Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 138: MENGAWALI DOA DENGAN PUJIAN

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 138MENGAWALI DOA DENGAN PUJIAN Di antara etika berdoa yang sangat membantu terkabulnya doa adalah mengawalinya dengan pujian kepada Allah ta’ala. Juga pengakuan akan karunia-Nya yang amat banyak kepada kita.Fadhâlah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu menuturkan,,“سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَجِلَ هَذَا” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: “إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ”.“(Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar sesorang berdoa dalam shalatnya, namun tidak didahului dengan pujian terhadap Allah dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang ini terburu-buru”. Lalu beliau memanggilnya dan berkata padanya atau kepada selain dia, “Andaikan salah seorang dari kalian berdoa hendaklah memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, kemudian berdoa sekehendaknya”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh at-Tirmidzi, Ibn Hibban juga al-Hakim.Siapapun yang memperhatikan doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits, akan menemukan adab tersebut dicontohkan dengan jelas di dalamnya.Di antaranya adalah doa yang ada di dalam surat al-Fatihah. Doa yang setiap harinya kita baca minimal 17 kali. Redaksi doa tersebut adalah:“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS. Al-Fatihah (1): 6.Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Perhatikan bahwa ayat yang berisikan doa ada di ayat keenam. Sedangkan lima ayat sebelumnya, mulai ayat pertama hingga kelima ternyata bermuatan puja dan puji pada Allah ta’ala.Ini mengajarkan pada kita sebuah etika dalam berdoa yang akan sangat membantu terkabulnya doa. Yakni: Mengawali doa kepada Allah dengan dua hal;Sanjungan pada-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, dan ini termaktub dalam ayat pertama hingga keempat.Ibadah serta penyembahan kita pada-Nya, dan ini tercantum dalam ayat kelima.Sesuatu yang diminta insan dalam surat al-Fatihah merupakan suatu yang amat berharga dan agung, sehingga cara memintanya pun tidak sembarangan. Karena itulah Allah mengajarkan etika meminta yang benar, agar karunia yang diharapkan bisa didapat.Imam an-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan, “Para ulama telah berijma’ akan disunnahkannya memulai doa serta mengakhirinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Hadits-hadits yang berisikan hal tersebut banyak dan makruf”. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Dzulqa’dah 1439 / 23 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 109: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 110: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 138: MENGAWALI DOA DENGAN PUJIAN

