminta kepadamu agar aku menemanimu di surga -dia berkata, ‘Atau dia selain itu’. Aku menjawab, ‘Itulah yang dia katakan-maka beliau menjawab, ‘Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud’.” (HR Muslim no. 754)Kemudian Allah berfirman:بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia”وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal”Ini adalah sesuatu yang mengherankan dari perkara manusia, dimana kebanyakan dari mereka lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Padahal apabila kita renungi kemudian kita bandingkan, dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang dunia:لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.” (HR Tirmidzi no. 2320 dan Ibnu Majah no. 4110)Namun karena dunia ini ringan dan rendah di sisi Allah maka Allah berikan minuman kepada orang kafir, Allah berikan kekayaan kepada orang kafir. Oleh karena itu, hendaknya dunia ini dijadikan sarana semata menuju akhirat, jangan dijadikan keutamaan. Sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kami miliki.” (HR Tirmidzi no.3502)Tetapi barang siapa yang justru menjadikan dunianya sebagai puncak kehidupannya niscaya dia tergolong sebagai orang yang celaka. Sebagaimana sindiran Allah dalam ayat ini bahwasanya manusia itu lebih mendahulukan dunia daripada akhirat.Jika kita mencoba membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat maka tidak akan bisa kita dibandingkan. Pertama kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih baik daripada kenikmatan dunia, apapun bentuk kenikmatan tersebut. Kedua kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih kekal daripada kenikmatan dunia. Seandainya kita membuat suatu perbandingan, misalnya seseorang yang diberi emas kemudian dia menikmatinya hanya sekedar waktu tertentu, lantas tidak berselang lama emas itu tidak lagi menjadi miliknya, dibanding apabila dia diberi secangkir susu tetapi dia bisa menikmatinya sepanjang hayatnya, maka dia akan lebih memilih kenikmatan yang meskipun sedikit akan tetapi bisa dinikmati lebih lama. Akal yang sehat akan memilih kenikmatan yang lebih lama meskipun sedikit. Maka bagaimana lagi jika kenikmatan itu sempurna ditambah bisa menikmatinya selamanya, sebagaimana akhirat.Secara ringkas, beberapa perbandingan antara dunia dan akhirat berikut ini:Pertama, kenikmatan akhirat abadi sedangkan kenikmatan dunia fana. Dan sesuatu yang fana tidak pantas dibandingkan dengan sesuatu yang abadi.Kedua, kenikmatan surga itu sempurna sedangkan kenikmatan dunia penuh dengan kekurangan. Seperti seorang istri, istri yang dimiliki oleh seorang lelaki merupakan kenikmatan. Secantik-cantiknya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan, apakah dari tubuhnya keluar bau badan, terkadang dia akan buang angin, atau sering marah. Adapun wanita di akhirat mereka adalah istri-istri yang disucikan, tidak ada bau yang tidak enak dari badannya, tidak ada kotoran di matanya, dari hidungnya, dan dari sekujur tubuhnya. Semuanya bersih tidak ada kekurangannya sama sekali. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya seorang laki-laki dari penduduk surga akan memeluk istrinya dari kalangan bidadari selama 70 tahun, dia tidak bosan begitupun istrinya. Demikianlah perbandingan antara kenikmatan dunia dan surga, jika khamr di dunia memabukkan dan memudharatkan maka khamr di akhirat adalah khamr yang lezat yang tidak menimbulkan kemudharatan, jika rumah kita di dunia terbuat dari batu bata maka di surga kelak Allah menyediakan istana-istana besar yang terbuat dari mutiara yang lantainya dari emas.Ketiga, kenikmatan surga mudah diraih sedangkan kenikmatan dunia perlu perjuangan. Ketika kita ingin makan maka terlebih dahulu harus beli bahan-bahan kemudian memasaknya, adapaun di surga tinggal diambilkan oleh para pelayan yang disediakan Allah. Ketika di dunia kita harus mencarikan nafkah untuk istri agar dia mau melayani kita sedangkan di surga langsung dilayani oleh para bidadari.Keempat, kenikmatan surga ada setiap saat tanpa bergantung kepada musim. Jika durian, rambutan, mangga dan buah-buahan lainnya bisa dinikmati ketika musimnya tiba maka di akhirat semua buah-buahan mudah di dapatkan kapanpun waktunya.Kelima, kenikmatan akhirat tidak menimbulkan kotoran sedangkan kenikmatan dunia akan menghasilkan kotoran. Jika kita makan sesuatu maka kita pasti buang air seenak apapun makanannya, adapun di akhirat jika kita makan maka tidak ada buang air meskipun makan sekenyang-kenyangnya.Kemudian Allah berfirman:إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu”صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa”Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan suhuf Nabi Musa adalah taurat itu sendiri, ada pula yang berpendapat bahwasanya suhuf itu adalah lembaran-lembaran yang lain. Adapun suhuf Nabi Ibrahim kita tidak mengetahui namanya.Intinya adalah bahwasanya kabar-kabar tentang masalah akhirat yang lebih baik daripada dunia adalah perkara-perkara yang disepakati oleh seluruh Nabi dan sudah termaktub dalam kitab-kitab mereka. Begitupun setiap kitab-kitab suci yang Allah turunkan kepada para Nabi pasti juga mengandung pengagungan terhadap Allah, pensucian terhadap Allah dari sifat-sifat yang buruk, dan kabar-kabar lainnya.

