KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANG

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANG

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Doa Terbaik untuk Anak Tercinta

Anak adalah aset berharga kedua orang tuanya. Tentu setiap orang menginginkan anaknya menjadi anak yang salih. Salah satu yang harus dilakukan oleh orang tua dan terus diulang-ulang adalah mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.Doa orang tua adalah doa mustajabNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa kedua orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi” (HR. Abu Daud, hasan).Doa orang tua, baik bapak atau ibunya adalah doa yang mustajab, baik itu berisi doa kebaikan maupun keburukan. Di antara manfaat seringnya mendoakan kebaikan untuk anak adalah:Pertama, doa kedua orang tua untuk anak adalah termasuk doa yang mustajab dan akan dikabulkan oleh Allah berdasarkan keterangan dalam hadis Nabi.Kedua, mendoakan anak akan menambah semangat dan motivasi dalam mendidik anak.Ketiga, mendoakan anak akan memperkuat rasa kasih sayang dan kedekatan hati dari kedua orang tua.Keempat, hal ini merupakan sunah para nabi dan rasul, karena mereka selalu mendoakan kebaikan untuk anak dan juga keturunannya di masa yang akan datang sebagaimana banyak disebutkan dalam Al Qur’an.Berbagai doa untuk kebaikan anak di dalam Al Qur’anDi antara sebaik-baik doa adalah doa yang diajarkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Doa untuk kebaikan anak yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an antara lain:Pertama, doa para ‘Ibadurrahman dalam Al Qur’anرَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (jiwa) kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan: 74).Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, doa Nabi Zakariya ‘Alaihis salamفَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا“Anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi (ilmu dan kenabian) dari sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai di sisi-Mu” (QS. Maryam: 5-6).Beliau ‘Alaihis salam juga berdoa,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa” (QS. Ali-‘Imran: 38).Ketiga, doa Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimas salamرَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu” (QS. Al-Baqarah: 128).Keempat, doa khalilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salamرَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat: 100).Demikian pula doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Beliau juga berdoa,وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35).Perhatikan pula doa Nabi Ibrahim tatakala telah mencapai usia matang yaitu usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf: 15).Baca Juga:Salah Satu Tanda Anak DurhakaJangan doakan keburukan untuk anakTidak selayaknya orang tua mendoakan keburukan untuk anaknya. Doa keburukan akan menimbulkan bahaya dan merusak anak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mendoakan keburukan bagi anak, karena ini bertentangan dengan akhlak Islam dan menyelisihi cara pendidikan yang diajarkan para nabi. Bahkan ini jauh dari metode nubuwah dalam mengajak manusia kepada Islam. Sampai-sampai Nabi ketika berdakwah di Thaif dan mendapat perlakuan buruk, beliau tidak mendoakan keburukan bagi mereka dan keturunan mereka. Beliau bahkan beraharap kepada Allah seraya bersabda,أرجو أن يُخْرِجَ اللَّهُ مِن أصلابِهِم مَن يعبدُ اللَّهَ“Aku berharap kepada Allah semoga akan lahir dari tulang sulbi mereka keturunan yang senantiasa menyembah hanya kepada Allah.”Dan Allah pun merealisasikan harapan baginda Nabi.Oleh karena itu, Nabi pun melarang untuk mendoakan keburukan bagi anak melalui sabda beliau,لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian tersebut” (HR. Muslim).Demikian, semoga bermanfaat dan menjadi pengingat serta motivasi bagi kita untuk terus senantiasa mendoakan dan mengulang-ulang doa kebaikan untuk anak-anak kita.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:1. Fiqhu Tarbiyatil Abnaa ‘wa Ma’ahu Nukhbatu min Nashaaihil Athibbaa’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.2. Manhajut Tarbiyyah an Nabawiyyah lit Thifli karya Syaikh Muhmmad Nur bin ‘Abdil Hafiidz Suwaid.🔍 Bacaan Dzikir, Kewajiban Puasa, Arti Mubah Dalam Islam, Tata Cara Khitan, Syirik Dan Bahayanya Bagi Manusia

Doa Terbaik untuk Anak Tercinta

Anak adalah aset berharga kedua orang tuanya. Tentu setiap orang menginginkan anaknya menjadi anak yang salih. Salah satu yang harus dilakukan oleh orang tua dan terus diulang-ulang adalah mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.Doa orang tua adalah doa mustajabNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa kedua orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi” (HR. Abu Daud, hasan).Doa orang tua, baik bapak atau ibunya adalah doa yang mustajab, baik itu berisi doa kebaikan maupun keburukan. Di antara manfaat seringnya mendoakan kebaikan untuk anak adalah:Pertama, doa kedua orang tua untuk anak adalah termasuk doa yang mustajab dan akan dikabulkan oleh Allah berdasarkan keterangan dalam hadis Nabi.Kedua, mendoakan anak akan menambah semangat dan motivasi dalam mendidik anak.Ketiga, mendoakan anak akan memperkuat rasa kasih sayang dan kedekatan hati dari kedua orang tua.Keempat, hal ini merupakan sunah para nabi dan rasul, karena mereka selalu mendoakan kebaikan untuk anak dan juga keturunannya di masa yang akan datang sebagaimana banyak disebutkan dalam Al Qur’an.Berbagai doa untuk kebaikan anak di dalam Al Qur’anDi antara sebaik-baik doa adalah doa yang diajarkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Doa untuk kebaikan anak yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an antara lain:Pertama, doa para ‘Ibadurrahman dalam Al Qur’anرَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (jiwa) kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan: 74).Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, doa Nabi Zakariya ‘Alaihis salamفَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا“Anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi (ilmu dan kenabian) dari sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai di sisi-Mu” (QS. Maryam: 5-6).Beliau ‘Alaihis salam juga berdoa,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa” (QS. Ali-‘Imran: 38).Ketiga, doa Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimas salamرَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu” (QS. Al-Baqarah: 128).Keempat, doa khalilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salamرَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat: 100).Demikian pula doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Beliau juga berdoa,وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35).Perhatikan pula doa Nabi Ibrahim tatakala telah mencapai usia matang yaitu usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf: 15).Baca Juga:Salah Satu Tanda Anak DurhakaJangan doakan keburukan untuk anakTidak selayaknya orang tua mendoakan keburukan untuk anaknya. Doa keburukan akan menimbulkan bahaya dan merusak anak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mendoakan keburukan bagi anak, karena ini bertentangan dengan akhlak Islam dan menyelisihi cara pendidikan yang diajarkan para nabi. Bahkan ini jauh dari metode nubuwah dalam mengajak manusia kepada Islam. Sampai-sampai Nabi ketika berdakwah di Thaif dan mendapat perlakuan buruk, beliau tidak mendoakan keburukan bagi mereka dan keturunan mereka. Beliau bahkan beraharap kepada Allah seraya bersabda,أرجو أن يُخْرِجَ اللَّهُ مِن أصلابِهِم مَن يعبدُ اللَّهَ“Aku berharap kepada Allah semoga akan lahir dari tulang sulbi mereka keturunan yang senantiasa menyembah hanya kepada Allah.”Dan Allah pun merealisasikan harapan baginda Nabi.Oleh karena itu, Nabi pun melarang untuk mendoakan keburukan bagi anak melalui sabda beliau,لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian tersebut” (HR. Muslim).Demikian, semoga bermanfaat dan menjadi pengingat serta motivasi bagi kita untuk terus senantiasa mendoakan dan mengulang-ulang doa kebaikan untuk anak-anak kita.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:1. Fiqhu Tarbiyatil Abnaa ‘wa Ma’ahu Nukhbatu min Nashaaihil Athibbaa’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.2. Manhajut Tarbiyyah an Nabawiyyah lit Thifli karya Syaikh Muhmmad Nur bin ‘Abdil Hafiidz Suwaid.🔍 Bacaan Dzikir, Kewajiban Puasa, Arti Mubah Dalam Islam, Tata Cara Khitan, Syirik Dan Bahayanya Bagi Manusia
Anak adalah aset berharga kedua orang tuanya. Tentu setiap orang menginginkan anaknya menjadi anak yang salih. Salah satu yang harus dilakukan oleh orang tua dan terus diulang-ulang adalah mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.Doa orang tua adalah doa mustajabNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa kedua orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi” (HR. Abu Daud, hasan).Doa orang tua, baik bapak atau ibunya adalah doa yang mustajab, baik itu berisi doa kebaikan maupun keburukan. Di antara manfaat seringnya mendoakan kebaikan untuk anak adalah:Pertama, doa kedua orang tua untuk anak adalah termasuk doa yang mustajab dan akan dikabulkan oleh Allah berdasarkan keterangan dalam hadis Nabi.Kedua, mendoakan anak akan menambah semangat dan motivasi dalam mendidik anak.Ketiga, mendoakan anak akan memperkuat rasa kasih sayang dan kedekatan hati dari kedua orang tua.Keempat, hal ini merupakan sunah para nabi dan rasul, karena mereka selalu mendoakan kebaikan untuk anak dan juga keturunannya di masa yang akan datang sebagaimana banyak disebutkan dalam Al Qur’an.Berbagai doa untuk kebaikan anak di dalam Al Qur’anDi antara sebaik-baik doa adalah doa yang diajarkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Doa untuk kebaikan anak yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an antara lain:Pertama, doa para ‘Ibadurrahman dalam Al Qur’anرَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (jiwa) kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan: 74).Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, doa Nabi Zakariya ‘Alaihis salamفَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا“Anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi (ilmu dan kenabian) dari sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai di sisi-Mu” (QS. Maryam: 5-6).Beliau ‘Alaihis salam juga berdoa,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa” (QS. Ali-‘Imran: 38).Ketiga, doa Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimas salamرَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu” (QS. Al-Baqarah: 128).Keempat, doa khalilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salamرَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat: 100).Demikian pula doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Beliau juga berdoa,وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35).Perhatikan pula doa Nabi Ibrahim tatakala telah mencapai usia matang yaitu usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf: 15).Baca Juga:Salah Satu Tanda Anak DurhakaJangan doakan keburukan untuk anakTidak selayaknya orang tua mendoakan keburukan untuk anaknya. Doa keburukan akan menimbulkan bahaya dan merusak anak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mendoakan keburukan bagi anak, karena ini bertentangan dengan akhlak Islam dan menyelisihi cara pendidikan yang diajarkan para nabi. Bahkan ini jauh dari metode nubuwah dalam mengajak manusia kepada Islam. Sampai-sampai Nabi ketika berdakwah di Thaif dan mendapat perlakuan buruk, beliau tidak mendoakan keburukan bagi mereka dan keturunan mereka. Beliau bahkan beraharap kepada Allah seraya bersabda,أرجو أن يُخْرِجَ اللَّهُ مِن أصلابِهِم مَن يعبدُ اللَّهَ“Aku berharap kepada Allah semoga akan lahir dari tulang sulbi mereka keturunan yang senantiasa menyembah hanya kepada Allah.”Dan Allah pun merealisasikan harapan baginda Nabi.Oleh karena itu, Nabi pun melarang untuk mendoakan keburukan bagi anak melalui sabda beliau,لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian tersebut” (HR. Muslim).Demikian, semoga bermanfaat dan menjadi pengingat serta motivasi bagi kita untuk terus senantiasa mendoakan dan mengulang-ulang doa kebaikan untuk anak-anak kita.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:1. Fiqhu Tarbiyatil Abnaa ‘wa Ma’ahu Nukhbatu min Nashaaihil Athibbaa’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.2. Manhajut Tarbiyyah an Nabawiyyah lit Thifli karya Syaikh Muhmmad Nur bin ‘Abdil Hafiidz Suwaid.🔍 Bacaan Dzikir, Kewajiban Puasa, Arti Mubah Dalam Islam, Tata Cara Khitan, Syirik Dan Bahayanya Bagi Manusia


Anak adalah aset berharga kedua orang tuanya. Tentu setiap orang menginginkan anaknya menjadi anak yang salih. Salah satu yang harus dilakukan oleh orang tua dan terus diulang-ulang adalah mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.Doa orang tua adalah doa mustajabNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa kedua orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi” (HR. Abu Daud, hasan).Doa orang tua, baik bapak atau ibunya adalah doa yang mustajab, baik itu berisi doa kebaikan maupun keburukan. Di antara manfaat seringnya mendoakan kebaikan untuk anak adalah:Pertama, doa kedua orang tua untuk anak adalah termasuk doa yang mustajab dan akan dikabulkan oleh Allah berdasarkan keterangan dalam hadis Nabi.Kedua, mendoakan anak akan menambah semangat dan motivasi dalam mendidik anak.Ketiga, mendoakan anak akan memperkuat rasa kasih sayang dan kedekatan hati dari kedua orang tua.Keempat, hal ini merupakan sunah para nabi dan rasul, karena mereka selalu mendoakan kebaikan untuk anak dan juga keturunannya di masa yang akan datang sebagaimana banyak disebutkan dalam Al Qur’an.Berbagai doa untuk kebaikan anak di dalam Al Qur’anDi antara sebaik-baik doa adalah doa yang diajarkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Doa untuk kebaikan anak yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an antara lain:Pertama, doa para ‘Ibadurrahman dalam Al Qur’anرَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (jiwa) kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan: 74).Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, doa Nabi Zakariya ‘Alaihis salamفَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا“Anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi (ilmu dan kenabian) dari sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai di sisi-Mu” (QS. Maryam: 5-6).Beliau ‘Alaihis salam juga berdoa,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa” (QS. Ali-‘Imran: 38).Ketiga, doa Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimas salamرَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu” (QS. Al-Baqarah: 128).Keempat, doa khalilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salamرَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat: 100).Demikian pula doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Beliau juga berdoa,وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35).Perhatikan pula doa Nabi Ibrahim tatakala telah mencapai usia matang yaitu usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf: 15).Baca Juga:Salah Satu Tanda Anak DurhakaJangan doakan keburukan untuk anakTidak selayaknya orang tua mendoakan keburukan untuk anaknya. Doa keburukan akan menimbulkan bahaya dan merusak anak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mendoakan keburukan bagi anak, karena ini bertentangan dengan akhlak Islam dan menyelisihi cara pendidikan yang diajarkan para nabi. Bahkan ini jauh dari metode nubuwah dalam mengajak manusia kepada Islam. Sampai-sampai Nabi ketika berdakwah di Thaif dan mendapat perlakuan buruk, beliau tidak mendoakan keburukan bagi mereka dan keturunan mereka. Beliau bahkan beraharap kepada Allah seraya bersabda,أرجو أن يُخْرِجَ اللَّهُ مِن أصلابِهِم مَن يعبدُ اللَّهَ“Aku berharap kepada Allah semoga akan lahir dari tulang sulbi mereka keturunan yang senantiasa menyembah hanya kepada Allah.”Dan Allah pun merealisasikan harapan baginda Nabi.Oleh karena itu, Nabi pun melarang untuk mendoakan keburukan bagi anak melalui sabda beliau,لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian tersebut” (HR. Muslim).Demikian, semoga bermanfaat dan menjadi pengingat serta motivasi bagi kita untuk terus senantiasa mendoakan dan mengulang-ulang doa kebaikan untuk anak-anak kita.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:1. Fiqhu Tarbiyatil Abnaa ‘wa Ma’ahu Nukhbatu min Nashaaihil Athibbaa’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.2. Manhajut Tarbiyyah an Nabawiyyah lit Thifli karya Syaikh Muhmmad Nur bin ‘Abdil Hafiidz Suwaid.🔍 Bacaan Dzikir, Kewajiban Puasa, Arti Mubah Dalam Islam, Tata Cara Khitan, Syirik Dan Bahayanya Bagi Manusia

Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah iblis termasuk golongan malaikat ataukah jin, menjadi dua pendapat:Pendapat pertama, iblis termasuk dalam jenis (golongan) malaikatPendapat pertama mengatakan bahwa iblis itu termasuk dalam golongan malaikat, namun diciptakan dari api. Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas (Tafsir Ath-Thabari, 18: 39), Qatadah (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41), Sa’id bin Musayyib (Tafsir Ath-Thabari, 1: 504), dan dipilih oleh Ath-Thabari (Tafsir Ath-Thabari, 1: 508) dan Al-Baghawi (Tafsir Al-Baghawi, 1: 82).Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’, maka bersujudlah mereka, kecuali iblis.” (QS. Al-Kahfi: 50)Sisi pendalilan dari ayat ini adalah jika iblis itu bukan termasuk golongan malaikat, mereka tidak akan diperintahkan untuk bersujud. Mereka mengatakan bahwa pengecualian (istitsna’) dalam ayat ini adalah istitsna’ muttashil. Dalam istitsna’ muttashil, antara yang dikecualikan (iblis dalam ayat ini) dan yang mendapatkan pengecualian (malaikat dalam ayat ini) adalah sesuatu yang sama jenisnya.Baca Juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?Pendapat kedua, iblis termasuk dalam golongan jinDi antara yang berpendapat ini adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Zaid.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iblis tidak termasuk jenis malaikat sama sekali. Karena iblis adalah nenek moyang bangsa jin sebagaimana Adam adalah nenek moyang manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41)Ibnu Zaid rahimahullah berkata, “Iblis adalah bapaknya jin sebagaimana Adam adalah bapaknya manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 1: 507)Pendapat ini juga dipilih dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (Majmu’ Fataawa, 4: 346). Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Huruf fa’ dalam ayat di atas menunjukkan sebab-akibat. Maksudnya, Allah Ta’ala menjadikan iblis dari jenis jin disebabkan karena kedurhakaannya. Dengan kata lain, iblis adalah jin yang durhaka terhadap perintah Allah Ta’ala. Seandainya iblis adalah malaikat sebagaimana malaikat-malaikat lain yang bersujud kepada Adam, tentu iblis tidak akan melawan atau mendurhakai perintah Allah Ta’ala. Hal ini karena malaikat itu terjaga (ma’shum) dari perbuatan dosa, tidak sebagaimana golongan manusia dan jin.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Mereka (malaikat) itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 27)Mereka mengatakan bahwa pengecualian dalam surah Al-Kahfi ayat 50 di ayat termasuk dalam istitsna’ munqathi’, artinya perkara yang dikecualikan (iblis) itu berbeda jenis (golongan) dengan perkara yang mendapatkan pengecualian.Argumentasi yang lain, Allah Ta’ala menciptakan iblis dari api yang menyala-nyala, dan tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa malaikat diciptakan dari api. Juga bahwa iblis itu memiliki anak keturunan, tidak sebagaimana malaikat.Pendapat terkuat dalam masalah iniPendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat kedua, yaitu bahwa iblis itu termasuk golongan jin, bukan golongan malaikat. Hal ini karena golongan malaikat dan iblis itu berbeda dari beberapa sisi berikut ini:Pertama, unsur penciptaan malaikat dan iblis itu berbeda. Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ‘Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api yang menyala-nyala.’” (HR. Muslim no. 2996)Allah Ta’ala berkata tentang iblis,قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Shaad: 76)Kedua, malaikat itu tidak menikah dan juga tidak memiliki keturunan. Sedangkan iblis, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis memiliki keturunan. Allah Ta’ala befirman,أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ“Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi: 50)Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanKetiga, malaikat itu tidak mendurhakai Allah Ta’ala sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Dan mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Adapun iblis, Allah Ta’ala kabarkan tentang mereka,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Keempat, malaikat itu tidak makan dan tidak minum. Adapun iblis, mereka makan dan minum.Kelima, pengecualian dari suatu lafaz yang bersifat umum itu berarti mengeluarkan sesuatu tersebut dari nama dan hukum yang mendapatkan pengecualian. (Lihat Al-Bahrul Muhith fi Ushuulil Fiqhi, 3: 276)Allah Ta’ala befirman,فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ؛ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى أَن يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. Kecuali iblis, dia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.” (QS. Al-Hijr: 30-31)Dengan dikecualikannya iblis dalam ayat di atas, berarti iblis bukan termasuk dalam golongan malaikat.Jika ditanyakan, mengapa Allah Ta’ala memerintahkan iblis untuk sujud bersama malaikat? Maka jawabannya, iblis diperintahkan untuk sujud bersama malaikat karena iblis juga hadir pada saat perintah tersebut bersama malaikat. Sehingga iblis itu dikecualikan dalam ayat tersebut bukan karena iblis termasuk golongan malaikat, tetapi karena malaikat dan iblis sama-sama mendapatkan perintah. Bedanya, malaikat melaksanakan perintah, sedangkan iblis tidak.Keenam, diperbolehkan adanya istitsna’ munqathi’ dengan adanya dalil. Pengecualian iblis, padahal mereka bukan dari golongan malaikat, menunjukkan bolehnya istitsna’ munqathi’. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis itu bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang telah disebutkan argumentasinya.Ketujuh, firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa iblis itu termasuk golongan jin. Sehingga tidak boleh dibelokkan maknanya, kecuali dengan adanya dalil yang tegas dan jelas pula.Syekh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata,“Argumentasi yang paling kuat dalam masalah ini adalah argumentasi yang mengatakan bahwa iblis itu bukan termasuk golongan malaikat. Hal ini karena firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ‘Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.’ (QS. Al-Kahfi: 50)adalah ayat paling jelas dalam masalah ini dari dalil-dalil wahyu. Dan ilmu berada di sisi Allah Ta’ala.” (Adhwaul Bayaan, 3: 290-291)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 60-65. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.

Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah iblis termasuk golongan malaikat ataukah jin, menjadi dua pendapat:Pendapat pertama, iblis termasuk dalam jenis (golongan) malaikatPendapat pertama mengatakan bahwa iblis itu termasuk dalam golongan malaikat, namun diciptakan dari api. Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas (Tafsir Ath-Thabari, 18: 39), Qatadah (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41), Sa’id bin Musayyib (Tafsir Ath-Thabari, 1: 504), dan dipilih oleh Ath-Thabari (Tafsir Ath-Thabari, 1: 508) dan Al-Baghawi (Tafsir Al-Baghawi, 1: 82).Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’, maka bersujudlah mereka, kecuali iblis.” (QS. Al-Kahfi: 50)Sisi pendalilan dari ayat ini adalah jika iblis itu bukan termasuk golongan malaikat, mereka tidak akan diperintahkan untuk bersujud. Mereka mengatakan bahwa pengecualian (istitsna’) dalam ayat ini adalah istitsna’ muttashil. Dalam istitsna’ muttashil, antara yang dikecualikan (iblis dalam ayat ini) dan yang mendapatkan pengecualian (malaikat dalam ayat ini) adalah sesuatu yang sama jenisnya.Baca Juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?Pendapat kedua, iblis termasuk dalam golongan jinDi antara yang berpendapat ini adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Zaid.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iblis tidak termasuk jenis malaikat sama sekali. Karena iblis adalah nenek moyang bangsa jin sebagaimana Adam adalah nenek moyang manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41)Ibnu Zaid rahimahullah berkata, “Iblis adalah bapaknya jin sebagaimana Adam adalah bapaknya manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 1: 507)Pendapat ini juga dipilih dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (Majmu’ Fataawa, 4: 346). Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Huruf fa’ dalam ayat di atas menunjukkan sebab-akibat. Maksudnya, Allah Ta’ala menjadikan iblis dari jenis jin disebabkan karena kedurhakaannya. Dengan kata lain, iblis adalah jin yang durhaka terhadap perintah Allah Ta’ala. Seandainya iblis adalah malaikat sebagaimana malaikat-malaikat lain yang bersujud kepada Adam, tentu iblis tidak akan melawan atau mendurhakai perintah Allah Ta’ala. Hal ini karena malaikat itu terjaga (ma’shum) dari perbuatan dosa, tidak sebagaimana golongan manusia dan jin.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Mereka (malaikat) itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 27)Mereka mengatakan bahwa pengecualian dalam surah Al-Kahfi ayat 50 di ayat termasuk dalam istitsna’ munqathi’, artinya perkara yang dikecualikan (iblis) itu berbeda jenis (golongan) dengan perkara yang mendapatkan pengecualian.Argumentasi yang lain, Allah Ta’ala menciptakan iblis dari api yang menyala-nyala, dan tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa malaikat diciptakan dari api. Juga bahwa iblis itu memiliki anak keturunan, tidak sebagaimana malaikat.Pendapat terkuat dalam masalah iniPendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat kedua, yaitu bahwa iblis itu termasuk golongan jin, bukan golongan malaikat. Hal ini karena golongan malaikat dan iblis itu berbeda dari beberapa sisi berikut ini:Pertama, unsur penciptaan malaikat dan iblis itu berbeda. Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ‘Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api yang menyala-nyala.’” (HR. Muslim no. 2996)Allah Ta’ala berkata tentang iblis,قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Shaad: 76)Kedua, malaikat itu tidak menikah dan juga tidak memiliki keturunan. Sedangkan iblis, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis memiliki keturunan. Allah Ta’ala befirman,أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ“Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi: 50)Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanKetiga, malaikat itu tidak mendurhakai Allah Ta’ala sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Dan mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Adapun iblis, Allah Ta’ala kabarkan tentang mereka,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Keempat, malaikat itu tidak makan dan tidak minum. Adapun iblis, mereka makan dan minum.Kelima, pengecualian dari suatu lafaz yang bersifat umum itu berarti mengeluarkan sesuatu tersebut dari nama dan hukum yang mendapatkan pengecualian. (Lihat Al-Bahrul Muhith fi Ushuulil Fiqhi, 3: 276)Allah Ta’ala befirman,فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ؛ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى أَن يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. Kecuali iblis, dia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.” (QS. Al-Hijr: 30-31)Dengan dikecualikannya iblis dalam ayat di atas, berarti iblis bukan termasuk dalam golongan malaikat.Jika ditanyakan, mengapa Allah Ta’ala memerintahkan iblis untuk sujud bersama malaikat? Maka jawabannya, iblis diperintahkan untuk sujud bersama malaikat karena iblis juga hadir pada saat perintah tersebut bersama malaikat. Sehingga iblis itu dikecualikan dalam ayat tersebut bukan karena iblis termasuk golongan malaikat, tetapi karena malaikat dan iblis sama-sama mendapatkan perintah. Bedanya, malaikat melaksanakan perintah, sedangkan iblis tidak.Keenam, diperbolehkan adanya istitsna’ munqathi’ dengan adanya dalil. Pengecualian iblis, padahal mereka bukan dari golongan malaikat, menunjukkan bolehnya istitsna’ munqathi’. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis itu bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang telah disebutkan argumentasinya.Ketujuh, firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa iblis itu termasuk golongan jin. Sehingga tidak boleh dibelokkan maknanya, kecuali dengan adanya dalil yang tegas dan jelas pula.Syekh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata,“Argumentasi yang paling kuat dalam masalah ini adalah argumentasi yang mengatakan bahwa iblis itu bukan termasuk golongan malaikat. Hal ini karena firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ‘Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.’ (QS. Al-Kahfi: 50)adalah ayat paling jelas dalam masalah ini dari dalil-dalil wahyu. Dan ilmu berada di sisi Allah Ta’ala.” (Adhwaul Bayaan, 3: 290-291)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 60-65. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah iblis termasuk golongan malaikat ataukah jin, menjadi dua pendapat:Pendapat pertama, iblis termasuk dalam jenis (golongan) malaikatPendapat pertama mengatakan bahwa iblis itu termasuk dalam golongan malaikat, namun diciptakan dari api. Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas (Tafsir Ath-Thabari, 18: 39), Qatadah (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41), Sa’id bin Musayyib (Tafsir Ath-Thabari, 1: 504), dan dipilih oleh Ath-Thabari (Tafsir Ath-Thabari, 1: 508) dan Al-Baghawi (Tafsir Al-Baghawi, 1: 82).Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’, maka bersujudlah mereka, kecuali iblis.” (QS. Al-Kahfi: 50)Sisi pendalilan dari ayat ini adalah jika iblis itu bukan termasuk golongan malaikat, mereka tidak akan diperintahkan untuk bersujud. Mereka mengatakan bahwa pengecualian (istitsna’) dalam ayat ini adalah istitsna’ muttashil. Dalam istitsna’ muttashil, antara yang dikecualikan (iblis dalam ayat ini) dan yang mendapatkan pengecualian (malaikat dalam ayat ini) adalah sesuatu yang sama jenisnya.Baca Juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?Pendapat kedua, iblis termasuk dalam golongan jinDi antara yang berpendapat ini adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Zaid.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iblis tidak termasuk jenis malaikat sama sekali. Karena iblis adalah nenek moyang bangsa jin sebagaimana Adam adalah nenek moyang manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41)Ibnu Zaid rahimahullah berkata, “Iblis adalah bapaknya jin sebagaimana Adam adalah bapaknya manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 1: 507)Pendapat ini juga dipilih dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (Majmu’ Fataawa, 4: 346). Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Huruf fa’ dalam ayat di atas menunjukkan sebab-akibat. Maksudnya, Allah Ta’ala menjadikan iblis dari jenis jin disebabkan karena kedurhakaannya. Dengan kata lain, iblis adalah jin yang durhaka terhadap perintah Allah Ta’ala. Seandainya iblis adalah malaikat sebagaimana malaikat-malaikat lain yang bersujud kepada Adam, tentu iblis tidak akan melawan atau mendurhakai perintah Allah Ta’ala. Hal ini karena malaikat itu terjaga (ma’shum) dari perbuatan dosa, tidak sebagaimana golongan manusia dan jin.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Mereka (malaikat) itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 27)Mereka mengatakan bahwa pengecualian dalam surah Al-Kahfi ayat 50 di ayat termasuk dalam istitsna’ munqathi’, artinya perkara yang dikecualikan (iblis) itu berbeda jenis (golongan) dengan perkara yang mendapatkan pengecualian.Argumentasi yang lain, Allah Ta’ala menciptakan iblis dari api yang menyala-nyala, dan tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa malaikat diciptakan dari api. Juga bahwa iblis itu memiliki anak keturunan, tidak sebagaimana malaikat.Pendapat terkuat dalam masalah iniPendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat kedua, yaitu bahwa iblis itu termasuk golongan jin, bukan golongan malaikat. Hal ini karena golongan malaikat dan iblis itu berbeda dari beberapa sisi berikut ini:Pertama, unsur penciptaan malaikat dan iblis itu berbeda. Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ‘Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api yang menyala-nyala.’” (HR. Muslim no. 2996)Allah Ta’ala berkata tentang iblis,قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Shaad: 76)Kedua, malaikat itu tidak menikah dan juga tidak memiliki keturunan. Sedangkan iblis, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis memiliki keturunan. Allah Ta’ala befirman,أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ“Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi: 50)Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanKetiga, malaikat itu tidak mendurhakai Allah Ta’ala sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Dan mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Adapun iblis, Allah Ta’ala kabarkan tentang mereka,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Keempat, malaikat itu tidak makan dan tidak minum. Adapun iblis, mereka makan dan minum.Kelima, pengecualian dari suatu lafaz yang bersifat umum itu berarti mengeluarkan sesuatu tersebut dari nama dan hukum yang mendapatkan pengecualian. (Lihat Al-Bahrul Muhith fi Ushuulil Fiqhi, 3: 276)Allah Ta’ala befirman,فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ؛ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى أَن يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. Kecuali iblis, dia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.” (QS. Al-Hijr: 30-31)Dengan dikecualikannya iblis dalam ayat di atas, berarti iblis bukan termasuk dalam golongan malaikat.Jika ditanyakan, mengapa Allah Ta’ala memerintahkan iblis untuk sujud bersama malaikat? Maka jawabannya, iblis diperintahkan untuk sujud bersama malaikat karena iblis juga hadir pada saat perintah tersebut bersama malaikat. Sehingga iblis itu dikecualikan dalam ayat tersebut bukan karena iblis termasuk golongan malaikat, tetapi karena malaikat dan iblis sama-sama mendapatkan perintah. Bedanya, malaikat melaksanakan perintah, sedangkan iblis tidak.Keenam, diperbolehkan adanya istitsna’ munqathi’ dengan adanya dalil. Pengecualian iblis, padahal mereka bukan dari golongan malaikat, menunjukkan bolehnya istitsna’ munqathi’. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis itu bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang telah disebutkan argumentasinya.Ketujuh, firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa iblis itu termasuk golongan jin. Sehingga tidak boleh dibelokkan maknanya, kecuali dengan adanya dalil yang tegas dan jelas pula.Syekh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata,“Argumentasi yang paling kuat dalam masalah ini adalah argumentasi yang mengatakan bahwa iblis itu bukan termasuk golongan malaikat. Hal ini karena firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ‘Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.’ (QS. Al-Kahfi: 50)adalah ayat paling jelas dalam masalah ini dari dalil-dalil wahyu. Dan ilmu berada di sisi Allah Ta’ala.” (Adhwaul Bayaan, 3: 290-291)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 60-65. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.


Para ulama berbeda pendapat tentang apakah iblis termasuk golongan malaikat ataukah jin, menjadi dua pendapat:Pendapat pertama, iblis termasuk dalam jenis (golongan) malaikatPendapat pertama mengatakan bahwa iblis itu termasuk dalam golongan malaikat, namun diciptakan dari api. Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas (Tafsir Ath-Thabari, 18: 39), Qatadah (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41), Sa’id bin Musayyib (Tafsir Ath-Thabari, 1: 504), dan dipilih oleh Ath-Thabari (Tafsir Ath-Thabari, 1: 508) dan Al-Baghawi (Tafsir Al-Baghawi, 1: 82).Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’, maka bersujudlah mereka, kecuali iblis.” (QS. Al-Kahfi: 50)Sisi pendalilan dari ayat ini adalah jika iblis itu bukan termasuk golongan malaikat, mereka tidak akan diperintahkan untuk bersujud. Mereka mengatakan bahwa pengecualian (istitsna’) dalam ayat ini adalah istitsna’ muttashil. Dalam istitsna’ muttashil, antara yang dikecualikan (iblis dalam ayat ini) dan yang mendapatkan pengecualian (malaikat dalam ayat ini) adalah sesuatu yang sama jenisnya.Baca Juga: Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?Pendapat kedua, iblis termasuk dalam golongan jinDi antara yang berpendapat ini adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Zaid.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iblis tidak termasuk jenis malaikat sama sekali. Karena iblis adalah nenek moyang bangsa jin sebagaimana Adam adalah nenek moyang manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 18: 41)Ibnu Zaid rahimahullah berkata, “Iblis adalah bapaknya jin sebagaimana Adam adalah bapaknya manusia.” (Tafsir Ath-Thabari, 1: 507)Pendapat ini juga dipilih dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (Majmu’ Fataawa, 4: 346). Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Huruf fa’ dalam ayat di atas menunjukkan sebab-akibat. Maksudnya, Allah Ta’ala menjadikan iblis dari jenis jin disebabkan karena kedurhakaannya. Dengan kata lain, iblis adalah jin yang durhaka terhadap perintah Allah Ta’ala. Seandainya iblis adalah malaikat sebagaimana malaikat-malaikat lain yang bersujud kepada Adam, tentu iblis tidak akan melawan atau mendurhakai perintah Allah Ta’ala. Hal ini karena malaikat itu terjaga (ma’shum) dari perbuatan dosa, tidak sebagaimana golongan manusia dan jin.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ“Mereka (malaikat) itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 27)Mereka mengatakan bahwa pengecualian dalam surah Al-Kahfi ayat 50 di ayat termasuk dalam istitsna’ munqathi’, artinya perkara yang dikecualikan (iblis) itu berbeda jenis (golongan) dengan perkara yang mendapatkan pengecualian.Argumentasi yang lain, Allah Ta’ala menciptakan iblis dari api yang menyala-nyala, dan tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa malaikat diciptakan dari api. Juga bahwa iblis itu memiliki anak keturunan, tidak sebagaimana malaikat.Pendapat terkuat dalam masalah iniPendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat kedua, yaitu bahwa iblis itu termasuk golongan jin, bukan golongan malaikat. Hal ini karena golongan malaikat dan iblis itu berbeda dari beberapa sisi berikut ini:Pertama, unsur penciptaan malaikat dan iblis itu berbeda. Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ‘Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api yang menyala-nyala.’” (HR. Muslim no. 2996)Allah Ta’ala berkata tentang iblis,قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Shaad: 76)Kedua, malaikat itu tidak menikah dan juga tidak memiliki keturunan. Sedangkan iblis, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis memiliki keturunan. Allah Ta’ala befirman,أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ“Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi: 50)Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanKetiga, malaikat itu tidak mendurhakai Allah Ta’ala sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Dan mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Adapun iblis, Allah Ta’ala kabarkan tentang mereka,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Keempat, malaikat itu tidak makan dan tidak minum. Adapun iblis, mereka makan dan minum.Kelima, pengecualian dari suatu lafaz yang bersifat umum itu berarti mengeluarkan sesuatu tersebut dari nama dan hukum yang mendapatkan pengecualian. (Lihat Al-Bahrul Muhith fi Ushuulil Fiqhi, 3: 276)Allah Ta’ala befirman,فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ؛ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى أَن يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. Kecuali iblis, dia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.” (QS. Al-Hijr: 30-31)Dengan dikecualikannya iblis dalam ayat di atas, berarti iblis bukan termasuk dalam golongan malaikat.Jika ditanyakan, mengapa Allah Ta’ala memerintahkan iblis untuk sujud bersama malaikat? Maka jawabannya, iblis diperintahkan untuk sujud bersama malaikat karena iblis juga hadir pada saat perintah tersebut bersama malaikat. Sehingga iblis itu dikecualikan dalam ayat tersebut bukan karena iblis termasuk golongan malaikat, tetapi karena malaikat dan iblis sama-sama mendapatkan perintah. Bedanya, malaikat melaksanakan perintah, sedangkan iblis tidak.Keenam, diperbolehkan adanya istitsna’ munqathi’ dengan adanya dalil. Pengecualian iblis, padahal mereka bukan dari golongan malaikat, menunjukkan bolehnya istitsna’ munqathi’. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa iblis itu bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang telah disebutkan argumentasinya.Ketujuh, firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ“Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)Ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa iblis itu termasuk golongan jin. Sehingga tidak boleh dibelokkan maknanya, kecuali dengan adanya dalil yang tegas dan jelas pula.Syekh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata,“Argumentasi yang paling kuat dalam masalah ini adalah argumentasi yang mengatakan bahwa iblis itu bukan termasuk golongan malaikat. Hal ini karena firman Allah Ta’ala,كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ‘Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.’ (QS. Al-Kahfi: 50)adalah ayat paling jelas dalam masalah ini dari dalil-dalil wahyu. Dan ilmu berada di sisi Allah Ta’ala.” (Adhwaul Bayaan, 3: 290-291)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 60-65. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.