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 138MENGAWALI DOA DENGAN PUJIAN Di antara etika berdoa yang sangat membantu terkabulnya doa adalah mengawalinya dengan pujian kepada Allah ta’ala. Juga pengakuan akan karunia-Nya yang amat banyak kepada kita.Fadhâlah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu menuturkan,,“سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَجِلَ هَذَا” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: “إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ”.“(Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar sesorang berdoa dalam shalatnya, namun tidak didahului dengan pujian terhadap Allah dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang ini terburu-buru”. Lalu beliau memanggilnya dan berkata padanya atau kepada selain dia, “Andaikan salah seorang dari kalian berdoa hendaklah memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, kemudian berdoa sekehendaknya”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh at-Tirmidzi, Ibn Hibban juga al-Hakim.Siapapun yang memperhatikan doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits, akan menemukan adab tersebut dicontohkan dengan jelas di dalamnya.Di antaranya adalah doa yang ada di dalam surat al-Fatihah. Doa yang setiap harinya kita baca minimal 17 kali. Redaksi doa tersebut adalah:“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS. Al-Fatihah (1): 6.Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Perhatikan bahwa ayat yang berisikan doa ada di ayat keenam. Sedangkan lima ayat sebelumnya, mulai ayat pertama hingga kelima ternyata bermuatan puja dan puji pada Allah ta’ala.Ini mengajarkan pada kita sebuah etika dalam berdoa yang akan sangat membantu terkabulnya doa. Yakni: Mengawali doa kepada Allah dengan dua hal;Sanjungan pada-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, dan ini termaktub dalam ayat pertama hingga keempat.Ibadah serta penyembahan kita pada-Nya, dan ini tercantum dalam ayat kelima.Sesuatu yang diminta insan dalam surat al-Fatihah merupakan suatu yang amat berharga dan agung, sehingga cara memintanya pun tidak sembarangan. Karena itulah Allah mengajarkan etika meminta yang benar, agar karunia yang diharapkan bisa didapat.Imam an-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan, “Para ulama telah berijma’ akan disunnahkannya memulai doa serta mengakhirinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Hadits-hadits yang berisikan hal tersebut banyak dan makruf”. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Dzulqa’dah 1439 / 23 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 109: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 110: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 138MENGAWALI DOA DENGAN PUJIAN Di antara etika berdoa yang sangat membantu terkabulnya doa adalah mengawalinya dengan pujian kepada Allah ta’ala. Juga pengakuan akan karunia-Nya yang amat banyak kepada kita.Fadhâlah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu menuturkan,,“سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَجِلَ هَذَا” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: “إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ”.“(Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar sesorang berdoa dalam shalatnya, namun tidak didahului dengan pujian terhadap Allah dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang ini terburu-buru”. Lalu beliau memanggilnya dan berkata padanya atau kepada selain dia, “Andaikan salah seorang dari kalian berdoa hendaklah memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, kemudian berdoa sekehendaknya”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh at-Tirmidzi, Ibn Hibban juga al-Hakim.Siapapun yang memperhatikan doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits, akan menemukan adab tersebut dicontohkan dengan jelas di dalamnya.Di antaranya adalah doa yang ada di dalam surat al-Fatihah. Doa yang setiap harinya kita baca minimal 17 kali. Redaksi doa tersebut adalah:“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS. Al-Fatihah (1): 6.Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Perhatikan bahwa ayat yang berisikan doa ada di ayat keenam. Sedangkan lima ayat sebelumnya, mulai ayat pertama hingga kelima ternyata bermuatan puja dan puji pada Allah ta’ala.Ini mengajarkan pada kita sebuah etika dalam berdoa yang akan sangat membantu terkabulnya doa. Yakni: Mengawali doa kepada Allah dengan dua hal;Sanjungan pada-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, dan ini termaktub dalam ayat pertama hingga keempat.Ibadah serta penyembahan kita pada-Nya, dan ini tercantum dalam ayat kelima.Sesuatu yang diminta insan dalam surat al-Fatihah merupakan suatu yang amat berharga dan agung, sehingga cara memintanya pun tidak sembarangan. Karena itulah Allah mengajarkan etika meminta yang benar, agar karunia yang diharapkan bisa didapat.Imam an-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan, “Para ulama telah berijma’ akan disunnahkannya memulai doa serta mengakhirinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Hadits-hadits yang berisikan hal tersebut banyak dan makruf”. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Dzulqa’dah 1439 / 23 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 109: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 110: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 138MENGAWALI DOA DENGAN PUJIAN Di antara etika berdoa yang sangat membantu terkabulnya doa adalah mengawalinya dengan pujian kepada Allah ta’ala. Juga pengakuan akan karunia-Nya yang amat banyak kepada kita.Fadhâlah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu menuturkan,,“سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَجِلَ هَذَا” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: “إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ”.“(Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar sesorang berdoa dalam shalatnya, namun tidak didahului dengan pujian terhadap Allah dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang ini terburu-buru”. Lalu beliau memanggilnya dan berkata padanya atau kepada selain dia, “Andaikan salah seorang dari kalian berdoa hendaklah memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, kemudian berdoa sekehendaknya”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh at-Tirmidzi, Ibn Hibban juga al-Hakim.Siapapun yang memperhatikan doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits, akan menemukan adab tersebut dicontohkan dengan jelas di dalamnya.Di antaranya adalah doa yang ada di dalam surat al-Fatihah. Doa yang setiap harinya kita baca minimal 17 kali. Redaksi doa tersebut adalah:“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS. Al-Fatihah (1): 6.Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Perhatikan bahwa ayat yang berisikan doa ada di ayat keenam. Sedangkan lima ayat sebelumnya, mulai ayat pertama hingga kelima ternyata bermuatan puja dan puji pada Allah ta’ala.Ini mengajarkan pada kita sebuah etika dalam berdoa yang akan sangat membantu terkabulnya doa. Yakni: Mengawali doa kepada Allah dengan dua hal;Sanjungan pada-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, dan ini termaktub dalam ayat pertama hingga keempat.Ibadah serta penyembahan kita pada-Nya, dan ini tercantum dalam ayat kelima.Sesuatu yang diminta insan dalam surat al-Fatihah merupakan suatu yang amat berharga dan agung, sehingga cara memintanya pun tidak sembarangan. Karena itulah Allah mengajarkan etika meminta yang benar, agar karunia yang diharapkan bisa didapat.Imam an-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan, “Para ulama telah berijma’ akan disunnahkannya memulai doa serta mengakhirinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Hadits-hadits yang berisikan hal tersebut banyak dan makruf”. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Dzulqa’dah 1439 / 23 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 109: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 110: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 110: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 4