Tafsir Surat Al-A’la – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al-A’laOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat ini adalah surat yang istimewa karena banyak dihafalkan oleh kaum muslimin dan dan sering dilantunkan oleh para imam. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan surat ini, bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai surat Al-A’la.Ali bin Abi Tholib berkataكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى‘’Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam mencintai surat ini yaitu sabbihisma Rabbikal A’laa’’ (HR Ahmad no 742 akan tetapi sanadnya lemah)Diantara keutamaan surat Al-A’la adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan surat Al-A’la sebagai surat yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat witirnya pada rakaat pertama.Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata :«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ»‘’Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat witir dengan membaca Sabbihisma Rabbikal A’la dan Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, dan Qul Huwallahu Ahad’’ (HR Ibnu Majah no 1171, Abu Dawud no 1423. Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam al-Musnad no 15355 dan at-Tirmidzi no 462)Dimana shalat witir itu sendiri merupakan shalat yang sangat mulia, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwasanya shalat witir itu hukumnya wajib, meskipun yang benar adalah tidak wajib melainkan sunnah muakkadah yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat witir baik ketika mukim atau sedang bersafar.Sampai-sampai Al-Imam Ahmad pernah berkata :مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْدًا فَهُوَ رَجُلُ سَوْءٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ‘’Siapa yang meninggalkan sholat witir dengan sengaja makai a adalah seorang yang buruk, tidak pantas untuk diterima syahadah/persaksiannya’’ (al-Mughni 2/118)Seorang lelaki yang tidak shalat witir padahal dia mengetahui keutamaannya dan bagaimana cintanya Nabi terhadap shalat witir hingga beliau tidak pernah meninggalkannya, lantas dia meninggalkannya, dinilai sebagai seorang lelaki yang buruk.Diantara keutamaan lainnya, surat Al-A’la bersama dengan surat Al-Ghasyiyah selalu dibaca oleh Nabi dalam shalat-shalat ‘Ied, demikian juga dalam shalat Jumat.An-Nu’maan bin Basyiir berkata :«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ»‘’Adalah Rasulullah tatkala sholat ‘ied (‘iedul fithri dan ‘iedu adha) dan sholat Jum’at beliau membaca Sabbihisma Rabbikal A’laa dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghoosyiah’’. An-Nu’man berkata, ‘’Dan jika berkumpul antara ‘ied dan Jum’at dalam satu hari maka Nabi membaca kedua surat tersebut juga pada dua sholat tersebut (sholat ‘ied dan sholat Jum’at)’’ (HR Muslim no 878)Ini menunjukkan keutamaan dua surat ini, dipilih oleh Nabi untuk dibaca ketika kaum muslimin sedang berkumpul.  Hal ini tidak lain karena kandungan kedua surat ini yang sangat penting untuk didengar oleh kaum muslimin tatkala mereka sedang berkumpul.Dan kita tahu bahwasanya hari raya milik kaum muslimin adalah hari raya yang istimewa, tidak sama dengan hari raya umat-umat lain yang isinya hanya hura-hura dan lupa dengan akhirat. Berbeda dengan hari raya kaum muslimin, seperti idul adha yang didahului dengan ibadah haji dan idul fitri yang didahului dengan puasa ramadhan, semua didahului dengan ibadah. Kemudian kedua hari raya tersebut dibuka dengan sholat sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka sungguh Indah hari raya kaum muslimin.Kemudian diantara hadist lain yang menyebutkan tentang surat Al-A’la adalah kisah masyhur tentang Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang terlalu panjang bacaannya tatkala beliau menjadi imam. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الْأَنْصَارِيُّ لِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ. فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا. فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ: إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ؟ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى»“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adzpun berkata, ‘’Sesungguhnya ia seorang munafik’’. Tatkala perkataan Mu’adz sampai kepada orang tersebut maka iapun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465)Hadist ini juga menunjukkan bahwa seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya. Tidak boleh sesuka hatinya memanjangkan shalatnya, karena boleh jadi makmumnya banyak kebutuhan, atau ada yang sakit atau ada udzur-udzur yang lainnya. Demikian juga sebagian imam memanjangkan dzikirnya yang mana dilakukan secara berjamaah -bahkan dzikirnya lebih Panjang dari sholatnya itu sendiri-, sehingga para makmumnya merasa sungkan untuk meninggalkannya meskipun punya banyak urusan, karena merasa dirinya wajib ikut dalam dzikir berjamaah tersebut. Padahal tidak demikian sunnah Nabi. Imam Asy-Syafii juga memilih pendapat bahwasanya dzikir yang disunnahkan adalah dzikir yang sendiri-sendiri. (lihat Al-Umm karya Imam Syafi’i 2/288).Imam Asy-Syafii juga menyatakan jika ada hadist-hadist Nabi yang menunjukkan bahwa apabila terkadang dzikir Nabi keras maka maksud Nabi adalah ingin mengajarkan dzikir tersebut kepada para sahabatnya. Sehingga apabila para makmum telah mengerti tata cara dzikir yang sesuai sunnah, maka hendaknya mereka dzikir sendiri-sendiri. (lihat kitab al-Umm 2/289). Dan pendapat Imam Asy-Syafi’i ini juga dipilih oleh Imam An-Nawawi (lihat Al-Majmuu’ 3/468-469) dan Ibnu Hajar al-Haitami (lihat Al-Fataawaa al-Fiqhiyyah al-Kubro 1/157-158)Ini lebih memudahkan mereka apabila ingin segera menunaikan kebutuhannya. Jika shalat yang terlalu lama saja ditegur oleh Nabi, maka lebih-lebih dzikir yang dilakukan secara berjamaah yang membuat orang-orang tidak bisa segera menunaikan kebutuhannya karena merasa wajib ikut dzikir berjamaah tersebut. Oleh karena itu, seseorang hendaknya berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bis showab.Terdapat khilaf diantara para ulama apakah surat Al-A’la adalah surat makiyyah atau surat madaniyah. Sebagian ulama berpendapat bahwasanya surat Al-A’la adalah surat madaniyah karena di dalamnya disebutkan tentang masalah zakat dan juga shalat. Allah berfirman dalam surat Al-A’la:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ (15)“(14) Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman); (15) Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS Al-A’la : 14-15)Sebagian ahli tafsir menafsirkan kata tazakka dengan membayar zakat fitri, kemudian fashalla dengan shalat id, sehingga ini menunjukkan bahwasanya surat ini madaniyyah karena zakat fitri dan salat id tidaklah di syariatkan kecuali di Madinah. Ini adalah pendapat Ad-Dhohaak (lihat Tafsir al-Qurthubi 13/20 dan At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/271). Namun pendapat jumhur ulama ahli tafsir menyatakan bahwasanya surat Al-A’la adalah surat makiyyah, diturunkan sebelum Nabi berhijrah ke kota Madinah. Hal ini sangat jelas ditunjukkan dalam shahih Bukhari. Dari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata:أَوَّلُ مَنْ قَدِمَ عَلَيْنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ، وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَجَعَلاَ يُقْرِئَانِنَا القُرْآنَ، ثُمَّ جَاءَ عَمَّارٌ، وَبِلاَلٌ، وَسَعْدٌ ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فِي عِشْرِينَ ثُمَّ ” جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْتُ أَهْلَ المَدِينَةِ فَرِحُوا بِشَيْءٍ، فَرَحَهُمْ بِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الوَلاَئِدَ وَالصِّبْيَانَ، يَقُولُونَ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَ فَمَا جَاءَ، حَتَّى قَرَأْتُ: {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] فِي سُوَرٍ مِثْلِهَا ““Orang pertama dari para sahabat yang datang ke kota Madinah ialah Mus’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Kedua orang inilah yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami. Kemudian menyusul Ammar bin Yasir, Bilal, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Umar bin al-Khaththab bersama kafilah yang terdiri dari dua puluh orang. Setelah itu, barulah Rasulullah saw datang menyusul. Saya belum pernah melihat banyak orang bergembira seperti saat mereka menyambut kedatangan beliau, sehingga kaum wanita, anak-anak, dan para hamba sahaya perempuan bersorak-sorai meneriakkan, “Itulah dia, Rasulullah saw telah datang.” Sampai aku membaca sabbihisma rabbikal a’la dan beberapa surat yang semisal surat tersebut.” (HR Bukhari no. 4941)Ini dalil bahwasanya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota madinah ternyata Musa bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum telah mengajarkan surat Al-A’la yang menunjukkan bahwasanya surat sabbihisma rabbikal a’la adalah surat makiyyah yang diturunkan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. (lihat Tafsir Ibnu Katsiir 8/370). Sebagian ulama menggabungkan dua pendapat di atas dan menyatakan bahwa surat al-A’la adalah surat Makkiyah akan tetapi sebagian ayatnya adalah Madaniyah, yaitu ayat yang berkaitan dengan zakat dan sholat ‘ied (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/271)Allah berfirman pada permulaan surat:سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى“Sucikanlah namu Tuhanmu Yang Maha Tinggi”سَبِّحِ dalam bahasa arab diambil dari kata تَسْبِيْحٌ artinya mensucikan. Ada banyak kata ‘mensucikan’ di dalam Al-Quran dengan berbagai shighah seperti bentuk fi’il mudhari’ يُسَبِّحُ, bentuk fi’il amr سَبِّحْ, bentuk fi’il madhi سَبَّحَ, bentuk isim masdar سُبْحَانَ, semuanya dalam rangka untuk mensucikan Allah. Hal ini karena Allah adalah Dzat yang berhak untuk disucikan dari perkataan mulhidin. Sebab ada banyak perkataan-perkataan atau aqidah-aqidah yang batil tentang Allah sehingga Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Misalnya ketika Allah dituduh memiliki anak, maka Allah mengatakan سُبْحَانَ.Diantara hal-hal yang tidak pantas bagi Allah adalah mensifati Allah dengan sifat-sifat yang kurang seperti cacat, buta, tuli, bisu, atau Allah punya anak, Allah punya istri, semua ini adalah sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Jika kita membuka buku-buku seperti al-Kitab maka kita akan mendapati sifat-sifat yang menunjukkan kerendahan Allah, seperti Allah itu menangis, Allah bisa menyesal dan hatinya pilu/sedih, Allah menyesal telah menciptakan manusia (lihat al-Kitab, Kejadian 6 ayat 6-7), Allah menyesal karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatnya (lihat al-Kitab, Keluaran 32 ayat 14). Allah menyesal menjadikan Saul raja atas Isra’il (lihat Al-Kitab Samuel 1 : 15 ayat 35). Disebutkan juga bahwa Allah mencari-cari Nabi Adam yang bersembunyi (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 9-10), Allah juga tidak tahu ternyata Nabi Adam dan Hawwa telah memakan buah yang dilarang (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 11). Disebutkan juga Allah istirahat karena letih setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sehingga hari ke tujuh Allah istirahat. (lihat al-Kitab, Kejadian 2 ayat 2). Yang lebih parah disebutkan bahwa Allah bergulat dengan Nabi Ya’qub dan akhirnya Ya’qub yang menang (lihat Al-Kitab, Kejadian 32 ayat 22-28 dan Hosea 12 ayat 2-4). Hal-hal seperti ini mustahil didapati di dalam Al-Quran, justru di dalam Al-Quran Allah berulang-ulang menyuruh untuk mensucikan-Nya sebagaimana dalam banyak ayat.Diantara hal yang perlu kita sucikan dari Allah adalah menyamakan Allah dengan makhluk. Memang benar bahwasanya beberapa sifat Allah sama dengan sifat-sifat makhluk dalam penamaan. Akan tetapi meskipun namanya sama tapi hakikatnya berbeda. Allah berfirman:لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)Allah mendengar dan juga melihat, akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah berbeda dengan makhluk. Penglihatan manusia sangat terbatas, begitupun pendengarannya, apabila ada lima orang yang berbicara secara bersamaan niscaya dia tidak akan bisa konsentrasi mendengarkannya. Berbeda dengan penglihatan dan pendengaran Allah, pendengaran Allah meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, demikian juga penglihatan dan ilmunya. Manusia berilmu, Allah juga berilmu, akan tetapi ilmu Allah tidak bisa dibandingkan dengan ilmu manusia yang penuh dengan kekurangan. Sesuatu yang melekat di dalam manusia saja, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui hakikatnya, yaitu ruh. Seandainya ada seribu orang yang  berbicara tentang ruh, maka akan ada seribu penafsiran tentangnya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidak diberikan pengetahuan kecuali sangat sedikit.” (QS Al-Isra’ :  85)Oleh karena itu, tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya sifat Allah sama hakikatnya dengan sifat manusia, meskipun namanya sama. Contoh lain Allah punya tangan, maka tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya tangan Allah sama seperti tangan manusia, karena itu tidak mungkin. Allah berfirman:وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamatm dan langit akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Az-Zumar : 67)Dan kaidah ini berlaku untuk seluruh sifat-sifat Allah, barangsiapa yang menyamakan antara sifat Allah dengan sifat makhluk maka telah terjerumus dalam kesyirikan. Inilah makna dari ayat ini, yaitu agar kita menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah dan dari penyamaan antara sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.Kemudian dari ayat ini kita mengetahui bahwa diantara sifat Allah adalah Maha Tinggi, ada banyak dalil-dalil yang menunjukkan ke-MahaTinggi-an Allah. Allah Maha Tinggi dalam tiga perkara; Pertama, Allah Maha Tinggi sifat-sifat-Nya yaitu sifat-sifat Allah semuanya adalah sifat-sifat yang sempurna; Kedua, Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya; Ketiga Dzat Allah Maha Tinggi.Semua umat islam sepakat bahwasanya sifat-sifat Allah adalah sifat yang tinggi, begitupun semua sepakat bahwasanya tidak ada satu makhluk pun yang menyamai ketinggian Allah. Namun dalam masalah ketinggian Dzat, di tengah kaum muslimin telah terjadi penyimpangan. Sebagian kaum muslimin sampai sekarang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Padahal pendapat ini sudah dibantah oleh Imam Ahmad beratus-ratus tahun yang lalu di dalam kitabnya Ar-Radd ‘alal Jahmiyah waz zanaadiqoh, karena kelaziman bahwasanya Allah ada di mana-mana sangat berbahaya. Bahwasanya Allah ada di kamar mandi, Allah di dalam perut hewan, Allah juga di dalam perut kita, Maha Suci Allah dari pendapat bathil seperti ini. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.Sebagian ada yang mengatakan bahwasanya Allah tidak di atas tidak pula di bawah, sebagaimana perkataan orang-orang filsafat. Lantas Allah itu dimana jika tidak di atas tidak pula di bawah, keyakinan seperti ini akan berkonsekuensi bahwa Allah itu tidak ada. Allah Maha Suci dari anggapan seperti itu. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risalah ila ahlits tsaghr telah menyebutkan bahwasanya para sahabat telah ijma’ (sepakat) Allah berada di atas ‘Arsy. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist Nabi.Keyakinan bahwasanya Allah berada di atas adalah fitrah manusia. Karenanya kita dapati semua manusia jika berdoa maka tangannya pasti menengadah ke atas. Seandainya Allah berada di mana-mana maka tangannya juga akan ke mana-mana. Demikian kita dapati semua orang kalau menghadapi permasalahan yang berat mereka berkata, ‘’Kita serahkan kepada Yang di atas’’.Pendapat yang mengatakan Allah ada di mana-mana atau Allah tidak di atas dan tidak di bawah dan tidak dimana-mana juga secara tidak langsung mengingkari mukjizat Isra’ Mi’raj. Karena ketika Nabi shalallahu’alayhi wa sallam menjalani peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau dibawa ke atas langit ketujuh untuk bertemu dengan Allah Rabbul ‘Aalamin. Oleh karena itu, sebagian ulama Syafi’iyyah memberi perhatian khusus tentang masalah ini, diantaranya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar yang sekarang tercetak menjadi 2 jilid. Dalam buku tersebut disebutkan seluruh perkataan ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman beliau tentang Allah berada di atas.Keyakinan bahwa Allah tidak berada di atas akan menjerumuskan manusia dalam pemahaman yang batil. Contohnya meyakini bahwasanya Allah berada dimana-mana. Atau sebagiannya meyakini bahwasanya Allah bisa bersatu dengan makhluk yang dikenal dengan istilah aqidah wihdatul wujud atau manunggal ing kawula gusti. Ini adalah aqidah yang batil, sama seperti aqidah trinitas yang meyakini Allah bersatu dengan Nabi Isa. Pendapat-pendapat seperti ini merupakan kekufuran. Terlalu banyak dalil yang menunjukkan Allah berada di atas ‘Arsy. Allah berfirman tentang Nabi Isa:بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ“Tetapi Allah mengangkat (ke atas) Nabi Isa menuju Allah” (QS An-Nisa’ : 158)Allah juga berfirman:إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya.” (QS Fathir : 10)Dan terlalu banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan Allah itu di atas.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya)”Allah telah menciptakan seluruh makhluk dan sungguh Allah telah menyempurnakan penciptaan-penciptaan-Nya. Sehingga dapat kita saksikan ciptaan-ciptaan Allah yang sungguh indah dan menakjubkan. Apabila kita memperhatikan penciptaan manusia saja, kita akan jumpai bentuk dan susunan yang luar biasa. Begitupun dengan makhluk-makhluk yang lain, Allah menciptakan dan menyempurnakannya sesuai dengan kondisi masing-masing makhluk.Ibnu Katsir berkata :سَوَّى كُلَّ مَخْلُوْقٍ فِي أَحْسَنِ الْهَيْئَاتِ“Allah telah menyempurnakan seluruh makhluk dalam bentuk yang terindah” (Tafsir Ibnu Katsir 8/372)Dan telah lalu tafsir firman Allah :الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ“yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan penciptaanmu seimbang” (QS Al-Infithoor : 7)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”فَهَدَىٰ “memberi petunjuk”, yang dimaksud dengan petunjuk disini adalah hidayah kauniyah yaitu Allah memberi hidayah sesuai dengan kebutuhan makhluk tersebut. Oleh karena itu, banyak tabiat-tabiat atau fitrah-fitrah yang telah ada dalam diri setiap makhluk. Seperti ketika seekor kambing melahirkan anaknya, maka siapa yang mengajari anaknya tersebut untuk mencari puting ibunya, dia belum pernah belajar dan belum pernah ada yang mengajarinya, ibunya juga tidak mendekat-dekatkan putingnya kepada anaknya. Namun tiba-tiba saja anaknya dengan fitrahnya mencari sendiri puting susu ibunya kemudian mengisapnya. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali atas campur tangan Allah.Dan banyak perkataan para salaf tentang hidayah kauniyah ini, diantaranya :Allah memberi hidayah (petunjuk/insting) kepada para hewan untuk mencari tempat menggembalanyaAllah memberi petunjuk bagaimana seekor jantan mendatangi betina, meskipun tidak ada yang mengajarkannyaAllah mentaqdirkan rizki dan memberi petunjuk bagaimana cara mencari rizkiAllah menciptakan banyak manfaat pada benda-benda, lalu Allah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana cara mengeluarkan manfaat tersebut (lihat Tafsir al-Baghowi 8/400)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ“Dan Yang menumbuhkan rerumputan” Yaitu Allah menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan dengan berbagai macamnya, yang hijau, yang merah, kuning, dan putih (lihat Tafsir At-Thobari 24/312 dan Tafsir al-Baghowi 8/400)فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering dalam kehitam-hitaman”Seakan-akan Allah menyebutkan bahwasanya demikianlah hakekat dunia. Sebagaimana tumbuh-tumbuhan yang dikeluarkan oleh Allah, suatu saat nanti akan berubah menjadi mengering, kemudian darinya akan tampak kehitam-hitaman. Memperingatkan bahwa usia kehidupan hanyalah sebentar yang hal ini diisyaratkan dengan perubahan tahapan kehidupan, sebagaimana tumbuhan dari hijau lalu menguning lalu akhirnya kering dan kehitam-hitaman. (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/279).Manusiapun demikian sebagaimana firman Allah :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban” (QS Ar-Ruum : 54)Kemudian Allah berfirman:سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ“Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa”Ada dua pendapat di kalangan ulama tentang makna laa pada kalimat فَلَا تَنسَىٰ. Pendapat pertama mengatakan النِّسْيَانُ disini artinya adalah lupa, sehingga makna ayat adalah “Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.” Ini didukung dengan ayat yang lain di dalam Al-Quran. Ketika Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad melalui Jibril, beliau ingin segera menghafalkannya, kemudian Allah tegur dengan berfirman:لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17)“(16) Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya; (17) Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS Al-Qiyamah 16-17)Oleh karena itu, Allah-lah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menghafal Al-Quran, dan Allah pulalah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lupa dengan hafalan tersebut, kecuali sebagian yang Allah kehendaki yang Allah mansuukhan sehingga engkaupun melupakannya.Pendapat kedua النِّسْيَانُ di sini maknanya adalah التَّرْكُ “meninggalkan” sehingga makna ayat adalah Allah akan menjagamu dari meninggalkan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga engkau akan selalu mengamalkannya kecuali jika Allah menghendaki yaitu jika terjadi ayat-ayat yang dimansuukh sehingga engkau meninggalkan beramal dengannya karena telah dimansuukhkan. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/19)Dari sini jelas bahwa kedua pendapat di atas termasuk khilaf tanawwu’ karena saling mendukung dan tidak kontradiktif. Dan ayat ini menunjukan bahwa Allah menjamin bahwa al-Qur’an akan terjaga dari kekurangan (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/281)Setelah itu Allah berfirman:إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“Kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi”Yaitu kecuali Allah menjadikan Nabi lupa terhadap beberapa ayat dari Al-Quran, seperti ayat-ayat yang di-mansukh oleh Allah. Allah berfirman:مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya.” (QS Al-Baqarah : 106)Menunjukkan bahwasanya ada ayat-ayat Al-Quran yang pernah dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dimansukhkan ayatnya oleh Allah lalu dilupakan, sehingga tidak lagi terbaca sekarang. Namun pada asalnya Nabi tidak akan lupa kecuali Allah yang membuatnya lupa dan ada kemaslahatan dibalik keputusan Allah tersebut.Kemudian dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi. Mengapa Allah mengatakan bahwasanya Dia juga mengetahui yang nampak, padahal dalam ayat ini Allah juga mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Secara logika apabila seseorang mengetahui yang tersembunyi maka tentu saja dia lebih mengetahui yang nampak. Sehingga cukup Allah mengabarkan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Tetapi Allah sengaja menyampaikannya juga karena yang nampak dan yang tersembunyi bagi Allah sama saja tidak ada bedanya, demikianlah kata para ulama. Allah berfirman:وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nampakkanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al-Mulk : 13)Jangankan perkataan yang diucapkan dengan pelan-pelan, bahkan perkataan yang ada di dalam hati saja Allah juga mengetahuinya. Allah berfirman:وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka berhati-hatilah.” (QS Al-Baqarah : 235)Sehingga setiap manusia tidak hanya memperhatikan gerak-gerik tubuhnya, tidak hanya berhati-hati dengan perkataan lisannya, bahkan karena hatinya pun dia harus berhati-hati. Jangan sampai ada niat buruk dalam hati kita, ada penyakit riya’, penyakit hasad, suudzan kepada saudara kita, berburuk sangka dan penyakit-penyakit hati lainnya karena sesunguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kita. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati karena ilmu Allah meliputi yang nampak dan yang tersembunyi.Kemudian Allah berfirman:وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan”Yaitu “Kami akan memudahkanmu wahai Muhammad untuk mengamalkan kebajikan”. Dan pendapat yang lain yaitu :نُوَفِّقُكَ لِلشَّرِيعَةِ الْيُسْرَى وَهِيَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ“Kami akan membimbingmu kepada syari’at yang mudah yaitu al-Haniifiyah (bertauhid) dan As-Samhah (mudah)” (Tafsir al-Baghowi 8/401)Ini menunjukan bahwasanya agama islam adalah agama yang mudah, dan ini nampak jika dibandingkan dengan agama-agama terdahulu. Agama yahudi, agama nasrani, memiliki aturan-aturan yang sangat ketat. Hal ini dapat kita saksikan pada pemeluk yahudi sekarang yang masih fanatik dengan agamanya, mereka hidup penuh dengan aturan-aturan. Berbeda dengan syariat agama islam yang dimudahkan oleh Allah. Misalnya tentang tata cara shalat, dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ“Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR Bukhari no. 1117)Dalam menjalankan syariat Islam, Allah memberikan banyak kemudahan. Allah berfirman:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS At-Taghabun : 16)Kaidah ini berlaku secara umum, betapa banyak perkara yang seorang hamba jika dia tidak mampu melaksanakannya maka gugur hukumnya. Misalnya dalam masalah haji, Allah berfirman:وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana.” (QS Ali ‘Imran : 97)Namun lihatlah bagaimana syariat yang dibebankan kepada umat terdahulu. Seperti umat Nabi Musa pada zamannya, setelah bertaubat dari dosa mereka akan disuruh bunuh diri. Berbeda dengan sekarang, jika seseorang berdosa setelah itu bertaubat dengan taubat nashuha maka Allah akan mengampunkan dosanya. Oleh karena itu, syariat islam adalah syariat yang mudah, jangan dipersulit dengan aturan-aturan yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jangan dipersulit dengan keyakinan-keyakinan yang tidak pernah diyakini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian kaum muslimin ketika ingin melakukan suatu acara, mereka seringkali terbentur dengan keyakinan-keyakinan yang aneh, tidak boleh karena pamali, lewat primbon tidak pas, tidak boleh bertepatan dengan jumat kliwon atau rabu pahing, dan aturan-aturan lainnya yang menyulitkan diri sendiri. Padahal Allah menurunkan syariat Islam ini beserta aturan-aturannya yang sangat mudah.Kemudian Allah berfirman:فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ“Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”Secara tekstual, ayat ini bermakna “Berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” Karenanya sebagian ulama seperti Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan bahwasanya tidak semua orang diberi peringatan dan nasehat, apabila tidak ada manfatnya maka tidak perlu diberi peringatan, atau justru menimbulkan mudharat maka jangan diberi peringatan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/372 dan ini juga pendapat yang dipilih oleh As-Sa’adi dalam tafsirnya hal 920). Ibnu Katsir membawakan atsar dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan nalar mereka. Atau kamu ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR Al-Bukhari no 127)Maka tidak semua diberi peringatan, jika peringatan tersebut tidak sesuai dengan nalar pendengarnya maka hendaknya tidak disampaikan. Namun sampaikanlah peringatan tersebut kepada orang yang sesuai dengan nalar mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ؛ إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ“Tidaklah engkau menyampaikan suatu hadist yang akal mereka tidak dapat menjangkaunya kecuali akan menimbulkan fitnah.” (Mukaddimah Shahih Muslim)Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa memberi peringatan itu adalah kepada orang yang bisa mengambil manfaat dari peringatan tersebut, ini adalah pendapat yang pertama.Pendapat kedua menyatakan bahwasanya peringatan itu diberikan kepada siapa saja, baik dia mengambil manfaat atau tidak nasehat tetap disampaikan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/20), namun tetap menimbang maslahat dan mudharat. Sebagaimana Fir’aun yang tidak mungkin beriman tetapi tetap diberi peringatan oleh Nabi Musa. Karenanya, jika orang yang diberi peringatan bisa mengambil faidah maka dia juga akan mendapat ganjaran, jika tidak mengambil faidah maka hujjahnya telah tegak dan dia tidak punya udzur di hadapan Allah karena telah melaksanakan kewajibannya. Oleh karena itu, peringatan tetap harus disampaikan tentunya dengan kata-kata yang halus penuh sopan santun sehingga diharapkan peringatan tersebut bisa bermanfaat.Kemudian Allah berfirman:سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran”Ini menguatkan pendapat yang kedua, manfaat atau tidak manfaat hendaknya tetap memberi peringatan, karena orang yang takut kepada Allah akan mengambil peringatan tersebut.Kemudian Allah berfirman:وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى“Dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya” Yaitu menjauhi peringatan tersebut. Ini adalah sifat-sifat penghuni neraka jahannam. Jika diberi peringatan dia akan lari menjauh. Sebagaimana keterangan dari Nabi Nuh ketika dia mendakwahi kaumnya, Allah berfirman:قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6)Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam; dan seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh : 5-6)Tetapi Nabi Nuh terus berdakwah, entah kaumnya mendengarkannya atau tidak.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ“(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)”Allah menyebutkan api yang besar, lantas apakah ada api yang kecil? Kata para ulama, api yang kecil adalah sebelum di akhirat yaitu di kuburan. Orang yang jahat, orang yang kafir, orang yang dzalim, mereka telah merasakan siksaan dengan api di kuburan. Dan kelak mereka akan kembali merasakan siksaan dengan api yang besar yaitu di neraka jahannam.Dan ada yang berpendapat bahwa api yang besar adalah api neraka bagi orang-orang kafir, adapun api yang kecil adalah untuk orang-orang yang bertauhid yang bermaksiat sehingga masuk neraka (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/21). Karena neraka bertingkat-tingkat, dan neraka kaum kafir tidak sama dengan neraka kaum muslimin para pelaku maksiat.ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup”Kita tahu bahwasanya hanya ada dua kemungkinan, apakah seseorang itu masih hidup atau mati, tidak ada orang yang pada saat bersamaan dia hidup dia juga mati atau tidak hidup tidak pula mati. Namun tatkala seseorang diadzab di neraka jahannam, dia akan merasakan yang namanya tidak mati dan juga tidak hidup. Dia tidak mati sehingga beristirahat dari adzab yang pedih, namun dia juga tidak hidup karena kehidupannya penduh dengan adzab yang pedih (lihat Tafsir As-Sma’aani 6/210).Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, kami akan ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa : 56)Dan adzab neraka jahannam itu tidak hanya membakar bagian luar saja. Allah menyebutkan tentang sifat neraka jahannam, Allah berfirman:الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ“yang (membakar) sampai hati.” (QS Al-Humazah : 7)Neraka jahannam membakar sampai ke bagian dalam, ke dalam hati, jantung, bahkan sampai sel-selnya ikut terbakar. Ini adalah siksaan yang sangat mengerikan, karenanya mereka meminta untuk mati. Sebagaimana yang Allah firmankan tentang perkataan mereka:وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ“Dan mereka berseru, ‘Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.’ Dia menjawab, ‘Sungguh kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (QS Az-Zukhruf : 77)Setelah mereka tahu bahwasanya mereka tidak akan mengalami kematian, maka mereka minta keringanan kepada Allah. Allah mengabarkan perkataan mereka dalam firman-Nya:وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka jahannam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan adzab atas kami sehari saja’.” (QS Ghafir : 49)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mati, dan tidak diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS Fathir : 36)Sesungguhnya adzab untuk orang-orang kafir tidak akan ada keringanan. Jawaban untuk permintaan mereka hanyalah satu, Allah berfirman:فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab.” (QS An-Naba : 30)Oleh karena itu, siksaan yang mereka rasakan sangat pedih luar biasa. Dimana tidak ada tambahan bagi mereka kecuali adzab. Kemungkinannya ada dua, bisa jadi adzabnya ditambah dengan bentuk yang lain, atau bisa jadi dengan adzab yang sama tetapi bertambah keras.Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwasanya penghuni neraka yang tidak pernah mati dan tidak pula hidup hanya berlaku untuk orang-orang kafir karena surat Al-A’la berbicara tentang orang kafir yang tidak mau menerima peringatan dari Allah. Adapun penghuni neraka dari kalangan kaum muslimin maka suatu saat akan dikeluarkan oleh Allah kemudian dimatikan lalu dimasukkan ke dalam sungai-sungai surga setelah itu tumbuh kembali dalam bentuknya yang sempurna dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Hadist-hadist yang menunjukkan akan hal ini sangatlah banyak. Diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُهَا، فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ. وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوْبِهِمْ – أَوْ قَالَ : بِخَطَايَاهُمْ- فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوْا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ. فَجِيْءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ- ضَبَائِرَ، فَبُثُّوْا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ قِيْلَ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيْضُوْا عَلَيْهِمْ. فَيَنْبُتُوْنَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُوْنُ فِى حَمِيْلِ السَّيْلِ”.“Adapun ahli Neraka yang menjadi penghuni kekalnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup. Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa Neraka karena dosa-dosanya –atau Rasul bersabda, karena kesalahan-kesalahannya- maka Allah akan mematikan mereka dengan suatu kematian. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, Nabi diizinkan untuk memberikan syafa’at (kepada mereka). Lalu mereka di datangkan berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, lalu dimasukkan ke sungai-sungai di surga. Selanjutnya dikatakan (oleh Allah): “Wahai penghuni surga, kucurkanlah air kehidupan kepada mereka”. Maka tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih-benih tetumbuhan di larutan lumpur yang dihempaskan arus air.” (HR Muslim no. 306)Hadits ini menceritakan keadaan orang muslim yang terjerumus dalam berbagai macam kemaksiatan namun tidak sampai derajat kufur. Mereka akan disiksa di neraka jahannam sesuai dengan dosa-dosa yang mereka lakukan kemudian dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga, selama dia masih bertauhid. Hadist-hadist lain yang menunjukkan akan hal ini sangat banyak, dan ini merupakan aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Berbeda dengan aqidah khawarij, yang meyakini bahwa apabila seseorang sekalinya masuk neraka maka dia tidak akan keluar. Sehingga dengan keyakinan ini, mereka akan menyamakan nasib seorang pezina yang masih muslim dengan seorang yang kafir kepada Allah yaitu sama-sama tidak akan keluar dari neraka jahannam. Dan ini adalah pendapat yang bathil.Kemudian Allah berfirman:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”Yaitu mensucikan dirinya dari akhlak-akhlak yang buruk kemudian menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang muliaوَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”Begitupun dengan seorang hamba yang senantiasa berdzikir mengingat Allah dan memperbanyak shalat dan bersujud kepada Allah juga mendapatkan keberuntungan, bisa menjadi modal yang besar untuk masuk ke dalam surga. Dalam suatu hadits dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dia berkata : كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Saya bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya, maka beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepadaku.’ Maka aku berkata, ‘Aku meminta kepadamu agar aku menemanimu di surga -dia berkata, ‘Atau dia selain itu’. Aku menjawab, ‘Itulah yang dia katakan-maka beliau menjawab, ‘Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud’.” (HR Muslim no. 754)Kemudian Allah berfirman:بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia”وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal”Ini adalah sesuatu yang mengherankan dari perkara manusia, dimana kebanyakan dari mereka lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Padahal apabila kita renungi kemudian kita bandingkan, dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang dunia:لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.” (HR Tirmidzi no. 2320 dan Ibnu Majah no. 4110)Namun karena dunia ini ringan dan rendah di sisi Allah maka Allah berikan minuman kepada orang kafir, Allah berikan kekayaan kepada orang kafir. Oleh karena itu, hendaknya dunia ini dijadikan sarana semata menuju akhirat, jangan dijadikan keutamaan. Sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kami miliki.” (HR Tirmidzi no.3502)Tetapi barang siapa yang justru menjadikan dunianya sebagai puncak kehidupannya niscaya dia tergolong sebagai orang yang celaka. Sebagaimana sindiran Allah dalam ayat ini bahwasanya manusia itu lebih mendahulukan dunia daripada akhirat.Jika kita mencoba membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat maka tidak akan bisa kita dibandingkan. Pertama kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih baik daripada kenikmatan dunia, apapun bentuk kenikmatan tersebut. Kedua kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih kekal daripada kenikmatan dunia. Seandainya kita membuat suatu perbandingan, misalnya seseorang yang diberi emas kemudian dia menikmatinya hanya sekedar waktu tertentu, lantas tidak berselang lama emas itu tidak lagi menjadi miliknya, dibanding apabila dia diberi secangkir susu tetapi dia bisa menikmatinya sepanjang hayatnya, maka dia akan lebih memilih kenikmatan yang meskipun sedikit akan tetapi bisa dinikmati lebih lama. Akal yang sehat akan memilih kenikmatan yang lebih lama meskipun sedikit. Maka bagaimana lagi jika kenikmatan itu sempurna ditambah bisa menikmatinya selamanya, sebagaimana akhirat.Secara ringkas, beberapa perbandingan antara dunia dan akhirat berikut ini:Pertama, kenikmatan akhirat abadi sedangkan kenikmatan dunia fana. Dan sesuatu yang fana tidak pantas dibandingkan dengan sesuatu yang abadi.Kedua, kenikmatan surga itu sempurna sedangkan kenikmatan dunia penuh dengan kekurangan. Seperti seorang istri, istri yang dimiliki oleh seorang lelaki merupakan kenikmatan. Secantik-cantiknya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan, apakah dari tubuhnya keluar bau badan, terkadang dia akan buang angin, atau sering marah. Adapun wanita di akhirat mereka adalah istri-istri yang disucikan, tidak ada bau yang tidak enak dari badannya, tidak ada kotoran di matanya, dari hidungnya, dan dari sekujur tubuhnya. Semuanya bersih tidak ada kekurangannya sama sekali. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya seorang laki-laki dari penduduk surga akan memeluk istrinya dari kalangan bidadari selama 70 tahun, dia tidak bosan begitupun istrinya. Demikianlah perbandingan antara kenikmatan dunia dan surga, jika khamr di dunia memabukkan dan memudharatkan maka khamr di akhirat adalah khamr yang lezat yang tidak menimbulkan kemudharatan, jika rumah kita di dunia terbuat dari batu bata maka di surga kelak Allah menyediakan istana-istana besar yang terbuat dari mutiara yang lantainya dari emas.Ketiga, kenikmatan surga mudah diraih sedangkan kenikmatan dunia perlu perjuangan. Ketika kita ingin makan maka terlebih dahulu harus beli bahan-bahan kemudian memasaknya, adapaun di surga tinggal diambilkan oleh para pelayan yang disediakan Allah. Ketika di dunia kita harus mencarikan nafkah untuk istri agar dia mau melayani kita sedangkan di surga langsung dilayani oleh para bidadari.Keempat, kenikmatan surga ada setiap saat tanpa bergantung kepada musim. Jika durian, rambutan, mangga dan buah-buahan lainnya bisa dinikmati ketika musimnya tiba maka di akhirat semua buah-buahan mudah di dapatkan kapanpun waktunya.Kelima, kenikmatan akhirat tidak menimbulkan kotoran sedangkan kenikmatan dunia akan menghasilkan kotoran. Jika kita makan sesuatu maka kita pasti buang air seenak apapun makanannya, adapun di akhirat jika kita makan maka tidak ada buang air meskipun makan sekenyang-kenyangnya.Kemudian Allah berfirman:إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu”صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa”Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan suhuf Nabi Musa adalah taurat itu sendiri, ada pula yang berpendapat bahwasanya suhuf itu adalah lembaran-lembaran yang lain. Adapun suhuf Nabi Ibrahim kita tidak mengetahui namanya.Intinya adalah bahwasanya kabar-kabar tentang masalah akhirat yang lebih baik daripada dunia adalah perkara-perkara yang disepakati oleh seluruh Nabi dan sudah termaktub dalam kitab-kitab mereka. Begitupun setiap kitab-kitab suci yang Allah turunkan kepada para Nabi pasti juga mengandung pengagungan terhadap Allah, pensucian terhadap Allah dari sifat-sifat yang buruk, dan kabar-kabar lainnya.