Membahas Agama Tidak Boleh dengan Perkataan Cabul

Perkataan vulgar, jorok, dan cabul tidak diperbolehkan sama sekali dalam membahas apa pun. Dan dalam masalah agama, lebih terlarang lagi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحشِ ولا البَذيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela atau suka melaknat atau suka berkata kotor atau suka berkata-kata cabul” (HR. Tirmidzi no. 1977, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Al bazi’ dalam hadits di atas maknanya orang yang suka mengungkapkan masalah-masalah vulgar dengan kata-kata yang lugas. Al Kafawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو التعبير عن الأمور المستقبحة، بالعبارات الصريحة“Al baza’ adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap tabu (untuk diungkapkan), dengan bahasa yang lugas (terang-terangan)” (Al Kulliyat, hal. 243).Seperti mengungkapkan urusan ranjang, membahas urusan kemaluan dan aurat, dengan bahasa yang terang-terangan.Walaupun pembahasan yang dibahas isinya benar sekalipun, jika menggunakan kata-kata atau gestur yang cabul, tetap terlarang berdasarkan hadits di atas. Al Munawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو الفحش والقبح في المنطق، وإن كان الكلام صدقًا“Al baza’ adalah ucapan kotor dan dianggap tabu, walaupun isinya benar” (At Tawaqquf ‘ala Muhimmatit Ta’arif, hal. 73).Setiap orang harus memiliki rasa malu yang mencegah dia untuk melakukan perkara-perkara cabul. Karena malu adalah bagian dari iman. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).Sebaliknya, sifat suka perkara cabul dan suka berkata cabul adalah ciri kemunafikan. Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحياءُ والعِيُّ شعبتانِ منَ الإيمانِ، والبذاءُ والبيانُ شعبتانِ منَ النِّفاقِ“Malu adalah cabang dari keimanan, dan sifat al baza’ (cabul), dan bayan (retorika untuk membenarkan kekeliruan) adalah cabang dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi no. 2027, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidBukan berarti tidak boleh membahas fikih yang terkait dengan urusan ranjang dan kemaluan, tetapi harus memperhatikan adab-adabnya. Di antaranya,* Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa.* Berusaha menggunakan bahasa yang tidak lugas.* Memperhatikan audiens, apakah layak untuk mendengarkan masalah tersebut?* Dibahas sesuai kebutuhan bukan menjadi dagangan utama.Sebagaimana hadits dari Ummu Sulaim radhiallahu ’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam,يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika dia mimpi basah? Rasulullah bersabda, “Ya, jika dia melihat air (mani)” (HR. Bukhari no. 6121 dan Muslim no. 313).Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,يا أماه ! ( أو يا أم المؤمنين ! ) إن أرد أن أسألك عن شيء . وإن أستحييك . فقالت : لا تستحي أن تسألني عما كنت سائلا عنه أمك التي ولدتك . فإنما أنا أمك . قلت : فما يوجب الغسل ؟ قالت : على الخبير سقطت . قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إذا جلس بين شعبها الأربع ، ومس الختان الختان ، فقد وجب الغسل ““Wahai Ibu (ibunya kaum mukminin), aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, tapi aku malu. ‘Aisyah lalu berkata, ‘Jangan Engkau malu bertanya, jika Engkau bertanya kepada ibu yang melahirkanmu. Dan sesungguhnya aku ini ibumu juga. Abu Musa lalu berkata, ‘Bagaimana batasan jima’ yang mewajibkan mandi?’ ‘Aisyah berkata, ‘Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya, lalu dua khitan saling bertemu, maka wajib mandi‘” (HR. Muslim no. 349).Perhatikan, dalam hadits-hadits di atas dibahas masalah-masalah ranjang dan kemaluan. Namun, kata-kata yang digunakan semisal “jika ia melihat air”, “lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya”, atau “dua khitan saling bertemu”. Ini adalah bahasa-bahasa yang sopan dan halus serta tidak lugas.‘Ala kulli haal, seorang yang berdakwah wajib memiliki adab yang tinggi dalam dakwahnya. Tidak sembarang menyampaikan, tidak sekedar yang penting isinya benar. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Siapakah yang lebih bagus perkataannya daripada orang yang mendakwahkan manusia kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan bahwa aku adalah bagian dari orang-orang muslim” (QS. Fushilat: 33).Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Demi Masa Sesungguhnya Manusia, M Suara Islam, Tangan Allah, Sakit Itu Nikmat

Membahas Agama Tidak Boleh dengan Perkataan Cabul

Perkataan vulgar, jorok, dan cabul tidak diperbolehkan sama sekali dalam membahas apa pun. Dan dalam masalah agama, lebih terlarang lagi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحشِ ولا البَذيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela atau suka melaknat atau suka berkata kotor atau suka berkata-kata cabul” (HR. Tirmidzi no. 1977, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Al bazi’ dalam hadits di atas maknanya orang yang suka mengungkapkan masalah-masalah vulgar dengan kata-kata yang lugas. Al Kafawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو التعبير عن الأمور المستقبحة، بالعبارات الصريحة“Al baza’ adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap tabu (untuk diungkapkan), dengan bahasa yang lugas (terang-terangan)” (Al Kulliyat, hal. 243).Seperti mengungkapkan urusan ranjang, membahas urusan kemaluan dan aurat, dengan bahasa yang terang-terangan.Walaupun pembahasan yang dibahas isinya benar sekalipun, jika menggunakan kata-kata atau gestur yang cabul, tetap terlarang berdasarkan hadits di atas. Al Munawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو الفحش والقبح في المنطق، وإن كان الكلام صدقًا“Al baza’ adalah ucapan kotor dan dianggap tabu, walaupun isinya benar” (At Tawaqquf ‘ala Muhimmatit Ta’arif, hal. 73).Setiap orang harus memiliki rasa malu yang mencegah dia untuk melakukan perkara-perkara cabul. Karena malu adalah bagian dari iman. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).Sebaliknya, sifat suka perkara cabul dan suka berkata cabul adalah ciri kemunafikan. Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحياءُ والعِيُّ شعبتانِ منَ الإيمانِ، والبذاءُ والبيانُ شعبتانِ منَ النِّفاقِ“Malu adalah cabang dari keimanan, dan sifat al baza’ (cabul), dan bayan (retorika untuk membenarkan kekeliruan) adalah cabang dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi no. 2027, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidBukan berarti tidak boleh membahas fikih yang terkait dengan urusan ranjang dan kemaluan, tetapi harus memperhatikan adab-adabnya. Di antaranya,* Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa.* Berusaha menggunakan bahasa yang tidak lugas.* Memperhatikan audiens, apakah layak untuk mendengarkan masalah tersebut?* Dibahas sesuai kebutuhan bukan menjadi dagangan utama.Sebagaimana hadits dari Ummu Sulaim radhiallahu ’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam,يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika dia mimpi basah? Rasulullah bersabda, “Ya, jika dia melihat air (mani)” (HR. Bukhari no. 6121 dan Muslim no. 313).Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,يا أماه ! ( أو يا أم المؤمنين ! ) إن أرد أن أسألك عن شيء . وإن أستحييك . فقالت : لا تستحي أن تسألني عما كنت سائلا عنه أمك التي ولدتك . فإنما أنا أمك . قلت : فما يوجب الغسل ؟ قالت : على الخبير سقطت . قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إذا جلس بين شعبها الأربع ، ومس الختان الختان ، فقد وجب الغسل ““Wahai Ibu (ibunya kaum mukminin), aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, tapi aku malu. ‘Aisyah lalu berkata, ‘Jangan Engkau malu bertanya, jika Engkau bertanya kepada ibu yang melahirkanmu. Dan sesungguhnya aku ini ibumu juga. Abu Musa lalu berkata, ‘Bagaimana batasan jima’ yang mewajibkan mandi?’ ‘Aisyah berkata, ‘Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya, lalu dua khitan saling bertemu, maka wajib mandi‘” (HR. Muslim no. 349).Perhatikan, dalam hadits-hadits di atas dibahas masalah-masalah ranjang dan kemaluan. Namun, kata-kata yang digunakan semisal “jika ia melihat air”, “lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya”, atau “dua khitan saling bertemu”. Ini adalah bahasa-bahasa yang sopan dan halus serta tidak lugas.‘Ala kulli haal, seorang yang berdakwah wajib memiliki adab yang tinggi dalam dakwahnya. Tidak sembarang menyampaikan, tidak sekedar yang penting isinya benar. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Siapakah yang lebih bagus perkataannya daripada orang yang mendakwahkan manusia kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan bahwa aku adalah bagian dari orang-orang muslim” (QS. Fushilat: 33).Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Demi Masa Sesungguhnya Manusia, M Suara Islam, Tangan Allah, Sakit Itu Nikmat
Perkataan vulgar, jorok, dan cabul tidak diperbolehkan sama sekali dalam membahas apa pun. Dan dalam masalah agama, lebih terlarang lagi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحشِ ولا البَذيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela atau suka melaknat atau suka berkata kotor atau suka berkata-kata cabul” (HR. Tirmidzi no. 1977, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Al bazi’ dalam hadits di atas maknanya orang yang suka mengungkapkan masalah-masalah vulgar dengan kata-kata yang lugas. Al Kafawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو التعبير عن الأمور المستقبحة، بالعبارات الصريحة“Al baza’ adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap tabu (untuk diungkapkan), dengan bahasa yang lugas (terang-terangan)” (Al Kulliyat, hal. 243).Seperti mengungkapkan urusan ranjang, membahas urusan kemaluan dan aurat, dengan bahasa yang terang-terangan.Walaupun pembahasan yang dibahas isinya benar sekalipun, jika menggunakan kata-kata atau gestur yang cabul, tetap terlarang berdasarkan hadits di atas. Al Munawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو الفحش والقبح في المنطق، وإن كان الكلام صدقًا“Al baza’ adalah ucapan kotor dan dianggap tabu, walaupun isinya benar” (At Tawaqquf ‘ala Muhimmatit Ta’arif, hal. 73).Setiap orang harus memiliki rasa malu yang mencegah dia untuk melakukan perkara-perkara cabul. Karena malu adalah bagian dari iman. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).Sebaliknya, sifat suka perkara cabul dan suka berkata cabul adalah ciri kemunafikan. Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحياءُ والعِيُّ شعبتانِ منَ الإيمانِ، والبذاءُ والبيانُ شعبتانِ منَ النِّفاقِ“Malu adalah cabang dari keimanan, dan sifat al baza’ (cabul), dan bayan (retorika untuk membenarkan kekeliruan) adalah cabang dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi no. 2027, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidBukan berarti tidak boleh membahas fikih yang terkait dengan urusan ranjang dan kemaluan, tetapi harus memperhatikan adab-adabnya. Di antaranya,* Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa.* Berusaha menggunakan bahasa yang tidak lugas.* Memperhatikan audiens, apakah layak untuk mendengarkan masalah tersebut?* Dibahas sesuai kebutuhan bukan menjadi dagangan utama.Sebagaimana hadits dari Ummu Sulaim radhiallahu ’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam,يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika dia mimpi basah? Rasulullah bersabda, “Ya, jika dia melihat air (mani)” (HR. Bukhari no. 6121 dan Muslim no. 313).Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,يا أماه ! ( أو يا أم المؤمنين ! ) إن أرد أن أسألك عن شيء . وإن أستحييك . فقالت : لا تستحي أن تسألني عما كنت سائلا عنه أمك التي ولدتك . فإنما أنا أمك . قلت : فما يوجب الغسل ؟ قالت : على الخبير سقطت . قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إذا جلس بين شعبها الأربع ، ومس الختان الختان ، فقد وجب الغسل ““Wahai Ibu (ibunya kaum mukminin), aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, tapi aku malu. ‘Aisyah lalu berkata, ‘Jangan Engkau malu bertanya, jika Engkau bertanya kepada ibu yang melahirkanmu. Dan sesungguhnya aku ini ibumu juga. Abu Musa lalu berkata, ‘Bagaimana batasan jima’ yang mewajibkan mandi?’ ‘Aisyah berkata, ‘Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya, lalu dua khitan saling bertemu, maka wajib mandi‘” (HR. Muslim no. 349).Perhatikan, dalam hadits-hadits di atas dibahas masalah-masalah ranjang dan kemaluan. Namun, kata-kata yang digunakan semisal “jika ia melihat air”, “lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya”, atau “dua khitan saling bertemu”. Ini adalah bahasa-bahasa yang sopan dan halus serta tidak lugas.‘Ala kulli haal, seorang yang berdakwah wajib memiliki adab yang tinggi dalam dakwahnya. Tidak sembarang menyampaikan, tidak sekedar yang penting isinya benar. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Siapakah yang lebih bagus perkataannya daripada orang yang mendakwahkan manusia kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan bahwa aku adalah bagian dari orang-orang muslim” (QS. Fushilat: 33).Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Demi Masa Sesungguhnya Manusia, M Suara Islam, Tangan Allah, Sakit Itu Nikmat


Perkataan vulgar, jorok, dan cabul tidak diperbolehkan sama sekali dalam membahas apa pun. Dan dalam masalah agama, lebih terlarang lagi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحشِ ولا البَذيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela atau suka melaknat atau suka berkata kotor atau suka berkata-kata cabul” (HR. Tirmidzi no. 1977, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Al bazi’ dalam hadits di atas maknanya orang yang suka mengungkapkan masalah-masalah vulgar dengan kata-kata yang lugas. Al Kafawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو التعبير عن الأمور المستقبحة، بالعبارات الصريحة“Al baza’ adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap tabu (untuk diungkapkan), dengan bahasa yang lugas (terang-terangan)” (Al Kulliyat, hal. 243).Seperti mengungkapkan urusan ranjang, membahas urusan kemaluan dan aurat, dengan bahasa yang terang-terangan.Walaupun pembahasan yang dibahas isinya benar sekalipun, jika menggunakan kata-kata atau gestur yang cabul, tetap terlarang berdasarkan hadits di atas. Al Munawi rahimahullah mengatakan,البذاء هو الفحش والقبح في المنطق، وإن كان الكلام صدقًا“Al baza’ adalah ucapan kotor dan dianggap tabu, walaupun isinya benar” (At Tawaqquf ‘ala Muhimmatit Ta’arif, hal. 73).Setiap orang harus memiliki rasa malu yang mencegah dia untuk melakukan perkara-perkara cabul. Karena malu adalah bagian dari iman. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).Sebaliknya, sifat suka perkara cabul dan suka berkata cabul adalah ciri kemunafikan. Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحياءُ والعِيُّ شعبتانِ منَ الإيمانِ، والبذاءُ والبيانُ شعبتانِ منَ النِّفاقِ“Malu adalah cabang dari keimanan, dan sifat al baza’ (cabul), dan bayan (retorika untuk membenarkan kekeliruan) adalah cabang dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi no. 2027, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidBukan berarti tidak boleh membahas fikih yang terkait dengan urusan ranjang dan kemaluan, tetapi harus memperhatikan adab-adabnya. Di antaranya,* Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa.* Berusaha menggunakan bahasa yang tidak lugas.* Memperhatikan audiens, apakah layak untuk mendengarkan masalah tersebut?* Dibahas sesuai kebutuhan bukan menjadi dagangan utama.Sebagaimana hadits dari Ummu Sulaim radhiallahu ’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam,يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika dia mimpi basah? Rasulullah bersabda, “Ya, jika dia melihat air (mani)” (HR. Bukhari no. 6121 dan Muslim no. 313).Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,يا أماه ! ( أو يا أم المؤمنين ! ) إن أرد أن أسألك عن شيء . وإن أستحييك . فقالت : لا تستحي أن تسألني عما كنت سائلا عنه أمك التي ولدتك . فإنما أنا أمك . قلت : فما يوجب الغسل ؟ قالت : على الخبير سقطت . قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إذا جلس بين شعبها الأربع ، ومس الختان الختان ، فقد وجب الغسل ““Wahai Ibu (ibunya kaum mukminin), aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, tapi aku malu. ‘Aisyah lalu berkata, ‘Jangan Engkau malu bertanya, jika Engkau bertanya kepada ibu yang melahirkanmu. Dan sesungguhnya aku ini ibumu juga. Abu Musa lalu berkata, ‘Bagaimana batasan jima’ yang mewajibkan mandi?’ ‘Aisyah berkata, ‘Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya, lalu dua khitan saling bertemu, maka wajib mandi‘” (HR. Muslim no. 349).Perhatikan, dalam hadits-hadits di atas dibahas masalah-masalah ranjang dan kemaluan. Namun, kata-kata yang digunakan semisal “jika ia melihat air”, “lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya”, atau “dua khitan saling bertemu”. Ini adalah bahasa-bahasa yang sopan dan halus serta tidak lugas.‘Ala kulli haal, seorang yang berdakwah wajib memiliki adab yang tinggi dalam dakwahnya. Tidak sembarang menyampaikan, tidak sekedar yang penting isinya benar. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Siapakah yang lebih bagus perkataannya daripada orang yang mendakwahkan manusia kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan bahwa aku adalah bagian dari orang-orang muslim” (QS. Fushilat: 33).Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Demi Masa Sesungguhnya Manusia, M Suara Islam, Tangan Allah, Sakit Itu Nikmat

Antara Dosa yang Diampuni dan Tidak Diampuni

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Dalam surah An-Nisa ayat 48 dan 116, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48, 116).Dalam ayat tersebut, dosa terbagi menjadi dua, yaitu:Pertama, dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala, jika pelakunya tidak bertaubat.Kedua, dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut.Dan yang dimaksud dengan “dosa yang tidak diampuni” dalam ayat ini adalah apabila pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya. Hal ini karena dosa apa pun itu, apabila seseorang bertaubat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya taubat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala.Karena Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Dan ampunan Allah atas seluruh dosa hamba-Nya dalam ayat ini dimaksudkan untuk orang yang bertaubat dari dosanya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ يَّنْتَهُوْا يُغْفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu” (QS. Al-Anfal: 38).Sedangkan syarat diterimanya taubat ada tujuh, yaitu:Pertama, Islam.Kedua, ikhlas.Ketiga, menyesal.Keempat, berhenti dari dosa saat itu juga.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak Allah, dengan cara melakukan kewajiban yang ditinggalkan atau meninggalkan keharaman yang terlanjur dilakukan.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak makhluk, dengan cara menunaikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepadanya.Kelima, bertekad untuk tidak mengulangi.Keenam, sebelum sakaratul maut (sebelum nyawa sampai tenggorokan).Ketujuh, sebelum matahari terbit dari barat.Dosa yang tidak diampuni (jika pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat)Ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam menafsirkan dosa yang tidak diampuni dalam ayat ini.Baca Juga: Selingkuh Adalah Dosa BesarPendapat pertamaSyirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil, karena di dalam kalimat tersebut mengandung keumuman jenis syirik dan tidak terdapat pengkhususan jenis syirik tertentu saja.Pendapat keduaSyirik besar (dan setingkatnya) saja, karena mayoritas ayat dalam Alquran, maksud lafaz “syirik” ketika disebut secara mutlak (hanya disebut kata “syirik” saja, tanpa ada tambahan keterangan apapun) adalah “syirik besar”, dan bukan syirik kecil. Contohnya dalam surah Al-Maidah: 72 dan Al-Hajj: 31. Dan inilah pendapat yang terkuat.Catatan: Catatan pertama, definisi syirik besarMenyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus milik Allah, yaitu perbuatan ketuhanan (rububiyyah), hak untuk diibadahi (uluhiyyah), dan nama dan sifat Allah (al-asma’ wash shifat).Syirik ini disifati dengan sifat “besar”, karena mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Sedangkan akibat syirik besar bagi pelakunya adalah sebagai berikut:– Tidak diampuni jika mati dalam keadaan tidak bertaubat.– Kekal selamanya di neraka.– Menggugurkan seluruh amalan salih yang telah dilakukan.Catatan kedua, dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar)– kufur besar– nifaq besarDosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut. Sebelum kita mengetahui dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, agar lebih jelas, maka kita perlu mengetahui macam-macam dosa dalam ajaran Islam:1. Syirik besar (dan setingkatnya)2. Syirik kecil (dan setingkatnya)3. Bid’ah4. Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Bada’iul Fawaid [1] dan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Syaikh ‘Abdul Azin bin Baz Rahimahullah berkata,المراتب: الشرك الأكبر ثم الأصغر ثم البدعة ثم كبائر الذنوب ثم صغائر الذنوب“Tingkatan dosa-dosa, yaitu: syirik besar, lalu syirik kecil, lalu bid’ah, lalu dosa besar, kemudian dosa kecil” [2].Sedangkan dalam surat An-Nisa: 48, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48).Berarti dalam ayat ini terdapat 2 kelompok besar dosa, yaitu:a) Syirik besar dan yang setingkatnyab) Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya.Baca Juga: Hamba, di antara Dosa dan AmpunanPenjelasan ahli tafsir terhadap surat An-Nisa’: 48Berikut ini tafsir para ulama tentang ayat di atas:1. Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,“Allah mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik (besar), baik dosa kecil maupun dosa besar, dan ampunan tersebut terealisasi ketika Allah menghendakinya, (dan hal itu) tatkala kebijaksanaan-Nya menuntut pengampunan-Nya”. (Taisiir Karimir Rahman)2. Dalam Tafsir Jalalain,ويَغْفِر ما دُون  Maksudnya dosa-dosa selain itu (di bawah syirik besar dan setingkatnya, pent.)لِمَن يَشاء Ampunan untuknya berupa Allah memasukkannya ke dalam surga tanpa adzab. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak menyiksanya, maka Allah akan menyiksa sebagian orang mukmin karena dosanya, kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga.3. Dalam Mahasinut Ta’wil, Al-Qasimi rahimahullah berkata,“Yaitu (Allah mengampuni) dosa di bawah tingkatan syirik (besar) berupa maksiat-maksiat, baik dosa besar maupun dosa kecil.لِمَن يَشاءُ Sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari-Nya”.4. Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata [3],“Yaitu (Allah mengampuni dosa-dosa) di bawah syirik (besar), seperti zina, durhaka, minum khamr, dan semacamnya. Ini semua di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, Allah mengampuni pelakunya pada hari kiamat dengan amal salihnya yang lain, dan dengan kebaikannya yang lain sebagai bentuk karunia Allah, kedermawanan-Nya, dan kebaikan-Nya.Dan jika Allah berkehendak, Allah menyiksanya sesuai kadar kemaksiatan yang dia mati di atasnya, berupa kedurhakaannya kepada orangtuanya atau durhaka kepada salah satu dari keduanya, atau berupa meminum minuman yang memabukkan, berzina, ghibah, namimah, dan yang lainnya”.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan tentang jenis dosa yang diampuni dalam An-Nisa: 48 tersebut [4],“Kesimpulannya: bahwa seluruh dosa semuanya di bawah kehendak Allah, sama saja apakah dosa itu berkaitan dengan hak Allah ataupun berkaitan dengan hak makhluk seperti ghibah, membunuh, namimah, dan yang semacamnya. Ini semua di bawah di bawah kehendak Allah. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Allah mengampuni pelakunya. Dan jika Allah berkehendak (lain), Allah menyiksanya karena dosa yang dia belum bertaubat darinya.Adapun jika dia telah bertaubat, maka dosanya terhapus oleh taubatnya. Akan tetapi untuk hak makhluk yang terzhalimi, Allah tidak akan terlantarkan. Bahkan Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut, meskipun orang yang menzhalimi tersebut telah bertaubat darinya (namun belum meminta penghalalan kepada orang yang dizhalimi, pent.). Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut.Allah akan membuat orang yang dizhalimi ridha atas pahala Allah untuknya. Jika orang yang menzhalimi itu jujur dalam taubatnya, maka Allah akan membuat ridha orang yang terzhalimi dengan pahala sesuai kehendak-Nya”.Baca Juga: Shalat, Sebab Penggugur DosaKesimpulan:Dari tafsir para ahli tafsir dan penjelasan tentang macam-macam dosa tersebut, maka jenis dosa yang diampuni oleh Allah bagi orang yang dikehendaki-Nya meskipun pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya adalah segala dosa di bawah kesyirikan besar dan setingkatnya, yaitu:– Syirik kecil dan setingkatnya– Bid’ah– Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang memungkinkan diampuni oleh Allah?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, ghibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Ulama menjelaskan bahwa taubat dari dosa berkaitan dengan hak makhluk haruslah dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Hal ini tidaklah bertentangan dengan surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti juga mencakup dosa berkaitan dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman sebagaimana syirik besar!Lalu bagaimana nasib orang yang menzhalimi saudaranya di akhirat jika Allah berkehendak mengampuninya, apakah berarti masih ada tuntutan kepadanya?Dan jika Allah berkehendak mengampuni orang yang menzhalimi, maka bagaimanakah nasib orang yang dizhalimi di akhirat, apakah tidak mendapatkan haknya di sana?Yang jelas, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, namun bagaimana penjelasannya, akan kami jelaskan di kesempatan yang lain.Wallahu a’lam.Baca Juga:***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:1. Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.2. Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah.3. Kitab At-Tamhid, Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah.4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Karimir Rahman).5. Tafsir Jalalain.6. Tafsir Mahasinut Ta’wil, Al-Qosimi rahimahullah. Catatan Kaki:🔍 Tsalatsatul Ushul, Hadits Membaca Al Quran, Ucapan Lebaran Yang Benar Menurut Islam, Proses Sunat Pada Wanita, Majalah Salafy

Antara Dosa yang Diampuni dan Tidak Diampuni

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Dalam surah An-Nisa ayat 48 dan 116, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48, 116).Dalam ayat tersebut, dosa terbagi menjadi dua, yaitu:Pertama, dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala, jika pelakunya tidak bertaubat.Kedua, dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut.Dan yang dimaksud dengan “dosa yang tidak diampuni” dalam ayat ini adalah apabila pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya. Hal ini karena dosa apa pun itu, apabila seseorang bertaubat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya taubat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala.Karena Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Dan ampunan Allah atas seluruh dosa hamba-Nya dalam ayat ini dimaksudkan untuk orang yang bertaubat dari dosanya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ يَّنْتَهُوْا يُغْفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu” (QS. Al-Anfal: 38).Sedangkan syarat diterimanya taubat ada tujuh, yaitu:Pertama, Islam.Kedua, ikhlas.Ketiga, menyesal.Keempat, berhenti dari dosa saat itu juga.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak Allah, dengan cara melakukan kewajiban yang ditinggalkan atau meninggalkan keharaman yang terlanjur dilakukan.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak makhluk, dengan cara menunaikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepadanya.Kelima, bertekad untuk tidak mengulangi.Keenam, sebelum sakaratul maut (sebelum nyawa sampai tenggorokan).Ketujuh, sebelum matahari terbit dari barat.Dosa yang tidak diampuni (jika pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat)Ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam menafsirkan dosa yang tidak diampuni dalam ayat ini.Baca Juga: Selingkuh Adalah Dosa BesarPendapat pertamaSyirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil, karena di dalam kalimat tersebut mengandung keumuman jenis syirik dan tidak terdapat pengkhususan jenis syirik tertentu saja.Pendapat keduaSyirik besar (dan setingkatnya) saja, karena mayoritas ayat dalam Alquran, maksud lafaz “syirik” ketika disebut secara mutlak (hanya disebut kata “syirik” saja, tanpa ada tambahan keterangan apapun) adalah “syirik besar”, dan bukan syirik kecil. Contohnya dalam surah Al-Maidah: 72 dan Al-Hajj: 31. Dan inilah pendapat yang terkuat.Catatan: Catatan pertama, definisi syirik besarMenyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus milik Allah, yaitu perbuatan ketuhanan (rububiyyah), hak untuk diibadahi (uluhiyyah), dan nama dan sifat Allah (al-asma’ wash shifat).Syirik ini disifati dengan sifat “besar”, karena mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Sedangkan akibat syirik besar bagi pelakunya adalah sebagai berikut:– Tidak diampuni jika mati dalam keadaan tidak bertaubat.– Kekal selamanya di neraka.– Menggugurkan seluruh amalan salih yang telah dilakukan.Catatan kedua, dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar)– kufur besar– nifaq besarDosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut. Sebelum kita mengetahui dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, agar lebih jelas, maka kita perlu mengetahui macam-macam dosa dalam ajaran Islam:1. Syirik besar (dan setingkatnya)2. Syirik kecil (dan setingkatnya)3. Bid’ah4. Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Bada’iul Fawaid [1] dan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Syaikh ‘Abdul Azin bin Baz Rahimahullah berkata,المراتب: الشرك الأكبر ثم الأصغر ثم البدعة ثم كبائر الذنوب ثم صغائر الذنوب“Tingkatan dosa-dosa, yaitu: syirik besar, lalu syirik kecil, lalu bid’ah, lalu dosa besar, kemudian dosa kecil” [2].Sedangkan dalam surat An-Nisa: 48, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48).Berarti dalam ayat ini terdapat 2 kelompok besar dosa, yaitu:a) Syirik besar dan yang setingkatnyab) Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya.Baca Juga: Hamba, di antara Dosa dan AmpunanPenjelasan ahli tafsir terhadap surat An-Nisa’: 48Berikut ini tafsir para ulama tentang ayat di atas:1. Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,“Allah mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik (besar), baik dosa kecil maupun dosa besar, dan ampunan tersebut terealisasi ketika Allah menghendakinya, (dan hal itu) tatkala kebijaksanaan-Nya menuntut pengampunan-Nya”. (Taisiir Karimir Rahman)2. Dalam Tafsir Jalalain,ويَغْفِر ما دُون  Maksudnya dosa-dosa selain itu (di bawah syirik besar dan setingkatnya, pent.)لِمَن يَشاء Ampunan untuknya berupa Allah memasukkannya ke dalam surga tanpa adzab. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak menyiksanya, maka Allah akan menyiksa sebagian orang mukmin karena dosanya, kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga.3. Dalam Mahasinut Ta’wil, Al-Qasimi rahimahullah berkata,“Yaitu (Allah mengampuni) dosa di bawah tingkatan syirik (besar) berupa maksiat-maksiat, baik dosa besar maupun dosa kecil.لِمَن يَشاءُ Sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari-Nya”.4. Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata [3],“Yaitu (Allah mengampuni dosa-dosa) di bawah syirik (besar), seperti zina, durhaka, minum khamr, dan semacamnya. Ini semua di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, Allah mengampuni pelakunya pada hari kiamat dengan amal salihnya yang lain, dan dengan kebaikannya yang lain sebagai bentuk karunia Allah, kedermawanan-Nya, dan kebaikan-Nya.Dan jika Allah berkehendak, Allah menyiksanya sesuai kadar kemaksiatan yang dia mati di atasnya, berupa kedurhakaannya kepada orangtuanya atau durhaka kepada salah satu dari keduanya, atau berupa meminum minuman yang memabukkan, berzina, ghibah, namimah, dan yang lainnya”.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan tentang jenis dosa yang diampuni dalam An-Nisa: 48 tersebut [4],“Kesimpulannya: bahwa seluruh dosa semuanya di bawah kehendak Allah, sama saja apakah dosa itu berkaitan dengan hak Allah ataupun berkaitan dengan hak makhluk seperti ghibah, membunuh, namimah, dan yang semacamnya. Ini semua di bawah di bawah kehendak Allah. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Allah mengampuni pelakunya. Dan jika Allah berkehendak (lain), Allah menyiksanya karena dosa yang dia belum bertaubat darinya.Adapun jika dia telah bertaubat, maka dosanya terhapus oleh taubatnya. Akan tetapi untuk hak makhluk yang terzhalimi, Allah tidak akan terlantarkan. Bahkan Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut, meskipun orang yang menzhalimi tersebut telah bertaubat darinya (namun belum meminta penghalalan kepada orang yang dizhalimi, pent.). Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut.Allah akan membuat orang yang dizhalimi ridha atas pahala Allah untuknya. Jika orang yang menzhalimi itu jujur dalam taubatnya, maka Allah akan membuat ridha orang yang terzhalimi dengan pahala sesuai kehendak-Nya”.Baca Juga: Shalat, Sebab Penggugur DosaKesimpulan:Dari tafsir para ahli tafsir dan penjelasan tentang macam-macam dosa tersebut, maka jenis dosa yang diampuni oleh Allah bagi orang yang dikehendaki-Nya meskipun pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya adalah segala dosa di bawah kesyirikan besar dan setingkatnya, yaitu:– Syirik kecil dan setingkatnya– Bid’ah– Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang memungkinkan diampuni oleh Allah?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, ghibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Ulama menjelaskan bahwa taubat dari dosa berkaitan dengan hak makhluk haruslah dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Hal ini tidaklah bertentangan dengan surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti juga mencakup dosa berkaitan dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman sebagaimana syirik besar!Lalu bagaimana nasib orang yang menzhalimi saudaranya di akhirat jika Allah berkehendak mengampuninya, apakah berarti masih ada tuntutan kepadanya?Dan jika Allah berkehendak mengampuni orang yang menzhalimi, maka bagaimanakah nasib orang yang dizhalimi di akhirat, apakah tidak mendapatkan haknya di sana?Yang jelas, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, namun bagaimana penjelasannya, akan kami jelaskan di kesempatan yang lain.Wallahu a’lam.Baca Juga:***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:1. Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.2. Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah.3. Kitab At-Tamhid, Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah.4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Karimir Rahman).5. Tafsir Jalalain.6. Tafsir Mahasinut Ta’wil, Al-Qosimi rahimahullah. Catatan Kaki:🔍 Tsalatsatul Ushul, Hadits Membaca Al Quran, Ucapan Lebaran Yang Benar Menurut Islam, Proses Sunat Pada Wanita, Majalah Salafy
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Dalam surah An-Nisa ayat 48 dan 116, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48, 116).Dalam ayat tersebut, dosa terbagi menjadi dua, yaitu:Pertama, dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala, jika pelakunya tidak bertaubat.Kedua, dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut.Dan yang dimaksud dengan “dosa yang tidak diampuni” dalam ayat ini adalah apabila pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya. Hal ini karena dosa apa pun itu, apabila seseorang bertaubat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya taubat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala.Karena Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Dan ampunan Allah atas seluruh dosa hamba-Nya dalam ayat ini dimaksudkan untuk orang yang bertaubat dari dosanya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ يَّنْتَهُوْا يُغْفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu” (QS. Al-Anfal: 38).Sedangkan syarat diterimanya taubat ada tujuh, yaitu:Pertama, Islam.Kedua, ikhlas.Ketiga, menyesal.Keempat, berhenti dari dosa saat itu juga.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak Allah, dengan cara melakukan kewajiban yang ditinggalkan atau meninggalkan keharaman yang terlanjur dilakukan.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak makhluk, dengan cara menunaikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepadanya.Kelima, bertekad untuk tidak mengulangi.Keenam, sebelum sakaratul maut (sebelum nyawa sampai tenggorokan).Ketujuh, sebelum matahari terbit dari barat.Dosa yang tidak diampuni (jika pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat)Ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam menafsirkan dosa yang tidak diampuni dalam ayat ini.Baca Juga: Selingkuh Adalah Dosa BesarPendapat pertamaSyirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil, karena di dalam kalimat tersebut mengandung keumuman jenis syirik dan tidak terdapat pengkhususan jenis syirik tertentu saja.Pendapat keduaSyirik besar (dan setingkatnya) saja, karena mayoritas ayat dalam Alquran, maksud lafaz “syirik” ketika disebut secara mutlak (hanya disebut kata “syirik” saja, tanpa ada tambahan keterangan apapun) adalah “syirik besar”, dan bukan syirik kecil. Contohnya dalam surah Al-Maidah: 72 dan Al-Hajj: 31. Dan inilah pendapat yang terkuat.Catatan: Catatan pertama, definisi syirik besarMenyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus milik Allah, yaitu perbuatan ketuhanan (rububiyyah), hak untuk diibadahi (uluhiyyah), dan nama dan sifat Allah (al-asma’ wash shifat).Syirik ini disifati dengan sifat “besar”, karena mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Sedangkan akibat syirik besar bagi pelakunya adalah sebagai berikut:– Tidak diampuni jika mati dalam keadaan tidak bertaubat.– Kekal selamanya di neraka.– Menggugurkan seluruh amalan salih yang telah dilakukan.Catatan kedua, dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar)– kufur besar– nifaq besarDosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut. Sebelum kita mengetahui dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, agar lebih jelas, maka kita perlu mengetahui macam-macam dosa dalam ajaran Islam:1. Syirik besar (dan setingkatnya)2. Syirik kecil (dan setingkatnya)3. Bid’ah4. Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Bada’iul Fawaid [1] dan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Syaikh ‘Abdul Azin bin Baz Rahimahullah berkata,المراتب: الشرك الأكبر ثم الأصغر ثم البدعة ثم كبائر الذنوب ثم صغائر الذنوب“Tingkatan dosa-dosa, yaitu: syirik besar, lalu syirik kecil, lalu bid’ah, lalu dosa besar, kemudian dosa kecil” [2].Sedangkan dalam surat An-Nisa: 48, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48).Berarti dalam ayat ini terdapat 2 kelompok besar dosa, yaitu:a) Syirik besar dan yang setingkatnyab) Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya.Baca Juga: Hamba, di antara Dosa dan AmpunanPenjelasan ahli tafsir terhadap surat An-Nisa’: 48Berikut ini tafsir para ulama tentang ayat di atas:1. Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,“Allah mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik (besar), baik dosa kecil maupun dosa besar, dan ampunan tersebut terealisasi ketika Allah menghendakinya, (dan hal itu) tatkala kebijaksanaan-Nya menuntut pengampunan-Nya”. (Taisiir Karimir Rahman)2. Dalam Tafsir Jalalain,ويَغْفِر ما دُون  Maksudnya dosa-dosa selain itu (di bawah syirik besar dan setingkatnya, pent.)لِمَن يَشاء Ampunan untuknya berupa Allah memasukkannya ke dalam surga tanpa adzab. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak menyiksanya, maka Allah akan menyiksa sebagian orang mukmin karena dosanya, kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga.3. Dalam Mahasinut Ta’wil, Al-Qasimi rahimahullah berkata,“Yaitu (Allah mengampuni) dosa di bawah tingkatan syirik (besar) berupa maksiat-maksiat, baik dosa besar maupun dosa kecil.لِمَن يَشاءُ Sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari-Nya”.4. Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata [3],“Yaitu (Allah mengampuni dosa-dosa) di bawah syirik (besar), seperti zina, durhaka, minum khamr, dan semacamnya. Ini semua di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, Allah mengampuni pelakunya pada hari kiamat dengan amal salihnya yang lain, dan dengan kebaikannya yang lain sebagai bentuk karunia Allah, kedermawanan-Nya, dan kebaikan-Nya.Dan jika Allah berkehendak, Allah menyiksanya sesuai kadar kemaksiatan yang dia mati di atasnya, berupa kedurhakaannya kepada orangtuanya atau durhaka kepada salah satu dari keduanya, atau berupa meminum minuman yang memabukkan, berzina, ghibah, namimah, dan yang lainnya”.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan tentang jenis dosa yang diampuni dalam An-Nisa: 48 tersebut [4],“Kesimpulannya: bahwa seluruh dosa semuanya di bawah kehendak Allah, sama saja apakah dosa itu berkaitan dengan hak Allah ataupun berkaitan dengan hak makhluk seperti ghibah, membunuh, namimah, dan yang semacamnya. Ini semua di bawah di bawah kehendak Allah. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Allah mengampuni pelakunya. Dan jika Allah berkehendak (lain), Allah menyiksanya karena dosa yang dia belum bertaubat darinya.Adapun jika dia telah bertaubat, maka dosanya terhapus oleh taubatnya. Akan tetapi untuk hak makhluk yang terzhalimi, Allah tidak akan terlantarkan. Bahkan Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut, meskipun orang yang menzhalimi tersebut telah bertaubat darinya (namun belum meminta penghalalan kepada orang yang dizhalimi, pent.). Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut.Allah akan membuat orang yang dizhalimi ridha atas pahala Allah untuknya. Jika orang yang menzhalimi itu jujur dalam taubatnya, maka Allah akan membuat ridha orang yang terzhalimi dengan pahala sesuai kehendak-Nya”.Baca Juga: Shalat, Sebab Penggugur DosaKesimpulan:Dari tafsir para ahli tafsir dan penjelasan tentang macam-macam dosa tersebut, maka jenis dosa yang diampuni oleh Allah bagi orang yang dikehendaki-Nya meskipun pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya adalah segala dosa di bawah kesyirikan besar dan setingkatnya, yaitu:– Syirik kecil dan setingkatnya– Bid’ah– Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang memungkinkan diampuni oleh Allah?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, ghibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Ulama menjelaskan bahwa taubat dari dosa berkaitan dengan hak makhluk haruslah dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Hal ini tidaklah bertentangan dengan surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti juga mencakup dosa berkaitan dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman sebagaimana syirik besar!Lalu bagaimana nasib orang yang menzhalimi saudaranya di akhirat jika Allah berkehendak mengampuninya, apakah berarti masih ada tuntutan kepadanya?Dan jika Allah berkehendak mengampuni orang yang menzhalimi, maka bagaimanakah nasib orang yang dizhalimi di akhirat, apakah tidak mendapatkan haknya di sana?Yang jelas, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, namun bagaimana penjelasannya, akan kami jelaskan di kesempatan yang lain.Wallahu a’lam.Baca Juga:***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:1. Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.2. Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah.3. Kitab At-Tamhid, Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah.4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Karimir Rahman).5. Tafsir Jalalain.6. Tafsir Mahasinut Ta’wil, Al-Qosimi rahimahullah. Catatan Kaki:🔍 Tsalatsatul Ushul, Hadits Membaca Al Quran, Ucapan Lebaran Yang Benar Menurut Islam, Proses Sunat Pada Wanita, Majalah Salafy