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 110METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-4 Pada pertemuan sebelumnya, telah disampaikan bahwa salah satu metode terbaik pembelajaran anak di rumah adalah kisah dan cerita. Juga telah dipaparkan beberapa manfaat cerita. Berikut kelanjutannya. Di antara manfaat cerita:Ketiga: didikan. Sudah bukan hal baru bahwa mendidik dengan bertutur dan memakai analogi cerita merupakan cara yang efektif. Sebenarnya tidak harus berbentuk kisah. Bisa saja kisah sekedar untuk memancing anak bercerita tentang kegiatannya sehari tadi. Atau malah cerita untuk menutup cerita anak. Semacam umpan balik. Ini memang memerlukan keahlian tersendiri. Menghubungkan peristiwa yang dialami anak seharian tadi dengan cerita yang akan dibawakan.Tapi jika ini berhasil, orang tua mampu menanamkan poin pendidikan lewat ceritanya. Banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui cerita-cerita yang menyenangkan. Tokoh yang kuat, mandiri, cerdas, baik hati, jujur dan sebagainya digambarkan dengan apik. Ini bisa menginspirasi anak untuk meneladaninya.Keempat: pengetahuan. Yang namanya anak-anak paling antusias dengan sesuatu yang baru. Maka cerita kita pun dituntut tidak hanya menarik dari sisi cerita, tapi juga menarik karena berisi pengetahuan dan wawasan baru bagi anak. Tentu saja ini menuntut Anda untuk selalu upgrade pengetahuan juga. Yakinlah, insyaAllah cerita dan kisah Anda akan menjadi momen paling dinantikan.Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa; insyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang cinta baca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.Nah, apakah Anda sudah siap bercerita untuk meninabobokan anak kesayangan Anda? Tentu saja ada bekalnya, sebelum bisa menjadi sosok yang dirindukan dengan cerita-cerita asiknya? Rajin baca. Ini super penting untuk selalu memperbaharui pengetahuan kita. Bisa dengan membaca buku. Bisa juga dari grup WA tentang cerita-cerita inspiratif, atau di facebook juga sering dibagikan. Atau kalau bisa meluangkan mencari di internet kisah dan cerita yang menurut Anda pas untuk dibagikan ke anak-anak. Namun tentu harus selektif dalam memilihnya. Pilah dan pilih kisah terbaik.Seperti kisah para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta orang-orang salih pilihan. Tentu untuk melahirkan keteladanan bagi anak-anak kita. Sesekali tetap diselingi cerita yang menghibur dan tidak terlalu serius sekadar menyenangkan dan menggembirakan buah hati tercinta. Berlatih bercerita.Supaya tidak datar-datar saja kan perlu intonasi yang cocok dengan jalannya cerita. Atau pemilihan kata juga penting untuk meramu cerita terdengar lebih ciamik. Kalau perlu ikut sekali-kali kursus bercerita. Berbagi pengalaman dengan komunitas ibu-ibu.Gunanya untuk saling memberi masukan dan saran. Dan saling berbagi bahan cerita. Jadi lebih kaya pengetahuan untuk dipraktekkan di kamar tidur anak-anak.Selamat bercerita, selamat membangun kedekatan, sebelum momen itu hilang! Semoga masa emas anak-anak kita bisa terwarnai kebaikan. Amien…Bersambung.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rajab 1439 / 26 Maret 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 138: MENGAWALI DOA DENGAN PUJIANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 110: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 4