Tafsir Surat Al-A’laOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat ini adalah surat yang istimewa karena banyak dihafalkan oleh kaum muslimin dan dan sering dilantunkan oleh para imam. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan surat ini, bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai surat Al-A’la.Ali bin Abi Tholib berkataكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى‘’Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam mencintai surat ini yaitu sabbihisma Rabbikal A’laa’’ (HR Ahmad no 742 akan tetapi sanadnya lemah)Diantara keutamaan surat Al-A’la adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan surat Al-A’la sebagai surat yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat witirnya pada rakaat pertama.Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata :«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ»‘’Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat witir dengan membaca Sabbihisma Rabbikal A’la dan Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, dan Qul Huwallahu Ahad’’ (HR Ibnu Majah no 1171, Abu Dawud no 1423. Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam al-Musnad no 15355 dan at-Tirmidzi no 462)Dimana shalat witir itu sendiri merupakan shalat yang sangat mulia, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwasanya shalat witir itu hukumnya wajib, meskipun yang benar adalah tidak wajib melainkan sunnah muakkadah yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat witir baik ketika mukim atau sedang bersafar.Sampai-sampai Al-Imam Ahmad pernah berkata :مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْدًا فَهُوَ رَجُلُ سَوْءٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ‘’Siapa yang meninggalkan sholat witir dengan sengaja makai a adalah seorang yang buruk, tidak pantas untuk diterima syahadah/persaksiannya’’ (al-Mughni 2/118)Seorang lelaki yang tidak shalat witir padahal dia mengetahui keutamaannya dan bagaimana cintanya Nabi terhadap shalat witir hingga beliau tidak pernah meninggalkannya, lantas dia meninggalkannya, dinilai sebagai seorang lelaki yang buruk.Diantara keutamaan lainnya, surat Al-A’la bersama dengan surat Al-Ghasyiyah selalu dibaca oleh Nabi dalam shalat-shalat ‘Ied, demikian juga dalam shalat Jumat.An-Nu’maan bin Basyiir berkata :«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ»‘’Adalah Rasulullah tatkala sholat ‘ied (‘iedul fithri dan ‘iedu adha) dan sholat Jum’at beliau membaca Sabbihisma Rabbikal A’laa dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghoosyiah’’. An-Nu’man berkata, ‘’Dan jika berkumpul antara ‘ied dan Jum’at dalam satu hari maka Nabi membaca kedua surat tersebut juga pada dua sholat tersebut (sholat ‘ied dan sholat Jum’at)’’ (HR Muslim no 878)Ini menunjukkan keutamaan dua surat ini, dipilih oleh Nabi untuk dibaca ketika kaum muslimin sedang berkumpul.  Hal ini tidak lain karena kandungan kedua surat ini yang sangat penting untuk didengar oleh kaum muslimin tatkala mereka sedang berkumpul.Dan kita tahu bahwasanya hari raya milik kaum muslimin adalah hari raya yang istimewa, tidak sama dengan hari raya umat-umat lain yang isinya hanya hura-hura dan lupa dengan akhirat. Berbeda dengan hari raya kaum muslimin, seperti idul adha yang didahului dengan ibadah haji dan idul fitri yang didahului dengan puasa ramadhan, semua didahului dengan ibadah. Kemudian kedua hari raya tersebut dibuka dengan sholat sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka sungguh Indah hari raya kaum muslimin.Kemudian diantara hadist lain yang menyebutkan tentang surat Al-A’la adalah kisah masyhur tentang Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang terlalu panjang bacaannya tatkala beliau menjadi imam. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الْأَنْصَارِيُّ لِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ. فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا. فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ: إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ؟ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى»“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adzpun berkata, ‘’Sesungguhnya ia seorang munafik’’. Tatkala perkataan Mu’adz sampai kepada orang tersebut maka iapun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465)Hadist ini juga menunjukkan bahwa seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya. Tidak boleh sesuka hatinya memanjangkan shalatnya, karena boleh jadi makmumnya banyak kebutuhan, atau ada yang sakit atau ada udzur-udzur yang lainnya. Demikian juga sebagian imam memanjangkan dzikirnya yang mana dilakukan secara berjamaah -bahkan dzikirnya lebih Panjang dari sholatnya itu sendiri-, sehingga para makmumnya merasa sungkan untuk meninggalkannya meskipun punya banyak urusan, karena merasa dirinya wajib ikut dalam dzikir berjamaah tersebut. Padahal tidak demikian sunnah Nabi. Imam Asy-Syafii juga memilih pendapat bahwasanya dzikir yang disunnahkan adalah dzikir yang sendiri-sendiri. (lihat Al-Umm karya Imam Syafi’i 2/288).Imam Asy-Syafii juga menyatakan jika ada hadist-hadist Nabi yang menunjukkan bahwa apabila terkadang dzikir Nabi keras maka maksud Nabi adalah ingin mengajarkan dzikir tersebut kepada para sahabatnya. Sehingga apabila para makmum telah mengerti tata cara dzikir yang sesuai sunnah, maka hendaknya mereka dzikir sendiri-sendiri. (lihat kitab al-Umm 2/289). Dan pendapat Imam Asy-Syafi’i ini juga dipilih oleh Imam An-Nawawi (lihat Al-Majmuu’ 3/468-469) dan Ibnu Hajar al-Haitami (lihat Al-Fataawaa al-Fiqhiyyah al-Kubro 1/157-158)Ini lebih memudahkan mereka apabila ingin segera menunaikan kebutuhannya. Jika shalat yang terlalu lama saja ditegur oleh Nabi, maka lebih-lebih dzikir yang dilakukan secara berjamaah yang membuat orang-orang tidak bisa segera menunaikan kebutuhannya karena merasa wajib ikut dzikir berjamaah tersebut. Oleh karena itu, seseorang hendaknya berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bis showab.Terdapat khilaf diantara para ulama apakah surat Al-A’la adalah surat makiyyah atau surat madaniyah. Sebagian ulama berpendapat bahwasanya surat Al-A’la adalah surat madaniyah karena di dalamnya disebutkan tentang masalah zakat dan juga shalat. Allah berfirman dalam surat Al-A’la:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ (15)“(14) Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman); (15) Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS Al-A’la : 14-15)Sebagian ahli tafsir menafsirkan kata tazakka dengan membayar zakat fitri, kemudian fashalla dengan shalat id, sehingga ini menunjukkan bahwasanya surat ini madaniyyah karena zakat fitri dan salat id tidaklah di syariatkan kecuali di Madinah. Ini adalah pendapat Ad-Dhohaak (lihat Tafsir al-Qurthubi 13/20 dan At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/271). Namun pendapat jumhur ulama ahli tafsir menyatakan bahwasanya surat Al-A’la adalah surat makiyyah, diturunkan sebelum Nabi berhijrah ke kota Madinah. Hal ini sangat jelas ditunjukkan dalam shahih Bukhari. Dari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata:أَوَّلُ مَنْ قَدِمَ عَلَيْنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ، وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَجَعَلاَ يُقْرِئَانِنَا القُرْآنَ، ثُمَّ جَاءَ عَمَّارٌ، وَبِلاَلٌ، وَسَعْدٌ ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فِي عِشْرِينَ ثُمَّ ” جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْتُ أَهْلَ المَدِينَةِ فَرِحُوا بِشَيْءٍ، فَرَحَهُمْ بِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الوَلاَئِدَ وَالصِّبْيَانَ، يَقُولُونَ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَ فَمَا جَاءَ، حَتَّى قَرَأْتُ: {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] فِي سُوَرٍ مِثْلِهَا ““Orang pertama dari para sahabat yang datang ke kota Madinah ialah Mus’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Kedua orang inilah yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami. Kemudian menyusul Ammar bin Yasir, Bilal, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Umar bin al-Khaththab bersama kafilah yang terdiri dari dua puluh orang. Setelah itu, barulah Rasulullah saw datang menyusul. Saya belum pernah melihat banyak orang bergembira seperti saat mereka menyambut kedatangan beliau, sehingga kaum wanita, anak-anak, dan para hamba sahaya perempuan bersorak-sorai meneriakkan, “Itulah dia, Rasulullah saw telah datang.” Sampai aku membaca sabbihisma rabbikal a’la dan beberapa surat yang semisal surat tersebut.” (HR Bukhari no. 4941)Ini dalil bahwasanya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota madinah ternyata Musa bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum telah mengajarkan surat Al-A’la yang menunjukkan bahwasanya surat sabbihisma rabbikal a’la adalah surat makiyyah yang diturunkan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. (lihat Tafsir Ibnu Katsiir 8/370). Sebagian ulama menggabungkan dua pendapat di atas dan menyatakan bahwa surat al-A’la adalah surat Makkiyah akan tetapi sebagian ayatnya adalah Madaniyah, yaitu ayat yang berkaitan dengan zakat dan sholat ‘ied (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/271)Allah berfirman pada permulaan surat:سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى“Sucikanlah namu Tuhanmu Yang Maha Tinggi”سَبِّحِ dalam bahasa arab diambil dari kata تَسْبِيْحٌ artinya mensucikan. Ada banyak kata ‘mensucikan’ di dalam Al-Quran dengan berbagai shighah seperti bentuk fi’il mudhari’ يُسَبِّحُ, bentuk fi’il amr سَبِّحْ, bentuk fi’il madhi سَبَّحَ, bentuk isim masdar سُبْحَانَ, semuanya dalam rangka untuk mensucikan Allah. Hal ini karena Allah adalah Dzat yang berhak untuk disucikan dari perkataan mulhidin. Sebab ada banyak perkataan-perkataan atau aqidah-aqidah yang batil tentang Allah sehingga Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Misalnya ketika Allah dituduh memiliki anak, maka Allah mengatakan سُبْحَانَ.Diantara hal-hal yang tidak pantas bagi Allah adalah mensifati Allah dengan sifat-sifat yang kurang seperti cacat, buta, tuli, bisu, atau Allah punya anak, Allah punya istri, semua ini adalah sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Jika kita membuka buku-buku seperti al-Kitab maka kita akan mendapati sifat-sifat yang menunjukkan kerendahan Allah, seperti Allah itu menangis, Allah bisa menyesal dan hatinya pilu/sedih, Allah menyesal telah menciptakan manusia (lihat al-Kitab, Kejadian 6 ayat 6-7), Allah menyesal karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatnya (lihat al-Kitab, Keluaran 32 ayat 14). Allah menyesal menjadikan Saul raja atas Isra’il (lihat Al-Kitab Samuel 1 : 15 ayat 35). Disebutkan juga bahwa Allah mencari-cari Nabi Adam yang bersembunyi (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 9-10), Allah juga tidak tahu ternyata Nabi Adam dan Hawwa telah memakan buah yang dilarang (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 11). Disebutkan juga Allah istirahat karena letih setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sehingga hari ke tujuh Allah istirahat. (lihat al-Kitab, Kejadian 2 ayat 2). Yang lebih parah disebutkan bahwa Allah bergulat dengan Nabi Ya’qub dan akhirnya Ya’qub yang menang (lihat Al-Kitab, Kejadian 32 ayat 22-28 dan Hosea 12 ayat 2-4). Hal-hal seperti ini mustahil didapati di dalam Al-Quran, justru di dalam Al-Quran Allah berulang-ulang menyuruh untuk mensucikan-Nya sebagaimana dalam banyak ayat.Diantara hal yang perlu kita sucikan dari Allah adalah menyamakan Allah dengan makhluk. Memang benar bahwasanya beberapa sifat Allah sama dengan sifat-sifat makhluk dalam penamaan. Akan tetapi meskipun namanya sama tapi hakikatnya berbeda. Allah berfirman:لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)Allah mendengar dan juga melihat, akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah berbeda dengan makhluk. Penglihatan manusia sangat terbatas, begitupun pendengarannya, apabila ada lima orang yang berbicara secara bersamaan niscaya dia tidak akan bisa konsentrasi mendengarkannya. Berbeda dengan penglihatan dan pendengaran Allah, pendengaran Allah meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, demikian juga penglihatan dan ilmunya. Manusia berilmu, Allah juga berilmu, akan tetapi ilmu Allah tidak bisa dibandingkan dengan ilmu manusia yang penuh dengan kekurangan. Sesuatu yang melekat di dalam manusia saja, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui hakikatnya, yaitu ruh. Seandainya ada seribu orang yang  berbicara tentang ruh, maka akan ada seribu penafsiran tentangnya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidak diberikan pengetahuan kecuali sangat sedikit.” (QS Al-Isra’ :  85)Oleh karena itu, tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya sifat Allah sama hakikatnya dengan sifat manusia, meskipun namanya sama. Contoh lain Allah punya tangan, maka tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya tangan Allah sama seperti tangan manusia, karena itu tidak mungkin. Allah berfirman:وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamatm dan langit akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Az-Zumar : 67)Dan kaidah ini berlaku untuk seluruh sifat-sifat Allah, barangsiapa yang menyamakan antara sifat Allah dengan sifat makhluk maka telah terjerumus dalam kesyirikan. Inilah makna dari ayat ini, yaitu agar kita menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah dan dari penyamaan antara sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.Kemudian dari ayat ini kita mengetahui bahwa diantara sifat Allah adalah Maha Tinggi, ada banyak dalil-dalil yang menunjukkan ke-MahaTinggi-an Allah. Allah Maha Tinggi dalam tiga perkara; Pertama, Allah Maha Tinggi sifat-sifat-Nya yaitu sifat-sifat Allah semuanya adalah sifat-sifat yang sempurna; Kedua, Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya; Ketiga Dzat Allah Maha Tinggi.Semua umat islam sepakat bahwasanya sifat-sifat Allah adalah sifat yang tinggi, begitupun semua sepakat bahwasanya tidak ada satu makhluk pun yang menyamai ketinggian Allah. Namun dalam masalah ketinggian Dzat, di tengah kaum muslimin telah terjadi penyimpangan. Sebagian kaum muslimin sampai sekarang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Padahal pendapat ini sudah dibantah oleh Imam Ahmad beratus-ratus tahun yang lalu di dalam kitabnya Ar-Radd ‘alal Jahmiyah waz zanaadiqoh, karena kelaziman bahwasanya Allah ada di mana-mana sangat berbahaya. Bahwasanya Allah ada di kamar mandi, Allah di dalam perut hewan, Allah juga di dalam perut kita, Maha Suci Allah dari pendapat bathil seperti ini. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.Sebagian ada yang mengatakan bahwasanya Allah tidak di atas tidak pula di bawah, sebagaimana perkataan orang-orang filsafat. Lantas Allah itu dimana jika tidak di atas tidak pula di bawah, keyakinan seperti ini akan berkonsekuensi bahwa Allah itu tidak ada. Allah Maha Suci dari anggapan seperti itu. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risalah ila ahlits tsaghr telah menyebutkan bahwasanya para sahabat telah ijma’ (sepakat) Allah berada di atas ‘Arsy. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist Nabi.Keyakinan bahwasanya Allah berada di atas adalah fitrah manusia. Karenanya kita dapati semua manusia jika berdoa maka tangannya pasti menengadah ke atas. Seandainya Allah berada di mana-mana maka tangannya juga akan ke mana-mana. Demikian kita dapati semua orang kalau menghadapi permasalahan yang berat mereka berkata, ‘’Kita serahkan kepada Yang di atas’’.Pendapat yang mengatakan Allah ada di mana-mana atau Allah tidak di atas dan tidak di bawah dan tidak dimana-mana juga secara tidak langsung mengingkari mukjizat Isra’ Mi’raj. Karena ketika Nabi shalallahu’alayhi wa sallam menjalani peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau dibawa ke atas langit ketujuh untuk bertemu dengan Allah Rabbul ‘Aalamin. Oleh karena itu, sebagian ulama Syafi’iyyah memberi perhatian khusus tentang masalah ini, diantaranya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar yang sekarang tercetak menjadi 2 jilid. Dalam buku tersebut disebutkan seluruh perkataan ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman beliau tentang Allah berada di atas.Keyakinan bahwa Allah tidak berada di atas akan menjerumuskan manusia dalam pemahaman yang batil. Contohnya meyakini bahwasanya Allah berada dimana-mana. Atau sebagiannya meyakini bahwasanya Allah bisa bersatu dengan makhluk yang dikenal dengan istilah aqidah wihdatul wujud atau manunggal ing kawula gusti. Ini adalah aqidah yang batil, sama seperti aqidah trinitas yang meyakini Allah bersatu dengan Nabi Isa. Pendapat-pendapat seperti ini merupakan kekufuran. Terlalu banyak dalil yang menunjukkan Allah berada di atas ‘Arsy. Allah berfirman tentang Nabi Isa:بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ“Tetapi Allah mengangkat (ke atas) Nabi Isa menuju Allah” (QS An-Nisa’ : 158)Allah juga berfirman:إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya.” (QS Fathir : 10)Dan terlalu banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan Allah itu di atas.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya)”Allah telah menciptakan seluruh makhluk dan sungguh Allah telah menyempurnakan penciptaan-penciptaan-Nya. Sehingga dapat kita saksikan ciptaan-ciptaan Allah yang sungguh indah dan menakjubkan. Apabila kita memperhatikan penciptaan manusia saja, kita akan jumpai bentuk dan susunan yang luar biasa. Begitupun dengan makhluk-makhluk yang lain, Allah menciptakan dan menyempurnakannya sesuai dengan kondisi masing-masing makhluk.Ibnu Katsir berkata :سَوَّى كُلَّ مَخْلُوْقٍ فِي أَحْسَنِ الْهَيْئَاتِ“Allah telah menyempurnakan seluruh makhluk dalam bentuk yang terindah” (Tafsir Ibnu Katsir 8/372)Dan telah lalu tafsir firman Allah :الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ“yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan penciptaanmu seimbang” (QS Al-Infithoor : 7)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”فَهَدَىٰ “memberi petunjuk”, yang dimaksud dengan petunjuk disini adalah hidayah kauniyah yaitu Allah memberi hidayah sesuai dengan kebutuhan makhluk tersebut. Oleh karena itu, banyak tabiat-tabiat atau fitrah-fitrah yang telah ada dalam diri setiap makhluk. Seperti ketika seekor kambing melahirkan anaknya, maka siapa yang mengajari anaknya tersebut untuk mencari puting ibunya, dia belum pernah belajar dan belum pernah ada yang mengajarinya, ibunya juga tidak mendekat-dekatkan putingnya kepada anaknya. Namun tiba-tiba saja anaknya dengan fitrahnya mencari sendiri puting susu ibunya kemudian mengisapnya. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali atas campur tangan Allah.Dan banyak perkataan para salaf tentang hidayah kauniyah ini, diantaranya :Allah memberi hidayah (petunjuk/insting) kepada para hewan untuk mencari tempat menggembalanyaAllah memberi petunjuk bagaimana seekor jantan mendatangi betina, meskipun tidak ada yang mengajarkannyaAllah mentaqdirkan rizki dan memberi petunjuk bagaimana cara mencari rizkiAllah menciptakan banyak manfaat pada benda-benda, lalu Allah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana cara mengeluarkan manfaat tersebut (lihat Tafsir al-Baghowi 8/400)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ“Dan Yang menumbuhkan rerumputan” Yaitu Allah menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan dengan berbagai macamnya, yang hijau, yang merah, kuning, dan putih (lihat Tafsir At-Thobari 24/312 dan Tafsir al-Baghowi 8/400)فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering dalam kehitam-hitaman”Seakan-akan Allah menyebutkan bahwasanya demikianlah hakekat dunia. Sebagaimana tumbuh-tumbuhan yang dikeluarkan oleh Allah, suatu saat nanti akan berubah menjadi mengering, kemudian darinya akan tampak kehitam-hitaman. Memperingatkan bahwa usia kehidupan hanyalah sebentar yang hal ini diisyaratkan dengan perubahan tahapan kehidupan, sebagaimana tumbuhan dari hijau lalu menguning lalu akhirnya kering dan kehitam-hitaman. (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/279).Manusiapun demikian sebagaimana firman Allah :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban” (QS Ar-Ruum : 54)Kemudian Allah berfirman:سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ“Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa”Ada dua pendapat di kalangan ulama tentang makna laa pada kalimat فَلَا تَنسَىٰ. Pendapat pertama mengatakan النِّسْيَانُ disini artinya adalah lupa, sehingga makna ayat adalah “Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.” Ini didukung dengan ayat yang lain di dalam Al-Quran. Ketika Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad melalui Jibril, beliau ingin segera menghafalkannya, kemudian Allah tegur dengan berfirman:لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17)“(16) Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya; (17) Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS Al-Qiyamah 16-17)Oleh karena itu, Allah-lah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menghafal Al-Quran, dan Allah pulalah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lupa dengan hafalan tersebut, kecuali sebagian yang Allah kehendaki yang Allah mansuukhan sehingga engkaupun melupakannya.Pendapat kedua النِّسْيَانُ di sini maknanya adalah التَّرْكُ “meninggalkan” sehingga makna ayat adalah Allah akan menjagamu dari meninggalkan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga engkau akan selalu mengamalkannya kecuali jika Allah menghendaki yaitu jika terjadi ayat-ayat yang dimansuukh sehingga engkau meninggalkan beramal dengannya karena telah dimansuukhkan. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/19)Dari sini jelas bahwa kedua pendapat di atas termasuk khilaf tanawwu’ karena saling mendukung dan tidak kontradiktif. Dan ayat ini menunjukan bahwa Allah menjamin bahwa al-Qur’an akan terjaga dari kekurangan (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/281)Setelah itu Allah berfirman:إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“Kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi”Yaitu kecuali Allah menjadikan Nabi lupa terhadap beberapa ayat dari Al-Quran, seperti ayat-ayat yang di-mansukh oleh Allah. Allah berfirman:مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya.” (QS Al-Baqarah : 106)Menunjukkan bahwasanya ada ayat-ayat Al-Quran yang pernah dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dimansukhkan ayatnya oleh Allah lalu dilupakan, sehingga tidak lagi terbaca sekarang. Namun pada asalnya Nabi tidak akan lupa kecuali Allah yang membuatnya lupa dan ada kemaslahatan dibalik keputusan Allah tersebut.Kemudian dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi. Mengapa Allah mengatakan bahwasanya Dia juga mengetahui yang nampak, padahal dalam ayat ini Allah juga mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Secara logika apabila seseorang mengetahui yang tersembunyi maka tentu saja dia lebih mengetahui yang nampak. Sehingga cukup Allah mengabarkan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Tetapi Allah sengaja menyampaikannya juga karena yang nampak dan yang tersembunyi bagi Allah sama saja tidak ada bedanya, demikianlah kata para ulama. Allah berfirman:وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nampakkanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al-Mulk : 13)Jangankan perkataan yang diucapkan dengan pelan-pelan, bahkan perkataan yang ada di dalam hati saja Allah juga mengetahuinya. Allah berfirman:وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka berhati-hatilah.” (QS Al-Baqarah : 235)Sehingga setiap manusia tidak hanya memperhatikan gerak-gerik tubuhnya, tidak hanya berhati-hati dengan perkataan lisannya, bahkan karena hatinya pun dia harus berhati-hati. Jangan sampai ada niat buruk dalam hati kita, ada penyakit riya’, penyakit hasad, suudzan kepada saudara kita, berburuk sangka dan penyakit-penyakit hati lainnya karena sesunguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kita. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati karena ilmu Allah meliputi yang nampak dan yang tersembunyi.Kemudian Allah berfirman:وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan”Yaitu “Kami akan memudahkanmu wahai Muhammad untuk mengamalkan kebajikan”. Dan pendapat yang lain yaitu :نُوَفِّقُكَ لِلشَّرِيعَةِ الْيُسْرَى وَهِيَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ“Kami akan membimbingmu kepada syari’at yang mudah yaitu al-Haniifiyah (bertauhid) dan As-Samhah (mudah)” (Tafsir al-Baghowi 8/401)Ini menunjukan bahwasanya agama islam adalah agama yang mudah, dan ini nampak jika dibandingkan dengan agama-agama terdahulu. Agama yahudi, agama nasrani, memiliki aturan-aturan yang sangat ketat. Hal ini dapat kita saksikan pada pemeluk yahudi sekarang yang masih fanatik dengan agamanya, mereka hidup penuh dengan aturan-aturan. Berbeda dengan syariat agama islam yang dimudahkan oleh Allah. Misalnya tentang tata cara shalat, dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ“Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR Bukhari no. 1117)Dalam menjalankan syariat Islam, Allah memberikan banyak kemudahan. Allah berfirman:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS At-Taghabun : 16)Kaidah ini berlaku secara umum, betapa banyak perkara yang seorang hamba jika dia tidak mampu melaksanakannya maka gugur hukumnya. Misalnya dalam masalah haji, Allah berfirman:وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana.” (QS Ali ‘Imran : 97)Namun lihatlah bagaimana syariat yang dibebankan kepada umat terdahulu. Seperti umat Nabi Musa pada zamannya, setelah bertaubat dari dosa mereka akan disuruh bunuh diri. Berbeda dengan sekarang, jika seseorang berdosa setelah itu bertaubat dengan taubat nashuha maka Allah akan mengampunkan dosanya. Oleh karena itu, syariat islam adalah syariat yang mudah, jangan dipersulit dengan aturan-aturan yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jangan dipersulit dengan keyakinan-keyakinan yang tidak pernah diyakini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian kaum muslimin ketika ingin melakukan suatu acara, mereka seringkali terbentur dengan keyakinan-keyakinan yang aneh, tidak boleh karena pamali, lewat primbon tidak pas, tidak boleh bertepatan dengan jumat kliwon atau rabu pahing, dan aturan-aturan lainnya yang menyulitkan diri sendiri. Padahal Allah menurunkan syariat Islam ini beserta aturan-aturannya yang sangat mudah.Kemudian Allah berfirman:فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ“Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”Secara tekstual, ayat ini bermakna “Berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” Karenanya sebagian ulama seperti Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan bahwasanya tidak semua orang diberi peringatan dan nasehat, apabila tidak ada manfatnya maka tidak perlu diberi peringatan, atau justru menimbulkan mudharat maka jangan diberi peringatan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/372 dan ini juga pendapat yang dipilih oleh As-Sa’adi dalam tafsirnya hal 920). Ibnu Katsir membawakan atsar dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan nalar mereka. Atau kamu ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR Al-Bukhari no 127)Maka tidak semua diberi peringatan, jika peringatan tersebut tidak sesuai dengan nalar pendengarnya maka hendaknya tidak disampaikan. Namun sampaikanlah peringatan tersebut kepada orang yang sesuai dengan nalar mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ؛ إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ“Tidaklah engkau menyampaikan suatu hadist yang akal mereka tidak dapat menjangkaunya kecuali akan menimbulkan fitnah.” (Mukaddimah Shahih Muslim)Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa memberi peringatan itu adalah kepada orang yang bisa mengambil manfaat dari peringatan tersebut, ini adalah pendapat yang pertama.Pendapat kedua menyatakan bahwasanya peringatan itu diberikan kepada siapa saja, baik dia mengambil manfaat atau tidak nasehat tetap disampaikan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/20), namun tetap menimbang maslahat dan mudharat. Sebagaimana Fir’aun yang tidak mungkin beriman tetapi tetap diberi peringatan oleh Nabi Musa. Karenanya, jika orang yang diberi peringatan bisa mengambil faidah maka dia juga akan mendapat ganjaran, jika tidak mengambil faidah maka hujjahnya telah tegak dan dia tidak punya udzur di hadapan Allah karena telah melaksanakan kewajibannya. Oleh karena itu, peringatan tetap harus disampaikan tentunya dengan kata-kata yang halus penuh sopan santun sehingga diharapkan peringatan tersebut bisa bermanfaat.Kemudian Allah berfirman:سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran”Ini menguatkan pendapat yang kedua, manfaat atau tidak manfaat hendaknya tetap memberi peringatan, karena orang yang takut kepada Allah akan mengambil peringatan tersebut.Kemudian Allah berfirman:وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى“Dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya” Yaitu menjauhi peringatan tersebut. Ini adalah sifat-sifat penghuni neraka jahannam. Jika diberi peringatan dia akan lari menjauh. Sebagaimana keterangan dari Nabi Nuh ketika dia mendakwahi kaumnya, Allah berfirman:قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6)Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam; dan seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh : 5-6)Tetapi Nabi Nuh terus berdakwah, entah kaumnya mendengarkannya atau tidak.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ“(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)”Allah menyebutkan api yang besar, lantas apakah ada api yang kecil? Kata para ulama, api yang kecil adalah sebelum di akhirat yaitu di kuburan. Orang yang jahat, orang yang kafir, orang yang dzalim, mereka telah merasakan siksaan dengan api di kuburan. Dan kelak mereka akan kembali merasakan siksaan dengan api yang besar yaitu di neraka jahannam.Dan ada yang berpendapat bahwa api yang besar adalah api neraka bagi orang-orang kafir, adapun api yang kecil adalah untuk orang-orang yang bertauhid yang bermaksiat sehingga masuk neraka (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/21). Karena neraka bertingkat-tingkat, dan neraka kaum kafir tidak sama dengan neraka kaum muslimin para pelaku maksiat.ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup”Kita tahu bahwasanya hanya ada dua kemungkinan, apakah seseorang itu masih hidup atau mati, tidak ada orang yang pada saat bersamaan dia hidup dia juga mati atau tidak hidup tidak pula mati. Namun tatkala seseorang diadzab di neraka jahannam, dia akan merasakan yang namanya tidak mati dan juga tidak hidup. Dia tidak mati sehingga beristirahat dari adzab yang pedih, namun dia juga tidak hidup karena kehidupannya penduh dengan adzab yang pedih (lihat Tafsir As-Sma’aani 6/210).Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, kami akan ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa : 56)Dan adzab neraka jahannam itu tidak hanya membakar bagian luar saja. Allah menyebutkan tentang sifat neraka jahannam, Allah berfirman:الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ“yang (membakar) sampai hati.” (QS Al-Humazah : 7)Neraka jahannam membakar sampai ke bagian dalam, ke dalam hati, jantung, bahkan sampai sel-selnya ikut terbakar. Ini adalah siksaan yang sangat mengerikan, karenanya mereka meminta untuk mati. Sebagaimana yang Allah firmankan tentang perkataan mereka:وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ“Dan mereka berseru, ‘Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.’ Dia menjawab, ‘Sungguh kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (QS Az-Zukhruf : 77)Setelah mereka tahu bahwasanya mereka tidak akan mengalami kematian, maka mereka minta keringanan kepada Allah. Allah mengabarkan perkataan mereka dalam firman-Nya:وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka jahannam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan adzab atas kami sehari saja’.” (QS Ghafir : 49)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mati, dan tidak diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS Fathir : 36)Sesungguhnya adzab untuk orang-orang kafir tidak akan ada keringanan. Jawaban untuk permintaan mereka hanyalah satu, Allah berfirman:فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab.” (QS An-Naba : 30)Oleh karena itu, siksaan yang mereka rasakan sangat pedih luar biasa. Dimana tidak ada tambahan bagi mereka kecuali adzab. Kemungkinannya ada dua, bisa jadi adzabnya ditambah dengan bentuk yang lain, atau bisa jadi dengan adzab yang sama tetapi bertambah keras.Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwasanya penghuni neraka yang tidak pernah mati dan tidak pula hidup hanya berlaku untuk orang-orang kafir karena surat Al-A’la berbicara tentang orang kafir yang tidak mau menerima peringatan dari Allah. Adapun penghuni neraka dari kalangan kaum muslimin maka suatu saat akan dikeluarkan oleh Allah kemudian dimatikan lalu dimasukkan ke dalam sungai-sungai surga setelah itu tumbuh kembali dalam bentuknya yang sempurna dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Hadist-hadist yang menunjukkan akan hal ini sangatlah banyak. Diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُهَا، فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ. وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوْبِهِمْ – أَوْ قَالَ : بِخَطَايَاهُمْ- فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوْا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ. فَجِيْءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ- ضَبَائِرَ، فَبُثُّوْا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ قِيْلَ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيْضُوْا عَلَيْهِمْ. فَيَنْبُتُوْنَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُوْنُ فِى حَمِيْلِ السَّيْلِ”.“Adapun ahli Neraka yang menjadi penghuni kekalnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup. Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa Neraka karena dosa-dosanya –atau Rasul bersabda, karena kesalahan-kesalahannya- maka Allah akan mematikan mereka dengan suatu kematian. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, Nabi diizinkan untuk memberikan syafa’at (kepada mereka). Lalu mereka di datangkan berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, lalu dimasukkan ke sungai-sungai di surga. Selanjutnya dikatakan (oleh Allah): “Wahai penghuni surga, kucurkanlah air kehidupan kepada mereka”. Maka tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih-benih tetumbuhan di larutan lumpur yang dihempaskan arus air.” (HR Muslim no. 306)Hadits ini menceritakan keadaan orang muslim yang terjerumus dalam berbagai macam kemaksiatan namun tidak sampai derajat kufur. Mereka akan disiksa di neraka jahannam sesuai dengan dosa-dosa yang mereka lakukan kemudian dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga, selama dia masih bertauhid. Hadist-hadist lain yang menunjukkan akan hal ini sangat banyak, dan ini merupakan aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Berbeda dengan aqidah khawarij, yang meyakini bahwa apabila seseorang sekalinya masuk neraka maka dia tidak akan keluar. Sehingga dengan keyakinan ini, mereka akan menyamakan nasib seorang pezina yang masih muslim dengan seorang yang kafir kepada Allah yaitu sama-sama tidak akan keluar dari neraka jahannam. Dan ini adalah pendapat yang bathil.Kemudian Allah berfirman:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”Yaitu mensucikan dirinya dari akhlak-akhlak yang buruk kemudian menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang muliaوَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”Begitupun dengan seorang hamba yang senantiasa berdzikir mengingat Allah dan memperbanyak shalat dan bersujud kepada Allah juga mendapatkan keberuntungan, bisa menjadi modal yang besar untuk masuk ke dalam surga. Dalam suatu hadits dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dia berkata : كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Saya bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya, maka beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepadaku.’ Maka aku berkata, ‘Aku meminta kepadamu agar aku menemanimu di surga -dia berkata, ‘Atau dia selain itu’. Aku menjawab, ‘Itulah yang dia katakan-maka beliau menjawab, ‘Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud’.” (HR Muslim no. 754)Kemudian Allah berfirman:بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia”وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal”Ini adalah sesuatu yang mengherankan dari perkara manusia, dimana kebanyakan dari mereka lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Padahal apabila kita renungi kemudian kita bandingkan, dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang dunia:لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.” (HR Tirmidzi no. 2320 dan Ibnu Majah no. 4110)Namun karena dunia ini ringan dan rendah di sisi Allah maka Allah berikan minuman kepada orang kafir, Allah berikan kekayaan kepada orang kafir. Oleh karena itu, hendaknya dunia ini dijadikan sarana semata menuju akhirat, jangan dijadikan keutamaan. Sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kami miliki.” (HR Tirmidzi no.3502)Tetapi barang siapa yang justru menjadikan dunianya sebagai puncak kehidupannya niscaya dia tergolong sebagai orang yang celaka. Sebagaimana sindiran Allah dalam ayat ini bahwasanya manusia itu lebih mendahulukan dunia daripada akhirat.Jika kita mencoba membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat maka tidak akan bisa kita dibandingkan. Pertama kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih baik daripada kenikmatan dunia, apapun bentuk kenikmatan tersebut. Kedua kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih kekal daripada kenikmatan dunia. Seandainya kita membuat suatu perbandingan, misalnya seseorang yang diberi emas kemudian dia menikmatinya hanya sekedar waktu tertentu, lantas tidak berselang lama emas itu tidak lagi menjadi miliknya, dibanding apabila dia diberi secangkir susu tetapi dia bisa menikmatinya sepanjang hayatnya, maka dia akan lebih memilih kenikmatan yang meskipun sedikit akan tetapi bisa dinikmati lebih lama. Akal yang sehat akan memilih kenikmatan yang lebih lama meskipun sedikit. Maka bagaimana lagi jika kenikmatan itu sempurna ditambah bisa menikmatinya selamanya, sebagaimana akhirat.Secara ringkas, beberapa perbandingan antara dunia dan akhirat berikut ini:Pertama, kenikmatan akhirat abadi sedangkan kenikmatan dunia fana. Dan sesuatu yang fana tidak pantas dibandingkan dengan sesuatu yang abadi.Kedua, kenikmatan surga itu sempurna sedangkan kenikmatan dunia penuh dengan kekurangan. Seperti seorang istri, istri yang dimiliki oleh seorang lelaki merupakan kenikmatan. Secantik-cantiknya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan, apakah dari tubuhnya keluar bau badan, terkadang dia akan buang angin, atau sering marah. Adapun wanita di akhirat mereka adalah istri-istri yang disucikan, tidak ada bau yang tidak enak dari badannya, tidak ada kotoran di matanya, dari hidungnya, dan dari sekujur tubuhnya. Semuanya bersih tidak ada kekurangannya sama sekali. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya seorang laki-laki dari penduduk surga akan memeluk istrinya dari kalangan bidadari selama 70 tahun, dia tidak bosan begitupun istrinya. Demikianlah perbandingan antara kenikmatan dunia dan surga, jika khamr di dunia memabukkan dan memudharatkan maka khamr di akhirat adalah khamr yang lezat yang tidak menimbulkan kemudharatan, jika rumah kita di dunia terbuat dari batu bata maka di surga kelak Allah menyediakan istana-istana besar yang terbuat dari mutiara yang lantainya dari emas.Ketiga, kenikmatan surga mudah diraih sedangkan kenikmatan dunia perlu perjuangan. Ketika kita ingin makan maka terlebih dahulu harus beli bahan-bahan kemudian memasaknya, adapaun di surga tinggal diambilkan oleh para pelayan yang disediakan Allah. Ketika di dunia kita harus mencarikan nafkah untuk istri agar dia mau melayani kita sedangkan di surga langsung dilayani oleh para bidadari.Keempat, kenikmatan surga ada setiap saat tanpa bergantung kepada musim. Jika durian, rambutan, mangga dan buah-buahan lainnya bisa dinikmati ketika musimnya tiba maka di akhirat semua buah-buahan mudah di dapatkan kapanpun waktunya.Kelima, kenikmatan akhirat tidak menimbulkan kotoran sedangkan kenikmatan dunia akan menghasilkan kotoran. Jika kita makan sesuatu maka kita pasti buang air seenak apapun makanannya, adapun di akhirat jika kita makan maka tidak ada buang air meskipun makan sekenyang-kenyangnya.Kemudian Allah berfirman:إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu”صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa”Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan suhuf Nabi Musa adalah taurat itu sendiri, ada pula yang berpendapat bahwasanya suhuf itu adalah lembaran-lembaran yang lain. Adapun suhuf Nabi Ibrahim kita tidak mengetahui namanya.Intinya adalah bahwasanya kabar-kabar tentang masalah akhirat yang lebih baik daripada dunia adalah perkara-perkara yang disepakati oleh seluruh Nabi dan sudah termaktub dalam kitab-kitab mereka. Begitupun setiap kitab-kitab suci yang Allah turunkan kepada para Nabi pasti juga mengandung pengagungan terhadap Allah, pensucian terhadap Allah dari sifat-sifat yang buruk, dan kabar-kabar lainnya.


