Berikan Sambutan Hangat

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berikan Sambutan Hangat

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag-1

Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag-1

Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag 2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag 2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)

Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)

Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Islam Bukan Prasmanan

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Islam Bukan Prasmanan

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Ndak Ada Ruginya!

NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Ndak Ada Ruginya!

NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next