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 110METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-4 Pada pertemuan sebelumnya, telah disampaikan bahwa salah satu metode terbaik pembelajaran anak di rumah adalah kisah dan cerita. Juga telah dipaparkan beberapa manfaat cerita. Berikut kelanjutannya. Di antara manfaat cerita:Ketiga: didikan. Sudah bukan hal baru bahwa mendidik dengan bertutur dan memakai analogi cerita merupakan cara yang efektif. Sebenarnya tidak harus berbentuk kisah. Bisa saja kisah sekedar untuk memancing anak bercerita tentang kegiatannya sehari tadi. Atau malah cerita untuk menutup cerita anak. Semacam umpan balik. Ini memang memerlukan keahlian tersendiri. Menghubungkan peristiwa yang dialami anak seharian tadi dengan cerita yang akan dibawakan.Tapi jika ini berhasil, orang tua mampu menanamkan poin pendidikan lewat ceritanya. Banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui cerita-cerita yang menyenangkan. Tokoh yang kuat, mandiri, cerdas, baik hati, jujur dan sebagainya digambarkan dengan apik. Ini bisa menginspirasi anak untuk meneladaninya.Keempat: pengetahuan. Yang namanya anak-anak paling antusias dengan sesuatu yang baru. Maka cerita kita pun dituntut tidak hanya menarik dari sisi cerita, tapi juga menarik karena berisi pengetahuan dan wawasan baru bagi anak. Tentu saja ini menuntut Anda untuk selalu upgrade pengetahuan juga. Yakinlah, insyaAllah cerita dan kisah Anda akan menjadi momen paling dinantikan.Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa; insyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang cinta baca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.Nah, apakah Anda sudah siap bercerita untuk meninabobokan anak kesayangan Anda? Tentu saja ada bekalnya, sebelum bisa menjadi sosok yang dirindukan dengan cerita-cerita asiknya? Rajin baca. Ini super penting untuk selalu memperbaharui pengetahuan kita. Bisa dengan membaca buku. Bisa juga dari grup WA tentang cerita-cerita inspiratif, atau di facebook juga sering dibagikan. Atau kalau bisa meluangkan mencari di internet kisah dan cerita yang menurut Anda pas untuk dibagikan ke anak-anak. Namun tentu harus selektif dalam memilihnya. Pilah dan pilih kisah terbaik.Seperti kisah para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta orang-orang salih pilihan. Tentu untuk melahirkan keteladanan bagi anak-anak kita. Sesekali tetap diselingi cerita yang menghibur dan tidak terlalu serius sekadar menyenangkan dan menggembirakan buah hati tercinta. Berlatih bercerita.Supaya tidak datar-datar saja kan perlu intonasi yang cocok dengan jalannya cerita. Atau pemilihan kata juga penting untuk meramu cerita terdengar lebih ciamik. Kalau perlu ikut sekali-kali kursus bercerita. Berbagi pengalaman dengan komunitas ibu-ibu.Gunanya untuk saling memberi masukan dan saran. Dan saling berbagi bahan cerita. Jadi lebih kaya pengetahuan untuk dipraktekkan di kamar tidur anak-anak.Selamat bercerita, selamat membangun kedekatan, sebelum momen itu hilang! Semoga masa emas anak-anak kita bisa terwarnai kebaikan. Amien…Bersambung.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rajab 1439 / 26 Maret 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 138: MENGAWALI DOA DENGAN PUJIANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 110METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-4 Pada pertemuan sebelumnya, telah disampaikan bahwa salah satu metode terbaik pembelajaran anak di rumah adalah kisah dan cerita. Juga telah dipaparkan beberapa manfaat cerita. Berikut kelanjutannya. Di antara manfaat cerita:Ketiga: didikan. Sudah bukan hal baru bahwa mendidik dengan bertutur dan memakai analogi cerita merupakan cara yang efektif. Sebenarnya tidak harus berbentuk kisah. Bisa saja kisah sekedar untuk memancing anak bercerita tentang kegiatannya sehari tadi. Atau malah cerita untuk menutup cerita anak. Semacam umpan balik. Ini memang memerlukan keahlian tersendiri. Menghubungkan peristiwa yang dialami anak seharian tadi dengan cerita yang akan dibawakan.Tapi jika ini berhasil, orang tua mampu menanamkan poin pendidikan lewat ceritanya. Banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui cerita-cerita yang menyenangkan. Tokoh yang kuat, mandiri, cerdas, baik hati, jujur dan sebagainya digambarkan dengan apik. Ini bisa menginspirasi anak untuk meneladaninya.Keempat: pengetahuan. Yang namanya anak-anak paling antusias dengan sesuatu yang baru. Maka cerita kita pun dituntut tidak hanya menarik dari sisi cerita, tapi juga menarik karena berisi pengetahuan dan wawasan baru bagi anak. Tentu saja ini menuntut Anda untuk selalu upgrade pengetahuan juga. Yakinlah, insyaAllah cerita dan kisah Anda akan menjadi momen paling dinantikan.Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa; insyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang cinta baca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.Nah, apakah Anda sudah siap bercerita untuk meninabobokan anak kesayangan Anda? Tentu saja ada bekalnya, sebelum bisa menjadi sosok yang dirindukan dengan cerita-cerita asiknya? Rajin baca. Ini super penting untuk selalu memperbaharui pengetahuan kita. Bisa dengan membaca buku. Bisa juga dari grup WA tentang cerita-cerita inspiratif, atau di facebook juga sering dibagikan. Atau kalau bisa meluangkan mencari di internet kisah dan cerita yang menurut Anda pas untuk dibagikan ke anak-anak. Namun tentu harus selektif dalam memilihnya. Pilah dan pilih kisah terbaik.Seperti kisah para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta orang-orang salih pilihan. Tentu untuk melahirkan keteladanan bagi anak-anak kita. Sesekali tetap diselingi cerita yang menghibur dan tidak terlalu serius sekadar menyenangkan dan menggembirakan buah hati tercinta. Berlatih bercerita.Supaya tidak datar-datar saja kan perlu intonasi yang cocok dengan jalannya cerita. Atau pemilihan kata juga penting untuk meramu cerita terdengar lebih ciamik. Kalau perlu ikut sekali-kali kursus bercerita. Berbagi pengalaman dengan komunitas ibu-ibu.Gunanya untuk saling memberi masukan dan saran. Dan saling berbagi bahan cerita. Jadi lebih kaya pengetahuan untuk dipraktekkan di kamar tidur anak-anak.Selamat bercerita, selamat membangun kedekatan, sebelum momen itu hilang! Semoga masa emas anak-anak kita bisa terwarnai kebaikan. Amien…Bersambung.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rajab 1439 / 26 Maret 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 138: MENGAWALI DOA DENGAN PUJIANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 110METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-4 Pada pertemuan sebelumnya, telah disampaikan bahwa salah satu metode terbaik pembelajaran anak di rumah adalah kisah dan cerita. Juga telah dipaparkan beberapa manfaat cerita. Berikut kelanjutannya. Di antara manfaat cerita:Ketiga: didikan. Sudah bukan hal baru bahwa mendidik dengan bertutur dan memakai analogi cerita merupakan cara yang efektif. Sebenarnya tidak harus berbentuk kisah. Bisa saja kisah sekedar untuk memancing anak bercerita tentang kegiatannya sehari tadi. Atau malah cerita untuk menutup cerita anak. Semacam umpan balik. Ini memang memerlukan keahlian tersendiri. Menghubungkan peristiwa yang dialami anak seharian tadi dengan cerita yang akan dibawakan.Tapi jika ini berhasil, orang tua mampu menanamkan poin pendidikan lewat ceritanya. Banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui cerita-cerita yang menyenangkan. Tokoh yang kuat, mandiri, cerdas, baik hati, jujur dan sebagainya digambarkan dengan apik. Ini bisa menginspirasi anak untuk meneladaninya.Keempat: pengetahuan. Yang namanya anak-anak paling antusias dengan sesuatu yang baru. Maka cerita kita pun dituntut tidak hanya menarik dari sisi cerita, tapi juga menarik karena berisi pengetahuan dan wawasan baru bagi anak. Tentu saja ini menuntut Anda untuk selalu upgrade pengetahuan juga. Yakinlah, insyaAllah cerita dan kisah Anda akan menjadi momen paling dinantikan.Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa; insyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang cinta baca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.Nah, apakah Anda sudah siap bercerita untuk meninabobokan anak kesayangan Anda? Tentu saja ada bekalnya, sebelum bisa menjadi sosok yang dirindukan dengan cerita-cerita asiknya? Rajin baca. Ini super penting untuk selalu memperbaharui pengetahuan kita. Bisa dengan membaca buku. Bisa juga dari grup WA tentang cerita-cerita inspiratif, atau di facebook juga sering dibagikan. Atau kalau bisa meluangkan mencari di internet kisah dan cerita yang menurut Anda pas untuk dibagikan ke anak-anak. Namun tentu harus selektif dalam memilihnya. Pilah dan pilih kisah terbaik.Seperti kisah para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta orang-orang salih pilihan. Tentu untuk melahirkan keteladanan bagi anak-anak kita. Sesekali tetap diselingi cerita yang menghibur dan tidak terlalu serius sekadar menyenangkan dan menggembirakan buah hati tercinta. Berlatih bercerita.Supaya tidak datar-datar saja kan perlu intonasi yang cocok dengan jalannya cerita. Atau pemilihan kata juga penting untuk meramu cerita terdengar lebih ciamik. Kalau perlu ikut sekali-kali kursus bercerita. Berbagi pengalaman dengan komunitas ibu-ibu.Gunanya untuk saling memberi masukan dan saran. Dan saling berbagi bahan cerita. Jadi lebih kaya pengetahuan untuk dipraktekkan di kamar tidur anak-anak.Selamat bercerita, selamat membangun kedekatan, sebelum momen itu hilang! Semoga masa emas anak-anak kita bisa terwarnai kebaikan. Amien…Bersambung.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rajab 1439 / 26 Maret 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 138: MENGAWALI DOA DENGAN PUJIANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 139: MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWAT

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 139MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWAT*Tak ada di antara kita yang tidak menginginkan doa-doanya dikabulkan Allah ta’ala. Namun, sekedar memiliki keinginan saja tidak cukup. Perlu ada upaya serius untuk mewujudkan keinginan tersebut. Langkah nyatanya antara lain adalah dengan memenuhi adab-adab berdoa.Di antara adab yang sangat membantu terkabulnya doa adalah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berdoa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. HR. Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu memperjelas maksud hadits di atas,“إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Sesungguhnya doa itu akan tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan diangkat; hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu’alaihiwasallam”. Diriwayatkan oleh Tirmidziy dan dinyatakan hasan oleh al-Albaniy.Jadi setiap doa yang dilantunkan hamba tidak akan diangkat ke hadapan Allah tabaraka wa ta’ala hingga disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya sebuah doa. Demikian keterangan al-Munawiy dalam Faidh al-Qadîr.Redaksi ShalawatSering kita temukan berbagai macam redaksi shalawat di masyarakat. Namun redaksi terbaik tentunya adalah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah redaksi yang terkenal dengan istilah Shalawat Ibrahimiyyah.Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu bertutur,سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ؟ قَالَ: ” قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ““Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara bershalawat kepada engkau (dan) keluargamu? Sungguh Allah telah mengajari kami cara mengucapkan salam untuk kalian”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah, “Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shollaita ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd. Allôhumma bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârokta ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd”. (Ya Allah limpahkanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah curahkanlah keberkahan untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia”. HR. Bukhari.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulqa’dah 1439 / 6 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5Next Makmur Luar Dalam Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 139: MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWAT

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 139MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWAT*Tak ada di antara kita yang tidak menginginkan doa-doanya dikabulkan Allah ta’ala. Namun, sekedar memiliki keinginan saja tidak cukup. Perlu ada upaya serius untuk mewujudkan keinginan tersebut. Langkah nyatanya antara lain adalah dengan memenuhi adab-adab berdoa.Di antara adab yang sangat membantu terkabulnya doa adalah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berdoa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. HR. Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu memperjelas maksud hadits di atas,“إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Sesungguhnya doa itu akan tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan diangkat; hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu’alaihiwasallam”. Diriwayatkan oleh Tirmidziy dan dinyatakan hasan oleh al-Albaniy.Jadi setiap doa yang dilantunkan hamba tidak akan diangkat ke hadapan Allah tabaraka wa ta’ala hingga disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya sebuah doa. Demikian keterangan al-Munawiy dalam Faidh al-Qadîr.Redaksi ShalawatSering kita temukan berbagai macam redaksi shalawat di masyarakat. Namun redaksi terbaik tentunya adalah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah redaksi yang terkenal dengan istilah Shalawat Ibrahimiyyah.Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu bertutur,سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ؟ قَالَ: ” قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ““Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara bershalawat kepada engkau (dan) keluargamu? Sungguh Allah telah mengajari kami cara mengucapkan salam untuk kalian”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah, “Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shollaita ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd. Allôhumma bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârokta ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd”. (Ya Allah limpahkanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah curahkanlah keberkahan untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia”. HR. Bukhari.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulqa’dah 1439 / 6 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5Next Makmur Luar Dalam Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 139MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWAT*Tak ada di antara kita yang tidak menginginkan doa-doanya dikabulkan Allah ta’ala. Namun, sekedar memiliki keinginan saja tidak cukup. Perlu ada upaya serius untuk mewujudkan keinginan tersebut. Langkah nyatanya antara lain adalah dengan memenuhi adab-adab berdoa.Di antara adab yang sangat membantu terkabulnya doa adalah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berdoa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. HR. Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu memperjelas maksud hadits di atas,“إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Sesungguhnya doa itu akan tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan diangkat; hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu’alaihiwasallam”. Diriwayatkan oleh Tirmidziy dan dinyatakan hasan oleh al-Albaniy.Jadi setiap doa yang dilantunkan hamba tidak akan diangkat ke hadapan Allah tabaraka wa ta’ala hingga disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya sebuah doa. Demikian keterangan al-Munawiy dalam Faidh al-Qadîr.Redaksi ShalawatSering kita temukan berbagai macam redaksi shalawat di masyarakat. Namun redaksi terbaik tentunya adalah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah redaksi yang terkenal dengan istilah Shalawat Ibrahimiyyah.Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu bertutur,سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ؟ قَالَ: ” قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ““Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara bershalawat kepada engkau (dan) keluargamu? Sungguh Allah telah mengajari kami cara mengucapkan salam untuk kalian”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah, “Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shollaita ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd. Allôhumma bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârokta ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd”. (Ya Allah limpahkanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah curahkanlah keberkahan untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia”. HR. Bukhari.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulqa’dah 1439 / 6 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5Next Makmur Luar Dalam Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 139MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWAT*Tak ada di antara kita yang tidak menginginkan doa-doanya dikabulkan Allah ta’ala. Namun, sekedar memiliki keinginan saja tidak cukup. Perlu ada upaya serius untuk mewujudkan keinginan tersebut. Langkah nyatanya antara lain adalah dengan memenuhi adab-adab berdoa.Di antara adab yang sangat membantu terkabulnya doa adalah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berdoa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. HR. Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu memperjelas maksud hadits di atas,“إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”“Sesungguhnya doa itu akan tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan diangkat; hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu’alaihiwasallam”. Diriwayatkan oleh Tirmidziy dan dinyatakan hasan oleh al-Albaniy.Jadi setiap doa yang dilantunkan hamba tidak akan diangkat ke hadapan Allah tabaraka wa ta’ala hingga disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya sebuah doa. Demikian keterangan al-Munawiy dalam Faidh al-Qadîr.Redaksi ShalawatSering kita temukan berbagai macam redaksi shalawat di masyarakat. Namun redaksi terbaik tentunya adalah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah redaksi yang terkenal dengan istilah Shalawat Ibrahimiyyah.Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu bertutur,سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ؟ قَالَ: ” قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ““Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara bershalawat kepada engkau (dan) keluargamu? Sungguh Allah telah mengajari kami cara mengucapkan salam untuk kalian”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah, “Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shollaita ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd. Allôhumma bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârokta ‘alâ Ibrôhîm wa ‘alâ âli Ibrôhîm, innaKa Hamîdum Majîd”. (Ya Allah limpahkanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah curahkanlah keberkahan untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia”. HR. Bukhari.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulqa’dah 1439 / 6 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 111: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 5Next Makmur Luar Dalam Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Makmur Luar Dalam