Tafsir Surat Al-A’laOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat ini adalah surat yang istimewa karena banyak dihafalkan oleh kaum muslimin dan dan sering dilantunkan oleh para imam. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan surat ini, bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai surat Al-A’la.Ali bin Abi Tholib berkataكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى‘’Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam mencintai surat ini yaitu sabbihisma Rabbikal A’laa’’ (HR Ahmad no 742 akan tetapi sanadnya lemah)Diantara keutamaan surat Al-A’la adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan surat Al-A’la sebagai surat yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat witirnya pada rakaat pertama.Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata :«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ»‘’Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat witir dengan membaca Sabbihisma Rabbikal A’la dan Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, dan Qul Huwallahu Ahad’’ (HR Ibnu Majah no 1171, Abu Dawud no 1423. Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam al-Musnad no 15355 dan at-Tirmidzi no 462)Dimana shalat witir itu sendiri merupakan shalat yang sangat mulia, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwasanya shalat witir itu hukumnya wajib, meskipun yang benar adalah tidak wajib melainkan sunnah muakkadah yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat witir baik ketika mukim atau sedang bersafar.Sampai-sampai Al-Imam Ahmad pernah berkata :مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْدًا فَهُوَ رَجُلُ سَوْءٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ‘’Siapa yang meninggalkan sholat witir dengan sengaja makai a adalah seorang yang buruk, tidak pantas untuk diterima syahadah/persaksiannya’’ (al-Mughni 2/118)Seorang lelaki yang tidak shalat witir padahal dia mengetahui keutamaannya dan bagaimana cintanya Nabi terhadap shalat witir hingga beliau tidak pernah meninggalkannya, lantas dia meninggalkannya, dinilai sebagai seorang lelaki yang buruk.Diantara keutamaan lainnya, surat Al-A’la bersama dengan surat Al-Ghasyiyah selalu dibaca oleh Nabi dalam shalat-shalat ‘Ied, demikian juga dalam shalat Jumat.An-Nu’maan bin Basyiir berkata :«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ»‘’Adalah Rasulullah tatkala sholat ‘ied (‘iedul fithri dan ‘iedu adha) dan sholat Jum’at beliau membaca Sabbihisma Rabbikal A’laa dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghoosyiah’’. An-Nu’man berkata, ‘’Dan jika berkumpul antara ‘ied dan Jum’at dalam satu hari maka Nabi membaca kedua surat tersebut juga pada dua sholat tersebut (sholat ‘ied dan sholat Jum’at)’’ (HR Muslim no 878)Ini menunjukkan keutamaan dua surat ini, dipilih oleh Nabi untuk dibaca ketika kaum muslimin sedang berkumpul.  Hal ini tidak lain karena kandungan kedua surat ini yang sangat penting untuk didengar oleh kaum muslimin tatkala mereka sedang berkumpul.Dan kita tahu bahwasanya hari raya milik kaum muslimin adalah hari raya yang istimewa, tidak sama dengan hari raya umat-umat lain yang isinya hanya hura-hura dan lupa dengan akhirat. Berbeda dengan hari raya kaum muslimin, seperti idul adha yang didahului dengan ibadah haji dan idul fitri yang didahului dengan puasa ramadhan, semua didahului dengan ibadah. Kemudian kedua hari raya tersebut dibuka dengan sholat sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka sungguh Indah hari raya kaum muslimin.Kemudian diantara hadist lain yang menyebutkan tentang surat Al-A’la adalah kisah masyhur tentang Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang terlalu panjang bacaannya tatkala beliau menjadi imam. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الْأَنْصَارِيُّ لِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ. فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا. فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ: إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ؟ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى»“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adzpun berkata, ‘’Sesungguhnya ia seorang munafik’’. Tatkala perkataan Mu’adz sampai kepada orang tersebut maka iapun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465)Hadist ini juga menunjukkan bahwa seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya. Tidak boleh sesuka hatinya memanjangkan shalatnya, karena boleh jadi makmumnya banyak kebutuhan, atau ada yang sakit atau ada udzur-udzur yang lainnya. Demikian juga sebagian imam memanjangkan dzikirnya yang mana dilakukan secara berjamaah -bahkan dzikirnya lebih Panjang dari sholatnya itu sendiri-, sehingga para makmumnya merasa sungkan untuk meninggalkannya meskipun punya banyak urusan, karena merasa dirinya wajib ikut dalam dzikir berjamaah tersebut. Padahal tidak demikian sunnah Nabi. Imam Asy-Syafii juga memilih pendapat bahwasanya dzikir yang disunnahkan adalah dzikir yang sendiri-sendiri. (lihat Al-Umm karya Imam Syafi’i 2/288).Imam Asy-Syafii juga menyatakan jika ada hadist-hadist Nabi yang menunjukkan bahwa apabila terkadang dzikir Nabi keras maka maksud Nabi adalah ingin mengajarkan dzikir tersebut kepada para sahabatnya. Sehingga apabila para makmum telah mengerti tata cara dzikir yang sesuai sunnah, maka hendaknya mereka dzikir sendiri-sendiri. (lihat kitab al-Umm 2/289). Dan pendapat Imam Asy-Syafi’i ini juga dipilih oleh Imam An-Nawawi (lihat Al-Majmuu’ 3/468-469) dan Ibnu Hajar al-Haitami (lihat Al-Fataawaa al-Fiqhiyyah al-Kubro 1/157-158)Ini lebih memudahkan mereka apabila ingin segera menunaikan kebutuhannya. Jika shalat yang terlalu lama saja ditegur oleh Nabi, maka lebih-lebih dzikir yang dilakukan secara berjamaah yang membuat orang-orang tidak bisa segera menunaikan kebutuhannya karena merasa wajib ikut dzikir berjamaah tersebut. Oleh karena itu, seseorang hendaknya berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bis showab.Terdapat khilaf diantara para ulama apakah surat Al-A’la adalah surat makiyyah atau surat madaniyah. Sebagian ulama berpendapat bahwasanya surat Al-A’la adalah surat madaniyah karena di dalamnya disebutkan tentang masalah zakat dan juga shalat. Allah berfirman dalam surat Al-A’la:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ (15)“(14) Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman); (15) Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS Al-A’la : 14-15)Sebagian ahli tafsir menafsirkan kata tazakka dengan membayar zakat fitri, kemudian fashalla dengan shalat id, sehingga ini menunjukkan bahwasanya surat ini madaniyyah karena zakat fitri dan salat id tidaklah di syariatkan kecuali di Madinah. Ini adalah pendapat Ad-Dhohaak (lihat Tafsir al-Qurthubi 13/20 dan At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/271). Namun pendapat jumhur ulama ahli tafsir menyatakan bahwasanya surat Al-A’la adalah surat makiyyah, diturunkan sebelum Nabi berhijrah ke kota Madinah. Hal ini sangat jelas ditunjukkan dalam shahih Bukhari. Dari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata:أَوَّلُ مَنْ قَدِمَ عَلَيْنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ، وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَجَعَلاَ يُقْرِئَانِنَا القُرْآنَ، ثُمَّ جَاءَ عَمَّارٌ، وَبِلاَلٌ، وَسَعْدٌ ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فِي عِشْرِينَ ثُمَّ ” جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْتُ أَهْلَ المَدِينَةِ فَرِحُوا بِشَيْءٍ، فَرَحَهُمْ بِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الوَلاَئِدَ وَالصِّبْيَانَ، يَقُولُونَ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَ فَمَا جَاءَ، حَتَّى قَرَأْتُ: {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] فِي سُوَرٍ مِثْلِهَا ““Orang pertama dari para sahabat yang datang ke kota Madinah ialah Mus’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Kedua orang inilah yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami. Kemudian menyusul Ammar bin Yasir, Bilal, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Umar bin al-Khaththab bersama kafilah yang terdiri dari dua puluh orang. Setelah itu, barulah Rasulullah saw datang menyusul. Saya belum pernah melihat banyak orang bergembira seperti saat mereka menyambut kedatangan beliau, sehingga kaum wanita, anak-anak, dan para hamba sahaya perempuan bersorak-sorai meneriakkan, “Itulah dia, Rasulullah saw telah datang.” Sampai aku membaca sabbihisma rabbikal a’la dan beberapa surat yang semisal surat tersebut.” (HR Bukhari no. 4941)Ini dalil bahwasanya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota madinah ternyata Musa bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum telah mengajarkan surat Al-A’la yang menunjukkan bahwasanya surat sabbihisma rabbikal a’la adalah surat makiyyah yang diturunkan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. (lihat Tafsir Ibnu Katsiir 8/370). Sebagian ulama menggabungkan dua pendapat di atas dan menyatakan bahwa surat al-A’la adalah surat Makkiyah akan tetapi sebagian ayatnya adalah Madaniyah, yaitu ayat yang berkaitan dengan zakat dan sholat ‘ied (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/271)Allah berfirman pada permulaan surat:سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى“Sucikanlah namu Tuhanmu Yang Maha Tinggi”سَبِّحِ dalam bahasa arab diambil dari kata تَسْبِيْحٌ artinya mensucikan. Ada banyak kata ‘mensucikan’ di dalam Al-Quran dengan berbagai shighah seperti bentuk fi’il mudhari’ يُسَبِّحُ, bentuk fi’il amr سَبِّحْ, bentuk fi’il madhi سَبَّحَ, bentuk isim masdar سُبْحَانَ, semuanya dalam rangka untuk mensucikan Allah. Hal ini karena Allah adalah Dzat yang berhak untuk disucikan dari perkataan mulhidin. Sebab ada banyak perkataan-perkataan atau aqidah-aqidah yang batil tentang Allah sehingga Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Misalnya ketika Allah dituduh memiliki anak, maka Allah mengatakan سُبْحَانَ.Diantara hal-hal yang tidak pantas bagi Allah adalah mensifati Allah dengan sifat-sifat yang kurang seperti cacat, buta, tuli, bisu, atau Allah punya anak, Allah punya istri, semua ini adalah sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah. Jika kita membuka buku-buku seperti al-Kitab maka kita akan mendapati sifat-sifat yang menunjukkan kerendahan Allah, seperti Allah itu menangis, Allah bisa menyesal dan hatinya pilu/sedih, Allah menyesal telah menciptakan manusia (lihat al-Kitab, Kejadian 6 ayat 6-7), Allah menyesal karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatnya (lihat al-Kitab, Keluaran 32 ayat 14). Allah menyesal menjadikan Saul raja atas Isra’il (lihat Al-Kitab Samuel 1 : 15 ayat 35). Disebutkan juga bahwa Allah mencari-cari Nabi Adam yang bersembunyi (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 9-10), Allah juga tidak tahu ternyata Nabi Adam dan Hawwa telah memakan buah yang dilarang (lihat Al-Kitab, Kejadian 3 ayat 11). Disebutkan juga Allah istirahat karena letih setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sehingga hari ke tujuh Allah istirahat. (lihat al-Kitab, Kejadian 2 ayat 2). Yang lebih parah disebutkan bahwa Allah bergulat dengan Nabi Ya’qub dan akhirnya Ya’qub yang menang (lihat Al-Kitab, Kejadian 32 ayat 22-28 dan Hosea 12 ayat 2-4). Hal-hal seperti ini mustahil didapati di dalam Al-Quran, justru di dalam Al-Quran Allah berulang-ulang menyuruh untuk mensucikan-Nya sebagaimana dalam banyak ayat.Diantara hal yang perlu kita sucikan dari Allah adalah menyamakan Allah dengan makhluk. Memang benar bahwasanya beberapa sifat Allah sama dengan sifat-sifat makhluk dalam penamaan. Akan tetapi meskipun namanya sama tapi hakikatnya berbeda. Allah berfirman:لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)Allah mendengar dan juga melihat, akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah berbeda dengan makhluk. Penglihatan manusia sangat terbatas, begitupun pendengarannya, apabila ada lima orang yang berbicara secara bersamaan niscaya dia tidak akan bisa konsentrasi mendengarkannya. Berbeda dengan penglihatan dan pendengaran Allah, pendengaran Allah meliputi segala sesuatu di alam semesta ini, demikian juga penglihatan dan ilmunya. Manusia berilmu, Allah juga berilmu, akan tetapi ilmu Allah tidak bisa dibandingkan dengan ilmu manusia yang penuh dengan kekurangan. Sesuatu yang melekat di dalam manusia saja, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui hakikatnya, yaitu ruh. Seandainya ada seribu orang yang  berbicara tentang ruh, maka akan ada seribu penafsiran tentangnya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidak diberikan pengetahuan kecuali sangat sedikit.” (QS Al-Isra’ :  85)Oleh karena itu, tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya sifat Allah sama hakikatnya dengan sifat manusia, meskipun namanya sama. Contoh lain Allah punya tangan, maka tidak boleh terbetik dalam benak kita bahwasanya tangan Allah sama seperti tangan manusia, karena itu tidak mungkin. Allah berfirman:وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamatm dan langit akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Az-Zumar : 67)Dan kaidah ini berlaku untuk seluruh sifat-sifat Allah, barangsiapa yang menyamakan antara sifat Allah dengan sifat makhluk maka telah terjerumus dalam kesyirikan. Inilah makna dari ayat ini, yaitu agar kita menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi Allah dan dari penyamaan antara sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.Kemudian dari ayat ini kita mengetahui bahwa diantara sifat Allah adalah Maha Tinggi, ada banyak dalil-dalil yang menunjukkan ke-MahaTinggi-an Allah. Allah Maha Tinggi dalam tiga perkara; Pertama, Allah Maha Tinggi sifat-sifat-Nya yaitu sifat-sifat Allah semuanya adalah sifat-sifat yang sempurna; Kedua, Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya; Ketiga Dzat Allah Maha Tinggi.Semua umat islam sepakat bahwasanya sifat-sifat Allah adalah sifat yang tinggi, begitupun semua sepakat bahwasanya tidak ada satu makhluk pun yang menyamai ketinggian Allah. Namun dalam masalah ketinggian Dzat, di tengah kaum muslimin telah terjadi penyimpangan. Sebagian kaum muslimin sampai sekarang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Padahal pendapat ini sudah dibantah oleh Imam Ahmad beratus-ratus tahun yang lalu di dalam kitabnya Ar-Radd ‘alal Jahmiyah waz zanaadiqoh, karena kelaziman bahwasanya Allah ada di mana-mana sangat berbahaya. Bahwasanya Allah ada di kamar mandi, Allah di dalam perut hewan, Allah juga di dalam perut kita, Maha Suci Allah dari pendapat bathil seperti ini. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.Sebagian ada yang mengatakan bahwasanya Allah tidak di atas tidak pula di bawah, sebagaimana perkataan orang-orang filsafat. Lantas Allah itu dimana jika tidak di atas tidak pula di bawah, keyakinan seperti ini akan berkonsekuensi bahwa Allah itu tidak ada. Allah Maha Suci dari anggapan seperti itu. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risalah ila ahlits tsaghr telah menyebutkan bahwasanya para sahabat telah ijma’ (sepakat) Allah berada di atas ‘Arsy. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist Nabi.Keyakinan bahwasanya Allah berada di atas adalah fitrah manusia. Karenanya kita dapati semua manusia jika berdoa maka tangannya pasti menengadah ke atas. Seandainya Allah berada di mana-mana maka tangannya juga akan ke mana-mana. Demikian kita dapati semua orang kalau menghadapi permasalahan yang berat mereka berkata, ‘’Kita serahkan kepada Yang di atas’’.Pendapat yang mengatakan Allah ada di mana-mana atau Allah tidak di atas dan tidak di bawah dan tidak dimana-mana juga secara tidak langsung mengingkari mukjizat Isra’ Mi’raj. Karena ketika Nabi shalallahu’alayhi wa sallam menjalani peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau dibawa ke atas langit ketujuh untuk bertemu dengan Allah Rabbul ‘Aalamin. Oleh karena itu, sebagian ulama Syafi’iyyah memberi perhatian khusus tentang masalah ini, diantaranya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar yang sekarang tercetak menjadi 2 jilid. Dalam buku tersebut disebutkan seluruh perkataan ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman beliau tentang Allah berada di atas.Keyakinan bahwa Allah tidak berada di atas akan menjerumuskan manusia dalam pemahaman yang batil. Contohnya meyakini bahwasanya Allah berada dimana-mana. Atau sebagiannya meyakini bahwasanya Allah bisa bersatu dengan makhluk yang dikenal dengan istilah aqidah wihdatul wujud atau manunggal ing kawula gusti. Ini adalah aqidah yang batil, sama seperti aqidah trinitas yang meyakini Allah bersatu dengan Nabi Isa. Pendapat-pendapat seperti ini merupakan kekufuran. Terlalu banyak dalil yang menunjukkan Allah berada di atas ‘Arsy. Allah berfirman tentang Nabi Isa:بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ“Tetapi Allah mengangkat (ke atas) Nabi Isa menuju Allah” (QS An-Nisa’ : 158)Allah juga berfirman:إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya.” (QS Fathir : 10)Dan terlalu banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan Allah itu di atas.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya)”Allah telah menciptakan seluruh makhluk dan sungguh Allah telah menyempurnakan penciptaan-penciptaan-Nya. Sehingga dapat kita saksikan ciptaan-ciptaan Allah yang sungguh indah dan menakjubkan. Apabila kita memperhatikan penciptaan manusia saja, kita akan jumpai bentuk dan susunan yang luar biasa. Begitupun dengan makhluk-makhluk yang lain, Allah menciptakan dan menyempurnakannya sesuai dengan kondisi masing-masing makhluk.Ibnu Katsir berkata :سَوَّى كُلَّ مَخْلُوْقٍ فِي أَحْسَنِ الْهَيْئَاتِ“Allah telah menyempurnakan seluruh makhluk dalam bentuk yang terindah” (Tafsir Ibnu Katsir 8/372)Dan telah lalu tafsir firman Allah :الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ“yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan penciptaanmu seimbang” (QS Al-Infithoor : 7)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”فَهَدَىٰ “memberi petunjuk”, yang dimaksud dengan petunjuk disini adalah hidayah kauniyah yaitu Allah memberi hidayah sesuai dengan kebutuhan makhluk tersebut. Oleh karena itu, banyak tabiat-tabiat atau fitrah-fitrah yang telah ada dalam diri setiap makhluk. Seperti ketika seekor kambing melahirkan anaknya, maka siapa yang mengajari anaknya tersebut untuk mencari puting ibunya, dia belum pernah belajar dan belum pernah ada yang mengajarinya, ibunya juga tidak mendekat-dekatkan putingnya kepada anaknya. Namun tiba-tiba saja anaknya dengan fitrahnya mencari sendiri puting susu ibunya kemudian mengisapnya. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali atas campur tangan Allah.Dan banyak perkataan para salaf tentang hidayah kauniyah ini, diantaranya :Allah memberi hidayah (petunjuk/insting) kepada para hewan untuk mencari tempat menggembalanyaAllah memberi petunjuk bagaimana seekor jantan mendatangi betina, meskipun tidak ada yang mengajarkannyaAllah mentaqdirkan rizki dan memberi petunjuk bagaimana cara mencari rizkiAllah menciptakan banyak manfaat pada benda-benda, lalu Allah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana cara mengeluarkan manfaat tersebut (lihat Tafsir al-Baghowi 8/400)Kemudian Allah berfirman:وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ“Dan Yang menumbuhkan rerumputan” Yaitu Allah menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan dengan berbagai macamnya, yang hijau, yang merah, kuning, dan putih (lihat Tafsir At-Thobari 24/312 dan Tafsir al-Baghowi 8/400)فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering dalam kehitam-hitaman”Seakan-akan Allah menyebutkan bahwasanya demikianlah hakekat dunia. Sebagaimana tumbuh-tumbuhan yang dikeluarkan oleh Allah, suatu saat nanti akan berubah menjadi mengering, kemudian darinya akan tampak kehitam-hitaman. Memperingatkan bahwa usia kehidupan hanyalah sebentar yang hal ini diisyaratkan dengan perubahan tahapan kehidupan, sebagaimana tumbuhan dari hijau lalu menguning lalu akhirnya kering dan kehitam-hitaman. (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/279).Manusiapun demikian sebagaimana firman Allah :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban” (QS Ar-Ruum : 54)Kemudian Allah berfirman:سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ“Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa”Ada dua pendapat di kalangan ulama tentang makna laa pada kalimat فَلَا تَنسَىٰ. Pendapat pertama mengatakan النِّسْيَانُ disini artinya adalah lupa, sehingga makna ayat adalah “Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.” Ini didukung dengan ayat yang lain di dalam Al-Quran. Ketika Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad melalui Jibril, beliau ingin segera menghafalkannya, kemudian Allah tegur dengan berfirman:لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17)“(16) Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya; (17) Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS Al-Qiyamah 16-17)Oleh karena itu, Allah-lah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menghafal Al-Quran, dan Allah pulalah yang menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lupa dengan hafalan tersebut, kecuali sebagian yang Allah kehendaki yang Allah mansuukhan sehingga engkaupun melupakannya.Pendapat kedua النِّسْيَانُ di sini maknanya adalah التَّرْكُ “meninggalkan” sehingga makna ayat adalah Allah akan menjagamu dari meninggalkan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga engkau akan selalu mengamalkannya kecuali jika Allah menghendaki yaitu jika terjadi ayat-ayat yang dimansuukh sehingga engkau meninggalkan beramal dengannya karena telah dimansuukhkan. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/19)Dari sini jelas bahwa kedua pendapat di atas termasuk khilaf tanawwu’ karena saling mendukung dan tidak kontradiktif. Dan ayat ini menunjukan bahwa Allah menjamin bahwa al-Qur’an akan terjaga dari kekurangan (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/281)Setelah itu Allah berfirman:إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“Kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi”Yaitu kecuali Allah menjadikan Nabi lupa terhadap beberapa ayat dari Al-Quran, seperti ayat-ayat yang di-mansukh oleh Allah. Allah berfirman:مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya.” (QS Al-Baqarah : 106)Menunjukkan bahwasanya ada ayat-ayat Al-Quran yang pernah dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dimansukhkan ayatnya oleh Allah lalu dilupakan, sehingga tidak lagi terbaca sekarang. Namun pada asalnya Nabi tidak akan lupa kecuali Allah yang membuatnya lupa dan ada kemaslahatan dibalik keputusan Allah tersebut.Kemudian dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi. Mengapa Allah mengatakan bahwasanya Dia juga mengetahui yang nampak, padahal dalam ayat ini Allah juga mengatakan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Secara logika apabila seseorang mengetahui yang tersembunyi maka tentu saja dia lebih mengetahui yang nampak. Sehingga cukup Allah mengabarkan bahwasanya Dia mengetahui yang tersembunyi. Tetapi Allah sengaja menyampaikannya juga karena yang nampak dan yang tersembunyi bagi Allah sama saja tidak ada bedanya, demikianlah kata para ulama. Allah berfirman:وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nampakkanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al-Mulk : 13)Jangankan perkataan yang diucapkan dengan pelan-pelan, bahkan perkataan yang ada di dalam hati saja Allah juga mengetahuinya. Allah berfirman:وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka berhati-hatilah.” (QS Al-Baqarah : 235)Sehingga setiap manusia tidak hanya memperhatikan gerak-gerik tubuhnya, tidak hanya berhati-hati dengan perkataan lisannya, bahkan karena hatinya pun dia harus berhati-hati. Jangan sampai ada niat buruk dalam hati kita, ada penyakit riya’, penyakit hasad, suudzan kepada saudara kita, berburuk sangka dan penyakit-penyakit hati lainnya karena sesunguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati kita. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati karena ilmu Allah meliputi yang nampak dan yang tersembunyi.Kemudian Allah berfirman:وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan”Yaitu “Kami akan memudahkanmu wahai Muhammad untuk mengamalkan kebajikan”. Dan pendapat yang lain yaitu :نُوَفِّقُكَ لِلشَّرِيعَةِ الْيُسْرَى وَهِيَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ“Kami akan membimbingmu kepada syari’at yang mudah yaitu al-Haniifiyah (bertauhid) dan As-Samhah (mudah)” (Tafsir al-Baghowi 8/401)Ini menunjukan bahwasanya agama islam adalah agama yang mudah, dan ini nampak jika dibandingkan dengan agama-agama terdahulu. Agama yahudi, agama nasrani, memiliki aturan-aturan yang sangat ketat. Hal ini dapat kita saksikan pada pemeluk yahudi sekarang yang masih fanatik dengan agamanya, mereka hidup penuh dengan aturan-aturan. Berbeda dengan syariat agama islam yang dimudahkan oleh Allah. Misalnya tentang tata cara shalat, dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ“Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR Bukhari no. 1117)Dalam menjalankan syariat Islam, Allah memberikan banyak kemudahan. Allah berfirman:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS At-Taghabun : 16)Kaidah ini berlaku secara umum, betapa banyak perkara yang seorang hamba jika dia tidak mampu melaksanakannya maka gugur hukumnya. Misalnya dalam masalah haji, Allah berfirman:وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana.” (QS Ali ‘Imran : 97)Namun lihatlah bagaimana syariat yang dibebankan kepada umat terdahulu. Seperti umat Nabi Musa pada zamannya, setelah bertaubat dari dosa mereka akan disuruh bunuh diri. Berbeda dengan sekarang, jika seseorang berdosa setelah itu bertaubat dengan taubat nashuha maka Allah akan mengampunkan dosanya. Oleh karena itu, syariat islam adalah syariat yang mudah, jangan dipersulit dengan aturan-aturan yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jangan dipersulit dengan keyakinan-keyakinan yang tidak pernah diyakini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian kaum muslimin ketika ingin melakukan suatu acara, mereka seringkali terbentur dengan keyakinan-keyakinan yang aneh, tidak boleh karena pamali, lewat primbon tidak pas, tidak boleh bertepatan dengan jumat kliwon atau rabu pahing, dan aturan-aturan lainnya yang menyulitkan diri sendiri. Padahal Allah menurunkan syariat Islam ini beserta aturan-aturannya yang sangat mudah.Kemudian Allah berfirman:فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ“Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”Secara tekstual, ayat ini bermakna “Berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” Karenanya sebagian ulama seperti Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan bahwasanya tidak semua orang diberi peringatan dan nasehat, apabila tidak ada manfatnya maka tidak perlu diberi peringatan, atau justru menimbulkan mudharat maka jangan diberi peringatan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/372 dan ini juga pendapat yang dipilih oleh As-Sa’adi dalam tafsirnya hal 920). Ibnu Katsir membawakan atsar dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan nalar mereka. Atau kamu ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR Al-Bukhari no 127)Maka tidak semua diberi peringatan, jika peringatan tersebut tidak sesuai dengan nalar pendengarnya maka hendaknya tidak disampaikan. Namun sampaikanlah peringatan tersebut kepada orang yang sesuai dengan nalar mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ؛ إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ“Tidaklah engkau menyampaikan suatu hadist yang akal mereka tidak dapat menjangkaunya kecuali akan menimbulkan fitnah.” (Mukaddimah Shahih Muslim)Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa memberi peringatan itu adalah kepada orang yang bisa mengambil manfaat dari peringatan tersebut, ini adalah pendapat yang pertama.Pendapat kedua menyatakan bahwasanya peringatan itu diberikan kepada siapa saja, baik dia mengambil manfaat atau tidak nasehat tetap disampaikan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/20), namun tetap menimbang maslahat dan mudharat. Sebagaimana Fir’aun yang tidak mungkin beriman tetapi tetap diberi peringatan oleh Nabi Musa. Karenanya, jika orang yang diberi peringatan bisa mengambil faidah maka dia juga akan mendapat ganjaran, jika tidak mengambil faidah maka hujjahnya telah tegak dan dia tidak punya udzur di hadapan Allah karena telah melaksanakan kewajibannya. Oleh karena itu, peringatan tetap harus disampaikan tentunya dengan kata-kata yang halus penuh sopan santun sehingga diharapkan peringatan tersebut bisa bermanfaat.Kemudian Allah berfirman:سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran”Ini menguatkan pendapat yang kedua, manfaat atau tidak manfaat hendaknya tetap memberi peringatan, karena orang yang takut kepada Allah akan mengambil peringatan tersebut.Kemudian Allah berfirman:وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى“Dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya” Yaitu menjauhi peringatan tersebut. Ini adalah sifat-sifat penghuni neraka jahannam. Jika diberi peringatan dia akan lari menjauh. Sebagaimana keterangan dari Nabi Nuh ketika dia mendakwahi kaumnya, Allah berfirman:قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6)Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam; dan seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh : 5-6)Tetapi Nabi Nuh terus berdakwah, entah kaumnya mendengarkannya atau tidak.Kemudian Allah berfirman:الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ“(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)”Allah menyebutkan api yang besar, lantas apakah ada api yang kecil? Kata para ulama, api yang kecil adalah sebelum di akhirat yaitu di kuburan. Orang yang jahat, orang yang kafir, orang yang dzalim, mereka telah merasakan siksaan dengan api di kuburan. Dan kelak mereka akan kembali merasakan siksaan dengan api yang besar yaitu di neraka jahannam.Dan ada yang berpendapat bahwa api yang besar adalah api neraka bagi orang-orang kafir, adapun api yang kecil adalah untuk orang-orang yang bertauhid yang bermaksiat sehingga masuk neraka (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/21). Karena neraka bertingkat-tingkat, dan neraka kaum kafir tidak sama dengan neraka kaum muslimin para pelaku maksiat.ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup”Kita tahu bahwasanya hanya ada dua kemungkinan, apakah seseorang itu masih hidup atau mati, tidak ada orang yang pada saat bersamaan dia hidup dia juga mati atau tidak hidup tidak pula mati. Namun tatkala seseorang diadzab di neraka jahannam, dia akan merasakan yang namanya tidak mati dan juga tidak hidup. Dia tidak mati sehingga beristirahat dari adzab yang pedih, namun dia juga tidak hidup karena kehidupannya penduh dengan adzab yang pedih (lihat Tafsir As-Sma’aani 6/210).Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, kami akan ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa : 56)Dan adzab neraka jahannam itu tidak hanya membakar bagian luar saja. Allah menyebutkan tentang sifat neraka jahannam, Allah berfirman:الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ“yang (membakar) sampai hati.” (QS Al-Humazah : 7)Neraka jahannam membakar sampai ke bagian dalam, ke dalam hati, jantung, bahkan sampai sel-selnya ikut terbakar. Ini adalah siksaan yang sangat mengerikan, karenanya mereka meminta untuk mati. Sebagaimana yang Allah firmankan tentang perkataan mereka:وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ“Dan mereka berseru, ‘Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.’ Dia menjawab, ‘Sungguh kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (QS Az-Zukhruf : 77)Setelah mereka tahu bahwasanya mereka tidak akan mengalami kematian, maka mereka minta keringanan kepada Allah. Allah mengabarkan perkataan mereka dalam firman-Nya:وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka jahannam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan adzab atas kami sehari saja’.” (QS Ghafir : 49)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mati, dan tidak diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS Fathir : 36)Sesungguhnya adzab untuk orang-orang kafir tidak akan ada keringanan. Jawaban untuk permintaan mereka hanyalah satu, Allah berfirman:فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab.” (QS An-Naba : 30)Oleh karena itu, siksaan yang mereka rasakan sangat pedih luar biasa. Dimana tidak ada tambahan bagi mereka kecuali adzab. Kemungkinannya ada dua, bisa jadi adzabnya ditambah dengan bentuk yang lain, atau bisa jadi dengan adzab yang sama tetapi bertambah keras.Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwasanya penghuni neraka yang tidak pernah mati dan tidak pula hidup hanya berlaku untuk orang-orang kafir karena surat Al-A’la berbicara tentang orang kafir yang tidak mau menerima peringatan dari Allah. Adapun penghuni neraka dari kalangan kaum muslimin maka suatu saat akan dikeluarkan oleh Allah kemudian dimatikan lalu dimasukkan ke dalam sungai-sungai surga setelah itu tumbuh kembali dalam bentuknya yang sempurna dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Hadist-hadist yang menunjukkan akan hal ini sangatlah banyak. Diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُهَا، فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ. وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوْبِهِمْ – أَوْ قَالَ : بِخَطَايَاهُمْ- فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوْا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ. فَجِيْءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ- ضَبَائِرَ، فَبُثُّوْا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ قِيْلَ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيْضُوْا عَلَيْهِمْ. فَيَنْبُتُوْنَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُوْنُ فِى حَمِيْلِ السَّيْلِ”.“Adapun ahli Neraka yang menjadi penghuni kekalnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup. Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa Neraka karena dosa-dosanya –atau Rasul bersabda, karena kesalahan-kesalahannya- maka Allah akan mematikan mereka dengan suatu kematian. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, Nabi diizinkan untuk memberikan syafa’at (kepada mereka). Lalu mereka di datangkan berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, lalu dimasukkan ke sungai-sungai di surga. Selanjutnya dikatakan (oleh Allah): “Wahai penghuni surga, kucurkanlah air kehidupan kepada mereka”. Maka tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih-benih tetumbuhan di larutan lumpur yang dihempaskan arus air.” (HR Muslim no. 306)Hadits ini menceritakan keadaan orang muslim yang terjerumus dalam berbagai macam kemaksiatan namun tidak sampai derajat kufur. Mereka akan disiksa di neraka jahannam sesuai dengan dosa-dosa yang mereka lakukan kemudian dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga, selama dia masih bertauhid. Hadist-hadist lain yang menunjukkan akan hal ini sangat banyak, dan ini merupakan aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Berbeda dengan aqidah khawarij, yang meyakini bahwa apabila seseorang sekalinya masuk neraka maka dia tidak akan keluar. Sehingga dengan keyakinan ini, mereka akan menyamakan nasib seorang pezina yang masih muslim dengan seorang yang kafir kepada Allah yaitu sama-sama tidak akan keluar dari neraka jahannam. Dan ini adalah pendapat yang bathil.Kemudian Allah berfirman:قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”Yaitu mensucikan dirinya dari akhlak-akhlak yang buruk kemudian menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang muliaوَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”Begitupun dengan seorang hamba yang senantiasa berdzikir mengingat Allah dan memperbanyak shalat dan bersujud kepada Allah juga mendapatkan keberuntungan, bisa menjadi modal yang besar untuk masuk ke dalam surga. Dalam suatu hadits dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dia berkata : كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Saya bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya, maka beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepadaku.’ Maka aku berkata, ‘Aku meminta kepadamu agar aku menemanimu di surga -dia berkata, ‘Atau dia selain itu’. Aku menjawab, ‘Itulah yang dia katakan-maka beliau menjawab, ‘Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud’.” (HR Muslim no. 754)Kemudian Allah berfirman:بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia”وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal”Ini adalah sesuatu yang mengherankan dari perkara manusia, dimana kebanyakan dari mereka lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Padahal apabila kita renungi kemudian kita bandingkan, dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang dunia:لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.” (HR Tirmidzi no. 2320 dan Ibnu Majah no. 4110)Namun karena dunia ini ringan dan rendah di sisi Allah maka Allah berikan minuman kepada orang kafir, Allah berikan kekayaan kepada orang kafir. Oleh karena itu, hendaknya dunia ini dijadikan sarana semata menuju akhirat, jangan dijadikan keutamaan. Sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kami miliki.” (HR Tirmidzi no.3502)Tetapi barang siapa yang justru menjadikan dunianya sebagai puncak kehidupannya niscaya dia tergolong sebagai orang yang celaka. Sebagaimana sindiran Allah dalam ayat ini bahwasanya manusia itu lebih mendahulukan dunia daripada akhirat.Jika kita mencoba membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat maka tidak akan bisa kita dibandingkan. Pertama kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih baik daripada kenikmatan dunia, apapun bentuk kenikmatan tersebut. Kedua kata Allah kenikmatan akhirat itu lebih kekal daripada kenikmatan dunia. Seandainya kita membuat suatu perbandingan, misalnya seseorang yang diberi emas kemudian dia menikmatinya hanya sekedar waktu tertentu, lantas tidak berselang lama emas itu tidak lagi menjadi miliknya, dibanding apabila dia diberi secangkir susu tetapi dia bisa menikmatinya sepanjang hayatnya, maka dia akan lebih memilih kenikmatan yang meskipun sedikit akan tetapi bisa dinikmati lebih lama. Akal yang sehat akan memilih kenikmatan yang lebih lama meskipun sedikit. Maka bagaimana lagi jika kenikmatan itu sempurna ditambah bisa menikmatinya selamanya, sebagaimana akhirat.Secara ringkas, beberapa perbandingan antara dunia dan akhirat berikut ini:Pertama, kenikmatan akhirat abadi sedangkan kenikmatan dunia fana. Dan sesuatu yang fana tidak pantas dibandingkan dengan sesuatu yang abadi.Kedua, kenikmatan surga itu sempurna sedangkan kenikmatan dunia penuh dengan kekurangan. Seperti seorang istri, istri yang dimiliki oleh seorang lelaki merupakan kenikmatan. Secantik-cantiknya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan, apakah dari tubuhnya keluar bau badan, terkadang dia akan buang angin, atau sering marah. Adapun wanita di akhirat mereka adalah istri-istri yang disucikan, tidak ada bau yang tidak enak dari badannya, tidak ada kotoran di matanya, dari hidungnya, dan dari sekujur tubuhnya. Semuanya bersih tidak ada kekurangannya sama sekali. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya seorang laki-laki dari penduduk surga akan memeluk istrinya dari kalangan bidadari selama 70 tahun, dia tidak bosan begitupun istrinya. Demikianlah perbandingan antara kenikmatan dunia dan surga, jika khamr di dunia memabukkan dan memudharatkan maka khamr di akhirat adalah khamr yang lezat yang tidak menimbulkan kemudharatan, jika rumah kita di dunia terbuat dari batu bata maka di surga kelak Allah menyediakan istana-istana besar yang terbuat dari mutiara yang lantainya dari emas.Ketiga, kenikmatan surga mudah diraih sedangkan kenikmatan dunia perlu perjuangan. Ketika kita ingin makan maka terlebih dahulu harus beli bahan-bahan kemudian memasaknya, adapaun di surga tinggal diambilkan oleh para pelayan yang disediakan Allah. Ketika di dunia kita harus mencarikan nafkah untuk istri agar dia mau melayani kita sedangkan di surga langsung dilayani oleh para bidadari.Keempat, kenikmatan surga ada setiap saat tanpa bergantung kepada musim. Jika durian, rambutan, mangga dan buah-buahan lainnya bisa dinikmati ketika musimnya tiba maka di akhirat semua buah-buahan mudah di dapatkan kapanpun waktunya.Kelima, kenikmatan akhirat tidak menimbulkan kotoran sedangkan kenikmatan dunia akan menghasilkan kotoran. Jika kita makan sesuatu maka kita pasti buang air seenak apapun makanannya, adapun di akhirat jika kita makan maka tidak ada buang air meskipun makan sekenyang-kenyangnya.Kemudian Allah berfirman:إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu”صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa”Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan suhuf Nabi Musa adalah taurat itu sendiri, ada pula yang berpendapat bahwasanya suhuf itu adalah lembaran-lembaran yang lain. Adapun suhuf Nabi Ibrahim kita tidak mengetahui namanya.Intinya adalah bahwasanya kabar-kabar tentang masalah akhirat yang lebih baik daripada dunia adalah perkara-perkara yang disepakati oleh seluruh Nabi dan sudah termaktub dalam kitab-kitab mereka. Begitupun setiap kitab-kitab suci yang Allah turunkan kepada para Nabi pasti juga mengandung pengagungan terhadap Allah, pensucian terhadap Allah dari sifat-sifat yang buruk, dan kabar-kabar lainnya.