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Dalam surah An-Nisa ayat 48 dan 116, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48, 116).Dalam ayat tersebut, dosa terbagi menjadi dua, yaitu:Pertama, dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala, jika pelakunya tidak bertaubat.Kedua, dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut.Dan yang dimaksud dengan “dosa yang tidak diampuni” dalam ayat ini adalah apabila pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya. Hal ini karena dosa apa pun itu, apabila seseorang bertaubat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya taubat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala.Karena Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Dan ampunan Allah atas seluruh dosa hamba-Nya dalam ayat ini dimaksudkan untuk orang yang bertaubat dari dosanya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ يَّنْتَهُوْا يُغْفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu” (QS. Al-Anfal: 38).Sedangkan syarat diterimanya taubat ada tujuh, yaitu:Pertama, Islam.Kedua, ikhlas.Ketiga, menyesal.Keempat, berhenti dari dosa saat itu juga.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak Allah, dengan cara melakukan kewajiban yang ditinggalkan atau meninggalkan keharaman yang terlanjur dilakukan.– Bertaubat dari dosa terkait dengan hak makhluk, dengan cara menunaikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepadanya.Kelima, bertekad untuk tidak mengulangi.Keenam, sebelum sakaratul maut (sebelum nyawa sampai tenggorokan).Ketujuh, sebelum matahari terbit dari barat.Dosa yang tidak diampuni (jika pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat)Ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam menafsirkan dosa yang tidak diampuni dalam ayat ini.Baca Juga: Selingkuh Adalah Dosa BesarPendapat pertamaSyirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil, karena di dalam kalimat tersebut mengandung keumuman jenis syirik dan tidak terdapat pengkhususan jenis syirik tertentu saja.Pendapat keduaSyirik besar (dan setingkatnya) saja, karena mayoritas ayat dalam Alquran, maksud lafaz “syirik” ketika disebut secara mutlak (hanya disebut kata “syirik” saja, tanpa ada tambahan keterangan apapun) adalah “syirik besar”, dan bukan syirik kecil. Contohnya dalam surah Al-Maidah: 72 dan Al-Hajj: 31. Dan inilah pendapat yang terkuat.Catatan: Catatan pertama, definisi syirik besarMenyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus milik Allah, yaitu perbuatan ketuhanan (rububiyyah), hak untuk diibadahi (uluhiyyah), dan nama dan sifat Allah (al-asma’ wash shifat).Syirik ini disifati dengan sifat “besar”, karena mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Sedangkan akibat syirik besar bagi pelakunya adalah sebagai berikut:– Tidak diampuni jika mati dalam keadaan tidak bertaubat.– Kekal selamanya di neraka.– Menggugurkan seluruh amalan salih yang telah dilakukan.Catatan kedua, dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar)– kufur besar– nifaq besarDosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, namun hanya bagi orang yang dikehendaki-Nya, meskipun pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut. Sebelum kita mengetahui dosa yang diampuni oleh Allah Ta’ala, agar lebih jelas, maka kita perlu mengetahui macam-macam dosa dalam ajaran Islam:1. Syirik besar (dan setingkatnya)2. Syirik kecil (dan setingkatnya)3. Bid’ah4. Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Bada’iul Fawaid [1] dan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Syaikh ‘Abdul Azin bin Baz Rahimahullah berkata,المراتب: الشرك الأكبر ثم الأصغر ثم البدعة ثم كبائر الذنوب ثم صغائر الذنوب“Tingkatan dosa-dosa, yaitu: syirik besar, lalu syirik kecil, lalu bid’ah, lalu dosa besar, kemudian dosa kecil” [2].Sedangkan dalam surat An-Nisa: 48, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48).Berarti dalam ayat ini terdapat 2 kelompok besar dosa, yaitu:a) Syirik besar dan yang setingkatnyab) Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya.Baca Juga: Hamba, di antara Dosa dan AmpunanPenjelasan ahli tafsir terhadap surat An-Nisa’: 48Berikut ini tafsir para ulama tentang ayat di atas:1. Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,“Allah mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik (besar), baik dosa kecil maupun dosa besar, dan ampunan tersebut terealisasi ketika Allah menghendakinya, (dan hal itu) tatkala kebijaksanaan-Nya menuntut pengampunan-Nya”. (Taisiir Karimir Rahman)2. Dalam Tafsir Jalalain,ويَغْفِر ما دُون  Maksudnya dosa-dosa selain itu (di bawah syirik besar dan setingkatnya, pent.)لِمَن يَشاء Ampunan untuknya berupa Allah memasukkannya ke dalam surga tanpa adzab. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak menyiksanya, maka Allah akan menyiksa sebagian orang mukmin karena dosanya, kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga.3. Dalam Mahasinut Ta’wil, Al-Qasimi rahimahullah berkata,“Yaitu (Allah mengampuni) dosa di bawah tingkatan syirik (besar) berupa maksiat-maksiat, baik dosa besar maupun dosa kecil.لِمَن يَشاءُ Sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari-Nya”.4. Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata [3],“Yaitu (Allah mengampuni dosa-dosa) di bawah syirik (besar), seperti zina, durhaka, minum khamr, dan semacamnya. Ini semua di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, Allah mengampuni pelakunya pada hari kiamat dengan amal salihnya yang lain, dan dengan kebaikannya yang lain sebagai bentuk karunia Allah, kedermawanan-Nya, dan kebaikan-Nya.Dan jika Allah berkehendak, Allah menyiksanya sesuai kadar kemaksiatan yang dia mati di atasnya, berupa kedurhakaannya kepada orangtuanya atau durhaka kepada salah satu dari keduanya, atau berupa meminum minuman yang memabukkan, berzina, ghibah, namimah, dan yang lainnya”.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan tentang jenis dosa yang diampuni dalam An-Nisa: 48 tersebut [4],“Kesimpulannya: bahwa seluruh dosa semuanya di bawah kehendak Allah, sama saja apakah dosa itu berkaitan dengan hak Allah ataupun berkaitan dengan hak makhluk seperti ghibah, membunuh, namimah, dan yang semacamnya. Ini semua di bawah di bawah kehendak Allah. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Allah mengampuni pelakunya. Dan jika Allah berkehendak (lain), Allah menyiksanya karena dosa yang dia belum bertaubat darinya.Adapun jika dia telah bertaubat, maka dosanya terhapus oleh taubatnya. Akan tetapi untuk hak makhluk yang terzhalimi, Allah tidak akan terlantarkan. Bahkan Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut, meskipun orang yang menzhalimi tersebut telah bertaubat darinya (namun belum meminta penghalalan kepada orang yang dizhalimi, pent.). Allah akan memenuhi hak orang yang dizhalimi tersebut.Allah akan membuat orang yang dizhalimi ridha atas pahala Allah untuknya. Jika orang yang menzhalimi itu jujur dalam taubatnya, maka Allah akan membuat ridha orang yang terzhalimi dengan pahala sesuai kehendak-Nya”.Baca Juga: Shalat, Sebab Penggugur DosaKesimpulan:Dari tafsir para ahli tafsir dan penjelasan tentang macam-macam dosa tersebut, maka jenis dosa yang diampuni oleh Allah bagi orang yang dikehendaki-Nya meskipun pelakunya mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya adalah segala dosa di bawah kesyirikan besar dan setingkatnya, yaitu:– Syirik kecil dan setingkatnya– Bid’ah– Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang memungkinkan diampuni oleh Allah?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, ghibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Ulama menjelaskan bahwa taubat dari dosa berkaitan dengan hak makhluk haruslah dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Hal ini tidaklah bertentangan dengan surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti juga mencakup dosa berkaitan dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman sebagaimana syirik besar!Lalu bagaimana nasib orang yang menzhalimi saudaranya di akhirat jika Allah berkehendak mengampuninya, apakah berarti masih ada tuntutan kepadanya?Dan jika Allah berkehendak mengampuni orang yang menzhalimi, maka bagaimanakah nasib orang yang dizhalimi di akhirat, apakah tidak mendapatkan haknya di sana?Yang jelas, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, namun bagaimana penjelasannya, akan kami jelaskan di kesempatan yang lain.Wallahu a’lam.Baca Juga:***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:1. Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.2. Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah.3. Kitab At-Tamhid, Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah.4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Karimir Rahman).5. Tafsir Jalalain.6. Tafsir Mahasinut Ta’wil, Al-Qosimi rahimahullah. Catatan Kaki:🔍 Tsalatsatul Ushul, Hadits Membaca Al Quran, Ucapan Lebaran Yang Benar Menurut Islam, Proses Sunat Pada Wanita, Majalah Salafy

Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)Beberapa Bentuk Terlarang yang Terkait dengan Melekatkan Sifat Tertentu kepada Malaikat (lanjutan)Bentuk terlarang selanjutnya yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Ketiga, keyakinan bahwa malaikat itu mengetahui hal yang gaib secara mutlak yang merupakan sifat khusus milik Allah Ta’alaMalaikat tidaklah mengetahui ilmu gaib, kecuali yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ؛ قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31-32)Allah Ta’ala mengabarkan bahwa malaikat tidaklah memiliki ilmu, kecuali yang Allah Ta’ala ajarkan kepada mereka. Dan di antara perkara yang tidak Allah ajarkan kepada mereka, namun hanya khusus Allah ajarkan kepada Adam adalah pengetahuan tentang nama-nama sesuatu. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa malaikat itu tidak mengetahui ilmu gaib.Dalil lain yang menunjukkan hal ini adalah hadis panjang berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Di dalamnya diceritakan,فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ“Maka aku berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba.’” (HR. Bukhari no. 3207)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat tidak mengetahui tentang apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus ataukah belum. Padahal, Allah telah mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang rasul. Sekali lagi, hal ini menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap ilmu yang gaib.Baca Juga: Kedudukan Iman terhadap MalaikatAbul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pertanyaan dari malaikat tentang diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengangkatan beliau sebagai Rasul bagi umat manusia, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu tentang waktu (kapan) diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Mufhim, 1: 389)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ: أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى، شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ، فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ، فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah. Ya Rabb, segumpal daging.’ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya?’ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari no. 318)Keempat, menghina dan mencela malaikat, dan juga meremehkan merekaMenghina dan mencela malaikat adalah perkara yang bisa merusak iman, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Allah Ta’ala befirman,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ؛ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ“Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah. Membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjadi petunjuk, serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 97-98)Ayat ini turun sebagai bantahan kepada orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa Jibril ‘alaihis salam adalah musuh mereka. Maka Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka tentang kafirnya orang yang menjadikan malaikat sebagai musuh dan Allah akan menjadi musuh baginya.Baca Juga: Benarkah Raqib dan ‘Atid Nama Malaikat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ‘Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah”Maksudnya adalah siapa saja yang menjadikan Jibril sebagai musuh, maka ketahuilah bahwa Jibril adalah Ar-Ruh Al-Amin, yang turun membawa peringatan ke dalam hatimu sesuai dengan izin Allah Ta’ala. Maka Jibril adalah rasul dari kalangan malaikat yang diutus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga (diutus kepada) malaikat seluruhnya.Siapa saja yang memusuhi satu orang rasul, maka dia telah memusuhi semua rasul. Sebagaimana siapa saja yang beriman kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia beriman kepada seluruh rasul. Sebagaimana orang yang ingkar (kafir) kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia telah kafir kepada seluruh rasul. Demikian juga, siapa saja yang memusuhi Jibril, berarti dia adalah musuh Allah. Karena Jibril tidaklah menurunkan suatu perkara (wahyu) dari dirinya sendiri, melainkan sesuai dengan perintah Rabbnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 341)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ، بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلاَثٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ: فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ؟، وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الجَنَّةِ؟، وَمَا يَنْزِعُ الوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ؟“’Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara. Tidak ada yang dapat menjawabnya kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda hari kiamat yang pertama kali terjadi? Apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga? Dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?’”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا“Jibril ‘alaihis salam baru saja memberiku kabar.”‘Abdullah bertanya,جِبْرِيلُ؟“Jibril?”Beliau menjawab,نَعَمْ ، قَالَ: ذَاكَ عَدُوُّ اليَهُودِ مِنَ المَلاَئِكَةِ، فَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ}“Iya, dia adalah malaikat yang dimusuhi Yahudi.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat (yang artinya), ”Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.’” (HR. Bukhari no. 4480)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Rabi’ul awwal 1442/ 11 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 38-42. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.

Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)Beberapa Bentuk Terlarang yang Terkait dengan Melekatkan Sifat Tertentu kepada Malaikat (lanjutan)Bentuk terlarang selanjutnya yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Ketiga, keyakinan bahwa malaikat itu mengetahui hal yang gaib secara mutlak yang merupakan sifat khusus milik Allah Ta’alaMalaikat tidaklah mengetahui ilmu gaib, kecuali yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ؛ قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31-32)Allah Ta’ala mengabarkan bahwa malaikat tidaklah memiliki ilmu, kecuali yang Allah Ta’ala ajarkan kepada mereka. Dan di antara perkara yang tidak Allah ajarkan kepada mereka, namun hanya khusus Allah ajarkan kepada Adam adalah pengetahuan tentang nama-nama sesuatu. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa malaikat itu tidak mengetahui ilmu gaib.Dalil lain yang menunjukkan hal ini adalah hadis panjang berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Di dalamnya diceritakan,فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ“Maka aku berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba.’” (HR. Bukhari no. 3207)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat tidak mengetahui tentang apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus ataukah belum. Padahal, Allah telah mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang rasul. Sekali lagi, hal ini menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap ilmu yang gaib.Baca Juga: Kedudukan Iman terhadap MalaikatAbul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pertanyaan dari malaikat tentang diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengangkatan beliau sebagai Rasul bagi umat manusia, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu tentang waktu (kapan) diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Mufhim, 1: 389)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ: أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى، شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ، فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ، فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah. Ya Rabb, segumpal daging.’ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya?’ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari no. 318)Keempat, menghina dan mencela malaikat, dan juga meremehkan merekaMenghina dan mencela malaikat adalah perkara yang bisa merusak iman, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Allah Ta’ala befirman,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ؛ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ“Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah. Membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjadi petunjuk, serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 97-98)Ayat ini turun sebagai bantahan kepada orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa Jibril ‘alaihis salam adalah musuh mereka. Maka Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka tentang kafirnya orang yang menjadikan malaikat sebagai musuh dan Allah akan menjadi musuh baginya.Baca Juga: Benarkah Raqib dan ‘Atid Nama Malaikat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ‘Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah”Maksudnya adalah siapa saja yang menjadikan Jibril sebagai musuh, maka ketahuilah bahwa Jibril adalah Ar-Ruh Al-Amin, yang turun membawa peringatan ke dalam hatimu sesuai dengan izin Allah Ta’ala. Maka Jibril adalah rasul dari kalangan malaikat yang diutus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga (diutus kepada) malaikat seluruhnya.Siapa saja yang memusuhi satu orang rasul, maka dia telah memusuhi semua rasul. Sebagaimana siapa saja yang beriman kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia beriman kepada seluruh rasul. Sebagaimana orang yang ingkar (kafir) kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia telah kafir kepada seluruh rasul. Demikian juga, siapa saja yang memusuhi Jibril, berarti dia adalah musuh Allah. Karena Jibril tidaklah menurunkan suatu perkara (wahyu) dari dirinya sendiri, melainkan sesuai dengan perintah Rabbnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 341)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ، بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلاَثٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ: فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ؟، وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الجَنَّةِ؟، وَمَا يَنْزِعُ الوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ؟“’Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara. Tidak ada yang dapat menjawabnya kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda hari kiamat yang pertama kali terjadi? Apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga? Dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?’”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا“Jibril ‘alaihis salam baru saja memberiku kabar.”‘Abdullah bertanya,جِبْرِيلُ؟“Jibril?”Beliau menjawab,نَعَمْ ، قَالَ: ذَاكَ عَدُوُّ اليَهُودِ مِنَ المَلاَئِكَةِ، فَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ}“Iya, dia adalah malaikat yang dimusuhi Yahudi.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat (yang artinya), ”Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.’” (HR. Bukhari no. 4480)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Rabi’ul awwal 1442/ 11 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 38-42. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.
Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)Beberapa Bentuk Terlarang yang Terkait dengan Melekatkan Sifat Tertentu kepada Malaikat (lanjutan)Bentuk terlarang selanjutnya yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Ketiga, keyakinan bahwa malaikat itu mengetahui hal yang gaib secara mutlak yang merupakan sifat khusus milik Allah Ta’alaMalaikat tidaklah mengetahui ilmu gaib, kecuali yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ؛ قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31-32)Allah Ta’ala mengabarkan bahwa malaikat tidaklah memiliki ilmu, kecuali yang Allah Ta’ala ajarkan kepada mereka. Dan di antara perkara yang tidak Allah ajarkan kepada mereka, namun hanya khusus Allah ajarkan kepada Adam adalah pengetahuan tentang nama-nama sesuatu. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa malaikat itu tidak mengetahui ilmu gaib.Dalil lain yang menunjukkan hal ini adalah hadis panjang berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Di dalamnya diceritakan,فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ“Maka aku berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba.’” (HR. Bukhari no. 3207)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat tidak mengetahui tentang apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus ataukah belum. Padahal, Allah telah mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang rasul. Sekali lagi, hal ini menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap ilmu yang gaib.Baca Juga: Kedudukan Iman terhadap MalaikatAbul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pertanyaan dari malaikat tentang diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengangkatan beliau sebagai Rasul bagi umat manusia, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu tentang waktu (kapan) diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Mufhim, 1: 389)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ: أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى، شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ، فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ، فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah. Ya Rabb, segumpal daging.’ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya?’ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari no. 318)Keempat, menghina dan mencela malaikat, dan juga meremehkan merekaMenghina dan mencela malaikat adalah perkara yang bisa merusak iman, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Allah Ta’ala befirman,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ؛ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ“Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah. Membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjadi petunjuk, serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 97-98)Ayat ini turun sebagai bantahan kepada orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa Jibril ‘alaihis salam adalah musuh mereka. Maka Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka tentang kafirnya orang yang menjadikan malaikat sebagai musuh dan Allah akan menjadi musuh baginya.Baca Juga: Benarkah Raqib dan ‘Atid Nama Malaikat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ‘Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah”Maksudnya adalah siapa saja yang menjadikan Jibril sebagai musuh, maka ketahuilah bahwa Jibril adalah Ar-Ruh Al-Amin, yang turun membawa peringatan ke dalam hatimu sesuai dengan izin Allah Ta’ala. Maka Jibril adalah rasul dari kalangan malaikat yang diutus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga (diutus kepada) malaikat seluruhnya.Siapa saja yang memusuhi satu orang rasul, maka dia telah memusuhi semua rasul. Sebagaimana siapa saja yang beriman kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia beriman kepada seluruh rasul. Sebagaimana orang yang ingkar (kafir) kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia telah kafir kepada seluruh rasul. Demikian juga, siapa saja yang memusuhi Jibril, berarti dia adalah musuh Allah. Karena Jibril tidaklah menurunkan suatu perkara (wahyu) dari dirinya sendiri, melainkan sesuai dengan perintah Rabbnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 341)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ، بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلاَثٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ: فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ؟، وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الجَنَّةِ؟، وَمَا يَنْزِعُ الوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ؟“’Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara. Tidak ada yang dapat menjawabnya kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda hari kiamat yang pertama kali terjadi? Apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga? Dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?’”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا“Jibril ‘alaihis salam baru saja memberiku kabar.”‘Abdullah bertanya,جِبْرِيلُ؟“Jibril?”Beliau menjawab,نَعَمْ ، قَالَ: ذَاكَ عَدُوُّ اليَهُودِ مِنَ المَلاَئِكَةِ، فَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ}“Iya, dia adalah malaikat yang dimusuhi Yahudi.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat (yang artinya), ”Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.’” (HR. Bukhari no. 4480)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Rabi’ul awwal 1442/ 11 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 38-42. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.


Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)Beberapa Bentuk Terlarang yang Terkait dengan Melekatkan Sifat Tertentu kepada Malaikat (lanjutan)Bentuk terlarang selanjutnya yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Ketiga, keyakinan bahwa malaikat itu mengetahui hal yang gaib secara mutlak yang merupakan sifat khusus milik Allah Ta’alaMalaikat tidaklah mengetahui ilmu gaib, kecuali yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ؛ قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31-32)Allah Ta’ala mengabarkan bahwa malaikat tidaklah memiliki ilmu, kecuali yang Allah Ta’ala ajarkan kepada mereka. Dan di antara perkara yang tidak Allah ajarkan kepada mereka, namun hanya khusus Allah ajarkan kepada Adam adalah pengetahuan tentang nama-nama sesuatu. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa malaikat itu tidak mengetahui ilmu gaib.Dalil lain yang menunjukkan hal ini adalah hadis panjang berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Di dalamnya diceritakan,فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ“Maka aku berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba.’” (HR. Bukhari no. 3207)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat tidak mengetahui tentang apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus ataukah belum. Padahal, Allah telah mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang rasul. Sekali lagi, hal ini menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap ilmu yang gaib.Baca Juga: Kedudukan Iman terhadap MalaikatAbul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pertanyaan dari malaikat tentang diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengangkatan beliau sebagai Rasul bagi umat manusia, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu tentang waktu (kapan) diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Mufhim, 1: 389)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ: أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى، شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ، فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ، فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah. Ya Rabb, segumpal daging.’ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya?’ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari no. 318)Keempat, menghina dan mencela malaikat, dan juga meremehkan merekaMenghina dan mencela malaikat adalah perkara yang bisa merusak iman, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Allah Ta’ala befirman,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ؛ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ“Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah. Membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjadi petunjuk, serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 97-98)Ayat ini turun sebagai bantahan kepada orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa Jibril ‘alaihis salam adalah musuh mereka. Maka Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka tentang kafirnya orang yang menjadikan malaikat sebagai musuh dan Allah akan menjadi musuh baginya.Baca Juga: Benarkah Raqib dan ‘Atid Nama Malaikat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala,قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ‘Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah”Maksudnya adalah siapa saja yang menjadikan Jibril sebagai musuh, maka ketahuilah bahwa Jibril adalah Ar-Ruh Al-Amin, yang turun membawa peringatan ke dalam hatimu sesuai dengan izin Allah Ta’ala. Maka Jibril adalah rasul dari kalangan malaikat yang diutus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga (diutus kepada) malaikat seluruhnya.Siapa saja yang memusuhi satu orang rasul, maka dia telah memusuhi semua rasul. Sebagaimana siapa saja yang beriman kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia beriman kepada seluruh rasul. Sebagaimana orang yang ingkar (kafir) kepada salah seorang rasul, maka konsekuensinya, dia telah kafir kepada seluruh rasul. Demikian juga, siapa saja yang memusuhi Jibril, berarti dia adalah musuh Allah. Karena Jibril tidaklah menurunkan suatu perkara (wahyu) dari dirinya sendiri, melainkan sesuai dengan perintah Rabbnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 341)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ، بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلاَثٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ: فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ؟، وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الجَنَّةِ؟، وَمَا يَنْزِعُ الوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ؟“’Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara. Tidak ada yang dapat menjawabnya kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda hari kiamat yang pertama kali terjadi? Apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga? Dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?’”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا“Jibril ‘alaihis salam baru saja memberiku kabar.”‘Abdullah bertanya,جِبْرِيلُ؟“Jibril?”Beliau menjawab,نَعَمْ ، قَالَ: ذَاكَ عَدُوُّ اليَهُودِ مِنَ المَلاَئِكَةِ، فَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ}“Iya, dia adalah malaikat yang dimusuhi Yahudi.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat (yang artinya), ”Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.’” (HR. Bukhari no. 4480)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Rabi’ul awwal 1442/ 11 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 38-42. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 5)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Dan dengan itulah (beribadah kepada Allah pent.) Allah perintahkan seluruh manusia dan Allah ciptakan mereka untuk melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Penjelasan:Apa yang disampaikan oleh penulis dalam risalah ini memberikan gambaran kepada kita bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar bagi umat manusia. Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 21).Hal ini juga ditegaskan di dalam ayat yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا“Dan Rabbmu telah menetapkan; bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbuat baik dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua” (QS. Al-Isra: 23).Begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ’anhuma).Hal ini juga semakin mempertegas bahwa asas semua ajaran para nabi adalah tauhid. Sebab tauhid inilah tujuan penciptaan jin dan manusia. Tidak ada seorang pun nabi yang diutus kecuali mendakwahkan tauhid dan memperingatkan dari bahaya syirik.Kemudian, Syekh Rahimahullah melanjutkan,“Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat, tidak dinamakan salat kecuali jika disertai dengan thaharah/bersuci. Apabila syirik masuk ke dalam suatu ibadah, maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats yang menimpa pada thaharah.”Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajPenjelasan:Dari keterangan beliau ini kita mendapatkan sebuah pelajaran berharga bahwa tidak semua ibadah itu bisa diterima. Sebab ibadah yang diterima adalah yang memenuhi syaratnya. Di antara syarat utama agar ibadah bisa diterima oleh Allah adalah ia harus dilandasi dengan tauhid. Tanpa tauhid, maka sebanyak apa pun amal tidak akan diterima.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi” (QS. Az-Zumar: 65).Hal ini menunjukkan bahwa ibadah membutuhkan kepada akidah yang benar. Tanpa lurusnya akidah, maka amal ibadah dan ketaatan sebesar gunung sekali pun tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap perintah beramal selalu disertai dengan larangan berbuat syirik. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun” (QS. Al-Kahfi: 110).Hakikat tauhid adalah memurnikan ibadah untuk Allah semata. Tidak menujukan ibadah sekecil apapun kepada selain-Nya. Dalam risalah Ushul Tsalatsah, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid; yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah.”Maka tidak mengherankan apabila Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab pun menyusun buku khusus yang menyajikan pembahasan ilmiah mengenai tauhid ibadah ini yang telah diakui oleh para ulama mengenai keagungan dan faidahnya yang sangat besar, yaitu Kitabut Tauhid. Di dalamnya beliau menjelaskan berbagai kaidah pokok dalam tauhid dengan membawakan dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Bahkan beliau juga menjelaskan berbagai bentuk ibadah dan berbagai jenis perusaknya berupa syirik besar maupun syirik kecil.Apabila seorang muslim begitu bersemangat menjaga salatnya agar tidak tertolak di hadapan Allah, maka tentu dia akan lebih bersemangat untuk menjaga tauhidnya agar ibadah-ibadahnya bisa diterima oleh Allah dan memasukkannya ke dalam surga. Kedudukan tauhid bagi amal ibadah sebagaimana thaharah bagi salat. Bahkan lebih penting daripada itu karena tauhid merupakan syarat diterimanya semua bentuk amal dan ketaatan hamba.Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pembahasan tauhid tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tazkiyatun nufus atau penyucian jiwa. Karena tauhid inilah sebab utama bersihnya hati seorang hamba. Bagaimana tidak? Sedangkan Allah mengutus rasul untuk membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah dan menyucikan jiwa mereka serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan as-Sunnah. Demikian pula tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pengajaran nilai-nilai Al-Quran. Sebab pada hakikatnya semua bagian dari Kitabullah itu membicarakan tentang tauhid dari berbagai sudut pandang; sebagaimana diterangkan oleh para ulama kita.Dan tidak berlebihan pula jika kita katakan bahwa tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pembahasan fikih dan sejarah Islam. Karena tauhid kepada Allah merupakan fikih yang terbesar di dalam agama Islam dan karena tauhid inilah para nabi dan rasul mengharumkan nama Islam dengan seruan dakwahnya. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah Radhiyallahu’anhu).Dan tidak pula berlebihan jika kita katakan bahwa pembahasan tauhid inilah bagian pokok di dalam pembuktian kecintaan seorang muslim kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam; karena tauhid inilah inti ajaran Islam yang beliau sebarkan.  Lantas bagaimana mungkin seorang mengaku cinta kepada Rasul dan memuliakan beliau tetapi di saat yang sama justru jauh dari hakikat tauhid dan malah gandrung dengan berbagai bentuk pemberhalaan?!Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ“Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mecintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’” (QS. Ali-Imran: 31).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah mengatakan, “Maka wajib atas orang-orang yang mengajak/berdakwah kepada Islam untuk memulai dengan tauhid, sebagaimana hal itu menjadi permulaan dakwah para rasul ‘Alaihmus sholatu was salam. Semua rasul dari yang pertama hingga yang terakhir memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Karena tauhid adalah asas/pondasi yang di atasnya ditegakkan agama ini. Apabila tauhid itu terwujud, maka bangunan (agama) akan bisa tegak berdiri di atasnya” (lihat at-Tauhid Ya ‘Ibaadallah, hal. 9).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah menasihatkan, “Apabila para dai pada hari ini hendak menyatukan umat, menjalin persaudaraan dan kerjasama, sudah semestinya mereka melakukan ishlah/perbaikan dalam hal akidah. Tanpa memperbaiki akidah, tidak mungkin bisa mempersatukan umat. Karena ia akan menggabungkan berbagai hal yang saling bertentangan. Meski bagaimana pun cara orang mengusahakannya; dengan diadakan berbagai mu’tamar/pertemuan atau seminar untuk menyatukan kalimat. Maka itu semuanya tidak akan membuahkan hasil kecuali dengan memperbaiki akidah, yaitu akidah tauhid” (lihat Mazhahir Dha’fil ‘Aqidah, hal. 16).Baca Juga:Semoga bermanfaat.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Doa Dalam Alquran, Hurairah, Cara Mengobati Orang Yang Kesurupan, Khutbah Bahasa Arab, Tradisi Syiah