MAKMUR LUAR DALAM Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAlhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah… Keimanan itu aslinya berpusat di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“التَّقْوَى هَاهُنَا” وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.“Takwa itu di sini”. Sambil beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sesuatu yang berada di dalam hati aslinya tidak terlihat. Sebab tersembunyi di dalamnya.Namun keimanan yang berada di dalam hati, bisa diketahui keberadaannya dengan tanda-tanda lahiriah yang terlihat mata.Di antara tanda keimanan tersebut adalah memakmurkan masjid. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ”Artinya: “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah golongan yang selalu mendapat petunjuk”. QS. At-Taubah (9): 18.Berbagai keterangan para ulama tafsir mengenai makna memakmurkan masjid, bisa disimpulkan menjadi dua:1. Memakmurkan fisik bangunannya. 2. Memakmurkan kegiatan di dalamnya.[ Baca: Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauziy (hal. 572) dan Jâmi’ al-Bayân karya al-Ijiy (hal. 373).]Atau dengan kata lain menjaga masjid agar senantiasa makmur luar dan dalam.Memakmurkan fisik bangunan masjid, dimulai dari mendirikan masjid baru. Kemudian juga merawat bangunan masjid yang sudah ada. Baik fasilitas penerangannya, pengairannya, sirkulasi udaranya, karpetnya, hingga kebersihan dalam dan luar masjid.Adapun memakmurkan kegiatan di masjid, terutama adalah dengan menggunakannya untuk shalat fardhu berjamaah tepat waktu. Kemudian juga mengisinya dengan majlis taklim secara rutin. Untuk mengkaji al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik yang diperuntukkan buat kaum dewasa, maupun untuk anak-anak.Bahagia Memakmurkan MasjidSiapapun orang yang memiliki keimanan di hatinya, ia akan merasa bahagia untuk memakmurkan masjid. Atau minimal merasa bahagia melihat masjid-masjid dimakmurkan.Maka, orang yang terjangkiti kegalauan dan kegelisahan saat melihat suatu masjid makmur, ini pertanda keimanannya bermasalah. Yang lebih parah dari itu, ada orang yang merasa lebih senang melihat masjid sepi dibanding makmur. Bahkan berusaha membuat sepi masjid yang telah makmur. Cuma hanya karena beda ormas atau pilihan politik.Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang terjangkiti hasad, iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Amien…Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 R. Tsani 1440 / 14 Desember 2018=================== Telegram: https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 139: MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Makmur Luar Dalam