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAK

Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAK

Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Salah Satu Tanda Anak Durhaka

Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat

Salah Satu Tanda Anak Durhaka

Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat
Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat


Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK

Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK

Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena AllahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Belajar Ilmu Tauhid Dasar, Hukum Mencuri Dalam Al Quran, Hadist Tentang Keimanan, Cara Agar Tetap Istiqomah, Om Swastiastu Namo Buddhaya Artinya

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena AllahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Belajar Ilmu Tauhid Dasar, Hukum Mencuri Dalam Al Quran, Hadist Tentang Keimanan, Cara Agar Tetap Istiqomah, Om Swastiastu Namo Buddhaya Artinya
Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena AllahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Belajar Ilmu Tauhid Dasar, Hukum Mencuri Dalam Al Quran, Hadist Tentang Keimanan, Cara Agar Tetap Istiqomah, Om Swastiastu Namo Buddhaya Artinya


Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena AllahRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Belajar Ilmu Tauhid Dasar, Hukum Mencuri Dalam Al Quran, Hadist Tentang Keimanan, Cara Agar Tetap Istiqomah, Om Swastiastu Namo Buddhaya Artinya

Menyebut Non Muslim sebagai Saudara

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah Ta’alaPertanyaan:Seorang teman yang beragama Kristen tinggal bersamaku dan dia memanggilku dengan sebutan “saudaraku” dan dia juga mengatakan “kita adalah saudara”. Dia makan dan minum bersama kami. Apakah hal ini dibolehkan ataukah tidak?Jawaban:Seorang muslim bukanlah saudara bagi orang kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمُ“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” (HR. Al-Bukhari [2: 98], Abu Dawud [4893], At-Tirmidzi [1: 268], Ahmad [2: 91], dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu).Maka seorang kafir, baik itu Yahudi, Nasrani, penganut paganisme (penyembah berhala), Majusi, Komunis, atau yang lainnya, bukanlah saudara bagi seorang Muslim. Tidak boleh menjadikan mereka sebagai sahabat dekat atau teman dekat. Adapun sekedar makan bersamanya di beberapa kesempatan insidental, tanpa menjadikannya seorang sahabat dekat atau teman dekat, hanya seperti pada jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan, maka hal itu tidak mengapa. Adapun menjadikan mereka sebagai sahabat dekat, teman duduk, dan teman makan, maka ini tidak boleh. Karena Allah Ta’ala telah memutus muwalah (loyalitas) dan rasa cinta antara kaum Muslimin dan kaum kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-‘Azhim,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sungguh telah ada bagi kalian uswah hasanah (suri tauladan yang baik) di dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari semua yang kalian sembah selain dari Allah. Kami kufur (ingkari) terhadap (kekufuran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata’” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).Baca Juga: Toleransi Bukan Berarti Korbankan AkidahAllah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِلَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ“Kamu tidak akan jumpai sebuah kaum yang mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Walaupun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).Wajib bagi seorang muslim berlepas diri dari pelaku kesyirikan dan membenci mereka, karena Allah Ta’ala. Tetapi tidak boleh menyakiti, membahayakan, dan menyerang mereka tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan), jika mereka tidak melakukan permusuhan kepada kita (kafir harbi). Di sisi lain juga, jangan menjadikan mereka sahabat dekat atau saudara. Ketika berpapasan dan makan bersama mereka di jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan tanpa rasa persahabatan, loyalitas, dan kasih sayang (dengan mereka), maka hal itu tidak mengapa.Seorang Muslim dalam bermuamalah dengan orang kafir, selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin, wajib bermuamalah dengan muamalah Islami. Maksudnya dengan menjalankan amanah, tidak berbuat kecurangan, tidak berkhianat, dan tidak berdusta. Apabila terdapat perdebatan antara Muslim dan kafir, maka debatlah dengan cara yang baik. Bersikap adillah kepada mereka dalam perselisihan tersebut. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahlul kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang berbuat zalim dari mereka” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 46).Seorang muslim disyariatkan untuk mendakwahi mereka kepada kebaikan dan menasihati mereka, serta bersabar dalam melakukan hal tersebut. Juga disertai sikap yang baik dalam bertetangga dan senantiasa mengatakan perkataan yang baik. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza Wa Jalla,ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl [16]: 125).Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا“Dan katakanlah kepada manusia yang baik” (QS Al-Baqarah [2]: 183).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرَ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala sebesar dengan pahala pelakunya” (HR. Ahmad [5: 274], Ibnu Hibban no. 867 dan 868. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1660).Ayat-ayat dan hadis-hadis semakna dengan ini banyak sekali.[Selesai]Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah Ta’ala adalah seorang Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi Periode 1993-1999.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya Apa yang Dimaksud dengan Tafarruq (Berpecah Belah)? ***Link Fatwa: http://iswy.co/e3fncPenerjemah: Muhammad Fadli, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Golongan Islam Yang Benar, Ceramah Tentang Hutang, Mengesakan Allah Dalam Segala Macam Ibadah Yang Kita Lakukan Merupakan Pengertian Dari, Anak Durhaka Kepada Orang Tua