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 5)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Dan dengan itulah (beribadah kepada Allah pent.) Allah perintahkan seluruh manusia dan Allah ciptakan mereka untuk melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Penjelasan:Apa yang disampaikan oleh penulis dalam risalah ini memberikan gambaran kepada kita bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar bagi umat manusia. Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 21).Hal ini juga ditegaskan di dalam ayat yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا“Dan Rabbmu telah menetapkan; bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbuat baik dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua” (QS. Al-Isra: 23).Begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ’anhuma).Hal ini juga semakin mempertegas bahwa asas semua ajaran para nabi adalah tauhid. Sebab tauhid inilah tujuan penciptaan jin dan manusia. Tidak ada seorang pun nabi yang diutus kecuali mendakwahkan tauhid dan memperingatkan dari bahaya syirik.Kemudian, Syekh Rahimahullah melanjutkan,“Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat, tidak dinamakan salat kecuali jika disertai dengan thaharah/bersuci. Apabila syirik masuk ke dalam suatu ibadah, maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats yang menimpa pada thaharah.”Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajPenjelasan:Dari keterangan beliau ini kita mendapatkan sebuah pelajaran berharga bahwa tidak semua ibadah itu bisa diterima. Sebab ibadah yang diterima adalah yang memenuhi syaratnya. Di antara syarat utama agar ibadah bisa diterima oleh Allah adalah ia harus dilandasi dengan tauhid. Tanpa tauhid, maka sebanyak apa pun amal tidak akan diterima.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi” (QS. Az-Zumar: 65).Hal ini menunjukkan bahwa ibadah membutuhkan kepada akidah yang benar. Tanpa lurusnya akidah, maka amal ibadah dan ketaatan sebesar gunung sekali pun tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap perintah beramal selalu disertai dengan larangan berbuat syirik. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun” (QS. Al-Kahfi: 110).Hakikat tauhid adalah memurnikan ibadah untuk Allah semata. Tidak menujukan ibadah sekecil apapun kepada selain-Nya. Dalam risalah Ushul Tsalatsah, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid; yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah.”Maka tidak mengherankan apabila Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab pun menyusun buku khusus yang menyajikan pembahasan ilmiah mengenai tauhid ibadah ini yang telah diakui oleh para ulama mengenai keagungan dan faidahnya yang sangat besar, yaitu Kitabut Tauhid. Di dalamnya beliau menjelaskan berbagai kaidah pokok dalam tauhid dengan membawakan dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Bahkan beliau juga menjelaskan berbagai bentuk ibadah dan berbagai jenis perusaknya berupa syirik besar maupun syirik kecil.Apabila seorang muslim begitu bersemangat menjaga salatnya agar tidak tertolak di hadapan Allah, maka tentu dia akan lebih bersemangat untuk menjaga tauhidnya agar ibadah-ibadahnya bisa diterima oleh Allah dan memasukkannya ke dalam surga. Kedudukan tauhid bagi amal ibadah sebagaimana thaharah bagi salat. Bahkan lebih penting daripada itu karena tauhid merupakan syarat diterimanya semua bentuk amal dan ketaatan hamba.Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pembahasan tauhid tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tazkiyatun nufus atau penyucian jiwa. Karena tauhid inilah sebab utama bersihnya hati seorang hamba. Bagaimana tidak? Sedangkan Allah mengutus rasul untuk membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah dan menyucikan jiwa mereka serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan as-Sunnah. Demikian pula tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pengajaran nilai-nilai Al-Quran. Sebab pada hakikatnya semua bagian dari Kitabullah itu membicarakan tentang tauhid dari berbagai sudut pandang; sebagaimana diterangkan oleh para ulama kita.Dan tidak berlebihan pula jika kita katakan bahwa tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pembahasan fikih dan sejarah Islam. Karena tauhid kepada Allah merupakan fikih yang terbesar di dalam agama Islam dan karena tauhid inilah para nabi dan rasul mengharumkan nama Islam dengan seruan dakwahnya. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah Radhiyallahu’anhu).Dan tidak pula berlebihan jika kita katakan bahwa pembahasan tauhid inilah bagian pokok di dalam pembuktian kecintaan seorang muslim kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam; karena tauhid inilah inti ajaran Islam yang beliau sebarkan.  Lantas bagaimana mungkin seorang mengaku cinta kepada Rasul dan memuliakan beliau tetapi di saat yang sama justru jauh dari hakikat tauhid dan malah gandrung dengan berbagai bentuk pemberhalaan?!Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ“Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mecintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’” (QS. Ali-Imran: 31).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah mengatakan, “Maka wajib atas orang-orang yang mengajak/berdakwah kepada Islam untuk memulai dengan tauhid, sebagaimana hal itu menjadi permulaan dakwah para rasul ‘Alaihmus sholatu was salam. Semua rasul dari yang pertama hingga yang terakhir memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Karena tauhid adalah asas/pondasi yang di atasnya ditegakkan agama ini. Apabila tauhid itu terwujud, maka bangunan (agama) akan bisa tegak berdiri di atasnya” (lihat at-Tauhid Ya ‘Ibaadallah, hal. 9).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah menasihatkan, “Apabila para dai pada hari ini hendak menyatukan umat, menjalin persaudaraan dan kerjasama, sudah semestinya mereka melakukan ishlah/perbaikan dalam hal akidah. Tanpa memperbaiki akidah, tidak mungkin bisa mempersatukan umat. Karena ia akan menggabungkan berbagai hal yang saling bertentangan. Meski bagaimana pun cara orang mengusahakannya; dengan diadakan berbagai mu’tamar/pertemuan atau seminar untuk menyatukan kalimat. Maka itu semuanya tidak akan membuahkan hasil kecuali dengan memperbaiki akidah, yaitu akidah tauhid” (lihat Mazhahir Dha’fil ‘Aqidah, hal. 16).Baca Juga:Semoga bermanfaat.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Doa Dalam Alquran, Hurairah, Cara Mengobati Orang Yang Kesurupan, Khutbah Bahasa Arab, Tradisi Syiah
Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 5)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Dan dengan itulah (beribadah kepada Allah pent.) Allah perintahkan seluruh manusia dan Allah ciptakan mereka untuk melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Penjelasan:Apa yang disampaikan oleh penulis dalam risalah ini memberikan gambaran kepada kita bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar bagi umat manusia. Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 21).Hal ini juga ditegaskan di dalam ayat yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا“Dan Rabbmu telah menetapkan; bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbuat baik dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua” (QS. Al-Isra: 23).Begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ’anhuma).Hal ini juga semakin mempertegas bahwa asas semua ajaran para nabi adalah tauhid. Sebab tauhid inilah tujuan penciptaan jin dan manusia. Tidak ada seorang pun nabi yang diutus kecuali mendakwahkan tauhid dan memperingatkan dari bahaya syirik.Kemudian, Syekh Rahimahullah melanjutkan,“Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat, tidak dinamakan salat kecuali jika disertai dengan thaharah/bersuci. Apabila syirik masuk ke dalam suatu ibadah, maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats yang menimpa pada thaharah.”Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajPenjelasan:Dari keterangan beliau ini kita mendapatkan sebuah pelajaran berharga bahwa tidak semua ibadah itu bisa diterima. Sebab ibadah yang diterima adalah yang memenuhi syaratnya. Di antara syarat utama agar ibadah bisa diterima oleh Allah adalah ia harus dilandasi dengan tauhid. Tanpa tauhid, maka sebanyak apa pun amal tidak akan diterima.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi” (QS. Az-Zumar: 65).Hal ini menunjukkan bahwa ibadah membutuhkan kepada akidah yang benar. Tanpa lurusnya akidah, maka amal ibadah dan ketaatan sebesar gunung sekali pun tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap perintah beramal selalu disertai dengan larangan berbuat syirik. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun” (QS. Al-Kahfi: 110).Hakikat tauhid adalah memurnikan ibadah untuk Allah semata. Tidak menujukan ibadah sekecil apapun kepada selain-Nya. Dalam risalah Ushul Tsalatsah, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid; yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah.”Maka tidak mengherankan apabila Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab pun menyusun buku khusus yang menyajikan pembahasan ilmiah mengenai tauhid ibadah ini yang telah diakui oleh para ulama mengenai keagungan dan faidahnya yang sangat besar, yaitu Kitabut Tauhid. Di dalamnya beliau menjelaskan berbagai kaidah pokok dalam tauhid dengan membawakan dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Bahkan beliau juga menjelaskan berbagai bentuk ibadah dan berbagai jenis perusaknya berupa syirik besar maupun syirik kecil.Apabila seorang muslim begitu bersemangat menjaga salatnya agar tidak tertolak di hadapan Allah, maka tentu dia akan lebih bersemangat untuk menjaga tauhidnya agar ibadah-ibadahnya bisa diterima oleh Allah dan memasukkannya ke dalam surga. Kedudukan tauhid bagi amal ibadah sebagaimana thaharah bagi salat. Bahkan lebih penting daripada itu karena tauhid merupakan syarat diterimanya semua bentuk amal dan ketaatan hamba.Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pembahasan tauhid tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tazkiyatun nufus atau penyucian jiwa. Karena tauhid inilah sebab utama bersihnya hati seorang hamba. Bagaimana tidak? Sedangkan Allah mengutus rasul untuk membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah dan menyucikan jiwa mereka serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan as-Sunnah. Demikian pula tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pengajaran nilai-nilai Al-Quran. Sebab pada hakikatnya semua bagian dari Kitabullah itu membicarakan tentang tauhid dari berbagai sudut pandang; sebagaimana diterangkan oleh para ulama kita.Dan tidak berlebihan pula jika kita katakan bahwa tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pembahasan fikih dan sejarah Islam. Karena tauhid kepada Allah merupakan fikih yang terbesar di dalam agama Islam dan karena tauhid inilah para nabi dan rasul mengharumkan nama Islam dengan seruan dakwahnya. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah Radhiyallahu’anhu).Dan tidak pula berlebihan jika kita katakan bahwa pembahasan tauhid inilah bagian pokok di dalam pembuktian kecintaan seorang muslim kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam; karena tauhid inilah inti ajaran Islam yang beliau sebarkan.  Lantas bagaimana mungkin seorang mengaku cinta kepada Rasul dan memuliakan beliau tetapi di saat yang sama justru jauh dari hakikat tauhid dan malah gandrung dengan berbagai bentuk pemberhalaan?!Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ“Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mecintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’” (QS. Ali-Imran: 31).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah mengatakan, “Maka wajib atas orang-orang yang mengajak/berdakwah kepada Islam untuk memulai dengan tauhid, sebagaimana hal itu menjadi permulaan dakwah para rasul ‘Alaihmus sholatu was salam. Semua rasul dari yang pertama hingga yang terakhir memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Karena tauhid adalah asas/pondasi yang di atasnya ditegakkan agama ini. Apabila tauhid itu terwujud, maka bangunan (agama) akan bisa tegak berdiri di atasnya” (lihat at-Tauhid Ya ‘Ibaadallah, hal. 9).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah menasihatkan, “Apabila para dai pada hari ini hendak menyatukan umat, menjalin persaudaraan dan kerjasama, sudah semestinya mereka melakukan ishlah/perbaikan dalam hal akidah. Tanpa memperbaiki akidah, tidak mungkin bisa mempersatukan umat. Karena ia akan menggabungkan berbagai hal yang saling bertentangan. Meski bagaimana pun cara orang mengusahakannya; dengan diadakan berbagai mu’tamar/pertemuan atau seminar untuk menyatukan kalimat. Maka itu semuanya tidak akan membuahkan hasil kecuali dengan memperbaiki akidah, yaitu akidah tauhid” (lihat Mazhahir Dha’fil ‘Aqidah, hal. 16).Baca Juga:Semoga bermanfaat.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Doa Dalam Alquran, Hurairah, Cara Mengobati Orang Yang Kesurupan, Khutbah Bahasa Arab, Tradisi Syiah


Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 5)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Dan dengan itulah (beribadah kepada Allah pent.) Allah perintahkan seluruh manusia dan Allah ciptakan mereka untuk melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Penjelasan:Apa yang disampaikan oleh penulis dalam risalah ini memberikan gambaran kepada kita bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar bagi umat manusia. Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 21).Hal ini juga ditegaskan di dalam ayat yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا“Dan Rabbmu telah menetapkan; bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbuat baik dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua” (QS. Al-Isra: 23).Begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ’anhuma).Hal ini juga semakin mempertegas bahwa asas semua ajaran para nabi adalah tauhid. Sebab tauhid inilah tujuan penciptaan jin dan manusia. Tidak ada seorang pun nabi yang diutus kecuali mendakwahkan tauhid dan memperingatkan dari bahaya syirik.Kemudian, Syekh Rahimahullah melanjutkan,“Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat, tidak dinamakan salat kecuali jika disertai dengan thaharah/bersuci. Apabila syirik masuk ke dalam suatu ibadah, maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats yang menimpa pada thaharah.”Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajPenjelasan:Dari keterangan beliau ini kita mendapatkan sebuah pelajaran berharga bahwa tidak semua ibadah itu bisa diterima. Sebab ibadah yang diterima adalah yang memenuhi syaratnya. Di antara syarat utama agar ibadah bisa diterima oleh Allah adalah ia harus dilandasi dengan tauhid. Tanpa tauhid, maka sebanyak apa pun amal tidak akan diterima.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi” (QS. Az-Zumar: 65).Hal ini menunjukkan bahwa ibadah membutuhkan kepada akidah yang benar. Tanpa lurusnya akidah, maka amal ibadah dan ketaatan sebesar gunung sekali pun tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap perintah beramal selalu disertai dengan larangan berbuat syirik. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun” (QS. Al-Kahfi: 110).Hakikat tauhid adalah memurnikan ibadah untuk Allah semata. Tidak menujukan ibadah sekecil apapun kepada selain-Nya. Dalam risalah Ushul Tsalatsah, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, “Perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid; yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah.”Maka tidak mengherankan apabila Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab pun menyusun buku khusus yang menyajikan pembahasan ilmiah mengenai tauhid ibadah ini yang telah diakui oleh para ulama mengenai keagungan dan faidahnya yang sangat besar, yaitu Kitabut Tauhid. Di dalamnya beliau menjelaskan berbagai kaidah pokok dalam tauhid dengan membawakan dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Bahkan beliau juga menjelaskan berbagai bentuk ibadah dan berbagai jenis perusaknya berupa syirik besar maupun syirik kecil.Apabila seorang muslim begitu bersemangat menjaga salatnya agar tidak tertolak di hadapan Allah, maka tentu dia akan lebih bersemangat untuk menjaga tauhidnya agar ibadah-ibadahnya bisa diterima oleh Allah dan memasukkannya ke dalam surga. Kedudukan tauhid bagi amal ibadah sebagaimana thaharah bagi salat. Bahkan lebih penting daripada itu karena tauhid merupakan syarat diterimanya semua bentuk amal dan ketaatan hamba.Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pembahasan tauhid tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tazkiyatun nufus atau penyucian jiwa. Karena tauhid inilah sebab utama bersihnya hati seorang hamba. Bagaimana tidak? Sedangkan Allah mengutus rasul untuk membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah dan menyucikan jiwa mereka serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan as-Sunnah. Demikian pula tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pengajaran nilai-nilai Al-Quran. Sebab pada hakikatnya semua bagian dari Kitabullah itu membicarakan tentang tauhid dari berbagai sudut pandang; sebagaimana diterangkan oleh para ulama kita.Dan tidak berlebihan pula jika kita katakan bahwa tidak bisa dipisahkan pembahasan tauhid ini dengan pembahasan fikih dan sejarah Islam. Karena tauhid kepada Allah merupakan fikih yang terbesar di dalam agama Islam dan karena tauhid inilah para nabi dan rasul mengharumkan nama Islam dengan seruan dakwahnya. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah Radhiyallahu’anhu).Dan tidak pula berlebihan jika kita katakan bahwa pembahasan tauhid inilah bagian pokok di dalam pembuktian kecintaan seorang muslim kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam; karena tauhid inilah inti ajaran Islam yang beliau sebarkan.  Lantas bagaimana mungkin seorang mengaku cinta kepada Rasul dan memuliakan beliau tetapi di saat yang sama justru jauh dari hakikat tauhid dan malah gandrung dengan berbagai bentuk pemberhalaan?!Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ“Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mecintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’” (QS. Ali-Imran: 31).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah mengatakan, “Maka wajib atas orang-orang yang mengajak/berdakwah kepada Islam untuk memulai dengan tauhid, sebagaimana hal itu menjadi permulaan dakwah para rasul ‘Alaihmus sholatu was salam. Semua rasul dari yang pertama hingga yang terakhir memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Karena tauhid adalah asas/pondasi yang di atasnya ditegakkan agama ini. Apabila tauhid itu terwujud, maka bangunan (agama) akan bisa tegak berdiri di atasnya” (lihat at-Tauhid Ya ‘Ibaadallah, hal. 9).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah menasihatkan, “Apabila para dai pada hari ini hendak menyatukan umat, menjalin persaudaraan dan kerjasama, sudah semestinya mereka melakukan ishlah/perbaikan dalam hal akidah. Tanpa memperbaiki akidah, tidak mungkin bisa mempersatukan umat. Karena ia akan menggabungkan berbagai hal yang saling bertentangan. Meski bagaimana pun cara orang mengusahakannya; dengan diadakan berbagai mu’tamar/pertemuan atau seminar untuk menyatukan kalimat. Maka itu semuanya tidak akan membuahkan hasil kecuali dengan memperbaiki akidah, yaitu akidah tauhid” (lihat Mazhahir Dha’fil ‘Aqidah, hal. 16).Baca Juga:Semoga bermanfaat.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Doa Dalam Alquran, Hurairah, Cara Mengobati Orang Yang Kesurupan, Khutbah Bahasa Arab, Tradisi Syiah

Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran

Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran
Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran


Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran

Dua Sifat Pelit yang Tercela

Daftar Isi Toggle Pertama, pelit kepada diri sendiriKedua, pelit kepada orang lain Ketika kita berbicara tentang sifat pelit, maka yang terbetik dalam benak kita hanya identik dengan persoalan harta. Padahal, sifat pelit tidak hanya terkait harta saja. Dan perlu diketahui bahwa semua sifat pelit adalah tercela. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا “Tidak akan berkumpul sifat kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa’i no. 3110) Dalam riwayat yang lain, لا يدخل الجنة خِبٌّ ولا بخيل ولا منان “Seorang penipu tidak akan masuk surga. Demikian pula, orang yang kikir dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian.” (HR. Tirmidzi) Secara garis besar, sifat pelit terbagi menjadi dua, yaitu pelit kepada diri sendiri dan pelit kepada orang lain (dalam hal harta, ilmu, dan kedudukan). Pertama, pelit kepada diri sendiri Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah pernah berkata, ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ، ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ “Derajat pelit yang paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri, padahal ia sedang membutuhkan. Betapa banyak manusia yang menahan hartanya (tidak dibelanjakan), semisal ketika sakit ia tidak berobat. Ia sedang berhajat (punya kebutuhan) terhadap sesuatu, tetapi ia tahan karena pelit.”  (Lihat Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, hal. 205) Orang yang pelit menurut perkataan para ulama, إِنَّ الْبَخِيْلَ يَعِيْشُ عَيْشَ الْفُقَرَاءِ وَيُحَاسَبُ حِسَابَ الْأَغْنِيَاءِ “Sesungguhnya orang pelit itu hidup di dunia seperti orang miskin, tetapi hisabnya di akhirat seperti orang kaya.” Allah Ta’ala ketika memberikan nikmat dan rezeki pada hamba-Nya, maka Allah menyukai jika hamba-Nya tidak pelit dan menampakkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya tersebut pada dirinya, baik dalam bentuk pakaian, tempat tinggal, maupun kendaraan. Allah Ta’ala berfirman, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (menampakannya).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Begitu pula, yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819  dan An-Nasai no. 3605. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih) Maka, menampakkan nikmat-nikmat Allah itu dianjurkan asal jangan sombong dan tidak berlebihan. Baca juga: Celakalah Al Maa’un, Orang yang Pelit Kedua, pelit kepada orang lain Pelit kepada orang lain ada berbagai macam bentuknya dan yang paling parah adalah tatkala ia tidak menjalankan kewajiban harta, yaitu zakat dan nafkah. Sehingga, orang-orang yang pelit dan tidak menunaikan kewajiban harta, Allah beri ancaman dengan siksa, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak (harta) dan tidak menginfakkannya (mengeluarkan zakatnya) di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya malaikat berkata) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (QS. At-Taubah: 34-35) Dari ayat di atas, orang yang tidak mengeluarkan kewajiban zakatnya akan disiksa di neraka dengan siksaan fisik (disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka) dan siksaan batin (celaan para malaikat). Demikian pula, dalam hal nafkah, ia berdosa bila tidak menunaikan kewajiban nafkah kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, كفى بًالمرء إثما أن يضيع من يقوت “Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud no. 1692 dan Ibnu Hibban no. 4240) Selain dalam harta, pelit terkait dengan ilmu (agama) juga dilarang sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ “Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, serta Ibnu Hibban dalam Shahih-nya). Dan dalam riwayat Ibnu Majah, ما من رجل يحفظ علماً فيكتمُهُ إلا أتى يوم القيامة ملجوما بلجام من نار “Tidak ada seorang pun yang hafal ilmu lalu ia menyembunyikannya, kecuali ia datang pada hari kiamat dalam keadaan mulutnya ditutup dengan penutup dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah) Namun, terkadang menyembunyikan ilmu dibutuhkan dalam keadaan tertentu, seperti ingin menyampaikan di waktu yang tepat, masyarakat atau orang lain belum siap menerimanya, atau ilmu tersebut termasuk ilmu yang kompleks sehingga butuh waktu, pikiran, dan harta untuk memperolehnya. Selanjutnya adalah pelit dengan kedudukan. Ada di antara kita yang mempunyai kedudukan di masyarakat, baik sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, atau pejabat. Seseorang disebut pelit dengan kedudukan manakala ia mempersulit urusan orang lain, padahal ia mampu mengatasi dan menangani urusan-urusan tersebut. Ia juga pelit dalam membantu terselenggaranya kegiatan-kegiatan agama dan syiar islam. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ “Barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri.” (QS. Muhammad: 38) Maksud ayat di atas adalah orang yang pelit sejatinya akan menghalangi pahala bagi dirinya sendiri. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sifat pelit dan kikir. Baca juga: Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: pelit

Dua Sifat Pelit yang Tercela

Daftar Isi Toggle Pertama, pelit kepada diri sendiriKedua, pelit kepada orang lain Ketika kita berbicara tentang sifat pelit, maka yang terbetik dalam benak kita hanya identik dengan persoalan harta. Padahal, sifat pelit tidak hanya terkait harta saja. Dan perlu diketahui bahwa semua sifat pelit adalah tercela. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا “Tidak akan berkumpul sifat kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa’i no. 3110) Dalam riwayat yang lain, لا يدخل الجنة خِبٌّ ولا بخيل ولا منان “Seorang penipu tidak akan masuk surga. Demikian pula, orang yang kikir dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian.” (HR. Tirmidzi) Secara garis besar, sifat pelit terbagi menjadi dua, yaitu pelit kepada diri sendiri dan pelit kepada orang lain (dalam hal harta, ilmu, dan kedudukan). Pertama, pelit kepada diri sendiri Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah pernah berkata, ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ، ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ “Derajat pelit yang paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri, padahal ia sedang membutuhkan. Betapa banyak manusia yang menahan hartanya (tidak dibelanjakan), semisal ketika sakit ia tidak berobat. Ia sedang berhajat (punya kebutuhan) terhadap sesuatu, tetapi ia tahan karena pelit.”  (Lihat Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, hal. 205) Orang yang pelit menurut perkataan para ulama, إِنَّ الْبَخِيْلَ يَعِيْشُ عَيْشَ الْفُقَرَاءِ وَيُحَاسَبُ حِسَابَ الْأَغْنِيَاءِ “Sesungguhnya orang pelit itu hidup di dunia seperti orang miskin, tetapi hisabnya di akhirat seperti orang kaya.” Allah Ta’ala ketika memberikan nikmat dan rezeki pada hamba-Nya, maka Allah menyukai jika hamba-Nya tidak pelit dan menampakkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya tersebut pada dirinya, baik dalam bentuk pakaian, tempat tinggal, maupun kendaraan. Allah Ta’ala berfirman, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (menampakannya).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Begitu pula, yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819  dan An-Nasai no. 3605. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih) Maka, menampakkan nikmat-nikmat Allah itu dianjurkan asal jangan sombong dan tidak berlebihan. Baca juga: Celakalah Al Maa’un, Orang yang Pelit Kedua, pelit kepada orang lain Pelit kepada orang lain ada berbagai macam bentuknya dan yang paling parah adalah tatkala ia tidak menjalankan kewajiban harta, yaitu zakat dan nafkah. Sehingga, orang-orang yang pelit dan tidak menunaikan kewajiban harta, Allah beri ancaman dengan siksa, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak (harta) dan tidak menginfakkannya (mengeluarkan zakatnya) di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya malaikat berkata) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (QS. At-Taubah: 34-35) Dari ayat di atas, orang yang tidak mengeluarkan kewajiban zakatnya akan disiksa di neraka dengan siksaan fisik (disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka) dan siksaan batin (celaan para malaikat). Demikian pula, dalam hal nafkah, ia berdosa bila tidak menunaikan kewajiban nafkah kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, كفى بًالمرء إثما أن يضيع من يقوت “Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud no. 1692 dan Ibnu Hibban no. 4240) Selain dalam harta, pelit terkait dengan ilmu (agama) juga dilarang sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ “Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, serta Ibnu Hibban dalam Shahih-nya). Dan dalam riwayat Ibnu Majah, ما من رجل يحفظ علماً فيكتمُهُ إلا أتى يوم القيامة ملجوما بلجام من نار “Tidak ada seorang pun yang hafal ilmu lalu ia menyembunyikannya, kecuali ia datang pada hari kiamat dalam keadaan mulutnya ditutup dengan penutup dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah) Namun, terkadang menyembunyikan ilmu dibutuhkan dalam keadaan tertentu, seperti ingin menyampaikan di waktu yang tepat, masyarakat atau orang lain belum siap menerimanya, atau ilmu tersebut termasuk ilmu yang kompleks sehingga butuh waktu, pikiran, dan harta untuk memperolehnya. Selanjutnya adalah pelit dengan kedudukan. Ada di antara kita yang mempunyai kedudukan di masyarakat, baik sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, atau pejabat. Seseorang disebut pelit dengan kedudukan manakala ia mempersulit urusan orang lain, padahal ia mampu mengatasi dan menangani urusan-urusan tersebut. Ia juga pelit dalam membantu terselenggaranya kegiatan-kegiatan agama dan syiar islam. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ “Barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri.” (QS. Muhammad: 38) Maksud ayat di atas adalah orang yang pelit sejatinya akan menghalangi pahala bagi dirinya sendiri. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sifat pelit dan kikir. Baca juga: Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: pelit
Daftar Isi Toggle Pertama, pelit kepada diri sendiriKedua, pelit kepada orang lain Ketika kita berbicara tentang sifat pelit, maka yang terbetik dalam benak kita hanya identik dengan persoalan harta. Padahal, sifat pelit tidak hanya terkait harta saja. Dan perlu diketahui bahwa semua sifat pelit adalah tercela. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا “Tidak akan berkumpul sifat kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa’i no. 3110) Dalam riwayat yang lain, لا يدخل الجنة خِبٌّ ولا بخيل ولا منان “Seorang penipu tidak akan masuk surga. Demikian pula, orang yang kikir dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian.” (HR. Tirmidzi) Secara garis besar, sifat pelit terbagi menjadi dua, yaitu pelit kepada diri sendiri dan pelit kepada orang lain (dalam hal harta, ilmu, dan kedudukan). Pertama, pelit kepada diri sendiri Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah pernah berkata, ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ، ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ “Derajat pelit yang paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri, padahal ia sedang membutuhkan. Betapa banyak manusia yang menahan hartanya (tidak dibelanjakan), semisal ketika sakit ia tidak berobat. Ia sedang berhajat (punya kebutuhan) terhadap sesuatu, tetapi ia tahan karena pelit.”  (Lihat Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, hal. 205) Orang yang pelit menurut perkataan para ulama, إِنَّ الْبَخِيْلَ يَعِيْشُ عَيْشَ الْفُقَرَاءِ وَيُحَاسَبُ حِسَابَ الْأَغْنِيَاءِ “Sesungguhnya orang pelit itu hidup di dunia seperti orang miskin, tetapi hisabnya di akhirat seperti orang kaya.” Allah Ta’ala ketika memberikan nikmat dan rezeki pada hamba-Nya, maka Allah menyukai jika hamba-Nya tidak pelit dan menampakkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya tersebut pada dirinya, baik dalam bentuk pakaian, tempat tinggal, maupun kendaraan. Allah Ta’ala berfirman, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (menampakannya).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Begitu pula, yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819  dan An-Nasai no. 3605. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih) Maka, menampakkan nikmat-nikmat Allah itu dianjurkan asal jangan sombong dan tidak berlebihan. Baca juga: Celakalah Al Maa’un, Orang yang Pelit Kedua, pelit kepada orang lain Pelit kepada orang lain ada berbagai macam bentuknya dan yang paling parah adalah tatkala ia tidak menjalankan kewajiban harta, yaitu zakat dan nafkah. Sehingga, orang-orang yang pelit dan tidak menunaikan kewajiban harta, Allah beri ancaman dengan siksa, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak (harta) dan tidak menginfakkannya (mengeluarkan zakatnya) di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya malaikat berkata) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (QS. At-Taubah: 34-35) Dari ayat di atas, orang yang tidak mengeluarkan kewajiban zakatnya akan disiksa di neraka dengan siksaan fisik (disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka) dan siksaan batin (celaan para malaikat). Demikian pula, dalam hal nafkah, ia berdosa bila tidak menunaikan kewajiban nafkah kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, كفى بًالمرء إثما أن يضيع من يقوت “Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud no. 1692 dan Ibnu Hibban no. 4240) Selain dalam harta, pelit terkait dengan ilmu (agama) juga dilarang sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ “Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, serta Ibnu Hibban dalam Shahih-nya). Dan dalam riwayat Ibnu Majah, ما من رجل يحفظ علماً فيكتمُهُ إلا أتى يوم القيامة ملجوما بلجام من نار “Tidak ada seorang pun yang hafal ilmu lalu ia menyembunyikannya, kecuali ia datang pada hari kiamat dalam keadaan mulutnya ditutup dengan penutup dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah) Namun, terkadang menyembunyikan ilmu dibutuhkan dalam keadaan tertentu, seperti ingin menyampaikan di waktu yang tepat, masyarakat atau orang lain belum siap menerimanya, atau ilmu tersebut termasuk ilmu yang kompleks sehingga butuh waktu, pikiran, dan harta untuk memperolehnya. Selanjutnya adalah pelit dengan kedudukan. Ada di antara kita yang mempunyai kedudukan di masyarakat, baik sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, atau pejabat. Seseorang disebut pelit dengan kedudukan manakala ia mempersulit urusan orang lain, padahal ia mampu mengatasi dan menangani urusan-urusan tersebut. Ia juga pelit dalam membantu terselenggaranya kegiatan-kegiatan agama dan syiar islam. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ “Barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri.” (QS. Muhammad: 38) Maksud ayat di atas adalah orang yang pelit sejatinya akan menghalangi pahala bagi dirinya sendiri. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sifat pelit dan kikir. Baca juga: Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: pelit


Daftar Isi Toggle Pertama, pelit kepada diri sendiriKedua, pelit kepada orang lain Ketika kita berbicara tentang sifat pelit, maka yang terbetik dalam benak kita hanya identik dengan persoalan harta. Padahal, sifat pelit tidak hanya terkait harta saja. Dan perlu diketahui bahwa semua sifat pelit adalah tercela. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا “Tidak akan berkumpul sifat kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa’i no. 3110) Dalam riwayat yang lain, لا يدخل الجنة خِبٌّ ولا بخيل ولا منان “Seorang penipu tidak akan masuk surga. Demikian pula, orang yang kikir dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian.” (HR. Tirmidzi) Secara garis besar, sifat pelit terbagi menjadi dua, yaitu pelit kepada diri sendiri dan pelit kepada orang lain (dalam hal harta, ilmu, dan kedudukan). Pertama, pelit kepada diri sendiri Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah pernah berkata, ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ، ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ “Derajat pelit yang paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri, padahal ia sedang membutuhkan. Betapa banyak manusia yang menahan hartanya (tidak dibelanjakan), semisal ketika sakit ia tidak berobat. Ia sedang berhajat (punya kebutuhan) terhadap sesuatu, tetapi ia tahan karena pelit.”  (Lihat Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, hal. 205) Orang yang pelit menurut perkataan para ulama, إِنَّ الْبَخِيْلَ يَعِيْشُ عَيْشَ الْفُقَرَاءِ وَيُحَاسَبُ حِسَابَ الْأَغْنِيَاءِ “Sesungguhnya orang pelit itu hidup di dunia seperti orang miskin, tetapi hisabnya di akhirat seperti orang kaya.” Allah Ta’ala ketika memberikan nikmat dan rezeki pada hamba-Nya, maka Allah menyukai jika hamba-Nya tidak pelit dan menampakkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya tersebut pada dirinya, baik dalam bentuk pakaian, tempat tinggal, maupun kendaraan. Allah Ta’ala berfirman, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (menampakannya).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Begitu pula, yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819  dan An-Nasai no. 3605. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih) Maka, menampakkan nikmat-nikmat Allah itu dianjurkan asal jangan sombong dan tidak berlebihan. Baca juga: Celakalah Al Maa’un, Orang yang Pelit Kedua, pelit kepada orang lain Pelit kepada orang lain ada berbagai macam bentuknya dan yang paling parah adalah tatkala ia tidak menjalankan kewajiban harta, yaitu zakat dan nafkah. Sehingga, orang-orang yang pelit dan tidak menunaikan kewajiban harta, Allah beri ancaman dengan siksa, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak (harta) dan tidak menginfakkannya (mengeluarkan zakatnya) di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya malaikat berkata) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (QS. At-Taubah: 34-35) Dari ayat di atas, orang yang tidak mengeluarkan kewajiban zakatnya akan disiksa di neraka dengan siksaan fisik (disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka) dan siksaan batin (celaan para malaikat). Demikian pula, dalam hal nafkah, ia berdosa bila tidak menunaikan kewajiban nafkah kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, كفى بًالمرء إثما أن يضيع من يقوت “Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud no. 1692 dan Ibnu Hibban no. 4240) Selain dalam harta, pelit terkait dengan ilmu (agama) juga dilarang sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ “Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, serta Ibnu Hibban dalam Shahih-nya). Dan dalam riwayat Ibnu Majah, ما من رجل يحفظ علماً فيكتمُهُ إلا أتى يوم القيامة ملجوما بلجام من نار “Tidak ada seorang pun yang hafal ilmu lalu ia menyembunyikannya, kecuali ia datang pada hari kiamat dalam keadaan mulutnya ditutup dengan penutup dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah) Namun, terkadang menyembunyikan ilmu dibutuhkan dalam keadaan tertentu, seperti ingin menyampaikan di waktu yang tepat, masyarakat atau orang lain belum siap menerimanya, atau ilmu tersebut termasuk ilmu yang kompleks sehingga butuh waktu, pikiran, dan harta untuk memperolehnya. Selanjutnya adalah pelit dengan kedudukan. Ada di antara kita yang mempunyai kedudukan di masyarakat, baik sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, atau pejabat. Seseorang disebut pelit dengan kedudukan manakala ia mempersulit urusan orang lain, padahal ia mampu mengatasi dan menangani urusan-urusan tersebut. Ia juga pelit dalam membantu terselenggaranya kegiatan-kegiatan agama dan syiar islam. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ “Barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri.” (QS. Muhammad: 38) Maksud ayat di atas adalah orang yang pelit sejatinya akan menghalangi pahala bagi dirinya sendiri. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sifat pelit dan kikir. Baca juga: Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: pelit