MAKMUR LUAR DALAM Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAlhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah… Keimanan itu aslinya berpusat di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“التَّقْوَى هَاهُنَا” وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.“Takwa itu di sini”. Sambil beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sesuatu yang berada di dalam hati aslinya tidak terlihat. Sebab tersembunyi di dalamnya.Namun keimanan yang berada di dalam hati, bisa diketahui keberadaannya dengan tanda-tanda lahiriah yang terlihat mata.Di antara tanda keimanan tersebut adalah memakmurkan masjid. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ”Artinya: “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah golongan yang selalu mendapat petunjuk”. QS. At-Taubah (9): 18.Berbagai keterangan para ulama tafsir mengenai makna memakmurkan masjid, bisa disimpulkan menjadi dua:1. Memakmurkan fisik bangunannya. 2. Memakmurkan kegiatan di dalamnya.[ Baca: Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauziy (hal. 572) dan Jâmi’ al-Bayân karya al-Ijiy (hal. 373).]Atau dengan kata lain menjaga masjid agar senantiasa makmur luar dan dalam.Memakmurkan fisik bangunan masjid, dimulai dari mendirikan masjid baru. Kemudian juga merawat bangunan masjid yang sudah ada. Baik fasilitas penerangannya, pengairannya, sirkulasi udaranya, karpetnya, hingga kebersihan dalam dan luar masjid.Adapun memakmurkan kegiatan di masjid, terutama adalah dengan menggunakannya untuk shalat fardhu berjamaah tepat waktu. Kemudian juga mengisinya dengan majlis taklim secara rutin. Untuk mengkaji al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik yang diperuntukkan buat kaum dewasa, maupun untuk anak-anak.Bahagia Memakmurkan MasjidSiapapun orang yang memiliki keimanan di hatinya, ia akan merasa bahagia untuk memakmurkan masjid. Atau minimal merasa bahagia melihat masjid-masjid dimakmurkan.Maka, orang yang terjangkiti kegalauan dan kegelisahan saat melihat suatu masjid makmur, ini pertanda keimanannya bermasalah. Yang lebih parah dari itu, ada orang yang merasa lebih senang melihat masjid sepi dibanding makmur. Bahkan berusaha membuat sepi masjid yang telah makmur. Cuma hanya karena beda ormas atau pilihan politik.Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang terjangkiti hasad, iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Amien…Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 R. Tsani 1440 / 14 Desember 2018=================== Telegram: https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 139: MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MAKMUR LUAR DALAM Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAlhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah… Keimanan itu aslinya berpusat di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“التَّقْوَى هَاهُنَا” وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.“Takwa itu di sini”. Sambil beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sesuatu yang berada di dalam hati aslinya tidak terlihat. Sebab tersembunyi di dalamnya.Namun keimanan yang berada di dalam hati, bisa diketahui keberadaannya dengan tanda-tanda lahiriah yang terlihat mata.Di antara tanda keimanan tersebut adalah memakmurkan masjid. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ”Artinya: “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah golongan yang selalu mendapat petunjuk”. QS. At-Taubah (9): 18.Berbagai keterangan para ulama tafsir mengenai makna memakmurkan masjid, bisa disimpulkan menjadi dua:1. Memakmurkan fisik bangunannya. 2. Memakmurkan kegiatan di dalamnya.[ Baca: Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauziy (hal. 572) dan Jâmi’ al-Bayân karya al-Ijiy (hal. 373).]Atau dengan kata lain menjaga masjid agar senantiasa makmur luar dan dalam.Memakmurkan fisik bangunan masjid, dimulai dari mendirikan masjid baru. Kemudian juga merawat bangunan masjid yang sudah ada. Baik fasilitas penerangannya, pengairannya, sirkulasi udaranya, karpetnya, hingga kebersihan dalam dan luar masjid.Adapun memakmurkan kegiatan di masjid, terutama adalah dengan menggunakannya untuk shalat fardhu berjamaah tepat waktu. Kemudian juga mengisinya dengan majlis taklim secara rutin. Untuk mengkaji al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik yang diperuntukkan buat kaum dewasa, maupun untuk anak-anak.Bahagia Memakmurkan MasjidSiapapun orang yang memiliki keimanan di hatinya, ia akan merasa bahagia untuk memakmurkan masjid. Atau minimal merasa bahagia melihat masjid-masjid dimakmurkan.Maka, orang yang terjangkiti kegalauan dan kegelisahan saat melihat suatu masjid makmur, ini pertanda keimanannya bermasalah. Yang lebih parah dari itu, ada orang yang merasa lebih senang melihat masjid sepi dibanding makmur. Bahkan berusaha membuat sepi masjid yang telah makmur. Cuma hanya karena beda ormas atau pilihan politik.Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang terjangkiti hasad, iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Amien…Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 R. Tsani 1440 / 14 Desember 2018=================== Telegram: https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 139: MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MAKMUR LUAR DALAM Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAlhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah… Keimanan itu aslinya berpusat di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“التَّقْوَى هَاهُنَا” وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.“Takwa itu di sini”. Sambil beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sesuatu yang berada di dalam hati aslinya tidak terlihat. Sebab tersembunyi di dalamnya.Namun keimanan yang berada di dalam hati, bisa diketahui keberadaannya dengan tanda-tanda lahiriah yang terlihat mata.Di antara tanda keimanan tersebut adalah memakmurkan masjid. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ”Artinya: “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah golongan yang selalu mendapat petunjuk”. QS. At-Taubah (9): 18.Berbagai keterangan para ulama tafsir mengenai makna memakmurkan masjid, bisa disimpulkan menjadi dua:1. Memakmurkan fisik bangunannya. 2. Memakmurkan kegiatan di dalamnya.[ Baca: Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauziy (hal. 572) dan Jâmi’ al-Bayân karya al-Ijiy (hal. 373).]Atau dengan kata lain menjaga masjid agar senantiasa makmur luar dan dalam.Memakmurkan fisik bangunan masjid, dimulai dari mendirikan masjid baru. Kemudian juga merawat bangunan masjid yang sudah ada. Baik fasilitas penerangannya, pengairannya, sirkulasi udaranya, karpetnya, hingga kebersihan dalam dan luar masjid.Adapun memakmurkan kegiatan di masjid, terutama adalah dengan menggunakannya untuk shalat fardhu berjamaah tepat waktu. Kemudian juga mengisinya dengan majlis taklim secara rutin. Untuk mengkaji al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik yang diperuntukkan buat kaum dewasa, maupun untuk anak-anak.Bahagia Memakmurkan MasjidSiapapun orang yang memiliki keimanan di hatinya, ia akan merasa bahagia untuk memakmurkan masjid. Atau minimal merasa bahagia melihat masjid-masjid dimakmurkan.Maka, orang yang terjangkiti kegalauan dan kegelisahan saat melihat suatu masjid makmur, ini pertanda keimanannya bermasalah. Yang lebih parah dari itu, ada orang yang merasa lebih senang melihat masjid sepi dibanding makmur. Bahkan berusaha membuat sepi masjid yang telah makmur. Cuma hanya karena beda ormas atau pilihan politik.Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang terjangkiti hasad, iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Amien…Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 R. Tsani 1440 / 14 Desember 2018=================== Telegram: https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 139: MENGAWALI DOA DENGAN SHALAWATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULI

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULI

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIA

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIA

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SERIUS MEMINTA MAAF

SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SERIUS MEMINTA MAAF

SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

RINDU ALLAH

Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

RINDU ALLAH

Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tiga Kaidah Penting Berkaitan dengan Pembatal Iman (Bag. 1)

Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin

Tiga Kaidah Penting Berkaitan dengan Pembatal Iman (Bag. 1)

Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin
Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin


Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin
Prev     Next