Menyebut Non Muslim sebagai Saudara

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah Ta’alaPertanyaan:Seorang teman yang beragama Kristen tinggal bersamaku dan dia memanggilku dengan sebutan “saudaraku” dan dia juga mengatakan “kita adalah saudara”. Dia makan dan minum bersama kami. Apakah hal ini dibolehkan ataukah tidak?Jawaban:Seorang muslim bukanlah saudara bagi orang kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمُ“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” (HR. Al-Bukhari [2: 98], Abu Dawud [4893], At-Tirmidzi [1: 268], Ahmad [2: 91], dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu).Maka seorang kafir, baik itu Yahudi, Nasrani, penganut paganisme (penyembah berhala), Majusi, Komunis, atau yang lainnya, bukanlah saudara bagi seorang Muslim. Tidak boleh menjadikan mereka sebagai sahabat dekat atau teman dekat. Adapun sekedar makan bersamanya di beberapa kesempatan insidental, tanpa menjadikannya seorang sahabat dekat atau teman dekat, hanya seperti pada jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan, maka hal itu tidak mengapa. Adapun menjadikan mereka sebagai sahabat dekat, teman duduk, dan teman makan, maka ini tidak boleh. Karena Allah Ta’ala telah memutus muwalah (loyalitas) dan rasa cinta antara kaum Muslimin dan kaum kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-‘Azhim,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sungguh telah ada bagi kalian uswah hasanah (suri tauladan yang baik) di dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari semua yang kalian sembah selain dari Allah. Kami kufur (ingkari) terhadap (kekufuran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata’” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).Baca Juga: Toleransi Bukan Berarti Korbankan AkidahAllah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِلَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ“Kamu tidak akan jumpai sebuah kaum yang mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Walaupun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).Wajib bagi seorang muslim berlepas diri dari pelaku kesyirikan dan membenci mereka, karena Allah Ta’ala. Tetapi tidak boleh menyakiti, membahayakan, dan menyerang mereka tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan), jika mereka tidak melakukan permusuhan kepada kita (kafir harbi). Di sisi lain juga, jangan menjadikan mereka sahabat dekat atau saudara. Ketika berpapasan dan makan bersama mereka di jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan tanpa rasa persahabatan, loyalitas, dan kasih sayang (dengan mereka), maka hal itu tidak mengapa.Seorang Muslim dalam bermuamalah dengan orang kafir, selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin, wajib bermuamalah dengan muamalah Islami. Maksudnya dengan menjalankan amanah, tidak berbuat kecurangan, tidak berkhianat, dan tidak berdusta. Apabila terdapat perdebatan antara Muslim dan kafir, maka debatlah dengan cara yang baik. Bersikap adillah kepada mereka dalam perselisihan tersebut. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahlul kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang berbuat zalim dari mereka” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 46).Seorang muslim disyariatkan untuk mendakwahi mereka kepada kebaikan dan menasihati mereka, serta bersabar dalam melakukan hal tersebut. Juga disertai sikap yang baik dalam bertetangga dan senantiasa mengatakan perkataan yang baik. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza Wa Jalla,ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl [16]: 125).Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا“Dan katakanlah kepada manusia yang baik” (QS Al-Baqarah [2]: 183).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرَ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala sebesar dengan pahala pelakunya” (HR. Ahmad [5: 274], Ibnu Hibban no. 867 dan 868. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1660).Ayat-ayat dan hadis-hadis semakna dengan ini banyak sekali.[Selesai]Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah Ta’ala adalah seorang Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi Periode 1993-1999.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya Apa yang Dimaksud dengan Tafarruq (Berpecah Belah)? ***Link Fatwa: http://iswy.co/e3fncPenerjemah: Muhammad Fadli, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Golongan Islam Yang Benar, Ceramah Tentang Hutang, Mengesakan Allah Dalam Segala Macam Ibadah Yang Kita Lakukan Merupakan Pengertian Dari, Anak Durhaka Kepada Orang Tua
Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah Ta’alaPertanyaan:Seorang teman yang beragama Kristen tinggal bersamaku dan dia memanggilku dengan sebutan “saudaraku” dan dia juga mengatakan “kita adalah saudara”. Dia makan dan minum bersama kami. Apakah hal ini dibolehkan ataukah tidak?Jawaban:Seorang muslim bukanlah saudara bagi orang kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمُ“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” (HR. Al-Bukhari [2: 98], Abu Dawud [4893], At-Tirmidzi [1: 268], Ahmad [2: 91], dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu).Maka seorang kafir, baik itu Yahudi, Nasrani, penganut paganisme (penyembah berhala), Majusi, Komunis, atau yang lainnya, bukanlah saudara bagi seorang Muslim. Tidak boleh menjadikan mereka sebagai sahabat dekat atau teman dekat. Adapun sekedar makan bersamanya di beberapa kesempatan insidental, tanpa menjadikannya seorang sahabat dekat atau teman dekat, hanya seperti pada jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan, maka hal itu tidak mengapa. Adapun menjadikan mereka sebagai sahabat dekat, teman duduk, dan teman makan, maka ini tidak boleh. Karena Allah Ta’ala telah memutus muwalah (loyalitas) dan rasa cinta antara kaum Muslimin dan kaum kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-‘Azhim,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sungguh telah ada bagi kalian uswah hasanah (suri tauladan yang baik) di dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari semua yang kalian sembah selain dari Allah. Kami kufur (ingkari) terhadap (kekufuran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata’” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).Baca Juga: Toleransi Bukan Berarti Korbankan AkidahAllah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِلَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ“Kamu tidak akan jumpai sebuah kaum yang mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Walaupun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).Wajib bagi seorang muslim berlepas diri dari pelaku kesyirikan dan membenci mereka, karena Allah Ta’ala. Tetapi tidak boleh menyakiti, membahayakan, dan menyerang mereka tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan), jika mereka tidak melakukan permusuhan kepada kita (kafir harbi). Di sisi lain juga, jangan menjadikan mereka sahabat dekat atau saudara. Ketika berpapasan dan makan bersama mereka di jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan tanpa rasa persahabatan, loyalitas, dan kasih sayang (dengan mereka), maka hal itu tidak mengapa.Seorang Muslim dalam bermuamalah dengan orang kafir, selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin, wajib bermuamalah dengan muamalah Islami. Maksudnya dengan menjalankan amanah, tidak berbuat kecurangan, tidak berkhianat, dan tidak berdusta. Apabila terdapat perdebatan antara Muslim dan kafir, maka debatlah dengan cara yang baik. Bersikap adillah kepada mereka dalam perselisihan tersebut. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahlul kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang berbuat zalim dari mereka” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 46).Seorang muslim disyariatkan untuk mendakwahi mereka kepada kebaikan dan menasihati mereka, serta bersabar dalam melakukan hal tersebut. Juga disertai sikap yang baik dalam bertetangga dan senantiasa mengatakan perkataan yang baik. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza Wa Jalla,ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl [16]: 125).Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا“Dan katakanlah kepada manusia yang baik” (QS Al-Baqarah [2]: 183).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرَ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala sebesar dengan pahala pelakunya” (HR. Ahmad [5: 274], Ibnu Hibban no. 867 dan 868. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1660).Ayat-ayat dan hadis-hadis semakna dengan ini banyak sekali.[Selesai]Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah Ta’ala adalah seorang Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi Periode 1993-1999.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya Apa yang Dimaksud dengan Tafarruq (Berpecah Belah)? ***Link Fatwa: http://iswy.co/e3fncPenerjemah: Muhammad Fadli, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Golongan Islam Yang Benar, Ceramah Tentang Hutang, Mengesakan Allah Dalam Segala Macam Ibadah Yang Kita Lakukan Merupakan Pengertian Dari, Anak Durhaka Kepada Orang Tua


Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah Ta’alaPertanyaan:Seorang teman yang beragama Kristen tinggal bersamaku dan dia memanggilku dengan sebutan “saudaraku” dan dia juga mengatakan “kita adalah saudara”. Dia makan dan minum bersama kami. Apakah hal ini dibolehkan ataukah tidak?Jawaban:Seorang muslim bukanlah saudara bagi orang kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمُ“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” (HR. Al-Bukhari [2: 98], Abu Dawud [4893], At-Tirmidzi [1: 268], Ahmad [2: 91], dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu).Maka seorang kafir, baik itu Yahudi, Nasrani, penganut paganisme (penyembah berhala), Majusi, Komunis, atau yang lainnya, bukanlah saudara bagi seorang Muslim. Tidak boleh menjadikan mereka sebagai sahabat dekat atau teman dekat. Adapun sekedar makan bersamanya di beberapa kesempatan insidental, tanpa menjadikannya seorang sahabat dekat atau teman dekat, hanya seperti pada jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan, maka hal itu tidak mengapa. Adapun menjadikan mereka sebagai sahabat dekat, teman duduk, dan teman makan, maka ini tidak boleh. Karena Allah Ta’ala telah memutus muwalah (loyalitas) dan rasa cinta antara kaum Muslimin dan kaum kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-‘Azhim,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sungguh telah ada bagi kalian uswah hasanah (suri tauladan yang baik) di dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari semua yang kalian sembah selain dari Allah. Kami kufur (ingkari) terhadap (kekufuran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata’” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).Baca Juga: Toleransi Bukan Berarti Korbankan AkidahAllah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِلَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ“Kamu tidak akan jumpai sebuah kaum yang mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Walaupun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).Wajib bagi seorang muslim berlepas diri dari pelaku kesyirikan dan membenci mereka, karena Allah Ta’ala. Tetapi tidak boleh menyakiti, membahayakan, dan menyerang mereka tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan), jika mereka tidak melakukan permusuhan kepada kita (kafir harbi). Di sisi lain juga, jangan menjadikan mereka sahabat dekat atau saudara. Ketika berpapasan dan makan bersama mereka di jamuan umum atau sama-sama hadir di acara makan-makan tanpa rasa persahabatan, loyalitas, dan kasih sayang (dengan mereka), maka hal itu tidak mengapa.Seorang Muslim dalam bermuamalah dengan orang kafir, selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin, wajib bermuamalah dengan muamalah Islami. Maksudnya dengan menjalankan amanah, tidak berbuat kecurangan, tidak berkhianat, dan tidak berdusta. Apabila terdapat perdebatan antara Muslim dan kafir, maka debatlah dengan cara yang baik. Bersikap adillah kepada mereka dalam perselisihan tersebut. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahlul kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang berbuat zalim dari mereka” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 46).Seorang muslim disyariatkan untuk mendakwahi mereka kepada kebaikan dan menasihati mereka, serta bersabar dalam melakukan hal tersebut. Juga disertai sikap yang baik dalam bertetangga dan senantiasa mengatakan perkataan yang baik. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza Wa Jalla,ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl [16]: 125).Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا“Dan katakanlah kepada manusia yang baik” (QS Al-Baqarah [2]: 183).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرَ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala sebesar dengan pahala pelakunya” (HR. Ahmad [5: 274], Ibnu Hibban no. 867 dan 868. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1660).Ayat-ayat dan hadis-hadis semakna dengan ini banyak sekali.[Selesai]Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah Ta’ala adalah seorang Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi Periode 1993-1999.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya Apa yang Dimaksud dengan Tafarruq (Berpecah Belah)? ***Link Fatwa: http://iswy.co/e3fncPenerjemah: Muhammad Fadli, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Golongan Islam Yang Benar, Ceramah Tentang Hutang, Mengesakan Allah Dalam Segala Macam Ibadah Yang Kita Lakukan Merupakan Pengertian Dari, Anak Durhaka Kepada Orang Tua

Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 1)

Salat merupakan rukun Islam kedua setelah rukun pertama syahadat, dan ini merupakan perkara yang sangat mendasar bagi seorang muslim. Mendirikan ibadah salat adalah kewajiban atas seorang muslim yang telah mencapai usia balig dan berakal, kecuali bagi wanita dalam kondisi tertentu seperti haid dan nifas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. an-Nisa’: 103).Kewajiban salat atas seorang muslim berlaku di setiap keadaan. Kondisi seperti sakit, dalam perjalanan/safar, dan lainnya tidak menjadi uzur bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan salat. Hanya saja, ada keringanan dalam beberapa hal seperti dalam gerakan dan jumlah rakaat (qashar, jama’, tayamum, dan sebagainya). Oleh karena itu, hal ini menjadikan salat sebagai kewajiban yang istimewa bagi seorang muslim yang harus dia prioritaskan setiap waktu.Kedudukan salat amat penting dalam perkara ibadah yang diwajibkan atas seorang muslim. Sebab salat merupakan amalan yang pertama kali dihisab (dihitung) pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَوّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Apabila salatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila salatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath 2: 512, no. 1880 dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai wasiat terakhir sekaligus penyejuk mata bagi beliau sebagaimana hadis dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha. Beliau mengatakan bahwa wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salat,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“(Jagalah) salat, (jagalah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698).Dari sahabat Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya apa yang aku cintai di antara kesenangan dunia kalian adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan penyejuk mataku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad 3: 128, 199).Artikel sederhana ini mencoba untuk mengambil sebuah inti sari dari kitab Shalatul Mu’min karya Syekh Sa’id ‘Ali bin Wahf al-Qahthani yang insyaallah akan kami sampaikan secara serial.Adapun topik yang akan disampaikan dalam artikel serial ini nantinya insyaallah dimulai dari pembahasan seputar taharah, najis, sunah-sunah fitrah, adab buang hajat, wudu, mengusap khuff, mandi, tayamum, haid (nifas), hingga pembahasan inti salat yang meliputi aspek, hukum, kedudukan, keistimewaan, syarat, sifat, rukun dan sunah, jenis serta tata cara sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadis,صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (melaksanakan) salat” (HR. Bukhari).Semoga Allah Ta’ala memudahkan kami dalam menyampaikan dakwah melalui tulisan ini dan Allah Ta’ala memudahkan kita semua dalam memperoleh ilmu-Nya untuk mencapai kesempurnaan ibadah yang kita inginkan bersama.Baca Juga: Menolak Was-Was dalam Shalat Bacaan Tasyahud yang Paling Minimal dalam Shalat  [Bersambung]***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Biografi Abu Hurairah, Kitab Puasa, Hukum Adzan Dan Iqamah, Makna Takbir, Dzikir Setelah Salat

Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 1)

Salat merupakan rukun Islam kedua setelah rukun pertama syahadat, dan ini merupakan perkara yang sangat mendasar bagi seorang muslim. Mendirikan ibadah salat adalah kewajiban atas seorang muslim yang telah mencapai usia balig dan berakal, kecuali bagi wanita dalam kondisi tertentu seperti haid dan nifas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. an-Nisa’: 103).Kewajiban salat atas seorang muslim berlaku di setiap keadaan. Kondisi seperti sakit, dalam perjalanan/safar, dan lainnya tidak menjadi uzur bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan salat. Hanya saja, ada keringanan dalam beberapa hal seperti dalam gerakan dan jumlah rakaat (qashar, jama’, tayamum, dan sebagainya). Oleh karena itu, hal ini menjadikan salat sebagai kewajiban yang istimewa bagi seorang muslim yang harus dia prioritaskan setiap waktu.Kedudukan salat amat penting dalam perkara ibadah yang diwajibkan atas seorang muslim. Sebab salat merupakan amalan yang pertama kali dihisab (dihitung) pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَوّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Apabila salatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila salatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath 2: 512, no. 1880 dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai wasiat terakhir sekaligus penyejuk mata bagi beliau sebagaimana hadis dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha. Beliau mengatakan bahwa wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salat,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“(Jagalah) salat, (jagalah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698).Dari sahabat Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya apa yang aku cintai di antara kesenangan dunia kalian adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan penyejuk mataku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad 3: 128, 199).Artikel sederhana ini mencoba untuk mengambil sebuah inti sari dari kitab Shalatul Mu’min karya Syekh Sa’id ‘Ali bin Wahf al-Qahthani yang insyaallah akan kami sampaikan secara serial.Adapun topik yang akan disampaikan dalam artikel serial ini nantinya insyaallah dimulai dari pembahasan seputar taharah, najis, sunah-sunah fitrah, adab buang hajat, wudu, mengusap khuff, mandi, tayamum, haid (nifas), hingga pembahasan inti salat yang meliputi aspek, hukum, kedudukan, keistimewaan, syarat, sifat, rukun dan sunah, jenis serta tata cara sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadis,صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (melaksanakan) salat” (HR. Bukhari).Semoga Allah Ta’ala memudahkan kami dalam menyampaikan dakwah melalui tulisan ini dan Allah Ta’ala memudahkan kita semua dalam memperoleh ilmu-Nya untuk mencapai kesempurnaan ibadah yang kita inginkan bersama.Baca Juga: Menolak Was-Was dalam Shalat Bacaan Tasyahud yang Paling Minimal dalam Shalat  [Bersambung]***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Biografi Abu Hurairah, Kitab Puasa, Hukum Adzan Dan Iqamah, Makna Takbir, Dzikir Setelah Salat
Salat merupakan rukun Islam kedua setelah rukun pertama syahadat, dan ini merupakan perkara yang sangat mendasar bagi seorang muslim. Mendirikan ibadah salat adalah kewajiban atas seorang muslim yang telah mencapai usia balig dan berakal, kecuali bagi wanita dalam kondisi tertentu seperti haid dan nifas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. an-Nisa’: 103).Kewajiban salat atas seorang muslim berlaku di setiap keadaan. Kondisi seperti sakit, dalam perjalanan/safar, dan lainnya tidak menjadi uzur bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan salat. Hanya saja, ada keringanan dalam beberapa hal seperti dalam gerakan dan jumlah rakaat (qashar, jama’, tayamum, dan sebagainya). Oleh karena itu, hal ini menjadikan salat sebagai kewajiban yang istimewa bagi seorang muslim yang harus dia prioritaskan setiap waktu.Kedudukan salat amat penting dalam perkara ibadah yang diwajibkan atas seorang muslim. Sebab salat merupakan amalan yang pertama kali dihisab (dihitung) pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَوّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Apabila salatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila salatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath 2: 512, no. 1880 dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai wasiat terakhir sekaligus penyejuk mata bagi beliau sebagaimana hadis dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha. Beliau mengatakan bahwa wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salat,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“(Jagalah) salat, (jagalah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698).Dari sahabat Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya apa yang aku cintai di antara kesenangan dunia kalian adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan penyejuk mataku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad 3: 128, 199).Artikel sederhana ini mencoba untuk mengambil sebuah inti sari dari kitab Shalatul Mu’min karya Syekh Sa’id ‘Ali bin Wahf al-Qahthani yang insyaallah akan kami sampaikan secara serial.Adapun topik yang akan disampaikan dalam artikel serial ini nantinya insyaallah dimulai dari pembahasan seputar taharah, najis, sunah-sunah fitrah, adab buang hajat, wudu, mengusap khuff, mandi, tayamum, haid (nifas), hingga pembahasan inti salat yang meliputi aspek, hukum, kedudukan, keistimewaan, syarat, sifat, rukun dan sunah, jenis serta tata cara sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadis,صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (melaksanakan) salat” (HR. Bukhari).Semoga Allah Ta’ala memudahkan kami dalam menyampaikan dakwah melalui tulisan ini dan Allah Ta’ala memudahkan kita semua dalam memperoleh ilmu-Nya untuk mencapai kesempurnaan ibadah yang kita inginkan bersama.Baca Juga: Menolak Was-Was dalam Shalat Bacaan Tasyahud yang Paling Minimal dalam Shalat  [Bersambung]***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Biografi Abu Hurairah, Kitab Puasa, Hukum Adzan Dan Iqamah, Makna Takbir, Dzikir Setelah Salat


Salat merupakan rukun Islam kedua setelah rukun pertama syahadat, dan ini merupakan perkara yang sangat mendasar bagi seorang muslim. Mendirikan ibadah salat adalah kewajiban atas seorang muslim yang telah mencapai usia balig dan berakal, kecuali bagi wanita dalam kondisi tertentu seperti haid dan nifas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. an-Nisa’: 103).Kewajiban salat atas seorang muslim berlaku di setiap keadaan. Kondisi seperti sakit, dalam perjalanan/safar, dan lainnya tidak menjadi uzur bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan salat. Hanya saja, ada keringanan dalam beberapa hal seperti dalam gerakan dan jumlah rakaat (qashar, jama’, tayamum, dan sebagainya). Oleh karena itu, hal ini menjadikan salat sebagai kewajiban yang istimewa bagi seorang muslim yang harus dia prioritaskan setiap waktu.Kedudukan salat amat penting dalam perkara ibadah yang diwajibkan atas seorang muslim. Sebab salat merupakan amalan yang pertama kali dihisab (dihitung) pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَوّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Apabila salatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila salatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath 2: 512, no. 1880 dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai wasiat terakhir sekaligus penyejuk mata bagi beliau sebagaimana hadis dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha. Beliau mengatakan bahwa wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salat,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“(Jagalah) salat, (jagalah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698).Dari sahabat Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya apa yang aku cintai di antara kesenangan dunia kalian adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan penyejuk mataku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad 3: 128, 199).Artikel sederhana ini mencoba untuk mengambil sebuah inti sari dari kitab Shalatul Mu’min karya Syekh Sa’id ‘Ali bin Wahf al-Qahthani yang insyaallah akan kami sampaikan secara serial.Adapun topik yang akan disampaikan dalam artikel serial ini nantinya insyaallah dimulai dari pembahasan seputar taharah, najis, sunah-sunah fitrah, adab buang hajat, wudu, mengusap khuff, mandi, tayamum, haid (nifas), hingga pembahasan inti salat yang meliputi aspek, hukum, kedudukan, keistimewaan, syarat, sifat, rukun dan sunah, jenis serta tata cara sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadis,صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (melaksanakan) salat” (HR. Bukhari).Semoga Allah Ta’ala memudahkan kami dalam menyampaikan dakwah melalui tulisan ini dan Allah Ta’ala memudahkan kita semua dalam memperoleh ilmu-Nya untuk mencapai kesempurnaan ibadah yang kita inginkan bersama.Baca Juga: Menolak Was-Was dalam Shalat Bacaan Tasyahud yang Paling Minimal dalam Shalat  [Bersambung]***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Biografi Abu Hurairah, Kitab Puasa, Hukum Adzan Dan Iqamah, Makna Takbir, Dzikir Setelah Salat
Prev     Next