Amalan Perisai Diri

Daftar Isi Toggle Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhiratPermohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan hartaPermohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takutMemohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya Telah menjadi sunatullah bahwa ada kebaikan dan keburukan yang saling berdampingan, namun bertolak belakang dalam kehidupan dunia. Hal ini ditakdirkan untuk menghiasi kehidupan umat manusia. Banyak hal, baik yang bersifat fisik maupun mental, terkadang mengganggu, bahkan dapat mencelakai diri kita. Dan hal tersebut merupakan perkara-perkara di luar kendali kita. Misalnya, sakit demam, tertabrak saat membawa kendaraan, jatuh tanpa disengaja, tertipu oleh orang lain, dimarahi, bahkan hingga dianiaya oleh orang. Begitu pula, dalam aspek-aspek yang bersifat mental, seperti gangguan psikis, pikiran, kegundahan hati, kegelisahan, hingga ketakutan yang menghampiri jiwa. Wal’iyadzu billah. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang menggantungkan urusan-urusan yang bersifat perlindungan diri kepada hal-hal yang telah nyata bertentangan dengan batasan syariat Islam, bahkan pada level yang sangat fatal yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Seperti meminta perlindungan kepada selain Allah, memakai jimat, berdoa memohon perlindungan kepada orang-orang yang dianggap ‘sakti’ dan yang sudah meninggal dunia. Bahkan, ada pula yang benar-benar menggantungkan dan memasrahkan keselamatannya kepada entitas-entitas yang tidak memiliki manfaat dan mudarat tersebut. Na’udzubillah. Padahal, sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk senantiasa menggali lebih dalam ajaran agama yang mulia ini. Karena semua panduan kehidupan dari berbagai aspek telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara paripurna, tidak terkecuali panduan tentang bagaimana kita meminta perlindungan dan keselamatan di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang tidak pernah ia tinggalkan untuk diamalkan pada pagi dan petang hari. Doa yang memuat kalimat-kalimat agung untuk memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala terhadap agama, keluarga, dunia, dan harta kita. Keselamatan dan perlindungan dari seluruh penjuru dan sumber gangguan yang dapat menimpa kita. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih) Saudaraku, sembari mempelajari dan menghafalkan zikir agung ini. Mari kita sejenak membaca dan merenungkan, serta mentadaburi makna tiap-tiap kalimat dari zikir ini. Mudah-mudahan, dengan mendalami maknanya, pengetahuan kita dapat bertambah, memotivasi kita untuk merutinkan zikir ini pada pagi dan petang kita dengan mudah dan istikamah kita jalankan. Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhirat اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ Perhatikan kalimat pertama dari bacaan zikir di atas. Sebuah doa permohonan yang berisi dua hal yang sungguh sangat diinginkan semua umat. Pertama, ampunan. Kita tentu menyadari bahwa setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Anas radhiyallahu ‘anhu, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, Ibnu Majah no. 4251, Ahmad, 3:198, Al-Hakim, 4:244) Lihatlah diri kita. Semenjak balig hingga berada pada usia saat ini, sudah berapa banyak dosa yang telah kita perbuat? Oleh karenanya, senantiasa memohon ampunan kepada Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita prioritaskan di setiap doa-doa kita. Kedua, kesehatan yang prima. Apabila kita perhatikan esensi dari rukun Islam, semua poin rukun yang menjadi satu kesatuan itu menuntut seorang muslim untuk memiliki fisik yang prima. Bagaimana mungkin jika tanpa kondisi kesehatan yang baik, kita mampu melaksanakan salat, puasa, dan ibadah haji ke baitullah dengan baik dan sempurna? Karenanya, sudah semestinya kita selalu memanjatkan doa meminta kepada Allah agar diberikan ampunan dan dikaruniai kesehatan yang prima. Maka, dengan senantiasa memohon ampunan dan kesehatan kepada Allah, mudah-mudahan dua hal ini menjadi perisai diri bagi kita untuk dapat terhindar dari segala macam godaan dosa. Dan dengannya pula, kita termotivasi untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib ataupun sunah dengan semaksimal mungkin. Permohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan harta اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ Berikutnya, zikir ini mengandung kalimat-kalimat doa memohon kebajikan dan keselamatan agama, dunia, keluarga, dan harta. Sungguh, bait doa yang paripurna. Betapa Allah Ta’ala sangat menyayangi kita, hamba-hamba-Nya, hingga kalimat untuk memohon kepada-Nya pun kita diajarkan. Perhatikanlah substansi kalimat ini. Agama, dunia, keluarga, dan harta adalah empat perkara yang sangat rentan terhadap kerusakan. Wal’iyadzu billah. Pertama, agama. Kita dapat menyaksikan di zaman ini, ada saja orang-orang yang tidak begitu mempertimbangkan ajaran agamanya sendiri, yaitu Islam. Agama hanya simbol bagi mereka agar mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat. Adapun kewajiban dan tuntutan syariat terhadap diri mereka dari sisi iman dan takwa, enggan untuk dilaksanakan, seperti salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Kedua, dunia. Tidak sedikit pula orang-orang menggantikan keimanan demi perkara duniawi. Seakan mereka yakin bahwa Allah akan memberikan kesempatan hidup seribu tahun lagi. Padahal, mereka sendiri sadar bahwa kisaran umur umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah 60 – 70 tahun saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70. Dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Lantas, apakah gerangan yang dapat mendorong kita untuk mengedepankan dunia daripada masa depan akhirat kelak? Ketiga, keluarga. Keluarga merupakan amanah dari Allah Ta’ala, untuk kita berikan pendidikan, pembinaan, dan kasih sayang dengan sebaik-baiknya dalam rangka memperoleh rida Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6) Selain diberikan petunjuk jalan yang lurus dan istikamah dalam keimanan dan ketakwaan, kita pun tentunya ingin agar keluarga yang kita cintai diberikan perlindungan oleh Allah Ta’ala dari segala marabahaya yang dapat menimpa. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keluarga kita dari segala ancaman baik duniawi maupun ukhrawi. Keempat, harta. Saudaraku, dengan harta, kita dapat melakukan banyak sekali kebajikan. Kita bisa beribadah haji ke baitullah, memberi bantuan materi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, membangun masjid dan sekolah-sekolah, dan berbagai manfaat lainnya. Namun, tidak jarang pula, kita lihat orang-orang yang terkenal dengan harta melimpah, tetapi di saat yang bersamaan, hartanya bisa punah, hilang, atau hancur karena berbagai musibah, seperti kebakaran, pencurian, atau menjadi korban penipuan. Wal’iyadzu billah. Karenanya, mohonlah pertolongan Allah Ta’ala, tidak hanya agar ditambahkan harta atau rezeki, tetapi juga agar Allah Ta’ala memberikan penjagaan terhadap harta kita, serta diberikan hidayah untuk menginfakkannya di jalan agama Allah. Baca juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah Shalat Permohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takut اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى Kehormatan dan ketentraman dari rasa takut merupakan dua hal yang diinginkan oleh semua manusia. Tidak ada orang yang menginginkan kehormatan atau aibnya diketahui oleh orang lain. Tidak pula ada yang menginginkan selalu berada dalam rasa cemas, khawatir, dan takut dari segala macam ancaman yang mungkin menimpanya. Mari kita renungkan dua hal ini lebih dalam. Pertama, kehormatan. Saudaraku, janganlah menjadi penyebab Allah Ta’ala membuka aib kita di hadapan orang banyak dengan kita menceritakan aib orang lain. Ya, menceritakan aib saudara kita sama saja dengan mengundang murka Allah Ta’ala. Karena, bisa jadi setelahnya, aib kita akan dibuka oleh Allah Ta’ala sebagai hukuman bagi kita di dunia. Tidak ada seorang pun yang tidak punya dosa di dunia ini. Hanya saja, kita masih dipandang baik di tengah-tengah masyarakat, itu karena Allah Ta’ala masih menutup aib-aib kita. Bukankah demikian? Coba bayangkan, apabila Allah Ta’ala murka kepada kita, kemudian orang-orang yang tadinya menghargai, menghormati, dan meneladani kita tahu tentang aib-aib kita, yang sebelumnya hanya Allah Ta’ala dan kita saja yang tahu. Betapa hinanya kita di hadapan hamba-hamba Allah yang lain. Na’udzu billah. Oleh sebab itu, mohonlah kepada Allah agar aib dan aurat kita ditutup oleh Allah Ta’ala. Namun, jangan lupa, barengi permohonan kita itu dengan perbuatan yang baik dan jangan pernah menyingkap aurat orang lain, dengan sengaja menceritakan keburukannya, mempermalukannya, dan menjatuhkannya. Kedua, ketentraman dari rasa takut. Kegelisahan dan kecemasan merupakan perasaan yang lazim dirasakan oleh manusia dengan berbagai sebab dan alasan. Baik karena persoalan ekonomi, sosial, dan berbagai aspek lainnya, khususnya dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh tantangan. Allah Ta’ala berfirman, اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Mengingat Allah Ta’ala adalah kunci ketenangan jiwa. Tetapi, apakah kita sudah senantiasa mengingat Allah dengan selalu melantunkan zikir-zikir mulia yang menemani aktivitas kita setiap waktu? Maka, mohonlah kemudahan itu kepada Allah melalui doa dan zikir ini. Memohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ Sebagai seorang mukmin, kita beriman kepada hal yang gaib dan berikhtiar dengan segala hal yang syar’i dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan saat ini dan yang akan datang. Karenanya, tidak dipungkiri pula bahwa selain hal-hal yang bersifat materil, ancaman terhadap diri kita dan keluarga kita bisa pula datang dari hal-hal yang bersifat imateril. Sebagaimana kita tahu bahwa cobaan berupa godaan dan kecelakaan terhadap manusia, bukan saja berasal dari perkara yang terlihat secara visual. Tetapi, juga datang dari hal yang tak terlihat, seperti sihir-sihir, baik dari jin maupun manusia, berupa: leak, santet, suanggi, palasik, pelet, dan sejenisnya. Wal’iyadzu billah. Karenanya, dalam Al-Qur’an, kita diajarkan untuk senantiasa membaca surah An-Nas di mana di dalamnya terdapat doa memohon perlindungan kepada Allah dari jin dan manusia yang membisikkan kejahatan kepada manusia. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6) Perhatikan kalimat zikir ini. Kita diberikan/diajarkan doa langsung oleh Allah Ta’ala melalui rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita amalkan agar mendapat perlindungan dari berbagai macam marabahaya yang datang dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, serta dari bawah. Subhanallah! Praktikkan segera zikir ini pada waktu pagi dan petangmu! Maka, jelaslah bahwa apapun sarana yang digunakan oleh orang-orang yang meyakininya sebagai pelindung selain dari amalan-amalan sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merupakan tempat berlindung yang sangat lemah. Sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan sebaik-baik petunjuk kepada kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya melalui zikir ini yang dipraktikkan dengan haqqul yaqin. Saudaraku, dengan mempelajari dan mendalami makna dari salah satu zikir pagi ini, kita dapat memahami bahwa betapa sempurnanya ajaran agama Islam yang mulia ini. Apabila kita senantiasa mempraktekkan zikir pagi yang jelas-jelas bersumber dari hadis sahih ini, maka insyaAllah perlindungan Allah Ta’ala akan dianugerahkan kepada kita. Namun, jangan lupa pula bahwa kita tetap selalu mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala potensi dosa-dosa yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga kita semua dikaruniai iman dan takwa yang dapat mendekatkan diri kita selalu kepada Allah Ta’ala. Wallahu A’lam Baca juga: Zikir Petang *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: zikir pagizikir petang

Amalan Perisai Diri

Daftar Isi Toggle Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhiratPermohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan hartaPermohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takutMemohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya Telah menjadi sunatullah bahwa ada kebaikan dan keburukan yang saling berdampingan, namun bertolak belakang dalam kehidupan dunia. Hal ini ditakdirkan untuk menghiasi kehidupan umat manusia. Banyak hal, baik yang bersifat fisik maupun mental, terkadang mengganggu, bahkan dapat mencelakai diri kita. Dan hal tersebut merupakan perkara-perkara di luar kendali kita. Misalnya, sakit demam, tertabrak saat membawa kendaraan, jatuh tanpa disengaja, tertipu oleh orang lain, dimarahi, bahkan hingga dianiaya oleh orang. Begitu pula, dalam aspek-aspek yang bersifat mental, seperti gangguan psikis, pikiran, kegundahan hati, kegelisahan, hingga ketakutan yang menghampiri jiwa. Wal’iyadzu billah. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang menggantungkan urusan-urusan yang bersifat perlindungan diri kepada hal-hal yang telah nyata bertentangan dengan batasan syariat Islam, bahkan pada level yang sangat fatal yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Seperti meminta perlindungan kepada selain Allah, memakai jimat, berdoa memohon perlindungan kepada orang-orang yang dianggap ‘sakti’ dan yang sudah meninggal dunia. Bahkan, ada pula yang benar-benar menggantungkan dan memasrahkan keselamatannya kepada entitas-entitas yang tidak memiliki manfaat dan mudarat tersebut. Na’udzubillah. Padahal, sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk senantiasa menggali lebih dalam ajaran agama yang mulia ini. Karena semua panduan kehidupan dari berbagai aspek telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara paripurna, tidak terkecuali panduan tentang bagaimana kita meminta perlindungan dan keselamatan di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang tidak pernah ia tinggalkan untuk diamalkan pada pagi dan petang hari. Doa yang memuat kalimat-kalimat agung untuk memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala terhadap agama, keluarga, dunia, dan harta kita. Keselamatan dan perlindungan dari seluruh penjuru dan sumber gangguan yang dapat menimpa kita. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih) Saudaraku, sembari mempelajari dan menghafalkan zikir agung ini. Mari kita sejenak membaca dan merenungkan, serta mentadaburi makna tiap-tiap kalimat dari zikir ini. Mudah-mudahan, dengan mendalami maknanya, pengetahuan kita dapat bertambah, memotivasi kita untuk merutinkan zikir ini pada pagi dan petang kita dengan mudah dan istikamah kita jalankan. Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhirat اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ Perhatikan kalimat pertama dari bacaan zikir di atas. Sebuah doa permohonan yang berisi dua hal yang sungguh sangat diinginkan semua umat. Pertama, ampunan. Kita tentu menyadari bahwa setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Anas radhiyallahu ‘anhu, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, Ibnu Majah no. 4251, Ahmad, 3:198, Al-Hakim, 4:244) Lihatlah diri kita. Semenjak balig hingga berada pada usia saat ini, sudah berapa banyak dosa yang telah kita perbuat? Oleh karenanya, senantiasa memohon ampunan kepada Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita prioritaskan di setiap doa-doa kita. Kedua, kesehatan yang prima. Apabila kita perhatikan esensi dari rukun Islam, semua poin rukun yang menjadi satu kesatuan itu menuntut seorang muslim untuk memiliki fisik yang prima. Bagaimana mungkin jika tanpa kondisi kesehatan yang baik, kita mampu melaksanakan salat, puasa, dan ibadah haji ke baitullah dengan baik dan sempurna? Karenanya, sudah semestinya kita selalu memanjatkan doa meminta kepada Allah agar diberikan ampunan dan dikaruniai kesehatan yang prima. Maka, dengan senantiasa memohon ampunan dan kesehatan kepada Allah, mudah-mudahan dua hal ini menjadi perisai diri bagi kita untuk dapat terhindar dari segala macam godaan dosa. Dan dengannya pula, kita termotivasi untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib ataupun sunah dengan semaksimal mungkin. Permohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan harta اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ Berikutnya, zikir ini mengandung kalimat-kalimat doa memohon kebajikan dan keselamatan agama, dunia, keluarga, dan harta. Sungguh, bait doa yang paripurna. Betapa Allah Ta’ala sangat menyayangi kita, hamba-hamba-Nya, hingga kalimat untuk memohon kepada-Nya pun kita diajarkan. Perhatikanlah substansi kalimat ini. Agama, dunia, keluarga, dan harta adalah empat perkara yang sangat rentan terhadap kerusakan. Wal’iyadzu billah. Pertama, agama. Kita dapat menyaksikan di zaman ini, ada saja orang-orang yang tidak begitu mempertimbangkan ajaran agamanya sendiri, yaitu Islam. Agama hanya simbol bagi mereka agar mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat. Adapun kewajiban dan tuntutan syariat terhadap diri mereka dari sisi iman dan takwa, enggan untuk dilaksanakan, seperti salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Kedua, dunia. Tidak sedikit pula orang-orang menggantikan keimanan demi perkara duniawi. Seakan mereka yakin bahwa Allah akan memberikan kesempatan hidup seribu tahun lagi. Padahal, mereka sendiri sadar bahwa kisaran umur umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah 60 – 70 tahun saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70. Dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Lantas, apakah gerangan yang dapat mendorong kita untuk mengedepankan dunia daripada masa depan akhirat kelak? Ketiga, keluarga. Keluarga merupakan amanah dari Allah Ta’ala, untuk kita berikan pendidikan, pembinaan, dan kasih sayang dengan sebaik-baiknya dalam rangka memperoleh rida Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6) Selain diberikan petunjuk jalan yang lurus dan istikamah dalam keimanan dan ketakwaan, kita pun tentunya ingin agar keluarga yang kita cintai diberikan perlindungan oleh Allah Ta’ala dari segala marabahaya yang dapat menimpa. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keluarga kita dari segala ancaman baik duniawi maupun ukhrawi. Keempat, harta. Saudaraku, dengan harta, kita dapat melakukan banyak sekali kebajikan. Kita bisa beribadah haji ke baitullah, memberi bantuan materi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, membangun masjid dan sekolah-sekolah, dan berbagai manfaat lainnya. Namun, tidak jarang pula, kita lihat orang-orang yang terkenal dengan harta melimpah, tetapi di saat yang bersamaan, hartanya bisa punah, hilang, atau hancur karena berbagai musibah, seperti kebakaran, pencurian, atau menjadi korban penipuan. Wal’iyadzu billah. Karenanya, mohonlah pertolongan Allah Ta’ala, tidak hanya agar ditambahkan harta atau rezeki, tetapi juga agar Allah Ta’ala memberikan penjagaan terhadap harta kita, serta diberikan hidayah untuk menginfakkannya di jalan agama Allah. Baca juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah Shalat Permohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takut اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى Kehormatan dan ketentraman dari rasa takut merupakan dua hal yang diinginkan oleh semua manusia. Tidak ada orang yang menginginkan kehormatan atau aibnya diketahui oleh orang lain. Tidak pula ada yang menginginkan selalu berada dalam rasa cemas, khawatir, dan takut dari segala macam ancaman yang mungkin menimpanya. Mari kita renungkan dua hal ini lebih dalam. Pertama, kehormatan. Saudaraku, janganlah menjadi penyebab Allah Ta’ala membuka aib kita di hadapan orang banyak dengan kita menceritakan aib orang lain. Ya, menceritakan aib saudara kita sama saja dengan mengundang murka Allah Ta’ala. Karena, bisa jadi setelahnya, aib kita akan dibuka oleh Allah Ta’ala sebagai hukuman bagi kita di dunia. Tidak ada seorang pun yang tidak punya dosa di dunia ini. Hanya saja, kita masih dipandang baik di tengah-tengah masyarakat, itu karena Allah Ta’ala masih menutup aib-aib kita. Bukankah demikian? Coba bayangkan, apabila Allah Ta’ala murka kepada kita, kemudian orang-orang yang tadinya menghargai, menghormati, dan meneladani kita tahu tentang aib-aib kita, yang sebelumnya hanya Allah Ta’ala dan kita saja yang tahu. Betapa hinanya kita di hadapan hamba-hamba Allah yang lain. Na’udzu billah. Oleh sebab itu, mohonlah kepada Allah agar aib dan aurat kita ditutup oleh Allah Ta’ala. Namun, jangan lupa, barengi permohonan kita itu dengan perbuatan yang baik dan jangan pernah menyingkap aurat orang lain, dengan sengaja menceritakan keburukannya, mempermalukannya, dan menjatuhkannya. Kedua, ketentraman dari rasa takut. Kegelisahan dan kecemasan merupakan perasaan yang lazim dirasakan oleh manusia dengan berbagai sebab dan alasan. Baik karena persoalan ekonomi, sosial, dan berbagai aspek lainnya, khususnya dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh tantangan. Allah Ta’ala berfirman, اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Mengingat Allah Ta’ala adalah kunci ketenangan jiwa. Tetapi, apakah kita sudah senantiasa mengingat Allah dengan selalu melantunkan zikir-zikir mulia yang menemani aktivitas kita setiap waktu? Maka, mohonlah kemudahan itu kepada Allah melalui doa dan zikir ini. Memohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ Sebagai seorang mukmin, kita beriman kepada hal yang gaib dan berikhtiar dengan segala hal yang syar’i dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan saat ini dan yang akan datang. Karenanya, tidak dipungkiri pula bahwa selain hal-hal yang bersifat materil, ancaman terhadap diri kita dan keluarga kita bisa pula datang dari hal-hal yang bersifat imateril. Sebagaimana kita tahu bahwa cobaan berupa godaan dan kecelakaan terhadap manusia, bukan saja berasal dari perkara yang terlihat secara visual. Tetapi, juga datang dari hal yang tak terlihat, seperti sihir-sihir, baik dari jin maupun manusia, berupa: leak, santet, suanggi, palasik, pelet, dan sejenisnya. Wal’iyadzu billah. Karenanya, dalam Al-Qur’an, kita diajarkan untuk senantiasa membaca surah An-Nas di mana di dalamnya terdapat doa memohon perlindungan kepada Allah dari jin dan manusia yang membisikkan kejahatan kepada manusia. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6) Perhatikan kalimat zikir ini. Kita diberikan/diajarkan doa langsung oleh Allah Ta’ala melalui rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita amalkan agar mendapat perlindungan dari berbagai macam marabahaya yang datang dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, serta dari bawah. Subhanallah! Praktikkan segera zikir ini pada waktu pagi dan petangmu! Maka, jelaslah bahwa apapun sarana yang digunakan oleh orang-orang yang meyakininya sebagai pelindung selain dari amalan-amalan sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merupakan tempat berlindung yang sangat lemah. Sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan sebaik-baik petunjuk kepada kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya melalui zikir ini yang dipraktikkan dengan haqqul yaqin. Saudaraku, dengan mempelajari dan mendalami makna dari salah satu zikir pagi ini, kita dapat memahami bahwa betapa sempurnanya ajaran agama Islam yang mulia ini. Apabila kita senantiasa mempraktekkan zikir pagi yang jelas-jelas bersumber dari hadis sahih ini, maka insyaAllah perlindungan Allah Ta’ala akan dianugerahkan kepada kita. Namun, jangan lupa pula bahwa kita tetap selalu mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala potensi dosa-dosa yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga kita semua dikaruniai iman dan takwa yang dapat mendekatkan diri kita selalu kepada Allah Ta’ala. Wallahu A’lam Baca juga: Zikir Petang *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: zikir pagizikir petang
Daftar Isi Toggle Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhiratPermohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan hartaPermohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takutMemohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya Telah menjadi sunatullah bahwa ada kebaikan dan keburukan yang saling berdampingan, namun bertolak belakang dalam kehidupan dunia. Hal ini ditakdirkan untuk menghiasi kehidupan umat manusia. Banyak hal, baik yang bersifat fisik maupun mental, terkadang mengganggu, bahkan dapat mencelakai diri kita. Dan hal tersebut merupakan perkara-perkara di luar kendali kita. Misalnya, sakit demam, tertabrak saat membawa kendaraan, jatuh tanpa disengaja, tertipu oleh orang lain, dimarahi, bahkan hingga dianiaya oleh orang. Begitu pula, dalam aspek-aspek yang bersifat mental, seperti gangguan psikis, pikiran, kegundahan hati, kegelisahan, hingga ketakutan yang menghampiri jiwa. Wal’iyadzu billah. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang menggantungkan urusan-urusan yang bersifat perlindungan diri kepada hal-hal yang telah nyata bertentangan dengan batasan syariat Islam, bahkan pada level yang sangat fatal yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Seperti meminta perlindungan kepada selain Allah, memakai jimat, berdoa memohon perlindungan kepada orang-orang yang dianggap ‘sakti’ dan yang sudah meninggal dunia. Bahkan, ada pula yang benar-benar menggantungkan dan memasrahkan keselamatannya kepada entitas-entitas yang tidak memiliki manfaat dan mudarat tersebut. Na’udzubillah. Padahal, sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk senantiasa menggali lebih dalam ajaran agama yang mulia ini. Karena semua panduan kehidupan dari berbagai aspek telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara paripurna, tidak terkecuali panduan tentang bagaimana kita meminta perlindungan dan keselamatan di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang tidak pernah ia tinggalkan untuk diamalkan pada pagi dan petang hari. Doa yang memuat kalimat-kalimat agung untuk memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala terhadap agama, keluarga, dunia, dan harta kita. Keselamatan dan perlindungan dari seluruh penjuru dan sumber gangguan yang dapat menimpa kita. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih) Saudaraku, sembari mempelajari dan menghafalkan zikir agung ini. Mari kita sejenak membaca dan merenungkan, serta mentadaburi makna tiap-tiap kalimat dari zikir ini. Mudah-mudahan, dengan mendalami maknanya, pengetahuan kita dapat bertambah, memotivasi kita untuk merutinkan zikir ini pada pagi dan petang kita dengan mudah dan istikamah kita jalankan. Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhirat اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ Perhatikan kalimat pertama dari bacaan zikir di atas. Sebuah doa permohonan yang berisi dua hal yang sungguh sangat diinginkan semua umat. Pertama, ampunan. Kita tentu menyadari bahwa setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Anas radhiyallahu ‘anhu, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, Ibnu Majah no. 4251, Ahmad, 3:198, Al-Hakim, 4:244) Lihatlah diri kita. Semenjak balig hingga berada pada usia saat ini, sudah berapa banyak dosa yang telah kita perbuat? Oleh karenanya, senantiasa memohon ampunan kepada Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita prioritaskan di setiap doa-doa kita. Kedua, kesehatan yang prima. Apabila kita perhatikan esensi dari rukun Islam, semua poin rukun yang menjadi satu kesatuan itu menuntut seorang muslim untuk memiliki fisik yang prima. Bagaimana mungkin jika tanpa kondisi kesehatan yang baik, kita mampu melaksanakan salat, puasa, dan ibadah haji ke baitullah dengan baik dan sempurna? Karenanya, sudah semestinya kita selalu memanjatkan doa meminta kepada Allah agar diberikan ampunan dan dikaruniai kesehatan yang prima. Maka, dengan senantiasa memohon ampunan dan kesehatan kepada Allah, mudah-mudahan dua hal ini menjadi perisai diri bagi kita untuk dapat terhindar dari segala macam godaan dosa. Dan dengannya pula, kita termotivasi untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib ataupun sunah dengan semaksimal mungkin. Permohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan harta اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ Berikutnya, zikir ini mengandung kalimat-kalimat doa memohon kebajikan dan keselamatan agama, dunia, keluarga, dan harta. Sungguh, bait doa yang paripurna. Betapa Allah Ta’ala sangat menyayangi kita, hamba-hamba-Nya, hingga kalimat untuk memohon kepada-Nya pun kita diajarkan. Perhatikanlah substansi kalimat ini. Agama, dunia, keluarga, dan harta adalah empat perkara yang sangat rentan terhadap kerusakan. Wal’iyadzu billah. Pertama, agama. Kita dapat menyaksikan di zaman ini, ada saja orang-orang yang tidak begitu mempertimbangkan ajaran agamanya sendiri, yaitu Islam. Agama hanya simbol bagi mereka agar mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat. Adapun kewajiban dan tuntutan syariat terhadap diri mereka dari sisi iman dan takwa, enggan untuk dilaksanakan, seperti salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Kedua, dunia. Tidak sedikit pula orang-orang menggantikan keimanan demi perkara duniawi. Seakan mereka yakin bahwa Allah akan memberikan kesempatan hidup seribu tahun lagi. Padahal, mereka sendiri sadar bahwa kisaran umur umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah 60 – 70 tahun saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70. Dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Lantas, apakah gerangan yang dapat mendorong kita untuk mengedepankan dunia daripada masa depan akhirat kelak? Ketiga, keluarga. Keluarga merupakan amanah dari Allah Ta’ala, untuk kita berikan pendidikan, pembinaan, dan kasih sayang dengan sebaik-baiknya dalam rangka memperoleh rida Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6) Selain diberikan petunjuk jalan yang lurus dan istikamah dalam keimanan dan ketakwaan, kita pun tentunya ingin agar keluarga yang kita cintai diberikan perlindungan oleh Allah Ta’ala dari segala marabahaya yang dapat menimpa. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keluarga kita dari segala ancaman baik duniawi maupun ukhrawi. Keempat, harta. Saudaraku, dengan harta, kita dapat melakukan banyak sekali kebajikan. Kita bisa beribadah haji ke baitullah, memberi bantuan materi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, membangun masjid dan sekolah-sekolah, dan berbagai manfaat lainnya. Namun, tidak jarang pula, kita lihat orang-orang yang terkenal dengan harta melimpah, tetapi di saat yang bersamaan, hartanya bisa punah, hilang, atau hancur karena berbagai musibah, seperti kebakaran, pencurian, atau menjadi korban penipuan. Wal’iyadzu billah. Karenanya, mohonlah pertolongan Allah Ta’ala, tidak hanya agar ditambahkan harta atau rezeki, tetapi juga agar Allah Ta’ala memberikan penjagaan terhadap harta kita, serta diberikan hidayah untuk menginfakkannya di jalan agama Allah. Baca juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah Shalat Permohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takut اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى Kehormatan dan ketentraman dari rasa takut merupakan dua hal yang diinginkan oleh semua manusia. Tidak ada orang yang menginginkan kehormatan atau aibnya diketahui oleh orang lain. Tidak pula ada yang menginginkan selalu berada dalam rasa cemas, khawatir, dan takut dari segala macam ancaman yang mungkin menimpanya. Mari kita renungkan dua hal ini lebih dalam. Pertama, kehormatan. Saudaraku, janganlah menjadi penyebab Allah Ta’ala membuka aib kita di hadapan orang banyak dengan kita menceritakan aib orang lain. Ya, menceritakan aib saudara kita sama saja dengan mengundang murka Allah Ta’ala. Karena, bisa jadi setelahnya, aib kita akan dibuka oleh Allah Ta’ala sebagai hukuman bagi kita di dunia. Tidak ada seorang pun yang tidak punya dosa di dunia ini. Hanya saja, kita masih dipandang baik di tengah-tengah masyarakat, itu karena Allah Ta’ala masih menutup aib-aib kita. Bukankah demikian? Coba bayangkan, apabila Allah Ta’ala murka kepada kita, kemudian orang-orang yang tadinya menghargai, menghormati, dan meneladani kita tahu tentang aib-aib kita, yang sebelumnya hanya Allah Ta’ala dan kita saja yang tahu. Betapa hinanya kita di hadapan hamba-hamba Allah yang lain. Na’udzu billah. Oleh sebab itu, mohonlah kepada Allah agar aib dan aurat kita ditutup oleh Allah Ta’ala. Namun, jangan lupa, barengi permohonan kita itu dengan perbuatan yang baik dan jangan pernah menyingkap aurat orang lain, dengan sengaja menceritakan keburukannya, mempermalukannya, dan menjatuhkannya. Kedua, ketentraman dari rasa takut. Kegelisahan dan kecemasan merupakan perasaan yang lazim dirasakan oleh manusia dengan berbagai sebab dan alasan. Baik karena persoalan ekonomi, sosial, dan berbagai aspek lainnya, khususnya dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh tantangan. Allah Ta’ala berfirman, اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Mengingat Allah Ta’ala adalah kunci ketenangan jiwa. Tetapi, apakah kita sudah senantiasa mengingat Allah dengan selalu melantunkan zikir-zikir mulia yang menemani aktivitas kita setiap waktu? Maka, mohonlah kemudahan itu kepada Allah melalui doa dan zikir ini. Memohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ Sebagai seorang mukmin, kita beriman kepada hal yang gaib dan berikhtiar dengan segala hal yang syar’i dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan saat ini dan yang akan datang. Karenanya, tidak dipungkiri pula bahwa selain hal-hal yang bersifat materil, ancaman terhadap diri kita dan keluarga kita bisa pula datang dari hal-hal yang bersifat imateril. Sebagaimana kita tahu bahwa cobaan berupa godaan dan kecelakaan terhadap manusia, bukan saja berasal dari perkara yang terlihat secara visual. Tetapi, juga datang dari hal yang tak terlihat, seperti sihir-sihir, baik dari jin maupun manusia, berupa: leak, santet, suanggi, palasik, pelet, dan sejenisnya. Wal’iyadzu billah. Karenanya, dalam Al-Qur’an, kita diajarkan untuk senantiasa membaca surah An-Nas di mana di dalamnya terdapat doa memohon perlindungan kepada Allah dari jin dan manusia yang membisikkan kejahatan kepada manusia. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6) Perhatikan kalimat zikir ini. Kita diberikan/diajarkan doa langsung oleh Allah Ta’ala melalui rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita amalkan agar mendapat perlindungan dari berbagai macam marabahaya yang datang dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, serta dari bawah. Subhanallah! Praktikkan segera zikir ini pada waktu pagi dan petangmu! Maka, jelaslah bahwa apapun sarana yang digunakan oleh orang-orang yang meyakininya sebagai pelindung selain dari amalan-amalan sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merupakan tempat berlindung yang sangat lemah. Sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan sebaik-baik petunjuk kepada kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya melalui zikir ini yang dipraktikkan dengan haqqul yaqin. Saudaraku, dengan mempelajari dan mendalami makna dari salah satu zikir pagi ini, kita dapat memahami bahwa betapa sempurnanya ajaran agama Islam yang mulia ini. Apabila kita senantiasa mempraktekkan zikir pagi yang jelas-jelas bersumber dari hadis sahih ini, maka insyaAllah perlindungan Allah Ta’ala akan dianugerahkan kepada kita. Namun, jangan lupa pula bahwa kita tetap selalu mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala potensi dosa-dosa yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga kita semua dikaruniai iman dan takwa yang dapat mendekatkan diri kita selalu kepada Allah Ta’ala. Wallahu A’lam Baca juga: Zikir Petang *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: zikir pagizikir petang


Daftar Isi Toggle Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhiratPermohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan hartaPermohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takutMemohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya Telah menjadi sunatullah bahwa ada kebaikan dan keburukan yang saling berdampingan, namun bertolak belakang dalam kehidupan dunia. Hal ini ditakdirkan untuk menghiasi kehidupan umat manusia. Banyak hal, baik yang bersifat fisik maupun mental, terkadang mengganggu, bahkan dapat mencelakai diri kita. Dan hal tersebut merupakan perkara-perkara di luar kendali kita. Misalnya, sakit demam, tertabrak saat membawa kendaraan, jatuh tanpa disengaja, tertipu oleh orang lain, dimarahi, bahkan hingga dianiaya oleh orang. Begitu pula, dalam aspek-aspek yang bersifat mental, seperti gangguan psikis, pikiran, kegundahan hati, kegelisahan, hingga ketakutan yang menghampiri jiwa. Wal’iyadzu billah. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang menggantungkan urusan-urusan yang bersifat perlindungan diri kepada hal-hal yang telah nyata bertentangan dengan batasan syariat Islam, bahkan pada level yang sangat fatal yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Seperti meminta perlindungan kepada selain Allah, memakai jimat, berdoa memohon perlindungan kepada orang-orang yang dianggap ‘sakti’ dan yang sudah meninggal dunia. Bahkan, ada pula yang benar-benar menggantungkan dan memasrahkan keselamatannya kepada entitas-entitas yang tidak memiliki manfaat dan mudarat tersebut. Na’udzubillah. Padahal, sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk senantiasa menggali lebih dalam ajaran agama yang mulia ini. Karena semua panduan kehidupan dari berbagai aspek telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara paripurna, tidak terkecuali panduan tentang bagaimana kita meminta perlindungan dan keselamatan di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang tidak pernah ia tinggalkan untuk diamalkan pada pagi dan petang hari. Doa yang memuat kalimat-kalimat agung untuk memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala terhadap agama, keluarga, dunia, dan harta kita. Keselamatan dan perlindungan dari seluruh penjuru dan sumber gangguan yang dapat menimpa kita. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih) Saudaraku, sembari mempelajari dan menghafalkan zikir agung ini. Mari kita sejenak membaca dan merenungkan, serta mentadaburi makna tiap-tiap kalimat dari zikir ini. Mudah-mudahan, dengan mendalami maknanya, pengetahuan kita dapat bertambah, memotivasi kita untuk merutinkan zikir ini pada pagi dan petang kita dengan mudah dan istikamah kita jalankan. Permohonan kebajikan dan keselamatan dunia dan akhirat اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ Perhatikan kalimat pertama dari bacaan zikir di atas. Sebuah doa permohonan yang berisi dua hal yang sungguh sangat diinginkan semua umat. Pertama, ampunan. Kita tentu menyadari bahwa setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Anas radhiyallahu ‘anhu, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, Ibnu Majah no. 4251, Ahmad, 3:198, Al-Hakim, 4:244) Lihatlah diri kita. Semenjak balig hingga berada pada usia saat ini, sudah berapa banyak dosa yang telah kita perbuat? Oleh karenanya, senantiasa memohon ampunan kepada Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita prioritaskan di setiap doa-doa kita. Kedua, kesehatan yang prima. Apabila kita perhatikan esensi dari rukun Islam, semua poin rukun yang menjadi satu kesatuan itu menuntut seorang muslim untuk memiliki fisik yang prima. Bagaimana mungkin jika tanpa kondisi kesehatan yang baik, kita mampu melaksanakan salat, puasa, dan ibadah haji ke baitullah dengan baik dan sempurna? Karenanya, sudah semestinya kita selalu memanjatkan doa meminta kepada Allah agar diberikan ampunan dan dikaruniai kesehatan yang prima. Maka, dengan senantiasa memohon ampunan dan kesehatan kepada Allah, mudah-mudahan dua hal ini menjadi perisai diri bagi kita untuk dapat terhindar dari segala macam godaan dosa. Dan dengannya pula, kita termotivasi untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib ataupun sunah dengan semaksimal mungkin. Permohonan perlindungan terhadap agama, dunia, keluarga, dan harta اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ Berikutnya, zikir ini mengandung kalimat-kalimat doa memohon kebajikan dan keselamatan agama, dunia, keluarga, dan harta. Sungguh, bait doa yang paripurna. Betapa Allah Ta’ala sangat menyayangi kita, hamba-hamba-Nya, hingga kalimat untuk memohon kepada-Nya pun kita diajarkan. Perhatikanlah substansi kalimat ini. Agama, dunia, keluarga, dan harta adalah empat perkara yang sangat rentan terhadap kerusakan. Wal’iyadzu billah. Pertama, agama. Kita dapat menyaksikan di zaman ini, ada saja orang-orang yang tidak begitu mempertimbangkan ajaran agamanya sendiri, yaitu Islam. Agama hanya simbol bagi mereka agar mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat. Adapun kewajiban dan tuntutan syariat terhadap diri mereka dari sisi iman dan takwa, enggan untuk dilaksanakan, seperti salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Kedua, dunia. Tidak sedikit pula orang-orang menggantikan keimanan demi perkara duniawi. Seakan mereka yakin bahwa Allah akan memberikan kesempatan hidup seribu tahun lagi. Padahal, mereka sendiri sadar bahwa kisaran umur umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah 60 – 70 tahun saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70. Dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Lantas, apakah gerangan yang dapat mendorong kita untuk mengedepankan dunia daripada masa depan akhirat kelak? Ketiga, keluarga. Keluarga merupakan amanah dari Allah Ta’ala, untuk kita berikan pendidikan, pembinaan, dan kasih sayang dengan sebaik-baiknya dalam rangka memperoleh rida Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6) Selain diberikan petunjuk jalan yang lurus dan istikamah dalam keimanan dan ketakwaan, kita pun tentunya ingin agar keluarga yang kita cintai diberikan perlindungan oleh Allah Ta’ala dari segala marabahaya yang dapat menimpa. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keluarga kita dari segala ancaman baik duniawi maupun ukhrawi. Keempat, harta. Saudaraku, dengan harta, kita dapat melakukan banyak sekali kebajikan. Kita bisa beribadah haji ke baitullah, memberi bantuan materi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, membangun masjid dan sekolah-sekolah, dan berbagai manfaat lainnya. Namun, tidak jarang pula, kita lihat orang-orang yang terkenal dengan harta melimpah, tetapi di saat yang bersamaan, hartanya bisa punah, hilang, atau hancur karena berbagai musibah, seperti kebakaran, pencurian, atau menjadi korban penipuan. Wal’iyadzu billah. Karenanya, mohonlah pertolongan Allah Ta’ala, tidak hanya agar ditambahkan harta atau rezeki, tetapi juga agar Allah Ta’ala memberikan penjagaan terhadap harta kita, serta diberikan hidayah untuk menginfakkannya di jalan agama Allah. Baca juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah Shalat Permohonan agar kehormatan dijaga dan perlindungan dari rasa takut اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى Kehormatan dan ketentraman dari rasa takut merupakan dua hal yang diinginkan oleh semua manusia. Tidak ada orang yang menginginkan kehormatan atau aibnya diketahui oleh orang lain. Tidak pula ada yang menginginkan selalu berada dalam rasa cemas, khawatir, dan takut dari segala macam ancaman yang mungkin menimpanya. Mari kita renungkan dua hal ini lebih dalam. Pertama, kehormatan. Saudaraku, janganlah menjadi penyebab Allah Ta’ala membuka aib kita di hadapan orang banyak dengan kita menceritakan aib orang lain. Ya, menceritakan aib saudara kita sama saja dengan mengundang murka Allah Ta’ala. Karena, bisa jadi setelahnya, aib kita akan dibuka oleh Allah Ta’ala sebagai hukuman bagi kita di dunia. Tidak ada seorang pun yang tidak punya dosa di dunia ini. Hanya saja, kita masih dipandang baik di tengah-tengah masyarakat, itu karena Allah Ta’ala masih menutup aib-aib kita. Bukankah demikian? Coba bayangkan, apabila Allah Ta’ala murka kepada kita, kemudian orang-orang yang tadinya menghargai, menghormati, dan meneladani kita tahu tentang aib-aib kita, yang sebelumnya hanya Allah Ta’ala dan kita saja yang tahu. Betapa hinanya kita di hadapan hamba-hamba Allah yang lain. Na’udzu billah. Oleh sebab itu, mohonlah kepada Allah agar aib dan aurat kita ditutup oleh Allah Ta’ala. Namun, jangan lupa, barengi permohonan kita itu dengan perbuatan yang baik dan jangan pernah menyingkap aurat orang lain, dengan sengaja menceritakan keburukannya, mempermalukannya, dan menjatuhkannya. Kedua, ketentraman dari rasa takut. Kegelisahan dan kecemasan merupakan perasaan yang lazim dirasakan oleh manusia dengan berbagai sebab dan alasan. Baik karena persoalan ekonomi, sosial, dan berbagai aspek lainnya, khususnya dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh tantangan. Allah Ta’ala berfirman, اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Mengingat Allah Ta’ala adalah kunci ketenangan jiwa. Tetapi, apakah kita sudah senantiasa mengingat Allah dengan selalu melantunkan zikir-zikir mulia yang menemani aktivitas kita setiap waktu? Maka, mohonlah kemudahan itu kepada Allah melalui doa dan zikir ini. Memohon penjagaan Allah Ta’ala dari multisumber marabahaya اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ Sebagai seorang mukmin, kita beriman kepada hal yang gaib dan berikhtiar dengan segala hal yang syar’i dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan saat ini dan yang akan datang. Karenanya, tidak dipungkiri pula bahwa selain hal-hal yang bersifat materil, ancaman terhadap diri kita dan keluarga kita bisa pula datang dari hal-hal yang bersifat imateril. Sebagaimana kita tahu bahwa cobaan berupa godaan dan kecelakaan terhadap manusia, bukan saja berasal dari perkara yang terlihat secara visual. Tetapi, juga datang dari hal yang tak terlihat, seperti sihir-sihir, baik dari jin maupun manusia, berupa: leak, santet, suanggi, palasik, pelet, dan sejenisnya. Wal’iyadzu billah. Karenanya, dalam Al-Qur’an, kita diajarkan untuk senantiasa membaca surah An-Nas di mana di dalamnya terdapat doa memohon perlindungan kepada Allah dari jin dan manusia yang membisikkan kejahatan kepada manusia. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6) Perhatikan kalimat zikir ini. Kita diberikan/diajarkan doa langsung oleh Allah Ta’ala melalui rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita amalkan agar mendapat perlindungan dari berbagai macam marabahaya yang datang dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, serta dari bawah. Subhanallah! Praktikkan segera zikir ini pada waktu pagi dan petangmu! Maka, jelaslah bahwa apapun sarana yang digunakan oleh orang-orang yang meyakininya sebagai pelindung selain dari amalan-amalan sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merupakan tempat berlindung yang sangat lemah. Sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan sebaik-baik petunjuk kepada kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya melalui zikir ini yang dipraktikkan dengan haqqul yaqin. Saudaraku, dengan mempelajari dan mendalami makna dari salah satu zikir pagi ini, kita dapat memahami bahwa betapa sempurnanya ajaran agama Islam yang mulia ini. Apabila kita senantiasa mempraktekkan zikir pagi yang jelas-jelas bersumber dari hadis sahih ini, maka insyaAllah perlindungan Allah Ta’ala akan dianugerahkan kepada kita. Namun, jangan lupa pula bahwa kita tetap selalu mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala potensi dosa-dosa yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga kita semua dikaruniai iman dan takwa yang dapat mendekatkan diri kita selalu kepada Allah Ta’ala. Wallahu A’lam Baca juga: Zikir Petang *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: zikir pagizikir petang

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2)

Sikap kedua: Bertakwa dan bertawakal hanya kepada Allah Sikap kedua pada saat kita sedang menghadapi kesulitan hidup adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi pada saat kita dalam kondisi lapang, kita banyak bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan juga banyak meninggalkan kewajiban kita kepada Allah. Sehingga pada saat kita ditimpa suatu musibah yang berat, maka hal itu adalah momentum untuk memperbaiki diri kita untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala. Kita tinggalkan maksiat yang selama ini kita lakukan. Kita pun memperbanyak amal ketaatan kepada Allah. Kita perbanyak salat, baik salat wajib maupun sunah, kita perbanyak salat malam, sedekah, memperbanyak puasa, membaca Al-Quran, dan amal-amal ketaatan yang lainnya. Inilah inti ketakwaan. Jangan sebaliknya, di saat sedang ditimpa kesulitan, justru kita semakin tenggelam dalam maksiat, dan semakin malas melakukan amal ketaatan. Maka salahkan diri kita sendiri ketika pertolongan dan jalan keluar dari Allah itu tidak kunjung datang. Allah Ta’ala berjanji bahwa siapa saja yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan tunjukkan jalan keluar untuknya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Itu adalah janji dari Allah Ta’ala. Dan kalau kita perhatikan dan renungkan, dua janji tersebut terletak dalam surah Ath-Thalaq, surat yang berbicara tentang perceraian antara suami dan istri. Dan kita mengetahui bahwa perceraian adalah perkara yang berat, terlebih lagi jika pasangan tersebut telah memiliki anak. Allah Ta’ala pun ingatkan bahwa ketika sedang menghadapi perceraian, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tunaikan hak-hak pasangan, dan jangan zalim. Bisa jadi setelah bercerai, masalah justru semakin ruwet, ada dendam yang tidak berkesudahan, anak-anak terlantar dan terganggu psikologisnya, atau berlanjut ke ranah pidana, dan lain-lain. Maka bisa jadi hal itu terjadi karena kita tidak bertakwa ketika sedang dalam proses perceraian. Ketika kita sedang dalam musibah dan kesulitan, lalu tidak tampak adanya pertolongan, maka kita pun hendaknya mengintrospeksi diri kita sendiri. Apakah kita sudah memperbaiki diri kita dengan bertakwa kepada Allah? Di sana ada lebih banyak orang yang mengalami musibah dan masalah yang lebih rumit dari kita, namun Allah berikan solusi dan jalan keluar. Lalu, mengapa kita tidak? Adakah yang salah dan kurang dari diri kita? Setelah kita berusaha bertakwa kepada Allah, maka selanjutnya adalah bertawakal hanya kepada-Nya. Hakikat dari tawakal adalah amal dan ibadah hati, bersandarnya hati kita kepada Allah, berserah diri hanya kepada-Nya, dan rida dengan keputusan-Nya. Karena dia mengetahui bahwa Allah mencukupinya dan Allah akan memberikan yang terbaik apabila hamba menyerahkan urusannya kepada Allah. Namun hal ini juga harus disertai dengan upaya mengambil sebab yang diperintahkan dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Masih dalam rangkaian ayat dari surah Ath-Thalaq di atas, Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kita jumpai dalam diri kita, di saat kita sedang ada masalah, pikiran kita hanya tertuju untuk meminta tolong kepada si A, si B, dan seterusnya, namun kita melupakan Allah Ta’ala. Hati kita bersandar kepada manusia, bukan bersandar kepada Allah. Bukan berarti kita tidak boleh meminta tolong kepada makhluk selama mereka mampu, namun hendaknya kita sandarkan hati kita kepada Allah Ta’ala saja. Karena Allah-lah yang akan menggerakkan hati mereka untuk menolong kita. Bukankah sering kita jumpai, bahwa mereka yang kita mintai tolong itu, ternyata mereka juga sedang ditimpa musibah dan kesulitan? Sehingga mereka sendiri lebih sibuk memikirkan urusannya sendiri, tidak akan sempat memikirkan urusan kita. Bisa jadi mereka hanya sekedar ingin tahu saja, namun tidak bisa memberi solusi. Bisa jadi justru mereka menjauhi kita, karena mereka tidak ingin tersangkut dengan dampak masalah yang kita hadapi. Maka benarlah, pada saat di puncak kesulitan, kita lepaskan semua ketergantungan hati kita kepada makhluk, dan kita murnikan tawakal hanya kepada Allah Ta’ala. Di saat itulah, kita bisa merasakan hikmah di balik musibah dan kesulitan, yaitu kita bisa merasakan bagaimanakah praktek tawakal yang sesungguhnya. Allah ajarkan kita bagaimana tawakal yang benar pada saat di puncak kesulitan. Agar hamba tahu, dia itu hamba yang lemah, demikian juga manusia yang lain, tidak ada yang bisa menolongnya. Sedangkan Allah adalah Zat yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Sangat mudah bagi Allah untuk memberikan solusi dan jalan keluar, dan menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi. Allah turunkan pertolongan pada saat kita sudah putus asa terhadap makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, tawakal bisa terwujud dengan dua hal yang harus ada di dalam hati, sehingga seorang hamba akan bertawakal kepada Allah dengan benar: Pertama: Seorang hamba mengetahui bahwa Allah adalah tempat bergantung dan tidak ada tempat bergantung selain Dia. Dialah Rabb yang Maha mengatur dan yang menguasai segala urusan. Segala sesuatu yang Dia kehendaki, pasti terjadi; dan segala sesuatu yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman, وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) dan tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58) Semakin kuat keimanan hamba kepada Allah dan semakin baik pengenalan kepada-Nya, maka akan semakin kuat pula tawakal dan rasa harap kepada-Nya. Dia akan menyerahkan urusan kepada-Nya, dan akan menyerahkan segala kemaslahatan dan kebutuhannya terkait urusan dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Kedua: Amal hati, yaitu bersandarnya hati kepada Allah, dengan meminta perlindungan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Tidak ada di dalam hatinya keinginan berpaling kepada sebab dan bersandar kepada sebab tersebut. Akan tetapi, hatinya hanyalah bergantung kepada Allah dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya untuk seluruh kebaikan dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman tentang keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin orang yang paling bertawakal, لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُول مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوف رَّحِيم فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 128-129) Dari Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ : بِسْمِ اللهِ ، تَوكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لا حَوْلَ ولاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيْتَ وَوُقِيتَ ، وتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ “Siapa saja yang membaca saat keluar rumah, “Bismillaahi, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illa billaah” (Artinya: Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah), maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah dicukupi (segala kebutuhanmu), telah dijaga (dari segala bahaya), dan setan pun menjauh.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dinilai sahih oleh Al-Albani) Zikir ini disyariatkan untuk diucapkan setiap keluar dari rumah dan dalam seluruh masahat dunia dan agama. Karena sesungguhnya seorang hamba tidak akan bisa lepas dari butuh kepada Rabbnya, meskipun hanya sekejap mata. Terdapat hadis dalam Sunan An–Nasa’i dan yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada anak beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha, untuk membaca zikir di setiap pagi dan sore, يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah semua keadaanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepadaku meskipun hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i dalam As–Sunan Al–Kubra no. 10330, dinilai hasan oleh Al–Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1913) Kembali ke bagian 1: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2)

Sikap kedua: Bertakwa dan bertawakal hanya kepada Allah Sikap kedua pada saat kita sedang menghadapi kesulitan hidup adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi pada saat kita dalam kondisi lapang, kita banyak bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan juga banyak meninggalkan kewajiban kita kepada Allah. Sehingga pada saat kita ditimpa suatu musibah yang berat, maka hal itu adalah momentum untuk memperbaiki diri kita untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala. Kita tinggalkan maksiat yang selama ini kita lakukan. Kita pun memperbanyak amal ketaatan kepada Allah. Kita perbanyak salat, baik salat wajib maupun sunah, kita perbanyak salat malam, sedekah, memperbanyak puasa, membaca Al-Quran, dan amal-amal ketaatan yang lainnya. Inilah inti ketakwaan. Jangan sebaliknya, di saat sedang ditimpa kesulitan, justru kita semakin tenggelam dalam maksiat, dan semakin malas melakukan amal ketaatan. Maka salahkan diri kita sendiri ketika pertolongan dan jalan keluar dari Allah itu tidak kunjung datang. Allah Ta’ala berjanji bahwa siapa saja yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan tunjukkan jalan keluar untuknya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Itu adalah janji dari Allah Ta’ala. Dan kalau kita perhatikan dan renungkan, dua janji tersebut terletak dalam surah Ath-Thalaq, surat yang berbicara tentang perceraian antara suami dan istri. Dan kita mengetahui bahwa perceraian adalah perkara yang berat, terlebih lagi jika pasangan tersebut telah memiliki anak. Allah Ta’ala pun ingatkan bahwa ketika sedang menghadapi perceraian, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tunaikan hak-hak pasangan, dan jangan zalim. Bisa jadi setelah bercerai, masalah justru semakin ruwet, ada dendam yang tidak berkesudahan, anak-anak terlantar dan terganggu psikologisnya, atau berlanjut ke ranah pidana, dan lain-lain. Maka bisa jadi hal itu terjadi karena kita tidak bertakwa ketika sedang dalam proses perceraian. Ketika kita sedang dalam musibah dan kesulitan, lalu tidak tampak adanya pertolongan, maka kita pun hendaknya mengintrospeksi diri kita sendiri. Apakah kita sudah memperbaiki diri kita dengan bertakwa kepada Allah? Di sana ada lebih banyak orang yang mengalami musibah dan masalah yang lebih rumit dari kita, namun Allah berikan solusi dan jalan keluar. Lalu, mengapa kita tidak? Adakah yang salah dan kurang dari diri kita? Setelah kita berusaha bertakwa kepada Allah, maka selanjutnya adalah bertawakal hanya kepada-Nya. Hakikat dari tawakal adalah amal dan ibadah hati, bersandarnya hati kita kepada Allah, berserah diri hanya kepada-Nya, dan rida dengan keputusan-Nya. Karena dia mengetahui bahwa Allah mencukupinya dan Allah akan memberikan yang terbaik apabila hamba menyerahkan urusannya kepada Allah. Namun hal ini juga harus disertai dengan upaya mengambil sebab yang diperintahkan dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Masih dalam rangkaian ayat dari surah Ath-Thalaq di atas, Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kita jumpai dalam diri kita, di saat kita sedang ada masalah, pikiran kita hanya tertuju untuk meminta tolong kepada si A, si B, dan seterusnya, namun kita melupakan Allah Ta’ala. Hati kita bersandar kepada manusia, bukan bersandar kepada Allah. Bukan berarti kita tidak boleh meminta tolong kepada makhluk selama mereka mampu, namun hendaknya kita sandarkan hati kita kepada Allah Ta’ala saja. Karena Allah-lah yang akan menggerakkan hati mereka untuk menolong kita. Bukankah sering kita jumpai, bahwa mereka yang kita mintai tolong itu, ternyata mereka juga sedang ditimpa musibah dan kesulitan? Sehingga mereka sendiri lebih sibuk memikirkan urusannya sendiri, tidak akan sempat memikirkan urusan kita. Bisa jadi mereka hanya sekedar ingin tahu saja, namun tidak bisa memberi solusi. Bisa jadi justru mereka menjauhi kita, karena mereka tidak ingin tersangkut dengan dampak masalah yang kita hadapi. Maka benarlah, pada saat di puncak kesulitan, kita lepaskan semua ketergantungan hati kita kepada makhluk, dan kita murnikan tawakal hanya kepada Allah Ta’ala. Di saat itulah, kita bisa merasakan hikmah di balik musibah dan kesulitan, yaitu kita bisa merasakan bagaimanakah praktek tawakal yang sesungguhnya. Allah ajarkan kita bagaimana tawakal yang benar pada saat di puncak kesulitan. Agar hamba tahu, dia itu hamba yang lemah, demikian juga manusia yang lain, tidak ada yang bisa menolongnya. Sedangkan Allah adalah Zat yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Sangat mudah bagi Allah untuk memberikan solusi dan jalan keluar, dan menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi. Allah turunkan pertolongan pada saat kita sudah putus asa terhadap makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, tawakal bisa terwujud dengan dua hal yang harus ada di dalam hati, sehingga seorang hamba akan bertawakal kepada Allah dengan benar: Pertama: Seorang hamba mengetahui bahwa Allah adalah tempat bergantung dan tidak ada tempat bergantung selain Dia. Dialah Rabb yang Maha mengatur dan yang menguasai segala urusan. Segala sesuatu yang Dia kehendaki, pasti terjadi; dan segala sesuatu yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman, وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) dan tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58) Semakin kuat keimanan hamba kepada Allah dan semakin baik pengenalan kepada-Nya, maka akan semakin kuat pula tawakal dan rasa harap kepada-Nya. Dia akan menyerahkan urusan kepada-Nya, dan akan menyerahkan segala kemaslahatan dan kebutuhannya terkait urusan dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Kedua: Amal hati, yaitu bersandarnya hati kepada Allah, dengan meminta perlindungan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Tidak ada di dalam hatinya keinginan berpaling kepada sebab dan bersandar kepada sebab tersebut. Akan tetapi, hatinya hanyalah bergantung kepada Allah dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya untuk seluruh kebaikan dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman tentang keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin orang yang paling bertawakal, لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُول مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوف رَّحِيم فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 128-129) Dari Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ : بِسْمِ اللهِ ، تَوكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لا حَوْلَ ولاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيْتَ وَوُقِيتَ ، وتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ “Siapa saja yang membaca saat keluar rumah, “Bismillaahi, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illa billaah” (Artinya: Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah), maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah dicukupi (segala kebutuhanmu), telah dijaga (dari segala bahaya), dan setan pun menjauh.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dinilai sahih oleh Al-Albani) Zikir ini disyariatkan untuk diucapkan setiap keluar dari rumah dan dalam seluruh masahat dunia dan agama. Karena sesungguhnya seorang hamba tidak akan bisa lepas dari butuh kepada Rabbnya, meskipun hanya sekejap mata. Terdapat hadis dalam Sunan An–Nasa’i dan yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada anak beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha, untuk membaca zikir di setiap pagi dan sore, يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah semua keadaanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepadaku meskipun hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i dalam As–Sunan Al–Kubra no. 10330, dinilai hasan oleh Al–Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1913) Kembali ke bagian 1: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup
Sikap kedua: Bertakwa dan bertawakal hanya kepada Allah Sikap kedua pada saat kita sedang menghadapi kesulitan hidup adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi pada saat kita dalam kondisi lapang, kita banyak bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan juga banyak meninggalkan kewajiban kita kepada Allah. Sehingga pada saat kita ditimpa suatu musibah yang berat, maka hal itu adalah momentum untuk memperbaiki diri kita untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala. Kita tinggalkan maksiat yang selama ini kita lakukan. Kita pun memperbanyak amal ketaatan kepada Allah. Kita perbanyak salat, baik salat wajib maupun sunah, kita perbanyak salat malam, sedekah, memperbanyak puasa, membaca Al-Quran, dan amal-amal ketaatan yang lainnya. Inilah inti ketakwaan. Jangan sebaliknya, di saat sedang ditimpa kesulitan, justru kita semakin tenggelam dalam maksiat, dan semakin malas melakukan amal ketaatan. Maka salahkan diri kita sendiri ketika pertolongan dan jalan keluar dari Allah itu tidak kunjung datang. Allah Ta’ala berjanji bahwa siapa saja yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan tunjukkan jalan keluar untuknya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Itu adalah janji dari Allah Ta’ala. Dan kalau kita perhatikan dan renungkan, dua janji tersebut terletak dalam surah Ath-Thalaq, surat yang berbicara tentang perceraian antara suami dan istri. Dan kita mengetahui bahwa perceraian adalah perkara yang berat, terlebih lagi jika pasangan tersebut telah memiliki anak. Allah Ta’ala pun ingatkan bahwa ketika sedang menghadapi perceraian, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tunaikan hak-hak pasangan, dan jangan zalim. Bisa jadi setelah bercerai, masalah justru semakin ruwet, ada dendam yang tidak berkesudahan, anak-anak terlantar dan terganggu psikologisnya, atau berlanjut ke ranah pidana, dan lain-lain. Maka bisa jadi hal itu terjadi karena kita tidak bertakwa ketika sedang dalam proses perceraian. Ketika kita sedang dalam musibah dan kesulitan, lalu tidak tampak adanya pertolongan, maka kita pun hendaknya mengintrospeksi diri kita sendiri. Apakah kita sudah memperbaiki diri kita dengan bertakwa kepada Allah? Di sana ada lebih banyak orang yang mengalami musibah dan masalah yang lebih rumit dari kita, namun Allah berikan solusi dan jalan keluar. Lalu, mengapa kita tidak? Adakah yang salah dan kurang dari diri kita? Setelah kita berusaha bertakwa kepada Allah, maka selanjutnya adalah bertawakal hanya kepada-Nya. Hakikat dari tawakal adalah amal dan ibadah hati, bersandarnya hati kita kepada Allah, berserah diri hanya kepada-Nya, dan rida dengan keputusan-Nya. Karena dia mengetahui bahwa Allah mencukupinya dan Allah akan memberikan yang terbaik apabila hamba menyerahkan urusannya kepada Allah. Namun hal ini juga harus disertai dengan upaya mengambil sebab yang diperintahkan dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Masih dalam rangkaian ayat dari surah Ath-Thalaq di atas, Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kita jumpai dalam diri kita, di saat kita sedang ada masalah, pikiran kita hanya tertuju untuk meminta tolong kepada si A, si B, dan seterusnya, namun kita melupakan Allah Ta’ala. Hati kita bersandar kepada manusia, bukan bersandar kepada Allah. Bukan berarti kita tidak boleh meminta tolong kepada makhluk selama mereka mampu, namun hendaknya kita sandarkan hati kita kepada Allah Ta’ala saja. Karena Allah-lah yang akan menggerakkan hati mereka untuk menolong kita. Bukankah sering kita jumpai, bahwa mereka yang kita mintai tolong itu, ternyata mereka juga sedang ditimpa musibah dan kesulitan? Sehingga mereka sendiri lebih sibuk memikirkan urusannya sendiri, tidak akan sempat memikirkan urusan kita. Bisa jadi mereka hanya sekedar ingin tahu saja, namun tidak bisa memberi solusi. Bisa jadi justru mereka menjauhi kita, karena mereka tidak ingin tersangkut dengan dampak masalah yang kita hadapi. Maka benarlah, pada saat di puncak kesulitan, kita lepaskan semua ketergantungan hati kita kepada makhluk, dan kita murnikan tawakal hanya kepada Allah Ta’ala. Di saat itulah, kita bisa merasakan hikmah di balik musibah dan kesulitan, yaitu kita bisa merasakan bagaimanakah praktek tawakal yang sesungguhnya. Allah ajarkan kita bagaimana tawakal yang benar pada saat di puncak kesulitan. Agar hamba tahu, dia itu hamba yang lemah, demikian juga manusia yang lain, tidak ada yang bisa menolongnya. Sedangkan Allah adalah Zat yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Sangat mudah bagi Allah untuk memberikan solusi dan jalan keluar, dan menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi. Allah turunkan pertolongan pada saat kita sudah putus asa terhadap makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, tawakal bisa terwujud dengan dua hal yang harus ada di dalam hati, sehingga seorang hamba akan bertawakal kepada Allah dengan benar: Pertama: Seorang hamba mengetahui bahwa Allah adalah tempat bergantung dan tidak ada tempat bergantung selain Dia. Dialah Rabb yang Maha mengatur dan yang menguasai segala urusan. Segala sesuatu yang Dia kehendaki, pasti terjadi; dan segala sesuatu yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman, وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) dan tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58) Semakin kuat keimanan hamba kepada Allah dan semakin baik pengenalan kepada-Nya, maka akan semakin kuat pula tawakal dan rasa harap kepada-Nya. Dia akan menyerahkan urusan kepada-Nya, dan akan menyerahkan segala kemaslahatan dan kebutuhannya terkait urusan dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Kedua: Amal hati, yaitu bersandarnya hati kepada Allah, dengan meminta perlindungan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Tidak ada di dalam hatinya keinginan berpaling kepada sebab dan bersandar kepada sebab tersebut. Akan tetapi, hatinya hanyalah bergantung kepada Allah dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya untuk seluruh kebaikan dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman tentang keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin orang yang paling bertawakal, لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُول مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوف رَّحِيم فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 128-129) Dari Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ : بِسْمِ اللهِ ، تَوكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لا حَوْلَ ولاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيْتَ وَوُقِيتَ ، وتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ “Siapa saja yang membaca saat keluar rumah, “Bismillaahi, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illa billaah” (Artinya: Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah), maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah dicukupi (segala kebutuhanmu), telah dijaga (dari segala bahaya), dan setan pun menjauh.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dinilai sahih oleh Al-Albani) Zikir ini disyariatkan untuk diucapkan setiap keluar dari rumah dan dalam seluruh masahat dunia dan agama. Karena sesungguhnya seorang hamba tidak akan bisa lepas dari butuh kepada Rabbnya, meskipun hanya sekejap mata. Terdapat hadis dalam Sunan An–Nasa’i dan yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada anak beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha, untuk membaca zikir di setiap pagi dan sore, يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah semua keadaanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepadaku meskipun hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i dalam As–Sunan Al–Kubra no. 10330, dinilai hasan oleh Al–Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1913) Kembali ke bagian 1: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup


Sikap kedua: Bertakwa dan bertawakal hanya kepada Allah Sikap kedua pada saat kita sedang menghadapi kesulitan hidup adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi pada saat kita dalam kondisi lapang, kita banyak bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan juga banyak meninggalkan kewajiban kita kepada Allah. Sehingga pada saat kita ditimpa suatu musibah yang berat, maka hal itu adalah momentum untuk memperbaiki diri kita untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala. Kita tinggalkan maksiat yang selama ini kita lakukan. Kita pun memperbanyak amal ketaatan kepada Allah. Kita perbanyak salat, baik salat wajib maupun sunah, kita perbanyak salat malam, sedekah, memperbanyak puasa, membaca Al-Quran, dan amal-amal ketaatan yang lainnya. Inilah inti ketakwaan. Jangan sebaliknya, di saat sedang ditimpa kesulitan, justru kita semakin tenggelam dalam maksiat, dan semakin malas melakukan amal ketaatan. Maka salahkan diri kita sendiri ketika pertolongan dan jalan keluar dari Allah itu tidak kunjung datang. Allah Ta’ala berjanji bahwa siapa saja yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan tunjukkan jalan keluar untuknya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Itu adalah janji dari Allah Ta’ala. Dan kalau kita perhatikan dan renungkan, dua janji tersebut terletak dalam surah Ath-Thalaq, surat yang berbicara tentang perceraian antara suami dan istri. Dan kita mengetahui bahwa perceraian adalah perkara yang berat, terlebih lagi jika pasangan tersebut telah memiliki anak. Allah Ta’ala pun ingatkan bahwa ketika sedang menghadapi perceraian, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tunaikan hak-hak pasangan, dan jangan zalim. Bisa jadi setelah bercerai, masalah justru semakin ruwet, ada dendam yang tidak berkesudahan, anak-anak terlantar dan terganggu psikologisnya, atau berlanjut ke ranah pidana, dan lain-lain. Maka bisa jadi hal itu terjadi karena kita tidak bertakwa ketika sedang dalam proses perceraian. Ketika kita sedang dalam musibah dan kesulitan, lalu tidak tampak adanya pertolongan, maka kita pun hendaknya mengintrospeksi diri kita sendiri. Apakah kita sudah memperbaiki diri kita dengan bertakwa kepada Allah? Di sana ada lebih banyak orang yang mengalami musibah dan masalah yang lebih rumit dari kita, namun Allah berikan solusi dan jalan keluar. Lalu, mengapa kita tidak? Adakah yang salah dan kurang dari diri kita? Setelah kita berusaha bertakwa kepada Allah, maka selanjutnya adalah bertawakal hanya kepada-Nya. Hakikat dari tawakal adalah amal dan ibadah hati, bersandarnya hati kita kepada Allah, berserah diri hanya kepada-Nya, dan rida dengan keputusan-Nya. Karena dia mengetahui bahwa Allah mencukupinya dan Allah akan memberikan yang terbaik apabila hamba menyerahkan urusannya kepada Allah. Namun hal ini juga harus disertai dengan upaya mengambil sebab yang diperintahkan dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Masih dalam rangkaian ayat dari surah Ath-Thalaq di atas, Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kita jumpai dalam diri kita, di saat kita sedang ada masalah, pikiran kita hanya tertuju untuk meminta tolong kepada si A, si B, dan seterusnya, namun kita melupakan Allah Ta’ala. Hati kita bersandar kepada manusia, bukan bersandar kepada Allah. Bukan berarti kita tidak boleh meminta tolong kepada makhluk selama mereka mampu, namun hendaknya kita sandarkan hati kita kepada Allah Ta’ala saja. Karena Allah-lah yang akan menggerakkan hati mereka untuk menolong kita. Bukankah sering kita jumpai, bahwa mereka yang kita mintai tolong itu, ternyata mereka juga sedang ditimpa musibah dan kesulitan? Sehingga mereka sendiri lebih sibuk memikirkan urusannya sendiri, tidak akan sempat memikirkan urusan kita. Bisa jadi mereka hanya sekedar ingin tahu saja, namun tidak bisa memberi solusi. Bisa jadi justru mereka menjauhi kita, karena mereka tidak ingin tersangkut dengan dampak masalah yang kita hadapi. Maka benarlah, pada saat di puncak kesulitan, kita lepaskan semua ketergantungan hati kita kepada makhluk, dan kita murnikan tawakal hanya kepada Allah Ta’ala. Di saat itulah, kita bisa merasakan hikmah di balik musibah dan kesulitan, yaitu kita bisa merasakan bagaimanakah praktek tawakal yang sesungguhnya. Allah ajarkan kita bagaimana tawakal yang benar pada saat di puncak kesulitan. Agar hamba tahu, dia itu hamba yang lemah, demikian juga manusia yang lain, tidak ada yang bisa menolongnya. Sedangkan Allah adalah Zat yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Sangat mudah bagi Allah untuk memberikan solusi dan jalan keluar, dan menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi. Allah turunkan pertolongan pada saat kita sudah putus asa terhadap makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, tawakal bisa terwujud dengan dua hal yang harus ada di dalam hati, sehingga seorang hamba akan bertawakal kepada Allah dengan benar: Pertama: Seorang hamba mengetahui bahwa Allah adalah tempat bergantung dan tidak ada tempat bergantung selain Dia. Dialah Rabb yang Maha mengatur dan yang menguasai segala urusan. Segala sesuatu yang Dia kehendaki, pasti terjadi; dan segala sesuatu yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman, وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) dan tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58) Semakin kuat keimanan hamba kepada Allah dan semakin baik pengenalan kepada-Nya, maka akan semakin kuat pula tawakal dan rasa harap kepada-Nya. Dia akan menyerahkan urusan kepada-Nya, dan akan menyerahkan segala kemaslahatan dan kebutuhannya terkait urusan dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Kedua: Amal hati, yaitu bersandarnya hati kepada Allah, dengan meminta perlindungan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Tidak ada di dalam hatinya keinginan berpaling kepada sebab dan bersandar kepada sebab tersebut. Akan tetapi, hatinya hanyalah bergantung kepada Allah dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya untuk seluruh kebaikan dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman tentang keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin orang yang paling bertawakal, لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُول مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوف رَّحِيم فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 128-129) Dari Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ : بِسْمِ اللهِ ، تَوكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لا حَوْلَ ولاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيْتَ وَوُقِيتَ ، وتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ “Siapa saja yang membaca saat keluar rumah, “Bismillaahi, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illa billaah” (Artinya: Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah), maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah dicukupi (segala kebutuhanmu), telah dijaga (dari segala bahaya), dan setan pun menjauh.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dinilai sahih oleh Al-Albani) Zikir ini disyariatkan untuk diucapkan setiap keluar dari rumah dan dalam seluruh masahat dunia dan agama. Karena sesungguhnya seorang hamba tidak akan bisa lepas dari butuh kepada Rabbnya, meskipun hanya sekejap mata. Terdapat hadis dalam Sunan An–Nasa’i dan yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada anak beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha, untuk membaca zikir di setiap pagi dan sore, يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah semua keadaanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepadaku meskipun hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i dalam As–Sunan Al–Kubra no. 10330, dinilai hasan oleh Al–Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1913) Kembali ke bagian 1: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup

Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Nasihat adalah perangai keimananNasihat adalah karakteristik orang-orang muliaFitrah orang beriman adalah menyukai nasihatNasihat merupakan lambang dari kasih sayangNasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufikNasihat merupakan hakikat dari agamaDalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihatDalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihatSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihatAbu Bakr unggul karena sebab nasihat Nasihat adalah suatu hal yang sarat akan ajaran agama Islam. Agama Islam sangat masyhur terhadap keistimewaannya berupa nasihat. Sejatinya nasihat tidak hanya dibutuhkan oleh hati-hati yang lalai atau hati-hati yang sudah mulai merunduk kepada dosa dan maksiat. Nasihat juga dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang mulai berpaling dari Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai pengingat untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Bahkan, nasihat ini menjadi hal yang sangat ditekankan dalam agama ini. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ( ١ ) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ ( ٢ ) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ( ٣ ) “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkategorikan nasihat termasuk dari enam hal yang menjadi hak sesama muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim no. 4023) Karena pentingnya tentang nasihat ini, terdapat sebuah risalah yang ditulis oleh Syekh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah yang berjudul “Fadhlu An-Nushi Lil-Muslimin” (Keutamaan menasihati kaum muslimin). Risalah yang ditujukan untuk kaum muslimin secara umum dan secara khusus untuk para penuntut ilmu dan para da’i sebagai tumpuan dalam menapaki jalan-jalan dakwah yang terjal dan penuh rintangan. Agar tetap kuat dan bersabar dalam menasihati dan membimbing kaum muslimin kepada jalan kebenaran. Nasihat adalah perangai keimanan Sesungguhnya nasihat adalah perangai teragung dari keimanan. Terlihat jelas bahwa orang-orang yang beriman sangat cinta terhadap nasihat sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-‘Ashr. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak suka terhadap nasihat. Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam, وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf: 79) Nasihat adalah karakteristik orang-orang mulia Nasihat adalah karakteristik orang-orang yang mulia. Karena orang-orang yang mulia pasti mencintai sebuah nasihat. Nasihat merupakan bukti dari sebuah kejujuran, ketulusan, dan bukti dari sebuah cinta. Karena jika seseorang mengetahui sebuah kebaikan, dia ingin orang lain mengetahui dan melakukan kebaikan yang serupa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 12) Fitrah orang beriman adalah menyukai nasihat Hal ini merupakan fitrah dari orang yang beriman. Karena orang yang beriman akan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ketika dia mengetahui sebuah kebaikan, maka tentu dia pun senang tatkala saudaranya mengetahui kebaikan yang sama. Sebaliknya orang yang rusak fitrahnya, ia tidak akan menyukai nasihat. Bahkan, sulit baginya untuk menerima nasihat. Sehingga, kewajiban kita untuk menasihatinya. Kalau ia tidak ingin menerima nasihat, maka kita tidak lagi menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ “Oleh sebab itu, berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al ‘Ala: 9) Sebagian ulama menafsirkan إنْ dengan syarthiyyah. Sehingga, maknanya adalah berikanlah manfaat jika peringatan itu bermanfaat. Jika peringatan itu tidak bermanfaat, maka jangan berikan kembali peringatan atau nasihat tersebut. Namun, sejatinya manfaat itu akan kembali kepada orang yang menasihati, baik nasihat itu diterima ataupun tidak. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal.164 karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin) Nasihat merupakan lambang dari kasih sayang Nasihat merupakan sebuah lambang dari kasih sayang. Sebagaimana orang tua yang sayang dan cinta kepada anak-anaknya, tentu ia akan menasihati anaknya untuk senantiasa melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tidak membiarkan anak-anaknya tenggelam di dalam dosa dan maksiat. Suami yang cinta terhadap istrinya, ia akan senantiasa memberikan arahan dan nasihat terhadap istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Malik bin Huwairits ketika hendak pulang ke kampungnya, ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ “Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka. Ajarilah mereka dan perintahkan (untuk salat).” (HR. Bukhari no. 631) Nasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufik Nasihat juga merupakan tanda seseorang memperoleh taufik dari Allah Ta’ala. Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan taufik adalah seseorang berusaha untuk memberikan nasihat. Di antaranya juga adalah seseorang menerima nasihat. Dalam menerima nasihat, manusia terbagi menjadi empat tingkatan: Pertama: Menasihati dan menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling utama. Kedua: Tidak menasihati dan tidak menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling buruk Ketiga: Tidak menasihati dan menerima nasihat. Keempat: Menasihati dan tidak menerima nasihat. Baca juga: Nasihat untuk Para Pencari Kerja Nasihat merupakan hakikat dari agama Dan nasihat merupakan hakikat dari agama yang sesungguhnya. Karena agama Islam dibangun di atas nasihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55) Dalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihat Oleh karena itu, para nabi dan rasul memiliki karakter sebagai “penasihat”. Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala berbicara dengan kaumnya. Allah berfirman, أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku. Dan aku memberi nasihat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62) Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam, أُبَلِّغُڪُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنَا۟ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ “Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf: 68) Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihis salam, فَتَوَلَّىٰ عَنۡہُمۡ وَقَالَ يَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُڪُمۡ رِسَالَةَ رَبِّى وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Maka, Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (QS. Al-A’raf: 79) Dalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihat Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan nasihat kepada kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ “Aku telah membai’at Rasulullah untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari no. 524 dan Muslim no. 56) Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, إِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَشَرَطَ عَلَيَّ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فَبَايَعْتُهُ عَلَى هَذَا “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata, ‘Aku membai’at engkau untuk Islam.’ Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syarat, ‘Dan menasihati kepada setiap muslim.’ Maka, aku membai’at beliau untuk perkara itu.” (HR. Bukhari no. 58) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihat Mengingat betapa agungnya kedudukan nasihat dalam agama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan agama dengan nasihat, karena nasihat mencakup agama. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka.” (HR. Muslim no. 55) Nasihat merupakan bukti akan kejujuran. Sebagaimana lawan kata dari “nasihat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang al-ghisy (penipuan) yang menafikan nasihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barangsiapa menghunuskan pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 101) Abu Bakr unggul karena sebab nasihat Dengan sebab nasihat, para sahabat dan para salaf mendahului orang-orang saleh yang lain. Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy [1] rahimahullah pernah berkata, مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِيْ صَدْرِهِ “Abu Bakr tidak mendahului mereka (sahabat yang lain) dalam hal banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, Abu Bakr mendahului mereka dari keimanan yang menetap di dalam hatinya.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hal. 48. Lihat juga Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Sebagian ulama menjelaskan perkataan di atas dengan mengatakan, الذِّي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةِ لِخَلْقِهِ “Yang menetap kuat di dalam hati Abu Bakr adalah kecintaan kepada Allah dan mencintai untuk menasihati hamba-hamba-Nya.” (Lihat Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Lanjut ke bagian 2: Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 2) *** Depok, 22 Januari 2024/10 Rajab 1445 Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekh Ibrahim menulis perkataan ini dari Abu Bakr Al-Maziniy. Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Minhajus Sunnah (6: 223) dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy. Di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid (hal. 48) disebutkan dari Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy. Demikian pula yang disebutkan Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif. Lihat juga Tafsir Suratul Ahzab karya Syekh Ibnu Utsaimin (hal. 104). Barangkali yang benar adalah Bakr Al-Muzaniy sebagaimana asalnya Syekh menukil dari kitab Latha’iful Ma’arif (hal. 254). Tags: nasihat

Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Nasihat adalah perangai keimananNasihat adalah karakteristik orang-orang muliaFitrah orang beriman adalah menyukai nasihatNasihat merupakan lambang dari kasih sayangNasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufikNasihat merupakan hakikat dari agamaDalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihatDalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihatSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihatAbu Bakr unggul karena sebab nasihat Nasihat adalah suatu hal yang sarat akan ajaran agama Islam. Agama Islam sangat masyhur terhadap keistimewaannya berupa nasihat. Sejatinya nasihat tidak hanya dibutuhkan oleh hati-hati yang lalai atau hati-hati yang sudah mulai merunduk kepada dosa dan maksiat. Nasihat juga dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang mulai berpaling dari Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai pengingat untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Bahkan, nasihat ini menjadi hal yang sangat ditekankan dalam agama ini. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ( ١ ) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ ( ٢ ) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ( ٣ ) “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkategorikan nasihat termasuk dari enam hal yang menjadi hak sesama muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim no. 4023) Karena pentingnya tentang nasihat ini, terdapat sebuah risalah yang ditulis oleh Syekh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah yang berjudul “Fadhlu An-Nushi Lil-Muslimin” (Keutamaan menasihati kaum muslimin). Risalah yang ditujukan untuk kaum muslimin secara umum dan secara khusus untuk para penuntut ilmu dan para da’i sebagai tumpuan dalam menapaki jalan-jalan dakwah yang terjal dan penuh rintangan. Agar tetap kuat dan bersabar dalam menasihati dan membimbing kaum muslimin kepada jalan kebenaran. Nasihat adalah perangai keimanan Sesungguhnya nasihat adalah perangai teragung dari keimanan. Terlihat jelas bahwa orang-orang yang beriman sangat cinta terhadap nasihat sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-‘Ashr. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak suka terhadap nasihat. Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam, وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf: 79) Nasihat adalah karakteristik orang-orang mulia Nasihat adalah karakteristik orang-orang yang mulia. Karena orang-orang yang mulia pasti mencintai sebuah nasihat. Nasihat merupakan bukti dari sebuah kejujuran, ketulusan, dan bukti dari sebuah cinta. Karena jika seseorang mengetahui sebuah kebaikan, dia ingin orang lain mengetahui dan melakukan kebaikan yang serupa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 12) Fitrah orang beriman adalah menyukai nasihat Hal ini merupakan fitrah dari orang yang beriman. Karena orang yang beriman akan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ketika dia mengetahui sebuah kebaikan, maka tentu dia pun senang tatkala saudaranya mengetahui kebaikan yang sama. Sebaliknya orang yang rusak fitrahnya, ia tidak akan menyukai nasihat. Bahkan, sulit baginya untuk menerima nasihat. Sehingga, kewajiban kita untuk menasihatinya. Kalau ia tidak ingin menerima nasihat, maka kita tidak lagi menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ “Oleh sebab itu, berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al ‘Ala: 9) Sebagian ulama menafsirkan إنْ dengan syarthiyyah. Sehingga, maknanya adalah berikanlah manfaat jika peringatan itu bermanfaat. Jika peringatan itu tidak bermanfaat, maka jangan berikan kembali peringatan atau nasihat tersebut. Namun, sejatinya manfaat itu akan kembali kepada orang yang menasihati, baik nasihat itu diterima ataupun tidak. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal.164 karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin) Nasihat merupakan lambang dari kasih sayang Nasihat merupakan sebuah lambang dari kasih sayang. Sebagaimana orang tua yang sayang dan cinta kepada anak-anaknya, tentu ia akan menasihati anaknya untuk senantiasa melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tidak membiarkan anak-anaknya tenggelam di dalam dosa dan maksiat. Suami yang cinta terhadap istrinya, ia akan senantiasa memberikan arahan dan nasihat terhadap istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Malik bin Huwairits ketika hendak pulang ke kampungnya, ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ “Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka. Ajarilah mereka dan perintahkan (untuk salat).” (HR. Bukhari no. 631) Nasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufik Nasihat juga merupakan tanda seseorang memperoleh taufik dari Allah Ta’ala. Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan taufik adalah seseorang berusaha untuk memberikan nasihat. Di antaranya juga adalah seseorang menerima nasihat. Dalam menerima nasihat, manusia terbagi menjadi empat tingkatan: Pertama: Menasihati dan menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling utama. Kedua: Tidak menasihati dan tidak menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling buruk Ketiga: Tidak menasihati dan menerima nasihat. Keempat: Menasihati dan tidak menerima nasihat. Baca juga: Nasihat untuk Para Pencari Kerja Nasihat merupakan hakikat dari agama Dan nasihat merupakan hakikat dari agama yang sesungguhnya. Karena agama Islam dibangun di atas nasihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55) Dalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihat Oleh karena itu, para nabi dan rasul memiliki karakter sebagai “penasihat”. Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala berbicara dengan kaumnya. Allah berfirman, أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku. Dan aku memberi nasihat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62) Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam, أُبَلِّغُڪُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنَا۟ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ “Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf: 68) Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihis salam, فَتَوَلَّىٰ عَنۡہُمۡ وَقَالَ يَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُڪُمۡ رِسَالَةَ رَبِّى وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Maka, Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (QS. Al-A’raf: 79) Dalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihat Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan nasihat kepada kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ “Aku telah membai’at Rasulullah untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari no. 524 dan Muslim no. 56) Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, إِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَشَرَطَ عَلَيَّ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فَبَايَعْتُهُ عَلَى هَذَا “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata, ‘Aku membai’at engkau untuk Islam.’ Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syarat, ‘Dan menasihati kepada setiap muslim.’ Maka, aku membai’at beliau untuk perkara itu.” (HR. Bukhari no. 58) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihat Mengingat betapa agungnya kedudukan nasihat dalam agama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan agama dengan nasihat, karena nasihat mencakup agama. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka.” (HR. Muslim no. 55) Nasihat merupakan bukti akan kejujuran. Sebagaimana lawan kata dari “nasihat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang al-ghisy (penipuan) yang menafikan nasihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barangsiapa menghunuskan pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 101) Abu Bakr unggul karena sebab nasihat Dengan sebab nasihat, para sahabat dan para salaf mendahului orang-orang saleh yang lain. Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy [1] rahimahullah pernah berkata, مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِيْ صَدْرِهِ “Abu Bakr tidak mendahului mereka (sahabat yang lain) dalam hal banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, Abu Bakr mendahului mereka dari keimanan yang menetap di dalam hatinya.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hal. 48. Lihat juga Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Sebagian ulama menjelaskan perkataan di atas dengan mengatakan, الذِّي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةِ لِخَلْقِهِ “Yang menetap kuat di dalam hati Abu Bakr adalah kecintaan kepada Allah dan mencintai untuk menasihati hamba-hamba-Nya.” (Lihat Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Lanjut ke bagian 2: Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 2) *** Depok, 22 Januari 2024/10 Rajab 1445 Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekh Ibrahim menulis perkataan ini dari Abu Bakr Al-Maziniy. Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Minhajus Sunnah (6: 223) dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy. Di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid (hal. 48) disebutkan dari Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy. Demikian pula yang disebutkan Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif. Lihat juga Tafsir Suratul Ahzab karya Syekh Ibnu Utsaimin (hal. 104). Barangkali yang benar adalah Bakr Al-Muzaniy sebagaimana asalnya Syekh menukil dari kitab Latha’iful Ma’arif (hal. 254). Tags: nasihat
Daftar Isi Toggle Nasihat adalah perangai keimananNasihat adalah karakteristik orang-orang muliaFitrah orang beriman adalah menyukai nasihatNasihat merupakan lambang dari kasih sayangNasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufikNasihat merupakan hakikat dari agamaDalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihatDalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihatSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihatAbu Bakr unggul karena sebab nasihat Nasihat adalah suatu hal yang sarat akan ajaran agama Islam. Agama Islam sangat masyhur terhadap keistimewaannya berupa nasihat. Sejatinya nasihat tidak hanya dibutuhkan oleh hati-hati yang lalai atau hati-hati yang sudah mulai merunduk kepada dosa dan maksiat. Nasihat juga dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang mulai berpaling dari Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai pengingat untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Bahkan, nasihat ini menjadi hal yang sangat ditekankan dalam agama ini. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ( ١ ) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ ( ٢ ) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ( ٣ ) “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkategorikan nasihat termasuk dari enam hal yang menjadi hak sesama muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim no. 4023) Karena pentingnya tentang nasihat ini, terdapat sebuah risalah yang ditulis oleh Syekh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah yang berjudul “Fadhlu An-Nushi Lil-Muslimin” (Keutamaan menasihati kaum muslimin). Risalah yang ditujukan untuk kaum muslimin secara umum dan secara khusus untuk para penuntut ilmu dan para da’i sebagai tumpuan dalam menapaki jalan-jalan dakwah yang terjal dan penuh rintangan. Agar tetap kuat dan bersabar dalam menasihati dan membimbing kaum muslimin kepada jalan kebenaran. Nasihat adalah perangai keimanan Sesungguhnya nasihat adalah perangai teragung dari keimanan. Terlihat jelas bahwa orang-orang yang beriman sangat cinta terhadap nasihat sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-‘Ashr. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak suka terhadap nasihat. Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam, وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf: 79) Nasihat adalah karakteristik orang-orang mulia Nasihat adalah karakteristik orang-orang yang mulia. Karena orang-orang yang mulia pasti mencintai sebuah nasihat. Nasihat merupakan bukti dari sebuah kejujuran, ketulusan, dan bukti dari sebuah cinta. Karena jika seseorang mengetahui sebuah kebaikan, dia ingin orang lain mengetahui dan melakukan kebaikan yang serupa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 12) Fitrah orang beriman adalah menyukai nasihat Hal ini merupakan fitrah dari orang yang beriman. Karena orang yang beriman akan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ketika dia mengetahui sebuah kebaikan, maka tentu dia pun senang tatkala saudaranya mengetahui kebaikan yang sama. Sebaliknya orang yang rusak fitrahnya, ia tidak akan menyukai nasihat. Bahkan, sulit baginya untuk menerima nasihat. Sehingga, kewajiban kita untuk menasihatinya. Kalau ia tidak ingin menerima nasihat, maka kita tidak lagi menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ “Oleh sebab itu, berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al ‘Ala: 9) Sebagian ulama menafsirkan إنْ dengan syarthiyyah. Sehingga, maknanya adalah berikanlah manfaat jika peringatan itu bermanfaat. Jika peringatan itu tidak bermanfaat, maka jangan berikan kembali peringatan atau nasihat tersebut. Namun, sejatinya manfaat itu akan kembali kepada orang yang menasihati, baik nasihat itu diterima ataupun tidak. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal.164 karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin) Nasihat merupakan lambang dari kasih sayang Nasihat merupakan sebuah lambang dari kasih sayang. Sebagaimana orang tua yang sayang dan cinta kepada anak-anaknya, tentu ia akan menasihati anaknya untuk senantiasa melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tidak membiarkan anak-anaknya tenggelam di dalam dosa dan maksiat. Suami yang cinta terhadap istrinya, ia akan senantiasa memberikan arahan dan nasihat terhadap istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Malik bin Huwairits ketika hendak pulang ke kampungnya, ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ “Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka. Ajarilah mereka dan perintahkan (untuk salat).” (HR. Bukhari no. 631) Nasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufik Nasihat juga merupakan tanda seseorang memperoleh taufik dari Allah Ta’ala. Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan taufik adalah seseorang berusaha untuk memberikan nasihat. Di antaranya juga adalah seseorang menerima nasihat. Dalam menerima nasihat, manusia terbagi menjadi empat tingkatan: Pertama: Menasihati dan menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling utama. Kedua: Tidak menasihati dan tidak menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling buruk Ketiga: Tidak menasihati dan menerima nasihat. Keempat: Menasihati dan tidak menerima nasihat. Baca juga: Nasihat untuk Para Pencari Kerja Nasihat merupakan hakikat dari agama Dan nasihat merupakan hakikat dari agama yang sesungguhnya. Karena agama Islam dibangun di atas nasihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55) Dalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihat Oleh karena itu, para nabi dan rasul memiliki karakter sebagai “penasihat”. Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala berbicara dengan kaumnya. Allah berfirman, أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku. Dan aku memberi nasihat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62) Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam, أُبَلِّغُڪُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنَا۟ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ “Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf: 68) Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihis salam, فَتَوَلَّىٰ عَنۡہُمۡ وَقَالَ يَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُڪُمۡ رِسَالَةَ رَبِّى وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Maka, Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (QS. Al-A’raf: 79) Dalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihat Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan nasihat kepada kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ “Aku telah membai’at Rasulullah untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari no. 524 dan Muslim no. 56) Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, إِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَشَرَطَ عَلَيَّ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فَبَايَعْتُهُ عَلَى هَذَا “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata, ‘Aku membai’at engkau untuk Islam.’ Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syarat, ‘Dan menasihati kepada setiap muslim.’ Maka, aku membai’at beliau untuk perkara itu.” (HR. Bukhari no. 58) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihat Mengingat betapa agungnya kedudukan nasihat dalam agama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan agama dengan nasihat, karena nasihat mencakup agama. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka.” (HR. Muslim no. 55) Nasihat merupakan bukti akan kejujuran. Sebagaimana lawan kata dari “nasihat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang al-ghisy (penipuan) yang menafikan nasihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barangsiapa menghunuskan pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 101) Abu Bakr unggul karena sebab nasihat Dengan sebab nasihat, para sahabat dan para salaf mendahului orang-orang saleh yang lain. Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy [1] rahimahullah pernah berkata, مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِيْ صَدْرِهِ “Abu Bakr tidak mendahului mereka (sahabat yang lain) dalam hal banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, Abu Bakr mendahului mereka dari keimanan yang menetap di dalam hatinya.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hal. 48. Lihat juga Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Sebagian ulama menjelaskan perkataan di atas dengan mengatakan, الذِّي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةِ لِخَلْقِهِ “Yang menetap kuat di dalam hati Abu Bakr adalah kecintaan kepada Allah dan mencintai untuk menasihati hamba-hamba-Nya.” (Lihat Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Lanjut ke bagian 2: Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 2) *** Depok, 22 Januari 2024/10 Rajab 1445 Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekh Ibrahim menulis perkataan ini dari Abu Bakr Al-Maziniy. Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Minhajus Sunnah (6: 223) dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy. Di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid (hal. 48) disebutkan dari Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy. Demikian pula yang disebutkan Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif. Lihat juga Tafsir Suratul Ahzab karya Syekh Ibnu Utsaimin (hal. 104). Barangkali yang benar adalah Bakr Al-Muzaniy sebagaimana asalnya Syekh menukil dari kitab Latha’iful Ma’arif (hal. 254). Tags: nasihat


Daftar Isi Toggle Nasihat adalah perangai keimananNasihat adalah karakteristik orang-orang muliaFitrah orang beriman adalah menyukai nasihatNasihat merupakan lambang dari kasih sayangNasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufikNasihat merupakan hakikat dari agamaDalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihatDalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihatSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihatAbu Bakr unggul karena sebab nasihat Nasihat adalah suatu hal yang sarat akan ajaran agama Islam. Agama Islam sangat masyhur terhadap keistimewaannya berupa nasihat. Sejatinya nasihat tidak hanya dibutuhkan oleh hati-hati yang lalai atau hati-hati yang sudah mulai merunduk kepada dosa dan maksiat. Nasihat juga dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang mulai berpaling dari Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai pengingat untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Bahkan, nasihat ini menjadi hal yang sangat ditekankan dalam agama ini. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ( ١ ) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ ( ٢ ) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ( ٣ ) “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkategorikan nasihat termasuk dari enam hal yang menjadi hak sesama muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim no. 4023) Karena pentingnya tentang nasihat ini, terdapat sebuah risalah yang ditulis oleh Syekh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah yang berjudul “Fadhlu An-Nushi Lil-Muslimin” (Keutamaan menasihati kaum muslimin). Risalah yang ditujukan untuk kaum muslimin secara umum dan secara khusus untuk para penuntut ilmu dan para da’i sebagai tumpuan dalam menapaki jalan-jalan dakwah yang terjal dan penuh rintangan. Agar tetap kuat dan bersabar dalam menasihati dan membimbing kaum muslimin kepada jalan kebenaran. Nasihat adalah perangai keimanan Sesungguhnya nasihat adalah perangai teragung dari keimanan. Terlihat jelas bahwa orang-orang yang beriman sangat cinta terhadap nasihat sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-‘Ashr. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak suka terhadap nasihat. Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam, وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf: 79) Nasihat adalah karakteristik orang-orang mulia Nasihat adalah karakteristik orang-orang yang mulia. Karena orang-orang yang mulia pasti mencintai sebuah nasihat. Nasihat merupakan bukti dari sebuah kejujuran, ketulusan, dan bukti dari sebuah cinta. Karena jika seseorang mengetahui sebuah kebaikan, dia ingin orang lain mengetahui dan melakukan kebaikan yang serupa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 12) Fitrah orang beriman adalah menyukai nasihat Hal ini merupakan fitrah dari orang yang beriman. Karena orang yang beriman akan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ketika dia mengetahui sebuah kebaikan, maka tentu dia pun senang tatkala saudaranya mengetahui kebaikan yang sama. Sebaliknya orang yang rusak fitrahnya, ia tidak akan menyukai nasihat. Bahkan, sulit baginya untuk menerima nasihat. Sehingga, kewajiban kita untuk menasihatinya. Kalau ia tidak ingin menerima nasihat, maka kita tidak lagi menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ “Oleh sebab itu, berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al ‘Ala: 9) Sebagian ulama menafsirkan إنْ dengan syarthiyyah. Sehingga, maknanya adalah berikanlah manfaat jika peringatan itu bermanfaat. Jika peringatan itu tidak bermanfaat, maka jangan berikan kembali peringatan atau nasihat tersebut. Namun, sejatinya manfaat itu akan kembali kepada orang yang menasihati, baik nasihat itu diterima ataupun tidak. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal.164 karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin) Nasihat merupakan lambang dari kasih sayang Nasihat merupakan sebuah lambang dari kasih sayang. Sebagaimana orang tua yang sayang dan cinta kepada anak-anaknya, tentu ia akan menasihati anaknya untuk senantiasa melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tidak membiarkan anak-anaknya tenggelam di dalam dosa dan maksiat. Suami yang cinta terhadap istrinya, ia akan senantiasa memberikan arahan dan nasihat terhadap istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Malik bin Huwairits ketika hendak pulang ke kampungnya, ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ “Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka. Ajarilah mereka dan perintahkan (untuk salat).” (HR. Bukhari no. 631) Nasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufik Nasihat juga merupakan tanda seseorang memperoleh taufik dari Allah Ta’ala. Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan taufik adalah seseorang berusaha untuk memberikan nasihat. Di antaranya juga adalah seseorang menerima nasihat. Dalam menerima nasihat, manusia terbagi menjadi empat tingkatan: Pertama: Menasihati dan menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling utama. Kedua: Tidak menasihati dan tidak menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling buruk Ketiga: Tidak menasihati dan menerima nasihat. Keempat: Menasihati dan tidak menerima nasihat. Baca juga: Nasihat untuk Para Pencari Kerja Nasihat merupakan hakikat dari agama Dan nasihat merupakan hakikat dari agama yang sesungguhnya. Karena agama Islam dibangun di atas nasihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55) Dalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihat Oleh karena itu, para nabi dan rasul memiliki karakter sebagai “penasihat”. Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala berbicara dengan kaumnya. Allah berfirman, أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku. Dan aku memberi nasihat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62) Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam, أُبَلِّغُڪُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنَا۟ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ “Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf: 68) Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihis salam, فَتَوَلَّىٰ عَنۡہُمۡ وَقَالَ يَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُڪُمۡ رِسَالَةَ رَبِّى وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ “Maka, Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (QS. Al-A’raf: 79) Dalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihat Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan nasihat kepada kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ “Aku telah membai’at Rasulullah untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari no. 524 dan Muslim no. 56) Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, إِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَشَرَطَ عَلَيَّ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فَبَايَعْتُهُ عَلَى هَذَا “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata, ‘Aku membai’at engkau untuk Islam.’ Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syarat, ‘Dan menasihati kepada setiap muslim.’ Maka, aku membai’at beliau untuk perkara itu.” (HR. Bukhari no. 58) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihat Mengingat betapa agungnya kedudukan nasihat dalam agama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan agama dengan nasihat, karena nasihat mencakup agama. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka.” (HR. Muslim no. 55) Nasihat merupakan bukti akan kejujuran. Sebagaimana lawan kata dari “nasihat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang al-ghisy (penipuan) yang menafikan nasihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barangsiapa menghunuskan pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 101) Abu Bakr unggul karena sebab nasihat Dengan sebab nasihat, para sahabat dan para salaf mendahului orang-orang saleh yang lain. Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy [1] rahimahullah pernah berkata, مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِيْ صَدْرِهِ “Abu Bakr tidak mendahului mereka (sahabat yang lain) dalam hal banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, Abu Bakr mendahului mereka dari keimanan yang menetap di dalam hatinya.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hal. 48. Lihat juga Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Sebagian ulama menjelaskan perkataan di atas dengan mengatakan, الذِّي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةِ لِخَلْقِهِ “Yang menetap kuat di dalam hati Abu Bakr adalah kecintaan kepada Allah dan mencintai untuk menasihati hamba-hamba-Nya.” (Lihat Latha’iful Ma’arif, hal. 254) Lanjut ke bagian 2: Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 2) *** Depok, 22 Januari 2024/10 Rajab 1445 Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Syekh Ibrahim menulis perkataan ini dari Abu Bakr Al-Maziniy. Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Minhajus Sunnah (6: 223) dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy. Di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid (hal. 48) disebutkan dari Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy. Demikian pula yang disebutkan Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif. Lihat juga Tafsir Suratul Ahzab karya Syekh Ibnu Utsaimin (hal. 104). Barangkali yang benar adalah Bakr Al-Muzaniy sebagaimana asalnya Syekh menukil dari kitab Latha’iful Ma’arif (hal. 254). Tags: nasihat

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1)

Dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Keberadaan seorang hamba di dunia ini tidak lain untuk diuji, kemudian dikembalikan lagi kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, كُلُّ نَفۡس ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35) Kehidupan kita di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian, musibah, dan cobaan. Dalam hidup ini, bisa jadi terdapat suatu masa ketika kita mendapatkan ujian dan musibah yang begitu pelik dan rumit, seolah-olah semua jalan keluar sudah buntu, dan semua harapan sudah terputus. Dan bisa jadi, ujian dan musibah tersebut berlangsung lama, kita merasakan sakit dan perihnya musibah tersebut selama berbulan-bulan, dan kita tidak mengetahui bagaimanakah jalan keluarnya. Ada yang mendapatkan musibah dengan penyakit yang kronis, atau lenyapnya harta benda, atau dagangan yang tidak laku, atau hilangnya pekerjaan, atau musibah-musibah yang berat lainnya. Lalu, bagaimanakah sikap kita sebagai seorang muslim pada saat di puncak kesulitan tersebut? Sikap pertama: Bersabar Bersabar ketika menghadapi musibah yang menyakitkan merupakan salah satu dari tiga bentuk kesabaran. Ulama menyatakan, الصبر ثلاثة انواع: صبر على الطاعة، صبر عن المعصية، صبر على اقدار الله المؤلمة “Kesabaran ada 3 jenis, yaitu bersabar ketika melakukan ketaatan, bersabar ketika meninggalkan kemaksiatan, dan bersabar ketika menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.” Oleh karena itu, sikap pertama yang hendaknya seorang muslim perkuat saat di puncak kesulitan adalah bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah tersebut. Seorang muslim harus meyakini bahwa Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146) Allah pun akan bersama orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46) Oleh karena itu, selama kita tetap bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah, segenting dan sesulit apapun situasinya, maka yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa membersamai kita. Allah berikan kita kekuatan kesabaran untuk menjalani hari-hari yang berat tersebut. Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, kebersamaan yang berkonsekuensi akan adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang bersabar. Sabar inilah jalan hidup terbaik yang ditempuh oleh seorang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡر لِّلصَّٰبِرِينَ “Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa keberuntungan di dunia dan akhirat akan diperoleh orang yang bersabar, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200) Baca juga: Benarkah Pahala Itu Sebanding dengan Tingkat Kesulitan Sebuah Amal? Di saat kita berat dan sesak menjalani hari demi hari, bulan demi bulan, maka berbahagialah ketika Allah mengkaruniakan kepada kita kesabaran dalam menghadapi dan menjalani masa-masa sulit tersebut. Allah datangkan kesabaran ke dalam hati kita, sehingga kita pun kuat dan mampu menjalani hari-hari yang sulit tersebut. Kita adalah makhluk yang lemah, Allah sudah menegaskan lemahnya kita, maka Allah pun mendatangkan kesabaran agar kita mampu menjalani beratnya musibah. Oleh karena itu, kita pun hendaknya bersyukur kepada Allah Ta’ala ketika diberikan kesabaran, dan itu merupakan anugerah dari Allah yang sangat agung. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan, أنَّ أُنَاسًا مِنَ الأنْصَارِ سَأَلُوا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَسْأَلْهُ أحَدٌ منهمْ إلَّا أعْطَاهُ حتَّى نَفِدَ ما عِنْدَهُ، فَقالَ لهمْ حِينَ نَفِدَ كُلُّ شيءٍ أنْفَقَ بيَدَيْهِ: ما يَكُنْ عِندِي مِن خَيْرٍ لا أدَّخِرْهُ عَنْكُمْ، وإنَّه مَن يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ، ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، ولَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Beberapa kaum Anshar meminta sedekah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah salah seorang dari mereka meminta, melainkan beliau akan memberinya, hingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika yang beliau miliki telah habis (diinfakkan), beliau pun bersabda kepada mereka, “Jika kami memiliki harta, maka kami tidak akan menyimpannya dari kalian semua. Setiap orang yang menjaga diri dari meminta-minta, niscaya Allah akan memuliakannya. Setiap orang yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan menjadikannya bersabar. Setiap orang yang merasa cukup, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sungguh, tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih lapang bagi kalian selain kesabaran.” (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053) Inilah ciri khas orang mukmin, yaitu bersabar ketika menghadapi ujian dan musibah yang menyakitkan. Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya mengandung kebaikan, dan hal itu hanya dijumpai pada diri seorang mukmin. Jika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami musibah, ia bersabar dan hal itu juga merupakan kebaikan.” (HR. Muslim no. 2999) Dengan bekal kesabaran, rintangan demi rintangan hidup akan dengan tabah dilalui; sebesar apapun kesulitan, maka akan terasa ringan; kehidupan pun akan terasa lapang dan dijalani dengan penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, kesabaran diibaratkan sebagai sinar kehidupan (dhiya’). Orang yang bersabar akan memanfaatkan kesabaran tersebut untuk terus-menerus menerangi dan menunjukkan jalan kebenaran dalam hidupnya, sehingga dia pun tetap teguh di atas jalan yang lurus. Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Sabar itu dhiya’ (cahaya yang disertai rasa panas). Al-Quran kelak akan menjadi pembelamu atau penggugatmu.” (HR. Muslim no. 223) Kesabaran itulah yang menjadikan seorang hamba mampu memaksa jiwa agar tetap melakukan ketaatan di saat menghadapi musibah yang berat. Ketika tidak bersabar, bisa jadi seseorang terjatuh ke dalam stres dan depresi, pada akhirnya dia tidak salat lima waktu, tidak salat Jumat, tidak puasa ketika di bulan Ramadan, dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya. Kesabaran itu pula yang mampu mencegah seorang hamba agar tidak melakukan kemaksiatan dan menjaga diri dari perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Kita bisa melihat orang-orang yang tidak dikaruniai kesabaran, mereka akan melarikan diri ke diskotek, minum-minuman keras, sebagian lagi terjatuh ke dalam narkoba. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan tersebut. Dan pada akhirnya, Allah Ta’ala mengabarkan berita gembira bagi orang-orang yang bersabar, وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ، ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَة قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ، أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰت مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) Lanjut ke bagian 2: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1)

Dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Keberadaan seorang hamba di dunia ini tidak lain untuk diuji, kemudian dikembalikan lagi kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, كُلُّ نَفۡس ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35) Kehidupan kita di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian, musibah, dan cobaan. Dalam hidup ini, bisa jadi terdapat suatu masa ketika kita mendapatkan ujian dan musibah yang begitu pelik dan rumit, seolah-olah semua jalan keluar sudah buntu, dan semua harapan sudah terputus. Dan bisa jadi, ujian dan musibah tersebut berlangsung lama, kita merasakan sakit dan perihnya musibah tersebut selama berbulan-bulan, dan kita tidak mengetahui bagaimanakah jalan keluarnya. Ada yang mendapatkan musibah dengan penyakit yang kronis, atau lenyapnya harta benda, atau dagangan yang tidak laku, atau hilangnya pekerjaan, atau musibah-musibah yang berat lainnya. Lalu, bagaimanakah sikap kita sebagai seorang muslim pada saat di puncak kesulitan tersebut? Sikap pertama: Bersabar Bersabar ketika menghadapi musibah yang menyakitkan merupakan salah satu dari tiga bentuk kesabaran. Ulama menyatakan, الصبر ثلاثة انواع: صبر على الطاعة، صبر عن المعصية، صبر على اقدار الله المؤلمة “Kesabaran ada 3 jenis, yaitu bersabar ketika melakukan ketaatan, bersabar ketika meninggalkan kemaksiatan, dan bersabar ketika menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.” Oleh karena itu, sikap pertama yang hendaknya seorang muslim perkuat saat di puncak kesulitan adalah bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah tersebut. Seorang muslim harus meyakini bahwa Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146) Allah pun akan bersama orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46) Oleh karena itu, selama kita tetap bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah, segenting dan sesulit apapun situasinya, maka yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa membersamai kita. Allah berikan kita kekuatan kesabaran untuk menjalani hari-hari yang berat tersebut. Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, kebersamaan yang berkonsekuensi akan adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang bersabar. Sabar inilah jalan hidup terbaik yang ditempuh oleh seorang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡر لِّلصَّٰبِرِينَ “Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa keberuntungan di dunia dan akhirat akan diperoleh orang yang bersabar, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200) Baca juga: Benarkah Pahala Itu Sebanding dengan Tingkat Kesulitan Sebuah Amal? Di saat kita berat dan sesak menjalani hari demi hari, bulan demi bulan, maka berbahagialah ketika Allah mengkaruniakan kepada kita kesabaran dalam menghadapi dan menjalani masa-masa sulit tersebut. Allah datangkan kesabaran ke dalam hati kita, sehingga kita pun kuat dan mampu menjalani hari-hari yang sulit tersebut. Kita adalah makhluk yang lemah, Allah sudah menegaskan lemahnya kita, maka Allah pun mendatangkan kesabaran agar kita mampu menjalani beratnya musibah. Oleh karena itu, kita pun hendaknya bersyukur kepada Allah Ta’ala ketika diberikan kesabaran, dan itu merupakan anugerah dari Allah yang sangat agung. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan, أنَّ أُنَاسًا مِنَ الأنْصَارِ سَأَلُوا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَسْأَلْهُ أحَدٌ منهمْ إلَّا أعْطَاهُ حتَّى نَفِدَ ما عِنْدَهُ، فَقالَ لهمْ حِينَ نَفِدَ كُلُّ شيءٍ أنْفَقَ بيَدَيْهِ: ما يَكُنْ عِندِي مِن خَيْرٍ لا أدَّخِرْهُ عَنْكُمْ، وإنَّه مَن يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ، ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، ولَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Beberapa kaum Anshar meminta sedekah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah salah seorang dari mereka meminta, melainkan beliau akan memberinya, hingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika yang beliau miliki telah habis (diinfakkan), beliau pun bersabda kepada mereka, “Jika kami memiliki harta, maka kami tidak akan menyimpannya dari kalian semua. Setiap orang yang menjaga diri dari meminta-minta, niscaya Allah akan memuliakannya. Setiap orang yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan menjadikannya bersabar. Setiap orang yang merasa cukup, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sungguh, tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih lapang bagi kalian selain kesabaran.” (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053) Inilah ciri khas orang mukmin, yaitu bersabar ketika menghadapi ujian dan musibah yang menyakitkan. Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya mengandung kebaikan, dan hal itu hanya dijumpai pada diri seorang mukmin. Jika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami musibah, ia bersabar dan hal itu juga merupakan kebaikan.” (HR. Muslim no. 2999) Dengan bekal kesabaran, rintangan demi rintangan hidup akan dengan tabah dilalui; sebesar apapun kesulitan, maka akan terasa ringan; kehidupan pun akan terasa lapang dan dijalani dengan penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, kesabaran diibaratkan sebagai sinar kehidupan (dhiya’). Orang yang bersabar akan memanfaatkan kesabaran tersebut untuk terus-menerus menerangi dan menunjukkan jalan kebenaran dalam hidupnya, sehingga dia pun tetap teguh di atas jalan yang lurus. Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Sabar itu dhiya’ (cahaya yang disertai rasa panas). Al-Quran kelak akan menjadi pembelamu atau penggugatmu.” (HR. Muslim no. 223) Kesabaran itulah yang menjadikan seorang hamba mampu memaksa jiwa agar tetap melakukan ketaatan di saat menghadapi musibah yang berat. Ketika tidak bersabar, bisa jadi seseorang terjatuh ke dalam stres dan depresi, pada akhirnya dia tidak salat lima waktu, tidak salat Jumat, tidak puasa ketika di bulan Ramadan, dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya. Kesabaran itu pula yang mampu mencegah seorang hamba agar tidak melakukan kemaksiatan dan menjaga diri dari perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Kita bisa melihat orang-orang yang tidak dikaruniai kesabaran, mereka akan melarikan diri ke diskotek, minum-minuman keras, sebagian lagi terjatuh ke dalam narkoba. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan tersebut. Dan pada akhirnya, Allah Ta’ala mengabarkan berita gembira bagi orang-orang yang bersabar, وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ، ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَة قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ، أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰت مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) Lanjut ke bagian 2: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup
Dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Keberadaan seorang hamba di dunia ini tidak lain untuk diuji, kemudian dikembalikan lagi kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, كُلُّ نَفۡس ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35) Kehidupan kita di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian, musibah, dan cobaan. Dalam hidup ini, bisa jadi terdapat suatu masa ketika kita mendapatkan ujian dan musibah yang begitu pelik dan rumit, seolah-olah semua jalan keluar sudah buntu, dan semua harapan sudah terputus. Dan bisa jadi, ujian dan musibah tersebut berlangsung lama, kita merasakan sakit dan perihnya musibah tersebut selama berbulan-bulan, dan kita tidak mengetahui bagaimanakah jalan keluarnya. Ada yang mendapatkan musibah dengan penyakit yang kronis, atau lenyapnya harta benda, atau dagangan yang tidak laku, atau hilangnya pekerjaan, atau musibah-musibah yang berat lainnya. Lalu, bagaimanakah sikap kita sebagai seorang muslim pada saat di puncak kesulitan tersebut? Sikap pertama: Bersabar Bersabar ketika menghadapi musibah yang menyakitkan merupakan salah satu dari tiga bentuk kesabaran. Ulama menyatakan, الصبر ثلاثة انواع: صبر على الطاعة، صبر عن المعصية، صبر على اقدار الله المؤلمة “Kesabaran ada 3 jenis, yaitu bersabar ketika melakukan ketaatan, bersabar ketika meninggalkan kemaksiatan, dan bersabar ketika menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.” Oleh karena itu, sikap pertama yang hendaknya seorang muslim perkuat saat di puncak kesulitan adalah bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah tersebut. Seorang muslim harus meyakini bahwa Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146) Allah pun akan bersama orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46) Oleh karena itu, selama kita tetap bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah, segenting dan sesulit apapun situasinya, maka yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa membersamai kita. Allah berikan kita kekuatan kesabaran untuk menjalani hari-hari yang berat tersebut. Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, kebersamaan yang berkonsekuensi akan adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang bersabar. Sabar inilah jalan hidup terbaik yang ditempuh oleh seorang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡر لِّلصَّٰبِرِينَ “Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa keberuntungan di dunia dan akhirat akan diperoleh orang yang bersabar, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200) Baca juga: Benarkah Pahala Itu Sebanding dengan Tingkat Kesulitan Sebuah Amal? Di saat kita berat dan sesak menjalani hari demi hari, bulan demi bulan, maka berbahagialah ketika Allah mengkaruniakan kepada kita kesabaran dalam menghadapi dan menjalani masa-masa sulit tersebut. Allah datangkan kesabaran ke dalam hati kita, sehingga kita pun kuat dan mampu menjalani hari-hari yang sulit tersebut. Kita adalah makhluk yang lemah, Allah sudah menegaskan lemahnya kita, maka Allah pun mendatangkan kesabaran agar kita mampu menjalani beratnya musibah. Oleh karena itu, kita pun hendaknya bersyukur kepada Allah Ta’ala ketika diberikan kesabaran, dan itu merupakan anugerah dari Allah yang sangat agung. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan, أنَّ أُنَاسًا مِنَ الأنْصَارِ سَأَلُوا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَسْأَلْهُ أحَدٌ منهمْ إلَّا أعْطَاهُ حتَّى نَفِدَ ما عِنْدَهُ، فَقالَ لهمْ حِينَ نَفِدَ كُلُّ شيءٍ أنْفَقَ بيَدَيْهِ: ما يَكُنْ عِندِي مِن خَيْرٍ لا أدَّخِرْهُ عَنْكُمْ، وإنَّه مَن يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ، ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، ولَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Beberapa kaum Anshar meminta sedekah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah salah seorang dari mereka meminta, melainkan beliau akan memberinya, hingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika yang beliau miliki telah habis (diinfakkan), beliau pun bersabda kepada mereka, “Jika kami memiliki harta, maka kami tidak akan menyimpannya dari kalian semua. Setiap orang yang menjaga diri dari meminta-minta, niscaya Allah akan memuliakannya. Setiap orang yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan menjadikannya bersabar. Setiap orang yang merasa cukup, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sungguh, tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih lapang bagi kalian selain kesabaran.” (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053) Inilah ciri khas orang mukmin, yaitu bersabar ketika menghadapi ujian dan musibah yang menyakitkan. Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya mengandung kebaikan, dan hal itu hanya dijumpai pada diri seorang mukmin. Jika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami musibah, ia bersabar dan hal itu juga merupakan kebaikan.” (HR. Muslim no. 2999) Dengan bekal kesabaran, rintangan demi rintangan hidup akan dengan tabah dilalui; sebesar apapun kesulitan, maka akan terasa ringan; kehidupan pun akan terasa lapang dan dijalani dengan penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, kesabaran diibaratkan sebagai sinar kehidupan (dhiya’). Orang yang bersabar akan memanfaatkan kesabaran tersebut untuk terus-menerus menerangi dan menunjukkan jalan kebenaran dalam hidupnya, sehingga dia pun tetap teguh di atas jalan yang lurus. Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Sabar itu dhiya’ (cahaya yang disertai rasa panas). Al-Quran kelak akan menjadi pembelamu atau penggugatmu.” (HR. Muslim no. 223) Kesabaran itulah yang menjadikan seorang hamba mampu memaksa jiwa agar tetap melakukan ketaatan di saat menghadapi musibah yang berat. Ketika tidak bersabar, bisa jadi seseorang terjatuh ke dalam stres dan depresi, pada akhirnya dia tidak salat lima waktu, tidak salat Jumat, tidak puasa ketika di bulan Ramadan, dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya. Kesabaran itu pula yang mampu mencegah seorang hamba agar tidak melakukan kemaksiatan dan menjaga diri dari perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Kita bisa melihat orang-orang yang tidak dikaruniai kesabaran, mereka akan melarikan diri ke diskotek, minum-minuman keras, sebagian lagi terjatuh ke dalam narkoba. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan tersebut. Dan pada akhirnya, Allah Ta’ala mengabarkan berita gembira bagi orang-orang yang bersabar, وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ، ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَة قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ، أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰت مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) Lanjut ke bagian 2: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup


Dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Keberadaan seorang hamba di dunia ini tidak lain untuk diuji, kemudian dikembalikan lagi kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, كُلُّ نَفۡس ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35) Kehidupan kita di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian, musibah, dan cobaan. Dalam hidup ini, bisa jadi terdapat suatu masa ketika kita mendapatkan ujian dan musibah yang begitu pelik dan rumit, seolah-olah semua jalan keluar sudah buntu, dan semua harapan sudah terputus. Dan bisa jadi, ujian dan musibah tersebut berlangsung lama, kita merasakan sakit dan perihnya musibah tersebut selama berbulan-bulan, dan kita tidak mengetahui bagaimanakah jalan keluarnya. Ada yang mendapatkan musibah dengan penyakit yang kronis, atau lenyapnya harta benda, atau dagangan yang tidak laku, atau hilangnya pekerjaan, atau musibah-musibah yang berat lainnya. Lalu, bagaimanakah sikap kita sebagai seorang muslim pada saat di puncak kesulitan tersebut? Sikap pertama: Bersabar Bersabar ketika menghadapi musibah yang menyakitkan merupakan salah satu dari tiga bentuk kesabaran. Ulama menyatakan, الصبر ثلاثة انواع: صبر على الطاعة، صبر عن المعصية، صبر على اقدار الله المؤلمة “Kesabaran ada 3 jenis, yaitu bersabar ketika melakukan ketaatan, bersabar ketika meninggalkan kemaksiatan, dan bersabar ketika menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.” Oleh karena itu, sikap pertama yang hendaknya seorang muslim perkuat saat di puncak kesulitan adalah bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah tersebut. Seorang muslim harus meyakini bahwa Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146) Allah pun akan bersama orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46) Oleh karena itu, selama kita tetap bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah, segenting dan sesulit apapun situasinya, maka yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa membersamai kita. Allah berikan kita kekuatan kesabaran untuk menjalani hari-hari yang berat tersebut. Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, kebersamaan yang berkonsekuensi akan adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang bersabar. Sabar inilah jalan hidup terbaik yang ditempuh oleh seorang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡر لِّلصَّٰبِرِينَ “Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa keberuntungan di dunia dan akhirat akan diperoleh orang yang bersabar, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200) Baca juga: Benarkah Pahala Itu Sebanding dengan Tingkat Kesulitan Sebuah Amal? Di saat kita berat dan sesak menjalani hari demi hari, bulan demi bulan, maka berbahagialah ketika Allah mengkaruniakan kepada kita kesabaran dalam menghadapi dan menjalani masa-masa sulit tersebut. Allah datangkan kesabaran ke dalam hati kita, sehingga kita pun kuat dan mampu menjalani hari-hari yang sulit tersebut. Kita adalah makhluk yang lemah, Allah sudah menegaskan lemahnya kita, maka Allah pun mendatangkan kesabaran agar kita mampu menjalani beratnya musibah. Oleh karena itu, kita pun hendaknya bersyukur kepada Allah Ta’ala ketika diberikan kesabaran, dan itu merupakan anugerah dari Allah yang sangat agung. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan, أنَّ أُنَاسًا مِنَ الأنْصَارِ سَأَلُوا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَسْأَلْهُ أحَدٌ منهمْ إلَّا أعْطَاهُ حتَّى نَفِدَ ما عِنْدَهُ، فَقالَ لهمْ حِينَ نَفِدَ كُلُّ شيءٍ أنْفَقَ بيَدَيْهِ: ما يَكُنْ عِندِي مِن خَيْرٍ لا أدَّخِرْهُ عَنْكُمْ، وإنَّه مَن يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ، ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، ولَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ “Beberapa kaum Anshar meminta sedekah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah salah seorang dari mereka meminta, melainkan beliau akan memberinya, hingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika yang beliau miliki telah habis (diinfakkan), beliau pun bersabda kepada mereka, “Jika kami memiliki harta, maka kami tidak akan menyimpannya dari kalian semua. Setiap orang yang menjaga diri dari meminta-minta, niscaya Allah akan memuliakannya. Setiap orang yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan menjadikannya bersabar. Setiap orang yang merasa cukup, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sungguh, tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih lapang bagi kalian selain kesabaran.” (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053) Inilah ciri khas orang mukmin, yaitu bersabar ketika menghadapi ujian dan musibah yang menyakitkan. Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya mengandung kebaikan, dan hal itu hanya dijumpai pada diri seorang mukmin. Jika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami musibah, ia bersabar dan hal itu juga merupakan kebaikan.” (HR. Muslim no. 2999) Dengan bekal kesabaran, rintangan demi rintangan hidup akan dengan tabah dilalui; sebesar apapun kesulitan, maka akan terasa ringan; kehidupan pun akan terasa lapang dan dijalani dengan penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, kesabaran diibaratkan sebagai sinar kehidupan (dhiya’). Orang yang bersabar akan memanfaatkan kesabaran tersebut untuk terus-menerus menerangi dan menunjukkan jalan kebenaran dalam hidupnya, sehingga dia pun tetap teguh di atas jalan yang lurus. Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Sabar itu dhiya’ (cahaya yang disertai rasa panas). Al-Quran kelak akan menjadi pembelamu atau penggugatmu.” (HR. Muslim no. 223) Kesabaran itulah yang menjadikan seorang hamba mampu memaksa jiwa agar tetap melakukan ketaatan di saat menghadapi musibah yang berat. Ketika tidak bersabar, bisa jadi seseorang terjatuh ke dalam stres dan depresi, pada akhirnya dia tidak salat lima waktu, tidak salat Jumat, tidak puasa ketika di bulan Ramadan, dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya. Kesabaran itu pula yang mampu mencegah seorang hamba agar tidak melakukan kemaksiatan dan menjaga diri dari perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Kita bisa melihat orang-orang yang tidak dikaruniai kesabaran, mereka akan melarikan diri ke diskotek, minum-minuman keras, sebagian lagi terjatuh ke dalam narkoba. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan tersebut. Dan pada akhirnya, Allah Ta’ala mengabarkan berita gembira bagi orang-orang yang bersabar, وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ، ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَة قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ، أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰت مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) Lanjut ke bagian 2: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2) *** @Kantor Pogung, 14 Rajab 1445/ 26 Januari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup

Fikih Wakaf (Bag. 1): Pengertian, Hukum, dan Dalil Pensyariatannya

Daftar Isi Toggle Definisi wakafHukum wakaf dan dalil pensyariatannya Agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang tidak hanya memperhatikan gerak-gerik pemeluknya saja, akan tetapi juga memperhatikan harta mereka. Islam mengajarkan bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh seorang muslim, terdapat hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Islam juga mengajarkan bahwa harta yang dimiliki oleh seseorang sejatinya hanyalah titipan dan karunia dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7) Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, di dalam mengumpulkan serta mengelola harta yang kita miliki, maka harus tunduk dan patuh kepada syariat yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah perintahkan kita untuk bersedekah dan Allah janjikan juga pahala yang besar bagi siapa saja yang rela mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Di antara beragam jenis ibadah harta yang telah Islam ajarkan kepada kita terdapat satu jenis amal ibadah yang menjadi kekhususan umat ini. Di mana menurut sebagian ulama, ibadah harta tersebut belum dikenal oleh masyarakat jahiliah dahulu kala, dan baru ada ketika Islam ini datang melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Amal tersebut wahai saudaraku adalah wakaf. Pada artikel ini dan beberapa artikel berikutnya, insyaAllah akan kita pelajari lebih lanjut dasar-dasar fikih dalam masalah wakaf, baik itu pengertiannya, hukumnya, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wakaf dan mungkin sebagian dari kita belum memahami dengan baik duduk perkaranya. Wabillahittaufik. Definisi wakaf Secara bahasa, wakaf merupakan istilah bahasa Arab yang berasal dari kata (وقف) “waqafa” yang memiliki makna “berhentinya sesuatu atau tertahan atau berdiri di tempat.” Sehingga ‘wakaf’ secara bahasa dapat dimaknai juga dengan “menahan hak milik harta dengan cara diwakafkan untuk tujuan tertentu.” Adapun secara istilah syariat, maka para ulama memiliki beberapa pandangan berbeda tentangnya. Di dalam kitab Fikih Muyassar, secara ringkas wakaf dimaknai dengan, “Menahan asalnya dan mengalirkan manfaatnya.” atau dengan lebih mendetailnya bisa kita artikan dengan, “Menahan hak milik atas materi/fisik harta benda dari pewakaf, dengan tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya untuk kebaikan umat Islam, kepentingan agama, dan/atau kepada penerima wakaf yang telah ditentukan oleh pewakaf.” Contohnya: Si A memiliki sebidang tanah dengan luas 500 meter, lalu ia serahkan hak kepemilikannya kepada Allah Ta’ala melalui sebuah yayasan atau instansi untuk kemudian dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Baik itu untuk masjid, sekolah, pusat kesehatan, atau lain sebagainya. Baca juga: Bolehkah Menjual Harta Wakaf? Hukum wakaf dan dalil pensyariatannya Wakaf hukumnya adalah sunah dan sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Dalil pensyariatannya terdapat di dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang pertama, dalil-dalil yang menganjurkan untuk melakukan kebaikan secara umum. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Seorang muslim tidak akan meraih kebaikan yang sempurna serta derajat kemuliaan yang tinggi, kecuali apabila telah menginfakkan dan menyedekahkan sebagian dari harta kekayaan yang paling dicintainya. Dan wakaf merupakan salah satu contoh infak harta yang paling baik, karena fisik harta yang diinfakkannya tersebut tak akan habis dan lekang oleh waktu, namun manfaatnya dan pahalanya terus mengalir, bahkan ketika pelakunya telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai keutamaan sedekah ini, إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir),  ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631) Menurut para ulama, pahala mengalir yang disebutkan dalam hadis ini cenderung mengarah pada masalah wakaf, karena benda yang diwakafkan akan langgeng dan utuh. Karena yang disedekahkan hanyalah manfaatnya saja, adapun fisik hartanya, maka tidak bisa dimiliki dan dipindahtangankan. Berbeda dengan selain wakaf, di mana barang yang sudah disedekahkan kepada orang lain, maka akan menjadi hak penuh bagi penerimanya, baik fisik barangnya maupun manfaatnya. Penerimanya tersebut bebas menjualnya, atau bahkan memakainya sampai habis tanpa sisa. Dalil dari hadis yang menunjukkan syariat wakaf ini juga terdapat dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أَن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ فَقَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا ”Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu mendapat bagian lahan di Khaibar, lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta pendapat beliau tentang tanah (lahan) tersebut dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar di mana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka, apa yang engkau perintahkan tentang tanah tersebut?’ Maka, beliau berkata, ‘Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya, lalu kamu dapat bersedekah dengan (hasil buah)nya.’ Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Maka ‘Umar mensedekahkannya di mana tidak dijualnya, tidak dihibahkan, dan juga tidak diwariskan. Namun, dia mensedekahkannya untuk para fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, fisabilillah, ibnu sabil, dan untuk menjamu tamu. Dan tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan orang lain, bukan bermaksud menimbunnya.’ Perawi berkata, ‘Kemudian aku ceritakan hadis ini kepada Ibnu Sirin, maka dia berkata, ‘Ghoiru muta’atstsal malan (artinya: tidak mengambil harta anak yatim untuk menggabungkannya dengan hartanya).” (HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632) Setelah menyebutkan hadis di atas, Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menukil ijma’ ulama tentang bolehnya wakaf ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ لَا نَعْلَمُ بَيْنَ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنْهُمْ فِي ذَلِكَ اخْتِلَافًا فِي إِجَازَةِ وَقْفِ الْأَرَضِينَ وَغَيْرِ ذَلِكَ “Dan (hadis ini) menjadi landasan amal menurut ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan juga selain mereka. Dan kami tidak menemukan adanya perselisihan di antara ulama terdahulu tentang dibolehkannya wakaf tanah dan juga yang lainnya.” (Disebutkan dalam Kitab Shahih At-Tirmidzi no. 1375) Wallahu A’lam bisshawab. Lanjut ke bagian 2: Wakaf Pertama dalam Islam *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: wakaf

Fikih Wakaf (Bag. 1): Pengertian, Hukum, dan Dalil Pensyariatannya

Daftar Isi Toggle Definisi wakafHukum wakaf dan dalil pensyariatannya Agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang tidak hanya memperhatikan gerak-gerik pemeluknya saja, akan tetapi juga memperhatikan harta mereka. Islam mengajarkan bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh seorang muslim, terdapat hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Islam juga mengajarkan bahwa harta yang dimiliki oleh seseorang sejatinya hanyalah titipan dan karunia dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7) Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, di dalam mengumpulkan serta mengelola harta yang kita miliki, maka harus tunduk dan patuh kepada syariat yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah perintahkan kita untuk bersedekah dan Allah janjikan juga pahala yang besar bagi siapa saja yang rela mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Di antara beragam jenis ibadah harta yang telah Islam ajarkan kepada kita terdapat satu jenis amal ibadah yang menjadi kekhususan umat ini. Di mana menurut sebagian ulama, ibadah harta tersebut belum dikenal oleh masyarakat jahiliah dahulu kala, dan baru ada ketika Islam ini datang melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Amal tersebut wahai saudaraku adalah wakaf. Pada artikel ini dan beberapa artikel berikutnya, insyaAllah akan kita pelajari lebih lanjut dasar-dasar fikih dalam masalah wakaf, baik itu pengertiannya, hukumnya, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wakaf dan mungkin sebagian dari kita belum memahami dengan baik duduk perkaranya. Wabillahittaufik. Definisi wakaf Secara bahasa, wakaf merupakan istilah bahasa Arab yang berasal dari kata (وقف) “waqafa” yang memiliki makna “berhentinya sesuatu atau tertahan atau berdiri di tempat.” Sehingga ‘wakaf’ secara bahasa dapat dimaknai juga dengan “menahan hak milik harta dengan cara diwakafkan untuk tujuan tertentu.” Adapun secara istilah syariat, maka para ulama memiliki beberapa pandangan berbeda tentangnya. Di dalam kitab Fikih Muyassar, secara ringkas wakaf dimaknai dengan, “Menahan asalnya dan mengalirkan manfaatnya.” atau dengan lebih mendetailnya bisa kita artikan dengan, “Menahan hak milik atas materi/fisik harta benda dari pewakaf, dengan tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya untuk kebaikan umat Islam, kepentingan agama, dan/atau kepada penerima wakaf yang telah ditentukan oleh pewakaf.” Contohnya: Si A memiliki sebidang tanah dengan luas 500 meter, lalu ia serahkan hak kepemilikannya kepada Allah Ta’ala melalui sebuah yayasan atau instansi untuk kemudian dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Baik itu untuk masjid, sekolah, pusat kesehatan, atau lain sebagainya. Baca juga: Bolehkah Menjual Harta Wakaf? Hukum wakaf dan dalil pensyariatannya Wakaf hukumnya adalah sunah dan sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Dalil pensyariatannya terdapat di dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang pertama, dalil-dalil yang menganjurkan untuk melakukan kebaikan secara umum. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Seorang muslim tidak akan meraih kebaikan yang sempurna serta derajat kemuliaan yang tinggi, kecuali apabila telah menginfakkan dan menyedekahkan sebagian dari harta kekayaan yang paling dicintainya. Dan wakaf merupakan salah satu contoh infak harta yang paling baik, karena fisik harta yang diinfakkannya tersebut tak akan habis dan lekang oleh waktu, namun manfaatnya dan pahalanya terus mengalir, bahkan ketika pelakunya telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai keutamaan sedekah ini, إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir),  ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631) Menurut para ulama, pahala mengalir yang disebutkan dalam hadis ini cenderung mengarah pada masalah wakaf, karena benda yang diwakafkan akan langgeng dan utuh. Karena yang disedekahkan hanyalah manfaatnya saja, adapun fisik hartanya, maka tidak bisa dimiliki dan dipindahtangankan. Berbeda dengan selain wakaf, di mana barang yang sudah disedekahkan kepada orang lain, maka akan menjadi hak penuh bagi penerimanya, baik fisik barangnya maupun manfaatnya. Penerimanya tersebut bebas menjualnya, atau bahkan memakainya sampai habis tanpa sisa. Dalil dari hadis yang menunjukkan syariat wakaf ini juga terdapat dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أَن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ فَقَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا ”Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu mendapat bagian lahan di Khaibar, lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta pendapat beliau tentang tanah (lahan) tersebut dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar di mana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka, apa yang engkau perintahkan tentang tanah tersebut?’ Maka, beliau berkata, ‘Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya, lalu kamu dapat bersedekah dengan (hasil buah)nya.’ Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Maka ‘Umar mensedekahkannya di mana tidak dijualnya, tidak dihibahkan, dan juga tidak diwariskan. Namun, dia mensedekahkannya untuk para fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, fisabilillah, ibnu sabil, dan untuk menjamu tamu. Dan tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan orang lain, bukan bermaksud menimbunnya.’ Perawi berkata, ‘Kemudian aku ceritakan hadis ini kepada Ibnu Sirin, maka dia berkata, ‘Ghoiru muta’atstsal malan (artinya: tidak mengambil harta anak yatim untuk menggabungkannya dengan hartanya).” (HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632) Setelah menyebutkan hadis di atas, Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menukil ijma’ ulama tentang bolehnya wakaf ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ لَا نَعْلَمُ بَيْنَ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنْهُمْ فِي ذَلِكَ اخْتِلَافًا فِي إِجَازَةِ وَقْفِ الْأَرَضِينَ وَغَيْرِ ذَلِكَ “Dan (hadis ini) menjadi landasan amal menurut ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan juga selain mereka. Dan kami tidak menemukan adanya perselisihan di antara ulama terdahulu tentang dibolehkannya wakaf tanah dan juga yang lainnya.” (Disebutkan dalam Kitab Shahih At-Tirmidzi no. 1375) Wallahu A’lam bisshawab. Lanjut ke bagian 2: Wakaf Pertama dalam Islam *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: wakaf
Daftar Isi Toggle Definisi wakafHukum wakaf dan dalil pensyariatannya Agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang tidak hanya memperhatikan gerak-gerik pemeluknya saja, akan tetapi juga memperhatikan harta mereka. Islam mengajarkan bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh seorang muslim, terdapat hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Islam juga mengajarkan bahwa harta yang dimiliki oleh seseorang sejatinya hanyalah titipan dan karunia dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7) Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, di dalam mengumpulkan serta mengelola harta yang kita miliki, maka harus tunduk dan patuh kepada syariat yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah perintahkan kita untuk bersedekah dan Allah janjikan juga pahala yang besar bagi siapa saja yang rela mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Di antara beragam jenis ibadah harta yang telah Islam ajarkan kepada kita terdapat satu jenis amal ibadah yang menjadi kekhususan umat ini. Di mana menurut sebagian ulama, ibadah harta tersebut belum dikenal oleh masyarakat jahiliah dahulu kala, dan baru ada ketika Islam ini datang melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Amal tersebut wahai saudaraku adalah wakaf. Pada artikel ini dan beberapa artikel berikutnya, insyaAllah akan kita pelajari lebih lanjut dasar-dasar fikih dalam masalah wakaf, baik itu pengertiannya, hukumnya, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wakaf dan mungkin sebagian dari kita belum memahami dengan baik duduk perkaranya. Wabillahittaufik. Definisi wakaf Secara bahasa, wakaf merupakan istilah bahasa Arab yang berasal dari kata (وقف) “waqafa” yang memiliki makna “berhentinya sesuatu atau tertahan atau berdiri di tempat.” Sehingga ‘wakaf’ secara bahasa dapat dimaknai juga dengan “menahan hak milik harta dengan cara diwakafkan untuk tujuan tertentu.” Adapun secara istilah syariat, maka para ulama memiliki beberapa pandangan berbeda tentangnya. Di dalam kitab Fikih Muyassar, secara ringkas wakaf dimaknai dengan, “Menahan asalnya dan mengalirkan manfaatnya.” atau dengan lebih mendetailnya bisa kita artikan dengan, “Menahan hak milik atas materi/fisik harta benda dari pewakaf, dengan tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya untuk kebaikan umat Islam, kepentingan agama, dan/atau kepada penerima wakaf yang telah ditentukan oleh pewakaf.” Contohnya: Si A memiliki sebidang tanah dengan luas 500 meter, lalu ia serahkan hak kepemilikannya kepada Allah Ta’ala melalui sebuah yayasan atau instansi untuk kemudian dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Baik itu untuk masjid, sekolah, pusat kesehatan, atau lain sebagainya. Baca juga: Bolehkah Menjual Harta Wakaf? Hukum wakaf dan dalil pensyariatannya Wakaf hukumnya adalah sunah dan sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Dalil pensyariatannya terdapat di dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang pertama, dalil-dalil yang menganjurkan untuk melakukan kebaikan secara umum. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Seorang muslim tidak akan meraih kebaikan yang sempurna serta derajat kemuliaan yang tinggi, kecuali apabila telah menginfakkan dan menyedekahkan sebagian dari harta kekayaan yang paling dicintainya. Dan wakaf merupakan salah satu contoh infak harta yang paling baik, karena fisik harta yang diinfakkannya tersebut tak akan habis dan lekang oleh waktu, namun manfaatnya dan pahalanya terus mengalir, bahkan ketika pelakunya telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai keutamaan sedekah ini, إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir),  ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631) Menurut para ulama, pahala mengalir yang disebutkan dalam hadis ini cenderung mengarah pada masalah wakaf, karena benda yang diwakafkan akan langgeng dan utuh. Karena yang disedekahkan hanyalah manfaatnya saja, adapun fisik hartanya, maka tidak bisa dimiliki dan dipindahtangankan. Berbeda dengan selain wakaf, di mana barang yang sudah disedekahkan kepada orang lain, maka akan menjadi hak penuh bagi penerimanya, baik fisik barangnya maupun manfaatnya. Penerimanya tersebut bebas menjualnya, atau bahkan memakainya sampai habis tanpa sisa. Dalil dari hadis yang menunjukkan syariat wakaf ini juga terdapat dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أَن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ فَقَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا ”Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu mendapat bagian lahan di Khaibar, lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta pendapat beliau tentang tanah (lahan) tersebut dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar di mana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka, apa yang engkau perintahkan tentang tanah tersebut?’ Maka, beliau berkata, ‘Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya, lalu kamu dapat bersedekah dengan (hasil buah)nya.’ Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Maka ‘Umar mensedekahkannya di mana tidak dijualnya, tidak dihibahkan, dan juga tidak diwariskan. Namun, dia mensedekahkannya untuk para fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, fisabilillah, ibnu sabil, dan untuk menjamu tamu. Dan tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan orang lain, bukan bermaksud menimbunnya.’ Perawi berkata, ‘Kemudian aku ceritakan hadis ini kepada Ibnu Sirin, maka dia berkata, ‘Ghoiru muta’atstsal malan (artinya: tidak mengambil harta anak yatim untuk menggabungkannya dengan hartanya).” (HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632) Setelah menyebutkan hadis di atas, Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menukil ijma’ ulama tentang bolehnya wakaf ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ لَا نَعْلَمُ بَيْنَ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنْهُمْ فِي ذَلِكَ اخْتِلَافًا فِي إِجَازَةِ وَقْفِ الْأَرَضِينَ وَغَيْرِ ذَلِكَ “Dan (hadis ini) menjadi landasan amal menurut ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan juga selain mereka. Dan kami tidak menemukan adanya perselisihan di antara ulama terdahulu tentang dibolehkannya wakaf tanah dan juga yang lainnya.” (Disebutkan dalam Kitab Shahih At-Tirmidzi no. 1375) Wallahu A’lam bisshawab. Lanjut ke bagian 2: Wakaf Pertama dalam Islam *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: wakaf


Daftar Isi Toggle Definisi wakafHukum wakaf dan dalil pensyariatannya Agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang tidak hanya memperhatikan gerak-gerik pemeluknya saja, akan tetapi juga memperhatikan harta mereka. Islam mengajarkan bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh seorang muslim, terdapat hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Islam juga mengajarkan bahwa harta yang dimiliki oleh seseorang sejatinya hanyalah titipan dan karunia dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7) Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, di dalam mengumpulkan serta mengelola harta yang kita miliki, maka harus tunduk dan patuh kepada syariat yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah perintahkan kita untuk bersedekah dan Allah janjikan juga pahala yang besar bagi siapa saja yang rela mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Di antara beragam jenis ibadah harta yang telah Islam ajarkan kepada kita terdapat satu jenis amal ibadah yang menjadi kekhususan umat ini. Di mana menurut sebagian ulama, ibadah harta tersebut belum dikenal oleh masyarakat jahiliah dahulu kala, dan baru ada ketika Islam ini datang melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Amal tersebut wahai saudaraku adalah wakaf. Pada artikel ini dan beberapa artikel berikutnya, insyaAllah akan kita pelajari lebih lanjut dasar-dasar fikih dalam masalah wakaf, baik itu pengertiannya, hukumnya, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wakaf dan mungkin sebagian dari kita belum memahami dengan baik duduk perkaranya. Wabillahittaufik. Definisi wakaf Secara bahasa, wakaf merupakan istilah bahasa Arab yang berasal dari kata (وقف) “waqafa” yang memiliki makna “berhentinya sesuatu atau tertahan atau berdiri di tempat.” Sehingga ‘wakaf’ secara bahasa dapat dimaknai juga dengan “menahan hak milik harta dengan cara diwakafkan untuk tujuan tertentu.” Adapun secara istilah syariat, maka para ulama memiliki beberapa pandangan berbeda tentangnya. Di dalam kitab Fikih Muyassar, secara ringkas wakaf dimaknai dengan, “Menahan asalnya dan mengalirkan manfaatnya.” atau dengan lebih mendetailnya bisa kita artikan dengan, “Menahan hak milik atas materi/fisik harta benda dari pewakaf, dengan tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya untuk kebaikan umat Islam, kepentingan agama, dan/atau kepada penerima wakaf yang telah ditentukan oleh pewakaf.” Contohnya: Si A memiliki sebidang tanah dengan luas 500 meter, lalu ia serahkan hak kepemilikannya kepada Allah Ta’ala melalui sebuah yayasan atau instansi untuk kemudian dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Baik itu untuk masjid, sekolah, pusat kesehatan, atau lain sebagainya. Baca juga: Bolehkah Menjual Harta Wakaf? Hukum wakaf dan dalil pensyariatannya Wakaf hukumnya adalah sunah dan sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Dalil pensyariatannya terdapat di dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang pertama, dalil-dalil yang menganjurkan untuk melakukan kebaikan secara umum. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Seorang muslim tidak akan meraih kebaikan yang sempurna serta derajat kemuliaan yang tinggi, kecuali apabila telah menginfakkan dan menyedekahkan sebagian dari harta kekayaan yang paling dicintainya. Dan wakaf merupakan salah satu contoh infak harta yang paling baik, karena fisik harta yang diinfakkannya tersebut tak akan habis dan lekang oleh waktu, namun manfaatnya dan pahalanya terus mengalir, bahkan ketika pelakunya telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai keutamaan sedekah ini, إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir),  ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631) Menurut para ulama, pahala mengalir yang disebutkan dalam hadis ini cenderung mengarah pada masalah wakaf, karena benda yang diwakafkan akan langgeng dan utuh. Karena yang disedekahkan hanyalah manfaatnya saja, adapun fisik hartanya, maka tidak bisa dimiliki dan dipindahtangankan. Berbeda dengan selain wakaf, di mana barang yang sudah disedekahkan kepada orang lain, maka akan menjadi hak penuh bagi penerimanya, baik fisik barangnya maupun manfaatnya. Penerimanya tersebut bebas menjualnya, atau bahkan memakainya sampai habis tanpa sisa. Dalil dari hadis yang menunjukkan syariat wakaf ini juga terdapat dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أَن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ فَقَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا ”Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu mendapat bagian lahan di Khaibar, lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta pendapat beliau tentang tanah (lahan) tersebut dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar di mana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka, apa yang engkau perintahkan tentang tanah tersebut?’ Maka, beliau berkata, ‘Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya, lalu kamu dapat bersedekah dengan (hasil buah)nya.’ Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Maka ‘Umar mensedekahkannya di mana tidak dijualnya, tidak dihibahkan, dan juga tidak diwariskan. Namun, dia mensedekahkannya untuk para fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, fisabilillah, ibnu sabil, dan untuk menjamu tamu. Dan tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan orang lain, bukan bermaksud menimbunnya.’ Perawi berkata, ‘Kemudian aku ceritakan hadis ini kepada Ibnu Sirin, maka dia berkata, ‘Ghoiru muta’atstsal malan (artinya: tidak mengambil harta anak yatim untuk menggabungkannya dengan hartanya).” (HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632) Setelah menyebutkan hadis di atas, Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menukil ijma’ ulama tentang bolehnya wakaf ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ لَا نَعْلَمُ بَيْنَ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنْهُمْ فِي ذَلِكَ اخْتِلَافًا فِي إِجَازَةِ وَقْفِ الْأَرَضِينَ وَغَيْرِ ذَلِكَ “Dan (hadis ini) menjadi landasan amal menurut ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan juga selain mereka. Dan kami tidak menemukan adanya perselisihan di antara ulama terdahulu tentang dibolehkannya wakaf tanah dan juga yang lainnya.” (Disebutkan dalam Kitab Shahih At-Tirmidzi no. 1375) Wallahu A’lam bisshawab. Lanjut ke bagian 2: Wakaf Pertama dalam Islam *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: wakaf
Prev     Next